Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site


Tinggalkan komentar

BUDIDAYA TERNAK SAPI POTONG ( Bos sp. )


BUDIDAYA TERNAK SAPI POTONG
( Bos sp. )

 

1. SEJARAH SINGKAT

Sapi yang ada sekarang ini berasal dari Homacodontidae yang dijumpai pada babak Palaeoceen. Jenis-jenis primitifnya ditemukan pada babak Plioceen di India. Sapi Bali yang banyak dijadikan komoditi daging/sapi potong pada awalnya dikembangkan di Bali dan kemudian menyebar ke beberapa wilayah seperti: Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi.

 

2. SENTRA PETERNAKAN

Sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura banyak terdapat di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi. Sapi jenis Aberdeen angus banyak terdapat di Skotlandia.

Sapi Simental banyak terdapat di Swiss. Sapi Brahman berasal dari India dan banyak dikembangkan di Amerika.

 

3. J E N I S

Jenis-jenis sapi potong yang terdapat di Indonesia saat ini adalah sapi asli Indonesia dan sapi yang diimpor. Dari jenis-jenis sapi potong itu, masing-masing mempunyai sifat-sifat yang khas, baik ditinjau dari bentuk luarnya (ukuran tubuh, warna bulu) maupun dari genetiknya (laju pertumbuhan).

Sapi-sapi Indonesia yang dijadikan sumber daging adalah sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura. Selain itu juga sapi
Aceh yang banyak diekspor ke Malaysia (Pinang). Dari populasi sapi potong yang ada, yang penyebarannya dianggap merata masing-masing adalah: sapi Bali, sapi PO, Madura dan Brahman.

Sapi Bali berat badan mencapai 300-400 kg. dan persentase karkasnya 56,9%. Sapi Aberdeen angus (Skotlandia) bulu berwarna hitam, tidak bertanduk, bentuk tubuh rata seperti papan dan dagingnya padat, berat badan umur 1,5 tahun dapat mencapai 650 kg, sehingga lebih cocok untuk dipelihara sebagai sapi potong. Sapi Simental (Swiss) bertanduk kecil, bulu berwarna coklat muda atau kekuning-kuningan. Pada bagian muka, lutut kebawah dan jenis gelambir, ujung ekor berwarna putih.

Sapi Brahman (dari India), banyak dikembangkan di Amerika. Persentase karkasnya 45%. Keistimewaan sapi ini tidak terlalu selektif terhadap pakan yang diberikan, jenis pakan (rumput dan pakan tambahan) apapun akan dimakannya, termasuk pakan yang jelek sekalipun. Sapi potong ini juga lebih kebal terhadap gigitan caplak dan nyamuk serta tahan panas.

 

4. MANFAAT

Memelihara sapi potong sangat menguntungkan, karena tidak hanya menghasilkan daging dan susu, tetapi juga menghasilkan pupuk kandang dan
sebagai tenaga kerja. Sapi juga dapat digunakan meranih gerobak, kotoran sapi juga mempunyai nilai ekonomis, karena termasuk pupuk organik yang dibutuhkan oleh semua jenis tumbuhan. Kotoran sapi dapat menjadi sumber hara yang dapat memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi lebih gembur dan subur.

Semua organ tubuh sapi dapat dimanfaatkan antara lain:

1)  Kulit, sebagai bahan industri tas, sepatu, ikat pinggang, topi, jaket.

2)  Tulang, dapat diolah menjadi bahan bahan perekat/lem, tepung tulang dan barang kerajinan

3)  Tanduk, digunakan sebagai bahan kerajinan seperti: sisir, hiasan dinding dan masih banyak manfaat sapi bagi kepentingan manusia.

 

5. PERSYARATAN LOKASI

Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat dengan lahan pertanian. Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah atau ladang.

 

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.

Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak.

Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat.

Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahanbahan lainnya.

Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5×2 m atau 2,5×2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8×2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5×1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m).

Kandang untuk pemeliharaan sapi harus bersih dan tidak lembab. Pembuatan kandang harus memperhatikan beberapa persyaratan pokok yang meliputi konstruksi, letak, ukuran dan perlengkapan kandang.

 

1) Konstruksi dan letak kandang
Konstruksi kandang sapi seperti rumah kayu. Atap kandang berbentuk kuncup dan salah satu/kedua sisinya miring. Lantai kandang dibuat padat, lebih tinggi dari pada tanah sekelilingnya dan agak miring kearah selokan di luar kandang. Maksudnya adalah agar air yang tampak, termasuk kencing
sapi mudah mengalir ke luar lantai kandang tetap kering.
Bahan konstruksi kandang adalah kayu gelondongan/papan yang berasal
dari kayu yang kuat. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat, tetapi agak
terbuka agar sirkulasi udara didalamnya lancar.
Termasuk dalam rangkaian penyediaan pakan sapi adalah air minum yang
bersih. Air minum diberikan secara ad libitum, artinya harus tersedia dan
tidak boleh kehabisan setiap saat.
Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter
dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang. Pembuatan
kandang sapi dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah/ladang.

 

2) Ukuran Kandang
Sebelum membuat kandang sebaiknya diperhitungkan lebih dulu jumlah sapi yang akan dipelihara. Ukuran kandang untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5 x 2 m. Sedangkan untuk seekor sapi betina dewasa adalah 1,8 x 2 m dan untuk seekor anak sapi cukup 1,5×1 m.

 

3) Perlengkapan Kandang
Termasuk dalam perlengkapan kandang adalah tempat pakan dan minum, yang sebaiknya dibuat di luar kandang, tetapi masih dibawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak/ tercampur kotoran. Tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi dari pada permukaan lantai.

Dengan demikian kotoran dan air kencing tidak tercampur didalamnya. Perlengkapan lain yang perlu disediakan adalah sapu, sikat, sekop, sabit, dan tempat untuk memandikan sapi. Semua peralatan tersebut adalah untuk membersihkan kandang agar sapi terhindar dari gangguan penyakit sekaligus bisa dipakai untuk memandikan sapi.

 

 

6.2. Pembibitan
Syarat ternak yang harus diperhatikan adalah:

1) Mempunyai tanda telinga, artinya pedet tersebut telah terdaftar dan lengkap silsilahnya.

2) Matanya tampak cerah dan bersih.

3) Tidak terdapat tanda-tanda sering butuh, terganggu pernafasannya serta dari hidung tidak keluar lendir.

4) Kukunya tidak terasa panas bila diraba.

5) Tidak terlihat adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya.

6) Tidak terdapat adanya tanda-tanda mencret pada bagian ekor dan dubur.

7) Tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit dan kerontokan bulu.

8) Pusarnya bersih dan kering, bila masih lunak dan tidak berbulu menandakan bahwa pedet masih berumur kurang lebih dua hari.
Untuk menghasilkan daging, pilihlah tipe sapi yang cocok yaitu jenis sapi Bali, sapi Brahman, sapi PO, dan sapi yang cocok serta banyak dijumpai di daerah setempat. Ciri-ciri sapi potong tipe pedaging adalah sebagai berikut:

1) tubuh dalam, besar, berbentuk persegi empat/bola.

2) kualitas dagingnya maksimum dan mudah dipasarkan.

3) laju pertumbuhannya relatif cepat.

4) efisiensi bahannya tinggi.

 

6.3. Pemeliharaan
Pemeliharaan sapi potong mencakup penyediaan pakan (ransum) dan pengelolaan kandang. Fungsi kandang dalam pemeliharaan sapi adalah :
a) Melindungi sapi dari hujan dan panas matahari.
b) Mempermudah perawatan dan pemantauan.
c) Menjaga keamanan dan kesehatan sapi.

Pakan merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan dan pembangkit tenaga. Makin baik mutu dan jumlah pakan yang diberikan, makin besar tenaga yang ditimbulkan dan masih besar pula energi yang tersimpan dalam bentuk daging.

  1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
    Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas.
  2. Pemberian Pakan
    Pada umumnya, setiap sapi membutuhkan makanan berupa hijauan. Sapi dalam masa pertumbuhan, sedang menyusui, dan supaya tidak jenuh memerlukan pakan yang memadai dari segi kualitas maupun kuantitasnya.

    Pemberian pakan dapat dilakukan dengan 3 cara: yaitu penggembalaan (Pasture fattening), kereman (dry lot faatening) dan kombinasi cara pertama dan kedua.

    Penggembalaan dilakukan dengan melepas sapi-sapi di padang rumput, yang biasanya dilakukan di daerah yang mempunyai tempat penggembalaan cukup luas, dan memerlukan waktu sekitar 5-7 jam per hari. Dengan cara ini, maka tidak memerlukan ransum tambahan pakan penguat karena sapi telah memakan bermacam-macam jenis rumput.

    Pakan dapat diberikan dengan cara dijatah/disuguhkan yang yang dikenal dengan istilah kereman. Sapi yang dikandangkan dan pakan diperoleh dari ladang, sawah/tempat lain. Setiap hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak 10% dari berat badannya dan juga pakan tambahan 1% – 2% dari berat badan. Ransum tambahan berupa dedak halus atau bekatul, bungkil kelapa, gaplek, ampas tahu. yang diberikan dengan cara dicampurkan dalam rumput ditempat pakan. Selain itu, dapat ditambah mineral sebagai penguat berupa garam dapur, kapus. Pakan sapi dalam bentuk campuran dengan jumlah dan perbandingan tertentu ini dikenal dengan istilah ransum.

    Pemberian pakan sapi yang terbaik adalah kombinasi antara penggembalaan dan keraman. Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi
    menjadi 3 katagori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase. Macam hijauan segar adalah rumput-rumputan, kacang-kacangan (legu minosa) dan tanaman hijau lainnya. Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, rumput raja (king grass), daun turi, daun lamtoro.

    Hijauan kering berasal dari hijauan segar yang sengaja dikeringkan dengan tujuan agar tahan disimpan lebih lama. Termasuk dalam hijauan kering adalah jerami padi, jerami kacang tanah, jerami jagung, dsb. yang biasa digunakan pada musim kemarau. Hijauan ini tergolong jenis pakan yang banyak mengandung serat kasar.

    Hijauan segar dapat diawetkan menjadi silase. Secara singkat pembuatan silase ini dapat dijelaskan sebagai berikut: hijauan yang akan dibuat silase ditutup rapat, sehingga terjadi proses fermentasi. Hasil dari proses inilah yang disebut silase. Contoh-contoh silase yang telah memasyarakat antara lain silase jagung, silase rumput, silase jerami padi, dll.

  1. Pemeliharaan Kandang
    Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2 minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar.

    Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.

 

 

7. HAMA DAN PENYAKIT

7.1. Penyakit

1. Penyakit antraks
Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan.
Gejala: (1) demam tinggi, badan lemah dan gemetar; (2) gangguan pernafasan; (3) pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; (4) kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6) limpa bengkak dan berwarna kehitaman.
Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.

2. Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)
Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE.
Gejala: (1) rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu badan menurun drastis; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; (4) air liur keluar berlebihan.
Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.

 

3. Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)
Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri.
Gejala: (1) kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan; (2) leher, anus, dan vulva membengkak; (3) paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua; (4) demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam.
Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.

4. Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)
Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor.
Gejala: (1) mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh; (2) kulit kuku mengelupas; (3) tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit; (4) sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.

 

7.2. Pengendalian
Pengendalian penyakit sapi yang paling baik menjaga kesehatan sapi dengan tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan untuk menjaga kesehatan sapi adalah:

1.  Menjaga kebersihan kandang beserta peralatannya, termasuk memandikan sapi.

2.  Sapi yang sakit dipisahkan dengan sapi sehat dan segera dilakukan pengobatan.

3.  Mengusakan lantai kandang selalu kering.

4.  Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai petunjuk.

 

 

8. P A N E N

8.1. Hasil Utama
Hasil utama dari budidaya sapi potong adalah dagingnya

8.2. Hasil Tambahan
Selain daging yang menjadi hasil budidaya, kulit dan kotorannya juga sebagai hasil tambahan dari budidaya sapi potong.

 

9. PASCA PANEN

9.1. Stoving
Ada beberapa prinsip teknis yang harus diperhatikan dalam pemotongan sapi agar diperoleh hasil pemotongan yang baik, yaitu:

1.  Ternak sapi harus diistirahatkan sebelum pemotongan

2.  Ternak sapi harus bersih, bebas dari tanah dan kotoran lain yang dapat mencemari daging.

3.  Pemotongan ternak harus dilakukan secepat mungkin, dan rasa sakit yang diderita ternak diusahakan sekecil mungkin dan darah harus keluar secara tuntas.

4.  Semua proses yang digunakan harus dirancang untuk mengurangi jumlah dan jenis mikroorganisme pencemar seminimal mungkin.

 

9.2. Pengulitan
Pengulitan pada sapi yang telah disembelih dapat dilakukan dengan menggunakan pisau tumpul atau kikir agar kulit tidak rusak. Kulit sapi
dibersihkan dari daging, lemak, noda darah atau kotoran yang menempel. Jika sudah bersih, dengan alat perentang yang dibuat dari kayu, kulit sapi dijemur dalam keadaan terbentang. Posisi yang paling baik untuk penjemuran dengan sinar matahari adalah dalam posisi sudut 45 derajat.

9.3. Pengeluaran Jeroan
Setelah sapi dikuliti, isi perut (visceral) atau yang sering disebut dengan jeroan dikeluarkan dengan cara menyayat karkas (daging) pada bagian perut sapi.

9.4. Pemotongan Karkas
Akhir dari suatu peternakan sapi potong adalah menghasilkan karkas berkualitas dan berkuantitas tinggi sehingga recahan daging yang dapat dikonsumsipun tinggi. Seekor ternak sapi dianggap baik apabila dapat menghasilkan karkas sebesar 59% dari bobot tubuh sapi tersebut dan akhirnya akan diperoleh 46,50% recahan daging yang dapat dikonsumsi. Sehingga dapat dikatakan bahwa dari seekor sapi yang dipotong tidak akan seluruhnya menjadi karkas dan dari seluruh karkas tidak akan seluruhnya menghasilkan daging yang dapat dikonsumsi manusia. Oleh karena itu, untuk menduga hasil karkas dan daging yang akan diperoleh, dilakukan penilaian dahulu sebelum ternak sapi potong. Di negara maju terdapat spesifikasi untuk pengkelasan (grading) terhadap steer, heifer dan cow yang akan dipotong.

Karkas dibelah menjadi dua bagian yaitu karkas tubuh bagian kiri dan karkas tubuh bagian kanan. Karkas dipotong-potong menjadi sub-bagian leher, paha depan, paha belakang, rusuk dan punggung. Potongan tersebut dipisahkan menjadi komponen daging, lemak, tulang dan tendon. Pemotongan karkas harus mendapat penanganan yang baik supaya tidak cepat menjadi rusak, terutama kualitas dan hygienitasnya. Sebab kondisi karkas dipengaruhi oleh peran mikroorganisme selama proses pemotongan dan pengeluaran jeroan.

Daging dari karkas mempunyai beberapa golongan kualitas kelas sesuai dengan lokasinya pada rangka tubuh. Daging kualitas pertama adalah daging di daerah paha (round) kurang lebih 20%, nomor dua adalah daging daerah pinggang (loin), lebih kurang 17%, nomor tiga adalah daging daerah punggung dan tulang rusuk (rib) kurang lebih 9%, nomor empat adalah daging daerah bahu (chuck) lebih kurang 26%, nomor lima adalah daging daerah dada (brisk) lebih kurang 5%, nomor enam daging daerah perut (frank) lebih kurang 4%, nomor tujuh adalah daging daerah rusuk bagian bawah sampai perut bagian bawah (plate & suet) lebih kurang 11%, dan nomor delapan adalah daging bagian kaki depan (foreshank) lebih kurang 2,1%. Persentase bagian-bagian dari karkas tersebut di atas dihitung dari berat karkas (100%).

Persentase recahan karkas dihitung sebagai berikut:

Persentase recahan karkas = Jumlah berat recahan / berat karkas x 100 %
Istilah untuk sisa karkas yang dapat dimakan disebut edible offal, sedangkan yang tidak dapat dimakan disebut inedible offal (misalnya: tanduk, bulu, saluran kemih, dan bagian lain yang tidak dapat dimakan).

 

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN

10.1. Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya sapi potong kereman setahun di Bangli skala 25 ekor pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:

1) Biaya Produksi

a.  Pembelian 25 ekor bakalan : 25 x 250 kg x Rp. 7.800,-      Rp. 48.750.000,-

b.  Kandang                                                                    Rp. 1.000.000,-

c.  Pakan
– Hijauan: 25 x 35 kg x Rp.37,50 x 365 hari
– Konsentrat: 25 x 2kg x Rp. 410,- x 365 hari
Rp. 12.000.000,-
Rp. 7.482.500,-

d.  Retribusi kesehatan ternak: 25 x Rp. 3.000,-               Rp. 75.000,-

Jumlah biaya produksi Rp. 69.307.500,-

2) Pendapatan

a.  Penjualan sapi kereman
Tambahan >Rp. 75.000,-

Jumlah biaya produksi Rp. 69.307.500,-

2) Pendapatan

a.  Penjualan sapi kereman
Tambahan berat badan: 25 x 365 x 0,8 kg = 7.300 kg
Berat sapi setelah setahun: (25 x 250 kg) + 7.300 kg = 13.550 kg
Harga jual sapi hidup: Rp. 8.200,-/kg x 13.550 kg

Rp. 111.110.000,-

b.  Penjualan kotoran basah: 25 x 365 x 10 kg x Rp. 12,-         Rp. 1.095.000,-

Jumlah pendapatan Rp. 112.205.000,-
3) Keuntungan

a.  Tanpa memperhitungkan biaya tenaga internal keuntungan Penggemukan 25 ekor sapi selama setahun.          Rp. 42.897.500,-
4) Parameter kelayakan usaha

a.  B/C ratio                                                                   = 1,61

 

10.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Sapi potong mempunyai potensi ekonomi yang tinggi baik sebagai ternak potong maupun ternak bibit. Selama ini sapi potong dapat mempunyai kebutuhan daging untuk lokal seperti rumah tangga, hotel, restoran, industri pengolahan, perdagangan antar pulau. Pasaran utamanya adalah kota-kota besar seperti kota metropolitan Jakarta.

Konsumen untuk daging di Indonesia dapat digolongkan ke dalam beberapa segmen yaitu :

a) Konsumen Akhir
Konsumen akhir, atau disebut konsumen rumah tangga adalah pembeli-pembeli yang membeli untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan individunya. Golongan ini mencakup porsi yang paling besar dalam konsumsi daging, diperkirakan mencapai 98% dari konsumsi total.

Mereka ini dapat dikelompokkan lagi ke dalam ova sub segmen yaitu :

1.  Konsumen dalam negeri ( Golongan menengah keatas )
Segmen ini merupakan segmen terbesar yang kebutuhan dagingnya kebanyakan dipenuhi dari pasokan dalam negeri yang masih belum memperhatikan kualitas tertentu sebagai persyaratan kesehatan maupun selera.

2.  Konsumen asing
Konsumen asing yang mencakup keluarga-keluarga diplomat, karyawan perusahaan dan sebagian pelancong ini porsinya relatif kecil dan tidak signifikan. Di samping itu juga kemungkinan terdapat konsumen manca negara yang selama ini belum terjangkau oleh pemasok dalam negeri, artinya ekspor belum dilakukan/jika dilakukan porsinya tidak signifikan.

 

b) Konsumen Industri
Konsumen industri merupakan pembeli-pembeli yang menggunakan daging untuk diolah kembali menjadi produk lain dan dijual lagi guna mendapatkan laba. Konsumen ini terutama meliputi: hotel dan restauran dan yang jumlahnya semakin meningkat
Adapun mengenai tata niaga daging di negara kita diatur dalam inpres nomor 4 tahun 1985 mengenai kebijakansanakan kelancaran arus barang untuk menunjang kegiatan ekonomi. Di Indonesia terdapat 3 organisasi yang bertindak seperti pemasok daging yaitu :

a)  KOPPHI (Koperasi Pemotongan Hewan Indonesia), yang mewakili pemasok produksi peternakan rakyat.

b)  APFINDO (Asosiasi Peternak Feedlot (penggemukan) Indonesia), yang mewakili peternak penggemukan

c)  ASPIDI (Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia).

 

 

11. DAFTAR PUSTAKA

1.   Abbas Siregar Djarijah. 1996, Usaha Ternak Sapi, Kanisius, Yogyakarta.

2.   Yusni Bandini. 1997, Sapi Bali, Penebar Swadaya, Jakarta.

3.   Teuku Nusyirwan Jacoeb dan Sayid Munandar. 1991, Petunjuk Teknis Pemeliharaan Sapi Potong, Direktorat Bina Produksi Peternaka

4.   Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta Undang Santosa. 1995, Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi, Penebar Swadaya, Jakarta.

5.   Lokakarya Nasional Manajemen Industri Peternakan. 24 Januari 1994,Program Magister Manajemen UGM, Yogyakarta.

6.   Kohl, RL. and J.N. Uhl. 1986, Marketing of Agricultural Products, 5 th ed, Macmillan Publishing Co, New York.

 

12. KONTAK HUBUNGAN

1.   Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829

2.   Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web: http://www.ristek.go.id

 

 

Sumber :
Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas

 


Tinggalkan komentar

budidaya belut


Pedoman Teknis Budidaya Belut dan Pernak-perniknya

Juli 7, 2008 oleh sutanmuda

Perlu diketahui bahwa kolam budidaya ikan belut harus dibedakan antara lain: kolam induk/kolam pemijahan, kolam pendederan (untuk benih belut berukuran 1 – 2 cm), kolam belut emaja (untuk belut ukuran 3 – 5 cm) dan kolam pemeliharaan belut konsumsi (terbagi menjadi 2 tahapan yang masing-masing dibutuhkan waktu 2 bulan) yaitu untuk pemeliharaan belut kurang 5 – 8 cm sampai menjadi ukuran 15-20 cm, dan untuk pemeliharan belut dengan ukuran 15 – 20 cm sampai menjadi ukuran 30 – 40 cm.

Ukuran kolam induk kapasitasnya 6 ekor/m2. Untuk kolam pendederan (ukuran belut 1 – 2 cm) daya tampungnya 500 ekor/m2. Untuk kolam belut remaja (ukuran 2 – 5 cm) daya tampungnya 250 ekor/m2. Dan untuk kolam belut konsumsi tahap pertama (ukuran 5 – 8 cm) daya tampungnya 100 ekor/m2. Serta kolam belut konsumsi tahap kedua (ukuran 15 – 20cm) daya tampungnya 50 ekor/m2, hingga panjang belut pemanenan kelak berukuran 3 – 50 cm.

Anak belut yang sudah siap dipelihara secara intensif adalah yang berukuran 5-8 cm. Dipelihara selama 4 bulan dalam 2 tahapan dengan masing-masing tahapannya selama 2 bulan. Bibit bisa diperoleh dari bak/kolam pembibitan atau bisa juga bibit diperoleh dari sarang-sarang bibit yang ada di alam. Pemilihan bibit bisa diperoleh dari kolam peternakan atau pemijahan. Biasanya belut yang dipijahkan adalah belut betina berukuran 30 cm dan belut jantan berukuran 40 cm.

Pemijahan dilakukan di kolam pemijahan dengan kapasitas satu ekor pejantan dengan dua ekor betina untuk kolam seluas 1 m2. Waktu pemijahan kira-kira berlangsung 10 hari untuk bertelur. Setelah telur menetas dan berumur 5 – 8 hari, ukuran anak belut berkisar 1,5 – 2,5 cm. Anak belut dengan ukuran sedemikian tersebut diatas segera ditempatkan di kolam pendederan calon bibit selama 1 (satu) bulan sampai berukuran 5 – 8 cm. Dengan ukuran ini anak belut sudah bisa diperlihara dalam kolam belut untuk konsumsi selama dua bulan atau empat bulan.

Perlakuan dan perawatan bibit dari hasil pemijahan anak belut ditampung di kolam pendederan calon benih selama 1 bulan. Dalam hal ini benih diperlakukan secermat mungkin agar tidak banyak yang hilang. Dengan perairan yang bersih dan lebih baik lagi apabila di air yang mengalir.

Pemupukan jerami yang sudah lapuk diperlukan untuk membentuk pelumpuran dan pupuk kandang sebagai bahan organik utama. Bila diperlukan bisa diberi makanan tambahan berupa cacing, kecoa, ulat besar (belatung) setiap 10 hari sekali. Pemeliharaan kolam dan tambak yang perlu diperhatikan adalah gangguan dari luar dan dalam kolam agar tidak beracun.

Pemanenan belut dapat berupa benih/bibit yang dijual untuk diternak/dibudidayakan. Atau juga berupa hasil akhir pemeliharaan belut yang siap dijual untuk konsumsi (besar/panjang sesuai dengan permintaan pasar/konsumen). Cara penangkapan belut sama seperti menangkap ikan lainnya dengan peralatan antara lain: bubu/posong, jaring/jala bermata lembut, dengan pancing/kail dan pengeringan air kolam sehingga belut tinggal diambil saja.

Sumber : Majalah Demersal

 

Media belutt

Oleh ardyant

Disamping ukuran dan persyaratan lahan juga dilengkapi dengan media pemeliharaan dengan urutan dan ukuran antara lain sebagai berikut :
1. Jerami setinggi 30 cm.
2. Pupuk Urea 5 kg dan NPK 5 kg (kolam berukuran 500 cm X 500 cm atau perbandingannya).
3. Lumpur/tanah setinggi 5 cm.
4. Pupuk Kandang setinggi 5 cm.
5. Pupuk kompos setinggi 5 cm.
6. Lumpur/tanah setinggi 5 cm.
7. Cincangan Batang Pisang setinggi 10 cm.
8. Lumpur/tanah setinggi 15 cm.
9. Air setinggi 3-4 cm.

 

Untuk Kolam barudari semen.
Media pemeliharaan ini didiamkan agar terjadi proses permentasi selama kurang lebih dua minggu, sehingga siap untuk ditaburi bibit/benih belut yang akan dibudidayakan

kolam semen yang baru.. kl udah kering di rendam pake air selama 1 hari, kemudian air di kuras dan di gosok pake pelepah pisang sampe berbuih..kemudian diamkan sampe kering,kemudian bilas pake air bilas sampe bersih, kemudian isi dengan kompos dan isi pake air diamkan selama 1 minggu…
pastee beresss. kana cepet berlumut dan Muantaab kaleee

 

Salam kenal buat kita semua. Saya lokasinya dimedan tepatnya di pinggiran kota (Tanjung Morawa) pengen coba untuk membudidayakan belut. Gimana saya bisa dapat pasokan bibit unggul yah untuk daerah medan? ada gak yang supply bibit belut didaerah sumatera utara? Jika tdk ada, gimana caranya supaya bisa dapaetin bibit ini via Bapak Ardy? mohon saran donk bagi yang tau, Please email di: welson8 0@yahoo.com atau di welson @welsindo.com
thanks,
welson
Medan
hp: 081163 9746

Sekedar informasi dari kami Beluters Banyumas…

Pada dasarnya kami mempunyai masalah yang sama dengan rekan2 sekalian.. yaitu setelah tebar banyak bibit yang mati.. setelah cari informasi sana-sini akhirnya pak mumung selaku koordinator harian mendapat informasi dari dinas peternakan yang memberi saran agar kolam segera beri air remasan daun pepaya dengan tujuan menggantikan lendir yang terbuang selama perjalanan. Selama perjalanan memang belut selalu mengeluarkan lendir. Insya Allah kami dari gobelut Banyumas akan ada pertemuan dengan Dinas Peternakan Wilayah Banyumas. Masalah waktu dan tempat masih kami cari yang tepat.

Note:

daun pepaya dapat diganti dengan daun kembang sepatu. caranya dikremes-kremes sampai air berwarna hijau kenthel dan langsung ditaburkan ke kolam…

mudah-mudahan bermanfaat,

Mardi

 

PASAR BELUT DI HONGKONG 60 TON PER HARI

Siang itu Juli 2006 di Batutulis, Bogor, pancaran matahari terik membuat Ruslan Roy harus berteduh. Ia tetap awas melihat kesibukan pekerja yang memilah belut ke dalam 100 boks styrofoam. Itu baru 3,5 ton dari permintaan Hongkong yang mencapai 60 ton/hari, ujar Ruslan Roy.

Alumnus Universitras Padjadjaran Bandung itu memang kelimpungan memenuhi permintaan belut dari eksportir. Selama ini ia hanya mengandalkan pasokan belut dari alam yang terbatas. Sampai kapan pun tidak bisa memenuhi permintaan, ujarnya. Sebab itu pula ia mulai merintis budi daya belut dengan menebar 40 kg bibit pada Juli 1989.

Roy-panggilan akrab Ruslan Roy-memperkirakan seminggu setelah peringatan Hari Kemerdekaan ke-61 RI semua Monopterus albus yang dibudidayakan di kolam seluas 25 m2 itu siap panen. Ukuran yang diminta eksportir untuk belut konsumsi sekitar 400 g/ekor. Bila waktu itu tiba, eksportir di Tangerang yang jauh-jauh hari menginden akan menampung seluruh hasil panen.

Untuk mengejar ukuran konsumsi, peternak di Jakarta Selatan itu memberi pakan alami berprotein tinggi seperti cacing tanah, potongan ikan laut, dan keong mas. Pakan itu dirajang dan diberikan sebanyak 5% dari bobot tubuh/hari.

Dengan asumsi tingkat kematian 5-10% hingga berumur 9 bulan, Roy menghitung 4-5 bulan setelah menebar bibit, ia bakal memanen 400 kg belut. Dengan harga Rp40.000/kg, total pendapatan yang diraup Rp 16 juta. Setelah dikurangi biaya-biaya sekitar Rp 2 juta, diperoleh laba bersih Rp 14 juta.

Keuntungan itu akan semakin melambung karena pada saat yang sama Roy membuat 75 kolam di Rancamaya, Bogor, masing-masing berukuran sekitar 25 m2 berkedalaman 1 m. Pantas suami Kastini itu berani melepas pekerjaannya sebagai konsultan keuangan di Jakarta Pusat.

Perluas areal

Nun di Bandung, Ir R M Son Son Sundoro, lebih dahulu menikmati keuntungan hasil pembesaran belut. Itu setelah ia dan temannya sukses memasok ke beberapa negara. Sebut saja Hongkong, Taiwan, Cina, Jepang, Korea, Malaysia, dan Thailand. Menurut Son Son pasar belut mancanegara tidak terbatas. Oleh karena itu demi menjaga kontinuitas pasokan, ia dan eksportir membuat perjanjian di atas kertas bermaterai. Maksudnya agar importir mendapat jaminan pasokan.

Sejak 1998, alumnus Teknik dan Manajemen Industri di Institut Teknologi Indonesia, itu rutin menyetor 3 ton/hari ke eksportir. Itu dipenuhi dari 30 kolam berukuran 5 m x 5 m di Majalengka, Ciwidey, Rancaekek, dan 200 kolam plasma binaan di Jawa Barat. Ia mematok harga belut ke eksportir 4-5 US$, setara Rp 40.000-Rp 60.000/kg isi 10-15 ekor. Sementara harga di tingkat petani plasma Rp 20.000/kg.

Sumber: Drs Ruslan Roy, MM, Ir R. M. Son Son Sundoro, www.eelstheband.com, dan telah diolah dari berbagai sumber.

Terhitung mulai Juli 2006, total pasokan meningkat drastis menjadi 50 ton per hari. Itu diperoleh setelah pria 39 tahun itu membuka kerja sama dengan para peternak di dalam dan luar Pulau Jawa. Awal 2006 ia membuka kolam pembesaran seluas 168 m2 di Payakumbuh, Sumatera Barat.

Di tempat lain, penggemar travelling itu juga membuka 110 kolam jaring apung masing-masing seluas 21 m2 di Waduk Cirata, Kabupaten Bandung. Total jenderal 1 juta bibit belut ditebar bertahap di jaring apung agar panen berlangsung kontinu setiap minggu. Dengan volume sebesar itu, ayah tiga putri itu memperkirakan keuntungan sebesar US$2.500 atau Rp 20.500.000 per hari.

Di Majalengka, Jawa Barat, Muhammad Ara Giwangkara juga menuai laba dari pembesaran belut. Sarjana filsafat dari IAIN Sunan Gunungjati, Bandung, itu akhir Desember 2005 membeli 400 kg bibit dari seorang plasma di Bandung seharga Rp 11,5 juta. Bibit-bibit itu kemudian dipelihara di 10 kolam bersekat asbes berukuran 5 m x 5 m. Berselang empat bulan, belut berukuran konsumsi, 35-40 cm, sudah bisa dipanen.

Dengan persentase kematian dari burayak hingga siap panen 4%, Ara bisa menjual sekitar 3.000 kg belut. Karena bermitra, ia mendapat harga jual Rp12.500/kg. Setelah dikurangi ongkos perawatan dan operasional sebesar Rp 9 juta dan pembelian bibit baru sebesar Rp 11,5 juta, tabungan Ara bertambah Rp17 juta. Bagi Ara hasil itu sungguh luar biasa, sebab dengan pendapatan Rp 3 juta-Rp 4 juta per bulan, ia sudah bisa melebihi gaji pegawai negeri golongan IV.

Bibit meroket

Gurihnya bisnis belut tidak hanya dirasakan peternak pembesar. Peternak pendeder yang memproduksi bibit berumur tiga bulan turut terciprat rezeki. Justru di situlah terbuka peluang mendapatkan laba relatif singkat. Apalagi kini harga bibit semakin meroket. Kalau dulu Rp 10.000/kg, sekarang rata-rata Rp 27.500/kg, tergantung kualitas, ujar Hj Komalasari, penyedia bibit di Sukabumi, Jawa Barat. Ia menjual minimal 400-500 kg bibit/bulan sejak awal 1985 hingga sekarang.

Pendeder pun tak perlu takut mencari pasar. Mereka bisa memilih cara bermitra atau nonmitra. Keuntungan pendeder bermitra: memiliki jaminan pasar yang pasti dari penampung. Yang nonmitra, selain bebas menjual eceran, pun bisa menyetor ke penampung dengan harga jual lebih rendah 20-30% daripada bermitra. Toh, semua tetap menuai untung.

Sukses Son Son, Ruslan, Ara, dan Komalasari memproduksi dan memasarkan belut sekarang ini bak bumi dan langit dibandingkan delapan tahun lalu. Siapa yang berani menjamin kalau belut booming gampang menjualnya, ujar Eka Budianta, pengamat agribisnis di Jakarta.

Menurut Eka, memang belut segar kini semakin dicari, bahkan harganya semakin melambung jika sudah masuk ke restoran. Untuk harga satu porsi unagi-hidangan belut segar-di restoran Jepang yang cukup bergengsi di Jakarta Selatan mencapai Rp 250.000. Apalagi bila dibeli di Tokyo, Osaka, maupun di restoran Jepang di kota-kota besar dunia.

Dengan demikian boleh jadi banyak yang mengendus peluang bisnis belut yang kini pasarnya menganga lebar. Maklum pasokan belut-bibit maupun ukuran konsumsi-sangat minim, sedangkan permintaannya membludak. (Hermansyah/Peliput: Lani Marliani)

 

EMPAT BULAN PANEN BELUT

Membesarkan belut hingga siap panen dari bibit umur 1-3 bulan butuh waktu tujuh bulan. Namun, Ruslan Roy, peternak sekaligus eksportir di Jakarta Selatan, mampu menyingkatnya menjadi empat bulan. Kunci suksesnya antara lain terletak pada media dan pengaturan pakan.

Belut yang dipanen Ruslan rata-rata berbobot 400 g/ekor. Itu artinya sama dengan bobot belut yang dihasilkan peternak lain. Cuma waktu pemeliharaan yang dilakukan Ruslan lebih singkat tiga bulan dibanding mereka. Oleh karena itu, biaya yang dikeluarkan Ruslan pun jauh lebih rendah. Selain menekan biaya produksi, panen dalam waktu singkat itu mampu mendongkrak ketersediaan pasokan, ujar Ruslan.

Pemilik PT Dapetin di Jakarta Selatan itu hanya mengeluarkan biaya Rp 8.000 untuk setiap kolam berisi 200 ekor. Padahal, biasanya para peternak lain paling tidak menggelontorkan Rp 14.000 untuk pembesaran jumlah yang sama. Semua itu karena Ruslan menggunakan media campuran untuk pembesarannya.

Media campuran

Menurut Ruslan, belut akan cepat besar jika medianya cocok. Media yang digunakan ayah tiga anak itu terdiri dari lumpur kering, kompos, jerami padi, pupuk TSP, dan mikroorganisme stater. Peletakkannya diatur: bagian dasar kolam dilapisi jerami setebal 50 cm. Di atas jerami disiramkan 1 liter mikroorganisma stater. Berikutnya kompos setinggi 5 cm. Media teratas adalah lumpur kering setinggi 25 cm yang sudah dicampur pupuk TSP sebanyak 5 kg.

Karena belut tetap memerlukan air sebagai habitat hidupnya, kolam diberi air sampai ketinggian 15 cm dari media teratas. Jangan lupa tanami eceng gondok sebagai tempat bersembunyi belut. Eceng gondok harus menutupi ¾ besar kolam, ujar peraih gelar Master of Management dari Philipine University itu.

Bibit belut tidak serta-merta dimasukkan. Media dalam kolam perlu didiamkan selama dua minggu agar terjadi fermentasi. Media yang sudah terfermentasi akan menyediakan sumber pakan alami seperti jentik nyamuk, zooplankton, cacing, dan jasad-jasad renik. Setelah itu baru bibit dimasukkan.

Pakan hidup

Berdasarkan pengalaman Ruslan, sifat kanibalisme yang dimiliki Monopterus albus itu tidak terjadi selama pembesaran. Asal, pakan tersedia dalam jumlah cukup. Saat masih anakan belut tidak akan saling mengganggu. Sifat kanibal muncul saat belut berumur 10 bulan, ujarnya. Sebab itu tidak perlu khawatir memasukkan bibit dalam jumlah besar hingga ribuan ekor. “Dalam 1 kolam berukuran 5 m x 5 m x 1 m, saya dapat memasukkan hingga 9.400 bibit,” katanya.

Pakan yang diberikan harus segar dan hidup, seperti ikan cetol, ikan impun, bibit ikan mas, cacing tanah, belatung, dan bekicot. Pakan diberikan minimal sehari sekali di atas pukul 17.00. Untuk menambah nafsu makan dapat diberi temulawak Curcuma xanthorhiza. Sekitar 200 gram temulawak ditumbuk lalu direbus dengan 1 liter air. Setelah dingin, air rebusan dituang ke kolam pembesaran. “Pilih tempat yang biasanya belut bersembunyi,” ujar Ruslan.

Pelet ikan dapat diberikan sebagai pakan selingan untuk memacu pertumbuhan. Pemberiannya ditaburkan ke seluruh area kolam. Tak sampai beberapa menit biasanya anakan belut segera menyantapnya. Pelet diberikan maksimal tiga kali seminggu. Dosisnya 5% dari bobot bibit yang ditebar. Jika bibit yang ditebar 40 kg, pelet yang diberikan sekitar 2 kg.

Hujan buatan

Selain pakan, yang perlu diperhatikan kualitas air. Bibit belut menyukai pH 5-7. Selama pembesaran, perubahan air menjadi basa sering terjadi di kolam. Air basa akan tampak merah kecokelatan. Penyebabnya antara lain tingginya kadar amonia seiring bertumpuknya sisa-sisa pakan dan dekomposisi hasil metabolisme. Belut yang hidup dalam kondisi itu akan cepat mati, ujar Son Son. Untuk mengatasinya, pH air perlu rutin diukur. Jika terjadi perubahan, segera beri penetralisir.

Kehadiran hama seperti burung belibis, bebek, dan berang-berang perlu diwaspadai. Mereka biasanya spontan masuk jika kondisi kolam dibiarkan tak terawat. Kehadiran mereka sedikit-banyak turut mendongkrak naiknya pH karena kotoran yang dibuangnya. Hama bisa dihilangkan dengan membuat kondisi kolam rapi dan pengontrolan rutin sehari sekali, tutur Ruslan.

Suhu air pun perlu dijaga agar tetap pada kisaran 26-28oC. Peternak di daerah panas bersuhu 29-32oC, seperti Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi, perlu hujan buatan untuk mendapatkan suhu yang ideal. Son Son menggunakan shading net dan hujan buatan untuk bisa mendapat suhu 26oC. Bila terpenuhi pertumbuhan belut dapat maksimal, ujar alumnus Institut Teknologi Indonesia itu.

Shading net dipasang di atas kolam agar intensitas cahaya matahari yang masuk berkurang. Selanjutnya tiga saluran selang dipasang di tepi kolam untuk menciptakan hujan buatan. Perlakuan itu dapat menyeimbangkan suhu kolam sekaligus menambah ketersediaan oksigen terlarut. Ketidakseimbangan suhu menyebabkan bibit cepat mati, ucap Son Son.

Hal senada diamini Ruslan. Jika tidak bisa membuat hujan buatan, dapat diganti dengan menanam eceng gondok di seluruh permukaan kolam, ujar Ruslan. Dengan cara itu bibit belut tumbuh cepat, hanya dalam tempo 4 bulan sudah siap panen. (Hermansyah)

Bak itu sekadar tempat singgah. Setelah 1-2 hari dikarantina, belut yang terkumpul itu disortir. Belut kualitas ekspor dipilih berbobot 200-250 g/ekor dan panjang 40-60 cm. Syarat lain: kulit mulus dan lincah bergerak. Belut kemudian dikemas dalam kantong plastik berdiameter 50 cm, lalu diberi 2 liter air. Satu kantong plastik berisi 20 kg. Setelah diberi oksigen, kantong itu diikat dan dimasukkan ke dalam dus ukuran 70 cm x 70 cm x 60 cm untuk keesokan hari diangkut ke bandara.

Ardiyan menerbangkan 4-5 ton/bulan belut ke Singapura, Hongkong, dan Korea. Dengan harga jual US$4,5 atau setara Rp40.950 per kg (kurs 1 US$D=Rp9.100), Ardiyan meraup omzet Rp163,8-juta-Rp204,7-juta/bulan. Setelah dikurangi biaya pembelian belut dari para plasma, ongkos kirim, dan biaya operasional lain, Ardiyan mengutip laba Rp5.000-Rp7.000/kg. Setidaknya Rp20-juta-Rp35-juta mengalir ke koceknya setiap bulan.

Jumlah itu tak seberapa dibanding banyaknya permintaan yang terus mengalir. ‘Singapura minta dipasok 1 ton/hari, Hongkong 5-10 ton/pekan, dan Korea 3 ton/hari,’ tutur alumnus Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Solo itu. Beberapa negara Uni Eropa seperti Belanda dan Belgia juga menanti pasokan masing-masing 23 ton dan 20 ton per tahun.

Menurut Pusat Informasi Pasar Asia Pasifik Kedutaan Besar Kanada di Beijing, Cina, selain Hongkong dan Korea, negara konsumen belut lainnya adalah Jepang, Amerika Serikat, dan Kanada. Jepang terbesar dengan kebutuhan 130.000-140.000 ton/tahun. Pasokan selama ini diperoleh dari Cina. Negeri Tirai Bambu itu dikenal sebagai produsen belut terbesar di dunia. Ia memasok 70% dari total kebutuhan belut dunia yang mencapai 230.000 ton/tahun. Artinya, ceruk pasar belut dunia yang belum terisi sekitar 69.000 ton per tahun.

Badan Pusat Statistik mencatat, volume ekspor dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada 2004, volume ekspor hanya 42.581 kg. Setahun berikutnya melonjak menjadi 106.687 kg.

Permintaan belut tak hanya mengalir dari mancanegara. Ardiyan menuturkan pasar lokal juga menantang. Sentra makanan olahan di Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, butuh pasokan 7-8 ton/hari, Solo dan Klaten 8 ton/hari, dan Jakarta 2 ton/hari. Dari jumlah itu baru sekitar 500-700 kg/bulan yang terpenuhi.

Budidaya

Peluang itulah yang kini dikejar Ardiyan. Namun, pasokan yang seret menjadi batu sandungan. Padahal harga beli yang ditawarkan cukup menggiurkan, Rp20.000/kg kualitas ekspor. Harga itu jauh lebih tinggi ketimbang harga di pasar lokal, Rp9.000-Rp12.000 per kg.

Pasokan seret lantaran Ardiyan mengandalkan belut tangkapan alam. ‘Jumlah peternak belut saat ini masih sedikit,’ katanya. Akibatnya, ketersediaan pasokan bergantung kondisi alam. Pasokan melimpah saat hujan. Saat kemarau sebaliknya. Selain itu, ukuran belut hasil tangkapan alam beragam. ‘Rata-rata hanya 30% yang memenuhi syarat ekspor,’ katanya.

Kurangnya pasokan belut membuat PT Budi Menani Agung, eksportir belut di Jakarta, terpaksa mengurangi frekuensi pengiriman ke Cina. Pengiriman yang semula 3 kali seminggu kini hanya 2 kali. Sekali kirim rata-rata mencapai 1 ton.

Ardiyan berharap kekurangan pasokan itu dapat dipenuhi para peternak. Oleh sebab itulah ia rela mengunjungi berbagai daerah untuk menjaring peternak mitra. Ardiyan pun menjamin menampung hasil panen. Harga belut kualitas ekspor Rp20.000/kg.

Kian ramai

Sejak diekspose Trubus pada September 2006, perbincangan bisnis belut di situs Trubus kian ramai. Begitu juga milis-milis di situs lain. Pelatihan budidaya belut yang diselenggarakan selalu kebanjiran peserta. Bahkan, kini berdiri klub budidaya belut yang anggotanya mencapai 105 orang.

Kisah sukses Sonson Sundoro, Ruslan Roy, Hj Komalasari, dan M Ara Giwangkara juga turut mendorong minat para investor. (baca: Mari Rebut Pasar Belut, Trubus edisi September 2006). Mereka lebih dulu mendulang laba dari belut. Menurut hitung-hitungan Ardiyan, investasi awal untuk pembuatan kolam terpal luasan 6 m x 7 m sekitar Rp890.000. Ditambah biaya produksi Rp1.529.000, total biaya mencapai Rp2.419.000.

Dari 20 kg bibit isi 200-220 ekor/kg, diperkirakan menghasilkan 300 kg setelah 4- 5 bulan pemeliharaan. Dengan harga jual Rp20.000/kg (harga kualitas ekspor), total omzet Rp6-juta. Setelah dikurangi biaya produksi, total keuntungan mencapai Rp3.581.000/musim tebar atau Rp716.200-Rp895.250/bulan. Itu keuntungan di awal investasi. Pada periode tanam berikutnya, laba lebih tinggi yaitu Rp4.471.000V/musim atau Rp894.200-Rp1,1-juta/bulan.

Pantas bila para peternak baru bermunculan di berbagai daerah seperti di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Salah satunya Tjandra Warasto di Parung, Bogor, menggelontorkan ratusan juta rupiah untuk membangun 24 kolam permanen berukuran 5 m x 5 m. Pada September 2006, ia menebar 240 kg bibit. ‘Akhir Maret ini diharapkan sudah bisa dipanen,’ kata pengusaha periklanan itu.

Nun di Boyolali, Jawa Tengah, Muharni juga tergiur menggeluti belut. Lahan seluas 60 m2 di belakang rumah disulap menjadi 8 kolam berukuran 2 m x 3,5 m. Empat di antaranya telah diisi 49 kg bibit. Ibu 2 anak itu memperkirakan akan panen pada Mei 2007.

Di beberapa daerah, kelompok-kelompok pembudidaya belut mulai bermunculan. Dony Fitriandi ST MT, menghimpun 25 peternak di Sragen, Jawa Tengah, untuk mengelola 100 kolam. Arsitek alumnus Universitas Negeri Sebelas Maret itu juga membuat 3 kolam seluas 24 m2. Di Magetan, Jawa Timur, Ardiyan membina plasma yang mengelola 300 kolam.

Sarat kendala

Sayang, pesatnya laju pertumbuhan peternak belut itu tak diimbangi pasokan bibit yang memadai. Menurut pengalaman beberapa peternak, pembibitan belut sulit. Selain itu, hingga kini belum ada penelitian soal perlakuan yang dapat memacu reproduksi belut. Wajar bibit tangkapan alam diburu. Hal itu turut memicu kenaikan harga. ‘Kalau dulu Rp10.000/kg, sekarang rata-rata Rp27.500/kg,’ ujar Hj Komalasari, penyedia bibit di Sukabumi, Jawa Barat.

Bibit alam juga bukan garansi sukses. ‘Dari 100 kg bibit yang ditebar, separuhnya mati,’ kata Catur Budiyanto, peternak di Gunungputri, Bogor. Pengalaman pahit juga dialami Ganjar Ariacipta. Lima belas kilogram bibit yang ditebar di kolam berukuran 3 m x 5 m seluruhnya mati. ‘Mungkin airnya kurang cocok,’ kata peternak di Sadang Serang, Bandung, itu.

Ardiyan menduga, bibit mati akibat penangkapan dengan setrum. Arus listrik menyebabkan belut stres. Kalaupun bertahan hidup, pertumbuhannya pasti terhambat. Oleh sebab itu, pilih bibit yang ditangkap dengan bubu. Media matang juga penting. Cirinya: air di dalam kolam tidak berubah warna dan tidak berbau. Hindari penebaran bibit dalam jumlah besar. Masukkan dulu 1-5 bibit. Bila belut menelusup ke dalam media, pertanda media siap digunakan. Namun, bila beberapa waktu belut tetap di permukaan, media belum matang benar.

Ardiyan menuturkan, teori-teori dan praktek di lapangan seringkali berbenturan. ‘Media yang saya ramu sesuai dengan yang dianjurkan dalam pelatihan. Tetap saja mati,’ kata Catur. ‘Karena itu, peternak mesti berani bereksperimen,’ ujar Ardiyan. Lihat yang dilakukan Wawan, peternak di Bandung. Ia memberi kotoran cacing alias kascing pada media. Alhasil, dari 15 kg bibit berisi 100 ekor/kg, dapat dipanen 75 kg belut berbobot rata-rata 100 g/ekor dalam waktu 4 bulan.

Meski Wawan berhasil, tapi tak mudah memasarkan belut. Rona bahagia di wajah Wawan seketika muram saat eksportir yang berjanji menampung panennya susah ditemui. Khawatir belut-belut itu mati, Wawan melepas ke pasar becek dengan harga Rp11.000/kg. Harga itu jauh lebih rendah ketimbang janji muluk eksportir Rp20.000 kg. ‘Saya hanya mengantongi Rp825.000,’ ujar Wawan.

Oligopsoni

Hasil lacakan Trubus, saat ini baru terdapat 4 eksportir belut: Sonson Sundoro (PT Dapetan Eel Farm, Bandung), Ruslan Roy (PT Dapetin, Jakarta), Ardiyan Taufik (Jakarta dan Solo), dan Hidayat Wijaya (PT Budi Menani Agung, Jakarta). Jumlah eksportir yang masih sedikit itu dikhawatirkan menciptakan kondisi oligopsoni: pemasok bertambah banyak sementara pembeli terbatas. Kondisi itu melemahkan posisi tawar peternak. Bisa dibayangkan apa yang terjadi bila kelak pasar jenuh dan jumlah peternak kian bertambah.

Oleh sebab itu, Tjandra tak mau menyandarkan pasar pada para eksportir. Ia giat menciptakan pasar sendiri. Pria 39 tahun itu menampung belut dari para penangkap di seputar Jabodetabek lalu dijual ke pasar lokal. Meski baru beberapa bulan berjalan, kini ia menjual setidaknya 500-1.000 kg/bulan. Dengan begitu, Tjandra berharap pasar belut tetap melaju. (Imam Wiguna/Peliput: Hermansyah)

 

Media Instan:
Dari Kantong Jadi Belut

Akhir Juli 2006 Chrisno Feryadi menabur 20 kg serbuk kehitaman dalam drum berdiameter 50 cm. Setelah disiram air, lantas diaduk-aduk hingga mirip lumpur. Suspensi itu kemudian didiamkan 2 hari sampai terpecah menjadi dua bagian: endapan serbuk dan air. Saat itu pula 75 bibit belut sepanjang 10-15 cm dimasukkan. Enam bulan kemudian belut-belut itu siap dipanen.

Bobot belut yang dipelihara di drum itu rata-rata 200 g/ekor, sama dengan budidaya di kolam. Yang berbeda lama pemeliharaan. Belut di drum perlu waktu 2,5 bulan lebih lama. Hal itu terjadi karena ruang gerak Monopterus albus itu tidak selonggar bila dipelihara di kolam. Toh hal itu tidak menjadi persoalan.

Sejak 8 bulan lalu Chrisno dapat beternak belut di sembarang tempat. Drum itu hanya satu contoh. Yang agak ekstrim, Ipenk-panggilan akrab Chrisno-pernah mencoba melakukannya di dalam 3 ember plastik berdiameter 25 cm. Hasilnya bibit belut tumbuh besar. Dalam tempo 6 bulan bobotnya mencapai 150 g/ekor.

Semua itu berkat serbuk kehitaman andalan Ipenk yang mudah diaplikasi dan ditenteng ke berbagai lokasi. Serbuk itu adalah media instan kering. Karena praktis-tinggal tabur, siram air, tunggu mengendap, lalu tebar bibit-maka banyak peternak di Sragen dan Boyolali, Jawa Tengah, tertarik. Mereka kagum lantaran bibit belut itu bisa ditebar setelah 2 hari kolam diberi media. Bandingkan dengan cara konvensional. Dari proses pematangan media hingga bibit siap tebar menyita waktu 2-4 minggu.

Ganti komposisi

Racikan media instan pemangkas waktu tebar bibit itu 70% bahan bakunya sama seperti budidaya konvensional. Yang sulit memperoleh bahan baku dari jerami padi, pelepah pisang, pupuk kandang, dan kompos dengan komposisi pas.

Awalnya ayah 2 putra itu merajang jerami padi dan pelepah pisang dengan slicer-semacam pisau-sampai setebal 1 cm. Campuran itu-sebut saja komposisi A-kemudian ditambah campuran pupuk kandang dan kompos-sebut saja komposisi B. Perbandingan antarkomposisi itu dibuat 1:3. Campuran abu-abu kehitaman itu lantas dijemur selama 5 hari berturut-turut hingga kadar airnya sekitar 5%. Tandanya saat diremas tangan langsung hancur layaknya kompos.

Sebanyak 120 kg media perdana itu ditabur pada kolam percobaan berukuran 6 m x 3 m. Di sana ditebar pula 2.700 bibit. Saat dipanen 5 bulan kemudian hanya diperoleh 40%, setara 810 belut yang hidup. Hasil itu jauh dari memuaskan bila dibandingkan budidaya konvensional yang tingkat kematiannya berkisar 30%. ‘Mungkin karena adaptasi bibit alam yang kurang,’ ujar staf sumberdaya manusia PT Garuda Indonesia di Jakarta itu.

Dugaan itu mentah saat ujicoba memakai bibit alam yang sudah beradaptasi di kolam konvensional. Hasilnya tetap tidak memuaskan. ‘Mungkin campuran media yang kurang sesuai,’ pikir Ipenk. Sebab itu pula komposisi media awal itu diubah. Kini komposisi A dibuat perbandingan berbeda. Tidak 1:1, tapi 1:2. Demikian pula komposisi B. Jumlah pupuk kandang dikurangi dan kompos tetap, 1:2.

Campuran itu masih ditambah bekatul dan lumpur kering masing-masing sebanyak 0,4 bagian. ‘Bekatul dipakai sebagai perekat. Pupuk kandang dikurangi karena proses penguraiannya terlalu lama,’ ujarnya. Media itu lantas diberi stater, konsentrat mikroorganisme sebanyak 0,6 bagian. Campuran itu lantas diperam 7-14 hari hingga terfermentasi sempurna. Campuran akhir terlihat seperti serbuk kopi, berwarna hitam pekat. Saat ditaruh di air, serbuk itu tidak mengeluarkan gas amonia.

Saat diuji kembali pada kolam dan jumlah bibit sama, media instan baru itu menuai hasil menggembirakan. Tingkat mortalitas turun hingga di bawah 10%. Bahkan khusus di kolam, bobot 200 g/ekor dapat dicapai dalam tempo 4,5 bulan. Peternak konvensional butuh waktu minimal 6 bulan. ‘Mortalitas pernah mencapai angka nol persen,’ ujarnya.

Terobosan baru

Menurut Dr Ir Ridwan Affandi, DEA, temuan Ipenk itu terobosan baru. ‘Selama ini budidaya konvensional dianggap terbaik,’ ujar peneliti ikan konsumsi dari Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor itu. Ridwan menduga, kecepatan pertumbuhan karena diiringi munculnya pakan alami. ‘Komposisi media itu bisa menumbuhkan cacing, insekta air, protozoa, infusoria, gastrophoda, fitoplankton, dan zooplankton,’ tambah alumnus Universite De Paris VI di Perancis itu.

Meski demikian menurut Ardyant Taufik, peternak di Solo, sumber pakan alami yang dibentuk media instan tetap perlu disokong pakan alami lain. ‘Pertumbuhan belut akan makin baik jika diberi anakan ikan mas, ikan cetol, bekicot, dan keongmas,’ ujar alumnus Jurusan Hukum, Universitas Muhammadiyah Solo yang sudah menerapkan media instan pada plasmanya itu.

Menurut Ipenk, keunggulan lain dari media instan terletak pada sirkulasi air. ‘Kolam tidak perlu diberi arus,’ ujarnya. Cara konvensional, arus air tetap diperlukan sebagai sumber oksigen terlarut. ‘Oksigen tetap diperoleh asalkan ketinggian air diatur sekitar 3 cm saja,’ tambahnya. Istimewanya lagi pemanfaatan eceng gondok Eichornia crassipes sebagai peneduh yang lazim diterapkan peternak konvensional tidak dibutuhkan lagi. Maklum media instan itu sudah dapat melindungi belut dari sengatan matahari.

Upaya keras Chrisno Feryadi menciptakan media instan patut mendapat acungan jempol. ‘Penemuan itu sangat membantu peternak pemula yang selalu kesulitan mendapat bahan baku media,’ ujar Sonson Sundoro, pemilik PT Dapetan, eksportir belut di Bandung. Jadi, mau beternak belut? Siapkan ember, tabur media, siram air, dan cemplungkan belut. Praktis. Media instan menjadi solusi terbaik. (Hermansyah)

Tips : Cara mengetahui apakah belut itu sudah panen atau belum mungkin dengan cara memasang bubu di kolam tersebut secara acak.
nah dari belut yang masuk bubu tersebut kita lihat dan ukuran berapa yang terbanyak.
Kalau dengan cara kita acak-acak medianya, mungkin si belut (

seluruh isi kolam ) bisa stress.

 

 

Menangkap belut

 

• Untuk menangkap belut saya memasang bubu disawah. Saya umpan cacing dibakar sekitar 4-5 ekor untuk satu bubu. Bau cacing bakar bikin belut mabok kepayang masuk semua ke bubu tanpa kecuali.

• Caranya bubu di masukan cacing bakar kemudian bubu ditanam separo dalam lumpur diantara tanaman padi setelah mahgrib. Beri jalur pada lumpur untuk jalan masuk.

• Lihat besok pagi setelah solat subuh, tapi hati hati didalam bisa ada ular, tandanya kalau didalam ular padi di sekitar bubu roboh karena ular setelah kepalanya masuk dan ekornya berontak merobohkan padi disekitar bubu.

 

Pembibitan belut

 

• Dalam satu media, menggunakan Jantan : yg panjangnya 40 cm dan betina 25 -30 cm.

• Satu tempat pemijahan 1 jantan dan 4 betina.

Ternak Belut dalam 1mx1mx1m

 

• Kolam 1m2 dg kedalaman 1m berarti volumenya kan 1m3,kalau mau diisi 70cm berarti 0,7m3 berarti sebanyak itu media yang kita perlukan.Jerami 5karung kalau sdh ditimbun lumpur langsung mampat cuma bbrp cm tebalnya,alhasil suzuki pick up cuma bisa bawa media untuk kolam 1 x 1m2.

 

 

Tanya Jawab Belut

 

• 1. Tanya :Media kolam yang bagus yg bgm ?

• Ardyant :Media (lumpur & air)adalah tempat hidup belut,mk media hrs bersifat “adem”(dingin dan lumpurnya lembut) dan banyak jasad renik didlmnya untuk makanan belut,air bersih tdk tercemar tdk ada kaporit.Medianya ;1.Jerami ;2.pupuk kandang, 3.Pembiak mikro organisme(pupuk kimia ZA,NPK atau paling bagus starter organik),4.Lumpur sawah/sungai/rawa yg halus,5.kompos,6.cacahan batang pisang (sbg tempat hidup cacing),7.lumpur lagi paling atas. Kemudian diisi air bersih,tinggi media 60 cm – 70 cm,tinggi air diatas media min 3cm maks 4cm. Kalau tinggi air >15cm belut akan tewas. Kalau media tdk disukai belut maka belut akan lari keluar atau lebih baik mati jadi tanah,dan anda tdk akan menjumpai bangkainya.

• 2. Tanya : Bgm sistim saluran air dikolam semen ?

• Bersambung nanti ya,sholat dulu.Sistim saluran air,Ardyant :Saluran air masuk & 2 sal pembuangan,pembuangan primer didasar kolam unt buang air kolam waktu panen & pembuangan sekunder di bag atas kolam unt kontrol air agar tidak lebih dari 4cm diatas lumpur.

• 3.Tanya : Apakah bangkai bisa unt makanan tambahan ?

• Ardyant : Pakan tambahan harus diberikan 3hr setelah tebar bibit,belut makan dimalam hari,ttp pakan boleh diberikan tiap saat,tiap 2hr-3hr,bisa berupa cacahan bekicot,daging kelinci/ikan besar yg sdh direbus,kodok cacah,ikan2 kecil,/pakan buatan berupa pellet udang/lele

 

• 4.Tanya :kalau belut dipelihara 4-5 bl &tdk ada penjarangan bgm menjaga agar media tetap baik kondisinya ?

• Ardyant :Krn kotoran belut air akan bnyk mengandung amoniak jadi sebaiknya air diganti setiap seminggu,seblm seminggu kalau banyak buih juga hrs ganti,yg ideal kalau air disirkulasi tiap saat & disaring pakai filter spt di aquarium.

• 5.Tanya : Apakah setelah belut dipanen lumpurnya bisa dipakai lagi?

• Ardyant :Bisa,tetapi media yang lain perlu diperbarui agar jasad reniknya tetap banyak.

• 6.Tanya :Berapa % tingkat sukses plasma selama ini ?

• Ardyant :Untuk pemula bisa 100% gagal dulu,jadi mulailah dengan kecil dulu,10m2 sampai 20m2.

• 7.Tanya :Bagaimana dengan pembesaran di drum ?

• Ardyant rum tdk disarankan unt pembesaran,krn hasilnya tdk akan optimal,kalau mau nyoba beri bibit 1 kg saja,drum yg karatan tdk bisa dipakai.Drum plastik tdk cocok dipakai krn tdk rigid. Drum cocoknya unt kolam pembibitan.

• 8. Tanya : Apa kunci sukses pembibitan di drum ?

• Ardyant : Tempat pembibitan bisa pakai drum plastik/besi/buis beton yg diameter 50cm tinggi cukup 50cm.Media yg dipakai sama dg yg unt pembesaran,cuma tingginya 15cm-20cm saja unt memudahkan pengontrolan. Isinya cukup seekor jantan & 4 ekor betina (blm dicoba kalau >4ekor). Dialam perkawinan belut terjadi saat musim panas sampai datang hujan,jadi iklim dikolam dibuat spt itu spy belut cepat kawin,agar kolam teduh bisa diberi shading net yg 30 %.

• 9.Tanya : Begitu kolam selesai dibuat nunggu brp lama spy baik dipakai ?

• Ardyant : Kolam baru hrs digosok dulu dg pelepah pisang sampai berbusa,tunggu kering 1 atau 2 jam bilas dg air,kalau memang tdk bocor,langsung bisa diisi media. kmd isi dg air,tinggi air diatas lumpur maks 4cm. tunggu sampai 2 minggu,cek dgdi obok2 pakai kayu,kalau tdk lagi gas yang timbul berarti media sdh jadi,bibit bisa dimasukkan ke kolam. 

Tanya Jawab Belut

 

• Tanya: ada kasus nih, kalo ada kolam 1,5m x 1,5 m tapi tingginya 1,5 m, apakah banyaknya bibit yg disebar sama dengan yg tinggi 1 m? Mana yang lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan belut: Lebar dan panjang kolam ato kedalaman kolam?

• Jawab: lebarnya lah yang berpengaruh, jadi patokan buat penebaran cuma luas media aja om… kl ketinggian tidak termasuk dan buat budidaya ini cuma butuh tinggi kolam 80-100cm aja.. karena media yang di pake berkisar di angka 60-70cm aja dan ketinggian air dr atas lumpur maximal 4 cm dan minimal 3 cm…

• dan untuk 1 m2 idelanya buat 1 kg bibit belut

Perhitungan Kasar

 

• Contoh perhitungan ternak Belut sbb :
– luas lahan saya 10 x 10 m = 100 m2
– 1 m2 bisa ditanam 1 kg. jadi butuh 100 kg bibit belut
– 1 kg bibit bisa panen 15 kg. Jadi kalo kita menyebar 100 kg maka
potensi panennya bisa 1500 kg.
– harga 1 kg belut panen = 20.000 rupiah. jadi total uang masuk = 30
juta rupiah!!.BEAYA


Bibit 1 kg = 22.000. jadi untuk 100 kg bibit = 2,2 juta.
pakan ? anggap 2,8 juta.
Total 5 juta.
Margin 30 juta – 5 juta = 25 juta!!Apakah betul asumsi perhitungan diatas??
jika betul cukup mencengangkan lahan 100 m2 bisa menghasilkan 25 juta dalam tempo 4 bulan.

 

 

 

 

 

 

 

Membangun Jaringan Belut

 

• Saat ini ada keinginan membangun Koperasi Belut Indonesia yang bertujuan mendekatkan petani belut dengan konsumen (pasar) secara langsung.

• Selama ini jalur distribusi dikuasai oleh pedagang/tengkulak, sehingga harganya tidak terkontrol.

 

Pengiriman Belut

 

• Gimana sistem pengiriman hasil panen belut ?

• Pengiriman hasil panen bisa dengan steofoam yang di lubangi bagian atasnya aja, trus di kasih air sedikit, 1 box steofoam ukuran 75×45 bisa muat belut 25-30kg pengiriman mengunakan apa aja deh, bisa dengan perjalanan darat, bisa juga dengan udara…asal paking bener pasti slamet belut besar tahan luar biasa kok….yang jelas proses sebelum di kirim, belut di cuci bersih dan belut sudah di diemkan di dalam bak yang berisi air aja kurang lebih tingginya 5-7cm aja dan air dibikin mengalir bisa dengan menggunakan jetpum yang biasa di pake di aquarium…kl sudah belut di cuci bersih kemudian di masukan ke dalam box steofoam sebelumnya di timbang dl.. kl sudah masuk semua box di isi air bersih… dan buih yang terdapat di dalam box di buang dengan cara di ambil pake tangan/mangkuk… kemudian di beri 1 lembar daun pepaya air di dalam Box pengiriman kurang lebih 3cm dr atas belut paling atas
kl sudah di lakban sekeliling… yang rapat.. dan jangan lupaa tutup
atas steofoam di kasih lubang sebesar jemari telunjuk sebanyak 20
lubang… so belut siap di kirim ke saya deh. (dari berbagai sumber)

Ditulis dalam Budidaya |


Tinggalkan komentar

FERMENTASI JERAMI UNTUK PAKAN TERNAK


FERMENTASI JERAMI UNTUK PAKAN TERNAK

jerami

Diadopsi oleh Drh. M. Fakhrul Ulum dari Lembar Informasi Pertanian (Liptan), BPTP Yogyakarta

Deskripsi
Jerami padi merupakan limbah tanaman pertanian yang sangat potensial sebagai pakan hijauan terutama di daerah kering seperti Kabupaten Gunung Kidul. Pada penghujan, jerami padi diberikan dalam jumlah sedikit. sedangkan pada musim kemarau pada umumnya peternak memberikan jerami padi sebagai hijauan tunggal. Jerami padi mengandung sedikit protein, lemak dan pati serta serat kasar yang relatif tinggi karena lignin dan silikanya tinggi. Untuk meningkatkan kecernaan jerami padi dan jumlah konsumsinya, jerami padi perlu diberi perlakuan secara biologis dengan menggunakan probiotik. Probiotik merupakan produk bioteknologi yang mengandung polimikroorganisme, lignolitik, proteolitik, amilolitik, sellulolitik, lipolitik dan nitrogen non simbiotik yang dapal memfermentasi jerami sehingga dapat meningkatkan kualitas dan nilai kecernaannya.

Bahan
1. Jerami padi 1 ton
2. tetes tebu Probiotik 6 kg
3. Urea 6 kg

Alat
Pengaduk, Cangkul

Cara Pembuatan
1. Tumpuk jerami dengan ketebalan sekitar 30 cm dan taburkan campuran serbuk probiotik dan urea secara merata pada tumpukan jerami tersebut.
2. Siramkan air diatas tumpukan jerami secara merata untuk mempertahankan kadar air jerami sebesar 60 %.
3. Pada saat penyemprotan / penyiraman dapat pula ditambahkan molases/tetes tcbu ke dalam air sebagai bahan makanan mikroba dalam probiotik.
4. Ulangi proses 1 sampai dengan 3 hingga beberapa lapisan.
5. Biarkan tumpukan jerami selama 21 hari pada tempat yang teduh (terhindar dari sinar matahari dan air hujan).
6. Setelah 21 hari bongkar tumpukan dan jemur dengan simar matahari sehingga kadar air diperkirakan mencapai 15 %.
7. Setelah kering dapat ditumpuk kembali dan simpan ditempat yang teduh.
8. Jerami siap untuk diberikan pada ternak.

Ditulis dalam Sapi
« Sistem Bagi Hasil Yang Adil
Bakalan Sapi Simental »


Tinggalkan komentar

TEKNOLOGI PAKAN DALAM PENGGEMUKAN SAPI SECARA INTENSIF


TEKNOLOGI PAKAN DALAM PENGGEMUKAN SAPI SECARA INTENSIF

simentalPakan yang baik untuk sapi adalah yang dapat memenuhi kebutuhan protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral. Protein berfungsi untuk mengganti sel-sel yang telah rusak, membentuk sel-sel tubuh baru dan sumber energi. Karbohidrat berfungsi sebagai sumber energi dan pembentukan lemak tubuh. Lemak berfungsi untuk pembawa vitamin A,D,E,K dan juga sebagai sumber energi. Pada sapi yang digemukkan secara setengah intensif ( kereman ) dan full intensif ( dry lot fattening ) lapisan lemak dapat menyelimuti serabut otot sehingga tekstur daging otot menjadi lembut ( kualitas terbaik ).Mineral diperlukan untuk pembentukan jaringan tulang dan urat serta mempermudah proses pencernaan dan penyerapan zat-zat makanan.. Vitamin berfungsi untuk mempertahankan kekuatan tubuh dan kondisi kesehatan.

Dalam hal ketersediaan pakan di pedesaan, jerami adalah sumber pakan yang paling banyak di jumpai, sehingga fokus kita adalah pada jerami tersebut. Akan tetapi jerami adalah sumber pakan yang berkualitas rendah, ini dapat dilihat kandungan yang terdapat didalamnya yaitu protein 4,5 – 5,5 % – lemak 1,4 – 1,7% – serat kasar 31,5 – 46,5 % – Daya cerna 30 % ( seandainya makan 10 kg jerami maka yang diserap hanya 3 kg lainnya menjadi kotoran ), bandingkan dengan rumput gajah dimana protein 8,4 –11,4 % – lemak 1,7 – 1,9 % – serat kasar 29,5 – 33 % – daya cerna 52 %, dari perbandingan tersebut terlihat bahwa jerami terlalu kasar dan sangat sulit dicerna disamping kandungan protein dan lemak yang sedikit. Untuk meningkatkan mutu dari jerami maka diperlukan perlakuan khusus, berikut beberapa cara untuk meningkatkan mutu jerami :

1. Jerami padi dicampur dengan urea + starbio Jerami yang akan dicampur harus ditimbang terlebih dulu.Jerami bisa dalam keadaan kering ataupun basah ( segar ). Untuk jerami kering, urea yang digunakan harus dilarutkan kedalam air terlebih dulu, setiap 100 kg jerami kering dibutuhkan 100 liter air sebagai pelarut urea.Sedang untuk jerami segar, urea tak perlu dilarutkan kedalam air.Bila jerami segar yang dipilih maka setiap 100 kg jerami di butuhkan 10 kg urea + 10 kg starbio untuk ditaburkan diatasnya( dengan kata lain 1 kg jerami dengan 1 ons urea + 1 ons starbio ).Cara mencampurnya yaitu jerami di buat berlapis-lapis, setiap lapisan tebalnya 10 cm, setelah lapisan pertama ditebarkan lalu di tumpuki lapisan kedua begitu seterusnya, kemudian tutup tumpukan tersebut dengan plastik agar terjadi fermentasi, hindarkan dari terik sinar matahari dan hujan. Tunggu 21 hari untuk diberikan hewan ternak. Pencampuran ini dimaksudkan untuk menghancurkan ikatan silika dan lignin pada selulosa jerami, sehingga mudah dicerna dan kaya akan nitrogen, tingkat daya cerna jerami dapat meningkat dari 30 % menjadi 52 %.

2. Jerami Padi kering dengan tetes. Jerami padi olahan ini dibuat dengan cara difermentasikan selama 24 jam, yaitu jerami dipotong-potong, kemudian dicampur air dan tetes dengan perbandingan 2 : 1. Untuk setiap 10 kg jerami kering dibutuhkan tetes 1,5 kg dan air 3 kg ( 3 liter ), ditambah super phospat 25 gram ( 1 sendok makan ) dan amonium sulfat 25 gram juga, tunggu 24 jam baru diberikan pada sapi.

3. Jerami padi kering dengan larutan NaOH

Olahan jerami padi kering dilakukan dengan cara jerami dicuci dengan NaOH. Jerami padi sebanyak 1 kg disiram secara merata dengan larutan NaOH 30 gram + air 1 liter, kemudian selelah disiram tunggu minimal 6 jam agar silika hancur. Menurut Ditjen peternakan bahwa seekor sapi bisa diberikan jerami olahan ini sebanyak 5 kg + hijauan segar 5 kg + 5 gr mineral campuran yang bisa dibeli di toko dan garam dapur dua sendok makan.

Setelah mengetahui tata cara peningkatan mutu jerami yang membuat kita tidak perlu mengarit kesana kemari , sekarang kita membahas pakan tambahan yang berfungsi sebagai pemercepat pertambahan bobot sapi. Pakan tambahan ini adalah syarat mutlak dalam penggemukan sapi secara intensif. Berikut beberapa sumber pakan tambahan yang dapat di jumpai di kebanyakan daerah, serta kandungan yang terdapat di dalamnya.

Tabel 1

Nama Pakan

Protein %

( dalam 100 kg )

Lemak %

( dalam 100 kg )

TDN *

( dalam 100 kg )

Bahan Kering

Dedak Halus

14 %

3,32 %

87,6 %

86 %

Dedak kasar

9,9 %

2,10 %

56,3 %

84 %

Tepung Jagung

9,38 %

5,6 %

81,84 %

84,98 %

Gamblong

2,83 %

0,676 %

77,25 %

35 %

Ampas tahu

25,4 %

5,4 %

76,6 %

10,8 %

Kacang Kedele

48 %

3, 65 %

84,3%

87 %

Tepung Ikan

54,3 %

2,86 %

68,8 %

89 %

* TDN singkatan dari Total Digestible Nutrient, adalah jumlah persentase zat-zat makanan yang dapat dicerna.Perhitungannya berdasarkan penjumlahan persentase dapat dicerna dari protein, serat kasar, BETN ( bahan ekstrak tiada nitrogen ), serta ekstrak eter dengan konstanta 2,5.

Untuk lebih lengkapnya lihat Lampiran – Halaman paling belakang

Perlu di ketahui bahwa sapi mempunyai kemampuan mengkonsumsi pakan berdasarkan bobot, semakin berat bobot maka semakin banyak kemampuan makannya, berikut perkiraan kemampuan sapi dalam mengkonsumsi pakan :

Tabel 2

Bobot

( kg )

Kemampuan Mengonsumsi Pakan

( % dari bobot badan )

100 – 150

3,5

150 – 200

4

200 – 250

3,5

250 – 300

3

300 – 350

2,8

350 – 400

2,6

400 – 450

2,4

450 – 500

2

Perkiraan diatas berdasarkan pakan dengan kandungan kering. Contoh perhitungan bila kita mempunyai sapi bakalan yang siap digemukkan berbobot 400 kg maka konsumsi bahan keringnya adalah 400 x 2,4 % = 9,6 kg, dari kebutuhan ini kita bagi menjadi dua bagian yaitu 40 % pakan tambahan dan 60 % jerami atau rumput gajah, perbandingan ini sangat pas untuk penggemukan secara intensif. Jadi untuk jerami di butuhkan 60 % x 9,6 = 5, 76 kg sisanya yaitu 3,84 kg berupa pakan tambahan seperti dedak, tepung jagung, gamblong atau yang lain tergantung yang mana yang mudah didapatkan didaerah masing-masing. Berikut 2 jenis makanan pokok ( makanan kasar ) yang merupakan sumber serat kasar bagi sapi yang umumnya di jumpai di daerah.

Tabel 3

Nama Pakan

Protein

Lemak

TDN

Bahan Kering

Jerami

4,5 %

1,4 %

30 %

86 %

Rumput Gajah

8,7 %

2,01 %

49,2 %

23,8 %

Jadi sekarang bisa kita hitung angka riil yang dibutuhkah sapi yang berbobot 400 kg tersebut di atas. Sudah didapat dari perhitungan bahwa jerami kering yang dibutuhkan adalah 5,76 kg berarti kalo kita mengambil jerami pada umumnya dengan bahan kering 86 % perhitungannya riil sebagai berikut :

5,76 kg x 100 / 86 = 6,7 kg dan bila pakan tambahan yang di berikan hanya dedak kasar maka didapat 3,84 x 100 / 84 = 4, 57 kg. Jadi jelas sekarang untuk sapi bobot 400 kg di butuhkan jerami sawah atau hasil olahan seberat 6,7 kg timbangan dan dedak 4,6 kg timbangan ( pembulatan ).

Penyusunan Pakan Tambahan Yang Lengkap

Pakan tambahan seyogyanya tidak dedak saja, melainkan kombinasi dari berbagai jenis, untuk itu sebelumnya kita ketahui terlebih dulu kebutuhan zat gizi yang diperlukan untuk penggemukan.Berikut tabel kebutuhan nutrisi sapi jantan dalam berbagai kelompok umur :

Tabel 4

Berat sapi

( KG )

% SERAT KASAR

% PROTEIN

% TDN

200

15

13

86

250

20

11,4

80

300

23

10,4

80

350

25

10

80

400

25

9,5

77

450

35

9

75

600

28

8

70

800

20

7

60

* berdasarkan berat kering.

Sekarang kita coba menyusun ransum makanan sapi dengan maksimal pertambahan berat badan yaitu 1 kg keatas berdasarkan tabel 1 – 4. Kita susun ransum sapi dengan bobot 400 kg. Telah disinggung pada halaman sebelumnya bahwa untuk penggemukan secara intensif komposisi hijauan ( makanan kasar / serat kasar ) dengan konsentrat sebagai pakan tambahan dengan perbandingan 60 % : 40 %. Sedang sumber makanan yang tersedia adalah sebagai berikut :

- Jerami (sebagai pengganti hijauan sumber serat kasar krn mudah didapat dan murah)

- dedak halus

- dedak kasar pakan tambahan

. – gamblong / ampas ketela

- tepung jagung

Sapi dengan berat 400 kg membutuhkan makanan dalam berat kering sebesar 400 kg x 2,6 % (tabel 2) = 10,4 kg

Sekarang kita tentukan dulu serat kasar yang di butuhkan yaitu bersumber dari jerami. Karena kita sudah tentukan perbandingan 60 % untuk sumber serat kasar, maka jerami dengan kadar kering 86 % ( tabel 3 ) diperoleh :

( 10,4 kg x 60 % ) : 86 % = 7,26 kg sedangkan sisanya untuk pakan tambahan 10,4 – 7,26 = 3,14 kg

Untuk menyusun pakan tambahan ini diperlukan prioritas pencapaian target protein saja, sedang TDN hanya sebagai perbandingan. Karena penyusunan pakan tambahan yang terdiri dari 4 komponen atau bahan begitu sulit maka kita minta bantuan program untuk melakukan perhitungan, program yang sederhana kita buat memakai microsoft excel, kami sebut dengan Ransum ( klik saja ), sehingga didapatkan masing-masing komponen dengan memperhatikan bahan kering seperti tabel 1 didapat angka riil sbb :

Dedak halus : 1,5 kg x 100 /86 = 1,16 kg

Dedak kasar : 0,3 kg x 100/84 = 0,78 kg

Gamblong : 0,75 kg x 100/35 = 2,14 kg

Tep. Jagung : 0,6 kg x 100/84,98 = 0,7 kg

Sekarang Anda sudah mampu menyusun ransum dengan tepat-akurat, selanjutnya perlu mengetahui juga bahan-bahan tambahan yang mampu mempercepat pertumbuhan badan hewan ternak yang banyak dijual di pasaran. Kelebihan bahan-bahan tersebut adalah mampu mengefisienkan penyerapan makanan oleh ternak sehingga dapat mengurangi kebutuhan makanan yang telah kita hitung berdasar perhitungan teori, namun mampu menambah berat badan harian secara maksimal. Berikut bahan-bahan tersebut :

1. Bossdext

Merupakan suplemen ekstra berbentuk cair, formula ini terdiri dari enzim ekstrak tumbuhan pilihan dan bahan lain yang bermanfaat untuk meningkatkan proses pencernaan sapi, serta mengoptimalkan penyerapan dan efisiensi penggunaan pakan.Enzim yang terdapat dalam Bossdext ( boss = sapi,dext = air ) terdiri dari single cell protein bactery dan pemberiannya melalui oral dengan dicampur dan difermentasi lebih dulu dengan pakan tambahan sapi ( comboran ). Formula bossdext mengandung 32 enzim , 27 % substrat ( bionutrisi M.O ), 8 % chellate, 7 % garam elektrolit, 8 % vitamin, 7% ekstrak tambahan dan 11 % pelarut. Enzim adalah molekul protein yang berfungsi sebagai katalisator dalam reaksi biokimia yang diselenggarakan lewat aktivitas jasad renik. Sebagai katalisator, enzim dalam bossdext memungkinkan reaksi penguraian serat kasar di dalam rumen berlangsung lebih cepat.Selain itu, enzim ini juga mendukung aktivitas kerja mikroba rumen. Sedangkan chellate,vitamin dan garam elektrolit akan menjaga keseimbangan dalam proses metabolisme. Menurut penemunya yaitu HM Setio Hadi, penggemukan sapi dengan penggunaan Bossdext dapat meningkatkan bobot sapi 1,5 – 3,0 kg / hr bahkan ada yang mampu mencapai 4 kg /hr, asal bakalan sapi mempunyai genetik baik. Bagaimana cara membuat Bossdext perlu diketahui pula oleh kita, berikut caranya :

Bossdext yang diambil dari kemasan / botol tidak dapat diberikan langsung kepada sapi, melainkan harus dikultur terlebih dulu dengan melarutkannya kedalam air bersih, bebas kaporit dan antiseptik dan ber pH antara 6,8 – 7,2. Sumber yang terbaik adalah air tanah. Wadah untuk mengultur berupa bejana dari plastik atau tanah liat. Selama dalam proses pengulturan ini dilakukan pemberian aerasi secara terus menerus dengan aerator. Proses pembuatan kultur di lakukan ditempat teduh / tidak terkena sinar matahari secara langsung. Wadah tempat kultur dari plastik PVC dan tidak berwarna hitam karena akan menghambat masuknya sinar tidak langsung matahari yang membantu kerja bakteri pengurai. Berikut pembuatan kultur Bossdext :

1. Sediakan 3 ember plastik PVC bersih yang tidak berwarna hitam untuk seekor sapi.

2. Isi ember pertama dengan 5 liter air

3. Kocok isi botol bossdext, lalu ambil 30 mL ( dua tutup botol ) cairan bossdext dan masukkan cairan tersebut kedalam ember pertama yang telah terisi 5 liter air.

4. Beri aerasi selama 3 hari terus menerus dengan menggunakan aerator seperti di akuarium air hias yang banyak dijual di toko-toko ikan hias.Pemberian aerator ini akan menjamin keberhasilan pertumbuhan kultur yang aerob.

5. Pada hari berikutnya yaitu hari ke –2 lakukan hal yang sama seperti langkah nomor 2 hingga nomor 4 pada ember ke –2.

6. Pada hari berikutnya yaitu hari ke – 3 lakukan hal yang sama seperti langkah nomor 2 hingga 4 pada ember ke 3.

7. Pada hari ke-4 larutan kultur Bossdext pada ember pertama sudah dapat diberikan pada sapi. Untuk menguji keberhasilan proses pembuatan kultur ini bisa dilakukan dengan meraba dinding ember sebelah dalam yaitu terasa licin dan terdapat larutan menjendal yang berwarna bening ini berarti pembuatan kultur Bossdext telah berhasil.

8. Cuci bersih ember pertama yang telah usai dipakai lalu buat larutan kultur baru untuk tiga hari mendatang. Stu ember kultur bossdext untuk satu ekor sapi.

Kegagalan pembuatan kultur bisa disebabkan oleh beberapa hal yaitu standar baku air tidak memadai, ember tidak terbuat dari bahan PVC misal seng, belanga, ban bekas dan berwarna hitam, dosis dan prosedur salah, ruang pembuatan terlalu gelap atau terkena sinar matahari secara langsung, ember tertutup rapat, gelembung aerasi terlalu besar, ember terkontaminasi zat kimia misal sabun, deterjen, antiseptik. Sekarang kita membahas cara pemberian comboran dengan Bossdext sebagai campurannya, sebagai berikut :

1. Siapkan pakan tambahan yang telah kita bahas sebelumnya, yaitu bisa dedak saja atau kombinasi dari berbagai bahan sesuai perhitungan yang telah kita tentukan pada bagian terdahulu, sesuai dengan bobot sapi pada tabel no.2

2. Ambil separuh dari larutan kultur bossdext dan tambahkan separuh pakan tambahan untuk porsi sehari, jika pada perhitungan kita diatas menghasilkan angka 3,14 kg maka ambil 1,57 kg untuk dicampurkan dengan separuh kultur bossdext, bisa ditambahkan garam dapur tanpa yodium secukupnya.

3. Aduk rata campuran tersebut dan bila kurang encer bisa ditambah air.

4. Biarkan campuran ini 1 jam agar terjadi fermentasi

5. Sisa kultur dan pakan tambahan diperlakukan sama untuk porsi sore hari

6. Setelah comboran habis dimakan oleh sapi,beri minum sepuasnya.

7. Beri sapi pakan jerami kering setelah 1- 2 jam pemberian combor, yaitu saat sapi mulai mengeluarkan air liur.

8. lakukan pemberian pakan dengan teratur setiap hari.

Demikian tata cara pembuatan kultur dan perlakuan bossdext dengan comboran.

2. Starbio

Sama halnya dengan bossdext, starbio adalah feed suplemen yang berfungsi membantu meningkatkan daya cerna pakan dalam lambung ternak. Starbio ini terdiri dari koloni mikrobe 9 ( bakteri fakultatif ) yang berasal dari lambung ternak ruminansia dan dikemas dalam campuran tanah dan akar rumput serta daun-daun yang telah membusuk. Mikroba yang terdapat didalamnya adalah mikroba lignolitik, selulitik,proteolitik, dan fiksasi nitrogen non simbiotik. Starbio dipasarkan berupa serbuk berwarna coklat. Bagaimana cara perlakuan starbio terhadap makanan sapi bisa di baca pada bab awal. Dengan teknologi ini pertambahan berat sapi bisa 1,2 kg / hari.

3. Bioplus

Zat ini berupa serbuk yang didalamnya terdiri dari bakteri menguntungkan seperti Lactobacillus, Streptomyces sp dan cendawan fermentor lain. Bioplus dikembangkan dari limbah rumah pemotongan hewan . Isi rumen sapi yang ditampung di tempat pemotongan diseleksi dan dipelihara ( fermentasi ) dengan diberi pakan jerami. Semakin bagus pertumbuhan koloni mikrobe tersebut maka semakin bagus pengaruhnya untuk pemcernaan sapi.Mikrobe yang mempunyai kemampuan tinggi mengurai pakan berserat adalah bakteri selulitik dan protozoa selulitik. Protozoa yang berkembangbiak dalam rumen merupakan sumber protein hewani bagi sapi. Pemberiannya dicampurkan dengan pakan tambahan ( comboran ). Dimana 1 kg bioplus dapat dicampur dengan 400 kg comboran kering, dengan kata lain 2,5 kg comboran kering bioplusnya 10 g. Bioplus ini mampu meningkatkan berat harian sapi sebesar 0,68 kg.

Ditulis dalam Sapi

TEKNOLOGI PAKAN DALAM PENGGEMUKAN SAPI SECARA INTENSIF

TEKNOLOGI PAKAN DALAM PENGGEMUKAN SAPI SECARA INTENSIF


Tinggalkan komentar

adbm 396


masuki istana Pangeran Jayaraga di Panaraga.”
Tetapi segala sesuatunya masih harus diyakinkannya lebih dahulu.
Namun demikian, Kantil itupun menjadi agak cemas juga karena sikap Pangeran Ranapati yang kemudian memang lebih sering berada di luar rumah bersama Mas Panji Wangsadrana. Yang ada di kepala Kantil adalah bahwa Pangeran Ranapati itu telah mempunyai simpanan perempuan yang lain, sehingga ia lebih banyak berada di rumah perempuan itu.
Kantil tidak pernah berpikir, bahwa Pangeran Ranapati telah bekerja keras untuk ikut mengatur agar adon-adon yang akan diselenggarakan oleh Pangeran Jayaraga itu dapat terlaksana dengan baik dan secepatnya.

