Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

yg terasing 10

Tinggalkan komentar


Sepeninggal Tanjung maka Nyai Sudatipun segera memanggil Wiyatsih. dengan wajah tunduk Wiyatsih mendapatkan ibunya yang duduk di pringgitan menghadapi beberapa buah bumbung berisi potongan lidi.

“Dari mana kau Wiyatsih?“

“Aku berada di sungai bersama Tanjung ibu“

“Ah kau. Akulah yang menyuruh Tanjung mencarimu ketika aku melihat ia lewat dijalan itu. Apakah kerjamu disungai menjelang senja Wiyatsih? Kau membuat hati ibu menjadi berdebar-debar. Bukankah keadaan disekitar padukuhan ini agak mencemaskan? Kalau satu dua orang jahat lewat dan mereka menjumpai kau sendiri, apakah jadinya?”

“Tetapi aku sama sekali tidak memakai perhiasan apapun, ibu. Apakah yang akan diambilnya daripadaku?“

“Kau memang masih terlampau bodoh. Mereka tidak memerlukan perhiasan saja. Penjahat-penjahat kadang-kadang memerlukan apapun juga yang dijumpainya disepanjang perjalanannya.“

“Aku tahu maksud ibu. Tetapi masih ada satu dua orang lewat menuruni tebing sepulang mereka dari sawah untuk mencuci alat-alat mereka.“

“Satu dua saja.“ sahut ibunya “lihat, bulan sudah tinggi dilangit.“

“Sekarang ibu. Tetapi ketika Tanjung datang, hari masih agak terang. Aku masih melihat warna merah di langit.“ jawab Wiyatsih “namun untuk beberapa saat kita berbicara dipinggir Kali Kuning.“

“Apa yang kalian bicarakan?“

“Bermacam-macam ibu. Tentang aku, tentang Tanjung dan tentang kita semua.”

Ibunya memandang Wiyatsih sejenak. Sekilas terbayang sebuah senyum dibibirnya. Katanya “Tanjung memang anak baik, Wiyatsih. Ia seorang yang rajin. Seorang yang mengerti akan tugasnya. Ia dapat berbuat banyak untuk kepentingan kita. Ia pandai mengambil hati para petani, sehingga mereka bersedia menyerahkan padinya kepada kita dan meminjam uang. Dan ia tentu akan mudah juga belajar membungakan uang.“

“O“ Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ibunya sama sekali tidak menghiraukannya. sehingga ia masih juga berkata “keluarga kita memerlukan seorang anak muda yang tangkas seperti Tanjung.“ lalu ibunya berbisik “kita tidak dapat mengharapkan kakakmu Pikatan. Bukan karena ia cacat, tetapi ia tidak dapat mengerti pekerjaan yang ibu lakukan ini.“

Wiyatsih menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu bagaimana ia harus inenanggapi kata-kata ibunya, sehingga dengan demikian maka iapun hanya berdiam diri.

Karena Wiyatsih tidak menjawab, maka ibunya masih juga berbicara tentang bermacam-macam hal yang menyangkut pekerjaannya sehari-hari. Sehingga akhirnya ia berkata “Wiyatsih. Cobalah kau menilai pekerjaan Tanjung selama ini. Meskipun ia tidak secukup kita, tetapi tampaknya usahanya meningkat. Aku telah memberikan modal kepada ibunya agar Tanjung mendapat kesempatan bekerja. Di beberapa hal, ia membantu pekerjaanku ternyata ia cakap melakukannya bersama ibunya dan selain daripada itu, ada juga penghasilan buatku dari mereka.“

Wiyatsih menjadi semakin tunduk.

“Mudah-mudahan kau mengerti.“

Wiyatsih masih tetap diam.

Keduanyapnu kemudian saling berdiam diri, tenggelam didalam angan-angan masing-masing. Sudah lama Wiyatsih menduga kemana arah pembicaraan ibunya. Karena itulah setiap ada kesempatan. maka Tanjunglah yang mendapat kesempatan yang pertama untuk mencarinya.
Tetapi ternyata bagi Wiyatsih, Tanjung bukannya seorang anak muda yang baik. Meskipun ia tidak berusaha membuat perbedaan yang tajam dengan pilihan ibunya, bahkan ia berusaha untuk mencari singgungan cita-cita, namun ternyata apa yang dicari oleh Wiyatsih tidak dapat ditemuinya pada Tanjung. Apalagi setelah ibunya mengatakan, bahwa Tanjung adalah seorang yang baik sesuai dengan pekerjaan ibunya. Maka kekecewaannya atas anak muda itu semakin melonjak di dadanya. Meskipun demikian Wiyatsih tidak ingin dengan serta merta, serta justru ditunjukkan kepada ibunya, bahwa ia tidak sesuai dengan anak muda itu.
“Mungkin aku dapat mencari kesamaan didalam jalan hidup kami yang panjang ini. Kalau saja ia dapat berubah sikap dan pendirian.“ berkata Wiyatsih didalam hatinya.

Dan tanpa disadarinya, maka Wiyatsihpun telah mengembara didalam angan-angannya, mengunjungi setiap anak muda dari padukuhannya yang kecil itu. Tetapi Wiyatsih hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya saja. karena ia tidak melihat seorangpun yang mengerti dan berani berbuat seperti yang diangan-angankannya.

“Satu-satunya adalah kakang Pikatan di padukuhan ini“ desisnya didalam hati. “Tetapi sekarang kakang Pikatanpun tidak.”

