Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

yg terasing 11

Tinggalkan komentar


penilaian mereka, adalah daerah yang akan dapat mereka jadikan sumber penghasilan yang cukup baik. Beberapa penghuninya tentu mempunyai barang-barang berharga. meskipun barang-barang warisan, karena mereka tidak akan mampu membelinya, kecuali beberapa orang saja. Tidak ada orang yang akan dapat menghalangi mereka. Apalagi semasa paceklik, masa-masa keresahan semakin menjadi-jadi.

Namun tiba-tiba kini mereka membentur suatu kekuatan yang tidak dapat mereka tembus meskipun mereka telah berjuang mati-matian.

Meskipun demikian, keempat perampok itu bertempur terus. Orang yang paling liar diantara mereka, serta orang yang tinggi bermata merah itu, menjadi semakin marah. Mereka merasa terganggu setelah pedang mereka hampir saja memutuskan leher orang-orang kelaparan itu. Tetapi kini mereka hampir tidak berdaya menghadapi seorang yang cacat.

Tetapi kenyataan yang ada dihadapan mereka sama sekali tidak dapat mereka elakkan. Orang yang berpedang di tangan kiri itu benar benar luar biasa. Serangannya semakin lama menjadi semakin dahsyat. Dan pedang ditangan kiri itu seakan-akan telah berterbangan mengitari keempat orang itu seperti puluhan lebah yang menyerang bersama-sama.
Dan ternyata pula, bahwa sejenak kemudian ujung pedang itu mulai menyentuh tubuh-tubuh mereka. Ketika keringat telah membasahi tangan kirinya, orang yang dahsyat itu bergerak semakin cepat dan pedangnya menjadi semakin ganas.

Sejenak kemudian terdengar sebuah keluhan tertahan. Orang yang agak pendek diantara keempat orang itu merasa sebuah goresan dipundaknya. Dengan serta-merta ia meloncat surut. Namun ternyata bahwa tanpa memberi kesempatan orang bertangan kiri itu meloncat mengejarnya.

Hampir berbareng ketiga kawan-kawannya meloncat mundur bersama untuk melindungi orang yang agak pendek itu. Tetapi sekali lagi tanpa diduga-duga, orang bersenjata ditangan kiri itu merubah tata geraknya. Sambil berjongkok rendah ia mengayunkan pedangnya mendatar. Dan sekali lagi terdengar jerit tertahan. Terhuyung-huyung orang yang paling liar diantara mereka melangkah surut.

Tidak ada waktu lagi bagi para perampok itu untuk bernafas. Ternyata sekali lagi pedang ditangan kiri itu bergetar dan orang yang paling liar itu tidak lagi dapat bertahan. Sejenak ia masih berdiri. Tetapi kemudian ia terbanting jatuh ditanah. Senjatanya terlepas dari tangannya dan sejenak kemudian ia telah menghembuskan nafasnya yang penghabisan.

Kematiannya telah menumbuhkan goncangan yang dahsyat di hati kawan-kawannya. Mereka mulai cemas akan nasib mereka sendiri. Serangan-seiangan yang datang justru semakin lama terasa semakin cepat. Apalagi kini jumlah mereka telah berkurang.

Sesaat kemudian, selagi mereka masih dicengkam oleh keragu-raguan, seorang lagi diantara mereka berteriak ngeri. Orang yang tinggi bermata merah, seakan-akan terdorong surut. Langsung ia terbanting ditanah. Sesaat ia menggeliat, namun kemudian nafasnya terputus di tenggorokan. Mati.

Tidak ada pilihan lain bagi dua orang kawannya Yang seorang telah lerluka pula. Agar mereka tidak mati seperti kedua kawannya yang lain, maka mereka tidak dapat memilih jalan, selain melarikan diri.

Demikianlah, keduanya masih mencoba mempercayakan hidupnya kepada kecepatan kakinya. Merekapun segera meloncat berlari secepat-cepat dapat mereka lakukan.

Ternyata orang yang bersenjata ditangan kiri itu hanya mengejar beberapa langkah saja. Seterusaya, dibiarkannya kedua perampok itu berlari berpencaran mencari jalan mereka masing-masing. Orang yang tangan kanannya terkulai itu hanya memandangi mereka sejenak. Namun kemudian ia melangkah kembali ke bekas arena perkelahian itu.

Ketujuh orang yang juga membawa senjata dilambung mereka itu tiba-tiba saja seperti orang yang terlempar kedalam sarang hantu. Mereka melihat orang yang telah membunuh dua orang perampok itu berjalan setapak demi setapak mendekati mereka, sehingga ke tujuh orang itu kembali menjadi gemetar.

“Pikatan itu pasti akan menghukum kita pula“ desah mereka didalam hati.

Bayangan yang kehitam-hitaman itu semakin lama menjadi semakin dekat. Sejenak ia merenungi dua sosok mayat yang ter-baring ditanah. Sebuah tarikan nafas yang panjang meluncur lewat hidungnya.

Tiba-tiba orang itu menundukkan kepalanya dalam-dalam Agaknya ada sesuatu yang menyentuh perasaannya. Perlahan-lahan ia berpaling, melemparkan tatapan matanya kepada kedua mayat yang terbaring itu.

Ketujuh orang yang ketakutan itu memandang saja dengan dada yang bergetar. Mereka tidak tahu, apakah yang sedang bergolak di dalam hati orang yang bertangan sebelah itu.
Namun tubuh-tubuh itu seakan-akan menjadi terkulai ketika orang itu melangkah lagi semakih dekat. Selangkah demi selangkah. Sedang pedangnya masih juga didalam genggaman. Apalagi Ketika orang itu berhenti beberapa langkah dan mereka.

Meskipun tidak begitu jelas, tetapi ketujuh orang itu merasa bahwa, orang yang berwajah hitam dan samar itu memandang mereka dengan tajamnya. Bahkan rasa-rasanya mata itu sama sekali tidak berkedip. Dan seolah-olah pedang yang ada ditangan kiri itu siap untuk mematuk dan menghunjam kedada mereka seorang demi seorang.

Sejenak ketujuh orang itu dibakar oleh ketegangan selama orang yang berpedang itu berdiri diam beberapa langkah dihadapan mereka. Semakin lama rasa-rasanya darah mereka semakin terhisap habis, sehingga pada suatu saat. mereka tidak lagi mampu menggerakkan tubuh mereka sama sekali.

Tetapi hampir tidak dapat mereka mengerti dan bahkan seolah-olah tidak masuk akal, ketika orang itu tiba-tiba saja melangkah pergi meninggalkan mereka dalam kebigungan.

