Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

yg terasing

Tinggalkan komentar


Kawan-kawannya tidak menyahut. Tetapi mereka mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, siapakah diantara kita yang hanya dapat berkeliaran dari prapatan yang satu ke prapatan yang lain, bahkan melempari buah-buahan milik tetangga, tetapi tanpa berbuat sesuatu jika terdengar suara kentongan dimalam hari, sebaiknya memang tidak ikut bersama dengan kita. Kecuali dengan tekad untuk menghentikan perbuatan-perbuatan itu. Dan kita akan menerima dengan senang hati”

Masih belum ada seorangpun yang menyahut dan anak-anak itu masih saja mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah. Jika datang saatnya, aku akan mengajak satu atau dua orang dari kalian. Kita harus meyakinkan Ki Demang, bahwa membuat bendungan sangat besar manfaatnya, selagi jagung yang ditanam Wiyatsih itu masih kelihatan hijau”

Demikianlah niat untuk membangun bendungan itu menjalar semakin luas, setelah mereka melihat kenyataan yang diperagakan oleh Wiyatsih, maka anak-anak muda di Sambi Sari rasa-rasanya terbangun karenanya.

Namun dalam pada itu, dengan wajah yang berkerut-merut Nyai Sudati duduk dipringgitan rumahnya bersama dengan Tanjung. Dengan nada yang gelisah Nyai Sudati berkata “Apakah niat itu benar-benar akan dilaksanakan?“

“Menurut pendengaranku. Anak-anak muda kini sangat terpengaruh oleh Kesambi yang dengan gigihnya menyebar luaskan hasrat Wiyatsih membangun bendungan itu”

Wajah Nyai Sudati menjadi suram. Katanya “Justru anak-anakku sendirilah yang telah membuat aku bersedih. Mereka sama sekali tidak mau mendengar, bahwa mereka menjadi besar dan memiliki kecakapannya seperti sekarang ini karena kerja yang telah aku lakukan bertahun-tahun. Sadar atau tidak sadar, mereka akan menutup segala kemungkinan bagi perkembangan usahaku. jika rakyat Sambi Sari mendapat nafkah yang cukup, maka mereka tidak akan lagi dapat disadap seperti sekarang dan aku akan sulit untuk mendapatkan tenaga dengan upah yang murah”

“Apakah Wiyatsih benar-benar tidak dapat dikendalikan?“ bertanya Tanjung ”Dan apakah ia benar-benar tidak menghiraukan usaha orang tuanya sendiri?“

“Aku tidak mengerti. Tetapi rasa-rasanya aku sama sekali sudah tidak dapat mengendalikannya”

Tanjung menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun tidak akan dapat berbuat apa-apa. Bahkan semua harapannya atas gadis itu sudah hampir musnah sama sekali. Satu-satunya yang masih diharapkan adalah kerja yang dipercayakan Nyai Sudati kepadanya dan kemudian apabila Wiyatsih berubah pikiran.

“Tanjung“ berkata Nyai Sudati kemudian “apakah kau tidak dapat berbuat sesuatu untuk melawan niat anak-anak muda itu?. Jika perlu dengan melepaskan beberapa, keping uang asal anak-anak itu mengurungkan niatnya membangun bendungan yang membuat daerah ini menjadi subur. Mungkin kau dapat mengupah orang tua-tua yang dengan kepercayaannya dapat menakut-nakuti anak-anak muda itu. Jika orang tua-tua itu berhasil mengungkap kembali ceritera lampor yang membawa beberapa orang gadis beberapa tahun yang lalu, maka aku kira ada juga pengaruhnya”

“Lampor yang mana?“ bertanya Tanjung

“Bukankah disekitar sepuluh lahun yang lalu atau kurang sedikit, padukuhan ini telah dilanda olah lampor yang menggetarkan hati. Hampir setiap hari Kali Kuning banjir disertai suara gemuruh seperti sepasukan berkuda lewat, Ternyata pasukan itulah yang disebut lampor. Mereka telah menculik beberapa orang gadis dan dibawanya serta. Ada yang dibawa bersama tubuhnya, tetapi ada yang kemudian delemparkannya kembali, sehingga hanya halusnya sajalah yang telah mereka bawa”

Tanjung mengangguk-anggukkan kepalanya. Jika hal itu terjadi sepuluh tahun yang lalu, ia pasti sudah dapat mengingat-ingatnya.

Anak muda itu masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia ingat jelas. Empat orang gadis yang menyeberangi sungai itu telah hanyut selagi sungai itu banjir menjelang senja. Gadis-gadis itu baru pulang dari sawah diseberang sungai. Mereka tidak menyangka bahwa banjir yang datang itu sedang meningkat. Mereka menyangka bahwa arus air itu tidak terlalu besar, sehingga mereka memberanikan diri untuk bersama-sama menyeberang.
Tetapi malang bagi mereka, ketika mereka berada ditengah-tengah sungai, maka airpun menjadi semakin besar, sehingga mereka tidak pernah mendapat kesempatan untuk mencapai tepi. Mereka bersama-sama hanyut dilanda banjir Hanya dua dari mayat mereka yang dapat diketemukan. Sampai ketahun-tahun berikuthya, yang dua lagi tidak dapat diketemukan.

“Itulah agaknya ceritera tentang lampor itu” berkata Tanjung didalam hatinya.

“Apakah kau masih ingat?“ bertanya Nyai Sudati.

Tanjung mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Ya. Aku masih ingat. Empat orang gadis yang hanyut”

“Dihari pertama”

“O“

“Masih ada lagi. Berturut-turut tiga orang gadis meninggal beberapa pekan kemudian. Dan suara lampor itu masih selalu terdengar disetiap senja”

Tanjung mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang ada kematian yang menyusul. Tetapi itu kematian yang wajar. Dua orang gadis yang terserang penyakit panas dan dingin berturut-turut meninggal. Dan seorang gadis yang lain membunuh diri dengan seutas tali dipohon kantil dibelakang rumahnya. Tetapi itupun ada sebabnya, karena gadis itu mengandung sebelum ia kawin.

Namun demikian Tanjung mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Mungkin ceritera tentang lampor itu dapat mempengaruhi anak-anak muda itu“

“Ya. ceritera itu harus dikembangkan lagi sebelum pembuatan bendungan itu dimulai”
Tanjung masih mengangguk-angguk.

