Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

yang terasing

Tinggalkan komentar


Jilid 01-Bab 02 – Goa Pabelan

“He!“ mata Pikatan terbelalak. Namun kemudian ia tertawa Kau memang gadis aneh. Kami tidak sekedar bertamasya ke Goa Pabelan. Kami akan menangkap penjahat2 besar yang berbahaya. Kakak beradik yang memimpin gerombolan penjahat itu adalah orang-orang yang luar biasa. Menurut gambaran yang kami terima, mereka memiliki ilmu yang dahsyat. Karena latihan yang matang, maka jari2 tangannya merupakan senjata yang paling dipercayainya, disamping senjata2nya yang lain. Apakah kau pernah mendengar, bagaimana orang2 di sekitarnya, atau orang2 yang berilmu yang pernah mencoba membinasakan mereka tetapi gagal?. Mereka menyebut kakak beradik itu bertangan baja. Sepasang hantu bertangan baja.“

”Bertangan baja atau bertangan api ?“ bertanya Puranti.

“Eh, ya. Sepasang hantu bertangan api, Derimana kau dengar nama itu?“

“Ayah pernah menyebutnya.“

“Ya. Guru benar, Orang menamakannya sepasang hantu bertangan api, Meskipun tangannya sama sekali tidak dapat menyala atau membara, tetapi tangannya benar2 serupa api. Sentuhan jari2nya dapat menghanguskan kulit. Apalagi pukulannya.“

Puranti mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata “Aku hanya akan melihat dari kejauhan.“

“Puranti“ berkata Pikatan “aku tahu, bahwa kau memiliki ilmu yang cukup, karena ayahmu telah memberimu beberapa petunjuk dan tuntunan tentang tata bela diri. Tetapi untuk pergi ke Goa Pabelan adalah pekerjaan yang sangat berbahaya.“

Puranti tidak menyahut.

“Hanya laki-laki yang mengemban tugas sajalah yang akan pergi kesana. Tanpa tugas dan cita-cita, setiap orang akan segan masuk kedalam liang ular naga yang sangat berbisa. Karena itu, sebaiknya kau menunggui pohon randu alas dipinggir kota itu saja.

“Ah“ Puranti memotong “aku tidak akan mendekat. Aku hanya akan melihat dari kejauhan.“

“Tetapi itu sangat berbahaya. Kau kira, satu dua diantara mereka tidak akan tertarik akan kehadiranmu, kehadiran seorang gadis didekat sebuah goa sarang penjahat? Kalau aku tertangkap, aku adalah seorang laki2. Mungkin aku akan disiksa dan kemudian dibunuh. Tetapi persoalanku segera akan selesai. Berbeda dengan kau Puranti. Kau adalah seorang gadis. Dan penjahat2 itu adalah laki-laki liar dan kasar, Kau dapat membayangkan apa yang dapat terjadi atasmu.“

Memang terasa bulu-bulu kuduk Puranti berdiri. Seandainya Pikatan menyebutkan beberapa macam kelebihan penjahat itu, bahkan ilmu yang mengerikan sekalipun, agaknya Puranti tidak akan takut. Tetapi justru karena Pikatan menunjuk tentang kegadisannyalah, maka terasa seluruh tubuhnya meremang.

Hal 37 sd 44 Hilang

***

“He, apakah kau anak seorang pertapa atau seorang petugas kerajaan barangkali?“

“Apakah hanya para pertapa dan petugas kerajaan saja yang boleh berkata begitu. Apakah hanya para pemimpin agama saja yang harus berbuat baik sedang orang lain dapat berbuat sekehendak hati?“

Anak2 muda itu tertawa semakin keras, sehingga Puranti mengerutkan keningnya.

“Heh, jangan mencoba mempengaruhi kami dengan ceritera khayal yang menjemukan itu.“ seorang diantara mereka berkata sambil melangkah mendekat “kau terlalu cantik untuk berbicara tentang masalah2 rohaniah. justru kau dalam bentuk badaniah itulah yang membuat kami kehilangan akal. Kami tertarik kepadamu bukan karena masalah2 yang pelik dan tidak kami mengerti itu Tetapi kami tertarik karena wadagmu. Karena kau yang tampak dimata kami ini, “

“ltulah sebabnya, maka hidup kalian terbatas pada hidup badani. Hidup jasmaniah yang sangat pendek ini. Kalian sama sekali tidak memandang masa yang panjang sesudah kehidupan wadag, kita ini. Dengan demikian maka hidup diliputi oleh segala macam nafsu badani se-mata2”

“Sudahlah. Terima kasih alas nasehatmu. Kau memang berbakat untuk menjadi seorang pemimpin agama yang baik. Tetapi sayang, kita sekarang tidak berada di tempat ibadah. Kita sekarang berada di-tengah2 hutan meskipun bukan hutan yang lebat. Yang ada hanyalah kau, seorang gadis, eh, apakah kau masih gadis? Selebihnya kami adalah laki2.“

Puranti menarik nafas dalam2. Agaknya anak2 muda itu tidak dapat diajaknya berbicara. Bahkan ke empatnya semakin lama menjadi semakin dekat. Salah seorang dari mereka berkata “Jangan dipikirkan masalah yang tidak kita mengerti sepenuhnya itu. Yang kita mengerti adalah keadaan kita masing2. Tubuh wadag kita ini. Karena itu, marilah kita berbicara tentang wadag yang tampak ini“ anak muda itu tersenyum, lalu “Kau ,memang cantik sekali.“

Terasa seluruh tubuh Puranti meremang. Memang agak lain menghadapi perampok atau penjahat dengan menghadapi anak2 muda yang gila semacam ini.

“Lepaskan pedangmu. Kau akan menjadi semakin cantik. Berpakaianlah seperti seorang perempuan biasa. He, apakah kau orang banci?“

“Sudahlah“ berkata Puranti “aku berterima kasih, bahwa aku sudah kau perbolehkan mengambil airmu. Sekarang aku akan meneruskan perjalanan.“

“He, kau kira aku dapat memberikan air itu begitu saja. Di tempat yang kering ini, air pasti sangat berharga. Sama harganya dengan diri kita masing2. Nah, kau harus membayar air yang telah kau minum.“

“Sudahlah“ berkata Puranti “jangan berbicara tentang air, tentang kita masing2, dan me-ingkar2 begitu. Aku, tahu apa yang kalian maksudkan. Kalian menginginkan aku. Bukankah begitu?”

Pertanyaan yang berterus terang itu benar2 tidak disangka.oleh anak2 muda itu, sehingga dengan demikian mereka justru terdiam sejenak, Mereka berdiri ter-mangu2 dan saling berpandangan sesaat. Dalam pada itu Puranti berkata seterusnya dengan tenang “Maaf, Ki Sanak. Aku masih mempunyai tugas yang banyak sekali. Dan ketahuilah bahwa perbuatan kalian itu telah menyingguug perasaanku. Perasaanku Sebagai seorang gadis, tetapi juga sebagai seorang yang menganggap bahwa anak2 muda seharusnya menjadi pelindung yang baik bagi gadis2. Bukan seperti yang sedang kalian la kukan ini“

Anak2 muda itu masih termenung membeku.
“Selamat tinggal”

Tetapi ketika Puranti bangkit berdiri dan akan melangkahkan kakinya, salah seorang dari mereka mencegahnya “Tunggu. Jangan pergi begitu saja. Kau memang orang aneh bagi kami. Kau datang kemari atas kemauanmu sendiri tanpa kami ikat dan kami sumbat mulutmu seperti biasanya kami lakukan. Dan sekarang kau menghadapi kami begitu tenangnya seperti menghadapi sekelompok anak2 yang baru pandai berjalan. Siapakah sebenarnya kau dan apakah maksudmu ?“

“Kau tidak perlu mengenal aku. Tetapi aku sekarang sudah mengenal kalian. Aku dapat datang kemari setiap saat. Aku dapat menemui ayah ibumu kapan aku mau. Aku dapat membuka rahasia ini kepada orang2 sepadukuhan, dan barangkali pada suatu saat aku dapat menemui seorang perempuan yang pernah menjadi korbanmu.“

“Cukup” anak muda yang tinggi besar berteriak “kau tidak usah menakut-nakuti kami. Sem-la kami memang menganggap kau aneh. Tetapi akhirnya kami: berkesimpulan, bahwa kau adalah seorang gadis yang cantik. Dan itu sudah cukup buat kami, siapapun kau sebenarnya.“

Tetapi jawaban Puranti membuat mereka semakin heran “Terima kasih atas segala pujian. Setiap gadis akan menjadi bangga kalau anak2 muda memujinya sebagai gadis yang cantik. Tetapi selain gadis tentu tidak akan senang diperlakukan dengan kasar dan liar. Kalian mengerti ?“

“Persetan“ geram yang bertubuh kecil “tunduklah kepada kemauan kami.“

“Maaf, aku mempunyai banyak kepentingan. Ingat, kalau kalian tidak mempertimbangkan sikap dan perbuatan, aku dapat berbuat banyak“

“Tetapi kau tidak akan dapat keluar dari halaman ini“ bentak yang gemuk

“Kenapa?“ bertanya Puranti “aku bebas untuk keluar dari halaman rumah mi. Meskipun aku seharusnya minta ijin untuk memasukinya.“

“Tidak, kau tidak dapat pergi“ berkata yang lain lagi. Puranti memandangi mereka sejenak ber-ganti2. Namun kamudian se-olah ia tidak menghiraukannya lagi. Ia berjalan saja dengan tenang menuju ke regol halaman yang terbuat dari bambu wulung yang ungu.

“Tunggu…” anak2 muda itupun kemudian ber-lari2an mengepungnya. Yang tinggi berdiri dihadapan Puranti sambil berkata “Jangan pergi.“

Tetapi Puranti tidak mengacuhkannya, la melangkah terus, meskipun anak muda yang tinggi itu mencoba menghalangnya.

Agaknya ketenangan dan kepercayaan Puranti pada diri sendiri membuat mereka menjadi bingung. Karena Puranti tidak juga berhenti, maka merekalah yang kemudian menyibak. Meskipun demikian, ketika Puranti sudah membelakangi mereka, sekali lagi mereka berlari2an keregol sambil berkata “Tidak ada jalan keluar bagi gadis secantik kau.“

Puranti sama sekali tidak menghiraukannya. Ia berjalan saja dengan tenang dan sama sekali tidak mengacuhkan anak2 muda itu. Sekali lagi perbawa Puranti telah menyibakkan mereka Mereka tidak berbuat apapun juga ketika Puranti lewat diantara mereka.

