Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

yang terasing TAMAT

Tinggalkan komentar


Jilid 13-Bab 03- Akhir Keterasingan (Tamat)

Pikatan terpaksa meloncat sekali lagi. Tetapi Hantu Bertangan Api berhasil memancing senjata Pikatan untuk menahan sebuah pedangnya, sedang pedangnya yang lain menyambar dengan cepatnya kearah dada kanannya.

Dengan kecepatan yang sama Pikatan berhasil menghindarkan dirinya dari serangan yang beruntun itu. Meskipun ia hanya mempergunakan sebilah pedang, namun ia masih selalu berhasil menghindarkan dirinya dari setiap sentuhan pedang lawannya, bahkan kemudian ia berhasil menyerang kembali dengan kekuatannya yang luar biasa, sehingga justru Pikatanlah telah mendesak lawannya. Senjata yang besar itu berdesing dengan dahsyatnya, seperti sekumpulan lebah yang sedang marah.

Kemarahan yang tiada tertanggungkan rasa-rasanya telah meretakkan dada Hantu Bertangan Api, Karena itulah maka hatinya menjadi gelap. Ia seakan-akan telah kehilangan sifat-sifat kejantannya. Ketika serangan Pikatan datang beruntun dan mendesaknya ke tebing Kali Kuning, tiba-tiba saja diluar dugaan, Hantu Bertangan Api telah dengan cepatnya mengayunkan kakinya menghamburkan pasir yang kehitam-hitaman kearah wajah Pikatan.

Benar-benar suatu kecurangan yang tidak dapat dimaafkan. Sepercik pasir agaknya telah masuk ke dalam mata Pikatan, hingga sesaat Pikatan kehilangan keseimbangannya, justru karena ia sama sekali tidak menyangka bahwa akan terjadi demikian.

Pada saat itu Hantu Bertangan Api berusaha mempergunakan kesempatan. Dengan sebuah loncatan ia menyerang dada Pikatan dengan pedangnya.

Tetapi serangan yang tergesa-gesa, serta gerakan naluriah yang dilakukan oleh Pikatan pada saat terakhir, ternyata telah menolong jantung Pikatan. Namun demikian ia terdorong ke samping ketika tusukan pedang Hantu Bertangan Api itu menyentuh pundaknya.

Yang terdengar adalah desis tertahan, justru pada saat Pikatan memejamkan matanya.
Berbareng dengan itu, hampir bersamaan Puranti dan Wiyatsih berteriak bersama. Dan hampir bersamaan pula mereka meloncat maju menyerang Hantu Bertangan Api itu. Mereka tidak ingin melihat Pikatan sekali lagi ditusuk dengan pedang tanpa perlawanan, karena matanya sedang terpejam.

Hantu Bertangan Api yang sebenarnya, memang ingin. menyelesaikan. Pikatan dengan sebuah tusukan yang mematikan pada saat Pikatan kebingungan, terpaksa mengurungkan niatnya. Dua buah pedang hampir bersama-sama telah mematuk tubuhnya. Pedang Puranti dan Wiyatsih.

“Kau curang Hantu gila“ teriak Wiyatsih “ternyata namamu sama sekali tidak seimbang dengan sifatmu”

Hantu Bertangan Api tidak menyahut. Kedua gadis itupun sangat berbahaya baginya, jika kedua-duanya marah dan bertempur bersama-sama. Karena itu, maka iapun berusaha mempertahankan dirinya dari serangan keduanya.

Dalam pada itu Pikatan masih didalam kebingungan. la tidak dapat mengusap matanya dengan tangan kananya yang lumpuh, sehingga jika ia akan membersihkan matanya itu dengan tangan kirinya, ia harus meletakkan pedangnya.

“Lakukanlah“ teriak Wiyatsih yang melihat kakaknya ragu-ragu “bersihkan pasir itu. Aku dapat menahannya untuk bebeberapa lama bersama Puranti”

Sejenak Pikatan justru tertegun, ternyata kedua gadis itulah menolong jiwanya meskipun lawannnya telah berbuat curang. Dan ia tidak mau ditolong oleh perempuan yang manapun.

Puranti yang lebih dewasa dari Pikatan. agaknya melihat keragu-raguan itu. Untuk beberapa saat iapun ragu-ragu. Tetapi akhirnya ia berhasil memaksa dirinya sendiri untuk mengatasi harga dirinya dan berkata “Kakang Pikatan, cepat sebelum kami berdua mati”

Pikatan yang masih memejamkan matanya, masih termangu-mangu Sejenak. Tetapi ketika ia sekali mendengar suara Puranti, hatinya tersentuh juga. Apalagi kemudian Wiyatsihpun berkata “Kakang Pikatan, cepatlah. Di dekatmu ada air Kali Kuning, air yang dapat membersihkan penghidupan bagi kita”

Pikatan seperti orang yang terbangun dari tidurnya yang dicengkam oleh mimpi buruk. Beberapa langkah ia maju sehingga kakinya menyentuh air Kali Kusing. Dengan serta-merta ia berjongkok sambil meletakkan pedangnya. Dengan tangan kirinya ia mencuci matanya yang penuh dengan pasir.

Pada saat itu, orang-orang Hantu Bertangan Api bergerak justru kareha Pikatan meletakkan pedangnya. Namun kedua penjaga regol rumah Pikatan itupun berloncatan diikuti oleh bebahu dan anak-anak muda Sambi Sari. Dengan demikian maka orang-orang Hantu Bertangan Api itupun menjadi ragu-ragu.

Hantu Bertangan Api sendiri mengumpat tidak habis-habisnya. Ternyata bahwa kedua gadis itu benar-benar seperti kijang. Mereka berloncatan dengan cepatnya. Namun setiap saat Puranti selalu berbisik ditelinga Wiyatsih “Beri kesempatan Pikatan sekali lagi.”

