Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site


Tinggalkan komentar

PERIKANAN BUDIDAYA (AKUAKULTUR)


PERIKANAN BUDIDAYA
(AKUAKULTUR)
Riza Rahman Hakim, S.Pi
Definisi Akuakultur
„ Berasal dari bahasa Inggris: aquaculture
Aqua: perairan, culture: budidaya
„ Akuakultur : kegiatan untuk memproduksi biota
(organisme) akuatik di lingkungan terkontrol
dalam rangka mendapatkan keuntungan (profit).
„ Yang dimaksud budidaya adalah kegiatan
pemeliharaan untuk:
a. memperbanyak (reproduksi)
b. menumbuhkan (growth)
c. meningkatkan mutu biota akuatik sehingga
memperoleh keuntungan
Pembudidayaan ikan adalah kegiatan untuk
memelihara, membesarkan, dan/atau
membiakkan ikan serta memanen hasilnya
dalam lingkungan yang terkontrol.
(UU no. 31 th. 2004 tentang Perikanan)
Tujuan usaha budidaya
• Meningkatkan jumlah pangan
• Mengimbangi penurunan
persediaan ikan secara alami
• Mencukupi kebutuhan protein
hewani
• Meningkatkan produk lain,
seperti: mutiara, rumput laut, dll
Persyaratan jenis ikan yang dibudidaya
„ Tahan terhadap lingkungan hidup baru
„ Laju pertumbuhannya cukup tinggi
„ Maampu berkembang biak daalam keadaan
tertangkap
„ Mampu menyesuaikan diri terhadap
makanan buatan yg diberikan
„ Dapat dibudidayakan dengan kepaadatan
tinggi
„ Tahan terhadap penyakit dan parasit
„ Memenuhi selera konsumen
Jenis-jenis ikan yang dibudidaya
1. Ikan air tawar
• Gurami (Osphyronemus gouramy)
• Mujair (Tilapia mossambica)
• Nila (Tilapia nilotica)
•Tawes(Puntius javanicus)
•Patin(Pangasius pangasius)
•Lele(Clarias batracus)
2. Ikan air payau
• Bandeng (Chanos chanos)
• Udang windu (Penaeus monodon)
3. Ikan air laut
• Kerapu macan (Epinephelus
fuscoguttatus)
• Cakalang (Katsuwonus pelamis)
• Lobster
Ruang Lingkup Akuakultur
Kegiatan Spasial Sumber air Zonasi
Darat-laut
Posisi wadah
produksi
• Subsistem
pengadaan
Sarpras
produksi
• Subsistem
proses Produksi
• Subsistem
penanganan
Pascapanen &
pemasaran
• Subsistem
pendukung
• Pegunungan
• Perbukitan
• Dataran tinggi
• Dataran rendah
• Pantai, muara
sungai
•Terumbu
karang, laut
dangkal
• Laut lepas
• Air tawar
(fresh-water
culture)
• Air payau
(brackish-water
culture)
• Air laut
(mariculture)
• Inland
aquaculture
• Marine
aquaculture
(mariculture)
• Land-base
aquaculture
• Water-base
aquaculture
R.L. berdasarkan kegiatan
Pengadaan
Sarpras produksi
Prasarana:
• Pemilihan lokasi
• Pengadaan bahan
• Pembangunan
fasilitas
Sarana:
• Pengadaan induk,
benih, pakan,
pupuk, obat-obatan, peralatan,
tenaga kerja,dsb
Proses produksi
• Persiapan wadah
kultur
• Penebaran
• Pemberian pakan
• Pengelolaan lingk.
• Pengelolaan
kesehatan ikan
• Pemantauan ikan
• pemanenan
Penanganan
pascapanen&pemasaran
• Peningkatan mutu
produk
• Distribusi produk
• Pelayanan
konsumen
Pendukung
• Aspek hukum
• Aspek keuangan
•Aspek
kelembagaan
R.L. Akuakultur Berdasarkan Zonasi Darat-Laut
¾Inland aquaculture : kegiatan akuakultur
yang dilakukan di darat (land base)
dengan menggunakan sumber air
berupa air tawar (mata air, sungai,
danau, waduk, saluran irigasi, air hujan,
air sumur, dan genangan air lainnya)
atau air payau.
¾Marine aquaculture (mariculture) :
kegiatan akuakultur yang dilakukan di
laut.
¾ Land-base aquaculture : kegiatan akuakultur yang berbasiskan
daratan, dimana unit budidaya berlokasi di daratan dan mengambil
air dari perairan di dekatnya.
- contoh: kolam air tenang, kolam air deras, sawah, dan tambak.
- terdapat pembatas antara unit budidaya dengan perairan sebagai
sumber air, minimal oleh pematang sehingga land base aquaculture
merupakan sistem tertutup (closed system).
- faktor lingkungan eksternal yang mempengaruhi sistem produksi,
seperti pencemaran, dapat direduksi dengan cara menutup aliran air
masuk ke dalam sistem atau men-treatment air terlebih dahulu
sebelum digunakan.
¾ Water-base aquaculture : kegiatan akuakultur yang berbasiskan
perairan, dimana unit budidaya ditempatkan di badan perairan
(sungai, saluran irigasi, danau, waduk, dan laut)
- contoh: jaring apung, rakit apung, jaring tancap, karamba, dll.
- interaksi antara ikan (unit) budidaya dengan lingkungan perairan
berlangsung hampir tanpa pembatasan sehingga merupakan sistem
terbuka (open system)
- lebih mudah terkena dampak pencemaran atau sebagai salah satu
sumber pencemaran lingkungan.
R.L. Akuakultur Berdasarkan Posisi Wadah Produksi
• Euryhaline: spesies yang memiliki
toleransi terhadap salinitas dengan
kisaran yang luas
• Domestikasi: kegiatan menjadikan ikan
kultur dari ikan liar dengan prospek
pasar dan isu lingkungan yang kuat
Manajemen produksi
akuakultur
1. Manajemen kolam 2. Manajemen benih
3. Manajemen
Pemberian
pakan
5. Manajemen
Kesehatan ikan
4. Manajemen
Kualitas air
6. Manajemen panen
Proses manajemen produksi akuakultur
Contoh kegiatan proses produksi akuakultur
1. Persiapan wadah:
a. pengeringan
b. perbaikan
c. pemupukan
d. pengisian air
2. Penebaran benih
3. Pemberian pakan
4. Pengelolaan air
5. Pemberantasan hama dan penyakit
6. Pemantauan pertumbuhan
7. Pemanenan


