Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site


Tinggalkan komentar

DEGRADABILITAS BAHAN KERING, BAHAN ORGANIK DAN SERAT KASAR RANSUM DENGAN BERBAGAI LEVEL BAGASSE SECARA IN SACCO


DEGRADABILITAS BAHAN KERING, BAHAN ORGANIK DAN SERAT KASAR RANSUM DENGAN BERBAGAI LEVEL BAGASSE
SECARA IN SACCO
(In Sacco Degradability of Dry Matter, Organic Matter and Crude Fiber
in the Diet with Different Level of Bagasse)
M. N. Noorsatiti, L.K.Nuswantara dan A. Subrata
Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Semarang
ABSTRACT
This research was conducted to determine in sacco degradability of dry matter, organic matter and crude fiber in ration with different levels of bagasse and determine the best level of bagasse in ruminant ration from degradability. The research is expected to give information about the best level of bagasse as a source of crude fiber in the complete feed views of degradability of dry matter, organic matter and crude fiber. Research conducted at the Laboratory of Animal Feed Faculty of Animal Husbandry and Agriculture Diponegoro University Semarang from October 2011 to February 2012.
The research was conducted by using a three Jawa Randu Goat which fistulated on rumen as replication. The treatment are T1 = ration level of 25% bagasse, T2 = bagasse rations with 30% level, T3 = ration with the level of 35% bagasse and T4 = bagasse rations with 40% level. Ration degradability measured by using in Sacco method. The variables measured were percent loss of DM, OM and CF to calculate the fraction of a, b, c and degradation theory (DT) dry matter, organic matter and crude fiber. To calculate the degradation of feed at a time “t” (DT) used the exponential equation P = a + b (1 – exp-ct). Fraction of the value of a, b, c and DT were then analyzed statistically based on completely randomized design (CRD) if there is a treatment effect, followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) for difference between means.
The analysis of variance showed that there was significant effect (P <0.05) between the fraction of easily degradable (a) DM, OM and CF, and degradation theory (DT) DM, OM and CF, therefore the potentially degradable fraction (b) DM, OM and CF, the degradation rate of potentially degradable fraction (c) DM, OM and CF showed no real difference.
Keywords: degradability, dry matter, organic matter, crude fiber
ABSTRAK
Penelitian bertujuan mengetahui degradabilitas bahan kering bahan organik dan serat kasar ransum dengan berbagai level bagasse secara in sacco dan menentukan level bagasse terbaik dalam ransum ruminansia berdasarkan degradabilitasnya. Manfaat yang diharapkan dari penelitian yaitu informasi tentang level bagasse yang terbaik sebagai sumber serat dalam pakan komplit
Animal Agricultural Journal, Vol. 1. No. 1, 2012, halaman 144
dilihat dari degradabilitas bahan kering bahan organik dan serat kasar. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Makanan Ternak Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Semarang pada bulan Oktober 2011-Febuari 2012.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan 3 (tiga) ekor ternak kambing Jawa randu yang difistula bagian rumennya sebagai ulangan. Perlakuan yang diamati yaitu T1 = ransum dengan level bagasse 25%, T2 = ransum dengan level bagasse 30%, T3 = ransum dengan level bagasse 35% dan T4 = ransum dengan level bagasse 40%. Degradabilitas ransum diukur dengan menggunakan metode in sacco. Variabel yang diukur adalah persen kehilangan BK, BO dan SK untuk menghitung fraksi a, b, nilai c dan degradasi teori (DT) bahan kering, bahan organik dan serat kasar. Untuk menghitung degradasi pakan pada waktu “t” (DT) digunakan persamaan eksponensial P = a + b (1 – exp-ct). Nilai fraksi a, b, c dan DT yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara statistik berdasarkan rancangan acak lengkap (RAL) jika terdapat pengaruh perlakuan, dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) untuk megetahui beda antar nilai tengah perlakuan.
Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang nyata (P<0,05) antara fraksi mudah terdegradasi (a) BK, BO dan SK, serta nilai degradasi teori (DT) BK, BO dan SK, sedangkan antara fraksi potensial terdegradasi (b) BK, BO dan SK, laju degradasi fraksi potensial terdegradasi (c) BK, BO dan SK tidak menunjukkan perbedaan nyata.
Kata kunci : degradabilitas, bahan kering, bahan organik, serat kasar
PENDAHULUAN
Ruminansia pada umumnya mendapatkan pakan sumber serat dari hijauan konvensional, namun ketersediaan hijauan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh faktor musim. Kendala bagi para peternak di Indonesia adalah distribusi produksi hijauan yang tidak merata sepanjang tahun yaitu pada musim kemarau sangat sulit untuk mendapatkan hijauan yang memadai bagi ternak. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut melalui penyediaan dan pemanfaatan pakan alternatif yaitu dengan pemanfaatan limbah pertanian atau perkebunan yang ketersediaannya cukup banyak dan dapat dimanfaatkan sebagai pakan secara optimal diantaranya adalah limbah pengolahan tebu yang berupa bagasse.
Tebu merupakan salah satu jenis tanaman yang hanya bisa ditanam di daerah beriklim tropis. Di Jawa Tengah, perkebunan tebu pada tahun 2010 menempati luas areal ± 60.705,26 ribu hektar, dan produksinya mencapai
Animal Agricultural Journal, Vol. 1. No. 1, 2012, halaman 145
242.666,15 ton/ha, dengan produksi limbah yang berupa bagasse mencapai 72.799,85 ton per tahun (BPS, 2011). Bagasse merupakan sisa dari pengolahan tebu pada industri gula pasir dan mempunyai potensi yang besar sebagai pakan alternatif. Satu kali periode penggilingan tebu dihasilkan 15-30% bagasse, sekitar 60% dari produksi bagasse dimanfaatkan sebagai kampas rem, pulp kertas dan sebagai bahan bakar dari pabrik gula, sehingga masih ada 40% yaitu sebesar 29.119,94 ton per tahun bagasse, sehingga bagasse yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan yaitu 0,09 AU.
Pemanfaatan bagasse sebagai pakan mempunyai keterbatasan karena kandungan serat yang tinggi, serta tingginya kandungan selulosa dan hemiselulosa yang berikatan dengan lignin, sehingga nilai nutrisi maupun kecernaannya rendah. Upaya yang dilakukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan bagasse yaitu dengan penambahan pakan konsentrat untuk meningkatkan kandungan nutrisinya.
