Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site


2 Komentar

pembuatan pakan lele oraganik


pembuatan pakan lele oraganik

1. siapkan blotong sapi 10 kg, yang sudah agak kering
2. dan siapkan dedak (bekatul) 1 kg
3. siapakan air bersih yang di campuri Biodycon CF 1 liter air 2 tutup
Biodycon CF
4. Campur rata dedak dan blotong langsung beri air campuran pribiotik
sampai rata
5. masukan dalam karung dan tali ujung karung
6. biarkan selama 1 minggu , dan pakan siap di buka
7. biarkan selama 1 jam pakan siap di berikan pada ikan


1 Komentar

Teknis Pemeliharaan Lele Organik


Teknis Pemeliharaan Lele Organik

I. Pendahuluan.
Lele merupakan jenis ikan yang digemari masyarakat, dengan rasa yang lezat, daging empuk, duri teratur dan dapat disajikan dalam berbagai macam menu masakan. PT. NATURAL NUSANTARA dengan prinsip K-3 (Kuantitas, Kualitas dan Kesehatan) membantu petani lele dengan paket produk dan teknologi.

II. Pembenihan Lele.
Adalah budidaya lele untuk menghasilkan benih sampai berukuran tertentu dengan cara mengawinkan induk jantan dan betina pada kolam-kolam khusus pemijahan. Pembenihan lele mempunyai prospek yang bagus dengan tingginya konsumsi lele serta banyaknya usaha pembesaran lele.

III. Sistem Budidaya.
Terdapat 3 sistem pembenihan yang dikenal, yaitu :
1. Sistem Massal. Dilakukan dengan menempatkan lele jantan dan betina dalam satu kolam dengan perbandingan tertentu. Pada sistem ini induk jantan secara leluasa mencari pasangannya untuk diajak kawin dalam sarang pemijahan, sehingga sangat tergantung pada keaktifan induk jantan mencari pasangannya.
2. Sistem Pasangan. Dilakukan dengan menempatkan induk jantan dan betina pada satu kolam khusus. Keberhasilannya ditentukan oleh ketepatan menentukan pasangan yang cocok antara kedua induk.
3. Pembenihan Sistem Suntik (Hyphofisasi).
Dilakukan dengan merangsang lele untuk memijah atau terjadi ovulasi dengan suntikan ekstrak kelenjar Hyphofise, yang terdapat di sebelah bawah otak besar. Untuk keperluan ini harus ada ikan sebagai donor kelenjar Hyphofise yang juga harus dari jenis lele.

IV. Tahap Proses Budidaya.
A. Pembuatan Kolam.
Ada dua macam/tipe kolam, yaitu bak dan kubangan (kolam galian). Pemilihan tipe kolam tersebut sebaiknya disesuaikan dengan lahan yang tersedia. Secara teknis baik pada tipe bak maupun tipe galian, pembenihan lele harus mempunyai :
Kolam tandon. Mendapatkan masukan air langsung dari luar/sumber air. Berfungsi untuk pengendapan lumpur, persediaan air, dan penumbuhan plankton. Kolam tandon ini merupakan sumber air untuk kolam yang lain.
Kolam pemeliharaan induk. Induk jantan dan bertina selama masa pematangan telur dipelihara pada kolam tersendiri yang sekaligus sebagai tempat pematangan sel telur dan sel sperma.
Kolam Pemijahan. Tempat perkawinan induk jantan dan betina. Pada kolam ini harus tersedia sarang pemijahan dari ijuk, batu bata, bambu dan lain-lain sebagai tempat hubungan induk jantan dan betina.
Kolam Pendederan. Berfungsi untuk membesarkan anakan yang telah menetas dan telah berumur 3-4 hari. Pemindahan dilakukan pada umur tersebut karena anakan mulai memerlukan pakan, yang sebelumnya masih menggunakan cadangan kuning telur induk dalam saluran pencernaannya.

B. Pemilihan Induk
Induk jantan mempunyai tanda :
– tulang kepala berbentuk pipih
– warna lebih gelap
– gerakannya lebih lincah
– perut ramping tidak terlihat lebih besar daripada punggung
– alat kelaminnya berbentuk runcing.
Induk betina bertanda :
– tulang kepala berbentuk cembung
– warna badan lebih cerah
– gerakan lamban
– perut mengembang lebih besar daripada punggung alat kelamin berbentuk bulat.

C. Persiapan Lahan.
Proses pengolahan lahan (pada kolam tanah) meliputi :
– Pengeringan. Untuk membersihkan kolam dan mematikan berbagai bibit penyakit.
– Pengapuran. Dilakukan dengan kapur Dolomit atau Zeolit dosis 60 gr/m2 untuk mengembalikan keasaman tanah dan mematikan bibit penyakit yang tidak mati oleh pengeringan.
– Perlakuan TON (Tambak Organik Nusantara). untuk menetralkan berbagai racun dan gas berbahaya hasil pembusukan bahan organik sisa budidaya sebelumnya dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100m2. Penambahan pupuk kandang juga dapat dilakukan untuk menambah kesuburan lahan.
– Pemasukan Air. Dilakukan secara bertahap, mula-mula setinggi 30 cm dan dibiarkan selama 3-4 hari untuk menumbuhkan plankton sebagai pakan alami lele.
Pada tipe kolam berupa bak, persiapan kolam yang dapat dilakukan adalah :
– Pembersihan bak dari kotoran/sisa pembenihan sebelumnya.
– Penjemuran bak agar kering dan bibit penyakit mati. Pemasukan air fapat langsung penuh dan segera diberi perlakuan TON dengan dosis sama

D. Pemijahan.
Pemijahan adalah proses pertemuan induk jantan dan betina untuk mengeluarkan sel telur dan sel sperma. Tanda induk jantan siap kawin yaitu alat kelamin berwarna merah. Induk betina tandanya sel telur berwarna kuning (jika belum matang berwarna hijau). Sel telur yang telah dibuahi menempel pada sarang dan dalam waktu 24 jam akan menetas menjadi anakan lele.

E. Pemindahan.
Cara pemindahan :
– kurangi air di sarang pemijahan sampai tinggi air 10-20 cm.
– siapkan tempat penampungan dengan baskom atau ember yang diisi dengan air di sarang.
– samakan suhu pada kedua kolam
– pindahkan benih dari sarang ke wadah penampungan dengan cawan atau piring.
– pindahkan benih dari penampungan ke kolam pendederan dengan hati-hati pada malam hari, karena masih rentan terhadap tingginya suhu air.

F. Pendederan.
Adalah pembesaran hingga berukuran siap jual, yaitu 5 – 7 cm, 7 – 9 cm dan 9 – 12 cm dengan harga berbeda. Kolam pendederan permukaannya diberi pelindung berupa enceng gondok atau penutup dari plastik untuk menghindari naiknya suhu air yang menyebabkan lele mudah stress. Pemberian pakan mulai dilakukan sejak anakan lele dipindahkan ke kolam pendederan ini.

V. Manajemen Pakan.
Pakan anakan lele berupa :
– pakan alami berupa plankton, jentik-jentik, kutu air dan cacing kecil (paling baik) dikonsumsi pada umur di bawah 3 – 4 hari.
– Pakan buatan untuk umur diatas 3 – 4 hari. Kandungan nutrisi harus tinggi, terutama kadar proteinnya.
– Untuk menambah nutrisi pakan, setiap pemberian pakan buatan dicampur dengan POC NASA dengan dosis 1 – 2 cc/kg pakan (dicampur air secukupnya), untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tubuh karena mengandung berbagai unsur mineral penting, protein dan vitamin dalam jumlah yang optimal.

VI. Manajemen Air.
Ukuran kualitas air dapat dinilai secara fisik :
– air harus bersih
– berwarna hijau cerah
– kecerahan/transparansi sedang (30 – 40 cm).

Ukuran kualitas air secara kimia :
– bebas senyawa beracun seperti amoniak
– mempunyai suhu optimal (22 – 26 0C).

Untuk menjaga kualitas air agar selalu dalam keadaan yang optimal, pemberian pupuk TON sangat diperlukan. TON yang mengandung unsur-unsur mineral penting, lemak, protein, karbohidrat dan asam humat mampu menumbuhkan dan menyuburkan pakan alami yang berupa plankton dan jenis cacing-cacingan, menetralkan senyawa beracun dan menciptakan ekosistem kolam yang seimbang. Perlakuan TON dilakukan pada saat oleh lahan dengan cara dilarutkan dan di siramkan pada permukaan tanah kolam serta pada waktu pemasukan air baru atau sekurang-kurangnya setiap 10 hari sekali. Dosis pemakaian TON adalah 25 g/100m2.

VI. Manajemen Kesehatan.
Pada dasarnya, anakan lele yang dipelihara tidak akan sakit jika mempunyai ketahanan tubuh yang tinggi. Anakan lele menjadi sakit lebih banyak disebabkan oleh kondisi lingkungan (air) yang jelek. Kondisi air yang jelek sangat mendorong tumbuhnya berbagai bibit penyakit baik yang berupa protozoa, jamur, bakteri dan lain-lain. Maka dalam menejemen kesehatan pembenihan lele, yang lebih penting dilakukan adalah penjagaan kondisi air dan pemberian nutrisi yang tinggi. Dalam kedua hal itulah, peranan TON dan POC NASA sangat besar. Namun apabila anakan lele terlanjur terserang penyakit, dianjurkan untuk melakukan pengobatan yang sesuai. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa, bakteri dan jamur dapat diobati dengan formalin, larutan PK (Kalium Permanganat) atau garam dapur. Penggunaan obat tersebut haruslah hati-hati dan dosis yang digunakan juga harus sesuai.


