Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

36

Tinggalkan komentar


”Tidak, Keduanya adalah penjaga regol rumah Wiyatsih. Keduanya adalah bekas dua orang petualang yang namanya pernah menggetarkan daerah ini, menurut ceriteranya, karena aku belum mengenal keduanya sebelumnya. Namun bagaimanapun juga, ia akan menjadi lawan yang tidak terkalahkan bagi orang-orangmu. Disamping bebahu Sambi Sari, bekas perampok yang sudah bertobat dan ingin memperbaiki kedudukannya dimata rakyat Sambi Sari, dan kini dua orang penjaga regol ini, akan membuat kau berpikir sepuluh kali lagi”

“Aku tidak peduli. Aku akan membunuh kalian“ lalu tiba-tiba Hantu Bertangan Api berteriak terhadap anak buahnya “bersiaplah kalian. Jangan terpengaruh oleh kicauan kedua perempuan liar ini. Akulah yang akan mengalahkan mereka berdua dan membunuhnya. Tugas kalian adalah cucurut-cucurut dari Sambi Sari. Bunuh semua orang yang ada di tepian Kali Kuning”

Dan tiba-tiba Wiyatsih berteriak “Termasuk Hantu Bertangan Api”

“Gila“ dan tiba-tiba saja Hantu Bertangan Api itu meloncat turun. Yang pertama-tama diserangnya justru Wiyatsih, ia mengharap untuk dapat menguasai gadis itu dan menjadikannya perisai.

Namun Wiyatsih melihat gelagat itu. Karena itu, tiba-tiba saja ia merenggut kain panjangnya dan ternyata bahwa ia sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Ketika Hantu Bertangan Api meloncat menerkamnya, ia sudah siap untuk mengelakkan diri sambil menarik pedang yang disembunyikan dibawah kain panjangnya.

Kegagalan itu membuat Hantu bertangan Api menggeram. Sekali lagi ia berteriak kepada anak buahnya “Hancurkan semua orang yang ada disini”

Sejenak kemudian maka anak buah Hantu Bertangan Api itupun mulai bergerak. Dan berbareng dengan itu, Wiyatsihpun berteriak “Nah, orang-orang Sambi Sari. Sekaranglah saatnya bagi kalian untuk menunjukkan, apakah kalian benar-benar akan mempertahankan bendungan ini”

Ki Demang yang termangu-mangu seperti terbangun dari mimpi. Meskipun tidak memiliki kelebihan, namun ia pernah belajar mempergunakan senjatanya, sehingga karena itu sambil mengacukan senjatanya ia berteriak “Ayo, sekarang sudah waktunya. Kita ternyata tidak berdiri sendiri”

Para bebahu yang semula ragu-ragu, merasa seakan-akan didorong oleh keharusan dan tanggung jawabnya, menjadi semakin berani dan bahkan. Ki Jagabaya yang seperti Ki Demang, memiliki kemampuan pula mempergunakan tombak pendeknya, segera bergerak maju, disusul oleh beberapa orang yang memang berniat ingin membersihkan namanya dimata rakyat Sambi Sari.

Dalam pada itu, kedua penjaga regol di rumah Wiyatsihpun sudah berlari-lari turun. Dengan senjata mereka yang agak lain dari senjata kebanyakan, keduanya justru mulai menyerang orang-orang Hantu Bertangan Api, sementara itu Purantipun telah meloncat mendekati Hantu Bertangan Api.

“Wiyatsih“ berkata Puranti “lindungilah anak-anak muda Sambi Sari. Aku akan menyelesaikan Hantu Bertangan Api ini”

Namun tiba-tiba Wiyatsih berkata lantang ”Jangan mulai dengan pertempuran. Ada cara lain yang lebih adil untuk menyelesaikan masalah ini”

Semua orang yang mendengar suara Wiyatsih tertegun sejenak. Kedua penjaga regol rumahnyapun tertegun sehingga mereka berloncatan surut.

“Kita akan membatasi persoalannya” berkata Wiyatsih kemudian “yang ada disini adalah dua kelompok manusia yang sebenarnya tidak mempunyai kepentingan apapun yang satu dengan yang lain. Persoalan pokoknya adalah karena Hantu Bertangani Api mendendam kakang Pikatan. Karena itu, supaya kedua belah pihak tidak mempertaruhkan korban sia-sia di dalam persoalan yang sebenarnya, maka sebaiknya yang berkepentingan, sajalah yang akan bertempur malam ini”

Semua dada menjadi berdebar-debar. Sebenarnyalah bahwa bagi anak muda Sambi Sari hal itu lebih baik, seperti juga bagi anak buah Hantu Bertangan Api yang mulai ragu-ragu, apakah mereka akan dapat menguasai sekian banyak lawan, yang diantaranya terdapat orang-orang yang memiliki kemampuan lebih tinggi dari mereka sendiri sedang jumlah keseluruhannya, jauh melampaui jumlah mereka.

Dalam pada itu Hantu Bertangan Api menggeram “Apa maksudmu Wiyatsih”

“Aku akan mewakili kakang Pikatan” berkata Wiyatsih.

“Gila“ teriak Hantu Bertangan Api.

Sementara itu Puranti mengerutkan keningnya. Ternyata Wiyatsih masih belum menyesuaikan diri dengan rencana ayahnya. Sebenarnya ia sendiri tidak sependapat dengan rencana itu, dan bahkan Wiyatsihlah yang telah mendesaknya. Namun agaknya Wiyatsih telah dibakar oleh gejolak perasaannya sendiri. Namun demikian Puranti segera menyahut “Lepaskan orang ini Wiyatsih“

Wiyatsih mengerutkan keningnya. Namun terasa tatapan mata Puranti berpengaruh dalam menembus jantungnya.

Dalam pada itu Purantipun tidak sampai hati melepaskan Wiyatsih langsung menghadapi Hantu Bertangan Api. Bagaimanapun juga Hantu Bertangan Api sudah mematangkan ilmunya untuk waktu yang lama, sehingga karena itu, maka tentu Wiyatsih masih belum dapat mengimbanginya dengan baik.

Selagi Wiyatsih masih termangu-mangu. maka Puranti berkata selanjutnya “Pendapatmu baik Wiyatsih. Bahwa yang berkepentingan adalah Hantu itu dengan Pikatan, sehingga sebaiknya orang-orang lain tidak usah ikut campur. Juga anak buah Hantu Bertangan Api itu tidak usah ikut campur. Tetapi biarlah aku yang mewakili Pikatan, karena aku adalah saudara seperguruannya. Aku wajib menjunjung tinggi nama perguruanku jika Pikatan berhalangan”

“Persetan. Majulah kedua-duanya. Aku tidak akan gentar”

“Tidak Hantu Bertangan Api. Aku tidak akan berkelahi bersama-sama. Marilah kita melakukan perang tanding untuk menentukan siapakah yang berhak meninggalkan tepian itu dengan wadagnya, bukah hanya namanya. Taruhannya adalah pengiring kita masing-masing. Jika aku mati, kau dapat berbuat apa saja atas Wiyatsih dan tentu saja atas orang-orang Sambi Sari. Tetapi jika kau mati, anak buahmu harus menyerah kepada kami. Kami akan memperlakukan mereka dengan baik, karena sebenarnya mereka bukan sumber dari kejadian ini”

Hantu Bertangan Api menjadi marah bukan kepalang. Terdengar giginya gemeretak. Tantangan itu benar-benar telah membakar jantungnya. Tantangan seorang gadis dihadapan sekian banyak orang.

