Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

15

Tinggalkan komentar


Jilid 06-Bab 01 – Penjaga Regol

NAMUN dalam pada itu, ternyata bahwa di langit selembar awan kelabu telah tampak terbang ke Utara. Dengan dada yang berdebar-debar Wiyatsih memperhatikan awan yang kelabu itu. Musim hujan sudah menjadi semakin dekat. Dan sebelum hujau mulai jatuh orang-orang di padukuhan harus yakin, bahwa memang diperlukan sebuah cara untuk menaikkan air Kali Kuning. Dan ia telah membuat sebuah contoh, bahwa air Kali Kuning memang diperlukan dan dapat dipergunakan.

“Lihat” berkata Wiyatsih kepada Kesambi ketika Kesambi datang pula kesawahnya “Jagung ini tumbuh dengan subur. Kacang panjang di pematang itupun telah tumbuh pula dengan subur. Tetapi rasa-rasanya semi yang kembang itu terlampau lamban. Aku ingin sebelum hujan yang pertama turun, jagungku sudah tumbuh sebesar ilalang“

Tanpa disadarinya Kesambi menengadahkan kepalanya ke langit. Tetapi langit bersih. Hanya selembar awan yang putih sajalah yang lewat dipermukaan wajah yang biru.

“Udara masih tetap kering“ Katanya.

“Kemarin aku melihat awan yang kelabu“

Kesambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Musim hujan harusnya memang sudah datang. Tetapi agaknya kemarau memang agak panjang sehingga tanah dibulak Sambi Sari pada umumnya, menjadi kering kerontang.

“Wiyatsih“ berkata Kesambi “aku berharap bahwa usahamu akan bcrliasil. Aku kira masih belum ada orang yang memperhatikan, bahwa jagungmu mulai tumbuh subur. Tetapi pada suatu saat mereka akan berdatangan dan mengakui di dalam hati mereka, bahwa dengan air Kali Kuiunig, mereka dapat memanfaatkan sawah mereka disepanjang tahun, bukan hanya di musim basah“

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya”Aku berharap demikian.”

“Beberapa anak muda mulai memikirkan bendungan” berkata Kesambi tiba-tiba.

“He?“

“Aku, berusaha terus. Meskipun masih samar-samar, tetapi satu dua orang telah mulai tertarik untuk berbicara tentang air. Mudah-mudahan dengan tanaman jagungmu itu, mereka akan menjadi semakin yakin, bahwa air itu merupakan kebutuhan mutlak bagi sawah kita”

Tetapi selagi harapan Wiyatsih tentang bendungan itu mulai berkembang di dalam hatinya, kekacauan yang selama ini mereda setelah beberapa orang perampok terbunuh, kini mulai manjalar kembali. Agaknya beberapa orang sudah tidak tertahankan lagi mendengarkan anaknya merengek kelaparan. Tetapi mungkin pula karena para penjahat telah mulai melupakan kematian beberapa orang kawannya.

“Atau mereka sekarang justru merasa lebih kuat “berkata Kiai Pucang Tunggal pada suatu malam kepada Wiyatsih.

“Ya. Kiai. Memang mungkin sekali”

“Bahkan ada kemungkinan yang lain yang kurang menyenangkan bagi Pikatan, karena Puranti terlanjur membuat dirinya waklu itu seolah-olah orang yang sedang lumpuh sebelah tangannya”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Hal itu memang mungkin sekali terjadi. Para penjahat itu dapat saja datang saat untuk melepaskan dendamnya kepada Pikatan, karena ia pernah membunuh beberapa orang kawannya menurut penglihatan mereka.

“Jika terjadi demikian, apa yang harus aku lakukan Kiai?“

Kiai Pucang Tunggal menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian “Memang sulit sekali. Purantti telah melakukan suatu kesalahan. Seandainya waktu itu ia tidak terlampau terpengaruh oleh usaha para penjahat itu untuk mencemarkan nama Pikatan, mungkin ia memang tidak akan mempergunakan ciri-ciri itu. Tetapi terdorong oleh gejolak perasaannya, maka tiba-tiba saja ia telah menjadikan dirinya seorang yang cacat sebelah tangannya”
Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi iapun merasakan juga keseimbangan di hati Kiai Pucang Tunggal.

Namun akhirnya orang tua itu berkata ”Kalau tidak terpaksa sekali Wiyatsih, jangan berbuat sesuatu, supaya Pikatan tidak dapat mengenalimu dari ilmumu”

Wiyatsih menganggukkan kepalanya sambil berkata “Baik Kiai. Aku akan berusaha”

Namun yang terjadi, kerusuhan perlahan-lahan mulai berkembang. Bahkan kadang-kadang seseorang menemukan sesosok mayat ditengah-tengah bulak dan disaput oleh rahasia. Tidak seorangpun yang mengetahui siapakah orang itu dan kenapa ia terbunuh. Tetapi beberapa orang menduga, bahwa diantara para penjahat sendiri agaknya telah terjadi benturan-benturan yang membawa korban jiwa.

Tetapi dalam pada itu, ceritera tentang Pikatan mulai menjalar kembali sejalan dengan menjalarnya kejahatan. Jika seseorang menemukan mayat yang tidak dikenal, maka mereka langsung menganggap bahwa Pikatanlah yang telah melakukannya.

“Gila“ Pikatan yang kemudian mendengar pula cerita itu berkembang, ia mengumpat di dalam biliknya. Kemudian dipanggilnya Wiyatsih sambil membentak ”Kau mempunyai mulut juga Wiyatsih. Berkatalah kepada mereka, bahwa aku tidak pernah berbuat apa-apa”

“Kau terlalu bodoh. Pakailah segala macam cara untuk membantah kebohongan berita itu. Aku tidak pernah berbuat apa-apa. Kau dapat menyuruh penjilat yang bernama Tanjung itu menyiarkan kebenaran dari keadaanku”

Wiyatsih hanya menganggukkan kepalanya saja.

“Berita itu sangat memalukan. Seolah-olah aku seorang pahlawan yang wajib mereka hormati”
“Kakang“ berkata Wiyatsih kemudian “mungkin tidak ada lagi orang yang menyebarkan berita itu. Tetapi karena hal itu pernah mereka dengar, jadi dengan sendirinya mereka menghubungkan setiap peristiwa yang serupa dengan peristiwa yang mereka anggap pernah terjadi”

“Tetapi yang dahulupun hal itu tidak pernah terjadi. Berita itu sangat memuakkan bagiku”

Wiyatsih hanya menundukkan kepalanya saja tanpa menjawab sama sekali.

“Kau harus berusaha” geram Pikatan kemudian “mulailah hari ini. Jangan menunggu sampai menjadi terlalu parah”

Wiyatsih mengangguk lemah. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Demikianlah, ternyata berita itu membuat Pikatan seakan-akan menjadi semakin Terasing. Setiap hari ia hanya berada. Di dalam biliknya. Kemudian memanggil Wiyatsih dan marah-marah kepadanya Untunglah hampir setiap malam Wiyatsih mendapat nasehat dari Kiai Pucang Tunggal, sehingga hati Wiyatsih tetap tabah menghadapi masalah itu.

Dalam pada itu, Nyai Sudati masih saja sibuk mencari seorang dukun yang pandai untuk membangunkan kesadaran Wiyatsih yang mereka anggap sudah menjadi gila. Tetapi Wiyatsih masih tetap pergi ke sawahnya dan menyiramnya dengan air Kali Kuning.

