Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

33

Tinggalkan komentar


mengetahui kegelisahan yang sebenarnya yang mencengkam hati anak-anaknya.

Beberapa saat kemudian, ketika malam mulai turun, setelah dibangunkan oleh ibunya, maka Wiyatsihpun pergi kehalaman depan. Dilihatnya kedua penjaga regolnya bergegas berdiri dan menghampirinya.

“Aku baru saja bangun tidur berkata Wiijatsih “tunggu sebentar. Aku akan mandi dan makan sedikit”

Kedua penjaga regol itu mengerutkan keningnya. Salah seorang dari keduanya berkata “Kau tidak pernah tidur disaat begini“

“Sekarang aku mencobanya“ jawab Wiyatsih.

Penjaga regol itu hanya menarik nafas saja ketika kemudian ia melihat Wiyatsih tersenyum sambil berkata “Tunggulah di regol”

Penjaga regol itupun kemudian kembali kepintu regol yang masih terbuka. Sejenak mereka berbincang tentang kemungkinan yang akan mereka hadapi. Namun merekapun kemudian berhenti ketika mereka melihat Tanjung memasuki halaman rumah itu.

“Kalian sudah siap disitu?” bertanya Tanjung.

“Ya“ jawab salah seorang penjaga regol itu dengan hati yang kosong.

Tanjung tidak bertanya lagi. Ia berjalan tergesa-gesa naik ke pendapa, kemudian mengetuk pintu pringgitan.

“Siapa?” bertanya Nyai Sudati.

“Aku, Tanjung Nyai”

“O“ desis Nyai Sudati. Sejenak kemudian pintu peringgitan itupun terbuka, dan Tanjungpun dipersilahkannya masuk.

“Aku hanya sebentar saja Nyai” berkata Tanjung dengan tergesa-gesa pula ”Keadaan menjadi bertambah buruk. Dan apakah Nyai sudah mendengar desas-desus tentang usaha merusak bendungan selain orang yang menantang Pikatan itu? Yang justru orang itu telah dirintangi oleh orang yang menyebut dirinya mempunyai kepentingan dengan Pikatan pada saat purnama naik itu?

“Ya, aku memang mendengar. bahwa di bendungan terjadi semacam perang. Tetapi bagaimanakah jelasnya?”

“Benar, semacam perang. Tetapi yang penting, kabar yang tersebar, orang-orang kayalah yang mengupah orang-orang itu untuk merusak bendungan”

Nyai Sudati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Ya aku memang mendengar”

“Nah, bukankah hal itu berbahaya bagi Nyai?”

“Kenapa?“

”Anak-anak muda itu tentu akan membenci setiap orang kaya, termasuk Nyai. Apalagi Nyai sudah pernah mengatakan kepada Wiyatsih, bahwa Nyai tidak sependapat dengan bedungan itu”

“O“ wajah Nyai Sudati menjadi tegang, “tetapi aku tidak pernah ikut campur didalam Persoalan itu”

“Aku tahu, Nyai. Tetapi hal ini perlu ditegaskan“

“Maksudmu?”

“Wiyatsih yang ikut serta dalam pembuatan bendungan itu harus tahu, bahwa Nyai tidak ikut mengupah orang-orang yang akan merusak bendungan itu, supaya Nyai tidak ikut menjadi sasaran kemarahan anak-anak muda itu. Meskipun andaikan musuh Pikatan itulah yang kemudian merusak, karena Pikatan tidak mau datang kebendungan Pada saat purnamu naik, maka kebencian dan kekecewaan mereka terhadap Pikatan dan sekaligus terhadap orang kaya akan berbahaya Nyai”

“Aku tidak tahu maksudmu”

“Bukankah semua orang mempersoalkan Pikatan sekarang ini Nyai, karena ia tidak mau datang kebendungan”

“Lebih baik ia tidak mau datang ke bendungan. Aku juga mendengar bahwa Pikatan ditantang orang di bendungan. Aku sependapat bahwa ia tidak usah datang. Dan tentu saja, biarkan bendungan itu dirusak orang. Siapapun yang merusak. Aku tidak berkepentingan dengan bendungan itu, tetapi aku berkepentingan dengan Pikatan”

“Baik Nyai. Karena itulah Nyai harus menjelaskan kepada Wiyatsih bahwa Nyai tidak terlibat di dalam usaha merusak bendungan itu”

Nyai Sudati mengerutkan keningnya. Katanya “Baiklah. Aku akan menyampaikannya kepada Wiyatsih”

Tanjung mangangguk-angguk. Namuni kemudian katanya “Tetapi pengaruh Nyai terhadap Wiyatsih kini sudah jauh berkurang. Bagaimana jika aku saja yang mengatakannya. la tentu mau mendengarkan aku. Aku berharap bahwa aku masih mempunyai pengaruh yang cukup atasnya”

Nyai Sudati merenung sejenak. Namun kemudian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Baiklah Tanjung. Cobalah mengatakannya. Ia baru mandi. Tetapi aku kira ia sudah selesai sekarang”

Tanjung mengangguk-angguk pula ketika Nyai Sudati kemudian berdiri dan melangkah ke dalam memanggil anak perempuannya. Ketika ia melihat Wiyatsih baru makan, maka katanya “Datanglah ke Pringgitan setelah kau makan”

Wiyatsih mengerutkan keningnya. Sebelum ia bertanya, ibunya berkata kepadanya “Tanjung mempunyai sedikit keperluan dengan kau. Wiyatsih tidak menjawab. Tetapi kedatangan Tanjung itu tiba-tiba saja telah menghilangkan seleranya untuk makan Karena itu ketika ibunya kemudian meninggalkannya diletakkannya mangkuk nasinya.

Setelah mencuci tangannya dan meneguk minumannya ia meninggalkan nasi yang sudah disenduknya didalam mangkok dari masih belum termakan semuanya itu.

“Kenapa kau tidak menghabiskan makanmu?” bertanya seorang pelayannya.

Wiyatsih menggelengkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.

Dengan kening yang berkerut-merut Wiyatsihpun kemudian pergi ke pringgitan. Ketika ia membuka pintu dan melihat Tanjung duduk dihadapan ibunya, ia menjadi muak.

