Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

yg terasing 13

Tinggalkan komentar


Jilid 05-Bab 02 – Kali Kuning

“Maksudku, mungkin laki laki itu lebih baik dari Tanjung. Aku akan menerima lamarannya untuk menukar Tanjung dengan laki-laki itu buatmu”

“Ah kau“ tiba-tiba saja Wiyatsih mencubit Puranti di lengannya, Puranti sebenarnya mempunyai daya tahan yang kuat untuk tidak merasakan sakit pada cubitan itu. Tetapi ternyata Wiyatsih terlampau kuat oleh latihan-latihan jari yang terus-menerus. Sehingga karena itu, Purantipun berdesis “Sst, jangan. Sakit Wiyatsih”

Ketika Wiyatsih melepaskannya, Puranti berkata “Tanganmu kini menjadi sekeras besi. Latihan jari-jarimu hampir sempurna. Tetapi ingat, jangan mencubit suamimu kelak, apalagi anakmu. Ia dapat menjadi pingsan karenanya”

“Ah kau“ hampir saja tanpa sesadarnya Wiyatsih mencubitnya lagi. Tetapi Puranti surut selangkah sambil berkata “Jangan. Kau akan mengulangi lagi?“

Wiyatsih tertawa tertahan.

”Hati-hatilah dengan kebiasaanmu itu”

“Ya. Aku akan berhati-hati”

“Agaknya kau berlatih dengan baik”

“Setiap aku berada ditepian, aku melatih jari-jariku dipasir.”

“Kau sudah mencoba dengan pasir panas. Terasa kekerasan tanganmu”

“Disiang hari, pasir ditepian menjadi sepanas api dipanggang oleh sinar matahari”

“O“ Puranti mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu “sudahlah Wiyatsih. Adalah kebetulan ayahku tidak berkeberatan untuk menggantikan aku satu dua hari. Mungkin seminggu. Dan mudah-mudahan aku segera dapat menghindarkan diriku dari laki-laki itu”

“Mudah-mudahan. Tetapi meskipun kau masih belum berhasil sama sekali. kau dapat mencari waktu barang sekejap untuk mengunjungi aku disini”

Puranti mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalau kau tidak datang untuk waktu yang lama, aku akan mencarimu ke Cankring”

“Ah. itu tidak perlu” Aku ingin melihat rumahmu. Aku ingin berkenalan dengan biyung angkatmu dan aku ingin melihat tampang laki-iaki itu.

“Sst. Sudahlah. Aku tidak dapat terlalu lama disini. Aku akan kembali ke Cangkring. Jangan cemas. Aku akan datang setiap kali ada kesempatan”

“Jangan bohong“

Puranti tersenyum. Katanya “Berlatihlah baik-baik. Ayah akan membuat kau menjadi seorang gadis yang baik. Apalagi kau adalah adik Pikatan”

Demikianlah maka Purantipun kemudian meninggalkan Wiyatsih seorang diri yang masih saja berdiri termangu-mangu. Namun justru tumbuhlah janji didalam dirinya, bahwa kesempatan ini akan dipergunakan sebaik-baiknya, selagi Kiai Pucang Tunggal sendiri bersedia membimbingnya.

Di malam berikutnya. Wiyatsih tidak lagi menghiraukan janjinya kepada Tanjung. Dan benarlah, bahwa yang datang bukan Puranti. Meskipun isyarat yang diberikan seperti isyarat yang selalu dilakukan oleh Puranti, namun ketika Wiyatsih berdiri dimuka Pintu butulan, yang dilihatnya berdiri dilongkangan adalah seorang laki-laki tua. Kiai Pucang Tunggal.

Meskipun masih agak ragu-ragu, tetapi Wiyatsihpun melakukan semua petunjuk-petunjuknya. Petunjuk-petunjuk yang sudah pernah diberikan oleh Puranti, tetapi ada juga yang belum pernah

“Kita akan melakukan tata gerak yang barangkali agak baru “berkata Kiai Pucang Tunggal “tetapi watak dan sifat-sifatnya pasti sudah kau kenal”

Wiyatsih tidak menyahut. Diperhatikan saja sikap Kiai Pucang Tunggal dengan saksama. Ternyata Kiai Pucang Tunggal memperkenalkan beberapa jenis tata gerak yang diberatkan pada gerak kaki. Loncatan-loncatan dan sebagian besar adalah gerak-gerak melingkar dan serangan mendatar dengan gerak-gerak lingkaran itu.

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang ia pernah diperkenalkan dengan tata gerak itu Tetapi tidak selengkap seperti yang dilakukan oleh Kiai Pucang Tunggal.

Karena itulah maka Wiyatsihpun segera mempelajarinya. Semakin lama semakin cepat.
Demikianlah didalam beberapa malam, Wiyatsih sudah menguasai gerak-gerak dasar dari bentuk-bentuk baru meskipun dalam sifat dan wataknya yang lama.

Dengan demikian, maka tata gerak yang dikuasai oleh Wiyatsihpun menjadi semakin, banyak ragamnya. Hampir setiap hari ia mengenal bentuk-bentuk baru.

Namun pada suatu saat Kiai Pucang Tunggal berkata kepadanya “Wiyatsih. Kau sudah mempelajari bermacam-macam bentuk dan jenis tata gerak yang bersumber pada tata gerak dasar yang sudah kau kuasai. Tetapi sebenarnya bukan itulah yang penting bagimu. Bukan sekedar mengenal tata gerak baru dengan bermacam corak dan kegunaan. Tetapi bagaimana kau dapat menghayati tata gerak yang pernah kau pelajari itu” Kiai Pucang Tunggal berhenti sejenak, lalu “Wiyatsih, sebenarnya kau tidak perlu untuk seterusnya mempelajari dan menirukan tata gerak yang lebih banyak lagi jenisnya”

Wiyatsih mengerutkan keningnya.

“Tata gerak yang kau pelajari adalah tata gerak yang sebenarnya harus disesuaikan pengetrapannya dengan keadaan. Tetapi pada suatu saat kau dapat saja menjumpai keadaan yang tidak terduga-duga. Nah, dalam keadaan yang demikian, kau tidak akan dapat mempergunakan tata gerak yang manapun juga yang pernah kau pelajari”

“Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan Kiai?“ bertanya Wiyatsih.

“Yang penting bagimu Wiyatsih, kau harus benar-benar dapat menyerap inti dan tata gerak dasar ilmu ini. Dengan latihan tata gerak yang sudah kau kuasai, kau akan dapat menyesuaikan dirimu dalam keadaan yang bagaimanapun juga, sesuai dengan pengalamanmu. Tegasnya, kau harus menciptakan sendiri berjenis-jenis tata gerak yang belum pernah kau kenal untuk menanggapi keadaan tertentu, berdasarkan dasar-dasar ilmu yang sudah kau Pelajari. Bahkan pada tingkat yang lebih tinggi, kau tidak perlu mengingat gerak yang manapun juga. Kalau kau sudah berhasil menyatu-padukan tebaran ilmumu sampai kehakekatnya, maka setiap gerak akan terlontar dengan sendirinya, sesuai dengan tantangan yang kau terima. Namun sudah barang tentu, sebelumnya kau harus sudah menguasai gerak-gerak dasar yang akan menjadi pedoman setiap gerak yang akan kau lakukan kemudian”

Wiyatsih masih tetap berdiri termangu-mangu.

