Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

yg terasing 16

Tinggalkan komentar


Jilid 06-Bab 02 – Bulak Selatan

Lambat laun, semakin terasa oleh kedua penjaga itu, bahwa mereka tidak akan mampu mengimbangi kecepatan bergerak lawannya. Tanpa membicarakannya, keduanya dijalari oleh tanggapan yang sama atas orang itu. Tentu orang itu baru turun dari perguruan. Agaknya sudah lama ia mendendam Pikatan, dan setelah ia yakin akan kemampuannya, maka iapun segera datang untuk melepaskan dendamnya.b

Sebenarnya kedua penjaga itu melihat kelemahan-kelemahan yang kadang-kadang terselip pada tata gerak lawannya. Tetapi kemampuannya terlalu tinggi untuk dapat ditembus. Sehingga dengan demikian, yang mampu dilakukannya adalah bertahan, itupun dengan banyak sekali kesulitan. Kadang-kadang keduanya terdesak beberapa langkah, sebelum mereka menemukan kesempatan untuk memperbaiki keadaannya.

Tetapi keragu-raguan dan kebimbangan tetap membayangi lawannya. Senjatanya yang sudah hampir menyentuh bahu, tiba-tiba ditariknya tanpa melukai penjaga itu. Selain menyobekkan bajunya. Bahkan ketika senjata orang itu membentur senjata dari salah seorang penjaga regol itu sehingga tubuhnya terputar beberapa kali ia tetap ragu-ragu.

Ternyata orang itu tidak memanfaatkan saat-saat yang sangat lemah, apalagi saat lawannya membelakanginya. Senjatanya hanya teracu sejenak, lalu ditariknya kembali.

“Aneh sekali“ desis kedua penjaga itu didalam hatinya. Meskipun demikian merekapun bertempur terus. Namun sikap lawannya yang seakan-akan, tidak bersungguh-sungguh itupun sangat mempengaruhi hati mereka.

Tetapi ternyata bahwa hiruk pikuk perkelahian yang terjadi hanya beberapa langkah di depan pendapa itu telah terdengar oleh Pikatan. Berbeda dengan latihan-latihan yang diadakan oleh Puranti dan Wiyatsih jauh dikebun belakang, maka telinga Pikatan yang tajam berhasil menangkap dentang senjata dan langkah-lang-kah kaki dari orang-orang yang sedang terlibat dalam perkelahian itu.

Sejenak Pikatan dibakar oleh darah jantannya. Dengan serta merta ia bangkit berdiri. Dengan wajah yang tegang ia mencoba memperhatikan suara itu. Dan iapun kemudian menjadi pasti bahwa telah terjadi perkelahian dihalaman depan rumahnya.

Tetapi ketika disadarinya bahwa tangan kanannya telah lumpuh, tiba-tiba darah Pikatan yang mendidih itu rasa-rasanya menjadi beku. Dengan hati yang pedih ia terduduk kembali di pembaringannya. Kini, ia telah sadar sepenuhnya apa yang dihadapinya. Matanya tidak lagi berat dan pengaruh mimpinya telah hilang. Namun justru demikian, maka hatinya telah dibelit lagi oleh keputus-asaan.

”Apakah orang itu akan membalas dendam terhadap Pikatan yang dianggapnya telah membunuh kawan-kawannya?, pertanyaan itulah yang pertama-tama merayapi dadanya. Jika demikian, apaboleh buat. Hal itu sudah aku duga sebelumnya, suatu saat pasti akan datang, karena Wiyatsih tidak mau membersihkan namaku”

Dan tiba-tiba saja Pikatan itu meloncat berdiri sambil menggeram “Wiyatsih harus melihat, bagaimana penjahat itu memenggal kepalaku”

Dan tiba-tiba saja Pikatan segera berlari keluar dari biliknya. Tetapi langkahnya tertegun ketika ia melihat ibunya dengan cemas keluar pula dari biliknya

“Pikatan. apa yang telah terjadi?“

Pikatan menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku tidak tahu ibu. Mungkin orang-orang yang akan memenggal leherku itu telah datang. Aku akan menunjukkan kepada Wiyatsih, bagaimana sebenarnya akibat dari kebodahannya”

“Apakah salah Wiyatsih?“

“Wiyatsih membiarkan ceritera tentang Pikatan yang tersebar itu. ini adalah akibatnya meskipun aku tidak pernah berbuat apapun juga”

“Tetapi itu bukan salah Wiyatsih“ berkata ibunya Pikatan, “aku kira kedua penjaga itu memang sedang berkelahi. Mungkin mereka memerlukan bantuan. Bukankah kau pernah mengikuti pendadaran untuk menjadi seorang prajurit. Seandainya benar orang itu datang untuk membalas dendam, apakah kau hanya akan memanggil Wiyatsih untuk sekedar menyaksikan kau menyerahkan kepalamu?“

“Aku memang pernah menjadi seorang calon prajurit ibu, tetapi sebelum aku cacat. Kini aku tidak berarti lagi setelah tanganku menjadi cacat. Sebelah tanganku mati dan karena itu aku tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi selain menyerahkan leherku.

“Kau telah membunuh dirimu”

“Aku tidak peduli” sahut Pikatan. Terkilas di kepalanya, bagaimana ia pasrah ketika seekor harimau hampir saja membinasakannya. Tetapi harimau itu mati terkapar tanpa diketahui sebabnya.

Pikatan menarik nafas dalam-dalam, Dipandanginya bilik adiknya yang masih tertutup.
“Wiyatsih pasti menjadi ketakutah jika ia mengerti apa yang sedang terjadi.

“Aku akan membangunkannya“

“Kenapa ibu mencegah aku. Aku akan membangunkannya dan membawanya kependapa”

“Jangan gila. Kaupun harus menyingkir jika kau tidak akan melakukan perlawanan. Aku tidak mau anak-anakku menjadi korban kejahatan itu”

“Biarkan saja aku ibu. Bukankah aku memang sudah tidak berguna”

“Tidak” tiba-tiba ibunya berlari kesebuah kentongan kecil disudut, kentongan yang memang digantungkan disitu, untuk memberikan isyarat jika diperlukan

Sejenak kemudian suata kentongan itu telah bergema. Titir.

Para pelayan yang ada dibelakangpun telah terbangun pula. Setiap laki-laki segera menyambar senjata dan dengan hati-hali keluar dari bilik masing-masing.

Pikatan menjadi termangu-mangu sejenak. Tetapi ia memang sudah tidak dapat berpikir bening. Cacat tangannya benar-benar telah mempengaruhinya, apalagi dalam keadaah serupa itu. Setiap kali ia memerlukan tangannya itu, dan setiap kali ia menyadari bahwa tangannya cacat, maka hatinya selalu dibakar oleh kekecewaan yang tiada taranya, sehingga ia telah kehilangan keseimbangan berpikir.

“Ternyata aku hanya menjadi beban perempuan. Dipertempuran aku menjadi beban Puranti, dan di rumah ini aku menjadi beban ibu. Mungkin kelak aku akan menjadi beban Wiyatsih jika ibu menjadi semakin tua” Pikatan menundukkan kepalanya dalam-dalam “buat apa sebenarnya aku bertahan terus?“

Dalam pada itu, tiba-tiba saja ia meloncat berlari kepintu pringgitan. Ibunya yang menyaksikannya, terkejut karenanya, sehingga iapun berteriak ”Pikatan, Pikatan. Jangan keluar”

Tetapi Pikatan tidak menghiraukannya lagi. Meskipun sekejap ia berhenti, namun kemudian dengan tangan kirinya dilontarkannya selarak pintu depan. Dan sekejap kemudian pintu itupun segera terbuka.

Pikatan masih melihat beberapa orang berlari-lari kehalaman depan. Ia masih melihat sesosok bayangan bertempur melawan kedua penjaganya. Namun sejenak kemudian ia berteriak “Inilah Pikatan. Jika kau mendendam kepada Pikatan, akulah orangnya. Bukan tikus-tikus penjaga regol itu”

Dengan serta-merta perkelahian yang terjadi dihalaman itupun terhenti. Semua orang berpaling kepintu pringgitan. Mereka melihat Pikatan berdiri tegak didalam bayangan cahaya lampu di dalam rumah. Yang tampak oleh mereka hanyalah sebuah bayangan hitam yang tegak diinulut pintu. Sebelah tangan Pikatan itu terkulai lemah, sedang tangan yang lain menepuk dadanya.

“Ayo, Inilah Pikatan. Kalau kau memang bernafsu untuk membunuh, bunuhlah Pikatan. Jangan orang-orang yang sama sekali tidak bersalah itu”

“Pikatan“ terdengar suara ibunya.

“Pikatan telah cacat“ berkata Pikatan selanjutnya “kau dapat, membunuhnya dengan mudah, karena Pikatan tidak akan melawan. Tetapi jika kau sudah membunuh Pikatan, kau tidak boleh mencari tumpuan dendammu pada orang lain.”

Orang yang menutup wajahnya di dalam keremangan malam dihalaman berdiri termangu-mangu. Namun ternyata kata-kata Pikatan itu telah mengguncangkan dadanya. Di dalam hati ia berkata “Pikatan benar-benar telah kehilangan segala-galanya”

“He, kenapa kau diam saja?“ Pikatan berteriak “bunuh aku untuk memuaskan hatimu”
Tetapi orang yang berdiri dihalaman itu sama sekali tidak menyahut. Ia masih berdiri tegak seperti sebatang tonggak. Bahkan hampir setiap orang menduga bahwa ia menjadi keheran-heranan melihat Pikatan berdiri dimuka pintu.

Tetapi orang-orang yang ada dihalaman itu bukan saja heran melihat orang asing yang terheran-heran itu, tetapi merekapun menjadi heran meliliat sikap Pikatan yang tidak mereka duga-duga. Mereka menyangka bahwa Pikatan akan langsung turun kehalaman dan langsung pula menyerang orang yang tidak mereka kenal itu. Namun ternyata Pikatan berbuat diluar dugaan mereka sama sekali.

Sejenak halaman rumah itu menjadi tegang. Pikatan berdiri tegak dimuka pintu dengan dada tengadah. Tetapi bukan karena kemarahan yang memaksanya untuk bertempur, namun justru karena ia sudah pasrah sama sekali akan nasibnya karena hatinya yang sudah hangus dibakar keputus-asaan.

Tidak seorangpun yang dapat membayangkan, apa yang akan terjadi. Suara titir dirumah itu sudah diam, karena Nyai Sudati yang kini berdiri termangu-mangu dibelakang Pikatan. Tetapi justru suara titir itu sudah menjalar sampai ketempat yang jauh, meskipun suara titir itu tidak dapat memaksa seorang laki-lakipun keluar dari rumah mereka, karena justru suara titir itu telah mencengkam mereka dalam ketakutan.

Tiba-tiba ketegangan dihalaman itu koyak, ketika orang asing itu mulai bergerak. Demikian ia melangkah, maka para penjaga regolpun bergerak pula meskipun nafas mereka rasa-rasanya sudah akan putus. Tetapi disamping mereka kini berdiri beberapa orang laki-laki meskipun mereka hampir tidak berilmu dan dipendapa berdiri Pikatan yang telah membuat mereka menjadi bingung.

Melihat orang itu bergerak, Pikatanpun melangkah maju. Kini ia berdiri tepat diluar pintu. Sekali lagi ia berkata “Ambilah jiwa Pikatan, tetapi jangan orang-orang yang tidak bersalah itu. Mereka hanya sekedar mencari nafkah untuk anak dan isterinya. Sedang Pikatan adalah orang yang sudah tidak mempunyai harapan apapun dihari depan”

Pikatan terkejut ketika tiba-tiba saja ibunya berlari dan memeluknya dari belakang “Tidak. Tidak Pikatan. Kau tidak boleh menjadi korban. Kau adalah satu-satunya anakku laki-laki.