“Duduklah Wiyatsih“ berkata ibunya.

Dengan hati yang kosong Wiyatsihpun kemudian duduk di sisi ibunya.

“Tanjung ingin berbicara sedikit Wiyatsih”

Wiyatsih menganggukkan kepalanya. Dipandanginya Tanjung sejenak, kemudian katanya “Bicaralah”

Tanjung menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Apakah kau pernah mandengar desas desus tentang orang-orang yang akan merusak bendungan yang sedang kau buat Wiyatsih?”

Wiyatsih merenung sejenak, jawabnya “Tidak. Aku tidak mendengar apa-apa”

Tanjung menarik alisnya. Ia menjadi heran mendengar jawaban Wiyatsih. Karena itu, ia mendesaknya “Wiyatsih, apakah kau benar-benar tidak pernah mendengar ceritera tentang usaha merusak bendungan itu?”

Wiyatsih menggelengkan kepalanya dengan acuh tak acuh.

“Wiyatsih“ ibunyalah yang kemudian mendesaknya “jawablah yang sebenarnya”

Wiyatsih memandang ibunya sejenak. Kemudian dipandanginya Tanjung dengan tajamnya “Apakah sebenarnya yang kau kehendaki Tanjung? Menakut-nakuti aku atau mengancam atau kau sendiri ikut berusaha merusak bendungan itu?”

“Wiyatsih“ ibunyalah yang memotong.

Wiyatsih tidak menyahut. Dipandanginya saja wajah Tanjung yang menjadi tegang.

“Aku bermaksud baik Wiyatsih“ berkata Tanjung kemudian.

“Terima kasih“ jawab Wiyatsih.

“Maksudku, agar kau tidak salah mengerti. Usaha merusak bendungan itu memang ada. Orang-orang kayalah yang mengusahakannya. Tetapi agar kau tidak salah paham. aku ingin memberitahukan kepadamu, bahwa ibumu tidak terlibat didalamnya.

“Aku sudah tahu“ sahut Wiyatsih.

Tanjung menjadi heran. Sejenak ia merenungi wajah Wiyatsih namun kemudian dipandanginya pula wajah Nyai Sudati yanig juga menjadi keheran-heranan.

“Darimana kau mengetahuinya Wiyatsih?” bertanya Tanjung.
“Dari ibu sendiri. Kenapa kau bertanya? Bukankah aku setiap hari berkumpul dengan ibuku, dan kau hanya kadang-kadang saja datang kerumah ini? Tentu aku tahu lebih dahulu daripadamu. Dan tentu ibuku akan mengatakan hal itu kepadaku lebih dahulu daripada kepadamu”

Wajah Tanjung menjadi merah padam. Dipandanginya wajah Nyai Sudati yang tampak kebingungan. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kata-kata Wiyatsih. Sebenarnyalah bahwa ia setiap hari berkumpul dengan Wiyatsih, dan memang wajarlah jika Wiyatsih mengetahuinya lebih dahulu dari Tanjung.

Sejenak Tanjung terdiam. Ia tidak dapat segera mangatasi kebingungannya, sehingga Wiyatsih berkata “Jika hanya itu yang akan kau katakan Tanjung, sudah aku beritahukan bahwa aku sudah mengetahuinya. Nah, jika masih ada, apa lagi. Aku mempunyai pekerjaan lain dari pada duduk saja disini. Aku masih harus mencuci mangkuk dan alat-alat dapur yang kotor”

Tanjung menjadi semakin bingung, sehingga karena itu ia tidak segera dapat menjawab.

“Ibu“ berkata Wiyatsih kemudian “agaknya tidak ada lagi yang akan dikatakan oleh Tanjung. Aku akan mencuci mangkuk didapur“

Ibunyapun menjadi bingung pula, sehingga dengan gugup ia bertanya kepada Tanjung “Apakah tidak ada yang akan kau katakan Tanjung?”

“Tidak, tidak Nyai. Ternyata Wiyatsih sudah mengetahuinya“ berkata Tatnjung terputus-putus.

Wiyatsihpun kemudian meninggalkan Tanjung di pringgitan. Tetapi ia tidak Pergi ke dapur. Lewal pintu butulan ia pergi kehalaman dan menemui para penjaga regolnya.

“Mariiah“ berkata Wiyatsih “meskipun aku baru saja makan, kita berlatih sebentar. Biar saja Tanjung nanti lewat pintu regol ini. Tetapi tutuplah. Aku kira sudah tidak akan ada lagi orang yang akan lewat. Tetapi jangan diselarak”

“Apakah Nyai Sudati tidak akan mencari kami jika ia nanti mengantarkan Tanjung sampai ke pendapa?”

“Kita berada dihalaman samping. dibalik gandok. Jika ibu memanggil, kita akan mendengar. Padamkan saja lampu serambi gandok itu, agar kita tidak dapat dilihat dari kejauhan”

Keduanyapun kemudian mengikuti Wiyatsih kehalaman samping di belakang gandok. Seperti kata Wiyatsih, lampu disudut gandok itupun mereka padamkan. Dan mereka mengambil tempat dibalik pepohonan yang rindang.

“Aku tidak dapat terlalu lama berada disini. Menjelang tengah malam aku akan pergi. Aku mempunyai janji seperti kemarin”

Bagi kedua penjaga regol itu, waktu yang betapapun singkatnya akan lebih baik daripada tidak sama sekali. Dengan latihan-latihan yang singkat itu, rasa-rasanya badan mereka yang menjadi seolah-olah membeku itu telah mencair kembali. Urat-urat nadi mereka mulai menjadi lemas dan gerak mereka menjadi semakin lincah. Seakan-akan yang terlupakan telah dapat mereka ingat kembali,

“Masih ada kesempatan semalam lagi, besok“ berkata kedua Penjaga regol itu didalam hati. Meskipun mereka sadar, bahwa yang mereka lakukan dalam waktu singkat itu hampir tidak menambah ilmu mereka, tetapi yang terselip ternyata telah mereka ketemukan kembali.