Tinggalkan komentar

Teknologi Produksi Bahan Baku Pakan


Teknologi Produksi
Bahan Baku Pakan
Program Alih Jenjang D4 Bidang Akuakultur
SITH, ITB –VEDCA – SEAMOLEC
Teknologi Produksi Bahan Baku Pakan:
1. Pakan Buatan dalam Industri Akuakultur: Pengenalan
2. Nutrisi pakan
(protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral dalam
kaitannya dengan anatomi fisiologi pencernaan serta
metabolisme ikan)
3. Bahan baku pakan
(jenis: jagung, rice bran / dedak, PKM (palm kernel meal
/ bungkil inti sawit, herbal; karakteristik seleksi)
4. Preservasi dan penanganan bahan baku pakan
5. Teknik pengolahan bahan baku pakan
(penggunaan langsung, fermentasi,…)
6. Formulasi pakan dan manufaktur
7. Pengemasan (dan pelabelan)
8. Ekonomi Produksi Pakan Akuakultur
NUTRISI
Nutrisi untuk ikan:
 kandungan gizi
 yang dikandung pakan
 yang diberikan kepada ikan peliharaan
 dengan komposisi yang tepat / berimbang
 berperan dalam pertumbuhan, reproduksi, ketahanan tubuh
Bergantung pada:
 spesies ikan
 ukuran (besar / berat) ikan
 kondisi kultur
NUTRISI PAKAN BUATAN
 Pakan dengan nutrisi lengkap dan seimbang sesuai dengan
kebutuhan nutrisi ikan dibutuhkan untuk mendapatkan
efisiensi pakan serta pertumbuhan hewan budidaya (ikan,
udang) secara optimal
 Penggunaan / penambahan pakan buatan terbukti dapat
meningkatkan kelangsungan hidup dan vitalitas larva pada
beberapa species ikan serta mengurangi penggunaan
pakan hidup
NUTRISI PAKAN BUATAN
 Pakan yang berkualitas (bernilai nutrisi) dengan strategi /
program pemberian pakan yang tepat dapat mencegah /
meminimalisasi resiko penyakit
 Formula pakan harus tepat
 agar pakan yang diberikan pada ikan dapat memenuhi
semua nutrien yang dibutuhkan ikan
 diperlukan data mengenai kebutuhan nutrien pakan
ikan dan pengetahuan mengenai kemampuan ikan
untuk mengasimilasi bahan pakan.
KEBUTUHAN NUTRISI IKAN
 Nutrisi pakan lebih berperan dibandingkan dengan jumlah
pakan yang diberikan (keseimbangan antara kualitas dan
kuantitas)
 Zat-zat gizi sesuai dengan kebutuhan tubuh ikan:
 PROTEIN (dengan asam amino esensial; ±20-60%)
 LEMAK (dengan asam lemak esensial; ±4-8%)
 KARBOHIDRAT (±30%)
 VITAMIN
 MINERAL
KEBUTUHAN NUTRISI IKAN
 Protein, karbohidrat dan lemak merupakan sumber energi
untuk maintenance dan pertumbuhan bagi kultur ikan / udang
 Lemak dan karbohidrat harus cukup untuk meminimalisasi
penggunaan protein sebagai sumber energi utama sehingga
protein yang ada tersedia digunakan secara optimal untuk
pertumbuhan ikan / udang
 Dari sejumlah pakan yang dimakan, hanya ±10% yang
digunakan untuk pertumbuhan / menambah berat;
selebihnya digunakan sebagai sumber energi; atau tidak dapat
dicerna mempengaruhi FCR (food convertion rate)
PROTEIN
PROTEIN:
senyawa organik kompleks tersusun atas asam amino yang
mengandung unsur C (carbon), H (hidrogen), O (oksigen) dan N
(nitrogen) yang tidak dimiliki oleh lemak atau karbohidrat
PROTEIN
Fungsi:
1. zat pembangun
(membentuk jaringan baru, mengganti jaringan yang rusak;
proses reproduksi)
2. zat pengatur
(pembentukan enzim, hormon –mengatur proses-proses
metabolisme dalam tubuh)
3. zat pembakar
(sumber energi disamping karbohidrat / lemak)
PROTEIN
 Pakan buatan untuk larva penting sebagai substitusi pakan
alami untuk meningkatkan produksi benih yang digunakan
dalam budidaya dan meningkatkan kualitas benih
 Secara umum, protein dengan komposisi asam amino yang
sama dengan tubuh ikan mempunyai nilai nutrisi yang tinggi
pembuatan pakan dapat diformulasi dari beberapa
sumber protein untuk mensimulasi komposisi asam amino
yang sesuai dengan asam amino tubuh ikan
PROTEIN
 Asam amino sebagai bahan dasar pembentuk utama
AA Esensial:
 sangat dibutuhkan oleh ikan dalam pertumbuhannya
 tidak dapat dibentuk / disintesis oleh ikan
 harus tersedia dalam pakan
AA Non-esensial:
 dapat disintesis dalam tubuh ikan sendiri
 dengan bantuan unsur-unsur lain dalam tubuh ikan
PROTEIN
Asam Amino Esensial Asam Amino Non-esensial
Leusin Tirosin
Metionin Glisin
Isoleusin Alanin
Triptofan Asam Aspartis
Valin Asam Glutamis
Arginin Kistin
Treonin Prolin
Histidin Asparagin
Fenilalanin Glutamin
Lisin Serin
PROTEIN
Kebutuhan ikan akan protein bergantung pada:
1. Ukuran ikan
2. Jumlah / kuantitas pakan yang dimakan ikan
3. Ketersediaan dan kualitas pakan alami
4. Kualitas protein
5. Suhu air kultur
 Jenis ikan karnivora membutuhkan tingkat protein yang
lebih tinggi dibandingkan ikan herbivora
 Ikan pada stadia larva membutuhkan membutuhkan tingkat
protein yang lebih tinggi dibandingkan ikan dewasa
PROTEIN
 Tingkat protein optimum dalam pakan untuk pertumbuhan
ikan berkisar 25 –50%.
 Tingkat protein untuk ikan laut lebih tinggi (40 –50%)
(berat kering) untuk pertumbuhan yang optimal.
Keseimbangan protein penting dalam formulasi pakan
karena berperan besar dalam kesintasan, pertumbuhan,
serta ketahanan tubuh ikan, terutama pada stadia larva.
LEMAK
 LEMAK: senyawa organik yang tidak larut dalam air,
namun larut dalam pelarut organik; sebagai sumber energi
terpenting untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan
 Sumber energi (lebih tinggi dibanding protein / karbohidrat)
 Berperan dalam pemeliharaan struktur dan membran sel
 Pelarut dalam proses penyerapan vitamin A, D, E, dan K
 Membantu proses metabolisme
 Menjaga keseimbangan daya apung ikan dalam air
Penggunaan lemak mempengaruhi rasa dan mutu pakan
LEMAK
Beberapa sumber lipid:
- minyak ikan
- minyak jagung
- minyak biji kapas
- minyak kelapa
- minyak kelapa sawit
- minyak kacang tanah
- minyak kacang kedelai
- lemak sapi
- lemak ayam
- lemak kelinci
LEMAK
 Mengandung asam lemak (esensial dan non esensial)
Asam lemak esensial
- tidak dapat disintesis oleh tubuh ikan
(kebutuhannya harus dipenuhi dari pakan)
- merupakan komponen struktur membran
- penunjang pertumbuhan ikan
- pembentukan gelembung renang pada stadia larva
(jika tidak sempurna dapat menyebabkan kematian larva;
terutama dalam kultur ikan laut)
- contoh penting: asam lemak omega-3 HUFA, DHA
LEMAK
 Pakan yang baik umumnya mengandung 4 –18% lemak
 Kadar lemak harus optimum namun tidak berlebihan
 Kelebihan kadar lemak:
 pakan akan mudah mengalami oksidasi (mudah tengik)
 mengakibatkan penimbunan lemak pada usus ikan, hati
ataupun ginjal sehingga ikan menjadi terlalu gemuk dan
nafsu makan berkurang.
KARBOHIDRAT
 KARBOHIDRAT:
senyawa organik yang terdiri dari serat kasar dan bahan bebas
tanpa nitrogen
 Menurut ukuran molekul dapat dibagi menjadi:
1. Monosakarida (contoh: fruktosa, glukosa)
2. Disakarida (contoh: sukrosa, maltosa)
3. Polisakarida (contoh: selulosa, pati, kanji)
KARBOHIDRAT
Karbohidrat sederhana (monosakarida) lebih mudah larut dalam
air; ikan butuh enzim-enzim tertentu untuk memecah disakarida
atau polisakarida menjadi monosakarida yang mudah diserap.
Beberapa enzim tertentu dihasilkan oleh bakteri dalam usus ikan.
Beberapa ikan memiliki organ khusus pada alat pencernaannya
(pyloric caeca) yang mengandung enzim-enzim yang mampu
mencerna karbohidrat
KARBOHIDRAT
Kebutuhan karbohidrat pada pakan ikan jenis ikan
ikan mas : 20 –30%
ikan lele : 10 –30%
ikan kerapu : 10%)
daya cerna menurun
penyerapan menurun
meningkatnya sisa metabolisme
penurunan kualitas air kultur!
2. Bahan ekstrak tanpa nitrogen
KARBOHIDRAT
Bahan-bahan yang banyak mengandung karbohidrat:
- jagung
- beras
- tepung terigu
- dedak halus
- tepung tapioka
- tepung sagu
- ….
Selain sebagai sumber karbohidrat juga dapat berfungsi
sebagai perekat (binder) dalam pembuatan pakan ikan.
VITAMIN
 Zat organik yang dibutuhkan ikan dalam jumlah sedikit
 Penting untuk pertumbuhan dan ketahanan kondisi tubuh
 Umumnya tidak dapat disintesis dalam tubuh
 Harus tersedia dalam pakan
1. Vitamin yang larut dalam air
- Vit. B1 (tiamin), Vit. B2 (riboflavin), Vit.B12 (kobalamin)
- Vit. C
2. Vitamin yang larut dalam lemak
- Vit. A; Vit. D; Vit. E; Vit.K
VITAMIN
VITAMIN
VITAMIN
Kebutuhan vitamin bergantung pada:
- jenis ikan
- laju pertumbuhan
- komposisi pakan
- kondisi fisiologis ikan
- lingkungan / kondisi kultur
Kebutuhan akan vitamin menurun dengan meningkatnya
ukuran ikan.
VITAMIN
Fungsi utama vitamin secara umum:
1. Bagian dari enzim atau ko-enzim
(berperan dalam pengaturan proses metabolisme tubuh)
2. Mempertahankan fungsi berbagai jaringan tubuh
3. Mempengaruhi pertumbuhan dan pembentukan sel baru
4. Membantu pembuatan zat-zat tertentu dalam tubuh
VITAMIN
Fungsi spesifik beberapa vitamin:
Vitamin B1, B6, dan B12
 menunjang pertumbuhan
 merangsang nafsu makan
Vitamin B2
 pertumbuhan
 pertukaran zat-zat makanan (karbohidrat, lemak, protein)
dari sel-sel dalam tubuh
 proses reproduksi
VITAMIN
Vitamin A
 menunjang kesehatan mata
Vitamin D
 menunjang proses metabolisme dari mineral
 terutama kalsium dan fosfor
Vitamin E
 berpengaruh terhadap pergerakan ikan
 menunjang proses reproduksi
VITAMIN
Vitamin premix:
campuran vitamin-vitamin yang diperlukan oleh ikan
(Vit.A, Vit.D, Vit.E, Vit.K, Vit.B1, Vit.B2, Vit.B12, Vit.C, …)
