Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

yang terasing 5

Tinggalkan komentar


Dari orang itu Puranti mendapat gula kelapa dan beras. Orang itu pulalah yang mencari pinjaman kepada tetangga-tetangganya untuk mencukupi kebutuhan beras bagi para calon prajurit itu.

Dibantu oleh penghuni rumah itu, Purantipun segera sibuk menyediakan makan dan minum bagi mereka yang terluka. Seperti kebanyakan gadis-gadis padukuhan, Purantipun ternyata mampu bekerja didapur. Meskipun kadang-kadang ujung pedangnya agak mengganggunya, namun ia dapat menyiapkan semuanya itu dengan cepat.

“Tetapi kami tidak mempunyai perSediaan lauk sama sekali“ berkata penghuni rumah itu “kadang-kadang kami hanya mencari ikan disungai. atau memikat burung dengan getah. Yang selalu kami lakukan disini adalah memetik dedaunan yang kami rebus, dengan sekedar garam dan gula kelapa”

“Apakah bibi masih mempunyai persediaan garam?“ Penghuni rumah itu menganggukkan kepalanya.

“Kelapa?“

Sekali lagi perempuan itu mengangguk.

“Itu sudah cukup bibi. Biarlah aku mengukur kelapa. Tentu akan sedap sekali makan nasi hangat dengan kelapa dan garam”

Nasi hangat itu ternyata telah memberikan kenikmatan yang besar,bagi para calon prajurit yang terluka itu. Seakan-akan telah menumbuhkan sebagian dari kekuatan mereka yang telah hilang.

Tetapi Pikatan sama sekali tidak berminat untuk makan. Hatinya terasa jauh lebih pedih dari luka di pundaknya. Betapapun ia berusaha, namun nasi yang sudah disuapkannya kedalam mulutnya, terasa terlampau sulit untuk ditelannya.

“Makanlah kakang“ minta Puranti ”aku sendiri yang memasaknya. Bukankah kau sering makan dengan lauk serupa ini dipadepokan? Kau senang sekali makan dengan kelapa seperti kucing kesayanganmu itu”

Pikatan tidak menyahut. Ditatapnya wajah Puranti sejenak. Dilihatnya perasaan yang tulus memancar dari mata gadis itu, sehingga dengan susah payah ia berusaha menelannya sesuap demi sesuap agar ia tidak menyakiti hati gadis itu.

Namun perasaan Pikatan menjadi semakin pahit ketika ia melihat Puranti sebagai seorang gadis dengan cekatan melayani para calon prajurit yang terluka itu. Ternyata bahwa pasukan kecil ini seluruhnya telah tergantung kepada seorang gadis. Nyawa mereka dan kini perawatan mereka ”Memalukan Sekali“ berkata Pikatan didalam hatinya “Kenapa kita laki-laki yang bertubuh besar tidak dapat berbuat lebih banyak dari seorang gadis yang tampaknya begitu lembut”

Tetapi Pikatan tetap menyimpan perasaan itu didalam hati. Matahari yang tersembul diatas punggung-punggung bukit, semakin lama menjadi semakin tinggi. Datanglah harapan baru didalam setiap hati. Prajurit yang memimpin mereka akan segera datang. Apapun yang akan dilakukannya, pastilah suatu keadaan yang lebih baik dari keadaan mereka kini. Apalagi mereka telah digayuti oleh satu pengharapan, bahwa mereka akan dapat diterima menjadi seorang prajurit. meskipun tugas mereka tidak mutlak berhasil.

Betapa menjemukan sekali, berbaring didalam sebuah pondok yang panas sambil menunggu. Menunggu dan seakan-akan hidup mereka telah habis buat menunggu. meskipun baru setengah hari. Udara yang panas dan angin dari pebukitan gersang, membuat orang-orang yang terluka itu semakin menderita. Apalagi mereka sadar, bahwa disebelah dinding ruang itu terbujur beberapa sosok mayat dan juga orang-orang Goa Pabelan yang terluka. Kadang-kadang kebencian yang memuncak terhadap mereka hampir-hampir tidak tertahankan lagi, sehingga kadang-kadang timbul niat diantara mereka, untuk melepaskan kejemuan mereka dengan membalas sakit hati dan apalagi karena kawan-kawan mereka ada yang terbunuh. Namun untunglah, setiap kali mereka masih dapat mengekang diri. Apalagi mereka sadar, betapa Puranti yang telah menolong jiwa mereka. melayani orang-orang yang terluka itu seperti melayani mereka sendiri.

Hampir tersentak dada mereka, ketika di tengah hari mereka mendengar derap kaki-kaki kuda. Sebuah pertanyaan segera hinggap disetiap hati “Siapakah mereka? Kawan atau lawan?“

Purantilah yang pertama-tama meloncat keluar dari pintu rumah itu diiringi oleh ayahnya. Bagaimanapun juga mereka harus tetap bersiaga. Mungkin Suwela yang disebut Hantu Bertangan Api itu datang membawa beberapa orang kawan.

Tetapi Puranti itupun kemudian menarik nafas dalam-dalam. la melihat orang yang berpacu paling depan adalah prajurit yang pemimpin pasukan kecil itu. Semakin dekat, Puranti menjadi semakin gembira melihat sekelompok prajurit yang datang itu. Empat orang. Ketika mereka menjadi semakin dekat, merekapun segera menarik kendali kudanya, sehingga kuda itupun berhenti dimuka regol yang sudah agak miring.

“Mereka masih ada didalam” berkata Puranti. Prajurit yang memimpin pasukan kecil itupun menganggukkan kepalanya. Tanpa berkata sesuatu ia segera meloncat turun. Tetapi hampir saja kakinya tergelincir seandainya tangannya tidak segera berpegangan pada tiang regol yang miring itu.

Prajurit itu lelah sekali“ desis Puranti didalam hati ”la pasti berpacu sepanjang malam, dan setengah hari ini”

Tetapi kuda yang dipergunakan sudah bukan kuda yang dipergunakannya dari padukuhan ini. Kini ia naik diatas seekor kuda yang tegar dan besar.

Bersama kawan-kawannya prajurit itupun kemudian memasuki halaman.
Setelah mengikat tali kudanya pada sebatang pohon. merekapun langsung masuk keruang, dalam.

“Bagaimana dengan kalian“ prajurit itu bertanya dengan suara yang dalam.

“Mereka berangsur baik“ Purantilah yang menjawab.

“Terima kasih. Kami berterima kasih sekali kepadamu”

“Kami lelah makan pula” berkata salah seorang dari mereka yang terluka “perempuan itu memasak untuk kami”

“Ah“ Puranti berdesah dan prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Bantuanmu akan sampai kepada pimpinan tertinggi di Demak”

”Ah, aku tidak berbuat apa-apa”

Prajurit j;u mamandang wajah Puranti yang kemerah-merahan. Bahkan wajah itupun segera tertunduk dalam-dalam.

