Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

yang terasing 6

Tinggalkan komentar


Jilid 03-Bab 01 – Kembali ke Sambirata

“Tidak ada bedanya. Yang berubah telah pulih”

“Tidak kakang. Kau meninggalkan bekas. Bekas itulah yang membuat yang dahulu tidak akan sama dengan yang akan datang”

“Aku memang meninggalkan cacat. Mungkin setiap orang tentu akan mempercakapkan aku dengan sudut pandangan mereka musing-masing. Tetapi aku tidak akan ingkar Puranti. Aku akan membawa semuanya itu pulang dengan hati yang lapang”

“Tidak. tidak. Bukan itu kakang”

Pikatan mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Puranti yang suram.
Ketika tanpa mereka sengaja tatapan mata mereka bertemu, masing-masing segera melemparkan pandangan matanya jauh-jauh ke kesuraman senja yang semakin gelap, segelap hati kedua anak-anak muda itu.

“Kakang Pikatan“ berkata Puranti kemudian “aku berharap kau tetap tinggal disini. Tinggal di padukuhan ini bersama degann keluargaku yang kecil”

Pikatan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia kemudian menjawab “Tidak sepantasnya aku tinggal disini, Puranti. Padepokan ini adalah padepokan yang meskipun kecil dan terpencil, namun di dalanya tinggal mutiara-mutiara yang tidak ternilai harganya. Tanpa memperagakan diri sendiri sebagai permata yang paling berharga, namun terselubung oleh kesederhanaan yang jujur” Pikatan berhenti sejenak. lalu “Aku tidak pantas berada diantara kalian Puranti. Aku tidak lebih dari sebutir batu yang telah retak. Sama sekali tidak ada harganya”

“Jangan katakan hal itu kakang Pikatan. Kau ternyata salah menilai karena keretakkan didalam perasaanmu. Kau mengalami kekeeewaan yang sangat. Tetapi akupun mengalaminya pula. Aku tidak pernah membayangkan, bahwa sesuatu telah tumbuh dan berkembang di dalam padepokan ini pada saat kau datang. Sikapmu, tingkah lakumu dan kemauanmu telah terpahat dipusat jantung padepokan kecil ini kakang Pikatan“ suara Puranti menurun. Dan tiba-tiba saja wajahnya menjadi tegang. Keringat dingin mengalir membasahi segenap pakaiannya. Dan terdengar suaranya serak “Kalau aku bukan seorang gadis, aku dapat membuka segenap hatiku. Tetapi aku seorang gadis kakang. Meskipun. kita sudah hidup bersama untuk waktu yang lama, tetapi bagimu aku tetap seorang gadis, dan bagiku kau adalah seorang laki-laki”

Pikatan menarik nafas dalam-dalam. Ketika Puranti menundukkan kepalanya, dipandanginya gadis itu dengan tajamnya. Terasa sesuatu berdesir di dadanya.

“Kalau saja aku tidak ingkar“ berkata Pikatan didalam hati.

Tetapi Pikatan menggelengkan kepalanya. Dicobanya untuk menindas semua perasaan yang telah tumbuh selama ini. Perasaan yang disimpannya rapat-rapat, karena ia merasa, bahwa Puranti adalah puteri satu-satunya dari gurunya. Ia tidak berani menyatakan isi hatinya, agar apabila tidak berkenan dihati ayah gadis itu, tidak akan tumbuh batas yang mengantarai hubungan antara guru dan murid.

“Kakang Pikatan“ berkata Puranti kemudian “apakah kau benar-benar tidak dapat merasakan getar perasaanku?, Apakah kau lebih senang melihat aku meninggalkan harga diriku dan bersimpuh di hadapan seorang laki-laki”

Pikatan masih tetap berdiam diri meskipun dadanya terasa bergejolak dengan dahsyatnya.

“Dan kini aku sudah melakukannya kakang, Aku sudah berbuat serendah ini untuk melepaskan himpitan perasaanku. Kepergianmu akan membuat padukuhan ini menjadi sepi, dan kau akan tetap meninggalkan goresan yang terpahat dihatiku”

Pikatan masih tetap membisu. Namun ia mengerutkan keningnya ketika ia melihat bayangan yang berkilat-kilat dimata Puranti. Setitik air mata telah membayang di pelupuknya.

“Puranti“ berkata Pikatan kemudian “jangan kau sangka bahwa aku berhati batu”

“Kakang“ Puranti mengangkat wajahnya.

“Aku tidak akan menjadi murid yang terlalu baik seandainya aku tidak mempunyai pamrih. Pamrih seorang anak muda yang setiap hari melihat seorang gadis yang mengagumkan. Aku akan berterus terang Puranti. bahwa aku pernah berharap, pada suatu saat aku akan mendapatkan terlalu banyak karena kehadiranku dipadukuhan ini. Aku ingin mendapatkan ilmu sebagai bekal untuk mencapai cita-citaku menjadi seorang prajurit. Tetapi disamping itu, akupun berharap untuk mendapatkan sisihan hidupku kelak yang mengerti tentang aku, tentang jalan kehidupan seorang prajurit. Tetapi kini semua harapan itu menjadi buram, dan bahkan lenyap sama sekali”

“Tidak. Tidak kakang. Apakah kau ingin aku mengatakannya?. Kalau dengan demikian kakang akan tinggal untuk selamanya dipadukuhan ini, aku akan melakukannya”

“Puranti“ berkata Pikatan “kau adalah seorang gadis. Kau mempunyai kelebihan sebagai seorang gadis. Dipadukuhan ini, menurut penilaianku, tidak ada seorang gadispun yang dapat menyamaimu. Tetapi lebih dari itu, kau memiliki kelebihan khusus yang tidak lumrah dimilki oleh seorang gadis. Dan itu adalah kebetulan karena ayahmu seorang guru yang mumpuni, dan tidak mempunyai seorang anak laki-laki“ Pikatan berhenti sejenak, lalu “karena itu, hari depanmu harus merupakan, hari-hari yanig cemerlang. Kau harus menyadari tentang dirimu sendiri. Kau adalah seorang gadis yang cantik, Puranti. Dan kau memiliki ilmu yang tinggi”

“Cukup, cukup. Kalau wajah yang cantik dan ilmu yang tinggi itu akan menjadi penghalang. Maka aku akan mengorbankannya”

“Jangan, jangan berkata begitu Puranti. Kau tidak akan dapat melakukannya”

“Aku dapat melakukannya kakang. Kalau itu yang kau kehendaki. Aku dapat menjadikan wajah ini semakin buruk, dan melenyapkan semua ilmu yang ada padaku. Aku dapat membuat diriku cacat dan tidak mampu berbuat apa-apa lagi”

“Itu hanya akan menambah korban yang tidak berarti. Hanya orang-orang yang agak cacat akalnya, membuat dirinya sendiri sengaja cacat dan tidak cantik. Karena itu, jangan kau coba melakukannya. Itu tidak akan menolongmu. Cacat yang kau buat itu sama sekali tidak akan menyembuhkan cacatku dan tidak akan dapat membangkitkan haiapan-harapan yang telah lenyap dari padaku”

Sekilas Puranti memandang wajah Pikatan yang tegang. Namun wajahnya itu kemudian tertunduk lesu. Dan ia masih mendengar Pikatan berkata “Puranti. Kau masih harus banyak melakukan sesuatu. Ayahmu pasti berpengharapan membuat kau menjadi seorang gadis yang aneh bagi kebanyakan gadis. Tidak banyak orang yang mengetahui tentang keadaanmu yang, sebenarnya, bahkan barangkali kawan-kawanmu bermainpun tidak mengetahui bahwa kau mampu mengalahkan dua orang penjahat yang ditakuti oleh laki-laki yang manapun juga sekaligus. Namun pada suatu saat pasti ada kewajiban yang akan dibebankan kepadamu oleh ayahmu”

Puranti masih menundukkan kepalanya.