“Kau dapat mempergunakan orang tua-tua. Kau dapat melepaskan beberapa keping uang untuk membeli kegemaran orang tua-tua itu. Jadah tempe dan jenang alot. Ajak mereka bercakap-cakap dirumahmu, asal kau tidak semata-mata memanggil mereka untuk keperluan itu”

“Aku akan berusaha. Dan mudah-mudahan Ki Demangpun tidak. menyetujui rencana itu”

“Kenapa dengan Ki Demang”

“Anak-anak itu akan menghadap Ki Demang di Sambi Sari. Tanpa ijin Ki Demang, bendungan itu tidak akan dapat dibuat”

Nyai Sudati mengangguk-angguk. Katanya “Mudah-mudahan Ki Demang tidak setuju. Dan mudah-mudahan aku masih sempat berbicara lagi dengan Wiyatsih”

“Baiklah. Kita akan menempuh beberapa jalan. Pada dasarnya kita akan tetap mempertahankah sendi-sendi kehidupan serupa ini. Agaknya kita tidak berdiri sendiri. Beberapa orang yang mempunyai kepentingan seperti kitapun akan membantu usaha ini sejauh-jauh dapat mereka lakukan.

Nyai Sudati masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sependapat dengan Tanjung, bahwa ada beberapa orang yang dapat diajaknya bersama-sama melaksanakan rencana mereka membendung usaha Wiyatsih dan anak-anak muda Sambi Sari untuk membangun bendungan.

Dan agaknya Tanjungpun memenuhi janjinya. Dengan diam-diam ia berusaha membangkitkan kembali ceritera tentang lampor yang mengerikan itu. Bahkan ia telah menambah ceritera itu, bahwa pada saat itu, timbul juga pikiran untuk membangun bendungan di Kali Kuning.

Dalam beberapa pekan kemudian maka ceritera tentang lampor itu mulai menjalar kembali diantara rakyat Sambi Sari. Mereka yang telah melupakannya, menjadi teringat kembali. Beberapa orang gadis telah hilang dan mati. Bahkan ada diantaranya yang mati dengan jalan yang paling mengerikan, membunuh diri.

“Jangan ikut-ikutan dengan anak-anak gila itu“ pesan seorang ayah kepada anaknya “ingat, dahulu beberapa orang gadis pernah menjadi korban. Jika sekarang usaha membuat bendungan itu diteruskan, maka kelak bukan saja gadis-gadis, tetapi mereka yang akan membuat bendungan itulah yang akan menjadi sasaran yang pertama”

Pesan semacam itu ternyata telah menjalar pula dari rumah kerumah. Hampir setiap orang tua telah memberikan pesan serupa kepada anak-anaknya.

“Gila“ Kesambi menggeram “ternyata ceritera tentang lampor itu telah menghambat usaha kita”

Seorang anak muda yang lain menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Apakah kau tidak percaya kepada lampor itu Kesambi?“

Kesambi menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Kita mempunyai kewajiban untuk membina hidup masyarakat kita. Mungkin ada masyarakat lain diluar masyarakat manusia dan itu sebenarnya tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan kita, apabila kita berjalan dijalan kita masing-masing”

“Kau tidak berani mengatakan dangan tegas, bahwa kau tidak percaya“ desak kawannya.
Kesambi memandang kawannya itu dengan ragu-ragu. Ia tidak tahu maksud pertanyaan itu. Namun kemudian ia menjawab “Terus terang, aku tidak berani menjawab dengan tegas, bahwa memang tidak ada masyarakat lain diluar masyarakat kita. Maksudku, masyarakat manusia. Tetapi manusia adalah mahluk yang paling dikasihi oleh ALLAH swt. Itulah sebabnya, maka jika kita bersandar kepada Maha Pencipta, maka kita akan berada diatas segalanya. Dan demikianlah hendaknya yang akan kita lakukan”

Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak berkata apapun lagi. Karena kawannya tidak menjawab, maka Kesambipun berkata “Kita harus dapat meyakinkan kawan kawan kita, bahwa kita tidak akan diganggu oleh siapapun asal kita bersandar pada kekuatan tertinggi diatas segala kekuatan, yaitu ALLAH swt.

“Ya“ kawannya berdesis tetapi pekerjaan itu bukannya pekerjaan yang mudah”

“Memang. Tetapi tujuan kita adalah tujuan yang baik. Kita harus berjalan terus. Jika bukan kita, siapakah yang akan menemukan jalan baru bagi peningkatan kehidupan di padukuhan ini? Sampai sekarang, kita anak-anak muda, terlalu banyak membuang waktu dengan tindakan-tindakan yang tidak menentu. Kerja keras seperti yang sudah berpuluh tahun dilakukan oleh nenek dan kakek kita atau sama sekali tidak bekerja, tetapi berbicara saja, mengeluh dan mengumpat, seakan-akan nasib yang jelek ini tergantung sama sekali kepada kesalahan nenek moyang kita atau kepada musim atau bahkan seakan-akan ALLAH swt sudah mentakdirkan kita jadi begini. Yang penting bagi kita sekarang adalah berbuat sesuatu. Jika kita tidak berbuat sesuatu maka keturunan yang mendatangpun akan menyalahkan kita, karena kita hanya pandai mengeluh saja saat ini”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan merekapun bertekad semakin bulat untuk berbuat sesuatu.

“Kita harus segera menghadap Ki Demang. ceritera tentang lampor itu semakin lama akan menjadi semakin berbahaya bagi rencana ini” berkata Kesambi kemudian.

“Ya. Kapan kita akan pergi?“

“Aku akan menghubungi dengan Wiyatsih”

Demikian maka anak-anak muda yang masih tetap mantap pada sikapnya itupun menentukan waktu yang sebaik-baiknya untuk menghadap Ki Demang. Tiga diantara mereka akan berangkat. Diantaranya adalah Wiyatsih sandiri.

Kedatangan ketiga anak-anak muda itu mengejutkan Ki Demang Sambi Sari. Tetapi la berusaha untuk menghapus kesan itu dari wajahnya. Dan apalagi sedikit banyak Ki Demang sudah mendengar bahwa ada usaha anak-anak muda dari padukuhan disebelah Alas Sambirata untuk membuat bendungan.

“Mungkin mereka inilah” gumam Ki Demang didalam hati.