Anak2 muda itu se-olah2 telah terpesona oleh kekuatan gaib yang terpancar dari ketenangan wajah dan ketajaman tatapan mata Puranti gadis yang cantik itu.

Dengan mulut ternganga mereka memandang Puranti berjalan dijalan setapak didepan regol halaman mereka yang kotor. Mereka melihat sarung pedang yang berjuntai dilambung gadis yang baru saja singgah untuk mengambil air minum. Gadis yang datang sendiri tanpa dicarinya.

“He“ tiba2 yang tinggi kekar berkata “kenapa kita lepaskan gadis itu?“

Kawannya tidak segera menyahut.“Kenapa?“ ia mendesak.

“Gadis itu akan memberitahukan kepada orang tua kita, kepada orang2 sepadukuhan dan kepada anak2 muda yang lain.“

“Ya. orang tua kita akan malu. Kita akan menanggung akibat kemarahan orang2 tua kita dan tetangga2 kita.“

“Omong kosong. Kita dapat membungkamnya untuk selama2nya. Kalau kita tidak memerlukannya lagi, kita dapat membunuhnya.“

“Apakah kau yakin ?“

Anak muda yang tinggi kekar itu mengerutkan keningnya.

“Aku mengerti apa yang dikatakannya.“ berkata yang gemuk.

“Apakah kalian takut melawan gadis yang hanya seorang diri itu meskipun ia membawa pedang?“

Tidak ada yang menjawab. Memang sulit.untuk mengakui didalam hati sekalipun, bahwa mereka segan menghadapi gadis yang memiliki kepercayaan kepada diri sendiri yang begitu tinggi.

“Baiklah“ berkata anak yang tinggi kekar itu “kalau kalian takut, aku sendirilah yang akan menangkapnya. Tetapi ia akan menjadi milikku sendiri pula. Kalian tidak boleh menuntut apapun nanti.“

Kawan2nya masih tetap berdiam diri,

“Lihatlah, aku akan menangkapnya.“ berkata anak muda yang tinggi itu.

Sejenak kemudian iapun berlari-lari menyusul Puranti yang masih tampak dari depan-regol halaman meskipun sudah agak jauh.

“He, gadis manis“ teriak anak muda yang tinggi “tunggu sebentar. Aku ingin berbicara“

Puranti yang mendengar teriakan itu berhenti sejenak.
Ketika ia berpaling dilihatnya seorang di antara, anak2 muda itu menyusulnya dengan ter-gesa2.

“Tunggu“ berkata anak muda itu.

“Apa lagi yang akan kita bicarakan?“ bertanya Purani ketika anak muda itu menjadi semakin dekat “apakah kau memerlukan sesuatu?“

“Aku ingin berbicara sedikit“ sahut anak muda itu.

Puranti menunggu anak muda itu semakin dekat. Tetapi ia tetap waspada karena sorot mata anak muda yang membara itu.

Ternyata dugaan Puranti tidak. salah. Tanpa berkata apapun juga anak muda itu langsung menerkam Puranti.

Puranti tidak menghindar. Dibiarkannya anak muda itu berusaha mencengkam lengannya. Namun sebelum jari2 anak muda itu berhasil menangkap lengan Puranti, tangan Purantilah yang mendahului menangkap tangan anak muda itu. Kemudian memilinnya kebelakang dan menekan punggungnya.

“O, oh“ anak muda yang tidak menyangka sama sekali itu berteriak kesakitan.

“Aku dapat mematahkan tanganmu.“

“Jangan, jangan.“

“Kau tidak dapat melarangku, karena kau sudah menyerang aku lebih dahulu. Aku dapat membuat wajahmu yang tampan ini menjadi cacat sebagai pertanda bahwa kau telah sering melakukan kejahatan tanpa diketahui oleh orang tuamu.“

“Jangan, jangan.“

“Aku tidak peduli.“

“Tunggu, tunggu. Aku berjanji untuk tidak melakukannya lagi”

“Cukup begitu?“

“Dan, dan, aku akan menurut apa perintahmu. Tetapi jangan kau patahkan tanganku dan jangan kau buat aku cacat.“

“Berjanjilah, bahwa kau tidak akan ingkar lagi.“

“Aku berjanji, aku bersumpah.“

“Baik. Aku akan melepaskan kau. Tetapi kau harus bersedia menghentikan segaia perbuatanmu yang terkutuk. Mengembalikan semua benda yang kau timbun, hasil kerjamu yang tidak sesuai dengan peradaban dan tata kehidupan manusia. Kalau kau tidak dapat mengingat lagi, siapakah yang memilikinya, maka kau dapat menyerahkannya kepada para bebahu padukuhan atau Kademanganmu. Harta itu akan bermanfaat bagi masyarakatmu, dan yang masih mungkin akan dikembalikan kepada pemiliknya.“

“Ya, ya.“

“Kau berjanji ?“

“Aku bersumpah.

“Baiklah. Lakukanlah. Ingat, aku akan datang ketempat ini bahkan kepadukuhan kalian. Ketahuilah, aku adalah seorang Senapati dari pasukan khusus dari Kerajaan Demak.“

“He“ mata anak muda itu terbelalak. Meskipun ia belum pernah mendengar bahwa di Demak ada pasukan prajurit yang khusus terdiri dari perempuan2, namun melihat kenyataan itu, ia tidak dapat membantah. Ia benar2 tidak berdaya menghadapi satu saja diantaranya.

“Perempuan ini seorang Senapati“ desisnya didalam hati.

“Pergilah“ berkata Puranti sambil melepaskan tangan anak muda itu sambil mendorongnya.“Ingat, aku akan datang bersama beberapa orang anak buahku. Tergantung kepadamu selama ini. Kalau kau masih melakukannya, dalam bentuk apapun juga, aku tidak akan segan2 membunuh kalian.“

Anak muda yang terdorong itu, ter-huyung2. Kemudian setelah sekali berpaling, iapun segera berjalan ter-gesa2 meninggalkan Puranti.

Puranti masih memandang anak muda itu sejenak. Kemudian kawan2nya yang berdiri di kejauhan. Per-lahan2 ia bergumam “Mudah2an mereka menyadari kesalahan mereka. Pada suatu kesempatan, aku harus memberitahukan kesalahan ini kepada keluarganya, supaya kesesatan mereka tidak menjadi semakin jauh.“

Purantipun kemudian meninggalkan mereka dengan pertanyaan yang tidak terjawab. Kenapa didalam pergaulan manusia beradab,. masih juga ada anak2 muda yang berbuat demikian? Namun Puranti tetap berpengharapan, bahwa pada saatnya anak2 itu, akan menyasali perbuatannya dan menghentikannya.

Meskipun demikian Puranti merasa terganggu juga. Ia harus menebus keterlambatannya. Karena itu, maka ia mempercepat langkahnya. Ia tidak menghiraukan lagi panas yang menyengat tubuhnya.

Matahari semakin lama menjadi semakin rendah. Apabila Puranti menemukan padukuhan, iapun selalu ber-tanya2, manakah jalan yang menuju kesebelah Timur Gunung Merapi.

Tetapi Puranti tidak dapat mencapai tujuannya pada hari itu juga. Ia masih diperjalanan ketika matahari kemudian lenyap dibalik punggung pegunungan.

Meskipun demikian Puranti tidak segara berhenti. Ia masih berjalan beberapa lama, karena ia ingin mendahului kedatangan Pikatan dan kawan2nya.

Tetapi Puranti tidak dapat berjalan terus. Ketika malam menjadi semakin gelap, maka iapun berhenti untuk beristirahat. Seperti kebiasaannya, Puranti memanjat sebatang pohon dam duduk diatas sebatang dahan yang besar.

Sebelum fajar, ia sudah melanjutkan perjalanannya. Ketika ia menjumpai sebuah mata air dipinggir hutan, maka iapun mencuci mukanya dan membasuh tangannya.

“Aku harus mendahului mereka“ desisnya.

Karena itu, maka iapun mempercepat langkahnya. Ia tidak tahu pasti, kapan ia sampai ditempat yang ditujunya, karena ia belum mengetahui letaknya dengan pasti. Tetapi ia dapat menghitung bahwa sedikit lewat tengah hari, ia akan sampai.

Ketika Puranti melewati sebah padukuhan kecil, maka iapun bertanya kembali, apakah jalan yang dilaluinya adalah benar jalan yang menuju ke Randu Putung.

“Apakah kau akan pergi ke Randu Putung ngger?“ bertanya seorang tua berambut putih.

“Ya paman. Aku akan menengok keluargaku yang bertempat tinggal di Randu Putung “

“Seorang diri ?“ Puranti mengangguk.

“Meskipun aku heran melihat kau dengan pakaianmu yang aneh ini ngger, tetapi aku ingin memberimu sedikit peringatan. Jalan ke Randu Putung dari arah ini adalah jalan yang berbahaya. Memang benar, jalan yang kau lalui ini adalah jalan yang menuju ke Randu Putung. Tetapi sebelum kau sampai ke Randu Putung, kau harus rnelampaui daerah sekitar Goa Pabelan.“

Puranti mengerutkan keningnya. Memang jawaban inilah yang, ditunggunya.