Menjelang tengah malam, maka Wiyatsihpun meninggalkan mereka, untuk melakukan latihan sendiri bersama Puranti dan Kiai Pucang Tunggal, sementara kedua penjaga regol itu masih ingin melanjutkannya sendiri untuk sekedar memperlancar ingatan mereka terhadap ilmu yang mereka miliki pada saat mereka masih bertualang. Apalagi ternyata bahwa Nyai Sudati sama sekali tidak mencari mereka.

Seperti biasanya, Wiyatsihpun kemudian berlatih di tepian. Dan seperti biasanya ia melakukannya dengan kesugguhan hati, meskipun Kiai Pucang Tunggal telah mempunyai rencana tersendiri untuk menyelesaikan persoalan Pikatan dengan Hantu Bertangan Api itu.

Demikianlah, di pagi harinya, anak anak muda Sambi Sari yang datang ke bendungun menjadi semakin sedikit. Sebagian besar dari mereka, adalah anak-anak muda yang telah menyatakan diri untuk ikut menjaga bendungan mereka disaat purnama naik.

“Jika bukan kita, siapakah yang akan melakukannya? Jangan tergantung kepada Pikatan“ berkata Kesambi ”untuk tujuan yang besar, maka pengorbanan memang tidak dapat dihindarkan. Mungkin aku, mungkin salah seorang dari kalian, atau bahkan mungkin kita semua akan binasa. Tetapi kita sudah berusaha. Anak cucu kita kelak tidak akan membebankan kesalahan kepada kita, apabila tanah ini semakin lama menjadi semakin kering dan tandus, karena kita sudah berusaha. Tetapi usaha kita kurang berhasil”

“Bagaimana jika kita mencoba menemui Pikatan?” bertanya seorang kawannya.

Kesambi ragu-ragu sejenak. Lalu katanya “Aku tidak banyak menaruh harapan”

“Tetapi kita dapat mencobanya. Mungkin terhadap Wiyatsih ia sama sekali tidak mau menghiraukan lagi karena pengaruh hubungan keluarga, atau barangkali Wiyatsih terlampau menjengkelkan bagi Pikatan”

“Baiklah” berkata Kesambi selanjutnya “Kita akan segera menemui Pikatan”

“Kapan….?”

“Sekarang. Sebagian dari kita akan datang bersama-sama ke rumahnya, dan sebagian lagi menunggu disini, menunggu hasil dari pembicaraan kita dengan Pikatan. Nanti di rumah Pikatan, kita akan berbicara tentang keadaan padukuhan kita, tentang bendungan kita yang sedang kita bangun dan tentang apa saja yang menyangkut rakyat Sambi Sari dan ada hubungannya dengan Pikatan”

Dengan keputusan itu, Kesambi dan sebagian kawan-kawan seperjuangannya yang masih bertahan, berangkat menuju rumah Nyai Sudati. Setelah mereka sampai di rumah Nyai Sudati, mereka diterima dan dipersilahkan duduk di pendapa.

Sejenak kemudian, maka Nyai Sudatipun telah menemui mereka dengan hati yang berdebar-debar. Yang pertama-tama terlintas di kepalanya adalah kemarahan anak-anak muda karena menurut desas-desus yang tersebar, orang-orang kaya telah mengupah beberapa orang untuk merusak bendungan.

Karena itu, maka terasa betapa tegangnya wajah perempuan itu. Bahkarn terasa denyut jantungnya menjadi semakin cepat. Dengan kaki bergetar ia melangkah mendekati anak-anak muda yang sudah duduk di Pendapa.

“Wiyatsih kebetulan tidak ada di rumah“ ia mengeluh “sedang Pikatan tidak akan memperdulikan apa saja yang dapat terjadi.

Tetapi ia harus datang menemui mereka. Jika tidak, maka anak-anak itu akan berbuat apa saja yang mereka kehendaki untuk melepaskan kemarahan mereka.

Tetapi ternyata Kesambi yang duduk di paling depan diantara kawan-kawannya, justru menganggukkan kepalanya dengan sopan dan bertanya “Nyai, apakah kami dapat bertanya serba sedikit tentang Pikatan?”

Nyai Sudati mengerutkan keningnya. Sesaat ia menarik nafas-lega. Ternyata persoalannya sama sekali bukan persoalan orang-orang yang ingin merusak bendungan. Namun sesaat kemudian keningnya telah berkerut kembali.

“Apakah kau berkepentingan dengan Pikatan, Kesambi?” bertanya Nyai Sudati.

“Ya, Nyai. Jika tidak berkeberatan, sebenarnya kami ingin bertemu dengan Pikatan. Sudah lama kami kawan-kawan bermainnya tidak menemuinya”

Nyai Sudati memandang Kesambi dengan tajamnya. Sekilas terlintas desas-desus yang lain, bukan tentang orang-orang kaya yang ingin merusak bendungan, tetapi tentang orang-orang yang menunggu Pikatan di bendungan menjelang purnama naik.

“Apakah kepentinganmu, Kesambi?”

“Kami hanya sekedar ingin berbicara. bermacam-macam persoalan persoalan yang ingin kami bicarakan, diantaranya tentang bendungan itu”

“O“ potong Nyai Sudati. Kini hatinya diberati oleh persoalan yang lain, yang baginya tidak kalah gawatnya dengan persoalan orang-orang kaya yang ingin merusak bendungan itu.
Sejenak Nyai Sudati memandang Kesambi dengan tajamnya. Ternyata naluri seorang. ibu telah menjalar di hati Nyai Sudati. Meskipun ia menjadi gemetar karena ketakutan, namun ketika persoalannya menyentuh anaknya, maka tiba-tiba saja sorot matanya menjadi garang.

“Kesambi, apakah kau ingin memaksa Pikatan untuk pergi ke bendungan?”

“Bukan memaksa Nyai. Tetapi kami hanya sekedar ingin menyampaikan persoalannya saja”

“Dan berusaha menyinggung harga diri Pikatan, agar Pikatan pergi juga?”

