Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

yg terasing 8

Tinggalkan komentar


padukuhan ini sebenarnya bukan rakyat yang terlampau malas“ berkata Wiyatsih kepada diri sendiri ”Tetapi mereka seakan-akan terbelenggu oleh cara hidup yang telah dihayatinya berpuluh tahun. Mereka sebenarnya mempunyai kemauan bekerja. tetapi mereka malas berpikir. Mereka sama sekali tidak menumbuhkan cita-cita didalam hati. Mereka hidup seperti yang harus mereka jalani.

Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam.

Sejenak kemudian terbayang cacat di tubuh kakaknya. Begitu mudahnya hatinya menjadi patah. la telah kehilangan harapan untuk menjadi seorang prajurit, dan harga dirinyapun telah tersinggung karena seorang perempuan telah menyelamatkannya.

Perlahan-lahan Wiyatsih berdesah. Bahkan iapun kemudian bangkit dari pembaringannya dan duduk tepekur merenungi nyala pelita yang tersangkut didinding.

“Kalau paceklik ini bertambah-tambah, maka ibu akan semakin banyak menghitung lidi karena semakin banyak orang yang berhutang kepadunya“ desis Wiyatsih di dalam hatinya “tetapi tentu ketenteramanpun akan menjadi semakin terganggu. Seperti tahun lalu, di musim kering yang panjang, maka padukuhan ini akan dijamah oleh pencuri-pencuri dan bahkan perampok-perampok. Padahal anak-anak muda di padukuhan ini sama sekali tidak berbuat apa-apa. Gardu itu semkin lama semakin tidak berarti sepeninggal kakang Pikatan.

Sebenarnyalah yang dicemaskan oleh Wiyatsih itu memang terjadi. Di waktu terakhir mulai terdengar keluhan orang-orang di sekitar padukuhan itu, bahwa pencuri-pencuri mulai berkeliaran dimalam hari.

Tanpa disadarinya maka malampun menjadi semakin malam. Rumah itu telah menjadi semakin sepi. Agaknya ibunya dan Pikatan lelah tertidur dengan nyenyaknya. Wiyatsihprm kemudian kembali merebahkan dirinya dipembaringan. Dicobanya untuk memejamkan matanya. Namun ia benar-benar tidak dapat tertidur sama sekali.

Tiba-tiba saja didalam keheningan malam, Wiyatsih itu dikejutkan oleh suara titir dikejauhan. Jauh sekali. Pasti bukan berasal dari padukuhan ini. Namun suara itupun ternyata menjalar dari padukuhan yang satu kepadukuhan yang lain. Rumah-rumah yang memiliki kentonganpun. segera menyambut bunyi titir itu, sehingga beberapa padukuhan disekitar Alas Sambirata itu menjadi riuh oleh bunyi titir yang sahut menyahut

Pikatan yang juga mendengar bunyi titir itupun tiba-tiba terloncat dari pembaringannya. Sejenak ia berdiri tegang. Namun sejenak kemudian tubuhnya menjadi lesu. Dirabanya tangan kanannya yang tergantung dengan lemahnya.

Sekali Pikatan berdesah. Kemudian dengan acuh tidak acuh iapun kembali merebahkan dirinya.
Ia terkejut ketika pintu biliknya terdorong dengan serta-merta. Dilihatnya adiknya, Wiyatsih berlari-lari masuk kedalam bilik itu.

“Kakang, kau dengar titir itu? “ Kakaknya menganggukkan kepalanya.

“Kau dengar?“

“Titir. Ada dua kemungkinan telah terjadi. Perampokan atau pembunuhan”

“Ya. Aku tahu”

“O” Wiyatsih tertegun sejenak, namun kemudian “dan kakang masih saja berbaring dipembaringan”

“Lalu apa yang harus aku kerjakan?“

Wiyatsih menjadi heran mendengar jawaban itu, sehingga untuk sejenak ia justru terdiam.
Tetapi ternyata Pikatan masih saja berbaring diam di pembaringannya. Anak muda itu sama sekali tidak berusaha untuk berbuat sesuatu.

“Kakang“ berkata Wiyatsih kemudian “kakang tidak berbuat sesuatu? Suara titir itu semakin lama semakin merata”

“Ya, apa yang harus aku lakukan?“

“Kakang sebaiknya bangun dan keluar ke halaman. Melihat-lihat apakah yang sudah terjadi”
Tetapi Pikatan menggelengkan kepalanya. Katanya “Tidak ada gunanya. Perampokan atau pembunuhan itu sudah terjadi. Buat apa kita ribut-ribut sekarang? Buat apa kita berjaga-jaga justru setelah perampokan dan pembunuhan itu terjadi? Itu adalah suatu tindakan yang bodoh. Perampok atau pembunuh itu tidak akan melakukannya untuk kedua kalinya malam ini”

“Tetapi, kita dapat membantu menangkap mereka”

“Biarlah para pengawal padukuhan ini melakukannya”

“Siapakah pengawal padukuhan itu?“

“Anak-anak muda. Mereka harus membentuk diantara mereka sendiri untuk menjaga padukuhan ini”

“Disini tidak ada pengawal itu”

“Itu bukan salahku”

“Tetapi apa salahnya kita berjaga-jaga dirumah kita sendiri?”

“Di regol halaman sudah ada pengawal”

“O“ Wiyatsih benar-benar tidak mengerti, kenapa kakaknya menjadi acuh tidak acuh terhadap keadaan. Bahkan dalam keadaan yang gawat sekalipun. Namun demikian ia tidak dapat memaksanya. Perlahan-lahan ia melangkah surut. Begitu ia melangkahi tlundak pintu, gadis itupun segera berlari kebilik ibunya. Tetapi ibunya sudah tidak ada didalam biliknya. sehingga Wiyatsih itupun segera berlari lagi kebutulan.

Ternyata pintu butulan itu sudah terbuka. Ia melihat ibunya berdiri diluar pintu. Disekitarnya berdiri beberapa. orang laki-laki dengan senjata ditangan. Diantaranya adalah para penjaga regol.

“Cepat, awasilah setiap sudut” berkata ibunya.

Beberapa orang laki-laki itupun kemudian berpencaran ketempat yang berbeda-beda. Mereka adalah para penjaga, pelayan dan pekerja-pekerja dirumah.

Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam. Hatinya menjadi agak tenteram ketika ia melihat beberapa orang laki-laki bersenjata, yang ikut menjaga rumahnya.

Namun peristiwa malam itu benar benar telah menumbuhkan kecemasan pada setiap orang Apalagi mereka yang merasa mempunyai sedikit kelebihan kekayaan dari tetangga tetangganya, menjadi gelisah.

Terlebih-lebih ketika berita tentang titir itu lelah tersiar dipagi harinya. Sebuah perampokan dan hampir sebuah pembunuhan. Ketika pemilik rumah yang dirampok bersama dua orang anak laki lakinya mencoba melawan, maka perkelahian yang kemudian berlangsung dengan singkat karena jumlah yang tidak seimbang, membuat ketiga orang ayah beranak itu terluka berat. Untunglah bahwa jiwa mereka masih dapat tertolong.

Keluarga Nyai Sudatipun menjadi cemas pula karenanya. Para pelayan dan pembantu rumah tangga yang berkecukupan itu merasa baliwa mereka harus selalu bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Mungkin perampok-perampok itu pada suatu saat akan singgah dirumah itu. Sehingga dengan demikian, maka setiap laki-laki yang ada di rumah itu selalu tidur sambil menyanding senjata.