“Apakah goa itu berbahaya? Apakah ada binatang buas yang bersarang disana?“

“Jauh lebih berbahaya dari binatang buas ngger.“

“Apa yang ada di dalam goa itu paman ?“

Orang tua itu tar-mangu2 sejenak. Namun, sambil menelan ludahnya ia menggelengkan kepalanya “Tetapi sebaiknya kau mengambil jalan lain. Kembalilah beberapa ratus langkah, kau akan sampai pada sebuah simpang tiga. berbeloklah kekanan. Jalan itu akan sampai juga ke Randu Putung meskipun agak jauh. Barangkali dua kali lipat dari jalan yang kau tempuh sekarang. Tetapi jalan itu jauh lebih aman dari jalan yang kau lalui ini.“

Puranti meng-angguk2kan kepalanya. Tetapi ia menjawab “Bibiku sedang sakit. Aku harus segera sampai ke Randu Putung.“

“Tempuhlah jalan yang paling aman itu.“

“Tetapi aku akan terlambat.“

“Lebih baik terlambat. Kalau kau ambil jalan ini, kemungkinan terbesar, kau tidak akan pernah sampai ka Randu Putung.“

“Aku mengharap, bahwa kemungkinan yang sangat kecil itulah yang akan aku jumpai. Aku akan sangat ber-hati2 dan bersembunyi sampai aku rnelampaui goa yang paman sebutkan itu.“

Tetapi orang tua itu menggelangkan kepalanya “Kalau aku tidak salah lihat, meskipun kau berpakaian seperti itu, tetapi kau adalah seorang perempuan. Apakah yang dapat kau lakukan, kalau kau bertemu dengan salah seorang dari penghuni goa itu? Aku kira, kau akan mengalami bencana yang tidak ada taranya. Pedang dilambungmu itu tidak akan berarti apa-apa bagi mereka.“

“Siapakah mereka itu paman ?“

Orang tua itu menggelangkan kepalanya “Aku harap kau mendengarkan nasehatku. Aku sudah tinggal disini sejak aku kanak-kanak. Aku tahu benar apa yang sudah terjadi disini. Sebelum :goa itu berpenghuni, aku memang sering pergi ke daerah disekitarnya. Tetapi sekarang tidak.“

“Terima kasih atas petunjuk paman.“

“Kembalilah. Kalau kau berjalan terus, aku tidak akan dapat tidur untuk beberapa malam, karena aku akan selalu dibayangi oleh nasibmu yang mengerikan.“

Puranti ter-mangu2 sejanak. Tetapi ia tidak sampai hati menyakiti hati laki2 tua itu. Karena itu maka katanya “Baiklah paman, aku akan kembali. Aku akan mengambil jalan yang paling aman.“

“Bagus. Bagus ngger. Tetapi apakah aku boleh bertanya, siapakah kau sebenarnya, dan kenapa kau berjalan seorang diri dengan pakaian yang aneh?“

“Rumahku jauh sekali paman. Aku berpakaian laki2, supaya perjalananku aman. Kalau aku berpakaian seperti seorang gadis, maka bahaya diparjalanan akan menjadi semakin banyak. Mungkin seorang laki2 yang berpapasan akan menaruh perhatian meskipun aku seorang gadis yang jelek.“

Laki2 itu meng-angguk2kan kepalanya. Siapakah namamu?“ ia bartanya.

Puranti menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia menjawab “Sumi. Namaku Sumi paman.“

Laki2 itu meng-angguk2 dan meng-angguk2. Lalu katanya “Meskipun kau berpakaian seperti seorang laki2, tetapi aku tahu bahwa kau seorang perempuan. Begitu juga agaknya setiap orang yang kau jumpai diparjalanan.“

“Belum tentu paman. Kalau aku tidak berbicara, mungkin paman tidak mengenal aku sebagai seorang perempuan.“

Laki2 itu tidak menyahut. Tetapi keheranan, yang dalam terbayang dimatanya yang cekung.

“Sudahlah paman, aku akan meneruskan perjalanan. Aku akan menempuh jalan yang paman tunjukkan.“

“Hati2 ngger. Hati2lah.“

Purantipun kamudian melangkah kembali. Tetapi ketika ia sampai disebuah tikungan, iapun segera meloncat masuk kedalam semak-semak. Sambil meng-endap2 ia berjalan melintasi orang tua yang masih berdiri dipinggir jalan, dan sama sekali tidak menyangka bahwa Puranti telah melampauinya.

Demikianlah, maka Puranti meneruskan perjalanannya menuju ke Goa Pabelan.

Kini diketahuinya, bahwa goa yang dicarinya itu sudah tidak begitu jauh lagi, sehingga dengau demikian, ia memang harus bar-hati-hati.

Dari ayahnya ia mendapat gambaran tentang Goa Pabelan. Goa yang tersembunyi di sebuah jurang sungai yang curam. Meskipun sungai itu sendiri bukan sungai yang besar, karena aliran airnya yang gemereik diatas bebatuan tidak lebih sedalam mata kaki, tetapi tebing disebelah manyebelah, dan daerah yang jarang dikunjungi orang.

Gerumbul2 perdu yang liar bertebaran disepanjang tanggul yang dibuat oleh alam. Batu2 besar berserakan didasar sungai, maupun diatas tebing. Batu2 yang dilemparkan dari mulut Gunung Merapi di-saat2 gunung itu marah.

Ketika Puranti sampai kedaerah yang mulai berpasir, ia menjadi semakin ber-hati2. Ia harus mencari sebuah gumuk kecil yang berbatu putih ke-hitam2an. Diatas gumuk itu tumbuh pepohonan liar dan batang2 kayu berduri. Diantara pohon2 liar itu terdapat sepotong pohon benda yang sudah tua.

“Kalau pohon benda itu masih ada.“ pesan ayahnya waktu itu “kau dapat mempergunakannya. Daerah disekitar goa itu tampak dari atas pohon benda itu.”

“Apakah ayah pernah memanjat ?“

“Ya“ ayahnya meng-angguk2kan kepalanya “tidak aku sengaja. Sebelum goa itu dihuni oleh perampok2 itu, maka goa itu menjadi tempat untuk manyepi. Goa itu adalah goa yang dalam. Beberapa puluh langkah terdapat ruangan yang agak luas. Seperti telah direncanakan, sebuah lubang menembus sampai keatas permukaan tanah di-sela2 dua buah bukit kecil diatas tebing sungai Sedang lubang yang masuk kedalam, kemudian menukik seperti sumur. Disebuah ruangan sempit dibawah sumur itulah orang-orang yang mempercayainya rnenyepi, mohon berkah dan ber-macam2 kainginan. Selanjutnya tidak seorangpun yang tahu, lubang goa itu akan sampai kemana. Ada yang mengatakan, bahwa Goa Pabelan berhubungan dengan laut Salatan.“

Puranti meng-angguk2kan kepalanya. Ia harus menemukan bukit kecil itu. Dari bukit kecil itu, ia akan dapat melihat, apa yang terjadi disekitar Goa Pabelan yang terletak ditebing yang curam dari sebatang sungai kecil.

Demikianlah, maka semakin dekat, Puranti menjadi semakin ber-hati2. Ia sadar, bahwa yang dihadapi adalah segerombolan orang2 yang sangat berbahaya. Apalagi ketiga pemimpinnya. Dua dari mereka adalah kakak beradik yang mendapat sebutan sepasang hantu bertangan api.

Akhirnya Puranti menemukan tanda2 seperti yang dikatakan ayahnya, bahwa ia sudah berada didekat daerah yang berbahaya, disekitar Goa Pabelan. Beberapa tanda sudah diketemukan. Dan seperti kata ayahnya, daerah itu tidak berpenghuni. Padukuhan yang terakhir ternyata telah dilampauinya. Kini ia Derada didaerah yang tandus, yang tidak lagi dapat dijadikan tanah persawahan.

Namun demikian, batang2 perdu dapat tumbuh dengan liarnya diantara batu2 besar, sebasar kerbau. Batang Malang tumbuh tersebar didaerah yang luas.

Puranti berhenti sejenak. Panas matahari telah membakar tubuhnya. Tetapi ia tidak menghiraukannya. Bahkan ia tidak memperhatikan lagi, bahwa tengah hari telah lewat beberapa lamanya.

Diatas sebuah bukit kecil, dilindungan dedaunan Puranti mengamati daerah sekitarnya. Memang seperti kata ayahnya, bukit2 kecil berserakan disana-sini.

Dada gadis itu menjadi ber-debar2 ketika ia melihat sebatang pohon benda yang besar, diatas sebuah bukit padas yang putih ke-hitam-hitaman.

“Itulah gumuk kecil yang disebut ayah “ berkata Puranti didalam hatinya.

Namun demikian, ia semakin sadar, bahwa ia sudah berada di daerah yang berbahaya. Daerah sepasang hantu bertangan api beserta anak buahnya.

“Mudah2an aku mendahului kakang Pikatan bersama kawan2nya desisnya.

Dengan hati2 Puranti merayap maju. Pepohonan yang rimbun dihadapannya pastilah pepohonan liar yang tumbuh diatas tebing sungai kecil yang curam itu. Sedang goa yang dicarinya berada di tebing itu pula.

Dengan penuh kewaspadaan Puranti berusaha mencapai bukit padas yang ditunjukkan oleh ayahnya. Setiap kali ia berhenti di balik dedaunan. Bukan saja karena ia berlindung dari sengatan terik matahari, tetapi juga berusaha untuk tidak segera diketahui oleh orang lain apabila seseorang berada disekitar tempat itu pula..

Selangkah demi selangkah Puranti maju. Namun lapangan perdu yang kering itu terlampau sepi. Agaknya memang tidak ada seorangpun yang sering datang ketempat itu, sehingga kayu yang berserakan tidak seorangpun yang memungutnya.

Tetapi Puranti ternyata keliru. Setiap kali ada saja tangan2 yang memungut kayu2 kering yang berserakan, meskipun tidak begitu banyak. Mereka bukan pemungut kayu yang menjualnya kepadukuhan untuk memanasi perapian, kadang2 untuk membakar barang pecah belah, tetapi mereka mengambil kayu bakar sekedar untuk keperluan mereka sendiri. Orang2 yang mengambil kayu itu ada lahorang2 yang tinggal di Goa Pabelan.

Namun demikian, langkah Puranti tertegun. Tanpa disengajanya, ketika ia menundukkan kepalanya, dilihatnya bekas telapak kaki seseorang. Meskipun sudah tidak begitu jelas, namun Puranti segera dapat mengenalnya, bahwa daerah ini pernah dikunjungi orang. Tetapi lebih dari itu. Bekas telapak kaki itu telah memberinya peringatan, agar ia sendiri harus ber-hati2 dengan jejaknya.

“Ada juga orang yang sampai ketempat ini” gumam Puryanti. Tetapi iapun segera menyadari, bahwa agaknya orang2 dari Goa Pabelan itulah yang kadang2 mencari kayu bakar sampai ke tempat ini.

“Mustahil kalau ada orang lain“ ia mencoba meyakinkan pendapatnya.