“Tidak ada kesan kegarangan pada wajah yang tunduk itu” berkata prajurit itu didalam hatinya “wajah itu adalah wajah seorang perempuan sewajarnya. Tetapi ia memiliki kemampuan yang melebihi laki-laki”

Sejenak kemudian maka prajurit itupun segera menceriterakan, apa yang dapat dilakukan. Katanya “Sayang sekali, bahwa kita tidak mendapatkan kesempatan membawa kawan-kawan kita yang telah gugur itu kembali ke Demak. Kita mendapatkan banyak kesulitan perjalanan. Namun demikian, kita akan menguburkannya disini, sebagai pahlawan-pahlawan”
Ruangan itu menjadi sepi.

“Setiap saat kami akan mengunjungi makam itu bersama keluarga mereka. Kami akan menitipkan mereka kepada penghuni padukuhan kecil ini”

Tidak seorangpun yang berbicara. Dan prajurit itu melanjutkan “sedang kita yang masih hidup mengharap nanti malam atau besok pagi akan datang beberapa pedati yang akan membawa kita kambali ke Demak. Mereka yang terluka parah pasti tidak akan dapat duduk diatas punggung kuda seandainya kami membawa beberapa ekor kuda”

Berita itu telah menumbuhkan kegembiraan bagi mereka yang terluka. Apalagi ketika prajurit itu berkata ”Meskipun belum merupakan keputusan, tetapi aku berani menjamin, bahwa kalian telah berjuang selaku seorang prajurit sejati. Itulah sebabnya maka kalian akan aku perlakukan sebagai seorang prajurit. Baik yang sudah gugur, maupun yang masih hidup. Jelasnya, aku berani mempertanggung jawabkan kata-kataku, bahwa kalian akan diterima menjadi prajurit sepenuhnya. Kalian dapat memegang kata-kataku ini. Didalam jenjang keprajuritan, aku adalah seorang Tumenggung yang parnah memegang pimpinan sebagai Senapati atas pasukan segelar sepapan dibanyak medan. Dan yang kemudian diserahi. untuk mengambil keputusan dalam pendadaran calon-calon prajurit. Sebagai jaminan jika kalian tidak diterima, aku akan meletakkan jabatanku sebagai seorang prajurit”

Sejenak wajah-wajah itu menegang. Namun kemudian Seperti titik embun yang membasahi jantung, orang-orang yang terluka itu melupakan luka-luka mereka sejenak. Seperti kanak-kanak mereka bergeramang diantara mereka dalam kesuka-citaan.

Tetapi kelika Puranti memandang wajah Pikatan dengan sudul matanya, dadanya berdesir. Wajah Pikatan sama sekali tidak berubah. Kepalanya masih menunduk dan seolah-olah ia acuh tidak acuh saja atas pernyataan yang menggembirakan itu.

“Kenapa kakang Pikatan tidak tertarik sama sekali mendengar penjelasan itu” pertanyaan itu telah mengganggunya, meskipun tidak dinyatakannya lewat bibirnya.

Meskipun mereka kemudian harus menunggu lagi. tetapi rasa-rasanya dada rnereka telah menjadi lapang. Mereka tidak lagi merasa tertekan. Bahkan ada diantara mereka yang kemudian sempat tidur dengan nyenyaknya.

Sementara itu, para prajurit dibantu joleh penghuni padukuhan itu, segera mengubur mayat para calon prajurit yang telah gugur, sedangkan Puranti dengan dibantu oleh beberapa orang perempuan menyiapkan makan dan minum mereka.

Tetapi dalam pada itu, hati Puranti selalu digelisahkan oleh wajah Pikatan yang muram. Wajah yang seakan-akan selalu diselubungi oleh mendung yang tebal.

Ternyata bukan Puranti saja yang menjadi gelisah. Tetapi juga gurunya. Kiai Pucang Tunggal memang mengenal Pikatan sebagai seorang yang keras hati. Ia sadar bahwa anak muda itu telah tersinggung karena justru Purantilah yang menolongnya.

Namun perasaan itu tidak boleh berlarut-larut. Ia harus menyadari kenyataan itu dan kemudian rusaha menyesuaikan dirinya dengan keadaan. Karena itu, maka ketika kebanyakan para calon prajuri itu tertidur, meskipun disiang hari karena kelelahan lahir dan batin, maka Kiai Pucang Tunggalpun segera mendekati muridnya.

“Pikatan“ berkata gurunya perlahan-lahan “apakah kau tidak menyambut gembira keterangan prajurit itu, bahwa kalian telah mendapat jaminan untuk menjadi seorang prajurit? “
Pikatan mengerutkan keningnya.

“Bukankah semua kesulitan ini kau lakukan karena kau ingin menjadi seorang prajurit?“
Pikatan mengangkat wajahnya. Sambil memandang lubang-lubang dinding bertanya “Kenapa aku diterima menjadi seorang prajurit guru?“

Gurunya menarik nafas dalam-dalm. Jawabnya “Kau sudah melakukan sesuatu yang nilainya sama dengan nilai perbuatan seorang prajurit”

“Bukankah aku gagal sama sekali?”

“Tidak, kau berhasil”

“Yang pantas menjadi seorang prajurit adalah Puranti. Bukan aku”

Jawaban itu telah menggetarkan dada Kiai Pucang Tunggal. Ditatapnya wajab muridnya yang muram. Yang selalu menyilangkan tangan di dadanya

“Pikatan“ berkata gurunya “yang penting dalam suatu pendadaran adalah pengenalan nilai seseorang. Apakah alat pelaksanaan pendadaran itu dapat dilakukan atau tidak, itu bukan suatu penilaian yang mutlak. Karena itu, di dalam suatu kelompok pendadaran, berhasil atau tidak berhasil, ada yang dapat diterima dan ada yang tidak dapat diterima menjadi seorang prajurit. Apakah kau mengerti?“

Pikatan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian “Dengan demikian menjadi semakin nyata, bahwa aku telah gagal sama sekali. Seandainya Puranti tidak datang ke mulut Goa Pabelan. aku sudah mati. Dan bagi seorang yang yang sudah mati, tidak akan ada kesempatan apapun juga untuk menjadi seorang prajurit”

“Hatimu terlampau getas Pikatan, seperti seorang anak remaja yang patah hati” sahut gurunya “Seharusnya kau sudah menjadi cukup dewasa. Jangan merajuk lagi. Kalau kau menjadi seorang prajurit, kau akan mendapat kesempatan untuk menebus kegagalanmu. Mungkin kau dapat berbuat sesuatu yang sekaligus dapat mengangkat niatmu semakin tinggi. Tetapi kalau kau menolak. maka kau akan banyak kehilangan kesempatan, meskipun aku tahu, bahwa disegala aat dan tempat, kau dapat saja melakukan pengabdian terhadap negeri ini”

Kepala Pikatan tiba-tiba tertunduk lesu.

“Pikatan“ gurunya berkata pula “kau jangan mendambakan ketinggian hatimu itu. Cobalah melihat kenvataan. Bertolak pada kenyataan yang sudah terjadi, kau wajib berusaha untuk seterus-nya. Jangan patah ditengah. Seandainya kali ini kau terantuk batu dan kemudian terjatuh, itu memang suatu kelemahan bagi seorang laki-laki. Tetapi kalau kemudian kau tidak ingin bangkit sama sekali, maka kelemahanmu menjadi berlipat ganda”

Pikatan tidak segera menyahut. Tetapi kepalanya menjadi semakin tunduk.

