Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

35

Tinggalkan komentar


banyak. Bersama dengan Ki Demang, Ki Jagabaya dan para bebahu, mereka merupakan sepasukan pengawal Kademangan yang kuat.

“Kita segera berangkat“ berkata Ki Demang “aku sendiri yang akan memimpin kalian. Betapapun saktinya Hantu Bertangan Api, namun Sambi Sari tidak akan membiarkan dirinya dihinakannya”

Namun sebelum mereka berangkat, Ki Demang masih sempat menghidangkan minuman dan makanan sekedarnya sambil berkata “Makanlah. Mudah-mudahan makanan itu dapat menjadi sumber kekuatan. Siapa tahu, kita akan berada di bendungan semalam suntuk”

Dan seorang anak muda yang kurus menyahut perlahan-lahan sekali “Atau makanan ini akan menjadi makanan kita yang terakhir”

“Hush“ desah kawan yang berada disampingnya “Hatimu lembut sekali. Tetapi bukan waktunya sekarang ini”

Anak muda yang kurus itu tersenyum “Apa begitu?“

Kawannya tidak menyahut. Tetapi ia sibuk menyuapi mulutnya dengan makanan yang dihidangkan itu “Biarlah aku menjadi kenyang dahulu“ katanya.

Dalam pada itu, Kesambi yang kemudian datang juga di halaman Kademangan menjadi cemas. Jika Wiyatsih tetap pada niatnya untuk pergi ke bendungan, maka ia akan menjadi beban yang bukan saja menambah kesulitan, Tetapi juga merupakan beban yang sangat berat bagi hatinya. Bagaimanapun juga, Kesambi tidak akan dapat ingkar lagi, bahwa sebenarnyalah hatinya telah terikat oleh gadis. itu. Dengan demikian, maka alangkah sakitnya jika ia harus melihat wadag atau rohnya Wiyatsih dibawa oleh Hantu Bertangan Api itu”

Tetapi ketika hari menjadi berangsur gelap dan Wiyatsih tidak juga datang ke halaman Kademangan, maka hati Kesambi menjadi agak tenteram.

“Kita harus segera berangkat“ berkata Ki Demang “sebentar lagi akan datang saatnya purnama itu terbit. Kita harus sudah berada di tepian”

Dalam pada itu, selagi anak-anak muda yang berada di halaman Kademangan Sambi Sari bersiap untuk berangkat, dan langsung dipimpin oleh Ki Demang sendiri bersama beberapa orang bebahu maka Purantipun telah mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya.

“Sebaiknya rencana kita itu dapat berlangsung sebaik-baiknya puranti “berkata Kiai Pucang Tunggal.

Puranti menganggukkan kepalanya. Meskipun tampak diwajahnya bahwa ia tidak begitu senang dengan rencana itu, namun ia sudah menyatakan, bahwa ia akan melakukannya sebaik-baiknya”

“Sediakan semuanya yang perlu. Hati-hatilah dengan Hantu bertangah Api itu. Ia dapat mempergunakan senjata rangkap sebaik-baiknya. Karena itu, tangan kirimupun juga perlu harus dapat melindungi dirimu dari senjata rangkap Hantu itu”

“Aku membawa pisau belati panjangku ayah”

“Baiklah. Aku percaya kepadamu Puranti. Kau sudah hampir mencapai kesempurnaan. Meskipun demikian kau tidak dapat mengabaikan lawan-lawanmu. Kau harus menganggap bahwa setiap lawan itu cukup berat. Demikian juga dengan Hantu Bertangan Api itu”

Puranti mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun katanya kemudian “Mudah-mudahan Wiyatsih tidak mengalami kesulitan. Anak-anak muda Sambi Sari juga telah mempersiapkan diri. Menurut Wiyatsih mereka akan pergi ke bendungan bersama Ki Demang dan para bebahu”

Kiai Pucang Tumggal mengangguk-angguk. Memang akan dapat terjadi banyak sekali kemungkinan di bendungan itu, sehingga dengan demikian, mau tidak mau hatinyapun menjadi cemas pula.

“Marilah kita pergi. Kita harus melihat semuanya dari permulaan supaya kita tidak menyesal, seandainya terjadi sesuatu“

Sementara itu, Wiyatsih dengan gelisah menunggu kesempatan untuk dapat bertemu sekali lagi dengan kakaknya. Di depan rumahnya, kedua penjaga regolnya sudah siap menunggunya. Mereka akan bersama-sama berangkat langsung ke bendungan.

“Kakang“ Wiyatsih mencoba mengetuk pintu bilik kakaknya “aku ingin berbicara sedikit kakang”

Beberapa lamanya Wiyatsih tidak mendengar jawaban.

“Kakang“ panggil Wiyatsih.

Masih belum mendengar jawaban.

“Kakang“ Wiyatsih mengetuk semakin keras.

“Jangan panggil aku..!!“ tiba-tiba terdengar kakaknya membentak, lalu “kau masih akan membujuk aku untuk pergi ke bendungan? Aku tahu, hari ini saatnya purnama naik. Tetapi aku tidak akan pergi. Kau dengar?!“

“Tidak. Aku tidak akan minta kau pergi kakang”

“Lalu apa keperluanmu?“

“Bukalah. Sebentar saja”

“Tidak. Aku tidak berkepentingan apapun saat ini”

“Kakang, aku masih ingin bertemu dengan kau meskipun hanya sebentar untuk yang terakhir kalinya”

Wiyatsih menjadi bingung sejenak. Namun kemudian katanya “Sesuatu menghentak di dada Pikatan, meskipun ia tidak segera mengetahui maksudnya. Namun nada keluhan adiknya itu membuat hatinya tersentuh. Meskipun demikian Pikatan sama sekali tidak menyahut.

“Kakang“ berkata Wiyatsih “baiklah jika kau tidak ingin membuka pintumu. Aku minita diri. Mungkin aku tidak akan kembali lagi ke rumah ini kakang. Tolong sampaikan pula kepada ibu, karena aku tidak sampai hati mohon diri kepadanya”

Gelora di dada Pikatan menjadi semakin bergejolak. Apalagi yang akan dilakukan oleh Wiyatsih itu. Namum Pikatan tidak perlu bertanya karena Wiyatsihpun kemudian berkata “Aku akan pergi ke bendungan kakang. Aku akan mencoba membatalkan usaha Hantu Bertangan Api”

“Gila“ tiba-tiba Pikatan berteriak.