Purantipun kemudian mengambil sebatang ranting dan berdaun lebat. Dengan ranting itu ia berusaha menghapus jejaknya. Meskipun ia maju semakin lambat, namun ia telah berhasil memutuskan arah perjalanannya seandainya ada orang yang mengikuti jejaknya.

Meskipun lambat, akhirnya Puranti berhasil juga mendekati bukit padas putih yang kehitam-hitaman. Dengan hati. yang ber-debar2 iapun kemudian berhenti sejenak, dibawah lindungan bayang2 perdu liar. Matahari rasa2nya menjadi semakin panas. Sedang leher Puranti benar2 terasa kering.

“Haus sekali“ desisnya. Tetapi ia tidak berani pergi ke sungai yang tidak begitu jauh untuk mengambil air, betapapun ia dicengkam oleh perasaan haus.

Sejenak Puranti beristirahat. Kemudian dengan hati2 dan penuh kewaspadaan ia mendaki lereng bukit kecil yang tidak seberapa tinggi. 1

Keinginannya untuk mengetahui, apakah Pikatan dan kawan2-nya sudah datang, tidak dapat di cegahnya lagi, sehingga dengan hati2 ia berusaha untuk berdiri di bagian tertinggi dari bukit kecil itu. Tetapi ia tidak berhasil melihat mulut Goa Pabelan.

“Aku harus memanjat.“

Namun memanjatpun Puranti. tidak berani. Ia tidak tahu, apakah orang2 dimulut goa itu berada di dalam atau di luar goa. Kalau mereka berada diluar, maka mereka akan melihat di kejauhan seseorang yang bukan dari lingkungannya telah memanjat sebatang pohon benda.

“Nanti malam aku akan memanjat“ katanya didalam hati, tetapi segera dijawabnya sendiri “apakah yang dapat aku lihat dimalam hari dari jarak yang sejauh ini?“

Puranti mengerutkan keningnya. Kemudian ia hanya dapat duduk bersandar pohon benda tua itu.

Angin yang sejuk telah menvapu rambutnya. yang kusut. Sehelai2 bergetar menyentuh keningnya. Betapa terik matahari membakar pasir dan batu yang berserakan, namun di bawah bayangan pohon yang rimbun itu, rasa2-nya Puranti seperti dibelai oleh tangan2 yang lembut di masa kanak2.

Tetapi betapapun perasaan kantuk mencengkamnya, namun Puranti tidak ingin tertidur karenanya. Ada dua golongan yang harus diawasinya. Orang2 yang tinggal di Goa Pabelan dan Pikatan bersama kawan2nya. Ia tidak ingin mengganggu atau diganggu oleh kedua pihak itu sebelum ia sendiri memutuskan bahwa waktunya telah tiba. Kalau tidak perlu, maka iapun tidak akan berbuat apa2, selain menjadi seorang penonton.

Tetapi betapa menjemukan sekali. Puranti tidak tahan duduk bersandar sebatang pohon tua tanpa berbuat apa2 sambil menunggu. Bahkan kemudian ia bertanya didalam hatinya “Apakah aku tidak terlambat? Sementara aku menunggu disini, kakang Pikatan dan kawan2nya telah kembali ke kota, atau …“ Puranti mengerutkan keningnya. Tiba2 saja dadanya berdesir. Ia sadar, bahwa orang2 yang tinggal di Goa itu bukan orang kebanyakan. Bukan perampok2 kecil yang terdiri dari anak2 muda yang nakal seperti yang baru saja ditemuinya di perjalanannya. Tetapi perampok2 itu adalah perampok2 yang telah menyerahkan hidup matinya pada pekerjaan terkutuk itu.

“Tidak. Siapapun yang kalah atau menang, tetapi tidak akan dapat selesai dalam waktu yang begitu pendek. Seandainya Pikatan mendahului aku, dan mereka telah terlibat dalam pertempuran dengan orang2 di Goa Pabelan, maka pertempuran itu pasti belum selesai, karena kedua belah pihak mempunyai kelebihannya masing-masing“ Puranti mencoba menenangkan hatinya sendiri.

Meskipun demikian ia masih saja tetap gelisah Per-lahan2 ia berdiri dan melangkah maju menyusup kedalam gerumbul liar yang tumbuh dibukit itu. Dari sela2 dedaunan ia memandang kegerumbul diatas tebing sungai.
Tiba2 dadanya berdesir. la melihat dedaunan yang ber-gerak2. Kemudian ia melihat dua orang tersembul dari balik dedaunan yang ber-gerak2 itu.

Puranti rasa2nya telah membeku di tempatnya. Tanpa sengaja ia telah melihat orang2 yang dicarinya. Menilik sikap dan pakaian mereka, orang2 itu pasti penghuni Goa Pabelan.

“Kemungkinan yang manakah yang telah terjadi?” ia bertanya kepada diri sendiri “apakah Pikatan belum datang, apakah ia dan kawan2nya telah dihancurkan.“ Sekali lagi ia membantah “Seandainya demikian, pasti tidak akan secepat itu.“

Dengan tajamnya Puranti mengamati kedua orang itu. Mereka melangkah dengan segannya diatas pasir yang panas. Sekali2 mereka ineloncat keatas rerumputan yang kering.

Puranti menarik nafas dalam2. Dan akhirnya yakinlah ia bahwa telapak kaki yaag dilihatnya itupun pasti telapak kaki orang2 dari Goa Pabelan yaug sedang mencari kayu bakar. Karena kedua orang itupun kemudian memunguti beberapa batang ranting yang kering.

Dari atas bukit kecil itu Puranti melihat kedua orang itu semakin lama menjadi semakin kecil Kadang2 hilang dibalik gerumbul perdu, namun kemudian dilihatnya lagi berjalan diterik matahari yang menjadi semakin condong ke Barat.

Dada Puranti berdesir ketika ia melihat orang2 itu ter-bungkuk2. Meskipun kedua orang itu tampaknya tidak lebih dari sejengkal, tetapi Puranti dapat melihat bahwa keduanya sedang mengamati sesuatu.
“Jejak kakiku” desis Puranti.

Namun merka berjalan semakin lama semakin jauh sehingga tampaknya mereka menjadi semakin kecil diantara pebukitan dan alam yang luas di sekitar mereka.

Tetapi ternyata Puranti tidak mengetahui bahwa orang itu sebenarnya sedang menelusuri jejak kakinya. Mereka ingin melihat darimana arah kaki itu datang.

Sebenarnya bahwa kedua orang itu melihat bekas kaki Puranti. Tetapi bekas kaki itu seolah-olah menghilang dibalik sebuah gerumbil.

“Bekas kaki anak2 kita yang mencari kayu. Semalam mereka menyalakan perapian” desis salah seorang dari mereka.

Yang lain merenung sejenak. Namun kemudian ia menggeleng “Bukan anak-anak kita”

“Marilah kita libat, kemana jejak. kaki ini pergi”

“Jejak ini mengliilang. Sekarang, marilah kita lihat, dari mana jejak ini datang. Kita akan dapat menentukan, apakahi jejak ini jejak kawan kita.“

Keduanyapun kemudian berjalan menyelusur jejak kaki itu. Semakin lama semakin jauh dari bukit padas putih, tempal Puranti memandang keduanya itu.

“Jejak ini datang dari luar“ desis salah seorang dari keduanya.

“Apakah ada seseorang yang ingin melihat Goa Pabelan?“

“Atau sengaja menyelidiki kita?“

Kawannya merenung sejenak. Tetapi kemudian ia berkata “Tidak. Tidak ada orang yang menaruh perhatian atas kita disini. Atau katakan tidak ada orang yang berani mendekati kita, apalagi dengan niat yang tidak baik. Seandainya orang ini sengaja datang ketempat ini karena kita disini, ia pasti tidak akan datang seorang diri. Jejak kaki ini adalah jejak kaki seseorang saja.“

“Jadi ?“

“Kalau ada orang yang lewat daerah ini. ia pasti seseorang yang tersesat. Atau seseorang yang dengan terpaksa sekali mencari kayu; bakar yang banyak terdapat disini.“

“Dihutan rindang disebelah sungai itupun banyak terdapat kayu bakar.“

“Tetapi potongan2 kayu yang besar. Kalau yang datang anak2 atau perempuan. mereka memerlukan kayu yang kecil dan ringan.“

Kawannya terdiam sejenak. Tetapi terasa sesuatu masih tersangkut dihatinya. Katanya kemudian “Siapapun yang datang. marilah, kita coba menyelidikinya. Mungkin seorang yang tersesat seperti yang kau sangka, dan padanya terdapat sesuatu yang berharga. Bekas ini pasti bekas yang belum terlampau lama.“

“Kita kehilangan jejak kalau kita akan menyusulnya.“

“Kita belum menyelidiki lebih saksama. Mungkin kita belum menemukannya saja, karena jejak itu sudah terturup oleh pasir karena angin yang agak kencang.“

Yang seorang agaknya segan memenuhi ajakan kawannya itu. Karena itu maka katanya “Sudah terlampau jauh. Kita akan kehilangan banyak waktu yang sia-sia.“

Akhirnya yang lainpun mengurungkan niatnya pula “Baiklah. Kita segera kembali membawa kayu bakar. Namun demikian jejak itu merupakan sesuatu yang menarik bagi kita. Mungkin Ki Lurah berpendapat lain dengan jejak itu.“

“Kita akan menyampaikannya.“

Puranti masih memandangi kedua orang itu, .yang kemudian memungut beberapa potong kayu yang berserakan. Kemudian sambil menjinjing kayu kering itu, mereka kembali kearah mereka muncul dari balik gerumbul.
Puranti .menarik nafas dalam2. Ia mengira bahwa persoalan jejak kakinya sudah selesai, sehingga karena itu, maka iapun segera duduk kembali dibawah pohon benda yang rimbun itu.

“Nanti malam aku akan memanjat“ tiba2 ia berdesis “dan aku tidak.akan turun sampai besok pagi. Mereka tidak akan melihat aku dirimbunnya daun benda ini dari jarak yang jauh, tetapi aku akan.dapat melihat lubang Goa Pabelan itu.“

Tanpa sesadarnya Puranti berdiri lagi. Dirabanya batang benda tua yang besar itu. Katanya “Sulit untuk memanjat pohon sebesar ini. Untunglah batangnya yang kasar pasti akan dapat membantu.“

Sambil meraba2 batang benda itu Puranti bergeser mengitarinya. Namun ia terkejut ketika tanpa dikehendaki ia memandang kekejauhan. Tiba2 saja ia melihat beberapa orang tersembul dari balik gerumbul, tepat ditempat kedua orang yang pertama muncul.

