Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

yg terasing 24

Tinggalkan komentar


Wiyatsih mengerutkan keningnya. Ia menjadi semakin curiga. Tetapi ia benar-benar ingin bertemu dengan orang itu meskipun ia harus sangat berhati-hati.

”Baiklah“ katanya kemudian “aku akan menemuinya. Aku ingin mendengar sendiri dari mulutnya, siapakah ia sebenarnya”

“Ia tidak mau menyebut namanya”

“Ya, ia merahasiakan dirinya. Itulah sebabnya aku menjadi sangat tertarik untuk menemuinya”

“Tetapi hati hatilah Wiyatsih“

“Kenapa?“

“Wajah orang itu tidak jelek. Mungkin cukup tampan Tetapi kesannya sangat menakutkan. Senyumnya membuat hatiku berdebar debar. Apalagi suara tertawanya yang lirih. Terasa bulu-bulu ditubuhku meremang”

“Baiklah, aku akan berhati-hati”

Demikianlah ketika kemudian malam turun perlahan-lahan dipadukuhan Sambi Sari, Wiyatsihpun sudah siap menugggu kedatangan Kiai Pucang Tunggal dihalaman belakang. Biasanya ia datang lebih lambat dari orang tua itu, tetapi karena sesuatu mendesak didadanya, maka ia telah mendahuluinya.

“Aku terlambat sekarang“ berkata Kiai Pucang Tunggal ketika ia datang kelempat itu.

“Tidak Kiai, akulah yang datang terlampau awal. Ada sesuatu yang mendesak yang ingin aku katakan”

“Tentang apa?“

“Orang itu, orang yang ingin mencari Pikatan”

“O, apakah ia datang kembali “

Wiyatsihpun kemudian menceriterakan tentang rencanannya untuk menemuinya dan tentang orang itu sendiri melengkapi keterangannya yang lebih dahulu pernah diberikannya kepada Kiai Pucang Tunggal.

Kiai Pucang Tunggalpun menjadi berdebar-debar. Ada semacam naluri padanya, bahwa Wiyatsih benar benar harus berhati-hati.

“Dimana kau akan menemuinya?“

“Ditempat kami akan membut bendungan, diantara brunjung-brunjung yang kami timbun disana.

“Jadi kau akan pergi kesana?“

“Ya. Aku ingin menemuinya. Aku ingin tahu siapakah sebenarnya orang itu”

“Kiai Pucang Tunggal menarik nafas dalam dalam. Lalu katanya “Baiklah Wiyatsih. Aku akan mengawasimu dari kejauhan. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu. sehingga aku tidak usah turut campur dalam hal ini. Apalagi kita belum jelas, siapakah sebenarnya orang itu”

“Apakah aku tidak usah memberitahukan kepada Puranti?”

“Tidak usah. Kau tidak akan menjumpainya dalam sepekan dua pekan ini. Ia sedang tekun dengan ilmunya”

“O, tentu Puranti sudah jauh sekali meninggalkan aku. Apakah ia sudah sampai kepada puncak dari ilmunya”

“Demikianlah dalam bentuk wantahnya. Tetapi ia masih harus banyak belajar tentang ikatan alam disekitarnya sebagai bahan yang disediakan bagi manusia”

Wiyatsih mengangguk-anggukan kepalanya. Dengan demikian ia dapat membayangkan bahwa Puranti kini telah memiliki ilmu yang utuh meskipun menurut Kiai Pucang Tunggal ia masih harus menemukan kesempurnaannya dalam hubungan dengan kekuatan yang tersembunyi didalam alam disekitarnya.

“Jika Puranti dapat luluh“ berkata Kiai Pucang Tunggal “maka ia akan menguasai suatu ilmu yang cukup matang”

“Sempurna“ potong Wiyatsih.

