Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

tembang tantangan 01

Tinggalkan komentar


KEMATIAN suaminya membuainya sangat bersedih. Tanjung sudah tidak mempunyai sanak kadang lagi. Hidupnya seakan-akan tergantung kepada suaminya itu. Namun Yang Maha Agung telah memanggilnya.

Tanjung merasa bahwa kematian suaminya telah membawa serta masa depannya ke liang kubur. Semuanya menjadi gelap dan tidak berpengharapan.

Pada saat kematian suaminya, tetangga-tetangganyapun berdatangan. Mereka mencoba menghiburnya dan yang tua-tua memberinya nasehat untuk menguatkan jiwanya yang terguncang. Balikan dua tiga hari kemudian, tetangga-tetangga masih berdatangan.

Tetapi lambat laun, semuanya seakan-akan sudah dilupakan. Semuanya telah kembali lagi seperti sebelumnya. Kehidupan di sekitarnya tidak terhenti karena kematian suaminya. Mengalir seperti sediakala.

Di jalan-jalan tetangga-tetangganya-berjalan hilir mudik. Satu dua ada yang beipaling memandang halaman rumahnya yang terhitung luas. Rumahnya yang termasuk rumah yang baik. Tetapi mereka tidak beiiienti. Mereka tidak lagi datang menghiburnya Orang-orang tua tidak lagi menyempatkan diri untuk datang memberinya nasehat dan petunjuk-petunjuk yang baik, tetapi tidak dapat dilakukannya.

Tanjung menjadi kesepian di rumahnya. Ada seorang perempuan tua yang sudah lama sekali bekeija padanya. Bahkan seakan-akan sudah seperti ibunya sendiri.

Tetapi perempuan itu berpandangan selalu sempit. Ia tidak pernah pergi kemana-mana. Seakan akan sepanjang hidupnya dihabiskannya berada di rumah Tanjung. Sekali-sekali ia turun ke jalan, peigi ke pasar untuk berbelanja.

Tetapi hanya itu saja. Dengan pengalaman hidupnya yang sempit, ia tidak banyak dapat memberikanbanyakbantuan untuk membuat sandara bagi hari-hari Tanjung mendatang.

Saudara-saudara suaminya yang pada saat suaminya itu meninggal berdatangan untuk menunjukkan kasih sayang mereka serta untuk menghiburnya, tidak lagi menampakkan diri. Mereka telah tenggelam lagi dalam kesibukan kehidupan mereka sehari-hari.

Tanjung berusaha menjalani hidupnya yang sepi itu dengan pasrah. Suaminya meninggalkannya sebelum sempat memberinya seorang anak.

Tanjung memang masih muda. Tetapi rasa-rasanya Tanjung menjadi lebih tua dari perempuan tua yang bekeija padanya itu.

Yang kemudian masih selalu menghiburnya di hidupnya yang sepi itu adalah sikap tetangga-tetangganya yang masih tetap baik dan ramah. Tetapi perempuan-perempuan yang dekat dan Tanjung itu matanya tidak lagi basah karena kesedihannya yang tidak juga mau beranjak dari dinding jantungnya.

Namun tiba-tiba kesepian di rumah Tanjung itu pada suatu padi telah dipecahkan oleh tangis bayi. Tanjung yang masih berada di biliknya terkejut. Tangis itu terdengar melengking-lengking semakin keras.

Tanjung bangkit dan duduk dibibir pembaringannya. Ia mencoba untuk menyadari apa yang telah terjadi.

—         Apakah aku bermimpi ? —

Tetapi tangis balita masih saja terdengar semakin keras.

Orang tua yang tinggal bersamanya itupun mengetuk pintu biliknya sambil memanggilnya—Tanjung, Tanjung. —

Tanjung itupun bangkit dan melangkah kepintu. Ketika ia membuka pintu biliknya, dilihatnya perempuan tua Itu berdiri ter-mangu-mangu. Di wajahnya nampak kegelisahannya yang mencengkam.

—         Kau dengar tangis itu, Tanjung ? —

—         Ya, bibi.—

—         Itu tentu anak wewe penunggu pohon gayam di pinggir jalan itu.—

—         Anak wewe? —

—         Ya. Tentu. Aku tahu bahwa di pohon gayam itu tinggal sesosok hantu perempuan.—

—Darimana bibi tahu ?—

—Di hari-hari tertentu tercium bau yang sangat wangi di pohon gayam itu. Tentu sosok hantu perempuan itu sedang bersolek. Hantu perempuan itu memakai wewangian yang tidak terdapat di dunia kewadagan ini. —

Tanjung tidak menjawab. Tetapi tangis bayi itu terdengar semakin keras.

— Kita lihat saja bibi, —

—         Kau tidak akan melihat apa-apa. Kau dan aku hanya dapat mendengar suaranya. —

Tetapi Tanjung tidak tahan lagi. Iapun segera pergi ke pintu pringgitan. Perempuan tua itu mengikutinya di belakang dengan jantung yang berdebaran.

Ketika Tanjung membuka pintu pringgitan, ia terkejut. Dilihatnya, sosok bayi yang masih merah, terbaring di alas tikar pandan yang masih dilipat di pringgitan.

—         Kau lihat bibi ? —

Tetapi ketika Tanjung mendekatinya, perempuan tua itu mencegahnya—Jangan Tanjung. —

—Anak itu menangis bibi. Kasihan sekali. —

Namun ternyata bukan hanya Tanjung yang terbangun karena tangis bayi itu. tetangga disebelah-mcnycbelahnya juga mendengar tangis bayi di rumah Tanjung.

—         Aneh — bisik tetangga di sebelah Barat rumah Tanjung — apakah Tanjung melahirkan ? Ia tidak nampak sedang hamil sepeninggal suaminya. —

—         Marilah kita lihat. —

Ada beberapa orang tetangga yang dengan ragu-ragu memasuki regol halaman rumah Tanjung.

Demikian mereka berada di halaman, mereka melihat Tanjung itu berdiri termangu-mangu di pintu pringgitan rumahnya.

—         Ada apa Tanjung ? — tanya seorang yang rambutnya sudah ubanan yang tinggal di sebelah Timur rumah Tanjung.

—         Seorang bayi, bibi. —

Tetangga-tetangga Tanjung itupun kemudian merubungi sosok bayi yang berada di pringgitan rumahnya. Bayi laki-laki yang nampak sehat. Tangisnya melengking-lengking membangunkan orang sepadukuhan.

—         Anak siapa itu Tanjung ? —

—         Aku tidak tahu, bibi. Aku terkejut mendengar tangisnya.—

—         Seseorang telah meletakkan bayi itu disini — desis seorang laki-laki yang tinggal di seberang jalan.

—         Bukan —jawab perempuan tua yang tinggal di rumah Tanjung—tentu sesosok anak anak wewe di pohon gayam itu. —

—         Ah, ada-ada saja kau yu — sahut perempuan yang rambutnya sudah ubanan.

—         Lalu perempuan manakah yang sampai hati meninggalkan anaknya disini ? —

— Perempuan yang akalnya terlalu pendek. —

—         Lalu, apa yang akan .kita perbuat dengan bayi itu ? — perempuan lain bertanya.

Tanjunglah yang kemudian menjawab—Aku akan memeliharanya, bibi. Aku akan mengambilnya menjadi anakku. Rumah ini tidak akan menjadi terlalu sepi lagi. —

—         Tetapi kau akan mendapat banyak kesulitan. Tanjung. Kau belum pernah mempunyai seorang anak. Kau belum berpengalaman. Biarlah aku saja yang memeliharanya — berkata perempuan yang rambutnya sudah ubanan — aku pernah memelihara, membesarkan dan bahkan sekarang mereka sudah berkeluarga semuanya, ampat orang anak. —

—         Bibi sudah mempunyai cucu yang manis-manis yang dapat menemani bibi. Biarlah anak ini menjadi anakku. Anugerah ini akan aku terima dengan suka cita. Bahwa hari ini, aku mempunyai seorang anak laki-laki yang manis-dan sehat. —

—         Baiklah Tanjung — berkata perempuan yang sudah ubanan itu — jika kemudian kau menemui kesulitan dengan anakmu itu, datanglah kepadaku. Aku akan membantumu. —

—         Baik bibi —jawab Tanjung sambil menggendong bayi laki-laki yang sehat dan gemuk itu.