Penambahan vitamin premix dalam fishmeal (pakan ikan rucah)
 meningkatkan pertumbuhan ikan
 menurunkan konversi pakan (FCR)
VITAMIN
Kebutuhan mineral untuk ikan budi daya:
- dari pakan
- dari kemampuan ikan mengambil mineral
Defisiensi (kekurangan) vitamin menyebabkan:
- ketidaknormalan dalam morfologis maupun fisiologis ikan
- penurunan aktivitas enzim
- gangguan fungsi sel; kerusakan sel
- penurunan nafsu makan ikan
- pertumbuhan abnormal (skoliosis, lordosis)
- laju pertumbuhan menurun
- kematian (defisiensi vitamin secara kronis / berkelanjutan)
MINERAL
Mineral:
bahan anorganik yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit
namun memiliki fungsi yang sangat penting
Fungsi utama mineral:
1. komponen utama dalam struktur gigi dan tulang
2. sebagai struktur dari jaringan
3. menjaga keseimbangan asam basa
4. berperan dalam fungsi metabolisme
5. sebagai komponen utama dari enzim, vitamin, hormon, dan
pigmen
MINERAL
Dua kelompok mineral:
1. MAKROMINERAL
konsentrasi tinggi dalam tubuh
Ca (kalsium), Mg (magnesium), Na (natrium), K (kalium)
P (fosfor), Cl (klorida), dan S (sulfur)
2. MIKROMINERAL
konsentrasi rendah dalam tubuh
Fe (besi), Zn (seng), Mn (mangan), Cu (tembaga),
I (iodium), Co (kobalt), Ni (nikel), F (fluor), Cr (krom)
Si (silikon), dan Se (selenium)


2 Komentar

FERMENTED SOLID CASSAVA-WASTE


FERMENTED SOLID CASSAVA-WASTE
Mengembangkan Akuakultur yang Profitable dan Sustainable dengan Pemanfaatan Limbah Bahan Baku Lokal Sebagai Sumber Protein Alternatif dalam Pakan Ikan

Jhon Lamhot F. Napitupulu C14070006 2007
Randi Milonda C14080010 2008
Garry Raffiano C14080070 2008

Peningkatan produksi budidaya perikanan diupayakan terus dilakukan sampai memenuhi target dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, dimana total produksi hasil perikanan Indonesia mencapai 353% pada tahun 2014. Tahun 2011 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan sasaran produksi ikan sebesar 12,26 juta ton. Angka ini meningkat 13 % dari produksi tahun lalu sebesar 10,85 juta ton (1). Keberhasilan budidaya ikan yang intensif sangat menuntut tersedianya pakan dalam kualitas yang baik, kuantitas yang cukup, harga yang relatif murah, tepat waktu dan berkesinambungan.
Pakan merupakan komponen biaya operasional terbesar dalam kegiatan budidaya. Kebutuhan akan pakan dapat menyerap hingga 60% total biaya produksi. Sumber bahan baku penyusun pakan yang terbesar saat ini adalah dari tepung ikan. Penggunaan tepung ikan dapat menyumbangkan 40-50 % dari total bahan baku penyusun pakan. Kebutuhan tepung ikan bagi industri pakan udang dan ikan di Indonesia berkisar antara 90 ribu sampai 100 ribu ton setiap tahun dimana harga impor tepung ikan pada Januari 2011 mencapai US $ 1.607,46 / 1000 Kg (2).
Upaya yang harus dilakukan untuk mengantisipasi mahalnya biaya bahan baku tepung ikan untuk pembuatan pakan ikan adalah pencarian bahan baku alternatif pakan. Syarat suatu bahan baku yang dapat dijadikan sebagai bahan alternatif pembuatan pakan adalah memiliki kandungan gizi yang cukup, harganya harus lebih murah dibandingkan dengan bahan baku pakan yang telah ada, ketersediaannya yang melimpah, dan tidak adanya persaingan dengan kebutuhan pangan manusia.
Bahan baku alternatif yang dapat digunakan sebagai bahan baku pakan ikan dapat memanfaatkan limbah pertanian. Salah satu contoh limbah pertanian yang sampai saat ini belum termanfaatkan adalah limbah kulit umbi ubi kayu (Manihot esculenta Crantz). Produksi umbi ubi kayu di Indonesia pada tahun 2007 mencapai 19,98 juta ton, dengan perkiraan kulit umbi yang akan dihasilkan kurang lebih 16% dari produksi umbi ubi kayu (3). Pengolahan limbah kulit ubi kayu sebagai bahan baku pakan ikan dapat dilakukan secara biologis dengan menggunakan mikroorganisme. Menurut peneliti (4), limbah kulit ubi kayu yang difermentasi dengan menggunakan Aspergillus niger and Lactobacillus rhamnosus dapat meningkatkan kadar protein dari 5,50 % menjadi 24,40%. Sementara menurut peneliti lainnya (5), kadar protein limbah kulit ubi kayu dapat meningkat dari 4,21% menjadi 37,63 %.
Penggunaan limbah kulit ubi kayu dengan fermentasi oleh mikroorganisme ini layak untuk dilakukan dalam usaha untuk mengurangi ketergantungan terhadap tepung ikan. Untuk menjamin keberhasilan penggunaan limbah kulit ubi kayu sebagai bahan baku pakan ikan, perlu diadakannya suatu riset penelitian terlebih dahulu akan bahan baku ini. Hasil akhir yang dapat diperoleh adalah berkurangnya biaya produksi terhadap penyediaan pakan ikan sehingga kegiatan intensifikasi budidaya perikanan dapat dilakukan dengan baik dan tanpa kendala.
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Peningkatan produksi budidaya perikanan diupayakan terus dilakukan dengan target total produksi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan mencapai 353% pada tahun 2014. Tahun ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan sasaran produksi ikan sebesar 12,26 juta ton. Angka ini meningkat 13 % dari produksi tahun lalu sebesar 10,85 juta ton (1). Berbagai upaya intensifikasi dan pengembangan teknologi kegiatan budidaya dilakukan untuk dapat memenuhi kebutuhan akan produk-produk akuakultur. Peningkatan aktivitas perikanan budidaya tentunya akan mendorong peningkatan kebutuhan akan input-input produksi, yang salah satunya adalah pakan.
Pada satu sisi, dalam budidaya perikanan sistem intensif, dimana biaya pakan mencakup lebih dari 70% dari biaya produksi, ketersediaan pakan dengan kualitas dan kuantitas yang memadai, harga yang relatif murah, tepat waktu dan berkesinambungan merupakan salah satu kunci keberhasilan usaha. Namun di sisi lain, usaha budidaya perikanan terutama di Indonesia dihadapkan dengan harga pakan ikan yang semakin meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Penyebab utama mahalnya harga pakan ikan adalah penggunaan tepung ikan sebagai sumber protein. Hingga saat ini untuk keperluan produksi pakan ikan Indonesia masih harus mengimpor dari berbagai negara seperti Chili, Peru, Thailand. Sementara itu harga tepung ikan, yang merupakan olahan dari ikan hasil perikanan tangkap, di pasar dunia juga terus menunjukkan peningkatan dari waktu ke waktu. Hal ini terutama disebabkan oleh kecenderungan produksi tepung ikan dunia yang stagnan bahkan cenderung menurun karena terbatasnya stok alam yang dibarengi dengan permintaan yang terus meningkat.
Kebutuhan tepung ikan bagi industri pakan udang dan ikan di Indonesia berkisar antara 90 ribu sampai 100 ribu ton setiap tahun. Namun, angka impor tepung ikan yang dikeluarkan BPS (Badan Pusat Statistik) menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun. Pada 2006 mencapai angka 88.825 ribu ton, pada 2008 menjadi 67.597 ribu ton. Tren penurunan tersebut seiring dengan penurunan produksi tepung ikan dunia. Harga impor tepung ikan pada Januari 2011 mencapai US $ 1.607,46 / 1000 Kg (2).
Penggunaan alternatif substitusi bahan baku pakan ikan yang dapat dilakukan adalah dengan menitikberatkan pada bahan baku yang bersifat mudah didapatkan, murah, serta tidak bersaing dengan kebutuhan manusia berupa pemanfaatan limbah pertanian. Pemilihan alternatif ini berdasarkan pertimbangan bahwa limbah pertanian tersedia dalam jumlah besar dan belum dimanfaatkan dengan baik. Namun demikian salah satu permasalahan yang dihadapi dalam pemanfaatan limbah pertanian ini adalah rendahnya kandungan nutrisi, adanya anti nutritional factor dan tingginya kandungan serat kasar yang dapat menghambat proses pencernaan.
Salah satu contoh limbah pertanian yang sampai saat ini belum termanfaatkan adalah limbah kulit umbi ubi kayu (Manihot esculenta Crantz). Produksi umbi ubi kayu di Indonesia pada tahun 2007 mencapai 19,98 juta ton, dengan perkiraan kulit umbi yang akan dihasilkan kurang lebih 16% dari produksi umbi ubi kayu (3).
Pengolahan limbah kulit ubi kayu dapat dilakukan secara biologis dengan menggunakan mikroorganisme. Menurut seorang peneliti (4), limbah kulit ubi kayu yang difermentasi dengan menggunakan Aspergillus niger and Lactobacillus rhamnosus dapat meningkatkan kadar protein dari 5,50 % menjadi 24,40%. Hasil penelitian yang hampir sama menjelaskan bahwa kadar protein limbah kulit ubi kayu dapat meningkat dari 4,21% menjadi 37,63 % (5).
Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk bahan baku alternatif sumber protein bagi pakan ikan. Kadar protein sebanyak 37,63% dari hasil fermentasi limbah kulit ubi kayu dapat diupayakan untuk mengurangi penggunaan tepung ikan yang harganya relatif meningkat tiap tahunnya. Penggunaan hasil fermentasi limbah kulit ubi kayu juga telah dicoba sebagai alternatif pakan untuk ternak dimana hasilnya tidak menunjukkan perbedaan nyata dengan penggunaan bahan pakan lainnya yang biasa digunakan. Hal ini berarti bahwa penggunaan Fermented Solid Cassava-Waste dapat dicoba digunakan untuk bahan baku pakan ikan untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