“Aku sudah tidak berguna lagi”

“Tidak, tidak. Jangan bunuh Pikatan” suara ibunya jadi serak.

Sekali lagi suasana dicengkam oleh kesenyapan. Yang terdengar adalah suara isak Nyai Sudati yang masih saja memeluk Pikatan seperti memeluk anak bayinya.

Tetapi tidak hanya suara isak Nyai Sudati. Ada suara lain yang mereka dengar.
Ketika mereka berpaling, dilihatnya orang yang tidak mereka kenal itu menundukkah kepalanya. Sekali-sekali orang itu mengusap matanya. Dan tiba-tiba saja diluar dugaan pula, orang itu loncat dan berlari, sama sekali tidak menyerang Pikatan. Tetapi justru masuk kedalam gelapnya malam dihalaman.

“Tunggu“ teriak Pikatan. Ia siap untuk berlari menyusul orang yang tidak dikenal itu. Tetapi ibunya masih memeluknya.

Pikatan adalah seorang laki-laki yang bertubuh kuat. Ia dapat mengibaskan ibunya, sedang perempuan setengah tua yang lemah. Tetapi rasa-rasanya tangan ibunya itu mempunyai kekuatan seribu kali lipat dari kekuatannya. Apalagi ketika ia mendengar suara ibunya disela-sela sedannya “Jangan Pikatan. Jangan. Kalau hanya akan membunuh diri, jangan kau susul orang itu. Tetapi kalau kau masih bersikap jantan, aku akan melepaskan kau”

Terasa tubuh pikatan menjadi lemah. Kepalanya tertunduk dalam dalam, la kehilangan segenap kekuatannya ketika ibunya kemudian membimbingnya masuk kedalam.

“Kau adalah anakku. Aku telah melahirkanmu bagaikan seseorang yang berjuang di medan perang. Aku dapat mati dalam perang itu. Kini aku tidak akan merelakan kau, anakku yang aku lahirkan dengan susah payah, menjadi korban keputus-asaan itu”

Seperti tidak bertenaga lagi Pikatan kemudian didudukkan di pembaringannya, Kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk, Terasa sesuatu menyentuh hatinya ketika ibunya membelai rambutnya sambil berkata “Pikatan. Ketika kau masih bayi, kau adalah anakku. Sekarang kau tetap anakku. dalam keadaan apapun dan dalam keadaan yang bagaimanapun”

Namun tiba-tiba dada Nyai Sudati berdesir. Anaknya tidak hanya seorang. Ia masih mempunyai seorang anak perempuan lagi. Karena itu maka tiba-tiba ia berkata “Tinggallah disini Pikatan. Aku akan menengok adikmu. Kau jangan pergi, apalagi menyusul penjahat itu kalau kau tidak ingin membuat ibumu cepat mati”

Tanpa disadarinya Pikatan menganggukkan kepalanya, seperti dimasa kanak-kanaknya jika ibunya melarangnya bermain disungai, apabila sungai itu sedang banjir bandang.

Dengan tergesa-gesa Nyai Sudati berlari-lari ke bilik Wiyatsih. Tetapi alangkah kagetnya, ketika ia melihat pembaringan itu kosong. Selembar kain panjang yang agaknya dipakai oleh Wiyatsih sebagai selimut, masih terkapar dipembaringannya. Agaknya gadis itu pergi dengan tergesa-gesa.

Dengan berlari-lari kecil Nyai Sudati pergi kepintu butulan. Ternyata pintu butulan yang tampaknya masih tertutup itu, sudah tidak diselarak lagi.

“Wiyatsih“ hampir diluar sadarnya Nyai Sudati memanggil “Wiyatsih, dimana kau?“

Tidak terdengar jawaban, sehingga dada Nyai Sudati menjadi semakin berdebar-debar. Nyai Sudati bukannya seorang perempuan yang memiliki kekuatan apapun. Ia adalah seorang perempuan biasa seperti perempuan Sambi Sari yang lain. Tetapi ada kekuatan yang,kadang memancar dihati seorang ibu. Kekuatan yang tumbuh jika ia sedang mencemaskan nasib anaknya. Itulah sebabnya, meskipun suara titir masih bergema, dan kekalutan berpusar dihalaman rumahnya, namun tiba-tiba tanpa perasaan takut sama sekali Nyai Sudati membuka pintu butulan dan berlari menghambur keluar. Ia sama sekali tidak memikirkan apa yang menunggunya diluar karena hampir semua orang sedang berkumpul dihalaman depan. Namun bahwa Wiyatsih tidak ada dibiliknya, mendorongnya untuk berbuat apa saja.

Dilongkangan, Nyai Sudati berteriak nyaring memanggil nama anaknya ”Wiyatsih, Wiyatsih”
Ternyata suaranya telah mengejutkan orang-orang yang ada di halaman depan. Dengan tergesa-gesa beberapa orang berlari-lari mengelilingi rumah pergi kelongkangan.

Kedua penjaga regol yang ada didepanpun, saling berpandangan sejenak, Salah seorang dari mereka berkata “Cepat, lihat apa yang terjadi dengan Wiyatsih itu, aku akan mengawasi halaman ini”

Salah seorang dari merekapun kemudian berlari-lari kelongkangan. Dilihatnya Nyai Sudati berdiri dengan gelisah. Beberapa orang pelayannya yang mendatanginya segera dibentaknya “Ayo cari Wiyatsih”

Beberapa orang berdiri saja terheran-heran. Namun kemudian merekapun menghambur kesegenap bagian rumah itu untuk mencari Wiyatsih.

Dalam pada itu, Pikatan yang berada didalam biliknya mendengar juga ibunya memanggil adiknya. Ada hentakan didalam hatinya untuk berbuat sesuatu. Bagaimanapun juga Wiyatsih adalah adiknya. Apalagi setelah terasa betapa ikatan kekeluargaan yang tidak akan dapat dihapuskan oleh perbedaan pendirian dan sikap. Betapapun juga, ternyata ibunya adalah ibunya. Dan hati seorang ibu tidak akan berubah di dalam saat-saat yang gawat bagi anaknya, karena ibunya itu pulalah yang telah melahirkannya.

Pikatan tidak dapat menahan gelora hatinya. Terasa matanya menjadi panas, dan tenggorokannya serasa tersumbat.

Sekali lagi ia masih mendengar suara ibunya memanggil “Wiyatsih. Wiyatsih”

Hati Pikatan yang seakan-akan telah berubah menjadi batu. Tetapi tiba-tiba saja suara ibunya yang memanggil adiknya itu telah menggerakkannya. Seperti bukan atas kemauannya sendiri, tetapi didorong oleh. gerak naluriahnya, Pikatan berdiri dan melangkah perlahan-lahan keluar dari biliknya dan lewat pintu butulan turun kelongkangan. Dilihatnya longkangan itu justru sudah sepi karena orang-orang yang berkerumun telah memencar mencari Wiyatsih sampai kekebun belakang.

Perlahan lahan Pikatan berjalan di deretan ruangan-ruangan dibelakang rumahnya. Ruangan-ruangan yang dipergunakan sebagai bilik pelayan-pelayannya. Pakiwan dan agak terpisah adalah gedogan. Beberapa ekor ternak berada dikandang itu. Disebelahnya adalah kandang kuda dan disebelahnya lagi adalah setumpuk jerami.

Pikatan mengerutkan keningnya ketika ia mendengar suara kuda meringkik. Tiba-tiba saja timbul curiganya. Masih seperti didalam mimpi ia melangkah mendekati kandang kuda itu.
Tiba-tiba Pikatan terkejut. Ia melihat sesosok tubuh melekat pada dinding kandang. Sesosok tubuh yang terduduk membeku sambil melingkarkan badannya.

Ketika Pikatan menjadi semakin dekat, tiba-tiba saja sosok tubuh itu meloncat dan langsung berlari memeluknya sambil menangis “Kakang aku takut. Aku akut”

“Wiyatsih, kenapa kau berada disitu?“

“Aku takut kakang. Takut sekali”

“Wiyatsih, Wiyatsih“ dengan tangah kirinya Pikatan mengguncang tubuh adiknya. Tetapi adiknya memeluknya semakin erat,

Ternyata suara keduanya didengar oleh ibunya yang sedang mencarinya pula, sehingga sambil berlari-lari ia berteriak “Apakah kau menemukan Wiyatsih?“

“Kau disitu?“ bertanya ibunya pula.

Yang terdengar adalah suara Wiyatsih “Ibu. Ibu”

Wiyatsih melepaskan kakaknya, kemudian ia berlari pula mendapatkan ibunya dan memeluknya erat-erat. Terasa oleh ibunya tubuhnya menggigil dan pakaiannya basah oleh keringat.

“Dimana kau bersembunyi Wiyatsih?“ bertanya ibunya sambil mencium anaknya. Meskipun Wiyatsih Sudah dewasa, dan kadang-kadang mereka berbantah, tetapi kecintaan seorang ibu tidak akan pernah larut.

“Aku bersembunyi disudut kandang ibu”

“Kenapa kau bersembunyi disana?“

“Aku takut sekali. Aku sangka penjahat-penjahat itu akan memasuki rumah. Aku tidak sempat berbuat apa-apa kecuali bersembunyi”

“Ibu mencarimu Wiyatsih”

“Ibu berdiri dimuka pintu bersama kakang Pikatan. Aku terlalu takut, Dan aku berlari ke belakang bersembunyi disudut kandang”

“Wiyatsih“ Pikatan menyahut dalam nada yang dalam “ketahuilah. bahwa caramu itu adalah cara yang sangat berbahaya. Kau akan dapat diterkamnya dan dilarikannya. Kalau penjahat-penjahat itu mengetahui kau ada disana, mereka tidak akan bersusah payah berkelahi. Mereka akan menangkapmu dan mempergunakan kau sebagai perisai. Mungkin mereka memerlukan uang, memerlukan harta benda atau mungkin jiwaku. Tetapi dengan mengancam keselamatanmu, mereka dapat mengajukan tuntutan apa saja. Bahkan dapat terjadi, setelah tuntutannya diberikan, kau dibawanya pula”

“O“ pelukan Wiyatsih menjadi semakin, keras.

“Sudahlah Wiyatsih, marilah kita masuk. Untunglah penjahat itu sudah pergi”

“Kakak telah mengusirnya?“

Pikatan tidak menyahut. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam.

“Meskipun kakakmu tidak berbuat apa-apa, Wiyatsih, ternyata penjahat itu terpangaruh oleh kehadirannya. la segera melarikan dirinya”

Pikatan masih berdiam diri, Dan tiba-tiba saja ia berdesah panjang sekali.

“Sudahlah, marilah kita masuk” ajak ibu Wiyatsih. Lalu dibimbingnya Wiyatsih masuk pintu butulan diikuti oleh Pikatan sambil menundukkan kepalanya.

Beberapa orang yang kemudian berdiri pula disekitar kandang itu menyaksikannya dengan dada yang berdebar-debar. Untunglah bahwa penjahat itu agaknya memang hanya seorang dan tidak melihat Wiyatsih berada disudut kandang. Jika demikian, maka keadaan Wiyatsih pasti akan menjadi berbahaya sekali.

Dengan kasih seorang ibu dibimbingnya Wiyatsih masuk kedalam biliknya. Sambil mengibaskan pakaian Wiyatsih yang kotor, ibunya berkata “Bergantilah, Pakaianmu kotor dan basah oleh keringat”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ibunya menjadi semakin heran ketika ia melihat pakaian Wiyatsih yang seakan-akan hanya sekedar dilekatkan saja pada tubuhnya.
“Aku tergesa-gesa sekali“ berkata Wiyatsih yang seakan-akan dapat mengerti perasaan ibunya.