“Kau memang gila” tiba-tiba saja Pikatan yang tidak pernah mempersoalkannya, berkata kepada Wiyatsih pada suatu hari “kalau kau tidak gila, kau pasti lebih berhasil menyingkirkan desas-desus itu daripada mengurus sawah yang sekotak itu”

Wiyatsih menjadi heran. Ternyata kakaknya mendengar juga persoalan sawah yang digarapnya. Agaknya setiap kali ia berbicara dengan ibunya, Pikatan selalu mendengarkannya.

“Jadi kau bercita-cita agar seseorang membangun bendungan?”

Wiyatsih menganggukkan kepalanya.

”Tidak mungkin. Tidak akan ada seorangpun yang mampu membuat bendungan”

“Kenapa?“ bertanya Wiyatsih.

“Hanya akulah yang mampu melakukannya“

“O“ Wiyatsih termangu-mangu “jadi kakang masih berniat untuk membangun sebuah bendungan sebelah Alas Sambirata?“

Tetapi jawaban Pikatan sangat mengecewakannya. Katanya “Tidak. Aku tidak akan membuat sebuah bendungan. Padukuhan ini sekarang menjadi padukuhan yang asing bagiku. Kehidupan yang ada di dalamnyapun asing pula bagiku. Buat apa aku bersusah payah membangun sebuah bendungan?, buat apa?, coba katakan, buat apa?“

“Tetapi kakang pernah bencita-cita akan membuat bendungan saat itu. Jadi buat apa sebenarnya kakang waktu itu bercita-cita untuk membuat sebuah bendungan?“

“Waktu itu. Ya waktu itu. Tetapi tidak sekarang. Aku dahulu merasa satu dengan padukuhan ini. Aku merasa satu dengan kehidupan diatasnya. Tetapi sekarang aku menjadi asing. Dengan demikian, aku tidak merasa berkewajiban lagi untuk membangun sebuah bendungan”

Jawaban itu semakin meyakinkan Wiyatsih, bahwa kakaknya kini benar-benar telah berubah. Bukan lagi Pikatan yang dahulu. Pikatan yang sekarang adalah orang asing di padukuhannya, bahkan di rumahnya sendiri.

“Wiyatsih“ berkata Pikatan kemudian “hentikan usahamu yang gila itu. Kau harus memusatkan untuk menghentikan cerita yang tidak kalah gilanya dengan ceritera jagung sekotak diujung bulak, kau harus menghentikan ceritera tentang Pikatan”

“Kakang“ bertanya Wiyatsih kemudian “apakah untuk membersihkan nama kakang dari sorotan para penjahat itu lebih penting dari usahaku untuk kepentingan padukuhan kita?“

Pertanyaan itu telah mengguncangkan dada Pikatan. Sejenak ia berdiri membeku memandang wajah Wiyatsih dengan sorot mata yang menyala. Dan tiba-tiba saja ia membentak penuh kemarahan ”Wiyatsih. Kau benar-benar kesurupan setan Sambirata dan Kali Kuning sekaligus. Kenapa kau bertanya begitu kepadaku he?“

“Kakang“ jawab Wiyatsih “aku tidak akan ingkar, bahwa aku memang berkewajiban membantu kakang untuk membersihkan nama kakang apabila hal itu memang kakang kehendaki. Tetapi kakang jangan menghalang-halangi usahaku membuat bendungan di Kali Kuning seperti yang pernah kakang rencanakan dahulu”

“Bodoh sekali. Apa yang akan dapat kau perbuat He!. seorang perempuan. Perempuan yang manja lagi”

“Tetapi di padukuhan ini ada laki-laki juga” sahut Wiyatsih.

“O. Kau mengharap bahwa ada laki-laki yang akan melakukan pekerjaan itu?. Tanjung?“ Pikatan mencibirkan bibirnya. Dengan nada tinggi ia berkata “Ia tidak akan dapat berbuat apapun juga. Ia tidak lebih dari seorang penjilat. Dan kau sudah tergila-gila kepada penjilat itu. Kau benar-benar sudah gila. Kau mengharap penjilat itu membangun sebuah jembatan? Wiyatsih, dengar baik-baik. Meskipun aku sudah lumpuh sebelah tanganku, tetapi aku masih memiliki kemampuau dan tekad seratus kali lipat dari padanya. Meskipun ujudnya laki-laki itu tidak cacat, tetapi sebenarnyalah ia adalah orang yang lumpuh hatinya. Ia tidak pantas hidup di dalam lingkungan keluarga kita. Dan kau agaknya sudah jatuh dibawah kakinya. Belum lagi kau menjadi isterinya, kau sudah melayaninya makan dan minum Kelak kalau kau benar-benar menjadi isterinya, maka kau tidak akan lebih dari pelayannya. Kau harus menyiapkan segala kebutuhannya dengan uangmu sendiri. Dan laki-laki itu hanya bermodal daya tarik sudah membuatmu gila”

“Kakang“ dada Wiyatsih tiba-tiba menjadi sesak. Selama ini ia sudah berusaha menahan hati menghadapi sikap kakaknya. Tetapi pada suatu saat hatinya yang pepat itu akhirnya melimpah juga ”Apa bedanya Tanjung dengan kau sekarang? Tanjung yang kau sebut penjilat itu dan kau yang sudah menjadi pengecut? Kenapa kau ribut dengan desas-desus tentang Pikatan yang mereka sebutkan membunuh para permpok dan penjahat? Apakah kau ingin bersikap jujur karena memang bukan kau yang melakukannya, atau karena kau menjadi ketakutan membayangkan pembalasan dendam dari para penjahat itu atasmu?”

“Diam, diam“ tiba-tiba Pikatan membentak, wajahnya menjadi merah padam. Selama ini belum pernah Wiyatsih membantah dan bahkan seakan-akan telah mengumpatinya pula.

Tetapi hati Wiyatsih yang selama ini serasa tertekan, tidak lagi dapat dibendung. Katanya “Kakang, kalau kau ingin bidup terasing, hiduplah terasing. Tetapi jangan selalu dibayangi oleh kebanggaan diri yang berlebih-lebihan, seolah-olah Pikatanlah orang yang paling cakap, paling pandai dan paling kuat di padukuhan kecil ini. Seandainya memang demikian, tetapi kau tidak pernah berbuat apa-apa, itu tidak akan berarti sama sekali. Kau hanya tinggal di dalam bilikmu sehari-harian. Apakah yang dapat kau hasilkan?”

“Diam, diam“ Pikatan membentak semakin keras. “Kalau kau tidak mau diam, aku tampar mulutmu”

Tetapi Wiyatsih masih berbicara “Marilah kita menghayati hidup kita sendiri-sendiri. Kau hidup dalam duniamu yang gelap dan sempit serta terasing. Aku akan hidup di dalam dunia khayalanku yang kau katakan gila itu”

Pikatan sudah tidak dapat menahan hatinya lagi. Tetapi ketika hampir saja tangan kirinya terangkat, Ibunya yang mendengar pertengkaran itu dari dapur segera datang berlari-lari.

“Apalagi yang kalian pertengkarkan”

Keduanya terkejut. Keduanya berpaling. Dilihatnya ibunya berdiri diambang pintu. Dengan serta-merta Wiyatsih berlari memeluk ibunya sambil menangis sejadi-jadinya. Rasa-rasanya dadanya yang pepat itu akan meledak karenanya. Namun masih saja ada sisa yang harus ditahankannya. Sisa masalah yang masih membuatnya pepat dan masih belum dapat diledakkannya.

“Sudahlah Wiyatsih“ berkata ibunya “kenapa kalian selalu bertengkar?. Seliap kali kalian bertengkar. Setiap kali kalian dilibat dalam masalah-masalah yang tidak dapat aku mengerti, dan kalian tidak pernah mengatakannya apabila ibu bertanya kepada kalian, apa saja yang telah kalian pertengkarkan”

Wiyatsih masih menangis di dalam pelukan ibunya. Seperti kanak-kanak ia membenamkan wajahnya di dada ibunya itu.