Jilid 396
PENGUMUMAN dari Pangeran Jayaraga tentang perebutan kedudukan Senapati itu menyebutkan bahwa pelaksanaannya akan berlangsung tiga pekan lagi. Karena itu, maka siapa yang berminat supaya segera menghubungi para pejabat yang bertugas.
“Begitu cepatnya,” desis Glagah Putih, “hanya ada waktu tiga pekan. Apakah pengumuman itu sudah merata?”
“Sudah. Semua orang, semua prajurit dan semua bebahu kademangan telah diperintahkan untuk menyebarkan pengumuman itu.”
“Kita akan melihat, apa yang akan terjadi di arena pertarungan itu,” berkata Glagah Putih hampir kepada dirinya sendiri.
Waktu yang tiga pekan itu ternyata sangat cepat dilewati. Sehari sebelum pertarungan itu dilaksanakan, maka di alun-alun telah dibuat gawar lawe yang digayutkan pada tunggul yang dipasang mengelilingi sebuah arena.
Pertarungan itu akan berlangsung tiga hari penuh.
“Ternyata banyak pula peminatnya,” berkata Glagah Putih.
“Ya,” sahut Madyasta,” tiga hari itu hanya ancar-ancar. Mungkin masih belum selesai. Mungkin pertarungan antara dua orang yang berilmu tinggi dapat berlangsung setengah hari atau bahkan lebih.”
“Jadi?”
“Pertarungan itu dapat saja berlangsung sampai sepekan. Menurut Pangeran Jayaraga, pertarungan itu akan dilaksanakan sampai selesai, tuntas, sehingga hanya ada seorang pemenang saja.”
“Bagaimana cara yang dipergunakan untuk memilih yang seorang itu?”
“Setiap pasang akan bertarung sampai salah seorang dianggap kalah oleh pengawas pertandingan. Yang menang akan bertarung dengan pemenang dari pasangan lain. Demikian seterusnya, sehingga yang terakhir nanti tinggal ada dua orang peserta.”
Glagah Putih menarik nafas panjang.
Dalam pada itu, Madyastapun telah mengajak Glagah Putih untuk menemui seorang yang sudah berumur separo baya. Seorang yang memiliki ilmu seakan-akan tidak terbatas.
“Kita akan menghadap Ki Darma Tanda.“ Sebenarnyalah, bahwa berita tentang adon-adon itu bukan sekadar berita burung. Di hari berikutnya, telah tersiar pengumuman dari istana Kadipaten Panaraga, bahwa Pangeran Jayaraga, penguasa baru di Panaraga akan memanggil seorang Senapati yang mumpuni untuk melengkapi kedudukan Senapati di Panaraga. Orang-orang yang berilmu tinggi dipanggil untuk mengikuti perebutan kedudukan itu dengan melewati pertarungan. Siapa yang memenangkan pada pertarungan akhir akan ditetapkan menjadi Senapati di Panaraga, melengkapi kedudukan Senapati yang telah ada. Bahkan mungkin akan mendapat kedudukan terbaik dalam jajaran keprajuritan di Panaraga.
Berita itu telah mendebarkan jantung Glagah Putih. Kepada Madyasta Glagah Putih minta agar ia mengikuti perkembangan dari pengumuman itu untuk selanjutnya.
“Apakah kawanmu yang bekerja di Kadipaten Panaraga itu dapat dipercaya?”
“Ya. Kawanku itu dapat dipercaya.”
Di rumah Pangeran Ranapati, Rara Wulanpun melihat beberapa perubahan sikap dari Pangeran Ranapati itu. Ketika Mas Panji Wangsadrana datang kepadanya, maka Pangeran Ranapati itu sempat memujinya.
“Ternyata Mas Panji benar-benar seorang yang cekatan. Cekatan berpikir dan cekatan bertindak. Aku berharap bahwa segala sesuatunya dapat berlangsung dengan rancak.”
“Mudah-mudahan Pangeran,” berkata Mas Panji. Namun dari hari ke hari, sikapnya kepada Kantilpun mulai berubah. Pangeran Ranapati lebih memperhatikan keadaan di luar rumahnya yang dikatakannya kepada Kantil, bahwa ia sedang mengemban tugas yang sangat berat, sehingga mungkin ia akan lebih banyak berada di luar rumah.
“Jika itu akan menempatkan Pangeran dalam jenjang kedudukan yang terbaik, silakan Pangeran,” berkata Kantil.
“Ya. Jika aku berhasil, maka kaupun akan ikut merasakan mukti wibawa sebagai isteri seorang Pangeran dalam kedudukannya sebagai seorang pangeran yang sesungguhnya.”
“Baik, Pangeran.”
Sementara itu, ada keuntungan lain yang diperoleh Rara Wulan. Dalam kesibukannya, Pangeran Ranapati tidak sempat memperhatikan keberadaan Rara Wulan di rumah itu. Apalagi Kantil selalu berusaha untuk memberikan kesan buruk kepada Rara Wulan. Bahkan Pangeran Ranapati itu seakan-akan telah lupa, bahwa di rumah itu ada perempuan lain yang bernama Ranti. Sikap Pangeran Ranapati itu memang sangat menyenangkan bag Kantil. Tetapi juga sangat menguntungkan bagi Rart Wulan sehingga ia akan mempunyai kesempatan lebil banyak untuk mengamati.
Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Dengan nada datar iapun bertanya, “Siapakah Ki Darma Tanda itu ?”
“Seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Aku ingin tahu, apakah ia mengikuti adon-adon untuk mendapatkan kedudukan yang diinginkan oleh banyak orang berilmu tinggi itu.”
“Orang itu tahu, siapa kau ?”
“Tidak. Aku mengenalnya karena orang itu menolongku. Aku ikut berjudi di sebuah pertemuan sekedar untuk mengenal lebih banyak orang. Ketika aku menang, maka ada orang yang menuduhku curang. Aku sengaja tidak memberikan perlawanan untuk tetap menyembunyikan jati diriku. Ki Darma Tanda telah menolongku. Ia bertarung melawan sekelompok orang berilmu tinggi, tetapi nampaknya mereka bukan orang baik-baik.”
“Kenapa Ki Darma Tanda itu menolongmu?”
“Aku juga bertanya kepadanya, kenapa ia bersusah payah menolongku, bahkan dengan mempertaruhkan keselamatan dirinya.”
“Apa katanya?”
“Ki Darma Tanda menganggapku orang baik. Aku berjudi dengan jujur, sehingga aku menang dengan wajar. Karena itu tidak patut jika orang-orang itu menganggapku curang.”
Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun akhirnya iapun bersedia pergi bersama Madyasta.
Ketika ia sampai di rumah Ki Darma Tanda, matahari sudah jauh melewati puncaknya.
Ki Darma Tanda yang kebetulan ada di rumahnya itupun menerima Madyasta dengan ramah. Sejak ia menolong Madyasta, Madyasta memang sering datang kepadanya untuk sekedar berbincang-bincang.
Madyasta memperkenalkan Glagah Putih sebagai adik sepupunya.
“Siang-siang Ki Madyasta datang ke pondokku, apakah ada semacam keperluan atau sekedar menengok keselamatan keluargaku disini?” bertanya Ki Darma Tanda.
“Sudah lama aku tidak datang kemari, Ki Darma Tanda, entahlah. Tiba-tiba saja ingin sekali bertemu dengan Ki Darma Tanda.”
“Sokurlah jika Ki Madyasta tidak mempunyai keperluan apa-apa. Bukankah Ki Madyasta tidak lagi berada dibawah ancaman orang-orang yang pernah memusuhi Ki Madyasta di tempat perjudian itu ?”
“Tidak, Ki Darma Tanda. Akupun sudah menjadi jera. Malam itu aku hanya sekedar ingin-tahu. Tetapi ternyata aku terlibat dalam perjudian yang sungguh-sungguh.”
Ki Darma Tanda itupun tertawa.
“Ki Darma Tanda,” berkata Madyasta kemudian, “sebenarnyalah aku telah didorong oleh sifat ingin tahuku. Bukankah mulai esok akan ada adon-adon di alun-alun. Semacam pendadaran untuk mendapatkan seorang yang mempunyai kemampuan terbaik, yang akan diangkat menjadi seorang Senapati di Panaraga, melengkapi Senapati yang telah ada. Pangeran Jayaraga masih ingin melengkapi jajaran keprajuritannya dengan orang-orang yang dapat diandalkan.”
“Ya. Aku juga mendengarnya.”
“Menurut penglihatanku, pada saat Ki Darma Tanda menolongku, Ki Darma Tanda adalah seorang yang mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Yang ingin aku ketahui, apakah Ki Darma Tanda juga mengikuti pendadaran untuk menjadi Senapati itu ?”
Ki Darma Tanda tertawa pendek. Katanya, “Pangeran Jayaraga itu aneh menurut pendapatku, Ki Madyasta. Seorang Senapati tidak dapat hanya mengandalkan kemampuannya dalam olah kanuragan. Untuk menjadi seorang Senapati yang baik, seseorang harus dinilai pula kecerdasannya serta kemampuan berpikir. Kejujuran serta kesetiaan kepada tugasnya. Jika seorang Senapati hanya didasarkan pada kemampuan olah kanuragan, maka mungkin sekali seorang gegedug dan pemimpin segerombolan perampok yang berilmu tinggi, akan memenangkan adon-adon di alun-alun itu. Nah, jika demikian apakah orang itu harus diangkat menjadi Senapati?”
Ki Madyasta mengangguk-angguk. Namun iapun menjawab, “Itulah yang aku cemaskan, Ki Darma Tanda. Jika orang-orang yang berpihak kepada kejujuran keadilan dan kebenaran tidak mau turun dalam pendadaran itu, maka yang dicemaskan oleh Ki Darma Tanda itu akan benar-benar dapat terjadi.”
“Tetapi aku tidak ingin melibatkan diri dalam pertarungan seperti itu, Ki Madyasta. Biarlah aku tinggal digubugku ini bersama keluargaku. Biarlah setiap hari aku berjemur di sawah dan berendam di lumpur. Tetapi aku merasa bahwa hidupku tenang. Tidak ada persoalan-persoalan yang membuat aku menjadi gelisah dan cemas. Dimalam hari aku dapat tidur nyenyak. Sedangkan di siang hari aku dapat makan dengan enak meskipun hanya berlauk garam.”
Ki Madyasta menarik nafas panjang. Dengan nada datar iapun berkata, “Jika Ki Darma Tanda ikut memasuki pendadaran ini, maka Ki Darma Tanda telah ikut menyelamatkan Panaraga dari kemungkinan buruk seperti yang Ki Darma Tanda katakan itu.”
“Aku juga tidak dapat menjamin, bahwa seandainya aku berhasil menjadi seorang Senapati aku kemudian tidak berubah sifat dan perangaiku. Jika Ki Madyasta menganggap sekarang aku orang yang baik, maka mungkin sekali setelah aku menjadi Senapati, aku akan berubah menjadi orang yang adigang, adigung, adiguna. Sapa sira, sapa ingsun. Karena sebenarnyalah bahwa keadaan kehidupan seseorang akan dapat merubah tingkah laku dan sifat seseorang.”
Ki Madyasta mengangguk-angguk. Demikian pula Glagah Putih. Yang dikatakan oleh Ki Darma Tanda itu memang benar. Kedudukan seseorang memang dapat merubah sifat dan tabiatnya.
Namun yang jelas bahwa Ki Darma Tanda itu tidak berniat untuk ikut seria dalam pertarungan untuk memperebutkan kedudukan Senapati.
“Tetapi esok aku akan melihat, apa yang terjadi di arena itu,” berkata Ki Darma Tanda, “apakah Ki Madyasta juga akan melihat?”
“Ya,” sahut Madyasta, “aku akan melihat,” demikianlah, setelah Madyasta dan Glagah Putih meneguk minuman yang dihidangkan bagi mereka, maka merekapun kemudian minta diri Sekali lagi Madyasta menyatakan penyesalannya, bahwa Ki Darma Tanda tidak bersedia untuk ikut dalam pertarungan itu. Ketika Madyasta masih saja mendesaknya, maka Ki Darma Tanda itupun berkata, “Segala sesuatunya sudah terlambat.”
Demikian mereka berdua pulang, maka Madyastapun berkata kepada Glagah Putih, “kemungkinan sebagaimana dikatakan oleh Ki Darma Tanda itu dapat terjadi.”
“Kita sudah memperhitungkan. Tetapi jika benar keterangan yang kau peroleh, bahwa gagasan ini datangnya dari Mas Panji Wangsadrana, maka segala sesuatunya sebenarnya sudah jelas bagi kita. Gagasan itu tentu datang dari Pangeran Ranapati. Pangeran Ranapati yakin, bahwa tidak ada orang yang dapat mengalahkannya, sehingga akhirnya ia akan memasuki istana kadipaten Panaraga. Ia akan mengejutkan Pangeran Jayaraga dengan pengakuannya, bahwa ia adalah Pangeran Ranapati.”
Madyasta mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Menurut kawanku seorang pejabat di istana kadipaten Panaraga itu, di dalam daftar para peserta memang tidak tercantum nama Pangeran Ranapati.”
“Ya. Segala sesuatunya sudah jelas bagi kita. Besok kita akan melihat, apakah orang yang gambarannya kita kenal sebagai Pangeran Ranapati itu turun ke arena.”
“Besok, selagi perhatian orang tertuju ke alun-alun, aku akan minta kakang Sungkana dan Sumbaga pergi ke Mataram untuk melaporkan perkembangan terakhir di Panaraga.”
Madyasta mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Biarlah esok keduanya pergi ke Mataram. Disini mereka sudah dikenali oleh para pengikut Pangeran Ranapati.”
Malam itu, Sungkana dan Sumbagapun segera berkemas. Mereka memang merasa lebih aman bertugas ke Mataram dari tugas-tugas lain yang harus dilakukannya di Panaraga, karena para pengikut Pangeran Ranapati masih saja memburunya.
Demikianlah, di hari berikutnya, sebelum matahari terbit, Sungkana dan Sumbaga telah meninggalkan Panaraga menuju ke Mataram untuk memberikan laporan tentang perkembangan Panaraga di saat-saat terakhir.
Sedangkan Madyasta dan Glagah Putih telah bersiap-siap pergi ke alun-alun untuk melihat pertarungan diantara mereka yang ingin menjadi salah seorang Senapati terbaik di Panaraga.
Dan pada itu, Glagah Putihpun selalu berhubungan dengan nara Wulan yang masih berada di rumah Pangeran Ranapati. Menurut Rara Wulau, Pangeran Ranapati memang lebih banyak berada di luar rumah.
“Pangeran Ranapati sedang mengendalikan Mas Panji Wangsadrana,” berkata Glagah Putih, “agaknya Mas Panjilah yang ditugaskan oleh Pangeran Jayaraga untuk menyelenggarakan adon-adon itu. Sebagai seorang yang mempunyai gagasan itu, maka Mas Panji tentu merupakan orang yang paling siap untuk melakukan tugas itu.”
Di rumah Kantil yang semakin sering ditinggalkan oleh Pangeran Ranapati menjadi semakin sering marah. Apapun dapat menjadi sebab kemarahannya Namun ia tidak berani menunjukkan perasaannya itu kepada Pangeran Ranapati, sehingga Rantilah yang lebih sering menjadi sasaran kemarahannya. Bahkan pernah terjadi, air sebelanga telah disiramkan ke tubuh Ranti. Untung air itu adalah air dingin. Bukan air panas.
Hampir saja Ranti kehabisan kesabaran. Tetapi dengan susah payah ia menahan diri untuk tidak menjadi garang.
Pada malam hari menjelang pertarungan di mulai di alun-alun, Pangeran Ranapati berada di rumah. Kepada Kantil iapun berkata, “Esok aku memasuki satu tugas yang berat. Karena itu, aku minta bantuanmu.”
“Apa yang dapat hamba lakukan Pangeran.“
“Doakan aku,” jawab Pangeran Ranapati, “hanya itu yang dapat kau lakukan.”
“Tetapi tugas apakah yang akan Pangeran lakukan?”
“Aku tidak dapat mengatakan kepadamu sekarang.“
Kantil tidak dapat memaksa Pangeran Ranapati untuk mengatakan, sementara itu Ranti justru sudah tahu, bahwa sejak esok pagi di alun-alun akan diselenggarakan pertarungan diantara orang-orang yang berilmu tinggi untuk merebut kedudukan terhormat di Panaraga.
Dalam pada itu, menjelang fajar dihari berikutnya, Pangeran Ranapati itu telah meninggalkan rumahnya. Hari itu Mas Panji Wangsadrana justru tidak datang ke rumah Pangeran Ranapati itu.
Ketika matahari terbit, telah banyak orang yang pergi ke alun-alun untuk melihat adon-adon. Ternyata di alun-alun terdapat sebuah panggungan yang akan dipergunakan oleh Pangeran Jayaraga untuk menyaksikan pertarungan itu. Meskipun resminya Pangeran Jayaraga hanya akan menyaksikan pertarungan yang terakhir, tetapi mungkin sekali-sekali Pangeran Jayaraga juga ingin menyaksikan pertarungan sebelumnya.
Beberapa lama para prajurit telah melakukan upacara. Pangeran Jayaraga ternyata hadir pula untuk membuka upacara adon-adon itu. Beberapa orang Senapati mendampinginya di panggungan.
Sekelompok prajurit bertombak pada upacara pembukaan itu, berdiri memagari arena. Beberapa saat kemudian, sekelompok prajurit yang lain telah mendorong sebuah kerangkeng memasuki arena itu, yang ternyata didalamnya terdapat seekor harimau yang garang, buas dan sengaja dibuat lapar.
Sejenak kemudian, sebagai pertanda bahwa adon-adon itu telah dibuka dengan resmi, maka Pangeran Jayaraga telah membunyikan sebuah bende beberapa kali. Sedangkan pada saat yang bersamaan, para prajurit telah membuka pintu kerangkeng yang didorong ke tengah-tengah arena itu.
Sejenak kemudian.seekor harimau yang besar, buas dan lapar meloncat keluar sambil mengaum keras sekali. Sementara itu, tombak para prajuritpun segera merunduk.
Rampogan itu akan mengawali acara adon-adon yang akan dilangsungkan di arena itu pula.
Demikianlah, harimau lapar itupun kemudian harus bertarung menghadapi beberapa orang prajurit yang bersenjata tombak.
Namun malang bagi harimau itu. Setelah beberapa lama harimau itu, mencoba menembus ujung tombak yang memagarinya, maka akhirnya justru harimau itulah yang terbunuh. Bangkainya terkapar di arena yang segera diangkat dan dimasukkan kembali ke dalam kerangkeng. Sejenak kemudian, maka kerangkeng itupun segera dibawa keluar dari arena.
Demikianlah, di atas darah harimau yang sudah mengalir membasahi arena itulah, pertarungan untuk memperebutkan kedudukan Senapati akan berlangsung.
Pangeran Jayaraga ternyata tidak segera meninggalkan panggungan demikian rampogan itu selesai. Tetapi Pangeran Jayaraga masih ingin menyaksikan pertarungan yang pertama dari mereka yang ingin memperebutkan kedudukan Senapati itu.
Tetapi ternyata pertarungan yang pertama itu tidak menarik. Meskipun keduanya berilmu tinggi, tetapi nampaknya pertarungan itu menjadi berat sebelah. Pertarungan itu sendiri tidak berlangsung lama, karena seorang diantara mereka telah melakukan kesalahan yang berakibat sangat buruk baginya.
Karena itu, ketika orang itu bangkit dengan susah payah setelah terbanting jatuh, maku iupun segera dinyatakan telah kalah.
“Aku belum kalah,” katanya.
“Jika kau berkelahi lebih lama lagi, maka kau akan dapat mati di arena ini,” berkata Senapati yang menjadi pelerai dalam pertarungan itu.
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian orang itupun keluar dari arena.
Terdengar para penontonpun bersorak. Orang yang keluar dari arena itu menjadi sangat malu. Tetapi ia masih sayang akan nyawanya sehingga ia tidak melanjutkan pertarungan.
Pangeran Jayaraga tidak merasa tertarik lagi akan per-tarungan-pertarungan yang bakal dilakukan. Nampaknya pada pertarungan di tahap awal itu, masih belum menunjukkan pertarungan yang mendebarkan. Meskipun sebelum adon-adon itu dimulai, telah dilakukan rampogan untuk memanasi darah “para peserta, namun masih banyak pertarungan yang tidak seimbang tampil di hari pertama itu.
Dengan demikian, maka pertarungan itupun dihentikan sejenak pada saat Pangeran Jayaraga meninggalkan panggungan. Baru kemudian pertarungan itupun dimulai lagi.
Adalah kebetulan bahwa Madyasta dan Glagah Putih dapat bertemu dengan Ki Darma Tanda di pinggir arena, sehingga merekapun dapat menonton pertarungan itu bersama-sama.
Meskipun pertarungan pada putaran pertama itu masih belum menarik tetapi ada juga diantara dua orang yang berilmu tinggi, kebetulan bertemu sesuai dengan hasil undian di antara mereka. Pertarungan yang demikian, kadang-kadang dapat berlangsung lama.
Dihari pertama itu, Glagah Putih dan Madyasta terkejut ketika mereka melihat seseorang yang menurut ciri-cirinya adalah orang yang mengaku Pangeran Ranapati. Tetapi di arena itu, ia telah mempergunakan nama lain. Meskipun demikian Madyasta dan Glagah Putih yakin, bahwa orang itu adalah Pangeran Ranapati.
Pertarungan diantara orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati dan lawannya itu berlangsung dalam waktu yang pendek saja. Lawannyapun tiba-tiba telah terbanting jatuh, sehingga mengalami kesulitan untuk bangkit.
Senapati yang melerai pertarungan itupun segera memberi isyarat bahwa pertarungan itu sudah selesai. Yang terjatuh dan tidak segera dapat bangkit kembali itupun dinyatakan telah kalah, sehingga akan segera tampil pasangan berikutnya.
Demikianlah, pasangan demi pasanganpun telah bertarung. Namun orang-orang yang menyaksikan pertarungan itu telah menundukkan kepalanya, ketika ada diantara mereka yang terkapar dengan darah yang segar meleleh dari antara bibirnya. Bukan karena bibirnya pecah atau giginya ” patah. Tetapi darah itu mengalir dari rongga dadanya.
Tetapi orang yang merasa menang itu sama sekali tidak menyesali apa yang telah terjadi. Seorang yang bertubuh agak gemuk justru telah menepuk dadanya sambil menggeram seperti seekor orang hutan yang baru saja berhasil membunuh lawannya.
Dua orang Senapati telah mendatanginya untuk memberikan peringatan kepadanya, bahwa untuk selanjutnya ia harus menjaga agar ia tidak membunuh lawannya.
“Salahnya sendiri,” berkata orang yang diperingatkan itu, “ia terlalu lemah untuk ikut dalam pendadaran yang keras seperti ini.”
“Tetapi kau dapat mencegah kematian. Jika orang yang sudah tidak berdaya ini tidak kau angkat dan kemudian kau jatuhkan punggungnya di atas lututmu, maka ia tidak akan mati.”
“Jadi apa yang harus aku lakukan di arena itu. Kalau lawanku mati, tentu bukan salahku.”
“Tetapi setidak-tidaknya kami tidak melihat bahwa kau memang berniat untuk membunuhnya.”
“Persetan dengan kelcnluun ketentuan yang cengeng ini,” geramnya.
“Dengar. Kau tinggal memilih. Melakukan sebagaimana aku katakan, atau kau tidak akan ikut untuk selanjutnya.”
“Itu tidak adil.”
“Itu adalah ketentuan yang paling adil.”
“Tidak. Aku akan ikut pendadaran ini untuk seterusnya. Bahkan sekarung aku minta lawan yang lain. Aku tidak mau pergi dari urena ini. Aku akan melawan siapa saja yang memaksuku turun dari arena sekarang ini, meskipun para Senapati sekalipun.”
“Kau tidak dapat berbuat lain. Kau harus turun. Bahkan untuk seterusnya.”
“Tidak.”
“Kau lihat harimau yang garang itu tadi?”
Orang yang agak gemuk itu termangu-mangu. Ketika ia memandang berkeliling, maka dilihatnya beberapa orang prajurit yang bersenjata tombak telah berdiri di pinggir arena sebagaimana saat harimau yang garang itu dilepas dari kerangkeng.
Namun tiba-tiba seseorang telah muncul pula di arena. Seorang yang sebelumnya telah memenangkan pertarungan di arena itu, tetapi ia tidak membunuh lawannya.
Hampir bersamaan Glagah Putih, Madyasta dan Ki Darma Tanda berdesis, “Pangeran Ranapati.”
“Kau mau apa?” bertanya Senapati yang sedang berusaha memaksa orang yang telah membunuh lawannya itu turun.
“Ki Sanak,” berkata orang yang baru masuk ke arena itu. “jika Ki sanak mengijinkan, biarlah aku mengusirnya dari arena. Atau Ki Sanak dapat menganggap bahwa aku yang memenangkan pertarungan di putaran pertama, akan memasuki putaran kedua, karena orang yang telah membunuh itupun telah memenangkan pertarungan dalam putaran pertama.”
Dua orang Senapati yang berada di arena itu termangumangu sejenak. Mereka tidak menduga, bahwa dalam adon-adon itu akan ada persoalan yang sebelumnya belum pernah dibicarakan.
Namun yang kemudian memasuki arena adalah Mas Panji Wangsadrana sambil berkata, “Kita akan membiarkan orang ini memasuki pertarungan pada putaran kedua meskipun belum waktunya, karena mereka yang bertarung di putaran pertama saja belum selesai. Tetapi kita menghadapi persoalan yang tiba-tiba saja muncul.”
“Bagaimana menurut pendapat Mas Panji?” bertanya salah seorang Senapati itu.
“Bukankah kita tidak berekebaratan? Pemenangnya nanti akan langsung memasuki putaran ketiga.”
“Tentu tidak nanti.”
“Ya, kapan saja. Esok atau lusa.”
Akhirnya para Senapati termasuk Senapati yang bertugas melerai pertarungan itu tidak berkeberatan. Dua orang yang telah mengalahkan lawan-lawannya akan memasuki pertarungan pada putaran kedua.
Beberapa orang peserta ada yang mengajukan keberatan, tetapi keputusan para Senapati itupun akhirnya dilaksanakan juga.
“Bagus,” berkata orang yang tubuhnya agak gemuk, yang menepuk dadanya sambil menggeram setelah ia membunuh lawannya, aku akan membunuh dua orang hari ini. Mungkin esok aku akan membunuh lebih banyak lagi.”
Glagah Putih, Madyasta dan Ki Darma Tanda termangu-mangu menyaksikan mereka yang bakal bertarung di arena. Ketegangan telah menyentuh jantung mereka. Mereka sudah mengira, bahwa seorang diantara keduanya akan mati di arena itu pula.
“Permainan di hari pertama ini sudah diwarnai dengan darah,” desis Ki Darma Tanda, “bukankah sama sekali tidak menyenangkan untuk ikut dalam pendadaran itu?”
Madyasta mengangguk sambil menjawab, “Ya, Ki Darma Tanda. Untunglah bahwa Ki Darma Tanda tidak ikut dalam adon-adon itu.”
“Bayangkan, apa judinya jika orang yang bertubuh agak gemuk dan yang dengan bangga membunuh lawannya itu kelak memenangkan pertandingan. Apakah pantas orang itu menjadi Senapati di Panaraga.”
Madyasta mengangguk sambil menjawab, “Ya. Jajaran keprajuritan di Panaraga akan dirusaknya.”
“Kesalahan ini terletak pada Pangeran Jayaraga yang kurang bijaksana.”
“Tetapi kebijaksanaan ini sudah tidak mungkin dicegah lagi.”
“Kecuali bahwa pada saat terakhir, jika orang itu memenangkan perebutan kedudukan ini ada yang mengajukan tantangan untuk berperang tanding. Tidak dalam rangka perebutan kedudukan itu sendiri.”
Glagah Putih dengan ragu-ragu bertanya, “Apakah Ki Darma Tanda akan melakukannya? Maksudku, jika orang itu kelak memenangkan pertarungan ini, Ki Darma Tanda akan menantangnya berperang tanding?”
Ki Darma Tanda tidak menjawabnya. Tetapi perhatiannya sudah tertuju lagi ke arena. Dua orang yang sudah memenangkan pertarungan di putaran pertama.
Sejenak kemudian, keduanya sudah bersiap. Senapati yang akan menjadi pelerai dalam pertarungan itu terdiri dari dua orang serta Mas Panji Wangsadrana sendiri. Nampaknya Mas Panji sangat menaruh perhatian terhadap pertarungan ini.
Demikianlah, maka sejenak kemudian pertarunganpun segera dimulai. Orang yang bertubuh agak gemuk itu memang seorang yang kasar. Sayangnya ia berilmu sangat tinggi, sehingga ia benar-benar menjadi orang yang sangat berbahaya.
Namun dalam putaran kedua itu, ia langsung berhadapan dengan orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati, tetapi yang sedang menyamarkan dirinya dengan mama lain. Pada saatnya ia memang berniat mengejutkan Pangeran Jayaraga. Jika ia berhasil memenangkan adon-adon itu, maka baru ia akan mengatakan siapa dirinya kepada Pangeran Jayaraga.
Sejenak kemudian, maka pertarungan di antara kedu anyapun menjadi semakin cepat. Orang yang bertubuh agak gemuk itu menjadi semakin garang pula. Serangannya datang seperti angin prahara menerjang batu karang.
Tetapi Pangeran Ranapati adalah seorang yang mumpuni pula. Bahkan ia sudah meyakini, bahwa dirinya akan memenangkan adon-adon itu dan segera diangkat menjadi Senapati di Panaraga. Dengan demikian, maka ia akan dapat menjadi bagian dari penguasa di Panaraga. Bahkan jika ia berhasil mengembangkan pengaruhnya, maka ia akan dapat menentukan langkah-langkah yang akan diambil oleh Pangeran Jayaraga.
Dengan demikian, maka pertarungan antara keduanya-pun semakin lama menjadi semakin sengit. Para peserta yang lain, yang masih belum mendapat kesempatan sekalipun memasuki arena, memandang pertarungan itu dengan jantung yang berdebaran. Ketika orang yang bertubuh gemuk itu membunuh lawannya, jantung para peserta itupun sudah bergejolak. Mereka yang merasa berilmu tinggi, telah mendendam orang itu. Mereka’mengharap bahwa mereka akan memenangkan pertarungan di putaran pertama dan di putaran kedua dapat langsung berhadapan dengan orang yang sombong, kasar dan tidak berperasaan itu.
Namun ternyata seorang yang lain, yang tiba-tiba saja menerobos ke putaran kedua, telah berhadapan dengan orang itu.
Tanpa disadari, maka para peserta yang lain, yang bukan kawan-kawan orang bertubuh agak gemuk itu menjadi bingung. Mereka tidak tahu, siapakah diantara keduanya itu yang diharapkan menang. Mereka memang berharap, agar merekalah yang mendapat kesempatan untuk mengalahkan orang itu. Dengan demikian, maka seharusnya orang yang bertubuh gemuk itu dapat memenangkan pertarungan di putaran kedua itu, sehingga ia masih akan kembali ke arena.
Tetapi jika demikian, maka lawannya itupun tentu akan dibunuhnya pula. Apalagi ia merasa ditantang secara khusus oleh lawannya itu.
Dalam kebimbangan, akhirnya para peserta adon-adon itu tidak lagi lx’rharap siapa yang sebaiknya menang. Siapapunn akhirnya harus mereka hadapi pula.
Demikianlah, maka pertarungan itu semakin lama menjadi semakin seru. Orang yang memasuki arena untuk menantang orang yang bertubuh agak gemuk itu, nampaknya bukan yang lemah, sehingga sulit bagi orang yang bertubuh gemuk itu untuk mengalahkannya.
Jika dalam putaran pertama ia tidak terlalu lama bertarung, sehingga akhirnya ia berhasil mengangkat tubuh lawannya dan kemudian membanting orang itu pada punggungnya di lututnya, sehingga tulang punggung itu patah dan lawannya itu langsung mati, lawannya yang kedua ini ternyata tubuhnya sangat liat. Ia masih dapat menghindari serangan dalam keadaan yang paling sulit. Bahkan dengan cepat iapun dapat membalas menyerangnya. Sementara itu serangan-serangan orang yang bertubuh agak gemuk itu, justru semakin lama menjadi semakin sulit untuk menembus pertahanan lawannya, sedangkan pertahanannya sendiri seakan-akan menjadi semakin terbuka. Serangan-serangan lawannya itu menjadi semakin sering mengenai tubuhnya. Bahkan dalam benturan-benturan yang terjadi, maka orang yang bertubuh agak gemuk itulah yang tergetar surut.
“Gila orang ini,” geram orang yang agak gemuk itu, “jika saja aku dapat menangkap tubuhnya. Aku akan mengangkatnya dan kemudian mematahkan punggungnya dengan membenturkan punggungnya itu pada lututku.”
Tetapi jangankan menangkap dan mengangkat tubuhnya, jika orang itu berusaha mendekat, maka iapun akan segera terlempar menjauh. Kaki atau tangan lawannya, akan menghentaknya sehingga ia tergetar surut.
Orang bertubuh agak gemuk itu mulai menjadi gelisah. Ia tidak mengira, bahwa di antara mereka yang ikut adon-adon itu adalah orang yang ilmunya dapat mengimbanginya, sehingga sangat sulit baginya untuk dapat mengalahkannya.
Orang itupun kemudian telah menghentakkan tenaga dan kemampuannya. Ia tidak ingin dicemoohkan oleh banyak orang jika ia dapat dikalahkan. Bahkan karena ia telah membunuh lawannya, jika ia kemudian kalah, maka iapun akan dibunuh pula oleh lawannya itu.
Dalam waktu yang pendek, hentakan ilmunya berhasil mendesak lawannya. Tetapi hanya sebentar. Sekejap kemudian, maka lawannya itupun telah menghentakkan ilmunya pula.
Glagah Putih, Madyasta dan Ki Darma Tandapun telah dapat menebak, bahwa akhirnya orang yang bertubuh agak gemuk itu tentu akan dikalahkan. Namun apa yang kemudian akan terjadi, mereka masih harus menunggu.
Sebenarnyalah, bahwa serangan-serangan Pangeran Ranapati itupun sudah tidak terbendung lagi. Perlawanan orang bertubuh pendek itu semakin lama menjadi semakin menyusut. Apapun yang dilakukan, namun ia tidak lagi mampu mengatasi lawannya, Pangeran Ranapati.
Betapapun orang bertubuh pendek itu berusaha, namun serangan Pangeran Ranapati telah melandanya seperti banjir bandang.
Beberapa kali orang itu terbanting jatuh. Dengan sisa-sisa tenaganya ia selalu berusaha untuk bangkit berdiri. Tetapi semakin lama, tenaganyapun menjadi semakin menurun.
Akhirnya ketika kaki Pangeran Ranapati yang terjulur menyamping mengenai dadanya, maka orang bertubuh agak gemuk itupun telah terbanting jatuh. Demikian kerasnya, sehingga sulit baginya untuk bangkit berdiri.
Pangeran Ranapati memandanginya dengan tajamnya. Namun kemudian iapun berpaling kepada orang-orang yang berada diseput;ir arena itu sambil mengangkat tangannya. Ternyata Pangeran ILuiapati tidak berniat membunuhnya. Ia hanya mengalahkannya dan setelah orang itu terkapar jatuh, maka Pangeran luuinpatipun hanya membiarkannya.
Namun dengan demikian Pangeran Ranapati itu menjadi lengah. Ia mengira, bahwa orang bertubuh pendek itu benar-benar sudah tidak mampu bangkit berdiri, sehingga karena itu perhatian Pangeran Ranapati tidak tertuju kepadanya.
Tetapi orang bertubuh agak gemuk itu sangat licik. Ia tidak benar-benar terkapar tanpa dapat bangkit kembali. Ketika perhatian Pangeran Ranapati tidak tertuju kepadanya, tetapi tertuju kepada orang-orang yang menonton pertarungan itu sambil bersorak-sorak, maka orang itupun tiba-tiba telah bangkit. Dengan serta merta ia telah menyergap Pangeran Ranapati dari belakang, kemudian, apa yang diinginkannya itu dapat dilakukannya. Ia mengangkat tubuh Pangeran Ranapati yang terlentang. Kemudian orang itu telah siap membantingnya dengan membenturkan tulang punggungnya keatas lututnya yang telah diangkat.
Tetapi yang tidak terduga itu telah terjadi. Tubuh yang sudah terangkat tinggi-tinggi itupun menggeliat.
Pada saat orang-orang yang berada di sekeliling arena itu menjadi sangat tegang, maka tubuh yang menggeliat itu justru telah melenting seperti seekor ulat kilan. Sekejap kemudian tubuh itupun meluncur dengan cepatnya.
Yang tertangkap lebih dahulu oleh tangan orang yang melenting dan meluncur dengan cepat itu adalah kepala orang yang agak gemuk itu. Terdengar tulang lehernya yang patah.
Demikian lawannya itu berdiri diatas kedua kakinya dan melepaskannya, maka orang yang agak gemuk itupun segera berpaling seperti sebatang pohon pisang.
Orang itu tidak sempat mengaduh. Demikian lehernya patah, maka iapun langsung kehilangan nyawanya.
Lawannya itupun melangkah surut. Iapun kemudian mengangguk hormat kepada para Senapati yang menjadi pelerai pada pertarungan itu. Pangeran Ranapati itupun kemudian berkata, “Maafkan aku. Aku tidak berniat membunuhnya. Yang terjadi adalah dengan tiba-tiba saja di luar kendali.”
“Kau tidak bersalah,” Mas Panji Wangsadranalah yang menjawab, “orang itu berniat berbuat curang.”
Pangeran Ranapati tidak menjawab. Sementara Mas Panjipun berkata, “kembalilah ke tempatmu.”
Pangeran Ranapatipun kemudian meninggalkan arena dengan kepala tunduk.
Namun sorak yang gemuruh masih saja terdengar. Orang-orang menjadi sangat kagum kepada Pangeran Ranapati. Ia sama sekali tidak berniat membunuh lawannya. Tetapi justru lawannya itulah yang telah memaksanya untuk melakukannya.
Dalam pada itu, karena matahari sudah menjadi semakin rendah, maka pertarungan untuk hari itupun telah diakhiri. Esok pertarungan akan dilanjutkan. Para peserta akan kembali memasuki putaran pertama.
“Untunglah bahwa Pangeran Jayaraga tidak menyaksikan dua orang yang sudah terbunuh diarena,” berkata seorang Senapati.
“Bukankah laporan dari peristiwa itu akan sampai juga kepada Pangeran Jayaraga.”
“Tetapi kesannya tentu lain. Pangeran Jayaraga sekedar membaca laporan atau menyaksikan langsung peristiwa itu.”
Yang lain mengangguk-angguk kecil.
Demikianlah, sejenak kemudian, maka arena itupun sudah menjadi sepi. Para peserta telah kembali ke barak yang menjadi tempat menampung mereka. Demikian pula para penontonpun telah pulang ke rumah masing-masing.
Para peserta adon-adon itu tidak banyak lagi yang saling berbincang. Mereka masing-masing merenungi apa yang sudah mereka lihat.
Tetapi mereka rata-rata adalah orang yang berilmu tinggi pula, sehingga mereka tidak menjadi gentar melihat dua orang di antara mereka yang telah menunjukkan tataran ilmu kanuragan mereka.
Sementara itu, Ki Darma Tanda yang berjalan perlahan-lahan bersama Glagah Putih dan Madyasta, masih sempat berbicara tentang kedua orang yang bertarung terakhir, yang dihitung sebagai pertarungan di putaran kedua.
“Keduanya memang berilmu tinggi,” berkata Ki Darma Tanda.
“Ya, Ki Darma Tanda,” sahut Madyasta, “nampaknya orang yang memenangkan pertarungan di pasangan terakhir itu dapat menggertak calon lawan-lawannya esok.”
“Ya. Tetapi para peserta yang lain, agaknya tidak menjadi ketakutan. Mereka masih saja nampak tenang-tenang saja. Agaknya mereka juga merasa sebagai orang-orang yang berilmu tinggi.”
“Sokurlah bahwa pembunuh itu telah dapat dihentikan,” sahut Glagah Putih kemudian, “sehingga ia tidak lagi menjadi hantu yang mungkin akan dapat merebut gelar Senapati itu.”
“Ya.“ Ki Darma Tandapun mengangguk-angguk. Namun akhirnya merekapun berpisah. Madyasta dan Glagah Putih langsung pulang. Demikian pula Ki Darma Tanda.
Di perjalanan pulang, Glagah Putihpun berkata, “Ternyata banyak juga orang yang berilmu tinggi yang tertarik untuk mengikuti pendadaran itu. Setiap pasang telah mensisakan seorang di putaran pertama, sehingga mereka akan memasuki putaran kedua.”
“Besok kita akan melihat lagi.“
Sebenarnyalah di keesokan harinya, keduanya kembali telah berada di alun-alun pada saat matahari naik.
Tetapi mereka tidak segera menemukan Ki Darma Tanda meskipun mereka berada di tempat mereka menyaksikan pertarungan itu kemarin.
“Mungkin hari ini Ki Darma Tanda tidak pergi ke alun-alun,” desis Madyasta, “agaknya Ki Darma Tanda ingin melihat akhir dari pendadaran ini.”
Glagah Putih mengangguk-angguk.
Beberapa saat kemudian, ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka pendadaran dengan cara adon-adon itupun segera dimulai lagi. Pertarungan demi pertarungan, Glagah Putih dan Madyasta melihat, bahwa beberapa orang benar-benar menunjukkan ilmunya yang tinggi. Mereka pada umumnya bertarung dengan baik. Sehingga di hari kedua itu tidak ada korban yang terbunuh di arena, meskipun ada di antara mereka yang terluka parah di bagian dalam tubuhnya. Tetapi itu terjadi dengan wajar. Bukan karena keganasan para peserta yang bengis.
Tetapi pada hari ketiga, ketika pertarungan benar-benar sudah memasuki putaran kedua, maka pertarungan di arena itupun menjadi semakin panas. Apalagi pada hari keempat. Jika semula pertarungan itu hanya direncanakan berlangsung tiga hari, tetapi sampai pada hari keempat pertarungan itu masih belum sampai kepada pertarungan puncak antara dua orang pemenang.
Baru pada hari kelima, pertarungan itu memasuki putaran yang menentukan. Pertarungan di hari kelima itu akan berlangsung hanya dua pasangan saja. Dari keduanya akan terpilih dua orang terbaik yang akan memasuki putaran terakhir. Namun untuk putaran terakhir, pertarungan akan ditunda untuk memberikan waktu beristirahat serta mempersiapkan diri bagi kedua orang yang akan menentukan, siapakah yang akan merebut kedudukan Senapati itu.
Namun agaknya pada hari kelima, pada saat pertarungan itu berlangsung bagi dua pasangan dari empat orang terbaik, Pangeran Jayaraga sendiri berkenan untuk menyaksikannya.
Demikian matahari naik pada hari kelima, maka per-tarunganpun telah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Dua orang Senapati akan menjadi pelerai didampingi oleh Mas Panji Wangsadrana sendiri.
Seperti hari-hari sebelumnya, Glagah Putih dan Madyastapun telah berada di alun-alun pula. Ternyata pada hari itu, mereka bertemu lagi dengan Ki Darma Tanda.
“Baru kali ini aku melihat lagi pertarungan ini,” berkata Ki Darma Tanda.
“Kami datang setiap hari, Ki Darma Tanda,” sahut Madyasta.
“Ternyata kau tertarik juga kepada olah kanuragan, sehingga kau perlukan datang setiap hari.”
“Aku memang tertarik untuk menyaksikannya, asal aku sendiri tidak harus ikut terjun ke dalamnya.”
Ki Darma Tandapun tersenyum. Tetapi ia tidak menyahut lagi.
“Hari ini, Pangeran Jayaraga akan turun ke panggungan itu pula,” berkata Madyasta.
“Ya. Aku juga mendengar pengumumannya,” sahut Ki Darma Tanda.
Beberapa saat kemudian, maka terdengar isyarat, bahwa Pangeran Jayaraga telah datang ke arena pertarungan di hari kelima itu.
Yang lebih dahulu memasuki lingkungan di sekitar panggungan adalah para prajurit pengawal dengan tombak yang siap menghentak di tangan mereka. Kemudian para pengawal yang bersenjata pedang dan perisai. Baru kemudian dua orang Narpa Cundaka memasuki lingkungan panggungan. Di belakangnya adalah Pangeran Jayaraga diikuti oleh para Senapati dan para pemimpin Panaraga yang lain.
Pada saat yang sudah ditentukan, maka pertarungan antara dua pasang peserta adon-adon itu akan segera dimulai. Beberapa orang peserta yang telah dikalahkan di arena, mendapat kesempatan untuk menyaksikan pertarungan itu. Tetupi sebagian ternyata harus berbaring di bawah perawatan para tabib karena luka-luka. Bukan saja luka-luka yang terbuka, tetapi juga luka-luka di bagian dalam dadanya pada saat mereka turun ke arena.
Yang harus turun pertama di arena pendadaran itu adalah dua orang yang berilmu sangat tinggi. Seorang yang sudah separobaya, serta ujung-ujung rambutnya yang mencuat dari ikat kepalanya sudah nampak bercampur dengan uban.
Namun ia adalah seorang yang berpakaian rapi. Bajunya nampak bagaikan melekat pada kulitnya. Kainnya yang disingsingkan sampai ke atas lututnya. Celananya yang hitam nampak bergaris kuning melingkar di bawah lututnya.
Orang yang sudah separo baya itu berperawakan sedang. Matanya agak cekung. Pandangannya tajam seolah-olah langsung menusuk ke dada lawannya.
Sedangkan lawannya adalah seorang yang berperawakan agak tinggi kekurus-kurusan. Namun tubuhnya nampak lentur sekali. Seakan-akan tulang-tulangnya mampu menggeliat sebagaimana dikehendakinya. Wajannya nampak cerah, sedangkan kakinya yang panjang, nampak ringan sekali.
Keduanyapun kemudian berhadapan ke atas arena. Dua orang Senapati yang menjadi pelerai dari pertarungan itu sudah berada di arena pula. Bahkan bersama dengan Mas Panji Wangsadrana.
Mas Panji itupun kemudian berdiri menghadap Pangeran Jayaraga yang duduk di panggungan. Iapun mengangguk hormat. Kemudian katanya, “Pangeran. Segala sesuatunya sudah siap untuk memulai dengan pertarungan menjelang putaran yang terakhir. Pemenang dari putaran ini serta putaran berikutnya, akan bertarung esok lusa untuk mencari pemenang sejati dari pendadaran yang diselenggarakan selama ini, yang waktunya sudah lewat dari waktu yang ditentukan.”
Pangeran Jayaragapun kemudian mengangguk sambil berkata, “Mulailah.”
Mas Panjipun segera memberi isyarat kepada kedua Senapati yang menjadi pelerai dari pertarungan itu. Keduanyapun kemudian memberikan pertanda pula kepada kedua orang yang sudah siap untuk bertarung.
Pertarungan itu sejak awal sudah terasa menjadi panas. Agak berbeda dengan putaran-putaran sebelumnya, maka kedua orang itu nampak bersungguh-sungguh dan sangat berhati-hati. Namun beberapa saat kemudian, pertarungan itupun menjadi semakin seru, sehingga di arena itu, bagaikan sedang bertiup angin pusaran.
Kedua orang yang berada di arena pendadaran itu benar-benar dua orang yang berilmu sangat tinggi. Tubuh mereka nampak sangat ringan sehingga kaki mereka bagaikan tidak menyentuh tanah. Tetapi sambaran kaki dan tangan mereka nampak sangat berat bagaikan ayunan segumpal timah.
Keduanyapun saling berloncatan menghindari serangan-serangan lawan. Namun sekali-sekali telah terjadi benturan yang sangat keras.
Ki Darma Tanda menyaksikan pertarungan itu dengan dahi yang berkerut. Ia tidak melihat pertarungan-pertarungan sebelumnya. Sehingga karena itu, maka Ki Darma Tanda itupun langsung menyaksikan pertarungan antara dua orang yang berilmu lebih tinggi dari beberapa peserta yang lain, yang telah tersisih di putaran-putaran sebelumnya.
Mereka yang telah tersisih yang berkesempatan menyaksikan pertarungan itu menarik nafas panjang. Mereka harus mengakui bahwa kedua orang itu memang pantas untuk memasuki putaran menjelang putaran yang terakhir. Pemenang dari pertarungan itu esok lusa akan bertanding di pertarungan pada babak akhir melawan pemenang dari pertarungan pasangan yang satu lagi.
“Mereka memang berilmu sangat tinggi,” berkata Ki Darma Tanda.
“Ya.“ sahut Madyasta, “tetapi apakah mereka dapat menyamai tataran kemampuan Ki Darma Tanda?”
“Tentu,” jawab Ki Darma Tanda, “aku tidak yakin, bahwa aku mampu mengalahkan salah seorang di antara mereka berdua. Apalagi pada pertarungan di putaran akhir.”
“Tentu dapat. Aku sudah menyaksikan, bagaimana Ki Darma Tanda bertempur, bahkan tidak di arena seperti ini, melawan tidak hanya satu orang yang berilmu tinggi.”
“Aku masih belum yakin.”
Madyasta tidak menjawab lagi. Sementara itu, Glagah Putih memperhatikan pertarungan itu dengan seksama. Iapun mengakui bahwa kedua orang itu berilmu sangat tinggi. Tetapi sebagai seorang yang berbekal ilmu cukup, maka Glagah Putih masih belum menjadi silau melihat pertarungan itu.
Pangeran Jayaragapun memperhatikan pertarungan itu dengan dahi yang berkerut. Pangeran Jayaraga adalah seorang yang juga memiliki ilmu yang sangat tinggi. Namun kemampuan kedua orang yang bertarung itu memberikan harapan kepada Pangeran Jayaraga, bahwa ia akan mempunyai seorang lagi Senapati yang berilmu sangat tinggi.
“Bahkan aku akan dapat mengangkat kedua-duanya,” berkata Pangeran Jayaraga di dalam hatinya sambil membayangkan pertarungan di putaran terakhir esok lusa.
Menurut gambaran angan-angan Pangeran Jayaraga, maka kedua orang yang akan memasuki arena pertandingan di putaran terakhir, tentu dua orang yang berilmu sangat tinggi. Jika kedua-duanya diangkatnya menjadi Senapati, maka jajaran keprajuritan Panaraga tentu akan menjadi kokoh.
Demikianlah, kedua orang yang bertarung di arena itu telah meningkatkan ilmu mereka pula, sehingga dengan demikian, maka pertarungan itupun menjadi semakin sengit.
Keduanya berloncatan berputaran dengan kecepatan yang tinggi. Benturan-benturanpun menjudi semakin keras, sehingga bergantian mereka tergetar surut.
Serangan yang seorang datang seperti prahara, sedangkan yang lain bagaikan angin taufan yang menggempur bukit-bukit karang.
Namun pertarungan itupun harus berakhir. Ketika pada saat-saat terakhir benturan-benturan menjadi semakin sering terjadi, maka pertahanan orang yang bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan itu mulai menjadi goyah.
Lawannya yang sudah separo baya itu tidak mau kehilangan kesempatan. Pada saat orang bertubuh tinggi itu tergetar oleh serangannya yang berhasil menyusup pertahanannya, maka lawannya pun telah memanfaatkan keadaan itu. Iapun dengan kecepatan yang tinggi telah memburu lawannya dengan serangan-serangan yang bagaikan amuk gelombang setinggi bukit yang datang susul-menyusul menghantam tebing.
Satu serangan yang sangat keras lewat sebuah tendangan kaki yang terjulur lurus menyamping, berhasil menyusup pertahanan orang yang tinggi kekurus-kurusan itu langsung mengenai dadanya. Sehingga dengan demikian, maka orang itupun telah tergetar beberapa langkah surut. Dengan sigapnya orang yang sudah separo baya itu meloncat untuk mengulangi serangannya. Tetapi dua orang Senapati yang menjadi pelerai dalam pertarungan itu telah menahannya.
Pada saat itulah, orang bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan yang tubuhnya liat itupun jatuh terbaring di tanah.
Orang itu masih berusaha bangkit. Tetapi mulutnya menyeringai menahan sakit. Bahkan ia memerlukan waktu beberapa lama untuk dapat berdiri. Namun keseimbangannya sudah menjadi goyah.
Karena itu, maka kedua orang Senapati yang menjadi pelerai dalam pertarungan itu serta Mas Panji Wangsadrana sendiri telah mengambil keputusan, bahwa orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu dinyatakan kalah.
Ternyata orang itu dengan lapang dada mengakui kekalahannya. Iapun kemudian mengangguk hormat kepada Mas Panji Wangsadrana, kepada kedua Senapati yang menjadi pelerai dalam pertarungan itu, dan kemudian iapun mengangguk dalam-dalam menghadap kepada Pangeran Jayaraga yang berada di panggungan.
Penontonpun kemudian telah bersorak gemuruh. Meskipun orang bertubuh tinggi itu kalah, tetapi ia kalah dengan terhormat. Ia sudah memberikan perlawanan yang hampir seimbang. Namun agaknya orang bertubuh tinggi itu tidak memperhitungkan tenaga serta ketahanan tubuhnya, sehingga tenaga dan kekuatannya menjadi lebih dahulu menyusut.
Tetapi setiap orang yang menyaksikan pertarungan itu mengakui, bahwa keduanya hampir seimbang.
Demikianlah, maka kedua orang itupun kemudian telah keluar dari arena. Orang yang bertubuh tinggi, yang berjalan tertatih-tatih itupun telah dipapah oleh seorang prajurit yang kemudian membawanya duduk di tempat yang memang disediakan bagi para peserta yang telah kehilangan kesempatan untuk ikut dalam putaran berikutnya. Namun demikian ia duduk, maka beberapa orang yang ada di sebelah menyebelahnya telah berbisik, “Ilmu Ki Sanak ternyata tinggi sekali.”
“Tetapi aku sudah dikalahkannya.”
“Nampaknya keberuntungan saja yang masih belum hinggap pada Ki Sanak.”
Orang itu tersenyum. Namun dadanya masih terasa sakit sekali. Bahkan nafasnyapun masih terasa sesak.
Setelah beristirahat sejenak, maka pasangan terakhirpun memasuki arena pertarungan. Seorang di antara \ mereka adalah orang yang mengaku Pangeran Ranapati itu. Namun ketika ia menyatakan diri mengikuti adon-adon untuk memperebutkan kedudukan Senapati di Panaraga itu, ia mempergunakan nama lain.
Demikianlah dua orang yang sudah siap di arena. Lawan Pangeran Ranapati itu adalah seorang yang wajahnya nampak cerah. Sekali-sekali nampak tersenyum. Giginya yang putih itupun nampak berkilat. Namun di sorot matanya, orang-orang yang sedikit mempunyai kedalaman tentang sifat dan watak seseorang, melihat bahwa orang itu adalah orang yang licik. Orang itu dapat berbuat sesuatu di luar dugaan.
Bahkan Pangeran Jayaraga yang berada di panggungan dalam jarak yang tidak terlalu dekat, mengerutkan dahinya melihat orang yang licik itu. Namun Pangeran Jayaraga melihat lawannya adalah seorang yang sikapnya nampak mantap. Seorang yang sudah matang mengambil sikap sehingga orang itu tentu juga mengetahui, bahwa lawannya adalah orang yang licik.
Beberapa saat keduanya berdiri berhadapan. Dua orang Senapati yang menjadi pelerai bersama Mas Panji Wangsadrana itu, segera dapat mengenali kedua orang yang berada di arena. Seorang yang terpaksa membunuh lawannya yang curang. Dan yang seorang memerlukan perhatian lebih banyak, karena sikapnya yang kadang-kadang menyimpang dari aturan pertarungan.
Sebelum pertarungan pada putaran terakhir itu dimulai, Mas Panji Wangsadrana telah memberikan beberapa peringatan, terutama ditujukan kepada lawan Pangeran Ranapati. Jika terjadi kecurangan, maka pertarungan akan dihentikan. Yang berbuat curang langsung dinyatakan kalah.
Orang itu hanya tersenyum saja. Tidak ada kesan apapun di wajahnya, seakan-akan ia tidak pernah melakukan kecurangan itu.
“Saat ini Pangeran Jayaraga hadir menyaksikan pertarungan ini. Karena itu, maka pertarungan ini harus bersih. Tidak boleh ada kecurangan sedikitpun juga, karena Pangeran Jayaraga tentu akan melihatnya, karena Pangeran Jayaraga adalah seorang yang berilmu sangat tinggi.”
Demikianlah, maka para Senapati yang akan menjadi pelerai dalam pertarungan itupun segera memberikan isyarat, agar kedua-duanya mempersiapkan diri. Pertarungan akan segera dimulai.
Sebenarnyalah, sejenak kemudian, maka kedua orang yang berdiri berhadapan di arena itupun mulai dengan pertarungan dalam putaran terakhir. Siapa yang menang, akan sampai pada pertarungan yang menentukan esok lusa. Yang menang dalam pertarungan esok lusa akan segera diangkat menjadi Senapati melengkapi jumlah Senapati yang ada di Panaraga.
Sekali lagi Pangeran Jayaraga itu berpikir, “Kenapa hanya seorang? Kedua pemenang dalam pertarungan ini akan dapat aku ambil bersama-sama. Tetapi untuk menentukan yang terbaik dari keduanya, yang tentu akan mendapat pangkat yang lebih tinggi, maka pertarungan esok lusa akan terus dilangsungkan.”
Pangeran Jayaraga masih belum berniat menyampaikan gagasannya itu kepada orang lain.
Sejenak kemudian, maka kedua orang itupun sudah saling berloncatan. Keduanyapun mulai saling menyerang dengan sengitnya. Tangan dan kaki mereka terayun-ayun berputaran, menebas, terjulur lurus dengan jari-jari yang berkembang atau dengan jari-jari yang justru merapat.
Ki Darma Tanda yang tidak menyaksikan pertarungan sebelumnya mengamati pertarungan itu dengan tegang. Orang yang sorot matanya membayangkan kecerdikannya sekaligus kelicikannya itupun berloncatan dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Namun pertahanan kedua orang itu ternyata sangat rapat. Sehingga yang sering terjadi adalah benturan-benturan yang keras. Serangan yang bagaikan taufan yang dahsyat, telah membentur pertahanan yang kokoh seperti batu karang.
Para Senapati yang menjadi pelerai dalam pertandingan itu menjadi sangat berhati-hati. Mereka seakan-akan tidak berani berkedip karena sekejap demi sekejap pertarungan itupun berkembang dengan cepatnya.
Pertarungan antara kedua orang itupun menjadi semakin sengit. Keduanya memang berilmu sangat tinggi.
Tanpa berbuat curangpun orang yang berwajah cerah itupun mampu bertempur mengimbangi Pangeran Ranapati. Keduanya saling mendesak. Saling menyerang, menghindar dan bahkan saling berbenturan.
Dengan demikian, maka di arena itupun telah terjadi pertarungan yang dahsyat, bagaikan angin pusaran yang saling melilit dan sulit untuk diurai.
Namun sekali-sekali orang yang berwajah cerah, dengan sorot mata yang memancarkan kelicikannya itu terlempar dan terpelanting jatuh. Tetapi kemudian Pangeran Ranapati itulah yang terbanting dan terguling di tanah.
Orang yang dianggap licik itu memang tidak mempunyai kesempatan untuk berbuat curang. Ia tidak mau diusir dari arena karena kecurangannya, sementara selangkah lagi jika ia memenangkan pertarungan itu akan maju ke putaran terakhir.
Dengan demikian, maka ia berusaha untuk bertempur sebaik-baiknya.
Pangeran Jayaraga yang berada di panggunganpun menjadi tegang. Kedua orang yang bertempur di arena itu ternyata memiliki ilmu yang seakan-akan seimbang, sehingga sulit untuk menebak, yang manakah yang akan menang.
Namun Raden Ranapati telah menempa diri diperta-paannya untuk waktu yang lama. Iapun mempunyai pengalaman yang sangat luas sehingga dengan demikian, maka ia merupakan seorang yang sangat tangguh dan tanggon.
Di luar arena, Ki Darma Tanda menyaksikan pertarungan itu dengan tegang pula. Rasa-rasanya empat orang yang bertanding hari itu memiliki tataran ilmu yang hampir seimbang. Agaknya hanyalah kesempatan dan keberuntungan sajalah yang membuat seorang dari setiap pasangan itu memenangkan pertarungan.
Namun bagi Glagah Putih, pertarungan itu merupakan satu kesempatan baginya untuk mengetahui tataran kemampuan Pangeran Ranapati. Agaknya untuk mengatasi lawannya, Pangeran Ranapati telah mengerahkan segenap kemampuannya.
“Masih ada satu kesempatan lagi,” berkata Glagah Putih di dalam hatinya, “jika Pangeran Ranapati memenangkan pertarungan ini, maka aku akan melihat kemampuan tertinggi dari Pangeran Ranapati.”
Glagah Putih harus mengakui, bahwa Pangeran Ranapati memang berilmu sangat tinggi. Sedangkan Glagah Putih mengemban tugas untuk membawa Pangeran Ranapati itu ke Mataram. Untuk itu maka ia harus dapat mengatasi kemampuan Pangeran Ranapati itu.
Tetapi agaknya tugas yang dibebankan kepadanya itu adalah tugas yang akan menjadi sangat rumit.
Kalau Pangeran Ranapati itu sudah terlanjur menjadi Senapati di Panaraga, maka segalanya tentu harus melalui Pangeran Jayaraga. Apalagi jika Pangeran Ranapati- kemudian dianggap sebagai seorang Senapati yang mempunyai kedudukan yang dekat dengan Pangeran Jayaraga.
Tetapi jika ia melakukannya sebelumnya, maka yang turun ke arena itu bukan Pangeran Ranapati. Ia seorang yang lain, yang tidak akan dapat dituduh seorang yang mengaku-aku sebagai seorang Pangeran karena nama yang dipergunakan adalah nama yang lain sama sekali. Nama yang tidak dapat disangkut pautkan dengan pemalsuannya tentang kedudukannya sebagai Pangeran. Ia akan dapat mengingkarinya jika dituduhkan kepadanya, bahwa ia bersalah karena mengaku sebagai putera Panembahan Senapati.
“Tetapi kelak aku tentu akan menemukan jalan,” berkata Glagah Putih. Iapun merasa bahwa ia tidak sendiri. Untuk menghadapi Pangeran Ranapati yang berilmu sangat tinggi, apabila ia mengalami kesulitan, bahwa Rara Wulan yang juga berilmu sangat tinggi akan dapat membantunya.
Sementara itu pertarungan di arena itupun menjadi semakin sengit. Keduanya ternyata telah membangun pertahanannya yang sangat rapat sehingga sulit bagi lawan-lawannya untuk menembusnya sehingga mampu menyentuh sasarannya.
Namun seperti pertarungan yang pertama. Apapun yang terjadi, pertarungan itupun harus berakhir.
Ternyata lawan Pangeran Ranapati itupun tidak mampu mengimbangi daya tahan tubuh Pangeran Ranapati. Meskipun ia memiliki ilmu yang seimbang, tetapi tenaganyalah yang lebih dahulu mulai menyusut.
Dengan demikian, maka akhirnya, para Senapati yang menjadi pelerai dari pertarungan itu, bahwa Mas Panji Wangsadranapun memutuskan untuk menghentikan pertarungan.
Ternyata lawan Pangeran Ranapati yang sebelumnya dianggap licik, sehingga pada pertarungan dalam putaran menjelang putaran terakhir itu perlu diperingatkan, telah menjunjung tinggi keputusan para Senapati yang menjadi pelerai dalam pertarungan itu. Ia sama sekali tidak menunjukkan kelicikannya. Bahkan wajahnya nampak ikhlas ketika ia mengangguk hormat kepada para Senapati, kepada Mas Panji Wangsadrana, dan kepada Pangeran Jayaraga yang berada di panggungan.
Dengan demikian, maka dua pertarungan di hari itu sudah selesai. Pangeran Jayaragapun segera kembali ke istana. Sementara para penonton di alun-alun sudah menjadi semakin sepi.
Ki Darma Tanda yang pulang bersama Glagah Putih dan Madyastapun bertanya, “Kalian tahu, bahwa ada unsur-unsur gerak yang bersamaan dari salah seorang yang bertarung pertama dan salah seorang yang bertarung kemudian.”
Sebenarnyalah bahwa Glagah Putih juga melihat persamaan itu. Tetapi ia tidak menjawab. Sementara Madyastalah yang menyahut, “Yang mana, Ki Darma Tanda?”
“Yang memenangkan pertarungan pertama, dan yang dikalahkan pada pertarungan kedua.”
Madyasta dan Glagah Putih mengangguk-angguk.
Bahkan Glagah Putih sudah mengambil kesimpulan, bahwa keduanya adalah saudara seperguruan. Namun menurut penglihatan Glagah Putih, orang yang sudah separo baya yang bertarung pertama memang memiliki kelebihan dari saudara seperguruan yang bertarung terakhir.
Demikianlah, maka Ki Darma Tanda yang langsung akan pulang itupun berpisah pula dengan Glagah Putih dan Madyasta yang juga akan pulang.
Di sepanjang jalan, Glagah Putih dan Madyasta telah membicarakan kesulitan yang bakal mereka jumpai untuk membawa Pangeran Ranapati ke Mataram.
Kecuali Pangeran Ranapati berilmu sangat tinggi, maka kemungkinan terbesar ia akan mendapatkan kedudukan yang tinggi di Panaraga.
“Bagaimana kalau kita melakukannya sebelum pertarungan di putaran terakhir?” bertanya Madyasta.
“Orang itu tidak mengaku bernama Pangeran Ranapati. Tidak ada saksi yang dapat menyudutkannya, bahwa ia adalah orang yang telah mengaku bernama Pangeran Ranapati. Bukankah orang itu tidak dapat dipersalahkan mengaku seorang Pangeran putera Panembahan Senapati.”
“Tetapi saat ia mengaku putera Panembahan Senapati, ia sudah menjadi seorang Senapati di Panaraga serta mendapat perlindungan dari Pangeran Jayaraga.”
“Itulah yang membingungkan.”
“Lalu, apakah yang akan kau lakukan?”
“Untuk sementara aku masih harus memikirkan, jalan manakah yang dapat aku tempuh kemudian.”
Madyasta mengangguk-angguk.
Demikian mereka sampai di rumah, maka Madyastapun langsung pergi ke dapur. Ia masih mempunyai nasi dan sayur meskipun sudah dingin. Tetapi bagi mereka, nasi dingin dan sayur yang dingin tidak ada salahnya jika perut lapar.
Sementara itu, Rara Wulan masih saja selalu menghubungi Glagah Putih. Kantil semakin lama menjadi semakin garang, karena Pangeran Ranapati tidak pernah pulang.
“Pangeran itu baru menempuh pendadaran,” sahut Glagah Putih.
“Tetapi Nyi Kantil tidak tahu. Ia mengira, bahwa Pangeran Ranapati mempunyai simpanan baru, sehingga telah melupakannya. Namun akulah yang menjadi sasaran kejengkelannya itu, sehingga aku hampir menjadi gila.”
Glagah Putih justru tertawa. Tetapi Rara Wulan segera memotongnya, “Kau mentertawakan aku?”
“Tidak. Bukan maksudku. Aku mentertawakan perempuan yang kau ceriterakan. Kasihan orang itu. Tetapi kau harus menahan diri agar rencana kita dapat berhasil.”
“Aku akan berusaha. Tetapi jika kelak setelah aku keluar dari rumah ini aku menjadi gila, aku jangan kau tinggal pergi.”
Ketika Glagah Putih tertawa, Rara Wulanpun memotongnya pula, “Kau mentertawakan aku lagi?”
“Tidak. Aku tidak akan mentertawakan kau.“ Pembicaraan dengan Aji Pameling itu memang tidak selancar pembicaraan jika mereka saling berhadapan. Tetapi kedua-duanya telah menguasainya sehingga keduanya dapat berhubungan dengan lancar.
Di hari berikutnya, tidak ada pertarungan di alun-alun, karena itu, ketika Glagah Putih dan Madyasta pergi ke alun-alun, maka alun-alun itu nampak lengang.
Hari itu mereka yang akan bertarung di putaran terakhir mendapat kesempatan untuk beristirahat. Mereka harus mempersiapkan diri untuk menghadapi pertarungan yang tentu akan sangat berat. Dua orang yang berilmu sangat tinggi akan turun di arena untuk memperebutkan gelar Senapati, melengkapi kedudukan Senapati yang sudah ada di Panaraga.
Dalam pada itu, mereka yang akan turun ke arena di keesokan harinya, masih juga berada di barak mereka. Bahkan dengan bebas para peserta yang terdahulu dapat menemui mereka untuk menyatakan dukungan mereka.
Kedua orang yang akan bertanding di keesokan harinya itu agaknya akan mendapat dukungan yang seimbang. Sementara itu, orang yang disebut memiliki ciri-ciri yang sama, tetapi yang dikalahkan pada pertandingan pertama kemarin, telah menemui orang yang turun ke arena pertarungan esok.
“Orang itu memang luar biasa, kakang,” berkata orang yang dikalahkan oleh Pangeran Ranapati itu.
“Kau sudah berusaha sebaik-baiknya. Tetapi orang itu memang berilmu tinggi. Tetapi aku akan mencoba mengalahkannya esok.”
“Kalau kakang tidak berhasil?”
“Aku akan mempergunakan ilmu pamungkasku. Apaboleh buat. Aku sudah merintis jalan dari bawah sekali. Jika aku harus gagal, biarlah tidak ada orang yang akan dapat berhasil. Orang itupun harus gagal pula. Mungkin kami akan mati bersama-sama. Tetapi itu lebih baik daripada kedudukan itu jatuh ke tangan orang lain.”
“Orang itu tentu juga menyimpan ilmu pamungkas.”
“Ilmu pamungkasku adalah ilmu linuwih. Jarang ada yang dapat mengimbanginya.”
“Mudah-mudahan kakang berhasil tanpa harus mempergunakan ilmu pamungkas. Kami semuanya yang bertarung juga tidak mempergunakan ilmu-ilmu puncak kami, karena telah disebutkan, bahwa tidak dibenarkan mempergunakan ilmu puncak yang dapat menyebabkan kematian dengan serangan berjarak.”
“Hanya kalau sudah tidak ada kemungkinan lain. Sudah aku katakan, lebih baik kami nanti mati bersama-sama daripada harus menyerahkan kedudukan itu kepada lawan. Jika ilmu kami seimbang kekalahan dalam pertarungan seperti ini adalah sangat menyakitkan, sehingga tidak ada pilihan daripada kami binasa bersama-sama di arena.”
Adik seperguruannya menarik nafas panjang. Namun segala sesuatunya terserah kepada kakang seperguruannya.
Tetapi orang itu justru mempunyai harapan. Jika kakak seperguruannya dan lawannya itu mati bersama-sama di arena, atau karena penggunaan ilmu puncak mereka dianggap menyalahi peraturan, maka akan ada kesempatan baginya untuk tampil dalam pertarungan akhir melawan orang yang telah dikalahkan oleh kakang seperguruannya itu.
Demikianlah, maka hari yang mendebarkan itu akhirnya tiba pula. Pagi-pagi sekali Glagah Putih mencoba membuat hubungan dengan Rara Wulan. Namun agaknya Rara Wulan baru sibuk sehingga ia tidak mempunyai kesempatan untuk berhubungan dengan Glagah Putih.
Namun beberapa saat kemudian, pada saat Rara Wulan mempunyai kesempatan, barulah ia menghubungi Glagah Putih.
“Hari ini adalah hari terakhir,” berkata Glagah Putih, “kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Kitapun tidak tahu, jika Pangeran Ranapati menang, apakah ia akan segera pulang untuk mendapat perawatan perempuan yang bernama Kantil itu atau tidak. Tetapi sebaiknya kau berhati-hati.”
“Ya, kakang. Jika Pangeran Ranapati pulang, aku akan segera memberikan isyarat kepada kakang.”
“Kalau aku mengetahuinya lebih dahulu, aku akan memberitahukan kepadamu.”
“Sudahlah, kakang. Kantil itu datang kemari.“ Hubungan itupun telah terputus. Sementara Kantil dengan kasar membentak, “Apa yang kau lakukan? Apa kau kira pantas bagimu untuk melamun pagi-pagi begini? Apakah kau juga mengharap Pangeran Ranapati segera pulang?”
“Tidak, mbokayu. Tidak.”
“Kau tidak berhak mengharap Pangeran itu segera pulang. Kau tidak punya hak itu.”
“Tidak, mbokayu. Aku lebih senang mengabdi kepada mbokayu daripada kepada Pangeran Ranapati.”
Kantil memandang Ranti dengan sorot mata yang tajam, seakan-akan langsung menusuk sampai ke jantung.
“Jadi kau lebih senang bahwa Pangeran Ranapati tidak pulang ke rumah ini.”
“Ya, mbokayu.”
“Jadi kau senang kalau aku mati kekeringan seperti sebatang pohon yang tidak pernah disiram ? Begitu, he ?”
“Bukan. Bukan begitu maksudku. Pangeran Ranapati memang sebaiknya pulang bagi mbokayu Kantil. Tidak bagiku.”
Nafas Kantil itupun menjadi terengah-engah. Tetapi iapun kemudian duduk di amben panjang di dapur.
Ranti segera mengambil minuman dan memberikannya kepada Kantil sambil berkata, “Minumlah mbokayu. mBokayu tidak usah menjadi begitu cemas. Bukankah Pangeran Ranapati sedang menjalankan tugas yang sangat berat?”
“Darimana kau tahu ?”
“Bukankah ketika akan berangkat, Pangeran mengatakannya kepada mbokayu.”
Kantil itupun minum seteguk. Namun yang seteguk itu memang membuat dadanya menjadi tenang.
“Kalau dalam dua tiga hari ini Pangeran tidak pulang, aku akan mencarinya.”
“Kemana mbokayu akan mencarinya ? Sebaiknya mbokayu menunggu saja di rumah. Jika saatnya pulang, maka Pangeran tentu akan pulang.”
“Tentu Mas Panji itu yang telah membawa Pangeran Ranapati kepada perempuan yang lain. Perempuan yang lebih muda dan lebih cantik daripadaku, sehingga Pangeran menjadi tergila-gila kepadanya. Karena itu, maka Pangeran tidak lagi pernah pulang.”
“Belum tentu mbokayu. Belum tentu.“ Kantilpun terdiam. Namun Kantil itupun kemudian bangkit benliri dan masuk ke dalam biliknya.
Sementara itu, di alun-alun Panaraga, pertarungan pada putaran terakhirpun sudah siap dilakukan, Pangeran Jayaraga telah berada di alun-alun dan duduk di panggungan.
Dengan jantung yang berdebar-debar Pangeran Jayaraga menunggu pertarungan itu berakhir. Jika kedua-duanya adalah orang-orang yang berilmu sangat tinggi, maka Pangeran Jayaraga akan dapat mengambil ke dua-duanya untuk mengisi kedudukan Senapati di Panaraga. Menurut Pangeran Jayaraga, jajaran keprajuritan Panaraga memang masih harus diperkuat dengan orang-orang berilmu tinggi.
Pada saatnya, maka dua orang yang mengikuti pertarungan pada putaran terakhir itupun sudah siap di arena. Seorang adalah orang yang sudah separo baya, yang bergerak dengan mantap di arena. Matanya yang agak cekung tajam memandang lawannya hampir tanpa berkedip.
Sedangkan yang seorang adalah Pangeran Ranapati. Namun Pangeran Jayaraga tidak mengetahui, bahwa orang itulah yang pernah disebut-sebut oleh Mas Panji Wangsadrana mengaku bernama Pangeran Ranapati.
Sejenak kemudian, para Senapati yang akan menjadi pelerai sudah berada di arena pula. Dua orang Senapati dengan Mas Panji Wangsadrana itu sendiri, sehingga menjadi tiga orang.
Setelah mereka memhorikan hormat kepada Pangeran Jayaraga yang berada di panggungan, maka para Senapati yang menjadi pelerai itupun telah memberikan isyarat kepada kedua orang yang akan bertarung diarena, bahwa pertarungan sudah dapat dimulai.
Sudah dapat diduga, keduanya adalah orang-orang yang sudah matang, sehingga mereka tidak nampak tergesa-gesa. Mereka dengan tenang menghadapi lawan yang mereka ketahui, berilmu sangat tinggi.
Berapa saat mereka bergeser berputaran di arena, Namun tiba-tiba saja merekapun mulai berloncatan menyerang.
Meskipun serangan-serangan mereka masih merupakan sekedar penjajagan, tetapi setiap ayunan telah menimbulkan desir angin yang tajam menerpa kulit lawannya.
Dipinggir arena, diantara para penonton yang menjadi semakin banyak, Madyasta, Glagah Putih dan Ki Darma Tanda berdiri dengan tegang pula. Mereka mengikuti setiap gerak dengan jantung yang berdebaran.
Dengan sangat teliti, Glagah Putih mencoba mengurai setiap langkah, loncatan, ayunan tangan dan kaki Pangeran Ranapati. Ia mencoba untuk mengetahui sifat dan watak setiap unsur geraknya. Ia harus mempelajarinya baik-baik sebelum ia sendiri akan membenturkan ilmunya melawan orang yang mengaku seorang Pangeran dari Mataram itu.
Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin meningkat. Kedua-duanya memang tidak nampak tergesa-gesa, sehingga mereka tidak terlalu cepat meningkatkan ilmu mereka. Pada setiap tataran keduanya mencoba untuk benar-benar membenturkan kemampuan mereka.
Pangeran Jayaraga yang duduk di panggungan itu memang menjadi tegang. Tetapi baginya kedua-duanya pantas untuk menjadi Senapati pilihan di Panaraga. Tetapi salah seorang harus mendapat hak yang lebih dari yang lain.
Karena itu, maka pertarungan itu harus diselesaikan dengan tuntas.
Kedua orang di arena itupun semakin mengerahkan tenaga dalam mereka. Loncatan-loncatan mereka menjadi semakin cepat dan mantap. Jika terjadi benturan, maka bukan saja arena itu yang bergetar, tetapi rasa-rasanya seluruh alun-alun itupun telah bergetar pula.
Orang-orang yang menonton pertarungan itupun menjadi semakin tegang pula. Rasa-rasanya mereka ikut terancam oleh Orang-orang yang berada di arena itu. Serangan-serangan mereka menjadi semakin deras dan berbahaya mengarah ke sasaran yang paling lemah di tubuh lawan.
Sekali-sekali Pangeran Ranapati terlempar dan terpelanting jatuh. Namun sesaat kemudian lawannyalah yang terbanting di tanah sehingga mulutnya menyeringai menahan sakit betapapun daya tahannya sangat tinggi.
Ternyata bahwa kedua orang itu memiliki ilmu yang hampir seimbang. Pangeran Ranapati merasa sangat sulit untuk mengalahkan lawannya. Tetapi lawannyapun merasa bahwa ia tidak akan dapat menundukkan lawannya itu.
Sementara itu, serangan demi serangan yang berhasil menyusup pertahanan lawan telah membuat tubuh lawannya sakit dan nyeri di mana-mana.
Lengan orang yang sudah separo baya dan bermata cekung itu terasa bagaikan retak. Dadanya kesakitan dan nafasnya menjadi sesak. Sedangkan Pangeran Ranapatipun merasa tulang-tulang iganya yang seakan-akan telah retak. Sendi-sendinya bagaikan terlepas yang satu dengan yang lain.
Namun nafas Pangeran Ranapati rasa-rasanya masih lebih panjang dari nafas lawannya yang terasa semakin terengah-engah.
Ketika pertarungan itu berlangsung semakin lama, maka mulai nampak betapa keseimbangan antara keduanya mulai terguncang. Orang yang sudah separo baya, yang bermata cekung itu, tidak dapat mempertahankan tenaga dan kekuatannya. Betapa kemampuannya masih tetap mapan, tetapi unsur kewadagannya mulai menjadi penghambat.
Orang-orang yang berilmu tinggi, termasuk Pangeran Jayaraga, Ki Darma Tanda, Glagah Putih dan Madyasta serta beberapa orang senapati, mulai dapat menebak, siapakah diantara keduanya yang akan mampu bertahan.
Meskipun demikian, yang tidak terduga, masih akan dapat terjadi. Jika orang yang mulai mengatasi lawannya itu melakukan kesalahan, maka keadaan justru akan dapat berbalik.
Namun orang yang sudah separo baya itu sendiri, akhirnya meyakini, bahwa ia benar-benar tidak akan dapat memenangkan pertarungan itu. Ia sadar, bahwa tenaganya mulai menyusut. Agak lebih cepat dari lawannya.
Karena itu, maka orang itu tidak mempunyai pilihan lain. Ia sudah bertekad, jika ia tidak dapat menguasai kedudukan itu, maka lawannya tidak pula. Baginya lebih baik mati bersama di arena itu daripada ia harus melepaskan kesempatan itu kepada lawannya, yang ilmunya tidak jauh berbeda dengan tataran ilmunya sendiri.
Sementara itu, Pangeran Jayaraga sendiri menjadi lebih tertarik pada pertarungan itu. Ia sudah berniat untuk mengangkat kedua orang itu menjadi Senapati di Panaraga meskipun salah seorang dari mereka harus menang, agar Pangeran Jayaraga itu menjadi lebih mudah untuk menempatkan mereka pada tataran dalam keprajuritan Panaraga.
Pangeran Jayaraga sudah hampir pasti, bahwa Pangeran Ranapati yang masih belum dikenalnya itu akan memenangkan pertarungan di putaran terakhir itu.
Tetapi Pangeran Jayaraga itupun sangat terkejut. Bukan hanya Pangeran Jayaraga, tetapi para Senapati yang menjadi pelerai di arena termasuk Mas Panji Wangsadrana, Ki Darma Tanda yang berada di luar arena, Madyasta dan Glagah Putih serta beberapa orang senapati yang lain, ketika mereka melihat bahwa orang yang sudah separo baya itu tiba-tiba saja meloncat beberapa langkah surut untuk mengambil jarak.
“Kita akan mati bersama-sama, Ki Sanak. Itu lebih baik daripada aku harus melepaskan kedudukan ini kepadamu.”
Pangeran Ranapati yang juga terkejut, telah bergeser pula. Secepat lawannya, maka Pangeran Ranapatipun telah memusatkan nalar budinya.
“Betapa tinggi ilmumu, tetapi ilmu puncakmu itu tidak akan dapat menandingi ilmu puncakku,” geram orang yang sudah separo baya itu.
Para prajurit yang berada di sekeliling arena menjadi gelisah, terutama mereka yang kebetulan berada di belakang Pangeran Ranapati.
Merekapun segera berloncatan sambil memberi isyarat kepada para penonton untuk bergeser.
Tetapi ketika para prajurit yang beradu di belakang orang yang sudah separo baya itu melihat bahwa Pangeran Ranapati juga mempersiapkan serangan dengan ilmu pamungkasnya, maka para prajurit itupun segera bergeser pula sambil memberi isyarat pula kepada para penonton.
Demikian pula penonton itu menyibak, maka orang yang sudah separo baya itupun segera melepaskan ilmu puncaknya.
“Tunggu, jangan,“ teriak Mas Panji Wangsadrana.
Tetapi terlambat. Ilmu pamungkas itu telah meluncur dari telapak tangan orang yang sudah separo baya itu. Namun dalam pada itu, dari tangan Pangeran Ranapatipun telah meluncur pula selerat sinar yang menyongsong serangan orang yang sudah separo baya itu.
Benturanpun telah terjadi dengan dahsyatnya. Dua ilmu pamungkaspun telah berbenturan. Alun-alun Panaraga itupun bagaikan telah terguncang. Pepohonanpun bergetar sehingga dedaunan serta ranting-ranting berpatahan, runtuh jatuh ke tanah.
Panggungan tempat Pangeran Jayaraga duduk menyaksikan pertarungan itupun telah goyah bagaikan diterpa gempa, sehingga Pangeran Jayaragapun telah bangkit berdiri.
Yang terjadi di arena telah menggetarkan jantung orang-orang yang menyaksikannya, Pangeran Ranapati telah terlempar beberapa langkah surut. Tubuhnya teipiling beberapa kali. Namun Pangeran Ranapati itu masih mampu untuk berdiri meskipun tubuhnya menjadi gemetar. Darah segera meleleh dari sela-sela bibirnya karena luka di dalam dadanya.
Di sisi lain, orang yang sudah separo baya, yang terlalu yakin akan kemampuan ilmunya itu justru terbanting jatuh. Sekali ia menggeliat sambil mengerang kesakitan.
Saudara seperguruannya yang. telah dikalahkan oleh Pangeran Ranapati di putaran sebelumnya, yang berkesempatan menyaksikan pertarungan itu, segera meloncat berlari mendekatinya. Beberapa orang yang didalam hatinya berpihak kepadany apun telah merubunginya pula.
Dua orang prajurit yang bertugas bersama seorang tabib telah berlari pula mendekat dan berjongkok di sebelahnya.
Orang itu masih mengerang kesakitan. Kepada saudara seperguruannya iapun berdesis perlahan, “Ternyata ilmu orang itu sangat tinggi.”
“Kakang,” desis saudara seperguruannya itu.
Tetapi orang itu sudah tidak dapat menjawab. Dadanya bagaikan terbakar sehingga orang itu tidak mempunyai kesempatan lagi untuk bertahan.
Tabib yang datang kepadanya itupun kemudian menggeleng sambil berdesis,” sayang, nafasnya telah terputus.”
Satu kematian lagi telah terjadi di arena itu, Pangeran Ranapati yang terluka di dadanya, namun karena daya tahannya yang sangat tinggi, masih mampu berdiri tegak, mengangguk dalam-dalam ke arah Pangeran Jayaraga yang berdiri di panggungan.
Mas Panji Wangsadranapun kemudian berdiri disebelah-nya, ketika seorang Senapati datang kepadanya kemudian membisikkan kematian orang yang sudah separo baya itu, maka Mas Panji itupun mengangguk dalam-dalam menghadap kepada Pangeran Jayaraga.
“Ampun Pangeran. Seorang diantara peserta pendadaran pada putaran terakhir ini telah terbunuh.”
Sedangkan Pangeran Ranapatipun menyambungnya, “Ampun Pangeran. Sungguh hamba tidak berniaat membunuh. Tetapi hamba terkejut, bahwa tiba-tiba saja orang itu menyerang dengan ilmu puncaknya”
Pangeran Jayaragapun memandang Pangeran Ranapati dengan tajamnya. Namun kemudian iapun berkata, “Ya. Aku melihatnya Kau memang tidak bersalah.”
“Terima kasih, Pangeran. Hamba junjung tinggi kemurahan hati Pangeran.”
“Benahi segala sesuntunya. Aku akan kembali ke istana. Kau, yang memenangkan pertarungan pada putaran terakhir mi, nanti aku minta menghadap.”
“Hamba Pangeran, Perkenankan hamba membenahi diri lebih dahulu. Mungkin hamba juga memerlukan minum seteguk reramuan untuk mengatasi perasaan nyeri di dada hamba.“
“Baik. Kau dapat melakukannya. Biarlah nanti Mas Panji Wangsadrana yang mengaturnya.”
Demikianlah, maka orang-orang yang berada di alun-alun untuk menyaksikan pertarungan di putaran terakhir itupun mengalir meninggalkan alun-alun melalui tiga pintu gerbang. Sedangkan beberapa orang prajurit sibuk dengan korban yang terbunuh di arena pertarungan itu. Untunglah bahwa Pangeran Jayaraga sendiri. menyaksikannya, sehingga Pangeran Jayaraga itu langsung dapat menentukan bahwa orang yang memenangkan pertarungan dan bahkan telah menyebabkan kematian lawannya itu tidak bersalah.
Sementara itu, Ki Darma Tanda meninggalkan alun-alun bersama Madyasta dan Glagah Putih. Sambil berjalan diantara banyak orang, Ki Darma Tandapun berkata, “Untunglah, bahwa yang memenangkan pertarungan ini adalah orang yang nampaknya baik dan cerdas. Yang pantas untuk menjadi salah seorang Senapati di Panaraga.”
Madyasta dan Glagah Putih mengangguk-angguk. Namun Glagah Putih itupun bertanya, “Kenapa Ki Darma Tanda tidak tertarik untuk menjadi Senapati di Panaraga ?”
Ki Darma Tanda tersenyum. Katanya, “Belum tentu aku dapat melampaui orang-orang berilmu tinggi itu, ngger, Tetapi sejak semula aku memang tidak tertaarik. Sudah aku katakan, bahwa bagiku, hidup sebagaimana aku jalani sekarang ini merupakan jalan kehidupan yang paling tepat bagiku dan keluargaku.”
Glagah Putih masih saja mengangguk-angguk.
Akhirnya mereka bertigapun telah berpisah. Ki Darma Tanda yang langsung pulang ke rumahnya itupun berpesan, “Sering-sering datang ke rumahku, ngger. Kita dapat berbincang-bincang tentang banyak hal. Juga tentang Senapati yang baru itu.”
“Terima kasih, Ki Darma Tanda, “Madyastalah yang menjawab, “dalam satu kesempatan, kami akan mengunjungi Ki Darma Tanda. Bukankah rumah kami tidak terlalu jauh.”
Ki Darma Tanda tersenyum. Katanya, “Terima kasih, ngger kadang-kadang aku memang menginginkan orang yang dapat aku ajak berbicara tentang berbagai macam hal seperti angger berdua ini.”
Setelah mereka berpisah, maka Glagah Putih dan Madyastapun langsung pulang ke rumah yang mereka huni selama ini.
Demikian mereka tiba di rumah, maka Glagah Putihpun segera menghubungi Rara Wulan yang kebetulan duduk sendiri di dapur untuk memberitahukan, bahwa Pangeran Ranapati telah memenangkan pendadaran untuk memperoleh kedudukan Senapati yang akan melengkapi jajaran Senapati di Panaraga.
“Namun, bagi Pangeran Ranapati, langkah ini hanyalah sekedar langkah pertama dari rencana perjalanannya yang panjang di Panaraga,” berkata Glagah Putih.
“Lalu langkah apa yang akan kakang ambil ?”
“Aku belum memutuskan.”
Demikianlah, maka kemenangan Pangeran Ranapati itu merupakan isyarat bagi Rara Wulan untuk menjadi lebih berhati-hati, ia tidak tahu, langkah apa yang kemudian akan dilakukan oleh Pangeran Ranapati itu/ Apakah ia akan kembali kepada Kantil dan benar-benar menempatkannya sebagai seorang isteri Pangeran, atau Pangeran Ranapati akan berbuat lain. Keberadaannya di rumah itu juga harus diperhitungkan dengan cermat. Namun agaknya Pangeran Ranapati sampai saat-saat terakhir di rumah itu, hampir tidak pernah menghiraukannya.
Dalam pada itu, diistana Kadipaten Panaraga, setelah berbenah diri, Pangeran Ranapatipun telah menghadap Pangeran Jayaraga yang telah diangkat menjadi Adipati di Panaraga. Pangeran Ranapati menghadap Pangeran Jayaraga diantar oleh Mas Panji Wangsadrana, yang merupakan salah seorang yang terhitung dekat dengan Pangeran Jayaraga.
“Aku terkesan oleh kemampuanmu,” berkata Pangeran Jayaraga.
“Hamba Pangeran. Sebenarnyalah hamba tidak ingin menunjukkan kelebihan-kelebihan hamba. Tetapi hamba terpancing oleh kemampuan lawan hamba yang sangat tinggi, sehingga hamba terpaksa meningkatkan kemampuan hamba. Bahkan aldiirnya hamba sangat terkejut ketika hamba melihat, lawan hamba itu berniat mempergunakan puncak ilmu dengan serangan berjarak yang menurut ketentuan tidak boleh dipergunakan.”
“Ya, aku melihatnya.”
“Hamba mohon ampun, bahwa hamba telah menyebabkan kematiannya, karena hal itu terjadi diluar niat hamba.”
“Sudah aku katakan, aku melihatnya. Itu bukan salahmu. Sebenarnya aku ingin mengangkat kalian berdua menjadi Senapati di Panaraga karena ilmu kalian berdua hampaknya memenuhi syarat. Tetapi karena salahnya sendiri maka seorang diantara kalian yang bertarung pada putaran terakhir itu telah terbunuh.”
“Hamba Pangeran.”
“Sekarang, hanya kau sendiri sajalah yang akan aku tetapkan menjadi Senapati melengkapi jajaran keprajuritan di Panaraga. Tetapi sebelumnya aku tentu ingin tahu, siapa kau dan berasal darimana. Asal kelahiranmu dan perguruanmu.”
“Ampun Pangeran, sebenarnya hamba segan untuk menyebut asal usul hamba, karena mungkin Pangeran tidak mempercayainya. Tetapi bukankah hal itu tidak penting, sehingga hamba tidak perlu menguraikannya.”
“Tentu penting bagiku. Karena itu, kau harus menyebutnya dengan jujur.”
“Baiklah Pangeran. Tetapi biarlah Mas Panji Wangsadrana sajalah yang mengatakannya, karena hamba sudah berterus-terang kepadanya.”
“Benar begitu Mas Panji ?”
“Hamba Pangeran.”
“Baiklah. Jika demikian, katakan serba sedikit tentang orang yang telah memenangkan pendadaran untuk merebut kedudukan Senapati ini.”
“Ampun Pangeran. Hamba mohon seribu ampun. Sebenarnyalah orang yang telah mengikuti pendadaran ini adalah putera dari Mataram yang tersia-sia. Putera Panembahan Senapati yang sejak kecilnya telah tersisih dari istana, sehingga kemudian tinggal di sebuah padukuhan terpencil di kaki Gunung Merapi. Namun justru karena itu, maka penderitaannya itu merupakan laku prihatin, sehingga akhirnya putera Panembahan Senapati itu memiliki ilmu yang sangat tinggi, sebagaimana sudah Pangeran saksikan sendiri di arena pendadaran.”
“Putera Panembahan Senapati. Seorang Pangeran maksudmu ?”
“Ya, Pangeran Ranapati. Tetapi keberadaannya tidak diakui oleh ayahanda Pangeran Ranapati, Kangjeng Panembahan Senapati.”
“Jadi orang ini putera Panembahan Senapati ?”
“Ya. Ia termasuk putera yang terhitung tua. Memang lebih muda dari Pangeran Rangga. Tetapi Pangeran Ranapati sendiri tidak tahu, ia berada di urutan yang keberapa karena sejak bayi ibundanya sudah tidak berada lagi di istana.”
“Tetapi bagaimana mungkin hal seperti itu terjadi ?”
“Bukankah Pangeran juga tahu, bahwa sifat dan sikap Kangjeng Panembahan Senapati itu tidak dapat terduga. Apakah Pangeran belum pernah mendengar bahwa salah seorang isteri Panembahan Senapati telah dihukum mati tanpa melakukan kesalahan apa-apa.”
“Bohong.”
“Pangeran pernah mendengar ceritera tentang Pangeran Umbaran yang harus menyarungkan kerisnya pada sepotong kayu cendana pelet putih ?”
“Ya, ceritera. Itu memang hanya ceritera. Tentu tidak terjadi sebenarnya.”
“Mungkin Pangeran. Tetapi Pangeran Ranapati itu benar-benar sudah terusir dari istana Mataram sejak masih terlalu kecil.”
Pangeran Jayaraga termangu-mangu sejenak. Seakan-akan kepada diri sendiri iapun berkata, “Apakah aku harus mempercayainya ?”
“Pangeran. Selain ceritera tentang kayu cendana pelet putih itu, tentu Pangeran juga pernah mendengar ceritera tentang kakanda Pangeran sendiri. Kangjeng Pangeran Rangga yang meninggal dililit ular raksasa di lehernya ?”
“Ya, kenapa ?”
“Pangeran percaya bahwa Kangjeng Pangeran Rangga benar-benar dililit ular di lehernya.”
“Ya, ya. Aku percaya Kenapa ?”
“Kalangan istana mempunyai ceritera lain tentang kematian Pangeran Rangga.”
“Kalangan istana itu siapa ? Aku juga orang istana. Aku adalah Pangeran ke Sembilan. Sedangkan adimas Prabu di Mataram adalah Pangeran ke sepuluh. Seisi istana Mataram mengetahuinya.”
“Baiklah, Pangeran. Setiap orang di kalangan istana memang mengatakan, bahwa Pangeran Rangga yang nakal itu telah mengganggu seekor ular raksasa yang sedang bertapa. Namun akhirnya Pangeran Rangga harus menebus dengan nyawanya, meskipun ular itu berhasil dibunuhnya, namun Pangeran Rangga sendiri meninggal karena dililit lehernya. Tetapi menurut nalar, ular manakah yang akan dapat membunuh Pangeran Rangga yang mempunyai kesaktian jauh di atas kesaktian para Pangeran di Mataram. Bahkan Pangeran Rangga telah mempermalukan tamu dari Tuban yang dipimpin oleh Kangjeng Adipati Tuban sendiri.”
“Cukup,“ bentak Pangeran Jayaraga, “apa maksudmu sebenarnya dengan mengatakan dongeng-dongeng itu semuanya.”
“Ampun Pangeran. Hamba hanya ingin mengatakan, bahwa kemungkinan buruk itu dapat juga terjadi pada ibunda Pangeran Ranapati yang hurus meninggalkan istana pada saat Pangeran Ranapati masih kanak-kanak. Tetapi seandainya Pangeran Jayaraga tidak menghendaki hal itu sebagai satu kenyataan, aku kira juga bukan npn-apa. Pangeran Ranapati dengan tulus ingin mengabdi kepada Pangeran Jayaraga. Karena Pangeran Ranapati merasu ragu, bahwa kenyataan dirinya akan dapat diterima, maka ia telah menempuh cara yang berlaku bagi setiap orang tanpa terpengaruh oleh darah keturunannya.”
Tiba-tiba saja hati Pangeran Jayaraga itu tersentuh. Bahkan kemudian suaranyapun merendah, “baiklah. Aku akan mencoba mempercayainya, bahwa yang berhasil memenangkan pendadaran di Panaraga adalah saudaraku sendiri. Kakangmas Pangeran Ranapati, putera kangjeng Panembahan Senapati.”
“Ampun Pangeran,“ Pangeran Ranapati itu menyesal, “seandainya hamba diterima sebagaimana orang kebanyakan hamba sudah merasa bahagia sekali. Bagi hamba, apakah hamba dikenal sebagai seorang Pangeran atau tidak, itu tidak ada bedanya. Yang penging hamba dapat mengabdikan -dirihamba di Panaraga. Di Mataram, hamba adalah anak yang terbuang. Seperti singgat betatung, hamba di cungkil dan dilemparkan ke dalam api yang menyala. Bahkan abunyapun dilemparkan ke sungai yang mengalir deras. Disini, jika hamba boleh mengabdi , maka hamba akan melakukannya dengan sepenuh hati.”
“Sudahlah kakangmas,” sahut Pangeran Jayaraga, “aku mohon maaf atas penerimaan yang kurang akrab. Tetapi siapapun kakangmas, biarlah aku menganggapnya sebagai saudara sendiri. Kakangmas adalah seorang yang berilmu tinggi, yang akan dapat ikut membina Panaraga untuk menjadi besar.”
“Hamba Pangeran.”
“Panggil aku sesuai dengan hubungan diantara kita.“
“ Apakah hamba pantas melakukannya ?”
“Kenapa tidak ?”
“Baiklah adi mas Pangeran Jayaraga. Aku akan berusaha menempatkan diri sebagaimana adimas kehendaki.”
“Jadi selama ini dimana kakangmas tinggal ? “ Pangeran Ranapatipun segera menceriterakan, bahwa ia tinggal disebuah pondok di sebuah padukuhan. Ia tinggal disebuah rumah sederhana diantara rumah-rumah sederhana yang lain.”
“Baiklah, kakangmas. Sejak saat ini, kakangmas dapat tinggal di istana. Di sebelah kanan ada gandok yang terhitung luas. Kakangmas dapat tinggal di gandok, sementara rumah yang pantas akan dibangun kemudian.”
“Terima kasih, adimas Terima kasih.”
“Dengan siapa kakangmas tinggal di padukuhan itu ?”
“Sendiri, adimas.”
“Sendiri ? Selama ini kakangmas sendiri saja ?”
“Ya. Aku adalah pengembara yang tidak menetap. Karena itu, selama ini aku hanya sendiri.”
“Kalau kakangmas tinggal di istana ini, kakangmas juga sendiri ?”
“Ya, adimas. Aku akan sendiri saja.”
“Baiklah. Malam nanti kakangmas dapat tinggal di gandok. Kakangmas tidak usah kembali ke tempat tinggal kakangmas itu.”
“Ampun dimas. Jika aku nanti pulang, aku sekedar akan membenahi segala sesuatunya. Aku akan minta diri kepada beberapa orang tetangga dan selanjutnya aku akan langsung datang kemari meskipun mungkin agak malam.”
“Baiklah. Terserah kepada kakangmas. Para petugas di istana ini akan mendapat perintah untuk membuka pintu gerbang, kapanpun kakangmas datang.”
“Terima kasih adimas. Aku merasa mendapat kehormatan yang sangat tinggi dalam hidupku.”
Pangeran Jayaraga tertawa. Katanya, “Bukan penghargaan yang sangat tinggi. Kakangmas mendapat penghargaan yang seharusnya. Kakangmas akan menjadi Senapati linuwih yang akan mengendalikan prajurit Panaraga sehingga kita akan dapat mencapai satu tataran yang menempatkan Panaraga sebagai satu kadipaten yang terbaik.”
Demikianlah, maka Pangeran Kun ipatipiin segera minta diri. Ia ingin kembali ke rumahnya lebih dahulu sebelum untuk selanjutnya ia akan tinggal di kadipaten.
Ketika Pangeran Ranapati keluar dari pintu gerbang kadipaten, dua pasang mata memperhatikannya saksama. Namun demikian Pangeran Ranapati pergi menjauh, maka seorang diantaranya, berkata, “Kakang Madyasta, Sebaiknya kakang Madyasta pulang.”
“Kau?”
“Aku akan mengawasi Pangeran Ranapati.“
“Aku ikut bersamamu.”
“Jangan kakang. Pangeran Ranapati adalah seorang yang ilmunya sangat tinggi. Jika kita tidak pandai membawa diri, maka keberadaan kita akan dapat dirasakannya. Bukan maksudku meremehkan kemampuanmu. Tetapi orang ini adalah orang yang sangat berbahaya.”
Madyasta harus menyadari seberapa tinggi kemampuannya. Jika ia memaksa untuk ikut bersama Glagah Putih, maka ia justru akan dapat mengganggunya
Karena itu, maka iapun berkata, “Baiklah. Aku akan pulang. Tetapi jika kau perlukan aku, jangan segan untuk mengatakannya.”
“Aku mengerti, kakang. Bukankah kita sedang mengemban tugas bersama.”
Madyastapun kemudian dengan hati-hati meninggalkan tempat persembunyiannya dan pulang di rumahnya, sementara Glagah Putihpun segera menghubungi Rara Wulan.
“Mudah-mudahan Rara Wulan tidak sedang sibuk,” berkata Glagah Putih di dalam hatinya.
Sebenarnyalah Kara Wulan dapat menerima pesan Glagah Putih. Menurut Glagah Putih, agaknya malam ini Pangeran Ranapati ukan pulang.
“Kau pasti, kakang ?” bertanya Rara Wulan.
“Mungkin. Tetapi kemungkinan itu sangat besar. Karena itu berhati-hatilah.”
“Ya, kakang.”
“Sekarang kau sedang apa ?”
“Aku berada di bilik tidur. Kantil baru saja marah-marah. Aku telah ditamparnya. Hampir saja aku kehilangan kesabaran. Jika itu terjadi, maka perempuan itu tentu sudah terkapar mati.”
“Sabarlah. Mungkin tugas kita akan segera memasuki putaran yang lebih rumit. Karena itu, simpan tenagamu. Anggap saja perempuan itu perempuan gila.”
“Tetapi bukankah kakang tidak tahu, apa yang akan dilakukan oleh Pangeran Ranapati nanti di rumah ini ?”
“Ya. Aku tidak tahu. Tetapi aku akan berada dekat dengan rumah itu. Jika terjadi sesuatu, aku akan melibatkan diri. Tetapi jika kau mampu mengatasi sendiri, maka biarlah kau yang mengatasinya.”
“Baik, kakang.”
Rara Wulanpun telah memutuskan hubungannya dengan Glagah Putih lewat Adji Pameling. Ia masih membaringkan dirinya di pembaringan. Menjelang gelap Kantil telah menamparnya karena Rara Wulan telah menumpahkan minuman hangat hampir mengenai kakinya.
“Apakah kau sudah gila,” geram Kantil setelah menampar pipi Rara Wulan, sehingga pipi itu menjadi merah.
“Ampun mbokayu.”
“Jika sekali lagi kau tumpahkan minuman panas di kakiku, aku bunuh kau.”
“Aku sama sekali tidak sengaja. Nampannya itu miring, sehingga mangkuk yang ada didalamnya bergeser sehingga isinya tumpah.”
“Letakkan mangkuk-mangkuk itu di dalam.”
Rara Wulanpun telah meletakkan mangkuk-mangkuk minuman itu di ruang dalam. Satu mangkuk buat Kantil, satu disediakan jika Pangeran Ranapati pulang. Meskipun untuk beberapa lama Pangeran Ranapati tidak pulang, tetapi mangkuk itu tetap saja disediakan baginya.
Ketika malam kemudian menjadi semakin gelap, serta lampu-lampu minyak sudah menyala dimana-mana, maka Pangeran Ranapati telah mendekati regol rumahnya. Beberapa saat kemudian, Pangeran itu telah melangkah memasuki halaman.
Pangeran Ranapati menarik nafas dalam-dalam. Ia akan meninggalkan rumah itu dan tinggal diistana kadipaten Panaraga bersama Pangeran Jayaraga. Meskipun Pangeran Ranapati tahu, bahwa Pangeran Jayaraga belum mempercayainya sepenuhnya, tetapi kesempatan telah terbuka baginya. Jika ia dapat menunjukkan jasanya bagi Panaraga, maka Pangeran Jayaraga tidak akan menghiraukan lagi siapakah ia sebenarnya.
Pangeran Ranapatipun menyadari, bahwa Pangeran Jayaraga sendiri adalah orang yang berilmu sangat tinggi. Tetapi Pangeran Jayaraga tentu tidak akan terlalu sering turun langsung untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh Panaraga.
Sejenak Pangeran Ranapati itu berdiri tegak di halaman. Namun kemudian iapun segera melangkah mendekati pintu rumahnya.
Perlahan-lahan Pangeran Ranapati itu mengetuk pintu rumahnya, sementara itu ternyata Kantil masih belum tertidur.
“Siapa?” bertanya Kantil.
“Aku Kantil. Bukankah kau kenal suaraku?”
“Pangeran. Bukankah paduka Pangeran Ranapati.”
“Ya. Aku Pangeran Ranapati.”
Kantilpun segera berlari sehingga bahunya menyentuh pintu biliknya. Suaranya berderak mengejutkan.
Tetapi Ranti yang sudah mendengar jawaban Pangeran
Ranapati tidak keluar dari biliknya Jika ia ikut menyongsong Pangeran Ranapati, maka Kantil tentu akan menjadi marah, dan menuduhnya ikut-ikutan mengambil hati Pangeran Ranapati yang sud;ih beberapa lama pergi.
Demikian pintu dibuka, maka Pangeran Ranapatipun segera melangkah masuk, sedangkan Kantilpun berlutut di-hadapannya sambil menyembah, “Sembah bakti hamba bagi Pangeran.”
“Terima kasih Kantil. Tetapi bangkitlah. Duduklah,” Kantil itupun segera bangkit dan duduk di ruang depan.
Demikian pula Pangeran Ranapati.
Namun Kantil itupun kemudian berkata, “Ampun Pangeran. Biarlah dipersiapkan minuman hangat bagi. Pangeran. Pangeran tentu haus.”
“Terima kasih Kantil. Siapakah yang akan menyiapkan minuman itu bagiku?”
Kantil menjadi ragu-ragu. Tetapi iapun kemudian menjawab, “Ranti Pangeran.”
“O. Jadi perempuan itu masih ada disini.“
“Ya, Pangeran. Ia masih ada disini.”
“Baiklah. Biarlah perempuan itu menyiapkan minum an hangat Aku memang haus.”
Kantilpun segera pergi ke belakang. Ketika ia melihat pintu bilik Ranti masih tertutup, iapun segera mendorong pintu itu sambil membentak, “He, bangun pemalas. Pangeran sudah datang. Kau harus merebus air dan menyiapkan minum an. Nanti biar aku sendiri yang menghidangkannya.”
“Ya, mbokayu,” jawab Ranti sambil tergagap bangun. Sejenak kemudian Ranti sudah berada di dapur. Setelah ia menyalakan api, dan meletakkan belanga diatas perapian, maka iapun mulai menghubungi Glagah Putih.
“Benar, kakang. Pangeran telah pulang.”
“Aku melihatnya. Aku berada disudut halaman depan.”
“Kenapa kakang tidak menghubungi aku? “
“Aku tidak tahu, kau baru apa.”
“Aku sekarang sedang merebus air untuk membuat minuman bagi Pangeran Ranapati.”
“Buat juga bagiku.”
“Bagaimana aku akan menyerahkan kepadamu?”
“Tinggalkan saja di dapur. Jika ada kesempatan biarlah aku ambil sendiri.”
“Kau ini ada-ada saja kakang. Kau tentu melihat, bahwa para pengikut Pangeran Ranapati sangat setia menjalankan tugas mereka. Mereka berkeliaran dmiana-mana.”
“Tentu aku akan berhati-hati. Tetapi seperti yang aku katakan, jika mungkin atasi sendiri persoalan di rumah ini. Hanya jika perlu aku akan melibatkan diri. Aku masih merasa berkepentingan untuk menyembunyikan wajahku dari penglihatan Pangeran Ranapati.”
“Aku mengerti, kakang.”
Dalam pada itu, maka Pangeran Ranapati telah banyak berceritera kepada Kantil tentang apa yang diperbuatnya selama berhari-hari. Bagaimana ia harus bertarung diarena sampai beberapa rambahan, sehingga akhirnya ia dapat memenangkan pertarungan di putaran terakhir.
“Jadi Pangeran memenangkan pendadaran itu.”
“Ya. Akupun telah berterus-terang kepada adimas Pangeran Jayaraga, bahwa aku adalah Pangeran Ranapati, putera Kangjeng Panembahan Senapati sebagaimana Pangeran Jayaraga sendiri.”
“Berbahagialah kita, Pangeran. Lalu anugerah apa yang Pangeran terima dengan kemenangan Pangeran itu selain kedudukan Senapati?”
“Aku haus Nyi.”
“Baik, baik. Pangeran. Aku akan mengambil minuman.”
Kantil itupun kemudian dengan tergesa-gesa telah pergi ke dapur. Pada saat yang tepat, Ranti telah selesai menuang dua mangkuk minuman hangat, sementara minuman yang disediakan di ruang dalam sudah menjadi dingin.
Sambil meneguk minuman hangat itu, Pangeran Ranapatipun berkata, “Nyi. Panggil semua orang yang ada dirumah ini. Para petugas dan para pekerja.”
“Untuk apa Pangeran?”
“Biarlah mereka mendengar kemenangan yang telah aku dapatkan dalam pendadaran beberapa hari ini.”
“Tetapi kenapa semua petugas dan bahkan para pekerja?”
“Sudahlah. Panggil mereka. Biarlah mereka juga mendengar berita baik ini.”
“Hamba Pangeran,” sahut Kantil kemudian sambil bangkit berdiri.
Dari pintu dapur, Kantilpun telah memerintahkan para petugas untuk berkumpul di ruang depan. Para petugas dan para pekerja.
“Pangeran membawa berita baik bagi kalian.”
Orang yang bertubuh agak pendek itupun bertanya, “Siapa saja yang harus menghadap Nyi?”
“Kalian semuanya.”
“Semuanya? Lalu siapakah yang bertugas?”
“Hanya sebentar. Sekedar mendengarkan berita baik.”
Perintah itupun segera disampaikan kepada setiap, orang yang ada di rumah itu. Yang bertugas ataupun yang sedang tidur mendekur di belakang.
Sejenak kemudian orang-orang itupun telah duduk di ruang depan. Mereka duduk di lantai menghadap Pangeran Ranapati yang duduk di amben yang agak besar bersama Kantil.
Sementara itu, Rara Wulan terkejut ketika tiba-tiba seseorang menjenguk pintu dapur yang tidak diselarak.
“Kau mengejutkan aku, kakang,” desis Rara Wulan. Glagah Putih tertawa tertahan. Katanya perlahan, “Aku sudah mengatakan, bahwa aku akan mengambil minumanku sendiri. Dinginnya diluar. Minuman hangat akan menyegarkan tubuhku.”
“Itu, minum dari mangkukku. Cepat. Mereka tidak akan lama.”
Namun dalam pada itu, Pangeran Ranapati yang duduk dihadap oleh para pengikutnya itu tiba-tiba saja bertanya kepada Kantil, “Masih ada yang kurang, Nyi.”
“Sudah semuanya Pangeran.”
“Biarlah Ranti ikut mendengar juga.”
“Ranti. Apakah anak itu perlu dipanggil.”
“Ya, panggilah.”
Sebenarnya Kantil tidak ingin memanggil Ranti untuk ikut mendengarkan berita baik yang akan disampaikan oleh Pangeran Ranapati. Tetapi karena Pangeran Ranapati menghendaki, maka Kantil tidak dapat menolak.
Dengan sikap yang agak kasar Kantilpun melangkah pergi ke dapur. Sementara itu Glagah Putih sedang menikmati minuman bersama Rara Wulan.
Namun telinga mereka cukup tajam. Demikian mereka mendengar langkah ke dapur, Glagah Putihpun dengan cepat menghilang dibalik pintu.
“Hampir saja,” berkata Rara Wulan didalam hatinya.
“He, pemalas. Kau juga diperkenankan mendengarkan berita baik yang akan disampaikan oleh Pangeran Ranapati di ruang depan. Cepat. Pergilah ke ruang depan.”
Kantil tidak menunggu Ranti menyahut. Iapun segera mendahului pergi ke ruang depan dan duduk diamben bersama Pangeran Ranapati. Sedangkan Ranti baru sejenak kemudian memasuki ruang depan itu pula.
Demikian ia masuk, maka Kantil itupun membentaknya, “Cepat. Duduk di sini.”
Ranti itupun kemudian duduk di lantai didekat kaki Kantil yang duduk di amben bersama Pangeran Ranapati.
Baru sejenak kemudian, setelah suasana menjadi tenang, Pangeran Ranapati itupun berkata, “Ketahuilah, bahwa aku sudah ditetapkan meskipun belum diwisuda menjadi salah seorang Senapati di Panaraga. Bahkan jika nasibku baik, aku akan dapat menjadi Panglima prajurit Paranaga.”
“Jadi Pangeran memenangkan adon-adon itu?”
“Ya. Akupun sudah berterus-terang, bahwa aku adalah seorang Pangeran.”
“Jadi?”
“Aku berhak mendapat sebuah rumah yang pantas bagi seorang Pangeran. Namun sebelum rumah itu siap, aku akan tinggal di istana.”
“Jadi kami juga akan tinggal di istana?”
“Tentu clurut-clurut buruk seperti kalian tidak pantas ikut tinggal di istana.”
“Maksud Pangeran?”
“Kalian akan tetap tinggal disini. Kalian akan tetap menjadi pengikutku yang setia, yang akan melakukan tugas-tugas khusus yang aku perintahkan diluar jajaran keprajurit an. Karena itu, aku masih memerlukan kalian. Jika untuk satu keperluan aku tidak dapat mempergunakan kekuatan prajurit Panaraga, maka kalianlah yang akan bergerak. Mungkin pada suatu ketika akan terjadi benturan antara kalian dan para prajurit Paranaga.Tetapi karena kedua-dua nya berada di bawah kendali satu orang, maka jangan cemas bahwa akan timbul malapetaka.”
Para pengikut Pangeran Ranapati itupun mengangguk-angguk.
“Aku tidak akan melupakan jasa-jasa kalian. Jika pada suatu ketika kelompok kalian itu sudah tidak diperlukan lagi, maka satu demi satu, kalian akan aku tarik menjadi prajurit di Panaraga.”
“Terima kasih. Pangeran. Terima kasih.”
“Lalu bagaimana dengan hamba Pangeran?” bertanya Kantil, “bukankah hamba dapat ikut Pangeran tinggal di istana?”
“Tidak, Nyi. Sesuai dengan pengakuanku, aku hanya seorang diri. Jadi kau dan Ranti akan aku tinggalkan di rumah ini bersama para pengikutku.”
“Tetapi apakah Pangeran akan selalu datang kemari?”
“Tidak. Aku tidak akan datang lagi kemari.”
“Lalu bagaimana dengan hamba? Lalu hamba akan ikut siapa jika Pangeran tidak akan pernah datang kemari?”
“Jangan takut Nyi. Bukankah disini banyak laki-laki? Mereka akan menemani sebagaimana aku sendiri.”
“Pangeran,“ Kantil itu hampir menjerit.
Tetapi Pangeran Ranapati itupun tertawa berkepanjang an. Sambil bangkit berdiri iapun berkata, “Sudah waktunya aku pergi.”
Tetapi Kantil masih berteriak, “Pangeran. Jangan tinggalkan aku pergi.”
“Jadi maksudmu, agar aku menunggui kau sampai tua? Kapan aku dapat menggapai satu kesempatan yang lebih baik jika aku hanya menungguimu saja.”
“Pangeran. Waktu itu Pangeran singgah di rumah orang tuaku. Pangeran kehujanan sehingga basah kuyup. Malam itu Pangeran bermalam di rumahku. Dihari berikutnya Pangeran minta kepada orangtuaku untuk membawa aku ke Panaraga.”
“Bukankah aku sudah membawamu ke Panarapa.”
“Pangeran berjanji untuk menjadikan aku sebagai isteri Pangeran yang tidak akan Pangeran tinggal dalam keadaan apapun juga.”
“Aku berjanji?”
“Ya. Pangeran berjanji. Karena itu, janji itu harus ditepati. Pangeran tidak dapat begitu saja mengingkarinya.”
“Siapa yang mengatakan bahwa janji itu harus ditepati. Apapula akibatnya jika aku ingkar janji?”
“Pangeran adalah seorang ksatria. Apa yang terucapkan tidak akan dyilat kembali.”
“Aku adalah seorang yang tidak terikat oleh tatanan apapun juga. Aku juga tidak perlu menyebut diri kesatria. Pokoknya, aku memang berniat ingkar janji, pergi dan meninggalkan kau dan Ranti disini; Bukankah aku sudah berbaik hati untuk memberikan banyak laki-laki kepada kalian berdua.”
“Tidak Pangeran, tidak Aku telah Pangeran ambil dari orangtuaku Sekarang Pangeran harus mengembalikan aku kepada orangtuaku pula.”
“Kenapa kau selalu berkata dengan harus, harus. Apa yang harus? Siapa yang berani memaksa aku dengan keharus an itu.”
“Pangeran. Pangeran. Tolong aku.”
Tetapi yang terdengar adalah suara tertawa itu pula.
Demikianlah, maka sejenak kemudian Pangeran Ranapati itupun melangkah kepintu. Ketika Pangeran Ranapati itu akan keluar, maka Kantilpun telah menerkam kakinya sambil menangis. Katanya, “Jangan pergi Pangeran. Jangan pergi.”
Tetapi Pangeran Ranapati itu berjalan terus, sehingga Kantil itupun terseret beberapa langkah. Di halaman Pangeran Ranapati mengibaskan kakinya, sehingga Kantil itupun jatuh terlentang.
“Jangan sentuh aku lagi. Jika kau berani mengotori kulitku, kulit Pangeran Ranapati, maka aku akan mencekikmu sampai mati.”
“Tetapi antar aku pulang, Pangeran.”
“Biarlah salah seorang laki-laki itu mengantarmu pu-langjika mereka menjadi jemu.”
“Pangeran yang mengambil aku. Pangeranlah yang harus mengantar aku pula.”
“Harus, harus. Sekali lagi mengatakannya, aku koyak mulutmu dan aku potong lidahmu dengan kerisku ini,” geram Pangeran Ranapati – kau kira siapa orang tuamu itu. Ia tidak lebih dari seorang perabot di padukuhan kecil. Sedangkan aku adalah seorang Pangeran. Bagiku perabot kecil itu tidak akan ada artinya apa-apa. Juga anaknya . Kalau kau mau pulang, pulanglah sendiri kalau laki-laki yang merubungimu itu tidak berkeberatan.”
“Pangeran, Pangeran.”
Tetapi Pangeran Ranapati itu tidak mendengarkannya lagi. Iapun segera keluar dari regol halaman rumahnya dan menutup pintu regol itu.
Kantilpun berniat untuk berlari ke regol halaman itu. Tetapi seorang yang rambutnya sudah mulai ubanan telah berdiri di pintu yang sudah tertutup itu.
Orang itupun tertawa. Suara tertawanya telah membuat seluruh rambut Kantil berdiri.
“Jangan menyesali nasib, Nyi. Selama ini kami harus sangat menghormatimu. Tetapi sekarang tidak lagi. Kau justru harus tunduk dihadapanku, menghormatiku seperti menghormati Pangeran Ranapati.”
“Kakang,” berkata seorang yang masih lebih muda, “sebaiknya biarlah kedua orang perempuan itu memilih. Siapakah yang akan dipilihnya lebih dahulu.”
Orang yang sudah ubanan itu tertawa. Katanya, “Kau mulai dengan cara yang licik. Mereka tentu memilih orang-orang muda lebih dahulu. Tetapi sebaiknya kitalah yang membuat urutan itu. Dari yang paling tua, hingga yang paling muda.”
Namun mereka terkejut ketika tiba-tiba saja Ranti berlari kecil mendekati Kantil. Ditariknya pergelangan tangan Kantil sambil berkata, “marilah mbokayu. Menepilah.”
Kantil tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Ranti. Iapun mengikuti saja ketika Ranti itu menariknya ke sudut halaman. Ranti yakin, bahwa Glagah Putih ada di sekitar tempat itu.
Tetapi sebagaimana dikatakan oleh Glagah Putih, jika Rara Wulan dapat mengatasi persoalan itu sendiri, maka biarlah Rara Wulan mengatasinya, karena untuk kepentingan yang lebih besar, Glagah Putih masih akan menyembunyikan wajahnya dari Pangeran Ranapati atau pengikut-pengikutnya.
Beberapa orang laki-laki di halaman itu terkejut melihat sikap Ranti. Seorang diantara mereka bertanya, “Kau mau apa anak manis. Nampaknya kau memang lebih menarik dari Nyi Kantil yang lebih tua itu.”
Namun beberapa orang laki-laki yang ada di halaman itu semakin terkejut ketika mereka melihat Ranti justru menying singkan kain panjangnya. Namun merekapun segera melihat Ranti dalam pakaian khususnya.
Orang yang rambutnya sudah ubanan itupun dengan nada tinggi bertanya, “Siapakah kau sebenarnya dan apa maksudmu?”
“Ki Sanak,” geram Rara Wulan, “manusia adalah mahluk ciptaan Yang Maha Agung yang derajadnya tertinggi di muka bumi. Manusia diberi-Nya akal budi untuk dengan perlahan-lahan mengangkat peradaban manusia itu sendiri. Itulah bedanya manusia dengan binatang yang dikuasai oleh nalurinya. Jika kalian tidak dikendalikan oleh akal budi dan hanya menuruti hasrat naluriah, maka apa bedanya kalian dengan binatang?”
“Anak iblis. Kau berani menyebut kami binatang?”
“Lalu apa sebutan kalian yang dengan mata merah menyaksikan kami, dua orang perempuan hanya dari sisi kewadagan? Kalian telah dibakar oleh nafsu untuk mendapatkan kenikmatan sesaat tanpa memikirkan akibatnya yang akan berkepanjangan?”
“Akibat apa yang kau maksudkan?”
“Kau telah melanggar nilai-nilai yang diturunkan oleh Yang Maha Agung, yang telah menciptakan langit dan bumi. Kau akan mempertanggungjawabkan di hadapan-Nya.”
Tetapi orang yang rambutnya ubanan itupun tertawa. Katanya, “Kau tidak dapat menakut-nakuti aku. dengan apa yang tidak aku percaya. Aku telah membunuh, telah merampas kemerdekaan orang lain, melanggar kebebasan dan bahkan memperkosa. Apa artinya jika aku melakukannya sekali lagi. Dua kali atau berulang-ulang lagi.”
“Ketidak kepercayaanmu tidak akan dapat menghapuskan hukuman abadi yang harus kaujalani. Percaya atau tidak percaya, maka kau akan memasuki satu masa penyiksaan abadi karena kau akan terpisah dengan Penciptamu untuk selama-lamanya.”
Orang itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun menggeretakkan giginya – Persetan dengan sesorahmu. Menyerahlah. Apapun yang akan terjadi atasku bukan tanggungjawabmu. Aku bukan pemimpin yang sempat membayangkan satu kehidupan yang tidak pernah ada.”
“Lihat dirimu. Siapakah yang telah menghembuskan nafasmu di lubang hidungmu? “
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba beberapa orang yang berdiri di belakangnya berkata, “Kakang, aku tidak akan ikut melibatkan diri. Aku akan pergi ke belakang. Aku akan tidur saja.”
“Pengecut,” orang yang ubanan itu menggeram -yang tidak berani menantang ketiadaan, pergilah. Sedangkan yang tetap berjiwa tegar sebagaimana seorang laki-laki jantan, lakukan sebagaimana aku akan melakukannya.”
Beberapa orangpun telah meninggalkan halaman depan. Sedangkan masih ada empat orang yang tetap berdiri di halaman itu.
Tetapi seorang diantara empat orang itu masih berteriak – Apakah yang kau harapkan dengan sikapmu itu? Kau ingin masuk ke dalam sorga? Selama ini kau usung dosamu itu tanpa merasa terbebani. Tiba-tiba ketika kau ingin menambah dosamu sekuku ireng, kau merasa berkeberatan. Itu adalah pertanda bahwa jiwamu mulai rapuh. Dan kau akan dikutuk oleh kerapuhan jiwamu sendiri. Kau akan menyesal untuk waktu yang lama.”
Orang-orang yang meninggalkan halaman depan itu memang berhenti. Berpaling. Tetapi merekapun melanjutkan langkah mereka pergi ke belakang. Mereka sendiri tidak tahu, kenapa tiba-tiba mereka menjadi muak atas tingkah laku kawan-kawannya itu. Padahal sebelumnya merekapun telah menjalaninya.
Namun kata-kata perempuan yang menyingsingkan kain panjangnya dan mengenakan pakaian khusus itu rasa-rasanya memang sangat menyentuh hati. Apalagi ketika perempuan itu kemudian bertanya, “Jika kelak kau mati karena sebab apapun juga, seseorang bertanya tentang dirimu, apakah kira-kira jawabnya? Mungkin kau sendiri tidak mendengar pertanyaan itu karena kau sudah mati. Tetapi kau tidak akan dapat menutup telinga hati jika pertanyaan itu datang dari tempat yang selama ini tidak kau kenal. Dari tempat yang jauh dan tinggi tanpa ukuran. Di dalam dunia abadi, pertanyaan itupun akan kau dengar dengan abadi pula. Memburu dengan seribu macam pertanyaan yang lain.”
“Tutup mulutmu perempuan gila,” geram orang yang rambutnya ubanan.
Sementara itu, orang-orang yang pergi ke belakang itupun berjalan terus. Bahkan mereka mulai merenungi kata-kata perempuan yang mengenakan pakaian khusus itu.
“Sekarang tidak ada waktu bagimu untuk berbicara panjang lebar,” berkata orang yang berambut ubanan, “kalian akan menjadi tawanan kami. Jangan bicara tentang akal budi. Jangan berbicara peradaban manusia karena manusia bukan binatang. Itu semuanya terserah kepada kami. Apakah kami mau menjadi binatang atau mau menjadi manusia.”
“Baik,” jawab Rara Wulan, “aku akan menyesuaikan diri. Jika kalian berlaku seperti binatang, maka aku akan memperlakukan kalian seperti binatang. Tetapi jika kalian bertingkah laku seperti manusia, maka aku akan memperlakukan kalian seperti manusia.”
“Persetan kau iblis betina,” teriak seorang diantara mereka, “kau kira kau ini siapa he? Kau telah menyurukkan dirimu sendiri ke dalam malapetaka yang tidak akan dapat kau tangguhkan.”
“Bersiaplah. Jangan menyesali nasibmu yang buruk,” geram Rara Wulan. Katanya kepada Kantil, “Minggirlah mbokayu.”
Keempat orang itu bergerak hampir berbareng. Tetapi seorang diantara mereka berkata, “Jangan berbuat apa-apa. Biarlah aku menangkapnya. Kita rentangkan tangan dan kakinya dan kita ikat kepada kedua batang pohon itu. Biar ia tahu, siapakah kita. Kita lebih biadab dari binatang dan bahkan dari iblis sekalipun.”
Ketiga orang kawannya memang berhenti. Seorang yang bertubuh tinggi besar melangkah maju mendekati Ranti sambil menggeram. Tetapi Ranti sama sekali tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
“Ranti,” yang terdengar justru suara Kantil, ”jangan kau korbankan dirimu. Jika aku harus ikut menanggungnya, biarlah aku akan mengalaminya.”
Tetapi Ranti tidak berpaling. Ia bahkan bergeser menyongsong orang yang bertubuh tinggi besar itu.
Sesaat kemudian, orang yang bertubuh tinggi besar itupun telah menjulurkan tangannya mengarah ke leher Ranti. Ia ingin mencekik Ranti dan kemudian seperti yang dikatakan, kawan-kawannya akan dimintanya mengikat tangan dan kaki Ranti di rentang pada dua batang pohon di halaman itu.
Ranti memang tidak segera berbuat sesuatu. Ia sengaja menunggu orang yang bertubuh tinggi besar itu menjadi semakin dekat.
Tiba-tiba saja orang bertubuh tinggi besar itupun terkejut. Tiba-tiba saja Ranti itupun telah melenting seperti uler kilan. Demikian cepat dan kerasnya kakinya meluncur langsung menyambar dada orang itu.
Orang itu sama sekali tidak menduga bahwa perempuan yang sehari-hari kelihatan seperti seorang penakut dibawah tekanan Kantil itu dapat menjadi garang seperti seekor harimau jantan.
Dengan demikian, maka orang itu sama sekali tidak bersiap menghindar atau menangkis serangan itu. Yang dapat dilakukan adalah melindungi dadanya dengan tangannya yang bersilang.Tetapi tekanan serangan Ranti itu sangat keras, sehingga orang itu tidak saja terdorong surut. Tetapi ia benar-benar terlempar beberapa langkah dan terbanting jatuh.
“Perempuan binal,” orang itu berteriak, tetapi kemudian mulutnya menyeringai menahan sakit pada saat ia berusaha untuk bangkit.
Sejak orang-orang itu melihat pakaian khusus yang dikenakan oleh perempuan itu, maka mereka memang sudah me-ngira, bahwa serba sedikit perempuan itu memiliki kemampuan olah kanuragan.
Tetapi mereka tidak mengira bahwa perempuan itu dapat melakukan serangan demikian kerasnya.
Ketika laki-laki yang bertubuh tinggi besar itu tertatih-tatih berdiri, maka ketiga kawannya tidak membiarkannya. Merekapun tidak mau melakukan kesalahan lagi, sehingga serangan perempuan itu meretakkan tulang dada.
Sejenak kemudian, maka pertempuranpun segera membakar halaman rumah Pangeran Ranapati itu.
Orang bertubuh tinggi besar itu masih mencoba untuk bergabung dengan ketiga orang kawannya untuk melawan Rara Wulan.
Demikianlah, maka pertempuran itupun berlangsung dengan sengitnya. Keempat orang itu benar-benar tidak mengira, bahwa mereka akan berhadapan dengan seorang perempuan yang berilmu tinggi. Seorang perempuan yang selama berada di rumah itu diperlakukan sebagai seorang budak yang tidak berharga. Namun ketika ia bangkit, maka ternyata ia memiliki bekal yang nggegirisi.
Empat orang itu adalah empat orang terbaik dari para pengikut Pangeran Ranapati. Karena itu, maka mereka harus menjaga harga diri mereka, agar mereka tidak dipermalukan oleh perempuan. Apalagi hanya seorang saja.
Pertempuran itupun terdengar dari halaman belakang. Orang-orang yang menyingkir kebelakang itu tidak mendengar teriakan-teriakan sebagaimana yang mereka bayangkan akan mereka dengar. Tetapi yang mereka dengar justru pertempuran yang semakin lama menjadi semakin sengit. Teriakan-teriakan dan hen-takan-hentakan dari kedua belah pihak. Empat orang laki-laki dan seorang perempuan.
“Aku akan melihat, apa yang telah terjadi -berkata salah seorang dari mereka.”
“Aku ikut,” sahut yang lain.
Ternyata beberapa orang telah mengikutinya. Mereka ingin melihat apa yang telah terjadi di halaman depan.
Orang-orang itupun terkejut. Mereka melihat keempat orang terbaik dari para pengikut Pangeran Ranapati itu tengah bertempur dengan garangnya. Mereka berloncatan menyerang berturut-turut seperti arus banjir bandang yang datang dari segala arah.
Tetapi pertahanan Rara Wulan benar-benar sangat kokoh. Serangan keempat lawannya itu tidak segera mampu menembus pertahanannya. Namun sebaliknya justru serangan-serangan Rara Wulanlah yang mulai menyentuh sasarannya. Kakinya sekali-sekali terayun mendatar menampar kening. Namun kemudian kedua kakinya itu terjulur menghentak dada.
Satu persatu keempat orang itu mengalami kesakitan, sehingga mulut merekapun setiap kali menyeringai menahan sakit.
Sejenak orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu menjadi termangu-mangu . Namun setiap kali mereka menyaksikan kawan-kawan mereka terlempar dan terbanting jatuh. Sekali-sekali terdengar keluhan panjang. Tetapi sekali-sekali yang terdengar adalah umpatan kasar.
“Luar biasa,” desis seorang diantara mereka yang menyaksikan pertempuran itu.