Tinggalkan komentar

Tips Hemat Pakan Dalam Budidaya Ikan


Tips Hemat Pakan Dalam Budidaya Ikan
By galeriukm — Category: Budidaya Ikan

Pakan ikan buatan pabrik memang praktis dan cukup baik untuk pertumbuhan ikan, namun harga pelet ikan yang cukup tinggi cukup memberatkan para petani ikan. Harga Pelet ikan saat ini berkisar pada harga 7 ribu rupiah per kilogram, sedangkan harga ikan Nila, Lele dan Bawal dari petani biasanya dibeli seharga 9500 rupiah, di beberapa daerah mungkin bisa sampai 12000 rupiah per kilogram .Kondisi ini jelas tidak menguntungkan bagi petani ikan, belum lagi permasalahan penyakit ikan, sewa lahan dan lain-lain.

Berbagai teknologi untuk memacu pertumbuhan ikan memang telah dilakukan misalnya penambahan probiotik atau pemotongan sirip ekor pada ikan nila. Namun harga pakan yang terlalu tinggi jelas menjadi kendala tersendiri. Ada banyak cara dilakukan untuk menekan pengeluaran pakan ikan diantaranya membuat pelet sendiri, cara lain dengan adalah memanfaatkan makanan sisa dan roti kadaluarsa. Makanan sisa merupakan sisa limbah rumah makan,rumah tangga yang tidak habis dimakan manusia.

Pemanfaatan limbah tersebut sangat menguntungkan bagi pembudidaya. Sekarung sisa makanan cukup untuk memberi makan satu kolam berisi lima kuintal bibit bawal ukuran 10 ekor per kg dan nila ukuran 40 ekor per kg selama dua tiga hari, tergantung kondisi fisik pakan. Memang, Cahyanta memang selalu menerapkan teknik polikultur, menebar bawal dengan nila sebagai sampingan.

Di sebagian wilayah Kabupaten Sleman, Yogyakarta, seperti Kecamatan Godean dan Cangkringan yang banyak terdapat kolam air mengalir, pemberian pakan berupa lorotan dan roti kadaluarsa untuk ikan semacam bawal dan nila mulai marak pada beberapa tahun terakhir. Lorotan adalah sisa makanan restoran atau warung makan. Harga nasi lorotan saat ini Rp500 per kg. Para pembudidaya tersebut memperoleh lorotan sekaligus roti bekas dari pengepul. Campuran lorotan dan roti kadaluarsa dijual Rp50.000 per karung isi 50 kg.

Fase pembesaran bawal dan nila membutuhkan waktu 2,5—3 bulan. Jika pembesaran sampai tiga bulan, hitung punya hitung, biaya pakan dengan lorotan hanya Rp2,25 juta, sedangkan yang menggunakan pellet mencapai Rp9 juta.
Hanya saja syarat mutlak penggunaan campuran lorotan ini adalah kolam dengan air mengalir. Jika air tidak mengalir ikan bisa mati semua. Ini disebabkan karena adanya lapisan minyak yang timbul dari lorotan. Bila air kolam mengalir, lapisan minyak ini akan hilang dari permukaan air. Apabila air menggenang, minyak bisa saja menyangkut di insang sehingga ikan mati.

Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari, pukul 09.00—10.00 dan 14.00—15.00. Pemberian pakan saat cuaca relatif panas ini bertujuan agar si ikan aktif bergerak karena suhu airnya telah hangat. Keaktifan gerak ini menyebabkan nafsu makan akan meningkat. Karena itu kolam sebaiknya tidak terhalang dari sinar matahari.(galeriukm).


Tinggalkan komentar

Memaksimalkan Keberhasilan Budidaya Lele


Mar 25th, 2010
Memaksimalkan Keberhasilan Budidaya Lele
By galeriukm — Category: Budidaya Ikan

Keberhasilan Budidaya ikan lele ditentukan oleh beberapa faktor antara lain benih yang unggul atau berkualitas baik, makanan yang memilik kandungan gizi tinggi, kondisi air yang baik dan pola pemeliharaan yang tepat. Faktor genetik benih lele sangat mempengaruhui pertumbuhan ikan lele sampai ukuran konsumsi. Lele dumbo yang dikenal memiliki pertumbuhan yang cepat ternyata mengalami penyimpangan genetik karena kesalahan dalam membudidayakannya, sehingga ditemukan lele strain baru yang dikenal dengan lele sangkuriang. Beberapa petani telah menerapkan sistem pemberian probiotik yang dicampurkan pada paka ikan lele, sehingga pertumbuhan ikan lele dapat lebih cepat , masa panen lebih singkat sehingga efisiensi pakan juga meningkat. Imbas lebih lanjut adalah keuntungan budi daya ikan lele yang meningkat.

Budidaya Ikan Lele

Budi daya ikan lele bisa dibilang gampang-gampang susah, dikatakan mudah karena kemampuan hidup ikan lele cukup baik di beberapa lingkungan yang cukup ekstrim. Tetapi untuk mencapai keberhasilan ekonomis yang maksimal dalam budidaya ikan lele terkadang cukup sulit. Bisa jadi Ikan lele yang dipelihara bisa tumbuh dengan ukuran yang besar, tetapi dari sisi hitung-hitungan ekonomis tidak menguntungkan. Kondisi lingkungan pemeliharaan ikan lele juga harus baik untuk mencegah penyakit ikan lele.

Berdasarkan pengalaman Petani Lele Di desa Gunungsari, kecamatan Beji, Pasuruan yang dikenal sebagai sentra budidaya lele konsumsi , sekitar 60 persen masyarakatnya menekuni usaha ini. Namun demikian, hanya sedikit saja yang mendapatkan hasil maksimal . Tidak jarang, diawal-awal atau pada minggu pertama setelah penebaran, banyak bibit lele yang mati. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari kondisi air kolam yang kotor, bibit kurang baik, hingga serangan penyakit. Tidak sedikit petani lele di daerah itu gagal panen karena lelenya mati semua. Kalau sudah begitu, bukan keuntungan yang didapat, tetapi jutaan rupiah akan melayang.

Seorang yang cukup sukses menjadi petani Lele di sana adalah Bapak Kayat, Bapak Kayat mencoba melakukan beberapa langkah budidaya lele dengan persiapan kolam secara matang, kemudian pembelian bibit lele yang baik/tidak mudah sakit, hingga pemberian pakan yang cukup.Untuk menghindari kondisi air kolam rusak, sirkulasi air perlu diatur, terutama setelah pemberian pakan, dengan demikian air kolam akan selalu bersih dan lele tidak mudah terserang penyakit.

Lele tergolong ikan dengan konsumsi pakan cukup besar, jika pakan kurang, maka sesama lele akan saling memangsa. Untuk itu pemberian pakan jangan sampai telat. Untuk mengirit biaya pakan, Kayat biasa memberikan limbah telur atau ayam sebagai pengganti pakan pelet yang harganya sangat mahal. Kebutuhan total pakan lele sendiri bisa mencapai 80% dari total biaya operasional.

Apa kunci dari keberhasilan panen lele milik Kayat ? Kuncinya adalah perawatan air kolam dan pemberian pakan yang cukup. Dalam perawatan air kolam, selain menggunakan cara-cara yang sudah biasa dilakukan, Kayat pun menambahkan larutan probiotik. Probiotik yang digunakan adalah Marine Bioaquatic–disebarkan ke air kolam 2 kali seminggu.

Marine Bioaquatic mengandung bakteri-bakteri penetralisir air kolam untuk melindungi ikan dari racun dan bakteri-bakteri penyebab penyakit. Selain itu, supaya daya tahan ikan optimal dan tidak mudah terserang penyakit, petani berusia 45 tahun ini juga memberikan Marine Biostimulant yang aplikasinya dicampurkan dengan pakan. Pemberian Biostimulan, ujarnya, ternyata berpengaruh besar terhadap percepatan pertumbuhan lele.(Galeriukm).


1 Komentar

Mempercepat Pertumbuhan Ikan Budi Daya Dengan Probiotik


Mempercepat Pertumbuhan Ikan Budi Daya Dengan Probiotik
By galeriukm — Category: Budidaya Ikan

Pertumbuhan Ikan Budi Daya yang cepat tidak hanya membuat hati senang tetapi juga menekan pengeluaran untuk pakan,mempercepat masa panen dan ikan bisa dipanen dalam ukuran yang seimbang. Banyak pengalaman petani budi daya ikan harus melakukan panen secara bertahap karena ukuran ikan saat ditebar sama tetapi mengalami pertumbuhan yang berbeda-beda. Karena itu beberapa rekayasa dan upaya dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan ikan dan ukuran yang seragam dengan demikian efisiensi produksi budi daya ikan menjadi cukup baik. Beberapa petani ikan menempuh cara dengan memberikan makanan berprotein tinggi dan memberikan makanan alami seperti keong, bekicot dan lain-lain. Akan tetapi pemberian pakan alami terkendala karena tidak praktis. Pada beberapa budi daya ikan seperti budi daya ikan guramih, Ikan Lele, Ikan Nila, Ikan mas dan lain sebagainya, pemberian probiotik telah dirasakan manfatnya dalam mempercepat pertumbuhan dalam budidaya ikan.

Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang sangat bermanfaat bagi makhluk hidup. Mikroorganisme yang terkandung pada Probiotik mampu membantu pencernakan makanan pada tuhuh hewan dan manusia sehingga makanan yang mengandung probiotik akan mampu dicerna dan diserap tubuh dengan baik. Selain itu probiotik mampu meningkatkan kekebalan tubuh dari serangan penyakit.

Pada Budi Daya Ikan probiotik diberikan sebagai campuran makanan dan ada yang ditaburkan pada kolam pemeliharaan. Untuk Probiotik yang dicampur pakan, bisa dicampurkan dengan pakan buatan pabrik (pelet) maupun pakan alami seperti daun-daunan. Penebaran probiotik pada kolam akan membantu tumbuhnya plankton-plankton dan mikroorganisme lainnya dalam air kolam sebagai makanan alami ikan. Probiotik jenis ini akan menggemburkan dasar kolam sekaligus memelihara kualitas air seperti Nature atau Super Plankton. Probiotik ini cukup diguyurkan ke air kolam pada pagi hari setiap dua minggu sekali supaya air selalu sehat, tidak blooming dan penuh dengan plankton sebagai pakan alami.

Pengalaman dari Himawas Atasasih, pemilik HMPS di Jl Sutijap 23 Wates, Kulonprogo, Para petani Ikan Guramih Kulonprogo sudah terbiasa memakai probiotik dicampur pakan. Misalnya, probiotik RajaGrameh, RajaLele, MasterFish, SPF atau Nature yang mudah diperoleh di toko pakan ternak atau toko pertanian. Dengan campuran probiotik dan pelet membuat metabolisme dan pencernaan ikan sempurna. Sebagian besar, 90% pakan yang masuk ke tubuh akan menjadi daging ikan.

Pengalaman Pak Jumadi, petani gurami dari Desa Ceme, Srigading, Sanden, Bantul membenarkan pemberian probiotik sangat membantu pertumbuhan ikan. Saat melihat di kolamnya banyak gurami stres dan mengambang bahkan beberapa mati, dia secepatnya mengguyurkan sebotol probiotik Nature campur segenggam gula pasir ke kolam. Keesokan harinya air kembali hijau jernih dan semua guraminya sehat kembali.

Pengalaman para petani ikan Gurami di Desa Jambidan, Bantul Yogyakarta telah meninggalkan cara konvensional budi daya guramih dan beralih ke cara modern dengan memanfaatkan probiotik. Budi Daya ikan dengan cara konvensional 30 kg pelet hanya menjadi 22 kg daging ikan, dengan sistem Guba (Gugus Simba) bisa menjadi 28-30 kg atau konversinya 1:1. Artinya, ikan lebih berbobot karena penambahan probiotik akan menjadikan 90% pakan menjadi daging dan hanya 10% yang dibuang sebagai amoniak.

Menurut Wiwied Usman, Sekjen PerMina sekaligus pembudi daya Ikan Gurami, Kelebihan lain penerapan sistem Guba, pertumbuhan lebih cepat sehingga waktu pemeliharaan lebih pendek. Bila dengan sistem konvensional untuk mencapai berat 1 kg butuh waktu dua tahun, dengan sistem Guba hanya butuh waktu satu tahun. Pengalaman mereka untuk mencapai 8-9 ons dari ukuran silet cukup dalam waktu 9 bulan dengan kombinasi pakan daun sekali sehari. Cara konvensional tanpa penambahan probiotik pada pakan, setahun baru mencapai berat 6-7 ons.

Pakar gurami dari Jurusan Perikanan UGM Ir Gandung Hardaningsih menguraikan, dari berbagai riset, probiotik memang terbukti bagus untuk pemeliharaan air kolam dan pemacu pertumbuhan ikan. Karena ada introduksi mikroba positif maka kolam menjadi lebih sehat dan ikan juga lebih kuat terhadap stres dan penyakit. Yang pasti, pertumbuhan ikan bisa sangat pesat karena probiotik juga merangsang nafsu makan.

“Saya kira probiotik akan menjadi andalan para petani ikan di masa depan karena manfaatnya sangat besar pada pertumbuhan ikan sehingga cukup berarti dengan keuntungan yang didapat,’’ tandasnya. Probiotik ibarat benteng pertahanan diri, sebaiknya diberikan sejak dini. Begitu bibit mau masuk kolam, tiga hari sebelumnya air kolam harus diguyur probiotik Nature atau SPF lebih dahulu agar kondisi air cepat matang dan tumbuh banyak plankton. Selanjutnya, pemberian probiotik untuk pemeliharaan air cukup dua minggu sekali atau ketika kondisi air menurun kualitasnya.
Perbandingan Hasil Budi Daya Ikan Gurami dengan Cara Konvensional dan Penambahan Probiotik

Biaya 1.000 ekor bibit gurami ukuran silet/korek dengan harga Rp 1.000,-/ekor , membutuhkan pakan 30 sak (harga Rp 210.000).
Total modal sekitar Rp 7,5 juta. Cara konvensional akan menghasilkan ikan sekitar 7 kuintal. Dengan harga panen Rp 20.000 /kg pendapatan petani sekitar Rp 14 juta.
Keuntungan sekitar Rp 6 jutaan.

Sistem Guba memberikan terobosan pada berat ikan. Dengan penambahan probiotik seperti RajaGrameh, RajaLele, Nutrisi Simba, ditambah SPF yang dicampurkan pada pakan maka hasil panen bisa mencapai 9 kuintal. Berarti pendapatan petani mencapai Rp 18 juta. Jadi, ada selisih 2 kuintal, senilai Rp 4 juta, jauh lebih untung dibanding cara biasa.

Biaya tambahan untuk membeli probiotikpun tidaklah mahal, dua tutup RajaGrameh ditambah 1 tutup SPF untuk mencampur 5 kg pakan pelet, terbukti hasilnya luar biasa. Padahal untuk 30 sak pakan hanya dibutuhkan biaya tambahan untuk pembelian probiotik Rp 400 ribu saja. Yakni, untuk pemacu tumbuh Rp 200 ribu, untuk penambah bobot Rp 100 ribu, dan untuk pengobatan Rp 100 ribu. Jadi, penambahan biaya Rp 400 ribu, tambahan keuntungannya Rp 4 juta.

Sumber:
1. http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=45237
2. Harian Kedaulatan Rakyat


Tinggalkan komentar

BUDIDAYA IKAN LELE


BUDIDAYA IKAN LELE
Selasa, 29 Juni 2010
I. Pendahuluan.
Lele merupakan jenis ikan yang digemari masyarakat, dengan rasa yang lezat, daging empuk, duri teratur dan dapat disajikan dalam berbagai macam menu masakan. PT. NATURAL NUSANTARA dengan prinsip K-3 (Kuantitas, Kualitas dan Kesehatan) membantu petani lele dengan paket produk dan teknologi.

II. Pembenihan Lele.
Adalah budidaya lele untuk menghasilkan benih sampai berukuran tertentu dengan cara mengawinkan induk jantan dan betina pada kolam-kolam khusus pemijahan. Pembenihan lele mempunyai prospek yang bagus dengan tingginya konsumsi lele serta banyaknya usaha pembesaran lele.

III. Sistem Budidaya.
Terdapat 3 sistem pembenihan yang dikenal, yaitu :

Sistem Massal. Dilakukan dengan menempatkan lele jantan dan betina dalam satu kolam dengan perbandingan tertentu. Pada sistem ini induk jantan secara leluasa mencari pasangannya untuk diajak kawin dalam sarang pemijahan, sehingga sangat tergantung pada keaktifan induk jantan mencari pasangannya.
Sistem Pasangan. Dilakukan dengan menempatkan induk jantan dan betina pada satu kolam khusus. Keberhasilannya ditentukan oleh ketepatan menentukan pasangan yang cocok antara kedua induk.
Pembenihan Sistem Suntik (Hyphofisasi). Dilakukan dengan merangsang lele untuk memijah atau terjadi ovulasi dengan suntikan ekstrak kelenjar Hyphofise, yang terdapat di sebelah bawah otak besar. Untuk keperluan ini harus ada ikan sebagai donor kelenjar Hyphofise yang juga harus dari jenis lele.

IV. Tahap Proses Budidaya.

A. Pembuatan Kolam.
Ada dua macam/tipe kolam, yaitu bak dan kubangan (kolam galian). Pemilihan tipe kolam tersebut sebaiknya disesuaikan dengan lahan yang tersedia. Secara teknis baik pada tipe bak maupun tipe galian, pembenihan lele harus mempunyai :
Kolam tandon. Mendapatkan masukan air langsung dari luar/sumber air. Berfungsi untuk pengendapan lumpur, persediaan air, dan penumbuhan plankton. Kolam tandon ini merupakan sumber air untuk kolam yang lain.
Kolam pemeliharaan induk. Induk jantan dan bertina selama masa pematangan telur dipelihara pada kolam tersendiri yang sekaligus sebagai tempat pematangan sel telur dan sel sperma.
Kolam Pemijahan. Tempat perkawinan induk jantan dan betina. Pada kolam ini harus tersedia sarang pemijahan dari ijuk, batu bata, bambu dan lain-lain sebagai tempat hubungan induk jantan dan betina.
Kolam Pendederan. Berfungsi untuk membesarkan anakan yang telah menetas dan telah berumur 3-4 hari. Pemindahan dilakukan pada umur tersebut karena anakan mulai memerlukan pakan, yang sebelumnya masih menggunakan cadangan kuning telur induk dalam saluran pencernaannya.