“Nah, sekarang pekerjaan kita baru terasa berat“ berkata penjaga regol yang bertubuh tinggi besar.

Kawannya duduk disampingnya sambil memeluk lututnya. Tetapi kepalanya terangguk-angguk lemah.

“Mungkin pada suatu saat, regol ini akan diketuk orang. Kalau kita tidak mau membukanya, mereka akan memecah pintu regol ini dan kita harus berkelahi” suaranya kemudian menurun “sudah bertahun-tahun aku tidak berkelahi. Sejak aku hampir saja menimbulkan kematian ketika aku berkelahi dengan saudara sepupuku yang mencoba menghina ibuku”

Kawannya mengangguk-angguk. Aku sudah hampir tujuh tahun tidak berkelahi. Mungkin pada suatu saat kita akan berkelahi lagi”

“Di halaman ini ada tujuh orang laki-laki. Kita berdua. Dibelakang ada dua orang penjaga ternak. Pekatik dan juru pengangsu. Mereka akan dapat membantu kita apabila ada bahaya yang sebenarnya”

“Masih ada satu. Pikatan”

Tetapi kawannya menggelengkan kepalanya ”Kita tidak dapat mengharap apa-apa daripadanya”

“Ya. Kita tidak dapat mengharap” ia terdiam sejenak, lalu “kalau keadaan memaksa, maka anak-anak muda di padukuhan ini pasti akan berjaga-jaga setiap malam. Gardu itu akan diperbaiki dan peronda akan berkeliling padukuhan dengan kentongan ditangan mereka. Irama kotekan akan bergema dihampir sepanjang malam.

“Anak-anak muda dari padukuhan ini adalah anak-anak muda yang malas”

Kawannya mengerutkan kdningnya. Jawabnya “Mereka bekerja hampir sehari penuh”

“Ya, untuk mencukupi makaan mereka sehari hari. Itupun terlampau terbatas. Tetapi dimusim basah, apabila panen meradi agak baik, mereka sama sekali tidak berbuat apa-apa. Mereka hanya bersenang-senang dan bergerombol hilir mudik tidak menentu. Baru setelah persediaan makan mereka hampir habis. mereka bekerja sehari penuh. Namun pada dasarnya mereka bukan orang-orang yang rajin”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi ia tidak menyahut sehingga keduanyapun sejenak kemudian terdiam. Yang terdengar menyusup disepinya malam adalah suara cengkerik yang berderik bersabut-sahutan.

“Tiba-tiba saja aku jadi merinding“ bisik yang seorang. Kawannya mengangkat wajahnya. Dipandanginya langit yang cerah dan bintang yang bertaburan.

“Sebaiknya kita tidak berada disini. Kalau kita lengah, maka kita tidak akan mendapat kesempatan berbuat apa-apa. Mereka yang ingin berbuat jahat. tidak saja menunggu pintu ini terbuka. Tetapi mereka dapat memanjat dinding, meloncat masuk dan mendekap kita disini”

“Ya. Kita berpindah tempat. Kita duduk saja dipendapa yang luas, sehingga kita,dapat melihat siapapun yang naik ke pendapa dan mempunyai kesempatan mempersiapkan diri”

Keduanyapun kemudian meninggalkan gardu kecil di regol itu dan duduk di tangga pendapa. Namun dari tempat mereka duduk, mereka masih dapat mengawasi pintu regol yang sudah diselarak rapat-rapat.

Demikianlah, dari malam kemalam berikutnya, hampir setiap orang selalu dibayangi oleh kecemasan. Bahkan orang yang miskin-pun menjadi gelisah pula. Bukan saja karena persediaan mereka menjadi semakin tipis, tetapi juga mereka cemas bahwa yang sedikit itu akan diambil orang.

Dalam keadaan yang demikian, maka padukuhan kecil itu seakan-akan menjadi semakin suram. Daun-daun menjadi kuning, dan wajah-wajah menjadi layu oleh tekanan penghidupan yang berat, karena musim kering yang terasa terlampau panjang.

Apabila matahari membakar tanah berpasir dibawah kakinya, dan cahayanya menusuk ubun-ubun, Wiyatsih selalu berangan-angan tentang bendungan, susukan yang mengalirkan air diparit-parit dan tanah yang hijau membentang disekitar padukuhannya. Tetapi yang tampak sekarang adalah debu yang terhambur dari tanah yang gersang dan kering.

Ternyata berita tentang gangguan ketenteraman itupun menjadi semakin lama semakin sering. Orang-orang yang tidak mau menjadi kelaparan telah menempuh jalan yang salah. Bahkan para penjahat yang sebenarnya ikut pula mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.

Namun demikian anak-anak muda dipadukuhan Pikatan itupun seakan-akan masih belum terbangun dari mimpi mereka. Tidak ada hasrat sama sekali untuk berbuat sesuatu dimalam hari demi keamanan dan ketenteraman padukuhan mereka. Anak-anak muda itu lebih senang berbaring melingkar dirumah masing-masing dengan dada yang berdebar-debar dan bahkan ketakutan. Namun apabila mereka terlena sejenak. mereka dapat tidur dengan nyenyaknya tanpa diganggu oleh angin malam yang basah seperti apabila mereka berada digardu.

Keluarga Nyai Sudatipun semakin lama menjadi semakin cemas pula. Mereka sadar, bahwa keadaan mereka lebih baik dari orang orang disekitarnya, sehingga tidak mustahil bahwa rumah itu akan menjadi sasaran dari para penjahat dan mungkin juga orang-orang yang kelaparan.

Dalam kegelisahan itu Wiyatsih masih juga mencoba menemui kakaknya dan bertanya “Kakang, apakah tidak ada suatu usaha yang dapat dilakukan oleh anak-anak muda di padukuhan ini?“

“Maksudmu?“

“Kakang dapat mengumpulkan anak-anak muda sepadukuhan dan mengadakan pengamatan dimalam hari berganti-gantian”

Pikatan mengerutkan keningnya. Jawabnya benar-benai tidak dapat dimengerti oleh adiknya “Jadi kita masih, harus memeras tenaga mereka setelah ibu memeras harta dan penghasilan mereka?“

“Maksudmu kakang?“

“Ibu menarik bunga yang tidak terhitung jumlahnya dari mereka, dan sekarang kita harus memeras tenaga mereka pula untuk menjaga kekayaan kita hasil keringat mereka?“

“Kakang?“

“Wiyatsih, orang-orang itu sama sekali tidak berkepentingan dengan penjahat-penjahat dan perampok-perampok. Kalau kita mengajak anak-anak muda untuk meronda. bukankah itu sekedar alasan untuk ikut mengawasi kekayaan kita disini.

“O“ Wiyatsih menutup wajahnya. Hampir saja ia menangis. Tetapi ditahannya air matanya sekuat-kuatnya. Kakaknya benar-benar orang lain dan kakaknya yang dahulu.

Karena itu, tanpa berkata apapun lagi, Wiyatsihpun segera berlari meninggalkan kakaknya dan hilang dibalik pintu butulan.