“Apakaih kau dapat mengerti Wiyatsih?“

Wiyatsih tidak segera menjawab. Keragu-raguan masih tampak di wajahnya.

“Cobalah memperhatikan keteranganku sekali lagi” Kiai Pucang Tunggal berhenti sejenak, lalu “untuk seterusnya, gerak yang akan kau lakukan adalah gerak yang langsung menjawab setiap tantangan disuatu saat. Kau tidak perlu mengingat-ingat lagi, jika lawanmu rnenyerang dengan tata gerak yang begitu, kau harus melawannya dengan tata gerak yang begini. Tidak. Bukan begitu. Karena itulah maka kau harus menguasai ilmumu sebaik-baiknya, sehingga kelak akan lahir suatu sikap dan gerak yang tidak ada cacatnya untuk menghadapi setiap keadaan”

Wiyatsih mengangguk-angguk. Kini ia mengerti maksud Kiai Pucang Tunggal. Karena itu, maka katanya “Aku kini mengerti Kiai.”

“Bagus. Mulai saat ini, setelah kau dapat menguasai tata gerak yang sudah kau terima, cobalah menyesuaikan diri dengan keadaan. Tetapi jangan kau lupakan, bahwa kau harus tetap berlatih setiap saat, memperdalam penguasaan gerak dasar, dan kekuatan jasmaniah. Aku rasa kekuatanmu sudah jauh melampaui kekuatan seorang gadis kebanyakan. Kau sudah mulai menyusup kedalam penguasaan tenaga cadangan. Puranti sudah memberikan dasar-dasar yang kuat buatmu, sehingga apabila ilmu itu kelak menjadi sempurna, maka tenaga cadangan yang hanya muncul disaat-saat yang justru tanpa disadari, akan dapat kau kuasai sebaik-baiknya. Jika demikian, maka kau adalah benar-benar adik seorang anak muda yang bernama Pikatan di dalam olah kanuragan”

Dada Wiyatsih menjadi berdebar-debar. Namun demikian, ia menjadi semakin mantap dan hasratnya untuk mendalami ilmunyapun menjadi semakin menyala didalam hatinya.

Namun disamping hasratnya yang semakin besar untuk dapat segera menguasai ilmu yang diterimanya dengan baik, rasa-rasanya Wiyatsih selalu terganggu oleh kehadiran Tanjung di rumahnya. Bagaimanapun juga ia berusaha menghindar, namun setiap kali, ia harus membuka pintu untuknya.

“Wiyatsih” berkata Tanjung pada suatu saat “aku akan bertemu dengan kau kali ini, sebelum aku bertemu dengan ibumu”

“Duduklah, sebentar lagi ibu akan datang.”

“Ya, ya Tetapi aku ingin bertanya, kenapa kau membohongi aku?“

“Apa?“ Wiyatsih terkejut “apakah aku pernah berbuat demikian?“

“Bukankah beberapa hari yang lalu, kau sanggup menemui aku ditepian sebelum senja? Hampir setiap senja aku menunggumu, tetapi kau tidak pernah datang. Apakah kau dengan sengaja mempermainkan aku?“

Wiyatsih mengerutkan keningnya, Namun tiba-tiba saja ia tertawa “Tanjung, maaf. Aku telah melupakan janji itu. Aku sama sekali tidak ingin mempermainkan seseorang. Biasanya aku tidak pernah mengingkari janji yang sudah aku ucapkan”

“Tentu kau tidak sekadar lupa“ jawab Tanjung “selama ini aku tidak parnah melihat kau ditepian. Biasanya kau selalu ada di pinggir kali. Dipagi hari kau mencuci pakaian, disiang hari kau singsah juga di pinggir sungai itu jika kau pulang dari sawah, merenungi air Kali Kuning untuk bekal bermimpi. Tetapi beberapa hari ini kau tidak pernah aku jumpai”

“Itu suatu kebetulan saja Tanjung. Aku juga pergi ke sungai seperti biasa. Mungkin waktunya agak berubah sedikit, karena beberapa hari ini badanku agak kurang enak”

“Bohong. Apakah kau tidak dengan sengaja menghindari aku dan berjanji dengan orang lain”

“Ah kau“ desis Wiyatsih “jangan berprasangka”

”Kalau begitu Wiyatsih“ suara Tanijung menurun “besok aku tunggu kau di tepian. Sebelum senja kau harus sudah ada di sana”

Wiyatsih mengerutkan keningnya. Sebenarnya ia terlalu sulit untuk memenuhi permintaan Tanjung itu. Ia tahu apakah yang akan dikatakannya. Tetapi ia tidak dapat menemukan jawaban yang sebaik-baiknya. Jawaban yang dapat dimengerti oleh Tanjung tetapi tidak menyakiti hatinya.

“Aku sama sekali tidak tertarik kepadanya“ katanya didalam hati “apalagi kakang Pikatan, sama sekali tidak menyukai sifat-sifatnya”

”Bagaimana Wiyatsih?“

Sekilas terdengar pesan Puranti. Untuk menjajaginya, sebaiknya ia justru menemuinya sendiri seperti yang dikehendaki itu.

“Terlalu mudah untuk dikatakan” katanya didalam hati “tetapi yang sulit adalah bagaimana menjajagi itu. Bagaimana aku harus berbicara supaya aku dapat meraba isi hatinya. Itulah yang sulit”

Tetapi Wiyatsih tidak dapat menolak lagi. Ketika Tanjung mendesaknya, Wiyatsih menjawab, meskipun ragu-ragu “ Baiklah. Aku akan datang besok”

“Tetapi jangan berbohong lagi” Wiyatsih menganggukkan kepalanya.

