Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

yg terasing

Tinggalkan komentar


Jilid 07-Bab 02 – Kesambi

Pemimpin perampok itu menggeram. Katanya “Aku tidak peduli persoalan apa yang ada diantara kalian. Tetapi kalian semuanya akan aku bunuh. Aku akan merampas semua harta benda yang ada dan membakar rumah ini sampai rata dengan tanah.

“Kalian hanya memerlukan aku“ teriak Pikatan.

“Kau“ sahut perampok itu. tetapi dilanjutkannya sambil menunjuk setiap orang termasuk Nyai Sudati “kau, kau, kau juga dan semuanya”

Tetapi sekali lagi pendapa itu bagaikan bergetar oleh suara Wiyatsih yang tertawa berkepanjangan “Jangan membual, Kau akan mati di pendapa ini”

“Persetan”

“Marilah kita akan berhadapan”

“Wiyatsih” Pikatan dan ibunya hampir berbareng memanggilnya ketika tiba-tiba saja Wiyatsih meloncat maju dengan pedang terjulur.

Pemimpin perampok itu terperanjat, Ia tidak menduga bahwa begitu cepatnya Wiyatsih mulai. Karena itu, maka iapun segera meloncat surut.

Tetapi Wiyatsih tidak membiarkannya. Dengan tangkasnya iapun memburunya. Pedangnya berputaran secepat baling-baling sehingga sejenak pemimpin perampok itu menjadi bingung.
Tidak ada kesempatan lagi untuk berbicara. Para penjaga regol itupun segera mempergunakan kesempatan itu. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara keluarga Nyai Sudati. Namun adalah tugas mereka untuk mempertahankan rumah ini seisinya.
Tetapi sejenak para penjaga regol itu sempat melihat, bagaimana Wiyatsih berhasil langsung mendesak lawannya yang berloncatan semakin jauh. Bahkan melingkar-lingkar dipendapa.

“Orang ini benar-benar kesurupan demit Sambirata. Bagaimana mungkin ia menyadap ilmu itu daripadaku, sedangkan aku sendiri tidak mampu berbuat seperti itu “berkata para penjaga regol itu didalam hatinya.

Namun mereka tidak berpikir terlalu panjang. Mereka tidak peduli lagi, darimana Wiyatsih mendapatkan ilmunya. Kini dihadapan mereka masih berserakkan para penjahat yang siap menerkam mereka dengan senjata-senjata yang tajam. Merekapun tidak menghiraukannya lagi apakah Pikatan akan membantu mereka atau justru akan membunuh diri.

Dengan demikian, maka dipendapa itu telah terulang perkelahian yang lebih dahsyat. Jika semula para penjaga regol itu sudah terdesak dalam beberapa saat saja karena lawan mereka yang terlalu banyak dan tepat pada saatnya mereka akan terjebak disudut, datang Wiyatsih yang aneh itu, maka kini perkelahian itu mendapat perimbangan yang lain.

Ternyata Wiyatsih berusaha sejauh-jauhnya mendesak lawannya itu. Sebagai seorang yang belum memiliki pengalaman yang cukup, maka Wiyatsih menganggap perlu secepat-cepatnya mengurangi jumlah lawannya.

Serangannya yang beruntun dan bugaikan banjir yang mengalir dengan derasnya itu benar-benar tidak dapat dilawan oleh pemimpin perampok itu, sehingga sejenak kemudian terdengar ia mengeluh tertahan. Terasa tangannya menjadi nyeri ketika ujung pedang Wiyatsih menggoresnya menyilang

“Setan betina“ ia menggeram. lalu “he, binasakan dahulu orang kesurupan ini. Barulah kita membunuh yang lain“ perintah pemimpin perampok yang terluka itu.

Dengan sigapnya seorang perampok yang berkelahi dihalaman meloncat naik kependapa. Tetapi demikian kakinya menginjak lantai pendapa, terdengar ia berteriak kesakitan. Ujung pedang Wiyatsih dengan cepatnya telah menerima orang itu langsung menghunjam dipundaknya.

Orang itupun segera terlempar jatuh berguling dari tangga pendapa dan terbaring mengerang dihalaman. Ternyata lukanya cukup dalam dan parah sehingga tangannya sama sekali tidak dapat digerakkannya

Kesigapan Wiyatsih telah mengejutkan setiap orang yang menyaksikannya. Pikatan berdiri termangu-mangu seperti patung, sedang ibunya yang berdiri dibelakangnya memandangnya tanpa berkedip, seakan-akan ia telah membeku ditengah-tengah pintu.
Korban yang jatuh itu ternyata telah mengguncangkan keberanian para perampok itu. Mereka tidak menduga bahwa mereka akan berhadapan dengan seorang gadis yang seakan-akan sedang kepanjingan setan.

Namun dengan demikian, maka para penjahat yang lain segera menempatkan diri dan berhati-hati. Kini mereka menyadari dengan siapa mereka berhadapan.

Dalam pada itu, di halamanpun telah terjadi perkelahian diantara para pelayan dengan para perampok yang berkerudung. Keberanian para pelayan itupun diluar perhitungan para perampok, sehingga mereka merasa kedatangannya kerumah Pikatan telah menjumpai perlawanan yang tidak mereka perhitungkan semula.

Demiklanlah, maka perkelahian itu berlangsung semakin seru. Namun karena para perampok telah mulai memantapkan periawanan mereka, Mereka mulai mengatur diri. Siapakah yang harus mereka hadapi dengan segenap kekuatan. Dan yang manakah yang dapat sekedar dilayani sebelum mereka berhasil menyelesaikan lawan utama mereka.

Pikatan yang berdiri dipintu melihat perkelahian itu dengan cemas, ia melihat para perampok itu mengelompokkan diri. Mereka ternyata tinggal mempunyai enam orang kawan, selain mereka yang. bertutup muka. Yang enam inilah yang kemudian bertempur dipendapa. Yang mendebarkan jantung Pikatan adalah, empat dari keenam orang itu menghadapi Wiyatsih, termasuk pemimpin perampok yang telah terluka. Sedang yang dua orang lainnya, masing-masing berusaha melayani kedua penjaga regol. Meskipun para penjaga regol itu mempunyai kelebihan dari lawan-lawannya, tetapi lawan-lawannya itu memang sekedar mengikat mereka sementara keempat kawannya akan berusaha membinasakan Wiyatsih secepat-cepatnya.

Ternyata Wiyatsih telah berjuang sejauh-jauh dapat dilakukan. Semua kemampuan yang ada padanya telah diperasnya dan itu adalah salah satu kesalahan yang telah dilakukan, karena ia masih belum memiliki pengalaman yang cukup. Dengan demikian, maka tenaganya yang seakan-akan diperasnya itu, menjadi cepat terkuras sehingga sejenak kemudian tenaganya telah mulai susut. Apalagi ia harus menghadapi empat orang lawan yang cukup kuat dan berpengalaman yang telah disiapkan untuk melawan Pikatan. Sedang Wiyatsih yang baru mulai, betapapun ia menempa diri, namun ia masih belum dapat menyusul kakaknya, meskipun kakaknya sudah cacat.

Dengan demikian maka ternyata kemudian, bahwa semakin lama Wiyatsih menjadi semakin terdesak meskipun ia masih mampu melindungi dirinya.

“Cepat, kita binasakan setan betina ini sebelum kita membantai orang-orang lain“ geram pemimpin perampok.

Namun demikian, merekapun tidak dapat mengerti, kenapa Pikatan masih berdiri saja membeku ditempatnya. Jika ia turun ke gelanggang, maka kemungkinan akhir dari pertempuran itu akan dapat segera diramalkan.

“Barangkali Pikatanpun sudah gila“ berkata pemimpin perampok itu didalam hatinya.
Yang menjadi gelisah adalah kedua penjaga regol itu. Mereka sadar bahwa kedudukan Wiyatsih menjadi semakin berat. Karena Itu, maka merekapun segera mengerahkan segenap kemampuannya untuk mendesak lawannya.

Meskipun mereka berhasil, tetapi mereka tidak dapat segera membinasakan mereka, bagaimanapun juga para perampok itupun menyadari bahwa, mereka harus memberi kesempatan kepada kawan kawannya untuk membinasakan Wiyatsih.

Nyai Sudati tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi. Namun melihat Wiyatsih selalu mundur didesak olah empat orang sekaigus, hatinya menjadi berdebar-debar. Dalam bayangan sinar obor yang kemudian disangkutkan pada dahan perdu, ia melihat seakan-akan Wiyatsih sedang dikerumuni oleh empat sosok hantu yang buas dan siap menerkamnya.

“O“ tiba-tiba Nyai Sudati terpekik meskipun ia tidak melihat sesuatu terjadi atas anak gadisnya.

Dalam pada itu, selagi dipendapa itu terjadi perkelahian yang dahsyat, didalam kegelapan malam, dibalik dedaunan sepasang mata memperhatikan dengan saksama. Dengan dada yang berdebar-debar. Ia melihat Wiyatsih terdesak terus-menerus oleh keempat lawannya.
Sejenak orang itu menjadi bingung, apakah yang sebaiknya dilakukan. Ia melihat Pikatan dan ibunya berdiri dipintu. Ia berharap bahwa didalam kesulitan yang tidak terhindarkan lagi bagi Wiyatsih, Pikatan dapat tergugah hatinya. Tetapi ia masih tetap berdiri saja mematung.
Orang yang berdiri dibalik gerumbul itu, yang tidak Iain adalah Puranti semakin menjadi gelisah. Sehingga akhirnya ia berkata

“Apa boleli buat. Aku tidak akan dapat melepaskan Wiyatsih dalam kesulitan itu. Sebentar lagi ia akan kehilangan kesempatan untuk mempertahankan diri karena ia akan menjadi bingung. Pengalaman yang masih terlampau sedikit itu kurang menguntungkan baginya untuk melawan empat orang perampok yang kasar itu sekaligus. Jika ia kena cidera apalagi menjadi korban, maka akulah yang bertanggung jawab”

Selagi Puranti akan meloncat dari persembunyiannya, langkahnya tertegun sejenak. Dengan dada yang berdebar-debar ia me lihat sesuatu terjadi dipendapa.

Dalam pada itu Wiyatsih sama sekali telah kehilangan kemampuannya dan pengamatan diri. Serangan-serangannya tidak lagi dapat mengarah ke sasaran yang tepat. Yang dapat dilakukannya hanyalah berloncatan mundur. Sekali-sekali melingkari tiang pendapa dan kemudian mundur lagi.