Tetapi Kiai Pucang Tunggal menggelengkan kepalanya Katanya “Tidak ada yang sempurna dibumi ini. Hanya Yang Sempurna sajalah yang sepenuhnya sempurna”

“O“ Wiyatsih mengangguk-anggukan kepalanya “ya Kiai”

Ketika Wiyatsih kemudian merenung, maka Kiai Pucang Tunggal berkata “Besok pergilah ke tempat yang sudah ditentukan. Akupun ingin melihat, Siapakah orang itu sebenarnya”

“Baiklah Kiai“ Wiyatsih menjadi ragu “tetapi apakah aku harus mengenakan pakaianku sendiri atau aku harus berpakaian laki-laki dan siap untuk menghadapi setiap kemungkinan”

“Rangkapilah dengan pakaianmu sendiri. Aku ada didekatmu. Jika terjadi sesuatu, aku akan membantumu”

“Terima kasih Kiai”

“Nah, sekarang masih ada waktu. Berlatihlah, barangkali kau besok dipaksa harus menghindarkan dirimu dari suatu mala petaka”

Wiyatsih merenung sejenak. Namun kemudian iapun mengangguk ”Baiklah Kiai. Aku akan segera mulai”

Seperti biasanya Wiyatsihpun segera berlatih. Namun hanya sekedar berlatih kecepatan bergerak seperti yang selalu dilakukan. Disentuhnya ujung-ujung dedaunan yang sudah ditentukannya sendiri dengan pedangnya. Kemudian disambarnya beberapa batang tangkai sehingga daunnya berguguran ditanah. Gerakan Wiyatsih semakin lama menjadi semakin cepat, sehingga akhirnya batang pedangnya tidak lagi dapat dilihat dengan mata telanjang.

“Bagus“ desis Kiai Pucang Tunggal. Kecepatan bergerak Wiyatsih memang mengagumkan. Apalagi ia mempunyai nafas yang cukup panjang. sehingga ia dapat melakukan latihan serupa itu untuk waktu yang cukup lama.

Ketika Wiyatsih kemudian berhenti, maka Kiai Pucang Tunggalpun berkata “Wiyatsih, kau benar-benar luar biasa Kau akan segera menguasai semua tata gerak dasar dari ilmu yang kau tuntut. Dengan demikian jalan telah terbuka bagimu untuk mencari kesempurnaan sendiri seperti Puranti dan Pikatan. Namun ingat, jangan terlepas dari sendi-sendi tata gerak dasar yang sudah aku berikan supaya kemampuanmu tidak menjadi senjata yang menusuk lambungmu sendiri”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Rasa-rasanya ia tidak sabar lagi untuk segera menguasai kematangan ilmu yang telah diterimanya. Tetapi iapun tidak melupakan pesan Kiai Pucang Tunggal, bahwa ia tidak boleh terlepas dari sendi-sendi tata gerak dasar yang sudah diberikan, baik oleh Puranti maupun oieh Kiai Pucang Tunggal sendiri.

“Sudablah Wiyatsih“ berkata Kia Pucang Tunggal kemudian “beristirahatlah. Besok kau akan menghadapi suatu keadaan yang mungkin berbahaya bagimu”

“Tetapi apakah aku akan menemuinya tanpa senjata?“

“Ya. Akulah yang akan membawa senjata buatmu besok jika kau perlukan”

Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam, Ia percaya kepada Kiai Pucang Tunggal. Orang tua itu tentu mempunyai perhitungan yang cukup cermat sehingga ia tidak akan mungkin gagal. Jika terjadi sesuatu atasnya maka ia hanya akan sekedar menghindarkan dirinya. selanjutnya, terserah kepada Kiai Pucang Tunggal untuk menyelamatkannya.

Namun dengan demikian, malam itu Wiyatsih tidak segera dapat tidur. Angan-angannya berterbangan kian kemari. Sekali-sekali hinggap pada bendungan yang sudah dipersiapkan, kemudian pada parit-parit yang semakin lama menjadi semakin panjang. Kemudian kepada orang yang menunggunya disela-sela brunjung-brunjung bambu itu.

“Siapakah sebenarnya orang itu?“ desisnya.

Wiyatsih masih mendengar langkah Pikatan keluar dari biliknya. Bunyi selarak pintu butulan dan kemudian gerit pintu itu perlahan-lahan sekali.

“Kakang Pikatan harus mengetahuinya. Jika niat orang itu buruk, kakang Pikatan harus bersiap menghadapinya. Tetapi tidak mudah untuk memberi tahukan hal ini kepadanya” Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam “Aku harus bersiap untuk dimarahinya tanpa menjawab sepatah katapun supaya tidak terjadi perselisihan”

Namun akhirnya, Wiyatsihpun terlena. Ia jatuh didalam mimpi yang gelisah, sehingga tidurnyapun tidak begitu nyenyak meskipun cukup lama. Kadang-kadang ia menggeliat dan kadang-kadang berdesah. Namun ia terkejut ketika ia mendengar suara berdesir dimuka pintu biliknya.

