Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

14

Tinggalkan komentar


“Kesambi“ berkata Wiyatsih kemudian “aku akan mencoba melakukannya. Aku akan membuat semacam tangga pada tebing Kali Kuning. Sudah barang tentu, aku tidak akan menanami seluruh bagian dari tanah ibu yang kering itu. Aku hanya akan mengambil sekotak yang terletak tepat dipinggir tanggul”

Kesambi menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya “Sekotakpun tidak mungkin Wiyatsih”

“Apakah kau juga sudah mulai dengan penyakit seperti yang menghinggapi anak-anak muda dipadukuhan kita”

“Tidak. Tetapi bagaimanapun juga kita harus berpikir wajar, kita memang tidak dapat melakukan keajaiban yang manapun juga. Dan tenaga kita tidak akan dapat melampaui kenyataan kita sehari-hari”

“Kesambi, kadang-kadang niat dan tekad kita dapat mempengaruhi kemampuan yang ada pada diri kita masing-masing. Marilah kita lihat, apakah aku mampu atau tidak. Kalau tidak, usaha itu akan aku hentikan. Tetapi sudah tentu bahwa usaha yang lain untuk membangun bendungan ini akan tetap berlangsung”

Kesambi menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa Wiyatsih benar-benar seorang yang keras hati.

“Tetapi orang yang berkeras hati seperti itulah yang akan berhasil dengan usahanya, selama usahanya itu masih tetap dalam batas kewajaran“ berkata Kesambi didalam hatinya.

“Kesambi “ berkata Wiyatsih kemudian “marilah kita berjanji kepada diri kita sendiri, bahwa kita akan bekerja terus sejauh dapat kita lakukan”

Kesambi mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita dapat merencanakan pembagian waktu. Di musim hujan mendatang, kita dapat menyiapkan brunjung-brunjung bambu sambil mengumpulkan batu. Disini kita dapat mengumpulkan batu berapapun yang kita perlukan. Menjelang musim kering, kita mengisi brunjung-brunjung bambu itu dengan batu. Sebagian dari kita menggali parit, membelah tanah-tanah kering. Jika hujan telah mereda kita turunkan brunjung-brunjung batu itu kedalam sungai dan kita timbun dengan tanah padas. Kita akan mendapatkan sebuah bendungan yang sederhana. Tetapi kita akan dapat mengangkat air dari Kali Kuning ini”

Kesambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba saja ia menjadi begitu kagum terhadap Wiyatsih. Kagum akan kecerdasan berpikir dan tekad yang bulat didalam hati. Apalagi Wiyatsih adalah seorang gadis yang bagi padukuhannya, merupakan seorang yang lemah dan dipersiapkan sekedar untuk menyusui anaknya kelak.

Tetapi ternyata Wiyatsih adalah seorang gadis yang lain. Bahkan Kesambi merasa seakan-akan ia berdiri berhadapan dengan Pikatan sendiri. Dengan seorang anak muda yang gagah dan berhati baja. Yang bercita-cita membuat padukuhannya menjadi sebuah padukuhan yang subur dan hijau.

Namun bagaimanapun juga, Kesambi harus menyadari, bahwa yang ada sekarang bukanlah Pikatan, tetapi Wiyatsih. Seorang gadis yang tampaknya sebagai seorang gadis yang lembut. Tetapi ternyata hatinya sekeras hati Pikatan.

Meskipun demikian, ketika tanpa sesadarnya Kesambi memandang mata Wiyatsih, hatinya menjadi berdebar-debar. Tiba-tiba saja terasa sesuatu melonjak dihatinya. Baginya Wiyatsih adalah gadis yang sempurna. Seorang gadis yang bercita-cita, seorang gadis yang tidak mementingkan kepentingan diri sendiri dan bukan pula seorang gadis yang sekedar menunggu hari-hari perkawinannya dengan menghisap ibu jarinya. Tetapi ia adalah gadis yang berhati bara. Panas dan bergelora. Namun demikian, ia adalah seorang gadis yang cantik dan lembut.

“He, kenapa kau tiba-tiba membeku“ bertanya Wiyatsih

“O“ Kesambi terkejut. Ia belum pernah memperhatikan seorang gadis seperti saat itu. Kesulitan hidup dan kenyataan yang dihadapinya tidak memungkinkannya untuk memikirkan dan berangan-angan sesuatu tentang seorang gadis. Apalagi kelanjutan dari angan-angannya tentang gadis itu. Karena itu, maka tiba-tiba saja wajahnya menjadi merah.

“Apa yang kau pikirkan?“ bertanya Wiyatsih.

“Batu-batu padas itu“ berkata Kesambi kemudian dengan terbata-bata “tetapi kita mengharap, bahwa kita akan dapat melakukannya.

“Sudahlah“ berkata Kesambi kemudian “aku akan pergi. Aku akan terus berbuat apapun yang dapat aku lakukan. Tempat ini memang tepat seperti yang dikatakan oleh Pikatan beberapa tahun yang lalu, sebelum ia meninggalkan padukuhan ini. Baru setelah ia kembali, kata-katanya itu aku ingat-ingat. Tetapi ternyata Pikatan sekarang sudah lain”

“Ya. la sekarang hidup terasing”

“Baiklah. Kitalah yang akan melakukannya” Kesambi berhenti sejenak, lalu “tetapi pikirkan rencanamu masak-masak. Kau tidak akan dapat setiap hari naik turun tebing diujung selatan bulak kita itu “

Wiyatsih tersenyum. Jawabnya “Baikiah Kesambi. Aku akan memikirkannya“

“Tentu bukan sekedar tentang rencana itu Tetapi kau menghadapi masalah yang lebih rumit dari aku. Tanjung, yang selama ini selalu berada dimanapun kau pergi, tentu akan mencoba menghalangimu. Terlebih-lebih lagi adalah ibumu sendiri”

Tetapi Wiyatsih masih saja tersenyum. Katanya “Aku akan mencoba meyakinkan mereka, seperti aku akan meyakinkan setiap orang, bukankah kau juga akan berbuat demikian?“

Kesambi mengangguk. Tetapi, tampak keragu-raguan yang membayang. Bukan ragu-ragu tentang dirinya sendiri. Tetapi ia meragukan Wiyatsih. Betapapun keras hatinya namun orang-orang yang paling dekat dengan dirinya sama sekali tidak memberikan dukungan apapun. Apalagi orang itu adalah seorang laki-laki yang mulai merayap memasuki kehidupannya.
Tetapi Kesambi tidak mempersoalkannya lagi. Iapun kemudian meninggalkan tempat itu. Tetapi ia berpaling ketika Wiyatsih berkata “Akupun akan pulang juga Kesambi”

Kesambi termenung sejenak. Tetapi katanya “Aku akau pergi dahulu”

Wiyatsih tersenyum pula. Katanya “Memang tidak pantas jika kita berjalan bersama-sama dari tempat yang agak jauh dan sepi. Pergilah dahulu. Tidak seorangpun akan percaya bahwa kebetulan saja kita bertemu disini.