Tidak Tamat
(Pengarang meninggal dunia sebelum sempat menamatkan karyanya)


Tinggalkan komentar

adbm 394


padukuhan kami?”
“Itu adalah urusan kalian. Jika kalian tidak ingin terjadi, maka kalian harus menetapi kewajiban kalian tentang pajak yang harus kalian bayar.”
“Ki Lurah,” berkata Ki Demang, “kami tidak dapat memutuskan sekarang. Kami akan berbicara dahulu dengan para bebahu kademangan dan padukuhan ini.”
“Apa yang akan kalian bicarakan? Cara untuk mendapatkan uang yang akan kalian pergunakan membayar pajak atau cara untuk apa?”
“Masalah pajak itu sendiri.”
“Apa yang harus dibicarakan tentang pajak itu. Kalian harus membayarnya. Tidak ada jawaban lain. Itupun harus kalian lakukan segera. Hari ini atau esok. Kami tidak mempunyai banyak kesempatan untuk mengurusi pajak kalian. Pekerjaan kami terlalu banyak. Apakah kalian kira tugas kami hanya mengurusi kalian?”
“Bukan begitu, Ki Lurah. Tetapi kami memerlukan waktu.”
“Ki Demang dan Ki Bekel. Aku tidak mau tahu persoalan diantara kalian. Esok aku akan datang lagi. Jika esok kalian belum membayar pajak itu, maka orang-orangku ini akan menangkap kalian dan membawa kalian menghadap Ki Panji di Ngadireja.”
“Ki Lurah. Kami juga tidak tahu, berapa banyak beaya yang dikeluarkan sebenarnya oleh Pangeran Jayaraga. Pangeran Jayaraga memang meninggalkan sejumlah uang. Tetapi selain yang kami keluarkan untuk membeli bahan-bahan bangunan, batu, batu bata, kayu dan yang lain-lain, orang-orang yang dikirim oleh Pangeran Jayaraga itu juga mengeluarkan uang bagi keperluan itu.”
“Besok aku akan menaksir berapa beaya pintu gerbang itu. Dengan demikian, maka kami akan menentukan besar beaya yang harus kalian bayar.”
Ki Demang dan Ki Bekel nampak menjadi bingung. Beberapa orang yang mengerumuninyapun tidak tahu, apa yang harus mereka lakukan. Yang memberikan perintah itu seorang Lurah Prajurit dan datang bersama beberapa orang prajuritnya.
Tetapi menurut pendapat orang-orang yang berkerumun itu, perintah Lurah Prajurit itu benar-benar tidak masuk akal. Namun Lurah Prajurit itu membawa wewenang dan kuasa dari Ki Panji di Ngadireja.
Tetapi tiba-tiba orang orang yang berkerumun itu terkejut ketika tiba-tiba saja dua orang, laki-laki dan perempuan, telah menyibak orang-orang yang berkerumun itu. Demikian ia berdiri di depan Ki Lurah laki-laki itupun berkata, “Aku setuju Ki Bekel dan Ki Demang menghadap Ki Panji di Ngadireja. Aku bersedia menyertai mereka.”
“Kau siapa, he?”
“Aku penghuni padukuhan ini. Rumahku di belakang pasar ini. Bahkan tanpa Ki Bekel dan Ki Demang, kami berdua akan ikut pergi ke Ngadireja untuk menghadap Ki Panji. Persoalan tentang pajak atas bangunan yang dibuat oleh Pangeran Jayaraga ini memang memerlukan penjelasan.”
Wajah Ki Lurah menjadi tegang. Dengan nada tinggi iapun berkata, “Kau kira kau ini siapa, he ? Apa hakmu menghadap Ki Panji di Ngadireja.”
“Setiap orang dapat menghadap Ki Panji. Kami adalah rakyatnya. Karena itu, kami berhak menyampaikan gejolak perasaan kami kepada Ki Panji karena Ki Panji adalah pemimpin kami. Orang tua kami yang wajib mengasuh, melindungi dan merawat kami.”
“Bicaramu seperti orang gila. Untuk menghadap Ki Panji ada tatanannya. Ada aturannya. Tidak setiap orang begitu saja dapat menghadap.”
“Ki Lurah. Kami ingin memberikan penjelasan tentang pintu gerbang pasar ini sejelas-jelasnya, agar Ki Panji mengerti, bahwa tidak seharusnya Ki Panji minta Ki Bekel dan Ki Demang membayar pajak.”
“Cukup,“ bentak Ki Lurah, “aku dapat membungkam mulutmu.”
“Mungkin. Tetapi mulut tetanggaku. Mulut para bebahu padukuhan ini dan bebahu kademangan. Mulut orang-orang pasar ini ? Apakah Ki Lurah akan membungkam semuanya. Kalau membungkam itu Ki Lurah artikan, membungkam untuk selama-lamanya, apakah Ki Lurah akan melakukan terhadap kami semuanya ?”
Ki Lurah itu menggeretakkan giginya. Sementara Ki Bekel dan Ki Demang serta orang-orang padukuhan itu yang mengerumuninya menjadi bingung. Mereka belum pernah mengenal kedua orang laki-laki dan perempuan itu. Namun kedua orang itu mengaku, bahwa mereka tinggal di belakang pasar ini.
Panggraita Ki Bekel dan Ki Demang yang tajam mampu meraba bahwa kedua orang itu tentu bukan orang yang tinggal di belakang pasar. Tetapi kedua orang itu tidak dapat membiarkan Ki Lurah itu berbuat semena-mena. Tetapi perbuatan mereka itu akan dapat mengakibatkan malapetaka yang gawat bagi mereka berdua. Sementara itu Ki Bekel dan Ki Demang mengetahui, bahwa para pemungut pajak adalah sekelompok orang yang tidak berjantung. Mereka dapat berbuat apa saja untuk memaksa orang-orang yang tinggal di daerah kuasanya untuk membayar pajak.
Dibekali dengan sekelompok prajurit, maka pemungut pajak itu benar-benar mampu berbuat sebuas anak iblis yang bangkit dari neraka.
“Sudahlah,“ berkata Ki Demang, “biarlah kami selesaikan masalah pajak ini. Sebaiknya kalian berdua tidak usah mencoba untuk menghadap Ki Panji di Ngadireja.”
“Harus ada yang menyampaikannya Ki Demang,“ sahut Glagah Putih, “jika tidak ada yang berani menyampaikan kepada Ki Panji, maka persoalan seperti ini akan berlarut-larut. Bukankah tidak wajar sama sekali, bahwa Ki Bekel dan Ki Demang harus membayar pajak atas pembuatan pintu gerbang pasar yang tidak pernah Ki Bekel dan Ki Demang buat. Kalau Ki Panji ingin memungut dengan paksa pajak atas pembuatan pintu gerbang pasar ini, seharusnya Ki Panji memaksa Pangeran Jayaraga, penguasa di Panaraga untuk membayarnya.”
Kemarahan Ki Lurah hampir tidak terkendali. Tetapi seorang prajuritnyapun kemudian berkata, “Ki Lurah. Baiklah kita mengalah. Marilah kedua orang ini kita bawa menghadap Ki Panji di Ngadireja. Biarlah mereka mengatakan apa yang ingin mereka katakan kepada Ki Panji. Tetapi mereka harus menanggung segala akibat dari perbuatan mereka itu. Jika Ki Panji marah dan kemudian berbuat di luar dugaan, sama sekali bukan tanggung-jawab kami.”
Ki Lurah itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun mengangguk-angguk sambil menjawab, “Baiklah. Tetapi akibat yang dapat timbul karena kemarahan Ki panji, biarlah mereka tanggung sendiri.”
“Tidak, Ki Lurah,“ sahut Ki Demang dengan serta-merta, “mereka tidak akan pergi menghadap Ki Panji. Biarlah aku dan Ki Bekel menyelesaikan pembayaran pajak ini dengan baik.”
“Nah, terserah kepada kalian, jalan yang manakah yang akan kalian tempuh.”
Namun Glagah Putih nampaknya tetap pada pendiriannya. Katanya, “Sudahlah Ki Bekel dan Ki Demang. Biarlah kami berdua menghadap. Kami tahu, bahwa Ki Bekel dan Ki Demang ingin menghindarkan kami dari kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Tetapi akibat apapun yang dapat timbul, biarlah kami tanggung tanpa menyentuh Ki Bekel dan Ki Demang.”
Ki Bekel dan Ki Demang benar-benar menjadi heran. Tetapi mereka tidak dpat mencegah lagi ketika Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudian ikut bersama Ki Lurah pergi ke Ngadireja.
Ki Lurah berjalan di paling depan. Kemudian Glagah Putih dan Rara Wulan. Sementara itu sekelompok prajurit berjalan di belakang mereka. Demikian mereka pergi, maka Ki Bekel dan Ki Demangpun menjadi gelisah. Dengan nada berat Ki Demangpun bertanya, “Apakah mereka itu orang-orangmu Ki Bekel ?”
“Bukan Ki Demang. Aku tidak mengenal mereka. Namun agaknya mereka tidak dapat menerima kesewenang-wenangan ini. Sehingga mereka telah melakukan satu perbuatan yang aneh.”
“Kau percaya bahwa Ki Lurah akan membawa mereka kepada Ki Panji di Ngadireja ?”
“Tidak. Aku justru takut, bahwa laki-laki dan perempuan itu akan mengalami bencana di jalan sebelum mereka sampai di Ngadireja.”
Ki Bekel dan Ki Demangpun menjadi tegang. Sementara itu beberapa orang yang berkerumun itu tidak dapat memberikan pendapat mereka.
Namun akhirnya Ki Demangpun berkata, “Kita ikuti mereka.”
“Lalu apa yang dapat kita lakukan ? Jika Ki Lurah dan para prajuritnya memperlakukan kedua orang laki-laki dan perempuan itu dengan buruk, bukankah kita tidak dapat berbuat apa-apa.”
“Kita akan menyatakan kesediaan kita untuk membayar. Tetapi jika keduanya benar-benar dibawa menghadap ke Ngadireja, kita tidak akan mengganggu mereka. Kita justru akan menunggu hasil pembicaraan mereka dengan Ki Panji.”
“Kalau Ki Panji yang memperlakukan mereka dengan buruk ?”
“Kita harus mengambil alih persoalannya. Kita tidak dapat membiarkan kedua orang itu mengorbankan diri mereka bagi kita.”
Ki Bekel mengangguk-angguk. Akhirnya keduanya-pun menyusul Glagah Putih dan Rara Wulan. Kepada beberapa orang yang mengerumuninya Ki Demangpun berkata, “Jika kami tidak pulang, kalian tahu, kemana kami pergi dan kenapa kami telah hilang.”
Tidak ada orang yang dapat mencegah mereka. Karena itu, maka orang-orang yang berkerumun itu hanya dapat memandang dengan jantung yang berde-baran, Ki Bekel dan Ki Demang yang berjalan dengan cepat menyusul Ki Lurah yang katanya, akan membawa kedua orang laki-laki dan perempuan itu menghadap Ki Panji di Ngadireja untuk membicarakan pajak yang harus dibayar oleh Ki Bekel dan Ki Demang karena pemugaran pintu gerbang pasar itu.
Dalam pada itu, Ki Lurahpun berjalan dengan cepat melintasi bulak dan padukuhan. Namun ketika mereka berada di sebuah bulak panjang, maka Ki Lurah itupun telah berbelok di sebuah simpang tiga dan menuruni tebing yang landai. Ternyata merekapun sampai di tepi-an sungai yang menikung. Di tikungan terdapat sebuah kedung yang nampaknya cukup dalam, dengan airnya yang berputar.
“Apakah ini jalan ke Ngadireja ?“ bertanya Glagah Putih.
Ki Lurahpun kemudian berdiri sambil bertolak pinggang. Sambil tersenyum iapun menjawab, “Kita sekarang berada di Kedung Tangkis. Kedung ini memang bukan kedung yang besar. Tetapi ke dung ini adalah kedung yang keramat. Beberapa pohon raksasa yang tumbuh di pinggir kedung ini dihuni oleh dua jenis mahluk. Sepasang Jin di batang dan dahannya. Sedangkan di bawah akar-akarnya itu merupakan sarang beberapa ekor buaya yang buas.”
“Untuk apa kita singgah ke mari ?“ bertanya Glagah Putih.
“Segala penyesalan sudah terlambat. Aku tahu, bahwa kau tidak tinggal di belakang pasar itu. Dugaan kami itu kalian perkuat dengan sikap kalian, bahwa kalian tidak mengenal Kedung Tangkis yang terkenal ini. Kau tentu orang asing yang berlagak sebagai pahlawan.”
Glagah Putihpun menjawab, “Aku memang tidak tinggal di belakang pasar itu. Tetapi aku sama sekali tidak ingin menjadi pahlawan. Aku hanya merasakan ketidak-adilan. Karena itu, maka aku berniat menjelaskan persoalannya kepada Ki Panji di Ngadireja.”
“Tidak ada gunanya, karena kau tidak akan pernah sampai di Ngadireja.”
“Kenapa ?”
“Kau akan mandi di kedung itu. Jika kemudian kau akan disambar buaya itu adalah nasibmu yang buruk. Tetapi tentu saja bahwa perempuan ini tidak akan melakukannya. Mungkin ia akan merasa malu untuk mandi di kedung ini.”
Namun bahwa Rara Wulan menyahut, sangat mengejutkan mereka, “Aku tidak malu. Jika kakang akan mandi, aku juga akan ikut mandi di kedung itu.“
Wajah Ki Lurah menjadi tegang. Katanya, “Di kedung itu ada buayanya.”
“Kalau benar begitu, kakang tentu tidak akan mandi di kedung itu pula.”
“Cukup. Kami tidak mempunyai waktu banyak,“ Ki Lurah itupun kemudian berpaling kepada prajurit-prajuritnya, “Lemparkan laki-laki itu ke dalam kedung. Tetapi bawa perempuan itu ke Ngadireja. Aku memerlukannya.”
Para prajuritnya berdiri termangu-mangu. Namun sementara itu Ki Demangpun berkata, “Jangan Ki Lurah. Jangan sakiti orang itu. Jangan pula dilemparkan ke dalam kedung. Kami akan membayar pajak yang harus kami bayar. Seberapa banyaknya, tentu tidak akan semahal harga nyawa orang.”
“Kalian ternyata adalah orang-orang gila pula. Bahwa Kalian datang kemari, merupakan bencana yang sangat pahit bagi kalian. Aku tidak ingin ada saksi yang menyaksikan, bahwa para prajurit telah melemparkan laki-laki gila itu ke dalam kedung. Karena itu, jangan menyesal, bahwa setelah itu aku akan menghapus semua kesaksian. Termasuk kesaksian kalian berdua.”
“Tidak akan ada kesaksian mengenai pembunuhan itu. Karena Ki Lurah tidak akan melemparkan laki-laki itu ke dalam kedung.”
“Ia adalah orang yang sangat berbahaya bagiku. Orang itu telah berbicara tentang ketikadilan karena aku menentukan pajak yang dianggapnya tidak masuk akal.”
“Bukankah Ki Panji di Ngadireja yang akan memutuskan.”
“Ia tidak akan pernah bertemu dengan Ki Panji Ngadireja.”
“Maksud Ki Lurah ?”
“Jangan terlalu banyak bertanya.”
“Apakah yang menentukan pajak itu bukan Ki Panji di Ngadireja ? Tetapi Ki Lurah sendiri ?”
Mata Ki Lurah itu menjadi merah. Namun kemudian iapun tertawa sambil berkata, “Ya. Akulah yang menentukan besar kecilnya pajak. Aku yang menentukan siapakah yang terkena pajak. Ki Panji tidak tahu apa-apa tentang pajak. Beberapapun aku serahkan uang pajak kepadanya, maka Ki Panji di Ngadireja hanya mengangguk-angguk saja.”
“Dan ternyata uang pajak yang kau pungut tidak seluruhnya kau serahkan,“ sahut Glagah Putih, “uang pajak yang kau serahkan kepada Ki Panji di Ngadireja jauh lebih kecil dari uang pajak yang kau terima, sehingga sebagian terbesar dari pajak yang kau peras itu masuk ke dalam kantongmu sendiri.”
“Ya, Bukankah itu sangat menyenangkan ? Karena itu, aku menjadi kaya. Prajurit-prajurit yang setia kepadakupun menjadi kaya pula. Mereka mendapat bagian yang cukup dari pajak yang aku peras dari rakyat dengan meminjam kuasa Ki Panji di Ngadireja.”
“Kau adalah iblis yang paling laknat,“ geram Glagah Putih, “sudah sampai saatnya tingkah lakumu itu dihentikan. Marilah kita menghadap Ki Panji di Ngadireja. Aku akan melaporkan kepada Ki Panji, apa yang telah kau lakukan itu.”
Ki Lurah tertawa. Katanya, “Kau kira Ki Panji akan marah kepadaku ? Ki Panji tentu hanya akan memperingatkan aku dengan kata-kata lunak, karena Ki Panji memang tidak pernah marah. Ki Panji adalah seorang pemimpin yang lemah, yang tidak dapat berbuat apa-apa tanpa dukungan kami para prajurit. Karena itu, maka Ki Panji tidak akan dapat berbuat apa-apa, apapun yang kami lakukan. Karena itu, tidak ada gunanya seandainya kalian dapat menangkapku dan membawaku untuk menghadap Ki Panji.”
“Apapun yang akan dilakukan oleh Ki Panji, aku ingin membawamu menghadap.”
Ki Lurah itu tertawa berkepanjangan. Kepada para prajuritnya iapun berkata, “Lemparkan ketiga orang gila itu kedalam kedung. Laki-laki itu, Ki Bekel dan Ki Demang. Seperti kataku tadi, bawa perempuan ini pulang. Aku memerlukannya.”
Ki Bekel dan Ki Demang adalah orang yang diunggulkan di kademangan mereka. Karena itu, maka merekapun tidak begitu saja menyerahkan diri untuk dilemparkan menjadi makanan buaya di kedung yang dalam itu. Seandainya mereka harus dicabik-cabik oleh buaya-buaya yang bersembunyi dibawah akar-akar pohon raksasa yang tumbuh di pinggir kedung itu, biarlah buaya itu mencabik-cabik mayatnya saja.
“Ki Bekel,“ berkata Ki Demang, “ternyata kita benar-benar tidak akan pulang.”
“Rakyat kita tahu, apa yang terjadi atas diri kita meskipun mereka tidak menyaksikan sendiri.”
“Jangan merajuk,“ berkata Ki Lurah lantang, “kalian sudah terlanjur masuk ke sarang serigala lapar. Tidak ada jalan kembali. Kematianlah yang akan mencengkam kalian sesaat lagi.”
Ki Bekel dan Ki Demang itupun segera meloncat ke tepian. Merekapun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Glagah Putih menarik nafas panjang. Ia senang melihat sikap Ki Bekel dan Ki Demang yang bertanggung jawab atas tugas mereka. Bahkan mereka bersedia mempertaruhkan nyawa mereka untuk berusaha membela rakyatnya.
Tetapi kemampuan seseorang memang terbatas. Demikian pula kemampuan Ki Bekel dan Ki Demang. Mereka berdua merasa bahwa hari-hari terakhir mereka telah tiba. Mereka tidak akan mampu melawan sekian banyak prajurit yang dipimpin oleh Ki Lurah yang bengis itu.
Tetapi Ki Bekel dan Ki Demang tidak memperhitungkan kemampuan Glagah Putih dan perempuan yang berjalan bersamanya itu.
Sejenak kemudian, maka para prajurit itupun telah menghambur menyerang Ki Bekel dan Ki Demang. Yang lain menyerang glagah Putih serta dua orang diantara mereka berusaha menangkap Rara Wulan.
Tetapi yang terjadi sangat mengejutkan mereka. Dua orang prajurit yang berusaha menangkap Rara Wulan itu telah terlempar beberapa langkah surut. Hampir saja mereka terguling masuk ke dalam air. Sementara itu, para prajurit yang berniat menangkap dan melemparkan Glagah Putih ke dalam kedung, telah kehilangan kesempatan mereka. Merekapun berjatuhan sambil mengaduh kesakitan. Ketika Glagah Putih meloncat sambil memutar tubuhnya dengan kaki terayun mendatar, maka kakinya itu telah menyambar beberapa orang prajurit sekaligus, sehingga merekapun terpelanting jatuh.
Sementara itu, Rara Wulan telah menyingsingkan kain panjangnya serta melenting bergabung dengan Ki Bekel dan Ki Demang yang segera mengalami kesulitan.
Sejenak kemudian pertempuranpun menjadi sengit. Glagah Putih dan Rara Wulan berloncatan menyambar-nyambar. Tangan dan kaki mereka bergerak dengan cepat mengenai tubuh para prajurit sehingga merekapun berjatuhan.
Ki Lurah yang menyaksikan pertempuran yang berat sebelah itu mengumpat sejadi-jadinya. Kemarahannya tidak mampu dibendungnya lagi. Karena itu, maka iapun segera terjun memasuki arena pertempuran.
Yang menghadapinya bukannya Glagah Putih, tetapi justru Rara Wulan.
“Iblis betina,“ geram Ki Lurah, “aku akan mencekikmu dan melemparkanmu ke kedung itu. Aku ingin melinat tubuhmu dikoyak-koyak oleh buaya yang tinggal di dalamnya.”
Tetapi Rara Wulan justru bertanya, “Apakah kau tidak jadi membawa aku ke Ngadireja ? Bukankah kau mengatakan, bahwa kau memerlukan aku.”
“Persetan kau perempuan binal,“ teriak Ki Lurah.
Rara Wulan tertawa. Sementara itu Ki Lurah yang marahpun segera meloncat menyerangnya.
Tetapi Rara Wulan telah bersiap menghadapinya. Sehingga dengan cepat pula Rara Wulan itu bergeser menghindar.
Bahwa serangannya sama sekali tidak menyentuh lawannya, maka Ki lurahpun menjadi semakin marah. Sebagai seorang Lurah Prajurit ia merasa, betapa para prajuritnya meyakini, bahwa Ki Lurah adalah seorang yang berilmu tinggi. Karena itu, berhadapan dengan seorang perempuan, Ki Lurah tidak boleh mengecewakan keyakinan para prajuritnya. Ia harus dapat menangkap perempuan itu dan dengan tangannya sendiri melemparkannya ke dalam kedung yang dihuni oleh beberapa ekor buaya itu.
Jika semula Ki Lurah itu memang tertarik melihat perempuan itu, namun kemudian wajah perempuan itu baginya telah berubah menjadi wajah iblis yang menyeringai dengan taring-taringnya yang tajam serta suara tertawanya yang melengking tinggi.
Ki Lurahpun kemudian telah meningkatkan ilmunya. Serangan-serangannya datang bagaikan banjir bandang. Tetapi bagi Rara Wulan, yang dilakukan oleh Ki Lurah itu adalah sia-sia. Justru beberapa kali serangan Rara Wulanlah yang telah menembus pertahanan Ki Lurah. Betapapun Ki Lurah itu mengerahkan kemampuannya serta tenaga dalamnya, namun tataran kemampuannya masih belum mampu menjangkau tataran kemampuan Rara Wulan.
Karena itulah, maka justru berkali-kali Ki Lurah itu tergetar surut. Bahkan ketika kaki Kara Wulan itu menyambar lambung Ki Lurah, maka Ki Lurah itu telah terlempar beberapa langkah. Hampir saja Ki Lurah itu terpelanting masuk ke dalam kedung yang dihuni oleh beberapa ekor buaya yang buas itu.
Dengan tergesa-gesa Ki Lurah itupun bangkit berdiri. Dengan tergesa-gesa pula Ki Lurah itupun bergeser menjauhi air kedung yang nampak berputar perlahan-lahan.
Sementara itu, Glagah Putihlah yang kemudian bertempur bersama Ki Bekel dan Ki Demang. Ki Bekel dan Ki Demang sendiri telah mengalami kesulitan menghadapi prajurit-prajurit yang menyerang mereka. Tetapi setiap kali prajurit-prajurit itu telah terlempar jauh di pasir tepian. Glagah Putihlah yang berloncatan menyambar-nyambar seperti sikatan memburu belalang. Dengan demikian, maka para prajurit itu tidak sempat berbuat apa-apa terhadap Ki Bekel dan Ki Demang, yang serbu sedikit mampu pula melindungi dirinya.
Dengan demikian, maka Ki Lurah dan para prajuritnya itupun akhirnya sama sekali tidak berdaya. Jangankan melemparkan orang-orang yang dianggapnya menghalanginya itu ke kedung, sedangkan untuk melindungi diri mereka sendiri, mereka sudah tidak mampu lagi. Ki Lurah yang beberapa kali jatuh terbanting itu memang masih berusaha bangun. Untunglah bahwa pasir yang lunak menebar ditepian, sehingga pada saat ia terbanting jatuh, tubuhnya tidak menjadi luka oleh goresan-goresan batu padas. Meskipun demikian, maka serangan Rara Wulan telah membuat wajahnya menjadi lebam. Sebelah matanya menjadi merah kebiru-biruan. Dadanya menjadi sangat nyeri, seakan-Oakan tulang-tulang iganya berpatahan. Lambungnyapun terasa mual dan nafasnya menjadi sesak.
Ketika Ki Lurah itu tertatih-tatih berdiri, maka Rara Wulan sudah siap untuk meloncat sambil menjulurkan kakinya menyamping. Maka Ki Lurah itupun akan terlempar kedalam kedung.
Tetapi Rara Wulan tidak melakukannya. Ia justru melangkah perlahan-lahan mendekati Ki Lurah sambil berkata, “Ki Lurah. Tubuh dan pakaian Ki Lurah nampak kotor sekali oleh pasir di tepian. Tubuh Ki Lurahpun nampak terlalu letih. Karena itu, maka sebaiknya Ki Lurah mandi. Aku ingin mempersilahkan Ki Lurah mandi di kedung itu. Ki Lurah tidak perlu malu, meskipun aku berdiri disini, karena Ki Lurah dapat mandi dengan tetap mengenakan pakaian Ki Lurah.”
Wajah Lurah prajurit itu menjadi pucat. Apapun yang dilakukannya, tidak akan berarti apa-apa. Perempuan itu dapat saja melemparkannya ke dalam kedung itu.
Namun ketika selangkah Rara Wulan maju, maka Ki Lurah itupun segera berlutut sambil berkata, “Jangan. Jangan lemparkan aku ke dalam kedung itu.”
“Kita akan menghadap Ki Panji di Ngadireja, Ki Lurah. Karena itu, sebiknya Ki Lurah mandi dahulu. Kemudian satu-satu prajuritmu juga akan terjun ke dalam kedung untuk mandi. Jika kalian nampak bersih dan segar, Ki Panji di Ngadireja tentu akan merasa senang menerima kalian.”
“Jangan. Aku minta ampun.”
Rara Wulanpun kemudian berpaling kepada Glagah Putih yang berdiri disebelah Ki Bekel dan Ki Demang. Di tepian itu beberapa orang prajurit, terbaring pingsan. Satu dua masih tetap sadar akan diri mereka. Tetapi tubuh mereka terasa sangat lemah, sehingga mereka tidak dapat segera bangkit.
“Sebenarnya aku ingin tahu, apakah di kedung Tangkis ini memang ada buayanya,“ berkata Glagah Putih, “karena itu, aku ingin melemparkan seorang di-antara kalian ke dalamnya.”
“Kau dapat memilih Ki Sanak,“ berkata Ki Lurah, “siapakah di antara para prajurit yang pingsan itu.”
Tetapi Glagah Putih menjawab, “Itu tidak menarik. Jika kita lemparkan seorang yang sedang pingsan, maka ia tidak akan meronta jika seekor buaya menyeretnya ke bawah akar pohon-pohon raksasa yang tumbuh di pinggir kedung itu atau bahkan seandainya ada dua ekor atau lebih yang memperebutkannya. Aku ingin seorang yang tidak pingsan. Seorang yang masih sadar penuh dan mampu meronta-ronta ketika mulut-mulut buaya itu menyentuhnya. Seorang yang pingsan atau sudah tidak berdaya sama sekali tidak akan dapat memberikan satu pertunjukkan yang menarik.”
“Maksud Ki Sanak?”
“Yang tidak pingsan dan yang masih mempunyai kesadaran utuh, serta mampu berusaha menyelamatkan diri meskipun tidak akan berhasil adalah Ki Lurah.”
“Jangan. Jangan Ki Sanak,“ Ki Lurah itupun kemudian membungkuk sampai dahinya menyentuh pasir sambil merengek. “Ampun, Ki Sanak. Aku mohon ampun. Jangan lemparkan aku ke dalam kedung.“
“Baiklah. Jika demikian, bersiaplah. Siapkan prajurit-prajuritmu, kita akan menghadap Ki Panji di Ngadireja.”
Ketegangan telah mencengkam jantung Ki Lurah. Wajahnya nampak bahwa ia mengalami ketakutan yang sangat. Agaknya tidak seperti yang dikatakannya, bahwa Ki Panji adalah seorang yang lembut, yang tidak pernah marah dan segala sesuatunya hanya menurut saja kepada Ki Lurah, karena ia menyandarkan kuasanya kepada kekuatan para prajurit.
Tetapi agaknya Ki Lurah merasa lebih takut lagi jika ia dilemparkan ke dalam kedung dan kemudian jatuh ke mulut seekor buaya yang akan menyeretnya ke bawah pepohonan raksasa di antara akar-akarnya yang kusut. Atau bahkan akan menjadi rebutan dua atau tiga ekor buaya sehingga tubuhnya akan terkoyak-koyak.
Dalam pada itu, Glagah Putihpun kemudian membentaknya, “Cepat. Bersiaplah. Kita akan menghadap Ki Panji di Ngadireja.”
“Baik, Baik, Ki Sanak,” berkata Ki Lurah.
Ki Lurah itupun kemudian telah memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk bersiap-siap. Yang sudah dapat bangkit segera berusaha membangunkan kawan-kawannya yang masih pingsan. Sementara Glagah Putihpun berkata, “Sabar sajalah Ki Bekel dan Ki Demang. Kita akan membawa mereka ke Ngadireja.”
“Terima kasih atas pertolongan Ki Sanak. Kami tidak menyangka bahwa Ki Sanak ternyata mampu mengatasi Ki Lurah dan sekelompok prajurit-prajuritnya yang garang itu. Bahkan dengan demikian, Ki Sanak berdua telah menyelamatkan nyawa kami pula. Hampir saja kami menjadi makanan buaya-buaya di Kedung Tangkis itu jika saja Ki Sanak tidak tampil.”
“Tetapi kami pula yang memaksa Ki Sanak datang ke tempat ini. Jika kami tidak berusaha untuk membawa Ki Lurah ke Ngadireja, maka aku kira Ki Bekel dan Ki Demang tidak akan datang ke tempat ini.”
Ki Bekel dan Ki Demang mengangguk-angguk kecil. Sementara Glagah Putihpun berkata selanjutnya, “Ki Bekel dan Ki Demang. Marilah. Kita akan pergi ke Ngadireja bertemu dengan Ki Panji. Apakah Ki Bekel dan Ki Demang pernah bertemu dan berbicara dengan Ki Panji?”
“Belum Ki Sanak.”
“Jadi Ki Bekel dan Ki Demang masih belum pernah mengenal Ki Panji ?”
Ki Demang menggeleng. Katanya, “Kami memang belum pernah mengenal Ki Panji di Ngadireja. Selama ini yang kami kenal adalah Ki Lurah yang bertindak atas nama Ki Panji.”
Glagah Putih mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Lurahpun tengah mempersiapkan orang-orangnya. Ia mencoba membangunkan mereka yang pingsan dengan memercikkan air ke wajah mereka.
Satu-satu para prajurit itupun menjadi sadar. Merekapun kemudian duduk sambil memegangi bagian tubuhnya yang masih terasa kesakitan. Sementara itu, Ki Lurahpun telah memerintahkan mereka bersiap untuk pergi ke Ngadireja menghadap Ki Panji.
Beberapa saat kemudian, meskipun sambil menyeringai kesakitan, maka para prajurit itupun telah bersiap untuk meneruskan perjalanan mereka ke Ngadireja. Mereka yang menolak untuk meneruskan perjalanan, akan dilemparkan ke dalam kedung yang dihuni oleh beberapa ekor buaya itu.
“Marilah. Jangan menunda-nunda lagi. Kami sudah merasa tidak sabar lagi,“ berkata Glagah Putih.
Ki Lurahpun kemudian memerintahkan prajuritnya untuk bangkit dan berjalan meninggalkan tepian. Mereka naik ke tebing yang landai. Beberapa orang berjalan tertatih-tatih sambil menyeringai kesakitan. Bahkan ada di antara mereka yang setelah berjalan beberapa langkah, masih harus berpegangan dan dipapah oleh kawan-kawannya yang keadaannya lebih baik.
Dengan demikian, maka perjalanan mereka menjadi sangat lamban.
Tetapi Glagah Putih tidak dapat memaksa mereka berjalan lebih cepat. Jika ada diantara mereka yang bergayut kepada kawannya, maka iring-iringan itupun harus berhenti beberapa saat lamanya.
Ketika mereka naik ke jalan, maka orang-orang yang berpapasanpun memperhatikan mereka sambil bertanya-tanya didalam hati. Apa yang telah terjadi dengan para prajurit itu, sehingga nampaknya mereka seperti sepasukan yang baru saja dikalahkan di medan perang.
Namun Ngadireja memang sudah tidak terlalu jauh. Karena itu, maka beberapa saat kemudian, merekapun telah sampai di Ngadireja, sebuah kademangan yang terhitung besar.
“Untuk sementara Ki Panji tinggal di banjar,“ berkata Ki Lurah.
“Jadi kita akan pergi ke banjar sekarang,“ sahut Glagah Putih.
Ki Lurah terdiam. Ia tidak dapat berbuat apa-apa. Satu-satunya harapan baginya adalah sikap Ki Panji yang mudah tersinggung. Meskipun kemudian Ki Panji itu dapat menghukumnya dengan hukuman yang sangat berat, tetapi Ki Panji itu tidak mudah menerima sikap orang di luar kesatuannya yang mencampuri persoalannya. Bahkan mungkin Ki Panji akan menolak mendengarkan laporan orang-orang yang membawanya menghadap bersama Ki Bekel dan Ki Demang. Meskipun setelah mereka pergi, ia akan mengalami perlakukan yang sangat menyakitkan.
Tetapi sikap Ki Panji itu memang tidak dapat ditebak sebelumnya. Jika Ki Panji itu mau mendengarkan laporan kedua orang yang menangkapnya, maka keadaannya akan dapat menjadi sangat gawat.
Demikian mereka memasuki pintu gerbang banjar, maka Ki Lurah itupun berkata kepada dua orang prajurit yang bertugas di banjar itu. “Silahkan mereka duduk di pringgitan. Aku akan menghadap Ki Panji.”
Kedua orang prajurit itu memperhatikan kawan-kawannya dengan kerut di dahi. Tatapi keduanya tidak berbuat apa-apa karena Ki Lurah tidak memberikan perintah apa-apa. Sedangkan Ki Lurah sendiri merasa tidak perlu memberikan perintah apa-apa kepada kedua orang prajurit yang bertugas di banjar itu, karena mereka memang tidak akan dapat berbuat apa-apa. Kedua orang yang datang menggiringnya bersama para prajurit itu adalah dua orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.
“Aku tidak tahu, apakah ilmu mereka setingkat dengan ilmu Ki Panji.”
Yang kemudian dilakukan oleh kedua orang prajurit itu kemudian adalah mempersilahkan kedua orang laki-laki dan perempuan serta Ki Bekel dan Ki Demang itu duduk di pringgitan.
Sementara itu, Ki Lurah telah memerintahkan prajurit-prajuritnya yang kesakitan duduk di serambi gandok, sementara Ki Lurah itupun segera masuk ke ruang dalam untuk menghadap Ki Panji yang sedang berada di longkangan menunggui orangnya yang sedang memandikan seekor ayam jantan. Ayam aduan kebanggaan Ki Panji yang selalu menang dalam arena aduan ayam.
“Ki Panji,“ desis Ki Lurah yang kemudian duduk di belakangnya.
Ki Panji itu berpaling. Namun iapun menjadi terkejut ketika ia melihat wajah Ki Lurah yang lebam serta sebelah matanya yang masih nampak merah ke biru-biruan.
“Kau kenapa ?“ bertanya Ki Panji.
“Telah terjadi perlawanan terhadap para prajurit.”
“Perlawanan ? He ? Kau bilang perlawanan ?”
“Ya, Ki Panji.”
“Siapa yang berani melawan para prajurit ? Apakah kau tangkap orang itu dan kau bawa kemari ?”
Ki Lurah termangu-mangu sejenak. Sementara Ki Panji yang disebutnya tidak pernah marah dan yang hanya akan menasehatinya dengan lembut itu membentak. “Apakah kau tuli ? Apakah orang itu kau tangkap dan kau bawa kemari ?”
“Bukan kami yang membawanya kemari, Ki Panji. Tetapi orang itu sendiri yang datang kemari, ingin bertemu dan berbicara dengan Ki Panji.”
“Apa ? Orang itu datang kemari setelah ia melawan prajuritku ? Apakah ia orang gila ?”
“Apa yang sebenarnya terjadi ?” geram Ki Panji, “kenapa orang itu tidak kau tangkap dan kau bawa kemari, sehingga orang itu sendiri yang berniat menemui aku disini. Seharusnya apapun keperluannya, jika ia sudah memberikan perlawanan kepada para prajurit, maka ia harus ditangkap.”
“Kami sudah berusaha, Ki Panji. Tetapi kami tidak berhasil menangkapnya.”
“Apa yang kau katakan. Kau dan prajuritmu sudah mencoba menangkapnya tetapi tidak berhasil ?”
“Ya, Ki Panji.”
“Berapa orang semuanya yang telah melawan para prajurit itu.”
“Dua orang, laki-laki dan perempuan, serta Ki Bekel dan Ki Demang yang kami datang untuk dipungut pajaknya.”
“Empat orang. Yang seorang perempuan ? “
“Ya Ki Panji.”
“Anak iblis,“ tiba-tiba saja kaki Ki Panji telah menekan bahu Ki Lurah sehingga Ki Lurah itu jatuh terlentang. Sementara Ki Panji itu dengan cepat melangkah ke pendapa.
Demikian Ki Panji itu keluar dari pintu pringgitan, maka iapun melihat empat orang duduk di pringgitan. Sementara beberapa orang prajuritnya duduk di serambi gandok. Sebagian dari mereka masih nampak kesakitan.
“Jahanam kalian. Jadi kalian telah berani melawan kuasa seorang Panji di Ngadireja ?”
“Apakah aku berbicara dengan Ki Panji di Ngadireja,“ sahut Glagah Putih.
“Ya. Aku Panji di Ngadireja,“ jawabnya masih sambil berdiri.
Glagah Putihpun kemudian bangkit berdiri pula. Ia sama sekali tidak menunduk ketika Ki Panji di Ngadireja itu memandanginya dengan mata menyala.
“Ki Panji,” berkata Glagah Putih kemudian, “aku datang mengantarkan prajurit-prajuritmu yang telah menyalah gunakan wewenangnya.”
“Siapa yang mengatakan bahwa prajurit-prajuritku telah menyalah gunakan wewenangnya?”
“Kami. Maksudku kami berdua, Ki Bekel dan Ki Demang. Ki Lurahmu itu mencoba memeras Ki Bekel dan Ki Demang untuk membayar pajak yang seharusnya tidak perlu dibayar.”
“Kau tidak mempunyai wewenang untuk menilai prajurit-prajuritku. Akulah yang dapat mengatakan, apakah prajurit-prajuritku menyalah gunakan kekuasaan yang ada padanya atau tidak. Bukan kau. Bukan Ki Bekel dan bukan Ki Demang.”
“Kami melihat langsung apa yang akan dilakukan, sedang Ki Bekel dan Ki Demang telah mengalaminya. Kami datang untuk minta agar Ki Panji mengadili para prajurit Ki Panji itu.”
“Itu urusanku. Itu urusan para prajurit. Kalian tidak dapat ikut campur. Apalagi kalian telah berani menentang para prajuritku yang sedang menjalankan tugasnya.”
“Prajurit-prajurit Ki Panji tidak sedang menjalankan tugas. Tetapi mereka sedang memeras.”
“Kalian harus melakukan apa yang diperintahkan oleh prajurit-prajuritku itu lebih dahulu. Tidak seorangpun yang boleh mencoba menentangnya. Baru kemudian, jika tindakan para prajuritku itu dirasa kurang adil, barulah kalian datang kepadaku. Melaporkan apa yang kalian anggap tidak adil itu. Tetapi kalian tidak dapat langsung menentang keputusan-keputusan yang telah mereka buat.”
“Tetapi keputusan-keputusan mereka jelas tidak pada tempatnya. Mereka memungut pajak seenaknya sendiri tanpa mengingat sasaran pajak yang akan mereka ambil.”
“Cukup. Aku tidak mau mendengar sesorahmu. Pergi dari banjar ini. Biarlah aku mengurusi prajurit-prajuritku dengan caraku. Aku tidak mau kalian mengajari kami.”
“Aku tidak mengajari Ki Panji. Kami datang untuk melaporkan tindakan-tindakan para prajurit yang tidak pada tempatnya. Aku melaporkan bahwa mereka telah menyalahgunakan kekuasaan yang Ki Panji berikan kepadanya.”
“Cukup. Kau dengar. Sekarang pergi. Biar aku mengurusi prajurit-prajuritku sendiri.”
“Tetapi kami adalah saksi. Ki Panji belum bertanya kepadaku, kesalahan apa yang sudah dilakukan oleh para prajurit itu. Ki Panji belum mendengarkan kesaksian kami tentang penyalahgunaan kekuasaan yang telah mereka lakukan.”
“Diam. Diam,” Ki Panji berteriak, “aku dapat mengusirmu dengan kekerasan. Masih ada beberapa orang prajuritku yang dapat melemparkan kalian keluar regol halaman.”
“Jika itu yang Ki Panji lakukan, aku akan melawan mereka. Aku akan memaksakan kehendakku sampai Ki Panji mau mendengarkan kesaksian kami tentang prajurit-prajurit Ki Panji yang telah diperbantukan kepada Ki Panji disini sudah tidak berdaya, termasuk Ki Lurah. Sisanya tidak akan mampu mengusir kami dari banjar ini.”
“Kau memang orang gila. Kau tidak menghitung aku sendiri.”
“Aku justru menghitung Ki Panji. Tetapi aku tetap saja tidak mau pergi.”
Wajah Ki Panji menjadi merah. Ia merasa orang yang datang itu telah merendahkannya. Karena itu, maka iapun menggeram, “Mari kita lihat. Kau atau aku yang harus menundukkan kepalanya.”
“Bagus. Aku tunggu Ki Panji di halaman.”
Glagah Putih tidak menunggu lagi. Iapun segera turun ke halaman diikuti oleh Rara Wulan, Ki Bekel dan Ki Demang.
Nampaknya persoalannya bukan persoalan yang sederhana.
Demikian Glagah Putih turun ke halaman, maka Ki Panjipun telah meloncat ke halaman itu pula. Beberapa orang prajurit yang masih segar berdiri di depan tangga pendapa. Nampak mereka telah siap menjalankan perintah apapun demikian diberikan oleh Ki Panji.
“Ki Sanak,” berkata Ki Panji, “kau akan menyesal, bahwa kau telah berani menentang dan menghalangi tugas para prajurit.”
“Bukan aku yang akan menyesal. Tetapi Ki Panji. Ki Panji terbiasa menilai para prajurit Ki Panji menurut penglihatan Ki Panji sendiri. Ki Panji terbiasa tidak mau mendengar pendapat orang lain. Dengan demikian, maka penilaian Ki Panji atas prajurit Ki Panji tidak didas pada kenyataan yang sebenarnya terjadi. Ki Panji hanya duga-duga apa yang telah dilakukan oleh para prajurit Ki Panji. Ki Panji mungkin memanggilnya, bertanya kepada mereka. Sedangkan mereka selalu berbohong kepada Ki Panji. Sementara itu, Ki Panji sudah menjadi puas mendengarkan kebohongan mereka itu.”
“Anak iblis. Jangan berkata sepatah katapun lagi. Jika kau menggerakkan mulutmu, maka aku akan mengoyakkan bibirmu.”
“Aku akan berbicara terus Ki Panji.”
Sebenarnyalah Ki Panji menjadi sangat marah. Tangannyapun segera terayun untuk menampar mulut Glagah Putih. Tetapi Glagah Putih tidak membiarkan mulutnya tersentuh.
Karena itu, maka Glagah Putih telah menarik kepalanya dan sedikit berpaling.
Gerak yang sederhana itu ternyata telah membebaskan Glagah Putih dari sentuhan tangan Ki Panji di Ngadireja.
Namun demikian, Ki Panji di Ngadireja menjadi semakin marah. Ia merasa telah dipermainkan dengan orang yang masih terhitung muda itu. Jauh lebih muda dari umurnya sendiri.
Karena itu, maka Ki Panji tidak mengekang kemarahannya lagi. Dengan tangkasnya Ki Panji meloncat sambil menjulurkan kakinya menyambar kearah dada Glagah Putih. Tetapi sekali lagi Glagah Putih mengelak, sehingga kaki Ki Panji tidak dapat mengenai dadanya.
Ki Panji yang menjadi marah sekali itupun menggeram, “Kau menantangku orang muda.”
“Tidak,“ sahut Glagah Putih, “aku datang untuk menyampaikan laporan serta kesaksian tentang prajuritmu yang telah menyalahgunakan kekuasaan. Jika kau melindunginya, maka itu berarti bahwa kaupun telah terlibat pula ke dalamnya. Bahkan kaupun telah melakukan pemerasan dengan meminjam tangan prajurit-prajuritmu itu.”
“Anak iblis. Kau jangan asal membuka mulutmu. Sadari bahwa aku dapat menjatuhkan hukuman yang sangat berat kepadamu.”
“Kau akan menghukum orang yang tidak bersalah ?”
“Siapa yang tidak bersalah? Kau telah berani melawan prajurit-prajuritku yang sedang menjalankan tugas.”
“Prajurit-prajuritmu tidak sedang menjalankan tugas. Tetapi mereka sedang memeras.”
Ki Panji tidak mau mendengarkan lagi. Iapun segera menyerang Glagah Putih. Bahkan serangan yang dilambari kemarahan itupun kemudian datang bagaikan banjir bandang.
Tetapi Glagah Putih telah benar-benar bersiap. Dengan tangkasnya iapun berloncatan menghindari serangan-serangan Ki Panji. Bahkan Glagah Putihpun kemudian telah berganti menyerangnya pula.
Demikianlah, maka pertempuranpun kemudian segera berlangsung dengan sengitnya. Keduanya saling menyerang dan menghindar.
Ternyata Ki Panjipun seorang yang berilmu tinggi. Tetapi yang dihadapi waktu itu adalah Glagah Putih. Seorang yang seakan-akan telah menjadi mumpuni sehingga sulit dicari tandingnya.
Dengan demikian, maka pertempuranpun menjadi semakin lama semakin sengit. Ki Panjipun telah meningkatkan ilmunya pula. Ia tidak mengira bahwa orang yang masih terhitung muda itu telah memiliki ilmu yang mampu mengimbanginya.
Dengan segenap kekuatan ditopang oleh tenaga dalamnya, Ki Panji berusaha untuk dapat menembus pertahanan Glagah Putih.
Tetapi usahanya itu tidak segera dapat berhasil. Pertahanan Glagah Putih benar-benar rapat sekali. Serangan-serangan Ki Panji selalu dapat dihindari dan bahkan sekali sekali serangan itu telah sengaja ditangkisnya, sehingga kekuatan merekapun berbenturan.
Ki Panjipun tidak dapat mengingkari kenyataan yang dihadapinya. Ternyata orang yang masih terlalu muda itu tidak dapat diabaikannya. Bukan saja dengan tangkas ia dapat menghindar, tetapi dengan kekuatan yang besar dengan sengaja telah membentur serangan-serangannya.
Ki Panji yang marah itupun kemudian telah menumpahkan segenap kemampuannya. Bahkan iapun sudah tidak memikirkan lagi, apa yang bakal terjadi dengan orang yang masih terhitung muda itu.
Tetapi ternyata bahwa Ki Panji itu tidak mampu menguasainya. Orang yang terhitung masih muda itu justru perlahan-lahan mulai mendesaknya, sehingga Ki Panji itu menjadi semakin sulit menghadapinya. Serangan-serangan Glagah Putih yang semakin cepat telah mulai menerobos pertahanannya. Tangan Glagah Putih yang terjulur lurus rasa-rasanya telah meretakkan tulang-tulang iganya, sehingga ki Panji itupun terdorong surut.
“Gila orang ini,” geram Ki Panji.
Namun betapapun Ki Panji mengerahkan kemampuannya, namun sulit baginya untuk dapat menerobos pertahanan Glagah Putih yang sangat rapat.
Jika sekali-sekali serangannya menembus pertahanan lawannya, terasa bahwa sentuhan itu tidak menyakitinya.
Kemarahan Ki Panji benar-benar tidak dapat dikekangnya lagi. Karena itu, maka Ki Panjipun segera telah menarik pedangnya sambil menggerang, “Aku masih memberimu kesempatan, orang muda. Pergilah dan jangan kembali lagi.”
“Bagaimana dengan Ki bekel dan Ki Demang?“ bertanya Glagah Putih.
“Bawa orang itu pergi.”
“Lalu, Ki Panji membiarkan pemerasan itu terjadi.”
“Diam. Sudah aku katakan, bahwa itu bukan urusanmu. Akulah yang akan mengurusnya.”
“Tidak. Kau tidak melihat kejadiannya. Kamilah yang melihatnya. Karena itu, Ki Panji harus mendengarkan kesaksian kami.”
“Persetan,” geram Ki Panji, “jika kau mati disini, sama sekali bukan tanggung-jawabku. Kau telah berani melawan aku, penguasa di Ngadireja ini. Tidak ada orang yang mengimbangi kekuasaanku disini, karena itu, apa yang aku lakukan, tidak ada yang dapat menghalanginya.”
Namun Glagah Putihpun menjawab, “Kalau kuasamu kau landaskan pada kekuatan prajuritmu serta kemampuanmu, maka akulah yang akan mematahkannya. Akulah yang akan menghalangimu.”
Ki Panji tidak menunggu lebih lama lagi. Iapun segera meloncat sambil menjulurkan pedangnya. Tetapi Glagah Putih dengan cepat menghindarinya.
Ki Panji yang menjadi sangat marah itu tidak lagi mengekang diri. Serangan-serangannyapun kemudian datang dengan garangnya. Pedangnya terayun-ayun mengerikan. Kemudian terjulur lurus menggapai kearah dada atau menebas langsung kearah lehernya.
Tetapi Glagah Putih dengan kecepatan yang sangat tinggi, mampu selalu menghindarinya. Bahkan ketika Ki Panji mengayunkan pedangnya ke arah lehernya, Glagah Putih dengan cepat merendahkan dirinya. Demikian pedang itu terayun di-atas kepalanya, maka dengan cepat Glagah Putihpun melenting. Kakinya terjulur lurus mengenai dada Ki Panji dengan derasnya.
Ki Panji itu terlempar beberapa langkah surut. Bahkan Ki Panji itupun kemudian jatuh terguling. Namun pedangnya masih saja berada di dalam genggaman tangannya.
Tetapi Glagah Putih tidak membiarkannya. Demikian ia meloncat bangkit Glagah Putihpun meloncat sambil memutar tubuhnya. Kakinya terayun mendatar langsung mengenai kening Ki Panji, sehingga sekali lagi Ki Panjipun terlempar jatuh. Namun Ki Panjipun segera berguling untuk mengambil jarak Baru kemudian Ki Panji itu berusaha untuk berdiri.
Tetapi demikian ia bangkit, maka kaki Glagah Putih telah menyambar pergelangan tangan Ki Panji, sehingga pedangnya telah terlempar jatuh.
Wajah Ki Panji menjadi merah. Tetapi ia tidak segera menyerah. Bahkan Ki Panjipun kemudian berteriak kepada prajurit-prajuritnya terutama prajuritnya yang masih segar, “Tangkap orang ini hidup atau mati.”
Para prajuritpun serentak bergerak. Mereka telah mencabut pedang mereka atau para prajurit yang membawa tombak pendek telah merundukkan tombak mereka. Bahkan Ki Lurah yang wajahnya sudah menjadi lebam serta sebelah matanya menjadi merah biru, maish juga berniat untuk ikut serta menangkap Glagah Putih.
Glagah Putih bergeser surut. Sementara itu Ki Panji sempat memungut pedangnya yang terjatuh.
Namun ketika para prajurit itu mulai bergerak. Glagah Putih telah mengurai ikat pinggangnya sambil berkata, “Aku hanya sekedar membela diri. Jika karena itu ada diantara kalian yang mengalami nasib buruk, itu bukan tanggung jawabku.”
“Persetan dengan igauanmu itu,” geram Ki Panji. Dengan garang, maka sekali lagi Ki Panjipun meneriakkan perintah, “Tangkap orang-orang itu hidup atau mati.”
Dalam pada itu melihat lawan yang menjadi banyak Rara Wulan tidak tinggal diam. Para prajurit yang masih segar dan bahkan Ki Lurah yang sudah mengalami kesakitan, bersama Ki Panji akan bertempur melawan mereka
Sementara itu, maka Rara Wulanpun telah mengurai selendangnya pula, sehingga iapun sudah benar-benar bersiap sebagaimana Glagah Putih.
“Apa yang akan kalian lakukan dengan ikat pinggang dan selendangmu itu?” bertanya Ki Panji.
“Jangan remehkan senjata kami,” jawab Glagah Putih, “kalian akan menyesal karena kecongkakan kalian. Kalian mengira, bahwa kalian akan dapat memaksa kami dengan mengandalkan kekuatan dan kemampuan kalian.”
Sekali lagi Ki Panji itupun memberikan perintah, “Cepat. Tangkap orang-orang itu hidup atau mati.”
Dengan demikian, maka pertempuranpun telah berkobar kembali. Bahkan menjadi lebih sengit. Glagah Putih dan Rara Wulan harus berhadapan dengan Ki Panji, Ki Lurah yang bangkit lagi serta sekelompok prajurit yang masih segar.
Namun ternyata bahwa kedua orang itu sangat mengejutkan Ki Panji, Ki Lurah dan para prajurit. Dengan senjata yang menurut penilaian mereka sangat sederhana itu, mereka ternyata mampu mengimbangi kemarahan Ki Panji dan para prajuritnya. Pedang dan tombak yang berputaran itu ternyata sama sekali tidak mampu menyentuh tubuh kedua orang itu. Bahkan setiap kali ada saja prajurit yang kehilangan senjatanya, sehingga beberapa orang kawannya harus membantunya untuk memungutnya kembali.
Tetapi mereka lebih terkejut lagi ketika seorang prajurit mulai tersentuh ikat pinggang Glagah Putih di lengannya. Lengannyapun telah terkoyak sebagaimana terkoyak oleh tajamnya pedang. Tetapi ketika ujung ikat pinggang itu mematuk perutnya, rasa-rasanya perutnya telah dihentak oleh landean tombak yang bersalut kuningan.
Apalagi ketika para prajurit itu dikenai oleh ujung selendang Rara Wulan. Selendang itu dapat menghentak dada seperti himpitan segumpal batu padas, namun selendnag itu dapat membelit dan mencekik leher mereka sehingga mereka hampir mati karena tidak dapat bernafas.
Dengan demikian, maka Glagah Putih dan Rara Wulan itupun segera memporak porandakan para prajurit yang bertempur bersama Ki Panji. Bahkan dari bahu Ki Lurah, darahpun telah mengalir karena sentuhan ikat pinggang Glagah Putih.
Dengan demikian, bukan saja wajahnya yang menjadi lebam dan sebelah matanya menjadi merah biru, tetapi tubuhnya mulai digores oleh luka-luka. Darahpun telah mengalir pula dari luka-luka itu menitik membasahi halaman.
Dengan demikian, maka para prajurit itupun semakin lama menjadi semakin menyusut. Beberapa orang telah terbaring kesakitan karena luka-lukanya. Bahkan akhirnya Ki Lurah itupun tidak dapat lagi bangkit, karena tulang-tulang di punggungnya serasa patah ketika kaki Glagah Putih menyambarnya.
Akhirnya, Ki Panji sendiri menjadi semakin terdesak.
Bahkan tubuhnya sudah mulai terluka pula.
“Ki Panji,” berkata Glagah Putih, “apakah kau masih akan melawan?”
“Kau akan menyesali perbuatanmu. Kau telah melawan penguasa di Ngadireja.”
“Yang diperlukan oleh rakyat Ngadireja bukan seorang penguasa. Tetapi seorang pemimpin. Selama ini kau sama sekali tidak bersikap sebagai seorang pemimpin. Tetapi kau benar-benar hanya seorang penguasa yang mengandalkan kuasamu pada kekuatan serta tajam ujung senjata prajurit-prajuritmu.”
“Lalu, kau kira aku dapat melandaskan kuasaku pada sikap ramah tamah dan belas kasihan.”
“Bagus. Jika menurut pendapatmu, kuasa itu dapat hanya dilandasi pada kekuatan dan ketajaman senjata, marilah kita lanjutkan pertarungan ini. Jika aku berhasil mengalahkan kalian, maka akulah penguasa disini. Aku akan memerintah dengan landasan kekuatan dan ketajaman senjataku. Kau mau apa? Jika kau mau melawan, katakan bahwa kau akan melawan sampai titik darahmu yang penghabisan. Dengan demikian maka tuntaslah usahaku merebut kuasa dari tanganmu. Akupun kemudian akan berkuasa sampai ada orang lain dapat mengalahkan aku dan pengikut-pengikutku yang akan aku bangun kemudian.”
“Itu pikiran gila. Kau akan dilumatkan oleh kekuasaan yang kebih tinggi. Kekuasaan di Panaraga.”
“Kau akui kekuasaan di Panaraga.”
“Tentu.”
“Kekuasaan di Panaraga itukah yang memberimu wewenang untuk mempergunakan kekuatan dan tajamnya senjata selama kau berkuasa di Ngadireja sampai datangnya kekuatan baru yang dapat mengalahkanmu?”
Ki Panji menjadi bingung. Karena itu, ia tidak segera dapat menjawab.
“Ki Panji,” berkata Glagah Putih kemudian, “ketahuilah, aku adalah seorang prajurit Mataram yang sedang mengemban tugas. Demikianlah pula perempuan itu. Ia adalah isteriku. Kami berdua telah mendapat perintah untuk pergi ke Panaraga. Kami adalah penghubung antara pemerintah Mataram dan pemerintahan yang ada di Panaraga.”
Wajah Ki Panjipun menjadi tegang. Detak jantungnya serasa bergetar lebih cepat. Dengan gagap iapun berkata, “Jadi, jadi Ki sanak itu seorang petugas dari Mataram?”
“Ya. Kami akan pergi ke Panaraga. Adalah kebetulan bahwa aku melihat prajurit-prajuritmu sedang memeras Ki Bekel dan Ki Demang. Mereka minta Ki Bekel dan Ki Demang membayar pajak karena pintu gerbang pasar di padukuhan mereka telah dipugar sehingga menjadi pintu gerbang yang terhitung sangat baik bagi lingkungan ini.”
“Tetapi itu bukan karena perintahku.”
“Kau tidak tahu apa-apa. Kau hanya dapat membentak-bentak dan meneriakkan perintah-perintah. Tetapi kau tidak mau tahu, bahwa orang-orangmu telah melakukan perbuatan yang sangat tidak terpuji. Sementara itu kau hanya tahu menghitung berapa banyak prajurit-prajuritmu itu memberikan upeti kepadamu.”
“Tidak. Bukan maksudku.”
“Sementara itu Ki Bekel dan Ki Demang sudah mengatakan, bahwa yang memugar pintu gerbang pasar itu adalah justru Pangeran Jayaraga yang sekarang diserahi pemerintahan di Panaraga.”
“Tetapi, tetapi itu bukan salahku.”
“Aku akan menghadap Pangeran Jayaraga di Panaraga. Aku akan mengatakan bahwa Ki Panji di Ngadireja telah memaksa Ki Bekel dan Ki Demang untuk membayar pajak justru karena Pangeran Jayaraga memugar pintu gerbang pasar sebagai satu pertanda dan kenangan, bahwa Pangeran Jayaraga pernah berhenti dan makan bersama keluarganya yang sedang dalam perjalanan di pasar itu.”
“Tidak. Jangan. Jangan katakan itu kepada Pangeran Jayaraga di Panaraga.”
“Kenapa tidak? Biarlah kau diadilinya dan kemudian mendapat hukuman yang setimpal.”
“Jangan adili aku. Aku tidak memerintahkannya. Biarlah nanti aku bunuh Lurah yang telah melakukan pemerasan itu.”
“Jika kau bunuh Ki Lurah, maka hukumanmu akan berlipat. Kau berusaha melenyapkan saksi yang dapat memberikan kesaksian atas kesalahan yang telah kau lakukan.”
“Baik, baik. Aku tidak akan membunuh. Tetapi tolong jangan adili aku. Selama ini aku menjalankan tugasku dengan jujur.”
“Jangan berbohong. Para prajuritmu dapat berbicara tentang dirimu.”
Wajah Ki Panji menjadi tegang. Seperti seorang pencuri yang tertangkap basah, maka ia tidak akan dapat mengelak lagi. Karena itu, ia hanya dapat memohon pengampunan atas kesalahan yang pernah dilakukannya.
“Baiklah Ki sanak,” berkata Ki Panji, “aku akan mengakui segala kesalahan kepadamu. Tetapi aku mohon jangan sampaikan kepada Pangeran Jayaraga di Panaraga.”
“Tetapi kau harus benar-benar jujur, Ki Panji, Ki Bekel, Ki Demang dan para prajuritmu menjadi saksi. Jika para prajuritmu itu masih akan tetap melindungimu, apakah karena mereka merasa takut kepadamu, atau karena mereka sudah berhutang budi kepadamu atau karena kau telah membiarkan mereka melakukan banyak kesalahan dan bahkan pemerasan terhadap rakyatmu sendiri, maka mereka sendirilah yang akan dijerat oleh tatanan. Mereka dapat dihukum berat melampaui hukuman yang dapat kau jatuhkan kepada mereka, apalagi karena Ki Panji sendiri sudah tidak berdaya.”
“Baik, baik Ki sanak. Aku akan jujur.”
“Kau dan semua prajuritmu dan siapapun yang bekerja sama dengan Ki Panji, harus mengakui kesalahan itu. Ki Panjilah yang bertanggungjawab.”
“Baik-baik.”
“Mengakui kesalahan mengandung pengertian bahwa kesalahan yang serupa tidak akan dilakukan lagi.”
“Ya, ya, Ki Sanak.”
“Kalau kemudian kesalahan Ki Panji itu tidak akan aku sampaikan kepada Pangeran Jayaraga, bukan berarti bahwa Ki Panji tidak pernah berbuat salah. Ki Panji tidak dapat berlaku seakan-akan tidak pernah bersalah terhadap rakyat Ngadireja dan sekitarnya, karena sebenarnyalah bahwa Ki Panji memang bersalah.”
“Ya, ya, Ki Sanak Aku memang bersalah.”
“Pengakuan itu harus Ki Panji buktikan.”
“Aku akan membuktikannya. Aku akan berkata dengan terbuka kepada rakyat Ngadireja bahwa aku bersalah. Aku minta maaf dan aku tidak akan mengulanginya lagi.”
“Itu belum cukup.”
“Jadi?”
“Kalau Ki Panji memang mengaku bersalah sampai ke dasar jantung, maka sebaiknya Ki Panji mengembalikan kekayaan yang Ki Panji depatkan dengan cara yang tidak wajar itu kepada pemiliknya. Kepada rakyat di Ngadireja dan sekitarnya.”
Wajah Ki Panji menjadi merah. Tetapi ia masih juga berkata, “Aku tentu tidak akan ingat lagi, uang siapa saja yang sekarang ada di rumahku.”
“Ki Panji tidak perlu mengembalikannya kepada orang-orang tertentu. Tetapi pergunakan uang itu untuk meningkatkan kesejahteraan hidup rakyat Ki Panji. Itu sudah cukup memadai. Namun masih harus diingat, bahwa Ki Panji pernah melakukan kesalahan yang sangat besar terhadap rakyat Ki Panji sendiri.”
“Ya, ya, Ki Sanak. Aku mengerti. Aku memang harus menebus kesalahan itu. Aku kira, memang tidak ada gunanya aku mempertahankan kelimpahan kekayaan itu justru pada saat aku menyadari, betapa dalam kesalahan yang pernah aku lakukan itu.”
“Baik. Aku berjanji untuk tidak menyampaikan persoalan Ki Panji kepada Pangeran Jayaraga. Tetapi jika syarat yang Ki Panji katakan itu tidak Ki Panji penuhi, maka aku tidak akan menyampaikannya persoalan ini kepada siapa-siapa. Tetapi aku sendiri yang akan menyelesaikannya dengan caraku berdasarkan atas wewenang yang aku miliki dari Ki Patih Mandaraka di Mataram. Bukan hanya dari Pangeran Jayaraga di Panaraga.”
“Baik, baik, Ki Sanak Aku mengerti.”
“Nah, sekarang selesaikan persoalanmu dengan prajurit-prajuritmu dan rakyatmu sendiri. Aku akan meneruskan perjalanan,“ kemudian kepada Ki Bekel dan Ki Demang, Glagah Putih pun berkata, “Ki Bekel dan Ki Demang dapat pulang. Jangan takut terjadi apa-apa lagi atas Ki Bekel dan Ki Demang, Ki Bekel dan Ki Demang tinggal menunggu janji Ki Panji, bahwa ia akan mengembalikan milik rakyat yang ada padanya dan ada pada prajurit-prajuritnya. Jika yang dijanjikan itu tidak dilakukannya, maka kami akan berbuat apa saja sesuka hati kami atas Ki Panji dan prajurit-prajuritnya. Selain berdasarkan atas wewenang yang ada padaku, maka kalau landasannya adalah ketajaman ujung senjata, maka aku telah memenangkan pertarungan melawan mereka.”
“Baik, Ki Sanak,“ sahut keduanya hampir berbareng.
“Kami berdua akan pergi. Tetapi dalam waktu dekat, kami akan memantau kesanggupan Ki Panji. Diketahui atau tidak diketahui.”
Demikianlah, maka Glagah Putih dan Rura Wulanpun meninggalkan tempat itu. Demikian bingungnya Ki Panji, sehingga ia tidak ingat lagi untuk mempersilahkan kedua orang laki-laki dan perempuan itu untuk duduk. Demikian pula Ki Bekel dan Ki Demang yang segera minta diri.
Di perjalanan pulang, Ki Bekel sempat bergumam, “Jadi Ki Panji itu telah dimaafkan, Ki Demang.”
“Ya. Kesalahannya tidak akan dilaporkan kepada Pangeran Jayaraga. Tetapi itu bukan berarti bahwa Ki Panji tidak bersalah. Ia harus menebus kesalahannya dengan beberapa langkah yang nyata yang memberikan manfaat bagi rakyat.”
Ki Bekel mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Yang ia mengerti, Ki Panji itu bersalah. Apakah kesalahan itu akan diungkap sampai ke telinga Pangeran Jayaraga atau tidak, tetapi kesalahan itu sudah dilakukan.
Sebenarnyalah bahwa apa yang terjadi pada Ki Panji itu memang tidak dapat dirahasiakan lagi. Rakyat Ngadireja dan sekitarnyapun telah mendengar apa yang terjadi. Dua orang prajurit penghubung antara Mataram dan Panaraga yang menangkap basah bahwa Ki Panji di Ngadireja telah menyalahgunakan wewenangnya tidak akan mengangkat persoalan itu Ki Panaraga. Prajurit penghubung dari Mataram itu seakan-akan telah memaafkan meskipun mereka tetap menganggap bahwa Ki Panji bersalah dan harus menebus kesalahannya.
Dalam pada itu, ketika Glagah Putih dan Rara Wulan telah meninggalkan Ngadireja, maka Ki Panji itupun sempat merenungi dirinya sendiri. Ia sempat merenungi rakyatnya di Ngadireja. Ia mulai membayangkan, apa saja yang pernah dihisapnya dari rakyatnya itu.
Seperti asap yang mengepul dari hutan yang terbakar, Ki Panji melihat, betapa gelapnya sisi kehidupannya. Sebagai seorang pemimpin yang memegang wewenang, ia dapat membanggakan dirinya karena rakyatnya menjadi sangat patuh kepadanya. Setiap wajah orang yang ditemuinya, selalu men-bayangkan ketakutan sehingga tidak ada yang berani mengangkat wajahnya dihadapannya dalam keadaan apapun.
Ki Panji itupun menarik nafas panjang. Pada saat-saat yang demikian, pada saat-saat ia tersudut, rasa-rasanya secerah cahaya telah menerangi hatinya, menembus asap yang tebal hitam yang bergulung-gulung menyelimutinya.
“Aku memang telah bersalah,” terdengar suara yang meskipun perlahan sekali, tetapi telinga hatinya dapat mendengarnya dengan jelas.
Pengakuannya itu telah mendorongnya untuk mengambil langkah-langkah sebagaimana dikatakan oleh dua orang suami isteri dari Mataram itu.
Sebenarnyalah langkah itulah yang diambil oleh Ki Panji. Diperintahkannya semua prajuritnya melakukan hal yang sama sebagaimana dilakukannya.
Ki Panji dan para prajuritnya telah mempergunakan semua kekayaan mereka bagi kesejahteraan rakyat Ngadireja dan sekitarnya. Tidak lagi karena terpaksa, tetapi gejolak yang dahsyat yang terjadi didalam lubuk hatinyalah yang telah mendorongnya untuk berbuat demikian.
Sebenarnyalah di hari-hari mendatang rakyatnya yang semula menjadi sangat kecewa karena Ki Panji itu tidak dilaporkan kepada Pangeran Jayaraga di Panaraga, akhirnya dapat menerima sikap Ki Panji yang telah menyerahkan segala yang ia punya bagi kesejahteraan rakyat Ngadireja, karena sebenarnyalah Ki Panji merasa bahwa apa yang ia punya itu telah dihisapnya dari darah rakyatnya itu pula.
Dalam pada itu, Glagah Putih dan Rara Wulan tidak segera dapat memantau apa yang telah terjadi di Ngadireja. Tetapi merekapun menelusuri jalan menuju ke Panaraga.
Mereka tidak mengalami kesulitan apa-apa di perjalanan. Tidak pula ada kesulitan menelusuri jalan ke Panaraga. Sementara itu, merekapun masih juga menemukan jejak perjalanan Pangeran Ranapati, yang seakan-akan dengan sengaja mengikuti jejak perjalanan Pangeran Jayaraga.
Glagah Putih dan Rara Wulan diperjalanan masih bermalam semalam lagi di sebuah banjar padukuhan. Tetapi Panaraga sudah berada didepan hidung mereka.
Di hari berikutnya, sebelum tengah hari, Glagah Putih dan Rara Wulan telah berada di alun-alun Panaraga. Sebelum mereka mengambil keputusan untuk melakukan langkah-langkah yang terbaik dalam tugas mereka, maka keduanyapun duduk di pinggir alun-alun, dibawah sebatang pohon rimbun.
“Apa yang akan kita lakukan kemudian, kakang?”
“Kita akan memikirkannya. Kita masih mempunyai banyak waktu sebelum kita mengambil sikap yang terbaik. Kita harus menemukan, dimana orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu berada. Mungkin di sebuah penginapan. Mungkin di rumah seseorang yang dikenalnya atau saudaranya menurut garis perguruan atau orang-orang lain. Baru kemudian kita akan mengamati, apa yang dilakukan selama ia berada di Panaraga. Apakah ia mencoba membuat hubungan dengan Pangeran Jayaraga atau tidak.”
Rara Wulan mengangguk-angguk. Namun untuk beberapa saat keduanya terdiam,. Keduanya mengamati orang-orang yang lalu lalang di alun-alun. Tetapi panas yang terik nampaknya membuat alun-alun itu menjadi agak sepi.
Namun tiba-tiba saja Glagah Putih dan Rara Wulan terkejut. Seorang laki-laki yang sudah separo baya, tiba-tiba saja berdiri dihadapan mereka.
Orang itupun langsung menyingkapkan bajunya, sehingga timang pada ikat pinggangnya dapat dilihat oleh Glagah Putih dan Rara Wulan.
“Kau siapa?” bertanya Glagah Putih.
“Kau kenal pertanda pada ikat pinggangku?” bertanya orang separo baya yang kemudian telah menakupkan kembali bajunya untuk menutupi timang pada ikat pinggangnya.
Glagah Putih memperhatikan orang itu sejenak. Tetapi ia masih tetap duduk. Dengan nada datar ia bertanya, “Kenapa kau tunjukkan timangmu itu kepadaku?”
“Aku membawa tugas dari Ki Patih Mandaraka. Aku harus menemuimu disini. Sejak tiga hari aku berada di sini. Baru sekarang kau berdua datang.”
“Kau yakin, bahwa kamilah yang kau tunggu?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Aku pernah bertemu dengan kalian di Kepatihan. Maksudku, aku pernah melihat kalian menghadap Ki Patih. Tetapi mungkin kalian belum mengenal aku.”
Glagah Putih dan Rara Wulanpun saling berpandangan sejenak. Namun tiba-tiba saja Rara Wulan bertanya, “Awan itu ditiup angin dari mana?”
“Dari Barat,” sahut orang itu.
“Bintang di pagi hari?”
“Lintang rinonce.”
“Kau sendiri?”
“Panjer Esuk.”
Glagah Putih menarik nafas panjang. Keduanyapun segera bangkit berdiri.
“Ikutlah aku,” berkata orang itu.
Dalam pesan terakhir, Ki Patih memang mengatakan, bahwa ia akan mendapat bantuan dari orang-orang yang sudah berada di Panaraga. Ki Patihpun telah memberikan pesan kata-kata sandi yang harus disampaikan kepada orang-orang yang menemuinya di Panaraga sebagaimana ditanyakan kepada orang itu. Menurut Ki Patih, di Panaraga tidak hanya ada seorang yang akan membantunya melaksanakan tugasnya. Tetapi ada tiga, yang disebut dengan kata sandi – Panjer esok, Panjer Wengi dan Panjer Sore. Yang menemuinya di alun-alun itu adalah petugas yang disebut dengan kata sandi Panjer Esuk.”
Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudian mengikuti orang itu. Sambil berjalan Glagah Putih bertanya, “Siapa namamu?”
“Madyasta. Aku seorang Lurah prajurit yang pernah menjadi Narpa Cundaka di Kepatihan.”
“O, Jadi aku berbicara dengan Ki Lurah Madyasta.”
“Lupakan bahwa aku seorang Lurah Prajurit. Mungkin kau masih belum berpangkat Lurah. Tetapi lupakan pangkat itu. Dalam tugas ini aku harus membantumu. Kau berdualah yang memegang perintah atas kami.”
Glagah Putih dan Rara Wulan saling berpandangan. Namun kemudian Glagah Putihpun berkata, “Terima kasih atas kepercayaan Ki Lurah.”
“Panggil namaku. Jangan panggil Ki Lurah.”
Glagah Putih menarik nafas panjang.
Keduanyapun kemudian berjalan menyusuri jalan-jalan yang terhitung ramai di Panaraga. Ki Lurah Madyasta kemudian membawa Glagah Putih dan Rara Wulan membelok ke jalan yang lebih kecil memasuki sebuah padukuhan di pinggir kota Panaraga.
Merekapun kemudian masuk ke sebuah regol halam an yang berada di pinggir jalan kecil itu. Halaman yang tidak terlalu luas. Di sebelah menyebelahnya juga terdapat rumah dengan halaman yang rata-rata hampir sama luasnya. Demikian pula sederet halaman di seberang jalan kecil itu. Rumah-rumah yang berdiri di halaman itupun rata-rata adalah rumah yang sederhana pula, meskipun bukan rumah yang jelek.
Rata-rata rumah yang ada di sebelah menyebelah jalan itu adalah rumah yang terbuat dari bambu. Dindingnya juga terbuat dari anyaman bambu. Demikian pintu lereg di depan dan disamping.
Pada umumnya di kebun belakang dari setiap halam an terdapat rumpun dari berbagai jenis bambu. Bambu apus, bambu wulung dan bahkan bambu petung. Ada pula yang mempunyai serumpun bambu tutul dengan ujudnya yang menarik meskipun tidak sekokoh bambu wulung.
Madyastapun kemudian membawa Glagah Putih dan Rara Wulan masuk ke rumah yang ada di tengah-tengah halaman itu. Rumah yang juga terbuat dari bambu serta dindingnya juga anyaman bambu apus. Bambu yang tidak begitu besar, tetapi cukup liat.
Seperti rumah-rumah yang lain, maka pintu rumah itupun terbuat dari anyaman bambu. Jika membuka pintu itu, maka pintu itupun didorong kesamping.
Glagah Putih dan Rara Wulan sudah terbiasa dengan pintu lereg semacam itu. Di Tanah Perdikan Menoreh, banyak rumah yang masih mempergunakan pintu lereg dari anyaman bambu seperti pintu rumah itu, meskipun banyak pula yang rumahnya sudah memasang pintu kayu.
Demikian pintu terbuka, maka mereka telah memasuki satu ruangan yang agak luas dengan sebuah amben yang besar terletak di sisi sebelah kanan.
“Silahkan masuk. Aku tinggal di rumah ini sendiri.”
“Dimana kedua orang kawan Ki Lurah yang lain.”
“Panggil aku Madyasta. Nama itupun bukan namaku sendiri. Namaku sebagai Lurah prajurit adalah Ki Lurah Wirasana.”
Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk.
“Silahkan duduk. Kedua orang kawanku tinggal di rumah yang lain. Kami sengaja tinggal di rumah yang berbeda.”
Glagah Putih dan Rara Wulan masih saja mengangguk-angguk.
“Kalian berdua akan tinggal di sini untuk sementara.”
Glagah Putih dan Rara Wulan itupun kemudian dipersilahkan duduk di amben bambu yang besar itu.
Orang itupun kemudian duduk pula bersama mereka. Katanya kemudian, “Aku akan membawa kalian berdua melihat-lihat keadaan di lingkungan ini sebelum kalian bertugas. Kalianpun akan aku perkenalkan dengan kedua orang kawanku itu pula. Tetapi tentu tidak sekarang. Sebaiknya sekarang kalian beristirahat saja dahulu. Pakiwan ada disebeluh kiri. Mungkin kalian ingin mandi lebih dahulu. Aku akan pergi ke dapur untuk merebus air dan menanak nasi. Mungkin kalian haus dan lapar. Sementara nasiku tinggal sedikit.”
“Biarlah aku yang merebus air dan menanak nasi. Kau duduk disini bersama kakang Glagah Putih,” berkata Rara Wulan.
“Kalian adalah tamu-tamuku. Akulah yang punya rumah, sehingga akulah yang harus menyediakan suguhan bagi kalian.”
“Tetapi aku perempuan.”
“Tetapi kau adalah tamuku. Kau tentu tidak tahu dimana aku simpan beras. Dimana aku simpan gula kelapa dan dimana aku simpan garam.”
Rara Wulan tersenyum.
“Nah, silahkan duduk. Atau barangkali kalian akan pergi ke pakiwan.”
“Terima kasih,“ sahut Glagah Putih.
Ketika kemudian orang yang minta dipanggil Madyasta itupun pergi ke dapur, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun pergi ke pakiwan.
Karena rumah itu hanya dihuni oleh seorang laki-laki, maka nampaknya memang agak kurang bersih. Tetapi Glagah Putih dan Rara Wulanpun dapat memakluminya.
Glagah Putihpun kemudian telah mencucui kaki, tangan dan mencuci mukanya bergantian dengan Glagah Putih, sehingga tubuh merekapun menjadi semakin segar.
Demikian mereka selesai mencuci muka, maka mereka tidak segera masuk ke rumah depan. Mereka masih mengamati halaman dan kebun belakang. Di halaman belakang nampak ketela pohon yang subur. Kemudian dibawah rumpun bambu di kebun, terdapat berbagai macam tanaman empon-empon. Glagah Putih yang serba sedikit mengenal berbagai jenis dedaunan dan akarakaran yang dapat dipergunakan sebagai obat mengira, bahwa Madyasta memang telah menanam berbagai jenis empon-empon itu.
Di dekat dinding kebun di belakang, terdapat batang ubi yang merambat. Tetapi batang-batang serta daunnya sudah mulai mengering. Pertanda bahwa sebentar lagi uwi itu dapat di gali.
Di sudut yang lain, nampak serumpun pisang yang subur. Daunnya berwarna hijau segar. Sementara itu, dua batang pisang yang berbuah harus di sangga dengan sepotong bambu agar tidak roboh, karena buahnya yang besar dan tandannya panjang.
Ketika keduanya berjalan melintas di halaman belakang, maka keduanya berhenti depan sebuah kandang kuda. Dua ekor kuda yang besar dan tegar berada dalam kandang itu.
Sedangkan disekitar kandang itu berkeliaran kelompok-kelompok ayam jantan dan betina. Ada pula yang sedang menggiring anak-anaknya.
Dari kandang kuda merekapun bergeser pula. Mereka berhenti disebuah pintu butulan yang terbuka. Ternyata pintu itu adalah pintu dapur.
Mereka melihat Madyasta yang sedang sibuk membuat minuman setelah air yang direbusnya mendidih.
Glagah Putih dan Rara Wulan segera masuk ke dapur itu pula. Dengan cekatan Rara Wulanpun membantu Madyasta menempatkan mangkuk-mangkuk ke dalam nampan dan kemudian dibawanya ke ruang depan.
“Duduk sajalah,” berkata Madyasta.
Tetapi Glagah Putih justru duduk didepan perapian. Dengan sepotong bumbung bambu Glagah Putih menghembus api yang nyalanya menjadi redup, sehingga nyalanya menjadi besar kembali.
“Nanti pakaianmu menjadi kotor,” berkata Madyasta.
“Pakaianku memang sudah kotor.”
Ternyata Glagah Putih dan Rara Wulanpun tidak segera meninggalkan dapur. Mereka bahkan ikut membantu menyediakan makan pagi mereka bertiga.
Mereka telah mengambil beberapa butir telur di petarangan yang akan dapat dijadikan lauk. Kemudian Rara Wulanpun telah membuat sambal dengan bawang putih.
“Aku tidak mempunyai apa-apa lagi,” berkata Madyasta.
“Ini sudah cukup. Telur ceplok dengan sambal bawang. Sementara nasinya masih mengepul.”
Sebenarnya, sejenak kemudian, mereka telah duduk di ruang depan, diamben yang besar menghadapi nasi hangat, telur ceplok dan sambal bawang.
“Nanti kita dapat membeli sayur di sudut simpang empat buat makan malam.”
“Tidak usah,” berkata Rara Wulan, “Aku melihat ada beberapa batang kacang panjang yang berbuah di kebun. Kita dapat memetik kacang panjang itu serta daun lembayungnya. Nanti biarlah kakang memetik kelapa yang belum terlalu tua.”
Sambil makan, Madyasta telah bercerita tentang berbagai hal yang ada hubungannya dengan tugasnya. Madyastapun mengatakan, bahwa orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu bagaikan siluman. Madyasta dan kedua kawannya dapat menelusuri jejaknya sehingga orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu sampai di Panaraga. Tetapi setelah itu merekapun kehilangan jejaknya. Sampai kedatangan Glagah Putih dan Rara Wulan, mereka belum menemukan orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati.
“Kita akan mencarinya bersama-sama,” berkata Glagah Putih kemudian, “mungkin orang yang menyebut diri Pangeran Ranapati itu justru sudah berada di istana Kadipaten Panaraga serta mengelabuhi Pangeran Jayaraga dengan mengaku sebagai putera Lembu Peteng Panembahan Senapati.”
Madyasta mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kita akan menelusurinya.”
Demikianlah, maka setelah mereka selesai makan serta sempat beristirahat sejenak, Madyastapun mengajak Glagah Putih dan Rara Wulan untuk melihat-lihat keadaan. Mereka pergi ke alun-alun lagi. Kemudian menyusuri jalan-jalan utama. Baru kemudian merekapun telah turun ke jalan-jalan yang lebih kecil.
“Kalian harus mengenal tempat ini sebaik-baiknya,” berkata Madyasta, “sehingga jika terjadi sesuatu, maka kalian telah mengenali medannya.”
Glagah Putih dan Rara Wulanpun mengangguk-angguk. Ketika malam mulai turun, maka mereka bertiga sampai di sebuah regol halaman rumah yang juga termasuk sederhana. Halamannyapun tidak lebih luas dari halaman rumah yang dipergunakan oleh Madyasta. Sementara bangunannya juga terdiri dari bambu termasuk dindingnya. Atapnya terbuat dari ijuk, sehingga kesannya di malam hari, rumah itu nampak gelap. Apalagi lampu minyak yang berada di ruang depan rumah itu, sinarnya tidak memancar keluar. Hanya nampak secercah cahaya di sela-sela pintu lereg dan uger-ugernya yang semua terbuat dari bambu.
Di rumah itu tinggal dua orang petugas yang disebut dengan nama sandi Panjer Wengi dan Panjer Sore yang bersama-sama dengan Panjer Esuk bertugas mendahului Glagah Putih dan Rara Wulan.
Ketika Madyasta mengetuk pintu rumah itu, terdengar suara di dalam, “siapa?”
“Panjer Esuk.”
Langkah yang cepat terdengar menuju ke pintu. Demikian pintu lereg itu terbuka, maka seorang yang berdiri di belakang pintu itupun mempersilahkan mereka masuk.
Demikian cahaya lampu minyak di ruang depan itu menyentuh Glagah Putih dan Rara Wulan, maka orang itupun berdesis, “Ki Glagah Putih dan Nyi Rara Wulan.”
“Darimana kau tahu?” bertanya Glagah Putih.
“Seperti kakang Madyasta, aku juga pernah bertugas di Kepatihan, sehingga aku mengenal Ki Glagah Putih dan Nyi Rara Wulan tanpa harus mengucapkan sebutan sandi kalian berdua.”
Glagah Putih dan Rara Wulan tersenyum.
“Marilah, silahkan masuk.”
Glagah Putih dan Rara Wulan dan Madyastapun kemudian memasuki ruangan depan rumah itu. Mirip seperti ruang depan rumah yang dihuni oleh Madyasta, maka di ruang itu terdapat sebuah amben yang terhitung besar.
“Kalian dapat bermalam disini,” berkata orang itu. Tetapi Madyasta menyahut, “mereka bermalam di rumahku.”
“Bukankah sama saja?” sahut Glagah Putih.
“Ya. Sama saja,” sahut orang itu.
Sejenak kemudian, merekapun telah duduk di amben yang besar itu. Madyastapun kemudian memperkenalkan penghuni rumah itu, “Namanya yang sebenarnya adalah Ki Lurah Cakrajaya. Tetapi namanya telah berubah menjadi Sungkana. Dan seorang lagi, Panjer Sore, yang belum kelihatan, nama sebenarnya adalah Ki Lurah Mertadrana. Sebutannya adalah Sembaga.”
Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi disini ada Madyasta, Sungkana dan Sumbaga.”
“Ya.”
“Ketiganya adalah Lurah Prajurit.”
“Lupakan,“ sahut Sungkana.
Glagah Putihpun mengangguk-angguk. Sementara itu Madyastapun bertanya, “Dimana Sumbaga?”
“Ia baru pergi ke sungai sebentar. Ia lebih senang mandi di sungai daripada mandi di pakiwan. Sebenarnya ia malas menimba air untuk mengisi jembangan. Ia lebih senang pergi ke sungai yang hanya berjalan beberapa patok saja di belakang.”
Madyasta tersenyum. Katanya, “Sumbaga memang seorang yang malas sekali. Tetapi kerjanya cukup baik.”
Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk kecil.
Sebenarnyalah sejenak kemudian, seseorang telah mendorong pintu lereg yang sudah ditutup kembali. Tetapi karena pintu itu belum diselarak, maka pintu itupun dengan mudah telah terbuka.
Seorang bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan berdiri didepan pintu.
“Apakah Ki Glagah Putih dan Nyi Rara Wulan sudah lama?” bertanya orang itu.
“Apakah Ki Sanak juga pernah bertugas di Kepatihan?”
“Ya. Aku pernah bertugas di Kepatihan. Karena itu, aku mengenal Ki Glagah Putih dan Nyi Rara Wulan.”
Orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itupun kemudian telah duduk pula bersama yang lain di amben besar itu.
“Segarnya mandi di sungai,” berkata orang yang disebut Sumbaga itu.
“Yang penting bagimu, bahwa kau tidak usah menimba air,” sahut Sungkana.
Sumbaga tertawa. Yang lainpun tertawa pula.
Namun sejenak kemudian Madyasta itu jadi bersungguh-sungguh, “Aku sudah mengatakan kepada Ki Glagah Putih dan Nyi Rara Wulan, bahwa kita telah kehilangan jejak dari orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati.“
“Kami memang agak meremehkan,” berkata Sungkana, “dengan mudah kami dapat mengikuti jejak orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu sampai ke Panaraga. Dengan demikian, kami mengira, bahwa untuk selanjutnya pun kami tidak akan mengalami kesulitan. Tetapi ternyata kita telah kehilangan jejaknya.”
“Kita harus mulai dari permulaan,“ sahut Sumbaga.
“Tidak,” berkata Glagah Putih, “setidak-tidaknya kita sudah tahu, bahwa orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu berada di Panaraga.”
“Bukankah sejak semula ia memang pergi ke Panaraga?”
“Diduga demikian. Pangeran Ranapati itu meninggalkan padepokannya begitu Pangeran Jayaraga berada di Panaraga. Tetapi bukankah waktu itu kita tidak tahu bahwa Pangeran Ranapati itu benar-benar pergi ke Panaraga? Namun sekarang kita tahu pasti, bahwa Pangeran Ranapati itupun benar-benar telah pergi ke Panaraga.”
“Jejaknya sudah jelas, bahwa Pangeran Ranapati berada di Panaraga.”
“Tetapi itu belum berarti bahwa Pangeran Ranapati sekarang berada di Panaraga.”
“Maksud Ki Glagah Putih?”
“Pangeran Ranapati itu masih mampu bergerak dengan cepat. Mungkin saja ia justru telah meninggalkan Panaraga.”
“Jika demikian, apa pun maksudnya pergi ke Panaraga jika ia kemudian harus pergi?”
“Itulah yang harus kita ketahui,” sahut Glagah Putih, “tetapi mungkin pula ia masih berada di Panaraga. Bahkan mungkin Pangeran Ranapati sudah membuat hubungan dengan Pangeran Jayaraga dengan mengaku sebagai putera Panembahan Senapati yang mengasingkan diri di sebuah padepokan sehingga saudara-saudaranya tidak mengenalnya.”
“Ya. Ada banyak kemungkinan,“ sahut Sumbaga.
“Besok aku masih akan memperkenalkan Ki Glagah Putih dan Nyi Rara Wulan dengan lingkungan ini, agar jika terjadi sesuatu, mereka telah menguasai medan. Tugas yang harus kita lakukan adalah tugas yang mengandung banyak sekali kemungkinan.”
“Baiklah. Jika kakang Madyasta masih akan n lihat-lihat lingkungan ini, maka aku dan kakang Sungk a akan melanjutkan usaha kami untuk menelusuri jejak orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu. Mungkin kami akan mengulangi penelusuran kami. Kami akan melihat kembali batu lempeng yang menurut ceritera orang dipergunakan oleh Pangeran Ranapati untuk bermalam sebelum memasuki Panaraga. Pangeran Ranapati sendiri telah memerintahkan orang-orang disekitarnya membuat pagar kayu disekeliling batu itu. Mungkin kami menemukan petunjuk, kemana Pangeran Ranapati itu setelah meninggalkan tempatnya bermalam di batu lempeng itu.
“Hati-hatilah. Mungkin Pangeran Ranapati mempunyai maksud tertentu dengan membuat petilasan-petilasan seperti itu.”
“Baik, kakang. Kami akan berhati-hati.“ Menjelang tengah malam, maka Madyasta, Glagah Putih dan Rara Wulan itupun meninggalkan rumah yang dihuni oleh Sungkana dan Sumbaga. Mereka menyusuri jalan-jalan kecil. Namun agaknya Madyasta telah menguasai lingkungan itu, sehingga ia dapat mengajak Glagah Putih dan Rara Wulan menghindari gardu-gardu peronda dan agar mereka tidak harus terlalu banyak menjawab pertanyaan anak-anak muda yang sedang meronda.
Demikian mereka sampai di rumah Madyasta, maka Madyastapun segera mempersilahkan keduanya untuk beristirahat.
Di dalam biliknya yang cukup luas dengan sebuah amben yang cukup luas pula bagi mereka berdua, Glagah Putih dan Rara Wulan tetap saja berhati-hati.
“Tidurlah dahulu,” berkata Glagah Putih, “nanti jika aku sudah mengantuk sekali, kita akan bergantian.”
“Ini sudah tengah malam kakang. Nanti kakang tidak sempat tidur.”
“Tentu ada kesempatan. Nanti aku akan membangunkanmu.”
Rara Wulan mengangguk. Iapun menyadari bahwa Glagah Putih ingin berhati-hati. Mereka berada di tempat yang sebelumnya tidak mereka kenal. Orang yang bernama Madyasta itupun hanya mereka kenal karena sebutan sandinya serta pertanda pada ikat pinggangnya.
Ketika Rara Wulan kemudian membaringkan dirinya diatas tikar pandan yang putih dan bergaris-garis biru, maka Glagah Putihpun duduk bersandar dinding.
Ternyata sejenak kemudian, Rara Wulanpun telah tertidur . Ia memang terlalu yakin akan perlindungan Glagah Putih.
Sehingga karena itu, maka Rara Wulan tidak mempunyai kecemasan sedikitpun juga. Dengan demikian, maka Rara Wulanpun segera dapat tidur nyenyak.
Sementara itu, malampun menjadi semakin sepi. Di bilik yang lain, terdengar Madyasta tidur mendengkur.
Ketika terdengar ayam jantan berkokok di dini hari, maka sebelum Glagah Putih membangunkannya, ternyata Rara Wulan telah bangun. Iapun kemudian duduk di bibir pembaringan sambil membenahi rambutnya.
“Beristirahatlah kakang. Aku sudah terlalu lama tidur.”
“Belum. Kau belum lama tidur. Kau dengar ayam jantan berkokok itu. Bukankah waktunya masih dini hari.”
“Sebentar lagi fajar akan menyingsing.”
Glagah Putih mengangguk. Glagah Putihpun sangat mempercayai Rara Wulan. Glagah Putih sadar, bahwa Rara Wulan memiliki kemampuan hampir sama seperti dirinya sendiri.
Karena itu, maka Glagah Putihpun kemudian yang membaringkan dirinya. Rara Wulanlah yang kemudian duduk bersandar dinding.
Ternyata dalam waktu singkat, Glagah Putihpun telah tertidur pula.
Namun Glagah Putih hanya sempat tidur beberapa saat. Ketika bayangan fajar mulai nampak di langit, iapun telah terbangun. Keduanyapun segera pergi ke pakiwan. Ketika Rara Wulan mandi, maka Glagah Putih menimba mengisi jambangan. Derit senggot timba terdengar memecah sepinya dini hari menjelang fajar.
Beberapa saat kemudian, Madyastapun mulai terbangun pula. Demikian Glagah Putih dan Rara Wulan selesai mandi, maka Madyastapun telah pergi ke pakiwan pula.
Sejenak kemudian, terdengar derit sapu lidi di rumah sebelah. Ayam-ayam sudah turun dari kandangnya. Burung-burung liar yang hinggap di pepohonan, bernyanyi menyambut fajar pagi.
Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudian telah mencari sapu lidi pula. Ada satu sapu lidi yang bertangkai, dan ada lagi yang tidak bertangkai. Karena itu, maka Glagah Putih dapat menyapu halaman bersama-sama. Glagah Putih dengan sapu lidi yang bertangkai, sementara Rara Wulan mempergunakan sapu lidi yang tidak bertangkai.
Madyasta sendiri justru segera pergi ke dapur untuk merebus air.
Tetangga sebelah menjadi agak heran mendengar suara sapu lidi di halaman rumah Madyasta, sementara asap mengepul di dapur. Jarang sekali Madyasta menyapu halaman, sehingga halamannya kadang-kadang nampak agak kurang bersih.
Tetapi hari itu, dua orang telah menyapu halaman depan.
Beberapa saat kemudian, setelah minuman selesai dituang, maka mereka bertigapun duduk di ruang depan. Madyastapun telah memberitahukan kepada Glagah Putih dan Rara Wulan, bahwa mereka akan pergi berjalan-jalan meneruskan pengenalan mereka terhadap lingkungan di Panaraga.
Ketika matahari mulai naik, maka Madyasta Glagah Putih dan Rara Wulan telah keluar dari pintu regol halam an rumahnya, turun ke jalan. Mereka akan mulai berjalan mereka untuk melihat-lihat keadaan dan lingkungan.
Seorang perempuan separo baya yang kebetulan berdiri di regol halaman rumahnya, ketika melihat Madyasta lewat telah bertanya, “Masih pagi. Mau kemana ngger?”
“Ke pasar bibi,” sahut Madyasta.
“Siapakah kedua orang ini? Aku belum pernah melihat sebelumnya.”
“Sepupuku, bi. Mereka datang kemarin sore. Sudah lama kami tidak saling berkunjung.”
“Apakah mereka suami isteri?”
“Ya, bibi.”
“Menyenangkan melihat sepasang suami isteri yang nampak serasi. Kapan-kapan singgah di rumahku ini ngger.”
“Baik bibi,” Rara Wulanlah yang menyahut, “pada kesempatan lain kami akan singgah.”
“Apakah kalian akan lama tinggal di sini?”
“Mungkin bibi. Tetapi tentu tidak lama sekali.“ Demikianlah ketiganyapun segera melanjutkan perjalanan mereka untuk melihat-lihat lingkungan.
Sementara Madyasta telah meninggalkan rumahnya, Sumbaga masih duduk sambil memeluk lututnya menghadapi minuman hangat yang telah disiapkan oleh Sungkana.
“Cepat mandi,” berkata Sungkana, “bukankah kita akan pergi ke batu lempeng yang sekarang dipagari itu?”
“Nanti dulu, kakang. Aku sedang menikmati minumanmu ini.”
“Lihat, matahari sudah mulai naik.”
“Bukankah kita tidak berurusan dengan matahari.”
“Mumpung masih pagi. Kalau kau tidak segera mandi, aku akan pergi sendiri.”
Sumbaga menggeliat. Ia masih minum beberapa teguk lagi. Baru kemudian ia bangkit berdiri. Tetapi Sumbaga tidak pergi ke pakiwan. Seperti biasanya ia lebih senang pergi ke sungai. Di sungai ia tidak perlu menimba air. Ia dapat mandi dengan air sebanyak apapun.
Baru kemudian, setelah matahari sepenggalah Sumbaga itu siap untuk berangkat.
Keduanyapun berjalan dengan cepat menuju ke pintu gerbang kota. Merekapun kemudian mengikuti jalan utama keluar dari kota. Mereka menuju ke sebuah petilasan yang dibuat oleh orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu. Ia sendirilah yang membuat tempat itu menjadi tempat yang dihormati oleh orang-orang disekitarnya. Dengan membuat pagar di sekitarnya orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu telah menjadikan tempat itu mendapat perhatian lebih dari tempat-tempat di sekitarnya.
Jejak terakhir yang dapat diketahui oleh Sungkana dan Sumbaga dari orang yang menyebut Pangeran Ranapati itu adalah watu lempeng itu. Batu yang pipih, tetapi cukup lebar dan cukup panjang untuk tidur. Di atas batu itu, dibawah sebatang pohon preh tua yang besar, orang yang menyebut Pangeran Ranapati itu tidur di malam terakhir perjalanannya sebelum ia memasuki pintu gerbang Panaraga.
Namun setelah itu, maka Sungkana dan Sumbaga telah kehilangan jejak.
Sebelum tengah hari, Sungkana dan Sumbaga telah berada di dekat watu lempeng itu. Mereka duduk di atas akar preh raksasa yang tumbuh di dekat watu lempeng itu, sehingga daunnya yang rimbun menaungi batu yang pipih itu.
Tetapi pohon itu sendiri berada di luar pagar yang mengelilingi watu lempeng itu.
Ketika mereka melihat seorang tua yang sedang mencari kayu bakar disekitar tempat itu, maka Sungkanapun telah memanggilnya.
“Duduklah sebentar, kang,” berkata Sungkana.
“Ada apa Ki Sanak.“
“Aku ingin tahu, kenapa batu ini dipagari.“ Orang tua yang sedang mencari kayu bakar itu termangu-mangu sejenak. Namun Sungkanapun berkata, “Kau tidak usah mencari kayu bakar hari ini, kang. Kau dapat membeli saja kayu bakar yang sudah siap disurukkan kedalam perapian.”
“Aku tidak mempunyai uang, Ki Sanak.”
“Aku punya. Aku akan memberimu uang untuk membeli kayu bakar itu.”
Orang itupun kemudian duduk pula diatas akar pohon preh yang besar itu.
“Kakang, kami ingin tahu, kenapa batu ini dipagari. Bahkan pagar kayu yang baik dan kokoh.”
“Batu ini merupakan satu petilasan, Ki Sanak.”
“Siapakah yang telah wafat disini?”
“Bukan petilasan dalam arti makam seseorang yang telah wafat Ki Sanak.”
“Jadi?”
“Tempat ini pernah dipergunakan oleh seorang Pangeran yang sedang lelana seorang diri untuk beristirahat. Bahkan bermalam dan tidur di batu yang pipih itu. Karena itu, maka Pangeran itu telah menghubungi Ki Bekel dan memerintahkan membuat pagar yang baik dan kokoh disekitar batu itu. Pangeran itu telah memberikan uang cukup kepada Ki Bekel untuk pembuatan pagar kayu ini.”
“Siapakah nama Pangeran itu?”
“Pangeran Ranapati. Ia adalah putera Panembahan Senapati di Mataram.”
“Lalu sekarang, kemanakah Pangeran itu pergi?”
“Pangeran itu akan pergi ke Panaraga. Di Panaraga telah diangkat adiknya untuk menjadi penguasa.”
“Apakah Pangeran Ranapati itu akan menyusul adiknya yang menjadi penguasa di Panaraga?”
Orang tua itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak tahu.”
“Ketika pagar ini dibuat, apakah Pangeran Ranapati itu menungguinya?”
“Tidak. Ia hanya meninggalkan uang dan pesan kepada Ki Bekel. Kemudian begitu saja Pangeran itu pergi.”
“Kakang tinggal di padukuhan ini?”
“Ya. Aku tinggal di sudut padukuhan itu.”
“Setiap hari kakang mencari kayu?”
“Hampir setiap hari. Isteriku juga sudah tua. Kasihan jika tidak tersedia kayu bakar di rumah.”
“Kakang tidak punya anak?”
“Ada Ki Sanak. Tetapi sudah tinggal di rumah mereka masing-masing. Aku mempunyai tiga orang anak. Semuanya sudah menikah dan tinggal di rumah mereka masing-masing. Aku tinggal berdua saja dengan isteriku yang juga sudah tua.”
Sungkana dan Sumbaga itupun saling berpandangan sejenak. Namun Sungkanapun kemudian berkata, “Baiklah kakang. Terima kasih. Anak-anakkupun sudah meninggalkan aku dan isteriku pula, sehingga aku juga tinggal berdua saja di rumah.”
“Berapa anakmu Ki Sanak.”
“Tujuh.”
“Tujuh? Berapa sekarang umurmu? Kau tentu lebih muda dari aku.”
“Ya. Tetapi hampir setiap tahun anak-anakku mempunyai adik.”
“Ah,” orang itu menggeleng, “aku tidak percaya. Aku percaya bahwa anakmu tujuh. Tetapi tentu belum semuanya menikah.”
Sungkanalah yang tertawa. Iapun kemudian memberikan beberapa keping uang sambil berkata, “Beli sajalah, kang. Kau tidak usah mencari kayu bakar hari ini.”
Orang tua itupun termangu-mangu sejenak. Namun kemudian orang tua itu menerima keping-keping uang itu sambil berkata, “Terima kasih.”
“Pulanglah. Beristirahatlah hari ini karena kau tidak usah mencari kayu bakar.”
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bertanya, “Apakah yang sebenarnya ingin kalian ketahui?”
“Petilasan ini dan orang yang telah membuatnya.”
“Apakah Ki Sanak berkepentingan dengan Pangeran Ranapati.”
“Tidak. Aku hanya ingin mengerti.”
Orang tua itupun mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Terima kasih atas pemberian Ki Sanak. Aku akan pulang dan tidur. Sekali-sekali aku ingin tidur di siang hari. Nanti biarlah isteriku membeli kayu bakar di rumah tetangganya yang sering menjual kayu bakar ke pasar. Daripada esok pagi orang itu pergi ke pasar pagi-pagi sekali, tentu lebih baik kalau kayu bakar itu dibeli oleh isteriku.”
Laki-laki tua itupun kemudian meninggalkan Sungkana dan Sumbaga yang masih saja duduk di akar pohon preh raksasa itu.
Namun mereka tidak melihat jalur yang dapat menunjukkan jalan untuk mengikuti jejak Pangeran Ranapati.
“Apakah sebaiknya kita pergi menemui Ki Bekel?“ bertanya Sumbaga.
“Aku kita tidak akan banyak gunanya. Ki Bekel tentu juga tidak dapat menunjukkan jalur jejak Pangeran Ranapati. Apalagi jika Pangeran Ranapati itu sudah berniat untuk menghilangkan jejaknya dengan tujuan tertentu.”
Sumbaga mengangguk-angguk. Iapun kemudian bertanya pula, “Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?”
“Kita kembali ke Panaraga. Kita amati jalan dari tempat ini sampai memasuki pintu gerbang. Apakah ada pertanda atau petunjuk apapun tentang orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu.”
Keduanyapun segera bangkit berdiri. Perlahan-lahan mereka melangkah meninggalkan batu pipih yang disebut watu lempeng serta dipagari kayu itu.
Namun sebelum mereka melangkah beberapa puluh langkah, merekapun terhenti. Lima orang tiba-tiba saja telah berloncatan dan berdiri di tengah jalan. Seorang di antara mereka adalah orang tua yang tadi diberi uang untuk membeli kayu bakar.
Seorang yang bertubuh kekar dan berdada bidang berdiri di paling depan. Dengan suara yang bergetar iapun bertanya, “Apakah yang kalian cari Ki Sanak?”
Kedua orang yang baru saja mengamati watu lempeng itu saling berpandangan sejenak. Ternyata orang tua itu bukan sedang mencari kayu. Tetapi orang itu justru sedang mengawasi mereka berdua.
Yang kemudian menjawab adalah Sungkana, “Kami tidak sedang mencari apa-apa, Ki Sanak. Kami hanya tertarik pada petilasan itu, sehingga kami ingin tahu, apakah yang sebenarnya berada di dalam pagar itu. Dari orang tua itu kami mendapat keterangan bahwa peti-lasaan itu telah dibuat oleh Pangeran Ranapati. Bukan makamnya, tetapi Pangeran Ranapati pernah beristirahat di tempat itu. Bahkan bermalam dan tidur di atas batu itu.“
“Kau tentu tidak hanya sekedar ingin tahu. Kau telah memberi aku uang beberapa keping. Terlalu mahal bagi orang yang sekedar ingin tahu. Kau tentu mempunyai satu maksud tertentu. Bahkan mungkin maksud yang buruk,“ berkata orang tua itu.
“Aku tidak mempunyai maksud apa-apa.”
“Bohong,“ orang tua yang mengaku mencari kayu itu dengan cepat menyahut.
“Lalu apa kepentinganku dengan sebongkah batu pipih itu?”
“Itulah yang ingin kami ketahui,“ geram orang yang bertubuh kekar itu.
“Aku sudah memberikan penjelasan Ki Sanak. Kami tidak ingin bermaksud apa-apa. Kami hanya tertarik oleh pagar kayu yang bagus dan kokoh ini. Kemudian selembar batu yang besar dan pipih seperti memang sengaja dibuat.”
“Ki Sanak. Untuk mengusut perkaramu, kami terpaksa membawa Ki Sanak berdua.”
“Menghadap siapa?”
“Lurahe. Maksudku, pemimpin kami.”
“Maaf. Kami tidak merasa melakukan kesalahan apa-apa. Karena itu, kami merasa berkeberatan untuk ikut bersama Ki Sanak menemui orang yang belum aku kenal.”
“Jangan membantah. Ki Sanak. Jika ternyata Ki Sanak tidak bersalah, maka Ki Sanak akan kami biarkan pergi. Tetapi jika Ki Sanak memang kami anggap merugikan kelompok kami, maka kami akan mengambil tindakan.“
“Jangan begitu, Ki Sanak. Jangan berbuat semena-mena. Bukankah kami berdua tidak berbuat apa-apa. Apalagi merugikan Ki Sanak dan kelompok Ki Sanak. Coba katakan, kenapa aku merugikan Ki Sanak dan kelompok Ki Sanak.”
“Bukan aku yang menentukan apakah kalian bersalah atau tidak. Tetapi pemimpinku.”
“Maaf, aku merasa sangat keberatan untuk mengikuti Ki Sanak seperti yang Ki Sanak maksudkan.”
“Kalian berdua tidak dapat memilih. Kalian tinggal mengikuti perintahku. Ikutlah kami untuk menghadap kepada pemimpinku yang akan memeriksa Ki Sanak berdua.”
Tetapi Sungkana itupun menggeleng, sambil berkata, “Kenapa aku tidak dapat memilih. Tidak. Aku tidak akan ikut bersama Ki Sanak. Ki Sanak tidak berhak memaksa aku mengikuti perintah Ki Sanak, karena Ki Sanak bukan pemimpinku.”
“Pemimpin atau bukan pemimpin, kau harus tunduk kepada kami. Jika kalian berkeberatan, maka kami akan memaksa Ki Sanak dengan kekerasan.”
“Jangan mencoba memaksakan kehendak terhadap orang lain. Karena orang lain itu dapat juga berbuat seperti Ki Sanak.”
“Cukup,“ bentak orang bertubuh kekar itu. “Aku tidak mau lagi mendengar kalian membantah perintah kami. Ikut kami atau kami akan mempergunakan kekerasan.”
“Kami menolak perintah Ki Sanak. Jika Ki Sanak akan mempergunakan kekerasan, maka kamipun akan dapat mempergunakan pula untuk mempertahankan kebebasan sikap kami.”
Orang bertubuh kekar itupun tiba-tiba mengangkat tangannya sehingga kawan-kawannyapun segera bergeser. Tiga orang langsung menghadapi Sungkana, sedangkan yang dua orang melangkah mendekati Sumbaga. Kelima orang itupun sadar, bahwa kedua orang itu tentu orang yang memiliki bekal ilmu, sehingga mereka berani menolak perintah mereka yang terdiri dari lima orang.
“Kesempatan Ki Sanak adalah kesempatan terakhir. Ikut kami atau kalian akan menyesal.”
“Kalau kami ikut dengan Ki Sanak, justru kami akan menyesal. Karena itu, jangan ganggu kami.”
Orang bertubuh kekar itupun segera memberikan isyarat. Kelima orang itupun serentak bergeser dan bersiap untuk bertempur.
Sungkana dan Sumbagapun segera mengambil jarak. Ketika kelima orang itu hampir serentak menyerang mereka, maka Sungkana dan Sumbagapun telah berloncatan pula. Orang yang pertama kali mendekati Sungkana, tiba-tiba telah terdorong surut. Sungkana bergerak dengan cepat sekali. Kakinya tiba-tiba sudah menghantam seorang dari ketiga lawannya.
Pertempuran segera meningkat. Orang-orang yang akan menangkap Sungkana dan Sumbaga itupun segera meningkatkan ilmu mereka. Mereka tidak mau bertempur berkepanjangan. Mereka ingin dengan cepat menyelesaikannya. Membawa kedua orang itu menghadap pemimpin mereka atau jika mereka mengalami kesulitan, maka mereka tidak akan dianggap bersalah jika mereka membunuh saja kedua orang itu.
Tetapi Sungkana dan Sumbaga itu sangat cekatan. Keduanya berloncatan dengan kecepatan yang tinggi, sehingga lawan-lawannya harus segera meningkatkan ilmu mereka pula.
Demikianlah, maka pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Meskipun Sungkana dan Sumbaga harus menghadapi lima orang sekaligus, tetapi keduanya tidak segera dapat dikuasai oleh lawan-lawannya. Jika lawan-lawannya mencoba untuk mengepungnya, maka tiba-tiba Sungkana dan Sumbaga sudah berada di luar kepungan. Sementara itu jika Sumbaga harus bertempur melawan dua orang lawan, maka kedua orang lawannya itu harus mengerahkan kemampuan mereka untuk bertahan dari serangan-serangan Sumbaga yang cepat. Sedangkan Sungkana mampu berloncatan seperti burung sikatan memburu bilalang. Bahkan kadang-kadang ketiga orang lawannya itu menjadi bingung karena seakan-akan Sungkana itu tiba-tiba saja bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Ketiga orang lawan Sungkana itu ternyata menjadi sangat kesulitan untuk menembus pertahanan Sungkana. Meskipun mereka menyerang dari arah yang berbeda-beda, tetapi Sungkana tetap saja sulit untuk disentuh. Selain pertahanannya yang kokoh dan rapat, maka dengan tangkasnya ia dapat menghindari serangan-serangan lawannya. Bahkan serangan-serangan Sungkana sendiri kemudian datang bagaikan prahara yang menerjang ketiga orang lawannya itu.
Sedangkan kedua orang yang melawan Sumbagapun mulai mengalami kesulitan pula. Bergantian mereka terlempar dari arena. Bahkan ketika seorang yang terpelanting mulai bangkit berdiri, maka kawannya yang seorang lagi justru telah terlempar dan menimpanya, sehingga kedua-duanyapun kemudian telah jatuh terlentang saling menindih.
Dengan cepat keduanya berusaha untuk bangkit berdiri, sementara Sumbaga tidak memburu mereka.
Bahkan seakan-akan Sumbaga sengaja memberi waktu kepada mereka berdua untuk membenahi diri.
Demikian keduanya berdiri, maka keduanyapun menggeram. Keduanya menjadi semakin marah. Mereka beranggapan bahwa lawannya telah dengan sengaja mempermainkan mereka.
“Marilah,“ berkata Sumbaga, “kalian apa kami yang akan dapat memaksakan kehendak dengan kekerasan.”
“Gila,“ geram salah seorang lawannya, “aku akan membantaimu dan membiarkan tubuhmu dikoyak-koyak oleh anjing liar.”
“Kau tidak usah mengancam. Kita sudah terlibat dalam pertempuran. Tetapi jika kau menyerah, maka akupun tidak akan memaksakan pertempuran ini berlangsung lebih lama lagi.”
“Kami tidak akan menyerah. Tetapi kami akan membunuhmu.”
“Bagus,“ geram Sumbaga, “kau telah menggelitik perasaanku. Jangan menyesal jika akulah yang akan membantai kalian berdua.”
Namun Sumbaga tidak sempat meneruskan kata-kata. Seorang dari kedua lawannya telah meloncat menyerangnya. Kakinya terjurus lurus mengarah ke dadanya.
Tetapi Sumbagapun sangat tangkas. Dengan cepat ia mengelak. Bahkan tangannyapun terayun dengan cepatnya, sehingga dengan jari-jarinya yang merapat, Sumbaga telah menyerang ulu hati lawannya itu.
Lawannya mengaduh tertahan sambil meloncat surut. Tetapi Sumbaga tidak dapat memburunya, karena lawannya yang seorang lagi telah menyerangnya pula.
Pertempuranpun segera berlangsung pula dengan sengitnya. Tetapi kedua orang lawan Sumbaga itu seakan-akan telah kehilangan kesempatan untuk melawan. Serangan-serangan Sumbaga menjadi semakin sering mengenai keduanya berganti-ganti.
Dalam pada itu, lawan Sungkanapun telah menjadi semakin terdesak pula. Seorang di antaranya menjadi sangat kesakitan ketika kaki Sungkana mengenai dadanya, sehingga tubuhnya terdorong dan membentur sebatang pohon.
Sedangkan kedua orang kawannya yang lainpun rasa-rasanya sangat sulit untuk dapat mengatasi keadaan.
Karena itu, maka tiba-tiba saja telah terdengar isyarat dari orang yang bertubuh kekar, yang agaknya menjadi pemimpin mereka.
Isyarat itu tidak perlu diulangi. Dengan cepat orang-orang itupun segera berlari meninggalkan arena pertempuran. Mereka berlari berpencaran dengan arah yang berbeda-beda.
Sungkana dan Sumbaga tidak mengejar mereka. Setelah sedikit membenahi pakaian mereka, keduanyapun segera meninggalkan tempat itu.
“Ternyata tempat ini selalu diawasi, kakang,“ berkata Sumbaga.
“Ya. Hampir saja kita terjebak. Untunglah bahwa mereka bukan orang-orang yang mrantasi, sehingga kami masih dapat melepaskan diri dari tangan mereka. Jika kami jatuh ke tangan pemimpin mereka, maka kita akan mengalami kesulitan. Kita akan diperas sampai darah kita kering. Jika kita tidak mampu mengatasi tekanan mereka dan sedikit saja berbicara tentang tugas kita, maka Glagah Putih, Rara Wulan dan kakang Madyasta akan dapat menjadi dog pangamun-amun. Mereka tentu akan berusaha untuk mengambil mereka bertiga. Bahkan tidak mustahil bahwa orang yang menyebut dirinya Pangeran Ran pati itu akan menangani mereka langsung. Sedangkan orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu adalah orang yang ilmunya sangat tinggi.”
“Tetapi menurut pendengaran kita, Glagah Putih dan Rara Wulan adalah orang-orang yang ilmunya sangat tinggi.”
“Bekal mereka memang banyak. Tetapi mereka masih terlalu muda. Kemudaan mereka tentu juga berpengaruh terhadap pengalaman mereka. Meskipun demikian, jika Ki Patih telah menunjuk mereka, maka Ki Patihpun tentu mempercayai mereka. Kita tahu, bahwa penilaian Ki Patih terhadap seseorang tidak pernah keliru.”
“Itulah sebabnya, maka Ki Patih menunjuk aku untuk ikut pula dalam tugas ini.”
“Ah, macammu.“ Sumbaga tertawa.
Demikianlah, untuk beberapa saat kemudian merekapun saling berdiam diri. Mereka berjalan cepat menjauhi batu pipih yang nampaknya selalu mendapat pengawasan itu.
Beberapa saat kemudian, maka merekapun telah sampai di pintu gerbang kota. Setelah mereka yakin, bahwa tidak ada orang yang mengikuti mereka, maka mereka berduapun langsung pergi ke rumah Madyasta.
“Mudah-mudahan kakang Madyasta sudah ada di rumah,“ berkata Sungkana.
“Ya. Mudah-mudahan.”
Dengan cepat keduanya menyelinap jalan kecil menuju ke rumah Madyasta.
Sebenarnyalah bahwa Madyasta, Glagah Putih dan Rara Wulan memang baru saja pulang. Mereka baru saja mengelilingi Panaraga dan sekitarnya.
“Silakan duduk,“ Madyastapun mempersilahkan kedua orang yang baru saja datang itu.
“Kakang,“ berkata Sungkana, “hampir saja kami justru terjebak ketika kami melihat petilasan itu.”
“Kau baru saja mendatangi petilasan itu?”
“Ya, kakang. Seperti yang sudah kami katakan. Kami akan mencoba menelusuri kembali, jalan dari petilasan itu sampai memasuki pintu gerbang kota. Jika saja kami menemukan sesuatu yang dapat kami pergunakan untuk mendapatkan jejak Pangeran Ranapati yang hilang itu.”
“Siapakah yang telah menjebak kalian? “ Sungkana dan Sumbagapun kemudian menceriterakan apa yang mereka jumpai dan apa yang merekaa alami di sekitar Batu yang pipih, yang kemudian oleh orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu dipagari.
Madyasta, Glagah Putih dan Rara Wulan mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Ceritera itu memang sangat menarik.
Baru kemudian Glagah Putih itupun bergumam, “Dengan demikian maka orang-orang yang mengawasi petilasan itu sudah mengenali kakang Sungkana dan kakang Sumbaga.”
“Ya. Mereka telah mengenali kami.”
“Agaknya petilasan itu memang dibuat oleh orang yang mendirikan petilasan itu untuk menjebak.”
Dengan kerut di dahi Sumbaga itupun bertanya, “Menjebak siapa? Apakah mungkin orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu sengaja membidik seseorang atau sekelompok orang?”
“Mungkin orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu merasa bahwa dirinya akan diikuti oleh seseorang atau sekelompok orang. Karena itu, maka ia sengaja membuat satu jebakan. Orang-orang yang mengikutinya itu akan kehilangan orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu. Menurut perhitungannya, orang itu tentu akan berusaha menelusurinya kembali dimulai dari petilasannya yang terakhir menjelang pintu gerbang kota Panaraga.”
Sumbaga, Sungkana dan bahkan Madyasta itupun mengangguk-angguk. Namun Madyasta itupun kemudian berkata, “Jika benar demikian, maka orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu tidak sendiri di Panaraga. Ia sudah mempunyai kelompok yang dapat digerakkannya setiap saat sebagaimana orang-orang yang menunggui petilasan itu.”
“Ya. Karena itu, maka sebaiknya kitapun membatasi hubungan kita. Maksudku, kami bertiga tidak akan terlalu sering berhubungan dengan Ki Sungkana dan Ki Sumbaga, sehingga para pengikut orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu tidak menghubungkan kami dengan Ki Sungkana dan Ki Sumbaga. Jika mereka yang mengenali Ki Sungkana dan Ki Sumbaga itu mengetahui bahwa kita saling berhubungan, maka merekapun akan menjadi sangat berhati-hati menghadapi kami bertiga, sementara kami bertiga masih belum mengenali mereka.”
“Ya,“ Sungkana mengangguk-angguk. “Kita harus berusaha membatasi hubungan di antara kita.”
“Selebihnya, Ki Sungkana dan Ki Sumbaga harus menjadi lebih berhati-hati. Mungkin mereka berusaha untuk menguasai Ki Sungkana dan Ki Sumbaga untuk memeras keterangan Ki Sungkana dan Ki Sumbaga untuk siapa Ki Sungkana dan Ki Sumbaga berdua bekerja.”
“Ya. Kami memang harus berhati-hati. Orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu tentu akan berusaha mencari kami berdua.”
“Karena itu, jika Ki Sungkana dan Ki Sumbaga akan melakukan tindakan-tindakan penting, beritahu kami. Sebaiknya kalian datang kemari pada saat-saat yang memungkinkan. Dengan demikian, maka kami akan dapat mengawasi Ki Sungkana dan Ki Sumbaga. Dalam keadaan yang memaksa, maka kami akan dapat membantu Ki Sungkana dan Ki Sumbaga meskipun akibatnya kami juga akan mereka kenali.”
Ki Sungkana dan Ki Sumbaga mengangguk-angguk.
“Baiklah,“ berkata Ki Sungkana, “Kami akan sangat berhati-hati.”
“Yang penting kami sadari, bahwa kita berhadapan dengan sekelompok orang yang dipimpin oleh orang yang berilmu sangat tinggi. Bukan hanya berhadapan dengan seorang saja.”
“Ya. Kita berhadapan dengan sekelompok orang. Kita belum tahu, apakah sekelompok orang itu merupakan kelompok yang kuat atau sekedar kumpulan orang-orang yang siap dikorbankan.”
Tetapi orang-orang yang berusaha menangkap Ki Sungkana dan Ki Sumbaga, agaknya masih tidak terlalu sulit untuk diatasi. Tetapi kita tidak tahu, siapa saja yang berada di belakang mereka. Tetapi setidaknya seorang di antara mereka kita ketahui, orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu.
Sejenak mereka terdiam. Nampaknya mereka sedang hanyut oleh gejolak perasaan mereka masing-masing.
Namun tiba-tiba Glagah Putih berkata, “Orang-orang yang menunggui petilasan itu akan dapat menjadi jalur untuk menelusuri dimana orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu bersembunyi. Tetapi jalan menuju ke persembunyian orang itu tentu akan merupakan jalan yang sangat rumit.”
“Ya,“ Madyasta mengangguk-angguk. “Rumit dan sangat berbahaya. Mungkin kita berhasil memasuki sarang orang yang menyebut diri Pangeran Ranapati itu. Tetapi setelah itu kita tidak dapat keluar lagi.”
Glagah Putih menarik nafas panjang. Rara Wulanlah yang kemudian menyela, “Apakah mungkin aku dapat memasuki sarang mereka, kakang?”
“Kita belum tahu, Rara Wulan. Kita masih harus mengamati keadaan. Mungkin kita membutuhkan waktu yang panjang. Kita tidak boleh tergesa-gesa. Yang kita hadapi adalah orang yang berilmu sangat tinggi.”
“Tetapi kita harus mencari jalan. Sementara itu, kita juga belum tahu, apakah kita dapat berhubungan dengan Pangeran Jayaraga atau tidak.”
“Ya. Apalagi jika orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu sudah lebih dahulu berhasil berhubungan dengan Pangeran Jayaraga.”
Kembali mereka terdiam. Glagah Putih dan Rara Wulan yang merasa tidak menemui kesulitan untuk melacak jejak orang yang menyebut diri Pangeran Ranapati itu, karena orang itu sengaja meninggalkan jejak di sepanjang perjalanannya, akhirnya mereka sadari, bahwa itu hanyalah sekedar permainan orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu. Jika saja orang itu mengetahui betapa Glagah Putih dan Rara Wulan itu kebingungan setelah mereka dengan lancar mengikuti jejaknya, ia tentu akan mentertawakannya.
Tetapi Glagah Putih dan Rara Wulan bukan orang yang mudah kecewa dan putus asa.
Mereka berdua akan mengerahkan segenap kemampuan mereka dan bahkan mempertaruhkan nyawanya untuk menyelesaikan tugas yang dibebankan ke pundak mereka.
Karena itu, maka Glagah Putihpun mulai memikirkan gagasan Rara Wulan. Apakah Rara Wulan akan dapat mencari jalan untuk memasuki lingkungan para pengikut orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu.
Tetapi Glagah Putihpun menyadari bahwa langkah itu tentu sangat berbahaya. Jika langkah mereka tergelincir sedikit saja, maka akibatnya tidak dapat mereka bayangkan.
Meskipun demikian, gagasan itu telah tersangkut di angan-angan Glagah Putih.
Ketika kemudian malam turun, maka Sungkana dan Sumbagapun meninggalkan rumah Madyasta. Mereka sepakat bahwa esok malam keduanya akan datang lagi ke rumah itu.
“Besok, sehari penuh jangan kemana-mana,“ pesan Madyasta kepada Sungkana dan Sumbaga, “orang-orang yang tadi kau kalahkan, mungkin sekali besok akan mencarimu.”
“Ya. Mungkin mereka akan mencari kami dengan kekuatan yang berlipat.”
Demikianlah, maka keduanyapun dengan hati-hati keluar dari regol halaman. Baru ketika mereka yakin tidak ada orang di jalan, merekapun berjalan dengan cepat menjauhi regol rumah Madyasta itu.
Baru sepeninggal Sungkana dan Sumbaga, maka Glagah Putihpun bertanya kepada Madyasta, “Bagaimana pendapat Ki Lurah, jika kita coba mengetrapkan gagasan Rara Wulan.”
“Kau masih saja memanggil Ki Lurah. Kau akan dapat lupa, di tempat lain, di hadapan orang banyak, kau juga memanggil Ki Lurah. Panggilan itu akan dapat mengundang perhatian.”
“Maaf,“ Glagah Putih tersenyum, “jika tidak ada orang lain, rasa-rasanya sepantasnya aku memanggil Ki Lurah.”
“Jangan. Biasakan memanggil namaku, Madyasta.”
Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Baiklah. Aku akan mengingat-ingat.”
Namun kemudian iapun berkata, “Bagaimana pendapatmu tentang gagasan Rara Wulan.”
“Apakah kita akan sampai hati untuk melepaskannya?”
“Rara Wulan pernah melakukannya. Ia pernah mengumpankan dirinya untuk mengungkap satu kejahatan.”
“Dan Rara Wulan berhasil?”
“Ya. Waktu itu ia berhasil,“ Glagah Putihpun berpaling kepada Rara Wulan, “tetapi harus kita sadari, bahwa yang kita hadapi sekarang berbeda dengan yang kita hadapi pada waktu itu.”
“Ya, kakang,“ sahut Rara Wulan, “dengan demikian, maka persiapan kitapun harus lebih baik. Tentu saja aku tidak mau menjadi korban sia-sia. Jika aku harus menjadi tumbal dari tugas ini, maka seharusnya bahwa pengorbanan itu memberikan arti.”
“Tentu kami tidak akan mengorbankan kau Rara Wulan,“ sahut Glagah Putih, “kita akan bersama-sama menanggungkannya.”
“Tentu setidak-tidaknya salah seorang dari kita harus tetap dapat melanjutkan perjuangan ini sampai tuntas.”
“Sebaiknya kita mencari jalan lain,“ berkata Madyasta.
Tetapi Rara Wulan menyahut “ Sebaiknya kita mencobanya. Aku akan berada di tempat terbuka bersama Sungkana dan Sumbaga. Jika benar ada orang yang memburu Sungkana dan Sumbaga, maka merekapun akan menemukan aku. Biarlah Sungkana dan Sumbaga berusaha melepaskan diri mereka. Sementara itu, orang-orang yang lain akan berusaha menangkap aku dan membawanya ke sarang mereka. Namun kakang Glagah Putih dan Madyasta yang belum dikenal itu akan dapat mengikuti aku sampai ke sarang mereka.”
“Mengerikan,“ desis Madyasta.
“Jika terpaksa kalian tidak dapat mengikuti aku, maka biarlah aku yang berusaha melepaskan diri dengan caraku. Bukankah aku juga mempunyai kemampuan untuk melindungi diriku sendiri? Jika rencana satu dan rencana dua ini gagal, kita akan melakukan berdasarkan keadaan yang kita hadapi saat itu. Jika itupun gagal, apa boleh buat.”
“Aku tidak dapat membayangkan, bencana yang dapat melibat kau, Nyi.”
“Setiap perjuangan memerlukan keberanian untuk mengambil sikap. Aku dan kakang Glagah Putih telah melatih pendengaran kami dengan mendengarkan Aji Pameling. Meskipun masih belum begitu jernih, tetapi kami sudah mulai dapat menguasai Aji Pameling itu, sehingga kami akan dapat selalu berhubungan meskipun kami berada di jarak yang mungkin agak jauh.”
“Bukankah Aji Pameling hanya dapat dipergunakan untuk memanggil serta pesan-pesan khusus, sehingga Aji Pameling tidak dipergunakan untuk berbincang-bincang seperti kita sekarang ini.”
“Ya. Tetapi setidak-tidaknya kami saling dapat memberikan isyarat dimana kami berada.”
Madyasta menarik nafas panjang. Kedua orang suami isteri yang masih sangat muda itu ternyata memiliki sebangsal ilmu yang sulit untuk dipelajari. Tetapi ternyata mereka sudah dapat menguasainya.
Karena itu, maka akhirnya Madyasta menyerahkan segala sesuatunya kepada suami isteri itu sendiri.
“Kami akan patuh kepada segala perintah kalian berdua,“ berkata Madyasta kemudian.
Glagah Putihpun menarik nafas panjang. Katanya kemudian, “Baiklah kami masih akan mempertimbangkan dalam satu dua hari ini. Baru kami akan mengambil keputusan. Kami sadari, bahwa kemungkinan yang sangat buruk dapat terjadi.”
Namun Glagah Putih dan Rara Wulan sudah siap untuk menghadapi kemungkinan yang sangat buruk itu jika harus terjadi.
Di hari berikutnya, Glagah Putih dan Rara Wulan masih saja berjalan-jalan berkeliling Panaraga dan sekitarnya. Mereka berusaha benar-benar memahami lingkungan tugas mereka. Lorong-lorong kecilpun telah mereka lihat dan mereka ingat baik-baik.
Seperti yang sudah dipesankan, maka di hari berikutnya Sungkana dan Sumbaga sama sekali tidak keluar dari rumah. Mereka berusaha menghindari pengamatan orang-orang yang berusaha menjebaknya di dekat petilasan itu, namun tidak berhasil. Bahkan Sungkana dan Sumbaga dapat memberikan ancar-ancar ujud orang-orang itu kepada Madyasta, Glagah Putih dan Rara Wulan.
Ketika mereka hertiga berada di alun-alun, maka merekapun duduk di bawah sebatang pohon besar yang rimbun. Ketika tiga orang lewat tidak jauh dari tempat mereka duduk, maka Glagah Putih telah menggamit Rara Wulan dan Madyasta sambil berdesis, “Kalian lihat orang-orang itu?”
Rara Wulan mengangguk-angguk kecil sambil menyahut, “Maksud kakang, orang-orang itu adalah orang-orang yang berusaha menangkap Sungkana dan Sumbaga?”
“Ya,“ jawab Glagah Putih.
“Yang mana?“ bertanya Madyasta.
Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi ketika Madyasta mengikuti arah pandang Glagah Putih, maka iapun segera mengetahui orang-orang yang dimaksud.
“Ya. Agaknya mereka adalah tiga orang di antara kelima orang itu,“ desis Madyasta.