Degradasi nutrien dapat didefinisikan dengan cara menghitung bagian zat pakan yang hilang dengan asumsi zat pakan tersebut telah diserap oleh ternak saat diinkubasikan ke dalam rumen (McDonald et al., 1989). Nilai manfaat ransum dapat dilihat dari nilai degradasi nutriennya. Degradasi nutrien suatu ransum dapat diukur salah satunya dengan metode in sacco. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui degradabilitas bahan kering, bahan organik dan serat kasar ransum dengan berbagai level bagasse dalam pakan komplit secara In Sacco dan menentukan level bagasse terbaik untuk pakan ruminansia yang dilihat dari nilai degradabilitasnya. Manfaat dari hasil penelitian ini yaitu memberikan informasi tentang level bagasse yang terbaik sebagai sumber serat dalam ransum dilihat dari degradabilitas bahan kering, bahan organik dan serat kasar.
Formula ransum yang disusun dari berbagai bahan pakan dan bagasse perlu di uji lebih lanjut secara biologis. Tingginya nilai fraksi a (mudah terdegradasi), b (potensial terdegradasi) dan c (laju fraksi b) berbanding lurus dengan peningkatan nilai degradasi teori (DT) (Ørskov dan McDonald, 1979). Hipotesis dari penelitian ini adalah dengan adanya penambahan level bagasse pada ransum maka akan menurunkan degradabilitas ransum.
Animal Agricultural Journal, Vol. 1. No. 1, 2012, halaman 146
MATERI DAN METODE
Penelitian telah dilaksanakan di kandang percobaan dan Laboratorium Ilmu Makanan Ternak, Fakultas Peternakan dan Pertanian , Universitas Diponegoro Semarang. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2011 sampai Febuari 2012.
Materi
Materi yang digunakan adalah tiga ekor kambing jantan Jawarandu berumur 12 – 18 bulan yang difistula bagian rumennya, masing-masing kambing digunakan sebagai ulangan dalam penelitian ini. Bahan pakan yang digunakan adalah bagasse, gaplek, bungkil sawit, bungkil kelapa, kulit kacang, kulit kopi, pollard, tetes, bungkil kedelai, dedak padi, urea dan rumput gajah. Alat yang digunakan berupa kandang individu berukuran 100 x 150 cm yang dilengkapi dengan palung pakan, kantong nilon berukuran 3 x 6 cm berporositas 40 – 50 μm, ember, tali, oven, karung tempat pakan dan timbangan digital dengan ketelitian 0,0001 g.
Tabel 1. Komposisi Ransum Perlakuan
NO
BAHAN PAKAN
P1
P2
P3
P4
———————————————(%)——————————————-
1
Bagasse
25
30
35
40
2
Bungkil sawit
9
8
7
6
3
Bungkil kelapa
8
8
9
8
4
Gaplek
7
7
6
5
5
Kulit kacang
5,4
3,3
1,2
0,4
6
Kulit kopi
6
5
3
1
7
Pollard
11
11
11
12,8
8
Tetes
5
5
5
5
9
Bungkil kedele
12
12
12
12
10
Dedak padi
11
10
10
9
11
Urea
0,6
0,7
0,8
0,8
Total
100
100
100
100
Animal Agricultural Journal, Vol. 1. No. 1, 2012, halaman 147
Ransum yang diteliti adalah ransum dengan level bagasse bertingkat 25%, 30%, 35% dan 45% dengan kandungan ransum iso PK 12% dan TDN 64%. Ransum standar (P0) untuk pakan sehari-hari dengan kandungan PK 12% dan TDN 60% digunakan sebagai pembanding tanpa diujikan secara statistik.
Komposisi dan kandungan nutrient ransum perlakuan disajikan pada Tabel 1 dan 2.
Tabel 2. Kandungan Nutrient Ransum Perlakuan
Nutrien
T1
T2
T3
T4
————————————–(%)——————————
PK
12,54
12,48
12,55
12,18
TDN
64,42
64,31
64,40
63,82
SK
21,45
21,48
21,47
21,95
BETN
54,41
54,93
55
55,43
LK
6,21
6,02
6,19
5,80
NDF
51,81
52,56
53,22
54,96
ADF
24,47
22,56
20,43
18,60
Abu
7,55
7,35
7,25
6,99
BK
77,84
75,77
73,72
71,65
BO
92,45
92,65
92,75
93,01
Hemiselulosa
27,34
30,00
32,78
35,36
Isi Sel
48,19
47,44
46,79
46,04
KH
75,86
75,41
76,47
77,39
KH non-struktural
24,04
23,85
23,25
23,42
Metode
Evaluasi biologis pada ransum perlakuan dilakukan dengan metode in sacco. Metode penelitian dilakukan dengan beberapa tahap:
Bahan pakan digiling sehingga semua bahan pakan memiliki ukuran partikel yang sama. Bahan pakan yang telah digiling, dianalisis kandungan proksimat kemudian disusun sebagai suatu ransum. Bahan pakan ditimbang sesuai formulasinya dan dicampur hingga homogen dengan menggunakan blender.
Kantong nilon yang digunakan mempunyai porositas 46 m berukuran 3 x 6 cm sisi bagian dalamnya. Kantong nilon yang digunakan dioven dan ditimbang terlebih dahulu serta diberi label perlakuan, waktu inkubasi dan ulangan. Ransum yang telah diketahui kadar bahan kering (BK), bahan organik (BO) dan serat kasar (SK) nya ditimbang masing-masing sejumlah 3 g. Sampel yang telah ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam kantong, diberi pemberat dan diikat dengan menggunakan benang nilon.
Animal Agricultural Journal, Vol. 1. No. 1, 2012, halaman 148
Ternak diberi pakan standar untuk in sacco selama periode inkubasi dengan imbangan hijauan dan konsentrat sebesar 70:30 % dengan kandungan PK 12% dan TDN 60%. Periode inkubasi dilaksanakan selama 72 jam. Kelompok kantong yang telah siap dimasukkan ke dalam rumen ternak bagian ventral kurang lebih 1 jam sebelum kambing mendapat makan pagi. Waktu inkubasi digunakan 7 titik yaitu 0, 3, 6, 12, 24, 48 dan 72 jam untuk setiap ransum.