Wiyatsih menyadari arti kata-kata Puranti itu, sehingga untuk selanjutnya, keduanya hanya berusaha untuk menahan Hantu itu saja tanpa berusaha untuk membunuhnya.

Namun demikian ternyata bahwa Puranti dan Wiyatsih bersama sama, benar-benar telah membuat Hantu Bertangan Api agak gugup. Keduanya adalah gadis yang lincah dan terlatih mempergunakan senjatanya, apalagi Puranti sendiri menggenggam senjata rangkap.

Sesaat kemudian, Pikatan telah berhasil membersihkan matanya. Ia mulai dapat melihat lagi cahaya bulan bulat di langit yang terpantul di wajah air Kali Kuning.

Namun demikian, perlahan-lahan terasa sesuatu bagaikan menggigit pundak kanannya. Ketika ia meraba pundak itu dengan tangan kirinya, terasa sesuatu menghangati telapak tangannya. Di dalam cahaya bulan ia melihat telapak tangannya itu menjadi merah. Darah.
Pikatan menggeram. Darahnya ternyata telah meleleh dari luka di pundaknya itu, sehingga dengan demikian, kemarahan yang tiada taranya telah mengguncang jantungnya.
Dengan tangan yang gemetar ia memungut pedangnya yang diletakkan diatas pasir tepian. Kemudian tiga kali pedang itu dihunjamkannya ke pasir tepian, seolah-olah ia sedang mencoba ketajaman pedangnya yang besar itu.

Sesaat kemudian Pikatan telah berdiri tegak memandang Hantu Bertangan Api yang sedang bertempur melawan Puranti dan Wiyatsih. la melihat bahwa kedua gadis itu benar-benar gadis yang lincah. Tetapi ia tidak melihat bahwa keduanya akan berhasil mengalahkan Hantu bertangan Api.

Karena itu, maka iapun maju perlahan-lahah. Sorot matanya bagaikan bara yang menyala. Hantu Bertangan Api baginya adalah orang yang harus dimusnahkan. Licik dan tidak mengenal nilai-nilai kejantanan. la dapat berbuat apa saja untuk mencapai maksudnya.

Beberapa langkah dari arena perkelahian itu, Pikatan berhenti sejenak. Dipandanginya Hantu itu dengan tajamnya. Kemudian Puranti dan Wiyatsih berganti-ganti.

Hampir diluar sadarnya, maka Pikatan itupun berkata “Menyingkirlah. Biarlah aku yang menyelesaikannya”

Puranti sempat memandang Pikatan sejenak. Wajah itu baginya benar-benar meyakinkan. Tatapan matanya yang menyala dan kerut di dahinya dalam bayangan cahaya bulan bulat, menyatakan betapa tekad yang bergejolak di dalam dadanya untuk memusnahkan Hantu Bertangan Api itu.

Karena itu Pikatan sudah mapan, Purantipun berdesjs “Lepaskan lawanmu Wiyatsih”

Wiyatsih dan Purantipun kemudian meloncat menjauh meskipun disaat terakhir Hantu itu masih berusaha menyerangnya,

“Hantu Bertangan Api“ Pikatan menggeram dengan nada yang dalam “ternyata kau benar-benar seorang yang licik dan curang. Untunglah kau tidak segera dapat membunuhku dengan kecuranganmu itu sehingga aku masih sempat melawanmu”

“Apakah kau sangka bahwa kau tidak licik. Dalam kesulitan kau suruh perempuan perempuan cengeng itu untuk melawanku., Tentu aku tidak dapat berbuat banyak terhadap perempuan.
Tetapi Pikatan menggeleng. Katanya “Tidak. Aku tidak menyuruhnya berbuat apa-apa. Tetapi jika ia melawanmu, itu sama sekali bukan suatu bantuan apapun terhdapku. Keduanya hanya menahanmu sejenak, selagi aku mencuci mataku yang penuh dengan pasir. Karena itu keduanya sama sekali tidak mempengaruhi perkelahian kita”

Hantu bertangan Api menggeram. Ia tidak menyahut lagi. Dengan serta merta iapun menyerang Pikatan dengan garangnya.

Tetapi Pikatan sudah siap menghadapinya. Meskipun pundaknya yang terluka masih juga terasa pedih, Tetapi luka itu tidak banyak berpengaruh atas tenaganya.

Demikianlah mereka berdua segera terlibat kembali dalam perkelahian yang sengit. Hantu Bertangan Api yang sudah berhasil melukai Pikatan, berusaha untuk menambah kemenangan yang sudah dicapainya.

Dalam pada itu, karena tenaga yang diperasnya, darah di pundak Pikatan itupun bagaikan terdorong semakin banyak meleleh dari luka yang meskipun tidak begitu dalam. Namun darah itu semakin lama akan dapat mempengaruhi kekuatan Pikatan yang memang sudah mulai susut.

Ternyata Pikatan menyadarinya pula. Selain kemarahan yang sudah membakar dadanya, iapun sempat memperhitungkan setiap kemungkinan yang akan terjadi atas dirinya apabila darahnya semakin banyak mengalir dari lukanya.

Karena itulah, maka iapun mulai mengerahkan bukan saja tenaganya. Tetapi ia berusaha untuk membuat perhitungan yang tepat dalam perkelahian itu. la tidak mau ditelan oleh perasaannya yang sedang dibakar kemarahan, Tetapi ia harus membuat perhitungan sebaik-baiknya untuk dapat mengalahkan Hantu yang bersenata rangkap itu.

Demikianlah, maka tata gerak Pikatan itupun justru menjadi semakin mapan tanpa mengurangi tekanan-tekanan yang justru menjadi semakin mantap.