Jilid 395
TETAPI merekapun terdiam. Beberapa langkah di belakang mereka, ketiga orang itupun melihat tiga orang lagi yang berjalan searah dengan ketiga orang sebelumnya.
“Yang itu juga,“ desis Rara Wulan.
Glagah Putih mengangguk. Katanya, “Ya. Lima orang dan bahkan ditambah dengan seorang lagi. Tentu orang itu seorang yang dipercaya untuk dapat mengalahkan kedua orang yang luput dari tangan kelima orang itu.”
“Yang mana?”
“Yang ciri-cirinya tidak disebut oleh Sungkana dan Sumbaga adalah orang yang bertubuh agak pendek dan membiarkan rambutnya tergerai di bawah ikat kepalanya.”
“Orang itu tentu orang yang berilmu tinggi,“ desis Rara Wulan.
“Ya. Menilik sikapnya. Ia bersenjata golok yang besar, tetapi agak pendek.”
“Sepasang.”
“Ya. Ia membawa sepasang golok.”
“Kita hampir pasti bahwa orang-orang itulah yang mencari Sungkana dan Sumbaga.”
“Untunglah bahwa Sungkana dan Sumbaga tidak keluar rumah. Jika mereka berada di sini sekarang, orang-orang itu tentu berusaha untuk membantainya.”
Madyasta menarik nafas panjang. Ternyata orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu bukan seorang Pangeran yang sedang lelana seorang diri. Tetapi ia mempunyai gerombolan yang berbahaya di Panaraga.


Tinggalkan komentar

adbm 395


adap orang Mataram yang berada di Panaraga.”
“Tetapi kita belum menemukan kenyataan apapun yang dapat kita pergunakan untuk menuduh, bahwa orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu telah melakukan sesuatu yang melanggar tatanan dan paugeran. Bahkan kita belum tahu, dimana orang itu tinggal dan apa yang dilakukannya.”
“Ya.”
“Siapa tahu, yang dilakukan oleh orang yang menyebut dirinya Pangeraan Ranapati itu justru memberikan arti kepada orang-orang yang tinggal di sekitarnya.”
“Ya.”
Ketiga orang itupun terdiam sejenak. Mereka memperhatikan ketiga orang yang kemudian tiga orang lagi yang berjalan di belakangnya, mengelilingi alun-alun itu. Tetapi agaknya mereka tidak menemukan orang yang mereka cari.
“Mereka tentu mencari dimana-mana,“ desis Glagah Putih.
“Bahkan mungkin mereka akan masuk keluar lorong-lorong sempit di padukuhan-padukuhan.”
“Tetapi Sungkana dan Sumbaga menyadari bahaya yang mengancam mereka, sehingga agaknya mereka benar-benar tidak keluar dari rumahnya.”
Glagah Putih mengangguk-angguk.
Namun beberapa saat kemudian, maka mereka bertiga pun segera bangkit dan meninggalkan alun-alun itu.
Orang-orang yang lewat di alun-alun itu merupakan gambaran kekuatan yang ada di belakang orang yang mengaku bernama Pangeran Ranapati itu.
Karena itu, Glagah Putih dan Rara Wulan harus mempertimbangkannya sebaik-baiknya.
Ketika malam turun, maka Glagah Putih, Rara Wulan dan Madyasta kembali membicarakan rencana Rara Wulan untuk memasuki lingkungan orang-orang yang telah berusaha menjebak Sungkana dan Sumbaga di dekat petilasan batu pipih itu.
“Sudahlah,” berkata Madyasta, “kita mencari kesempatan yang lain, yang bahayanya tidak sebesar rencana ini.”
“Mungkin kita tidak akan mendapat kesempatan lagi,” sahut Glagah Putih.
Madyasta menarik nafas panjang.
Ternyata bahwa Rara Wulan tidak melangkah surut dari gagasannya. Ia akan berjalan-jalan di alun-alun atau di jalan-jalan utama yang lain di Panaraga bersama Sungkana dan Sumbaga. Jika mereka bertemu dengan keenam orang yang lewat di alun-alun, maka Sungkana dan Sumbaga akan melawan. Tetapi mereka tidak mampu mengalahkan lawan-lawannya dan melarikan diri. Dengan demikian, maka Rara Wulan akan mereka tangkap dan mereka bawa ke sarang mereka. Adalah tugas Glagah Putih dan Madyasta untuk mengikuti jejaknya. Sementara itu, Rara Wulan akan berusaha untuk meninggalkan jejak di tempat-tempat tertentu untuk mempermudah pelacakan Glagah Putih dan Madyasta selain mempergunakan Aji Pameling yang telah mereka kuasai.
Madyasta hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya. Demikian besarnya tekad pengabdian kedua orang petugas sandi yang dikirim langsung oleh Ki Patih Mandaraka itu.
“Seharusnya malam ini Sungkana dan Sumbaga datang kemari,” berkata Glagah Putih.
“Ya,” sahut Rara Wulan, “kita akan mematangkan pembicaraan kita. Esok kita akan melaksanakannya.”
Sebenarnyalah, ketika malam menjadi semakin dalam maka terdengar pintu rumah itu diketuk orang.
“Siapa?”
“Panjer Wengi,” sahut suara di luar.
Madyasta kemudian membuka pintu. Sungkana dan Sumbaga pun kemudian melangkah masuk dan duduk di amben yang besar itu bersama Madyasta, Glagah Putih dan Rara Wulan.
Kepada kedua orang petugas sandi itu, Madyasta menyampaikan gagasan Rara Wulan untuk memasuki lingkungan orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu.
Seperti Madyasta, maka Sungkana dan Sumbaga pun masih berusaha untuk mencegah niat itu. Namun Rara Wulanpun berkata, “Jika kita sia-siakan kesempatan ini, maka belum tentu kita akan mendapatkan kesempatan berikutnya.”
“Bagaimana pendapat Ki Glagah Putih?” bertanya Sungkana.
“Apaboleh buat. Kita akan mencobanya. Tetapi tentu saja bahwa kita akan bersiap untuk melakukan apa saja dan dengan taruhan apa saja.”
“Baiklah jika itu yang telah Ki Glagah Putih dan Nyi Rara Wulan putuskan.”
Merekapun kemudian telah membicarakan kapan mereka akan melaksanakan rencana mereka.
“Esok pagi,” berkata Rara Wulan.
“Jangan esok,” sahut Sumbaga, “sebaiknya kita mengatur jantung kita lebih dahulu.”
“Jadi?”
“’Esok lusa. Besok sehari aku akan menenangkan perasaanku yang tentu sangat tegang menghadapi rencana yang sangat mendebarkan ini.”
“Baiklah. Esok lusa kita akan melaksanakan rencana ini.”
Demikianlah, sampai tengah malam Sungkana dan Sumbaga masih berada di rumah Madyasta. Mereka masih mematangkan rencana mereka yang penuh dengan bahaya itu.
Baru kemudian, sedikit lewat tengah malam, Sungkana dan Sumbaga minta diri meninggalkan rumah Madyasta itu.
Di keesokan harinya, Rara Wulan tidak ikut dengan Madyasta dan Glagah Putih yang keluar untuk semakin menguasai medan. Apalagi jika Rara Wulan akan dibawa oleh para pengikut orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu.
Ternyata pada hari itu, Glagah Putih dan Madyasta telah bertemu dengan keenam orang yang kemarin dilihatnya di alun-alun. Mereka berjalan dijalan utama sambil memandangi setiap orang lewat. Seperti kemarin, mereka berjalan bersama-sama tiga orang dalam satu kelompok dengan jarak beberapa langkah saja.
“Mereka benar-benar mendendam kepada Sungkana dan Sumbaga,” berkata Madyasta.
“Ya. Tetapi kita tidak perlu mengikuti mereka. Sampai sekarang mereka sama sekali tidak memperhatikan kita. Tetapi jika kita mengikuti mereka, maka perhatian mereka akan mulai tertarik kepada kita.”
Madyasta mengangguk-angguk. Keduanyapun kemudian berjalan ke arah yang berbeda dengan keenam orang itu. Namun mereka tahu, bahwa keenam orang itu masih saja berkeliaran untuk menemukan Sungkana dan Sumbaga.
“Kita memang tidak dapat menunda-nunda lagi. Jika dalam dua tiga hari ini mereka tidak menemukan Sungkana dan Sumbaga disini, mungkin mereka akan mencarinya di tempat lain. Dengan demikian, maka kesempatan bagi Rara Wulan untuk memasuki lingkungan mereka akan menjadi semakin kecil,” berkata Glagah Putih.
Madyasta mengangguk-angguk. Katanya, “Jika rencana itu sudah matang dihati Ki Glagah Putih, maka kami tinggal membantu pelaksanaannya saja.”
Rencana itu memang sudah matang bagi Glagah Putih dan Rara Wulan. Mereka benar-benar sudah siap untuk melaksanakannya. Rara Wulan telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi kemungkinan yang paling buruk sekalipun.
Di hari berikutnya, mereka memang tidak melakukan apa-apa. Hanya Madyasta saja yang keluar untuk melihat, apakah orang-orang yang berkeliaran mencari Sungkana dan Sumbaga itu masih menyusuri jalan-jalan di Panaraga.
Namun agaknya mereka sudah mulai jemu. Madyasta yang hanya berjalan sendirian itu melihat tiga diantara mereka justru duduk di bawah sebatang pohon gayam di pinggir jalan membeli dawet cendol. Namun tiga orang yang lain justru duduk di tempat yang agak jauh.
“Glagah Putih dan Rara Wulan benar,” berkata Madyasta di dalam hatinya, “jika kami menunda-nunda lagi, orang-orang itu sudah menghentikan kegiatan mereka disini. Mungkin mereka akan berpindah tempat untuk menemukan Sungkana dan Sumbaga.”
Ketika hal itu disampaikan kepada Glagah Putih, maka Glagah Putihpun memutuskan, bahwa esok mereka akan melakukan rencana mereka tanpa ditunda lagi.
Sebenarnyalah, di hari berikutnya, Sungkana dan Sumbaga sudah siap untuk pergi keluar bersama dengan Rara Wulan.
“Namamu tentu bukan Rara Wulan, Nyi,” berkata Sungkana.
“Panggil aku Ranti.”
“Baik, Nyi Ranti.”
“Aku harap bahwa keenam orang itu masih berkeliaran di jalan-jalan utama di kota ini.”
Demikianlah, bahwa mereka bertigapun telah meninggalkan rumah Madyasta. Sementara itu, beberapa puluh langkah di belakangnya, Glagah Putih dan Madyasta mengikuti mereka dengan sangat hati-hati.
Sungkana, Sumbaga dan Ranti itupun berjalan bertiga menuju ke pasar. Mereka berharap bahwa orang-orang yang pernah menjebak mereka di petilasan itu mencari mereka di pasar pula.
Tetapi ternyata mereka tidak bertemu dengan keenam orang yang sudah beberapa hari berkeliaran itu. Perlahan-lahan Rara Wulanpun berdesis, “Jangan-jangan mereka sudah tidak mencari kalian di lingkungan ini.”
Keduanya tidak menjawab. Ada semacam pertentangan di hati mereka. Disatu sisi mereka mengharap agar mereka bertemu dengan keenam orang itu, namun disisi lain mereka justru berharap agar orang-orang itu sudah meninggalkan Panaraga. Mereka tidak memikirkan diri mereka sendiri. Tetapi mereka berpikir tentang Rara Wulan yang berniat memasuki sarang ular-ular berbisa.
Tetapi Rara Wulan sendiri justru menjadi cemas bahwa ia tidak akan bertemu lagi dengan keenam orang itu.
Karena mereka tidak bertemu dengan keenam urang itu di pasar, maka Sungkana dan Sumbagapun telah mengajak Rara Wulan untuk berjalan menyusuri jalan utama. Merekapun kemudian berhenti tidak jauh dari penjual dawet cendol. Tiga diantara keenam orang itu kemarin telah berhenti dan membeli dawet cendol di tempat itu.
Jantung Sungkana serasa berdenyut semakin cepat ketika ia melihat tiga orang yang telah dikenalnya itu berjalan ke arahnya. Sedangkan tiga orang yang lain berjalan beberapa langkah di belakang mereka.
“Itulah mereka,“ desis Sungkana
Sumbaga menarik nafas panjang. Katanya, “Hati-hatilah, Nyi. Ini bukan satu permainan yang sederhana. Tetapi satu permainan yang sangat berbahaya.”
“Aku sadari, Ki Sumbaga. Tetapi aku sudah siap.“ Ketiga orang yang berada didepan itu semula tidak memperhatikan Sungkana dan Sumbaga yang duduk di pinggir jalan tidak jauh dari. penjual dawet cendol itu. Tetapi Sungkana ternyata dengan sengaja bangkit berdiri untuk menarik perhatian.
Namun yang memperhatikannya lebih dahulu adalah justru tiga orang yang berjalan di belakang.
“Mereka benar-benar orang yang telah menjebak aku dan Sumbaga,“ desis Sungkana.
Rara Wulanpun mengangguk kecil. Tiba-tiba saja salah seorang diantara ketiga orang yang berjalan di belakang itu berteriak, “He, inilah orangnya.”
Ketiga orang yang berjalan di depan itupun berhenti. Mereka pun segera berbalik.
Sungkana dan Sumbaga dengan serta merta menarik tangan Rara Wulan untuk dibawa lari. Tetapi mereka tidak sempat melakukannya. Keenam orang itu dengan cepat telah mengepung mereka tanpa menghiraukan orang lain yang berada di jalan itu.
“Akhirnya kami menemukan kalian berdua,” berkata orang bertubuh kekar yang tidak berhasil menangkap kedua orang itu.
“Kalian mau apa? Kalian telah gagal menangkap kami berdua. Jika sekarang kalian akan mencoba lagi, maka kalian-pun akan gagal pula.”
“Hitung. Kami sekarang tidak hanya berlima. Tetapi berenam. Karena itu, kau tidak akan luput lagi dari tangan kami.”
“Apa bedanya kalian berlima dan berenam?”
“Sombongnya orang ini,” geram orang yang justru agak pendek, “kau tentu belum pernah mengenal aku, karena aku tidak ikut bermain-main waktu itu.”
“Ya. Dari keenam orang ini, kau adalah orang baru. Orang yang tidak ikut menjebak kami di batu pipih itu.”
Orang yang bertubuh agak pendek itu melangkah semakin dekat sambil berkata, “Rasa-rasanya untuk menangkap kalian berdua, aku tidak memerlukan kawan-kawanku yang lain. Aku sendiri akan menangkap kalian berdua. Biarlah kawan-kawanku menangkap perempuan itu. Mungkin junjunganku akan membutuhkannya.”
“Junjunganmu? Siapa?”
Orang itu tertawa. Katanya, “Nampaknya kau adalah orang yang selalu ingin tahu. Tetapi sayang, bahwa kau tidak akan pernah dapat mengetahuinya, karena junjunganku tentu tidak akan merendahkan dirinya menemuimu. Kau telah diserahkannya kepadaku. Dan akulah yang akan mengurusmu sehingga kau akan menjawab semua pertanyaanku.”
Sumbagapun tertawa pula. Katanya, “Kawan-kawanmu berlima tidak dapat menangkap aku. Mana mungkin kau sendiri akan menangkap kami. Kau kira kami sebangsa kecoak yang tidak mampu melawan jika kau menginjakkan kakimu.”
“Bagus. Kau memang harus melawan. Aku akan merasa sangat kecewa jika dengan sangat mudah aku dapat menangkap kalian berdua.”
Sungkana dan Sumbagapun segera bersiap. Mereka berdiri di sebelah menyebelah Ranti untuk melindunginya.
Keenam orang yang akan menangkap Sungkana dan Sumbaga itu sama sekali tidak peduli terhadap orang-orang yang ada disekitarnya. Terhadap orang-orang yang kemudian merubungnya meskipun dari jarak yang agak jauh.
Tetapi tidak seorangpun yang berani berbuat sesuatu. Wajah keenam orang itu nampak terlalu seram.
Namun orang yang bertubuh agak pendek itupun berkata kepada kelima orang kawannya, “Tangkap saja perempuan itu. Jangan hiraukan kedua cucurut yang mungkin berusaha untuk melindunginya.” Kawan-kawannya tidak menjawab. Namun orang bertubuh agak pendek itupun segera menyerang Sumbaga yang berdiri di sebelah Ranti.
Sumbagapun dengan tangkasnya mengolak. Tetapi dengan demikian, ia telah bergeser dan membuat jarak dengan Ranti.
Pada saat itu, kawan-kawan orang bertubuh agak pendek itupun berusaha menangkap Ranti.
Tetapi Sungkana tidak membiarkannya. Iapun segera meloncat menyerang orang-orang yang berusaha menangkap Ranti itu.
Pertempuranpun segera terjadi dengan sengitnya. Sumbaga bertempur melawan orang yang bertubuh agak pendek itu, sementara Sungkana harus bertempur melawan kelima orang yang lain.
Ternyata orang yang bertubuh pendek itu tidak segera mengalahkan Sumbaga. Bahkan Sumbngn justru mulai mendesak lawannya.
Namun Sungkana yang harus bertempur melawan lima orang itupun telah terdesak.
Orang bertubuh pendek itu mengumpat didalam hati. Ternyata ia tidak dapat mengalahkan lawannya. Jangankan menangkap kedua orang itu, melawan seorang diantara mereka pun ia mengalami kesulitan.
Sementara itu Ranti berusaha untuk menjauhi pertempuran itu. Bahkan ia telah bersiap-siap untuk melarikan diri. Namun dua orang diantara kelima orang yang bertempur melawan Sungkana itupun segera menangkapnya dan menyeretnya sehingga Ranti itu mereka kuasai pula.
Sungkana yang kehilangan dua orang lawannya, sebenarnya akan dapat mengalahkan ketiga orang yang bertempur melawannya itu. Demikian pula Sumbaga akan mampu mengalahkan orang yang bertubuh agak pendek itu.
Tetapi menurut kesepakatan, mereka harus melarikan diri dan membiarkan Rara Wulan dibawa oleh keenam orang itu.
Karena itu, maka sejenak kemudian, Sungkanapun telah memberikan isyarat kepada Sumbaga agar meninggalkan pertempuran itu.
Tetapi Sumbaga tidak ingin melarikan diri tanpa meninggalkan kesan apapun. Pada saat terakhir, ketiga jari-jarinya yang merapat sempat mengetuk dada orang bertubuh pendek itu, sehingga nafasnya menjadi sesak.
Pada saat itulah orang bertubuh agak pendek itu telah mencabut sepasang goloknya yang besar tetapi agak pendek itu.
Namun lawannya, Sumbaga telah meloncat melarikan diri.
Pada saat yang bersamaan Sungkanapun telah melarikan diri pula. Tetapi ia sempat menyakiti salah seorang lawannya, sehingga untuk beberapa saat orang itu berguling-guling di jalan.
Ternyata ibu jari Sungkana berhasil menyusup pertahanan orang itu dan tepat mengenai bagian bawah lehernya, sehingga orang itu terasa bagaikan tercekik untuk beberapa saat.
Tetapi orang itu tidak mati. Lambat laun, ia berhasil mengatasi kesulitan pernafasannya.
Orang yang bertubuh agak pendek, yang menyatakan dirinya mampu menangkap kedua orang itu, memang berusaha mengejarnya. Demikian pula kedua orang kawannya. Tetapi Sungkana dan Sumbaga itupun berlari terlalu cepat, sehingga keduanya berhasil menyusup diantara orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu dari jarak yang agak jauh.
“Iblis laknat,” geram orang bertubuh pendek itu, “mereka ternyata pengecut.”
“Tetapi perempuan itu ada di tangan kami.”
Orang bertubuh agak pendek itu mengangguk-angguk sambil berdesis, “Ya. Perempuan itu ada di tangan kami.“ Sementara itu, Ranti masih saja meronta-ronta dan berusaha untuk melepaskan diri.
Seorang dari kedua orang yang memeganginya itupun membentak, “Jangan meronta-ronta. Jika kau masih saja meronta-ronta maka aku akan mempermalukan kau disini. Disini banyak orang yang sedang merubungi kita.”
“Tetapi jangan pegangi aku seperti kalian sedang menangkap seorang pencuri.”
“Kalau kau berjanji untuk tidak berbuat macam-macam, maka kami akan melepaskanmu.”
“Macam-macam apa yang kau maksud?”
“Misalnya melarikan diri.”
“Tidak. Aku tidak akan melarikan diri.“ Tetapi orang yang bertubuh agak pendek itu menyahut, “Biar saja jika ia akan mencoba melarikan diri. Tetapi jika ia tertangkap, maka seperti yang dikatakan kawanku itu, maka ia akan dipermalukan disini.”
Perlahan-lahan kedua orang yang memegangi Ranti itupun melepaskannya, sementara itu, orang-orang yang lain-pun mengawasinya dengan sungguh-sungguh.
Tetapi Ranti memang tidak akan melarikan diri. Seandainya ia mencoba, maka enam orang itu serentak akan menerkamnya. Agaknya mereka tidak sekedar mengancam bahwa mereka akan mempermalukannya, jika ia benar-benar berusaha melarikan diri.
“Kau harus ikut bersama kami,” berkata orang yang bertubuh agak pendek, “kau akan kami bawa menghadap kepada junjungan kami. Mungkin ia membutuhkanmu. Tetapi jika junjungan kami itu tidak membutuhkanmu, maka akulah yang membutuhkanmu.”
Ranti terdiam. Tetapi bagaimanapun juga, terasa kulitnya meremang.
Namun orang yang tubuhnya agak pendek itu, sama sekali tidak membuatnya gentar ditilik dari sisi ilmu kanuragan. Tetapi sebagai seorang perempuan, rasa-rasanya Rantipun menjadi ngeri pula mendengar kata-kata orang itu.
“Marilah kita tinggalkan tempat ini,” berkata orang yang bertubuh pendek itu selanjutnya.
“Aku akan kalian bawa kemana?”
“Kau akan tahu nanti. Sekarang berjalanlah agar kami tidak perlu menyeretmu.”
Rantipun kemudian berjalan digiring oleh keenam orang itu.
Sementara itu, dari jarak yang agak jauh, Glagah Putih dan Madyasta berada di antara orang-orang yang menonton peristiwa itu. Demikian Ranti bergerak digiring oleh keenam orang itu, maka Glagah Putih dan Madyastapun ikut bergerak pula.
Diperjalanan salah seorang yang menggiring Ranti itupun bertanya, “Kenapa kau berjalan bersama kedua orang itu? Apakah hubunganmu dengan mereka?”
“Aku adalah adik dari salah seorang diantara mereka. Aku adalah adik dari orang yang tinggi kekurus-kurusan itu.”
“Yang seorang lagi?”
“Kawan kakakku itu. Ia ingin mengambil aku menjadi isterinya. Tetapi aku masih akan memikirkannya.”
“Beruntunglah kau sekarang berada di tangan kami. Jika nasibmu baik, maka kau akan dapat menjadi isteri seorang Pangeran. Setidak-tidaknya seorang selir.”
Ranti justru berhenti. Dengan wajah yang tegang iapun bertanya, “Pangeran? Apakah kau sedang mengigau?”
Orang bertubuh agak pendek itu tertawa sambil mendekatinya, “Kami tidak sedang mengigau. Tetapi kami memang mengabdi kepada seorang Pangeran yang aku sebut sebagai junjunganku itu. Tetapi jika Pangeran itu menolakmu, setidak-tidaknya kau akan menjadi isteri seorang Tumenggung.”
“Tumenggung siapa?”
“Aku adalah calon Tumenggung. Junjunganku sudah berjanji untuk mengangkat aku sebagai seorang Tumenggung. Tumenggung Jantranagara,” tiba-tiba saja orang itu tertawa berkepanjangan.
Ranti terdiam. Seorang yang lain mendorongnya sambil berkata, ”berjalanlah Kau dapat berbicara sambil berjalan.”
Ranti tidak menjawab. Tetapi ia melangkahkan kakinya lagi.
Dalam pada itu orang-orang yang menyaksikan peristiwa itupun merasa gelisah. Tetapi tidak ada diantara mereka yang berani berbuat sesuatu. Namun seorang anak muda yang merasa sangat iba melihat Ranti dibawa oleh keenam orang itupun berkata, “Aku akan melaporkan kepada para prajurit.”
“Dimana?”
“Yang bertugas di regol kadipaten.”
“Mereka bertugas di kadipaten, mereka tidak dapat pergi kemana-mana.”
“Tetapi tentu ada petunjuk, kepada siapa aku harus memberikan laporan.”
“Tetapi perempuan itu sudah menjadi semakin jauh.”
“Mungkin sekelompok prajurit berkuda dapat memburu mereka.”
“Siapa tahu, kemana perempuan itu dibawa pergi.”
“Entahlah. Tetapi aku harus melaporkannya.”
Anak muda itu memang pergi ke pintu gerbang kadipaten memberitahukan peristiwa yang baru saja terjadi.
“Kami bertugas disini, anak muda. Kami tidak dapat pergi.”
“Jadi kami harus lapor kemana?”
“Pergilah ke barak di belakang kadipaten ini. Mungkin mereka dapat membantumu.”
Anak muda itupun meninggalkan gerbang kadipaten. Tetapi ia tidak pergi ke barak. Segala sesuatunya tentu sudah terlambat. Perempuan itu tentu sudah menjadi semakin jauh.
Anak muda itupun berkata di dalam hatinya, “Biarlah keluarganya saja yang melaporkan kepada para prajurit. Nanti atau esok. Sama saja. Perempuan itu tentu sudah disembunyikan oleh orang-orang yang membawanya.”
Namun ternyata Rara Wulan tidak dibiarkan saja dibawa oleh keenam orang yang memaksanya untuk ikut bersama mereka. Ada dua orang yang dengan diam-diam berusaha mengamati kemana perempuan itu dibawa pergi, Rara Wulanpun setiap ada kesempatan telah memberikan pertanda di sepanjang jalan. Sekali-sekali tangannya menarik ranting-ranting gerumbul perdu. Dikesempatan lain, Rara Wulan telah menjatuhkan tusuk kondenya tanpa diketahui oleh orang-orang yang menggiringnya.
Ternyata perjalanan mereka cukup jauh, sehingga Glagah Putih dan Madyasta agak mengalami kesulitan untuk mengikuti mereka tanpa diketahui oleh keenam orang itu.
Namun Rara Wulanpun dengan sengaja berusaha selalu mengikat perhatian orang-orang yang membawanya. Bahkan kadang-kadang Rara Wulan bersikap seakan-akan hendak melarikan diri.
Dengan demikian, maka keenam orang itu perhatiannya sepenuhnya tertuju kepada Rara Wulan yang mereka kenal dengan nama Ranti itu. Mereka sama sekali tidak sempat berpaling. Bahkan sekali-sekali terdengar salah seorang diantara mereka mengancam perempuan itu. Jika ia berusaha untuk melatrikan diri, maka ia akan mengalami perlakuan yang sangat buruk.
Tetapi ternyata Rara Wulan tidak dibawa keluar dari pintu gerbang kota. Mereka memang berjalan agak melingkarlingkar. Tetapi Glagah Putih dan Rara Wulan yang untuk beberapa hari sengaja berusaha mengenali setiap jalan, setiap lorong, setiap jalan setapak di Panaraga, dengan cepat mengetahui, Rara Wulan itu akan dibawa kemana.
Ternyata Rara Wulan telah dibawa ke sebuah rumah yang sederhana di sudut kota. Rumah yang agak terpisah dari tetangga-tetangganya. Rumah yang sederhana itu mempunyai halaman yang luas. Bahkan dibelakangnya terdapat kebun yang masih nampak rimbun sekali. Pepohonan yang padat, gerumbul-gerumbul perdu dan tanaman liar yang lain serta rumpun bambu yang masih terhitung lebat.
Dengan demikian, maka rumah sederhana itu rasa-rasanya memang agak terpisah dari rumah-rumah yang lain.
Glagah Putih dan Madyasta yang mengikuti Rara Wulan dari jarak yang agak jauh itu, masih sempat melihat keenam orang itu telah membawa Rara Wulan memasuki regol halaman rumah itu.
“Mereka ada di rumah itu, Ki Glagah Putih,“ desis Madyasta.
“Ya.”
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Madyasta,” berkata Glagah Putih kemudian, “kita berada di satu lingkungan yang sangat berbahaya. Bukan maksudku mengecilkan arti kemampuanmu. Tetapi agaknya yang melakukan pengintaian ke dalam dinding halaman itu seorang saja.”
“Tetapi jika kau memerlukan bantuan?“
“Rara Wulan akan dapat membantuku. Jika kita berdua, maka agaknya akan lebih mungkin menarik perhatian para pengikut Pangeran Ranapati itu.”
Madyasta menarik nafas panjang. Tetapi ia dapat mengukur diri sendiri. Kemampuannya tentu tidak setinggi kemampuan orang yang secara khusus telah dikirim oleh Ki Patih Mandaraka.
Karena itu, maka iapun berkata, “Baiklah. Segala sesuatunya terserah kepadamu. Tetapi apakah kau mempunyai kemungkinan untuk berhubungan dengan Rara Wulan?”
“Kami telah mempelajari dan serba sedikit menguasai Aji Pameling. Kami dapat saling memberikan isyarat tanpa diketahui orang lain.”
“Jika demikian, apa yang harus aku lakukan?”
“Pulanglah. Sampaikan kepada Sungkana dan Sumbaga, bahwa sebaiknya mereka tidak berkeliaran kemana-mana. Bahkan mungkin untuk sementara mereka tinggal bersamamu.”
“Baik Aku akan menyampaikannya.”
“Sekarang tinggalkan aku sendiri disini, Madyasta. Akupun belum akan berbuat apa-apa. Aku hanya ingin tahu, apakah benar bahwa di rumah itu tinggal orang yang menyebut diri Pangeran Ranapati.”
Madyasta itupun mengangguk-angguk kecil. Rasa-rasanya memang tidak sampai hati untuk meninggalkann Glagah Putih sendiri. Tetapi ia sadar, bahwa dirinya justru akan dapat mengganggu atau bahkan Glagah Putih harus melindunginya jika terjadi sesuatu.
Karena itu, maka Madyasta itupun kemudian telah meninggalkan tempat itu.
Sepeninggal Madyasta, maka Glagah Putihpun bergeser semakin mendekati halaman dan kebun yang terhitung luas itu. Tetapi Glagah Putih masih belum berbuat sesuatu. Ia masih saja berdiri di bawah sebatang pohonyang besar yang tumbuh di pinggir jalan.
Jalan di depan rumah yang berhalaman luas itu memang termasuk jalan yang tidak begitu banyak dilalui orang. Setelah beberapa saat Glagah Putih berdiri di pinggir jalan itu, ternyata masih belum ada orang yang lewat. Sedangkan regol halaman disebelah halaman yang luas itupun nampak tertutup. Tetapi menilik regol halamannya maka agaknya rumah disebelah itu agak lebih baik dari rumah yang sederhana yang dikelilingi oleh halaman dan kebun yang luas itu. Tetapi halaman di sebelah itu juga kelihatan sepi.
Sebagai seorang yang berkemampuan tinggi, maka Glagah Putihpun akhirnya berhasil menyusup ke halaman belakang rumah sederhana, yang dipergunakan untuk menyimpan Rara Wulan.
Dengan Aji Pameling, Glagah Putih mulai menyentuh telinga hati Rara Wulan untuk memberikan isyarat bahwa ia sudah berada di halaman rumah itu.
Rara Wulanpun telah memberikan isyarat pula, bahwa masih belum ada sesuatu yang penting yang terjadi di rumah itu. Orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu masih belum berada disitu.
Glagah Putihpun kemudian sempat beristirahat di bawah rumpun pisang yang lebat sambil menunggu isyarat-isyarat dari Rara Wulan yang diberikan lewat Aji Pameling.
Sebenarnyalah, bahwa orang yang bertubuh agak pendek itu berkata kepada Rara Wulan, “Junjunganku masih belum singgah kemari hari ini. Biasanya meskipun hanya sebentar junjunganku itu tentu menengok rumah ini. Kami selalu memberikan laporan tentang berbagai perkembangan yang terjadi di Panaraga. Termasuk perkembangan pemerintahan yang dilakukan oleh adik dari junjunganku itu. Pangeran Jayaraga.”
Ranti tidak menjawab. Ia tidak mengetahui apapun tentang orang yang disebut junjungannya serta pemerintahan Pangeran Jayaraga.
“Kau jangan menjadi gelisah,” berkata orang itu, “hari ini masih belum habis. Junjunganku tentu akan singgah disini. Jika tidak hari ini karena satu sebab, besok junjunganku itu tentu akan datang. Kau akan menghadap junjunganku itu untuk menyerahkan dirimu. Kau tidak akan ingkar, perintah apapun yang akan diberikan kepadamu.”
Jantung Ranti itu berdesir. Tiba-tiba perempuan itu menangis. Air matanya mengalir dari pelupuknya menetes di-pangkuannya. Dengan lengan bajunya perempuan itu mengusap matanya yang basah karena air matanya itu.
Orang bertubuh pendek yang melihat Ranti menangis itu berkata dengan suara yang lunak, “Jangan menangis. Pada saatnya nanti, kau akan berterima kasih kepadaku karena aku sudah mempertemukan kau dengan junjunganku itu.”
“Lepaskan aku, Ki Sanak,“ tangis Ranti, “biarlah aku pulang kepada Ibuku. Ibuku tentu sangat sedih karena aku tidak dapat pulang. Bahkan ibuku yang sudah tua itu akan dapat menjadi sakit dan akhirnya meninggal.”
“Apakah ibumu sudah tua?”
“Sudah Ki Sanak Ibuku sudah tua.”
“Jika ibumu sudah tua, maka sudah semestinya ia akan meninggal.”
“Tetapi jangan aku yang menjadi sebabnya.”
“Apapun sebabnya sama saja. Yang akan mati, biarlah mati. Mereka adalah orang-orang dari masa yang telah lampau. Tetapi kau yang masih muda adalah penghuni bumi ini sekarang dan masa mendatang. Karena itu, jangan hiraukan yang akan mati. Tetapi tataplah hari depanmu sendiri.”
“Itu tidak mungkin. Sekarang adalah kelanjutan hari kemarin. Aku adalah anak ibuku. Ibuku itu adalah lantaran adaku.”
“Bukankah kelahiranmu itu bukan atas kehendakmu? Karena itu, jangan hiraukan lagi. Jangan pikirkan ibumu. Pikirkan tentang dirimu sendiri. Jika kau beruntung maka kau akan diambil oleh junjunganku untuk menjadi isterinya. Pikirkan itu saja. Jangan pikirkan ibumu lagi.”
Ranti semakin menunduk. Tanganya semakin sibuk mengusap matanya yang masih saja basah karena tangisnya. Bahkan Rantipun menjadi terisak.
Namun akhirnya Ranti itu ditinggalkan di dalam sebuah bilik yang ditutup dan diselarak dari luar. Nampaknya orang-orang yang berada di rumah itu masih menunggu kehadiran orang yang disebut junjungan mereka itu.
Dalam pada itu, Glagah Putih masih saja berada di kebun belakang. Setiap kali ia masih menerima isyarat dari Rara Wulan, bahwa orang yang disebut junjungan mereka itu masih belum datang.
Sementara itu, mataharipun menjadi semakin rendah. Bahkan kemudian senjapun mulai turun. Orang-orang yang berada di rumah itu mulai menyalakan lampu minyak. Bahkan ada di antaranya yang diletakkan di luar rumah. Agaknya lampu minyak itu dimaksudkan untuk menerangi jalan ke pakiwan.
Sementara itu, di regol halamanpun telah dipasang pula sebuah oncor yang nyalanya lebih besar dari lampu minyak.
Ketika mnalam mulai turun, maka sebenarnyalah orang yang disebut junjungan mereka itupun benar-benar telah singgah di rumah itu. Demikian Rara Wulan mendengar percakapan di luar biliknya, maka iapun segera mengetahui bahwa yang dimaksud dengan junjunganku itu telah benar-benar ada di rumah itu.
Karena itu, maka iapun segera memberikan isyarat dengan Aji Pameling kepada Glagah Putih yang masih berada di bawah rumpun pisang yang lebat di kebun belakang.
Glagah Putih itu menjadi berdebar-debar ketika ia mendapat isyarat dari Rara Wulan. Ia tidak dapat berlama-lama berada di bawah rumpun pisang itu. Kulitnyapun sudah menjadi gatal dimana-mana karena digigit nyamuk.
Dengan sangat berhati-hati, Glagah Putihpun bergeser mendekati rumah itu. Apalagi hari sudah gelap, sehingga Glagah Putih itu akan lebih mudah untuk mendapatkan perlindungan.
Sementara itu, Rantipun menjadi berdebar-debar pula.
Ranti mendengar suara yang berat, tetapi menggantung datar. Suara yang sebelumnya belum pernah didengarnya di antara para penghuni rumah itu.
“Orang itu tentu orang yang disebut junjungannya itu,” berkata Ranti di dalam hatinya.
Sementara itu, orang yang bertubuh agak pendek itupun berkata, “Ampun Pangeran. Sehari ini kami sangat mengharapkan kedatangan Pangeran. Kami hampir kehabisan kesabaran, sehingga hamba sendiri hampir saja datang untuk menjemput Pangeran.”
“Ada apa?“ suara itu terdengar bergetar.
“Kami telah menemukan orang-orang yang kami curigai di dekat petilasan itu. Bersama mereka berdua terdapat seorang perempuan cantik yang masih muda, adik dari salah seorang di antara kedua orang itu, yang akan diperistri oleh seorang yang lain.”
“Jadi mereka akan menjadi saudara ipar?”
“Ya.”
“Bawa kedua orang itu kemari.”
“Ampun Pangeran. Kami telah bertempur melawan kedua orang itu. Tetapi keduanya sangat licik. Mereka tiba-tiba saja melarikan diri, menyusup di antara orang-orang yang berkerumun menyaksikan keributan yang terjadi itu.”
“Maksudmu, mereka terlepas dari tanganmu?”
“Ya.”
“Jahanam kalian.”
“Ampun Pangeran. Kami mohon ampun. Mereka berdua melarikan diri tanpa menghiraukan saudara perempuan mereka. Yang kemudian kami bawa, justru perempuan muda yang cantik itu.”
Orang yang disebut Pangeran itu termenung. Namun kemudian katanya, “Bawa perempuan itu kemari.”
“Baik, Pangeran.”
Orang bertubuh pendek itupun kemudian telah pergi ke bilik tempat ia menyimpan Ranti.
Ranti mendengar pembicaraan itu. Karena itu, maka iapun telah menyampaikan isyarat dengan Aji Pameling kepada Glagah Putih.
Glagah Putih yang menerima isyarat itupun telah siap menghadapi kemungkinan apapun juga.
Tetapi agaknya rumah itu bukan akhir dari pencaharian Glagah Putih. Pangeran yang disebut junjungan orang-orang yang tinggal di rumah itu, hanya sekedar singgah. Tetapi tentu ada tempat yang lain, yang merupakan sarangnya yang sebenarnya.
Karena itu, maka dengan isyarat Glagah Putihpun menyampaikan pesan kepada Rara Wulan, bahwa mereka masih akan memperhatikan perkembangan keadaan.
“Kita ingin melihat sarang Pangeran itu yang sebenarnya,” berkata Glagah Putih dalam pesannya.
Ternyata Rara Wulanpun tanggap akan pesan pendek Glagah Putih itu. Ia mengerti, bahwa jika ia harus dibawa pergi oleh Pangeran yang datang itu, ia tidak boleh menolak.
Dalam pada itu, maka orang bertubuh agak pendek itupun telah membuka selarak pintu bilik Ranti. Bagaimanapun juga, namun Ranti itupun menjadi semakin berdebar-debar pula.
Demikian pintu itu terbuka, maka orang yang bertubuh pendek itu nampak berdiri di depan pintu sambil tersenyum.
“Pangeran memanggilmu,” berkata orang yang bertubuh pendek itu sambil tersenyum-senyum.
“Iblis kau,” geram Rara Wulan di dalam hatinya. Tetapi mulutnya tidak mengucapkan kata-kata apapun.
“Marilah,” berkata orang yang bertubuh pendek itu, “jangan takut. Kau sedang melangkah ke puncak keberuntunganmu. Tetapi kau tidak boleh lupa kepadaku. Jika kau mendapatkan kamukten karena pertemuanmu dengan junjunganku, kau harus ingat kepadaku. Kau harus membelikan aku timang emas bermata intan.”
Ranti sama sekali tidak menjawab. Ia masih saja berdiri di dalam biliknya dengan wajah yang menunduk.
“Kenapa kau masih membeku di situ. Jangan takut. Junjunganku menunggumu.”
Selangkah-selangkah Rantipun melangkah maju. Namun orang bertubuh pendek itupun berkata, “Benahi pakaianmu. Sanggulmu dan seharusnya kau tidak berwajah murung seperti itu.”
Ranti seakan-akan tidak mendengarnya. Ia sama sekali tidak membenahi pakaiannya. Tetapi Ranti itupun melangkah ke pintu biliknya.
Orang bertubuh pendek itu tidak memaksanya untuk berbenah diri. Tetapi orang itu telah menggiring Ranti untuk pergi ke ruang depan rumah itu.
Demikian Ranti memasuki ruang depan rumah itu yang tidak terlalu luas, ia melihat seorang yang duduk di amber ambu yang agak besar. Tetapi Ranti tidak berani memandang wajah itu, meskipun dalam sekilas ia sempat juga melihatnya.
“Duduklah,“ terdengar suara yang berat mengambang itu.
Ranti termangu-mangu sejenak. Namun orang bertubuh agak pendek itupun mengulangi kata-kata junjungannya, “Duduklah.”
Tetapi ketika Ranti akan duduk di bibir amben yang agak besar itu, orang yang disebut junjungannya itupun berkata, “Tunggu.”
Rantipun tidak jadi duduk di bibir pembaringan itu.
“Berputarlah. Aku ingin melihat punggungmu.“ Ranti tidak segera memutar. Ia masih saja berdiri termangu-mangu. Rasa-rasanya tubuh perempuan itu bagaikan telah menjadi beku.
Namun orang yang duduk di amben itupun berkata lebih keras, ”berputarlah. Aku ingin melihat punggungmu, kau dengar.”
Tetapi Ranti tidak segera berputar. Ia justru berjongkok sambil menangis.
Namun Ranti itu masih juga terkejut ketika ia mendengar orang yang duduk di amben itu berkata lantang, “Ambil cambuk. Paksa orang itu berbalik. Kemudian paksa ia berjalan hilir mudik. Jika ia berkeberatan, cambuk perempuan itu sehingga ia mau melakukannya.”
“Orang ini agaknya memang agak terganggu jiwanya,” berkata Rara Wulan di dalam hatinya. Tetapi sebagai Ranti maka iapun menjadi sangat ketakutan.
Orang yang agak pendek itupun kemudian mengambil cambuk di ruang dalam. Ketika cambuk itu dihentakkan sendai pancing, maka terdengar suara cambuk itu meledak.
Glagah Putih yang ada di luar terkejut. Tetapi sambil berjongkok serta menutup wajahnya Rara Wulan sempat menyampaikan isyarat, bahwa ia baik-baik saja.
Tetapi Ranti tidak berani membantah. Ketika sekali lagi orang itu membentak agar berbalik dan berjalan hilir mudik, maka Rantipun melakukannya. Meskipun dari pelupuknya mengalir air mata yang diusapnya dengan lengan bajunya, namun ia masih dapat berjalan dengan langkah yang agak dibuat-buat. Bukan saja untuk menarik perhatian, tetapi Ranti harus menyembunyikan langkahnya sebagai seorang perempuan yang berilmu tinggi. Orang yang disebut sebagai junjungan di tempat itu, tentulah seorang yang berilmu sangat tinggi sehingga ia akan dapat melihat kemampuan seseorang hanya dari caranya berjalan.
Tetapi Ranti telah menjaga langkahnya dengan sangat berhati-hati.
Tetapi dengan demikian, ia justru sangat menarik perhatian orang yang duduk di amben itu. Dengan nada datar iapun berkata, “Cukup. Sekarang duduklah.”
Rantipun tidak dapat berbuat lain, kecuali duduk di bibir amben bambu itu.
“Namamu siapa nduk?” berkata orang yang disebut junjungan itu.
“Namaku Ranti, paman.”
Tetapi orang bertubuh agak pendek itu membentaknya. “Sebut Pangeran, dungu. Kenapa kau panggil junjunganku dengan sebutan paman?”
Tetapi yang disebut Pangeran itu justru tertawa. Katanya, “Ia belum mengerti, dengan siapa ia berhadapan.”
Ranti hanya menundukkan wajahnya. Tetapi ia nampak menjadi sangat ketakutan.
Dalam pada itu, maka orang yang duduk di amben itupun berkata, “Baiklah. Nanti, jika aku pulang, perempuan itu akan aku bawa. Biarlah ia beristirahat dahulu. Beri ia makan yang baik secukupnya. Jangan ganggu perempuan itu jika ia sedang beristirahat.“
“Baik, Pangeran,“ jawab orang bertubuh pendek itu.
“Tetapi sebelumnya, tanyakan di mana rumahnya. Kalian pergi dahulu ke rumahnya untuk mengambil kakaknya dan kemudian kalian juga harus mengambil calon iparnya itu.”
“Jangan Pangeran. Ampun. Jangan sakiti kakak dan laki-laki yang akan mengambil aku menjadi istrinya.”
“Mereka akan merupakan duri di dalam dagingku. Aku ingin tahu, kenapa mereka mengamati petilasan yang aku tinggalkan di luar lingkungan kota Panaraga itu.”
“Mereka adalah orang baik-baik, Pangeran. Ampunkan mereka.”
“Aku ingin tahu, untuk apa mereka lakukan itu.”
“Tentu tidak dengan maksud buruk Pangeran.”
“Bawa perempuan itu ke biliknya. Kalian pergi malam ini untuk mengambil keduanya. Nanti aku akan membawa perempuan itu pergi setelah aku bertemu dengan kakaknya dan laki-laki yang seorang itu lagi.”
“Baik, Pangeran.”
Laki-laki bertubuh agak pendek itupun segera membawa Ranti kembali ke biliknya. Namun ia masih bertanya kepada Ranti, di mana kakaknya itu tinggal.
“Aku tidak mau menjawab,” berkata Ranti.
“Jangan begitu, Ranti. Kau harus menjaga dirimu sendiri. Jika kau tidak mau mengatakan di mana rumahmu, maka junjunganku itu akan marah. Ia dapat berbuat apa saja atas dirimu jika ia marah. Meskipun semula ia tertarik kepadamu, jika ia marah, maka ia akan dapat berubah sikap.”
“Tetapi kasihani kakakku itu.”
“Tidak ada rasa belas kasihan pada junjunganku itu. Juga kepadamu.”
Ranti menangis lagi. Kedua telapak tangannya telah menutup wajahnya yang basah.
“Tidak ada gunanya kau menangis Ranti. Sebaiknya kau katakan saja dimana rumahmu, agar aku dapat segeia melakukan tugasku. Jangan menunggu junjunganku itu marah.”
Ranti benar-benar menjadi bimbang. Tetapi menurut perhitungannya, meskipun rumah itu dapat diketemukan, kedua orang itu masih mempunyai kesempatan untuk melawan dan melarikan diri.
Sementara itu, orang bertubuh agak pendek itupun telah menghentakkan cambuknya lagi sambil berkata perlahan, “Pangeran tentu mengira, bahwa aku telah mencambukmu karena kau tetap diam saja.
Rara Wulan benar-benar dicengkam oleh kebimbangan. Tetapi ia berharap bahwa ia akan dapat menghubungi Glagah Putih untuk memberitahukan, bahwa orang yang menyebut dirinya Ranapati itu akan memerintahkan orang-orangnya untuk mengambil Sungkana dan Sumbaga.
“Ranti,” berkata orang bertubuh pendek itu, “katakan. Aku tentu tidak akan sampai hati menyakitimu untuk memaksa agar kau mengatakan di mana rumahmu. Karena itu, sebelum aku memaksamu, katakan saja di mana rumahmu itu, karena akhirnya kau tentu akan mengatakannya juga. Kau tidak akan tahan dengan tekanan kewadagan, karena jika junjunganku itu merasa terlalu lama menunggu, maka ia sendirilah yang akan turun untuk memaksamu bicara. Kalau junjunganku itu sendiri yang akan memaksamu bicara, maka aku tidak dapat membayangkan, kau akan menjadi apa.”
Akhirnya Rara Wulan mengambil keputusan untuk mengatakan, dimana Sungkana dan Sumbaga itu tinggal. Bukan sekedar untuk menyelamatkan diri. Tetapi tujuannya untuk menemukan sarang orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu masih belum berhasil. Apalagi menurut perhitungan Rara Wulan, kedua orang itu tentu akan dapat melarikan diri atau bahkan ia sempat menghubungi Glagah Putih.
Karena itulah, maka Ranti itupun telah menyebutkan tempat tinggal Sungkana dan Sumbaga.
“Kakang dan laki-laki yang akan menjadikan aku isterinya itu tinggal di satu rumah. Sebenarnya mereka bukan orang Panaraga. Tetapi mereka adalah orang-orang dari Mataram. Di Mataram hidup kami menjadi sangat kesrakat, karena kami tidak mempunyai tanah garapan yang memadai. Karena itu demikian kami mendengar bahwa Pangeran Jayaraga mendapat tugas di Panaraga, maka kamipun mencoba untuk bertualang ke Panaraga. Ternyata hidup kami di sini menjadi agak lebih baik. Meskipun kami hanya menjual tenaga untuk kerja apa saja dan bahkan kakang bersedia diupah untuk mengantar barang-barang yang dikirim ke tempat yang agak jauh, tetapi upah yang didapatkan cukup memadai. Apalagi kakang dan kawannya itu sanggup melindungi barang-barang kiriman yang harus dipertanggungjawabkan.”
“Tunjukkan ancar-ancarnya.”
Rantipun menunjukkan ancar-ancar rumah tempat tinggal Sungkana dan Sumbaga.
“Baiklah. Aku akan menyampaikannya kepada junjunganku. Apapun perintahnya, aku harus menjalankannya.”
Demikianlah, maka orang bertubuh agak pendek itu segera meninggalkan Ranti dan menghadap kepada junjungannya untuk menyampaikan hasil usahanya untuk memeras keterangan Ranti tentang tempat tinggal kakaknya.
“Kau sakiti perempuan itu?”
“Tidak Pangeran. Perempuan itu nampaknya sudah menjadi sangat ketakutan.”
“Aku dengar kau mencambuknya.”
“Tidak Pangeran. Aku hanya meledakkan cambuk itu. Ia sudah menjadi gemetar dan hampir jatuh pingsan. Iapun kemudian dengan lancar menceriterakan tempat tinggalnya. Kedua orang laki-laki itu tinggal dalam satu rumah. Mereka bukan orang Panaraga. Tetapi mereka datang dari Mataram.”
“Aku sudah menduga. Gaya bicara Ranti itu adalah gaya bicara orang Mataram. Tetapi kenapa mereka berada di sini?”
“Di Mataram mereka sulit untuk dapat mencari makan. Karena itu merekapun pergi ke Panaraga setelah mereka mendengar bahwa yang akan berkuasa di Panaraga adalah seorang Pangeran dari Mataram.”
“Adimas Pangeran Jayaraga yang dimaksudkan?”
“Agaknya demikian, Pangeran. Di Panaraga mereka dapat hidup lebih senang. Mereka mendapat penghasilan lebih dengan menjual tenaga. Dengan mengantar barang atau mungkin maksudnya mengawal para pengantar barang.”
“Bagus. Pergilah ke rumah itu. Bawa kedua orang itu kepadaku. Jangan gagal. Aku ingin bertanya, untuk apa mereka berkeliaran di dekat petilasan itu.”
“Baik, Pangeran.”
“Bawa lima orang kawanmu. Biarlah aku menunggu di sini bersama dua orang pengawalku itu.”
“Baik, Pangeran.”
“Pergilah sekarang. Kau harus kembali sebelum fajar.”
“Mudah-mudahan mereka ada di rumah.”
“Mereka tentu ada di rumah. Kenapa ? Apakah kau menduga, mungkin mereka pergi?”
“Adik perempuannya ada di sini Pangeran. Mungkin mereka menjadi ketakutan, bahwa adik perempuannya itu akan menunjukkan rumahnya, sehingga kami akan datang menangkap mereka.”
Orang yang disebut junjungan itupun merenung sejenak. Kemungkinan itu memang masuk akal. Tetapi orang itupun berkata, “Tetapi kau harus mencobanya. Pergilah ke rumah itu. Kau harus masuk ke dalamnya dan melihat di setiap sudutnya.”
“Baik, Pangeran.”
Demikianlah, orang bertubuh pendek itupun segera mengajak kelima orang kawannya untuk pergi mengambil kedua orang yang telah luput dari tangan mereka itu. Namun seperti pendapat orang yang bertubuh agak pendek itu, bahwa mungkin kedua orang yang mereka buru itu tidak berani pulang. Adik perempuannya akan dapat menunjukkan tempat tinggal mereka.
Sebelum pergi, orang bertubuh agak pendek itu masih sempat menyediakan makan bagi Ranti. Makan yang disediakan termasuk makan yang baik. Dengan lauk yang pantas.
Ketika orang-orang itu sudah pergi, maka Rara Wulanpun berusaha untuk menghubungi Glagah Putih dengan Aji Pameling. Rara Wulan memberitahukan bahwa para pengikut orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu sedang pergi menuju ke rumah Sungkana dan Sumbaga.
“Mereka tentu berada di rumah Madyasta,“ jawab Glagah Putih yang masih bersembunyi di belakang rumah.
Ketika Glagah Putih bertanya tentang keadaan Rara Wulan, maka Rara Wulan mengatakan, bahwa ia berada dalam keadaan baik.
“Aku mendapat makan enak malam ini,“ Rara Wulan sempat bergurau.
“Aku kelaparan di sini,“ jawab Glagah Putih. Rara Wulan tersenyum. Namun tiba-tiba ia terkejut ketika ia akan mulai makan. Pintu biliknya yang dise-larak dari luar itupun terbuka.
“O,“ orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu berdiri di depan pintu, “kau baru akan makan?”
Rara Wulan tidak menjawab.
“Baiklah. Makanlah,” berkata orang yang menyebut dirinya Ranapati itu pula.
Rara Wulan hanya menundukkan wajahnya. Pintu itupun segera tertutup kembali dan Rara Wulanpun mendengar pintu itu diselarak dari luar.
Namun Rara Wulan masih mendengar Pangeran Ranapati itu bercakap-cakap, sehingga Rara Wulan tahu, bahwa masih ada orang lain di rumah itu.
Malam itu, Glagah Putih tidak beranjak dari tempatnya. Tetapi ia adalah orang yang terlatih wadagnya dan jiwanya. Karena itu, ia dapat bertahan tanpa beringsut dari tempatnya. Bahkan ia sama sekali tidak merasakan lapar dan haus.
Menjelang tengah malam, maka orang-orang yang mendapat perintah untuk mengambil Sungkana dan Sumbaga itu telah kembali. Ranti mendengar dengan jelas laporan mereka, bahwaa rumah itu kosong. Sungkana dan Sumbaga tidak ada di rumahnya.
“Jangan-jangan perempuan itu berbohong.”
“Aku telah membangunkan tetangganya, Pangeran. Aku bertanya apakah rumah itu dihuni dua orang laki-laki bernama Sungkana dan Sumbaga. Tetangga itu membenarkannya. Rumah itu memang dihuni oleh dua orang laki-laki yang bernama Sungkana dan Sumbaga. Ketika aku bertanya, apakah di rumah itu juga tinggal seorang perempuan, tetangganya itu tidak begitu memperhatikan. Namun tetangganya itu memang pernah mendengar suara seorang perempuan di rumah itu.”
Orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu menggeram. Katanya, “Aku masih saja penasaran. Aku ingin tahu, apa yang dilakukan oleh orang-orang itu di dekat batu pipih itu. Apakah mereka sekedar menjadi heran melihat batu pipih yang besar itu serta pagar yang mengelilinginya atau mereka mempunyai maksud-maksud yang lain.”
Orang bertubuh agak pendek yang telah mendatangi rumah Sungkana dan Sumbaga tetapi kosong itu, tidak menjawab.
“Baiklah,” berkata orang yang mengaku dirinya sebagai Pangeran Ranapati itu, “kita akan pergi ke sanggar. Ikutlah aku. Biarlah Reksa dan Dama saja yang menunggu rumah ini. Patilasan itu harus diawasi dengan baik. Mungkin ada orang lain lagi yang datang untuk mengamati patilasan itu dengan maksud-maksud tertentu.”
“Marilah Pangeran.”
“Bawa perempuan itu.”
“Apakah ia juga harus berjalan di malam yang sudah menjelang dini hari ini?”
“Ya.”
“Apakah esok biarlah aku membawanya menyusul Pangeran?”
“Tidak. Aku mau perempuan itu pergi bersamaku sekarang.”
Tidak ada yang dapat mencegahnya lagi. Orang bertubuh agak pendek itupun terpaksa mengetuk pintu bilik Ranti yang agaknya sudah tidur nyenyak.
Sebenarnyalah bahwa Rara Wulan memang sempat tidur sejenak. Tetapi telinganya yang tajam, tentu mendengar setiap bunyi di dalam bilik itu. Iapun tentu dapat mendengar jika pintu biliknya itu dibuka, betapapun sangat berhati-hati. Tetapi derit pintu itu sudah cukup keras untuk dapat membangunkannya.
Orang bertubuh agak pendek itupun kemudian mengetuk pintu bilik Ranti. Meskipun ia dapat begitu saja mengangkat selarak dan membuka pintu itu, tetapi orang bertubuh agak pendek itu tidak mau mengejutkannya. Karena itu, maka iapun telah mengetuknya perlahan-lahan.
Dari dalam bilik itu terdengar suara Ranti, “Siapa?”
“Aku Ranti. Junjunganku memanggilmu. Kau akan diajak pergi ke sanggarnya.”
“Ke Sanggarnya? Di mana letak sanggarnya?”
“Di dekat petilasannya itu.”
“Di dekat petilasannya ? Malam-malam begini.”
“Tidak ada orang yang dapat membantahnya. Kau harus pergi. Benahi pakaianmu dan jangan mencoba untuk membantah jika kau tidak ingin menjadi lumat.”
Ranti tidak menjawab. Iapun kemudian mendengar selarak pintu yang diangkat, serta pintu yang berderit terbuka.
“Marilah,” berkata orang bertubuh agak pendek itu.
Ranti berdiri termangu-mangu. Namun iapun kemudian bertanya, “Di mana letak petilasannya itu? Jauh atau dekat?”
Orang itu termangu-mangu sejenak. Bagi orang bertubuh pendek itu serta kawan-kawannya, petilasan itu tentu dianggapnya hanya dekat saja. Tetapi tentu berbeda bagi perempuan itu. Apalagi di malam yang sudah menjadi larut, bahkan sudah merambah ke dini hari.“
Tetapi orang bertubuh pendek itu tidak dapat berbuat lain kecuali membawa Ranti.
Karena itu, maka iapun berkata, “Ranti. Jangan bertanya apakah petilasan itu dekat atau jauh. Yang penting, kau harus mengikuti junjunganku pergi. Kau tidak mempunyai pilihan lain.”
Ranti memang tidak akan dapat mengelak lagi. Iapun kemudian membenahi rambutnya. Baru kemudian ia melangkah keluar bilik itu.
Di ruang depan, orang yang disebut Pangeran itu sudah menunggu. Demikian Ranti datang, bersama orang bertubuh pendek itu, maka orang yang disebut Pangeran itupun segera berkata, “Marilah. Jangan sampai kesiangan. Sebelum fajar kita harus sudah sampai.”
Demikianlah, maka orang yang disebut Pangeran itupun segera meninggalkan rumah itu. Orang bertubuh agak pendek itu telah menggiring Ranti bersama beberapa orang yang lain.
Ternyata yang tinggal di rumah itu lebih banyak dari dugaan Ranti. Setelah mereka pergi mengikuti orang yang disebut Pangeran itu, maka di rumah itu masih ada beberapa orang yang tinggal menunggui tempat itu.
Di malam yang gelap, Ranti harus berjalan mengikuti orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu. Dengan tertatih-tatih Ranti berjalan diikuti oleh orang yang bertubuh agak pendek itu. Nampaknya Ranti mengalami kesulitan berjalan di kegelapan. Sekali-sekali kakinya terperosok ke dalam lubang jalur roda pedati yang sering melewati jalan itu di siang hari.
Sebenarnyalah Rara Wulan sama sekali tidak mengalami kesulitan berjalan di jalan yang betapapun rumitnya. Pandangan matanyapun sangat tajam, apalagi jika ia mengetrapkan Aji Sapta Pandulu. Tetapi sebagai Ranti maka ia mengalami banyak kesulitan sehingga jalannya-pun menjadi lambat.
“Seret perempuan itu jika ia tidak dapat berjalan cepat,” berkata orang yang disebut Pangeran itu.
Orang bertubuh pendek itu tidak menjawab. Namun ia berkata kepada Ranti hampir berbisik, “Cepat sedikit Ranti, agar aku tidak harus menyeretmu.”
Ranti tidak menjawab. Tetapi ia berusaha berjalan lebih cepat sedikit, meskipun setiap kali terdengar ia berdesah.
Sebenarnya Rara Wulan sudah tahu, di mana letak petilasan itu. Tetapi sebagai Ranti, maka ia menjadi bingung dalam gelap malam yang pekat. Apalagi jika mereka berjalan di padukuhan yang mempunyai rumpun bambu yang lebat.
Mereka memang harus memilih jalan-jalan sepi dan gelap untuk menghindari gardu-gardu perondan.
Seperti yang dikehendaki oleh orang yang disebut sebagai Pangeran itu, menjelang fajar, mereka telah sampai di sebuah rumah yang agak terpencil dari sebuah padukuhan kecil, di sebelah padukuhan tempat Pangeran Ranapati memagari batu pipih yang disebutnya sebagai petilasan itu.
Ketika mereka akan memasuki padukuhan itu, maka merekapun berhenti sejenak. Orang yang disebut Pangeran itu memerintahkan dua orang pengikutnya untuk mendahului memasuki padukuhan itu. Ketika kedua orang itu tidak memberikan isyarat apa-apa, maka barulah orang yang disebut Pangeran itu memasuki padukuhan itu pula dan kemudian memasuki regol halaman sebuah rumah yang agak terpencil.
Demikian mereka hilang di balik regol halaman, maka seorang yang mengikuti mereka itupun telah bergeser dan meloncat ke halaman rumah di sebelahnya. Namun sejenak kemudian orang itupun telah meloncati dinding halaman dan berada di halaman samping rumah yang dipergunakan sebagai sarang oleh orang yang disebut Pangeran itu.
Sejenak Glagah Putih menunggu. Ia mendengar lamat-lamat orang yang disebut Pangeran itu memberikan beberapa perintah. Ketika ia mengetrapkan Aji Sapta Pangrungu, maka ia mendengar orang yang disebut Pangeran itu berkata, “Masukkan perempuan itu ke biliknya. Besok aku akan berbicara kepadanya.”
“Baik, Pangeran,“ jawab orang yang bertubuh pendek itu.
Demikianlah, maka Rantipun telah dibawa ke dalam sebuah bilik yang telah disediakan. Demikian Ranti duduk, maka ia telah mendengar pintu bilik itu diselarak dari luar.
Sejenak kemudian, dengan Aji Pameling, Rara Wulanpun sempat berhubungan dengan Glagah Putih. Dengan isyarat Rara Wulanpun mengatakan, bahwa agaknya di sisi malam ini dan esok sehari ia akan berada dalam keadaan aman.
“Kakang dapat beristirahat, makan dan baru esok jika malam turun, kakang datang lagi ke mari.”
“Jika terjadi sesuatu esok, beri aku isyarat,” berkata Glagah Putih.
“Baik, kakang.”
Demikianlah, sebelum fajar, Glagah Putihpun telah meninggalkan sarang orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu lagi. Ia tidak tahu, apa saja yang akan dilakukan oleh Pangeran itu.
Tetapi sesuai dengan perhitungan Rara Wulan, maka setidak-tidaknya sampai esok malam, tidak akan terjadi apa-apa dengan Rara Wulan itu. Meskipun demikian, ia tidak boleh berada terlalu jauh dari padukuhan itu.
Namun satu hal yang penting, bahwa dengan demikian Glagah Putih dan Rara Wulan sudah mengetahui setidaknya dua tempat tinggal orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu. Satu di dalam lingkungan dinding kota, sedang yang satu lagi berada di padukuhan di sebelah padukuhan yang dibangun sebuah petilasan dari orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu.
Glagah Putih mempergunakan waktunya yang sehari untuk bertemu dan berbicara dengan Madyasta. Adalah kebetulan bahwa Sungkana dan Sumbaga juga berada di rumah itu.
“Berhati-hatilah,” berkata Glagah Putih.
“Sejak semalam kami berada di sini,” sahut Sungkana.
“Untunglah kalian berada di sini. Semalam orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati mengirim orang ke rumah kalian untuk menangkap kalian.”
“Darimana ia tahu rumah kami?”
“Rara Wulan. Tetapi aku sudah mengatakan kepada Rara Wulan, bahwa kalian berdua tentu tidak berada di rumah. Kalian berdua tentu berada di sini.”
“Lalu, apa yang mereka lakukan?”
“Karena kalian tidak ada, maka merekapun segera kembali. Tetapi mereka sudah mencoba untuk membuktikan bahwa rumah itu benar rumah kalian. Mereka telah bertanya pada tetangga kalian.”
“Untunglah aku tidak terlalu banyak berhubungan dengan tetangga, sehingga mereka tidak terlalu banyak mengetahui tentang diriku.”
“Sekarang, untuk sementara Sungkana dan Sumbaga jangan terlalu sering keluar. Kalian masih tetap diburu. Biarlah Madyasta yang tidak mereka kenal berusaha mencari keterangan, apakah orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu sudah membuat hubungan dengan Pangeran Jayaraga.”
“Baik. Aku akan berusaha. Aku mengenal beberapa orang pejabat di istana Pangeran Jayaraga. Meskipun mungkin agak lamban, tetapi agaknya aku akan mendapatkan keterangan itu.”
“Baiklah. Kita akan melakukan tugas kita masing-masing.”
“Apa yang harus kami lakukan?” bertanya Sungkana dan Sumbaga hampir berbareng.
“Pada saatnya kalian akan mendapatkan tugas yang mungkin tidak kalah beratnya. Untuk sementara kalian dapat beristirahat di rumah ini.”
“Kami akan merasa seperti di penjara.”
Glagah Putih tertawa sambil bertanya, “Apakah kau pernah dipenjara?”
Keduanyapun tertawa pula. Demikian pula Madyasta.
Setelah memberikan beberapa pesan, maka Glagah Putihpun segera bersiap-siap untuk kembali ke rumah yang agak terpencil, di padukuhan sebelah padukuhan tempat petilasan Pangeran Ranapati itu dibangun.
Dengan pengalamannya semalam, maka Glagah Putihpun kemudian telah membeli makanan yang dapat disimpan semalam suntuk.
Di hari itu, Ranti harus menghadap orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati. Pangeran itu berharap agar Ranti berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
“Kalau kau berhasil, maka kau akan mendapat anugerah yang tidak pernah kau impikan, Ranti. Kau perempuan yang seakan-akan tersisih dari pergaulan hidup, akan dapat menjadi selir seorang pangeran. Tetapi segala sesuaatunya tergantung kepada dirimu. Kepada kemampuanmu menyesuaikan diri.”
Ranti hanya dapat menundukkan kepalanya. Namun ia tidak menjawab.
“Hari ini kau masih akan berada di dalam bilikmu. Mungkin esok dan lusa juga. Tetapi pada suatu hari kau akan mendapat kesempatan untuk hidup bebas sebagaimana orang lain di rumah ini. Nah, sejak saat itu kau akan mengalami pendadaran, apakah kau pantas menjadi selir seorang Pangeran atau tidak.”
Namun dalam pada itu, pada saat orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu berbicara kepada Ranti, seorang perempuan yang nampaknya sedikit lebih tua dari Ranti, memandanginya dengan sorot mata yang tajam. Ketika Ranti sempat memandang wajahnya sekilas, ia melihat pandangan mata perempuan itu seakan-akan menusuk sampai ke jantungnya.
“Kantil,” berkata orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu. “Kau akan mempunyai seorang kawan. Perempuan ini akan tinggal di sini. Jika ia mampu menyesuaikan dirinya serta dapat menarik perhatianku, maka ia akan dapat aku angkat menjadi selir untuk menemanimu.”
Perempuan itu tersenyum sambil berkata dengan lembut, “Ampun Pangeran. Hamba akan menerimanya sebagaimana hamba menerima saudara hamba sendiri.”
“Ajari perempuan itu, apa yang harus dilakukannya sehingga pada suatu saat ia akan dapat menjadi perempuan yang pantas untuk menjadi seorang selir dari seorang Pangeran.”
“Hamba Pangeran. Hamba akan melakukannya. Hamba akan sangat bergembira mempunyai seorang saudara di sini. Selama ini hamba merasa bagaikan hidup sebatang kara.”
“Apakah kau tidak menganggap bahwa aku ada?”
“Maksud hamba, hamba tidak mempunyai saudara lagi.”
Orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu tersenyum. Katanya, “Sekarang, aku bawakan seorang saudara perempuan bagimu. Mudah-mudahan ia segera dapat menyesuaikan diri.”
“Hamba mengucapkan terima kasih, Pangeran.”
“Nah, bawa perempuan ini kedalam biliknya. Untuk selanjutnya, kau akan mengurus perempuan itu, Ajari apa yang pantas dilakukan. Dalam waktu dua tiga hari ini, ia masih akan tetap berada di dalam biliknya seperti yang telah aku katakan.”
“Hamba Pangeran.”
“Ranti. Ikutlah mbokayumu. Anggap bahwa ia adalah kakak perempuanmu sendiri.”
Ranti tidak menjawab. Ia hanya mengangguk saja. Di wajahnya masih membayang ketakutan yang mencekam.
Demikianlah, maka Kantilpun kemudian telah mengajak Ranti untuk pergi ke biliknya. Dengan kata-kata lembut serta wajah yang manis Kantil itupun berkata, “Marilah adikku. Kau dapat beristirahat didalam bilikmu. Jangan takut. Aku akan selalu melindungimu.”
Ketika Ranti berjalan ke biliknya, ia melihat beberapa orang laki-laki mengawasinya. Dengan lembut pula Kantilpun berkata, “Mereka tidak akan mengganggumu. Siapa yang berani mengganggumu, akan aku singkirkan untuk selama-lamanya.”
Ranti sama sekali tidak menjawab. Ia berjalan saja ke biliknya diikuti oleh perempuan yang disebut bernama Kantil itu.
Namun demikian Ranti itu masuk, maka Kantil yang mengikutinya segera menutup pintu bilik itu. Tiba-tiba saja ia mendorong Ranti sehingga Ranti itupun terjerembab ke pembaringannya.
Ranti terkejut sekali, Ketika ia mencoba berdiri dan berbalik, ia melihat mata Kantil itu menyala kembali. Sorot matanya yang tajam itu bagaikan langsung menusuk ke jantungnya.
“Perempuan jalang,” geram Kantil, “Kenapa kau dapat sampai ke rumah ini ? Kau tahu, bahwa aku adalah isteri Pangeran Ranapati. Seharusnya aku adalah satu-satunya perempuan di rumah ini. Sekarang tiba-tiba saja kau hadir disini.”
Wajah Ranti membayangkan ketakutan yang amat sangat. Ketika Kantil melangkah setapak demi setapak maju, Ranti justru surut kebelakang. Namun akhirnya ia telah berdiri melekat pembaringannya sehingga Ranti itu tidak dapat bergeser mundur lagi.
“Apa yang kau lakukan mbokayu.”
“Perempuan laknat,” geram Kantil, “kenapa tiba-tiba kau berada di rumah ini ? Siapakah yang membawamu kemari dan mengumpankanmu kepada Pangeran Ranapati ?”
“Aku tidak tahu, mbokayu. Yang aku tahu, beberapa orang pengikut Pangeran Ranapati itu berusaha menangkap kakakku! Tetapi kakakku dapat melarikan diri. Tetapi justru akulah yang dibawanya kemari. Jadi keberadaanku disini, sama sekali bukan karena keinginanku sendiri.”
“Kau bohong. Kau berusaha memikat hati Pangeran Ranapati agar kau diambilnya sebagai seorang selir. Kau lebih muda dan lebih cantik dari aku. Dengan demikian, kau mempunyai harapan untuk mendesak kedudukanku.”
“Tidak, mbokayu, sungguh tidak. Bahkan aku akan sangat berterima kasih, jika ada orang yang bersedia membawa aku keluar dari tempat ini.”
“Huh, ternyata kau juga pandai berpura-pura.”
“Sungguh mbokayu. Jika mbokayu tidak percaya bahwa aku berada disini bukan karena kemauanku sendiri, bertanyalah kepada beberapa orang yang telah berusaha menangkap kakakku dan calon suamiku itu.”
“Aku akan bertanya kepada mereka. Tetapi jika kau berbohong kepadaku, maka aku akan memotong bibirmu.”
“Aku tidak berbohong mbokayu.”
“Seandainya kau tidak berbohong, maka aku berpesan kepadamu, agar kau bersikap bodoh. Kau harus berusaha agar Pangeran Ranapati tidak tertarik sama sekali kepadamu. Mungkin kau nampak selalu kusut. Wajahmu selalu cemberut atau tingkah lakumu yang tidak pantas dilakukan oleh seorang isteri Pangeran meskipun hanya seorang selir.”
“Ajari aku mbokayu. Jika aku tidak dikehendaki oleh Pangeran Ranapati dan aku dilepaskannya, aku tidak akan melupakan mbokayu Kantil. Aku justru merasa sangat beruntung, karena aku akan dapat kembali kepada kakakku, kepada calon suamiku. Meskipun pada saat itu, aku masih belum menyatakan kesediaanku menjadi isterinya, maka sekarang aku justru merasakan, bahwa aku sangat memerlukannya.”
“Jangan kau bohongi aku. Meskipun aku seorang perempuan, tetapi jika kau bohongi aku, maka aku akan dapat melumatkan wajahmu yang cantik itu, sehingga kau akan menyerupai hantu, Aku akan dapat memotong lidahmu, sehingga kau tidak akan dapat berbicara sama sekali.”
“Aku tidak bohong, mbokayu. Aku justru minta tolong, jika mbokayu dapat melepaskan aku dari rumah ini, maka aku akan sangat berterima kasih.”
“Sampai saat ini aku mempercayaimu. Aku akan berusaha mencari jalan agar kau pergi dari rumah ini. Mungkin kau akan diusir, tetapi mungkin kau akan dihukum.”
“Jangan mbokayu. Jangan hukum aku. Bukankah aku tidak bersalah kepada siapa-siapa. Aku justru merasa terjerat di rumah ini, seperti terperosok kedalam lubang yang gelap.”
Perempuan itu tidak berbicara lagi. Tetapi iapun segera meninggalkan tempat itu.
Rara Wulan menarik nafas panjang. Namun dengan demikian, maka Rara Wulanpun tahu, bahwa untuk beberapa lama ia tidak akan mengalami kesulitan apa-apa di rumah itu. Ia hanya harus menerima perlakuan buruk dari Kantil yang merasa dirinya isteri Pangeran Ranapati.
Tetapi Pangeran Ranapati sendiri tidak akan mengusiknya sampai dua tiga hari mendatang. Bahkan mungkin lebih lama lagi.
Rara Wulanpun kemudian telah menghubungi Glagah Putih dengan Aji Pameling. Rara Wulan telah memberikan isyarat tentang keadaannya sampai pada saat itu.
“Baiklah,” berkata Glagah Putih, “jika demikian, aku akan mengamati keadaanmu dari jauh. Aku tidak usah mendekati rumah itu. Tetapi jika terjadi sesuatu, jangan sampai terlambat. Aku memerlukan waktu untuk sampai ketempat itu.”
“Ya, kakang. Tetapi kakang juga harus selalu bersiaga disetiap saat.”
Demikianlah, Rara Wulanpun menjalani hari-harinya di rumah yang dihuni oleh Pangeran Ranapati itu. Dengan demikian, Rara Wulanpun tahu, bahwa setiap hari ada beberapa orang yang datang dan pergi. Mereka menghubungi Pangeran Ranapati dengan tugas-tugas yang masih belum dapat diketahui.
Seperti yang dikatakan oleh Pangeran Ranapati, maka dalam dua hari» Ranti masih belum boleh meninggalkan biliknya. Hanya untuk keperluan-keperluan tertentu saja Ranti diperkenankan keluar. Itupun harus diawasi oleh Kantil atau dua orang abdi yang ditugaskan oleh Kantil.
Ternyata sikap Kantil masih saja berwatak rangkap. Dihadapan Pangeran Ranapati Kantil bersikap sangat baik kepada Ranti. Kata-katanya lembut dan menarik. Tetapi di belakang Pangeran Ranapati, wajah Kantilpun menjadi seperti wajah iblis betina. Matanya menjadi merah. Lidahnya bagaikan menyiratkan api yang panasnya melampaui bara.
“Kau tidak boleh tersenyum dihadapan Pangeran Ranapati,“ bentak Kantil.
“Aku tidak tersenyum sama sekali, mbokayu.”
“Jangan bohong. Kau kira aku tidak melihat kerling matamu serta senyum di bibirmu.”
“Tentu tidak, mbokayu. Bahkan aku hampir menangis ketika mbokayu membawa aku menghadap.”
“Besok kau mulai membawa hidangan untuk Pangaran Ranapati. Tetapi ingat, kau tidak boleh tersenyum. Apalagi mengerling. Kau harus menunduk dengan wajah yang bersungut-sungut dan gelap. Kau dengar itu ?”
“Aku dengar mbokayu.”
“Tidak hanya sekedar didengar. Tetapi harus kau lakukan.”
“Baik, mbokayu.”
Sebenarnyalah dihari berikutnya, Ranti sudah boleh keluar dari biliknya meskipun masih tetap dalam pengawasan. Hari itu, Ranti sudah mendapat tugas untuk menghidangkan minuman pagi bagi Pangeran Ranapati.
Kantil]ah yang menata mangkuk-mangkuk minuman dan makanan. Ketika Ranti membetulkan letak makanan yang berserakan, Kantilpun membentaknya, “Akulah yang mengatur makanan itu. Jangan kau rubah.”
“Tetapi ini nampaknya seperti tidak tertata, mbokayu.”
“Apakah kau tuli ? Akulah yang mengaturnya.“ Ranti tidak membantah.
“Tunggu sebentar. Aku akan duduk di serambi depan. Baru kau hidangkan minuman dan makanan bagi Pangeran dan bagiku ini.”
“Baik, mbokayu.”
Kantilpun mendahului pergi ke serambi. Ia mendapatkan Pangeran Ranapati duduk diatas sebuah lincak kayu yang panjang. Sementara seorang pengikutnya duduk di lantai, di dekat tangga serambi.
Ketika orang yang duduk diserambi itu melihat Kantil mendekati Pangeran Ranapati, maka orang itupun meninggalkan Pangeran Ranapati sendiri.
“Silahkan Pangeran, jika Pangeran masih akan memberikan perintah kepadanya.”
“Tidak. Tidak ada yang penting yang aku bicarakan dengan orang itu. Duduklah.”
Kantilpun kemudian duduk di lincak panjang itu pula. Katanya, “Aku sudah mengajari Ranti untuk dapat menghidangkan minuman dan makanan pagi ini Pangeran. Mudah-mudahan ia dapat melakukannya dengan baik.”
“Bagus,” sahut Pangeran Ranapati, “ajari perempuan itu untuk dapat bertingkah laku seperti seorang putri. Kau dahulu juga seorang perempuan yang diangkat dari atas pematang. Kakimu dahulu hitam penuh dengan lumpur. Akhirnya, kau telah diangkat derajatmu menjadi isteri seorang Pangeran. Aku harap bahwa Rantipun akan dapat menjadi seorang perempuan yang baik, yang pantas menjadi seorang selir dari seorang Pangeran.”
“Aku akan berusaha Pangeran. Tetapi perempuan itu memang agak terlambat berpikir.”
“Maksudmu ?”
“Ia bukan seorang perempuan yang cerdas yang cepat tanggap atas petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya.”
“Kau harus sabar, Kantil. Akhirnya ia tentu akan dapat juga melakukannya.”
“Ya, Pangeran. Hamba memang harus sabar.”
“Bukankah tidak ada hal yang sulit untuk dipelajari ?”
“Nampaknya memang tidak Pangeran.”
Pembicaraan itu terhenti ketika Ranti datang untuk menghidangkan minuman pagi serta makanan. Demikian Ranti berjongkok di sebelah Kantil, maka Kantilpun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata dengan lembut “ Ranti. Bukankah sudah aku katakan kepadamu berulang kali, bahwa kau harus tertib dan rajin. Bukankah tidak sepantasnya jika kau menghidangkan minuman dan makanan dengan cara ini. Bukankah kau dapat mengatur agar makanan yang kau hidangkan itu nampak lebih menarik, sehingga dapat menimbulkan selera makan Pangeran Ranapati. Kenapa kau biarkan makanan itu berserakan seperti itu.”
“Tetapi,“ Ranti akan menjawab. Tetapi Kantilpun segera berkata, “Sudahlah Ranti. Ingat-ingat sajalah untuk selanjutnya. Lain kali kau harus dapat menata makanan dan minuman yang akan kau hidangkan kepada Pangeran Ranapati.”
Ranti tidak menjawab. Tetapi ditundukkan kepalanya dalam-dalam.
“Ampun Pangeran,” berkata Kantil kemudian, “hamba bejanji untuk mengajarinya, agar pada kesempatan lain Ranti dapat menjadi lebih terampil menata hidangan.”
Pangeran Ranapati tertawa sambil berkata, “Anak ini memang agak dungu, Kantil. Ternyata tugasmu menjadi lebih berat untuk membentuk anak ini agar menjadi anak yang pantas tinggal bersama kita.”
“Tetapi hamba kira, lambat laun, ia akan dapat juga melakukannya Pangeran.”
“Ranti,” berkata Kantil kemndian, “sudahlah. Kembalilah ke belakang. Nanti kau akan membantu aku di dapur. Kau akan belajar, bagaimana seharusnya kau menyiapkan makan bagi Pangeran.Jika kelak pada suatu saat aku berhalangan, maka kau harus dapat melakukannya.”
“Ya, mbokayu,“ desis Ranti perlahan sekali. Rantipun kemudian meninggalkan Pangeran Ranapati dan Kantil yang masih duduk di serambi. Sementara itu, Rantipun telah masuk ke dalam, biliknya. Ia mengusap matanya yang tiba-tiba menjadi basah. Tetapi Ranti tidak menangis karena sedih dan ketakutan. Tetapi Ranti menangis karena ia justru harus menahan diri. Jika saja ia tidak sedang menjalankan tugas, maka ia tentu akan menampar wajah Kantil. Jika Kantil itu mencoba melawan, ia akan meremas mulutnya sampai berdarah.
“Perempuan gila. Sampai kapan aku tahan diperlakukan seperti ini,” geram Ranti.
Namun pada saat itu, Kantilpun telah muncul di pintu biliknya, sementara Rantipun segera mengusap air matanya dengan lengan bajunya.
“Kau menangis perempuan cengeng,“ bentak Kantil.
Rantipun cepat-cepat menggeleng sambil menjawab, “Tidak mbokayu. Aku tidak menangis.”
“Lalu apa namanya jika bukan menangis, he ?”
“Ada binatang kecil masuk ke dalam mataku mbokayu.”
“Jangan bohong. Kau tentu menangis. Aku tahu, bahwa kau berusaha untuk meruntuhkan perasaan belas kasihan Pangeran Ranapati. Dengan demikian, maka kau akan dapat menarik perhatiannya. Kau tidak berusaha memikatnya dengan senyum dan kerlingan mata. Tetapi karena kau tahu bahwa hati Pangeran Ranapati itu sangat lembut, kau mencoba untuk memikatnya dengan menjual belas kasihan, dengan menangis dan pada kesempatan lain mengeluh berkepanjangan. Kau akan menceriterakan nasibmu yang buruk dan tersia-sia. Dengan demikian maka kau akan dapat meruntuhkan hati Pangeran Ranapati itu.”
“Tidak mbokayu. Tidak. Bahkan aku masih ingin dapat keluar dari tempat ini, kembali kepada kakakku dan kemudian kembali kepada ibuku.”
“Omong kosong. Perempuan manakah yang tidak merasa beruntung dan berharga, bahwa ia dapat dipilih untuk menjadi selir seorang Pangeran.”
“Tidak mbokayu. Sungguh. Aku ingin pulang.”
“Jangan berpura-pura. Jangan munafik. Ingat. Jika kau bertingkah macam-macam, aku akan melemparkanmu kepada laki-laki yang banyak berkeliaran di sini. Aku akan mengatakan kepada Pangeran, bahwa kau sudah berzina dengan laki-laki itu. Atau bahkan dengan beberapa orang laki-laki.”
“Jangan mbokayu. Jangan,“ Ranti itupun kemudian telah berjongkok di hadapan Kantil sambil menangis.
“Cukup,“ bentak Kantil, “sekarang segera pergi ke dapur. Nyalakan perapian. Aku akan masak.”
“Baik, mbokayu.”
Ranti itupun segera bangkit berdiri. Iapun kemudian melangkah pergi ke dapur. Sementara itu mulutnya berku-mat-kamit. Tetapi tidak seorangpun yang mendengarnya ia berkata, “Awas perempuan gila. Aku akan memilin lehermu sampai patah.”
Di dapur, Rantipun segera menyalakan api. Ketika Kantil datang ke dapur, api sudah menyala. Ranti sudah meletakkan belanga berisi air di atas api.
“Ambil air di sumur. Kelentingnya terdapat di sebelah gentong itu,“ perintah Kantil.
Ranti tidak menjawab. Iapun segera bangkit berdiri mengambil kelenting dan membawanya ke sumur untuk mengambil air.
Beberapa pasang mata laki-laki terbelalak menyaksikannya. Tetapi seorang di antara mereka berkata, “Perempuan itu adalah simpanan Pangeran Ranapati. Siapa yang mengganggunya berarti bahwa ia sudah jemu hidup.”
Semua orang berpaling kepada orang yang berbicara itu.Bahkan di luar sadarnya, Rantipun berpaling pula kepadanya. Ternyata orang itu adalah orang yang bertubuh pendek, yang telah membawa Ranti kepada Pangeran Ranapati.
Tetapi Rantipun kemudian berpura-pura tidak mendengarnya. Iapun berjalan terus ke sumur untuk mengambil air dengan kelenting yang kemudian diusungnya dilambungnya.
Pagi itu Ranti ikut sibuk di dapur membantu Kantil menyiapkan makan bagi Pangeran Ranapati siang nanti. Pangeran Ranapati memang tidak terbiasa makan pagi, kecuali minuman hangat dan beberapa potong makanan.
Sambil masak, Kantil tidak henti-hentinya bersungut. Sekali-sekali bahkan membentak, ada saja yang dicelanya pada Ranti. Kata-katanya yang menurut Kantil terlalu kasar. Tingkah lakunya yang kurang mapan dan tidak mengenal unggah-ungguh. Pikirannya yang tumpul dan tidak mudah menangkap tuntunan dan bimbingan dan masih banyak lagi cacatnya.
Ranti hanya menundukkan wajahnya. Namun sekali-sekali ia harus bangkit melakukan apa yang diperintahkan oleh Kantil.
Menjelang tengah hari, maka nasipun masak. Kantilpun segera memerintahkan Ranti agar menyenduk nasi ke dalam ceting bambu.
Ranti yang selalu dianggap bersalah itupun menyenduk nasi ke dalam ceting dengan sangat hati-hati. Tidak satupun butir-butir nasi yang terjatuh di lantai dapur, sebutir nasi akan dapat menjadi alasan bagi Kantil untuk mengumpatinya sehari penuh.
Sementara Kantil masih sibuk di dapur, maka seorang pengikut Pangeran Ranapati datang kepada Kantil untuk menyampaikan pesan Pangeran Ranapati, bahwa ada tiga orang tamu. Kantil diminta untuk menyiapkan suguhan bagi mereka.
“Siapa ?” bertanya Kantil.
“Yang seorang adalah Mas Panji Wangsadrana.”
“Mas Panji Wangsadrana ? Apalagi yang dimaui Mas Panji itu sehingga ia terlalu sering datang kemari.”
“Entahlah. Tetapi bukankah Mas Panji itu salah seorang pejabat di istana kadipaten Panaraga ? Ia salah seorang yang dibawa oleh Pangeran Jayaraga dari Mataram.”
“Aku tahu,“ potong Kantil, “lalu siapa yang lain ?“
“Aku tidak tahu.”
Kantil nampak menjadi kurang senang. Dengan nada datar iapun berkata, “Jika Mas Panji datang kemari, hampir pasti Pangeran Ranapati harus pergi. Aku ingin Pangeran tidak terlalu sering pergi.”
“Tentu ada keperluan Nyi. Keberadaan Pangeran disini tentu membawa beban tugas tersendiri.”
“Aku tidak berkeberatan, jika Pangeran melakukan tugasnya di Panaraga. Tetapi lihat, sudah dua kali Pangeran pulang dengan membawa perempuan. Dan perempuan ini adalah perempuan yang ketiga. Untunglah bahwa perempuan-perempuan itu kemudian telah mengkhianati Pangeran Ranapati. Kalau tidak, maka tentu ada tiga orang perempuan yang berada di rumah ini selain aku.”
“Ya, Nyi,“ orang itu mengangguk-angguk.
“Tetapi nampaknya perempuan inipun pada suatu saat akan mengkhianati Pangeran Ranapati,” berkata Kantil lebih lanjut.
Namun pengikut Pangeran Ranapati itu berkata, “Tamu itu sudah agak lama duduk di serambi depan. Pangeran minta segera disuguhkan minuman dan makanan.”
“Baik, baik.”
Kantil itupun segera menyiapkan minuman dan makanan untuk dihidangkan kepada tamu-tamu Pangeran serta Pangeran Ranapati sendiri. Ketika pengikut Pangeran itu akan membawa hidangan itu ke serambi depan, Kantilpun berkata, “Biarlah aku sendiri yang membawanya.”
Kantil itupun kemudian meninggalkan Ranti sendiri di dapur untuk menghidangkan suguhan bagi tamu-tamu Pangeran Ranapati.
Demikian Kantil meninggalkan dapur, maka Rantipun berbisik, “Apa yang dilakukan oleh kedua orang perempuan itu?”
“Mereka berkhianat.”
“Apa yang dilakukannya ?”
Orang itu termangu-mangu sejenak. Iapun kemudian berpaling ke pintu dapur. Baru kemudian ia menjawab, “Sebenarnya keduanya tidak bersalah. Tetapi Nyi Kantil itulah yang memasukkan laki-laki ke bilik perempuan-perempuan itu, sehingga Pangeran menjadi marah. Laki-laki dan perempuan itu telah dibunuhnya.”
“Dalam waktu yang bersamaan?“
“Tidak. Peristiwanya berselang sekitar sebulan.“
Ranti masih akan bertanya. Tetapi laki-laki itu bergegas keluar sambil berdesis, “Keberadaanku disini akan dapat menjerat leherku.”
Ranti yang memaklumi keadaannya membiarkannya pergi tanpa bertanya lebih jauh. Iapun kemudian sibuk melanjutkan kerja yang ditinggalkan oleh Kantil.
Namun agaknya Ranti dapat menebak, bahwa Kantil memang memberikan kesempatan kepadanya untuk bertemu dan berbicara dengan para pengikut Pangeran Ranapati untuk mendapat kesempatan pada suatu saat menjebaknya.
“Tetapi tentu tidak akan secepat ini,” berkata Ranti didalam hatinya.
Tetapi dengan demikian, Ranti harus menjadi lebih berhati-hati. Ternyata Kantil adalah seorang perempuan yang berhati iblis.
Ketika kemudian Kantil kembali ke dapur, laki-laki yang dipesan Pangeran Ranapati untuk menyiapkan minuman bagi tamu-tamunya itu sudah tidak ada di dapur. “Dimana orang itu ?” bertanya Kantil.
“Maksud mbokayu ?”
“Laki-laki itu?”
“Yang menyampaikan pesan Pangeran kepada mbokayu?”
“Ya.”
“Laki-laki itu pergi bersamaan dengan saat mbokayu membawa minuman ke serambi depan.”
Kantil mengerutkan keningnya. Ia mengharapkan laki-laki itu berbincang-bincang dengan Ranti sepeninggalnya. Meskipun yang dibicarakan soal apapun, tetapi ia sudah mendapat satu kesempatan untuk melontarkan tuduhan pertama. Tetapi ternyata laki-laki itu sudah pergi.”
“Laki-laki pengecut,“ katanya di dalam hati, “matanya buta sehingga ia tidak melihat perempuan cantik di depan hidungnya.”
Tetapi Kantil itu masih mempunyai banyak sekali kesempatan. Pada suatu saat, ia tentu dapat menuduh perempuan itu berkhianat sebagaimana pernah dilakukannya. Tentu ada laki-laki dungu yang pada suatu saat mau masuk ke dalam biliknya sebagaimana yang pernah terjadi.
Kantilpun kemudian melanjutkan kesibukannya di dapur dibantu oleh Ranti. Namun Kantil masih juga sempat beberapa kali membentak Ranti karena kesalahan-kesalahan kecil atau bahkan pada saat Ranti tidak melakukan kesalahan apapun.
Tetapi Ranti berusaha untuk tetap sabar. Ia berusaha untuk tabah mendengarkan segala macam caci-maki dan bentakan-bentakan perempuan iblis itu. Tetapi setiap kali mereka berada di depan Pangeran Ranapati, maka sikap Kantil menjadi sangat lembut melampaui lembutnya sikap seorang ibu kepada gadis kecilnya.
Dalam pada itu, tiba-tiba saja Pangeran Ranapati itupun telah masuk ke dapur sambil berkata, “Kantil. Aku akan pergi sebentar bersama Ki Panji Wangsadrana.”
Dengan sikap yang dibuat-buat Kantil itupun bertanya, “Pangeran akan pergi ke mana ?”
“Ada sesuatu yang penting yang harus aku lakukan. Mungkin aku pulang jauh malam. Segala sesuatunya tergantung pada tugas yang aku lakukan.”
“Silakan Pangeran. Hamba mohon Pangeran cepat pulang. Hamba tidak dapat terlalu lama Pangeran tinggalkan.”
“Baik, Kantil. Aku akan segera pulang demikian aku selesai dengan pekerjaanku.”
“Hamba mohon Pangeran berhati-hati.”
“Tentu Kantil. Tetapi tidak ada orang yang dapat menggangguku tanpa harus menebus dengan nyawanya.”
“Hamba percaya Pangeran. Meskipun demikian mungkin saja ada orang yang licik, yang dengki dan iri terhadap Pangeran, berbuat curang.”
Pangeran Ranapati tersenyum. Katanya, “Jangan cemas. Aku akan kembali.”
Kantil itupun kemudian mengikut Pangeran Ranapati sampai turun ke halaman depan. Tamu-tamunya terutama Ki Panji Wangsadrana mengangguk hormat kepadanya sambil mohon diri, “Kami mohon diri Nyi Mas.”
“Silakan Ki Panji.”
Demikian mereka keluar dari regol halaman, maka Kantilpun kembali ke dapur. Tetapi ia tidak segera menyelesaikan pekerjaannya. Bahkan iapun berkata kepada Ranti, “Selesaikan kerja ini. Pangeran Ranapati tidak akan makan di rumah siang nanti, bahkan sore nanti. Biar nanti sore saja aku menyiapkan makan malam jika Pangeran Ranapati kembali nanti.”
Ranti hanya dapat mengangguk mengiakan. Tetapi Ranti itupun berkata dengan ragu, “Tetapi aku tidak dapat masak, mbokayu. Mungkin masakanku akan terasa tidak enak. Apalagi bagi Pangeran Ranapati.”
“Kau tidak akan masak buat Pangeran Ranapati. Sudah aku katakan, aku nanti yang akan masak bagi Pangeran Ranapati. Kau masak buat kau makan sendiri. Mungkin aku jika aku tidak menjadi mual makan masakanmu.”
Ranti tidak berbicara lagi, sementara itu Kantilpun telah meninggalkan dapur. Sejenak kemudian, Kantil itu telah berbaring di biliknya. Ia lebih senang tidur daripada berbuat sesuatu jika Pangeran Ranapati tidak ada di rumah.
Di dapur, Ranti menjadi sibuk sendiri. Tetapi sebenarnyalah bahwa Rara Wulan sudah terbiasa berada di dapur. Ia adalah seorang perempuan yang sebenarnya pandai masak. Tetapi di rumah itu, ia sengaja membuat masakannya tidak terlalu enak. Ia sengaja membuat makanannya terasa kurang garam, sedangkan santannya terlalu cair.
Ranti menyadari, bahwa di belakang dapur itu berkeliaran beberapa orang laki-laki pengikut Pangeran Ranapati. Tetapi Ranti berusaha untuk tidak terjebak karenanya. Karena itu ia sama sekali tidak mempedulikannya. Sementara laki-laki yang ada di belakang itupun tidak ada yang berani menyapanya. Mereka sadar, bahwa sedikit saja mereka melakukan kesalahan karena keberadaan perempuan itu, maka mereka akan dapat disingkirkan untuk selama-lamanya seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
Karena itu, maka Rantipun dapat bekerja dengan tenang di dapur, sementara Kantil pun masih saja berada di biliknya. Bahkan ia berharap bahwa ada seorang laki-laki yang mendatangi Ranti di dapur.
Tetapi tidak seorangpun yang akan membiarkan kepalanya dipenggal atau tubuhnya digantung di dahan pohon benda di sudut kebun di belakang.
Karena itu, tidak seorangpun yang berani mengusik Ranti yang sedang bekerja di dapur seorang diri. Apalagi Rantipun kemudian telah menutup pintu belakang dapur itu.
Ranti sudah terbiasa bekerja cepat. Karena itu, maka ia-pun dengan cepat pula menyelesaikan masakan yang sudah dimulai oleh Kantil. Namun Ranti itu sengaja membuat masakannya tidak terlalu enak. Bahkan terasa hambar karena kurang garam.
Setelah selesai dengan masakannya, Ranti masih duduk sendiri di dapur. Ia sempat melihat-lihat tatanan perabot di dapur. Nampaknya Kantil memang seorang yang rajin. Ia menata perabot dapur dengan teratur. Dipilih-pilihnya perabot yang mudah pecah dan yang tidak. Kemudian yang terbuat dari bambu dan kayu, yang lain gerabah dan sebangsanya. Di sudut paga bambu terdapat perabot yang terbuat dari tembaga.
Ranti itupun kemudian bangkit berdiri. Diamatinya perabot itu satu-satu, seakan-akan ia ingin menghitung, apa saja yang berada di dapur itu.
Sementara itu peralatan dapur yang baru saja dipakai oleh Ranti, telah dicucinya pula sehingga bersih. Iapun menempatkan alat-alat dapur itu di tempatnya, sesuai dengan yang telah diatur oleh Kantil.
Ketika matahari mulai turun, maka Kantil itupun telah keluar dari biliknya. Ketika ia pergi ke dapur, ia melihat Ranti itu masih berada di dapur.
“Apa yang kau lakukan disini, he ?” bertanya Kantil.
“Menyelesaikan kerja mbokayu. Kemudian mencuci alat-alat dapur yang aku pergunakan dan menempatkannya di tempat yang barangkali sesuai dengan keinginan mbokayu.”
Sekilas Kantil memang melihat segala sesuatunya telah diatur dengan rajin sebagaimana ia lakukan. Tetapi justru karena itu ia menjadi semakin tidak senang kepada Ranti. Dengan kasar Kantil itupun membentak, “Kenapa kau tidak menyiapkan makan siang bagiku ? Apa kau kira jika Pangeran Ranapati tidak ada di rumah, aku tidak perlu makan ?”
“Mbokayu belum memerintahkannya. Aku takut.“ Kedengkian Kantil agak terhibur ketika ia melihat wajah Ranti yang membayangkan ketakutan. Wajah itu menunduk dalam-dalam dengan pandangan mata yang terhunjam di lantai.
“Sekarang aku perintahkan kepadamu, supaya kau menyiapkan makan siang buatku.”
“Ya, mbokayu. Tetapi dimana aku harus menyiapkan makan siang itu ? Di ruang dalam atau di dapur ini saja.”
“Kau memang seorang perempuan yang dungu. Aku bukan budak disini. Aku adalah isteri Pangeran Ranapati. Bukankah kau pernah melihat, bahwa aku selalu berada didekatnya. Pada saat Pangeran Ranapati minum-minuman hangat dipagi hari serta makan beberapa potong makanan, aku juga menyertainya. Seharusnya kau tahu, bahwa aku akan makan di tempat Pangeran Ranapati makan, meskipun Pangeran Ranapati itu tidak ada di rumah.”
“Baiklah mbokayu. Aku akan menyiapkan makan mbokayu di ruang dalam.”
“Kaulah yang nanti makan disini setelah aku selesai.“ Ranti tidak menjawab. Tetapi rasa-rasanya ia ingin meremas bibir Kantil yang memuntahkan kata-katanya yang sangat menyakiti hatinya itu. Atau bahkan memotong lidahnya.
Tetapi Ranti tidak dapat melakukannya dengan tergesa-gesa. Ia harus membiarkan dirinya direndahkan, karena hal itu merupakan bagian dari pengorbanannya untuk mendapatkan keterangan lebih jauh tentang Pangeran Ranapati.
Selama ia berada di rumah itu, ia baru mendapatkan satu keterangan yang dapat disampaikannya kepada Glagah Putih, bahwa ada pejabat Panaraga yang sering datang ke rumah Pangeran Ranapati. Pejabat itu juga datang dari Mataram bersama Pangeran Jayaraga.
Demikianlah, maka Rantipun telah menyiapkan makan siang Kantil di ruang dalam. Ia mencoba mengatur makan yang disiapkan itu sebagaimana seharusnya. Tetapi ada juga yang dengan sengaja dibuatnya tidak terlalu rapi.
Sebenarnyalah ketika Kantil kemudian duduk menghadapi makan siangnya, maka iapun segera berteriak memanggil Ranti. Sehingga dengan tergesa-gesa Rantipun berlari-lari kecil datang ke ruang dalam.
“Apakah matamu tidak dapat melihat apa yang baik dan apa yang buruk ?” bertanya kantil.
“Maksud mbokayu ?”
“Lihat. Pantaskah seorang perempuan mengatur kelengkapan makan siang seperti ini ? Apakah aku harus meloncat-loncat untuk menyenduk nasi, kemudian memungut lauknya yang kau letakkan di seberang ceting nasi. Kemudian sayurnya dan sambalnya yang berserakan.”
Ranti hanya menundukkan kepalanya. Tetapi Kantil tidak memberitahukan, bagaimana sebaiknya ia mengatur nasi, lauk pauk dan sayurnya, sambalnya serta mangkuk-mangkuknya.
Rantipun tahu, bahwa Kantil tentu berusaha agar Ranti tetap saja bodoh dan tidak dapat menyiapkan dan menata makan siang dengan pantas. Dengan demikian, maka Pangeran Ranapatipun akan muak kepadanya.
Namun sejenak kemudian, Kantil itupun membentaknya, “Sekarang, pergi. Kau baru akan makan setelah aku selesai makan. Atau barangkali sudah makan lebih dahulu ketika kau berada di dapur sendirian?”
“Belum mbokayu. Aku belum makan.”
“Sekarang pergilah. Kenapa kau masih ada disitu?”
Ranti itupun kemudian meninggalkan Kantil sendiri di ruang dalam. Tetapi Rantipun menduga, jika Kantil sudah mencicipi sayurnya yang hambar, maka ia tentu akan berteriak-teriak lagi memanggilnya.
Sebenarnyalah, bahwa demikian Ranti meletakkan tubuhnya, duduk diamben panjang didapur, ia sudah mendengar lagi Kantil itu berteriak memanggilnya.
Ranti tersenyum. Namun iapun berlari-lari kecil ke ruang dalam. Demikian ia memasuki ruang’dalam, maka ia sudah tidak tersenyum lagi. Bahkan wajahnya menjadi ketakutan serta menunduk dalam-dalam.
“Kau ini perempuan atau bukan Ranti?” bertanya Kantil.
“Kenapa mbokayu?”
“Bagaimana aku dapat makan kalau begini caramu memasak sayur?”
“Aku tidak mengerti mbokayu.”
“Cicipi masakanmu, cicipi,” bentak Kantil sambil menyodorkan mangkuknya.
Ranti masih saja nampak kebingungan. Namun kemudian, Kantilpun melekatkan mangkuknya ke mulut Ranti sambil berkata, “Kau kira aku dapat makan sayur seperti ini?”
Ranti yang tidak mengira bahwa mangkuk itu akan dilekatkan ke mulutnya, tidak sempat mengelak. Namun sebenarnya Ranti sudah tahu, bahwa sayur itu rasanya sangat hambar.
“Apakah sepanjang umurmu kau belum pernah masak?”
“Sudah mbokayu. Aku sering membantu ibu masak. Di Panaraga aku juga masak untuk kakakku.”
“Lidah mereka adalah lidah yang mati. Tetapi kau tidak dapat menghidangkan masakan seperti itu kepadaku.”
“Aku memang tidak pandai memasak mbokayu.”
“Bawa semuanya ini ke dapur. Kau sajalah yang makan masakanmu sendiri, karena hanya kau yang mau makanan masakan yang rasanya seperti air limbah itu.”
Ranti tidak menyahut. Tetapi wajahnya menjadi semakin menunduk. Sementara Kantilpun membentaknya pula, “Bawa semuanya pergi. Kau harus menghabiskan masakanmu itu. Kau sendiri yang masak, maka biarlah kau sendiri yang makan.”
Ranti tidak berani bertanya. Yang dilakukannya, adalah membawa nasi serta sayur dan lauknya itu ke dapur. Namun Rantipun kemudian menjadi ragu-ragu, apakah ia dapat makan atau tidak, sementara Kantil sendiri belum makan.
Tetapi ternyata Kantil yang marah itu masuk ke dalam biliknya, sehingga Rantipun kemudian mempunyai waktu untuk makan.
Ranti sendiri menaburkan garam di mangkuknya, sehingga dengan demikian, maka masakaffnya menjadi tidak terlalu hambar, meskipun itu masih terhitung kurang enak.
Setelah makan, maka Rantipun telah mencuci mangkuk-mangkuk yang kotor. Ia tahu, bahwa sore nanti, Kantil akan masak untuk menyediakan makan malam Pangeran Ranapati.
Setelah segala sesuatunya selesai, maka Rantipun masuk ke dalam biliknya. Setelah menutup pintunya rapat-rapat, maka Rantipun berusaha mencari hubungan dengan Glagah Putih dengan Aji Pamelingnya.
Karena Glagah Putih berada di tempat yang agak jauh, maka isyarat yang saling mereka berikan, menjadi tidak sejelas jika Glagah Putih berada di halaman rumah itu.
Kepada Glagah Putih, Ranti sempat menceriterakan pengalamannya, sehingga Glagah Putih tertawa karenanya.
Tetapi Glagah Putihpun berpesan, “Kau harus bersabar, Rara Wulan. Kau harus berusaha mengetahui, apa yang dilakukan Ki Panji Wangsadrana di rumah Pangeran Ranapati. Pada kesempatan lain, jika orang itu datang lagi, maka beritahu aku. Aku akan mencoba mengikuti mereka.”
“Kau harus berhati-hati kakang. Nampaknya Ki Wangsadrana selalu dikawal oleh prajurit-prajuritnya. Tetapi betapapun sulitnya aku akan berusaha mengetahui, apa yang dilakukan oleh Ki Panji Wangsadrana.”
“Tetapi kau harus berhati-hati, Rara,” pesan Glagah Putih.
Dalam pada itu, Glagah Putih sendiri berusaha menghubungi para pejabat diistana kadipaten Panaraga.
Madyasta yang sudah lebih lama berada di Panaraga, ternyata mempunyai seorang kawan yang menjadi seorang Lurah Prajurit di Panaraga. Meskipun pengenalannya atas kadipaten itu sangat terbatas, tetapi ternyata bahwa dari Lurah Prajurit itu, Madyasta mendapat beberapa keterangan awal yang agaknya dapat dipergunakan untuk menolusuri keterangan-keterangan lebih banyak.
Sementara itu, Rara Wulan masih harus menunggu kesempatan untuk dapat mengetahui keperluan Ki Panji Wangsadrana lebih jauh.
Seperti yang direncanakan, di sore hari, Kantil telah memanggil Ranti untuk membantunya bekerja di dapur. Tetapi sebagaimana Kantil tidak memberitahu caranya mengatur hidangan makan, maka Kantilpun tidak mengajarinya agar Ranti itu dapat masak masakan yang lebih enak dan tidak hambar.
Yang dilakukan Ranti kemudian hanyalah menyalakan api. Mengambil air. Mencuci sayuran dan kerja yang lain yang tidak langsung berhubungan dengan memasak sayur dan membuat lauk.
Tetapi sebenarnyalah bahwa Ranti tahu benar apa yang dilakukan Kantil. Iapun dapat memasak, sebagaimana Kantil itu dan bahkan mungkin masakan Ranti justru lebih enak dari masakan Kantil.
Kantil masih saja sering membentak-bentak menyindir, marah dan segala macam cela yang sangat menjengkelnya. Tetapi Ranti masih harus tetap bersabar dan menahan hatinya yang sebenarnya sudah hampir meledak.
Menjelang senja, segala sesuatunya sudah siap. Karena disiang hari Kantil masih belum makan, maka Kantilpun tidak menunggu kedatangan Pangeran Ranapati. Meskipun sedikit, tetapi Kantil makan lebih dahulu karena ia tidak dapat menahan lapar.
“Kau makan setelah Pangeran Ranapati makan malam nanti.”
“Ya, mbokayu,” sahut Ranti. Tetapi dihatinya ia bertanya, “Kalau Pangeran Ranapati itu tidak pulang?”
Tetapi Ranti adalah orang yang terlatih. Ia memang dapat merasa haus dan lapar sebagaimana orang lain. Tetapi dalam keadaan memaksa, maka Ranti dapat saja menahan lapar bahkan lebih dari satu hari satu malam. Pada saat ia harus menjalani laku sampai tiga hari tiga malam, dan kemudian pati geni sehari semalam, ia masih saja tetap tegar dan mampu melakukan kewajiban yang dibebankan kepadanya.
Ketika kemudian malam turun, maka seorang abdi Pangeran Ranapati itu telah menyalakan lampu disetiap ruangan dan diserambi. Bahkan diluar rumah dan dipintu regol, telah dinyalakan oncor pula.
Tetapi biasanya Pangeran Ranapati pulang jauh malam atau bahkan menjelang dini hari. Bahkan jika banyak tugas yang harus dilakukan Pangeran Ranapati sering tidak pulang sampai dua tiga hari.
Karena itu, malam itu Kantilpun tidak menunggu kedatangan Pangeran Ranapati. Demikian malam menjadi semakin dalam, maka Kantilpun telah pergi ke biliknya. Namun sebelumnya, ia telah memerintahkan seorang abdi untuk menyelarak semua pintu. Bahkan pintu dapur sekalipun. Namun yang harus menyelarak pintu butulan adalah justru Ranti setelah abdi itu keluar dari rumah.
“Pintu bilikmu sudah tidak diselarak dari luar lagi Ranti. Tetapi itu bukan berarti bahwa kau mempunyai kebebasan mutlak dan dapat meninggalkan rumah ini. Di luar ada orang yang bertugas berjaga-jaga. Jika kau berusaha untuk lari dari rumah ini, maka kau akan mengalami nasib yang sangat buruk. Oleh Pangeran Ranapati kau akan dilemparkan kepada laki-laki yang ada di rumah ini apapun yang kemudian akan terjadi atas dirimu.”
Ranti hanya menundukkan wajahnya. Tetapi ia tidak menjawab.
“Nah, sekarang pergilah kebilikmu. Jangan keluar lagi.”
“Apakah aku tidak boleh kepakiwan di malam hari, mbokayu. Jika aku tidak pergi ke pakiwan, maka perutku menjadi sakit.”
“Sekarang, pergilah ke pakiwan. Cepat. Kau dapat keluar lewat pintu butulan yang kau selarak dari dalam.”
Ranti menjadi ragu-ragu. Tetapi akhirnya ia pergi ke pakiwan. Sebenarnyalah bahwa Ranti ingin sekedar melihat suasana di luar rumah di malam hari. Apakah para pengikut Pangeran Ranapati itu benar-benar melakukan tugasnya dengan baik.
Ternyata para pengikut Pangeran Ranapati adalah pengikut-pengikut yang patuh. Meskipun Pangeran Ranapati tidak ada, tetapi mereka tetap saja menjalankan tugas mereka. Di belakang, nampak empat orang yang berjaga-jaga di serambi. Tentu di depan dan disamping juga ada pengikut Pangeran Ranapati yang bertugas meng awasi keadaan.
Para pengikut yang bertugas itupun melihat Ranti itu keluar dari pintu butulan dan pergi ke pakiwan. Tetapi tidak seorangpun yang berani menyapanya, karena hal itu akan dapat membawa mereka ke dalam bencana.
Karena itu, maka Ranti justru merasa aman karena orang-orang yang bertugas berjaga-jaga itu.
Namun Rantipun sebenarnya tidak segera masuk ke dalam pakiwan. Dibawah bayang-bayang kegelapan, Rantipun menyelinap. Ia ingin melihat sendiri kesiagaan dihalaman samping rumah itu.
Sebenarnyalah, bahwa para pengikut Pangeran Ranapati adalah pengikut yang setia.
Baru setelah mengamati keadaan di sekitar rumah itu, Rantipun singgah sebentar di pakiwan.
Ketika ia kembali masuk lewat pintu butulan, Kantil itu membentaknya, “apa yang kau lakukan, he? Begitu lama kau berada di pakiwan? “
“Maaf, mbokayu. Perutku memang agak sakit.”
“Apakah kau sudah kelaparan?”
“Tidak, mbokayu. Tidak.”
“Apa kau berhenti dan bercanda dengan laki-laki yang bertugas malam ini.”
“Tidak, mbokayu. Sama sekali tidak. Aku tidak mengenal seorangpun diantara mereka.”
“Kalau kau sudah menyelarak pintu itu kembali, maka segera masuk ke bilikmu. Kau akan dibangunkan dan membantuku menyediakan makan Pangeran Ranapati, jika Pangeran pulang. Baru setelah itu kau boleh makan.”
“Ya, mbokayu.”
“Kau harus mengucapkan terima kasih kepadaku, bahwa aku telah memberikan banyak kebebasan kepadamu.”
Ranti mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Ya, mbokayu. Aku sangat berterima kasih kepada mbokayu. Apapun yang harus aku lakukan, itu lebih baik daripada aku harus tetap berada didalam bilik itu.”
“Sekarang masuk ke dalam bilikmu. Jangan keluar lagi meskipun aku tidak akan menyelaraknya dari luar.”
“Ya, mbokayu.”
Rantipun kemudian masuk ke dalam biliknya. Tetapi Kantil masih duduk di ruang dalam menunggu kedatang an Pangeran Ranapati dan mengawasi Ranti, seandainya Ranti keluar dari biliknya dengan diam-diam.
Tetapi Ranti memang tidak lagi keluar dari biliknya. Pada saat Kantil menduga bahwa Ranti sudah tidur nyenyak, namun sebenarnya Ranti tengah berhubungan dengan Glagah Putih dengan Aji Pamelingnya.
“Hati-hatilah,” berkata Glagah Putih, “jangan terjebak oleh permainan isteri Pangeran Ranapati itu.”
“Aku akan sangat berati-hati kakang.”
Di malam hari, Rantipun menjadi sangat berhati-hati. Ia telah meletakkan sebuah sapu ijuk bertangkai bambu di depan pintu.
Jika pintu itu dibuka, maka tangkai sapu ijuk itu akan roboh. Bagi Rara Wulan, bunyi-tangkai sapu ijuk itu usdah cukup keras untuk membangunkannya.
Malam itu, ternyata Pangeran Ranapati pulang sebelum jauh malam. Sebelum tengah malam Pangeran Ranapati sudah mengetuk pintu rumahnya sambil memanggil nama Kantil.
Kantilpun dengan tergesa-gesa pergi ke ruang depan untuk membuka pintu pringgitan.
Ranti yang masih belum tidur itu juga mendengar bahwa Pangeran Ranapati telah pulang.
Namun agaknya Pangeran Ranapati itu tidak sendiri. Ia datang bersama beberapa orang. Seorang diantara mereka ternyata adalah Mas Panji Wangsadrana.
“Marilah, silakan duduk di ruang dalam saja,” Pangeran Ranapati mempersilakan.
“Baik , Pangeran,” sahut Mas Panji Wangsadrana.
Merekapun kemudian duduk di ruang dalam. Dengan mengetrapkan Aji Sapta Pangrungu, Ranti sempat mendengar Kantil mempersilahkan mereka duduk.
“Buatkan kami minuman, Kantil,” berkata Pangeran Ranapati.
“Baik, Pangeran,” sahut Kantil.
Rantipun menyadari, bahwa Kantil tentu akan membangunkannya dan minta kepadanya untuk membantunya menyiapkan minuman di dapur.
Namun dengan Aji Sapta Pangrungu, Ranti masih mendengar Pangeran Ranapati berkata, “Aku sangat kecewa.”
“Tentu ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan,” berkata Ranti di dalam hatinya.
Namun ia tidak mempunyai banyak kesempatan. Iapun segera mendengar pintu biliknya diketuk oleh Kantil.
“Bangun pemalas,” panggil Kantil.
Rantipun segera bangkit. Untunglah Kantil tidak membuka pintunya dari luar, sehingga tangkai sapu ijuknya tidak roboh dan mungkin agak mengejutkannya.
Rantipun kemudian telah berada di dapur bersama Kantil. Rantipun harus segera menyalakan api dan menjerang air.
“Jangan terlalu banyak, bodoh. Seperlunya saja agar lebih cepat mendidih.”
“Ya, mbokayu,” jawab Ranti dengan nada rendah. Ketika Ranti kemudian duduk di depan perapian, meskipun ia mengetrapkan Aji Sapta Pangrungu, namun ia tidak lagi dapat mendengar pembicaraan antara Pangeran Ranapati dengan tamu-tamunya. Tetapi satu hal telah diketahuinya, bahwa Pangeran Ranapati malam itu menjadi kecewa.
Demikian minuman itu siap, maka Ranti berharap bahwa Kantil akan memerintahkannya membawa ke ruang depan. Tetapi ternyata Kantil sendirilah yang membawa minuman itu kepada Pangeran Ranapati dan tamu-tamunya.
Namun ketika Kantil tidak ada di dapur, sementara Ranti duduk dengan memusatkan pendengarannya dengan Aji Sapta Pangrungu, ia masih dapat mendengar lamat-lamat dan bahkan kadang-kadang hilang tetapi kadang-kadang timbul kembali, Pangeran Ranapati itu mendesak kepada Mas Panji Wangsadrana, “Jangan terlalu lama Mas Panji. Aku ingin Mas Panji melakukannya lebih cepat lagi.”
“Aku akan berusaha Pangeran,“ jawab Mas Panji. Tetapi pembicaraan merekapun terhenti. Yang terdengar kemudian adalah suara Kantil yang hilang-hilang timbul mempersilakan tamu-tamunya minum.
Bahkan Kantil itupun bertanya, “Apakah hamba harus mempersiapkan makan malam Pangeran.”
“Ya. Siapkan makan malam bagi kami!”
“Baik, Pangeran.”
Ketika Kantil kembali ke dapur, maka iapun menjadi sibuk memanasi sayur dan lauk yang akan dihidangkan. Katanya kepada Ranti, “Siapkan mangkuk-mangkuk. Cepat.”
Rantipun kemudian dengan cepat telah menyiapkan mangkuk-mangkuk yang diperlukan, sementara Kantilpun menyiapkan segala sesuatunya. Kantil sendirilah yang kemudian mengatur dan menghidangkan makan malam itu.
Ternyata Ranti tidak dapat lagi menangkap pembicaraan mereka yang sedang makan di ruang depan.
Sementara itu, Kantil tidak segera kembali ke dapur. Agaknya Kantil menunggui Pangeran Ranapati dan tamu-tamunya yang sedang makan.
Di dapur, Ranti berusaha untuk dapat berhubungan dengan Glagah Putih. Agaknya Glagah Putih sudah tidur nyenyak. Namun akhirnya Glagah Putih itu terbangun dan berusaha menerima pesan-pesan Ranti.
Kepada Glagah Putih, Ranti menceritakan bahwa nampaknya Pangeran Ranapati itu menjadi sangat kecewa malam itu. Tetapi Ranti tidak dapat mengetahui kenapa Pangeran Ranapati itu menjadi kecewa.
“Usahakan mengikuti persoalannya, Rara,” pesan Glagah Putih, “nampaknya Pangeran Ranapati sedang merencanakan sesuatu yang berhubungan dengan tugas Pangeran Jayaraga.”
“Apakah Pangeran Ranapati sudah berhubungan dengan Pangeran Jayaraga?” bertanya Rara Wulan.
“Pangeran Jayaraga sudah mendengar bahwa di Panaraga telah hadir pula seorang Pangeran. Seorang saudara tua Pangeran Jayaraga yang bernama Pangeran Ranapati. Putera Panembahan Senapati yang sejak masa kanak-kanaknya tidak berada di istana.”
“Apa tanggapan Pangeran Jayaraga?”
“Pangeran Jayaraga ingin bertemu dengan Pangeran Ranapati yang mengaku sebagai saudara tua Pangeran Jayaraga.”
“Apakah mereka sudah bertemu?”
“Belum.”
“Mungkin karena itu, Pangeran Ranapati menjadi sangat kecewa. Tetapi mungkin ada persoalan yang lain.”
“Baiklah. Usahakan untuk mengetahui lebih banyak tentang Pangeran Ranapati.”
“Baik, kakang.”
Hubungan itu terputus. Ternyata Pangeran Ranapati serta para tamunya telah selesai makan. Kantil telah membawa mangkuk-mangkuk yang kotor ke dapur. Ketika Ranti akan membantunya mengambil mangkuk-mangkuk kotor itu, Kantil membentaknya, “Kau harus mencucinya. Kau tidak perlu ikut-ikutan melakukan tugasku jika aku tidak memberikan perintah kepadamu.”
“Ya, mbokayu,” jawab Ranti. Namun sikap Kantil itu telah sangat membatasi tugas-tugas Ranti untuk mengetahui lebih banyak tentang Pangeran Ranapati. Tetapi jika ia berusaha untuk melampauinya, maka kemungkinan buruk akan dapat segera terjadi. Justru terlalu cepat sebelum ia mengetahui lebih banyak tentang Pangeran Ranapati.
Karena itu, yang dilakukan oleh Ranti adalah merendahkan dirinya, tunduk kepada semua perintah perempuan yang merasa dirinya sebagai isteri Pangeran Ranapati itu.
Beberapa saat kemudian, Ma’S Panji Wangsadrana dan kawan-kawannya itupun minta diri. Ketika Kantil juga melepas mereka sampai ke tangga, dengan Aji Sapta Pangrungu Ranti yang berada di dapur masih dapat mendengar Pangeran Ranapati itu sekali lagi menyatakan kekecewaannya.
“Aku harap Ki Panji tidak gagal lagi.”
“Aku akan berusaha Pangeran,“ jawab Ki Panji. Yang kemudian terdengar adalah Ki Panji itu minta diri beserta kawan-kawannya. Juga kepada Kantil.
Demikian tamu-tamu itu meninggalkan rumah Pangeran Ranapati, maka dengan Aji Sapta Pangrungu, Ranti mencoba untuk mendengarkan pembicaraan Pangeran Ranapati dengan Kantil di ruang dalam. Di ruang itu lebih dekat dengan dapur.
“Apa sebenarnya yang terjadi Pangeran?” bertanya Kantil.
“Ternyata aku telah bekerja sama dengan orang-orang bodoh seperti Panji Wangsadrana.”
“Apa yang seharusnya dilakukan?”
“Kau tidak usah ikut memikirkannya. Itu adalah persoalanku, bukan persoalanmu.”
“Mungkin aku akan dapat ikut memikirkannya.”
“Apa yang dapat kau pikirkan kecuali sambal terasi? Sudahlah. Kau tidak usah mencoba mencampuri urusanku.”
“Baik, Pangeran.”
“Sekarang aku akan pergi ke pakiwan. Aku sudah mengantuk. Aku akan tidur.”
Pangeran Ranapati itupun segera pergi ke pakiwan. Sementara itu Kantil pergi ke dapur untuk melihat Ranti yang masih sibuk mencuci mangkuk.
“Kau selesaikan kerjamu,” berkata Kantil, “kau boleh makan. Aku akan tidur. Setelah selesai, kaupun harus segera masuk ke dalam bilikmu. Jangan mencoba untuk melarikan diri dari rumah ini. Setiap sudut mendapat pengawasan yang ketat.”
“Apakah aku boleh pergi ke pakiwan, mbokayu.”
“Untuk apa?”
“Mencuci tangan dan kaki.”
“Nanti sesudah selesai kerjamu. Sesudah itu kau harus masuk ke dalam bilikmu.”
“Baik, mbokayu.”
Ketika kemudian Kantil masuk, Ranti sekali lagi mencoba menghubungi Glagah Putih. Ketika Glagah Putih menyahut, maka Rantipun bertanya, “Apakah kau mengenal orang yang bernama Panji Wangsadrana.”
“Mas Panji Wangsadrana?”
“Ya.”
“Aku pernah mendengar nama itu.”
Rantipun kemudian berkata, “Lacak orang itu.”
“Baik. Aku akan berusaha,” jawab Glagah Putih. Rantipun kemudian menghentikan hubungannya dengan Glagah Putih lewat Aji Pameling. Iapun kemudian lewat pintu butulan keluar pergi ke pakiwan.
Ternyata para pengikut Pangeran Ranapati memang orang-orang yang setia. Mereka sama sekali tidak beranjak dari tugas mereka. Bahkan ada pula diantara mereka yang bertugas meronda berkeliling halaman rumah itu.
Tetapi sebenarnya para pengikut Pangeran Ranapati yang bertugas itu tidak akan merupakan penghambat yang tidak tertembus seandainya Rara Wulan minta Glagah Putih datang menghubunginya secara langsung. Tetapi nampaknya Rara Wulan masih belum memerlukannya.
Dalam pada itu Glagah Putih yang masih menganggap bahwa Rara Wulan masih tetap aman, memusatkan perhatiannya kepada orang yang bernama Mas Panji Wangsadrana. Dari Madyasta, Glagah Putihpun kemudian mengetahui, bahwa Mas Panji Wangsadrana adalah orang Mataram yang datang ke Panaraga bersama Pangeran Jayaraga.
“Ternyata Pangeran Ranapati telah berhasil membuat hubungan dengan Mas Panji Wangsadrana,” berkata Glagah Putih.
“Ya,” sahut Madyasta, “agaknya berita tentang keberadaan seorang Pangeran di Panaraga yang didengar Pangeran Jayaraga itu juga dari Mas Panji Wangsadrana.”
“Ya. Tetapi apakah hubungan Mas Panji dengan Pangeran Jayaraga cukup dekat?”
“Ya.Mas Panji Wangsadrana merupakan salah seorang kepercayaan Pangeran Jayaraga.”
Glagah Putih mengangguk-angguk. Iapun kemudian telah berpesan kepada Madyasta untuk mengikuti sikap dan tingkah laku Mas Panji Wangsadrana. Mungkin ada sesuatu yang dapat menarik perhatian.
Dihari berikutnya, Glagah Putih telah dihubungi kembali oleh Rara Wulan, yang memberitahukan, bahwa agaknya usaha Mas Panji Wangsadrana sudah berhasil.
“Apa yang diusahakan, Rara?”
“Aku belum tahu, kakang. Mungkin kakang Madyasta dapat mencari jawabnya.”
Dalam pada itu, dihari berikutnya, Madyasta dengan agak tergesa-gesa menghubungi Glagah Putih. Baru saja ia mendengar, bahwa Pangeran Jayaraga akan mengadakan adon-adon. Sebagai orang yang belum lama bertugas di Panaraga, Pangeran Jayaraga akan membuka semacam pendadaran untuk mendapatkan seorang yang terbaik, yang akan dapat menjadi pemimpin bagi prajurit Panaraga.
“Apakah hal ini sudah terbiasa dilakukan disini?” bertanya Glagah Putih.
“Kita sama-sama berasal dari Mataram. Tetapi menurut orang Mataram, pendadaran semacam ini sering dilakukan. Sejak masa Pajang, untuk mengangkat seorang Senapati, biasanya dilakukan dengan pendadaran. Bahkan di Mataram pernah diselenggarakan pertarungan untuk mendapatkan gelar Senapati terbaik di Mataram. Tentu saja bahwa pertarungan semacam itu dibatasi dengan berbagai aturan sehingga tidak menimbulkan korban jiwa. Ketika Mas Karebet, yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya di Pajang, marah kepada seorang yang memasuki pendadaran untuk menjadi Senapati karena kesombongannya, yang kemudian langsung dihadapinya sendiri, sehingga perasaan marahnya tidak terkendali dan membunuh peserta pendadaran itu, Mas Karebet telah mendapat hukuman berat. Mas Karebet diusir dari Pajang . Ia tidak boleh menginjakkan kakinya lagi di Pajang, sampai saatnya datang pengampunan.”
“Ya. Aku juga pernah mendengar ceritera itu.”
“Jadi jika Pangeran Jayaraga ingin menyelenggarakan pendadaran untuk mendapatkan prajurit-prajurit baru yang tangguh, tentu wajar-wajar saja.”
Glagah Putihpun mengangguk-angguk, sementara Madyastapun berkata, “Bukankah saat kau memasuki dunia keprajuritan, kau juga mengikuti pendadaran.”
“Ya,” Glagah Putih masih mengangguk-angguk pula, “jadi yang akan dilakukan itu sekadar pendadaran? Bukan adon-adon. Sebab antara keduanya ada bedanya.”
“Ya. antara keduanya memang ada bedanya. Inilah yang agak berbeda dari kebiasaan yang sering dilakukan di Mataram. Pangeran Jayaraga akan mengadakan semacam pertarungan bagi para peminat yang berilmu tinggi untuk memperebutkan kedudukan Senapati. Menurut pendengaranku, maka pertarungan itu akan berlangsung sampai salah seorang diantara mereka yang bertarung itu tidak dapat melawan lagi.”
“Jadi ada kemungkinan bahwa orang itu akan mati.”
“Itulah yang mendebarkan jantung.”
Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Ia menghubungkan keterangan Madyasta itu dengan pesan Rara Wulan, yang mengatakan bahwa usaha Mas panji Wangsadrana itu sudah berhasil.