“Kenapa kau tidak menyahut Pikatan. Cobalah tengadahkan wajahmu. Pandanglah mataku. Kau akan menemukan sesuatu yang dapat menguatkan hatimu”

Pikatan rnasih tetap berdiam diri sambil menundukkan kepalanya.

“Pikatan. Jangan seperti perempuan cengeng. Tengadahkan wajahmu, tantangan masa depan itu harus mendapat jawaban”

Perlahan-lahan Pikatan mengangkat wajahnya. Tetapi gurunya terperanjat ketika ia melihat mata itu menjadi merah dan basah.

“Pikatan“ desis gurunya “apakah kau benar-benar se orang perempuan cengeng. Meskipun perempuan aku kira Puranti tidak akan berbuat demikian”

Pikatan menelan ludannya. Tampak ia mau berbicara. Tetapi suaranya seakan-akan tersangkut dikerongkongan.

“Berkatalah. Ucapkan seluruh isi hatimu”

“Guru“ berkata Pikatan perlahan-lahan. Suaranya parau dan dalam “apakah guru dapat mengatakan serba sedikit tentang lukaku ini? Aku pernah mempelajari beberapa hal tentang tubuh manusia selama aku berada dibawah pimpinan guru, untuk meyakinkan ilmu yang sedang aku hayati. Tetapi sudah tentu sama sekali kurang mencukupi untuk dapat mengatakan, apakah yang akan tarjadi dengan langan kananku”

“Kenapa tangan kananmu?“

“Sebniknya guru melihatnya”

Hati Pucang Tunggal menjadi berdebar-debar. Dengan ragu-ragu ia bergeser maju. Pikatanpun kemudian mengurai tangannya yang bersilang di dada. Namun demikian tangan kirinya terlepas, tangan kanannya itu bergantung dengan lemahnya disisi tubuhnya.
“Aku tidak dapat menggerakkan tangan kananku”

“Jadi“ wajah Pucang Tunggal menjadi tegang. Dengan tergesa-gesa ia meraba pundak Pikatan yang terluka.

Pikatan menyeringai menahan sakit. Dipejamkannya matanya dan dibiarkannya gurunya merab-raba tanganya.

Dengan dada yang berdebar-debar Kiai Pucang Tunggal meraba tangan Pikatan dari pundaknya sampai keujung jari. Dipijit-pijitnya urat nadinya dan diputarnya setiap sendi ditangannya itu ”Gerakkan jarimu, Pikatan”

Pikatan masih memejamkan mntunya. Dicobanya untuk menggerakkan ujung jarinya. Tetapi terasa betapa sakitnya. Mesgipun demikian dipaksakannya juga. Sambil menggeram, ia menghentakkan ujung jari-jarinya.

Tiba-tiba Pikatan menundukkan kepalanya dalam dalam, sambil menutup wajahnya dengan telapak tanganya. Kemudian kepalanya tergeleng lemah “Tidak dapat guru, aku tidak dapat”
Bukan saja Pikatan, tetapi gurunyapun telah dicegkam oleh kecemasan yang mendalam. Namun demikian, gurunya berusaha untuk menekan perasaan sedalam-dalamnya. Semuanya masih dapat diusahakan. Tangan itupun masih akan dapat diusahakan. Meskipun demikian di sudut hatinya terpercik pertanyaan, apakah mungkin?“

“Guru“ berkata Pikatan kemudian dengan suara yang parau ”apakah guru menemukan sesuatu pada tanganku?”

Gurunya ragu-ragu sejenak, lalu “Luka itu Pikatan”

“Tangan ini tidak akan dapat sembuh lagi seperti sedia kala”

“Ah“ gurunya berdesah “Kau terlalu cepat mengambil kesimpulan. Kita masih akan mencoba, kau masih tetap mempunyai harapan”

Pikatan menatap wajah gurunya, namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam “Mudah-mudahan harapan itu bukan sekedar harapan yg hampa”

“Serahkan dirimu kepada ALLAH SWT”

Pikatan tidak menjawab. Tetapi sekali lagi kepalanya tertunduk lemah.
“Memang sebaiknya kau kembali ke Gajah Mungkur lebih dahulu, Pikatan. Aku ingin mencoba mengobati tanganmu dengan pengharapan yang utuh. Mudah-mudahan tanganmu akan dapat pulih kembali”

“Guru” suara Pikatan lambat sekali “kalau tanganku itu cacat maka semua harapanku akan lenyap. Tidak ada seorang prajurit yang hanya mempunyai sebelah tangan. Ia tidak akan memenuhi syarat yang diwajibkan. Prajurit tidak boleh mempunyai cacat jasmani yang dapat mengganggu tugasnya. Padahal cacat ini adalah cacat ditangan. Tangan kananku”

“Sudahlah Pikatan. Sekali lagi aku peringatkan, jangan padam dari pengharapan. Berdoalah. Mudah-mudahan tanganmu dapat sembuh. Kalau tidak sepekan, sebulan. Dan kalau tidak sebulan, setahun”

“Kalau nanti tanganku sembuh, aku sudah terlampau tua untuk menjadi seorang prajurit guru”
“Pandanglah cahaya cerah dilangit. Kalau hatimu selalu diliputi awan yang buram Pikatan, maka semuanya akan menjadi kelam”

Pikatan menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan kepalanya teragguk-angguk kecil.
Demikianlah. maka Pikatanpun kemudian menyampaikan keadaannya kepada prajurit yang telah memimpinnya didalam pendadaran itu. Ia tidak dapat ikut ke Demak bersama-sama dengan kawan kawannya karena keadaan jasmaninya yang memerlukan perawatan khusus.
“Di Demak ada dukun-dukun yang pandai. Ia akan mengobati luka-lukamu dan semua orang yang terluka. Apalagi lukamu tampaknya tidak terlampau berat dibandingkan dengan orang orang yang lain. Ada diantara mereka yang hampir tidak dapat bangkit sama sekali. Tetapi ia tetap berpengharapan untuk menjadi seorang prajurit”

“Akupun demikian. Akupun tetap berpengharapan menjadi seorang prajunt“ sahut Pikatan “tetapi biarlah aku kembali kepadepokanku. Biarlah orang tuaku mengobati luka-lukaku. Apabil kelak luka-luka itu sembuh, aku akan segera menghadap ke Demak. Aku memangs ingin menjadi seorang piajurit”

“Dengan siapa kau akan pergi ke padepokanmu?” Pikatan menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Namun kemudian ia menjawab juga “ Puranti. Gadis itu”

Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata “Kalau itu keputusanmu, aku tidak akan dapat merubahnya. Tetapi pintu keprajuritan tetap turbuka bagimu. Kapan saja kau datang, kau akan diterima dengan senang hati. Hasil pendadaran yang terlalu berat akan berlaku sepanjang waktu”

Pikatan tidak menyahut.

