Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

30

Tinggalkan komentar


“Tentu kau akan memperkosanya. Merusaknya dan bahkan meughancurkannya sama sekali apabila mungkin”

“Aku tidak peduli. Yang penting kita bersiap-siap. Nanti malam kita akan melakukannya. Semakin cepat semakin baik. Kita akan segera menerima upahnya”

“Tetapi bagaimana jika mereka ingkar? Jika bendungan itu rusak, tetapi mereka tidak memberikan upahnya?”

“Gila. Apakah orang itu sudah bernyawa rangkap? Ia tentu akan takut berbuat demikian karena ia mengenal aku”

Demikianlah maka keenam orang itupun segera mempersiapkan diri. Mereka segera memutuskan dimana mereka akan bertemu dan apa yang mereka bawa masing-masing.

“Jika bendungan itu ditunggui oleh anak-anak muda Sambi Sari dan mencoba mempertahankannya?, apaboleh buat. Menurut perjanjian, setiap orang yang harus kita lawan, mempunyai nilai upah tersendiri”

“O, jika demikian kita dapat mengatakan bahwa kita telah berkelahi mati-matian melawan sejumlah anak-anak muda. Sambi Sari. Sebut saja sepuluh atau lebih, meskipun kita tidak menjumpai seorangpun” berkata kawannya yang lain.

“Tetapi akhirnya akan ketahuan juga bahwa kita berbohong seandainya tidak benar-benar ada anak-anak Sambi Sari itu”

“Jika demikian kita sengaja membocorkan rencana ini. Jika anak-anak Sambi Sari itu mendengar bahwa kita akan merusak bendungannya, maka mereka pasti akan bersiaga. Nah, bukankah kita benar-benar akan bertempur?”

“Ada juga bahayanya. Bagaimanakah jika hal itu sampai ketelinga Ki Demang di Sambi Sari? Dan bagaimana jika yang kemudian berjaga-jaga dibendungan itu jumlahnya melampaui kemampuan kita, bahkan termasuk Ki Jagabaya?”

Kawan-kawan Ja Betet itu mengangguk-angguk. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk merusak bendungan itu dengan cara yang semudah-mudahnya.

Demikianah ketika senja datang, orang-orang itupun telah berkumpul dirumah Ja Betet. Mereka sudah siap dengan parang dan alat-alat yang lain. Apabila malam mulai turun, maka mereka akan segera pergi ke bendungan. Tidak sulit melakukan pekerjaan itu, dan tidak akan makan waktu terlalu lama. Mereka hanya sekedar memotong beberapa utas tali dan mematahkan beberapa buah deriji brunjung-brunjung bambu yang tidak begitu kuat dan batupun akan beserakan.

Ketika gelap malam menyelubungi seluruh padukulum disekitar alas Sambirata di Sambi Sari, maka keenam orang itu telah berada dibendungan yang masih sedang dibuat itu. Tetapi tepian sungai itu telah menjadi sepi. Tidak seorangpun yang tampak diantara brunjung-brunjung yang masih bertumpuk-tumpuk, yang masih harus diisi dengan batu-batu sebelum diturukan kesungai.

“Tidak ada seorangpun“ desis Ja Betet.

“Ya. Agaknya mereka terlalu percaya bahwa pada saat purnama naik itulah yang menjadi batas waktu pengamanan bendungan ini“ sahut seorang kawannya.
Merekapun mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Ja Betetpun kamudian berkata “Marilah. Mumpung masih belum terlampau malam. Kita masih sempat minum tuak dirumah. Besok kita akan menerima sejumlah uang yang cukup untuk menyenangkan diri selama sepekan tanpa berbuat apa-apa lagi.

Sejenak orang-orang itu termangu-mangu. Tetapi karena sama sekali tidak ada orang disekitar bendungan itu, maka merekapun segera melangkah kebibir sungai.

“Jika ada seorangpun yang melihat, orang itu harus dibinasakan supaya ia tidak dapat menyebut namaku besok dihadapan Ki Demang Sambi Sari. Karena orang-orang Sambi Sari telah banyak yang mengenalku” Berkata Ja Betet pula.

“Tentu hidungmu itulah yang telah menarik perhatian mereka“ sahut kawannya.

Orang-orang yang sudah siap untuk memutuskan tali-tali bendungan itu masih sempat tertawa berkepanjangan.

***

Dalam pada itu, selagi orang-orang itu bersiap-siap melakukan tugasnya, di rumahnya Wiyatsih telah mencoba untuk berbicara dengan Pikatan. Meskipun dengan dada yang berdebar-debar, namun dipaksanya dirinya untuk mengatakan, bagaimana Hantu Bertangan Api itu telah mengancam akan merusak bendungan apabila pada purnama naik Pikatan tidak datang ketepian.

Pikatan terkejut mendengar keterangan itu. Namun kemudian dengan acuh tidak acuh ia berkata “Aku tidak berkepentingan dengan siapapun juga”

“Kakang“ barkata Wiyatsih “sebenarnya aku tidak akan menyampaikannya kepada kakang Pikatan. Yang aku katakan sampai saat ini banyalah sekedar pemberitahuan bahwa kakang diintai oleh bahaya yang dapat menerkam setiap saat. Namun kini aku dan anak-anak muda Sambi Sari berada didalam kesulitan, Jika kakang Pikatan tidak datang kebendungan sampai saat purnama naik, maka bendungan itupun akan terancam. Tetapi …..” suara Wiyatsih terputus dikerongkongan. Terasa sesuatu yang hangat mengambang dipelupuknya.

Tetapi Wiyatsih terkejut ketika ia mendengar kakaknya menyahut “O, jadi sekarang aku tahu. Akhirnya semua dugaanku benar. Tidak ada lagi orang yang memerlukan aku. Ibu tidak. Kau juga tidak”

“Apa maksudmu kakang?“

“Ternyata kau lebih cinta kepada bendunganmu itu daripada kepadaku. Daripada bendungan itu rusak oleh Hantu Bertangan Api maka bagimu lebih baik aku menjadi tumbal. Biar saja aku mati ditepian, asal bendunganmu itu selamat”

“Kakang“ Wiyatsih hampir memekik “bukan maksudku, Aku tidak berkata demikian”

“Lalu, apa yang kau kehendaki? Kau menyuruih aku datang kebendungan sebelum purnama naik agar Hantu Bertangan Api itu tidak merusak bendungan. Bukankah itu berarti bahwa kematianku akan menjadi sarana keselamatan bendunganmu? Dan itu berarti pula bahwa niiai bendungan itu lebih besar dari nilai nyawaku menurut pertimbanganmu”

“Tidak kakang. Bukan itu. Aku minta kau datang kebendungan karena aku mempunyai suatu keyakinan. Keyakinan bahwa kau akan dapat menyelesaikan persoalanmu dengan Hantu bertangan api itu tanpa mengorbankan dirimu”

“Kenapa kau mempunyai keyakinan itu?”

“Kakang sendiri pemah mengatakan, bahwa kakang akan dapat membunuhnya”

“Tetapi itu dahulu. sebelum aku menjadi seorang cacat yang tidak berarti. Aku sekarang adalah seorang yang terbuang. Aku tidak diperlukan lagi”

“Kakang“ suara Wiyatsih mulai sendat “bukankah kau memiliki kemampuan yang tinggi. Dan bukankah kau selama ini telah mematangkan ilmumu?”

“Siapa yang mengatakannya?”

“Aku tahu, bahwa setiap malam kau keluar rumah Bahkan dimusim hujan sekalipun”

“Kau tahu kemana aku pergi?”

