Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

yang terasing 17

Tinggalkan komentar


Jilid 07-Bab 01 – Terbangun Sejanak

“Apa saja yang kau simpan dirumahmu Tanjung? Bawalah barang-barang itu kemari. Jika yang hilang itu tidak dapat dihindarkan lagi karena tidak mungkin kau bawa kemari, aku akan menggantinya”

Wajah Tanjung menjadi semakin pucat. la sadar bahwa semua miliknya itu bersumber dari pemberian Nyai Sudati pula. Tetapi ia tidak mempunyai keberanian untuk melakukan permintaan itu. Ia justru ingin segera pergi dari rumah itu sebelum para penjahat itu datang dan memasuki padukuhan ini. Itupun ia harus berlari-lari sepanjang jalan sebelum malam menjadi semakin dalam.

“Apakah keberatanmu jika kau tinggal disini Tanjung? Kau memang harus menolong kami, menyelamatkan milik kami dari para penjahat. Juga mencoba mencegah pembalasan dendam para penjahat itu terhadap Pikatan, meskipun sebenarnya Pikatan tidak bersalah terhadap mereka. Tetapi para penjahat itu tentu tidak mau tahu alasan yang dikatakannya dan agaknya Pikatan benar-benar tidak mau melakukan apapun juga meskipun jiwanya sendiri terancam”

Tanjung menjadi semakin gelisah. Keringat dinginnya mengalir semakin banyak.

“Bagaimana Tanjung? Dalam keadaan yang sulit ini aku mengharap bantuanmu. Bahkan lebih dari keselamatan harta benda kami, tetapi juga keselamatan Wiyatsih. Aku memang pernah mendengar bahwa para penjahat tidak saja merampok uang dan harta benda, tetapi kadang-kadang gadis-gadis dibawanya pula, meskipun sepekan dua pekan dilepaskannya lagi di sembarang tempat dalam keadaan yang paling pahit bagi seorang gadis“

Dada Tanjung berdesir mendengar keterangan itu. Tentu ia tidak akan rela membiarkan Wiyatsih dibawa oleh para penjahat dan diperlakukan diluar batas-batas peradaban manusia. Tetapi iapun tidak akan berani tinggal dirumah itu untuk ikut serta menghadapi para penjahat yang bakal datang itu. Sehingga karena itu, maka dalam kebimbangan ia berkata sebelum dipikirkannya masak-masak “Jika demikian, apakah aku dapat membawa Wiyatsih untuk menyingkir?”

Wiyatsih terpaksa menutup mulutnya yang hampir meledakkan suara tertawanya. Namun kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk. Ibuhyalah yang kemudian bertanya “Jika kau bawa Wiyatsih, dan tiba-tiba saja penjahat itu datang kerumahmu, apakah yang akan kau lakukan?“

Tanjung menjadi semakin bingung dan keringatnya menjadi semakin deras mengalir.

“Tanjung“ Nyai Sudatipun kemudian mendesak “katakan apakah keberataamu yang sebenarnya?“

Akhirnya Tanjung tidak dapat ingkar lagi. Dengan wajah yang bahkan menjadi merah padam ia menjawab perlahan-lahan hampir tidak terdengar “Aku tidak berani menghadapi para penjahat itu”

Nyai Sudati menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling kcarah anak gadisnya, dilihatnya Wiyatsih sedang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Jangan menangis Wiyatsih“ Nyai Sudati yang tidak mengerti perasaan Wiyatsih yang sebenarnya mencoba menghiburnya.

Wiyatsih mengusap wajahnya. Tetapi wajah itu masih tetap tertunduk dalam-dalam.

“Ternyata Tanjung bukan seorang pelindung yang baik“ berkata ibunya yang kecewa sekali terhadap sikap Tanjung, anak muda yang selama ini diharapkan untuk dapat menjadi tempat bergantung bagi anaknya

“Sebenarnya. sebenarnya“ Tanjung masih akan berusaha mengurangi kekecewaan itu “aku tidak takut menghadapi apapun juga yang dapat mengganggu Wiyatsih dari padukuhan ini. Tetapi terhadap para perampok, penjahat dan pembunuh itu, aku memang tidak mempunyai bekal apapun untuk menghadapinya. Ternyata bukan aku sajalah penakut di padukuhan ini. Tetapi hampir setiap orang. Tidak ada seorangpun yang berani keluar dari rumahnya jika mereka mendengar suara kentongan. Mungkin dua ganda, mungkin titir. Dan aku bukan seorang yang paling licik dipadukuhan ini. Aku adalah salah seorang dari mereka. Dan mereka tidak ada yang lebih baik dari aku”

“Tetapi setiap laki-laki dirumah ini berani mengangkat senjata“ sahut Wiyatsih.

“Hanya laki-laki dirumah ini, karena disini ada dua orang yang dapat diandalkan”

“Dan kau dapat berbuat, setidak-tidaknya seperti setiap laki-laki disini. Merekapun sekedar orang upahan”

“Justru karena itu, mereka takut kehilangan pekerjaan mereka“ sahut Tanjung.

“Dan kau?“ tiba-tiba Nyai Sudati memotong.

Tanjung tidak dapat menjawab. Tetapi wajahnya yang merah padam segera berubah pula menjadi seputih kapas.

Dalam pada itu, selagi Tanjung sedang kebingungan dicengkam oleih kecemasan, keragu-raguan dan ketakutan, tiba-tiba saja pintu yang menuju kependapa terbuka dengan kerasnya, sehingga semua orang yang ada dipringgitan menjadi terkejut karenanya. Bahkan Tanjung terloncat selangkah. Tubuhnya menjadi gemetar seperti orang kedinginan.

Ternyata yang masuk adalah Pikatan.

Dengan wajah yang merah. Pikatan menggeram sambil menuding wajah Tanjung “Suruh tikus itu pergi. aku muak melihat tampangnya. Ia tidak akan dapat berbuat apa-apa disini. Ia justru akan membuat kita semakin gelisah. Aku mendengar beberapa lama dari luar pintu. Dan aku menjadi muak”

Tanjung yang gemetar, menjadi semakin gemetar. Wajah Pi-katan yang merah dan tegang membuatnya semakin ketakutan.

“Pergi, pergi“ Pikatan membentak “kalau tidak, aku bunuh kau. Meskipun tangan kananku lumpuh, tetapi aku masih sanggup membunuhmu sekarang, sebelum para perampok dan penjahat itu datang membunuhku”

Tanjung yang ketakutan itu sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa. Sekali-sekali dipandanginya ibu Wiyatsih, kemudian wajah Wiyatsih yang menegang juga.

“Pergi, pergi. cepat” Pikatan berteriak.

“Pikatan, kenapa kau tiba-tiba marah-marah terhadap Tanjung?”

“Aku tidak mau melihat tampang seorang laki-laki seperti itu. Aku lebih senang membunuhnya daripada mendengarnya berbicara panjang lebar”

Nyai Sudati menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Pulanglah Tanjung”

Ketika Pikatan hampir berteriak, Nyai Sudati mencegahnya “Jangan kau bentak-bentak. la menjadi bingung dan tidak tahu apa yang akan dilakukan” Nyai Sudati berhenti sejenak, lalu “Sekarang pulanglah Tanjung. Kalian hanya membuat aku semakin bingung pula. Aku tidak mendapat pemecahan menghadapi kesulitan yang mungkin malam ini, malam besok atau kapanpun yang akan menerkam rumah ini. Sedang kalian hanya dapat membentak-bentak dan berteriak-teriak tanpa arti. Sudahlah. pergilah Tanjung”

Tanjung yang gemetar itupun kemudian berdiri. Dengan terbongkok-bongkok ia melangkah seperti seekor tikus yang dihadapkan pada seekor kucing.

Demikian ia sampai dimuka pintu, iapun segera meloncat keluar, karena Pikatan masih saja berdiri didekat pintu itu. Dan sejenak kemudian terdengar langkahnya yang tergesa-gesa dihalaman semakin lama semakin jauh.

“Buat apa ibu memintanya untuk ikut berjaga-jaga dirumah ini?”