Berbeda dengan Hantu Bertangan Api, maka ia justru menjadi semakin gelisah. Luka Pikatan tampaknya sama sekali tidak mempengaruhinya, ayunan pedang Pikatan yang besar itu masih saja berdesing, justru semakin keras.

Dalam benturan yang keras, terasa tangan Hantu itu bergetar. Pikatan yang mengerahkan segenap kekuatannya berusaha untuk menyakiti pergelangan tangan lawannya dengan benturan yang keras. Dan ternyata usahanya itu tampaknya akan berhasil. Karena itulah maka Pikatan, menjadi semakin bernafsu. Setiap kali ia mengayunkan pedangnya sekeras-kerasnya dalam jarak yang pendek, sehingga Hantu Bertangan Api tidak sempat menghindar, tetapi harus menangkisnya dengan senjatanya pula,

Dengan demikiah, maka semakin lama menjadi semakin jelas, bahwa setelah menempa diri beberapa lamanya, dibakar oleh dendam yang menyala di dalam hatinya, Hantu Bertangan Api telah terbentur pada kemampuan Pikatan yang telah meningkat pula. Meskipun semula Pikatan sama sekali tidak memikirkan dendam Hantu Bertangan Api, namun kini ia telah mempergunakan kemampuannya yang telah jauh meningkat itu untuk melawannya. Semula Pikatan berlatih sekedar didorong oleh harga dirinya untuk dapat menyamai kemampuan Puranti, yang menurut pikirannya hanya seorang perempuan saja. Harga diri yang berlebih-lebihan. dan kekecewaan yang mendalamlah yang telah membawanya setiap malam ke tepian Kali Kuning, justru di tempat yang tidak pernah disentuh kaki orang lain.

Dan kini, ternyata bahwa kemampuan Pikatan yang hanya bertangan sebelah itu masih berada diatas kemampuan Hantu Bertangan Api. Perhitungan Hantu itu kini ternyata salah sama sekali. Ia menyangka bahwa Pikatan yang mengasingkan diri itu sama sekali tidak berbuat apa-apa. Apalagi dengan cacat tangan kanannya. Tetapi ternyata yang dijumpainya adalah Pikatan yang benar-benar memiliki kemampuan yang jauh berbeda. Dengan cacatnya, Pikatan justru telah membuat tangan kirinya memiliki kemampuan yang luar biasa, yang tidak diduganya sama sekali

Dalam kesulitan itu, Hantu Bertangan Api telah kehilangan segenap kejantanannya. Sifatnya yang licik dan curang, tidak lagi disembunyikannya. Itulah sebabnya, maka ia masih berusaha untuk mencoba sekali lagi menaburkan pasir kemata Pikatan.

Tetapi Pikatan menjadi cukup waspada. Ia tidak berbuat kesalahan serupa, sehingga karena itu, ketika pasir itu terpercik kematanya, ia sama sekali tidak terkejut, Dipalingkannya wajahnya sesaat, tanpa melepaskan kewaspadaan, karena pada saat itu, Hantu Bertangan Api tentu akan segera menyerang.

Dugaan Pikatan itu benar. Ketika pasir itu terpercik. iapun meloncat menyerang dengan garangnya. Kedua ujung pedangnya terasa ke sasaran yang berbeda.

Perhitungan Pikatan membuatnya tidak memejamkan mata, Tetapi sekedar berpaling, karena ia masih sempat melihat sekilas serangan itu datang.

Dengan tangkasnya Pikatan meloncat kesamping sambi memukul salah satu dari kedua pedang Hantu itu dengan segenap kekuatan yang ada padanya.

Ternyata dalam keadaan yang tergesa-gesa dan keragu-raguan atas hasil usahanya, maka serangan Hantu itupun kurang mapan. Tangkisan Pikatan yang disertai dengan kekuatan yang masih ada padanya, ternyata cukup kuat untuk melemparkan satu dari sepasang pedang Hantu Bertangan Api itu.

Terdengar desis tertahan. Terasa tangkai pedangnya seakan-akan telah menyengat pergelangannya, sehingga pedang itu terlepas dari tangan kiri Hantu Bertangan Api.
Hantu bertangain Api yang kehilangan sebuah pedangnya itu melangkah surut. Sambil menggeretakkan giginya ia memandang Pikatan yang berdiri tegak dengan garangnya. Dipandanginya Hantu Bertangan Api itu dengan sorot matanya yang bagaikan menyala.

“Kau tidak akan dapat berbuat banyak lagi“ geram Pikatan “karena itu, barangkali lebih baik bagimu untuk menyerah saja”

“Persetan“ sahut Hantu itu “aku masih sanggup membunuhmu. Bahkan semua orang Sambi Sari yang ada di tepian”

Pikatan yang masih berdiri itu berkata pula “Jika kau menyerah, aku akan menyerahkan kau kepada prajurit yang berwenang mengurusimu. Aku sendiri tidak akan mengambil sikap karena itu memang bukan wewenangku, meskipun kau sudah melukai aku”

“Jangan mimpi Pikatan, akulah yang akan membunuhmu”

Pikatan tidak berkata apapun lagi. Selangkah ia maju. Namun justru Hantu Bertangan Apilah yang menyerangnya lebih dahulu. Ternyata Hantu itu benar-benar telah ditelan oleh kemarahan yang tidak terkendali. Pedangnya yang terlepas dari tangannya membuat hatinya semakin terbakar. Ia berusaha untuk mendesak Pikatan agar ia berhasil memungut pedangnya kembali.

Tetapi ternyata bahwa Pikatan benar-benar seperti batu karang yang tidak goyah oleh badai yang betapapun dahsyatnya. Apalagi kini Hantu itu tinggal menggenggam sebuah saja dari sepasang pedangnya.