“Pandanglah hari depanmu yang masih panjang. Lupakan aku yang cacat, karena aku tidak pantas untuk hidup di padepokan ini”

“Kakang Pikatan“ suara Puranti menjadi parau “kau mampu memberikan beberapa nasehat kepadaku. Kau menyebut bahwa hari depanku masih panjang dan tidak sepantasnya aku korbankan. Tetapi kenapa kau tidak berusaha menasehati dirimu sendiri?“

“Aku sudah kehilangan kepercayaan kepada diriku sendiri”

”Bukankah kesadaran tentang hal itu merupakan pangkal untuk merubah sikap”

“Tidak Puranti”

“Jadi kau tetap pada pendirianmu?“

Pikatan menganggukkan kepalanya. Dari celah-celah bibirnya terdengar suaranya lirih “Aku harus minta diri kepadamu Puranti. Lebih baik bagiku untuk menyingkir. Kau akan segera melupakan semuanya, dan kau akan menemukan pegangan buat hari depanmu yang lebih baik”

Puranti tidak inenjawab. Tetapi dengan susah payah ia bertahan untuk tidak menangis.
Sejenak keduanya saling berdiam diri. Terasa dada Puranti menjadi semakin sesak. Nafasnya seakan-akan tersumbat di kerongkongan

Karena itu, maka sejenak kemudian sambil menahan perasaan sekuat-kuat dapat dilakukan ia berkata “Baiklah kakang Pikatan. Kalau kita memang harus berpisah, biarlah kita berpisah. Aku tidak akan menghambat perpisahan yang memang harus terjadi ini dengan air mata. Aku akan mencoba melihat masa depanku sambil tersenyum, walaupun betapa pahitnya yang akan aku rasakan”

Pikatan tidak menyahut. Ketika Puranti kemudian berdiri, dirasakannya dadanya berdentangan semakin cepat.

“Kita akan mencari jalan kita masing-masing” berkata Puranti kemudian. Sedang Pikatan sama sekali tidak menyahut.

“Selamat malam kakang Pikatan”

Suara Pikatanlah yang kemudian serasa hanya bergumam dimulutnya. Puranti yang kemudian meninggalkannya hanya mendengar sebuah desah yang lesu. Tetapi Puranti tidak berpaling. Ia berusaha menyembunyikan kepedihan hatii karena perpisahan itu. Perpisahan yang memang harus terjadi.

Demikianlah, maka Pikatan tidak lagi dapat ditahan. Ketika matahari kemudian terbit, Pikatan sudah menyiapkan diri untuk meninggalkan padepokan Pucang Tunggal di Gajah mungkur.

“Sayang sekali“ desis Kiai Pucang Tunggal “kau harus meninggalkan padepokan ini”

Pikatan menundukkan kepalanya ”Mudah-mudahan kau dapat menemukan dirimu kembali Pikatan”

Pikatan tidak menyahut.

“Selamat jalan. Mudah-mudahan kau selamat di perjalanan. Salamku buat orang tuamu. Pada suatu saat, aku ingin juga berkunjung ke kampung halamanmu”

“Kami akan sangat bersenang hati guru. Jasa guru selama ini tidak akan pernah aku lupakan”

“Jangan kau katakan bahwa aku pernah berjasa apapun juga kepadamu Pikatan. Kau pergi dari kampung halamanmu dengan harapan. Sekarang kau pulang setelah kau merasa kehilangan semuanya. Apakah ada jasaku selama ini terhadapmu? Bukankali kau secara rohaniah mengalami kemunduran? Kau dahulu masih berpengharapan. Sekarang sama sekali tidak. Karena itu seharusnya aku yang meminta maaf kepadamu, bahwa aku telah mendorongmu terjerumus ke dalam keadaanmu yang tiada bermasa depan sama sekali”

“Ah“ tetapi Pikatan tidak menjawab. Sindiran gurunya terasa lerlampau tajam menggores jantungnya.
Demikianlah Pikatanpun kemudian meninggalkan halaman padepokan kecil itu. Puranti yang mengantarnya sampai ke regol tersenyum sambil berkata “Aku masih mengharap, bahwa kita akan dapat bertemu lagi kakang Pikatan”

Pikatan mengnggukkan kepalanya. Tetapi kini justru terasa aneh padanya, bahwa Puranti melepaskannya dengan senyum di bibirnya.

“Perjalanamnu pasti merupakan perjalanan yang menyenangkan. Kerinduan pada kampung halaman, pada keluarga, maka kenangan masa kanak-kanak, akan membawamu cepat-cepat melintasi jarak yang jauh ini”

“Ya. Puranti”

“Kalau kakang sempat, kelak datanglah ke rumah ini”

Pikatan mengerutkan keningnya. Puranti hanya minta kepadanya apabila ia sempat.
Namun Pikatan mengangguk pula “Ya Puranti”

Masih ada yang akan diucapkan oleh Puranti. Tetapi mulutnya seakan-akan sudah terbungkam. Dan ia hanya dapat mengucapkan “Selamat jalan kakang Pikatan”

Ketika Pikatan menjawabnya “Terima kasih“ Pikatan masih melihat Puranti tersenyum. Dan Pikatanpun kemudian melangkah rneninggalkan regol halaman itu. Beberapa langkah ia berjalan sambil menundukkan kepalanya. Hampir di kelok jalan ia berpaling. Tetapi ia sudah tidak melihat Puranti dan ayahnya lagi.

Sebuah desir tergores dihatinya. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Tetapi Kiai Pucang Tunggal dan Puranti telah hilang dibalik regol sebelum ia sampai di tikungan terdekat.

“Aku memang tidak berharga lagi bagi mereka“ berkata Pikatan di dalam hatinya ”mereka tidak sempat lagi menunggu aku sampai hilang di tikungan“

Pikatanpun menundukkan kepalanya. Sebuah pertanyaan telah tersirat dihatinya “Apakah aku benar-benar telah menyakiti hati keluarga kecil itu?“

Tetapi Pikatanpun kemudian melangkah terus. Ditikungan, sekali lagi ia berpaling. Meskipun pintu regol halaman padepokan Pucang Tunggal masih terbuka, namun ia tidak melihat ayah dan anaknya itu lagi. Yang dilihatnya melintas adalah seorang pelayan menjinjing keranjang. Dan Pikatanpun kemudian berjalan terus.