“Apakah kau sedang mempertimbangkannya Hantu Bertangan Api? Apakah kau ragu-ragu dan apakah kau mempunyai pendapat lain lagi? Tetapi bagiku, itulah yang seadil-adilnya. karena jika tidak demikian, maka orangmu akan tumpas disini. Wiyatsih akan membunuh mereka semuanya bersama dengan penjaga regolnya yang bersenjata aneh itu, para bebahu Sambi Sari dan beberapa orang perampok yang telah menyadari dirinya sendiri”

Sejenak Hantu Bertangan Api itu menjadi tegang. Namuh kemudian, ia menggeram “Apakah kau tidak akan menyesal?“

“Tentu tidak. Kita akan melihat, siapakah yang akan mati lebih dahulu. Kau atau aku“

“Jika itu keinginanmu, baiklah, Kita akan melakukan perang tanding. Tetapi jangan kau sangka bahwa aku sekarang adalah Hantu Bertangan Api yang ada di Goa Pabelan itu. Aku sekarang mampu meremas kau menjadi debu”

“Marilah kita coba” jawab Puranti “Tetapi baiklah kita mengadakan persetujuan. Orang-orang kita masing-masing harus berkumpul disatu pihak, agar tidak terjadi kecurangan selama kita berdua bertempur. Mereka hanya boleh menonton, dan tidak berbuat apa-apa. Jika seorang saja dari antara mereka melanggar peraturan, maka persetujuan kita batal, dan anak buahmu akan tumpas sama sekali disini”

”Persetan“ terdengar Hantu Bertangan Api itu menggeram. kemarahannya hampir tidak dapat dikendalikannya lagi sehingga hampir saja ia langsung meloncat menyerangnya sebelum peraturan yang dikehedaki oleh Puranti dipenuhinya.

”Nah, marilah kita atur bersama-sama, Biarlah orang-orangmu berdiri disatu pihak dan orang-orang Sambi Sari dipihak yang lain”

Hantu Bertangan Api yang terpaksa menahan dirinya itupun kemudian berteriak “Penuhi aturan yang dibuatnya. Tetapi kalian akan segera menguasai orang-orang Sambi Sari, karena aku akan segera membunuh gadis liar itu. Kalian dapat berbuat apa saja atas orang-orang Sambi Sari. Membunuh, mencincang atau memotong tangan atau kakinya tanpa membunuhnya. Apa saja. Dan aku akan berbuat serupa terhadap adik Pikatan itu. Iapun agaknya seorang gadis liar seperti Puranti ini”

“Jangan menyakiti hatiku“ jawab Puranti ”biarlah kita bertanding. Jangan, memaki-maki seperti itu. Jika aku tidak berhasil mengendalikan diri, maka kau akan terbunuh segera sebelum kita sempat mengatur orang kita masing-masing”

“Lakukan, ayo lakukan“

“Aku bukan sebangsa orang berhati ilalang yang mudah terbakar. Aku masih dapat berpikir dengan baik. Karena itu, biarlah mereka mengatur diri”

Jawaban Puranti itu benar-benar telah mempengaruhi keadaan. Seakan-akan kata-katanya itu penuh dengan pesona yang tidak terlawan.

Karena itu, maka berangsur-angsur orang-orang Hantu bertangan Api, dan orang-orang Sambi Sari itupun berkumpul dipihaknya masing-masing Diantara mereka adalah arena yang akan dipergunakan oleh Puranti untuk berperang tanding melawan Hantu Bertangan Api itu.

Sejenak kemudian maka tampaklah, bahwa jumlah keduanya sama sekali tidak seimbang. Dipihak Sambi Sari berdiri para bebahu, bekas perampok yang telah merelakan diri untuk menebus kesalahan mereka dimasa lalu, anak-anak muda dan diantara mereka terdapat pula Wiyatsih dan kedua penjaga regol rumahnya.

“Nah, sekarang perbandingan itu nyata“ berkata Puranti.

“Aku tidak peduli. Jumlah tidak begitu berpengaruh bagi orang-orangku. Mereka akan dapat membunuh semua orang Sambi Sari dalam sekejap”

“Lakukanlah jika aku sudah mati”

“Persetan”

Keduanyapun kemudian saling berhadapan diarena yang dipagari oleh orang-orang Sambi Sari dan para perampok anak buah Hantu Bertangan Api, diatas pasir tepian Kali Kuning.
Sekali Puranti sempat menengadahkan wajahnya. Dilihatnya betapa manisnya bulan tersenyum dilangit yang biru bersih, diantara sehelai mega yang hanyut dalam arus angin yang lembut.

Sesaat kemudian, gadis itu sudah berdiri dengan teguhnya berhadapan dengan Hantu Bertangan Api.

Sejenak tepian Kali Kuning dicengkam oleh ketegangan. Wiyatsih kadang-kadang hampir tidak dapat menahan dirinya lagi. Iapun disentuh oleh perasaan marah dan harga diri yang kadang-kadang sulit untuk dikendalikannya. Rasa-rasanya ialah yang ingin berdiri di arena itu berhadapan dengan Hantu Bertangan Api.

Tetapi bagaimanapun juga ada ikatan yang lain antara Puranti dan Wiyatsih Meskipun hubungan mereka sehari-hari seperti dua orang kakak beradik, bahkan mereka tidak pernah menamakan diri mereka guru dan murid, namun hubungan serupa itu sebenarnya memang ada. Wiyatsih tidak akan dapat melepaskan pengakuan bahwa. Purantilah gurunya yang pertama-tama membentuknya menjadi seorang yang memiliki kemampuan olah kanuragan seperti sekarang, meskipun kemudian Kiai Pucang Tunggallah yang telah mematangkannya.

“Puranti“ berkata Hantu Bertangan Api “kau ternyata sudah pasrah diri untuk mati. Aku mendendammu rangkap seribu. Kau sudah ikut campur di dalam perkelahian yang menentukan di Goa Pabelan. Sekarang kau pulalah yang telah mengganggu rencanaku terhadap Pikatan dan bendungan ini.

“Lalu apakah yang dapat kau lakukan terhadap seseorang yang kau dendam rangkap seribu? Apakah ada bedanya dengan orang yang kau dendam hanya rangkap sepuluh?“

“Persetan” jawab Hantu Bertangan Api “kau membuat kami gerombolan Hantu Bertangan Api seluruhnya tidak saja kehilangan, Tetapi kau sudah membuat kami sakit dan malu. Itulah yang akan kami lakukan sekarang ini. Kami akan membuat kau sakit dan malu. Kami dapat membuat kau malu dengan seribu cara di hadapan sekian banyak orang, justru karena kau seorang perempuan”

Terasa bulu-bulu ditubuh Puranti meremang, seperti juga Wiyatsih. Ternyata mereka adalah gadis yang utuh. Yang dapat disentuh oleh perasaan ngeri mendengar ancaman serupa itu, karena Puranti dan Wiyatsih dapat membayangkan seribu cara yang akan ditempuh itu, justru karena mereka adalah perempuan. Sedang perampok itu tentu tidak akan tahu malu apapun yang akan mereka lakukan.