Karena itu, maka Hantu Bertangan Api tidak banyak dapat berbuat dalam usahanya untuk mengalahkan Pikatan. Karena itu maka iapun mencoba berusaha dengan cara lain. Ia ingin memecah perhatian Pikatan dan kemudian mencari kesempatan untuk menghunjamkan pedangnya. Karena itu tanpa memikirkan akibat yang dapat terjadi atas anak buahnya, Hantu itupun kemudian berteriak “Hei, jangan tidur saja. Bunuh semua orang Sambi Sari. Aku sendirilah yang akan membunuh Pikatan”

Teriakan itu telah menggema menggetarkan tepian di bawah tebing Kali Kuning.

Namun demikiah, ternyata anak buahnya masih saja ragu-ragu. Tidak seorangpun yang segera berbuat sesuatu untuk melaksanakan perintah itu.

Hantu Bertangan Api mengumpat dengan kasarnya karena anak buahnya tidak segera berbuat sesuatu. Karena itu, maka sekali lagi ia berteriak “Cepat. Binasakan mereka. Hancurkan bendungan dan kemudian cincang mayat Pikatan”

Anak buah Hantu Bertangan Api itupun kemudian menjadi yakin akan pendengaran mereka. Hantu Bertangan Api memang memerintahkan mereka untuk menyerang orang-orang Sambi Sari. Bagi anak buah Hantu Bertangan Api, perintah itu tidak dapat dipertimbangkan lagi. Mereka harus melaksanakannya apapun yang akan terjadi.

Dengan demikian, maka merekapun segera mempersiapkan diri untuk segera melakukan tugas itu, meskipun dengan ragu-ragu.

Namun sekali lagi mereka tertegun. Selagi mereka mulai bergerak, Puranti dan Wiyatsih sudah meloncat di hadapan mereka, disusul oleh dua orang penjaga regol rumahnya.

“Apakah kalian benar-benar sudah bosan hidup“ suara Puranti terdengar sangat berat, meskipun diucapkan oleh seorang gadis “kalian tidak akan dapat berbuat banyak. Jumlah kalian sama sekali tidak mencukupi untuk melawan kami yang berlipat”

Tetapi sekali lagi Hantu Bertangan Api berteriak “Cepat. Bunuh mereka”

Namun suaranya itupun terputus ketika ujung pedang Pikatan ternyata telah berhasil menyentuh tubuhnya. Meskipun hanya segores kecil di lengan, namun yang segores kecil itu benar-benar telah mengejutkan Hantu Bertangan Api. Itulah sebabnya maka iapun kemudian tidak sempat memperhatikan lagi apa yang akan dilakukan oleh anak buahnya meskipun ia masih berteriak sekali lagi tanpa dapat berpaling “Bunuh, bunuh mereka”

Iapun kemudian benar-benar terdiam karena pedang Pikatan yang berat itu sekali lagi menyentuhnya. Dan kali ini pergelangan tangan kirinya.

“Anak setan“ ia bergumam.

“Kaulah yang menyebut dirimu hantu“ sahut Pikatan Hantu Bertangan Api tidak menyahut. Dikerahkannya sisa tenaganya yang ada. Namun Pikatanpun ternyata telah sampai ke puncak usahanya untuk mengalahkan lawannya. Jika ia tidak segera berhasil, maka ia justru akan kehabisan tenaga, dan barangkali yang terjadi justru sebaliknya. Itulah sebabnya, maka Pikatanpun justru menjadi semakin garang disaat tenaganya menjadi semakin susut.

Dalam pada itu, maka orang-orang Hantu Bertangan Api yang merasa tidak mempunyai alasan apapun untuk tidak melakukan perintah itu, telah bergerak kembali, Merekapun segera berpencar. Senjata mereka yang telanjang telah siap untuk meluncur menikam lawan tepat di jantung.

Dalam pada itu para bebahu Sambi Sari, orang-orang yang namanya telah cacat, tetapi ingin memperbaikinya kembali dan anak-anak muda Sambi Saripun segera mempersiapkan diri mereka pula.

“Jangan membunuh diri“ teriak Puranti.

Tetapi anak buah Hantu Bertangan Api lebih takut kepada hantu itu daripada kepada Puranti, karena itulah mereka tidak menghiraukan perintah Puranti itu sama sekali.

Ketika salah seorang dari mereka meloncat menyerang, maka yang lainpun segera memutar senjata mereka pula.

Puranti tidak berhasil mencegah mereka. Yang dapat dilakokan kemudian adalah melakukan perlawanan, Tetapi juga sekaligus melindungi anak-anak muda Sambi Sari yang belum pernah memegang apalagi bertempur dengan senjata.

Karena itulah, maka Wiyatsih dan Purantipun segera berpencar pula, demikian juga kedua penjaga regol di rumah Wiyatsih itu. Diantara mereka kemudian adalah para bebahu dan orang-orang yang memiliki sedikit pengalaman di dalam olah senjata.

Namun yang sedikit itu ternyata mempunyai arti yang cukup. Setidak-tidaknya mereka dapat bertahan menghadapi seorang. Apalagi disamping mereka, anak-anak muda Sambi Sari ternyata bagaikan tergugah keberaniannya meskipun mereka hampir tidak dapat berbuat apa-apa, namun sekali-sekali jika mereka mengayunkan senjata, berhasil memecah perhatian anak buah Hantu Bertangan Api.

Ternyata bahwa perlawanan anak buah Hantu itu dapat dibatasi. Puranti dan Wiyatsih ternyata dapat mengikat masing-masing lebih dari seorang lawan. Dengan demikian, maka anak-anak muda Sambi Sari yang belum berpengalaman itu, masih juga agak terlindung dari senjata anak buah Hantu itu.