“Aku memerlukannya, Pikatan”

“Tidak ada gunanya, biarlah penjahat itu datang”

“Mereka akan mengangkut semua harta benda kita, mereka akan merampas semua kekayaan kita yang selama ini aku kumpulkan dengan susah payah”

“Biarlah mereka mengangkutnya. Biarlah mereka membersihkan rumah ini dari noda-noda yang selama ini memberati perasaan. Harta benda dan kekayaan yang telah ibu peras dari tetangga-tetangga kita yang sudah miskin sehingga darah merekapun menjadi kering”

“Pikatan“ ibunya memotong sambil berdiri perlahan-lahan “terserahlah menurut pendapatmu. Wiyatsihpun pernah berkata demikian pula kepadaku. Baiklah, aku tidak berkeberatan. Tetapi lebih dari pada itu, aku cemaskan nasibmu. Kau yang telah berputus asa dan ingin membunuh diri dengan caramu itu. Membiarkan para penjahat memenggal lehermu”

“Tidak. Aku tidak berputus-asa. Tetapi aku menyadari akibat dari cacatku”

“Kakang Pikatan“ tiba-tiba Wiyatsih memotong “aku memang pernah mengatakan kepada ibu seperti yang kau katakan itu. Tetapi meskipun demikian, seharusnya kau merpertahankan milik kita ini. Bahkan milikmu sendiri yang paling berharga, nyawamu. Sebaiknya kau juga melindungi aku, adik perempuanmu jika para penjahat itu ingin membawaku serta”

“Aku tidak peduli. Aku tidak peduli kepada semua itu”

“Jadi apabedanya antara Pikatan dan Tanjung?” bertanya Wiyatsih dalam nada yang tinggi.

Pertanyaan itu telah menghentakkan dada Pikatan, Wajah yang merah menjadi semakin membara. Ia sama sekali tidak menduga bahwa Wiyatsih akan mengajukan penanyaan serupa itu, sehingga dengan demikian, untuk sejenak ia hanya dapat berdiri mematung.
Karena Pikatan tidak segera menyahut, maka Wiyatsihpun mendesaknya pula “Kau muak terhadap Tanjung, seorang laki-laki yang tidak berani berbuat apa-apa. Sekarang, apakah kau akan berbuat sesuatu? Apakah kau berusaha melindungi ibu dan aku?. Mungkin kau tidak rnenghiraukan harta benda yang diperoleh dari pemerasan ini. Tetapi aku? Apakah aku juga hasil pemerasan seperti kekayaan kita sekarang ini? Dan kau, nyawamu?“

“Wiyatsih“ tiba-tiba saja Pikatan berteriak. Selangkah ia maju dengan gigi yang gemeretak. Tetapi Wiyatsih tidak beranjak dari tempatnya.

Namun Nyai Sudatilah yang kemudian berlari-lari memeluk Wiyatsih yang hampir saja ditampar pipinya oleh Pikatan. Dengan air mata yang meleleh dipipi ia berkata. “Sudahlah Wiyatsih, kalian membuat hatiku semakin kisruh. Kalian sama sekali tidak membantu aku didalam kesulitan serupa ini, tetapi kalian bahkan mendorongku untuk juga berputus-asa. Namun jika kalian menghendaki, marilah kita bersama-sama pasrah diri. Akupun tidak berkeberatan jika kalian memang tidak memerlukan harta benda ini, karena sebenarnyalah semua ini aku peruntukkan bagi kalian”

Ternyata kata-kata Nyai Sudati itu berhasil menyentuh hati kedua anaknya yang sama-sama telah mengeras itu. Dengan demi-kian, maka Pikatanpun menundukkan wajahnya dalam-dalam. Se-langkah demi selangkah ia bergeser surut. Kemudian ditinggalkannya pringgitan itu dan masuk kembali kedalam biliknya, yang seakan-akan telah menjadi dunianva. Dunia yang rasa-rasanya semakin lama menjadi semakin sempit.

Sedang Wiyatsih yang berada dipelukan ibunyapun menangis terisak-isak. Rumah ini memang serasa menjadi neraka baginva. Ibunya yang tamak akan harta benda dan kakaknya yang putus-asa. Sedang orang-orang menyangka, bahwa ia sendiri telah menjadi gila karenanya.

Dalam pada itu, dua orang penjaga rumah Nyai Sudati berdiri termangu-mangu dipendapa. Mereka mendengar pertengkaran yang teriadi. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Ada juga niat mereka untuk melerai. Tetapi ketika mereka sudah berdiri dimuka pintu, merekapun menjadi semakin ragu-ragu, sehingga karena itu, mereka hanya berdiri saja dipendapa dengan gelisahnya.

Baru ketika pertengkaran dipringgitan itu mereda, mereka me-narik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan mereka pergi menjauh dan kemudian duduk ditangga.

“Pertengkaran itu menjadi semakin sering“ berkata salah seorang dari mereka.

“Kasihan Nyai Sudati“ sahut yang lain “semakim tua ia harus menghadapi persoalan-persoalan yang semakin berat. Kedua anak-anaknya ternyata telah terganggu nalarnya. Pikatan yang cacat itu sama sekali telah terasing dari kehidupan manusia biasa, sedang Wiyatsih benar-benar seperti orang yang sakit ingatan.

Sambil mengangguk-angguk kawannya berbisik “Apakah kau percaya kepada pesugihan?“

“Tempat untuk mendapatkan kekayaan?“

“Ya, suatu cara khusus untuk menjadi kaya. Tetapi lewat bantuan orang-orang halus”

“Entahlah. Aku belum pernah membuktikan”

“Aku dengar desas-desus itu. Nyai Sudati mencari pesugihan dimasa mudanya, sehingga ketika janjinya sampai, ia harus mengorbankan kedua anak-anaknya. Yang seorang cacat badaniah, yang seorang cacat rohaniah. Tetapi akibatnya hampir serupa saja.

Yang lain menggelengkan kepalanya. Katanya “Aku tidak tahu. Banyak orang yang tidak senang kepada Nyai Sudati karena caranya mencari harta kekayaan. Bunga yang dipungut dari pinjaman para tetangga berlipat jumlahnya, Apalagi jika mereka akan membayar dengan hasil sawahnya. Orang-orang yang tidak senang itulah yang menyebabkan desas-desus itu”

Tetapi ternyata kedua anak-anaknya yang cacat itu mempunyai sikap yang lain. Mereka tidak sependapat dengan cara yang ditempuh oleh ibunya”

Kawannya hanya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menyahut.

Dalam pada itu, Nyai Sudati sedang membimbing Wiyatsih masuk kedalam biliknya. Meskipun Nyai Sudati sendiri menangis, tetapi ia berkata “Sudahlah Wiyatsih. Jangan membuat membuat hatiku semakin risau. Aku sedang dicengkam oleh kebingungan, bahwa para penjahat itu akan datang kerumah ini. Cobalah kau menenangkan dirimu dan ikut mencari pemecahan yang sebaik-baiknya. Apakah kau mengerti?“

Wiyatsih menganggukkan kepalanya.

“Sekarang, tenangkan dahulu hatimu. Aku akan menemui para penjaga regol itu”

Wiyatsih mengangguk sekali lagi.

Ibunyapun kemudian meninggalkan Wiyatsih seorang diri didalam biliknya. Dengan hati yang semakin risau ia pergi ke pendapa menemui para penjaga regolnya sekedar untuk mencari ketenteraman hati, karena para penjaga itu biasanya mencoba membuatnya tenang.

“Serahkan kepada kami“ berkata salah seorang penjaga regol itu “kami sudah menyatakan kesediaan kami untuk menjaga rumah ini dan segala isinya”

Meskipun Nyai Sudati sadar bahwa yang dikatakan oleh pen-jaga regol itu sekedar untuk menenangkannya, namun hati Nyai Sudati menjadi sedikit sejuk pula. Apalagi ketika dilihatnya senjata kedua penjaganya itu.

Dalam pada itu, hati kedua penjaga itupun sebenarnya ragu-ragu pula, apakah mereka akan dapat menunaikan tugas mereka dengan baik disaat-saat mendatang, apabila para penjahat itu benar-benar datang dengan segenap kekuatan.

“Kekuatan kita hanyalah terbatas“ berkata para penjaga itu didalam hatinya sebagai suatu kesadaran yang dewasa atas keadaan dan kemampuan mereka masing-masing. Namun mereka bertekad untuk menjalankan kewajiban mereka sebaik-baiknya.

Selagi Nyai Sudati berada diantara kedua penjaga regolnya, maka Wiyatsihpun menutup pintunya dan menyelaraknya dari dalam. Ia sadar bahwa para penjahat itu tidak bergarau “Jika tidak ada rintangan yang menentukan, mereka akan datang malam ini.”

Karena itu, maka Wiyatsihpun telah menyediakan pakaiannya. Pakaian yang diterimanya dari Puranti. Bukan sekedar pakaian, tetapi kini ia benar-benar akan mempergunakan sehelai pedang. Pedang yang tajam dan yang mampu membelah dada seseorang.