Wiyatsih menggelengkan kepalanya.

“Jangan kau sebut-sebut lagi. Kau tidak tahu apa yang aku lakukan. Dan sekarang, jangan mempersoalkan Hantu Bertangan Api dengan aku. Biar saja ia merusak bendungan. Bendungan yang sedang dibuat itu memang tidak akan berarti apa-apa. Bendungan itupun akan hanyut pada musim hujan mendatang sebelum sempat menaikkan air ke parit-parit”

“Kenapa?”

“Selain aku, tidak ada orang yang dapat membuat bendungan. Biarlah bendungan itu dihancurkan oleh Hantu Bertangan Api. Aku akan membangun bendungan yang lebih baik kelak“

“Kakang. Jika bendungan itu hancur, semangat anak-anak muda Sambi Sari akan menjadi patah. Mereka tidak akan mudah digerakkan lagi, Dan mereka untuk selamanya akan tetap hidup dalam keadaan mereka seperti sekarang ini”

“Aku tidak peduli. Aku tidak peduli. Jangan ganggu aku lagi dengan persoalan-persoalanmu. Dengan kepentinganmu sendiri. kenapa kalian, anak muda Sambi Sari tidak berusaha mempertahankan bendungan itu? Kenapa harus aku?”

Mata Wiyatsih menjadi semakin panas. Katanya “Bagaimanapun juga ada hubungan antara persoalan mi dengan kau kakang. Hantu itu mencari kakang Pikatan”

“O“ suara Pikatan menjadi semakin keras “kau benar-benar ingin melihat aku mati ditepian? Apakah kau memang ingin mengubur mayatku dibawah bendungan sebagai tumbal? Atau barangkali mengambil sepasang mata dari mayatku atau kepalaku sama sekali?

“Kakang, kakang“ Wiyatsih tidak dapat menahan tangisnya lagi ”Kau selalu salah paham”

“Keluar dari bilik ini Wiyatsih. Aku tidak peduli lagi terhadap apapun dan terhadap siapapun“

“Tetapi itu adalah tanggung jawabmu”

“Kenapa? Kenapa tanggung jawabku?” suara Pikatan meninggi

Wiyatsih yang hampir kehilangan kesabaran itupun masih akan berteriak pula Tetapi terasa tangan yang lembut meraba pundaknya Didengarnya bisik ditelinganya “Sudahlah Wiyatsih. Jangan kau ganggu lagi kakakmu. Aku ingin rumah ini menjadi tenang. Tetapi setiap kali akan mendengar kalian bertengkar”

“Kakang Pikatan mengingkari tanggung jawabnya” desis Wiyatsih.

“Persetan. Aku tidak bersangkut paut. Dan kaulah yang mulai dengan pertengkaran ini. Kau memasuki bilikku”

Wiyatsih masih akan menjawab lagi, tetapi ibunya segera menariknya sambil berkata “Sudahlah Wiyatsih. Jangan bertengkar terus. Umur ibu akan menjadi semakin pendek karenanva. Marilah”

Wiyatsih tidak dapat mengelak. Karena itu iapun menurut saja ditarik oleh ibunya keluar dari bilik Pikatan.

Ketika keduanya telah berada diluar bilik, maka segera terdengar derak pintu itu tertutup rapat.

Wiyatsih tertegun sejenak. Dipandanginya pintu yang tertutup itu, seperti hati Pikatan sendiri yang tertutup rapat.

“Sudahlah Wiyatsih“ berkata ibunya “kakakmu tidak lagi dapat kau ajak bicara. Jangan kau paksa ia membantu membuat bendungan itu”

“Aku tidak memaksanya membuat bendungan ibu“ jawab Wiyatsih.

“Jadi, apakah maksudmu? Aku mendengar kalian menyebut-nyebut bendungan itu”

Wiyatsih tidak dapat menjelaskan kepada ibunya. Jika ibunya mengetahui persoalan yang sebenarnya maka iapun tentu akan menjadi cemas dan kebingungan. Ia tentu tidak akan merelakan Pikatan pergi untuk bertaruh nyawa. Bagi ibunya, bendungan itu justru tidak penting sama sekali.

Karena itu, Wiyatsih hanya dapat menundukkan kepalanya. Air matanya sajalah yang menitik satu-satu dilantai.

“Sudahlah Wiyatsih“ berkata ibunya “tidurlah” Wiyatsih menganggukkan, kepalanya.

Perlahan-lahan ia melangkah kebiliknya, sementara ibunya pergi kebiliknya pula.
Tetapi Wiyatsih tidak terlalu lama berada didalam bilik itu. Ketika ia sudah tidak mendengar suara apapun lagi, maka iapun segera pergi berjingkat keluar lewat pintu butulan.

Ternyata bahwa disudut kebun belakang, Puranti dan Kiai Pucang Tunggal sudah menunggu. Ketika mereka melihat Wiyatsih datang, maka Purantilah yang pertama-tama bertanya “Aku mendengar suaramu melengking Wiyatsih. Apakah kau bertengkar dengan kakakmu?”

Wiyatsih menganggukkan kepalanya.

“Apalagi yang kau bicarakan?“

Wiyatsih duduk disamping Puranti. Kemudian dikatakannya apa yang baru saja terjadi. ”Ia menolak untuk datang”

Puranti menarik nafas dalam-dalam, sedang Kiai Pucang Tunggal merenung sejenak. Katanya kemudian “Mudah-mudahan ia sempat membuat pertimbangan-pertimbangan sebelum sampai saatnya purnama naik“

“Mudah-mudahan“ desis Wiyatsih.

“Tetapi biarkanlah ia menentukan sendiri, Wiyatsih Sebaiknya kau tidak usah memaksanya lagi, “

“Jadi”

“Biarlah ia menentukan sikapnya“

“Tetapi“ Purantilah yang menyahut “jika pada saat purnama naik ia menolak, kita tidak mempunyai kesempatan untuk menentukan sikap”

Kiai Pucang Tunggal mengerutkan kenignya. Namun katanya “Mudah-mudahan kita menemukan pemecahan yang sebaik-baiknya”

Dan hampir berbareng Wiyatsih dan Puranti berkata “Mudah-mudahan….”

Kiai Pucang Tunggal mengetahui perasaan kedua gadis itu. Tetapi ia tetap berdiam diri.

“Wiyatsih“ berkata Puranti kemudian “marilah kita berlatih saja. Jangan hiraukan lagi Pikatan. Tanpa Pikatanpun kita dapat mencegah Hantu Bertangan Api itu apabila sampai saatnya purnama naik”

Kiai Pucang Tunggal memandang Puranti sejenak. Namun ia masih tetap berdiam diri.
“Kita berlatih ditebing“ berkata Puranti kemudian. Wiyatsih menganggukkan kepalanya.

“Marilah ayah“ ajak Puranti.

Mereka bertigapun kemudian pergi meninggalkan kebun itu pergi ketempat mereka biasanya berlatih. Dengan hati yang masih tetap dibayangi oleh kecemasan, Wiyatsih melangkahkan kakinya dengan kepala tunduk.

***

Pada saat itu, di tepian Kali Kuning, beberapa orang sudah turun ke air. Ja Betet dengan kawan-kawannya sudah muiai meraba-raba brunjung-brunjung yang tertimbun melintang Kali Kuning.

“Mereka mengalirkan sebagiah besar air Kali Kuning lewat parit yang mereka gali dibawah tebing itu“ berkata Ja Betet.