Sejenak kemudian, setelah Ki Demang menyapa mereka seorang demi seorang maka langsung ia bertanya “Apakah keperluan kalian menemui aku?“

“Ki Demang“ Wiyatsihlah yang berbicara atasnama kawan-kawannya “kami datang untuk mohon ijin dan restu. Tetapi lebih dari itu juga bantuan yang mungkin dapat kami terima.

“Untuk apa?“ Ki Demang mulai dapat meraba.

“Kami, anak-anak muda di Sambi Sari, merasa prihatin atas kehidupan rakyat didaerah ini“ Wiyatsih berhenti sejenak, lalu dikatakannya apa yang selalu dilihatnya sehari-hari dan apa yang sudah mereka lakukan.

“Kehidupan rakyat dipadukuhan-padukuhan sekitar Alas Sambirata tidak akan berubah jika sawah mereka tetap kering” Wiyatsih mengakhiri keterangannya.

Ki Demang di Sambi Sari mengerutkan keningnya. Namuh kemudian ia tertawa, katanya “Apakah kalian tidak sekedar mimpi indah dimalam yang gelap?“

Wiyatsih memandang Ki Demang dengan tajamnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya ”Apakah maksud. Ki Demang?”

“Kalian adalah anak-anak muda yang kadang-kadang sekedar terdorong oleh keinginan sesaat. Tetapi jika kalian benar-benar sudah mulai dan menjumpai kesulitan, kalian akan segera meletakkan pekerjaan itu dan meninggalkannya tanpa bertanggung jawab sama sekali”

“Ah” desah Wiyatsih “begitukah kebiasaan anak muda-muda?“

“Ya“ jawab Ki Demang tegas “mereka mudah menentukan sikap sebelam berpikir masak-masak. Tetapi mereka segera beralih pada keinginan yang lain sebelum mereka menyelesaikan pekerjaan itu. Kadang-kadang tidak bertanggung jawab, dan kadang-kadang jemu”

“Ki Demang“ Kesambi menyela “apakah itu pernah terjadi di Sambi Sari?. Kami belum pernah berbuat sesuatu, sehingga karena itu, kami belum pernah melepaskan tanggung jawab atas pekerjaan yang manapun juga. Justru karena kami belum pernah berbuat sesuatu itulah, sekarang kami bertekad untuk melakukannya. Adalah salah sama sekali jika kita masih saja tetap menunggu datangnya perubahan nasib tanpa berbuat sesuatu atau sekedar mengumpat-umpat dan mengeluh. Mungkin kami dapat menuntut kepada Ki Demang sebagai pemimpin kami, kenapa kami tidak mendapat makan dan pakaian yang cukup. Mungkin kami dapat menganggap Ki Demang tidak mampu memimpin Kademangan ini karena kami menjadi miskin, sedang ada juga orang-orang yang sampai hati mengambil keuntungan dari kemiskinan kami”

Ki Demang termenung sejenak. Dahinya menjadi semakin bekerut-merut. Tanpa disadarinya dipandanginya Wiyatsih yang duduk diantara anak-anak muda itu.

“Diantaranya adalah ibuku“ berkata Wiyatsih dengan serta-merta. la mengerti bahwa Ki Demang menganggapnya demikian “Tetapi aku tidak sependapat dengan ibu. Dengan beberapa orang kaya yang lain dan dengan anak-anak muda yang membantu pekerjaan mereka dengan gigih, dan bahkan beberapa orang bebahu Kademangan ini melakukan hal yang serupa pula. Tetapi kami tidak cukup menuntut. Kami harus mulai dari akarnya. Yaitu kemungkinan untuk mendapat sumber penghidupan yang baik”

Ki Demang masih mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tertawa berkepanjangan “Omong kosong. Kalian sekedar didera oleh perasaan tidak puas. Yang kalian lakukan sekarang ini tidak ada bedanya dengan sebuah tuntutan pula”

Wajah Wiyatsih menjadi merah, dan Kesambi bergeser sejengkal “Maaf Ki Demang. Kami hanya meminta ijin saja. Lebih dari itu serahkan kepada kami. Jika bendungan itu jadi, akan ada perubahan kehidupan di Kademangan Sambi Sari. Jika tidak, tidak ada orang yang dirugikan, karena kehidupan kami akan tetap seperti ini. Kami yang miskin akan tetap miskin dan mereka yang kaya akan menjadi semakin kaya Penghisapanpun akan berjalan terus dan kami akan menjadi semakin kering”

“Bohong” bentak Ki Demang “kenapa kalian membiarkan diri dihisap sampai kering, itu adalah kebohonganmu sendiri Jika kau sudah menyadari akan hal itu, kenapa hal itu masih saja terjadi?“

“Kami tidak dapat berbuat lain. Sebelum kami mati kelaparan, kami menyediakan diri untuk menjadi kelapa perahan sehingga tinggallah ampasnya saja yang masih ada pada kami”

“Bodoh sekali. Dan kalian menyerahkan diri itu diperah”

“Apaboleh buat. Kami mengharap Ki Demang bertanya kepada seorang dua orang dari pembantu-pembantu Ki Demang. Dari mana mereka mendapatkan kekayaan. Mereka sudah memilih sawah yang paling subur buat lungguh mereka, disamping usaha mereka yang sama sekali tidak pantas bagi rakyatnya. Jika Ki Demang tidak memberikan ijin dan restu itu, kami akan berbuat sesuai dengan kemampuan kami yang ada. Kami harus menaikkan air dari Kali Kuning”

“Kalian akan melanggar hakku”

“Tidak Ki Demang. Kami tidak akan membuat bendungan. Tetapi kami harus mendapatkan suatu cara untuk menaikkan air itulah soalnya”

“Kalian akan dimakan lampor “

“O, Ki Demang juga berpikir tentang lampor?“

“Ya. Beberapa orang gadis kita telah mati tahun yang lalu. Seorang diantaranya adalah bakal menantuku. Apakah kalian tidak takut?. Terutama kau Wiyatsih? Lampor memilih gadis-gadis. Bahkan mungkin anak muda juga”

“Hidupku bukanlah mutlak milikku Ki Demang. Ada kekuasaan yang memeliharanya dan pada saatnya menghentikannya Kekuasaan itu tidak ada bandingnya. Karena itu, aku pasrah kepadaNya”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya “Aku tidak mengijinkan”

“Ki Demang“ anak-anak muda itu hampir tidak dapat menahan hatinya. Tetapi untunglah bahwa mereka masih sadar, bahwa mereka berhadapan dengan Ki Demang di Sambi Sari.
Tangan Wiyatsih tiba-tiba saja menjadi gemetar. Jika yang dihadapinya itu bukan Ki Demang, maka ia akan meloncat dan mencekiknya.