Tujuan
Penulisan karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk menyajikan gagasan alternatif bahan baku pakan ikan yang murah dan memiliki kandungan nutrisi yang relatif tinggi melalui bioprocessing limbah kulit ubi kayu.
Penulisan karya tulis ilmiah ini memberi manfaat untuk:
1. Mencari alternatif bahan baku pakan ikan yang murah dan memiliki kandungan nutrisi yang relatif tinggi.
2. Memanfaatkan limbah pertanian sebagai bahan baku pakan ikan dengan bantuan mikroorganisme.
3. Menciptakan kondisi lingkungan Zero waste, dimana lingkungan bebas dari limbah.

GAGASAN

Kegiatan produksi di bidang budidaya perairan hingga saat ini semakin meningkat terutama untuk menyuplai bahan pangan bagi manusia, khususnya sebagai sumber protein. FAO memperkirakan bahwa total konsumsi ikan pada tahun 2011 akan mencapai 32 Kg /kapita/tahun. Untuk menghadapi tantangan ini, peningkatan produksi budidaya terus diupayakan dikarenakan produksi ikan dari hasil perikanan tangkap yang mengalami kecenderungan yang stagnan dan menurun. Peningkatan produksi budidaya perikanan diupayakan terus dilakukan dengan target total produksi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan mencapai 353% pada tahun 2014. Tahun 2011 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan sasaran produksi ikan sebesar 12,26 juta ton. Angka ini meningkat 13 % dari produksi tahun lalu sebesar 10,85 juta ton (1).
Upaya untuk melakukan budidaya yang intensif tentunya harus diikuti dengan peningkatan input produksi salah satunya adalah pakan yang menyuplai kebutuhan nutrisi ikan. Pakan merupakan komponen biaya operasional terbesar dalam kegiatan budidaya yang dapat menyerap hingga 60% total biaya produksi. Sumber bahan baku penyusun pakan yang terbesar saat ini adalah dari tepung ikan. Penggunaan tepung ikan dapat menyumbangkan 40-50 % dari total bahan baku penyusun pakan. Tepung ikan yang digunakan sebagai bahan baku pakan di Indonesia umumnya harus diimpor dari luar negeri seperti Chile karena kualitas tepung ikan lokal masih relatif rendah. Sementara itu harga tepung ikan di pasar dunia cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini disebabkan karena hasil perikanan tangkap yang merupakan bahan baku pembuatan tepung ikan mengalami stagnasi atau bahkan menurun. Penurunan produksi yang diikuti dengan meningkatnya permintaan tentunya menyebabkan harga produk tepung ikan semakin lama semakin mahal. Penurunan produksi tepung ikan terjadi sejak 2004 yang kala itu produksi tepung ikan dunia sekitar 6,4 juta ton. Jumlah tersebut menurun setiap tahun hingga 2009 sekitar 4,8 juta ton. Kebutuhan tepung ikan bagi industri pakan udang dan ikan di Indonesia berkisar antara 90 ribu sampai 100 ribu ton setiap tahun dimana harga impor tepung ikan pada Januari 2011 mencapai US $ 1.607,46 / 1000 Kg (2).
Upaya yang harus dilakukan untuk mengantisipasi mahalnya biaya bahan baku tepung ikan untuk pembuatan pakan ikan adalah pencarian bahan baku alternatif pakan yang memiliki kandungan gizi yang cukup, harganya yang relatif murah dibandingkan dengan bahan baku pakan yang telah ada, ketersediaan yang melimpah, dan tidak adanya persaingan dengan kebutuhan pangan manusia.
Saat ini telah terjadi kecenderungan pergeseran pola penyediaan baku pakan ke arah alternatif bahan berbasis limbah. Limbah (bu product) yang saat ini gencar dilirik masyarakat untuk dimanfaatkan adalah bahan limbah pertanian (crop residue), limbah perikanan (fishery waste), limbah ternak (animal waste), hingga limbah hasil sampingan agroindustri (agro-industry by product). Limbah diartikan suatu substansi yang didapatkan selama pembuatan sesuatu (by product), barang sisa (residue) atau sesuatu yang harus dibuang (waste). Limbah yang dihasilkan dari suatu aktivitas belum mempunyai nilai ekonomis dan pemanfaatannya dibatasi oleh waktu dan ruang sehingga limbah dapat dianggap sebagai sumberdaya tambahan yang dapat dioptimalkan. Saat ini, peningkatan upaya untuk mencegah terjadinya polusi lingkungan dan adanya keinginan atau motivasi dari aspek ekonomi telah mengintroduksi dilakukannya proses penanganan dan treatment lingkungan dengan tahap yakni recovery, bioconversion dan peningkatan nilai tambah dari proses pengolahan limbah (6).
Upaya pengolahan limbah dapat memberi manfaat pada berbagai sektor industri, khususnya penggunaannya sebagai bahan pakan untuk ternak maupun untuk pakan ikan (6). Pemanfaaan limbah sebagai bahan pakan ikan mampu memberi nilai ekonomis melalui pengurangan biaya pakan dan membantu menekan pencemaran lingkungan.
Pemanfaatan limbah kulit ubi kayu sebagai salah satu alternatif bahan pakan dikarenakan melimpahnya ketersediaan jumlah bahan ini di daerah-daerah yang ada di Indonesia dan belum termanfaat dengan baik. Bahan ini juga belum dimanfaatkan untuk kegiatan manusia sehingga dapat menjamin ketersediaannya dan harganya yang relatif murah dibandingkan dengan bahan baku pakan lain. Hal yang sangat bermanfaat dalam penggunaan limbah kulit ubi kayu ini adalah kandungan nutrisi yang cukup tinggi yang dapat digunakan sebagai sumber protein untuk mengurangi penggunaan tepung ikan sebagai pakan.
Kulit umbi ubi kayu yang diperoleh dari produk tanaman ubi kayu (Manihot esculenta Cranz) merupakan limbah utama pangan di negara-negara berkembang. Semakin luas areal tanaman ubi kayu diharapkan produksi umbi yang dihasilkan semakin tinggi yang pada gilirannya semakin tinggi pula limbah kulit yang dihasilkan. Setiap kilogram ubi kayu biasanya dapat menghasilkan 15 – 20 % kulit umbi. Kulit ubi kayu mempunyai kandungan protein kasar (PK) sebesar 4,21%, serat kasar (8,64%), Lemak kasar (LK) 1,37%, dan kandungan BETN sebesar 51,93%, selain itu kulit ubi kayu juga memiliki HCN sebesar 0,72 mg / 100 g (5).
Penggunaan limbah kulit ubi kayu sebagai bahan baku pakan ikan belum dapat dilakukan secara optimal saat ini dikarenakan kecernaan bahan pakan ini yang sangat rendah, selain itu kandungan protein di dalamnya juga belum terolah secara maksimal sebagai bahan pakan. Kulit ubi kayu juga memiliki kadar HCN sebesar 0,72 mg / g, dan dapat bersifat toksik jika dikonsumsi.
Solusi pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah dengan pengolahan limbah kulit ubi kayu tersebut. Salah satu alternatif pengolahan limbah yang aman, relatif murah dan sering digunakan oleh masyarakat adalah pengolahan secara biologis, yakni pengolahan dengan memanfaatkan mikroorganisme yang akan melakukan proses biologis (bioprocess) dalam mengolah senyawa-senyawa yang tidak dibutuhkan dalam bahan baku pakan dan mendapatkan senyawa yang diinginkan dalam proses pembuatan bahan pakan. Mikroorganisme yang dapat digunakan ini dapat berasal dari golongan bakteri maupun khamir.
Pengembangan penggunaan mikroorganisme yang dapat memanfaatkan asam laktat untuk memfermentasi suatu bahan limbah pertanian terus ditingkatkan. Mikroorganisme ini dipilih karena dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kontaminasi enteropathogens ke dalam hasil fermentasi yang dapat mempengaruhi kualitas keamanan pakan. Lactic acid bacterial atau Lactic acid microorganism mampu untuk memfermentasi limbah pertanian pada kisaran pH 3,8 – 4,0 dengan jumlah asam laktat sebesar 150 – 250 mmol/L (7). Kandungan asam laktat yang cukup dan kondisi pH yang rendah dipercaya akan mendukung mikroorganimse yang ada dapat melakukan proses fermentasi secara maksimum. Selain itu, kondisi ini juga mampu mengeliminasi patogen yang ada seperti Salmonella spp., Campylobacter spp., dan coliforms (8).
Proses fermentase oleh mikroorganisme dapat dilakukan karena adanya kandungan enzim xylanase. Xylanase merupakan kelompok enzim yang dapat menghidrolisis hemiselulosa yaitu xilan atau polimer dari xilosa dan xilooligosakarida. Xilanase dapat diklasifikasikan berdasarkan substrat yang dihidrolisis, yaitu: β-xilosidase, eksoxilanase, dan endoxilanase. β-xilosidase, yaitu xilanase yang mampu menghidrolisis xilooligosakarida rantai pendek menjadi xilosa. Aktivitas enzim akan menurun dengan meningkatnya rantai xilooligosakarida (9). Xilosa selain merupakan hasil hidrolisis juga merupakan inhibitor bagi enzim β-xilosidase. Sebagian besar enzim β-xilosidase yang berhasil dimurnikan masih menunjukkan adanya aktivitas transferase yang menyebabkan enzim ini kurang dapat digunakan industri penghasil xilosa. Eksoxilanase mampu memutus rantai polimer xilosa (xilan) pada ujung reduksi, sehingga menghasilkan xilosa sebagai produk utama dan sejumlah oligosakarida rantai pendek. Enzim ini dapat mengandung sedikit aktivitas transferase sehingga potensial dalam industry penghasil xilosa. Endoxilanase mampu memutus ikatan β 1-4 pada bagian dalam ran-tai xilan secara teratur. Ikatan yang diputus ditentukan berdasarkan panjang rantai substrat, derajad percabangan, ada atau tidaknya gugus substitusi, dan pola pemutusan dari enzim hidrolase tersebut.