“Sudahlah kakang. Mudah-mudahan aku berhasil. Jika tidak, aku minta diri dan minta maaf barangkali selama ini aku sering menyakiti hatimu”

“Jangan gila Wiyatsih“ tiba-tiba pintu bilik itu terbuka. Wajah. Pikatan menjadi tegang. Dipandanginya wajah gadis itu seperti hendak ditelannya begitu saja”

“Tidak ada jalan lain kakang”

“Tidak. Kau tidak boleh pergi ke bendungan”

“Itu adalah satu-satunya jalan yang dapat aku tempuh, Aku pergi bersama beberapa orang anak-anak Sambi Sari”

“Gila, kalian sudah gila. Apakah kalian belum pernah mendengar ceritera tentang Hantu Bertangan Api. Mungkin dari gadis liar dari Pucang Tunggal itu?“

“Maksudmu Puranti”

“Ya. Gadis gila itu”

“Aku memang pernah mendengarnya”

“Kenapa bukan gadis yang gila itu saja yang mencoba bertahan di bendungan jika ia mampu”

“Aku tidak berani memaksanya. Menurut Puranti yang pernah melihat Hantu Bertangan Api itu berlatih dari kejauhan, mengatakan bahwa Hantu Bertangan Api itu ternyata bukan Hantu yang dahulu. Ia kini mendapat kemajuan yang pesat sekali”

“Apakah Puranti takut?“

“Aku tidak tahu.”

“Tetapi kau tidak boleh pergi. Jangan sombong Wiyatsih”

“Bukan karena aku menyombongkan diri kakang. Tetapi tidak ada jalan lain Akulah yang memaksa anak-anak muda Sambi Sari membuat bendungan itu untuk melanjutkan cita-citamu, kau setujui atau tidak. Sekarang, aku harus bertanggung jawab pula atas akibat dari hadirnya bendungan yang masih belum siap itu”

“Jangan sebut-sebut namaku. Aku tidak tahu menahu tentang bendungan itu, karena apa yang kalian kerjakan adalah pikiran gila semata-mata”

“Baiklah. kakang. Aku tidak akan menyebut nama kakang lagi. Tetapi aku minta diri. Mumpung ibu masih berada di dapur, karena aku tidak akan sampai hati mengatakan kepadanya, apa yang akan aku lakukan, karena tentu ibu akan sangat bersedih”

“Tidak. Kau tidak boleh pergi”

“Tidak ada jalan lain kakang”

“Tidak, kau dengar”

“Aku terpaksa pergi”

“Gila. Kau benar-benar berani melawan aku sekarang. Aku berkata bahwa kau tidak boleh pergi”

“Aku tidak dapat tinggal di rumah. Aku harus pergi”

“Pergi hanya untuk membunuh diri”

“Jika terpaksa terjadi demikian, apabolah buat”

“O, kau memang keras kepala. Daripada kau mati dibunuh Hantu, Bertangan Api, biarlah aku saja yang membunuhmu”

Sejenak Wiyatsih menjadi tegang. Namun kemudian katanya “Jika memang itu yang sebaiknya kau lakukan, apaboleh buat, tetapi aku akan tetap pergi ke bendungan. Disana masih ada beberapa anak muda yang merelakan dirinya untuk mempertahankan bendungan itu apapun akibatnya”

“Gila, gila. Kau sudah gila”

Yang terdengar kemudian adalah derak pintu bilik Pikatan itu tertutup keras-keras.
Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam. Ia bertahan. untuk tidak menangis, Kebiasaan yang sulit sekali ditinggalkannya, karena sejak kecil ia sudah belajar menangis.

“Sudahlah kakang. Aku akan pergi”

Pikatan tidak menjawab.

“Kakang. Kau memaafkan aku bukan? Jika aku tidak dapat bertemu lagi, semua kesalahanku jangan membebani perjalananku.

Masih tidak terdengar jawaban.

“Kakang, kakang“ Wiyatsih mengetuk pintu itu semakin keras. Namun sama sekali tidak terdengar suara apapun juga.

Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam. Kemudian iapun berkata perlahan-lahn “Jangan hiraukan apa yang akan terjadi atasku”

Sejenak kemudian, terdengar langkah Wiyatsih menjauhi pintu bilik Pikatan.

Namun dalam pada itu, perlahan-lahan pintu itu terbuka setebal jari. Dari sela-sela pintu itu Pikatan mengintip langkah adiknya yang kemudian hilang dibalik pintu pringgitan.

“Gila, gila“ Pikatan menggeram.

Dengan langkah yang gontai ia pergi ke pembaringannya. Dibantingnya dirinya di pinggir pembaringan itu. Dengan kepala tertunduk dalam-dalam ia duduk merenungi keadaannya. Sekali-kali tangan kirinya mengusap keringat di keningnya.

“O, anak itu benar-benar telah kehilangan akal. Ia ingin membunuh dirinya di tepian” namun kemudian ia meloncat berdiri sambjl berkata “aku tdak peduli. Aku tidak peduli. Biarlah ia mati dicincang oleh Hantu Bertangan Api, atau diseret kedalam sarangnya sama sekali. Aku tidak bertanggung jawab atas sikapnya yang sombong itu”

Pikatan terkejut ketika sekali lagi, ia mendengar pintu biliknya diketuk. Sejenak ia termangu-mangu, namun kemudian ia tidak menghiraukannya lagi.

Namun ternyata yang didengarnya bukan lagi suara Wiyatsih,tetapi suara ibunya “Pikatan, apakah yang terjadi?“

“Tidak apa-apa ibu“ jawab Pikatan pendek.

“Aku mendengar kau marah lagi kepada adikmu. Dimana sekarang Wiyatsih”

“Ia ada diluar”

“Tidak ada”

“Aku tidak tahu”

Ibunya tidak bertanya lagi. Iapun kemudian pergi ke pringgitan dan kemudian ke pendapa. Tetapi ia tidak menemukan Wiyatsih. Untunglah bahwa ia tidak melihat ke regol. Ternyata bahwa kedua penjaga regolnyapun tidak ada di tempatnya. Keduanya mengikuti Wiyatsih pergi ke bendungan.

Senja menjadi semakin gelap dan langitpun mulai dibayangi oleh cerahnya bulan purnama. Karena itu, maka Wiyatsihpun mempercepat langkahnya sambil berkata kepada kedua penjaga regolnya

“Marilah. Pada saat purnama itu naik, semuanya dapat terjadi. Jika anak-anak muda itu sudah ada disana dan Hantu itu mulai bertindak, maka yang terjadi adalah bencana yang tidak terlupakan oleh penduduk Sambi Sari.

Kedua penjaga regolnyapun berjalan semakin cepat. Namun salah seorang dari keduanya bertanya “Wiyatsih, jika benar akan terjadi sesuatu, kenapa kau mengenakan pakaian itu meskipun kau membawa pedang dan pisau belati panjang?“

“O, aku sembunyikan pedangku”

“Aku tidak mengerti“ jawab penjaga regol itu.