Karena itu, setelah malam menjadi semakin malam, Wiyatsihpun masuk ke dalam biliknya setelah menyelarak beberapa pintu di belakang. Ia masih sempal menengok bilik kakaknya yang masih sedikit terbuka. Dilihatnya kakaknya duduk di bibir pembaringannya sambil menundukkan kepalanya. Menurut penilikannya, Pikatan semakin lama justru menjadi semakin jarang keluar dari biliknya itu. Hanya kadnng-kadang saja apabila ia hendak, makan, mandi dan sedikit berjalan-jalan dihalaman depan. Selebihnya ia berada didalam bilik itu seorang diri.
Tetapi Wiyatsih tidak menyapanya. Dibiarkarmya saja kakaknya duduk sambil merenung. Namun demikian Wiyatsih menarik nafas sambil berdesah didalam hatinya “Kasihan. Kakang Pikatan telah kehilangan jalan.”

Ketika Wiyatsih telah berbaring di pembaringan, mulailah ia berangan-angan tentang padukuhannya, tentang anak-anak muda yang kehilangan gairah untuk berusaha merubah alam yang melingkunginya sehari-hari, seolab-olah itulah kodrat yang tidak dapat digarap lagi.
Namun ketika angan-angaa Wiyatsih sedang membumbung tinggi dilangit, tiba-tiba ia mendengar suara tembang lamat-lamat,

Suara dari bilik kakaknya. sehingga dengan serta-merta Wiyatsih bangkit berdiri.

“Kakang Pikatan“ desisnya.

Perlahan-lahan ia melangkah keluar dari biliknya dan berjalan mendekati pintu bilik kakaknya. Tetapi ia tertegun sejenak ketika ia melihat pintu bilik ibunya terbuka, dan sebuah kepala tersembul perlahan-lahan. Kepala ibunya. Agaknya iapun mendengar suara Pikatan melagukan sebuah tembang yang ngelangut.

Wiyatsih memandang ibunya sejenak. Namun kepala ibunyapun itupun segera hilang dibalik piutu biliknya yang tertutup kembali.

Wiyatsihlah yang sambil berjingkat mendekati pintu bilik kakaknya. Pintu itu masih belum tertutup. Karena itu, maka iapun berdiri tegak diluar pintu sambil memandang kakaknya yang ternyata telah berbaring sambil melagukan sebuah tembang. Hanya perlahan-lahan.

Perlahan lahan Wiyatsih mendorong pintu bilik itu, sehingga dengan tiba-tiba suara tembang kakaknya itupun terputus.

“Kau belum tidur kakang?“ bertanya Wiyatsih.

Pikatan berpaling. Tetapi ia tidak bangkit dari pembaringannya.

“Kau masih belum tidur?“ Wiyatsih mengulang.

“Belum.“ jawab Pikatan

“Udara memang panas sekali.“ desis Wiyatsih, lalu tembangmu ngelangut kakang.“

“Lebih ngelangut hatiku.“

“O, maksudku tembangmu sesuai dengan suasana malam yang tenang ini.“

“Apakah kau merasakan malam ini sebagai malam yang tenang?“

Tanpa berpikir Wiyatsih menjawab “Ya. Alahgkah tenangnya.“

“Jangan kau sembunyikan perasaanmu Wiyatsih“ berkata kakaknya “aku tahu, semua orang menjadi gelisah. Malam ini sama, sekali bukan malam yang tenang. Tetapi hatimu sedang tegang dan kau sedang mencari ketenangan seperti aku. Hatiku yang ngelangut dan gelisah, aku coba untuk menyalurkannya lewat suara tembangku. Tetapi justru hatiku menjadi semakin gelisah.

Wiyatsih termangu-mangu sejenak, sehingga iapun terdiam karenanya.
Pikatanpun diam sejenak. Ia masih berbaring terlentang di pembaringannya. Ditatapnya atap rumahnya yang masih belum berubah sejak beberapa tahun yang lalu.

“Hampir setiap malam aku mendengar kentongan“ tiba-tiba Pikatan berkata lagi.
Kepala Wiyatsih tertunduk. Ia merasa apa saja yang dibicarakan tidak berkenan di hati kakaknya. Bahkan selagi ia membenarkan kata-kata Pikatan sendiripun, ia dapat dianggap bersalah.

“Kakang“ berkata Wiyatsih kemudian “mungkin kakang benar. Hatiku sedang gelisah dan ketakutan. Mungkin justru karena itulah aku menemukan sesuatu didalam suara tembangmu. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba aku ingin mendekat dan meresapi suara tembangmu itu lebih dekat lagi.“

Pikatan menarik nafas dalam-dalam. Dan Wiyatsihpun berkata Mungkin karena kakang sering melagukan tembang dimasa-masa lampau, sebelum kakang pergi dari rumah ini, sehingga suara tembang kakang selalu terasa menyentuh perasaanku.“

Pikatan tidak segera menyahut. Tetapi ia masih tetap berbaring telentang di pembaringannya, sedang Wiyatsih masih tetap berdiri di tempatnya.

Sejenak kemudian barulah Wiyatsih menyadari keadaannya sepenuhnya. Agaknya lebih baik baginya untuk meninggalkan bilik kakaknya, karena itu maka katanya “ Barangkali aku mengganggumu kakang. Aku telah memutuskan arus perasaanmu yang kau lontarkan lewat tembangmu. Kalau begitu aku akan kembali ke bilikku. Aku akan mendengar tembang itu lagi.“
Pikatan tidak menjawab. Ia hanya berpaling sesaat ketika Wiyatsih melangkah meninggalkan bilik itu.

Dengan kepala tunduk Wiyatsih kembali kebiliknya. Perlahan-lahan diletakkannya tubuhnya di pembaringannya. Sejenak ia menunggu, tetapi a tidak mendengar suara tembang itu lagi.
Karena itu, maka Wiyatsihpun menyesal bahwa ia telah pergi ke bilik kakaknya. Ia tidak sadar, apakah yang telah menariknya untuk pergi ke bilik itu. Agaknya suara tembang yang ngelangut itulah yang telah memukaunya, atau seperti yang dikatakan oleh kakaknya, bahwa hatinya gelisah. dan seperti Pikatan sendiri, ia berusaha menemukan ketenangan.