Xilanase umumnya merupakan protein kecil dengan berat molekul antara 15.000-30.000 Dalton, aktif pada suhu 55oC dengan pH 9 (10). Pada suhu 60oC dan pH normal, xilanase lebih stabil. Xilanase bisa digunakan untuk menghidrolisis xilan (hemiselulosa) menjadi gula xilosa. Xilan banyak diperoleh dari limbah pertanian dan industri makanan. Pengembangan proses hidrolisis secara enzimatis merupakan prospek baru untuk penanganan limbah hemiselulosa dimana telah dilakukan penelitian pemanfaatan xilanase untuk campuran makanan ayam boiler, dengan melihat pengaruhnya terhadap berat yang dicapai dan efisiensi konversi makanan serta hubungannya dengan viskositas pencernaan.
Limbah kulit ubi kayu dapat diolah melalui bioprocessing dengan menggunakan mikroorganisme untuk dapat meningkatkan kandungan gizi nya sehingga sesuai dengan kebutuhan ikan. Hasil penelitian menunjukkan limbah kulit kayu yang difermentasi dengan menggunakan Aspergillus niger and Lactobacillus rhamnosus dapat meningkatkan kadar protein dari 5,50 % menjadi 24,40% (4). Hasil yang hampir sama didapatkan bahwa kadar protein limbah kulit ubi kayu dapat meningkat dari 4,21% menjadi 37,63 % dengan fermentasi dengan menggunakan Trichoderma viride ATCC 36316. Kadar HCN juga dapat diturunkan hingga mencapai 0,3 mg / 100 g (5).
Proses fermentasi dengan teknologi yang sesuai dapat menghasilkan produk protein. Protein ini dikenal dengan sebutan Single Cell Protein (SCP) atau Protein Sel Tunggal yakni protein kasar atau murni yang berasal dari hasil fermentasi mikroorganisme. Fermentasi kulit umbi ubi kayu dilakukan untuk meningkatkan kandungan protein dan mengurangi masalah limbah pertanian. Produk fermentasi selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan atau suplemen produk pangan atau pakan (11).
Secara umum proses fermentasi limbah kulit ubi kayu dapat dilakukan dengan memperhatikan berbagai aspek yang dapat mempengaruhi keberhasilan kerja dari proses fermentasinya. Aspek tersebut diantaranya adalah jenis mikroba yang digunakan beserta dosisnya inokulannya, jenis dan kondisi substrat yang digunakan serta lamanya waktu fermentasi yang dibutuhkan.
Berdasarkan hasil penelitian (11), inokulan yang dapat digunakan untuk memfermentasi limbah kulit ubi kayu adalah Rhizopus, Saccharomyces, Aspergilus niger, dan Trichoderma viride. Jumlah inokulan yang dibutuhkan adalah 3 g /kg kulit ubi kayu. Lamanya waktu fermentasi optimal yang dibutuhkan adalah 5-8 hari, dan dapat meningkatkan kandungan protein limbah kulit ubi kayu serta mengurangi kadar sianida (HCN) yang bersifat toksik. Seorang peneliti melaporkan bahwa kapang yang dapat dugunakan dalam proses fermentasi termasuk golongan mesofilik yang tumbuh optimum pada suhu 25 – 300C (12). Peneliti lainnya (13) menemukan temperatur optimum untuk pertumbuhan A. niger adalah 300C. Aktivitas enzim ekstraseluler dari kapang sangat dipengaruhi oleh suhu inkubasi. Pengaruh suhu inkubasi terhadap aktivitas enzim xilanase dan β-xilosidase menunjukkan bahwa apabila dibandingkan suhu 25 – 300C dan 350C maka suhu 300C merupakan suhu inkubasi yang menghasilkan enzim dengan aktivitas tertinggi (14).
Kandungan nutrisi yang diinginkan dari bahan ini adalah protein. Jumlah kadar protein yang dimiliki oleh limbah kulit ubi kayu adalah sekitar 5,50 %. Dengan proses fermentasi menggunakan Trichoderma viride ATCC 36316, diharapkan kandungan protein dan ketersediaan nutrient lain dapat ditingkatkan. Untuk limbah kulit ubi kayu protein dapat ditingkatkan mencapai 37,63 %. Berdasarkan hasil penelitian (5), penggunaan Trichoderma viride ATCC 36316 untuk fermentasi limbah kulit ubi kayu juga akan dapat meningkatkan seluruh kandungan asam amino yang ada pada kulit ubi kayu. Kulit ubi kayu memiliki hampir semua jenis asam amino yang terkandung, dan melalui proses fermentasi keseluruhan kadar asam amino itu dapat ditingkatkan menjadi lebih signifikan. Hasil penelitian terhadap peningkatan kadar asam amino dapat disajikan pada tabel 1.
Tabel 1 Profil asam amino limbah ubi kayu yang tidak difermentasi dengan hasil fermentasi
Asam Amino Limbah Ubi kayu yang tidak difermentasi (mg/100g) Limbah kulit ubi kayu yang difermentasi tidak dengan pretreatment enzim (mg/100 g) Limbah kulit ubi kayu yang difermentasi dengan pretreatment enzim (mg/100 g)
Taurine 80 ± 1.1 110 ± 2.0 120 ± 2.3
Asam Aspartic 300 ± 2.5 1340 ± 28.7 1290 ± 29.5
Threonine 130 ± 2.0 760 ± 5.6 740 ± 5.4
Serine 120 ±1.3 630 ± 3.4 630 ± 4.3
Asam Glutamat 510 ± 4.5 1660 ± 13.3 1750 ± 5.4
Proline 140 ± 2.1 690 ± 0.36 640 ± 4.3
Glysin 160 ± 1.2 750 ± 4.4 720 ± 3.3
Alanine 190 ± 1.4 1100 ± 21.1 1020 ±18.9
Sistein 60 ± 0.9 260 ± 1.9 230 ± 1.2
Valine 190 ± 1.4 1030 ± 15.6 1010 ± 16.3
Methionin 60 ± 0.9 250 ± 3.0 230 ± 4.1
Isoleucine 150 ± 1.7 680 ± 8.9 650 ± 12
Leucine 240 ± 1.6 1160 ± 25.4 1090 ± 23.0
Tyrosine 70 ± 0.8 370 ± 4.9 370 ± 2.9
Phenylalanine 140 ± 1.1 640 ± 12.3 610 ± 12.2
Ornithine 10 ± 0.4 20 ± 1.1 30 ± 2.4
Lysine 180 + 2.2 1080 + 27.2 980 + 16.7
Histidine 90 + 1.5 360 + 2.4 330 + 2.3
Arginine 190 + 2.7 840 + 16.6 810 + 15.4
Tryptophan <40 50 + 2.0 40 + 1.0
Total amino acid content (mg/100 g) 3180 14240 13640
Sumber : (5)

Penggunaan limbah kulit ubi kayu sebagai campuran bahan baku pakan telah dicoba penggunaannya dalam bidang peternakan. Pada usaha peternakan sapi potong, penggunaan limbah kulit ubi kayu dapat menggantikan konsentrat komersial hingga 30%. Pertumbuhan ternak sapi yang diberi perlakuan pakan ransum limbah kulit ubi kayu hasil fermentasi tidak menunjukkan perbedaan yang terlalu signifikan dengan pemberian ransum ternak lainnya. Kadar protein yang dihasilkan dapat menggantikan kadar protein dari bahan pakan yang lebih komersial (15).
Melalui bioprocessing limbah kulit ubi kayu, hasil positif yang telah diperoleh dalam bidang peternakan ini diharapkan dapat juga diterapkan dalam bidang perikanan. Pemanfaatan limbah kulit ubi kayu dengan pengolahan menggunakan bantuan mikroorganisme diharapkan mampu menghasilkan senyawa-senyawa nutrien yang dibutuhkan oleh ikan. Hal lain yang diinginkan dari pemanfaatan bahan ini dapat mengurangi penggunaan bahan baku tepung ikan dalam pembuatan pakan, sehingga dapat mengurangi ongkos produksi. Hal yang sangat penting ditekankan adalah penggunaan limbah kulit ubi kayu ini tidak digunakan untuk menggantikan tepung ikan sebagai bahan baku pembuatan pakan, namun lebih kepada mengurangi penggunaan tepung ikan sebanyak mungkin.
Penggunaan limbah kulit ubi kayu dengan fermerntasi mikroorganisme ini diharapkan layak untuk dilakukan dalam usaha untuk mengurangi ketergantungan terhadap tepung ikan. Untuk menjamin keberhasilan penggunaan limbah kulit ubi kayu sebagai bahan baku pakan ikan, perlu diadakan serangkaian penelitian yang tentunya perlu melibatkan berbagai pihak seperti pemerintah atau dinas yang terkait yakni Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), pihak akademisi atau universitas, hingga pengusaha dalam bidang pakan ikan. Kementerian Kelautan dan Perikanan dapat melakukan atau memfasilitasi berbagai riset yang dapat dilakukan untuk mendapatkan produk terbaik dari bahan baku limbah kulit ubi kayu hasil fermentasi ini sehingga dapat dipergunakan sebagai pakan ikan. Pihak akademisi atau universitas dapat bekerja sama dengan para pemerintah untuk membantu proses riset dan penelitian dalam mencari teknik atau cara pengolahan dan pemanfaatan limbah kulit ubi kayu hasil fermentasi dengan bantuan mikroorganisme ini agar sesuai dengan kebutuhan ikan. Pihak pengusaha di bidang pakan ikan juga diharapkan mau bekerja sama dalam proses penyedia fasilitas dan modal untuk kelancaran riset ini. Selain itu juga diperlukan adanya koordinasi dan kerja sama antara pemerintah dengan masyarakat maupun perusahaan pengolahan ubi kayu agar penyediaan limbah kulit ubi kayu tidak dipermainkan. Hal ini dilakukan untuk mencegah kelangkaan yang mungkin ditimbulkan dalam penyediaan limbah kulit ubi kayu ini sehingga dapat berdampak meningkatnya harga bahan baku ini.
Langkah-langkah strategis yang harus dilakukan dalam bioprocessing limbah kulit ubi kayu sebagai bahan baku pakan ikan ini adalah :
1. Melakukan penelitian lebih lanjut tentang kandungan nutrisi kulit ubi kayu hasil fermentasi termasuk di dalamnya kandungan anti nutritional factor yang berpotensi menurunkan kualitas bahan ini sebagai bahan baku pakan ikan.
2. Mencari jenis mikroorganisme yang paling tepat dalam proses fermentasi limbah kulit ubi kayu yang dapat mengingkatkan kualitas nutrisi lebih signifikan serta dapat meminimalkan kandungan bahan anti nutritional factor. Hasil studi pustaka menunjukkan Aspergillus niger, Trichoderma viride ATCC 36316 dapat memfermentasi limbah kulit ubi kayu dengan peningkatan kadar protein yang lebih tinggi dibandingkan mikroorganisme lainnya. Perlu untuk dikaji berapa banyak inokulan yang tepat dan komposisi inokulan yang digunakan sehingga didapatkan hasil fermentasi yang terbaik.
3. Mencari teknologi fermentasi yang paling tepat dan ekonomis yang dapat diaplikasikan hingga skala produksi massal. Dalam hal ini perlu untuk diterapkan kondisi media fermentasi yang terbaik agar mikroorganisme dapat melakukan bioproses dengan optimal.
4. Mencari formulasi pakan ikan dengan substitusi bahan baku fermentasi limbah kulit ubi kayu yang tepat yang dapat menghasilkan ikan dengan pertumbuhan setara dengan pakan tanpa substitusi.