Tinggalkan komentar

393


lagi ?”
“Sudah.”
“Hanya itu. Kenapa wedang serenya hanya satu ?”
“Cukup untuk dua orang Ki Sanak.”
“Kalian telah tersesat memasuki kedai ini. Seharusnya kau beli saja nasi tumpang dan wedang sere di sebelah pintu gerbang pasar itu sambil duduk lesehan di bawah pohon gayam. Kalian tidak perlu masuk ke dalam kedai ini untuk semangkuk wedang sere dan dua mangkuk nasi tumpang.”
“Tetapi bukankah di kedai ini ada nasi tumpang.“
Pelayan itu tidak menjawab. Sambil bersungut-sungut ia meninggalkan Glagah Putih dan Rara Wulan.
“Pesan apa mereka ?“ bertanya pemilik kedai yang nampaknya juga kurang senang atas keberadaan Glagah Putih dan Rara Wulan. Apalagi ketika ia mendengar pesan kedua orang itu, maka pemilik kedai itupun mengumpat kasar.
“Segera hidangkan pesanan itu kepada mereka, agar mereka segera pergi.”
Pemilik kedai itupun dengan cepat menyiapkan pesan Glagah Putih dan Rara Wulan. Kemudian pelayannya pun segera menghidangkan pula, agar kedua orang itu segera meninggalkan kedai itu.
Tetapi Glagah Putih dan Rara Wulan tidak makan cepat-cepat. Mereka makan perlahan-lahan, sementara Rara Wulan berkata sambil tertawa tertahan, “Kakang hanya memesan semangkuk minuman. Itupun hanya wedang sere.”
Glagah Putihpun tertawa pula.
Ternyata Glagah Putih dan Rara Wulan benar-benar tidak menghiraukan orang-orang yang sedang berada di kedai itu pula. Mereka sadar, bahwa beberapa orang sedang memperhatikan mereka. Tatapi mereka tidak peduli. Mereka makan saja seenaknya dan bergantian mereka meneguk wedang sere dengan gula kelapa itu.
Namun akhirnya nasi merekapun habis juga. Demikian minuman mereka. Agaknya seorang pelayan sangat memperhatikan mereka. Karena demikian mereka selesai makan, pelayan itu segera datang kepadanya untuk mengambil mangkuk-mangkuk yang kotor itu.
Namun pelayan itu terkejut ketika Rara Wulan kemudian mengambil sekeping uang perak dari kampilnya dan memberikannya kepada pelayan itu.
Sejenak pelayan itu termangu-mangu. Namun kemudian pelayan itupun segera pergi ke pemilik kedai itu sambil menyerahkan keping uang perak itu.
“Siapa yang membayar dengan uang perak ini ?“ bertanya pemilik kedai itu.
“Kedua orang yang memesan semangkuk wedang sere itu, paman.”
“Jadi mereka mempunyai uang perak ?”
“Tidak hanya satu. Ketika ia mengambil uang ini dari kampilnya, aku melihat ada beberapa uang perak di dalamnya.”
“Mereka sengaja menyinggung perasaan kita.”
“Kenapa ?”
“Mereka telah tersinggung karena sikap kita. Tetapi kedai ini kedai kita. Kita dapat berbuat apa saja di sini. Kitapun bebas melayani langganan-langganan kita. Bahkan seandainya kita akan mengusir orang itu, itu adalah hak kita.”
“Jadi, bagaimana dengan uang ini ?“ bertanya pelayan itu.
Pemilik kedai itupun mengambil uang perak itu dari tangan pelayannya. Iapun kemudian mendatangi Glagah Putih dan Rara Wulan. Sambil melemparkan uang perak itu dihadapan Glagah Putih, pemilik kedai itupun berkata, “Kau hanya minum wedang sere semangkuk untuk dua orang. Kemudian nasi megana yang harganya paling murah di kedai ini. Sekarang kalian membayar dengan uang perak.”
“Aku tidak mempunyai mata uang yang lebih kecil.”
“Ambil uang itu. Kalian tidak usah membayar minuman yang kalian minum, serta nasi yang kau makan. Harganya tidak seberapa. Bagi kami minum dan makan yang kalian pesan itu tidak ada harganya.”
Rara Wulan terkejut ketika Glagah Putih itu bangkit berdiri. Setelah memungut uang perak itu, maka iapun mengangguk hormat sambil berkata, “Jika demikian, aku mengucapkan terima kasih. Hal ini merupakan satu pengalaman yang menarik. Kami akan melakukan lagi nanti dan esok di kedai-kedai yang lain, sehingga uang kami akan tetap utuh.”
Jantung pemilik kedai itu terasa berdegup semakin keras. Demikian kemarahan bergejolak di dadanya, maka justru orang itu diam mematung. Hanya nafasnya sajalah yang terdengar tersengal-sengal.
Glagah Puth dan Rara Wulan dengan sikap yang wajar-wajar saja kemudian meninggalkan kedai itu sambil berkata, “Terima kasih atas kemurahan hati Ki Sanak.”
Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudian benar-benar meninggalkan kedai itu tanpa membayar sebagaimana dikatakan oleh pemilik kedai itu.
Orang-orang yang berada di kedai itu memperhatikan peristiwa dengan tanggapan yang bermacam-macam. Bahkan ada yang terpaksa menahan tertawanya memperhatikan sikap kedua orang itu.
“Mereka tidak bersalah,“ desis seorang saudagar yang semula duduk disebelah Glagah Putih dan Rara Wulan hampir berbisik.
Tetapi kawannya menjawab, “Tetapi mereka tidak membayar makan dan minuman yang mereka pesan dan bahkan sudah mereka habiskan.”
“Siapa yang tidak membayar ? Mereka mau membayarnya. Bahkan dengan sekeping uang perak. Tetapi pemilik kedai itu tersinggung dan menolak pembayaran itu. Nah, bukankah kedai ini sendiri yang mengatakan kepada mereka, agar mereka tidak usah membayar.”
Kawannyapun tertawa. Sambil mengangguk-angguk ia-pun berkata, “Ya. Mereka memang tidak bersalah.”
Beberapa orang yang lain sependapat dengan saudagar itu. Bahkan ada pula yang menyesalkan sikap pemilik kedai serta para pelayan yang meremehkan pembelinya hanya dengan melihat ujud lahiriahnya saja. Seperti kedua orang itu. ternyata mereka bukan orang-orang yang tidak dapat membayar harga makanan dan minuman yang mahal sekalipun. Jika kemudian mereka hanya memesan wedang sere dan nasi tumpang itu, justru karena mereka merasa direndahkan oleh para pelayan yang segan melayani mereka.
Ketika keduanya membayar dengan sekeping uang perak, pemilik kedai itulah yang tersinggung.
Ternyata persoalan itu masih belum selesai bagi pemilik kedai itu. Seorang pelayannya telah memanggil dua orang upahan pemilik kedai itu untuk melindunginya serta kedainya dari kemungkinan buruk yang dapat terjadi.
“Ada apa lurahe ?“ bertanya seorang diantara mereka.
Dengan singkat pemilik kedai itu menceriterakan, apa yang telah terjadi di kedainya.
“Terserah kepada kalian. Aku hanya ingin membuat mereka jera. Jika kemudian uangnya berceceran dan kalian menemukan keping-keping perak itu, terserah saja kepada kalian.”
Kedua orang itu tertawa. Yang berambut ubanan berkata, “Jika itu terjadi, aku dapat membelikan gelang anakku perempuan.”
“Cepat, pergilah. Mumpung belum terlalu jauh ?”
“Bukankah kedua orang yang masih kelihatan itu ? Mereka tidak akan sempat pergi jauh.”
Demikianlah, maka kedua orang itupun kemudian berjalan mengikuti Glagah Putih dan Rara Wulan yang kemudian berbelok di tikungan. Keduanya tidak terlalu tergesa-gesa. Mereka akan membuat Glagah Putih dan Rara Wulan menjadi jera jika mereka sudah sampai di bulak panjang. Mereka mempunyai alasan yang kuat untuk memberi sedikit pelajaran kepada kedua orang itu. Mereka makan dan minum di kedai tanpa membayar.
Beberapa saat kemudian, Glagah Putih dan Rara Wulan telah keluar dari pintu gerbang padukuhan. Mereka mulai memasuki bulak yang terhitung panjang. Disebelah menyebelah jalan, tanaman padi nampak hijau segar diatas lumpur yang digenangi air melimpah. Parit di pinggir jalan itupun terdengar gemericik mengalirkan air yang nampak jernih.
Namun dalam pada itu, Rara Wulanpun berbisik, “Kakang. Agaknya dua orang sedang mengikuti kita.”
“Ya. Agaknya pemilik kedai itu menjadi sangat marah kepada kita.”
“Lalu, ia memerintahkan dua orangnya untuk mengikuti kita.”
“Tentu tidak sekadar mengikuti kita. Mereka tentu akan menghentikan kita jika kita sudah menjadi agak jauh dari padukuhan. Sementara jalan bulak ini nampaknya sudah menjadi sepi.”
Rara Wulan mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Rara Wulan itu berjalan saja di sebelah Glagah Putih, menyusuri bayang-bayang pohon perindang yang tumbuh di pinggir jalan.
Seperti yang mereka duga, ketika mereka menjadi semakin jauh dari padukuhan, maka kedua orang itu mempercepat langkfh mereka menyusul Glagah Putih dan Rara Wulan.
Tetapi Glagah Putih dan Rara Wulan masih saja berpura-pura tidak mengetahuinya, sehingga akhirnya kedua orang itu sudah berada disamping mereka sambil berkata, ”Berhenti Ki Sanak.“
Glagah Putih dan Rara Wulanpun berhenti. Mereka berdiri di pinggir jalan, dibawah bayangan sebatang pohon turi.
“Apakah kami yang Ki Sanak maksudkan ?“ bertanya Glagah Putih.
“Jangan berpura-pura,“ berkata seorang diantara keduanya, “disini tidak ada orang lain kecuali kalian berdua dan kami berdua. Seharusnya kalian tidak usah bertanya.”
“Baik. Biarlah kami tidak bertanya apa-apa lagi.”
“Akulah yang akan bertanya,“ berkata orang itu, “kenapa kalian lari setelah kalian makan dan minum di kedai kami tanpa membayar.”
“Pertanyaan itu lebih bodoh dari pertanyaanku,“ sahut Glagah Putih, “kau bukan saja berpura-pura. Tetapi kau sudah sengaja menyesatkan persoalan yang sebenarnya.”
“Persetan,“ geram orang itu, “jika demikian. Baik. Kita tidak usah berbasa-basi. Aku datang untuk sedikit memberi pelajaran karena kau sudah meremehkan dan menyinggung harga diri pemilik kedai itu.”
“Kalianlah yang telah menyinggung perasaan kami. Pelayan-pelayan di kedai itu sama sekali tidak menghiraukan kami ketika kami masuk ke dalam kedai itu.”
“Kalian berdua memang tidak pantas dihormati. Meskipun kalian mempunyai banyak uang, tetapi ujud kalian pantas di rendahkan.”
Glagah Putih tersenyum katanya, “Bukankah aku tidak menuntut untuk dihormati. Bukankah aku diam saja. Aku sama sekali tidak berbuat apa-apa. Ketika pemilik kedai itu minta aku pergi, maka akupun pergi.”
“Dengan tanpa membayar makanan dan minuman yang kalian pesan.”
“Kau memang dungu. Pemilik kedai itu yang menolak pembayaran yang aku berikan.”
“Cukup. Sekarang kalian harus kembali ke kedai itu.”
“Untuk apa ?”
“Kalian harus minta maaf kepada lurahku, pemilik kedai itu. Kaupun harus memenuhi kewajibanmu.”
“Semua itu omong kosong. Kau tentu hanya mencari perkara agar kau dapat melakukan kekerasan. Karena itu, sebaiknya kau tidak usah berputar-putar. Kalau kau ingin berkelahi, mari kita berkelahi. Begitu saja.”
Kedua orang itu menjadi heran. Ternyata orang itu sama sekali tidak merasa cemas, bahwa ia berhadapan dengan dua orang yang berwajah garang.
“Apakah wajahku sudah tidak garang ?“ bertanya orang yang rambutnya mulai ubanan itu kepada diri sendiri.
Bukan saja laki-kali itu sajalah yang tidak menjadi cemas. Tetapi perempuan itupun nampak tenang-tenang saja. Bahkan sambil tersenyum Rara Wulan itupun berkata, “Selain sekedar memenuhi keinginan lurahmu untuk menyakiti kami, tubuh dan hati kami, kau tentu juga berpikir tentang kaping-keping uang perak yang ada di kampilku. Ia tentu menceriterakannya kepadamu.”
“Tutup mulutmu, iblis betina.”
“Ternyata kau memang seorang pemarah. Sudahlah, jangan berputar-putar lagi. Suamiku akan berkelahi melawan kalian berdua. Aku akan berteduh saja dibawah pohon turi ini.”
Kedua orang itu benar-benar menjadi sakit hati melihat sikap kedua orang itu. Mereka benar-benar telah meremehkan mereka berdua.
“Baik. Bersiaplah. Jika kami berkelahi berpasangan menghadapi kau seorang diri, sama sekali bukan salah kami. Seperti kau tidak mau membayar harga makanan dan minuman itu dengan alasan bahwa pemilik kedai itu yang menyuruhmu, maka sekarang kami berkelahi berdua karena perempuan itulah yang menyuruh kami.”
Glagah Putihpun kemudian melangkah ketengah jalan menghadapi kedua orang yang marah itu. Namun sikap Glagah Putih masih tetap tenang-tenang saja.
Orang yang rambutnya mulai ubanan itu menjadi tidak sabar melihat sikap Glagah Putih. Ia merasa Glagah Putih itu memang meremehkannya, sebagaimana ia meremehkan pemilik kedai itu. Karena itu, maka orang itupun segera meloncat menyerang Glagah Putih yang memang sudah siap menunggunya.
Glagah Putihpun dengan tangkasnya mengelak, sehingga serangan itu sama sekali tidak menyentuhnya.
Namun dalam pada itu, yang seorang lagi telah menyerangnya pula. Dengan kakinya yang terjulur, orang itu berusaha menggapai dadanya.
Tetapi Glagah Putih ternyata sangat tangkas. Kakinya berloncatan menghindari serangan-serangan itu. Bahkan tiba-tiba saja seorang diantara mereka telah terdorong dengan derasnya. Tubuhnya terperosok ke dalam parit yang mengalir deras di pinggir jalan. Sementara itu, ketika yang lain siap meloncat menyerang, justru Glagah Putihlah yang telah melenting tinggi. Tubuhnyapun berputar sementara kakinya terayun mendatar menyambar wajah orang itu.
Orang itu pun telah terlempar pula. Ia tidak saja tercebur kedalam parit. Tetapi tubuhnya justru terperosok kedalam lumpur sawah yang digenangi air.
Tertatih-tatih keduanya bangkit berdiri. Yang seorang menjadi basah kuyup, yang seorang lagi penuh dengan lumpur yang mengotori tubuh dan pakaiannya.
Kedua orang itupun mengumpat-umpat. Mata mereka bagaikan memancarkan api kemarahan vang menyala dari dadanya.
“Aku bunuh kau,“ geram yang ubanan.
Tetapi Glagah Putih tersenyum sambil berkata, “Sudahlah. Jangan mencoba-coba lagi. Jika kalian masih ingin mencoba lagi, maka aku ingin membenamkan wajahmu ke dalam lumpur atau ke dalam air parit itu.”
“Kau terlalu sombong. Kau kira kau sendiri laki-laki di dunia ini.”
“Berapa kau diupah oleh pemilik kedai itu sehingga kau berniat untuk membunuh orang. Apakah upah yang kau terima itu memadai atau bahkan melampaui harga leherku ?”
“Bukan lagi soal upah yang aku terima. Tanpa diupah-pun aku berniat untuk membunuhmu, karena kau sudah merendahkan harga diriku.”
“Bukan aku yang telah merendahkan harga diri kalian. Tetapi kalian sendiri. Semakin banyak kalian bertingkah, maka harga diri kalianpun akan menjadi semakin terpuruk sehingga akhirnya kau tidak lagi mempunyai harga diri sama sekali.”
“Persetan dengan igauanmu. Bersiaplah untuk mati.”
“Kau benar-benar akan membunuh ?”
Orang yang rambutnya mulai ubanan itu menggeram, “Kau mulai menjadi ketakutan.”
“Aku memang mulai ketakutan, banwa justru akulah yang akan membunuh.”
Kedua orang itu tidak dapat menahan diri lagi. Keduanyapun kemudian bergeser mendekati Glagah Putih dari arah yang berbeda. Namun dengan serta-merta keduanyapun segera meloncat menyerang dengan garangnya.
Tetapi Glagah Putih mampu bergerak lebih cepat dari serangan-serangan mereka. Karena itu, maka serangan-serangan mereka tidak dapat menyentuhnya sama sekali. Bahkan Glagah Putihlah yang kemudian bagaikan meluncur menjulurkan kakinya menyerang seorang lawannya tepat mengenai lambungnya.
Serangan itu telah melemparkan lawannya dengan kerasnya. Orang itu tidak tercebur ke dalam parit dipinggir jalan, karena tubuhnya membentur sebatang pohon turi.
Terdengar orang itu mengaduh kesakitan. Sementara itu, lawannya yang lain, yang meloncat sambil menjulurkan tangannya mengarah ke dada, telah ditangkis dengan keras oleh Glagah Putih. Kemudian dengan tangannya yang lain, Glagah Putih telah memukul perut orang itu.
Orang itupun tertunduk sambil mengaduh. Namun sisi telapak tangan Glagah Putih telah menghantam tengkuknya. Tidak terlalu keras. Tetapi orang itu jatuh terjerembab.
Rara Wulan menarik nafas. Ia menjadi berdebar-debar ketika ia melihat Glagah Putih mengangkat tangannya. Jika Glagah Putih benar-benar memukul tengkuk orang itu dengan sepenuh tenaga, maka leher orang itupun akan patah.
Demikianlah, maka kedua orang itupun sudah menjadi tidak berdaya.
Tetapi Glagah Putih masih menarik kedua orang itu bergantian dan menceburkan mereka kedalam genangan air berlumpur.
Rara Wulan tidak tahu, kenapa Glagah aputih harus menceburkan keduanya kedalam lumpur. Namun kemudian iapun mengerti juga bahwa Glagah Putih ingin juga berbicara dengan pemilik kedai itu.
“Bangkit, atau aku benamkan wajahmu ke dalam lumpur.”
Kedua orang itu tidak dapat berbuat lain kecuali bangkit dengan tertatih-tatih.
“Naik,“ perintah Glagah Putih.
Keduanyapun kemudian berusaha naik. Mereka meloncati tanggul dan kemudian berdiri di pinggir jalan dengan tubuh dan pakaian penuh dengan lumpur.
“Kalian mempunyai beberapa kesempatan. Meneruskan perkelahian atau kembali ke kedaimu.”
“Baiklah kami kembali ke kedai saja, Ki Sanak. Tetapi biarlah kami mandi dahulu.”
“Tidak. Aku tidak ingin kalian mandi. Aku ingin kalian kembali dalam keadaan seperti itu.”
“Tidak, Ki Sanak. Kami harus membersihkan diri dahulu.”
“Tidak kau dengar. Atau kita akan berkelahi lagi. Jika kalian tidak mau berkelahi, aku akan memukuli kalian, sehingga mata kalian menjadi biru. Wajah kalian menjadi lebam serta gigi kalian rontok semuanya. Kalau kalian ingin melawan, lawanlah.”
“Jangan berbuat seperti itu Ki Sanak. Kami jangan dipermalukan di hadapan langganan-langganan di kedai itu.”
“Persetan. Aku akan menghitung sampai tiga. Jika kalian tidak bergerak, maka aku akan memukul kalian.”
Glagah Putihpun menghitung sampai tiga hitungan. Ternyata keduanya masih tetap berdiri tegak di tempatnya.
Glagah Putih memang tidak main-main. Iapun segera menampar wajah seorang di antara mereka, sampai tubuhnya berputar. Sedangkan dengan tangan kirinya, Glagah Putih memukul wajah orang itu, sehingga wajahnya benar-benar menjadi lebam.
“Aku tidak main-main Ki sanak. Aku lakukan hal ini karena kalian telah berusaha membunuhku. Menurut kalian bukan berapa kalian menerima upah, tetapi hal itu kalian lakukan karena harga diri kalian tersinggung. Aku sudah memperingatkan, bahwa semakin banyak kalian bertingkah, maka harga diri kalian akan semakin terpuruk sehingga sampai ke dasar. Sekarang aku benar-benar ingin membuktikan, bahwa kau sudah tidak mempunyai harga diri lagi.”
Keduanya tidak dapat berbuat lain. Mereka melihat mata Glagah Putih menjadi merah. Agaknya orang itu benar-benar menjadi marah, karena mereka berdua berniat untuk membunuhnya.
Dengan tubuh dan pakaian penuh dengan lumpur mereka berdua berjalan kembali menuju ke kedai mereka. Demikian mereka memasuki regol padukuhan, maka orang-orang yang berpapasanpun memandang mereka dengan heran. Sementara itu, seorang laki-laki dan seorang perempuan mengikuti mereka di belakangnya.
Tetapi tidak seorangpun yang berani menegur mereka. Bahkan mereka yang sempat menghindar, tentu akan menghindarinya. Mereka tahu, bahwa dua orang yang tubuh dan pakaiannya penuh dengan lumpur yang mulai mengering itu adalah dua orang upahan pemilik kedai yang besar di dekat pasar itu.
Demikian keduanya sampai di depan kedai, maka pemilik kedai itupun terkejut. Glagah Putih mendorong mereka dengan kuatnya sehingga keduanyapun jatuh terjerembab di depan kedai yang masih banyak pengunjungnya itu.
“Terima kasih atas salam yang kau kirimkan lewat kedua orangmu itu,“ berkata Glagah Putih.
Pemilik kedai itu menjadi tegang. Demikian pula para pelayannya. Kedua orang itu bagi mereka adalah pelindung dan penyelamat jika ada orang yang berniat buruk terhadap mereka.
Orang-orang yang berada di kedai itupun menjadi berdebar-debar pula. Kedua orang upahan itu adalah orang yang berilmu tinggi. Namun mereka ctigiring seperti itik yang tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan tubuh dan pakaian mereka penuh dengan lumpur. Kesannya, mereka telah bertempur, namun mereka telah dikalahkan.
“Ki Sanak,“ berkata Glagah Putih kemudian, “sekarang apa yang Ki Sanak maui ? Jika Ki Sanak menuntut karena aku tidak membayar, maka itu adalah salah Ki Sanak sendiri. Aku sudah membayar, bahkan berlebih. Ki Sanak tidak memberikan uang kembali, tetapi uangku itu Ki Sanak kembalikan sambil mengatakan, bahwa kami berdua tidak usah membayar harga minuman dan makanan yang kami pesan, karena harganya tidak seberapa. Sekarang, katakan. Apa yang kau maui sebenarnya. Jika kau hanya sekedar ingin berselisih dan berkelahi, aku juga tidak berkeberatan.”
Wajah pemilik kedai itu menjadi pucat. Sementara orang-orang yang berada di kedai itu nampaknya tidak ingin mencampuri persoalan itu. Karena itu, maka merekapun hanya berdiam diri.
“Tidak. Tidak Ki Sanak,“ jawab pemilik kedai itu, “aku tidak berniat apa-apa. Sungguh. Aku tidak berniat apa-apa.”
“Tetapi kau kirim kedua orangmu. Mereka menganggap kami bersalah karena kami tidak membayar harga makanan dan minuman. Tetapi lebih dari itu, mereka tentu akan merampas uangku, karena mereka tahu, bahwa aku mempunyai tidak hanya sekeping uang perak di dalam kampilku.”
“Tidak. Sungguh aku tidak minta mereka melakukannya. Jika mereka melakukannya, itu tentu atas kemauan mereka sendiri.”
“Jangan bohong Ki Sanak. Aku dapat berbuat lebih banyak dari sekedar membuat kedua orangmu itu tidak berdaya.”
“Sungguh Ki Sanak. Aku tidak bermaksud apa-apa.“ Pemilik kedai itu benar-benar menjadi ketakutan, ia tidak mengira, bahwa orang itu akan mampu mengalahkan kedua orang upahannya yang berilmu tinggi itu.
“Baik. Jika kau tidak memerintahkan kedua orang upahanmu itu menyusul aku, maka yang dilakukan itu benar-benar atas kemauan mereka. Kalau begitu, maka segala tanggung jawab terletak pada mereka berdua itu sendiri. Karena keduanya sudah berniat untuk membunuhku, maka mereka harus mempertanggungjawabkannya. Karena itu maka aku akan membunuh mereka berdua.”
Kedua orang upahan itu terkejut. Merekapun kemudian untuk bangkit dan merangkak mendekatiGalgah Putih sambil berkata, “Jangan bunuh kami. Kami tidak bersalah. Kami diperintahkan oleh pemilik kedai itu untuk minta uang untuk membayar minuman dan makanan yang kalian pesan.”
“Aku hanya minta uang itu. Tetapi untuk membunuh.”
“Kau perintahkan kepada kami agar kami memberi pelajaran kepada mereka. Kalian perintahkan kepada kami untuk merampok uang mereka.“
“Tidak. Bohong.”
“Apa ? Kau menuduh kami bohong,“ bentak orang yang rambutnya ubanan, “aku akan memotong lidahmu.”
“Jangan, jangan,“ pemilik kedai itu menjadi ketakutan.
“Lebih baik memotong lidahmu daripada aku harus dibunuh oleh orang ini.”
“Tetapi kau adalah orangku. Aku telah mengupahmu.”
“Berapa kau mengupah kami sehingga kami harus mempertaruhkan nyawa kami, he ? Bukankah lebih baik memotong lidahmu yang telah menfitnahku.”
“Jangan. Jangan. Aku akan memberikan upah lebih banyak kepada kalian.”
Glagah Putih menarik nafas. Katanya, “Nah, ternyata kalian dapat memetik manfaat dari peristiwa ini. Tetapi hati-hati. Jika kau masih saja menakut-nakuti pembeli, maka aku akan datang lagi. Aku akan berbuat lebih buruk dari apa yang aku lakukan sekarang.”
Kedua orang yang tubuh dan pakaiannya penuh dengan lumpur itu berdiri termangu-mangu. Sementara Glagah Putihpun berkata, “Baik. Anggap persoalan ini sudah selesai. Jangan membuat persoalan baru, terutama kepada para pengunjung di kedai kalian.”
“Baik, Ki Sanak,“ jawab kedua orang itu hampir berbareng.
“Upah kalian akan naik. Kalian harus bersukur. Tetapi kalian untuk selanjutnya jangan melakukan pemerasan, karena aku akan sering melintas dijalan ini. Aku akan mendengar dan melihat, apa yang telah terjadi di sini.”
Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudian meninggalkan kedai itu. Dua orang yang berlumuran dengan lumpur itupun segera pergi ke pakiwan. Namun seorang diantara mereka sempat berkata, “Kau sendiri berjanji untuk menaikkan upah kami. Tentu saja kenaikan itu harus memadai dengan runtuhnya harga diri kami saat ini.”
“Jangan memeras. Aku akan mengatakannya kepada kedua orang itu, jika mereka lewat.”
“Tetapi kenaikan itupun harus pantas. Jika tidak, maka akupun dapat mengatakan kepada orang itu jika ia lewat.”
Pemilik kedai itu tidak menjawab. Tetapi ia sudah terlanjur berjanji untuk menaikkan upah kedua orang itu.
Ada beberapa tanggapan dari orang-orang yang berada di kedai itu. Ada yang mentertawakannya. Ada yang menganggapnya sebagai lelucon. Tetapi ada yang menanggapinya dengan gejolak di dalam dada mereka.
“Sombongnya orang itu,“ berkala seorang yang berkumis lebat, “ia sudah memamerkan kelebihannya di depan banyak orang, seakan-akan seluruh dunia ini harus tunduk kepadanya.”
“Kau ini kenapa?“ bertanya kawannya, “bukankah yang dilakukannya itu lebih baik daripada ia mambunuh mereka berdua. Aku senang dengan caranya. Pemilik kedai inilah yang aku anggap sombong dan memang pantas untuk mendapat peringatan. Peringatan yang diterimanya kali ini berbau kelakar yang segar. Jika saja orang itu seorang pemarah dan mudah tersinggung harga dirinya maka akibatnya akan lain.”
“Orang itu tidak pantas berbuat demikian. Apa pula maksudnya ia mengenakan pakaian sederhana seperti itu, kemudian memasuki kedai yang memang menjadi tempat singgah bagi orang-orang berada.”
“Mungkin ia tidak mempunyai maksud apa-apa, ia masuk saja ke dalam sebuah kedai. Baru disadarinya setelah ia berada di dalam dan bahkan dengan perlakuan yang menyakitkan dari para pelayan, bahwa kedai ini sudah terbiasa dikunjungi oleh orang-orang yang ujudnya saja, gebyar luarnya saja, sebagai orang-orang berada. Mungkin tamu yang duduk di sudut itu. Yang mengenakan pakaian mahal, dengan timang emas yang sengaja diperlihatkan. Hiasan bajunya yang bermata berlian, mempunyai hutang lebih banvak dari harga barang miliknya.”
“Itu bukan urusan kita. Yang kita lihat disini adalah ujud lahiriahnya.”
“Nah, jika demikian bukan orang itu yang sombong. Tetapi kitalah yang telah menyombongkan diri dengan selimut gebyar lahiriah.”
“He, jadi kau sudah kejangkitan penyakit seperti itu pula?”
“Mungkin. Tetapi aku senang melihatnya. Aku senang melihat pemilik kedai itu menjadi ketakutan kepada orang upahannya sendiri. Akupun senang melihat kedua orang upahan yang berlumuran lumpur badan dan pakaiannya.”
Kawannya itupun bergumam, “Tidak sepantasnya ia menghinakan orang seperti itu.”
“Iapun tidak sepantasnya diperlakukan seperti itu oleh pemilik dan pelayan kedai ini.”
Kawannya terdiam. Tetapi wajahnya masih menunjukkan gejolak perasaannya.
Namun yang lain berkata, “Seandainya kita tidak setuju dengan sikapnya, apa yang dapat kami lakukan?”
“Aku punya beberapa orang gegedug yang akan dapat memilin lehernya.”
“Apakah kita akan mencari perkara? Aku juga punya pengawal yang terpercaya. Tetapi pengawalku tidak akan dapat berbuat apa-apa menghadapinya.”
Kawannya terdiam pula. Meskipun demikian nampaknya ia masih saja tersinggung oleh sikap Glagah Putih.
Sementara itu, Glagah Putih dan Rara Wulan sudah menjadi semakin jauh dari kedai itu. Mereka sudah kembali keluar dari pintu gerbang padukuhan dan berjalan di bulak panjang.
Sementara itu, panas matahari terasa bagaikan membakar tubuh. Namun perlahan-lahan matahari itupun mulai menuruni sisi langit di sebelah Barat.
Terasa angin yang mengalir mengipasi tubuh-tubuh yang kepanasan itu. Tetapi jika Glagah Putih dan Rara Wulan berhenti di bawah bayangan daun turi yang tumbuh berjajar di pinggir jalan, maka angin yung mengusap wajahnya telah membuatnya malas untuk beranjak lagi
Tetapi keduanya adalah arang orang yang memiliki kelebihan dari orang lain. Karena itu. maka mi reknpun berjalan terus meski jalan yang terbentang di hadapannya bagaikan dilapisi dengan uap air yang mendidih
Namun mataharipun semakin lama menjadi semakin rendah. Jalan yang mereka tempuh justru membelakangi arah sinar matahari sehingga punggung merekalah yang menjadi basah oleh keringat.
Semakin lama, mataharipun menjadi semakin rendah. Sinarnya tidak lagi terasa menggigit. Sementara itu, Glagah Putih dan Rara Wulanpun sudah berjalan semakin jauh.
Di sebuah bulak pendek, Glagah Putih dan Rara Wulan melihat beberapa orang yang pulang dan sawah. Setelah mencuci kaki dan tangannya di sebuah pancuran di sebuah lereng berbatu cadas.
Agaknya di bulak itu para petani sedang sibuk mencabuti rumput-rumput liar di antara tanaman padi di sawah.
Sementara itu, mataharipun semakin rendah. Sinarnya menjadi merah kekuning-kuningan. Cahayanya yang tajam menusuk bibir mega yang mengalir ke Utara.
Sekelompok burung blekok putih terbang berjajar dalam tatanan yang rapi.
“Sebentar lagi senja akan turun,” berkata Rara Wulan.
“Ya. Kita harus mencari tempat untuk bermalam. Jika mungkin di banjar padukuhan.”
“Jika tidak mungkin?” bertanya Rara Wulan, “Ya, di banjar kademangan.”
Rara Wulan mencibir. Katanya, “Kau pilih enaknya saja. Kalau tidak ada banjar apapun?”
Glagah Putih tertawa. Sambil menggeser mengambil jarak dari Rara Wulan itupun berkata, “Kalau tidak ada barak, kita akan bermalam di rumah Ki Bekel atau Ki Demang.”
“Kau justru akan ditangkap,“ sahut Rara Wulan.
“Kenapa ?”
“Kau pantas dicurigai.”
Glagah Putih masih saja tertawa sambil menjawab, “Kalau ditangkap, bagaimana dengan kau? Kau tentu akan menjadi ketakutan. Seorang perempuan berjalan sendiri lewat bulak yang ditunggu oleh beberapa orang penyamun. Kau tentu akan merengek minta tolong kepada suamimu.”
“Aku akan berkata kepada Ki Bekel atau Ki Demang yang menangkapmu, bahwa kau memang pantas dicurigai. Kau harus ditangkap dan baru dilepas di keesokan harinya.”
“Lalu semalaman kau sendiri berada di mana?”
“Aku akan mendapat sebuah bilik yang hangat di gandok banjar padukuhan.”
Glagah Putih tertawa berkepanjangan. Ia akan mengatakan sesuatu, tetapi tidak jadi, karena ia terlanjur tertawa.
“Apa yang akan kau katakan, kakang. Apa he?“
“Tidak. Aku tidak akan mengatakan apa-apa.”
“Kau tentu akan berkata sesuatu. Katakan, ayo katakan.”
“Tidak. Aku tidak mengatakan apa-apa.”
Ketika Rara Wulan mendekatinya, Glagah Putih justru menjauhinya sambil berkata, “Benar. Aku tidak akan mengatakan apa-apa.”
Keduanyapun terdiam ketika mereka melihat di depan mereka, keluar dari padukuhan di depan, sekelompok orang dalam satu iring-iringan berjalan perlahan-lahan.
“Siapakah mereka?”
“Matahari sudah menjadi kian rendah.”
“Iring-iringan penganten,“ berkata Rara Wulan.
“Ya. Iring-iringan penganten.”
Ketika mereka berpapasan, maka Rara Wulanpun bertanya, “Tidak ada pengantin perempuannya?”
“Itu adalah iring-iringan pengantin laki-laki yang akan pergi ke rumah pengantin perempuan.”
Rara Wulan mengangguk-angguk. Nampaknya iring-iringan itu tidak tergesa-gesa. Mungkin rumah pengantin perempuan hanya dekat saja. Mungkin di padukuhan sebelah bulak pendek itu.
Glagah Putihpun menengadahkan wajahnya. Sinar kuning di langit menjadi semakin tajam. Namun agaknya masih ada waktu bagi iring-iringan itu untuk sampai di rumah pengantin perempuan sebelum gelap.
Demikian iring-iringan pengantin itu lewat, maka Glagah Putih dan Rara Wulan yang berdiri menepi, segera melanjutkan perjalanan. Tetapi mereka berdiri tertegun di pintu gerbang padukuhan itu. Mereka melihat dua buah tugu yang dibuat dari batu bata. Dua buah tugu yang mirip yang satu dengan yang lain.
Keduanya mencoba mengamati kedua tugu yang tidak begitu tinggi itu. Tidak lebih tinggi dari Glagah Putih.
“Mungkin hanya pertanda perbatasan,“ berkata Glagah Putih, “mungkin kita telah memasuki sebuah kademangan yang lain dari kademangan yang baru saja kita lewati.”
“Ya. Mungkin batas kademangan. Tetapi mungkin batas padukuhan saja.”
“Biasanya padukuhan-padukuhan yang termasuk dalam satu kademangan tidak diberi batas yang jelas seperti ini. Apalagi di sini ada dua buah tugu yang satu mirip dengan yang lain, meski aku menduga bahwa keduanya tidak dibuat pada waktu yang bersamaan.“
Rara Wulan mengangguk-angguk.
“Marilah, kita memasuki padukuhan ini. Kita akan minta ijin untuk bermalam di banjar. Mungkin ada cerita tentang kedua tugu yang selain tidak dibuat pada waktu yang bersamaan, tugu ini bukan termasuk tugu yang sudah tua. Tetapi kedua tugu ini termasuk tugu yang baru, sehingga tentu banyak orang yang mengetahuinya.
Keduanyapun kemudian memasuki padukuhan yang di depan pintu gerbangnya itu, di sisi sebelah kanan, terdapat dua buah tugu.
Glagah Putih dan Rara Wulan tidak lagi teringat kepada iring-iringan penganten yang memang memasuki padukuhan sebelah yang hanya dipisahkan oleh bulak pendek dengan padukuhan yang mempunyai dua tugu di pintu gerbangnya itu.
Rara Wulan sempat memperhatikan pintu gerbang padukuhan itu pula. Nampaknya padukuhan itu termasuk padukuhan yang terhitung besar serta tingkat kesejahteraan yang baik.
Namun ketika Glagah Putih sudah berjalan memasuki pintu gerbang itu, maka Rara Wulanpun segera mengikutnya pula.
Demikian mereka memasuki padukuhan itu, maka rasa-rasanya senja sudah mulai turun. Sinar matahari yang condong terhalang oleh pepohonan yang tumbuh di halaman dan kebun yang luas dibatasi oleh dinding batu yang tidak terlalu tinggi.
Keduanyapun kemudian menelusuri jalan utama padukuhan itu. Mereka sudah menduga, bahwa dengan mengikuti jalan utama itu, mereka akan sampai ke banjar padukuhan atau jika padukuhan itu padukuhan induk kademangan maka mereka akan sampai di sebuah banjar kademangan.
Beberapa lama mereka berjalan di jalan utama padukuhan itu. Kadang-kadang mereka berpapasan dengan orang-orang padukuhan yang berjalan di jalan utama itu. Namun orang-orang itu tidak begitu memperhatikan mereka berdua. Agaknya jalan itu adalah jalan yang memang sering dilalui oleh orang-orang yang bepergian dari satu tempat ke tempat lain, sehingga orang yang lewat di jalan bagi penghuni padukuhan itu adalah hal yang wajar-wajar saja. Karena itu mereka tidak terlalu menarik perhatian mereka.
Glagah Putih dan Rara Wulan melangkah terus menyusuri jalan utama itu. Semakin lama langitpun menjadi semakin buram. Beberapa orang justru sudah mulai menyalakan lampu minyak diserambi rumahnya yang nampak dari sela-sela pintu regol halaman yang terbuka.
Seperti dugaan Glagah Putih dan Rara Wulan, padukuhan itu termasuk padukuhnn yang kehidupan rakyatnya termasuk cukup baik. Memang tidak semuanya. Ada juga satu dua rumah yang kecil dan sederhana terletak di halaman yang tidak begitu luas. Tidak seluas halaman rumah di sebelah menyebelah. Tetapi kehidupan rata-rata penghuni padukuhan itu tidak memprihatinkan.
Ternyata seperti yang diduga oleh Glagah Putih dan Rara Wulan, maka akhirnya mereka berdiri di depan regol sebuah bangunan yang terhitung benar, di tengah-tengah halaman yang luas. Menurut pengamatan Ghigah Putih dan Rara Wulan, bangunan itu tentu banjar padukuhan atau banjar kademangan. Bukan rumah yang dihuni oleh seseorang. Juga bukan rumah Ki Bekel atau Ki Demang.
“Kita akan singgah,“ berkata Glagah Putih, “kita akan menemui petugas penunggu banjar ini. Jika kita diperkenankan bermalam di banjar mi, maka kita akan bertanya tentang kedua tugu di sebelah pintu gerbang itu.”
Rara Wulanpun mengangguk sambil menjawab, “Ya. Kita akan mencoba.”
Keduanyapun kemudian memasuki regol banjar yang terhitung besar itu. Nampaknya bangunan itu baru saja diperbaiki atau diperluas. Ada bagian bagian yang nampak baru. Gandoknyapun nampnk baru saja diperluas. Pintu seketengnyapun nampak baru saja diperbaharui pula.
“Nampaknya padukuhan ini baru saja membangun dirinya,“ berkata Glagah Putih.
“Ya. Gerbang padukuhan inipun nampaknya juga baru saja diperbaiki.”
“Kau sempat memperhatikannya?”
“Ya. Sementara kau langsung saja memasuki padukuhan ini.”
Glagah Putih dan Rara Wulan itupun berhenti di halaman ketika seorang yang sudah separo baya mendatanginya. Dengan hormat orang itu mengangguk. Kemudian bertanya, “Maaf Ki Sanak. Apakah Ki Sanak mempunyai keperluan yang barangkali dapat aku bantu?”
Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk hormat pula. Dengan nada rendah Glagah Putih menyahut, “ Maaf Ki Sanak. Kami sedang dalam perjalanan. Kami ternyata kemalaman. Kami ingin menemui penunggu banjar ini untuk minta ijin bermalam semalam saja di banjar ini.”
“Akulah penunggu banjar ini, Ki Sanak.”
“Kebetulan sekali,“ sahut Glagah Putih, “seperti yang aku katakan, jika diperkenankan kami berdua minta ijin untuk bermalam malam ini di banjar ini. Kami dapat ditempatkan dimana saja yang tidak mengganggu kegiatan di banjar ini pada malam hari, jika ada.”
Penunggu banjar itu tersenyum. Katanya, “Ki Sanak ini agaknya akan bepergian jauh.”
“Kami berdua akan pergi ke Ngadireja.”
“Ke Ngadireja? Kalian tinggal di Ngadireja?”
“Tidak, Ki Sanak. Kami tinggal di Jati Anom. Kami berdua akan pergi ke Ngadireja, tetapi kami belum pernah pergi ke Ngadireja sebelumnya.”
“Untuk apa kalian pergi ke Ngadireja?”
“Ayah minta kami mengunjungi paman yang sudah lama tidak datang menengok ayah. Ayah menjadi agak cemas, kemudian minta kami menengoknya. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa.”
“Ngadireja sudah tidak terlalu jauh lagi, jika Ki Sanak berdua malam ini akan bermalam di sini dan berangkat esok pagi-pagi maka esok sore atau mungkin menjelang senja, Ki Sanak sudah akan sampai ke Ngadireja. Kemudian Ki Sanak masih harus mencari tempat tinggal paman Ki Sanak itu.”
“Ayah sudah memberikan ancar-ancarnya. Nampaknya tidak terlalu sulit untuk mencari rumah paman.”
“Baiklah Ki Sanak. Aku kira kami tidak berkeberatan Ki Sanak berdua bermalam di banjar, meskipun aku belum melapor kepada Ki Jagabaya. Biarlah aku mendahuluinya, karena Ki Jagabaya baru mengantar pengantin ke padukuhan sebelah. Nanti malam, biarlah aku melaporkannya. Tetapi biasanya tidak ada masalah apa-apa jika ada seseorang yang bermalam di banjar ini.”
“Terima kasih, Ki Sanak.”
“Marilah. Ikut aku. Aku akan menunjukkan sebuah bilik di belakang yang dapat kalian pakai berdua. Bukankah kalian berdua ini suami isteri?”
“Ya. Kami berdua adalah suami isteri.”
“Baik. Jika demikian, marilah.”
Glagah Putih dan Rara Wulan kemudian mengkuti penunggu banjar itu ke bagian belakang banjar. Penunggu banjar itupun mempersilahkan mereka masuk ke dalam sebuah bilik yang tidak begitu luas, tetapi mencukupi bagi mereka berdua.
“Nah, nanti malam kalian dapat tidur di bilik itu. Tetapi jika kalian ingin membersihkan diri atau mandi, di belakang ada pakiwan. Silahkan. Mungkin setelah mandi kalian akan menjadi segar kembali.”
“Terima kasih, Ki Sanak. Kami akan pergi ke pakiwan.”
“Nah, silahkan. Aku akan keluar sebentar. Hanya ke rumah di seberang jalan, jika memerlukan sesuatu, katakan kepada isteriku. Aku akan memberitahukan kepadanya bahwa di sini ada dua orang yang akan menginap.”
“Terima kasih, Ki Sanak,“ ulang Glagah Putih dan Rara Wulan berbareng.
Demikianlah, maka keduanyapun pergi ke pakiwan. Ketika Rara Wulan mandi, maka Glagah Putihpun menimba air mengisi jambangan. Baru kemudian, Glagah Putihpun mandi pula.
Seperti yang dikatakan oleh penunggu banjar itu, setelah mandi, merekapun menjadi segar kembali.
Setelah berbenah diri di dalam bilik di bagian belakang banjar itu, maka mereka berduapun duduk di amben bambu yang cukup besar bagi mereka berdua. Di atas gelar bambu wulung, terbentang tikar pandan yang putih bergaris-garis biru.
Sementara itu, lampu minyak yang menyala ditaruh di atas ajug-ajug di sudut ruangan.
Namun baru saja mereka mulai berbincang, seorang perempuan separo baya telah mendatangi mereka. Dengan ramah perempuan itu mempersilahkan mereka pergi ke rumahnya yang kecil yang berada di belakang banjar itu.
Glagah Putih dan Rara Wulan tidak dapat menolak. Merekapun kemudian pergi ke rumah penunggu banjar itu. Ternyata penunggu banjar itu sudah ada di rumahnya.
“Silahkan Ki Sanak berdua. Silahkan.”
Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudian duduk di sebuah amben yang agak besar, hampir memenuhi ruang depan rumah penunggu banjar itu.
Di tengah-tengah amben itu telah dihidangkan minuman hangat dan beberapa potong makanan.
Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudian duduk bersama penunggu banjar itu suami isteri. Sambil minum minuman hangat mereka berbicara tentang berbagai hal. Tentang perjalanan Glagah Putih dan Rara Wulan, sehingga tujuan yang akan didatanginya.
Namun tiba-tiba saja Glagah Putih dan Rara Wulan teringat akan dua buah tugu yang ada di sebelah pintu gerbang. Karena itu, maka Glagah Putihpun bertanya, “Ki Sanak. Ketika aku memasuki padukuhan ini, aku melihat ada dua buah tugu yang ada di pinggir jalan di sebelah pintu gerbang. Apakah arti dari kedua tugu itu. Mungkin tugu untuk memperingati satu peristiwa penting yang pernah terjadi di padukuhan ini. Mungkin lambang dari satu pengharapan atau cita-cita yang sedang diperjuangkan oleh penghuni padepokan ini atau hal-hal lain yang semacam itu.”
“Kalau yang kalian maksud tugu yang dibuat dari batu bata, serta tidak terlalu tinggi di sebelah pintu gerbang itu, memang tugu untuk memperingati satu peristiwa yang kami anggap penting, meskipun tidak merupakan satu peristiwa yang penting sekali.”
“Peristiwa apa, Ki Sanak?“ bertanya Glagah Putih.
“Tugu itu belum terlalu lama dibuat. Ketika itu, seorang Pangeran dari Mataram sedang dalam perjalanan ke Panaraga dengan keluarganya. Sebuah iring-iringan yang tidak terlalu panjang, tetapi mengesankan. Di dalam iring-iringan itu terdapat pula beberapa orang puteri. Sekelompok prajurit dengan setia mengawal Pangeran yang akan pergi ke Panaraga beserta keluarganya itu. Ternyata iring-iringan itu sampai di padukuhan ini malam hari. Mungkin semula mereka berniat untuk tidak berhenti. Tetapi iring-iringan itu nampak sangat letih, sehingga akhirnya, menjelang tengah malam, iring-iringan itu berhenti di padukuhan ini.“
“Bagaimana para puteri itu dapat berjalan sedemikian jauhnya ?“ bertanya Rara Wulan.
“Ada yang naik tandu. Tetapi ada yang naik pedati. Tentu saja pedati khusus.”
Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk.
Mereka langsung mengetahui, bahwa iring-iringan itu tentu iring-iringan Pangeran Jayaraga yang akan pergi ke Panaraga.
“Ketika iring-iringan itu berhenti, maka kami, terutama para bebahu telah menyambut kedatangan mereka dan dengan tergesa-gesa mempersiapkan tempat untuk bermalam. Terutama bagi paru puteri. Sedangkan bagi Pangeran itu sendiri serta para prajurit dan pengawalnya dapat berada di mana saja. Bahkan nampaknya mereka telah berjaga-jaga dengan sangat berhati-hati.”
Glagah Putih dan Rara Wulnn mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Sementara penunggu banjar itupun meneruskannya, “Ternyata bahwa menjelang dini hari, telah terjadi malapetaka. Segerombolan perampok telah menyerang mereka serta berusaha untuk merebut harta-benda yang mereka bawa.”
“Segerombolan perampok? Bukankah Pangeran itu dikawal dengan kuat?”
“Ya. Tetapi gerombolan itu juga sebuah gerombolan yang besar.”
Sambil mengerutkan dahinya, Glagah Pulih bertanya, “Apakah pemimpin gerombolan itu dapat diketahui?”
“Tidak. Gerombolan itu tidak dapat dikenali. Tetapi tentu tidak hanya terdiri dari satu gerombolan saja. Mungkin dua atau bahkan tiga gerombolan perampok yang bergabung, mencegat perjalanan Pangernn Jayaraga dan keluarganya.”
Penunggu banjar itupun kemudian bercerita, bahwa gerombolan itu memasuki padukuhan dari tiga arah. Yang memasuki jalan utama dari dua arah langsung bertemu dengan prajurit yang bertugas. Tetapi sekelompok yang lain, berhasil mendekati banjar. Bahkan mereka hampir saja mencapai regol halaman banjar ini. Untunglah, bahwa dua orang prajurit yang meronda berhasil menjumpai mereka, sehingga dengan isyarat merekapun telah membuat semua prajurit yang ada mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.
Tetapi gerombolan itu ternyata terlalu banyak, sehingga para prajurit mengalami kesulitan. Sementara itu, Pangeran Jayaraga sendiri segera turun ke arena. Seperti seekor banteng terluka, Pangeran Jayaraga itupun telah mengamuk. Siapa yang mendekat, orang itu akan dibabatnya dengan pedangnya yang justru berwarna kehitaman dengan pamor yang berkeredipan.
Sementara itu, para bebahu yang segera diberitahu oleh para perondapun telah bangkit pula. Ki Jagabaya telah memukul kentongan di gardu perondan. Suara kentongan yang memecah sepinya malam itupun segera bersambut dari gardu di ujung padukuhan. Kemudian terdengar suara kentongan yang lain lagi.
Bersama para bebahu yang dipimpin oleh Ki Bekel dan Ki Jagabaya, maka anak-anak muda padukuhan inipun segera terjun ke medan. Mereka bertempur dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari beberapa orang, karena mereka tidak akan mungkin menghadapi seorang dengan seorang.
Namun jumlah anak-anak muda serta laki-laki yang masih kuat untuk turun ke arena di padukuhan ini cukup banyak, sehingga kehadiran mereka telah membuat para perampok agak kebingungan.
Selain kehadiran anak-anak muda dan hampir semua laki-laki di padukuhan ini, agaknya suara kentongan yang bersahut-sahutan di segala sudut padukuhan, bahkan kemudian telah disahut pula oleh kentongan di padukuhan terdekat, membuat para perampok itu gelisah.
Salah seorang gegedug yang berkumis lebat, telah berusaha menghentakkan kemampuan gerombolannya untuk dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya. Ia telah dengan garangpya menyerang Pangeran Jayaraga. Menurut pendapatnya, jika ia berhasil menyelesaikan Pangeran itu, maka yang lain tentu akan segera menyerah.
Gerombolan-gerombolan perampok itu akan segera dapat mengambil harta benda yang dibawa oleh iring-iringan itu, termasuk perhiasan serta persediaan uang, dan bahkan jika dikehendaki, mereka akan dapat membawa puteri-puteri keraton itu pula.
Namun gegedug yang berkumis lebat itu lelah salah menilai kemampuan para Senapati Mataram. Gegedug yang merasa dirinya sangat tidak terkalahkan itu ternyata telah membentur kemampuan yang sangat tinggi. Karena itu, maka bukan gegedug itulah yang dengan cepat menyelesaikan Pangeran Jayaraga, tetapi setelah bertempur dengan sengitnya, maka pedang Pangeran Jayaragalah yang telah mengoyak dada gegedug itu.
Gegedug itu berteriak nyaring. Ia masih mencoba menghindari Pangeran Jayaraga. Beberapa orang pengikutnya telah berusaha melindunginya. Tetapi mereka tidak berdaya menghadapi Pangeran Jayaraga serta pengawal terpilih yang selalu berada di dekat Pangeran Jayaraga.
Karena itu, gegedug itu sendiri tidak berhasil berlindung di balik kemampuan para pengikutnya. Kalikan pengikutnya itupun seakan-akan telah menyibak ketika Pangeran Jayaraga meloncat sambil menjulurkan pedangnya, langsung menancap ke dada gegedug itu.
Dengan demikian, maka gegedug dari para perampok itupun kemudian jatuh terbaring di tanah. Darahnya mengalir dari luka-luka di tubuhnya.
Kematian gegedug dari para perampok itu telah sangat mempengaruhi pertempuran. Para perampok yang masih sempat, segera melarikan diri. Mereka menyelinap dalam kegelapan dan menghilang di bawah rumpun-rumpun bambu.
Para prajurit tidak segera memburu mereka. Para prajurit itu tidak meninggalkan banjar dan sekitarnya. Jika saja masih ada kekuatan lain yang datang untuk menyerang dan merebut harta benda yang dibawa dalam iring-iringan itu.
Sementara itu, anak-anak mudapun merasa ragu untuk mengejar mereka. Bahkan seorang Lurah prajurit telah berusaha mencegah agar anak-anak muda itu tidak mengejar mereka, agar mereka tidak justru terjebak karenanya.
“Dengan demikian, maka para perampok itupun telah terusir,“ berkata penunggu banjar itu selanjutnya.
“Apakah tidak ada yang tertangkap sama sekali?”
“Ada. Tetapi mereka adalah perampok-perampok kecil yang tidak pernah berhubungan langsung dengan gegedug yang terbunuh itu. Sementara satu dua orang pemimpin perampok yang lain telah melarikan diri pula.”
Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk. Dengan nada datar Glagah Putihpun bertanya, “Di mana para perampok yang tertangkap itu kemudian?”
“Mereka telah dibawa oleh Pangeran Jayaraga ke Panaraga dengan ancaman, jika kawan-kawan mereka menyerang di perjalanan sebelum mereka sampai di Panaraga untuk membebaskan mereka, maka mereka semua akan dibunuh.”
“Apakah sudah ada berita dari Panaraga bahwa mereka selamat sampai di tujuan?”
“Sudah. Pangeran Jayaraga sudah selamat sampai di Panaraga. Pangeran Jayaraga telah mengirimkan utusan kemari untuk menyampaikan berita itu. Bahkan Pangeran Jayaraga telah berkenan membuat satu pertanda untuk memperingati peristiwa yang pernah terjadi itu. Sebagai pernyataan terima kasih, Pangeran Jayaraga juga berpesan untuk membuat sebuah tugu kecil sebagai peringatan bahwa telah terjadi peristiwa yang menegangkan itu. Berkat bantuan rakyat di padukuhan ini, maka Pangeran Jayaraga dengan seluruh pengikutnya, para puteri serta para prajurit, telah terlepas dari bencana. Jika saja para prajurit pengawal gagal, maka semua harta benda yang dibawa dari Mataram akan dijarah oleh para perampok. Yang lebih parah lagi, jika ada puteri keraton yang dengan paksa dibawa oleh para perampok, maka nasibnya akan menjadi buruk sekali.
Glagah Putih dan Rara Wulan mendengarkannya dengan seksama. Merekapun kemudian dapay membayangkan apa yang terjadi, sehingga akhirnya tugu kecil di sebelah pintu gerbang itupun telah didirikan.
“Kami membuat dua tugu,“ berkata penunggu banjar itu, “satu dipintu gerbang Utara dan satu di pintu gerbang Selatan.”
Glagah Putih dan Rara Wulan saling berpandangan. Kemudian dengan agak ragu Glagah Putih bertanya, “Tetapi ketika aku memasuki padukuhan ini, sudah ada dua buah tugu di sebelah pintu gerbang.”
“O,“ penunggu banjar itu mengangguk-angguk, “yang satu lain lagi. Yang lebih kecil itu dibuat beberapa bulan kemudian.”
“Juga dalam hubungan dengan kehadiran Pangeran Jayaraga?”
“Bukan. Ada cerita lain lagi yang terjadi di padukuhan ini sehingga telah dibuat tugu kedua itu.”
“Cerita apa lagi, Ki Sanak.”
“Beberapa lama setelah Pangeran Jayaraga lewat dan bermalam di padukuhan ini, maka telah lewat pula seorang Pangeran dari Mataram. Tidak dalam sebuah iring-iringan sebagaimana Pangeran Jayaraga yang akan pergi ke Panaraga. Tetapi Pangeran ini hanya seorang diri.”
“Seorang diri,“ Glagah Putih dan Rara Wulan mengulang hampir berbareng.
“Ya, seorang diri.”
“Siapakah nama Pangeran itu?”
“Ia menyebut dirinya Pangeran Ranapati. Bahkan ia mengaku saudara tua dari Sinuhun Hanyakrawati. Ia putera Panembahan Senapati yang lebih senang mengasingkan diri dan bertapa di lereng Gunung Merapi di sisi Timur. Menurut Pangeran Ranapati, ia merasa dapat hidup lebih tenang di pertapaannya daripada di istana. Di istana, Pangeran Ranapati melihat, betapa kekuasaan yang ada di tangan Sinuhun Hanyakrawati tidak dipergunakan sebagaimana seharusnya. Karena itu, daripada Pangeran Ranapati setiap kali harus mengelus dada karena melihat betapa kekuasaan tidak ditrapkan sebagaimana seharusnya, maka Pangeran Ranapati lebih baik menjauh. Ia tidak mempunyai wewenang untuk mencegah. Sekali Pangeran Ranapati mencoba untuk memperingatkan Ingkang Sinuhun serta para Sentana serta Narapraja yang menyalah gunakan kekuasaannya, maka hampir saja Pangeran Ranapati itu dihukum kisas di alun-alun. Untunglah bahwa Ki Patih Mandaraka, sesepuh Mataram yang masih dihormati mencegahnya, sehingga apa yang dianggap oleh para pemimpin Mataram itu sebagai satu kesalahan, telah diampuni.
Jantung Glagah Putih dan Rara Wulan menjadi berdebar-debar. Ceritera itu merupakan ceritera yang dapat menyesatkan. Tentu saja ceritera itu tidak benar. Glagah Putih mengenal para pemimpin di Mataram. Glagah Putihpun mengenal Ki Patih Mandaraka. Dari beberapa sumber, Glagah Putihpun mengetahui, bahwa orang yang mengaku bernama Pangeran Ranapati, putera Panembahan Senapati itu diragukan kebenarannya.
Tetapi Glagah Putih sama sekali tidak menyahut. Ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja sebagaimana Rara Wulan.
“Pangeran Ranapati yang menempuh satu perjalanan ke Timur itu, telah bermalam di padukuhan ini pula. Ketika ia mengetahui, bahwa Pangeran Jayaraga telah membuat sebuah tugu kecil untuk kenang-kenangan bahwa ia pernah singgah dan merasa dirinya diselamatkan oleh rakyat padukuhan ini, maka Pangeran Ranapatipun ingin membuat sebuah kenang-kenangan pula.
“Bahwa aku diperkenankan bermalam di sini ini merupakan satu kebaikan hati yang harus aku kenang,“ berkata Pangeran Ranapati, “karena itu, akupun ingin membuat satu kenang-kenangan, meskipun kecil saja. Kenang-kenangan bahwa aku pernah atas kebaikan hati penghuni padukuhan ini, diperkenankan bermalam di sini.”
Glagah Putih dan Rara Wulan masih saja mengangguk-angguk. Tetapi mereka masih tetap berdiam diri.
Sementara itu penunggu banjar itupun berkata selanjutnya, “Untuk membuat tugu itu, Pangeran Ranapati berada di Padukuhan ini beberapa hari.”
“Beberapa hari?“ bertanya Rara Wulan dengan serta-merta.
“Ya. Pangeran Ranapati langsung menunggui beberapa orang yang mengerjakan tugu itu. Sekali-sekali Pangeran Ranapati merasa kurang puas, sehingga Pangeran Ranapati perlu memperbaikinya. Sehingga akhirnya jadilah tugu yang sekarang itu.”
“Ternyata Panjeran Ranapati memiliki selera keindahan yang tinggi. Tugu yang kecil itu memang nampak lebih menarik dari tugu yang lebih besar, yang nampaknya lebih sederhana,“ berkata Glagah Putih.
“Ya. Tugu yang besar itu kita buat sendiri. Pangeran Jayaraga tidak menungguinya. Hanya utusannya sajalah yang berada di padukuhan ini ketika tugu itu dibuat.”
Glagah Putih dan Rara Wulan masih saja mengangguk-angguk.
“Namun ada masalah sampingan yang kemudian timbul pada saat Pangeran Ranapati berada di sini.”
“Masalah sampingan?”
“Ya.”
“Sudahlah, pake. Jangan sebut-sebut lagi. Bukankah persoalannya sudah selesai,“ berkata isteri penunggu banjar itu.
Penunggu banjar itu memperhatikan pintu ruangan itu sejenak. Kemudian berkata hampir berbisik, “Bukankah kau bukan orang Mataram dan bukan pula sanak kadang Pangeran Ranapati?”
“Mana mungkin aku termasuk sanak kadang seorang pangeran,“ jawab Glagah Putih.
“Apalagi yang akan kau ceritakan pake.”
“Diceritakan atau tidak, bukankah hampir semua orang sudah tahu?”
“Orang-orang di padukuhan ini. Tetapi bukan orang asing.”
“Orang asingpun akan dapat mendengar pula dari orang-orang padukuhan ini.”
Isterinya menarik nafas panjang. Sementara itu penunggu banjar itupun berkata, “Aku akan menceriterakan akibat samping yang terjadi itu, Ki Sanak. Tetapi jangan kau katakan kepada orang lain. Jika ada orang padukuhan ini yang bercerita kepada orang asing, biarlah itu menjadi tanggung jawab mereka sendiri.”
Glagah Putih dan Rara Wulan menarik nafas panjang. Dengan nada datar Glagah Putihpun berkata, “Baiklah, Ki Sanak. Kami tidak akan mengatakannya kepadaa siapapun juga.”
Penunggu banjar itupun berpaling kepada isterinya sambil berkata, “Apa salahnya aku mengatakannya. Jika sekarang sudah ada puluhan orang yang tahu, malam ini hanya akan bertambah dua orang lagi. Mungkin kau cemas karena kedua orang ini adalah orang asing, sehingga berita ini akan tersebar sampai ke mana-mana. Tetapi bukankah tidak dapat dijamin bahwa orang-orang padukuhan ini yang mengetahui persoalannya tidak akan berbicara dengan orang asing.“
Isterinya tidak menjawab. Ia hanya menarik nafas panjang saja.
Glagah Putih dan Rara Wulan memang menunggu, akibat sampingan apakah yang terjadi sementara orang yang mengaku Pangeran Ranapati itu berada di padukuhan itu.
“Ki Sanak berdua,“ berkata penunggu banjar itu, “ternyata selama Pangeran Ranapati beberapa hari berada di padukuhan, ia sudah berhubungan dengaan seorang gadis. Gadis yang selama ini menjadi bahan rerasan anak-anak muda bukan saja sepadukuhan, tetapi sekademangan. Namun agaknya Pangeran Ranapati tidak dapat membuat penyelesaian terbaik dengan gadis itu. Itulah sebabnya, ia telah meninggalkan pesan kepada Ki Bekel. Jika ia dinikahkan saja dengan salah seorang anak muda di padukuhan ini. Untuk keperluan itu. Pangeran Ranapati telah meninggalkan uang dan sebilah keris yang akan menjadi lambang pernyataan dirinya, meskipun kemudian, yang akan menjalaninya orang lain.”
Wajah Glagah Putih dan Rara Wulan menjadi tegang. Hampir di luar sadarnya, Rara Wulan bertanya, “Jika gadis itu tidak mengandung?”
“Pernikahan itupun dapat dilakukan Tetapi tentu tersedia waktu lebih banyak untuk memiikirkannya. Mungkin gadis itu masih mendapat kesempatan untuk memilih laki-laki yang akan bersedia menikahinya meskipun ia bukan perawan lagi. Tetapi bahwa ia pernah berhubungan dengan seorang pangeran, maka hal itu justru akan menjadi kebanggaannya.”
“Lalu apa yang terjadi dengan gadis itu?“ bertanya Glagah Putih.
“Gadis itu mengandung,“ jawab penunggu banjar itu.
“Jadi gadis itu akan menikah dengan anak muda yang akan mengaku anak di dalam kandungannya itu sebagai anaknya.”
“Ya.”
Isteri penunggu banjar itupun menyambung, “Perkawinan itu telah berlangsung sekarang. Ki Bekel sekarang sedang mengantar pengantin laki-laki ke rumah pengantin perempuan.”
“Jadi gadis itu bukan gadis padukuhan itu?”
“Gadis padukuhan ini. Tetapi sejak ia sadar, bahwa ia mengandung, ia tinggal bersama neneknya di padukuhan sebelah.”
Glagah Putih dan Rara Wulan rasa-rasanya telah menahan nafasnya beberapa saat lamanya.
Sementara itu penunggu banjar itupun berkata, “Meskipun gadis itu bukan anak seorang bebahu atau seorang yang mempunyai pengaruh yang besar di padukuhan ini, tetapi sekarang hampir semua bebahu ikut mengantarkan pengantin laki-laki ke rumah nenek pengantin perempuan itu. Bagaimanapun juga, para bebahu itu masih menaruh hormat kepada anak yang berada di dalam kandungan pengantin perempuan itu, karena bayi dalam kandungan itu adalah anak seorang pangeran.
Dada Glagah Putih dan Rara Wulan terasa berdebaran semakin keras. Iring-iringan yang ditemuinya keluar dari pintu gerbang padukuhan itu tadi tentu yang dimaksudkan.
Sementara itu penunggu banjar itupun berkata pula, “dengan uang yang ditinggalkan oleh Pangeran Ranapati, maka di rumah nenek pengantin perempuan malam ini telah dilangsungkan upacara pernikahan yang ramai. Segala sesuatunya telah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Nanti malam akan diselenggarakan tari topeng semalam suntuk. Bagi para tamu yang tidak terbatas, disediakan hidangan yang sangat memadai. Siapapun boleh hadir di dalam upacara pernikahan itu.”
“Ternyata Pangeran Ranapati sangat kaya.”
“Ya. Ia adalah seorang Pangeran. Ia mempunyai uang yang banyak sekali.”
Demikianlah, malam itu, Glagah Putih dan Rara Wulan duduk berbincang bersama penunggu banjar itu dan isterinya sampai larut malam. Penunggu banjar itu sempat menghidangkan makan malam, minuman yang hangat pula untuk menggantikan minuman yang sudah dingin.
“Nanti, pada wayah sepi uwong, para peronda akan berdatangan. Biasanya ada lima atau enam orang yang meronda. Tetapi kadang-kadang lebih dari itu. Mereka yang tidak segera dapat tidur di rumahnya, sering pergi ke banjar untuk berbincang-bincang dengan tetangga-tetangganya. Anak-anak muda sering bermain bas-basan atau macanan.”
Glagah Putih dan Rara Widan mengangguk-angguk.
“Apakah kalian akan memperkenalkan diri kepada para peronda?“ bertanya penunggu banjar, “agaknya satu dua orang sudah ada yang datang.”
“Terima kasih, Ki Sanak. Jika diperkenankan aku ingin beristirahat. Esok kami akan melanjutkan perjalanan pagi-pagi sekali.”
“Silahkan. Silahkan Ki Sanak. Ki Sanak tentu letih. Sekarang ada baiknya Ki Sanak pergi ke bilik itu. Sudah waktunya untuk tidur. Apalagi esok Ki Sanak masih akan menempuh perjalanan cukup panjang.”
Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudian bergeser turun dari amben yang besar itu. Mereka sudah mendengar suara beberapa orang peronda di pendnpa banjar. Sekali-sekali terdengar suara tertawa di antara mereka.
Namun tiba-tiba telah terdengar keributan di pendapa. Penunggu banjar itupun kemudian berkata, “Masuklah ke dalam bilikmu. Aku akan melihnt, apa yang sudah terjadi di pendapa.”
Glagah Putih dan Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Namun mereka tidak membantah. Merekapun segera masuk ke dalam bilik yang diperuntukkan bagi mereka.
Meskipun kemudian mereka menutup pintu lereg pada bilik itu, tetapi Glagah Putih dan Rara Wulan mendengarkan apa yang terjadi di halaman depan. Dengan mengetrapkan Aji Sapta Pangrungu mereka mendengar semua pembicaraan dari beberapa orang yang mendatangi banjar itu dengan para peronda serta penunggu banjar.
“Jangan kau lindungi perempuan itu. Siapa yang mencoba melindunginya, maka ia akan mati.”
“Perempuan yang mana yang kau maksudkan ?“ bertanya penunggu banjar.
“Hari ini perempuan itu menikah dengan seorang laki-laki yang bukan ayah anak yang ada dalam kandungannya. Anak di perut perempuan itu adalah anak Pangeran Ranapati. Karena Pangeran Ranapati telah membunuh ayahku, maka sekarang aku datang untuk membalas dendam. Aku akan membunuh anak di dalam perut perempuan yang sedang menikah itu. Sebenarnya aku tidak ingin membunuh perempuan itu, karena ia tidak bersalah. Tetapi jika ia mati bersama bayi di dalam kandungannya, maka itu adalah nasibnya.”
“Kami tidak menyembunyikan siapa-siapa Ki Sanak. Apalagi perempuan itu.”
“Perempuan itu menikah malam ini.”
Suasana menjadi tegang. Terdengar beberapa orang berkata hampir berbareng, “jangan lindungi perempuan itu, atau aku bunuh kalian semuanya.”
Tidak ada yang menjawab.
“Di mana perempuan itu, he? Di mana ia menikah. Aku telah datang ke rumahnya, tetapi rumahnya nampak sepi-sepi saja.”
Karena tidak ada yang menjawab, maka orang-orang yang datang itu telah menarik seorang anak muda di antara para peronda sambil berkata, “Jika kalian tidak mau menunjukkan di mana perempuan itu berada, maka aku akan membunuhnya. Jika kalian masih tetap diam, maka aku akan membunuh orang kedua, ketiga dan selanjutnya sampai kalian mau berbicara, dimana perempuan yang di dalam perutnya terdapat anak Pangeran Ranapati itu.”
Suasanapun benar-benar telah mencengkam.
Tetapi karena tidak ada yang segera menjawab, maka salah seorang yang datang itupun berteriak, “Cepat, katakan. Aku tidak mempunyai waktu. Jika tidak ada yang menunjukkan dimana perempuan itu, maka anak muda ini akan aku bunuh.”
“Tunggu,“ berkata penunggu banjar itu, “membunuh anak muda itu sungguh tidak adil. Apa salah anak muda itu? Ia sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan Pangeran Ranapati.”
“Tutup mulutmu. Atau kaulah yang akan aku bunuh lebih dahulu. Aku datang tidak untuk berbicara tentang keadilan. Aku datang untuk menemukan perempuan itu. Ia menikah hari ini. Tetapi dimana?”
Tangan orang itu mulai mencengkeram leher anak muda itu, sehingga anak muda itu berteriak, “Tolong.”
Tetapi suaranyapun terputus karena tekanan di lehernya.
“Baik,“ berkata orang yang mencekik anak muda itu, “anak ini akan mati dengan sia-sia. Setelah anak ini akan ada orang lain yang mati. Mungkin kalian menunggu setelah ada tiga atau empat orang yang mati, kalian baru akan berbicara. Bukankah orang-orang yang mati itu akan sia-sia. Akhirnya kalian akan berbicara juga tentang perempuan itu.”
“Aku akan menunjukkan perempuan itu,“ berkata penunggu banjar itu, “tetapi perempuan itupun tidak bersalah. Jangan bunuh perempuan itu.”
“Aku akan membunuh anak yang berada dalam kandungannya. Aku akan menusuk dengan pedangku. Jika perempuan yang mengandungnya itu mati, itu adalah salahnya sendiri.”
“Itu tidak adil.”
“Cukup. Sejak tadi kau berbicara tentang keadilan. Sudah aku katakan, aku tidak peduli, apakah yang aku lakukan itu adil atau tidak.”
Suasana menjadi semakin tegang. Namun akhirnya penunggu banjar atau salah seorang yang ada di banjar itu tidak mempunyai pilihan. Mereka harus mengatakan, dimana perempuan itu berada. Dimana pernikahan itu dilangsungkan. Penunggu banjar dan orang-orang yang ada dibanjar itu memang harus memilih, siapakah yang akan dikorbankan. Orang-orang yang berada di banjar itu sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan Pangeran Ranapati. Jika banjar itu serta beberapa bangunan padukuhan itu dibangun, karena padukuhan itu mendapat kiriman uang yang cukup banyak dari Pangeran Jayaraga, termasuk untuk membuat tugu kecil itu. Sedangkan Pangeran Ranapati hanya membuat tugu kecil itu serta meninggalkan uang, tetapi khusus untuk perempuan yang mengandung itu jika ia akan menikah.
Karena itu, maka seorang yang rambutnya sudah mulai ubanan, akhirnya berkata, “Kami memang tidak mempunyai pilihan lain. Jangan bunuh anak muda itu. Jangan bunuh kami. Kami sama sekali tidak bersentuhan dengan Pangeran Ranapati. Jika kami menunjukkan perempuan itu, bukan karena kami merasa dengki atau iri akan keberuntungannya, tetapi berdasarkan pada pertimbangan, bahwa perempuan itu memang pernah berhubungan dengan Pangeran Ranapati ketika Pangeran Ranapati berada di padukuhan ini.”
“Akhirnya penalaran kalian dapat berjalan pula. Nah sekarang katakan, dimana perempuan itu.”
“Pernikahan itu berlangsung di padukuhan sebelah. Di rumah nenek perempuan itu. Demikian ia mengandung, maka iapun telah tinggal bersama neneknya di padukuhan sebelah.”
“Bagus. Aku akan pergi ke padukuhan sebelah. Tetapi jika kau berbohong sehingga aku tidak menemukan perempuan itu dipadukuhan sebelah, maka semua rumah di kedua padukuhan ini akan aku bakar. Orang yang mencoba mencegah akan aku bunuh.”
Orang-orang itupun kemudian telah meninggalkan banjar itu untuk pergi ke padukuhan sebelah.
Orang-orang yang berada di banjar itupun berdiri termangu-mangu. Jantung mereka masih berdebaran. Rasa-rasanya nyawa mereka sudah berada diujung rambut.
“Bukan maksudku untuk mengumpankan perempuan itu,“ desis orang yang rambutnya ubanan yang kemudian duduk di tangga banjar sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Aku tahu,“ sahut seorang tetangganya. Penunggu banjar itupun mendekatinya pula sambil berkata, “Bukan salahmu. Siapapun mempunyai pertimbangan yang sama dengan pertimbanganmu. Jika kau tidak mengatakannya, maka akulah yang akan mengatakannya.”
Orang itu menarik nafas panjang. Sementara itu, penunggu banjar itupun teringat kepada Glagah Putih dan Rara Wulan yang berada didalam bilik di bagian belakang banjar.
“Aku akan memberitahukan kepada mereka dan kepada isteriku, apa yang telah terjadi,“ berkata penunggu banjar itu.
“Mereka siapa?”
“Ada dua orang suami isteri yang menginap di bilik belakang banjar ini.”
“O,” orang-orang yang berada di banjar itu tidak begitu menghiraukannya lagi. Memang sudah sering terjadi orang-orang yang kemalaman bermalam di banjar itu.
Namun penunggu banjar itu terkejut ketika ia berdiri di depan bilik. Bilik itu sedikit terbuka, sedangkan suami isteri yang bermalam di banjar itu tidak ada di dalamnya.
Penunggu banjar itupun segera masuk kerumahnya untuk mencari isterinya dan bertanya kepadanya, “Dimana suami isteri itu?”
Tetapi isterinya justru ganti bertanya, “Suami isteri yang mana?”
“Yang bermalam di banjar ini.”
“Bukankah sudah ada dibiliknya?”
“Mereka tidak ada di biliknya,“ geram penunggu banjar itu, “jadi mereka berdua adalah bagian dari para penjahat yang akan membunuh pengantin perempuan itu. Aku sudah terlanjur memberitahukan bahwa perempuan itu menikah hari ini. Tetapi mereka tidak dapat dipercaya. Agaknya mereka memang menyusup untuk mencari keterangan tentang hari pernikahan itu. Kemudian, mereka memanggil kawannya yang segera berdatangan dan berniat untuk membunuh perempuan itu.”
“Itu tidak mungkin.”
“Kenapa tidak mungkin?”
“Mereka baru saja tahu, bahwa malam ini perempuan itu menikah. Kapan ia sempat memberitahukan kepada kawan-kawannya? Bukankah yang kau maksud dengan kawan-kawannya adalah orang-orang yang datang membuat kekisruhan di halaman banjar itu.”
“Kau melihatnya?”
“Aku melihatnya. Bukankah mereka akan membunuh orang-orang yang ada di banjar jika tidak ada yang mau memberitahukan dimana perempuan itu menikah?”
“Ya. Tetapi kenapa suami isteri itu lari?”
“Mungkin mereka tidak lari. Mereka hanya bersembunyi karena ketakutan.”
Penunggu banjar itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata, “Aku harus pergi ke rumah pengantin perempuan itu. Mereka harus tahu, bahwa ada orang yang sedang mencarinya.”
“Mereka sudah pergi lebih dahulu.”
“Aku akan mengambil jalan pintas, lewat pematang. Mudah-mudahan aku datang lebih dahulu.”
“Lalu apa yang dapat kau lakukan, pake?”
“Entahlah. Tetapi aku harus pergi ke sana.“ Penunggu banjar itu tidak berbicara lagi. Iapun segera berlari menuju ke padukuhan sebelah. Tetapi ia tidak mengikuti jalan pintas, apalagi jalan utama. Agar lebih cepat sampai, penunggu banjar itu berlari meniti pematang dan tanggul parit.
Ternyata penunggu banjar itu memang datang lagi lebih dahulu. Sementara itu, upacara pernikahan memang sedang berlangsung dengan khidmat.
Namun tiba-tiba penunggu banjar itupun langsung naik ke pendapa untuk menemui Ki Bekel dan Ki Jagabaya yang menghadiri upacara pernikahan itu. Pernikahan seorang perempuan yang pernah berhubung an dengan seorang Pangeran dari Mataram, yang kemudian setelah mengandung lalu diberikan sebagai triman kepada seorang anak muda yang mau menerimanya. Bukan hanya menerima perempuan itu saja, tetapi ia juga menerima banyak uang yang sebagian dapat dijadikan bekal bagi hidupnya kemudian.
Kedatangan penunggu banjar dengan tergesa-gesa serta langsung naik ke pendapa itu telah mengejutkan banyak orang. Apalagi ketika kemudian, dengan terengah-engah penunggu banjar itu berceritera dengan singkat, apa yang telah terjadi di banjar.
Orang-orang yang berada di pendapa rumah nenek pengantin perempuan itu menjadi gelisah. Ki Bekel dan Ki Jagabaya harus bertindak cepat. Ki Bekel berpikir untuk mencoba mengetrapkan perlawanan rakyatnya menghadapi para penjahat yang ingin merampok Pangeran Jayaraga.
Namun selagi Ki Bekel memandang berkeliling untuk mencari kentongan yang mungkin tergantung disekitar pendapa itu, beberapa orang yang ingin membunuh bayi dalam kandungan pengantin perempuan itu telah berdatangan.
“Jangan mencoba melawan,“ berkata pemimpin mereka, “kalian tidak akan dapat melakukannya. Bahkan seandainya kalian sempat mengerahkan rakyat seluruh kademangan, kalian tidak akan berhasil. Seandainya kalian berhasil menggagalkan niat kami membunuh bayi dalam perut perempuan itu, tetapi korban yang jatuh diantara kalian tentu tidak akan terhitung jumlahnya. Mungkin Ki Bekel, Ki Jagabaya dan para bebahu. Anak-anak muda dan laki-laki yang sekarang sedang menikah itu sendiri.”
Suasanapun menjadi sangat tegang.
“Ketahuilah, bahwa kami datang dengan membawa masalah pribadi. Antara aku dan Pangeran Ranapati. Pangeran Ranapati telah membunuh ayahku. Sekarang aku ingin membunuh anaknya. Jika aku menusuk bayi didalam perut perempuan itu, kemudian perempuan itu ikut mati, maka itu adalah salahnya sendiri.”
“Kau tidak dapat berbuat demikian, Ki Sanak. Baik perempuan itu maupun anak didalam kandungannya, meskipun anak itu adalah anak Pangeran Ranapati, tetapi mereka tidak bersalah. Jika dapat dianggap bersalah karena Pangeran Ranapati membunuh ayahmu, namun yang bersalah itu adalah Pangeran Ranapati itu sendiri. Apalagi jika pembunuhan itu dilakukan dalam perang tanding, sehingga kalian tidak dapat menganggap Pangeran Ranapati bersalah sehingga pantas menjadi sasaran balas dendam.”
“Cukup,” bentak pemimpin kelompok itu, “aku tidak peduli apapun. Aku akan membunuh anak itu. Bukan karena aku tidak berani berhadapan dengan Pangeran Ranapati, tetapi sekarang kami akan sangat kesulitan untuk menemukan Pangeran Ranapati.”
“Seharusnya kau balaskan dendammu dengan cara yang jantan,“ tiba-tiba terdengar suara seseorang dari dalam kegelapan.
Semua orangpun berpaling ke arah suara itu. Mereka melihat dua orang laki-laki dan perempuan keluar dari kegelapan di halaman samping.
Orang-orang yang datang untuk membunuh itupun berdiri termangu-mangu. Pemimpin mereka itupun menggeram, “Kau siapa he? Dan apa maksudmu?”
“Ternyata kau bukan seorang laki-laki. Kau hanya mencari dalih agar kau dapat membalas dendam dengan mudah, tanpa harus bersikap sebagai seorang laki-laki. Kalau kau memang seorang laki-laki, betapapun sulitnya, kau tentu akan mencari Pangeran Ranapati. Tetapi kau tidak berani melakukannya, karena jika kau benar-benar berhadapan dengan Pangeran Ranapati, maka kau bukan tandingannya. Kau tidak akan dapat berbuat apa-apa kecuali menyerahkan lehermu untuk dipilin sampai patah.”
“Cukup. Siapakah kau sebenarnya? Dan apa pula hubunganmu dengan Pangeran Ranapati.”
“Kau kira Pangeran Ranapati pergi begitu saja dengan meninggalkan anaknya tanpa perlindungan. Kami berdua adalah orang-orang yang ditugaskan oleh Pangeran Ranapati untuk melindungi anaknya yang masih berada dalam kandungan. Karena itu, jika kau akan membunuhnya, maka kau akan berhadapan dengan kami.”
Pemimpin dari sekelompok orang itu menggeram. Dengan lantang iapun berkata, “Apa sebenarnya yang kau banggakan sehingga kau berani berkata seperti itu kepadaku. Kau lihat bahwa aku tidak sendiri. Aku datang dalam satu kelompok. Jika ada orang yang mencoba menghalangiku, atau bahkan rakyat padukuhan ini, maka kami tidak akan segan-segan untuk membunuh. Jika itu terjadi, maka korban tidak akan terhitung lagi. Dan ini akan menjadi tanggungjawab Ki Bekel dan Ki Jagabaya. Jika kau yang memicu perlawanan, maka kaulah yang bertanggungjawab.”
“Kami memang akan melawan untuk melindungi putera Pangeran Ranapati. Tetapi kami tidak akan melibatkan seorangpun penghuni padukuhan ini. Kami bertanggungjawab penuh atas keselamatan putera Pangeran Ranapati sehingga kami akan bertempur antara hidup dan mati.”
“Kau sudah gila. Kau seorang diri mencoba untuk menghalangi kami.”
“Kalau kau laki-laki, maka persoalannya adalah persoalan antara kau dan aku. Kau ingin membalas dendam kematian ayahmu, sementara aku bertugas melindungi anak dalam kandungan yang sama sekali tidak bersalah.”
“Bagus,“ geram orang itu, “kau menantang berperang tanding. Jangan menyesal nasib burukmu. Kau akan mati dan anak dalam kandungan itu juga akan mati. Aku memang tidak berniat membunuh ibunya. Tetapi seperti yang aku katakan jika ia mati, itu karena nasib buruknya.”
“Bersiaplah. Kau sudah menerima tantanganku berperang tanding. Apapun yang akan terjadi diantara kita, maka tidak akan ada yang ikut campur. Kawan-kawanmu tidak dan penghuni padukuhan inipun tidak. Mereka akan menjadi saksi, siapakah yang akan keluar dengan selamat dari perang tanding ini.”
Demikianlah, maka keduanyapun saling berhadapan. Penunggu banjar itu berdiri kebingungan. Ternyata orang yang disangkanya kawan para pembunuh itu, justru pelindung dari anak yang masih berada dalam kandungan itu.
Beberapa orang kawan dari orang yang datang untuk membalas dendam itupun masih berdiri mengerumuni pemimpinnya yang akan berperang tanding. Perlahan sekali orang itu memberikan pesan-pesan kepada kawan-kawannya. Perlahan, sekali, sehingga tidak dapat didengar oleh Glagah Putih. Pada saat ia mengetrapkan Aji Sapta Pangrungu, orang itu sudah selesai dengan pesan-pesannya.
Namun Rara Wulanlah yang ternyata sempat mempergunakan Aji Sapta Pangrungu sehingga ia tahu, apa yang dipesankan oleh orang yang membalas dendam itu.
Orang itu berpesan agar para pengikutnya itu jangan lengah. Jika perlu, mereka tidak usah merasa terikat dengan perang tanding itu. Pengawal anak yang masih dalam kandungan itupun harus dibunuh lebih dahulu. Sedangkan jika ada orang yang mencoba untuk membantunya, maka merekapun akan dibunuhnya pula.
Karena itu, maka Rara Wulan telah menangkap ada isyarat kecurangan pada orang-orang yang datang untuk membalas dendam itu. Karena itu, maka iapun menjadi lebih berhati-hati.
Sejenak kemudian, maka Glagah Putih dan pemimpin sekelompok orang yang akan membalas dendam itu sudah berhadapan di halaman rumah nenek pengantin perempuan yang sudah menjadi hampir pingsan itu. Ia tidak mengira, bahwa pada hari pernikahannya itu telah datang malapetaka yang akan merenggut jiwanya.
Dalam pada itu, maka sejenak kemudian, di halaman rumah itupun telah terjadi perang tanding antara Glagah Putih yang mengaku sebagai pengawal dan pelindung anak Pangeran Ranapati yang masih ada dalam kandung an itu, melawan orang yang ingin membunuhnya untuk membalas dendam, bahwa Pangeran Ranapati pernah membunuh ayahnya.
Glagah Putih yang belum mengetahui sama sekali tataran kemampuan lawannya itupun menjadi sangat berhati-hati.
Demikianlah, beberapa saat kemudian, pertempuran di antara merekapun menjadi semakin sengit. Ternyata orang yang ingin membalas dendam itu juga seorang yang berilmu tinggi.
Orang itu juga mempunyai tenaga dan kekuatan yang sangat besar, sehingga pada setiap benturan yang terjadi, maka Glagah Putihpun merasakan getarannya menekan bagian dalam dadanya.
Tetapi dengan lambaran tenaga dalamnya, maka perlahan-lahan Glagah Putih berhasil mengatasi tenaga dan kekuatan orang itu.
Tetapi orang itu dengan serangan-serangan yang cepat berusaha untuk menembus pertahanan Glagah Putih. Tetapi ternyata sangat sulit untuk melakukannya. Pertahanan Glagah Putih menjadi sedemikian rapatnya, sehingga rasa-rasanya tidak seujung duripun yang mampu menerobosnya.
Sedangkan pada setiap benturan Glagah Putih yang sudah meningkatkan lambaran tenaga dalamnya, tidak lagi dapat digetarkan, apalagi didesak surut.
Meskipun demikian, orang yang berniat membunuh anak yang masih dalam kandungan itu tidak segera menyadari kenyataan itu. Ia sendiri merasa sebagai seorang yang berilmu tinggi. Sementara itu, orang yang mengaku pelindung dari anak yang masih berada dalam kandungan itu, adalah orang yang masih terhitung muda, jauh lebih muda dari dirinya sendiri.
Namun orang yang masih lebih muda itu, ternyata sulit untuk ditundukkan. Serangan-serangannya semakin lama datang semakin cepat. Jika orang yang berniat membunuh itu sangat sulit untuk menembus pertahanan Glagah Putih, maka justru Glagah Putih sekali dua kali telah berhasil menguak pertahanannya.
Ketika orang itu menyerang Glagah Putih dengan menjulurkan tangannya mengarah ke dada Glagah Putih, maka Glagah Putih berhasil menepisnya dengan lengannya. Dengan demikian, maka justru dada orang itulah yang terbuka, sehingga dengan tangannya yang lain Glagah Putih memukulnya.
Tetapi ternyata orang itupun tangkas pula. Dengan cepat ia bergeser menyamping. Iapun segera menangkis serangan itu dengan tangannya yang sebelah.
Tetapi Glagah Putih menarik serangan tangannya. Yang kemudian terjulur adalah kakinya menyambar lambung.
Orang itupun terpental beberapa langkah surut. Sementara itu, seperti lembing Glagah Putih meluncur dengan kakinya yang terjulur memburu orang itu. Demikian kaki Glagah Putih mengenai dadanya, maka orang itupun terlempar semakin jauh. Meskipun ia berusaha mempertahankan keseimbangannya, namun akhirnya orang itupun jatuh terlentang.
Glagah Putih tidak memburunya. Ia sengaja memberi kesempatan kepada orang itu untuk bangkit.
Orang yang jatuh terlentang itu memang segera melenting berdiri. Ia mencoba menyembunyikan rasa sakit di punggungnya dengan meningkatkan daya tahannya. Namun mulutnya masih juga nampak menyeringai menahan sakit.
Dengan demikian, maka kemarahan itupun semakin menyala di dadanya, sehingga jantungnya bagaikan membara.
Sambil menggeram orang itupun melangkah mendekat, “Aku bunuh kau dan akan aku lemparkan jantungmu kepada anjing-anjing liar.”
Glagah Putih dengan tenang justru berkata, “Sudahlah. Sebaiknya kau menyerah. Kalau kau pergi, aku anggap persoalan ini sudah selesai. Aku tidak akan menyelesaikan perang tanding ini sampai tuntas. Pangeran Ranapatipun tentu akan melupakan perbuatanmu hari ini atau bahkan mengampuninya.”
“Persetan dengan Pangeran Ranapati. Jika aku menemukannya, maka aku tentu akan membunuhnya.”
“Bagaimana mungkin kau dapat membunuh Pangeran Ranapati. Sekarang, melawan akupun kau tidak mampu berbuat apa-apa. Jangankan berhadapan dengan Pangeran Ranapati.”
“Jaga mulutmu, penjilat. Apa yang sudah kau terima dari Pangeran Ranapati sehingga kau umpankan nyawamu bagi keselamatan anaknya yang masih dalam kandungan.”
“Bukan soal imbalan yang aku terima dari Pangeran Ranapati. Seandainya aku belum mengenal Pangeran Ranapatipun aku akan melakukannya, karena apa yang akan kau lakukan itu adalah perbuatan yang biadab.”
“Cukup. Aku tidak membutuhkan sesorahmu. Sekarang kau pergi dari halaman ini dan membiarkan aku menumpahkan dendamku. Aku akan membunuh anak itu. Kemudian aku akan pergi dan untuk selanjutnya aku tidak akan mencarimu lagi.”
“Jika demikian, maka kita memang harus menyelesaikannya sekarang. Kita harus menuntaskan perang tanding ini sehingga tidak akan ada persoalan di masa mendatang.”
Orang itu menggeram. Namun dengan garangnya iapun segera meloncat menyerang. Tetapi Glagah Putihpun sudah siap menghadapinya sehingga dengan demikian, maka pertempuran yang sengitpun telah berlangsung kembali.
Sementara itu, Rara Wulanpun menjadi semakin berhati-hati. Ia tahu, bahwa cepat atau lambat akan terjadi kecurangan jika pemimpin kelompok itu akan dikalahkan oleh Glagah Putih.
Untuk beberapa saat, perang tanding itu masih berlangsung. Tetapi orang yang berniat membunuh itu sudah menjadi semakin terdesak, sehingga para pengikutnyapun segera mempersiapkan diri. Mereka tahu, bahwa mereka harus segera bertindak jika pemimpinnya yang semakin terdesak itu memberikan isyarat.
Namun Rara Wulanpun memperhatikan mereka dengan sungguh-sungguh.
Rara Wulan berhasil mendengarkan pesan pemimpin mereka yang sedang berperang tanding itu, jika ia menjatuhkan perintah, maka para pengikutnya harus segera turun ke arena.
Sebenarnyalah bahwa orang yang berperang tanding dengan Glagah Putih itu sudah tidak berdaya untuk melawan. Ketika Glagah Putih meloncat sambil memutar tubuhnya serta mengayunkan kakinya mendatar, maka kakinya itu telah menyambar kening lawannya. Demikian kerasnya, sehingga lawannya itu telah terlempar beberapa langkah dan jatuh terlentang.
Sulit baginya untuk segera bangkit. Punggungnya terasa sakit sekali, sehingga terdengar ia mengerang.
Glagah Putih ternyata tidak memburunya. Dibiarkannya orang itu menggeliat. Namun tiba-tiba Glagah Putih itu mendengar orang itu bersuit nyaring.
Glagah Putih tidak tahu maksud isyarat itu. Tetapi ia sudah menduga, bahwa akan terjadi kecurangan dalam perang tanding itu. Karena itu, iapun justru bergeser surut untuk mengambil jarak.
Namun sebelum segala sesuatunya terjadi, Rara Wulan telah melangkah ke tengah arena sambil berkata, “Nah, pemimpin kalian telah memberikan isyarat itu. Bukankah ia berpesan, jika terdengar isyarat agar kalian turun ke arena dan tidak menghiraukan lagi ketentuan dan paugeran yang berlaku bagi perang tanding? Bahwa dengan demikian, maka kalian tidak perlu lagi berpijak pada sifat seorang kesatria dan mengesampingkan harga diri?”
Tetapi orang yang kesakitan itupun berteriak, “Jangan dengarkan. Bunuh orang itu. Bunuh anak Pangeran Ranapati dan bunuh perempuan itu pula.”
Para pengikutnyapun segera bersiap. Dua orang di antara mereka mendekati pemimpin mereka yang kesakitan. Kemudian membantunya untuk bangkit berdiri.
Beberapa orangpun kemudian berusaha untuk mengepung Glagah Putih. Tetapi karena Rara Wulan sudah berdiri di arena, maka iapun berada pula di dalam kepungan. Apalagi pemimpin mereka telah memerintahkan kepada para pengikutnya untuk membunuh laki-laki dan perempuan yang mengaku pelindung anak yang berada didalam kandungan dan yang akan dibunuhnya pula. Bahkan ibunyapun tentu akan ikut mati pula.
Namun orang-orang yang mengepung itupun menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat Rara Wulan menyingsingkan kain panjangnya, sehingga iapun kemudian telah mengenakan pakaian khususnya.
“Marilah. Kita lupakan perang tanding yang masih belum tuntas. Tetapi yang akan mati di arena inipun menjadi semakin banyak. Bukan hanya orang yang mendendam itu saja. Tetapi juga para pengikutnya.”
Pemimpin sekelompok orang yang sudah bangkit, berdiri itupun kemudian bertanya dengan suara serak, “Kau juga akan ikut campur dalam pertempuran ini? Sebaiknya kau menepi. Kalau tidak, maka kau akan lebih dahulu mati. Sebelum anak yang masih di dalam kandung an itu serta orang yang mengaku pelindungnya itu, maka kaulah yang akan lebih dahulu mati.”
“Aku sudah siap untuk menghadapi kemungkinan apapun. Namun aku masih memberi kalian kesempatan. Sebaiknya kalian tidak melanjutkan niat buruk itu, karena jika kalian akan melanjutkannya, maka kalianlah yang akan mengalami kesulitan.”
“Persetan. Bunuh mereka. Jangan ragu-ragu. Aku datang untuk membalas dendam. Niatku itu harus dapat aku lakukan.”
Para pengikutnya itupun tidak menunggu lagi. Dalam jumlah yang jauh lebih banyak, mereka memperhitungkan bahwa mereka akan dengan cepat menyelesaikan tugas itu.
Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudian saling mendekat. Mereka sudah terbiasa bertempur berpasang an. Karena itu, mereka sudah tidak merasa canggung lagi berpasangan menghadapi orang-orang yang datang untuk membalas dendam itu.
Namun Glagah Putih dan Rara Wulan tetap saja berhati-hati. Pemimpin kelompok itu memiliki ilmu yang tinggi. Mungkin ada pula di antara pengikut-pengikutnya itu yang berilmu tinggi pula.
Dengan demikian, maka sejenak kemudian Glagah Putih dan Rara Wulanpun telah bersiap sepenuhnya menghadapi lawan-lawannya. Satu dua orang di antara mereka mulai menyerang meskipun dengan ragu-ragu. Mereka sadar, bahwa setidaknya seorang diantara kedua orang itu telah mengalahkan pemimpin mereka yang selama ini mereka banggakan. Sementara perempuan yang kemudian mendampinginya itu nampaknya demikian yakin pula dengan kemampuannya.
Sejenak kemudian, maka pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Satu-satu para pengikut orang yang mendendam itupun terjun ke medan pertempuran. Dengan garangnya mereka menyerang Glagah Putih dan Rara Wulan dari segala arah.
Tetapi Glagah Putih dan Rara Wulan adalah dua orang yang berilmu sangat tinggi. Karena itu, meskipun mereka menghadapi banyak orang sekaligus, namun mereka tidak segera mengalami kesulitan. Bahkan setiap kali, lawan-lawannya itupun telah terlempar dari arena. Meskipun mereka berusaha untuk segera bangkit dan kembali ke arena, namun mereka masih harus menahan sakit di tubuh mereka.
Orang yang mendendam, yang berniat membunuh anak yang masih berada di dalam kandungan itupun tidak mampu lagi berbuat banyak. Serangan-serangan Glagah Putih yang ditujukan kepadanya, semakin sering mengenainya, sehingga tulang-tulangnya serasa berpatahan.
Di halaman rumah nenek pengantin perempuan itu telah terjadi ketegangan yang sangat mencekam. Mereka tidak mengenal siapakah kedua orang yang menyatakan dirinya sebagai pelindung anak Pangeran Ranapati yang masih berada dalam kandungan itu. Hanya penunggu banjar itulah yang pernah melihat kedua orang itu. Kedua orang itu telah datang ke banjar padukuhan untuk minta ijin menginap. Tetapi mereka sama sekali tidak menyebutkan bahwa dirinya mempunyai hubungan dengan Pangeran Ranapati. Bahkan penunggu banjar itulah yang berceritera kepada mereka tentang Pangeran Ranapati serta anak yang masih dalam kandungan itu.
Demikianlah, pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Para pengikut orang yang mengaku mendendam itu tidak berhasil melindungi pemimpinnya yang sudah hampir tidak berdaya karena serangan-serangan Glagah Putih.
Bahkan ketika kemudian orang itu menarik senjatanya, demikian pula para pengikutnya, mereka tidak dapat berbuat banyak.
Orang yang mengaku melindungi anak yang masih berada dalam kandungan itu telah mempergunakan ikat pinggangnya sebagai senjata, sementara isterinya bersenjatakan selendangnya yang mampu mematuk seperti hentakkan tongkat baja.
Demikianlah, maka orang yang menyatakan diri mendendam kepada anak yang masih berada didalam kandungan itupun telah berusaha menghentakkan kemampuannya yang tersisa sambil berteriak lantang, “Cepat. Bunuh mereka. Bunuh anak itu.”
Tetapi mereka tidak sempat melakukannya.
Seorang yang berusaha meloncat naik tangga pendapa untuk menyerang perempuan yang sedang mengikuti upacara pernikahan yang kacau itu, telah terlempar dan terbaring pingsan demikian ia membentur salah satu tiang pendapa.
Namun akhirnya, ternyata orang yang menyatakan diri mendendam karena ayahnya telah dibunuh oleh Pangeran Ranapati itulah yang berusaha naik ke pendapa. Tetapi Rara Wulanpun dengan cepat telah berdiri di sebelah perempuan yang sedang mengandung anak Pangeran Ranapati itu.
Namun ternyata orang itu tidak menyerang perempuan itu. Ia justru menyerang pengantin laki-laki yang menyaksikan pertempuran itu dengan sangat tegang.
Tiba-tiba, diluar dugaan, maka orang yang mendendam itu telah menjulurkan pedangnya menukik menghunjam didada pengantin laki-laki itu.
“Kau telah menjerumuskan aku, he?“ geram orang yang sudah tidak berdaya itu. Hentakkan pedangnya adalah sisa tenaganya yang terakhir. Sementara tubuhnya sendiri telah terluka silang melintang oleh sentuhan ikat pinggang Glagah Putih meskipun para pengikutnya berusaha untuk melindunginya.
Pengantin laki-laki itu tidak mempunyai kesempatan untuk menyelamatkan diri. Namun iapun masih bertanya dengan suara sendat, “Kenapa kau bunuh aku, he?”
Darah menyembur dari luka didadanya. Namun sejenak kemudian, iapun jatuh berguling.
Sementara itu, orang yang mengaku mendendam dan akan membunuh anak dalam kandungan itu masih berdiri meskipun tidak lagi dapat tegak. Ketika tubuhnya berguncang, maka iapun berkata, “Laki-laki itulah yang telah mengupah aku untuk membunuh pengantin perempuan yang sudah mengandung itu. Sebenarnya ia tidak mau menerima seorang perempuan yang telah mengandung. Tetapi ia menginginkan harta benda peninggalan Pangeran Ranapati. Karena itu, maka ia pura-pura bersedia menikahinya. Tetapi ia telah minta pada malam pernikahannya aku datang untuk membunuh perempuan itu.”
“Jadi bukan karena aku mendendamnya?” bertanya Glagah Putih.
“Tidak. Aku tidak mempunyai persoalan apa-apa dengan perempuan itu. Laki-laki itu mengupahku dan mengatakan bahwa tidak akan ada yang akan mencegahnya. Ternyata anak dalam kandungan itu mempunyai sepasang pelindung yang tidak mampu kami kalahkan, meskipun kami datang dengan sekelompok orang upahan.”
“Jadi kenapa kau pura-pura tidak tahu dimana perempuan itu berada dan datang ke banjar itu lebih dahulu.”
“Pengantin laki-laki itu ingin menghilangkan jejak.”
Mendengar pembicaraan itu, pengantin perempuan itupun menjerit. Namun kemudian iapun jatuh pingsan.
Sementara itu, laki-laki yang gagal membunuh itu masih berdiri meskipun terhuyung-huyung. Tubuhnyapun sudah menjadi sangat lemah, darah telah mengalir dari goresan-goresan lukanya. Bahkan ada lukanya yang dalam menganga, sementara darah mengalir dengan derasnya.
Akhirnya laki-laki itu tidak dapat lagi bertahan.
Tubuhnyapun kemudian rebah di lantai pendapa rumah nenek pengantin perempuan itu.
Ketegangan menjadi semakin mencengkam. Beberapa orang upahanpun terbaring di halaman. Mereka merasa sangat sulit untuk dapat bangkit berdiri, karena tulang-tulangnya yang terasa sangat nyeri serta ada pula yang nafasnya bagaikan tersumbat didadanya.
Sejenak Glagah Putih dan Rara Wulan berdiri termangu-mangu. Beberapa orang perempuan berusaha menyadarkan pengantin perempuan yang pingsan.
Ki Bekel, Ki Jagabaya, para bebahu yang hadir serta mereka yang berada di halaman itupun masih termangu-mangu sejenak.
Baru kemudian, Glagah Putih itupun bertanya kepada Ki Bekel, “Apakah aku berbicara dengan Ki Bekel ?”
“Ya, ya, ngger. Aku Bekel padukuhun ini. Ini adalah Ki Jagabaya dan sebagian besar para bebahu ada di tempat ini pula.”
“Tolong, Ki Jagabaya. Perintahkan untuk mengumpulkan orang-orang yang datang bersama orang yang mengaku mendendam kepada Pangeran Ranapati, tetapi ternyata bahwa ia adalah orang yang diupah untuk membunuh pengantin perempuan itu oleh calon suaminya sendiri. Lihat pula, apakah calon pengantin laki-laki itu telah terbunuh. Demikian pula orang yang datang diupah untuk membunuh calon pengantin perempuan itu.”
“Baik, ngger,“ berkata Ki Jagabaya yang kemudian menjadi sibuk. Orang-orang upahan itupun kemudian dikumpulkan di tangga pendapa. Yang tidak mampu berjalan, telah dipapah oleh orang-orang padukuhan yang sedianya menghadiri upacara pernikahan itu.
Namun ternyata bahwa pemimpin mereka telah tidak bernyawa lagi sebagaimana pengantin laki-laki.
“Ki Bekel,“ berkata Glagah Putih kemudian, “Ki Bekel dan Ki Jagabaya dan para bebahu sudah dapat mengetahui apa yang telah terjadi. Siapa sebenarnya yang telah merancang kekacauan ini. Pengantin laki-laki yang serakah itu menginginkan harta benda yang ditinggalkan oleh Pangeran Ranapati. Tetapi ia tidak ingin menikah dengan seorang perempuan yang telah mengandung. Persoalan ini tidak dapat Ki Bekel biarkan saja. Ki Bekel harus ikut membantu, mencari penyelesaiannya. Ki Bekel dan para bebahu sebaiknya berusaha mempertemukan perempuan yang sudah mengandung itu dengan laki laki yang bersedia menerimanya apa adanya. Bukankah perempuan itu sudah tidak merahasiakan lagi, bahwa dirinya sudah mengandung.”
“Ya, ya. Ngger. Kami akan membantunya.”
“Ki Bekel dan para bebahupun harus mengubur pengantin laki-laki yang telah berkhianat itu. Tetapi untunglah yang segala sesuatunya belum terlanjur. Jika saja pernikahan ini sudah berlangsung kemudian pengantin laki-laki itu baru mengupah orang untuk membunuh isterinya, keadaan akan lebih sulit lagi diatasi. Namun ternyata yang terjadi tidak seperti itu.”
“Kalau keluarga pengantin laki-laki itu menghendaki melakukan upacara penguburan sendiri?”
“Serahkan saja kepada mereka.”
“Baik, ngger.”
“Kami sendiri tidak dapat menunggui penyelesaian dari peristiwa ini. Kami harus segera pergi.”
“Pergi kemana ngger?”
“Aku harus segera melapor kepada Pangeran Ranapati bahwa hal seperti ini telah terjadi disini.”
“Apakah Pangeran Ranapati akan marah?”
“Itulah yang harus kami usahakan agar Pangeran Ranapati tidak marah. Untunglah bahwa puteranya yang masih berada dalam kandungan itu tidak mengalami cidera. Jika saja orang itu terlanjur membunuh perempuan yang akan menikah itu, maka kami tidak tahu, apa yang akan dilakukannya.”
“Kami mengucapkan terima kasih atas tindakan yang cepat Ki Sanak lakukan.”
“Baiklah. Sekarang kami minta diri. Kami tidak boleh terlambat. Pangeran Ranapati harus mendengar peristiwa ini dari mulut kami sendiri.”
“Lalu, bagaimana dengan orang-orang ini? Orang-orang yang menjadi pengikut dari pemimpinnya yang telah mati itu?”
“Biarlah mereka pergi setelah mereka membantu kalian menguburkan pemimpinnya itu. Tetapi biarlah mereka mendengar apa yang aku katakan. Jika terjadi sesuatu dengan perempuan dan anak yang ada di dalam kandungannya itu, maka mereka dan keluarga mereka akan kami tumpas habis. Tidak seorangpun yang dapat bersembunyi dari penglihatan Pangeran Ranapati meskipun Pangeran Ranapati sekarang tidak tahu, siapakah kalian. Meskipun demikian, aku minta Ki Bekel dan Ki Jagabaya berusaha mengetahui tempat tinggal mereka.”
“Baik, Ki Sanak.”
“Sementara aku pergi, aku titipkan perempuan itu kepada Ki Bekel dan Ki Jagabaya. Usahakan agar ia mendapatkan seorang suami yang baik, yang benar-benar bersiap menerimanya apa adanya seutuhnya.”
Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudian minta diri kepada orang-orang yang ada di pendapa dan di halaman rumah itu, sementara pengantin perempuan itu masih baru saja sadar, sehingga ia tidak tahu apa yang telah dibicarakan oleh Glagah Putih dengan Ki Bekel dan para bebahu.
“Demikian aku bertemu dan melaporkan peristiwa ini. Aku akan segera kembali,“ berkata Glagah Putih.
Sebelum Glagah Putih meninggalkan tempat itu, ia masih sempat mengancam orang-orang yang ikut bersama pemimpinnya yang akan membunuh perempuan yang akan menikah itu.
Demikian Glagah Putih dan Rara Wulan beranjak, maka penunggu banjar itupun mendekatinya sambil berkata, “Aku minta maaf atas penerimaanku yang tidak memadai.”
“Akulah yang harus mengucapkan terima kasih,“ sahut Glagah Putih sambil tersenyum, “kalian sudah berbuat sangat baik kepada kami. Sayang bahwa kami harus segera pergi. Tetapi pada kesempatan lain, kami akan singgah.”
Penunggu banjar itu masih mencoba mencegahnya, “kenapa tidak esok pagi saja, Ki Sanak. Kalian berdua dapat melanjutkan bermalam di banjar itu.”
“Sudah aku katakan bahwa aku harus secepatnya menemui Pangeran Ranapati. Sebelum Pangeran mendengar dari orang lain, maka sebaiknya Pangeran itu mendengar dari aku sendiri.”
Penunggu banjar itu tidak dapat mencegahnya. Ia hanya dapat memandang Glagah Putih dan Rara Wulan berjalan keluar dari regol halaman.
Sementara itu, sudah terdengar ayam jantan berkokok di dini hari. Ki Bekelpun kemudian sibuk membenahi tempat upacara pernikahan yang menjadi kacau, bahwa telah terjadi pembunuhan pula.
Sementara itu, Glagah Putih dan Rara Wulan berjalan meninggalkan padukuhan itu. Di dinginnya malam, Rara Wulan itu berdesis, “daripada berjalan malam hari yang dingin, sebenarnya lebih enak tidur di banjar. Bahkan esok pagi, kita tentu mendapat minuman hangat dan bahkan mungkin makan lagi sebelum berangkat meninggalkan banjar itu.”
Glagah Putih tertawa. Katanya, “Kita harus bermain dengan baik. Laki-laki itu memang harus mendapat hukuman yang berat. Ternyata orang upahannya sendirilah yang telah membunuhnya.”
“Peristiwa yang terjadi di padukuhan ini agaknya mempertegas watak Pangeran Ranapati. Laki-laki itu telah menodai seorang gadis padukuhan yang tentu lugu, jujur dan mungkin sedikit bodoh karena kurang pengalaman. Kemudian gadis itu ditinggalkannya begitu saja. Ia memang meninggalkan uang. Tetapi sebenarnya itu tidak cukup. Untunglah kita melihat kecurangan yang sangat menyakitkan itu sehingga kita dapat mencegahnya. Jika tidak, maka nasib perempuan yang mengandung itu akan menjadi sangat malang. Sebagian dari kesalahan yang menyebabkannya harus ditimpakan kepada orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu.”
“Ya,” Glagah Putih mengangguk-angguk, “kita semakin condong berpendapat, bahwa orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati memang bukan orang yang baik sehingga mungkin kepergiannya ke Timur memang berniat kurang baik.”
Rara Wulanpun mengangguk-angguk.
Namun kemudian Rara Wulan itupun berkata, “Apakah tidak sebaiknya kita berhenti untuk menghabiskan malam ini?”
“Jarak kita belum cukup jauh dari padukuhan itu.“
Rara Wulan menarik nafas panjang. Sementara itu keduanyapun melanjutkan perjalanan mereka di gelapnya malam menuju ke arah Timur.
Namun menjelang fajar keduanya sempat beristirahat sejenak. Mereka duduk di tanggul sebuah sungai kecil bersandar sebatang pohon.
Ketika langit menjadi merah, maka merekapun telah turun ke sungai untuk mencuci muka dan berbenah diri.
Sebelum matahari terbit, mereka sudah melanjutkan perjalanan mereka. Udara masih terasa dingin. Burung-burung liar bernyanyi dengan suaranya yang nyaring menyambut matahari yang bakal terbit.
Glagah Putih dan Rara Wulanpun berjalan disejuknya udara pagi hari sambil memperhatikan langit bersih yang menjadi semakin semburat merah.
Semakin lama jalan yang dilaluinyapun menjadi semakin ramai. Beberapa orang yang turun ke jalan, agaknya akan pergi ke pasar selagi masih pagi. Sebagian dari mereka membawa hasil kebun mereka yang araknya akan dijual di pasar. Pisang setandan. Daun pisang beberapa lipatan. Uwi panjang. Empon-empon dan ada pula yang membawa daun lembayung, daun kangkung daun so beberapa ikat, serta kacang panjang dan melinjo.
Glagah Putih dan Rara Wulanpun ikut pula bersama ir-mg-iringan orang yang akan pergi ke pasar itu. Sebelum matahari terbit, mereka telah mendekati pintu gerbang sebuah pasar yang cukup ramai. Meskipun hari masih pagi, tetapi pasar itu sudah menjadi cukup ramai. Orang-orang yang akan menjual hasil kebun mereka telah menggelar dagangannya mereka.
Sementara itu, beberapa orang pembelinya sudah berdatangan. Mereka yang dapat langsung membeli dari para petani dari kebun mereka sendiri harganya tentu sedikit lebih murah daripada mereka membeli di tempat tengkulak yang mengumpulkan hasil bumi itu serta menjualnya lagi untuk mendapatkan untung.
Glagah Putih dan Rara Wulanpun berhenti sejenak di depan pintu gerbang pasar. Semakin lama pasar itu menjadi semakin ramai. Para pedagang yang lebih besarpun sudah berdatangan serta menggelar dagangan mereka yang terdiri dari berbagai jenis barang. Disudut, pande besi sudah mulai mengatur bengkelnya. Merekapun kemudian menyalakan perapian mereka, karena mereka segera akan mulai dengan kerja mereka.
Para penjual kainpun telah menggelar berbagai macam kain lurik. Dari yang kasar sampai yang halus. Dari yang bergaris-garis besar sampai yang bergaris halus.
Tetapi Glagah Putih dan Rara Wulan tidak singgah di pasar itu. Mereka hanya berhenti sebentar. Nasi megana yang masih mengepul memang menarik perhatian mereka, tetapi mereka masih belum ingin makan lagi.
Sejenak kemudian merekapun meninggalkan pasar itu.
Mereka meneruskan perjalanan mereka ke arah Timur. Di jalan yang mereka lalui, mereka berpapasan dengan orang-orang yang akan pergi ke pasar yang nampaknya untuk berbelanja.
Sementara itu, matahari pun telah mulai memanjat langit. Sinarnya yang ceria memancar ke puncak bukit-bukit kecil yang ada di hamparan ngarai yang luas. Bulak-bulak panjang yang membentang nampak hijau membentang. Sekali-sekali nampak padukuhan yang muncul dari tebaran tanaman yang hijau. Namun di sisi yang lain, bukit-bukit kecil muncul dari permukaan bagaikan sebuah pulau yang mengapung di lautan.
Jalan-jalanpun nampak menjadi semakin ramai. Selain orang yang pergi dan pulang dari pasar, beberapa orang nampak pergi ke sawah. Disaat sedang musimnya orang yang membersihkan rerumputan Uar diantara tanamannya, maka banyak para petani yang memerlukan pergi ke sawah mereka, agar tanaman mereka tidak terganggu oleh rumput-rumput liar yang tumbuhnya diantaranya.
Glagah Putih dan Rara Wulanpun berjalan terus melintasi bulak dan padukuhan. Sementara mataharipun memanjat langit semakin tinggi.
Ketika Glagah Putih dan Rara Wulan mulai menjadi haus dan lapar, maka merekapun telah singgah di sebuah kedai diantara beberapa kedai yang berdiri berjajar di depan sebuah pasar yang besar.
Kedai itupun terhitung kedai yang cukup ramai. Namun sebelum memasuki kedai itu, Glagah Putih dan Rara Wulan sempat memperhatikan beberapa orang yang sudah ada di-dalamnya.
“Agaknya kedai ini bukan kedainya orang-orang kaya,” desis Glagah Putih.
Dengan demikian, maka keduanyapun kemudian memasuki kedai itu dan seperti biasanya, jika masih ada, mereka memilih tempat disudut.
Ternyata para pelayan kedai itupun bersikap ramah kepada tamu-tamunya. Mungkin pemilik kedai itu sempat mengajari mereka, agar mereka memelihara hubungan baik dengan para lengganan, agar para lengganan itu tidak lagi ke kedai yang lain. Dalam persaingan yang nampaknya cukup ketat, kedai-kedai itupun harus menunjukkan beberapa kelebihannya. Mungkin masakannya. Mungkin tempat duduknya dan mungkin pelayanannya.
Glagah Putihpun kemudian telah memesan makan dan minuman hangat bagi dirinya dan Rara Wulan.
Dengan cepat para pelayan itupun segera menghidangkan pesanan itu, sehingga Glagah Putih dan Rara Wulan tidak perlu menunggu terlalu lama. Demikian pula para tamu yang lainpun telah dilayani dengan cepat pula.
Sementara Glagah Putih dan Rara Wulan sedang minum dan makan, tiba-tiba saja seorang diantara para tamu itu bertanya kepada pemilik kedai yang sedang sibuk menyiapkan pesanan tamu tamunya itu, “Kakang. Agaknya kakang kurang beruntung bahwa seorang Pangeran dari Mataram yang berkelana seorang diri tidak singgah dikedaimu ini. Tetapi singgah di kedai sebelah.”
Pemilik kedai yang sedang sibuk itu sempat tertawa dai menjawab, “Ya. Agaknya kami kurang beruntung. Tetapi kami telah terpercik oleh keberuntungan yang dibawa Pangeran dari Mataram itu. Kedai di sebelah memang bertambah besar, karena ceritera tentang Pangeran yang singgah itu segera tersebar. Banyak orang yang ingin tahu, apa yang menyebabkan seorang Pangeran yang berkelana seorang diri singgah di kedai itu. Namun karena kedai itu selalu penuh, maka orang-orang yang tidak mendapatkan tempat telah memilih singgah di kedai ini atau di kedai di sebelah lain.”
Orang itu tertawa. Katanya, “Peristiwa itu sudah terjadi beberapa waktu yang lalu. Tetapi gemanya sampai sekarang masih terdengar. Kemarin aku sempat singgah di kedai itu. Tetapi aku tidak menemukan kelebihan apa-apa di kedai itu. Aku masih tetap mengganggap bahwa riasi langgi di kedai ini lebih asyik dibanding dengan nasi langgi di kedai sebelah. Disini nasi langginya diberi ikan abon, telor dadar yang dipotong halus, serta yang tidak dapat ditandingi adalah sambal lombok gorengnya yang diberi ranti dan udang.”
Pemilik kedai itu tertawa, katanya, “terima kasih.“ Sementara itu, seorang yang lain lagi tiba-tiba saja menyahut. Ya. Nasi langgi di kedai inilah yang membuat aku tidak mau beranjak. Tetapi sekali-sekali jika aku ingin makan nasi tumpang maka aku akan singgah di kedai yang berada di ujung. Nasi tumpangnya tidak ada yang dapat menyamainya. Daging lidah lembunya telah membuat aku ketagihan.”
Orang-orang yang ada di kedai itu tertawa. Sementara itu Glagah Putihpun bertanya kepada Rara Wulan, “apakah kau sudah kenyang?”
“Sudah. Kenapa?”
“Tetapi kita tidak memesan nasi lagi. Kita justru memesan nasi megana.”
“Kalau kakang mau memesan nasi megana, silahkan.”
“Tetapi perutku tentu tidak akan muat. Baiklah. Lain kali aku akan singgah di kedai ini untuk memesan nasi langgi dengan sambal lombok goreng dengan ranti dan udangnya.”
Rara Wulan tertawa. Tetapi iapun bertanya, “Kenapa harus menunggu. Jangan habiskan nasi megana itu. Kemudian kakang memesan nasi langgi.”
“Tetapi sebenarnya aku ingin singgah di kedai sebelah. Bukankah kita ingin mendengar ceritera tentang Pangeran Ranapati itu lebih banyak.”
Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Jika kita singgah di kedai sebelah sekarang, maka tentu akan menarik perhatian orang. Mereka yang melihat kita berada disini, kemudian berpindah ke kedai sebelah, tentu bertanya-tanya. Justru setelah ada yang berbicara tentang seorang Pangeran yang berkelana seorang diri.
Glagah Putih menarik nafas panjang.
Sementara itu, seorang yang lain berkata kepada pemilik kedai itu, “Kakang. Menurut pendengaranku, Pangeran itu adalah seorang yang sangat baik. Ia membayar jauh lebih banyak dari pesanan minum dan makannya.”
“Mungkin saja, adi. Tetapi bukankah tidak sewajarnya kita menjadi iri hati. Apalagi kepada tetangga sendiri. Rejeki itu memang memilih orang yang akan memiliki. Bukan sebaliknya. Betapapun kita memburunya, kalau belum saatnya rejeki itu menjadi milik kita, maka rejeki itu akan luput. Tetapi seharusnya kita mensukuri apa yang kita terima.”
“Ya, ya,” orang itu mengangguk-angguk.
Sementara itu orang yang lain berkata, “Tetapi yang memugar pintu gerbang pasar serta memberikan pertanda disebelah pintu gerbang itu bukan Pangeran yang berhenti di kedai sebelah.”
“Ya,” seseorang menyahut, “itu lain lagi. Yang memugar pintu gerbang pasar itu adalah Pangeran Jayaraga. Seorang Pangeran yang akan bertugas di Panaraga. Di pasar itu, pangeran Jayaraga berkenan berhenti, karena keluarganya merasa lapar dan haus.”
“Kenapa di pasar? Kenapa tidak di kedai-kedai ini?”
“Mereka sudah terlalu sering singgah di kedai yang jauh lebih baik dari kedai-kedai ini. Karena itu, mereka justru ingin berhenti di pasar. Minum dawet cendol serta membeli nasi tumpang atau nasi megana, yang jarang mereka jumpai.”
Orang-orang itupun kemudian berhenti sejenak. Seorang diantara mereka bangkit berdiri. Membayar makan dan minumnya, kemudian minta diri.
Seorang kawannyapun telah bangkit pula sambil berkata, “Tunggu. Kita pulang bersama-sama.”
Orang itupun segera membayar pula dan kemudian keluar menyusul kawannya.
Glagah Putih dan Rara Wulanpun telah selesai makan dan minum. Merekapun kemudian meninggalkan kedai itu pula setelah membayar harga makan dan minum mereka.
Namun, demikian mereka keluar dari kedai itu, maka Glagah Putihpun berkata, “Kita lihat, pintu gerbang pasar itu.”
Keduanyapun kemudian telah pergi ke pintu gerbang pasar itu untuk melihat pintu gerbang yang memang nampak lebih baik dari pintu gerbang pasar pada umumnya.
“Nah, sekarang kita berhenti sambil membeli minuman hangat di sudut pasar itu. Kau lihat orang menjual wedang jahe atau wedang sere itu.”
Rara Wulan mengangguk. Ia tahu bahwa Glagah Putih ingin berbicara dengan penjual wedang jahe itu tentang pintu gerbang yang belum lama diperbaharui itu.
Sejenak kemudian, keduanya sudah duduk di sebuah lin-cak bambu di depan seorang penjual wedang jahe. Di sebelah penjual wedang jahe itu terdapat sebuah kuah diatas perapian yang menjaga agar wedang jahe itu tetap panas.
Sambil menghirup wedang jahe, maka Glagah Putih memang bertanya kepada penjual wedang jahe itu, “Bibi. Nampaknya gerbang pasar itu baru saja diperbaiki.”
“Ya, ngger,“ jawab penjual wedang jahe itu, “ketika itu seorang Pangeran dari Mataram dengan pengiringnya lewat di depan pasar ini. Entah mimpi apa orang-orang sepasar ini bahwa ternyata Sang Pangeranpun berhenti. Sang Pangeran segera meloncat turun dari kudanya dan diikuti oleh para pengiringnya. Tandu-tandu yang ada didalam iring-iringan itupun berhenti pula. Sekelompok prajurit segera bersiaga di depan, dibelakang dan di sebelah menyebelah iring-iringan itu.”
“Apa yang dilakukan oleh sang Pangeran?”
“Beberapa orang puteri dari dalam tandu ingin turun pula. Nampaknya mereka merasa letih duduk didalam tandu. Apalagi para emban dan pelayan yang naik pedati. Merekapun nampak kelelahan. Sementara itu, agaknya beberapa orang keluarga Pangeran dari Mataram yang lapor itu tiba-tiba ingin mencicipi minuman dan makanan yang ada di pasar ini,” orang itu berhenti sejenak ketika ada seorang yang membeli wedang sere dengan pemanis gula kelapa. Namun kemudian ia berceritera terus, “Pasar ini menjadi geger, ngger. Orang sepasar ingin melihat Pangeran, putera-puteranya serta para puteri keraton. Agaknya sambutan yang sangat meriah dari orang-orang yang berada di pasar itu sangat berkenan di hati Pangeran dari Mataram itu. Kecuali membayar harga minuman dan makanan dengan berlebihan, Pangeran itupun telah memanggil Ki Bekel dan para bebahu padukuhan ini. Ternyata pangeran itu telah memberikan uang kepada Ki Bekel untuk membangun pintu gerbang pasar ini sebagai satu petilasan, bahwa Pangeran itu pernah singgah di pasar ini bersama keluarganya ketika sedang dalam perjalanan ke Panaraga.”
Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk. Perjalanan Pengeran Jayaraga memang mudah sekali di lacak. Apalagi Pangeran itu kini sudah berada di istana kadipaten Panaraga sebagaimana seharusnya.
Namun dugaannya tentang orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu ternyata keliru. Glagah Putih dan Rara Wulan mengira bahwa mereka akan mengalami kesulitan melacak perjalanan orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati. Namun ternyata orang itupun meninggalkan jejak di sepanjang jalan yang dilewatinya, sehingga Glagah Putih dan Rara Wulanpun tidak mengalami kesulitan pula untuk melacaknya.
Tetapi di pasar itu dan di sekitarnya, orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu tidak meninggalkan tetenger apapun kecuali bahwa ia telah singgah di sebuah kedai serta menyatakan diri, bahwa ia adalah seorang Pangeran yang lelana tanpa kanti.
Namun ternyata penjual wedang jahe itupun tahu juga, bahwa disamping Pangeran Jayaraga yang menempuh perjalanan bersama keluarganya menjelang tugasnya di Panaraga, maka seorang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati telah berkelana seorang diri.
“Kepada orang-orang di sekitar pasar ini Pangeran Ranapati mengatakan, bahwa tugas yang diembannya sangat berbeda. Pangeran Jayaraga akan mengemban tugas sebagai penguasa di Panaraga berdasarkan atas tatanan pemerintahan, maka Pangeran Ranapati telah mengemban tugas untuk menyelamatkan tatanan kehidupan dalam hubungan serta kepentingan antar sesama. Tetapi terus terang, aku tidak tahu apa yang dimaksud oleh Pangeran Ranapati itu.”
Glagah Putih dan Rara Wulan saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Glagah Putihpun berkata, “Bibi. Apalagi kami yang terhitung masih muda ini. Kami tentu tidak mengerti, apa yang dimaksud Pangeran Ranapati itu.”
Penjual wedang jahe itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Aku juga tidak merenunginya terlalu lama. Bagi kami, pokoknya kedua orang Pangeran itu sedang mengemban tugas yang baik bagi seluruh rakyat.”
“Ya. Itulah yang penting,“ sahut Rara Wulan, “bagaimana bibi dapat merasakan meningkatnya kesejahteraan hidup sehingga hasil penjualan wedang jahe dan wedang sere ini akan dapat berarti bagi keluarga bibi.”
“Ya, ya ngger. Aku berharap bahwa hasilnya akan dapat menambah hasil sawah kami yang hanya selebar lidah cicak. Sementara disamping bertani suamiku telah mencoba mencari keberuntungan menjadi blandong yang bekerja di sela-sela pekerjaannya di sawah.”
“Mudah-mudahan tugas yang diemban oleh kedua Pangeran itu memberikan arti bagi kesejahteraan hidup bibi.”
Penjual wedang jahe itu menarik nafas panjang.
Demikianlah, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudian membayar harga minuman mereka. Keduanyapun minta diri untuk melanjutkan perjalanan.
Namun ketika mereka sampai di pintu gerbang pasar yang baru itu, mereka tertarik melihat sekelompok orang sedang berkerumun. Nampaknya telah terjadi ketegangan antara beberapa orang yang ada di kerumunan orang banyak itu.
“Ki Bekel benar,“ desis seseorang, “pintu gerbang itu dibangun di atas perintah Pangeran Jayaraga yang sekarang berkuasa di Panaraga. Bagaimana mungkin ia dapat dianggap bersalah, bahwa ia tidak melaporkan pembangunan pintu gerbang pasar ini.”
Sebenarnyalah seorang yang rambutnya sudah ubanan berusaha untuk menjelaskan bahwa pintu gerbang itu dibangun atas kehendak Pangeran Jayaraga. Pangeran Jayaraga itu pulalah yang membiayainya. Bahkan Pangeran Jarayaga itu pulalah yang telah mengirimkan beberapa orang yang terampil untuk memimpin pembuatan pintu gerbang yang bagus itu.
“Kau dapat saja membuat dongeng yang menarik Ki Bekel. Tetapi seharusnya kau melaporkannya lebih dahulu kepada Ki Demang. Ki Demang kemudian melapor kepada Ki Panji Wirataruna di Ngadireja. Ki Panjilah yang selanjutnya akan membuat kesepakatan dengan Pangeran Jayaraga.”
“Itu tidak mungkin. Tidak ada waktu. Utusan Pangeran Jayaraga itu waktunya sangat sempit. Mereka datang dan langsung merencanakan pembuatan pintu gerbang itu. Kemudian dibantu oleh beberapa orang yang dianggap terampil di padukuhan ini, merekapun membuat pintu gerbang itu.”
“Kau telah melampaui kuasa Ki Panji. Kau memang penjilat Ki Bekel. Kau sekarang berusaha menjilat Pangeran Jayaraga yang berkuasa di Panaraga. Tetapi Panaraga masih jauh. Kuasanya tidak akan begitu terasa sampai di dini.”
“Kau tidak dapat berbuat begitu Ki Lurah,“ berkata orang yang sebaya dengan Ki Bekel. Tubuhnyapun masih nampak kokoh seperti Ki Bekel pula meskipun ia juga sudah ubanan. “aku tidak merasa dilampaui oleh Ki Bekel, meskipun aku Demang di daerah ini. Kalau Pangeran Jayaraga waktu itu berhadapan langsung dengan Ki Bekel, kemudian turun perintahnya, apakah mungkin Ki Bekel minta waktu untuk menghubungi aku dan kemudian menghadap Ki Panji lebih dahulu. Sementara orang-orang yang dikirim oleh Pangeran Jayaraga sudah mulai bekerja.”
“Katakan waktu itu kalian tidak sempat melakukannya, apakah sesudah itu kalian memberikan laporan kepada Ki Panji.”
“Kami memang belum melaporkannya, Ki Lurah. Tetapi apakah itu perlu sekali. Justru gerbang pasar yang dianggap sebagai satu kenangan ini sudah berdiri.”
Tetapi Lurah Prajurit itu berkata dengan nada semakin tinggi, “Kalian jangan terlalu banyak alasan. Dimata kami, kalian telah melakukan satu kesalahan yang besar. Kalian telah meremehkan Ki Panji di Ngadireja.”
“Lalu, apa yang harus kami lakukan, Ki Lurah?“ bertanya Ki Demang.
“Meskipun pembuatan pintu gerbang pasar ini tidak kalian laporkan, bukan berarti bahwa kalian tidak perlu membayar pajaknya. Selain pajak yang seharusnya kalian bayar, maka kalianpun harus membayar denda karena aku harus menyisihkan waktu datang kepada kalian.”
“Kenapa Ki Panji tidak memungut pajak itu kepada Pangeran Jayaraga karena Pangeran Jayaragalah yang membangun pintu gerbang itu.”
“Apakah kau sudah gila bahwa aku harus memungut pajak itu pada Pangeran Jayaraga? Kalianlah yang menikmati hasil kerja yang ditinggalkan oleh Pangeran Jayaraga. Jadi kalianlah yang harus membayar. Pangeran Jayaraga sudah mengeluarkan uang untuk membangun pintu gerbang itu. Jadi tidak patut kalau Pangeran Jayaraga pula yang harus mengeluarkan uang untuk membayar pajaknya. Karena itu, maka kalianlah yang harus membayar, Ki Bekel dan Ki Demang.”
“Berapa pajak itu harus kami bayar?“ bertanya Ki Demang.
“Sebesar beaya pembuatan pintu gerbang ini.”
“He?,” Ki Demang dan Ki Bekel terkejut, “darimana kami mendapat uang sebanyak itu.”
“Jangan memperbodoh kami. Jika kalian harus membuat sendiri gerbang pasar itu, maka kalian juga harus mengeluarkan uang sebanyak itu. Masih harus ditambah dengan pajaknya. Sekarang kalian cukup mengeluarkan uang sebanyak itu tanpa harus ditambah-tambah lagi. Bukankah itu sudah merupakan satu penghematan yang cukup besar bagi kalian.”
“Tidak, Ki Lurah,“ sahut Ki Demang, “kami tidak akan sanggup membayar.”
“Jangan membohongi kami terus-menerus. Aku mendapat wewenang dari Ki Panji untuk mengurus masalah ini. Jika terpaksa kalian tidak mau membayar, maka tanah kekayaan kademangan dan padukuhan akan kami ambil.”
-ooo0dw0ooo-