Tetapi ketujuh orang itu masih saja seakan-akan membeku. Mereka hanya dapat memandang bayangan itu semakin lama semakin tenggelam kedalam kekelaman malam. Dan akhirnya hilang dari tangkapan mata mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun”.

Sejenak kemudian, seperti tersadar dari sebuah mimpi yang dahsyat, ketujuh orang itu, menjadi terlampau gelisah. Mereka seorang demi seorang tegak berdiri memandang berkeliling, seakan-akan mereka berada didaerah yang sangat asing.

Tetapi tengkuk mereka meremang ketika mereka sadar, bahwa ada dua sosok mayat yang terbaring tidak jauh dari mereka.

“Apakah orang itu Pikatan?“ sekali lagi salah seorang dari mereka bertanya.

“Tentu Pikatan. Tangannya yang sebelah kanan lumpuh. Hanya Pikatan yang pernah mengikuti pendadaran untuk menjadi seorang prajurit sajalah yang akan mampu berbuat demikian. Tentu bukan orang lain.“

“Tetapi kenapa ia tidak berkata apapun juga?“

Orang-orang itupun terdiam. Mereka sudah pernah melihat Pikatan. Mereka sudah mengenalnya. Tetapi kenapa mereka tiba-tiba saja menjadi ragu-ragu? Wajah yang dilihatnya didalam keremangan malam itu tidak meyakinkan mereka, karena wajah itu tampaknya kotor dan buram. Apalagi mereka tidak pernah sempat berdiri terlalu dekat dengan orang itu. Tatapi menilik ciri-ciri yang ada, mereka berkesimpuian bahwa orang itu adalah. Pikatan.

“Apakah ia tidak mengenal kita lagi?“ bertanya salah seorang dari mereka.

“Tentu ia masih mengenal kita. Tetapi ia menjadi benei kepada kelakuan kita.“

“Apakah ia akan berkata kepada setiap orang bahwa kita malam ini telah bersepakat untuk merampok ke rumah Tanjung? Atau barangkali ia justru menyangka bahwa kita telah seringkali melakukannya?“

Tidak seorangpun yang dapat menjawab.

“Kalau ia berceritera kepada setiap orang tentang diri kita malam ini, maka kita akan kehilangan harga diri kita sama sekali. Tidak seorangpun yang akan percaya lagi kepada kita dan kita akan hidup terasing dari pergaulan.“

Orang-orang itupun kemudian terdiam. Terbayang hari-hari yang suram yang bakal mereka hadapi. Seandainya demikian, maka apakah kata tetangga-tetangga mereka tentang diri mereka itu. Terlebih-lebih keluarga Tanjung dan keluarga Pikatan sendiri? Juga isteri dan anak mereka masing-masing?”

Ternyata ketujuh orang itu benar-benar telah dilanda oleh kecemasan, kegelisahan dan kekhawatiran tentang diri mereka sendiri. Meskipun kini mereka telah terlepas dari tangan para perampok itu, namun mereka melihat kesulitan lain yang akan mereka hadapi.

Ketika salah seorang dari mereka berdesah, maka kawan-kawannya berpaling kepadanya. Tetapi mereka masih tetap berdiam diri.

Tetapi tiba-tiba salah seorang dari mereka berdesis “Dua dari keempat orang itu masih hidup. Bagaimana kalau mereka datang kembali kemari?“

Sejenak mereka sating berpandangan, lalu “Mariiah kita pergi.“

“Kemana?“

“Pulang.“

Mereka kembali terdiam. Kalau mereka pulang kepedukuhan mereka, maka ada kemungkinan mereka bertemu dengan dua orang yang melarikan diri dari tangan Pikatan. Tetapi apakah dengan demikian mereka akan tetap berada di tempal Itu?

Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata “Bagaimana. kalau kita pergi menemui Pikatan?“

“Buat apa?“ bertanya yang lain.

“Kita minta ia merahasiakan tingkah laku kita malam ini. Dan kita minta perlindungannya agar kita tidak menjadi sasaran dendam kedua perampok yang terlepas dari tangan Pikatan itu.“

Sejenak keenam kawan kawannya berpikir, namun salah seorang berkata “Apakah Pikatan benar-benar akan membuka rahasia ini? Jika demikian kenapa ia tidak langsung bertindak saja atas kita sekarang dan membawa kita ke padukuhan untuk dipertontonkan kepada penghuni-penghuninya?“

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kelakuan Pikatan sekarang memang tidak dapat dimengerti Kita tidak dapat menduga, Apakah yang kira-kira akan dilakukannya kalau kita datang kepadanya sekarang. Mungkin kita akan diusir seperti anjing. Atau justru sebenarnya ia ingin tetap diam, tetapi karena kedatangan kita ia justru akan mengungkatnya.“

“Ya. Kau benar. Tetapi aku akan mencari kesempatan menemuinya kelak. Pada suatu saat.“

“Tetapi bagaimana kalau besok pagi-pagi berduyun-duyun orang datang kerumah kita masing-masing sambil membawa senjata”

“Besok pagi-pagi kita pergi.”

Tetapi ternyata tidak ada jalan yang memberikan ketenteraman hati kepada mereka. Semuanya rasa-rasanya menjadi gelap dan menakutkan.

“Aku tidak tahu jalan“ desis salah seorang dari mereka “aku pasrah kepada ALLAH.

“O“ kawan-kawannya berpaling. Dan tiba-tiba saja sesuatu menyentuh perasaan mereka. Sesuatu yang agaknya sudah lama tersisih dari hati. Selama mereka bergulat dengan kesulitan hidup, mereka ternyata telah melupakanNYA. Mereka tidak lagi percaya kepada keadilanNYA, sehingga mereka telah mencari jalan sendiri untuk mencukupi kebutuhan keluarga mereka. Seakan-akan cara yang lain dijalanNYA sudah tertutup sama sekali.

Dan tiba-tiba salah seorang yang lain berkata “Ya. Aku juga akan pasrah kepada ALLAH“
Kawan-kawannya yang lainpun, mengangguk-anggukkan kepala pula. Didalam kegelapan. dimana mereka tidak lagi melihat jalan, barulah mereka teringat kepada Tuhannya. Dan tidak ada pilihan. lain daripada kembali mengharapkan petunjukNYA.