Kesambi mengangguk-anggukan kepalanya. Tetapi iapun segera meloncat keatas tanggul dan berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan tempat yang sepi itu, karena ia tidak ingin menimbulkan persoalan yang lain jika seseorang melihat ia berada ditempat itu bersama Wiyatsih meskipun hanya secara kebetulan.

Sepeninggal Kesambi, Wiyatsihpun kemudian berjalan perlahan-lahan menyelusuri sungai. Tanpa sesadarnya ia mulai berdiri diatas sebuah batu. Kemudian kakinya yang lincah mulai berloncatan. Mula-mula ia meloncat dari batu kebatu yang cukup besar. Namun kemudian kakinya menginjak batu-batu yang lebih kecil, semakin lama semakin kecil. Untunglah bahwa ia segera menyadari dirinya, sehingga iapun kemudian berjalan ditepian, diatas pasir yang menjadi semakin panas.

Namun demikian, ia merasa bahwa ia telah benar-benar mendapatkan seorang kawan. Kawan yang dapat diajaknya bekerja bersama untuk membangunkan anak-anak padukuhannya yang tertidur nyenyak dalam cengkaman mimpi yang menakutkan. Tetapi bagi mereka, bagi orang-orang bukan saja dipadukuhannya, tetapi di seluruh Kademangan Sambi Sari, menganggap bahwa kesulitan hidup itu adalah suatu kenyataan yang harus dijalani. Ikhlas atau tidak ikhlas, karena itulah yang menjadi bagian mereka.

Ketika Wiyatsih sampai di depan pintu rumahnya, ia melihat Tanjung sudah ada dipringgitan duduk bersama ibunya. Demikian Wiyatsih menjenguk pintu, maka ibunya segera berkata “Nah, itulah dia. Dari mana kau Wiyatsih. Kau pergi terlalu lama, sehingga kami menjadi cemas”

“Aku mencarimu ketepian Wiyatsih“ berkata Tanjung “aku kira kau mencuci disana”

Wiyatsih tersenyum ”Aku berada disawah ibu “

“Tidak, Aku juga mencarimu kesawah”

“O, dari sawah aku singgah, sejenak ke sungai mencuci kakiku yang kotor sekali. Tetapi sawah yang mana kau mencari aku?”

“Kesawah yang mana?“ ibunya menjadi heran.

“Ya, kesawah yang mana?“

“Kenapa kau bertanya begitu Wiyatsih. Bukankah sawah kita yang dapat ditanami di musim kering ini hanya sebagian di sebelah utara padukuhan ini, tepat di tikungan Kali Kuning”

“O, tempat itu memang baik ibu. Air Kali Kuning seakan-akan langsung dapat mengairi sawah kita. Tetapi itu hanya terjadi tepat ditikungan, sedang tanah kami memang agak rendah”

Ibunya dan Tanjung menjadi terheran-heran.

“Aku singgah ditikungan yang lebih ke utara lagi”

“Disebelah Alas Sambirata?“ Wiyatsih menganggukkan kepalanya.

“Wiyatsih“ desis ibunya “apakah kau berkata sebenarnya?“

“Ya ibu. Aku berkata sebenarnya. Kenapa?“

“O“ ibunya menarik nafas “duduklah. Duduklah. Katakan yang sebenarnya, apakah kau dari sana?“

“Ya. Aku memang dari tempat itu”

Ibunya mengusap dadanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ”Ampun“ katanya “apa kerjamu disana?“

“Aku hanya melihat-lihat saja ibu. Dahulu kakang Pikatan pernah merencanakan membuat sebuah bendungan disana, dan sekaligus tempat penyeberangan diatas bendungan itu”

“O” ibunya setiap kali hanya dapat menekan dadanya dengan telapak tangannya.

“Wiyatsih “ berkata Tanjung “kenapa kau pergi ketempat itu?“

“Sudah aku katakan“ jawab Wiyatsih “kakang Pikatan pernah mengatakan, bahwa ada beberapa tempat yang mungkin dapat dibangun sebuah bendungan. Ditikungan disebelah Alas Sambirata itu, atau disebelah utara pohon benda yang tumbuh dipinggir kali atau masih ada tempat-tempat lain yang disebutkannya”

“Tetapi, tetapi kenapa kau memerlukan membuang-buang waktu pergi ketempat itu?“ bertanya Tanjung.

Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Aku masih tetap tertarik pada bendungan seperti yang dikatakan oleh kakang Pikatan itu”

“O, Wiyatsih“ berkata ibunya kemudian “jangan kau ulangi lagi pekerjaan yang hanya mendebarkan jantung itu. Alas Sambirata terkenal sebagai tempat yang angker. Sebaiknya kau tidak usah pergi kesana”

“Aku memang tidak memasuki Alas Sambirata itu. Aku hanya berada dipinggir Kali Kuning”

“Tetapi tempat itupun mengerikan sekali. Tempat yang jarang sekali didatangi orang”

“Tetapi tempat itu memang bagus sekali untuk membuat bendungan. Tebingnya agak sempit sedang tanah disekitarnya cukup tinggi untuk menjadi induk aliran air bagi padukuhan ini, sehingga hanya akan dapat mengalir sampai ke ujung selatan dari bulak kita. Sawah kita diujung Selatan itupun akan dapat menjadi basah pula”

“Wiyatsih“ ibunya menjadi tegang.

“Ditempat yang lain, tanah disekitarnya tidak begitu tinggi, sehingga air yang naik tidak cukup kuat untuk mengalir keseluruh tanah persawahan di padukuhan ini”

“Cukup, cukup“ potong ibunya “apakah kau telah kerasukan demit dari Kali Kuning?“

Wiyatsih tersenyum. Katanya “Aku memang mengetahui pendirian ibu. Ibu tidak setuju dengan bendungan itu seperti yang pernah ibu katakan kepada kakang Pikatan dahulu. Tetapi apakah alasan ibu sebenarnya?“

“Aku sependapat dengan orang-orang lain Wiyatsih, Mungkin kita adalah orang yang paling besar mendapat karunia di daerah ini. Kenapa justru kitalah yang merasa bahwa apa yang kita terima ini masih terlampau sedikit, sehingga kita akan merubah alam yang disediakan untuk kita“

“Itulah alasan ibu yang sebenarnya?“

“Dan….” ibunya menjadi ragu-ragu, tetapi ia berkata “kau harus berterima kasih bahwa tanah ini tandus dan kering. Dengan demikian aku mendapat kesempatan untuk mencari nafkah dengan caraku.”

