Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

31

Tinggalkan komentar


“Tetapi jika benar terjadi demikian, maka Sambi Sari akan menjadi gempar. Banyak ceritera akan timbul. Tentu ceritera itu akan mengatakan, bahwa untuk membuat bendungan ini telah dikorbankan tumbal beberapa orang karena ternyata didekat bendungan ini diketemukan beberapa sosok kerangka. Mereka tidak tahu, kerangka siapa saja yang terbongkar itu, namun yang mereka artikan, Seakan-akan ada kesengajaan untuk membunuh seseorang dan menanamnya disaat-saat bendungan ini dibuat”

Puranti mengangguk-anggukkan kepalanya. la dapat mengerti bahwa kepercayaan semacam itu masih kuat sekali mencengkam rakyat Sambi Sari, sehingga dengan demikian maka yang akan menjadi sasaran tentu orang-orang yang dianggap bertanggung jawab atas pembuatan bendungan itu.

Karena itu maka dengan ragu-ragu Puranti bertanya “Jadi bagaimana sebaiknya ayah?”

“Kita bawa keatas tanggul. Kita kuburkan disisi tanggul itu”

“Tidak ada bedanya. Jika seseorang menemukan mayat itu, mereka akan,membuat ceritera serupa”

“Tidak tepat diatas bendungan ini. Kita bawa agak keudik, sehingga orang akan menghubungkan mayat-mayat itu tidak dengan bendungan ini, tetapi dengan Alas Sambirata”

“Sekarang?” bertanya Puranti dengan nada yang kecut.

“Ya sekarang. Malam masih cukup panjang”

“Tetapi, aku malas sekali ayah. Aku ingin pulaing ke Cangkring dan tidur nyenyak sampai besok siang”

“Selain untuk mengamankan perasaan anak-anak Sambi Sari. Puranti, bukankah sudah menjadi kewajiban kita untuk menguburkan mayat yang tidak terurus?”

Puranti menarik nafas dalam-dalam Katanya, “Baiklah ayah” namun kemudian “tetapi dengan apa kita akan menggali tanah?”

“Kita mencari cangkul sebentar”

“Dimana kita mendapatkan cangkul”

“Kita pinjam dipadukuhan. Tidak usah mengatakan kepada pemiliknya, asal kemudian kita kembalikan”

Puranti tidak menyahut.

“Tunggulah disini. Aku akan kepadukuhan itu sebentar. Biasanya mereka menaruh cangkunya disudut kandang atau didekat bajak dan garunya” berkata ayahnya.

Puranti ragu-ragu sejenak. Dan ayahnya melanjutkan “Tentu. tidak akan ada yang bangkit lagi diantara mereka itu Puranti”

“Ah“ Puranti berdesah. Jika seandainya ada yang bangkitpun Puranti tidak akan takut. Tetapi ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.

Ayahnya tidak menunggu lebih lama lagi. Sebelum pagi, semuanya harus sudah selesai. Sehingga karena itu, maka ia harus berbuat cepat.

Dengan tergesa-gesa Kiai Pucang Tunggalpun pergi kepadukuhan disebelah Alas Sambirata. Diambilnya dua buah cangkul tanpa mengatakannnya kepada pemiliknya, dan dengan tergesa-gesa pula dibawanya kembali kebendungan.

“Kita sudah mendapatkannya“ berkata Kiai Pucang Tunggal kepada Puranti.

Puranti hanya dapat menarik nafas saja. Ia tidak dapat mengelak lagi. Karena itu, maka iapun tidak dapat berbuat lain kecuali menyeret mayat-mayat itu naik keatas tanggul dan membawanya agak keudik. Sedang Kiai Pucang Tunggal sibuk membuat lubang yang besar untuk menguburkan mereka bersama-sama.

“Ayah sajalah yang membawa mayat-mayat itu, mengerikan sekali. Akulah yang akan melanjutkan menggali lubang itu”

Ayahnya memandanginya sejenak, namun kemudian ia mengangguk ”Baiklah. Nanti aku bantu kau menggali lubang”

Demikianlah, meskipun dengan keringat yang membasahi seluruh tubuh, namun mereka dapat menyelesaikan pekerjaan itu sebelum malahari terbit. Dengan tertib mereka mencoba menghilangkan jejak yang ada dan kemungkinan yang dapat menumbuhkan persoalan bagi anak-anak Sambi Sari.