Sejenak Pikatan berdiri termangu mangu, Ada juga penyesalan yang menyelinap dihatinya, bahwa ia lelah berkata terlampau kasar kepada adiknya yang dahulu sangat manja kepadanya, Tetapi iapun kemudian menggeram “Persetan semuanya Aku tidak peduli apapun yang akan terjadi dipadukuhan ini”

Wiyatsih yang kemudian berlari ke kebun belakang, terhenti sejenak dibawah sebatang pohon melinjo. Sekali ia berpaling, namun kemudian kepalanya menunduk dalam-dalam. Ia masih berusaha sekuai tenaganya Untuk menahan air matanya yang serasa memanasi pelupuknya.

“Aku tidak dapat mengharapkannya lagi“ desisnya. Dengan demikian, maka Wiyatsih mencoba untuk tidak lagi berusaha minta kepada Kakaknya berbuat sesuatu. Setiap kali kata-katanya selalu menumbuhkan salah paham dan kejengkelan.

Tetapi setiap kali berita tentang perampokan, pencurian dan kejahatan-kejahatan yang lain semakin lama menjadi semakin sering. Bahkan jauh lebih banyak terjadi dari peceklik tahun yang lalu. Kali ini tidak saja terjadi perampokan dan perampasan, tetapi kadang-kadang juga disertai pembunuhan.

Dengan demikian, maka hati ibu Pikatanpun menjadi semakin gelisah. Dalam keadaan yang demikian itulah, baru terpikir oleh Nyai Sudati, bahwa para penjaga regol dan para pelayan dirumahnya memerlukan perhatian yang lebih banyak dan sikap yang lebih manis. Keamanan rumah ini sebagian terbesar tergantung kepada mereka, sehingga apabila mereka merasa tersinggung oleh sikap, kata-kata maupun perbuatan, maka keamanan rumah ini akan menjadi semakin gawat.

Para pekerja dan penjaga rumah Nyai Sudati menjadi sangat gembira ketika tiba-tiba saja mereka dipanggil untuk menerima masing-masing sepotong kain lurik yang bagus. Dengan wajah yang manis Nyai Sudali berkata “Nah, kalian dapat mempergunakannya sendiri, atau kalian pergunakan buat keluarga kalian dirumah”

“Terimakasih Nyai, terima kasih”

“Baiklah. Tetapi kalian harus bekerja lebih baik. Terutama keamanan rumah ini. Kelak, dimusim panen, kalian akan mendapat hadiah lagi sesuai upah kerja kalian”

“Terima kasih Nyai” berkali-kali mereka menyatakan terima kasih. Sudah lama mereka tidak sempat membeli sepotong kainpun. Apalagi untuk anak-anak mereka. sedang untuk diri merekapun tidak.

“Jangan lengah“ berkata Nyai Sudati “sekarang keadaan bertambah buruk. Setiap laki-laki dirumah ini harus menjadi penjaga yang baik. Kelak, disaat-saat tertentu kalian akan ikut pula menikmatinya”

“Ya, ya Nyai. Kami akan, berbuat sebaik-baiknya” Demikianlah, maka Nyai Sudati mulai berusaha untuk membuat pekerja-pekerjanya bekerja sebaik-baiknya karena Keadaan yang semakin memburuk.

Namun dalam pada itu Pikatan yang mengetahui keadaan itu berkata kepada ibunya, “Ibu telah menyewa nyawa mereka dengan selembar kain”

“Pikatan”

“Ya. Apakah kain itu cukup berharga buat mereka yang harus mempertaruhkan nyawanya menjaga kekayaan kita disini”

“Selembar kain itu sekedar tambahan. yang aku berikan kepada mereka. Mereka telah menerima upah dari pekerjaan mereka. Dan upah itu sudah saling disetujui“

“Tetapi upah itu terlampau sedikit ibu”

“Lebih baik menerima upah sedikit daripada tidak menerima apapun juga. Selain berjaga-jaga di malam hari, mereka juga menerima upah tersendiri apabila mereka bekerja disawah disiang hari. Apakah itu belum cukup?“

“Tetapi berapa upah yang ibu berikan untuk pekerjaannya dimalam hari dan berapa disiang hari?“

“Kalau ia merasa kurang, Pikatan, ia pasti akan pergi atau minta agar upahnya ditambah. Tetapi mereka tidak pernah berbuat demikian”

“Karena mereka menganggap bahwa yang sedikit itu masih lebih baik daripada tidak. Tetapi seharusnya kita sendiri mempunyai rasa perikemanusiaan. Lain halnya apabila kita sendiri memang kekurangan”

“Tetapi kalau cara yang aku pergunakau seperti katamu itu, Pikatan, maka aku dan kita semuanya akan segera menjadi kekurangan. Padahal ibu menabung tidak sekedar untuk kepentingan ibu sendiri. Sekian lamanya ibu menjanda sepeninggal ayahmu. Sekian lamanya ibu bekerja dengan cara ini untuk hidup kita. Dan ternyata hidup kita tidak berhenti sampai disini. Apalagi kau mengalami cedera di tangan kananmu sehingga kau sendiri merasa, bahwa kau tidak dapat bekerja apapun juga. Nah. apakah yang akan kita pergunakan hidup dihari kemudian. Aku, ibumu tidak dapat mengharapkan bantuan siapapun dihari tua karena satu-satunya anakku laki-laki mengalami cidera. Dan buat masa depanmu sendiri”

“Cukup, cukup“ tiba-tiba Pikatan memotong. Sejenak dipandanginya wajah ibunya dengan tegang. Namun kemudian kepalanyapun menuduk dalam-dalam. Disela-sela bibirnya yang gemetar ia berkata “Ya ibu. Sebenarnyalah bahwa ibu tidak lagi dapat mengharapkan aku. Seharusnya aku berusaha untuk membalas budi kepada orang tua kelak, tetapi aku tidak akan dapat melakukannya. Bahkan mungkin aku akan tetap menjadi beban yang semakin lama akan menjadi semakin berat bagi ibu”

Dada Nyai Sudati mejadi berdebar-debar. Namun kemudian didekatinya anaknya. Sambil mengusap pundaknya ia berkata “Bukan begitu Pikatan. Aku tidak bermaksud berkata demikian. Mungkin aku telah terdorong kata. Tetapi maksudku, aku harus hemat disaat ini”
Pikatan tidak menyahut. Kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk.

“Sudahlah. Jangan pikirkan lagi persoalan-persoalan yang dapat membuat hatimu risau. Kau dapat hidup dengan tenang di rumah ini. Rumah ini adalah rumah peninggalan almarhum ayahmu, jadi rumah ini adalah rumahmu sendiri. Sawah, ladang yang ada adalah sawah dan ladangmu pula”

Pikatan tidak menjawdb. Dengan kepala tunduk ia melangkah meninggalkan ibunya dan masuk kedalam biliknya. Perlahan-lahan baringkan dirinya di pembaringan. Ditatapnya atap rumahnya yang sudah dilihatnya untuk beribu-ribu kali.

Ibunya masih berdiri di tempatnya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia mengusap dadanya. Namun ia berpaling ketika ia mendengar Wiyatsih terbatuk-batuk dibelakangnya.

“Kau Wiyatsih”

“Ya ibu“ Wiyatsih menganggukkan kepalanya “kakang Pikatan telah merasa tersinggung lagi”

“Ya. Ia selalu merasa tersinggung. Apalagi ketika aku menyebut cacat tangannya. Aku sudah menjaga agar setiap kali aku tidak mengucapkannya. Tetapi kadang-kadang aku terlupa juga”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata “Ibu, tetapi ada juga kebenarannya”

“Apa Wiyatsih?“ ibunya menjadi heran.