”Meminjamkan uang dan kemudian mengambil hasil panenan di musim basah?“

Ibunya tidak menyahut.

“Dengan tanah yang tandus dan kering ini ibu dapat mencari tenaga dengan upah yang rendah sekali untuk mengerjakan sawah kita, hampir satu-satunya yang dapat di kerjakan dimusim kering. Dari pada kelaparan, maka orang-orang itu mau menerima tawaran ibu meskipun penghasilan mereka sama sekali tidak sepadan”

“Wiyatsih“ ibunya memotong “kau benar-banar telah kerasukan demit Kali Kuning. Lihat, Tanjung sudah mulai berkembang dengan modal uang yang hanya sedikit. Sedang kau, anakku, sama sekali tidak mau membantu pekerjaanku. Sekarang kau mulai berani mencela pekerjaan yang sudah bertahun-tahun aku lakukan.

“Dan sudah bertahun-tahun pula ibu memeras tenaga dan bahkan harta benda rakyat Sambi Sari”

“Wiyatsih“ hampir berbareng Nyai Sudati dan Tanjung memotong kata-kata Wiyatsih itu.

“Wiyatsih“ suara ibunya menjadi bergetar “apakah kau sadari apa yang kau katakan?“

“Aku sadar ibu. Bahkan kesadaran yang demikian sudah lama sekali berkembang di dalam hatiku. Aku yakin bahwa di hati kakang Pikatanpun memercik pikiran yang serupa. Tetapi sekarang ia tidak lebih dari seorang laki-laki yang sedang berputus asa.”

“Tentu, Pikatanpun akan berkata demikian. Kau tentu mendengar daripadanya pula, atau pernah mendengar rencananya”

“Ya.”

“Aku tidak sependapat Wiyatsih. Hentikan mimpimu yang gila itu”

Tetapi Wiyatsih menggelengkan kepalanya. Katanya “Aku akan bekerja terus, ibu. Aku ingin setiap orang dari padukuhan ini dapat makan layak, dapat hidup layak. Hanya itu. Tidak berlebih-lebihan. Dan kita tidak akan menjadi miskin karenanya. Mungkin kita akan dapat mengembangkan usaha dengan cara yang lain didaerah yang lebih subur daripada kuburan yang sangat luas ini”

“Wiyatsih, apakah kau benar-benar telah kesurupan?“

“Tidak ibu. Aku tetap sadar” tetapi kata-kata Wiyatsih patah ditenggorokan ketika tiba-tiba saja ia melihat mata ibunya menjadi basah.

“Kau sudah berani menentang ibumu Wiyatsih“ suara ibunya menjadi parau, sedang Tanjung hanya dapat menundukkan kepalanya saja.

Wiyatsih menjadi termangu-mangu. Tetapi ia masih belum menjawab.

“Aku sudah mengerjakan pekerjaan ini bertahun-tahun. Sejak ayahmu meninggal, akulah yang harus memelihara kau berdua. Selama ini aku tidak pernah mengatakan kepadamu dan kepada Pikatan, apakah yang sebenarnya sudah terjadi”

Wiyatsih menjadi diam dan bahkan seolah-olah telah membeku ditempatnya.

“Kalau aku tidak melakukan pekerjaan ini Wiyatsih, mungkin kau akan mengalami kehidupan yang lain. Mungkin kau tidak akan pernah sempat berbicara tentang bendungan, karena kaupun akan hidup seperti gadis-gadis Sambi Sari sekarang ini. Kurus kering, dan dengan pakaian yang hampir tidak dapat menutup separo dari tububmu. Namun demikian kau tidak akan dapat menarik hati lelaki meskipun pakaianmu terbuka sama sekali, karena tubuhmu yang cacingan”

Wiyatsih tidak menyahut, meskipun tiba-tiba matanya menjadi menyala.
Dengan kepala tertunduk dalam-dalam, ia masih harus mendengarkan ibunya berkata seterusnya “Wiyatsih, kau tentu masih ingat. Suatu masa kita tidak sekecukupan sekarang ini, bahkan selagi ayahmu masih ada” suara ibunya menurun “sepeninggal ayahmu, kita dalam kesulitan yang parah, aku mengenal seorang laki-laki. Hampir saja aku terjebak olehnya Wiyatsih. Hampir saja aku kehilangan kehormatan dan harga diriku. Tetapi aku mencintai ayahmu. Aku mencintai Pikatan dan mencintai kau, sehingga dengan tekad yang bulat, aku melepaskan diri dari jebakan laki-laki itu. meskipun ia kaya raya. Aku tidak mau sekedar menjadi perempuan simpanan, agar isterinya yang lain tidak mengetahuinya. Aku tidak mau hidup bersembunyi-sembunyi. Aku tidak mau. Dan aku tidak mau menodai cintaku kepada keluargaku. Kepadamu, kepada Pikatan dan kepada harga diriku sendiri. Sejak itulah aku berjanji kepada diriku sendiri, bahwa akupun harus menjadi seorang yang kaya, setidak-tidaknya berkecukupan sehingga aku tidak akan pernah mengalami penghinaan serupa itu lagi”

Suara ibunya terputus. Tiba-tiba saja Nyai Sudati itu terisak. Dengan ujung kain panjangnya ia mengusap matanya sambil berkata “Wiyatsih Aku sekarang sudah herhasil, tidak akan ada laki-laki yang menghinakan aku lagi” ia berhenti sejenak, lalu “juga terhadap kau dan Pikatan. Kalian bukan anak seorang janda miskin yang menghianati kesetiaannya kepada keluarganya.
Kepala Wiyatsih menjadi semakin tertunduk. Sebagai seorang gadis, hatinyapun menjadi cair mendengar isak ibunya. Bahkan mata Wiyatsihpun menjadi basah pula.