Pikatan menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dilayangkan pandangan matanya kedepan menyapu lembah yang tidak begitu dalam. Dilihatnya kemudian pegunungan yang berjajar mengelilingi sebuah dataran yang rendah. Diujung dataran itu dilihatnya cahaya yang berkilat-kilat diantara hijaunya hutan yang lebat. Sebuah rawa yang memantulkan cahaya matahari pagi yang cerah. Rawa Pening.

Pikatanpun kemudian mulai menuruni tebing perlahan-lahan. Sebelah tangannya menjinjing sebuah bungkusan kecil, sedang ta-gannya yang lain tergantung lemah disisi tubuhnya, terayun-ayun seperti sehelai tambang yang lemas tanpa tulang dan otot bebayu.

Tidak seorangpun yang berpapasan dengan Pikatan menduga, bahwa anak muda itu pernah mangikuti pendadaran untuk menjadi seorang prajurit. Bahkan termasuk salah seorang yang terbaik diantara kawan-kawannya. Tetapi kini Pikatan yang berjalan menyelusuri jalan sempit itu melangkah terhuyung-huyung dengan kepala tunduk. Tidak ada tanda-tanda apapun, bahwa ia memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan. Tidak ada senjata apapun pada tubuhnya. Tidak ada pancaran sinar kejantanan disorot matanya.

Dan memang Pikatan ingin menempuh perjalanan itu sebagai orang biasa. Orang yang lemah dan tidak mempunyai kelebihan apapun dari orang lain.

Sebenarnyalah, ketika Pikatan benar-benar melangkah keluar dari regol halamannya, Puranti tidak dapat menahan hati lagi. Dengan sekuat tenaganya ia bertahan untuk tetap tersenyum. Tetapi demikian Pikatan berjalan menjauh, hatinya serasa akan meledak. Tiba-tiba saja ia berlari masuk kedalam rumahnya langsung kebiliknya. Dijatuhkannya dirinya sambil menangis sejadi-jadinya. Tangis yang sudah lama ditahankannya didalam hati. Tiba-tiba telah meledak dengan dahsyatnya.

Perlahan-lahan ayahnya, mendekatinya. Dengan sepenuh pengertian sebagai seorang ayah, Kiai Pucang Tunggal duduk dibibir pembaringan. Perlahan-lahan dibelainya anaknya sambil berkata “Jangan menangis Puranti”

Puranti sama sekali tidak menjawab. Tangisnya masih saja tidak dapat ditahankannya. Dan ayahnyapun kemudian membiarkan menangis, agar hatinya menjadi sedikit lapang.
Setelah tangis Puranti mereda, maka ayahnya berkata pula “Sudahlah Puranti. Jangan kau tangisi kepergiannya”

Puranti mencoba mengangguk.

“Aku mengerti perasaanmu Puranti” berkata ayahnya pula “selama ini aku selalu melihat sikapmu dan sikap Pikatan. Sebenarnya akupun berdoa, agar hubungan itu dapat berlangsung langgeng. Tetapi yang terjadi bukanlah yang kita kehendaki bersama. Karena itu, kita Wajib menerimanya dengan hati yang lapang”

Sekali lagi Puranti mengangguk.

“Puranti, memang tidak terlampau mudah untuk melupakannya. tetapi aku mengharap agar kau dapat melakukannya. Sampai saat ini ilmumu yang sudah lengkap itu masih belum dapat disebut masak. Masih ada kekurangan disana-sini. Kau dapat menyalurkan luka hatimu untuk mengisi kekosongan yang lain. Apakah kau mengerti?“

“Ya ayah”

“Nah, lakukanlah sejak hari ini. Ayah terpaksa meninggalkan padepokan ini barang satu dua hari”

Puranti mengangkat wajahnya. Dipandanginya ayahnya dengan tajamnya. Diantara isaknya yang masih satu-satu. ia bertanya “Apakah ayah akan pergi?“

“Ya Puranti. Hanya karena aku tidak sampai hati melepaskan Pikatan berjalan seorang diri didalam keadaan berputus asa. Banyak hal yang dapat terjadi atasnya di perjalanan. Rumahnya tidak terlampau jauh dari Gunung Merapi lereng Selatan. Kalau kebetulan sekali ia bertemu dengan Hantu muda dari Goa Pabelan, maka ia pasti akan diterkam oleh dendam yang menyala dihati anak muda yang sesat dan menyebut dirinya Hantu bertangan api itu”

“O”

“Tinggallah di rumah Puranti. Hati-hatilah” Puranti menganggukkan kepalanya.

“Memang ada kemungkinan guru Hantu itu datang kepadepokan ini. Tetapi tentu tidak dalam dua hari ini. Kalau orang itu datang juga, maka usahakan, agar kau tidak dapat diketemukannya. Kau dapat bersembunyi di lereng Selatan pagunungan ini. Daerah yang tidak banyak dikenal selain kita berdua dan Pikatan”

“Ya ayah”

“Kau dapat mengintip dari celah-celah pintu apabila ada seorang tamu. Kecuali kalau kau bertemu beradu muka tanpa ada kesempatan menghindar, apaboleh buat”
Puranti menganggukkan kepalanya “Aku mengerti ayah”

“ Nah, bersikaplah sebagai seorang yang berilmu. Meskipun kau seorang gadis, tetapi kau bukan gadis kebanyakan. Kau termasuk seorang gadis yang aneh”

Puranti hanya mengangguk saja. Ia mengerti sepenuhnya pesan ayahnya. Dan karena itu, maka ia tidak boleh lepas dari kewaspadaan. Tetapi, seperti yang dikatakan ayahnya, Kiai Sampar Angin pasti tidak akan datang didalam waktu sepekan dua pekan mendatang.
Demikianlah maka Purantipun ditinggalkan pula oleh ayahnya. Gadis itu sama sekali tidak berkeberatan. karena ia menyadari bahaya yang dapat membayangi Pikatan yang sedang berputus-asa itu. Meskipun seandainya ia mampu melakukan perlawanan dengan satu tangannya, namun anak muda itu pasti lebih senang membiarkan dirinya ditelan oleh bencana.

Tetapi sepeninggal ayahnya, Puranti tidak selalu berada didalam biliknya memeras air mata. Iapun segera memenuhi perintah ayahnya untuk mengisi waktunya dengan mematangkan ilmunya. Ia tidak mau kesepian merenungi pintu-pintu yang terbuka tetapi tanpa seorangpun ada didalam bilik-bilik itu. Daripada duduk sendiri atau berbincang dengan para pelayan tanpa ujung dan pangkal, maka lebih baik bagi Puranti untuk pergi kelereng Selatan pegunungan Gajah Mungkur. Ditempat yang terlindung, gadis itu mulai mencoba memusatkan pikirannya di dalam latihan olah kanuragan.

Namun ternyata tidak semudah yang diduganya. Setiap kali ia hampir berhasil, maka pecahlah pemusatan pikiran itu oleh bayangan yang melintas. Bayangan Pikatan yang cacat. Pikatan yang runtuh karena putus asa yang tidak mudah untuk bangkit kembali dari keruntuhannya.

“Tidak mungkin hari ini“ desis Puranti kepada diri sendiri. Dan gadis itupun kemudian menjatuhkan dirinya duduk dibawali sebatang pohon yang rindang bersandar sebuah batu sebesar kerbau.

