Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

29

Tinggalkan komentar


“TERIMA kasih. Kau tidak perlu menakut-nakuti kawan-kawanmu dengan mengatakan tentang aku. Tentu kau mempunyai perhitungan yang lebih baik dari kawan-kawanmu itu. Tentu kau mengukur tentang diriku dengan Pikatan, jika aku berani menunggunya, maka tentu aku mempunyai alasan. Tetapi biarlah kawan-kawanmu yang bodoh itu tetap tidak mengetahui apapun juga agar mereka tidak dikejar oleh ketakutan, karena sebenarnya akupun tidak ingin menakuti mereka, Aku hanya berkepentingan dengan Pikatan. Aku akan meugucapkan terima kasih jika kawan-kawanmu itu dapat membantumu, membujuk Pikatan agar ia datang kebendungan ini”

Wiyatsih memandang orang itu dengan sorot mata yang seakan-akan membara. Tetapi ia menahan dirinya sekuat-kuatnya agar ia tidak. berbuat sesuatu yang dapat menumbuhkan kecurigaan pada orang-orang itu.

“Sudahlah Wiyatsih” berkata orang itu “masih ada kesempatan beberapa hari lagi. Aku menunggumu datang bersama Pikatan. Jika kau bersedia mengantarkan kakakmu itu, mungkin kami akan berpikir lain dan akibat yang akan dialami Pikatanpun akan jauh berbeda. Kau memang seorang gadis yang cantik dan cerdas. Kau dapat mengerti siapakah aku, meskipun barangkali tidak begitu pasti, dan kaulah jiwa dari bendungan ini”

Wiyatsih masih memegangi lengan Kesambi. Ia tidak berkata apapun ketika kedua orang itupun kemudian meninggalkan mereka, Wajah mereka masih selalu dibayangi oleh sebuah senyum dan bahkan orang yang telah mengancam itu sempat melambaikan tangannya sambil berkata “Salamku buat Pikatan, Wiyatsih”

Wiyatsih sama sekali tidak menyahut. Tetapi kengerian yang sangat telah menyentuh hatinya. Ternyata kedatangan orang itu kini telah berkembang, Bukan semata-mata ingin melepaskan dendamnya kepada Pikatan. Tetapi tanpa dikehendakinya sendiri, orang-orang itu telah tertarik pula kepadanya.

Wiyatsih seakan-akan baru sadar ketika Kesambi bertanya padanya “Siapakah mereka itu sebenarnya Wiyatsih?”

Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan tergesa-gesa iapun melepaskan tangan Kesambi, bahkan iapun menundukkan wajahnya yang menjadi kemerah-merahan.

Untuk melepaskan perasaan malu yang membayang itu maka Kesambipun segera bertanya pula “Siapakah mereka itu Wiyatsih?”

Wiyatsih menggelengkan kepalanya “Aku tidak tahu pasti. Orang-orang itu ingin memaksa Pikatan untuk menemuinya”

“Apakah sebenarnya persoalan yang ada antara mereka dan Pikatan?”

“Aku tidak tahu. Kakang Pikatanpun terlampau sulit untuk diajak berbicara”

Kesambi menarik keningnya Namun iapun kemudian bertanya “Wiyatsih, kenapa kau tahan kami?. Sebenarnya kami ingin membuatnya jera. Kawan-kawan sudah siap disekitarnya”

“Ya. kenapa?” sahut yang lain “orang-orang seperti orang itu harus dilawan dengan kekerasan agar mereka tidak menganggap kami terlampau lemah dan penurut”

“Aku setuju“ jawab Wiyatsih “tetapi tidak melawan orang itu”

“Kenapa dengan orang itu, Bukankah ia manusia biasa seperti kita? Seandainya ia memiliki kemampuan berkelahi yang luar biasa, namun bukankah aku tidak seorang diri?” sahut Kesambi.

“Tetapi tidak melawan orang itu”

“Kenapa dengan orang itu? Apakah ia anak iblis?” Wiyatsih memandangi wajah Kesambi sejenak. Terpancar diwajahnya teka-teki yang membelit dihatinya tentang orang yang tidak begitu dikenalnya itu.

“Kesambi“ berkata Wiyatsih kemudian “apakah kau pernah mendengar kakang Pikatan membunuh beberapa orang perampok?”

“Ya, aku mendengar”

“Jika disini ada dua orang Pikatan, apakah kalian akan berani melawannya? Mungkin kalian akan dapat mengalahkan dua orang Pikatan itu, tetapi korban diantara kalianpun akan, berjatuhan“

Kesambi mengerutkan keningnya.

“Nah, bukankah kau dengar orang itu mengharap kedatangan kakang Pikatan? Tentu bukan untuk sebuah pembicaraan mengenai perdagangan. Tentu juga bukan jual beli pusaka atau perhiasan. Wajah mereka membayangkan dendam tiada taranya. Mungkin satu dua orang kawannya telah terbunuh, dan ia ingin membuat perhitungan. nah bukankah orang itu sendiri sudah mengatakan bahwa aku telah mengukur mereka dengan Pikatan?”

Kesambi menjadi tegang sejenak. Lalu suaranya meninggi “Jadi, menurut perhitunganmu orang ini memiliki kemampuan seperti Pikatan?”

Wiyatsih menganggukkan kepalanya.

“Pantas”

”Kenapa?”

“Aku telah memukulnya. Tetapi tanganku bagaikan tembentur tiang besi. Jari-jariku rasa-rasanya menjadi patah”

“Nah, belum lagi ia membalas“

Kesambi mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Tetapi, apakah kita akan membiarkan orang-orang itu menggagalkan rencana kita tentang bendungan ini?”

Wiyatsih termangu-mangu sejenak. Lalu katanya “Tidak Kesambi. Orang itu tidak boleh menghambat pembuatan bendungan ini, atau terlebih-lebih merusaknya”

“Jadi bagaimana menurut pertimbanganmu?”

“Kita akan meneruskan rencana kita. Kita mulai besok dengan menurunkan brunjung-brunjung yang telah terisi dan membuka saluran sementara itu”

“Tetapi bendungan itu akan dirusaknya jika nanti purnama naik Pikatan tidak datang menemuinya”

“Jika kakang Pikatan datang menemuinya, maka arti dari pertemuan itu dapat kita bayangkan“ Suara Wiyatsih menurun.

Kesambi menangkap pergolakan dihati Wiyatsih. Ia berdiri disimpang jalan yang sangat sulit. Ia tidak dapat melepaskan kakaknya meloncat kedalam suatu persoalan yang belum dapat dibayangkan Tetapi iapun tidak akan dapat membiarkan bendungannya gagal atau kemudian dirusakkan.

Akhirnya dengan suara yang dalam Wiyatsih berkata “Aku akan mencoba sekali lagi agar kakang Pikatan bersedia untuk datang”

Tetapi Kesambilah yang kemudian bertanya “Apakah, mereka akan membuat perhitungan dengan kekerasan beralaskan dendam dan kebencian?”