Ibunya mengangguk-aggukkan kepalanya. dibantunya Wiyatsih mengambil pakaiannya di geledog. Kemudian katanya ”Bergantilah. Tenangkan hatimu, semuanya sudah berlalu”

“Tetapi bagaimana dengan besok atau lusa?“

“Jangan kau risaukan sekarang”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya saja ibunya yang keluar dari biliknya.

Demikian ibunya hilang dibalik daun pintu, maka Wiyatshpun segera menutupnya rapat dan menyelaraknya dari dalam. Sambil menarik nafas dalam-dalam, ia membuka kainnya yang kotor oleh debu kandang. Tetapi ternyata bahwa dibawah kainnya yang seakan-akan hanya dilekatkan padai tubuhnya itu, ia memakai pakaian seorang laki-laki. Celana sampai kelutut dan selembar baju laki-laki yang dilingkarkan saja diperutnya, dibawah kainnya yang tidak teratur.

Yang mula-mula dilakukannya adalah melepaskan pakaian laki-laki itu. Dengan teliti pakaian itu disembunyikannya agar tidak seorangpun yang akan dapat menemukannya, seandainya ia sedang pergi kesawah.

Baru kemudian ia teringat, bahwa dengan demikian ia harus segera mengenakan pakaiannya yang bersih dan tidak basah, oleh keringat.

Tetapi rasa-rasanya keringatnya masih saja mengalir. Bukan karena kelelahan setelah ia mencoba berkelahi dengan dua orang penjaga rumahnya, tetapi karena hatinya masih saja berdebar-debar dan gelisah, kalau-kalau kakaknya dapat mengetahui apa yang baru saja dilakukannya.

“Untunglah, agaknya mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya sudah terjadi”

Namun demikian, hatinya yang pedih karena sikap Pikatan, terasa menjadi semakin pedih. Pikatan benar-benar tidak dapat diharapkannya lagi.

“Apakah yang terjadi jika benar-benar seorang penjahat datang untuk melepaskan dendamnya? Kakang Pikatan benar-benar telah berputus-asa dan bahkan hampir-hampir seperti seseorang yang sedang membunuh diri”

Wiyatsih terduduk dengan lemahnya di pembaringannya. Ketika teringat olehnya, bagaimana ibunya memeluk kakaknya yang pasrah akan jiwanya, tanpa disadarinya air matanya mengalir dipipinya.

Wiyatsih terkejut ketika ibunya mengetuk pintu biliknya sambil berkata “Kau sudah selesai Wiyatsih”

Tanpa mengusap air matanya Wiyatsih dengan tergesa-gesa membuka pintu biliknya dan dilihatnya ibunya sudah berdiri di muka pintu itu.

Ibu Wiyatsih mengerutkan keningnya ketika ia melihat titik air mata dipipi Wiyatsih. Sambil mengusapnya ibunya berkata “Jangan menangis lagi Wiyatsih. Semuanya sudah selesai. Kau malam ini dapat tidur dengan nyenyak”

“Wiyatsih mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian menarik nafas sambil mengusap matanya. Katanya kemudian Mungkin malam ini penjahat itu akan kembali”

Ibunya menggeleng “Aku kira tidak malam ini Wiyatsih, mentara itu kita dapat mempersiapkan diri lebih baik lagi.

“Untunglah kedua penjaga regol itu mampu menahan penjahat itu. Kalau tidak, mereka akan memasuki rumah ini dan mungkin jiwa kakang Pikatan benar-benar telah terancam”

“Ya. Kita memang harus berterima kasih kepada kedua penjaga itu”

“Ibu“ berkata Wiyatsih kemudian “keduanya pantas mendapat hadiah dan kenaikan upah. Mungkin dihari-hari mendatang penjahat itu akan datang lagi”

Ibunya mengerutkan keningnya. Jawabnya ”Itu sudah menjadi kewajibannya Wiyatsih. Meskipun mereka tidak menerima hadiah apalagi kenaikan upah, mereka akan tetap bekerja seperti sediakala, karena untuk itu ibu mengupah mereka”

“Ya, bu, tetapi mereka akan lebih mantap dan bersungguh-sungguh apabila sekali-sekali kita dapat membesarkan hati mereka.”

Ibunya menarik nafas dalam-dalam Dibelainya rambut Wiyatsih yang masih belum dibenahinya. Katanya “Sudahlah Wiyatsih. Beristirahatlah. Aku akan mengurusnya kelak”
Wiyatsih tidak menyahul lagi.

“Tidurlah”

“Hari hampir pagi ibu”

“Ya, tetapi kau masih sempat beristirahat menjelang fajar.

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Ibunyapun kemudian meninggalkan biliknya dan melihat pintu bilik Pikatan yang sudah tertutup rapat.

Didalam biliknya Pikatan duduk merenungi dirinya sendiri. Sekali-kali masih juga timbul pergolakan didalam dadanya. Jika pada suatu saat seorang penjahat benar-benar akan memenggal lehernya, apakah ia benar-benar akan menyerahkannya?.

“Buat apa lagi aku bertahan. Tanganku telah cacat. Aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi dengan tangan kiriku. Persetan dengan prajurit Demak, persetan dengan bendungan dan tanah kering. Aku tidak memerlukan semuanya itu. dan aku tidak akan menggantungkan diriku kepada perempuan-perempuan itu. Kepada Puranti, kepada ibu dan kepada Wiyatsih. Agaknya memang lebih baik aku tidak mengalami apa-apa lagi”

Namun demikian, terasa juga betapa pahitnya pasrah diri kepada kelemahan. Tetapi Pikatan agaknya benar-benar telah berputus asa, sehingga akhirnya, tidak ada lagi niatnya untuk berbuat sesuatu, selain membiarkan nasib yang bagaimanapun juga akan melandanya.

Dalam pada itu dipendapa, beberapa orang laki-laki duduk dalam sebuah lingkaran yang sempit. Mereka tidak lagi dapat tidur didalam bilik masing-masing. Debar jantung mereka rasa-rasanya masih belum mereda

“Aku tidak tahu, bagaimanakah sebenarnya sikap Pikatan“ berkata salah seorang dari kedua penjaga regol itu “kenapa tiba-tiba saja ia pasrah diri untuk menerima pembalasan dendam itu”

“Ya. aku tidak tahu kenapa ia bersikap begitu?“ Sambung seseorang.

“Kalianlah yang bodoh“ sahut penjaga regol yang lain “ia terlalu yakin akan kemampuannya, sehingga ia dapat berbuat apa saja. Dan bukankah terbukti bahwa justru sikapnya yang tidak kita mengerti itulah yang telah berhasil dengan mudah, tanpa berbuat apapun juga mengusir penjahat itu? Sebenarnyalah bahwa penjahat itu memiliki kemampuan yang luar biasa, meskipun ia rasa-rasanya belum berpengalaman dan ragu-ragu. Jika ia tidak ragu ragu, mungkin kami berdua sudah tidak dapat lagi duduk dipendapa ini. Mungkin leherku sudah sobek melintang dan punggungku berlubang pedang”

Kawan-kawannya yang mendengarkannya mengangguk-anggukkan kepala. Apalagi para pelayan yang lain, sedang kedua penjaga regol itupun merasa tidak mampu melawan penjahat yang hanya seorang diri berani memasuki halaman rumah ini.

“Ya“ penjaga regol yang pertama bergumam seperti kepada diri sendiri “orang itu memang aneh. Ia mempunyai banyak sekali kesempatan. Aku sudah memejamkan mataku ketika ujung pedangnya menyentuh pundakku. Tetapi pundakku hanya terluka segores kecil. Aku kira lenganku akan ditebaskannya dengan tajam pedangnya, agar aku menjadi cacat, bukan saja lumpuh seperti Pikatan tetapi benar-benar buntung dari pangkal tanganku”

“Mungkin ia berniat untuk langsung bertemu dengan Pikatan tanpa mengorbankan orang lain”

“Tetapi ia lari ketika Pikatan menghadapinya dengan sikap yang aneh itu”

Mereka mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka tidak dapat mengerti sepenuhnya apa yang sebenarnya telah terjadi. Apa yang sebenarnya bergolak didaiam hati Pikatan dan apa yang sebenarnya bergetar dihati orang berkerudung ikat kepala itu.

“Tetapi untuk seterusnya kita harus berhati-hati “berkata penjaga regol itu “kita harus sudah mulai bersungguh-sungguh. Kita tidak boleh lengah dan menganggap bahwa para penjahat tidak akan berani mengusik rumah ini karena disini ada Pikatan”

Kawan-kawanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba saja seorang juru pengangsu yang masih muda berkata “Apakah kau mau mengajar aku berkelahi serba sedikjt agar aku sama sekali bukan sekedar kepompong jika keadaan memaksa seperti ini”

Kedua penjaga regol itu saling berpandangan sejenak. Salah seorang dari mereka kemudian menyahut “Menarik sekali. Tentu aku tidak akan berkeberatan. Tetapi dengan janji”

“Apakah janjinya?“

“Kau harus bersungguh-sungguh dan bersungguh-sungguh pula membantu aku dalam keadaan yang gawat”

“Tentu, aku akan bersungguh-sungguh dan bersungguh-sungguh pula membantumu”

“Aku juga“ seorang laki-laki kurus menyahut “aku juga bersungguh-sungguh”

“Baiklah“ berkata penjaga regol itu. Lalu “Kita tentukan saja, siapakah yang akan ikut. Aku berdua akan bersedia mengajari kalian sejauh dapat kami lakukan”

“Kami semuanya ikut“ seorang laki-laki pendek hampir berteriak.

“Sst, jangan berteriak-teriak. Kau dapat mengejutkan Pikatan dan penghuni rumah yang lain. Mereka tentu masih berdebar-debar, sehingga teriakanmu dapat membuat mereka menjadi semakin kecut, terlebih-lebih lagi Wiyatsih”

“Kasihan gadis itu desis penjaga regol yang lain “kawan laki-lakinya, Tanjung, pasti bukan laki-laki jantan yang dapat melindunginya”

Demikianlah, maka menjadi keputusan mereka bersama, atas kehendak mereka sendiri, setiap laki-laki pelayan dari rumah itu berniat untuk belajar serba sedikit tentang olah kanuragan dan tata beladiri, agar mereka setidak-tidaknya dapat menyelamatkan diri sendiri apabila penjahat memasuki halaman rumah ini sekali lagi.

“He, apa yang kalian lakukan?“ bertanya Wiyatsih disenja berikutnya, ketika orang-orang itu sudah tidak mempunyai kerja apapun.