Tanpa disadarinya maka Purantipun mulai berangan-angan. ternyata sifat kegadisannya tidak juga berhasil didorongnya dengan latihan-latihan olah kanuragan.

Dalam pada itu, Pikatan yang meninggalkan padepokan Pucang tunggal di padukuham Gajah Mungkur, berjalan dengan penuh kebimbangan. Apakah sebenarnya yang akan dilakukannya? Apakah ia akan ditemuinya dirumahnya? Ibunya yang keras hati, adik-yang manja, dan tetangga-tetangganya yang bodoh dan tanpa cita-cita apapun juga.

Ketika ia dahulu meletakkan harapannya pada Kali Kuning yang mengalir tidak jauh dari padukuhannya, ibunya menolak rencana itu. Bahkan memarahinya seolah-olah ia ingin merubah kodrat yang sudah diberikan atas tanah yang gersang di sekitar Alas Sambirata.

“Persetan dengan tanah gersang itu “gumamnya “ aku sudah tidak mempunyai kemampuan untuk berbuat apapun juga. Semuanya sudah gagal. Ternyata aku tidak dapat menyamai seorang gadis pegunungan didalam olah kanuragan. Apakah artinya aku sekarang yang terlebih-lebih lagi sudah cacat? Ternyata aku memang orang yang tidak berharga. Yang hanya pandai berangan-angan. tetapi apabila terbentur oleh kesulitan, aku tidak akan dapat mengatasinya sendiri. Ternyata aku memerlukan bantuan orang lain” Pikatan menundukkan kepalanya “Dan aku jauh lebih lemah dari hanya seorang gadis, apapun alasannya. Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri lagi”

Dan Pikatanpun merasa dirinya menjadi semakin kecil dan tidak berarti. Karena itulah, maka dengan hati yang kosong ia melangkah seperti orang yang kehilangan tujuan. Tujuan yang masih ada padanya adalah rumahnya. Pulang ke rumah. Hanya itu. Setelah ia berada dirumahnya. tidak ada lagi yang akan dilakukannya.

Demikianlah Pikatan berjalan melintasi hutan-hutan yang jarang dan kadang-kadang bulak yang panjang. Terik matahari tidak dihiraukannya, apalagi debu yang melekat pada keringatnya yang meleleh dari kening.

Ketika anak muda itu menengadahkan kepalanya, dilihatnya, dari kejauhan pegunungan yang hijau. Hutan-hutan yang lebat dan batu-batu yang besar menyodok sebelah menyebelah. Tetapi semuanya itu tidak menarik lagi baginya. Cita-citanya yang dahulu sebelum ia berniat menjadi seorang prajurit, untuk menguasai alam di sekitarnya, ternyata telah pudar pula bersama cacat tangannya. Alam baginya kini adalah kenyataan yang ada. Dan ia sama sekali tidak lagi berminat menumbuhkan kenyataan baru pada alam itu.

Dan dengan demikian Pikatan tidak lagi menghiraukannya. Tidak lagi mempedulikan hijaunya lereng pebukitan, percikan air yang jernih di parit-padit yang liar. Dan sama sekali tidak menarik perhatiannya, dataran-dataran yang basah namun belum digarap tangan.

“Aku akan pulang. Pulang kepada keluargaku” ia menggeram didalam hatinya “keluargaku adalah keluarga yang cukup kaya di padukuhanku. Aku tidak akan kekurangan makan dan minum. Tidak akan kehabisan pakaian sampai hari tuaku. Persetan dengan orang-orang disebeleh-menyebelah. Adalah salah mereka sendiri bahwa mereka tidak dapat berusaha sebaik orang tuaku. Apa peduliku kalau mereka kelaparan. Itu adalah salah mereka sendiri. Salah mereka sendiri”

Dan tiba-tiba Pikatan menghentakkan kakinya. Tanpa disadarinya langkahnya menjadi semakin cepat. Namun bagaimanapua juga, Pikatan tidak akan dapat mencapai jarak yang jauh itu tanpa bermalam di perjalanan.

Ketika malam kemudian menyelubungi alam, Pikatan berhenti dibawah sebatang pohon. Ia sama sekali tidak berhasrat untuk memanjat.

“Aku tidak dapat memanjat lagi dengan satu tangan“ gumamnya. Karena itu dengan malasnya Pikatan menjatuhkan dirinya duduk bersandar batang pohon itu.

Tetapi tiba-tiba ia mengangkat wajahnya ketika dikejauhan ia mendengar suara yang menggetarkan jantungnya. Auman seekor harimau lapar.

“Persetan“ gumamnya “kalau ia mau menerkam aku, biarlah aku mati. Itu akan lebih baik bagiku daripada hidup dalam keadaan seperti ini”

Karena itu, Pikatan tidak menghiraukan lagi auman harimau dikejauhan, atau pekik kera di pepohonan. Bahkan seandainya seeker ular berdesir dibawah kakinya, ia sama sekali tidak akan menghindar lagi.

Dengan demikian, maka ia seakan-akan telah tidak mengharapkan apapun lagi. Dipejamkannya matanya dan Pikatan berniat untuk tidur apapun yang bakal terjadi.
Tetapi ternyata bahwa tidak mudah baginya untuk dapat tertidur didalam kegelisahan hati. Meskipun ia mencoba untuk tidak memikirkan apapun, namun ternyata bahwa ia tidak dapat menyingkirkan pergolakan yang selalu mangetuk dadanya. Satu-satu bayangan masa lampaunya melintas di angan-angannya. Keluarganya, gurunya, gadis cantik di padepokan Gajah Mungkur dan sekaligus seorang yang memiliki kemampuan yang tinggi didalam olah kanuragan, Goa Pabelan, tangannya, dan masa depannya yang gelap.

“Persetan, persetan“ setiap kali Pikatan menggeram sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tetapi setiap kali bayangan-bayangan itu perlahan-lahan datang lagi mengganggunya.

Beberapa saat Pikatan menjadi permainan angan-angannya. Sekali ia bergeser kemasa lampaunya dan sekali ia terdorong kemasa mendatang, sebagai suatu masa yang hitam pekat, sepekat malam yang menyelubunginya saat itu. Seperti sebutir buah kelapa yang dipermainkan ombak tanpa dapat berbuat apapun juga, sehingga lambat laun kepalanya menjadi pening dan dadanya menjadi sesak.

Namun Pikatan terkejut ketika tiba-tiba saja sesosok bayangan telah muncul dihadapannya. Didalam kegelapan malam, Pikatan hanya melihat sesosok tubuh yang hitam berdiri bertolak pinggang. Wajahnyapun tampaknya sekelam pakaiannya, sehingga tidak segera ia dapat menenalnya.

“He, siapa kau yang duduk disini?“ suara orang itu melengking tinggi.

Pikatan tidak segera menjawab. Dicobanya untuk mengamati wajah orang itu didalam kegelapan. Tetapi ia tidak berhasil

“Siapa kau he? Siapa?“

Pikatan manarik nafas daiam-dalam. Tanpa bergerak dari tempatnya ia menjawab “Namaku Pikatan”

“Pikatan, Pikatan“ orang itu mengulang “aku pernah. mendengar nama itu” tiba-tiba suaranya maninggi “dimana rumahmu?“

“Dipadukuhan kecil sebelah alas Sambirata”

Tetapi orang itu menggelengkan kepalanya. Katanya “Aku belum pernah mendengar tempat itu. Tetapi aku sudah pernah mendengar namamu”

“Terserahlah” gumam Pikatan acuh tidak acuh.