Wiyatsih menganggukkan kepalannya “Itulah kemungkinan yang paling dekat meskipun aku tidak tahu pasti”

Kesambipun menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang wajah kawan-kawannya, wajah-wajah itupun menjadi gelisah.

Namun tiba-tiba Wiyatsih berkata lantang “Jangan kita persoalkan orang itu. Kita tetap pada rencana kita. Besok kita muiai dengan kerja yang berat ini, Apapun yang akan terjadi, kita tidak boleh melangkah surut”

“Ya“ sahut seorang anak muda “kita laporkan saja kepada Ki Jagabaya. Biarlah Ki Jagabaya mencegahya bahkan menangkapnya”

Wiyatsih memandang anak muda itu sejenak. Dalam hatinya ia berkata “Lima orang Jagabaya tidak akan dapat melawannya” Tetapi yang dikatakannya adalah “Lebih baik kita menunggu perkembangan keadaan. Jangan dilaporkan dahulu kepada Ki Jagabaya apalagi kepada Ki Demang”

“Kenapa?” bertanya anak muda itu “bukankah itu menjadi kewajiban Ki Jagabaya?”

“Jika kita masih mempunyai jalan untuk menyelesaikan, biarlah kita selesaikan sendiri”

Anak-Anak muda itupun terdiam.

“Sekarang, marilah kita pulang” berkata Wiyatsih kemudian “aku harap, agar persoalan ini tidak berkembang sehingga tidak menimbulkan kegelisahan dihati anak-anak muda yang lain. Biarlah kita bekerja seperti yang kita rencanakan. Bendungan ini harus terwujud. Parit-parit harus mengalir dan jalur-jalurnya harus sampai kedaerah yang paling ujung dari Kademangan ini. Akan lebih baik lagi jika kita membuang kelebihan air kedaerah persawahan di Kademangan tetangga. Mereka pasti akan berterima kasih kepada kita”

Kesambipun kemudian menyahut “Baiklah. Marilah kita pulang. Kita sediakan alat-alat yang besok akan kita bawa. Cangkul, linggis, ganden kayu yang besar untuk menancapkan patok kayu dan tampar sebanyak-bayaknya”

Demikianlah, maka anak-anak muda yang masih tinggal dipinggir Kali Kuning itupun kemudian, meninggalkan brunjung-brunjung mereka yang masih teronggok disamping gundukan batu-batu dan bambu.

Namun dihati mereka masih saja selalu dibayangi oleh keragu-raguan. Apakah kerja mereka itu nanti tidak akan sia-sia. Jika orang yang mendendam kepada Pikatan itu benar-benar akan melepaskan kekesalan mereka kepada bendungan itu, maka sudah tentu anak-anak muda Sambi Sari tidak akan dapat berbuat apa-apa. Apalagi Wiyatsih sendiri yang mengetahui bahwa orang-orang itu tentu tidak hanya berdua saja. Mereka tentu mempunyai kawan untuk melindungi mereka, jika orang-orang Sambi Sari siap membantu Pikatan.

Dalam kegelapan hati, Wiyatsih hanya dapat menunggu malam yang bakal datang. Ia akan dapat mengatakan kesulitannya kepada Puranti atau kepada Kiai Pucang Tunggal yang masih saja selalu mengunjunginya.

Dan malam itu, Wiyatsih menunggu mereka dikebun belakang seperti biasanya dengan hati yang gelisah.

Yang datang malam itu ternyata bukan saja Puranti atau Kiai Pucang Tunggal. Tetapi ternyata bahwa kedua-duanya telah datang bersama-sama.

“O, kau juga datang Puranti?” bertanya Wiyatsih ”Ya. Aku memang ingin datang hari ini. Dan aku singgah sejenak ditempat ayah bersembunyi”

Wiyatsih mengerutkan keningnya.

“Aku masih tetap berada di Cangkring Wiyatsih dan ayah bersembunyi berpindah-pindah seperti yang pernah diceriterakannya”

“Di hujan lebat, apakah Kiai juga berada di Alas Sambirata atau dibulak terbuka atau di pategalan?”

“Bukankah disawah-sawah banyak gubug yang dapat memberikan perlindungan kepadaku Wiyatsih? Jika tidak, aku dapat bersembunyi di teritisan banjar atau di gardu-gardu perondan yang sepi. Ya. Aku memang hidup seperti kelelawar. Tetapi jangan kau hiraukan. Aku sudah terlalu biasa hidup seperti itu. Sejak aku masih kanak-kanak aku memang selalu bertualang. Namun aku memang harus membatasi diri. Jika Puranti sudah berhenti bertualang, akupun akan berhenti. Aku akan menikmati hari tuaku dipadepokan yang sepi di Pucang Tunggal”

“Ah” Purantilah yang kemudian berdesah “padahal aku tidak akan berhenti bertualang”

“Jika demikian, akupun tidak“ sahut Kiai Pucang Tunggal sambil tersenyum.

Wiyatsihpun tersenyum pula. Katanya ”Puranti, kau harus ingat, bahwa Kiai Pucang Tunggal yang menjadi semakin tua. Pada saatnya memang Kiai Pucang Tunggal harus beristirahat”

“Jika ayah mau, ayah dapat beristirahat setiap saat”

“Tetapi hati seorang tua Puranti“ sahut Kiai Pucang Tunggal “sebelum anaknya menemukan kepastian buat masa depannya, rasa-rasanya masih belum juga puas hati ini”

“Ah, sudahlah ayah“ Puranti bersungut. Tetapi ayahnya dan Wiyatsih masih saja tersenyum.

“Sekarang, biarlah kita berbicara tentang Wiyatsih. Bagaimana dengani kau Wiyatsih” Puranti membelokkan persoalan dari dirinya.

Wiyatsih masih saja tersenyum. Namun ia menjawab “Besok kita akan mulai dengan menurunkan brunjung-brunjung setelah diisi dengan batu”

“Bagus. Hujan hampir reda sama sekali. Langit menjadi terang. Dan arus Kali Kuningpun sudah mulai surut”

“Ya. Kali Kuning tidak lagi banjir”

“Sebenarnya aku ingin melihat. Tetapi aku tidak mempunyai cara yang baik. Mungkin dari kejauhan, itupun akan memancing kecurigaan”

“Apakah kau mau tinggal disini? Bukankah kakang Pikatan sudah mengetahui bahwa kau ada disekitar daerah ini dan bahkan pernah tinggal dirumah ini meskipun hanya untuk waktu yang sangai pendek”

Puranti menggeleng, katanya “ Aku tidak dapat tinggal di rumah seorang yang sangat sombong”

“Puranti !“ potong ayahnya.