“Yang dikatakan oleh kakang Pikatan”

“Tentang apa?“

“Ibu“ suara Wiyatsih menurun “ada bedanya antara hemat dan kikir”

“Wiyatsih “

“Tunggu dulu ibu. Aku tidak ingin mengatakan ibu kikir. Ibu adalah seorang yang hemat. Bukan kikir. Tetapi jangan terlampau hemat, agar orang masih dapat membedakan antara hemat yang ibu lakukan dan apa yang disebut orang kikir”

“O“ ibunya menggeleng-gelengkan kepalanya “aku tidak mengerti. Kenapa kalian telah dihinggapi oleh pikiran-pikiran aneh itu. Aku bekerja untuk kalian. Aku menabung untuk bekal kalian kelak. Tetapi kalian menganggap perbuatan ini salah, keliru dan apa lagi?“

“Maaf ibu. Bukan maksudku melukai hati ibu”

“Tidak. tidak Wiyatsih. Kau tidak menyakiti hatiku. Kau berusaha untuk berkata dengan jujur seperti yang melonjak didalam hatimu. Kau tidak bersalah, tetapi kau masih belum mengerti arti dari usaha ibumu sekarang ini”

Wiyatsih tidak menjawab lagi. Wajah ibunya yang suram itu membuatnya terdiam.
Ketika ibunya kemudian pergi meninggalkannya, maka Wiyatsihpun kemudian berjalan selangkah demi selangkah lewat dimuka bilik kakaknya. Sejenak ia berhenti. Dari celah celah pintu yang tidak tertutup rapat ia melihat kakaknya berbaring diam.
Wiyatsih menjadi termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba ia melangkah pergi meninggalkan pintu bilik kakaknya itu.

Ketika senja mulai turun menyelubungi padukuhan kecil itu, terasa kegelisahan dan kecemasan semakin mencengkam hati. Nyala pelita yang tersentuh angin tampak menggapai-gapai seperti ketakutan yang menggelepar didalam dada. Bukan saja perempuan, tetapi laki-lakipun merasa cemas juga.

Dihalaman rumah Nyai Sudati para penjaga sudah siap dengan senjata masing-masing. Bukan sekedar pedang dan parang. Tetapi mereka mulai mengambil senjata masing-masing dari simpanan. Senjata yang dipakainya bertualang dimasa muda.

Orang yang bertubuh tinggi kekar itu telah menyiapkan sebuah tombak pendek berujung rangkap. Sebuah canggah yang selalu dibawanya bertualang dahulu. Tetapi senjata itu sudah disimpannya bertahun-tahun sejak ia berumah tangga seperti orang kebanyakan. Ia berharap bahwa senjata itu sudah tidak akan dipergunakannya lagi. Ia tidak ingin lagi membasahi ujung canggahnya itu dengan darah.

Tetapi senjata itu kini diambilnya dari simpanan. Bukan karena darah petualangannya menggelegak lagi. Tetapi karena keadaan yang semakin buruk. Ia harus bertahan pada pekerjaannya kalau anak dan isterinya masih harus dihidupinya. Dan pekerjaannya memerlukan senjatanya itu disaat-saat begini.

Demikian juga kawannya yang tinggi tetapi agak kekurus-kurusan itu. Meskipun ia masih tetap membawa pedang di lambung, tetapi ia lebih senang menjinjing trisulanya. Sebuah trisula bertangkai pendek. Tetapi dengan, senjata itu ia pernah bertualangan sampai ketempat yang jauh.

Namun seperti kawannya, akhirhya ia terlempar dalam kehidupan yang sewajarnya. Istri dan anak menuntut perhatiannya.

“Kita harus bermain-main dengan senjata ini lagi“ berkata yang kecil meskipun tinggi itu “senjata yang sudah aku sembunyikan sejak lama”

Kawannya tidak menyahut. Disandarkannya senjatanya disudut regol. Kemudian sambil duduk diselimuti dirinya dengan kain panjangnya.

“Kita berjaga-jaga disini?“ bertanya yang kecil.

“Nanti kita pindah kependapa. Disini kita kurang mendapat kesempatan apabila tiba-tiba saja seseorang berdiri dihadapan gardu ini“

Keduanyapun kemudian saling berdiam diri. Masing-masing dengan angan-angannya sendiri. Terbayang dirongga mata mereka, orang-orang jahat yang mulai berkeliaran dimana-mana.
Dan tiba-tiba saja salah seorang dari mereka bergumam “Kenapa mereka mencari nafkah dengan cara itu? Kita juga kekurangan. Makan kita tidak ajeg. Pakaian kita tidak utuh lagi. Tetapi bersukurlah kita. bahwa kita masih mendapat kesempatan mencari nafkah dengan cara ini meskipun penghasilannya sedikit sekali”
Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mudah-mudahan nasib kita pada suatu saat dapat berubah. Mudah-mudahan hujan segera turun dan sawah-kita menjadi basah.

Yang lain tidak menyahut lagi. Mereka telah mulai duduk terkantuk-kantuk sehingga yang kurus berkata “Marilah, kita pindah ke pendapa”

Keduanyapun segera pindah kependapa. Seperti biasanya, yang seorang segera membaringkan dirinya dan tidur lebih dahulu disudut yang gelap. Sedang yang lain duduk di balik tiang sambil mengawasi halaman. Sekali-kali ia berdiri juga dan berjalan hilir mudik untuk mengusir kantuk yang mulai menyerangnya.

Dalam pada itu, seisi rumah itu agaknya sudah tertidur. Pikatanpun telah tertidur pula meskipun ia selalu gelisah.

Malam dimusim kemarau ternyata terlampau dingin. Angin malam berbembus lewat lubang-lubang dinding, menyapu tubuh-tubuh yang tergolek di pembaringan. Dilangit yang jernih, bintang-bintang berhamburan dari ujung sampai ke ujung, berkilat-kilat seakan-akan saling berkeredipan yang satu dengan yang lain.

Dalam kesenyapan malam yang gelap itu, tiba-tiba sebuah bayangan bergerak-gerak disudut halaman belakang rumah Nyai Sudati. Sejenak bayangan itu bersembunyi dibalik gerumbul-gerumbul yang rimbun. Agaknya ia sedang mencoba mengamati keadaan.

Ketika ia yakin bahwa rumah itu lelah menjadi sepi. maka iapun bergeser maju dan melekat disudut longkangan.

Sejenak ia berdiri seakan-akan membeku. Dengan telinga yang tajam ia mencoba mendengarkan suara yang ada di dalam rumah yang tampaknya sepi itu.

Tetapi yang terdengar adalah suara batuk-batuk kecil di pendapa. Seorang dari kedua penjaga itu harus berjuang melawati kantuknya dengan segala macam cara.

Namun agaknya penjaga itu sama sekali lidak mengetahui bahwa seseorang telah meloncat memasuki kebun belakang dan rumah yang sedang dijaganya itu.

Sejenak kemudian maka bayangan itupun lelah bergeser lagi Semakin lama semakin dekat dengan dinding yang menyekat bilik yang dipergunakan oleh Wiyatsih.

Di balik dinding, dibagiah belakang rumah bayangan itu berhenti. Kini ia melekat lagi pada dinding itu sambil mendekatkan telinganya. Yang didengarnya adalah desah nafas yang teratur di dalam bilik itu. Wiyatsih pasti sedang tidur nyenyak.