KESIMPULAN

Berdasarkan analisis sintesis permasalahan dan solusi, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa pemanfaatan limbah pertanian berupa limbah kulit ubi kayu dapat dijadikan sebagai salah satu solusi dari alternatif bahan baku pakan ikan. Limbah kulit ubi kayu ini mengandung protein sebanyak 5,50% dan perlakuan fermentasi oleh, Trichoderma viride ATCC 36316 dapat meningkatkan kadar protein menjadi 37,63 %. Mikroorganisme ini diharapkan mampu menghilangkan serat kasar berupa lignin serta HCN yang ada pada limbah kulit ubi kayu, sehingga bahan baku ini dapat dimanfaatkan dan dapat dicerna ikan dengan baik. Pemanfaatan limbah kulit ubi kayu sebagai sumber protein diharapkan akan mampu mengurangi penggunaan tepung ikan sebagai sumber protein utama dalam campuran pakan ikan. Hasil akhir yang dapat diperoleh adalah berkurangnya biaya produksi terhadap penyediaan pakan ikan sehingga kegiatan intensifikasi budidaya perikanan dapat dilakukan dengan baik dan tanpa kendala. Saran yang diajukan adalah dilakukannya riset terhadap pemilihan teknologi fermentasi yang paling tepat dan ekonomis yang dapat diaplikasikan hingga skala produksi masal serta pencarian formulasi pakan ikan dengan substitusi bahan baku fermentasi limbah kulit kayu yang tepat yang dapat menghasilkan ikan dengan pertumbuhan setara dengan pakan tanpa substitusi


Tinggalkan komentar

PENGARUH PEMBERIAN PROBIOTIK DALAM PELET TERHADAP PERTUMBUHAN LELE SANGKURIANG Supriyanto FMIPA Universitas Negeri Semarang ABSTRAK


PENGARUH PEMBERIAN PROBIOTIK DALAM PELET
TERHADAP PERTUMBUHAN LELE SANGKURIANG
Supriyanto
FMIPA Universitas Negeri Semarang
ABSTRAK
Pakan merupakan faktor utama yang harus diperhatikan untuk pertumbuhan
lele Sangkuriang. Penyemprotan probiotik pada pakan berpengaruh pada kecepatan
fermentasi pakan tersebut dalam saluran pencernaan, sehingga membantu proses
pencernaan dan penyerapan sari makanan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui
pengaruh pemberian probiotik pada pakan terhadap pertumbuhan lele
Sangkuriang.Penelitian dirancang dengan rancangan acak lengkap. Hewan coba
dikelompokkan menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 3 ulangan
setiap ulangan berisi 100 ekor bibit lele Sangkuriang masing-masing seberat sekitar 4
gram. Kelompok A sebagai kontrol diberi pakan tidak disemprot probiotik, kelompok
B diberi pakan disemprot probiotik dianginkan selama 10 menit, kelompok C diberi
pakan disemprot probiotik dianginkan selama 20 menit, kelompok D diberi pakan
disemprot probiotik dianginkan selama 40 menit. Setiap minggu lele Sangkuriang
diukur berat badan. Selisih berat biomassa mutlak dan laju pertumbuhan
“instantaneous growth” hari pertama perlakuan penelitian dan hari terakhir perlakuan
penelitian diuji dengan Anava satu jalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pemberian probiotik pada pakan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan lele
Sangkuriang. Pertumbuhan berat biomassa mutlak rata-rata tertinggi dicapai oleh
perlakuan D (2064,67g), selanjutnya berturut-turut diikuti oleh C (2064,33 g), B
(2027 g) dan A (1988,67 g). Pada taraf signifikansi (α) sebesar 5 % didapat nilai F
tabel sebesar 4,07. Oleh karena F hitung (3,10) < F tabel (4,07), maka Ho diterima.
Laju pertumbuhan “instantaneous growth (g)” rata-rata tertinggi diperoleh dari
perlakuan B (0,43), kemudian berturut-turut perlakuan C dan A (0,42), dan perlakuan
D (0,40). Pada taraf signifikansi (α) sebesar 5 % didapat nilai F tabel 4,07. Karena F
hitung (2,419) F6, dihasilkan lele dumbo
F2–6 selanjutnya pejantan turunan ini dikawinkan dengan betina F2. Kehadiran lele varietas baru
ini untuk menjawab masalah penurunan kualitas lele dumbo.
Lele Sangkuriang sebagai komoditas perikanan dengan nilai ekonomis tinggi belum banyak
yang dibudidayakan secara benar sehingga banyak sekali hal yang harus diteliti dalam kaitannya
dengan teknik budidaya agar kegiatan budidaya yang dilakukan dapat berhasil. Untuk memenuhi
kebutuhan tersebut diperlukan adanya penelitian untuk mengantisipasi faktor-faktor kegagalan
produksi terutama terhadap manajemen pakan dan penanggulangan penyakit.
Penggunaan bahan obat–obatan, antibiotik atau bahan kimia lain yang banyak diaplikasikan
dalam produksi perikanan untuk mengantisipasi serangan penyakit, mulai dikurangi mengingat
bahan-bahan tersebut dapat mengakibatkan residu pada ikan.
Upaya pencegahan penyakit dan usaha untuk meningkatkan kelangsungan hidup hewan
budidaya tersebut, saat ini mulai digunakan probiotik dalam usaha pembenihan ikan, Crustacea
dan kerang-kerangan. Probiotik itu sendiri adalah makanan tambahan (suplemen) berupa sel-sel
mikroorganisme hidup yang memiliki pengaruh menguntungkan bagi hewan inang yang
mengkonsumsinya melalui penyeimbangan flora mikroorganisme intestinal dalam saluran
pencernaan (Irianto, 2007; Anonim, 2003). Menurut Irianto (2007), pemberian organisme
probiotik dalam akuakultur dapat diberikan melalui pakan, air maupun melalui perantaraan pakan
hidup seperti rotifera atau artemia. Pemberian probiotik dalam pakan, berpengaruh terhadap
kecepatan fermentasi pakan dalam saluran pencernaan, sehingga akan sangat membantu proses
penyerapan makanan dalam pencernaan ikan. Fermentasi pakan mampu mengurai senyawa
kompleks menjadi sederhana sehingga siap digunakan ikan, dan sejumlah mikroorganisme
mampu mensistesa vitamin dan asam-asam amino yang dibutuhkan oleh larva hewan akuatik.
Pemberian probiotik pada pelet dengan cara disemprotkan dapat menimbulkan terjadinya
fermentasi pada pelet dan meningkatkan kecepatan pencernaan. Selanjutnya akan meningkatkan
konversi pakan ikan, peternak dapat memproduksi lele ukuran layak jual dalam waktu lebih
singkat (60-70 hari), sehingga dapat menekan biaya produksi.
Supriyanto : Pengaruh Pemberian Probiotik 19
Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini: apakah pemberian pelet yang
mengandung probiotik berpengaruh terhadap pertumbuhan lele sangkuriang?
METODE
Dalam pelaksanaan penelitian ini meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut setelah bak
terpal plastik berisi air, kegiatan selanjutnya yaitu memasang aerator sebagai pemasok oksigen ke
dalam air. Bibit lele ditimbang lebih dahulu, kemudian dimasukkan ke dalam bak terpal plastik
Setiap seminggu sekali dilakukan pengukuran berat biomassa lele. Hal ini dilakukan
berdasarkan asumsi bahwa seminggu sudah terjadi pertambahan ukuran berat badan dan panjang
tubuh bibit lele. Penimbangan ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan lele dan untuk
menentukan kembali jumlah pakan yang harus diberikan.
Pemeliharaan lele kurang lebih selama 1 bulan. Pakan yang diberikan 5 – 8 % dari berat
biomassa per hari (INFIS 1992; Mahyuddin, 2008). Berat biomassa standar dalam penelitian ini
adalah berat biomassa rata-rata hewan uji tiap perlakuan (Martuti 1989). Dengan demikian,
jumlah pakan yang diberikan per hari apabila diberi pakan 8 % berat biomassa adalah 8/100 x 4 g
= 0,32 g/hari/ekor. Meliputi pengukuran pH air, kandungan O2 terlarut dalam air dan suhu air
dilakukan setiap tiga hari sekali selama penelitian.
Pengukuran pertumbuhan lele uji dengan menghitung pertambahan berat biomassa dalam
satu wadah (Matondang, 1984 dalam Martuti 1989). Pertumbuhan biomassa mutlak ditetapkan
berdasarkan hasil pertambahan biomassa lele uji untuk masing-masing bak penelitian.
Perhitungan biomassa mutlak sesuai dengan rumus dari Effendi (1997), yaitu:
W = Wt – Wo
Keterangan:
W = Pertumbuhan biomassa mutlak lele uji (g)
Wt = Biomassa lele uji pada akhir penelitian (g)
Wo = Biomassa lele uji pada awal penelitian (g)
Laju pertumbuhan “instantaneous growth (g) ” dihitung dengan rumus Everhart et al (1975)
dalam Martuti (1989), yaitu :
Wt = Wo x e g x t
Keterangan :
g = Koefisien laju pertumbuhan
e = Bilangan dasar logaritma natural (2,7183)
t = Lama penelitian (minggu)
20 Vol. 8 No. 1 Juni 2010
Logaritma dari persamaan tersebut di atas merupakan regresi linier dimana “g” merupakan
koefisien arahnya. Jadi laju pertumbuhan “instantaneous growth (g)” didapat dari regresi linier
persamaan berikut :
Ln Wt = Ln Wo + gt
Konversi pakan (FCR) adalah jumlah (berat) pakan yang dapat membentuk suatu unit berat
ikan. Adapun rumus untuk menghitung FCR adalah :
FCR =
( )
( )
pertambahanberat g
makanan yang dimakan g
Selama proses penelitian dilakukan pengamatan jumlah lele yang mati dan jumlah lele yang
masih hidup, sehingga dapat dihitung prosentase kematian dan kelangsungan hidup lele (menurut
Chapman 1968 dalam Martuti 1989) menggunakan rumus:
S = (1 – Z) x 100
Keterangan :
S = Kelangsungan hidup (%)
Z = Koefisien laju kematian, dihitung dengan rumus Z = ln No – ln Nt / t
No = Jumlah lele hidup pada awal penelitian
Nt = Jumlah lele hidup selama periode penelitian
t = Waktu (minggu)
Hasil dan Pembahasan
Hasil pengamatan terhadap pertumbuhan lele Sangkuriang terdiri dari pertumbuhan berat
biomassa, kemudian diolah menjadi berat biomassa mutlak (tabel 1) dan dihitung laju
pertumbuhan “instantaneous growth (g)”(tabel 2 )
Dari uji normalitas dan homogenitas yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa data
pertumbuhan berat biomassa mutlak dan laju pertumbuhan “instantaneous growth (g)” bersifat
normal dan homogen pada taraf 5 %. Sehingga data tersebut langsung bisa diuji sidik ragamnya.
Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap pertumbuhan lele Sangkuriang, data
pertumbuhan berat biomassa mutlak, dan laju pertumbuhan “instantaneous growth (g)” diuji
dengan analisis varian (ANAVA). Hasil analisis menunjukkan tidak ada perbedaan perlakuan
terhadap pertumbuhan lele Sangkuriang.
Supriyanto : Pengaruh Pemberian Probiotik 21
Pertumbuhan Berat Biomassa Mutlak
Tabel 1 Data Pertumbuhan Berat Biomassa Mutlak Lele Sangkuriang
Perlakuan Ulangan Pertumbuhan berat biomassa mutlak
(g)
A
1
2
3
2007
1984
1975
Jumlah
Rata-rata
5966
1988,67
B
1
2
3
2062
2024
1995
Jumlah
Rata-rata
6081
2027
C
1
2
3
2048
2110
2035
Jumlah
Rata-rata
6193
2064,33
D
1
2
3
2033
2044
2117
Jumlah
Rata-rata
6194
2064,67
Keterangan :
A = Kontrol (pelet tidak disemprot probiotik)
B = Pelet yang disemprot dengan probiotik dan diangin-anginkan selama 10 menit
C = Pelet yang disemprot dengan probiotik dan diangin-anginkan selama 20 menit
D = Pelet yang disemprot dengan probiotik dan diangin-anginkan selama 40 menit
Setelah dilakukan uji normalitas dan homogenitas, data pertumbuhan biomassa mutlak
dianalisis sidik ragam, menunjukkan tidak ada perbedaan perlakuan pada taraf signifikansi (α)
sebesar 5 %, maka Ho diterima. Dengan kata lain, pemberian probiotik dalam pelet dengan variasi
waktu yang berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan lele Sangkuriang.
Pertumbuhan berat biomassa mutlak rata-rata tertinggi dicapai oleh perlakuan D (2064,67g),
selanjutnya berturut-turut diikuti oleh C (2064,33 g), B (2027 g) dan perlakuan A (1988,67 g).
Oleh karena F hitung lebih kecil dari F tabel, maka tidak dilanjutkan analisis uji lanjut Duncan
Laju Pertumbuhan “instantaneous growth (g)”
Tabel 2. Data Laju Pertumbuhan “instantaneous growth (g)” Lele Sangkuriang
Perlakuan Ulangan Laju Pertumbuhan
“instantaneous growth (g)”
A
1
2
3
0,405
0,4325
0,4125
Rata-rata 0,42
B
1
2
3
0,4375
0,4375
0,4125
Rata-rata 0,43
22 Vol. 8 No. 1 Juni 2010
C
1
2
3
0,4275
0,4075
0,415
Rata-rata 0,42
D
1
2
3
0,3975
0,41
0,4025
Rata-rata 0,40
Tabel 2 dapat dilihat rata-rata laju pertumbuhan “instantaneous growth (g)” lele Sangkuriang
tertinggi pada perlakuan B dengan rata-rata sebesar 0,43 dan laju pertumbuhan terendah pada
perlakuan D sebesar 0.40. Ini membuktikan bahwa penambahan probiotik pada pelet tidak
berpengaruh terhadap laju pertumbuhan.
Data laju pertumbuhan “instantaneous growth (g)” yang ada dianalisis ragam, sebelumnya
dilakukan uji normalitas dan homogenitas. Pengambilan taraf signifikansi (α) sebesar 5 %
memungkinkan didapatkannya nilai F tabel 4,07. Oleh karena F hitung (2,419) < F tabel (4,07),
maka Ho diterima. Dari keempat perlakuan, laju pertumbuhan “instantaneous growth (g)” ratarata
tertinggi diperoleh dari perlakuan B (0,43), kemudian berturut-turut perlakuan C dan A
(0,42), dan perlakuan D (0,40). Karena tidak ada pengaruh perlakuan, maka tidak dilakukan
pengujian wilayah ganda Duncan
Nilai konversi pakan setiap ulangan untuk masing-masing perlakuan A, B, C dan D secara
lengkap disajikan pada Tabel 3. Dari Tabel 3 tersebut terlihat bahwa perlakuan C mempunyai
FCR yang paling tinggi dibandingkan perlakuan yang lain.
Tabel 3. Nilai FCR lele Sangkuriang Untuk Setiap Perlakuan dan Ulangan
Perlakuan 1 2 3
Ratarata
A 0,675 0,55 0,475 0,567
B 0,475 0,4 0,55 0,475
C 0,375 0,4 0,275 0,35
D 0,275 0,6 0,2 0,358
Untuk menjaga padat penebaran awal yang sama tiap perlakuan dan ulangan, dan menjaga
agar tidak terjadi keragaman yang besar pada data pertumbuhan biomassa lele Sangkuriang, maka
lele Sangkuriang yang mati selama minggu I penelitian diganti dengan stok lele yang berasal dari
sumber benih.
Supriyanto : Pengaruh Pemberian Probiotik 23
Tabel 4. Mortalitas dan Kelangsungan Hidup lele Sangkuriang
Perlakuan Ulangan No Nt Mortalitas
Kelangsun
gan Hidup
(%)
n %
A
1
2
3
100
100
100
100
100
100
0
0
0
0
0
0
100
100
100
Rata-rata 0 100
B
1
2
3
100
100
100
99
100
100
1
0
0
1
0
0
99
100
100
Rata-rata 1 99,67
C
1
2
3
100
100
100
100
100
100
0
0
0
0
0
0
100
100
100
Rata-rata 0 100
D
1
2
3
100
100
100
100
100
100
0
0
0
0
0
0
100
100
100
Rata-rata 0 100
Keterangan :
No = Jumlah lele Sangkuriang pada awal penelitian
Nt = Jumlah lele Sangkuriang hidup pada minggu akhir penelitian
N = Jumlah lele Sangkuriang yang mati selama penelitian
Kualitas Air
Parameter kualitas air yang diamati meliputi suhu, derajat keasaman (pH), dan oksigen
terlarut (DO). Pada saat penelitian berlangsung kisaran parameter kualitas air masih dalam kondisi
normal dan layak untuk pemeliharaan lele Sangkuriang.
Tabel 5. Kisaran Parameter Kualitas Air Media Pemeliharaan Pada Setiap Perlakuan
Parameter yang
diukur
A B C D
Suhu air (°C)
pH
Oksigen terlarut (ppm)
24-26
6,5-7,5
7,4-9,2
24-26
6,5-7,5
7,1-8,4
24-26
6,5-7,5
7,1-8,8
24-26
6,5-7,5
7,1-8,7
Pembahasan
Dari hasil analisis varians, penambahan probiotik pada pelet dengan variasi waktu sampai 40
menit tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan biomassa mutlak dan laju pertumbuhan lele
Sangkuriang. Hal ini kemungkinan disebabkan karena acuan yang digunakan untuk menentukan
variasi waktu tersebut adalah hasil percobaan jenis demonstration plot (Demplot) yang dilakukan
di tambak –tambak propinsi Jawa Timur. Pada demplot tersebut udang diberi perlakuan probiotik
tetapi dikulturkan dalam tambak (bukan skala laboratorium). Di dalam tambak, udang mendapat
24 Vol. 8 No. 1 Juni 2010
berbagai makanan alami yang mendukung pertumbuhan secaa maksimal, sedangkan pada skala
laboratorium, hewan coba hanya mendapat makanan dari pelet.
Hasil yang diperoleh dari perhitungan konversi pakan menunjukkan bahwa nilai konversi
pakan dari perlakuan C (0,35) lebih baik dari pada perlakuan D (0,358), A (0,567) dan perlakuan
B (0,475). Pendapat ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh (Huet 1971 dalamMartuti 1989),
bahwa besar kecilnya nilai konversi pakan tidak hanya ditentukan oleh jumlah pakan yang
diberikan, melainkan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kepadatan, berat setiap
individu, umur kelompok hewan, temperatur air media dan cara pemberian pakan (kualitas,
penempatan dan frekuensi pemberian pakan).
Berdasar hasil penelitian, diperoleh hasil perhitungan bahwa tingkat kelangsungan hidup
tertinggi pada perlakuan A, C, dan D (100%), perlakuan B (99,67%). Hal ini diduga karena
penambahan probiotik pada pelet tidak mengganggu kelulushidupan lele Sangkuriang. Menurut
Fuller (1992) dalam Nizar (2006) mikroba probiotik merupakan mikroba yang aman dan relatif
menguntungkan dalam saluran pencernaan. Mikroba ini menghasilkan zat yang tidak berbahaya
bagi kultivasi tetapi justru menghancurkan mikroba patogen pengganggu sistem pencernaan.
Kematian benih lele Sangkuriang selama penelitian diduga karena sejak awal perlakuan benih
tersebut sudah sakit.
Hasil pengukuran parameter kualitas air media selama penelitian, didapatkan bahwa besaranbesaran
kualitas air masih dalam batas kelayakan dan mendukung kehidupan serta pertumbuhan
hewan uji. Adapun kisaran untuk parameter kualitas air yang meliputi suhu kisarannya adalah
sekitar 24-30 °C. Apabila suhu pemeliharaan melebihi kisaran akan sangat membahayakan
kehidupan lele Sangkuriang. Jika suhu pemeliharaan kurang dari kisaran (suhu rendah),
mengakibatkan aktivitas lele Sangkuriang menjadi rendah dan nafsu makan berkurang, sehingga
akan mengakibatkan pertumbuhan lele Sangkuriang menjadi lambat. Adapun kisaran untuk
parameter pH adalah sekitar 6-8 (Mahyuddin, 2007). Kisaran parameter oksigen terlarut adalah
sekitar 5-10 ppm.
Supriyanto : Pengaruh Pemberian Probiotik 25
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Pemberian probiotik yang disemprot dalam pelet dan diangin-anginkan selama 10 menit, 20
menit dan 40 menit tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan berat biomassa mutlak dan
laju pertumbuhan “instantaneous growth (g)” lele Sangkuriang
Saran
Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mempelajari tentang pengaruh probiotik dari
berbagai produk pabrik dalam mempengaruhi pertumbuhan lele Sangkuriang.