Sebenarnya Wiyatsih berharap, agar didalam kesulitan itu Puranti datang membantunya. Tetapi ternyata ia dibiarkalnnya bertempur sendiri. Hanya sekali-sekali para penjaga regol itu meninggalkan lawannya, menyerang satu dua orang yang berkelahi bersama melawan Wiyatsih, untuk sekedar memberi kesempatan baginya sedikit bernafas. Orang yang bersenjata rangkap itu sengaja bergeser mendekati titik perkelahian Wiyatsih. Dengan tiba-tiba saja ia meloncat dan trisula ditangan kirinya itu menyambar dengan garangnya kearah salah seorang dari para perampok itu. Disusul dengan sebuah putaran tombak bermata dua menyambar dengan dahsyatnya.

Namun serangan-serangan yang hanya kadang-kadang itu hampir tidak berpengaruh meskipun, sempat juga memberi waktu kepada Wiyatsih memperbaiki kedudukannya apabila ia sudah menjadi terlampau sulit.

Tetapi Wiyatsih hampir tidak dapat melihat jalan keluar. Hampir saja ia berteriak memanggil Puranti atau menangis melolong-lolong seperti dimasa kanak-kanak, jika kawan-kawannya nakal. Tetapi kali ini Pikatan itu hanya berdiri saja memandangnya tanpa berbuat sesuatu.
Demikianlah, maka pada suatu saat, kemampuan bertahan Wiyatsih sampai pada batasnya. Ia tidak mampu lagi mengendalikan dirinya melawan empat buah senjata disekelilingnya, sehingga ketika ia sedang memusatkan perlawanannya kepada pemimpin gerombolan yang dilukainya itu, tiba-tiba salah seorang dari mereka menyerang dengan garangnya dari belakang.

Puranti yang melihat serangan itu berdesir tajam. Hampir saja ia melontarkan pedangnya untuk melindungi Wiyatsih, Namun dalam saat yang bersamaan, tanpa diduga-duga. Pikatan yang melihat hal itu hampir diluar sadarnya telah berteriak “Wiyatsih, dibelakangmu”

Wiyatsih mendengar teriakan itu. Dengan serta merta ia melihat kesamping. Ia masih sempat menangkis serangan itu, tetapi tidak sempurna, sehingga ujung senjata orang itu menyentuh bahunya.

Sebuah luka telah tergores dibahu gadis itu. Dari celah-celah bajunya yang robek tampak bahu Wiyatsih yang kuning, namun kemudian menjadi merah oleh darah yang meleleh dari luka itu.

Wiyatsih yang terluka ituu terkejut bukan buatan. Sekali lagi la meloncat menjauhi lawan-lawannya, sambil menyeringai ia meraba luka itu. Dan ia menjadi ngeri ketika ia melihat tangannya menjadi merah oleh darahnya yang hangat.

Dalam pada itu, sorot mata Pikatan menjadi merah seperti darah yang meleleh dari luka adiknya. Apalagi ketika ia mendengar ibunya memekik menyebut nama adiknya itu. Bagaimanapun juga Wiyatsih adalah adiknya, ia sering berkelahi dengan kawan-kawannya dimasa kanak-kanak, jika kawan-kawannya mengganggu permainan Wiyatsih. Ia tidak peduli, apakah ia akan kalah atau menang. Dan kini ia melihat Wiyatsih bukan sekedar menitikkan air mata. Tetapi ia sudah menitikkan darah.

Betapa hatinya sudah mengeras sekeras batu padas, namun darah dibahu adiknya telah meledakkan dadanya. Hampir diluar sadarnya, oleh gerak naluriah, tiba-tiba saja Pikatan itu meloncat sambil menjerit keras sekali “Pengecut. Kalian hanya berani melukai seorang perempuan. Inilah Pikatan, ayo, bunuhlah Pikatan”

Tidak sda seorangpun yang tahu apa yang sudah dikerjakan. Tetapi tiba-tiba saja Pikatan menyambar trisula ditangan kiri penjaga regolnya. Seperti bayangan angin pusaran, tiba-tiba saja ia telah berputar diantara keempat lawan Wiyatsih. Dengan tangan kirinya ia menggerakkan trisula itu. Dan seperti didalam mimpi, para perampok dan para penjaga regol itu melihat, dua orang sekaligus terpelanting jatuh dan terlempar dari pendapa. Namun agaknya hati Pikatan seolah-olah telah dilapisi oleh perasaan yang tidak dikenalnya sendiri. Sekali lagi ia meloncat dan sekali lagi seseorang memekik tinggi. Dengan dahsyatnya trisula itu telah memecahkah dada seorang lawannya yang lain.

Para perampok yang masih hidup rasa-rasanya bagai melihat hantu yang tiba-tiba saja hadir dipendapa itu. Tetapi mereka benar benar tidak mendapat kesempatan. Kaki Pikatan seakan-akan tidak berjejak diatas tanah ketika ia melenting menyerang lawan berikutnya. Seperti seorang penari dalam tarian maut ia melingkar-lingkar dan kemudian melenting memenuhi pendapa itu. Dalam waktu yang singkat, tiga orang lainnya telah terkapar pula dilantai.

Sementara itu, orang-orang yang berkelahi dihalamanpun mulai berlari-larian. Ketika darah Pikatan yang mendidih membawanya turun kehalaman, seorang dari para penjaga regolnya berkata “Jangan mereka. Mereka bukan dari golongan para perampok itu”

Pikatan tertegun sejenak. Ia melihat kedua penjaga regolnya berlari-lari menghadang orang-orang yang berlari-larian itu, dan menangkap dua diantara mereka.

Pikatan masih berdiri dihalaman rumahnya. Terasa tubuhnya yang selama ini membeku menjadi gemetar. Tangan kirinya masih menggenggam trisula yang berlumuran darah.
Pikatan terkejut ketika tiba-tiba saja terasa adiknya yang berlari-lari telah memeluknya sambil menangis. Bukan saja ia merasa bebas dari kematian karana pertolongan Pikatan, tetapi ia merasa bahwa seolah-olah ia telah berhasil membangunkan kakaknya dari tidurnya yang lelap.
Tetapi Wiyatsih terkejut ketika ia mendengar kakaknya menggeram “Kau gila. Kau bermain-main dengan nyawamu”

Wiyatsih melepaskan pelukannya. Dipandanginya wajah kakaknya yang tegang. Dan tiba-tiba saja Pikatan membanting trisula ditangan kirinya. Dengan tajamnya dipandanginya tangan kirinya yang bernoda darah itu. Dan tangan itu telah menjadi gemetar.

“Aku telah membunuh dengan tangan ini” lalu ditudingnya adiknya yang berdiri dihadapannya “kau, kaulah yang membuat aku membunuh”

Wiyatsih tidak menjawab. Ia mundur selangkah. Ditatapnya wajaih kakaknya yang semakin tegang.

Tetapi ketika terpandang oleh Pikatan luka dibahu Wiyatsih Pikatan menarik nafas dalam-dalam.

“Tentu perempuan itu yang telah membuat kau menjadi liar seperti ini” geram Pikatan “jangan kau ingkari. Aku mengenal ilmu yang kau kuasai itu. Ilmu dari perguruan Pucang Tunggal. Aku yakin bahwa, perempuan sombong itu berada disini sekarang” Wiyatsih tidak menyahut. Bahkan wajahnya tertunduk dalam-dalam.

“Jangan kau sangka, bahwa kalian berhasil memaksa aku keluar dari bilikku. Hanya malam ini aku telah terlanjur membunuh. Dan besok aku menunggu orang lain membunuh aku” Pikatan berhenti sejenak, lalu “sekarang aku tahu. Orang yang disebut-sebut dengan nama Pikatan itu pasti perempuan dari Pucang Tunggal. Tentu Puranti yang membual seolah-olah tangannya lumpuh sebelah. Dengan demikian berhasil memancing pada penjahat untuk membunuh aku.

“Tidak, tidak“ Wiyatsih tiba-tiba berteriak.

“Jangan ingkar. Aku mengenal ilmu itu”

“Aku tidak ingkar bahwa aku mendapat ilmu itu dari Puranti tetapi Puranti sama sekali tidak berniat untuk mencelakai kau kakang. Tidak sama sekali”

“Bohong, apakah gunanya ia mengaku Pikatan dengan tindakan-tindakannya yang liar itu?. Bukankah itu sekedar suatu alat untuk membunuhku tanpa mengotori tangannya”

“Tidak, tidak benar“ Wiyatsih berteriak pula. Namun yang lebih mengejutkan lagi adalah suara yang lain meskipun perlahan “Kau salah paham kakang Pikatan”

Hampir terlonjak Pikatan berpaling. Dilihatnya seseorang berdiri didalam kegelapan. Tetapi Pikatan segera dapat mengenalnya. Orang itu adalah Puranlti.

“Kau, kaulah yang berusaha membunuh aku” Tiba-tiba saja Pikatan menggeretakkan giginya. Wajahnya bagaikan menyala.

Puranti tidak segera menjawab, karena tiba-tiba saja Wiyatsih berlari memeluknya.
Terasa setitik air mata menetes dikening Wiyatsih. Ternyata Purantipun sedang bertahan agar ia tidak menangis.

“Kakang Pikatan“ berkata Puranti kemudian “aku telah berusaha dengan segala macam cara untuk membangunkan kau dari tidurmu yang lelap. Sekarang kau terbangun sejenak. Tetapi seperti orang yang disentakkan dari tidurnya, kau sudah menghempaskan dirimu kembali kedalam alam mimpimu yang buruk”

“Diam, diam“ teriak Pikatan. Suaranya menjadi serak oleh desakan perasaan yang rasa-rasanya bahkan memepatkan dadanya”

“Kakang Pikatan“ berkata Puranti “aku memang ingin minta maaf kepadamu. bahwa aku telah menyentuh namamu. Aku aku, akulah yang telah membunuh beberapa orang perampok dengan tangan kiriku”

Pengakuan Puranti itu ternyata telah menggetarkan dada Pikatan. Tetapi juga orang-orang yang berada dipendapa dan dihalaman. Puranti adalah seorang perempuan. Dan perempuan itulah yang telah membunuh beberapa orang perampok dengan sebelah tangannya. Dan perempuan itulah yang telah disangka Pikatan sehingga para perampok mendendamnya.