Perlahan-lahan iapun kemudian berkata “Maaf ibu. Aku tidak bermaksud menyakiti hati ibu”

“Aku tahu Wiyatsih“ jawab ibunya “kau tidak akan menyakiti hatiku dengan sengaja, Tetapi ternyata kau perlu mendengar ceriteraku supaya kau dapat mempertimbangkan, kenapa aku telah melakukan pekerjaan ini. Pekerjaan satu-satunya yang dapat aku lakukan saat itu”

Wiyatsih tidak menyahut. Ia tidak mau membuat hati ibunya menjadi semakin pedih. Meskipun demikian ia berkata didalam hatinya “Tidak seorangpun dapat menyalahkannya waktu itu. Keadaan ibu memang memaksa. Tetapi berbeda dengan keadaanku sekarang. Aku tidak harus melakukan pekerjaan serupa itu, karene tersedia bagiku pekerjaan yang lain” Tetapi Wiyatsih tidak mengucapkannya Disimpannya saja pikiran itu didalam hatinya. Hanya didalam saat-saat yang baik ia akan dapat mengatakannya.

“Nah, pikirkanlah Wiyatsih. Kau sudah cukup dewasa untuk menentukan sikap“

Wiyatsih menganggukkan kepalanya.

“Kalau kau akan makan, makan telah tersedia. Sebaiknya kau sedakan makan pula buat Tanjung” berkata ibunya tiba-tiba.

Sekali lagi Wiyatsih mengangguk.

Dengan hati yang berat, ia tidak dapat menolak perintah ibunya, agar ia menyediakan dan kemudian makan bersama-sama dengan Tanjung. Apalagi selagi ibunya mengenang masa-masa pahit yang pernah dialaminya.

Betapa hatinya terasa berat, tetapi ia harus melakukannya sebagaimana dikehendaki oleh ibunya. Dan Wiyatsihpun sadar, bahwa ibunya sengaja mendekatkannya semakin rapat kepada Tanjung, dengan berbagai macam cara. Ibunya selalu mencoba agar Wiyatsih menyadari pentingnya hubungan yang lebih pasti lagi antara dirinya dan Tanjung.

Tanjung yang sudah merasa dirinya menjadi keluarga rumah itu, sama sekali tidak canggung-canggung lagi. Ia makan hidangan yang disuguhkan kepadanya seperti ia makan di rumah sendiri, justru Wiyatsihlah yang merasa canggung sekali makan, bersama dengan Tanjung.
Ibunya agaknya memang dengan sengaja meninggalkan mereka berdua yang sedang makan. Sambil mengusap matanya yang basah Nyai Sudati pergi ke biliknya. Namun ia sempat berkata “Makanlah sebaik-baiknya. Bagaimanapun baiknya hidangan, tetapi apabila kalian makan dengan cara yang tidak baik, maka hidangan itu akan menjadi hambar. Tetapi sebaliknya, meskipun hanya sekedar daun gerandel, tetapi apabila kalian makan dengan cara yang baik, maka daun gerandel itu akan terasa betapa enaknya”

Wiyatsih dan Tanjung tidak menyahut. Keduanya hanya menundukkan kepala saja. Tetapi yang lewat didalam angan-angan mereka adalah berbeda sekali. Wiyatsih merasa dirinya tersiksa menghadapi makanan yang telah tersedia itu, sebaliknya Tanjung tersenyum-senyum dilayani oleh Wiyatsih atas kehendak ibunya.

Namun, selagi tangan Tanjung siap untuk menyuap mulutnya, ia terkejut. Dilihatnya seseorang berdiri tegak di depan pintu pringgitan. Orang itu adalah Pikatan.

”O, marilah Pikatan. Apakah kau tidak makan bersama kami?“

Mata Pikatan menyorot kewajah Tanjung setajam ujung duri landak, sehingga tanpa disadarinya Tanjung menundukkan kepalanya kembali.

Sejenak kemudian tatapan mata itu berpindah kewajah Wiyatsih, tetapi Wiyatsihpun telah menundukkan wajahnya pula.

Tanpa berkata sepatah katapun Pikatan melangkah melintasi pringgilan dan pergi ke pendapa. Begitu ia hilang dibalik pintu, maka Tanjungpun menarik nafas dalam-dalam.

Untuk mengatasi gejolak perasaannya, Tanjung berkata dengan suara terbata-bata “Eh, apakah Pikatan sudah makan?“

Wiyatsih menggelengkan kepalanya. Katanya “Aku tidak tahu. Bukankah kau lihat aku baru datang dan kemudian ibu minta aku melayanimu?“

“O“

“Kakang Pikatan makan dan minum di dalam biliknya”

“Akulah yang biasanya menyediakan makan dan minumnya. tetapi kadang-kadang aku pergi terlampau lama. Jika demikian maka seorang pelayanlah yang menyediakan buatnya”

Tanjung mengangguk-anggukan kepalanya. Tetapi iapun kemudian bertanya “Kalau kau pergi terlampau lama, kemana saja sebenarnya kau Wiyatsih?“

“Kesawah, kesungai untuk mencuci dan kadang-kadang sekali-kali bermain-main juga dengan kawan-kawan. Apa salahnya, apakah aku tidak boleh berkawan dan kadang-kadang bermain nini towong di terang bulan?“

“Aku, aku tidak bermaksud demikian, tetapi kadang-kadang kau pergi jauh lebih lama dari kawan-kawanmu. Kalau kau pergi mencuci pakaian, kawan-kawanmu tentu lebih dahulu pulang”

“Aku belum selesai”

“Tetapi kau tentu minta mereka pulang lebih dahulu”

“O, apakah mereka harus menunggu cucianku selesai?“

”Wiyatsih” suara Tanjung menjadi datar “apakah kau tidak sadar, bahwa sikapmu itu menimbulkan berbagai macam pertanyaan pada kawan-kawanmu? Apakah kau tidak merasa, bahwa kau seakan-akan mulai mengasingkan dirimu pula seperti Pikatan“

“Tentu tidak. Aku pergi kesawah pula bersama mereka. Aku. ikut bertanam padi di permulaan musim basah. Aku ikut menuai dan ikut beramai-ramai bersama gadis-gadis lain”

“Itu tahun yang lampau. Tetapi sekarang kau bersikap lain.”

Wiyatsih tidak menyahut. Ia tidak menganggap perlu untuk memberikan penjelasan lebih jauh. Karena itu, maka iapun terdiam. Hanya tangannya sajalah yang masih sibuk menyuapi mulutnya.

Dengan demikian maka pembicaraan itupun terhenti. Tetapi Tanjung masih juga makan dengan lahapnya. Hal serupa itulah yang justru membuat Wiyatsih menjadi semakin jauh dari Tanjung. Meskipun tampaknya ia semakin sering berhubungan karena ia sekedar ingin memenuhi keinginan ibunya, namun hatinya serasa semakin hambar melihat sifat dan kelakuan anak muda itu. Tidak ada hal yang menarik baginya. Ia bukan seorang laki-laki yang diharapkannya.