“Nah. kalian sudah mendengar. Sekarang apa yang akan kalian lakukan?“

Kesambi menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ingin mengendapkan gejolak yang terungkat didadanya. Katanya “Kekuasaan memang ada pada Ki Demang. Tetapi yang penting bagaimana kekuasaan itu berlaku. Jika kami tidak mendapatkan ijin untuk membuat bendungan, tentu kami tidak akan membuat. Tetapi kami akan mencari cara untuk menaikkan air. Mungkin kami akan menempuh cara seperti yang dilakukan oleh Wiyatsih atas tanaman jagungnya yang hanya sekotak itu.

“Gila“ geram Ki Demang “kau sangka kalian akan dapat melakukannya setiap tiga hari? Kalian akan mati kelelahan”

“Apa salahnya?” sahut Wiyatsih “mati kelelahan dalam usaha meningkatkan hidup sanak kadang adalah pengorbanan yang bernilai“

“Tidak ada orang yang akan menghargai kematian yang bodoh serupa itu. Ibumu juga tidak Wiyatsih”

“Bukan penghargaan lahiriah. Tetapi hakekat dari perjuangan itulah yang penting.”

Tetapi Ki Demang menggeleng “Aku tidak mengijinkan kalian mengganggu aliran Kali Kuning apapun caranya”

Anak-anak muda itu menjadi tegang. Namun mereka tidak dapat mengatasi kekuasaan yang ada pada Ki Demang di Sambi Sari. Karena itu, maka Kesambipun berkata “Baiklah Ki Demang. Kami mintai diri. Kami akan menjadi bahan tertawaan orang-orang yang tidak sependapat dengan kami. Kami akan ditertawakan oleh orang-orang tua yang takut akan lampor, oleh orang-orang kaya yang memeras kami, dan oleh anak-anak muda cengeng yang hanya dapat berteriak-teriak sepanjang jalan sambil menuntut, menyindir dan mengeluh tanpa berbuat sesuatu yang bernilai bagi kehidupan yang benar-benar sedang kita hayati ini”

Ki Demang tidak menjawab, dipandanginya saja anak-anak muda itu seorang demi seorang.
“Kami mohon diri, tetapi jiwa kami tidak akan berhenti bergolak”

Ki Demang hanya menganggukan kepalanya saja.
Ketika anak-anak itu meninggalkan pendapa Kademangan Sambi Sari, Ki Demang mengantarkan mereka sampai keregol. Sejenak dibiarkan anak-anak muda itu melangkah. Tetapi ketika mereka sudah berada diluar regol, Ki Demang memanggilnya “Kesambi.”

“Kesambi berpaling. Dengan tatapan mata yang merah dipandanginya Ki Demang yang berdiri diregol. Sebelum Ki Demang berkata sesuatu, Kesambi sudah mendahului “Ki Demang masih akan mengancam kami?“

Ki Demang menggelengkan kepalanya. Katanya “Tidak Kesambi. Dengarlah. Aku tidak berkeberatan kau membuat bendungan itu”

“Ki Demang” anak-anak muda itu hampir memekik.

“Aku sejak semula memang tidak berkeberatan. Tetapi aku ingin melihat kesungguhanmu. Ternyata bahwa kalian tidak sekedar main-main. Kalian agaknya bersungguh-sungguh. Karena itu, aku akan membantu kalian”

Anak-anak muda, itu berdiri termangu-mangu. Perlahan-lahan mereka melangkah kembali. Dan hampir diluar sadarnya mereka berdesis “Terima kasih Ki Demang”

“Aku memang memerlukan anak-anak muda seperti kalian, Aku tidak ingkar, bahwa masih ada orang yang memeras orang-orang yang sudah kering, bahkan beberapa orang perabot Kademangan ini. Tetapi anak-anak muda tidak berbuat apa-apa yang langsung menyangkut kehidupan dan masa depan yang lebih baik selain menerima nasibnya seperti yang telah mereka alami. Yang lain kehilangan pegangan dan harapan, sehingga sama sekali tidak berbuat apa-apa selain mengeluh dan mengumpat. Yang aneh bagiku adalah Wiyatsih. Anak-anak orang kaya di Kademangan ini hampir tidak pernah berpikir tentang orang lain. Mereka hanya dapat berbuat untuk kesenangan sendiri. Jika ia laki-laki, ia akan kawin hampir setiap bulan sekali, kemudian diceraikannya dan diterlantarkannya. Jika ia perempuan ia hanya pandai berhias didalam biliknya”

“Ada juga yang lain dari kebiasaan itu Ki Demang“ berkata Kesambi.

“Baiklah. Mulailah kapan saja kalian kehendaki”

“Sebentar lagi musim hujan akan datang. Kami akan mengatur segala persiapannya. Kami akan membuat brunjung-brunjung bambu. Sedang dimusim kemarau mendatang, kami akan meletakkan brunjung-brunjung yang akan kami isi dengan batu-batu itu didasar sungai”

“Aku percaya. Apa saja yang kalian butuhkan, kalian dapat mengambil di Kademangan ini. Aku akan mengeluarkan perintah itu. Tetapi ingat, rintangan dan mungkin gangguan akan banyak kalian hadapi, selain gangguan para penjahat” Ki Demang berhenti sejenak, lalu “Sebenarnya sudah lama aku menunggu Pikatan Tetapi menurut pendengaranku, ia kini justru hidup mengasingkan diri dirumahnya”

Wiyatsih menganggukkan kepalanya “Ya Ki Demang”

“Tetapi sama saja bagiku. Apakah ia Pikatan ataupun Wiyatsih. Selamat bekerja”

Anak-anak muda itupun meninggalkan Kademangan dengan wajah berseri-seri. Hampir saja mereka menjadi putus asa. Tetapi ternyata bahwa Ki Demang tidak berkeberatan sama sekali.
“Kita jangan tergesa-gesa berbuat sesuatu“ berkata Wiyatsih “kita matangkan semua rencana dan kita hadapi semua hambatan. Terutama ceritera tentang lampor itu”

Demikianlah anak-anak muda itu menjadi semakin mantap. Itulah sebabnya mereka semakin giat bekerja. Mereka berbisik dari telinga ketelinga, bahwa Ki Demang mendukung rencana itu dan sebentar lagi justru Ki Demang akan memerintahkan semua orang di Kademangan Sambi Sari untuk menyediakan apa saja yang diperlukan.