”Berlatih. Kami harus mampu membela diri menghadapi para penjahat”

“Bagus sekali. Aku ikut “

“Ah, kau seorang gadis. Mana mungkin“ sahut salah seorang penjaga regol itu “

“Apa salahnya. Aku juga harus dapat membela diriku sendiri”

Tetapi penjaga regol itu menggeleng “Jangan. Tidak pantas bagi seorang gadis. Aku juga mempunyai anak perempuan. Aku akan melarangnya jika ia mempelajari olah kanuragan. Tidak pantas”

“O, jadi bagaimana kalau seorang gadis mempunyai bahaya yang dapat mengancam Jiwanya, atau apapun juga yang dapat mencemarkan namanya?“

“Ia akan meudapat perlindungan dari laki-laki”

“O, jika demikian seorang perempuan untuk selamanya hanya akan menjadi beban laki-laki. Apakah salahnya jika seorang perempuan mampu berdiri sendiri didalam segala hal?“

Kedua penjaga regol itu saling berpandangan. Namun salah seorang dari mereka kemudian berkata “Tetapi tentu tidak pantas Wiyatsih. Belajarlah menenun atau lebih baik bagimu pergi ke sawah menunggui padi yang sedang bunting itu”

“Aku lebih senang menunggu jagungku yang sudah tumbuh,

“Jagung?“

“Ya, dibulak Selatan”

“Bulak yang kering itu?“

“Ya”

Kedua penjaga regol itu menganggnk-angguk. Tetapi mereka menjadi semakin curiga. apakah Wiyatsih benar-benar telah berubah ingatan atau penyakit lain yang serupa? Tingkah lakunya benar-benar tidak dapat dimengerti. Adalah tidak masuk akal jika seorang perempuan ingin mempelajari olah kanuragan bersama dengan beberapa orang laki-laki.

Tetapi meskipun kedua penjaga regol itu tidak setuju, Wiyatsih melihat juga mereka mulai berlatih. Sekali-sekali ia berdiri dan menirukan gerak-gerak dasar yang diajarkan oleh para penunggu regol itu.

Orang-orang yang menyaksikannya semakin lama menjadi semakin cemas. Namun mereka tidak berani menegurnya. Mereka takut kalau Wiyatsih menjadi marah dan berbuat hal-hal yang tidak mereka duga-duga sebelumnya. Karena itu mereka membiarkan saja Wiyatsih berbuat sesuka hatinya.

Demikianlah yang dilakukan setiap hari apabila orang-orang itu berlatih di halaman rumahnya. Wiyatsih menunggui mereka dari saat mereka mulai sampai selesai.

“Biarkan saja“ desis penjaga regol yang seorang “dari pada ia berbuat aneh-aneh. Kita juga yang akan dimarahi oleh Nyai Sudati”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya, Demikian juga orang-orang yang lain.
Tetapi mereka menjadi heran bukan buatan, ketika dengan lantang ia mentertawakan seorang anak muda penunggu padi menirukan tata gerak yang selama ini mereka pelajari. Ia sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menangkap ilmu yang dipelajarinya. Jangankan memahami, menirukan gerak-gerak dasarnyapun ia tidak dapat.

“Kalau penjahat itu datang lagi“ berkata Wiyatsih “kau akan dibantai pertama kali. Aku tidak, sebab aku dapat menirukan tata gerak itu. Nah, lihat”

Dengan mulut ternganga orang-orang itu menyaksikan Wiyatsih melakukan gerak-gerak yang tidak dapat dilakukau oleh anak muda itu. Meskipun masih canggung, juga karena pakaiannya yang membelit kedua kakinya, namun terbayang pada tata geraknya bahwa gadis itu mengerti.

“Aneh sekali“ desis salah seorang penjaga regol itu ”apakah Wiyatsih benar-benar kesurupan demit dari alas Sambirata?“

Yang lain mengerutkan keningnya. Tetapi di wajahnyapun terbayang kecemasan yang mencengkam. Dengan suara tertahan-tahan ia berkata “Kekuatan. apakah yang membuatnya memahami ilmu kanuragan ini? Bahkan melampaui beberapa orang laki-laki yang langsung menerima tuntunan tentang hal itu?”.

Mereka menjadi semakin cemas ketika mereka melihat Wiyatsih tertawa sambil memegangi perutnya. Disela-sela tertawanya ia berkata “He, kenapa kalian diam terheran-heran. Apakah ada yang aneh?”

Tidak seorangpun yang menjawab.

Tiba-tiba saja Wiyatsih tertawa semakin keras. Bulu-bulu mereka yang mendengar suara itu meremang ketika Wiyatsih kemudian berlari meninggalkan tempat latihan, sedang suara tertawanya masih bergema dihalaman.

Tetapi suara tertawa itu terputus ketika Wiyatsih hampir saja melanggar Pikatan yang berdiri di pendapa. Dengan wajah yang merah ia menggeram “Wiyatsih, apakah kau sudah keranjingan hantu perempuan? Tidak pantas kau tertawa berkepanjangan serupa itu. Seorang gadis, malu tampak giginya apabila ia tertawa. Tetepi kau tertawa seperti iblis betina”
Wiyatsih tidak menjawab. Kepalanya tertunduk lemah.

“Kenapa kau tertawa keras-keras?“ desak kakaknya.

Wiyatsih masih tetap berdiam diri.

“Kenapa?“ Pikatanlah yang hampir berteriak. Suaranya terdengar di halaman sehingga kedua penjaga regol yang sedang mengajari berkelahi setiap laki-laki didalam halaman rumah itupun menjadi termangu-mangu.

Wiyatsih mengangkat wajahnya. Perlahan-lahan ia berpaling memandangi tempat latihan yang sudah menjadi semakin gelap.

“Apa anehnya dengan laki-laki yang sedang melatih diri itu? Apa?“ Pikatan masih membentak.
Wiyatsih tidak mdajawab. Tetapi dari kedua matanya tampak setitik air yang bening memantulkan cahaya lampu minyak yang sudah mulai menyala.

Pikatan menarik nafas dalam-dalam. Suaranya kemudian menurun rendah “Masuklah. Hati-hatilah dengan sikapmu. Kau adalah seorang gadis. Kau harus berbuat pantas seperti seorang gadis”

Wiyatsih menganggukkan kepalanya. Tetapi karena ia tidak menjawab, kakaknya mengulanginya “Wiyatsih, kau harus berbuat pantas, mengerti?“

Wiyatsih menganggukkan kepalanya pula. Kemudian iapun melangkah memasuki rumahnya yang sudah. diterangi dengan lampu-lampu minyak. Tetapi Wiyatsih tidak menemukan ibunya. Dari seorang pelayannya ia mendapat keterangan bahwa ibunya sedang pergi ke rumah Tanjung, selagi Wiyatsih sibuk dihalaman.

Demikianlah, setiap sore hari Wiyatsih masih tetap melihal-lihat latihan itu, sedang disiang hari sebelum ia mencuci pakaiannya di Kali Kuning, ia singgah sejenak di sawahnya. Jagungnya menjadi semakin besar dan segar.

Jagung itu ternyata memberikan kebanggaan tersendiri dihati Wiyatsih. Semakin tinggi tanamannya, hatinya serasa semakin terang menghadapi musim-musim kemarau ditahun-tahun mendatang

Dalam pada itu, Purantipun selalu memberikan dorongan yang memantapkan usahanya. Bagi Wiyatsih, Puranti adalah satu-satunya orang yang dapat mengerti tentang dirinya dan membantunya didalam banyak hal.

“Kesambi juga berusaha mengerti“ ia berkata kepada diri sendiri. Namun Puranti rasa-rasanya adalah seseorang yang dapat rnengganti kedudukan Pikatan. Pikatan baginya seakan-akan sudah hilang dari lingkungan keluarganya. Bukan saja orangnya yang mengasingkan diri, tetapi juga cita-citanya.

“Kau tidak boleh berhenti ditengah jalan Wiyatsih“ berkata Puranti “kau harus maju terus. Kau sudah berhasil menjajagi kemampuanmu melawan kedua penjaga rumahmu. Sebenarnya aku menjadi cemas melihat cara mereka mempergunakan senjata. Mereka ternyata adalah dua orang yang cukup berpengalaman Untunglah bahwa kau dapat mengatasinya, meskipun kadang-kadang masih juga mendebarkan jantung. Hampir saja aku ikut dalam perkelahian saat itu. Namun tidak sia-sia kau berlatih siang dan malam”

“Aku tidak pernah mendapat kesempatan cukup berlatih disiang hari?“

“O, waktumu cukup banyak. Kau selalu berlari-larian di sungai Kuning. Meloncat dari batu ke batu. Itu membuatmu menjadi semakin lincah. Sedang dipagi dan sore hari kau mendaki tebing berkali-kali meskipun tidak begitu tinggi selagi kau menyiram tanaman jagungmu. Lihat, betismu bukannya betis seorang perempuan ramping. Tetapi agak terlalu besar seperti betisku”

“O” Wiyatsih memperhatikan betisnya. Memang betisnya terlalu besar bagi betis seorang gadis “jelek sekali“ katanya pula.

“Tidak banyak orang yang memperhatikan betis seseorang. Tetapi jika ada orang yang mengatakan betismu terlalu besar, kau dapat menjawab, bahwa kau adalah seorang penari”

“Ah“ Keduanya tertawa.

“Puranti“ bertanya Wiyatsih tiba-tiba apakah kau masih juga belum berhasil menyelesaikan persoalanmu?“

Puranti mengerutkan keningnya, katanya “Biyungku menjadi sedih sekali. Orang itu seolah-
olah memaksakan kenendaknya untuk mengambil anaknya”

“Dan anak itu adalah kau”

”Ya. Tetapi akhirnya aku tidak peduli. Jika datang saatnya, aku dapat pergi”

“Tetapi bagaimana dengan biyungmu itu? la akan mengalami kesulitan”

“Aku ingin membawanya. Hidupnya terlampau berat disini. Tidak ada seorangpun yang memeliharanya jika aku pergi. Apalagi jika ia sakit”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Persoalan Puranti tidak terlampau berat jika ia sudah mengambil keputusan yang tajam serupa itu. Berbeda dengan persoalannya sendiri. Tanjung, bendungan, Pikatan, Kesambi dan ibunya sendiri.

Gadis itu menarik nafas dalam-dalam. Persoalan-persoalan itu memang terlampau berat bagi Wiyatsih, bagi gadis yang sedang menginjak usia dewasa. Kemanjaannya semasa kanak-kanak, bagaikan telah larut sama sekali. Ia harus menyesuaikan dirinya dengan keadaan yang berkembang didalam keluarganya. Ia tidak dapat lagi bermanja-manja terhadap kakaknya yang kini hampir setiap saat meneela, marah dan membentak-bentaknya.

“Puranti“ berkata Wiyatsih kemudian “bagaimanakah jika persoalanmu berkembang terlampau cepat, sehingga kau harus segera pergi dari Cangkring?“

“Aku akan kembali ke padepokanku “

“Tetapi bagaimana jika aku masih terlibat dalam persoalanku sekaranig? Aku tidak mempunyai seorang kawanpun yang dapat membantuku. Bukan saja didalam sikap badani, tetapi terutama petunjuk apa yang harus aku lakukan.”

Puranti memandang Wiyatsih dengan tatapan mata yang iba. Jika anak itu tidak tabah, maka ia akan mudah sekali terjerat kedalam perasaan berputus-asaan. Karena Itu, Wiyatsih memang memerlukan seorang yang dapat mendorongnya, sedikit memberi harapan-harapan dan membesarkan hatinya

Karena itu maka katanya “Aku tidak akan pergi sebelum kau berhasil menemukan pemecahan yang sudah jelas arahnya Wiyatsih“

“Kau berkata sesungguhnya?“

“Ya. Aku berkata sesungguhnya. Sebenarnya kau sudah dapat mulai bermain dengan pintu terbuka”

“Maksudmu?“

”Didalam kesempatan yang tidak terelakkan, kau tidak dapat selalu menyelubungi dirimu seperti sekarang, sehingga kau justru disangka kesurupan. Maksudku, jika sampai saatnya kau harus menyatakan dirimu sendiri, kau tidak usah ragu-ragu”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang dengan demikian ia akan merasa sedikit bebas. Tetapi ia sadar, bahwa ia harus menunggu sampai datang saat yang tepat.
Demikianlah atas dorongan Puranti, Wiyatsih bekerja terus, apapun yang dikatakan orang atasnya. Ternyata bahwa tidak semua orang menganggapaya kesurupan. Terutama Kesambi yang mengerti pula cita-cita Wiyatsih.