Wiyatsihpun mengerutkah keningnya. Ia tahu benar bahwa yang dimaksud adalah Pikatan. Dan iapun mengerti, jika Puranti ada dirumah itu, kemungkinan perselisihan memang sulit dihidarkan meskipun Wiyatsihpun mengetahui, bahwa didalam diri masing-masing sebenarnya terpercik perasaan yang paling halus mengikat hati mereka berdua. Tetapi mereka dibatasi oleh harga diri masing-masing sehingga keduanya tidak mau melihat dan mengakui perasaan yang sebenarnya telah berkembang itu.

“O“ Wiyatsih menyahut “memang sebaiknya Puranti tidak mendekati bendungan itu untuk sementara”

“Kenapa?” bertanya Kiai Pucang Tunggal. Wiyatsihpun kemudian menceriterakan kedatangan kedua orang yang mengancam akan merusak bendungan itu jika nanti disaat purnama naik Pikatan tidak juga mau datang.

Puranti dan Kiai Pucang Tunggal mendengarkannya dengan saksama. Dengan gelisah Purantipun kemudian berkata “Ayah, bukankah hal itu harus dicegah?”

Kiai Pucang Tunggal mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya “Tentu. Hal itu harus dicegah. Adalah kewajiban kita bersama untuk mencegahnya”

“Disaat purnama naik aku akan hadir di Bendungan“ Berkata Puranti “Jika Pikatan tidak mau datang, aku akan mencegahnya”

“Kita akan datang ke bendungan disaat Purnama naik” berkata Kiai Pucang Tunggal, lalu “tetapi kita tidak boleh berbuat dengan tergesa-gesa. Kita harus membuat perhitungan menurut pertimbangan dari segala segi”

Puranti menundukkan kepalanya. Dan Wiyatsih berkata “Kita mengharapkan perlindungan Kiai Jika tidak, aku akan terpaksa berbuat sesuatu. Aku tidak akan merelakan bendungan itu hancur. Aku tidak tahu, apakah aku mampu melawan Hantu bertangan api itu”

“Memang masih merupakan teka-teki Wiyatsih“ sahut Kiai Pucang Tunggal “aku belum yakin bahwa kau mampu melawannya. Apalagi kau seorang diri”

“Aku mengharap kedua penjaga regol itu akan membantuku. Mereka sangat baik terhadapku. Juga anak-anak Sambi Sari dapat mencegah orang-orang lain ikut mencampuri persoalan ini”

“Sekali lagi aku memperingatkan kau Wiyatsih. Jangan tergesa-gesa bertindak, Berusahalah agar Pikatan datang di saat Purnama naik. Jika tidak, aku dan Puranti akan mengamati kalian. Seandainya kau terpaksa menyelamatkan bendunganmu dengan kekerasan, sudah tentu kami tidak akan tinggal diam”

“Tetapi Hantu bertangani api itu tidak hanya berdua“

“Ya. Kami mengerti. Persiapkan kedua penjaga regol rumah. Beritahukan kemungkinan yang bakal terjadi. Seandainya Pikatan datangpun, kita harus menyelamatkan bendungan itu dari orang-orangnya yang lain. Sebab tidak mustahil jika Pikatan menang, maka orang-orangnya akan berbuat licik” Wiyatsih mengangguk-angggukkan kepalanya.

“Kita masih mempunyai waktu menjelang purnama”

“Aku akan mempergunakan waktu yang pendek ini untuk menyesuaikan diriku jika perlu. Dimalam hari aku akan berlatih sebaik-baiknya“ desis Wiyatsih kemudian “jika kau bersedia Puranti, ajarilah aku agar jika perlu aku tidak akan mati sia-sia. Aku harus dapat memberikan perlawanan sebaik-baiknya meskipun seandainya aku harus kalah”

“Jangan berkata begitu. Meskipun sikap hati-hati itu sangat baik, tetapi jangan mengarah kepada putus asa”

Wiyatsih menganggukkan kepalanya.

“Aku akan datang setiap malam Wiyatsih, bersama ayah. Tetapi kita tidak akan berlatih disini. Kita akan mencari tempat yang lebih baik, dan sudah barang tentu tidak ditempat Pikatan berlatih”

“Terima kasih. Waktu yang sedikit ini harus dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya.

“Nah apakah kau sekarang juga akan memanfaatkan waktu untuk berlatih?” bertanya Puranti

“Tentu“

“Apakah kau bersedia pergi malam ini?”

“Tentu. Aku akan minta diri kepada ibu, karena akhir-akhir ini ibu selalu gelisah, justru karena bendungan itu siap untuk dimulai. Juga karena masa panenan ini, lumbung kami menjadi penuh. Ibu kadang-kadang dicemaskan oleh penjahat-penjahat yang sering berkeliaran didaerah ini. Apalagi rumah kami telah pernah disentuh oleh penjahat-penjahat itu pula”

“Baiklah Wiyatsih. Aku menunggumu disini”

Wiyatsihpun kemudian minta diri kepada ibunya. Tetapi ia tidak mengatakan keperluannya. Ia hanya mengatakan bahwa ia akan pergi ke Banjar”

“Aku takut dirumah. Kakakmu tidak mau berbuat apa-apa jika tidak terpaksa sekali”

“Dua orang penjaga itu akan berbuat sebaik-baiknya”

“Tetapi jika yang datang penjahat-penjahat seperti yang terbunuh itu, atau kawan-kawannya yang mendendam?”

Wiyatsih tersenyum, katanya “Tidak ibu. Akupun tidak akan pergi terlalu lama”

“Kenapa kau tidak pergi besok saja?”

“Ada yang penting yang harus kami bicarakan bersama kawan-kawan ibu“

“Kau pergi seorang diri?”

Wiyatsih mengangguk. Dan sambil tersenyum ia minta diri “Sudahlah ibu. Aku akan segera kembali”

Ibunya masih ragu-ragu. Tetapi iapun kemudian menganggukkan kepalanya. “Tetapi hati-hatilah dan cepat kembali”

Demikianlah Wiyatsihpun kemudian meninggalkan rumahnya bersama Kiai Pucang Tunggal dan Puranti. Mereka pergi ke tempat yang sepi dan mulai berlatih dengan sungguh-sungguh. Terutama Wiyatsih.

“Jika kakang Pikatan tidak mau turun kebendungan yang sedang dibuat itu nanti saat Purnama naik, akulah yang akan menggantinkannya” kata Wiyatsih

Puranti tidak menjawab. Tetapi ia sendiripun ingin mengganiikan Pikatan. Apalagi menurut penilaian Kiai Pucang Tunggal, Wiyatsih masih meragukan. Jika ia harus bertempur melawan Hantu Bertangan Api itu, maka ia masih akan menjumpai banyak kesulitan. Sedang Pikatanpun masih menghadapi kemungkinan yang sama dengan Hantu bertangan api itu. Mungkin ia akan menang, tetapi mungkin pula ia akan kalah.

