Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

yg terasing

Tinggalkan komentar


“Aku akan masuk“ berkata Pikatan kemudian. Keduanya tidak menahan anak muda itu. Apalagi Pikatan sama sekali tidak bersenjata.

”Apakah semua sudah tidur?“ bertanya Pikatan.

“Ya, malam sudah larut“ jawab yang bertubuh tinggi dan besar.

“Aku akan mengetuk pintu pringgitan”

Kedua penjaga itu ragu-ragu sejenak. Lalu “Mereka tidak berada dipringaitan”

“Aku sudah tahu. Mereka berada diruang dalam, disentong kiri dan adikku disentong kanan. Begitu?“

“Ya”

“Aku akan mengetok pintu pringgitan. Mereka akan mendengarnya juga”

“Tunggu. Akulah yang akan membangunkannya. Aku sudah mendapat pesan khusus, bagaimana aku harus mengetuk pintu. Tetapi pintu samping”

Pikatan mengerutkan kesingnya, lalu jawabnya “Baiklah. Tolong ketuk pintu, samping”

Setelah menutup dan menyelarak pintu regol, maka merekapun pergi ke pintu samping. Tetapi kedua penjaga itu tidak juga melepaskan kecurigaannya. Yang seorang berjalan, didepan, yang lain berjalan dibelakang Pikatan.

Sejenak kemudian, orang yang tinggi besar itu sudah mengetuk pintu butulan. Dua kali berturut-turut. Ketika ketukan itu belum terjawab, orang itu mengulanginya. Dua kali berturut-turut pula.

Sejenak kemudian terdengar suara perempuan dari dalam “Siapa diluar?“

“Aku Nyai”

“Kenapa kau bangunkan aku? Apakah terjadi sesuatu yang penting?“

“Ya Nyai. Seorang anak muda yang menyebut dirinya bernama Pikatan telah datang”

“Pikatan“ perempuain itu terkejut.

“Ya. Aku datang ibu“ sahut Pikatan.

Sejenak kemudian terdengar pintu bilik itu berderit. Berlari-lari ibu Pikatan pergi ke pintu butulan. Sejenjak kemudian terdengar palang pintu itu terlempar, dan pintupun terbuka.

“Aku Pulang ibu”

“Pikatan. Kau?“ Ibunyapun, kemudian berlari mendapatkannya. Dipeluknya kepala anaknya seperti ia memeluknya dimasa kanak-kanak, meskipun kini ia terpaksa menengadah. Pikatan dengan hormatnya membungkukkan kepalanya pula, bahkan kemudian berlutut dihadapan ibunya. Meskipun sebelum ia meninggalkan rumah itu, ia sering berselisih pendapat dengan ibunya. namun setelah sekian lamanya ia tidak bertemu, terasa juga dadanya disekat oleh kerinduan.

“Kau akhirnya pulang juga kepadaku anakku “ berkata ibunya tersendat-sendat. Terasa setitik air yang hangat jatuh dikepala anak muda itu.

“Ya ibu, aku pulang ke rumah ini kembali”

“Kemanakah kau selama ini?“

“Aku merantau menuruti kata hati”

“Marilah, marilah masuk anakku “

Kedua penjaga regol itu menganggukkan kepalanya. Baru kali ini mereka melihat anak laki-laki Nyai Sudati, penghuni rumah yang membayarnya untuk pekerjaannya itu

Pikatanpun kemudian dibimbing oleh ibunya masuk kedalam. Sekenak kemudian pintu butulan itupun telah tertutup kembali, namun nyala lampu dir uang dalam menjadi semakin terang.

Kedua penjaga regol itu saling berpandangan sejenak. Salah seorang dari mereka berdesis “Ternyata Nyai Sudati mempunyai seorang anak laki-laki yang gagah dan tampan“

“Ya. Tetapi kemanakah anak itu selama ini?“

“Merantau. Bukankah ia berkata bahwa selama ini ia pergi merantau menuruti kata hati?“

Kawannya menggeleng-gelengkan kepalanya. Gumamnya “Aneh-aneh saja isi dunia ini. Kami yang miskin mencari nafkah dengan segala macam cara untuk memberi makan dan pakaian anak-anak. Bahkan kadang-kadang kami harus menempuh suatu cara yang membahayakan jiwa kami. Tetapi anak muda itu, yang tidak kekurangan dirumahnya, pergi merantau menuruti kata hati”

“Mungkin anak itu memiliki jiwa petualangan seperti kita-kita ini dimasa muda. Sekarang kita sudah menjadi semakin tua. Dibelakang kita ada anak dan isteri yang harus kita hidupi, sehingga petualangan kita telah berganti ujud”

Kawannya tersenyum. Jawabnya “Untung jugalah kita pernah mengalami petualangan. sehingga kita mempunyai bekal untuk mencari nafkah buat keluarga kita dengan cara ini. Kita yang tidak mempunyai kepandaian apapun ini masih ada juga yang mau mempergunakannya. Meskipun sekedar tidur di regol dimalam hari, dan turun kelumpur disawah disiang hari”

“Asal kita masih dapat makan dan minum, tanpa mempergunakan cara yang tidak sewajarnya. Asal kita tidak berbuat kejahatan, dan merugikan orang lain”

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Keduanyapun kemudian pergi keregol halaman itu kembali. Sambil membaringkan tubuhnya yang seorang berkata “Benar juga kata anak muda itu“

“Apa?“

“Kalau ia seorang yang berniat jahat, ia tidak akan masuk dengan mengetuk pintu regol. Ia akan meloncat dinding batu dan menikam kita selagi kita tidur nyenyak. He, bukankah orang-orang jahat yang lain dapat berpikir serupa itu”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalau begitu, kita harus mempergunakan cara lain”

“Maksudmu?“

“Kita tidur bergantian. Dengan demikian kita tidak akan mati tanpa perlawanan”

“Ah, kitapun tahu akan hal itu. Tetapi kita mempunyai pertimbangan lain. Untuk beberapa saat, tidak akan ada lagi kejahatan disini. Pengaruh hancurnya Goa Pabelan itu terasa sangat luas. Penjahat-penjahat kecil yang lainpun menjadi cemas. karena agaknya Demak telah mulai mengambil sikap keras kepada para penjahat”

“Terbalik. Aku tidak berpendapat demikian. Justru mereka tidak mempunyai ikatan dan mereka akan menjadi perampok kecil-kecilan. Mungkin satu dua dari mereka akan berkeliaran sampai kepadukuhan ini”

Yang seorang mengangguk-anggukkan kepalanya “Ya, memang mungkin.”