Meskipun demikian, ketika perkelahian itu menjadi riuh, seolah-olah perang brubuh, Pikatan tidak dapat menahan diri untuk mengikutinya meskipun hanya sekilas. Namun yang sekilas itu ternyata dapat dimanfaatkan oleh Hantu Bertangan Api sebaik-baiknya. Dengan kecepatan yang hampir tidak dapat dimengerti, Hantu Bertangan Api itu menyerang langsung ke leher, justru pada saat kepala lawannya berpaling.

Namun Pikatan masih dapat melihat serangan itu, itulah sebabnya ia masih sempat menghindarkan diri meskipun tidak sempurna Ternyata bahwa ujung pedanya masih juga berhasil menyentuh keningnya. Hanya seujung rambut, karena Pikatan segera menarik kepalanya. Tetapi ternyata bahwa dikening itu terasa darahnya meleleh di pipinya.
Kemarahan Pikatan yang semakin memuncak itu telah membakar hatinya untuk mengambil keputusan, membunuh Hantu Bertangan Api itu. Namun demikian, Pikatan tidak ingin memburunya. Ia justru menunggu Hantu itu menyerang.

Yang ditunggunya itupun segera datang. Ketika sekali lagi ia memandang perkelahian yang ribut di tepian, Hantu Bertangan Api ingin mengulangi hasil yang telah didapatnya itu.

Dengan garangnya, maka sekali lagi ia meloncat. Kali ini pedangnya mengarah kepada lawannya.

Serangan itulah yang ditunggu oleh Pikatan. Karena itu, maka iapun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Ketika ia melihat pedang lawannya terjulur, maka iapun segera merendahkan dirinya. la menangkis serangan Hantu Bertangan Api itu justru dari arah dalam dan memukul pedang Hantu itu dengan sekuat-kuatnya.

Ternyata bahwa kekuatan Pikatan yang sudah dipersiapkan itu adalah kekuatan yang luar biasa, ditambah lagi, serangan Hantu yang datang dengan tergesa-gesa, sehingga ketika terjadi benturan pedang Hantu terlempar beberapa langkah dari padanya.

Ternyata kemarahan Pikatan sudah tidak dapat dikendalikannya lagi. Ketika ia melihat pedang lawannya terlepas dari tangan, maka iapun segera meloncat maju menyerang dengan garangnya. Kali ini pedangnya terjulur lurus kepada Hantu Bertangan Api.

Hantu Bertangan Api yang termangu-mangu karena sengatan perasaan pedih ditelapak tangannya, serta karena senjatanya yang tinggal satu-satunya itu telah terlepas dari tangan, ia masih sempat melihat ujung pedang Pikatan yang dengan kecepatan yang luar biasa menerkamya. Betapapun juga, dengan gerak naluriah Hantu bertangan Api itu masih mencoba menghindarinya dengan loncatan panjang ke samping. Ternyata bahwa usahanya untuk menghindari tusukan pedang Pikatan itu berhasil. Tetapi serangan berikutnya adalah ayunan pedang mendatar yang telah merobek lambung Hantu Bertangan Api itu.

Terdengar suaranya mengerang tertahan.

Sekilas ia melihat wajah Pikatan yang tegang dan mengerikan. Ternyata bahwa kali inipun ia tidak berhasil melepaskan dendamnya atas kematian saudara laki-lakinya. Meskipun sudah beberapa lama ia menyempurnakan ilmunya, namua ia tidak dapat mengimbangi kepesatan kemajuan Pikatan yang meskipun satu tangannya sudah cacat.

Sejenak Hantu Bertangan Api masih dapat mempertahankan kedua kakinya berdiri diatas pasir tepian. Dipandanginya saja Pikatan yang kini berdiri tegak seperti batu karang.

“Kau berhasil Pikatan“ desih Hantu Bertangan Api “ternyata tangan kirimu mampu menggantikan tangan kananmu yang cacat”

Pikatan memandangi Hantu itu pula. Dengan tegang ia berkata “Menyerahlah. Kau sudah terluka dan agaknya lukamu kali ini sangat parah”

Hantu Bertangan Api itu menyeringai menahan sakit. Lalu jawabnya “Ya, lukaku parah. Tetapi aku tidak akan dapat kau tangkap dan kau serahkan kepada prajurit Demak atau kepada siapapun”

“Kenapa?“

Tiba-tiba saja terdengar suara tertawa Hantu Bertangan Api itu. Katanya kemudian disela-sela suara tertawanya “Lukaku memang parah. Jika kau berhasil menangkap aku hidup dan kau serahkan hidup”

“Jika kau menyerah kau akan diobati”

“Kau menghina aku. Setelah aku diobati, maka jika aku sembuh, aku akan digantung dialun-alun”

Pikatan tidak dapat menjawab. Memang kemungkinan itu dapat terjadi.

Dan karena Pikatan berdiri saja temangu-mangu, maka Hantu Bertangan Api yang sudah hampir tidak berdaya lagi itu masih berkata “Pikatan, ternyata aku keliru. Aku kira cacat ditangan kananmu itu telah melumpuhkanmu. Ternyata tangan kirimu masih sanggup melawan ilmu pedang rangkapku yang aku kira tidak ada duanya dimuka bumi ini”

Pikatan masih belum menjawab. Diperhatikannya saja Hantu Bertangan Api itu, yang sejenak kemudian menjadi terhuyung-huyung.

”Pikatan“ desis Hantu Bertangan Api itu “kau menang”

Pikatan maju selangkah ketika ia melihat hantu itu terjatuh pada lututnya, ia masih mencoba bertahan dengan kedua tangannya.

Tetapi ternyata ia tidak berhasil. Karena itulah maka iapun kemudian terjatuh terlentang diatas pasir tepian.