“Itulah kelebihan anak-anak muda. Dengan demikian mereka tidak begitu sulit menyelesaikan bendungannya. Tanah dan sangkrah yang mereka sisipkan disela-sela brunjung-brunjung itu tidak dapat dengan mudah hanyut. Bahkan tanah yang mereka hancurkan diatas brunjung-brunjung ini, perlahan-lahan akan mengisi sela-sela batu didalam brunjung-brunjung itu, sehingga bendungan ini akan segera mapan. Air yang sedikit itu membantu memadatkan tanah dan membusukkan sangkrah diantara brunjung-brunjung itu“

“Sekarang, manakah yang akan kita rusak lebih dahulu? Brunjung-brunjungnya atau tali-talinya”

”Tali-talinya. Setelah timbunan brunjung-brunjung ini roboh, kita akan merusak brunjung-brunjung ini sehingga batu-batu yang ada didalamnya akan berserakan, sementara brunjung-brunjung yang ada ditepian itu, kita bakar sampai lumat”

“Bagus. Pekerjaan kita akan menjadi sempurna. Membuat brunjung-brunjung itu bukannya pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam waktu sepekan dua pekan”

“Marilah kita mulai. Kita putuskan dahulu tali-tali pengikatnya”

Orang orang itupun kemudian mulai menarik parang mereka. Masing-masing telah memilih sasaran yang mereka angap baik. Dengan sekali ayun, tati-tali itupun akan segera terputus karenanya.

Tetapi ketika mereka sudah siap mengayunkan parang-parang mereka tiba-tiba saja tepian itu telah digetarkan oleh suara tertawa, sehingga orang-orang yang sudah siap untuk merusak bendungan itu terkejut. Serentak mereka berpaling, dan merekapun melihat didalam keremangan malam dua orang berdiri ditepian.

Ja Betet dan kawan-kawannya menjadi berdebar-debar. Mereka tidak mengenal orang itu. Suaranyapun belum pernah mereka dengar. Namun suara itu benar-benar menyakitkan hati.

“Apakah yang akan kau lakukan?” bertanya salah seorang dari kedua orang yang berdiri ditepian itu.

Ja Betet memandang orang itu dengan tajamnya. Bahkan kemudian ia melangkah mendekat diikuti oleh kawan-kawannya.

“Siapa kau?” geram Ja Betet.

“Kalian tentu belum menganal aku“ jawab orang yang berdiri ditepian itu.

“Persetan“ Ja Betet menjadi semakin dekat “kau bukan orang Sambi Sari. Aku belum pernah melihatmu”

“Apakah kau mengenal sitiap orang Sambi Sari?”

“Aku mengenal semua orang Sambi Sari”

“Ternyata kau belum mengenal aku”

“Kau tentu bukan orang Sambi Sari. Jika seandainya kau orang Sambi Sari, nasibmu akan menjadi lebih buruk lagi”

Orang yang berdiri ditepian itu tertawa. Katanya “Tetapi itu tidak penting. Apakah aku orang Sambi Sari atau bukan” orang itu berhenti sejenak, lalu “Kenapa kalian akan merusak bendungan itu?”

“Kau tidak usah turut campur. Pergilah”

“Aku tidak akan pergi, karena aku mempunyai persoalan disini”

“Gila. Apakah kau tidak menyadari bahwa sikap itu dapat mencelakai kau sendiri?”

“Apapun yang akan terjadi, tetapi aku tidak dapat pergi Aku sedang menunggu seseorang”

“Siapa?”

“Pikatan. Aku sedang menunggu Pikatan. Hampir setiap malam aku datang kebendungan ini. Demikian juga malam ini. Adalah kebetulan sekali aku mendapatkan kalian sebelum kalian berhasil merusak bendungan itu.

Ja Betet dan kawan-kawannya menjadi berdebar-debar. Ternyata orang inilah yang menurut desas-desus yang didengarnya, akan merusak bendungan jika Pikatan tidak datang sampai saat purnama naik, Sehingga hampir diluar sadarnya Ja Betetpun, bertanya “Jadi kau yang menunggu Pikatan sampai saat purnama naik?”

“Darimana kau mendengarnya? Kau benar. Aku menunggu Pikatan sampai purnama naik. Karena itu sebaiknya kau urungkan niatmu untuk merusak bendungan ini sebelum purnama naik. Bendungan ini masih berguna bagiku”

“Buat apa?”

“Aku dapat mempergunakannya untuk memaksa Pikatan datang. Jika bendungan itu sudah rusak, maka aku tidak akan dapat mempergunakannya lagi sebagai alat. Bagi Pikatan, tidak ada gunanya lagi datang memenuhi undanganku ditepian ini, karena ia tidak lagi mempunyai kepentingan”

Ja Betet menjadi ragu-ragu sejenak. Jika orang ini berani mengundang Pikatan, itu artinya ia sudah siap melawan Pikatan. Dengan demikian maka kemampuan orang inipun harus diukur dengan kemampuan Pikatan. Namun demikian, Ja Betet masih juga menyangsikannya. Mungkin ia hanya menjebak anak muda itu dan kemudian beramai-ramai membunuhnya.

Sebelum Ja Betel berbuat sesuatu, seorang kawannya telah berkata lantang “Kami tidak peduli. Kami tidak berurusan dengan kau dan Pikatan. Kedatangan, kami saat ini adalah untuk merusak bendungan. habis perkara”

“Jangan begitu Ki Sanak“ berkata orang yang berdiri ditepian itu “aku senang sekali jika bendungan ini kau rusak. Tetapi nanti sesudah purnama naik. Aku sudah tidak terikat lagi dengan semua persoalan di Sambi Sari. Aku memang ingin melihat bendungan ini rusak dan orang-orang Sambi Sari menangisi karananya sambil mengumpati Pikatan. Pada saat itulah aku akan menjemput Pikatan dirumahnya, karena aku sudah tidak berhasil memancingnya keluar. Persoalanku dengan Pikatan harus dapat segera diselesaikan. Seiesai sampai tuntas”

“Kami tidak menghalangi penyelesaian persoalanmu. Datang saja kerumahnya. Itu lebih baik daripada kau berkeliaran disini sambil menunggu purnama naik beberapa hari mendatang”

“Aku lebih senang berada ditepian ini. Jika Pikatan datang, tempat ini adalah tempat yang baik sekali untuk menyambutnya”

“Aku tidak peduli. Tetapi malam ini kami akan merusak bendungan ini“

Orang yang berdiri ditepian itu diam sejenak. Namun kemudian terdengar suaranya berat “Jangan memaksa. Sebaiknya kalian pulang. Aku mengerti bahwa kalian adalah orang-orang yang sekedar mendapat upah dari orang-orang kaya yang tidak senang melihat bendungan ini. Akupun tidak peduli. Tetapi jangan sekarang. Aku masih memerlukan bendungan itu untuk memancing Pikatan. Sesudah aku selesai, hancurkan bendungan itu. Bahkan aku akan membantumu”

“Aku tidak peduli. Jangan menghalangi kami“ teriak Ja Betet. Meskipun ia menyadari kemungkinan yang dapat terjadi, namun berenam ia merasa bahwa gerombolan kecilnya itu cukup kuat menghadapi setiap akibat apapun juga. Sedangkan yang berdiri ditepian itu hanyalah orang dua saja. Bahkan seandainya yang berdiri ditepian itu Pikatan sendiri sekalipun, Ja Betet yang sudah banyak makan garam kekerasan dan perkelahian sama sekali tidak akan gentar.

Karena itu Ja Betet sama sekali tidak mau melangkah surut. Bahkan selangkah ia maju diikuti oleh kawannya.