“O“ berkata Pikatan “kau akan minta maaf kepadaku, bahwa perampok-perampok itu tidak berhasil membunuhku?“

“Kakang, pada mulanya, perampok-perampok itulah yang akan mencemarkan nama kakang Pikatan. Mereka akan membunuh beberapa orang yang sedang kelaparan dan mencoba untuk merampas milik tetangga-tetangga sendiri dengan coreng-moreng diwajahnya. Tetapi adalah kebetulan sekali mereka bertemu dengan perampok yang sebenarnya. Perampok-perampok yang sebenarnya itulah yang akan membunuh orang-orang yang sedang lapar itu. Dan mereka akan berbisik disetiap tetangga, bahwa Pikatanlah yang telah melakukannya. Pada saat itu aku tidak dapat berpikir panjang. Aku tidak ingin nama Pikatan dicemarkan karena sampai hati membunuh orang-orang yang sekedar merampas milik orang lain karena kelaparan”

“Bohong“ potong Pikatan “kau berbohong. Kalau kau benar telah menyelamatkan orang-orang itu atas nama Pikatan, maka pasti ada orang yang datang kepadaku untuk mengucapkan terima kasih. Tetapi tidak seorangpun yang pernah datang menemui aku”

“Tentu tidak. Mereka tidak akan datang untuk mengucapkan terima kasih karena mereka malu kepada diri sendiri”

“Aku tidak percaya. Kau pasti akan menghapuskan ilmu yang pernah disadap dari perguruanmu, tetapi yang kemudian tidak mau lagi tunduk kepada kehendak sumber ilmu itu”

“Pikatan“ tiba-tiba tubuh Puranti menjadi gemetar. Wiyatsih terkejut pula karenanya. Bukan oleh kata-kata Pikatan, tetapi oleh sikap Puranti. Perlahan-lahan Puranti mendorong Wiyatsih menjauh. Kemudian sambil menengadahkan dadanya dipandanginya Pikatan dengan tajamnya. Katanya “Pikatan. kau jangan asal saja dapat mengucapkan kata-kata. Renungkan, bahwa kata-katamu itu sangat menyakitkan hatiku”

“Kau sangka perbuatanmu atas nama Pikatan itu tidak menyakitkan hatiku?“

“Kalau kau menjadi sakit hati, itu adalah persoalan antara aku dan kau. Meskipun niatku baik, tetapi kau tanggapi dengan sikapmu yang berputus-asa itu, aku tidak berkeberatan. Tetapi jangan menyinggung-nyinggung lagi perguruan Pucang Tunggal. Kalau kau mau lari, larilah. Dan kalau aku ingin membinasakan ilmu yang tidak lagi tunduk kepada perintah sumbernya, aku tidak usah meminjam tangan orang lain”

Wajah Pikatan menjadi merah padam. Ia sudah pasrah diri untuk mengalami perlakuan yang bagaimanapun juga. Tetapi penghinaan Puranti itu benar-genar telah memerahkan telinganya.

“Puranti“ Pikatan hampir berteriak “kau sangka kau sendirilah orang yang memiliki ilmu yang paling sempurna? Kau sangka tanpa kau tidak ada orang lain yang dapat berbuat sesuatu? Tidak. Kau keliru. Tanpa kau, tanpa Pucang Tunggalpun aku akan tetap seorang Pikatan”

”Aku percaya“ berkata Puranti “tetapi jangan menghina perguruan Pucang Tunggal. Aku tidak peduli lagi kepadamu. Buat apa aku berusaha menyingkirkan kau? Apakah pengaruhnya seorang Pikatan yang putus asa terhadap perguruan Pucang Tunggal?”

“Puranti“ terdengar suara Wiyatsih yang parau. Bagaimanapun juga telinganya terasa pedih mendengar seseorang menghinakan kakaknya. Meskipun orang yang menghinakan itupun sudah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri.

Dalam pada itu, kedua penjaga regol, Nyai Sudati dan beberapa orang yang lain menjadi termungu-mangu. Mereka tidak tahu bagaimana seharusnya menanggapi persoalan yang mereka hadapi. Jika terjadi sesuatu diantara mereka, apakah yang pantas mereka lakukan?” Tetapi lebih daripada itu, merekapun menjadi heran pula bahwa gadis yang belum pernah mereka lihat itu sama sekali tidak gentar menghadapi Pikatan yang sedang marah, Bahkan agaknya gadis itupun melihat, bagaimana Pikatan dengan tangan kirinya berhasil membinasakan lawan-Iawannya

“Siapakah gadis itu?“ mereka bertanya didalam hati. Yang mereka dengar dari mulut Pikatan hanyalah nama gadis itu. dan agaknya gadis itu pulalah yang mengajari Wiyatsih didalam oleh kanuragan. Tetapi selebihnya mereka tidak tahu siapakah gadis itu.

Dalam pada itu, perasaan Pikatan bagaikan terbakar oleh panasnya kata-kata Puranti. Hampir saja ia kehilangan pengamatan diri dan memungut trisula yang sudah dibantingnya. Namun ketika kembali ia menyadari bahwa tangannya yang sebelah kanan sama sekali tidak dapat digerakkan lagi, maka iapun menghentakkan kakinya dengan putus-asa. Jika ia masih kanak-kanak, maka ia ingin menjerit sekeras-kerasnya untuk melontarkan himpitan perasaan didanya. Atau jika ia seorang perempuan, ingin ia menangis selepas-lepasnya untuk mengosongkan beban dihatinya. Tetapi ia bukan kanak-kanak lagi, dan ia bukannya seorang perempuan yang cengeng.

“Aku bukan perempuan cengeng” tiba-tiba ia menggeram didalam hatinya “aku adalah seorang laki-laki”

Tiba-tiba hati Pikatan rasa-rasanya bergejolak dengan dahsyatnya. Kesadaran diri. bahwa ia seorang laki-laki telah menghempaskannya kedalam suatu kesadaran baru tentang dirinya. Tentang seorang laki-laki yang bernama Pikatan.

Apalagi pada saat itu Puranti yang masih berdiri dihadapannya berkata “Pikatan, baiklah. Jika kau tidak percaya bahwa aku telah berusaha menyelamatkan namamu, Baiklah aku serahkan penilaian atas perbuatan itu kepadamu. Bahkan seandainya kau menganggap aku berusaha melenyapkan ilmu Pucang Tunggal yang terlepas dari ikatannya. Tetapi lebih daripada itu aku akan membuktikan kepadamu, bahwa aku dapat berbuat banyak hanya dengan tangan kiriku. Tanpa tangan kanan aku dapat membunuh beberapa orang penjahat sekaligus, Apakah tangan kirimu mampu melakukannya?“

“Puranti“ Pikatan berteriak “apakah kau sudah buta? Lihat, lihatlah mayat yang bergelimpangan dihalaman ini. Aku telah membunuhnya meskipun aku tidak lagi menguasai tangan kananku?“

“Tetapi kau lakukan semuanya ini diluar kesadaran. Kau telah kepanjingan setan. Itulah yang menggerakkan kau”

Kemarahan Pikatan tidak dapat ditahankannya lagi. Tiba-tiba saja ia meloncat mengambil trisula yang dibantingaya ditanah. Dengan tangan gemetar ia berkata dengan suara gemetar pula “Marilah kita lihat, siapakah yang lebih baik diantara kita berdua”

“Kakang“ Wiyatsih meloncat berlari kearah kakaknya. Tetapi Puranti menahannya dan mendorongnya menepi.

“Minggirlah Wiyatsih“ desis Puranti.

Perasaan Wiyatsih bagaikan dicengkam oleh kekuatan yang tidak terlawan. Perlahan-lahan ia bergeser menepi.

Orang-orang yang berdiri disekitar halaman dan pendapa itu menjadi bingung. Kini persoalannya sama sekali tidak menyangkut para perampok dan penjahat itu lagi. Justru mereka dihadapkan pada masalah yang tidak diketahuinya.

“Puranti, meskipun kau pernah menyelamatkan nyawaku, tetapi tidak sepantasnya kau menghinaku. Ayo, sekarang kita lihat, apakah bukan karena kebetulan saja kau mampu mengalahkan hantu bertangan api itu”

Puranti masih berdiri tegak ditempatnya. Ditatapnya wajah Pikatan yang membara. Ditangan kirinya telah tergenggam sebuah trisula yang telah basah oleh darah.

Sejenak Wiyatsih memandangi keduanya. Tetapi iapun tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

“Cepat ambil senjatamu“ Pikatan berteriak. Tetapi Puranti masih tetap berdiri membeku.

“Cepat. Aku akan membunuhmu. Melawan atau tidak melawan”

Puranti masih tetap berdiri tegak.

“Cepat ambil senjatamu. Cepat“ suara Pikatan meninggi.

Puranti mulai gemetar. Perlahan-lahan tangannya bergerak menggapai hulu pedangnya.
Suasana dihalaman rumah Nyai Sudati itu menjadi semakin tegang. Semua orang berdiri didalam kebingungan tanpa mengetahui ujung dan pangkal persoalannya. Mereka hanya melihat Pikatan menggenggam trisula ditangan kirinya, sedang gadis yang bernama Puranti itu perlahan-lahan dengan tangan gemetar meraba hulu pedangnya.

Namun Puranti tidak berhasil menarik pedangnya dari sarungnya. Betapapun kemarahan membakar dadanya, tetapi yang berdiri dihadapannya itu adalah Pikatan. Justru dalam keadaan yang sulit Itu ia tidak dapat mengingkari perasannya lagi, bahwa sebenarnyalah ia telah terjerat hatinya oleh laki-laki yang tangannya lumpuh sebelah itu. Pergaulan mereka di padepokan Pucang Tunggal, membuatnya dengan perlahan-lahan mencintainya. Dan kini perasaan itu telah mencengkam jantung dan hatinya. Beberapa lamanya ia meninggalkan padepokan dan ayahnya, justru karena ia ingin membangunkan Pikatan dari tidurnya. Kini tiba-tiba kemarahan yang tidak terkekang hampir saja menjerumuskannya dalam suatu pertentangan bersenjata dengan laki-laki itu.

Ketika Puranti-mendengar Pikatan sekali lagi membentak, maka tiba-tiba saja setitik air mengambang dimatanya. Tangannya yang gemetar dihulu pedangnya, tanpa disadarinya telah diangkatnya, tanpa menggenggam pedang itu. tetapi justru mengusap matanya yang basah.

Terasa disetiap hati, sentuhan yang tidak dimengerti. Air mata itu dapat memancarkan seribu arti. Namun ternyata bahwa titik air itu telab mengguncangkan hati Pikatan pula. Kemarahan yang meledak-ledak, bahkan trisula yang telah tergenggam ditangan kirinya, rasanya bagaikan membeku. Seperti Puranti ia terdorong pada suatu kenyataan yang tidak dapat diingkarinya. Ia dapat menipu yang lain tentang perasaannya. Tetapi ia tidak akan dapat menipu dirinya sendiri.

Sekilas kesadaran membayang dihati Pikatan. Semua yang terjadi itu sekedar terdorong oleh harga dirinya yang berlebih-lebihan Seakan-akan tidak ada orang lain yang lebih baik dari Pikatan, sehingga, ketika ia terbentur pada kenyataan itu, apalagi orang lain itu adalah seorang perempuan yang bernama Puranti, maka patahlah semua hasrat yang sebelumnya menyala dihatinya. Terlebih-lebih lagi cacat yang telah melumpuhkan tangan kanannya itu, membuatnya kehilangan pegangan.

