Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

yg terasing 20

Tinggalkan komentar


Jilid 08-Bab 02 – Suntrut gadis Cangkring

“Suntrut“ ibu angkatnya hampir berteriak “kenapa kau kembali he?. Pergi, pergilah. Laki-laki ini tidak dapat diajak berbicara”

Tetapi Puranti justru melangkah masuk diikuti oleh Wiyatsih.

Sejenak janda tua itu memandang kedua gadis itu dengan terheran-heran. Ia tidak pernah melihat Puranti dalam pakaian yang lengkap dan sebaik itu. Namun justru dengan demikian kecantikan Puranti seakan-akan kian menjadi sempurna. Apalagi bersamanya datang pula seorang gadis yang lain, yang tidak kalah cantik dari Puranti itu.

Bukan saja janda tua itu yang keheran-heranan melihat Puranti dan Wiyatsih, tetapi laki-laki yang ada diruang dalam itupun berdiri mematung sambil memandang kedua gadis itu berganti-ganti.

“Suntrut, aku kira kau telah jauh meninggalkan padukuhan ini. Tetapi kini kau justru kembali lagi. Bukankah kau sendiri tidak bersedia menerima lamaran laki-laki itu dan lari?“

“Ya biyung. Tetapi tiba-tiba saja aku rindu kepadamu. kepada rumah ini dan kepada padukuhan Cangkring. Karena itu aku kembali hanya sekedar untuk menjengukmu”

“Tetapi, akibatnya dapat menyusahkan kau sendiri. Laki-laki itu justru berada disini”

“O, apakah salahnya? Aku sudah mengatakan, bahwa aku belum bersedia untuk kawin, karena aku masih terlalu muda”

Laki-laki yang seakan-akan menyadari kehadirannya diantara kedua gadis-gadis cantik itu tiba-tiba menyahut “Jika kau menganggap dirimu terlalu muda, maka apakah perempuan setua biyungmu itulah yang pantas untuk kawin?“

Tiba-tiba saja Puranti tersenyum. Tampaknya wajahnya jadi asing bagi biyungnya. Puranti yang dipanggil Suntrut itu hampir tidak pernah berwajah terang. Wajahnya selalu muram meskipun kadang-kadang lembut.

Namun justru Puranti tersenyum dengan cerah itu, kecantikannya menjadi kian lengkap. Dan laki-laki itu menjadi semakin tergila-gila kepadanya.

“Jangan menolak“ berkata laki-laki itu “jika kalian tidak berkeberatan. aku akan mengambil kalian berdua”

“O, itu pikiran gila“ desis perempuan tua itu. Namun Puranti menjawab “Umurku masih terlalu muda, apalagi adikku ini”

Dan seperti tidak menghiraukan kehadiran laki-laki itu, janda tua yang memelihara Puranti itu berkata “Suntrut, darimana kau mendapat pakaian dan siapakah gadis ini?“

“Adikku biyung. Aku mendapat pakaian daripadanya”

“Dimanakah rumahnya?“

“Barangkali biyung pernah mendengar. Rumahnya tidak terlalu jauh dari Cangkring”

“Ya, dimana?“

“Sambi Sari, disebelah Alas Sambirata”

“O“

“Ibunya bernama Nyai Sudati”

“Nyai Sudati? Nyai Sudati yang kaya itu?“

“Ya Biyung”

“He, apakah kau masih saudaranya?“

“Ternyata aku diterima dirumahnya karena anak ini menerima aku pula. Dan sekarang, aku telah dijadikan saudaranya. Gadis ini sekarang menjadi adikku”

“O, bagaimana mungkin. Kau anak seorang janda tua dan miskin. Bagaimana mungkin kau dapat diangkat menjadi anaknya?”

“Bertanyalah kepada anak ini. Gadis ini adalah anak Nyai Sudati yang kedua. Anaknya yang laki-laki bernama Pikatan”

“Pikatan?“ tiba tiba laki laki ilu berdesis “Pikatan yang membunuh beberapa orang perampok itu?“

“Ya. Aku sekarang adalah saudara angkat Pikatan itu”

Wajah laki-laki itu menjadi pucat. Tetapi tiba-tiba ia berteriak “Bohong. Kau sekedar menakut-nakuti aku”

“O, lihat, aku mempunyai pakaian sebagus ini. Dari mana aku mendapatkannya, jika bukan dari pemberian saudara angkatku ini” sahut Puranti “dan aku yakin bahwa kekayaan Nyai Sudati sama sekali tidak kalah dari kekayaanmu”

“Tentu kau berbohong. Kau tentu telah berhasil memeras seorang laki-laki dan mendapatkan pakaian sebaik ini”

“Seandainya demikian, maka laki-laki itu bernama Pikatan.

Wajah laki-laki itu semakin pucat, dan tiba-tiba saja Wiyatsih berkata “Ya. Aku adalah adik kakang Pikatan. Gadis yang bernama Puranti dan selalu dipanggil Suntrut ini adalah kakak angkatku”

“He, siapakah namanya“ bertanya janda tua itu.

“Puranti. Nama yang sebenarnya adalah Puranti”

“Bukan. bukan Puranti. Ia menyebut nama lain”

“Itu bukan namanya. Namanya Puranti. Sekarang ia tidak perlu menyebut dirinya dengan nama-nama palsu. Semuanya sudah ierbuka dan gadis inipun harus menyebut dirinya sendiri”

Janda tua itu menjadi terheran-heran.

“Jangan bingung biyung. Aku tetap anakmu dan untuk beberapa lama aku akan tetap tinggal disini”

Wajah janda tua itu menjadi semakin berkerut-merut. Namun tiba-tiba saja ia berkata “Lalu, bagaimana dengan laki-laki itu”

“Ia tidak akan berbuat apa-apa, jika ia tidak mau berhadapan dengan kakak angkatku.’“

Laki-laki itu menjadi tegang. Namun ia berkata “Bohong, bohong. Aku tidak percaya”

“Kau tidak percaya?“ bertanya Puranti “kau boleh melihat, apakah aku berbohong” Lalu katanya kepada Wiyatsih “Wiyatsih beritahukan kepadanya, jika kau adalah benar-benar adik Pikatan”

“Bagaimana kalau ia tidak percaya?“

“Kau mempunyai cara yang tidak akan dapat disangkal”

Tiba-tiba Wiyatsih tersenyum. Perlahan-lahan ia melangkah mendekati laki-laki itu. Katanya “Katakanlah, kau percaya atau tidak”

Laki-laki itu menjadi bingung.

“Tanda Pikatan adalah kemampuannya membinasakan para penjahat. Sekarang, aku adiknya akan menunjukkan kepadamu bahwa aku dapat membuat wajahmu bengkak-bengkak“

Wajah laki-laki itu menjadi semakin tegang karenanya.