“Karena itu, mulai sekarang kita akan tidur bergantian, Meskipun seandainya mereka tidak menikam perut kita, mereka akan leluasa mengambil barang-barang dirumah ini kalau kita selalu saja tidur memdekur”

Kawannya tidak menjawab. Umur mereka yang bertambah tua telah membuat mereka menjadi semakin malas. Namun ada juga perasaan percaya kepada diri sendiri yang agak berlebihan, sehingga mereka menganggap bahwa mereka akan dapat melakukan tugas mereka sebaik-baiknya meskipun ketajaman telinga dan perasaan, sehingga mereka merasa akan segera terbangun kalau ada sesuatu di halaman.

Namun ternyata bahwa mereka tidak mendengar kehadiran Pikatan sampai anak muda itu terpaksa mengetuk pintu. Tetapi mereka sama sekali tidak mempertimbangkan, bahwa kaki Pikatan yang lerlatih itu, sengaja atau tidak sengaja. selalu menghindarkan suara desir yang terlampau keras.

”Nah, sekarang siapakah yang akan tidur lebih dahulu?“ bertanya orang yang tinggi kekurus-kurusan.

“Aku sajalah yang tidur lebih dahulu. Bukankah kau masih belum ngantuk? Nanti, menjelang fajar, kita bergantian. Kaulah yang berjaga dan aku akan tidur”

“Baiklah“ jawab kawannya, tetapi tiba-tiba “bagaimana? bagaimana pembagian kerja kita menurut pendapatmu?“

Kawannya tersenyum. Jawabnya “Baiklah. Aku agaknya keliru mengucapkan. Aku sekarang tidur, dan nanti bergantian“

Belum lagi ia menyelesaikan kata-katanya, orang yang tinggi besar itu tertawa. “Sudahlah Aku akan tidur. Bangunkan aku kalau kau sudah, tidak tahan lagi”

Orang yang tinggi itu tidak menjawab lagi. Tetapi ia bahkan bangkit dan berjalan hilir mudik.

“Kau setuju?“ yang besar mendesak.

“Ya. Aku setuju”

Kawannya mengangguk-angguk ”Terima kasih. Aku akan tidur sekarang. supaya kau mempunyai waktu juga menjelang fajar”

Orang itupun segera menyelimuti dirinya dengan kain panjangnya sehmgga tidak ada bagian tubuhnya yang masih tersisa.

Tetapi iapun segera mengangkat kepalanya ketika dan dalam rumah ia mendengar suara Wiyatsih menjerit “Kakang, kau pulang kakang”

Agaknya Wiyatsih terbangun juga mendengar percakapan ibunya dengan Pikatan, sehingga iapun berlari-lari keluar dari biliknya.

Anak yang manja itu langsung berlari memeluk kakaknya yang kemudian berdiri disisi amben. Dan dengan manjanya pula Wiyatsih terisak sambil beikata “Kau pergi terlampau lama kakang”
Pikatan tidak menjawab. Dibelainya rambut Wiyatsih yang kusut dengan tangan kirinya. Sedang tangan kanannya masih saja tergatung dengan lemahnya disisi tubuhnya.

“Sekarang kau tidak boleh pergi lagi kakang. Aku terlampau sepi dirumah ini”

Pikatan masih belum menjawab.

“Kalau kau ada, kita akan dapat bermain-main bersama. Pergi ke sawah bersama. Kita tidak akan terlampau banyak mempergunakan tenaga tetangga-tetangga kita, karena kita sendiri dapat ikut bekerja bersama mereka”

Pikatan masih tetap berdiam diri.

“Dan kita akan dapat merenungi sungai itu lagi, sungai tempat kita bermain-main dimasa kanak-kanak. Apalagi apabila kita benar-benar dapat membuat sebuah bendungan seperti yang kau mimpikan dahulu kakang. Kali Kuning akan meluapkan air keatas tanah gersang ini”

“Wiyatsih“ tiba-tiba ibunya memotong “kakakmu baru saja tiba. Ia masih lelah. Jangan kau bawa berbicara tentang hal-hal yang aneh-aneh. Biarlah ia beristirahat sejenak.“

Tetapi Wiyatsih menjawab “Aku tahu ibu, bahwa kakang tidak saja rindu kepadaku, kepada ibu. Tetapi juga kepada Kali Kuning”

“Sudahlah Wiyatsih“ berkata ibunya pula.

Tetapi Wiyatsih justru bertanya kepada Pikatan “Bukankah begitu kakang?“

Alangkah terkejutnya gadis itu ketika ia melihat Pikatan menggelengkan kepalanya. Dengan suara yang parau ia berkata “Tidak Wiyatsih. Aku tidak lagi dapat bermimpi tentang bendungan Kali Kuning”

“Kenapa, kenapa kakang?“ bertanya Wiyatsih dengan serta merta.