Ketika Wiyatsih meraba pedangnya, terasa hatinya berdesir Apakah pedangnya akan terpaksa menyentuh kulit seseorang?

“Apaboleh buat“ Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam. Diletakkannya senjatanya itu kini dibawah tikarnya dipinggir pembaringannya yang melekat dinding bersama pakaiannya sepengadeg selain sehelai pedang. Wiyatsih juga menyimpan sebilah pisau belati panjang sebagai pasangan senjatanya itu.

Sejenak kemudian barulah Wiyatsih berbaring dipembaringannya. Tetapi selalu terbayang dirongga matanya, ibunya yang gelisah. Pikatan yang acuh tak acuh, bukan saja atas keadaan dirinya sendiri dan keselamatannya, justru karena ia telah berputus-asa menghadapi masa depannya, tetapi ia juga acuh tidak acuh atas keluarganya. Atas ibu dan adiknya.

“Betapapun gelisah mencengkam hati, tetapi ibu masih juga berusaha menenteramkan hati anak-anaknya“ desis Wiyatsih kepada diri sendiri. Meskipun mula-mula ia berusaha menenteramkan hati ibunya, tetapi akhirnya ibunyalah yang mencoba menenangkannya.
“Gerombolan penjahat itu pasti sebuah gerombolan yang kuat” berkata Wiyatsih didalam hatinya “jika tidak, ia tidak akan berani datang, karena menurut mereka, Pikatan adalah orang yang selama itu membinasakan beberapa orang perampok yang berkeliaran dimalam hari”

Namun terbayang diangan-angan Wiyatsih, Puranti berjalan dalam pakaiannya yang tersamar, berkerudung wajahnya atau diwarnainya dengan lumpur. Kemudian menggantungkan sebelah tangannya dan bertempur dengan tangnn kirinya. Maka para penjahat itu menyangka, bahwa mereka berhadapan dengan Pikatan.

“Kini penjahat itu datang kerumah ini untuk menuntut balas” desis Wiyatsih itu kemudian. Namun bagaimanapun juga ia mengharap kehadiran Puranti dihalaman itu lewat tengah malam. Meskipun ia sudah memiliki ilmu yang cukup, tetapi kehadiran Puranti memberikan ketenteraman dihatinya.

Sejenak Wiyatsih tidak mendengar apapun juga didalam rumahnya. Agaknya ibunya masih berada diluar bersama para penjaga. Ibunya vang sangat gelisah itu pasti tidak akan dapat tidur sekejappun malam ini.

“Bagaimana kalau Puranti datang?“ bertanya Wiyatsih kepada diri sendiri.

“Mudah-mudahan ibu sudah berada didalam biliknya”

Wiyatsih yang juga menjadi gelisah itupun kemudian bangkit berdiri. Perlahan-lahan dibukanya pintu biliknya. Ketika ia menjenguk keluar, dilihatnya ruangan dalam itu kosong sama sekali. Tetapi ia masih melihat pintu kepringgitan masih terbuka.

Perlahan-lahan dan berhati-hati ia pergi kepringgitan. Dari balik pintu yang sudah tertutup ia mendengar suara penjaga regolnya berkata “Sudahlah. Silahkan Nyai tidur nyenyak. Aku akan berbuat sebaik-baiknya. Aku akan mempertanggung jawabkan kesanggupanku menjaga rumah ini dan seisinya”

“Terima kasih“ sahut Nyai Sudati.

Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam. Kedua penjaga itu benar-benar orang-orang yang setia. Meskipun, penghasilannya tidak memadai, namun mereka bersedia mempertaruhkan nyawanya.

“Jarang sekali dapat diketemukan orang-orang seperti mereka itu“ berkata Wiyatsih didalam hatinya “jika keduanya berkhianat, maka hancurlah kekayaan yang dikumpulkan oleh ibu dari kehari dengan cara yang tidak aku senangi itu”

“Mereka tidak akan datang malam ini“ berkata salah seorang dari kedua penjaga itu pula. “karena itu Nyai jangan gelisah. Tidurlah, seandainya mereka datang, Nyaipun lebih baik tetap berada didalam bilik. Mereka tidak akan dapal berhuat banyak, apalagi kami masih ada disini”

“Terima kasih” sekali lagi ibu Wiyatsih menyahut.

Wiyatsih yang berdiri termangu-mangu dibalik pringgitan itupun segera masuk kedalam sebelum ibunya membuka pintu yang menyekat antara ruang dalam dan pendapa rumahnya. Dari dalam biliknya Wiyatsih mendengar ibunya menyelarak pintu rapat-rapat. Kemudian melangkah masuk ke ruang dalam. Terdengar olehnya langkah ibunya yang ragu-ragu dan bahkan tertegun sejenak dipintu biliknya.

Wiyatsih sudah berbaring ketika ibunya membuka pintu bilik yang tidak diselaraknya.

“Kau belum tidur Wiyatsih?“

“Belum ibu“ jawab anaknya “dan apakah ibu tidak tidur?“

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi terbayang kegelisahan yang mencengkamnya. Namun ia menjawab “Aku akan tidur”

Pintu itupun kemudian tertutup. Wiyatsih masih mendengar ibunya berpesan “Jangan pergi keluar rumah Wiyatsih apapun yang terjadi Jangan bersembunyi dibalik kandang itu lagi. Itu justru berbahaya bagimu”

Wiyatsih tidak menyahut karena pintu biliknya sudah tertutup dan ibunya sudah melangkah pergi meninggalkannya.

Dalam pada itu bagaimanapun juga Wiyatsih mencoba menenangkan dirinya, namun terasa detak jantungnya masih juga terlampau cepat berdenyut. Rasa-rasanya udara menjadi bertambah panas. Semakin jauh malam merambat kedalam kelam, udara menjadi semakin sesak didalam bilik itu.

Perlahan-lahan Wiyatsih bangkit dari pembaringannya. Kemudian gelisahnya ia berjalan hilir mudik. Sekali-sekali ia berhentii dan duduk diblbir pembaringannya, Namun kemudian ia berdiri dan melangkah lagi dengala gelisahnya.

Ia tertegun ketika tiba-tiba ia mendengar sesuatu didinding biIiknya. la segera mengenal suara itu. Isyarat dari Puranti.

Hampir saja ia melonjak keglrangan. Namun untunglah bahwa ia berhasil menahan perasaannya. Karena itu, iapun kemudian dapat mempertimbangkan sikapnya dengan baik.
“Aku harus keluar” katanya didalam hati “tentu ada sesuatu yang penting. Sebelum ayam jantan berkokok dltengah malam, Puranti sudah datang. Apakah ia juga mengetahui bahwa segerombolan penjahat akan datang kerumah Ini”

Sejenak kemudian dengan sangat berhati-hati, Wiyatsih melangkah keluar. Namun ketika pintu biliknya terbuka, ia terkejut sekali. Adalah kebetulan sekali bahwa ibunya juga sedang membuka pintu biliknya pula.

“Kenapa kau bangun Wiyatsih?” ibunya ternyata terkejut juga.

Wiyatsih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya “Aku akan pergi kepakiwan ibu”

”Ah, jangan sekarang”

“Aku sudah mencoba menahannya. Tetapi, aku akan pergi kepakiwan hanya sebentar”

“Jangan Wiyatsih. Aku cemas sekali. Rasa-rasanya aku seperti dipanggang diatas api”

“Tetapi aku hanya sebentar ibu. Aku masih mendengar para penjaga itu bercakap-cakap. Teritu mereka masih duduk-duduk dipendapa. Jika keadaan menjadi gawat, mereka pasti sudah membangunkan setiap orang dirumah ini. Terutama laki-laki yang sudah berlatih membela diri itu”

Ibunya mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia berkata “Halaman rumah kita terlalu luas untuk diawasi hanya oleh dua orang. Jika ada penjahat yang memasuki halaman rumah ini. mereka tidak akan berbuat seperti seorang pencuri yang mengendap dibelakang gerumbul-gerumbul liar. Mereka akan langsuug mengetuk pintu regol dan menantang para penjaga regol itu”

Nyai Sudati masih ragu-ragu, Tetapi iapun kemudian berkata “Tetapi cepatlah. Marilah, aku antar sampai kepakiwan”

“Tidak, tidak usah bu, aku berani pergi kepakiwan sendiri. Biarlah ibu tinggal didalam. Para penjaga Itu masih bercakap-cakap dengan tenangnya”

Ibunya terdiam sejenak. Namun kemudian katanya “Cepatah. Dan segera masuk kembali”

Wiyatsihpun kemudian dengan tergesa-gesa pergi kebelakang. Didepan pintu butulan ia berkata “Biarlah pintu ini terbuka ibu, aku hanya sebentar sekali“

Ibunya tidak menjawab. Dianggukkannya kepalanya, meski tatapan matanya masih diwarnai oleh keragu-raguan.