B. Pemilihan Induk
Induk jantan mempunyai tanda :
– tulang kepala berbentuk pipih
– warna lebih gelap
– gerakannya lebih lincah
– perut ramping tidak terlihat lebih besar daripada punggung
– alat kelaminnya berbentuk runcing.
Induk betina bertanda :
– tulang kepala berbentuk cembung
– warna badan lebih cerah
– gerakan lamban
– perut mengembang lebih besar daripada punggung alat kelamin berbentuk bulat.

C. Persiapan Lahan.
Proses pengolahan lahan (pada kolam tanah) meliputi :

Pengeringan. Untuk membersihkan kolam dan mematikan berbagai bibit penyakit.
Pengapuran. Dilakukan dengan kapur Dolomit atau Zeolit dosis 60 gr/m2 untuk mengembalikan keasaman tanah dan mematikan bibit penyakit yang tidak mati oleh pengeringan.
Perlakuan TON (Tambak Organik Nusantara). untuk menetralkan berbagai racun dan gas berbahaya hasil pembusukan bahan organik sisa budidaya sebelumnya dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100m2. Penambahan pupuk kandang juga dapat dilakukan untuk menambah kesuburan lahan.
Pemasukan Air. Dilakukan secara bertahap, mula-mula setinggi 30 cm dan dibiarkan selama 3-4 hari untuk menumbuhkan plankton sebagai pakan alami lele.

Pada tipe kolam berupa bak, persiapan kolam yang dapat dilakukan adalah :

Pembersihan bak dari kotoran/sisa pembenihan sebelumnya.
Penjemuran bak agar kering dan bibit penyakit mati. Pemasukan air fapat langsung penuh dan segera diberi perlakuan TON dengan dosis sama

D. Pemijahan.
Pemijahan adalah proses pertemuan induk jantan dan betina untuk mengeluarkan sel telur dan sel sperma. Tanda induk jantan siap kawin yaitu alat kelamin berwarna merah. Induk betina tandanya sel telur berwarna kuning (jika belum matang berwarna hijau). Sel telur yang telah dibuahi menempel pada sarang dan dalam waktu 24 jam akan menetas menjadi anakan lele.

E. Pemindahan.
Cara pemindahan :

Kurangi air di sarang pemijahan sampai tinggi air 10-20 cm.
Siapkan tempat penampungan dengan baskom atau ember yang diisi dengan air di sarang.
samakan suhu pada kedua kolam
pindahkan benih dari sarang ke wadah penampungan dengan cawan atau piring.
pindahkan benih dari penampungan ke kolam pendederan dengan hati-hati pada malam hari, karena masih rentan terhadap tingginya suhu air.

F. Pendederan.
Adalah pembesaran hingga berukuran siap jual, yaitu 5 – 7 cm, 7 – 9 cm dan 9 – 12 cm dengan harga berbeda. Kolam pendederan permukaannya diberi pelindung berupa enceng gondok atau penutup dari plastik untuk menghindari naiknya suhu air yang menyebabkan lele mudah stress. Pemberian pakan mulai dilakukan sejak anakan lele dipindahkan ke kolam pendederan ini.

V. Manajemen Pakan.
Pakan anakan lele berupa :

pakan alami berupa plankton, jentik-jentik, kutu air dan cacing kecil (paling baik) dikonsumsi pada umur di bawah 3 – 4 hari.
Pakan buatan untuk umur diatas 3 – 4 hari. Kandungan nutrisi harus tinggi, terutama kadar proteinnya.
Untuk menambah nutrisi pakan, setiap pemberian pakan buatan dicampur dengan POC NASA dengan dosis 1 – 2 cc/kg pakan (dicampur air secukupnya), untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tubuh karena mengandung berbagai unsur mineral penting, protein dan vitamin dalam jumlah yang optimal.

VI. Manajemen Air.
Ukuran kualitas air dapat dinilai secara fisik :

air harus bersih
berwarna hijau cerah
kecerahan/transparansi sedang (30 – 40 cm).

Ukuran kualitas air secara kimia :

bebas senyawa beracun seperti amoniak
mempunyai suhu optimal (22 – 26 0C).

Untuk menjaga kualitas air agar selalu dalam keadaan yang optimal, pemberian pupuk TON sangat diperlukan. TON yang mengandung unsur-unsur mineral penting, lemak, protein, karbohidrat dan asam humat mampu menumbuhkan dan menyuburkan pakan alami yang berupa plankton dan jenis cacing-cacingan, menetralkan senyawa beracun dan menciptakan ekosistem kolam yang seimbang. Perlakuan TON dilakukan pada saat oleh lahan dengan cara dilarutkan dan di siramkan pada permukaan tanah kolam serta pada waktu pemasukan air baru atau sekurang-kurangnya setiap 10 hari sekali. Dosis pemakaian TON adalah 25 g/100m2.

VI. Manajemen Kesehatan.
Pada dasarnya, anakan lele yang dipelihara tidak akan sakit jika mempunyai ketahanan tubuh yang tinggi. Anakan lele menjadi sakit lebih banyak disebabkan oleh kondisi lingkungan (air) yang jelek. Kondisi air yang jelek sangat mendorong tumbuhnya berbagai bibit penyakit baik yang berupa protozoa, jamur, bakteri dan lain-lain. Maka dalam menejemen kesehatan pembenihan lele, yang lebih penting dilakukan adalah penjagaan kondisi air dan pemberian nutrisi yang tinggi. Dalam kedua hal itulah, peranan TON dan POC NASA sangat besar. Namun apabila anakan lele terlanjur terserang penyakit, dianjurkan untuk melakukan pengobatan yang sesuai. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa, bakteri dan jamur dapat diobati dengan formalin, larutan PK (Kalium Permanganat) atau garam dapur. Penggunaan obat tersebut haruslah hati-hati dan dosis yang digunakan juga harus sesuai.


2 Komentar

kotoran sapi untuk budidaya lele organik.


TEMPO Interaktif, Banyuwangi – Teletong alias kotoran sapi rupanya tak hanya bermanfaat untuk pupuk organik. Di Banyuwangi, Jawa Timur, kotoran sapi saat ini juga populer untuk budidaya lele organik. Tak perlu beli pakan, hasil panen ternyata lebih gurih.
Abdul Kohar, 48, salah satu petani Banyuwangi yang ikut mengembangkan budidaya lele organik mengatakan bahwa konsep budidaya lele organik mengadopsi pola hidup lele di alam bebas, dimana media hidup dan pakannya berasal dari bahan organik.

Di belakang rumahnya, Jalan Temuguruh, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, ia membikin 12 kolam berukuran masing-maisng 3,5 meter x 4 meter untuk membudidayakan lele organik sejak masih benih hingga siap konsumsi.

Menurutnya, berbeda dengan budidaya lele nonorganik, biasanya dilakukan tanpa perlakuan khusus dengan pakannya berasal dari pabrikan (pelet).

Hasilnya tentu saja berbeda. Ukuran lele organik ternyata lebih panjang, antara 25-30 centimeter dibandingkan lele biasa. Warna lele organik kemerah-merahan, terutama di bagin sirip dan insang. “Lele biasa warnanya sedikit lebih hitam,” terang Abdul Kohar, kepada Tempo, akhir pekan lalu.

Lele organik juga lebih menonjol dalam hal rasa. Tekstur daging lebih kesat, kenyal, dan gurih, hampir menyamai rasa lele yang hidup di alam bebas. “Dan tentunya, lebih sehat,” tegas petani lulusan Teknik Nuklir, Universitas Gajah Mada ini.

Membudidayakan lele organik memang membutuhkan keuletan tersendiri. Sebabnya, kata dia, setidaknya terdapat empat tahapan yang harus dilakukan. Tahap pertama, adalah penebaran benih lele pada kolam berisi air dan kotoran sapi yang telah dikomposing selama satu bulan. Kotoran sapi tersebut ditempatkan dalam tiga karung goni tertutup.

Kohar biasa menebar 21 ribu benih yang dibelinya dari daerah sekitar seharga Rp 25 per benih.

Bila benih berusia dua minggu, kemudian dilakukan seleksi untuk benih yang berukuran 4-5 milimeter. Benih tersebut dipisahkan di kolam berikutnya selama dua minggu hingga benih berdiameter 10 milimeter. Dua minggu berikutnya, lele diseleksi untuk yang berukuran 20 milimeter.

Sejak benih lele berdiameter 10 milimeter itu, kolam yang berisi air dicampur langsung dengan pupuk organik dari kotoran sapi hingga setinggi 20 centimeter. Dari cara ini, kotoran sapi akan menghasilkan banyak plankton yang menjadi makanan utama lele.