Anak buahnya yang melihat Hantu Bertangan Api itu jatuh terkulai, seakan-akan telah kehilangan segenap kekuatannya. Apalagi mereka masih harus berhadapan dengan Puranti, Wiyatsih dan tentu kemudian dengan Pikatan. Karena itu, perkelahian yang ribut itu tidak berlangsung lama. Anak buah Hantu Bertangan Api itupun kemudian menyerahkan diri mereka sebelum mereka berhasil menyakiti seorangpun, meskipun ada juga satu dua anak muda yang sudah tergores senjata. Tetapi luka itu sama sekali tidak berbahaya.

Dalam pada itu, Hantu Bertangan Api itupun menjadi semakti parah. Nafasnya menjadi tersengal-sengal.

Perlahan-lahah Pikatan mendekatinya. Kemudian iapun berjongkok disamping hantu yang sudah lemah itu. Dengan suara yang terputus-putus ia berkata “Kau memang seorang laki-laki Pikatan” Suara Hantu itu terputus. Masih ada terdengar ia berdesis namun sudah tidak jelas lagi.

Sejenak kemudian, maka Hantu Bertangan Api itupun menghembuskan nafasnya yang penghabisan di pasir tepian Kali Kuning sebelum ia benar-benar merusak bendungan yang telah dibangun oleh anak-anak muda Sambi Sari.

Pikatan menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja, ketika ia memandang wajah mayat yang beku itu, terasa sesuatu berdesir di dalam dadanya. Kata-kata terakhir Hantu Bertangan Api itu telah menyentuh perasaannya. Sebenarnyalah bahwa ia seorang laki-laki. Ia masih mempunyai kemampuan yang cukup meskipun ia sudah tidak dapat mempergunakan tangan kanannya. Kelumpuhan itu sama sekali bukan penghalang bagi kemajuannya didalam olah kanuragan, sehingga ia masih tetap dapat mengalahkan Hantu Bertangan Api yang telah mencoba meningkatkan ilmunya dan menguasai ilmu pedang rangkap sebaik-baiknya
Pikatan menjadi termangu-mangu sejenak. la masih bersimpuh di samping mayat Hantu bertangah Api.

Ternyata bahwa sesuatu telah terjadi di dalam diri Pikatan justru setelah ia berhasil mengalahkan Hantu Bertangan Api itu.

Sementara itu, Ki Demang Sambi Sari dan beberapa orang bebahu, serta kedua penjaga regol rumah Wiyatsih telah berhasii menguasai sepenuhnya anak buah Hantu Bertangan Api yang telah melepaskan senjata mereka. Sedangkan Puranti dan Wiyatsih perlahan-lahan melangkah mendekati Pikatan yang masih berjongkok di samping mayat Hantu bertangan Api.
Sejenak keduanya termangu-mangu. Tetapi mereka masih belum menegur Pikatan yang sedang merenungi mayat itu.

Dalam pada itu, Pikatan tidak saja sedang merenungi mayat Hantu Bertangan Api itu. Tetapi sebenarnya ia juga merenungi dirinya sendiri. Terngiang kata-kata Wiyatsih pada saat ia berangkat ke tepian. Seakan-akan Wiyatsih itu minta diri untuk mati kepadanya.
Hampir saja Pikatan melepaskan adiknya itu untuk berbuat sekehendak hatinya. Ia sama sekali tidak peduli, apa yang akan terjadi di tepian. Namun bagaimanapun juga sesuatu telah mendesaknya di dalam rongga dadanya. Setiap kali terbayang di dalam kepalanya saat itu, Wiyatsih yang kecil dan manja. Wiyatsih yang mengasihinya dan dikasihinya, Wiyatsih yang sering didukungnya apabila gadis kecil itu menangis. Dan yang menurut pendengarannya, Wiyatsih yang kadang-kadang duduk saja di tepian Kali Kuning memandang kearah jalan ketika ia pergi meninggalkan pedukuannya, seakan akan menuggu kapan ia pulang kembali.
Tetapi ia pulang membawa cacat di tangannya, Pikatah nenarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa kesombongan yang tumbuh justru karena cacatnya, tidak dapat menahannya untuk menyusul adik satu-satunya itu. Adik yang sebenarnya sangat dikasihinya. Itulah sebabnya ia melihat apa yang terjadi di tepian itu.

Ketika ia melihat Puranti berada di tepian itu pula, hampir saja ia meninggalkannya. Tetapi ternyata bahwa Puranti telah terdesak terus oleh Hantu Bertangan Api. Bahkan sampai saatnya Puranti tersudut pada tebing Kali Kuning

Sebenarnyalah Pikatan tidak percaya bahwa Puranti tidak mampu melawan Hantu Bertangan Api. Namun tanggapannya atas kekalahan Puranti itu membuat hatinya menjadi kisruh waktu itu, sehingga nampir diluar sadarnya ia telah menyatakan kehadirannya kepada Hantu Bertangan Api.

Kini Pikatan sadar, bahwa ada sesuatu yang sebenarnya tersangkut dihatinya. Kini sambil berjongkok disamping mayat Hantu Bertangan Api, ia melihat, bahwa kesombongannya hampir membinasakan hari depannya. Dan kini ia sadar, bahwa harga dirinya sebagai laki-laki yang pilih tanding, yang tidak mau kalah dari seorang perempuan itu sama sekali tidak berarti. Ternyata bahwa Puranti telah bersedia merendahkan dirinya dan memberi kesempatan kepadanya untuk mengalahkan Hantu Bertangan Api.

Sejenak Pikatan masih dicengkam oleh gejolak perasaannya. Dan sejenak kemudian terdengar suara Wiyatsih “Kakang”

Pikatan berpaling. Dilihatnya Wiyatsih berdiri di belakangnya sedang di sampingnya Puranti berdiri tegak sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Perlahan-lahan Pikatan berdiri.

”Kau sudah menyelamatkan jiwaku, kakang. Kau juga telah menyelamatkan jiwa Puranti dan kau telah menyelamatkan jiwa orang-orang Sambi Sari” berkata Wiyatsih.