Pikatan tidak segera menjawab. Dilepaskannya rambut adiknya dan didorongnya Wiyatsih perlahanahan. Dengan wajah yang muram ia berkata “Wiyatsih. lihatlah. Aku tidak mempunyai tangan kanan lagi”

Wiyatsih tersentak sehingga ia bergeser selangkah surut. Sedang Ibunyapun terkejut pula karenanya. Hampir berbareng mereka bertanya “Kenapa?“

Selangkah Pikatan, mundur. Ditatapnya mata ibunya yang memancarkan kecemasannya dan kemudian tatapan mata adiknya yang ganjil. Setapak demi setapak Pikatanpun melangkah menjauhi mereka.

“Aku sudah cacat“ desisnya “aku tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi”

“Kakang”

“Ya Wiyatsih. Karena itu aku pulang. Aku sudah gagal untuk seterusnya”

“Apa yang sudah terjadi? “ bertanya ibunya.

“Aku sudah gagal”

“Tetapi tanganmu masih ada kakang” desis Wiyatsih.

“Tanganku memang masih ada, tetapi sudah tidak berdaya sama sekali. Tanganku telah lumpuh, justru tangan kananku”

“Pikatan“ ibunya menjadi termangu-mangu. Perlahan-lahan ia mendekatinva. Kemudian disentuhnya tangan kanan Pikatan. Dan lengan itu memang tergantung saja dengan tanpa kekuatan sama sekali

“Tanganmu lumpuh?“ bertanya ibunya dengan cemas.

“Ya. tanganku lumpuh”

Wiyatsih berdiri termangu-mangu. Sedang ibunya kemudian membelai pundak Pikatan sambil berkata “ Kita akan berusaha. Aku akan mencari dukun yang paling pandai untuk mencoba mengobatinya”

“Tidak ada gunanya ibu”

“Kenapa? “

”Seorang yang tinggal di Padepokan Pucang Tunggal, yang mumpunyai olah kanuragan dan mempunyai pengetahuan tentang obat-obatan pula, tidak mampu lagi mengobati kelumpuhanku”

“Tetapi kita wajib berusaha “ potong ibunya “sudahlah. Sekarang duduklah dan beristirahatlah. Kau telah berada didalam rumahmu sendiri”

Pikatan tidak menjawab. Dan ibunya berkata pula kepada Wiyatsih “Sediakan minum buat kakakmu. Tampaknya ia baru saja menempuh perjalanan yang jauh. tanaklah nasi dan sediakan lauk pauk. Ada telur di pekarangan atau tangkap saja seekor ayam”

“Sudahlah ibu“ potong Pikatan “jangan terlampau sibuk karena kehadiranku. Aku sudah biasa makan apa adanya. Kalau ada nasi, apalagi hangat, dengan garam jadilah.”

“O, kau akan makan nasi dengain garam dirumah ini? Tidak Pikatan. Kita mempunyai persediaan yang lebih daripada itu. Karena itu, makanlah seperti yang akan kami sediakan”

Pikatan tidak menjawab lagi.

“Sekarang. cucilah badanmu dipakiwan. Pakiwan itu masih belum berubah letaknya. Masih ditempatnya yang dahulu”

Pikatan mengangguk.

“Sediakan lampu buat kakakmu Wiyatsih”

“Ya ibu”

“Letakkan lampu itu diajug-ajugnya. Biarlah aku membawanya sendiri ke pakiwan“ sahut Pikatan.

Wiyatsih menjadi termangu-mangu. Namun iapun meletakkan sebuah lampu diajug-ajug.
Demikianlah, maka meskipun malam telah larut, dapur Nyai Sudati menjadi terang benderang. Terdengar beberapa orang sedang sibuk menjerang air, menanak nasi dan bahkan memasak lauk pauk buat Pikatan yang baru saja pulang dari perantauan.

Sejak malam itu, Pikatan telah tinggal dirumahnya kembali. Ketika matahari terbit, dari pintu butulan ia melihat beberapa orang sibuk dihalaman. Ada yang menyediakan alat-alat yang akan mereka bawa kesawah Ada yang membersihkan halaman. ada yang pergi berbelanja ke pasar.

Tetapi Pikatan telah melihat kesibukan serunai itu pula dahulu sebelum ia meninggalkan rumahnya. Kesibukan im masih saja berlangsung sampai saat ini. Hampir tidak ada bedanya. Bahkan agak menjadi lebih banyak orang yang hilir mudik dihalaman.

Perlahan-lahan Pikatanpun keluar dari biliknya langsung ke pakiwan. Dahulu ia selalu menimba air mengisi, jambangan sampai penuh, meskipun di rumah itu ada beberapa orang pembantu. Tetapi kini Pikatan memalingkan wajahnya. Dengan satu tangan ia tidak lagi dapat menarik senggot untuk menimba air.

“Kenapa kau tidak mencoba“ sebuah desakan. telah meledak didalam dadanya “mungkin tangan kananmu tidak lagi dapat membantu. Tetapi sekali kau hentakkan. maka senggot itu sudah akan turun sampai kedasarnya. Upih itu sudah akan penuh dan kau tidak perlu lagi menariknya keatas. Kau tinggal menahannya sedikit”

Sejenak Pikatan menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya “Tidak mungkin. Tidak mungkin lagi”

“Tangan kirimu yang sekarang, bukan tangan kirimu yang dahulu. Tangan kirimu yang sekarang mempunyai kekuatan yang berlipat dari tangan kirimu, bahkan tangan kananmu yang dahulu”

Tetapi sekali lagi Pikatan menggeleng “Tidak mungkin. Aku sudah tidak dapat lagi mengerjakanhya” Karena itu. maka dengan kepala tunduk Pikatan meninggalkan senggot diatas sumur dan langsung masuk ke pakiwan. Dengan mengusap dadanya ia mengeluh “ Aku akan menjadi tanggungan orang lain seumur hidupku, setelah aku diselamatkan nyawaku hanya oleh seorang gadis. Alangkah rendah martabatku. Aku memang orang yang paling tidak berguna di dunia ini”

Dan hati Pikatanpun menjadi semakin pedih pula karenanya.