“Atau barangkali kau mempunyai pengawal? Bawalah mereka agar kau menjadi yakin karenanya”

Kata-kata Wiyatsih membuat laki-laki itu menjadi bingung. Sejenak dipandanginya gadis itu, kemudian Puranti dan janda tua dari Cangkring yang juga menjadi terheran-heran.

“He, kenapa kau menjadi bingung?“ bertanya Wiyatsih kemudian “kau tinggal memilih. Aku atau Puranti yang harus membuatmu merah biru”

Sejenak kemudian barulah laki-laki itu menyadari keadaannya. Namun karena itu, justru kemarahannya bagaikan terungkat. Perempuan yang menyebut dirinya adik Puranti itu telah menghinanya. Karena itu maka katanya “He, gadis cantik. Apakah kau sudah menjadi gila? Aku tidak mengerti, apa yang kau maksudkan. Mungkin kau memang sudah kesurupan. Meskipun demikian aku minta kau pergi saja dari rumah ini. Aku sama sekali tidak berkepentingan dengan kau meskipun kau cantik. Aku memerlukan anak janda ini”

“Ah, jangan salah pilih“ berkata Wiyatsih “maksudku…..”

“Diam“ laki-laki itu benar-benar menjadi sangat marah “jangan membuat dirimu lebih parah lagi”

Tetapi Wiyatsih tidak mau diam. Bahkan sambil tersenyum ia berkata “Kau memang bodoh sekali. Kau tidak dapat mengetahui siapakah sebenarnya yang kau hadapi. Bukankah kau kenal Nyai Sudati? Kau jangan memperagakan uangmu disini. Nyai Sudati ibuku, mempunyai uang lebih banyak dari kau”

Kemarahan laki-laki ilu tidak tertahankan lagi. Sambil menggeretakkan giginya ia berkata “Jika kau seorang laki-laki, aku pasti sudah memukulmu”

“O. kenapa tidak kau lakukan atasku? Silahkan. Aku akan tetap mengganggumu. Dan kau boleh memukulku jika kau memang ingin”

Darah laki-laki itu benar-benar telah mendidih. Perempuan yang bernama Wiyatsih ini sangat memuakkannya, sehingga karena itu, ia tidak dapat mengendalikan dirinya lagi hampir diluar sadarnya, tangan laki-laki itu terayun kemulut Wiyatsih.

Tetapi laki-laki itu tidak mengetahui, siapakah sebenarnya gadis yang dihadapinya itu. Karena itu, maka tiba tiba saja sebelum tangannya menyentuh gadis itu, terasa sengatan justru dipipinya sendiri sehingga kepalanya terputar kesamping. Alangkah pedihnya. Apalagi tangannya sendiri sama sekali tidak berhasil menyentuh tubuh gadis yang memuakkan itu.

“Suntrut“ janda itu berteriak ketika ia melihat tangan laki-laki itu terayun. Namun mulutnya seperti terbungkam ketika ia melihat justru pipi laki-laki itulah yang menjadi merah karena sentuhan tangan Wiyatsih.

“Tidak apa-apa biyung“ sahut Puranti “Wiyatsih memang mempunyai kelebihan dari gadis-gadis yang lain, justru karena ia adik Pikatan. Ia memiliki kemampuan seperti kakaknya, meskipun belum sempurna. Namun seandainya laki-laki itu tidak minta maaf kepadanya, maka ia akan menyesal”

“Persetan“ laki-laki itu hampir beteriak. Namun sekali lagi suaranya tertahan karena tangan Wiyatsih menyambar bibirnya.

Laki-laki itu terdorong mundur. Tetapi wajahnya menjadi semerah darah. Dengan suara gemetar ia berkata “Semula aku menahan diri karena kau seorang perempuan. Tetapi kau telah berbuat gila. Dan aku tidak mau kau perlakukan seperti ini, meskipun aku tahu, Nyai Sudati seorang janda yang kaya raya. Aku tidak peduli. Aku juga seorang yang kaya”

“Kau mau apa?“

Pertanyaan itu telah membingungkannya sejenak. Namun kemudian ia berkata “Jangan turut campur. Aku akan mengambil gadis itu. Jika kau tidak ingin gigimu rontok. Gadis itu mampu merontokkan gigimu dan sekaligus tulang-tulang igamu. Kau tidak percaya?“

“Kenapa bukan kau saja yang melakukan Wiyatsih“ berkata Puranti.

“Mungkin ia akan menjadi lebih puas, jika kaulah yang melepas giginya meskipun hanya sebuah”

Laki-laki itu bingung sejenak. Menilik sikapnya, gadis-gadis itu pasti tidak sekedar menakut-nakutinya. Suara gadis-gadis itu sama sekali tidak ragu-ragu dan tidak gemetar. Sikapnya meyakinkan dan bahkan senyumnya benar-benar menyakitkan hati.

Tetapi laki-laki itu tidak mau mempercayai tanggapan itu. Ia masih harus membuktikan, apakah hal itu bukan sekedar bayangan-bayangan yang menghantui kepalanya.

Karena itu, maka dengan marahnya ia menyerang Wiyatsih. Ia sama sekali tidak lagi melihatnya sebagai seorang gadis. Ia merasa terhina dan ia akan melepaskan kemarahannya atas hinaan itu.

Tetapi ternyata, bahwa gadis-gadis itu tidak sekedar membual, Wiyatsih berhasil menangkap tangannya ketika laki-laki itu menyerang langsung kepelipisnya.

Dengan sekali pilin, laki-laki itu terputar membelakangi Wiyatsih. Mulutnya menyeringai dan matanya terpejam.

“Jangan, jangan“ ia menyeringai menahan sakit.

“Aku dapat mematahkan tanganmu“ desis Wiyatsih.

“Jangan, jangan”

“Nah, apakah kau masih akan mengambil Puranti dengan, paksa?. Dengar, Puranti tidak hanya dapat memilin tanganmu, tetapi ia mampu memilin tubuhmu sekaligus. Kau tidak percaya?“

“Tetapi, tetapi, ia akan menjadi isteriku dan…………..” Suaranya terputus, lalu terdengar ia mengeluh “Jangan, sakit”

“Jawab, apakah kau tidak ingin mengurungkan niatmu?“

“Kenapa kau turut campur?“

“Puranti adalah kakakku. Kakak angkat” Wiyatsih terdiam sejenak. lalu “aku memang tiba-tiba saja ingin mematahkan tangan ini”

“Jangan, jangan”

“Nah, jawab pertanyaanku. Apakah kau masih tetap pada keinginanmu?”

“Ya, ya” tetapi tiba-tiba ia terpekik “o, tidak. Tidak”

Wiyatsih menekan tangan laki-laki itu dan mengangkatnya sedikit, sehingga rasa-rasanya tangan itu memang akan patah

“Benar? Dan kau berjanji tidak akan mengganggunya lagi.”