“Lima orang“ desis Putanti yang segera berlindung dibalik dedaunan.

Meskipun tidak begitu jelas, tetapi Puranti segera mengenal salah seorang dari mereka. Seperti yang dikatakan ayahnya, salah seorang dari ketiga pemimpin ke lompok perampok itu adalah seorang laki2 jangkung, yang agak ke-kurus2an. Berkumis tebal dan sedikit agak timpang meskipun tidak mengganggu.

Puranti meng-angguk2kan kepalanya.“Pasti orang itulah yang dimaksud ayah. Dari mana ayah mengetahuinya?. Apakah ayah pernah berhubungan dengan mereka?“

Dengan dahi yang berkerut Puranti memandang orang2 yang kemudian berjalan dengan ter-gesa2 itu. Barulah kemudian Puranti menyadari, bahwa ternyata jejak kakinya telah menjadi persoalan bagi orang2 yang menghuni Goa Pabelan itu.

“Hem“ Puranti menarik nafas “mereka menyelediki jejak kaki itu. Untunglah aku cepat menyadari. Tetapi bahwa seseorang telah hadir disekitar Goa Pabelan, pasti akan menarik perhatian mereka. Mungkin mereka akan menyebar orang2nya untuk mecari. Satu atau dua orang dari mereka pasti akan segera datang kemari.“

Tanpa sesadarnya Puranti mengadahkan wajahnya kelangit Matahari yang menjadi semakin rendah melontarkan sinarnya yang mulai ke-merah2an.

”Mudah2an hari segera menjadi gelap“ desisnya.

Dengan dada yang ber-debar2 Puranti memadang orang2 yang terbungkuk2 mengamati jejaknya. Di kejauhan. Agaknya mereka sedang berbincang. Kemudian merekapun berdiri dan berjalan kearah yang berlawanan Yang dua orang berjalan kearah yang berlawanan dari arah jeak kaki itu, sedang yang tiga orang agaknya berusaha menemukan kelanjutan dari jejak itu.

“Kalau ketiga orang itu sampai disini, apaboleh buat“ berkata Puranti kepada diri sendiri. Meskipun ia sadar, bahwa orang2 yang menghuni Goa Pabelan bukanlah orang2 kebanyakan, sehingga untuk melawan dua atau tiga orang sekaligus, pasti harus diperhitungkannya masak2.

“Apa aku harus lari?“ ia bergumam. Tetapi Puranti menggelengkan kepalanya. Katanya “Aku akan tetap disini. Mereka tidak akan sampai. kemari.“

Namun dalam pada itu, tiga orang yang menyelusuri jejaknya, menemukan sesuatu yang menarik perhatian mereka. Mereka melihat sentuhan dedaunan diatas pasir.

“Ha“ berkata orang jangkung berkumis lebat “orang yang bodoh itu berusaha menghapus jejaknya. Lihat, bekas dedaunan yang menyapu pasir ini menuju kearah yang sama dengan bekas telapak kaki yang tiba2 hilang.“

Kedua kawannya meng-angguk2kan kepalanya.

“Cepat, sebelum matahari terbenam.“

Ketiganya berusaha untuk menyelusuri jejak itu lebih cepat. Mereka berjalan beriringan sambil menundukkan kepala.

Kini Puranti benar2 menjadi gelisah. Ternyata orang jangkung itu dapat mengenal, meskipun ia sudah berusaha menghapus jejaknya dengan dedaunan.

Namun kemudian orang yang jangkung dan kedua kawannya berhenti. Langkah yang diikutinya kini sampai keatas batu2 padas yang keras, sehingga terlampau sulit baginya Untuk mengetahui kemanakah perginya jejak yang sedang diselusurinya.

“Tetapi orang itu pergi ke arah ini. Ia pasti berada disekitar pebukitan ini.“

Kedua kawan2nya masih meng-angguk2kan kepalanya.
Tetapi hampir berbareng ketiganya memandang matahari yang sudah bertengger dipunggung gunung, sehingga orang jangkung itu berkata “Sebentar lagi hari akan menjadi gelap. Sediakan obor kita akan mencari terus.“

Kedua orang kawannya itupun kemudian mencari ranting2 kecil. Segenggam ranting2 kecil itu pun kemudian diikatnya dengan lulur kayu yang dipatahkannya dari sebatang perdu.

Melihat hal itu Puranti sadar bahwa mereka akan mencari terus, meskipun sebentar lagi malam akan turun.

“Tetapi mereka tidak akan dapat menemukan aku disini. Jejak itu akan benar2 tidak dapat dicari lagi diatas padas yang keras. Apalagi malam hari“

Namun dalam pada itu, orang yang jangkung Itu berkata “ Kita cari sampai kita menemukan nya. Kita daki semua bukit2 kecil disekitar tempat ini. Hanya orang yang mempunyai niat sesuatu sa-jalah yang dengan sadar mendekati daerah Goa Pabelan. Ternyata orang yang kita cari adalah orang yang mengerti, bahwa kita ada disekitar tempat ini. Ternyata orang itu sudah berusaha untuk meng hapus jejaknya.“

Demikianlah, maka peneaha rian’ itupun segera dimulai. Mereka sudah tidak mempunyai pegan gan arah lagi. karena mereka tidak dapat menemukan jejak kaki

Ketiga orang itupun kemudian hilang dari pandangan mata Puranti karena ketiganya kemudian menyusup gerumbul2 dan berjalan dibalik pebukitan.

Selagi Puranti mencoba menilai keadaan, ia melihat dua orang yang lain telah kembali pula. Ag aknya mereka mendapat perintah yang sama pula. Mencari sampai ketemu.

Puranti yang menjadi semakin ber-debar2 hanya dapat menunggu apa yang akan terjadi. Namun ia kini menjadi semakin was-pada. Orang yang jangkung dan agak timpang itu dapat saja, tiba2 muneul dihadapan atau dibelakang nya, karena ia tidak dapat menga-wasinya. Demikian juga kedua or ang yang lainpun segera hilang pula dibalik gerumbul dan pebukitan yang semakin dekat.

Dengan sepenuh kewaspadaan Puranti terpaksa bersembunyi didalam semak2 diatas^bukit padas putih yang ke-hitam2an. Dalam pada itu ia berdoa, agar matahari segera terbenam sebelum orang yang mencarinya sampai ketempat itu.

Per-lahan2 matahari turun kebalik bukit. Sinarnya yang ke-merah2an masih menyangkut diujung pepohonan yang tinggi. Namun kemudian se-olah2 terbang hinggap dibibir awan putih yang mengalir dilangit oleh angin senja yang lembut.

Hati Puranti semakin lama menjadi semakin dingin. Bukan saja kerena udara menjadi bertambah sejuk tetapi per-lahan2 pula malam yang hitam mulai turun diatas pebukitan kecil disekitar Goa Pabelan.

Tetapi hatinya yang dingin itu mulai tergetar lagi ketika ia kemudian melihat warna merah tersembul diantara lekuk pebukitan kecil itu. Segera Puranti mengetahui, bahwa warna itu adalah warna api. obor orang2 yang sedang mencarinya. Dua orang dan orang yang jangkung itu. Namun demikian, Puranti justru mengetahui dimana mereka kini berada.

Kecemasannya kembali merayapi hatinya, karena Puranti melihat cahaya obor itu berjalan kcarahnya. Apalagi sejenak kemudian obor yang lainpun telah menyala pula. Obor dari dua orang kawan mereka yang memisahkan diri. Ternyata kedua obor yang jaraknya tidak begitu jauh itu, sama2 menuju ke ternpatnya bersembunyi.

“Mereka menuju kemari “ desis Puranti.

Ada niatnya untuk poigi bersembunyi menjauhi obor2 itu. Tetapi niatnya diurungkannya. Bahkan kemudian ia rneraba2 pehon benda itu sambil berdesis “Aku akan bersembunyi dibalik daunmu yang rindang. Kau harus menolong aku. Bukankah kau tidak berkeberatan.“
Puranti menepuk batang tua itu, kemudian setelah membenahi pakaiannya dan melekatkan pedangnya ditubuhnya, ia mulai memanjat. Seandainya ada orang yang melihatnya, maka tidak akan menduganya bahwa yang sedang memanjat itu adalah seorang gadis. Ternyata Puranti benar2 cekatan.

Obor itupun semakin lama menjadi semakin dekat. Tetapi agak nya mereka tidak mau memanjat bukit2 kecil. Mereka berjalan di-sela2 bukit dan gerumbul.

Sejenak kemudian Puranti telah duduk diatas sebatang dahan yang besar. la kini merasa telah terlindung dari cahaya obor itu seandainya orang2 itu mencarinya sampai ke bukit kecil ini.

“Aku tidak mengira bahwa penghuni Goa Pabelan adalah orang2 yang bodoh. Dengan obor itu, maka orang yang dicarinya akan dapat menyembunyikan dirinya sebelum ia mendekat

Tetapi alangkah terkejut gadis itu, ketika ia mendengar bunyi gemerisik dibawah pohon benda itu. Karena itu, maka Purantipun segera menelungkup, melekatkan diri pada dahan yang besar itu.

Dada gadis itu menjadi berdebar2 ketika ia melihat sebatang pohon benda yang besar, diatas sebuah bukit yang putih kehitam-hitaman.

Dengan matanya yang tajam, Puranti berhasil melihat dua orang yang kini berdiri dibawah pohon benda itu. Dua orang yang bersenjata telanjang.

“Disinipun tidak ada“ desis salah seorang dari mereka.

“Ya, kita sudah mengelilingi daerah ini. Agaknya orang itu sudah jauh. Orang itu hanyalah sekedar lewat. Ketika ia sadar bahwa daerah ini daerah yaug mereka anggap berbahaya, maka iapun baru mencoba menghapus jejaknya“

“Memang mungkin demikian.“

“Kalau begitu, marilah kita kembali.“ Sejenak tidak ada jawaban.