Bahkan ia sudah berhasil mendapat beberapa orang kawan yang meskipun masih ragu-ragu, tetapi mau mencoba untuk mempertimbangkannya.

Ketika pada suatu sore Wiyatsih pergi kesawahnya, ia terkejut karena dipematang sawahnya itu duduk empat orang anak-anak muda padukuhannya. Diantara mereka terdapat Kesambi.
“Nah, itu Wiyatsih datang“ berkata Kesambi sambil berdiri. Kawan-kawanyapun berdiri pula menyambut kedatangan Wiyatsih yang memandang mereka dengan tatapan mata bertanya-tanya.

“Akulah yang membawa mereka kemari“ berkata Kesambi. Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Biarlah mereka melihat, bahwa tanah ini dapat juga ditanami meskipun musim kemarau yang paling panas dan panjang seperti sekarang ini”

“O“

”Kami kagum atas kesanggupanmu menanam jagung di musim panas ini Wiyatsih“ berkata salah seorang dari mereka.
“Tidak ada yang aneh“ sahut Wiyatsih “jagung itu memerlukan air. Tidak perlu sebanyak air disaat menanam padi. Dan aku memberikan air pada biji jagung yang aku tanam disini. Jagung itu kemudian tumbuh. Apa yang aneh?”

”Bukan karena jagung itu tumbuh“ sahut yang lain “tetapi kesanggupanmu mengairi biji jagung itu. Kesambi sudah mengatakan kepada kami, kau sengaja membuat suatu contoh agar tidak seorangpun lagi yang dapat membantah. bahwa jika ada air, tanah yang kering ini dapat ditanami. Contoh ini kau hubungkan dengan cita-citamu untuk melihat adanya sebuah bendungan diatas padukuhan kami, sehingga air yang naik akan dapat mengairi bukan saja sawah-sawah kering dipadukuhan ini, tetapi juga padukuhan-padukuhan lain di Kademangan Sambi Sari”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya “Kau sekarang sudah melihat”

“Ya, aku sudah melihat. Jagungmu tumbuh subur disawah yang kering, dan yang dimusim kemarau tidak pernah diambah kaki manusia”

“Kemudian terserahlah akan sikapmu. Bagiku, air Kali Kuning yang seakan-akan disediakan kepada kita itu, jangan disia-siakan. Kita pasti akan dapat mengangkatnya dan mengalihkan kesetiap jengkal tanah kering yang memerlukannya”

“Wiyatsih“ berkata salah seorang dari anak-anak muda itu “aku dapat mergerti bahwa air itu akan sangat bermanfaat. Tetapi persoalannya, bagaimana kita dapat menaikkan air itu. Tentu kita memerlukan sebuah bendungan. Apakah kita akan dapat membangun sebuah bendungan?“

“Kenapa tidak?“

“Apakah yang akan kita pergunakan untuk membuat bendungan itu. Kita adalah orang-orang yang miskin. Kita tidak mempunyai biaya”

“Tetapi kita mempunyai tenaga, pikiran dan kemauan. Kita dapat membendung Kali Kuning dengan cara yang sederhana. Kita membuat brunjung-brunjung bambu, diisi dengan batu dan kemudian meletakkannya melintang arus Kali Kuning. Sederhana sekali seperti yang pernah dikatakan oleh kakang Pikatan. Kita buat parit untuk menampung air yang naik. Kemudian kita buat jalur untuk menjaga jika air meluap karena banjir. Dahulu kakang Pikatan berkata begitu”

”Kenapa Pikatan sekarang mengurung diri didalam biliknya?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Jangan hiraukan kakang Pikatan. Bukankah kalian laki-laki juga?“

Anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi salah seorang berdesis “Dari mana kita mendapat brunjung-brunjung itu?“
“Dipadukuhan kita, bambu berserakan dari ujung sampai keujung. Kemudian di Kali Kuning sudah disediakan batu-batu akan kita isikan. Apalagi?“

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja keragu-raguannya seakan-akan hanyut dilanda angin kencang. Kesungguhan Wiyatsih membuat mereka menjadi bersungguh-sungguh pula.

“Kita akan segera mulai” berkata Kesambi tiba-tiba ”Kita akan menyiapkan bambu-bambu. Dimusim basah kita menyiapkan brunjung-brunjung dan memecah batu-batu. Kita mulai mengisi menjelang musim kering mendatang, sementara kita memperbaiki dan menggali jalur-jalur parit yang baru”

“Tentu tidak hanya kalian berempat”

“Tidak, Jika kita sudah mulai. aku yakin, banyak diantara anak-anak muda yang akan ikut serta. Sadar atau tidak sadar. Mungkin ada diantara mereka yang sekedar ikut beramai-ramai saja. Tetapi tentu ada juga yang benar-benar meyakini akan kerja yang sudah kita mulai”

”Lakukanlah” sahut Wiyatsih, lalu katanya “aku akan menyiram jagungku, mumpung belum gelap”

“Kami akan membantu”

“Aku hanya mempunyai sepasang lodong”

“Kita mengambil air dengan sepasang lodong itu”

“Berganti-gantian?“

“Tidak, tetapi tundan. Kita berdiri pada jarak beberapa langkah. Kita memberi dan menerima berturut-turut”

“O”

Wiyatsih tersenyum. Tetapi ia tidak menolak bantuan kawan-kawannya itu.
Ketika matahari mulai terbenam, maka merekapun segera kembali kepadukuhan. Sejenak mereka masih dilipuli oleh angan-angan tentang bendungan. Namun ketika dijalan sempit yang menjelujur ditengah-tengah sawah, mereka berjumpa dengan seseorang yang belum pernah mereka lihat, hati mereka menjadi berdebar-debar. Angan-angan mereka tentang bendungan menjadi kabur olah kecemasan yang merayap dihati. Mereka mulai dibayangi oleh peristiwa-peristiwa yang semakin lama agaknya menjadi semakin memburuk.

“Apakah orang itu salah seorang dari para penjahat?“ desis salah seorang dari anak-anak muda itu.

Kesamabi menggelengkan kepalanya sambil menjawab “Aku tidak tahu”

Wiyatsih yang berjalan dipaling depan mempercepat langkahnya. bahkan berlari-lari kecil karena senja semakin lama menjadi semakin suram.

Hati mereka menjadi agak tenteram, ketika mereka sudah berada dekat dimuka pintu gerbang padesan mereka, meskipun mereka menyadari hahwa para penjahat itu berani juga memasuki padesan yang manapun juga. Bahkan mereka telah berani memasuki halaman. rumah Nyai Sudati yang mendapat penjagaan dari dua orang yang memiliki kemampuan cukup, apalagi didalam rumah itu tinggal juga Pikatan.

Dan kehadiran penjahat dirumah Nyai Sudati itu telah membuat orang-orang Kademengan Sambi Sari menjadi bertambah cemas. Apalagi orang-orang yang agak berkecukupan. Dengan gemetar setiap malam mereka berdoa, agar rumah mereka tidak disentuh oleh penjahat-penjahat yang semakin lama semakin menjadi ganas.

Dalam pada itu, ketika mereka hampir memasuki padesan, Wiyatsih berkata kepada Kesambi “Tinggallah disini. Aku akan mendahului, supaya tidak semua orang dipadukuhan kita bertanya, darimana kita datang bersama-sama menjelang senja”

Kesambi mengerutkan keningnya Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata “Apalagi Tanjung”

“Ah, kau“ desis Wiyatsih “apa peduliku dengan Tanjung? Kalau ia dapat membuatkan aku bendungan semalam selesai, apaboleh buat”

Kesambi hanya tersenyum saja. Tetapi ia tidak menjawab. Dibiarkannya Wiyatsih berjalan lebih dahulu memasuki regol desa mereka.

Tetapi ternyata tanpa diketahui oleh Kesambi sepasang mata sedang memperhatikan mereka yang dalam keremangan senja datang dari tengah-tengah bulak kering. Sambil mengendap, orang itu berkisar ketika Wiyatsih memasuki regol. Namun adalah diluar dugaannya, bahwa telinga Wiyatsih adalah telinga yang tajam, sehingga ia mendengar desir dibalik pagar batu. Ketika ia berpaling, ia masih melihat bayangan yang menghilang dalam rimbunnya pepohonan dibalik dinding batu itu.

Wiyatsih menjadi curiga. Tetapi ia tidak berhenti. Ia berjalan terus, seakan-akan ia tidak melihat sesuatu. Namun demikian beberapa langkah dari tempat itu, Wiyatsihpun semakin lekat dengan dinding batu. Setelah yakin bahwa tidak ada orang yang melihat. nya, maka iapun menyingsingkan kain panjangnya sampai keatas lutut. Tiba-tiba saja ia telah meloncat dan hilang pula dibalik dinding. Sambil mengendap-endap ia berjalan kembali keregol padesan. Ia ingin melihat, siapa dan apakah maksud orang yang bersembunyi ketika ia lewat.
Hatinya menjadi berdebar-debar ketika ia kemudian mendengar suara orang bertengkar. ia semakin mempercepat langkahnya, meskipun ia tetap berhati-hati. agar tidak seorangpun yang melihatnya.

Semakin dekat, hati Wiyatsih meenjadi semakin berdebar-debar ternyata bahwa orang yang mengintainya itu adalah Tanjung. Dan kini Tanjung yang tidak dapat menahan perasaannya itu sedang bertengkar dengan Kesambi.

Meskipun senja menjadi semakin buram, namun Wiyatsih dapat melihat, bagaimaba keduanya berdiri dengan tegangnya dan dapat mendengar keduanya bertengkar

“Tanjung“ berkata Kesambi apakah maksudmu sebenarnya dengan segala macam alasan itu? Apakah salahnya kalau aku bertemu dengan Wiyatsih di sawah dan berjalan pulang bersama? Apalagi aku tidak seorang diri. Aku berjalan bersama tiga orang kawan-kawan kita. Mereka sudah mengenal aku dan sudah mengenal kau. Bertanyalah kepada mereka, apa yang sudah aku lakukan”

“Kau telah berusaha mengambil hatinya. Mungkin kau sengaja mendorong Wiyatsih berbuat didalam kegilaannya. Mungkin kau pulalah yang membantu menyiram jagung dibulak kering itu. Bukankah dengan demikian kau telah menjerumuskannya kedalam kesesatan? Seolah-olah ia mempunyai harapan dengan jagung yang hanya sekotak itu”

“Aku memang memuji usaha Wiyatsih menanam jagung itu. Kaulah yang berpikiran terlampau pendek. Yang penting bagi Wiyatsih bukannya hasil jagung sekotak itu. Tetapi bahwa dengan demikian ia dapat membuka mata kita, terutama kami, bahwa usaha menaikkan air dari Kali Kuning akan mendatangkan manfaat yang besar”

“Persetan dengan mimpi itu” potong Tanjung “tetapi aku tidak senang Wiyatsih bergaul dengan orang-orang semacam kau”

“Kenapa?“

“Kau adalah contoh dari anak-anak muda yang ingin mengambil keuntungan dari goncangan syaraf yang dialami Wiyatsih sekarang. Kau sengaja berbuat sesuatu untuk mendapatkan perhatiannya. Dalam ketidak sadarannya, Wiyatsih akan terjerumus kedalam tanganmu”
“Kau jangan berkata menurut seleramu, Tanjung. Aku sudah berusaha menahan hati sejak kau menyindir aku dipinggir Kali kuning. Aku tidak memerlukan Wiyatsih dalam bentuk wadag. Tetapi aku tidak ingkar bahwa aku mengagumi cita citanya yang bersumber pada cita-cita Pikatan. Seandainya yang berbuat itu bukan Wiyatsih, tetapi Pikatan, akupun akan tetap membantunya. Bahkan seandainya kau berdua dengan Wiyatsih, aku akan dengan senang hati membantumu berdua. Tetapi ternyata kau adalah seorang yang meskipun tampaknya utuh, tetapi kau adalah seorang yang lumpuh cacatmu lebih besar dari cacat yang dialami Pikatan saat ini. Pikatan menjadi putus-asa, karena cacat jasmaniahnya, tetapi kau adalah seorang yang utuh. Namun rohaniahmulah yang lumpuh”

