Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

28

Tinggalkan komentar


Disaat-saat permulaan Hantu Bertangan Sepuluh tampaknya memang berhasil mendesak Hantu Bertangan Api, sehingga Hantu Bertangan Api itu kadang-kadang harus mengumpat. Bahkan lambat laun ia kehilangan pengendalian diri, karena kadang-kadang serangan lawannya itu berhasil menyentuh tubuhnya.

“Orang yang tidak tahu diri ini memang harus dibunuh”

Demikianah keduanya segera bertempur sepenuhnya sehingga perkelahian itupun menjadi bertambah sengit.

Tetapi bagaimanapun juga Hantu Bertangan Api mengerahkan kemampuannya, ia tidak segera dapat mengalahkan lawannya yang bertempur tanpa dasar tata gerak yang teratur itu. Ia seakan-akan, licin seperti belut dan tubuhnya tidak dapat disentuh oleh tangannya.

Namun seperti yang diperhitungkannya, maka sejenak kemudian orang berwajah genderuwo itupun menjadi semakin lelah. Sambil menyerang ia sempat mengumpat “Anak setan. Kau benar-benar anak setan dan hantu jadi-jadian. Aku tidak pemah berkelahi sekian lamanya tanpa membunuh lawan”

Hantu Bertangan Api tidak menjawab. Ialah yang kemudian menyerang dengan segenap kemampuan yang ada padanya, sehingga Hantu Bertangan Sepuluh itu menjadi semakin terdesak dan berloncatan surut.

“Gila. Kau benar-benar hantu“ desis orang yang berwajah genderuwo itu.

Hantu Bertangan Api tidak menghiraukan. Serangannya justi menjadi semakin garang Bahkan kemudian sekali-sekali ia berhasil menyentuh tubuh lawannya sehingga setiap kali ia mendengar lawannya mengaduh.

“Tanganmu seperti api“ geram Hantu Bertangan Sepuluh.

Lawannya tidak menjawab. Tetapi serangannya menjadi semakin dahsyat. Bahkan Hantu Bertangan Api itupun kemudian berteriak kepada kawannya yang menyaksikan perkelahian itu “Jagalah, jangan biarkan, orang ini lari. Aku ingin menangkapnya hidup-hidup dan mengikatnya ditengah-tengah halaman Kademangan malam nanti. Biarlah orang-orang Sambi Sari menghukum picis”

“Jangan“ orang itu menyahut sambil melangkah surut.

”Jangan lari“

“Jangan tangkap aku”

Hantu bertangan Api berteriak sekali lagi kepada kawannya “Cepat. Tahan orang ini”

Kawannyapun segera berlari melingkar untuk mencegah orang yang menyebut dirinya Hantu Bertangan Sepuluh itu lari. Tetapi ternyata bahwa Hantu Bertangan Sepuluh itu masih sempat meloncati parit dan berlari menyusur pematang.

“Jangan lari“ teriak Hantu Bertangan Api.

Tetapi lawannya sama sekali tidak menghiraukannya. la berlari semakin cepat. Namun Hantu Bertangan Api dan kawannya tidak melepaskannya. Mereka mengejar terus.

Dengan demikian keduanyapun segera bekejar-kejaran. Kawan Hantu Bertangan Api itupun ikut mengejarnya pula, tetapi jaraknya justru semakin lama menjadi semakin jauh.

“Pengecut“ teriak Hantu Bertangan Api.

Tetapi yang dikejar itu sama sekali tidak menghiraukan. Bahkan ia berlari semakin cepat dan melampaui kecepatan langkah Hantu Bertangan Api.

Hantu Bertangan Api mempecepat langkahnya pula, ia tidak mau kehilangan lawannya itu. Tetapi kemampuannyapun terbatas. Meskipun ia telah menempa diri dan meningkatkan kecepatan gerak anggauta badannya, namun ia tidak berhasil meinyusul lawannya yang menyebut dirinya Hantu Bertangan Sepuluh.

“Gila“ ia menggeram sambil bertolak pinggang ketika ia tidak lagi dapat mengingkari kenyataan bahwa orang yang dikejarnya itu tidak akan dapat ditangkapnya.
Sejenak kemudian barulah kawannya menyusulnya. Nafasnya tersengal-sengal sampai keujung hidungnya.

“Orang itu dapat berlari seperti angin” desisnya disela-sela arus nafasnya.

Hantu Bertangan Api masih berdiri tegak. Wajahnya benar-benar tegang dan matanya bagaikan menyala. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa didaerah yang sepi dan kering ini akan menjumpai seseorang yang memiliki kemampuan yang demikian tinggi meskipun tanpa dasar ilmu olah kanuragan yang baik. Tetapi mustahil bahwa ia tidak pernah mempelajari.
Mungkin ilmu itu disadapnya dari orang yang aneh atau ilmu yang memang pada dasarnya bersumber pada tata gerak yang kasar dan kegila-gilaan.

“Belum lagi aku bertemu dengan Pikatan, aku sudah harus bertempur dengan Hantu gila itu“ desis Hantu Bertangan Api.

“Orang itu memang aneh“ berkata kawannya.

“Aku tidak dapat mengejarnya. Tetapi jika aku sanggup menahannya beberapa saat lagi, ia pasti akan terkapar kehabisan nafas”

“Ya“ sahut kawannya “ia hampir kehabisan nafas. Tetapi ia masih sempat berlari cepat sekali”

“Barangkali sekarang ia sedang berbaring pingsan setelah mengerahkan sisa kekuatannya untuk melarikan diri. Ternyata bahwa perasaan takut yang sangat, telah mendorongnya untuk melarikan diri dengan kekuatan terakhirnya”

“Apakah kita akan mencarinya?“

“Dapat kita coba“

Keduanyapun kemudian berjalan perlahan-lahan sambil mencoba mengikuti jejak orang yang dikejarnya. Beberapa saat Hantu Bertangan Api masih berhasil mengikuti bekas kaki diatas rerumputan meskipun dalam kegelapan malam. Tetapi Kemudian jejak itu seakan-akan hilang begitu saja ketika mereka sampai kesebuah pereng yang terjal dan berbatu padas.

“Ia turun ke pereng ini” desis Hantu Bertangan Api.

“Turun atau jatuh terguling? Bukankah dibawah pereng ini terdapat Kali Kuning?”

“Ya”

“Apakah kita akan melihat kebawah?“

Hantu Bertangan Api mengerutkan keningnya sejenak, lalu “Baiklah. Kita akan melihat dibawah. Mungkin ia pingsan atau ia tidak lagi dapat menahan haus”

Keduanyapun kemudian mencoba menuruni tebing yang terjal itu, sehingga akhirnya dengan susah payah merekapun kemudian berdiri ditepian, diatas pasir dan bebatuan yang berserakan. Tetapi mereka tidak melihat seseorang, jejak kakipun tidak.