“Apakah kita masih akan mencari terus ?“

“Aku kira tidak. Tetapi pengawasan didaerah ini harus diperkuat. Mungkin jejak itu jejak orang lewat, tetapi mungkin pula bukan sekedar orang yang tersesat”

“Ya. Kita akan mengirim pengawas.“

“Kenapa kita ?“

“Maksudku, kita akan menganjurkan kepada Ki Lurah.“ Tidak terdengar jawaban.

“Marilah.“ Keduanyapun kemudian meninggalkan bukit padas itu.

Setelah Puranti tidak mendengar apapun lagi, barulah ia menarik nafas dalam2. Katanya didalam hati “Ternyata bukan mereka yang bodoh, teiapi aku. Agaknya sengaja mereka memasang obor itu, agar orang yang mereka cari menyangka, bahwa orang yang mencarinya “berada bersama obor itu. Tetapi ternyata orang yang lain telah, memisahkan diri, dan mencari dengan teliti di dalam kegelapan

Tetapi Puranti tidak berani segera turun. Meskipun malam semakin gelap, tetapi masih ada kemungkinan, orang2 yang mencarinya datang kembali. Karena itu, maka ia memutuskan, untuk tetap berada diatas pohon itu. Biarlah aku tetap disini. Besok seharian aku juga harus tetap berada disini.

Puranti menelan ludahuya. Perasaan haus mulai mengganggunya lagi.

“Tidak ada kesempatan me ncari air.“ katanya didalam hati
Namun lehernya benar2 terasa kering. Ia tidak terpengaruh sekali oleh perasaan lapar. Ia telah membiasakan diri untuk tidak makan dua hari dua malam. Bahkan lebih. Tetapi ia tidak dapat menahan haus selama itu.

Tetapi kali ini Puranti tetap bertengger diatas dahan. Dicoba-nya melupakan perasaan hausuya dengan membuat gambaran2 tentang isi Goa Pabelan dan tentang kedatangan Pikatan.

Puranti menarik nafas dalam2. Perasaan haus itu memang sangat mengganggu.

“Malam masih panjang. Aku masih mempunyai kesempatan untuk turun kesungai itu“ desisnya. Tetapi ia menyesal bahwa ia telah lengah. sehingga penghuni Goa Pabelan itu melihat jejaknya. Dengan demikian mereka menjadi semakin ber-hati2 dan seperti yang sudah didengarnya, pengawasan di daerah ini akan diperketat.

“Tetapi daerah ini cukup luas untuk menyisipkan tubuh ini.“ Puranti mengerutkan keningnya. Akhirnya ia berkata kepada diri sendiri “ Aku tidak mau mati kehausan disini.“

Dengan hati2 Puranti terpaksa turun. Sejenak ia berjongkok dibawah pohon benda itu. Dicobanya untuk menangkap setiap getaran di sekitarnya, kalau2 ia mendengar desah nafas. Tetapi malam terlampau sepi, yang didengarnya hanyalah derik bilalang di rerumputan liar.

Namun hatinya berdesir ketika ia mendengar dikejauhan, seekor harimau mengaum menyobek sepinya malam. Kemudian malam menjadi serasa bertambah sepi.

Per-lahan2 Puranti bergeser. Ia harus sangat ber-hati2. Tangannya bahkan selalu melekat dihulu pedangnya. Bahaya setiap saat dapat menerkamnya di daerah yang tidak begitu dikenalnya ini. Mungkin bahaya itu datang dari orang2 yang tinggal di Goa Pabelan. Tetapi mungkin juga binatang buas yang kini tengah mengintainya.

“Tetapi aku haus sekali.“ desisnya.

Maka dengan penuh kewaspadaan, ia merayap dari gerumbul yang satu ke gerumbul yang lain. Ia berusaha menjauhi Goa Pabelan, Sebelum ia turun ditebing yang curam untuk mencari air. Perasaan haus yang tajam serasa telah melukai kerongkongannya.

Meskipun Puranti bergeser per-lahan2 sekali, tetapi lambat laun ia berhasil sampai kepinggir jurang yang curam. Dimalm yang gelap, ia tidak segera dapat melihat dasar dari jurang itu.

Tetapi tebing sungai itu banyak ber-batu2. Batu2 hitam dan batu2 padas, juga gerumbul2 perdu, sehingga bagi Puranti, batu2 Itu bagaikan anak tangga yang dapat membantunya turun kedasar.
Akhirnya Puranti berhasil juga menjejakkan kakinya diatas pasir. Sejenak ia berdiri ter-mangu2. Ia masih harus waspada. Di sekitarnya berserakan batu2 sebesar gubug. Meskipun dalam ke-adaannya se-hari2 sungai ini tidak begitu basar, tetapi pernah pada suatu saat lahar yang tumpah dari Gunung Merapi menyelusuri jurang ini menghanyutkan batu2 raksasa itu dan ditinggalkannya berserakan disepanjang tubuh sungai ini.

Namun dengan demikian, sungai ini memberikan kemungkinan yang baik sekali bagi Puranti untuk mendekati Goa Pabelan apabila dikahendaki. Ia dapat bersembunyi dibalik batu2 sebesar gubug itu.

Tetapi Puranti menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau mengganggu rencana sepasukan calon prajurit. Kalau penghuni goa Pabelan itu mengetahui kehadirannya, maka mereka pasti akan menyiapkan diri untuk menyongsong kemungkinan2 yang lain yang mereka perkirakan akan datang pula.

Karena itu, Puranti sama sekali tidak barhasrat untuk mendahului mengusik serigala2 yang bersembunyi disarangnya itu. Seperti niatnya semula, ia ingin mencari belik dipinggir sungai itu, karena ia tidak dapat menahan haus.

Akhirnya, Puranti menemukan juga. Setelah membersihkan mata air itu dari rerumputan kering yang mengambang, maka ia mulai membuat sebuah lubang di-batu2 kerikil yang bertebaran Dengan kedua telapak tangannya ia mengambil air dari sela2 batu kerikil itu. Sedikit demi sedikit.

Puranti menarik nafas dalam2. Meskipun ia sadar, bahwa air itu tidak terlampau bersih, tetapi apaboleh buat ia sudah berusaha menyaringnya dengan karikil2 yang berserakan ditepian, bercampur baur dengan pasir yang basah.

Selagi Puranti masih berjongkok diatas pasir, tiba2 ia mendengar sesuatu. Ia mendengar desir kaki diatas pasir tepian.

Dengan tangkasnya Puranti meloncat surut. Kemudian berjongkok dibalik sebuah batu yang besar, yang berada bebera jengkal saja dari tebing, sehingga ia seakan-akan ia menyisip antaranya.

Suara desis kaki itu semakin lama menjadi semakin dekat. Bukan desir kaki seorang saja. Tetapi beberapa orang. Sehingga karena itu, Puranti telah menahan nafasnya.
Dadanya menjadi ber-debar2 ketika ia mendengar salah seorang dari orang2 yang lewat ditepian itu berkata perlahan-lahan “ Kita sudah dekat dengan Goa Pabelan.“

“Ya, kita harus ber-hati2 “ sahut yang lain.

“Apakah kita masih akan maju lagi ?“

“Kita akan maju beberapa langkah.“

Sejenak mereka berdiam diri. Tetapi langkah kaki mereka masih terdengar.

“Apbila kita mendengar isyarat itu, kita akan segera me-nyerang.“

Tidak ada jawaban.

Sementara itu Puranti mencoba menjengukkan kepalanya. Di dalam keremangan malam ia melihat tiga sosok bayangan yang berjalan menyelusur sungai. Sekali2 mereka berhenti dibalik bebatuan. Kemudian dengan hati2 mereka maju lagi.

Sifat ingin tahu Puranti telah menyala pula dihatinya. Ia tidak membiarkan mereka lewat. Sambil me-runduk2 ia berjalan berjingkat mengikuti ketiga orang itu.

“Kita akan datang dari empat arah “ berkata salah seorang dari mereka.

“Siapakah yang akan turun dari atas tebing tepat diatas goa itu?“ ‘

“Pemimpin kita. Prajurit itu bersama anak muda yang bernama Pikatan.“

Puranti mengerutkan keningnya. Kini ia tahu, orang-orang itu adalah sekelompok calon prajurit yang datang bersama kakaknya dari Demak. Ternyata ia berhasil mendahului mereka, yang agaknya baru saja tiba. Namun mereka telah membagi diri dan mengepung Goa Pabelan dari beberapa jurusan.

“Pasti ada yang datang dari arah yang lain disepanjang sungai ini “ berkata Puranti didalam hatinya “ kemudian ada yang datang dari hadapan goa itu, selebihnya akan turun dari alas tebing, langsung kemulut goa. Dan orang itu adalah Pikatan bersama pemimpin mereka.“
Dalam pada itu orang2 itu berbisik diantara mereka seterusmya “Anak muda yang bernama Pikatan itu memang mempunyai beberapa kelebihan dari kita. Sebenarnya ia tidak memerlukan pendadaran lagi. Kalau ia mengalami cidera didalam pendadaran semacam ini, sayang sekah.“

“Peraturan yang berlaku itu harus dilaksanakan. Semua
orang yang ingin menjadi seorang prajurit memang harus melalui pendadaran, supaya prajurit Demak benar2 merupakan prajurit pilihan.“

”Seperti kita?“ desis yang lain.

Ketiganya tertawa. Tetapi suaranya segera tertahan ketika salah seorang dari mereka berkata “Kita berada dimulut buaya. Jangan lengah. Kita menunggu isyarat.“

“Tidak malam ini. Tetapi besok, apabila fajar telah me-nyingsing.“

“Tetapi siapa tahu, salah seorang penghuni goa ini melihat kehadiran kita. Bukankah jika demikian, menurut prajurit itu. kita harus segera melakukan serangan tanpa menunggu besok apabila fajar menyingsing ?“

“Itu akan lebih baik. Kita akan segera bertempur, sehingga kita tidak terlalu lama disiksa oleh kegelisahan menunggu.“

Tidak ada jawaban. Namun kawannya yang lain kemudian berkata “ Kita menunggu disini. Aku akan berbaring diatas batu ini.“

“Jangan diatas batu. Kau akan segera terlihat oleh seseorang. Kalau kau ingin berbaring, berbaringlah diatas batu2 kerikil itu.“

“O“ dan orang itu tidak menunggu lagi. Per-lahan2 ia melangkah menepi. Kemudian ia membaringkan dirinya diatas batu-batu kerikil yang berserakan meskipun agak basah.