Sambil menarik nafas dalam-dalam Kiai Pucang Tunggal berkata “Kembalilah ke Cangkring, mumpung belum pagi “

Tetapi Puranti menggeleng. Jawabnya “Aku akan ksiangan di jalan”

“Jadi?“

“Aku akan masuk Alas Sambirata saja. Bukankah ayah juga akan bersembunyi di hutan itu?”
Kiai Pucang Tunggal mengangguk.

“Dan bukankah masih ada persediaan makan buat aku hari ini?”

Ayahnya tersenyum sambil menjawab “Masih ada”

Demikianlah maka setelah Kiai Pucang Tunggal mengembalikan kedua cangkul yang dibawanya, maka kedua ayah dan anak itupun segera pergi ke Alas Sambirata sebelum matahari terbit di Timur.

***

Yang pertama-tama datang kebendungan pada saa matahari terbit adalah Kesambi. Ia sama sekali tidak menduga bahwa ditepian itu baru saja terjadi perkelahian yang sangat dahsyat. Beberapa sosok mayat berserakan dan darah berhamburam diatas pasir, Meskipun ia masih melihat noda-noda yang lain dari basahnya pasir, namun Kesambi sama sekali tidak menghiraukan apa yang menyebabkannya.

Sejenak kemudian maka beberapa orang lainpun berdatangan., Sebelum mereka mulai dengan kerja mereka, meneruskan pembuatan bendungan itu, merekapun duduk-duduk berserakan diatas pasir tepian. Mereka bergurau dan berkelakar, kadang dorong mendorong dengan gembiranya sebagaimana kebisaan anak-anak muda. Kegembiraan yang seakan-akan mereka dapatkan sejak mereka mulai dengan kerja mereka itu. Sebelumnya wajah-wajah mereka adalah wajah-wajah yang pucat dan murung. Wajah-wajah yang. seakan-akan tidak berpengharapan menghadapi masa depannya.

Selagi mereka tenggelam dalam gurau dan tertawa, tiba-tiba seseorang terkejut ketika kakinya menyentuh sebuah parang. Diambilnya parang itu dan diamat-amatinya.

“He“ tiba-tiba ia berteriak “parang siapakah ini“

Anak-anak muda yang ada disekitarnya berpaling kepadanya. Mereka mengamat-amati parang itu sejenak Tetapi seorang demi seorang menggelengkan kepalanya sambil berkata “Bukan punyaku” Dan yang lain “Bukan kepunyaanku”

Tetapi anak anak itu sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa parang itu adalah parang seorang penjahat yang telah terbunuh di tepian dan yang agaknya karena kekhilafan Kiai Pucang Tunggal dan Puranti, parang itu tertinggal.

Namun anak muda yang memeganginya itu menjadi heran. Dilihatnya parang yang dikotori oleh noda-noda yang merah kehitam-hitaman. Dengan kerut merut dikening ia bergumam “Noda apakah kira-kira yang melekat pada ujung parang ini?”

Kawan-kawannya mengamat-amatinya. Yang seorang berkata “Tentu parang ini milik seorang pencari kayu bakar. Noda ini adalah getah pohon racun”

“Bodoh kau, getah pohon racun berwarna putih”

“Ya,tetapi getah pohon racun yang sudah bernoda warna soga”

“Ah macam kau. Noda itu tentu getah kayu Cangkring”

“Bukan, getah kayu Cangkringpun keputih-putihan”

“Kalian memang bodoh“ Kesambilah yang kemudian menyambung “parang ini tentu baru saja dipergunakan buat mengupas sabut kelapa muda. Lihat, warna-warna merah sahut itu masih tampak meskipun menjadi hitam”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tidak seorangpun yang membantah karena tidak seorangpun yang mengetahui lebih banyak lagi tentang warna-warna itu.
Selagi mereka termangu-mangu, maka Wiyatsihpun menyusup diantara mereka sambil bertanya “Apakah yang kalian lihat?”

Anak muda yang menemukan parang itu menjawab “Nah, barangkali kau tahu, apakah getah pelepah pisang itu sewarna dengan noda-noda ini?”

“Wiyastih memperhatikan noda pada parang yang diketemukan itu. Sejak ia mengamat-amatinya. Namun kemudian tampakiah wajahnya menegang. Ia pernah melihat noda yang warnanya seperti warna noda pada parang itu. Warna darah yang sudah membeku. Ketika beberapa orang perampok terbunuh dihalaman rumahnya, maka noda-noda darah serupa itulah yang dulihatnya pada hari berikutnya. Dan kini ia melihat noda itu pada sehelai parang ditepian, ditempat anak-anak muda Sambi Sari membuat bendungan.