Demikianlah maka ketujuh orang itupun segera berjalan dengan tergesa-gesa pulang ke rumah masing-masing. Mereka masih juga dibayangi oleh ketakutan apabila mereka bertemu dengan kedua orang yang sempat melepaskan diri dari tangan Pikatan,

Dalam pada itu, sesosok bayangan berjalan dengan kepala tunduk meninggalkan medan, menuju kepadukuhan Cangkring. Langkahnya semakin lama menjadi semakin cepat, seakan-akan takut terlambat. Bayangan itulah yang baru saja bertempur dan tanpa dapat menghindari, dengan terpaksa sekali ia telah membunuh dua orang dari ke empat lawannya.
Tetapi tangan kanannya kini tidak lagi terkulai lemah. Tangan itu kini mampu bergerak seperti tangan kirinya. Sebenarnyalah bahwa tangan itu sama sekali tidak cacat. Dan orang itu memang bukan Pikatan. Tetapi ia adalah Puranti.

Disepanjang jalan ia masih mencoba menilai tindakannya. Ia tidak tahu pasti. apakah dengan demikian, tindakan itu akan menguntungkan atau jusru sebaliknva bagi Pikatan. Dan Apakah Pikatan sendiri akan membiarkannya atau menentukan sikap yang lain. Tetapi yang dilakukannya itu sebenarnya terdorong oleh gejolak perasaannya. la sama sekali tidak rela kalau nama Pikatan dihancurkan. Rencana keempat orang yang akan membunuh orang-orang kelaparan dan kemudian akan menyebarkan desas-desus bahwa Pikatanlah yang melakukan, membuat hatinya menjadi panas dan justru ia telah berbuat sesuatu.

“Tetapi hal itu sudah terlanjur aku lakukan. Mudah-mudahan Pikatan tidak mendengarnya atau ia menjadi aeuh tidak acuh saja” berkata Puranti di dalam hatinya. “Kalau ia salah menilai, maka hatinya akan menjadi semakin parah dan ia merasa dirinya semakin kecil dan tidak berarti.“

Puranti menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian langkahnya justru semakin cepat. Ia harus segera berada, dipembaringannya sebelum janda yang memungutnya sebagai anak itu terbangun dan mencarinya.

Puranti menarik nafas lega, ketika ia sampai di rumahnya selagi biyung angkatnya masih tidur nyenyak. Kemudian disembunyikanya senjata dan pakaian laki-lakinya ditempatnya, seperti kebiasaannya.

Tetapi Puranti tidak dapat memejamkan matanya lagi. Selain ia tidak mau bangun justru kesiangan, angan-angannyapun masih juga berjalan hilir mudik tidak menentu.

“Ternyata keadaan daerah di sekitar Alas Sambirata ini benar-benar sudah parah. Kalau Wiyatsih tidak segera berhasil, maka di tahun-tahun mendatang, orang-orang akan menjadi semakin kelaparan, dan perbuatan-perbuatan yang tidak bertanggung jawab akan menjadi semakin banyak.

Dalam pada itu, selagi Puranti yang dipanggil oleh ibu angkatnya Suntrut itu masih berbaring di pembaringannya, tiba-tiba saja telah mendengar suara titir yang sahut menyahut.

Puranti terkejut sesaat. Namun kemudian ia menyadari, bahwa tentu ada orang-orang yang pergi kesawah atau ladangnya dipagi-pagi benar dan menjumpai dua sosok mayat yang telah ditinggalkannya.

Puranti tetap duduk ketika ibu angkatnya dengan ketakutan keluar dari biliknya sambil berkata dengan suara gemetar “Suntrut, kau dengar suara titir itu he?“

“Ya biyung. Aku dengar.“ jawab Puranti yang bangkit berdiri dari pembaringannya.

“Tentu ada pembunuhan lagi atau perampokan.“ berkata janda itu dengan suara gemetar.

“Ya biyung. Muiagkin ada perampokan.“

“Hampir setiap hari ada perampokan, perampasan dan bahkan sekali-sekal pembunuhan. Rasa-rasanya dunia ini menjadi semakin kacau dari hari kehari.“

*** Halaman 61 sd 64 hilang ***

……..satu dua orang gadis-gadis miskin pula, namun ia tidak akan dapat membuka hatinya sama sekali. seperti apabila ia berhadapan dengan Wiyatsih. Justru pergaulannya dengan anak-anak gadis di Cangkring terasa sebagai beban-beban tersendiri di dalam hatinya. Untunglah bahwa Puranti adalah seorang gadis yang tabah dan apalagi terlatih menghadapi segala kemungkinan, sehingga ia masih dapat bertahan tinggal ditempat itu. Meskipun kadang-kadang ia tidak dapat ingkar terhadap pengakuannya yang jujur, bahwa tanpa Pikatan yang terasing itu, ia tidak akan berbuat apapun juga di daerah ini. Satu-satunya harapan baginya, harapan pribadinya selain cita-cita tentang kehidupan yang baik bagi daerah kering ini, adalah Pikatan. Agar Pikatan yang seolah-olah tenggelam didalam dunia yang kelam itu, bangkit kembali dan memandang hari depan yang panjang dengan tatapan mata yang cerah.

“Jadi kau berbuat seolah-olah kakang Pikatan yang melakukan?“ bertanya Wiyatsih.
Puranti menganggukkan kepalanya. Jawabnya “Ya. Begitu saja aku mengambil keputusan. Aku tidak sempat birpikir terlampau panjang waktu itu. Para perampok itu benar-benar akan membunuh dan akan mencemarkan nama Pikatan. Aku sendiri tidak sadar, kenapa tiba-tiba saja aku menggantungkan tangan kananku dan menggenggam pedang ditangan kiri.“
Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak mendapat bayangan, apakah yang akan terjadi atas Pikatan sendiri apabila ia mendengar ceritera tentang pembunuhan itu, apabila ceritera itu sempat tersebar.

Dan ternyata bahwa ceritera itupun telah meluas. Dihari-hari berikutnya, Wiyatsih dan Puranti mengikuti ceritera tentang Pikatan itu dengan hati yang berdebar-debar.
Namun demikian, meskipun ceritera tentang Pikatan itu sudah berhari-hari menjelajahi padukunan-padukuhan kecil disekitar alas Sambirata, namun agaknya Pikatan sendiri, yang seakan-akan hidup terasing itu, masih belum mendengarnya.

“Wiyatsih“ berkata Puranti kemudian pada. suatu malam “sudah tentu bahwa tidak setiap saat aku berada dirumah ini. Aku masih belum tahu, apakah perampok-perampok yang masih hidup itu menyimpan dendam terhadap Pikatan. Jika demikian. maka Pikatan pasti terancam. Sedang Pikatan sendiri. tidak akan mau berbuat apa-apa. Ia membiarkan dirinya mati di dalam hidupnya.“ Puranti berhenti sejenak, lalu “Karena itu Wiyatsih. Adalah menjadi kuwajiban kita untuk melindunginya. Kalau aku kebetulan ada dihalaman ini, dan katakanlah tiga empat orang datang mencari Pikatan, aku masih mungkin berbuat sesuatu untuk menyelamatkannya. Tetapi kalau kebetulan aku tidak ada, maka persoalannya akan menjadi sangat gawat bagi Pikatan yang menyerah sebelum berjuang itu.“

Wiyatsih mengerutkan keningnya, Terasa dadanyapun menjadi berdebar-debar pula. Kalau hal itu terjadi, apa yang dapat dilakukannya?.