“Aku belum pernah mengalami pendadaran yang begini berat. Ternyata ada kesalahan pada penilaian para petugas sandi atas kekuatan Hantu Bertangan api di Goa Pabelan, sehingga menimbulkan beberapa korban, bukan saja luka-luka, tetapi ada diantara kita yang gugur. Karena itu, sudah sepantasnya. bahwu kalian, terlebih-lebih kau, harus mendapat penghargaan dan pimpinan keprajuritan di Demak. Dan aku sudah melaporkan semuanya tentang pendadaran ini”

Pikatan menggelengkan kepalanya Tetapi niatnya untuk menjawab diurungkannya.
Demikianlah, maka dihari berikutnya telah datang beberapa buah pedati yang ditarik masing-masing oleh sepasang lembu yang besar. Pedati-pedati itulah yang akan membawa calon prajurit yang terluka. Bukan saja para calon prajurit, tetapi juga orang-orang yang selama ini menghuni Goa Pabelan yang yang terluka di dalam pertempuran yang baru saja terjadi.
Perwira itu tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada rakyat yang telah memberikan pertolongan kepada para calon prajurit itu, dan memberi mereka ganti atas segala sumbangan mereka berlipat, meskipun mereka tidak mengharapkan sama sekali.

Ternyata berita tentang hancurnya gerombolan yang tinggal di Goa Pabelan itu memberikan banyak kegembiraan bagi orang-orang, bukan saja orang-orang yang tinggal di daerah sekitar goa itu, tetapi sampai juga ke tempat-tempat yang jauh. Hantu Bertangan Api di Goa Pabelan telah cukup lama membuat kegelisahan di kalangan rakyat, terutama di daerah Selatan dan lereng Gunung Merapi.

Dengan demikian, maka hasil yang telah dicapai calon prajurit itu merupakan hasil yang melampaui dugaan. Beberapa orang petugas sandi terpaksa harus menelan peringatan yang pahit, karena mereka hampir saja mengorbankan beberapa orang calon prajurit yang terjerumus ke dalam mulut seekor naga yang dahsyat.

“Kita masih menunggu kedatangan seorang lagi“ berkata Tumenggung yang memimpin pasukan kecil itu “kita akan menerima Pikatan diantara kita kelak apabila ia sudah sembuh”
Demikianlah, maka para calon prajurit yang telah sembuh dari luka-luka merekapun segera mendapat wisuda, diangkat menjadi prajurit penuh dengan segala macam hak. tetapi juga segala macam kewajibannya. Bahkan para prajurit yang mengalami pendadaran di Goa Pabelan itu, seakan-akan merupakan prajurit-prajurit saringan, bukan saja kemampuan mereka. tetapi nyawa mereka yang seolah-olah telah tergantung diujung pedang.

Selagi para prajurit baru di Demak itu menginjak hari-hari mereka yang pertama, maka Pikatan dengan kepala tunduk berada di padepokannya. Dengan hati yang cemas, setiap kali Pikatan mencoba menggerakkan tangannya, bahkan sekedar jari-jarinya. Tetapi ia tidak pernah berhasil. Setiap kali ia gagal, maka hatinya bagaikan runtuh dari tangkainya. Semua harapan seakan-akan telah punah. Selama ini ia berusaha dengan keras, tidak menghiraukan waktu. Siang dianggapnya malam, dan malam dijadikannya siang di dalam, menuntut ilmu. Namun belum lagi ia mendapat kesempatan yang dicita-citakan, ia sudah mengalami bencana yang dahsyat itu.

Namun setiap kali gurunya selalu menghiburnya. Memberinya harapan-harapan dan memberinya petunjuk. Tetapi setiap kali hatinya itu masih juga terasa pedih.
Perlahan-lahan luka dipundak Pikatan itu berangsur sembuh Tetapi luka yang agaknya telah memotong nadi induk dipundaknya itu telah melumpuhkan lengannya. Luka yang tidak terasa sakit itu, justru telah membuat hatinya semakin pedih.

”Guru“ berkata Pikatan pada suatu kali “luka itu sudah hampir sembuh. Tetapi aku masih belum berhasil menggerakkan jari-jariku. Aku sudah meminum semua obat yang guru berikan. Aku sudah merendamnya setiap pagi dan sore hari di dalam air hangat. Aku sudah mengurutnya setiap saat, dan aku telah mematuhi segala perintah guru. Tetapi tanganku masih tetap lumpuh”

Gurunya menjadi berdebar-debar. Tetapi, dicobanya untuk menyembunyikan perasaan itu, meskipun harapan didalam dadanyapun menjadi semakin tipis pula. Bahkan akhirnya ia berkata kepada diri sendiri “Kenapa aku menunggu sebuah keajaiban? Seharusnya aku sudah mengetahui, bahwa tangan ini tidak akan dapat pulih kembali untuk waktu yang lama sekali. Bahkan mungkin untuk selama-lamanya”

Meskipun demikian Kiai Purang Tunggal merasa mulutnya seakan-akan tersumbat ketika ia ingin mengatakannya berterus-terang. Sehingga dengan demikian. maka setiap kali rencananya untuk memberi tahukan hal itu selalu tertunda.

Hubungan Pikatan dengan Purantipun selama itu seakan-akan menjadi semakin renggang. Setiap kali Puranti selalu berusaha menemaninya di dalam kesepian, tetapi Pikatan sudah menjadi orang asing baginya. Dan sikap Pikatan itu telah membuat hati Puranti menjadi pedih

“Apakah aku bersalah kakang” bertanya Puranti pada suatu saat kepada Pikatan, setelah perasaan itu tidak tertahankan lagi didalam dadanya.

“Tidak Puranti. Tentu tidak” jawab Pikatan “kenapa kau tiba-tiba saja merasa bersalah“

“Sikapmu menjadi sangat asing bagiku”

“Tidak sama sekali tidak”

“Kalau kakang Pikatan masih Juga menganggap kehadiranku di Goa Pabelan itu sebagai suatu kesalahanku, aku ninta maaf”

“Jangan kau sebut itu lagi, Puranti”

“O, bukan maksudku” Puranti tergagap “tetapi aku sekedar ingin menjernihkan hubungan kita, kakang sekarang ini, seolah-olah acuh tidak acuh saja terhadapku. Seolah-olah aku orang lain sama sekali bagi kakang di rumah ini, sudah bertahun-tahun kita berkumpul di dalam satu atap. Kenapa tiba-tiba saja sikap kakang telah berubah? Sudah tentu kakang mempunyai alasan untuk berbuat demikian. Kalau kakang tidak berkebaratan, aku ingin mendengar alasan itu, agar aku tidak selalu mencari kesalahan pada diriku sendiri”

Pikatan menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Tidak ada yang berubah pada diriku, Puranti. Semuanya sama saja seperti sedia kala. Aku rasa sikapku tidak berubah’ Pikatan berhenti sejenak, lalu “yang berubah adalah tanganku, tangan kananku”

Puranti menarik nafas dalam-dalam, lalu katanya, ia mengetahui pula, bahwa tangan itu menjadi lumpuh. Tangan yang cepat cekatan menggerakkan senjata itu, seolah-olah tidak dapat bergerak sama sekali.