“Aku datang sebagai seorang gadis biasa. Jika terpaksa aku harus bertempur, aku dapat melepaskan kain panjangku, karena aku mengenakan pakaianku yang lain”

Penjaga regol itu tidak menyahut. Namun mereka melihat Wiyatsih berjalan sambil menyingsingkan kain panjangnya tinggi-tinggi.

Demikianlah mereka menjadi semakin dekat dengan bendungan. Langit yang samar-samar mulai membayang cerahnya bulan. Di timur bayangan kemerah-merahan menjadi semakin terang diatas punggung hutan yang jauh.

Sementara itu Pikatan, duduk kembali di pembaringannya dengan kepala tunduk. Berbagai persoalan bergulat di dalam hatinya. Namun demikian, ia masih tetap tidak beranjak dari tempatnya.

Dalam keremangan cahaya langit yang mulai cerah, beberapa orang Sambi Sari berjalan dengan tergesa-gesa pula ke bendungan yang belum selesai itu. Di paling depan adalah Ki Demang dan Ki Jagabaya. Kemudian para bebahu dan yang di belakang mereka adalah anak-anak muda. Mereka membawa senjata apa saja yang mereka dapatkan. Ki Demang membawa sebuah tombak seperti juga Ki Jagabaya. Sedang yang lain ada yang membawa pedang, parang dan jenis-jenis senjata yang lain yang dapat mereka ketemukan.

Kesambi yang berjalan dipaling depan diantara anak-anak muda itupun membawa sebilah pedang panjang. Ia memang belum pernah mempergunakan pedang itu, karena ia belum pernah berkelahi sesungguhnya dengan senjata. Ketika ia masih kecil memang ia pernah berkelahi dengan kawan-kawan bermain. Bahkan kadang-kadang ada diantara mereka yang menangis, Bahkan sampai menjelang remaja, iapun masih sering berkelahi diantara kawan-kawanaya. Tetapi berkelahi dengan senjata, mimpipun ia belum pernah.

Dengan hati yang berdebar-debar orang-orang Sambi Sari itu mendekati bendungan. Ketika mereka menengadahkan wajah mereka ke langit, maka merekapun mulai melihat cahaya yang bulat merah mulai tumbuh di ujung Timur.

“Bulan sudah terbit “ desis seseorang.

“Ya itulah bulan purnama” sahut yang lain.

Bahkan Ki Demangpun berkata “Kita menginjak saatnya bulan purnama naik. Saat inilah yang dijanjikan oleh Hantu Bertangan Api itu. Dan agaknya Pikatan benar-benar tidak akan datang“

“Kita terlambat“ desis Ki Jagabaya.

“Tidak. Hantu itu tentu akan menunggu sejenak. Ia tidak akan berpegangan teguh pada saat purnama itu terbit. Tetapi yang dimaksudkan tentu malam ini. Malam ini adalah malam teraklir. Ia sudah tidak mau menunggu lebih lama lagi di sini”

“Pikatan ternyata sudah menjadi seorang pengecut“ desis salah seorang bebahu “jika ia masih tetap jantan, ia tidak akan memaksa kita turun ke tepian dan beberapa korban tentu akan jatuh”

“Apa bolehbuat. Kita memang harus bertanggung jawab terhadap seluruh isi Sambi Sari, meskipun kelak kita akan membuat perhitungan tersendiri dengan Pikatan” berkata Ki Demang.

“Jika kita masih tetap hidup“ potong seorang bebahu yang lain.

“Juga apaboleh buat. Jika saatnya mati tiba, meskipun kita bersembunyi di dalam kentongan sekalipun, kita akan mati juga” jawab Ki Demang.

Tidak ada seorangpun yang membantahnya. Meskipun demikian hati mereka menjadi semakin berdebar-debar ketika mereka mendekati tepian.

Ki Demanglah yang mula-mula berdiri di atas tanggul. Ternyata tepian masih terlalu sepi. Dibawah cahaya bulan yang kemudian mulai mengambang dilangit, mereka tidak melihat seorangpun. Beberapa anak muda yang kemudian juga berdiri ditanggul menarik nafas dalam-dalam. Bahkan salah seorang dari mereka berkata “Mudah-mudahan Hantu Bertangan Api itu hanya sekedar menakut-nakuti saja”

Yang lain tidak menjawab. Tetapi sebenarnyalah bahwa merekapun mengharap demikian.
“Marilah kita turun“ berkata Ki Demang “hati-hatilah, jangan sampai kita dijebak oleh Hantu yang licik itu. Kita harus tetap merupakan kekuatan yang utuh. Siapa yang takut menghadapi akibat yang paling buruk, tinggallah disini, atau kembali saja ke Kademangan”
Tidak seorangpun yang menjawab.

“Paling sedikit, separo dari kita semuanya akan mati ditepan. Nah, siapa yang masih belum ingin mati, jangan ikut aku”

Betapapun keragu-raguan mencengkam hati, namun anak-anak muda itu tidak berniat untuk melangkah surut, karena Ki Demang sendiri ternyata telah bertekad bulat untuk ikut serta mempertahankan bendungan itu.

Demikianlah maka iring-iringan itupun kemudian menuruni tebing dan kemudian bertebaran di tepian. Namur tepian itu ternyata masih sepi.

“Kitalah yang ternyata harus menunggu“ berkata Ki Demang “lihat purnama sudah naik. Kita sudah siap menghadapi segala kemungkinan”

Meskipun demikian, sebenarnyalah bahwa setiap dada menjadi berdebar-debar. Tanpa mereka sadari. maka merekapun mendebarkan pandangan mereka berkeliling. Yang tampak di dalam keremangan cahaya bulan. adalah gerumbul-gerumbul liar di tebing Kali Kuning seberang menyeberang. Batu-batu padas dan tanggul. Meskipun tampaknya orang-orang Sambi Sari itu berdiri tegap di tepian sambil menggenggam senjata, namun sebenarnyalah bahwa mereka mulai dibayangi oleh peristiwa-peristiwa yang mengerikan. Di dalam angan-angan mereka, seakan-akan dibalik setiap lembar daun itu bersembunyi Hantu Bertangan Api dengan orang-orangnya. Seakan-akan dibalik tanggul itu beberapa pasang mata sedang mengintipnya.

Tetapi untuk beberapa lamanya mereka menunggu, sama sekali tidak mereka lihat seorangpun yang datang.