“Aku menunggumu. Aku sudah menyediakan sebuah kentongan kecil yang aku sangkutkan pada pering ori di tepian. Jangan takut lagi”

Wiyatsih mengangguk. Lalu katanya “Apakah kau sekarang akan menemui ibu?“

Tanjung termangu-mangu sejenak. Sebenarnya ia masih ingin berbicara berdua saja dengan Wiyatsih. Tetapi iapun kemudian mengangguk-angguk “Baikiah. Aku akan bertemu dengan Nyai Sudati” ia berhenti sejenak, lalu “Tetapi jangan lupa. Aku memerlukan kau. Kalau kau besok tidak datang, aku terpaksa sekali mengatakannya disini. Bahkan mungkin dihadapan ibumu”

“Aku kira itu lebih baik Tanjung. Nah, daripada kita harus menunggu besok senja, katakanlah sekarang. Kalau memang perlu, biarlah aku memanggil ibu”

“Tidak. Tidak” nafas Tanjung terasa semakin cepat mengalir “besok saja. Aku ingin mengatakannya dengan tenang”

Wiyatsih tidak menyahut. Tetapi hatinya menjadi berdebar-debar. Selama ini ia memang berusaha menghindar dari Tanjung. Disiang hari ia memang tidak berada ditempat yang biasa. Tetapi bukan saja karena Tanjung, namun ia memang memerlukan tempat. vang tidak pernah diinjak kaki manusia. Di tempat yang agak jauh dan padukuhan, dicelah-celah jurang yang dalam, Wiyatsih seakan-akan menyembunyikan dirinya, Untuk berlatih sepuas-puasnya. Di tempat itu, ia merasa lebih bebas daripada dihalaman belakang rumahnya. Meskipun halaman halaman itu cukup luas, namun ia tidak dapal berbuat sekehendak hatinya, karena suara yang timbul dapat mengejutkan Pikatan yang berindera tajam. Apalagi halaman rumahnya tidak ada batu-batu besar yang berbongkah-bongkah, yang dapat dijadikan alas latihan kakinya yang berloncatan dengan lincahnya.

Namun dengan demikian, dirumah, Wiyatsih menjadi seorang gadis yang lain. Ia menjadi pendiam dan perenung. Kadang-kadang ia selalu berada didalam biliknya, seperti Pikatan.

“Barangkali hatinya belum sesuai dengan Tanjung “ pikir ibunya yang menyangka bahwa hati Wiyatsih murung karena anak muda itu.

Wiyatsih yang sedang merenung itu terkejut ketika ia mendengar Tanjung berkata “Sudahlah Wiyatsih, panggillah ibumu. Persoalan kita akan kita tunda sampai besok”

Wiyatsih menganggukkan kepalanya. Jawabnya “Baikiah, aku akan| memanggil ibu”

Setelah ibunya duduk menemui Tanjung, maka Wiyatsihpun masuk kedalam biliknya. Dengan lesu ia duduk di pembaringannya. Hatinya menjadi gelisah apabila teringat olehnya permintaan Tanjung, justru ia tahu apa yang akan dikatakannya.

“Justru pertemuan yang diminta oleh Tanjung akan memberi kesempatan kepadamu untuk mengetahui sifat-sifatnya “terngiang kembali kata-kata Puranti ditelinganya.

Tetapi alangkah sulitnya untuk berbicara tentang hubungannya itu. Ia benar-benar tidak tertarik kepada Tanjung, yang dianggapnya sebagai seorang anak muda yang cengeng, yang menurut Pikatan justru seorang penjilat.

“Tidak. Aku tidak akan menemuinya. Aku akan memusatkan perhatianku kepada lalihan-latihan kanuragan itu dahulu, sebelum aku berbicara tentang laki-laki”

Demikianlah Wiyatsih berusaha melupakan janjinya ”Biar saja, apa yang akan dilakukan oleh Tanjung”

Tetapi ketika saatnya tiba, hati Wiyatsih menjadi sangat gelisah. Ia pernah mengingkari janjinya, meskipun ia memang tidak tertarik sekali dengan janji itu.

“Apakah aku akan ingkar lagi?“

Sekali lagi Wiyatsih menggeram “Aku tidak akan datang. Aku tidak ingin berbicara tentang hubunganku dengan Tanjung Saat untuk itu masih jauh, selagi daerah ini masih merupakan daerah yang kering kerontang”

Namun dengan demikian Tanjung akan selalu menagih janjinya itu Setiap kali Tanjung akan membuatnya gelisah dan tidak tenang.

Tiba-tiba Wiyatsih tersenyum. Ia menemukan akal. Katanya kepada diri sendiri “Ia harus dibuat jera”

Demikianlah disaat yang dijanjikan, Tanjung sudah menunggu Wiyatsih ditepian. Senja yang semakin lama menjadi semakin suram telah menggelisahkan Tanjung. Apalagi malam itu bukan malam terang bulan, sehingga tepian Kali Kuning itu semakin lama menjadi semakin gelap.

“Kenapa ia belum datang?“ bertanya Tanjung kepada diri sendiri.

“Anak itu pasti ingin mempermainkan aku. Kalau hari semakin gelap, aku tidak akan dapat menunggunya lebih lama lagi, Bukan saja kemungkinan satu dua orang penjahat lewat. tetapi kadang-kadang melalui Kali Kuning, iring-iringan lampor lewat dengan riuhnya. Menurut ceritera orang-orang yang berada di pinggir sungai dan melihat lampor itu lewat, ia akan dibawa serta sampai kelautan Kidul” Tanjung bergumam sendiri.

Tatapa sesadarnya, Tanjung meraba kentongan kecilnya yarti memang sudah disediakan. Kalau terjadi sesuatu, maka kentongan itu akan dibunyikannya untuk memanggil anak-anak muda yang lain. Tetapi meskipun demikian ia tetap ragu-ragu, Didalam keadaan ini pasti jarang sekali anak-anak muda yang bersedia mengorbankan. dirinya, melawan para penjahat yang untuk beberapa saat telah membuat Kademangan Sambi Sari menjadi Kademangan yang mati dimalam hari.

Dalam kegelisahan itu, Tanjung berjalan hilir mudik. Kadang-kadang ia berhanti dan duduk diatas batu padas. Kentongannya diletakkan disampingnya, siap untuk diraih apabila ada sesuatu yang mencurigakan.

Namun, tiba-tiba saja, Tanjung terkejut ketika sebuah batu terlempar tepat mengenal kentongannya, sehingga kentongannya itu terloncat beberapa langkah. Dengan serta merta Tanjung berdiri. Ketika ia berpaling, dilihatnya seseorang berdiri beberapa langkah dibelakangnya.

Dada Tanjung berdentangan, seakan-akan hendak meledak. Orang yang berdiri dibelakangnya itu adalah seseorang yang mengenakan pakaian hitam pekat dan berkerudung pada wajahnya.

Tiba-tiba saja tubuh Tanjung menjadi gemetar. Dengan suara yang berputus-putus ia bertanya “Siapa kau? Siapa?“

Tetapi orang yang berpakaian hitam itu sama sekali tidak menjawab. Selangkah demi selangkah ia maju mendekati Tanjung. Namun sepatah katapun tidak diucapkannya.

“Siapa kau he? Siapa?“

Orang itu tetap berdiam diri. Namun didalam keremangan ujung malam, Tanjung melihat seakan-akan tatapan mata orang itu langsung menembus kedalam dadanya. Tanjung menjadi semakin gelisah. Terasa dihatinya, bahwa orang itu memang berniat tidak baik. Karena itu, ia berusaha untuk mengambil kentongannya yang terjatuh.

Tetapi selagi Tanjung melangkah selangkah, ia terkejut bukan kepalang. Orang berpakaian hitam itu tiba-tiba saja telah ada di hadapannya, dengan satu kakinya ia menginjak kentongan yang akan diambilnva.

“Siapa kau he? Siapa kau?“ Tanjung hampir berteriak. Tetapi bayangan itu sama sekali tidak menjawab.