Lele organik, baru siap dipanen saat usianya delapan minggu. Kohar menceritakan, setiap kali panen ia bisa menghasilkan enam kuintal lele, dengan harga Rp 9 ribu perkilogramnya. Meski pasarnya masih seputar Banyuwangi, namun menurut dia, budidaya lele organik hemat biaya hingga 40 persen. Sebab ia tak perlu lagi membeli pakan pabrikan.

Keuntungan lainnya, air di dalam kolam lele tidak menghasilkan bau busuk seperti halnya lele non organik. Sehingga ia tak perlu repot mengganti air dalam kolam. “Menghemat biaya dan tenaga,” kata ayah enam anak ini.

Di tangan Kohar pula, sisa air dalam kolam lele ternyata masih bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman padinya seluas satu hektar.

Kohar sebenarnya sudah akrab dengan pupuk organik sejak tahun 2005 lalu. Ia juga tercatat sebagai salah satu petani yang konsisten memakai pupuk organik untuk tanaman padinya. Sebelum membudidayakan lele organik empat bulan lalu, kotoran ternak sapinya yang berjumlah enam ekor langsung dimanfaatkan untuk tanaman padi.

Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S Sirtanio) Samanhudi mengatakan, budidaya lele organik di Banyuwangi masih dikembangkan oleh enam petani. Pasarnya juga masih terbatas di Banyuwangi.

Menurut dia, hal itu disebabkan karena budidaya lele organik masih tergolong baru sehingga belum populer di masyarakat. Lele, kata dia, masih menjadi makanan favorit di masyarakat. Namun kebanyakan yang beredar, mengandung residu akibat pemakaian bahan kimia yang tinggi. “Berbeda, kalau organik sudah bebas zat kimia,” terangnya.

Sementara ditilik dari segi gizi, kata dia, lele organik tingkat kolestorelnya lebih rendah karena mengandung asam lemak tak jenuh.

IKA NINGTYAS


Tinggalkan komentar

Teknik Pembesaran Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus)


Nyusik Endro Yuwono. 06.3.02.742.Teknik Pembesaran Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus)
Pada Unit Usaha Milik Bapak H. Tarmudji Desa Kedung Maling Kecamatan Sooko Kabupaten
Mojokerto Jawa Timur. Dibawah bimbingan Ibu Sri Wulan M, M.Kes selaku dosen pembimbing I
dan Bapak Hamdani, S.Pi, MMA selaku dosen pembimbing II.
Kebutuhan masyarakat akan protein hewani akhir – akhir ini semakin meningkat. Hal ini
disebabkan antara lain meningkatnya jumlah penduduk , dan pola penyediaan menu yang semakin
meningkat dan lebih baik. Kekurangan protein merupakan masalah dunia, terutama bagi Negara –
Negara yang sedang berkembang. Protein hewani dapat diperoleh antara lain berasal dari daging,
susu, telor, dan ikan. Jadi, ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang dipergunakan
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Untuk itu diperlukan usaha – usaha peningkatan produksi
ikan ( Soetomo, 2000). Budidaya ikan air tawar yang mempunyai prospek masa depan yang cerah
adalah budidaya ikan lele dumbo, karena ikan lele dumbo memiliki keunggulan yang khas bila
dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya. Budidaya lele dumbo berkembang pesat dikarenakan
dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, teknologi
budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, pemasarannya relatif mudah dan modal usaha
yang dibutuhkan relatif rendah.
Tujuan Pelaksanaan Kerja Praktek Akhir (KPA) adalah untuk memperoleh pengetahuan
dan keterampilan tentang teknik pembesaran ikan lele dumbo (Clarias gariepenus) mulai dari
persiapan kolam sampai dengan analisis usaha.
Teknik pembesaran lele dumbo meliputi persiapan kolam, penebaran benih, monitoring
kualitas air,monitoring pertumbuhan, pengelolaan pakan, pengendalian hama dan penyakit,
pemanenan dan pasca panen.Pengelolaan pakan merupakan faktor paling penting pada usaha
pembesaran karena menyerap hampir 70 % dari biaya operasional. Oleh karena itu perlu
mendapatkan perhatian yang cukup serius agar biaya tersebut dapat ditekan sehingga untung
yang didapat lebih besar.
Kerja Praktek Akhir (KPA) ini dilaksanakan di Usaha Pembesaran Lele Milik Bapak
Tarmudji Desa Kedung Maling Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto Jawa Timur mulai tanggal
16 Maret – 31 Mei 2009. Metode yang digunakan pada pelaksanaan Kerja Praktek Akhir (KPA) ini
menggunakan dua metode yaitu survey dan magang.. Adapun sumber data yang diperoleh
meliputi data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data ini menggunakan teknik
wawancara dan observasi.Teknik pengolahan data dengan editing, tabulating, analizing.
Persiapan kolam di usaha pembesaran meliputi pengeringan dan pasok air. Hal ini tidak
relevan dengan penjelasan yang dikemukakan oleh (Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Pesisir,
2008 ) bahwa persiapan kolam meliputi pengeringan, pemupukan dan pengapuran serta pasok air.
Kolam dikeringkan dengan panas matahari selama 3 hari untuk membunuh hama penyakit,
setelah itu di bagian dasar dan dinding kolam di bersihkan dengan sapu lidi untuk membersihkan
lumut yang telah mengering. Pengisian air dengan menggunakan pompa bor berukuran 10 PK
yang disalurkan melewati pipa parolon berukuran 2 dim untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam
kolam pembesaran. Penebaran benih dilakukan setelah air kolam diberi EM4 hasil buatan sendiri
sebanyak 2 liter untuk kolam dengan volume 32 m3. Pemberian EM4 dimaksudkan untuk
menumbuhkan plankton. Hal ini senada dengan yang diungkapkan Khairuman, (2003) kolam diairi
secara bertahap untuk memberikan kesempatan agar pupuk bereaksi dengan sempurna agar
menumbuhkan plankton, kemudian dibiarkan selama 1 minggu baru ditebari benih. Jumlah benih
yang ditebar berukuran 3 – 5 cm sekitar 10.000 – 15.000 ekor per kolam. Padat tebar 312 ekor/m2.
Harga benih per ekor berkisar Rp.40 – Rp.45 Sebelum benih ditebar dilakukan sampling benih.
Sampling benih dengan menggunakan gelas. Penebaran benih dilakukan pada sore hari pukul
16.00 WIB. Monitoring kualitas air meliputi pergantian air, pasok air akibat penguapan atau
kebocoran dan pemberian EM4 pada kolam pembesaran. Pergantian air dilakukan setiap 30 hari
sekali jika air kolam pembesaran terlihat keruh dan berbau tidak sedap. Tetapi apabila sebelum
sampai 1 bulan air sudah terlihat keruh maka dilakukan pergantian air. Pasok air akibat kebocoran
atau penguapan dilakukan jika air dalam kolam terlihat menyusut. Aplikasi EM4 dilakukan apabila
tidak dilakukan pergantian air. Pengelolaan pakan terdiri dari pakan buatan (pellet) dan pakan
alternatif/tambahan. Pada saat benih berukuran 3 – 5 cm atau pada awal tebar sampai benih
berukuran 4 – 6 cm benih diberi pakan pellet jenis FF-999 produksi POKPHAND selama 2 minggu.
Pemberian pakan secara adlibitum, frekwensi pemberian pakan 3 kali sehari yaitu pagi sekitar jam
07.00, siang hari pukul 13.00 dan malam hari 20.00 WIB. Setelah berukuran 4 -6 cm benih
diberikan pakan jenis 781-2 produksi POKPHAND sampai benih berukuran 5 -7cm. Setelah ikan
lele berukuran di atas 5 – 7 cm diberikan pakan buatan sendiri sampai ikan lele dipanen. Untuk
menekan biaya pakan selama pemeliharaan dapat diberikan pakan alternatif berupa ayam mati
yang telah dibakar dahulu. Pemberian ayam bakar ini pada saat ikan berumur 1,5 – 2 bulan namun
harus tetap diperhatikan kondisi air dalam kolam karena biasanya air akan cepat kotor.Hal ini
sejalan dengan pendapat Nuketea, (2007) bahwa dalam pemberian makan tambahan seperti
bangkai ayam, usus, bekicot dapat menurunkan kualitas air. Teknik pemberian pakan dengan
menyebar pakan secara merata di setiap bagian kolam. Monitoring pertumbuhan meliputi
monitoring nafsu makan ikan serta monitoring pertambahan panjang tubuh lele.Hama yang sering
mengganggu adalah keberadaan kucing liar. Kucing liar ini kerap kali memakan ikan lele sehari
bisa memakan 6-9 ekor lele. Sedangkan penyakit yang menyerang adalah penyakit cacar ,
tuberculosis, jamur/candawan. Penanggulangan dari ketiga penyakit diatas adalah dengan
pemberian INROFLOXS dengan dosis 1 gr untuk 1000 liter air atau 1m3 atau menggunakan
supertetra dengan dosis 1 gr atau 1 tablet untuk 3000 ekor ikan. Teknik pengobatan INROFLOXS
dicampur dengan pakandosis 4 – 6 gr untuk 1 kg pakan sedangkan melalui air dengan mencampur
1 gr dengan 1000 liter air. Lama pengobatan tiap 3 hari sekali sampai penyakitnya sembuh. Untuk
pencegahan dari penyakit tersebut di atas juga diberikan INROFLOXS yaitu dengan mencampur
2 – 4 gr dengan 1 kg pakan selama 3 – 5 hari berturut – turut tiap pemberian pakan selain itu juga
diberikan vitamin B kompleks untuk merangsang nafsu makan serta pemberian daun pepaya dan
kunyit yang dicampur dalam adonan pakan yang dibuat sendiri sebagai antibiotik dan
memperkuat daya tahan tubuh ikan terhadap serangan penyakit. Pemanenan dilakukan dengan
panen total dimana semua ikan dipanen secara keseluruhan. Waktu pemanenan pada saat sore
hari sekitar pukul 16.00 – 17.00 WIB untuk menghindari terjadinya stres. Tingkat SR panen
sebesar 90 % dengan berat total lele keseluruhan sebesar 75 kwintal dari tebar 100.000 ekor
untuk 9 petak kolam yang berukuran 4 x 8 m atau dengan padat tebar 312 ekor/m2/petak sehingga
didapat FCR sebesar 1: 1. Setelah ikan lele di panen maka tahap selanjutnya adalah tahap pasca
panen. Biasanya pemanenan lele dilakukan oleh tengkulak dengan datang sendiri ke lokasi
pembesaran untuk melakukan pemanenan sekaligus mengangkut hasil panen tersebut.. Harga
ikan lele saat pemanenan berada pada kisaran Rp 8000,00/kg dengan ukuran 1 kg size 12 ekor.
Wilayah pemasaran adalah Pasar Kedung Maling, Pasar Mojokerto, Surabaya dan Sidoarjo.Hasil
analisa usaha didapat profit sebesar Rp. 25.264.376,81 GFI= Rp.60.000.000,00 dengan R/C = 2,3
Kesimpulannya teknik pembesaran lele dumbo di usaha pembesaran H. Tarmudji
meliputi :Persiapan kolam, penebaran benih, monitoring kualitas air, pengelolaan pakan,
monitoring pertumbuhan, pengendalian hama dan penyakit, pemanenan, pasca panen. Meskipun
sarana dan prasarananya belum lengkap, teknik pembesaran lele sudah cukup baik, hal ini terlihat
dari SR panen sebesar 90 % dengan hasil panen lele sebesar 75 kwintal/ siklus dari tebar
100.000 ekor selain itu didukung dengan penggunaan pakan buatan sendiri mampu menekan
biaya pakan sebesar 50 % dari total biaya operasional sehingga keuntungan yang didapat lebih
besar akan tetapi penggunaanya banyak meninggalkan residu. Hal ini disebabkan bahan – bahan
ransum pakan seperti jagung dan kepala udang windu dalam bentuk kasaran tidak berbentuk
tepung . Sarannya untuk meningkatkan kualitas produksi sebaiknya sarana dan prasarana
pembesaran seperti peralatan panen, peralatan grading dilengkapi agar proses pembesaran lele
dumbo dapat berjalan lancar sedangkan untuk pembuatan pakan sebaiknya bahan – bahan
ransum sebelum diproses menjadi pellet dihaluskan atau dibuat tepung terlebih dahulu digiling
agar dihasilkan pellet lebih padat dan kompak sehingga apabila diberikan ke lele tidak banyak
meninggalkan residu.


