Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

yang terasing

Tinggalkan komentar


Pikatan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ditatapnya sejenak wajah Puranti yang tegang.
Ketika tatapan mata mereka bertemu, terasa dada keduanya berdesir tajam. Pikatan merasa bahwa ia telah diselamatkan olehnya, namun sekaligus, perasaan malu yang tiada taranya telah mencengkamnya. Harga dirinya sebagai seorang laki-laki benar-btear telah tersinggung, karena justru Purantilah yang telah melindunginya. Bukan sebaliknya seperti yang seliap kali dikatakannya.

Kiai Pucang Tunggal yang bijaksana, seakan-akan dapat membaea perasaan anak muda itu. Karena itu, maka katanya “Pikatan. Jangan hiraukan apa yang sudah terjadi. Akulah yang telah berbuat untukmu, karena aku tahu, bahwa kau tidak akan mampu melawan kedua orang lawanmu itu. Tetapi sudah tentu tidak sepantasnya aku turun ke arena. Karena itu, aku suruh Puranti menjadi wadag perkelahian, dan aku mengamatinya dari kejauhan”
Pikatan menarik nafas dalam-dalam. Luka di pundaknya terasa semakin pedih menggigit tulangnya.

“Kalau keadaanmu sudah berangsur baik, kita akan segera kembali ke Gajah Mungkur. Kau akan mendapat perawatan sampai luka-lukamu sembuh”

Pikatan tidak segera menjawab. Terasa dadanya menjadi semakin bergejolak.
“Tenangkanlah hatimu“

Tetapi jawab Pikatan telah mengejutkan gurunya “Terima kasih guru. Ternyata aku adalah orang yang tidak berharga sama sekali. Aku sudah mengecewakan pimpinan prajurit Demak, karena aku gagal didalam pendadaran ini. Tetapi terlebih-lebih lagi, aku sudah gagal menjunjung narna perguruanku. Bahkan aku telah di selamatkan oleh seorang gadis yang selama ini aku anggap sebagai adikku yang harus aku lindungi”

“Jangan pikirkau yang bukan-bukan. Sekarang kau terluka. Kau harus mendapat kesembuhan dahulu, sebelum kau menentukan sikap apapun juga”

Tetapi Pikatan menggelengkan kepalanya “Biarkan aku menebus segala kekecewaan itu. Tinggalkan aku disini guru. Pada suatu saat aku akan menghadap guru dan mempersembahkan kemenangan yang kini lepas dari tanganku”

“Kau salah Pikatan” jawab gurunya ”aku tidak pernah mengatakan kepadamu, bahwa ilmu yang kau dapat itu adalah ilmu yang tidak ada duanya didunia. Dan aku tidak pernah mengajarmu untuk mengingkari kenyataan. Kalau kau merasa bahwa. kau tidak akan terkalahkan, maka itu adalah kekalahanmu yang pertama. Selagi kita masih bernama manusia, maka kita pasti masih mempunyai kelemahan-kelemahan. Orang yang ingkar akan kelemahan-kelemahan ini adalah orang yang tidak percaya kepada kekuatan yang sempurna. Sumber dari semua kekuatan, Dan sumber itu hanyalah satu. ALLAH Swt. Tidak ada yang lain”
Pikatan tidak segera menjawab. Tetapi setiap kali ia menahan sakit dipundaknya.

“Apakah kau mengerti Pikatan?“

“Aku mengerti guru“ jawab Pikatan ”meskipun demikian apapun yang datang dari Sumber yang Tunggal. itu tidak akan datang dengan sendirinya, seperti air hujan yang turun dari langit. Kita diwajibkan berusaha seperti yang guru katakan. Dan aku akan berusaha”

“Ya. Kita harus berusaha, Tetapi kita harus berdiri diatas kenyataan ini. Kau sedang terluka parah. Nah, apakah kau akan ingkar bahwa lukamu ini dapat membahayakan jiwamu?“

“Aku akan menanggungnya guru”

“Apakah bedanya dengan suatu tindakan membunuh diri?“ Pikatan tidak dapat menjawab. Karena itu, iapun terdiam. Namun tampak membayang diwajahnya, hatinya yang sedang bertolak.

“Aku mengerti perasaanmu. tetapi agaknya kau keliru. Kau lebih menghargai dirimu sendiri. Kau harus yakin bahwa Allah itu Maha pemurah dan Maha Penyayang”

Pikatan masih tetap berdiam diri. ta mencoba mengerti kata-kata gurunya, meskipun sekali-sekali dadanya masih juga bergetar mengingat kegagalan yang hampir mutlak itu”

“Kalau tubuhmu terasa segar, marilah, aku akan menolongmu berjalan, Sebaiknya kau kembali kepada pasukanmu yang sudah hampir lumpuh sama sekali itu. Tetapi aku berharap bahwa sebagian dari mereka tidak benar-benar terbunuh. Mereka agaknya hanya terluka parah. Kalau aku mendapat kesempatan, barangkali aku dapat membantu memperingan penderitaan mereka itu”

Pikatan tidak dapat menolak lagi, ditolong oleh gurunya, perlahan-lahan ia bangkit. Meskipun pundaknya masih terasa sangat sakit, tetapi ia berusaha juga berjalan, bergantung pada pundak gurunya.

Meskipun melihat bentuk lahiriahnya, gurunya sudah menjelang tua, tetapi ternyata tubuhnya masih kuat. Tampaknya Kiai Pucang Tunggal dari Gajah Mungkur itu sama sekali lidak mengalami kesulitan apapun, memapah Pikatan berjalan kembali kemulut Goa Pabelan”

“Pikatan“ berkata gurunya “bau darah telah memanggil burung-burung itu. Kalau kau pingsan diantara mereka, maka burung-burung itu tidak akan memberimu kesempatan untuk sadar kembali”

Tanpa sesadarnya Pikatan menengadahkan wajahnya. Dilihatnya beberapa ekor burung hitam pekat berterbangan diudara berputar-putar diatas mulut Goa Pabelan.

Tanpa disadarinya, dadanya tergetar. Burung-burung yang buas itu akan dapat membunuhnya selagi ia pingsan. Paruh yang tajam akan. Menyobek bekas lukanya itu menjadi semakin lebar, kemudian membelah dadanya dan mengorek isi perutnya.

Beberapa langkah, kemudian, merekapun segera sampai pula di depan mulut Goa Pabelan. Mereka segera melihat prajurit yang memimpin pasukan kecil itu berusaha mengumpulkan anak buahnya yang masih hidup, meskipun terluka parah.