Sekilas ia melihat Pikatan berdiri dimuka pintu yang telah terbuka sedikit. Namun iapun segera menutup matanya kembali. Ia hanya mempergunakan pendengarannya untuk mengetahui apakah maksud kakaknya berdiri dimuka pintu biliknya.

Tetapi ternyata Pikatan tidak berbuat apa-apa. Sejenak kemudian terdengar desir langkahnya menjauh dan menghilang kedalam biliknya sendiri.

Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak tahu, apakah sebenarnya maksud kakaknya. Tetapi terasa sesuatu bergetar didalam hatinya. Bagaimanapun juga Pikatan adalah saudara laki-laki yang lebih tua daripadanya.

Seterusnya, Wiyatsih tidak dapat memejamkan matanya lagi sampai terdengar ayam jantan berkokok untuk yang terakhir kali-nya dimalam itu.

Wiyatsih bangkit dari pembaringannya sambil menggeliat. Ia harus segera bangun dan melakukan pekerjaannya sehari-hari sebagai seorang gadis. Membersihkan rumah dan membantu orang-orang yang sedang sibuk didapur.

Hari itu telah dilaluinya dengan kegelisahan yang selalu membayanginya. Ketika ia bersama-sama dengan beberapa orang kawan-kawannya berdiri diantara timbunan brunjung-brunjung setelah menyelesaikan pekerjaanya disawah, maka debar dijantung Wiyatsih serasa menjadi semakin keras. Malam nanti ia harus pergi ketempat itu untuk menemui seseorang yang tidak dikenalnya. Namun bersamanya akan datang pula Kiai Pucang Tunggal yang selama ini seolah-olah telah menjadi gurunya.

“Aku adalah seorang murid yang aneh berkata Wiyatsih didalam hatinya “guruku yang dua orang itu adalah ayah dan anak. Guru dan murid pula”

Tetapi karena tidak ada perbedaan dasar pada keduanya, maka semuanya itu dapat berjalan dengan baik dan saling melengkapi.

Demikianlah hari itu rasa-rasanya berjalan lambat sekali. Wiyatsih menjadi hampir tidak sabar lagi menunggu senja turun. Ketika ia sudah berada dirumahnyapun rasa-rasanya ia tidak tenang duduk dan berbaring dipembaringan. Dengan gelisah ia selalu saja mengisi waktunya agar waktu tidak terlalu menyiksanya.

Demikianlah menjelang gelap, Wiyatsih sudah mempersiapkan dirinya. Dipandanginya pedangnya yang diletakkannya dibawah tikar dipinggir pembaringamya. Tetapi seperti pesan Kiai Pucang Tunggal, senjata itu tidak dibawanya serta.

Ketika malam datang, maka seperti biasanya Wiyatsihpun pergi keluar. Kepada ibunya ia berkata, bahwa ia hanya akan ada dikebun belakang. Tetapi setelah berada dibelakang rumahnya, maka Wiyatsihpun segera menyingsingkan kain panjangnya. Meskipun agak kurang bebas, namun ia dapat juga meloncati dinding bata dibelakang, karena dibawah kain panjangnya, ia mempergunakan pakaian laki-lakinya. Bagaimanapun juga ada rasa cemas menggelitik hatinya, sehingga meskipun hanya sekedar pakaian, rasa-rasanya ia menjadi bertambah tenang. Dengan pakaian itu ia akan dapat bergerak lebih bebas. Dan dengan pakaian itu ia dapat menyingsingkan kain panjangnya tanpa ragu-ragu.

Dengan hati yang berdebar-debar, maka Wiyatsihpun memenuhi perjanjiannya dengan orang yang tidak dikenal itu. Dengan hati-hati ia berjalan ketepian, ketempat brunjung-brunjung bambu dan batu ditimbun dalam persiapan mereka membuat bendungan.

Namun semakin dekat dengan tempat itu, hati Wiyatsh terasa menjadi semakin bergetar. Dan tiba-tiba saja ia sadar, bahwa yang dilakukan itu adalah suatu tindakan yang berbahaya sekali.