“Jangan menyesal” teriak Hantu Bertangan Api “aku sudah terlanjur memutuskan. Membuat kau sakit dan malu sebelum kau aku bunuh disini dengan caraku”

Puranti menggeretakkan giginya untuk mengusir perasaan kegadisannya. Bahkan kemudian iaputi menggeram sambil menjawab “Apapun yang akan kau lakukan Hantu Bertangan Api, aku sudah siap”

“Bagus, aku akan segera mulai”

Puranti menarik. nafas dalam-dalam. Seperti yang dikatakan oleh ayahnya, Hantu Bertangan Api ternyata memiliki sepasang senjata di kedua belah lambungnya.

“Jika ia berhadapan dengan Pikatan, ia ingin mempergunakan dua senjata itu untuk menekan dan membingungkannya, karena Pikatan hanya memiliki sebelah tangan“ berkata Puranti di dalam hatinya.

“Bersiaplah“ teriak Hantu Bertangan Api.

Purantipun segera bersiap. Karena Hantu Bertangan Api masih belum menarik senjatanya, maka iapun masih belum menyentuh hulu pedangnya.

Sejenak mereka berhadapan, Ketika Hantu Bertangan Api bergeser selangkah, Puranti justru menekuk lututnya sedikit. Ia menghadap langsung kepada Hantu Bertangan Api itu sambil menyilangkan tangan ke dadanya.

Hantu Bertangan Api memandangnya sejenak. Namun betapa sikap itu telah mendebarkan jantungnya, karena ia sadar, bahwa sikap itu adalah sikap seseorang yang percaya kepada diri sendiri tanpa menyombongkan dirinya.

Namun Hantu Bertangan Api itu tidak ingin terpengaruh. Tiba-tiba saja ia meloncat ke samping. namun ketika Puranti sedikit bergeser, tiba-tiba Hantu itu langsung menyerang dengan kakinya yang mendatar.

Tetapi serangan itu bukannya serangan yang sebenarnya, karena ketika Puranti bergeser setapak sambil memiringkan tubuhnya, maka Hantu Bertangan Api itupun meloncat maju dan melingkar diatas tumitnya. Sekejap kemudian kakinya yang lain telah berdiri diatas tanah, sedang kakinya yang lainlah yang menyapu dengan derasnya.

Sekali lagi Puranti terpaksa menghindar. Namun pada bagian pertama dari perkelaian itu Puranti segera menangkap tata gerak dari lawannya di dalam keadaan tertentu. Kini Hantu Bertangan Api bukan saja percaya kepada tangannya. namun kakinya telah menjadi penting di dalam olah kanuragan.

“Suatu perkembangan yang berbahaya“ desis Puranti di dalam hatinya “karena dengan demikian maka namanya akan menjadi lengkap. Hantu Bertangan dan berkaki Api”

Sementara itu, maka perkelahian itupun menjadi semakin lama semakin dahsyat. Keduanya ternyata memiliki kelincahan yang sama sekali tidak masuk akal. Karena itulah, maka orang-orang Sambi Sari memperhatikan perkelahian itu dengan hati yang berdebar-debar. Bahkan ada diantara mereka yang sama sekali tidak mengerti, apa yang sebenarnya telah terjadi di arena itu.

Dengan nafsu yang membakar isi dadanya, Hantu Bertangan Api selalu mencoba untuk mendesak lawannya dan segera mengalahkannya. Namun ternyata ia tidak berhasil sama sekali. Bahkan semakin lama tampak, bahwa di dalam perkelahian tanpa senjata itu, Puranti memiliki beberapa kelebihan. Gadis itu ternyata lebih lincah dan cekatan. Meskipun ayunan serangannya tidak sekuat Hantu Bertangan Api, namun Purantilah yang telah berhasil menyentuh tubuh lawannya. Sedangkan Hantu Bertangan Api sama sekali belum berhasil mengenai lawannya dan apalagi menyakitinya.

Puranti sadar bahwa sentuhan tangan orang yang menamakam diri Hantu Bertangan Api itu tentu mempunyai akibat yang berbahaya. Karena itulah maka ia berusaha agar ia sejauh mungkin menghindarinya atau berusaha sedikit mungkin dikenainya. Namun seperti yang diperhitungkannya ia akan dapat melampaui kecepatan bergerak Hantu Bertangan Api, meskipun dengan pukulan-pukulan yang tidak mematikan. Namun yang satu dua kali itu, lambat laun terasa juga mengganggu sekali bagi Hantu Bertangan Api. Bahkan sekali-sekali terasa pukulan Puranti yang agak menggetarkan tubuhnya.

“Jika ia selalu berhasil dengan caranya, maka lambat laun akulah yang akan mati di tepian ini“ berkata Hantu Bertangan Api itu di dalam hatinya.

Karana itulah, maka ia bertekad untuk segera memaksakan kemenangan atas lawannya, yang disebutnya sebagai seorang gadis liar.

Tetapi usahanya itu sia-sia. Bahkan kemudian Hantu itu sadar, bahwa ia akan kehilangan banyak tenaga dan pernafasannya akan segera terganggu.

“Gila“ teriak Hantu itu “kau ternyata mampu menyempurnakan ilmumu“

“Seperti yang kau lihat” sahut Puranti.

“Tetapi kau tidak akan terlepas dari tanganku dan tangan anak buahku. Lihatlah, mereka memandangmu seperti memandang buah yang mulai masak”

“Curang“ teriak Puranti.

Hantu Bertangan Api yang mula-mula menjadi bingung, kini menemukan senjata tambahan yang baik. Katanya “Mereka belum pernah melihat seorang gadis yang berloncat-loncatan seperti kau tanpa menghiraukan letak pakaianmu. Dan itu bagi mereka adalah tontonan yang menarik sekali”

“Diam, diam“ bentak Puranti pula “ternyata kau tidak jantan Hantu Bertangan Api, Kau mempergunakan cara yang tidak termasuk dalam tata bela diri. Bukan caranya dalam olah kanuragan”

Hantu Bertangan Api merasa bahwa ia berhasil. Karena itu maka ia melanjutkan “Teruslah berkelahi dengari cara itu Puranti.”

”Gila“ Wiyatsihpun telah mengumpat, karena ia mengerti perasaan yang mengganggu Puranti “ternyata Hantu Bertangan Api, bukan seorang yang berani menghadapi lawannya sebagaimana aku duga. Ternyata ia tidak lebih dari seorang anak muda cengeng yang jatuh cinta kepada seorang gadis, Tetapi tidak ditanggapi, sehingga dengan susah payah mencari kelemahan-kelemahan yang ada padanya” Wiyatsih berhenti sejenak, lalu “He, Hantu Bertangan Api yang perkasa, kenapa kau tidak meloncat surut sejauh-jauhnya, kemudian berkidung lagu asmaradana saja?“

Kata-kata Wiyatsih itu ternyata lebih tajam dari ujung pedang yang manusuk jantung. Betapa kemarahan melonjak di dalam dada Hantu Bertangan Api itu. sehingga ia berteriak “Tutup mulutmu. Setelah aku menyelesaikan Puranti, kau akan mangalami nasib yang lebih jelek”

“Apakah kau juga akan menganjurkan anak buahmu melihat aku meloncat-loncat seperti Puranti dan kemudian menyorakinya“

“Gila, ternyata kau lebih gila dari Puranti”

Wiyatsih tidak menjawab. Kini ia melihat bahwa perkelahian itu sudah mapan pada keadaannya yang wajar. Puranti ternyata sudah berhasil mengatasi gangguan perasaannya sebagai seorang gadis. Apalagi Hantu Bertangan Api yang marah kepada Wiyatsih tidak lagi sempat mempergunakan caranya untuk melemahkah perlawanan Puranti.