Sesaat bayangan itu tidak berbuat apa-apa. Ia berdiri saja mematung. Ditebarkannya pandangan matanya ke segenap penjuru longkangan yang gelap. Tetapi ia tidak melihat apapun juga.

Setelah ia yakin, babwa tidak ada orang yang melihatnya, maka mulailah ia melubangi dinding rumah Nyai Sudati. Dengan hati-hati sekali ia mengungkit dengan pisau belati pendek yang telah dipersiapkannya. Kemudian dari lubang yang terjadi ia mencoba untuk mengintip ke dalam ruangan yang remang-remang oleh cahaya pelita di dinding.

Bayangan itu tidak berani membuat bunyi apapun juga, karena ia tahu bahwa di dalam rumah itu kini terdapat kakak Wiyatsih yang bernama Pikatan. Ia tahu, benar, betapa tajamnya indera Pikatan yang sudah terlatih baik-baik. Sehingga karena itu, maka iapun harus sangat berhati-hati. Meskipun ia tidak yakin bahwa bilik Pikatan berdampingan dengan bilik Wiyatsih.
Dari lubang yang telah dibuatnya ia melihat Wiyatsih tidur dengan nyenyaknya, berselimut kain panjang. Nafasnya yang teratur telah membuat irama gerak dadanya yang teratur pula.

Sejenak bayangan yang ada diluar bilik di longkangan belakang itu menjadi termangu-mangu. Namun sesaat kemudian diambilnya supitan pendek yang terselip diikat pinggangnya. Dengan hati-hati ia membuat lubang di dinding itu menjadi bertambah besar sehingga ia dapat memasukkan ujung supitannya dan sekaligus membidik kearah tubuh Wiyatsih yang sedang tertidur.

Dengan butiran-butiran tanah itu, maka bayangan itupun mencoba untuk menyupit tubuh Wiyatsih yang tergolek dipembaringannya, meskipun agak sulit karena lubang dinding yang tidak begitu besar. Namun akhirnya beberapa butir tanah liat telah mengenai gadis itu dan bahkan telah membangunkannya.

Antara sadar dan tidak, Wiyatsih beberapa kali menepuk kakinya yang dikenai supit dari luar. Mula-mula Wiyatsih sama sekali tidak menyangka, bahwa ia telah dibangunkan dengan sengaja oleh seseorang yang berada diluar biliknya.

Ketika sebutir tanah liat mengenainya sekali lagi, Wiyatsih terkejut. Tanah liat yang melekat diselimulnya itu membuatnya terheran-heran. Dengan cemas ia bangkit dan mencoba melihat butiran tanah liat itu kedekat pelita di dinding.

Kesempatan itu tidak dilewatkan oleh bayangan yang ada diluar. Setelah Wiyatsih sadar sepenuhnya barulah ia berani berbisik lirih sekali ”Wiyatsih. Apakah kau sudah bangun?“

Wiyatsih terkejut bukan buatan. Hampir saja ia terpekik. Untunglah bahwa ia masih dapat mengendalikan dirinya dan mencoba memperhatikan suara itu.

“Wiyatsih, jangan takut. Akulah yang berada disini”

“ Siapa?“ bertanya Wiyatsih.

“Sst“ bayangan yang berada diluar bilik itu berdesis “jangan terlampau keras. Pikatan akan terbangun karenanya. Ia mempunyai indera pendengaran yang baik sekali meskipun ia sedang tidur nyenyak. Mendekatlah kemari. Aku akan berbicara”

Wiyatsih ragu-ragu. Ia tidak segera melangkah maju mendekati dinding. Sejenak ia justru berdiri mematung sambil memandang kearah suara diluar biliknya.

“Aku berada dilongkangan Wiyatsih”

“Siapakah kau?“

“O, kau sudah lupa kepada suaraku?“

Wiyatsih mencoba mengingat-ingat. Aku tidak ingat lagi”

“Baiklah. Mendekatlah dan dengarkanlah baik-baik” Selangkah Wiyatsih maju. Tetapi ia masih tetap ragu-ragu.

“Kau seharusnya masih ingat kepadaku. Kau ingat perempuan yang pernah berjanji untuk menemuimu di pinggir Kali Kuning, tetapi tidak pernah mendapat kesempatan dan akhknya datang ke rumah ini seperti sekarang?”

“O”

“Aku Puranti. Kau ingat? Bukankah kau pernah mendengar namaku? Agaknya aku pernah menyebut namaku dahulu. Kalau belum. kau tentu ingat perempuan yang membawa pesan Pikatan dahulu kepadamu”

“Ya. Ya. Aku ingat. Aku ingat sekarang”

“Sst, jangan terlampau keras. Apakah kau mau keluar sebentar sekarang? Aku ingin berbicara kepadamu sebentar saja”

Wiyatsih masih juga ragu-ragu. Kini kakaknya Pikatan sudah berada dirumah itu. Tentu ia tidak akan memberikan pesan lewat orang lain.

“Apakah kau ragu-ragu?“ bertanya suara diluar. Wiyatsih tidak menyahut.

“Sebentar saja Wiyatsih. Sebentar sekali”

Wiyatsih termenung sejenak. Ia mencoba membayangkah perempuan yang menyebut dirinya bernama Puranti itu. Perempuan yang berani dan membawa pedang di lambungnya.
Kalau ia ingin berbuat jahat, kenapa ia datang kemari? la dapat mencegat aku di sawah di siang hari dan dapat berbuat apa saja, karena ia membawai pedang Kemudian menyelinap dan lari sepanjang Kali Kuning. Tidak akan banyak orang yang melihatnya, dan tentu tidak akan ada orang yang berani mengejarnya. Atau barangkali ia dapat berbuat dengan cara yang lain yang tidak diketahui oleh seorangpun”
Namun tiba-tiba “Dan barangkali cara inilah cara lain itu“
Karena itu Wiyatsih masih berdiri termangu-mangu.

“Wiyatsih“ berkata suara diluar itu ”mungkin kau ragu-ragu. Tetapi itu wajar. Meskipun demikian dengarlah, bukankah kakakmu Pikatan sedang dalam keadaan lumpuh sebelah tangannya?. Nah, tentang hal itulah aku akan berbicara”

Wiyatsih mengerutkan keningnya. Persoalan tangan kakaknya yang cacat itu memang sangat menarik perhatiannya, sehingga karena itu, maka iapun mulai tergerak.

Orang diluar yang melihat dari lubang dinding perubahan wajah Wiyatsih mendesaknya “Kalau kau bersedia Wiyatsih, keluarlah sebentar saja lewat pintu butulan. Tetapi hati-hati sekali, jangan sampai kau justru membangunkan Pikatan”

Seperti didorong oleh pesona yang tidak dimengertinya sendiri Wiyatsihpun kemudian melangkahkan kakinya keluar dari biliknya. Kemudian dengan sangat hati-hati ia menuju ke pintu butulan dan dengan sangat hati-hati pula ia membuka pintu itu.

Ketika ia menjengukkan kepalanya, dilihatnya didalam gelapnya malam sebuah bayangan hitam yang berdiri dibawah tangga butulan itu. Sejenak Wiyatsih ragu-ragu. Namun kemudian bayangan itu berkata perlahan-lahan “Turunlah. Aku akan berbicara. Bukankah sekarang kau tidak ragu-ragu lagi setelah kau melihat aku yang dahulu pernah datang kerumah ini pula?“

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia melangkah keluar dan menuruni tangga pintu butulan yang sudah ditutupnya lagi.