“Kakang” berkata Puranti kemudian “bukankah kau mempunyai dua tangan”

Pikatan mengerutkan keningnya, namun wajahnya kemudian menjadi datar, seakan-akan tidak ada kesan apapun lagi di dalam hatinya menanggapi setiap persoalan.

“Aku bukan orang kidal Puranti. Aku tidak dapat berbuat terlampau banyak dengan tangan kiriku Mungkin benar kata guru, bahwa pada suatu saat tangan kananku akan dapat bergerak lagi, tetapi sudah tentu hanya sekedar bergerak. Tetapi tidak lagi dapat menggerakkan senjata sebagaimana dituntut oleh persyaratan bagi seorang prajurit”

Purantipun menundukkan kepalanya. Ia tidak dapat berkata apa-apa tentang tangan kanan itu. Sebenarnyalah iapun mengetahui, betapa dalamnya luka dihati Pikatan. Betapa kecewa hati anak muda itu. Ia merasa bahwa jalan yang selama ini dirintisnya, kini sudah tertutup rapat-rapat.

“Tetapi, meskipun tanganmu cacat. kemampuanmu sama sekali tidak berubah. Meskipun seandainya tangan kirimu tidak setangkas tangan kananmu kakang, tetapi kemampuanmu masih meampaui kemampuan orang-oraug lain didalam tata keprajuritan”

Pikatan menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Puranti. Aku sudah gagal segala-galanya. Aku tidak berhasil didalam pendadaran itu. Sekarang tanganku cacat. Apakah yang dapat memberikan harapan lagi buatku?“

“Ah”

“Kalau tidak ada pertolongan orang lain, maka aku kini aku sekarang sudah mati. Itukah yang dapat aku banggakan apabila aku menjadi seorang prajurit yang buntung”

“Ah, cukup kakang“ potong Puranti “kau tidak mau mendengar aku mengatakan serba sedikit tentang pertempuran itu. Sekarang kau sendiri yang mengulang-ulanginya. Bukankah sudah aku katakan. bahwa apabila kau menganggap aku bersalah, aku minta maaf dengan hati yang ikhlas”

“Tidak. tidak Puranti. Kau tidak bersalah, justru akulah yang berterima kasih kepadamu. Tetapi aku hanya ingin mengatakan, bahwa kenyataan itu tidak akan dapat memberi kesempatan aku menjadi seorang prajurit. Kemampuanku tidak lebih dari kemampuan seorang gadis. selagi tanganku masih utuh. Selagi kedua tanganku masi dapat bergerak dan menggerakkan senjata. Apalagi kiri…..“

“Cukup, cukup kakang “sekali lagi Puranti memotong. Pikatan. Kini ia berdiri tegak sambil memandang Pikatan dengan tajamnya, tetapi di matanya telah mengembang air mata. Air mata seorang gadis di hadapan seorang anak muda.

Dan tiba-tiba saja Puranti telah meloncat berlari meninggalkan Pikatan langsung masuk kedalam biliknya. Didorongnya pintu biliknya hingga berderak. Kemudian dijatuhkannya dirinya diatas pembaringannya.

Tidak ada seorangpun yang kemudian menjenguknya. Ayahnya baru pergi kesawah. Sedang Pikatan seakan-akan telah membeku di tempatnya. Beberapa orang pembantu yang berada didapur sama sekali, tidak mengetahui, apa yang telah terjadi didalam rumah itu

Purantipun kemudian menangis sepuas-puasnya. Sama sekali tidak terkasan bahwa gadis yang sedang menangis sambil menelungkup dan menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya. Tangan yang sama-sama telah pernah menggemparkan Goa Pabelan. Gadis yang sebenarnya lebih berhak menyebut dirinya prajurit atas pendadaran di Goa Pabelan itu dari Pikatan.

Pikatan masih membeku di tempatnya. Kepahitan yang bertimbun di dadanya membuatnya seakan-akan kehilangan arti dari hidupnya. la tidak melihat lagi, apakah sebenarnya ia masih berguna.

Harga diri dan kekerasan hati membuatnya mudah patah. Patah seperti patahnya arang. Tidak mudah untuk dipertautkannya kembali.

Demikianlah hati Pikatan yang getas itu. Jalur jalannya telah dianggapnya patah. Patah sama sekali.

Gurunya yang selama itu masih saja tidak mempunyai kesempatan untuk mengatakan keadaan Pikatan yang sebenarnya, pada suatu saat telah memaksa dirinya untuk berterus-terang. Ketik luka Pikatan telah menjadi sembuh, sedang tangannya masih saja tergantung disisi tubuhnya, gurunya tidak lagi dapat memberinya pengharapan-pengharapan yang sebenarnya kosong sama sekali.

Ketika pada suatu saat Pikatan merasa bahwa jari-jarinya dapat digerakkannya tanpa dikehendakinya sendiri. Ia malonjak kegirangan. Tetapi ketika ia mencobanya sekali lagi, ia selalu gagal. Gagal dan gagal. Sehingga akhirnya, Pikatan sama sekali tidak mempunyai keberanian lagi untuk mencoba menggerakkan jari-jarinya itu.

“Tanganku sudah lumpuh. Lumpuh sama sekali” anak muda yang gagah itu menangis didalam hati.

Dan apalagi ketika saat itu tiba. Saat gurunya berterus terang kepadanya, bahwa harapan bagi tangannya menjadi semakin tipis.

“Pikalan“ berkata gurunya “aku merasa bahwa lebih baik aku berterus terang”

“Aku sudah tahu guru“ potong Pikatan “bukankah guru ingin mengatakan, bahwa tangan kananku sudah tidak dapat diharapkan lagi?”

Kiai Pucang Tunggal menarik nafas dalam-dalam. Kepalanya terangguk-angguk kecil.

“Tetapi Pikatan, kelumpuhan tanganmu itu tidak mutlak menurut pengamatanku. Kau masih dapat berharap, bahwa tanganmu itu dapat bergerak sedikit demi sedikit. Aku berharap bahwa jari-jarimu masih dapat memegang sesuatu pada suatu saat, apabila kau melatinya, setiap hari kau harus merendam didalam air hangat.

“Aku sudah cukup lama mencoba guru. Tetapi aku tidak pernah berhasil”

“Lambat laun. Tetapi jangan berputus asa”

“Seandainya tangan itu dapat berhasil guru, tetapi tangan itu hanya sekedar dapat menggenggam suap-suap nasi. Tidak menggenggam senjata”

“Pikatan“ berkata gurunya apakah hidup dan kehidupan ini selalu sejalan dengan senjata di dalam genggaman ? Apakah kau tidak melihat sudut-sudut lain yang tidak kalah artinya dari senjata ditangan?“

“Guru, aku sudah memilih jalan Aku tidak akan dapat berbelok”

“Kalau jalan itu teitutup?”

“Itu artinya aku harus berhenti, aku sudah berhenti sampai disini guru”

Sekali lagi Kiai Pucang Tunggal menarik nafas dalam-dalam.

Dipandanginya wajah, Pikatan dengan tatapan mata yang sayu.