Ternyata bayi itupun menjadi diam. Ia tidak lagi menangis melengking-lengking.

Perempuan yang tinggal diseberang jalan itu mencium bayi digendongan Tanjung itu sambil berdesis — Kau sudah mendapatkan seorang ibu ngger. Ibumu sendiri sampai hati meninggalkan kau disini. Tetapi kasih ibumu yang sekarang tentu lebih besar dari kasih ibu kandungmu itu. —

—         Anak itu merasa aman di tangan Tanjung tetangga discbclah Timur — mudah-mudahan segalanya akan  baik-baik saja. Agaknya anak itu bukan anak yang suka merajuk. —

—         Begitu cepatnya ia tertidur—berkata scoring laki-laki.

—         Ia merasa hangat di tangan Tanjung. —

—         Kalau anak ini nanti merasa haus, bibi ? — bertanya Tanjung.

—         Beri minum tajin, ngger. Tajin dengan sedikit gula kelapa. Jangan terlalu manis. —

—         Baik, baik, bibi — jawab Tanjung. Lalu katanya kepada perempuan tua ^ang tinggal bersamanya — Buatkan anak ini tajin, bibi. Kau tanak nasi. Beri air agak berlebih. —

—         Baik, baik Tanjung. Tetapi kalau anak itu kemudian tumbuh taringnya, ia tidak akan mau minum lajin. —

Ah – Jangan mengada-ada bibi. —

Perempuan tua itupun kemudian pergi ke dapur meskipun hari masih gelap. Dinyalakan dlupak minyak kelapa yang ada di ajuk-ajuk. Kemudian di nyalakannya api di tungku.

Dalam pada itu beberapa orang masih berada di pendapa. Namun ketika langit menjadi merah, maka merekapun telah minta diri. Perempuan yang rambutnya ubanan itu berkata sekali lagi kepada tanjung — Jika kau perlukan bantuanku, Tanjung. Datanglah kepadaku, atau panggil aku kemari. —

—         Ya, bibi,—

Demikianlah, sejak hari itu, Tanjung mempunyai seorang anak laki-laki. Anak itu benar-benar sehat. Geraknya cukup banyak. Tangisnya lepas seakan-akan menggetarkan seluruh padukuhan. Kaki dan tangannya yang menggapai-gapai nampak kokoh dan terampil.

Tanjung mengasuhnya dengan penuh kasih sayang. Bahkan keberadaan anak itu di rumahnya, membuatnya ^gak terhibur. Ia tidak lagi merasa kesepian. Bahkan di malam hari, Tanjung kadang-kadang masih sibuk mengganti pakaian anak itu jika basah. Berusaha menenangkannya jika anak itu gelisah dan menangis. Mengipasinya jika udara terasa panas. Tetapi mendekapnya jika udara dingin.

Dari hari ke hari anak itu tumbuh seperti kebanyakan anak-anak yang sehat. Beratnyapun bertambah-tambah. Panjangnya dan juga geraknya.

Tanjung sudah mulai dapat tersenyum. Dan bahkan tertawa jika ia menimang bayinya.

Perempuan tua lang tinggal bersamanya itu masih saja merasa ragu. Jika anak itu anak wewe atau gendruwo, maka hari depannya akan sangat menyulitkan. Bahkan mungkin Tanjung akan dapat menjadi korban keganasannya.

Tetapi kecerahan hati yang mulai bersinar di hati Tanjung itu tiba-tiba telah terganggu lagi.

Malam itu, ketika hujan rintik-rintik membasahi dedaunan, genting dan halaman rumahnya, telah datang sepasang suami isteri di rumahnya

—         Selamat malam, kakang — sapa Tanjung yang kemudian mempersilahkannya—marilah kakang. Silahkan masuk ke ruang dalam saja Udara dingin diluar. Marilah mbokayu. Silahkan masuk.—

—Terima kasih Tanjung —jawab perempuan itu.

Laki-laki yang bertubuh tinggi, tegap dan berdada lebar itu adalah kakak kandung suami Tanjung yang sudah meninggal.

—         Malam-malam kakang dan mbokayu sampai disini. Hujan lagi. Darimana saja kakang dan mbokayu tadi ? —

—         Dari rumah, Tanjung. Aku memang ingin dalang kemari menemuimu.—

—         Ada perlu kakang, atau kakang sekedar ingin menengok aku yang kesepian ? —

—         Bukankah kau tidak kesepian lagi sekarang Tanjung ? —

Tanjung tersenyum. Ia berbangga dengan anak laki-lakinya.

Karena itu, maka iapun menjawab — Ya, kakang. Ada sedikit hiburan di rumah ini.—

—Tanjung. Karena anak itu pula aku datang kemari. —

—Karena anak itu?—

—         Antara lain. Tetapi juga ada alasan lain yang mendorongku datang kemari. —

Dahi Tanjung berkerut. Dengan ragu-ragu Tanjung itupun bertanya—Kenapa dengan anak itu. ?—

Kakak iparnya itu menarik nafas panjang. Sambil beringsut itupun beikata—Tanjung. Ada masalah yang penting yang harus kita bicarakan. Kau tahu, bahwa tanah dan rumah yang kau tempati ini adalah tanah dan rumah peninggalan orang tuaku. Orang tua suamimu. —

Jantung Tanjung berdesir. Ia memang sudah mengira, bahwa cepat atau lambat, kakak iparnya akan berbicara tentang tanah dan rumah itu. Tetapi ia tidak menyangka, bahwa kakak iparnya datang secepat itu.

Dengan nada yang rendah Tanjung menjawab — Ya, kakang. Aku tahu. —

—         Tanah ini seharusnya menjadi milikku, milik suamimu dan milik Mijah, adikku perempuan.

—         Ya, kakang. —

—         Sampai beberapa hari yang lalu, aku masih berdiam diri. Aku biarkan kau tinggal dirumah ini. Tetapi keadaannya segera berubah, Tanjung. —

—         Apa yang berubah ? —

—         Kau sekarang mempunyai seorang anak laki-laki. —

—         Apa hubungannya dengan anak itu ? —

—         Anak itu bukan anakmu. Bukan anak suamimu. Karena itu, ia tidak berhak atas peninggalan orang tua suamimu. —

Tanjung menarik nafas panjang. Katanya — Aku mengerti kakang. Anak ini memang tidak mempunyai hak apa-apa atas tanah ini. —

—         Sekarang kau dapat beikata begitu, Tanjung. Tetapi jika dibiarkan anak ini menjadi besar dan dewasa, maka anak ini tentu merasa bahwa ia berhak atas tanah ini. Ia tidak tahu, bahwa ia bukan anakmu. Bukan anak suamimu. —

Tanjung menundukkan kepalanya.

—         Karena itu Tanjung, mumpung belum terlanjur ada persoalan. Aku ingin mencegahnya.

—Maksud kakang ? —

—         Kau harus meninggalkan rumah ini, Tanjung. Ada beberapa alasan yang ingin aku katakan kepadamu. Pertama, kau tidak berhak lagi atas tanah ini sepeninggal suamimu. Berbeda halnya jika kau dan suamimu itu mempunyai keturunan. Kedua, jika kau akan menikah lagi, Tanjung, maka bakal suamimu itu tidak akan salah paham. Jika laki-laki itu mengira, bahwa kau mempunyai tanah seluas halaman rumah ini, serta rumah sebesar ini, maka ia akan menjadi kecewa jika ia harus melihat kenyataan, bahwa kau tidak mempunyai apa-apa. —

Tanjung menjadi semakin menunduk.

—         Alasan selanjutnya, Tanjung. Selama ini aku tinggal di rumah mbokayumu. Aku adalah laki-laki yang mengikut is-terinya. Nah, sekarang, rumah itu akan dipakai oleh adik is-teriku yang akan segera menikah. Karena itu, aku harus pulang ke rumah ini. —

Tanjung masih menunduk. Ia sama sekali tidak dapat menjawab. Karena itu, maka ia hanya berdiam diri saja. Ia sadari bahwa apa yang dikatakan oleh kakak iparnya itu sebagian benar. Karena itu, maka tidak ada niatnya sama sekali untuk mengelak.