Puranti yang berada diluar menyadari, bahwa dengan demikian Wiyatsih sengaja memberitahukan kepadanya, bahwa ibunya masih belum tidur, Itulah sebabnya maka iapun segera bergeser menjauh dan bersembunyi disudut longkangan.

Demikianlah, maka keduanyapun kemudian bertemu dibelakang rumah disamping pakiwan didalam kegelapan. Dengan berbisik Puranti berkata “Wiyatsih, aku melihat sekelompok orang berkumpul diluar padukuhan ini. Sebenarnya aku sedang menunggu lewat tengah malam. Tetapi orang-orang itu menggelisahkan aku, sehingga aku memaksa diri untuk datang sebelum waktunya”

“Berapa orang semuanya?“

“Aku tidak dapat menghitung dengan jelas. Tetapi pasti Iebiih dari delapan orang”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dengan singkat, diceriterakannya apa yang dilihatnya dan dldengamya di depan regol padukuhan menjelang malam Itu
Puranti menarik nafas dalam-dalam, katanya “Memang sudah waktunya untuk berbuat Wiyatsih, mereka memang orang-orang dari Kademangan Sambi Sari sini sebagai kelapa perahan. Mereka menjadi sombong dan bahkan terlampau tamak, karena mereka menganggap bahwa tidak seorangpun yang akan dapat menentang mereka. Apalagi apabila mereka berhasil membinasakan Pikatan dan kedua penjaga rumah ini. Maka mereka merasa bahwa apabila kehendak mereka tidak akan dapat dihalang-halangi oleh siapapun juga”

Wiyatsih menganggukkan kepalanya.

“Wiyatsih” berkata Puranti kemudian “berbuatlah sesuatu. Ada dua akibat yang dapat terjadi atas Pikatan. ia akan menjadi semakin kecil dan merasa tidak berarti dan bahkan lebih dari itu, ia akan dapat membunuh dirinya atau membangkitkannya dari tidurnya yang lelap dan dari mimpinya yang buruk sekali”

Wiyyatsih mengungguk pula. Namun dengan ragu-ragu ia bertanya “Tetapi bagaimanakah kalau lawan itu terlalu kuat“

Puranti tersenyum. Pertanyaan itu wajar bagi seorang yang belum berpengalaman. Karena itu maka jawabnya “Aku ada di halaman rumah ini, jika keadaan memaksa aku akan membantumu. Tetapi jika tidak, aku akan tetap bersembunyi. Sekedar untuk menjaga perasaan Pikatan”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Mesklpun masih ada keragu-raguan, tetapi kehadiran Puranti seakan-akan memberikan kekuatan yang berlipat-lipat padanya, terutama kekuatan batinnya yang masih goyah.

“Nah, bersiaplah. Bukankah kau sudah mempunyai senjata”

“Ya. Pemberianmu. Sepasang senjata tajam itu” Wiyatsih bergumam, seakan-akan kepada diri sendiri“ tetapi bagaimana kalau aku terpaksa membunuh”

“Jangan berniat membunuh. Tetapi jika lawanmu terbunuh, bukan salahmu. Sedang kau sadar, dimana kau berdiri”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya pula seakan-akan hanya itulah yang dapat dilakukan.

“Sekarang kembalilah kebilikmu, bukankah ibumu masih belum tidur?”

“Ibu menjadi gelisah, karena para penjahat sengaja memberi-tahukan kepada beberapa orang anak muda. Anak-anak muda yang berhati cucurut.

Puranti menepuk bahu Wiyatasih, lalu katanya “Ini adalah pengalaman yang baik bagimu. Jangan cemas, aku ada didekat perkelahian yang akan terjadi”

“Baiklah, aku akan mencobanya”

Demikianlah, Wiyatsihpun kemudian segera kembali masuk kedalam lewat pintu butulan yang masih sedikit terbuka. Sedang ibu-nya masih tetap menungguinya dibelakang daun pintu yang berderit oleh dorongan tangan Wiyatsih.

“Kenapa kau terlampau lama Wiyatsih?”

“Aku hanya sebentar sekali ibu. Karena ibu menunggu, maka yang sebentar itu rasa-rasanya memang terlampau lama“

“Tutuplah pintu itu dan pasanglah palangnya” Wiyatsihpun kemudian menutup pintu itu kuat-kuat. Namun kini iapun merasa mempunyai kekuatan yang cukup untuk menghadapi setiap kemungkinan. Sebagai orang baru didalam lingkungan olah kanuragan, Wiyatsih memang masih belum mempunyai kepercayaan yang kuat atas kemampuannya sendiri. Ia baru mendapat kesempatan mencoba ilmunya dengan para penjaga regol. Namun hal itu telah sekedar memberikan petunjuk kepadanya bahwa ia mampu menjaga dirinya sendiri dan mampu ikut serta melindungi rumalh halamannya.

Sejenak kemudian, maka Wiyatsihpun telah kembali kedalam biliknya, ia masih sempat mengintip ibunya yang gelisah dari celah-celah pintunya. Namun ketika ia melihat ibunya telah masuk pula kedalam biliknya, maka iapun segera menyelarak pintu itu.

Dengan tergesa-gesa Wiyatsih mengenakan pakaiannya. Pakaian yang diterimanya dari Puranti. Namun demikian, diluar pakaian itu masih mengenakan kain panjangnya, agar apabila ibunya memerlukannya setiap saat, pakaian laki-laki yang dipakainya itu tidak mengejutkan ibunya.

Demikianlah malam merambat terus. Lamat-lamat telah terdengar kokok ayam ditengah malam. Bersahut-sahutan dari satu kandang kekandang yang lain, sehingga padukuhan itupun menjadi ramai oleh suara kokok ayam.

Tetapi keribulan suara ayam jantan itu rasa-rasanya menambah hati Wiyatsih semakin berdebar-debar. Rasa-rasanya ia sudah menunggu lerlampau lama, namun masih juga belum terjadi sesuatu. Bahkan kemudian ia masih juga sempat bergumam “Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu”

Terbayang dirongga matanya, justru kesulitan yang akan timbul pada perasaannya. Jika Pikatan mengetahui bahwa ia ikut serta berusaha mempertahankan rumah seisinya, apakah kira-kira yang akan terjadi padanya?. Apakah ia menjadi semakin terasing dan bahkan membunuh diri, atau justru dengan demikian ia akan terbangun dari tldurnya dan dari mimpinya yang buruk selama ini.

Tetapi Wiyatsih sama sekali tidak dapat menebak, arah manakah yang paling banyak mempunyai kemungkinan untuk ditempuh oleh Pikatan.

“Mudah-mudahan tidak menimbulkan persoalan-persoalan pahit yang akan menggoncangkan keluarga ini lebih dahsyat lagi“ berkata Wiyatsih kepada diri sendiri.

Dalam pakaian laki-laki, Wiyatsih masih sempat berbaring di pembaringannya sejenak. Tangannya membelai pedangnya, sedang angan-angannya mengawang jauh sekali.
Dalam pada itu, dipendapa, para penjaga duduk sambil terkatuk-kantuk. Namun mereka seakan-akan telah mendapalkan firasat bahwa akan terjadi sesuatu malam itu. Rasa-rasanya angin yang berhembus dari selatan membawa nafas yang lain dari malam-malam sebelumnya. Derik cengkerik dan desah angin terdengar seperti keluh kesah yang ngelangut.

“Tidurlah” berkata salah seorang dari mereka “nanti kita tidak akan sempat bergantian jika kita berdua tidak beristirahat sama sekali. Sekarang kita telah melampaui tengah malam. Kau masih sempat tidur sebentar sampai menjelang fajar, kemudian aku akah tidur dengan nyenyak sampai tengah hari besok”

Sambil menguap kawannya menjawab “Aku memang ingin tidur, Mataku rasa-rasanya sudah lekat. Tetapi aneh, biasanya ake segera tertidur sambil bersandar. Namun agaknya malam ini betapa ngantuknya, aku tidak akan dapat tidur”

“Kau dipengaruhi oleh ceritera Tanjung dan kegelisahan Nyai Sudati”

Kawannva menganggukkan kepalanya. Jawabnya “Mungkin sekali. Tetapi udara malam ini agaknya memang terlalu panas”

Yang seorang tidak menyahut. Sebenarnya dihatinyapun terasa sesuatu yang menggelisahkannya. Tetapi setiap kali ia mencoba menganggap bahwa hal itu semata-mata karena ceritera Tanjung tentang beberapa orang perampok yang berkeliaran diluar padukuhan lewat senja dan mengancam akan memasuki halaman rumah ini.