Tetapi tiba-tiba Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam. Katanva kepada diri sendiri “Biarlah kakang Pikatan segera tidur. Nanti tengah malam aku harus keluar dari rumah ini. Kalau ia masih terjaga, maka ia akan dapat mengganggu latihan-latihanku.“

Wiyatsihpun kemudian mencoba untuk menghalau kegelisahannya karena suara tembang itu. Dicobanya untuk menggeser angan-angannya dari suara tembang itu kepada gemericiknya Kali Kuning.

Namun Wiyatsih tidak berhasil. Ia masih juga digelitik oleh kegelisahan. Perasaannya semakin lama justru menjadi semakin tidak tenang.

Wiyatsih mencoba untuk memejamkan matanya. Tetapi bahkan terasa denyut jantungnya menjadi semakin cepat.

“ Ah, aku sangat terpengaruh oleh kata-kata kakang Pikatan desisnya didalam hatinya.
Namun demikian, ia tidak juga berhasil untuk menenangkan hatinya. Bahkan tiba-tiba saja ia mengharap Puranti segera tiba. Kedatangan gadis itu dapat memberikan ketenangan yang dalam pada dirinya. Kadang-kadang Wiyatsih bertanya kepada dirinya sendiri, kenapa Puranti mempunyai pengaruh yang aneh terhadap perasaanya?

Tanpa terasa, malampun menjadi bertambah dalam. Sejenak kemudian Wiyatsih justru bangkit dari pembaringannya. Ia mencoba meyakinkan apakah seisi rumah sudah tidur nyenyak. Sebentar lagi ia akan keluar lewat pintu butulan untuk menemui Puranti dan mempelajari kelanjutan ilmu kanuragan yang sudah dipelajarinya beberapa bagian.

Sambil menjinjing mangkuk Wiyatsih keluar dari biliknya. Apabila seseorang menanyakannya, ia dapat mempergunakan mangkuk itu sebagai alasan, bahwa ia akan mengambil air minum baginya sendiri.

Ketika ia berada di depan bilik kakaknya, ternyata didengarnya nafas Pikatan yang teratur. Agaknya Pikatan yang tidak mau melagukan lagi tembang itu, sudah tertidur. Demikian juga ibunya. Tidak ada lagi tanda tanda bahwa mereka masih terbangun.

Wiyatsihpun kemudian kembali ke biliknya setelah ia mengisi mangkuk itu, kemudian meletakkannya diatas geledeg kecil didalam biliknya itu.

“Sejenak kemudian Puranti akan datang” katanya didalam hati. Karena itu, Wiyatsih justru menjaga agar ia tidak tertidur karenanya, sehingga Purauti tidak perlu membangunkannya.
Ternyata wiyatsih tidak perlu menunggu terlalu lama. Sejenak kemudian ia mendengar sentuhan isyarat pada diading biliknya, isyarat yang hampir setiap malam didengarnya.
Perlahan-lahan Wiyatsih bangkit. Perlahan-lahan pula ia berjalan keluar dari biliknya. Seperti biasanya ia mengangkat selarak pintu dengan hati-hati sekali. Dan seperti biasanya pula, ketika daun pintu itu terbuka, dilihatnya Puranti berdiri di longkangan.

“Sst, kemarilah “ desis Puranti.

Wiyatsih menjadi heran. Tanpa dipanggil ia pasti akan turun kehalaman. Tetapi justru panggilan itulah yang membuatnya merasa aneh.

Karena itu, maka iapun segera turun tangga dimuka pintu dan mendekat.

“Malam ini latihan kita, kita batalkan“ desis Puranti.

“Kenapa?“ bertanya Wiyatsih.

“Ada sesuatu yang perlu aku awasi. Aku melihat sesuatu yang tidak wajar diluar padukuhan ini.“

“Maksudmu?“

“Aku melihat ada lima orang berkumpul.“

“Orang-orang yang menunggui sawahnya barangkali?“

“Bukan Wiyatsih. Mereka bersenjata. Senjata yang mereka bawa bukanlah sekedar alat-alat untuk memotong kayu, atau parang pembelah bambu.“

“Maksudmu?“

“Itulah yang aku tidak tahu. Aku akan melihat mereka sejenak. Mungkin mereka termasuk orang-orang yang perlu mendapat perhatian khusus.”

Wiyatsih termenung sejenak. Namun tiba-tiba “Apakah aku boleh ikut?”

Puranti tersenyum. Tetapi iapun kemudian menggelengkan kepalanya “Belum sekarang Wiyatsih. Bekalmu masih terlampau sedikit. Tinggallah di rumah. Kecuali apabila mereka memasuki halaman ini, dan kedua penjaga gerbangmu itu mengalami kesulitan. Apaboleh buat.“

“Jika demikian, bagaimanakah jika kakang Pikatan melihat nya“

Puranti menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berkata “Jangan cemas. Mereka tidak akan dapat sampai ke regol rumahmu. Atau barangkali mereka bukan orang yang pantas dicurigai.“

Wiyatsih mengerutkan keningnya.

“Nah. masuklah supaya aku segera dapat membayangi mereka. Kalau aku terlampau lama, aku akan kehilangan jejak.“

Wiyatsih menganggukkan kepalanya.

“Sudahlah. Kita beristirahat malam ini.“ Puranti tidak menunggu jawaban. Iapun segera melangkah melintasi longkangan dan hilang di balik sudut yang gelap.

Wiyatsih yang masih berdiri ditempatnya menjadi berdebar-debar. Ternyata hatinya yang gelisah adalah suatu pertanda, bahwa akan terjadi sesuatu di padukuhan ini. Namun dengan demikian hatinyapun menjadi semakin gelisah.