“Kita menunggu perkembangan “ desisnya. Kawannya, kemudian mendekatinya. Merekapun kemudian duduk pula diatas kerikil2 itu. Namun salah seorang dari mereka berkata “Tetapi jangan lengah. Kita harus bertempur, bukan menyerahkan leher kita untuk dipancung.“

Yang lain terdiam. Tetapi yang dua orang diantara mereka tetap duduk sambil meagawasi keadaan.

“He“ berkata salah seorang dari mereka “kau akan benar2 tertidur.“

“Aku memang akan tidur”

“Kalau terjadi sesualu, kau akan terkejut.“

“Bangunkan aku.”

“Kalau kami tidak sempat?“

“Aku akan bungun sendiri.“

Puranti yang mendengar pembicaraan itu mengangkat alisnya. Ada juga calon prajurit yang begitu “tenang menghadapi tugas yang berbahaya. Ia masih juga sempat memikirkan untuk tidur sejenak.

Ketika Puranti menjenguk mereka sekali lagi, ia melihat yang dua diantara mereka. selain yang berbaring, kini telah duduk bersandar batu. Agaknya merekapun merasa lelah dan ngantuk. Tetapi mereka berusaha untuk tidak tertidur karena mereka telah berada dilingkungan Goa Pabelan.

Purantilah yang kemudian menjadi kebingungan. Apakah ia akan tetap berada di dasar jurang itu dan menyaksikan pertempuran yang akan terjadi dari dekat? Tetapi jika dengan demikian Pikatan melihatnya, maka hal itu pasti akan mempengaruhinya. Mungkin ia tidak dapat memusatkan pikirannya pada lawan yang sedang dihadapinya. Apalagi apabila satu dua orang penghuni goa itu melihatnya dan menyerangnya.

“Aku akan menjadi penonton “ katanya “aku tidak mau mengganggu Pikatan. sehingga ia lebih memikirkan aku daripada tugasnya. Meskipun ia belum seorang prajurit, tetapi ia sedang mengemban tugas negara yang tidak dapat dikesampingkan untuk melakukan pekerjaan lain. Melindungi aku misalnya.“

Karena itu, maka Puranti memutuskan untuk kembali keatas bukit padas putih ke-hitam2an itu. Ia akan kembali memanjat pohon benda itu, dan akan melihat apa yang terjadi besok dari sebatang dahan yang besar pada pohon itu.

Per-lahan2 Puranti beringsut dari tempatnya. Dan hati2 ia memanjat tebing beberapa langkah dari orang2 yang sedang beristirahat itu. Puranti berusaha agar orang2 itu tidak dapat melihatnya. Karena itu. ia merayap dibalik bebatuan dan pohon2 perdu yang tumbuh di tebing sungai.

Gadis yang kemudian berhasil bertengger lagi diatas sebatang dahan pohon benda di bukit kecil itupun menarik nafas dalam2. Ia merasa lapang ketika ia sudah berada kembali ditempatnya bersembunyi. Kini ia tinggal menunggu apa yang akan terjadi. Dari tempatnya ia akan menyaksikan suatu perkelahian yang pasti sangat seru.
Namun demikian, ia masih juga selalu dirayapi oleh kebimbangan. Ia tahu betapa berbahayanya penghuni Goa Pabelan itu. Meskipun ia tahu pula, bahwa Pikatan mempunyai cukup bekal untuk menghadapi orang2 di Goa Pabelan, tetapi apabila kawan2-nya tidak memiliki kemampuan yang seimbang, maka Purantilah yang akan memikul sebagian besar dari tugas itu.

“Sedikitnya harus ada dua orang yang berilmu cukup diantara mereka. Yang seorang kakang Pikatan, dan mudah2an yang seorang prajurit yang memimpin kelompok kecil itu.“ berkata Puranti kemudian kepada dirinya sendiri. Namun kemudian “Tetapi masih ada seorang lagi. Jangkung yang timpang tu.“

Puranti mencoba untuk menyisihkan kegelisahannya. Ia masih mempunyai waktu untuk beristirahat.

“Mudah2an pertempuran itu terjadi besok. Kalau karena sesuatu hal mereka bertempur malam ini, aku terpaksa mendekati mereka.“

Tetapi hampir semalam tidak terjadi sesuatu. Meskipun Puranti kadang2 terlena juga diatas dahan benda tua itu. namun seandainya terjadi sesuatu, ia pasti juga mendengar isyarat2 yang terlontar dari keduabelah pihak.

Dada gadis itu menjadi ber-debar2 ketika dilihatnya warna merah. sudah membayang. Sebentar lagi fajar akan menyingsing. Dengan demikian, didasar sungai yang sepi itu akan segera berkobar pertempuran yang seru.

“Ternyata orang2 Goa Pabelan tidak keluar dari goa mereka semalam, setelah mereka gagal menemukan orang yang meninggalkan jejak.“ Berkata Puranti kepada diri sendiri.

Sebenarnyalah bahwa orang2 goa Pabelan tidak berusaha mencari terus. Mereka menyangka bahwa jejak kaki yang hanya seorang itu, pasti tidak akan mempunyai akibat yang berat bagi mereka. Meskipun demikian, orang di Goa Pabelan itu tidak lengah. Mereka menempatkan beberapa orang untuk ber-jaga2 diluar goa, sehingga apabila ada orang2 yang mendekati goa itu, mereka akan
dapat melihatnya dan memberikan isyarat kepada mereka yang ada didalam. Dengan demikian, mereka yang ada di dalam goa itu, tidak akan mengalami bencana karena mereka tidak sempat keluar dari goanya.

Dalam pada itu, bintang2 di langit bergeser terus kebarat. Dan cahaya merah di Timur menjadi semakin jelas.
Meskipun Puranti bukan termasuk mereka yang akan menangkap penjahat2 yang bersembunyi di Goa Pabelan itu, namun iapun membenahi pakaiannya. Sambil bertenggoi diatas dahan, ia berdiri. Dikeraskannya ikat pinggang kulitnya yang khusus dibuat oleh ayahnya untukpya. Dibetulkannya rambutnya yang disanggulnya tinggi2, agar apabila terjadi sesuatu, rambulnya tidak terurai dan mengganggunya. Bahkan kemudian ditariknya pedangnya. Di-amat2inya, se-olah2 ia ingin meyakinkan, apakah pedang itu sudah siap pula untuk bertempur apabila dlperlukan.

Terasa debar jantungnya menjadi semakin eepat. Se-akan2 ia ikut serta berada diambang pintu Goa Pabelan.
Lambat laun, matanya yang tajam berhasil menembus kere-gan fajar, yang semakin lama justru menjadi semakin terang,

Batu2 yang berserakan sudah mulai tampak, dan dedaunan yang hijau ditanggul sungaipun menjadi semakin jelas.
Terbayang dirongga mata Puranti, disaat itu, Pikatan dan kawan-kawannya sedang merayap mendekati mulut Goa Pabelan yang masih belum dapat dilihatnya karena kabut yang tipis didalam jurang curam itu.

Dada Puranti berdesir ketika tiba2 saja ia mendengar teriakan nyaring. Bukan oleh dari orang2 yang datang dari Demak, tetapi justru suara orang yang menghuni Goa Pabelan itu sendiri.

“Awas, kita terkepung.“
“He “ suara itu menggema menyelusuri jurang.
“Kita terkepung. Bersiaplah menghadapi orang2 yang menghantar nyawanya ini.“

Puranti masih berdiri diatas dahan. Ketika kabut yang tipis
Itu mulai menguak, maka per-lahan2 seperti tersembul dari balik tabir yang putih, ia mulai melihat sebuah lubang goa di tebing yang curam itu

“Itulah Goa Pabelan.“ desisnya.
Meskipun belum begitu jelas, tetapi Puranti melihat beberapa orang ber-lari2an keluar dari goa itu dengan senjata ditangan masing-masing.

“Hem“ Puranti menarik nafas dalam2 “agaknya ada seseorang yang lebih dahulu melihat kehadiran calon2 prajurit dari Demak itu.“

Ternyata baru sejenak kemudian Puranti mendengar isyarat yang diperdengarkan oleh calon2 prajurit itu. Seperti suara seruling yang melengking tinggi. Sejenak kemudian suara itu disahut oleh suara sending yang lain dalam nada yang panjang dan datar

“Mereka akan segera mulai“ desis Puranti
Kini Puranti berdiri tegak diatas sebatang dahan yang besar bersandar batang benda itu. Dari tempatnya ia dapat melibat dengan jelas, apa yang akan terjadi di depan mulut Goa Pabelan, bahkan apa yang akan terjadi didasar jurang disekitar goa itu.

Sambil menyilangkan tangan di dadanya, Puranti memandang keadaan yang terhampar disekelilingnya. Gumuk2 kecil. pasir dan batu. Gerumbul2 liar dipinggir jurang dan mulut goa yang disebut Goa Pabelan.

Jantungnya menjadi semakin cepat mengalir ketika ia melihat. dari beberapa arah, calon2 prajurit Demak ber-lari2an mendekati mulut goa itu, yang sejenak kemudian kedua belah pihak sudah saling bertemu dan bertempur diantara bebatuan didasar jurang.

Puranti mengerutkan keningnya ketika ia melihat jumlah yang kurang sepadan. Justru calon prajurit dari Demak itu masih belum genap sepuluh orang. Tiga orang dari samping kanan, tiga dari kiri dan tiga lagi dari depan. Mereka se-akan2 meluncur saja turun pada tebing yang curam itu.

Namun sejenak kemudian Puranti menarik nafas dalam2. Dilihatnya seutas tali terjulur tepat diatas goa itu. Kemudian beberapa orang meluncur turun langsung berdiri dimuka mulut goa yang berada ditebing sungai.

Diantara mereka adalah seorang, yang mengenakan pakaian seorang prajurit, dan yang lain, meskipun dari kejauhan, Puranti yakin, bahwa ia adalah Pikatan.
Dengan demikian Puranti mengetahui, bahwa inti dari pasukan kecil itu adalah mereka yang turun langsung kemulut Goa Pabelan.