“Pikatan“ berkata ibunya “adikmu adalah seorang gadis. kau harus dapat menahan hati sedikit, supaya kata-katamu tidak menusuk hatinya. Perasaan seorang gadis memang lain dari perasaan seorang laki-laki dan lain lagi dengan perasaan orang tua”

Tetapi Pikatan menggeram “Ibu terlalu memanjakan dia sejak bayi. Itulah sebabnya ia menjadi keras kepala, pembantah, berani melawan saudara tuanya sendiri”

“Maafkan, adikmu Pikatan. Ia memang seorang gadis manja. Bahkan kini ia menjadi seorang pemimpi. Tetap itu salah ibu sendiri. Bukan ibu saja yang memanjakannya sejak kecil, Tetapi kau juga memanjakannya. Umurmu dan umurnya terpaut beberapa tahun. Tetapi tidak pantas lagi kalau kau masih juga mendukungnya setelah Wiyatsih pandai memanjat pohon melinjo. Tetapi itu kau lakukan, Pikatan. Saat itu aku masih berbangga kedua anakku hidup rukun. Rukun sekali. Tetapi kalian menginjak dewasa, kalian justru selalu bertengkar. Hamph setiap hari“ suara Nyai Sudatipun menjadi sendat, sedang Wiyatsih masih menangis di dalam pelukannya “Aku menjadi benar-benar prihatin Pikatan. Aku semakin tua dan tentu saja pada suatu saat aku akan meninggalkan kalian. Tetapi disaat-saat terakhir dari hidupku aku harus mengalami keprihatinan ini. Pikatan, anak laki-laki satu-satunya, menjadi cacat dan telah mengasingkan dirinya sendiri di dalam biliknya. Sedang Wiyatsih, anak perempuanku menjadi kehilangan keseimbangan karena mimpinya yang merayap meraih bintang-bintang di langit. Semua orang memperkatakannya seolah-olah aku pernah mencari pesugihan. Dan seolah-olah aku telah mengorbankan kalian untuk memuaskan diriku sendiri. Anak-anakku, itu adalah suatu siksaan bagiku, justru disaat umurku mendekati liang kubur”

Isak Wiyatsih menjadi semakin keras, Pikatan yang masih berdiri tegak, tiba-tiba menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tetapi hatinya yang retak menjadi semakin parah. la merasa bahwa dirinya memang sudah tidak berguna. Ia hanya menambah beban bagi ibunya dan kini membuatnya semakin prihatin.

Tetapi Pikatan tidak mengatakannya. Ia sadar, bahwa ibunya sedang berusaha menahan air matanya sekuat-kuatnya. Sepatah kata yang meloncat dari mulutnya, pasti membuat ibunya menangis seperti Wiyatsih. Dan tangis perempuan memang dapat membuatnya menjadi gila.

“Marilah, Wiyatsih” berkata ibunya kemudian “kembalilah kedalam bilikmu. Aku tahu, bahwa kalian berdua tidak akan pernah mengatakan persoalan yang sebenarnya yang sedang kalian pertengkarkan kepadaku. Mungkin kalian ingin menyelesaikan masalah kalian sendiri, atau kalian ingin agar ibumu tidak menjadi semakin bersedih atau baragkali kalian menganggap bahwa ibumu tidak berarti apa-apa lagi didalam hidupmu”

“Tidak ibu, tidak“ desis Wiyatsih disela-sela tangisnya.

“Marilah” ajak ibunya.

Wiyatsihpun kemudian dituntun, oleh ibunya kembali kedalam biliknya. Ketika mereka berpaling, mereka melihat Pikatan menutup pintu biliknya perlahan-lahan.

Sehari-harian Wiyatsihpun kemudian berada didalam biliknya Namun demikian, ketika matahari menjadi semakin rendah, iapun bangkit dengan tiba-tiba. Ia teringat sawahnya yang sekotak. la harus pergi menyiram jagungnya yang sudah tumbuh supaya tidak menjadi layu. Sehari itu ia belum menengoknya sama sekali.

Karena itu dengan diam-diam Wiyatsih keluar dari biliknnya setelah membenahi pakaiannya. Ia tidak melihat ibunya di pringgitan. Bahkan mungkin ibunya sedang pergi. Karena Itu, maka iapun segera pergi ke sawahnya yang berada diujung bulak.

Tidak ada seorangpun yang ada disawah yang kering itu. Di bulak yang luas itu, hanya terdapat rerumputan kering dan tanah yang pecah-pecah. Sinar matahari yang sudah mulai pudar, masih terasa hangat menyentuh kulit.

Demikianlah seperti yang dilakukannya setiap hari Wiyatsih melintasi bulak itu seorang diri. Satu dua orang yang memperhatikannya dari ujung desa hanya mengelus dadanya sambil berdesis “Kasihan Wiyatsih. Sebenarnya ia gadis yang baik. Tetapi agaknya ia sudah menjadi korban ketamakan ibunya, sehingga sekarang ia dihinggapi oleh penyakit yang aneh itu“

“Tetapi memang aneh” sahut kawannya “disaat-saat tertentu, Wiyatsih tetap sehat dan sadar. Ia tidak pernah mengigau dan bersikap seperti orang sakit ingatan apabila ia berada diantara kawan-kawannya, sehingga dengan demikian kawan-kawannyapun tidak takut kepadanya. Ia masih juga pergi mencuci pakaian seperti biasa. Bahkan ia masih dapat menanggapi gurau kawan-kawannya apabila mereka mempercakapkan Tanjung”

“Mungkin, ia tidak sependapat dengan ibunya. Mungkin ibunya berkeberatan bahwa Wiyatsih berhubungan dengan anak muda itu.

”Ah mana mungkin“ berkata yang lain “Tanjung sudah mendapat modal yang cukup dari Nyai Sudati”

“Atau Wiyatsih yang sebenarnya tidak suka kepadanva”

“Itupuni tidak mungkin. Tanjung selalu mengawaninya berjalan“

Merekapun terdiam. Ketika mereka memandang ketengan-tengah bulak, Wiyatsih seolah-olah telah hilang dibalik cakrawala. Yang mereka lihat kemudian adalah sebuah ara-ara yang luas, kering dan gundul. Sekali-sekali mereka melihat debu yang putih diterbangkan oleh angin pusaran. Kemudian sambil menutup mata masing-masing merekapun segera berpaling.

Dalam pada itu ketika Wiyatsih sampai disawahnya, ia terkejut ketika ia melihat Kesambi sudah duduk di pematang. Sambil berdiri anak muda itu berkata “Kau datang agak lambat Wiyatsih“

Wiyatsih mencoba tersenyum. Tetapi masih tampak juga bendul dimatanya, sehingga Kesambipun kemudian mengetahui bahwa Wiyatsih baru saja menangis.

“Kau menangis?”

Wiyatsih mengangguk.

“Kenapa?“

Wiyatsih menggeleng sambil menjawab. “Tidak apa-apa. Gadis-gadis memang suka menangis”

“Ah“ desis Kesambi “Kau terlampau sadar akan dirimu sendiri dan semua persoalan yang menyangkut dirimu.