Laki-laki itu tidak segera menjawab, tetapi ketika tangan Wiyatsih menekan lebih keras lagi ia berdesis “Ya. ya.”

“Ya apa?“

“Aku tidak akan mengganggunya lagi“

“Benar?“

“Benar. Aku tidak akan menganggunya lagi”

Perlahan-lahan Wiyatsih mengendorkan tangannya dan kemudian dilepaskannya sama sekali. Namun ia masih mendorong laki-laki itu sambil berkata “Nah, pergilah kepada isterimu. Ia menunggumu. Barangkali ia sekarang baru menangis karena kau tergila-gila kepada perempuan lain”

Laki-laki itu hampir jatuh terjerembab. Untunglah ia sempat berpegangan pada tiang pintu. Sejenak ia berpalinjg dan dilihatnya wajah kedua gadis itu berganti-ganti. Keduanya sedang tersenyum dan tampak senyum Puranti tampak semakin manis.

Meskipun demikian, kini ia harus berpikir. Apakah gadis-gadis manis ini anak genderuwo, sehingga mempunyai kekuatan yang luar biasa. Mungkin ibunya adalah Nyai Sudati, janda kaya itu, tetapi ayahnya mungkin pula genderuwo sehingga anaknya menjadi begitu cantik tetapi berbahaya seperti seekor harimau betina.

Sekilas terlintas dikepala laki-laki itu, bahwa ia dapat mengupah dua tiga orang laki-laki yang kuat untuk memaksakan kehendaknya dengan kekerasan. Tetapi apabila benar dibelakang mereka berdiri Pikatan, maka semuanya akan menjadi buyar.

“Apalagi yang kau tunggu? Apakah kau masih ingin menatap senyum kakakku untuk yang terakhir kalinya?“ bertanya Wiyatsih.

“Ah, kau“ desis Puranti.

Tetapi Wiyatsih justru tertawa dan berkata “Apakah salahnya? Mungkin sebuah kenangan yang tidak terlupakan. Tetapi mungkin juga sebagai suatu peringatan bahwa sebaiknya untuk seterusnya ia tidak berbuat demikian lagi”

Laki-laki yang masih berpegangan tiang pintu itu tidak mengucapkan kata-kata apapun lagi. Dengan wajah yang merah padam, iapun kemudian melangkah meninggalkan rumah itu.

“Suntrut“ berkata janda tua itu “apakah kau tidak mempertimbangkan bahwa laki-laki itu menjadi sangat marah dan dapat membawa orang lain kerumah ini karena ia dapat mengupahnya?“

“Ia tidak akan berbuat begitu biyung“ jawab Puranti “ia sudah mendengar nama Pikatan. Dan ia tahu bahwa Nyai Sudatipun dapat mengupah orang untuk melindungi kami, seandainya ia masih meragukan kemampuan Pikatan.

Janda tua itu merenung sejenak. Meskipun ia tidak begitu yakin, tetapi ia tidak membantah lagi. Bahkan iapun kemudian mempersilahkan kedua gadis itu untuk duduk.

“Tetapi hanya inilah yang ada dirumah ini ngger“ berkata janda itu kepada Wiyatsih.

“Aku senang sekali dapat berkunjung kerumah ini bibi“ jawab Wiyatsih “apalagi disini agaknya Puranti menjadi kerasan”

“Ya, aku mengharap ia kerasan disini. Tetapi sudah tentu ia senang sekali mendapat kesempatan tinggal dirumah Nyai Sudati”

“Tidak biyung“ jawab Puranti “aku akan tinggal disini, meskipun aku sekarang harus berterus terang, bahwa aku dapat pergi setiap saat dan kembali tanpa mengenal waktu“

Janda tua itu mengerutkan keningnya.

“Apakah maksudmu?” ia bertanya.

”Maksudku, mungkin aku pergi ditengah malam atau menjelang fajar. Tetapi mungkin dipagi atau siang hari. Aku tidak akan dapat lagi melayani biyung seperti semula karena pekerjaan yang harus aku lakukan kemudian”

“Suntrut, apakah sebenarnya pekerjaanmu, dan siapakah sebenarnya kau?“

Puranti tersenyum. Jawabnya “Aku adalah seorang gadis seperti yang biyung kenal sampai sekarang. Biyung tidak usah merubah sikap dan tanggapan hanya karena aku diangkat menjadi saudara Wiyatsih. Aku masih tetap seperti dahulu biyung. Namun demikian aku minta biyung tidak mempercakapkan aku dengan siapapun juga. Tidak mengatakan apa yang aku lakukan dan apa yang aku katakan”

Janda tua dari Cangkring itu menjadi bingung.

“Tetapi percayalah biyung, aku tidak berbuat sesuatu yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan, bahkan sebaliknya. aku berusaha untuk menegakkannya sejauh dapat aku lakukan”

Ibu angkat Puranti itu menjadi termangu mangu.

“Sudahlah biyung, jangan memikirkan aku lagi. Anggaplah tidak terjadi perubahan apapun padaku. Akupun akan melepaskan pakaian ini dan mengenakan pakaianku yang kumal dan tua”

Janda tua itu benar-benar tidak mengerti. Tetapi ia mengangguk saja sambil berkata “Terserahlah kepadamu Suntrut, eh, Puranti. Bukankah namamu Puranti?“

“Ya, namaku Puranti, tetapi panggil aku dengan nama yang biyung berikan”

“Baiklah, meskipun aku sadar. bahwa ada rahasia yang membayangimu. Bahwa kau tidak mempergunakan namamu yang sebenarnya saja, telah dapat diambil suatu kesimpulan, bahwa kau sedang bersembunyi disini”

Puranti mengerutkan keningnya. Sejenak ia berpaling kepada Wiyatsih dan sejenak kemudian ia berkata “Tangkapan biyung ternyata cukup tajam. Memang ada sesuatu yang harus aku rahasiakan. Namun pada saatnya biyung akan mengerti”

Janda tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyadari bahwa saatnya masih akan datang kelak. Karena itu, ia tidak memaksa kepada Puranti untuk mengatakannya.

Namun yang penting bagi Puranti adalah, bahwa ia tidak lagi harus bersembunyi-sembunyi apabila ia akan meninggalkan rumah itu. Ibu angkatnya sudah mengetahui bahwa setiap kali ia akan meninggalkan rumah itu, sehingga karenanya ia tidak. akan menjadi gelisah dan mencarinya.

Meskipun mungkin ibu angkatnya itu gelisah juga, tetapi kegelisahan itu disebahkan karena kecemasannya, apakah Puranti tidak mengalami sesualu diperjalanannya.

Demikianlah, maka hampir sehari penuh Wiyatsih berada di Cangkring. la sudah melupakan laki-laki yang menginginkan Puranti. Menurut dugaannya, laki-laki itu pasti tidak akan kembali lagi.