Tanjung semakin lama menjadi semakin cemas menghadap orang yang aneh itu. Ia tidak akan dapat mempergunakan kentongan itu lagi. Sedangkan menurut pengamatannya orang ini pasti salah seorang dari orang-orang jahat yang sering berkeliaran di daerah ini.

Meskipun demikian, Tanjung masih juga berusaha. Tiba-tiba saja ia berusaha untuk lari dan kembali kepadukuhan.

Namun selagi ia meloncat selangkah, terasa tangan orang itu telah menggenggam lengannya. Dengan suatu hentakkan yang keras, Tanjung terpelanting dan jatuh ke dalam air.

Tertatih-tatih Tanjung berusaha berdiri. Tubuhnya menjadi basah kuyup. Kekuatan itu terasa bagaikan tarikan seekor kerbau yang paling garang. Tidak terlawan sama sekali.

Tanjung kini benar-benar menjadi ketakutan. Tidak ada jalan untuk lari. Tetapi tidak ada keberanian untuk melawan. Apalagi setelah ia mengetahui, betapa besarnya kekuatan tarikan tangan orang itu, meskipun tangannya sama sekali tidak terasa kasar dilengannya.

“Siapa kau dan apa maumu?“ suara Tanjung gemetar. Tetapi tidak ada jawaban.

Dalam pada itu, Tanjung yang mengadahkan kepalanya kelangit melihat bintang gemintang yang telah terhambur memenuhi gelapnya malam. Tidak ada harapan lagi seseorang yang pulang dari sawah melihat keadaanmya. Karena itu, ia menjadi semakin gelisah dan ketakutan. Sedangkan jalan untuk lari, serasa sudah tertutup sama sekali.

“Apa maumu he? Apakah kau ingin mendapatkan uang?“ Orang itu tidak menjawab. Ketika Tanjung bergeser surut, iapun melangkah maju.

Tiba-tiba saja Tanjung yang ketakutan itu berusaha menjerit sekuat-kuatnya. Tetapi suaranya yang hampir meloncat dari mulutnya itupun segera tersumbat, karena tangan orang itu telah menampar pipinya. Kemudian sebuah hentakkan sekali lagi melemparkannya jatuh kedalam air. Bahkan kali ini, bukan saja tubuhnya terbanting jatuh, tetapi terasa pelipisnya, menjadi sakit dan pening.

Hampir saja Tanjung menjadi pingsan. Dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk bangkit, agar ia tidak mati terbenam di dalam air meskipun beberapa teguk air telah masuk kedalam perutnya,

Dengan merangkak-rangkak Tanjung menepi. Namun ia tetap menyadari keadaannya, meskipun ujung malam itu serasa semakin gelap.

Dengan nafas terengah-engah Tanjung mencoba menguasai perasaannya. Masih terlintas juga dikepalanya, bahwa ia menyediakan sebuah kentongan kecil. Tetapi ternyata kentongan itu tidak dapat dipergunakannya.

Karena itu, yang dapat dilakukannya adalah menyerahkan diri kepada nasibnya. Apapun yang akan terjadi, adalah nasib yang memang harus dihadapinya. Kalau ia harus mengalami bencana ditepian itu, apa daya.

Namun dalam keadaan itu, Tanjung masih dapat mensukuri bahwa Wiyatsih tidak datang senja itu. Jika ia datang, maka gadis itupun pasti akan mengalami bencana yang serupa.
Dalam keadaan yang pasrah itu Tanjung tidak berbuat apa-apa, selain duduk bersimpuh ditepian. Pakaiannya basah kuyup dan dikotori oleh pasir yang melekat, Anak muda itu sama sekali tidak berani lagi mengangkat kepalanya. Seandainya bayangan hitam itu menerkam dan mencekiknya, ia benar-benar sudah menyerahkan dirinya.

Tetapi untuk beberapa saat tidak terjadi sesuatu. Tanjung masih tetap duduk bersimpuh sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Namun tidak ada jari-jari tangan yang merabanya. Tidak ada hentakan dan dorongan yang kuat yang membantingnya kedalam air.
Meskipun demikiani Tanjung tidak berani mengangkat wajahnya.

Tetapi tiba-tiba saja nyawanya seakan-akan meloncat dari ubun-ubunnya ketika ia merasa sentuhan ditengkuknya. Dunia rasanya mulai berputar dan pasir tepian seolah-olah terbang kelangit, membawanya menghadapi maut.

Sentuhan yang dingin itu benar-benar bagaikan menghentikan arus darah dan nafasnya sekaligus.

Tetapi sekali lagi ia terperanjat, sehingga tubuhnya yang seakan-akan tidak bertulang lagi itu terloncat sejengkal, dan bahkan Tanjung itupun, berdiri dengan tiba-tiba, ketika ia mendengar seorang memanggilnya hampir di telinganya ”Tanjung, kenapa kau bersimpuh disini?“

Tanjung yang kemudian tegak berdiri, memandang orang menyapanya itu, seolah-olah ia tidak percaya pada penglihatannya “Wiyatsih, kau Wiyatsih?“

“Ya, kanapa? Aku minta maaf, bahwa aku agak terlambat, Aku harus menyelesaikan pekerjaanku dirumah dahulu. Bahkan aku hampir lupa. Tetapi aku tidak mau mengecewakan kau berulang kali. Karena itu, meskipuni sudah agak terlambat, aku perlukan datang. Sebenarnya aku agak takut-takut juga berjalan di dalam gelap. sukurlah bahwa kau masih menunggu aku kalau kau sudah tidak ada ditepiah ini, entahlah. Mungkin aku akan beteriak-teriak memanggil-manggil”

“Wiyatsih, pergilah, Pergilah” Suara Tanjung terbata-bata.

“Kenapa? Bukankah kita berjanji untuk bertemu ditepian senja ini? Aku hanya terlambat sedikit Tanjung? Kau marah?“

“Tidak. Bukan karena aku marah“ Tanjung berhenti sejenak, Dengan nanar ia memandang berkeliling.

“Apakah yang kau cari?“

“Hantu, Eh bukan, tentu bukan hantu. Pasti penjahat yang paling jahat”

“Hantu, eh, penjahat?“ Wiyatsih terheran-heran.

“Seseorang dalam pakaian yang hitam. Ia menyerangku dan membanting aku kedalam air”

“O“ Wiyatsih maju selangkah mendekati Tanjung “aku takut”

“Pergilah”

“Tetapi, apakah kau berkelahi dengan penjahat itu?“

Tanjung memandang Wiyatsih sejenak, lalu sambil menggeleng ia menjawab “Tidak. Aku tidak berkelahi”

“Jadi?“

“Aku tidak akan dapat melawannya”

“Kau sudah mencoba?“ Sekali lagi Tanjung menggelengkan kepalanya.

“Berapa orang?“

“Satu orang”

“Jadi kau begitu saja menyerahkan dirimu, Tanjung?”