“Kemarilah“ ajak bayangan itu “kita duduk di serambi dibelakang gandok ini sebentar.
Wiyatsih tidak dapat menolak. Maka iapun segera mengikutinya melangkah menyeberangi longkangan yang kelam itu.
Sejenak kemudian merekapun duduk di belakang gandok di dalam gelapnya bayangan serambi yang mencuat beberapa jengkal.

“Wiyatsih“ berkata perempuan itu kemudian “bukankah kau yakin bahwa aku Puranti yang pernah menemuimu dahulu?“

Wiyatsih menganggukkan kepalanya.

”Baiklah. Kalau begitu, aku tidak ragu-ragu pula untuk mengatakannya kepadamu”

Wiyatsih mengerutkan keningnya.

“Wiyatsih“ berkata Puranti itu “apakah kau pernah mendengar ceritera kakakmu kenapa tangannya menjadi cacat?“

“Sedikit sekali. Kakang tidak pernah berbirara banvak. Tidak lagi seperti dahulu, sebelum ia mengalami cidera”

“Ya. Pikatan memang telah berubah. la telah gagal di dalam pendadaran. Gagal menurut penilaiannya sendiri meskipun setiap orang, bahkan prajurit yang memimpin pasukan kecilnya mengakui keunggulannya. Apalagi tangannya kemudian menjadi cacat, sehingga pecahlah semua cita-citanya.

Dengan singkat Puranti menceriterakan pengalaman Pikatan yang dilihatnya. Sehingga akhirnya Pikatan memutuskan untuk pulang kembali kerumah ini.

“Di rumah inipun kakang Pikatan menjadi seperti orang asing“ berkata Wiyatsih kemudian, “apalagi bagi padukuhan kecil ini. Cita cita yang pernah diimpikannya dahulu, kini sudah tidak diingatnya lagi”

“Bukan begitu Wiyatsih. Bukan karena ia tidak dapat mengingat lagi. Bahkan cita-cita itu, menurut ayah, pasti masih membara di dalam dadanya. Namun ia merasa dirinya sekarang terlampau lemah. Ia merasa bahwa ia tidak akan dapat lagi berbuat apa-apa.

“Ya. Mungkin begitu. Ia tidak mau bergaul lagi dengan kawan-kawannya. Satu dua yang mengunjunginya di rumah ini, disambutnya dengan sikap acuh tidak acuh. Apalagi seperti dahulu, bermain-main di gardu bersama kawan-kawan”

“Ia kini merasa dirinya terlampau rendah. justru karena ia mempunyai harga diri yang berlebih-lebihan”

“Ya. Dan kakang Pikatanpun sama sekali menjadi acuh tidak acuh mendengar bahwa keadaan semakin lama menjadi semakin memburuk. Kekacauan yang hampir merata. Bahkan bukan saja orang-orang lapar yang berkeliaran mencari makan. Tetapi juga penjahat-penjahat yang melakukan pembunuhan. Kami dirumah ini menjadi cemas, meskipun kami mempunyai dua orang penjaga dan beberapa orang pekerja laki-laki yang lain”

Puranti mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya “Aku juga sudah mendengar bahwa daerah ini menjadi tidak aman. Tentu bukan sekedar orang-orang kelaparan. Seandainya demikian, maka kelak apabila hujan, turun, dan padi tumbuh di sawah-sawah tadah udan, mereka tidak akan berbuat lagi”

“Tetapi” Wiyatsih tidak melanjutkannya.

“Tetapi apa?” Puranti mendesak.

Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam. Setelah merenung sejenak, iapun berkata ”Tetapi akibat dari kemarau yang paujang ini pasti akan berkepanjangan. Meskipun kelak hujan turun dan sawah tadah-udan dapat ditanami, tetapi para petani kecil telah terbenam dalam hutang yang bertimbun-timbun. Apalagi mereka selalu memboroskan hasil panen mereka dengan keramaian keramaian yang menghabiskan sebagian besar dari hasil kerja mereka selama berbulan-bulan. Peralatan yang melampaui batas kemampuan dengan hutang berbunga dan keperluan-keperluan lain yang tidak berarti apa-apa. Sehingga dengan demikian mereka seakan-akan telah terperosok ke dalam lubang yang semakin lama semakin dalam”

Puranti mengangguk-angguk pula. la dapat mengerti keterangan gadis itu, dan bahkan ia kagum akan kecerdasannya.

“Karena itu. keadaan yang memburuk ini akan berakibat panjang apabila tidak segera menemukan jalan pemecahan”

“Apakkah yang baik dilakukan?“ bertanya Puranti.

“Kakang Pikatan pernah memimpikan sebuah bendungan di Kali Kuning, Bendungan yang akan menaikkan air dan mengairi sawah tidak saja dimusim hujan”

“Aku juga sudah medengar. Tetapi agaknya Pikatan sekarang tidak menghiraukan lagi”

“Ya. Bahkan acuh tidak acuh”

“Tetapi impian itu sebenarnya tidak akan lepas dari angan-angannya” Puranti berhenti sebentar, lalu “namun yang sangat sulit adalah membangunkanya dari keadaannya yang sekarang”

Wiyatsih tidak menjawab, tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam.

“Wiyatsih“ tiba-tiba Puranti berbisik “kalau anak-anak muda dipadukuhan, ini tidak menghiraukan lagi keadaan padukuhannya karena tidak ada seorang yang memacu mereka, apakah padukuhan ini untuk selanjutnya tidak selalu dibayangi oleh kekisruhan dan kecemasan? Mungkin kejahatan itu masih belum menjalar kepadukuhan ini sekarang. Tetapi lambat laun, penjahat-penjahat itu akan menjadi semakin berani. Juga terhadap kedua penjaga rumah dan beberapa orang laki-laki pekerja disini”

Wiyatsih menganggukkan kepalanya “Ya. Mungkin sekali. Rumah ini pada suatu saat akan menjadi ajang jarah-rayah. Kemudian seluruh padukuhan, yang memang sudah miskin ini”

“Wiyatsih“ Puranti bergeser sejengkal, lalu berkata dengan nada yang dalam “bagaimana kalau kau berbuat sesuatu untuk kepentingan padukuhanmu yang terancam ini?“

“Aku“ Wiyatsih terperanjat “bagaimana mungkin aku dapat berbuat sesuatu?“

“Dengarlah“ desis Puranti “sebenarnya kakakmu Pikatan dapat menjadi perisai bagi padukuhanmu. Meskipun tangannya sudah cacat, sebenarnya ilmunya tidak susut sama sekali. Mungkin ia tidak dapati mempergunakan tangan kanannya, tetapi dengan tangan kirinya ia masih mampu berbuat banyak. Banyak sekali, lebih dari kemampuan sepuluh orang anak muda di padukuhan ini. Tetapi ia sama sekali tidak berniat berbuat demikian. Ia sudah dibayangi oleh kekecewaan sehingga seakan-akan hatinya telah menjadi kelam” Puranti berhenti sejenak, lalu “karena itu, kau adalah satu-satunya adiknya. Maukah kau mewarisi cita-citanya itu sekaligus untuk kepentingan padukuhan ini untuk waktu yang panjang dimasa mendatang?“

Wiyatsih terheran-heran mendengar pertanyaan itu, sehingga sejenak ia memandang Puranti dengan mulut ternganga.