Disore harinya, mereka berdua minta diri kepada janda tua di Cangkring itu untuk kembali ke Sambi Sari.

“Aku akan mengantar Wiyatsih biyung“ berkata Puranti “tetapi besok aku akan kembali. Mungkin aku akan hilir mudik. Kadang-kadang siang, kadang-kadang malam”

“Apakah kau tidak menyadari keadaan sekarang ini Puranti. Dimana-mana terjadi kerusuhan karena musim kemarau yang panjang. Dirumah ini sebenarnya kau cukup aman, karena tidak akan ada seorang perampokpun yang akan memasuki rumah ini”

Puranti tersenyum, jawabnya “Mudah-mudahan aku tidak bertemu dengan para perampok itu”

Janda tua itu tidak menahannya lagi. Meskipun ia tidak tahu benar, tetapi terbersit didalam hatinya suatu kepercayaan bahwa Puranti akan dapat menjaga dirinya sendiri.

Dimalam berikutnya Puranti juga bermalam dirumah Wiyatsih untuk meyakinkan, apakah Pikatan benar-benar telah terbangun dari mimpinya, bukan sekedar terkejut dan kemudian mendekur kembali didalam rangkuman mimpi buruknya.

Malam itu, bukan saja Puranti yang meskipun memejamkan matanya tetap tidak tertidur. Tetapi juga Wiyatsih. Meskipun kadang-kadang Wiyatsih menjadi tidak sabar dan dengan gelisahnya, berputar kekanan dan kemudian kekiri, namun pada saatnya ia mampu juga menahan diri. Ketika mereka mendengar langkah kaki yang terlalu lembut, keduanyapun berbaring diam dengan nafas yang teratur.

Sejenak keduanya mendengar langkah itu berhenti didepan pintu bilik. Dengan ujung jarinya Wiyatsih menggamit Puranti. Tetapi Puranti sama sekali tidak menanggapinya.

Dalam pada itu ada sesuatu yang terasa aneh didalam hati Puranti. Langkah Pikatan sangat menekan perasaannya. Apalagi ketika langkah itu mendekati pintu biliknya. Tetapi rasa-rasanya ada semacam keinginan, agar Pikatan membuka pintu bilik itu dan memandanginya untuk sesaat selagi ia masih juga berpura-pura tidur nyenyak.

Tetapi Puranti menjadi kecewa, karena Pikatan melangkah terus. Tidak seperti malam yang lewat, malam itu Pikatan sama sekali tidak menengok bilik kedua gadis yang berpura-pura tidur nyenyak itu.

Sejenak kemudian mereka mendengar gerit pintu butulan terbuka. Perlahan-lahan sekali dan kemudian tertutup kembali.

Sekali lagi Wiyatsih menggamit Puranti, tetapi gadis itu masih tetap berdiam diri. Puranti masih memperhatikan setiap bunyi diluar rumah. Ia masih curiga, bahwa Pikatan akan mencoba mengetahui keadaan mereka dari luar dinding.

Ketika Puranti yang berpendengaran sangat tajam itu yakin bahwa Pikatan sudah pergi, barulah ia berbisik “Hati-hatilah Wiyatsih. Jika Pikatan tahu, kita masih belum tidur, maka untuk selanjutnya, sulit bagiku untuk mengetahui apa yang telah dilakukannya.

“Aku tidak tahan. Nafasku serasa menjadi sesak dan tubuhku basah oleh keringat”

“Kau harus berlatih. Itupun merupakan suatu kemampuan tersendiri. Cobalah menguasai dirimu didalam keadaan serupa itu. Menunggu dengan sabar dan memgatur diri seperti keadaan yang kita kehendaki”

Wiyatsih masih juga tersenyum. Perlalhan-lahan ia bangkit sambil menunjukkan baju dibagian punggungnya “Aku seperti baru saja mandi”

Purantipun tersenyum pula. Namun kemudian katanya “Tidurlah“

“Apakah kau akan keluar?“

Puranti menggeleng “Tidak hari ini. Karena itu, besok aku akan kembali ke Cangkring. Disaat-saat begini aku sudah menunggu diluar dan mengikuti Pikatan, kemana ia pergi, mungkin ia tidak hanya sekedar berada dihalaman rumah ini”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Iapun kemudian berbaring kembali dan mencoba untuk tidur. Tetapi seperti Puranti, ia masih tetap terjaga sampai saatnya ayam jantan berkokok untuk yang terakhir kalinya, disaat-saat pelayan-pelayan sebentar lagi akan terbangun.

“Apakah kakang Pikatan belum datang?“ bertanya Wiyatsih.

“Aku belum mendengar“ desis Puranti.

Namun sejenak kemudian mereka mendengar derit senggot timba dalam irama yang timpang.
“Tentu kakang Pikatan sedang menimba air. Dengarlah irama senggot itu, justru karena tangan kanan kakang Pikatan tidak dapat dipergunakan”

Wajah Puranti menjadi semakin cerah. Perlahan-lahan ia berkata “Mudah-mudahan ia benar-benar bangkit. Ia sudah mau menimba air meskipun sekedar untuk dirinya sendiri. Tentu ia lelah setelah berlatih. Sebelum masuk, ia langsung pergi kepakiwan dan membersihkan dirinya. Orang-orang yang melihatnya tidak akan bercuriga, dikiranya ia baru bangun pula dari tidurnya. Nanum bahwa ia mengambil air itu pasti akan mendapat perhatian dari para pembantu rumah ini”

Wiyatsihpun kemudian berdiri. Tetapi ketika ia melangkah ke pintu, Puranti berkata “Jangan kau jenguk dahulu. Biarlah Pikatan berbuat sesuatu. Kita jangan mengganggunya”

“Kenapa?“

“Kalau salah seorang dari kita menjengukuya, ia akan berhenti dan bersembunyi lagi didalam biliknya”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepulanya. Tetapi kemudian bertanya “Dan aku bagaimana?“

“Berbaring sajalah dahulu”

Wiyatsihpun kemudian melangkah kembali kepembaringannya dan berbaring disamping Puranti.

Sejenak kemudian suara senggot itu telah lenyap disusul oleh suara sapu dihalaman. Namun mereka mengerti bahwa pasti bukan Pikatanlah yang sedang membersihkan halaman itu.

“Aku sudah mendapat kepastian“ berkata Puranti “Pikatan pasti akan menempa dirinya, dan menyesuaikan keadaannya dengan tangannya yang hanya sebelah. Tetapi jika ia berhasil, maka tidak akan ada bedanya dengan seseorang yang bertangan utuh, karena pada dasarnya, kita memang hanya mempergunakan sebilah pedang”

Wiyatsih mengangguk-angguk kecil.