“Ia tidak turun. Jika ia mencoba dalam keadaan yang payah itu, ia pasti akan tergelincir dan jatuh terguling” berkata Hantu Bertangan Api “Dan aku kira tidak ada orang yang pernah datang kemari. Jika mereka akan pergi ke Kali Kuning, mereka akan memilih tepian yang landai. Tidak terjal seperti disini”

Kawannya meng-angguk-angguk. Namun ia masih menjawab “Tetapi bagi orang yang ingin menyembunyikan diri, tempat ini merupakan tempat yang paling baik”

“Aku tidak melihat seorangpun dan aku juga tidak melihat bekas kaki sama sekali”

Kawannya mengangguk-angguk sekali lagi. Katanya “Ya. Orang itu tidak datang kemari.
Hantu Bertangan Api memandang ke sekitarnya. Dicobanya untuk nendengarkan setiap desir dengan telinganya yang tajam. Namun iapun yakin bahwa ia tidak mendengar siapapun juga.

“Marilah kita pergi“ berkata Hantu itu, lalu “aku tidak melihat kemungkinan bahwa orang itu akan mengganggu usahaku menemukan Pikatan. Orang itu menurut dugaanku adalah perampok kecil yang sering mencuri ayam dikandang-kandang. Sebaiknya kita tidak menghiraukannya.

“Tetapi jika ia melakukan kejahatan ditempat ini, maka ada kemungkinan tuduhan itu dilemparkan kepada kita. Terutama Wiyatsih yang sudah mempunyai prasangka kurang baik.
Hantu itu mengangguk-angguk. Dan iapun kemudian bergumam “Ya memang mungkin sekali. Jika ternyata demikian, maka aku akan mencarinya dan tidak segan-segan membunuhnya sama sekali”

“Dan kita mendapat tugas baru, Meronda di Sambi Sari“

“Ah kau“ desah Hantu Bertangan Api “jangan pikirkan lagi. Kita tunggu saja apa yang dllakukannya”

Keduanyapun kemudian naik kembali dengan hati-hati keatas tebing. Bukan saja karena tebing yang terjal, tetapi karena mereka pun harus berhati-hati terhadap orang yang menyebut dirinya Hantu Bertangan Sepuluh itu. Jika tiba-tiba saja orang itu menyerang dari atas, maka keadaan mereka akan menjadi gawat Dengan beberapa buah batu, seseorang yang berada diatas tebing akan dapat melumpuhkannya.

Tetapi tidak seorangpun yang mengganggu mereka, sampai mereka sampai keatas tanggul dan kemudian berjalan meninggalkan tempat itu.

***

Dalam pada itu Puranti yang mengantuk sambil duduk dibalik gerumbul hampir tidak sabar lagi menunggu. Ia berjanji akan bertemu dengan ayahnya ditempat itu, sehingga oleh kejemuan, maka Purantipun kemudian berbaring diatas batu-batu padas yang datar disebelah gerumbul itu meskipun ia masih tetap berhati-hati jika tiba-tiba saja seseorang melihatnya.

Sejenak kemudian Puranti mendengar desir yang lembut mendekatinya. Dengan beralaskan telapak tangannya ditempelkannya telinganya ditanah, dan suara itu menjadi semakin jelas didengarnya. Langkah seseorang yang sedang mendekatinya,

Perlahan-lahan Purantipun kemudian bangkit. Dilihatnya seseorang dengan wajah yang seram mendekatinya. Tetapi Puranti justru tertawa sambil berkata “Ayah pantas sekali memakai samaran serupa itu”

Orang itu tersenyum. Jawabnya “Tentu ia tidak mengenai aku lagi”

Ketika kemudian Kiai Pucang Tunggal duduk disebelah Puranti, maka anak gadisnya itupun segera bertanya “Apakah ayah berhasil menjumpai Hantu itu”

“Ya. Aku dapat menjumpainya malam ini”

“Aku sudah jemu sekali. Dua malam berturut-turut aku menunggu ayah disini tanpa berbuat sesuatu”

“Tetapi malam ini aku telah menjumpainya”

“Dan ayah berhasil memancing perkelahian?“

“Ya”

“Apakah ilmu Hantu itu sekarang mancemaskan ayah?”

Kiai Pucang Tunggal menarik nafas dalam dalam Katanya kemudian “Puranti. Jika ia harus bertempur melawan kau, aku kira aku tidak akan menjadi cemas. Tetapi Hantu Itu sekarang menjadi-semakin matang. Olah kanuragan dan jiwanya. la lebih matang menghadapi persoalan-persoalan yang gawat tetapi ilmunyapun jauh meningkat”

“Jika demikian, aku sajalah yang akan menjumpainya mula-mula. Aku juga menjadi sasaran dendamnya, aku tidak akan ingkar apapun akibatnya.”

“Tunggu. Jangan tergesa-gesa. Aku sedang memikirkan masalah lain daripada Hantu itu sendiri”

“Maksud ayah, apakah ayah memikirkan Pikatan?“

“Ya. Aku ingin ia tidak tersinggung lagi dan justru menjadi semakin jauh mengasingkan dirinya ke dalam bilik tertutup atau bahkan mungkin lebih parah lagi dari itu”

“Tetapi jika Hantu Bertangan Api benar-benar menjumpainya dan ia tidak dapat melawan dan mengimbangi ilmunya, bukankah akibatnya akan sama saja.?“

“Aku akan memikirkannya Puranti”

”Ayah” suara Puranti bersungguh-sungguh“ keadaan menjadi semakin mendesak. Jika Hantu itu mengambil tindakan lain maka akibatnya tidak seperti yang kita harapkan. Jika pada suatu saat ia mengambil Wiyatsih untuk memancing Pikatan, maka keadaannya menjadi semakin sulit. Kita dapat membayangkan apa yang dapat terjadi atas Wiyatsih disarang para penjahat itu. Seperti yang dikatakannya, Hantu itu tentu tidak seorang diri”

Kiai Pucang Tunggal mengangguk-angguk. Katanya “Aku mengerti. Sedang kita masih belum melihat persembunyiannya di sekitar Sambi Sari. Jelas ia tidak berada di Alas Sambi Rata”

“Nah, jika demikian ayah harus segera mengambil keputusan. Apakah aku diperkenankan menyelesaikan persoalan dengan Hantu itu. Dengan demikian hidupku selanjutnya tidak akan dibayangi oleh dendam yang tidak akan padam di dalam dada Hantu Bertangan Api itu”

“Aku akan memikirkannya Puranti, segera. Tetapi jangan bertindak lebih dahulu sebelum aku menentukan sikap lebih lanjut”

Puranti menarik nafas dalam-dalam, ia tidak dapat menolak keputusan ayahnya itu meskipun hatinya bergejolak dahsyat sekali. Untuk melepaskan gejolak itu. Maka Purantipun segera bangkit dan meloncat turun ke tebing. Dengan sigapnya iapun mulai berloncatan melatih diri sendiri didalam gelapnya malam. Tetapi kali ini tata gerak Puranti seakan-akan tanpa tujuan, karena baginya yang dilakukan itu hanya sekedar melepaskan kejemuan. Namun dengan demikian hampir diluar sadarnya Puranti telah melepaskan segenap kekuatannya. Kekuatan wajarnya dan bahkan kemudian kekuatan yang dibangkitkannya dari tenaga cadangannya.