“Diam, diam kau Kesambi” bentak Tanjung “aku dapat membungkam mulutmu dengan debu”

“Sudahlah Tanjung“ seorang kawannya mencoba untuk melerai “jangan kau biarkan perasaanmu melonjak-lonjak. Kami tahu bahwa kau mempunyai hubungan khusus dengan Wiyatsih. Kesambipun tahu. Dan kami termasuk Kesambi, tidak akan mengganggu hubungan itu”

“Bohong. Kesambi selalu berusaha menyenangkan hati Wiyatsih meskipun itu berbahaya bagi Wiyatsih sendiri. Ternyata kalian termasuk Kesambi telah memanjakan angan-angan Wiyatsih yang terbang mengawang tanpa batas, sehingga karena ia selalu dibayangi oleh angan-angannya itu, ia telah kehilangan keseimbangan”

“Kau keliru Tanjung. Marilah kita mencoba mengerti apa yang sebenarnya kita hadapi bersama”

“Omong kosong. Aku tidak mau mendengar kalian membual. Pokok persoalannya, bahwa sejak saat ini aku berkeberatan kalian bergaul dengan Wiyatsih”

“Kau tidak berhak mengatakan hal itu Tanjung“ sahut salah seorang anak muda yang berwajah keras ”kami berhak menentukan sikap kami masing-masing. Kau bukan orang tua kami. Kau bukan suami Wiyatsih, bahkan kau bukan apa-apa bagi kami”

Wajah Tanjung menjadi merah padam. Ditatapnya anak muda itu dengan tajamnya. Namun kemudian Kesambi berkata “Tanjung, kau tidak usah bertengkar dengan setiap orang. Akulah yang menjadi pusat perhatianmu. Tetapi sayang, bahwa kau memang tidak berhak memerintah aku. Kau tidak berhak melarang apa yang akan aku lakukan, bahkan seandainya aku meminang Wiyatsih sekalipun”

“Kesambi, apakah kau sudah gila” Tanjung maju selangkah.

“Mungkin aku juga sudah gila seperti Wiyatsih. Memang aku sangat terpengaruh oleh percobaan yang dilakukan. Aku kagum dan hormat. Terserah apakah menurut penilaianmu. Tetapi kau jangan melarang aku. Senang atau tidak senang, aku tidak peduli, Sebab akupun tidak senang melihat sikapmu itu. Tetapi aku sadar bahwa memang bukan kewajibanmu menyenangkan aku atau sebaliknya bukan kewajibanku menyenangkan hatimu”

Tanjung tidak dapat menahan perasaannya lagi. Hampir saja ia meloncat menerkara Kesambi. Namun tiba-tiba saja semua orang terkejut ketika tiba-tiba mereka mendengar tepuk tangan dibalik sebuah gerumbul di pinggir desa. Apalagi ketika kemudian mereka melihat Wiyatsih yang muncul dari balik rimbun dedaunan.

“Hebat sekali“ katanya sambil tertawa “untunglah tidak ada orang lewat disenja yang mulai menjadi gelap ini”

Anak-anak muda yang bertengkar itu bagaikan membeku rnelihat Wiyatsih berjalan mendekati mereka “Ternyata bahwa anak-anak muda Sambi Sari adalah anak-anak muda yang perkasa. Mereka adalah anak muda yang memiliki kemampuan berkelahi tiada bandingnya. Karena itulah agaknya padukuhan disekitar Alas Sambirata ini aman tenteram. Tidak seorang penjahatpun yang berani mengusik padukuhan ini. Mereka ternyata takut mendengar dan melihat, bagaimana anak-anak muda padukuhan ini mampu bertempur, bukan saja melawan para penjahat, tetapi juga melawan kawan-kawan sendiri”

Tanjung yang sama sekali tidak menyangka bahwa Wiyatsih mengetahui apa yang dilakukannya itu menjadi tersipu-sipu. Wajahnya bagaikan disentuh api. Sedang Kesambipnn menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tetapi Kesambi menyadari, bahwa Wiyatsih pasti mengetahui bahwa Tanjunglah yang telah mulai dengan pertengkaran itu.

“Tanjung“ berkata Wiyatsih “apakah sebenarnya keberatanmu jika Kesambi membantu aku memelihara jagungku dan kelak membuat sebuah bendungan”

Tanjung tidak segera menjawab.

“Kau jangan terlalu merasa dirimu berharga bagi keluarga kami. Sebaliknya, kau tidak usah mempersoalkan orang lain. Sudah aku katakan kepada Kesambi, mungkin kau juga mendengarnya karena kau sudah mengintip kami dari regol, bahwa aku menghargai laki-laki yang dapat membuatkan bendungan aku dalam semalam. Tentu bukan itu maksudku. Bukan seorang laki-laki yang karena bantuan hantu-hantu mampu membuat bendungan benar-benar dalam satu malam”

Dada Tanjung serasa menjadi semakin pepat. Dan tiba-tiba saja ia berkata “Wiyatsih, Kesambi telah membuat kau terperosok semakin dalam pada dunia mimpimu. Kau tidak mau berpijak pada suatu kenyataan tentang diri kita, tentang sawah dan padukuhan ini. Kau dibayangi oleh sebuah mimpi tentang susukan yang membelah tanah persawahan kita yang kering ini. Itu tidak mungkin”

“Itulah bedanya kau dengan Kesambi, Tanjung”

“Kesambi sengaja mengambil hatimu. Dan pada suatu saat jika kau lengah, kau akan diterkamnya seperti seekor serigala lapar yang menerkam seekor kelinci yang bodoh, yang membiarkan dirinya dibelai dengan kuku serigala yang tajam itu”

“O“ Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu “kita berselisih jalan Tanjung. Aku akan mangatakannya kepada ibu”

”Tidak. Tidak. Kau tidak mengerti tentang aku, tentang niatku“

“Aku adalah seorang gadis yang sedang terguncang oleh angan-anganku. Aku adalah seorang gadis yang terganggu syaraf serta nalarku, jangan hiraukan aku lagi”

Tanjung akan menyahut, namun tiba-tiba ia menjadi ngeri ketika terdengar suara tertawa Wiyatsih. Suara tertawa yang aneh yang belum pernah didengar oleh Tanjung. Bahkan anak-anak muda yang lainpun saling berpandangan sejenak, karena merekapun meremang juga mendengar suara tertawa Wiyatsih itu yang sebenarnya dengan sengaja membuat kesan rahasia tentang dirinya sendiri.

“Nah, terserah kepada kalian, apakah kalian akan berkelahi atau tidak“ berkata Wiyatsih kemudian sambil melangkah pergi.

“Mudah-mudahan ada seorang penjahat yang lewat dan melihat, sehingga mereka tidak akan berani mendekat padukuhan ini”

Anak-anak muda itu memandang Wiyatsih dengan dada yang berdebaran, sampai gadis itu hilang didalam kegelapan masuk semakin dalam kemulut lorong padukuhan.

Yang kemudian berkata pertama-tama adalah Kesambi “Tanjung, aku tidak ingin bertengkar. Memang memalukan sekali jika.kita berkelahi karena perempuan. Sedang selama ini kita tidak berani berbuat apa-apa jika ada kejahatan memasuki padukuhan kita. Apakah kita berani keluar rumah ketika kita mendengar titir dari rumah Wiyatsih. Apa lagi kau yang berharap untuk menjadi menantu Nyai Sudati?. Tidak Tanjung Kau justru melingkar semakin kecil dibawah selimut kita masin-masing dengan tubuh gemetar. Kau tidak berusaha menolong dan menyelamatkan Wiyatsih. Akupun tidak”

Tanjung tidak menyahut. Tiba-tiba kepalanya seakan-akan terkulai. Jantungnya berdegup semakin keras tetapi ia memang tidak berani berbuat apapun terhadap para penjahat seperti juga aniak-anak muda yang lain.

Namun demikian hatinya tetap terasa panas apabila melihat Wiyatsih bersama seorang anak muda yang lain. Meskipun belum secara resmi, tetapi ia merasa bahwa ia berhak atas Wiyatsih seperti gadis itu memang sudah disediakan baginya kelak.

Dalam pada itu, selagi anak-anak muda itu termangu-mangu. tiba-tiba mereka terperanjat ketika mereka melihat seseorang berjalan mendekatinya. Orang yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.

“Apa yang kalian lakukan disini?“

Kesambi mengangkat wajahnya. Dalam keremangan malam yang semakin kelam ia melihat wajah itu dengan dada yang berdebar-debar. Wajah yang meskipun samar-samar tetapi memberikan kesan yang mengerikan.

“Kenapa kalian diam saja? Kenapa kalian berada disini?“ desaknya.

“Tidak apa-apa“ jawab Kesambi terbata-bata “hanya kebetulan saja kami berada disini. Kami baru datang dari sawah”

“O, jadi kalian berada disawah sampai lewat senja?“

“Hanya hari ini. Kebetulan saja“

Orang itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Kesambi yang cemas, kemudian Tanjung yang bahkan sudah menjadi gemetar. Demikian juga kawan-kawannya yang lain.
“Apakah kalian sedang meronda?“

Kesambi menggeleng “Tidak. Kami tidak sedang meronda”

Orang itu mengangguk-angguk. Kemudian katanya “Jika kalian memang peronda-peronda dari padukuhan ini, aku mempunyai sebuah pesan”

“Kami bukan peronda-peronda”

Orang itu mengangguk-angguk pula,

Tetapi dada mereka serasa berhenti bernafas ketika mereka mendengar suara lain dari balik pematang “Sudahlah. Biarlah mereka pergi”

Ketika mereka berpaling, dilihatnya dua orang yang tersembul dari balik pematang itu. Dan berjalan kearah mereka.

Dada Kesambi menjadi semakin berdebar-debar. Apalagi Tanjung dan kawan-kawannya. Seandainya wajah mereka dapat dilihat dengan jelas, maka tampaklah wajah-wajah itu menjadi seputih kapas.

Seorang yang bertubuh tinggi tiba-tiba saja menarik baju Kesambi sambil berkata “Kau jangan membuat keributan ya?“

“Tidak, kami adalah anak-anak Sambi Sari”

“Justru karena itu” sahut orang itu “jangan mengganggu jika aku memungut pajak dipadukuhanmu”

“Pajak?“ Kesambi bertanya.

“Ya. Aku dapat memungut pajak dipadukuhan manapun”

Dada Kesambi menjadi semakin bergetar.

“Anak-anak muda Sambi Sari tidak perlu ikut campur supaya aku tidak memusuhi mereka. Apalagi kini, kalian tidak akan sempat melakukan perlawanan apapun setelah kami pemungut- pemungut pajak, mendapat persesuaian batas. Semula kami memang saling bertengkar dan bahkan bertempur. Tetapi kini kami telah membagi daerah selatan ini sampai kepinggir Alas Mentaok. Dan kami tujuh orang terkuat mendapat bagian daerah ini, justru karena didaerah ini ada seorang yang bernama Pikatan, yang menurut berita, mampu membunuh dua tiga orang sekaligus. Tetapi kami bukan cucurut-cucurut yang dapat dibunuh oleh orang yang lumpuh tangannya itu dengan mudah. Bahkan pada suatu saat kami akan datang kerumahnya dan membuat perhitungan dengan orang yang namanya terlampau dibesarkan itu”

Kesambi tidak menyahut. Tetapi Jantungnya berdetak semakin cepat.