Ketika ia melihat Pikatan dipapah Kiai Pucang Tunggal, maka iapun menyongsongnya sambil bertanya “Darimana kau Pikatan?

“Aku tadi haus sekali. Aku berusaha mencari belik untuk minum. Tetapi aku menjadi pingsan”
Pemimpin pasukan kecil itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawaban Pikatan memang masuk akal. Air belik kecil memang lebih bersih dari air sungai, sehingga karena itu, ia tidak bertanya lagi kepadanya. Yang dipandanginya kemudian adalah Kiai Pucang Tunggal yang memapah Pikatan.

“Siapakah kau, Ki Sanak? “ ia bertanya.

“Aku sedang mencari kayu bakar, tuan“ jawab Pucang Tunggal “aku menemukan anak muda ini sedang pingsan. Aku mencobanya menitikkan air di bibirnya. Dan iapun kemudian dapat sadar kembali”

“Terima kasih“ jawab pemimpin pasukan itu “ia adalah. seorang calon prajurit yang uar biasa. Ternyata ia memiliki kemampuan bukan saja melampaui kawan-kawannya, calon-calon prajurit yang lain, tetapi ia mempunyai kemampuan melampaui prajurit yang sudah lama bertugas”

“Ah“ Pikatan menyahut “tidak. Ternyata aku telah gagal”

“Jangan pikirkan“ potong Puranti “sekarang, bagaimana dengan kawan-kawanmu yang terluka lainnya”

Pemimpin pasukan itu mengerutkan keningnya. Ia tidak segera menemukan pemecahan, bagaimana mengurus kawan-kawannya yang terluka itu. Adalah tidak mungkin ia membawa mereka kembali ke kota dalam keadaan serupa itu”

Selagi pemimpin pasukan kecil itu termangu-mangu, maka Puranti berkata “Apakah tuan. tidak berkeberatan apabila aku pergi ke padukuhan terdekat, minta bantuan kepada penghuninya, agar mereka bersedia menolong kita dan memberikan tempat untuk sekedar menumpang dan bersama-sama mengubur mayat-mayat yang berserakan ini?“

“Aku akan berusaha, apabila mungkin, membawa mayat kawan-kawanku kembali ke Demak” jawab prajurit itu.

“Maksudku mayat para penghuni Goa Pabelan ini” Pemimpin prajurit itu berpikir sejenak, lalu “Aku sangat berterima kasih atas segala bantuanmu”

Puranti menggelengkan kepalanya, jawabnya “Aku sekedar melakukan kuwajibanku”
Tetapi, apakah ada seseorang yang akan bersedia membantu kita“

“Aku akan berusaha”

Pikatan hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ketika Kiai Pucang Tunggal meletakkannya diatas sebuah batu, maka Pikatanpun segera menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Pucang Tunggal tidak mengatakan apa-apa kepadanya. Ia tahu benar, apakah yang sedang bergolak didalam hati ariak muda itu. Kegagalannya dan kehadiran Puranti agaknya telah sangat menyinggung perasaannya. Apalagi luka dipundaknya adalah termasuk luka yang berat, meskipun tidak membahayakan jiwanya.

Ternyata bahwa Puranti benar-benar telah meninggalkan mereka pergi, kepadukuhan yang terdekat. Dengan segala usaha ia meyakinkan orang-orang di padukuhan itu, apa yang telah terjadi di Goa Pabelan.

Ternyata Puranti menemui banyak kesulitan. Orang-orang di padukuhan terdekat tidak segera dapat mempercayainya. Bahkan salah seorang dari. mereka berkata “Tetapi, apakah kau bukan dari lingkungan mereka?“

“Tentu bukan. Kalau aku orang yang tinggal di Goa Pabelan, apakah keuntunganku minta pertolongan kalian? Katakanlah aku akan menjebak kalian, apakah gunanya? Kalau aku penghuni Goa Pabelan dan ingin membunuh kalian, kami tidak usah membohongi kalian dengan dalih apapun. Tetapi kami akan datang kemari dan berbuat apa saja sesuka hati kami” Puranti berhenti sejenak. lalu “percayalah, bahwa aku mohon bantuan kalian atas nama pimpinan prajurit Demak”

Orang-orang padukuhan itu masih saja ragu-ragu. Namun akhirnya mereka tidak dapat menolak lagi. Seandainya orang perempuan yang membawa pedang itu orang yang menghuni Goa Pabelan. maka menolak permintaannyapun akan berarti bancana bagi padukuhan itu.
Demikianlah maka beberapa orang dari pedukuhan itu telah mengikuti Puranti. Dan merekapun menemui kenyataan, bahwa mereka benar-benar telah membantu tugas prajurit dari Demak yang telah membinasakan sebagian terbesar dari penghuni Goa Pabelan.

Dalam pada itu, para calon prajurit yang terlukapun mendapat tempat pula diantara. penduduk padukuhan kecil yang hidup dalam keadaan sederhana, Namun justru demikian, mereka telah berbuat sebaik-baiknya bagi para calon prajurit itu.

Untuk menyelesaikan semua masalah, pengiriman kembali para calon prajurit yang gugur, dan pengawalan orang-orang yang terluka, maka pemimpin prajurit itu minta agar Puranti bersedia mermnggui para prajurit yang terluka untuk satu hari. Prajurit itu sendiri akan segera pergi ke Demak dan membawa segala peralatan yang diperIukan untuk mengambil semuanya itu.

“Aku memerlukan seekor kuda“ desisnya “supaya aku cepat kembali dan membawa korban-korban itu kembali ke Demak.

Puranti mengerutkan keningnya. Memang ngeri sekali menunggui orang-orang yang terluka dan beberapa sosok mayat yang berbaring berjajar-jajar diamben yang besar.
Tetapi apabila tertunda sehari saja, maka keadaan itu akan menjadi semakin buruk.
Karena itu, maka puranti tidak dapat berbuat lain. Ketika ia memandang ayahnya, orang tua itu menganggukkan kepalanya.

“Baiklah“ berkata Puranti “pergilah. Tetapi tuan harus cepat kembali. Kalau besok pagi tuan belum kembali, maka kami akan menguburkan mayat-mayat ini“

“Aku akan segera kembali. Berhasil atau tidak berhasil mendapatkan bantuan untuk kepentingan itu. Prajurit yang memimpin pasukan kecil itupun segera berusaha untuk mendapatkan seekor kuda. Adalah sulit sekali didalam padukuhan kecil itu. Tetapi untunglah, bahwa ada juga seseorang yang memiliki seekor kuda meskipun tidak begitu tegar. Tetapi meskipun demikian kuda itu akan dapat mempercepat perjalanan.