Namun kemudian oleh gelora didalam dirinya, Puranti telah menghentakkan segenap kekuatan, yang dapat dihimpunnya. Dani tiba-tiba saja setelah ia memusatkan segenap inderanya sejenak, gadis itu meloncat dan menghantam sebongkah batu padas dengan sisi telapak tangannya.

Akibatnya mengejutkan sekali. Batu padas itu pecah hancur lumat menjadi debu. Puranti sendiri terkejut melihat hasil pukulannya. Sejenak ia berdiri termangu-mangu dengan nafas yang terengah-engah setelah ia melepaskan segenap kekuatan yang ada didalam dirinya. Bahkan ternyata Puranti telah berhasil menyatukan segala kekuatan yang ada didalam dirinya dan disekitar dirinya yang dapat diserapnya dalam pemusatan inderanya.

Kiai Pucang Tunggal yang menyaksikan hal itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Sejenak kemudian iapun tersenyum. Perlahan-lahan didekatinya anak gadisnya sambil berkata “Puranti. Ternyata kau sudah memancing segenap kemampuan yang mungkin kau dapat. Meskipun tidak ada seorangpun yang sempurna dimuka bumi ini, karena yang sempurna adalah Yang Esa saja, namun kau sudah sampai kepuncak ilmu yang dapat kau sadap dari padaku. Selanjutnya terserah kepadamu, bagaimana bentuk dan ciri dari ilmu yang telah kau miliki itu dengan perkembangannya sendiri. Mungkin karena umurmu yang masih jauh iebih muda dari umurku, kau akan dapat mencapai suatu tingkat yang jauh lebih tinggi dari aku”

Puranti memandang ayahnya dengan terheran-heran. Katanya kemudian dengan suara gemetar “ Tetapi ayah, aku tidak melakukannya dengan sadar”

“Tetapi kau pernah melakukan, Kau akan dapat mengingatnya, apa yang sudah kau lakukan. Semisal pintu, maka daun-daunnya sudah terbuka. Dan kau akan dapat memasukinya setiap saat kau kehendaki”

Puranti memandang ayahnya sejenak. Namun kemudian terdengar suaranya parau “Apakah benar begitu ayah?“

“Percayalah kepadaku Puranti. Bukankah aku gurumu dan sekaligus ayahmu”

Puranti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ayahnyapun berkata “Cobalah, lakukanlah sekali lagi jika kau ingin meyakinkannya”

Puranti memandang ayahnya sejenak. Kemudian iapun berpaling kearah batu-batu padas yang berserakan.

”Cobalah Puranti” desak ayahnya “desakan gelora perasaanmu telah tersimpan didalam dirimu”

Puranti mengangguk kecil. Kemudian iapun melangkah diantara batu-batu padas itu. Dicobanya memusatkan inderanya. Tetapi Puranti masih memerlukan waktu. Ia masih harus menggerakkan anggauta tubuhnya untuk dapat mencapai puncak pemusatan kekuatannya. Sejenak ia merenggangkan kakinya. Kemudian mengangkat kedua tangannya kedepan. Puranti sama sekali tidak melakukan gerak itu menurut kehendaknya, tetapi seakan-akan anggauta badannya itu telah bergerak dengan sendirinya.

Sejenak kemudian kedua tangannya yang terjulur kedepan itu bersilang dimuka dadanya, dan sampailah ia pada puncak pemusatan inderanya. Demikian kedua tangannya bersilang, maka iapun mengangkat sebelah kakinya, Dengan tiba-tiba pula tangannya terurai dan dengan suatu loncatan, maka tangannyapun segera terayun keatas sebuah batu padas

Maka terulanglah sekali lagi lontaran kekuatan yang tiada taranya. Dan sekali lagi sebuah batu padas pecah menjadi debu dan berserakan diatas tanah yang basah oleh embun malam.
Kiai Pucang Tunggal mengangguk-anggukan kepalanya. Ia menjadi yakin seperti juga Puranti. Bahwa gadis itu sudah sampai pada puncak kemampuannya.

Ketika Kiai Pucang Tunggal gadisnya termangu-mangu. Maka iapun mendekatinya. Ditepuknya bahu anaknya sambil berbisik “Kau sudah berhasil Puranti. Kau telah berhasil menyatukan dirimu dengan alam disekitarmu. Kau sudah berhasil menyerap kekuatan yang ada diluar dirimu tetapi yang ada sentuhan dengan getaran dalam jiwamu, sehingga kau berhasil memiliki kemampuan jasmaniah yang luar biasa. Yang perlu kau lakukan adalah membiasakan diri dengan kekuatan itu. Kau harus semakin. mengenalnya dan memahami wataknya”

Puranti tidak menjawab. Tetapi kepalanya tertunduk.

“Kau mengerti Puranti?”

Puranti mengangguk. Tetapi terasa sesuatu tergenang dipelupuknya.

“Karena kau telah berhasil, maka tanggung jawabmupun menjadi berat. Tanggung jawabmu kepada dirimu sendiri, kepada manusia sesamamu dan kepada Tuhan”

Sekali lagi Puranti mengangguk. Dan kini terasa sesuatu yang ada dipelupuknya itu meleleh dipipinya.

“Puranti“ berkata ayahnya kemudian “karena justru kau sudah sampai kepuncak, maka kau tidak perlu lagi mempertahankan harga dirimu dengan caramu. Seharusnya kau menanggapi keadaan yang kau hadapi dengan sikap yang lebih matang. Diketahui atau tidak dketahui oleh orang lain. Diketahui atau tidak diketahui oleh Pikatan, kau telah memiiiki ilmu itu.”

Sejenak Puranti merenung sambil mengerutkan keningnya, namun iapun kemudian menganggukkan kepalanya.

“Bagus. Sekarang beristirahatlah, pulunglah kerumah ibu angkatmu di Cangkring. Malam besok kita akan bertemu lagi. Kalau perlu aku dapat menemuimu di rumah itu dengan caraku.

“Baik ayah” jawab Puranti “tetapi biyung itu tidak akan pemah mencari aku jika aku tidak, pulang, karena aku sudah mengatakan kepadanya”

“Ia tidak akan mencarimu, tetapi ia akan menjadi gelisah karenanya jika kau tidak kembali . meskipun kegelisahan itu direndamnya didalam hatinya”

Puranti menganggukkan kepalanya.

”Meskipun hanya sesaat, ia akan menjadi lega jika ia melihat kau pulang. Karena kau sudah dianggapnya sebagai anaknya”

Demikianah Puranti malam itu kembali ke Cangkring, sedang Kiai Pucang Tunggal masih saja berkeliaran di Sambi Sari, la masih harus mengawasi jika kebetulan saja Hantu Bertangan Api itu bertemu dengan Pikatan. Jika demikian maka rencananya tentu akan gagal sama sekali.

Bagi Kiai Pucang Tunggal, Puranti kini sudah memiiiki kemampuan yang justru memberinya kepercayaan yang matang sehingga gadis itu tidak lagi dicengkam oleh harga diri yang cengeng.

Dalam pada itu Sambi Sari telah mulai disibukkan dengan musim panenan yang sebentar lagi akan datang. Beberapa orang telah mulai mengadakan selamatan wiwit di sawah-sawah mereka untuk menghormati Dewi Sri, meskipun baru sekedarnya. Sedang ucapan terima kasih yang sebenarnya baru akan diadakan pada saat yang ditentukan kemudian bersama-sama.