Namun Wiyatsih yang berhati keras sekeras hati Pikatan itupun berlatih dengan sungguh-sungguh. Waktu yang singkat menjelang purnama naik harus membentuknya menjadi seorang yang lebih baik. Yang setidak-tidaknya akan dapat mengimbangi Hantu Bertangan Api itu.

Ternyata Wiyatsih tidak lagi mengingat akan waktu yang dijanjikan kepada ibunya. Demikian asyiknya ia berlatih, sehingga ia tidak sadar, bahwa tengah malam telah lampau.

“Wiyatsih“ berkata Kiai Pucang Tunggal kemudian “apa kali kau akan berlatih semalam suntuk?”

Wiyatsih menengadahkan wajahnya. Dilihatnya bintang-bintang sudah jauh bergeser ke Barat.

“Apakah sudah tengah malam?”

“Sudah lewat” jawab Kiai Pucang Tunggal.

Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Ibu sudah menunggu. Baiklah aku pulang Kiai”

“Marilah“ sahut Puranti “aku antar kau sampai kepintu butulan”

“Kita mungkin akan bertemu dengan kakang Pikatan” jawab Wiyatsih “ditengah malam ia biasanya keluar dari rumah”

“Aku sudah tahu pasti, jalan manakah yang dilaluinya “berkata Kiai Pucang Tunggal kemudian.
Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Marilah“ ajak Puranti kemudian

Sekali lagi Wiyatsih mengangguk, dan merekapun kemudian berjalan menyelusur jalan setapak dan memasuki pedukuhan yang lengang tengah malam.

Wiyatsih memasuki halaman rumahnya seorang diri. Dilihatnya penjaga rumahnya yang seorang duduk ditengah-tengah pendapa sambil berkerudung kain panjangnya, sedang kawannya tertidur bersandar tiang.

“Wiyatsih“ penjaga itu menyapanya ketika ia melihat Wiyatsih perlahan-lahan mendorong pintu regol, dan kemudian melangkah mendekati tangga pendapa ”Dari mana kau lewat tengah malam begini?”

Wiyatsih tersenyum sambil menjawab “Aku baru datang dari banjar”

“Dari banjar? Ada apa di banjar malam ini?”

“Kami berbicara tentang bendungan. Besok akan mulai. Karena itu malam ini kami mengadakan beberapa pembicaraan penting”

“Dan gadis-gadis juga ikut berbicara?”

Wiyatsih ragu-ragu sejenak. Kemudian jawabnya “Tidak. Hanya aku saja”

Penjaga itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Adalah sangat berbahaya, maksudku tidak pantas bahwa gadis-gadis berada dibanjar sampai jauh malam. Apalagi kemudian pulang seorang diri Tetapi lebih tidak pantas lagi jika seorang anak muda mengantarkannya tanpa orang lain. Dimalam hari banyak hantu berkeliaran. Jika anak muda yang mengantarkan itu dirasuki setan atau iblis, maka akibatnya adalah penyesalan yang tidak ada habisnya, dan bendungan itupun akan ternoda pula karenanya.

“Jangan cemas. Tidak ada gadis yang ikut dalam pembicaraan itu, selain aku. Dan akupun pulang seorang diri tanpa diantar siapapun”

“Aku percaya. Bahkan seandainya ada seseorang mengantar sakalipun, tidak akan terjadi bencana itu atasmu. Kecuali jika kau justru yang dirasuki setan”

“Ah kau. Bukankah aku sadar akan kewajibanku atas kampung halaman? Dan bukankah dengan demikian aku tidak akan menodai bendungan itu?”

”Aku percaya, aku percaya. Karena itu, jika kau sajalah yang hadir dari antara sekian banyak gadis-gadis, tentu tidak akan ada yang berkeberatan”

Wiyatsih tersenyum pula, lalu “Apakah ibu sudah tidur?”

“Aku kira belum. Belum lama ibumu keluar dan bertanya tentang kau”

Wiyatsih mengerutkan keningnya. Ternyata ibunya pasti menjadi sangat gelisah, karena ia masih belum pulang sampai lewat tengah malam.

“Bukankah tidak terjadi sesuatu dirumah ini?” bertanya Wiyatsih kemudian.

Penjaga itu menggelengkan kepalanya”Tidak. Tidak ada apa-apa, selain orang itu mendekur keras-keras“

Wiyatsih memandang penjaga yang lain yang bersandar tiang. Tetapi ternyata ia sudah terbangun mendengar pembicaraan itu dan menyahut “Ketika ibumu keluar, akulah yang sedang berjaga Wiyatsih. Orang itulah yang sedang mendekur keras sekali”

Wiyatsih tertawa pendek. Lalu katanya “Hati hatilah Jangan hanya duduk saja disitu. Dibelakang, lumbung masih penuh“

“Dimusim panen tidak akan ada orang yang moncuri padi. Hampir setiap orang sudah menyimpan padi di rumah.

“Ada yang sudah hampir habis meskipun sawah masih, berbau jerami. Masih ada juga orang yang melakukan pemborosan didalam kesulitan ini”

Penjaga itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi yang bersandar tiang itu berkata “Sudah ada yang tidur didalam lumbung itu. Jika terjadi sesuatu ia akan memberikan isyarat kepada kami”

“Ah kau. Kau masih juga lebih sering mendekur“ Orang itu tersenyum, tetapi matanya sudah terpejam lagi. Wiyatsihpun kemudian melintasi pendapa dan mengetuk pintu depan.

“Siapa?” terdengar suara ibunya. Agaknya ibunya masih duduk menunggunya.

“Aku ibu”

“Wiyatsih?”

“Ya”

Terdengar langkah mendekat, dan pintu itupun segera terbuka “Kau baru kembali?”

“O“ sahut Wiyatsih “aku sudah lama ada dipendapa ibu. Aku berbicara dengan para penjaga itu mengenai keadaan kini yang berangsur menjadi baik dan aman”

“Apakah kau sudah lama datang?”

“Sudah ibu”

“Aku baru saja keluar dan bertanya kepada para penjaga, apakah kau sudah datang”

“O“ Wiyatsih tertegun sejenak, lalu “baru saja ibu masuk, aku datang. Tetapi aku tidak segera mengetuk pintu”

Ibunya menjadi ragu-ragu. Tetapi ia tidak menyahut lagi. Wiyatsih yang kemudian masuk kedalam melihat bumbung-bumbung kecil yang berisi potongan-potongan lidi berjajar diatas sehelai tikar. Bahkan masih ada beberapa potong lidi berserakan.

Gadis itu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ibunya masih saja sibuk dengan lidi-lidi itu. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

“Apakah kau sudah mencuci kakimu?” bertanya ibunya.

Wiyatsih menggeleng.

“Bersihkan kakimu dahulu jika kau datang dari banjar. Dan tidurlah. Hari sudah larut malam, bahkan tengah malam sudah lama lampau”

“Dan ibu juga belum tidur?”