Sepeninggal prajurit itu, Puranti dan Kiai Pucang Tunggal telah berusaha merawat mereka yang terluka sebaik-baiknya. Bukan saja Pikatan, tetapi setiap orang mendapat perawatan dan pengobatan sementara.

Tetapi seperti yang dikatakan oleh Kiai Pucang Tunggal, bahwa persoalan Goa Pabelan itu pasti masih akan berkepanjangan, Hantu Bertangan Api yang muda itu pasti akan segera menemui gurunya dan mengatakan apa yang sudah terjadi.

Kiai Pucang Tunggal dan Puranti tidak perlu menunggu terlampau lama. Ketika kemudian malam datang menyelubungi padukuhan kecil didekat Goa Pabelan itu, maka dua orang berjalan tergesa-gesa mendekatinya. Mereka telah mencium usaha para calon prajurit itu, untuk merawat diri sementara dipadukuhan kecil itu. Seorang anak buahnya yang lolos sempat mengintipnya dan kejauhan.

“Kita harus membinasakan semuanya“ berkata Hantu yang muda itu kepada gurunya.

“Siapakah yang akan dapat menghindarkan dirinya?“ gurunya menggeram “orang-orang yang sombong itu akan menyesal. Tetapi perempuan yang kau katakan itu menumbuhkan pertanyaan bagiku. Jarang sekali, atau bahkan belum pernah aku dengar bahwa ada seorang perempuan yang memiliki kemampuan demikian tinggi. Yang sanggup melawan kakakmu sekaligus dengan pembantunya yang timpang itu”

“Itulah guru. Kegagalan kami sebagian terbesar karena perempuan itu”

“Jadi menurut pertimbanganmu ada tiga orang yang harus mendapat perhatian. Perempuan itu, orang yang mula-mula berkelahi melawan kakakmu tetapi kemudian ia justru terluka dan seorang prajurit. Begitu?“

Hantu yang muda itu mengangguk “Ya guru. Tetapi laki-laki yang telah terluka itu aku kira sudah tidak akan dapat berbuat banyak”

Gurunya mengangguk-anggukkan kepalanya ”Jadi dua orang saja?“

“Ya”

“Kita akan segera selesai”

Hantu yang muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tangannya sudah gemetar oleh nafsu dendamnya yang melonjak sampai keubun-ubun “Namun demikian ia masih juga sempat berpikir “Perempuan itu rupanya cukup cantik juga“

Demikianlah keduanya tanpa ragu-ragu langsung pergi keahalaman rumah yang telah dipinjam oleh para calon prajurit untuk sekedar beristirahat.

Tanpa ragu-ragu Hantu Bertangan Api yang muda segera berteriak dari halaman “He, orang-orang yang gila. Sekarang kalian akan menyesal, bahwa kalian telah datang ke Goa Pabelan”
Semua. orang yang ada didalam rumah itu mendengar suara yang bagaikan petir yang meledak diatas bumbungan atap. Dada mereka berdesir tajam dan jantung mereka serasa berdentangan. Dalam keadaan itu, mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa. Satu-Satunya orang yang akan dapat bertempur melawan para penjahat itu tinggallah perempuan yang sebenarnya bukan termasuk didalam pasukan kecil itu. Apalagi pemimpin mereka pada saat itu sedang pergi ke Demak.

Para calon prajurit yang terluka itu saling berpandangan sejenak. Sebelum ada seseorang yang dapat menjawab, suara diluar sudah terdengar lagi “Kedatangan kami kali ini ingin menebus kekelahan kami, Nyawa kawan-kawan kami, apalagi nyawa kakakku itu. nilainya adalah seratus kali lipat dari nyawa kalian. Dengan demikian. maka kalian semuanya akan kami binasakan dengan cara kami untuk memberikan sedikit imbangan dari kesombongan kalian”

Para calon prajurit yang ada didalam rumah itu sama sekali tidak dapat berbuat apapun juga. Mereka yang berhati tabah, hanya dapat pasrah diri, karena mereka tidak lagi mempunyai kekuatan untuk melawan. Namun tangan mereka masih juga meraba senjata masing-masing sambil berbaring di amben. Sedang mereka yang hatinya telah susut oleh kengerian melihat perkelahian yang telah terjadi, mulai menggigil ketakutan.

Pikatan yang duduk bersandar dinding mengerutkan keningnya. Ditatapnya Puranti yang duduk disisi ayahnya, Kiai Pucang Tunggal. Ada suatu ketenangan yang menyiram dadanya, justru karena gurunya ada. Tetapi sekali lagi merasa dihentakkan oleh nilai harga dirinya yang seakan-akan, terlempar ketempat sampah.

Karena itu, Pikatan sama sekali tidak berbuat apapun juga. Ia tahu, bahwa dalam keadaan yang memaksa, gurunya pasti tidak akan tinggal diam. Namun demikian masih tergantung juga siapakah yang datang. Pikatanpun sudah menduga, bahwa Hantu berrtangan api yang muda itu pasti datang bersama gurunya.

Puranti sendiri masih belum beranjak dari tempatnya. Sekilas ia memandang wajah ayahnya yang sedikit berubah. Oleh cahaya lampu yang redup, Puranti melihat dahi orang tua itu berkerut.

“Mereka datang “ desis Kiai Pucang Tunggal.

“Ya. Agaknya mereka telah datang” sahut Puranti sambil bertanya “apakah menurut dugaan ayah, mereka datang bersama gurunya?”

“Mungkin sekali. Hantu yang muda itu sempat naik kegunung Merapi. Disanalah gurunya tinggal. Dilereng-lereng Gunung Merapi itu“

Puranti mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Itulah agaknya mereka memilih tempat ini. Tempat yang tidak begitu jauh dari padepokan gurunya”

Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apakah kita akan keluar ayah?“

Ayahnya tidak segera menjawab. Sekilas dipandanginya wajah Pikatan yang tertunduk. Namun kemudian kepalanyapun terangguk-angguk lemah.

Purantipun berpaling sejenak pula. Tetapi ia tidak ingin beradu pandang dengan Pikatan. Ia sadar, bahwa perasaan Pikatan sedang tertekan karenanya.
Sejenak kemudian iapun telah berdiri. Dibenahinya pakaiannya dan dirabanya hulu pedangnya.

“Aku akan keluar ayah”

“Marilah“ berkata ayahnya. Namun Kiai Pucang Tunggal masih juga berkata kepada Pikatan “aku akan melihat siapakah prang yang ada dihalaman itu”
Pikatan mengangkat wajahnya. Wajah itu terangguk kecil, dan terdengar suaranya lirih “Silahkanlah guru”

“Tetapi Pikatan tidak memandang lagi gurunya yang berjalan dibelakang Puranti menuju kepintu depan. Sejenak kemudian pintu itupun berderit. Purantilah yang pertama-tama melangkah keluar.