“Apakah kau mengerti maksudku Wiyatsih?“

Wiyatsih menggelengkan kepalanya. Jawabnya “ Aku tidak mengerti. Bukankah aku seorang gadis? Apakah yang dapat aku lakukan buat padukuhan ini?“

“Kau dapat membantu menjaga keamanan padukuhan ini. Kau dapat juga membantu menjaga keamanan rumahmu. Siapa tahu pada suatu saat ada orang-orang yang tidak menghiraukan lagi kepada kedua orang penjaga rumahmu itu”

“Kalau kedua orang itu tidak mampu berbuat sesuatu, apakah yang dapat aku lakukan?“

Puranti menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Kalau kita berniat Wiyatsih, maka kitapun dapat berbuat seperti apa yang dapat dilakukan oleh laki-laki, meskipun harus disesuaikan dengan kodrat kita sebagai perempuan. Mungkin kita mempunyai perbedaan cara, namun didalam masalah yang pokok, kitapun dapat juga berbuat banyak”

Wiyatsih tidak menyahut.

“Wiyatsih, apakah kau masih ragu-ragu?“

Wiyatsih tidak menjawab sama sekali. Tetapi dari wajahnya Puranti dapat membaca, bahwa gadis itu masih belum mengerti sepenuhnya.

“Wiyatsih“ berkata Puranti kemudian “kaupun dapat berbuat seperti Pikatan. Tentu saja dalam tataran yang berbeda. Tetapi ada sesuatu yang harus ada lebih dahulu didalam dirimu. Kemauan. Kemauan yang sungguh-sungguh”

“Bagaimana hal itu mungkin? bertanya Wiyatsih kemudian.

“Kau lihat, bahwa akupun seorang perempuan? Mungkin kau belum pernah melihat apa yang dapat aku lakukan sebagai seorang perempuan. Mungkin kau baru mendengar bahwa yang pernah menolong Pikatan dalam keadaan yang gawat digoa Pabelan adalah aku. Bukan maksudku menyombongkan diriku, tetapi sekedar meyakinkan kau, bahwa apabila kita berniat, maka kita akan dapat melakukannya”

Bagaimanapun juga namun Wiyatsih masih tetap diliputi oleh keragu-raguan. Ia tidak pernah membayangkan bahwa dirinya harus berbuat sesuatu seperti yang pernah dicita-citakan oleh kakaknya. Apalagi untuk membantu menjaga keamanan padukuhan dan rumahnya.

“Apakah sebenarnya yang dapat dilakukan oleh Puranti sehingga ia mampu menyelamatkan kakang Pikatan?“ ia bertanya didalam hati.

Meskipun pertanyaan itu tidak diucapkan, namun rasa-rasanya Puranti dapat menangkapnya. sehingga sambil tersenyum ia berkata “Apakah aku harus membual tentang diriku sendiri supaya kau dapat meyakininya?“

Tanpa sesadarnya, tiba-tiba saja Wiyatsih menganggukkan kepalanya.

Puranti menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia bergumam “Lalu apakah yang dapat aku perlihatkan kepadamu?“

Wiyatsih tidak menyahut. Dipandanginya saja wajah Puranti dengan tatapan mata yang membayangkan kebimbangan.

“Marilah kita pergi ke belakang Wiyatsih. Ke kebun belakang rumahmu ini” ajak Puranti.
Ketika Puranti kemudian berdiri dan melangkahkan kakinya, Wiyatsihpun mengikutinya dibelakang.

Di kebun belakang di dalam kegelapan malam Puranti memanjat sebatang pohon manggis, Dipetiknya beberapa buah manggis yang masih muda dan dibawanya turun.

Belum lagi Puranti berbuat apa-apa, Wiyatsih sudah menjadi terheran-heran. Seorang perempuan mampu memanjat sebatang pohon manggis begitu cepatnya, seperti seekor tupai.

“Lihatlah buah manggis ini“ berkata Puranti “aku akan menunjukkan ketangkasan bermain pedang. Itu saja yang lain aku kira akan aku tunjukkan kepadamu lain kali”

Wiyatsih menganggukkan kepalanya.

Purantipun kemudian melemparkan dua buah manggis muda ke udara. Ketika kedua buah manggis itu meluncur turun, tiba-tiba saja tanpa diketahui oleh Wiyatsih, kapan ia melakukan, tangannya telah menggenggam sebilah pedang yang kemudian terayun secepat kilat. Wiyatsih tidak tahu berapa kali Puranti mengayunkan pedangnya. Namun kemudian Puranti memungut beberapa potong buah manggis yang telah terbelah menjadi beberapa bagian.

“Bagaimana hal itu dapat terjadi?“ sebuah pertanyaan terloncat dari sela-sela bibir Wiyatsih.

“Aku tidak ingin inenyombongkan diri “ Puranti mengulangi kata-kata itu “tetapi aku ingin meyakinkan. bahwa kaupun dapat melakukannya apabila kau mau”

“Ah, jangan mengejek. Jangankan mengayunkan pedang seperti yang kau lakukan, sedangkan memotong sayuran di dapurpun aku tidak dapat melakukan secepat itu”

Puranti tersenyum. Ditepuknya bahu Wiyatsih sambil berkata “Wiyatsih, kita sama-sama seorang gadis. Aku juga seorang gadis seperti kau dengan sifat-sifat perempuan seutuhnya. Tubuhku juga lidak sekuat tubuh laki-laki. Tetapi kita masing-masing memiliki kekuatan cadangan yang tersembunyi, yang memang sudah tersedia buat kita. Soalnya, apakah kita mampu mempergunakannya atau tidak. Kalau kita mampu menggali kekuatan ditubuh kita masing-masing maka kita seolah-olah memiliki kelebihan dari orang lain. Sudah tentu kita harus membatasi diri kita di dalam tingkah laku dan tindak tanduk yang benar apabila kita sudah dapat berbuat lebih banyak dari orang lain. Kalau kita merasa diri kita dengan segala kelebihan dan kemampuan itu bersumber kepada Kekuatan Yang Abadi, maka kitapun harus mempergunakannya sesuai dengan garis kebenaran menurut Sumber Kekuatan Yang Abadi serta Yang Tunggal itu”

Wiyatsih masih berdiri mematung. Ia masih dicengkam oleh perasaan kagum dan heran. bahwa seseorang, apalagi seorang gadis, mampu melakukan hal itu.

“Sudahlah“ berkata Puranti “kalau kita terlampau lama disini, mungkin seseorang di rumah ini terbangun dan mendengar percakapan kita meskipun sangat perlahan-lahan. Sekarang kembalilah ke bilikmu. Besok aku akan kembali ke rumah ini. Aku akan mendengar jawabmu, apakah kau bersedia atau tidak”

“Maksudmu? Apakah aku akan kau ajari bermain-main seperti kau?“

“Ya. Aku akan mengajarimu”

“Senang sekali”

“Tetapi tidak sekedar menjadi permainan yang barangkali cukup menarik. Tetapi sesudah kau dapat melakukannya, maka kau mempunyai pekerjaan yang lain Kecuali bermain-main.