“Mereka hanya sekedar menakut-nakuti” berkata Ki Jagabaya untuk memecahkan ketegangan di dalam dadanya”

“Ya“ sahut seorang anak muda yang dicengkam oleh kecemasan yang luar biasa. Untuk menenteramkan hatinya sendiri, maka iapun berteriak “tidak ada seekor kadalpun disini”

“Sst“ Kesambi berdesis “jangan berkata begitu. Kita menunggu. Malam ini baru saja mulai. Masih ada waktu yang panjang yang harus kita amati. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu Namun kita tidak boleh lengah”

Anak muda yang berteriak itupun mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menyahut lagi. Namun demikian justru orang lainlah yang berkata “Kita tidak akan menunggu semalam suntuk. Jika ternyata saatnya purnama naik tidak terjadi sesuatu, kita sudah bebas”

“Maksudmu”

“Janji itu sudah lampau. Purnama sudah naik. Kita tidak tidak terikat lagi”

“Kalau kau mau pergi, pergilah“ Ki Demanglah yang menjawab ”sudah sejak kita masih berada di tanggul, aku sudah menawarkan, siapakah yang akan melangkah surut. Kita akan menunggu disini semalam suntuk. Jika malam ini tidak terjadi sesuatu, maka barulah kita yakin, bahwa orang yang menyebut dirinya Hantu Bertangan Api itu memang hanya sekedar menakut-nakuti saja”

Namun ternyata bahwa sebutan Hantu Bertangan Api itu telah menggetarkan setiap jantung. Bahkan Ki Demang sendiri terkejut karenanya. Seakan-akan sebutan itu telah mendorong mereka mendekati Hantu itu sendiri.

Karena itu, orang-orang Sambi Sari itu menjadi tegang. Mereka berdiri di tempatnya seakan-akan membeku. Dengan wajah yang dibayangi oleh keragu-raguan dan bahkan kecemasan mereka memperhatikan setiap bentuk disekitar mereka. Setiap gerak telah membuat jantung mereka bedesir. Dan bahkan ketika selembar daun kering jatuh dari gerumbul di tebing sungai setiap hati telah berdesir tajam sekali.

Namun untuk beberapa saat lamanya mereka tidak melihat sesuatu. Meskipun demikian, orang Sambi Sari itu masih tetap mematung di tempat mereka masing-masing

Tetapi dalam pada itu, selagi ketegangan mencengkam setiap jantung, tiba-tiba sepinya malam di tepian Kali Kuning itu telah disayat oteh suara tertawa yang bagakan menghentikan denyut nadi. Suara tertawa itu tidak terlampau keras, Tetapi seolah-olah mengumandang disegala arah.

Ki Demang bergeser setapak. Dicobanya untuk mengetahui dari mana arah suara tertawa itu, namun ia sama sekali tidak berhasil.

Ternyata suara tertawa itu bagaikan merontokkan jantung Mereka yang tidak memiliki keteguhan hati, meresa bahwa nyawa mereka telah berada diujung ubun-ubun. Suara tertawa itu bagaikan suara hantu yang melihat kubaran baru sudah menganga.

Ki Demang yang tidak berhasil menentukan arah suara tertawa itu menjadi marah. Karena itu maka iapun segera berteriak “He, siapa kau yang tertawa? Kaukah yang menyebut dirimu Hantu bertangan Api?“

Suara tertawa itu masih terdengar berkepanjangan, melingkar-lingkar diantara tebing Kali Kuning.

”He, kau dengar aku?“ teriak Ki Demang.

Suara tertawa itu mereda. Kemudian terdengar suara mengumandang “Kau benar. Aku adalah Hantu Bertangan Api”

“Bagus“ sahut Ki Demang “mendekatlah. Bukankah kau sedang menunggu Pikatan?“

“Ya Aku sedang menunggu Pikatan Tetapi bukan kalian”

“Pikatan tidak mau datang malam ini”

“Kenapa kalian datang kemari?“

“Kami tidak dapat membiarkan bendungan yang kami kerjakan dengan susah payah ini akan kalian rusak. Kami datang untuk mempertahankan hak kami”

Suara tertawa itu terdengar lagi. Justru lebih keras dari suara tertawa yang mula-mula.
Ki Demangpun menjadi semakin marah pula karenanya. Dan iapun berteriak lebih keras lagi untuk mengatasi suara tertawa itu “Diam. Diam. Kami adalah rakyat Sambi Sari yang mempunyai harga diri. Sudah sekian lamanya kami dipanggang diatas tanah kering ini. Dan kini kami mulai menyadari, bahwa dengan bendungan ini Sambi Sari akan menjadi basah dan subur. Karena itu, maka kami akan mempertahankan. bendungan ini. Kami tidak akan membiarkan kalian merusaknya. Betapapun saktinya Hantu Bertangan Api itu, ia tidak akan dapat melawan kami sebanyak ini”

“Aku tidak sendiri“ berkata Hantu Bertangan Api “meskipun seandainya aku sendiri. aku akan dapat membunuh kalian semuanya. Sudah tentu tidak sekaligus. Aku tahu caranya bagaimana melawan orang sebanyak itu, apalagi orang-orang dungu seperti kalian”

Jawaban itu benar-benar menggetarkan setiap jantung. Namun Ki Demang masih menjawab “Omong kosong. Kau hanya ingin menakut-nakuti kami. Tetapi kami tidak takut. Aku tidak takut, Ki Jagabaya tidak takut dan anak-anak muda Sambi Sari yang dipimpin oleh Kesambi juga tidak takut”

Tetapi Hantu Bertangan Api masih saja tertawa. Katanya “Kalian memang orang-orang berani. Tetapi keberanian saja tidak cukup untuk mempertahankan bendungan itu. Selain keberanian, juga kemampuan mempertahakan diri sendiri, karena jika perlu dituntut adanya kekerasan”

“Kami sudah siap. Diantara kami terdapat juga bekas-bekas perampok yang ingin memperbaiki namanya di lingkungan masyarakat Sambi Sari. Merekapun mampu berkelahi seperti kalian,

Suara tertawa Hantu Bertangan Api bagaikan meledak semakin keras. Katanya “Aku sudah membunuh beberapa orang perampok yang akan mendahului merusak bendungan ini”

“Aku tidak percaya”

“Kalian tentu menemukan mayatnya”

“Tidak seorangpun melihat mayat di tepian ini”

Hantu Bertangan Api terdiam sejenak. Namun katanya ”Tentu ada yang menyembunyikan, agar anak-anak muda yang sedang menyelesaikan bendungan itu tidak menjadi ketakutan”

“Omong kosong“ Ki Demang berteriak semakin keras, lalu “sekarang kemarilah. Jangan hanya berteriak sambil bersembunyi”

Yang terdengar hanya suara tertawa saja. Katanya “Jika aku benar-benar datang, kalian akan mati ketakutan sebelum aku berbuat apa-apa”

“Kau terlampau sombong” sahut Ki Demang.