“Kami juga ingin membuat perhitungan dengan orang yang berani memasuki halaman rumah Pikatan, Hanya kami dan kelompok kamilah yang boleh melakukan tugas didaerah ini, sesuai dengan pembicaraan kami. Jika ada kelompok lain atau orang-orang lain, maka kami berwenang untuk membinasakan mereka. Kalian mengerti?“

Kesambi mengangguk-anggukkan kepalanya yang gemetar.

“Sekarang kalian pergi. Pulang kerumah masing masing, Kalian boleh menceriterakan kepada tetangga-tetangga kalian, bahwa kami dapat datang setiap saat. Juga kepada Pikatan, supaya ia bersiap-siap menghadapi kedatangan kami”

Kesambi masih mengangguk-angguk.

“Kau dengar?“

“Ya, ya“ suara Kesambi serak.

“Sekarang pergi. Jangan mencoba mengadakan penjagaan dimalam hari jika kalian tidak ingin melihat jatuhnya korban jiwa. Kami tahu bahwa dirumah Pikatan ada dua orang penjaga regol. Kami tahu bahwa keduanya adalah orang-orang kuat. Tetapi kami berjumlah tujuh orang. Kami pasti akan dapat menumpas mereka bersama Pikatan sekaligus”

Kesambi tidak menyahut.

“Nah, sampaikan pula kepada kedua penjaga regol dirumah Pikatan. Jika mereka sayang akan jiwanya, suruhlah mereka berhenti bekerja. Sukurlah kalau mereka mau bergabung bersama kami. Kami akan dapat memberi jauh lebih banyak dari penghasilan yang didapatnya sekarang”

Kesambi masih tetap diam.

Kemudian sambil mendorong Kesambi orang itu berkata “Pergi. Pulang sajalah dan tidurlah dirumah. Mungkin kami sekali-sekali datang juga kerumah kalian untuk mengambil kekayaan kalian. Tetapi waktunya masih panjang, karena masih banyak orang-orang kaya yang belum kami datang”

Kesambi tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Demikian ia terlepas dari tangan orang itu, maka bersama kawan-kawannya ia dengan tergesa-gesa pergi meninggalkan orang-orang yang tidak dikenal itu. Sejenak mereka masih mendengar orang-orang itu tertawa kecil. Namun mereka sama sekali tidak meughiraukaninya lagi.

Meskipun kaki-kaki mereka terasa seberat besi, namun mereka berusaha secepat-cepatnya meninggalkan orang-orang itu dan memasuki padukuhan mereka yang kelam.

Orang-orang yang berdiri diluar padesan itu masih tertawa. Salah seorang dari mereka berkata ”Padukuhan ini memang daerah yang sangat lunak buat kami. Anak-anak mudanya sama sekali tidak berani berbuat apa-apa. Apalagi orang-orang tua. Mereka lebih senang tidur dan bersembunyi dirumah tanpa berbuat sesuatu. Satu dua orang yang paling berani, Hanya sempat memukul kentongan dari dalam rumah masing-masing. Meskipun kadang-kadang terdengar suara titir, tetapi tidak akan ada seorangpun yang akan mengganggu”

“Tetapi bagaimana dengan Pikatan itu?“

”Bagaimanapun juga kuatnya orang yang tangannya lumpuh sebelah itu, tidak akan berbahaya, sekali bagi kami. Tetapi kami memang memerlukan persiapan untuk datang kerumahnya. Menurut pendengaran kami dua orang penjaga regolnya itu pantas diperhitungkan”

“Kita dapat membawa orang-orang kelaparan yang bersedia membantu kita dengan upah yang kecil itu. Kita umpankan mereka, sementara kita mengakhirinya dan membunuh Pikatan beserta kedua penjaga regolnya.

“Ya, kita bawa lima sampai tujuh orang kelaparan yang memerlukan makan itu. Setidak-tidaknya jumlah yang banyak akan berpengaruh”

“Tetapi Pikatan dan penjaga regol itu tentu mengenal mereka”

“Kita beri mereka tutup wajah. Mungkin ikat kepalanya atau sesobek kain hitam”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Anak-anak itu pasti akan menyampaikannya kepada Pikatan. Biarlah mereka mencoba mempersiapkan diri. Tetapi aku yakin, tidak seorangpun yang berani membantu Kecuali kalau mereka mengupah orang lain.
Kawannya tertawa. Katanya “Kita tidak akan segera pergi kerumah itu. Biarlah mereka menunggu sampai jemu. Selama itu Pikatan tidak akan pergi keluar rumah, kini ia menduga, bahwa kita akan segera datang. Dalam pada itu kita mendapat kesempatan leluasa untuk berbuat apa saja selain rumah orang lumpuh tangannya itu”

Kawan-kawannyapun tertawa pula. Namun kemudian Salah seorang berkata “Tetapi ingat, bahwa suatu ketika ada orang lain datang kerumah itu. Mungkin kita akan didahului oleh yang tidak kita kenal dan tidak merasa terikat oleh perjanjian yang kita buat”

“Ya. Sahut kawan-kawannya itu “bagaimana kalau sekelompok orang yang tidak kita kenal sebelumnya mendahului kita?“

“Suatu ketika kita akan lengah juga. Selain kita kehilangan. kesempatan untuk mendapatkan harta benda dirumah itu, kita akan kehilangan kesempatan pula membantai Pikatan yang pernah membunuh dua orang kawan-kawan kita dalam waktu sepekan”

Orang-orang itu berpikir sejenak, lalu salah seorang dari mereka berkata “Jika ada sekelompok orang-orang yang tidak kita kenal berani memasuki halarnan rumah Pikatan, merekapun pasti sudah yakin bahwa mereka mempunyai kekuatan cukup. Setidak-tidaknya kekuatan kita akan berimbang dengan kekuatan kelompok itu. Dengan demikian kita akan kehilangan beberapa orang sebelum kita atau kelompok itu yang menang dan berhasil merampok rumah Pikatan. Tetapi kekuatan yang tidak sepenuhnya itupun tentu tidak akan dapat mengatasi kekuatan Pikatan dan kedua penjaga regol itu.

“Bodoh, bukan kita yang bertempur. Kita biarkan kelompok itu bertempur melawan Pikatan. Baru kemudian kita bertindak”

“Itu kalau kita sempat melihat. Tentu kita tidak akan dapat menunggui rumah itu setiap malam”

“Jadi bagaimana?“

“Bagaimana kalau malam ini”

Sejenak mereka saling berdiam diri. Dan orang yang berpendapat untuk bertindak malam ini itupun melanjutkan “Bukankah kita tidak mempunyai rencana lain?. Dan bukankah kehadiran kita disini sekarang juga sekedar melihat-lihat kemungkinlah untuk itu?”

“Ya, memang mungkin. Dan sebenarnya kita dapat berbuat kapan saja. Yang harus kita perhitungkan sudah jelas. Pikatan dan dua penjaga regolnya. Tidak ada yang lain. Sekarang juga atau besok atau lusa juga itu. Kecuali kalau ada kelompok lain seperti yang kita katakan tadi”

“Justru malam ini kelompok lain itu hampir tidak ada ke-mungkinan bertindak”

“Jadi bagaimana kalau malam ini, nanti lewat tengah malam?“

Kembali mereka terdiam. Agaknya mereka sedang merenungi rencana itu.
Setelah mereka berdiam diri sejenak, maka salah seorang dari mereka berkata “Kita lakukan malam ini lewat tengah malam. Kita kumpulkan kawan kita selengkapnya tujuh orang dan kita bawa orang-orang kelaparan itu. Nampaknya kita datang sepasukan besar dan hati Pikatan serta kedua penjaga regol itupun akan berkerut sekecil menir”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Desisnya “Baiklah, kita tidak menunda 1agi. Kecuali jika malam nanti rumah itu didatangi pula oleh sekelompok orang yang tidak kita kenal, kita akan membuat perhitungan lagi”

“Marilah”

Orang-orang itupun kemudian meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa. Lewat tengah malam mereka akan pergi kerumah Nyai Sudati, salah seorang yang cukup kaya di Kademangan Sambi Sari.

Satu hal yang sama sekali tidak diduga oleh orang-orang itu, bahwa dibalik pagar batu sepasang mata selalu mengawasi mereka serta mendengarkan pembicaraan itu, meskipun tidak begitu jelas. Tetapi orang yang bersembunyi dibalik pagar batu itu berhasil menangkap maksud dari pembicaraan mereka.

Orang itu adalah Wiyatsih.

Sebenarnya Wiyatsih tidak sengaja mengintai mereka. Ia hanya sekedar ingin tahu, apa yang akan dilakukan oleh Kesambi dan Tanjung. Apakah mereka benar-benar akan berkelahi atau mereka berhasil mengendalikan diri serta perasaan. Tetapi hatinya kemudian terjerat oleh hadirnya orang-orang yang ternyata adalah beberapa orang penjahat.

Sepeninggal orang-orang itu hati Wiyatsih menjadi berdebar-debar. Ternyata bahwa malam ini rumahnya telah terancam. Tujuh orang penjahat dan mereka masih akan membawa orang-orang kelaparan yang dengan mudah dapat mereka peralat dengan janji untuk mendapat upah yang kecil.

Wiyatsih menjadi termangu-mangu sejenak. Ia sadar, bahwa penjahat itu sama sekali tidak memperhitungkan anak-anak muda Sambi Sari. Mereka yakin bahwa anak-anak muda Sambi Sari justru akan bersembunyi saja dibalik selimutnya meskipun mereka tahu bahwa segerombolan perampok telah datang ke padukuhan mereka. Mereka lebih sering menyelamatkan nyawa mereka daripada membantu orang lain menjaga harta bendanya. Bahkan ada juga satu dua orang yang berkata didalam hati apabila mereka mendengar suara titir ”Buat apa aku mempertaruhkan nyawa melawan perampok-perampok yang ganas. Jika mereka merampok ke rumah orang-orang kaya dan kikir, biarlah mereka melakukannya. Orang-orang kaya itu tentu berterima kasihpun tidak, meskipun ada yang mati diantara kami, seandainya kami membantu melawan perampok-perampok itu”

“Ibu memang terlampau kikir, langsung atau tidak langsung sudah melakukan pemerasan terhadap tetangga-tetangganya. Tentu tidak seorangpun yang mau meringankan nyawanya, membantunya melawan perampok-perampok itu meskipun mereka mengetahuinya. Tanjungpun tidak. Juga Kesambi dan kawan-kawannya itu” berkata Wiyatsih didalam hati.
Demikianlah Wiyatsih harus memecahkan masalah itu. Dengan hati-hati iapun kemudian meloncat dan berjalan disepanjang jalan padukuhan sambil merenungi persoalan yang bakal dihadapi oleh keluarganya. Perampok dalam jumlah yang cukup besar, sedang penjaga rumahnya hanya dua orang ditambah beberapa orang pelayan yang hampir tidak pernah berkelahi dalam arti yang sebenarnya. Ada dua orang diantara mereka yang dapat memegang senjata, tetapi keduanya tidak banyak dapat diharapkan karena merekapun agaknya baru mulai.