“Ha, kau masih ada disini“ berkata Hantu Bertangan Api yang muda ”aku memang memerlukan kau. Dimanakah prajurit itu?”

“Untuk apa kau mencarinya?“ bertanya Puranti.

“Pertanyaanmu aneh. Aku datang untuk membinasakan kalian”

“Apakah kau tahu akibatnya?“ Hantu yang muda itu tidak segera menyahut.

“Kalau kau bunuh prajurit itu, maka apakah kau akan berani melawan kekuasaan Demak? Itu berarti bahwa kalian telah memberontak, tidak sekedar melakukan kejahatan. Tetapi telah melakukan pengkhianatan”

Sejenak Hantu yang muda itu terdiam. Namun kemudian ia berkata “Apapun yang kami lakukan, kami memang sudah berhadapan dengan kekuasaan Demak. Kami akui, bahwa pada suatu saat kami tidak akan dapat menghadapi sepasukan prajurit pilihan. Tetapi ada kelebihan kami dari prajurit pilihan itu. Kami dapat bersembunyi di goa-goa dan di padukuhan-padukuhan terpencil.”

“Tidak akan ada sejengkal tanahpun yang akan lolos dari pengamatan prajurit Demak”

“Persetan. Aku tidak peduli, Menyerahlah. Mungkin aku mengambil keputusan lain karena kau seorang perempuan”

“Akulah yang membunuh saudara tuamu” Hantu yang muda itu menggeram. Tiba-tiba dendamnya menyala di dadanya. Katanya “Ya. Aku akan membunuhmu”

“Aku mengalahkan kakakmu. Sekarang kau akan melawan aku? Atau kau membawa seseorang yang kau sangka dapat mengalahkan aku ?”

“Aku tidak mengelak. Aku datang bersama guruku” Puranti mengerutkan keningnya, lalu “Maaf, Aku belum mengenalnya. Orang itukah gurumu?“

“Ya. Inilah guruku. Kau tidak akan dapat menengadahkan kepalamu lagi. Berlututlah, dan biarlah kami memutuskan, apakah yang akan kami lakukan atasmu”

Dada Puranti berdesir, Tetapi untunglah bahwa ayahnya menyusulnya pula, sehingga ia tidak perlu cemas, meskipun Hantu Bertangan Api itu datang bersama gurunya.

“Cepat“ bentak Hantu itu “sebelum aku mengambil keputusan lain”
“Apakah kita akan bertempur dan disaksikan oleh gurumu? Apakah kau akan memperlihatkan bagaimana nasib kakakmu kepada gurumu?“

“Jangan terlampau sombong ngger“ suara itu serak dan dalam “aku sudah mendengar bahwa muridku yang tua telah terbunuh. Aku kagum mendengarnya, bahwa seorang perempuan telah dapat mengalahkan muridku yang tua, yang bertempur berpasangan dengan pembantunya yang terpercaya”

“Jadi?“ potong Puranti.

“Terpaksa aku datang untuk menuntut kematian muridku itu. Kau akan menjadi orang yang berbahaya bagi duniaku, ngger cah ayu, dan terutama bagi muridku yang muda”
Sebelum Puranti menjawab, ayahnyalah yang mendahuluinya menyahut “Kiai Sampar Angin, apakah tidak sebaiknya kita serahkan persoalan anak-anak itu kepada anak-anak saja?“
Pertanyaan itu benar-benar telah mengejutkan orang yang dipanggil Sampar Angin. Dicobanya untuk mengenal wajah orang yang berdiri dimuka pintu itu. Tetapi justru karena sinar pelita di dalam rumah, maka orang yang berdiri itu bagaikan bayangan hitam, yang nampak hanya sekedar sebuah bentuk tanpa lekuk dan relung diwajahnya.

“Siapa kau“ bertanya Kiai Sampar Angin. Kiai Pucang Tunggal tidak segera menjawab. Namun bahwa ia langsung dapat menyebut namanya, Purantipun menjadi heran pula karenanya.
“Siapa kau?“ bertanya Sampar Angin sekali lagi.

“Apakah kau tidak mengenal aku lagi?“ bertanya Pucang Tunggal “kita pernah menjadi kawan bermain dimasa muda, kita pernah berguru bersama-sama. Tetapi kemudian jalan kita berpisah. Kau mendapatkan seorang guru lain yang kau anggap lebih sesuai dengan jiwa petualanganmu”

“Kaukah anak dungu itu? Kaukah yang dahulu bernama Pandean anak Gajah Mungkur itu?“

“Ya, ternyata kau masih ingat kepadaku. Bukankah kau juga berasal dari Gajah Mungkur?“

”O“ tiba-tiba wajah Kiai Sampar Angin menjadi suram.

“Palaran“ berkata Kiai Pucang Tunggal “sudah lama aku ingin menemuimu. Sudah lama aku mengenal jejakmu. Aku tahu bahwa selama ini kau tinggal dilereng Gunung Marapi dan menyebut dirimu Sampar Angin. Meskipun kau seakan-akan terasing dikaki Gunung itu dilereng Selatan, namun aku masih berhasil menemukanmu”

“Apakah maksudmu membayangi aku Pandean?“

“Aku tidak pernah bermaksud mernbayangimu Palaran. Tetapi aku masih ingin berbuat sesuatu sebagai seorang sahabat.”

Sampar Angin yang juga bernama Palaran itu mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia bartanya “Jadi perempuan ini muridmu?”

“Ya”

“Kau memang aneh, apakah tidak ada laki-laki di dunia ini, sehingga kau mengambil perempuan menjadi muridmu?”

“Selain muridku, ia adalah anakku”

“O“ Palaran terkejut “ jadi perempuan itu anakmu ? Dan siapakah laki-laki yang dikatakan oleh muridku, berhasil mengimbangi kemampuan muridku yang tua?, tetapi tidak barhasil melawannya berpasangan? Apakah laki-laki itu suami anakmu?”

Pucang tunggal menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Bukan. Laki-laki itu adalah muridku”
Sampar Angin mengangguk-anggukkan kepalanya. Katika Kiai Pucang Tunggal melangkah mendekatinya, hatinya menjadi berdebar-debar.

“Kita bertemu dalam keadaan serupa ini” berkata Kiai Pucang Tunggal.