“Warna apa?” anak muda itu mendesak. Sejenak iapun mengerutkan keningnya ketika ia melihat wajah Wiyatsih yang meniadi pucat.

Tetapi cepat-cepat Wiyatsih menghilangkan kesan goncangan perasaannya itu. Sejenak kemudian maka iapun tersenyum sambil berkata “Tentu noda ini noda telutuh gori”

“Ah, mana mungkin“ seorang anak muda yang lain berteriak “mana mungkin. Telutuh goripun berwarna putih”

”Memang. Tetapi jika telutuh gori itu tersentuh kotoran yang lain, maka kotoran itu akan melekat dan biasanya membuat warna seperti itu”

Anak-Anak muda itu sama sekali tidak puas mendengar jawaban itu. Tetapi Wiyatsih segera melangkah pergi dan bahkan parang itu dibawanya.

“He, kau bawa kemana parang itu?”

“Ini parangku. Kemarin aku mengupas gori dengan parang ini”

Anak-anak itu mengangguk-anggukan kepala. Tetapi salah seorang masih juga bertanya “Bagaimana mungkin parang ini dapat sampai disini?”

“Tentu kau yang mengambilnya dari dapur“ Wiyatsih justru menuduhnya.

“Celaka“ guman anak muda itu “lebih baik aku diam saja”

Anak-anak yang lainpun tertawa. Wiyatsih juga tertawa. Tetapi hanya bibirnya sajalah yang tertawa, karena pada saat itu hatinya sedang bergejolak dahsyat sekali. Parang itu bernoda darah. Dan siapakah yang telah mempergunakan parang itu ditepian, ditempat Hantu Bertangan Api itu menunggu Pikatan.

Berbagai pikiran bergulat didalam otaknya. Tetapi ia menjadi agak tenteram karena ia masih melihat Pikatan ada dirumah.

“Seandainya terjadi sesuatu, kakang Pikatanlah yang masih tetap selamat” katanya didalam hati. Namun iapun menjadi ragu-ragu. Tentu Hantu Bertangan Api tidak akan membawa senjata seburuk itu. Juga kawan-kawannya.

“Jadi, apakah yang.telah terjadi disini?” pertanyaan itu telah bergulat didalam hatinya.
Tetapi Wiyatsih tidak dapat bertanya kepada siapapun hari itu. Jika ia ingin mempersoalkan senjata bernoda darah itu, maka ia harus menunggu malam nanti jika Puranti atau Kiai Pucang Tunggal datang menengoknya. Jika mereka tidak datang, maka ia harus menahan masalah itu didalam dadanya, meskipun seakan-akan gejolak itu membuat dadanya hampir retak.

Pada hari itu, Wiyatsih tampaknya lebih banyak merenung dari hari-hari sebelumnya, sehingga seorang kawannya menggamitnya sambil bertanya “He, apakah yang kau renungkan?”

Wiyatsih terkejut. Sambil berdiri da menjawab “Aku tidak merenung. Bahkan kadang-kadang alam didalam renungan itu sangat menyenangkan”

“Mungkin kau benar “ jawab Wiyatsih “dan agaknya kali terlalu sering merenung”

“Tidak terlalu sering, hanya kadang-kadang”

Wiyatsih memandang kawannya itu sejenak, lalu, He, lihat. Air itu sudah mendidih”

Kawannya masih saja tersenyum. Tetapi ia tidak berkata apa-pun lagi. Dipandanginya saja Wiyatsih yang berjalan keperapian.

Sebenarnyalah, bahwa Wiyatsih pada hari itu lebih banyak tenggelam didalam angan-angannya. Parang yang kemudian disembunyikan itu sangat mempengaruhinya. Dan ia tidak dapat membagi kegelisahannya dengan siapapun juga dibendungan itu. Meskipun ia selalu berusaha tersenyum dan menghilangkan setiap kesan yang buram diwajahnya, namun kawan-kawannya, terlebih-lebih lagi kawannya yang dekat, dapat menangkap sesuatu yang lain pada gadis itu.

Ketika matahari sampai kepuncak langit, maka anak-anak muda yang sedang membangun sebuah bendungan itupun beristirahat seperti biasanya. Mereka duduk berserakan, dan bahkan ada yang berbaring dipasir tepian, Keringat yang masih belum kering ditubuhnya, membuat tubuh itu menjadi kotor oleh pasir yang melekat. Tetapi sama sekaii tidak dihiraukannya. Bahkan pakaian yang basahpun sama sekali tidak mengganggunya.