“Apakah tugas itu?“

“Menggantikan Pikatan. Kau harus dapat menjaga keamanan, bukan saja rumahmu, tetapi kampung halamanmu. Kau harus dapat berbuat sesuatu untuk kesejahteraan padukuhan ini. Misalnya, seperti yang dicita-citakan Pikatan sebelum ia mengalami cacat. Ternyata cacat itu tidak sekedar cacat badaniah, tetapi lelah menjadi cacat rohaniahnya pula”

Wiyatsih tidak segera menjawab. Tetapi kepalanya justru tertunduk dalam-dalam.

“Apakah kau bersedia?

Wiyatsih menjadi termangu-mangu. Sejenak kemudian terloncat dari bibirnya “Aku malu”

“Malu? Kenapa kau malu?“

“Tidak pantas seorang gadis berbuat hal serupa itu”

“Jadi tidak pantas apabila kau berbuat baik untuk padukuhan ini”

”Bukan perbuatan baik itu yang tidak pantas. Tetapi seandainya aku seorang gadis pergi meronda dimalam hari, atau pergi ke tepi Kali Kuning dan mengerahkan anak-anak muda untuk membuat bendungan dan susukan, itu tidak pantas sekali”

Puranti menarik nafas dalam-dafam. Katanya didalam hati “Memang tidak pantas. Tentu belum pernah terjadi di padukuhan ini” tetapi tiba-tiba ia berkata“Wiyatsih. Kau tentu mempunyai satu dua orang kawan anak muda dari padukuhan ini. Nah, kau dapat berbuat lewat anak muda itu. Tentu anak muda yang dapat mengerti pendirianmu” Puranti berhenti sejenak. lalu “Coba, ingat-ingatlah. Siapa saja anak-anak muda di padukuhan ini yang kau kenal baik dan kira-kira dapat membantumu”

Wiyatsih mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab.

“Baiklah Wiyatsih“ berkata Puranti ”kalau kau belum menemukan sekarang, biarlah kau cari lebih dahulu. Sementara itu kau dapat belajar bermain-main seperti permainan yang baru saja aku tunjukkan kepadamu. Besok aku akan datang lagi. Aku akan mengetuk dinding bilikmu. Jangan kau tutup lubang yang telah aku buat pada dinding bilikmu. Kalau kau terlanjur tertidur, aku akan membangunkanmu dengan supitan”

Wiyatsih menganggukkan kepalanya.

“Nah, pertimbangkan baik-baik, Kau besok harus mengambil keputusan. Keadaan dipadukuhan ini semakin lama menjadi makin buruk. Bahkan seperti katamu, meskipun kelak hujan turun dan sawah tadah udan itu dapat ditanami, namun hasil panennya tidak akan lagi dapat dinikmati oleh petani-petani miskin yang sudah semakin dalam terbenam didalam hutang. Dengan demikian maka kejahatan akan tetap masih ada, bahkan akan manjadi semakin banyak apabila tidak segera teratasi. Orang-orang kaya seperti ibumu tidak akan dapat tidur nyenyak. Demikian juga orang-orang kaya yang lain. Selain penjahat yang selalu mengintai, maka perbedaan yang menyolok diantara keluargamu dan orang-orang miskinpun akan membuat garis pemisah diantara kalian”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya ”Sekarang masuklah. Masuklah”

Wiyatsihpun menganggukkan kepalanya pula. Desisnya “Terima kasih. Besok aku menunggumu. Aku sudah mendapatkan keputusan”

“Apa keputusanmu?“

“Aku akan belajar. Yang lain akan aku pertimbangkan sambil belajar”

Puranti tersenyum. jawabnya “Kau masih ragu-ragu. Kelak kau akan mendapat ketetapan hati seperti aku. Mula-mula aku juga merasa aneh dengan tingkah lakuku sendiri. Aku adalah satu-satunya anak ayah ibuku, Kiai Pucang Tunggal di Gajah Mungkur, sehingga aku mewarisi ilmu ayahku meskipun aku seorang perempuan. Tetapi aku tidak pernah berbuat sesuatu yang aneh ini dihadapan kawan-kawanku bermain dengan berlebih-lebihan. Mereka tetap menganggapku seorang gadis seperti mereka, yang setiap hari pergi kesendang mencuci pakaian, kadang-kadang pergi kesawah menanam padi dan kemudian apabila padi sudah berbuah, menuai bersama mereka, dan menunggu padi yang sedang mekar sambil menghalau burung, Bedanya dengan mereka, aku adalah seorang gadis yang terlalu sering pergi meninggalkan rumah. Tetapi aku selalu berkata kepada mereka setelah aku pulang, bahwa aku pergi ke rumah bibi yang jauh. kerumah paman, kerumah saudara sepupu dan ke rumah siapa saja”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya ”Aku mengerti“ desisnya. lalu “Baiklah aku kembali ke bilikku besok malam aku menunggu kau dilongkangan”

“Jangan di longkangan. Tunggu saja di dalam bilikmu. Aku akan memanggilmu”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba saja wajahnya menjadi cerah. Ia akan mendapat pengalaman hidup yang baru, yang belum pernah dijamahnya. Mungkin pengalaman itu akan sangat menarik. Tetapi mungkin juga akan menyulitkannya. Tetapi ia akan mencoba. Apabila ia lelah berhasil berbuat sesuatu seperti Puranti, mungkin sikapnya akan segera dapat sesuai dengan pekerjaan yang harus dilakukan itu. Pekerjaan yang sebenarnya lebih baik dilakukan oleh kakaknya, Pikatan.

Demikianlah maka setelah Wiyatsih kembali berbaring di biliknya, mulailah ia berangan-angan tentang pengalaman baru vang akan dialaminya sejak besok malam. Mungkin ia harus memiliki sebuah pedang seperti Puranti. Tetapi mungkin juga tidak segera.

Namun lambat laun, angan-angan Wiyatsih itupun mulai menjadi buram, semakin lama semakin buram, sehingga akhirnya hilang sama sekali ketika ia jatuh tertidur.
Puranti yang masih berada di halaman rumah itu duduk bertopang dagu di serambi belakang. Rasa-rasanya sangat berat untuk melangkahkan kakinya. meninggalkan rumah itu. Sebuah dorongan didalam hatinya mengajaknya untuk mengintip bilik tidur Pikatan. Tetapi nalarnya berhasil mencegahnya.

Puranti menarik nafas “Tidak pantas sekali. Aku seorang gadis” katanya di dalam hati. Tetapi lebih dari itu nalarnya berkata “Pikatan mempunyai indera yang sangat baik. Sebuah desir di dinding biliknya akan mengejutkannya dan ia pasti akan terbangun”

Karena itu, Purantipun kemudian berdiri dengan malasnya. Satu-satu ia mengayunkan kakinya melangkahi rerumputan di kebun belakang. Sekali ia berpaling, namun iapun kemudian dengan tergesa gesa meloncat dinding batu dan hilang di kegelapan. Tetapi sejenak, ia masih berdiri dibalik dinding. Didengarnya langkah seseorang di kebun. belakang itu. Ketika timbul keinginan yang tidak tertahankan untuk melihat kedalam, maka iapun menjengukkan kepalanya.

Agaknya seseorang yang terbangun dan pergi kepakiwan.

“O“ berkata Puranti didalam hatinya “sebaiknya esok aku menghindari pakiwan itu. Lebih baik aku membawa Wiyatsih ke sudut yang agak jauh. Agaknya ada juga orang yang pergi ke pakiwan dimalam hari”

Bersambung Ke Jilid 04

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s