“Karena itu Wiyatsih“ berkata Puranti kemudian “kau harus bekerja lebih keras lagi. Kau harus segera mendapatkan dan menguasai dasar-dasar olah kanuragan. Sampai saat ini kau sudah mendapat kemajuan yang pesat sekali. Namun mengingat keadaan yang dapat menjadi semakin gawat bagi Pikatan, kau harus bekerja lebih keras. Kau akan segera mulai belajar mempergunakan senjata. Segala jenis senjata, karena orang-orang itu pasti akan mempergunakan senjata pula. Meskipun mereka adalah orang-orang yang berpengalaman. tetapi mereka tidak mendasari ilmu mereka dengan tata gerak dasar dan sama sekali tidak berusaha mengenal sifat dan watak dari tata geraknya sendiri, sehingga apabila kau meningikan sedikit lagi di dalam olah kanuragan, kau tidak akan mengecewakan seandainya kau terpaksa menghadapinya. Tetapi apabila mereka datang dalam kelompok, itulah yang agak sulit bagimu apabila kau tidak segera mencapai tingkatan berikutnya.“

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi dari sorot matanya Puranti dapat membaca bahwa Wiyatsih tidak akan ingkar dari beban yang harus dipikulnya itu.

Dengan demikian, maka, latihan-latihan dan tuntunan Puranti atas Wiyatsih terasa semakin berat. Dari hari kehari, ilmu yang diberikan oleh Puranti terasa menjadi semakin sulit dan rumit. Namun Wiyatsih melakukannya dengam sepenuh hati. Ia benar-benar ingin memerami keinginan Puranti, agar ia dapat segera menguasa ilmu dasar dari ulah kanuragan, sebelum ia mengembangkannya lebih lanjut.

Sementara itu, ceritera tentang Pikatan berkembang semakin luas. Apalagi ketika tertayata, kematian dua orang yang tidak dikenal, yang menurut dugaan banyak orang adalah perampok-perampok yang terbunuh oleh Pikatan. telah menimbulkan perubahan suasana meskipun orang-orang disekitar alas Sambirata itupun menyadari bahwa perubahan itu hanya akan berlaku untuk sementara. Untuk beberapa lama tidak lagi terdengar suara titir. Tidak ada lagi berita tentang perampokan dan apalagi pembunuhan.

Tetapi yang tidak disangka-sangka oleh Wiyatsih, tiba-tiba saja berita tentang Pikatan itu sampai ketelinga anak muda itu sendiri. Tanpa diketahui siapakah yang menyampaikan kepadanya, namun tiba-tiba saja Pikatan sudah mengetahuinya.

Hati Wiyatsih menjadi berdebar-debar ketika kakaknya memanggilnya dengan nada yang kasar. Seperti hendak memasuki ruang yang asing ia melangkah kepintu bilik kakaknya.

“Wiyatsih, kemari“ Suara kakaknya bernada tinggi.

Wiyatsih memasuki bilik itu perlahan-lahan. Dicobanya untuk menenangkan perasaannya dan menahan hati apabila ia menghadapi sikap kakaknya yang semakin lama menjadi semakin asing baginya.

“Wiyatsih“ berkata Pikatan “apakah kau mendengar desas-desus yang gila itu?“
Wiyatsih mengangkat wajahnya. Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya “Yang manakah yang kau maksud kakang?“

“Aku sudah mendengar, hampir setiap orang menyebut namaku yang dihubungkan dengan kematian dua orang perampok di luar padukuhan ini.“

Wiyatsih tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah kakaknya sesaat. Tetapi ketika tampak olehnya mata Pikatan yang seakan-akan menvala, Wiyatsih segera menundukkan kepalanya kembali.

“Apakah kau sudah mendengar?“

“Ya kakang. Aku sudah mendengar.“

“Jadi kau sudah mendengar?“ Pikatan mengangguk-angguk. Tetapi wajahnya masih tetap tegang “apakah kau tidak mengetahui bahwa malam itu aku tetap tinggal dirumah?“

“Ya. aku tahu kakang.“

“Jadi kau tahu bahwa yang melakukan itu bukan aku?“

“Ya, aku tahu.“ Wiyatsih berhenti sejenak. lalu “dari siapa kakang mengetahuinya?“

“Aku juga mempunyai telinga Wiyatsih. Apa kau kira aku sekarang tuli he? Aku memang cacat. Tanganku lumpuh dan karena itu aku tidak akan berarti lagi. Tetapi apakah dengan demikian namaku harus menjadi permainian? Apakah setiap orang kemudian berhak menghina aku?“ suara Pikatan kemudian merendah “Wiyatsih. Ketika kau mendengar ceritera bohong itu. kenapa kau tidak segera memberitahukan kepadaku, Kenapa? Aku tahu pasti bahwa ibupun mendengarnya pula. Dan aku tahu pasti, bahwa ibupun mengerti bahwa aku malam itu tidak beranjak dari pembaringan, tetapi kenapa kau dan ibu sama sekali tidak memberitahukan hal itu kepadaku?“

Wiyatsih tidak segera menyahut. Ia sadar, bahwa kakaknya sedang dihanyutkan oleh perasaannya, seperti yang sering terjadi atasnya sejak tangannya menjadi cacat.

“Wiyatsih“ berkata Pikatan “kalau kau tahu bahwa aku tidak melakukannya, dan kalau kau tahu bahwa berita itu tidak benar, kau harus berusaha untuk membantahnya. Kau harus berusaha agar berita itu hapus dari daerah Sambirata ini. Aku tidak mau mendengar ceritera-ceritera yang memuakkan itu.“

“Kakang“ terdengar suara Wiyatsih Lunak “seandainya aku mengatakan kepadamu tentang berita itu. apakah yang akan kau lakukan?“

Pertanyaan itu mengejutkan Pikatan. Namun kemudian ia menjawab “Aku segera dapat menyuruhmu membantah berita itu. Tidak terlambal seperti sekarang.“

“Apakah sebenarnya keberatanmu tentang berita itu kakang?”