Kadang-kadang masih terbayang kejantanan kakaknya dahulu, sebelum ia meninggalkan padukuhan itu. Ia merupakan seorang pemimpin tanpa diangkat oleh kawan-kawannya. Seolah-olah dengan sendirinya ia telah berdiri di paling depan, tetapi sepeninggal Pikatan, anak muda Sambi Sari telah kehilangan ancar-ancar, apa yang sebaiknya dilakukan.

“Dahulu“ katanya didalam hati “Sekarang kakang Pikatan tidak ada bedanya lagi dengan Tanjung”

Tetapi Wiyatsih masih mengharap kemampuan Kesambi. Setidak-tidaknya anak itu mempunyai niat. Bahkan niat yang kuat. Karena itu, apabila ia mendapat dorongan, maka Kesambi akan menjadi semakin bergairah.

Demikianlah maka Wiyatsih agaknya benar-benar akan membuktikan, bahwa dengan air Kali Kuning, sawah-sawah yang kering akan dapat ditanami. Seperti yang pernah dikatakannya kepada Kesambi, maka Wiyatsih benar-benar akan menanami sawahnya yang kering diujung selatan bulak padukuhannya.

Memang hampir tidak masuk akal. Ketika Wiyatsih mulai mengerjakan sawah yang kering itu, kawan-kawannya menjadi heran. Bukan saja gadis-gadis, tetapi anak-anak muda menganggapnya ada kelainan yang telah terjadi atas gadis itu.

Bahkan ibu Wiyatsihpun menjadi bingung. Ia tidak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh anak gadisnya itu, sehingga dengan nada kecemasan ia bertanya kepada Wiyatsih ketika anak itu ditemuinya sedang duduk di pembaringannya “Wiyatsih, apakah sebenarnya yang telah kau lakukan?“

“Bukankah biasa saja ibu. Menanami sawah. Apa anehnya?“

“O, Wiyatsih. Seluruh padukuhan mempercakapkan kau. Seolah-olah kau benar-benar telah berubah pikiran. Akalmu seolah-olah telah tidak sehat lagi”

Wiyatsih tersenyum. Katanya “Tentu tidak ibu. Aku sadar apa yang aku lakukan”

“Tetapi tentu tidak seorangpun yang dapat mengerti. Akupun tidak. Kau telah menyebar benih jagung ditanah yang kering kerontang itu setelah kau sendiri mencangkulnya. Itu benar-benar suatu perbuatan yang tidak masuk akal”

Sekali lagi Wiyatsih tersenyum. Katanya “Biarlah kita melihat ibu. Sesuatu yang tampaknya tidak masuk akal itupun kadang-kadang dapat membuka pikiran seseorang bahwa hal serupa itu dapat dilakukan”

“Wiyatsih“ berkata ibunya “aku tidak menyayangkan biji-biji jagung yang kau sebar dan yang besok atau lusa akan menjadi kering Tetapi bahwa kau telah melakukan hal itulah yang membuat aku menjadi prihatin.

“Biarluh kita tunggu ibu. Apakah biji jagung itu akan tumbuh atau tidak“ Wiyatsih terdiam sejenak, lalu “bahkan aku juga menanam kacang rambat di pematang, kelak, kita akan memetik kacang panjang dan daun lembayung”

Ibunya menarik natas dalam-dalam ”Kau telah dipengaruhi oleh mimpi burukmu Wiyatsih. Hentikan perbuatan gila itu”

Tetapi Wiyatsih menggelengkan kepalanya “Aku akan mencobanya”

Nyai Sudati hanya dapat menekan dadanya. la menjadi sangat cemas terhadap anaknya. Anak laki-lakinya seakan-akan telah kehilangan seluruh gairah hidupnya. sedang anak perempuannya tiba-tiba saja telah menunjukkan gejala-gejala yang mencemaskan.

Sebenarnyalah hampir setiap orang mempercakapkan Wiyatsih dan seluruh keluarganya. Bermacam-macam eeritera telah tumbuh di padukuhan itu, bahkan diseluluh Kademangan Sambi Sari.

“Agaknya dahulu Nyai Sudati pernah mencari pesugihan. Agar ia menjadi kaya, ia pergi kegoa-goa. Ternyata bahwa ia mendapatkan kekayaan itu, tetapi ia harus mengorbankan kedua anak-anaknya. Bukankah Pikatan yang cacat itu tidak bedanya dengan anak yang sudah mati? Sedang kini Wiyatsih mulai dihinggapi penyakit jiwa“ berkata seorang tetangganya.

“Ya. Sampai hati juga Nyai Sudati mengorbankan anak-anaknya sekedar untuk menjadi seorang janda kaya“ sahut yang lain

Dan desas-desus serupa itu, sampait juga ke telinga Wiyatsih lewat Tanjung. Dengan nada yang keras Tanjung memperingatkan “Wiyatsih, kau harus kasihan kepada ibumu. Seandainya kau hanya sekedar menuruti kehendakmu sendrii, kau sama sekali tidak menghiraukan akibat yang menimpa seluruh keluargamu”

Wiyatsih mengerutkan keningnya. Katanya kemudian tanpa menjawab peringatan Tanjung itu “Tanjung, apakah kau mau membantu aku seperti kau membantu ibu?“

“Apa yang harus aku lakukan?“

“Menyiram jagung itu dengan air Kali Kuning”

“Gila, itu pikiian gila”

Tetapi Wiyatsih hanya tersenyum saja, bahkan katanya “Sekarang tidak sempat berbicara dengan kau berkepanjaagan, aku akan pergi kesawah”

“Wiyatsih, kau harus sadar. Kau harus menghentikannya”

“Kau telah ditelan oleh mimpimu yang buruk itu“

Tetapi Wiyatsih sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan iapun kemudian meninggalkan Tanjung dan pergi kesawahnya diujung bulak. Bulak yang menjadi padang yang kering kerontang. Rumputpun hampir tidak dapat tumbuh sama sekali.

Sejenak Tanjung menjadi termangu-mangu, tetapi iapun kemudian menyusul Wiyatsih sambil berkata “Kau harus menyadari keadaanmu Wiyitsih. Jangan terlampau dipungaruhi oleh angan-angan. Tetapi kau harus mempergunakan akal sehatmu”

Wiyatsih sama sekali tidak menjawab ia berjalan semakin lama semakin cepat diatas pematang yang kering. Sedang Tanjung hampir berloncat-loncatan mengikutinya.