Pikatan menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali Sejenak dipandanginya Puranti yang tunduk.
Sekali lagi sepercik kesadaran melonjak dikepala Pikatan. Sebenarnyalah bahwa Puranti tidak dapat dikalahkan oleh Hantu bertangan Api. Pikatan mengetahui dengan pasti, bahwa Puranti dengan sengaja telah menunjukkan seakan-akan ia tidak dapat melawan Hantu Bertangan Api itu. Namun jika Puranti tidak memiliki kepercayaan terhadap diri sendiri yang kuat, ia tidak akan berani melibatkan dirinya pada tebing Kali Kuning. Puranti tentu memiliki kemampuan yang jauh lebih baik dari Hantu Bertangan Api, sehingga apabila tidak ada orang lain yang bertindak, maka ia masih akan dapat membela dirinya sendiri meskipun dalam keadaan yang sangat sulit itu. Sudah barang tentu bahwa Puranti tidak akan membiarkan dirinya mati di tepian itu.

Namun meskipun ada dorongan untuk tersinggung lagi, tetapi Pikatan kini mencoba melihatnya dari sudut yang lain. Dengan demikian, Pikatan melihat suatu kenyataan, betapa Puranti telah mengorbankan harga dirinya. Betapa Puranti telah dengan bersungguh-sungguh ingin berdamai dengan dirinya, Dan itulah yang membuat hati Pikatan menjadi tersentuh oleh kelembutan hati seorang gadis. Seorang gadis yang sebenarnya sudah lama sekali tersangkut dihatinya, yang selama ini telah dibayangi oleh kesombongan dan harga diri yang berlebih-lebihan.

“Kakang“ terdengar lagi suara Wiyatsih “kami ingin mengucapkan terima kasih kepadamu”

Pikatan mengangkat wajahnya. Dilihatnya bulan bulat di langit. Bulan purnama.
”Wiyatsih“ berkata Pikatan “akulah yang harus minta maaf kepadamu dan kepada Puranti. Aku tahu, bahwa Puranti memiliki kemampuan yang berlipat ganda dari padaku. Tetapi kesombongankulah yang mendorong aku, seolah-olah aku dapat menyelamatkan jiwanya”

“Ah“ Wiyatsih menjadi cemas. Rasa-rasanya harga diri Pikatan masih saja berkecamuk di dalam hatinya. Tetapi Pikatan meneruskan “Tetapi kini aku memandangnya dari segi yang lain. Aku minta maaf kepadamu Wiyatsih, dan aku juga minta maaf atas sikapku selama ini kepadamu Puranti”

Sesuatu berdesir dihati kedua gadis itu. Pengakuan yang tiba-tiba itu membuat mereka terdiam. Bahkan tanpa mereka sadari terasa sesuatu menghangati pelupuk mata mereka. Dalam keadaan itu, mereka sama sekali tidak dapat melawan perasaan mereka, perasaan seorang gadis.

Sesaat kedua gadis itu berpandangan. Namun sesaat kemudian Wiyatsih yang melepaskan senjata langsung meloncat memeluk Puranti. Diluar sadar, keduanya telah menangis.

Pikatan kini menundukkan kepalanya. Sesuatu bergejolak didalam dadanya. Namun kini ia tidak dapat ingkar lagi, apakah yang sebenarnya ada di dalam dirinya. Sikapnya dan perasaannya serta ucapannya terhadap Puranti, gadis anak gurunya di Pucang Tunggal.

Ki Demang yang melihat hal itu dari kejauhan menjadi termangu. Ia tidak mengerti, gejolak perasaan anak-anak muda itu. Karena itu, perlahan-lahan ia mendekatinya.

”Apakah yang sudah terjadi?“ ia bertanya.

Wiyatsih dan Puranti mengusap air mata mereka dengan lengan bajunya. Dan Wiyatsihlah yang menjawab “Kami sedang mengucapkan terima kasih kami kepada kakang Pikatan”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Bukankah kita sudah terlepas dari bahaya? “

“Ya, Ki Demang“ sahut Wiyatsih.

Ki Demangpun mendekati Pikatan. Ditatapnya anak muda itu sejenak, lalu “Aku atas nama Kademangan Sambi Sari dan seluruh rakyatnya, mengucapkan terima kasih kepadamu Pikatan”

“Aku tidak berbuat apa-apa disini Ki Demang”

“Tanpa kau, mungkin pertempuran akan berlangsung lain. Bahkan tentu akan jatuh korban dari lingkungan kami. Dan korban im akan menodai pembuatan bendungan ini. Tetapi ternyata semuanya sudah berakhir”

Pikatan menundukkan kepalanya.

“Selama ini kami merasa kehilangan kau. Mudah-mudah kau akan berada lagi di tengah-tengah kami di dalam segala kegiatan kami di Kademangan ini Pikatan”

Pikatan menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian “Aku akan mencoba Ki Demang. Selama ini aku merasa rendah diri karena cacatku. Tetapi aku terlalu sombong untuk mengakui cacat di tubuhku ini, sehingga barangkali aku telah berbuat sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Kademangan ini”

Ki Demang tertawa. Katanya “Lupakanlah. Sekarang marilah kita pulang. Besok kita kuburkan Hantu Bertangan Api itu”

Demikianlah, maka orang-orang yang ada di tepian itupun berangsur-angsur naik ke atas tanggul sambil membawa tawanan dan mayat Hantu bentangan Api.

Sejenak kemudian tepian itupun menjadi sepi. Tidak ada seorangpun lagi yang ada selain brunjung-brunjung yang bisu dan air yang gemercik.

Namun sebenarnyalah masih ada dua orang yang sudah melampaui pertengahan umurnya duduk diatas sebuah batu di dalam kegelapan bayangan rumpun perdu. Mereka menatap orang-orang yang menghilang seorang demi seorang dan vang kemudian sepi.