Karena itu maka perkelaian itupun menjadi semakin seru. Setiap kali serangan Hantu Bertangan Api yang garang, sama sekali tidak berhasil menyentuh lawannya. Bahkan tangan Purantilah yang semakin sering berhasil menyetuh Hantu Bertangan Api, justru di tempat-tempat yang berbahaya.

Akhirnya Hantu Bertangan Api tidak telaten lagi. Ia harus melihat kenyataan bahwa usahanya meningkatkan dirinya selama ini masih belum berhasil melampaui kemampuan dan kecepatan gerak gadis yang dianggapnya sebagai gadis liar itu.

“Aku tidak boleh membiarkan diriku kehabisan nafas“ berkata Hantu Bertangan Api itu kepada diri sendiri “karena itu sebaiknya aku merujukkan bahwa sebenarnya di dalam usahaku meningkatkan dan menyempurnakan diriku, terutama pada kemampuanku menggunakan senjata”

Karena itulah, maka Hantu Bertangan Api itupun kemudian meloncat surut beberapa langkah sambil berkata “Bagus Puranti. Kau masih tetap lincah. Tetapi supaya kerjaku lekas selesai. aku ingin melihat, apakah kau mampu juga bermain pedang“

Puranti tertegun sejenak ia melihat kedua tangan Hantu bertangan Api itu sudah bersilang menggenggam kedua hulu pedangnya.

“Kau ingin menyelesaikan perkelahian ini dengan senjata?“ bertanya Puranti.

“Sebenarnya aku ingin menangkapmu hidup-hidup, kemudian aku akan melakukan rencanaku. Tetapi agaknya kau memang mempunyai bekal untuk menyombongkan dirimu, sehingga aku mengambil keputusan untuk menangkapmu dengan cara lain meskipun aku terpaksa melukaimu”

Puranti memandang Hantu Bertangan Api itu dengan tajamnya. Ternyata hatinya benar-benar telah terbakar melihat sikap dan kata-kata Hantu Bertangan Api yang menyakitkan hati itu.

“Puranti“ berkata Hantu Bertangan Api “aku tidak yakin, bahwa kau juga berhasil meningkatkan dirimu di dalam olah senjata. Itulah sebabnya aku tidak segera mempergunakan pedangku, karena sebenarnya aku tidak ingin menyentuh kulitmu dengan ujung pedang. Tetapi karena ternyata kau keras kepala, maka aku terpaksa melukaimu sebelum menghukummu”

“Jangan banyak bicara“ geram Puranti “kalau kau ingin mempergunakan senjata cepat pergunakan”

Mata Hantu Bertangan Api rasa-rasanya menjadi menyala. Dengan serta-merta ia menarik kedua pedangnya bersama-sama. Sambil mengacukan pedangnya ia menggeram “Berdoalah untuk yang terakhir kali Puranti”

Puranti memandang kedua ujung pedang Hantu Bertangan Api. Ayahnya juga mengatakan, bahwa Hantu Bertangan Api itu telah berusaha untuk menyempurnakan ilmu pedang rangkap. Ia memang benar-benar telah mempersiapkan diri untuk melawan Pikatan justru karena Pikatan hanya Bertangan sebelah. Dengan pedang rangkap Hantu Bertangan Api ingin membuat Pikatan menjadi bingung dan tidak dapat melawan kedua pedangnya dengan sebaik-baiknya.

Tetapi ternyata yang dihadapinya kini bukan Pikatan, Tetapi Puranti, yang pada beberapa saat yang lampau memiliki kemampuan-melampaui kemampuan Pikatan.

Tetapi kini Hantu bertangan api tidak mempunyai pilihan lain, la memang harus menghadapi Puranti yang tidak disangka-sangkanya berada di tempat itu.

“Bersiaplah“ berkata Hantu Bertangan Api “kau sedang menghadapi saat terakhir dari hidupmu”

Puranti tidak menyahut. Ditatapnya wajah Hantu Bertangan Api yang bagaikan menyala itu. Namun ia sendiri masih berusaha untuk mengendapkan hatinya, meskipun rasa-rasanya bagaikan mendidih.

“Aku sudah menyetujui rencana ayah“ berkata Puranti di dalam hatinya. Dan rencana itulah yang sebenarnya telah menahan hatinya.

“Cepat“ bentak Hantu Bertangan Api “aku bukan orang yang dapat sabar menunggu. Jika aku sudah siap untuk membunuh maka meskipun kau tidak bersenjata. aku akan tetap membunuhmu.

Puranti tidak menyahut. Tetapi tangannyapun kemudian bergerak meraba hulu pedangnya. Sambil memandang kedua ujung pedang Hantu Bertangan Api yang teracu kepadanya, Puranti menarik pedangnya perlahan-lahan. Kemudian tangan kirinyapun menggenggam sebuah pisau belati panjang. Dengan kedua senjatanya itu ia telah siap melawan sepasang pedang Hantu Bertangan Api.

“Hem“ Hantu Bertangan Api menggeram “kau sudah bersiap dengan sepasang senjata”

“Aku sudah tahu bahwa kau mencoba memperdalam penggunaan senjata rangkap untuk melawan Pikatan yang cacat sebelah tangannya. Benar-bebar suatu cara yang licik”

“Persetan“ jawab Hantu Bertangan Api “ternyata sebelum aku membunuh Pikatan aku harus mencincangmu lebih dahulu.

Puranti tidak menjawab, Tetapi ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

Demikianlah sejenak kemudian Hantu Bertangan Api vang sedang marah, segera meloncat menyerang. Kedua senjatanya segera bergerak. Yang sebelah terayun mendatar, sedang yang lain mematuk lurus ke dada Puranti.

Tetapi Puranti memang sudah bersiap menghadapi serangan itu. Dengan lincahnya ia bergeser. Dengan pedangnya ia menahan ayunan senjata Hantu Bertangan Api, kemudian dengan pisau belati panjangnya ia memukul pedang yang terjulur lurus kedadanya sehingga arah senjata itupun berkisar dan sama sekali tidak menyentuh tubuhnya.

Namun sejenak kemudian serangan Hantu Bertangan Api itupun datang pula susul menyusul seperti banjir bandang di Kali Kuning. Sepasang senjatanya itu berputaran membingungkan seakan-akan tanpa arah. Bahkan kemudian sepasang pedang itu bagaikan gumpalan awan yang kekuning-kuningan memantulkan cahaya bulan bulat bergulung-gulung siap menelan Puranti dengan sepasang senjatanya pula.

Setiap orang yang menyaksikan perkelahian itu menjadi berdebar-debar. Ternyata bahwa Hantu Bertangan Api benar-benar mampu mempergunakan sepasang senjata dengan baik, sehingga karena itulah maka Puranti menjadi selalu terdesak karenanya. Setiap kali Puranti harus berloncatan menjauh. Sekali-kali ia berhasil menangkis serangan beruntun dari Hantu bertangan Api itu, namun kemudian ia harus bergeser surut.