Dalam upacara kecil itu, para petani mulai memetik sepasang pengantin padi yang sudah masak. Baru beberapa hari kemudian mereka akan memetik seluruh hasil sawah mereka.
Tidak lagi seorangpun yang datang berkunjung pada timbunan brunjung-brunjung dan batu-batu yang sudah menggunung. Tetapi itu bukan berarti bahwa bendungan yang sudah mereka rencanakan itu sudah dilupakan. Mereka kini sedang sibuk menyelesaikan. sawah mereka. Mereka berusaha untuk mempercepat semua kerja yang biasanya mereka lakukan dengan lamban. Mereka akan segera turun kembali ke pinggir Kali Kuning untuk segera mulai dengan bendungan mereka, karena sebagian besar parit indukpun sudah siap”

“Kita harus segera menyelesaikan sawah kita“ berkata Kesambi “setelah panen selesai, kita harus cepat-cepat menggarapnya dan memanfaatkan sisa hujan yang masih ada untuk menanam palawija. Setelah itu, kita harus segera turun kembali ke sungai agar bendungan kita dapat siap sebelum musim hujan mendatang. Kita harus yakin, bahwa jika banjir kelak datang seperti banjir dimusim ini, bendungan kita tidak akan pecah sehingga dimusim kering berikutnya, kita akan mulai menikmati hasil jerih payah kita”

Dan ternyata bahwa hal itu, telah mendorong anak-anak muda Sambi Sari bekerja lebih keras. Lebih keras dari yang biasa mereka lakukan. Bahkan anak-anak muda yang hampir tidak pernah mengenai kerjapun telah terseret dalam kerja yang mapan itu.

Ki Demang di Sambi Sari kadang-kadang menunggui anak-anak muda yang bekerja keras disawah masing-masing itu dengan hati yang berdebar-debar. la merasa beruntung bahwa anak-anak muda didaerahnya seakan-akan telah bangkit dengan sendirinya untuk membangun padukuhannya.

Memang ada satu dua orang tua dan bahkan bebahu Kademangan yang kadang-kadang menghalangi derap kaki anak-anak muda itu telah berusaha membantu mereka sejauh-jauh dapat dilakukan berdasarkan wewenang yang ada padanya meskipun kadang-kadang ia harus berbantah dengan orang-orang yang setiap waktu berada disekitarnya, dengan para bebahu dan orang-orang tua yang tidak sependapat atas usaha anak-anak muda itu dengan berbagai alasan. Alasan ketahayulan, alasan naluri dan ada yang sekedar bersembunyi dibalik alasan-alasan itu, namun sebenarnya mereka telah memanjakan kepentingan diri sendiri.

Demikianah, maka masa panenpun kemudian telah meramaikan Kademangan Sambi Sari. Hampir tidak ada seorangpun yang tinggal dirumah kecuali mereka yang khusus untuk menjaga rumah itu. Bahkan ada diantara mereka yang mengosongkan rumah mereka, karena mereka tidak mempunyai apapun yang berharga didalam rumahnya. Pakaian mereka adalah yang sekedar mereka pakai dan sama sekali mereka tidak menyimpan perhatian atau apapun yang lain yang dicemaskan akan hilang dicuri orang.

Bukan saja laki-laki yang bekerja di sawah, tetapi juga perempuan. Mereka menuai padi dibulak yang luas Seolah-olah sekelompok ikan yang bermain-main di dalam air yang kuning keemasan, didalam lautan butir-butir padi yang telah masak.

Dalam keadaan yang demikian, tampaklah wajah-wajah yang cerah. Anak-anak muda bekerja sambil tersenyum dan sebagian lagi melagukan kidung gembira. Di pinggir sungai anak-anak yang menggembalakan kambing bermain seruling melagukan percikan hati yang riang, karena mereka tidak lagi harus menahan lapar sampai senja, dan kadang-kadang sehari penuh mereka sama sekali tidak menyentuh nasi, selain ketela pohon yang kurus, sekurus tubuh mereka.

Untuk beberapa saat Sambi Sari telah melupakan kemiskinan mereka yang terasa mencengkam dimusim kering. Kini hampir setiap rumah menyimpan beberapa onggok padi. Meskipun banyak diantara mereka dengan hati yang berat melepaskan sebagian dari hasil panenan mereka untuk membayar hutang yang telah mereka terima selama musim paceklik, namun karena hampir setiap perempuan ikut meniuai padi disawah tetangga, maka merekapun mendapat juga bagian yang dapat disimpannya dirumah.

Dalam pada itu, hujanpun sudah menjadi semakin berkurang. Hanya kadang-kadang saja langit mendung dan gerimis kecil turun disiang hari. Tetapi mereka yang menuai padi tidak merasa perlu untuk berhenti. Dengan tudung kepala dari anyaman bambu dan belarak, mereka melanjutkan kerja mereka memotong padi yang telah menjadi kuning.

Akhirnya musim panen itupun sampai pada akhirnya. Sambi Sari yang sepi tampak menjadi agak ramai. Warung-warung yang hampir selalu tertutup, mulai membuka pintunya. Mereka tidak menjual dagangan mereka untuk menerima uang, tetapi mereka menukarkan barang-barang dan makanan diwarung mereka dengan genggaman-genggaman padi.

Setelah perempuan tidak lagi turun kesawah menuai padi, maka anak muda dan ayah-ayah mereka manjadi semakin sibuk bekerja. Mereka menebasi jerami dan membakarnya dimalam hari. Kemudian mencangkul sawah mereka untuk memanfaatkan hujan yang tersisa dengan menanam palawija.

Baru setelah mereka selesai mengerjakan sawah, maka mereka mulai dapat menarik nafas lega. Kerja yang berat telah selesai. Di tahun-tahun yang silam, maka merekapun kemudian dapat tidur mendengkur sepanjang hari. Hanya kadang-kadang saja mereka pergi kesawah menengok tanaman mereka. Atau sekali-kali memanjat pohon kelapa dihalaman dan menjual hasilnya kepasar.

Dan apabila mereka sudah tidak mempunyai kewajiban sama sekali, mulailah mereka dengan merencanakan sebuah perayaan yang besar disetiap tahun. Merti Desa. Mereka mengucapkan terima kasih kepada Dewi Sri, karena mereka sudah menerima hasil panenan mereka, meskipun sebagian dari hasil itu masuk kelumbung orang-orang kaya.

Tetapi yang terajadi tahun ini agak berbeda. Anak muda dan laki-laki yang dapat mengerti setelah anak-anak mereka, adik-adik mereka dan kawan-kawan mereka memberikan penjelasan, mereka tidak lagi mempergunakan hari-hari terbuang mereka dengan tidur mendengkur. Dan mereka tidak lagi menyibukkan diri menjelang perayaan Merti desa dengan berbagai macam persiapan penyediaan berjenis-jenis makanan, lauk pauk dan jajan pasar.
Tetapi mereka telah terlibat dalam kesibukan yang lain. Kesibukan yang telah mereka mulai di musim hujan yang hampir habis.