“Jangan keras kepala“ Berkata orang yang berdiri ditepian itu “aku harap kau bersabar beberapa hari lagi. Bukankah kau akan tetap menerima upah itu? Katakanlah kepada orang-orang-yang mengupahmu, bahwa saat yang baik adalah setelah purnama naik”

“Dan bendungan itu sudah ditunggui oleh anak-anak muda Sambi Sari dalam jumlah yang tidak terhitung?”

Orang itu tertawa. Katanya “Jadi kau masih juga takut menghadapi anak-anak muda Sambi Sari? Ingat, aku menunggu Pikatan disini karena aku sudah siap membuat perhitungan, Kau dapat menganggap bahwa aku adalah, Pikatan itu, Pikatan yang mampu membunuh beberapa orang perampok menurut pendengaranku. Apakah kalian tidak mendengar?”

“O, jadi kau menganggap bahwa Pikatan dapat berbuat seperti itu pula terhadap kami?” Ja Betet tertawa pula “aku adalah Ja Betet. Sudah lama aku meletakkan senjataku. Tetapi aku masih sanggup melawan Pikatan seorang diri. Perampok-perampok yang dibunuhnya dihalaman rumahnya adalah perampok-perampok yang bodoh. Apalagi dirumah itu ada dua orang penjaga regol yang mampu juga berkelahi Tentu bukan Pikatan seorang diri melakukannya”

“Aku percaya bahwa yang melakukannya adalah Pikatan seorang diri”

”Ceritera itu sekedar untuk mengangkat nama Pikatan lebih tinggi lagi”

“Kau tidak mengetahui Pikatan yang sebenarnya. Aku mengenalnya dengan baik”

“Itupun hanya sekedar suatu cara untuk mengangkat namamu sendiri. Coba sebut. siapa namamu?”

Orang yang berdiri ditepian itu mengerutkan keningnya. Katanya “Kalian membuat aku marah”

“Kami sudah marah sejak tadi“ sahut salah seorang kawan Ja Betet “kami akan, segera menyelesaikan tugas kami. Jangan mengganggp atau kami harus bersikap kasar?”

Orang yang berdiri kemudian ia justru tertawa dengan nada yang kecut “O, kalian memang cucurut gila. Jangan membunuh diri. Cepat pergi. Tunggu sampai purnama naik, baru kalian merusak bendungan itu”

“Jangan mengigau” seorang kawan Ja Betet yang lain membentak.

Orang yang berdiri ditepian itu menggeram. Tetapi ketika seorang kawannya itu melangkah maju, ia masih menahannya “Aku masih ingin memberi mereka kesempatan terakhir. Pergi sekarang, atau kalian akan mati menjadi tumbal bendungan ini”

“Orang tidak tahu diri“ teriak Ja Betet “ayo, siapakah yang akan mati di tepian, atau hanyut diarus Kali Kuning? Sebelum kau sempat bertemu dengan Pikatan. kau sudah tidak akan dapat melihat bulan lerbit, apalagi pada saat purnama naik”

”Jadi kalian tidak lagi dapat diselamatkan?”

“Jangan bicara saja. Kami sudah ingin membuhuhmu“ teriak kawan Ja Betet.

Orang yang berdiri ditepian itu menggeram. Tiba-tiba saja ia berkata “Marilah. Kita lihat, siapa yang mengigau malam ini ini”

Orang yang berdiri ditepian itu tidak sempat meneruskan kata-katanya. Ja Betet dan kawan-kawannya yang telah menggenggam parang itupun segera berloncatan naik ketepian dan menyerang kedua orang itu.

Orang yang berdiri ditepian itu, segera mengelak. Mereka memang tidak mempunyai pilihan lain daripada bertempur, melawan enam orang yang menyerangnya itu.

Sejenak kemudian, maka merekapun telah terlihat didalam perkelahian yang sengit. Kawan-kawan Ja Betet ternyata adalah perampok-perampok yang cukup berpengalaman. Apalagi jumlah mereka jauh lebih banyak dari lawannya hanya berdua. Parang merekapun segera berputaran menyerang seperti datangnya angin yang prahara. Sedang Ja Betet sendiri selain sebuah parang ditangan kanan, iapun menggenggam sebuah linggis kecil ditangan kiri.

Tetapi kali ini lawan mereka adalah Hantu Bertangan Api dengan seorang pengiringnya. Adalah suatu kekhilafan bahwa Ja Betet tidak sempat mengetahui dengan pasti, siapakah lawannya itu. Dengan demikian, maka mula-mula Ja Betet dan kawan-kawannya menganggap bahwa untuk memgalahkan dua orang lawannya itu adalah pekerjaan yang tidak terlampau sulit, bahkan semudah merusak bendungan itu sendiri.

Namun setelah mereka berkelahi beberapa saat, barulah mereka menyadari kesalahan itu. Hantu Bertangan Api dan seorang kawannya masing-inasing harus berkelahi melawan tiga orang. Kawan Hantu Bertangan Api itu ternyata harus bekerja keras untuk mempertahankan dirinya. Tetapi bagi Hantu Bertangan Api, tiga orang itu bukannya lawan yang dapat membahayakan, betapapun berat tekanan mereka.

Ketika senjata Ja Betet sudah berbenturan dengan pedang Hantu Bertangan Api itu, ia merasakan seakan-akan ada kekuatan yang menyelusuri senjatanya dan membuat tangannya menjadi panas seperti menyentuh bara.

“Gila“ ia menggeram “kekuatan apakah yang ada pada orang ini? Kekuatan setan atau jin Alas Sambirata”

Tetapi Ja Betetpun memiliki kelebihan. Tandangnya yang kasar dan cepat. Kekuatannyapun seakan-akan masih tetap utuh meskipun sudah lama in tidak mempergunakan senjata. Dan kali ini ia bersenjata sebuah parang dan linggis, sebuah tongkat besi yang berujung runcing.
Ternyata bahwa kawan-kawan Ja Betetpun segera dapat menyesuaikan dirinya. Bertiga mereka mengepung Hantu Bertangan Api yang belum mereka kenal. Yang mereka rasakan, setiap sentuhan dan benturan senjata, tangan mereka bagaikan telah menyentuh api, sehingga senjata merekapun hampir saja terlepas dari tangan.

Dibagian lain, tiga orang kawan Ja Betet telah bertempur mati-matian melawan seorang kawan Hantu Bertangan Api. Ternyata bahwa orang itu tidak setangkas dan tidak sekuat Hantu Bertangan Api itu. Meskipun demikian. dengan mengerahkan segenap kemampuan, ia berhasil mempertahankan dirinya.

Ketiga orang perampok yang mengeroyokmya itu berusaha sekuat-kuat tenaga untuk mematahkan pertahanan kawan Hantu Bertangan Api itu. Sebagai orang-orang yang telah dengan sengaja mewarnai hidupnya dengaa noda-noda darah, mereka sama sekali tidak pernah mengekang diri. Senjata merekapun berayun-ayun susul menyusul tidak henti-hentinya menyerang bagian-bagian tubuh lawannya dari segala arah. Seperti ratusan ujung parang yang bertebangan mengelilinginya.

“Gila“ kawan Hantu Bertangan Api itu menggeram “perampok-perampok ini memang gila. Mereka tidak pantas untuk berbangga hati karena dapat mengalahkan aku”

Dengan demikian maka iapun berjuang lebih keras lagi. Diperasnya segenap kemampuan yang ada tanpa mempertimbangkan kemungkinan yang dapat terjadi karena jarak waktu. Sehab jika ia tidak memeras tenaganya, maka sulitlah baginya untuk tetap bertahan. Meskipun ia sadar bahwa jika ketiga orang itu mampu bertahan lebih lama lagi dengan, kemampuan yang ajeg, maka ia pasti akan kehabisan tenaga.