Kini, dihadapannya berdiri Puranti yang menyeka air matanya. Gadis itu sama sekali tidak menarik pedangnya meskipun ia sudah berdiri berhadapan dalam kesiagaan.

Sebuah pengakuan terpercik dihati Pikatan. Sebenarnyalah apabila dikehendaki. Puranti pasti akan dapat mengalahkannya, Apalagi sekarang, tangannya yang kanan telah cacat. Sedangkan selagi tangannya masih utuh, ia tidak dapat menyamainya.

Suasana yang hening tegang dihalaman itu, tiba-tiba telah dipecahkan oleh suara Pikatan yang menggeram sambil sekali lagi membanting trisulanya “Baiklah. Kali ini kau masih dapat menghina aku. Tetapi ingat Puranti, bahwa pada suatu saat kau akan terkejut, bahwa meskipun aku tidak bertangan kanan lagi, tetapi aku tidak lagi memerlukan bantuan, Aku masih tetap seorang laki-laki”

Tanpa menunggu jawaban, maka Pikatanpun segera meloncat berlari masuk kedalam. Terdengar pintu pringgitan yang didorongnya kuat-kuat terbanting keras sekali, sehingga orang-orang yang berdiri dihalaman itu terkejut karenanya.

Sepeninggal Pikatan, barulah Nyai Sudati menarik nafas dalam-dalam, Meskipun ia masih diliputi oleh kebingungan, namun la maju mendekati Puranti yang berdiri termangu-mangu sambil menitikkan air mata “Siapakah sebenarnya kau?“

Puranti yang masih harus bertahan agar tidak menangis meloIong-lolong karena himpitan perasaan, dengan mata yang basah memandang Nyai Sudati sejenak, namun Wiyatsihlah yang mendahului berkata “Gadis itu adalah guruku ibu. Ialah yang mengajari aku dalam olah kanuragan sehingga meskipun aku tidak dapat mengalahkan perampok-perampok itu, namun aku berhasil menahannya beberapa lama”

Nyai Sudati mengangguk-anggukkan kepalanya. la tidak tahu menahu tentang olah kanuragan. Namun ia mengerti juga. Bahwa ternyata anaknya sudah belajar kepada seseorang,

Dalam pada itu, kedua penjaga regol rumah Nyai Sudati itulah yang mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata “Ternyata kalian telah menyelamatkan kami. Bahkan seisi rumah ini” lalu katanya kepada Wiyatsih “Kamilah vang agaknya terlampau dungu untuk mengenal llmumu Wiyatsih. Kami bahkan menggeleng-gelengkan kepala kami, jika kau melihat kami berlatih dan kadang-kadang menirukannya. Baru sekarang aku tahu, bahwa kaulah yang sebenarnya harus mengajari kami”

“Bukan aku“ sahut Wiyatsih “tetapi gadis ini. Namanya Puranti dari padepokan Pucang Tunggal“

“Kau sudah mengenal Pikatan, Puranti?“ bertanya Nyai Sudati.

Tetapi yang menjawab adalah Wiyatsih “Ayahnyalah guru kakang Pikatan, Kiai Pucang Tunggal”

“O“ Nyai Sudati mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu “aku menjadi bingung sekali. Aku tidak tahu apa yang sebaiknya aku lakukan, sehingga aku tidak dapat berbuat apa-apa melihat kalian bertengkar” ia berhenti sejenak, lalu “silahkan masuk ngger. Aku harap kau singgah sebentar dirumah ini”

“Marilah“ Wiyatsih yang kemudian menariknya. Tetapi Puranti ragu-ragu sejenak.
“Tidak apa-apa. Kakang Pikatan tidak akan terus-menerus marah kepadamu. Aku melihat sesuatu yang lain pada sikapnya.”

Puranti mengangguk-anggukkan kepalanya. katanya “Mudah-mudahan aku tidak salah lagi. Jika ia terbangun dari tidurnya, akibatnya pasti akan menguntungkan baginya. Mudah-mudahan tidak ada akibat lain meskipun ia masih saja marah kepadaku”

“Kau sudah memberikan pengorbanan yang cukup besar. sahut Wiyatsih ”Marilah. Aku sekarang tahu. bahwa kau tidak dapat melepaskan kakang Pikatan. Baik sebagai saudara seperguruan, maupun karena kau seorang gadis dan kakang Pikatan seorang laki-laki”

“Ah“ desah Puranti.

“Kau tidak sanggup menarik pedangmu, meskipus kau tahu bahwa kau tidak memerlukan waktu yang lama untuk mengalahkannya“ bisik Wiyatsih. lalu “tetapi sudahlah, marilah“
Wiyatsih menarik tangan Puranti naik kependapa dan kemudian masuk keruang dalam.
“Kau sekarang dapat memasuki rumah ini. Kau adalah tamuku“ berkata Wiyatsih “kau tidak perlu lagi mengintip dari lobang-lobang dinding dan memberikan isyarat-isyarat itu iagi kepadaku”

Puranti hanya menganggukkan kepalanya saja. Dengan ragu-ragu iapun segera duduk diatas tikar yang sudah terbentang.

“Duduklah“ berkata Wiyatsih.

“Jangan pergi Wiyatsih“ berkata Puranti “kau perlu mengobati lukamu”

“O“ Wiyatsih meraba luka dipundaknya “aku sudah tidak merasakan lagi”

“Tetapi darah masih juga mengembun dari luka yang meskipun kecil, namun jika tidak kau obati, akan dapat menjadi bengkak”

“Apakah obatnya?“

“Aku membawa obatnya”

Wiyatsih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Wiyatsih tersenyum sambil bertanya “Kau juga dapat menjadi dukun?“

“Ayah memberikan bekal kepadaku”

“O“

“Kau sekarang mengetahui Wiyatsih, bahwa banyak kemungkinan dapat terjadi. Karena ayah cukup berpengalaman, maka akupun dibekalinya dengan kebutuhan-kebutuhan yang dapat dipergunakan dalam keadaan yang memaksa sementara menunggu perawatan yang lebih baik”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Iapun kemudian duduk dihadapan Puranti yang segera menyiapkan serbuk obat-obatan untuk mengobati luka Wiyatsih.

Ketika ibu Wiyatsih masuk dan melihat luka Wiyatsih itu, maka dengan cemas ia bertanya “Kau terluka?“

“Hanya sedikit tersentuh senjata ibu”

Ibu Wiyatsih itupun kemudian bersimpuh disampingnya sambil berkata “Aku tidak menyangka, bahwa kau dapat berbuat seperti itu Wiyatsih. Aku tidak mengerti apakah sebenarnya yang telah terjadi”

Wiyatsih hanya tersenyum sekilas. Tetapi ia tidak menjawab, Bahkan kemudian ia menyeringai ketika Puranti mulai meraba-raba lukanya dan menaburkan serbuk itu.

“O, kenapa menjadi pedih?” desis Wiyatsih.

“Ya. Untuk beberapa lama, lukamu terasa pedih. Tetapi Mudah-mudahan luka itu akan sembuh sehari atau dua hari”

Wiyatsih menganggukkan kepalanya. Dibiarkannya bahunya terbuka agar serbuk obat itu tidak terhapus jika ia mengenakan bajunya. Apalagi baju itu sudah bernod darah, sehingga karena itu, maka Wiyatsihpun kemudian membuka bajunya sama sekali, dan hanya mengenakan kembennya yang ternyata juga bernoda darah yang meleleh dari lukanya itu
Selagi Puranti sibuk mengobati luka Wiyatsih, maka Nyai Sudatilah yang kemudian menyuruh para pelayan yang masih gemetaran untuk menyediakan minum baginya.

Sementara ilu diluar, dihalaman, para penjaga dan para pelayan laki-laki sedang sibuk mengurusi beberapa Sosok mayat yang berserakan. Ternyata diantara para pelayan, jatuh juga dua orang korban yang terluka berat, sedang tiga orang yang lain meskipun terluka parah, namun tidak membahayakan jiwanya.

Malam itu, bagi halaman rumah Nyai Sudati adalah malam yang paling mengerikan yang pernah terjadi. Dipendapa terbaring beberapa sosok mayat dan dibalik belakang terbaring para pelayan yang terluka, yang kemudian mendapat pertolongan pula dari Puranti dengan obat yang dibawanya dari padepokannya.

Meskipun demikian, betapa sibuknya orang-orang yang tinggal dihalaman itu, namun tidak seorangpun dari para tetangganya yang mengetahui, apakah yang sudah terjadi. Mereka masih saja dicengkam oleh ketakutan untuk membuka pintu. Apalagi tetangga-tetangga yang terdekat yang sempat mendengar pekik meninggi seseorang yang pecah dadanya oleh senjata.

Baru ketika matahari mulai membayang, satu dua orang mencoba untuk mengintip keluar. Masih juga terasa tengkuk mereka meremang melihat kesepian yang mencengkam, seolah-olah padukuhan mereka masih saja diliputi oleh ketakutan dan kecemasan yang sangat.

Tetapi semakin terang bayangan pagi meliputi daerah disekitar Alas Sambirata, maka orang-orang itupun menjadi semakin berani pula. Perlahan-lahan mereka mencoba membuka pintu butulan. Ketika mereka tidak melihat sesuatu dan tidak mendengar apapun yang mencurigakan, barulah satu dua orang berani turun kehalaman.

Ternyata pagi menjadi semakin terang seperti pagi-pagi sebelumnya. Langit menjadi semakin cerah dan burung-burung mulai bersiul dengan riangnya.

“Hem” seorang laki-laki menarik nafas lega “ternyata tidak ada apa-apa. Tidak ada rumah yang dibakar dan tidak ada tangis duka disekitar tempat ini. Jika ada satu dua perampok yang memasuki rumah dan mencelakai penghuninya, maka pasti ada suara tangis yang pedih meratapi korban-korban keganasan itu”

Namun dalam pada itu, selagi langjt menjadi semakia cerah Wiyatsih pergi kependapa bersama Puranti. Begilu ia membuka pintu pringgitan, terdengar pekik tertahan. Untunglah Puranti cepat menangkapnya, karena mata Wiyatsih menjadi gelap ketika ia melihat beberapa sosok mayat terbujur dipendapa rumahnya.

Perlahan-lahan Puranti membawanya masuk kembali. Ketika Nyai Sudati berlari-lari mendekatinya dan dengan ragu-ragu ingin melihat apa yang membuat Wiyatsih menjadi hampir pingsan, Puranti menahannya “Jangan pergi kependapa dulu bibi. Wiyatsih tidak tahan melihat beberapa sosok mayat yang tergolek dipendapa. Jika bibi juga tidak tahan, lebih baik bibi tinggal saja didalam.