“O, aku tahu. Aku tahu sekarang. Aku pernah mendengar nama itu dari Hantu bertangan api di Goa Pabelan. Hantu kerdil yang sekarang sudah terusir setelah satu dari keduanya meninggal. He, kaukah yang membunuhnya?“

Pikatan menjadi berdebar-debar sejenak. Namun kemudian ia menggeleng “Bukan aku”
”Ya. Bukan kau. Tetapi seorang perempuan. Tetapi perempuan itu kawan dekatmu. Mungkin bakal isterimu, atau mungkin saudara kandungmu”

“Bukan apa-apa“ sahut Pikatan.

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Baik, perempuan itu bukan apapun bagimu. Tetapi kau di dalam perkelahian itu. Kau melawan Hantu yang muda, dan perempuan itu telah membunuh Hantu Bertangan Api yang tua”

“Aku tidak melawan yang muda”

“Jadi bagaimana?“

Pikatan tidak menjawab.

“Aku memang tidak melihat perkelahian itu. Tetapi kau pasti ada diantara mereka. Jangan ingkar”

“Hantu itu tidak mengenal namaku”

“Tetapi ia mendengar seseorang menyebutmu dengan nama itu, jangan mencoba mengingkari tanggung jawab. Aku bukan termasuk dalam lingkungan orang yang menyebut dirinya bertangan api tetapi sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa seperti anak-anak gila di Goa Pabelan itu. Aku sudah memperingatkannya, jangan sombong. Tetapi mereka tidak. mau mendengarkan. Bahkan untuk menakut-nakuti lawannya mereka menamakan diri Hantu bertangan api. Nah, akhirnya mereka mengalami kekalahan itu. Kehancuran mutlak” orang itu berhanti sejenak, lalu “Tetapi, aku tidak senang dengan perbuatanmu itu. Kalau kali ini kau hancurkan Goa Pabelan, maka di kesempatan lain kaupun akan menghancurkan aku pula”

“Siapa kau?“ bertanya Pikatan dengan nada datar.

“Akulah yang disebut Elang bermata bara” Pikatan mengerutkan keningnya.

“Kau heran mendengar namaku? Baik, kalau nama itu kurang baik, atau kurang menggetarkan dadamu aku akan menyebut yang lain. Namaku Macan Loreng Berkuku Emas. Begitu? Atau terserahlah kepadamu, nama manakah yang dapat membuatmu gemetar”

Dada Pikatan berdesir mendengar jawaban itu. Hampir saja ia meloncat berdiri. Tetapi tiba-tiba semua getar di dadanya itu bagaikan awan ditiup badai. Pecah berserakan tidak tentu bentuknya lagi,

Sambil menarik nafas dalam-dalam Pikatan menyahut “Setiap nama tidak menggetarkan dadaku”

Orang itu tertawa. Katanya “Kau memang terlampau sombong. Kau sama sekali tidak mengacuhkan. Dengar, aku dapat sekali loncat menikam ulu hatimu. Kau tahu?“

“Ya”

“Dan kau masih tetap duduk tanpa bersiaga? Jangan kau perbandingkan aku dengan Hantu gila di Goa Pabelan itu. Aku dapat mengalahkan keduanya bersama-sama“

“Aku percaya”

“Dan kau merasa dirimu mampu melawan aku sambil duduk?”

“Tidak. Aku tidak akan mampu melawan siapapun juga. Aku tidak akan berkelahi. Aku adalah seorang yang cacat”

“Cacat?, Apamu yang cacat?“

“Tangan kananku”

“Kau mau memancing aku supaya aku lengah. Ternyata kau sangit licik. Tetapi aku tidak sebodoh itu, Ayo, berdirilah. Kita berbuat sebagai laki-laki”

“Aku lidak akan berbuat apa-apa”

“Jangan menghina”

“Aku tidak mempunyai persoalan apapun dengan kau”

“Kau juga tidak mempunyai persoalan apapun dengan Hantu Pabelan itu. Kenapa kau menghancurkan sarangnya? Pada suatu saat kalau kau mendengar tentang, aku dan gerombolanku, kaupun pasti akan datang dan berbuat serupa seperti terhadap gerombolan di Goa Pabelan itu”

“Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku sudah cacat”

“Bohong. Kau pasti akan melakukannya. Karena itu sebelum kau berbuat, lebih baik akulah yang mendahului membunuhmu. Kau bagiku seperti ular di dalam rumah. Kalau tidak aku bunuh, kaulah yang akan membunuhku kelak.

Dada Pikatan menjadi semakin berdebar-debar. Sejenak ia memandang wajah orang itu lagi. Tetapi wajah itu tampak seperti sebuah lukisan yang menakutkan baginya didalam kekelaman malam Hitam.

“Berdirilah, aku bukan pengecut. Kita bertempur“

Pikatan tidak menyahut. Sesuatu terjadi didalam dadanya. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya“

“Aku tidak akan berkelahi lagi”

“Aku akan membunuhmu”

“Lakukanlah, aku tidak akan membela diri”

“He…!“ orang itu menjadi heran “kau berkata bersungguh-sungguh atau kau sekedar ingin menjebak aku?“

“Aku berkata bersungguh-sungguh”

“Kau licik sekali. Kau menipuku”

“Tidak“

“Kalau begitu kaupun licik. Kau tidak mau berkelahi seorang lawan seorang. Tetapi pada suatu saat kau akan membawa sepasukan kawan-kawanmu ke goaku bersama perempuan kebanggaanmu”

“Tidak“

Orang itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Pikatan dengan tajamnya. Pikatan merasa tatapan mata itu bagaikan menusuk jantungnya. Tetapi ia masih tetap duduk ditempatnya.

“Pikatan. Bangkitlah. Kita adalah laki-laki. Meskipun seandainya benar kau cacat, tetapi kau adalah laki-laki. Atau cacatmu itu sekedar dalih karena kau takut bertempur? Karena sebenarnya kau tahu siapa aku?“

Dada Pikatan berdesir mendengar penghinaan itu. Tetapi kegagalannya benar-benar telah melemparkannya ke dalam suatu dunia yang hitam. Kekelaman hati yang tidak dapat dibangunkan dengan cara apapun juga.

Karena itu, setelah merenung sejenak ia menjawab “Aku tidak akan berbuat apa-apa”

“Aku akan membunuhmu. Aku akan mencincangmu dan melemparkan dagingmu kepada harimau lapar di hutan sebelah”

“Lakukanlah”

“He? Jadi Pikatan yang telah berani datang ke Goa Pabelan itu ternyata seorang pengecut yang sedang berusaha membunuh diri sendri denean cara vang paling pengecut pula. Kalau kau memang laki-laki, bunuhlah dirimu sendiri dengan pedang. Hujamkan ke jantungmu. Kau akan segera mati. Mati seorang laki-laki pengecuut yang membunuh diri, Tetapi caranva masih dapat dihargai”

Tubuh Pikatan serasa bergetar mendengar penghinaan yang meniadi-menjadi itu. Tetapi ia benar-benar telah kehilangan nafsu untuk berbuat sesuatu. Apalagi setiap kali ia gagal berusaha mnggerakkan tangan kanannya. Maka semuanya serasa telah pergi. Telah hilang dari hatinya.

