Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

Teknik Pembesaran Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus)

Tinggalkan komentar


Nyusik Endro Yuwono. 06.3.02.742.Teknik Pembesaran Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus)
Pada Unit Usaha Milik Bapak H. Tarmudji Desa Kedung Maling Kecamatan Sooko Kabupaten
Mojokerto Jawa Timur. Dibawah bimbingan Ibu Sri Wulan M, M.Kes selaku dosen pembimbing I
dan Bapak Hamdani, S.Pi, MMA selaku dosen pembimbing II.
Kebutuhan masyarakat akan protein hewani akhir – akhir ini semakin meningkat. Hal ini
disebabkan antara lain meningkatnya jumlah penduduk , dan pola penyediaan menu yang semakin
meningkat dan lebih baik. Kekurangan protein merupakan masalah dunia, terutama bagi Negara –
Negara yang sedang berkembang. Protein hewani dapat diperoleh antara lain berasal dari daging,
susu, telor, dan ikan. Jadi, ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang dipergunakan
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Untuk itu diperlukan usaha – usaha peningkatan produksi
ikan ( Soetomo, 2000). Budidaya ikan air tawar yang mempunyai prospek masa depan yang cerah
adalah budidaya ikan lele dumbo, karena ikan lele dumbo memiliki keunggulan yang khas bila
dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya. Budidaya lele dumbo berkembang pesat dikarenakan
dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, teknologi
budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, pemasarannya relatif mudah dan modal usaha
yang dibutuhkan relatif rendah.
Tujuan Pelaksanaan Kerja Praktek Akhir (KPA) adalah untuk memperoleh pengetahuan
dan keterampilan tentang teknik pembesaran ikan lele dumbo (Clarias gariepenus) mulai dari
persiapan kolam sampai dengan analisis usaha.
Teknik pembesaran lele dumbo meliputi persiapan kolam, penebaran benih, monitoring
kualitas air,monitoring pertumbuhan, pengelolaan pakan, pengendalian hama dan penyakit,
pemanenan dan pasca panen.Pengelolaan pakan merupakan faktor paling penting pada usaha
pembesaran karena menyerap hampir 70 % dari biaya operasional. Oleh karena itu perlu
mendapatkan perhatian yang cukup serius agar biaya tersebut dapat ditekan sehingga untung
yang didapat lebih besar.
Kerja Praktek Akhir (KPA) ini dilaksanakan di Usaha Pembesaran Lele Milik Bapak
Tarmudji Desa Kedung Maling Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto Jawa Timur mulai tanggal
16 Maret – 31 Mei 2009. Metode yang digunakan pada pelaksanaan Kerja Praktek Akhir (KPA) ini
menggunakan dua metode yaitu survey dan magang.. Adapun sumber data yang diperoleh
meliputi data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data ini menggunakan teknik
wawancara dan observasi.Teknik pengolahan data dengan editing, tabulating, analizing.
Persiapan kolam di usaha pembesaran meliputi pengeringan dan pasok air. Hal ini tidak
relevan dengan penjelasan yang dikemukakan oleh (Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Pesisir,
2008 ) bahwa persiapan kolam meliputi pengeringan, pemupukan dan pengapuran serta pasok air.
Kolam dikeringkan dengan panas matahari selama 3 hari untuk membunuh hama penyakit,
setelah itu di bagian dasar dan dinding kolam di bersihkan dengan sapu lidi untuk membersihkan
lumut yang telah mengering. Pengisian air dengan menggunakan pompa bor berukuran 10 PK
yang disalurkan melewati pipa parolon berukuran 2 dim untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam
kolam pembesaran. Penebaran benih dilakukan setelah air kolam diberi EM4 hasil buatan sendiri
sebanyak 2 liter untuk kolam dengan volume 32 m3. Pemberian EM4 dimaksudkan untuk
menumbuhkan plankton. Hal ini senada dengan yang diungkapkan Khairuman, (2003) kolam diairi
secara bertahap untuk memberikan kesempatan agar pupuk bereaksi dengan sempurna agar
menumbuhkan plankton, kemudian dibiarkan selama 1 minggu baru ditebari benih. Jumlah benih
yang ditebar berukuran 3 – 5 cm sekitar 10.000 – 15.000 ekor per kolam. Padat tebar 312 ekor/m2.
Harga benih per ekor berkisar Rp.40 – Rp.45 Sebelum benih ditebar dilakukan sampling benih.
Sampling benih dengan menggunakan gelas. Penebaran benih dilakukan pada sore hari pukul
16.00 WIB. Monitoring kualitas air meliputi pergantian air, pasok air akibat penguapan atau
kebocoran dan pemberian EM4 pada kolam pembesaran. Pergantian air dilakukan setiap 30 hari
sekali jika air kolam pembesaran terlihat keruh dan berbau tidak sedap. Tetapi apabila sebelum
sampai 1 bulan air sudah terlihat keruh maka dilakukan pergantian air. Pasok air akibat kebocoran
atau penguapan dilakukan jika air dalam kolam terlihat menyusut. Aplikasi EM4 dilakukan apabila