Dalam pada itu, ceritera dari anak-anak muda tentang bendungan dan dukungan Ki Demang itu telah membuat beberapa orang di Sambi Sari menjadi gelisah. Bahkir ada diantara mereka yang menganggap bahwa Ki Demang telah dipaksa oleh beberapa orang anak-anak muda untuk menyetujui rencana itu.

“Seharusnya Ki Demang bertindak tegas. Jika ia memanjakan beberapa orang dari Kademangan ini, maka tuntutan itu akan berkembang. Bahkan lain kali mereka akan menuntut agar Ki Demang pergi dari kedudukannya” berkata salah seorang bebahu Kademangan Sambi Sari.

Ketika pendapat itu sampai ketelinga Ki Demang, maka Ki Demang hanya tersenyum saja. Dipanggilnya Ki Jagabaya dari Sambi Sari. Kepadanya ia bertanya “Bagaimana pendapatmu tentang bendungan itu?”

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Katanya “Kenapa dengan bendungan?“

“He, apakah selama ini kau tertidur? Semua orang mempersoalkan bendungan. Ada yang sependapat, ada yang menentang, bahkan ada yang menganggap bahwa aku sudah keliru memberikan dukungan atas pembuatan bendungan itu, karena dengan demikian aku dianggap sudah memanjakan anak-anak muda, bahkan ada yang menganggap bahwa aku sudah diancam oleh mereka” berkata Ki Demang.

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya “Hanya orang yang tidak mempunyai urusan sajalah yang akan mempersoalkannya. Aku tidak pernah memikirkan apakah akan ada bendungan atau tidak”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya “Jadi kau acuh tak acuh saja terhadap bendungan itu?“

“Apakah aku harus ikut meributkannya? Ikut berceritera tentang lampor dan ikut memaki-maki beberapa orang yang tidak sependapat dengan bendungan itu?“

“Bukan itu soalnya Ki Jagabaya. Tetapi masalahnya menyangkut kehidupan di Kademangan Sambi Sari. Bukan sekedar masalah yang terlalu sederhana, karena anak-anak muda ingin membendung air Kali Kuning untuk membuat kolam mandi”

Ki Jagabaya memandang wajah Ki Demang sejenak, lalu mengangguk-anggukan kepalanya “Ya. Mereka tidak akan membuat kolam mandi”

“Karena itu masalahnya akan menyangkut seluruh Kademangan. Akan menyangkut kehidupan dan penghidupan. Jika sawah-sawah nanti berhasil digenangi air, maka masalahnya pasti bukan sekedar acuh tidak acuh saja”

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sudah agak lama ia tidak menghiraukan masalah-masalah yang timbul di Kademangannya, apa lagi yang berhubungan dengan meluasnya kejahatan, karena Ki Jagabaya merasa tidak mampu melakukannya. Memang ada juga usaha yang dilakukan, tetapi usaha itu terbatas sekali untuk mengatasi kejahatan-kejahatan kecil yang justru dilakukan oleh orang-orang Sambi Sari sendiri terhadap sesama mereka. Kehilangan ternak, pakaian dijemuran dan yang sama sekali tidak bersangkut paut dengan keamanan Kademangan yang sebenarnya.

Sikap itulah yang lambat laun membuatnya menjadi acuh tidak acuh. Kemampuannya sama sekali tidak cukup untuk mengatasi persoalan yang dihadapinya. Yang dapat dilakukan hanyalah menganjurkan orang-orang kaya untuk mencari tenaga perlindungnya masing-masing. Sedang anak-anak muda sama sekali lepas dari pengamatannya dan apalagi bimbingannya. Ketakutan dan kecemasan telah mencengkam anak-anak muda setiap malam. Namun disiang hari mereka menghabiskan waktunya untuk sebagian bekerja untuk mendapatkan upah yang tidak seberapa disawah mereka yang kebetulan berair, dan yang sebagian lagi sama sekali tidak berbuat apa-apa, karena sawah mereka kering sama sekali.
Dan kini tiba-tiba Ki Demang lebih membangunkannya, karena beberapa orang anak muda bertekad untuk membuat bendungan. Karena itu, maka ia tidak akan dapat terus menerus untuk mendekur.

“Ki Jagabaya“berkata Ki Demang “selama ini ternyata kita hampir tidak berbuat apa-apa. Sekarang anak-anak mudalah yang melangkah lebih dahulu. Kita harus berterima kasih kepada mereka. Dan kita harus membantu mereka, karena bendungan itu akan bermanfaat bukan saja bagi mereka, tetapi bagi Sambi Sari dan segala isinya”

Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Baiklah Ki Demang. Aku akan membantu anak-anak itu. Sudah barang tentu bahwa bendungan itu akan sangat bermanfaat”

“Baiklah. Aku akan menyuruh anak-anak muda itu menghubungi Ki Jagabaya. Dan ceritera seakan-akan anak-anak muda itu telah memaksa aku sama sekali tidak benar. Ketika aku mengatakan kepada mereka, bahwa aku tidak mengiiinkan, betapapun juga terbayang kecewa diwajah mereka, namun mereka tidak ingin bersikap keras terhadapku. Yang membesarkan hatiku adalah hasrat yang sebenarnya yang telah menyala dihati mereka” berkata Ki Demang kemudiah, lalu “mudah-mudahan anak-anak muda yang lain, hidup seperti hidup yang dijalani oleh nenek moyang kita tanpa mendambakan suatu perubahan, bekerja keras dengan cara dan keadaan yang seperti ini. Juga anak-anak muda yang hanya berteriak-teriak sepanjang jalan yang bahkan mengganggu orang lain, juga anak-anak muda yang hanya dapat merajuk dan mengeluh seolah-olah mereka sekedar menjadi permainan nasib sambil berkidung megatruh disore hari untuk mengungkapkan kepahitan hidup yang dialaminya, akan terbangun karenanya. Kerja adalah suatu jawaban yang palihg tepat. Dan sebagian dari mereka telah menemukan jawaban itu”

Demikianlah, maka kesempatan bagi anak-anak muda yang berniat untuk membangun bendungan itu menjadi semakin besar. Beberapa orang bebahu benar-benar ikut serta bersama mereka, meskipun ada juga beberapa orang diantara mereka yang menyusun rencana untuk menghalang-halanginya.