“Aku menunggumu. Untuk mencegah kantuk, aku sambil menghitung lidi itu”

Wiyatsihpun kemudian pergi kebutulan. Ternyata pintu butulan itu sudah terbuka. Tentu Pikatan sudah keluar dari rumah itu tanpa diketahui oleh ibunya, meskipun ibunya masih duduk menghitung lidi.

Setelah mencuci kaki dan tangannya Wiyatsihpun masuk kembali lewat pintu butulan itu. Tetapi ia tidak mau menyelarak pintu itu, agar kakaknya tidak menemui kesulitan apabila ia datang pagi-pagi sebelum isi rumah itu terbangun, meskipun kadang-kadang ia datang setelah fajar dan pintu itu memang sudah dibukanya.

Namun hampir setiap hari Wiyatsih pulalah yang membuka pintu itu, dan ia tidak pernah mempersoalkannya kepada pintu itu tidak diselarak. Meskipun pernah pada suatu pagi ibunyalah yang menemukan pintu itu terbuka dan menyangka bahwa isi rumah ini lupa menyelarakanya. Untunglah bahwa sejenak kemudian ia mendengar suara gerit timba dan dilihatnya dari longkagan Pikatan sedang mengambil air untuk mencuci kakinya. Disangkanya bahwa Pikatanlah yang baru saja keluar ke pakiwan.

Ketika ia sampai diruang tengah, ibunya sudah berdiri dimuka pintu bilik sambil berkata “Tidurlah. Kau dapat menjadi sakit jika bangun terlampau malam”

“Baik ibu“ sahut Wiyatsih sambil masuk kedalam biliknya pula.

Sejenak kemudian rumah itu menjadi sepi. Agaknya ibunya telah tertidur. Dan Pikatan tidak ada didalam biliknya. Namun ternyata bahwa Wiyatsih tidak segera dapat tidur. Ia terlena menjelang fajar sejenak. Tetapi tidak lama, karena iapun segera terbangun ketika ia mendengar dari pintu bilik Pikatan terbuka. Dan ternyata fajar telah mewarnai langit.

“Aku harus segera bersiap. Pagi ini kami akan mului dengan bendungan itu”

Dengan demikian, setelah menunggu sejenak, Wiyatsihpun segera bangkit dan melangkah keluar. Ternyata langit diujung Timur telah menjadi semburat merah, dan bintang-bintang sudah mulai pudar.

Wiyatsihpun kemudian dengan, tergesa-gesa pergi ke pakiwan Dilakukannya segala kewajibannya. Seperti biasa iapun membantu mereka yang bekerja didapur.

Baru ketika semua pekerjaan dirumah selesai, Wiyatsih berkemas untuk pergi ke Kali Kuning.

“Kau akan pergi kemana Wiyatsih?” bertanya ibunya yang telah terbangun pula.

“Kali Kuning ibu”

“Sepagi ini?”

“Ya bu, kawan-kawan akan mulai hari ini dengan bendungannya. Aku harus ikut bersama mereka”

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Jadi kalian benar-benar akan membuat bendungan?”

“Bukankah ibu sudah melihatnya? Parit-parit yang tergali menusuk tanah-tanah kering dipersawahan dan pategalan. Sebentar lagi sebelum musim hujan yang akan datang, parit-parit itu pasti sudah akan dapat mengalirkan air. Mula-mula parit-parit yang besar yang langsung mendapatkan airnya dari susukan induk. Barulah kita dapat mengatur pembagian air sebaik-baiknya”

Ibunya niengangguk-angguk. Tetapi wajahnya menjadi buram. Meskipun demikian ia tidak bertanya lagi. Dan tanpa berbicara sepatah katapun, maka iapun segera meninggalkan anaknya yang sudah siap untuk berangkat.

Wiytasih memandang ibunya dengan dada yang berdebar-debar. Ia mengerti bahwa bendungan, parit-parit yang akan mengalir itu, akan membuatnya kehilangan mata pencaharian.

“Tetapi bukankah ibu masih mempunyai sawah yang cukup untuk hidup kami?” Wiyatsih bertanya kepada diri sendiri.

“Kasian ibu“ ia berguman “tetapi apaboleh buat, Mudah-mudahan ibu memaafkan aku”

Sejenak kemudian maka dengan perasaan yang buram Wiyatsih pergi dengan tergesa-gesa kebendungan. Sekali-kali ia teringat juga kepada ibunya. Kemudian kepada wajah orang-orang kaya yang tentu akan menjadi tegang pula.

“Apaboleh buat, apaboleh buat“ katanya didalam hati.

Ketika Wiyatsih sampai ketanggul, langit sudah menjadi semakin cerah Dilihatnya beberapa orang anak muda justru telah mendahuluinya. Bahkan beberapa diantara mereka telah turun kedalam air meskipun mereka belum berbuat apa-apa.

Dengan tergesa-gesa Wiyatsih turun pula ketepian. Ia ingin segera mengetahui akibat dari kedatangan Hantu bertangan api kemarin.

Namun ternyata anak-anak muda yang kemarin melihat kedatangan Hantu itu menepati pesannya. Mereka tidak menyebarkan ceritera tentang kedatangan orang yang mengandung rahasia itu. Meskipun ada juga yang berceritera, tetapi ceritera itu tidak dimaksudkan untuk menakuti-nakuti kawan-kawannya. Namun demikian ada juga diantara mereka yang membicarakan sambil berbisik.

Sejenak kemudian, maka anak-anak muda Sambi Sari itupun mulai berdatangan. Kesambipun segera datang pula, bersama dengan anak-anak muda yang lain.

Ketika anak-anak muda itu sudah berkumpul, maka mulailah mereka menempatkan diri mereka pada kelompok-kelompok yang sudah mereka susun sebelumnya. Dan sejenak kemudian, merekapun segera mulai dengan kerja mereka yang besar itu. Membuat bendungan.

Anak-anak muda yang telah dibekali dengan tekad itu tidak memerlukan perintah-perintah lagi untuk melecut kerja mereka Dengan kesadaran didalam diri, mereka bekerja dengan sepenuh tenaga. Sebagian mengisi brunjung-brunjung bambu itu dengan batu-batu, sementara kelompok yang lain menanam patok-patok pada dasar sungai yang berpasir dan berbatu-batu. Sedang kelompok yang lain lagi sibuk membelokkan air Kali Kuning lewat sebuah selokan darurat dibawah tebing batu padas agar mereka dapat membuat bendungan dengan lebih mudah dan lebih baik. Apabila kelak bendungan itu sudah selesai, maka tebing itu akan dirontokkan sehingga saluran darurat itupun akan tertutup karenanya.

Demikianlah pada hari yang pertama itu, terasa gelora tekad. anak-anak muda Sambi Sari menyala disetiap dada. Mereka tidak menghiraukan terik matahari yang membakar tubuh mereka karena awan yang kelabu sudah dihanyutkain angin ke Utara.