Wiyatsih kini benar-benar tersenyum. Katanya “Bukankah demikian menurut kata orang? Gadis-gadis suka menangis. Kadang-kadang tanpa sebab. Dan aku telah menangis tanpa sebab”

“Apakah sehari ini Tanjung tidak datang mengunjungimu”

“Ah“ wajah Wiyatsih tiba-tiba berkerut “jangan berkata begitu”

“Maaf Wiyatsih, aku hanya bermaksud bergurau”

“Aku tidak berkeberatan kau bergurau. Tetapi jangan menyiggung hubunganku dengan Tanjung. Kau harus tahu, bahwa hubungan yang ada itu sangat mengganggu perasaannku”

“Baiklah. Untuk seterusnya aku tidak akan menyebutnya lagi dalam hubungannya dengan kau” Kesambi berhenti sejenak, lalu.”tetapi lihat, jagungmu bertambah besar. Agaknya belum ada orang yang melihatnya”

“Mereka sama sekali tidak menaruh perhatian. Mereka menganggap aku sudah gila, sehingga sudah selalu perbuatan orang gila tidak akan banyak menarik perhatian”

“Tetapi sebentar lagi, batang jagung ini akan tampak dari kejauhan dari jalan yang disebelah bulak ini.

“Biarlah mereka tertarik kelak. Batang-batang jagung cepat tumbuh, sehingga dalam waktu yang dekat, orang-orang Sambi Sari yang melului jalan itu akan terheran-heran melihat batang-batang jagung ditengah-tengah bulak yang kering kerontang ini”

Kesambi mengungguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian “Pada saat yang bersamaan aku akan menekankan tanggapan anak-anak muda di padukuhan kita tentang bendungan. Mereka agaknya mulai menyadari bahwa selama ini mereka telah tertidur”

Wajah Wiyatsih tiba-tiba menjadi cerah. Katanya “Kau juga akan berhasil Kesambi. Marilah kita buktikan kelak. bahwa kita dapat membuat bendungan“

“Ya. Kita harus berhasil” desis Kesambi.

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya batang-batang jagungnya yang hijau segar. Memang terasa seperti peristiwa didalam mimpi. Ditengah-tengah bulak yang kering, telah tumbuh sekotak batang-batang jagung yang hijau segar, meskipun tidak sesegar batang-batang jagung di musim basah.

Kita akan menyiram batang-batang jagung ini sekarang” berkata Wiyatsih.

“Ya. Aku akan membantumu”

Keduanya kemudian mulai mengambil air turun naik tangga ditebing Kali Kuning yang tidak terlampau tinggi. Namun seperti biasanya. Kesambi pasti lebih dahulu menjadi lelah dan jatuh terduduk dengan nafas tetengah-engah.

“Sebenarnya aku malu sekali “berkata Kesambi “kau lebih kuat dari aku. padahal aku seorang laki-laki dan kau seorang perempuan”

“Apakah selamanya laki-laki harus lebih kuat dari perempuan?”

“Terbukti tidak. Setidak-tidaknya kau”

Wiyatsih tersenyum Dibiarkanmya Kesambi duduk ditanggul. sedang ia sendiri masih sibuk membawa lodong bamhu, bahkan kemudian sepasang untuk menyiram tanaman jagung yang tumbuh subur itu.

Baru setelah tanaman yang sekotak itu basah, keduanya meninggalkan tempat itu. Kesambi seperti biasa mengambil jalan di sepanjang jalur Kali Kuning, sedang Wiyatsih menyusuri pematang yang kering ditengah-tengah bulak.

Ketika ia sampai dirumahnya, agaknya ibunya sudah menjadi gelisah, karena ia tidak tahu kemana Wiyatsih pergi. Bahkan ibunya sudah minta agar Tanjung mencarinya.

“Darimana kau Wiyatsih?“ bertanya ibunya “Hampir saja Tanjung mencarimu kepinggir Kali Kuning”

“Aku pergi kesawah ibu“ jawab Wiyatsih.

Ibunya menggeleng-gelengkan kepalanya. Agaknya Wiyatsih sudah tidak dapat dicegah lagi. Meikipun beberapa orang dukun sudah didatanginya, namun Wiyatsih sama sekali masih belum berubah. Ia masih selalu pergi kesawah diujung bulak.

Tetapi kali ini Nyai Sudati tidak minta kepada Wiyatsih untuk menemui Tanjung. Ibunya masih melihat kesan yang buram diwajah anak gadisnya itu, sehingga karena itu dibiarkannya saja Wiyatsih masuk kedalam biliknya setelah membersihkan diri di pakiwan.

“Jadi, aku tidak perlu mencarinya lagi?“ bertanya Tanjung.

“Tentu tidak. Bukankah ia sudah pulang“ sahut Nyai Sudati.

“Sebenarnya aku sangat cemas dengan keadaannya itu“ berkata Tanjung.

“Kita sudah berusaha. Tetapi apaboleh buat. Bukan salah kita jika Wiyatsih masih saja dipengaruhi oleh mimpinya yang menyeretnya ke dalam perbuatan yang ganjil itu”

“Tetapi apakah kita akan membiarkannya?“

“Tentu tidak, Kita akan berusaha terus“ berkata ibunya

Tanjung mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang ia sependapat, bahwa Wiyatsih harus sadar dari mimpinya. Tentu ia tidak akan ingin memper-isterikan seorang gadis yang dijangkiti penyakit syaraf seperti Wiyatsih itu.

Demikianlah sejenak kemudian Tanjungpun minta diri. Hari sudah menjadi semakin gelap, dan disana-sini lampu minyak sudah mulai dinyalakan.

Namun tiba-tiba langkahnya tertegun ketika dihalaman dilihatnya sesosok bayangan yang berdiri dihadapannya, seakan-akan sengaja menyilangkan langkahnya, sehingga karena itu maka Tanjungpun tertegun sejenak.

“O“ berkala Tanjung “kau Pikatan.”

Pikatan memandang Tanjung dengan tajamnya. Dan tiba-tiba saja ia menggeram “Kau memang memuakkan”

“He” Tanjung terperanjat. Tetapi Pikatan tidak menunggunya menjawab. Dengan tergesa-gesa Pikatan melagkah meninggalkannya. Lewal pintu butulan ia masuk ke dalam rumahnya dan langsung menuju ke biliknya,

Tanjung masih berdiri termangu-mangu. Ketika ia berpaling, ia sudah tidak meliliat siapapun di pendapa. Nyai Sudati yang mengantarnya sampai di depan pintu, telah masuk kembali kedalam. Sedang bayangan Pikatanpun telah hilang dilongkangan.

Tanjung menarik nafas dalam-dalam. Peristiwa itu hanya terjadi dalam sekejap. Seakan-akan sekilas cahaya kilat dilangit. Tetapi bekasnya ternyata menghunjam sampai kepusat jantung. Ia sama sekali tidak mengerti dan tidak menduga bahwa tiba-tiba saja Pikatan mengumpatinya.

“Apakah aku sudah menyakiti hatinya? Aku tidak pernah berhubungan dengan anak itu. Aku tidak pernah berbuat apa-apa, bahkan aku telah membantu ibunya. Namun tiba-tiba saja Pikatan itu bersikap terlampau kasar kepadaku”

Tanjung menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian melangkahkan kakinya menuju keregol halaman. Di depan regol ia melihat salah seorang penjaga rumah Nyai Sudati sudah berdiri disisi pintu.

“Kau sudah datang?“ bertanya Tanjung.

“O” orang itu mengangguk ”ya. Tidak ada kerja lagi dirumah. Lebih baik duduk-duduk disini sambil minum minuman panas”

Tanjung mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas dipandanginya senjata orang itu. Senjata yang telah menggerakkan segenap bulu dikulitnya.

“Jika seseorang tersentuh senjata itu. bagaimana kira-kira akibatnya“ gumamnya didalam hati. Tetapi ia tidak bertanya. Bahkan iapun kemudian minta diri dan meninggalkan regol rumah Nyai Sudati itu.