Beberapa orang tua mengusap dadanya sambil berkata didalam hati “Orang-orang sekarang sudah tidak lagi dapat menyatakan terima kasih. Mereka hampir tidak peduli lagi dengan kemurahan Dewi Sri. Mereka lebih senang menyibukkan diri dengan kerja yang tidak berarti itu daripada menyediakan perayaan yang besar bagi Dewi yang telah menjadikan tanaman padi kita berhasil dengan baik”

Dan beberapa orang kaya menjadi kecewa, bahwa mereka tidak lagi akan dapat menunjukkan kelebihannya didalam selamatan Merti desa, karena tetangganya dan orang-orang lain agaknya kurang menghiraukan lagi perayaan semacam itu.

“Gila“ berkata mereka didalam hati “mereka tidak mau mengagumi jodang-jodangku lagi. Mereka seakan-akan tidak menghiraukan, lagi makanan yang berlimpah-limpah setiap tahun di banjar desa selagi selamatan Merti desa.

Demikianah, ketika selamatan Merti desa itu diselenggarakan, suasananya sama sekali berbeda dengan tahun tahun yang lampau. Tidak ada lagi kebanggaan pada mereka yang membawa makan berlebih-lebihan karena tidak ada nafsu bersaing pada sebagian dari mereka. Bahkan ada yang benar-benar hanya membawa sebuah bancak dengan makanan sekedamya, nasi tumpang dengan bumbu kelapa muda. Sebutir telur ayam dan sambal kedele, selebihnya adalah buah-buahan yang mereka peti dari kebun sendiri.

Dengan demikian maka suasana perayaan di Banjar itu menjadi lesu. Tidak banyak tampak bibir yang tersenyum. Tidak banyak pula kelakar dan gurau anak-anak muda yang berkumpul diluar banjar.

Dimalam hari berikutnya, keadaan padesan Sambi Sari tidak juga terasa meriah seperti tahun-tahun yang lalu, tidak ada pertunjukkan lain kecuali di banjar Kademangan. Tidak diadakan di setiap padukuhan dan tidak lagi di rumah-rumah yang atas kehendak sendiri menyelenggarakan pertunjukan beraneka ragam.

Namun ternyata dihari berikutnya, rakyat Samba Sari telah dikejutkan oleh kemeriahan yang lain, yang tidak mereka duga-duga. Selagi matahari terbit, dan lampu-lampu di banjar masih belum padam, anak-anak muda Sambi Sari telah turun kejalan-jalan dengan cangkul, sabit, parang dan linggis ditangan Dengan riuhnya sambil berkelakar dan bahkan bersorak-sorak mereka mulai melakukan kerja yang sudah mereka rencanakan. Dengan wajah yang cerah dan hati yang tulus, mereka bekerja atas kehandak mereka sendiri. Kemeriahan Merti desa telah mereka alihkan dari ruang yang sempit di banjar Kademangan dan rumah-rumah orang kaya dan orang-orang yang sekedar mendapat pujian, pindah dijalan-jalan, di simpang-simpang empat, di gardu-gardu parondaan. Mereka telah bekerja atas kehendak sendiri membersihkan jalan dipadukuhan masing-masing. Jalan-jalan yang kotor dan berlubang memanjang bekas roda pedati, dan batu-batu yang berserakan, telah mereka perbaiki dan mereka ratakan.

Ki Demang Sambi Sari yang dihari itu berkeliling Kademangannya bersama Ki Jagabaya mengusap dadanya sambil berkata “Asal mereka tidak dihalang-halangi, ternyata mereka merupakan kekuatan penggerak yang tiada taranya. Yang paling gawat adalah pengarahan yang tepat dari jiwa mereka yang bergejolak itu. Jika ada diantara mereka yang kadang-kadang tertinggal itu adalah wajar sekali. Tetapi sebagian terbesar dari anak muda Sambi Sari menunjukkan kedewasaan mereka berpikir. Dan yang lain akan terpengaruh oleh sikap itu”

Ki Jagabayapun mengangguk-angguk pula. Mereka yang dapat mengerti akan tujuan anak-anak muda itu tentu tidak akan menentangnya, meskipun ada juga beberapa orang yang menjadi kecewa karenanya.

Ternyata anak-anak muda Sambi Sari memerlukan waktu dua hari untuk melakukan pembersihan diseluruh Kademangan. Dan yang dua hari itu telah menandai perayaan Merti desa untuk tahun yang sedang mereka jalani. Ternyata, meskipun, berbeda bentuknya, kegembiraan dan hasil dari perayaan Merti desa ini tampak jauh lebih bermanfaat daripada sekedar bersaing dan sekedar mendapat pujian dengan jodang-jodang penuh berisi makanan di banjar Kademangan.

Apalagi anak-anak muda itu tidak lagi membiarkan dirinya dicengkam oleh kemalasan di pembaringan disatu musim. Mereka tidak lagi pergi ke sungai dan tidur dibawah pohon turi diatas pasir yang putih. Atau duduk sekedar termenung diatas tanggul sambil melihat adik-adik mereka menggembalakan kambing. Tetapi anak-anak muda itu masih mempunyai kerja yang tidak kalah pentingnya daripada menuai padi dan kemudian mengerjakan sawah menjelang menanam palawija.

Kerja itu adalah memulai dengan pembuatan sebuah bendungan. Justru kerja itu adalah kerja raksasa bagi anak-anak muda Sambi Sari.

Dihari yang sudah mereka tentukan, maka anak-anak muda itu berkumpul dipinggir sungai disekitar timbunan brunjung-brunjung bambu dan batu-batu yang beronggok-onggok. Untuk beberapa lamanya mereka tidak berbuat apa-apa, seakan-akan mereka sedang mengenal kembali benda-benda yang sudah beberapa waktu mereka tinggalkan selagi mereka sibuk dengan sawah dan ladang.

Ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka mulailah Kesambi, yang mereka anggap sebagai anak muda yang paling berpengaruh untuk memimpin mereka melakukan kerja yang besar itu, naik keatas seonggok batu dan berkata “Sekarang kita sudah sampai pada waktunya. Kita sudah harus mulai melakukan kerja yang sudah kita putuskan bersama, yaitu membuat bendungan. Musim hujan sudah lampau meskipun masih ada juga sisa-sisanya. Tetapi sungai ini sudah tidak akan banjir lagi didalam keadaan yang wajar. Karena itu, maka jika kita sudah siap kita sudah dapat mulai dihari ini”

Anak-anak muda yang Iain memperhatikan setiap kata-kara Kesambi. Tanpa mereka sadari, maka merekapun mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Jika demikian, maka kita harus membagi kita semuanya dalam kelompok-kelompok“ berkata Kesambi seterusnya “kelompok-kelompok itu akan melakukan kerja masing-masing agar kita tidak saling berbenturan mengerjakan satu kerja, sedang yang lain terbengkalai”

Demikianah maka Kesambipun mulai membagi kawan-kawannya menjadi beberapa kelompok yang mandapat tugasnya masing-masing. Sebagian mengisi berunjung-berunjung dengan batu-batu, sebagian yang lain memasang patok-patok didasar sungai dan sebagian yang lain menyediakan tanah untuk menimbun brunjung-brunjung itu selapis demi selapis. Dan yang lain harus membendung dan mengurangi arus air dengan mengalirkannya pada sebuah selokan yang mereka buat dibawah tebing, yang untuk sementara menampung aliran air Kali Kuning.