“Baiklah. Kami akan datang bersama-sama. Kamipun datang dalam jumlah yang cukup, karena kami tahu, kalian akan menjadi gila dan mencoba mempertahankan bendungan ini. Apakah artinya bendungan ini bagi kalian, jika kalian sudah terbunuh di tepian ini”

Ki Demang tidak segera menyahut. Dadanya memang tergetar mendengar ancaman itu. Apalagi orang-orang lain. Pertanyaan seperti yang dilontarkan oleh Hantu Bertangan Api itu memang ada di setiap jantung. Apakah gunanya mereka mempertahankan bendungan itu jika mereka akan mati di tepian dan bendungan itu akhirnya akan dirusaknya juga.

“Pikirkan baik-baik“ berkata Hantu Bertangan Api “jangan melakukan pekerjaan, sia-sia. Apalagi mengorbankan nyawa tanpa arti, karena bendungan yang akan kalian pertahankan itu akhirnya pasti akan hancur pula. Dan Pikatan yang kalian lindungi itu akan mati pula”

“Kami tidak melindungi Pikatan“ tiba-tiba terdengar suara seseorang bebahu yang sudah mulai gemetar“ kami sama sekali tidak berkepentingan dengan Pikatan”

“Omong kosong“ berkata Hantu itu “jika kalian tidak melindunginya, Pikatan tentu akan datang kemari malam ini”

“Kami sudah mencoba memaksanya. Tetapi ia tidak mau”

“Dan sekarang kalian lebih baik melawan aku dengan beberapa orang kawanku daripada memaksa Pikatan dengan kekerasan. Apa kau sangka bahwa Pikatan lebih kuat daripada aku? Jika demikian ia tidak akan ketakutan untuk datang ke bendungan ini. Apalagi aku membawa kawan yang cukup banyak”

Orang-orang Sambi Sari itu terdiam. Sesuatu mulai membayangi hati mereka sehingga kebimbangan yang memang sudah ada di dalam hati mereka menjadi semakin tebal.
Namun dalam pada itu Kesambi mencoba memulihkan tekad orang-orang Sambi Sari itu dengan berteriak “Sudahlah. Hentikanlah usahamu untuk menakut-nakuti kami. Kau harus sadar, bahwa itu tidak akan ada gunanya. Jika kau mampu membunuh kami, tentu sudah kau lakukan. Tetapi ternyata bahwa kau hanya sekedar berbicara saja. di tempat yang tersembunyi”

“Gila“ teriak Hantu Bertangan Api “kau membuat aku marah. Sebenarnya aku masih mempunyai pertimbangan lain. Tetapi jika aku benar-benar marah, kalian akan menyesal”

“Kami sudah marah sejak lama. Cepat, keluarlah dari persembunyianmu”

”Diam” teriak Hantu itu “kalian memang benar-benar ingin aku cincang. Ternyata kalian lebih menarik dari Pikatan. Bersukurlah bahwa Pikatan tidak datang, sehingga aku mendapat kesempatan lebih dahulu untuk membunuh kelinci-kelinci bodoh. Nah, bersiaplah untuk mati. Seorang demi seorang. Tidak seorangpun akan kami biarkan lolos, karena kalian telah membuat aku marah”

Darah anak-anak muda Sambi Sari itu bagaikan semakin lambat mengalir. Tangan mereka menjadi gemetar, dan senjata mereka hampir tidak berarti sama sekali. Genggaman mereka menjadi semakin kendor dan nafas merekapun menjadi terengah-engah sebelum mereka mulai bertempur.

Ki Demang dan Kesambi menjadi cemas melihat keadaan itu. Jika mereka benar-benar ketakutan, maka bencana benar-benar akan menimpa bendungan itu dan mereka semuanya.

Namun dalam pada itu, selagi orang-orang Sambi Sari dicengkam oleh ketegangan, mereka dikejutkan oleh suara seorang perempuan yang menyobek kebekuan sesaat itu. Dengan lantang orang-orang yang berada di tepian itu mendengar kata-katanya “Jangan mempersoalkan Pikatan. Kini kalian sudah berhadapan dengan anak-anak muda Sambi Sari. Jika kau masih harus berpikir dua tiga kali untuk menantang Pikatan, maka disini ada berpuluh-puluh Pikatan. Nah, apakah kau masih juga berniat untuk meneruskan usaha merusak bendungan ini”

Suara itu benar-benar telah mengejutkan. Hantu Bertangan Apipun terkejut pula. Ketika mereka berpaling, di bawah cahaya bulan purnama mereka melihat seorang gadis berdiri diatas tanggul Kali Kuning.

“Wiyatsih“ teriak Kesambi “kenapa kau datang juga kemari?“

“Sudah aku katakan, aku tidak dapat tinggal diam di rumah sedangkan kalian menghadapi maut di pinggir Kali Kuning. Tetapi jangan cemas. Hantu Bertangan Api ternyata tidak sedahsyat yang dibayangkan. Menurut kakang Pikatan, Hantu Bertangan Api tidak lebih dari seorang perampok cengeng yang tidak memiliki kelebihan apapun. Itulah sebabnya kakang Pikatan tidak mau datang, karena ia tahu, bahwa ia akan dijebaknya dalam perkelahian yang tidak adil, bukankah Hantu itu sudah mengaku bahwa ia tidak datang seorang diri? Nah, itulah sebabnya kakang Pikatan berkeberatan. Menurut kakang Pikatan, gerombolan perampok kecil yang pernah bersembunyi di goa Pabelan itu tentu tidak akan mampu melawan anak-anak muda Sambi Sari”

“Bohong“ teriak Hantu Bertangan Api.

“Nah, keluarlah dari persembunyianmu. Aku tahu, kau bersembunyi dibalik gerembul bunga racun itu. Cepat keluarlah bersama-sama dengan anak buahmu. Seorang aku lihat dibalik gerumbul pakis, yang dua orang di balik batu yang besar itu. Aku melihat gerumbul-gerumbul itu bergerak. Yang lain aku tidak tahu, Tetapi ada tiga orang di belakangmu”

“Gila“ teriak Hantu Bertangan Api.