“Ya. Murid-muridmulah yang telah membuat hubungan kita seakan-akan menjadi semakin jauh” sahut Sampar Angin “apakah kau tidak tahu bahwa murid-muridmu mengaja telah menyerang murid-muridku? Padahal kau tahu bahwa dengan demikian akan dapat menanamkan dendam di hati kita masing-masing”

“Terpaksa sekali” sahut Pucang Tunggal “aku mempunyai pertimbangan tersendiri”
Kiai Sampar Angin menundukkan kapalanya. Ada sesuatu yang terasa menggetarkan hatinya pada pertemuan yang tidak disangka-sangkanya itu

Hantu Bertangan Api yang muda menjadi termangu-mang seperti juga Puranti. Mereka tidak menyangka, bahwa guru mereka ternyata telah saling kenal.

“Guru“ bertanya Hantu yang muda itu “jadi, apakah yang akan kita lakukan sekarang?“
Kiai Sampar Angin menarik nafas dalam-dalam. “Apakah kita akan sekedar menanam dendam dihati kita dan membiarkan kematian kakang tidak berbalas?“

Gurunya tidak segera menyahut. Ketika ia mengangkat wajahnya, dilihatnya Kiai Pucang Tunggal memandanginya dengan tajamnya. Dan sebelum ia berkata sesuatu, Pucang Tunggal mendahuluinya “Sampai sekarang aku masih tetap berada di Gajah Mungkur. Memang aku pernah pergi meninggalkan tanah perbukitan itu untuk beberapa tahun, tetapi setiap kali aku selalu kembali ke kampung halaman. Berbeda dengan kau, kau tidak pernah puiang. Kau berpindah dari satu tempat ketempat yang lain, sehingga beberapa tahun terakhir kau menetap dilereng Selatan Gunung Merapi. dan murid-muridmu mengambil tempat bersembunyi yang tidak jauh dari padepokanmu itu”

“Guru“ desak Hantu yang muda itu. Gurunya tidak menjawab.

“Marilah kita berbicara“ berkata Kiai Pucang Tunggal.

“Jangan guru. Orang itu berusaha untuk melemahkan niat kita untuk membalas dendam kematian kakang. Jangan dibiarkan ia berbicara terlampau banyak. Kita bunuh saja mereka“
Puranti mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak berkata sepatah katapun.

“Kita dapat duduk diatas batu-batu itu“ barkata Kiai Pucang Tunggal.

“Tidak. Kami tidak akan duduk“ Hantu yang muda itulah yang menjawab ”Kami akan menuntut kematian dengan kematian. Tetapi hantu yang muda itu terkejut. Ternyata gurunya menggelengkan kepalanya. Katanya “Tenanglah. Aku akan berbicara dengan orang ini”

“Apakah yang akan guru bicarakan?“

“Ada beberapa persoalan yang akan kita bicarakan.” Terasa dada hantu yang muda itu bergetar. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Dadanya serasa meledak ketika ia melihat kedua orang tua-tua itu kemudian duduk. diatas sebuah. Batu yang besar yang terdapat dipinggir halaman itu, sedang Puranti berdiri di belakang ayahnya bersandar sebatang pohon.

“Palaran“ berkata Pucang Tunggal setelah mereka duduk sejenak “sudah lama sekali aku berusaha menemuimu berhadapan seperti sekarang. Tetapi aku tidak pernah mendapat kesempatan, setiap kali aku datang ke padukuhan tempat tinggalmu, kau selalu tidak tida di rumah”

Sampar Angin tidak menyahut.

“Apakah kau mengerti kenapa aku berusaha mencarimu?“ Sampar Augin menatap wajah Pandean sejenak. Kemudian tanpa disadarinya ia berpaling kepada muridnya.
“Aku tahu siapakah sebenarnya murid-muridmu itu”

Palaran menarik nafas dalam dalam. Namun kata-kata itu telah menggetarkan dada Hantu Bertangan Api yang muda itu.

“Kenapa kau tidak mencegahnya sebelum terlambat? Dan bahkan tampaknya kau justru melindungi mereka?“ bertanya Kiai Pucang Tunggal.
Ki Sampap Angin tidak menjawab.

“Sejak kanak-kanak kita memang hidup dalam kesulitan, kita adalah anak petani-petani miskin. Tetapi aku tidak jatuh kedalam cengkeraman serba benda seperti kau. Aku tidak jatuh menjadi budak badani seperti itu. Aku masih berusaha memelihara keseimbangan lahir dan batin”

“Pandean“ potong Sampar Angin “sudahlah. Kita sudah sama-sama tua. Kita sudah sama-sama mengenal yang buruk dan yang baik. Jangan menggurui aku seperti menggurui anak-anak”

“Tetapi aku cemas melihat tingkah lakumu selama ini”

“Jangan hiraukan aku Pandean. Aku senang dan bangga melihat kau tumbuh subur. Bahkan barangkali paling subur diantara anak-anak Gajah Mungkur. Apalagi kau menjadi seorang yang saleh dan suci. Tetapi, biarlah kita memilih jalan kita masing-masing”

“Tentu tidak Palaran. Aku sama sekali bukan seorang yang saleh dan suci. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang suci. Semua pasti tersentuh oleh kesalahan dan dosa. Demikian juga aku. Tetapi bukankah kita wenang untuk mencari jalan yang sebaik-baiknya”

“Terima kasih. Kau memang seorang guru yang lengkap. Kau dapat menjadikan muridmu seorang yang perkasa, tetapi juga membuat mereka berhati lembut seperti nabi”

“Jangan berlebih-lebihan Palaran“ berkata Pandean “aku juga seorang yang tamak. Aku juga seorang yang kadang-kadang dibayangi oleh harga diri yang berlebih-lebihan. Kalau aku seorang yang saleh dan suci, buat apa aku mempelajari olah kanuragan? Bahwa aku merasa perlu untuk mempelajarinya dan kemudian menurunkan ilmu itu kepada anak dan muridku, itu sudah selingkar noda didalam hidupku. Bahwa aku masih membayangkan bahwa pada suatu saat aku atau anak dan muridku, memerlukan suatu tindak kekarasan” Pucang Tunggal berhenti sejenak, lalu “Dan itu adalah dosa. Dosa dapat terjadi dalam perbuatan, tetapi juga sekedar didalam ucapan dan angan-angan, meskipun belum terungkapkan dalam perbuatan”

Sampar Angin menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Sudahlah. Aku mengerti, Jangan kau sangka bahwa aku tidak dapat membedakan baik dan buruk. Jangan kau sangka aku tidak mengeiti, bahwa kelimpahan harta benda yang aku dapatkan dengan cara yang di tempuh oleh murid-muridku itu salah. Seperti kau dan kebanyakan orang, aku tahu. Aku mengerti dan bahkan aku yakin. Tetapi aku tidak kuasa menentang nafsu. Nafsu yang aku mengerti bahwa itu tidak baik”

“Apakah untuk selama-lamanya kau sudah menganggap cukup dengan pengertianmu itu, tetapi jauh dari perbuatan yang nyata itu?”