Tinggalkan komentar

FAQ EM4


FAQ EM4 (Tanya Jawab seputar EM4)
Teknologi EM pertama kali dikembangkan oleh Prof. Dr. Teruo Higa dari Universitas Ryukyus, Jepang pada tahun 1980. EM merupakan kultur campuran dari mikroorganisme fermentasi (peragian) dan sintetik (penggabungan) yang bekerja secara sinergis (saling menunjang ) untuk memfermentasi bahan organic. Bahan organic tersebut berupa sampah, kotoran ternak, serasah, rumput dan daun-daunan. Melalui proses fermentasi bahan organic diubah kedalam bentuk gula, alcohol dan asam amino sehingga bias diserap oleh tanaman. Dewasa ini Teknologi EM telah diterapkan secara luas dalam bidang pertanian, kehutanan, pengolahan limbah dan kesehatan.
Teknologi EM di Indonesia telah dimasyarakatkan kepada petani sejak tahun 1993, setelah dilakukan usaha-usaha penelitian dan pengujian dalam skala terbatas oleh lembaga penelitian swasta dan universitas dari tahun 1990 sampai 1993. Usaha pemasyarakatan Teknologi EM di Indonesia pada walnya diprakarsai oleh yayasan Indonesian Kyusei Nature Farming Societies, Merupakan lembaga non pemerintah yang bergerak dalam bidang penelitian dan pengembangan pertanian akrab lingkungan yang berkelanjutan dengan masukan rendah

1. Apakah yang dimaksud dengan Effective Microorganisms (EM)?

EM merupakan kultur campuran dari microorganisms yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. EM diaplikasikan sebagai inokulan untuk meningkatkan kergaman dan populasi mikroorganisme di dalam tanah dan tanaman, yang selanjutnya dapat meningkatkan kesehatan, pertumbuhan, kuantitas dan kualitas produksi tanaman.

2. Dari manakah konsep dan teknologi EM berasal?

Teknologi, konsep penerapan EM dalam bidang pertanian telah dilakukan secara mendalam oleh Prof. Dr. Teruo Higa di Universitas Ryukyus, Okinawa, Jepang. Dalam skala luas, EM telah diterapkan oleh petani organic di Jepang, Thailand, Brazil, Amerika Serikat, Indonesia, Philiphina, Srilangka, Cina, Korea Selatan, Taiwan, India, Perancis, Malaysia, New Zealand, Laos, Myanmar,, dll. Dari tahun 1989 sampai saat ini, pengembangan teknolgi EM masih terus dilakukan.

3. Apakah EM hanya diterapkan pada tanah dan tanaman saja?

Disamping diterapkan pada tanah dan tanaman, EM juga dapat diterapkan dalam pengolahan limbah untuk mempercepat penguraian air limbah, memperbaiki tanah dasar tambak untuk mempercepat pertumbuhan ikan dan udang, disemprotkan pada kandang ternak untuk menghilangkan polusi bau pada limbah ternak, dicampurkan pada air minum dan makanan ternak untuk memperbaiki mikroorganisme yang ada dalam perut ternak sehingga pertumbuhan dan produksi ternak menjadi meningkat.

4. Apakah mikroorganisme yang terkandung di dalam formula EM merupakan mokroorganisme asing?

Tidak. Kultur EM tidak mengandung suatu mikroorganisme asing. EM terbuat dari kultur campuran spesies mikroorganisme alami yang terdapat dalam lingkungan alam dimanapun. Mikroorganisme EM bukan hasil rekayasa genetik. Mikroorganisme yang terdapat di EM yang dipasarkan di Indonesia, adalah jenis mikroorganisme alami yang ada/hidup di Indonesia.

5. Jika kultur EM mengandung mikrrorganisme yang terdapat di alam, apakah keuntungan menggunakan EM?

Prof. Dr. Teruo Higa telah menekuni penelitiannya untuk mengisolasi dan menyeleksi berbagai mikroorganisme yang mempunyai pengaruh menguntungkan bagi tanah dan tanaman. Beliau telah menemukan mikroorganisme yang dapat hidup bersama dalam kultur campuran dan secara fisiologis mempunyai kecocokan di antara mikroorganisme tersebut. Sewaktu kultur campuran tersebut diperkenalkan pada setiap individu, mikroorganisme secara cepat bertambah dalam aksi sinergistik (saling menunjang).

6. Jenis mikroorganisme apakah yang terkandung di dalam EM dan bagaimana fungsinya?

Mikroorganisme yang terdapat di dalam EM terdiri dari: Lactobacillus (bakteri asam laktat), bakteri fotosintetik, Actinomycetes, Strepmyces sp, dan ragi. EM meningkatkan fermentasi limbah dan sampah organik, meningkatkan ketersediaan nutrisi terhadap tanaman serta menekan aktivitas serangga hama dan mikroorganisme patogen.

7. Bagaimana cara kerja EM?

Cara kerja EM telah dipublikasikan secara ilmiah yang menunjukan bahwa EM dapat

(a) menekan pertumbuhan patogen tanah,

(b) mempercepat fermentasi limbah dan sampah organik,

(c) meningkatkan ketersediaan nutrisi dan senyawa organik pada tanaman,

(d) meningkatkan aktivitas mikroorganisme indogenus yang menguntungkan, seperti ; Mycorhiza, Rhizobium, bakteri pelarut, fosfat, dll.

(e) Memfiksasi nitrogen,

(f) Mengurangi kebutuhan pupuk dan pestisida kimia.

Dengan cara tersebut EM dapat menekan pertumbuhan mikroorganisme pathogen yang selalu merupakan masalah pada budidaya monokultur dan budidaya tanaman sejenissecara terus menerus (continuous cropping). EM memfermentasikan sisa-sisa pakan dan kulit udang/ikan pada tanah dasar tambak, sehingga gas beracun (metan, dan H2S, Mercaptan, dll) dan panas pada tanah dasar tambak menjadi hilang, untuk selanjutnya udang/ikan dapat hidup dengan baik. Dengan cara yang sama EM juga memfermentasikan limbah dan kotoran ternak, hingga lingkungan kandang menjadi tidak bau, ternak tidak mengalami stress sehingga nafsu makannya meningkat. EM yang diminumkan dengan dosis 1 : 1000 pada minuman ternak, hidup dalam usus ternak, berfungsi untuk menekan populasi mikroorganisme pathogen di dalam usus sehingga ternak menjadi sehat.