“Aku harus dapat mengurangi jumlah lawanku“ katanya didalam hati.

Tetapi untuk melakukannya ternyata bukan. suatu pekerjaan yang mudah. Bahkan semakin lama ketiga perampok itu justru semakin mendesaknya.

Kawan Hantu Bertangan Api itu terkejut ketika terasa sesuatu menyentuh pundaknya. Ketika ia sempat melihatnya, ternyata setitik darah telah membasahi kainnya.

“Gila“ ia menggeram “kalian melukai aku?”

“Persetan“ sahut salah seorang dari ketiga perampok itu “kami adalah orang-orang yang terlalu sering bermain dengan senjata. Membunuh korban-korban kami dengan cara kami”

Kawan Hantu Bertangan Api itu tidak menyahut. Ia sendiri juga seorang perampok. Perampok yang lebih besar dari ketiga perampok yang sedang mengeroyoknya. Namun demikian perampok-perampok kecil itu ternyata memiliki kemampuan berkelahi yang cukup, sehingga mereka bertiga telah berhasil mengurung seorang perampok dari gerombolan Hantu Bertangan Api.

Semakin lama, kawan Hantu Bertangan Api itupun menjadi semakin lelah. Usahanya untuk menumpahkan segenap kemampuannya untuk mengurangi jumlah lawannya ternyata tidak berhasil dan bahkan ia sendirilah yang telah terluka karenanya.

Dalam pada itu, Hantu Bertangan Apipun telah bertempur mati-matian. Ketiga orang lawannya telah berusaha menekannya dengan segenap kemampuan seperti yang terjadi didalam lingkaran perkelahian yang lain.

Tetapi ternyata bahwa Hantu Bertangan Api memiliki kelebihan dari kawannya. Karena itulah maka ia tidak banyak mengalami kesulitan melawan ketiga orang perampok itu. Bahkan ketika tanganaya telah basah oleh keringat, iapun selalu berhasil mendesak lawannya. Kepungan yang mula-mula tampaknya cukup rapat itu perlahan-lahan, kendor, dan bahkan setiap kali serangan Hantu Bertangan Api mampu memecahkan kebulatan kepungan itu

Meskipun demikian Ja Betet dan kedua kawannya sama sekali tidak mau melepaskan orang itu. Orang yang telah mencoba menghalang-halanginya. Orang itu harus disingkirkan, bahkan harus dibunuhnya sama sekali agar tidak dapat menyebarkan berita tentang rusaknya bendungan ini. Mereka tidak peduli, apakah sangkut pautnya dengan Pikatan. Yang penting bagi mereka, bendungan itu harus rusak. Dengan demikian maka upah merekapun akan bertambah dengan bukti mayat kedua orang itu.

Tetapi setiap kali ketiga orang itu terkejut. Tiba-tiba saja senjata Hantu Bertangan Api itu telah mendesing ditelinga mereka, sepetrii seekor nyamuk yang berterbangan berputar-putar.
Semakin lama, tampaklah bahwa Ja Betet dan kawannya menjadi semakin terdesak, Berbeda dengah lingkaran perkelahian yang lain, yang sempat juga dilihat oleh Hantu bertangap api.

“Gila“ Hantu itu berdesis didalam hati “perampok ini berhasil mendesaknya.

Namun dengan demikian, maka Hantu itupun bertempur semakin sengit. iapun berlomba dengan waktu agar ia dapat mendahului ketiga perampok yang sedang bertempur melawan kawannya yang telah terdesak itu.

Hantu Bertangan Api itu menjadi berdebar-debar ketika ia mendengar keluhan tertahan. Ternyata seleret luka telah tergores pula didada kawannya itu, sehingga perlawanannyapun menjadi semakin lemah.

“Gila“ Hantu itu menggeram “aku harus segera mengakhirinya”

Dengan demikian, maka Hantu Bertangan Api itu menghentakkan senjatanya. seakan-akan mengerahkan segenap kekuatannya. Sejenak kemudian, maka Hantu Bertangan Api itu seolah-olah sudah memiliki tenaga rangkap. Ketika pedangnya terayun dengan derasnya, maka terdengar gemerincing senjata beradu disusul oleh sebuah teriakan nyaring. Seorang kawan Ja Betet telah terlempar ditepian dan jatuh untuk tidak pernah dapat bangkit lagi. Sebuah luka yang panjang menganga diperutnya. Dan darahnyapun kemudian mengalir membasahi pasir dan terhisap kedalamnya.

Ja Betet terperanjat melihat kejadian itu. Kini benar-benar dihadapkan pada kenyataan, bahwa lawannya benar-benar orang yang memiliki kelebihan dari mereka.

Tetapi ia tidak mempunyai banyak kesempatan untuk merenung senjata Hantu Bertangan Api itu segera menyambar lawan-lawannya kembali. Semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin cepat.

Serangan yang datang bagaikan angin itu telah mendesak Ja Betet yang kini tinggal mempunyai seorang kawan lagi didalam lingkaran perkelahian itu. Karena itu, setiap kali ia meloncat surut menghindarkan diri dari amukan senjata Hantu bertangan api.

“Tidak ada kesempatan lagi untuk lari“ geram Hantu Bertangan Api” Jika aku sudah terlanjur menarik senjataku, maka semua lawanku harus mati”

Terasa tengkuk para perampok itu meremang mendengar kata-kata Hantu Berrtangan api. Namun semuanya sudah terlanjur terjadi, sehingga karena itu, maka merekapun bertempur sekuat-kuat tenaga unuk mempertahankan hidupnya.

Namun demikian, ada juga diantara mereka yang mengumpat “Setan alas. Ternyata biaya untuk merusak bendungan itu terlampau mahal. Bukan saja uang dan harta benda, tetapi juga nyawa”

Dalam pada itu, selagi Hantu Bertangan Api itu berusaha menyelesaikan lawan-lawannya, maka tiga orang yang bertempur malawan kawan Hantu itu mendesaknya semakin berat, sehingga kawan Hantu Bertangan Api itu merasa, bahwa dalam waktu yang singkat, ia tidak akan lagi mampu melawan. Apalagi lukanya terasa semakin lama semakin sakit.

Tetapi Hantu Bertangan Api yang menyadari keadaan itu, berusaha agar ia dapat menyelesaikan pertempurannya lebih dahulu dari perlawanan terakhir kawannya yang selalu terdesak itu.

Untuk saat-saat yang terakhir dari perlawannya, Ja Betet yang sudah menjadi putus asa bertempur membabi buta. Namun ia masih juga sempat berteriak “He, siapakah sebenarnya kau?”

Hantu Bertangan Api mendesaknya semakin seru sambil menjawab “Baiklah, biarlah sebelum mati kau mendengar namaku. Aku adalah Hantu Bertangan Api dari goa Pabelan”

“He?” Ja Betet terkejut. Sebagai seorang perampok maka ia pernah mendengar nama itu, sebagai nama yang memang disegani oleh golongannya. Nama seorang perampok besar yang pernah menggemparkan daerah Demak dibagian Selatan ini. Yang meskipun sebagian besar masih berupa hutan belukar, tetapi sebagiah telah menjadi daerah yang raimai dan subur. Terutama disebelah menyebelah sungai Opak didaerah Prambanan, menyusur ke Timur sampai ke daerah Pajang.