Kesambi menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Tentu Nyai sudah mendenar persoalan bendungan dengan orang yang ingin bertemu dengan Pikatan itu. Kita semuanya menjadi prihatin karenanya. Seandainya ada jalan lain. tanpa kehadiran Pikatan di bendungan maka tentu jalan itulah yang akan kami tempuh. Karena itulah Nyai, aku ingin berbicara dengan Pikatan. Menurut penilaian kami, Pikatan adalah orang yang paling banyak memiliki pengalaman diantara kami semua anak-anak muda di Sambi Sari. Karena itu, alangkah senangnya hati kami jika Pikatan dapat memberikan petunjuk, apa yang dapat kami lakukan untuk keselamatan bendungan itu dan tentu saja juga keselamatan Pikatan”

“Tidak“ berkata Nyai Sudati “aku tidak akan membiarkan Pikatan pergi kebendungan pada saat purnama naik. Aku tidak mau kehilangan anakku, karena aku sudah mendengar, bahwa Pikatan akan dijadikan tumbal pembuatan bendungan itu. Dan itu tidak adil. Kenapa harus Pikatan?”

“Bukan kami yang menentukan, bahwa Pikatanlah yang harus datang ke bendungan. Tetapi orang itu memang ingin bertemu dengan Pikatan. Dan itu ada dituar kekuasaan kami untuk mencegah atau menggantinya dengan orang lain”

“Omong kosong. Aku tidak rela anak laki-lakiku satu-satunya dikorbankan untuk membuat bendungan, sedang aku sendiri sama-sekali tidak memerlukan bendungan itu. Pergilah kepada mereka yang memiliki sawah yang kering, yang kelaparan dimusim paceklik. Biarlah mereka yang mengorbankan anak laki-lakinya untuk kemakmuran sawah dan pategalan mereka”

Kesambi menarik nafas dalam dalam. Terlampau sulit baginya untuk menjelaskan maksudnya, dan untuk mendapat kesempatan berbicara dengan Pikatan.

“Nyai“ berkata Kesambi kemudian “jika Pikatan pergi, ke bendungan, tentu kami, anak-anak muda Sambi Sari tidak akan berdiam diri dan menonton dari kejauhan. Kami akan ikut serta bersama Pikatan, apapun yang akan terjadi. Aku sendiri bersedia menjadi taruhan. Jika Pikatan terpaksa menjadi korban di tepian aku menyediakan diriku dikubur hidup-hidup bersama mayat Pikatan”

Nyai Sudati termenung sejenak. Kata-kata Kesambi itu benar-benar menyentuh hatinya. Begitu besar kesungguhan hatinya untuk menyelamatkan bendungan itu. Namun demikian, rasa-rasanya ia tidak akan dapat melepaskan Pikatan, apapun taruhannya. Meskipun Pikatan tidak ubahnya seorang yang sakit ingatan yang harus dirawatnya baik-baik, namun ia adalah anak laki-laki satu-satunya.

Sejenak pendapa itu dicengkam oleh kesepian. Nyai Sudati menundukkan kepalanya dengan dada yang berdegupan, sementara Kesambi masih juga mengharap-harap cemas.

Tetapi Nyai Sudati tidak segera mengatakan sesuatu. Hatinya ternyata bergejolak dahsyat sekali menghadapi persoalan bendungan dan anaknya Persoalan yang sama sekali tidak pernah dibayangkannya. Bendungan itupun baginya sama sekali tidak penting, dan bahkan kerusakan bendungan itu sebenarnya akan menyenangkan hatinya.

Beberapa lamanya mereka berdiam diri. Benturan perasaan telah terjadi didalam dada Nyai Sudati. Namuni bagaimamapun juga sebagai seorang ibu ia tidak akan membiarkah anaknya menjadi korban dan terbunuh karenanya.

Karena itulah maka iapun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil menggelengkan kepalanya. Katanya “Jangan Kesambi. Janganlah Pikatan dibawa serta didalam kesulitan kalian. Kalian sudah mulai membuat bendungan itu, cobalah mengakhirinya tanpa menyeret orang lain dalam kesulitan”

Kesambi menjadi berdebar-debar. Kemudian anak muda itupun menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan semua harapannya telah terbang bersama desah nafasnya yang panjang.

“Jadi, bagaimana Nyai?” ia masih ingin meyakinkan pendengarannya.

“Jangan kau harapkan lagi Pikatan. Ia tidak berkepentingan dengan bendungan. Dan ia tidak ingin mati tanpa arti”

Kesambi akihirnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Baiklah Nyai. Jika memang itu keputusan Nyai, apaboleh buat. Aku tidak akan dapat memaksa. Betapapun dahsyatnya nama Pikatan, ternyata ia sama sekali tidak berarti bagi Sambi Sari. Meskipun Kini Pikatan kembali ke kampung halamannya, tetapi bagiku Pikatan yang dahulu, yang mempunyai cita-cita setinggi bintang itu, sudah tidak ada lagi. Sudah mati. Baiklah. Kami memang bukan pengecut. Kami akan mempertahankan bendungan itu meskipun kami akan menjadi korban, Betapapun banyaknya anak-anak muda akan terbunuh, namun kami tidak akan gentar. Kami akan bertempur menurut cara kami”

Nyai Sudati tidak menjawab. Tetapi wajahnya menunduk dalam-dalam.

“Sudahlah Nyai. Kami mohon diri. Mungkin kita tidak akan dapat bertemu kembali. Mungkin besok malam mayatku sudah terdampar dipinggir Kali Kuning. Tetapi aku sudah sedia melakukannya. Barangkali itu lebih baik dari seorang yang mengaku dirinya pahlawan tetapi tidak lebih dari seorang penghuni bilik yang sempit”

Mereka terperanjat ketika tiba-tiba saja mereka mendengar Pintu pendapa itu terbanting keras sekali. Ketika serentak mereka berpaling, mereka melihat Pikatan berdiri dengan garangnya dimuka pintu dengan wajah yang merah padam.

“Cukup“ ia menggeram “kalian telah menghina aku. Dan aku masih cukup memiliki harga diri untuk menantang kalian karena hinaan ini”

Kesambi menjdi berdebar-debar. Ternyata Pikatan mendengar pembicaraan itu. Karena itu, maka sejenak ia diam mematung sambil memandang wajah Pikatan yang membara.