Sejenak kemudian maka penjaga regol yang lainpun telah datang pula. Keduanyapun kemudian duduk disisi pintu diluar regol. Satu dua masih ada orang yang lewal didepan regol itu. Tetapi sejenak kemudian jalan itu telah menjadi semakin sepi.

“Sepi sekali“ desis salah soerang dari keduanya.

“Ya, rasa-rasanya memang sepi sekali beberapa malam ini”

“Tiga hari yang lalu, malam bagaikan terbakar ketika terdengar suara titir. Ternyata dipagi hari seorang yang lewat dibulak panjang itu menemukan sesosok mayat”

“Perbuatan Pikatan“ bisik salah seorang dari mereka.

“Bukan, bukan. Pikatan. Tiga hari yang lalu. Masa kau tidak ingat lagi”

“O, mayat saudagar lurik dari Cupu Watu itu?”

“Ya. Tentu ia sudah disamun dan dibunuh ditengah bulak”

“Tidak. Ia tidak dibunuh ditengah bulak. Bukankah ia disamun tepat dipojok desa Cupu Watu itu sendiri dan karena ia melawan maka ia telah dibunuh dan mayataya diseret ketengah bulak. Itulah sebabnya ada titir, kareria ada orang yang melihat secara kebetulan peristiwa itu”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya “Tetapi kadang-kadang kita menemukan mayat tanpa ada pertanda apapun. Sekarang orang menjadi semakin takut keluar rumah dimalam hari. Kita telah kembali kepada suasana kejahatan seprti beberapa saat berselang”

Berbareng mereka mengangguk-angguk. Yang seorang kemudian bergumam “Agaknya sekarang para penjahat justru sudah tidak takut lagi kepada Pikatan seperti disaat pertama kali ia bertindak. Mungkin penjahat-peinjahat itu sekarang berkelompok dalam jumlah yang cukup untuk melawan Pikatan”

“Itulah yang menggelisahkaln aku “ berkata yang lain “ jika mereka tidak takut lagi kepada Pikatan, apakah artinya kita berdua disini. Apakah kekuatan kita berdua dapat disejajarkan dengan kekuatan Pikatan?“

“Jika demikian, kita berempat disini”

“Kenapa berempat”

“Kita berdua dan Pikatan kita hitung sama dengan kita berdua”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tentu Pikatan akan lebih banyak berbuat dihalamannya sendiri. Tentu bukan hanya mereka berdua sajalah yang harus menghadapinya, apabila ada beberapa orang penjahat memasuki halaman rumah itu.

Demikianlah ketika malam menjadi semakin malam, seperti biasanya kedua orang itu tidak lagi berada diregol halaman. Mereka merasa lebih aman jika mereka berada di pendapa. Jarak pandang mereka akan menjadi lebih jauh dan jika penjahat-penjahat itu memasuki halaman, maka mereka tidak akan segera mengetahui dimana kedua penjaga itu berada.

Dalam pada itu, ditengah malam. Wiyatsih seperti biasanya keluar dari rumahnya lewat pintu butulan. Ia kini menjadi semakin mudah berbuat demikian. Langkah kakinya seakan-akan tidak lagi berdesir diatas lantai. sedang telinganya menjadi bertambah tajam pula, sehingga ia tahu benar membedakan desah nafas orang yang telah tertidur dan yang belum.
Ketika ia turun dari tangga pintu butulan, ia terkejut. Ternyata yang berdiri dilongkangan kali ini adalah Puranti. Hampir saja ia memekik, seandainya Puranti tidak meletakkan jari telunjuknya dibibirnya.

Baru ketika mereka sampai dihalaman belakang, Wiyatsih dengan serta-merta memeluknya, sebagai seorang adik yang didera oleh perasaan rindu.

“Lama sekali kau meninggalkan aku“ berkata Wiyatsih.

Puranti membelai rambut Wiyatsih seperti membelai rambut adiknya ”Aku masih belum selesai“ desis Piranti “persoalanku ternyata tidak terlampau sederhana”

“Ah. agaknya kau benar-benar akan kawin”

“Tidak Wiyatsih, tentu tidak. aku tidak akan kawin”

Wiyatsih tidak segera menyahut. Ketika Ia mengangkat wajahnya. Dilihatnya Kiai Pucang Tunggal berdiri pula di tempat itu. Tetapi orang tua itu diam saja mematung.

“Apakah kau benar-benar tidak akan kawin?“ Puranti menggeleng “Tidak. Meskipun aku terdesak, tetapi aku tetap tidak akan kawin. Kalau aku gagal merghindarinya dengan baik-baik, aku akan pergi saja dari Cangkring”

Wiyatsih memandang wajah Puranti didalam keremangan malam. Tetapi rasa-rasanya, matanya menjadi semakin tajam, sehingga ia dapat menangkap kilatan mata Puranti. Dan ia percaya bahwa Puranti berkata sebenarnya.

“Siapakah laki-laki itu sebenarnya?“ bertanya Wiyatsih.

“Seorang laki-laki yang sudah mempunyai banyak isteri” jawab Puranti. Namun di dalam ueapan kata-katanya itu, terselip juga getaran perasaan seorang gadis. Dan bahkan Purantipun kemudian menundukkan kepalanya tersipu-sipu.

‘Bagaimai kalau yang ingin memperisteri itu seorang laki-laki yang belum pernah kawin. Seorang iejaka?“

Puranti memandang wajali Wiyatsih ia melihat perasaan yang aneh tersirat pada sorot matanya. Tetapi sekali lagi Puranti menundukkan wajahnya. la dapat membaca getaran di dada Wiyatsih. Wiyatsih memang menginginkan agar Puranti benar-benar menjadi kakaknya, meskipun kakak ipar.

“Tentu pada suatu saat aku akan menerima reorang laki-laki” berkata Puranti “karena aku ingin hidup wajar seperti kebanyakan gadis. Aku tidak akan terus menjadi seorang petualang seperti sekarang. Dan ayahpun sudah mulai memperingatkan hal itu karena ayah menginginkan seorang cucu”

Tanpa sesadarnya Wiyatsih berpaling kearah Kiai Pucang Tunggal yang hanya tersenyum saja mendengar pembicaraan itu.

“Laki-laki itu pasti seorang yang pilih tanding“ berkata Wiyatsih kemudian “yang dapat melampaui kemampuanmu dalam olah kanuragan”

“Ah kenapa begitu?“ bertanya Puranti.

“Adalah menjadi kelajiman bahwa suami memiliki beberapa kelebihan dari seorang isteri”
Puranti menggeleng sambil tersenyum “Pendapat itu tidak benar Wiyatsih. Tidak ada keharusan bahwa seorang suami harus memiliki kelebihan dari isterinya”

“Bukankah suami harus melindungi isterinya”

“Ya apabila isterinya memerlukan perlindungannya. Tetapi seandainya seorang isteri mempunyai kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri. maka pasti ada hal lain yang diperlukannya dari seorang suami, karena keluarga bukan berarti ketergantungan kepada seseorang”

Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam. Ada juga niatnya untuk memancing perasaan Puranti terhadap kakaknya. Tetapi niatnya diurungkannya, karena keadaan kakaknya yang masih belum dapat dimengertinya. Sehingga dengan demikian, maka untuk sesaat Wiyatsih hanya menundukkan kepalanya saja sambil berdiam diri.

“Wiyatsih“ berkala Puranti kemudian “aku datang malam ini karena aku rindu kepadamu. Dan yang lain, ayah akan mengatakan sesuatu kepadamu”

Wiyatsih mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Kiai Pucang Tunggal yang tenang dan damai itu.

“Nah, dengarkanlah” berkata Puranti kemudian, lalu kepada ayahnya ia berkata “Silahkanlah ayah”

Wiyatsih menjadi berdebar-debar. Karena itu, maka iapun memperhatikan setiap patah kata yang kemudian dikatakan oleh Kiai Pucang Tunggal dengan saksama.