Namun dalam pada itu, ternyata ibunya benar-benar telah berusaha mencari dukun yang paling terkenal sepanjang pendengarannya. Disuruhnya orang-orangnya memanggilnya untuk mengobati tangan Pikatan.

“Tidak ada gunanya ibu“ desis Pikatan.

“Kita akan berusaha. Tanpa usaha apapun juga, kita tidak akan dapat merubah sesuatu” berkata ibunya.

Pikatan tidak membantah lagi. Dibiarkannya pesuruh ibunya memanggil seorang dukun yang pandai. Seorang tua yang berdahi lebar, berambut putih dan wajahnya dipenuhi oleh kerut merut ketuaannya. Namun demikian, giginya yang disisik menjadi hitam mengkilat masih tetap utuh seperti gigi anak-anak muda.

“Orang itu sudah berumur seratus tahun lebih sedikit“ berkata ibunya “ia seorang dukun yang tidak saja mengenal obat-obatan, tetapi ia juga mengenal kekuatan lain didalam dirinya”

Pikatan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia sudah tidak berpengharapan sama sekali.

Dengan segala macam cara, dukun itu berusaha menyembuhkan kelumpuhan tangan Pikatan. Mula-mula tangan itu dipanggangnya diatass api padupan. Kemudian dibacanya segala macam mantra.

“Anakmas“ katanya kemudian “ada sesuatu yang tidak beres di tangan anakmas ini“

“Ya“ sahut Pikatan “kelumpuhannya itulah yang tidak beres pada tangan kananku”

“Bukan itu, maksudku, ada sesuatu yang mengganggu tangan anakmas itu”

“Ya. Sebuah tusukan pedang yang tepat memutus nadi tanganku”

“Ah, bukan itu. Urat nadi anakmas masih utuh” Pikatan mengerutkan keningnya. Dan iapun bertanya “Lalu apa yang tidak beres itu menurut pendapatmu?“

Orang tua itu mengerutkan keningnya sejenak. Lalu “ Ada sesuatu yang mengganggu tangan anakmas. Ada yang menghuni tangan ini, tepat dibagian dalam siku anakmas”

“Apakah yang menghuni itu?“

“Lelembut”

Pikatan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak membantah. dibiarkannya orang itu kemudian memijit-mijit seluruh bagian tangannya yaug lumpuh itu. Kadang-kadang ia harus menyeringai menahan sakit apabila pijitan tangan orang tua itu menyentuh bagian-bagian yang lemah pada tangan itu.

Sepeninggal dukun tua itu, Pikatan masih harus melakukan pengobatan sendiri. Dengan beberapa macam daun sesuai dengan petunjuk dukun itu. Setiap hari. pagi dan sore.
Tetapi tangannya tetap tidak dapat bergerak. Tangannya masih tetap lumpuh, sehingga dengan demikian, kepercayaan dan harapan Pikatan justru mesjadi lenyap sama sekali.
Karena kelumpuhannya itu, sifat Pikatan benar-benar telah berubah. Juga terhadap kawan-kawannya sepadukuhan. Anak-anak muda yang mendengar ia kembali, satu dua memerlukan juga menemuinya dirumahnya. Namun tanggapan Pikatan atas mereka itu menjadi terlampau dingin, Diantara kawan-kawannya hampir tidak terdengar lagi tertawanya. Apalagi kelakarnya seperti dahulu.

“Kenapa Pikatan menjadi berubah?“ bertanya salah seorang kawannya.

Namun ada juga diantara mereka yang mendengar persoalan Pikatan yang sebenarnya. Katanya “Ia menderita cacat. Agaknya cacat ditangannya itu telah merubah segala-galanya. Sifatnya, cita-cita dan harapannya, dan bahkan apa saja”

“Kasihan“ desis yang lain.

“Tetapi jangan mencoba mengatakan dihadapannya. Ia akan merasa tersinggung”

”Ya. ia menjadi mudah sekali tersinggung pula” Bukan, saja kawan-kawannya yang menjadi canggung menghadapinya, tetapi ibu dan adiknya, yang dahulu dekat sekali dengannya itupun menjadi canggung pula. Hampir semua persoalan dianggapnya salah. Dan hamph setiap pembicaraan menumbuhkan salah paham.

Ibunya yang prihatin itu tidak menjadi putus-asa. la masih mencoba memanggil dukun lain yang menurut pendengarannya kemudian lebih pandai dari dukun, yang terdahulu.

Tetapi usaha itupun sia-sia. Apalagi Pikatan sendiri sama sekali tidak berusaha untuk membantunya.

“Sudahlah ibu. Tidak akan ada gunanya lagi. Biarlah aku menerima nasib yang jelek ini”
Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “ Tetapi kita sudah berusaha”

“Ya, kita sudah berusaha. Dan ibu sudah cukup berusaha. Tetapi nasibkulah yang memang terlampau jelek”

“Jangan menyesali nasib Pikatan”

Pikatan mengerutkan keningnya. Kemudian dianggukkannya kepalanya sambil berkata “Baik. Baiklah ibu”

Ibunyapun kemudian terdiam. Jika demikian, maka yang paling baik. ditinggalkannya Pikatan itu sendiri,

Setiap kali Pikatan masih saja dihantui oleh kegagalannya. Oleh cacat ditangannya dan pertolongan seorang perempuan yang menyelamatkan jiwanya. Setiap kali ia merasa bahwa dirinya semakin menjadi semakin kecil dan tidak berarti.

Adiknya, Wiyatsihpun menjadi bingung menghadapinya. Ia tidak tahu, yang manakah yang paling baik dilakukan buat kakaknya. Meskipun kadang-kadang ia sempat juga berbicara dengan Pikatan, namun ia harus sengat berhati-hati agar kata-katanya pada suatu saat tidak menyinggungnya.