Sampel ransum 3, 6, 12, 24, 48, 72 jam diambil setelah waktu inkubasi terpenuhi dan dicuci dengan mesin cuci selama 3 menit. Sampel ransum 0 jam tidak dimasukkan ke dalam rumen tetapi langsung dicuci. Sampel yang telah dicuci, dikering udarakan kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 700 C hingga didapatkan berat sampel yang homogen. Residu tertinggal di dalam kantong kemudian ditimbang dan dianalisis kadar bahan kering (BK), bahan organik (BO) dan serat kasar (SK) melalui cara yang sama saat analisis sampel awal.
Data yang diperoleh berupa kinetik degradasi BK, BO dan SK dihitung dengan persamaan eksponensial berdasarkan model Ørskov dan McDonald (1979) sebagai berikut :
P = a + b (1 – e-ct)
Nilai DT BK, BO dan SK ransum perlakuan dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan:
P : Degradasi pakan pada waktu t (%)
DT: Degradasi Teori
a : fraksi yang mudah larut
b : fraksi potensial untuk degradasi
c : laju degradasi fraksi b
k : konstanta (0,05/ jam)
Analisis Data
Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan level jerami jagung berbeda (T1= 25%, T2= 30%, T3= 35%,
Animal Agricultural Journal, Vol. 1. No. 1, 2012, halaman 149
T4=40%) dan 3 ulangan. Data hasil penelitian yakni nilai a, b, c dan DT dari BK, BO dan SK diuji F berdasarkan prosedur sidik ragam pada taraf 5%. Apabila terdapat pengaruh perlakuan yang nyata (p < 0,05) dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Degradasi Bahan Kering (BK) Ransum Perlakuan secara In sacco
Kinetika degradasi BK kumulatif semakin meningkat pada waktu inkubasi 3-12 jam, sedangkan kecepatannya semakin menurun pada waktu inkubasi 24-72 jam sejalan dengan semakin lamanya waktu inkubasi. Hal ini dapat dilihat pada Ilustrasi 1.
Ilustrasi 1. Kinetika Degradasi Bahan Kering Ransum dengan Berbagai Level Bagasse secara In Sacco.
Hasil analisis variansi menunjukkan adanya pengaruh nyata (P<0,05) pada fraksi (a) BK dan nilai DT BK, sedangkan pada fraksi (b) BK dan nilai (c) BK tidak menunjukkan pengaruh nyata. Nilai fraksi a, b, c dan DT BK ransum perlakuan dapat dilihat pada Tabel 3.
Animal Agricultural Journal, Vol. 1. No. 1, 2012, halaman 150
Tabel 3. Nilai Fraksi a, b, Nilai c dan DT BK Ransum Perlakuan dengan berbagai Level Bagasse
Parameter
Ransum Perlakuan
T1
T2
T3
T4
Fraksi a (%)
34,2a
23,33b
20,09b
16,15b
Fraksi b (%)
17,27
18,02
18,00
19,67
Nilai c (% / jam)
4,32b
6,01a
5,96a
5,88a
Nilai DT (%)
51,8a
33,16b
29,82bc
26,82c
Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan nyata (P<0,05)
Hasil duncan multiple range test (DMRT) menunjukkan bahwa fraksi (a) BK pada ransum perlakuan dengan level bagasse 25% (T1) yaitu (34,59%) nyata lebih tinggi (P<0,05) dibanding ransum perlakuan T2 (23,33%), T3 (20,09%) dan T4 (16,15%). Tingginya fraksi (a) pada T1 dikarenakan kandungan isi sel pada ransum perlakuan T1 lebih tinggi dibandingkan ransum perlakuan lainnya yaitu sebesar 48,19%. Sesuai dengan pendapat Van Soest (1994) bahwa nilai fraksi (a) dipengaruhi oleh penyusun isi sel yang mudah dicerna dan mudah larut seperti pati, protein, lemak dan mineral yang larut. Lebih lanjut dijelaskan bahwa komponen isi sel pakan yang mudah larut air mempengaruhi nilai fraksi a, namun tidak semua isi sel hilang saat pencucian.
Berdasarkan DMRT nilai fraksi (b) BK pada masing-masing ransum perlakuan menunjukkan tidak adanya perbedaan yang nyata. Fraksi (b) BK pada ransum perlakuan tidak berbeda nyata, dikarenakan kandungan abu dan BO pada ransum perlakuan level baggase relatif sama besarnya, sehingga komponen BK yang potensial terdegradasi tidak berbeda nyata. Nilai (c) BK menunjukkan perbedaan nyata yaitu nilai T4 lebih tinggi dibandingkan dengan T1, T2 dan T3. Tingginya nilai (c) pada T4 diduga karena terdapat komponen fraksi b yang mudah didegradasi seperti pektin, sebagian selulosa dan hemiselulosa (Cherney, 2000). Tingginya nilai (c) pada T4 juga disebabkan oleh kandungan BETN pada ransum perlakuan T4 lebih tinggi dibandingkan dengan ransum perlakuan lainnya. Komponen kimiawi BETN berisi sebagian isi sel yang mudah terdegradasi sehingga asupan energi ransum T4 lebih tinggi untuk memenuhi kebutuhan mikrobia rumen. Sesuai dengan pendapat Tyler dan Ensminger (2006), apabila kebutuhan mikrobia terpenuhi maka populasi dan jumlah mikrobia optimal, sehingga mempercepat laju degradasi pakan.
Animal Agricultural Journal, Vol. 1. No. 1, 2012, halaman 151
Hasil DMRT menunjukkan bahwa nilai (DT) BK pada ransum perlakuan dengan level bagasse 25% (T1) yaitu sebesar (51,87%) nyata lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan ransum perlakuan lainnya. Tingginya nilai (DT) BK pada T1 disebabkan oleh fraksi a ransum perlakuan T1 lebih tinggi dibanding pada ransum perlakuan lainnya, karena fraksi yang mudah terdegradasi lebih tinggi, maka degradasi teori (DT) BK yang dihasilkan pada T1 lebih tinggi dibanding ransum lainnya. Sesuai dengan pendapat Ørskov et al. (1982), bahwa tingginya nilai degradasi fraksi a (soluble atau mudah terdegradasi) dan fraksi b (insoluble atau potensial terdegradasi) menyebabkan tingkat degradabilitas bahan pakan tinggi. Van Soest (1994) menambahkan bahwa kandungan nutrien yang meliputi protein kasar (PK), serat kasar (SK), bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) dan mineral (abu) dapat mempengaruhi degradabilitas suatu bahan pakan.