“Namun dengan demikian, Wiyatsih. Aku akan lebih banyak berada di Cangkring, agar dimalam hari aku dapat selalu mengikuti perkembangan Pikatan. Selain itu, mungkin sekali Pikatan diancam oleh bahaya, justru karena ia telah berhasil membinasakan beberapa orang penjahat. Karena aku yakin, ada kesetia-kawanan yang kuat diantara para penjahat, meskipun kadang-kadang mereka saling berbenturan sendiri.

Wiyatsih masih belum menjawab.

“Sementara itu“ Puranti meneruskan ”kau juga tidak boleh berhenti sampai disini Wiyatsih. Kau juga mendapat kesempatan. Kau dapat membawa kedua penjaga itu untuk berlatih. Dan diwaktu-waktu tertentu kau akan berlatih bersama aku”

“Aku akan berusaha“ sahut Wiyatsih ”aku sudah terlanjur suka oleh kegemaran atas ilmu kanuragan”

“Hanya sekedar kegemaran?“ bertanya Puranti.

“Tidak. Bukan sekedar kegemaran. Tetapi ada semacam kewajiban untuk melakukannya”

“Bagus“ sahut Puranti “kau sudah mendengar panggilan untuk memberikan perlindungan kepada sesama. Bukan sekedar untuk kebanggaan diri sendiri”

Wiyatsih tidak menyahut dan Purantipun terdiam pula, seakan-akan mereka masih belum berbicara apapun.

Sejenak kemudian mereka mendengar langkah Pikatan menuju. kebiliknya sendiri. Namun mereka sama sekali tidak berbuat sesuatu. Agaknya Pikatanpun berjalan terus tanpa berhenti didepan pintu-bilik mereka.

Baru ketika langkah Pikatan sudah tidak terdengar lagi, maka keduanyapun segera bangkit dengan perlahan-lahan agar tidak mengejutkan Nyai Sudati yang agaknya masih tertidur.
Namun Puranti masih juga kecewa karena Pikatan masih saja bersembunyi didalam biliknya disiang hari. Bahkan ia sama sekali tidak menampakkan dirinya. Agaknya oleh kelelahan dan kurang tidur dimalam hari, ia lebih senang tidur didalam biliknya daripada harus setiap kali menahan hati apabila ia berhadapan dengas Puranti dan Wiyatsih. Kedua gadis itu seakan-akan merupakan ejekan yang tidak habis-habisnya disetiap saat.

Tetapi dalam pada itu, Pikatan sendiri tidak mengerti, kenapa didasar hatinya setiap kali tersembul juga bayangan wajah gadis dari padepokan Pucang Tunggal itu.

Seperti yang dikatakan, maka hari itu Puranti minta diri untuk kembali ke Cangkring. Dengan berbagai alasan, ia minta diri kepada Nyai Sudati yang sebenarnya ingin menahannya. Gadis itu agaknya telah menarik hatinya. lapun seorang gadis yang rajin yang tidak kalah cekatan dari Wiyatsih.

Tetapi Puranti terpaksa tidak dapat memenuhinya meskipun ia juga tidak dapat mengatakan alasan yang sebenarnya. Hanya Wiyatsih sajalah yang mengetahuinya, bahwa malam nanti Puranti ingin melihat bagaimana Pikatan berlatih.

Demikianlah maka Nyai Sudati yang tidak berhasil menahan Puranti terpaksa melepaskannya pergi ke Cangkring. Namun ia masih juga berpesan agar Puranti sering berkunjung kepadanya.

“Aku akan selalu datang”

“Terima kasih“ jawab Nyai Sudati “hati hatilah dijalan”

Untuk beberapa lama Nyai Sudati masih saja berdiri diregol memandangi langkah gadis yang tanpa sesadarnya telah menawan hatinya. Bahkan setiap kali ia masih saja berkata kepada diri sendiri “Seandainya Pikatan merupakan seorang anak muda yang wajar. Yang tidak dicengkam oleh kekecewaan yang sangat dalam”

“Gadis aneh” tiba-tiba ia berdesis.

Wiyatsih yang berdiri disampingnya berpandangan sejenak. Kemudian digamitnya ibunya sambil bertanya “Apa yang aneh ibu?”

Ibunya mengerutkan keningnya. Katanya “Gadis yang bernama Puranti itu”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berkata sepatah katapun lagi. Apalagi ketika dari kejauhan ia melihat langkah Tanjung menuju keregol halaman rumahnya. Sejenak anak muda itu berhenti ketika ia berpapasan dengan Puranti, namun kemudian Tanjung meneruskan langkahnya pergi kerumah Wiyatsih.

Tanpa berkata apapun, Wiyatsih meningggalkan ibunya yang masih tetap berdiri diregol menunggu kedatangan Tanjung. Baginya Wiyatsih Tanjung adalah seorang anak muda yang sama sekali tidak berarti lagi. Jalan pikiran mereka justru berlawanan, sehingga apabila mereka harus berjalan bersama, maka mereka pasti akan selalu bertengkar disepanjang jalan.

Demikianlah, maka dimalam hari yang mendatang, Puranti telah berada di Cangkring. Tetapi kini ia tidak lagi dengan cemas dan hati-hati meninggalkan rumah itu. Bahkan sejak matahari terbenam, ia sudah memberitahukan kepada ibu angkatnya, bahwa nanti menjelang tengah malam ia akan pergi sampai menjelang pagi.

“Apa saja kerja anak ini?“ timbul juga pertanyaan dihati janda tua dari Cangkring. Bahkan kadang-kadang timbul juga dugaan-dugaan yang kurang mapan, karena justru Puranti adalah seorang perempuan. Adalah tidak pantas sekali apabila seorang perempuan keluar dimalam hari seorang diri”

Tetapi menilik sorot matanya yang sama sekali tidak membayangkan prasangka apapun, janda tua dari Cangkring itu akhirnya mencoba mengusir bayangan-bayangan yang kurang sedap dari angan-angannya.

“Anak ini mungkin anak ajaib. Tetapi pasti bukan seorang perempuan yang tidak layak”

Demikianlah dimalam hari yang gelap, selagi hampir semua penghuni padukuhan Cangkring tertidur lelap, Puranti pergi meninggalkan rumah ibu angkatnya menuju ke Sambi Sari. Dengan hati-hati ia mendekati rumah Wiyatsih seperti yang sering dilakukannya. Tetapi kali ini ia harus mengintai Pikatan yang memiliki indera yang jauh lebih tajam dari orang-orang lain dirumah itu, sehingga karena itu, ia harus sangat berhati-hati.

Mula-mula Puranti agak ragu-ragu, apakah Pikatan masih belum keluar dari rumahnya. Karena itu, dengan sangat hati-hati ia berusaha mendekati dinding bilik Pikatan. Namun ternyata, ia masih mendengar sesuatu didalam bilik itu. Bahkan kemudian tarikan nafasnya.