“Pikatan” berkata gurunya “misalnya kita ini sebangsa tumbuh-tumbuhan yang tumbuh menjulang tinggi, namun, namun tiba-tiba saja tunas kita menyentuh anjang-anjang apapun, maka ujung batang kita pasti akan merunduk, mencari jalan keluar untuk tetap dapat tumbuh menjulang naik. Kalau mingkin sampai ke matahari”

Pikatan menarik nafas dalam-dalam, tetapi wajahnya kini seakan-akan telah benar-benar membeku,tidak ada bekas-bekas sentuhan kata-kata gurunya itu. Perubahan yang benar-benar telah mengejutkan. Pikatan adalah anak muda yang tertarik pada nasehat-nasehat bagi jalan hidupnya kelak. Tetapi kini semuanya itu bagaikan berlalu diantara kedua lubang telinganya tanpa membekas sama sekali.

“Pikatan“ berkata gurunya kemudian “selain harapan-harapan bagi tanganmu, kau masih mempunyai sebelah tangan, tajam senjatamu bagi kemanusiaan dan kedamaian hati, aku masih mempunyai jalan. Tetapi apa yang akan kau lakukan kemudian Kalau kau memang bercita-cita mencari hidup di jalan ALLAH. ALLAH pasti akan memberimu jalan keluar. Bukan untuk melepaskan dendam karena cacat tangan kananmu, ataupun karena kekecewaan-kekecewaan yang lain”

“Apa yang dapat aku lakukan guru? “

“Tangan kirimu. Aku akan melatihmu, khusus mempergunakan tangan kiri”

“Ah“ Pikatan berdesis “selagi aku rnasih mempunyai sepasang tanganpun aku tidak dapat berbuat apa-apa. Apalagi kini aku hanya mempunyai sebelah tangan. Apakah artinya?“ Pikatan berhenti sejenak. lalu “Sudahlah guru. Biarlah aku berhenti disini., Aku akan kembali ke rumahku. Aku akan tinggal diantara orang-orang yang memang hidup di sekelilingku semasa kanak-kanak2. Aku telah pergi meninggalkan mereka dengan penuh pengharapan. Biarlah aku kembali kepada mereka membawa kegagalan ini. Rumah itu adalah rumahku. Kampung halaman itu adalah kampung halamanku. Aku akan kembali kepada mereka yang pernah aku tinggalkan”

“Apakah yang akan kau lakukan?“ bertanya gurunya.
Pikatan termenung sejenak. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya “Tidak ada guru”
“Pikatan“ berkata gurunya kemudian “kalau kau memang memilih daerah kelahiranmu bagi hidupmu mendatang, berbuatlah sesuatu bagi tanah itu. Bukankah kau pernah mengatakan. bahwa tanah itu adalah tanah yang kering dan tandus. Tanah yang hanya basah apabila hujan turun” gurunya berhenti sejenak, lalu “dan kau pernah berkata, bahwa justru ada sebatang sungai yang mengalir tidak jauh dari padukuhanmu yang kering itu? Pikatan, itu juga suatu lapangan pengabdian. Kau dapat memilihnya. Tanah yang kering dan tandus adalah garapan yang tidak kalah nilainya dari medan peperangan. Apabila kau memilihnya, maka kau sudah melanjutkan cita-citamu yang kau bawa ketika kau berangkat”

Pikatan menundukkan kepalanya. Dengan suara rendah ia berkata “Tidak ada yang dapat aku lakukan guru. Aku sudah cacat Aku sudah kehilangan semua kesempatan”

Gurunya menggelengkan kepalanya. Katanya “Tidak. kau tidak kehilangan kesempatan apapun”

Pikatan tidak menyahut. Dipandanginya noda-noda di kejahuan. Tetapi wajahnya sama sekali tidak memberikan kesan apapun juga.

“Pikatan“ berkata kurunya “kalau kau hanya ingat melarikan diri dari kekecewaan. sebaiknya kau tetap disini”

Pikatan masih tetap berdiam diri. Kepalanya kini menunduk dalam-dalam. Tetapi tidak ada kata-kata yang diucapkannya.

Kiai Pucang Tunggalpun tidak mendesaknya lagi. Sambil menarik nafas dalam-dalam, ditinggalkannya Pikatan seorang diri. Dibiarkannya anak muda itu mencoba merenungi hatinya sendiri.

Tetapi ternyata bahwa hatinya masih tetap kelam. Kenyataan yang dihadapinya memang terlampau pahit. Cacat tubuhnya baginya telah membunuh segala harapan dan telah menutup hari depannya yang sebenarnya masih panjang.

Hati Pikatan menjadi semakin pedih kelika pada suatu hari, padepokan yang sunyi. itu telah didatangi oleh tiga orang prajurit. Salah seorang daripadanya. sudah dikenal oleh Pikatan sebagai pemimpin pasukan kecilnya yang beberapa saat yang lampau menyerang Goa Pabelan.

Betapapun juga dipaksanya dirinya menemui ketiga prajurit itu, meskipun hatinya serasa dibebani segumpal batu.

“Ha, kau sudah sembuh Pikatan“ berkata prajurit itu begitu ia melihat Pikatan berdiri menyongsongnya,

Pikatan mencoba merubah wajahnya yang bagaikan sudah membeku. Ia mencoba untuk tersenyum, betapa pahitnya. “Ya. Aku sudah sembuh “ jawabnya.

Ketiga prajurit itupun segera dipersilahkannya naik ke pendapa.

“Akhirnya aku menemukan padepokan ini“ berkata Tumenggung itu.

“Aku tidak pernah menyembunyikannya“ Pikatan mencoba tersenyum.

Ketiga tamunya tertawa. Dalam pada itu. Puranti telah mengintip kehadiran ketiga prajurit itu di pendapa rumahnya. Dengan penuh pengharapan ia melihat perubahan pada wajah Pikatan,
“Mudah-mudahan kedatangan prajurit itu dapat membangunkannya“ berkata Puranti didalam hati. Tetapi dugaannya ternyata keliru.

Setelah dihidangkan minuman dan makanan, maka prajurit itu pun mulai mengatakan maksud kedatangannya. Tanpa prasangka apapun ia berkata “Pikatan. Kami sudah terlampau lama menunggu. Aku kira kau masih tetap pada niatmu untuk menjadi seorang prajurit. Kini agaknya kau telah sembuh. Kawan-kawanmu selalu mengharapkan kedatanganmu. Kau dapat memberikan kesegaran di dalam pergaulan sehari-hari. Tetapi lebih dari itu. kau memang mempunyai beberapa kelebihan dari kawan-kawanmu”

Dada Pikalan bagaikan tertusuk duri mendengar pujian itu Hampir saja ia berteriak memekikkan kelumpuhan tangannya yang sebelah kanan. Namun ia masih berusaha sekuat-kuat tenaganya untuk menahankannya.

“Nah Pikatan“ berkata prajurit itu seterusnya “apa sekarang? Apakah kau akan segera pergi ke Demak?”

Pikatan masih tetap berdiam diri.