Tetapi satu pertanyaan yang sangat besar yang tidak dapat dijawabnya — Aku harus pergi kemana. ? —

Perasaan Tanjung menjadi sangat gelisah. Ia tidak tahu, apa yang akan terjadi dengan dirinya

Karena Tanjung tidak menjawab, maka kakak iparnya itupun bertanya kepadanya — Apa jawabmu, Tanjung. — jantung Tanjung berdesir. Dengan sendat iapun menjawab — Aku mengerti kakang. —

—         Sokurlah jika kau mengerti. Dalam satu dua hari ini, aku akan pindah ke rumah ini. —

Meskipun Tanjung sama sekali tidak ingin mengelak, namun bahwa kakak iparnya akan pindah ke rumah itu dalam satu atau dua hari lagi, sangat mengejutkannya.

—         Kakang — suara Tanjung masih saja tersendat — aku minta waktu kakang. —

—         Maksudmu ? —

—Jika aku harus pergi dalam waktu satu dua hari ini, aku harus pergi kemana. Aku sama sekali belum siap untuk melakukannya. —

—         Seharusnya kau sudah siap sejak suamimu meninggal. Kau harus mengerti dengan sendirinya. Kami sudah mencoba untuk bersabar, menunggu kau minta diri kepada kami. Tetapi hal itu tidak kau lakukan. Pada saat ang sangat mendesak, maka aku terpaksa datang kepadamu, mengabaikan hal ini. —

—         Aku mengerti kakang. Aku minta maaf. Tetapi jika ada belas kasihanmu. Kakang. Aku minta waktu. Jika kakang harus pindah ke rumah ini, biarlah aku tinggal di gandok untuk beberapa hari. Bukankah aku hanya berdua dengan anakku yang masih bayi ? —

—         Kau dapat membayangkan, Tanjung. Tinggal serumah lebih dari satu keluarga akan dapat membawa akibat bermacam-macam. —

—         Apalagi kau seorang janda, Tanjung — sahut isteri kakak iparnya itu.

Tanjung menarik nafas panjang.

—         Kau seorang janda kembang yang muda dan cantik.

—         Aku bukan janda kembang, mbokayu. Aku sudah mempunyai seorang anak. —

—         Tetapi semua orang tahu, anak itu bukan anakmu sendiri. Kau temukan anakmu itu di pringgitan rumah ini. —

—         Tetapi aku sudah mengakunya, bahwa anak ini adalah anakku sendiri. —

—         Kau dapat saja mengaku anak itu anakmu sendiri. Tetapi orang banyak itu tidak akan dapat kau bohongi. Bahkan mungkin pada suatu saat kau sendiri akan lebih senang disebut janda kembang. Jika seorang laki-laki ingin memperistrimu tetapi tidak menghendaki anak itu, maka anak itu akan kau lemparkan ke dalam arus sungai yang sedang banjir.—

—         Tidak. Ia adalah anakku.—

—         Tanjung — berkata kakak iparnya kemudian — aku tidak mempunyai pilihan lain. Dalam dua atau tiga hari ini, kau harus sudah meninggalkan rumah ini. Kemudian kami akan pindah dan menempati rumah ini setelah kau tinggalkan. Kami harus membersihkan rumah ini. Bukan hanya sekedar membersihkan ujud lahiriahnya saja. Tetapijuga setiap matra rumah ini. Mungkin ada penghuninya pada lapis kehidupan yang lain. Mungkin tersimpan bibit penyakit atau se-bangsanya.—

—Aku tidak akan membantah, kakang. Aku tidak akan ingkar dari kenyataan itu, bahwa rumah ini adalah rumah almarhum suamiku. Aku hanya minta waktu selama aku masih belum mendapatkan tempat tinggal yang baru.—

—         Dengan demikian, kau tidak akan pernah mendapatkan tempat tinggal yang baru. Tanjung—sahut isteri kafcak iparnya itu — kau justru tidak akan pernah berusaha jika kau diijinkan tinggal dalam batasan waktu sebelum mendapatkan tempat tinggal yang baru itu.—

—Aku berjanji akan segera berusaha, mbokayu.—

—         Tidak. Aku tidak akan memberimu kesempatan yang akan dapat menyulitkan kedudukanku sendiri. Karena itu, aku minta dalam dua atau tiga hari ini kau sudah tidak ada di rumah ini.—

Mata Tanjung menjadi basah. Ia tidak ingin menangis. Tetapi nyeri di jantungnya seakan tidak tertahankan lagi.

—         Sudahlah. Kita tidak akan berbicara panjang. Persoalannya sudah akuanggap selesai.—

Tanjung tidak menjawab. Seandainya ia merengek sekalipun, atau menangis sambil berguling-guling, kakak iparnya dan isterinya tentu tidak akan merubah sikapnya

Karena itu, Tanjung justru harus tetap tabah dan tegar. Betapapun pedih hatinya, namun kenyataan itu harus diterimanya. Yang harus dilakukan adalah mencari jalan keluar dari persoalan yang menindihnya itu.

Pembicaraan mereka memang tidak terlalu banyak. Akhirnya kakak iparnyapun berkata — Tanjung. Malam ini aku akan bermalam disini. Biarlah malam ini kami tidur di gandok. Besok pagi-pagi kami akan pulang mempersiapkan barang-barang kami yang akan kami bawa kemari. Tidak terlalu banyak, karena disini sudah banyakperabot rumah yang ditinggalkan oleh ayah dan suamimu. Semuanya akan dapat aku pergunakan. Sedangkan perabot di rumahku akan dapat dipakai oleh adik isteriku itu. Satu keluaiga baru yang tentu belum mempunyai apa-apa.—

—         Baik, kakang — jawab Tanjung dengan suara yang bergetar — aku akan berusaha.—

—         Bukan sekedar berusaha. Tetapi dalam dua tiga hari ini kami benar-benar akan pindah kemari.—

—         Baik, kakang — Tanjung sadar, bahwa ia tidak akan dapat memberikan jawab yang laia

Beberapa saat kemudian, setelah kedua orang tamu suami isteri itu minum minuman hangat yang dihidangkan oleh pembantu tua Tanjung, keduanyapun peigi ke gandok untuk beristirahat

Demikian keduanya meninggalkan ruangan dalam, maka Tanjung tidak dapat menahan tangisnya. Air matanya bagaikan di tuang dari gerojogan.

—         Anak itu menangis—desis isteri kakak iparnya.

—         Aku sudah mengira. Biarkan saja.—

—         Kau tidak berusaha menolongnya ? Air mata perempuan cantik itu akan menyegarkan badanmu.—

—         Kau selalu begitu. Apakah tidak ada kata-kata lain yang dapat kau ucapkan.—

Perempuan itu terdiam.

Di ruang dalam Tanjung masih menangis. Perempuan tua yang sudah seperti ibunya sendiri itupun berusaha untuk menghiburnya.

—         Sudahlah ngger. Kau tidak perlu menangis. Kau harus tegar menghadapi kenyataan yang pahit ini. Tegakkan wajahmu. Persoalan ini harus diatasi. Tidak ditangisi.—

Tanjung justru terkejut mendengar nasehat perempuan tua itu. Selama ini ia menganggapnya sebagai perempuan yang berwawasan sempit Perempuan yang tidak tahu apa-apa selain harga cabe yang semakin mahal dan harga berbagai macam beras.

—         Bibi — desis Tanjung.

—         Aku tahu apa yang kalian bicarakan. Aku mendengarnya dari balik dinding serambi samping itu. Bukankah kau harus meninggalkan rumah ini ?—

—         Ya, bibi.— .

—         Kau menjadi gelisah dan cemas karena kau tidak tahu akan pergi ke mana ? Sementara itu kakak iparmu itu tidak mau memberimu waktu ?—

—         Ya. bibi.—

—         Jangan cemas ngger. Pergilah ke rumahku. Tetapi rumahku kecil dan jelek, yang sekarang ditunggui oleh anak perempuanku yang juga sudah janda Ia juga tidak mempunyai anak. Bahkan tidak memungut anak siapa-siapa. Ia hidup benar-benar sendiri. Penghasilannya untuk makan sehari-hari didapatnya dari mengolah secuil sawah dan pekarangan. —

—         Terima kasih bibi. Aku mengucapkan beribu terima kasih. Aku tidak tahu, bagaimana aku membalas kebaikan hati bibi. —

—         Kau juga sudah beibuat sangat baik kepadaku, ngger. Aku sudah lama berada di rumahmu, bahkan kau anggap aku seperti keluargamu sendiri. Seperti ibumu, meskipun aku tidak lebih dari seorang abdi disini. —

—         Tidak, bibi. Aku tidak pernah menganggap bibi sebagai seorang abdi. —

—         Aku mengerti, ngger. Aku mengerti. Karena itulah, ketika angger menghadapi kesulitan, aku akan berbuat sebagaimana seorang ibu. Bahkan anakkupun akan senang menerima kau di rumah kami. Anakku rambutnya juga sudah ubanan. Kau tentu ingat, bahwa ia sudah pernah datang kemari dua tiga kali.—

—         Tentu bibi. Aku masih ingat. —

—         Aku berbangga bahwa kau tidak mengiba-iba. Tidak minta belas kasihan berlebihan kepada kakak iparmu. Aku senang itu ngger. —

Tanjung termangu-mangu sejenak. Ia tidak mengira, bahwa perempuan tua itu ternyata dapat bersikap bijaksana. Pada saat-saat yang diperlukannya, perempuan tua itu dapat tampil sebagai seorang perempuan tua yang mampu menampung permasalahan yang dihadapinya, meskipun hanya untuk sementara.