“O“ ibu Wiyatsih menjadi pucat. Namun ketika dilihatnya Wiyatsih yang menggigil dengan mata terpejam, maka iapun segera mengambil semangkuk air.

“Minumlah Wiyatsih“ desis Puranti.

Setitik demi setitik Wiyatsih menelan tetes air. Perlahan-lahan terasa darahnya menjadi semakin tenang. Ingatan menjadi pulih kembali.

“Kau akan menghadapi hal serupa ini berulang kali jika kau berhasrat mengamalkan ilmu yang kau miliki“ berkata Puranti ”Ketika aku pertama kali menikamkan pedangku dan melihat darah yang memancar dari luka, akupun hampir menjadi pingsan. Untunglah bahwa ketika kau menusukkan senjatamu untuk yang pertama kali, kau tidak melihat darah yang memancar itu dengan jelas. Selain malam yang gelap, kau masih terikat oleh perkelahian yang menentukah. Jika kau kehilangan keseimbangan karena kau tidak tahan melihat darah dan luka, maka kau sendiri akan mengalaminya”

Wiyatsih tidak menjawab. telapi rasa-rasanya darahnya menjadi dingin membeku. Beberapa sosok mayat dipendapa itu benar-benar mengerikan sekali.

“Tinggallah kau didalam, Wiyatsih“ berkata Puranti “biarlah para pembantu rumahmu menyelenggarakannya dan menguburkannya. Mudah-mudahan para tetangga disekitar rumah ini akan bersedia membantunya”

Wiyatsih mencoba menganggukkan kepalanya. Namun dengan demikian ia mulai berhadapan dengan suatu kenyataan dari isi dunia yang garang ini. Didalam suatu saat kadang-kadang terjadi sesuatu yang tidak pernah diduganya. Kekerasan diantara manusia yang mengaku sebagai titah yang paling beradab dimuka bumi.

”Tetapi aku sudah mulai“ berkata Wiyatsih didalam hatinya. Dan terngiang pula kata-kata Puranti “Kau akan menghadapi hal serupa ini beruiang kali, jika kau berhasrat mengamalkan ilmu yang kau miliki”

Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam. Terlalu pahit rasanya bahwa untuk menegakkan peradaban harus ditempuh jalan yang sama sekali bertentangan dengan peradaban itu sendiri.

Namun ketika Puranti melepaskannya, Wiyatsih mencoba duduk sendiri bersandar tiang. Terasa tubuhnya meremang jika teringat olehnya, bagaimana ujung senjatanya terbenam didada seorang perampok yang sedang berusaha meloncat naik kependapa.

Wiyatsih memejamkan matanya. Ibunya yang masih duduk disampingnya menjadi ngeri pula. Sehingga dengan demikian keduanya sama sekali tidak beranjak dari tempatnya ketika kemudian Puranti pergi kependapa.

Sebenarnya Puranti sendiri masih juga merasa ngeri melihat mayat yang tergolek dipendapa dengan luka-luka yang menganga ditubuh yang membeku itu. Darah yang sudah menjadi hitam tidak saja menodai sosok-sosok mayat itu, tetapi juga menodai lantai pendapa dan halaman.

Hanya dua orang penjaga regol itu sajalah yang menghadapi korban-korban itu dengan sabar. Tetapi karena terpaksa, maka para pelayan yang tidak terlukapun harus ikut pula menyelenggarakan mayat-mayai itu.

“Tidak apa-apa” berkata para penjaga itu “mayat-mayat ini sudah tidak dapat menyerang kalian seperti semalam”

Namun tengkuk mereka masih juga meremang.

Yang sama sekali juga tidak dapat ingkar dari pekerjaan yang mendebarkan itu justru mereka yang terkurung dihalaman itu. Mereka yang datang dibawa oleh para perampok yang ternyata tertumpas. Yang terluka oleh pedang Wiyatsihpun kemudian menyusul kawan-kawannya pula ke alam yang langgeng, alam pertanggungan jawab dari seluruh tindak tanduk dari perbuatan semasa hidupnya.

Tetapi sebenarnya orang-orang yang berkerudung itu sama sekati bukan orang lain. Meskipun agak jauh, tetapi mereka adalah orang-orang yang sudah dikenal oleh orang-orang padukuhan itu. Dan sebenarnyalah mereka bukannya perampok-perampok yang sebenarnya. Hanya karena kelaparan yang tidak tertahankan, mereka terlibat dalam kejahatan-kejahatah yang serupa dengan menggantungkan diri mereka kepada penjahat-penjahat yang sebenarnya.

“Kami tidak akan menceriterakan apa yang sebenarnya telah terjadi kepada tetangga-tetangga jika kalian benar-benar menyadari kesalahan kalian“ berkata kedua penjaga regol yang telah mengikat mereka. Lalu “lupakanlah pekerjaan ini seperti tidak pernah terjadi sesuatu”

“Tetapi bagaimana dengan kawan-kawan kami yang terluka?”

“Biarlah mereka dirawat dan bawalah mereka kembali kerumah masing-masing nanti”

“Apakah yang dapat kami katakan kepada keluarga mereka?“

“Kalian dapat membuat suatu ceritera untuk keluarganya. Terserahlah kepada kalian. Mungkin kalian mengatakan bahwa secara kebetulan kalian bertemu dengan para penjahat itu di sawah, kalian dipaksa ikut bersama mereka atau barangkali ada cerita lain yang lebih menarik”

Orang-orang itu terdiam. Namun tangan merekalah yang masih harus bekerja terus membersihkan halaman dari pendapa rumah Nyai Sudati.

“Kita harus mendapat kain untuk membungkus mayat-mayat itu” berkata salah seorang dari penjaga regol itu kepada kawannya.

“Tentu. Kita minta saja kepada Nyai Sudati”

Dalam pada itu satu dua orang tetangga terdekat telah mulai membersihkan halaman. Terdengar suara sapu lidi dihalaman dalam irama yang ajeg. Orang-orang disekitar rumah Nyai Sudati masih belum mengetahui apa yang telah terjadi.

Ketika seseorang lewat dimuka rogol rumah Nyai Sudati yang sudah terbuka, tertegun sejenak melihat beberapa orang yang sedang sibuk dihalaman. Agaknya keluarga itu telah menarik perhatiannya sehingga orang itupun berhenti sejenak dimuka regol.

“Silahkan masuk“ berkata penjaga regol itu.

“Apa yang kalian kerjakan?“

“Silahkan, lihatlah sendiri apa yang terjadi”

Ketika ia melangkah masuk kehalaman dan melilat beberapa sosok tubuh terbaring dipendapa, matanya tiba-tiba terbelalak

“Apa itu?“

“Marilah“ penjaga regol yang tinggi kekurus-kurusan membimbing orang itu naik kependapa.

“O“ hampir saja orang itu menjadi pingsan.

Orang yang kekurus-kurusan itu memapahnya turun kembali ke halaman, ia berkata kepada orang itu “Kami memerlukan bantuan kalian untuk mengubur mayat-mayat itu”

“Tetapi, tetapi“ suara orang itu terputus-putus “siapakah yang mereka?“

“Perampok”

“Perampok?“

“Ya”

“Siapa yang membunuh mereka?“

“Pikatan”

“Pikatan?“

“Ya, Pikatan”

Demikianlah nama Pikatan tersebar semakin luas. Orang itu yang kemudian memberitahukan kepada tetangga-tetangganya, mengatakan bahwa Pikatan telah membunuh beberapa orang perampok sekaligus.

“Benar?“ bertanya seorang tetanggn yang lain.

“Benar. Pikatan mengamuk ketika para penjahat itu datang kerumahnya. Beberapa dari mereka telah dibunuhnya. Dan kini, kita diminta bantuannya untuk menguburkan mayat-mayat itu“

“Darimana kau tahu?“

“Aku baru saja pergi kerumah Pikatan”

“Siapa yang mengatakannya bahwa Pikatan yang telah membunuh mereka?“

“Pikatan. Pikatan sendiri. Aku sudah berbicara dengan Pikatan”

“Benar, kau berbicara dengan Pikatan?“

“Maksudku, aku berbicara dengan orang-orang yang bekerja dirumah Pikatan, dengan para penjaga rumah itu. itulah yang menyebut nama Pikatan”

Demikianlah beberapa orang tetangga yang meskipun agak ragu-ragu dan ngeri, namun mereka datang juga kerumah Nyai Sudati. Nama Pikatan memberikan kebanggaan pula kepada mereka, disamping pamrih mereka untuk mendapat perlindungan daripadanya

“Apakah Ki Demang sudah diberi tahu?“ desis salah seorang dari mereka.

“Sudah. Ki Demang dan Ki Jagabaya. Seharusnya mereka datang melihat apa yang terjadi disini”

“Mereka tentu akan datang. Setidak-tidaknya mereka akan menemui Pikatan dan menyatakan kekaguman mereka”

Dalam pada itu, selagi hampir setiap mulut menyebut nama Pikatan, maka Pikatan sendiri berada didalam biliknya sambil menutup mukanya dengan tangannya yang bernoda darah. Tangan kirinya, sedang tangan kanannya dengan lemahnya tergantung disisi tubuhnya.

Pembunuhan itu benar-benar telah mempengaruhinya. Pengaruh yang saling bertentangan dan berbenturan. Namun diantara benturan-bentutan yang dahsyat itu, melonjak sentuhan yang paling tajam dijantungnya.

“Meskipun aku bertangan kiri, tetapi aku tetap laki-laki. Laki-laki yang tidak boleh menggantungkan diri kepada perempuan “Pikatan menggeram didalam dadanya.
Ketika diluar rumah, tetangga-tetangga Nyai Sudati sibuk membungkus mayat-mayat yang tidak mereka ketahui sanak kadangnya itu dan yang ditunggui oleh Ki Demang Sambi Sari dan beberapa orang bebahunya, Pikatan sama sekali tidak mau keluar dari biliknya. Bahkan seakan-akan ia semakin terbenam dalam benturan perasaan tentang dirinya sendiri.

Akhirnya semuanyapun selesai. Beberapa orang tetangga Nyai Sudati membawa beberapa sosok mayat itu kekuburan bersama para babahu Kademangan Sambi Sari. Sedang disore hari mereka masih duduk-duluk dipendapa rumah Nyai Sudati sejenak. Meskipun korban-korban itu bukan sanak kadang Nyai Sudati, tetapi mereka berusaha untuk menentramkam hati janda yang ketakutan itu.