“Wiyatsih“ berkata Kiai Pucang Tunggal ”musim kemarau ini ternyata terlampau panjang. Seharusnya hujan telah turun beberapa kali. Tetapi langit masih bersih dan tanah di daerah yang kering ini menjadi semakin kering. Namun demikian aku sudah melihat lembaran awan yang kelabu lewat. Bagiku itu adalah pertanda bahwa musim hujan akan segera datang” Kiai Pucang Tunggal berhenti sejenak, lalu “karena itu aku harus siap di padepokan menjelang jatuhnya hujan. Sawah dan ladang harus aku siapkan untuk tanaman musim hujan mandatang”

“O“ Wiyatsih berdesah. Ia mengerti, bahwa Kiai Pucang Tunggal akan minta diri kepadanya.
“Karena itu Wiyatsih, aku terpaksa menghentikan latihan-latihan yang selama ini kita adakan“ Kiai Pucang Tunggal melan jutkan. Tetapi itu bukan berarti bahwa kau harus berhenti. Kau sudah beberapa bulan berlatih. Kau ternyata memiliki kemampuan alamiah seperti kakakmu. Karena itu, kau begitu cepatnya menguasai pengetahuan dasar yang harus kau kembangkan sendiri. Kau sudah cukup memiliki bekal”

Wiyatsih tidak menyahut. Tetapi dipandanginya saja Kiai Pucang Tunggal dengan tatapan mata yang buram.

“Puranti masih akan selalu mengunjungimu, meskipun tidak setiap hari sampai persoalannya sendiri selesai”

“Jadi“ suara Wiyatsih tertahan.

“Kau dapat meningkatkan ilmumu sendiri. Ilmumu sudah cukup baik. Bahkan sadar atau tidak sadar, kau telah melampaui kemampuan orang kebanyakan, bahkan orang yang dikatakan berilmu sekalipun”

Wiyatsih ternyata tidak meyakini kata-kata Kiai Pucang Tunggal meskipun tidak diucapkan. Tetapi agaknya Kiai Pucang Tunggal dapat menangkap kata hati yang tersirat pada tatapan matanya yang aneh itu.

“Wiyatsih. Kau sampai saat ini memang belum pernah mempunyai perbandingan yang sebenarnya. Memang kadang-kadang kau perlu melihat dan bahkan menghayati suatu pengalaman, Meskipun hal itu berbahaya, namun untuk memberimu keyakinan bahwa kau memang sudah mampu berbuat sesuatu, sekali-sekali kau perlu mengalaminya”

“Berkelahi?“

“Ya“ sahut Kiai Pucang Tunggal.

“Jadi aku harus mencari perkara yang dapat menumbuhkan perkelahian”

“Tentu tidak. Itu tidak baik. Tetapi kau dapat melakukannya didalam saat-saat tertentu apabila seseorang memerlukan bantuanmu”

“Bagaimana aku tahu kalau seseorang memerlukan bantuanku, dan bagaimana aku akan mendapat kesempatan itu karena tidak ada seorangpun yang mengetahui bahwa aku berilmu”

“Bukankah kerusuhan kini semakin menjadi-jadi”

“Aku harus mencari perampok-perampok itu?“

Purantilah yang menyahut “Ya”

“Tetapi aku tidak dapat melakukantnya“ berkata Wiyatsih “Aku tidak dapat meninggalkan rumah ini terlampau lama. ibu pasti mencari aku”

“Bukankah selama ini kau dapat melakukan latihan-latihan?”

“O, tetapi aku berada dirumah. Kalau ibu mencari aku dengan memanggil namaku. aku akan segera mendengar dan berlari-lari pulang”

“Lalu apa yang akan kau katakan tentang dirimu selama kau berada diluar rumah”

“Kepakiwan”

“Keringatmu membasahi seluruh tubuh dan pakaianmu”

Wiyatsih termangu-mangu sejenak. Tetapi ia menjawab “Aku akan mengatakan bahwa udara terlalu panas“

“Dimusim kemarau malam selalu dingin”

Sekali lagi Wiyatsih termangu-mangu. Tetapi ia menjawab pula kekanak-kanakan “Tetapi pokoknya aku ada dirumah. Ibu akan menemukan aku meskipun aku berkeringat. Tetapi kalau aku pergi, rumah ini akan menjadi gempar dan ibu akan menjadi bingung”

Puranti memandang ayahnya sejenak. Sedang Kiai Pucang Tunggalpun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya “Memang keluarga Wiyatsih agak lain dengan susunan keluarga kita, Aku dapat mengerti keadaannya ”Kiai Pucang Tunggal berhenti sejenak sambil merenung, lalu “baiklah, pada suatu saat kau akan menemukan latihan-latihan serupa itu. Tetapi kau memang tidak boleh membuat perkara agar kau berkelahi”

Wiyatsih mengangguk-angguk pula. Terlintas sejenak dikepalanya, usahanya untuk membuat Tanjung menjadi jera mengajak ke pinggir Kali Kuning, Tetapi itu sama sekali bukan apa-apa. Bukan latihan yang dapat dinilai.

“Sudahlah Wiyatsih “berkata Kiai Pucang Tunggal “kau akan menjumpainya dengan sendirinya kelak. Yang penting bagiku kini, aku akan minta diri meskipun sebenarnya aku masih kerasan disini. Namun setiap kali Puranti masih akan mengunjungimu”

Wiyatsih tidak dapat menyahut karena terasa sesuatu menyekat tenggorokannya. Hanya kepalanya sajalah yang kemudian terangguk-angguk lemah.

Ketika Kiai Pucang Tunggal menyentuh pundaknya, maka setitik air jatuh dari sudut matanya.
“Berlatihlah terus” berkata Kiai Pucang Tunggal “kau menyimpan sesuatu yang menggelora didalam hatimu. seperti gelora niatmu membuat bendungan di Kali Kuning”

Wiyatsih menganggukan kepalanya ”Malam ini adalah malam terakhir dalam rangkaian latihan-latihanmu dariku dihalaman rumah ini. Besok pagi-pagi aku akan kembali ke padepokanku. Aku sudah terlalu lama tinggal di Alas Sambirata”

Sekali lagi Wiyatsih mengangguk-angguk. Tetapi kali ini dipaksanya mulutnya berkata “Aku mengucapkan beribu-ibu terima kasih Kiai”

Kiai Pucang Tunggal tersenyum, jawabnya “Kau memang seorang gadis yang pantas dibekali dengan ilmu. Cita-citamu yang tinggi itu kadang kadang akan menjumpai rintangan yang tidak kau bayangkan sebelumnya”

Wiyatsih masih mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia bertanya “Tetapi bagaimanakah apabila sampai pada suatu saat aku tidak dapat menyimpan rahasia tentang diriku ini?“

“Apabila memang saatnya telah tiba, apaboleh buat. Ilmumu memang harus kau amalkan”

“Tetapi“ Wiyatsih tidak melanjutkannya. Kepalanya tertunduk dan bibirnya terkatub rapat-rapat.

Namun demikian agaknya Kiai Pucang Tunggal dapat meraba perasaannya. Katanya “Memang mungkin kau akan menjadi seorang gadis yang aneh. Tetapi lambat laun perasaan aneh itu akan hilang dengan sendirinya. Sampai saat ini Puranti sendiri masih berhasil membatasi diri sehingga tidak banyak orang yang mengetahui bahwa ia memiliki ilmu itu, justru karena aku mengetahuinya dan memberinya kesempatan keluar padepokan. Ilmunya dapat di amalkannya tanpa diketahui oleh tetangga-tetangga dekatnya”

“Alangkah senangnya. Tetapi ibuku lain dan kakang Pikatan pun lain pula sikapnya”

“Baiklah. Tetapi kesempatan itu memang akan datang”

“Demikianlah maka malam itu Wiyatsih telah menitikkan air matanya. Meskipun Kiai Pucang Tunggal tidak terlalu lama memimpinnya, tetapi rasa-rasanya orang tua itu tellah memberikan banyak sekali bekal kepadanya menjelang hari depannya yang masih panjang.