Tinggalkan komentar

adbm 392


Seorang lagi telah mempersilahkan Glagah Putih dan Rara Wulan naik ke pendapa bangunan utama padepokan itu.
Sejenak kemudian, pintu pringgitan bangunan utama padepokan itupun terbuka. Ki Widura muncul dari ruang dalam sambil tersenyum. Orang tua itu nampak gembira menyaksikan Glagah Putih dan Rara Wulan datang berdua mengunjunginya.
Sambil duduk di pringgitan itu Ki Widurapun berkata, “Aku sudah merindukan kalian. Rasa-rasanya kalian sudah sangat lama tidak mengunjungi padepokaan ini.”
“Maaf, ayah. Kesibukan itu datang beruntun. Kami berdua juga baru saja mengikuti latihan-latihan bagi calon prajurit khusus. Prajurit sandi.”
“Jadi kalian sekarang menjadi prajurit?”
“Ya, ayah.”
“Berdua?”
“Ya, ayah.”
Widura tertawa. Katanya, “Aku adalah bekas prajurit. Tetapi sepengetahuanku barulah kalian yang berdua menjadi prajurit.”
Glagah Putih dan Rara Wulanpun tertawa. Sementara Widura berkata selanjutnya, “Apakah kalian bersama-sama mengikuti pendadaran, kemudian bersama-sama memasuki penempaan bagi para calon prajurit dan kemudian di wisuda bersama-sama?”
“Ya, ayah,“ sahut Glagah Putih, sementara Rara Wulan hanya tersenyum-senyum saja.
Glagah Putihpun kemudian sempat menceriterakan dengan singkat bagaimana ia menjadi prajurit bersama dengan isterinya. Menceriterakan latihan-latihan yang telah mereka lakukan. Kemudian pendadaran di saat terakhir dan semua itu diakhiri dengan wisuda.
Baru kemudian mereka mendapat tugas langsung dari Ki Patih Mandaraka.
Ki Widura mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya ada juga pengaruh dari kedudukan kakak-kakakmu, Untara dan Agung Sedayu.”
“Semoga tidak, ayah. Kami berdua telah menjalani pendadaran yang justru sangat khusus.”
“Apakah kalian juga menemui kesulitan? Bukankah kalian memiliki bekal yang lebih dari yang diperlukan untuk menjadi seorang prajurit?”
“Ada juga, ayah. Sikap seorang perwira yang sangat menentukan di lingkungan para calon prajurit itu. Tetapi sokurlah, bahwa kami dapat mengatasinya.”
“Apakah masih ada kesulitan yang lain?”
“Masih ayah,“ Rara Wulanlah yang menjawab.
“Apa?”
“Yang paling menyulitkan bagiku adalah saat-saat mandi. Apalagi jika ada yang mendahului bangun pagi-pagi. Sedangkan di sore hari aku selalu saja gelisah menjelang saat-saat mandi.”
Widura tertawa berkepanjangan, sedangkan Rara Wulanpun berkata,” ternyata persoalan mandi itu bagiku lebih rumit dari saat-saat aku menjalani laku Tapa Ngidang. Tapa Ngidang aku lakukan di hutan. Selain kakang Glagah Putih yang ada hanyalah binatang-binatang hutan. Sedangkan saat aku mengikuti latihan-latihan menjelang ditetapkan menjadi prajurit, aku berada di satu barak yang semuanya terdiri dari laki-laki.”
Widura masih saja tertawa. Katanya kemudian disela-sela tertawanya, “Semakin berat laku yang harus kau tempuh maka hasilnya tentu akan lebih baik.”
“Ya, ayah,“ jawab Rara Wulan.
Pembicaraan merekapun terhenti. Seorang cantrik telah menghidangkan minuman dan makanan.
“Silahkan kakang Glagah Putih dan mbokayu Rara Wulan,” cantrik itu mempersilahkan.
“Terima kasih,“ sahut keduanya hampir bersamaan.
Ki Widurapun kemudian telah mempersilahkan mereka juga, “Minumlah. Makanlah. Hanya makanan macam itu yang ada di padepokan ini.”
“Bukankah sejak kecil aku senang sekali makan pondoh dengan dendeng ragi.”
Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudian menghirup mi-unuman hangat dan sepotong pondoh jagung dengan dendeng ragi.”
Sementara itu, di ruang dalam, seorang cantrik telah mempersiapkan hidangan makan kepada Glagah Putih dan Rara Wulan.
Setelah semuanya siap, maka cantrik itu telah menghadap Ki Widura untuk memberitahukan, bahwa makan bagi tamu mereka sudah siap.
“Silahkan makan dahulu,” berkata Widura kemudian, “perjalanan kalian cukup panjang. Bukankah kalian tidak singgah di kedai di sepanjang perjalanan kalian dari Mataram?”
“Tidak ayah. Di Mataram, kami sudah makan pagi. Ki Patih telah menyediakan makan pagi khusus bagi kami.”
“Nah, sekarang silahkan makan siang.”
“Pondoh jagung itu telah membuat kenyang.”
“Bukankah kau baru makan sepotong,“ sahut Ki Widura.
Glagah Putih tersenyum, sementara Ki Widura berkata, “Pada masa kecilnya, Glagah Putih selalu memegang dua potong. Satu di tangan kiri, satu di tangan kanan.”
Rara Wulanpun tertawa tertahan-tahan pula.
Demikianlah, maka sejenak kemudian Glagah Putih dan Rara Wulan itupun telah dipersilahkan untuk makan di ruang dalam.
“Bagaimana dengan ayah? “ bertanya Glagah Putih.
“Aku baru saja makan,“ sahut Ki Widura. Tetapi meskipun Ki Widura tidak makan namun ia duduk menunggui Glagah Putih dan Rara Wulan makan.
Sambil makan Glagah Putih serba sedikit telah mengatakan tugas apakah yang harus diembannya sehingga ia harus melawat ke Timur.
Baru setelah Glagah Putih dan Rara Wulan selesai makan, serta mereka duduk kembali di pringgitan, Glagah Putihpun mulai bertanya tentang orang yang mengaku bernama Pangeran Ranapati.
“Apakah ayah mengenalnya?”
“Aku belum mengenalnya secara pribadi, Glagah Putih. Tetapi aku tahu, bahwa di lereng Gunung Merapi arah Timur, jadi di arah kita sekarang ini, bertapa seorang yang dikenal bernama Pangeran Ranapati. Ia adalah putera Panembahan Senapati yang tersingkir, sehingga orang itu harus berusaha melupakan sakit hatinya kepada ayahandanya.”
Glagah Putih mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian bertanya, “Apakah ayah tahu sikap pribadinya?”
Ki Widura itupun termangu-mangu sejenak. Dengan nada dalam iapun kemudian berkata, “Seperti sudah aku katakan, Glagah Putih. Bahwa secara pribadi aku tidak mengenalnya. Tetapi menurut pendengaranku, Pangeran Ranapati, karena ia merasa seorang keturunan langsung dari Panembahan Senapati, maka ia telah membuat jarak dengan orang-orang disekitarnya. Di padepokannya ia bersikap seperti seorang penguasa, sehingga setiap orang yang berada di padepokannya, sangat takut dan menghormatinya.”
“Menurut pendengaranku ayah, Pangeran Ranapati adalah orang yang ramah. Ia juga menyebut dirinya Ki Singa Wana.”
“Memang ada yang mengatakan bahwa Pangeran Ranapati adalah seorang yang ramah. Tetapi di balik keramahannya, ia adalah seorang yang mempunyai harga diri sangat tinggi. Ia bersikap ramah karena ia ingin mendapat pujian dari orang-orang yang mengenalnya. Keramahannya bukan keramahan yang tulus.”
“Ayah,“ berkata Glagah Putih kemudian, “menurut Ki Patih Mandaraka, Pangeran Ranapati yang mengaku putera Lembu Peteng dari Panembahan Senapati itu telah berbohong. Ia bukan putera Panembahan Senapati.”
Ki Widura mengangguk-angguk. Katanya, “Memang mudah sekali mengaku putera Panembahan Senapati untuk satu kepentingan tertentu. Tidak akan ada orang yang berusaha membuktikannya. Apalagi para muridnya serta orang-orang yang tinggal disekitar padepokannya. Demikian ia mendengar bahwa pemimpin padepokan itu adalah putera Panembahan Senapati, maka orang-orang disekitarnyapun segera berlutut untuk menyembahnya.”
“Sekarang Pangeran Ranapati itu meninggalkan padepokannya.”
“Ya. Pangeran Ranapati sedang bepergian untuk waktu yang tidak ditentukan.”
“Ayah. Pada saat itu Kangjeng Sinuhun di Mataram telah menugaskan Pangeran Jayaraga untuk memimpin pemerintahan dari Panaraga. Sementara itu, orang yang mengaku Pangeran Ranapati itupun telah meninggalkan padepokannya pula.”
“Ki Patih menduga, bahwa kepergian orang yang mengaku bernama Pangeran Ranapati itu ada hubungannya dengan penugasan Pangeran Jayaraga di Panaraga.”
“Ya. Meskipun hanya sekedar dugaan. Bahkan dugaan yang diwarnai oleh keragu-raguan. Jika saja kepergian Pangeran Ranapati itu dilandasi oleh kemauan yang baik, sokurlah. Tetapi jika sebaliknya, maka ia dapat mengacaukan pemerintahan Pangeran Jayaraga.”
“Glagah Putih,” berkata Ki Widura, “untuk tugas itu, kau memang harus mempunyai bahan dari padepokan Pangeran Ranapati. Untuk itu, kau perlu waktu sehari dua hari. Bukankah tugasmu tidak harus selesai esok atau lusa? Agaknya kau mempunyai waktu yang agak longgar.”
“Ya, ayah. Aku akan tinggal disini sehari dua hari. Aku juga akan menghubungi kakang Untara. Mungkin kakang Untara mempunyai beberapa keterangan tentang Pangeran Ranapati atau yang juga menyebut dirinya Ki Singa Wana.”
“Bagus. Kau dapat berbicara dengan para prajurit dalam tugas sandi yang bertugas dalam kesatuan yang dipimpin oleh kakakmu Untara. Mungkin mereka sudah mendapatkan beberapa keterangan tentang Pangeran itu.”
Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “aku akan menemui kakang Untara.”
“Bukankah kau tidak tergesa-gesa? Kau tidak perlu pergi menemui Untara sekarang. Mungkin besok atau lusa. Beristirahatlah di padepokan ini barang sepekan. Kau tidak akan terlambat.”
Glagah Putih tersenyum sambil berpaling kepada Rara Wulan, “Sebenarnya kita senang sekali beristirahat disini barang sepekan. Tetapi jika Ki Patih mengetahui bahwa kita ada disini sampai sepekan, maka kenaikan pangkat kita akan tertunda seratus pekan.”
“Kalian berdua sudah tidak memerlukan pangkat lagi. Yang kalian perlukan adalah tugas-tugas yang penting seperti yang kau lakukan sekarang. Tetapi tugas-tugas itu tidak dibatasi waktu.“
Glagah Putih dan Rara Wulan tertawa. Dengan nada tinggi Glagah Putih berkata, “Jika kami tidak menjadi prajurit, maka waktu istirahat kami akan jauh lebih panjang.”
Ki Widurapun tertawa pula.
Tetapi Glagah Putih dan Rara Wulan memang tidak memutuskan untuk pergi menemui Ki Tumenggung Untara hari itu. Mereka masih ingin istirahat di padepokan kecil yang sejuk itu. Berbincang dengan para cantrik yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Namun yang dengan sangat tekun melakukan kewajibannya. Baik kewajiban mereka sebagai murid yang sedang menuntut ilmu, maupun kewajiban mereka sebagai cantrik yang memelihara dan mencukupi kebutuhan padepokan mereka.
Ketika kemudian senja turun, maka beberapa orang cantrik yang terhitung sudah berada dalam tataran yang tinggi memasuki sanggar padepokan sebagaimana biasanya. Glagah Putih dan Rara Wulan yang kebetulan berada di sanggar itu minta ijin kepada Ki Widura untuk menyaksikan para cantrik tertua itu berlatih.
“Baik,” jawab Ki Widura, “tidak ada keberatan apa-apa. Aku yakin bahwa kalian tidak akan mencuri aliran yang ada di perguruan ini, karena Glagah Putih termasuk salah satu murid utama Kiai Gringsing.”
Glagah Putih dan Rara Wulan tertawa. Padepokan itu adalah padepokan yang didirikan oleh Kiai Gringsing. Tetapi murid-murid utamanya justru tidak berada di padepokan itu. Ki Rangga Agung Sodayu, Swandaru dan kemudian Glagah Putih. Hanya Ki Widura, yang umurnya paling tua diantara mereka namun adalah murid utama yang termuda dari Kiai Gringsinglah yang tetap berada di padepokan serta melestarikannya. Namun sebenarnyalah bahwa ilmu yang dikuasai oleh Ki Widura tidak hanya ilmu yang diturunkan oleh Kiai Gringsing. Namun Ki Widurapun telah berusaha untuk mengisi ilmu dari aliran yang satu dengan aliran yang lain. Tentu saja dengan mempelajari sifat dan watak dari ilmu itu, sehingga yang disatukan adalah ilmu yang karena sifat dan wataknya dapat luluh yang satu dengan yang lain, saling mengisi dan saling mendukung tanpa menimbulkan gejolak.
Beberapa saat kemudian, maka para cantrik itupun mulai berlatih. Glagah Putih dan Rara Wulan berdiri saja di pinggir sambil memperhatikan latihan uyang semakin lama menjadi semakin seru. Para cantrik itu telah menunjukkan kecepatan gerak mereka serta kekuatan tenaga dalam mereka.
Glagah Putih dan Rara Wulan mengagguk-angguk. Murid-murid Ki Widura telah menjadi semakin perkasa. Mereka telah menjadi orang-orang yang berilmu tinggi. Nampaknya Widura benar-benar telah menempa beberapa orang muridnya untuk menjadi orang-orang terbaik yang pada suatu saat nanti keluar dari padepokan kecilnya. Sepereti yang sering dikatakan, bahwa Widura tidak terlalu memikirkan jumlahnya. Tetapi ia lebih memikirkan kedalaman murid-muridnya menguasai ilmunya meskipun jumlahnya tidak banyak.
Glagah Putih dan Rara Wulanpun ikut bangga melihat perkembangan perguruan yang semula dipimpin oleh Kiai Gringsing itu.
Dalam keadaan yang gawat, Glagah Putih dan Rara Wulan dapat saja minta bantuan mereka. Dengan jumlah yang kecil, mereka dapat memiliki kekuatan yang besar. Bahkan mungkin lebih besar dari sekelompok prajurit yang jumlahnya dua kali lipat.
Namun ketika latihan para murid dari tataran yang sudah tinggi di padepokan itu selesai, maka tiba-tiba saja seorang diantara mereka ada yang berkata, “Sekarang giliran kakang Glagah Putih dan mbokayu Sekar Mirah.”
“Ya,“ Seorang yang lain menyahut, “kita ingin mendapat tambahan wawasan yang lebih luas tentang olah kanuragan.”
“Setuju. Setuju,” teriak yang lain lagi.
“Aku sangat lelah,“ sahut Glagah Putih.
Tetapi diluar dugaan seorang menyahut, “Nanti kami beramai-ramai memijat.”
Glagah Putih dan Rara Wulanpun tertawa pula.
Namun akhirnya mereka tidak dapat mengelak lagi. Apalagi ketika Ki Widurapun berkata, “Tunjukkan kepada mereka, Glagah Putih dan Rara Wulan, seperti yang mereka katakan, agar mereka mendapat wawasan ilmu yang lebih luas.”
Glagah Putihpun kemudian sambil tersenyum berata, ”ternyata kita telah dihadapkan pada satu keharusan tanpa dapat menghindar lagi.”
Rara Wulanpun tersenyum pula. Katanya, “Apaboleh buat. Tetapi jangan salahkan kami jika yang kalian lihat justru tidak seperti yang kalian harapkan.”
Demikianlah, maka sejenak kemudian keduanya telah berdiri di tengah-tengah sanggar. Rara Wulan telah menyingsingkan kain panjangnya serta mengenakan pakaian khususnya.
Sejenak mereka berdua memandang berkeliling. Mereka ingin mengenali sanggar itu meskipun mereka sudah sering mempergunakannya. Tetapi sanggar itu tidak seluas dan selengkap sanggar di Kepatihan.
“Silahkan mulai Glagah Putih dan Rara Wulan.” berkata Ki Widura kemudian.
Demikianlah kedua orang itupun segera mempersiapkan diri. mereka mulai dengan gerakan perlahan-lahan. Namun kemudian semakin lama menjadi semakin cepat. Mereka berloncatan seperti sepasang burung srikatan memburu belalang di rerumputan. Namun kemudian keduanyapun telah menunjukkan tingkat tenaga dalam mereka dengan benturan-benturan yang mendebarkan.
Seperti ketika mereka berada di sanggar Kepatihan, maka sanggar itupun bagaikan bergetar. Keduanya berloncatan dengan kecepatan yang sangat tinggi, sehingga kaki mereka seakan-akan tidak menyentuh tanah. Bahkan kemudian merekapun telah melenting tinggi dan hinggap diujung patok-patok yang tidak sama besar dan sama tingginya. Tetapi demikian kaki mereka menyentuh ujung patok-patok itu, maka rasa-rasanya kaki mereka dengan lunak telah melekat sehingga mereka tidak dapat terjatuh. Keseimbangan agaknya telah mereka kuasai dengan sebaik-baiknya. Penguasaan tubuh serta pemanfaatan bagian-bagian tubuh yang dapat menjadi senjata yang berbahaya.
Para cantrik yang sudah sampai pada tataran yang tinggi itupun masih saja menjadi terheran heran melihat ketangkasan kedua orang suami isteri itu. Sebenarnyalah bahwa mereka benar-benar dapat memperluas wawasan mereka tentang olah kanuragan. Mereka merasa bahwa apa yang sudah mereka kuasai itu masih jauh dari tataran ilmu yang benar-benar mapan.
Beberapa saat kemudian, setelah Glagah Putih dan Rara Wulan memperlihatkan bermacam-macam unsur gerak yang rumit, maka mereka pun mulai memperlambat gerakan-gerakan mereka, sehingga akhirnya keduanya pun berhenti. Keduanyapun kemudian mengangkat tangan mereka perlahan-lahan sambil menarik nafas dalam-dalam.
Apalagi para cantrik, bahkan dada Ki Widura sendiri menjadi berdebar-debar. Ternyata anak dan menantunya itu telah menguasai ilmu yang sangat tinggi.
Secara jujur Ki Widura harus mengakui, bahwa ia sendiri masih belum mencapai tataran ilmu sebagaimana Glagah Putih dan Rara Wulan. Sedangkan Ki Widura yakin, bahwa apa yang diperlihatkan oleh Glagah Putih dan Rara Wulan itu tentu masih ada yang tersisa. Justru yang berada di tataran tertinggi.
“Terima kasih Glagah Putih dan Rara Wulan,” berkata Ki Widura kemudian, “apa yang kalian perlihatkan adalah satu tataran ilmu yang sangat tinggi. Dengan demikian kamipun menyadari, bahwa apa yang telah kami capai barulah permulaan dari satu pencapaian yang jauh.”
“Tidak, ayah. Jika para cantrik mau bekerja lebih keras, maka mereka akan segera dapat menyusul.”
“Apapun yang kami lakukan, kakang,” berkata seorang cantrik, “rasa-rasanya sulit untuk mencapai tataran setinggi kakang Glagah Putih dan mbokayu Rara Wulan.”
“Jangan merendahkan diri sendiri,“ sahut Glagah Putih, “apa bedanya kau dan aku? Mungkin aku lebih beruntung karena aku mendapat lebih banyak kesempatan. Tetapi bersama-sama dengan ayah, kalian akan dapat berbuat lebih banyak lagi.”
Para cantrik itupun mengangguk-angguk. Tetapi Ki Widura sudah terlalu tua untuk dapat bekerja lebih keras lagi. Tetapi pengarahan dan petunjuknya akan sangat berarti bagi perkembangan ilmu mereka.
Sejenak kemudian, setelah beristirahat beberapa saat, Ki Widura, para cantrik serta Glagah Putih dan Rara Wulan itupun keluar dari sanggar. Bergantian mereka pergi ke pakiwan setelah keringat mereka kering.
Glagah Putih dan Rara Wulan masih duduk beberapa saat di pringgitan bersama Ki Wudra. Namun kemudian Ki Widurapun mempersilahkan Glagah Putih dan Rara Wulan untuk beristirahat.
“Tidurlah. Kalian tentu letih. Besok kalian masih akan menemui Untara dan barangkali naik memanjat kaki Gunung Merapi.”
Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudian pergi ke bilik yang sudah disiapkan bagi mereka. Mereka memang merasa letih. Sehingga merekapun segera membaringkan dirinya dan tertidur nyenyak.
Seperti biasanya, merekapun bangun pagi-pagi sekali. Ternyata beberapa orang cantrik telah bangun pula. Disusul oleh beberapa orang yang lainnya, sehingga padepokan itupun mulai menjadi hidup.
Terdengar suara sapu lidi di halaman depan, halaman samping dan bahkan di halaman belakang dengan iramanya yang khusus. Sementara itu, terdengar pula derit senggot timba di ketiga buah sumur yang ada di padepokan itu.
Seperti di kepatihan, Glagah Putih dan Rara Wulan tidak mendapat kesempatan untuk berbuat apa-apa. Segala sesuatunya sudah dilakukan oleh para cantrik.
Karena itu, maka Glagah Putih dan Rara Wulan itupun kemudian pergi bergantian ke pakiwan untuk mandi.
Setelah mandi, Glagah Putihpun tidak sempat mengisi jam-bangan di pakiwan yang airnya baru saja dipakainya untuk mandi, karena seorang cantrik telah mengisinya.
Demikian keduanya selesai mandi dan berbenah diri, mereka melihat Ki Widura baru saja keluar dari sanggar.
“Ayah sudah dari sanggar,” desis Glagah Putih.
“Hanya sekedar untuk menghangatkan tubuh,“ sahut Ki Widura, “sebagian anak-anak memanaskan tubuh mereka dengan berlari-larian di kaki Gunung, selain yang bertugas di padepokan.”
“Mereka memanjat naik?”
“Tidak. Tetapi mereka memilih lingkungan yang tidak datar. Sedikit tebing dan lembah yang tidak terlalu curam. Mereka sering berpapasan dengan para prajurit dari barak Untara. Tetapi mereka sudah terbiasa dan saling mengenal. Sebagian dari para prajurit itu, juga sering melintasi lorong-lorong yang dipilih oleh para cantrik. Yang mempunyai beberapa ragam yang berbeda. Ada yang naik, ada yang turun, ada yang datar, ada yang miring dan ada yang harus meloncat parit-parit yang agak lebar, memanjat lereng berbatu padas dan semacamnya. Lorong itu ternyata disukai oleh para cantrik dan juga oleh para prajurit untuk menghangatkan tubuh mereka di pagi hari.”
“Sekaligus untuk meningkat ketrampilan tubuh mereka,” desis Glagah Putih.
Beberapa saat kemudian, Widurapun telah selesai berbenah diri. Bersama Glagah Putih dan Rara Wulan, maka Widurapun kemudian duduk di pringgitan sambil minum minuman hangat.
“Ayah,“ berkata Glagah Putih kemudian, “kami akan minta diri untuk pergi .menemui kakang Untara. Mungkin kakang Untara atau petugas sandinya dapat berbicara tentang Pangeran Ranapati yang juga menyebut dirinya Ki Singa Wana.”
“Baik. Tetapi kalian akan dapat berbicara dengan seorang cantrik yang mengetahui serba sedikit tentang orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati. Cantrikku ini rumahnya tidak terlalu jauh dari padepokan orang yang menyebut diri Pangeran Ranapati. Semalam aku sudah berbciara serba sedikit dengan cantrik itu.”
“Baik, ayah. Aku akan menemuinya.”
“Biarlah aku memanggilnya.”
Ki Widura itupun kemudian bangkit berdiri dan masuk ke ruang dalam. Namun beberapa saat kemudian, Ki Widura itu telah kembali duduk di pringgitan.
Dari halaman samping, seorang cantrikpun telah naik ke pendapa dan duduk pula bersama Glagah Putih dan Rara Wulan.
“Nah, ceriterakan apa yang kau ketahui tentang seseorang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu,“ berkata Ki Widura kemudian.
Cantrik itupun menarik nafas panjang. Kemudian setelah beringsut setapak iapun berkata, “Beberapa hari yang lalu, aku minta ijin kepada guru untuk pulang, karena kakak perempuanku akan menikah. Waktu itulah aku mendengar ceritera tentang orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati. Seorang yang menurut kata orang yang mengenalnya, adalah seorang yang baik hati. Seorang yang ramah dan dapat bergaul dengan segala lapisan masyarakat yang tinggal didekat padepokannya. Ia sama sekali tidak membeda-bedakan, apakah ia seorang yang kaya, yang miskin, yang tua atau yang muda. Semua ditanggapi dengan sikap yang sama.”
Glagah Putih sambil mengangguk-angguk berdesis, “Jadi benar kata orang, bahwa orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati adalah seorang yang ramah dan baik hati.”
“Tetapi di balik keramahannya itu, ternyata terdapat ceritera yang lain, kakang. Para cantriknya sangat takut kepadanya karena sikapnya yang keras. Ia tidak saja bersikap sebagai seorang guru dihadapan murid-muridnya. Tetapi lebih mirip dengan sikap seorang tuan terhadap hamba-hambanya.”
“Apakah muridnya cukup banyak?” bertanya Glagah Putih.
“Anehnya, muridnya cukup banyak. Namun kemudian aku ketahui, bahwa mereka yang sudah terlanjur menjadi muridnya akan sulit untuk melepaskan dirinya. Orang yang menyebut dirinya bernama Pangeran Ranapati itu tidak segan-segan mengancam jika seseorang berniat meninggalkan padepokannya. Ancaman itu tidak tanggung-tanggung. Yang kemudian terancam adalah jiwa murid yang ingin mengundurkan diri itu. Bahkan keluarganya. Namun dibalik itu, Pangeran Ranapati yang pandai berbicara itu, selalu membuat janji-janji. Jika pada saatnya ia naik tahta Mataram, maka para cantriknya akan ikut mukti wibawa.”
Glagah Putih mengangguk-angguk pula. Ia membayangkan bahwa orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu adalah seorang yang sangat licik. Ia dapat bersikap baik sekali, tetapi sebenarnyalah ia adalah seorang yang keras hati, dengki dan bermimpi untuk memiliki kekuasaan yang sangat tinggi, sehingga ia berani mengaku dirinya sebagai putera Panembahan Senapati.
Dengan nada berat Glagah Putihpun kemudian bertanya, “Apakah benar. Pangeran Ranapati itu kini sedang tidak berada di padepokannya?”
“Ya,“ jawab Cantrik itu, “sejak beberapa waktu yang lalu, Pangeran Ranapati sedang meninggalkan Padepokannya. Pimpinan padepokannya sekarang berada di tangan seorang Putut yang tidak kalah garangnya. Tetapi di luar padepokan, ia tidak kalah ramahnya dengan Pangeran Ranapati. Putut Wintala inilah yang sering mengunjungi orang-orang yang tinggal di padukuhan di dekat padepokannya. Ketika pada suatu saat aku kebetulan bertemu dengan Putu Wintala di banjar padukuhan, pada saat aku pulang karena kakak perempuanku menikah beberapa hari yang lalu, justru minta kepadaku untuk bergabung saja di padepokannya.”
“Pada saat itu Pangeran Ranapati masih ada di padepokan atau sudah pergi?”
“Pangeran Ranapati sudah pergi. Menurut Putut Wintala, Pangeran Ranapati sedang mempersiapkan diri untuk pada suatu hari hadir di Mataram. Ia akan menuntut haknya, karena menurut Putut Wintala, Pangeran Ranapati adalah putera tertua Panembahan Senapati. Ia mempunyai beberapa orang saksi yang akan dapat mendukung pengakuannya itu. Antara lain adalah Ki Patih Mandaraka.”
Ternyata orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati memang seorang yang licik. Ia telah menyebut nama Ki Patih Mandaraka sebagai seorang yang akan bersedia memberikan kesaksian tentang dirinya.”
Cantrik itupun berkata pula, “Menurut Putut Wintala, setelah Pangeran Ranapati berhasil, maka aku tentu akan mendapat tempat yang sangat baik. Sedangkan jika aku tetap berada di padepokan kecil di Jati Anom ini, untuk seterusnya aku tidak akan dapat mengharap apa-apa lagi. Selamanya aku hanya akan tetap saja menjadi cantrik. Mungkin setelah aku dianggap tuntas menuntut ilmu di padepokan ini, aku pulang ke padukuhan dan kembali menjadi seorang petani. Dengan nada meremehkan Putut Wintala itupun berkata, buat apa aku berguru menghabiskan waktu, jika akhirnya aku kembali turun ke dalam lumpur di sawah.”
“Lalu apa jawabmu?”
“Aku tidak ingin menyinggung perasaannya, karena keluargaku tinggal tidak jauh dari padepokannya, maka aku katakan kepadanya, bahwa aku akan memikirkannya.”
“Kau tahu tingkat ilmu Pangeran Ranapati?”
“Ilmunya memang sangat tinggi. Tetapi aku belum pernah melihat langsung seberapa tingginya ilmunya itu.”
Glagah Putih mengangguk-angguk. Sementara cantrik itupun berkata, “Menurut pendengaranku, demikian tinggi ilmunya, sehingga Pangeran Ranapati itu mampu menjaring angin.”
Glagah Putih menarik nafas panjang. Iapun selalu ingat pesan Ki Patih Mandaraka, bahwa orang yang mengaku bernama Pangeran Ranapati itu adalah orang yang berilmu tinggi. Yang agaknya sudah agak lama berada di bawah pengawasan para prajurit sandi Mataram.
“Apakah kau pernah menyaksikan tingkat ilmu para muridnya atau bahkan Putut Wintala itu sendiri?”
Cantrik itupun menggeleng. Katanya, “Agaknya mereka juga merahasiakan aliran ilmu mereka. Apalagi mereka tahu, bahwa aku adalah cantrik dari padepokan di Jati Anom ini. Bagaimanapun juga terasa nafas persaingan pada sikap dan kata-katanya, meskipun tidak terbuka.”
Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Terima kasih atas keteranganmu. Mudah-mudahan kakang Untara akan melengkapi keteranganmu.”
Ki Widuralah yang kemudian berkata kepada cantrik itu, “Keteranganmu sudah cukup. Mudah-mudahan kau akan mendapat keterangan baru.”
“Kalau saja aku diijinkan pulang,“ berkata cantrik itu agak ragu.
“Ayah,“ berkata Glagah Putih kemudian, “bagaimana kalau ayah mengijinkan cantrik ini pulang barang satu dua hari. Kami berdua akan ikut bersamanya. Mungkin kami dapat disebut sepupunya atau apanya agar aku dapat tinggal di rumahnya.”
Ki Widura termangu-mangu sejenak. Dipandanginya cantrik itu dengan sikap ragu.
“Bagaimana pendapatmu?” bertanya Ki Widura kemudian, “apakah dengan demikian keluargamu tidak terganggu?”
“Tidak,“ jawab cantrik itu dengan serta-merta, “setelah kakak perempuan menikah dan ikut suaminya, maka rumahku menjadi sepi. Saudara-saudaraku juga sudah tinggal di rumah mereka masing-masing. Yang tinggal hanyalah ayah dan ibuku serta seorang kemenakan laki-laki yang masih remaja. Karena itu, jika kakang Glagah Putih dan mbokayu Rara Wulan akan berada di rumahku dua tiga malam, ayah dan ibuku tentu akan senang sekali.”
“Apakah kami tidak akan menimbulkan persoalan antara keluargamu dengan orang-orang dari padepokan itu?”
“Tidak. Bukankah tidak akan terjadi apa-apa? Bukankah aku dapat mencari keterangan tanpa menarik perhatian mereka. Atau bahkan aku dapat berbicara langsung uengan mereka. Ada beberapa yang aku kenal antara lain Putut Witala itu sendiri.”
Ki Widura mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kau dapat pulang. Biarlah Glagah Putih dan Rara Wulan ikut bersamamu.”
“Jika demikian, aku akan berkemas sebentar. Bukankah kakang Glagah Putih dan mbokayu Rara Wulan sudah siap untuk berangkat?”
“Mereka akan pergi menemui Tumenggung Untara.“ Cantrik itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bertanya, “Jadi?”
“Bersiap-siap sajalah. Glagah Putih dan Rara Wulan akan pergi ke barak prajurit di Jati Anom . Tentu tidak akan terlalu lama. Kalian nanti dapat berangkat menjelang atau bahkan sedikit lewat tengah hari.”
“Baik, guru,” jawab cantrik itu.
“sekarang kau dapat kembali ke tugasmu.”
“Baik, guru.”
Cantrik itupun kemudian meninggalkan pringgitan . Nanti, setelah Glagah Putih dan Rara Wulan kembali dari barak prajurit di Jati Anom, ia akan pergi bersama mereka naik kaki Gunung Merapi. Ia dapat tinggal dirumahnya selama satu atau dua hari.”
Sementara itu, Ki Widurapun mempersilahkan Glagah Putih dan Rara Wulan untuk makan pagi di ruang dalam sebelum mereka pergi ke barak Untara.
Demikianlah, beberapa saat kemudian, ketika matahari mulai naik, maka Glagah Putih dan Rara Wulan itupun telah meninggalkan padepokan kecil yang dipimpin Ki Widura itu untuk pergi menemui Untara, seorang Tumenggung yang bertugas memimpin sepasukan prajurit Mataram yang ditempatkan di Jati Anom.
Kedatangan Glagah Putih dan Rara Wulan memang agak mengejutkan Untara.
Demikian mereka duduk, Untarapun segera bertanya, “Bukankah kalian baik-baik saja?”
“Ya, kakang. Kami baik-baik saja. Demikian pula keluarga di Tanah Perdikan Menoreh.”
“Bukankah kakangmu Agung Sedayu sudah diwisuda menjadi seorang Rangga?”
“Ya, kakang. Kami berduapun juga sudah diwisuda.”
“Ya. Aku dengar kalian sekarang benar-benar menjadi prajurit. Aku kira kalian tidak tertarik untuk menjadi prajurit. Apalagi kalian sudah sering melakukan tugas-tugas sandi meskipun kalian bukan prajurit.”
“Sekarang aku merasa berada di dalam, kakang. Selama ini aku merasa berada di luar. Perintah-perintah Ki Patih hanya diberikan sambil menjenguk jendela. Tetapi sekarang aku sudah boleh duduk di dalam. Rasa-rasanya aku dan Rara Wulan sudah diperkenankan masuk lewat pintu yang terbuka.”
Untara tertawa.
“Sekarang, apakah kau sedang menjalani tugas, atau kau sedang mendapat kesempatan beristirahat sebelum kalian masuk ke dalam tugas-tugas kalian?”
Glagah Putih dan Rara Wulan saling berpandangan sejenak. Baru kemudian Glagah Putih menjawab, “Kami sedang menjalankan tugas yang diperintahkan langsung oleh Ki Patih Mandaraka.”
Ki Tumenggung Untara itupun mengangguk-angguk. Dengan nada dalam Ki Tumenggung berkata, “Bedanya, kalian sekarang adalah prajurit.”
“Ya, kakang,“ jawab Glagah Putih.
“Apakah tugas kalian tugas rahasia atau tugas yang boleh aku ketahui ?”
“Aku justru datang untuk minta bantuan kakang.”
“Apa yang dapat aku bantu ?”
Glagah Putihpun kemudian telah menceritakan tugas yang dibebankan kepadanya. Melacak orang yang mengaku bernama Pangeran Ranapati ke Timur. Orang yang pernah bertapa dan memimpin sebuah padepokan di lereng Timur Gunung Merapi.
Ki Tumenggung Untara mengangguk-angguk. Ki Tumenggung itupun kemudian bertanya, “Bukankah kau sudah singgah dipadepokan paman Widura ?”
“Ya, kakang.”
“Kau sudah mendengar beberapa keterangan dari paman Widura tentang orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati ?”
“Keluarga seorang cantrik tinggal tidak terlalu jauh dari padepokan yang dipimpin oleh orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu. Cantrik itulah yang bercerita tentang Pangeran itu. Iapun bercerita tentang seorang putut yang dikenalnya, Putut Witala.”
Ki Tumenggung itupun mengangguk-angguk. Iapun kemudian justru bertanya, “Apakah cantrik itu tahu bahwa orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu telah meninggalkan padepokannya sebagaimana dikatakan oleh Ki Patih Mandaraka sehingga kau harus melacaknya ke Timur ?”
“Sudah kakang. Ketika cantrik itu mendapat kesempatan pulang, Pangeran Ranapati itu sudah pergi.”
Ki Tumenggung itupun mengangguk-angguk pula. Kemudian dengan nada datar Ki Tumenggung itupun berkata, “Tidak banyak yang kami ketahui, Glagah Putih. Mungkin tidak akan lebih banyak dari keterangan cantrik di padepokan paman Widura itu. Namun satu hal yang mencurigakan bagi kami, agaknya keterangannya bahwa ia adalah putera Panembahan Senapati itu sangat meragukan. Seorang petugas sandi pernah mencoba menelusuri, siapakah ibu dari orang yang mengaku Pangeran Ranapati itu. Menurut beberapa keterangan yang sengaja digelar, bahwa ibunya telah meninggal. Tetapi seorang petugas sandi pernah mendapat katerangan, bahwa seorang perempuan mengaku bahwa Pangeran Ranapati itu adalah anaknya.”
Glagah Putih mengerutkan dahinya, sementara Rara Wulanpun berkata, “Ki Patih juga mengatakan, bahwa Pangeran Ranapati itu tentu bukan putera Lambu Peteng Panembahan Senapati. Ki Patih tahu benar kehidupan Panembahan Senapati sejak remajanya. Ki Patih meyakini, bahwa Panembahan Senapati tidak pernah berhubungan dengan perempuan yang kemudian melahirkan orang yang mengaku bernama Pangeran Ranapati itu.”
“Ya, Ki Patih yang dahulu disebut Ki Juru Mertani itu tentu tahu benar jalan kehidupan Panembahan Senapati sejak masih disebut Sutawijaya dan kemudian bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar. Ki Patih tentu mengenal putera-putera Panembahan Senapati, sejak putera yang lahir dari Nyai Semangkin yang bernama Raden Rangga, kemudian putera yang lahir dari Rara Lembayung yang kemudian bergelar Pangeran Purbaya, serta putera-puteranya yang lain dari isteri-isterinya yang lain. Nyai Adisara, Nyai Bramit, Nyai Riya Suwanda dan lain-lain.”
“Ya, kakang. Sedangkan perempuan yang disebut ibu orang yang mengaku Pangeran Ranapati itu tidak dikenal oleh Ki Patih. Apalagi kalau ada perempuan lain yang mengaku sebagai ibunya.”
“Tetapi aku berani meyakini, bahwa orang itu memang bukan putera Panembahan Senapati. Jika ia memang putera Panembahan Senapati, maka ia akan dapat menghadap Panembahan Senapati semasa hidupnya. Bahkan mungkin bersama ibunya. Meskipun Panembahan Senapati tidak lagi dapat menerima perempuan itu, tetapi jika benar anak itu adalah anaknya, maka tetap saja ia putera Panembahan Senapati.”
“Itulah yang ingin aku ketahui, kakang. Aku ingin mencari keterangan lebih jauh tentang orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati sebelum aku melacaknya ke Timur.”
“Kau tidak akan mendapat banyak keterangan tentang orang itu. Tetapi kau dapat mencobanya. Tetapi kau harus berhati-hati. Para muridnya yang ditinggalkannya terlanjur menganggap pemimpinnya itu putera Panembahan Senapati yang pantas disembah. Karena itu, maka para muridnya menjadi sangat setia kepadanya. Bukan saja sebagai seorang murid dari sebuah perguruan, tetapi mereka berharap bahwa mereka akan dapat menikmati kamukten jika Pangeran Ranapati itu berhasil menggapai kedudukan tertinggi di Mataram. Atau setidak-tidaknya mendapat pangkat dan jabatan yang tinggi.”
Glagah Putih dan Rara Wulan itupun mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu Glagah Putihpun bercerita tentang rencananya untuk pergi memanjat kaki Gunung Merapi itu bersama cantrik dari padepokan yang dipimpin oleh Ki Widura itu.
“Pergilah. Tetapi kau harus sangat berhati-hati.”
Glagah Putih dan Rara Wulan masih berbincang beberapa saat dengan Ki Tumenggung Untara. Mereka berhenti sejenak ketika dihidangkan minuman hangat dan beberapa potong makanan.
Sambil menghirup minuman hangat, Ki Tumenggung Untarapun berkata, “Sayang, kau tidak dapat bertemu dengan Sabungsari. Sudah dua hari ini Sabungsari aku tugaskan ke Mataram yang mungkin sekali Sabungsari harus pergi ke Ganjur.”
“Sabungsari,“ sahut Glagah Putih dengan serta-merta, “sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan kakang Sabungsari. Ketika kita pergi ke Demak, aku juga tidak melihatnya.”
“Waktu itu Sabungsari tidak ikut pergi ke Demak. Aku tidak dapat meninggalkan barak ini begitu saja. Karena itu, aku tugaskan Sabungsari memimpin barak ini selama aku pergi ke Demak.”
Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “sebenarnya aku ingin bertemu dengan kakang Sabungsari.”
“Ada kemungkinan Sabungsari akan dipindahkan ke Ganjur. Para pemimpin di Mataram melihat kelebihan pada Sabungsari, sementara akupun telah memberikan laporan tentang kelebihannya itu. Karena itu, ketika Senapati yang memimpin pasukan di Ganjur sudah wnktunya mengundurkan diri karena umurnya, maka Sabungsari merupakan salah satu calon. Karena itulah ia aku perintahkan pergi ke Mataram menghadap Pangeran Singasari yang bersama-sama dengan beberapa orang Senapati akan memilih salah seorang diantara para calon itu. Mungkin akan ada semacam pendadaran diantara mereka.”
“Mudah-mudahan kakang Sabungsari dapat terpilih.”
“Anaknya sudah agak besar sekarang.”
“Jadi kakang Sabungsari sudah mempunyai anak?”
“Ya.”
Glagah Putih mengangguk-angguk. Iapun segera teringat kepada Ki Rangga Agung Sedayu yang tidak dikurniai seorang anakpun. Tetapi Glagah Putih sendiri akan memohon dengan sungguh-sungguh, agar Yang Maha Agung mengurniai anak kepadanya. Satu atau dua atau berapapun.”
Demikianlah, setelah minum minuman hangat serta makan beberapa potong makanan, maka Glagah Putih dan Rara Wulan itupun minta diri.
Sementara itu, Nyi Untara yang baru saja keluar untuk ikut menemui mereka berkata, “Kenapa begitu tergesa-gesa. Aku masih belum mendengar cerita kalian.”
“Mungkin lusa aku akan kembali kemari mbokayu,” jawab Glagah Putih, “kami masih mempunyai waktu yang longgar.”
“Kenapa sekarang begitu tergesa-gesa ?”
“Nanti kakang UnUirii kesiangan.”
“Aku sudah memberikan pesan lewat seorang prajurit demikian aku mengetahui kau datang,“ sahut Ki Tumenggung Untara.
“Lain kali kami akan singgah lagi, kakang dan mbokayu,” berkata Glagah Putih kemudian.
“Lain kali kami akan berada di sini sehari penuh,“ sambung Rara Wulan.
Nyi Tumenggung tertawa. Katanya, “Sejak dahulu kalian hanya berjanji saja. Tetapi kalian selalu berada di padepokan. Kalian datang hanya sebentar-sebentar.”
Glagah Putih dan Rara Wulan hanya tertawa saja.
Namun Glagah Putihpun kemudian berkata, “kami akan pergi ke rumah cantrik itu, kakang.”
Demikianlah, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun meninggalkan rumah Ki Tumenggung Untara. Mereka sudah berjanji akan pergi bersama cantrik yang rumahnya berada didekat padepokan orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati.
Ketika mereka sampai di padepokan kecil di Jati Anom, maka cantrik itu rasa-rasanya sudah tidak sabar lagi. Sementara itu, Glagah Putih dan Rara Wulan masih menemui Ki Widura dan menceriterakan hasil pembicaraan mereka dengan Untara.
“Memang tidak banyak keterangan yang akan kalian dapatkan. Bahkan setelah kau pergi ke rumah Punta.”
Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk kecil. Namun Glagah Putihpun kemudian berkata, “Ya, ayah. Tetapi rasa-rasanya usahaku untuk mengetahui serba sedikit tentang orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu sudah kami genapi.”
“Ya,“ Ki Widura mengangguk-angguk pula, “kau memang perlu mencobanya.”
Seperti Untara, maka Ki Widurapun telah berpesan, agar Glagah Putih dan Rara Wulanpun berhati-hati. Dapat saja terjadi sesuatu yang sebelumnya tidak terduga-duga.
Beberapa saat kemudian, maka Punta, cantrik yang tinggal di dekat padepokan orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itupun sudah siap di halaman.
“Kami mohon diri, paman. Mungkin kami akan bermalam satu atau dua malam di rumah cantrik itu.”
“Bicarakan dengan cantrik itu dan keluarganya. Kau datang sebagai siapa ? Sepupunya, atau sepupu ayah atau ibunya atau siapa, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan. Persoalan yang harus diperhitungkan adalah persoalan yang dapat timbul dengan keluarga Punta yang tinggal di dekat padepokan itu. Jika keberadaan kalian berdua di rumah itu menimbulkan kecurigaan, mungkin persoalan yang sebenarnya akan timbul justru setelah kalian meninggalkan rumah itu.”
“Ya, ayah. Kami akan sangat berhati-hati.”
Demikianlah, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun segera meninggalkan padepokan kecil itu bersama Punta. Mereka sengaja menempuh jalan yang agak jauh dari barak Ki Tumenggung Untara. Kemudian memanjat naik Gunung Marapi.
Jalan yang mereka lewati terasa mendaki semakin lama semakin tinggi. Mereka berjalan dijalan kecil diantara putegalan. Namun kemudian, mereka mulai melewati padang perdu. Kemudian merekapun sampai ke pinggir hutan. Untuk beberapa lama mereka berjalan menyusuri hutan yang semakin luma menjadi semakin lebat.
“Kalau kau pulang, kau juga melewat julan ini ?” berkata Glagah Putih.
“Aku dapat memilih jalan lain, kakang. Jalan yang tidak harus melewati jalan setapak di pinggir hutan. Aku dapat melewati jalan lain yang melewati bulak-bulak panjang serta beberapa padukuhan kecil.”
“Kenapa sekarang kau pilih jalan di pinggir hutan ini ?”
“Jalan ini lebih dekat. Bahkan selisihnya agak jauh.”
“Jadi setiap kau pulang kau pilih jalan yang lebih dekat ini?”
“Tidak. Aku memilih jalan yang lain.”
“Kenapa ?”
“Sekarang aku berjalan bersama kakang Glagah Putih dan mbokayu Rara Wulan. Aku tidak lagi merasa takut, jika ada binatang buas yang kebetulan sedang melintas di pinggir hutan. Bukankah kakang Glagah Putih dan mbokayu Sekar Mirah pernah Tapa Ngidang di tengah-tengah hutan, sehingga kakang berdua sudah sangat mengenal tabiat hutan yang selebat apapun seisinya.”
Glagah Putih dan Rara Wulan tertawa. Mereka memang memiliki kemampuan yang tinggi untuk mengenali isi hutan. Bahkan keduanya dupat mengetahui, binatang apa yang ada di sekitar mereka, lewat hembusan angin. Penciuman merekapun menjadi sangat tajam sebagaimana binatang buas yang dapat mencium mangsanya atau binatang lain. Juga binatang-binatang liar yang lain, yang hurus segera menyelamatkan diri jika mereka mencium bau binatang yang dapat menerkam dan membunuhnya.
Seperti seekor binatang hutan, sebenarnyalah Glagah Putih dan Rara Wulan dupat membedakan bau dari berjenis-jenis binatang di hutan. Bahkan jika didekat mereka ada seekor tikus tanah.
Demikianlah, maka mereka bertiga berjalan dengan cepat melintas di pinggir hutan. Namun beberapa saat kemudian, lorong itupun telah berbelok, semakin lama menjadi semakin jauh dari hutan.
“Di hutan itu masih banyak terdapat binatang buas,” berkata Punta.
“Ya,“ sahut Glagah Putih yang juga telah mencium bau seekor harimau kumbang yang berada di dahan pepohonan. Tetapi harimau kumbang itu justru bergeser menjauh.
Sambil berjalan merekapun kemudian sepakat untuk menempatkan Glagah Putih sebagai sepupu Punta yang tinggal di Mataram. Sudah lama sepupunya itu tidak menengok ayah dan ibu Punta, sebagai paman dan bibinya.”
“Apakah ayah dan ibumu dapat mengerti ?”
“Tentu. Ayah dan ibu bukan orang yang sulit untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang berkembang di lingkungannya.”
“Bagaimanu dengun saudara-saudaramu ?”
“Mereka memung sering datang menengok ayah dan ibu. Jika ada diantara mereka yang datang, merekapun akan dapat mengerti.”
Demikianlah di sore hari, mereka telah sampai ke rumah Punta. Mereka disambut oleh ayah dan ibu Punta dengan gembira. Demikian pula kemanakan laki-laki yang masih remaja itu. Ia merasa sangat senang, bahwa Punta sempat pulang.
Puntapun segera memperkenalkan Glaguh Putih dan Rara Wulan kepada ayah dan ibunya.
“Kakang Glagah Putih adalah putera guru. Sedangkan mbokayu Rara Wulan itu adalah isterinya.”
“Terima kasih, bahwa angger berdua bersedia datang ke rumahku ini,” berkata ayah Punta.
Puntapun kemudian menceritakan keperluan Glagah Putih dan Rara Wulan yang telah bersedia datang ke rumah mereka.
“Keduanya sedang mengemban tugas dari Ki Patih Mandaraka di Mataram.”
Kedua orang tua itu mengangguk. Ketika kemudian Punta mengatakan bahwa keduanya akan mengaku sebagai sepupunya, maka ayah Punta itupun menyahut, “Kami merasa mendapat kehormatan yang sangat besar ngger, bahwa kami akan dapat membantu tugas-tugas angger. Sebenarnyalah kami hanyalah orang-orang gunung yang tidak dapat berbuat apa-apa.”
“Terima kasih paman dan bibi. Terima kasih pula atas perkenan paman dan bibi, bahwa kami diijinkan untuk menginap di sini barang dua atau tiga hari.”
“Silahkan ngger, silahkan. Rumahku sekarang terasa amat sepi, setelah anak-anakku tinggal di rumah mereka masing-masing. Aku bahkan merasa senang sekali, bahwa angger bersedia bermalam di sini. Rumahku akan menjadi lebih ramai. Seakan-akan ada di antara anak-anakku itu yang datang mengunjungiku.”
“Bukankah ada anak ayah benar-benar datang ?” berkata Punta.
“Ya, ya. Kau memang telah datang mengunjungi aku.”
Glagah Putih dan Rara Wulan tertawa tertahan, sementara Punta berkata, “Hampir saja ayah melupakah bahwa aku juga anaknya yang justru sekarang datang mengunjunginya.”
“Tentu tidak ngger, cah bagus,” berkata ibunya, “kau sekarang justru menjadi anak tunggal setelah saudara-saudaramu berumah tangga sendiri.”
Puntapun tertawa pula.
Demikianlah, sejak hari itu, Glagah Putih dan Rara Wulan tinggal di rumah orang tua Punta. Yang mengaku sebagai saudara sepupu Punta. Glagah Putih adalah anak adik dari ayah Punta.
“Nah, sekarang siapakah nama kakang. Tetapi bukan Glagah Putih dan Rara Wulan.”
“Ya, Namaku Wira dan isteriku namanya Kenari.”
“Kenari adalah nama jenis burung,“ sahut Punta.
“Ya. Ada juga semacam pohon yang buahnya keras, sekeras batok kelapa. Tetapi kecil-kecil,” berkata Glagah Putih.
“Ya. Anak-anak sering membuat cincin dari kulit buah kenari yang keras itu.”
Sementara itu, malampun telah turun. Kemanakan Punta yang masih remaja, yang tinggal bersama kedua orang tuanya, telah menyalakan lampu minyak.
Sejenak kemudian, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun bergantian pergi ke pakiwan.
Berbeda dengan pada waktu keduanya berada di kepatihan dan dipadepokan, maka di rumah Punta, Glagah Putih sempat ikut menimba air untuk mengisi jambangan di pakiwan.
Setelah maka malam, maka Punta telah mengajak Glagah Putih untuk pergi ke banjar. Biasanya beberapa orang duduk-duduk di banjar sampai wayah sepi bocah. Mereka berbincang tentang sawah dan ladang, tentang air yang mengaliri sawah mereka dan tentang persoalan-persoalan yang menyangkut kehidupan mereka sehari-hari.
Ketika Punta dan Glagah Putih yang menyebut dirinya bernama Wira itu sampai di banjar, ternyata di banjar sudah ada empat orang yang duduk sambil berbincang-bincang.
Mereka menyambut kedatangan Punta dengan ceria serta mempersilahkannya duduk diantara mereka.
“Kau sempat pulang lagi Punta. Bukankah kau belum terlalu lama pulang.”
“Ya, paman. Ketika kakak perempuan menikah.”
“Siapakah angger ini ? Agaknya aku belum pernah melihatnya.”
“Sepupuku, paman. Nah. karena sepupuku datang ke padepokan, maka aku telah mendapat kesempatan lagi untuk pulang mengantarnya. Sudah lama sekali sepupuku tidak mengunjungi ayah dan ibu.”
Puntapun kemudian telah memperkenalkan orang yang disebutnya sepupunya yang bernama Wira itu.
“Ia datang bersama isterinya.”
Orang-orang yang sudah ada di banjar itupun kemudian memperkenalkan diri mereka masing-masing. Demikian pula tiga orang yang datang kemudian, merekapun segera telah diperkenalkan oleh Punta dengan sepupunya itu.
Keberadaan Glagah Putih di rumah Punta memang tidak terlalu banyak menarik perhatian. Namun ketika hal itu didengar oleh Putut Witala yang memang sering datang berkunjung ke padukuhan itu, atau bertemu dengan orang-orang padukuhan di sawah atau dimanapun, agaknya telah mengusik perasaannya. Ada semacam perasaan curiga, bahwa yang datang di rumah Punta itu seseorang yang mempunyi kepentingan yang khusus, justru pada saat orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu tidak ada di padepokan.
Apalagi Putut Witala tahu, bahwa Punta adalah salah seorang cantrik dari padepokan di Jati Anom. Meskipun padepokan di Jati Anom itu terhitung padepokan kecil, namun menyimpan kekuatan dan kemampuan yang besar.
Karena itu, demikian ia mendengar bahwa saudara sepupu Punta yang tinggal di Mataram datang, maka Putut Witala yang sudah saling mengenal dengan Punta itu justru datang ke rumahnya.
Punta memang sudah mengira, bahwa Putut Witala akan datang ke rumahnya untuk berkenalan dengan Glagah Putih. Putut Witala tentu ingin tahu, apakah benar yang datang itu hanya sekadar ingin mengunjungi kedua orang tua Punta.
Karena itu, ketika Putut Witala datang, maka tanpa diminta oleh Putut Witala. Puntapun telah memperkenalkan Glagah Putih dan Rara Wulan sebagai saudara sepupunya yang bernama Wira dan Kenari.
Namun ternyata yang terjadi diluar dugaan Punta. Putut Witala sama sekali tidak tertarik kepada laki-laki yang bernama Wira. Tetapi yang sangat menarik perhatiannya adalah justru perempuan yang bernama Kenari.
“Namamu aneh,” berkata Putut Witala.
Kenari, seorang perempuan yang sangat pemalu itu menundukkan wajahnya tanpa menjawab sepatah katapun.
Yang kemudian menjawab adalah Wira, “Namanya memang aneh. Ketika ibunya melahirkannya, ayahnya memelihara banyak sekali burung kenari.”
“Kau sangat beruntung Wira. Kau telah mendapat seorang isteri yang sangat cantik.”
“Ah,“ sahut Wira, “di Mataram perempuan seperti isteriku itu terdapat dimana-mana.”
Rara Wulan mengerutkan keningnya. Ketika ia memandang Glagah Putih, Glagah Putih itu tidak memperhatikannya. Sementara itu Puntapun menjadi berdebar-debar mendengarnya.
“Kau jangan meremehkan seorang perempuan,” berkata Putut Witala, “apalagi perempuan secantik isterimu itu.”
“Aku tidak meremehkannya. Maksudku, isteriku itu biasa-biasa saja. Ia bukan seorang perempuan yang sangat cantik.”
Putut Witala termangu-mangu sejenak. Tetapi ia memandangi Rara Wulan dengan tanpa berkedip.
Rara Wulan yang merasa dirinya dipandang dengan tajamnya oleh Putut Witala, justru menjadi semakin menunduk.
Namun Putut Witala itu tidak terlalu lama berada di rumah Punta. Beberapa saat kemudian, iapun minta diri.
Punta melepas Putut Witala itu sampai ke pintu regol. Namun ketika Putut Witala itu meninggalkan pintu regol iapun berkata, “Punta. Aku ingin berbicara kepadamu. Tetapi jangan ada orang lain. Karena itu, nanti sebelum senja, aku tunggu kau di gumuk Wudun, di sebelah simpang empat itu.”
“Untuk apa ?“ bertanya Punta.
“Ada yang ingin aku katakan kepadamu.”
“Kenapa tidak kau katakan sekarang ?”
“Aku tidak mau ada orang lain.”
“Bukanlah disini juga tidak ada orang lain.”
“Tetapi Wira dan isterinya itu memperhatikan kita.”
Punta mengangguk-angguk. Katanya, “Baik. Aku akan pergi ke gumuk Wudun sebelum senja.”
Demikian Putut Witala itu pergi, maka Puntapun segera menemui Glagah Putih dan Rara Wulan. Hampir berbisik Punta berkata, “Pernyataanmu agak mengejutkan aku.”
“Aku hanya ingin menjajagi sikap Putut Witala, Punta. Jika dugaanku benar, maka aku akan mempunyai jalan untuk menjajagi kemampuannya.”
Punta agaknya dapat mengerti pula. Namun Rara Wulanpun berkata, “Bukanlah aku akan kaujadikan umpan, kakang.”
Glagah Putih tersenyum. Katanya, “Kita perlu menjajagi kemampuannya. Meskipun kita tidak dapat memperhitungkan kemampuan Pangeran Ranapati dengan sekedar menjajagi kemampuan muridnya, tetapi setidaknya kita dapat mengenali jenis dan watak aliran dari ilmu yang diturunkan oleh Pangeran Ranapati itu.”
“Tetapi apa yang nampak pada Putut Witala tentu jaraknya sangat jauh dari ilmu Pangeran Ranapati.”
“Ya. Kita tahu. Meskipun demikian, aku menduga, bahwa ada gunanya kita tahu seberapa tinggi ilmu Witala yang sudah disebut sebagai seorang Putut itu.”
Punta mengangguk-angguk. Sementara itu Rara Wulan berkata, “Sebaiknya sekali-kali kaulah yang menjadi umpan.”
“Tentu aku tidak berkeberatan kalau misalnya kau ingin menjajagi ilmu seorang perempuan cantik.”
“Ah, kau. Kau tentu berdoa, agar kau dapat dikalahkannya.”
Glagah Putih dan Punta itupun tertawa.
Namun Punta itupun kemudian berkata, “Nanti, menjelang senja, Puntu Witala minta aku datang ke gumuk Wudun. Ada yang ingin dikatakannya.”
“Kau akan datang ?”
“Ya. Aku harus datang agar segala sesuatunya segera menjadi jelas.”
“Baiklah. Datanglah.”
Sebenarnyalah ketika kemudian langit menjadi muram karena matahari menjadi semakin rendah di sisi Barat langit, maka Puntapun telah pergi ke gumuk Wudun untuk memenuhi janjinya kepada Putut Witala.
Ketika ia sampai di gumuk Wudun, ternyata Putut Witala sudah ada di gumuk itu bersama dengan dua orang cantriknya.
“Ternyata kau benar-benar datang, Punta,” desis Putut Witala dengan nada datar.
“Ya. Aku selalu memenuhi janjiku.“
“Bagus,” berkata Putut Witala, “duduklah. Aku ingin berbincang-bincang denganmu.”
Punta memang menjadi agak berdebar-debar. Tetapi iapun segera duduk di atas sebuah batu di hadapan Putut Witala.
“Punta,” berkata Putut Witala, ”terus terang. Demikian aku melihat perempuan isteri sepupumu itu akupun segera tertarik kepadanya.”
Punta mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Tetapi ia adalah isteri sepupuku itu, Witala.”
“Sekarang, aku ingin minta tolong kepadamu. Cari cara, agar perempuan itu dapat berada di padepokanku.”
“Apakah kau sudah gila,“ sahut Punta.
“Ya, aku memang sudah gila sejak aku melihat perempuan itu. Tetapi kau harus memikirkan bagaimana caranya kau dapat memenuhi permintaanku itu.”
“Tentu tidak mungkin. Aku tidak akan dapat mengkhianati sepupuku sendiri.”
“Tetapi kau tidak mempunyai pilihan. Aku ingin perempuan itu berada di padepokanku. Sementara itu, rumah ayah dan ibumu ada di dekat padepokanku. Kau harus memikirkan banyak kemungkinan yang dapat terjadi jika kau tidak mau memenuhi permintaanku.”
“Kau mengancam Putut Witala.”
“Ya.”
Punta memandang Putut Witala dengan tajamnya. Dengan geram iapun berkata, “Kau dapat mengancam aku. Kita sama-sama murid dari sebuah perguruan. Tetapi jangan mengancam keluargaku.”
“Aku sengaja mengancam keluargamu. Karena itu, usahakan agar perempuan itu ada di padepokanku.”
“Tidak. Aku tidak mau.”
“Jadi kau ikhlaskan keluargamu mengalami kesulitan ? Kau biarkan ayah dan ibumu mengalami nasib yang sangat buruk di tanganku ?”
“Putut Witala. Dengarkan aku baik-baik. Kalau kau mengancam aku, persoalan kita akan kita selesaikan dengan cara seorang laki-laki. Kita sama-sama berguru pada sebuah perguruan. Meskipun letak perguruan kita termasuk tidak terlalu jauh, tetapi selama ini tidak pernah terjadi persoalan diantara perguruan kita. Karena itu, jika kau mengancam aku, maka aku ingin persoalan kita tidak mengkaitkan perguruan kita masing-masing.”
“Sudah aku katakan, aku tidak mengancam kau. Tetapi aku mengancam ayah dan ibumu. Jika kau tidak dapat membawa perempuan itu ke padepokanku, maka kau akan menyesali akibatnya. Ayah, ibu serta rumahmu akan menjadi korban kebodohanmu.”
“Putut Witala. Dengar pula keteranganku ini. Kau tahu, bahwa aku berguru kepada Ki Widura. Ki Widura bukan saja salah seorang murid utama Kiai Gringsing yang mempunyai beberapa saudara seperguruan. Tetapi Ki Widura adalah paman Ki Tumenggung Untara. Jika kau celakakan keluargaku, aku akan minta guruku untuk membantuku. Guruku akan minta saudara-saudara seperguruannya atau bahkan Ki Tumenggung Untara dengan seluruh pasukannya, segelar sepapan. Kalau kau celakakan ayah dan ibuku, maka padepokanmu akan menjadi abu. Para cantrik akan ikut hangus terbakar di dalamnya. Sementara kau sendiri akan dipanggang pula di dalam api.”
“Licik. Kau sangat licik Punta. Itu bukan sikap dan watak seorang laki-laki. Apalagi yang mengaku sebagai murid sebuah perguruan yang dihormati.”
“Apa artinya kelicikan itu bagimu. Putut Witala. Kaulah yang telah berbuat licik lebih dahulu jika kau celakai orang tuaku, karena orang tuaku tidak tahu apa-apa. Orang tuaku adalah petani-petani tua yang hanya tahu jalan dari rumah sampai ke sawah. Kenapa pula ia harus ikut menanggung beban karena ketamakanmu ? Nah, jika kita sama-sama menjadi gila, terserah kepadamu. Tetapi nanti jika gurumu pulang, maka Pangeran Ranapati mengutukmu sehingga nyawamu tidak akan pernah mengalami ketenangan, karena dengan pokalmu, maka sebuah padepokan seisinya telah musnah. Justru pada saat gurumu tidak ada.”
“Pengecut,“ geram Putut Witala yang kemudian mengumpat-umpat kasar.
“Bukan aku pengecut itu. Tetapi kau sendiri.”
“Kenapa aku ?”
“Jika kau bukan pengecut, maka bukan begitu caramu untuk mendapatkan seorang perempuan.”
“Apa yang harus aku lakukan ?”
“Perempuan itu mempunyai seorang suami. Katakan kepada laki-laki suami perempuan itu, bahwa kau memerlukan isterinya. Tantang laki-laki itu dan rebut isterinya dengan jantan.”
Putut Witala menggeram. Sementara Punta berkata selanjutnya, “Kalau aku berani melakukannya, aku bersedia menyampaikan kepada sepupuku. Ia juga bukan seorang pengecut. Aku kira ia akan menerima tantanganmu.”
Wajah Putut Witala menjadi tegang. Namun menurut penglihatannya, suami perempuan itu tidak mempunyai kelebihan apa-apa. Tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu besar. Bentuk tubuhnya biasa-biasa saja. Sikapnyapun tidak menunjukkan kegarangan seorang yang mempunyai kemampuan yang tinggi.
Karena itu, maka Putut Witala itupun berkata, “Bagus. Katakan kepada suami perempuan itu, bahwa aku menantangnya. Taruhannya adalah perempuan itu. Jika aku menang, maka perempuan itu akan aku bawa ke padepokan.”
“Jika kau kalah ?“
“Terserah, apa yang akan dilakukannya.”
“Kenapa kau ragu-ragu melakukannya. Kenapa kau tidak menantangnya berperang tanding sampai mati. Kalau kau mampu membunuhnya, maka dengan sendirinya perempuan itu dapat kau perlakukan apa saja karena ia sudah tidak mempunyai suami lagi.”
Putut Witala menggeram. Agaknya Punta yakin sekali akan kemampuan Wira, suami Kenari. Karena Punta seorang yang berilmu, maka ia tentu dapat menilai, seberapa tinggi ilmu yang dikuasai oleh Wira.
“Tetapi Punta tentu tidak dapat mengukur seberapa tinggi ilmuku,” berkata Putut Witala didalam hatinya, “Karena itu, maka Punta tentu menganggap bahwa ilmu sepupunya itu akan mampu mengatasi ilmuku.”
Karena itu, maka Putut Witala itupun berkata dengan nada tinggi, “Baik. Katakan kepada sepupumu, bahwa aku menantangnya berperang tanding sampai tuntas.”
“Nah, itu baru seorang laki-laki. Aku tahu, sepupuku tentu akan mempertahankan dengan mempertaruhkan nyawanya, meskipun ia mengatakan bahwa di Mataram perempuan seperti isterinya itu terdapat dimana-mana. Tetapi sedumuk batuk akan sama harganya dengan senyari bumi, yang akan dipertahankan sampai mati.”
Putut Witala itupun menggeram. Katanya, “Jangan menyesal, bahwa sepupumu akan terbaring di tanah tanpa dapat bernafas lagi. Ia akan mati setelah lehernya aku patahkan.”
“Terserah, apa yang akan kau lakukan.”
“Katakan kepada sepupumu, aku akan menunggu di sini esok siang. Aku akan membunuhnya sebelum senja. Aku sendiri tidak akan bersenjata. Aku akan membunuhnya dengan tanganku. Terserah sepupumu, apakah ia akan membawa senjata atau tidak. Jika ia merasa lebih mantap dengan mempergunakan senjata, biarlah ia bersenjata.”
“Baik. Aku akan mengatakan kepadanya. Esok siang aku akan membawanya kemari. Biarlah terjadi apa yang akan terjadi. Tentu saja aku minta sepupuku itu membawa isterinya pula.”
“Bagus. Ternyata kau tahu apa yang aku butuhkan. Sebelum aku mengatakannya, kau sudah mengerti apa yang aku inginkan.”
Demikianlah, maka Puntapun kemudian minta diri untuk pulang. Sekali lagi ia mengatakan kepada Putut Witala bahwa esok siang akan membawa sepupunya suami isteri untuk datang ke gumuk Wudun itu.
Ketika Punta kemudian sampai di rumahnya, maka lampu-lampu minyakpun sudah dinyalakan. Ayahnya yang melihatnya memasuki regol halaman segera bertanya, “Dari mana saja kau Punta. Angger Glagah Putihlah yung tadi mengisi pakiwan. Sedangkan angger Rara Wulan menyapu halaman.”
Punta tersenyum sambil menjawab, “Aku ada keperluan sedikit dengan seorang kawanku ayah.”
“Keperluan apa ?”
“Tidak apa-apa. Tetapi sekarang sudah selesai.“ Tetapi malam itu, Puntapun telah memberitahukan kepada Glagah Putih, bahwa esok Putut Witala menunggunya di gumuk Wudun.
“Besok Siang?”
“Ya. Putut Witala berniat membunuhmu sebelum senja.”
“Mudah-mudahan aku dapat menyelamatkan diriku sendiri.”
“Aku esok ikut bersamamu, kakang. Jika saja ada yang berbuat curang.”
“Baik. Tetapi kaupun harus bersiap menghadapi segala kemungkinan.”
“Menurut Putut Witala, besok ia tidak akan membawa senjata. Terserah kepada kakang, apakah kakang akan membawa atau tidak.”
Glagah Putih menarik nafas panjang. Ia memang tidak pernah nampak membawa senjata karena senjatanya sudah melekat di lambungnya. Demikian pula Rarn Wulan. Nampaknya sebagaimana kebanyakan perempuan ia hanya membawa sehelai selendang. Tetapi selendang itu adalah senjata yang sangat berbahaya.”
Bagaimanapun juga, ternyata Punta dan bahkan Glagah Putih dan Rara Wulanpun menjadi gelisah pula meskipun alasannya berbeda-beda.
Punta yang belum pernah mengetahui seberapa tinggi ilmu Putut Witala, masih saja merasa cemas Meskipun ia sangat mengagumi kemampuan Glagah Putih di saat terakhir sebagaimana dilihatnya di sanggar, tetapi beberapa kemungkinan masih dapat terjadi. Bahkan Puntapun juga mencemaskan, bahwa Putut Witala dapat saja berbuat curang.
Sementara itu, Glagah Putih dan Rara Wulan justru mencemaskan ayah dan ibu Punta yang sudah tua. Jika kemarahan Putut Witala itu ditujukan kepada kedua orang tuanya yang sudah tua itu, maka keuuanya akan mengalami nasib buruk.
Ketika hal itu dikatakannya kepada Punta, maka sambil tersenyum Puntapun berkata, “Jangan cemaskan ayah dan ibuku.”
“Jika kau tidak ada di rumah ?”
Puntapun kemudian telah menceritakan ancamannya justru ketika Putut Witala mengancam kedua orang tuanya.
“Jadi Putut Witala memang sudah mengancam ayah dan ibumu.”
“Ya. Tetapi aku sudah mengancamnya kembali.”
“Ternyata kau cerdik juga. Dengan demikian, agaknya Putut Witala tidak akan mengganggu ayah dan Ibumu.”
Malam itu, Punta telah mengajak Glagah Putih yang disebutnya bernama Wira pergi ke rumah tetangganya yang isterinya sedang melahirkan. Ternyata suara Punta cukup bagus ketika ia mendapat giliran untuk melantunkan tembang Dandanggula beberapa bait.
Lewat tengah malam, maka Puntapun mengajak Wira pulang. Ia harus beristirahat. Esok, tenaganya diperlukan untuk melakukan perang tanding dengan Putut Witala. Perang tanding itu sendiri agaknya bukan sekedar main-main. Putut Witala akan berperang tanding sampai tuntas.
Glagah Putinpun berusaha untuk dapat benar-benar beristirahat. Besok ia akan memasuki arena perang tanding dengan seseorang yang belum diketahui tingkat kemampuannya. Mungkin murid Pangeran Panapati itu mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Dan bahkan mungkin ia menguasai beberapa Aji yang sulit ditandingi.
Glagah Putihpun memang dapat tidur pulas. Justru Rara Wulanlah yang sulit untuk memejamkan matanya. Baru di dini hari Rara Wulan dapat tidur pula.
Tetapi mereka tidak dapat tidur terlalu lama. Pagi-pagi mereka sudah bangun. Kemudian membantu kedua orang tua Punta membersihkan halaman sedangkan Rara Wulan berada di dapur merebus air.
Punta sendiri sibuk mengisi jambangan sebelum ia sendiri mandi.
Pagi itu, Glagah Putih dan Rara Wulan mengisi waktunya dengan berjalan-jalan di lereng Gunung Merapi. Ternyata bahwa di lingkungan di sekitar padukuhan tempat tinggi Punta, air masih cukup untuk kebutuhan para petani, sehingga sawahpun nampak subur di segala musim.
Di beberapa tempat nampak sawah yang berjenjang seperti sebuah tangga raksasa yang diwarnai dengan hijaunya daun padi yang tumbuh dengan suburnya.
Punta yang mengantar keduanya membawa Glagah Putih dan Rara Wulan kesebuah kolam yang agak luas namun tersekat menjadi beberapa bagian.
“Ayah, ibu dan kemenakanku itulah yang memelihara belumbang ini. Dahulu masih ada aku dan saudara-saudaraku. Tetapi sekarang kami sudah pergi, sehingga belumbang ini menjadi kurang terpelihara.”
“Tetapi masih ada banyak ikan di dalamnya,“ sahut Rara Wulan.
“Ya,“ jawab Punta, “dahulu kami sempat memilah-milah ikan menurut jenisnya. Tetapi ayah dan ibu tidak lagi sempat melakukannya, sehingga ikannyapun mulai berbaur. Bahkan banyak yang ikut hanyut di pembuangan air jika kolamnya menjadi terlalu penuh. Meskipun kami sudah memasang anyaman bambu sebagai saringan.”
Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk. Sementara itu, dengan semacam irig bambu yang besar, Puntapun menangkap beberapa ekor ikan yang sudah agak besar untuk dibawa pulang.
“Ibu akan membuat pepes guram eh.”
Demikian mereka pulang, maka Puntapun segera pergi ke dapur untuk menyerahkan ikan yang ditungkapnya di belumbang.
“Buat pepes ibu. Sudah lama aku tidak makan pepes gurameh.”
“Aku sudah menyiapkan lauk buat kalian,” berkata ibunya, “aku sudah mengambil beberapa butir telur di petarangan.”
“Apa salahnya ditambah dengan pepes gurameh ?“
Ibunya hanya tersenyum saja.
Sedikit lewat tengah hari, ibu Punta itu sudah selesai masak. Iapun segera menyiapkan makan siang bagi Punta dan kedua orang tamunya yang diakunya sebagai sepupunya itu.
“Bagaimana dengan paman ?“ bertanya Rara Wulan ketika ibu Punta itu mempersilakannya makan.
“Pamanmu masih berada di pategalan. Biarlah nanti aku menunggunya,“ jawab ibu Punta.
Setelah makan siang serta beristirahat sebentar, maka Puntapun mengingatkan Glagah Putih dan Rara Wulan, bahwa Putut Witala menunggu mereka di gumuk Wudun siang itu.
“Baik. Sebentar lagi kita akan pergi ke gumuk Wudun.“
Ketika kemudian mereka minta diri kepada ayah dan ibu Punta untuk melihat-lihat lereng Merapi yang letaknya lebih tinggi maka ayah Punta itupun berkata, “Kenapa harus siang-siang begini sehingga sinar matahari akan terasa sangat terik.”
“Tetapi udara disini terasa sejuk, paman. Tidak seperti di ngarai. Jika panas matahari menyengat, maka udarapun menjadi sangat panas, sehingga rasa-rasanya tubuh ini bagaikan terpanggang.”
Ayah Punta tidak dapat menahan. Tetapi ia tidak tahu, apa yang akan dilakukan oleh Glagah Putih di gumuk Wudun.
Demikianlah, sejenak kemudian Glagah Putih dan Rara Wulan telah diantar oleh Punta naik ke tempat yang lebih tinggi Putut Witala berjanji untuk menunggu mereka di gumuk Wudun. Sebuah gumuk kecil yang berada dikaki Gunung Merapi itu. Sebuah tempat yang jarang sekali didatangi orang.
Ketika Glagah Putih, Rara Wulan dan Punta sampai di tempat itu, mereka melihat Putut Witala sudah berada di tempat itu pula. Demikian ia melihat ketiga orang itu datang, maka Putut Witala itupun segera menyongsongnya.
“Teryata kau benar-benar seorang laki-laki,” berkata Putut Witala.
“Bukankah sudah sewajarnya bahwa aku harus menerima tantanganmu. Soalnya bukan menang atau kalah. Tetapi aku juga mempunyai harga diri.”
“Bagus. Aku mengajak beberapa oranh saudara seperguruanku. Mereka akan menjadi saksi apa yang ukan terjadi kemudian. Dengan beberapa orang saksi, maka aku tidak akan dapat dianggap bersalah atas kematianmu. Kita sudah sepakat berperang tanding, sehingga kematian diantara kita adalah akibat kesepakatan kita itu. Termasuk segala macam taruhannya.”
“Baik. Meskipun aku tidak mengira sama sekali, bahwa disini aku akan bertemu dengan seseorang yang menantangku berperang tanding. Aku datang kemari untuk menengok paman dan bibi yang sudah lama tidak bertemu. Tetapi aku memang tidak dapat mengelak lagi. Musuh tidak dicari, tetapi jika ia datang, aku tidak akan lari.”
Putut Witala tertawa. Katanya, “Ternyata kau benar-benar seorang laki-laki. Dengan demikian, aku tidak akan merasa sangat bersalah jika aku membunuhmu nanti. Agaknya kau sudah benar-benar siap untuk mati.”
“Aku tidak datang untuk membunuh diri. Tetapi kematian tidak terlalu menakutkan bagiku, karena aku harus mempertaruhkan harga diriku sebagai seorang laki-laki.”
“Bersiaplah. Aku tidak mempunyai banyak waktu. Punta akan menjadi saksimu. Setelah kau mati, maka isterimu akan aku bawa ke padepokanku.”
Glagah Putih tidak menjawab lagi, sementara itu terasa tubuh Rara Wulan meremang. Sebenarnya ia ingin menjawab pernyataan Putu Witala itu. Tetapi ia harus menyesuaikan diri dengan sikap Glagah Putih.
Glagah Putih sendiri menjadi berdebar-debar ketika ia benar-benar sudah berhadapan dengan Putut Witala. Nampaknya Putut Witala adalah seorang yang sangat yakin dan percaya akan dirinya serta akan kemampuannya.
Demikianlah, maka keduanyapun segera mempersiapkan diri. Mereka memilih di tempat yang agak luas dan datar. Sementara itu, beberapa orang saudara seperguruan Putut Witala yang pada umumnya dari angkatan yang lebih muda, berdiri melingkari arena. Sedangkan seorang yang lebih tua dari mereka, juga seorang Putut ada diantara mereka. Putut Patrajaya. Putut dari angkatan yang justru lebih tua dari Putut Witala.
Beberapa saat kemudian, keduanya telah berdiri berhadapan. Namun Putut Witala masih saja tersenyum-senyum. Ia sempat berpaling Putut Patrajaya sambil berkata, “Kakang, bukankah pilihanku tidak salah.”
“Ya. Pilihanmu tidak salah. Tetapi bahwa kau memilihnya itulah yang salah seperti yang sudah aku katakan.”
Putut Witala tertawa berkepanjangan. Katanya, “Jika aku lepaskan pilihanku, maka kakang sendiri yang akan memilihnya.”
“Ada perbedaan diantara kita, adi. Tetapi segala sesuatunya terserah kepada adi. Aku dan saudara-saudara kita hanya akan menjadi saksi dalam perang tanding ini.”
Seorang cantrik yang bertubuh tinggi besar yang tataran ilmunya hanya berselisih selapis dengan Putut Witala berkata dengan nada suaranya yang besar dan berat. Jangan bicara dengan kakang Putut Patrajaya tentang seorang perempuan. Tetapi jika kau gagal kakang, aku yang akan menyelesaikannya. Meskipun aku lebih muda dari kakang, tetapi aku mempunyai kelebihan. Aku mempunyai tenaga lebih besar dari kakang.”
“Ah, bocah edan. Aku tidak akan gagal.”
“Kapan kita akan mulai?” bertanya Glagah Putih tiba-tiba.