“Sebenarnya justru aku tidak perlu gelisah“ katanya didalam hati “tentu mereka tidak akan datang malam ini, betapapun sombongnya mereka itu. Betapapun mereka merasa kuat dan tidak dapat dicegah oleh siapapun”

Meskipun demikian, ia tidak dapat mengingkari, bahwa ada semacam kecemasan yang merayap didalam hati. Mungkin orang-orang itu benar-benar orang yang tidak terlawan, karena mereka merasa atau memang sebenarnya kuat sekali didalam kelompok yang besar.
Sejenak keduanya saling berdiam diri hanyut dalam arus angan-angan masing-masing. Mereka berdua bukan penakut Mereka adalah orang-orang yang pernah mengalami masa petualangan yang mendebarkan. Apalagi kini mereka sudah menjadi semakin tua. Darah mereka tidak lagi terlampau cepat mendidih, sehingga mereka akan dapat lebih banyak menggunakan nalar didalam setiap persoalan juga didalam benturan yang mungkin saja terjadi didalam Keadaan yang semakin gawat.

“Jika rumah ini dapat ditembus, maka tidak ada seorangpun yang mampu memertahankan harta bendanya lagi di Kademangan Sambi Sari” berkata para penjaga itu di dalam hatinya. Tanpa bermaksud menyombongkan diri, keduanya menyadari sepenuhnya, Tidak ada orang sekuat mereka, apalagi berdua bersama-sama yang bekerja pada orang-orang terkaya di Kademangan ini. Apalagi didatam setiap peristiwa pada umumnya mereka tidak akan meninggalkan tugas masing-masing, sehingga sama sekali mereka tidak akan mendapat kesempatan untuk saling membantu, selain jarak yang cukup jauh dari rumah seorang yang mempunyai penjaga dengan rumah yaag lain.

Demikianlah, maka merekapun sadar, bahwa jika terjadi sesuatu, mereka sama sekali tidak dapat mengharapkan bantuan dari siapapun. Bahkan sikap Pikatanpun ternyata telah meragukan me-reka. Sedangkan para pelayan yang selama ini telah mencoba belajar olah kanuragan, masih belum dapat diharapkannya sama sekali meskipun jumlah mereka telah bertambah sejak kerja Nyai Sudati semakin sibuk.

Akhirnva merekapun hanya mempercayakan semua persoalan yang akan dihadapl kepada dlrl sendiri. Orang yang bertubuh kekar itupun telah menyiapkan senjatanya yang sudah bertahun-tahun tidak dipergunakannya lagi, Sebuah canggah. Sedang orang yang kekurus-kurusan telah menggenggam hulu trisulanya, disamping pedang dilambungnya.

Dalam pada itu rasa-rasanya hati mereka menjadi semakin gelisah. Setiap kali terdengar mereka berdesah. Bahkan hampir diluar sadarnya orang yahg kekurus-kurusan itu berkata “Hatiku benar-benar gelisah malam ini. Aku tidak berhasil menyingkirkan ceritera tanjung itu dari kepalaku”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan jujur “Akupun merasa aneh juga. Keringatku terlampau banyak mengalir. Terutama pada telapak tanganku. Rasa-rasanya aku dahulu selalu mengalami, jika telapak tanganku berkeringat terlalu banyak, akan terjadi sesuatu dengan senjataku ini?”

“Maksudmu?”

“Biarlah pendapa ini menjadi semakin gelap. Kita akan dapat mengawasi halaman rumah ini dengan lebih baik”

“Bagaimana yang diregol?“

“Biar sajalah”

Kawannya mengangguk ”Baiklah. Padamkan saja lampu itu”

Ketika lampu padam, rasa-rasanya para penjaga itu menjadi semakin tegang. Tetapi mereka kini sama sekali tidak merasa kantuk lagi, seakan-akan setiap lembar daun dihalaman menjadi tempat yang baik untuk bersembunyi seseorang. Sentuhan angin yang sedang merunduk mendekati pendapa.

Tetapi bukan sekedar daun yag diguncang angin, orang yang kekurus-kurusan itu mengusap matanya, Ia memang melihat sesuatu dihalaman.

Dengan hati-hati ia menggamit kawannya. Belum lagi ia memberi isyarat, orang yang kekar itu sudah menganggukkan kepalanya sambil menggenggam tombak bermata dua erat-erat ditangannya. Ternyata iapun wudah melihat pula sesuatu yang benar-benar bergeser dihalaman. Sosok tubuh seseorang.

Orang yang tinggi kekurus-kurusan itupun sudah menggenggam trisula bertangkal pendek ditangan kirinya, sedang perlahan-lahan ia mencabut pedangnya dengan tangan kanannya. Ia akan menghadapi setiap kemungkinan dengan senjata rangkap.

Tetapi orang yang kekurus-kurusan itu tidak lagi bergerak. Bahkan nafasnya serasa berhenti ketika ia melihat seseorang benar-benar telah berdiri di halaman itu.

Tanpa disadarinya tangannya menggenggam sepasang senjatanya semakin erat. Kini ia melihat trisula ditangan kiri dan pedang ditangan kanan. Ia tidak lagi memegang sepasang trisula dikedua tangannya, karena menurut pertimbangannya, pedangnya dapat menjangkau lebih jauh ditangannya yang semakin lemah karena umurnya yang bertambah-tambah, sedang trisulanya merupakan perisai yang rapat, sekaligus senjata tajam yang berbahaya.
Kedua penjaga regol itu masih duduk ditempatnya. Dari kegelapan dipandanginya orang yang berdiri dihalaman itu. Bukan orang yang pernah memasuki halaman ini. Orang ini tidak mempergunakan tutup pada wajahnya. Dan sikapnya agak lebih kasar dari orang yang pernah datang kehalaman ini beberapa saat yang lampau.

Namun dada kedua penjaga regol itu menjadi semakin berdebar-debar, ketika mereka melihat bahwa ternyata tidak hanya seorang saja yang berada dihalaman. Tetapi beberapa orang. Satu diantara mereka melangkah keregol halaman, kemudian dengan tenangnya membuka selarak pintu.

Terasa darah kedua penjaga itu seakan-akan berhenti mengalir. Ketika pintu terbuka, ia melihat segerombol orang memasuki halaman rumah itu. Lebih dari sepuluh orang, Bahkan kira-kira lima belas orang.

Tanpa disadarinya orang yang bertubuh tinggi kekar itu menarik nafas dalam-dalam, sedang kawannya yang kekurus-kurusan menyeka keringat dikeningnya.

“Jika mereka penjahat yang berpengalaman, maka laki-laki dirumah ini akan tumpas“ berkata mereka didalam hati.

Namun demikian, mereka sudah menyanggupkan diri untuk menjaga rumah itu. Sudah cukup lama mereka merasa mendapat upah untuk tugas itu. Jika disaat-saat yang tenang mereka bersedia melakukan, maka adalah tidak jantan, apabila disaat-saat yang gawat mereka akan melarikan diri darl tugas itu.

Apapun yang terjadi, mereka sudah siap untuk menghadapi. Meskipun demikian, mereka tidak ingkar, bahwa tidak akan seimbang jika mereka berdua harus berlempur melawan sekian banyak orang. Karena itu, orang-orang yang selama Ini sudah belajar memegang senjata, ada juga baiknya ikut membantu, setidak-tidaknya mereka akan dapat berkelahi seorang lawan seorang, sementara para penjaga itu berusaha membantu mereka untuk melindungi diri.

“Tetapi bagaimana jika aku sendiri mengalami kesulitan menghadapi lawan yang aku ketemukan didalam perkelahian nanti?” timbul juga pertanyaan dihati mereka.

“Kita harus bekerja bersama saling membantu didalam kesultan ini“ berkata para penjaga itu didalam hati mereka pula.

Sekilas memang terlintas bayangan Pikatan diangan-angan mereka. Tetapi mereka tidak mengerti, apa yang kira-kira akan dilakukan olehnya, Sifat dan tabiatnya semakin lama semakin membingungkan setiap orang yang pernah berhubungan dengan anak muda itu.

“Tak ada yang dapat diharapkan lagi“ mereka akhirnya mengambil kesimpulan.