Sebagai pernyataan terima kasih, maka Nyai Sudati telah menjamu tetangga-tetangganya meskipun ada yang tidak dapat menelan makanan yang dihidangkan, karena kengerian yang masih mencengkam. Rasa-rasanya mereka masih melihat sosok-sosok mayat itu tergolek dipendapa.

Ketika matahari turun dan warna merah mulai membayang, maka tetangga-tetangga itu dengan tergesa-gesa minta diri. Apalagi mereka yang hadir dihalaman itu karena kepentingan yang sama sekali berbeda dengan tetangga-tetangganya yang lain, mereka yang datang bersama para perampok yang telah terbunuh itu.

Dengan kecemasan yang mulai merayapi dada mereka berjalan bergegas-gegas pulang kerumah masing-masing. Jika mereka kegelapan ditengah bulak, mereka akan menjadi ketakutan sekali. Masih terbayang apa yang baru saja terjadi dihalaman rumah Nyai Sudati. Kematian yang mengerikan.

Demikianlah, malam hari yang mendatang adalah malam yang terasa sepi dan tegang. Bahkan para bebahu Kadamangan menjadi ngeri. Jika kawan-kawan perampok itu tidak merelakan kematian kawan-kawannya dan mereka menyalahkan seluruh Kademangan Sambi Sari, maka akibatnya akan sangal parah. Sambi Sari akan menjadi sasaran dendam para perampok dan penjahat, meskipun terutama rumah Nyai Sudati.

Sementara itu, mereka yang berada dihalaman rumah Nyai Sudatipun menyadari hal itu pula. Cepat atau lambat, kawan-kawan para perampok itu akan mendengar pula apa yang terjadi. Bahkan jika kematian kawan-kawannya itu langsung menyalakan kemarahan dihati mereka, maka mereka akan segera datang. Malam itu dengan membawa sepasukan kekuatan yang meyakinkan.

Dalam pada itu, ketika hari menjadi gelap, para penjaga regol duduk merenung ditangga pendapa. Ternyata bahwa yang telah terjadi itu mempengaruhi perasaan mereka. Sekali-sekali mereka berpaling, seolah-olah ingin meyakinkan, apa tidak ada lagi sesosok mayat yang tertinggal dipendapa,

Karena itu, maka kedua penjaga regol itu telah memasang obor disudut regol dan diserambi pendapa, selain lampu yang biasa tergantung ditengah-tengah pendapa itu.

Diruang dalam Nyai Sudati duduk bersama Wiyatsih dan Puranti. Wiyatsihlah yang menahan Puranti agar ia tidak meninggalkan rumah itu. Rasa-rasanya tanpa Puranti, hatinya menjadi kuncup. la masih belum yakin bahwa Pikatan benar-benar telah bangun, bukan sekedar terkejut dan kemudian tidur kembali.

“Biyungku akan menjadi sangat gelisah menunggu“ berkata Puranti.

“Tetapi kau tidak boleh pergi. Besok jemput saja biyungmu itu dan bawa ia kemari”

“Ah” Puranti berdesis “ia hanya akan menjadi beban disini. Ia sudah terialu lemah untuk bekerja apapun, juga sekedar memetik dedaunan dikebun”

“Apalagi ia sudah terialu lemah. Jika kau meninggalkannya kelak, lalu siapakah yang akan memeliharanya?“

Puranti menggeleng “Tidak ada. Dan ternyata aku telah terlibat dalam kesulitan tersendiri atas orang tua itu. Akulah yang seolah-olah harus menanggungnya sampai akhir hayatnya, karena meskipun aku belum lama tinggal bersamanya, tetapi rasa-rasanya aku tidak akan dapat meninggalkannya begitu saja”

“Biarlah ia gelisah malam ini. Tetapi besok kau akan kembali kepadanya”

“Ia tentu mengira aku lari”

“Karena laki-laki itu?“

Wajah Puranti menjadi merah sesaat. Namun kemudian ia tersenyum sambil mengangguk “Ya, dan biyung itu tidak akan mencari atau menunggu aku seandainya aku tidak kembali sama sekali.

“Kenapa?“

“Begitulah. Sebenarnya ia tidak akan gelisah sama sekali justru apabila aku tidak kembali”

“Ya, kenapa?“

“Ialah yang menyarankan aku pergi saja. Ia tidak sampai hati memaksa aku untuk menuruti desakan laki-laki itu. Tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk menolak”

“O“ Wiyatsih mengangguk-angguk.

“Namun justru karena itu. aku menjadi kasihan kepadanya”

Wiyatsih tidak menyahut. Tetapi kepalanya masih terangguk-angguk. Sedang ibunya yang tidak mengerti apa yang mereka percakapkan, sama sekali tidak dapat menyahut, meskipun kadang-kadang kepalanya terangguk-angguk juga.

Namun bagaimanapun juga Puranti tidak dapat meninggalkan Wiyatsih yang rasa-rasanya sudah seperti adiknya sendiri. Karena itu betapa ia merasa belas kasihan terhadap perempuan tua dari Cangkring itu, namun ia tidak juga meninggalkan rumah itu.

Ternyata didalam keadaan yang gawat itu, Wiyatsih masih juga ingat kepada jagungnva diujung sawahnya yang kering. Sehari penuh ia tidak menyiram jagung itu. Jika ia tidak menyiramnya sehari lagi, maka jagung itu akan layu dan lenyap pulalah harapannya untuk menunjukkan kepada orang-orang padukuhannya, bahwa dengan air Kali Kuning, sawah yang kering itupun dapat ditanami.

“Besok kita pergi ke sawah“ berkata Puranti yang berusaha untuk mengurangi kegelisahan Wiyatsih.

Ibunya yang mendengar hal itu selagi mereka masih dicengkam oleh kengerian menyahut “Lupakan saja tanamanmu itu Wiyatsih. Keadaan menjadi semakin buruk. Kenapa kau masih juga sempat memikirkan pekerjaan-pekerjaan yang sia-sia”

“Tentu tidak ibu. Usaha ini bukannya usaha yang sia-sia. Batang-batang jagung itu sudah menjadi semakin tinggi. Jika kelak batang-batang jagung itu berbuah, akan yakinlah orang-orang dipadukuhan ini bahwa sawah-sawah mereka yang keringpun akan dapat ditanami. Dengan demikian maka usaha untuk membangun bendungan ini menjadi semakin lancar”

Ibunya mengerutkan keningnya. la sama sekali tidak senang mendengar rencana itu. Tetapi selagi luka dibahu Wiyatsih masih belum sembuh karena ia mempertahankan rumah dan isinya, ibunya sama sekali tidak membantahnya.

Demikianlah, ternyata bahwa malam itu telah dilalui tanpa terjadi sesuatu. Tidak seorangpun yang datang menuntut balas. Tidak seorangpun yang mencari Pikatan atau adiknya untuk melepaskan dendamnya. Dan para penjaga regol itu masih sempat juga tidur bergantian menjelang pagi hari, sehingga ketika matahan menjelang terbit, orang yang tinggi kekurus-kurusan masih juga tidur dengan nyenyaknya, meskipun hanya sekedar bersandar tiang sambil memeluk senjatanya.

Ia tergagap bangun ketika sinar lampu obor terasa memanas tangannya. Ketika ia membuka matanya, dilihatnya kawannya berdiri disampingnya sambil memegangi obor yang masih menyala meskipun sinarnya tampak semakin merah, karena cahaya matahari yang semakin cerah.

“Kau bakar tanganku?“ deslsnya.

“Tidak. Supaya kau bangun, Sebentar lagi seisi rumah akan sibuk. Dan kau masih mendekir disitu”

Orang yang tinggi Itu menguap. Kemudian iapun berdiri dan berjalan tertatih-tatih kebelakang, ternyata orang itu merebahkan dirinya diamben di dalam bilik juru pengangsu. Pemilik amben itu sudah bangun dan dan mengambil air untuk mengisi jambangan di pakiwan dan gentong di dapur. Sedang kawannya yang tinggi dan bertubuh kekar itupun pergl membersihkan dirinya dan kemudian duduk dipendapa sambil merenungi halaman rumah yang luas. Seorang pelayan telah mulai menyapu ujung halaman itu dengan sapu lidi, sedang orang yang lain, datang kepada penjaga regol itu dengan dua mangkuk minuman panas.

“Dimana kawanmu itu?” bertanya pelayan yang membawa minuman panas itu.

”Masih tidur”

“Dimana?“

“Dibelakang. Semula ia tidur bersandar tiang disini. Tetapi ketika aku membangunkannya, ia hanya bergeser tempat”

Pelayan itu mengangguk-angguk. Kemudian ia bertanya “Lalu bagaimana dengan mangkuk ini?“

“Tinggal saja disitu. Jika ia terbangun, ia akan datang kemari. Kami akan bersama-sama pulang. Kemarin kami tidak pulang sehari penuh. Orang-orang dirumah menjadi gelisah, apalagi jika mereka mendengar apa yang terjadi disini”

Pelayan itu tidak menjawab lagi. Diletakkannya dua mangkuk air panas itu dan kemudian ia kembali lagi kedapur.

Sementara itu, Wiyatsih dan Puranti yang sempat juga tertidur beberapa lamanya, telah terbangun pula. Yang pertama-tama diingat oleh Wiyatsih adalah jagungnya “Aku akan pergi kesawah”

Puranti mengerutkan keningnya, Ialu “Kita mandi dahulu”

Demikian mereka selesai membersihkan diri dan berpakaian, maka merekapun telah siap pergi kesawah diujung tanah kering itu untuk menengok tanaman Wiyatsih.

Tetapi Wiyatsih menjadi heran ketika ia melihat bahwa tanahnya tidak terlampau kering. Karena itu ia berdesis “Apakah ada seseorang yang menyiram tanaman ini kemarin?“

Purantipun melihat bahwa tanah masih agak basah, meskipun air yang menyiram batang jagungnya itu tidak sebanyak yang selalu diberikan pagi dan sore hari oleh Wiyatsih.

Sambil mengangguk-angguk Puranti berkata “Ya, tentu ada yang menyiram jagungmu kemarin”
Wiyatsih tidak menyahut. Dicobanya untuk mencari jawaban, siapakah yang telah menyiram batang-batang jagungnya.

Tetapi akhirnya ia menggelengkan kepalanya “Entahlah, aku tidak dapat menemukan jawabannya. Aku berterima kasih kepada yang telah melakukannya. Sekarang, marilah kita menyiram batang jagung yang menjadi semakir subur ini“

Puranti mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya “Aku akan membantumu”
Demikianlah, kedua gadis itu berjalan hilir mudik, naik turun tebing dengan lodong bambu ditangan. Karena tangan Wiyatsih yang sebelah masih terasa sakit, maka ia hanya membawa sebuah lodong saja, sedang lodong yang lain telah dibawa oleh Puranti.