“O. alangkah bodohnya kau“ suara Pikatan memberat, dan dihentakkannya tangan kirinya pada bibir ambennya “itu suatu penghinaan. Setiap orang tahu bahwa aku sudah menjadi lumpuh. Setiap orang tahu bahwa aku tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Bagaimana mungkin aku membunuh dua orang perampok yang bersenjata? Wiyatsih, cobalah berpikir sedikit. Setiap orang yang mengerti ilmu kanuragan pasti akan mentertawakan aku. Mereka menganggap betapa sombongnya Pikatan yang lumpuh itu. Dan kau tahu akibatnya? Mereka akan datang ke rumah ini dan mereka akan meminta bukti kebenaran ceritera itu. Kau tahu akibatnya?“

“Jadi kakang cemas kalau seseorang menyimpan dendam di hatinya dan datang menuntut balas?“

Tiba-tiba Pikatan terdiam. Sejenak dipandanginya wajah adiknya, namun kemudian kepalanya menggeleng lemah. Katanya “Tidak Wiyatsih“ suara Pikatan semakin merendah “aku tidak cemas lagi. Tidak ada yang dapat mencemaskan hatiku. Dahulu maupun sekarang. Aku dahulu akan menghadapi setiap lawan yang betapapun tangguhnya dengan hati tatag. Dan sekarang aku akan menghadapi maut dengan hati tatag pula.“

Wiyatsih mengerutkan keningnya dan bertanya “Kenapa maut?“

Pikatan memandang Wiyatsih sejenak. Tatapan matanya tiba-tiba menegang. Namun kemudian ia berkata perlahan-lahan “Aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Bukankah aku harus tatag menghadapi maut apabila maut itu datang merenggutku? Aku bukan pengecut yang harus merengek-merengek minta diampuni apabila dendam itu terlontar kepadaku. Tidak mustahil bahwa memang seseorang berusaha untuk menghancurkan namaku yang masih tersisa, dan membinasakan aku dengan cara itu.“

“Tidak. Tidak. Itu tidak benar“ Wiyatsih hampir berteriak. Pikatan termenung sejenak. Tiba-tiba ia menatap Wiyatsih dengan tajamnya, seolah-olah sorot matanya ingin menembus sampai kepusat jantung.

“Wiyatsih“ suaranya menjadi berat “apa yang kau ketahui tentang persoalan ini?“

Wajah Wiyatsih tertunduk dalam-dalam. Namun kemudian ia menjawab “Aku kira tidak akan ada orang yang akan berbuat sekejam itu kakang. Seandainya seseorang mendendammu, kenapa ia Tidak datang saja langsung kepadamu? Kenapa ia mempergunakan cara yang berbelit-belit itu?“

Sejenak Pikatan masih memandang Wiyatsih dengan tajam. Namun kemudian pandangan matanya terlempar kesudut biliknya “Semuanya dapat terjadi. Orang yang menamakan diri Hantu bertangan api dari goa Pabelan yang muda mengetahui bahwa tanganku cacat dari siapapun ia mendengar. Kalau bukan Hantu itu sendiri, gurunya dapat melakukan peranan orang bertangan cacat itu.“

“Tetapi menurut ceritera yang aku dengar, orang yang mereka sangka Pikatan itu benar-benar bertempur dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya terkulai lemah, seakan-akan tangan itu memang cacat”

“Bodoh sekali kau Wiyatsih, kaupun dapat berbuat seolah-olah tanganmu kananmu cacat.“

“Bukan itu. Tetapi bagaimana ia dapat bertempur dengan tangan kirinya? Apakah Hantu bertangan api itu kidal?“

“Kau benar-benar anak padesan yang paling dungu. Meskipun tidak kidal, tetapi Hantu bertangan api mampu melakukannya. Perampokan-perampokan kecil itu tidak akan berdaya melawan satu tangannya, meskipun tangan kiri.“

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata diluar dugaan Pikatan “Kakang, kalau Hantu itu mampu bertempur dengan tangan kiri, apalagi sekedar berpura-pura, kenapa kakang tidak mau mempergunakan tangan kiri itu?“

Pikatan tersentak mendengar pertanyaan itu. Dengan jantung yang berdentangan, ia menahan perasaannya yang tiba-tiba saja melonjak. Tetapi untuk sesaat Pikatan tidak mengerti apa yang harus dilakukannya.

Karena itu, dengan mata terbelalak dipandanginya Wiyatsih yang masih berdiri tegak. Gadis itu seolah-olah sama sekali tidak menyadari apa yang telah diucapkan. Sehingga karena itulah, maka Pikatan itupun kemudian justru menundukkan kepalanya sambil menarik nafas dalam-dalam.

Tetapi sepatahpun ia tidak menjawab.

Wiyatsih masih berdiri ditempatnya. Ia masih memandang Pikatan seakan-akan tidak menyadari apa yang sedang bergolak dihati anak muda itu. Namun demikian, di dalam hatinya sendiri, telah terjadi pergolakan pula. Ia tidak tahu pasti, apakah akibat dari pertanyaannya itu berguna bagi Pikatan atau justru sebaliknya.

Namun Wiyatsihpun kemudian menjadi cemas melihat sikap kakaknya. Kepalanya menjadi semakin tunduk dan seakan-akan tubuhnya menjadi lemah. Bukan saja tangan kanannya, tetapi segenap anggota badannya dan terlebih-lebih lagi adalah hatinya.

Perlahan-lahan Wiyatsih mendekatinya dan duduk di amben kakaknya itu pula. Sambil memegang lengan tangan kirinya, Wiyatsih berkata lembut “Kakang, apakah aku menyakiti hatimu lagi? Aku minta maaf kakang“

Pikatan sama sekali tidak berpaling. Tetapi ia menjawab “Wiyatsih. Orang cacat seperti aku ini memang tidak lebih dari wadah penghinaan dan caci maki. Tetapi kau tidak bersalah. Aku melihat, kau bertanya dengan jujur. Akulah yang benar-benar memang sudah tidak berharga lagi.