“Baik. Baik. Kita akan segera mulai,” demikianlah, maka keduanyapun telah bergeser saling mendekat. Keduanya telah benar-benar bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan.
Putut Witala yang sangat yakin dirinya itupun tiba-tiba telah meloncat menyerang dengan kecepatan yang sangat tinggi sehingga Glagah Putih sempat terkejut karenanya.
Tetapi dengan sangat tangkas pula, Glagah Putihpun bergeser menghindar, sehingga serangan Putut Witala itu tidak sempat mengenainya.
Tetapi Putut Witala tidak memberi kesempatan kepada Glagah Putih. Serangannya beruntunpun segera memburunya.
Glagah Putih yang seakan-akan kehilangan kesempatan untuk menghindar itupun meloncat surut beberapa langkah. Ketika Putut Witala memburunya, maka Glaguh Putihpun dengan cepat meloncat tinggi-tinggi. Sekali ia melingkar di udara, kemudian dengan kedua kakinya ia hinggap kembali di atas tnnah, justru di belakang Putut Witala.
Putut Witala terkejut. Demikian pula saudara-saudara seperguruannya yang melingkari arena. Bahkan terdengar decak kekaguman pula diantara mereka.
Putut Witalapun segera berutar. Dengan kecepatan yang tinggi iapun menyerang Glagah Putih sejadi-jadinya. Ia ingin dengan cepat mengakhiri perkelahian itu, sehingga kecuali memenangkan perang tanding, maka saudara-saudara seperguruannya sempat melihat, bahwa ia benar-benar telah berada di lapisan pertama dari para murid di perguruannya.
Putut Patrajaya memperhatikan pertarungan itu dengan saksama. Sebagai seorang yang berilmu tinggi, maka iapun dapat mengenali, bahwa lawan Putut Witala itupun seorang yang berilmu sangat tinggi pula.
Demikianlah, maka keduanyapun segera terlibat dalam pertempuran yang sengit. Mereka yang berada di seputar arena itu melihat, bahwa keduanya telah meningkatkan ilmu mereka semakin tinggi, sehingga pertarungan itupun menjadi semakin sengit.
Namun serangan-serangan mereka agaknya masih belum menembus pertahanan masing-masing. Dengan kecepatan yang tinggi mereka saling menyerang. Tetapi dengan kecepatan yang tinggi pula mereka saling menghindar.
Namun sebenarnyalah bahwa Glagah Putih masih saja menjajagi tingkat ilmu lawannya. Menurut penilaian Glagah Putih, Putut Witala memang berilmu tinggi. Namun diantara unsur-unsur geraknya, masih banyak terdapat celah-celah yang berbahaya.
Dibanding dengan kemampuan rata-rata murid di lapisan pertama pada perguruan Ki Widura, maka murid-murid Ki Widura masih mempunyai beberapa kelebihan. Tetapi itupun bukan ukuran mutlak, bahwa ilmu Ki Widura lebih tinggi dari ilmu orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati.
Meskipun demikian, dengan menjajagi kemampuan muridnya, serba sedikit Glagah Putih akan mendapat sedikit gambaran dari kemampuan gurunya. Apalagi murid yang terhitung diantara murid-murid terbaik yang sudah dipercaya untuk menyandang gelar Putut di sebuah padepokan, sebagaimana lawan Glagah Putih itu. Putut Witala.
Pertarungan itu semakin lama menjadi semakin sengit. Putut Witala telah mengerahkan kemampuannya. Serangan-serangan-nyapun datang beruntun seperti badai.
Tetapi kali ini ia mendapat lawan Glagah Putih. Seorang yang berilmu sangat tinggi, yang sedang mengemban tugas yang sangat berat dari Ki Patih Mandaraka.
Namun Glagah Putih tidak ingin mengalahkan lawannya dengan serta-merta. Ia ingin memperlakukan lawannya seperti kanak-kanak yang sedang menerbangkan layang-layang. Sekali-sekali benangnya diulur memanjang. Tetapi kadang-kadang ditahan, sehingga layang-layang itu sempat terbang semakin tinggi.
Putut Witala yang mengerahkan ilmunya itu, ternyata masih saja sulit untuk dapat menembus pertahanan Glagah Putih. Bahkan jika sekali-sekali terjadi benturan, maka Putut Witalapun selalu tergetar surut.
Dengan demikian, maka Putut Witala itupun menjadi semakin marah. Serangan-serangannya menjadi semakin garang, langsung mengarah ke sasaran yang paling berbahaya di tubuh lawannya.
Tetapi serangan-serangan itu tidak pernah berhasil menyentuh tubuh Glagah Putih. Glagah Putih mampu menghindarinya dengan tangkas, atau menangkis serangan-serangan itu sehingga terjadi benturan.
“Gila orang ini,“ geram Putut Witala didalam hatinya, “ternyata ia mampu melindungi dirinya dengan ilmunya.”
Tetapi Putut Witala yang terlalu yakin akan kemampuannya itu tidak mau melihat kenyataan itu. Iapun semakin meningkatkan serangan serangannya dengan semakin mengerahkan tenaga dan kemampuannya.
Namun ternyata bahwa serangan-serangannya itu tidak berhasil menggoyahkan pertahanan Glagah Putih.
Para cantrik yang menyaksikan perang tanding itu menjadi semakin tegang. Mereka yang terlalu bangga akan kemampuan Putut Witala, merasa heran, bahwa Putut Witala tidak segera dapat mengalahkan lawannya.
Tetapi Puntapun kemudian menjadi semakin yakin, bahwa tidak banyak yang dapat dilakukan oleh Putut Witala. Apalagi Punta yang sudah berada di tataran pertama dalam urutan para cantrik Ki Widura, yang sudah menguasai ilmu dan kemampuan sebagaimana Putut Witala justru sudah tidak menjadi tegang lagi menyaksikan pertempuran yang nampaknya menjadi semakin sengit. Punta yakin bahwa Glagah Putih dengan sengaja memberikan beberapa kesempatan kepada lawannya, agar Putut Witala itu tidak dipermalukan dihadapan adik-adik seperguruannya.
Tetapi Putut Patrajaya berpendapat lain. Seperti Punta ia yang berada di seberang batas dari pertarungan itu, dapat menilai apakah yang sebenarnya terjadi. Ia mulai dapat melihat kelemahan-kelemahan pada adik seperguruannya yang sudah berhak menyandang gelar Putut itu. Iapun dapat melihat kelebihan-kelebihan pada lawan Putut Witala yang menyebut dirinya bernama Wira itu.
“Alangkah bodohnya Witala,” berkata Putut Patrajaya didalam hatinya, “lawannya itu adalah seorang yang berilmu sangat tinggi, sehingga Putut Witala tidak akan dapat memenangkan perang tanding itu.”
Putut Patrajaya itu menarik nafas panjang. Ia sadar, bahwa hari itu adalah hari Putut Witala yang terakhir. Beberapa saat lagi, Putut Witala akan terkapar di tanah. Ia tidak lagi dapat diajak berbincang, bergurau dan sekali-sekali berbantah.
Tetapi Putut Patrajaya tidak ingin menodai harga diri Putut Witala serta harga diri padepokannya. Karena itu, maka Putut Patrajayapun tidak ingin melibatkan diri dalam pertarungan itu. Biarlah mereka yang berperang tanding itu menyelesaikan sesuai dengan yang seharusnya terjadi atas mereka.
Namun Putut Patrajaya memang menyesali tingkah laku Putut Witala. Ia sudah mencoba memperingatkannya, agar Putut Witala tidak berniat mengambil perempuan yang sudah bersuami. Meskipun seandainya suaminya tidak dapat mempertahankan isterinya dalam perang tanding seperti luwan Putut Witala itu.
Tetapi Putut Witala tidak menghiraukannya.
Dalam pada itu, Putut Witala sudah mengerahkan kemampuannya, namun ia masih saja belum berhasil mengalahkan lawannya. Bahkan serangan-serangan lawanynlah yang lebih banyak mengenai sasarannya. Lawan Putut Witala itulah yang lebih banyak berhasil menyusupkan serangannya. Beberapa kali serangannya telah mengenai bahu, lambung, dada dan bahkan ketika Glagah Putih meloncat sambil memutar tubuhnya dengan kaki yang menebas mendatar. Dengan derasnya kakinya telah menyambar kening Putut Witala, sehingga Putut Witala itupun terlempar dan jatuh terguling di tanah. Tubuhnya tergores batu-batu padas yang keras dan runcing.
Namun Putut Witala dengan sigapnya telah bangkit berdiri. Meskipun goresan-goresan itu tidak terlalu dalam, namun oleh keringatnya, terasa menjadi pedih.
Putut Witala itupun menggeram. Matanya bagaikan membara oleh kemarahan yang memuncak. Tetapi Putut Witala harus menelan kenyataan itu, bahwa ia masih belum dapat mengalahkan orang yang menyebut dirinya Wira.
Tetapi Putut Witala masih tetap percaya, bahwa ia akan dapat memenangkan perang tanding itu.
Karena itu, maka iapun masih saja berusaha meningkatkan ilmunya Dihentakkannya kemampuannya untuk mendesak Glagah Putih beberapa langkah surut.
Meskipun Putut Witala berhasil, tetapi hanya untuk sekejap saja. Glagah Putihpun segera menjadi mapan dan hentakan-hentakan Putut Witala sudah tidak berarti lagi. Serangan-serangannya telah membentur pertahanan Glagah Putih yang rapat. Sementara itu, tenaga dan kekuatan Glagah Putih yang nampaknya masih utuh itu, terasa menjadi jauh lebih besar dari tenaga dan kemampuan Putut Witala yang sudah menjadi semakin menyusut.
Putut Patrajaya sekali-sekali harus memejamkan matanya. Ia tidak sampai hati melihat kekalahan Putut Witala yang sangat menyakitkan itu. Bahkan sampai saatnya Putut Witala hampir mati, ia masih belum mengakui kenyataan nkan kekalahannya itu.
Sementara itu, Putut Witala memang masih mengerahkan kemampuannya yang tersisa. Tetapi ia sudah sering kehilangan kendali. Ketika ia meluncur menyerang dengan satu kakinya, sedangkan Glagah Putih dengan gerak yang sederhana bergeser kesamping, maka Putut Witala telah terseret oleh tenaga serta berat tubuhnya sendiri, sehingga hampir saja ia jatuh terjerembab.
Meskipun demikian, Putut Witaka masih saja menggeram marah. Mulutnya nampak bergetar sedang giginya terkatub rapat-rapat.
Putut Patrajaya tinggal menunggu, kapan lawan Putut Witala itu mencekik adik seperguruannya sampai mati.
Sebenarnyalah Putut Witala itu benar-benar sudah kehabisan tenaga. Beberapa kali ia terjatuh, bukan oleh serangan Glagah Putih. Tetapi oleh tarikan tubuhnya sendiri.
Dalam pada itu. Putut Patrajayalah yang kemudian berteriak, “Wira. Tidak sepantasnya kau mempermainkan lawanmu. Apakah kau ingin disebut seorang yang ilmunya tidak terlawan? Atau barangkali sebutan-sebutan lainnya, sehingga kau permainkan lawanmu seperti itu? Kalau kau sudah yakin memenangkan perang tanding itu, selesaikan lawanmu seperti yang seharusnya kau lakukan.”
Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Sementara itu, Putut Witala sudah benar-benar tidak berdaya. Ketika ia berdiri dan melangkah maju, maka hampir saja ia jatuh berguling.
Sementara itu, Glagah Putihpun menggeram. Dipandanginya Putut Witala dari kepalanya sampai ke ujung kakinya. Tidak ada niatnya sama sekali untuk membunuh orang itu. Ia hanya ingin menjajagi kemampuannya.
Namun tiba-tiba yang tidak didugapun telah terjadi, Putut Witala yang sudah tidak mampu berdiri tegak itupun tiba-tiba telah berlutut sambil berkata, “Jangan bunuh aku Wira. Jangan bunuh aku. Aku beijanji tidak akan mengganggu lagi. Aku juga tidak akan mengganggu keluarga Punta.”
Bukan hanya Glagah Putih yang terkejut. Putut Patrajayapun terkejut pula. Bahkan dengun serta merta iapun berkata, “Adi Witala. Apa yang kau lakukan itu? Kau telah menodai harga dirimu sendiri. Kaupun telah menodai harga diri padepokan kami. Perang tanding yang disepakati adalah perang tanding sampai tuntas. Seorang diantara kalian yang berperang tanding harus mati. Kau tidak dapat merengek mohon belas kasihan agar kau tetap hidup setelah kau kalah dalam perang tanding ini.”
“Maaf kakang. Sebenarnya aku tidak ingin bersungguh-sungguh. Aku tidak ingin mati.”
“Gila. Kau memang tidak pantas untuk hidup.“
Sementara itu, Glagah Putihpun kemudian berkata, “Jika kau minta aku tidak membunuhmu, cepat tinggalkan tempat ini.”
“Terima kasih, Wira. Aku akan pergi.”
Tetapi Putut Patrajaya itupun menggeram, “Jika lawanmu tidak membunuhmu aku yang akan membunuhmu.”
“Ampun, kakang. Jangan lakukan itu,“ rengek Putut Witala pula.
Sementara itu, Glagah Putihpun berkata, “Ki Sanak. Kau tidak berhak membunuhnya. Akulah yang berperang tanding. Purba dan Wisesa ada di tanganku. Jika aku tidak membunuhnya, maka tidak ada orang lain yang berhak membunuhnya. Kecuali jika kalian esok atau lusa, setelah keadaan Putut Witala baik kembali, telah membuka perang tanding sendiri.”
Putut Patrajaya itupun menggeram. Namun kemudian iapun segera meninggalkan tempat itu tanpa minta diri.
Beberapa orang cantrik yang lain menjadi bingung. Tetapi mereka merasa kasihan kepada Putut Witala yang sudah kehilangan harga dirinya itu.
Namun Glagah Putih itupun kemudian berkata sekali lagi, “Pergilah. Aku juga akan pergi. Jika terjadi sesuatu pada paman dan bibi, maka guru Punta akan minta bantuan prajurit Mataram yang ada di Jati Anom. Padepokanmu akan diratakan dengan tanah justru saat gurumu tidak ada di padepokan.”
Ternyata Glagah Putihlah yang telah pergi lebih dahulu meninggalkan tempat itu, bersama Rara Wulan dan Punta.
Disepanjang jalan, mereka masih membicarakan tingkat kemampuan Putut Witala yang ternyata tidak lebih tinggi dari Punta sendiri.
“Kita hanya mendapat sekadar ancar-ancar,” berkata Glagah Putih, “tetapi tidak ada yang menarik perhatian. Semuanya masih pada tataran sewajarnya.”
Rara Wulan yang juga berkepentingan mengangguk-angguk. Jika tataran ilmu Witala itu sudah diberi gelar Putut di padepokan itu, maka ilmunya tentu sudah melampaui saudara-saudaranya.
Sebelum senja mereka sudah sampai di rumah Punta. Ayah dan ibu Punta yang sedang duduk di serambi bangkit menyongsong mereka. Dengan nada cemas ayah Punta itupun bertanya, “Darimana saja kalian ngger. Sampai menjelang senja kalian baru pulang.”
Glagah Putih tersenyum sambil menjawab, “Kami berjalan-jalan menyusuri jalan setapak paman. Udaranya terasa sejuk. Pemandangan di lereng Gunung Merapi nampak sangat menarik, sehingga kami menjadi lupa waktu.”
“Kalian pergi ke padepokan itu ?”
Glagah Putih menarik nafas panjang. Tetapi kemudian ia menggeleng, “Tidak, paman. Kami hanya menemui beberapa orang muridnya untuk berbincang-bincang.”
Orang tua itu mengangguk-anggiuk. Namun iapun berkata, “Kau nampak letih ngger.”
Glagah Putih mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun berkata, “Sedikit, paman.”
“Nah, silahkan duduk. Nanti kalau keringat kalian sudah kering, silahkan mandi.“
“Ya, paman.”
“Kau belum mengisi jambangan pakiwan. Punta.“
Punta tersenyum. Katanya, “Ya, ayah. Aku akan mengisinya.”
Tetapi Glagah Putihpun menyahut, ”biarlah aku membantunya, paman.”
Demikianlah, keduanyapun duduk beristirahat di serambi samping. Ibu Puntapun kemudian telah menghidangkan minuman hangat bagi mereka bertiga.
“Kapan keringatku kering, jika aku minum minuman hangat ini, ibu?” bertanya Punta.
“Kalau begitu, kau tidak usah menunggu keringatmu kering,“ sahut ibunya.
Punta tertawa. Glagah Putih dan Rara Wulanpun tertawa pula. Ketika ibu Punta itu meninggalkan mereka dan kembali duduk di serambi depan bersama suaminya, maka ketiganyapun segera menghirup minuman hangat itu. Sebenarnyalah bahwa mereka memang haus. Apalagi Glagah Putih.
Sementara mereka duduk sambil minum minuman hangat, mereka masih saja berbicara tentang Putut Witala, kemampuannya serta sikap beberapa orang cantrik dari padepokan itu.
“Putut Patrajaya nampaknya agak berbeda dengan Putut Witala,” berkata Glagah Putih.
“Ya. Tetapi nampaknya Putut Witala mempunyai wewenang yang lebih besar di padepokan itu,“ sahut Punta, “mungkin gurunya lebih dekat dengan Putut Witala, atau barangkali Putut Witala itu masih mempunyai sangkut paut darah keturunan dengan orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati.”
Glagah Putih mengangguk-angguk. Dengan nada datar iapun bergumam, “Tetapi apakah benar Putut Witala tidak akan mengganggu keluargamu, Punta?”
Punta menggeleng. Katanya, “Tidak. Ia benar-benar tidak akan mengganggu ayah dan ibu. Putut Witala tahu benar akan kekuatan prajurit Mataram yang berada di Jati Anom, yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Untara. Jika Ki Untara marah, maka padepokan itu akan benar-benar disapu seperti debu.”
Glagah Putih tertawa. Katanya, “Kau bertumpu pada kekuatan orang lain.”
“Untuk menghadapi orang-orang licik, kadang-kadang kita juga harus berlaku licik.”
Glagah Putih dan Rara Wulanpun tertawa berkepanjangan.
Dengan penjajagan itu, maka kebutuhan Glagah Putih dan Rara Wulan agaknya sudah terpenuhi. Karena itu maka Glagah Putihpun berkata, “Punta. Karena keperluanku datang kemari sudah selesai, maka sebaiknya esok kita kembali saja ke padepokan.”
“Jangan esok, kakang. Tetapi lusa.”
“Kenapa?”
“Rasa-rasanya aku masih ingin tinggal di rumah sehari lagi. Aku ingin benar-benar beristirahat tanpa memikirkan persoalan apapun. Selama aku berada di rumah kali ini, aku justru menjadi tegang. Nah, biarlah esok aku melepaskan ketegangan itu dengan berada di tengah-tengah kawan-kawanku semasa remaja.”
Glagah Putih dan Rara Wulan tersenyum. Dengan nada datar Glagah Putihpun berkata, “Baiklah. Kita akan turun esok lusa.”
Sebenarnyalah, bahwa Glagah Putih dan Rara Wulan masih berada sehari lagi di rumah Punta. Kepada ayah dan ibu Punta. Glagah Putih dan Rara Wulanpun memberitahukan, bahwa keperluan mereka telah selesai. Sehingga esok lusa mereka akan mintra diri.”
“Baiklah ngger. Tetapi jika tugas-tugas yang angger emban telah selesai kelak, aku harap angger singgah lagi kemari. Sebenarnyalah bahwa aku menjadi kesepian setelah anak-anak tinggal di rumah mereka sendiri-sendiri. Semenbtara Punta berada di padepokan.”
“Aku akan berusaha paman dan bibi. Kelak, jika tugas-tugasku telah selesai, maka aku akan singgah lagi ke mari.”
Sebenarnyalah Punta telah mempergunakan waktunya yang sehari untuk menemui kawan-kawannya yang masih berada di padukuhan. Rasa-rasanya masih asyik juga bergurau dengan mereka. Sebagian dari mereka, bahkan telah berkeluarga. Sedang masih ada juga yang belum.
Tetapi yang sehari itupun segera lewat. Matahari terasa beredar sangat cepat, sehingga tiba-tiba saja senjapun telah turun.
Malam itu, setelah makan malam, maka Glagah Putih dan Rara Wulan telah mengutarakan niatnya bahwa esok pagi mereka akan minta diri bersama Punta yang harus kembali ke padepokan.
“Kenapa begitu tergesa-gesa?” bertanya ayah Punta.
“Kami sudah cukup lama berada di sini, paman. Akupun telah mendapatkan bahan-bahan yang memadai. Sementara itu, Punta tidak dapat lebih lama lagi meninggalkan padepokannya.”
“Baiklah ngger. Tetapi jangan lupa, pada suatu kesempatan aku harap angger singgah di rumahku ini.”
“Tentu paman. Meskipun aku tidak dapat menyebut, kapan aku akan singgah. Tetapi aku harap, aku akan mendapat kesempatan yang cukup untuk tinggal disini bersama Punta.”
“Aku hanya dapat mengucapkan selamat jalan dan selamat bertugas kepada angger berdua, nampaknya tugas angger adalah tugas yang cukup berat, sehingga karena itu, maka angger harus melakukannya dengan sungguh-sungguh dan sangat berhati-hati.”
“Baik, paman. Kami berdua mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kesempatan yang paman dan bibi berikan kepada kami untuk membantu tugas-tugas kami.”
“Yang aku lakukan tidak ada harganya dibandingkan dengan tugas yang dibebankan di bahu angger berdua.”
Demikianlah, ketika malam menjadi semakin malam maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun telah dipersilahkan untuk beristirahat. Esok mereka akan menempuh perjalanan menuruni kaki Gunung Merapi pergi ke padepokan kecil di Jati Anom.
“Bukankah hanya sebuah perjalanan yang pendek saja paman. Apalagi jalannya menurun sehingga rasa-rasanya kami tinggal menggelinding saja, sehingga saat matahari sepenggalah, kami sudah sampai di Jati Anom.”
Orang tua Punta itu hanya tersenyum saja. Sejenak kemudian, pada wayah sepi uwong, Glagah Putih dan Rara Wulanpun telah berada dalam biliknya. Demikian pula Punta yang merasa dirinya telah menjadi segar setelah beristirahat sehari penuh.
Beberapa saat kemudian, merekapun telah tertidur nyenyak.
Pagi-pagi sekali mereka telah bangun. Seperti biasanya, Punta dan Glagah Putih bergantian mengisi jambangan di Pakiwan, sementara Rara Wulan membantu ibu Punta di dapur. Beberapa saat kemudian, setelah mandi, maka merekapun segera berbenah diri.
Ayah dan ibu Punta masih minta Glagah Putih, Rara Wulan dan Punta sendiri untuk makan pagi. Kemudian menjelang matahari terbit merekapun telah siap untuk berangkat.
Udara di kaki Gunung Merapi itu terasa dingin. Dihutan lereng pegunungan, burung-burung liar berkicau dengan suaranya yang melengking tinggi, seakan-akan sedang menyanyikan tembang untuk menyambut terbitnya matahari pagi
Demikianlah Glagah Putih, Rara Wulan dan Puntapun meninggalkan rumah itu. Kedua orang tua Punta dan kemenakannya yang remaja telah melepas mereka di pintu regol halaman rumahnya.
Beberapa saat kemudian, maka ketiga orang itupun telah menuruni kaki Gunung Merapi. Mereka memilih jalan yang lain, bukan jalan yang mereka lewati pada saat mereka berjalan naik. Mereka tidak melewati bulak-bulak panjang yang hijau. Padukuhan-padukuhan yang sederhana, tetapi diliputi oleh kehidupan yang tenang dan terasa damai.
Perjalanan mereka memang bukan perjalanan yang jauh. Tetapi seperti ketika mereka berangkat, maka pada saat mereka pulang, mereka memilih jalan yang tidak terlalu dekat dengan barak pasukan Ki Tumenggung Untara. Mereka akan langsung pergi ke padepokan lebih dahulu. Baru kemudian Glagah Putih dan Rara Wulan akan pergi menemui Ki Tumenggung.
Ketika mereka melewati pasar, pasar itu nampak cukup ramai. Ada beberapa orang penjual nasi tumpang di pasar itu.
Disudut pasar terdapat dua bengkel pande besi yang membuat peralatan pertanian. Bahkan mereka mampu juga membuat senjata yang sederhana.
Beberapa saat Glagah Putih, Rara Wulan dan Punta berhenti di depan pasar untuk melihat-lihat. Seorang perempuan menjual beberapa buah golek kayu yang manis dengan sungging yang halus. Sedang disisi yang lain, beberapa orang penjual kain tenun telah menggelar dagangannya.
“Kau darimana Punta. Pagi-pagi sudah berkeliaran di pasar?”
Punta berpaling. Dilihat seorang kawannya berdiri termangu-mangu. Kemudian orang itu masih saja bertanya, “Apakah kau sudah mendapat ijin dari gurumu?”
Punta tertawa. Katanya, “Tentu sudah. Aku diperintahkan oleh guru untuk mesan beberapa alat pertanian.”
“Bukankah di padepokanmu ada juga bengkel pande besi dan beberapa orang cantrik juga sudah pandai membuat alat-alat pertanian?”
Punta mengernyitkan dahinya. Namun kemudian iapun menjawab, “Kami memerlukan agak banyak. Sebagian memang akan kami buat sendiri, tetapi sebagian kami masih harus memesan.”
Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Marilah. Aku juga akan membeli sebatang slumbat besi untuk mengupas kelapa.”
“Aku, aku, sudah dari sana,“ jawab Punta agak gagap. Orang itu mengangguk-angguk. Iapun kemudian pergi meninggalkan Punta sebelum diperkenalkan dengan Glagah Putih.
Ketika orang itu sudah menjauh, justru Rara Wulanlah yang bertanya, “Siapa orang itu ?”
“Aku sudah lupa, kapan aku mengenalnya. Tetapi ia seorang yang kurang dapat menyesuaikan dirinya. Ia pernah berguru pada seorang yang berilmu tinggi di Mataram. Justru karena itu, ia merasa memiliki banyak kelebihan dari mereka yang berguru di perguruan yang jauh dari kota, sebagaimana perguruan di Jati Anom. Ia sering datang ke padepokan. Berbicara kesana-kemari. Sebenarnya saudara-saudara seperguruanku kurang senang kepadanya, karena ia selalu menggurui. Mengajari dan kadang-kadang mencela apa yang kami lakukan di padepokan kami.”
“Tentang olah kanuragan?” bertanya Rara Wulan pula.
“Tentu tidak. Meskipun ia sering datang ke padepokan, ia tidak pernah sempat menyaksikan latihan-latihan yang bersungguh-sungguh di sanggar tertutup atau di sanggar terbuka. Yang pernah dilihatnya adalah latihan-latihan pemanasan bersama-sama para murid dari segala tingkatan di halaman samping padepokan kami.”
Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk. Sementara Glagah Putihpun bertanya, “Tetapi bagaimana dengan ilmu orang itu sendiri.”
“Mungkin ia memang sudah agak lama berguru. Tetapi masih harus banyak yang dipelajari kalau ingin menempatkan dirinya diantara mereka yang berilmu tinggi.”
Di luar sadarnya, Glagah Putihpun berpaling. Ia masih melihat orang itu berdiri di muka pintu gerbang pasar. Nampaknya ia juga sedang memberikan petunjuk-petunjuknya kepada dua orang kawannya yang ditemuinya di pintu gerbang pasar.
Tetapi pembicaraan mereka tidak lama. Kedua kawannya itupun segera meninggalkannya. Agaknya mereka merasa jenuh untuk berbicara dengan orang yang sombong itu.
Punta yang juga memperhatikan orang yang berdiri di depan pintu gerbang pasar itu berkata, “Hanya aku yang kadang-kadang dapat memaksa diri untuk berbicara agak panjang dengan orang itu. Aku dapat menjadi pendengarnya yang baik.”
Glagah Putih dan Rara Wulan tersenyum sambil mengangguk-angguk. Dengan nada datar Glagah Putihpun berkata, “Kau memang seorang pendengar yang baik, Punta. Apapun yang dikatakan orang lain kepadamu.”
Punta justru tertawa karenanya.
Demikian, mereka segera melanjutkan perjalanan yang tinggal beberapa langkah. Mereka segera meninggalkan pasar dan berjalan perlahan-lahan menyusuri jalan yang berbelok ke Utara.
Ketika mereka sampai di padepokan, matahari masih belum sampai ke puncak. Sementara itu, Ki Widura dengan beberapa cantrik pada tataran pertama sedang berada di sanggar. Jika Punta ada di padepokan, kadang-kadang Ki Widura memerintahkan Punta dengan beberapa orang saudara seperguruannya pada tataran tertinggi di padepokan itu, untuk ikut mengawasi pada cantrik dari tataran pertama itu.
Sambil menunggu Ki Widura, maka Punta, Glagah Putih dan Rara Wulanpun telah berbaur dengan para cantrik. Glagah Putih dan Rara Wulan lebih senang menyaksikan para cantrik yang secara khusus mendalami pekerjaan pande besi di bengkel. Seorang yang sudah memahami benar-benar pekerjaannya, memberikan beberapa petunjuk kepada beberapa cantrik yang sedang memperdalam ketrampilannya di bengkel itu. Di perapian yang panas sehingga keringat mereka membasahi tubuh mereka.
Para cantrik yang bekerja di bengkel untuk membuat alat-alat pertanian itu telah membuka baju mereka agar mereka tidak merasa seperti dipanggang diatas bara.
Tanpa mengenakan baju, gerak tangan merekapun menjadi lebih cekatan. Yang menggerakkan ububan, lengannya tidak terganggu oleh lengan bajunya.
Ternyata beberapa orang cantrik benar-benar telah cekatan. Mereka mengangkat palu tinggi-tinggi, kemudian terayun menghantam sepotong besi yang sudah membara dengan arahan yang harus dibidik dengan tepat agar alat yang dibuatnya dapat jadi seperti yang diharapkan.
Sementara itu, Puntapun telah memasuki sanggar terbuka. Empat orang cantrik pada tataran yang sudah terhitung tinggi, sedang berlatih memperkokoh kaki mereka secara khusus.
“Bagus,” desis Punta, ”teruskan. Kakimu akan menjadi anggauta tubuhmu yang sangat berarti.”
Keempat cantrik itupun meneruskan latihan mereka. Beberapa saat Punta justru menunggui mereka serta memberikan beberapa petunjuk. Para cantrik itu tidak saja berlatih memperkokoh dan mempercepat gerak kaki mereka secara khusus, tetapi merekapun sekaligus telah melatih keseimbangan mereka juga.
Sedikit lewat tengah hari, maka para cantrik itupun beristirahat. Merekapun pergi ke pakiwan untuk mencuci muka, tangan dan kaki.
Baru kemudian mereka pergi ke dapur untuk makan siang.
Ki Widurapun telah mempersilahkan Glagah Putih dan Rara Wulan untuk makan siang bersamanya. Sambil makan, Glagah Putih dan Rara Wulan menceriterakan perjalanan mereka ke rumah Punta, sehingga Glagah Putih berhasil menjajagi kemampuan Putut Witala.
“Seorang yang telah mendapat gelar Putut, adalah seorang yang telah tuntas ilmunya, ngger. Tetapi ia belum memiliki ilmu sebaik gurunya. Bahkan mungkin masih jauh dari kemampuan gurunya itu.”
Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk. Mereka memang menyadari, bahwa ilmu Putut Witala tentu masih jauh dari tingkat ilmu gurunya. Menurut Ki Patih Mandaraka orang yang mengaku bernama Pangeran Ranapati yang juga menyebut dirinya Singa Wana adalah orang yang berilmu tinggi.
Dalam pada itu, Ki Widurapun berkata pula, “Pangeran Ranapati itu pernah naik lebih tinggi lagi dari padepokannya di lereng Gunung Merapi dan bertapa untuk beberapa lama mempertajam ilmunya. Mungkin iapun telah menjalani ilmunya yang lain yang dapat membuatnya menjadi orang yang sulit dicari tandingnya. Sehingga pada suatu hari, orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu meninggalkan pertapaan dan padepokannya mengembara ke Timur.”
“Tentu sesudah Pangeran Jayaraga mendapat kedudukan baru di Panaraga.”
“Mungkin, Glagah Putih,“ Ki Widura itupun mengangguk-angguk sambil mengingat-ingat. Namun kemudian iapun bertanya, “Apakah kau yakin bahwa kepergian orang yang disebut Pangeran Ranapati itu ada hubungannya dengan tugas Pangeran Jayaraga di Panaraga?”
“Tidak, ayah. Ki Patihpun tidak. Tugasku adalah mencari orang yang menamakan diri Pangeran Ranapati itu dan membawa pulang ke Mataram. Kecuali jika di lapangan aku menemukan alasan yang kuat bahwa aku tidak perlu membawanya pulang.”
“Atau kalau terjadi kecelakaan, “sambung Rara Wulan, “kecelakaan itu dapat saja terjadi pada kedua belah pihak.”
Ki Widura menarik nafas panjang. Katanya, “Kalian harus berhati-hati. kalian harus selalu berdoa pula, agar kalian berhasil.”
“Ya, ayah,“ jawab Glagah Putih dan Rara Wulan hampir berbareng. Glagah Putihpun kemudian meneruskan, “Aku minta ayahpun selalu berdoa untuk kami.”
“Ya. Aku akan selalu mendoakan kalian berdua.“ Dalam pada itu. Ki Widurapun kemudian bertanya, “Apakah kau masih akan menemui kakangmu Untara?”
“Ya. Ayah aku akan menemuinya lagi dan sekaligus minta diri. Aku tidak boleh terlalu lama disini. Esok aku akan berangkat ke Timur. Mungkin esok aku masih akan singgah di Sangkal Putung.”
Ki Widurapun mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa tugas yang dipikul oleh anak dan menantunya itu adalah tugas yang berat. Namun jika Ki Patih Mandaraka memilih Glagah Putih dan Rara Wulan, tentu bukannya tanpa alasan.”
“Sore nanti aku akan menemui kakang Untara,” berkata Glagah Putih kemudian.
Setelah beristirahat sebentar, maka Ki Widurapun telah siap pula untuk memasuki sanggar tertutup bersama murid-muridnya pada tataran yang teratas. Diantara mereka terdapat pula Punta yahgjuga sudah ada di Padepokan.
Sementara Ki Widura berada di sanggar, maka Glagah Putih dan Rara Wulan minta diri untuk pergi ke Jati Anom menemui Ki Tumenggung Untara.
Ketika Glagah Putih dan Rara Wulan sampai di rumah Untara, maka yang menemui mereka adalah Nyi Untara. Glagah Putih dan Rara Wulan itupun kemudian dipersilahkan duduk di pringgitan.
“Kakangmu berada di barak,“ berkata Nyi Untara, “biarlah ia dipanggil.”
“Tidak usah mbokayu. Biar kami saja pergi ke barak.”
“Jadi kalian saja yang akan ke Barak?”
“Ya, mbokayu. Kami juga ingin melihat barak kakang Tumenggung yang belum lama ini baru saja dipugar.”
“Ah, tidak dipugar. Hanya sekedar memperbaiki atap yang bocor, dinding yang renggang dan kerusakan-kerusakan kecil lainnya. Sebulan lagi akan datang musim hujan. Jika barak itu tidak diperbaiki secara keseluruhan dan hanya ditambal sulam saja, maka kebocoran atapnya hanya akan berpindah-pindah saja dari satu tempat ke tempat yang lain.”
“Bukankah barak kakang Tumenggung juga diperluas?”
“Kakangmu memanfaatkan gumuk kecil di sebelah baraknya untuk membuat sanggar terbuka. Sedangkan di bekas sanggar terbuka yang lama, memang dibangun barak karena barak yang sudah ada sebenarnya terasa terlalu sempit.”
Demikianlah, maka Glagah Putih dan Rara Wulan jtupun minta diri untuk menemui Untara di baraknya.
“Nanti, dari barak aku akan singgah kemari.”
“Sungguh?”
“Sungguh,” Rara Wulanlah yang menyahut.
“Aku akan menyediakan minum buat kalian.”
Glagah Putih dan Rara Wulanpun meninggalkan regol halaman rumah Untara. Baraknya terletak tidak terlalu jauh dari rumah Untara.
Ketika Glagah Putih dan Rara Wulan sampai ke barak, maka prajurit yang bertugaspun segera menyampaikannya kepada Ki Tumenggung, karena sebagian besar para prajurit di barak Ki Tumenggung Untara itu sudah mengenal Glagah Putih dan Rara Wulan.
“Silahkan,“ seorang prajurit mempersilahkan mereka memasuki ruang khusus untuk menerima tamu-tamu penting Ki Tumenggung Untara.
Sejenak kemudian, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun sudah duduk di ruang khusus itu, diterima oleh Ki Tumenggung Untara.
“Kami sudah berusaha untuk mencari keterangan lebih lanjut tentang lingkungan yang ditinggalkan oleh orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu, kakang,” berkata Glagah Putih.
Glagah Putih dan Rara Wulan saling berpandangan ketika mereka melihat Ki Tumenggung itu tersenyum. Bahkan kemudian Ki Tumenggung itupun berkata, “Ya. Kau sudah mendapat keterangan cukup jauh. Kau sudah menjajagi kemampuan salah seorang Putut di padepokan itu. Namun agaknya Putut itu tidak memenuhi keinginanmu, karena Putut itu ternyata terlalu lemah dihadapanmu.”
Glagah Putih dan Rara Wulan terkejut. Dengan serta merta Glagah Putih itupun bertanya, “Darimana kakang Tumenggung mengetahuinya?”
“Ketika kau mengatakan, bahwa kau akan mencari keterangan lebih jauh dan pergi ke rumah cantrik dari padepokan paman Widura, aku telah mengirimkan beberapa orang prajurit sandi untuk mengawasi keadaan.”
Glagah Putih dan Rara Wulan menjadi berdebar-debar. Sebelum mereka mengatakan sesuatu, Ki Tumenggung itupun berkata, “Jangan tersinggung. Kau juga prajurit sandi. Tetapi prajuritku adalah prajurit yang sudah berpuluh tahun melakukan tugas sandi. Ia mempunyai pengalaman yang jauh lebih luas dalam tugas-tugas sandi meskipun tingkat ilmu mereka berada pada tataran yang jauh dibawah tingkat ilmu kalian.”
Glagah Putih dan Rara Wulan menarik nafas panjang. Namun keduanyapun kemudian tertawa pendek. Dengan nada tinggi Glagah Putih itupun berkata, “Kami memang masih harus mentertawakan kemampuan kami dalam tugas sandi.”
“Jangan berkecil hati,” berkata Ki Tumenggung sambil tersenyum, “justru karena kalian memiliki ilmu yang tinggi, maka kalian merasa mampu mengatasi kesulitan-kesulitan yang mungkin kau hadapi dalam tugas-tugas kalian. Sedangkan petugas sandi yang tidak memiliki ilmu setinggi ilmumu, akan merasa harus lebih berhati-hati. Mereka harus mengandalkan kemampuan mereka dalam menyamarkan dirinya dalam tugas-tugasnya daripada harus mengandalkan ilmu kanuragan mereka.”
Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk. Ternyata bahwa kecerdikan dan sikap sangat hati-hati, diperlukan sekali dalam tugas-tugas sandi tanpa harus mengandalkan ilmu yang sangat tinggi.
Sementara itu Ki Tumenggung Untara itupun bertanya, “Nah, bagaimana pendapatmu dengan kemampuan salah seorang Putut murid orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu?”
“Seperti yang kakang Tumenggung katakan. Ia masih belum waktunya untuk ditetapkan menjadi seorang Putut yang dihadapan para murid dapat mewakili gurunya.”
“Memang Glagah Putih, Hanya dihadapan gurunya. Karena itu, orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu berani memberikan gelar Putut kepadanya.”
“Tetapi dalam keadaan yang mendesak, bukankah ia harus berhadapan pula dengan orang di luar perguruannya.”
“Itu jarang terjadi. Atau mungkin dengan sengaja orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu meninggalkan jejak yang samar. Dengan kelemahan yang dapat dilihat pada para muridnya yang sudah digelarinya Putut, maka orang akan mengira, bahwa iapun merupakan seorang guru yang lemah. Tetapi orang itu akan keliru. Pangeran Ranapati bukan orang yang lemah.”
“Tetapi Pututnya yang seorang lagi, yang ikut menjadi saksi dalam perang tanding itu, agaknya memiliki ilmu yang lebih tinggi. Tetapi wewenangnya lebih kecil dari Putut Watala, Putut yang turun dalam perang tanding itu.”
Ki Tumenggung Untara mengangguk-angguk. Katanya, “Masih banyak yang harus diketahui.”
“Tetapi aku tidak dapat terlalu lama menunggu disini, kakang. Aku harus segera pergi ke Timur. Pangeran Jayaraga sudah berada di Panaraga.”
“Baiklah. Tetapi kau belum mempunyai bahan yang cukup banyak. Sementara itu prajurit sandiku juga belum berhasil menemui perempuan yang mengaku ibu dari orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu. Orang itu sendiri mengatakan, bahwa ibunya sudah meninggal.”
“Ya. Mungkin kakang dapat meneruskan penelusuran itu lewat para prajurit sandi. Jika perlu, aku akan datang lagi untuk mengetahui kebenaran kabar itu.”
“Baiklah. Tetapi kau harus sadari, bahwa tugasmu adalah tugas berat. Apalagi jika orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu berhasil membayangi tugas-tugas Pangeran Jayaraga.”
“Ya, kakang.”
“Kapan kau akan berangkat?”
“Esok pagi. Kami berniat untuk singgah di Sangkal Putung. Sudah lama uami tidak pergi ke Sangkal Putung atau mungkin dongeng dari kaki gunung Merapi tentang seorang putera Lembu Peteng dari Panembahan Senapati itu juga terdengar dari Sangkal Putung.”
“Sekali lagi pesanku, kalian harus sangat berhati-hati. Kalian jangan terlalu bersandar kepada tingkat ilmu kalian yang tinggi dalam tugas sandi kalian.”
Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk. Apa yang dilakukan para petugas sandi dalam kesatuan yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Untara, yang mempunyai peng alaman yang sangat luas itu, telah mengajarkan kepada mereka, bahwa keberhasilan para prajurit sandi tidak saja tergantung dari kemampuannya, tetapi juga kecerdikan, hati-hati dan kecepatan menanggapi satu persoalan yang tiba-tiba saja dihadapi. Namun lebih dari semuanya itu, kemampuan dan ilmu yang tinggi itu mempunyai berbagai macam peng aruh untuk mengatasi persoalan yang dihadapi.
Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, setelah Glagah Putih dan Rara Wulan mendengarkan berbagai macam pesan dari Ki Tumenggung Untara, maka merekapun segera minta diri.
“Aku berjanji kepada mbokayu untuk singgah di rumah kakang. Mbokayu tadi sedang menyiapkan minuman hangat.”
Ki Tumenggung Untara tersenyum. Dihatinya ia menyimpan harapan bahwa Glagah Putih akan dapat menjadi seorang prajurit yang tidak kalah dari Ki Rangga Agung Sedayu. Kecerdasannya, ketajaman pandangan, pendapat dan panggraitanya serta ilmunya.
Seperti yang dijanjikan, maka Glagah Putih dan Rara Wulan memang singgah di rumah Ki Tumenggung Untara sejenak. Nyi Tumenggung sudah menyediakan minuman yang sudah siap dituang. Demikian tamunya itu datang, minuman itu baru dituang di mangkuk agar tidak dingin.
Beberapa saat Glagah Putih dan Rara Wulan duduk di pringgitan rumah Ki Tumenggung. Mereka mendengar bahwa Sabungsari masih belum kembali ke barak justru dari Nyi Tumenggung.
Tetapi Glagah Putih dan Rara Wulan tidak begitu lama berada di rumah Ki Tumenggung. Setelah minum minuman hangat serta makan beberapa potong makanan yang telah disediakan, maka merekapun minta diri.
“Kenapa kalian begitu tergesa-gesa. Kenapa kalian tidak menunggu kakangmu pulang dari barak?”
“Bukankah kami sudah menemuinya di barak.”
“Tetapi tentu sekedar persoalan tugas yang kalian emban. Disini kalian dapat berbicara tentang apa saja.”
“Lain kali, mbokayu,“ sahut Rara Wulan sambil tersenyum, “Kami berharap bahwa kami dapat menjalankan tugas kami dalam waktu yang tidak terlalu lama, sehingga kami akan segera dapat datang lagi kemari.”
Nyi Tumenggung tidak dapat menahan mereka. Keduanyapun kemudian meninggalkan rumah Ki Tumenggung.
Di halaman mereka bertemu dengan seorang remaja yang melihat sorot matanya masih sangat muda. Tetapi melihat ujudnya, remaja itu seakan-akan sudah menjadi seorang anak muda yang dewasa.
“Beri salam pada pamanmu,” berkata Nyi Tumenggung.
Remaja itupun kemudian membungkuk hormat. Ketika Glagah Putih mengacungkan tangannya, remaja itu menyambutnya kemudian mencium tangan itu. Demikian pula tangan Rara Wulan.
Ketika Glagah Putih menepuk bahu remaja itu, maka iapun mengerutkan dahinya sambil berkata, “Harapan bagi masa mendatang mbokayu.”
“Ah, nakalnya bukan main. Kesenangannya bermain-main dengan kuda.”
“Satu permainan yang bagus. Apakah ia juga senang berada di sanggar.”
“Ya. Bersama ayahnya.”
Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk. Sementara remaja itupun telah berlari ke pintu seketeng.
“Ia agak kudang mengenal unggah-ungguh. Aku harus lebih keras mengajarinya.”
“Ia masih anak-anak, mbokayu.”
Demikianlah, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun telah keluar dari pintu regol halaman dan turun ke jalan, sementara Nyi Tumenggung melepas mereka sampai di tangga pintu regol halamannya.
Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudian menyusuri jalan kademangan Jati Anom. Jalan yang sudah dikenalnya sejak ia masih kanak-kanak.
Di padokan, Ki Widurapun bertanya kepada mereka, apakah mereka benar-benar akan meninggalkan padepokan esok pagi.
“Ya, ayah,“ jawab Glagah Putih, “Kami akan singgah sebentar di Sangkal Putung, kemudian langsung menempuh perjalanan ke Timur.”
“Kalau begitu kalian perlu berbenah diri. Apa saja yang akan kau persiapkan untuk kau bawa esok.”
“Tidak ada yang harus dipersiapkan ayah.”
Ki Widura tersenyum. Anaknya memang tidak pernah mempersiapkan apa-apa untuk dibawa jika ia pergi mengembara. Yang tidak boleh ketinggalan adalah ikat pinggangnya, sebagaimana Rara Wulan selalu membawa selendangnya. Selendangnya yang sangat khusus baginya.
Malam itu, Glagah Putih dan Rara Wulan mengadakan pertemuan dengan para cantrik di padepokan kecil itu untuk minta diri.
“Sebenarnya kakang ini mau kemana?” bertanya seorang cantrik.
Glagah Putih tersenyum sambil menjawab, “Aku adalah seorang pengembara. Karena itu, kerjaku adalah mengembara. Esok aku akan pergi kearah matahari terbit.”
Seorang cantrikpun kemudian bertanya, “Kau akan melihat apa yang ada di balik cakrawala, kakang.”
“Ya. Aku ingin melihat sarang matahari. Dimana ia tidur dimalam hari.”
Para cantrik itupun tertawa.
Namun pertemuan itu tidak berlangsung sampai terlalu larut. Glagah Putih dan Rara Wulan harus beristirahat sebaik-baiknya. Esok mereka akan berangkat pagi-pagi . Singgah di Sangkal Putung sejenak untuk menengok keluarga Ki Demang serta menyampaikan pesan sungkem Ki Rangga Agung Sedayu dan Sekar Mirah. Mereka masih belum sempat pergi ke Sangkal Putung. Mungkin setelah Ki Rangga selesai memugar baraknya, baru mereka akan dapat pergi ke Sangkal Putung.
Dikeesokan harinya, keduanya bangun pagi-pagi sekali sebelum langit menjadi merah. Keduanyapun segera berbenah diri sebelum mereka bersiap-siap untuk mulai dengan perjalanan panjang mereka. Bukan sekedar perjalanan dan pengembaraan biasa untuk mengenali lingkungan baru bagi keduanya. Tetapi keduanya telah mengusung beban yang cukup berat.
Setelah minum-minuman hangat serta makan pagi yang disiapkan oleh para cantrik, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun minta diri.
Ada ketegangan yang nampak membayangi wajah Ki Widura. Ki Widura sadar benar, bahwa anak dan menantunya itu sedang menjalankan tugas yang berat. Mereka harus memburu seorang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati, yang akan dapat menyalahgunakan nama Panembahan Senapati bagi kepentingannya sendiri.
Sementara itu, Ingkang Sinuhun telah memerintahkan Pangeran Jayaraga untuk memegang kembali kekuasaan di Panaraga.
Ki Widura dan beberapa orang cantrik telah melepas Glagah Putih dan Rara Wulan sampai ke gerbang padepokan kecil di Jati Anom itu. Ketika Glagah Putih dan Rara Wulan beranjak meninggalkannya, maka Ki Widura itu masih berpesan, “Hati-hatilah kalian ngger.“
“Doa dan restu ayah akan menyertai kami,“ sahut Glagah Putih.
“Aku akan selalu berdoa bagi keberhasilan dan keselamatan kalian. Jika kelak kalian kembali, aku ingin segera mendengar kabar kedatangan kalian.”
“Ya, ayah. Aku akan segera kemari.”
Demikianlah, maka keduanyapun kemudian meninggalkan padepokan kecn itu. Tujuan pertama mereka adalah Sangkal Putung.
Jarak antara Jati Anom sampai ke Sangkal Putung memang tidak begitu jauh. Wayah pasar temawon, mereka sudah akan sampai ke rumah Swandaru. Mungkin Swandaru akan terkejut melihat kedatangan mereka di wayah pasar temawon.
Disepanjang jalan ke Sangkal Putung menjelang matahari terbit, Glagah Putih dan Rara Wulan sempat mentertawakan sikap Agung Sedayu menjelang masa dewasanya. Agung Sedayu sangat takut kepada hantu yang tinggal di randu alas, yang disebut hantu bermata satu, meskipun ia tahu, bahwa yang disebut mata satu itu adalah bekas cabang yang telah patah. Tetapi Agung Sedayu selalu membayangkan bahwa bekas cabang yang patah itu sebenarnya mata dari hantu bermata satu.
Namun di pagi hari, menjelang matahari terbit, terasa perjalanan ke Sangkal Putung itu justru menyegarkan tubuh mereka. Udara yang sejuk, kicau burung liar di pepohonan serta jalan yang menurun, rasa-rasanya membuat perjalanan mereka menjadi semakin cepat.
Sebenarnyalah sedikit lewat wayah pasar temawon, keduanya telah berada di depan regol halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung. Rumah yang terhitung besar di atas halaman yang luas.
Seorang yang baru sibuk memotong dahan-dahan kayu yang sudah nampak tua serta daunnya mulai menguning di halaman sebelah pendapa segera menyongsongnya.
“Kalau tidak salah, bukankah ini angger Glagah Putih dari Jati Anom?” bertanya orang itu yang ternyata pernah mengenal Glagah Putih.
“Ya, paman. Apakah kakang Swandaru ada?”
“Ada, ada. Aku akan memanggilnya.“ Orang itupun segera masuk ke pintu sekoteng. Sejenak kemudian, maka pintu pringgitanpun terbuka.
Swandaru dan Pandan Wangi keluar dari ruang dalam untuk menyambut tamunya yang disebut oleh seorang pembantunya dari Jati Anom.
“Marilah, adi Glagah Putih dan Rara Wulan.“
Glagah Putih dan Rara Wulanpun segera naik ke pendapa dan dipersilahkan duduk di pringgitan.
“Bukankah adi berdua baik-baik saja?” bertanya Swandaru, “dan bagaimana dengan keluarga di Tanah Perdikan serta barangkali adi telah singgah di Jati Anom?”
“Semua baik-baik saja, kakang . Demikian pula keluarga di Jati Anom. Aku memang sudah singgah di Jati Anom menemui ayah dan kakang Untara.”
“Sokurlah.”
“Dan bagaimana dengan kakang?”
Swandaru tersenyum. Katanya sambil berpaling kepada Pandan Wangi, “Kami baik-baik saja sekeluarga, adi.”
“Sokurlah. Semoga Yang Maha Agung akan selalu melindungi kita semuanya.”
“Semoga adi. Kedatangan adi agak mengejutkan kami. Mudah-mudahan tidak ada apa-apa. Barangkali adi hanya ingin menengok kami sekeluarga setelah agak lama tidak bertemu.”
“Tidak ada apa-apa kakang. Kami memang datang untuk sekedar singgah menengok keadaan kakang Swandaru sekeluarga di Sangkal Putung. Kamipun membawa sungkem kakang Rangga Agung Sedayu dan mbokayu Sekar Mirah bagi Ki Demang serta salam mereka kepada kakang Swandaru sekeluarga.”
“Kalau tidak salah, adi menyebut kakang Rangga Agung Sedayu, begitu?”
“Ya. Kakang Agung Sedayu sudah di wisuda menjadi seorang Rangga.”
“Sokurlah. Seharusnya kakang Agung Sedayu sudah mendapatkan pangkat lebih tinggi lagi. Mungkin seorang Tumenggung. Tetapi kakang Agung Sedayu tidak suka memperlihatkan jasanya. Ia lebih senang diam namun melakukan sesuatu yang berarti.”
“Ya.“ Glagah Putih mengangguk-angguk, “namun akhirnya Ingkang Sinuhun menyetujui usul kenaikan pangkatnya.”
“Aku akan berusaha untuk dapat mengunjunginya untuk menyampaikan ucapan selamat.”
“Kakang Agung Sedayu dan mbokayu Sekar Mirah juga berniat untuk datang kemari, kakang. Tetapi saat ini kakang Agung Sedayu sedang sibuk memperluas baraknya. Jika kerja itu sudah selesai, maka kakang Agung Sedayu dan mbokayu Sekar Mirah akan mengunjungi Ki Demang.”
Swandaru mengangguk-angguk. Katanya, “Ayah memang sangat mengharapkan mereka datang. Sekarang ayah sudah hampir pikun. Biarlah aku minta ayah menemui adi Glagah Putih.”
“Sudahlah, kakang. Jika Ki Demang sedang beristirahat. Sungkem kami berdua saja nanti kakang sampaikan.”
“Tidak apa-apa adi,” Pandan Wangilah yang menyahut, “ayah masih nampak kuat. Tetapi penglihatannya sudah agak berkurang.”
Pandan Wangilah yang kemudian bangkit berdiri dan masuk ke ruang dalam. Selain mempersilahkan Ki Demang, Pandan Wangipun telah minta pembantunya untuk mempersiapkan hidangan bagi tamu-tamunya.
Sejenak kemudirn Ki Demang telah keluar dari pintu pringgitan dibimbing oleh Pandan Wangi. Sambil duduk Ki Demangpun bertanya, “Angger Glagah Putih dan angger Rara Wulan?”
“Ya, Ki Demang,“ sahut Glagah Putih dan Rara Wulan hampir berbareng.
“Inilah keadaanku sekarang, ngger. Mataku sudah mulai buram. Tetapi pendengaranku masih baik. Aku langsung dapat mengenali suara angger Glagah Putih dan angger Rara Wulan, meskipun penglihatanku atas angger berdua sudah tidak begitu jelas lagi.”
Ki Demangpun kemudian mulai bertanya tentang keselamatan keluarga anak dan menantunya di Tanah Perdikan Menoreh. Ketika kemudian Glagah Putih menceritakan bahwa Agung Sedayu sudah diwisuda menjadi seorang Rangga, maka Ki Demarigpun nampak menjadi gembira.
Untuk beberapa lama Ki Demang ikut menemui Glagah Putih dan Rara Wulan di pringgitan. Ketika kemudian seorang pembantu menghidangkan minuman hangat dan beberapa potong makanan, maka Ki Demang itupun berkata, “Silahkan angger berdua. Aku akan beristirahat di serambi. Setiap pagi aku berjemur di panasnya matahari di serambi.”
“Silahkan, silahkan Ki Demang,“ sahut Glagah Putih dan Rara Wulan hampir berbareng pula.
Ketika Ki Demang sudah tidak lagi duduk bersama mereka di serambi, maka Glagah Putihpun mulai berbicara tentang tugas yang diembannya. Ia percaya bahwa Swandaru dan Pandan Wangi tidak akan membocorkan rahasianya, karena merekapun tahu tentang tugas-tugas yang harus dirahasiakan.
Swandaru dan Pandan Wangi mendengarkan ceritera Glagah Putih dan Rara Wulan itu dengan seksama. Sekali-kali mereka mengangguk-angguk. Namun kemudian Swandaru itu menyela, “Kami sudah meragukan, bahwa orang itu benar-benar putera Panembahan Senapati. Meskipun aku belum mengenal langsung orangnya, tetapi serba sedikit aku pernah mendengar tentang orang itu.”
“Apa saja yang pernah kakang dengar.”
“Salah seorang isterinya tinggal di kademangan ini.”
“Salah seorang isterinya?” bertanya Glagah Putih dengan serta-merta.
“Ya. Untuk beberapa lama ia berada di padepokan orang yang mengaku bernama Pangeran Ranapati itu. Tetapi ketika Pangeran Ranapati itu pergi meninggalkan padepokannya, maka perempuan itu pulang ke rumahnya.” Pandan Wangilah yang menjawab, ”dengan bangga isterinya sering menceritakan tentang suaminya yang diyakininya sebagai seorang Pangeran, meskipun pengakuannya masih harus diperjuangkan. Menurut isterinya, kepergian Pangeran itu dalam rangka usahanya untuk mendapatkan pengakuan tentang kenyataan dirinya.”
“Kenapa perempuan itu meninggalkan padepokan?”
Pandan Wangi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Perempuan itu memang agak banyak berbicara. Baik tentang dirinya sendiri, maupun tentang suaminya. Ia meninggalkan padepokan itu karena isteriisteri orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu saling mendengki. Saling iri dan bahkan saling memfitnah. Menurut perempuan itu, tentu saja bahwa ia adalah orang terbaik diantara beberapa orang isteri orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu. Karena itu, pada saat suaminya tidak ada di padepokan, ia lebih baik pulang ke rumahnya saja.”
Rara Wulanpun kemudian bertanya, “Apakah perempuan itu juga berceritera tentang tujuan kepergian suaminya? Untuk apa dan barangkali perempuan itu menyebut, kemana?”
“Perempuan itu tidak tahu, suaminya akan pergi kemana. Tetapi seperti aku katakan tadi, menurut perempuan itu, suaminya sedang berusaha membuka tabir kebenaran tentang dirinya, bahwa ia adalah seorang Pangeran, putera Panembahan Senapati.”
“Jadi perempuan itu tidak pernah menyinggung kemana suaminya pergi?”
“Tidak. Entahlah jika ia berceritera kepada orang lain.”
Swandarupun menyambung pula, “Mungkin suaminya memang tidak pernah mengatakan kepadanya, apa yang akan dilakukannya.”
Glagah Putih dan Rara Wulanpun mengangguk-angguk.
Namun tiba-tiba saja Swandaru itupun berkata kepada Pandan Wangi, “Sebenarnya aku tidak ingin berurusan dengan masalah-masalah pribadi. Tetapi bukankah hampir semua orang mengatakan, bahwa Nyi Mas Saminten mempunyai hubungan yang khusus dengan Sumirat?”
“Kata orang, kakang. Tetapi aku juga tidak begitu memperhatikan persoalan-persoalan pribadi seperti itu.”
“Nyi. Kita memang tidak akan berurusan dengan masalah pribadi diantara mereka. Tetapi dalam hubungan tugas adi Glagah Putih, mungkin Sumirat yang dikatakan orang menjadi sangat dekat dengan Nyi Mas Saminten itu dapat membantu. Hubungan antara Sumirat dan Saminten, menurut kata orang, berlangsung sejak Saminten kembali dari padepokan Pangerannya itu.”
Padan Wangi termangu-mangu sejenak. Nampak ada keseganan di wajahnya, bahwa seakan-akan ia harus mencampuri persoalan yang sangat pribadi itu.
Namun Swandaru itupun kemudian berkata, “Bagaimana pendapatmu Nyi, bahwa aku akan mempergunakan hakku sebagai pemangku jabatan Demang di Sangkal Putung, untuk minta keterangan kepadanya tentang hubungannya dengan Saminten.”
Pandan Wangi menarik napas panjang. Tetapi iapun berkata, “Untuk satu kepentingan yang lebih besar, dapat saja kakang melakukannya.”
Swandaru itupun kemudian bergumam, seakan-akan ditujukan kepada dirinya sendiri, “Baik. Aku akan memanggilnya dan minta beberapa keterangan kepadanya tentang hubungannya dengan Nyi Mas Saminten. Sebagai seorang yang melaksanakan tugas ayah, aku dapat saja menganggap bahwa yang dilakukannya itu adalah satu tindakan yang kurang pantas. Apalagi Sumirat sendiri masih terikat dalam hubungan keluarga. Ia inasih mempunyai isteri dan anak yang menjadi tanggungannya.”
“Kakang Swandaru akan memanggilnya?” bertanya Glagah Putih agak ragu.
“Ya. Jika adi memerlukannya. Mungkin ada sedikit tambahan keterangan tentang orang itu.”
“Baik, kakang. Aku akan menunggu.”
Swandaru itupun kemudian mempersilahkan Glagah Putih dan Rara Wulan duduk di ruang dalam, sementara itu, Swandaru telah memerintahkan seorang pembantunya untuk memanggil seorang laki-laki yang bernama Sumirat- Seorang laki-laki tampan yang masih terhitung muda, meskipun ia sudah mempunyai dua orang anak.
Sumirat memang agak terkejut ketika seorang pembantu Swandaru yang menjalankan tugas Demang di Sangkal Putung mendatanginya menyampaikan panggilan kepadanya untuk menemui Swandaru.
“Ada apa?” bertanya Sumirat.
“Entahlah. Aku tidak tahu. Ki Swandaru tidak mengatakan apa-apa, kecuali memerintahkan kepadaku untuk memanggil Ki Sumirat menghadap pagi ini.”
Meskipun dengan jantung yang berdebaran, maka Sumiratpun segera menghadap Ki Swandaru di rumah Ki Demang Sangkal Putung.
“Ada apa, kakang?” bertanya Sumirat demikian ia duduk di pringgitan. Bersama Swandaru dan Pandan Wangi.
“Sebelumnya aku minta maaf, Sumirat. Sebenarnya aku tidak ingin mencampuri persoalan-persoalan pribadi. Tetapi kau tahu sendiri, bahwa lingkungan kita masih kuat dibayangi oleh adat yang turun temurun dari nenek moyang kita. Sebenarnya aku tidak ingin menyalahkanmu. Tetapi aku hanya ingin menyampaikan keluhan-keluhan tetangga-tetangga kita kepadaku.”
Sumirat itu menarik napas panjang. Ia segera menyadari, bahwa yang dimaksud Swandaru tentu hubungannya dengan Nyi Mas Saminten, yang sedang ditinggal pergi suaminya.
Karena itu, maka Sumirat itupun langsung saja bertanya, “Maksud kakang, hubunganku dengan Nyi Mas Saminten?”
Swandaru menarik nafas panjang. Katanya, “Ya. Sebenarnya aku sudah lama ingin memperingatkanmu, bahwa hubungan seperti itu hanya akan mendatangkan persoalan saja. Sumirat. Semua orang pernah mengalami satu masa dimana otaknya diselubungi oleh kegelapan. Nah, hal seperti inilah yang ingin aku sampaikan kepadamu.”
Sumirat memang merasa tersinggung. Tetapi ketika ia menatap wajah Swandaru, ia tidak menangkap kesan bahwa Swandaru itu sedang marah. Ia melihat wajah Swandaru tetap tenang dan bahkan ia justru melihat sikap kebapaan.
“Sumirat,” berkata Swandaru, “disini ada Pandan Wangi. Aku tidak ingin mengaku bahwa aku adalah orang yang putih bersih tanpa cacat. Tetapi hubunganmu dengan Nyi Mas Saminten itu perlu kau renungkan kembali. Bukankah Nyi Mas Saminten itu isteri seorang Pangeran yang mempunyai kedudukan dan kekuasaan yang besar?”
Sumirat itu menarik nafas panjang. Namun kemudian iapun berkata, “Bukan aku yang mulai, kakang.”
“Tetapi bukankah kau tahu, bahwa suami Nyi Mas Saminten itu adalah Pangeran Ranapati, putera Panembahan Senapati?”
“Ya, kakang.”
“Nah, jika setiap orang membicarakan hubunganmu, apakah pada suatu ketika Pangeran Ranapati tidak akan mendengarnya? Padahal Pangeran Ranapati adalah seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.“
“Tetapi Pangeran Ranapati itu tidak ada di padepokannya. Juga tidak ada di pertapaannya.”
“Ia sekarang sedang pergi. Tetapi bukankah ia akan kembali lagi ke padepokannya atau ke pertapaannya.”
Sumirat termangu-mangu sejenak. Namun kemudiaan katanya, “Kemungkinan itu kecil sekali, kakang. Menurut Nyi Mas Saminten, Pangeran Ranapati itu sedang menuntut haknya sebagai seorang Pangeran. Jika Pangeran Jayaraga mendapat tugas di Panaraga, serta Pangeran yang lain mendapat kedudukan yang baik, kenapa Pangeran Ranapati tidak. Karena itu, maka Pangeran Ranapati itu pergi meninggalkan pertapaannya.”
“Bukankah jika Pangeran Ranapati itu berhasil, ia akan kembali untuk mengambil isteri-isterinya?”
“Kenapa harus mengambil isteri-isterinya yang dari padesan dan padukuhan disekitar padepokannya? Ia tentu akan mengambil puteri-puteri bangsawan untuk dijadikan isterinya dan melupakan isteri-isterinya yang ditinggalkan di padepokan.”
“Mungkin dari satu sisi, memang tidak ada persoalan, Sumirat,“ sahut Pandan Wangi, “tetapi kau harus memikirkan isteri dan anak-anakmu? Di samping itu, hidup dalam satu lingkungan kau tidak dapat menutup mata dan menutup telinga. Kau harus juga menghiraukan sikap orang-orang disekitarmu.”
Sumirat menarik nafas panjang. Sementara Swandaru itupun berkata, “Sumirat. Bagaimanapun juga, kau harus tetap memperhatikan Pangeran Ranapati.”
Sumirat masih saja termangu-mangu . Namun kemudian katanya, “Ada dua pilihan yang akan dihadapi oleh Pangeran Ranapati. Mukti atau mati. Yang manapun yang akan didapatkannya, menurut Nyi Mas Saminten, memastikan bahwa Pangeran Ranapati tidak akan kembali. Jika ia berhasil mukti, maka ia akan berada di Mataram. Ia akan mengambil puteri-puteri keraton untuk dijadikan isterinya. Ia tidak akan menghiraukan lagi Nyi Mas Saminten, apalagi Nyi Mas Saminten tidak mempunyai anak sama sekali. Sedangkan kalau mati, ia justru akan semakin jelas.”
“Apa yang sebenarnya dilakukan oleh Pangeran Ranapati sekarang, sehingga ia dihadapkan pada pilihan, mukti atau mati.”
“Tidak seorangpun yang tahu. Tetapi menurut Nyi Mas Saminten, Pangeran Ranapati itu telah pergi ke Timur.”
“Ke Timur untuk apa?”
“Tidak ada yang tahu.”
“Apakah ada hubungannya dengan Pangeran Jayaraga yang mendapat tugas di Panaraga?”
Sumirat menarik nafas. Namun kemudian iapun menggeleng sambil menjawab, “Aku tidak tahu pasti, kakang. Namun menurut Nyi Mas Saminten, Pangeran Ranapati memang sering menyebut nama Pangeran Jayaraga yang bertugas di Panaraga. Tetapi aku tidak tahu, dalam hubungan apa Pangeran Ranapati menyebut nama Pangeran Jayaraga itu.”
Swandaru itupun mengangguk-angguk. Sementara Pandan Wangipun berkata, “Sumirat. Apapun yang akan dilakukan oleh Pangeran Ranapati, apakah ia akan mukti atau akan mati, sebaiknya kau tidak menghubungkan dengan sikapmu sebagai seorang suami. Sebagai seorang ayah.”
Sumirat menarik nafas panjang.
“Selagi kau masih melihat jalan kembali. Jika pada suatu saat, diluar perhitunganmu, Pangeran Ranapati itu kembali, maka persoalannya akan jauh berbeda. Apalagi jika Pangeran Ranapati itu kembali dengan hati yang kecewa. Mungkin ia tidak mendapat kesempatan untuk mukti, tetapi ia tidak mati,” berkata Pandan Wangi pula.
Sumirat masih saja tetap berdiam diri.
“Sumirat,” berkata Swandaru kemudian, “seharusnya kau tahu bahwa Pangeran Ranapati adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Selain itu ia mempunyai sebuah perguruan serta murid-muridnya yang jumlahnya banyak. Jika terjadi apa-apa, maka sebenarnyalah sulit bagiku untuk melindungimu. Karena itu, jika kau mau mendengarkan nasehatku, sebaiknya kau menjauhkan diri dari Nyi Mas Saminten. Agar tidak terlalu mengejutkan, maka kau dapat melakukannya perlahan-lahan.”
Sumirat mengangguk-angguk. Namun ia dapat mengerti nasehat Swandaru dan Pandan Wangi. Jika Pangeran Ranapati itu ternyata tidak mukti tetapi juga tidak mati, maka ia tentu akan menjadi sasaran kekecewaannya jika ia masih berhubungan dengan Nyi Mas Saminten.
Karena itu, maka Sumirat itupun berkata, “Baiklah, kakang dan mbokayu. Aku mengerti. Aku akan berusaha untuk dapat menuruti nasehatmu. Pangeran Ranapati memang sangat menakutkan.”
“Bagus. Aku berharap bahwa tidak akan terjadi apa-apa atas dirimu. Agar tidak menimbulkan gejolak diliati Nyi Mas Saminten, kau dapat melakukannya sedikit demi sedikit.”
“Ya, kakang. Aku tidak ingin terjerumus dalam kesulitan karena hubunganku dengan Nyi Mas Saminten.”
Demikianlah Sumiratpun kemudian minta diri. Ia menyadari sepenuhnya, bahwa permainan yang dilakukan itu adalah permainan yang sangat berbahaya. Pangeran Ranapati sebagaimana dikatakan oleh Swandaru, adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Meskipun Swandaru sendiri adalah seorang yang berilmu sangat tinggi pula, tetapi agaknya Swandaru tidak akan bersedia untuk mempertaruhkan nyawanya apabila Pangeran Ranapati menjadi sangat marah kepada Sumirat. Apalagi dalam persoalan ini, Sumiratlah yang telah bersalah.
Sepeninggal Sumirat, maka Swandaru dan Pandan Wangi telah menemui Glagah Putih dan Rara Wulan. Sambil tersenyum Swandaru berkata, “Ada dua hasil yang sekaligus kami dapatkan. Yang pertama, kita dapat meyakini bahwa orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu memang pergi ke Timur. Bahkan agaknya memang ada hubungannya dengan penetapan Pangeran Jayaraga untuk menjadi penguasa di Panaraga. Kemudian, kami dapat menyadarkan bahwa tindakan Sumirat itu memang keliru.”
Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk. Keterangan itu sangat berarti baginya. Dengan demikian, maka mereka akan pergi ke Timur dengan satu keyakinan untuk menemukan orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati- Orang itu tentu akan berada di sekitar Pangeran Jayaraga yang mendapat kuasa memerintah di Panaraga. Bahkan mungkin dengan niat yang tidak sewajarnya.
“Jika demikian, kakang,” berkata Glagah Putih kemudian, “langkah pertamaku dalam tugas ini adalah pergi ke Timur. Akupun harus mengamati orang-orang yang ada disekitar Pangeran Jayaraga yang mendapat kuasa untuk memerintah Panaraga itu.”
“Ya. Mungkin orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu akan dapat berbuat sesuatu yang justru mencemarkan nama baik Mataram dan bahkan orang-orang Mataram. Telah sering terjadi, bahwa orang-orang Mataram sendirilah yang telah menodai nama baik Mataram itu sendiri.”
“Kakang benar,” berkata Glagah Putih sambil mengangguk-angguk, “agaknya hal ini juga disadari oleh Ki Patih Mandaraka, sehingga Ki Patih menaruh perhatian terhadap orang yang mengaku Pangeran Ranapati itu. Sehingga Ki Patih telah memerintahkan kami berdua untuk melacaknya.”
“Tugas yang berat adi Glagah Putih dan adi Rara Wulan,” berkata Pandan Wangi kemudian, “kalian harus sangat berhati-hati. Di limur, mungkin orang yang mengaku Pangeran Ranapati itu telah bergabung dengan sekelompok orang yang bekerja bersamanya. Dengan demikian maka yang akan kalian hadapi bukan saja orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu sendiri. Tetapi kalian akan berhadapan dengan sekelompok orang yang sadar atau tidak sadar, akan bekerja bersama dengan orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu.”
“Ya, kakang. Kemungkinan itu besar sekali.”
“Karena itulah, maka kalian harus benar-benar bersiap lahir dan batin.”
Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk.
Namun kemudian Glagah Putih itupun berkata, “Kakang Aku minta maaf, bahwa aku tidak dapat berada disini terlalu lama. Aku akan melanjutkan perjalananku ke Timur.”
Swandaru dan Pandan Wangi terkejut. Dengan serta merta Pandan Wangipun berkata, “Aku kira kalian akan bermalam disini malam ini.”
Glagah Putih dan Rara Wulan tersenyum. Dengan nada datar Rara Wulanpun berkata, “Kami sudah terhenti di padepokan, Mbokayu . Bahkan kami sudah bermalam di rumah cantrik yang tinggal di dekat padepokan orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu. Karena itu, maka sebaiknya kami segera berangkat menuju ke Timur.”
“Apa bedanya jika adi berangkat esok?”
Rara Wulan tersenyum. Katanya, “Rasa-rasanya kami terlalu lamban menangani tugas ini.”
Pandan Wangilah yang tersenyum. Katanya, “Ya. Kadang-kadang kita merasa dikejar-kejar oleh kegelisahan karena kelambanan kita sendiri. Tetapi bukankah hari sudah siang sehingga sinar matahari sudah terasa mulai menyengat kulit.”
“Bukankah kami sudah terbiasa berjemur di bawah terik matahari. Di perjalanan kami sudah sering kepanasan. Di sawah kitapun selalu berjemur di panasnya matahari sementara kaki kita berendam di lumpur.”
“Baiklah,“ berkata Swandaru kemudian, “Kami doakan agar kalian berhasil dengan baik serta selamat kembali sampai di Mataram.”
Pandan Wangipun kemudian telah minta Ki Demang untuk keluar sejenak karena Glagah Putih dan Rara Wulan akan minta diri.
Ki Demangpun terkejut pula, bahwa Glagah Putih dan Rara Wulan hanya singgah sebentar saja di Sangkal Putung.
“Kalian tidak menginap disini, ngger ?”
“Lain kali Ki Demang. Sekarang kami sedang mengemban tugas. Pada kesempatan lain kami akan singgah lebih lama lagi.”
“Tetapi hari sudah siang. Kenapa tidak menunggu saja sampai esok.”
“Terima kasih Ki Demang.”
Glagah Putih dan Rara Wulan tidak dapat ditahan lagi, sehingga Ki Demang hanya dapat mengucapkan selamat jalan saja kepada mereka.
Demikianlah, di tengah hari, Glagah Putih dan Rara Wulan meninggalkan kademangan Sangkal Putung. Terasa panas matahari menusuk sampai ke tulang. Tetapi mereka berdua adalah pengembara yang sudah terbiasa berjalan di panasnya sengatan sinar matahari atau di dinginnya embun malam.
Ketika matahari mulai turun, maka keduanya mulai merasa haus dan lapar. Karena itu, maka Glagah Putihpun berkata, “Kita telah salah langkah.”
“Kenapa ?”
“Kalau kita menunggu sebentar lagi, maka kita tidak perlu singgah di kedai. Kita akan mendapat hidangan makan di Sangkal Putung. Tidak hanya sekedar minuman dan makanan.”
“Ah, kakang. Apa bedanya kita singgah di kedai ?”
“Bukankah di kedai kita harus membayar ?”
“Bekal uang yang kita bawa, sisa yang terdahulu serta uang yang ditambahkan lagi dari Ki Patih, masih cukup banyak.”
“Tetapi kita tidak tahu, berapa lama kita akan mengembara. Bahkan mungkin uang itu tidak akan cukup.”
“Ah, kakang. Apa saja yang akan kita beli, sehingga keping-keping uang yang kita bawa itu kurang ?”
Glagah Putih tertawa.
Namun kemudian ketika mereka melewati sebuah kedai yang terhitung besar, maka merekapun telah singgah di dalamnya.
Demikian mereka duduk di sudut, maka Glagah Putihpun berdesis, “Kita telah memasuki satu kedai yang menjadi tempat singgah orang-orang kaya.”
Rara Wulan mengangguk. Katanya, “Ya. Terutama para saudagar.”
Glagah Putih mengangguk-angguk. Yang terbanyak berada di kedai itu menilik pakaiannya, sikapnya serta pembicaraan mereka, agaknya mereka memang para saudagar.
Di sebelah kedai itu memang terdapat pasar yang besar pula.
Tetapi pengunjungnya sudah hampir tidak ada lagi karena hari sudah terlalu siang. Para pedagangpun sudah beristirahat di kedai-kedai di sekitar pasar itu. Tetapi yang terbanyak di kedai yang terhitung besar itu, sementara para pekerjanya sedang sibuk membenahi barang-barang dagangan mereka. Kemudian menaikkannya ke dalam pedati.
“Kita seperti orang padesan yang tersesat masuk ke dalam kota,” berkata Glagah Putih.
“Kita tidak usah memperhatikan mereka.”
Glagah Putih menarik nafas panjang. Tetapi di luar sadarnya ia justru memandang beberapa orang yang ada di dalam kedai itu. Orang-orang yang ditilik dari ujud lahiriahnya memang nampak sebagaimana orang-orang kaya.
Di luar sadarnya pula Glagah Putih memperhatikan dirinya dan Rara Wulan yang mengenakan pakaian sederhana.
Beberapa saat keduanya duduk di sudut kedai itu. Mereka memperhatikan para pelayan yang sibuk melayani para tamunya. Sehingga belum seorangpun yang datang kepada Glagah Putih dan Rara Wulan.
Ada beberapa orang saudagar yang baru datang memasuki kedai itu. Para pelayanpun telah dengan tergesa-gesa mendekatinya dan menanyakan apa yang akan dipesannya.
“Nampaknya para pelayan mempunyai penilaian tersendiri terhadap tamu-tamunya,“ berkata Glagah Putih, “mereka sibuk melayani tamu-tamunya yang menurut gelar lahiriahnya adalah orang-orang yang kaya yang tentu memesan makanan dan minuman yang termahal.”
“Apakah sebenarnya minuman dan makanan yang termahal itu kakang ?”
“Kau lihat, ada diantara mereka yang memesan tuak. Kemudian memesan nasi langgi dengan telur ceplok, dengan ragi serta pesanan beberapa jenis lauk yang lain secara khusus. Selebihnya para Saudagar itu tentu memberi hadiah khusus bagi para pelayan yang telah melayani mereka dengan cepat.”
“Kalau begitu, marilah kita pergi saja kakang. Kita singgah di kedai yang lain.”
“Tidak. Aku justru ingin berada di sini sampai kapanpun.”
Rara Wulan tertawa. Sebenarnya iapun tertarik untuk melakukannya.
Sebenarnyalah keduanya tidak beranjak dari tempat mereka. Meskipun masih belum ada peiayan yang datang kepadanya, namun mereka masih duduk saja sambil berbincang diantara mereka tentang kedai serta para pelayannya itu.
Baru beberapa saat kemudian dengan malas seorang pelayan telah mendatanginya.
-ooo0dw0ooo-