Pikatan yang sedang duduk sendiri itupun kemudian melangkahkan kakinya keluar, turun kehalaman. Ketika ia menengadahkan kepalanya, dilihatnya langit sudah mulai suram. Beberapa orang pesuruh kelihatan hilir mudik dihalaman itu, namun kemudian menjadi sepi. Lampu-lampu sudah mulai dinyalakan, dan bintang-bintang di langitpun satu demi satu telah mulai bercahaya.

Pikatan masih saja berdiri dihalaman. Ketika ia berpaling kearah regol. dilihatnya dua orang yang bertugas menjaga regol itu mulai datang pula dari belakang sambil membawa pelita yang kemudian digantungkannya disisi regol.

Sejenak Pikatan memandang kedua orang itu berganti-ganti. Cahaya pelita yang kemerah-merahan membuat wajah-wajah yang keras itu menjadi semakin keras.

Tiba-tiba saja timbullah keinginannya untuk mendekati mereka berdua dan berbicara dengan mereka.

Perlahan-lahan Pikatan melangkah ke regol halaman. Daun pintunya masih terbuka meskipun tidak lebih dari sejengkal

Kedua penjaga yang melihatnya datang, mempersilahkannya dengan ramahnya. Bahkan mereka berdua menjadi heran, tiba-tiba saja Pikatan datang kepada mereka. Biasanya Pikatan selalu diam dan manyendiri. Apalagi dengan orang-orang upahan, sedangkan dengan ibu dan adiknya serta kawan-kawannya Pikatan tampaknya seperti acuh tidak acuh saja.

“Marilah, marilah Pikatan. Duduklah”

Pikatanpun kemudian duduk disebuah amben kecil digardu regol itu.
Namun untuk sejenak mereka hanya berdiam diri. Pikatan tidak segera berbicara. dan kedua orang yang menjaga regol itu agak segan juga untuk memulainya.

Tetapi sejenak kemudian Pikatanpun bertanya “Apakah kalian sudah lama berada dirumah ini?“

Ternyata jawaban kadua orang itu tidak sama. Yang tinggi besar dengan serta-merta menjawab “Sudah. Kami sudah lama berada disini” Tetapi hampir bersamaan yang tinggi kecil menyahut “Belum. Baru beberapa lama kami berada disini”

Pikatan mengerutkan keningnya, sedang kedua orang yang menyadari bahwa jawaban mereka bertentangan, saling berpandangan sejenak. Namun merekapun kemudian menjadi tergagap-gagap ketika Pikatan bertanya pula “Mana yang benar?“
Tetapi keduanya tidak segera menjawab.

“Berapa tahun kau berada disini?“ bertanya Pikatan kepada orang yang tinggi kekar.

“Satu setengah tahun. Ya, kira-kira sudah satu setengah tahun”

“Dan kau“

Yang tinggi kecil memandang kawannya sejenak, lalu “Aku juga baru satu setengah tahun berada disini. Kira-kira satu setengah tahun, karena aku datang bersamaan dengan kedatangannya”

Pikatan menarik nafas dalam-dalam. Agaknya keduanya datang bersamaan waktunya. Tetapi yang sama itu tidak sama bagi setiap orang. Mereka mempunyai penilaian sendiri terhadap sesuatu yang dihadapinya.

“Dimanakah penjaga yang dahulu? Akui kenal mereka dengan baik”

“Yang seorang meninggai dunia”

”Meninggal?“

“Ya”

“Kenapa?“

“Sakit. Sakit-sakitan”

“Aku dahulu mengenalnya sebagai seorang yang baik. Seorang yang sehat”

“O, mungkjn yang seorang lagi”

“Tidak. Kedua-duanya”

Penjaga itu terdiam. Mereka mencoba mengingat-ingat orang-orang yang ditanyakan Pikatan itu. Penjaga yang terdahulu.

“Tetapi seingatku“ berkata salah seorang dari mereka “yang seorang itu selalu sakit-sakitan. Bahkan kemudian meninggal dunia”

“Dan yang lain?“

“Yang lain telah dipecat karena berbuat kesalahan”

“Kesalahan? Orang itupun orang yang baik. Bahkan orang yang nista, apalagi atas tugasnya”

“Tampaknya memang begitu. Ia seorang yang sopan. ramah dan baik. Ia penurut dan melakukan semua pekerjaan yang dibeban kepadanya. Tetapi ternyata itu hanya sekedar tirai untuk menutupi kesalahannya”

“Kesalahan apa yang dilakukannya?“

“Ia membiarkan kawannya yang sakit-sakitan itu tidak menjalankan tugasnya dan dirangkapnya sendiri untuk mendapat upah tambahan, sebagian dari upah kawannya yang sakit itu. Jadi seakan-akan ia bertugas sendiri diregol ini, sehingga pada suatu saat seorang pencuri berhasil masuk.

“O, apakah yang diambil?“

“Sebuah dandang tembaga di dapur yang terlupa. Sebuah pelita besar, dan beberapa butir telur di pekarangan”

“Hanya itu?“

Kedua penjaga itu menganggukkan kepalanya.