Tinggalkan komentar

pengaruh pakan fermentasi


Pengaruh Pakan Fermentasi Terhadap Pertumbuhan Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus L.)
Mahasiswa : Rifan Sidhi
Skripsi (2009), Program Studi Sarjana Biologi SITH, email : rifan_sidhi@yahoo.ca
Pembimbing : Dr. Pingkan Aditiawati
SITH-ITB, email : pingkan@sith.itb.ac.id
Gelar : Sarjana Sains (S.Si), Wisuda April 2009
Abstrak
Penelitian tentang penggunaan pakan fermentasi terhadap pertumbuhan ikan lele (Clarias gariepinus L.) telah dilakukan. Pakan yang digunakan terdiri dari lima jenis pakan yang disebut Pakan I, II, III, IV, dan V. Pakan I menggunakan mikroba S. cerevisiae dalam fermentasi daun nimba, daun talas, dan rumput mutiara. Pakan II menggunakan A. niger dalam fermentasi tepung dedak, L. acidophilus dalam fermentasi tepung jagung, serta fermentasi tepung ikan dengan menggunakan Z. rouxii, B. subtilis, L. plantarum, dan R. rubra. Pakan III merupakan pakan yang memiliki komposisi sama dengan Pakan I namun tanpa penambahan inokulum mikroba. Pakan IV merupakan pakan dengan komposisi sama dengan Pakan II namun tanpa penambahan inokulum pada setiap komponennya. Pakan V merupakan pakan komersil. Fermentasi dilakukan selama tiga hari pada kondisi suhu ruang dan penggunaan starter 10 % b/v inokulum, pada umur optimum. Keseluruhan kultur mikroba diperoleh dari koleksi Laboratorium Mikrobiologi SITH ITB. Pengujian proksimat dilakukan pada masing-masing pakan. Pakan dengan perlakuan fermentasi memiliki kandungan protein yang lebih besar dibandingkan dengan pakan non-fermentasi, pakan I sebesar 28,08 %; pakan II 16,31 %; pakan III 27,10 %; dan pakan IV 12,60 %. Kandungan protein tertinggi ditunjukkan oleh pakan V yaitu sebesar 31%. Pengujian pakan dilakukan terhadap ikan lele dumbo (C. gariepinus) berumur 30 hari dengan berat awal rata-rata 0,5023 ± 0,006 g. Pengujian pakan dilakukan terhadap tujuh ekor ikan lele selama dua minggu dalam akuarium berisi 7 liter air bersih dengan laju aerasi 2 L/menit. Hasil pengujian menunjukkan bahwa performa pakan terbaik ditunjukkan oleh pakan V dengan berat akhir rata-rata ikan lele sebesar 0,7483 ± 0,144 g. Perlakuan fermentasi pada pakan I dan II memberikan hasil positif bila dibandingkan dengan pakan non-fermentasi. Berat akhir rata-rata ikan lele pada penggunaan pakan I, II, III, dan IV berturut-turut adalah 0,6119 ± 0,151 g; 0,6089 ± 0,167 g; 0,5513 ± 0,106; dan 0,5593 ± 0,109. Nilai konversi pakan (FCR) yang dihasilkan masih sangat tinggi, nilai FCR pakan I, II, III, IV, dan V berturut turut adalah 3,887:1; 4,232:1; 7,340:1; 7,879:1; dan 2,275:1. Keseluruhan faktor fisika-kimia yang terukur selama pengujian, masih berada pada kisaran optimum/toleransi dari ikan lele.
Suhu air berkisar pada 23,5 – 24,9 0C; DO 6,4 – 8,5 mg/L; pH 7,8 – 8,2; amonium 0,1075 – 0,1086 ppm; nitrit 0,0656 – 0,0669 ppm, dan nitrat 0,1723 – 0,2625 ppm. Faktor lingkungan tersebut mendukung pertumbuhan optimal ikan lele dumbo. Penelitian ini menunjukkan bahwa pakan fermentasi yang digunakan memiliki pengaruh positif terhadap pertumbuhan ikan lele dumbo (Clarias gariepinus L.).
Kata kunci : Pakan Fermentasi, ikan lele dumbo, Clarias gariepinus L.(Clarias gariepinus L.)
Mahasiswa : Rifan Sidhi
Skripsi (2009), Program Studi Sarjana Biologi SITH, email : rifan_sidhi@yahoo.ca
Pembimbing : Dr. Pingkan Aditiawati
SITH-ITB, email : pingkan@sith.itb.ac.id
Gelar : Sarjana Sains (S.Si), Wisuda April 2009
Abstrak
Penelitian tentang penggunaan pakan fermentasi terhadap pertumbuhan ikan lele (Clarias gariepinus L.) telah dilakukan. Pakan yang digunakan terdiri dari lima jenis pakan yang disebut Pakan I, II, III, IV, dan V. Pakan I menggunakan mikroba S. cerevisiae dalam fermentasi daun nimba, daun talas, dan rumput mutiara. Pakan II menggunakan A. niger dalam fermentasi tepung dedak, L. acidophilus dalam fermentasi tepung jagung, serta fermentasi tepung ikan dengan menggunakan Z. rouxii, B. subtilis, L. plantarum, dan R. rubra. Pakan III merupakan pakan yang memiliki komposisi sama dengan Pakan I namun tanpa penambahan inokulum mikroba. Pakan IV merupakan pakan dengan komposisi sama dengan Pakan II namun tanpa penambahan inokulum pada setiap komponennya. Pakan V merupakan pakan komersil. Fermentasi dilakukan selama tiga hari pada kondisi suhu ruang dan penggunaan starter 10 % b/v inokulum, pada umur optimum. Keseluruhan kultur mikroba diperoleh dari koleksi Laboratorium Mikrobiologi SITH ITB. Pengujian proksimat dilakukan pada masing-masing pakan. Pakan dengan perlakuan fermentasi memiliki kandungan protein yang lebih besar dibandingkan dengan pakan non-fermentasi, pakan I sebesar 28,08 %; pakan II 16,31 %; pakan III 27,10 %; dan pakan IV 12,60 %. Kandungan protein tertinggi ditunjukkan oleh pakan V yaitu sebesar 31%. Pengujian pakan dilakukan terhadap ikan lele dumbo (C. gariepinus) berumur 30 hari dengan berat awal rata-rata 0,5023 ± 0,006 g. Pengujian pakan dilakukan terhadap tujuh ekor ikan lele selama dua minggu dalam akuarium berisi 7 liter air bersih dengan laju aerasi 2 L/menit. Hasil pengujian menunjukkan bahwa performa pakan terbaik ditunjukkan oleh pakan V dengan berat akhir rata-rata ikan lele sebesar 0,7483 ± 0,144 g. Perlakuan fermentasi pada pakan I dan II memberikan hasil positif bila dibandingkan dengan pakan non-fermentasi. Berat akhir rata-rata ikan lele pada penggunaan pakan I, II, III, dan IV berturut-turut adalah 0,6119 ± 0,151 g; 0,6089 ± 0,167 g; 0,5513 ± 0,106; dan 0,5593 ± 0,109. Nilai konversi pakan (FCR) yang dihasilkan masih sangat tinggi, nilai FCR pakan I, II, III, IV, dan V berturut turut adalah 3,887:1; 4,232:1; 7,340:1; 7,879:1; dan 2,275:1. Keseluruhan faktor fisika-kimia yang terukur selama pengujian, masih berada pada kisaran optimum/toleransi dari ikan lele.
Suhu air berkisar pada 23,5 – 24,9 0C; DO 6,4 – 8,5 mg/L; pH 7,8 – 8,2; amonium 0,1075 – 0,1086 ppm; nitrit 0,0656 – 0,0669 ppm, dan nitrat 0,1723 – 0,2625 ppm. Faktor lingkungan tersebut mendukung pertumbuhan optimal ikan lele dumbo. Penelitian ini menunjukkan bahwa pakan fermentasi yang digunakan memiliki pengaruh positif terhadap pertumbuhan ikan lele dumbo (Clarias gariepinus L.).
Kata kunci : Pakan Fermentasi, ikan lele dumbo, Clarias gariepinus L.


4 Komentar

Pemanfaatan Ampas Tahu Sebagai Bahan Dasar Alternatif Pakan Buatan Untuk Ikan Lele


Hidayat, Muhammad Khairul.2010. Pemanfaatan Ampas Tahu Sebagai Bahan Dasar Alternatif Pakan Buatan Untuk Ikan Lele. Jurusan Perikanan. Fakultas Pertanian Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang

Kata kunci : ampas tahu, bahan dasar alternatif, pakan buatan, ikan lele

Tahu tentu tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia, makanan ini merupakan lauk-pauk yang memiliki kandungan protein tinggi. Tahu terbuat dari kedelai, yang memiliki kandungan protein nabati yang cukup tinggi. Dan bagian kedelai yang tidak dapat diolah menjadi tahu disebut ampas tahu. Ampas tahu sering menjadi masalah di lingkungan industri pembuatan tahu karena ampas tahu ini merupakan limbah produksi. Walaupun dianggap limbah, ampas tahu dapat diolah menjadi makanan, masakan ataupun pakan bagi ikan lele. Khususnya, pengolahan ampas tahu menjadi pakan ikan lele menggunakan proses fermentasi sehingga dalam pakan ampas tahu mengandung alkohol. Kandungan alkohol dalam pakan ampas tahu berfungsi sebagai pengganti hormon untuk proses sexreversal, karena penggunaan hormon untuk proses sex reversal berdampak kurang baik pada pengkonsumsi ikan yang disexreversal tersebut.

Tahu tentu sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Tahu sering digunakan sebagai pengganti lauk–pauk dan kandungan proteinnya pun tinggi.

Kedelai merupakan bahan dasar pembuatan tahu. Kedelai yang digunakan dalam pembuatan tahu ini, tidak kesemua bagiannya dapat diolah menjadi tahu. Bagian kedelai yang tidak dapat diolah menjadi tahu, disebut ampas tahu. Di industri–industri tahu, ampas tahu dianggap limbah dan tidak memilliki nilai ekonomis, sehingga banyak sekali industri tahu yang membuang ampas tahu dsembarang tempat tanpa ada pengolahan lebih lanjut yang dapat meningkatkan harga jual ampas tahu. Hal inilah yang kemudian hari menimbulkan masalah sosial yang seakan susah untuk terselsaikan.

Padahal dengan melakukan pengolahan lebih lanjut, ampas tahu akan menjadi barang yang sangat berguna dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Ampas tahu dapat diolah menjadi kerupuk ampas tahu maupun pakan buatan ikan yang berbahan dasar ampas tahu. Dengan kandungan protein yang cukup tinggi pada kedelai, jelas ampas tahu juga memiliki kandungan protein yang tinggi pula. Protein sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk pertumbuhan, energi, dan lain–lain.

Pengolahan ampas tahu sebagai bahan dasar pakan buatan untuk ikan lele, sekarang ini sedang dikembangkan dan diterapkan pada budidaya lele, khususnya budidaya lele organik. Ampas tahu selain memiliki kandungan protein yang tinggi, juga harga bahan, biaya produksi, dan proses produksinya murah meriah. Menurut Setyono (2010;2), harga per kilogram ampas tahu ialah Rp. 500;- dan pembuatannya pun relatif mudah jika dibandingkan dengan pembuatan pakan sejenisnya.

Pembuatan pakan dari ampas tahu menggunakan proses fermentasi. Proses fermentasi ialah proses penguraian struktur bahan organik dan pengawetan suatu bahan dengan bantuan fungi atau cendawan dan bakteri. Selain menguraikan bahan organik, hasil dari proses fermentasi juga menghasilkan kandungan alkohol dalam ampas tahu tersebut. Kandungan alkohol yang dihasilkan pada proses fermentasi ampas tahu, lebih kecil jika dibandingkan dengan kandungan alkohol pada proses fermentasi bahan lainnya seperti anggur, beras ketan dan lain – lain.

Kandungan alkohol yang terdapat dalam ampas tahu ini, memiliki kekurangan dan kelebihan. Kekurangannya ialah pakan berbahan dasar ampas tahu tidak boleh diberikan pada organisme yang akan dijadikan indukan maupun calon induk, hal ini akan menetralkan gonad sang calon induk. Dan adapun kelebihannya ialah pakan ini dapat digunakan sebagai bahankimia alternatif pengganti hormon tirosin untuk proses sexreversal. Hormon untuk proses sexreversal sangat berbahaya penggunaannya dan sekarang ini telah dilarang penggunaannya. Penggunaan hormon untuk proses sexreversal dalam proses sexreversal akan berakibat fatal bagi yang mengkonsumsi ikan yang telah disexreversal, terutama wanita, karena dapat merangsang peningkatan hormon untuk proses sexreversal secara berlebihan. Sexreversal bertujuan untuk menyamakan gender ikan budidaya agar pertumbuhan ikan budidaya menjadi lebih cepat.

Pemberian pakan ampas tahu ini, hanya dapat diberikan pada ikan untuk pembesaran dan sexreversal saja. Pakan ini sangat disukai oleh ikan lele, hal ini dengan yang diungkapkan Setyono (2010;5) ikan lele sangat menyukai pakan yang berbahan dasar ampas tahu karena pakan ini memiliki aroma yang sama dengan pakan buatan pabrik ternama (pakan buatan yang digemari ikan lele) dan juga kandungan proteinnya tinggi.

Pakan ampas tahu yang diberikan kepada ikan lele, menurut penilitian terbaru, pakan ini dapat menyamakan pertumbuhan ikan sekitar 80 %. Hal ini bertujuan untuk mengurangi tingkat kanibalisme pada ikan lele. Pemberian pakan ampas tahu merupakan pakan pokok dalam budidaya, sedangkan untuk pakan tambahan digunakan pakan buatan pabrik.

Pakan berbahan dasar ampas tahu memiliki banyak kelebihan, diantaranya mengurangi dampak pencemaran lingkungan akibat limbah ampas tahu, mengurangi biaya produksi budidaya, dan sebagai bahan alternatif yang aman untuk proses sexreversal. Untuk mengembangkan pemanfaatan ampas tahu sebagai pakan buatan untuk ampas tahu, perlu adanya perhatian dari pemerintah kepada masyarakat dan industri tahu. Perhatian tersebut dapat dalam bentuk pelatihan-pelatihan maupun penyuluhan. Tidak hanya itu sebaiknya pemerintah juga menbimbing kelompok tani pembudidaya ikan lele untuk memanfaatkan ampas tahu sebagai bahan dasar pembuatan pakan lele.

Dengan melakukan pengolahan lebioh lanjut, ampas tahu akan memiliki nillai ekonomis yang cukup tinggi. Pengolahan ampas tahu dapat berupa kerupuk, makanan ringan maupun bahan dasar pakan ikan. Dalam dunia budidaya sekarang ini, pakan ampas tahu merupakan pakan alternatif yang sedang diminati para petani. Pakan ampas tahu selain biaya produksinya rendah disbanding pakan sejenisnya, pakan ampas tahu ini juga dapat mempercepat pertumbuhan ikan. Menurut hasil penilitian terbaru, karena proses pembuatan pakan ampas tahu dengan fermentasi, dalam pakan ini mengandung yang alkohol. Kandungan alkohol dalam pakan ampas tahu ini dapat menggantikan fungsi hormon untuk proses sexreversal untuk proses sex reversal.