“Nah“ berkata Hantu Bertangan Api itu selanjutnya “sekarang bersiaplah untuk mati”

Ja Betet yang sudah berputus-asa itu menggeram. Memang tidak ada pilihan lain daripadanya, selain mati. Meskipun demikian, ia masih sempat berpikir, bahwa sebaiknya mati tidak seorang diri. Maksudnya, bahwa lawannyapun harus menderita oleh perkelahian ini.

Karena itu, maka iapun segera berteriak kepada kawannya yang bertempur melawan Hantu! Bertangan Api itu “Lepaskan orang ini. Bunuh kawannya yang seorang itu. Ia sudah sangat lemah”

“Gila“ teriak Hantu Bertangan Api. Namun agaknya kawan Ja Betetpun telah putus asa pula. Apalagi mereka hampir tidak mempunyai kesmpatan untuk melarikan diri dalam keadaan seperti itu. Karena itu, maka kawannya itu tidak perlu mendapat perintah ulangan. Iapun segera meninggalkan Ja Betet sendiri bertempur melawan Hantu Bertangan Api.

Bagi Hantu Bertangan Api, melawan Ja Betet sendiri, sama artinya membunuhnya begitu saja. Namun Ja Betet masih juga berusaha memperpanjang umurnya. Bukan dengan bertahan mati-matian, tetapi ia masih sempat berloncatan surut dengan sedapat-dapatnya menangkis setiap serangan yang bagaikan badai melandanya.

Tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Sejenak kemudian ketika senjata Hantu Bertangan Api telah menyambar dadanya, sehingga rasa-rasanya dadanya telah pecah karenanya.

Namun selagi ia menyeringai menahan sakit, ia masih sempat mendengar keluhan tertahan. Hampir diluar sadarnya ia berpaling memandang kearena perkelahian dlsebelahnya. Ia masih melihat keempat orang kawannya hampir bersamaan menyerang mereka. yang tidak dapat lagi mempertahankah dirinya. Agaknya senjata dari keempat perampok itu telah berhasil menahan luka ditubuh kawan Hantu Bertangan Api itu.

Tetapi pada saat itu, pada saat yang hanya sekejap itu, Hantu Bertangan Api yang marah, melontarkan sebuah serangan mendatar, langsung mengarah lambung. Yang terdangar kemudian adalah suatu jeritan nyaring. Perut Ja Betetpun tersobek oleh senjata Hantu bertangan api itu.

Namun sambil memegangi perutnya yang menganga itu. Ja Betet masih juga sempat menahan jeritnya dan berkata terbata-bata “Kawanmupun akan mati juga seperti aku Kami, perampok-perampok kecil didaerah ini ternyata mampu juga membunuh salah seorang perampok dari gerombolan Hantu Bertangan Api”

Hantu Bertangan Api tidak menunggu sampai mulut Ja Betet terkatup rapat. Sebuah tusukan menghunjam didadanya tepat diarah jantungnya. Ketika Hantu Bertangan Api menarik senjatanya, Ja Betet sudah tidak berkicau lagi. Iapun kemudian jatuh terlungkup. Namun bibirnya tampak tersenyum puas, karena ia yakin bahwa kawan Hantu Bertangan Api itupun akan mati terbunuh juga.

Ketika Hantu Bertangan Api melihat Ja Betet itu rebah diatas pasir tepian, maka iapun segera menyadari nasib kawannya. Tetapi agaknya ia sudah terlambat. Ketika ia melihat ke arena yang lain, keempat orang perampok kawan Ja Betet itu sedang berusaha untuk melarikan dirinya, dan meninggalkan sesosok mayat yang terbujur diam.

Betapa kemarahah menyala didada Hantu bertangah api. Sebelum ia sempat bertemu dengan Pikatan, maka seorang kawannya telah menjadi korban kegilaan perampok-perampok kecil itu. Karena itu maka Hantu Bertangan Api tidak dapat memberikan maaf lagi kepada empat orang yang sedang meloncat untuk melarikan diri itu.

Dengan serta merta, Hantu Bertangan Api itupun meraih segenggam pasir berbatu-batu kecil. Dengan segenap kekuatan yang ada padanya, maka dilemparkannya genggaman batu-batu kerikil itu kepada para perampok yang sedang melarikan diri. Tidak hanya sekali, tetapi beberapa kali.

Batu-batu kerikil itu menghambur dengan derasmya mengarah ke punggung para perampok yang berusaha melarikan diri itu. Akibatnya, ternyata mengerikan sekali. Batu-batu yang dilontarkan dengan kemarahan yang meluap-luap itu telah menghunjam masuk kedalam tubuh para perampok itu, sehingga dua diantaranya tidak dapat lagi mengelakkan dari terkaman maut. Seorang lagi masih dapat berlari beberapa langkah, tetapi iapun segera terjatuh. Sesaat ia masih sempat menggeliat, tetapi sejenak kemudian maka iapun menghembuskan nafasnya yang terakhir pula. Sedang seorang yang lain, masih dapat berlari kencang-kencang meninggalkan arena yang bagaikan neraka itu. Meskipun beberapa buah batu kerikil telah melukai punggungnya dan bahkan beberapa diantaranya telah menusuk kedalam dagingnya, namun ia masih dapat bertahan dan dengan susah payah melepaskan diri dari kemarahan Hantu Bertangan Api itu.

Hantu Bertangan Api itu menggeram. Sebenarnya ia masih. sempat mengejar orang yang masib tetap hidup itu. Namun niat itu diurungkannya. Kemarahanyalah yang menahannya untuk membunuh orang itu. la ingin membiarkan orang itu hidup dan menceriterakan apa yang telah terjadi.

“Aku ingin Pikatan mendengarnya“ geram Hantu bertangan api itu “dan juga anak-anak muda Sambi Sari. Jika mereka mengetahui apa yang telah terjadi, mereka pasti akan memaksa Pikatan untuk datang dan aku akan membunuh Pikatan dengan cara yang lebih baik dari kelinci-kelinci gila itu. Aku sudah kehilangan seorang kawan yang baik. Dan aku akan membunuh lebih banyak lagi selain Fikatan. Dan aku akan membawa Wiyatsih kesarangku yang baru nanti sebagai tebusan kegilaan orang-orang Sambi Sari dan sekitarnya.

Hantu Bertangan Api itu memandang mayat kawannya itu sejenak. Namun iapun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan tepian itu, naik keatas tanggul dan hilang didalam gelapnya malam.

Tepian itupun kemudian menjadi sepi. Yang terdengar hanyalah gemericik air Kali Kuning yang mengalir diantara bebatuan. Diiringi oleh gemericik dedaunan dihembus angin malum yang basah.

Selebihnya adalah kesenyapan yang mengerikan, karena ditepian Kali Kuning itu terbujur beberapa sosok mayat dengan luka-luka yang parah.

***

Dalam pada itu, Wiyatsih yang sedang berlatih bersama Puranti dan Kiai Pucang Tunggalpun telah berhenti. Wiyatsih dan Puranti yang berlatih berpasangan telah basah oleh keringat. Karena itu, maka Wiyatsihpun kemudian mengajak Puranti untuk pulang saja kerumahnya.

“Kakang Pikatan sudah tahu kalau aku ada disini” berkata Wiyatsih setiap kali Puranti menolak.

“Tetapi aku tidak mau ia memandang aku dengan bibir yang monyong”

“Ah“ desah Wiyatsih.