Pikatan menarik nafas dalam-dalam. Gumamnya “Itu bukan pencuri. Tentu hanya sekedar orang-orang kelaparan. Musim kering yang panjang didaerah yang kering ini memang menumbuhkan kelaparan. Hampir setiap tahun terjadi peceklik yang menyedihkan”

“Ya. Hampir setiap tahun. Dan kami telah mencoba mendapatkan nafkah kami dengan cara ini”

“Kau berasal darimana?“

“Aku orang Kali Wedi”

”Kenapa kau sampai disini?“

“Kebetulan seorang kawanku bekerja disini pula. Mula-mula ia berdagang ternak, tetapi ia mengalami kerugian karena wabah. sehingga akhirnya ia menjual sisa ternaknya kepada ibumu, dan dia sendiri bekerja disini sebagai pemelihara ternak Itu. Orang itulah yang membawa aku kemari”

Pikatan mengangguk-anggukkan kepalanya. Orang ini tentu lebih dari siapapun juga di padukuhannya. Anak-anak muda yang hanya mampu menunggu air dari hujan yang tidak selalu turun itu, tentu tidak akan dapat mengimbangi kemampuan orang-orang ini didalam pekerjaan yang termasuk pekerjaan yang berat.

Tetapi ceritera orang-orang itu tentang penjaga-penjaga yang terdahulu membuat Pikatan semakin ingin tahu. Tetapi agaknya orang-orang ini tidak tahu lebih banyak lagi dari yang sudah dikatakannya.

“Apakah pekerjaanmu sebelum kau bekerja disini?“ bertanya Pikatan kemudian.

“Tani. Aku adalah seorang petani”

“Siapakah yang mengerjakan sawahmu sekarang”

“Anakku. Tetapi seperti ditanah gersang ini, di padukuhanku pun tanahnya kering. Pasir dan berbatu-batu. Tidak ada air di musim kemarau. Karena itu. akupun mencari makan dengan cara ini. agar aku dapat membantu meskipun hanya sekedaraya hasil sawah yang tidak mencukupi bagi keluargaku itu”

“Jadi kalian hanya bertani saja? Apakah salah seorang diantara kalian tidak pernah melakukan kerja yang lain?“

Keduanya menggelengkan kepalanya. Yang tinggi kecil berkata “Itulah yang kami sesalkan. Kami tidak berusaha untuk mendapat kepandaian khusus. Pandai besi, misalnya. Atau seorang gemblak. Dimasa muda kami, kami adalah anak-anak yang nakal, yang hanya berkeliaran dan berpetualang. Kami bangga apabila diri kami dapat melampaui kemampuan kawan-kawan kami. Bukan kemampuan bekerja, tetapi kemampuan berkelahi. Sehingga dengan demikian, selain bertani, kemampuan kami adalah berkelahi. Karena itulah tidak ada pekerjaan lain yang dapat kami lakukan, selain pekerjaan seperti ini”

Pikatan tidak menyahut lagi. Perlahah-lahan ia berdiri dan melangkah pergi sambil berkata “Sudahlah, aku akan tidur. Hati-hatilah dengan pekerjaanmu, supaya kau tidak dipecat seperti penjaga yang terdahulu”

“Baik. Kami akan melakukan tugas kami sebaik-baiknya karena tidak ada pekerjaan lain yang dapat kami lakukan”

Pikatanpun kemudian melangkah didalam kegelapan, melintasi halaman, naik kependapa dan hilang dipintu pringgitan.

“Aku ingin juga menjadi anak seorang yang kecukupan“ desis orang yang tinggi besar.

“Apa yang kau inginkan”

“Masih sesore ini dapat saja pergi ke dalam bilik dan tidur sepulasnya seperti Pikatan. Tetapi kita tidak akan dapat tidur nyenyak semalam suntuk. karena kita selalu dibayangi oleh pekerjaan kita”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam.

“Di siang haripun kita tidak dapat tidur karena pekerjaan di sawah yang cukup banyak. Tetapi bukan sawah kita sendiri”

”Sebelum tidur kau sudah mulai bermimpi”

Kawannya mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab.

Dalam pada itu Pikatan yang berjalan melintasi pringgitan, tertegun sejenak melihat ibunya sedang menghitung lidi. Sambil mengerutkan keningnya ia memperhatikannya dengan saksama. Pekerjaan itu sudah dilakukannya bertahun-tahun. Dan kini ibunya masih juga menghitung lidi setiap malam.

Pikatan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ketika ia akan melangkah pergi, ibunya mengangkat wajahnya sambil menyapanya “Kau itu Pikatan. Aku kira kau berada didalam bilikmu”

“Tidak ibu. Aku dari regol halaman”

“Apa kerjamu?“

“Tidak apa-apa. Sekedar berbicara dengan kedua penjaga baru itu”

“O“ tetapi ibunya tidak memperhatikannya lagi. ia telah asiyk lagi dengan potongan-potongan lidinya.

Pikatanlah yang mendekatinya dan duduk di sampingnya. Perlahan-lahan ia bertanya “Kenapa penjaga-penjaga regol itu berganti orang ibu?“

Ibunya meletakkan lidinya. Sambil mengangkat wajahnya ia menjawab “Orang itu sudah mati”

“Yang seorang?“

“Kau sudah mendengar dari penjaga regol yang sekarang?“

“Ya, Lalu bagaimana dengan isteri dan anak-anak mereka? Terutama yang telah mati itu? Aku kenal keluarganya dengan baik. Bukankah ia mempunyai keluarga?“

Tetapi ibunya menggelengkan kepalanya “Aku tidak tahu Pikatan”

“Tidak tahu? Jadi ibu tidak menghiraukan keluarga orang yang meninggal itu?“

Ibunya menjadi heran. Dipandanginya wajah Pikatan sejenak. Kemudian jawabnya “Kenapa aku harus memperhatikan keluarganya itu? Aku tidak mempunyai sangkut paut apapun juga“

“Tetapi ia pernah bekerja disini”

“Ya. Dahulu. Kemudian tidak”

“Ia mati sebagai orang upahan ibu. Sudah sewajarnya ibu memperhatikan keluarga yang ditinggalkan. Keluarga yang sangat miskin itu. Dan ibu pernah berhutang budi, setidak tidaknya tenaga”

“Aku sudah mengupahnya ketika ia bekerja, Itu sudah cukup. Tidak ada-lagi hutang piutang. Semua gaji yang seharusnya aku bayar sudah aku bayar lunas. Apa yang kurang?“

“Benar ibu. Tetapi dari segi peri-kemanusiaan, ibu wajib menolong keluarganya yang mengalami kesulitan. Kecuali kalau ibu tidak berkelebihan seperti sekarang.