Pembicaraan mereka terputus. Bayi yang diaku sebagai anak oleh Tanjung itu menangis.

Dengan tergesa-gesa Tanjung berlari ke biliknya. Ternyata popok anak itu basah.

Sambil mengganti popok dan oto anak itu yang juga menjadi basah, Tanjung mengamati sebuah noda hitam di dada anak itu. Toh itu tidak akan dapat dihapuskan. Sebenarnya Tanjung mencemaskan toh yang ada di dada anak yang manis itu. Ibu kandungnya pada suatu saat akan dapat mengenalinya. Meskipun anak itu sudah di buangnya di saat anak itu baru saja lahir, namun ibunya, yang tentu seorang yang sikap ji-waninya mudah goyah, akan dapat berbuat macam-macam.

Mudah-mudahan noda hitam itu semakin lama akan menjadi semakin tidak jelas atau bahkan hilang. Jika tidak, maka Tanjung akan dapat membuat baju yang khusus baginya, sehingga noda hitam itu tidak mudah kelihatan.

Malampun menjadi semakin larut Perempuan tua itu sudah pergi ke biliknya. Sementara itu, setelah anaknya tidur, Tanjung tidak segera membaringkan dirinya. Iapun kemudian sibuk mengemasi pakaiannya serta perhiasan yang peninggalan suaminya. Ia tidak berniat sama sekali untuk menuntut sebagian harta kekayaan lain yang ditinggalkan oleh suaminya. Ia tidak akan beibicara sama sekali tentang perabot rumah tangga. Tentang peralatan di dapur. Tentang gebyok ukiran lembut yang dipasang oleh suaminya, menggantikan gebyok sentong tengah dan sentong disebelah menyebelahnya.

Tanjung sama sekali tidak berniat mengusiknya lagi.

Baru setelah dini hari. Tanjung dapat tidur sejenak. Tetapi menjelang fajar, anaknya sudah menangis lagi. Popoknya sudah menj adi basah lagi.

Tetapi Tanjung tidak pernah mengeluh tentang anaknya. Dengan kasih sayang dirawatnya anaknya itu dengan sebaik-baiknya.

Di pagi hari berikutnya, demikian matahari naik, maka kakak ipar dan isterinya itupun minta diri.

—         Kami sedang menyiapkan makan pagi kakang dan mbokayu. —

—         Terima kasih, Tanjung. Biarlah kami makan di perjalanan pulang. Kami akan melewati banyak kedai sehingga kami akan dapat memilihnya. Apalagi perjalanan kami bukan perjalanan yang sangat jauh. Sedikit lewat tengah hari, kami sudah akan sampai di rumah—jawab isteri kakak iparnya itu.

Demikianlah, maka keduanyapun meninggalkannya. Di pintu regol halaman kakak ipar Tanjung itu masih mengingatkannya — Jangan lupa. Dalam dua atau tiga hari, aku akan datang dengan beberapa buah pedati untuk membawa barang-barangku. Jika kau pergi sebelum aku datang, titipkan rumah ini kepada Ki Bekel. Aku kemarin sudah bertemu dan berbicara dengan ki Bekel, sebelum aku kemari dan bermalam di sini. —

—Baik, kakang —jawab Tanjung. Sikapnya sudah menjadi lebih tenang. Tidak nampak kegelisahan di wajahnya. Matanyapun tidak basah.

Sepeninggal kakak iparnya, maka perempuan tua yang tinggal bersamanya itupun bertanya kepadanya — Apa saja yang akan kau bawa keluar dari rumah ini Tanjung? —

—         Tidak, bibi. Aku tidak akan membawa apa-apa kecuali perhiasan yang dibeli oleh suamiku. Aku tidak memerlukan apa-apa. —

—         Bagus, Tanjung. Kau adalah seorang perempuan yang tegar menghadapi tantangan kehidupan yang keras. Dengan sikapmu itu, maka kau tidak akan tercampakkan ke dalam lumpur.

—         Semoga Yang Maha Agung selalu memberikan per-tunjuknya—

—Kalau kau selalu berdoa, maka Yang Maha Agung tentu tidak akan meninggalkanmu. Kau pelihara hubungan itu, antara hamba dan Sumber dari segala Sumber. Antara hamda dan Gustinya. —

Tanjung menarik nafas dalam-dalam. Ternyata orang tua itu wawasannya tidak sesempit yang dikiranya.

Sudah bertahun-tahun perempuan itu tinggal bersamanya. Namun baru pada saat ia benar-benar mengalami kesulitan, ia tahu betapa terang hatinya memandang kehidupan.

—         Ngger — berkata perempuan tua itu — marilah kita berkemas. Besok pagi-pagi kita berangkat. Yang penting bagimu, jangan lupa membawa payung. Jika panas anakmu jangan kepanasan, jika hujan anakmu jangan kehujanan. Kita akan berjalan setengah hari. Mungkin lebih. —

—         Ya, bibi. —

—         Hari ini kau sempat minta diri kepada tetangga-tetang-ga agar kepergianmu tidak memberikan kesan yang bukan-bukan. Kau katakan terus terang, apa yang telah memaksamu pergi. —

—         Ya, bibi. Nanti aku pergi ke rumah tetangga-tetangga sebelah menyebelah. —

Sebenarnyalah ketika metahari memanjat langit semakin tinggi, setelah berbenah diri serta menyuapi anaknya, maka Tanjungpun mulai mengunjungi tetangga-tetangganya.

—         Tolong, tunggui tole sebentar, bibi. —

—         Ya. Ya. Biasanya setelah makan pagi, anak itu akan segera tidur. —

—         Anak itu memang sudah mengantuk, bibi. Matanya sudah separo terpejam. —

Perempuan tua itu tersenyum. Katanya — Anak yang manis. Ia tidak mau merepotkan ibunya —

Ketika Tanjung minta diri kepada tetangganya, seorang perempuan yang sudah ubanan, perempuan itu terkejut.

—         Kau berkata sebenarnya, Tanjung ? —

—         Ya, bibi. Aku berkata sebenarnya. Besok aku akan pergi bersama bibi. —

Suami perempuan yang sudah ubanan itu, yang mendengar ceritera Tanjung, segera mendekatinya dan duduk bersamanya.