Tinggalkan komentar

391


diantara empat orang yang datang dari Tanah Perdikan itu yang bersenjata.
Namun ketika para pengawal itu mengacu-acukan senjata mereka, Ki Jayaragapun telah memungut cangkulnya sambil berkata, “Senjataku ini jauh lebih baik dari senjata-senjata kalian.”
Tetapi para pengawal itu tidak menghiraukannya. Merekapun dengan serta mereka telah menyerang orang-orang yang datang dari Tanah Perdikan Menoreh itu.
Tetapi pada benturan pertama, orang-orang yang menye rang Ki Jayaraga telah kehilangan senjata mereka. Cangkul Ki Jayaraga itu berputar dengan cepat, menyambar senjata-senjata yang teracu kepadanya. Karena kemampuan Ki Jayaraga yang tinggi, serta tenaga dalamnya yang besar, maka beberapa pucuk senjata telah terlepas dan terpelanting jatuh.
Sedangkan Prastawa yang memiliki ilmu pedang yang tinggi itupun telah membingungkan lawannya. Serangan yang datang dari beberapa arah, mampu dihindari dan ditangkisnya dengan pedangnya. Bahkan benturan yang terjadi telah membuat lawannya menjadi semakin gelisah.
Namun tiba-tiba saja pertempuran itu terhenti. Beberapa orang pengawal pesanggrahan itu terkejut ketika tiba-tiba saja mereka mendengar ledakan cambuk Ki Rangga Agung Sedayu yang bagaikan ledakan petir di langit.
Orang-orang upahan yang mengawal pesanggrahan itupun di luar sadar mereka telah berloncatan mundur.
“Aku dapat membunuh dua tiga orang sekaligus,” berkata Ki Rangga Agung Sedayu,“ demikian pula saudara saudaraku yang lain. Karena itu, jangan salah langkah, karena akibatnya akan menjadi sangat buruk bagi kalian.”
Orang-orang itupun masih saja berdiri termangu-mangu.
“Dengar. Aku akan mengulangi pesanku. Pergilah. Sampaikan kepada Ki Tumenggung, bahwa aku ingin bertemu. Sebenarnya aku akan datang menemuinya esok pagi. Tetapi kalian telah menyumbat lagi parit yang mengalirkan air ke padukuhan induk Tanah Perdikan dan sekitarnya. Sekarang, kami akan membuka parit kami agar airnya dapat mengairi sawah kami yang sudah mulai haus. Tanaman-tanaman di sawah sedang membutuhkan air.”
Ternyata Ki Jayaraga tidak menunggu Ki Rangga Agung Sedayu selesai berbicara. Iapun segera mengayunkan cangkulnya, membuka parit yang tersumbat itu.
Ki Rangga Agung Sedayu menarik nafas. Tetapi ia dapat mengerti, bahwa hubungan Ki Jayaraga dengan air menjadi sangat erat, karena hampir setiap saat Ki Jayaraga berada diantara tanaman di sawah.
“Sekarang pergilah,” berkata Ki Rangga Agung Sedayu,“ katakan kepada Ki Tumenggung, bahwa aku, Agung Sedayu ingin bertemu dan berbicara tentang air yang naik dari bendungan Pucung. Air itu tidak terlalu banyak, karena sungainyapun bukan sungai yang besar pula. Karena itu, kami harus mengatur pembagian air sebaik-baiknya. Semua yang membutuhkan dapat terpenuhi dan tidak saling merugikan.”
Orang-orang itu menjadi ragu-ragu. Tetapi ketika Ki Rangga Agung Sedayu menghentakkan cambuknya sekali lagi, maka orang-orang itupun telah beringsut surut beberapa langkah.
“Cepat, sampaikan kepada Ki Tumenggung,” berkata Agung Sedayu lantang.
“Baik, baik,” sahut pemimpin pengawal pesanggrahan itu, “aku akan menyampaikannya kepada Ki Tumenggung. Kau akan menyesali kesombonganmu nanti. Adalah kebetulan bahwa Ki Tumenggung sekarang ada di pesanggrahan ini bersama beberapa orang prajurit pengawalnya. Para prajurit itu akan datang kemari dan menangkap kalian seperti menangkap pencuri jemuran.”
Orang-orang itupun kemudian telah meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa . Sementara itu, beberapa buah cangkul telah mereka tinggalkan.
Tanpa ada yang memerintah, maka Glagah Putih dan Prastawapun segera mengambil cangkul dan membantu Ki Jayaraga membuka sumbat parit yang mengalirkan air ke padukuhan induk Tanah Perdikan dan sekitarnya.
Dalam pada itu, beberapa orang upahan yang mengawal pesanggrahan Ki Tumenggung itupun telah sampai di pesanggrahan. Pemimpin mereka dan seorang diantara merekapun segera berusaha menghadap Ki Tumenggung.
Tetapi seorang Pelayan Dalam telah memberitahukan bahwa Ki Tumenggung sudah tidur.
“Ini penting sekali,” berkata pemimpin pengawal itu, “jika aku tidak dapat menemui Ki Tumenggung sekarang, maka esok sendang buatan itu belum terisi air sama sekali. Sedangkan jika air parit itu mengalir penuh, belum tentu sendang itu akan terisi separonya. Meskipun demikian, sendang itu tentu sudah nampak berair meskipun masih keruh.”
Pelayan dalam itu menjadi ragu-ragu. Namun kemudian iapun menggeleng sambil berkata, “Aku tidak berani membangunkan Ki Tumenggung yang belum lama tidur.”
Namun ternyata pembicaraan itu terdengar oleh Ki Tumenggung yang terbangun. Bahkan Ki Tumenggung itupun telah bangkit dan membuka pintu biliknya, “Ada apa?”
“Ampun Ki Tumenggung,” sahut pelayan dalam itu, “pemimpin pengawal akan menghadap Ki Tumenggung. Tetapi aku tidak berani membangunkan Ki Tumenggung.”
“Ada apa?” bertanya Ki Tumenggung kepada pemimpin pengawal itu.
“Ampun Ki Tumenggung. Ada orang yang telah mengacaukan usaha menyempurnakan keasrian pesanggrahan ini.”
“Apa yang mereka lakukan? Apakah kalian tidak dapat mengatasinya?”
“Ampun Ki Tumenggung. Mereka adalah orang-orang Tanah Perdikan Menoreh.”
Ki Tumenggung Wirataruna mengerutkan dahinya. Dengan nada tinggi lapun bertanya, “Orang Tanah Perdikan Menoreh?”
“Ya. Seorang mengaku membawa wewenang dari Ki Gede Menoreh. Pemimpin Tanah Perdikan Menoreh.”
“Sombongnya Ki Gede Menoreh. Panggil Ki Gede Menoreh itu kemari.”
“Sekarang Ki Tumenggung.”
“Sekarang.”
“Ki Gede Menoreh atau orang yang mendapat wewenang dari Ki Gede itu.”
“Ki Gede Menoreh itu sendiri. Pergilah ke Tanah Perdikan dan sampaikan perintahku kepadanya, bahwa malam ini juga ia harus menghadap aku disini.”
“Tetapi mereka akan menghadang kami, Ki Tumenggung. Ternyata kami tidak dapat mengalahkan mereka.”
“Kalian hanya dapat sesumbar. Tetapi ternyata kalian tidak dapat mengatasi persoalan kecil yang ditimbulkan oleh orang-orang Tanah Perdikan Menoreh.”
“Ternyata orang-orang Tanah Perdikan Menoreh adalah orang-orang yang berilmu tinggi.”
“Buat apa aku mengupah kalian, he? Jika kalian tidak dapat berbuat apa-apa, uangku adalah uang yang sia-sia.”
Pemimpin pengawal itu menundukkah wajahnya. Ia merasa bersalah, bahwa ia tidak dapat mengatasi orang-orang Tanah Perdikan Menoreh yang berani menentang perintah Ki Tumenggung itu.
Namun Ki Tumenggung itupun kemudian berkata, “Kalian memang pengecut. Biarlah lima orang prajurit pe ngawalku menyertai kalian. Mereka akan mengenakan ciri ciri keprajuritan, sehingga siapa yang melawan mereka, sengaja atau tidak sengaja telah melawan Mataram.”
“Baik, Ki Tumenggung. Seorang yang mengaku bernama Agung Sedayu dengan sombongnya menyatakan untuk menghadap Ki Tumenggung. Ia berniat untuk berbicara dengan Ki Tumenggung, seakan-akan ia mempunyai hak untuk melakukannya. Orang yang tidak tahu diri itu merasa bahwa ia memiliki derajad yang sama dengan Ki Tumenggung sendiri…”
“Diamlah,“ tiba-tiba Ki Tumenggung membentak, “sebut nama orang itu.”
“Agung Sedayu,“ orang itu mengucapkannya dengan agak ragu.
“Agung Sedayu? Ki Rangga Agung Sedayu, maksudmu?”
“Ia hanya menyebut namanya Agung Sedayu. Biarlah para prajurit itu menangkapnya. Kemudian menyeretnya menghadap Ki Tumenggung.”
“Kau bertempur melawan Agung Sedayu itu?”
“Ya, Ki Tumenggung. Ia bersenjata cambuk yang suaranya menggetarkan udara seperti suara tujuh guruh yang meledak bersama-sama di langit.”
“Agung Sedayu yang bersenjata cambuk?”
“Ya, Ki Tumenggung.”
“Gila. Jadi kau bertemu dengan Agung Sedayu yang bersenjata cambuk itu.”
“Ya, Ki Tumenggung,“ pemimpin pengawal itu menjadi heran mendengar nada suara Ki Tumenggung.
“Dimana Agung Sedayu itu sekarang?”
“Orang-orang Tanah Perdikan itu telah membuka parit yang telah kami sumbat dan airnya kami alirkan ke sendang ini.”
“Beruntunglah kau, bahwa kepalamu sekarang masih melekat di lehermu. Ki Rangga Agung Sedayu adalah seorang Senapati besar dari Mataram.”
“Jadi ia seorang Rangga?”
“Ya.”
“Tetapi?”
“Aku akan menemuinya. Aku sendiri akan berbicara dengan Ki Rangga Agung Sedayu.“
“Kenapa Ki Tumenggung tidak memanggilnya saja untuk menghadap? Meskipun ia seorang senapati, tetapi ia adalah seorang Rangga. Sedangkan Ki Tumenggung adalah seorang Tumenggung. Sehingga Ki Tumenggung berhak untuk memanggilnya atau memerintahkannya untuk menghadap.”
“Gila kau. Meskipun ia seorang Rangga, tetapi ia adalah Agung Sedayu. Tadi aku agak melupakannya, bahwa di Tanah Perdikan Menoreh terdapat barak Pasukan Khusus yang dipimpin oleh Ki Rangga Agung Sedayu. Seorang Senapati besar Mataram yang namanya lebih besar dari para Tumenggung. Jangankan Ki Rangga Agung Sedayu. Isterinya, Nyi Rangga yang bernama Sekar Mirah itu, telah membunuh orang yang mengaku pemimpin besar perguruan Kedung Jati.”
“Jadi?”
“Aku akan pergi menemui Ki Rangga Agung Sedayu. Tetapi jika orang itu bukan pemimpin Pasukan Khusus di Tanah Perdikan Menoreh, maka aku akan menangkapnya.”
Demikianlah, Ki Tumenggung sendiri akan pergi ke dekat bendungan Pucung untuk bertemu dengan Ki Rangga Agung Sedayu.
Lima orang prajurit telah diperintahkannya untuk menyertainya, sementara beberapa orang pengawal membawa oncor byi jarak yang dirangkai agak panjang, sehingga dapat bertahan cukup lama.
Ketika para pengawal pesanggrahan itu diperintahkan untuk ikut bersama Ki Tumenggung, maka merekapun menjadi berdebar-debar. Mereka tidak tahu, apa yang bakal terjadi di dekat bendungan Pucung itu.
Sejenak kemudian, sebuah iring-iringan yang d antaranya adalah Ki Tumenggung Wirataruna sendiri telah pergi ke dekat bendungan Pucung. Ke tempat parit-parit yang mengalirkan air ke padukuhan induk Tanah Perdikan dan sekitarnya ditutup.
Keempat orang yang membuka sumbat parit yang mengalirkan air ke padukuhan induk itu sudah selesai. Air sudah mengalir lagi dengan lancar seperti sediakala. Tetapi Ki Rangga Agung Sedayu dan ketiga orang lain memang tidak segera meninggalkan tempat itu. Mereka sudah menduga, bahwa persoalannya tidak akan selesai sampai sekian saja.
Ketika keempat orang yang telah selesai membuka sumbat parit itu melihat sebuah iring-iringan, bahkan diantara mereka nampak beberapa orang yang mengenakan pakaian serta ciri-ciri keprajuritan, maka merekapun segera mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan. Bahkan kemungkinan yang paling buruk sekalipun. Mereka sudah terlanjur bertindak langsung sebelum bertemu dan berbicara dengan Ki Tumenggung Wirataruna.
Beberapa saat kemudian, iring-iringan itu telah menjadi semakin dekat. Namun keempat orang yang masih berada di tanggul parit itu tidak melihat pertanda, bahwa orang-orang dalam iring-iringan itu akan melakukan kekerasan.
Meskipun demikian, mereka masih harus tetap berhati-hati. Mungkin mereka akan menghadapi tindakan yang tiba-tiba.
Ketika iring-iringan itu kemudian berhenti, seorang diantara mereka masih melangkah mendekat. Sinar oncor jarak yang menyala di sebelah menyebelah sempat menerangi wajah orang yang masih melangkah beberapa langkah maju itu.
“Ki Tumenggung Wirataruna,” sapa Ki Rangga Agung Sedayu yang juga melangkah maju.
“Ki Rangga Agung Sedayu,” sahut Ki Tumenggung Wirataruna, “aku sungguh tidak mengira, bahwa Ki Rangga telah berkenan datang sendiri ke dekat bendungan ini.”
“Ki Tumenggung,” berkata Ki Rangga Agung Sedayu,“ sebenarnya aku ingin bertemu dengan Ki Tumenggung esok pagi, setelah hari menjadi terang. Tetapi malam ini parit kami telah tersumbat lagi, sehingga para petani terutama dipadukuhan induk dan sekitarnya telah mengeluh. Tanaman padi diantaranya yang sudah menjelang waktunya bunting, sangat membutuhkan air.”
“Baik, baik, Ki Rangga. Marilah. Aku ingin mempersi-lahkan Ki Rangga dan saudara-saudara dari Tanah Perdikan Menoreh untuk singgah di rumahku. Sudah lama aku memang ingin mempunyai sebuah rumah kecil di tempat yang jauh dan benar-benar terpisah dari keramaian kota. Karena keluarga kami memang berasal dari padesan. Tanah yang diatasnya aku dirikan rumah itu juga hanyalah tanah warisan dari kakek lewat ibuku.”
Ki Rangga Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Ki Rangga Agung Sedayu itupun berkata kepada Prastawa, “Daripada esok kita menemui Ki Tumenggung Wirataruna, sebaiknya sekarang saja kita berbicara tentang air ini.”
“Terserah saja kepada Ki Rangga,” sahut Prastawa, “sekarangpun tidak ada salahnya. Paman telah menyerahkan persoalan ini kepadaku.”
“Baiklah Ki Tumenggung,” berkata Ki Rangga Agung Sedayu kemudian, “aku memang ingin membicarakan persoalan air ini.”
“Marilah. Silahkan singgah, Ki Rangga. Demikian pula Ki Sanak yang lain.”
“Marilah Ki Jayaraga. Kita singgah di pesanggrahan Ki Tumenggung Wirataruna.”
“Jangan sebut pesanggrahan Ki Rangga. Hanya sebuah rumah kecil yang aku bangun di atas tanah warisan.”
“Bukankah kita tidak perlu kemana-mana, Ki Rangga,” berkata Ki Jayaraga,“ Ki Rangga dan angger Prastawa telah bertemu dengan Ki Tumenggung disini. Bukankah segala sesuatunya dapat dibicarakan disini?”
“Tetapi akan lebih tenang jika kita berbicara di rumahku, Ki Sanak,” berkata Ki Tumenggung.
“Sebaiknya kita singgah sebentar Ki Jayaraga. Mungkin kita dapat duduk di tempat yang lebih hangat dari di dekat bendungan ini. Bukankah letaknya juga tidak terlalu jauh.”
“Biarlah aku menunggui air itu disini,” berkata Ki Jayaraga, “Jika kita semua pergi, maka parit ini tentu akan disumbat lagi.”
“Tidak. Tidak akan,“ sahut Ki Tumenggung Wirataruna, “tidak akan. Aku tidak akan membiarkan orang-orangku menyumbat parit itu lagi.”
Ki Jayaraga termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun mengangguk sambil menjawab, “Baiklah.”
Iring-iringan itupun kemudian bergerak kembali ke pesanggrahan Ki Tumenggung Wirataruna. Pesanggrahan yang terhitung besar di tanah yang luas.
Beberapa saat kemudian, merekapun memasuki sebuah regol halaman pesanggrahan itu. Demikian mereka memasuki halaman, maka merekapun telah mengedarkan tatapan mata mereka berkeliling. Lampu-lampu minyak tergantung di berbagai tempat. Sedangkan halamannya yang agaknya sedang ditata, nampak asri meskipun ada tanaman-tanaman baru yang masih belum nampak hijau subur.
Orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh itu menarik nafas panjang. Mereka bertanya-tanya dalam hati, bagaimana mungkin seorang Tumenggung dapat membangun pesanggrahan sebesar itu.
Sambil berjalan ke tangga pendapa, Ki Jayaraga sempat berbisik di telinga Ki Rangga Agung Sedayu, “Kalau Ki Rangga kapan-kapan sempat menjadi Tumenggung, maka Ki Rangga Agung Sedayu juga akan dapat membangun pesanggrahan seperti ini.”
Ki Rangga Agung Sedayu tersenyum sambil berdesis, “Ki Jayaraga lihat, ada Tumenggung yang harus menjual sawahnya ketika ia berniat membuat rumah di dekat tempat tugasnya ?”
“Ya, Jadi bagaimana mungkin Ki Tumenggung ini dapat membangun sebuah pesanggrahan seperti ini ?”
“Mungkin orang tuanya atau kakeknya seorang yang kaya. Bukankah tanah ini tanah warisan ? Mungkin masih ada warisan yang lain yang membuat Ki Tumenggung menjadi kaya.”
Ki Jayaraga tertawa. Namun iapun segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Orang-orang yang berjalan di depan termasuk Ki Tumenggung Wirataruna itupun berpaling. Namun Ki Jayaraga sudah tidak tertawa lagi.
Demikianlah maka Ki Tumenggung itupun mempersilakan Ki Rangga Agung Sedayu dan ketiga orang yang datang bersamanya dari Tanah Perdikan Menoreh itu untuk naik ke pendapa yang kemudian-duduk di pringgitan.
Sementara itu, para pengawal dan para prajurit telah kembali ke tempat mereka masing-masing.
Ki Tumenggungpun kemudian masuk ke ruang dalam. Nyi Tumenggung yang gelisah itupun segera menyongsongnya, “Apa yang terjadi, kakang Tumenggung ?”
Ki Tumenggung tersenyum sambil menjawab, “Tidak ada apa-apa. Sediakan minuman hangat dan makanan. Yang datang adalah Ki Rangga Agung Sedayu.”
“Seorang Rangga ? Malam-malam begini ? Kenapa kakang tidak memerintahkannya esok saja datang kemari?”
“Tidak. Aku memang ingin segera bertemu dengan Ki Rangga.”
“Apakah kakang memang memerintahkannya menghadap malam ini karena persoalan yang akan kakang bicarakan tidak dapat ditunda sampai esok”
“Kau pernah mendengar nama Agung Sedayu ? Mungkin sekali-sekali .aku pernah berceritera tentang seorang Lurah Prajurit yang bernama Agung Sedayu. Lurah Prajurit yang namanya bahkan lebih besar dari seorang Tumenggung. Apalagi sekarang Ki Lurah itu telah menerima anugerah kenaikan pangkat menjadi Rangga.”
Nyi Tumenggung itu mengerutkan dahinya. Ia memang pernah mendengar nama Agung Sedayu. Tetapi ia tidak dapat segera mengingatnya.
“Sudahlah,” berkata Ki Tumenggung, “nanti aku akan berceritera panjang. Sekarang, biarlah para pembantu itu menyiapkan hidangan.”
“Mereka tentu sedang tidur nyenyak.”
“Bangunkan mereka.”
Nyi Tumenggungpun kemudian pergi ke belakang, membangunkan pembantunya untuk menyiapkan hidangan bagi tamu-tamu Ki Tumenggung yang ada di pringgitan.
Sejenak kemudian, maka Ki Tumenggung telah duduk menemui Ki Rangga Agung Sedayu, Prastawa yang datang atas nama Ki Gede Menoreh, Ki Jayaraga dan Glagah Putih, yang mewakili para petani yang memerlukan air setiap saat, karena dialirkan bargantian kekotak-kotak sawah di Padukuhan Induk dan sekitarnya.
“Ki Tumenggung,” berkata Ki Rangga Agung Sedayu, “Ki Tumenggung tentu sudah tahu, maksud kedatangan kami. Bahkan kami telah bertindak lebih dahulu sebelum kami berbicara dengan Ki Tumenggung.
“Tidak apa-apa, Ki Rangga. Tidak apa-apa. Aku kira Ki Rangga serta Ki Gede Menoreh memang lebih baik berterus terang, sehingga aku dapat mengerti persoalan yang sebenarnya.”
“Kami berniat untuk membicarakan, seberapa banyak sebenarnya Ki Tumenggung itu memerlukan air. Tentunya, tidak seluruh arus air yang naik dari bendungan Pucung, yang seharusnya untuk mengairi sawah di padukuhan induk dan sekitarnya itu dialirkan ke sendang buatan Ki Tumenggung.”
“Tidak. Memang tidak. Aku juga tidak berniat begitu. Tetapi ternyata orang-orangku telah melakukan kesalahan dalam pelaksanaannya. Apakah mereka sengaja melampaui batas-batas pesanku atau mereka memang tidak memahaminya.”
“Karena itu, aku minta kesalahan itu dapat diluruskan, Ki Tumenggung.”
“Ya, ya. Aku berjanji untuk i.ieluruskan kesalahan itu. Untuk selanjutnya, aku memang tidak akan mengambil air dari parit yang mengairi sawah di padukuhan induk Tanah Perdikan dan sekitarnya itu.”
“Lalu, Ki Tumenggung akan mengambil air dari mana ?”
“Sebenarnya kami sudah siap mengambil air dari air terjun kecil di bukit sebelah. Tetapi saluran dan pipa-pipa bambu yang kami buat masih belum selesai. Sementara itu, kami ingin segera melihat sendang buatan itu bermuatan air yang cukup. Tetapi itu hanya kesalahan pelaksanaan saja. Kesalahan yang segera dapat dibetulkan.”
“Jadi, Ki Tumenggung tidak akan mengambil air dari parit itu lagi ?” bertanya Ki Jayaraga.
“Tidak. Tidak lagi.”
Ki Jayaragapun menyahut dengan nada dalam, “Terima kasih Ki Tumenggung. Dengan demikian, kami tidak harus membuat tatanan ulang tentang pembagian air yang mengalir dari bendungan Pucung ini. Jika aliran air itu berkurang, maka para petani di padukuhan induk dan sekitarnya harus mengadakan pembagian waktu yang baru agar sawah mereka tidak menjadi kering. Tetapi dengan pernyataan Ki Tumenggung Wirataruna bahwa Ki Tumenggung akan mengambil air dari air terjun kecil di bukit sebelah, maka kami tidak harus merubah apa-apa lagi. Pembagian air yang sudah berlaku beberapa lama tanpa ada masalah itu akan dapat dilanjutkan. Dengan demikian tidak akan timbul kesan apapun pada para petani di padukuhan induk dan sekitarnya. Yang terjadi hari ini hanyalah sekedar gangguan kecil yang tidak berakibat apa-apa.”
Ki Tumenggung Wirataruna itu mengangguk-angguk. Katanya, “Betapapun kecilnya, tetapi aku merasa perlu untuk minta maaf kepada para petani di Tanah Perdikan Menoreh, khususnya di padukuhan induk dan sekitarnya.”
“Tidak apa-apa Ki Tumenggung, rakyat Tanah Perdikan Menoreh akan dapat mengerti, bahwa airnya diperlukan dalam keadaan khusus. Jika aliran air itu sudah pulih kembali, maka mereka akan melupakannya,“ sahut Ki Rangga Agung Sedayu.
Pembicaraan merekapun terputus ketika seorang pelayan menghidangkan minuman hangat.
“Silahkan, Ki Rangga. Silahkan Ki Sanak yang lain. Mumpung masih hangat,” berkata Ki Tumenggung.
Ki Rangga Agung Sedayu serta ketiga orang yang datang bersamanya itupun kemudian telah menghirup minuman hangat itu. Di Malam yang dingin, serta setelah mereka berendam di air untuk membuka sumbat parit yang mengalir ke padukuhan induk Tanah Perdikan itu, maka minuman hangat itupun terasa sangat menyegarkan tubuh mereka.
Karena itu, maka minuman yang hangat itupun menjadi cepat sekali menyusut sehingga Ki Tumenggung Wirataruna merasa perlu untuk minta agar pelayannya menghidangkan lagi minuman hangat itu.
Namun ketika Ki Tumenggung itu masuk ke ruang dalam, maka Nyi Tumenggung yang duduk di ruang dalam itupun tiba-tiba saja bertanya, “Kenapa kakang Tumenggung rasa-rasanya terlalu menghormati orang-orang Tanah Perdikan Menoreh itu ? Sebesar-besarnya nama seorang Rangga, maka kedudukannya berada di bawah kedudukan kakang Tumenggung. Apalagi orang-orang Tanah Perdikan Menoreh itu. Maaf kakang, bahwa aku tertarik akan pembicaraan kakang dengan mereka, sehingga aku mendengarkan dari belakang gebyok kayu itu. Agaknya kakang melangkah mundur dan menghentikan aliran air untuk mengisi sendang kita itu. Kenapa kakang begitu mudah menuruti kemauan orang-orang padesan itu ? Seharusnya kakang Tumenggung bertindak tegas. Juga kepada Rangga yang agaknya menjadi sandaran orang-orang padesan itu. Mereka menganggap bahwa seorang Rangga adalah seorang yang pangkatnya tertinggi di seluruh Mataram.”
“Bukan begitu, Nyi. Nanti aku beri tahu. Mungkin aku memang belum pernah berceritera tentang Ki Rangga Agung Sedayu.”
“Ceritera apapun yang akan kakang katakan, namun menurut pendapatku kakang yang pangkat dan tentu juga kedudukannya lebih tinggi akan dapat mengendalikannya, sehingga air yang mengalir ke sendang kita itu tidak terhambat. Seberapa tinggi kuasa Kepala Tanah Perdikan dan seorang Rangga sehingga mereka dapat menghentikan rencana seorang Tumenggung ?”
“Ada banyak pertimbangan yang harus kita cermati, Nyi. Bukan sekedar pangkat Tumenggung.”
“Apa ? Pertimbangan apa lagi, Kakang ?” sahut Nyi Tumenggung, “bagiku yang penting esok sendang buatan itu penuh. Aku akan mencoba perahu kecil itu. Tentu sangat menyenangkan.”
“Apa salahnya jika kita menunda dua atau tiga hari. Besok orang-orang kita akan menyelesaikan pipa-pipa bambu yang akan mengalirkan air dari air terjun kecil di lereng bukit sebelah. Dengan beberapa batang pipa bambu petung, air yang mengalir dari air terjun kecil itu tentu cukup deras, sementara itu kita tidak merugikan siapa-siapa. Tidak ada petani yang sawahnya menjadi kekeringan.”
“Bukankah kita hanya memerlukan air dalam tiga empat hari saja. Sementara itu pipa-pipa bambu kita sudah selesai. Seandainya belum selesai, maka apa salahnya kita perpanjang sampai sepekan atau bahkan sepuluh hari agar sendang kita benar-benar penuh sampai ke lekuk-lekuk kecil di bawah rumpun-rumpun bambu itu. Dengan demikian, taman kita akan menjadi asri. Tetapi dalam sepekan atau lebih, tanaman padi, apalagi menjelang masa padi itu bunting, sangat memerlukan air, Jika terlambat, maka padinya akan banyak yang tidak berisi.”
“Itu kata mereka. Kakang mempercayai saja kata mereka ? Mereka tentu berbohong. Apapun alasannya, tetapi kakang mempunyai kuasa untuk mengambil sikap terhadap mereka. Juga terhadap Rangga yang kakang katakan mempunyai nama yang besar itu. Jika kebesarannya melampaui para Tumenggung, tentu ia sudah diangkat menjadi Tumenggung.”
“Sudahlah Nyi. Kita jangan berbantah sekarang. Perintahkan saja pembantu kita untuk menyediakan lagi minuman hangat.”
Ki Tumenggung tidak menunggu lagi.Iapun segera kembali ke pringgitan.
Sambil bersungut-sungut Nyi Tumenggung Wiratarunapun pergi ke dapur. Diperintahkannya pembantunya untuk membawa minuman hangat lagi ke pringgitan.
“Ki Tumenggung telah memanjakan tamu-tamunya dari Tanah Perdikan Menoreh. Mereka mengajak seorang prajurit yang dapat menjadi sandaran. Maksudnya tentu menakut-nakuti Ki Tumenggung. Tetapi orang Tanah Perdikan itu tidak tahu, bahwa prajurit yang dibawanya itu tidak lebih dari seorang Rangga, yang kedudukannya berada di bawah seorang Tumenggung. Mungkin Ki Tumenggung hanya segan saja untuk berkata kepada orang-orang Tanah Perdikan, bahwa sandarannya, prajurit yang mereka harapkan dapat menjadi pelindungnya itu, pangkatnya terlalu rendah.”
Pembantunya mengangguk-angguk. Dengan sikap yang dibuat-buat pembantunya itupun berkata, “Jika demikian, apakah sebaiknya aku tidak usah membawa minuman lagi ke pringgitan.”
“Jangan begitu, Nanti Ki Tumenggung yang marah kepadamu dan kepadaku.”
Pembantu itupun mengangguk-angguk pula. Katanya, “Baiklah. Aku akan membawa minuman lugi ke pringgitan. Tetapi gulanya sedikit saja, biar tidak begitu manis.”
“Ah kamu. Nanti kalau Ki Tumenggung ikut minum.”
“Tidak, Nyi, Ki Tumenggung kalau minum hanya sedikit saja. Sedangkan minumannya yang tadi, masih cukup banyak.”
Nyi Tumenggungpun tidak mencegahnya. Pembantu itupun kemudian pergi ke pringgitan untuk menghidangkan minuman yang tidak begitu manis.
Tetapi ternyata selera orang-orang Tanah Perdikan itu agak berbeda. Minuman yang pertama itu agak terlalu manis. Karena itu, minuman yang kemudian dihidangkan lagi itu ternyata terasa manisnya cukupan bagi mereka.
Orang-orang Tanah Perdikan Menoreh itu masih berbincang beberapa lama dengan Ki Tumenggung sambil menghirup minuman hangat yang menyegarkan tubuh mereka di dinginnya malam itu.
Baru beberapa saat kemudian, Ki Rangga Agung Sedayu serta yang lainpun telah minta diri.
“Terima kasih atas pengertian Ki Tumenggung terhadap kepentingan para petani di Tanah Perdikan,” berkata Ki Rangga Agung Sedayu.
“Aku juga berterima kasih kepada Ki Rangga dan yang lain-lain. Kalian telah memperingatkan aku bahwa dalam kedudukanku sebag n seorang Tumenggung seharusnya aku berbuat sobaliknyu dari yung teluh uku lakukan. Sekali lagi aku minta maaf. Kenalulmn itu tidak akan terulung kembali. Besok aku akan memasang pipa-pipa bambu petung yang sebenarnya telah tersedia. Tetapi orang-orangku ingin melakukan yang termudah.”
Demikianlah, sejenak kemudian, maka Ki Rangga Agung Sedayu, Ki Jayaraga, Glagah Putih dan Prastawa telah meninggalkan pasanggrahan Ki Tumenggung yang terhitung mewah itu. Ki Jayaraga masih saja merasa heran, bahwa seorang Tumenggung mampu membangun pesanggrahan yang sedemikian besar dan baik. Tiang-tiangnya serta gebyognya yang berukir dan bersungging lembut.
Sekali Ki Rangga Agung Sedayu berkata, “Mungkin orang tua Ki Tumenggung pada dasarnya adalah orang yang kaya. Ia mempunyai tanah dan sawah yang luas. Setiap panen, orang tua Ki Tumenggung dapat menjual hasil sawahnya yang berlumbung-lumbung, sementara penghasilan Ki Tumenggung Wirataruna sendiri sudah cukup besar.”
Ki Jayaraga mengangguk-angguk.
Sementara itu, Prastawapun berkata, “Mudah-mudahan esok pagi, sikap Ki Tumenggung tidak berbalik. Jika ia sempat mempersiapkan diri dengan memanfaatkan kedudukannya, kemudian berniat menentang paman Argapati, maka keadaannya akan menjadi gawat. Paman tentu tidak akan mau tunduk kepada Ki Tumenggung. Sedangkan Ki Tumenggung dapat saja memaksakan kemauannya dengan kekuatannya.”
“Tidak. Itu tidak akan terjadi,” sahut Ki Rangga Agung Sedayu, “bagaimanapun juga nampak kesungguhan Ki Tumenggung Wirataruna dalam pembicaraan tadi.”
Prastawapun mengangguk-angguk.
Sementara itu, merekapun telah melewati tanggul parit yang telah disumbat oleh para pengawal Ki Tumenggung. Namun seperti yang dikatakan oleh Ki Tumenggung, pengawal-pengawal-nya tidak melakukannya lagi. Air di parit itu masih tetap mengalir lancar menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh dan sekitarnya.
Dalam pada itu, Di pesanggrahannya, Ki Tumenggung masih saja berbincang dengan Nyi Tumenggung yang tidak mengerti akan sikap Ki Tumenggung terhadap seorang Rangga dan orang-orang Tanah Perdikan Menoreh itu.
“Mereka akan menjadi besar kepala, kakang. Mereka akan merasa menang, sehingga mereka akan memberikan tuntutan-tuntutan lain yang bermacam-macam.”
“Tidak akan. Mereka tidak akan menuntut apa-apa. Aku harus mengakui bahwa akulah yang salah. Aku telah membelokkan air yang seharusnya mengalir ke padukukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh.”
“Kakang seorang Tumenggung. Kakang dapat mempergunakan pengaruh kedudukan kakang Apa yang dapat dilakukan seorang Rangga terhadap seorang Tumenggung ?”
“Sudah aku katakan, Rangga itu adalah Agung Sedayu. Bahkan seandainya bukan Agung Sedayupun aku tidak boleh berbuat semau-mauku sendiri.”
Nyi Tumenggung masih juga menyahut, “Kenapa tiba-tiba sikap kakang berubah ? Apakah karena Rangga yang kakang sebut bernama Agung Sedayu itu ? Kenapa dengan Ki Rangga Agung Sedayu sehingga ia dapat mempengaruhi sikap kakang Tumenggung yang memiliki pangkat dan kedudukan yang lebih tinggi?”
“Bukan karena pengaruh pangkat dan kedudukan. Tetapi Ki Rangga Agung Sedayu dapat meyakinkan aku, bahwa aku memang bersalah.”
“Salah atau tidak salah, kakang Tumenggung dapat melangsungkan rencana kakang, mengisi sendang itu sampai penuh.”
“Nyi,” berkata Ki Tumenggung, “jika aku memaksakan kehendak, Ki Rangga Agung Sedayu akan dapat mengambil langkah-langkah yang sangat merugikan kedudukanku. Ki Rangga adalah Senapati yang membawahi Pasukan Khusus yang ada di Tanah Perdikan Menoreh. Jika aku menyalahgunakan kedudukan dan kekuasaanku, Ki Ranggapun akan dapat melakukannya pula. Jalan lain yang dapat ditempuh oleh Ki Rangga, melaporkan sikapku yang keliru itu kepada Ki Patih Mandaraka. Kau harus tahu, bahwa Ki Rangga Agung Sedayu itu seolah-olah mempunyai hubungan yang khusus dengan Ki Patih Mandaraka.”
“Jika Ki Rangga itu mempunyai hubungan yung khusus dengin Ki Patih, sedangkan ia mempunya kelebihan, kenapa ia masih saja berpangkat Rangga ? Kenapa Ki Patih tidak segera mengungkatnya menjadi Tumenggung.”
“Justru karena hubungannya dengan Ki Patih sangat dekat maka Ki Rangga menjadi agak lambat merambat kejenjang Kepangkatan yang lebih tinggi. Baik Ki Rangga maupun Ki Patih tidak ingin disebut menyalahgunakan hubungan pribadi yang baik itu untuk mempercepat kenaikan pangkat Ki Rangga. Baru kemudian ketika para Senapati besar di Mataram menyaksikan sendiri kelebihan Ki Lurah dalam perang di Demak, mereka baru ingat, bahwa sebaiknya Ki Lurah Agung Sedayu mendapat anugerah pangkat. Tetapi sebenarnyalah bahwa kelebihan dari Ki Rangga Agung Sedayu itu telah melampaui kelebihan beberapa orang Tumenggung. Terus terang, aku harus mengakui bahwa Ki Rangga memiliki banyak kelebihan dari aku sendiri.”
“Kakang Tumenggung terlalu merendahkan diri. Tetapi justru karena itu, aku ingin mengenal keluarga Ki Rangga itu lebih dekat. Siapa yang berada di belakang Ki Rangga sehingga ia berani datang menantang kakang Tumenggung.”
“Ia tidak menantang. Ia tidak mengatakan lebih dari satu kebenaran bahwa para petani memerlukan air. Apalagi tanaman padi sudah menjadi semakin besar sehingga hampir datang waktunya padi itu bunting. Karena itu maka airnya tidak boleh terlambat.”
“Kakang,” berkata Nyi Tumenggung kemudian, “ada baiknya kakang mengunjungi Ki Rangga di rumahnya. Aku ingin berkenalan dengan Nyi Rangga yang barangkali banyak memberikan dorongan kepada suaminya sehingga Ki Rangga Agung Sedayu mendapat anugerah pangkat setelah perang di Demak berakhir.”
“Nyi. Sebelum kau mengunjungi Nyi Rangga, aku ingin memberitahukan kepadamu, bahwa Nyi Rangga memang seorang yang mampu ikut serta mengangkat derajad suaminya sehingga Ki Lurah Agung Sedayu mendapat anugerah kenaikan pangkat. Mungkin kau perlu mengetahui sebelum kau mengenalnya secara pribadi, bahwa Nyi Rangga Agung Sedayulah yang telah membunuh orang yang mengaku menjadi pemimpin besar perguruan Kedung Jati yang menjadi buruan untuk waktu yang lama. Seorang yang dianggap tidak terkalahkan itu ternyata tidak mampu menandingi ilmu Nyi Rangga Agung Sedayu yang lebih dikenal dengan nama Sekar Mirah.”
Nyi Tumenggung memang terkejut. Dengan serta merta ia-pun bertanya, “Maksud kakang, Nyi Rangga itulah yang telah membunuhnya. Atau Ki Rangga ?”
“Nyi Rangga. Perguruan Kedung Jati mempunyai sepasang pertanda kepemimpinan. Satu berada di tangan Ki Saba Lintang, satunya berada di tangan Nyi Rangga Agung Sedayu. Namun dalam perang tanding yang terjadi, Ki Saba Lintang telah terbunuh oleh Nyi Rangga Agung Sedayu.”
“Kakang berkata sebenarnya ?“
“Ya.”
“Jadi yang mempunyai ilmu yang sangat tinggi itu sebenarnya Nyi Rangga Agung Sedayu.”
“Nyi Rangga Agung Sedayu mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Terbukti bahwa ia mampu mengalahkan Ki Saba Lintang. Tetapi Ki Rangga Agung Sedayu mempunyai ilmu yang lebih tinggi lagi. Ilmu Ki Rangga Agung Sedayu itu dapat disejajarkan ilmu para Pangeran di Mataram, atau setidak-tidaknya mampu membayanginya.”
Nyi Tumenggung itupun terdiam. Kepalanya menunduk, sementara iapun mulai membayangkan betapa tinggi ilmu Nyi Rangga Agung Sedayu yang telah mampu mengalahkan Ki Saba Lintang. Sementara itu Ki Rangga Agung Sedayu memiliki ilmu dan kemampuan yang lebih tinggi lagi.
Karena Nyj Tumenggung tidak segera menyahut, maka Ki Tumenggung itupun berkata, “Baiklah. Sekarang tidurlah. Besok kita pergi ke rumah Ki Rangga Agung Sedayu jika kau ingin berkenalan dengan isterinya.”
Tetapi Nyi Tumenggung itupun menggeleng. Katanya, “Tidak. Aku tidak ingin pergi ke rumah Ki Rangga Agung Sedayu.”
Ki Tumenggung itu menarik nafas panjang. Kemudian iapun mengulangi, “Tidurlah. Masih ada sedikit waktu menjelang fajar.”
Nyi Tumenggung itupun kemudian segera bangkit dan pergi ke pembaringan. Namun ia tidak segera dapat tidur. Ternyata suami isteri Ki Rangga Agung Sedayu adulah orang-orang yang berilmu sangat tinggi, sehingga meskipun ia hanya seorang Rangga, tetapi Ki Tumenggung harus berpikir dua tiga kali untuk menghadapinya. Bahkan akhirnya Ki Tumenggung itu harus mengalah.
Dihari berikutnya, sendang buatan di pesanggrahan Ki Tumenggung itu masih belum terisi penuh. Ki Tumenggung masih harus menyelesaikan pembuatan pipa-pipa bambu yang akan mengalirkan air dari grojogan di bukit kecil sebelah. Dengan beberapa batang pipa bambu petung, maka arus airnya tentu cukup deras.
Nyi Tumenggung memang menjadi kecewa. Ia ingin segera mencoba turun ke sendang buatannya dengan perahu kecil yang sudah disiapkan. Tetapi Nyi Tumenggung harus menerima keadaannya itu jika ia tidak ingin Ki Tumenggung mendapat kesulitan. Apalagi jika Ki Rangga itu menyampaikan pengaduan kepada Ki Patih Mandaraka, bahwa Ki Tumenggung telah menyalahgunakan kekuasaannya untuk menyakiti hati rakyat kecil. Ki Patih Mandaraka, sebagaimana kangjeng Panembahan Senapati pada mulanya adalah rakyat kecil yang karena perjuangan mereka, maka mereka dapat memanjat sampai ke tataran yang tinggi.
Dengan demikian, maka rakyat Tanah Perdikan Menoreh tidak akan terganggu lagi. Khususnya para petani di padukuhan induk dan sekitarnya. Parit merekapun selalu mengalir sebagaimana seharusnya.
Sebenarnyalah Ki Gede Menoreh sudah siap untuk menerima kedatangan Ki Tumenggung seandainya Ki Tumenggung merasa dirugikan dan menuntut Ki Gede Menoreh untuk memberikan air kepadanya. Tetapi ternyata bahwa Ki Tumenggung itu tidak pergi ke Tanah Perdikan Menoreh untuk menemui Ki Gede.
Sementara itu, Glagah Putih dan Rara Wulan masih sempat mempergunakan hari-hari istirahatnya yang pendek. Glagah Putih dan Rara Wulan sempat mengunjungi Ki Gede untuk mohon doa restu, agar dalam tugas-tugasnya mendatang, Yang Maha Agung selalu melindunginya.
“Kami di Tanah Perdikan ini selalu berdoa, ngger,” berkata Ki Gede, “tetapi kamipun mempunyai doa yang lain.”
“Maksud Ki Gede?”
“Bukankah kau tidak akan menjadi pengembara sepanjang umurmu ? Kakangmu, Ki Rangga Agung Sedayu ternyata tidak mempunyai keturunan. Menilik umurnya, maka agaknya Ki Rangga sudah tidak akan mempunyai anak. Meskipun anak itu sangat tergantung kepada kurnia, tetapi bukankah kalian akan memohonnya ?”
“Ya, Ki Gede. Kami akan mohon agar kami dikaruniai keturunan. Kami merasakan betapa sepinya hidup kakang Agung Sedayu serta mbokayu Sekar Mirah. Untunglah bahwa keduanya menerima kenyataan itu dengan hati terbuka dengan satu keyakinan, bahwa apa yang direncanakan Yang Maha Agung atas diri mereka, tentulah yang terbaik bagi mereka.”
“Ya, ya. Satu sikap pasrah yang utuh setelah dilakukan segala usaha.”
“Ya. Bahkan kakang Agung Sedayu dan mbokayu Sekar Mirah sebagai murid Kiai Gringsing yang memiliki pengetahuan tentang berbagai macam obat-obatan sudah berusaha sejauh dapat mereka lakukan.”
Demikianlah selain berkunjung kepada Ki Gede, Glagah Putih dan Rara Wulan juga menemui para Demang dan Bekel di Tanah Perdikan Menoreh yang dikenalnya dengan baik. Kemudian para pemimpin pengawal Tanah Perdikan . Kepada Prastawa, Glagah Putih sempat memberikan berbagai macam pesan yang ditujukan kepada para Pengawal.
Demikianlah Glagah Putih dan Rara Wulan telah mempergunakan waktunya sebaik-baiknya. Ia sudah sering pergi mengemban tugas untuk waktu yang lama. Namun rasa-rasanya kepergiannya saat itu mempunyai arti yang agak berbeda. Ia tidak pergi sebagai dua orang penghuni Tanah Perdikan.
Tetapi mereka pergi sebagai dua orang prajurit Mataram yang akan menjalankan tugasnya. Mungkin tugas itupun akan disusul dengan tugas-tugas yang lain, sehingga mereka tidak akan segera dapat melihat Tanah Perdikan itu kembali. Bahkan mungkin mereka tidak akan sempat bertugas didalam kesatuan yang dipimpin oleh Ki Rangga Agung Sedayu yang akan menjadi semakin besar.
Ketika saatnya telah menjadi semakin dekat, maka Ki Rangga Agung Sedayu masih sempat memberikan beberapa petunjuk kepada Glagah Putih dan Rara Wulan. Ki Rangga merasa bahwa sudah saatnya bagi Glagah Putih dan Rara Wulan untuk menjalani laku, agar ilmu keduanya menjadi semakin mapan. Meskipun Glagah Putih dan Rara Wulan sudah melandasi ilmunya dengan kitab Namaskara, namun Glagah Putih dan Rara Wulan masih ketinggalan dibandingkan dengan Ki Rangga Agung Sedayu.
“Bukan karena tingkat ilmumu lebih rendah,” berkata Ki Rangga Agung sedayu,“ tetapi karena kau dan Rara Wulan masih terlalu muda. Karena itu, maka dengan menjalani laku sebagaimana aku tunjukkan kepadamu, maka semoga kau akan menjadi semakin matang. Kau berdua akun berada dalam laku untuk menguasai ilmu kekebalan tubuh. Tetapi kau berdua masih harus tetap berada pada jalur langkahmu yiuig menganut jalan kebenaran. Bukan kebenaran menurut ukuranmu sendiri. Tetapi kebenaran dijalan Yang Maha Agung.”
Glagah Putih dan Rara Wulan menundukkan kepalanya. Mereka sadar bahwa laku yang akan mereka jalani sesuai dengan petunjuk Ki Rangga Agung Sedayu itu mengarah pada pembinaan ilmu kebal sebagaimana dimiliki oleh Agung Sedayu. Namun laku yang akan dijalani oleh Glagah Putih dan Rara Wulan itu memerlukan waktu, karena laku itu berbeda dengan yang pernah dijalani oleh Agung Sedayu. Tetapi laku yang ditunjukkan oleh Ki Rangga Agung Sedayu kepada Glagah Putih dan Rara Wulan itu adalah laku yang sesuai bagi keduanya yang akan mengemban tugas keprajuritan.
Meskipun demikian, pada akhirnya mereka harus menyisihkan waktu khusus diujung laku yang mereka jalani.
Dihari terakhir, Glagah Putih dan Rara Wulan akhirnya mempercayakan kitab yang mereka yakini sengaja diberikan oleh Kiai Namaskara yang masih saja diselubungi oleh rahasia yang mungkin tidak akan terpecahkan kepada Ki Rangga Agung Sedayu. Mereka tidak akan dapat membawa kitab itu dalam tugas-tugas keprajuritan mereka yang memungkinkan kitab itu jatuh ketangan orang lain yang tidak seharusnya.
“Baiklah. Aku akan menyimpannya.Kitab Kiai Gringsing yang kebetulan saat ini ada padaku, juga aku simpan baik-baik. Aku dapat menyimpan kitabmu itu bersama kitab yang ditinggalkan oleh Kiai Gnngsing.”
Dengan demikian, maka Glagah Putih dan Rara Wulan mulai merasa tenang. Namun Glagah Putihpun kemudian berkata, “Kitab itu sebenarnya tersimpan dalam sebuah peti kayu yang bagus sekali buatannya. Tetapi peti kayu itu aku sembunyikan di sebuah goa. Tetapi kami masih ingat sekali tempat persembunyian itu.”
“Mungkin peti kayu itu sudah rusak sekarang,” sahut Sekar Mirah, “bukankah peti itu tidak terlalu penting dibandingkan dengan kitab ini sendiri ?”
“Ya, mbokayu,“ Glagah Putihpun mengangguk-angguk.
Demikianlah, dimalam keberangkatan mereka, Glagah Putih dan Rara Wulanpun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Namun Glagah Putih memerlukan berbicara khusus dengan Sukra.
“Kau sudah bukan anak-anak lagi Sukra,” berkata Glagah Putih, “karena itu, maka kau sudah harus dapat menempatkan dirimu dengan sebaik-baiknya. Jika kau jumpai masalah, bahkan masalah pribadimu yang kau anggap rumit, maka jangan segan-segan minta petunjuk kakang Rangga Agung Sedayu atau mbokayu Sekar Mirah. Bahkan agaknya kaupun dekat dengan Ki Jayaraga. Kau dapat berbicara dengan Ki Jayaraga jika kau kebetulan ikut bersamanya pergi ke sawah.”
“Ya, kakang.”
“Usahakan agar ilmumu lebih cepat meningkat dari sekedar ikut dalam latihan-latihan para pengawal. Bukan berarti bahwa latihan-latihan itu tidak penting, karena dengan latihan-latihan dalam kesatuan, kau akan menguasai ilmu perang gelar serta kerja sama yang mapan antara sesama anggota kesatuan. Tetapi peningkatan ilmumu secara peribadi akan dapat mengisi kelemahan-kelemahan dalam kesatuanmu.”
“Ya, kakang.”
“Seterusnya kau harus selalu berhati-hati menempatkan diri dalam hubungan sesamamu.”
Sukra mengangguk-angguk. Agaknya ia mencoba dengan sungguh-sungguh untuk menyerap semua pesan-pesan Glagah Putih. Sementara itu Glagah Putih telah memberikan pesan-pesan sebagaimana pernah dikatakan oleh Ki Rangga Agung Sedayu, Sekar Mirah, Ki Jayaraga dan orang-orang tua yang lain yang pemah ditemuinya dalam pengembaraannya. Yang sebagian besar hanya tinggal berada di dalam ingatannya saja, karena kesempatan untuk bertemu lagi dengan mereka sudah menjadi semakin sempit.
Meskipun demikian, berbagai ilmu yang telah diwarisinya tetap saja memperkaya tingkat kemampuannya.
Demikianlah, malam itu Ki Jayaraga telah memperingatkannya, agar Glagah Putih dan Rara Wulan segera beristirahat.
“Esok kalian akan bangun pagi-pagi sekali. Kemudian menempuh perjalanan ke Mataram. Meskipun perjalanan itu tidak sangat panjang, tetapi sebaiknya kalian sampai di kepatihan sebelum tengah hari.”
Menjelang tengah malam, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun telah berada di biliknya. Seperti yang dikatakan oleh Ki Jayaraga, sebaiknya mereka segera beristirahat karena esok mereka akan berangkat pagi-pagi sekali.
Namun justru karena itu, maka keduanya tidak segera dapat tidur. Mereka masih berbicara beberapa lama. Baru kemudian, ketika angin malam terdengar gemensik di dinding dan atap rumah, merekapun terdiam. Terasa dinginnya malam menyusup disela-sela raguman menyentuh tubuh mereka, maka keduanya-pun menjadi lelap.
Menjelang fajar keduanya telah terbangun. Bergantian mereka mandi dan kemudian berbenah diri. Namun sementara itu, Sekar Mirahpun telah berada di dapur pula menyiapkan minuman dan makan pagi bagi Glagah Putih dan Rara Wulan yang akan meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh. Sementara Ki Rangga Agung Sedayu telah duduk di ruang dalam pula.
Di halaman samping terdengar pula suara sapu lidi dengan iramanya tersendiri. Ki Jayaraga ternyata telah sibuk membersihkan halaman sebagaimana setiap hari dilakukannya. Sedangkan Sukra sibuk mengisi gentong di dapur.
Demikian Glagah Putih dan Rara Wulan selesai berbenah diri, maka Sekar Mirahpun telah mempersilahkan mereka untuk makan pagi.
Ki Jayaraga dan Agung Sedayu tidak dapat makan bersama keduanya. Mereka hanya duduk menunggui sambil minum minuman hangat.
“Masih terlalu pagi untuk makan pagi,” berkata Ki Jayaraga.
Setelah makan pagi, Glagah Putih dan Rara Wulan masih beristirahat beberapa saat, sementara Ki Rangga Agung Sedayu masih memberikan pesan-pesan terakhirnya.
Namun sebelum matahari terbit, Glagah Putih dan Rara Wulan telah minta diri untuk berangkat ke Mataram.
Ki Rangga Agung Sedayu, Sekar Mirah, Ki Jayaraga dan Sukra melepas mereka sampai ke regol halaman. Meskipun Glagah Putih dan Rara Wulan sudah terbiasa pergi meninggalkan rumah itu, namun rasa-rasanya saat itu Glagah Putih dan Rara Wulan akan menempuh perjalanan yang lama. Mereka tidak sekedar mengembara sebagaimana pernah mereka lakukan, tetapi mereka akan melakukan tugas mereka sebagai prajurit.
Dari para pelatih pada saat mereka berada dalam penempaan diri sebagai seorang prajurit serta dari Ki Rangga Agung Sedayu, keduanya sudah tahu benar akan kewajiban mereka sebagai seorang prajurit. Keduanyapun bertekad untuk dapat melakukannya dengan sebaik-baiknya. Kewajiban seorang prajurit sama sekali tidak bertentangan dengan pesan-pesan orang tua, agar Glagah Putih dan Rara Wulan menganut jalan kebenaran. Bukan sekedar kebenaran menurut ukuran mereka sendiri. Tetapi kebenaran dijalan Yang Maha Agung.
“Itulah yang sering kita lupakan,” berkata Ki Rangga Agung Sedayu dalam pesan-pesannya, “pada saat kita mengambil kepu-tusan untuk bersikap, kadang-kadang kita melupakan bahwa sikap kita itu juga harus kita pertanggung-jawabkan kepada Yang Maha Agung pada jaman yang tidak berkesudahan. Kadang-kadang kita mengambil keputusan untuk bersikap sekedar mencari kepuasan hati kita sendiri. Itulah sebabnya sering terjadi pembunuhan, pembantaian dan bahkan tindakan-tindakan yang lebih keji lagi tanpa mengingat, bahwa pada suatu saat, kita akan dihadapkan kepada pengadilan yang tidak dapat dikendalikan oleh siapapun, tidak akan pernah dapat terjadi tawar-menawar, tidak pula dapat direkayasa oleh siapapun dan dengan cara apapun. Mungkin seseorang pernah menyadari akan hal itu. Tetapi ketika ia dihadapkan kepada kepuasan duniawi, maka ia telah melupakannya. Pada saat mereka sadari akan kekhilafan mereka, maka segala sesuatunya sudah terjadi dan harus mereka pertanggungjawabkan kepada Yang Maha Pencipta. Tetapi memang ada juga orang yang memang tidak percaya kepada pengadilan akhir itu. Orang-orang itu adalah orang yang mengingkari Penciptanya, sehingga orang-orang yang demikian itu adalah orang-orang yang sangat berbahaya, karena mereka tidak akan pernah bertobat. Tetapi orang-orang yang demikianlah, yang pada saatnya akan menyesal disepanjang jaman, karena mereka akan dilemparkan ke dalam kegelapan abadi.”
Demikianlah, maka Glagah Putih dan Rara Wulan itupun berjalan semakin cepat. Sinar matahari pagi yang muncul dari balik cakrawala, terasa menghangatkan tubuh. Embun yang bergayutan di dedaunanpun mulai terhapus perlahan-lahan. Sementara itu, kabut tipis yang menutupi lembah-lembah perbukitanpun mulai terkuak.
Di padukuhan padukuhan yang mereka lewati, anak-anak muda yang berpapasan dengan keduanya, selalu bertanya, kemana mereka akan pergi di pagi-pagi sekali.
“Ke Mataram,” jawab Glagah Putih dan Rara Wulan bergantian.
Bukan hanya di padukuhan padukuhan, tetapi orang-orang yang akan pergi ke Bawah dan berpapasan di bulakpun selalu bertanya pula.
Baru kemudian, ketika Glagah Putih dan Rara Wulan berjalan semakin jauh, semakin sedikit pula orang yang bertemu di jalan. Tetapi keduanyapun harus menghindari sebuah pasar di padukuhan yang terhitung besar agar mereka tidak terlalu banyak berpanasan dengan orang-orang yang sudah mengenali mereka dan memberikan bermacam-macam pertanyaan.
Ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka merekapun telah menuruni jalan yang menuju ke tempat penyeberangan. Sebagaimana biasanya, keduanya memilih menyeberang di penyeberangan sebelah Selatan.
Hari itu, penyeberangan itu ternyata tidak terlalu ramai. Hanya ada dua tiga orang saja yang menunggu disisi Barat, sementara itu sebuah rakit sedang meluncur dari arah Timur. Rakit itu juga tidak membawa terlalu banyak orang dari tepian sebelah Timur, sehingga rakit itu dapat melaju lebih cepat.
Beberapa saat kemudian, maka rakit itupun telah merapat ke sisi Barat. Demikian para penumpangnya turun, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun segera naik bersama beberapa orang yang telah menunggu.
Tetapi sebelum rakit itu menyeberang, seorang berkuda memacu kudanya sambil berteriak, “Tunggu-tunggu.”
Rakit yang sudah siap untuk menyeberang itu berhenti.
Penunggang kuda itupun kemudian meloncat turun sambil berkata, “Tunggu. Kami akan menyeberang bersama sepasang pengantin. Sebentar lagi mereka akan tiba.”
Tukang satang itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya para penumpang yang telah berada di atas rakitnya, minta pertimbangan.
Karena beberapa orang yang sudah ada di atas rakit itu tidak menjawab, maka Glagah Putihlah yang menjawab. Baiklah. Kita menunggu sebentar. Apakah ada di antara Ki sanak yang sangat tergesa-gesa ?”
Orang-orang yang sudah ada di atas rakit itupun menggeleng.
“Nah, kakang,” berkata Glagah Putih kepada tukang satang, “kita menunggu. Bukankah masih banyak tempat di rakit kakang?”
Rakit itupun urung untuk bergerak ke Timur. Sementara itu rakit yang ada di seberang juga masih belum bergerak. Masih ada dua orang yang akan naik bersama kuda mereka.
Beberapa saat kemudian, maka datanglah iring-iringan pengantin yang akan menyeberang itu. Ternyata pengiringnya cukup banyak. Empat orang di antara mereka berkuda. Termasuk orang yang berkuda mendahului iring-iringan itu.
Demikian mereka mendekati rakit itu, maka orang berkuda yang mendahului iring-iringan itupun berkata kepada tukang satang,“ Ki Sanak. Kami akan menyeberang bersama-sama, karena kami sedang mengiringi sepasang pengantin yang akan diboyong ke rumah pengantin laki-laki di sebelah Timur Kali Praga.”
“Tetapi tentu tidak dapat sekaligus,” jawab tukang satang itu, “beberapa orang akan tinggal. Sementara itu, rakit dari seberang itu sudah mulai bergerak. Sebentar lagi rakit itu akan sampai di sini. Kemudian sebagian yang tertinggal akan dapat segera menyusul. Apalagi ada di antara kalian yang membawa kuda.”
“Tidak baik kalau rombongan kami harus dibagi.”
“Tetapi kalau dipaksakan naik ke rakit, aku mengkhawatirkan, bahwa beban akan menjadi terlalu berat.”
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata, “Biarlah orang-orang yang sudah ada di atas rakit itu turun. Biarlah kami memakai rakit itu seutuhnya tanpa orang lain. Bukankah mereka dapat menunggu dan tidak harus pergi bersama-sama.”
Beberapa orang yang sudah ada di atas rakit itu saling berpandangan sejenak. Ada di antara mereka yang nampaknya agak berkeberatan jika mereka harus turun lebih dahulu.
Tetapi orang itu berkata, “Kami tidak mempunyai pilihan lain. Kami terpaksa minta kalian untuk turun.”
Suasana terasa menjadi agak tegang. Namun Glagah Putihlah yang kemudian berkata, “Baiklah. Aku dan isteriku akan turun. Tetapi aku tidak tahu, apakah yang lain juga bersedia untuk turun.”
Ternyata sikap Glagah Putih itu telah mempengaruhi sikap beberapa orang yang lain, sehingga seorang diantara mereka berkata, “Biarlah mereka mendapat kesempatan untuk dapat menyeberang bersama-sama.”
Orang-orang yang sudah berada di atas rakit itu ternyata semuanya bersedia untuk turun dan memberi tempat kepada sepasang pengantin dan para pengiringnya, agar mereka dapat bersama-sama menyeberang.
Tetapi ketika mereka kemudian berebut naik, maka tukang satang itupun berkata, “Terlalu banyak Ki sanak. Apakah sebagian kecil dari kalian dapat turun dan menyeberang dengan rakit berikutnya. Rakit itu sudah bergerak kemari. Tentu tidak akan lama lagi rakit itu merapat di tepian.”
Namun ternyata tidak ada diantara para pengiring itu yang bersedia turun dan ikut menumpang rakit yang sedang bergerak ke Barat.
Karena tidak ada yang bersedia, maka tukang satang itupun bertanya sekali lagi, “Apakah ada diantara kalian yang bersedia turun dan menumpang rakit berikutnya?”
Ternyata masih belum ada yang bersedia turun. Bahkan seorang diantara mereka berkata, “Jika penumpang rakitmu kelebihan, Ki Sanak, bukankah hanya kelebihan sedikit ? Aku kira kelebihan sedikit itu tidak akan membahayakan. Aku sudah terbiasa menyeberang. Bahkan aku pernah naik rakit, dan bahkan mungkin juga rakit ini, bersama dengan beberapa ekor kuda yang membawa keranjang berisi gula kelapa.”
“Tetapi tentu tidak memuat orang sebanyak ini.”
“Sudahlah. Jika kau ragu-ragu, akibatnya tentu kurang baik. Menyeberanglah.”
Dua tukang satang di rakit itu saling berpandangan. Namun mereka tidak mempunyai pilihan lain. Merekapun kemudian mulai mendorong rakitnya bergerak menyeberang ke Timur. Namun mereka lebih dahulu menyisir tepian justru ke arah hulu. Baru kemudian mereka bergerak ke tengah dan selanjutnya sedikit mengikuti arah arus Kali Praga yang terhitung deras itu.
Sementara itu, rakit yang satu lagi sudah sampai di tepian Barat pula. Setelah penumpangnya turun, maka beberapa orang-pun segera naik. Tidak terlalu banyak, sehingga terasa rakit itu cukup longgar.
Dalam waktu singkat, rakit yang ditumpangi Glagah Putih dan Rara Wulan itupun segera bergerak pula.
Namun tiba-tiba saja mereka melihat rakit yang terdahulu itu mulai goncang. Didorong oleh arus Kali Praga, dengan penumpang yang terlalu banyak, maka rasa-rasanya rakit itu tidak kuat lagi mengusung bebannya.
“Kakang,” berkata Glagah Putih kepada tukang satang yang ada di rakitnya, “rakit itu nampak berguncang.”
Kedua tukang satang yang melayani rakit yang membawa Glagah Putih dan Rara Wulan itu memperhatikan rakit yang berguncang. Seorang diantara mereka itupun bergumam, “Kang Naya terlalu serakah. Orang sekian banyak dibawanya semua. Itu sangat membahayakan penumpangnya.”
“Kang Naya tukang satang rakit itu yang kau maksud?” bertanya Glagah Putih.
“Ya.”
“Bukan salahnya, kang. Kang Naya sebenarnya sudah menolak. Tetapi orang-orang berkuda itu memaksa. Sehingga akhirnya kang Naya terpaksa membawa mereka semua.”
Percakapan itu terhenti. Mereka mendengar beberapa orang perempuan yang naik rakit yang terdahulu itu menjerit.
Kedua tukang satang rakit yang ditumpangi Glagah Putih itupun kemudian sepakat untuk mencoba membantunya. Karena itu, maka mereka telah mempercepat rakit yang disatanginya, menyusul rakit yang berguncang itu.
“Jangan bingung. Duduk sajalah. Jangan bergeser-geser. Nanti rakit ini akan berguncang semakin keras,” teriak tukang satang pada rakit yang berguncang itu.
Tetapi orang-orang yang ketakutan itu justru saling tarik menarik, saling berdekapan sambil berteriak-teriak tidak keruan.
Kedua tukang satangnya mencoba untuk mengatasi kesulitan itu. Kang Naya masih saja berteriak-teriak menenangkan penumpang-penumpangnya. Tetapi mereka masih saja kebingungan dan ketakutan. Dengan demikian guncangan-guncangan itupun menjadi semakin keras. Apalagi ketika kuda-kuda diatas rakit itu mulai menjadi gelisah pula.
Pada saat yang gawat maka rakit yang ditumpangi Glagah Putih itupun menjadi semakin dekat. Seorang tukang satangnya-pun kemudian melemparkan tali kepada kang Naya yang berada di rakit yang terguncang itu.
“Tenanglah, tenanglah. Semuanya duduk diam.“ Suaranya tenggelam diantara jerit dan teriakan para penumpang rakit yang terguncang-guncang itu.
Air Kali Pragapun mulai membasahi alas rakit bambu yang terhitung besar itu. Rakit bambu yang ditompang di atas dua perahu kecil di kedua sisinya.
Sejenak kemudian, maka kedua rakit itupun menjadi semakin dekat. Yang terdengar kemudian adalah suara Glagah Putih, “Marilah. Aku minta beberapa orang laki-laki meloncat ke rakit ini. Rakit ini masih cukup untuk menampung banyak orang. Dengan demikian rakit kalian tidak akan kelebihan penumpang.”
Tetapi nampaknya tidak ada seorangpun yang berani melakukannya. Beberapa orang laki-laki pengiring pengantin itu nampak pucat dan ketakutan sebagaimana perempuan-perempuan.
“Cepat,” teriak Glagah Putih yang berusaha membantu menarik tali yang telah dilemparkan oleh tukang satang dari rakit yang ditumpanginya dan yang telah dipegang oleh Kang Naya.
Kedua rakit itu menjadi semakin dekat. Tetapi ketika keduanya bersinggungan, maka rakit-rakit itu telah terguncang. Terutama rakit yang penuh penumpang itu.
“Jangan menjadi kehilangan akal,” teriak Glagah Putih. Tukang satangpun telah berteriak pula, “Loncat kemari. Cepat, sebelum rakit itu tenggelam.”
Orang-orang di rakit itu menjadi bertambah ketakutan. Sementara Glagah Putih mengulurkan tangannya sambil berteriak, “Tangkap tanganku.”
Orang-orang di rakit yang penuh itu masih saja nampak bimbang dalam ketakutan. Namun seorang anak muda di antara mereka agaknya telah memberanikan diri menggapai tangan Glagah Putih.
Glagah Putihpun kemudian berteriak pula, “Loncat.”
Anak muda itu meloncat sementara Glagah Putih menariknya, sehingga anak muda itupun akhirnya terjatuh di rakit yang ditumpangi oleh Glagah Putih itu.
Ketika Rara Wulan menolong anak muda itu, maka Glagah Putihpun telah menjulurkan tangannya pula, “Marilah. Siapa yang lain. Berusahalah. Jangan menyerah dan tenggelam bersama rakit itu.”
Keberhasilan anak muda itu telah menumbuhkan keberanian pada beberapa orang laki-laki. Merekapun menjulurkan tangan mereka bergantian, sehingga beberapa orang akhirnya telah berpindah dari satu rakit ke rakit yang lain.
Dengan demikian, maka rakit yang terguncang itu menjadi agak mereda setelah beberapa orang berada di rakit yang ditumpangi oleh Glagah Putih.
Namun tiba-tiba saja seorang perempuan yang menggendong bakul dan berada di rakit yang ditumpangi Glagah Putih berteriak sambil menyerahkan sepasang telur ayam. “berikan telur ini kepada pengantinnya. Biarlah mereka yang melemparkan telur ini ke Kali Praga. Aku belum melihat mereka melempar sepasang telur sejak mereka naik di tepian sebelah Barat.”
Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Tetapi Rara Wulanlah yang kemudian menerima telur itu. Ia melangkah ke tepi dan menjulurkan telur itu kepada orang yahg berada di rakit yang terguncang itu, ”berikan kepada pengantinnya. Biarlah mereka yang melemparkannya ke Kali Praga.”
Kang Nayalah yang menerima sepasang telur itu dan memberikannya kepada sepasang pengantin itu. Merekapun kemudian melemparkan sepasang telur itu ke arus Kali Praga.
Sejenak kemudian, maka kedua tukang satang dari rakit yang terguncang itupun berhasil menguasai rakitnya. Rakit yang ditumpangi Glagah Putih dan Rara Wulanpun mulai mengambil jarak, agar kedua rakit itu tidak bersinggungan.
“Nah,” berkata perempuan yang memberikan dua butir telur itu, “pengantin baru yang belum genap selapan hari, jika menyeberangi sungai apalagi sebesar Kali Praga ini, harus melemparkan sepasang telur ke dalam arus sungai itu. Nampaknya sepasang pengantin itu tidak melakukannya. Mungkin bagi mereka, melemparkan telur itu hanya takhayul saja, sehingga tidak perlu dilakukan. Tetapi hampir saja mereka ditelan arus Kali Praga yang deras ini. Untung aku membawa lima butir telur yang diberikan oleh menantuku. Tetapi sebenarnya telur-telur itu adalah telur ayam bangkok yang akan aku tetaskan di rumah.”
“Tetapi korban yang bibi berikan tidak sia-sia,” sahut salah seorang pengiring pengantin yang telah berada di dekat perempuan itu setelah berhasil melompat, “kami sangat berterima kasih.”
“Lain kali sebaiknya kalian bertanya-tanya kepada orang tua. Syarat-syarat yang harus dipenuhi jika kalian akan membawa sepasang pengantin menempuh perjalanan. Jauh atau dekat, syarat-syarat itu harus dipenuhi.”
“Ya, bibi. Sekali lagi, atas nama sepupuku yang menjadi pengantin itu, sekali lagi aku mengucapkan terima kasih.”
Tetapi seorang yang duduk di sampingnya berbisik- Apakah sebaiknya kita ganti harga telur itu. Telur itu ternyata telur ayam bangkok yang akan ditetaskan.”
Orang yang mengucapkan terima kasih itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun mengangguk, “Aku akan bertanya kepadanya. Mudah-mudahan ia tidak justru tersinggung.
“Bibi,” berkata orang itu, “menurut bibi, telur itu adalah telur ayam bangkok. Menurut pendapatku, telur ayam bangkok itu harganya lebih mahal dari telur ayam biasa. Apakah sebaiknya aku mengganti uang harga telur itu. Maaf bibi. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin agar bibi tidak dirugikan.”
“Apa?” perempuan itu memandang orang yang akan mengganti harga telurnya dengan tajamnya, ”berapapun kau mau mengganti, tidak akan ada artinya apa-apa dibandingkan dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Kau mau mencoba membayar harga nyawa sepasang pengantin itu?”
“Tidak. Tidak bibi. Aku minta maaf.“ Keduanyapun terdiam. Sementara itu, di tempat yang agak terpisah Rara Wulan berdesis, “Apakah benar sepasang telur itu yang menyelamatkan rakit yang terguncang itu?”
“Meskipun pengantin itu melemparkan sekeranjang telur, jika penumpang rakit itu tidak dikurangi, rakit itu akan tetap berguncang. Sedangkan keselamatan jiwa penumpangnya itu berada sepenuhnya di tangan Yang Maha Agung. Meskipun demikian, bukankah kita wajib berusaha?”
“Orang-orang tua percaya tentang sepasang telur itu. Di Tanah Perdikan Menoreh, orang-orang tua juga selalu berpesan jika sepasang pengantin yang belum genap selapan akan menyeberangi sungai, apalagi Kali Praga, harus melemparkan sepasang telur ayam.”
“Kita hormati saja kepercayaan mereka. Sambil melemparkan telur, tentu mereka akan berdoa, mohon perlindungan kepada Yang Maha Agung. Nah, doa itulah yang lebih berarti daripada sepasang telur itu.”
“Tetapi sepasang pengantin yang naik rakit yang terguncang itu tidak sempat berdoa?”
“Tetapi tentu berdoa di dalam hati. Setidak-tidaknya mereka tentu menyebut nama Yang Maha Agung. Sementara itu, para penumpang rakit itu juga telah berusaha, dan usaha itu ternyata dibenarkan-Nya. Ternyata rakit itu selamat.”
Rara Wulan mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak sempat bertanya lagi. Kedua rakit itupun telah merapat ditepian di seberang Timur Kali Praga.
Demikianlah, maka para penumpang kedua rakit itupun segera turun. Ketika perempuan yang mempunyai sepasang telur itu akan membayar upah penyeberangannya, maka salah seorang pengiring pengantin yang sempat meloncat ke rakit yang satu lagi itu berkata, “sudahlah bibi. Biarlah kami yang membayar upah penyeberangan ini.”
Perempuan itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata, “Tetapi jangan dihubungkan dengan sepasang telur itu. Aku memberikan telur itu kepada sepasang pengantin itu untuk menyelamatkan nyawa mereka. Aku tidak menjual telur itu.”
“Ya, ya. Aku mengerti bibi.”
Pengiring pengantin itulah yang kemudian membayar ongkos penyeberangan kedua rakit itu. Lebih banyak dari yang seharusnya mereka bayar. Orang berkuda yang memaksa para penumpang di rakit yang terguncang itu turun ketika mereka akan naik, berkali-kali menyatakan permintaan maafnya.
Kepada Glagah Putih dan Rara Wulan, serta kepada perempuan yang telah memberikan sepasang telur itu, orang berkuda itu mengangguk hormat dalam sekali sambil berkata, “Ki Sanak telah menyelamatkan nyawa bukan hanya sepasang pengantin itu, tetapi bersama kami para pengiringnya. Kami yang sempat berbuat kasar, mohon maaf sedalam-dalamnya.”
“Sudahlah,” sahut Glagah Putih, “kalian harus mengucapkan kepada Yang Maha Agung.”
Glagah Putih dan Rara Wulanpun tidak perlu membayar upah penyeberangan pula. Sementara tukang satang dari kedua rakit itupun berterima kasih pula, karena mereka mendapat upah lebih meskipun mereka harus bekerja lebih keras pula. Bahkan rakit yang berguncang-guncang telah membuat tukang satangnya menjadi tegang sekali, sementara penumpangnya yang ketakutan tidak dapat dikendalikan.
“Jika terjadi sesuatu dengan rakit kita, maka kitalah yang akan dituduh menjadi serakah. Kita telah membawa penumpang jauh melampaui batas yang seharusnya.”
“Untunglah bahwa rakit kita tidak terguling dan terbenam di arus sungai yang terhitung deras itu.”
“Ya. Seperti orang Tanah Perdikan yang sering menyeberang di penyeberangan ini berkata, bahwa kita harus mengucap sukur kepada Yang Maha Agung.”
Kawannya mengangguk-angguk.
Sementara itu, Glagah Putih dan Rara Wulan telah melanjutkan perjalanan ke Mataram. Untuk beberapa lama mereka berjalan bersama sepasang pengantin dan beberapa orang pengirngnya termasuk orang-orang berkuda itu.
“Kami akan ke Mangir,” berkata salah seorang pengiringnya, “orang tua pengantin laki-laki ini tinggal di Mangir. Ia ingin memperkenalkan menantunya kepada sanak kadang dan tetangga-tetangganya. Tetapi hampir saja justru telah terjadi bencana.”
Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk. Sementara itu pengantin perempuan masih nampak pucat. Jantungnya masih berdebaran sedangkan tangannya masih gemetar.
Seorang perempuan separo baya membimbingnya sambil berkata, “Yang Maha Agung masih melindungi kita ngger. Segala sesuatunya sudah lewat. Sekarang kita dalam perjalanan ke Mangir. Setelah beristirahat sejenak, kau harus dirias meskipun tidak seberat upacara nikah beberapa hari yang lalu. Karena itu, besarkan hatimu. Kau harus tersenyum. Bukan justru gemetar dan ketakutan. Jika nanti dirumah suamimu sudah ada beberapa orang sanak kadang yang datang, mereka akan menjadi heran.”
Pengantin perempuan itu mengangguk. “Ya, bibi.”
Tetapi suami perempuan separo baya itu berkata, “Bukankah kita dapat bercerita apa adanya. Tentu akan sangat menarik bagi para tamu. Perjalanan pengantin yang mendebarkan.”
“Ah, kakang,“ potong isterinya.
Namun kemudian Glagah Putih dan Rara Wulanpun telah memisahkan diri ketika iring-iringan pengantin itupun kemudian berbelok, sementara Glagah Putih dan Rara Wulan harus berjalan terus ke Mataram.
Para pengiring dan bahkan sepasang pengantin itu telah minta kepada Glagah Putih dan Rara Wulan untuk singgah. Tetapi Glagah Putih dan Rara Wulan tidak ingin terlalu banyak kehilangan waktu, sehingga karena itu, maka Glagah Putihpun menjawab, “Maaf Ki Sanak. Mungkin pada kesempatan lain kami akan singgah. Sekarang waktu kami sangat terbatas. Kami harus segera sampai di Mataram. Jika mungkin sebelum tengah hari.”
“Jadi Ki Sanak tergesa-gesa?”
“Tidak terlalu tergesa-gesa.”
“Maaf Ki Sanak. Kami sudah menghambat perjalanan Ki Sanak. Penundaan rakit itu sudah menyita waktu ki Sanak. Bahkan kemudian Ki Sanak masih harus menolong kami, sehingga semakin banyak waktu yang terbuang bagi Ki Sanak.
“Tidak. Masih ada waktu sampai tengah hari nanti.“ Tetapi pengiring pengantin itu mengangkat wajah untuk memandang matahari. Ternyata matahari sudah semakin mendekati puncaknya.
Demikian Glagah Putih dan Rara Wulan terpisah dari iring-iringan pengantin itu, maka merekapun berjalan semakin cepat. Mereka masih mencoba untuk sampai di Mataram tengah hari, meskipun agaknya mereka akan melampaui batas itu meskipun tidak terlalu jauh.
“Bukankah kita akan menghadap Ki Patih di rumahnya?” bertanya Rara Wulan.
“Ya. Kita akan menghadap Ki Patih di rumahnya.”
“Bukankah kita tidak terlalu terikat pada waktu. Jika kita sampai di rumah Ki Patih sebelum tengah hari, justru mungkin Ki Patih masih berada di istana.”
Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Mungkin kita masih harus menunggu.”
Dengan demikian, maka merekapun menjadi tidak terlalu tergesa-gesa lagi. Meskipun demikian, mereka masih saja berjalan dengan cepat agar segera sampai di Mataram.
Menjelang tengah hari mereka bertemu dengan orang-orang yang pulang dari pasar. Diantara mereka adalah orang-orang yang menggendong bakul yang telah kosong. Atau sekedar berisi garam dan bumbu masak. Ketika berangkat ke pasar mereka membawa hasil kebun mereka. Ubi, pisang atau bahkan daun pisang. Setelah jualan mereka laku, maka merekapun pulang sambil membawa kebutuhan dapur yang mereka beli dengan hasil penjualan dagangan mereka.
Tetapi ketika matahari benar-benar sampai ke puncak, ternyata Glagah Putih dan Rara Wulan masih belum memasuki pintu gerbang Mataram, meskipun jaraknya sudah menjadi semakin dekat.
Tetapi karena keduanya akan menghadap Ki Patih dirumahnya, maka mereka menjadi tidak terlalu tergesa-gesa. Meskipun mereka tidak dapat sampai di dalem Kepatihan sebelum matahari sampai di puncak, namun mereka akan sampai sebelum matahari turun.
Beberapa saat kemudian, maka mereka berduapun telah memasuki pintu gerbang. Agaknya kawan-kawan mereka yang pernah bersama-sama mengikuti latihan khusus sebelum mereka ditetapkan menjadi prajurit, telah memasuki tugas mereka pula. Hari itu atau esok pagi. Tetapi mereka berada ditempat yang terpisah-pisah.
Beberapa saat kemudian, maka Glagah Putih dan Rara Wulan itupun telah sampai ke gerbang dalem kepatihan. Kebetulan prajurit yang bertugas di gerbang telah mengenal mereka dengan baik.
“Apakah Ki Patih ada?” bertanya Glagah Putih.
“Ki Patih pergi ke istana,” jawab prajurit itu, “tetapi sebentar lagi Ki Patih akan pulang. Marilah, silahkan pergi ke gerdu penjagaan untuk menunggu. Biasanya sebentar lagi Ki Patih pulang.”
“Terima kasih,” jawab Glagah Putih.
Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudian pergi ke gardu prajurit di halaman depan. Lurah Prajurit yang memimpin para prajurit yang bertugas itupun mempersilahkannya untuk duduk.
“Tunggu sebentar,” berkata Ki Lurah yang juga sudah mengenal Glagah Putih dan Rara Wulan dengan baik.
“Terima kasih,” jawab Glagah Putih.
Berdua merekapun kemudian duduk diantara para prajurit yang hari itu bertugas di dalem kepatihan.
“Apakah kalian sudah akan memasuki tugas kalian?” bertanya Ki Lurah.
“Hari ini aku diperintahkan untuk menghadap Ki Patih. Mungkin Ki Patih akan memberikan tugas-tugas tertentu kepada kami berdua.”
Ki Lurah itupun mengangguk-angguk. Sejak sebelum Glagah Putih dan Rara Wulan ditetapkan menjadi prajurit dengan Surat Kekancingan, keduanya memang sudah sering mendapat tugas-tugas khusus dari Ki Patih Mandaraka. Seperti Ki Rangga Agung Sedayu, Glagah Putih dan kemudian bersama isterinya telah mendapat kepercayaan yang tinggi dari Ki Patih Mandaraka.
Glagah Putih dan Rara Wulan ternyata tidak “harus menunggu terlalu lama. Beberapa saat kemudian, maka Ki Patihpun telah datang dari istana disertai dua orang pengawalnya.
“Ki Patih sudah menjadi semakin tua,” berkata Lurah Prajurit itu, “meskipun ia tetap seorang yang mumpuni, tetapi pengaruh umurnya atas kewadagannya tidak dapat dihentikan.”
Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk.
Sebenarnyalah Ki Patih Mandaraka memang sudah menjadi semakin tua. Ketika Ki Patih turun dari kudanya, maka kedua pengiringnya berada disebelah menyebelah kudanya. Seorang dari mereka memegangi kuda Ki Patih, sedangkan ketika Ki Patih turun dari kudanya, ia berpegangan kepada prajurit yang seorang lagi.
Sebelum Ki Patih naik ke pendapa kepatihan, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun telah melangkah mendekat.
“Ah, kalian berdua sudah berada disini,” sapa Ki Patih.
“Ya, Ki Patih, Ki Patih memerintahkan kami menghadap hari ini. Tetapi agaknya kami datang terlalu lambat.”
“Tidak. Bukankah kau datang lebih dahulu dari aku?” sahut Ki Patih sambil tersenyum.
“Seharusnya kami datang pagi-pagi sekali.”
Ki patih tertawa. Katanya kemudian, “Pergilah ke serambi kanan. Aku akan menerima kalian di serambi kanan.”
Glagah Putih dan Rara Wulan yang sudah sering menghadap di dalem Kepatihan sudah tahu benar, kemana mereka harus pergi.”
Keduanyapun kemudian masuk lewat pintu seketeng sebelah kanan dan kemudian lewat longkangan masuk ke serambi kanan.
Nampaknya Ki Patih Mandaraka masih berada di dalam, karena itu, merekapun harus menunggu beberapa saat.
“Ki Patih sudah kelihatan terlalu tua,” bisik Rara Wulan.
“Ki Patih memang sudah tua. Mungkin meskipun tidak terpaut banyak, Ki Patih sudah lebih tua dari Ki Gede Menoreh yang juga sudah kelihatan tua sekali. Dan yang juga sudah kelihatan sangat tua adalah ki Demang Sangkal Putung.
“Yang Maha Agung mengurniai umur panjang kepada mereka. Ki Gede Pemanahan, bahkan puteranya Kangjeng Panembahan Senapati sudah lebih dahulu di panggil Yang Maha Agung”
Pembicaraan merekapun segera terputus ketika Ki Patih Mandaraka memasuki serambi itu.
“Sudah lama kalian menunggu?” bertanya Ki Patih.
“Belum Ki Patih. Kami memasuki gerbang kota ketika Matahari sampai ke puncak.”
Ki Patihpun mengangguk-angguk. Iapun kemudian bertanya-kalian tentu berangkat pagi-pagi sekali dari Tanah Perdikan Menoreh.”
“Kami memang berangkat pagi-pagi. Tetapi kami kehilangan waktu di penyeberangan Kali Praga.”
Ki Patihpun mengangguk-angguk ketika Glagah Putih menceriterakan apa yang ditemuinya di kali Praga.
“Baiklah,” berkata Ki Patih kemudian, “kalian beristirahat disini dan malam nanti bermalam disini pula. Nanti malam aku akan menyampaikan perintah kepada kalian, apa yang harus kalian lakukan.”
Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk hormat. Dengan nada dalam Glagah Putihpun menjawab, “Sendika, Ki Patih.”
Glagah Putih dan Rara Wulan tidak baru sekali itu bermalam di kepatihan. Karena itu, maka rasa-rasanya mereka sudah terbiasa. Ketika Ki Patih memanggil seorang abdi agar mereka menunjukkan bilik bagi Glagah Putih dan Rara Wulan, maka keduanyapun segera mengundurkan diri dari serambi.
“Beristirahatlah. Aku juga akan beristirahat. Aku sudah terlalu tua, sehingga aku harus banyak beristirahat. Tubuhku, ternyata tidak dapat aku kendalikan sesuka hatiku,” berkata Ki Patih sambil tersenyum.
Diluar sadarnya Glagah Putih mengangkat wajahnya menatap Ki Patih yang memang sudah nampak semakin tua. Meskipun demikian sinar mata Ki Patih masih tetap bercahaya.
Sejenak kemudian, maka Glagah Putih dan Rara Wulan telah berada di dalam sebuah bilik yang berada di bagian belakang gandok sebelah kanan menghadap ke longkangan. Dari bilik itu, Glagah Putih dan Rara Wulan dapat melihat longkangan yang diatur dengan manis. Beberapa batang pohon bunga tumbuh bergerombol menurut jenisnya . Ada bunga berwarna merah, putih, ungu dan berwarna-warni. Ada beberapa batang pohon anggrek yang menempel pada batang pohon yang sudah terpotong. Bunganya berwarna kuning berbintik-bintik.
“Aku kerasan tinggal disini,” desis Rara Wulan.
“Jika kelak aku menjadi Patih di Mataram, kita juga akan membangun taman seperti ini.”
“Ah, kakang. Kenapa harus menunggu setelah menjadi Patih? Apakah rakyat kebanyakan tidak berhak membangun sebuah taman? Kakang memang tidak pernah tertarik pada keindahan. Jika kelak kita mempunyai rumah sendiri dan tidak lagi tinggal bersama kakang Agung Sedayu, kita dapat membuat taman. Tetapi agaknya kakang lebih suka tidur diwaktu luang daripada mengatur taman.”
Glagah Putih tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.
Demikianlah, hari itu Glagah Putih dan Rara Wulan berada di kepatihan. Mereka berada diantara para abdi yang sibuk melakukan tugas mereka masing-masing di halaman belakang.
Tetapi Glagah Putih dan Rara Wulan tidak dapat makan bersama para abdi, karena bagi mereka telah disiapkan makan ditempat tersendiri.
Ketika kemudian malam turun, setelah Glagah Putih dan Rara Wulan mandi dan berbenah diri, maka Ki Patih Mandaraka telah memanggil mereka untuk menghadap di serambi.
Glagah Putih dan Rara Wulan sadar, bahwa mereka akan menerima perintah langsung dari Ki Patih Mandaraka tanpa melampaui salah seorang Senapati.
Ketika Glagah Putih dan Rara Wulan memasuki serambi, Ki Patih sedang duduk menghadapi hidangan makan malam. Dengan ramah Ki Patih itupun kemudian berkata, “Marilah Glagah Putih dan Rara Wulan. Kita akan makan aersama.”
Keduanya sebenarnya merasa sangat segan untuk makan bersama Ki Patih Mandaraka. Karena itu, maka Rara Wulanpun berkata, “Terima kasih, Ki Patih. Biarlah kami makan malam di belakang saja.”
Ki Patih tertawa pendek. Katanya, “Aku sudah mengira, bahwa kalian tentu akan segan makan malam bersamaku. Tetapi aku sengaja melakukannya, karena sambil makan aku akan menceriterakan sebuah dongeng kepada kalian. Orang-orang tua memang berpesan, jangan bicara selagi makan, karena jika terjadi gangguan di tenggorokan, seseorang akan dapat tersedak dan bahkan terbatuk-batuk. Tetapi makan sambil berbicara justru akan dapat menambah selera sehingga makanpun akan menjadi bertambah banyak.”
‘Glagah Putih dan Rara Rulanpun tertawa pula. Bahkan dengan demikian merekapun tidak dapat menolak lagi untuk makan bersama Ki Patih Mandaraka.
Demikianlah, selagi makan malam, Ki Patihpun menyelingi dengan sebuah ceritera tentang seorang yang berilmu sangat tinggi, yang pada saat terakhir telah meninggalkan pertapaannya di kaki Gunung Merapi.
“Pertapa itu telah pergi ke Timur,” berkata Ki Patih Mandaraka.
Glagah Putih dan Rara Wulan mendengarkan ceritera itu dengan saksama. Mereka sudah mengira, bahwa tugas yang akan dibebankan kepada mereka tentu berhubungan dengan orang yang diceriterakan itu.
“Orang itu mengaku dirinya sebagai Lembu Peteng dari Panembahan Senapati. Orang itu mengaku sakit hati karena Panembahan Senapati tidak pernah lagi menghubungi ibunya, apalagi dirinya. Karena itu, maka orang itupun telah bertapa di lereng Gunung Merapi di sisi sebelah Timur. Tetapi ternyata ia tidak sekedar bertapa, tetapi ia sudah menghimpun banyak orang untuk dijadikan muridnya. Kepada mereka, orang itu mengaku bahwa ia adalah putera Kangjeng Panembahan Senapati. Tetapi karena ia tidak sependapat dengan Kangjeng Panembahan Senapati tentang cara memerintah Mataram, maka ia merasa lebih baik menyingkir.”
Ki Patih Mandaraka itupun berhenti sejenak. Iapun minum seteguk. Agaknya sambal lombok goreng dengan udang laut itu agak terlalu pedas baginya.
“Marilah. Makanlah. Jangan hanya mendengarkan ceriteraku saja.”
Glagah Putih dan Rara Wulanpun menjawab hampir bersamaan, “Ya, Ya. Ki Patih.”
Sebenarnya bahwa nasi sayur dan lauk-pauknya yang dihidangkan sangat menarik. Ikan, daging, telur, sayur kangkung dan sambal lombok goreng dengan udang laut yang terhitung besar-besar.
Namun Glagah Putih sempat juga bertanya, “Tetapi apakah benar orang itu Lembu Peteng dari Panembahan Senapati?”
“Tentu bukan,“ Ki Patih Mandaraka menggeleng, “Panembahan Senapati tidak pernah menterlantarkan putera-puteranya. Aku adalah pemomongnya sejak panembahan Senapati masih remaja. Aku mengenalnya dengan baik. Aku mengenal isteri-isterinya dan anak-anaknya. Orang yang mengaku putera Panembahan Senapati itu justru bukan put-eranya. Orang itupun tidak dapat menunjukkan siapakah ibunya. Katanya ibunya meninggal ketika ia masih remaja.”
Glagah Putih mengangguk-angguk sambil bergumam, “Orang itu telah membuat ceritera palsu.”
“Ya. Tetapi menurut laporan yang aku terima, orang itu memang seorang yang berilmu sangat tinggi. Apalagi setelah ia menjalani laku di lereng Timur Gunung Merapi itu”
Glagah Putih dan Rara Wulan mendengarkan setiap kata Ki Patih Mandaraka itu dengan seksama, sehingga mereka memang sedikit sekali menyuapi mulut mereka.
“Adapun tugas kalian, Glagah Putih dan Rara Wulan. Menemukan orang itu. Satu kemungkinan orang itu akan melanjutkan laku yang dijalaninya di daerah Timur.”
Glagah Putih dan Rara Wulan menarik nafas panjang. Dengan nada dalam Glagah Putihpun bertanya, “Apakah ada sedikit petunjuk yang dapat kami pakai sebagai landasan pencaharian kami, Ki Patih.”
Ki Patih tersenyum. Katanya, “Nanti aku akan melanjutkan ceriteraku. Sekarang kita selesaikan makan malam kita.”
Glagah Putih dan Rara Wulan berpandangan sejenak. Namun kemudian mereka melanjutkan makan mereka. Demikian pula Ki Patih Mandaraka yang ternyata masih kepedasan.
Namun akhirnya merekapun selesai. Dua orang abdi telah menyingkirkan mangkuk yang kotor serta membersihkan tempat itu.
Baru kemudian Ki Patih serta Glagah Putih dan Rara Wulan melanjutkan pembicaraan mereka.
“Glagah Putih dan Rara Wulan. Sebenarnya kami tidak mempunyai petunjuk yang dapat memberikan arah pencaharian kalian. Tetapi ada satu peristiwa yang mungkin mempunyai hubungan dengan kepergian orang itu ke Timur.
“Peristiwa apa Ki Patih?”
“Seperti kita mencemaskan keselamatan Kangjeng Pangeran Puger saat berangkat ke Demak pada saat Ki Saba Lintang masih berkeliaran di berbagai tempat. Karena itu kita memberikan pengawalan sebaik-baiknya. Meskipun akhirnya Ki Saba Lintang berhasil menyusup dan mempengaruhi beberapa orang Senapati Demak sehingga timbul ketegangan antara Demak dan Mataram.”
Glagah Putih dan Rara Wulan masih saja mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
“Sekarang, Sinuhun Mataram telah menetapkan Pangeran Jayaraga untuk memangku jabatan kepemimpinan di Panaraga.”
“Apakah orang yang pergi ke Timur itu mungkin akan mengganggu perjalanan Pangeran Jayaraga?”
“Tidak. Pangeran Jayaraga sudah berada di Panaraga. Demikian Pangeran Jayaraga ditetapkan memegang pimpinan pemerintahan di Panaraga, maka orang yang mengaku putera Panembahan Senapati itu menghilang dan menurut beberapa keterangan, telah pergi ke Timur.”
“Apakah ada hubungan antara orang itu dengan Pangeran Jayaraga?”
“Jika orang itu mengaku putera Panembahan Senapati maka ia adalah saudara laki-laki Pangeran Jayaraga. Mungkin orang itu tidak akan mengganggu Pangeran Jayaraga. Tetapi orang itu dapat membuat ceri-tera-ceritera aneh yang sengaja untuk mempengaruhi sikap Pangeran Jayaraga.”
“Tetapi bukankah Pangeran Jayaraga seorang yang sudah matang berpikir dan bertindak, sehingga ia tidak akan mudah terpengaruh oleh siapapun juga.”
“Ya. Memang tidak mudah untuk mempengaruhi Pangeran Jayaraga. Tetapi mungkin dengan pengakuannya itu ia akan dapat mempengaruhi orang lain di sekitar Pangeran Jayaraga itu.”
Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk, sementara Ki Patih itu berkata selanjutnya, “Tetapi inipun baru dugaan. Mungkin orang itu sama sekali tidak menyentuh Pangeran Jayaraga. Atau bahkan orang itu tidak pergi ke Timur sebagaimana keterangan yang sempat aku dengar.”
“Ki Patih,” bertanya Glagah Putih kemudian, “siapakah nama orang yang mengaku putera Panembahan Senapati itu?”
“Ia menyebut namanya Pangeran Ranapati. Tetapi sebagai pertapa ia menamakan diri Ki Singa Wana.”
“Bahkan mungkin ia mempunyai sebutan yang lain lagi,” desis Rara Wulan.
“Ya, mungkin sekali. Tetapi ciri orang itu tubuhnya tinggi besar, berkulit sawo matang, tetapi nampak bersih, sehingga ia pantas menyebut dirinya seorang bangsawan.”
Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk pula. Sedangkan Ki Patih berkata selanjutnya, “Glagah Putih dan Rara Wulan. Sebenarnyalah bahwa aku sendiri belum pernah bertemu dengan orang itu. Tetapi aku bertemu dengan orang yang melakukan pengamatan khusus atas orang itu. Selain orang itu bertubuh tinggi besar dan berkulit sawo matang, sinar matanya nampak tajam bagaikan langsung menusuk sasarannya. Sikap dan gaya bicaranya sareh dan tenang. Bahkan kadang-kadang terasa lembut. Ketika ia berada di lereng Timur Gunung Merapi, wajahnyapun nampak bersih. Tidak ada selembar kumis dan janggutnya. Tetapi kumis dan janggut itu dapat tumbuh dalam waktu singkat, sehingga wajah itu akan dapat segera terlindung oleh lebatnya kumis, jambang dan janggut.”
“Ciri-ciri yang Ki Patih sebutkan, bagi kami lebih penting dari nama orang itu. Mudah-mudahan kami dapat menemukannya. Mula-mula kami akan berada di sekitar keberadaan Pangeran Jayaraga. Mudah-mudahan orang itu juga berusaha untuk dapat menyentuh Pangeran Jayaraga.”
“Baiklah, Glagah Putih dan Rara Wulan. Aku tahu bahwa tugas ini adalah tugas yang berat bagi kalian. Meskipun orang itu tidak memiliki banyak pengikut sebagaimana Ki Saba Lintang, tetapi aku kira orang ini tidak kalah berbahayanya dengan Ki Saba Lintang itu. Pengakuannya bahwa Panembahan Senapati telah menter-1 antarkan ibunya dan dirinya sendiri, telah membayangkan sikap permusuhannya. Tentu bukan dendam karena ibu dan dirinya sendiri diterlantarkan. Tentu ada alasan lebih kecuali dendam itu sendiri.”
“Ya, Ki Patih. Orang itu tentu tidak dapat mendendam Panembahan Senapati karena alasan bahwa ibu dan dirinya sendiri diterlantarkan adalah alasan yang dibuat-buat.”
“Kecuali jika ada seorang perempuan yang membohonginya. Seorang perempuan yang mengaku dirinya telah diterlantarkan oleh Panembahan Senapati, sehingga dendam itu bagi orang yang mengaku Pangeran Ranapati itu adalah satu kebenaran. Dengan demikian maka perempuan itulah yang telah membuat kesaksian dusta yang harus dikutuk.”
“Ya, Ki Patih.”
“Dan perempuan itu adalah ibu orang yang mengaku sebagai Pangeran Ranapati itu.”
Glagah Putih dan Rara Wulan menarik nafas panjang. Mereka harus terjun ke tepian untuk mencari sebutir pasir diatasnya diantara tebaran pasir yang tidak terhitung jumlahnya.
Tetapi Glagah Putih dan Rara Wulan akan dapat menghubungkan kepergian Pangeran Ranapati ke Timur itu bersamaan atau dalam waktu yang terhitung dekat dengan penugasan Pangeran Jayaraga di Panaraga.
Namun jika dusta itu datang dari ibu Pangeran Ranapati, maka perempuan itu sudah tidak ada lagi karena menurut orang yang mengaku Pangeran Ranapati itu mengatakan bahwa ibunya sudah meninggal.
Demikianlah, malam itu Ki Patih Mandaraka telah memberikan keterangan sejauh diketahuinya tentang orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati. Bahkan Ki Patih dapat memberikan sedikit gambaran tentang ilmunya yang tinggi. Bahwa Pangeran Ranapati memiliki berbagai macam ilmu yang kiri sudah jarang dikenal lagi.
“Glagah Putih dan Rara Wulan. Aku belum bermaksud memerintahkan kalian berangkat esok pagi. Aku ingin kau melengkapi bekalmu sebelum kau melawat ke Timur. Aku harus yakin, bahwa kau dan Rara Wulan memiliki ilmu yang mantap untuk melaksanakan tugasmu itu.“
“Apa yang harus kami lakukan, Ki Patih?”
“Aku tahu, bahwa ilmumu sudah menjadi semakin meningkat. Tetapi aku masih ingin mengamati langsung ilmu kalian berdua di sanggar.”
Glagah Putih dan Rara Wulan menarik nafas panjang. Namun mereka merasakan satu kebanggaan, bahwa Ki Patih langsung sangat memperhatikan bekal mereka untuk menjalankan tugas mereka.
“Glagah Putih dan Rara Wulan,” berkata Ki Patih kemudian, “jika tugas ini aku bebankan kepadamu, bukan maksudku untuk menjerumuskan kalian kedalam tugas yang sangat berat. Tetapi justru karena aku tidak percaya kepada orang lain. Bahkan kepada para prajurit yang berpangkat lebih tinggi dari pangkatmu. Apalagi prajurit-prajurit yang mendapat wisuda bersama kalian. Jika aku menugaskan kalian, maka aku berpengharapan, bahwa kalian akan dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik.”
“Ki Patih,” bertanya Glagah Putih, “jika kerai sudah menemukan orang itu, apa yang harus kami lakukan? Apakah kami harus menangkapnya dan membawa pulang ke Mataram? Apapula yang harus kami lakukan, jika kami temui orang itu pada saat orang itu tidak membuat kesalahan apapun, bahwa orang itu melakukan kebaikan bagi sesamanya.”
“Bawa orang itu kembali ke Mataram. Jika ia berbuat kebaikan dan tidak pantas dihukum, maka orang itu harus kau ajak dengan cara yang baik. Aku yakin bahwa ia tidak akan menolak. Tetapi jika sebaliknya, maka terserah caramu agar kau dapat membawanya pulang.”
Glagah Putih dan Rara Wulanpun menarik nafas panjang.
Tetapi Glagah Putih masih juga bertanya, “Ampun Ki Patih, bahwa kami tidak dengan cepat tanggap akan tugas kami. Kami masih ingin bertanya, apa yang harus kami lakukan jika Pangeran Ranapati yang mungkin melakukan tindak kejahatan itu menolak untuk pergi bersama kami kembali ke Mataram.
“Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat aku selalu saja memilih kalian berdua untuk menjalankan tugas-tugas khusus. Kalian akan melakukan tugas kalian dengan teliti. Kalian akan melihat sasaran kalian dari segala segi dan segala kemungkinan. Hal seperti itu jarang dilakukan oleh orang lain. Yang aku tahu, kecuali kau, kakak sepupumu yang berada di Tanah Perdikan Menoreh itulah yang juga berbuat demikian. Mungkin cara pandang kalian terhadap lingkungan disekitar kalian saling mempengaruhi. Tetapi karena kakak sepupumu itu lebih tua, maka sikap-nyalah yang lebih banyak mempengaruhi sikapmu.”
Glagah Putih tidak menyahut. Justru kepalanya menunduk dalam-dalam. Ia memang tidak dapat ingkar, bahwa sifat dan sikap ki Rangga Agung Sedayu banyak mempengaruhi sikapnya. Bahkan pandangan kehidupannya terasa sangat berpengaruh padanya pula. Untunglah bahwa pengaruh itu bukan pengaruh yang buram.
“Glagah Putih,” berkata Ki Patih kemudian, “pada dasarnya, aku ingin membersihkan nama Panembahan Senapati yang telah dipergunakan oleh orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu. Tentu saja pengakuan Pangeran Ranapati itu tidak sah. Jika ia berbuat sesuatu yang tidak terpuji dengan menyangkutkan nama Panembahan Senapati, maka pengaruh perbuatannya itu akan memercik pula pada nama Panembahan Senapati, pada keturunannya dan bahkan akan mengotori semua gelar yang dilakukan oleh Mataram. Sementara itu, salah seorang putera Panembahan Senapati akan berada dan memangku pemerintahan di Panaraga. Karena itu, kau akan dapat membuat pertimbangan-pertimbangan setelah kau mengamati langsung apa yang telah dilakukannya.”
Glagah Putih menarik nafas panjang. Ia sadar, bahwa banyak kemungkinan akan dihadapinya. Orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu dapat saja langsung mengganggu kedudukan Pangeran Jayaraga. Tetapi ia juga dapat berlaku sebaliknya. Mendukung dan membantunya, tetapi dengan pamrih tertentu. Atau melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela dengan mengaku sebagai saudara tua Adipati Panaraga, sehingga tidak ada yang berani mencegah perbuatannya itu.
Namun ketika malam menjadi semakin malam, maka Ki Patih Mandarakapun berkata, “Glagah Putih dan Rara Wulan. Malam sudah larut. Beristirahatlah. Mungkin kalian merasa letih. Tetapi yang jelas merasa letih adalah aku sendiri. Wadagku sudah menjadi semakin rapuh.”
Demikian, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun mohon diri untuk pergi ke biliknya.
“Selamat tidur kalian berdua.”
“Terima kasih, Ki Patih.”
Namun keduanya tidak segera dapat tidur di biliknya. Glagah Putih dan Rara Wulan masih berbicara tentang berbagai kemungkinan yang dapat dilakukan oleh orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati yang mengaku putera Lembu Peteng dari Panembahan Senapati. Putera yang seakan-akan disingkirkan dari lingkungan istana dan tidak mendapat kedudukan sebagaimana putera Panembahan Senapati yang lain. Bahkan tidak diakuinya sebagai puteranya.
“Dengan demikian, banyak pula kemungkinan yang harus kita lakukan, kakang,” desis Rara Wulan.
“Ya. Kita dapat menentukan apa yang harus kita lakukan setelah kita melihat, apa pula yang telah dilakukan oleh Pangeran Ranapati.”
“Sungguh satu tugas yang tidak dapat diperhitungkan lebih dahulu.”
“Meskipun demikian, tentu ada landasan berpikir Ki Patih Mandaraka, bahwa kita harus melacak Pangeran Ranapati. Bahwa ia mengaku putera Panembahan Senapati yang diasingkan itu sudah satu kesalahan. Sikap dan perbuatannya pada saat Pangeran Ranapati itu bertapa di lereng Timur Gunung Merapi tentu sudah mengandung cela. Sehingga karena itu, maka perjalanannya ke Timurpun harus dilacak.”
“Ya. Justru pada saat Pangeran Jayaraga mendapat tugas di Panaraga.”
Namun tiba-tiba saja Rara Wulan itupun berkata, “Untunglah bahwa kita tidak pergi bersama Ki Jayaraga. Namanya akan dapat menyaingi nama Pangeran Jayaraga yang mendapat tugas di Panaraga itu.
“Ki Jayaraga tentu lebih senang berada di sawah daripada harus menjadi seorang pemimpin pemerintahan. Hidupnya sudah menyatu dengan lumpur serta diwarnai oleh hijaunya tanaman di sawah. Jika Ki Jayaraga itu dipisahkan dengan bulak-bulak persawahan, maka ia akan berduka sepanjang umurnya.”
Rara Wulan tersenyum. Katanya, “Ya. Hidupnya sudah lekat dengan sawah, ladang dan pategalan.”
“Sudahlah. Kita akan beristirahat. Jika aku tidak salah dengar, kita harus berada di sanggar esok. Karena itu, kita sebaiknya segera tidur.”
Rara Wulanpun mengangguk-angguk.
Sejenak kemudian keduanyapun telah membaringkan dirinya. Glagah Putihlah yang telah tertidur lebih dahulu. Terdengar nafasnya mengalir dengan teratur. Sementara wajahnya nampak tenang seakan-akan tidak ada lagi beban yang dipikulnya.
“Kakang berhasil meletakkan semua bebannya dan tidur daiam kedamaian,” berkata Rara Wulan didalam hatinya. Iapun kemudian memejamkan matanya pula. Sesaat kemudian, maka Rara Wulanpun telah tertidur dengan nyenyaknya pula.
Pagi-pagi sekali keduanya telah terbangun. Semalam mereka dapat tidur nyenyak tanpa terbangun sama sekali, sehingga dengan demikian tubuh merekapun terasa menjadi segar.
Namun ternyata keduanya tidak selalu dapat tidur nyenyak seperti malam itu. Kadang-kadang mereka tidak segera dapat melepaskan beban perasaan yang mereka usung, sehingga mereka menjadi gelisah di pembaringan.
Di dalem Kepatihan Glagah Putih dan Rara Wulan tidak dapat melakukan kerja apa-apa di pagi hari. Semua perkejaan sudah dilakukan oleh para abdi. Oleh orang-orang yang melakukan pekerjaan itu sehari-hari. Jika Glagah Putih dan Rara Wulan melakukan sesuatu, maka seorang abdi akan menjadi kebingungan karena ia kemudian tidak mengerjakan apa-apa.
Karena itu, Glagah Putih tidak dapat menimba air untuk mengisi pakiwan, karena abdi yang bertugas sudah melakukannya. Rara Wulan juga tidak dapat membantu menyapu halaman. Seorang abdi justru melarangnya agar ia tidak melakukannya.
Dengan demikian, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudian bergantian mandi lalu berbenah diri.
Ketika mereka turun ke longkangan, mereka justru melihat Ki Patih Mandaraka memasuki pintu longkangan dari halaman depan.
Sambil mengangguk hormat Glagah Putihpun bertanya, “Ki Patih Mandaraka sudah bangun pula sepagi ini.”
“Setiap hari aku bangun pagi-pagi sekali. Menjelang fajar aku sudah berjalan-jalan di halaman depan. Kadang-kadang aku berjalan mengelilingi kepatihan beberapa kaki. Di dini hari terasa udara yang segar telah menyegarkan tubuh kita pula.”
“Ya, Ki Patih.”
“Agaknya kalian berdua juga bangun pagi-pagi sekali. Nampaknya kalian sudah mandi dan berbenah diri.”
“Ya, Ki Patih. Kami memang sudah mandi.”
“Suatu kebiasaan yang baik. Nah, sekarang kalianlah yang akan berjalan-jalan di sekeliling kepatihan ini. Akulah yang akan mandi.”
“Silahkan Ki Patih.”
Ki Patih Mandaraka itupun kemudian masuk ke serambi samping sementara Glagah Putih dan Rara Wulan keluar dari pintu longkangan dan turun ke halaman.
Beberapa buah lampu minyak masih menyala. Seorang prajurit di gardu para prajurit yang bertugas sedang memadamkan lampu minyak di sudut gardu. Sementara yang lainpun sedang berbenah diri. Pada saat matahari terbit akan berlangsung pergantian tugas dari para prajurit itu.
Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudiar. sempat berjalan-jalan di sekeliling dalem kepatihan . Mereka melihat-lihat pe taman an yang asri. Beberapa jenis pohon bunga yang langka. Demikian pula beberapa jenis pohon buah-buahan.
Ketika mereka sampai di seketeng, mereka melihat di tangga serambi, batu hitam yang merupakan bagian dari tangga itu, berlubang-lubang sebesar jari.
“Kenapa ?” bertanya Rara Wulan.
“Raden Rangga.”
“Kenapa dengan Raden Rangga?”
“Raden Rangga yang duduk di tangga ini menunggu kesempatan bertemu dengan Ki Patih, mempergunakan waktunya yang terasa menjemukan itu dengan melubangi batu hitam itu.”
“Dengan apa Raden Rangga melubangi batu itu?”
“Dengan jari-jarinya.”
“Dengan jari-jarinya?”
“Ya. Dengan jari-jarinya. Tindakannya itu dianggap salah oleh Ki Patih Mandaraka, karena Raden Rangga telah menunjukkan kelebihannya untuk menyombongkan dirinya. Karena itu, maka Ki Patihpun berkata kepada Raden Rangga, “Bukankah batu-batu itu keras wayah?”
“Ternyata setelah itu, maka batu itu menjadi lebih keras, sehingga Raden Rangga tidak dapat lagi melakukannya. Karena itulah, maka satu-satunya orang yang dianggap memiliki ilmu lebih tinggi dari Raden Rangga adalah Ki Patih Mandaraka.”
“Bagaimana dengan Panembahan Senapati sendiri?”
“Kangjeng Panembahan Senapati juga seorang yang tidak ada tandingnya. Tetapi sulit untuk mengatakan, siapakah yang lebih tinggi ilmunya. Panembahan Senapati atau Raden Rangga. Tetapi sebagai seorang putra, Raden Rangga sangat menghormati dan bahkan sangat takut kepada ayahandanya.”
Rara Wulan mengangguk-angguk. Namun terasa bulu-bulunya meremang ketika itu memperhatikan batu hitam yang menjadi seperti sarang lebuh dengan lubang-lubang sebesar jari.
Keduanyapun kemudian beranjak meninggalkan tempat itu. Tetapi langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara Ki Patih Mandaraka, “Wayah Rangga yang melakukan permainan yang mendebarkan itu. Ilmunya memang sangat tinggi dan bahkan rumit. Sulit untuk dapat mengenalinya.”
Glagah Putih dan Rara Wulanpun segera berbalik. Sambil mengangguk hormat Glagah Putihpun menyahut, “Kami sedang mengaguminya Ki Patih.”
“Glagah Putih,” berkata Ki Patih kemudian, “kau adalah kawan bermain wayah Rangga pada masa itu. Karena itu, maka setelah kau sendiri mencapai satu tataran ilmu yang tinggi, kau tentu dapat menggali kembali pengenalanmu atas ilmunya dengan penglihatan yang berbeda karena landas an ilmumu sendiri sudah cukup tinggi.”
Glagah Putih menarik nafas panjang. Selama ini ia memang tidak berusaha untuk menilai kembali pengenalannya atas ilmu Raden Rangga yang rumit itu, yang kadang-kadang tidak dapat dimengertinya. Namun kadang-kadang terasa sangat mengejutkan dan sulit untuk ditelusuri caranya berpikir sehingga dapat tumbuh gagasan-gagasan yang terasa aneh didalam unsur-unsur gerak ilmunya, sehingga orang lain sulit untuk menanggapinya.
“Baiklah,” berkata Ki Patih Mandaraka – bukankah kau sedang melihat-lihat lingkungan Kepatihan.”
“Ya, Ki Patih.”
Ki Patih itupun kemudian menghilang di serambi, sementara Glagah Putih dan Rara Wulan masih berdiri termangu-mangu. Tanpa sengaja keduanya memperhatikan sekali lagi batu hitam di tangga pintu serambi samping itu. Berlubang-lubang seperti sarang lebah. Ternyata jika dikehendaki pada waktunya, jari-jari Raden Rangga dapat menjadi kokoh melampaui besi baja.
Namun sejenak kemudian, keduanyapun meninggalkan batu yang berlubang-lubang seperti sarang lebah itu. Keduanyapun keluar dari longkangan dan berjalan di Halaman samping yang terhitung luas. Beberapa batang pohon sawo kecik membuat halaman itu menjadi sangat teduh di siang hari. Sedangkan halaman itu sendiri nampak bersih . Yang nampak hanyalah jalur-jalur sapu lidi dan satu dua tapak kaki.
Menjelang matahari terbit, seorang abdi menemui Glagah Putih dan Rara Wulan yang berada di halaman belakang, dibawah sebatang pohon belimbing lingir yang sedang berbuah. Buahnya yang kekuning-kuningan menempel pada batang pohon belimbing itu.
Di siang hari terik, maka belimbing lingir itu tentu terasa segar sekali.
Abdi yang menemui Glagah Putih dan Rara Wulan itu diperintahkan oleh Ki Patih untuk memanggil Glagah Putih dan Rara Wulan untuk menghadap di serambi samping.
Sejenak kemudian Glagah Putih dan Rara Wulanpun telah menghadap. Kembali mereka merasa sangat segan, karena Ki Patih mengajak mereka untuk makan pagi.
“Kami tidak terbiasa makan pagi, Ki Patih,” berkata Glagah Putih.
“Aku juga tidak terbiasa,” jawab Ki Patih sambil tersenyum, “tetapi nanti kita akan berada di sanggar. Mungkin sampai sore hari, sehingga kita sekarang makan pagi sekaligus makan siang.”
Glagah Putih dan Rara Wulanpun hanya dapat tersenyum pula.
Setelah makan pagi, maka Ki Patihpun telah berceritera banyak tentang Raden Rangga sehingga saat meninggalnya.
“Selama dalam perjalanan kau akan sempat mengenang Raden Rangga, Glagah Putih. Kaupun dapat berceritera kepada isterimu pengalamanmu selama kau kesan kemari bersama Raden Rangga. Pengembaraan kalian yang kadang-kadang kalian lakukan dengan alasan yang tidak sebagaimana para pengembara yang lain tentu dapat menjadi ceritera yang menarik.”
Baru kemudian, setelah mereka cukup beristirahat setelah makan, maka Ki Patihpun berkata, “Glagah Putih dan Raia Wulan. Agaknya matahari sudah memanjat naik. Marilah kita pergi ke Sanggar. Aku ingin melihat kalian berdua sekarang berada di tataran yang mana.”
Mereka bertigapun kemudian bangkit berdiri. Ki Patihpun kemudian membawa Glagah Putih dan Rara Wulan ke sanggar tertutup di halaman belakang kepatihan.
Sanggar Ki Patih Mandaraka, jauh berbeda dengan Sanggar-sanggar yang pernah di kenalnya. Agaknya sanggar Ki Patih Mandaraka itupun belum lama diperbaharui, dilengkapi dengan kelengkapan-kelengkapan yang lebih banyak dan lebih beraneka. Berbagai jenis senjata berada di sudut sanggar serta disangkutkan di dinding sekaligus merupakan hiasan yang memberikan sentuhan kebanggaan tersendiri.
“Kenali sanggar ini lebih dahulu,” berkata Ki Patih, “Nanti kita akan segera mulai mumpung masih pagi.”
Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudian melihat-lihat isi sanggar itu. Mereka mengamati beberapa jenis senjata. Kemudian berbagai macam peralatan yang ada. Dari palang-palang bambu, tonggak-tonggak dari yang besar sampai yang kecil dengan ketinggian yang tidak sama, sampai ke ayunan yang terdiri dari tambang sabut dan ijuk. Pasir, kerikil dan berbagai jenis bebatuan.
Glagah Putih dan Rara Wulan menjadi heran. Ki Patih Mandaraka sudah menjadi semakin tua. Tetapi sanggarnya justru menjadi semakin lengkap. Sementara putera-putera dan menantunya semuanya sudah tinggal di rumah mereka masing-masing. Mereka jarang sekali dan hampir tidak pernah datang ke dalem Kepatihan untuk mengasah ilmu mereka.
Bahkan tidak ada satupun diantara mereka yang pernah akrab dengan Raden Rangga.
Di luar sadarnya, Ki Patih Mandaraka memang pernah berdesah, justru karena putera-puteranya tidak ada yang dapat mewarisi ilmu sebagaimana yang dimilikinya. Meskipun mereka berilmu tinggi, tetapi mereka tidak memiliki kelebihan dari para Senapati yang lain di Mataram. Menurut Ki Patih Mandaraka, mereka tidak dapat diperbandingkan dengan Glagah Putih. Bahkan dengan isterinya, Rara Wulan.
Karena itu, untuk tugas-tugas yang sangat penting, Ki Patih Mandaraka, justru lebih percaya kepada Glagah Putih dan Rara Wulan, meskipun mereka tidak lebih dari prajurit baru, daripada kepada putera-puteranya.
Glagah Putih dan Rara Wulan memang tidak mendapatkan jawabnya tentang sanggar yang menjadi semakin lengkap itu.
“Glagah Putih dan Rara Wulan,” berkata Ki Patih Mandaraka kemudian, “setelah kalian cukup beristirahat setelah makan, maka marilah kita akan mulai perlahan-lahan. Aku akan menjadi penonton yang baik karena aku sudah terlalu tua untuk ikut bermain. Meskipun jantungku tetap saja bergejolak, tetapi wadagku tidak dapat aku paksa lagi.”
“Baik, Ki Patih,“ sahut Glagah Putih dan Rara Wulan hampir berbareng.
“Sekarang bersiaplah.”
Glagah Putihpun segera membenahi pakaiannya. Disingsingkannya lengan bajunya serta kain panjangnya. Demikian pula Rara Wulan, sehingga yang nampak kemudian adalah pakaian khususnya.
“Aku ingin melihat kalian bermain seorang-seorang lebih dahulu. Tidak dengan senjata. Baru kemudian aku akan melihat kalian berdua bermain bersama.”
“Baik, Ki Patih,” jawab keduanya.
“Ikat pinggangmu itu masih ada padamu?” bertanya Ki Patih Mandaraka.
“Masih, Ki Patih. Ikat pinggang itu akan selalu ada padaku. Kapan saja.”
“Bagus. Kau masih bersenjata selendangmu, Rara Wulan,” berkata Ki Patih pula.
“Ya, Ki Patih.”
“Nah, sekarang aku minta Glagah Putih bermain lebih dahulu. Baru kemudian Rara Wulan. Setelah itu kalian akan bermain bersama-sama.”
Glagah Putihpun kemudian segera mempersiapkan diri di tengah-tengah sanggar yang luas itu. Perlahan-lahan ia mulai bergerak. Tangannya terangkat kedepan, sementara kedua kakinya sedikit merendah pada lututnya.
Demikianlah, maka Glagah Putihpun mulai menggerakkan tangan dan kakinya. Mula-mula perlahan-lahan, namun semakin lama semakin cepat dan bertenaga. Ayunan tangan dan kaki Glagah Putih mulai menimbulkan arus udara ke sekitarnya.
Ki Patih Mandaraka memperhatikannya dengan saksama. Bahkan kemudian setiap unsur gerakpun tidak luput dari penilaiannya.
Demikianlah, beberapa saat kemudian, maka permainan Glagah Putihpun telah meningkat semakin tinggi. Semakin lama Glagah Putihpun semakin menunjukkan, betapa ia benar-benar seorang yang berilmu sangat tinggi.
Meskipun tidak setingkat dengan ilmu Raden Rangga yang sulit diamati, namun ilmu Glagah Putihpun merupakan ilmu yang sangat tinggi. Sementara itu, Ki Patih Mandarakapun meyakini, bahwa di samping ilmu yang diungkapkannya pada waktu itu, Glagah Putih tentu masih memiliki ilmu pamungkasnya.
Ki Patih Mandaraka adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Karena itu, meskipun Glagah Putih masih belum melontarkan ilmu pamungkasnya, namun Ki Patih Mandaraka telah dapat membayangkannya, seberapa tingkat ilmu pamungkas Glagah Putih itu.
Tetapi lebih dari itu, ada di antara unsur gerak Glagah Putih yang sangat rumit. Namun unsur itu dapat dikenalnya. Unsur gerak itu adalah unsur gerak aliran sebuah perguruan yang sudah lama tidak terdengur namanya. Namun unsur gerak itu, memang merupakan unsur gerak dalam tataran yang sangat tinggi dalam olah kanuragan.
Beberapa saat kemudian, maka Glagah Putih telah melepaskan ilmunya sampai tuntas selain ilmu pamungkasnya. Demikian cepatnya Glagah Putih bergerak, sehingga sulit diikuti dengan mata kewadagan. Kakinya yang berloncatan itu seakan-akan tidak menyentuh tanah, sehingga Glagah Putih itu bagaikan terbang berkeliling. Ternyata kemampuannya yang saling mendukung itu membuatnya seakan-akan dapat terbang.
Tenaga yang timbul dari lontaran serangannya yang dilambari ilmunya menjadi sangat kuat, sehingga udara yang bergetarpun rasa-rasanya menjadi panas.
“Luar biasa,” desis Ki Patih Mandaraka.
Namun Ki Patihpun kemudian memberikan isyarat, agar Glagah Putihpun mulai menyusut ilmunya sehingga akhirnya berhenti sama sekali. Sambil menarik dan melepaskan nafas panjang, Glagah Putihpun kemudian mengangguk hormat kepada Ki Patih Mandaraka.
“Luar biasa. Aku tidak memujimu karena kau ada di hadapanku. Tetapi ternyata ilmumu sudah menjadi semakin mantap.”
“Terima kasih, Ki Patih.”
“Aku belum akan memberikan penilaianku lebih dahulu. Aku sekarang minta Rara Wulan juga menunjukkan kemampuannya.”
Rara Wulan menarik nafas panjang. Tetapi iapun sudah siap untuk memenuhi permintaan Ki Patih Mandaraka sebagaimana baru saja dilakukan oleh Glagah Putih.
Ternyata Rara Wulanpun telah membuat Ki Patih Mandaraka berbangga. Perempuan yang telah menjadi i teri Glagah Putih itupun memiliki ilmu yang sangat tinggi pula. Meskipun masih juga ada jarak antara kemampuannya dengan kemampuan Glagah Putih, tetapi kemampuan Rara Wulan yang ditunjukkan kepada Ki Patih itu sulit untuk ditandingi.
Beberapa unsur gerak yang nampak pada ilmu Glagah Putih nampak pula pada ilmu Rara Wulan yang nyaris sama, meskipun dibangun di atas alas yang berbeda.
Ki Patih Mandaraka menggelengkan kepalanya ketika iapun melihat betapa Rara Wulan dapat bergerak sangat cepat pula. Seperti Glagah Putih, maka kaki Rara Wulan seakan-akan tidak lagi menyentuh tanah. Sambaran angin pada setiap gerak tubuhnyapun terasa memancarkan tenaga yang kuat dan memanasi udara di sekitarnya.
“Keduanya telah menekuni ilmu yang sudah jarang terdapat di bumi Mataram,” berkata Ki Patih Mandaraka di dalam hatinya.
Tetapi ilmu yang sudah jarang dikenali itu justru akan dapat menjadi senjata yang sangat berbahaya. Unsur-unsur geraknya akan dapat mengejutkan lawan-lawan mereka, jika mereka terpaksa harus mempergunakannya.
“Wayah Rangga juga sering mengejutkan lawan-lawannya karena unsur-unsur geraknya yang tidak dikenal sama sekali oleh lawannya atau bahkan tidak diduga sama sekali. Bahkan kadang-kadang ada yang berkesan seenaknya saja. Namun menimbulkan akibat yang sangat menyulitkan lawannya. Sementara itu, unsur-unsur gerak Glagah Putih yang sudah jarang dikenali itu juga dapat menimbulkan kejutan bagi lawan-lawannya, karena mereka tidak memperhitungkan dan bahkan tidak menduga sebelumnya,” berkata Ki Patih di dalam hatinya.
Demikianlah, Rara Wulan telah menunjukkan kepada Ki Patih Mandaraka, kemampuannya yang sangat tinggi. Sebagai seorang perempuan yang masih terhitung muda, maka Rara Wulan agaknya telah mendahului orang-orang terbaik.
Beberapa saat kemudian, setelah Ki Patih Mandaraka sempat memperhatikan ilmu Rara Wulan dari berbagai sisi, maka Ki Patih telah mengisyaratkan agar Kara Wulan perlahan-lahan menghentikan permainannya yang sangat menarik itu.
Demikianlah, maka setelah beristirahat sejenak, maka Ki Patih Mandarakapun mempersilalikan Glagah Putih dan Rara Wulan berdiri di tengah-tengah sanggar itu.
“Aku ingin melihat kalian berdua berlatih bersama. Aku ingin melihat kalian memanfaatkan peralutun sanggar yang ada, sehingga aku dapat melihat kecepatan gerak serta ketrampilan kalian sepenuhnya.”
Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk.
Mereka sadar, bahwa Ki Patih Mandaraka benar-benar ingin meyakinkan dirinya, bahwa orang yang dipilihnya untuk menyelesaikan tugas khusus yang berat itu tidak salah.
Karena itu, maka Glagah Putih dan Rafa Wulan sadar pula, bahwa mereka harus bersikap jujur agar Ki Patih Mandaraka mendapat penilaian yang benar atas diri mereka.
Jika mereka kemudian menumpahkan kemampuan dan ilmu mereka, sama sekali bukan dimaksudkan untuk menyombongkan diri, tetapi mereka berniat untuk membuka diri apa adanya. Apakah mereka memang pantas untuk mengemban tugas itu atau kurang memenuhi syarat.
“Nah,” berkata Ki Patih Mandaraka, “lakukan. Aku ingin melihat seutuhnya. Tentu saja bukan ilmu pamungkas kalian berdua, karena tanpa menyaksikanpun aku sudah dapat memperhitungkannya atas dasar pengamatanku atas ilmu kalian yang sempat kalian perlihatkan kepadaku.”
Demikianlah, maka keduanya pun segera mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Meskipun pakaian mereka telah menjadi basah oleh keringat, tetapi keduanya masih nampak segar. Tenaga mereka rasa-rasanya masih tetap utuh sebagaimana mereka baru mulai.
Sejenak kemudian, maka Glagah Putih dan Rara Wulan itupun mulai berloncatan. Mula-mula mereka bergerak perlahan-lahan. Namun semakin lama menjadi semakin cepat. Selapis demi selapis merekapun meningkatkan ilmu mereka.
Beberapa saat kemudian, maka. keduanya telah terlibat dalam permainan yang mendebarkan. Rasa-rasanya mereka tidak sedang berlatih bersama. Tetapi rasa-rasanya keduanya benar-benar telah terlibat dalam pertarungan yang sangat seru.
Bahkan keduanyapun telah berloncatan dan saling menyerang di atas patok-patok yang tidak sama besar dan tingginya. Bahkan sekali-sekali merekapun telah berayun saling memburu. Sambil berputar di udara, merekapun berloncatan dari tali ayunan dan jatuh di tanah dengan lunak seperti seekor kucing yang meloncat dari atas atap rumah.
Sementara itu benturan-benturan telah terjadi. Tenaga merekapun menjadi berlipat dengan lambaran tenaga dalam.
Rasa-rasanya sanggar yang luas itu telah terguncang oleh getar serta hentakan-hentakan mereka.
Ki Patih Mandaraka mengangguk-angguk. Ia merasa puas dengan tingkat ilmu kedua orang suami isteri yang akan mendapat kepercayaan melawat ke Timur untuk menemukan orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati.
Untuk beberapa saat lamanya, Glagah Putih dan Rara Wulan menunjukkan kemampuan mereka. Merekapun telah menggelar unsur-unsur gerak yang paling rumit setelah mereka tuntas menjalani laku yang mereka pelajari dari kitab yang mereka dapatkan dari Ki Namaskara.
Beberapa saat kemudian, Ki Patihpun memberikan isyarat agar mereka menghentikan permainan mereka.
Sementara keduanya menenangkan pernafasan mereka, maka Ki Patihpun kemudian duduk di atas sebuah amben bambu di dalam barak itu. Baru sejenak kemudian setelah perpafasaan mereka menjadi tenang kembali, Glagah Putih dan Rara Wulanpun telah duduk pula di amben bambu itu.
“Luar biasa,” desis Ki Patih.
“Kami merasa tersanjung karena pujian Ki Patih.”
“Aku tidak sekadar memuji kalian berdua. Aku merasa kagum bahwa kalian memiliki ilmu dari aliran yang sudah lama tidak muncul ke permukaan.”
“Maksud Ki Patih.”
“Aku tidak tahu, dari siapa kalian mempelajari ilmu itu. Tetapi dahulu, pada masa-masa yang sudah lama lampau, ada seorang berilmu sangat tinggi. Ia merasa sangat kecewa, bahwa tidak ada orang yang pantas untuk mewarisi ilmunya. Setiap orang yang dipanggilnya untuk menjadi muridnya, ternyata sangat mengecewakan orang tua itu, sehingga akhirnya orang tua itu hilang dari pergaulan. Hilang bersama ilmunya yang sangat tinggi. Pada waktu aku masih remaja, aku mengenal serba sedikit tentang ilmu itu, karena seorang kawanku dengan sombong selalu memamerkan bahwa unsur ilmu yang dimiliki itu adalah unsur ilmu dan seorang yang berilmu sangat tinggi. Namun ilmu yang dikuasainya ternyata baru permukaannya saja. Ketika aku melihat kalian berdua .dengan unsur gerak yang bersumber dari aliran ilmu yang sama, maka baru aku menyadari, bahwa sebenarnyalah ilmu itu adalah ilmu yang sangat tinggi.”
“Kami berdua belajar dari beberapa orang guru Ki Patih. Unsur yang manakah yang Ki Patih maksudkan dengan aliran ilmu yang sangat tinggi.”
“Aliran itu aku kenal dengan nama Namaskara. Sumber ilmu yang sangat tinggi itu adalah seseorang yang bernama Namaskara. Tetapi ia tidak pernah mempunyai seorang muridpun yang pernah berguru sampai tuntas kepadanya. Karena itu, ketika aku melihat kalian menunjukkan unsur-unsur gerak dari aliran ilmu Namaskara, aku menjadi heran. Bagaimana mungkin kau dapat mempelajari ilmu itu sampai tuntas.”
Glagah Putih dan Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Orang yang masih saja diliputi rahasia itu pernah berpesan kepadanya, bahwa ia sebaiknya tidak mengatakan kepada siapapun tentang ilmu serta kitabnya.
Tetapi seperti Ki Rangga Agung Sedayu, Ki Patih Mandaraka adalah perkecualian.
Karena itu, maka ketika Ki Patih bertanya sekali lagi tentang ilmu Namaskara itu, maka Glagah Putih dan Rara Wulan kemudian menceritakannya dari awal sampai akhir. Merekapun telah bercerita tentang berbagai macam laku yang harus dijalaninya. Bahkan Tapa Ngidang yang mereka lakukan di tengah-tengah hutan.”
Ki Patih Mandaraka mendengarkan ceritera Glagah Putih dan Rara Wulan dengan sungguh-sungguh. Sekali-sekali dahinya berkerut, namun kemudian iapun menggeleng-gelengkan kepalanya. Ceritera Glagah Putih dan Rara Wulan sedemikian jelas dan terperinci sehingga seakan-akan Ki Patih Mandaraka itu melihat dua dunia di rumah Ki Namaskara yang jauh berbeda, bahkan berlawanan. Ki Patih seakan-akan juga melihat Glagah Putih dan Rara Wulan menjalani laku, sehingga mereka benar-benar dapat menguasai ilmu dari aliran Namaskara, meskipun sesungguhnya mereka tidak pernah menjadi muridnya dalam dunia nyata.
Glagah Putih dan Rara Wulan menjadi murid Ki Namaskara berdasarkan pada kitab yang ada pada mereka, yang mereka ketemukan di reruntuhan rumah Ki Namaskara.
Tetapi karena kesungguhan mereka, maka mereka telah nampu menyerap ilmu Ki Namaskara itu sampai tuntas. Bahkan sampai pada ilmu pamungkasnya yang mereka beri lama Aji Namaskara.
Dengan demikian, maka Glagah Putih dan Rara Wulan )enar-benar orang yang memenuhi syarat untuk mengemban tugas melawat ke Timur untuk mencari orang yang menamakan dirinya Pangeran Ranapati.
Seorang yang tiba-tiba saja hilang dari padepokannya demikian nama Pangeran Jayaraga disebut-sebut akan memangku jabatan penguasa di Panaraga.
Karena itu, maka Ki Patih Mandaraka itupun kemudian tanpa ragu-ragu lagi berkata, “Kalian akan berangkat esok pagi. Tidak ada orang yang lebih baik dari kalian yang akan laput melakukan tugas ini.”
Glagah Putih dan Rara Wulan hanya menundukkan kepalanya. Kepercayaan itu adalah sutu kehormatan bagi mereka berdua.
Melawat ke Arah Matahari Terbit
LANGIT nampak bersih ketika malam mulai turun. Glagah Putih dan Rara Wulan duduk di atas amben kayu panjang di longkangan yang telah ditata menjadi taman yang asri meskipun tidak terlalu luas.
Mereka masih memperbincangkan tugas yang dibebankan kepada mereka. Esok pagi mereka akan berangkat untuk menunaikan tugas itu.
“Perjalanan yang panjang. Kita belum tahu, kita akan berjalan sampai kemana,” berkata Glagah Putih.
“Ya. Tetapi tentu akan menarik.”
Glagah Putih tersenyum. Katanya, “Kita akan bertamasya ke arah matahari terbit. Tetapi jangan bermimpi bahwa kita akan dapat menjenguk cakrawala dan melihat di mana matahari itu beristirahat di malam hari.“
Rara Wulan tertawa. Katanya, “Jika tidak akan gawar di cakrawala kita akan dapat terdorong terjun ke dalam ketiadaan yang sunyi.”
Glagah Putihpun tertawa pula.
Namun sejenak kemudian, seorang abdi telah mempersi-lahkan keduanya untuk pergi ke longkangan.
Keduanyapun kemudian bangkit berdiri dan pergi ke Serambi.
“Sudah waktunya makan malam,” desis Glagah Putih.
“Ya. Agaknya Ki Patih minta agar kami makan malam bersamanya lagi.”
“Lebih enak makan di belakang. Kita tidak perlu segan-segan lagi. Kita dapat makan sampai kita benar-benar kenyang.”
“Kalau nasi yang disediakan hanya sedikit ? Tentu aku yang tidak kebagian.”
Keduanyapun tertawa tertahan karena mereka sudah berada di pintu serambi samping.
Sebenarnyalah bahwa Ki Patih Mandaraka mempersi-lahkan Glagah Putih dan Rara Wulan untuk makan bersama. Namun agaknya Ki Patih tidak hanya ingin sekedar makan bersama. Mungkin Ki Patih masih mempunyai beberapa pesan sebelum esok pagi Glagah Putih dan Rara Wulan itu berangkat.
Sebenarnyalah setelah mereka makan, serta mangkuk-mangkuk yang kotor sudah disingkirkan, Ki Patih Mandaraka masih memberikan banyak pesan. Ki Patih masih menyebut beberapa ciri orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati.
“Mungkin orang itu menyamar. Jika sebelumnya ia tidak memelihara kumis, jambang dan jenggot, mungkin di Timur ia mulai memeliharanya. Mungkin dengan ciri dan pertanda yang tidak ada sebelumnya atau menghapus yang pernah ada.”
Glagah Putih dan Kara Wulanpun mengangguk-angguk.
Namun Ki Patih Mandaraka tidak hanya memberikan pesan tentang orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati yang juga sering menyebut dirinya Ki Singa Wana.
Tetapi Ki Patih Mandaraka juga memberikan beberapa petunjuk bagi Glagah Putih dan Rara Wulan untuk meningkatkan kemampuan mereka. Ki Patih telah memberitahukan beberapa kelemahan yang masih terselip dalam pencarian ilmu Ki Namaskara.
Di samping itu, ketika Glagah Putih dan Rara Wulan menceriterakan bahwa mereka juga sedang menjalani laku sebagaimana diajarkan oleh Ki Rangga Agung Sedayu untuk meningkat daya tahan tubuhnya, sehingga dapat meningkat sebagaimana ilmu kekebalan tubuh, Ki Patih Mandaraka justru telah memberikan beberapa petunjuk untuk mempercepat laku yang dijalaninya serta tingkat ilmu kekebalan tubuh yang lebih tinggi.
“Ki Rangga benar,” berkata Ki Patih Mandaraka, “kalian adalah orang-orang yang sudah memiliki landasan ilmu yang sangat tinggi, sehingga kalian akan lebih mudah menjalani laku dan menguasai ilmu kdkebalan tubuh. Karena itu, aku yakin bahwa pada saat kalian sampai ke daerah di sekitar Panaraga, maka kalian benar-benar sudah menguasai ilmu kekebalan tubuh itu. Apalagi karena kalian sudah beberapa kali menjalani laku Pati Geni, maka kali ini kalian akan dapat menjalaninya tanpa mengalami kesulitan apa-apa.”
“Ya, Ki Patih. Kami akan melakukannya,“ desis Glagah Putih.
Malam itu Ki Patih Mandaraka telah memberikan pesan-pesan terakhirnya. Agar Glagah Putih dan Rara Wulan dapat lebih banyak mengenali Pangeran Ranapati, maka Ki Patih Mandaraka menganjurkan agar Glagah Putih dan Rara Wulan singgah di lereng Timur Gunung Merapi.
“Bukankah Jati Anom juga berada di lereng sebelah Timur Gunung Merapi? Kalian dapat singgah dan menemui Ki Tumenggung Untara. Mungkin Ki Tumenggung Untara juga mempunyai bahan yang dapat mendukung tugas-tugasmu.”
“Ya, Ki Patih. Agaknya kami akan singgah di Jati Anom. Selain di barak kakang Untara, akupun dapat singgah di padepokan kecil ayah Widura. Jika saja kakang Untara dan ayah mempunyai keterangan yang dapat membantu tugas kami.”
“Mungkin juga Swandaru.”
Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi agaknya Swandaru tidak terlalu banyak memperhatikan lingkungan diluar dirinya dan lingkungannya. Meskipun demikian, jika justru orang itulah yang memasuki lingkungan Swandaru, mungkin Swandaru akan dapat memberikan keterangan serba sedikit tentang orang yang mengaku Pangeran Ranapati, putera Panembahan Senapati.
Demikianlah, ketika malam menjadi semakin dalam, Ki Patih Mandarakapun kemudian telah mempersilahkan Glagah Putih dan Rara Wulan beristirahat. Esok pagi-pagi mereka akan berangkat menjalankan tugas mereka. Mereka akan pergi ke Timur untuk melacak seorang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati, namun yang juga bernama Ki Singa Wana, yang sebelumnya berada di sebuah perguruan di lereng sebelah Timur Gunung Merapi.
Malam itu Glagah Putih dan Rara Wulan benar-benar memanfaatkan waktunya untuk beristirahat. Mereka memang merasa letih, sehingga karena itu, maka merekapun berusaha untuk segera dapat tidur. Esok pagi-pagi mereka akan berangkat meninggalkan Kepatihan.
Seperti biasanya, Glagah Putih dan Rara Wulan bangun pagi-pagi sekali. Mereka langsung bergantian pergi ke paki-wan dan kemudian berbenah diri.
Ketika langit menjadi semakin terang, maka mereka berdua telah dipanggil oleh Ki Patih untuk menghadap ke serambi.
Ternyata di serambi telah disediakan makan pagi bagi keduanya. Nasi, sayur, dan lauknya agaknya masih hangat. “Makanlah.”
Mereka tidak menolak, karena mereka sadar, bahwa tidak ada gunanya untuk menolaknya
“Ki Patih sendiri?” bertanya Glagah Putih.
“Aku tidak akan ke mana-mana. Karena itu, aku dapat makan pagi nanti setelah matahari naik.”
Glagah Putih menarik nafas panjang.
Demikianlah, maka Glagah Putih dim Rara Wulanpun kemudian sibuk menyuapi mulut mereka. Setelah beberapa kali mereka makan bersamu Ki Putih, maka rasa-rasanya mereka tidak lagi terlalu negnn. Iliihkuii Glagah Putih dan Rara Wulan makan cukup banyak, kureua mereka akan menempuh perjalanan cukup jauh. Mereka akan pergi ke sisi Timur Gunung Merapi. Namun agaknya Glagah Putih dan Rara Wulan akan pergi menemui Untara lebih dahulu sebelum mereka mulai dengan pengenalannya atas orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati. Apalagi orang yang menyebut Pangeran Ranapati itu sendiri, sudah tidak ada di perguruannya itu.
Pada saat Glagah Putih dan Rara Wulan makan, maka Ki Patih Mandarakapun telah memberikan pertanda khusus bagi mereka berdua disamping timang keprajuritan mereka. Timang yang sudah dibuat khusus bagi para prajurit sandi. Namun dalam tugas khususnya, Glagah Putih dan Rara Wulan telah mendapat pertanda yang khusus pula yang dapat dipergunakan untuk minta bantuan pasukan yang manapun juga dan di bawah kepemimpinan siapapun juga.
“Jika ada prajurit Mataram yang menolaknya, maka laporkan kepadaku. Siapakah mereka itu.”
“Baik, Ki Patih,“ sahut Glagah Putih.
Setelah makan pagi, serta setelah Ki Patih merasa cukup memberikan pesan-pesan dan petunjuk-petunjuknya, maka Glagah Putih dan Rara Wulan telah minta diri meninggalkan Kepatihan.
“Kami mohon doa restu Ki Patih. Semoga kami dapat menyelesaikan tugas kami dengan baik, sehingga kami dapat membawa orang yang Ki Patih maksudkan, ke Mataram.”
Demikianlah, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun mulai dengan pengembaraannya. Ketika Ki Patih memberikan bekal uang, Glagah Putih mengatakan, bahwa bekalnya yang terdahulu masih sisa cukup banyak.
“Kalian adalah pasangan yang masih muda dan belum mempunyai anak, sehingga kalian belum mengusung beban kebutuhan. Sebaliknya mereka yang sudah mempunyai beban bagi keluarganya, justru cenderung untuk mengatakan bahwa bekal yang dibawanya masih kurang.”
Glagah Putih dan Rara Wulan hanya tertawa saja. Namun Ki Patihpun agak memaksa agar mereka menerima bekal yang diberikannya.
“Kalian akan mengembara untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Sebaiknya kalian bawa bekal kalian masing-masing. Mungkin kalian akan melakukan tugas kalian terpisah.”
Glagah Putih dan Rara Wulan telah membawa bekal yang diberikan kepada mereka. Glagah Putih dan Rara Wulan telah membawa bekal mereka masing-masing. Jika mereka terpisah yang satu dengan yang lain karena tugas mereka, maka mereka telah membawa bekal mereka sendiri-sendiri.
Keduanya meninggalkan Kepatihan pada saat matahari terbit. Di hari pertama itu jarak perjalanan mereka tidak terlalu jauh. Jarak ke Jati Anom lewat jalan pintas, hampir sama jauhnya dengan jarak perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh.
Ketika mereka keluar dari pintu gerbang kota, maka lan-gitpun nampak cerah. Masih terdengar kicau burung liar di pepohonan. Sementara jalanpun sudah menjadi ramai. Ada yang sedang berjalan ke pasar, namun ada yang sudah pulang. Yang lain pergi ke sawah sambil memanggul cangkul.
Beberapa kali keduanya berpapasan dengan beberapa pedati yang agaknya membawa berbagai macam dagangan ke pasar.
Karena hari masih pagi, maka Glagah Putih dan Rara Wulan tidak merasa perlu tergesa-gesa. Mereka berjalan mengikuti jalan yang banyak dilalui orang. Tetapi semakin jauh mereka dari pintu gerbang, maka terasa jalanpun menjadi semakin lengang.
Namun di sawah, para petanipun sibuk melakukan kerja mereka masing-masing.
Ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun telah memasuki jalan pintas di kaki Gunung Merapi. Glagah Putih berjalan di kaki Gunung Merapi dari sisi selatan berputar ke sisi timur. Meskipun jalannya turun naik, tetapi jaraknya lebih dekat daripada mereka menempuh jalan yang lebih ramai lewat Prambanan menyeberang Kali Opak kemudian setelah melewati Taji dan beberapa padukuhan serta bulak panjang, sebelum sampai ke Sangkal Putung berbelok ke kiri, ke arah kaki Gunung Merapi dari arah Timur.
Terasa angin yang sejuk mengusap tubuh mereka di panasnya sinar matahari. Namun udara di kaki Gunung Merapi terasa segar.
Glagah Putih dan Rara Wulan sekali-sekali berjalan di pinggir hutan pegunungan yang lebat. Namun kemudian merekapun melewati daerah pertanian yang subur. Sawah yang terbentang luas tidak pernah mengalami kekeringan di segala musim. Padukuhan-padukuhan yang mereka lewatipun nampaknya merupakan padukuhan-padukuhan yang kehidupan rakyatnya nampak agak baik Tanah mereka yang subur telah mendukung kesejahteraan mereka sehingga mereka dapat hidup pantas meskipun tidak berlebihan.
Glagah Putih dan Rara Wulan berharap, bahwa di tengah hari, mereka sudah mendekati Jati Anom.
“Apakah kita akan pergi ke tempat kakang Untara lebih dahulu atau ke padepokan ayah?” bertanya Rara Wulan.
“Kita akan berbicara tentang seorang pertapa,” sahut Glagah Putih.
“Jika demikian, lebih baik kita bertemu ayah saja lebih dahulu. Mungkin ayah lebih memperhatikan keberadaan Pangeran Ranapati atau juga yang disebut Singa Wana daripada kakang Untara yang perhatiannya tentu lebih banyak ditujukan kepada persoalan-persoalan yang berhubungan dengan keprajuritan.”
“Baiklah. Kita pergi ke padepokan saja lebih dahulu. Baru nanti malam atau esok kita menemui kakang Untara. Mungkin ada baiknya kita singgah di Sangkal Putung, Sudah agak lama kita tidak bertemu dengan kakang Swandaru dan mbokayu Pandan Wangi sejak kita pulang dari Demak.”
Demikianlah, maka keduanyapun langsung menuju ke padepokan kecil di Jati Anom yang dihuni oleh Ki Widura serta beberapa orang cantrik yang jumlahnya tidak banyak.
Namun agaknya Ki Widura memilih cantrik-cantriknya memiliki kemampuan lebih daripada sekedar jumlahnya banyak. Apalagi tanah pendukung padepokan kecil itu juga tidak terlalu luas, meskipun Ki Demang di Jati Anom sudah memberikan isyarat, bahwa Ki Widura dapat memperluas tanah dukungan bagi padepokannya dengan membuka hutan di sebelah Utara Jati Anom, tidak terlalu jauh dari Lemah Cengkar yang menurut kata orang dihuni oleh harimau putih.
Namun agaknya Ki Widura masih menganggap belum waktunya untuk memperluas padepokannya.
Demikianlah, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun telah memilih jalan yang langsung menuju ke padepokan. Mereka sengaja menghindari barak pasukan Untara karena, mereka baru akan singgah kemudian. Jika ada prajurit Untara yang mengenalnya, maka ia harus memberikan berbagai macam alasan untuk disampaikan kepada Untara, bahwa mereka masih belum dapat singgah hari itu.
Pada saat matahari turun, Glagah Putih dan Rara Wulanpun telah sampai di depan gerbang padepokannya, Sebelum ia memasuki gerbang, maka dua orang cantrik yang sedang membersihkan dinding padepokan telah melihatnya dan dengan tergesa-gesa mendatanginya.
“Selamat datang Glagah Putih dan Rara Wulan,” berkata kedua cantrik itu hampir berbareng.
Glagah Putih dan Rara Wulan tertawa. Dengan nada tinggi Glagah Putih bertanya, “Bagaimana keadaan kalian dan seisi padepokan ini?”
Semuanya baik-baik saja,” jawab seorang di antara mereka.
“Apakah ayah ada?”
“Ada. Ada. Baru saja Ki Widura melihat-lihat tanaman di halaman padepokan kami. Ada beberapa tanaman pohon bunga yang baru kami tanam dua hari yang lalu.”
-ooo0dw0ooo-

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.