“Bangkit, ayo bangkit kelinci buruk “tiba-tiba orang itu berteriak.

Tetapi Pikatan masih tetap duduk ditempatnya.

“Baik“ berkata orang itu “melawan atau tidak melawan, aku akan tetap membunuhmu. meskipun, itu kau sengaja sebagai suatu cara unluk membunuh diri. Membunuh diri karena kau pengecut dengan cara yang pengecut. Dani kau akan berdosa sepuluh kali lipat”

Dada Pikatan berdesir ketika ia melihat orang itu menarik sebuah pisau belati. Sambil mengacukan ujung pisau itu ke dadanya ia berkata “Disitulah letak jantungmu. Aku akan menghunjamkan pisau ini perlahan-lahan sampai menyentuh jantung. Darahmu akan memancar keluar dan lambat laun akan terkuras habis. Dan kau akan mati terkulai dibawah pohon ini. Tidak seorangpun yang akan menemukan mayatmu, karena harimau lapar yang mencium bau darah akan segera datang, mengambil mayatmu”

Pikatan tidak menjawab. Ia masih tetap duduk tanpa bergerak. Sekilas ia melihat pisau berkilat memantulkan cahaya bintang. Tetapi kepalanya kemudian tertunduk lagi.

“Mati adalah penyelesaian yang baik“ katanya “tetapi aku tidak berdosa karena membunuh diri. Aku telah dibunuh orang”

“Gila. Gila sekali” teriak orang itu “kau kira Tuhanmu dapat kau bohongi? Yang penting bukan cara yang kau tempuh, tetapi niat yang tersirat didalam hatimu. Kau sangka Tuhanmu, kalau kau berTuhan, tidak dapat membaca isi hatimu?“

Pikatan tidak menyahut.

Namun tiba-tiba Pikatan terperanjat ketika tanpa diduga-duga orang itu telah meludahi wajahnya. Dengan suara bergetar ia berkata “Aku tidak akan membunuh tikus kecil. Lebih baik membunuh seekor kelinci daripada membunuhmu. Kelinci masih berusaha untuk mempertahankan dirinya dengan berlari-lari dan bersembunyi. Tetapi kau sama sekali tidak berbuat apapun, sehingga bagiku lebih berharga jiwa seekor kelinci daripada jiwa seorang yang ingin membunuh diri tetapi tidak mempunyai keberanian untuk melukukannya”
Tanpa menunggu jawaban Pikatan, orang itupun segera memasukkan pisau belatinya kembali. Sekali lagi ia meludah, kemudian meloncat pergi meninggalkan Pikatan yang duduk gemetar.

Sebagai seorang laki-laki, maka penghinaan itu sudah sampa ke puncaknya. Darahnya mulai mengalir ke seluruh urat nadinya. Namun ketika ia bergerak sejengkal dan tangan kanannya tetap terkulai ditanah, serasa darahnya kembali membeku. Dengan tangan kirinya ia meraih pergelangan tangannya dan meletakkan dipangkuannya.

Pikatan menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan kepalanya tertunduk lesu. Dadanya yang menghentak-hentak serasa menjadi pepat.

Pikatan adalah seorang laki-laki. Ia pernah mengalami tempaan berat lahir dan batin di padepokan Pucang Tunggal di pegunungan Gajah Mungkur. Ia pernah menyatakan dirinya untuk menjadi prajurit dan mengalami pendadaran yang berat. Namun kini ia duduk terkulai dibawah sebatang pohon sambil menundukkan kepalanya. Bahkan terasa matanya menjadi hangat. Setitik air telah mengembun dipelupuknya.

Seumur Mdupnya, sejak ia meninggalkan masa kanak-kanaknya, ia tidak pernah menangis. Namun kini rasa-rasanya ingin ia menangis dan berteriak-teriak untuk melepaskan himpitan yang tidak tertahankan didadanya.

“Apakah kata guru kalau ia menyaksikan peristiwa. ini” desisnya.

Tetapi Pikatan tidak dapat berbuat apapun. Bahkan kemudian ia telah terlempar kembali kedalam keputus-asaannya.

Dalam pada itu, orang yang mengurungkan niatnya untuk membunuh Pikatan itupun berloncatan dari gerumbul yang satu ke gerumbul yang lain dengan cepatnya. Sejenak kemudian ia telah hilang dart pandangan mata Pikatan. Hilang dibalik gerumbul-gerumbul, tetapi juga hilang ditelan gelapnya malam.

Namun demikian orang itu merasa bahwa Pikatan tidak melihatnya lagi, maka iapun segera berhenti. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Kemudian iapun memutar tubuhnya memandang ke arah sebatang pohon tempat Pikatan menyandarkan diri.

Perlahan-lahan orang itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil meraba dadanya ia berkata “Tidak ada cara yang dapat dipergunakan untuk memulihkan kejantanannya”
Orang itupun kemudian duduk disebuah batu yang besar. Dengan sepotong kain diusapnya wajahnya yang bercoreng-moreng. Dan sekali-sekali ia masih saja menarik nafas dalam-dalam. Orang itu adalah Kiai Pucang Tunggal sendiri. Ia masih ingin membangkitkan kejantanan Pikatan dengan caranya. Tetapi ia gagal untuk kesekian kalinya. Ia tidak berhasil membangunkan Pikatan dari mimpinya yang teramat buruk.

Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia berkata “Tidak ada jalan. Biarlah ia kembali kepada keluarganya. Mungkin pada suatu, saat ia masih menemukan cara yang baik”

Karena itu, Kiai. Pucang Tunggal tidak lagi akan mengganggunya. Yang dilakukannya kemudian adalah mengamatinya didalam perjalanan, kalau-kalau ia benar-benar bertemu dengan musuh-musuhnya dan yang benar-benar akan membinasakannya, meskipun sebuah pertolongan baginya hanya akan menambah sakit hati.

Dengan demikian, maka Kiai Pucang Tunggal hanya sekedar mengikutinya saja dari kejauhan, tanpa berbuat apapun juga, karena setiap perbuatannya akan mudah menumbuhkan salah paham.

Demikianlah, maka malampun menjadi semakin malam. Perlahan-lahan bintang-bintang yang bertaburan dilangit bergeser dari tempatnya. Angin malam yang sejuk bertiup dari Selatan.
Pikatan masih duduk di bawah pohoa. Angan-angannya masih saja berputar menjelajahi waktu ke waktu.

Namun angin yang sejuk, perasaan kesal dan lelah, ketidak pedulian dan keseganan memandang kehari-hari depan, melemparkan Pikatan kedalam suatu suasana yang kosong, sehingga akhirnya perlahan-lahan iapun jatuh tertidur.

Pikatan tidak tahu, berapa lama ia tidak menyadari keadaannya. Tetapi suara yang mengejutkan telah membangunkannya. Harimau.

Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Pikatan mengusap matanya yang kabur. Ia mencoba untuk mendengar suara itu kembali. Suara yang telah membuatnya terkejut. Tetapi ia tidak mendengar sesuatu. Ia tidak mendengar harimau yang menggeram siap untuk menerkamnya, atau suara harimau yang meraung keras sekali.

“Tidak ada apa-apa“ desisnya “sebuah mimpi yang buruk”

Tetapi Pikatan sudah tidak dapat memejamkan matanya lagi. Apalagi ketika dilihatnya langit menjadi kemerah-merahan.

“Fajar“ desisnya.

Dengan malasnya Pikatan berdiri. Dikemasinya pakaiannya dan rambutnya. Setiap kali ia mengenakan ikat kepalanya, ia menjadi Kesal karena tangan kanannya tidak dapat membantunya.

Perlahan-lahan langitpun menjadi semakin cerah. Cahaya yang kuning telah memancar di Timur. Burung-burung berkicauan menyambut pagi yang jernih.

Perlahan-lahan Pikatan melangkahkan kakinya. Kalau ia bertemu dengan mata air, atau sebuah parit, ia akan mencuci mukanya.

Tetapi tiba-tiba langkahnya tertegun. Hatinya menjadi berdebar-debar, sejenak ia berdiri membeku ditempatnya, seolah-olah tidak percaya pada penglihatannya.

Beberapa langkah dihadapannya, seekor harimau loreng yang besar tergolek ditanah. Harimau yang sudah mati. Dibeberapa bagian tubuhnya tampak luka-luka yang parah dilumuri darahnya yang sudah kering.

Sejenak tubuh Pikatan bergetar. Bahkan dari mulutnya terdengar desis perlahan-lahan “Siapakah yang telah membunuh harimau ini semaiam?”

Teringat olehnya seolah-olah la mendengar suara auman harimau yang dahsyat sehingga ia terbangun karenanya. Agaknya seekor harimau telah mendekatinya dan hampir saja menerkamnya tanpa diketahuinya.

Tetapi harimau itu mati terbunuh. Ia tidak melihat siapa yang telah membunuhnya dan iapun tidak tahu bagaimana orang yang tidak dikenalnya itu telah membunuh harimau itu. Harimau yang cukup besar dan buas. Gigi-giginya yang tajam dan kukunya, yang runcing. Tetapi harimau itu agaknya tidak dapat melawan tusukan-tusukan yang merobek tubuhnya dibeberapa bagian. sehingga harimau itu, harus menerima nasibnya.

Sekilas terkenang olehnya orang yang semalam mendatanginya dan menantangnya berkelahi, karena ia merasa tersinggung atas kekalahan Hantu di Goa Pabelan. Orang itu membawa sebilah pisau belati dan mengancam akan membunuhnya dengan pisau itu.

“Mungkinkah orang itu yang telah membunuh harimau itu?“ ia bertanya kepada diri sendiri “tetapi kenapa ia berusaha melepaskan aku dari maut? “

Tetapi pertanyaan itu tidak terjawab, dan bahkan akhirnya Pikatan bergumam “Persetan dengan harimau itu. Aku tidak berkepentingan. Aku tidak minta orang lain melepaskan aku dari kuku-kukunya. dan aku memang tidak akan mencoba melawannya seandainya harimau itu menerkam aku sekahpun”

Tetapi sekali lagi Pikatan tertegun ketika ia mulai melangkahkan kakinya. Disamping harimau itu dilihatnya klika kayu yang digurati dengan ujung pisau, bertuliskan huruf yang tersusun menjadi kalimat.

Sejenak Pikatan ragu-ragu. Tetapi dorongan ingin tahunya telah membawanya melangkah mendekati harimau yang mati itu. Dipungutnya kulit kayu itu dan dibacanya guratan-guratan yang ada padanya.

Pikatan mengerutkan keningnya. Dilemparkannya kulit kayu itu sambil berdesah. Tulisan itu mengatakan kepadanya “Tidak enak agaknya mati dirobek-robek oleh seekor harimau. Betapapun pengecutnya seseorang”

“Persetan, persetan“ ia menggeram.

Pikatanpun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan harimau itu. Langkahnya menjadi semakin cepat, seakan-akan ia ingin segera pergi menjauhi tempat yang penuh dengan penghinaan atasnya. Penghinaan lahir dan batin. Namun penghinaan itu tidak mampu membangunkannya dari keputus-asaan.

Demikianlah Pikatan mulai lagi dengan perjalanannya pulang. Pulang ke kampung halaman, pulang kepada ibu dan adiknya. tetapi juga pulang membawa keputus-asaan.

Perjalanannya hari itu sama sekali tidak menarik lagi baginya. Tetapi serasa ada dorongan yang memaksanya berjalan secepat mungkin yang dapat dilakukan. Oleh tempaan jasmaniah yang dialaminya selama berada di padepokan Pucang Tunggal di Gajah Mungkur, maka Pikatan mampu berjalan terus-menerus sehari penuh. Bahkan ketika malam tiba, dan Pikatan masih belum sampai di rumahnya. ia sama dekali tidak mau berhenti. Jarak yang harus ditempuh tinggal beberapa puluh patok lagi, sehingga meskipun sampai jauh malam, ia ingin sampai di rumah malam itu juga. Apalagi baginya, malam adalah waktu yang sebaik-baiknya untuk memasuki padukuhannya tanpa dilihat oleh banyak orang.

Menjelang tengah malam, Pikatan baru mendekati padukuhannya. Di dekat Hutan kecil yang bernama Sambirata. Padukuhan yang sudah lama ditinggalkannya. Meskipun malam gelap, tetapi Pikatan masih dapat melihat, tanah yang kering, sawah yang kosong tanpa ditanami karena ketiadaan air. Hanya dimusim hujan tanah itu menjadi basah. Tetapi dimusim kemarau tanah itu kering seperti pesisir yang penuh dihampari pasir.

Pikatan menarik nafas dalam-dalam. Sejak ia masih berada di rumahnya beberapa tahun yang lalu, tanah yang kering gersang ita selalu mendebarkan jantungnya. Tetapi tidak seorangpun dari padukuhannya yang berminat untuk merubah tata kehidupan yang sudah berpuluh-puluh tahun berlangsung di padukuhan kecil itu. Mereka Menganggap bahwa demikianlah yang harus berlaku ditempat ini. Tanah yang kering dan dedaunan yang kuning dimusim kemarau. Tidak ada usaha sama sekali untuk dapat merubah wajah alam yang memelas ini menjadi wajah yang segar dan hijau.

“Persetan, aku tidak memperdulikan semua itu lagi. Buat apa aku bersusah payah menghias wajah alam, kalau aku sendiri harus mengalami kehancuran oleh cacat justru ditangan kananku? Aku tidak akan mempedulikan semuanya itu lagi. Aku akan kembali kepada ibuku yang berkecukupan sandang dan pangan. Aku tidak bertanggung jawab kepada siapapun yang kelaparan dimusim kemarau”

Dengan demikian Pikatan tidak menghiraukan lagi tanah-tanah yang seakan-akan pecah-pecah dibakar oleh teriknya matahari di wakiu siang, dan membeku oleh dinginnya embun malam.