—         Tanjung. Kau akan pergi begitu saja ? —

—         Ya, paman. —

—         Kau tidak membuat perhitungan dengan kakak iparmu itu? —

—         Tidak, paman. —

—         Kau harus membuat perhitungan. Setidak-tidaknya gana-gini. Kau mendapatkan sepertiga dari semua harta kekayaan yang kau dapat bersama suamimu selama kau menjadi isterinya. —

—         Yang bekerja mencari nafkah adalah suamiku, paman. Jika kami dapat membeli perabot sedikit-sedikit itu adalah karena suamiku bekerja keras. Karena itu, aku tidak ikut memilikinya. —

—         Tidak. Kau yang berhak memilikinya. Tanah dan rumah itu memang peninggalan. Aku tahu itu. Tetapi bukankah kau jual peninggalan orang tuamu sendiri dan kau belikan tanah dibelakang rumahmu sekarang, sehingga kebunmu menjadi semakin luas. Bahkan tanah di belakang rumahmu itu memanjang sampai ke lorong, dibelakang. —

—         Tanah itu dibeli atas nama suamiku, paman. —

—         Tetapi kau dapat memanggil beberapa orang saksi. Bahkan pemilik tanah yang kau beli. itu masih hidup sekarang.—

—         Tetapi para saksi itu tidak dapat membuktikan bahwa suamiku membeli tanah itu dengan uangku. Uang yang aku dapat dengan menjual tanah dan rumah peninggalan orang tu-

aku.—

—         Tetapi itu dapat diurus, ngger. Setidak-tidaknya kau akan dapat menerima sepertiga dari harta benda yang kalian dapatkan selama kalian berumah tangga. Aku bersedia menjadi saksi, apa saja yang sudah dibeli oleh suamimu semasa hidupnya. —

—         Sudahlah, paman. Aku tidak memerlukan semua itu. Jika itu aku singgung, maka yang akan terjadi hanya pertengkaran. —

—         Tetapi itu hakmu. Hak. Tidak akan ada orang yang menyalahkan seseorang mengurus haknya. —

—         Terima kas i h atas perhatian paman. Tetapi aku tidak berani melakukannya. —

—         Bukan tidak berani ngger — sahut perempuan yang sudah ubanan itu — aku mengenalmu dengan baik. Kau memang tidak ingin terjadi sengketa. Kau sengaja mengalah ngger. Aku yakin, bahwa bukan karena kau tidak berani. —

Tanjung menarik nafas panjang.

—         Aku mengenal Saija, iparmu itu dengan baik, ngger. Semasa kanak-kanak sampai dewasanya ia tinggal di rumah itu. Ia memang anak yang nakal dan sulit dikendalikan. Ia banyak menghamburkan uang mertuamu. Ketika ia menikah dan pergi meninggalkan rumah ini serta tinggal di rumah is-terinya, ia sudah membawa banyak harta benda mertuamu. Keris dengan pendok emas, timang sepasang yang juga terbuat dari emas dan bahkan tretes berlian. Bandul mas dengan rantainya sebesar tampar keluh lembu. Yang dibawanya itu nilainya tentu lebih banyak dari harta separo tanah dan rumah peninggalan itu. Seharusnya Saija tidak lagi menuntut apa-apa atas tanah dan rumah itu. —

—         Tetapi dengan bukti-bukti yang ada padanya, ia dapat meyakinkan Ki Bekel bahwa ia memang berhak atas tanah danrumah itu. Setidak-tidaknya bersama ipar perempuanku, Mi-jah.—

Kedua orang suami isteri itu terdiam. Mereka mengenal Tanjung dengan baik. Ia seorang perempuan yang lembut, yang tidak senang jika teijadi keributan. Banyak mengalah, bahkan kepada tetangga-tetangganya.

Tetapi ternyata Tanjung juga seorang perempuan yang lemah. Yang membiarkan haknya diambil tanpa perjuangan sama sekali. Dibiarkannya haknya diambil orang dengan kasar. Dan dibiarkannya saja hal itu terjadi.

Namun laki-laki itupun melihat, bahwa Tanjung nampaknya tidak menjaidi putus harapan.

Setelah hening sejenak, perempuan yang rambutnya sudah ubanan itupun bertanya — Maaf Tanjung kalau aku boleh bertanya, kemana kau akan pergi ?—

Tanjung menarik nafas panjang. Dengan nada datar iapun menjawab — Aku akan pergi ke rumah bibi Sumi. Perempuan tua yang tinggal bersamaku itu. Perempuan tua itu telah menawarkan kepadaku untuk tinggal bersamanya.—

Suami isteri itu mengangguk-angguk kecil. Dengan nada dalam perempuan yang rambutnya sudah ubanan itupun berkata — Jika kau mau Tanjung. Kau juga dapat tinggal disini. Kau lihat gandok rumahku itu kosong.—

—         Terima kasih, bibi. Bukannya aku menolak .tinggal bersama bibi. Tetapi jika kakang Saija tinggal di rumah sebelah, maka rasa-rasanya hubungan kami akan terasa sangat canggung.—

Perempuan tua itu mengangguk-angguk.

—         Aku mengerti, Tanjung. Jika demikian, aku hanya dapat mengucapkan selamat jalan. Semoga kau baik-baik saja. Hati-hatilah dengan anakmu.—

—         Ya, bibi^—Tanjungpun kemudian meninggalkan suami isteri itu. Dari rumah itu, Tanjung pergi ke tetangga-tetangganya yang lain untuk minta diri. Hampir semuanya mengatakan sebagaimana dikatakan oleh suami isteri yang rambutnya sudah ubanan itu. Bahkan seorang tetangganya yang lain, seorang perempuan yang sudah separo baya berkata — Aku berani menjadi saksi yang disumpah dengan cara apapun juga. Aku tahu pasti, bahwa seharusnya kau mempunyai hak sebagian dari tanah, rumah dan segala macam perabot yang ada di rumah itu.—

—         Sudahlah, bibi. Terima kasih atas kepedulian bibi.—,

Tetangga-tetangganya melepas Tanjung dengan hati yang trenyuh. Mereka mengumpati kakak ipar perempuan yang malang itu.

Namun ketika Tanjung pergi ke rumah Ki Bekel untuk minta diri dan menitipkan rumah serta perabotnya, Ki Bekel itupun berkata—Seharusnya kau*tahu diri Tanjung. Demikian suamimu meninggal, kau harus berkemas dan segera pergi. Dengan demikian, maka kakak iparmu itu tidak perlu mengusirmu.—

Jantung Tanjung berdesir. Hampir diluar sadarnya Tanjung itupun berkata — Tetapi bukankah aku juga mempunyai hak sebagian dari tanah yang ditinggalkan oleh almarhum suamiku.—

Ki Bekel itu mengerutkan dahinya. Katanya dengan suara yang bernada tinggi — Siapa yang mengatakannya ? Semua tanah itu adalah tanah suamimu. Atas nama suamimu. Kau tidak mempunyai apa-apa. Karena itu kau harus peigi.—

—         Bukankah ada ketentuan adat untuk membagi harta kekayaan suami isteri dengan gana-gini.—

—         Kalau kau bercerai dengan suamimu, kau akan mendapat sepertiga bagian dari harta-benda milik bersama selama sepasang suami isteri berumah tangga. Tetapi suamimu mati.—

—         Tentu sama saja Ki Bekel. Aku mendapat sepertiga, yang lain akan diwarisi oleh keluarga suamiku karena kami tidak mempunyai anak.—

—         Aku berkata kepadamu. Aku memberitahukan tatanan ini kepadamu. Bukan kau yang memberitahu aku Tanjung.—

Mata Ki Bekel terbelalak.

Tanjungpun terdiam. Bahkan ia menyesal, kenapa ia mempersoalkan peninggalan suaminya itu. Selama ini, bahkan dihadapan kakak iparnya ia tidak menyinggungnya sama sekali.

Tetapi sikap Ki Bekel sejak awal itulah agaknya telah menggelitiknya.

—         Nah, jika kau akan pergi esok pagi, itu adalah sikap terbaik yang dapat kau lakukan. Aku hanya dapat mengucapkan selamat jalan. Rumah itu kemudian akan dihuni oleh orang yang berhak.—

Tanjung tidak merasa perlu untuk menjawab. Iapun justru minta diri.

—         Aku akan mengemasi pakaianku, Ki Bekel.—

—         Baik. Silahkan. Ternyata kau telah berbuat yang terbaik yang dapat kau lakukan.—

Hati Tanjung menjadi bertambah pedih karena sikap Ki Bekel. Ia tahu, bahwa kakak iparnya adalah kawan bermain Ki Bekel di masa mereka masih kanak-kanak, remaja sampai saatnya mereka dewasa dan hidup berkeluarga.

Hari itu, Tanjung telah membungkus barang-barang kecil yang akan dibawanya dengan selembar kain. Hanya itu.

Orang tua yang tinggal bersama Tanjung itupun sudah mengemasi pakaian dan barang-barangnya pula. Juga hanya sebungkus kecil.

Di malam hari Tanjung seakan:akan lidak tidur sama sekali. Dimasukinya setiap ruangan di rumahnya itu. Sentong tengah, sentong kanan dan kiri. Gandok sebelah kiri dan gan-dok sebelah kanan. Setiap longkangan dan dapur.

Peipisahan itu datang terlalu cepat. Tetapi Tanjung tidak dapat mengelak.

Di dini hari Tanjung sempat tidur sejenak. Namun kemudian iapun segera bangun karena tangis anaknya.