Dalam pada itu, beberapa orang sudah bertebaran disekitar pendapa. Sejenak mereka termangu-mangu. Cahaya obor diregol tidak mampu menembus kegelapan dipendapa. Tetapi para penjaga dapat melihat bayangan orang-orang yang berada dihalaman itu. Orang yang tidak mereka kenal dan bersenjata telanjang ditangan.

Ternyata orang-orang itu benar-benar merasa kuat untuk memasuki rumah Pikatan. Mereka bahkan telah berpesan lebih dahulu kepada anak anak muda diluar regol padukuhan, bahwa mereka akan datang. Dan ternyata mereka tidak menunggu besok atau lusa. Mereka benar-benar datang sekarang.

“Mereka tentu meyakini kekuatan mereka. Apalagi mereka datang dalam jumlah yang hampir tidak diduga-duga“ kedua penjaga regol itu bergumam didalam hati.

Namun dengun demikian mereka menduga, bahwa yang datang ini sama sekli tidak ada hubungannya dengan orang yang datang beberapa malam yang lalu, hanya seorang diri. Jika yang seorang diri itu merasa dirinya kurang kuat, maka ia tidak akan datang dengan lima belas orang, tetapi ia akan datang dengan dua atau tiga orang saja. Sebab dua orang dengan kemampuan seperti orang itu. maka penghuni rumah ini pasti tidak akan mampu melawannya.

Tetapi meskipun orang-orang dihalaman itu tidak melihat seseorang, namun mereka cukup berhati-hati. Ternyata salah seorang dari mereka berkata “Ambil obor diregol itu”

Kedua penjaga dipendapa saling berpandangan sejenak. Jika obor itu dlbawa naik kependapa, mereka harus menghadapi lawan-lawannya segera. Karena itu, maka merekapun segera berdiri dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Ketika obor itu sudah dibawa kedepan pendapa, maka tampaklah bayangan kedua penjaga itu diantara bayangan tiang-tiang pendapa. Karena itu, maka dengan lantang seorang dari mereka yang berada dihalaman, yang agaknya adalah pemimpin mereka bertanya “He, kaliankah penjaga rumah ini?“

Pertanyaan itu ternyata tidak saja didengar oleh kedua penjaga yang berada dipendapa. Didalam rumah itu, ibu Wiyatsih masih belum sempat memejamkan matanya oleh kegelisahan. Karena itu maka iapun mendengar suara itu juga. Dan sebentar kemudian terdengar jawaban salah seorang penjaga “Ya, kamilah yang bertugas menjaga rumah ini seisinya”

“Bagus“ sahut pemimpin perampok itu “aku memerlukan kalian. Apakah anak-anak muda cucurut diluar padukuhan ini sudah menyampaikan pesan kami kepadamu?“

“Ya. Aku sudah mendengar bahwa kalian akan datang. Dan kami memang sudah siap menyambut kalian”

“Bagus. Tetapi akupun berpesan, apabila kau mau berpihak kepada kami, kalian akan mendapat kesempatah jauh lebih baik dari sekarang”

Orang yang tinggi kekar itu tiba-tiba saja tertawa sehingga para perampok itu menjadi heran, bahkan kawannya yang kekurus-kurusan itupun heran pula. Katanya kemudian disela-sela suara tertawanya “Jika aku mau menjadi perampok, aku tidak akan berkawan dengan kalian. Aku akan berkawan dengan orang yang lain yang lebih jantan dari kalian. Misalnya kawan sekerjaku ini. Kami berdua sudah cukup kuat untuk mengumpulkan kekayaan berapapun yang kami kehendaki. Dan kami hanya akan membagi hasil yang kami peroleh itu menjadi dua. Tidak seperti kalian. Berapa hasil kejahatan kalian dalam semalam? hasil itu akan kalian bagi menjadi sepuluh atau bahkan lima belas.

“Tutup mulutmu!” bentak pemimpin perampok itu “kau sangka aku mempercayaimu? Jangan mambual lagi. Sebentar lagi kau berdua akan menyesal. Kami akan mengambil apapun yang ada dirumah ini. Dan kami akan membunuh Pikatan. Tetapi kami tidak akan berbuat apa-apa atas adik perempuan Pikatan Itu. Kami memerlukannya dan kami akan membawanya”

Kata-kata itu ternyata telah mengguncang hati Nyai Sudati. Ketakutan, kecemasan dan kegelisahan yang bercampur baur telah melanda hatinya, sehingga tanpa berpikir panjang, iapun segera berlari keruang dalam. Dengan serta-merta iapun segera memukul kentongan kecilnya dengan nada titir yang berkepanjangan.

Tetapi para perampok yang mendengar suara kentongan itu hanya tertawa saja. Salah seorang dari mereka berkata “Kentongan itu tidak akan berarti lagi sekarang. Meskipun suara titir bergema diseluruh Kademangan Sambi Sari, namun tidak akan ada seorangpun yang berani keluar dari rumahnya. Karena itu, lebih baik tidak usah membunyikan kentongan, yang hanya akan membisingkan telinga”

Betapa debar jantung para penjaga itu menghentak-hentak didadanya, namun mereka masih berusaha bersikap tenang. Yang kekurus-kurusan menjawab “Itu sudah menjadi kegemarannya. Biarlah. Kau jangan gelisah mendengar suara itu. Pikatan tidak akan terbangun tanpa mendengar suara titir”

Ternyata nama Pikatan itu masih juga berpengaruh atas para perampok itu. Meskipun mereka datang dan dengan suara lantang mengatakan akan membunuh Pikatan, namun ketika para penjaga itulah yang menyebut nama Pikatan, mereka menjadi berdebar-debar pula.

“Nah, kalian dapat menunggu sejenak. Sebentar lagi kalian akan bertemu dengan Pikatan”

”Persetan“ teriak salah seorang dari para perampok itu “suruh ia kemari”

Jawaban itu ternyata membuat para penjaga itulah yang kemudian menjadi berdebar-debar. Mereka menjadi cemas jika tiba-tiba saja Pikatan datang kepada mereka untuk menyerahkan lehernya seperti yang dikatakannya beberapa saat yang lalu.

Namun dalam pada itu, suara titir masih berkumandang didalam rumah Nyai Sudati. Beberapa orang yang mendengar suara titir itupun terkejut. Yang memiliki sedikit keberanian segera bangkit dan membunyikan kentongan-kentongan mereka yang ada didalam rumah pula sahut menyahut menjalar kesegenap padukuhan, bahkan kemudian kesegenap Kademangan Sambl Sari

Tetapi seperti yang dikatakan oleh para perampok, tidak seorangpun yang berani keluar rumah. Bukan semata-mata karena ketakutan, tetapi terlebih-lebih lagi karena mereka memang tidak lagi mempunyai harapan untuk berbuat sesuatu. Didalam pandangan mata mereka, orang-orang kaya sama sekali tidak mau membantu kesulitan hidup yang mereka alami selama ini, sehingga merekapun tidak akan bersedia mempertaruhkan nyawanya untuk membantu kesulitan orang-orang kaya yang didatangi oleh para perampok, meskipun mereka tidak berkeberatan untuk memukul kentongan sekedar menyambung isyarat.

Dalam pada itu, suara kentongan dirumah Nyai Sudati itu telah membangunkan pula setiap orang yang tinggal dihalaman rumah Itu. Para pelayan, juru pengangsu, pekatik dan pembantu-pembantu yang lain. Dengan serta merta mereka bangkit, mengusap mata mereka yang masih buram. Kemudian mereka menyambar senjata mereka masing-masing.

“Aku sudah belajar ilmu olah kanuragan“ berkata seorang laki-laki kurus ketika isterinya yang tinggal dirumah itu pula mencoba menahannya.

“Tetapi bagaimana kalau kau terkena senjata?“

“Aku adalah seorang pembantu dirumah ini. Kau juga bekerja pada Nyai Sudati. Adalah menjadi kewajibanku untuk ikut membantunya didalam kesulitan”

Isterinya mengusap air matanya. Tetapi suaminya segera berlari keluar. Dihalaman ia melihat beberapa orang kawan-kawannya yang sedang termangu-mangu. Namun salah seorang dari mereka berkata. “Kita pergi kehalaman depan. Tetapi berhati-hati. Bukankah para penjaga itu sudah berpesan, bahwa kita tidak boleh tergesa-gesa dan gegabah?“
Kawa-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita bersembunyl dibalik papohonan. Kita melihat apa yang terjadi dihalaman depan. Sebagian dari kita akan lewat sebelah timur rumah dan yang lain sebelah barat”

“Lewat longkangan?“

“Tidak. Kita melingkari gandok”

Yang Iain mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian merekapun segera memencar dan merayap melingkari rumah dan gandok menuju ke halaman depan.