Hantu Bertangan Api semakin lama menjadi semakin yakin, bahwa dengan senjata rangkapnya ia akan berhasil mendesak Puranti dan bahkan akan menguasainya. Karena itu maka katanya kemudian ”Nah, sekarang kau baru mengenal siapakah Hantu Bertangan Api yang sesungguhnya. Kau tentu tidak akan dapat berbuat banyak menghadapi ilmu pedang rangkapku. Aku sudah berlatih begitu lama dan sempurna. Tidak ada seorangpun dimuka bumi ini yang dapat melawan sepasang pedangku. Kau tidak dan apalagi Pikatan yang bertangan sebelah itu”

“Jangan sombong “jawab Puranti “kau masih belum berhasil mengalahkan aku”

“Sebentar lagi aku memang tidak akan segera membunuhmu. Aku ingin membuatmu yakin lebih dahulu, kemudian membuatmu tidak berdaya, karena aku sudah berjanji untuk membuatmu sakit dan malu sebelum kau mati. Jika kau kalah, maka tidak akan ada seorangpun yang dapat melawan aku. Pikatan juga tidak”

“Tetapi jangan sebut-sebut nama Pikatan“ berkata Puranti ”kau tidak pantas melawannya. Jika kau bangga dengan kemajuanmu yang tidak berarti ini, maka Pikatan sekarang benar-benar orang yang lain dari Pikatan waktu itu. Meskipun ia cacat tangan kanannya, namun dengan tangan kirinya ia dapat membunuhmu tanpa perlawanan yang berarti.

”Bohong, bohong“ teriak Hantu Bertangan Api, lalu “jika ia mampu berbuat demikian, ia tentu akan datang hari ini, Hari terakhir yang sudah aku janjikan”

“Ia tidak akan datang kemari”

“Karena ia seorang pengecut”

“Tidak. Ia sama sekali bukan pengecut”

“Kenapa ia tidak mau datang?”

Terasa sesuatu bergetar di dada Puranti. Namun betapapun beratnya, ia berkata sambil sekilas memandang Wiyatsih “Pikatan tidak tahu kalau kau ada disini”

“He“ sejenak wajah Hantu Bertangan Api menjadi merah membara. Ketegangan di hatinya bagaikan melonjak sehingga hampir diluar sadarnya ia meloncat surut.

Ternyata bukan Hantu Bertangan Api itu sajalah yang terkejut. Orang-orang Sambi Saripun terkejut mendengar kata-kata Puranti itu. Sejenak mereka saling berpandangan. Sedang Ki Demang memandang Kesambi dengan sorot mata yang dipenuhi oleh keragu-raguan.

“Aneh“ desis Kesambi “aku sudah bertemu langsung dengan Pikatan. la tentu tahu. Tidak mungkin bahwa Pikatan tidak mengetahuinya”

Dalam pada itu Puranti berkata selanjutnya “Sebernarnyalah bahwa Wiyatsih tidak pernah mengatakan kepada Pikatan”

“Gila, kalian benar-benar gila”

“Jangan berteriak begitu keras Hantu Bertangan Api. Kami sudah berbuat sebaik-baiknya buat kepentinganmu. Jika Wiyatsih mengatakannya kepada Pikatan, maka umurmu sudah akan diselesaikannya kemarin, seketika pada saat ia mengetahuinya”

“Lalu apa yang kau kerjakan berdua? Kalian benar-benar gadis binal”

“Wiyatsih tidak mengatakan kepada Pikatan, karena sebenarnya aku ingin mengetahui apakah Hantu Bertangan Api kini benar-benar sudah mampu melawan Pikatan”

“Setan“ Hantu Bertangan Api menggeram. Kemarahannya benar-benar tidak dapat dikendalikannya lagi, sehingga dengan garangnya ia meloncat menyerang seperti badai yang melanda tebing pegunungan.

Sekali lagi Puranti harus bertahan dengan susah payah. Setiap kali ia terdesak surut. Senjata Hantu Bertangan Api itu benar-benar berbahaya. Kedua senjata di kedua tangannya itu bagaikan berubah menjadi berpuluh-puluh pucuk senjata.

Puranti yang terdesak itu semakin lama menjadi semakin jauh surut. Bahkan semakin lama semakin dekat dengan tebing Kali Kuning, sehingga pada suatu saat Puranti benar-benar telah terdesak sehingga punggungnya menyentuh tebing padas.

“Nah“ geram Hantu Bertangan Api kemudan “apakah kau akan lari? Kau sudah terjepit sekarang, dan kau harus mengalami sakit dan malu di tepian ini”

Puranti tidak menjawab. Tetapi sorot matanya bagaikan membayangkan hatinya yang putus asa. Sekali-kali dipandanginya Wiyatsih yang berdiri di kejauhan dengan termangu-mangu. Beberapa langkah ia bergeser. Tetapi orang-orang Hantu Bertangan Apipun bergerak pula untuk apabila perlu menghalanginya,

Namun ternyata bukan hanya Wiyatsih yang bergeser. Para penjaga regol rumahpun bergerak pula diikuti oleh para bebahu, tetapi merekapun segera berhenti ketika Wiyatsihpun berhenti pula.

“He orang-orang Sambi Sari“ teriak Hantu Bertangan Api “inikah orang yang kau harapkan. Inikah orang yang kau sangka dapat melindungi kalian? Ia akan segera mengalami nasibnya yang buruk. Sakit dan malu di tepian kali Kuning sebelum ia akan mati terbunuh.
Tidak seorangpun yang menyahut.

Dalam pada itu Puranti berdiri tegak melekat tebing. Senjatanya masih tetap di dalam genggamannya. Pedang ditangan kita dan pisau belati panjangnya ditangan kiri. Namun ia tidak dapat lagi melangkah surut, karena punggungnya sudah menyentuh tebing.

Hantu Bertangan Api berdiri bebepa langkah dihadapannya dengan sepasang pedangnya. Sambil mengacungkan kedua senjatanya ia tertawa sambil berkata “Puranti. sekarang cobalah menyombongkan dirimu. Apakah arti sepasang pedangmu yang masih bersilang di dada itu. Jika kau masih berkeras kepala, maka aku dapat mengambil semua tindakan yang aku ingin. Dari yang paling kasar secara jasmaniah sampai yang paling kasar secara rohaniah. Kau mengerti maksudku?“

Puranti sama sekali tidak menjawab. Tetapi sepasang senjatanya masih tetap bersilang. Kakinya masih juga merenggang, dan lututnya masih ditekuknya sedikit.

“Kau memang seorang gadis yang binal. berkata Hantu Bertangan Api di sela-sela suara tertawanya “tetapi sebenarnya gadis yang binal sangat menarik perhatian. Huh, sekarang lepaskan senjatamu. lemparkan jauh-jauh dari padamu. Dan kau akan mendapat sedikit keringanan hukuman”

Puranti sama sekali tidak bergerak.

“Cepat“ teriak Hantu Bertangan Api.

Puranti masih tetap termangu-mangu.

“Cepat lemparkan senjatamu”

Puranti menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba saja kedua tanganya yang memegang sepasang senjatanya yang bersila itupun mengendor. Dan semua mata yang memandang menjadi tegang.

“Bagus. Lepaskah. Kau sudah membantu aku mengurangi kesibukanku malam ini”

“Tetapi kau belum mengalahkan Pikatan“ tiba-tiba terdengar suara Puranti.

“Aku akan membunuhnya, setelah aku menyelesaikanmu”

“Kau tidak akan dapat membunuhnya. Jika kau masih tetap akan membunuhku, maka kau akan mendapat pembalasan dari padanya,

“Aku tidak peduli. Aku memang ingin memanggilnya” Puranti termangu-mangu sejenak. Dipandanginya wajah Hantu Bertangan Api itu.