Sampan Angin mengerutkan keningnya. Tetapi sekali lagi ia berkata “Pandean. Aku kira setiap orang yang paling jahat sekalipun mengerti, mana yang baik dan mana yang tidak baik. Tetapi kami, orang-orang yang disebut orang jahat, kadang-kadang tidak lagi menghiraukannya apa yang baik dan tidak baik itu. Kami tidak mempedulikannya lagi. Kami berani menanggung segala akibat dari perbuatan tidak baik itu. Seperti sekarang ini, meskpun harus ditebus dengan kematian. Dan bahkan kami masih datang untuk. membalas dendam”

“Aku juga tahu“ sahut Pandean “tetapi apakah tidak pernah terpikir olehmu, bahwa pada suatu saat, pertanggung-jawaban itu bukan sekedar pertanggungan jawab duniawi”

“Sudahlah, sudahlah guru“ potong Hantu yang muda “kita tidak sedang berguru ilmu kebatinan atau agama apapun juga. Kita datang untuk menuntut balas”

“Duduklah“ berkata Kiai Sampar Angin ”cobalah menahan hati sedikit. Akupun sedang menjelaskan, bahwa aku dan kau dan semua orang yang berada di dalam pengaruh kita, tidak sedang berguru dalam ilmu saleh”

“Tetapi kita tidak usah berbicara. Kita bunuh saja mereka.

“Duduklah”

“Aku tidak ingin duduk guru. Aku ingin, membunuh”

“Baiklah“ berkata Kiai Sampar Angin “kita memang datang untuk membunuh. Aku sudah kehilangan seorang murid terkasih. Aku harus berusaha mengobati sakit hati. Nah, Hantu Bertangan Api. Lawanlah perempuan itu, aku jakan berusaha membunuh gurunya”
Tiba-tiba dada Hantu yang muda itu berdesir. Ia kenal ketinggian ilmu perempuan yang bernama Puranti itu. Ia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana perempuan itu membunuh dua orang lawannya berturut-turut. Hantu Bertangan Api yang tua dan pembantunya yang paling dipercaya.

Karena itu, tawaran gurunya itu justru membuatnya terbungkam, sehinggga untuk sejenak ia tidak dapat menjawab.

“Duduklah“ tiba-tiba saja suara gurunya merendah “aku harus mengakui kenyataan ini dihadapan seorang sahabatku, meskipun kami berselisih jalan. Pandean adalah seorang guru yang pasti mumpuni. Ia dapat membentuk anak perempuannya menjadi seorang yang hampir tidak masuk akal didalam keadaannya yang wajar”

Tiba-tiba Hantu itu membeku ditempatnya. Ia terlempar pada kenyataan yang tidak .akan dapat dielakkannya lagi.

“Palaran“ berkata Kiai Pucang Tunggal “aku tahu, bahwa kau bukan anak-anak. Semua yang kau lakukan pasti bukan tidak beralasan dan pasti kau lambari dengan suatu keyakinan pula. Tetapi baiklah kau pikirkan sekali lagi. Apakah manfaatnya kau tetap pada pendirianmu. Kau sudah kehilangan seorang muridmu” Kiai Pucang Tunggal berbenti sejenak, lalu “Adalah suatu perbuatan yang aneh-aneh pula, bahwa kau menamai muridniu Hantu Bertangan Api. Kenapa tidak kau panggil saja namanya Suwela dan yang terbunuh itu bernama Subentar”
Kiai Sampar Angin menarik nafas dalam-dalam.

“Aku tahu. Selain mereka bermaksud menakut-nakuti lawan-lawannya dengan nama itu, merekapun berusaha lari dari keluarganya. Sebenarnya keluarganya bukan keluarga yang memungkinkan membuatnya seperti itu. Ibunya pasti selalu merindukan anak-anaknya sepanjang hidupnya. Dan anak-anaknya itu kini berkeliaran tidak menentu”

”Sudahloh Pandean. Aku berterima kasih atas paringatan-perigatanmu itu. Tetapi kau kurang bijaksana, Kau mengatakan hal itu dihadapan hidung orang itu sendiri. Dihadapan Suwela”
Kiai Pucang Tunggal tidak segera menyahut. Ditatapnya wajah Hantu Bertangan Api yang muda itu sejenak. tampaklah wajah itu menjadi semakin tegang. Bahkan kemudian Hantu Bertangan Api itu menundukkan kepalanya.

“Kiai Sampar Angin“ berkata Kiai Pucang Tunggal “aku memang sengaja ingin menyentuh hatinya. Aku tahu sebenarnya siapakah Suwela itu. Aku tahu benar siapakah Ki Jagasanta, ayah anak-anak muda yang menyebut dirinya atau mungkin kaulah yang menerima Hantu Bertangan Api itu. Aku kenal pula ibunya, perempuan yang terlampau lembut itu”

“Cukup, cukup“ tiba-tiba Hantu Bertangan Api yang muda itu berteriak “jangan mencoba melemahkan hatiku dengan cerita khayalmu itu”

“Apakah kau sempat mengingatnya? Atau membayangkan wajahnya? Seorang ibu yang berlinang air mata karena merindukan anaknya yang pergi dari sisinya”

“Sudahlah“ potong Sampar Angin “apakah sebenarnya maksudmu mengungkit hal itu?“

“Kiai Sampar Angin“ berkata Pucang Tunggal “jangan membiarkan kedua anak Ki Jagasanta itu mengalami nasib yang sama. Aku mengharap bahwa masih ada kesempatan baginya untuk kembali kepada ibunya”

“Diam, diam“ bentak Hantu Bertangan Api.