Ketika Wiyatsih berdiri diatas sebuah tanggul, dilihatnya dalam keremangan malam yang sepi, bayangan brunjung-brunjung bambu yang kehitam-hitaman seperti beberapa onggok bukit kecil yang berserakkan. Tetapi ia tidak melihat seseorang diantara bayangan yang hitam itu.

“Apakah orang itu benar-benar akan datang?“ bertanya Wiyatsih didalam hatinya. Dan tiba-tiba saja timbullah berbagai macam pertimbangan. Dengan demikian ia tidak mau lagi memasuki sela-sela brunjung yang bertimbun-timbun itu. Dengan demikian ia sudah mengantarkan dirinya sendiri kedalam bahaya yang sukar dihindarinya, karena jika orang itu datang lebih dahulu, maka ia akan dapat menunggunya sambil bersembunyi. Jika ia berniat buruk, baik terhadap dirinya maupun terhadap Pikatan, maka dengan mudah hal itu dilakukan. Ia dapat menyergapnya dan mempergunakannya sebagai barang tanggungan untuk memeras Pikatan. Mungkin untuk memaksanya membunuh diri atau perbuatan-perbuatan lainnya. Apalagi jika orang itu ingin berbuat jahat langsung kepadanya.

Atas dasar pertimbangan-pertimbangan itu, Wiyatsih masih belum bergerak maju. la masih berdiri termangu-mangu diatas tanggul.

Namun tiba-tiba hampir saja Wiyatsih terloncat, ketika ia mendengar desis perlahan dibelakangnya ”Jangan terkejut Wiyatsih, aku Kiai Pucang Tunggal. Berdirilah ditempatmu, jangan bergerak, supaya tidak menimbulkan kecurigaan”

Wiyatsih bergeser sedikit. Tetapi ia tidak berpaling. Ia mengenal betul suara itu. Suara itu memang suara Kiai Pucang Tunggal.

Dan suara itu berkata lagi “Aku mendahuluimu Wiyatsih. Dan aku sudah melihat orang itu. Berhati-hatilah. Orang itu adalah orang yang sangat berbahaya. Baik bagimu maupun bagi Pikatan. Ia memiliki kemampuan olah kanuragan yang tinggi, sehingga kau harus memperhitungkan setiap langkahnya. Apalagi ia tidak datang seorang diri. Aku lihat ada dua orang yang ada diantara brunjung-brunjung itu. Tetapi yang seorang aku belum mengenalnya. Mungkin seorang kawannya atau orang lain yang sama-sama mendendam kepada Pikatan.

Dada Wiyatsih serasa bergetaran. Tetapi ia tidak bergerak.

“Mendekatlah. Tetapi jangan berdiri diantara brunjung-brunjung itu. Jika terjadi malapetaka, kau mempunyai kesempatan untuk berbuat sesuatu. Jangan dibebani perasaan malu, jika kau terpaksa melakukan suatu tindakan untuk menyelamatkan diri, karena kau memakai kain panjang yang barangkali akan mengganggu. Aku tidak menyangka bahwa orang itulah yang akan datang kemari. Aku kira orang itu adalah kawan dari para pejahat Yang telah dibunuh oleh Pikatan atau disangka terbunuh olehnya”

Tanpa berpaling. Wiyatsih bertanya perlahan-lahan “Siapakah orang itu Kiai?”

Kiai Pucang Tunggal tidak sempat menjawab. Dari antara brunjung-brunjung bambu itu tampak sebuah bayangan yang lamat-lamat.

“Kaukah itu“ bertanya suara itu agak keras.

Wiyatsih ragu ragu sejenak. Dan ia mendengar Kiai Pucang Tunggal yang bersembunyi dibalik tanggul berbisik “Jawablah. Tetapi ingat, mereka datang berdua. Jangan! memasuki sela-sela timbunan brunjung-brunjung itu”

Wiyatsih tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk kecil.

“Mendekatlah, Jagalah agar aku dapat mengawasimu dari tempat ini”

“He, siapakah kau?“ bertanya bayangan yang reman-ramang itu.

Wiyatsih sadar, bahwa suara itu tidak akan terdengar oleh siapapun. Bahkan seandainya ia menjerit sekalipun, tidak akan ada orang yang akan mendengarnya. Jika ada satu dua orang yang berada disawah mendengar suaranya, mereka pasti akan lari sipat kuping, karena daerah ini dikenal sebagai daerah yang wingit.