Perlahan-lahan Wiyatsih melangkah masuk. Dengan hati-hati ia menutup pintu butulan itu dan menyelaraknya kembali. Berjingkat ia sengaja berjalan melintasi bilik kakaknya. Dari sela-sela pintu yang tidak rapat ia melihat kakaknya masih tertidur nyenyak.

Dengan hati yang berdebar-debar Wiyatsih kembali kebiliknya dan merebahkan dirinya dipembaringan. Terbayang Puranti sedang mengendap-endap mendekati lima orang laki-laki yang tegap dan kasar serta bersenjata. Meskipun Puranti tidak mengatakannya, tetapi pastilah mereka sekelompok perampok-perampok yang akan melakukan pekerjaan terkutuk itu.

Sebenarnyalah bahwa saat itu Puranti memang sedang mengendap-endap di luar padukuhan. Dengan hati-hati ia berusaha mengawasi sekelompok laki-laki yang mencurigakan. Ternyata bahwa jumlah mereka telah bertambah lagi. Tidak hanya lima tetapi tujuh orang.“

Dengan hati-hati sekali Puranti mendekati mereka. Bahkan seakan-akan ia telah merayap dibalik pematang yang berlumpur, agar ia dapat mendengar percakapan orang-orang itu.
Ternyata Purantipun berhasil. Meskipun tidak jelas sekali, tetapi pendengarannya yang tajam berhasil menangkap percakapan itu.

“Kita berangkat sekarang“ berkata salah seorang dari mereka.
“Baru tengah malam“ sahut yang lain “sebentar lagi.”

Merekapun terdiam sejenak. Lalu tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata “Apakah rumah Nyai Sudati itu terlampau kuat sehingga kita bertujuh tidak berani memasukinya?“

“Jangan bodoh“ sahut yang lain ”di regol ada dua orang penjaga. Kita tahu, mereka adalah bekas pelualangan yang namanya pernah menggetarkan beberapa puluh tahun yang lalu. Di bagian belakang rumah itu masih ada, beberapa orang yang memelihara ternak dan lebih dari itu, di rumah itu sekarang ada Pikatan.“

“Pikatan telah lumpuh sebelah tangannya. Apakah yang dapat dilakukannya dengan tangan kirinya?“

“Jangan merendahkan anak muda itu.“

“Tetapi kalau kita tidak segera melakukannya, kita akan di-dahului oleh gerombolan yang lain.“

Sejenak mereka terdiam. Namun dalam pada itu. Puranti menekan dadanya yang bergejolak dengan telapak tangannya, seakan-akan ia masih ingin menahan diri.

“Jadi kita malam ini pergi ke rumah Tahjung?“

“Ya. Kita akan mengambil apa yang ada. Sebagian dari kekayaan Nyai. Sudati ada dirumah itu. Dibelakang ada juga beras beberapa bakul dan gabah”

“Bagaimana kalau mereka mengenal kita?“

“Kita tutup wajah kita dengan ikat kepala.“

“Tetapi tingkah laku kita dan suara kita? Orang-orang padukuhan ini telah banyak mengenal kita.“

Dada Puranti menjadi semakin berdebar-debar. Kini ia dapat mengambil kesimpulan tentang sekelompok orang-orang itu. Agaknya mereka bukanlah perampok yang sebenarnya, yang memang mencari kekayaan dengan cara itu. Tetapi orang-orang ini agaknya mencari kekayaan dengan cara itu. Tetapi orang-orang ini agaknya berusaha menyambung hidup dimasa peceklik yang panjang.

Puranti menekan dadanya semakin dalam. Hati yang lentur, di dalam keadaan yang memaksa, dapat menyeret seseorang kedunia kejahatan. Agaknya mereka tidak dapat menahan hati mendengar anaknya menangis kelaparan, atau isterinya yang sedang menggendong bayinya tidak dapat lagi menyusui karena air susunya telah kering seperti tubuhnya yang kering pula.

“Memang jauh berbeda dengan penjahat yang sebenarnya” berkata Puranti didalam hatinya “dan jauh berbeda pula dengan orang yang tamak. yang masih menimbun harta kekayaan meskipun telah berlimpah-limpah, apalagi setelah mereka memeras orang yang kurus kering dan kelaparan.“

Tanpa disadarinya kenangan Puranti merayap kerumah Wiyatsih yang berkecukupan diantara orang-orang miskin padukuhan ini. Ibunya, Sudati ternyata juga seorang penimbun kekayaan setelah ia memeras tetangga-tetangga yang miskin. Untunglah bahwa kedua anaknya mempunyai sikap yang agak berbeda. Dan sikap yang berbeda itulah agaknya yang membuat Pikatan seakan-akan kehilangan pegangan dirumah saat itu, sehingga ia pergi meninggalkan keluarganya. Tetapi bencana yang menimpanya telah melemparkannya kembali kedalam suatu suasana yang sebenarnya bertentangan dengan nuraninya.

“Mudah-mudahan Wiyatsih berhasil “ desis Puranti.

Dan kini Puranti melihat korban-korban itu teiah menjadi liar dan putus asa. Mereka tidak melihat jalan lain untuk mendapatkan sumber makanan buat anak dan isterinya.

Namun bagaimanapun juga alasannya, cara itu tidak dapat dibenarkan. Cara yang dapat menimbulkan kekacauan dan paksaan atas seeorang dan atas haknya.

“Bagaimanapun juga mereka harus dicegah“ berkata Puranti didalam hatinya.

Sejenak kemudian Puranti mendengar mereka mencari cara yang paling baik, agar mereka tidak dapat dikenal oleh orang-orang padukuhan ini, atau terlebih-lebih lagi oleh keluarga Tanjung.

“Kita harus bertindak diluar kebiasaan kita” berkata salah seorang diantara mereka.