Penggunaan hormon untuk proses sexreversal secara berlebihan akan memberikan dampak yang kurang baik bagi konsumen pengkonsumsi daging ikan yang pembudidayaan secara sex reversal dengan hormon untuk proses sexreversal. Dampak dari penggunaan hormon untuk proses sexreversal ini antara lain jumlah hormon untuk proses sexreversal dalam tubuh organisme penmgkonsumsi akan berlebih, sehingga sifat kejantanan dari organisme akan lebih mendominasi. Hal ini sangat berbahaya bagi manusia, misalnya wanita karena mengkonsumsi ikan yang disexreversal dengan hormon dapat menghilangkan ciri kewanitaannya, begitu juga pada laki-laki.

Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini penulis masih merasa adanya kekurangan dari segi penulisan maupun isi dari karya tulis ilmiah ini. Dari itu penulis sangat mengharapkan saran yang membangun demi kesempurnaan penulisan karya tulis ilmiah ini. Karya tulis ilmiah ini dapat dijadikan refrensi untuk penelitian maupun penulisan karya ilmiah lanjutan. Untuk mempermudah pembaca dalam memahami karya tulis ilmiah ini, ada baiknya pembaca mengerti akan kata ilmiah yang ada dalam karya tulis ilmiah ini.

Setyono, 2010;2 dan 5. DIKTAT MATA KULIAH AQUACULTURE ENGENERING. Malang:jurusan perikanan Fakultas Pertanian Peternakan UMM

3 Responses


Tinggalkan komentar

Azolla si Pupuk Hidup


Azolla si Pupuk Hidup

Azolla adalah nama tumbuhan paku-pakuan akuatik yang mengapung di permukaan air. Tumbuhan ini bersimbiosis dengan Anabaena azollae, alga biru hijau (Cyanobacteria) dan Azolla sebagai inangnya atau rumah bagi alga. Alga hidup di rongga yang ada di sisi permukaan bawah daun Azolla. Dalam hubungan saling menguntungkan ini, Anabaena bertugas memfiksasi dan mengasimilasi gas nitrogen dari atmosfer. Nitrogen ini selanjutnya digunakan oleh Azolla untuk membentuk protein. Sedangkan tugas Azolla menyediakan karbon serta lingkungan yang ‘nyaman’ bagi pertumbuhan dan perkembangan alga. Hubungan simbiotik yang unik inilah yang membuat Azolla menjadi tumbuhan yang menakjubkan dengan kualitas nutrisi yang baik.

Azolla memiliki beberapa spesies, antara lain Azolla caroliniana, Azolla filiculoides, Azolla mexicana, Azolla microphylla, Azolla nilotica, Azolla pinnata var. pinnata, Azolla pinnata var. imbricata, Azolla rubra.

Azolla sangat kaya akan protein, asam amino esensial, vitamin (vitamin A, vitamin B12 dan Beta- Carotene), mineral seperti kalsium, fosfor, kalium, zat besi, dan magnesium. Berdasarkan berat keringnya, mengandung 25 – 35% protein, 10 – 15% mineral dan 7 – 10% asam amino, senyawa bioaktif dan biopolymer. Sementara kandungan karbohidrat dan lemak Azolla sangat rendah. Komposisi nutrisinya membuat Azolla sangat efisien dan efektif sebagai pakan ikan, ternak, dan unggas. Ternak dengan mudah dapat mencernanya, karena kandungan protein yang tinggi dan lignin yang rendah.

Percobaan pada hewan ternak penghasil susu, jika pakan dicampur dengan 1.5 – 2 kg Azolla per hari menyebabkan peningkatan produksi susu sebanyak 15%. Peningkatan kuantitas susu tidak saja karena kandungan gizi Azolla saja, sehingga diasumsikan bukan hanya nutrien, tetapi juga ada peningkatan komponen lain seperti karotenoid, biopolymer, probiotik yang ikut meningkatkan produksi susu. Memberi pakan unggas dengan Azolla meningkatkan berat ayam broiler dan meningkatkan produksi telur.

Pada tahun 2002 International Journal of Poultry Science, Bangladesh mencobakan jumlah kandungan Azolla dalam ransum ayam broiler sebanyak 5%, 10%, 15%. Dalam jumlah 5%, sebenarnya ayam tumbuh lebih baik dibanding pakan biasa. Pada 10% dan 15% berat badan hampir sama dengan yang diberi pakan biasa, tetapi lemak di perut unggas agak berkurang.

Azolla juga dapat dijadikan pakan untuk biri-biri, kambing, babi, dan kelinci. Di Cina, budidaya Azolla bersama dengan padi dan ikan meningkatkan produksi beras sebanyak 20% dan ikan sebanyak 30%.

Azolla juga sangat mudah dibudidayakan dan sangat ideal sebagai pupuk hayati (biofertilizer) atau pupuk hijau untuk padi sawah. Permasalahan lahan di sawah adalah bahan organik tanah dan nitrogen seringkali terbatas jumlahnya, sehingga dibutuhkan sumber nitrogen alternatif sebagai suplemen pupuk kimia (sintetis). Salah satu sumber N alternatif yang cocok untuk padi sawah adalah Azolla. Azolla sudah berabad-abad digunakan di Cina, Vietnam dan Filipina sebagai sumber N bagi padi sawah.

Suatu penelitian internasional di mana Indonesia (Batan) ikut terlibat, menghasilkan temuan bahwa Azolla yang bersimbiosis dengan Anabaena azollae dapat memfiksasi N2-udara sebanyak 70 – 90%. N2 yang ‘ditambang’ oleh Anabaena dan terakumulasi dalam sel daun Azolla ini yang digunakan sebagai sumber N bagi padi sawah. Laju pertumbuhan Azolla dalam sehari 0,355 – 0,390 gram (di laboratorium) dan 0,144 – 0,860 gram per hari (di lapang). Pada umumnya biomassa Azolla maksimum tercapai setelah 14 –28 hari setelah inokulasi. Dari hasil penelitian Batan diketahui bahwa dengan menginokulasikan 200 g Azolla segar per m2 maka setelah 3 minggu, Azolla akan menutupi seluruh permukaan lahan tempat Azolla ditumbuhkan. Dalam kondisi tersebut, dapat dihasilkan 30 – 45 kg N/ha yang setara dengan 100 kg urea, yang notabene adalah pupuk kimia !! Lapisan Azolla di atas permukaan lahan sawah dapat menghemat penggunaan urea sebesar 50 kg urea/ha, kadangkala bila musim sangat baik Azolla dapat menghemat sampai dengan 100 kg urea/ha. Azolla tumbuh dan berkembang lebih baik pada musim penghujan daripada musim kemarau.

Wow…betapa alam dapat memberikan sesuatu yang lebih dibanding yang dapat dilakukan oleh manusia. Nah, jika kita punya kolam atau tangki besar yang tidak terpakai seperti bath tub yang sudah tidak digunakan lagi, sementara kita punya hewan ternak atau hewan peliharaan lain, pikirkanlah untuk ‘beternak’ Azolla. Sekali saja butuh modal untuk membeli, selanjutnya akan tumbuh dan berkembang dengan cepat. Jika tidak punya ternak, tidak salah juga menumbuhkan azolla di kolam atau di pot tanaman kita yang kita beri air. Azolla seperti super sponge, dapat mengambil dan menyimpan air. Azolla juga menjaga tanah tidak ‘terganggu’ saat kita menyiram tanaman dalam pot.

Bagaimana cara memperbanyak Azolla ?

Dari hasil browsing, kira-kira seperti ini: Buatlah stok Azolla dengan bak plastik atau di kolam yang tidak ada ikannya. Semprot stok setiap 3 bulan sekali dengan pupuk P (satu sendok makan SP-36 per liter air). Sebaiknya Sp-36 digerus halus agar mudah larut dalam air. Stok ini digunakan untuk bibit yang akan ditanam di lapang.

Lalu bagaimana cara menggunakan Azolla ?
Setelah bibit Azolla tumbuh dengan baik, tebar Azolla bersamaan atau satu minggu sebelum padi di bibitkan. Setelah lahan penuh dengan Azolla, lahan dibajak agar Azolla terbenam. Selanjutnya dilakukan penaman padi dan Azolla yang tidak terbenam dibiarkan tumbuh. Azolla yang tumbuh di permukaan ini dapat mengambil N yang hanyut dan menguap, selain dapat pula menahan pertumbuhan gulma yang menjadi pesaing padi.

Adapun pembiakan Azolla di kolam bisa dilakukan dengan mempersiapkan lahan tanam persis seperti pengolahan tanah untuk bertanam padi. Bedanya ketebalan tanah kolam dari dasar setidaknya antara 7-10 cm, lalu diberi pupuk dasar N,P dan K, di genangi dengan air dan jangan dibiarkan kering. Bila strain azolla didapat dari lapang jangan di tanam di kolam besar yang terkena sinar matahari langsung. Sebaiknya di adaptasikan dulu di kolam kecil untuk diadaptasikan dengan lingkungan yang baru. Lalu baru ditransplantasikan ke kolam induk.

Seorang petani di Kyushu, Jepang T. Furuno berusaha keras tidak menggunakan pestisida untuk menanam padi. Pekerjaan paling sulit adalah menghilangkan gulma, yang akhirnya memunculkan ide menanam padi digabungkan dengan ternak bebek. Bebek ternyata efektif menunaikan tugas mengendalikan gulma dengan cara mengganggu permukaan tanah. Untuk menyediakan nitrogen, azolla ditumbuhkan dalam sistem ini. Azolla memberikan nitrogen bagi padi dan protein bagi bebek yang bertugas menekan pertumbuhan gulma. Di lain pihak kontribusi bebek bagi azolla adalah memberantas serangga penyerang azolla dan karena bebek selalu bergerak, menyebabkan azolla tumbuh menyebar di luasan perairan tersebut. Ekskreta (kotoran) bebek menjadi suplai fosfor bagi azolla. Akhirnya sekarang kultur padi-bebek (rice-duck-azolla system) diadopsi dan sudah umum diterapkan untuk persawahan padi organik.

International Rice Research Institute (IRRI) di Filipina dan Universite Catholique de Louvain di Belgia telah menyimpan koleksi plasma nutfah azolla hidup. Hingga tahun 1997 koleksi telah mencapai sebanyak 562 aksesi yang meliputi semua species yang dikoleksi dari seluruh dunia. Koleksi dipelihara dalam bentuk kultur ujung tunas (shoot-tip agar cultures), yang ditransfer setiap 3-6 bulan. Di antara koleksi tersebut terdapat jenis yang unik yang tidak dapat diperoleh dari habitat alami karena (i) diperoleh dengan persilangan seksual (79 aksesi), (ii) Anabaena-free, hidup bebas tanpa simbiosis dengan Anabaena (20 aksesi), (iii) azolla yang bersimbiosis dengan alga hijau biru heterologous (6 aksesi), dan mutant (16 aksesi). Untuk mencegah hilangnya aksesi hampir semua azolla koleksi IRRI dibuat duplikatnya di Azolla Research Center, Fujian Academy of Agricultural Science (Fuzhou, Fujian, China).

Bergantung dari sisi mana kita melihatnya, di beberapa wilayah di negara lain yang suhunya lebih hangat, Azolla dianggap sebagai pengganggu. Jika azolla tidak mati maka akan membentuk lapisan tebal seperti selimut atau hamparan permadani yang menutupi permukaan air sehingga menjadi pesaing tumbuhan air yang tumbuh diperairan yang sama. Namun kondisi ini juga dapat menempatkan peran azolla sebagai pengendali larva nyamuk (larvicide) di sawah. Lapisan tebal azolla mengurangi laju difusi oksigen dari udara ke dalam air sehingga membuat larva nyamuk kekurangan oksigen dan tidak sempat menjadi nyamuk dewasa. Mungkin hal ini yang menyebabkan Azolla disebut sebagai paku nyamuk (mosquito fern) selain sebagai paku air (water fern)
Smber : http://green.kompasiana.com/penghijauan/2011/01/26/azolla-si-pupuk-hidup/

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.