“Tidak kakang. Bukan begitu. Kau berharga bagiku dan bagi keluarga ini. Bagaimanapun juga kau alalah saudara tuaku, saudara laki-laki yang akan menggantikan ayah di dalam setiap persoalan.“

“Barangkali hanya itulah yang dapat aku lakukan Wiyatsih. mungkin kau kelak akan kawin. Kau memerlukan seorang wali. Nah untuk itu, akulah orangnya. Tetapi perlindungan yang lain tidak akan dapat aku berikan.“

“Tidak. Bukan begitu maksudku kakang” Wiyatsih mengguncang-guncang tangan kiri kakaknya “jangan berpikir begitu kakang. Kau adalah kakakku. Seandainya benar kau cacat jasmaniah. Secara rohaniah, kau dapat berbuat banyak untuk keluarga ini.“

“Apa yang dapat aku berikan Wiyatsih“ jawab Pikatan dengan suara yang semakin rendah dan parau “kita tidak sejalan dengan ibu. Ibu mempergunakan cara sendiri untuk menimbun harta kekayaan. Ibu tidak akan mau mendengar suaraku. Kaupun tidak lagi memerlukan aku, karena aku tidak dapat berbuat banyak. Apalagi kau akan segera bersuami, dan suamimulah yang akan melindungimu. Padukuhan inipun sama sekali tidak memerlukan aku lagi karena aku sudah menjadi cacat.“ Pikatan terdiam sejenak, lalu “Aku akan menunggu. Dendam itu pasti akan segera ditumpahkan kepadaku.“

”Tidak. Tidak kakang.“

“Wiyatsih“ suara Pikatan hampir tidak terdengar mintalah kepada ibu, agar kedua penjaga. regol itu diberi kesempatan untuk beristirahat barang satu atau dua bulan.“

Wiyatsih menjadi heran mendengar pendapat itu, sehingga dengan serta-merta ia bertanya “Justru dalam keadaan yang semakin gawat ini?“

“Ya. Biar mereka tidak mengalami bencana karena aku. Orang-orang yang akan melepaskan dendamnya kepadaku itu pasti memperhitungkan keduanya dan mereka pasti akan membunuh keduanya pula, sedangkan mereka sama sekali tidak bersalah dan tidak mengetahui persoalannya.“

Terasa segores luka yang pedih dihati Wiyatsih. Terbayang wajah Puranti sesaat. Gadis itu pasti tidak berniat membuat Pikatan menjadi seakan-akan semakin berputus asa.
“Kakang“ suara Wiyatsih hampir tidak terdengar oleh isak di kerongkongan “kau tidak akan mengalami bencana apapun. Aku masih mempunyai kepercayaan naluriah, bahwa kalau Hantu yang kau katakan itu mampu berbuat dengan tangan kirinya, kau masih akan mempunyai kemampuan yang lebih tinggi daripadanya.“

Tetapi Pikatan tidak menjawab. Tangan kirinya bergerak ngusap keringat di keningnya.
Tetapi iapun kemudian menarik nafas ketika ia mendengar Wiyatsih benar-benar terisak. Katanya “Sudahlah Wiyatsih. Bukan kau yang harus menangis. Tetapi aku. Hanya karena aku bukan seorang perempuan sajalah maka aku tidak menitikkan air mata. tetapi kau tidak perlu menangis Wiyatsih.“

Wiyatsih tidak. menyahut.

“Sudahlah. Tinggalkan aku sendiri, usaplah air matamu. supaya ibu tidak berteka-teki. Supaya ibu tidak menyangka aku menyakiti hatimu“

“Ah“

“Ya. Semua kesalahan pasti akan ditimpakan kepadaku.“ Wiyatsih mengusapi matanya yang basah. Pikatan benar-benar sulit untuk dimengerti.

Sejenak kemudian Wiyatsihpun telah meninggalkan bilik itu Perlahan-lahan ia pergi kebiliknya sendiri. Dengan hati yang buram ia duduk termenung di pembaringannya.

Gadis itu menarik nafas ketika ia melihat lubang kecil pada dinding biliknya. Dari lubang itulah, kadang-kadang Puranti membangunkannya dengan supit.

Dalam pada itu, Pikatan masih juga merenungi dirinya sendiri didalam biliknya. Bahkan iapun kemudian membaringkan dirinya dan hampir tanpa berkedip, ditatapnya atap bilik itu.

“Siapakah sebenarnya orang yang telah mempergunakan namaku itu?“ pertanyaan itulah yang selalu mengganggunya “pasti bukan orang kebanyakan. Orang itu pasti cukup mampu, menilai dirinya, apabila ia berani menyebut nama Pikatan“

Seperti setiap ceritera yang melontar dari mulut kemulut, demikian juga ceritera tentang Pikatan itu. Ditelinga Pikatan, ia mendengar bahwa orang itu benar-benar telah menyebut dirinya Pikatan. Bahkan orang yang membunuh kedua perampok itu sesumbar dan dapat didengar oleh seorang yang sedang berada disawah, bahwa, meskipun sudah cacat, tetapi Pikatan masih akan sanggup membunuh mereka berempat.

Demikianlah, maka ceritera itu berkembang, bukan saja meluas kesegenap telinga, tetapi ceritera itu sendiri menjadi berkembang pula, sesuai dengan selera setiap orang yang menyampaikannya kepada orang lain. Namun pada umumnya, semuanya itu didorong oleh perasaan kagum atas kemampuan Pikatan, yang telah berhasil membinasakan dua orang dari beberapa orang perampok.

Dan terbayanglah beberapa wajah yang hilir mudik didalam angan-angan Pikatan.

”Mungkin memang Hantu bertangan api itu atau gurunya“ berkata Pikatan didalam hatinya. Namun sekilas membayang pula wajah Puranti dan ayahnya, Kiai Pucang Tunggal.

“Tidak mungkin. Apakah manfaatnya mereka, berbuat demikan? Mereka kini pasti tidak menghiraukan aku lagi. Aku sudah tidak berarti apa-apa lagi bagi mereka. Bagi guru dan bagi Puranti.“

Namuh demikian, wajah Puranti itu masih juga membayang. Bahkan angan-angannya tentang orang yang dikatakan lumpuh tangan kanannya dan yang disangka, Pikatan itu tanpa sesadarnya telah bergeser, karena yang tampak padanya adalah wajah Puranti.

Pikatan tidak dapat ingkar, bahwa baginya Puranti adalah seorang gadis yang bukan saja cantik bentuk lahiriahnya. Kulitnya yang manis dan wajahnya yang cerah. Tubuhnya yang ramping karena terbentuk oleh latihan kanuragan yang berat, tampaklah kelainan yang menarik dari gadis-gadis sebayanya.

“Gila“ tiba-tiba Pikatan tersentak bangun “aku telah diracuni oleh angan-angan gila itu. Apa peduliku? Aku tidak ada sangkut pautnya lagi dengan gadis itu.“

Wiyatsih yang ada dibiliknya terkejut mendengar suara kakaknya. Tetapi ia tidak mendengarnya dengan jelas. Karena itu, ia menjadi ragu-ragu. Apakah kakaknya berkata kepadanya atau kepada orang lain? Ibunya tidak ada dirumah saat itu.

Tetapi Wiyatsih tidak beranjak dari tempatnya. Ia takut, kalau ia salah langkah. Kalau kakaknya memerlukannya, ia pasti akan memanggilnya.

Namun ternyata Pikatan tidak memerlukannya.