Apabila sebuah brunjung telah penuh diisi dengan batu-batu maka brunjung itupun kemudian diseret oleh beberapa orang anak muda kebibir sungai. Kemudian dengan hati-hati mereka meluncurkan brunjung itu, agar batu-batu yang ada didalamnya tidak berserakatan apabila brunjung itu pecah.

Sementara itu yang lain telah menanam patok-patok untuk menahan brunjung-brunjung itu, karena jika air Kali Kuning menjadi agak besar, brunjung-brunjung itu akan dapat terdorong dan tidak lagi berada ditempat yang seharusnya.

Dalam pada itu, selagi anak muda bekerja dengan sepenuh hati, gadis-gadis mulai sibuk dengan tugas masing-masing. Ada yang merebus air, ada yang menanak nasi dan ada pula yang membuat lauk pauknya. Mereka mengerjakannya disebuah gubug yang telah dibuat khusus untuk dijadikan sebuah dapur.

Dihari pertama itu, ternyata Ki Demang Sambi Saripun memerlukan datang. Dengan bangga ia melihat, anak-anaknya bekerja dengan sepenuh kemauan untuk kepentingan Kademangannya. Jika air itu nanti benar-benar naik, Sambi Sari bukan lagi sebuah Kademangan yang kering kerontang dimusim kemarau.

Tetapi Kademangan Sambi Sari akan menjadi daerah yang hijau dimusim kering. Parit-parit akan tetap mengalir dari sawah-sawah akan dapat ditanami dengan padi dua kali setahun. Diseling oleh tanaman palawija karena air tetap membasahi tanah yang menjadi subur.
Namun Ki Demangpun sadar, bahwa ada orang-orang yang tidak senang melihat bendungan itu. Ada orang yang merasa pekerjaannva terganggu. Orang yang memiliki tahah yang berlebihan dan memerlukan tenaga murah. Jika setiap orang akan bekerja disawah sendiri disegala musim, maka yang memiliki sawah yang subur dipinggir sungai dan parit-parit yang sudah ada turun temurun akan kehilangan tenaga. Terlebih-lebih lagi, para petani tidak akan memerlukan lagi meminjam padi dan beras dimusim paceklik yang panjang dengan bunga yang berlebih-lebihan.

Dengan demikiam Ki Demang harus dapat menguasai keadaan dan tetap memelihara keseimbangan, sehingga perubahan keadaan itu tidak menimbulkan goncangan-goncangan. Tetapi jika ada orang-orang kaya yang berusaha menghalang-halangi pembuatan bendungan yang akan sangat bermanfaat bagi para petani itu, Ki Demang tentu akan ikut campur pula
Tetapi Ki Demang sama sekali belum mendengar, bahwa ada pihak lain yang mengancam akan merusak bendungan itu jika ia tidak berhasil menemukan Pikatan. Orang yang sebetulnya justru tidak mempunyai sangkut paut dengan bendungan itu. Tetapi agaknya ia berusaha mempergunakan bendungan itu untuk memaksa Pikatan, agar ia bersedia menemuinya dan membuat perhitungan atas dendam yang disimpannya sejak kekalahannya di goa Pabelan.

Demikianlah maka semakin tinggi matahari, maka kerja itupun menjadi semakin riuh. Ketika keringat telah membasahi panggung dan tangan, anak-anak muda Sambi Sari seakan-akan tidak lagi merasa bahwa kerja yang mereka lakukan adalah kerja yang berat. Dengan irama yang mereka teriakkan bersama-sama, maka mereka menarik brunjung-brunjung yang telah terisi dengan batu, setapak demi setapak kebibir sungai dan kemudian perlahan-lahan dengan tali-tali yang kuat, brunjung-brunjung itupun diturunkan kedalam air

Tetapi Kali Kuning cukup luas dan dalam. Kerja yang akan mereka lakukan bukan kerja sehari dua hari. Tetapi kerja mereka akan makan waktu yang panjang. Dari bulan yang satu kebulan yang lain. Bahkan apabila bendungan, itu nanti menjadi semakin tinggi, maka sebagian dari anak-anak muda itu masih harus melanjutkan mengerjakan parit-parit sesuai dengan rencana. Membuat bendungan-bendungan kecil pada parit induk dan memperhitungkan pembagian air sebaik-baiknya bagi setiap padukuhan.

Dan anak muda Sambi Sari itupun sadar, bahwa dengan sebuah bendungan yang baik, maka kehidupan rakyatnya pasti akan mengalami perubahan. Sedangkan Kademangan-kademangan yang lain akan melihat manfaat dari bendungan semacam itu, dan tentu akan menggerak-kan hati anak-anak mudanya untuk melakukan pekerjaan yang sama.
Lewat tengah hari anak-anak muda itupun beristirahat sejenak . Gadis-gadis telah menyediakan makan dan minuman. Beras yang baru saja mereka petik dari sawah dan lauk pauk yang basah membuat tubuh mereka menjadi segar kembali.

Ki Demang yang dengan. bangga melihat pembuatan bendungan itu, dengan senang hati ikut makan bersama dengan Anak-Anak muda Sambi Sari. Meskipun sayur dan lauk yang ada jauh lebih sederhana dari yang disediakan dirumahnya, tetapi rasa-rasanya Ki Demang sedang menikmati suguhan yang luar biasa nikmatnya. Apalagi dimakan bersama-sama dengan anak muda dengan alas selembar daun pisang.

Dan bagi anak muda yang lainpun merasa, bahwa apa yang sedang mereka makan bersama-sama itu jauh lebih enak dari daging ingkung ayam yang dimasak lembaran pada hari-hari merti desa di banjar Kademangan. Daun kangkung dan lembayung yang dipetik di pematang dan pinggir Kali Kuning, sambal kelapa muda yang pedas, semakin memeras keringat anak-anak muda itu dari tubuh mereka, apalagi nasi yang masih mengepulkan asap yang putih.
Semuanya itu membuat mereka semakin bergairah, untuk melanjutkan kerja mereka.
Setelah mereka selesai dengan makan dan minum, maka merekapun beristirahat pula sejenak. Ada yang berbaring diatas pasir, ada pula yang sekedar berjalan-jalan sambil melihat-lihat hasil mereka, dan ada yang duduk dibawah tebing sambil bereaka-cakap. Tetapi ada juga yang duduk disudut dapur yang mereka buat itu sambil memandangi gadis-gadis yang sedang sibuk membersihkan alat-alat mereka. Bahkan ada juga satu dua orang yang sempat bercanda dengan gadis-gadis itu. Namun karena gadis-gadis itu sedang sibuk, maka merekapun akhirnya hanya sekedar memandanginya saja sambil bekerja tersenyum-senyum.