“Aku belum terlambat“ berkata Puranti didalam hatinya. Sambil menjauhi bilik itu. Karena itu, maka dengan sabarnya Puranti justru menunggu.

Dan ternyata yang mengikatnya bukan sekedar keinginannya untuk mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Pikatan. Tetapi Pikatan sendiri ternyata semakin lama justru seakan-akan semakin dalam tertatah didinding jantungnya. Dengan segala sifatnya, kekasarannya, keputus-asaanya dan cacatnya, Pikatan bagi Puranti justru menjadi seorang laki-laki yang tidak ada duanya di muka bumi.

Ternyata bahwa Puranti tidak perlu menunggu terlalu lama. Sejenak kemudian ia mendengar derit pintu yang lembut sekali. Dari kejauhan ia melihat seleret cahaya lampu yang samar-samar melontar lewat celah-celah pinitu yang terbuka. Tetapi hanya sekejap, karena pintu itu segera tertutup kembali.

Namun ketajaman pandangan mata Puranti segera dapat menangkap bayangan Pikatan yang bergerak-gerak dilongkangan.

“Aku tidak boleh kehilangan jejak“ berkata Puranti, karena dugaannya kuat, bahwa Pikatan tidak akan berlatih dikebun belakang seperti Wiyatsih. Tempat itu terlampau sempit dan dalam keadaan tertentu tidak memberikan bahan-bahan yang lebih baik baginya.

Ternyata dugaan Puranti itu benar. Dengan sangat hati-hati ia mengikuti bayangan Pikatan yang langsung pergi ke dinding kebun belakang. Sejenak Pikatan berdiri termangu-mangu, namun kemudian iapun segera melompatinya.

Puranti tidak mau ketinggalan. Meskipun ia tidak melepaskan kewaspadaannya, namun ia berhasil mendekati Pikatan dan mengikutinya kemana ia pergi”

Dengan dada yang berdebar-debar ia berjalan beberapa langkah saja dibelakang Pikatan. Namun karena malam yang gelap dan dedaunan yang rimbun disebelah menyebelah jalan. Puranti selalu mendapatkan perlindungan setiap saat Pikatan tanpa sesadarnya berpaling.

“Ke jurang disebelah bulak kering itu” berkata Puranti didalam hatinya.

Ternyata dugaannya tidak salah pula. Pikatan benar-beriar pergi kejurang yang tidak terlampau dalam. Namun dibawah tebing yang curam itu terdapat semacam sebuah lapangan yang tidak begitu luas ditikungan sungai yang beralaskan pasir dan batu-batu.

Diatas lapangan pasir dan kerikil itulah Pikatan mulai berlatih, Mula-mula ia berusaha untuk menemukan sikap yang paling baik sesuai dengan cacatnya. Beberapa kali ia mencoba, namun setiap kali tangan kanannya masih terasa mengganggunya.

Memang terlintas diangan-angannya, bahwa tangan yang sudah tidak berarti apa-apa itu lebih baik dipotong saja. Namun kadang-kadang masih terngiang kata-kata gurunya bahwa tangan ini masih utuh. Masih ada tanda-tanda gerak pada urat nadinya.

“Apakah mungkin bahwa pada suatu saat tangan ini dapat pulih kembali. setidak-tidaknya dapat bergerak?“

Tetapi tiba-tiba saja Pikatan menggeram “Persetan dengan tangan kananku”

Latihannya kemudian dipusatkan kepada tangan kirinya. Sambil berloncatan dengan lincahnya, Pikatan mencoba menggerakkan tangan kirinya dengan segala macam cara dan bentuk. Kadang-kadang mirip sebuah pukulan dengan tangan yang menggenggam. Namun kemudian tangan itu direntangkan dan ia mulai memukul dengan sisi telapak tangannya. Akhirnya jari-jarinya dikembangkannya dan seperti menerkam ia melatih kekuatan jari-jarinya dipasir pantai.

Puranti yang memandangnya sambil bersembunyi dibalik sebuah gerumbul menjadi berdebar-debar. Ternyata bahwa kemampuan Pikatan seakan-akan masih utuh. Tangan kirinyapun mampu bergerak secepat tangan kanannya ketika tangan itu masih belum cacat. Namun demikian kekuatan tangan kirinya masih perlu mendapat perhatian lebih seksama.

Kadang-kadang diluar sadarnya hampir saja Puranti meloncat mendekati untuk memberikan beberapa petunjuk. Namun ia masih sempat menahan diri dan tetap bersembunyi dibalik gerumbul yang rimbun.

Dengan penuh kemauan, Pikatan berlatih bukan saja tangan kirinya, tetapi juga kaki-kakinya. Ia berloncatan kian kemari dan melonjak-lonjak setinggi dapat dicapainya. Kemudian mengayunkan kakinya sebagai latihan sebuah serangan.

Demikian Pikatakan telah menempa dirinya sendiri tanpa mengenal lelah. Baru ketika tubuhnya telah basah oleh keringat seperti baru saja mandi, Pikatan menghentikan latihannya. Sejenak ia duduk diatas batu sambil mengatur pernafasannya yang tersengal-sengal.

“Ternyata Pikatan perlu mengadakan latihan pernafasan” berkata Puranti didalam hatinya “dahulu kakang Pikatan sudah mampu mengatur jalan pernafasannya, sehingga tidak mungkin baginya saat itu untuk bernafas sedemikian tersengal-sengal.

Tetapi sekali lagi Puranti harus menahan dirinya. Karena itu, bagaimanapun juga keinginan mendesak didadanya, dibiarkannya saja Pikatan mencoba mengatur pernafasannya sendiri.
Tetapi bahwa latihan itu sendiri ternyata sangat membesarkan hati Puranti. Jika Pikatan bersungguh-sungguh, maka ia akan segera menemukan tingkatnya kembali. Pikatan yang bertangan kiri saja itu tidak akan kalah dari Pikatan yang dahulu.

Dan agaknya Pikatan sendiripun menyadarinya. Karena itu, maka iapun telah bertekad untuk berlatih tanpa jemu-jemunya.

Demikian Pikatan kembali ke rumahnya, maka Purantipun segera kembali pula ke Cangkring. Kembali kerumah janda tua yang miskin itu.

Dirumah Puranti masih tetap memakai pakaiannya yang kumal dan lungset. Seperti biasanya, ia masih tetap bermain-main dengan kawan-kawannya. Kawan-kawannya memang tidak melihat Puranti dengan pakaian yang bagus datang bersama seorang gadis dari Sambi Sari.
Bahkan masih juga ada kawan Puranti yang selalu menggodanya “He, Suntrut, aku dengar kau akan kawin dengan laki-laki yang kaya raya itu?“

“Ah, siapakah yang mengatakannya?“

“Hampir setiap orang di Cangkring pernah mendengarnya. Apakah kau akan ingkar?“

Puranti menjadi termangu-mangu.