8. Sewaktu bahan organik dimasukkan ke dalam tanah, apakah mikroorganisme yang terkandung di dalam EM secara alami juga terdapat/hidup di dalam tanah?

Ya. Umumnya limbah organik, termasuk kotoran hewan, pupuk hijau dan kompos, mempunyai populasi mikroorganisme aslinya. Beberapa diantaranya menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman, dan ada juga yang merugikan. Akan tetapi sewaktu limbah organik dimasukkan ke dalam tanah, mikroorganisme yang merugikan secara cepat menyebar dan menjadi dominan di dalam tanah. Oleh karena itu, mikroorganisme yang menguntungkan yang terdapat di dalam bahan organik biasanya hidup dalam jangka waktu yang pendek.

9. Apakah EM juga mengalami hidup dalam jangka waktu yang pendek/stress/mati setelah diaplikasikan pada lingkungan tanah?

Ya, pada beberapa taraf tertentu. Akan tetapi keuntungan menggunakan EM adalah populasi mikroorganisme yang menguntungkan di dalam tanah lebih besar daripada populasi mikroorganisme yang merugikan. Jika limbah organik tersedia, EM menjadi dominan di dalam tanah dalam jangka waktu yang lebih lama.

10. Bagaimanakah cara memperpanjang efektivitas EM di dalam tanah?

Hasil penelitian telah membuktikan bahwa pemberian EM sebanyak 4 kali pada tanaman setahun, contohnya padi, sayur, palawija, dll. Dari minggu pertama sampai menggu keenam, dalam interval waktu 7-10 hari, dapat memperpanjang efektivitas EM. Pada tanaman tahunan, seperti karet, kopi, panili, anggur, dll, EM diaplikasikan secara kontinyu dalam interval waktu 3-4 minggu. Hal tersebut dapat menjamin populasi EM yang tinggi di dalam tanah sampai tanaman melewati periode kritis akibat stres lingkungan (kekeringan, kepanasan, gulma, patogen). Dalam periode kritis tersebut, tanaman paling banyak kehilangan kemampuan produksinya. Akan tetapi, dengan perlakuan EM, tanaman akan melewati periode kritis dengan baik, penampakan tanaman menjadi tegar, sehat dan tahan terhadap stres lingkungan. Kombinasi perlakuan EM dan pupuk organic (pupuk kandang, pupuk hijau, kompos, dll) akan mempercepat perkembangan populasi EM di dalam tanah, sehingga efektivitasnyapun meningkat.

11. Apakah penambahan bahan organik ke dalam tanah merupakan suatu hal yang mutlak?

Ya. Penambahan bahan organik (pupuk kandang, pupuk hijau, kompos atau sisa-sisa tanaman) ke dalam tanah sangatlah diperlukan untuk kehidupan mikroorganisme di dalam tanah. Bahan organik di dalam tanah difermentasi oleh EM, hasil fermentasi tersebut berupa gula alkohol, asam laktat, asam amino, dan senyawa organik lainnya, yang dapat diserap langsung oleh perakaran tanaman melalui proses osmose.

12. Berapa jumlah bahan organik yang harus dimasukkan ke dalam tanah dan kapan saat pemberiannya yang tepat?

Bahan organik dicampur ke dalam tanah sebanyak 1-10 ton per hektar. Pada tanaman setahun, bahan organik di campurkan pada saat 1 minggu sebelum tanam, sedangkan pada tanaman tahunan, bahan organik diberikan setiap 3 bulan sekali.

13. Bagaimana cara mengumpulkan bahan organik sejumlah tersebut?

Umumnya petani tidak memperhatikan pentingnya bahan organic dalam meningkatkan kesuburan tanah. Bahan organik dalam pertanian di Negara berkembang sangatlah berlimpah dan mudah didapat, misalny jerami, sekam, sampah pasar, sisa-sisa tanaman, serasah, kotoran hewan, dll. Akan tetapi mudah didapat merupakan bahan organik yang paling baik digunakan untuk meningkatkan kesuburan tanah karena biayanya murah.

14. Apakah EM hanya diaplikasikan pada tanah saja?

Tidak. Disamping pada tanah, EM juga dapat diaplikasikan pada seluruh permukaan tubuh tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyemprotan EM pada permukaan daun dapat meningkatkan aktivitas fotosintesa tanaman dan menekan pertumbuhan patogen yang terdapat pada permukaan tanaman.

15. Berapa konsentrasi dan dosis EM yang tepat sewaktu diaplikasikan pada tanah atau permukaan tanaman?

EM dicampurkan dalam air pada konsentrasi 3-10:1000, dengan dosis 8-10 liter per ha per musim tanam. Diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada permukaan tanaman atau disiramkan pada permukaan tanah, atau bersama-sama dialirkan dalam pengairan.

16. Tidakkah EM merusak lingkungan jika diaplikasikan dalam dosis yang tinggi secara kontinyu?

Tidak. EM tidak merusak lingkungan walaupun diaplikasikan dalam dosis yang tinggi secara kontinyu, karena EM bukan merupakan mikroorganisme asing dan secara alami sudah terdapat di dalam tanah. Populasi EM di alam akan diseimbangkan sesuai dengan lingkungan (bahan organik, air, suhu, O2, dll) yang tersedia di dalam tanah.

17. Dapatkah EM meningkatkan kualitas limbah organik, sampah, atau limbah organik pada industri?

Ya. EM telah digunakan secara efektif untuk menanggulangi masalh bau limbah pertanian, sampah kota, hotel, restoran dan rumah tangga, serta limbah organik industri, untuk menghilangkan bau busuk yang ditimbulkan dengan mempercepat proses penguraian limbah organik tersebut. EM juga digunakan untuk mempercepat proses pengomposan (Bokashi).

18. Apakah EM efektif diaplikasikan terhadap seluruh tanaman dan tanah?

Ya. Penelitian tentang EM telah dilakukan pada beberapa jenis tanaman dan tanah dalam kondisi agroekologi yang berbeda-beda. Hasilnya menunjukkan bahwa EM memberikan respon yang positif terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman serta dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologis tanah.

19. Dapatkah teknologi EM dipertimbangkan sebagai pengganti praktek manajemen pertanian lainnya?

Tidak. EM bukan merupakan pengganti praktek manajemen pertanian lainnya. Teknologi EM merupakan dimensi tambahan untuk mengoptimumkan praktek manajemen tanah dan tanaman, seperti pada rotasi tanaman, penambahan bahan organic, konservasi pengolahan tanah, daur ulang limbahpertanian dan pengendalian biologi. Jika digunakan dengan tepat, EM secara nyata dapat meningkatkan hasil pertanian yang telah diterapkan. EM dapat meningkatkan pertumbuhan, kualitas dan kuantitas produksi tanaman, memperbaiki sifat fisik, kimia, biologi tanah, kesuburan dan produktivitas tanah, serta mengurangi kebutuhan pupuk dan pestisida kimia.

20. Bagaimana EM dapat menekan pertumbuhan serangga hama?

Hasil penelitian menunjukkan bahwa EM dapat memfermentasikan bahan organic yang terdapat di dalam tanah dengan melepaskan hasil fermentasi berupa gula, alkohol, vitamin, asam laktat, asam amino, dan senyawa organik lainnya. Fermentasi bahan organik tidak melepaskan panas dan gas yang barbau busuk. Serangga hama tidak tertarik untuk bertelur atau mentaskan telurnya di dalam kondisi tanah tersebut. Akhirnya siklus hidup serangga di dalam tanah dan tanaman menjadi terputus dan tingkat serangan hama menjadi menurun.

21. Apakah EM juga dapat menekan pertumbuhan nematode parasit tanaman?

Ya. Hasil fermentasi bahan organik tanah menciptakan kondisi yang baik bagi pertumbuhan jamur pemangsa nematode (nematode trapping fungi), yang dapat menurunkan populasi nematode parasit tanaman di dalam tanah.

22. Jika EM dapat mengendalikan serangga hama, nematode dan penyakit tanaman, apakah EM merupakan pestisida?

Tidak. EM bukan merupakan pestisida dan tidak mengandung bahan kimia. EM merupakan mikroorganisme inokulan yang diperkenalkan pada tanah dan tanaman yang berfungsi sebagai pengendali biologis dalam menekan/mengendalikan hama atau penyakit tanaman.

23. Apakah EM telah diterapkan di pertanian Indonesia?

Teknologi EM telah dikenalkan di Indonesia sejak tahun 1990. Pengenalan Teknologi EM dilakukan bekerja sama dengan pusat-pusat pelatihan pertanian swadaya, kontak tani dan kelompok-kelompok tani. Penerapannya dilakukan oleh petani, peternak (ayam, babi, sapi) dan nelayan (udang dan ikan). Dari hasil pengamatan di lapangan, serta hasil percobaan yang telah dilakukan di Indonesia sejak tahun 1990, membuktikan bahwa EM mampu beradaptasi dan memberikan respon yang positif terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman, ternak, udang dan ikan.