Demikianlah yang terjadi setiap hari. Ternyata anak-anak muda Sambi Sari tidak hanya sekedar siap untuk memulai. Tetapi mereka benar-benar telah siap untuk bekerja seterusnya. Apalagi musim hujan seakan-akan telah habis. Mereka tidak lagi diganggu oleh kerja disawah yang mereka tanami dengan palawija yang sudah tumbuh semakin besar. Titik air hujan yang masih kadang-kadang turun, masih sanggup membasahi tanah pategalan dan sawah mereka untuk menghidupi palawija yang tidak banyak menghasilkan itu, namun merupakan tambahan bahan makanan yang dapat membantu menyambung hidup rakyat Sambi Sari. Dan Rakyat Sambi Sari itu tinggal menunggu saja saatnya palawija mereka berbuah. Kerja kecil disawah ternyata dapat dilakukan oleh orang-orang tua dan perempuan, sedang anak-anak mudanya dapat mencurahkan kerja mereka di Kali Kuning.

Dalam pada itu, semakin jauh kerja yang dilakukan anak-anak muda Sambi Sari itu, Wiyatsih menjadi semakin berdebar-debar. Jika pada saat purnama naik Pikatan tidak bersedia datang kebendungan, maka persoalannya akan menjadi sangal gawat. Tetapi jika Pikatan datang juga kebendungan, maka ia akan dicemaskan oleh kemungkinan yang bakal terjadi atas kakaknya itu. Kiai Pucang Tunggal masih belum dapat memberikan jaminan, bahwa Pikatan akan dapat memenangkan perkelahian jika itu harus terjadi.

Yang terbayang didalam angan-angan Wiyatsih, adalah kemungkinan yang paling pahit yang dapat terjadi. Apakah yang dapat dilakukan, seandainya ia terpaksa melihat kakaknya satu-satunya itu terkapar ditepian berlumuran darah?.

Jika Wiyatsih duduk sendiri didalam biliknya disore hari, kadang-kadang diluar sadarnya, matanya menjadi basah. Dan bahkan kadang-kadang ia mengeluh “Kenapa aku harus memilih antara bendungan dan kakang Pikatan?”

Tetapi kadang-kadang ia menegakkan kepalanya sambil bergumam “Kakang Pikatan telah menguasai ilmu puncak perguruan Pucang Tunggal. Tentu Hantu bertangan api itu tidak akan dapat mengalahkannya”

Namun setiap kali Wiyatsih masih harus menarik nafas dalam-dalam. Jika terjadi perang tanding, tentu Pikatan tidak mau dibantu oleh siapapun juga meskipun itu akan berakibat mati. Apalagi dibantu oleh seorang gadis, meskipun gadis itu adalah dirinya, adiknya. Bahkan ia tentu menolak bantuan gurunya sendiri.

Masalah itulah yang membebani perasaan Wiyatsih setiap kali, sehingga kadang-kadang tanpa dikehendakinya sendiri, ia duduk saja merenung memandang kekejauhan. Bahkan selagi ia berada diantara kawan-kawannya yang sedang bekerja di pinggir Kali Kuning.

“He, kau melamun“ berkata seorang gadis sambil menggamitnya “apakah anak muda itu tidak datang hari ini?”

Wiyatsih terkejut. Tetapi iapun segera berusaha tersenyum “Siapa yang tidak datang?”

Gadis itu tertawa nakal sekali. Tetapi ia tidak menjawab.

“Ah, ada-ada saja kau ini“ sahut Wiyatsih kemudian.

Gadis itu tertawa. Beberapa orang yang mendengarnya tertawa juga.

Namun seseorang menjawabnya dari sebelah perapian “Aku sudah melihatnya. Ia berada dibawah. Diantara anak-anak muda yang mengatur brunjung-brunjung”

“Ah“ Wiyatsih berdesah dan pipinya menjadi semburat merah. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Dan iapun kemudian meneggelamkan diri didalam kerja sama dengan kawan-kawannya.

Dada Wiyatsih berdesir tajam apabila seorang kawannya yang kebetulan, melihat kedatangan Hantu Bertangan Api itu bertanya kepadanya “Bagaimana dengan Pikatan, Wiyatsih? Apakah ia bersedia datang dimalam purnama itu?”

Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam. Sambil memandang kekejauhan ia menjawab “Aku sedang berusaha meyakinkan. Tetapi jika ia datang, ia telah ditunggu oleh bencana ditepian Kali Kuning”

Anak muda yang bertanya kepada gadis itupun tidak mendesak lagi. Iapun mengerti, bahwa Wiyatsih sedang dibingungkan oleh keadaan itu. Namun demikian, jika Pikatan berkeberatan, apakah bendungan yang mereka kerjakan dengan susah payah dengan merampas segala tenaga dan waktu itu akan mereka korbankan hanya karena Pikatan itu tidak datang memehuhi tantangan orang yang mendendamnya? Sedang persoalan antara Pikatan dan orang itu sama sekali tidak bersangkut paut dengan bendungan ini? Tetapi sebagai kawan-kawannya dimasa lampau apakah mereka akan membenarkan rencana itu terjadi atas Pikatan?.

Ternyata diantara Anak-Anak muda Sambi Sari yang mengetahui persoalan itu, hal itupun menjadi bahan pembicaraan. Bahkan semakin lama menjadi semakin luas, meskipun setiap kali Kesambi berusaha membatasi persoalannya agar hal itu tidak menumbuhkan kekecewaan yang dapat melemahkan kerja anak-anak muda. Sambi Sari.

Namun sejalan dengan pembicaraan yang semakin meluas, akhirnya beberapa orang dari lingkungan mereka yang tidak senang melihat lahirnya sebuah bendungan itupun mendengarnya pula, beberapa orang kaya yang biasa meminjamkan uangnya dengan bunga yang tinggi itupun dengan diam-diam berunding diantara mereka.

“Bendungan itu harus gagal“ berkata salah seorang dari mereka.

“Jadi, apakah yang dapat kita lakukan? Anak muda itu mendapat perlindungan dari Ki Demang dan Ki Jagabaya. Apalagi mereka agaknya telah bertekad bulat, sehingga uang kita tidak akan dapat mencegah niat mereka itu. Satu dua orang anak muda yang berpendirian lain, sudah aku coba, tetapi gagal”

“Bagaimana dengan Tanjung?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Aku tidak berani mempercayainya. Ia adalah kepercayaan Nyai Sudati. Sedang anak gadis orang itulah yang memimpin pembuatan bendungan meskipun tampaknya Kesambilah yang melakukannya”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan seorang yang lain berkata “Biarlah kali ini kita tidak membawanya serta. Tetapi aku yakin bahwa ia sependapat dengan kita. Jika kita berhasil, maka akan dapat memungut biaya atas usaha kita ini dari padanya, dan aku yakin ia tidak akan menolak”

“Tetapi apakah yang dapat kita usahakan?”

“Merusak bendungan itu”

“Ah, mana mungkin. Bendungan itu dikerjakan setiap hari”

“Dimalam hari bukankah kita mendengar ceritera tentang orang yang tidak dikenal yang akan merusak bendungan itu meskipun alasannya berbeda?”