Dimalam-malam berikutnya kadang-kadang Wiyatsih merasa sepi apabila Puranti tidak datang. la harus terlatih sendiri. Namun demikian dicobanya untuk mengisi kesepian itu dengan ketekunan yang semakin tinggi.

Kadang-kadang timbul pula niatnya untuk mengganggu para penjaga regol rumahnya. Sekaligus untuk meyakinkan dirinya, apakah kemampuannya memang dapat dipercaya. Tetapi ia selalu ragu-ragu jika seisi rumah terbangun karenanya. Meskipun ia berkerudung dan Ibunya pasti akan sangat cemas jika ia tidak berada didalam biliknya jika terjadi kekisruhan itu.
Demikianlah maka Wiyatsih telah dibebani persoalan-persoalan yang membuatnya selalu merenung. Namun ia sadar sepenuhnya bahwa ia berhasrat untuk memecahkan persoalan-persoalannya. Ia tidak sekedar termenung dan menyerahkan diri kepada keadaan. Tetapi ia selalu mencari kesempatan sebaik-baiknya. Ia ingin memenuhi pesan Kiai Pucang Tunggal dan Puranti. Ia memang harus menilai ilmunya tanpa membuat perkara.

“Kesmpatan itu sulit sekali didapat“ berkata Wiyatsih didalam hati. Namuni tiba-tiba ia mengerutkan keningnya sambil berkata “Mungkin aku dapat mencobanya”

“Demikianlah, ketika pada suatu malam Puranti datang, ia mengutarakan rencananya. Tanpa menimbulkan korban dan kerugian bagi orang lain, ia akan mendapatkan kesempatan yang telah lama ditunggu-tunggunya.

Puranti mendengarkannya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Katanya “Baik juga kau coba Wiyatsih. Tetapi bukankah kau sudah memperhitungkannya masak-masak.

Wiyatsih mengangguk-angguk. Jawabnya “Aku sudah mempertimbangkannya masak-masak Puranti. Tetapi jika terjadi sesuatu diluar rencanaku, apaboleh buat”

“Mudah-mudahan tidak. Aku akan mengawasinya dari kejauhan. Jika kau memerlukannya, aku akan membantu”

“Wiyatsih menganggukkan kepalanya.

“Tetapi aku kira kau akan dapat mengatasi kesulitan itu sendiri“ berkala Puranti kemudian “namun aku akan tetap dekat”

“Terima kasih“ berkata Wiyatsih “aku akan segera mulai”

Puranti memandang Wiyatsih sejenak. Dari sorot matanya, Puranti melihat kilatan kebulatan tekadnya.

“Mulailah”

Dalam pada itu, di pendapa rumah Nyai Sudati kedua penjaga regol rumah itu sedang duduk terkantuk-kantuk. Bahkan salah seorang dari mereka telah tertidur bersandar tiang. Mereka memang sudah membagi tugas waktu mereka. Yang seorang tengah malam pertama, yang lain tengah malam kedua. Namun yang harus bertugas ditengah malam kedua, agaknya masih juga diganggu oleh kantuknya meskipun baru saja ia terbangun ditengah malam, saat mereka berganti tugas.

Meskipun demikian, dengan susah payah ia mencoba bertahan, agar ia tidak tertidur lagi karenanya, karena tanggung jawab terberat ditengah malam kedua ini ada padanya.
Ketika matanya sekejap terpejam. dan kemudian, sambil menggelengkan kepalanya ia berusaha, membuka matanya itu, ia terperanjat. Ia melihat sesosok tubuh melintas dihalaman.
Dengan tangannya ia menggosok-gosok matanya. Apakah ia benar-benar melihat sesuatu?.

Namun tiba-tiba saja matanya terbelalak. Ia memang melihat sesuatu.
Meskipun demikian ia tidak segera membangunkan kawannya. Ia masih tetap duduk ditempatnya. la ingin meyakinkan apakah benar-benar yang dilihatnya itu sesosok tubuh seseorang.

Dadanya menjadi berdebar-debar ketika ia melihat sesosok tubuh itu sekali lagi melintas dihalaman. Bahkan kemudian ia dapat melihat dengan jelas, bahwa yang sedang diamatinya itu benar-benar sosok tubuh seseorang.

Setan manakah yang berani mengganggu rumah, ini geram penjaga itu didalam hatinya. Kemudian “Sebenarnya aku lebih senang duduk terkantuk-kantuk. Tetapi orang itu memang mencari lawan”

Meskipun terasa juga dadanya berdesir, tetapi darahnya seakan-akan telah dijalari pula oleh nafas petualangannya dimasa muda. Ia tidak dapat mengerti, perasaan apakah yang sebenarnya sedang melonjak didadanya. Apakah ia segan, cemas atau justru menjadi gembira karena ia mendapat kesempatan lagi untuk bermain-main dengan senjatanya.
Namun jantungnya berdetak semakin cepat ketika ia melihat orang itu berdiri ditangga pendapa. Menilik sikapnya, orang itu pasti sudah mengetahuinya bahwa dipendapa itu ada dua orang penjaga.

“Setan alas“ penjaga itu mengumpat ”apakah orang itu akan membalas dendam pada Pikatan? Jika demikian ia pasti benar-benar telah meyakini dirinya, bahwa ia dapat melampaui kemampuan Pikatan.”

Namun demikian, dengan sudut matanya penjaga yang masih tetap duduk diam ditempatnya itu mencoba mencari, apakah orang itu tidak hanya sendiri.

Tetapi ternyata ia tidak melihat sesuatu. Meskipun demikian ia tidak boleh lengah. Mungkin masih ada orang-orang yang tersembunyi dibalik gelapnya malam.

Orang itupun kemudian naik kependapa. Sambil bertolak pinggang ia memandang berkeliling. Nyala lampu minyak yang hampir padam melontarkan seberkas sinarnya dan jatuh diwajah orang itu. Tetapi ternyata wajahnya tertutup oleh sehelai ikat kepala.

“Orang itu menyembunyikan wajahnya“ berkata penjaga itu di dalam hati.

Ketika orang itu maju selangkah lagi, penjaga itu tidak dapat tinggal diam. Orang itu tepat memandang kearahnya. Meskipun wajahnya tertutup, namun seakan-akan terasa pada penjaga itu, tatapan mata orang itu telah menembus jantung.

Karena itu, maka perlahan-lahan ia berdiri. Digenggamnya senjatanya erat-erat. Setiap saat ia dapat menghadapi bahaya yang mengancam jiwanya. Tetapi orang itu sama sekali tidak terkejut. Bahkan selangkah lagi ia maju. Kini ia berpaling kepada penjaga yang lain yang masih tidur bersandar tiang.

“Siapa kau?“ tiba-tiba penjaga itu menghardik. Suaranya itu telah mengejutkan penjaga yang lain pula. sehingga tiba-tiba saja iapun telah bangkit berdiri sambil menggosok matanya

“Siapa orang itu?” tiba-tiba iapun bertanya.

“Aku baru bertanya. Orang itu belum menjawab”

Sejenak suasana di pendapa itu menjadi tegang. Tetapi orang itu sama sekali tidak menyahut. Ia berdiri saja termangu-mangu ditempatnya. Namun agaknya ia tidak akan lari.