Dan sebelum Pucang Tunggal menyahut, Sampar Angin telah mendahuluinya “Sudahlah Pandean. Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih. Tetapi bukan itu tujuan kedatanganku. Aku memang ingin membalas dendam. Namun demikian, tidak ada gunanya aku berbuat sesuatu. Meskipun aku belum tahu betapa jauh kau mencapai tingkat kesempurnaan ilmumu, tetapi baiklah aku mengakui bahwa menghadapi kau dan anakmu, kami memang belum siap. Itulah sebabnya setelah aku melihatmu ada disini pula, aku sama sekali tidak berminat lagi untuk berkelahi. Yang pasti, muridku yang tinggal seorang ini akan binasa pula ditangani anak perempuaumu. Seandainya aku berhasil membunuhmu, aku kira hidupku tidak akan banyak berarti lagi. Aku tidak akan segera dapat membentuk seseorang yang siap menerima tetesan ilmuku yang sempurna”

“Jadi, apa maksudmu kemudian“

“Niatku, aku minta diri. Aku akan menunda pembalasan dendam ini, Tetapi kalau kau takut, bahwa pada suatu saat kau tidak akan dapat mengatasi kemampuan kami, maka sekarang kau mendapat kesampatan untuk mengalahkan kami berdua. Anakmu dapat membunuh muridku, dan aku akan menyerahkan hidup matiku kepadamu”

“Jangan berputus asa Palaran. Pintu masih selalu terbuka. Pintu yang akan menghubungkan kau dengan duniamu yang bakal datang ALLAH Maha Pengampun”

Kiai Sampar Angin tertawa, katanya “Terima kasih. Beribu terima kasih”
“Palaran, apakah hatimu memang sudah membeku?“

“Tentu tidak. Hatiku masih cair. Tetapi maaf bahwa. aku memilih jalan lain. Kalau kau masih berani melihat kesempatan bagi kami dimasa datang, kami akan minta diri. Tetapi walaupun demikian, kemungkinan yang bakal terjadi, kau dan anak muridmulah yang bakal manjadi korban”

Kiai Pucang Tunggal menarik nafas dalam-dalam.

“Tetapi kalau kau tidak berani mengalami akibat yang buruk itu, kau dapat membunuh kami sekarang”

“Tidak Aku tidak akan membunuh. Dan akupun berharap bahwa kau dan muridmu itupun tidak akan membunuh kami kelak”

Tentu, kami sudah dibakar oleh dendam. Kami akan membunuh kalian kelak kalau kalian tidak membunuh kami sekarang”

Waktu itu cukup panjang bagimu dan bagi muridmu untuk merenungi hari-hari lampaumu. Waktu itu cukup panjang bagi seorang anak untuk mengenal arti rindu kepada seorang ibu yang melahirkannya. Aku berharap bahwa waktu itu akan datang. Bukan pembunuhan, tetapi taubat kepada Sang Pengampun”

Ki Sampar Angin menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Kau memang mengagumkan Pandean. Kau terlampau percaya kepada diri sendiri”

“Lebih dari itu. Aku. percaya kepada kekuasaan ALLAH SWT, itulah sebabnya aku percaya bahwa kalian juga akan mendapatkan hidayahnya”

Sekali lagi Sampar Angin tersenyum. Kemudian ia berpaling kepada muridnya sambil berkata “Marilah kita pergi. Mereka tidak ingin membunuh kita sekarang. Meraka akan memberi kesempatan kepada kita untuk membunuh mereka dikemudian hari”
Hantu Bertangan Api tidak menjawab. Tetapi terdengar giginya gemeretak.

Sejanak kemudian Ki Sampar Angin itupun berdiri dan minta diri”

“Mudah-mudahan kau segera kembali ke Gajah Mungkur, muridmu kembali kepada ibunya yang semakin,. tua”

“Kami akan datang ke Gajah Mungkur untuk melepaskan dendam yang membakar hati kami“ seru Hantu Bertangan Api.

“Akan datang saatnya, api di tanganmu akan padam. Kau bukan hantu yang menakut-nakuti ibumu Suwela. Kau baginya adalah seorang yang paling dicintai dimuka bumi”

“Diam. diam”

Pucang Tunggalpun terdiam. Dipandanginya saja Kiai Sampar Angin dan muridnya yang kemudian meninggalkan Kiai Pucang Tunggal dan Puranti yang termangu-mangu.
“Ayah, ayah” desis Puranti setalah mereka tidak tampak lagi terbenam didalam kegelapan “jadi ayah sudah mengenal mereka yang justru berasal dari Gajah Mungkur juga? Kenapa ayah tidak mengatakan bahwa gurunya berasal dari daerah yang jauh sekali?“
Kiai Pucang Tunggal menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia menggelengkan kepalanya sambil menjawab “Aku berbohong saat itu supaya kau tidak ragu-ragu apabila kau berhadapan dengan muridnya, Hantu Bertangan Api itu”

“Dan ayah juga mengetahui banyak tentang muridnya yang menghuni Goa Pabelan itu”

“Ya. Aku mengetahui”

“Tetapi ayah sengaja membiarkan kami membinasakan mereka?“

“Aku hampir tidak melihat lagi bahwa mereka akan dapat menempuh jalan kembali” ia berhenti sejenak, lalu “meskipun demikian aku mencoba untuk yang terakhir kalinya. Aku melepaskan mereka untuk tetap hidup. Aku ingin melihat apa yang akau mereka lakukan”

“Apakah ayah sudah mencoba sebelum ini?“

“Ya. Tetapi bukan aku sendiri. Ayah kedua Hantu itulah yang datang kepada anak-anaknya. Tetapi sebelum ia mencapai mulut Goa Pabelan, ia telah dikeroyok oleh anak buahnya”
“Apakah kedua hantu itu tidak melihat?“

“Mereka melihatnya. Tetapi mereka takut menemui ayahnya sehingga mereka membiarkan, ayahnya itu menjadi korban keganasan anak buahnya”

”Apakah ayahnya tidak dapat mengatakan keperluannya?“

Kiai Pucang Tunggal merenung sejenak. Tampak nafasnya tertahan-tahan. Dari sela-sela bibirnya ia berkata lirih “Kedua anaknya itulah yaug agaknya dengan sengaja memberi kesempatan kepada anak buahnya untuk membunuh laki-laki tua itu”

“O, terkutuklah”

“Itulah sebabnya aku tidak berkeberatan kau membunuhnya Anak durhaka yang tidak pantas lagi hidup dibumi Tuhan ini” Tetapi suara Kiai Pucang Tunggal meuurun “Tetapi kita adalah orang-orang yang berjiwa kerdil. Aku baru sadar bahwa sepasang Hantu itu adalah justru manusia yang paling malang. Manusia yang harus dikasihani. Dan aku mencoba untuk menaban dirii saat ini. Ketika Hantu yang muda itu datang bersama gurunya.”

Puranti menarik nafas dalam-dalam. Ia mengurungkan niatnya untuk bertanya, kenapa ayahnya tidak menyuruhnya membinasakan Suwela itu sama sekali, justru mereka telah datang untuk membalas dendam.