Wiyatsih yang masih berpakaian seorang gadis itupun segera melangkah turun. Katanya “Aku akan berlindung di belakang anak-anak muda Sambi Sari itu”

Hantu Bertangan Api yang sudah diketahui tempatnya oleh Wiyatsih itupun kemudian meloncat keluar. Dipandanginya saja gadis yang berjalan menuruni tebing perlahan-lahan.
Namun sejenak kemudian terdengar Hantu itu tertawa “Kau memang seorang gadis yang aneh Wiyatsih. Mungkin karena kau adalah adik Pikatan, sehingga kaupun mempunyai kelebihan dari orang-orang lain. Tetapi kedatanganmu ke tepian ini sangat menyenangkan hatiku. Setelah aku selesai membunuh cucurut-cucurut bodoh itu, aku akan mendapatkan hadiah yang sangat menarik. Kau akan aku bawa serta Wiyatsih”

“Tidak mau”

“Tentu kau tidak mau. Tetapi bagiku tidak akan ada bedanya. Mau atau tidak mau”

“Orang Sambi Sari tentu akan melindungi aku”

“Mereka akan aku bunuh semuanya”

Wiyatsih berhenti sejenak. Dipandanginya Hantu Bertangan Api yang berdiri di tebing, di sebelah gerumbul bunga racun yang berwama merah.

“Kau tidak akan dapat membunuh seorangpun dari mereka Hantu yang sombong”

Hantu itu tertawa. Katanya “Marilah kita lihat. Justru karena kau aku bernafsu membunuh semua orang sekaligus. Kemudian akan manyusul Pikatan, sementara bendungan ini akan berserakan.

”Aku akah menjadi taruhan. Jika kau menang kali ini, aku tidak akan melawan jika kau akan membawa aku pergi”

“He“ Hantu Bertangan Api justru menjadi heran, dan dalam pada itu Kesambi berteriak “Wiyatsih, kau jangan menganggap yang terjadi ini suatu permainan”

“Tidak Kesambi. Aku berkata sungguh-sungguh. Jika Hantu Bertangan Api menang, biarlah aku dibawanya. Bukankah itu berarti bahwa kalian telah binasa seluruhnya? Jika masih ada seorangpun yang hidup, Hantu bertangan Api masih belum menang”

“Kau tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya Wiyatsih. Kita benar-benar dalam keadaan yang gawat”

“Aku tidak yakin. Hantu Bertangan Api hanya dapat berbicara, Tetapi tidak dapat berbuat apa-apa”

“Wiyatsih“ teriak Hantu Bertangan Api “ternyata kau sangat berbahaya bagi kami. Kau ternyata dengan caramu berusaha untuk meningkatkan ketahanan jiwa orang-orang Sambi Sari, seolah-olah kami memang tidak berarti apa-apa. Tetapi ketahuilah, itu akan membahayakan dirimu sendiri”

Tetapi Wiyatsih tertawa. Katanya “Kau jangan mengigau Hantu Bertangan Api. Sudahlah, lakukan apa yang akan kau lakukan. Ki Demang sudah siap menunggumu. Jika kau ingin segera binasa, turunlah dan cobalah bertempur melawan Ki Demang dan Ki Jagabaya. Memang agaknya Ki Demang dan Ki Jagabaya harus bekerja bersama melawanmu. Tetapi selain kau, orang-orangmu tidak akan berarti apa-apa”

”Diam“ teriak Hantu Bertangan Api. Kemarahannya ternyata telah memuncak sehingga ia berteriak kepada anak buahnya yang bersembunyi di balik segerumbul ilalang “Tangkap gadis itu, dan bawa naik ke atas. Jangan berikan kesempatan mendekati anak-anak muda Sambi Sari. Ia akan dapat menjadi racun bagi pertempuran ini. Ia mampu membangkitkan keberanian meskipun sekedar semu. Tetapi kematian yang tidak terbilang, hanya akan mengotori senjata kami saja”

Tiba-tiba seorang yang bertubuh tinggi tegap meloncat dari balik gerumbul ilalang itu. Dengan garangnya ia berdiri tegak di sebelah Wiyatsih.

“Nah Wiyatsih. Jangan menyesal. Kau adalah tawanan kami yang pertama malam ini. Mudah-mudahan Pikatan mendengarnya dan berusaha mengambilmu”

“Wiyatsih“ Kesambilah yang berteriak. Hampir saja ia meloncat mendekati Wiyatsih, Tetapi Ki Jagabaya sempat menahannya sambil berkata “Hati-hatilah Kesambi. Agaknya mereka benar-benar tidak sedang bergurau”

“Tetapi Wiyatsih?“

“Kita usahakan nanti. Tetapi jangan tergesa-gesa”

“Wiyatsih menganggap persoalan ini seperti permainan anak-anak saja” desis Ki Demang “salahnya sendiri. Tetapi kau jangan mengorbankan dirimu. Setiap usaha harus dipikirkan masak-masak”

“Tetapi gadis itu”

”Kita akan berusaha“ desis Ki Demang.

Dalam pada itu Wiyatsih berdiri tegang. Dipandanginya orang yang bertubuh tinggi tegap itu. Lalu katanya “Jangan ganggu aku. Aku akan pergi ke tepian. Aku akan bergabung dengan anak-anak Sambi Sari”

Orang bertubuh tinggi tegap itu tiba-tiba saja menjadi ragu-ragu.

Sikap Wiyatsih terasa aneh baginya. Gadis itu sama sekali tidak menjadi gemetar atau ketakutan.

Tetapi Hantu Bertangan Api berteriak “Tangkap Wiyatsih, dan bawa kemari”

Betapapun keragu-raguan mencengkam dadanya, namun orang bertubuh tinggi itu tidak dapat mengelak. Maka iapun segera melangkah maju mendekati Wiyatsih.

“Wiyatsih” teriak Kesambi.

Tetapi Wiyatsih masih tetap berdiri di tempatnya. Dipandanginya saja orang bertubuh tinggi tegap itu. Namun agaknya orang itu benar-benar ingin menangkapnya.

Namun demikian kedua tangannya terjulur, maka tiba-tiba Wiyatsihlah yang lebih dahulu menyambar tangan orang itu. Dengan satu gerakan yang hampir tidak terlihat, maka tangan itupun telah terpilin kebelakang. Dengan dorongan yang kuat orang yang sama sekali tidak menyangka itu tidak sempat menjaga keseimbangannya. Apalagi ia berdiri di tebing yang miring. Itulah sebabnya maka dorongan tangan Wiyatsih yang kuat telah melemparkannya.
Yang terdengar adalah sebuah teriakan yang keras. Meskipun tebing itu tidak begitu tinggi, namun tubuhnya yang terlempar oleh dorongan kekuatan Wiyatsih, dan terjatuh diatas batu-batu di tepian terasa betapa sakitnya, sehingga rasa-rasanya tulang iganya menjadi patah.