Tetapi ketika mereka sampai disebelah gandok, dibalik gerumbul-gerumbul perdu, dada mereka menjadi berdebaran. Ternyata mereka melihat beberapa orang berdiri melingkari pendapa. Oleh cahaya obor yang dibawa salah seorang perampok, mereka melihat kedua penjaga regol itu masih berada dipendapa.

Dengan dada yang bergejolak, orang-orang itu berusaha menyembunyikan diri. Mereka meniadi ragu-ragu, apakah mereka akah berbuat sesuatu menghadapi sekian banyak orang?. Dan mereka adalah perampok-perampok yang menakutkan. Meskipun mereka pernah mempelajari cara-cara membela diri, tetapi apakah mereka dapat berkelahi melawan perampok-perampok itu? Jika yang datang itu hanya satu atau dua orang seperti yang pernah terjadi, mereka akan berani beramai-ramai mengepungnya dengan sedikit bekal yang ada pada mereka. Tetapi kini ternyata bahwa jumlah mereka hampir sama banyaknya. Bahkan para perampok itu agaknya sedikit lebih banyak.

Ketegangan di halaman itu semakin lama menjadi semakin memuncak ketika para perampok itu merayap semakin dekat dengan tangga pendapa. Beberapa orang bahkan telah berada selangkah dari tangga itu. Tetapi beberapa orang yang lain dengan ragu-ragu maju perlahan-lahan.

Semakin dekat, para penjaga regol menjadi semakin jelas melihat, bahwa diantara para perampok itu terdapat beberapa orang yang berkerudung diwajahnya. Sedang yang lain, sama sekali tidak berusaha menyembunyikan wajab-wajah mereka dan bahkan sebagian besar dari mereka justru tidak mengenakan baju selain sebuah celana sampai dibawab lutut, ikat pinggang yang lebar dan sehelai senjata yang besar dan telanjang,

“Kenapa mereka mengenakan tutup wajah?, sedang yang lain tidak” pertanyaan itu timbul pada kedua penjaga regol dan orang-orang yang mengintai mereka dari ballk gerumbul-gerumbul. Tetapi mereka tidak segera menemukan jawaban.

Namun para penjaga regol yang berpengalaman itu segera dapat membaca perasaaan yang tersirat didalam sikap dan tingkah laku para perampok itu. Orang-orang yang bertutup wajah itu melangkah dengan ragu-ragu. Tidak seperti orang-orang lain yang sama sekali tidak berbaju itu.

“Mereka bukan perampok-perampok yang sebenarnya” berkata para penjaga itu didalam hatinya.

Dalam pada itu, Nyai Sudati masih saja memukul kentongan. Seakan-akan ia tidak lagi menyadari apa yang sedang dilakukan. Dengan mulut yang terkatub rapat-rapat tangannya seakan-akan bergerak dengan sendirinya memukul kentongan itu sekuat-kuat tenaganya.
Tetapi tidak ada pertolongan yang dapat diharapkan.

Ketika menyadari hal itu, maka iapun menjadi lemah. Tangannya seakan-akan terkulai kehilangan semua kekuatannya, sehingga pemukul kentongan itupun terlepas dari tangannya.
Sejenak Nyai Sudati masih berdiri dengan tangan gemetar. Bahkan bagaikan orang kehilangan akal ia berdiri saja mematung ditempatnya berpegangan pada kentongan yang tergantung diruangan itu.

Sementara itu. kedua penjaga regol yang berdiri dipendapa sudah bersiaga sepenuhnya. Tetapi mereka menjadi heran, belum ada seorangpun pembantu rumah itu yang tampak dihalaman.

“Apakah mereka menjadi ketakutan?“ mereka bertanya kepada diri sendiri. Namun mata mereka yang tajam segera menangkap bayangan beberapa orang yang bersembunyi dipojok gandok, dibalik batang-batang perdu. Agaknya ada juga satu dua orang dari mereka yang berani memberikan isyarat.

Kedua penjaga Itu mengangguk-angguk kecil. Tetapi mereka bertanya di dalam hati “Apakah kehadiran mereka tidak hanya akan menambah kematian?“

Namun dalam pada itu, kedua penjaga itu tidak sempat lagi berpikir terlampau panjang. Tiba-tiba saja para perampok itu berloncatan keatas pendapa. Mereka telah siap untuk langsung menyerang para penjaga Itu.

Para penjaga yang sudah bersiap itu mundur selangkah. Namun sebelum para perampok menyerangnya, yang bertubuh kekar masih sempat berteriak “Jika kalian akan ikut serta dalam pertempuran ini pilihlah lawan yang seimbang. Lawanlah orang-orang yang bertutup wajah. Mereka pasti bukan perampok-perampok, mereka pasti orang-orang kelaparan yang tidak bertanggung jawab dan berbuat sesat sekedar untuk dapat makan sesuap nasi. Tetapi kalau mungkin jangan bunuh mereka. Mereka tidak bertanggung jawab atas perampokan ini. Namun aku akan membunuh para perampok yang ada dipendapa Ini. Merekalah yang bertanggunig jawab”

“Jangan membual. Dengan siapa kau berbicara he? Kau akan membunuh kami atau sebentar lagi mayatmu akan terkapar dipendapa ini?“

Kedua penjaga itu tidak menjawab. Tetapi merekapun segera merapat. Mereka akan menghadapi lawannya dengan bertempur berpasangan.

Dalam saat itulah, Nyai Sudati menyadari bahwa Wiyatsih pasti sedang ketakutan didalam biliknya. Karena itu, maka berlari-lari ia pergi kepintu bilik anak gadisnya. Dengan serta merta pintu itu dibukanya lebar-Iebar.

Tetapi darahnya serasa berhenti mengalir ketika ia melihat bilik itu sudah kosong. Yang ditemukannya hanyalah kain panjang Wiyatsih yang tersangkut dipembaringannya.

Tubuh Nyai Sudati menjadi gemetar semain keras, yang beraneka macam telah tumbuh didalam hatinya. Apakah para perampok itu sudah memasuki rumahnya tanpa sepengetahuannya? Apakah mereka telah membawa Wiyatsih dengan paksa dan meninggalkan kain panjanghya?”

Terasa dada Nyai Sudati menjadi pepat. Tiba-tiba saja ia berlari-lari kebilik yang lain, bilik Pikatan. Mungkin Wiyatsih bersembunyi didalam bilik itu.

Ketika ia membuka pintu yang tidak dipalang, dilihatnya Pikatan duduk dibibir pembaringannya sambil menutup wajahnya dengan sebelah telapak tangannya. Perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya dan memandang ibunya yang berdiri dengan gelisahnya didepan pintu.

“Apakah Wiyatsih disini?” bertanya Nyai Sudati.

Pikatan menggeleng.

“Dimana?“

Sekali lagi Pikatan menggeleng “Aku tidak tahu ibu. Aku baru saja terbangun mendengar hiruk pikuk dihalaman dan suara kentongan yang barangkali ibu bunyikan”

“O. dalam keadaan serupa ini kau sempat juga tidur?”

“Kenapa tidak?. Aku sama sekali tidak peduli apa yang terjadi”

“Kau juga tidak peduli terhadap adikmu?“

“Wiyatsih sudah berani melawan aku. Buat apa aku ribut-ribut memikirkannya”

“Pikatan“ suara ibunya menjadi semakin bergetar oleh berbagai macam perasaan yang rasa-rasanya seakan-akan menghentak dadanya sehingga retak “kau sampai hati berkata demikian. Lihat, lihatlah biliknya. Wiyatsih tidak ada di dalam bilik itu. Yang ada hanyalah sepotong kain panjangnya tersangkut dipembaringan”

Terasa sesuatu menghentak didada Pikatan. Sejenak wajahnya menegang. Namun kemudian ia berkata “Itu selimutnya. Anak itu pasti bersembunyi lagi dibelakang kandang”

“Bukan. Selimutnyapun ada dipembaringannya” Sekali lagi Pikatan mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja ia bangkit dan bertanya “Jadi Wiyatsih tidak ada?. Aku tidak akan berbuat sesuatu. Aku hanya akan menengok ke kandang jika Wiyatsih bersembunyi lagi disana”

“Tetapi perampok-perampok itu? Ia benar-benar datang dan mengancam jiwamu”

“Aku tidak peduli”

“Pikatan, Pikatan“ ibunya mulai menangis oleh kegelisahan kegelisahan dan ketakutan “apakah kau benar-benar sampai hati membiarkan kehancuran yang akan menelan rumah kita, keluarga kita dan bahkan nyawamu sendiri dan adikmu”

Pikatan tidak menjawab. Ia melangkah disisi ibunya yang berdiri didepan pintu,

“Pikatan. Pikatan”

Pikatan tetap tidak menjawab. Ia menuju kepintu butulan.
Hatinya berdesir ketika ia melihat pintu butulan yang sudah tidak diselaiak lagi. Tentu pintu itu dibuka dari dalam. Karena itu maka iapun mengumpat didalam hati “Wiyatsih memang gila”

Ditangga pintu butulan la berhanti sejenak. Hampir saja ia mengurungkan niatnya. Namun sekilas terbayang gadis itu dimasa kanak-kanak. Kadang-kadaing meskipun umurnya tidak terpaut ba-nyak, gadis itu didukungnya dipunggung. Ialah yang selalu membuat permainan apapun untuk adikinya dan jika adiknya menangis, maka ia berusaha untuk menenangkannya.
Bagaimanapun juga Pikatan dicengkam oleh keputus-asaan dan tidak acuh terhadap dirinya sendiri, ia turun juga kelongkangan dan menuju kekandang.