Sebelum mereka selesai, maka mereka terhenti karena sesosok tubuh yang berjalan dikejauhan semakin lama semakin dekat kearah mereka.

“Kesambi“ desis Wiyatsih.

“O, anak muda yang pernah kau ceriterakan. Satu-satunya anak muda yang mengerti arti bendungan dari antara sekian banyak anak-anak muda dipadukuhan ini”

“Ya. Tetapi sekarang ia sudah berhasil mendapat dua tiga orang kawan yang agaknya dapat mengerti juga tentang bendungan itu”

“Sukurlah. Mudah-mudahan usaha itu dapat berhasil. Keadaan dipadukuhanmu pasti akan segera berubah”

Keduanya kemudian meletakkan lodong bambu masing-masing ketika. Kesambi menjadi semakin dekat dengan mereka berdua. Tampak di wajah Kesambi keheranan melihat kehadiran seorang gadis yang tidak dikenalnya disamping Wiyatsih.

“Marilah Kesambi” berkata Wiyatsih, lalu “kau tentu belum kenal la adalah kakakku yang datang dari sebuah padepokan yang jauh”

“O“ Kesambl menganggukkan kepalanya “selamat datang didaerah yang kering dan gersang ini”

Puranti tersenyum sambil menyahut “Untunglah daerah ini mempunyai seorang gadis seperti Wiyatsih yang berusaha untuk membangun sebuah bendungan dengan segala macam cara“

“Ah“ desis Wiyatsih “aku hanya sekedar melanjutkan cita-cita yang telah diangan-angankan oleh kakang Pikatan”

“Ya, tetapi kakang Pikatan hampir tidak dapat diharapkan lagi untuk berbuat sesuatu. Dan sekarang agaknya Wiyatsih telah menemukan kawan untuk melanjutkan usahanya itu“

“Ah kau“ wajah Wiyatsih menjadi kemerah-merahan, sedang Kesambipun menunduk kepalanya.

“Sawah ini aneh“ Wiyatsih berusaha mengalihkan pembicaraan. Lalu “Sehari aku tidak menyiramnya, tetapi tanahnya masih belum kering”

“O“ Kesambi mengerutkan keningnya. Kemudian sambil tersenyum ia berkata “Akulah yang kemarin menyiraminya”

“Kau?“

Kesambi mengangguk “Aku bertiga”

“Terima kasih“ desis Wiyatsih. Terasa sesuatu yang aneh merayapi dinding jantungnya. Dan sekali lagi suaranya bergetar “Terima kasih. Kau sudah menyelamatkan jagung-jagungku ini”

“Aku mempunyai kepentingan“ berkata Kesambi “akupun ingin kau berhasil membuktikan, bahwa air Kali Kuning dapat kau pergunakan untuk mengairi tanah yang kering itu”

“Kalian mempunyai kepentingan yang lama“ sahut Puranti.

“Ah“ sekali lagi Wiyatsih berdesah.

“Ya“ sahut Kesambi “bukan hanya kami berdua, tetapi seluruh Kademangan Sambi Sari mempunyai kepentingan yang sama”

Puranti tersenyum pula. Katanya kemudian “Mudah-mudahan kalian berhasil. Rakyat di Kademangan ini tidak akan melupakan jasa kalian berdua”

Dan sekali lagi Wiyatsih mengalihkan pembicaraan “Apakah kau kemarin datang kemari?“

“Tentu“ Purantilah yang menyahut “Bagaimana mungkin ia dapat menyirami jagungmu dari kejauhan”

“Maksudku“ Wiyatsih agak tergagap “kau berani datang kemari bertiga?“

Kesambi tidak segera menyahut. Dipandanginya batang-batang jagung yang tampaknya menjadi semakin segar karena siraman air dipagi hari. Seenak kemudian ia menjawab “Kami telah memaksakan diri. Kami tahu bahwa kau tidak akan keluar dari rumahmu karena peristiwa itu. Karena itu, kami bertiga memerlukan pergi kemari untuk menyiram batang-batang jagungmu meskipun tidak sebanyak yang kau lakukan. Namun dengan demikian jagung itu tidak menjadi layu”

“Dan kalian berani pulang bertiga saja?“

“Kami pulang jauh sebelum senja. Itupun kami sudah berlari-lari. Untunglah bahwa kami tidak menjumpai rintangan apapun juga. meskipun nafas kami hampir terputus. Begitu kami memasuki halaman rumah kami masing-masing, maka kamipun segera menjatuhkan diri diserambi, karena nafas yang tersengal-sengal”

“Kalian telah berbuat sesuatu yang sangat berarti“ desis Wiyatsih “meskipun kau hanya melakukannya sehari, namun yang sehari itu dapat menentukan hasil dari kera yang sudah berhari-hari bahkan berbulan-bulan”

“Hanya sekedar membantu“ sahut Kesambi “kerja yang berbulan-bulan itulah yang lebih menentukan”

Wiyatsih tidak menyahut, dipandanginya Kesambi sejenak, namin ketika anak muda itu juga memandangnya, maka Wiyatsih segera memalingkan wajahnya yang kemerah-merahan.

“Aku akan meneruskan kerjaku“ berkata Wiyatsih dengan suara bergetar”

“Aku akan membantu“ berkata Kesambi.

“Terima kasih” lalu katanya kepada Puranti “berikan lodong itu kepada Kesambi”

Puranti tidak membantah. Diberikannya lodong bambunya kepada Kesambi yang kemudian bersama-sama dengan Wiyatsih melanjutkan kerjanya, menyirami batang-batang jagungnya.

Sambil berjalan hilir mudik, maka Wiyatsihpun mulai menilai. Alangkah jauh bedanya antara Kesambi dan Tanjung. Didalam keadaan yang paling gawat, Tanjung sama sekali tidak berbuat apa-apa. Tetapi Kesambi, meskipun hati yang kecut. telah berusaha berbuat sesuatu yang berarti. Menyiram batang-batang jagung yang kepanasan itu

“Benar sekali sikap kakang Pikatan terhadap Tanjung“ berkata Wyatsih didalam hatinya. “Aku tidak pernah membeci seseorang. Tetapi Tanjung memang bukan anak muda yang baik. Aku tidak tahu, kenapa Ibu sangat tertarik kepadanya. Mungkin karena Tanjung mempunyai minat kepada kerja yang dilakukan ibu, sedang orang lain tidak”

Demikianlah, maka akhirnya kerja mereka itupun selesai. Seluruh batang jagung telah disiramnya. Dengan demikian batang-batang yang hijau itu semakin nampak segar.

“Jangan hiraukan apa yang sudah terjadi dirumahku“ berkata Wiyatsih kepada Kesambi “kita berusaha terus untuk membangun sebuah bendungan”

Kesambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tampak keragu-raguan membayang diwajahnya.

“Yang terjadi itu tidak akan banyak berpengaruh“ berkata Wiyatsih kemudian.

“Tetapi, bagaimanakah jika orang-orang itu melepaskan dendamnva kepada keluarga Pikatan? Misalnya, mereka menyerang kau yang sedang berada disawah seorang diri atau jika kau berada dipinggir kali”

Wiyatsih menggeleng, Katanya “Kakang Pikatan yang marah itu telah membunuh semua perampok yang datang”

“Tetapi jangan dikira bahwa perampok itu tidak mempunyai kawan-kawan lain”

Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam, jawabnya “Kita berdoa mudah-mudahan ALLAH SWT melindungi kita”

Kesambi melagangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnyalah bahwa hanya ALLAH SWT sajalah yang dapat menentukan segalanya.

Demikianlah maka ketiganyapun segera meninggalkan sawah yang basah oleh air Kali Kuning. Batang-batang jaguug yang subur itu telah cukup untuk menjadi bukti bahwa air Kali Kuning itu dapat dipergunakan untuk mengairi sawah yang kering. Meskipun jagung itu belum berbuah, tetapi sebagai seorang petani, orang Sambi Sari pasti dapat menilai bahwa jagung itu akan dapat berbuah kelak jika tidak ada perubahan musim. Namun jika hujan jatuh pada saat jagung itu berbunga, maka bunganya akan rusak dan buahnya tidak akan berbiji. Namun jika terjadi demikian pengaruhnya atas bukti yang ditunjukkan kepada rakyat dipadukuhannya itu tidak akan berkurang nilainya. Pada dasarnya dimusim kering, air Kali Kuning akan dapat membasahi sawah kering yang sekian luasnya. Yang bongkah-bongkah dan seperti padang yang paling gersang. Namun sebenarnya tanah itu tidak cengkar. Tidak gersang. Ternyata jika ada air, maka tanah itu dapat ditanami.

Ketika mereka mendekati padukuhan, maka Kesambipun berkata “Sudahlah Wiyatsih. Aku akan turun ke Kali Kuning. Aku akan mandi dan mencuci pakaian”

Wiyatsih tersenyum sambil menjawab “Kau tidak, mau dipersoalkan orang karena kau berjalan bersama aku, terutama Tanjung. Bukankah begitu?”

Kesambi menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Tanjung terlalu cemburu. Aku pernah ditantangnya dan kau telah melihat sendiri bagaimana ia marah-marah kepadaku hanya karena aku berjalan bersamamu”

“Dan kau ternyata cukup bijaksana”

“Ah“ Kesambi berdesah “aku tidak mau bertengkar justru ketika kita memerlukan tenaga untuk mempersiapkan sebuah bendungan. Jika ada diantara kami bertengkar, maka akibatnya dapat berkepanjangan. Tentu ada kawan-kawanku yang berpihak kepadaku, tetapi tentu ada juga yang berpihak kepada orang lain”

“Kau memang bijaksana“ sahut Puranti “kau pantas berdiri didepan kawan-kawanmu, anak-anak muda Sambi Sari”

“Jangan memuji, Kata orang tua, ada orang yang tidak kuat memikul pujian” jawab Kesambi “tetapi aku sudah berketetapan untuk membantu Wiyatsih”

Ketika Wiyatsih masih akan menjawab. Kesambi mendahului ”Sudahlah, mumpung masih pagi. Aku akan mandi dan mencuci pakaian sekaligus”

Wiyatsih dan Puranti tertawa. Tetapi mereka tidak menyahut lagi. Sejenak mereka mengawasi Kesambi yang menuruni tebing. Namun ketika anak muda itu berpaling, iapun berkata “Jangan disitu terus. Aku akan mandi”

Kedua gadis itupun tertawa sambil berlari-lari meninggalkan tanggul.

Seorang yang berambut putih berpaling ketika kedua gadis itu lewat beberapa langkah daripadanya. Selagi ia meneliti jalannya sebelum ia turun kesungai mencari ikan.