Tetapi itu telah dicengkam oleh ketegangan yang memuncak. Semua orang memperhatikan apa yang akan terjadi kemudian. Di dalam cahaya bulan bulat, mereka melihat Puranti berdiri melekat tebing dengan sepasang senjatanya yang sudah mulai merunduk, sedang Hantu Bertangan Api masih berdiri dengan garangnya sambil menggenggam sepasang pedangnya.
Dalam ketegangan itu, yang terdengar hanyalah gemericik aliran Kali Kuning. Di kejauhan terdengar bunyi bilalang yang berderik dengan irama yang teratur.

Puranti masih sempat memperhatikan suara bilalang itu. Setiap kali ia menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba saja ia berkata “Hantu Bertangan Api. Kau menang. Tetapi ternyata bahwa aku bukan orang terkuat diperguruanku. Pada suatu saat kau akan berhadapan dengan Pikatan”

“Aku siap setiap saat. Ternyata ia tidak berani datang malam ini”

“Sudah aku katakan, ia tidak mengerti bahwa kau ada disini Sekarang, jika kau akan membunuhku, lakukanlah”

Hantu Bertangan Api memandang Puranti dengan sorot mata hantunya. Namun tiba-tiba ia berteriak “Kau akan mengalami sakit dan malu. Aku tidak akan segera membunuhmu. Aku berharap bahwa Pikatan akan mendengar dari siapapun, bahwa seorang saudara seperguruannya mengalami nasib yang sangat jelek di tepian ini. Mudah-mudahan ia masih tetap seorang laki-laki dan berani menghadapi Hantu Bertangan Api”

“Jika ia mendengar tentu ia akan datang”

“Persetan. Bersiaplah untuk menerima hukumanmu. Lepaskan senjatamu. Cepat”

“Kau tentu akan dihukum pula olah Pikatan”

“Persetan. Aku memang menantangnya. Aku memang menunggunya disini, kau dengar? Jika ia memang seorang laki-laki, maka ia tentu akan datang, Cepat lepaskan senjatamu”

Suasana yang tegang itu menjadi semakin tegang. Dan Hantu Bertangan Api itu berteriak kepada orang-orangnya “Nah, kalian akan mendapat kesempatan sekarang. Berbuatlah sesuatu untuk melepaskan sakit hati terhadap Puranti. Ia adalah sebab kematian kakakku. Dan karena itulah maka hukumannya harus ditanggungnya”

Anak buah Hantu Bertangan Api menjadi ragu-ragu. Namun mereka mendengar Hantu itu berteriak “Cepat. Aku sudah memenangkan perkelahian ini. Kalian dapat. berbuat apa saja. Bukan saja atas Puranti, Tetapi atas semua orang Sambi Sari, termasuk Wiyatsih. Tetapi selesaikan dahulu gadis liar ini.

Tiba-tiba seseorang dari anak buahnya bertanya “Apa yang dapat kami lakukan atasnya?“

“Sekehendakmulah. Apa saja yang akan kau lakukan untuk membalas sakit dan malu”

Beberapa orang mulai bergerak. Namun dalam pada itu Wiyatsihpun melangkah maju tanpa sesadarnya.

“Kau tidak boleh ikut campur Wiyatsih. Kami sudah mengucapkan janji sebelum kita bertempur. Jangan berbuat bodoh, yang akan menjerumuskan kau ke dalam keadaan yang serupa dengan Puranti”

Ketegangan di tepian itu menjadi semakin memuncak, ketika beberapa orang pengiring Hantu Bertangan Api itu sudah mulai bergerak maju. semua orang bagaikan terhenyak membeku di tempatnya. Sedang Puranti sendiri sama sekali tidak bergeser, meskipun sepasang senjatanya yang merunduk masih tetap digenggamnya.

Dalam pada itu, selagi setiap dada dicengkam oleh ketegangan yang memuncak, selagi setiap jantung bergejolak oleh kecemasan yang tiada taranya, tiba-tiba saja tepian itu telah digetarkan oleh suara seseorang dari atas tanggul Kali Kuning. Suara yang untuk beberapa lamanya melingkar-lingkar bagaikan gema yang dilontarkan dari segala arah.

“Berhenti. Berhentilah kalian, Jangan dekati gadis itu”

Suara itu menggelegar diatas setiap kepala dan rasa-rasanya bergulung-gulung disetiap dada. Setiap kepalapun kemudian berpaling keatas tanggul. Dengan dada yang berdebaran mereka melihat sesosok tubuh yang berdiri dengan tegapnya, dibawah cahaya bulan purnama yang sedang mengambang di langit. Ditangan kirinya digenggamnya sehelai pedang yang melampaui pedang kebanyakan.

“Kakang Pikatan“ Wiyatsih berdesis. Hatinya terasa terguncang melihat bayagangan diatas tanggul itu. sehingga diluar sadarnya, terasa matanya menjadi panas dan basah “kau datang kakang“ Tetapi tidak seorangpun yang mendengar kata-katanya selain dirinya sendiri.

Dalam pada itu, Purantipun menundukkan kepalanya. Ia tidak mau melihat bayangan yang berdiri diatas tebing itu.

“Kau hanya berani melawan perempuan cengeng Hantu bertangan Api“ berkata bayangan diatas tebing itu “inilah Pikatan jika kau memang laki-laki, ayo, kita berhadapan sebagai laki-laki”

Dada Hantu Bertangan Apipun bergetar dengan dahsyatnya kehadiran Pikatan yang justru tidak disangka-sangka itu membuatnya agak bingung sesaat. Namun kemudian iapun menyahut dengan nada yang berat “Pengecut. Aku kira kau tidak berani datang Pikatan. Aku sudah jemu menunggumu. Dan malam ini adalah malam terakhir yang aku berikan kepadamu. Jika kau tidak datang, maka aku akan mengambil sikap sesuai dengan watak dan tabiatku”

“Aku tidak peduli“ jawab Pikatan. Lalu “Aku sama sekali tidak terikat dengan kepentinganmu dan kepentingan siapa saja”

“Jika kau tidak datang, maka aku akan merusak bendungan ini menuntut korban berlipat ganda atas orang-orang Sambi Sari, termasuk Puranti dan Wiyatsih”

“Aku tidak peduli. Aku tidak ada persoalan dan ikatan dengan siapapun. Jika aku datang ke tepian ini karena aku ingin datang. Jika kau mau membunuh dan merusak bendungan itu adalah urusanmu. Aku sama sekali tidak berkepentingan”

Hantu Bertangan Api mengerutkan keningnya. Dan Pikatan berkata selanjutnya “Hantu Bertangan Api, aku datang saat ini karena aku ingin datang. Itulah soalnya, sudah aku katakan aku tidak mempunyai sangkut paut dengan siapapun”

Hantu Bertangan Api menggeram. Katanya “Kesombonganmu benar-benar menjulang sampai ke langit. Baik, baik. Apapun persoalannya, sekarang kau sudah ada disini. Marilah kita membuat perhitungan atas kekalahan kami di Goa Pabelan itu. Aku sudah mengalahkan gadis binal ini, dan hampir saja aku menjatuhkan hukuman atasnya. Tetapi karena kehadiranmu, semuanya dapat ditunda. Aku memang hanya memerlukan kau, atau tidak ada sangkut pautnya dengan bendungan dan kedua gadis liar itu”

“Jangan kau sebut-sebut lagi orang lain, disini kita berdua. Aku dan kau. Hanya itu”

“Bagus, apakah kau akan turun ke tepian, atau aku yang harus memanjat tebing?“ bertanya Hantu yang menjadi semakin marah.