Dalam pada itu, dipendapa telah terdengar senjata berdentangan. Agaknya para perampok itu sudah mulai menyerang para penjaga regol yang bertahan berpasangan disela-sela tiang yang berdiri tegak dipendapa itu. Sedang dihalaman, beberapa orang pelayan yang berani telah mendahului menyerang para penjahat yang seperti dikatakan oleh para penjaga itu, mereka memilih orang-orang yang berkerudung diwajahnya.

Tetapi orang-orang yang tidak berkerudungpun ada pula yang masih berada dihalaman, sehingga mau tidak mau. mereka harus melawan mereka itu juga.

Sementara itu, Pikatan telah sampai dikandang, dimana ia pernah menemukan Wiyatsih bersembunyi ketika halaman ini dimasuki oleh seorang penjahat beberapa saat lampau. Namun kini ia tidak menemukan siapapun. Beberapa kali ia mencoba memanggil namun tidak ada jawaban sama sekali.

Pikatanpun menjadi cemas karenanya, ia tidak dapat dengan acuh tidak acuh membiarkan Wiyatsih hilang begitu saja seperti nyawanya sendiri. Masih juga terasa sesuatu yang menggelepar didasar hatinya yang paling dalam.

Karena itu, maka dengan tergesa gesa ia kembali keruang dalam. Pikatan sama sekali tidak menghiraukan orang-orang yang ketakutan dan menutup bilik mereka masing-masing dibagian belakang dari rumah itu rapat-rapat.

“Apakah kau ketemukan adikmu?” bertanya ibunya dengan cemas.

Pikatan menggelengkan kepalanya “Tidak“ jawabnya.

“Jadi, apakah kau menduga bahwa Wiyatsih telah hilang?”

Pikatan menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ditatapnya pintu pringgitan dengan sorot mata yang aneh. Dan tiba-tiba saja ia berkata “Para penjahat itu mencari aku. Mereka tidak boleh mengorbankan orang lain karena aku. Mungkin mereka telah menangkap Wiyatsih selagi Wiyatsih bersembunyi”

“Tetapi kenapa kain panjang itu ditinggalkannya dipembaringan?“

“Aku tidak tahu. Aku akan berbicara dengan mereka”

“Apa yang akan kau lakukan Pikatan?“

“Aku akan berbicara. Aku akan mengambil Wiyatsih dan menukarnya dengan diriku sendiri”

“Tidak. Mustahil mereka memberikan Wiyatsih. Mereka justru akan mengambil kalian berdua. Aku tidak mau kehilangan kau dan Wiyatsih sekaligus. Tetapi aku ingin kau dan Wiyatsih”

“Mereka membutuhkan aku”

“Tidak, tidak Pikatan. Jika kau mau membantu para penjaga itu mungkin keadaannya akan lain. Mungkin kau dan para penjaga dapat memaksa mereka untuk menyerahkan Wiyatsih jika benar-benar mereka telah berhasil mengambilnya“

“Ibu memerlukan Wiyatsih, tetapi ibu tidak memerlukan aku lagi. Dengan Wiyatsih ibu akan mendapatkan seorang anak muda yang dapat membantu ibu. Tanjung. Tetapi aku tidak”

“Tidak. Tidak Pikatan. Aku memerlukan kalian berdua, karena kalian berdua adalah anak-anakku yang aku lahirkan dengan mempertahankan nyawa“

Tetapi Pikatan tidak menghiraukannya. Bahkan ia berkata “Sekarang ibu harus memilih. Jika aku dapat mengambil Wiyatsih dan menukar dengan diriku sendiri, itu akan jauh lebih baik pagi ibu. Aku sudah tidak diperlukan lagi oleh siapapun juga“

“Pikatan, Pikatan”

Nyai Sudati berusaha menahan Pikatan. Tetapi kali ini Pikatan memaksa melepaskan pelukan tangan ibunya dan melangkah kepintu pringgilan.

Namun tiba-tiba langkahnya tertegun, hampir saja ia tidak percaya pada pendengarannya ketika ia mendengar suara tertawa yang menggetarkan jantungnya.

Bukan saja Pikatan. Tetapi setiap orang yang telah bertempur dipendapa dan dihalaman rumah itu tergetar karenanya. Suara ter-tawa itu terasa mengorek jantung sampai kepusatnya.

Para penjaga regol, para pelayan dan Pikatan pernah mende-ngar suara tertawa itu. Bahkan Pikatan merasa pernah membentaknya dan menghentikan suara tertawa .yang memuakkan baginya. Kini ia mendengar suara tertawa itu lagi. Bahkan kemudian ia mendengar perempuan diluar itu berkata “Aku ingin mengucapkan selamat datang kepada kalian“

“Siapa kau?“ desis pemimpin perampok yang karena terheran-heran menjadi tertegun diam dan dengan sendirinya perkelahian itupun terhenti sejenak.

“Kau belum mengenal aku? Bukankah aku salah seorang yang sedang kau cari dirumah ini?“

Pemimpin perampok itu termangu-mangu sejenak. Namun yang berdesis kemudian adalah para penjaga regol “Wiyatsih”

“Nah, kau dengar penjaga regol rumahku itu sudah menyebut namaku”

Dalam pada itu, Nyai Sudati tersentak didalam pringgitan. Ia mendengar nama itu pula. Namun ia tidak mengerti, bagaimana ia harus menanggapinya.

Pikatanlah yang dengan serta-merta meloncat dan menarik selarak pintu. Demikian pintu ilu terbuka, maka seberkas cahaya lewat pintu pringgitain meloncat keluar tepat menjamah wajah adik perempuannya, Wiyatsih.

“Wiyatsih“ Pikatan wenggeram.

“Ha. kau juga datang kakang” jawab Wiyatsih “aku sudah siap untuk bertempur melawan para penjahat yang ingin memasuki rumahku. Para penjahat yang ingin merampas hakku dan kebebasanku. Bagaimana dengan kau?“

“Persetan” geram Pikatan “pergilah. Aku telah menyediakan diriku untuk menukarmu jika kau jatuh ketangan para penjahat itu”

“Tidak. Aku tidak jatuh ketangan para penjahat Itu. Aku sudah mempelajari ilmu tata bela diri kepada para penjaga regol itu. Dan aku merasa bahwa aku mampu membantu mereka malam ini mengusir para penjahat itu“

Sebelum Pikatan menjawab, ibunya telah muncul pula dipintu sambil berkata terbata-bata “Wiyatsih, kemarilah, Kemarilah”

“Aku tetap disini ibu. Aku berkewajiban untuk mempertahankan segala hak dan milik kita bagaimanapun juga cara ibu mendapatkannya. Tetapi aku tidak akan menyerahkan kepada orang-orang kelaparan yang memerlukannya”

“Diam kau Wiyatsih. Kemari kau. dan biarlah aku menggantikanmu memenuhi tuntutan para penjahat itu jika dikehehdaki” bentak Pikatan.

“Tidak. Kau hanya akan menyerahkan lehermu tanpa berbuat apa-apa. Aku tidak akan berlaku dan bersikap demikian. Aku akan bertempur meskipun aku akan mati” lalu kepada para penjahat yang justru menjadi terheran-heran melihat pertengkaran itu, Wiyatsih berkata “ayo… siapa yang akan mati lebih dahulu”

Bersambung

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s