Degradasi Bahan Organik (BO) Ransum Perlakuan secara In sacco
Kinetika degradasi BO kumulatif semakin meningkat pada waktu inkubasi 3-12 jam, sedangkan kecepatannya semakin menurun pada waktu inkubasi 24-72 jam sejalan dengan semakin lamanya waktu inkubasi. Hal ini dapat dilihat pada Ilustrasi 2.
Ilustrasi 2. Kinetika Degradasi Bahan Organik Ransum dengan Berbagai Level Bagasse secara In Sacco.
Hasil analisis variansi degradasi BO menunjukkan adanya pengaruh nyata (P<0,05) pada fraksi (a) dan nilai DT BO, sedangkan fraksi (b) dan nilai (c) BO
Animal Agricultural Journal, Vol. 1. No. 1, 2012, halaman 152
menunjukkan tidak adanya pengaruh nyata. Nilai fraksi a, b, c dan DT BO ransum perlakuan dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 4. Nilai Fraksi a, b, Nilai c dan DT BO Ransum Perlakuan dengan berbagai Level Bagasse
Parameter
Ransum Perlakuan
T1
T2
T3
T4
Fraksi a (%)
39,2a
30,3b
26,53b
22,04c
Fraksi b (%)
17,2
18,79
18,47
19,31
Nilai c (% / jam)
5,17
6,16
6,20
6,07
Nilai DT (%)
48,24a
40,91b
36,77c
32,64d
Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan nyata (P<0,05).
Hasil duncan multiple range test menunjukkan bahwa fraksi (a) BO pada ransum perlakuan dengan level bagasse 25% (T1) yaitu (39,22%) nyata lebih tinggi (P<0,05) dibanding ransum perlakuan lainnya. Tingginya fraksi (a) BO disebabkan oleh kandungan PK dan karbohidrat (KH) pada T1 lebih tinggi dibanding pada ransum perlakuan lainnya, selain disebabkan oleh kandungan PK dan KH yang tinggi pada T1, tingginya fraksi (a) pada T1 juga disebabkan oleh kandungan TDN dan karbohidrat non-struktural yang tinggi Dengan tingginya komponen tersebut menyebabkan fraksi yang mudah didegradasi pada T1 menjadi lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Van Soest (1982) bahwa komponen isi sel pakan yang mudah larut air mempengaruhi nilai fraksi a. Peningkatan kandungan protein pakan mengakibatkan peningkatan sintesis dalam rumen, aktivitas rumen dan kecernaan bahan pakan (Sutardi, 1980).
Berdasarkan DMRT nilai fraksi (b) dan nilai (c) BO pada masing-masing ransum perlakuan menunjukkan tidak adanya perbedaan yang nyata. Tidak berbedanya fraksi (b) pada ransum perlakuan, dikarenakan kandungan SK ransum perlakuan relatif sama, sehingga komponen BO yang potensial terdegradasi dan laju degradasinya juga tidak berbeda nyata.
Hasil DMRT menunjukkan bahwa nilai (DT) BO pada ransum perlakuan dengan level bagasse 25% (T1) yaitu sebesar (48,24%) nyata lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan ransum perlakuan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa
Animal Agricultural Journal, Vol. 1. No. 1, 2012, halaman 153
pada ransum perlakuan dengan level bagasse 25% (T1) memiliki degradasi teori yang lebih tinggi dibandingkan dengan ransum perlakuan lainnya. Tingginya nilai (DT) BO pada T1 disebabkan oleh kandungan TDN dan komponen potensial terdegradasi BO yaitu selulosa dan hemiselulosa yang rendah. Nilai DT BO pada T4 lebih rendah dibandingkan ransum perlakuan lainnya, hal ini disebabkan oleh rendahnya kandungan isi sel pada T4, serta dilihat dari rendahnya komposisi bahan pakan sumber serat dalam ransum yaitu kulit kacang dan kulit kopi sehingga mengakibatkan rendahnya komponen dinding sel. Nilai DT pada T4 lebih rendah, meskipun fraksi (b) pada T4 lebih tinggi. Fraksi b dalam hal ini merupakan komponen BO pakan yang sulit didegradasi namun potensial terdegradasi. Komponen tersebut menurut analisis proksimat dan Van Soest yaitu hemiselulosa, lignin, N terikat serat, selulosa dan mineral (Cherney, 2000).
Degradasi BO dipengaruhi oleh adanya lignin dan silika yang terdapat di dalam dinding sel secara bersama-sama yang akan membentuk senyawa kompleks dengan selulosa dan hemiselulosa. Senyawa kompleks ini sulit ditembus oleh enzim yang dihasilkan oleh mikrobia rumen, sehingga akan menurunkan kecernaan dinding sel dan selanjutnya menurunkan kecernaan isi sel termasuk bahan organik di dalamnya (Goering dan Van Soest, 1970).
Degradasi Serat Kasar (SK) Ransum Perlakuan secara In sacco
Kinetika degradabilitas SK kumulatif semakin meningkat pada waktu inkubasi 3-12 jam, sedangkan kecepatannya semakin menurun pada waktu inkubasi 24-72 jam sejalan dengan semakin lamanya waktu inkubasi. Hal ini dapat dilihat pada Ilustrasi 3.
Animal Agricultural Journal, Vol. 1. No. 1, 2012, halaman 154
Ilustrasi 3. Kinetika Degradasi Serat Kasar Ransum dengan Berbagai Level Bagasse secara In Sacco.
Hasil analisis variansi degradasi SK menunjukkan adanya pengaruh yang nyata (P<0,05) pada fraksi (a) dan nilai DT SK ransum perlakuan, sedangkan untuk fraksi (b) dan nilai (c) SK tidak menunjukkan pengaruh nyata. Nilai fraksi a, b, c dan DT SK ransum perlakuan dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Nilai Fraksi a, b, Nilai c dan DT SK Ransum Perlakuan dengan berbagai Level Bagasse
Parameter
Ransum Perlakuan
T1
T2
T3
T4
Fraksi a (%)
16,60c
15,23c
22,31b
45,61a
Fraksi b (%)
17,67
17,39
19,90
20,13
Nilai c (% / jam)
5,95
5,28
5,09
6,13
Nilai DT (%)
26,29c
24,17c
32,28b
56,70a
Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan nyata (P<0,05).