“Wiyatsih“ desisinya.

Melihat Wiyatsih dan Puranti berlari lari sambil tertawa kecil, tidak seorangpun yang menduga, bahwa dalam saat-saat tertentu keduanya mampu menggenggam pedang dan memecahkan dada seorang lawan. Dalam keadaan yang demikian, sifat-sifat kegadisan merekalah yang tampak sebagaimana gadis gadis yang lain.

Langkah Wiyatsih terhenti ketika ia bertemu dengan beberapa orang kawannya yang menjinjing bakul berisi pakaian. Agaknya mereka akan pergi juga kesungai untuk mencuci.

“Dari mana kau Wiyatsih?“ bertanya salah seorang kawannya.

“Dari sawah diujung bulak “ sahut Wiyatsih.

Beberapa diantara kawan-kawannya itu saling berpandangan. Ada diantara mereka yang memang menganggap bahwa Wiyatsih sedang dipengaruhi oleh gangguan syaraf. Namun mereka tidak mengatakannya.

Wiyatsih yang menyadari tanggapan itu tiba-tiba berkata “Jagungku sudah tumbuh subur, hingga setinggi aku. Apakah kalian tidak ingin melihat. Beberapa orang anak muda telah menyaksikan dan mereka mengakui bahwa ditanah yang kering itupun dapat ditanami, asal ada air. Dan air itu aku dapatkan dari Kali Kuning”

Kawan-kawan Wiyatsih mengerutkan keningnya. Tetapi tidak seorangpun yang menyahut. Mereka sama sekali tidak berminat untuk memikirkan air Kali Kuning bagi sawah yang kering. Bagi mereka air Kali Kuning cukup melimpah untuk mencuci pakaian dan mandi bersama.
Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam, ia menyadari bahwa disaat-saat terakhir ini, rasa-rasanya ia agak terpisah dari kawan-kawannya, apalagi setelah beberapa orang menganggapnya sakit ingatan.

Karena kawan-kawannya tidak menanggapi persoalan yang dikatakannya, maka tiba-tiba saja Wiyatsih memperkenalkan Puranti kepada kawa-kawannya. “Ia adalah kakakku yang datang dari jauh”

Kawan-kawannya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kepada Puranti yang mengangguk pula.

“Ia berada disini untuk beberapa lama”

“Singgahlah kerumahku” berkata salah seorang dari kawan-kawan Wiyatsih itu.

“Terima kasih. Aku akan singgah lain kali”

“Tetapi apakah kau kerasan dipadukuhan ini?“ tiba-tiba yang lain bertanya “saat rumah Wiyatsih diganggu penjahat, apakah kau sudah ada disana?“ j

Puranti mengangguk.

“Tetapi Pikatan memang mengagumkan sekali. Bukankah Pikatan berhasil mengalahkan semuanya” desis gadis yang lain “tetapi sayang, ia sekarang menyendiri. Dahulu, sebelum ia mengasingkan diri, aku adalah kawannya yang terdekat. Ia sering datang kerumahku dan membawa mainan untukku.

Tiba-tiba saja Puranti mengerutkan keningnya. Namun Wiyatsihlah yang segera menyahut “Kenangan yang kadang-kadang sangat menyenangkan dimasa kanak-kanak”

“Ya. Tetapi sudah jauh lewat” gadis itu seakan-akan merenung.

”Nah” berkata Wiyatsih kemudian agar gadis itu tidak berceritera berkepanjangan tentang Pikatan, karena disitu ada Puranti “aku akan pulang. Silahkan jika kalian akan pergi mencuci pakaian. Hari ini aku tidak pergi kesungai”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang dari mereka berkata ”Ajaklah saudaramu kerumah kami Wiyatsih. Kami akan senang sekali menerimanya. Dan mudah-mudahan ia kerasan tinggal didaerah miskin ini”

“Tentu, aku akan membawanya kerumah kalian“ sahut Wiyatsih.

Demikianlah, maka kawan-kawan Wiyatsih itu meneruskan langkah mereka ketanggul sungai dan kemudian menuruni tebing.

Dalam pada itu. Wiyatsih berjalan disisi Puranti yang menundukkan kepalanya. Tiba-tiba saja gadis itu bertanya “Siapakah gadis itu?”

“Yang mana?“ bertanya Wiyatsih.

“Kawan Pikatan”

“Ah“ desis Wiyatsih “kau cemburu seperti Tanjung”

Wajah Puranti menjadi merah. Tetapi ketika tangannya terayun untuk mencubit, Wiyatsih meloncat kesamping sambil berkata “Jangan, jangan. Jari-jarimu dapat mengelupaskan kulitku”

“Kau nakal sekali”

Wiyatsih masih berjalan beberapa langkah dari Puranti. Sambil tertawa kecil ia berkata “Aku sudah jera, jangan kau cubit”

“Tetapi janji”

”Janji apa?“

“Perkenalkan aku dengan Tanjung”

“Ah” Wiyatsihlah yang kemudian akan mencubit Puranti. Tetapi Puranti berkata “Sudah lunas. Kita masing-masing tidak mempunyai hutang”

Demikianlah keduanya adalah gadis-gadis dengan silat-sifat kegadisan mereka. Dalam keadaan yang demikian, mereka bukannya hantu perempuan hantu perempuan yang menarikan tarian maut diatas bara api perkelahian.

Namun, ketika mereka memasuki padukuhan, Puranti berkata “Aku akan mengunjungi biyungku di Cangkring”

“Ah“ Wiyatsih berdesah “bukankah sudah kau katkakan bahwa ia tidak akan mengharap kau kembali kepadanya, justru ia tidak sampai hati memaksamu kawin dengan laki-laki itu”

“Itulah yang memaksa aku untuk menengoknya, Ia terlalu baik kepadaku”

“Besok sajalah”

Puranti merenung sejenak, lalu “Baiklah, besok pagi aku akan pergi ke Cangkring”

“Tetapi kau jangan bermalam disana. Aku masih ngeri mengenang kedatangan penjahat-penjahat itu. Jika mereka datang lagi dalam jumlah yang lebih besar, kau akan tahu sendiri akibatnya, sedang aku masih ragu-ragu terhadap kakang Pikatan. Apakah sebenarnya ia sudah terbangun atau sekedar bermimpi lain”

Puranti mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti kecemasan Wiyatsih yang masih terlampau hijau untuk langsung terjun kedalam dunia yang keras dan ganas itu.

“Baiklah. Aku akan segera kembali”

Tetapi tiba-tiba Wiyatsih berkata “aku akan ikut”

“Ah, jangan. Kau tidak perlu ikut aku”

“Aku akan ikut. Boleh atau tidak boleh. Aku ingin melihat perempuan yang menjadi ibumu itu.

“Ah, kau nakal Wiyatsih“

“Apa keberatanmu sekarang.? Kau bukan siluman lagi sekarang. Kau adalah manusia wajar. Kau adalah Puranti. Bukan lagi peri dihutan Sambi Rata”

Puranti menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Baiklah. Baiklah jika kau ingin turut besok. Kau memang anak nakal yang manja”

”Kakang Pikatan tidak lagi mau memanjakan aku seperti dahulu. Setiap hari ia selalu marah-marah dan membentak-bentak. Karena itu, kau harus menggantikannya”

“Tetapi kau harus mendapat ijin ibumu”

“Aku akan minta ijin, meskipun aku tidak akan mengatakan seluruh persoalan”

Puranti mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.
Mereka tidak berbicara lagi, karena mereka telah berada muka regol rumah Wiyatsih. Mereka tidak melihat kedua penja regol itu, karena keduanya telah pulang kerumah masing-masing setelah mereka menunaikan tugas yang mendebarkan jantung

Namun ketika keduanya melangkah tlundak pintu pringgitan, mereka tertegun. Didalam pringgitan itu duduk seorang anak muda sedang berbicara dengan ibunya. Anak muda itu adalah Tanjung.

Derit pintu itu telah membuat keduanya berpaling. Tanjung terkejut melihat kehadiran seorang gadis bersama Wiyatsih yang belum dikenalnya.

“Marilah“ Nyai Sudati mempersilahkan kedua gadis itu masuk.

Keduanyapun kemudian duduk disamping Nyai Sudati. Sejenak mereka berdiam diri. Ibu Wiyatsihlah yang pertama-tama berbicara “Sebaiknya kalian berkenalan Ieblh dahulu“

Puranti mengangkat wajahnya dan melihat wajah anak muda Itu sejenak. Dan didengarnya Ibu Wiyatsih berkata “Gadis ini adalah Puranti. Ialah yang……..”

Tetapi sebelum kata-kata itu selesai, Wiyatsih sudah memotong. “la adalah saudara sepupuku“

Ibunya mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menyangkal. lalu Wiyatsihpun berkata pula kepada Puranti.

“Dan inilah anak muda yang bernama Tanjung”

Puranti mengangguk-anggukkan kepalanya. Bara saja ia berbicara dengan Wiyatsih sambil menyebut-nyebut nama anak muda itu, kini ia benar-benar telah diperkenalkannya.

“Kami mengharap kedatanganmu kemarin malam “berkata Wiyatsih tiba-tiba.

Tanjung menjadi heran mendengar kata-kata yang tidak diduga-duganya itu, sehingga dengan serta-merta ia berkata “Bukankah malam tadi terjadi perampokan dirumah ini?“

“Ya. Kami mengharap bantuan dari anak-anak muda di padukuhan ini. Ibu sudah memukul kentongan dan bahkan ada juga yang memukul kentongan yang sempat menyahut. Tetapi tidak seorangpun yang datang membantu. Dan kau juga tidak datang Tanjung”

“Bagaimana mungikin aku akan datang. Aku menjadi ketakutan dan sama sekali tidak berani keluar rumah. Apakah aku harus menyerahkan nyawaku jika aku datang kemari? Bukankah itu usaha yang sia-sia”

“Adalah kebetulan sekali aku tidak mati“ jawab Wiyatsih “aku mendengar sendiri, bahwa penjahat-penjahat itu akan membawa aku bersama mereka. Kau tentu tahu untuk apa”

“Tetapi aku tidak akan dapat berbuat apa-apa”

“Nah, anggap saja aku sekarang sudah dibawa oleh penjahat-penjahat itu”

“Wiyatsih“ potong ibunya “kenapa kau berkata demikian”

“Bukankah Tanjung tidak dapat berbuat apa-apa. Jika demikian maka aku sudah dibawa oleh para penjahat itu. Aku akan mereka jadikan isteri mereka bersama. Tentu menyenangkan sekali karena mereka akan dapat memberikan apa saja yang aku minta. Permata, emas dan perak. Perhiasan dan pakaian yang paling bagus”

Bersambung ke jilid 08

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s