Dalam pada itu, Wiyatsihpun duduk disudut dapurnya. Kawan-kawannyapun sedang beristirahat pula. Bahkan ada beberapa orang gadis yang sudah mendahuluinya pulang, karena tugas mereka setelah makan siang, hampir tidak ada lagi, selain, membersihkan alat-alat. Mereka membagi diri sehingga setiap hari sebagian dari gadis-gadis itu dapat mendahului kawan-kawannya yang lain bergantian. Tetapi kadang-kadang gadis-gadis itu lebih senang berada ditepian sampai saatnya matahari jauh turun diarah Barat, dan pulang bersama dengan kawan-kawannya yang lain, apabila mereka tidak mempunyai keperluan lain dirumah.

Wiyatsih yang sedang merenung itu berpaling ketika ia mendengar langkah mendekatinya. Gadis itu mengerutkan keningnya ketika ia melihat Kesambi berdiri beberapa langkah dibelakangnya.

“O” Wiyatsihpun kemudian berputar menghadap anak muda itu “apakah kau sudah makan?”

“Sudah. Aku kira semuanya sudah makan”

Wiyatsih menganggukkan kepalanya dan Kesambi berdiri semakin dekat.

“Kenapa kau merenung Wiyatsih?” bertanya Kesambi kemudian.

“Lelah” jawab Wiyatsih singkat.

“O“ Kesambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun katanya kemudian “tetapi kau tidak pernah tampak begitu letih seperti sekarang. Mungkin setiap hari kau berada ditepian ini sehari penuh, sedang kawan-kawanmu kadang-kadang pulang mendahului”

Wiyatsih tidak menyahut.

Tetapi dimalam hari, yang diharapkan itupun tidak dapat diperolehnya. Ternyata Kiai Pucang Tunggal dan Puranti juga tidak dapat mengatakan apa yang sebenarnya sudah terjadi.

“Sekali-kali kau perlu beristirahat Pembuatan bendungan ini sudah berjalan lancar. Setidak-tidaknya kau tidak usah memikirkannya sampai saat purnama nanti. Jika saat purnama naik nanti Pikatan benar-benar tidak mau datang, biarlah kami anak-anak muda semuanya akan tidur ditepian. Betapapun tinggi kemampuan seseorang, tetapi jika kami hadapi bersama-sama, maka ia tidak akan dapat banyak berbuat”

Wiyatsih memandang Kesambi sejenak. Lalu “Kau keliru Kesambi. Jika kalian ingin melawannya, maka akibatnya akan sangat mengerikan. Semakin banyak anak-anak muda yang melawannya, maka korbanpun akan menjadi semakin banyak pula”

“Maksudmu?”

“Tentu mayat akan berserakan dibendungan ini. Jika demikian tumbal akan terlalu banyak. Dan itu sama sekali tidak aku inginkan, dan kita semuanyapun tidak akan menginginkannya”

“Jadi, apakah kita akah melepaskan bendungan kita ini?”

“Juga tidak”

“Jadi?”

“Itulah sebenarnya yang sedang aku renungkan“

Kesambipun mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti perasaan apakah yang bergejolak didalam hati Wiyatsih. Tentu bagi Wiyatsih akan sulit sekali untuk menjatuhkan pilihan. Bendungan ini atau Pikatan. Bahkan Kesambi itu berkata didalam hatinya “Jika Pikatan tidak cacat, maka Pikatan tentu tidak akan mengasingkan dirinya. Dan tentu Pikatan akan dapat menyelesaikannya dengan mudah. Sedangkan dalam keadaan cacat itupun ia dapat membunuh beberapa orang perampok dihalaman rumahnya. Tetapi perampok-perampok itu tentu tidak sebesar orang yang menyebut dirinya seorang yang telah berani mengimbangi dan mengundang Pikatan itu”

Wiyatsih tidak mengatakan apapun lagi. Ia juga tidak mengatakan tentang parang yang disimpannya. Semuanya itu merupakan persoalan baginya sendiri.

Demikianlah, betapapun dadanya serasa sesak, namun Wiyatsih tetap berada dibendungan itu. Ia meninggalkan tepian bersama-sama” dengan kawan-kawannya.