Hasil DMRT menunjukkan bahwa fraksi (a) SK pada ransum perlakuan dengan level bagasse 40% (T4) yaitu (45,61%) nyata lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan T1, T2 dan T3, sedangkan antara T1 dan T2 tidak menunjukkan perbedaan nyata. Fraksi (a) merupakan komponen pakan yang mudah larut, dalam hal ini komponen pakan yang termasuk dalam SK. Komponen serat yang mudah terdegradasi yaitu pektin dan xilan. Pektin adalah bagian dari NDF (karbohidrat struktural) tidak larut pada pencucian dengan air tetapi didalam rumen mempunyai degradasi yang tinggi seperti pati (karbohidrat nonstruktural). Tingginya fraksi (a) SK pada T4 disebabkan oleh kandungan NDF dan
Animal Agricultural Journal, Vol. 1. No. 1, 2012, halaman 155
hemiselulosa yang tinggi dibandingkan ransum perlakuan lainnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Tillman et al. (1991) bahwa degradasi SK sangat dipengaruhi oleh kandungan serat kasar dalam bahan pakan itu sendiri dan juga komponen SK seperti selulosa, hemiselulosa dan lignin. Selulosa dan hemilselulosa dapat dicerna hewan ruminansia secara enzimatik oleh mikroba rumen. Lignin bersama selulosa dan hemiselulosa membentuk senyawa kompleks lignoselulose dan lignohemiselulose menyebabkan serat kasar memiliki koefisien cerna yang sangat rendah. Berdasarkan DMRT fraksi (b) dan nilai (c) SK pada ransum perlakuan menunjukkan tidak adanya perbedaan nyata. Fraksi (b) SK tidak menunjukkan perbedaan nyata dikarenakan kandungan SK pada ransum perlakuan level bagasse relatif sama, sehingga komponen SK yang potensial terdegradasi dan laju degradasinya juga tidak berbeda nyata.
Hasil DMRT menunjukkan bahwa nilai DT SK pada ransum perlakuan dengan level bagasse 40% (T4) yaitu sebesar (56,70%) nyata lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan ransum perlakuan lainnya. Tingginya nilai DT SK pada T4 disebabkan oleh fraksi (a) pada ransum perlakuan T4 lebih tinggi dibanding pada ransum perlakuan lainnya. Hal ini dapat dilihat dari bahan pakan penyusun ransum seperti kulit kacang dan kulit kopi yang merupakan bahan pakan sumber serat, namun komposisi dalam ransum memiliki persentase lebih rendah. Tingginya nilai DT SK pada T4 disebabkan oleh kandungan NDF, sebagian selulosa dan hemiselulosa pada T4 lebih tinggi dibandingkan ransum perlakuan lainnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Tillman et al. (1991) bahwa degradasi SK sangat dipengaruhi oleh kandungan serat kasar dalam bahan pakan itu sendiri dan juga komponen SK seperti selulosa, hemiselulosa dan lignin. Mehrez dan Ørskov (1977) menyatakan bahwa nilai DT ditentukan berdasarkan nilai fraksi a (mudah larut), fraksi b (potensial terdegradasi), nilai c (laju degradasi fraksi b) dan laju aliran pakan keluar dari rumen.
KESIMPULAN
Berdasarkan nilai fraksi a, b, c dan DT disimpulkan bahwa degradabilitas BK, BO pada ransum perlakuan dengan level bagasse 25% merupakan yang
Animal Agricultural Journal, Vol. 1. No. 1, 2012, halaman 156
paling baik dibandingkan dengan ransum perlakuan lainnya. Nilai degradabilitas BK dan BO mengalami penurunan seiring dengan meningkatnya level bagasse.


Tinggalkan komentar

Biokonversi Sampah Organik Menjadi Silase Ransum Komplit


Biokonversi Sampah Organik Menjadi Silase Ransum Komplit
Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia. Setiap aktifitas manusia pasti menghasilkan buangan atau sampah. Jumlah atau volume sampah sebanding dengan tingkat konsumsi kita terhadap barang/material yang kita gunakan sehari-hari. Demikian juga dengan jenis sampah, sangat tergantung dari jenis material yang kita konsumsi. Oleh karena itu pegelolaan sampah tidak bisa lepas juga dari ‘pengelolaan’ gaya hidup masyarakat. Peningkatan jumlah penduduk dan gaya hidup sangat berpengaruh pada volume sampah. Misalnya saja, kota Jakarta pada tahun 1985 menghasilkan sampah sejumlah 18.500 m3 per hari dan pada tahun 2000 meningkat menjadi 25.700 m3 per hari. Jika dihitung dalam setahun, maka volume sampah tahun 2000 mencapai 170 kali besar Candi Borobudur (volume Candi Borobudur = 55.000 m3) [Bapedalda, 2000].
Searah dengan perkembangan wilayah yang pesat kearah modernisasi, permasalahan penanganan Sampah semakin komplek, bahkan cenderung kontradiksi dengan orientasi tuntutan kehidupan modern. Bahkan yang terjadi di perkotaan adalah adanya gangguan polusi udara (bau), pencemaran air, dan bahaya banjir yang secara langsung menurunkan tingkat kesehatan masyarakat. Selain itu, wilayah perkotaan dihadapkan pada kondisi tingginya konversi lahan untuk ruang terbuka hijau (lahan pertanian) ke bangunan dan perumahan. Hal ini menyebabkan ketersediaan pakan sapi, kerbau, kambing dan domba menurun drastis akibat dari berkurangnya lahan pengangonan. Padahal ternak tersebut selain makan hijauan juga dapat memanfaatkan bahan organik seperti Sampah, tetapi dengan prasyarat Sampah tersebut harus diolah terlebih dahulu untuk menghilangkan bahan yang merugikan kesehatan ternak seperti cacing dan bakteri patogen.
Berdasarkan hasil analisis kimia, perbandingan kandungan nutrisi bahan baku pakan ternak yang sudah biasa di konsumsi ternak (hijauan, konsentrat) dengan sampah organik (limbah sayuran, limbah restoran, dll) tidak begitu jauh berbeda. Hal yang perlu menjadi perhatian adalah pada proses pengelolaannnya sehingga diperoleh pakan jadi yang berkualitas dan palatable bagi jenis ternak yang mengkonsumsinya. Salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk mencapai kondisi tersebut adalah teknologi biokonversi melalui proses fermentasi sampah organik dengan campuran bahan baku pakan lainnya (konsentrat).
Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa pengolahan Sampah Organik di Perkotaan melalui teknologi biokonversi/fermentasi menjadi pakan komplit merupakan solusi yang tepat. Biokonversi ini memberikan dua kontribusi positif; pertama kontribusi positif terhadap permasalahan Sampah, yaitu mengeliminasi gangguan kesehatan, karena semua Sampah Organik Perkotaan dapat diserap dalam jumlah yang besar. Kedua, memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian wilayah dan membangun ”masyarakat sehat” dan ”kota lingkungan”.