“Marilah, kami antar kau pulang, Wiyatsih“ Kiai Pucang Tunggal menengahi “masih ada beberapa hari menjelang purnama naik. Segala sesuatunya harus kita persiapkan baik-baik. Dan agaknya kau sudah mempersiapkan dirimu, jika pada suatu saat tidak ada jalan lain daripada kau sendiri yang harus menghadapinya”

Wiyatsih menganggukkan kepalanya.

“Dan persiapanmu tidak mengecewakan. Jika kau dapat memanfaatkan yang beberapa hari ini dengan baik, maka kau benar-benar telah siap menghadapinya jika terpaksa sekali. Aku yakin bahwa selama ini Hantu Bertangan Api yang telah yakin akan dirinya itu tidak akan melakukan latihan apapun juga apalagi berusaha menambah kemampuannya dengan unsur-unsur tata gerak yang baru”

Wiyatsih masih mengangguk-anggukan kepalanya.

“Nah marilah“ sekali lagi Kiai Pucang Tunggal mengajaknya.

Demikianlah maka Wiyatsihpun kemudian meninggalkan latihan itu dan pulang kembali kerumahnya. Disepanjang jalan pikirannya selalu saja dicengkam oleh berbagai pertanyaan tentang sikap Pikatan dan bendungan itu.

“Wiyatsihpun“ berkata Kiai Pucang Tunggal “jangan cemas tentang bendunganmu”

Wiyatsih berpaling. Dipandanginya Kiai Pucang Tunggal sejenak dengan herannya, seolah-olah orang tua itu dapat membaca pikiranya. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.
Seperti biasanya, Wiyatsihpun kemudiah masuk seorang diri kehalaman rumahnya. Kali ini tidak mau terganggu oleh siapapun juga, sehingga karena itu, setelah mencuci kaki dan tangannya, maka iapun memasuki rumahnya lewat pintu butulan, dan langsung ke dalam biliknya. Dengan lesu dibaringkannya dirinya dipembaringan. Namun angan-angannya masih saja berkeliaran tidak henti-hentinya, sehingga karena itu, betapapun lelahnya, Wiyatsih tidak segera dapat tertidur. Bayangan-bayangan yang kadang mendirikan bulu-bulunya masih saja selalu mengganggunya.

Bahkan Wiyatsih yang seakan-akan sudah digelut oleh bercampur baurnya perasaan cemas, takut dan kecewa itu kemudian menelengkupkan wajahnya dan menutupnya dengan kedua belah tangannya, seakan-akan ia ingin menghindarkan diri dari bayangan-bayangan yang sedang menghantuinya itu.

Demikianah selagi Wiyatsih mencoba menenangkan perasaannya itu, Kiai Pucang Tunggal dan Puranti berjalan meninggalkan, padukuhan itu didalam gelapnya malam. Sejenak mereka tidak berbicara. Namun kemudian Kiai Pucang Tunggal bertanya kepada anak gadisnya “Apakah kau akan kembali ke Cangkring malam ini?“

“Tidak ayah“ jawah Puranti “aku ingin berlatih”

“He, bukankah kau baru saja berlatih?”

“Aku belum berbuat apa-apa ayah”

“Jadi apa yang kau lakukan tadi?”

“Sekedar melayani Wiyatsih. Bukankah. aku tidak berbuat apa-apa?”

Kiai Pucang Tunggal menarik nafas dalam-dalam.

“Jika setiap kali aku hanya sekedar harus melayaninya, maka akhirnya Wiyatsih akan menjadi seorang gadis yang mengagumkan, sedang aku akan tetap saja seperti ini”

“Puranti“ potong ayahnya. Tetapi orang tua itupun kemudian berkata sareh “Puranti. Aku tahu bahwa kau kecewa terhadap Pikatan. Tetapi kekecewaan itu jangan merambat kepada orang lain. Kau sendirilah yang membentuk Wiyatsih itu menjadi seorang gadis seperti sekarang ini. Jika kau kecewa kepada Pikatan, akupun kecewa. Tetapi aku tidak kecewa terhadap Wiyatsih. Aku justru menjadi kasihan kepadanya. Ia masih terlampau muda. Dan ia sudah memikul beban perasaan yang berat”

Puranti tidak menyahut. Namun terasa sesuatu menyentuh hatinya. Dan didalam hatinya ia berkata “Wiyatsih memang tidak bersalah”

Tetapi ia tidak merubah niatnya untuk berlatih. Kiai Pucang Tunggalpun tidak menghalanginya. Ia tahu, Puranti adalah seorang gadis yang keras hati. Meskipun seandainya hatinya berkata lain, tetapi apa yang sudah terucapkan tidak mudah baginya untuk menarik kembali.
Keduanyapun kemudian kembali ketempat mereka berlatih. Sejenak Kiai Pucang Tunggal menunggui Puranti. Tetapi agaknya gadis itupun tidak begitu bernafsu lagi. la berlatih sekedar, karena ia sudah mengatakannya.

Didalam kegelapan Kiai Pucang Tunggal tersenyum sendiri. Ia mengerti, bahwa Puranti tidak berlatih sepenuh hati. Tetapi ia sama sekali tidak menegurnya agar gadis itu tidak berbuat aneh-aneh untuk melepaskan kejengkelannya.

Karena itu, Kiai Pucang Tunggal hanya duduk saja menanti. Dibiarkannya saja Puranti berbuat sesuka hatinya.

Tetapi Purantipun tidak terlalu lama berlatih. Ketika ia melihat ayahnya duduk bersandar pada sebuah batu yang besar maka iapun mendekatinya sambil bertanya “Apakah ayah sudah mengantuk? “

Pertanyaan itu sebenarnya sangat menggelikan bagi Kiai Pucang Tunggal. Puranti tahu bahwa ayahnya dapat mencegah tidur tiga hari tiga malam terus-menerus. Bahkan dalam keadaan yang sangat penting, dapat lebih dari itu.

Namun Kiai Pucang Tunggalpun tahu, bahwa anaknya sedang mencari alasan untuk berhenti berlatih. Karena itu maka iapun menjawab “Ya Puranti. Aku merasa lelah sekali”

“Marilah kita pulang ayah“ katanya “sebenarnya aku masih ingin berlatih lama sekali. Tetapi agaknya ayah sudah tidak tahan lagi menunggu”

Ayahnya mengangguk-angggukkan kepalanya. Katanya ”Ya, aku memang ingin beristirahat. Dan, kau masih juga sempat kembali ke Cangkring malam ini”

Puranti menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.

Keduanyapun kemudian meninggalkan tempat itu dan menyelusuri tanggul Kali Kuning. Keduanya berjalan beriringan tanpa berkata apapun juga. Keduanya melangkah sambil menundukkan kepalanya merenungi angan-angan masing-masing yang sangat merisaukan hati mereka.

Namun tiba-tiba saja Puranti yang berjalan didepan berkata ”Ayah, aku ingin melihat bendungan di Kali Kuning itu”

“Bendungan itu baru dimulai. Beberapa buah brunjung sudah diturunkan. Tetapi bendungan itu masih jauh sekali dari yang direncanakan”

“Aku ingin melihatnya”

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Baiklah. Kita akan singgah sebentar. Tetapi hati-hatilah. Ada kemungkinan Hantu Bertangan Api itu ada disana. Ia menunggu Pikatan hampir setiap malam sampai saatnya Purnama naik”

“Apakah mereka menunggu sampai lewat tengah malam?“

Kiai Pucang Tunggal menggelengkan kepalanya. Katanya “Biasanya tidak Puranti. Jika mereka menganggap bahwa Pikatan tidak akan datang lagi malam itu, merekapun segera pergi”
Puranti mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Kebetulan sekali. Kita akan melihat, sampai dimana kemampuan Anak-Anak muda Sambi Sari itu”

Mereka berduapun kemudian berjalan kearah bendungan yang-sedang dibuat itu. Beberapa puluh langkah dari bendungan itu mereka berhanti. Sejenak mereka berusaha meyakinkan diri, bahwa tidak ada seorangpun yang berkeliaran disekitar bendungan itu.