“Wiyatsih“ berkata Tanjung kemudian “marilah kita pulang. Kau tidak akan dapat mengharapkan apa-apa dari sawahmu yang kering itu “

Tetapi Wiyatsih tidak menghiraukannya sama sekali. Justru langkahnya menjadi semakin cepat berloncatan dari sebongkah tanah kering ke bongkah berikutnya.

Mula-mula Tanjung tidak menghiraukan langkah itu sama sekali, karena /ia dicengkam oleh hasratnya untuk meneegah Wiyatsih pergi ke sawahnya yang kering itu. Tetapi lambat laun ia menjadi heran, kenapa Wiyatsih dapat berjalan begitu cepat. Semakin lama semakin cepat.

“Tentu hal ini tidak wajar” berkata Tanjung didalam hatinya. Dan iapun mulai curiga, apakah benar Wiyatsih telab kerasukan hantu atau demit dari Alas Sambirata, sehingga tingkah lakunya telah berubah.

“Wiyatsih, Wiyatsih” ia masih berusaha menghentikan Wiyatsih. Tetapi Wiyatsih berjalan terus.

Ketika mereka sampai disawah di ujung bulak, Tanjung menjadi terheran-heran pula. Ternyata sawah yang sekotak itu tidak sekering sawah didekatnya. Ada tanda-tanda air yang tergenang, meskipun tidak banyak”

Karena itu, ketika wiyatsih turun ke tanahnya yang basah, Tanjung berdiri saja termangu-mangu. Bagaimanapun juga tidak masuk di dalam pikirannya, bahwa Wiyatsih telah menyiram sawahnya itu setiap sore.

“Apakah kau heran melihat tanah yang sekotak ini basah?” bertanya Wilyatsih kemudian.
Tanjung menganggukkan kepalanya.

“Kau memang bodoh sekali Tanjung“ berkata Wiyatsih sambil tersenyum “maaf, maksudku, bahwa kau malas berpikir. Tentu kau tidak bodoh dan tentu kau mengetahui bahwa tanah ini basah oleh air“

Seperti orang yang kehilangan akai Tanjung mengangguk pula.

“Dan air itu aku dapatkan dari Kali Kuning”

“Tetapi, tetapi“ Tanjung tergagap “bagaimana air itu bisa mengalir kesawah ini?“

“Tentu tidak mengalir. Akulah yang menyiramnya. Aku rnengambil air dari Kali Kuning”

Tanjung menjadi tercengang-cengang. Ia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Wiyatsih.

“Aku mengambil air dengan sepasang lodong bambu”

“Tidak mungkin. Tidak mungkin“ Tanjung menjadi semakin heran melihat Wiyatsih. Apalagi ketika Wiyatsih tertawa berkepanjangan.

“Wiyatsih, kenapa kau tertawa seperti itu?“

Wiyatsih masih saja tertawa. Suaranya semakin lama menjadi semakin tinggi. Di telinga Tanjung suara tertawa Wiyatsih itu bagaikan suara setan betina yang telah merasuk ke dalam tubuh Wiyatsih, sehingga karena itu, maka iapun mundur perlahan-lahan.

“Pulanglah Wiyatsih“ desisnya. Tetapi suaranya hampir-hampir tidak terloncat dari mulutnya.
Tetapi Wiyatsih masih saja tertawa. Ia tertawa karena wajah Tanjung yang pucat. Bahkan kemudian seperti orang yang ketakutan. la tidak mengerti apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Tanjung, namun\sikap Tanjung itu sangat menggelikan baginya.

“Pulanglah Wiyatsih, pulanglah“

Wiyatsih masih belum menjawab. Ia masih tertawa terus. Dan ketika ia maju selangkah mendekati Tanjung, maka dengan tergesa-gesa Tanjung pergi meninggalkannya.

Sepeninggal Tanjung, Wiyatsihpun berhenti tertawa. Akhirnya ia mengerti, bahwa Tanjung justru takut melihat sikapnya. Seperti sikap orang yang kurang waras bagi Tanjung.

“Aku tidak peduli“ gumam Wiyatsih. Diedarkannya tatapan matanya ke tanah yang sekotak itu. Tanah itu memang basah.

Demikianlah setiap sore Wiyatsih memang menyiram tanah yang sekotak itu dengan sepasang lodong bambu, ia turun naik tangga yang dibuatnya pada tebing sungai. Memang hampir tidak mungkin dilakukan oleh seorang gadis. Tetapi Wiyatsih mempunyai kemampuan lain. Kemampuan yang tidak saja dimiliki oleh gadis-gadis kawannya bermain, tetapi kemampuannya memang melampaui kemampuan gadis-gadis kebanyakan. Latihan yang berat dan kemauan yang bulat membuatnya seakan-akan memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari kekuatannya sendiri.

Ternyata Wiyatsih mampu mengungkapkan kemampuan jasmaniahnya. Bukan saja didalam olah kanuragan. Tetapi ia mampu membangunkan tenaga cadaingan pada sepasang tangan dan kakinya untuk kepentingan yang lain.

Berulang kali Wiyatsih naik turun tebing sungai yang untung tidak begitu tinggi. Tetapi Wiyatsih telah melakukannya dengan sengaja, bukan saja untuk mengairi tanamannya, tetapi juga untuk melatih kemampuan jasmaniahnya.

Tiba-tiba langkahnya terhenti diatas tanggul ketika ia mendengar seseorang menyapanya “Aku tidak menyangka, bahwa kau bersungguh-sungguh Wiyatsih“

Wiyatsih yang hampir menuruni tanggul terhenti. Dilihatnya seorang anak muda yang justru naik tebing di hadapannya.

“O, kau. Aku tidak melihat kau datang“ berkata Wiyatsih.

“Aku menyusur sungai itu. Aku ingin melihat, apakah tempat yang disebut oleh Pikatan itu memang tempat yang paling baik.