“Sudahlah Puranti“ berkata ayahnya “kita mencoba untuk melupakan sejenak. Tetapi ingatlah, bahwa dendam itu masih menyala dihati mereka, meskipun kita mengharap bahwa pada suatu saat api dendam itu akan padam”

“Ya ayah”

“Pada saatnya kau harus tetap berhati-hati”

“Ya ayah”

“Sudahlah. Marilah kita lihat, apakah Pikatan dapat beristirahat”

Keduanyapun kemudian memasuki ruangan didalam rumah itu. Mereka melihat Pikatan masih duduk bersandar dinding sambil menyilangkan tangan didadanya. Tatapan matanya yang jauh itupun kemudian berpaling ketika ra mendengar desir kaki memasuki ruangan itu, yang ternyata alalah gurunya dan Puranti.

“Apakah orang-orang itu sudah pergi” terdengar suaranya purau.

“Ya. Mereka telah pergi” jawab gurunya.

“Aku mendengar pembicaraan guru dengan orang yang bernama Kiai Sampar Angin menurut pendengaranku.

“Kau mendengar?“

“Sebagian guru. Dan aku juga mendengar bahwa Hantu bertangan api itu telah membiarkan ayahnya terbunuh“

“Ya”

”Dan apakah guru mendengar dari, Sumber ,yang dapat dipercaya?“

“Aku tidak sekedar mendengar dari orang Iain. Aku melihat hal itu terjadi”
Kiai Pucang Tunggal menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya. Katanya “ Orang itu tidak mati. Orang itu masih hidup. Aku berhasil merampasnya dari anak buah Suwela saat itu.

“Ayah kedua Hantu itu masih hidup“

“Ya. Aku berusaha menyembunyikannya di tempat yang tidak mudah dikenali, karena aku masih mencemaskan usaha pembunuhan yang dapat dilakukan oleh anak buah Hantu kakak baradik itu”

Puranti tidak menyahut lagi. Namun terasa dadanya menjadi semakin sesak. Penyesalan yang semakin dalam telah menusuk jantungnya.

Ternyata bahwa orang yang disebut Hantu Bertangan Api itu benar-benar manusia terkutuk. Bukan saja karena ia telah mengganggu ketenteraman penduduk di lereng Merapi, bahkan sampai ke tempat yang jauh, namun mereka juga telah melakukau dosa terbesar didalam hidupnya. Melawan orang tua sendiri.

Pikatan menggeram “Mereka memang harus dibinasakan” tetapi ia telah terlempar kedalam Suatu kenyataan, bahwa ia tidak berhasil melakukan tugas, pendadaran apalagi membinasakan Hantu Bertangan Api itu. Pasukan kecil yang datang dari Demak itu ternyata telah gagal. Bukan saja karena Hantu Bertangan Api yang muda itu sempat lolos, tetapi bahwa pasukan calon prajurit itu sebenarnya tidak berhasil mengatasi lawannya tanpa bantuan seorang gadis yang tiba-tiba saja telah melibatkan diri didalam perkelahian yang dahsyat itu. Bahkan ia tidak dapat ingkar pula, bahwa nyawanya sendiri seolah-olah telah diselamatkan oleh Puranti.

Berbagai perasaan telah bergajolak didalam dada Pikatan. Karena itulah maka ia menjadi gelisah.

“Sudahlah-Pikatan“ berkata gurunya yang seolah-olah mengetahui perasaan muridnya “beristirahatlah., Darahmu terlampau banyak mengalir, sehingga tubuhmu pasti menjadi sangat lemah. Berbaringlah dan berusahalah untuk dapat tidur meskipun hanya sekejap. Kau akan merasa bertambah segar karenanya

Pikatan menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia mengangguk sambil menjawab “Ya guru. Aku akan mencoba tidur sejenak”

Tetapi Pikatan tidak juga membaringkan dirinya, la masih juga duduk ditempatnya bersandar dinding,

Tetapi gurunya tidak memaksanya lagi dibiarkannya Pikatan merenungi keadaannya. meskipun gurunya mengetahui, betapa Pikatan menyesali kegagalannya.

Puranti yang mengerti juga perasaan Pikatan, sama sekali tidak menegurnya. Baginya, lebih baik Pikatan tetap hidup betapapun merasa tersinggung daripada mati karena tangan penghuni Goa Pabelan didalam pendadaran yang sangat berat itu.

”Kau sajalah beristirahat Puranti “ berkata ayahnya ”tidurlah. Aku akan berjaga-jaga.”
Puranti tidak menjawab. Tetapi ia pergi ke dalam kamar. Diatas sebuah pembaringan yang kecil ia membaringkan dirinya. Namun seperti juga Pikatan, Puranti sama sekali tidak dapat memejamkan matanya.

Tanpa mereka sadari. maka malampun bergerak perlahan-lahan menjelang pagi. Mereka yang terbaring karena luka-lukanya yang berat terdengar merintih menahan sakit. Malam yang sepi se-akan2 berjalan terlampau lamban, sehingga dingin angin malam serasa semakin membuat luka-luka mereka bertambah pedih.

Kokok ayam jantan yang bersahut-sahutan membuat mereka berpengharapan, bahwa akan segera datang orang-orang dari Demak untuk berbuat sesuatu atas mereka.

Sejenak kemudian maka langitpun menjadi semakin merah. Puranti yang tidak dapat tidur sekejappun telah bangkit pula dari pembaringannya dan berjalan keluar. Di ruang depan ia memandang Pikatan sejenak. Pikatan yang masih juga duduk bersandar dinding. Tetapi ia tidak menyapanya sama sekali.

Di halaman Puranti melihat ayahnya duduk diatas sebuah batu sambil memandang keatas pebukitan. Sementara cahaya yang merah menjadi semakin merah. Angin yang sejuk mengusap rambut Puranti yang kusut.

”Apakah yang dapat aku kerjakan sekarang ayah?“ bertanya Puranti kepada ayahnya.
“Pergilah kepada pemilik rumah ini. Pinjamlah alat-alat sekedarnya. Kau harus merebus air. Air yang hangat, akan menyegarkan mereka. Apalagi apabila kita dapat menyediakan gula kelapa dan sekedar makan. Mereka pasti lapar.

“Dari mana kita akan mendapatkan beras?“

“Kau dapat meminjam dari penuuduk padukuhan ini Puranti. Aku yakin bahwa pimpinan Prajurit di Damak akan bersedia menggantinya berlipat”
Puranti tampak ragu-ragu.

“Kalau tidak, kelak kita akan datang dan menukarnya dengan beras pula”

Puranti, mengangguk-anggukkan kepalanya. Iapun kemudian pergi menemui penghuni rumah itu yang terpaksa tinggal didapur, karena rumahnya sedang dipinjam oleh para calon prajurit.

Bersambung

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s