***

“Tinggalah bersama Puranti“ berkata Kiai Pucang Tunggal “aku akan pergi kebendungan itu. Aku akan melihat, apakah Hantu Bertangan Api itu masih berkeliaran”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mudah-mudahan aku mendapatkan bahan yang lebih banyak untuk mengetahui apakah yang sudah terjadi itu”

Demikianlah, maka Kiai Pucang Tunggalpun pergi kebendungan untuk melihat, apakah Hantu Bertangan Api itu masih ada disana. Ketika ia sudah berada disebelah tanggul, maka dengan hati-hati iapun mendekat. cahaya bulan muda yang sudah mulai menerangi tepian itu di ujung malam, membantu Kiai Pucang Tunggal yang sedang mengawasi tepian disebelah bendungan yang sedang dibuat.

Dengan hati yang berdebar-debar ia melihat tiga orang yang berjalan hilir mudik diatara brunjung-brunjung yang masih belum sempat diisi dan diturunkan ke sungai.

“Hantu Bertangan Api“ desis Kiai Pucang Tunggal “ternyata ia masih hidup. Tetapi kenapa pembantunya itu terbunuh? Dan siapakah yang telah membunuhnya?“

Pertanyaan itu tidak segera dapat dijawabnya. Dan pertanyaan yang belum terjawab itulah yang dibawanya kembali kepada Wiyatsih dan Puranti.

“Apakah ada persoalan baru yang akan menambah buram keadaan Kademangan Sambi Sari?“ bertanya Wiyatsih kepada diri sendiri.

Dalam pada itu, Purantipun menjadi semakin cemas menghadapi perkembangan keadaan. Jika tidak segera diambil sikap yang pasti, maka keadaan akan dapat berlarut-larut. Apalagi bulan muda sudah menjadi semakin terang dilangit. Setiap hari bulan itu menjadi semakin bulat, sehingga akhirnya bulan itu akan menjadi bulat penuh.

“Ayah“ berkata Puranti kemudian “apakah ayah tidak segera dapat mengambil sikap?”

“Sampai purnama naik?” bertanya Wiyatsih pula.

“Purnama naik adalah batas yang terakhir. Jika sampai saat Itu aku tidak menemukan cara yang paling baik, maka kitalah yang akan mencegah usaha Hantu Bertangan Api, meskipun aku yakin bahwa hal itu pasti akan menyinggung perasaan Pikatan“

“Itulah yang tidak dapat aku mengerti Kiai“ berkata Wiyatsih “kakang Pikatan tidak mau berbuat sesuatu. Tetapi jika orang lain yang melakukannya, maka ia akan segera menjadi tersinggung.

Kiai Pucang Tunggal mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu katanya “Aku akan mendapalkan jalan itu”

Wiyatsih tidak mendesaknya lagi. Ia hampir tidak dapat mengharap Pikatan berbuat sesuatu. Karena itu yang dilakukannya kemudian adalah menempa diri sendiri, sejauh-jauh dapat dilakukan, Bulan muda sudah bertengger dilangit. Sebelum bulan itu bulat, ia harus yakain, bahwa ia akan dapat melawan Hantu Bertangan Api, Tidak perlu Puranti atau bahkan Kiai Pucang Tunggal sendiri.

Dengan demikian, maka Wiyatsih berlatih semakin tekun. Dorongan hatinya yang bergelora membuatnya seakan-akan sama sekali tidak mengenal lelah.

Tetapi yang mengejutkan, bahwa dihari-hari berikutnya di Sambi Sari telah tersebar berita tentang perkelahian di tepian.

Agaknya perampok yang masih tetap hidup itu tidak dapat menahan diri lagi untuk tetap merahasiakan apa yang terjadi. Mula-mula ia berceritera kepada keluarganya saja, dan kepada kawan-kawan terdekatnya. Tetapi ceritera itupun segera berpencaran dari mului ke mulut. Ternyata ceritera yang mengerikan itupun segera merayap ke segenap penjuru. Sehingga akhirnya sampai juga ke telinga orang Sambi Sari dan anak-anak muda.

“Kesambi “ seorang anak muda yang baru saja mendengar ceritera itu berkata dengan nafas terengah-engah di suatu pagi “Kau sudah mendengar ceritera tentang perkelahian yang terjadi di tepian ini?”

Kesambi memang belum mendengar, itulah sebabnya ia menggelengkan kepalanya “Aku tidak mendengar perkelahian itu. Maksudmu, apa Pikatan sudah memenuhi undangan penantangnya”

“Tidak, bukan Pikatan. Ceritera Ini berasal dari seorang penjahat yang diupah oleh beberapa orang untuk merusak bendungan ini”

“He…!”

Dan berceriteralah anak muda itu. Ternyata ceritera yang merambat dari mulut kemulut itu justru menjadi semakin mengerikan, sekan-akan telah terjadi pembantaian yang tidak dapat dibayangkan. Seakan-akan beberapa sosok mayat telah dicincang menjadi sayatan-sayatan daging, kulit dan tulang.