Pada hari itu, Kesambi berhasil membagi kawan-kawannya menjadi beberapa kelompok dengan tugas masing-masing. Juga gadis gadis mendapat tugasnya menyediakan minum dan makanan bagi mereka yang bekerja dibawah pimpinan Wiyatsih.

“Sebenarnya kaulah yang harus memimpin keseluruhan kerja ini” berkata Kesambi kepada Wiyatsih ketika mereka berpapasan diantara kawan-kawannya yang masih belum mulai turun ke sungai itu.

“Kenapa? Kaulah yang lebih pantas. Aku seorang gadis. Karena itu, kerjaku adalah diantara gadis-gadis yang lain. Bukankah tidak pantas aku berada diantara anak-anak muda menurut kata orang tua-tua”

“Ah kau“ Kesambi tersenyum. Namun iapun kemudian menemui pemimpin-pemimpin kelompok yang telah terbentuk itu untuk berbicara sejenak.

“Jadi besok kita mulai dengan kerja ini?” bertanya Kesambi kepada mereka.

“Ya, besok sajalah, kita mulai serentak. Jika ada kerja kecil disawah biarlah dikerjakan oleh orang-orang tua”

Kesambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya “Jika demikian, kita dapat membubarkan anak-anak ini sekarang. Besok kita akan mulai pagi-pagi benar. Demikian matahari terbit, demikian kita turun untuk bekerja sesuai dengan pembagian yang sudah kita tentukan”

“Ya”

“Baiklah, jika demikian, marilah kita bubarkan. Kalianlah yang membubarkan kelompok kalian masing-masing”

Demikianah maka hari itu mereka masih belum mulai dengan kerja mereka yang sesungguhnya. Hari berikutnyalah hari permulaan dari kerja itu.

Berbondong-bondong anak-anak muda Sambi Sari meninggalkan tempat yang sudah mereka pilih untuk membuat bendungan yang akan memberi harapan bagi Kademangan mereka itu.
Yang kemudian tinggal adalah Wiyatsih, Kesambi dan beberapa anak muda saja. Mereka masih membicarakan kemungkinan yang dapat terjadi jika mereka mulai meletakkan brunjung yang pertama didasar sungai itu.

“Kita harus menjaga agar dasar sungai ini tidak gogos terus” berkata Kesambi.

“Tentu tidak. Jika brunjung yang paling bawah kita isi dengan batu-batu yang agak kecil dan patok-patok yang rapat untuk menahan sampan yang kita turunkan bersama brunjung yang pertama itu.

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang dari mereka berkata “Apakah kita dapat mengeringkan tempat ini selagi kita membuat bendungan?“

“Tentu tidak“ Wiyatsihlah yang menyahut “tetapi setidak-tidaknya air itu akan jauh berkurang. Dan dengan demikian memungkinkan kita untuk bekerja lebih baik”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk pula. Satu dua orang mulai turun kedalam air, seakan-akan mereka ingin menjajagi dalamnya air Kali Kuning.

Namun selagi mereka sibuk, membicarakan bendungan yang akan mereka mulai besok, tiba-tiba Wiyatsih menjadi tegang. Dikejauhan dilihatnya dua orang berjalan mendekati tanggul.

“Wiyatsih“ bertanya Kesambi kemudian apakah yang kau lihat?“

“O“ Wiyatsih termangu-mangu “tidak apa-apa, tidak apa-apa “ Tetapi Kesambi telah memandang kearah tempat mata Wiyatsih, dan iapun melihat dua orang, itu sudah mulai menuruni tebing.

“Selamat“ berkata orang yang turun itu “kalian agaknya sudah mulai dengan bendungan kalian”

Sejenak Wiyatsih mematung. Kedatangan orang itu sangat mendebarkan jantungnya.
Tetapi orang itu tersenyum. Katanya “Aku hanya akah mengucapkan selamat. Mudah-mudahan bendungan ini akan segera selesai. Jika kalian terlambat, dan musim hujan datang pula, maka bendungan ini akan hanyut oleh banjir sebelum siap sama sekali”

Wiyatsih masih belum menjawab. Tetapi Kesambilah yang menjawab “Terima kasih. Kami akan berusaha bahwa kami akan menyelesaikan bendungan ini sebelum musim hujan mendatang”

“Bagus“ sahut orang itu, yang kini sudah berdiri diantara brunjung-brunjung bambu itu, sayang jika usaha yang sudah kalian mulai ini patah ditengah, atau mangalami gangguan apapun juga”

“Ya, kami akan berusaha untuk menyelesaikannya dan mengamankannya”

Kedua orang itu tertawa. Lalu katanya kepada Wiyatsih “Kenapa kau heran melihat kedatanganku Wiyatsih, bahkan tampaknya seolah-olah kau menjadi gelisah?“

“Tidak. Aku tidak apa-apa“ jawab Wiyatsih sambil mencoba tersenyum.

“Kau memang seorang yang luar biasa. Meskipun tampaknya anak-anak mudalah yang melakukannya dan yang memimpin pelaksanaannya, tetapi pada hakekatnya kaulah jiwa dari bendungani ini”

“Ya“ sahut Kesambi “ialah yang pantas untuk memimpin pembuatan bendungan ini”

“Itu tidak perlu” berkata orang itu “biarlah anak-anak muda yang melakukan, tetapi Wiyatsih akan tetap menjiwainya selama ia tidak meninggalkan pekerjaan ini”

“Tentu tidak“ Wiyatsih mencoba menyahut “aku akan tetap disini”

Orang itu mengangguk-angguk. Tetapi tiba-tiba saja ia bertanya “Lalu bagaimana dengan Pikatan?“

Dada Wiyatsih berdesir mendengar pertanyaan itu. Sejenak ia memandang orang itu dengan mulut yang terkatub rapat Namun kemudian sebelum ia menyahut, Kesambilah yang mendahuluinya “Kenapa dengan Pikatan?“

Orang itu tertawa, katanya “Kenapa Pikatan tidak serta bersama dengan kalian membangun bendungan ini?“

Kesambi menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Pikatan tidak mau berada ditengah-tengah kita kembali seperti sebelum ia pergi. Ia kini mengasingkan dirinya didalam biliknya. Bertanyalah kepada Wiyatsih. Ia adalah adiknya”

“Aku tahu, aku memang bertanya kepada Wiyatsih”

“O“ Kesambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya Wiyatsih sejenak, lalu katanya “Kaulah yang harus menjawabnya”

Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun menjawab “Ia tidak mau keluar dari biiiknya”

“Apakah kau sudah mengatakan pesanku?“

“Aku sudah mengatakannya”

“Seluruhnya?“

“Ya, seluruhnya”

“Tentu belum. Jika kau mengatakan seluruhnya, maka ia pasti akan menemui aku disini atau dimanapun”

“Aku sudah mengatakan seluruhnya”

Orang itu mengangguk-angukan kepalanya, sedang Kesambi menjadi termangu-mangu. Ia tidak tahu pasti, apakah yang sedang dibicarakan oleh Wiyatsih dengan orang itu tentang Pikatan.