“Ayo, siapakah diantara kalian yang dapat menandingi Pikatan. Kita buktikan, siapakah yang tidak mempunyai arti bagi tanah kelahiran ini”

Betapa debar menggetar didada Kesambi, mamun iapun mempunyai harga diri juga seperti Pikatan. Meskipun ia sadar, bahwa ia tidak memiliki kemampuan apapun, tetapi ia tidak dapat begitu saja merendahkan diri dan berlutut di bawah kaki anak muda yang sombong dan mengasingkan diri itu. Karena itu maka katanya “Pikatan, kau jangan sesumbar disini. Seseorang menunggu kau di bendungan. Ternyata kau tidak mau datang”

“Aku tidak peduli. Tetapi aku sama sekali tidak takut dengan siapapun. Aku tidak takut dengan orang yang menyebut dirinya Hantu Bertangan Api itu. Aku tidak takut dengan gurunya sekalipun. Tetapi aku bukan budakmu yang harus melayani kehendakmu. Aku tidak bersangkut paut dengan bendunganmu. Biar saja ia merusak bendungan itu. Baru setelah bendungan itu rusak, aku akan mencarinya dan membunuhnya”

“Apa maksudmu? Jadi kau juga senang melihat bendungan itu rusak?”

“Bendungan itu adalah bendungan yang tidak akan berarti apa-apa. Hanya Pikatan sajalah yang mengenal Kali Kuning dengan baik. Pikatanlah yang pernah merencanakan membuat bendungan. Karena itu, tidak akan ada orang lain yang dapat melakukannya. Kau tidak. anak-anak muda yang lain tidak dan Wiyatsih yang cengeng itupun tidak”

Kami akan mencobanya. Lebih baik mencobanya daripada merasa dirinya mampu tetapi tidak berbuat apa-apa”

“Diam kau. Aku dapat membunuhmu”

“Aku tidak peduli. Dan aku tidak akan lari Pikatan“ sahut Kesambi “pada saatnya aku akan datang jika kau memang ingin membunuhku. Tetapi aku tidak dapat melayani kau sekarang. Besok malam aku akan bertempur lebih dahulu melawan orang yang menamakan diri Hantu Bertangan Api. Jika aku mati, biarlah aku mati di bendungan. Jika aku hidup. biarlah kau membunuhku. Tetapi aku akan lebih berbangga hati jika aku mati di bawah bendungan, jika Kali Kuning mengalirkan air yang kemerah-merahan karena darahku dan darah anak anak muda Sambi Sari”

“Gila, itu gila sekali” suara Pikatan menjadi gemetar. “kalian akan menjadi babadan pancing. Kalian akan berserakan menjadi mayat jika kalian mencoba melawan Hantu Bertangan Api”

“Apa salahnya“ jawab Kesambi “jika memang harus demikian, kami tidak keberatan karena kami sudah bertekad untuk membuat bendungan dengan segala akibatnya. Seperti yang dikatakan oleh Nyai Sudati, kami sudah memulainya dan kami akan mengakhirinya betapapun banyak korbannya.

“Kalian memang bodoh“ geram Pikatan.

“Tetapi kami sudah berbuat sesuatu”

“Diam“ teriak Pikatan. Wajahnya yang merah menjadi semakin merah ”jika kalian masih membuka mulut, akulah yang akan membunuh kalian, bukan Hantu Bertangan Api“

“Apakah bedanya?” Kesambi ternyata sudah tidak dapat mengendalikan perasaannya pula “bagiku mati adalah sama saja, siapapun yang membunuhnya. Kau atau Hantu Bertangan Api. Tetapi jika aku boleh memilih, aku akan mati di tepian. Meskipun demikian, jika kau membunuhku sekarang, aku tidak akan lari”

“Gila“ darah Pikatan telah benar-benar mendidih. Karena itu maka iapun bergeser maju. Namun bersamaan dengan itu, Kesambipun segera meloncat berdiri. Ia sadar, bahwa ia sama sekali tidak akan berarti apa-apa bagi Pikatan. Tetapi iapun sadar, bahwa ia sedang berbuat sesuatu bagi kampung halamannya.

Tetapi sebelum Pikatah sempat berbuat sesuatu, Nyai Sudati pun telah meloncat berdiri dan berlari kearahnya. Sambil memeluk anaknya ia berkata dengan suara gemetar “Jangan Pikatan, Jangan. Ia tidak bersalah. Kaupun tidak bersalah. Biarlah kalian memilih jalan kalian masing-masing. Jangan saling bermusuhan, tidak akan ada gunanya. Kesambi datang kerumah ini bukan atas namanya sendiri. Ia mewakili kawan-kawannya, semua anak muda di Sambi Sari. Sedang kaupun telah melakukan sesuatu yang kau yakini. Lakukanlah. Tetapi tidak dengan membunuh Kesambi. Jika kau mau diam. Diamlah. Jika kau keberatan memenuhi permintaan Kesambi, berkeberatanlah Tetapi jangan berbuat apa-apa terhadap anak-anak itu”

Terasa degup didada Pikatan menjadi semakin cepat. Tetapi ibunya mendorongnya perlahan-lahan. Betapa garangnya Pikatan, dan betapa tinggi hatinya, tetapi ia tidak dapat melawan dorongan ibunya yang lemah. Selangkah demi selangkah Pikatan mundur dan kemudian didorong perlahan-lahah oleh ibunya masuk kedalam.

“Beristirahatlah Pikatan“ berkata. ibunya dengan suara yang seolah-olah tersangkut di kerongkongannya yang Panas.

Pikatan tidak menyahut. Tetapi perlahan-lahan ia melangkah ke biliknya.

Nyai Sudatipun kemudian menutup pintu depan. Ketika ia berpaling dilihatnya anak-anak muda itu berdiri dengan tegangnya memandanginya.