PAKAN BERBASIS SAMPAH ORGANIK
Terdapat tiga unsur utama yang menentukan produktivitas usaha peternakan, yang dikenal dengan istilah gold triangle, yaitu : Breeding, Feeding, Management. Unsur penentu dalam keberhasilan teknis dan ekonomis peternakan adalah kemampuan mengintegrasikan ketiga faktor di atas (Breeding-Feeding-Management), sehingga tercapai hasil yang efisien. Fungsi pakan bagi ternak, terutama ruminansia tidak hanya sebagai sumber energi untuk hidup, tetapi pakan tersebut juga berperan sebagai bahan yang akan diubah bentuknya menjadi daging dan susu, sehingga ketersediaan pakan berkualitas menjadi syarat utama untuk dapat menghasilkan daging dan susu yang berkualitas juga. Pakan yang berkualitas tinggi tentunya akan memberikan tingkat efisiensi dalam penggunaan sumber daya dan pembiayaan usaha, karena kualitas pakan yang baik akan memberikan implikasi positif terhadap aspek produksi dalam budidaya ternak.
Pemanfaatan pakan, terutama dari bahan baku yang bersumber dari sampah organik, merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi permasalahan ketersediaan pakan. Untuk lebih menjamin ketersediaan dan kualitas pakan asal sampah organik, teknologi fermentasi pakan menjadi silase merupakan metode pengolahan yang tepat untuk diterapkan. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan penggunaan teknologi fermentasi untuk bahan baku pakan dari sampah organik adalah sebagai berikut :
§ Ekonomis. Pembuatan silase tidak membutuhkan peralatan yang rumit dan mahal. Peralatan untuk pembuatan silase dapat dibuat sendiri dan tidak lagi membutuhkan pengering. Peralatan utama yang disediakan adalah silo (wadah fermentasi) yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi setempat. Silo tersebut dapat dibuat dalam skala besar maupun skala kecil.
§ Tahan lama (awet). Bila kondisi anaerob telah tercapai, mikroorganisme aerob akan lenyap dan mikroorganisme anaerob, khususnya bakteri penghasil asam laktat akan berkembang. Kondisi tersebut tercapai pada hari ke-21 dan pH 3,8-4,2.
§ Praktis untuk bahan agroindustri yang mempunyai kadar air tinggi. Bahan baku yang berkadar air tinggi jika dikeringkan akan membutuhkan waktu yang relatif lama dan dibutuhkan biaya dan tenaga yang cukup besar. Lebih jauh metode ini akan beresiko terhadap kerusakan nutrien bahan.
§ Dapat dimanipulasi kualitasnya. Kualitas bahan fermentasi dapat dimanipulasi sesuai dengan keinginan pembuat. Inovasi silase ransum komplit diantaranya bertujuan untuk dapat meningkatkan kualitas pakan dan memudahkan teknis pemberiannya pada ternak.
§ Produk/pakan yang dihasilkan lebih ramah lingkungan. Sampah organik yang tidak terolah dengan cepat tidak hanya menimbulkan polusi bau tetapi juga pencemaran terhadap air dan udara, khususnya pencemaran karena mikroorganisme. Teknologi fermentasi dapat mengubah bau menjadi asam, dan cenderung memberikan aroma yang wangi.
§ Teknologi fermentasi dapat membunuh mikroorganisme patogen dan cacing (parasit lainnya) yang terdapat dalam sampah organik. Oleh karena itu pakan yang dihasilkan akan terbebas dari mikroorganisme patogen, cacing dan parasit lainnya, dan aman untuk dikonsumsi ternak.
SILASE RANSUM KOMPLIT BERBASIS SAMPAH ORGANIK
Kondisi iklim tropis wilayah Indonesia, menuntut adanya terobosan teknologi dalam manajemen penyediaan dan pemberian pakan yang semakin mendesak. Kurangnya pakan hijauan pada musim kemarau dan rendahnya kualitas pakan konsentrat menyebabkan kebutuhan gizi untuk asupan ternak tidak dapat tercukupi dengan optimal. Akibatnya adalah produksi daging dan atau susu pada ternak ruminansia tidak mencapai harapan bahkan tingkat produksinya pun menurun. Selain itu, para peternak masih terbiasa memberikan pakan hijauan dan konsentrat secara terpisah. Hal ini mengakibatkan tidak seimbangnya kandungan nutrisi pakan yang diberikan dan tidak sesuai dengan kebutuhan ternak. Permasalahan dalam pemberian pakan ini biasa terjadi pada ternak-ternak yang dikandangkan. Produktivitas ternak akan optimal secara teknis maupun ekonomis jika persediaan bahan pakan kontinu (tersedia sepanjang waktu), pakan yang diberikan dapat memenuhi kebutuhan gizi ternak serta mudah dalam pemberiannya.
Ransum komplit untuk ternak ruminansia merupakan campuran dari berbagai macam bahan makanan yang mengandung nilai gizi yang lengkap dan dapat memenuhi kebutuhan hidup dan produksi bagi ternak. Bentuk pakan komplit dapat berupa pakan kering (dry feed) maupun pakan basah (silase). Pakan komplit ini merupakan pakan yang di dalamnya tercampur antara pakan hijauan dan pakan penguat (konsentrat) yang sebagian besar berupa bahan pakan sumber protein dan kalori yang cukup tinggi seperti bungkil dan dedak atau limbah seperti ampas kecap atau tahu, onggok, dll. Dibandingkan dengan pakan komplit kering, pakan basah (silase) memiliki beberapa kelebihan, yaitu, selain proses pembuatannya yang relatif sederhana dan mudah, kualitasnya juga lebih baik serta memiliki daya tahan yang cukup lama.
PROSES PEMBUATAN SILASE RANSUM KOMPLIT
A. Peralatan yang Digunakan
Alat-alat yang dibutuhkan dalam pembuatan silase ransum komplit sangatlah sederhana. Peralatan yang paling umum adalah ketersediaan silo yang merupakan alat utama dalam proses fermentasi bahan pakan. Silo dapat dibuat dengan berbagai macam bentuk tergantung pada lokasi, kapasitas, bahan yang digunakan dan luas areal yang tersedia. Secara umum, jenis-jenis silo dibedakan menjadi dua, yaitu tower silo dan bunker silo. Tower silo adalah silo yang dirancang membentuk sebuah menara menjulang ke atas yang bagian atasnya tertutup rapat. Sedangkan bunker silo adalah silo yang rancangannya dibuat dengan cara menggali tanah, sehingga berbentuk lubang atau parit, yang nantinya dilakukan penutupan silo tersebut dengan menimbunnya kembali.