Baru setelah keduanya yakin bahwa bendungan itu sepi, merekapun kemudian, mendekat dengan hati-hati

Namun tiba-tiba Puranti hampir terpekik melihat beberapa sosok mayat yang terbujur lintang ditepian. Dengan suara bergetar ia berkata “Ayah. Lihatlah”

Kiai Pucang Tunggal yang sudah melihat pula, menyahut “Tentu sesuatu telah terjadi. Perkelahian yang dahsyat sekali “

“Apakah Pikatan sudah datang?”

Kiai Pucang Tunggal tidak segera menjawab. Diamatinya mayat yang terbujur lintang ditepian.
“Puranti“ berkata Kiai Pucang Tunggal “perkelahian yang baru saja terjadi agak mengherankan“

“Apa yang mengherankan ayah?”

“Kau lihat jenis senjata-senjata ini. Sebagian dari senjata yang berserakan ini bukanlah senjata yang pantas untuk berkelahi meskipun ditangan orang-orang yang berbahaya. Kau lihat parang-parang ini dan beberapa potong linggis?”

Puranti mengangguk-angggukan kepalanya. Tetapi ia tidak dapat mengatakan sesuatu tentang mayat-mayat itu.

Sejenak kemudian keduanya masih saja melihat-lihat bekas arena yang bagaikan dibajak. Bekas-bekas kaki yang berloncatan, senjata yang tergolek diatas pasir dan noda-noda darah kering yang yang meresap. Namun ketika Kiai Pucang Tunggal sempat memperhatikan sesosok mayat yang terbaring agak jauh dari arena itu ia terkejut. Dilihatnya punggung orang itu berlubang-lubang dan beberapa buah batu kerikil masih melekat pada tubuh itu, selain yang menghunjam masuk.

“Mengerikan sekali“ Kiai Pucang Tunggal berdesis.

Purantipun kemudian mendekatinya. Ketika tampak olehnya luka-luka itu, iapun memalingkan wajahnya. Meskipun sudah beberapa kali ia mengalami perkelahian yang dahsyat, dan bahkan sudah, beberapa kali ia terpaksa membunuh lawannya, namun luka-luka yang demikian mengerikan itu membuatnya berdebar-debar.

“Perkelahian yang gila“ desis Kiai Pucang Tunggal pula.

Puranti mengangguk “Siapakah yang telah melakukannya ayah? Aku menjadi ngeri melihatnya. Tetapi yang melakukan itu adalah oraug yang memiliki kemampuan yang tinggi. Orang yang telah berhasil melepaskan tenaga cadangannya, sehingga batu-batu kerikil itu dapat menghunjam begitu dalam dipunggung orang itu”

”Begitulah agaknya“ sahut ayahnya “hanya Pikatan dan Hantu Bertangan Api sajalah yang dapat melakukannya”

“Wiyatsih yang sudah menjadi semakin sempurna itupun dapat berbuat demikian”

“Tetapi tentu tidak mungkin. Bukankah Wiyatsih selalu bersama kita malam ini?”

Puranti mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun iapun terdiam.

Sementara itu Kiai Pucang Tunggal masih berusaha untuk menemukan sesuatu yang dapat dipergunakan untuk mendapatkan sedikit petunjuk apa yang sudah terjadi sebenarnya.
Ketika ia mengamati sesosok mayat yang lain, orang tua itu mengerutkan keningnya. Sejenak ia merenung. Dan tiba-tiba saja sekali lagi ia memanggil anaknya “Puranti. Kemarilah”

Dengan tergesa-gesa Purantipun mendekatiinya. Ketika ayahnya berjongkok, maka Purantipun berjongkok pula disisi mayat itu.

“Puranti“ berkata ayahnya”Aku pernah melihat orang ini sebelumnya”

“Siapakah orang ini ayah?”

“Orang ini adalah kawan Hantu bertangan Api itu”

“He“ Puranti terkejut. Sebelum berpikir ia berkata “Jadi, adakah Pikatan sudah datang dan berkelahi melawan sekian banyak orang?”

Kiai Pucang Tunggal tidak segera menjawab. Ia masih mengamat-amati mayat itu dengan saksama. Namun kemudian katanya “Tidak Puranti Tentu bukan Pikatan. Luka-luka ini bukan luka-luka bekas senjata Pikatan. Dan sudah tentu orang-orang lain yang terbunuh ditepian ini bukan, kawan-kawan Hantu bertangan api kecuali seorang ini”

“Bagaimana ayah tahu?”

“Bukankah kita melihat jenis senjata orang-orang itu?”

“O“ Puranti mengangguk angguk “tentu kawan-kawan Hantu Bertangan Api tidak akan membawa senjata serupa itu” ia herhenti sejenak, lalu ”Jadi siapakah yang telah, melakukannya?”

“Agaknya Hantu bertangan api dan seorang kawannya terlibat dalam perkelahian dengan sejumlah orang-orang ini. Dan tentu orang-orang ini bukan anak-anak Sambi Sari yang sedang menjaga bendungan. Mereka tidak akan mampu berkelahi dan apalagi berhasil membunuh salah seorang dari kawan Hantu Bertangan Api”

“Bagaimana jika jumlah mereka terlalu banyak untuk dilawan?”

“Tentu korban yang jatuh tidak hanya sebanyak lima orang. Dengan, sekali hentak, Hantu Bertangan Api dapat membunuh lima orang Sambi Sari yang tidak mengenal caranya memegang senjata”

“Jadi apakah yang kira-kira sudah terjadi ayah?”

“Seperti yang aku katakan, bentrokan diantara para penjahat? Tetapi aku tidak tahu kelanjutannya”

Purantipun kemudian melangkah menjahui mayat itu. Bagaimanapun juga hatinya terasa berdebaran. Perlahan-lahan ia bergumam seakan-akan kepada diri sendiri “Jika anak-anak muda Sambi Sari besok melihat mayat yang berserakan ini, aku yakin, mereka pasti akan ketakutan. Terutama gadis-gadisnva yang membantu nenyediakan makan dan minum mereka”

“Ya” sahut ayahnya “bahkan mungkin ada diantara mereka yang tidak berani lagi menginjakkan kakinya ditepian Kali Kuning. Mereka tentu menganggap bahwa Hantu Bertangan Api itu Sudah mulai bertindak”

“Dan kerja ini akan terhenti“

Kiai Pucang Tunggal mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya anak gadisnya itu sejenak, lalu katanya “Marilah kita singkirkan.

“Disingkirkan?” Puranti mengerutkan, keningnya

“Ya”

Maksud ayah, sekian banyak orang?”

“Ya”

Puranti menarik nafas dalam-dalam, lalu “Bagaimana jika mayat-mayat ini kita kuburkan saja ditepian ayah?”

“Tanahnya berpasir Puranti. Jika kelak datang banjir, maka mungkin sekali mayat-mayat ini akah terbongkar karena pasir yang menimbuninya dibawa oleh arus air”

“Biar sajalah ayah, hal itu tidak akan mempengaruhi pembuatan bendungan ini. Mugkin itu akan terjadi dipertengahan musim hujan tahun mendatang”

Bersambung

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s