Tanjung memandang Wiyatsih dengan pandangan yang redup katanya “Aku tidak akan mampu melawannya Wiyatsih. Aku tidak berani. Jika ia menjadi semakin marah, aku akan dibunuhnya”

”Apa yang sudah dilakukan atasmu?“

“Aku dibantingnya kedalam air?“

”Apakah salahmu?“

Tanjung menggelengkan kepalanya “Aku tidak tahu”

“Seharusnya kau melawan. Kau juga seorang laki-laki”

Tanjung tidak menyahut. Kepalanya tertunduk semakin dalam. Namun ketika tiba-tiba ia menyadari keadaan yang gawat, iapun berkata “Wiyatsih, marilah kita pergi. Marilah kita pulang sebelum orang itu datang kembali”

“Tetapi bukankah kau ingin mengatakan sesuatu kepadaku? Sesuatu tentang diri kita?“

“Lain kali Wiyatsih. lain kali saja. Sekarang kita berada dalam bahaya”

“Tetapi bukankah kau membawa kentongan? Kau dapat Memukul kentonganmu apabila kau perlukan”

Kentongan itu terlempar. Aku tidak sempat mengambilnya”

“O“

“Jadi, marilah kita pulang”

Wiyatsih tidak sempat menjawab. Tiba-tiba saja Tanjung menarik tangan Wiyatsih dan dibawanya berlari-lari meninggalkan tepian.

“Tunggti, tunggu. Aku dapat jatuh terjerembab. Aku memakai kain panjang. Langkahku tidak dapat selebar langkahmu”

“Tetapi Tanjung tidak menghiraukannya. Ia masih menarik Wiyatsih berlari-lari meninggalkan tepian. Namun Wiyatsih segera menghentakkan tangannya, sehingga terlepas dari pegangan Tanjung.

“Wiyatsih“ desis Tanjung “kau tidak menyadari bahaya yang sebenarnya”

“Tetapi aku tidak dapat lari secepat kau” Wiyatsih berhenti sejenak, lalu “bukankah seharusnya kau melindungi aku, bukan menyeret aku berlari-lari”

“Kalau saja aku tidak berhadapan dengan penjahat itu, aku. akan melakukannya” sahut Tanjung “aku tidak akan takut berhadapan dengan anak muda yang manapun juga, jika mereka mengganggumu. Tetapi penjahat itu “

“Apakah kau yakin bahwa penjahat itu mempunyai kemampuan berkelahi yang jauh lebih tinggi dari kemampuanmu sebelum kau berbuat apapun juga?“

”Aku dilemparkan kedalam sungai”

“Mungkin karena suatu hentakkan yang mengejutkanmu”

”Tetapi aku lebih baik tidak berurusan dengan penjahat-penjahat. Aku tidak mau mengalami nasib seperti Pikatan”

“Ah“

“Sudahlah. Marilah”

Tanjung menyambar tangan Wiyatsih. Tetapi kali ini Wiyatsih mengelak sambil berkata “Aku akan berjalan sendiri. tidak pantas dilihat orang kalau kita berjalan berpegangan tangan. Padahal kita bukan sanak bukan kadang”

Kalau saja Tanjung melihat wajahnya sendiri, ia akan mengetahui bahwa wajahnya menjadi merah. Tetapi ia tidak dapat memaksa Wiyatsih, sehingga keduanya kemudian hanya berjalan cepat-cepat beriringan.

Namun di perjalanan Wiyatsih masih bertanya “Jadi besok kita berbicara ditepian?“

“Tidak. Besok juga tidak”

“Kapan?“

“Aku belum dapat mengatakan Wiyatsih. Mungkin kita tidak akan kembali ketepian. Kaupun jangan pergi ketepian lewat senja. Ternyata penjahat-penjahal itu sudah itu sudah berkeliaran di daerah ini. Mungkin mereka salah seorang kawan dari penjahat yang terbunuh oleh Pikatan”

“Mungkin“ sahut Wiyatsih.

“Kita akan menentukan tempat yang lain kelak.”

Wiyatsih tidak menyahut lagi. Mereka berjalan semakin lama semakin cepat. Tanjung memang masih dibayangi oleh kecemasan kalau-kalau bayangan yang hitam itu mengejarnya.
Ketika mereka sampai ke pojok padukuhan, maka Tanjungpun menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah ia sudah sampai ke tempat yang paling aman. Sekali-kali ia mengusap keringat yang membasah di keningnya, sedang langkahnyapun menjadi semakin perlahan.

Dengan nafas terengah-engah ia berkata “Kita tidak perlu tergesa-gesa lagi Wiyatsih”

”Tetapi“ berkata Wiyatsih “siapakah yang akan menjamin, bahwa kita tidak akan bertemu lagi dengan orang itu? Seandainya ia menyusul kita kemari, apakah yang dapat kita lakukan?. Seandainya kita berteriak teriak, apakah orang-orang padukuhan kita akan berani menolong kita?”

“O“ Tanjungpun menjadi termangu-mangu. Sambil meng-angguk-angguk ia berkata “ya, ya. Marilah, kita segera pulang”

Keduanya mempercepat langkah mereka kembali. Hampir berlari-lari kecil. Apalagi karena mereka sama sekali tidak menjumpai seorangpun di pojok desa, karena semua orang telah menutup pintu rumahnya dan tinggal didalamnya.

Sekali lagi Tanjung menarik nafas lega, ketika mereka telah mendekati regol rumah Wiyatsih. Mereka melihat regol itu masih terbuka dan dua orang penjaganya justru berdiri diluar.

“Ha, itulah mereka“ berkata salah seorang dari mereka.

Yang lain menarik nafas dalam-dalam. Ketika Wiyatsih dan Tanjung menjadi semakin dekat, ia berkata “Nyai Sudati sudah menjadi gelisah sekali. Hampir saja kami berdua disuruhnya mencari”

“O“ Wiyatsih tersenyum “aku berada ditepian bersama Tanjung”

“Biasanya kalian tidak pulang terlampau malam”

“Apakah sekarang ini sudah terlampau malam? Baru saja matahari terbenam”

“Ah, ada-ada saja. Cepatlah sedikit. Ibumu sudah sangat gelisah. Bahkan menjadi cemas”

Wiyatsih tertawa. Sambil berpaling kepada Tanjung ia berkata “Apakah kau akan singgah?“

Tanjung ragu-ragu sejenak, lalu jawabnya “Baiklah” namun segera disambungnya “tetapi pakaianku basah kuyup dan kotor”

Melihat pakaian Tanjung didalam cahaya pelita di regol rumahnya, Wiyatsih tertawa. Kedua penjaga regolnya yang semula mengerutkan keningnya itupun ikut tertawa pula. Bahkan salah seorang dari mereka bertanya “Kenapa pakaianmu basah?“

“Aku tergelincir kedalam air. Itulah sebabnya kami pulang agak terlambat”

“Kau dapat menjadi demam”

“Karena itu, aku akan terus saja pulang”

Belum lagi Wiyatsih berkata sesuatu, ibunya telah berdiri di pintu regol. Sambil mengerutkaln keningnya ia bertanya “Kenapa kalian pulang terlampau lambat?“

“Lihat ibu“ berkata Wiyatsih “Tanjung mencuci pakaiannya langsung sambil dipakainya”

“Kenapa kau Tanjung?“ bertanya Nyai Sudati.