Setelah menenangkan anaknya, mengganti pakaiannya yang basah, serta menidurkannya lagi, maka Tanjungpun segera berkemas. Hari itu, ia akan meninggalkan rumahnya yangjsudah dihuninya beberapa tahun.

Tanjung merasa terharu ketika ia melihat beberapa orang datang ke rumahnya untuk mengucapkan selamat jalan langsung pada saat Tanjung beranjak meninggalkan rumahnya itu.

Sambil mengusap matanya yang basah, Tanjungpun berkata — Terima kasih, bibi, paman, mbokayu dan sanak kadangku semuanya. Kami akan pergi. Kami mohon maaf jika selama ini kami telah bersalah kepada sanak kadang semuanya. —

—         Kami yang harus minta maaf kepadamu Tanjung. Selama kau tinggal disini, kau kami anggap seorang yang baik. Yang mengerti dan menempatkan diri diantara kami semuanya. —

—         Terima kasih pula atas sanjungan itu. Aku berharap bahwa pada suatu saat, aku dapat datang mengunjungi sanak kadang disini. Aku sudah merasa bagian dari sanak kadang semuanya; —

Perempuan yang sudah ubanan itu menyahut pula — Kami menunggu. Tanjung. Kami sungguh-sungguh berharap. Jika ada kesempatan nanti, kami juga ingin mengunjungimu di tempat tinggalmu yang baru.

Dengan mengusap titik-titik air di matanya, Tanjung meninggalkan rumahnya. Tetangga-tetangganya melepasnya di regol halaman. Mereka menyaksikan Tanjung berjalan bersama perempuan tua yang sudah lama tinggal bersamanya itu. Semakin lama semakin jauh.

Sekali Tanjung dan perempuan tua itu berpaling. Namun mereka segera mengalihkanjpaWdangan|matanya|dari orang-orang yang masih berada di depan regol halaman rumah yang ditinggalkannya itu.

Ketika matahari naik sepenggalah, Tanjung dan perempuan tua itu sudah berada di bulak panjang. Mereka berjalan agak cepat. Langkah-langkah kecil Tanjung membawanya melintasi jalan yang beijalur bekas roda pedati. Disisinya perempuan tua itupun masih mampu berjalan cukup cepat pula.

Meskipun di sebelah menyebelah jalan terdapat pohoh turi yang dapat dipetik bunganya untuk direbus dan dimakan dengan sambal kacang sekaligus sebagai pohon perindang, namun Tanjung masih juga membawa payung bebeknya yang dibuat dari anyaman belarak kering. Dengan payung bebeknya yang lebar. Tanjung melindungi anaknya dari tusukan sinar matahari yang menyusup diantara daun pohon turi yang tumbuh di pinggir jalan.

Ketika matahari menjadi semakin tinggi, Tanjung dan perempuan tua itu harus berhenti. Anak Tanjung itu nampaknya sudah merasa haus. Bukan hanya anak itu yang kehausan. Tetapi Tanjung dan bibi Sumi itupun sudah merasa haus pula.

Karena itu, maka merekapun kemudian singgah di sebuah kedai. Mereka memesan minum dan makan bagi mereka berdua. Sedangkan makan bagi anak Tanjung telah disiapkan bekal dari rumah. Bubur beras dengan gula kelapa.

Seorang perempuan yang juga berada di kedai itu memandang anak Tanjung itu sambil[terseRyum-senyum.Bahkan

kemudian disentuhnya pipi anak itu sambil berdesis — Manisnya anak ini. Gemuk, sehat dan tampan. Siapa namanya, ngger ?_

Tanjung terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia belum pernah memberikan nama pada anaknya. Tiba-tiba saja seseorang bertanya, siapakah namanya.

Beberapa saat Tanjung termangu-mangu. Namun kemudian mulutnya telah menyebut sebuah nama — Namanya Tatag, bibi. —

—         Tatag ? —

—         Ya, bibi. —

—         Ayahnya pandai memilih nama. Kesannya sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Kau tahu artinya tatag, ngger ?

—         Ya. bibi. —

—         Nah, anakmu akan menjadi seorang yang tatag menghadapi gejolak hidupnya,dimasa mendatang. — _

—         Semoga, bibi. Memang itulah yang diharapkannya. —

Perempuan itu mengangguk-angguk. Sekali lagi ia menyentuh anak itu.

—         Ah, sudahlah, aku sudah terlalu lama berhenti disini. Silahkan ngger. Aku sudah akan pamit. —

. Perempuan yang nampaknya seorang yang berkecukupan itupun kemudian memberi isyarat kepada seorang anaklaki-laki remaja, yang kemudian bangkit berdiri dan berjalan menghampirinya — Jalan itu masih panas, ibu. Aku masih malas.—

—         Nanti aku tinggal kau disini — sahut ibunya— aku titipkan kau kepada paman Ima. —

Nampaknya perempuan itu sudah sering singgah di kedai itu, sehingga agaknya ia sudah terbiasa. Perempuan itu sudah dikenal dan mengenal dengan akrab .pemilik kedai itu.

—         Tinggal saja disini, ngger — sahut pemilik kedai itu

— aku ajari kau membuat timus ketela rambat atau membuat leimper ketan serundeng. —

Remaja itu bergayut berpegangan baju ibunya. Tetapi ia tidak menjawab.

—         Tinggal selangkah lagi — berkata perempuan itu kepada anaknya.

Setelah membayar harga makanan dan minumannya, perempuan itupun segera minta diri. Ia masih berpaling kepada Tanjung dan berkata — Ajak Tatag singgah di rumahku. Dekat saja. Hanya beberapa puluh patok dari sini. Disebelah banjar padukuhan.—

—         Terima kasih bibi. Pada kesempatan lain, aku akan singgah bersama Tatag.—

Perempuan dan anaknya yang remaja itupun kemudian meninggalkan kedai itu.

Demikian perempuan itu keluar, pemilik kedai itupun berkata — Ia seorang perempuan yang baik. Keluarganya adalah keluarga yang kaya. Tetapi ia tidak membanggakan kekayaannya. Perempuan itu tidak memilih dengan siapa ia harus bergaul. Tidak hanya dengan orang-orang kaya. Tetapi juga dengan orang-orang kecil seperti aku ini.—

—         Nampak pada wajahnya, bahwa ia seorang yang ramah — sahut Tanjung.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Tanjung dan perempuan yang sudah menjadi seperti ibunya sendiri itupun meninggalkan kedai itu. Mereka berjalan di jalan yang menjadi semakin terik oleh sinar matahari yang sudah berada di puncak langit.

Untunglah bahwa Tanjung membawa payung bebeknya yang lebar, sehingga dengan mengenakan payung bebek itu di kepalanya, maka anaknya tidak kepanasan lagi.

Tiba-tiba bibi Semi itupun bertanya — Darimana kau dapatkan nama itu ?—

—         Entahlah bibi. Tiba-tiba saja.—

—         Nama itu tidak jelek. Arti katanyapun baik. Kau dapat mempergunakannya seterusnya, kecuali tiba-tiba kau menemukan nama yang lebih baik.—

—         Biarlah untuk sementara anakku itu memakai nama Tatag.—

Nyi Semi itupun mengangguk-angguk.

Mereka berhenti di bawah sebatang pohon turi yang berdaun rimbun ketika anak itu menangis. Tanjungpun berusaha untuk menenangkannya. Setelah makan biasanya anak itu menjadi mengantuk dan langsung tidur. Tetapi rupa-rupanya panas yang terik itu membuatnya merasa kurang nyaman.

Angin yang semilir telah menyentuh wajah anak itu sehingga terasa tubuhnya menjadi sedikit segar. Karena itu, maka anak itupun terdiam. Matanya mulai teipejam.

Tanjung mengayun anak itu didalam gendongannya, sehingga beberapa saat kemudian, anak itupun telah tertidur.

Namun sebelum Tanjung meninggalkan tempat itu untuk meneruskan perjalanan, seorang laki-laki tua, berambut ubanan meloncati tanggul parit. Agaknya orang itu baru saja beijalan di pematang.

Dengan nada yang lunak orang tua itu bertanya — Baru saja aku mendengar tangis bayi. Apakah anak ini yang menangis ?—

—         Ya, paman. Anakku baru saja menangis.—

Laki-laki itu mengangguk-angguk. Namun kemudian di pandanginya Nyi Sumi dengan kerut di dahinya. Kemudian dengan nada yang dalam iapun berkata — kau benar-benar lupa kepadaku, yu ?—

—         Kau siapa ?—bertanya Nyi Sumi dengan heran.