“ Misalnya.“

“Suara kita harus kita rubah. Kita bertingkah laku aneh. Asal saja mereka tidak mengenal kita.“
“Ya, begitulah agaknya. Namun selain memakai ikat kepala dan menutup wajah kita, kita harus membuat coreng moreng. Jika sesuatu hal, penutup wajah kita terlepas, kita tidak dapat segera dapat dikenali.“

“Ya. Marilah. Kita mencari langes, enjet dan kunir. Kita akan mendapatkan tiga warna yang tajam. Hitam, putih dan merah atau kuning.

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian salah seorang berkata “Siapa yang dapat mengambil barang barang itu kemari? Kita tidak usah berbondong-bondong pergi mencarinya. Kalau seseorang melihatnya, mereka akan menjadi curiga.“

“Ya. Pendapat yang baik.“

“Biarlah aku mengambilnya sebentar. Tetapi jangan pergi dari tempat ini supaya aku tidak usah mencari-cari.

“Cepatlah.“
Seorang dari merekapun segera berdiri dan berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan kelompok orang-orang itu untuk mengambil kebutuhan coreng-moreng dimuka mereka.
Dalam pada itu Puranti yang sedang mengintai mereka memberengutkan wajahnya. Ia harus menunggu lagi. Tetapi Puranti ingin melihat apa saja yang akan mereka lakukan sebelum ia berbuat sesuatu untuk mencegahnya.

Sepeninggal seorang kawannya mereka ternyata hanya duduk-duduk sambil berdiam diri. Agaknya mereka sedang merenungi rencana mereka dengan gelisah. Seseorang yang tidak pernah melakukan kejahatan, akan menjadi berdebar-debar dan bingung untuk menjalaninya. Mungkm orang-orang itu sudah pernah melakukannya, satu atau dua kali. Tetapi karena hal itu memang bukan merupakan pekerjaan mereka, maka setiap kali mereka masih saja diganggu oleh kegelisahan dan kecemasan. Tetapi kalau yang sekali dua kali itu berhasil tanpa ada yang meucegahnya, maka lambat laun mereka akan menjadi biasa, dan tidak dapat lagi dibedakan dengan penjahat-penjahat yang sebenarnya.

Puranti yang menunggu dibalik pematangpun menjadi gelisah pula. Ia tidak boleh terlampau lama berbuat untuk mencegah kelompok orang-orang kelaparan itu. Sebelum dini hari, ia harus sudah berada di pembaringannrya kembali.

Tetapi orang-orang yang sedang menunggu itu telah terkejut bukan kepalang, sehingga serentak mereka melonjak berdiri. Ternyata kawannya yang sedang mengambil alat-alat untuk mencoreng-moreng wajah-wajah mereka itu telah didorong oleh sebuah kekuatan yang besar sehingga terjatuh, hampir saja menimpa kawan-kawannya.

Ketika orang-orang itu telah tegak berdri, mereka melihat empat orang lain telah berdiri bertolak pinggang.

”Hem” desis salah seorang dari keempat orang yang baru datang “ternyata disini ada juga kelompok tikus buntung yang akan mengganggu pekerjaanku he?“

Sejenak saasana menjadi tegang. Seakan-akan mereka telah berdiri berhadapan di medan pertempuran.

“Apakah kalian ingin mencoba-coba juga menjadi peram-pok?“ bertanya orang itu pula.
Tidak seorangpun yang menjawab.

“Ternyata kalian pantas juga membawa senjata di lambung. Aku tahu, kalian akan menutup wajah-wajah kalian dengan ikat kepala atau mencoreng dengan lenges, gamping dan warna-warna yang lain seperti yang dikatakan oleh seorang diantara kalian yang aku jumpai ditikungan itu. Bukankah begitu?“

Masih belum ada yang menjawab.

“Kenapa tiba-tiba saja kalian menjadi bisu he?“ orang itu berkata lagi “Kalian tidak boleh berdiri saja dalam kebekuan. Kalian harus menentukan sikap. Kalian sudah berani membawa senjata dan sudah berusaha untuk merampok rumah seseorang. Sekarang kalian bertemu dengan perampok-perampok pula. Ayo, apakah kita akan berebut ladang dan saling bertempur? Siapa yang menang. ialah yang behak melakukan perampokan di daerah sekitar Alas Sambirata ini.“

Tidak ada yang menjawab.

“Kenapa kalian menjadi bisu he? Atau kami harus membunuh kalian tanpa perlawanan? Kami memang hanya berempat. Dan kalian agaknya lebih dari jumlah kami. Tetapi kami kira, bahwa kami akan dapat membunuh kalian semuanya.“

Tiba-tiba saja ketujuh orang itu menjadi gemetar. Mereka tidak menyangka bahwa mereka akan bertemu dengan perampok-perampok yang sebenarnya itu. Mereka menyangka bahwa mereka akan dengan aman memasuki rumah Tanjung dan membawa apa saja yang ada di dalamnya setelah menakut-nakuti penghuni rumah dengan pedang dan parang.

Tetapi tanpa disangka-sangka kini empat orang berjambang dan berjanggut lebat, bermata menyala dan bertubuh kekar telah berdiri dihadapan mereka. Keempat orang itu agaknya jauh lebih rnenggetarkan hati mereka daripada dua orang penjaga diregol rumah Nyai Sudati, meskipun masih belum diketahui, siapakah yang lebih tinggi kemampuannya diantara mereka.

“Cepat“” bentak orang itu “aku tidak mempuayai banyak waktu. Aku harus segera pergi ke rumah Ki Sartomi. Ia pasti mempunyai sesuatu yang berharga. Mungkin pendok emas yang disembunyikannya dibawah pembaringan. Tentu bukan karena ia mampu memelinya. Tetapi pendok itu adalah pendok warisan yang dianggapnya sebagai jimat.“

Dada ketujuh orang itu berdesir. Mereka tidak pernah menyangka bahwa Ki Sartomi memiliki sebuah pendok emas dan adalah mengherankan sekali bahwa orang-orang asing itu justru mengetahuinya.