Pikatan tidak mejawab, ia melangkah maju dan berdiri tepat dibibir tebing Kali Kuning. Tiba-tiba saja ia menuruni tebing itu dengan caranya. Ia sama sekali tidak bergeser selangkah demi selangkah pada tebing berbatu padas itu. Tetapi ia begitu saja meloncat dari atas tanggul langsung ketepian berpasir seperti seekor burung yang terbang dan kemudian hinggap diatas sebatang dahan.

Setiap orang yang melihat caranya menuruni tebing itu menjadi berdebar-debar. Bahkan Hantu Bertangan Apipun mengerutkan keningnya. Namun ketika tampak olehnya pedang Pikatan digenggamnya dengan tangan kiri, maka Hantu itupun menjadi berbesar hati.

“Puranti yang Bertangan rangkap itu sama sekali tidak berhasil melawan aku, apalagi Pikatan yang Bertangan sebelah” katanya di dalam hati.

“Marilah hantu yang bodoh“ berkata Pikatan “kita membuat perhitungan. Aku tidak peduli alasan apapun yang akan kau kemukakan. Bagiku,, aku ingin berkelahi, itu saja. Tidak ada persoalan-persoalan lain”

Puranti yang mendengar kata-kata Pikatan itu menarik nafas dalam-dalam. Disaat-saat yang gawat, Pikatan masih tetap Pikatan yang sombong dan merasa dirinya hidup sendiri di dunia ini menghadapi persoalan yang paling sulit yang sebenarnya telah dibuatnya sendiri pula.

Dalam pada itu Hantu Bertangan Api menggeram. Darahnya bagaikan mendidih. Dengan garangnya ia berkata “Apapun yang kau katakan, akupun tidak peduli. Akupun berpijak pada kepentinganku. Nah. sekarang bersiaplah Pikatan”

Pikatan tidak menjawab. Ia maju selangkah. Sementara beberapa orang tanpa menyadarinya telah melingkari kedua orang yang akan berperang tanding itu. Orang-orang Hantu Bertangan Api yang terpesona itupun telah tidak menghiraukan lagi Puranti yang telah melangkah mendekati dan berdiri disamping Wiyatsih. Ditangannya masih tergenggam sepasang senjata.

Dengan jantung yang berdebar-debar diluar sadarnya, Puranti memandang Pikatan hampir tanpa berkedip. Ternyata dibalik kesombongannya, masih juga terbersit sesuatu yang memaksanya untuk datang ke tepian. Ternyata bahwa Pikatan masih juga tidak sampai hati melepaskan seorang perempuan untuk mati oleh Hantu bertangan Api. Dan disaat yang paling gawat baginya, Pikatan telah menyatakan kehadirannya di tepian ini.

Dada Puranti menjadi semakin berdebar-debar. Pikatan yang kemudian berdiri tegak bagaikan sebongkah batu karang itu, bagi Puranti merupakan seorang laki-laki yang paling jantan di muka bumi. Tubuhnya yang tegap, tatapan matanya yang tetap dan tajam hatinya yang keras dan tentu di dalam olah kanuraganpun Pikatan adalah laki-laki yang dapat dibanggakan.

“Tidak, tidak“ tiba-tiba saja Puranti berusaha untuk mengelak“ ia sudah menghina aku, dan aku harus menghina diriku sendiri”

Namun bagaimanapun juga ia tidak dapat ingkar, bahwa ia menjadi cemas melihat kedua orang itu sudah mempersiapkan diri untuk berkelahi.

Hantu Bertangan Api yang marah itupun sudah siap dengan sepasang pedangnya. Setiap kali pedangnya bergerak, maka ia menjadi semakin yakin, bahwa kelumpuhan tangan kanan Pikatan, tidak akan dapat ditebus dengan kemampuannya menggerakkan pedang dengan tangan kirinya.

“Dengan kedua belah tanganmu kau tidak akan. dapat mengalahkan aku sekarang, Pikatan, apalagi dengan sebelah tanganmu”

“Tutup mulutmu“ sentuhan atas cacinya itu membuat Pikatan semakin marah “kau jangan menyebut cacat seseorang. Kau sendiri memiliki cacat yang tiada taranya. Bukan saja cacat jasmaniah, tetapi cacat rohaniah”

“Kau takut melihat kenyataanmu“ Hantu Bertangan Api itu tiba-tiba tertawa. Tetapi suara tertawanya itupun segera terputus ketika Pikatan mengayunkan pedangnya, Hanya sekedar mengayunkannya saja tanpa diarahkan kepada lawannya. Namun ternyata desing pedang itu telah menggetarkan dada Hantu Bertangan Api.

Bukan saja Hantu Bertangan Api, Tetapi baik Puranti rnaupun Wiyatsih menjadi berdebar-debar juga. Mereka tidak dapat menjajagi kemampuan yang sebenarnya dari kekuatan tangan kiri Pikatan. Puranti memang sering melihat Pikatan berlatih, Tetapi sekedar dari kejauhan, sehingga ia tidak dapat menilai dengan pasti, kekuatan anak muda itu yang sebenarnya.

Ternyata kini Pikatan telah menunjukkan kekuatannya yang meskipun belum sepenuhnya, Tetapi telah menggetarkan setiap jantung orang yang melihatnya.

“Hantu Bertangan Api“ berkata Pikatan “marilah kita segera mulai. Mumpung bulan bulat. Lihat, bulan mulai berkalang. Dan itu adalah pertanda bahwa di tepian ini akan ada sesosok mayat terkapar. Aku atau kau”

Hantu Bertangan Api menggeram. Selangkah lagi ia mendekat. Ia sudah memperhitungkan masak-masak, bahwa kelemahan Pikatan ada di bagian kanan, karena tangan kanannya yang lumpuh. Dengan demikian maka serangan-serangannya justru harus dititik beratkan pada bagian kanan itu.

Sejenak kemudian tepian itu sekali lagi dicengkam oleh sepi yang tegang. Diantara beberapa orang yang berdiri tegang dua orang yang menggenggam senjata saling berhadapan dalam nada kemarahan yang meluap-luap.

Hantu Bertangan Api yang telah dibakar nafsunya yang hampir meledakkan dadanya itupun maju semakin mendekat. Pedangnya mulai bergerak-gerak dan sejenak kemudian, dengan derasnya ia meloncat maju sambil menjulurkan pedangnya langsung ke dada Pikatan.

Tetapi Pikatan sadah mempersiapkan diri. Dengan tangkasnya ia bergeser dan menangkis serangan pedang ditangan kanan dan memukulnya kesamping tubuhnya. Namun. dengan demikian bagian kanan tubuhnya menjadi terbuka, justru karena tangan kanannya yang cacat. Dengan tangkasnya Hantu Bertangan Api itu menyerang dengan tangan kirinya, mendatar menembus kekosongan bagian kanan tubuh Pikatan.

Namun hal yang demikian itu memang sudah diperhitungkan pula oleh Pikatan. Sekali lagi ia bergeser dan melingkar sehingga pedang Hantu Bertangan Api sama sekali tidak menyentuhnya.

Disaat berikutnya Pikatan tidak membiarkan dirinya untuk selalu diserang. Sesaat kemudian maka dengan garangnya iapun berganti menyerang. Bukan saja kecepatannya bergerak yang mengagumkan orang-orang yang menyaksikannya. Tetapi ternyata bahwa tenaga Pikatan itupun tiada terduga kuatnya. Setiap sentuhan senjata, terasa tangan Hantu Bertangan Api itu bergetar.