“O, apakah kau menemukan tempat lain?“

“Tidak. Aku tidak menemukan tempat lain. Tetapi aku menemukan keajaiban disini”

Wiyatsih tersenyum, Katanya “Naiklah Kesambi. Lihatlah, bukankah aku mampu menyirami sawahku yang sekotak ini. Sama sekali bukan pekerjaan yang mustahil. Seandainya aku tidak dapat melakukannya sendiri, apabila keluargaku sependapat dengan aku, maka aku dapat mengerahkan anggota-anggota keluargaku yang lain. Kaupun dapat melakukannya bersama kakak dan adik-adikmu. Bersama ayah dan ibumu. Bukankah semakin banyak orang yang ikut serta, semakin luas tanah yang dapat diairi“

Kesambi menggeleng-gelengkan kepalanya. Suatu hal yang dianggapnya mustahil dapat juga dilakukan oleh Wiyatsih

“Tetapi hasilnya tidak seberapa banyak Wiyatsih. Apakah kau pikir hasil dan jerih payahmu dapat seimbang”

Wiyatsih tersenyum. Katanya “Didalam hal ini tentu jauh dari seimbang. Kesambi. Tetapi aku ingin membuktikan, bahwa dengan usaha menaikkan air dari Kali Kuning, sawah kita dapat ditanami. Hanya itu. Tentu kita akan mengusulkan cara yang lebih baik dari naik turun tebing seperti yang aku lakukan”

”Bendungan maksudmu?“ Wiyatsih menganggukkan kepalanya.

Kesambi menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara yang berat ia berkata “Kau memberikan pengorbanan yang besar sekali-untuk cita-cita itu“

“Aku sadar. Bukan saja aku akan menjadi sangat lelah setiap hari, tetapi ada juga orang yang menganggap syarafku sudah tidak sehat lagi. Tetapi aku tidak berkeberatan. Pada suatu saat, mata mereka akan terbuka“

Kesambi mengangguk-anggukan kepalanya. la memang mendengar apa yang dikatakan oleh orang-orang disekitarnya tentang Wiyatsih. Sebagian besar dari orang-orang padukuhan disekitar Alas Sambirata menganggapnya sudah tidak waras lagi. Setidak-tidaknya Wiyatsih telah dipengaruhi oleh suatu mimpi yang mengganggu syarafnya.

“Kalau jagungku nanti tumbuh “berkata Wiyatsihkemudian “dan kelak menjadi besar, mereka pasti akan percaya, bahwa air kali Kuning memang ada manfaatnya”

Kesambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Aku seorang laki-laki Wiyatsih. Tetapi aku tidak sanggup berbuat seperti kau”

Wiyatsih tersenyum ”Memang mungkin“ jawab Wiyatsih “bukan tidak sanggup. Tetapi tidak telaten. Itulah soalnya, atau kedua-duanya“

Wiyatsih tertawa. Kemudian katanya “Ada baiknya bahwa orang-orang padukuhan kita menganggap perbuatan ini seperti perbuatan orang yang tidak waras. Mereka sama sekali tidak menarik perhatian lagi dan mereka sama sekali tidak pernah melihat apakah tanamanku tumbuh atau tidak. Tetapi baru saja Tanjung mengikuti aku dan melihat tanah ini basah. Agaknya ia benar-benar menganggap aku sudah gila, sehingga ia dengan tergesa-gesa, pergi meninggalkan aku”

Kesambipun tersenyum pula. Katanya “Kalau aku tidak mendengar rencanamu, mungkin akupun menganggapmu demikian. Tetapi karena aku mengerti betapa besar niatmu, maka aku berpendapat lain. Aku berpendapat justru kau telah mengorbankan namamu untuk kepentingan ini”

“Kenapa namaku?“

“Maksudku, kau telah menyediakan diri, seandaiaya kau dianggap gila sekalipun“

“Bukankah itu hanya sementara?“

Kesambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Tetapi selain anggapan-anggapan itu Wiyatsih, aku tetap tidak mengerti, kenapa kau mampu melakukannnya. Seorang gadis yang lain, kecuali kau, tidak akan dapat naik turun tebing yang meskipun tidak begitu tinggi itu sampai tiga empat kali. Tetapi untuk menyiram tahahmu yang meskipun hanya sekotak ini, pasti lebih dari sepuluh atau lima belas kali“

Wiyatsih menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku tidak tahu Kesambi. Barangkali itu adalah karunia. Dan apakah aku tidak seharusnya berterima kasih dan bersukur dengan memanfaatkan karunia yang aku terima itu?“

Kesambi mengangguk-angguk pula “Ya, ya. Memang itu adalab suatu karunia”

“Nah, marilah, apakah kau akan membantu aku?“ berkata Wiyatsih kemudian.
Kesambi termangu-mangu sejenak. Tetapi iapun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah. Aku akan membantumu, dan setiap orang padukuhan kita, apabila melihat apa yang kila lakukan, akan mengatakan, bahwa aku sudah kejangkitan penyakit seperti penyakitmu pula”

Keduanya tertawa. Tetapi keduanya menyadari benar-benar apa yang sedang mereka lakukan.

Demikianlah, maka keduanyapun segera melanjutkan kerja Wiyatsih menyirami tanamannya. Tetapi ternyata bahwa Kesambi menjadi lebih dahulu lelah dari Wiyatsih, meskipun Wiyatsih telah mulai lebih dahulu dari padanya.

“He, kau tidak dapat lagi berdiri?“ bertanya Wiyatsih ketika Kesambi kemudian duduk dengan nafas terengah-engah diatas tanggul.

Kesambi memandangnya dengan terheran-heran, Nafas Wiyatsih tidak mengalir secepat nafasnya, meskipun terasa juga gadis itu mulai menjadi lelah.

“Kau memang aneh“ berkata Kesambi “aku menjadi curiga juga akhirnya, apakah kau tidak kesurupan danyang Kali Kuning ini?. Kalau kau mempergunakan tenagamu sewajarnya sebagai seorang gadis, maka kau tidak mungkin melakukan semuanya ini”

“Kenapa tidak mungkin. Sudah aku katakan, bahwa tekad yang bulat dapat menambahkan kemampuan yang melampaui kemampuan yang sewajarnya“

“Aku tidak kuat lagi Wiyatsih”

Wiyatsih tertawa. Kemudian katanya “Lihat, sawahku telah, basah, aku kira memang sudah cukup untuk hari ini”

Kesambi hanya berpaling saja. Ia sudah segan sekali untuk berdiri karena kelelahan. Keringatnya mengalir disegenap tubuhnya dan membasahi pakaiannya.

Namun tiba-tiba Wiyatsih berdesis “Sst, Kesambi. Aku lihat ada dua orang mendatangi tempat ini”

Kesambi mengerutkan keningnya sambil berpaling “Ya, dua orang” katanya ketika ia melihat di kejauhan ada dua orang yang datang.