“Wiyatsih“ berkata orang itu kemudian ”aku masih sabar menunggu. Persoalan ini bagiku adalah persoalan yang paling besar didalam hidupku. Karena itu aku bersabar. Aku dapat mengesampingkan keperluan-keperluanku yang Iain untuk suatu keperluan yang terbesar yang pernah aku hadapi sebelum aku akan melakukan hal yang serupa terhadap seorang gadis dari padepokan Pucang Tunggal”

Wiyatsih menjadi termangu-mangu. Sedang Kesambi dan kawan-kawannya yang lain tidak dapat ikut berbicara karena mereka tidak mengerti tentang masalah yang sedang mereka bicarakan.

“Ki Sanak“ berkata Wiyatsih kemudian “sebaiknya kau jangan memaksa aku lagi, Aku sudah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk membicarakannya dengan kakang Pikatan. Ia menjadi acuh tidak acuh. Bahkan ia menjadi marah kepadaku apabila aku mencoba mendesaknya”

”Benar begitu? Apakah kau masih ingin mengenal aku baru kau akan mengatakan kepada Pikatan”

“Aku kira tidak ada gunanya lago memaksamu untuk menyebut dirimu yang sebenarnya. Karena itu, aku sudah mengatakannya kepada kakang Pikatan. Agaknya kakang Pikatan mengetahui siapa kalian. Tetapi mungkin juga tidak”

Orang itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya “Baiklah Wiyatsih. Apakah Pikatan mengetahui tentang diriku atau tidak, bagiku tidak penting. Yang penting bahwa Pikatan itu bersedia datang kemari. Seperti yang aku katakan, aku akan sabar menunggu karena persoalannya adalah persoalan yang sangat penting. Tetapi, meskipun demikian, kesabaran seseorang memang ada batasnya”

Dada Wiyatsih menjadi semakin berdebar-debar.

“Karena itu Wiyatsih“ berkata orang itu lebih lanjut ”aku akan menunggu sampai bendungan itu turun kedasar Kali Kuning. Jika sampai saat purnama naik ditengah bulan ini Pikatan belum datang kemari, aku akan mengambil sikap lain. Bendungan ini akan aku hancurkan”

“Gila“ teriak Wiyatsih.

Tetapi orang itu tertawa. Katanya “Jangan marah. Bagiku nilai seorang Pikatan jauh lebih besar dari bendungan ini”

“Kau gila“ Wiyatsih berkata lantang “bendungan ini adalah harapan bagi rakyat Sambi Sari”

“Aku tidak peduli. Karena itu, seandainya kau lebih sayang pada bendungan ini, bawa Pikatan kemari sebelum purnama naik”

Wiyatsih berdiri mematung. Tetapi terdengar giginya gemeretak menahan kemarahan yang bergejolak didalam dadanya.

Dalam pada itu, Kesambi yang tidak tahu pasti, siapakah orang yang sedang berbicara itupun menjadi tersinggung karenanya. Karena itu maka iapun berkata “Kau telah menyinggung tentang bendungan ini. Apa maksudmu?“

Orang itu masih tertawa Katanya “Aku ingin menukar bendungan ini dengan Pikatan. Aku ingin bertemu dan berbicara dengan Pikatan. Tetapi ia tidak bersedia datang. Karena Itu, aku mengancam kepada Wiyatsih, jiwa dari bendungan ini. Jika sampai purnama naik ditengah bulan ini, Pikatan tidak menjumpai aku, aku akan merusak bendungan ini. Jelas?“

Kesambi menjadi terheran-heran Dan iapun bertanya “Apakah hubungannya dengan Pikatan? Kami membuat bendungan untuk Kademangan kami, sedang Pikatan mengasingkan diri atas kehendaknya. Kenapa kau ingin mempertaruhkan bendungan ini sekedar untuk berbicara dengan Pikatan?“

“Sudah aku katakan. Nilai Pikatan bagiku lebih tinggi dari nilai bendungan ini. Jika kalian sayang akan bendungan kalian, usahakan agar Pikatan datang kemari sebelum purnama naik”

Wajah Kesambi menjadi tegang. Sedang orang itu berbicara terus “Jika kalian ingin tahu hubungan antara bendungan ini dengan Pikatan? adalah kedua-duanya mempunyai sangkut paut yang rapat dengan Wiyatsih. Pikatan adalah kakak satu-satunya dari gadis ini sedang bendungan ini adalah hasil usahanya, sehingga Wiyatsih dapat disebut sebagai jiwanya”

“Aku sependapat. Tetapi bendungan ini tidak dapat disamakan dengan Pikatan. Meskipun keduanya mempunyai hubungan yang erat dengan Wiyatsih, tetapi dalam bentuknya yang tersendiri”

Orang itu tertawa. Katanya “Jangan ribut anak muda. Persoalan ini adalah persoalanku dengan Wiyatsih. Jika kau ingin ikut campur dan ingin menyelamatkan bendungan ini, maka bantulah Wiyatsih dengan mengundang Pikatan datang kemari”

“Aku tidak berkepentingan dengan Pikatan“ Kesambi menjadi marah “aku berkepentingan dengan bendungan ini. Aku tidak peduli persoalan yang ada padamu dan Pikatan. Tetapi kau tidak berhak mengganggu bendunganku”

“Akupun tidak berkepentingan dengan kau“ sahut orang itu ”kau jangan mencampuri persoalaku. Aku ingin bertemu dengan Pikatan. Jika tidak, aku ingin merusak bendungan ini. Tentu saja sebab dari kerusakan bendungan ini bukannya aku, tetapi Pikatan “

“Kau memang gila“ Kesambi menjadi semakin marah ”aku tidak akan membiarkan bendunganku rusak apapun alasannya. Bahkan seandainya Pikatan sendiri datang merusak, aku akan menghalanginya”

Orang itu tertawa semakin keras, sehingga Kesambipun menjadi semakin marah.
Hampir diluar dugaan, Kesambi meloncat menerkam baju orang itu dan mengguncang-guncangnya “Jangan tertawa“ bentak Kesambi “jika kau masih mengancam akan merusak bendunganku, kau akan aku bikin jera disini”

Wiyatsih melihat hal itu dengan dada berdebaran. Karena itu tanpa sesadarnya ia berkata “Kesambi jangan”

“Aku akan menghajarnya. la menganggap kami, anak-anak Sambi Sari sebagai golek-golek kayu yang tidak berguna”

Tetapi suara tertawa orang itu tidak juga mereda. Bahkan menjadi semakin keras.

“Diam, diam“ Kesambi membentak sambil mengguncang-guncang baju orang itu

“Jangan“ berkata orang itu kemudian “nanti bajuku sobek. Aku tidak membawa banyak baju selama aku menunggu Pikatan disini”

“Kau harus pergi dari daerah Sambi Sari. Jika tidak, maka kau akan menyesal“

“Kesambi, jangan“ cegah Wiyatsih.