“Aku merasa, meskipun kita baru untuk pertama kali berada di dalam salu pasukan yang sama, tetapi kesan yang aku dapat dari peristiwa Goa Pabelan itu tidak akan pernah aku lupakan. Bahkan aku telah memerlukan datang kepadamu. karena aku menganggap, bahwa kau terlampau lama tidak datang ke Demak, untuk mengisi tempat yang memang telah disediakan untukmu.

Pikatan menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ia ingin menenangkan hatinya yang sedang bergejolak dengan dahsyatnya.

Karena Pikatan tidak segera menjawab, maka prajurit iiu bertanya lagi “Bagaimana Pikatan, apakah kau sudah tidak tertarik lagi untuk menjadi seorang prajurit seperti aku?”

Sekali lagi Pikatan menarik nafas. Tetapi ia tidak dapat berdiam diri tanpa memberikan jawaban apapun. Karena itu, tidak ada alasan lain yang dapat dikatakannya selain keadaannya yang sesungguhnya

“Aku tidak akan mungkin dapat menjadi seorang prajurit” Prajurit-prajurit itu terkejut. Meskipun sejak semula mereka melihat tangan kanan Pikatan yang selalu tergantung disisi tubuhnya. namun mereka tidak menyangka, bahwa tangan itu menjadi lumpuh.
Karena itu, untuk sejenak mereka diam membeku. Mereka tidak tahu apa yang akan mereka katakan. Keadaan itu sama sekalitidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

“Itulah kenyataanku sekarang. Dan aku tidak akan dapat bermimpi untuk, menjadi seorang prajurit, apalagi seorang perwira, karena aku tahu, bahwa untuk menjadi seorang prajurit, seseorang tidak boleh mengalami cacat jasmani yang dapat mengganggu kemampuannya”
Prajurit-prajurit yang datang kepadepokan kecil itu berpandangan sejenak. Merekapun tahu dengan pasti. karena cacat itu, maka tidak akan ada kesempatan lagi bagi Pikatan untuk menjadi seorang prajurit.

Karena iiu, tanpa disadarinya salah seorang prajurit itu berdesis “Pikatan. Kau telah berjuang sepenuh tenagamu. Kau justru orang yang paling banyak berjasa di dalam persoalan itu. Kaulah yang seakan-akan menjadi sebab kekalahan Hantu bertangan api bersama orang-orangnya. Meskipun kau sendiri terluka, tetapi perempuan yang kemudian datang itu, telah menyelamatkan bukan saja kau sendiri, tetapi seluruh pasukan” ia berhenti sejenak lalu “namun sekarang tiba-tiba kau menjadi cacat, sehinggga kemungkinanmu untuk menjadi prajurit menjadi lenyap sama sekali” sekali lagi ia berhenti “tetapi itu bukan berarti bahwa kau tidak dapat bekerja sama sekali di pusat pemerintahan. Meskipun bukan sebagai seorang prajurit, tetapi pasti ada yang dapat kau kerjakan”

”Pekerjaan apa?” bertanya Pikatan.

“Aku dapat menghubungi beberapa pihak di pusat pemerintahan. Aku dapat mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi atasmu. Dengan demikian, pasti akan ada pengertian dari beberapa pejabat yang akan merasa iba melihat keadaanmu. Kau pasti akan mendapat pertolongan dari manapun juga, sehingga kau akan mendapatkan pekerjaan juga meskipun bukan sebagai seorang prajurit”

“Tidak“ tiba-tiba Pikatan memotong “aku tidak ingin menjajakan cacatku untuk mendapat belas kasihan. Aku tidak ingin orang menerima aku di dalam lingkungannya hanya karena belas kasihan dan iba. Tidak. Dan aku berniat untuk menjadi seorang prajurit bukan sekedar karena aku tidak mendapatkan pekerjaan lain. Bukan sekedar karena aku menjadi penganggur. Tidak. Aku berniat menjadi prajurit, karena aku ingin menjadi seorang prajurit.

Sejenak ketiga orang prajurit itu terdiam. Mereka saling berpandangan dengan sorot mata yang aneh.

“Sudahlah“ nada suara Pikatan menurun “aku tidak mendapat tempat lagi di keprajuritan. Itu sudah aku terima. Keadaan itu sudah aku terima dengani lapang dada”
Ketiga prajurit itu menarik nafas dalam-dalam.

“Marilah kita berbicara tentang masalah-masalah lain“ berkata Pikatan kemudian “dan aku mempersilahkan kalian minum dan makan makanan yang sudah tersedia”

Prajurit-piajurit itupun mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka mengerti bahwa hati Pikatan menjadi terlampau sakit karena cacatnya. Itulah sebabnya mereka tidak bertanya lagi.
Dengan ragu-ragu merekapun kemudian mengambil mangkuk dan melekatkannya pada bibir masing-masing. Seteguk air hangat telah membasahi kerongkongan mereka yang terasa menjadi kering.

Prajurit yang memimpin pasukan kecil di Goa Pabelan itu menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk mengelakkan pembicaraan tentang cacat tubuh Pikatan. Dan tiba-tiba saja ia bertanya “Tetapi, siapakah sebenarnya perempuan yang dahulu menolong kita di Goa Pabelan itu?“

“Adikku. Adik angkatku”

“O, ya. Perempuan itu juga sudah mengatakannya, bahwa ia adik angkatmu. Dimanakah ia sekarang?“

“Ia berada di rumah ini pula“ sahut Pikatan

”He. kenapa ia tidak juga menemui kita ? Apakah ia selalu sibuk?“
Pikatan menggelengkan kepalanya.

“Suruh ia menemui kita. Apakah ia sudah bersuami?”

“Tidak. Eh, maksudku belum. Ia belum bersuami. Apakah kau jantuh cinta padanya?“
Pertanyaan itu terasa bagaikan guruh yang meledak. Prajurit itupun. mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia merasa, bahwa arah pembicaraannya tidak menyenangkan hati Pikatan.

Dengan demikian maka prajurit-prajurit itu merasa. bahwa kedatangannya kali ini sama sekali tidak diharapkan oleh Pikatan. Tetapi prajurit- prajurit itupun mencoba untuk mengerti, bahwa kekecewaan yang amat sangat telah membuat Pikatan menjadi agak berubah. Sifat-sifatnya yang dahulu hampir tidak ditemuinya lagi. Wajahnya yang jernih meskipun keras, kini telah berubah menjadi wajah yang beku tanpa tanggapan apapun atas persoalan yang terjadi di sekitarnya bahkan yang langsung menyentuh dirinya.

Bukan saja prajurit-prajurit itu, tetapi Puranti yang meskipun tidak begitu jelas. mendengar percakapan itu dari dalam, menjadi berdebar-debar sehingga, tangannya gemetar. Tangannya yang mantap menggenggam pedang itu serasa menjadi lemah, setelah ia mendengar pertanyaan Pikatan kepada tamunya tentang dirinya.