Dan tiba-tiba saja seorang yang lain dari para perampok-perampok itu berkata “Kita bunuh saja mereka. Mereka pasti akan menjadi penghalang kita untuk selanjutnya.“

Kata-kata itu benar-benar telah mengguncangkan hati ketujuh orang itu. Tubuh mereka yang gemetar menjadi semakin gemetar.

“Ya“ berkata yang lain “kau sudah terlanjur mengatakan bahwa kita akan pergi ke rumah Ki Sartomi. Merekapun pasti akan berceritera tentang kita atau mereka akan mendahului kita untuk seterusnya. Sebelum kita yakin kuat untuk memasuki rumah Nyai Sudati, mereka sudah mendahului kita bersama sepuluh atau dua puluh orang-orang kelaparan macam mereka.“

Orang yang berbicara pertama-tama mengerutkan keningnya. Lalu katanya “Apa perlu kita membunuh mereka”

“Tentu, Kita akan bebas dari segala gangguan.”

“Tetapi kita dapat memaksa mereka berjanji. Kalau ada sesuatu yang terjadi atas kita kelak. kita sudah tahu, siapakah biang keladinya. Kita tinggal datang ke rumahnya dan mengambil mereka seorang demi seorang. Bukankah kita akan dapat mengetahui rumah-rumah mereka dengan mudah.“

“Jangan memperpanjang langkah. Selagi mereka kini ada disini, bunuh sajalah. Lalu lemparkan mayatnya di jalanan. Biarlah besok padukuhan ini menjadi gempar. Kita akan mencoreng wajah-wajah mereka dan menutupnya dengan ikat kepala. Meletakkan senjata-senjata mereka ditangan mereka yang beku. Nah, semua orang akan mengatakan bahwa tujuh orang perampok telah tewas tanpa diketahui siapakah pembuhuhnya. Dan ketujuh orang perampok itu ternyata tetangga-tetangga mereka sendiri. Di hari berikutnya kita akan berbisik ke beberapa telinga yang pasti akan menjalar ke segenap sudut padukuhan disekitar Sambirata, bahwa seseorang yang gagal menjadi seorang prajurit karena cacat tangannya, telah melepaskan kekecewaannya kepada sekelompok orang-orang kelaparan meskipun mereka adalah tetangga-tetangga sendiri. Pikatan yang tidak mampu lagi berbuat apa-apa itu telah membunluh perampok-perampok kecil untuk disebut sebagai seorang pahlawan.“

Dada Puranti berdentang mendengar rencana yang keji itu. Jauh lebih keji dari perampokan itu sendiri. Dan Pikatan yang hidup seakan-akan terasing dari pergaulan itu, akan menjadi korban karenanya, selain ketujuh orang yang akan dibunuhnya pula.

“Mereka adalah jenis perampok-perampok yang sebenarnya“ berkata Puranti didalam hatinya.

“Tetapi“ berkata salah seorang dari keempat perampok itu “setelah ketujuh orang ini mati, ternyata masih saja ada permpokan di rumah-rumah lain. Bukankah kita tidak akan berhenti?“

“Mereka akan mencari perampok-perampok itu diantara orang-orang kelaparan seperti ketujuh orang ini. Mereka pasti akan mengharap bahwa Pikatan akan turun tangan pula. Nah, bukankah akan timbul kecurigaan diantara mereka dan akan timbul pula harapan agar jumlah merekapun berkurang karena Pikatan selalu akan membunuh dan membunuh.“

“Tetapi tidak pernah ada lagi orang terbunuh.“

“Mudah sekali. Kita mengambil tiga empat orang. Kita terlentangkan dijalan setelah lehernya putus. Kita beri senjata di tangan mereka dan wajah yang kita coreng-moreng.“

Tidak ada lagi yang menyahut diantara para perampok itu Tetapi pembicaraan itu telah membuat ketujuh orang yang sedang mencari sesuap nasi itu serasa sudah tidak berdarah lagi. Tubuh mereka menjadi lemas dan tangan mereka sama sekali tidak akan mampu lagi uutuk menarik pedang.

Bahkan oleh gejolak yang melanda dinding dadanya, salah seorang yang sudah tidak dapat bertahan lagi telah berjongkok sambil berkata “Ampun. Ampunkan kami. Kami tidak akan mengganggu kalian dan kami tidak akan mengatakan apapun juga. Jika kami mengatakan satu kata saja tentang kalian, bunuhlah kami. Tetapi jangan sekarang.“

Perampok-perampok itu masih berdiam diri sambil memandang orang yang ketakutan itu.
“Isteri dan anak-anak kami pasti akan menunggu, karena kami mengatakan kepada mereka, bahwa kami akan pergi menengok sawah kami yang kering. Menengok jagung kami yang kurus dan tidak berbuah. Kami sebenarnya tidak ingin berbuat apa-apa. Kami hanya sekedar lapar.“

Perampok-perampok itu saling berpandangan sejenak. Namun tiba-tiba salah seorang dari mereka yang tampaknya paling liar tertawa sambil berkata “Aku senang sekali melihat orang-orang yang ketakutan. Kemarilah. Kau dahululah yang sebaiknya dipenggal kepalanya.“

Kata-kata itu hampir membuat orang yang ketakutan itu menjadi pingsan. Terputus-putus ia berkata selanjutnya ”Tetapi kami tidak akan berbuat apa-apa. Kami minta ampun. Kami mohon kemurahan hati.“

“Persetan“ bentak perampok itu tiba-tiba “kau sudah berani membawa senjata di malam hari. Kau harus berani menanggung akibatnya. Kau harus berani berkelahi atau kau akan mati sia-sia. Kalau kau masih sayang akan jiwamu, bangkit dan lawan aku. Kalau kau menang. kaulah yang membunuh aku. Kalau kau kalah. aku akan membunuhmu perlahan-laran.