tidak dilakukan pergantian air. Pengelolaan pakan terdiri dari pakan buatan (pellet) dan pakan
alternatif/tambahan. Pada saat benih berukuran 3 – 5 cm atau pada awal tebar sampai benih
berukuran 4 – 6 cm benih diberi pakan pellet jenis FF-999 produksi POKPHAND selama 2 minggu.
Pemberian pakan secara adlibitum, frekwensi pemberian pakan 3 kali sehari yaitu pagi sekitar jam
07.00, siang hari pukul 13.00 dan malam hari 20.00 WIB. Setelah berukuran 4 -6 cm benih
diberikan pakan jenis 781-2 produksi POKPHAND sampai benih berukuran 5 -7cm. Setelah ikan
lele berukuran di atas 5 – 7 cm diberikan pakan buatan sendiri sampai ikan lele dipanen. Untuk
menekan biaya pakan selama pemeliharaan dapat diberikan pakan alternatif berupa ayam mati
yang telah dibakar dahulu. Pemberian ayam bakar ini pada saat ikan berumur 1,5 – 2 bulan namun
harus tetap diperhatikan kondisi air dalam kolam karena biasanya air akan cepat kotor.Hal ini
sejalan dengan pendapat Nuketea, (2007) bahwa dalam pemberian makan tambahan seperti
bangkai ayam, usus, bekicot dapat menurunkan kualitas air. Teknik pemberian pakan dengan
menyebar pakan secara merata di setiap bagian kolam. Monitoring pertumbuhan meliputi
monitoring nafsu makan ikan serta monitoring pertambahan panjang tubuh lele.Hama yang sering
mengganggu adalah keberadaan kucing liar. Kucing liar ini kerap kali memakan ikan lele sehari
bisa memakan 6-9 ekor lele. Sedangkan penyakit yang menyerang adalah penyakit cacar ,
tuberculosis, jamur/candawan. Penanggulangan dari ketiga penyakit diatas adalah dengan
pemberian INROFLOXS dengan dosis 1 gr untuk 1000 liter air atau 1m3 atau menggunakan
supertetra dengan dosis 1 gr atau 1 tablet untuk 3000 ekor ikan. Teknik pengobatan INROFLOXS
dicampur dengan pakandosis 4 – 6 gr untuk 1 kg pakan sedangkan melalui air dengan mencampur
1 gr dengan 1000 liter air. Lama pengobatan tiap 3 hari sekali sampai penyakitnya sembuh. Untuk
pencegahan dari penyakit tersebut di atas juga diberikan INROFLOXS yaitu dengan mencampur
2 – 4 gr dengan 1 kg pakan selama 3 – 5 hari berturut – turut tiap pemberian pakan selain itu juga
diberikan vitamin B kompleks untuk merangsang nafsu makan serta pemberian daun pepaya dan
kunyit yang dicampur dalam adonan pakan yang dibuat sendiri sebagai antibiotik dan
memperkuat daya tahan tubuh ikan terhadap serangan penyakit. Pemanenan dilakukan dengan
panen total dimana semua ikan dipanen secara keseluruhan. Waktu pemanenan pada saat sore
hari sekitar pukul 16.00 – 17.00 WIB untuk menghindari terjadinya stres. Tingkat SR panen
sebesar 90 % dengan berat total lele keseluruhan sebesar 75 kwintal dari tebar 100.000 ekor
untuk 9 petak kolam yang berukuran 4 x 8 m atau dengan padat tebar 312 ekor/m2/petak sehingga
didapat FCR sebesar 1: 1. Setelah ikan lele di panen maka tahap selanjutnya adalah tahap pasca
panen. Biasanya pemanenan lele dilakukan oleh tengkulak dengan datang sendiri ke lokasi
pembesaran untuk melakukan pemanenan sekaligus mengangkut hasil panen tersebut.. Harga
ikan lele saat pemanenan berada pada kisaran Rp 8000,00/kg dengan ukuran 1 kg size 12 ekor.
Wilayah pemasaran adalah Pasar Kedung Maling, Pasar Mojokerto, Surabaya dan Sidoarjo.Hasil
analisa usaha didapat profit sebesar Rp. 25.264.376,81 GFI= Rp.60.000.000,00 dengan R/C = 2,3
Kesimpulannya teknik pembesaran lele dumbo di usaha pembesaran H. Tarmudji
meliputi :Persiapan kolam, penebaran benih, monitoring kualitas air, pengelolaan pakan,
monitoring pertumbuhan, pengendalian hama dan penyakit, pemanenan, pasca panen. Meskipun
sarana dan prasarananya belum lengkap, teknik pembesaran lele sudah cukup baik, hal ini terlihat
dari SR panen sebesar 90 % dengan hasil panen lele sebesar 75 kwintal/ siklus dari tebar
100.000 ekor selain itu didukung dengan penggunaan pakan buatan sendiri mampu menekan
biaya pakan sebesar 50 % dari total biaya operasional sehingga keuntungan yang didapat lebih
besar akan tetapi penggunaanya banyak meninggalkan residu. Hal ini disebabkan bahan – bahan
ransum pakan seperti jagung dan kepala udang windu dalam bentuk kasaran tidak berbentuk
tepung . Sarannya untuk meningkatkan kualitas produksi sebaiknya sarana dan prasarana
pembesaran seperti peralatan panen, peralatan grading dilengkapi agar proses pembesaran lele
dumbo dapat berjalan lancar sedangkan untuk pembuatan pakan sebaiknya bahan – bahan
ransum sebelum diproses menjadi pellet dihaluskan atau dibuat tepung terlebih dahulu digiling
agar dihasilkan pellet lebih padat dan kompak sehingga apabila diberikan ke lele tidak banyak
meninggalkan residu.

About these ads

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.