Dalam pada itu, ketika mereka sudah berada dimulut goa, merekapun segera harus memilih lawan. Beberapa orang calon prajurit yang lain harus bertempur melawan penghuni goa itu, yang segera menyerang mereka. Diantara penghuni goa yang kemudian menghadapi para penyerangnya adalah dua orang kakak beradik. Keduanya itulah yang disebut hantu bertangan api.

Ternyata prajurit yang memimpin pasukan kecil itulah yang mendapat tugas untuk menghadapi salah seorang dari keduanya, sedang yang lain, diserahkan kepada calon prajurit yang mendapat kepercayaan tertinggi. Orang itu adalah Pikatan.

Sejenak kemudian lembah sungai yang curam itu telah digetarkan oleh suara tertawa hantu bertangan api itu. Yang tertua diantara mereka berdiri bertolak pinggang menghadapi Pikatan yang datang mendekalinya.

“He, anak dungu. Siapakah yang menyuruh kalian datang kemari?“

Pikatan tidak segera menjawab. Dipandanginya hantu itu dari ujung kepala sampai keujung kakinya. Ternyata orang itu sama sekali tidak seperti yang dibayangkan. Hantu bertangan api itu sama sekali tidak seperti hantu. Wajahnya bersih dan matanya terang. Rambutnya terpelihara rapi. Agaknya ia tidak sempat mempergunakan ikat kepalanya, sehingga ikat kepalanya itu hanya dilingkarkan saja dilehernya.

Tetapi seperti kata orang, hantu itu memang bertubuh tinggi kekar. Berbulu lebat di dadanya yang terbuka.

“Kenapa kau datang kemari bersama prajurit itu?“ bertanya hantu itu pula.

Pikatan tidak segera menyahut pertanyaan itu. Bahkan ia bertanya “Kaukah yang disebut hantu bertangan api?“

Orang itu tersenyum. Jawabnya “Ya. Akulah yang sering disebut orang Hantu bertangan api. Tetapi sudah tentu hanya orang yang tidak waras sajalah yang menyebutnya demikian. Tanganku tidak ada bedanya dengan tanganmu, dengan tangan setiap orang.“

Pikatan mengerutkan keningnya. Ketika ia mencoba memandang kawan2nya, sebagian terbesar dari mereka telah terlibat didalam perkelahian.

“Siapakah sebenarnya namamu ?“ bertanya Pikatan.

“Aku tidak ingin menyebutkan namaku yang sebenarnya. Ibuku sampai saat ini masih hidup. Aku lari daripadanya beberapa puluh tahun yang lalu. Kalau ia mendengar namaku, dan apalagi mengetahui bahwa akulah yang memimpin perampok di Goa Pabelan bersama adikku, alangkah menderitanya hati orang tua itu. Karena itu, sebut saja aku dengan nama apa saja yang kau sukai. Gendon, Entung atau Setan Alas atau apa saja. Aku juga tidak berkeberatan kau memanggilku Hantu bertangan api, meskipun itu menggelikan sekali, se-olah2 tanganku mempunyai nilai lain dari kebanyakan tangan manusia.“

Pikatan tercengang sejenak. Ternyata penjahat berwajah bersih ini dapat juga bersikap rendah hati.

“Siapakah yang mengirimkan kalian kemari?” bertanya Hantu bertangan api itu kemudian.

“Aku datang atas kehendakku sendiri. Aku ingin menangkap kau dan anak buahmu. Tetapi menilik sikapmu, kau dapat juga diajak berbicara dengan baik. Apakah kau pernah mempertimbangkan untuk menghentikan kugiatan ini ?“

Hantu bertangan api yang tua itu menggeleng “Tidak“ katanya.

Pikatan menarik nafas dalam2. Kemudian katanya sambil berpaling “Lihat, semuanya sudah mulai bertempur Menilik perhitunganku, ada kelebihan sedikii dipihakku”

“Kelebihan jumlah tidak berpengaruh” jawab pimpinan penjahat itu.

“Cobalah berpikir, apakah gunanya kau merampok, merampas kekayaan dan menimbunnya disini?, kau tidak pernah sempat mempergunakannya. Kau tidak pernah menikmati arti hidup yang sebenarnya dan nilai barang2 hasil rampokanmu itu, kau selalu gelisah dan cemas setiap saat”

Tetapi hantu itu tertawa “Kau salah, aku dapat mempergunakan harta benda itu untuk kepentinganku dan anak buahku. Setiap kali bergiliran mempergunakannya kekota. Apakah kau sangka aku selalu bersembunyi di goa ini?”

“Tetapi kau selalu dibayangi oleh kecernasan. Sebenarnya kau dapat memilih dunia yang Iain. Kau pasti pernah mendengar bahwa armada Demak pernah. dikirim untuk mengusir orang2 asing yang mulai menyentuh perairan kita? Kenapa kau tidak berminat untuk menyertainya sebagai seorang prajurit. Atau apa yang kini sedang dilakukan oleh Demak. Mengikat kesatuan yang tampak mulai retak karena beberapa pihak yang mementingikan diri sendiri. Dalam keadaan itu kau masih juga ikut menggaaggu ketenangan dan ketentraman negeri yang sama2 kita bangun untuk kepentingan bersama ini.“

Tetapi Hantu bertangan api itu justru tertawa sedemikian keras Katanya “Kau memang bodoh anak muda. Kau sangka bahwa nasihatmu itu bermanfaat“ namun tiba2 wajah Hantu itu menjadi tegang, ”Jangan kau ulangi. Kata2mu sangat menyakiti hatiku. Aku tidak mau mendengarnya lagi. Aku adalah seorang penjahat. Aku seorang perampok. Dan itu aku sadari.“

Pikatan mengerutkan keningnya. Justru ia melihat didalam sudut hati Hantu itu yang paling dalam tersembunyi suatu pengakuan. Maka katanya “Kau silau melihat tingkah lakumu sendiri. Kau segan berkisar dari jalan yang sudah terlanjur kau tempuh, meskipun sebenarnya kau melihat noda yang melekat didalam dirimu sendiri. Apalagi, apakah kau tidak pernah merindukan ibumu yang dimasa kecilmu mengasuhmu, memeliharamu.“

“Cukup, cukup.“ Hantu itu menggeram. Lalu “ Lihat, pertempuran menjadi bertambah sengit. Kau jangan banyak berbicara. Adikku yang juga disebut Hantu bertangan api sudah bertempur melawan prajurit itu. Sekarang bagaimana dengan kau?“

“Bagiku sudah jelas. Akulah yang bertanya kepadamu, bagaimana kau?“

“Tutup mulutmu“ Hantu bertangan api itu berteriak. Ber bareng dengan itu, tanpa ancang2 hantu itu mulai menyerang Pikatan. Tetapi Pikatan memang sudah siap menghadapi setiap kemungkinan, sehingga karena itu, maka iapun dengan cepatnya menghindari serangan yang pertama itu. Sambil meloncat kesamping ia berputar setengah lingkaran. Demikian Hantu itu meluncur disampingnya, Pikatanpun dengan tangkasnya telah melontarkan kakinya kelambung lawannya.

Tetapi hantu itu benar2 mampu bergerak cepat. Ia masih sempat menggeliat sambil memukul kaki Pikatan kesamping. Namun Pikatan segera menarik serangannya. Dengan cepatnya ia meloncat maju. Tangannya terjulur lurus keleher Hantu bertangan api.

Serangan itu benar2 mengejutkan. Pikatan ternyata mampu bergerak demikian cepatnya. Sekali lagi Hantu itu tidak dapat menghindari sepenuhnya. Dengan tangannya sekali lagi ia mencoba menangkis serangan Pikatan. Tetapi sekali lagi Pikatanpun menarik tangangannya sebelum tangan Hantu itu menyentuhnya. Ia sadar bahwa kekuatan Hantu itu se-akan terpusat ditangannya, sehingga orang menyebutnya bertangan api

Demikianlah, maka Pikatan dan orang disebut Hantu bertangan api itu bertempur semakin seru. Di halaman yang sempit itu pula prajurit yang memimpin sedang pasukan kecil itu sedang bertempur pula melawan hantu yang muda.

Dibawah, didasar jurang itu, diantara bebatuan dan di tengah-tengah sungai yang mengalir gemerieik diatas batu-batu kerikil, beberapa anak buah Hantu bertangan api itu bertempur melawan para prajurit yang sedang mengalami pendadaran. Pendadaran yang cukup berat. Mereka harus benar2 harus bertempur mempertahankan nyawa. Kalau gagal, maka merekapun akan akan benar-benar mati terbunuh sebelum mereka dapat diterima menjadi seoran prajurit.

Tetapi jumlah yang lebih besar agaknya telah memperingan tugas mereka. Dua orang bersama-sama menghasapi perampok tingi jangkung yang timpang itu. Namun ternyata, orang itupun memilki kemampuan yang tinggi, sehingga meskipun ia harus melawan dua orang sekaligus, namun ia masih juga dapat tertawa, sambil membusungkan dadanya ia berkata “Kenapa kalian tersesat kemari anak-anak manis. Sayang, bahwa kau tidak akan dapat keluar dari lembah ini bersama dengan tubuhmu.“

Tidak ada yang sempat menjawab, kedua lawannya bertempur dengan gigihnya.

Ditempat yang lain, pertempuran terjadi dengan sengitnya. Satu dua orang calon prajurit Demak yang tidak mendapat lawan, segera bergabung dengan kawan-kawannya yang lemah.

Demikian pula yang mereka lakukan saat itu. Tidak seorangpun dari calon prajurit itu yang tidak terkejut menghadapi kawanan para perampok sedemikian kasarnya, sedemikian liar. Sambil bertempur mereka ber-teriak2, meng-umpat2 dengan kata-kata yang kasar, liar dan kotor. Sementara senjata mereka berputaran mengerikan.

Jenis2 senjata para perampok itupun sangat membingungkan, Ada yang bersenjata pedang, golok panjang, parang dan senjata yang sering dijumpai oleh calon2 prajurit itu. Tetapi ada diantaranya yang mempergunakan senjata2 yang aneh. Bola besi berantai besi yang panjang dan berujung runcing seperti pisau terkait seperti duri pandan. Sepasang bindi berduri dan yang lebih membingungkan adalah pisau2 kecil yang mereka lontarkan dari jarak yang belum terjangkau oleh senjata2 jarak

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s