Tetapi ceritera tentang lampor yang mula-mula berkembang lagi itupun menjadi semakin surut pula, karena anak-anak muda vang sudah bertekad bulat membuat bendungan itu dengan gigih melawannya.

Dalam pada itu, selagi anak-anak muda Sambi Sari sibuk dengan rencananya, Pikatanpun sibuk dengan dirinya sendiri. Tetapi harapan Puranti, setelah Pikatan menyadari bahwa kemampuan yang ada pada dirinya itu masih cukup besar, ia akan menemukan kepercayaan pada diri sendiri, dan meninggalkan cara hidupnya yang terasing itu, ternyata keliru.
Pikatan yang hampir setiap malam menempa diri itu masih saja hidup terasing dirumahnya. Ia masih tetap selalu berada didalam biliknya. Hanya sekali-sekali ia keluar. Berjalan-jalan dihalaman beberapa lama, kemudian masuk kembaii kedalam biliknya tanpa menghiraukan apapun yang terjadi.

Tetapi sekali-sekali sempat juga ia marah-marah kepada Wiyatsih tanpa sebab. Hanya karena Wiyatsih berjalan terlalu cepat, atau berbicara terlalu keras. Namun bagi Wiyatsih akhirnya hal itu justru menjadi biasa. Ia tidak terkejut lagi. dan ia sudah jemu menangis apabila kakaknya marah-marah saja kepadanya. la lebih senang pergi menghindar setelah untuk beberapa lamanya memaksa diri mendengarkan kata-kata kakaknya, agar tidak semakin menyakitkan hatinya yang sudah parah itu.

“Perkembangan jiwa Pikatan menjadi semakin aneh bagiku“ berkata Puranti didalam hati ketika ia menunggui latihan vang dilakukan oleh Pikatan dari kejauhan pada suatu malam “ia tidak melangkah kembali kepada kehidupan yang wajar, tetapi justru semakin lama menjadi semakin jauh dan terasing “

Bagi Puranti, hal itu akan dapat membahayakan Pikatan sendiri dan barangkali orang lain. Jika Pikatan sampai pada puncak kemampuannya, tetapi jiwanya masih belum pulih kembali, maka ia akan dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang berbahaya.

Dan tiba-tiba saja Puranti sampai pada suatu kesimpulan “Agaknya Pikatan telah dibakar oleh dendam yang tidak tertahankan. Agaknya ia ingin menunjukkan bahwa ia adalah seorang laki-laki yang tidak dapat dikalahkan oleh seorang perempuan dalam segala hal“

Purantipun adalah seorang anak muda. Meskipun ia sudah berusaha berpikir dewasa, namun darahnya yang masih mudah mendidih itu ternyata telah terbakar oleh angan-angannya itu sendiri.

Karena itu maka tiba-tiba ia berkata kepada diri sendiri “Jika ia masih juga mendambakan harga dirinya yang berlebih-lebihan dan berlatih mati-matian tidak akan mengorbankan diriku sampai sedalam itu hanya karena aku tertarik kepadanya, kepada seorang laki-laki yang selama ini aku anggap sebagai seorang laki-laki jantan. Jika ia dicengkam oleh kekerdilan pikiran semacam itu, maka aku akan mempertahankan harga diriku betapapun aku menghormatinya”

Dan disaat-saat mendatang, ternyata Purahti tidak banyak lagi menunggui Pikatan berlatih dari kejauhan. Meskipun ia masih juga meningkatkan kemampuan Wiyatsih diwaktu-waktu tertentu namun kemudian ia sendiri tenggelam didalam pembelaan diri. Puranti yang sudah memiliki bekal yang cukup itu kemudian berusaha mematangkan ilmunya. Sebagai seorang anak dari seorang yang mumpuni, serta yang pernah mendapat dasar tertinggi dari ilmu dari perguruannya, maka jalan bagi Puranti memang sudah dibuka oleh ayahnya. Dan kini dengan sepenuh hati ia berusaha untuk menyempurnakannya.

Tidak seorangpun yang menyaksikan bagaimana Puranti meningkat selangkah demi selangkah. Bahkan kadang-kadang ia telah mempergunakan waktu sepanjang malam untuk berlatih. Dipilihnya tempat yang tidak akan dikunjungi oleh seorangpun. Disebuah jurang yang curam dan berbatu-batu.

Tetapi batu-batu itu merupakan kawannya berlatih yang baik. Dengan sepenuh tenaga ia meloncat dan memghantam batu-batu padas yang berserakan dibawah kakinya. Rasa-rasanya telah mendorongnya untuk berbuat letih banyak lagi.

Demikianlah Puranti telah berhasil membangunkan seluruh tenaga cadangan yang ada padanya. Baik sebagai kekuatan, maupun sebagai tenaga pendorong atas kecepatannya bergerak, kemampuannya bermain senjata, dan peningkatan daya tahan tubuhnya. Meskipun Puranti seorang perempuan, tetapi dalam ilmunya yang tertingi yang dikuasainya, kekuatannya jauh melampaui kekuatan laki-laki yang manapun.

Ternyata bahwa dorongan untuk memperkuat diri sendiri yang ada pada Puranti itu telah berpengaruh pula pada cara yang ditempuhnya untuk meningkatkan kemampuan Wiyatsih, sehingga Wiyatsih yang seolah-olah berhati baja itupun kadang kadang mengeluh didalam hati. betapa beratnya ia mengikuti petunjuk-petunjuk dan latihan-latihan bersama Puranti.

Tetani Wiyatsih tidak pernah menyatakan perasaan itu. Bahkan ia telah berusaha untuk tidak mengecewakan Puranti, sehingga latihan-latihan yang direncanakannya dapat berlangsung sebaik-baiknya.