Wiyatsih menjadi bingung. Ia sendiri masih ragu-ragu untuk berbuat sesuatu ”Apakah sudah saatnya aku menyatakan diriku? Apakah kira-kira hal itu tidak akan menyinggung perasaan kakang Pikatan?“

Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam. Kemudian “Tentu aku tidak akan dapat membiarkan rumahku menjadi debu. Juga aku tidak akan dapat membiarkan kakang Pikatan menyerahkan lehernya”

Tiba-tiba Wiyatsih melangkah semakin cepat. Sambil mengangguk-angguk ia berkata kepada diri sendiri. Mudah-mudahan Puranti akan datang tengah malam. Jika ada Puranti, maka semuanya akan dapat diselesaikan. Mudah-mudahan kami mampu melawan mereka, dibantu oleh kedua penjaga regol dan beberapa orang yang lain, yang meskipun mereka bukan orang-orung yang mampu bertempur dengan baik, tetapi mereka akan dapat melawan orang-orang yang disebut oleh para perampok itu sebagai orang-orang kelaparan.

Wiyatsih terperanjat ketika tiba-tiba saja ia berpapasan dengan tiga orang yang berjalan tergesa-gesa di jalan itu pula. Namun segera ia mengenal, bahwa dua diantara mereka adalah penjaga regolnya.

“Hem” salah seorang dari kedua penjaga regol itu berdesah “seisi rumah menjadi gelisah”

“Kenapa?“ bertana Wiyatsih.

“Setiap hari kau membuat ibumu menjadi bingung. Tanjung tadi melaporkan apa yang dilihatnya di depan pintu gerbang. Tetapi kau yang dikatakannya sudah mendahuluinya, belum juga sampai dirumah, sehingga ibumu hampir menjadi pingsan karenanya“

“O“ jawab Wiyatsih “kini kau berdua dan Tanjung diminta oleh ibu mencari aku?“

“Ya”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya kedua pengawal itu telah siap menghadapi setiap kemungkinan. Senjata masing-masing ternyata telah mereka siapkan pula, jika setiap saat mereka harus berhadapan dengan para perampok itu.

“Mereka benar-benar orang yang setia. Meskipun upah yang mereka terima dari ibu kurang memadai, tetapi mereka tidak segan-segan berbuat sesuatu yang harus bertaruh nyawa” berkata Wiyatsih didalam hati.

“Dari mana kau Wiyatsih?“ bertanya Tanjung.

“Dari sawah. Bukankah kita pergi kesawah?“

“Bukan aku, Kesambi”

“O ya. Kesambi. Aku sudah tidak dapat mengingat lagi”

“Tetapi bukankah kau pulang mendahului aku? Kenapa aku sampai dirumah lebih dahulu daripadamu?“

“Apakah aku pulang lebih dahulu?“

“Ya, apakah kau lupa? Aku berada dipinggir desa bersama Kesambi “

“O, kau berada dipinggir desa bersama Kesambi. Ya. Kau memang bersama Kesambi. Jadi, bagaimana mungkin kau dapat mendahului aku?“

Tanjung menjadi termangu tnangu, Namun kemudian terasa bulu tengkuknya meremang. Wiyatsih seakan-akan bukan lagi Wiyatsih yang dicarinya. Sehingga dengan cemas ia berkata didalam hati. Apakah gadis ini menjadi semakin parah?. Ia hampir tidak ingat lagi apa yang baru saja dilakukan”

“Marilah“ berkata salah seorang penjaga regol itu“ ibumu sangat gelisah menunggu“

“O, baiklah. Bukankah aku juga sudah berjalan pulang?”

“Ya, kau sudah berjalan pulang. Tetapi kau terlampau lambat pulang malam ini, sedangkan Kademangan ini, khususnya rumah kita, diancam oleh. bahaya”

“Bahaya?“

“Beberapa orang perampok siap menerkam rumah kita. Kita harus selalu bersiaga. Kita tidak tahu kapan mereka akan datang”

“Mungkin segera” desis Tanjung.

Wiyatsih mengerutkan keningnya. Lalu iapun bertanya “Perampok?”

“Ya”

“O“ Wiyatsihpun kemudian melanjutkan langkahnya dengan tergesa-gesa diikuti oleh kedua penjaga regol itu bersama Tanjung. Ketika mereka sampai dirumah, Wiyatsih segera mencari ibunya yang benar-benar kecemasan.

“Wiyatsih“ desis ibunya ketika ia melihat Wiyatsih datang “darimanakah kau?. Aku mendengar dari Tanjung, bahwa para penjahat benar-benar sudah mulai mengintai rumah ini. Tanjung bertemu dengan para penjahat itu diregol padukuhan”

“O, lalu apakah yang akan kita kerjakan?

“Aku menjadi bingung dan cemas. Aku sudah berbicara dengan kedua penjaga regol itu, apakah mereka mempunyai kawan yang dapat dipercaya. Aku bersedia mengupah mereka untuk membantuku menjaga rumah ini”

“Apa kata mereka?“

“Mereka akan mencoba mencari”

“Tetapi tentu tidak dapat malam ini ibu” Ya. Mudah-mudahan para penjahat itu tidak datang malam ini. Kita akan mendapat kesempatan sehari besok”

Wiyatsih tidak menyahut. Tetapi iapun menjadi berdebar-debar pula karenanya. Apalagi ia tahu benar, bahwa perampok-perampok itu akan datang malam nanti.

“Dan kau pulang terlalu lambat. Aku benar-benar menjadi gelisah dan bingung”

Wiyatsih memandang wajah ibunya yang pucat. Perempuan itu benar-benar menjadi bingung sehingga tidak tentu apa yang dikatakannya.

Dalam keadaan yang demikian Wiyatsih merasa kasihan juga melihatnya. Karena itu, dengan sareh Wiyatsih mencoba menentramkan hati ibunya “Semuanya masih merupakan kemungkinan ibu. Sebaiknya ibu tidak usah gelisah. Aku sudah ada dirumah dengan selamat. Dan bayangan-bayangan yang buruk sajalah yang terlukis dihati kita karena pengaruh keadaan yang memang memburuk. Tetapi tentu keadaan kita tidak seburuk itu. Para penjaga regol adalah orang-orang yang dapat dipercaya dan setia. Mereka mereka pernah berhasil mengusir penjahat yang pernah datang ke halaman ini. Tentu mereka akan dapat mengusir yang lain pula, jika ada yang masih berani datang memasuki pekarangan ini”

“Tetapi Tanjung melihat sendiri, bahkan bercakap-cakap dengan perampok itu. Dengan beraninya mereka justru berpesan agar disampaikan kepada para penjaga regol, bahwa pada suatu saat mereka akan datang”

“Ah, mereka hanya sekedar menakut-nakuti. Tetapi karena tidak akan melakukannya. Setidak-tidaknya tidak segera. Bagaimapun juga, mereka tidak akan terlalu berani untuk mengatakan rencananya. Apalagi dirumah ini ada kakang Pikatan”

“Mereka memang menantang Pikatan“ jawab ibunya “dan seperti kau ketahui, Pikatan sama sekali tidak berbuat apa-apa. selagi seorang penjahat datang kehalaman ini. Apalagi jika mereka benar-benar datang berkelompok”

“Apakah kakang Pikatan benar-benar akan berdiam diri dan menyerahkan kepalanya?“
“Aku tidak tahu. Tetapi melihat sikapnya, aku menjadi sangat cemas” ibunya menjadi semakin pucat “aku merasa bahwa sesuatu memang akan terjadi “

“Tetapi bagaimana dengan ceritera yang meluas, bahwa kakang Pikatan justru sering melakukah tindakan-tindakan yang keras terhadap para penjahat”

“Tetapi kakakmu membantah ceritera itu dan kita memang tidak pernah melihatnya keluar rumah”

“Ya, ia selalu berada di dalam biliknya”

“Dan kita tidak akan dapat mengharapkannya”

“Tetapi ibu tidak usah terlampau cemas”

“Berbicaralah dengan Tanjung. Ia melihat penjahat-penjahat itu, dan ia mendengar penjahat-penjahat itu mengancam”

Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam. Tanjung memang masih berada di pringgitan.
Ibunya mengerutkan. keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya “Buat apa ia harus berada dirumah ini?“

“Bukankah ia dapat membantu jika para penjahat itu benar-benar datang?. Disini sudah ada beberapa orang laki-laki, diantaranya kedua penjaga regol itu. Laki-laki yang lain, meskipun baru mulai, mereka sudah belajar membela diri masing-masing. Dan bukankah Tanjung adalah seorang anak muda yang gagah yang mungkin dapat ikut menyelamatkan rumah ini?“
Ibunya berpikir sejenak. Meskipun hanya seorang, tetapi ada juga gunanya. Karena itu, maka sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Aku akan menemui Tanjung dan akan mencoba menanyakannya kepadanya”

Wiyatsihpun kemudian mengikuti ibunya ke pringgitan, dan menemui Tanjung yang duduk dengan gelisah seorang diri.

Belum lagi Nyai Sudati berkata sesuatu, maka Tanjunglah yang mendahuluinya “Aku menunggu untuk mendapat kesempatan minta diri. Agaknya sudah terlalu malam dan malam ini rasa-rasanya tidak seperti malam-malam sebelumnya. Terlalu sunyi dan mendebarkan”

Nyai Sudati menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian duduk dihadapan Tanjung bersama Wiyatsih.

“Tanjung“ berkata Nyai Sudati “sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu. Bukankah rumah ini sedang terancam bahaya?“

Tanjung mengangguk.

“Kau mendengarnya sendiri Tanjung?” bertanya Wiyatsih

“Ya, aku mendengarnya sendiri bersama Kesambi dan kawan-kawan itu”

”Mereka akan datang kemari?“

“Ya. Justru mereka berpesan, agar kami menyampaikannya kepada para penjaga regol dan Pikatan”

“Dimana Kesambi sekarang?”

“Lari terbirit-birit pulang kerumahnya“ Tanjung sedikit mengadahkan dadanya “dan aku memerlukan untuk datang kemari. Memang ada baiknya mempersiapkan diri menghadapi bahaya yang mencancam setiap saat”

Wiyatsih mengangguk-anggukan kepalanya. Dan Nyai Sudatipun berkata “Tanjung, sebenarnya aku ingin minta kau tinggal disini, malam ini dan malam-malam berikutnya”

“Kenapa aku harus tinggal disini?”

“Mungkin penjahat-penjahat itu benar-benar akan datang. Bukankah kau seorang anak muda yang tegap dan gagah? Kau akan dapat membantu kedua penjaga regol itu. Memang disini ada juga beberapa orang laki-laki. Tetapi mereka hampir tidak berarti sama sekali meskipuri akhir-akhir ini mereka mencoba mempelajari cara-cara membela diri. Tetapi yang dapat mereka lakukan pasti hanya menyelamatkan diri mereka masing-masing”

“Lalu?“ tiba-tiba wajah Tanjung menjadi semakin pucat.

“Kau tinggal di rumah ini. Kau membantu kami menyelamatkan harta benda kami dan nyawa kami”

Tanjung menjadi bingung. Keringat dingin mengalir diseluruh tubuhnya. Seperti ketika ia berdiri di hadapan para penjahat itu sendiri, tubuh Tanjung menjadi gemetar.

Hampir saja Wiyatsih tidak dapat menahan senyumnya, untunglah bahwa ia dapat menyembunyikan kesan di wajahnya itu dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Aku, aku tidak dapat tinggal lebih lama lagi disini“ suara Tanjung tergagap.

“Kenapa?” bertanya Nyai Sudati.

“Aku harus menunggui rumahku. Mungkin penjahat-penjahat itu akan datang pula ke rumahku. Meskipun tidak banyak tetapi jika aku kehilangan yang sudah aku miliki, aku akan menjadi menyesal sekali”

Bersambung Ke Jilid 7

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s