“Ya. Tetapi sesudah purnama naik“

“Ah, itu tidak perlu. Tetapi setiap orang mendengar bahwa ada orang yang ingin merusak bendungan itu. Sebagian dari anak-anak muda Sambi Sari memang percaya, bahwa hal itu baru akan di lakukan sesudah purnama naik, sehingga jika mereka merasa perlu, baru sesudah purnama naik bendungan itu akan dijaga. Bahkan mungkin anak-anak muda itu akan tidur ditepian. Tetapi kini bendungan itu belum dijaga”

“Jadi bagaimana menurut pendapatmu?”

“Kita mengupah beberapa orang yang berani dan mempunyai kemampuan yang cukup. Kita suruh mereka merusak bendungan itu. Sebagian kecil saja. Tetapi hal itu pasti sudah menurunkan tekad anak-anak muda Sambi Sari”

“Siapakah yang akan kita upah”

“Kita menghubungi seorang penjahat. Daripada mereka pergi merampok, lebih baik mereka merusak bendungan”

“Ah”

“Aku dapat menghubungi salah seorang dari mereka yang mungkin dapat melakukan”
“Dimana?”

“Bukankah dipadukuhan sebelah ada orang yang bernama Ja Betet”

“Mengerikan”

“Ya. Ja Betet“ sahut yang lain “tetapi ia sekarang sudah tua dan tidak berbuat apa-apa lagi. Badannya telah remuk karena petualangannya”

“Belum. Tetapi benar ia sudah menghentikan pekerjaan itu. Meskipun demikian ia pasti masih sanggup mencari tiga atau empat orang yang kuat. Dan anak-anak Sambi Sari tentu akan melemparkan kesalahan kepada orang yang mengancam merusak bendungan itu”

“Tetapi purnama belum naik”

“Ah, mereka tidak akan sempat mencari kesalahan pada orang lain. Mereka pasti akan segera menuduh orang-orang itu”

Beberapa orang-orang kaya itu mengangguk-anggukan kepalanya. Salah seorang berkata “Terserah kepadamu. Aku akan membayar bagian biaya yang dibebankan kepadaku untuk mengupah orang-orang itu atau apapun juga yang lain”

“Bagus, Kita akan melakukannya. Kita kehilangan sedikit uang, tetapi selanjutnya kita akan tetap dapat memeras mereka”

Dan hal itupun kemudian menjadi keputusan mereka. Mereka akan mengupah beberapa orang untuk merusak bendungan. Hal itu tentu akan menurunkan gairah anak-anak muda Sambi Sari. Apa lagi apabila benar-benar sesudah purnama naik ada pihak lain yang akan merusak bendungan itu pula. Niat mereka yang betapapun kerasnya itupun pasti akan patah, sehingga rencana pembuatan bendungan itu akan urung.

Demikianah maka salah seorang dari orang-orang itu dengan diam-diam telah menghubungi seorang yang mereka sebut Ja Betet, karena hidung orang itu melengkung seperti burung betet. Orang yang dikenal sebagai seorang bekas perampok yang menakutkan, yang oleh beberapa orang dianggap bahwa dalam keadaan yang mendesak ia pasti masih akan melakukannya. Bahkan dimusim paceklik yang lalu, ia pasti merupakan salah seorang dari perampok-perampok yang berkeliaran.

Ternyata bahwa niat dari pembicaraan mereka itu terwujud. Ja Betet menyatakan kesediaannya dengan upah tertentu. la akan menghubungi lima orang kawannya untuk merusak bendungan itu. Memecah brunjung-brunjung dan memutuskan tali-tali pengikatnya.

“Lakukanah segera. Nanti malam. Jangan menunggu anak-anak Sambi Sari mulai menjaga bendungannya menjelang purnama naik, karena waktu yang dijanjikan oleh orang-orang yang tidak dikenal itu adalah saat purnama naik” berkata orang yang menghubungi Ja Betet itu.

“Baiklah. Percayalah kepadaku. Aku akan melakukan dengan sebaik-baiknya. Bendungan itu akan rusak dan beberapa brunjung akan pecah dan berserakan apabila tali-tali pengikatnya putus. apalagi brunjung-brunjung itu masih belum mapan” jawab Ja Betet.

“Terserahlah kepadamu”

“Aku akan menghubungi kawan-kawanku sekarang. Nanti malam aku akan merusak bendungan itu”

Sepeninggal orang yang menghubunginya, maka Ja Betetpun dengan tergesa-gesa menghubungi kawan-kawannya. Pekerjaan yang didapatnya itu adalah pekerjaan yang paling mudah yang pernah dilakukan Sekedar merusak bendungan. Dan ia akan menerima upah cukup banyak untuk enam orang.

Kawan-kawannyapun senang sekali menerima tugas itu. Senjata yang harus disediakan hanyalah sekedar beberapa bilah parang dan linggis.

“Tetapi“ berkata salah seorang kawannya “apakah kau tidak salah dengar?”

“Tentu tidak“ berkata Ja Betet ”Aku dengar dengan baik, kita mendapat tugas merusak bendungan itu. Hanya itu”

“Aku tidak mengerti. Apakah untungnya merusak bendungan sehingga ia bersedia membayar mahal”

“Kau memang bodoh“ Ja Betet mencibirkan bibirnya ”yang penting baginya, bendungan itu gagal. Dengan demikian tidak akan ada air yang naik, dan parit-parit tidak mengalir. Kau mengerti akibatnya”

“Setan“ orang itu mengangguk-angguk “ternyata mereka adalah orang yang licik. Dengan demikian mereka akan tetap dapat meribakan uangnya dan memeras tetangga-tetangganya”

“Ternyata kau pandai juga. Tetapi kita tidak peduli. Apapun akibatnya. Yang penting kita mendapat uang. Untuk mendapat uang tanpa kesulitan, kita rusak bendungan itu. Jika kita harus merampok dan menyamun, mungkin kita masih harus berkelahi”

Namun tiba-tiba salah seorang dari oramg-orang itu berkata “Lebih baik kita berkelahi. Pekerjaan ini tidak memberikan kegembiraan sama sekali. Yang memberi kepuasan kepada kita adalah, apabila kita melihat darah mengucur dari luka, dan orang yang terluka itu menggeliat menjelang kematiannya”

“Ah“ desis Ja Betet ”Aku sudah menjadi semakin tua. Barangkali aku sudah jemu membunuh”

“Macam kau“ sahut yang lain “Jika suatu kali kau menyamun seorang perempuan cantik, kau selalu merasa dirimu masih muda. Kau memang gila. Kau lebih senang menyamun orangnya dari harta bendanya. Sebut, berapa orang yang sudah kau perkosa dengan cara itu?”

“ Ah, tentu sekarang aku tidak akan memperkosa bendungan”

Bersambung

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s