Namun dengan demikian, kemampuan Wiyatsihpun meningkat dengan cepatnya pula. Bahkan ada semacam suatu keinginan dihati Puranti agar kemampuan Wiyatsih pada suatu saat dapat mengimbangi kemampuan Pikatan, sehingga ia akan dapat berkata kepada anak muda yang sombong itu “Nah. Muridkupun mampu mengimbangi ilmumu, meskipun seandainya kau tidak cacat, Wiyatsih seorang gadis , dapat menyamai seorang laki-laki yang bernama Pikatan, seorang laki-laki jantan yang menghargai dirinya terlampau tinggi, namun yang sebenarnya berjiwa kerdil”

Wiyatsih yang tidak mengerti keinginan yang tersirat dihati Puranti itu, menjalankan latihan-latihan yang diwajibkan oleh Puranti dengan penuh kesungguhan, bahkan pada unsur-unsur gerak yang paling sulit dari ilmunya, seakan-akan Wiyatsih telah dipersiapkan untuk dalam waktu dekat menerima puncak dari ilmu Perguruan Pucang Tunggal.

Ternyata beberapa saat kemudian Wiyatsih tidak saja harus berpacu dengan ilmunya, karena musim hujan mulai membayangi padukuhan Sambi Sari.

Seperti yang sudah direncanakan, maka anak-anak muda Sambi Sari telah mulai dengan persiapan pembuatan bendungan dimusim kering yang bakal datang.

“Kita mulai menebangi bambu” berkata salah seorang dari mereka ”kita akan membuat brunjung-brunjung itu. Musim hujan akan lerlangsung kira-kira empat atau lima bulan. Setelah itu kita harus segera mulai menurunkan brunjung-brunjung itu setelah kita isi dengan batu-batu”

“Ya. Sebagian dari kita menebang bambu dan yang lain menaikkan batu-batu kepinggir sungai agar sebelum banjir yang pertama dan yang akan datang berturut-turut, kita sudah mempunyai persediaan batu yang cukup.

Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, Sambi Sari rasa-rasanya mulai bidup kembali. Ketika hujan rintik-rintik mulai turun, hampir setiap orang menengadahkan wajahnya kelangit. Sebentar lagi sawah-sawah yang kering akan dapat mereka tanami untuk satu musim saja, Tetapi setelah musim hujan ini lewat, tanah-tanah itu akan kering lagi, dan peceklik yang panjang akan mencekik leher mereka kembali.

Dengan demikian, merekapun menjadi semakin berprihatin, apabila mereka sadar. bahwa panen musim hujan mendatang, sebagian sudah ada ditangan orang kaya yang selama ini memberikan pinjaman sekedar bahan makan untuk mencegah mereka mati kelaparan. Dan yang harus mereka bayar untuk itu, adalah berlipat beberapa kali.

Dengan demikian, maka keriangan yang sejenak menyentuh hati, tiba-tiba menjadi buram kembali. Namun demikian, mereka masih dapat menghibur diri “Jika aku sudah melunasi hutang itu, aku akan dapat mengambil hutang baru buat musim peceklik mendatang, jika tidak, maka dimusim kering kami sekelurga pasti akan mati kelaparan”

Namun demikian, terbersit juga pikiran “Alangkah senangnya jika keluarga ini tidak pernah terjerat hutang.”

Dalam pada itu, dihari-hari kehari, langit menjadi semakin suram, hujan menjadi semakin sering turun membasahi sawah dan pategalan mereka, sehingga dengan demikian, maka para petani mulai turun kesawah mengerjakan tanah mereka yang mulai basah, namun diwaktu senggang, anak-anak muda Sambi Sari beramai-ramai membuat brunjung-brunjung bambu. Mereka masih mempunyai waktu yang cukup, sehingga karena itu, maka pekerjaan itu sama sekali tidak mengganggu pekerjaan mereka disawah dan dipategalan. Sedang yang tidak memiliki tanah yang cukup, masih juga sempat bekerja pada orang lain yang mempunyai sawah yang berlebih-lebihan dari kemampuan tenaga sendiri untuk mengerjakannya.
Selagi anak-anak muda Sambi Sari sibuk dengan kerja mereka, disawah atau membuat brunjung-brunjung. Pikatan tidak juga berhenti berlatih. Meskipun hujan turun dan bahkan betapapun lebatnya, jika ia ingin pergi berlatih, maka iapun pergi juga. Hujan yang lebat merupakan dorongah untuk melatih diri didalam cuaca yang buruk dan nafas yang terganggu oleh titik air diwajahnya.

Tetapi ternyata bukan saja Pikatan. Purantipun tidak juga mau berhenti menyempurnakan diri. Ada semacam desakan didalam dirinya, bahwa kemajuan Pikatan tidak boleh menyamainya, apalagi melampauinya, Sedang dalam pada itu, Purantipun dengan sungguh-sungguh telah berusaha menempa Wiyatsih untuk menjadikan gadis itu seimbang dengan Pikatan.
Nyai Sudati, tidak mengetahui dengan pasti apakah yang sebenarnya telah dilakukan oleh anak-anaknya. Ia hanya mengetahui bahwa Wiyatsih masih juga berlatih terus untuk menyempurnakan ilmunya, dan disiang hari Wiyatsih masih juga bekerja disawah seperti kebanyakan gadis-gadis padesan.

“Wiyatsih“ berkata ibunya “kau menjadi semakin kurus. agaknya kau bekerja terlalu berat akhir-akhir ini. Kadang-kadang kau pergi tidak mengenal waktu. Bahkan tanpa dapat aku cegah lagi kau pergi dimalam hari bersama Puranti. Disiang hari kau masih saja bekerja disawah dan kadang-kadang bersama-sama anak-anak muda yang tidak mempunyai nalar itu membuat brunjung-brunjung, bukankah aku sudah memperingatkanmu. sebaiknya kau jangan ikut-ikutan dengan anak-anak itu. Bukan saja kau akan menjadi terlalu lelah, tetapi aku takut. Bahwa lampor itu terjadi lagi”

Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam. Ia memang menyadari bahwa tubuhnya menjadi agak susut oleh kerja yang keras hampir siang dan malam. Namun dengan demikian rasa-rasanya kecepatannya bergerak menjadi semakin meningkat. Bahkan kekuatan jasmaniahnyapun bertambah-tambah. Apalagi setelah ia mampu mempergunakan tenaga cadangannya sebaik-baiknya.