Ternyata apapun yang kemudian diusahakan oleh Wiyatsih, namun ceritera tentang Pikatan itu tetap berkembang terus. Wiyatsih tidak sampai hati untuk menyangkal dengan tegas, karena sebenarnyalah, ia masih tetap merindukan kebesaran nama kakaknya yang kini seakan-akan hidup terasing di dalam bilik yang sempit yang kadang-kadang saja keluar turun kehalaman atau kebun belakang rumahnya. Selebihnya, Pikatan tidak perhah berbuat apa-apa lagi

Yang kemudian semakin banyak berbuat adalah Wiyatsih. Ia berlatih semakin keras. Adalah diluar dugaan Puranti sendiri, bahwa Wiyatsih dengan cepat dapat menguasai tata gerak dasar bagi ilmu yang diterimanya dari Puranti. Ternyata Wiyatsih benar-benar memiliki kecerdasan dan daya tangkap setajam Pikatan.

Seperti yang dinasehatkan oleh Puranti, tiba-tiba Wiyatsih menjadi pengumpul telor ayam yang sangat rajin. Setiap pagi, ia sudah menyusuri kandang untuk mencari telur yang baru.

“Wiyatsih“ kadang-kadang ibunya “kenapa kau mencari telur baru setiap pagi?“

“Aku marus makan telur mentah setiap pagi ibu.“

“He? Telur menitah?“

“Ya”

“Buat apa?“

“Seseorang memberitahukan kepadaku, agar aku tetap sehat. Setiap hari aku akan bekerja di sawah menjelang musim hujan. Bukankah langit telah rnulai berawan“

“Ah, siapakah yang memberitahukan kepadamu?“

“Aku melihat seorang perempuan tua yang berjalan sendiri di tengah bulak yang panas. Ketika ia berhenti sejenak dibawah pohon turi yang tumbuh di pematang sawah kita, aku mendekatinya. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa umurnya sudah seratus dua tahun. Tetapi ia masih sehat. Ia masih kuat berjalan sendiri ke Cupu Watu dari Cangkringan dan apa lagi singgah di Kademangan Sambisari. Nah, apakah ibu percaya?“
Ibunya mengerutkan keningnya.

“Jamunya telur mentah setiap pagi tiga butir. Empon-empon dan dedaunan. Sedikit madu tawon dan buah-buahan asam.“

“Ah, ada-ada saja kau Wiyatsih.”

Wiyatsih tidak menyahut. la hanya tersenyum saja. Tetapi ia masih tetap mencari telur dipekarangan setiap pagi. Tetangganya selalu mengantar madu tawon setiap kali ia mengambilnya dari gelodog dan empon-empon di kebun belakang, selain sayur-sayyuran yang hijau dan buah-buahan yang asam

Namun Wiyatsih menjadi geli juga, bahwa setiap kali ia harus menipu ibunya. Tetapi ia berpangkal pada niat yang baik. Ia sama sekali tidak ingin berbuat jahat. Apalagi terhadap ibunya, meskipun pendirian mereka berbeda.

Disamping kesibukannya sendiri. Wiyatsih masih tetap pada keinginannya untuk menaikkan air dari kali Kuning. Itulah sebabnya, kadang-kadang ia masih juga berada dipinggir sungai itu berlama-lama. Kadang-kadang diseberanginya sungai itu beberapa kali, seakan-akan ia ingin mengetahui dengan pasti, berapakah lebarnya dan berapakah dalamnya.

“Wiyatsih“ panggil seseorang ketika Wiyatsih sedang duduk di atas sebuah batu di tepian “siapakah yang kau tunggu?“

Wiyatsih terkejut. Ketika ia berpaling dilihatnya seorang anak muda yang berdiri diatas tanggul sambil menjinjing cangkul.

“Ah kau“ desis Wiyatsih “kau mengagetkan aku.“ Anak muda itupun kemudian menuruni tebing yang tidak begitu tinggi, lalu langsung turun ke air untuk mencuci cangkul dan tangan serta kakinya yang kotor.

Apakah kau baru pulang dari sawah Kesambi?“ bertanya Wiyatsih sambil melangkah mendekat.

“Ya.“

“Keringatmu seperti terperas dari tubuhmu.“

“Panasnya di sawah“ jawab anak muda yang bernama Kesambi itu.

“Tetapi matahari telah turun. Disini sejuknya bukan main“ ”Ya disini sekarang. Tetapi aku hanya sekedar berjemur diterik matahari. Tidak ada yang dapat aku kerjakan atas tanah yang kering dan gersang itu. Sama saja seperti aku bergulat dengan batu-batu padas.“

”Dan agaknya hujan masih harus ditunggu.“ Tanpa sesadarnya Kesambi menengadahkan kepalanya kelangit. Namun iapun segera menunduk kembali, sambil berkata “Masih lama. Mungkin sebulan, mungkin lebih. Selembar-selembar awan memang lewat ke utara. Tetapi tipis sekali. Dan kita disini masih harus membakar diri sampai semua dedaunan menjadi kuning.“

“Kenapa begitu?“

“Kenapa?“ Kesambi menjadi heran “pertanyaanmu aneh “Wiyatsih. Bukankah kita tinggal disini sejak kanak-kanak. Bukankah daerah di sekitar Alas Sambirata ini kering.

“Tetapi dibawah kaki kita, air yang bening mengalir tidak ada habisnya disegala musim.“
Kesambi memandang wajah Wiyatsih dengan sorot mata yang aneh. Namun iapun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berkata “Kalau saja air ini mengalir diatas tanggul itu. Sawah kita akan menjadi basah. Semuanya. Bukan hanya sebagian kecil yang kebetulan adalah kepunyaanmu. Kepunyaan ibumu.“

“Jadi, kenapa tidak demikian?“

“Aku tidak mengerti“ sahut Kesambi.

“Maksudku, kenapa air ini tidak kita alirkan keatas tanggul itu.“

Kesambi mengerutkan keningnya. Lalu “Aku mengerti maksudmu Wiyatsih. Bukankah kau ingin mengatakan bahwa pada Kali Kuning ini dapat dibuat sebuah bendungan yang akan mengangkat air naik keatas tanggul sebelah menyebelah. Dengan demikian bukan saja sawah di padukuhan kita ini yang akan menjadi basah sepanjang tahun, tetapi sawah dari padukuhan yang lain di Kademangan ini.“

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku juga pernah mendengar kata-kata serupa itu dari Pikatan sebelum ia meninggalkan kampung halamannya. Tetapi ketika ia kemudian kembali, cita-cita itu agaknya telah lenyap disepanjang perjalanannya.“

Wiyatsih bergeser setapak maju. Kata-kata Kesambi itu sangat menarik perhatiannya “Apakah kau menyangka bahwa kakang Pikatan tidak lagi menganggap bendungan semacam itu kita perlukan.“

Kesambi tidak rnenyahut.