“Pasti Tanjung dan ibu“ berkata Wiyatsih “pergilah, kehadiranmu dapat menimbulkan salah paham”

“Kemana?“ bertanya Kesambi agak gugup. “Kau dapat meluncuri tanggul itu dan berjalan menyelusur sungai seperti pada saat kau datang“

Kesambi menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku masih lelah sekali. Tetapi apaboleh buat“
Kesambipun kemudian turun tanpa berdiri lebih dahulu. Begitu saja ia meluncur, sehingga kedua orang yang mendatang memang tidak melihatnya.

Seperti yang diduga oleh Wiyatsih, yang datang itu sebenarnyalah Tanjung bersama Nyai Sudati. Dengan wajah yang tegang ibu Wiyatsih itu mendatanginya dengan tergesa-gesa. Suaranya menjadi bergetar dan tersendat-sendat “ Wiyatsih, apakah yang telah kau kerjakan disini?“

Wiyatsih tidak segera menjawab, dibiarkannya ibunya turun ke sawah yang baru saja disiraminya, dan seperti yang diduganya, ibunya seakan-akan terkejut ketika merasa kakinya terperosok kedalam lumpur “Tanah ini basah Wiyatsih“ katanya.

Wiyatsih menganggukkan kepalanya “Ya ibu, tanah ini memang basah”

“Jadi kau menyiraminya dengan air Kali Kuning?“

“Ya. Aku mengambilnya dari sungai itu“

“O“ ibunya mendekati Wiyatsih. Kemudian memeluknya sambil berkata “Marilah kita pulang anakku. Kau harus melepaskan diri dari cengkaman mimpimu yang buruk ini”

“Kenapa ibu? Seharusnya kita menjadi senang melihat tanah ini basah meskipun hanya sekotak“

“Tenagamu akan habis tersia-sia. Apakah artinya jagung sekotak buat kita Wiyatsih. Apa pula artinya kacang panjang yang kau tanam dipematang itu“

“Arti yang sebenarnya tidak terletak pada hasil yang akan kita petik dari sekotak tanaman jagung ini ibu”

“O, kau/sudah kesurupan. Marilah kita pulang”

Wiyatsih tidak membantah lagi. Ibunya membimbingnya berjalan menyelusur pematang yang kering, dan kemudian berjalan diantara tanah yang seakan-akan menjadi peeah-peeah seperti bibir seorang yang sedang sakit panas.

Tetapi Wiyatsih tidak berhenti sampai hari itu. Bagaimanapun juga ia selalu pergi ke sawahnya dan menyiramnya dengan air Kali Kuning. Bahkan ternyata bahwa Kesambipun sering datang membantunya, meskipun ternyata bahwa kemampuannya menuruni tebing itu tidak sekuat Wiyatsih.

Namun dalam pada itu, Nyai Sudati tidak juga berhenti berusaha. Didatanginya dukun-dukun yang pandai untuk membantunya menghentikan usaha anaknya yang dianggapnya tidak waras lagi itu. Bahkan Tanjungpun telah pergi berkeliling dari padukuhan yang satu kepadukuhan yang lain, untuk menemukan seorang tua yang akan mampu membuat Wiyatsih sadar dari mimpinya yang dianggap terlampau buruk

Tetapi Wiyasih tidak peduli. Ia tahu juga bahwa ibunya berusaha mendapatkan seorang dukun, tetapi ia tidak menghiraukannya sama sekali.

Di malam hari, Wiyatsih masih terus berlatih. Ternyata Puranti cukup lama tidak datang kerumahnya. Tetapi Kiai Pucang Tunggallah yang selalu menuntunnya. Namun demikian, kemajuan Wiyatsih terasa menjadi lebih cepat. Kematangan Kiai Pucang Tunggal telah memberikan kesempatan kepada Wiyatsih untuk melakukan sesuatu bukan sekedar menirukan sesuatu.

Kepada Kiai Pucang Tunggal, Wiyatsih telah mengatakan semuanya yang dialaminya. Ia berceritera pula tentang sawahnya dan tentang anggapan orang-orang disekitarnya, bahwa ia telah dihinggapi penyakit syaraf.

“Jangan hiraukan mereka“ berkata Kiai Pucang Tunggal “ Pada saatnya mereka akan tercengang dan mereka akan merasa bahwa diri mereka masing-masinglah yang ternyata sudah dihinggapi penyakit syaraf. Penyakit syaraf dalam pengertian yang lain, bukan dalam pengertian gila. Tetapi kelelahan hati, kemalasan dan tidak ada usaha adalah adalah satu dari penyakit syaraf itu pula”

Wiyatsih menggangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia menjawab “Tetapi Kiai, orang-orang dipadukuhan ini sebenarnya bukan orang yang malas. Mereka bekerja sehari penuh untuk sesuap nasi atau segenggam jagung”

“Kemalasan mereka terletak pada ketiadaan hasrat untuk berpikir lebih maju dari yang sudah mereka lakukan sekarang”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba saja ia bertanya “Apakah Puranti belum selesai dengan persoalannya?“

Kiai Pucang Tunggal mengerutkan keningnya. Lalu menggelengkan kepalanya “Persoalannya cukup sulit. Seorang laki-laki telah datang meminang ke rumah janda itu, sedang janda itu tidak kuasa menolaknya”

“O, jadi Puranti akan kawin?“

Kiai Pucang Tunggal menggelengkan kepalanya” Tidak. Itulah yang menyulitkan Puranti, ia sedang mencari jalan. Agaknya ia hampir berhasil”

“Apa yang dilakukannya?“

Kiai Pucang Tunggal menggelengkan kepalanya “Aku tidak jelas. Tetapi ia sendiri akan menyatakan penolakanmya kepada laki-laki itu”

“Siapakah laki-laki itu?“

“Seorang yang cukup kaya di padukuhan Cangkring. Ia mempunyai banyak isteri. Dan Puranti akan dijadikannya isteri yang kelima”

“O” tanpa dikehendakinya sendiri Wiyatsih memekik. Untunglah ia segera menyadari keadaannya, sehingga dengan serta merta kedua belah tangannya telah menutup mulutnya.
Demikianlah Wiyatsih mendapat kemajuan yang seakan-akan berjalan beriringan. Ia menjadi semakin lama semakin menguasai ilmu yang dipelajarinya. Bahkan, karena niatnya yang menyala, ia telah memiliki pengetahuan dasar yang mantap dari kecerdasannya agaknya mampu memperkembangkannya sendiri, dimanapun ia berlatih. Sementara itu, ia melonjak kegirangan kelika ia melihat jagungnya telah tumbuh dan lambat laun menjadi semakin besar.

Bersambung Ke Jilid 6

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s