—         Kita memang sudah lama sekali berpisah. Tetapi sekilas aku melihatmu, akupun segera mengenalimu. Bukankah kan Yu Sumi ?—

—         Ya. Aku Sumi. Kau siapa ?—

—Kau benar-benar sudah lupa kepadaku ? Aku Mina. Mina itu yu, yang sering mencuri jambu air di kebun belakang rumah Yu Sumi dahulu.—

—         O. Jadi’kaukah itu ? Kau sudah tampak tua sekarang Mina.. Seharusnya kau masih semuda adikku;—

—         Eh. Bukankah Yu Sumi juga sudah kelihatan tua ?—

—         Ya. Aku juga sudah tua.—

—         Darimana siang-siang Yu. Dan siapakah perempuan ini ? Anakmu ?—

—         Ya. Anakku.—

—         Si Mulat ?—

—         Bukan. Namanya Tanjung. Anakku yang bungsu.—

—         Berapa anakmu Yu ?—

—         Dua. Kenapa ?—

Seingatku anakmu hanya seorang.—

—         Bukankah waktu itu kau pergi meninggalkan padukuhan ?—

—         Tetapi waktu itu kang Nala sudah tidak ada ? Aku kira Mulat sudah tidak punya adik lagi.—

—         Aku menikah lagi, Na. Tanjung adalah saudara Mulat tetapi berbeda ayah.—

Mina tersenyum. Laki-laki tua itu mengangguk-angguk. Tetapi Sumi dan Tanjung tidak mengerti, apa yang sedang dipikirkannya.

Uba-tiba saja Sumi itu bertanya — Kenapa kau tiba-tiba saja sekarang ada disini ?—

—         Aku pulang, Yu, Pulang dari sebuah petualangan yang buruk. Aku sudah berada di* rumah. Maksudku rumahku sekarang. Bukan rumahku yang dahulu.—

—         Kau tinggal dimana sekarang ?—

—         Ayah punya sepetak pategalan di tikungan sungai itu, Yu,—

—         Tegal Anyar ?—

—         Ya, yu.—

—         Kau tinggal dengan siapa di pategalan itu ?—

—         Dengan isteriku.—

—         Isterimu, siapa ? Waktu kau pergi, kau belum mempunyai isteri.—

—         Kau tentu belum mengenalnya. Aku mendapatkan seorang isteri di masa pengembaraanku. Ia seorang perempuan yang baik. Setidak-tidaknya menurut pendapatku. —

—         Anakmu berapa, Na ? —

Laki-laki itu menarik nafas panjang. Dengan nada dalam iapun berkata — Kau lebih beruntung dari aku, yu. Kati mempunyai dua orang anak dan kau sudah mulai menimang cucu. Tetapi aku tidak mempunyai seorang anakpun. Tetapi ini bukan salah isteriku. Tetapi salah kami “berdua. —

—         Kau memang harus menerima kenyataan itu, Na. Yang Maha Agunglah yang menentukannya. —

—         Aku mengerti, yu. Nah, jika kau mau singgah di rumahku, maka kau akan bertemu dengan isteriku. —

Tetapi Nyi Sumi itu tersenyum sambil menjawab—Terima kasih, Nah. Lain kali aku akan singgah di rumahmu. Cucuku sudah mulai menangis.—

—         Peijalananmu masih agak jauh, yu. ■—

—         Ah. Tinggal tiga bulak lagi. —

—Tetapi bulaknya panjang-panjang. —

Nyi Sumi itu tertawa.

Namun dalam pada itu, Mina itupun bertanya lagi — Anak itu cucumu bukan, yu ? —

—         Ya. Kenapa ? —

—         Aku mendengar tangisnya. Aku seakan-akan mendengar genderang dan ^sangkakala yang mengiringi sepasukan prajurit segelar sepapan menuju ke medan perang.-—

—         Apa ? Kau dengar tangis cucuku sebagai isyarat perang ? Sebagai isyarat pertumpahan darah dan kematian ? —

—         Tidak, yu. Jangan salah paham. Aku hanya mengatakan bahwa tangis cucumu itu bagaikan genderang dan sangkakala yang mengiringi prajurit segelar sepapan menuju ke medan perang. —

~ Jadi kau hubungkan cucuku dengan perang kan ? Perang itu berarti pertumpahan darah dan kematian. –

—         Tetapi kenapa’ seseorang terdorong untuk pergi berperang ? Tentu ada bermacam-macam alasan. —

—         Apapun alasannya, tetapi perang sejalan dengan penderitaan. —

—         Tetapi sepasukan prajurit ada yang pergi berperang untuk mengurangi penderitaan. Perang yang sejalan dengan penderitaan itu akan berlangsung dalam waktu yang terhitung singkat dibandingkah dengan pederitaan lain yang berkepanjangan dan bahkan tanpa, ada tanda-tanda akan berakhir. Perbudakan penindasan, pertyalah gunaan kekuasaan dan se-bangsanya. Baik dalam lingkungan yang sempit,malipundalam lingkungan yang lebih luas. —

—         Tentu ada cara lain yang dapat ditempuh selain dengan pertumpahan darah dan kematian. —

—         Ya, ya. Aku mengerti, Yu. —

—         Nah, apakah kau masih menghubungkan tangis cucuku dengan suara genderang perang?

Mina tertawa. Katanya — Aku minta Maaf Yu. Sebenarnya aku hanya ingin mengatakan bahwa pada suara tangis cucumu terasa ada getaran gelombang kekuatan melampaui getar kekuatan kebanyakan anak-anak. Tegasnya, cucumu itu membawa pertanda bahwa ia memiliki kelebihan. —

—         Kau mencoba menjadi seorang peramal. —

—         Tidak. Aku tidak meramal. Aku hanya mencoba mengurai isyarat yang dapat aku tangkap. Tetapi entahlah. Apakah aku benar atau salah. —

Nyi Sumi tersenyum. Katanya — Sudahlah. Tetapi aku memperhatikan kata-katamu ini. Mudah-mudahan kau benar

—         Soalnya kemudian, kernana kelebihan, itu diarahkan.

—         Aku mengerti maksudmu. Terima kasih. –

—         Nah, sekarang aku minta kalian singgah sebentar di rumahku. Kalian akan bertemu dengan isteriku.

—         Terima kasih, Mina. Kali ini aku membawa cucuku. Anak itu sudah terlalu lama di perjalanan pagi ini. —

—         Baiklah, Yu. Jika ada kesempatan, biarlah aku bawa isteriku mengunjungimu. Bukankah kau masih tinggal di rumahmu yang dulu. —

—         Ya. Aku tidak kemana-mana. Pergilah ke rumahku. Ajak isterimu. Biarlah ia mengenalku dan mengenal kedua orang anak-anakku. Tetapi kau tentu tidak dapat mengenali Mulat lagi. Ia sekarang juga sudah nampak tua. Hampir setua aku. —

—         Baik, baik. Yu.Kapan-kapan aku akan pergi kerumah-mu. Aku ingin berkenalan dengan ayah cucumu itu. —

Nyi Sumi menarik nafas dalam-dalam. Katanya — Sayang, Na. Ayah cucu ini telah meninggal. Tanjung sudah menjadi janda. Mulat juga sudah menjadi janda. —

—         O — Mina mengangguk-angguk — jadi ada tiga orhng janda di rumahmu. ? —

Mina mengangguk-angguk pula.

—         Sudahlah Mina. Nanti cucuku rewel di jalan. —

—         Baik, baik Yu. Hati-hati dengan anakmu Tanjung. Anak itu merupakan mutiara bagimu.

—- Mutiara atau suara genderang perang ? —

Minta tersenyum. Katanya — Maaf Yu. Aku tidak akan mempergunakan istilah itu lagi. Kecuali jika aku lupa. —

Demikianlah Nyi Sumi dan Tanjungpun melanjutkan perjalanannya. Sementara itu Mina masih berdiri termangu-man-gu memandangi mereka. Diluar sadarnya Minapun berdesis — Siapakah ayah anak itu ? Sayang ia sudah meninggal. Jika saja aku sempat mengenalnya.—

Dalam pada itu, maka panaspun terasa semakin terik. Tanjung menyembunyikan anaknya dibawah payung bebeknya. Meskipun kakinya terasa letih, tetapi Tanjung beijalan terus. Bahkan ia ingin lebih cepat sampai di rumah bibi Sumi.