Tetapi Hantu Bertangan Api selalu mempergunakan kelemahan tangan kanan Pikatan. Serangannya datang beruntun seperti banjir. Sekali-sekali ia memandng senjata Pikatan kebagian kiri tubuhnya untuk kemudian menyerang dengan dahsyat ke lambung kanannya.
Kedua senjata Hantu Bertangan Api itu bagikan segulung awan yang keputih-putihan di dalam kuningnya cahaya bulan purnama yang cerah di langit. Namun yang kemudian telah dilingkari oleh cahaya berwarna putih, semakin lama menjadi semakin nyata.

“Bulan berkalang dilangit“ desah Wiyatsih di dalam hati. Seperti yang dikatakan oleh Pikatan, maka hampir pasti akan ada kematian di tepian Kali Kuning. Pikatan sendiri atau Hantu Bertangan Api.

Perkelahian yang terjadi antara kedua laki-laki itu semakin menjadi semakin dahsyat. Mereka saling menyerang dan saling menghindar. Setiap kali terdengar senjata mereka beradu, sepercik bunga Api memancar bagaikan menyentuh setiap hati.

Hantu Bertangan Api ternyata benar-benar memiliki kemampuan bermain senjata rangkap. Dan seperti yang selalu dilakukan, serangannya agak berat disebelah kanan bagian tubuh Pikatan.

Puranti dan Wiyatsih yang mengerti cara yang dipergunakan oleh Hantu Bertangan Api menjadi berdebar-debar. Merekapun sadar bahwa kelemahan Pikatan itu adalah kelemahan yang berbahaya berhadapan dengan sepasang senjata Hantu bertangan Api.

Tetapi seperti orang lain menyadari, maka Pikatan adalah orang yang paling mengerti tentang dirinya. Justru karena tangan kanannya cacat, maka ia merasa perlu untuk menaruh perhatiannya pada bagian tubuhnya yang lemah itu. Dengan demikian, maka sejak Pikatan berusaha menempa dirinya, ia memang sudah memperhitungkannya, Karena itulah, maka diluar pengetahuan orang lain, latihan-latihan yang dilakukannya selama ini untuk menyempurnakan diri, sebagian memang ditekankan pada kelemahan yang disadarinya itu.
Ketika ia kemudian bertemu dengan Hantu Bertangan Api, maka Pikatan sebenarnya sama sekali sudah tidak terkejut lagi. Dengan penuh kesadaran ia sudah memperhitungkan bahwa Hantu bertangan Api akan menekankan serangan-serangannya pada bagian tubuhnya yang lemah. Namun justru karena itulah maka pertahanan Pikatan dibagian kanan tubuhnya melampaui perhatiannya yang lebih besar, sejak ia membajakan dirinya.

Itulah sebabnya, maka setiap usaha Hantu Bertangan Api untuk menembus kelemahan Pikatan itu selalu gagal. Ia tidak menyangka bahwa gerakan Pikatan justru diberatkan pada bagian kanan tubuhnya meskipun ia mempergunakan tangan kirinya.

Dengan demikian maka perkelahian diantara mereka semakin lama menjadi semakin meningkat. Setiap dada mereka yang menyaksikan perkelahian itupun menjadi berdebar-debar. Pasir tepian Kali Kuliing itu bagaikan telah diaduk dangan bajak-bajak raksasa. Serangan-serangan mereka yang tidak mengenai sasarannya dan menyentuh batu-batu padas tebing bagaikan meruntuhkan tanggul. Sedangkan batu-batu tepian yang tersentuh kaki mereka yang berloncatan itu bagaikan daun-daun kering yang diamuk badai. Berterbangan kesegala arah.

Itulah sebabnya, maka mereka yang mengerumuni perkelahian itupun dengan sendirinya memencar. Mereka tidak ingin kepala mereka terbentur batu-batu yang berterbangan itu, dan pasir yang bertebaran seperti percikan air yang mengeras dalam butiran-butiran yang hitam.
Demikianlah perkelahian itu benar-benar semakin lama menjadi semakin dahsyat. Keduanya benar-benar telah mempersiapkan diri masing-masing untuk menghadapi saat-saat yang menentukan ini.

Namun, beberapa lamanya perkelahian ini sudah berlangsung, Hantu Bertangan Api sama sekali tidak berhasil menembus kelemahan dibagian kanan tubuh Pikatan. Karena itulah, maka ia harus menyadari, bahwa sebenarnyalah bahwa bagian kanan tubuh Pikatan tidak merupakan sebuah kelemahan baginya, ternyata bahwa. serangannya sama sekali tidak menghasilkan apa-apa. Dan kesadaran itulah kemudian yang memaksa Hantu Bertangan Api untuk melepaskan usahanya lewat bagian kanan tubuh Pikatan.

Hantu Bertangan Api itupun kemudian memandang Pikatan sebagai lawan seutuhnya. Keseluruhannya. Ia ternyata tidak dapat menganggap cacat tangan kanan Pikatan itu sebagai suatu kesempatan. Tetapi Pikatan ternyata mempunyai caranya sendiri untuk menghadapi sepasang pedangnya.

Semakin lama maka perkelahian itupun menjadi semakin cepat. Masing-masing telah mengerahkan segenap kemampuan yang mereka miliki. Mereka tidak dapat menahan diri lagi sehingga semua kemampuan merekapun telah tercurah.

Namun dengan demikian, maka lambat laun, nafas merekapun mulai mengalir semakin cepat. Tangan mereka menjadi basah oleh keringat dan tenaga merekapun menjadi semakin berkurang.

Kekuatan yang tiada taranya dari tangan Hantu Bertangan Api dan yang telah berhasil melengkungkan sepotong besi, ternyata tidak mampu menembus kekuatan Pikatan yang tidak kalah dahsyatnya. Yang tampak meloncat adalah bunga-bunga Api yang keputih-putihan.

Dalam saat-saat yang semakin tegang, keduanya sudah tidak begitu tepat lagi mengendalikan senjata masing-masing. Serangan-serangan mereka menjadi semakin lemah, namun masih tetap berbahaya.

Itulah sebabnya, maka keduanya masih harus tetap memeras tenaga betapapun mereka menyadari bahwa tenaga mereka menjadi semakin susut.

Hantu Bertangan Api yang dibakar oleh kemarahan yang meluap-luap itupun tidak melepaskan niatnya sama sekali, ia harus berhasil membunuh Pikatan, apapun caranya. Dengan segenap kemampuan yang ada ia berusaha untuk membingungkan Pikatan dengan sepasang pedangnya. Ujung pedangnya yang bagaikan kilat yang berterbangan mengitari tubuh. lawannya itu, semakin lama rasa-rasanya memang semakin dekat dengan kulit Pikatan.

Didalam luapan kemarahan yang tiada taranya, Hantu bertangan Api masih sempat menghentakkan kemampuan yang ada padanya, dengan sebuah serangan yang tiada terduga-duga. Kedua pedangnya bergerak bersama dengan sasaran yang berbeda.
Pikatan berdesir melihat serangan itu. Ia terpaksa menangkis salah sebuah dari kedua pedang itu, sedang untuk menghindari yang lain, ia meloncat selangkah kesamping. Namun Hantu bertangan Api masih mempergunakan kesempatan yang tampak memberikan kemungkinan untuk mendesak lawannya. Sebuah serangan berikutnya telah menyusul, semakin cepat dan beruntun,

Bersambung

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s