“Ah, kau aneh Pikatan. Semua persoalan dengan orang yang sudah mati itu tidak ada lagi”

“Dan disaat-saat matinya. apakah yang ibu lukukan kepada keluarganya”

“Gajinya dibulan terakhir. Pekerjaannya masih belum diselesaikan sebulan penuh, karena lewat tengah bulan ia sudah tidak pernah datang, dan diakhir bulan ia meninggal”

“Terlalu”

Ibunya memandang Pikatan dengan kerut merut di dahinya. Dengan penuli keheranan ia bertanya “Apakah yang sebenarnya sudah terjadi Pikatan? Kenapa tiba-tiba saja kau menggerutu tentang orang yang mati itu”

Pikatan tidak segera menjawab. Bahkan kemudian ia bertanya “Dan yang seorang telah ibu berhentikan?“

“Ya. Ia berbuat dua kesalahan. Kau tentu sudah mendengar dari para penjaga yang sekarang”

“Ya. tetapi itu pertanda bahwa penghasilannya jauh dari mencukupi sehingga ia terpaksa merangkap tugas kawannya untuk menerima separo upah yang seharusnya”

“Itu adalah kesalahan yang besar. Tanpa ijinku ia membuat kebijaksanaan sendiri. Apalagi akhirnya rumah ini telah kecurian pula”

“Bukan pencuri”

“Apa katanya”

“Penjaga regol itu juga menyebutnya pencuri. Tetapi bagiku orang yang mengambil barang-barang yang sama sekali tidak bernilai itu adalah orang yang kelaparan”

“Apapun alasannya, tetapi ia sudah mencuri dirumah ini. Dan penjaga regol yang wajib mengamati keamanan halaman. ini ternyata tertidur nyenyak. Itu adalah. suatu kesalahan”

Pikatan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sudah tidak menjawab lagi. Perlaban-lahan ia berdiri sambil berkata “Aku akau tidur saja ibu”

Ibunya memandangnya sejenak, lalu “Tidurlah supaya kau menjadi segar”

Langkah Pikatan tertegun sejenak. Sambil berpaling ia berkata “Aku selalu merasa segar. Siang dan malam”

Ibunya mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak menyahut lagi. Ia mengerti bahwa Pikatan sudah mulai tersinggung, sehingga kalau ia menjawabnya lagi, maka mereka akan berbantah.
Dengan kepala yang kemudian ditundukkannya, Pikatan masuk kedalam biliknya. Tetapi ketika ia ingin menutup pintu bilik itu, adiknya sudah berdiri di belakangnya.

“O, kau?“ bertanya. Pikatan.

“Apakah kakang sudah akan tidur?“

“Ya, bukankah aku tidak punya pekerjaan apapun selain tidur dan makan dirumah ini”
Wiyatsih tidak menjawab. Tetapi ia melangkah maju.

“Bajumu kotor kakang“ berkata Wiyatsih sambil menyentuh baju kakaknya.

Pikatan tidak menyahut. Dan kemudian dibiarkannya adiknya meraba-meraba bajunya yang memang sudah kotor.

“Apalagi yang kau percakapkan dengan ibu?“

”Tidak apa-apa” sahut Pikatan.

“Aku mendengar dari balik dinding. Kau bertanya tentang penjaga-penjaga yang terdahulu”

“Ya”

“Memang ibu terlampau pelit. Seharusnya ia memberikan sekedar sumbangan kepada keluarganya”

“Ya. Sebaiknya demikian”

“Dan aku sudah minta kepada ibu saat itu. Tetapi ibu tidak menyetujuinya”

“Ya. Dan ibu masih saja menghitung potongan-potongan lidi itu”

Wiyatsih menengadahkan wajahnya. Dipandanginya kakaknya sejenak, lalu “Ibu menghitung potongan lidi setiap malam”

“Aku jemu dan muak melihatnya”

“Aku juga jemu. Apalagi membantu menghitungnya. Tetapi itu merupakan pekerjaan ibu. Dari hitungan itu pulalah ibu menjadi kecukupan”

“Aku tahu. Ibu sedang menghitung bunga dari orang-orang yang meminjam uang. Dan lidi-lidi itu adalah alat untuk mengingat-ingat, sudah berapa kali seseorang membayar hutangnya, atau justru hanya sekedar bunganya”

“Dan hutang seseorang tidak akan ada habisnya meskipun jumlah bunganya sudah berlipat dari hutang yang sebenarnya”

“Pekerjaan itu harus dihentikan. Harus dihentikan“ Adiknya memandang kakaknya dengan kerut-merut di dahinya.

“Ya. Memang harus dihentikan. Tetapi tidak dengan serta-merta”

“Kenapa?“

“Ibu akan mengalami goncangan tata panghidupan. Ibu akan kehilangan sumber mata pencaharian. Sedang kita masih belum dapat membantunya berbuat apapun”

Tiba-tiba mata Pikatan menjadi redup. Desisnya “Ya. Aku memang tidak dapat membantunya mencari nafkah buat kita”

Wiyatsih terkejut. Lalu katanya “ Bukan begitu kakang. Kita memang belum dapat berbuat banyak. Maksudku, kita masih belum dapat berdiri sendiri”

“Aku tahu. Aku tahu. Kau belum dapat berdiri sendiri. Tetapi sebentar lagi, apabila ada laki-laki yang meminangmu, maka kau akan segera kawin dan berdiri sendiri. Tetapi aku tidak.