“Begitu?“ bertanya Kesambi.

“Ya“ jawab anak muda itu. Dan belum lagi ia menjelaskan, anak muda yang lain berkata “Benar. Aku juga mendengar. Sepuluh orang lawan sepuluh. Mereka saling membunuh, seorang diantaranya bernama Hantu Bertangan Api”

Kesambi menjadi semakin berdebar-debar. Ternyata banyak diantara anak-anak muda itu yang mendengar peristiwa yang telah terjadi ditepian ini. Meskipun ceritera itu tidak tepat sama sama yang satu dengan yang lain, namun pada urutannya mereka menyebutkan pertempuran yang mengerikan telah terjadi ditepian dan beberapa korban telah jatuh”

“Parang itu“ tiba-tiba seorang berdesis “noda itu bukan getah apapun, tetapi itu tentu noda darah”

Kesambi tidak segera menyahut. Ia mencoba untuk menilai keadaan dalam keseluruhannya. Ternyata bahwa untuk menyelesaikan bendungan ini telah dihadapinya berbagai macam rintangan yang sangat berat.

Namun demikian Kesambi itu berkata kepada kawan-kawannya “Semuanya itu baru dugaan saja. Baiklah aku akan menyelidikinya. Apakah yang sebenarnya telah terjadi. Aku sendiri akan menemui Pikatan dan perampok yang telah mendapat upah itu. Apakah sebenarnya telah terjadi seperti itu”

“Tetapi itu berbahaya sekali Kesambi. Mungkin Pikatan tidak akan berbuat apa-apa, selain membentak-bentak. Tetapi perampok yang telah diupah itu?”

“Sudahlah“ berkata Kesambi “jangan hiraukan. kita kerja terus. Kita harus melawan semua ceritera-ceritera yang barangkali sengaja ditiup-tiupkan untuk menakut-nakuti kita. Dan kita bukan pengecut, karena sejak semula kita sudah meletakkan dasar niat kita untuk membuat bendungan itu”

“Tetapi“ tiba-tiba salah seorang berdesis “bagaimanakah jika hal itu dapat membahayakan diri kita?“

“Kenapa kita? Kita tidak mempunyai persoalan dengan siapapun juga.”

“Menurut ceritera itu, orang-orang kaya yang tidak sependapat dengan adanya bendungan ini mulai bergerak. Selain itu, bagaimana dengan orang yang menantang Pikatan dan mengancam akan merusak bendungan ini?”

Kesambi menarik nafas dalam-dalam. Semua persoalan itu harus diatasi. Jika tidak, maka keragu-raguan akan segera mencengkam perasaan anak-anak muda di Sambi Sari.

Karena Itu, maka katanya “Kita tidak usah mengarang ceritera sendiri. Kita mendengar beberapa patah kata yang belum kita ketahui kebenarannya. Kemudian dikepala kita masing-masing, kita menganyam ceritera itu sehingga menjadi semakin dahsyat dan mengerikan. Itulah sebabnya kita menjadi ketakutan sebelum kita berbuat apa-apa”

Kawan-kawan Kesambi mengerutkan keningnya. Tetapi mereka tidak menyahut lagi. Mereka mencoba untuk menenangkan diri mereka dengan keterangan Kesambi itu, meskipun sebenarnya dihati mereka sudah mulai tumbuh keragu-raguan, apakah bendungan itu kelak benar-benar dapat terwujud.

Ternyata bahwa ceritera itu mempengaruhi juga gairah kerja anak-anak Sambi Sari. Bagaimanapun juga tampak wajah-wajah yang murung dan bahkan tegang. Anak-anak muda itu tidak lagi gembira seperti hari-hari sebelumnya.

Pengaruh itu terasa pula oleh Wiyatsih. Iapun sudah mendengar apa yang telah terjadi. Dan berbeda dengan kawan-kawannya, maka Wiyatsih mempunyai bahan yang lebih lengkap untuk mengurai persoalan yang sebenarnya sedang mereka hadapi, sehingga Wiyatsih mulai mendapat gambaran yang sedikit lengkap tentang perkelahian yang terjadi ditepian ini.

Berbeda pula dengan Kesambi, yang sekedar memberikan sedikit ketenangan kepada kawan-kawannya dengan mengatakan bahwa ia akan menemui perampok yang masih hidup itu, Wiyatsih telah benar-benar melakukan, atas persetujuan Puranti dan Kiai Pucang Tunggal, maka Wiyatsihpun diam-diam dengan tidak menimbulkan kecurigaan telah berusaha menelusur sumber berita itu.