“Aku tergelincir jatuh kedalam air”

“Karena itu, jangan pergi ketepian dimalam hari”

“Justru karena aku tergelincir aku lambat pulang”

Ibu Wiyatsihpun tersenyum melihat Tanjung yang basah kuyup. Karena itu maka katanya “Pulanglah. Pakaianmu basah kuyup”

“Baikiah. Aku minta diri. Besok aku akan datang kembali, barangkali ada masalah yang harus aku tangani”

Nyai Sudati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun katanya “Lain kali berhati-hatilah. Dan jangan pergi sampai larut malam”

“Tanjung manganggukkan kepalanya. Ditatapnya wajah Wiyatsih sejenak, seakan-akan berpesan, jangan mengatakan yang sebenarnya apa yang sudah terjadi. Tetapi Wiyatsih hanya tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Sepeninggal Tanjung, maka Ibu Wiyatsuh itupun berkata “Masuklah. Aku menjadi sangat cemas. Untunglah kau pergi bersama Tanjung. Kalau tidak, aku akan sangat marah kepadamu.

“Kenapa ibu tidak marah kepadaku jika aku pergi bersama Tunjung?“

“Ia anak yang baik. Ia tidak suka berlaku kasarkepada siapapun”

Wiyatsih hanya menarik nafas dalam dalam. Diikutinya ibunya naik kependapa, kemudian masuk ke pringgitan.

“Aku akan berganti pakaian ibu”

“Kenapa? Apakah kau juga basah kuyup seperti Tanjung?”

Wiyatsih mengerutkan keningnya. Tanpa sesadarnya ia memandang ke ruang dalam. Tetapi ia tidak melihat kakaknya dari pringgitan itu. Jika kakaknya mendengar ibunya menyebut nama Tanjung, maka kakaknya itu akan marah lagi kepadanya. Tetapi iapun tidak akan dapat mencegah ibunya, untuk tidak menyebut-nyebut nama itu.

“Bukankah pakaianmu tetap kering?“ ibunya mendesak”

“Ya,tetapi kainku kotor oleh pasir dan debu. Kakiku menjadi gatal-gatal. Aku akan kepakiwan sebentar.”

Ibunya tidak mencegahnya. Dipandanginya saja langkah Wiyatsih melangkahi pintu masuk keruang dalam.

Dengan tergesa-gesa Wiyatsih masuk ke dalam biliknya dan menutup pintunya rapat-rapat. Dari dalam setagennya ia mengeluarkan sehelai kain hitam. Kemudian disingsingnya kainnya dan dilepasnya celananya. Sambil tersenyum ia berkata kepada diri sendiri “Ternyata Tanjung benar-benar seorang pengecut. Ia tidak dapat berbuat apa-apa dan sama sekali tidak berani berusaha mengatasi kesulitannya selain lari”

Seperti biasanya, pakaian laki-laki yang didapatkannya dari Puranti itupun disembunyikannya, sebelum ia keluar dari biliknya dan pergi ke pakiwan. Tetapi dari pakiwan Wiyatsih tidak pergi menemui ibunya. Ia langsung berbaring di pembaringannya. Malam nanti ia masih mempunyai pekerjaan seperti yang dilakukan setiap lewat tengah malam.

Ibunya yang duduk di pringgitan menunggunya sejenak. Tetapi karena Wiyatsih tidak datang lagi ke pringgitan, maka iapun kemudian berdiri dan setelah menutup dan menyelarak pintu-pintu, maka Nyai Sudati itupun segera pergi ke dalam biliknya.

“Mudah-mudahan keduanya akan berusaha saling menyesuaikan diri“ berkata Nyai Sudati didalam hatinya.

Lewat tengah malam, seperti biasanya Wiyatsih berlatih di kebun belakang. Kini Kiai Pucang Tunggal tidak lagi memberikan beberapa contoh unsur-unsur gerak kepada Wiyatsih, tetapi ia hanya memberikan beberapa petunjuk saja baginya. Wiyatsih sendiri seolah-olah telah mampu menanggapi setiap keadaan dengan serta merta. Tata gerak yang telah dikuasainya, dengan sendirinya akan berjalinlah satu dengan yang lain, apabila ia mengalami tantangan keadaan.

Sekali-sekali bahkan Kiai Pucang Tunggal telah mengajarnya bertempur dengan lawan. Lawannya adalah Kiai Pucang Tunggal sendiri, sehingga Wiyatsih akan dapat menghayati kegunaan setiap tata gerak yang telah dipelajarinya.

Mula-mula Wiyatsih mengalami sedikit kesulitan. Tetapi lambat laun ia berhasil menyesuaikan dirinya. Dengan demikian Kiai Pucang Tunggalpun memberikan persoalan-persoalan tata gerak yang lebih sulit lagi. Serangan-serangan beruntun dan kadang-kadang benar-benar menyakitinya.

Tetapi dengan demikian, latihan-latihan yang dilakukan Wiyatsih menjadi hidup dan menarik sekali. Meskipuni kadang-kadang lengannya benar-benar menjadi biru karena sentuhan tangan Kiai Pucang Tunggal, namun berlatih dengan cara yang demikian sama sekali tidak menjemukannya. Apalagi setiap kali Kiai Pucang Tunggal memberikan persoalan-persoalan tata gerak yang baru, yang kadang-kadang terlampau sulit untuk diatasi. Namun dengan petunjuk Kiai Pucang Tunggal sendiri, Wiyatsih dapat maju dengan pesatnya.

Selain tata gerak tangan dan kaki, Wiyatsih sudah mampu mempergunakan senjata pula. Bermacam-macam senjata. Setiap malam Kiai Pucang Tunggal tidak hanya membawa satu jenis senjata saja tetapi dua atau tiga. Senjata jarak pendek, sedang bahkan senjata panjang sekali, meskipun hanya sekedar dari sebatang bambu

Namun demikian, sekali-kali Wiyatsih masih juga bertanya, dimanakah sebenarnya Puranti.
“Ia berada di rumah janda di Cangkring itu” jawab Kiai Pucang Tunggal, lalu “Ia masih belum berhasil mengatasi persoalannya”

“Apakah sebenarnya yang dihadapi?”

“Sebenarnya bukan apa-apa. Tetapi bagaimana langkah yang sebaik-baiknya, agar laki-laki itu tidak mendendam kepada janda tua dan miskin itu. Seolah-olah janda itu tidak mau menyerahkan anak angkatnya untuk diperisterikannya”

“Sekali-sekali aku ingin mengunjunginya”

Kiai Pucang Tunggal mengerutkan keningnya. Katanya “Jangan, Bukankah orang-orang Cangkringan sudah mengenal keluarga ini?”