“Kau memang gadis yang beruntung. Laki-laki itu kaya sekali. Rumah biyungmu pasti akan segera diperbaiki. Regolmu yang miring itu akan tegak dan kau akan menjadi semakin cantik, karena laki-laki itu akan membeli buatmu kain lurik hijau dan baju berwarna lemah teles. O, aku akan menjadi iri. Kulitmu yang kuning akan tampak semakin kuning, dan tumitmu akan menjadi seperti buah ranti diantara hijau daunnya”

“Ah, ada-ada saja kau“ potong Puranti.

“Tentu. Jika kau minta maka isteri-isterinya yang lain pasti akan segera diceraikannya”

Tetapi Puranti menggeleng “Tidak. Aku tidak akan menjadi isterinya. Kemarin ia datang kerumah biyung selagi aku banguan tidur. Agaknya ia menjadi kecewa melihat wajahku yang kusut. Rambutku yang terurai dan barangkali ada ingus dihidungku“

“Ah“ kawan-kawannya tertawa “aku tidak percaya”

Purantipun tertawa. Katanya “Sudahlah kalau kau tidak percaya. Lihat, ia tidak akan datang lagi kerumahku. Pada suatu saat ia akan datang kerumah salah seorang dari kalian dan mengambilnya sebagai seorang isteri”

“Bohong”

“Atau bahkan datang kerumah beberapa orang diantara kalian berturut- turut. Dan barangkali dua atau tiga orang diantara. kalian akan diambilnya sekaligus”

“Ah, bohong, bohong“ gadis-gadis itupun tertawa berkepanjangan. Dan Purantipun ikut tertawa pula diantara mereka.

Namun ternyata bahwa laki-laki itu memang tidak datang lagi kerumah Puranti meskipun, agaknya ia masih tetap tergila-gila, Bahkan kadang-kadang laki-laki itu berdiri menunggu Puranti lewat membawa bakul cucian apabila ia pergi kesungai, sambil bersembunyi dibalik sebatang pohan dipinggir jalan ia mengintip gadis itu lewat bersama beberapa orang temannya.

“Gadis anak genderuwo itu sudah tidak pernah kelihatan mengawani Suntrut” kadang-kadang timbul juga persoalan itu di-hati iaki-laki itu. Tetapi ia tidak berani berbuat lebih lanjut, karena Wayatsih menyebut-nyebut nama Pikatan dan ia adalah anak janda yang kaya raya dari Kademangan Sambi Sari

Bahkan kemudian laki-laki- itu berusaha untuk melupakan Puranti. Dan seperti yang dikatakan olah gadis itu, ternyata ia telah mengambil seorang gadis lain sebagai isterinya. Seperti biasanya ia mendahului perkawinannya dengan memperbaiki rumah orang tua gadis itu. Membelikan perlengkapan rumah tangga, dan pakaian serta kebutuhan-kebutuhan yang lain. Baru kemudian perkawinan dilangsungkan. Tetapi ternyata gadis yang dikawininya itu tidak ditempatkannya dirumahnya yang paling baru, tetapi dibiarkannya tinggal dirumah orang tuanya yang sudah diperbaikinya.

Beberapa hari setelah perkawinan itu, Puranti masih juga sempat megganggunya bersama beberapa orang kawan-kawannya.

Dalam pada itu, Puranti sama sekali hampir tidak pernah tidak hadir pada saat-saat Pikatan berlatih. Dengan bangga ia mengikuti perkembangan anak muda itu. Bahkan karena dorongan yang kuat dari dalam dirinya, maka seakan-akan Pikatan mempunyai kekuatan yang berlipat. Dalam waktu beberapa hari saja, ia sudah menemukan kemampuannya kembali. Kemampuan melontarkan tenaga dan bahkan tenaga cadangan, yang disaat pertama kali ia mencoba mengulang tampak betapa ia harus mengatasi kesulitan didalam dirinya. Tetapi akhirnya ia berhasil juga melepaskan tenaga cadangannya.

Yang agaknya masih dapat dikuasainya dengan baik adalah kecepatannya bergerak. Bahkan seakan-akan latihan yang dilakukannya dengan kesungguhan hati itu telah membuatnya cepat sekali maju. Kakinya mampu bergerak terlampau cepat dan tangannya yang hanya dapat digerakkaimya sebelah itu justru telah mengimbangi kecepatan gerak tangan kanannya dahulu.

“Ternyata cacat yang ada padanya, telah membuatnya semakin bernafsu“ berkata Puranti didalam hatinya “justru pengaruh kekecewaan dihatinya, bahkan perasaan putus-asa. Kini ia dengan segala daya berusaha untuk mengatasi perasaan-perasaan itu. la berusaha mengimbangi keadaannya dengan kelebihan yang lain. Perasaan rendah diri karena cacatnya telah menumbuhkan tekad didalam hatinya untuk menampakkan kelebihan itu. Bahkan tentu agak berlebih-lebihan juga”

Namun Puranti hanya dapat melihat saja dari kejauhan. Kemajuan yang dicapai oleh Pikatan telah membuatnya berbesar hati pula. Apalagi ketika pada suatu saat, Pikatan benar-benar telah berada didalam keadaannya seperti ketika la belum mengalam cidera. Kemampuan tangan kanannya didalam olah senjata, telah dapat dilakukannya dengan tangan kiri. Bahkan semakin lama tampak beberapa kelebihan, karena kesungguhannya berlatih.

Tetapi dalam pada itu. Puranti tidak juga melupakan Wiyatsih. Bahkan didalam waktu-waktu tertentu. Wiyatsih itu dibawanya ketempat yang sepi. Yang tidak akan dilihat oleh orang lain, dan dengan demikian tidak akan terganggu karenanya.

“Apakah tidak akan menimbulkan sesuatu yang kurang baik jika kita berlatih dialas Sambirata?“ bertanya Wiyatsih pada suatu saat, ketika Puranti mengajaknya masuk kedalam daerah hutan kecil itu.

“Kita tidak akan berbuat apa-apa” jawab Puranti “kita akan berbuat sesuatu untuk diri kita sendiri”

“Tetapi hutan itu termasuk daerah yang wingit”

“Mungkin, tetapi kita tidak akan berbuat jahat terhadap siapapun. Bahkan kita berlatih untuk menyerahkan suatu pengabadian bagi kebajikan. Mungkin ada cara yang lebih baik dari cara yang kita tempuh, tetapi setidak-tidaknya kita bukan berniat jahat kepada siapapun. Jika tidak ada kejahatan, maka kita memang tidak akan berbuat apa-apa”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun mula-mula ia merasa kurang mapan ketika ia pertama kali berlatih dialas Sambirata yang dianggap wingit oleh orang-orang disekitarnya, namun kemudian agaknya menjadi biasa pula. Seperti kata Puranti, karena mereka tidak berniat jahat, maka tidak pernah terjadi sesuatu atas mereka, selama mereka berlatih di Alas Sambirata itu.