Akhirnya Wiyatsih berhasil menemukannya.

Ketika gelap mulai menyaput Sambi Sari dimalam yang cerah, Wiyatsih meninggalkan rumahnya dalam pakaian laki-laki. Ia sudah menyediakan tutup wajah bila diperlukan. Diperjalanan Wiyatsih dikawani oleh Puranti, yang masih juga selalu cemas jika tiba-tiba saja Wyatsih bertemu dengan Hantu Bertangan Api diperjalanannya itu.

Adalah benar-benar diluar dugaan, bahwa perampok yang masih hidup itu harus berhadapan dengan dua orang yang sama sekali tidak dikenanya. Dengan wajah yang tegang, ketika ia membuka pintu rumahnya yang diketuk orang, dilihatnya dua orang berdiri dimuka pintu itu.

“Siapakah kalian?“ bertanya perampok itu.

“Kau tidak usah bertanya tentang kami “ jawab Wiyatsih.

Orang itu mengerutkan keningnya. Meskipun didalam kegelapan kedua orang itu tampaknya seperti laki-laki, tetapi suara itu adalah suara perempuan.

“Jangan heran. Aku memang seorang perempuan. Tetapi jika besok pagi aku mendengar ceritera tersebar, bahwa kau didatangi oleh dua orang perempuan berpakaian laki-laki, maka umurmu akan segera berakhir, bukan Hantu Bertangan Api yang akan membunuhmu, tetapi kami berdua”

Perampok itu menjadi semakin tegang. Tetapi harga dirinya benar-benar tersinggung. Meskipun lukanya masih belum sembuh, tetapi perempuan-perempuan itu sangat menyakitkan hatinya.

“Siapakah kalian sebanarnya?“

“Kami adalah isteri-isteri dari Hantu Bertangan Api itu”

“He?“ wajah perampok itu menjadi semakin tegang.

“Jangan kaget. Isteri Hantu Bertangan Api itu lebih dari sepuluh orang. Dua diantaranya adalah kami. Sekarang, kami memerlukan kau”

“Apa maksudmu?“

“Ikut kami, supaya kami dapat bertanya dengan leluasa kepadamu. Tidak didepan rumahmu”

Orang itu ragu-ragu sejenak. Tetapi jika benar orang-orang ini ada sangkut pautnya dengan Hantu Bertangan Api, maka ia tentu tidak akan dapat berbuat apa-apa.

“Cepat“ bentak Wiyatsih.

Orang itu tidak dapat membantah. Karena itu, maka iapun segera mengikutinya ketika Wiyatsih dan Puranti meninggalkan pintu yang kemudian ditutup lagi oleh perampok itu.
Mereka bertigapun kemudian kebulak panjang diluar padukuhan. Mereka memasuki pematang dan kemudian berhenti disela-sela pokok jagung yang sudah hampir berbuah. Pohon jagung yang ditanam diakhir musim setelah panenan padi.

“Duduklah“ berkata Wiyatsih kepada perampok itu. Perampok itu termangu-mangu. Namun sekali lagi Wiyatsih membentak ”Duduk”

Perampok itupun kemudian duduk dipematang, sedang Puranti dan Wiyatsihpun duduk pula disebelah menyebelah.

“Nah, sekarang ceriterakan kepadaku, apa yang sebenarnya telah terjadi ditepian itu. Yang tersebar sekarang adalah desas-desus tentang suamiku. Apakah benar kau bertempur melawan Hantu Bertangan Api? “

Perampok itu menjadi ragu-ragu.

“Katakan yang sebenarnya sebelum aku berhasil menemui Hantu itu.”

Meskipun ia masih juga ragu-ragu, namun perampok itu akhirnya menganggukkan kepalanya. Katanya “Ya. Aku bertemu dan berkelahi dengan orang yang menyebut dirinya Hantu Bertangan Api.”

“Apa sebabnya?“

Perampok itupun kemudian mengatakan tentang tugas yang harus dilakukan dengan upah yang menarik. Tetapi rencana itu gagal karena kebetulan Hantu Bertangan Api melihatnya.
Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan nada yang dalam ia menggeram “Siapa sajakah yang mengupah kau?“

“Orang-orang kaya di Sambi Sari”

“Ya. Tetapi siapa saja orangnya? “

“Aku tidak tahu. Ja Betetlah yang membicarakannya. Aku hanya diajaknya“

“Bohong”

“Benar, aku tidak tahu, siapakah orang yang sudah mengupahnya. Menurut pendengaranku, lebih dari tujuh atau delapan orang kaya yang mengumpulkan uang untuk upah kami.
Wiyatsih menggeram. Tetapi ia masih mencoba bertanya “Apakah aku harus memaksamu untuk menyebut nama-nama itu?”