Perlahan-Jahan Wiyatsih maju mendekat. Dan iapun medengar suara itu lagi “Kaukah adik Pikatan itu?”

“Ya“ jawab Wiyatsih “aku adalah adik Pikatan“

“O“ orang itu kemudian berkata pula “kemarilah. Aku sudah menunggumu”

“Aku tidak dapat mendekat“ berkata Wiyatsih “Aku tidak dapat meloncati batu itu. Jalanan itu sangat terjal”

“He, bukankah setiap hari kau datang kemari?“

“Aku akan mencoba. Tetapi sebiknya kau saja yang datang kemari“

“Kemarilah. Senang sekali berbicara diantara brunjung-brunjung bambu yang kau siapkan untuk membuat bendungan ini. Aku berbangga melihat seorang gadis yang berpikir tangkas seperti kau. Kau tentu dapat juga bergerak setangkas pikiranmu itu”

“Aku tidak dapat berjalan lebih jauh lagi dalam gelapnya malam. Disiang hari aku dapat melihat batu batu padas yang berserakkan. Tetapi dimalam hari kakiku terasa sakit sekali”

“Jangan berbohong. Kau dapat berlari-lari diatas batu batu padas”

“Disiang hari. Tetapi tidak malam hari”

“Jangan merajuk. Kemarilah. Ada sesuatu yang akan aku katakan”

Wiyatsih maju beberapa langkah lagi. Nalurinya membawanya ketempat yang agak datar. Jika terjadi sesutu tempat itu cukup mapan untuk menjadi arena.

“Nah, kau sudah turun. Kemarilah”

“Kakiku sakit sekali“ Wiyatsih menyahut.

“Kau tinggal berjalan beberapa langkah lagi”

“Aku disini saja“ berkata Wiyatsih. Dan tiba tiba saja ia menjatuhkan diri, duduk diatas pasir.

“He, kenapa?“ bertanya orang yang hanya dilihatnya samar-samar “kenapa kau?“

“Kakiku sakit sekali“ sahut Wiyatsih. Namun Wiyatsih telah mengendorkan kain panjangnya, sehingga setiap saat ia akan dapat menyingsingannya jika perlu.

“Apakah kau tidak dapat kemari?“ bertanya orang itu.

Wiyatsih menggeleng. Tetapi agaknya orang itu tidak melihatnya. Terdengar ia bertanya lagi “Bagaimana? Apakah kau tidak dapat datang kemari?“

“Aku disini“

“Baiklah berkata orang itu “aku akan datang kepada-mu”

Sejenak orang itu termangu-mangu, Namun kemudian dari balik brunjung-brunjung itu muncul seorang lagi. Seperti yang dikatakan oleh Kiai Pucang Tunggal, ternyata mereka memang berdua.

Ketika keduanya menjadi semakin dekat, maka Wiyatsihpun segera berdiri, dan bersiap menghadapi segala kemungkinan. Tanpa disadarinya ia memandang ketempatnya berdiri semula. Dan iapun menjadi agak tenang, dibelakang tanggul itu bersembunyi Kiai Pucang Tunggal

Setelah kedua orang itu menjadi semakin dekat, maka salah seorang dari keduanya bertanya “Apakah benar kau adik Pikatan?“

“Ya“ jawab Wiyatsih “aku adalah adik Pikatan”

“Dimana Pikatan?“ Aku telah berpesan agar kau datang bersamanya. Aku sudah sangat rindu kepadanya”

Wiyatsih menarik nafas dalam dalam. Jawabnya “Sayang sekali. Kakang Pikatan tidak mau datang. Aku sudah mengatakan kepadanya. bahwa sahabatnya ingin bertemu. Tetapi ia marah kepadaku”

“Kenapa ia marah?“

“Ketika ia bertanya siapakah nama sahabatnya itu, aku tidak dapat mengatakannya. Disangkanya aku berbohong dan bahkan mempermainkannya” Wiyatsih berhenti sejenak, lalu “ia pemarah sekarang. Setiap kali ia marah. Bahkan memukulku”