Meskipun yang satu dengan yang lain tidak saling berjanji, namun rasa-rasanya mereka sedang berpacu. Wiyatsihpun telah berlatih dengan sepenuh kemampuan yang ada padanya Bekal-bekal yang diberikan langsung oleh ayah Puranti ternyata memberikan banyak manfaat baginya. Apalagi gadis inipun memiliki kecerdasan yang tidak kalah dari kakaknya, Pikatan. Hanya tenaga kodrati sebagai seorang gadis, Wiyatsih tidak dapat menyamai kakaknya, meskipun Wiyatsih sudah mulai berlatih membangkitkan tenaga cadangannya pula, apalagi karena Pikatanpun melakukan hal yang sama. Namun tingkat kemampuan mereka mengungkap tenaga cadangan itulah yang berbeda-beda sehingga karena Itulah maka meskipun tenaga kodrati Wiyatsih tidak menyamai Pikatan, namun gadis itu mampu mengungkap tenaga cadangan yang ada didalam dirinya seperti Pikatan.

Sejalan dengan latihan-latihan yang dilakukan oleh Wiyatsih, dengan atau tidak dengan Puranti, ia tidak pernah melupakan tanamannya yang kini sudah bukan lagi tanaman jagung muda, karena jagung itu benar-benar telah berbuah.

Seperti yang dikehendaki, ternyata tanaman yang hanya sekotak itu memberikan banyak arti bagi usaha Wiyatsih untuk membangun sebuah bendungan.

“Usaha itu pantas dihargai“ berkata anak-anak muda yang berkumpul disimpang empat, dipinggir desanya. Diantara mereka terdapat Kesambi.

“Bukan sekedar dihargai” berkata Kesambi tetapi kita sudah melihat hasilhya. Mungkin jagung itu tidak akan menghasilkan biji-biji yang sempurna. Tetapi itu bukan karena kesalahan penyediaan air. Karena tanaman jagung itu hanya sekotak kecil, maka serbuk bunganya banyak dihamburkan angin, sedang tidak ada serbuk bunga yang dihanyutkan angin dari kotak-kotak sawah yang lain. Dengan demikian maka pembuahan yang terjadi agaknya kurang sempurna. Tetapi jika seisi bulak itu ditanami jagung, maka buahnya pasti akan lebih baik. Biji-bijinya akan lebih banyak dan memuaskan”

“Ya, itu kami dapat mengerti” sahut kawannya.

“Jika demikian, kenapa kita tidak berpikir agak jauh”

“Membuat bendungan itu maksudmu?“

“Ya“ sahut Kesambi.

“Bukan kita tidak berpikir, tetapi bagaimana kita harus melaksanakan”

“Itulah tantangannya. Dan kita harus dapat menjawabnya dengan tindakan”

“Apa yang dapat kita lakukan?“

“Pikatan pernah berceritera tentang bendungan itu dahulu. Sebenarnya tidak terlalu sulit, jika kita benar-benar mau bekerja”

“Semua bahan yang diperlukan telah tersedia”

“Apa?“

“Bambu untuk membuat bruajung-brunjung. Patok-patok kayu, dan batu yang harus dimasukkan kedalam brunjung-brunjung. Semuanya sudah ada dipadukuhan ini. Kayu-kayu yang agak besar, kita dapat mengambilnya kedalam hutan”

“Bagaimana kita akan mengangkut kayu-kayu itu? Pedati-pedati se Kademangan kita kerahkan?”

“Jika perlu apa salahnya, karena bendungan ini adalah bendungan kita bersama”

“Apa kita dapat melakukannya? Orang-orang itu akan mentertawakan kita”

“Jangan kita. Ki Demanglah yang harus memberitahukan kepada setiap orang yang memiliki pedati yang jumlahnya tidak banyak di Kademangan ini. Tetapi jika kita menemui kesulitan, kayu-kayu itu kita hanyutkan saja dikali Kuning. Kita tinggal menanti saja ditempat yang akan kita dirikan sebuah bendungan itu. Mungkin di tikungan-tikungan sungai kita harus menarik kayu itu sedikit-sedikit. Tetapi pekerjaan itu tidak terlalu sulit”

“Tetapi sebentar lagi musim hujan akan datang”

“Lewat musim hujan. Selama musim hujan kita akan membuat brunjung-brunjung bambu. Begitu musim hujan selesai, kita turunkan brunjung-brunjung itu kesungai setelah kita isi dengan batu-batu yang kita dapatkan disungai itu pula”

“Tampaknya sederhana sekali“ gumam salah seorang dari mereka.

“Memang tidak sesederhana itu. Tetapi jika kita benar-benar bertekad untuk melakukan, kita akan dapat melakukannya. Wiyatsih mengajak satu dua orang dari antara kita menghadap Ki Demang Sambi Sari”

“Apakah Ki Demang tidak akan mentertawakan kita?“

“Apakah ia tidak dapat melihat hasil percobaan Wiyatsih itu? Hasil yang sebenarnya tidak dapat kita harapkan lahir dari seorang gadis. Dan kita anak-anak muda ini tidak dapat berbuat apa-apa”

“Ia adalah adik Pikatan“ sahut seorang anak muda “rencana itu mula-mula timbul dari Pikatan”
“Meskipun demikian, jika tidak ada sesuatu kelebihan pada Wiyatsih, ia tidak akan dengan kemauan yang bulat melakukan percobaan yang ternyata berhasil itu”

Kawan-kawannya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

“Nah, siapakah yang bersedia pergi kerumah Ki Demang bersama Wiyatsih”
Tidak seorangpun yang menyahut

“Aku sendiri bersedia“ berkata Kesambi, tetapi aku memerlukan kawan. Kita akan benar-benat membangun bendungan.

“Ki Demang akan marah”

“Kenapa?“

“Atau mentertawakan. Kita anak anak muda seharusnya tidak mendahului orang tua-tua”

“Ah. Pikiranmu sudah terbalik. Justru kita yang muda-muda inilah yang harus mendahului orang tua-tua, jika orang tua-tua tidak menemukan jalan baru untuk memperbaiki tata kehidupan ini”

“Tetapi mereka akan menganggap kita telah berbuat deksura terhadap mereka”

“Tentu tidak. Dan itu tergantung dari apa yang akan kita lakukan. Jika kita hanya mampu berkeliaran di jalan-jalan. Berteriak-teriak tanpa arti dan bahkan kadang-kadang mengganggu orang lain, nah, barulah wajar Ki Demang marah kepada kita. Tetapi yang akan kita lakukan adalah usaha untuk meningkatkan hidup rakyat Kademangan ini”

Bersambung

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s