“Aku benar-benar tidak tahu”

Wiyatsih memandang Puranti sejenak, lalu katanya ketika ia melihat isyarat Puranti ”Baiklah. Kami akan pergi. Tetapi ingat, jangan ada seorangpun yang mengetahui bahwa isteri-isteri Hantu Bertangan Api berkeliaran juga didaerah ini. Jika ada seorangpun yang menyebutnya, maka kau akan mati dengan cara yang lebih dahsyat lagi dari cara yang ditempuh oleh hantu Bertangan Api ditepian. Aku dapat membunuhmu tidak dengan batu kerikil, tetapi dengan pasir yang aku taburkan di seluruh tubuhmu. Kau sadari apa yang akan terjadi atasmu? Tiga hari setelah itu kau baru akan mati. Dan tidak ada obat yang dapat menyembuhkannya karena butiran debu itu akan menyelusuri seluruh urat darahmu”

Ancaman itu memang sangat mengerikan. Karena itu maka perampok yang sudah terluka itu menganggukkan kepalanya sambil menjawab “Aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun”

“Tetapi ternyata ceritera tentang Hantu Bertangan Api itu diketahui oleh semua orang meskipun menjadi berbeda-beda“

“Bukan maksudku. Tetapi Hantu itu sendiri tidak berpesan seperti kau.”

“Tentu ia tidak sempat, karena kau lari. Setelah ini kau jangan membumbui ceriteramu dengan ceritera yang aneh-aneh supaya umurmu agak lebih panjang sedikit”

“Baik, baik“ perampok itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sekarang pulanglah. Kalau pada kesempatan lain, orang-orang kaya itu datang lagi kepadamu dan kau menerimanya juga, maka kau akan menyesal. Sekarang aku sudah tahu, jika bendungan itu rusak sebelum purnama naik kau adalah orangnya”

“Tidak, tentu tidak. Aku sudah terluka, dan lukaku tidak akan sembuh benar sampai saat purnama naik. Bagaimana jika orang-orang itu menghubungi orang lain?“

“Ceritera tentang Ja Betet yang mati ditepian itu sudah menutup setiap kemungkinan bagi orang lain. Karena itu, kau adalah satu-satunya orang yang bertanggung-jawab”

“Aku bersumpah. Aku tidak akan melakukannya lagi”

“Diam. Sekarang pergilah. Aku akan mencari Hantu Bertangan Api. Ia sudah meninggalkan kami lebih dari dua bulan berturut-turut”

Perampok itu tidak menyahut. Didalam kegelapan malam ia melihat samar-samat wajah itu. Tetapi tidak begitu jelas meskipun Wiyatsih tidak mempergunakan tutup wajahnya. Apalagi didalam kecemasan, perampok itu hampir tidak berani memandang wajah perempuan-perempuan itu cukup lama.

Demikianlah, maka Wiyatsih dan purantipun kemudian membiarkan perampok itu pergi. Sekali-sekali perampok itu masih berpaling, tetapi kemudian langkahnya semakin lama menjadi semakin cepat.

Sepeninggal perampok itu Wivatsih menarik nafas dalam-dalam.

Katanya “Ceritera itu sebagian besar memang benar. Memang ada usaha untuk merusak bendungan Itu, justru dari orang-orang Sambi Sari sendiri, selain Hantu Bertangan Api, meskipun kepentingan mereka sangat berbeda”

Puranti menganggukanggukkan kepalanya. Namun didalam dadanya telah terjadi pergolakan yang sengit. Bahkan diluar sadarnya ia berkata “Persoalan ini memang harus segera selesai, jika tidak, semuanya akan gagal”

“Puranti“ desis Wiyatsih kemudian “aku melihat kemurungan diwajah Anak-Anak muda yang sedang mengerjakan bendungan itu”

“Kita harus segera berbuat sesuatu“ Puranti menyahut, “tetapi ayah terlalu lamban. Mungkin umur ayah yang semakin tua membuatnya sangat berhati-hati. Mudah-mudahan peristiwa ini dapat mendorongaya semakin cepat”

“Tetapi tentu menunggu saat purnama naik”

Bersambung Ke Jilid 12

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s