Beberapa bentuk silo dari kedua jenis tersebut secara umum adalah :
§ Pit Silo: silo yang dirancang berbentuk silindris (seperti sumur) dan di bangun di dalam tanah.
§ Trech Silo: silo yang dibangun berupa parit dengan struktur membentuk huruf V.
§ Fench Silo: silo yang bentuknya menyerupai pagar atau sekat yang terbuat dari bambu atau kayu.
§ Box Silo: silo yang rancangannya berbentuk seperti kotak.
Namun demikian, selain silo-silo tersebut, sebenarnya para petani peternak yang mengolah bahan pakan dengan teknologi silase juga dapat memanfaatkan alternatif lain sebagai silo. Alternatif lain yang dapat digunakan sebagai silo adalah dengan menggunakan drum plastik atau plastik polybag. Khusus untuk plastik polybag, dapat digunakan untuk membuat silase dengan porsi atau jumlah produksi silase yang dihasilkan adalah untuk sekali makan (1 kantong plastik = 1 porsi pakan yang akan dimakan oleh seekor ternak).
Selain silo, peralatan lainnya yang digunakan antara lain meliputi pemotong (Copper), pencampur (mixer), truck, ban berjalan(conveyor), sekop, dan plastik untuk alas atau penutup.
B. Metode
Metode pembuatan silase ransum komplit, dimulai dengan pemilihan bahan baku yang dapat berasal dari sampah organik untuk selanjutnya dilakukan pencampuran sesuai dengan komposisi kandungan gizi yang diinginkan. Selanjutnya bahan campuran tersebut dimasukkan ke dalam silo, dipadatkan dan ditutup untuk mendapatkan suasana anaerob. Silase akan terbentuk setelah 2-3 minggu kemudian.
Tahap 1. Pemilihan Bahan
Tahap pertama dalam pembuatan silase adalah melakukan pemilihan dan penentuan jenis dan standar kualitas bahan yang akan digunakan. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan bahan adalah bahwa bahan tersebut terjamin ketersediaanya sepanjang tahun dan berada dilokasi pembuatan silase, dalam arti bahwa bahan tersebut tidak harus didatangkan dari tempat lain, terlebih lagi memerlukan biaya transportasi. Pertimbangan tersebut akan membantu efisiensi biaya, sehingga bahan yang digunakan benar-benar merupakan bahan yang murah. Selain itu, bahan-bahan yang digunakan juga perlu dipilih berdasarkan kandungan nutrisinya yang sesuai dengan kebutuhan ternak. Bahan-bahan yang dipilih harus merupakan bahan pakan yang menjadi sumber protein, energi, vitamin, mineral serta serat.
Bahan-bahan yang dipilih hendaknya dipertahankan kandungan airnya sedapat mungkin seperti kondisi asalnya, sekitar 50-60% untuk bahan sampah organik. Hal ini akan membantu memudahkan proses silase dengan mengoptimalisasi proses fermentasinya serta memberikan efisiensi ekonomis. Selain kandungan nutrisi, hal lain yang juga harus menjadi perhatian adalah bentuk fisik bahan pakan tersebut, apakah butiran, tepung/serbuk atau mungkin batangan. Terutama untuk bahan yang berbentuk batangan, sebelum dicampur harus dipotong-potong/dicopper terlebih dahulu dengan ukuran sekitar 3-5 cm, sehingga akan memudahkan proses pencampuran dengan bahan-bahan dalam bentuk fisik lainnya.
Tahap 2. Formulasi/Penyusunan Ransum
Formulasi atau penyusunan ransum dapat dilakukan dengan cara komputerisasi atau dengan cara manual. Persyaratan utama untuk menyusun ransum adalah diketahuinya kandungan/komposisi kimia dan nutrisi dari bahan-bahan yang akan digunakan tersebut. Untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan analisis laboratorium atau melihat daftar kandungan/komposisi kimia dan nutrisi yang sudah ada dari hasil penelitian. Oleh karena itu, alat-alat yang sangat diperlukan pada tahap ini, selain computer dan software-nya juga diperlukan alat-alat analisis laboratorium lainnya.
Tahap 3. Pencampuran
Proses pencampuran bahan memerlukan tempat atau wadah yang bersih, untuk menghindari kontaminasi terhadap campuran yang dihasilkan. Untuk pembuatan silase dalam skala besar, pencampuran hendaknya dilakukan dengan menggunakan mixer atau mesin pencampur, sehingga campuran merata. Namun apabila jumlah tenaga kerja cukup banyak, pencampuran bahan silase dalam skala besar dapat dilakukan secara massal. Sementara itu, untuk pencampuran bahan dalam skala kecil, dapat dilakukan secara manual dengan menggunakan sekop. Tempat atau wadah yang digunakan sebaiknya didalam ruangan dan berbentuk flat/datar, berbentuk kolam/bak dengan alas keras atau tembok. Alat-alat lain yang harus tersedia diantaranya adalah; sekop, timbangan, mixer, alas pencampur, dan lain sebagainya.
Proses pencampuran harus dilakukan secara merata, untuk menghasilkan silase yang berkualitas baik, dan hal ini akan berkaitan dengan bentuk fisik dan ukuran bahan yang digunakan. Oleh karena itu, proses pemilihan bahan dan pengelolaan bahan batangan pada tahap 1 perlu menjadi perhatian. Proses pencampuran sebaiknya dilakukan dari bahan yang jumlahnya sedikit. Hal ini dilakukan karena dalam kapasitas yang cukup besar, dikhawatirkan bahan aditif/suplemen yang ditambahkan tidak tercampur dengan merata, sehingga kualitas silase yang dihasilkan tidak bagus.
Tahap 4. Fermentasi
Setelah dicampur, material silase ransum komplit dengan kandungan air 45-60 %, dimasukan ke dalam silo untuk disimpan selama kurang lebih 2-3 minggu, dalam kedaan tertutup rapat. Bahan-bahan yang dimasukan ke dalam silo harus dalam kondisi padat dan tertutup dengan rapat untuk selanjutnya disimpan. Selama penyimpanan tersebut akan terjadi proses fermentasi, dalam kondisi anaerob. Silase akan terbentuk sempurna pada minggu ke 2-3 tergantung pada bahan dan volume yang digunakan..