“Tetapi kalau kau menyangka demikian, agaknya kau tidak dapat dianggap keliru. Memang kakang Pikatan kini tidak pernah keluar dari halaman. Bahkan seolah-olah tidak lagi kenal mengenal dengan anak-anak muda dipadukuhan ini. Tetapi ternyata bahwa itu tidak berarti bahwa, kakang Pikatan telah kehilangan gairahnya atas bendungan Kali Kuning.“

“Tetapi ia tidak berbuat apa-apa Wiyatsih.

“Apa yang harus dilakukan? Kakang Pikatan kini telah cacat.”

“Meskipun tangannya cacat, tetapi tidak ada salahnya kalau ia melanjutkan cita-citanya itu.“

Tiba-tiba saja dada Wiyatsih menjadi berdebar-debar. Ternyata Kesambi tertarik pula pada bendungan yang pernah dikatakan oleh kakaknya dahulu.

“Kesambi“ berkata Wiyatsih kemudian “jangan kau salahkan kakang Pikatan“

“Tidak. Tidak Wiyatsih. Jangan salah paham. Aku sama sekali tidak menyalahkan Pikatan. Aku hanya mengatakan, bahwa tanah ini sampai sekarang masih tetap kering. Air Kali Kuning masih tetap mengalir tanpa mengenal musim. Bukankah. bugitu?“

“Pandai juga kau memilih kata-kata itu. Tetapi kau harus menyadari Kesambi. Jangankan yang cacat meskipun hanya sebelah tangan. Sedang anak-anak muda yang tidak cacat badan dan tidak cacat ingatanpun sama sekali tidak mau berbuat apapun juga. Mereka sama sekali tidak berpikir, apakah kemungkinan itu dapat dilaksanakan. Bahkan membayangkan kerja untuk membuat bendungan itupun mereka sudah takut. Sebagian beranggapan bahwa inilah nasib yang kita terima sehingga bukan wewenang kita untuk mengatasi kesulitan yang lahir karena kekerasan alam. Ada yang beranggapan bahwa pada saatnya kita akan mendapat pengampunan tanpa berbuat apa-apa. Tetapi ada juga yang mengharap menundukkan alam ini, tetapi tidak dengan kekuatan dan kemampuan sendiri. Dengan demikian ia hanya akan menunggu sampai lahir seorang yang berjiwa besar yang akan mengatasi kekerasan alam yang kita rasakan terlampau kejam ini.“

Kesambi meletakkan cangkulnya. Sambil bertelekan pada lambungnya ia menggeliat. Katanya kemudian dengan suara yang berat

“Ternyata kau lebih pandai menyindir. Aku tahu, bahwa kau bermaksud mengatakan bahwa aku mengharap alam ini berubah. Bahwa aku hanya dapat menggerutu, kenapa tidak ada orang yang mau berbuat sesuatu. Tegasnya, kenapa aku menunggu Pikatan. Begitu?“

“Ya. Bukankah kau laki-laki seperti Pikatan. Kau masih muda seperti Pikatan. Dan kau bertubuh kuat kekar seperti Pikatan? Apalagi kau masih mempunyai kelebihan. Kau tidak cacat badaniah seperti Pikatan.”

Kesambi menundukkan wajahnya yang menjadi kemerah-merahan. Perasaannya benar-benar merasa tersinggung. Kalau saja yang berkata demikian itu bukan seorang gadis. Ia pasti akan membela diri, bahkan kalau perlu bertengkar dan berkelahi. Tetapi karena orang mengatakannya adalah seorang gadis, maka ia hanya dapat menahan hati. Apalagi gadis itu adalah Wiyatsih. Ia merasa segan dan hormat kepada ibunya, karena ia adalah salah seorang dari orang-orang yang paling berada diseluruh padukuhan. Ia merasa segan dan hormat pula kepada Pikatan sejak Pikatan belum meninggalkan padukuhan itu karena cita-citanya.

Kesambi menarik nalas dalam-dalam untuk mengendapkan gelora hatinya. Namun tiba-tiba ia ditumbuhi oleh perasaan segan dan normat pula kepada gadis itu. Kepada Wiyatsih, bukan karena ia adik Pikatan. Tetapi agaknya gadis itu mewarisi cita-cita kakaknya pula. Gadis itu ternyata telah mengungkat harga dirinya dan menumbuhkan angan-angannya, meskipun baru angan-angan tentang sebuah bendungan yang dapat mengangkat air Kali Kuning dan membasahi tanah yang kering kerontang dan berwarna kuning gersang ini.

Karena itu, kedua anak-anak muda itu saling berdiam diri sesaat. Kesambi meraba hulu cangkulnya dan mulai mencucinya lagi meskipun cangkulnya sudah menjadi bersih. Tetapi ia tidak dapat membiarkan dirinya berdiri tegang tanpa berbuat apa-apa.

Dalam pada itu, Wiyatsihpun berdiri tegak tanpa berkata sepatah katapun. Ia sadar, bahwa Kesambi merasa tersinggung oleh kata-katanya. Tetapi ia sengaja mencoba menyentuh harga diri anak muda itu. Anak muda yang selama ini dicarinya dan yang akhirnya dapat diketemukan diantara anak-anak muda di padukuhannya.

Namun ketegangan itu ternyata telah dipecahkan oleh suara seorang anak muda yang lain dari atas tanggul “Wiyatsih. Apa kerjamu disitu?“

Wiyatsih berpaling. Demikian juga Kesambi. Mereka melihat Tanjung berdiri tegak diatas tanggul sungai yang tidak begitu tinggi.

Namun Bebelum Wiyatsih menjawab, Tanjung sudah berlari-lari turun. Ketika ia berhenti beberapa langkah di muka Wiyatsih, iapun berkata “Sehari kau tidak pulang, apakah kerjamu disini bersama Kesambi”

Kesambi terperanjat, sehingga ia berpaling “Aku tidak berada disini bersama Wiyatsih. Aku turun ke sungai untuk mencuci cangkulku dan badanku yang kotor. Kebetulan Wiyatsih ada disini.“

“Benar begitu Wiyatsih?“ bertanya Tanjung.

“Ya. Ia belum lama datang.“

“Dan kau?“

“Sejak tengah hari“

“Kau selalu berada dipinggir Kali ini. Apakah sebenarnya yang kau tunggu?“

“Bendungan.“

“Ah. Sudah aku katakan. Jangan mimpi Wiyatsih“ Tanjung berhenti sejenak, lalu “Marilah kita pulang.“

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s