“Tidak. Aku tidak berani melawan”

“Itulah hukum yang kita anut. Didalam kelamnya malam padukuhan, padesan dan kota sekalipun tidak ubahnya seperti rimba belantara. Siapa yang kuat, ialah yang menang. Dan kita adalah binatang-binatang buas di hutan itu. Kita adalah serigala-serigala yang kelaparan. Kalau kau tidak mau melawan, kau adalah kelinci yang pantas menjadi makanan anjing hutan. Jangan menyesal, itu adalah nasibmu sendiri.“

“Ampun, ampun.“ dan orang itu menangis melolong-lolong.

“Jika suaramu membangunkan orang-orang dipadukuhan itu, maka kau akan lebih manyesal lagi. Aku akan membawamu kesarangku, dan kau akan dihukum picis. Kau akan disayat menjadi kepingan-kepingan daging.“

“O“ orang itu tidak dapat bersuara lagi. Seluruh tubuhnya menjadi lemas dan mulutnya justru menjadi terkunci.

Bukan saja orang itu yang menjadi ketakutan. Tetapi seluruhnya. Ketujuh orang itu semuanya bagaikan tidak berdiri diatas tanah. Seandainya kulit mereka disobek dengan pisau. tidak setitik darahpun akan menetes.

Tetapi para perampok itu benar-benar tidak menaruh belas kasihan. Apalagi orang yang tampaknya paling liar. Setapak ia maju dan berkata “Bagaimanapun juga kalian sudah mengganggu pekerjaan kami. Aku sadar bahwa kecuali kalian pasti masih ada lagi orang-orang lapar yang akan mencoba merampok. Dan akupun sadar bahwa ada juga perampok-perampok yang sebenarnya selain aku dan kelompokku ini. Tetapi aku berani bertanggung jawab atas pekerjaan yang sudah aku pilih ini. Mati adalah taruhan yang wajar bagi seorang perampok. Dan kalianpun akan membayar taruhan itu.“

Orang-orang yang ketakutan itu sama sekali sudah tidak dapat menjawab lagi. Mulut mereka gemetar seperti orang kedinginan. Sedang wajah-wajah. mereka telah menjadi pucat seperti kapas.

“Kalau kau mau membunuh, cepat lakukanlah“ berkata orang yang agak pendek.

“Aku sendiri?“ bertanya yang paling liar.

“Bersama aku“ sahut yang tinggi bermata merah. ”Cepat“ berkata yang pendek pula.

Dua diantara keempat orang itu melangkah semakin dekat. Tangan mereka telah meraba hulu pedang masing-masing. Orang yang paling liar itu berkata “Aku akan membunuh empat diantara mereka, dan kau akan mendapat tiga orang.“

Ketujuh orang yang akan dibunuh. itu benar-benar sudah gemetar. Mereka benar-benar tidak lagi dapat barbuat sesuatu. Mereka sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk melawan sejauh yang dapat mereka lakukan atau barteriak-teriak sekencang-kencangnya.

Puranti yang bersembunyi dibalik pematang hanya dapat mengusap dadanya. Ternyata ada juga menusia-manusia yang benar-benar berhati serigala. Manusia yang sama sekali tidak mempunyai belas kasihan dan rasa perikemanusiaan. Yang dua diantara mereka, agaknya masih juga dibayangi oleh. perasaan iba. Tetapi yang dua lainnya telah benar-benar siap membunuh dengan kepala yang dingin seperti dinginnya embun malam.

Sejenak kemudian kedua orang yang akan membunuh ketujuh orang itu telah mencabut pedangnya. Sedang ketujuh orang yang akan dibunuh itu sama sekali tidak lagi mampu berdiri. Seorang diantara mereka menjadi pingsan. Dan seorang yang lain menangis melolong-lolong.

“Suatu tontonan yang menyenangkan sekali. Jarang sekali aku melihat permainan yang demikian menarik. Sayang, bahwa aku harus segera mengakhirinya, karena aku masih mempunyai banyak pekerjaan malam ini“

“Cepat lakukan“ terdengar seseorang berteriak ”aku tidak tahan melihatnya.“

Tetapi orang yang paring liar itu tertawa. Katanya “Sejak kapan kau menjadi seorang Kiai, he?”

Tidak ada jawaban. Namun ketujuh orang itu menjadi semakin ketakutan. Bahkan seorang lagi telah jatuh pingsan pula.

Namun dalam pada itu, selagi kedua orang itu dengan tertawa-tawa melihat suatu pertunjukan yang mengasyikkan sekali, mereka telah dikejutkan oleh sebuah bayangan yang meloncat beberapa langkah dari mereka. Seorang yang berdiri didalam keremangan malam dengan sebilah pedang ditangan. Tetapi pedang itu berada ditangan kiri. Sedangkan tangan kanannya tergantung lemah.

Sejenak para perampok itu berdiri membeku. Dengan mata yang liar mereka memandang bayangan itu. Meskipun tidak begltu jelas. namun mereka yakin, bahwa pedangnya benar-benar berada di tangan kiri, dan tangan kanannya sama sekali tidak bergerak.

“Pikatan. Itukah Pikatan“ desis salah seorang dari para perampok itu.

“Tangannya lumpuh sebelah. Tangan kanannya.“

“Aku belum pernah melihat Pikatan. Tetapi aku pernah mendengar reritera tentang dirinya.”
Keempat orang itu menjadi termangu-mangu. Mereka memandang bayangan itu bagaikan memandang hantu.

Selangkah demi selangkah bayangan yang kehitam-hitaman itu melangkah maju. Pedang ditangan kiri itu sudah mulai terjulur ke depan.

“Siapa kau he?“ salah seorang perampok itu hampir berteriak.

Tetapi bayangan yang kehitam-hitaman didalam karemaagan malam itu sama sekali tidak menyahut. Selangkah demi selangkah ia tetap maju.