Bibi Sumi yang tua itu, ternyata masih juga tangkas berjalan. Ia sama sekali tidak kelihat letih. Ia masih saja beijalan di sebelah Tanjung.

Di perjalanan Tanjung sempat menyesali dirinya sendiri. Ternyata ia tidak mengenal perempuan tua itu dengan baik. Ia mengira betapa sempitnya wawasan perempuan yang hampir setiap saat berada di dapur itu. Namun ternyata, apa yang dikatakannya pada saat-saat ia terhimpit oleh keadaan, disepa-”njang jalan, juga’pembicaraannya dengan Mina, seakan-akan telah membuka pintu di dadanya, sehingga Tanjung itu dapat melihat kedalamannya lebih banyak lagi.

—         Sudah tidak begitu jauh lagi, Tanjung — desis Nyi Sumi.

—         Ya, bibi,—

—         Kau letih ?—

—         Tidak, bibi.—

—         Tanjung — berkata Nyi Sumi kemudian dengan nada yang rendah — Mina adalah seorang yang telah lama sekali aku kenal. Ia orang baik menurut pengebalanku dahulu. Tetapi ia dapat mewakili sikap tetangga-tetanggaku. Mereka akan

banyak mencampuri persoalan-persoalan yang sebenarnya terhitung persoalan pribadi. Tetapi mereka tidak bermaksud buruk. Yang mereka lakukan justru sikap seorang yang merasa terikat dalam kehidupan bersama.—

—         Aku mengerti, bibi. Bukankah tetangga-tetangga kita juga berbuat demikian ?—

—         Ya. Tetapi tetangga-tetanggaku adalah orang-orang yang lebih sederhana dari tetangga-tetangga kita selama ini,—

—         Ya, bibi.—

Nyi Sumi terdiam sejenak. Dipandanginya jalan bulak yang panjang, yang terbentang di hadapannya. Jalan bulak yang menusuk diantara kotak-kotak sawah,yang ditumbuhi oleh batang-batang padi yang subur.

Panasnya terasa semakin terik. Tanjung semakin melekatkan payung bebeknya. Anaknya tidak boleh tersentuh panasnya sinar matahari sama sekali.

Namun akhirnya, keduanyapun memasuki sebuah padukuhan yang teihitung besar. Tetapi seperti yang dikatakan Nyi Sumi, nampaknya penghuni padukuhan itu masih dalam tataran yang lebih sederhana dengan tataran kehidupan di padukuhan yang ditinggalkan oleh Tanjung, meskipun tanahnya agaknya tidak kalah suburnya.

Mulat terkejut ketika tiba-tiba saja ia melihat ibunya berdiri di depan pintu rumahnya Sebenarnya rumah bibi Sumi tidak terlalu kecil meskipun sederhana.

—         Ibu — desis Mulat. Seorang perempuan yang seperti kata Nyi Sumi, ujudnya sudah hampir sebaya dengan ibunya itu.

—         Kau mengenal Tanjung, bukan ?—

—         Ya. Marilah, silahkan Nyi.—

—         Terima kasih — desis Tanjung sambil membungkuk hormat. Untuk beberapa saat di pandanginya Mulat dengan

kerut di dahi. Ia sudah pemah mengenalnya. Tetapi agaknya pada hari-hari terakhir, ubannya tumbuh dengan cepat, sehingga Mulat itupun kelihatan begitu cepat tua.

Tanjung dan anaknyapun kemudian mengikut Nyi Sumi masuk ke dalam rumahnya. Tidak ada sebuah pendapa yang khusus. Tetapi Mulat membuat ruang dalam rumahnya tidak tersekat, sehingga ruang itu tetap terbuka. Di sisi dalam dari ruangan itu terdapat tiga buah sentong. Sentong tengah, sentong kiri dan kanan. Disisi sebelah kiri terdapat pintu butulan untuk pergi ke dapur lewat serambi.

Di rumah itu tidak terdapat gandok kiri atau kanan. Tetapi di sebelah sumur di arah kiri bagian belakang rumah terdapat sebuah kandang-kandang kambing.

—         Marilah, Nyi. Silahkan duduk.—

Tanjungpun kemudian duduk di sebuah amben yang agak besar di ruang yang terbuka itu.

—         Tiba-tiba saja ibu pulang. Bahkan bersama dengan Nyi Tanjung.—

—         Nanti aku akan bercerita. Sekarang, kami merasa haus. Kau punya minum ?—

—         Aku akan merebus sebentar, ibu.—

—         Maksudku, justru yang dingin.—

Mulat termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya — Aku membuat wedang sere pagi tadi, ibu. Apakah itu pantas untuk dihidangkan ?—

—         Tentu saja. Sudah aku katakan, kami memerlukan minuman yang dingin. Tidak perlu air wayu sewindu. Tetapi wedang sere yang kau buat tadi pagi itu justru yang paling baik untuk dihidangkan sekarang ini.—

Mulatpun kemudian pergi ke dapur untuk mengambil wedang sere yang sudah menjadi dingin.

Sejak hari itu, Tanjung tinggal di rumah Nyi Sumi. Di sore hari, setelah mereka mandi dan berbenah diri, serta Tatag sudah tidur dan dibaringkan di pembaringan, maka Nyi Sumi, Tanjung dan Mulat, duduk di amben di ruang dalam. Nyi Sum-ipun telah menceriterakan kepada Mulat, lelakon yang dialami oleh Tanjung.

Mulat mendengarkannya dengan penuh perhatian. Sambil mengangguk-angguk Mulatpun kemudian berdesis — Itulah Tanjung. Bahwa kepemilikan benda-benda keduniawian kadang-kadang dapat membuat seseorang kehilangan kiblat hidupnya. Seseorang kebanyakan lebih senang berusaha memenuhi kebutuhan hidup kewadagan di dunia yang fana ini. Mereka melupakah apa yang akari terjadi di alam langgeng. Bahkan kadang-kadang seseorang dengan ringan berbicara tentang hari-hari yang kekal seakan-akan tidak lebih dari sebuah bayangan yang semu. Malahan ada yang menganggapnya sekedar sebagai sebuah lelucon yang dapat mengungkit tawa berkepanjangan. —

Tanjung mengangguk kecil.

—         Aku sependapat dengan kau, Tanjung — berkata Mulat selanjutnya — seperti yang dikatakan oleh ibu, bahwa kau tidak menuntut apapun dalam ujud harta benda keduniawian. Kau akan mendapatkan jauh lebih banyak dari itu. —

—         Ya, mbokayu — jawab Tanjung, yang justru merasa menjadi begitu sempit wawasannya tentang kehidupan.

Di hari-hari berikutnya, Tanjung merasa bahwa ia sudah menjadi luluh didalam keluarga Nyi Sumi. Ia tidak lagi merasa orang lain. Ia menganggap Nyi Sumi seperti ibunya sendiri. Mulatpun telah menjadi kakak perempuannya yang baik, yang berusaha menjaga perasaannya yang sedang terasa sangat lunak dan mudah tersentuh.

Di rumah itu, Tatag juga mendapat perhatian yang cukup.

Nyi Sumi dan Mulat ikut merawatnya dengan baik

Tanjung tidak lagi menyebut Nyi Sumi dengan bibi Tetap, ia menirukan Mulat yang memanggil Nyi Sumi dengan sebutan ibu.

—         Bukankah ibu tidak merasa cemas lagi, bahwa di-antara gigi Tatag akan tumbuh taring?

Nyi Sumi tertawa. Sementara Mulatpun bertanya — Kenapa tumbuh taringnya?_

—         Ibu merasa cemas, bahwa bayi ini adalah anak wewe atau anak genderuwo. —

Mulat tidak hanya tersenyum. Tetapi ia tertawa berkepanjangan. Katanya — Ibu memang sering aneh-aneh. Yang dibayangkan itu justru yang bukan-bukan, yang bahkan lebih condong ke dunia yang lain. —

—         Kau belum pernah mendengar dongeng tentang anak wewe atau genderuwo. —

—         Sudah ibu. Dongeng tentang anak wewe dan anak genderuwo. Tetapi hanya dongeng saja. —

Nyi Sumi mengerutkan dahinya, sementara Mulat masih saja tertawa.

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s