Yang terjadi itu benar-benar tidak terduga-duga. Karena itulah maka setiap mata telah terbelalak karenanya. dan setiap jantung rasa-rasanya telah berhenti bergetar. Bahkan Hantu Bertangan Apipun bagaikan membeku di tempat nya. Terlebih-lebih lagi orang-orang Sambi Sari.

Dalam pada itu, Wiyatsih sendiri masih berdiri tegak di tempatnya. Dipandanginya orang yang terbanting jatuh itu sejenak, lalu katanya “Sudah aku katakan, aku tidak mau sebelum Hantu Bertangan Api memenangkan pertentangan ini, tentu saja termasuk aku sendiri”

“Gila“ teriak Hantu Bertangan Api “jadi kau menantang aku Wiyatsih”

Wiyatsih berpaling. Dipandanginya Hantu Bertangan Api yang menjadi sangat marah.

“Bukan aku yang menantangmu. Aku adalah termasuk salah satu dari orang-orang Sambi Sari yang ingin mempertahankan bendungan ini”

“Gila“ suara Hantu Bertangan Api menjadi gemetar, sementara Wiyatsih seakan-akan tidak menghiraukannya. Dilanjutkannya langkahnya menuruni tebing Kali Kuning.

“Nah, bukankah sudah aku katakan“ berkata Wiyatsih kemudian “orang-orang yang dibawa oleh Hantu Bertangan Api tidak akan lebih baik dari kita semuanya. Apalagi jumlah kita jauh lebih banyak. Karena itu, jika Hantu Bertangan Api meneruskan niatnya, kita akan membinasakaanya. Bukan kita yang dibinasakan olehnya”

Terasa sesuatu menyentuh jantung setiap orang Sambi Sari, yang semula sudah dicengkam oleh ketakutan, tiba-tiba berani mengadahkan dadanya kembali sambil berkata di dalam hatinya“

“Bukan main. Apakah Wiyatsih sudah kesurupan hantu Kali Kuning sehingga ia mampu melawan orang itu“

Dalam pada itu, Hantu Bertangan Api yang marah berteriak “Wiyatsih, yang terjadi adalah suatu kebetulan, karena orang itu sama sekali tidak menduga bahwa kau akan melawannya. Tetapi jika ia sudah siap, maka kau akan diremukkannya. Orang itu mempunyai kekuatan raksasa”

“Orang itukan yang telah melengkungkan sepotong besi di gardu?“ bertanya Wiyatsih.
“Bukan. Akulah yang telah melakukannya. Dan aku adalah suatu pertanda, bahwa tidak akan ada kekuatan yang dapat mengimbangi kekuatanku”

Wiyatsih berhenti sejenak. Sambil berputar kearah Hantu Bertangan Api ia berkata “Benar begitu? Apakah kau tahu bahwa besi yang kau lengkungkan itu sudah menjadi lurus kembali?”

“Aku tidak percaya”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya kepada orang-orang Sambi Sari “Kalian menjadi saksi. Apakah besi itu kalian bawa kemari?“

“Tentu seorang pandai besi” teriak Hantu Bertangan Api “hanya dengan dipanasi besi itu akan lurus kembali”

“Tidak. Dengan kekuatan seperti pada saat kau melengkungkannya. Kau tidak percaya”

“Siapakah yang melakukannya?“

Wiyatsih tidak segera menjawab. Di bawah sinar bulan yang bulat ia dapat melihat Hantu Bertangan Api yang berdiri dengan tegangnya.

“Siapa, katakan siapa yang melakukannya?“

Namun kini Wiyatsihlah yang tertawa. Nadanya mirip dengan suara tertawa Hantu Bertangan Api itu sendiri, sehingga anak-anak muda Sambi Sari, termasuk para bebahu dan Kesambi merasa bulu-bulunya meremang. Suara tertawa Wiyatsih bagaikan suara tertawa hantu dari balik sebatang pohon randu alas.

“Jangan gelisah Hantu Bertangan Api“ sahut Wiyatsih yang dengan sengaja memancing kemarahan Hantu Bertangan Api dan mencoba menirukan bagaimana Hantu itu tertawa “kalian tidak usah bertanya lagi, siapa yang dapat melakukannya. Seandainya Pikatan tidak mengasingkan diri, maka jawabannya tidak akan terlalu sukar. Tetapi ternyata Pikatan tidak mau keluar dari biliknya, sehingga tentu ada orang lain yang melakukannya”

“Kau, kaukah itu?“

Wiyatsih masih saja tertawa. Semakin lama semakin keras, meskipun akhirnya ia sendiri menjadi ngeri mendengarnya. Dengan sendirinya maka suara tertawa itupun akhirnya berhenti.

“Wiyatsih” Hantu Bertangan Api itu menggeram “jika benar kau yang melakukannya, katakanlah”

“Apa salahnya?“

“Gila. jadi kau yang melakukannya? Kau mampu berbuat demikian?“

Wiyatsih tidak menjawab. Tetapi sekali lagi ia tertawa. Namun kali ini ia tidak ingin menakuti dirinya sendiri dengan suara semacam ringkik iblis betina.

“Begitulah kira-kira Hantu Bertangan Api”

“Setan betina. Pantas kau berani datang ke tepian ini sekarang. Pantas kau tidak mau memaksa Pikatan untuk datang, karena agaknya kau sendiri merasa mampu untuk melawan Hantu bertangan Api”

“Bukan begitu. Aku sudah mencoba memaksa kakang Pikatan. Tetapi ia benar-benar tidak bersedia. Apaboleh buat”

“Dan kaulah yang akan mati di tepian menggantikan Pikatan?”

“Tentu tidak. Aku tidak mau mati. Aku datang untuk mencegah kematian, bukan untuk mematikan diri”

Hantu Bertangan Api menggeretakkan giginya, sementara orang-orang Sambi Sari bagaikan dipukau oleh kenyataan yang tidak pernah mereka duga-duga. Bahkan Kesambi seakan-akan tidak percaya kepada pendengarannya sendiri bahwa Wiyatsih ternyata memiliki kelebihan yang tiada taranya dari anak-anak muda Sambi Sari. Bukan saja gadis-gadisnya, tetapi juga anak-anak mudanya.