“Maafkanlah ia” berkata Nyai Sudati dengan nada seorang ibu. Perlahan-lahan ia mendekati anak-anak muda Sambi Sari itu sambil berkata “dan maafkanlah aku. Agaknya kami sudah mempunyai sikap agak berbeda dengan sikap kalian”

Kesambi memandang Nyai Sudati sejenak. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Apaboleh buat. Kami memang harus menyelesaikan kerja kami tanpa mengharap bantuan-siapapun juga. Dan kami akan melakukannya. Kami tidak akan menyesal seandainya mayat kami akan berserakan di tepian dan bendungan itu akhirnya akan rusak juga. Tetapi kami sudah berbuat sesuatu. Itulah yang penting. Dan kami akan mempertahankannya, karena kami berjuang atas keyakinan kami. Dan kami akan menjadi korban-korban dari keyakinan kami itu”

Nyai Sudati memandang anak-anak itu dengan tatapan-mata yang sayu. Namun iapun kemudian berkata “Apaboleh buat. Kami memang terikat oleh keyakinan kami pula”

Kesambi mangangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata “Baiklah Nyai. Aku kira tidak ada gunanya lagi semua pembicaraan. Biarlah aku kembali kepada kawan-kawanku. Biarlah aku mulai mengatur pertahanan yang dapat kami lakukan atas bendungan itu. Karena besok malam adalah saatnya purnama naik”

Nyai Sudati menganggukkan kepalanya. Tetapi terasa matanya menjadi semakin panas. Anak-anak itu masih terlampau muda. Semuda Pikatan, bahkan agak lebih muda sedikit. Dan anak-anak semuda itu harus sudah pasrah diri pada sentuhan maut.

Nyai Sudati menarik nafas dalam-dalam. Namun betapa ia beriba hati, namun ia lebih mementingkan anaknya sendiri. Pikatah tidak boleh mati, meskipun ia tidak ingin orang lain mati karenanya. Tetapi jika itu terjadi, apaboleh buat.

Demikianlah maka Kesambipun dengan tergesa-gesa dan wajah yang murung meninggalkan rumah Pikatan. Hampir tidak sabar lagi ia ingin segera mengatakannya kepada kawan-kawannya yang menunggunya di pojok padukuhan.

“Apa katanya?” bertanya salah seorang dari kawan-kawannya itu ketika Kesambi mendekati mereka.

Kesambipun kemudian menceriterakan apa yang sudah terjadi. Apa yang dikatakan dan bagaimana sikap Pikatan terhadap mereka.

“Sombong sekali“ seorang anak muda menggeram “jika kita sudah selesai dengan bendungan itu, kita akan membuat perhitungan. Tentu ia tidak akan mampu melawan kita se Kademangan. Tentu Ki Jagabaya dan Ki Demang akan mendengarkan laporan kita tentang Pikatan yang agaknya memang sudah benar-benar menjadi gila itu”

Kesambi tidak menjawab, meskipun didalam hatinya sendiri ia berkata “Jika kita masih tetap hidup. Dan seandainya demikian, maka datang giliran Pikatanlah yang membunuh kita semuanya sesudah Hantu Bertangan Api”

“Baiklah kita pergi ke rumah Ki Demang saja sekarang” tiba-tiba salah seorang berkata dengan lantangnya.

“Ya. Bukankah kita memang ingin pergi ke rumah Ki Demang dan Ki Jagabaya “sahut Kesambi.

Demikianlah maka merekapun segera bersiap untuk pergi ke rumah Ki Demang dan Ki Jagabaya. Namun dalam pada itu, mereka masih menunggu kehadiran Wiyatsih yang tidak berkumpul bersama anak-anak muda itu di sudut padukuhan.

“Ia berada di gardu. Panggil saja” berkata salah seorang anak muda.

Kesambi ragu-ragu sejenak.

“Ya. ia berada digardu bersama dua orang kawannya yang ingin pergi ke bendungan, tetapi berpapasan di jalan”

“Panggiliah“ desis Kesambi kepada anak muda itu.

Anak muda itu bersungut-sungut. Tetapi iapun berdiri dan pergi ke gardu memanggil Wiyatsih.
Sejenak kemudian, anak-anak muda itupun bersama-sama pergi kerumah Ki Demang di Sambi Sari, sehingga kedatangannya telah membuat Ki Demang terkejut karenanya. Juga para bebahu yang kebetulah berada di Kademangan, termasuk Ki Jagabaya.

“Kenapa?” bertanya Ki Demang tidak sabar.

“Kesambi akan mengatakannya“ jawab Wiyatsih.

Sejenak kemudian, maka Kesambipun mulai menceriterakan kesulitan yang di hadapinya. Bendungan, Hantu Bertangan Api dan Pikatan.

Ki Demang, Ki Jagabaya dan para bebahu yang lainpun mendengarkannya dengan seksama. Kening merekapun mulai berkerut merut, sehingga ketika Kesambi mengakhiri ceriteranya, Ki Demangpun bertanya “Jadi Pikatan berkeberatan untuk bertanggung jawab atas persoalannya dengan orang yang menyebut Hantu Bertangan Api itu?”

Kesambi ragu-ragu sejenak. SekiIas ia berpaling kepada Wiyatsih Namun ternyata Wiyatsih sedang menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Begitu?” bertanya Ki Demang kemudian.

Kesambi mengangguk sambil menjawab “Ya Ki Demang”

“Kita harus memaksanya. Itu adalah persoalannya, bukan persoalan kalian. Karena itu kalian tidak boleh mengorbankan bendungan itu karena Pikatan sekarang menjadi pengecut”

Terasa sesuatu menusuk sudut hati Wiyatsih. Tetapi ia harus menahan perasaannya yang tersentuh itu. Adalah kebetulan sekali bahwa Pikatan itu adalah kakaknya, kakak kandungnya.

“Bagaimana pendapatmu Kesambi?” bertanya Ki Demang.

“Ki Demang“ berkata Kesambi “aku sudah menemuinya. ternyata kita tidak akan dapat memaksanya“ Kesambi berhenti sejenak, lalu “Sedangkan jika kita memaksanya dan terpaksa kita terlibat dalam suatu perselisihan, maka kita sudah sama saja artinya langsung berkelahi dengan Hantu Bertangan Api itu. Jika kita lebih dahulu berselisih dengan Pikatan, maka pada saat purnama naik, jumlah kita tidak akan lebih dari separuh dari jumlah kita yang sekarang. Sedangkan bendungan itu masih akan rusak juga, karena Pikatan tidak akan datang juga ke bendungan“

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Kesambi masih dapat memperhitungkannya dengan kepala dingin. Itulah sebabnya maka Ki Demang itupun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata “Kau benar Kesambi. Jadi, apakah maksudmu kemudian?”