“Memukulmu? Jadi Pikatan memukul seorang gadis?“

“Ya. Pikatan sekarang mengasingkan dirinya dan menjadi seorang pemarah” Wiyatsih berhenti sejenak, lalu “karena itu, meskipun aku sebenarnya takut datang kedaerah ini dimalam hari, apalagi seorang diri, aku pedukan juga datang. Aku ingin mengajakmu kerumahku. Mungkin kau akan dapat menyembuhkan penyakitnya itu”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak, namun kemudian salah seorang berkata “Apakah kau menduga bahwa kedatangan kami dapat menyembuhkan sakit Pikatan itu”

“Bukan sakitnya. Tidak seorangpun yang dapat menyembuhkan cacatnya. Tetapi kau akan mempengaruhi perasaannya. Alangkah senangnya kami sekeluarga, jika kakang Pikatan menjadi sembuh dan dapat bergaul kembali dengan kami, dengan keluarganya dan dengan kawan-kawannya”

Orang itu mengangguk-anggukan kepalanya. Sejenak mereka merenung, namun salah seorang menjawab “Sayang anak manis. Aku tidak dapat datang kerumahmu. Aku mengharap Pikatan datang kemari. Aku ingin bertemu dan berbicara sepuas-puasnya”

“Siapakah kalian berdua? Jika aku dapat menyebut namamu, mungkin kakang Pikatan akan berubah pendirian. Aku akan mengantarkannya menemuimu. Tetapi aku kira tidak disini. Ia benci pada bendungan ini”

“Kenapa?“

“Ia tidak mau orang lain yang membuat bendungan ini selain dirinya”

Kedua orang itu mengangguk-angguk pula. Lalu salah seorang daripadanya berkata “Aku menunggu disini. Tetapi siapakah namamu? Aku sudah mendengar dari anak muda yang aku temui itu. Tetapi aku lupa”

“Wiyatsih”

“O, ya Wiyatsih” orang itu tersenyum “kau cantik sekali. Tetapi aku tidak dapat melepaskan diri dari suatu dugaan bahwa adik Pikatan inipun berbahaya seperti Pikatan”

“Kenapa berbahaya?“

Orang itu tertawa.

“Apakah Pikatan berbahaya bagimu? Bukankah kau sahabat-sahabatnya”

“Ya. Kami adalah sahabat-sahabatnya. Karena itu, bawalah Pikatan kemari. Aku akan menunggu disini. Besok malam kau datang lagi dan memberitahukan kepadaku, hasil pembicaraanmu dengan Pikatan”

“Tetapi, siapakah kalian. Dan kenapa kalian tidak mau datang kerumahku?“

“Tidak, kau terlalu cantik. Kau dapat membahayakan kami dari beberapa segi. Mungkin kau memiliki ilmu kanuragan seperti Pikatan, tetapi mungkin juga senyummu itu berbahaya bagi kami”

“Aku tidak mengerti, dan aku sama sekali tidak tersenyum”

Keduanya tertawa. Tetapi yang seorang berkata “Aku tunggu besok kau disini. Katakan kepada Pikatan bahwa aku ingin menemuinya”

“Sebutkan namamu supaya aku dapat meyakinkan kakang Pikatan meskipun aku sendiri menjadi bingung tentang sikap dan kata katamu”

“Kau tidak usah memikirkan kami. Bujuklah agar Pikatan datang. Itu saja. Tidak ada persoalan apa-apa diantara kita. Kau dan aku, meskipun kau terlalu cantik”

Wajah Wiyatsih menjadi merah. Pujian-pujian tentang dirinya yang diucapkan beberapa kali oleh orang itu membuat hatinya berdebar-debar. Sekilas teringat kata-kata kawannya yang mendapat pesan dari orang itu, bahwa orang yang mencari Pikatan itu cukup tampan, tetapi suara tertawanya mendirikan bulu roma.

Sejenak kemudian, setelah gejolak hatinya mereda, Wiyatsih menjawab “Aku tidak berani. Jika sekali lagi aku mengatakan kepada kakang Pikatan tentang orang yang tidak dapat aku sebut namanya, aku pasti akan dipukulnya. Dan aku tidak mau dipukulnya”

“Kau tentu kurang pandai menjaga hati kakakmu yang cacat itu. Agaknya ia bukan saja menjadi cacat tubuhnya tetapi juga cacat jiwanya. Katakan, aku adalah sahabat lamanya. Dan aku adalah orang yang langsung berhubungan dengan cacatnya itu”

“He?“

“Aku tahu benar, kenapa Pikatan menjadi cacat. Karena itu, aku sudah menemukan seorang dukun yang paling, pandai yang barangkali dapat menyembuhkan cacatnya. la akan mengenal aku, tanpa kau menyebut namaku”

Wiyatsih merenung sejenak. Ia masih belum puas karena ia masih belum mendengar nama orang itu. Tetapi agaknya orang itupun berkeberatan menyebut namanya.