“Berhenti, berhenti disitu“ perampok yang tinggi bermata merah itupun berkata lantang.
Tetapi bayangan itu tidak berhenti. Ia masih saja maju semakin dekat.

Ketegangan yang tajam. Telah mencengkam setiap dada. Bukan saja para perampok. tetapi diantara ketujuh orang yang masih sadar yang melihat kehadiran bayangan itupun menljadi semakin bingung. Mereka tidak tahu perasaan apakah yang sebenarnya berkembang didalam hati mereka. Mereka mempunyai harapan untuk terlepas dari tangan perampok-perampok itu. Tetapi kalau demikian, maka merekapun akan menerima hukuman yang sama dengan para perampok itu. Tetapi kalau bayangan itu gagal. maka perampok-perampok itu pasti akan rneneruskan niatnya membunuh mereka.

Dalam kebingungan itulah mereka tetap berada ditempatnya. Serasa tulang-tulang mereka tidak mampu lagi untuk mengangkat kulit daging mereka.

Dalam pada itu, bayangan yang kehitam-hitaman itu sudah menjadi semakin dekat. Namun orang-orang yang berada ditempat itu tidak dapat memandangnya dengan jelas. Mereka tidak dapat melihat wajah itu dengan saksama, selain karena bayangan itu selalu bergerak, tampak juga wajahnya terlampau kotor dan ke-hitam2an. Apakah kau Pikatan?“ bertanya salah seorang perampok itu.

Bayangan itu masih tetap diam.

“Pikatan. Kau. Pikatan he, benar? Tanganmu lumpuh sebelah kanan. Apa yang dapat kau lakukan dengan tangan kirimu?“

Sama sekali tidak terdengar jawaban. Tetapi pedang ditangan kiri itu bergetar semakin cepat.
“Gila. Kita berhadapan dengan Pikatan yang lumpuh dan bisu.“

“Bunuh saja“ teriak yang tinggi bermata merah.

Para perampok. itu benar-benar menjadi tegang. Tetapi dengan demikian mereka telah melupakan orang-orang yang akan dibunuhnya itu untuk sejenak. Kini mereka berdiri berpencaran. Semua menghadap kepada bayangan yang seakan-akan sengaja masuk ke dalam sebuah kepungan.

“Meskipun kau bernama Pikatan, tetapi kau akan mati di tangan kami“ geram salah seorang dari keempat perampok itu.

Bayangan yang bersenjata pedang ditangan kiri itu tiba-tiba mempersiapkan sebuah serangan. Sejenak ia memutar diri, namun sejenak kemudian-tanpa berkata apapun juga ia meloncat menyerang perampok-perampok itu.

Gerakan orang yang bersenjata ditangan kiri itu beuar-benar telah mengejutkan kawanan perampok itu. Meskipun tangan kanannya masih saja tergantuag lemah, ternyata pedang ditangan kiri itu dapat bergerak cepat sekali. Sebuah ayunan mendatar hampir saja menebas leher orang yang tinggi dan bermata merah.

Untunglah bahwa ia masih sempat meloncat surut, sementara kawannya, orang yang paling liar itu menyerang bayangan itu dengan diiringi oleh sebuah teriakan nyaring.

Tetapi bayangan hitam yang bertempur dengan tangan. Kirinya itu bagaikan tidak berjejak diatas tanah. Dengan lincahnya, seakan-akan melayang di udara. ia menghindari serangan itu. Bahkan serangan-serangan yang mengejarnrya kemudian dari keempat orang perampok itu sama sekali tidak membingungkannya. Bayangan itu masih sempat berloncatan kian kemari. dan bahkan menyerang pula dengan dahsyatnya.

“Setan alas“ geram orang yang paling liar“ betapa tinggi ilmumu, kau tidak akan dapat melawan kami berempat Pikatan“

Tidak ada jawaban. Serangan-serangan berikutnya justru telah mendesak keempat orang perampok itu. Pedang di tangan kiri itu bagaikan seekor sikatah yang berterbangan menyambar-nyambar di rerumputan.

Dalam pada itu, orang-orang yang kelaparan, yang mencoba untuk menjadi perampok kecil-kecilan itu menyaksikan apa yang terjadi dengan mata yang terbelalak. Orang-orang yang pingsan di antara mereka perlahan-lahan mulai menyadari diri mereka. Perlahan-lahan mereka membuka matanya dan meraba lubuhnya. Ternyat mereka masih hidup bersama wadagnya.

Dengan terheran-heran pula mereka menyaksikan perkelahian yang dahsyat didalam keremangan malam. Seorang yang bersenjata ditangan kiri bertempur melawan keempat perampok yang hampir saja menyita nyawa mereka.

Semakin lama perkelahian itu menjadi semakin seru. Ternyata bahwa keempat orang itu tidak sanggup mengatasi kemampuan bertempur lawannya, meskipun ia hanya mempergunakan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya tetap terkulai lemah.

Salah seorang dari ketujuh orang yang ketakutan itu kemudian berbisik tanpa sesadarnya “Pikatan. Pikatan ternyata ada di tempat ini. Untunglah bahwa bukan kita yang diserangnya“

Namun kawannya yang lain dengan gemetar, menyahut “Setelah mereka berempat, akan datang giliran kita.“

“O“

Dan perasaan yang tidak menentu itu semakin mencengkam dada mereka. Apakah mereka mempunyai harapan lagi, ataukah maut itu hanya tertunda sejenak, mereka sama sekali tidak dapat memperhitungkan.

Tetapi perkelahian itu sendiri sangat menarik perhatian mereka. Orang yang bertangan sebelah itu ternyata sangat tangkas dan cepat. Sekali-sekali ia meloncat rnenyerang, kemudian berputaran menembus setiap kepungan yang diusahakan oleh keempat perampok yang kasar dan liar itu.

Bersambung

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s