“Siapa kau he?“ sekali lagi penjaga itu bertanya.

Tetapi orang itu masih belum menjawab.

Kedua penjaga itu saling berpandangan sejenak. Karena orang
yang wajahnya tertutup itu sama sekali tidak menyahut, maka keduanya melangkah perlahan-lahan maju. Keduanya teluh bersiap dan memegang senjata masing-masing.

“Jawablah“ geram salah seorang penjaga itu.

Masih belum ada jawaban.

“He, apakah kau bisu? Atau kau tuli dan tidak mendengar pertanyaanku?“

Orang itu tetap diam dan berdiri membeku ditempatnya. Namun tatapan matanya yang tajam membayangkan ketajaman hatinya dan niatnya dan niatnya yang mencurigakan.

“Aku tidak dapat membiarkan kau berdiri disitu” berkata penjaga itu “pergi, atau aku akan mengambil tindakan kekerasan”

Tidak terdengar jawaban sama sekali.

Kedua penjaga itu akhirnya kehilangan kesabaran. Mereka melangkah semakin dekat dengan senjata ditangan.

“Apakah kau mencari seseorang atau memerlukan sesuatu di rumah, ini ? Jawab, atau kami akan menangkapmu”

“Orang itu sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.

Dengan demikian maka kedua penjaga itu justru menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak dapat membiarkannya tetap berdiri di pendapa. Apalagi dengan sikap yang menantang.
Karena itu, maka keduanya telah menyangka bahwa orang itu pasti salah seorang kawan dari para penjahat yang pernah dibunuh oleh Pikatan seperti yang dicemaskannya, sehingga karena itu, maka keduanyapun segera bersiap untuk menghadapi setiap kemungkinan. Apalagi karena orang yang datang justru hanya satu orang. Jika ia bukan orang yang merasa dirinya pilih tanding, ia tentu tidak akan berani datang seorang diri untuk menghadapi Pikatan.
Beberapa saat kedua penjaga itu masih berdiam diri. Namun senjata ditangan mereka telah bergetar.

Tiba-tiba keduanya terperanjat ketika mereka melihat suatu gerakan yang mengejutkan, sehingga keduanyapun segera mengangkat senjata masing-masing.

Namun ternyata bahwa gerakan itu adalah justru suatu loncatan mundur. Orang yang menyembunyikan wajahnya itu seperti terbang melucur turun ke halaman. Namun demikian kakinya menginjak lantai, tangangannya telah menggenggam sehelai pedang.

Kedua penjaga itu menjadi berdebar-debar. Gerak kaki orang itu ternyata telah menegangkan dada mereka. Gerakan itu adalah gerakan yang menunjukkan kemampuan yang tinggi dari orang itu

Sejenak kedua penjaga itu saling berpandangan. Tetapi mereka sudah menyediakan diri untuk menjadi penjaga rumah Nyai Sudati beserta segala isinya. Jika keduanya tidak sanggup melakukan tugas sebaik-baiknya, maka Nyai Sudati pasti akan mencari orang lain sehingga mereka berdua akan kehilangan mata pencaharian. Selain sebidang tanah tandus yang hampir tidak menghasilkan apa-apa itu, keduanya tidak akan mendapatkan apapun lagi. Maka anak-anak mereka akan menjadi kelaparan pula seperti anak-anak tetangga mereka.

”Pekerjaan ini jauh lebih baik dari merampok, meskipun aku mempunyai bekal kemampuan“ berkata para penjaga itu didalam hatinya, sehingga dengan demikian maka keduanya telah menentukan sikap menghadapi orang yang tidak dikenalnya itu.

Demikianlah mereka perlahan-lahan maju mendekati orang yang sudah berada dihalaman. itu. Perlahan-lahan pula mereka menuruni tangga. Mereka tidak boleh lengah, jika mereka masih ingin tetap melakukan tugas mereka disaat-saat mendatang.

Ketika kedua penjaga itu sudah berada di halaman, maka merekapun segera menghadapi orang yang tidak mereka kenal itu dari arah yang berlawanan. Dengan nada yang datar salah seorang dari kedua penjaga itu berkata “Menyerah, pergi atau kau akan mati dihalaman rumah ini“

Orang yang menyembunyikan wajahnya itu sama sekali tidak menyahut. Tetapi kini ia sudah benar-benar bersikap. Setiap kemungkinan akan dihadapinya dengan senjatanya pula.
Agaknya kedua penjaga itupun yakin, bahwa orang itu tidak akan pergi dan tidak akan menjawab setiap pertanyaan, sehingga karena itu, maka tidak ada jalan lain kecuali dengan kekerasan.

Demikianlah kedua penjaga itu semakin mendekat. Ketika keduanya telah saling memberikan isyarat, maka hampir bersamaan keduanya menyerang orang itu dengan dahsyatnya.

Tetapi orang itu memang sudah siap menghadapi kemungkinan yang manapun juga. Demikian serangan itu tiba-tiba, maka orang itu seakan-akan melenting menghindari. Tetapi begitu kedua serangan yang datang bersamaan itu lepas dan tidak menyentuh tubuhnya sama sekali, maka orang itulah yang membalas menyerang bertubi-tubi.

Kedua penjaga itu terkejut. Serangan yang datang itu bagaikan banjir bandang. Karena itu, maka merekapun segera terdesak mundur. Namun, setelah mereka mulai menggerakkan senjata yang sudah lama disimpamiya itu, terasa darahnya yang seakan-akan telah mengendap itu tersalur kembali keseluruh urat-urat nadinya. Seakan-akan keduanya merasa hidup lagi dimasa-masa mudanya. Segera teringat pula bagaimana mereka menggerakkan senjata senjata mereka yang khusus itu.

Sejenak kemudian, maka merekapun segera terlibat didalam perkelahian yang sengit. Senjata mereka berputaran dan sekali sekali beradu dengan dahsyatnya.

Ternyata pangalaman kedua penjaga regol itu segera terungkat kembali. Perlawanan merekapun semakin lama menjadi semakin mantap. Meskipun sudah cukup lama mereka tidak berkelahi, namun ketika tangan-tangan mereka menjadi basah oleh keringat, maka seakan-akan semuanya telah bangkit kembali didalam dirinya.

Tetapi lawannya adalah orang yang mampu bergerak sangat cepat bagi mereka. Seakan akan semakin lama justru menjadi semakin lincah. Meskipun demikian, terasa bahwa orang itu tidak begitu gairah menggerakkan senjatanya. Kadang-kadang kedua penjaga yang berpengalaman itu, merasakan keragu-raguan lawannya. Bahkan didalam benturan-benturan, kekuatan yang terjadi, terasa sekali bahwa orang yang menyembunyikan wajahnya itu tidak bertempur dengan sepenuh hati.

Namun demikian, disaat-saat orang itu menggerakkan senjatanya dan menyerang kedua penjaga itu kadang-kadang menjadi bingung. Benturan senjata diantara mereka, menunjukkan betapa besar kekuatan orang itu. Tetapi kadang-kadang kekuatan itu sama sekali tidak tersalur pada senjatanya yang berkilat-kilat itu, karena keragu-raguan, sehingga hampir saja senjata itu terlepas dari tangannya.

Dengan berbagai macam pertanyaan di dada kedua penjaga itu bertempur terus. Mereka merasa bahwa lawannya selain ragu-ragu, juga masih belum berpengalaman. Namun demikian, kedua penjaga itupun sadar, bahwa meskipun orang itu belum berpengalaman, tetapi landasan kemampuannya benar-benar menggetarkan dada mereka. Bahkan kadang-kadang sangat berbahaya bagi mereka.

Bersambung

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s