“Apa salahnya? Aku adalah kawan seorang gadis yang bernama Sontrot, eh Suntrut itu”
Kawan gadis miskin itu hanyalah gadis-gadis miskin pula.

Wiyatsih berpkir sejenak, lalu “Aku dapat juga berpakaian seperti seorang gadis miskin”

“Itu tidak perlu. Kalau ada yang melihat kau disana dan menarik perhatiannya, maka akan timbullah persoalan baru lagi bagi janda itu”

“Ah” Wiyatsih menundukkan kepalanya.

“Karena itu, tunggu sajalah barang dua tiga hari lagi. Ia akan dapat meninggalkan rumah itu. Meskipun hanya sesaat dimalam hari”

“Apakah Kiai tidak pernah menjenguk Puranti di rumah itu?”

“Ya, aku pernah datang sebagai seorang perantau yang miskin. Aku mengaku salah seorang keluarganya yang pergi menengoknya”

“Aku juga”

“Ah” Kiai Pucang Tunggal berdesah “sudahlah, sekarang mulailah dengan jenis senjata baru, senjata lentur”

“Apa Kiai?”

“Cambuk”

“O”

Demikianlah, Wiyatsih mulai mencoba mempergunakan senjata lentur, tetapi karena ia sudah menguasai tata gerak dasar dengan baik, maka iapun segera dapat mempergunakan jenis itu.
Hasrat yang semakin menyala di dalam hati Wiyatsih untuk menguasai ilmu kanuragan itu sejalan dengan hasratnya yang membakar seluruh gairah dan tekadnya untuk membangun sebuah bendungan. Tanah yang kering, dedaunan yang menguning dan anak-anak kecil yang lemah dan kurus, membuatnya semakin dekkat dengan arus Kali Kuning.

“Disinilah yang pernah dikatakan oleh kakang Pikatan, kemungkinan yang paling baik untuk membangun sebuah bendungan” berkata Wiyatsih ketika ia berdiri di pinggir Kali Kuning. Tempat itu memang jarang sekali dilalui orang, karena letaknya yang agak jauh dari padukuhan. Tetapi tebingnya yang lebih sempit, batu-batu yang bererakan, serta tanah yang lunak diatas tebing. Membuat tempat itu paling sesuai untuk dibuat sebuah bendungan yang akan mengangkat air itu naik keatas tanggul dan mengalir membelah sawah yang kering.
Meskipun Wiyatsih seorang gadis, tetapi tempaan lahir dan batin membuatnya berhati keras seperti kakaknya, ia yakin bahwa pada suatu saat di tempat itu akan berdiri sebuah bendungan yang kuat, yang akan mengairi sawah di sekitar padukuhannya.

Tanpa disadarinya, tangannya meraba-raba tebing, dikoreknya batu-batu padas itu dengan jarinya. Ia masih belum sadar sama sekali bahwa bekas jarinya itu membuat goresan yang dalam pada tebing yang berbatu padas itu, seolah-olah digores oleh sepotong kayu yang keras.

“Yang kita perlukan adalah brunjung-brunjung bambu” berkata Wiyatsih kepada diri sendiri “kemudian dikerahkan semua anak-anak muda, bukan hanya anak-anak muda, tetapi semua orang laki-laki untuk mengisi brunjung-brunjung itu dengan batu. Sedangkan semua perempuan menyiapkan makan dan minum bagi mereka”

Wiyatsih mengangguk-anggukan kepalanya, ia puas dengan angan-angannya itu, seakan-akan kerja yang besar itu sudah dimulainya.

Namun tiba-tiba badannya lemah, ketika ia sadar, bahwa semua itu barulah sekedar angan-angan, seperti yang dikatakan oleh Tanjung, bahwa ia sekedar bermimpi.

“Tetapi tidak” Wiyatsih menghentakkan kakinya “Aku tidak bermimpi, aku bukan Tanjung yang sekedar menerima nasibnya. Seakan-akan alam ini begitu kejam menyiksa rakyat Kademangan Sambi Sari, terutama disekitar Alas Sambirata ini tanpa ampun. Tidak, kita dapat bersahabat dengan alam. Dan kita dapat memanfaatkan alam ini.”

Namun sekali lagi Wiyatsih tersandar pada tebing Kali Kuning. Rakyat padukuhannya sendiri adalah rakyat yang lumpuh. Seperti Pikatan yang sekarang, benar-benar telah lumpuh sebelah tangannya, maka rakyat padukuhannyapun adalah rakyat yang lumpuh. Mereka mengeluh dan menangis. Tetapi mereka tidak berusaha merubah nasibnya sendiri, meskipun tersedia bagi mereka, air Kali Kuning yang tidak kering disegala musim.

Wiyatsih itu tiba-tiba terkejut ketika ia mendengar seseorang memanggil namanya. Dengan serta-metta ia mengangkat wajahnya. Hatinya bersedih ketika diatas tanggul dilihatnya seorang anak muda yang berdiri termangu-mangu, Kesambi.

“Mengapa kau berada disitu Wiyatsih?“

Wiyatsih memandang Kesambi dengan tatapan mata yang hampir tidak berkedip. Sejenak kemudian iapun bertanya “Dan kenapa kau datang pula kemari, Kesambi.”

Kesambi menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian meloncat turun sambil berkata “Mungkin kita bersama-sama telah bermimpi ditengah hari. Aku dahulu pernah mendengar, disinilah tempat yang paling baik untuk membual membuat bendungan”

“Pikatan yang kau maksud?”

“Ya. Pikatanlah yang pernah mengatakannya. Agaknya kaupun telah bermimpi tentang bendungan itu pula.”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya “Benar Kesambi. Aku memang sedang bermimpi. Tetapi aku berharap bahwa mimpiku akan menjadi Daradasih. Mimpi yang akan dapat terwujud”

Kesambi menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku juga berpikir demikian. Kau sudah membangunkan hasratku untuk berbuat sesuatu. Kau benar, bahwa aku laki-laki seperti Pikatan. Aku muda dan utuh seperti Pikatan waktu itu. Aku bertanggung jawab atas padukuhanku seperti juga Pikatan. Karena itu aku datang kemari untuk menjajagi kemungkinan itu”

“Kau berkata sebenarnya?“

“Ya. Aku sudah mulai. Aku sudah mengatakannya kepada beberapa orang. Tetapi aku masih ditertawakan oleh mereka. Disangkanya aku orang yang tidak mau menerima kurnia yang pantas bagi kita”

“Aku akan membantumu Kesambi”

Kesambi memandang Wiyatsih sejenak. Namun kemudian dilemparkannya tatapan matanya jauh-jauh. Tetapi tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

“Kesambi, kau tidak percaya bahwa aku sanggup membantumu karena aku seorang gadis?“

“O. Tidak. Bukan, maksudku“ berkata Kesambi dengan serta-merta.