“Apakah kau akan membela muridmu?“ bertanya yang seorang.

Seorang yang lain menggelengkan kepalanya Katanya “Akhirnya aku nemutuskan untuk merelakannya. Aku sudah berusaha untuk mencegahnya. Sejak pertemuan kita terakhir, ketika Pikatan mulai menjadi cacat, setelah muridku yang tua terbunuh, aku memang memikirkan kata-katamu waktu itu. Waktu yang panjang memang sempat memhubungkan jiwaku dengan Yang Maha Esa. Tetapi aku tidak berhasil meyakinkan Hantu yang muda itu, yang telah dibakar oleh dendam yang tiada taranya“

Orang yang pertama mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu “Jadi apakah yang akan kau lakukan?“

“Kembali ke padepokan. Aku akan mencoba dengan sisa umurku untuk mendapatkan murid yang baru yang akan aku bimbing menurut arah jalan yang lain dari murid-muridku yang lalu, mudah-mudahan umurku masih sempat memberi kesempatan kepadaku”

”Kau akan berhasil. Mudah-mudahan pengalamanmu akan membantumu”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Anakku sudah mengakhiri hidupnya yang selalu dibayangi oleh dendam dan kebencian. Tetapi itu bukan salahnya sepenuhnya, Barangkali kau akan menyalahkan aku pula, karena akulah yang membimbingnya selama ini. Dan akupun tidak akan ingkar bahwa aku telah bersalah. Aku akan mencoba memperbaikinya meskipun aku menjadi semakin tua. Ternyata selama ini aku sudah bermain-main dengan roda dipinggir jurang. Ketika roda itu menggelinding dengan derasnya, aku tidak dapat lagi mengejar dan apalagi menghentikannya, sehingga akhirnya roda itu pecah membentur batu padas”

“Mudah-mudahan kau berhasil“

“Aku minta kau berdoa untukku”

“Aku akan berdoa”

Keduanyapun kemudian berpisah. Yang seorang adalah guru Hantu Bertangan Api, pergi dengan penyesalan atas masa lampaunya, karenai langsung atau tidak langsung, ia telah menjerumuskan angkatan mudanya ke dalam kehancuran. Sedang yang lain adalah Kiai Pucang Tunggal masih sempat mengucap sukur kepada ALLAH Yang Maha Penyayang, bahwa usahanya telah berhasil. Bukan saja menyelamatkan bendungan dan orang-orang Sambi Sari, Tetapi usahanya untuk mempertemukan hati kedua muridnya telah mendapat berkahnya pula.

Demikianlah, maka di hari berikutnya, orang-orang Sambi Sari masih sibuk membicarakan malam Purnama itu, Mereka masih sibuk mengurus para tawanan dan menguburkan korban-korban. Namun di hari berikutnya, maka bendungan itu menjadi semakin ramai, yang terjadi itu merupakan cambuk bagi setiap orang di Sambi Sari. Bendungan itu ternyata hampir saja menelan korban anak-anak terbaik dari Kademangan itu, namun untunglah bahwa itu tidak terjadi.

Orang-orang kaya tidak ada lagi yang menentang pembuatan bendungan itu, dan demikian juga ibu Wiyatsih. Apalagi kini di rumahnya telah bertambah seorang penghuni lagi. Puranti. Ia tidak kembali lagi ke Cangkring meskipun ia masih sering mengunjungi ibu angkatnya yang masih saja memanggilnya Suntrut.

Malam purnama yang tegang itu tidak akan pernah dilupakannya. Setiap kali purnama naik, maka rasa-rasanya hatinya tersentuh lagi oleh kenangan itu. Dan rasa-rasanya ia menjadi semakin dekat dengan Pikatan.

Demikianlah, hari-hari yang merambat membuat Sambi Sari semakin baik. Bendungan itupun mendekati akhirnya ketika air sudah mulai naik. Dan rasa-rasanya semuanya menjadi cerah setelah masa-masa yang asing sudah lampau.

Yang kemudian terasing adalah Tanjung yang lemah hati. Tetapi anak-anak muda Sambi Sari tidak mengasingkannya. Bahkan Wiyatsihpun tidak.

Namun pada suatu saat Kesambi berbisik di telinga Wiyatsih “Bagaimana dengan kita, Wiyatsih”

“Ah. Kau. Apa maksudmu?”

“Maksudku, kau adalah seorang gadis yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan”

“Ah. Aku bersedia melupakan ilmu itu.”

“Tetapi jika pada suatu saat kau marah, leherkulah yang akan kau tekuk seperti sepotong besi itu“

“Ah tentu“ tanpa sadarnya tangan Wiyatsih mencubit lengan Kesambi. Tanpa disadarinya kekuatannya telah tersalur di jari-jarinya, sehingga tiba-tiba saja lengan Kesambi menjadi merah memar oleh cubitan yang sangat kuat.

“O“ teriak Wiyatsih ”aku tidak sengaja. Aku tidak sengaja”

Kesambi menyeringai sejenak, namun iapun kemudian tersenyum meskipun lengannya terasa pedih.

Dengan demikian, tidak ada lagi yang menggelisahkan hati anak-anak muda di Sambi Sari. Mereka berharap bahwa pada masa yang akan datang, Sambi Sari akan membangun lumbung padi yang lebih besar dan lebih baik. Bendungan Kali Kuning adalah ujud dari kesungguhan hati mereka untuk membangun kampung halaman, dan untuk memberikan warisan bagi keturunan mereka kelak, bahwa mereka telah berbuat sesuatu, bukan sekedar pamrih pribadi, tetapi untuk suatu tujuan yang lebih besar”

Dan Pikatan tidak lagi selalu berada di biliknya, Tetapi ia adalah salah seorang yang berdiri di depan.

Tamat

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s