Apalagi kini Wiyatsih berani berdiri berhadapan dengan Hantu Bertangan Api.
“Wiyatsih“ berkata Hantu Bertangan Api “betapa tingginya ilmu yang kau miliki, namun kau tidak akan dapat menyamai Hantu Bertangan Api. Jika kau melawan, maka akibatnya akan sangat mengerikan bagi kalian dan seluruh rakyat Sambi Sari. Karena itu, kau tidak usah melawan. Menyerahlah”

“Bagaimana mungkin aku harus menyerah. Kau akan merusak bendunganku Karena itu aku akan mempertahankannya”

“Aku tidak sendiri”

“Aku juga tidak sendiri”

“Bagus, bagus“ teriak Hantu Bertangan Api itu selanjutnya “jika kau memang tidak dapat diajak lagi berbicara, maka akupun. akan melakukan apa yang ingin aku lakukan”

“Kami sudah siap”

“Bagus“ Hantu Bertangan Api itu tiba-tiba mengangkat tangannya sambil berteriak “kita akan segera mulai, kalian tidak usah bersembunyi lagi”

Dalam pada itu, di dalam cahaya bulan, tampaklah beberapa orang muncul dari balik gerumbul. Mereka ternyata memencar di beberapa tempat dan di beberapa arah.

“Nah Wiyatsih, hitunglah orang-orangku. Mereka adalah orang-orang yang sudah terbiasa berkelahi. Karena itu, baiklah kita berperang tanding, sementara orang-orangku akan menebas rakyat Sambi Sari dan menumpasnya sebelum mereka akan membantu aku menangkap kau hidup-hidup”

Wiyatsih tidak segera menjawab. Namun dadanya menjadi berdebar-debar juga. Ternyata orang-orang Hantu Bertangan Api itupun cukup banyak. Lebih dari lima belas orang.

“Gila“ berkata Wiyatsih di dalam hatinya. Lalu diluar sadarnya ia mencoba menghitung kekuatan yang ada padanya. Ada enam orang bebahu yang ikut bersamanya. Ada lima orang bekas perampok yang sudah menyerah kepada keadaannya dan tidak pernah melakukan kejahatan lagi karena ancaman Ki Demang. Untuk membersihkan nama mereka, maka merekapun ikut bersama dengan para bebahu mempertahankan bendungan ini. Kemudian ada beberapa puluh anak-anak muda yang sebagian tidak akan dapat berbuat apa-apa.
Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam.

“Kami dapat mengimbangi kekuatanmu. Para bebahu dan mereka yang ingin membersihkan namanya, karena mereka juga bekas perampok, sudah dapat menyamai orang-orangmu. Kau harus menghitung aku lebih dari satu orang, apalagi melawan orang-orangmu, dan kau harus menghitung dua orang penjaga regol di rumahku dengan bilangan dua kali lipat”

“Persetan, aku tidak akan menghitung orang yang tidak ada disini”

“Mereka ada disini. Mereka mengantar aku sampai ketanggul“

“Aku tidak peduli. Tetapi anak-anak muda Sambi Sari akan menjadi tebasan ilalang. Kemudian kau akan menyesal seumur hidupmu. Ayo, bersiaplah untuk mati”

Wiyatsih tidak segera menjawab. Tetapi pandangan matanya mulai menyelusur tanggul. Sejenak kemudian ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat sesosok tubuh berdiri diatas tanggul Kali Kuning.

“Hantu Bertangan Api“ berkata Wiyatsih “ternyata bahwa kau sudah mempunyai seorang gadis yang selalu mengikutimu kemana kau pergi. Seharusnya kau lebih memperhatikan gadismu itu daripada aku. Lihatlah, gadismu kali ini agaknya merasa cemburu bahwa kau selalu saja berbicara dengan aku, tidak dengan gadismu itu”

Hantu Bertangan Api termangu-mangu sejenak, sedang bayangan yang berada di tanggul itu berdesah perlahan-lahan.

“Tengoklah, siapakah yang berdiri di belakangmu?“ Hantu Bertangan Apipun kemudin berpaling. Dan tiba-tiba saja mulutnya berdesis “Puranti. Iblis betina kau. Kenapa kau berada disini?“

“Nah“ berkata Wiyatsih “bukankah gadismu menjadi cemburu”

“Persetan. Aku bunuh kau sama sekali”

Puranti tidak segera menjawab. Ia berpaling ketika dua orang penjaga regol di rumah Wiyatsihpun kemudiari berdiri di sebelahnya.

“Jangan marah Hantu Bertangan Api“ berkata Puranti “seperti kata Wiyatsih, aku menjadi cemburu. Kenapa selama ini kau seolah-olah selalu mengejar Wiyatsih kemana ia pergi dan seakan-akan melupakan aku? Bukankah Wiyatsih sudah berjanji bersedia untuk menjadi orang kedua”

“Persetan, persetan“ teriak Hantu Bertangan Api yang merasa kata-kata Puranti itu sebagai suatu penghinaan. Katanya kemudian “Jangan menghina Puranti. Hantu Bertangan Api kini bukan lagi Hantu Bertangan Api sesaat setelah Pikatan datang di goa Pabelan. Aku sekarang sanggup membunuh Pikatan sekaligus bersama Wiyatsih dan kau” suara Hantu itu merendah, lalu “ternyata bukan Wiyatsih yang meluruskan sepotong besi itu, tentu kau”

“Bukan” Puranti menggelengkan kepalanya “Wiyatsihlah yang melakukannya. Ia juga mengatakan kepadaku, dan kau harus mempercayainya, karena ia sekarang memiliki ilmu yang cukup kuat untuk membunuhmu”

“Persetan”

“Nah, Hantu Bertangan Api yang malang. Sekarang menyerahlah. Kau tidak ada gunanya membawa anak buah sebanyak berapapun juga. Karena mereka akan aku tumpas di tepian ini”

Hantu Bertangan Api menjadi sangat marah karenanya. Namun justru karena itu, untuk sesaat ia hanya dapat menggeretakkan giginya saja.

Dalam pada itu, orang-orang Sambi Sari bagaikan menyaksikan sebuah permainan yang ajaib. Setiap kali mereka diguncang oleh peristiwa yang mengejutkan dan yang tidak dapat mereka mengerti.

Di bendungan itu kini ada dua orang gadis yang aneh bagi mereka. Wiyatsih yang mereka kenal sehari-hari, ternyata memiliki sesuatu yang tidak mereka mengerti. Justru kekuatan yang tiada taranya, karena kekuatan Wiyatsih ternyata dapat menyamai kekuatan Hantu bertangain Api. Dan kemudian tiba-tiba muncul lagi seorang gadis lain yang tidak mereka kenal yang agaknya sudah dikenal oleh Hantu Bertangan Api, dan bahkan membuatnya menjadi ragu-ragu.

Dalam pada itu, Purantipun kemudian melangkah turun dari tanggul diatas tebing Kali Kuning diikuti oleh dua orang penjaga regol rumah Wiyatsih.

“Kau bawa dua orang yang kau anggap dapat mengalahkan aku Puranti?” bertanya Hantu Bertangan Api.

Bersambung

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s