Tetapi Wiyatsih tidak memaksanya dengan kasar. Orang itu adalah orang yang sangat berbahaya bagi dirinya dan bagi Pikatan, menurut Kiai Pucang Tunggal. Karena itu iapun harus sangat berhati-hati menghadapinya.

“Sudahlah Wiyatsih“ berkata salah seorang dari mereka “kembalilah kerumahmu, katakan kepada Pikatan bahwa aku menuggunya. Besok ajaklah ia kemari. Selain Pikatan aku masih berurusan dengan seorang yang lain, karena aku mempunyai janji pula. Seorang perempuan dari tempat yang jauh. Aku akan menemui Pikatan lebih dahulu untuk mendengarkan apakah ia akan berpesan sesutu kepadanya”

“Siapakah perempuan itu?”

“Kau tentu belum mengenalnya”

“Jika orang itu kawan kakang Pikatan, mungkin aku sudah mengenalnya”

Orang itu tertawa. Katanya “Pergilah sebelum aku berbuat lebih banyak lagi. Kecantikanmu memang berbahaya bagiku. Jika aku kehilangan nalar, ada dua kemungkinan dapat terjadi atasmu. Kau aku bunuh agar aku tidak tenggelam dalam dunia mimpi yang gila, atau kau akan aku bawa sama sekali”

Terasa bulu bulu Wiyatsih meremang. Tetapi ia masih berkata “Kenapa tiba tiba saja kau menjadi kasar? Apakah demikian ke biasaan kawan-kawan kakang Pikatan?“

“Sudahlah, pergilah. Bawa Pikatan kemari”

Tetapi Wiyatsih tetap menggelengkam kepalanya. Katanya “Aku belum tahu namamu. Aku tidak akan mengatakannya. Kepada kakang Pikatan”

“Jangan membuat aku menjadi jengkel. Kenapa kau bersikeras untuk menolak permintaanku yang tidak berarti ini”

“Aku takut. Aku takut sekali kepada kakang Pikatan”

“Tetapi kau tidak takut kepadaku? Pikatan hanya sekedar memukulmu, aku akan membunuhmu atau berbuat yang lain yang sama artinya dengan membunuhmu”

Wiyatsih menjadi berdebar-debar. Ia tahu arti dari kata kata itu. Namun ia merasa dirinya dilindungi oleh Kiai Pucang Tunggal sehingga ia tidak menjadi gentar karenanya. Maka katanya “Kau adalah sahabat kakang Pikatan. Kau tidak akan berbuat kasar terhadap adiknya”

“Aku akan berbuat kasar, supaya Pikatan marah dan datang kemari menuntut balas”

“Jika demikian kalian sama sekali bukan sahabat kakang Pikatan”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian yang seorang dari mereka tertawa. Katanya “Kau pandai juga menebak. Baiklah, aku berterus terang. Katakan kepada Pikatan, bahwa aku menunggu ditempat ini besok. Jika ia tidak datang, aku akan berbuat lain. Tetapi kau harus berusaha agar ia datang. Aku menunggunya besok, disini. Jika kau tidak berhasil, maka aku akan merusak bendunganmu ini. Sekarang atau kelak setelah bendungan itu jadi”

“Kenapa bendungan? Kakang Pikatan tidak ada sangkut pautnya dengan bendungan ini”

“Tetapi kau ada sangkut pautnya. Karena, itu jika kau gagal membawa Pikatan maka kau akan menyesal. Brunjung-brunjung ini akan terbakar atau bendunganmu kelak akan hancur sebelum kau sempat menikmati airnya dimusim kering yang mendatang sesudah musim kering mendekat ini”

“Kau gila. Bendungan ini adalah jantung dari rakyat Sambi Sari. Jika kau mempunyai persoalan dengan kakang Pikatan, selesaikan persoalanmu dengannya. Jangan mengorbankan orang sekademangan”

Bersambung

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s