“Tetapi kenapa tanggapanmu menjadi seakan-akan beku”

“Wiyatsih“ berkata Kesambi “aku memang sudah mulai mempersoalkan bendungan ini dengan beberapa orang kawan. Tetapi agaknya mereka sama sekali tidak berminat. Mereka masih saja tertidur dan bergulat dengan mimpi buruk selama ini. Mereka menerima apa yang ada sekarang ini sebagai suatu kenyataan yang tidak dapat mereka hindari”

“Dari sanalah kita harus memulainya. Sebelum kita benar-benar membangun sebuah bendungan, kita harus mencoba membangun hasrat anak-anak muda di Sambi Sari ini untuk bangun. Dengan demikian maka kita memang mempunyai sasaran rangkap”

”Dan kan akan membantu aku?“

”Kau tidak percaya?“

“Sebenarnya, menilik sikapmu yaug tidak dibuat-buat itu aku seharusnya percaya kepadamu”

“Apakah ada persoalan lain yang membuatmu ragu-ragu?“

“Bagaimana dengan Tanjung?“

“Apakah hubungannya dengan Tanjung?“

Kesambi menarik nafas dalam-dalam. Dengan berat ia kemudian berkata “Setiap anak muda di padukuhan ini mengetahui bahwa hubunganmu dengan Tanjung sudah terlampau akrab”

“Seandainya itu benar, apakah salahnya aku ikut membangun bendungan?“

”Wiyatsih“ berkata Kesambi kemudian dengan nada yang dalam “Tanjung adalah salah seorang dari anak-anak muda yang paling mencegah pembuatan sebuah bendungan. Dan menurut Tanjung, ibumu sendiri tidak sependapat dengan bendungan itu”

“Ah“

“Maaf Wiyatsih. Tetapi aku tidak berbohong. Banyak alasan yang dapat dikemukakan dan yang memang dapat diterima oleh orang-orang padukuhan ini. Bukan saja yang tua-tua, tetapi juga yang muda-muda”

“Aku berpendirian lain“ berkata Wiyatsih.

“Tetapi hampir semua penduduk berpendapat, bahwa usaha untuk merubah alam ini sama sekali tidak akan berhasil. Bahkan itu adalah pertanda bahwa kita adalah orang-orang yang tamak, yang tidak mau berterima kasih atas kurnia Tuhan yang telah kita terima selama ini, sehingga kita masih akan memperbanyak kurnia itu dengan kemampuan kita sendiri. Sedang dipihak lain dan yang penunggu Kali Kuningpun pasti akan marah apabila kita berani mengganggu aliran airnya.

“Kita harus meyakinkan kepada mereka, bahwa hal itu tidak benar”

“Itu adalah pekerjaan yang sulit Wiyatsih. Tidak kalah sulitnya dengan membuat bendungan itu sendiri.”

“Tetapi pendapat itu sama sekali tidak benar. Tuhan mengkaruniakan aliran Kali Kuning kepada kita untuk kita manfaatkan bagi kehidupan kita. Air yang mengalir disegala musim itu tidak harus kita sia-siakan, justru kita selalu kekurangan air dimusim kemarau. Sedangkan penunggu sungai inipun tidak akan dapat berbuat apa-apa, apabila reneana itu memang berkenan dihati Pencipta dari Alam ini, karena Pencipta itulah yang mempunyai kekuasaan Yang Maha Tinggi.”

“Jangan membantah aku“ sahut Kesambi “aku sependapat dengan kau. Tetapi orang-orang lain itulah yang berpendirian demikjan.“

Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam, Katanya “Maaf Kesambi. Maksudku, kita dapat menjelaskan demikian kepada orang-orang padukuhan kita dan bahkan kepada seluruh Kademangan Sambi Sari yang terbelakang ini. Jika kita pergi ke Kademangan-kademangan yang lain, kita akan melihat, bahwa mereka jauh lebih cepat berbuat daripada kita disini. Aku pernah mengikuti ibuku menengok seorang keluarga meskipun bukan keluarga dekat, kepadukuhan yang bagiku terasa sangat subur, parit-parit yang mengalirkan air yang jernih, akan tetap mengalir meskipun terik matahan membakar dedaunaun dimusim yang paling kering.”

“Dan kita melihat dedaunan dipadukuhan ini menjadi semakin kuning. Alas Sambirata sekarang bagaikan sebuah bukit berbatu-batu padas yang kekuning-kuningan karena musim kering yang panjang”

“Karena itu Kesambi“ berkkta Wiyatsih “marilah kita berbuat sesuatu”

“Apa yang dapat kita lakukan?“

“Meyakinkan mereka. Tidak jemu-jemunya sepanjang kita yakin sanggup berbuat demikian. Sebentar lagi musim kering tahun ini akan berakhir. Sebelum dedaunan menjadi hijau, kita harus sudah berhasil meyakinkan mereka, meskipun kita belum dapat memulainya. Kalau sampai musim basah yang akan datang, mereka tidak yakin bahwa kita memerlukan bendungan, maka dimusim basah, ketika dedaunan menjadi hijau dan sawah-sawah telah tergenang dengan air hujan, mereka akan menjadi semakin rnalas berpikir”

Kesambi menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Ya, Suatu tugas yang sangat sulit” namun iapun kemudian mengadahkan wajahnya “aku akan mencoba”

Aku akan menyiram tanaman disawahku dengan air sungai sebagai suatu peraga bahwa dengan air sungai ini kita akan mendapatkan manfaat”

“Bagaimana hal itu akan kau lakukan? Dan bukankah sawahmu berada di daerah yang basah”

“Ibu mempunyai juga sebidang tanah kering meskipun letaknya juga dipinggir Kali Kuning. Tetapi tanah diujung selatan dari bulak kita terletak agak tinggi dari permukaan aliran Kali Kuning itu”

Kesambi mengerutkan keningnya “Ya, ya. Aku tahu. Tanah itupun kering sama sekali, sehingga seakan-akan telah terpecah-pecah oleh terik matahari. Tetapi apa yang dapat kau perbuat?“

“Aku akan menanam jagung diatas tanah itu”

“Jagung itu akan kering sebelum tumbuh. Seperti jagung yang kita panggang, maka jagung itu akan menjadi berondong”

Tetapi Wiyatsih justru tersenyum. Katanya “Aku akan menyiramnya setiap sore”

“Itu tidak mungkin Wiyatsih. Kalau kau dapat mengerahkan semua anak muda di padukuhan ini, barulah kau mendapatkan ait yang cukup”

Tetapi Wiyatsih masih juga tersenyum. Tiba-tiba terbayang diangan-angannya suatu latihan yang bagus sekah, selain ia akan membuktikan bahwa dengan air Kali Kuning, ia dapat berbuat sesuatu.

“Aku akan memanjat tebing itu setiap hari“ katanya didalam hati “alasan yang tidak akan dapat diketahui oleh siapapun bahwa aku sedang berlatih memperkuat kaki dan tanganku. Aku akan berjalan hilir mudik untuk beberapa puluh kali setiap hari, meskipun tentu ada juga orang yang berpikir bahwa aku menjadi tidak waras lagi”

Bersambung

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s