Selamanya aku tidak akan dapat berdiri sendiri, karena tangan kananku sudah cacat. Aku tidak akan dapat bekerja apapun juga”

“Kakang”

“Dan apabila ibu sudah menjadi semakin tua, barangkali aku akan menjadi tanggunganmu Wiyatsih. Memang selamanya hidupku harus bergantung kepada perempuan. Yang menyelamatkan nyawaku juga seorang perempuan. Dan kini yang menanggung hidupku juga seorang perempuan. Ibuku yang seharusnya sudah mulai beristirahat. Kemudian aku akan menjadi tanggunganmu kelak”

“Ah. Kau selalu begitu kakang”

“Aku berkata sebenarnya”

“Jangan berkata begitu” Wiyatsih berhenti sejenak. Lalu “sekarang kakang akan tidur?“

“Ya. Aku akan tidur. Aku akan mencoba mencari kebahagiaan didalam mirnpi”

“Ah“ tetapi Wiyatsih tidak melanjutkannya.

Ketika Wiyatsih kemudian meninggalkan bilik itu, maka Pikatanpun segera menutup pintu. Perlahan-lahan ia melangkah ke pembaringannya dan meletakkan tubuhnya diatas amben bambu itu.

Wiyatsihpun kemudian pergi kepringgitan. Didapatinya ibunya sedang mengemasi lidinya dan memasukannya kedalam beberapa buah bumbung yang ditandainya berlain-lainan.

“Apakah ibu tidak jemu menghitung lidi itu setiap hari?“

“O“ ibunya mengangkat wajahnya “kalau kita jemu makan dan minurn, serta jemu berpakaian. barulah ibu jemu menghitung lidi ini. Jemu atau tidak jemu, ini adalah suatu usaha untuk mencari nafkah”

“Tetapi bukankah nafkah sudah cukup. Kita sudah menggantungkan diri pada sawah kita yang cukup luas itu ibu? Apalagi sawah kita terletak didaerah yang paling baik didaerah yang gersang ini”

“Wiyatsih“ berkata ibunya “kebutuhan seseorang itu tidak terduga-duga sebelumnya. Karena itu, salain kecukupan makan dan minum kita sehari-hari, kita harus menyimpan sedikit-sedikit untuk persedaan apabila kita tiba-tiba saja memerlukannya. Misalnya, kau sudah menjadi gadis dewasa sekarang. Sebentar lagi kau akan kawin. Bukankah aku harus menyediakan biaya untuk itu”

“Aku belum akan kawin. Dan apakah peralatan perkawinan itu mutlak memerlukan biaya yang besar?“

“Tentu tidak Wiyatsih. Tetapi sedikit banyak. tentu akan menelan biaya yang khusus”

Wiyatsih tidak menjawab. Namun persoalan lidi itu masih saja tersangkut didalam hatinya.

“Tidurlah Wiyatsih“ tiba-tiba ibunya berdesis.

“O“ Wiyatsih berpaling. Dilihatnya ibunya sudah selesai dan sejenak kemudian telah berdiri “aku juga akan tidur”

Wiyatsihpun kemudian bangkit pula. Disuramkannya nyala lampu diatas ajug-ajug. Sambil melangkah kebiliknya ia melihat selarak pintu dan memasangnya sama sekali.

Ibunyapun pergi keruang dalam. Seperti biasa, ibunya mengelilingi setiap pintu dan butulan. Dahulu sebelum Pikatan pergi, anak itulah yang melakukannya. Namun kini Pikatan acuh tidak acuh saja terhadap pintu-pintu rumahnya. Hanya kadang-kadang saja ia memasang selarak, namun kadang-kadang ia tidak merisaukannya sama sekali

Meskipun kemudian Wiyatsih telah berbaring di pembaringannya, namun ia tidak segera dapat memejamkan matanya. Bayangan yang hilir mudik dirongga matanya membuatnya menjadi gelisah. Lidi-lidi yang tidak habis-habisnya, sifat kakaknya yang tiba-tiba saja berubah. dan yang mengganggunya pula adalah tanah yang rasa-rasanya semakin lama menjadi semakin gersang. Apalagi dimusim kering yang agak panjang begini. Maka hanya sebagian kecil saja dari tanah disekitar padukuhannya yang dapat ditanaminya

“Kalau saja dapat dibuat susukan dari Kali Kuning, maka tanah disekitar padukuhan ini pasti akan menjadi subur“ desisnya. tetapi kakaknya yang dahulu pernah memimpikan sebuah bendungan. kini hampir tidak menghiraukannya sama sekali.

Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam. Meskipun di rumah ia satu-satunya anak perempuan dan bahkan sepeninggal Pikatan ia adalah satu-satunya anak dirumah itu, namun didalam kemanjaan-nya, ia dapat merasakan betapa pahit kehidupan kawan-kawannya bermain. Gadis-gadis. sebayanya hampir tidak sempat memperhatikan dirinya sendiri. Dimasa-masa remaja itu mereka harus bekerja di sawah dan ladang seperti saudara-saudaranya yang laki-laki. Mereka harus memeras keringat untuk mencukupi kebutuhan mereka sekeluarga. Hanya di malam hari mereka sempat bermain-main di halaman atau dipojok padukuhan mereka sebentar. Apabila bulan terang. Namun wajah-wajah merekapun tetap suram betapapun mereka tertawa. Tubuh mereka yang kurus, dan pakaian mereka yang tidak utuh lagi.

Tetapi mereka sekedar bekerja seperti yang dikerjakan oleh kakek dan nenek mereka. Mereka melakukan pekerjaan yang ada dihadapan mereka. Mereka sama sekali tidak mau memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain dari yang telah ada. Jangankan gadis-gadisnya, sedangkan anak-anak mudanyapun sama sekali tidak menghiraukan lagi usaha-usaha yang dapat meningkatkan hidup mereka.

Bersambung

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s