Namun demikian ketika ia sampai didepan mulut padukuhannya, ia menjadi termangu-mangu. Dahulu diujung lorong itu terdapat sebuah gardu. Kalau gardu itu masih ada, dan beberapa anak-anak muda berada di dalamnya. maka mereka pasti akan menegurnya. Kalau mereka tahu ia datang kembali, maka sebelum ia sampai ke rumah ibunya, ia sudah harus menjawab seribu macam pertanyaan yang menjemukan.

Karena itu, Pikatan menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya mulut lorong yang kehitam-hitaman.

“Tetapi tidak ada sinar pelita digardu itu“ desisnya. Seperti kebiasaannya dahulu, Pikatan dan kawan-kawannya selalu memasang sebuah pelita disudut gardu. Tetapi kali ini sama sekali tidak ada berkas-berkas sinar sama sekali dimulut lorong itu.

Perlahan-lahan Pikatan melangkah maju. Semakin lama semakin dekat. Dengan dada yang berdebar-debar justru timbullah keinginannya untuk melihat, apakah masih juga ada anak-anak muda yang meronda dimalam hari.

Pikatan hanya dapat menarik nafas ketika ia melihat gardu yang dahulu pernah ramai oleh anak anak muda yang meronda di malam hari. Gardu itu kini kosong sama sekali. Bukan saja malam itu. tetapi menilik keadaannya, gardu itu agaknya sudah agak lama. tidak dipergunakannya lagi. Tiangnya sudah miring, dan bahkan beberapa batang bambu alas gardu itu sudah patah-patah. Tidak ada lagi kentongan yang tergantung disudut emper. Dan atapnya sudah berantakkan.

Tetapi sekali lagi Pikatan menggeram “Persetan. Persetan dengan gardu dan anak-anak muda yang menjadi semakin malas. Aku tidak peduli. Aku tidak peduli lagi”

Pikatan dengan tergesa-gesa meninggalkan gardu yang sudah miring itu berjalan menyelusuri jalan padukuhannya yang berdebu.

Tetapi semakin dekat langkahnya dari halaman rumahnya. dada Pikatan menjada semakin berdebar-debar. Bahkan timbul pula pertanyaan didalam hatinya “Kenapa aku pulang? Pulang setelah aku gagal?“

Tetapi Pikatan mencoba mengusir pertanyaan itu dari hatinya. Ia sudah tidak mau berpikir lagi. Ia sudah jemu membuat pertimbangan-pertimbangan. Kini ia ingin pulang. Itu sajalah yang dilakukannya, tanpa menghiraukan apapun lagi.

Kini Pikatan sudah berdiri beberapa langkah dari regol rumahnya. Regol itu masih seperti dahulu juga. Regol itulah agaknya regol yang paling baik di padukuhan kecil itu. Sejak ia pergi meninggalkan rumahnya. Dan kini regol itu pula masih tetap merupakan regol yang paling baik.
Selangkah demi selangkah ia mendekat. Perlahan-lahan dirabanya pintu regol yang tertulup. Sejak dahulu, di malam hari pintu regol itu selalu tertutup dan diselarak. Tetapi ia masih tetap ingat, dua orang penjaga tidur di balik pintu itu.

”Sekarangpun pasti masih ada dua orang penjaga itu“ desisnya didalam hati. Karena itu, maka Pikatanpun mengetuk pintu itu perlahan-lahan.

Seperti yang diduganya, dibalik pintu itu memang masih ada penjaganya. Keduanya sedang tidur nyenyak di gardu kecil dibelakang regol.

Namun ketukan Pikatan itu telah membangunkan mereka. Salah seorang dari mereka bangkit dan duduk sambil mencoba meyakinkan pendengarannya.

Sekali lagi Pikatan mengetuk pintu regol itu. Ia sudah mendengar desah orang-orang yang terbangun itu.

“Siapa he?“ bertanya salah seorang dari keduanya.

“Aku, bukakan pintu”

“Aku siapa?“

“Pikatan”

“Siapa Pikatan? “

Pikatan terkejut mendengar pertanyaan itu. Dua orang penjaga regol rumahnya itu dikenalnya baik-baik. Mereka adalah orang-orang yang disewa oleh ibunya untuk menjaga rumah seisinya. Bahkan bukan hanya dua orang. Tetapi empat orang. Sedang dua yang lain tidur dibelakang. Mereka adalah penjaga ternak. Setiap malam mereka berada dirumah itu, karena ibunya yang termasuk orang terpandang di padukuhan itu. kadang-kadang juga merasa cemas kalau ada orang-orang jahat yang memasuki rumahnya dengan paksa.

“Apakah kalian belum mengenal Pikatan?“ bertanya Pikatan.

“Kami belum mengenal”

“Bukakan pintu, dan kalian akan mengenal aku”

Agaknya para penjaga itu menjadi bimbang. Karena itu mereka tidak segera, membuka pintu.

“Apakah kau pernah mendengar bahwa penghuni rumah ini mempunyai seorang anak laki-laki? Kalau sudah, anak itulah yang bernama Pikatan”

Sejenak Pikatan tidak mendengar jawaban. Tetapi agaknya kedua prang dibalik ragol itu sedang berbisik.

“Kalau kalian ragu-ragu“ berkata Pikatan kemudian “bertanyalah kepada ibuku, penghuni rumah ini. Ia pasti akan berlari-lari untuk membukakan pintu ini. Atau kepada adikku Wiyatsih yang akan segera mengenal suaraku”

Orang-orang didalam regol itu masih ragu-ragu. Namun kemudian terdengar mereka membuka selarak pintu. Perlahan-lahan sekali daun pintu regol itu bergerit. Tetapi pintu itu tidak segera terbuka lebar.

Pikatan mengerutkan keningnya melihat wajah yang tersembul dibalik daun pintu itu. Remang-remang ia melihat wajah yang, lain dari wajah para penjaga pintu disaat ia belum meninggalkan rumahnya.

“Kau orang baru disini?“ bertanya Pikatan. Orang itu tidak menjawab.

“Bukalah pintu. Aku akan masuk”

Perlahan-lahan pintu itu terbuka semakin lebar. Apalagi ketika mereka mengetahui, bahwa Pikatan datang seorang diri.

“Kalau aku orang jahat, aku tidak akan mengetuk pintu. Aku akan meloncat dinding dan menikam kalian selagi kalian tidur” berkata Pikatan kemudian.

Kedua orang itu tidak menjawab. Tetapi meraka memandang Pikatan dengan tajamnya, karena mereka memang belum pernah mengenal anak muda yang baru datang itu.

Pikatan memandang keduanya berganti-ganti. Yang seorang bertubuh tinggi, besar dan berdada bidang. Seorang yang memang pantas untuk tugas seperti yang dibebankan kepadanya saat itu. Di lambungnya tergantung sehelai parang yang besar, dan dipergelangan tangannya membelit sepotong akar yang hitam legam sebesar ibu jari. Sedang yang seorang bertubuh agak kecil. meskipun terhitung orang yang tinggi juga. Meskipun tampaknya ia tidak sekuat kawannya yang seorang, tetapi agaknya ia memiliki kelincahan yang cukup untuk menjalankan tugasnya. Senjatanya, sebilah pedang, tidak lagi tergantung di dalam wrangkanya, tetapi pedang yang telanjang itu telah digenggamnya erat-erat.

Bersambung

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s