“Bukankah kerjaku sekarang jauh berkurang” berkata Wiyatsih kepada ibunya “aku tidak perlu menyiram batang-batang jagung itu lagi, setelah aku meyakinkan anak-anak muda akan gunanya air Kali Kuning”

“Tetapi tampaknya kau justru menjadi semakin sering meninggalkan rumah” sahut ibunya, lalu “Apakah sebenarnya yang sedang kau lakukan Wiyatsih”

Wiyatsih memandang ibunya sejenak. Ia menjadi ragu-ragu untuk mengatakannya, karena ia sadar bahwa ibunya tentu tidak akan sependapat dengan usaha pembuatan bendungan itu. Dengan demikian, maka daerah Sambi Sari akan menjadi semakin subur dan setiap orang akan sibuk bekerja disawah masing-masing, sehingga dengan demikian ia akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan tenaga murah dimusim kering dan memberikan pinjaman dengan bunga yang berlipat ganda.

“Wiyatsih” berkata ibunya “aku sudah mendengar meskipun kurang pasti, bahwa anak-anak muda Sambi Sari benar-benar sudah mulai mempersiapkan sebuah bendungan”

Sejenak Wiyatsih menatap wajah ibunya. Namun iapun kemudian mengaggukkan kepalanya. Katanya “Ya ibu. Kami memang sudah mulai”

“Wiyatsih“ berkata ibunya “bukankah aku sudah pernah memperingatkan kau. bahwa usaha yarg serupa pernah dilakukan hampir sepuluh tahun yang lampau. Namun yang menjadi korban kemudian adalah gadis-gadis. Beberapa orang gadis telah hanyut. Tidak mustahil bahwa hal yang serupa akan terjadi. Apalagi kau adalah seorang gadis yang ikut langsung menangani pembuatan bendungan itu”

“Tidak ibu“ Wiyatsih menggelengkan kepalanya “aku tidak akan berbuat bodoh menyeberangi sungai yang sedang banjir, apalagi bila lampor sedang lewat.”

“Tidak seorangpun yang tahu, kapan lampor itu akan lewat Wiyatsih”

“O“ Wiyatsih mengerutkan keningnya”bukankah bunyi lampor itu terdengar dari jarak beberapa tonggak”

“Setelah lampor itu lewat. Tetapi ketika ia datang menyambanginya tidak ada seorangpun yang tahu”

Tetapi sekali lagi Wiyatsih menggelengkan kepalanya “Ibu jangan mencemaskan aku. Aku mendapat jaminan dari seorang, bahwa lampor itu tidak akan mengganggu kali ini”

Ibunya tidak menyahut. Ternyata Wiyatsih benar-benar tidak dapat dicegahnya lagi. Anak itu telah bertekad untuk membuat sebuah bendungan bagi padukuhan ini, karena ia tidak sampai hati melihat kehidupan yang terlalu amat pahit.

Namun tiba-tiba kedua perempuan itu terkejut ketika pintu terbanting keras sekali. Dengan dada yang berdebar-debar mereka melihat Pikatan berdiri dimuka pintu dengan wajah yang merah. Dengan suara lantang ia berkata “Wiyatsih. Itu tidak pantas. Tidak pantas sama sekali”

Wiyatsih menjadi bingung. Karena itu, dengan ragu-ragu ia bertanya “Apa yang tidak pantas kakang?“

“Kau. Kau telah berbuat tidak pantas sekali”

Wiyatsih menjadi semakin bingung Dipandanginya wajah kakaknya yang merah, kemudian wajah ibunya yang keheranan.

“Kau adalah seorang perempuan“ berkata Pikatan “kenapa kau berbuat hal-hal yang tidak pantas dilakukan oleh seorang perempuan? Apakah kau kira orang-orang dari padukuhan ini memujimu, bahwa kau sudah ikut serta membantu membuat bendungan itu?“ Pikatan berhenti sejenak, lalu “Wiyatsih. Seorang gadis yang tahu diri, tidak akan berbuat demikian. Seorang gadis yang mempunyai harga diri akan tinggal dirumah. Sekali-sekali pergi kesungai mencuci pakaian dan kesawah. Tidak seperti kau. Kisana kemari, berbondong-bondong pergi bersama anak-anak muda. He, Wiyatsih, kau sudah mencoreng arang pada kening keluarga kita”

“Kakang“ Wiyatsih menjadi tegang. Namun justru karena hal tidak diduga-duganya, maka ia tidak segera dapat menjawab.

“Aku adalah saudaramu laki-laki. Aku berhak mencegah kau berbuat demikian. Jika terjadi sesuatu dengan kau, karena kau seorang gadis. maka hancurlah nama keluarga kita. Bukan karena dimakan lampor seperti ceritera tahyul itu bukan karena hantu-hantu alas Sambi Rata, tetapi karena laki-laki yang siang malam ada disekitarmu”

“Kakang“tiba-tiba saja Wiyatsih berteriak “aku bukan anak-anak lagi. Aku sudah cukup dewasa. Dan aku tahu apa yang akan aku kerjakan”

“Tetapi bagaimanapun juga kau adalah seorang gadis vang lemah. Lemah hati dan lemah badani. Kau tidak akan dapat berbuat apa-apa, seperti seekor kambing ditengah-tengah kelompok serigala”

“Tidak. Aku bukan seekor kambing ditengah-tengah sekelompok serigala, Tetapi aku adalah seekor macan betina diantara mereka” suara Wiyatsih liba-tiba menjadi gemetar “bukan maksudku menyombongkan diri. Tetapi aku dapat membunuh enam atau tujuh orang sekaligus jika mereka ingin berbuat jahat kepadaku. Kau seharusnya sudah tahu akan hal itu, kakang. Kau tahu bahwa tidak ada seorang laki-lakipun didaerah ini yang dapat mengalahkan aku, selain kau”

“Bohong“ suara Pikatanpun meninggi “mungkin kau mampu berkelahi. Tetapi kau tidak akan mampu melawan usapan tangan dikudukmu. Kau tidak akan mampu mendengar bisikan yang halus ditelingamu. Dan kemampuanmu berkelahi sama sekali tidak akan ada artinya”

“Jika demikian, itu adalah salahku sendiri. Adalah karena kegilaanku sendiri. Membuat atau tidak membuat bendungan, jika aku memang berbuat gila, apapun dapat terjadi. Dirumah inipun dapat terjadi”

Bersambung Ke Jilid 09

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s