“Ki Demang“ berkata Kesambi kemudian “kami sudah menentukan tekad untuk mempertahankan bendungan itu, berapa saja kami harus berkorban”

“Bagus, kalian adalah anak-anak Sambi Sari yang sudah berubah. Kalian agaknya benar-benar sudah bangun dari tidur nyenyak. BaiK, kami yang tua-tua ini akan membantu kalian. Semua bebahu akan datang ke bendungan pada waktu yang ditentukan. Kami akan berkelahi dipihak kalian, karena bendungan adalah kepentingan kita bersama. Kepentingan Sambi Sari”

Kesambi mengerutkan keningnya. Kesanggupan itu sangat membesarkan hatinya sehingga ia berkata “Terima kasih Ki Demang. Bersama Ki Demang dan para bebahu kami mengharap untuk dapat mempertahankan bendungan kami itu”

“Besok sebelum kalian berangkat kebendungan, singgahlah disini. Atau biarlah kalian berkumpul disini. Kita akan berangkat bersama-sama”

“Terima kasih Ki Demang, kami akan segera mengumumkannya agar mereka yang tidak ada sekarang dapat mengerti, apa yang akan terjadi besok”

“Baik. Katakanlah kepada setiap anak muda di Sambi Sari. Besok para bebahu akan ikut serta dengan mereka, dan tentu saja bersama semua laki-laki yang berani”

“Baik Ki Demang. Tetapi sebelumnya aku akan memberitahukan bahwa agaknya Hantu Bertangan Api itu benar-benar seorang yang sakti pilih tanding”

“Betapa saktinya seseorang, asal ia masih tetap seorang manusia, maka kekuatan dan kemampuannya pasti terbatas. Jika ia melihat kita semua yang akan datang ke bendungan itu, maka ia pasti akan menjadi ngeri”

“Ia adalah seorang perampok ulung“ ulang Kesambi.

“Apaboleh buat. Siapa yang akan merusak bendungan itu, ia adalah musuh Sambi Sari”

Kesambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya rakyat Sambi Sari memang sudah bertekad untuk mempertahankan bendungan yang telah dibuat oleh anak-anak muda itu.
Namun demikian, satu dua orang dari para bebahu itu mengumpat tidak habis-habisnya. Justeru mereka terlibat didalam usaha mengupah seseorang atau lebih untuk merusak bendungan, tetapi ternyata gagal.

“O” mereka berdesah didalam hati “anak-anak ini memang gila. Tentu lebih senang menyerahkan sekedar uang untuk upah orang lain daripada harus turun ke tepian, apalagi dengan kemungkinan mati”

Tetapi jika Ki Demang sudah mengatakannya, merekapun tidak berani membantah. Ki Demang akan marah sekali kepada mereka dan menuduh mereka telah berkhianat. Apalagi dalam keadaan yang gawat itu.

Karena itu, yang dapat mereka lakukan hanya menangis di dalam hati, Mereka tidak mempunyai pilihan lain daripada pergi ke bendungan dengan kemungkinan yang paling pahit.

Setelah mendapat kesanggupan yang membesarkan hati itu, maka anak-anak muda Sambi Sari itupun minta diri. Diluar halaman rumah Kademangan merekapun segera memencar untuk menyampaikan kabar tentang kesediaan Ki Demang untuk membantu anak -anak muda Sambi Sari itu. Sehingga dengan demikian semakin banyak anak-anak muda yang tergugah hatinya dan bersedia ikut pergi ke bendungan besok malam pada saat purnama naik.

Malam berikutnya adalah malam yang menegaskan. Malam itu adalah malam terakhir sebelum purnama naik. Besok malam anak-anak muda Sambi Sari yang sebelumnya tidak pernah mempunyai gairah apapun atas tanah kelahiran mereka. malam itu mulai berjaga-jaga. Beberapa gerombol anak-anak muda berserakan di luar padukuhan. Gardu yang hampir roboh itu mulai terisi lagi. Gardu yang hampir tidak pernah disentuh oleh kegiatan pengamanan di malam hari.

Hampir dapat dikatakan bahwa sejak Pikatan pergi, Sambi Sari seakan-akan telah kehilangan tulang belulangnya. Tidak ada gairah sama sekali. Malas dan dipengaruhi oleh kekeringan dan kerja yang merampas segenap tenaga untuk mendapat sesuap makanan.

Dimalam itu Wiyatsih masih sempat melayani kedua penjaga regolnya berlatih dihalaman samping. Kesempatan itu adalah kesempatan terakhir bagi mereka untuk menggali semua, kemampuan pada diri masing-masing sehingga jika diperlukan besok, mereka dapat bertempur sepenuh kemampuan seperti dimasa petualangan mereka dahulu. Namun satu hal yang tidak dapat mereka dapatkan kembali, ialah kemudaan mereka. Sehingga umur mereka yang semakin tuapun berpengaruh juga, karena umur mereka yang merayap naik itu tidak diimbangi dengan peningkatan kemampuan.

Namun setelah mereka berlatih di malam terakhir, rasa-rasanya mereka telah menjadi petualangan-petualangan yang disegani kembali. Dengan senjata-senjata mereka yang khusus membuat kedua penjaga regol itu menjadi semakin garang.

Menjelang tengah malam, Wiyatsihpun masih juga menemui Puranti. Diceriterakannya perkembangan persoalan bendungan itu dan kesanggupan Ki Demang dan para bebahu Sambi Sari untuk ikut serta mempertahankan bendungan itu karena mereka menyadari betapa tinggi nilai bendungan itu bagi kehidupan mendatang di Sambi Sari.