24. Apa fungsi dari asam laktat, asam butirat, etil alkohol, karbohidrat dan etanol?

Merupakan senyawa organik yang dapat melarutkan ion-ion (unsur hara) di dalam tanah. Terlarutnya ion-ion tersebut menjadikannya mudah terserap oleh tanaman. Lain halnya dengan proses pembusukan bahan organik, ion-ion yang dilepaskan dari proses pembusukan tidakdalam bentuk terlarut akan tetapi masih terikat denga molekul-molekul /ion-ion lainnya, teritama golongan logam berat. Disini jelaslah perbedaan hasil dari proses pembusukan dengan fermentasi.

25. Bagaimanakah reaksi-reaksi dari asam laktat, asam butirat, etil alkohol, karbohidrat dan alkohol, sehingga dapat diserap oleh tanaman dan berpengaruh pada tanah?

Senyawa organik yang dilepaskan dari hasil fermentasi bersifat stabil, tidak mudah menjadi reaksi oksidasi maupun reduksi, yang terkenal dengan istilah kondisi antioksidasi (antioxidative condition) dan senyawa anti oksidasi tersebut dikenal dengan istilah antiosidan. Sebaliknya, ion-ion yang dihasilkan dari proses pembusukan berada dalam kondisi oksidasi atau reduksi, yang dikenal dengan istilah kondisi oksidasi (Oxidative condition). Ion oksidasi tersebut sangat labil dan sukar tersedia bagi tanaman. Senyawa antioksidan mengandung ion yang stabil, tidak mudah bereaksi, sehingga mudah diserap oleh perakaran tanaman yang menyebabkan tanaman menjadi subur.

26. Mengapa di dalam tanah yang terfermentasi oleh EM, Hama tidak tertarik untuk bertelur?

Karena di dalam tanah yang terfermentasi tidak melepaskan panas dan bau busuk. Secara naluriah, serangga tidak mau bertelur di dalam tanah tersebut, karena siklus hidup serangga (telur, larva, serangga) menjadi terputus. Ledakan hama selalu terjadi pada tanah yang mengalami proses pembusukan (putrefactive soil), bukan dalam tanah yang terfermentasi (fermentative soil). Pada tanah yang sering diberi perlakuan pupuk kimia dan pestisida, cenderung menjadi tanah pembusuk. Sebaliknya tanah yang sering diberi bahan organik pupuk kandang/kompos, cenderung menjadi tanah fermentatif. Inokulasi EM menunjang kondisi tanah menjadi tanah zymogenic (fermentative).

27. Mengapa penyemprotan EM dapat meningkatkan aktivitas fotosintesa tanaman?

Karena EM menekan pertumbuhan patogen yang hidup pada permukaan daun, sehingga jumlah klorofil daun menjadi meningkat. Disamping itu, melalui proses reaksi biokimia, EM melepaskan enzim-enzim yang mendukung berlangsungnya foto sintesa di daun.

28. Fungsi dari masing-masing organisme tersebut baik pada tanaman maupun pada tanah?

EM terdiri dari 5 (lima) jenis mikroorganisme utama, yaitu bakteri fotosintetik, ragi, Lactobacillus, Actinomycetes dan Streptomyces, yang bekerja secara sinergis (saling menunjang) untuk menyuburkan tanah dan meningkatkan pertumbuhan tanaman.

(a) Bakteri fotosintetik berfungsi untuk mengikat nitrogendari udara bebas,memakan gas-gas beracun dan panas dari hasil proses pembusukan, sehingga polusi di dalam tanah menjadi berkurang.

(b) Ragi berfungsi untuk memfermentasi bahan organik tanah menjadi senyawa-senyawa organic (dalam bentuk alkohol, gula, dan asam amino) yang siap diserap oleh perakaran tanaman.

(c) Lactobacillus berfungsi untuk memfermentasi bahan organik menjadi senyawa-senyawa asam laktat yang dapat diserap oleh tanaman.

(d) Actinomycetes dan Streptomyces berfungsi untuk menghasilkan senyawa-senyawa antibiotik yang bersifat toksik terhadap patogen/penyakit, serta dapat melanjutkan ion-ion fosfat dan ion-ion mikro lainnya.

29. Apakah yang menjadi indikasi bahwa sampah organik yang telah yang telah diberi EM sudah terfermentasi?

Bahan organic yang telah terfermentasi menimbulkan aroma asam dan manis seperti bau tape dan tidak panas.

30. Apakah tanah zymogenic itu?

Tanah zymogenic adalh tanah yang banyak mengandung mikroorganisme fermentasi, seperti ragi, Lactobacillus, bakteri fotosintetik,, dll, yang dalam aktivitasnya memfermentasi bahan organic tanah.

31. Apakah dengan menggunakan EM masih perlu menggunakan pupuk kandang dan pupuk kimia?

Penggunaan pupuk kandang, kompos, dll, mutlak diperlukan, yang berguna sebagai sumber energi bagi mikroorganisme yang terdapat di dalam EM, sedangkan untuk pupuk kimia, tetap digunakan namun dosisnya dikurangi sampai dengan setengahnya untuk menekan biaya produksi.

32. Kondisi lingkungan yang bagaimanakah yang cocok untuk pengaplikasian EM?

Kondisi apapun cocok untuk aplikasi EM, asalkan terdapat bahan organik untuk media hidup dan sebagai sumber hidupnya.

33. Apakah dengan menggunakan Em masih perlu menggunakan pestisida?

Sebaiknya pestisida diterapkan dalam keadaan yang sangat mendesak, pada saat terjadi ledakan hama yang tidak dapat ditanggulangi lagi dengan cara lain, karena penerapan pestisida secar kontinu dengan dosis tinggi akan menurunkan populasi EM di dalam tanah.

34. Apakah EM dapat dicampurkan dengan pestisida (insektisida, fungisida, dan bakterisida)?

Tidak. Karean EM adalh mahluk hidup, yang bila dicampur dengan pestisida akan mati. Penerapan EM pada daun batang tanaman 1 (satu) mingu setelah penerapan pestisida masih dapat ditolerir. Pemberian bahan organik dan EM ke dalam tanah dapat menetralkan residu di dalam tanah.

35. Bagaimana cara membuat kompos dengan Teknolgi EM?

Kompos yang dibuat dengan teknologi disebut Bokashi. Bahan bakunya dapat terdiri baerbagi bahan organic, seperti misalnya jerami padi, pupuk kandang, dedak (padi), sekam, gula pasir, dll.


Tinggalkan komentar

APLIKASI EM 4 PADA PERIKANAN


APLIKASI EM 4 PADA PERIKANAN
1. EM Aktif

Dibuat dari EM-4 Perikanan dan molase yang dicampur dengan air sampai mencapai 20 kali kemudian difermentasi selama seminggu. Dalam pemanfaatannya dituangkan langsung ke tambak dengan dosis 1.500 liter / Ha. Dengan frekuensi pemberian 3 – 7 hari sekali sampai panen.

2.EM-5.

EM-5 adalah campuran dari arak, cuka EM-4 molase dan air. Cara pembuatan dan pengemasannya dengan FPE. EM-5 ini adalah pestisidaorganik dengan teknologi EM untuk memberantas hama khusus untuk EM-5 dapat disimpan sampai 3 bulan asalkan tidak terkontaminasi pathogen

3. Ekstrak bawang putih dengan EM-5

Campurkan 1 Kg. bawang putih yang telah diblender dengan 1 liter EM-5 dan tambahkan 8 liter air kemudian aduk secara merata dan gunakan setelah disimpan selama 24 jam. Gunakan pada pemberian pakan pertama dengan dosis 1 L/ 10 Kg.

4. Ekstrak pisang dengan EM-Aktif

Campurkan 10 Kg. pisang yang telah diblender dengan 20 liter EM-Aktif dan aduk secara merata dan simpanlah selama 24 jam sebelum digunakan.
Gunakan pada pemberian pakan kedua, ketiga dan seterusnya. Dengan dosis 1 liter / 10 Kg. pakan.

Aplikasi Untuk Pengolahan Tanah Dasar Tambak

* Setelah tanah dikeringkan dan dicangkul atau dibajak, rendam dengan air sedalam 20 cm kemudian disiram dengan EM4 sebanyak 6 liter / ha. Biarkan selama 4 – 7 hari dan keringkan kembali selama 4 hari.
* Tanah dikapur sebanyak 300 Kg / ha dan pupuk dengan EM-Bokashi 1-5 ton/ha
* Diisi air dengan ketinggian 20 cm lalu siram dengan EM4 sebanyak 6 leter / ha, biarkan selama 1 minggu.
* Tambahkan air hingga mencapai ketinggian 60-80 cm, lalu siramkan EM4 6- 8 liter/ha. Biarkan selama 1 minggu hingga menjelang benur ditebar.

Pada Masa Pemeliharaan

Setelah benur berumur 1 bulan, siramkan EM4 sebanyak 1-3 ppm/minggu/ha atau pada saat penggantian air sesuai dengan kondisi air.

NB. 1 ppm = 1 : 1.000.000 ( bila ketinggian air 60 cm, maka diperlukan EM4 sebanyak 6 liter/ha)
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.