Alat-alat yang digunakan dalam proses fermentasi ini antara lain adalah pemanfaatan silo-silo yang dibuat dalam beragam bentuk atau dengan memanfaatkan wadah-wadah yang telah ada, misalnya drum plastik, atau bahkan kantong plastik/polybag. Untuk skala kecil, penggunaan kantong plastic atau drum plastic sangat disarankan, namun untuk skala yang lebih besar sebaiknya digunakan bunker silo. Dibandingkan dengan tower silo, bunker silo lebih tepat digunakan, disamping biayanya yang relative murah juga proses pembuatannya tidak sulit. Beberapa hal yang harus menjadi perhatian dalam penggunaan bunker silo adalah; sudut kemiringan pada tata letak silo, konstruksi bagian tutup yang harus gampang untuk dibuka namun tertutup dengan rapat, lubang saluran pembuangan, dan harus terletak ditempat yang teduh tidak terkena secara langsung (ternaungi) dari sinar matahari dan hujan.
Tahap 5. Produk Silase
Pada hari ke-21 (duapuluhsatu) atau sekitar minggu ke-3 (tiga), silase ransum komplit siap untuk diberikan kepada ternak. Pada saat dibuka, disarankan produk/silase tidak diberikan langsung ke ternak. Produk fermentasi mengandung sejumlah gas yang dihasilkan selama proses fermentasi berlangsung. Kondisi ini dapat menekan konsumsi dan dapat berbahaya bagi ternak. Oleh karena itu, sebelum diberikan pada ternak, silase perlu diangin-anginkan terlebih dahulu, untuk menghilangkan aromanya yang menyengat, dan juga perlu dilakukan uji terhadap logam-logam berat yang mungkin mencemarinya. Produk silase yang dijatahkan untuk diberikan pada ternak harus habis untuk sekali pemberian dan tidak diperkenankan disisakan untuk pemberian keesokan harinya.
C. Karakteristik Silase Ransum Komplit Yang Baik
Ciri-ciri yang baik dari produk silase dapat diidentifikasikan secara kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif, ciri-ciri produk silase yang baik adalah sebagai berikut :
§ Aroma : Asam Laktat
§ Warna : Segar seperti warna aslinya
§ Tekstur : Tidak Menggumpal
§ Tidak berjamur
Sedangkan secara kuantitaif, ciri-ciri produk silase yang baik, diidentifikasikan sebagai berikut :
§ Berada pada pH 3,8 – 4,2 dengan kandungan asam laktat yang cukup banyak
§ Disukai ternak/palatabilitas tinggi
D. Manajemen Silase Ransum Komplit
Mengingat proses fermentasi terjadi dalam waktu yang relatif panjang, sekitar 21 (duapuluhsatu) hari, para peternak perlu mengantisipasi ketersediaan silase untuk menjaga kontinuitas pemberian pakan. Apabila pembuatan silase dalam skala kecil, para peternak harus membuat silase dan menyimpannya dalam silo secara bergiliran, sejumlah kebutuhan dan sesuai dengan siklus pembuatan silase. Silo yang dapat digunakan adalah drum plastik atau kantong plastik/polybag dengan porsi untuk sekali pemberian.
Apabila pembuatan silase dilakukan dalam skala besar dan dilakukan secara kolektif/bersama-sama, sebaiknya para petani peternak (misal jumlah ternak 10-15 ekor) memiliki sedikitnya 10 (sepuluh) buah drum plastik untuk ditukarkan dengan drum plastik yang berisi silase ditempat pembuatan kolektif tadi. Drum plastik tersebut berfungsi sebagai silo bergerak dan alat kemas kedap udara sekaligus sebagai alat transportasi silase jika lokasi ternak jauh dari lokasi pembuatan silase, sehingga produk silase dapat disimpan dan kebusukan dapat dicegah dengan kemasan drum plastik ini. Dengan sistem yang menyerupai sistim isi ulang, setiap peternak cukup hanya memiliki drum plastik berpelat yang kosong, untuk kemudian ditukarkan/diisi ulang dengan drum yang sudah berisi silase, untuk mengadakan penyediaan pakan bagi ternaknya.
KANDUNGAN NUTRISI SILASE RANSUM KOMPLIT
Hasil penelitian yang dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB, untuk mengetahui kandungan nutrisi dari Silase Ransum Komplit dengan bahan baku limbah sayuran dan limbah restoran, memberikan bukti yang positif tentang kandungan nutrisi dalam pakan tersebut. Kandungan nutrisi tersebut dapat diidentifikasi dan diuraikan sebagai berikut :
· Silase ransum komplit dengan bahan baku tersebut di atas memiliki pH yang cukup rendah, yaitu sekitar 3,82-4,28 dan berada pada kondisi asam, yang menunjukan bahwa silase tersebut adalah silase dengan kualitas yang sangat baik. Hal ini dipertimbangkan karena pada kisaran pH 3,5 – 4,0 adalah kunci untuk mencegah mikroorganisme penyebab kebusukan dan atau mikroorganisme patogen.
· Dengan penambahan konsentrat, kandungan bahan kering dalam silase ransum komplit menjadi lebih tinggi, yaitu sekitar 38,70 – 45,42%. Hal ini menunjukan bahwa dengan kandungan bahan kering tersebut, kualitas silase sangat baik dan layak untuk dikonsusmi ternak.
· Mengingat silase ransum komplit dibuat sesuai kebutuhan nutrisi ternak, maka kandungan gizi dan nutrisinya dapat dijamin sesuai dengan kebutuhan ternak tersebut.
· Konsentrasi NH3 yang dihasilkan sangat optimum bagi pertumbuhan mikroba, yaitu sekitar 9,42 -14,11 mM. Hal ini berarti bahwa produksi amonia sebagai sumber nitrogen utama dalam pembentukan protein mikroba telah terpenuhi, sehingga dapat memberikan sumbangan protein yang cukup bagi kebutuhan ternak ruminansia.
· Daya cerna ternak terhadap produk silase ransum komplit berada dalam batas nilai cerna yang normal. Hasil penelitian menunjukan bahwa kecernaan bahan kering terhadap silase ransum komplit dengan bahan baku sampah organik adalah sebesar 60,09-62-25%, dan kecernaan bahan organik sebesar 60,07-63-24%. Nilai kecernaan tersebut sangat tergantung pada bahan suplemen yang dipakai.