Puranti menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya ayahnya sejenak, lalu katanya “Kita tidak terlepas dari niat mereka mempertahankan bendungan itu. Aku tidak dapat membayangkan, apakah yang akan terjadi, jika para bebahu Kademangan Sambi Sari dan anak-anak mudanya menjadi bagaikan mabuk tuak dan tidak dapat menyesuaikan diri dangan rencana kita”

Kiai Pucang Tunggal mengerutkan keningnya. Namun katanya kemudian ”Kita akan mencoba. Kita akan menyatukan kepentingan orang banyak. Namun jika tidak ada jalan lain, maka kepentingan orang banyak itulah yang harus mendapat kesempatan lebih besar”

Puranti menundukkan kepalanya. Namun kadang-kadang masih juga terasa hatinya bergejolak jika ia mengenangkan apa yang bakal terjadi besok malam di bendungan itu.

Malam itu merupakan malam terakhir juga bagi Wiyatsih untuk mempersiapkan dirinya jika keadaan memaksanya untuk bertempur melawan Hantu Bertangan Api. Nanti iapun harus berusaha menyesuaikan diri dengan setiap perkembangan keadaan.

Demikianlah, maka pada malam itu, setelah mereka selesai berlatih, Kiai Pucang Tunggal memberikan pesan-pesan terakhir. Mereka besok tidak akan dapat membicarakan lagi. Mereka besok tinggal melaksanakan semua rencana dengan segala kemungkinan-kemungkinannya.

Menjelang fajar, Wiyatsihpun dengan tergesa-gesa pulang ke rumahnya. Namun ia harus berhati-hati, ketika ia melihat lentera di gardu yang hampir tidak pernah lagi dipergunakan itu.

“Anak-anak muda itu pasti berjaga-jaga disana“ berkata Wiyatsih di dalam hatinya.
Karena itulah maka iapun kemudian menghindar mencari jalan lain yang tidak dapat diketahui oleh anak-anak muda yang berada di jalan-jalan di pinggir padukuhan.

“Tentu bukan anak-anak muda dari satu padukuhan“ desis Wiyatsih. Dan ternyata dugaannya itu benar. Anak-anak muda dari padukuhan lain, bahkan dari induk Kademangan Sambi Sari berada di lempat itu. Dengan berdebar-debar mereka berjaga-jaga menjelang malam yang memang mendebarkan jantung.

Namun yang tidak diketahui oleh Wiyatsih, apa yang terjadi di tempat itu, pada saat ia sendiri berada di tepian bersama Puranti dan Kiai Pucang Tunggal.

Tanpa diduga-duga, ketika anak-anak muda itu berbaring-baring diatas rerumputan kering, tiba-tiba saja tiga orang telah berdiri diantara mereka, bagaikan hantu saja muncul dari kegelapan.

“Bukan main“ desis salah seorang dari ketiga orang itu.

Kesambi yang ada juga diantara anak-anak muda itupun segera mendekatinya. Ternyata orang itu adalah orang yang pernah dilihatnya di bendungan, sehingga wajahnya tiba tiba menjadi tegang.

“Jangan takut“ berkata orang itu “aku tidak akan berbuat apa-apa hari ini. Hantu Bertangan Api tidak akan merubah keputusannya jika tidak ada alasan yang memaksa. Dan kali inipun aku tidak akan merubah keputusanku”

“Apa maksudmu datang kemari?” berkata Kesambi dengan wajah yang tegang, sedang beberapa orang kawannyapun segera mengerumuninya.

“Tidak apa-apa. Aku mendengar bahwa kalian duduk-duduk dipinggir padukuhan ini di bawah cahaya bulan meskipun masih belum sampai pada puncak terangnya, karena baru besok saatnya purnama akan naik. Tetapi cahaya bulan yang sekarangpun nampak-nya sangat memberikan kesegaran bagi anak-anak muda”

“Aku bertanya maksud kedatanganmu “ desak Kesambi.

Hantu Bertangan Api itu tertawa lirih. Kemudian iapun menyahut “Sebenarnya aku senang sekali dapat berbuat seperti kalian. Menikmati masa muda dengan hati yang lapang. Aku sendiri tidak akan pernah mengalaminya karena aku selalu dicengkam oleh ketegangan dan kecemasan. Didalam kehidupanku aku tidak akan mengenal ketenangan dan kedamaian hati. Meskipun aku tidak kekurangan apapun juga, tetapi ternyata semuanya itu hanyalah sekedar untuk kepentingan lahiriah saja.

Kesambi tidak segera mengerti maksudnya. Karena itu ia tidak segera menyahut, dan dibiarkannya saja Hantu Bertangan Api itu berbicara terus “Karena itulah aku menjadi iri melihat kehidupan kalian dimasa muda”

“Lalu apa maksudmu? Aku bertanya apa maksudmu?” desak Kesambi sekali lagi tanpa mengerti maksud kata-kata Hantu Bertangan Api itu.

“Aku ingin memperingatkan kalian, bahwa kalian tidak usah turut campur persoalan kami dengan Pikatan”

Kesambi mengerutkan keningnya.

“Karena itu, lebih baik kalian besok malam menikmati terangnya bulan purnama di pojok desa seperti ini sambil merebus ketela pohon atau ubi rambat. Alangkah nikmatnya”

“Dan kau dengan leluasa merusak bendungan kami?”

“Sekedar sebagai peringatan. Kalian tidak berhasil memaksa Pikatan untuk datang”

“Jika kau bermaksud agar kami tidak ikut campur didalam persoalan kalian, kenapa kalian menghubungkan kami dengan Pikatan dan bendungan itu akan kalian rusak pula?”

“Itu memang sudah aku kehendaki. Kalian jangan mempersoalkannya lagi”

“Jadi bagaimana maksudmu? Apakah kalian menyangka bahwa kami adalah budak-budak kalian yang harus tunduk pada perintah kalian, segerombolan orang-orang yang tidak dikenal di padukuhan ini dan sekitarnya“

Hantu Bertangan Api tertawa. Katanya “Kalian masih saja tidak mengerti, apa yang sebenarnya kalian hadapi. Baiklah aku berkata berterus terang. Besok sebaiknya kalian tidak usah pergi ke bendungan, jika kalian mencoba mencegah aku merusak bendungan itu dengan kekerasan, maka akibatnya akan kalian sesalkan, bahkan yang masih hidup diantara kalian akan menyesal di sepanjang sisa umurnya“

Bersambung

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s