”Maafkan kami Pikatan“ berkata prajurit itu “sebenarnya kami tidak bermaksud apa-apa. Kami hanya sekedar bergurau seperti kebiasaan kami. Kalau aku bertanya tentang adik angkatmu itupun, aku tidak mempunyai maksud apa apa. Terus terang, kami sangat silau memandangnya. Meskipun ia seorang gadis, tetapi ia memiliki kemampuan lebih besar dari kami, sebagai para prajurit” prajurit itu berhenti sejenak, lalu “tetapi baiklah. Baiklah kita berbicara tentang yang lain. Aku memang tidak mengetahui keadaanmu sebelunmya, sehingga barangkali kata-kataku telah menyinggung perasaanmu”
Pikatan menarik nafas dalam-dalam.

Meskipun prajurit-prajurit itu kemudian mencoba berbicara tentang bermacam-macam hal yang lain, namun suasana pertemuan itu menjadi seakan-akan dibatasi oleh ketegangan yang tersembunyi.

Diruang dalam, Puranti yang tidak dapat menahan perasaannya sebagai seorang gadis. perlahan-lahan sambil berjingkat melangkah ke dalam biliknya. Dengan hati yang kesal dibaringkannya tubuhnya di pembaringannya. Ternyata harapannya, bahwa kedatangan prajurit-prajurit itu akan dapat membangunkan Pikatan yang sedang di cengkam oleh kekecewaan, sama sekali tidak terjadi. Justru setiap persoalan yang dikatakan oleh prajurit-prajurit itu telah salah di pendengaran Pikatan.

“Hatinya segetas arang“ desis Puranti “ apakah tidak ada cara untuk menumbuhkan gairah hidupnya kembali?“

Puranti tetap berada didalam biliknya meskipun kemudian ia mendengar prajurit-prajurit itu minta diri. Hatinya sudah tidak terbuka lagi untuk menemui tamu-tamu itu, karena pertanyaan Pikatan kepada prajurit-prajurit itu tentang dirinya. Sebagai seorang gadis, ia menjadi segan keluar ke ruang depan. Hal itu akan dapat menambah kelesuan di hati Pikatan.

Sepeninggal prajurit-prajurit itu, hati Pikatan justru menjadi semakin gelap. Terasa dunianya menjadi semakin sepi.

Puranti, yang setiap hari melihat kemuraman wajah itu, menjadi murung pula. Bagaimanapun juga ia berusaha, tetapi Pikatan tidak dapat bangkit lagi dari keruntuhan perasaannya itu. Bahkan semakin lama justru menjadi semakin dalam.

Kiai Pucang Tunggal juga sudah tidak berhasil menarik kegairahan Pikatan pada olah kanuragan. Meskipun setiap kali Kiai Pucang Tunggal mencoba untuk membawanya berlatih, namun Pikatan sama sekali sudah tidak berminat lagi.

“Pikatan“ berkata gurunya “selama ini aku mengenalmu sebagai seorang murid yang rajin dan patuh. Kau tidak pernah menolak cara apapun yang aku pergunakan untuk meningkatkan ilmumu. Tetapi sekarang kau sama sekali telah berubah”

“Bagiku olah kanuragan sudah tidak berarti lagi guru“ jawab Pikatan “aku tidak akan dapat menjadi seorang prajurit”

“Ruang lingkup kehidupan ini bukan sekedar dibatasi di dalam lingkaran keprajuritan Pikatan. Kau dapat menyesuaikan diri dengan keadaanmu”

“Ya guru. Dan guru sudah mengatakannya berulang kali. Tetapi sudah berulang kali pula aku jawab, bahwa aku sudah mengarahkan hidupku. Dan kini aku gagal”

Kiai Pucang Tunggal hanya dapat menggelengkan kepalanya

“Karena itu guru. Aku sudah tidak berguna lagi. Tidak berguna bagi Demak dan tidak berguna bagi padepokan Pucang Tunggal.”

Kiai Pucang Tunggal tidak menjawab. Ditatapnya saja wajah Pikatan dengan penuh iba. Namun ia memalingkan wajahnya ketika Pikatan berkata “Kalau aku pergi ke Demak dan mencoba memasuki lapangan pengabdian yang lain, itu adalah sekedar pelarian, karena aku gagal. Maka aku mencari yang lain, yang manpun yang dapat aku raih. Itupun aku masih harus menunggu belas kasihan dari orang-orang lain yang akan bersedia menolong untuk bangkit dari kegagalan ini. Demikian juga bagi padepokan Pucang Tunggal di pegunungan Gajah Mungkur ini. Aku tidak lebih dari orang anak yang harus dikasihani. Dimanjakan dan dijaga agar aku tidak kecewa. Makan minum dan keperluanku disediakakn baik-baiknya supaya aku tidak merajuk dan merengek”

“Pikatan“ berkata Kiai Pucang Tunggal “ternyata kemampuan jasmaniahmu tidak serasi dengan keteguhan hatimu. Karena itu, kekecewaan yang kecil membuatmu patah sama sekali.”

“Memang, persoalanku adalah persoalan yang kecil bagi guru, tetapi tidak untukku”
Kiai Pucang Tunggal hanya dapat menarik nafas panjang kalau ia berbantah dengan anak itu, maka ia.hanya akan menambah benih luka di hatinya. Kiai Pucang Tunggal mengerti, bahwa semuanya telah berubah pada Pikatan. Tidak saja tangannya yang tidak lagi dapat digerakkan, tetapi juga hatinya sudah membeku.

“Guru, aku ingin pergi dari padepokan ini. Aku ingin mencari hidupku kembali“ berkata Pikatan “tetapi walau bagaimanapun, pada suatu saat aku akan kembali kesini”

“Apalagi lagi yang ingin kau katakan Pikatan. Kau pergi hanya kau sekedar melarikan diri dari kegagalan, kemana kau akan pergi?“

“Aku akan kembali kepangkuan kampung halaman. Aku tidak lari. Tetapi aku akan mencari diriku kembali diantara alam di sekitarku di masa kanak-kanak. Disana aku lahir dan dibesarkan. Disana aku akan berkumpul kembali dengan adik dan ibuku”

Kiai Pucang Tunggal menyadarinya, sehingga ia tidak berani lagi melarangnya atau memberi nasehat. Setiap kata-katanya, hanya akan menambah Pikatan jemu dan membuatnya semakin jauh daripadanya.

Tetapi agaknya niat Pikatan memang tidak dapat ditahan, ia Ia benar-benar ingin meninggalkan Gajah Mungkur dan kembali ke kampung halamannya. Kembali kepada keluarganya, kepada ibunya dan kepada adiknya.

Ketika senja mulai merayapi Gunung Gajah Mungkur menjelang keberangkalan Pikatan, Puranti memberanikan diri menemuinya. Ia masih ingin mencoba sekali lagi. Apapun yang dapat dikatakannya.

Tetapi Pikatan selalu menggelengkan kepalanya. Hatinya benar-benar telah membeku.
”Kakang Pikatan “ berkata Puranti “ apakah kakang benar-benar sampai hati meninggalkan aku? “
“Puranti. pada suatu saat aku akan datang kepadukuhan ini dan pada suatu saat aku akan meninggalkannya”

“Tetapi selama kau berada disini, kau telah menggoreskas sesuatu yang tidak akan terhapus. Kalau kau pergi, padepokan tidak akan kembali seperti pada saat kau belum datang”

Bersambung Ke Jilid 03

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s