“Aku tidak peduli“ berkata Kesambi.

“Lepaskan“ berkata orang itu kemudian.

“Tetapi kau harus berjanji bahwa kau akan meninggalkan Sambi Sari dan terlebih-lebih lagi, kau tidak akan mengganggu bendunganku”

“Lepaskan“ orang itu menggeram.

Wiyatsihlah yang kemudian menjadi sangat cemas. Ia tahu siapakah sebenarnya orang itu. Jika orang itu telah berani menantang Pikatan, maka dapat dibayangkan, betapa tinggi ilmunya, sedang Kesambi dan anak-anak muda Sambi Sari pada umumnya sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk berkelahi dengan ilmu apapun. Jika ada pertengkaran antara anak-anak muda yang kadang-kadang memang pernah terjadi perkelahian, tetapi mereka berkelahi sekedar memukul dan menyepak. Bahkan kemudian saling membanting dan berguling-guling ditanah.

Tetapi tentu tidak dengan cara itu jika mereka berhadapan dengan orang yang disebut Hantu Bertangan Api itu.

Namun dalam pada itu Wiyatsih tidak akan dapat berbuat apa-apa. Sesuai dengan pesan Kiai Pucang Tunggal dan Puranti, juga karena disitu hadir anak-anak muda Sambi Sari, maka ia hanya dapat menyaksikan dengan hati yang berdebar-debar dan berusaha mencegahnya apabila mungkin.

Tetapi sekali lagi Kesambi mengguncang baju orang itu sambil menggeram “Berjanjilah. Jika kau tidak mau berjanji, aku tidak akan melepaskan”

“Kesambi” suara Wiyatsih bergetar “Jangan. Lepaskan”

Tetapi Kesambi tidak mau melepaskannya. Dan bahkan tangannya mencengkam semakin keras.

Sejenak orang itu termangu-mangu. Sekali-kali ditatapnya wajah Kesambi yang tegang. Kemudian tangannya yang menggenggam bagian bajunya.

“Lepaskan. Jangan berbuat bodoh sekali “

“Berjanjilah, berjanjilah”

Betapa kemarahan yang sangat telah menggetarkan dada Kesambi, ketika orang itu justru tertawa sekali lagi dengan nada yang sangat menyakitkan hati. Karena itu, Kesambi tidak lagi dapat mengekang dirinya, Dengan darah yang bergejolak ia mengguncang orang itu semakin keras sambil berteriak “Gila, Gila. Kalau kau tidak mau diam, aku akan memukulmu”

Tetapi suara tertawa itu menjadi semakin tinggi. Bahkan orang itu berkata “Cobalah, kalau kau mempunyai tangan sekeras besi barulah kau memukul aku. Tetapi tangan anak-anak muda Sambi Sari adalah tangan-tangan yang biasa terbenam di dalam lumpur di musim hujan. Karena itu tanganmu tentu tidak lebih keras dari segumpal jadah ketan“

Betapa Kesambi merasa terhina. Tiba-tiba saja, diluar sadarnya tangannya telah terayun memukul mulut orang yang menghinanya itu.

Tetapi Kesambi terperanjat dan tidak mengerti, apakah sebenarnya yang telah terjadi atas dirinya. Terasa tangannya yang menyentuh tubuh orang itu bagaikan terbakar. Pukulannya sama sekali tidak menggoyangkan tubuh orang yang berdiri di hadapannya itu, Tetapi ia sendirilah yang harus menyeringai menahan sakit.

Dalam pada itu, ketika Kesambi mulai bertindak, anak-anak muda yang lain, yang menjadi marah pula karenanya, segera berloncatan melingkari orang itu. Namun mereka menjadi heran juga melihat Justru Kesambilah yang menjadi kesakitan,, sedangkan orang yang dipukulnya itu masih saja tertawa dan bahkan kemudian berkata “Kau mencoba memukul aku?”

Wajah Kesambi menjadi merah padam, tetapi ia masih belum yakin atas apa yang terjadi. Apalagi Karena kawan-kawannya kini telah berdiri melingkari orang itu, sehingga ia masih ingin membuktikan, apakah yang sebenarnya telah terjadi atas dirinya itu.

Tetapi ketika Kesambi melangkah semakin dekat lagi, Wiyatsih yang beriari kepadanya dan menarik lengannya sambil berkata “Jangan kesambi. Jangan”

“Orang ini perlu dihajar sehingga ia menyadari bahwa kami anak-anak muda Sambi Sari mempunyai sikap yang mantap. Kami bukan lagi anak-anak cengeng yang hanya pandai mengeluh. Tetapi kami bertanggung jawab atas kerja kami. Apakah kau salah seorang yang diupah oleh orang-orang kaya yang tidak senang melihat benduagan kami, Orang-orang yang ingin kami tetap melarat dan menjadi sumber kekayaan yang tidak kering-keringnya bagi mereka? Kami adalah tenaga-tenaga murah bagi mereka dan kami telah menyerahkan sebagian besar dari panenan kami, karena hutang-hutang kami. Sekarang kehidupan itu harus berubah. Jika benar kau telah menerima upah mereka untuk merusak bendungan ini, maka kami akan mempertahankan mati-matian”

“Sudahlah Kesambi” Wiyatsih yang memotong “jangan hiraukan orang ini. Lebih baik kita berusaha menghubungi Pikatan sekali lagi. Mudahan-mudahan kakang Pikatan dapat mengerti”

Kesambi menjadi termangu-mangu, tetapi katanya “Jangan memanjakan orang yang tidak kita kenal ini Wiyatsih. Jika kita biasa menyerahkan kepentingan diri kepada orang lain seperti sekarang ini, maka akibatnya pasti akan berkepanjangan. Ini bukan berarti bahwa kita hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, tetapi kita telah berbuat untuk sebagian terbesar dari rakyat Sambi Sari “

“Justru karena itu Kesambi. Kita dapat menempuh jalan lain untuk keselamatan bendungan ini”

“Kesambi masih juga termangu-mangu. Anak-anak muda yang berdiri melingkari merekapun berdiri termangu-mangu pula.

“Sudahlah. Akulah yang akan mencoba sekali lagi membujuk kakang Pikatan, meskipun aku akan dibentak-bentaknya”

Kesambi masih dicengkam oleh keragu-raguan ”Tetapi, kepentingan kita adalah mempertahankan bendungan. Kita tidak tahu menahu persoalan Pikatan dan orang-orang ini”

“Kau benar Kesambi. Tetapi marilah kita tempuh jalan yang paling aman“

Kesambi menjadi ragu-ragu.

Dan orang yang tidak dikenalnya itu masih saja tertawa dan berkata ”Kau bijaksana sekali, Wiyatsih. Aku memang berharap kau akan melakukannya. Memanggil Pikatan untuk datang kemari, paling lambat nanti saat purnama. Aku masih bersabar dan aku menunggu disetiap malam disini. Tetapi, sekali lagi aku katakan, kesabaran seseorang pada suatu saat sampai pada batasnya”

Wiyatsih tidak dapat melihat jalan lain kecuali berkata “akan mencobanya sekali lagi”

Bersambung Ke Jilid 11

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s