Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

yg terasing 25

Tinggalkan komentar


kumpulkan untuk menjaga bendungan ini. Tetapi ingat, jika mereka menolak dan melawan keinginanku, korban itu akan langsung berjatuhan. Tidak ada seorangpun yang dapat melawan kehendakku disini. Apalagi aku tidak hanya sendiri atau berdua. Aku dapat memanggil lebih dari sepuluh orang. Nah, apakah anak-anak muda Sambi Sari dapat melawan kami yang sepuluh orang itu, berapapun banyak jumlah mereka? Kami adalah orang yang terbiasa berkelahi seperti juga Pikatan. Kami adalah orang-orang yang dapat membunuh sambil tersenyum seperti juga Pikatan”

“Tidak” potong Wiyatsih “kakang. Pikatan tidak melakukannya”

“O, kau sangka Pikatan bukan pembunuh?“

“Ia membunuh untuk menegakkan keadilan dan kemanusiaan”

Orang itu tertawa. Katanya “Apa arti keadilan dan kemanusiaan jika akhirnya ia membunuh juga. Tidak ada bedanya. Setiap orang yang menghilangkan nyawa orang lain adalah pembunuh”

“Tetapi ia berdiri dipihak yang benar”

”Menurut penilaian Pikatan dan barangkali penilaianmu, karena kau adiknya. Tetapi bagiku, diseluruh muka bumi ini tidak ada kebenaran selain yang aku lakukan. Adalah salah sama sekali jika seseorang mencampuri urusan orang lain seperti yang dilakukan oleh Pikatan“

“Jika orang-orang yang terbunuh itu merampok rumah kami?”

“Berilah ia kesempatan. Ia akan mengambil isi rumahmu yang sudah terlalu lama kau miliki” orang itu tertawa “kenapa kita penghuni tanah ini berkeberatan untuk saling tukar menukar milik masing-masing. Suruhlah sekali-sekali Pikatan untuk merampok”

Wajah Wiyatsih menjadi merah pula. Bukan karena pujian yang berulang kali, tetapi karena kemarahan yang mulai merayapi hatinya. Namun ia masih selalu ingat pesan Kiai Pucang Tunggal, sehingga karena itu ia masih selalu menahan diri.

“Sudahlah“ berkata orang itu ”pergilah. Besok aku menunggumu diantara brunjung-brunjung itu. Bawa Pikatan serta. Jika tidak ada kesempatan bagiku untuk menemui Pikatan, maka brunjung-brunjung ini akan terbakar. Dan sepanjang musim kering mendatang, kau tidak akan sempat membuat bendungan karena aku akan mengganggumu terus menerus sebelum kau bawa Pikatan kepadaku”.

“Gila, itu pikiran gila”

“Kita sama-sama sudah gila” sahut yang seorang, lalu katanya kepada kawannya “Marilah, kita tinggalkan anak manis ini supaya aku tidak berbuat lebih banyak lagi”

“Tunggu, siapa namamu?”

Kedua orang itu tidak menjawab. Mereka berjalan perlahan-lahan meninggalkan Wiyatsih yang berdiri termangu-mangu.

Tetapi Wiyatsih tidak berbuat lebih banyak lagi. Ia masih tetap sadar, bahwa orang-orang itu adalah orang-orang yang berbahaya. Sehingga karena itu ia tetap berdiri saja ditempatnya sehingga orang-orang itu hilang diantara brunjung-brunjung bambu.

Wiyatsihpun kemudian segera berjalan kembali keatas tanggul menemui Kiai Pucang Tunggal yang masih bersembunyi dibalik tanggul itu. Namun demikian ia berdiri diatas tanggul, maka langsung didengarnya suara Kiai Pucang Tunggal yang berbisik halus “Cepat pulanglah. Aku akan mencoba megikutinya, kemana mereka pergi”

Wiyatsih tidak menjawab. Iapun kemudian melangkah dengan tergesa-gesa meninggalkan tempat itu kembali kerumahnya.

Setelah mencuci kaki dan tangannya, Wiyatsihpun kemudian masuk lewat pintu butulan yang belum diselarak karena ibunya menyangka bahwa Wiyatsih masih berada dihalaman belakang.
Tidak seorangpun yang mengetahui bahwa Wiyatsih telah pergi keluar, karena ia meloncat dinding belakang ketika ia pergi dan kembali.

Dengan hati yang berdebar-debar Wiyatsih memandangi pintu bilik Pikatan yang masih tertutup. Menurut pertimbangannya Pikatan harus tahu, bahwa didaerah Sambi Sari telah berkeliaran orang yang berbahaya baginya.

“Aku tidak sempat bertanya siapakah nama orang itu kepada Kiai Pucang Tunggal“ berkata Wiyatsih didalam hatinya. Karena itu, maka Wiyatsihpun tidak segera mengatakannya kepada Pikatan. Ia tentu akan marah dan kadang-kadang Wiyatsihpun tidak berhasil menahan perasaannya jika Pikatan memaki-makinya.

“Besok aku akan bertanya kepada Kiai Pucang Tunggal“ desis Wiyatsih kepada diri sendiri “siapakah nama orang itu dan apakah aku harus memberitahukan kepada Pikatan”

Demikianlah maka Wiyatsihpun kemudian masuk kedalam biliknya setelah menyelarak pintu dan berbaring dipembaringannya. Tetapi ia tidak segera dapat memejamkan matanya. Beberapa lamanya ia masih mengenangkan orang-orang yang tidak dikenalnya itu dan membayangkan apa saja yang dapat dilakukannya.

Tetapi lambat laun, semuanya menjadi semakin kabur, ketika beberapa saat kemudian iapun jatuh tertidur.

Dini hari, ia bangun seperti biasanya. Ia menjadi berdebar-debar ketika ia melihat pintu bilik Pikatan tidak tertutup rapat. Tetapi ia tidak melihat Pikatan berada didalam biliknya.
Sejenak ia termangu-mangu. Kemudian ia pergi kebelakang, untuk mencari apakah kakaknya benar benar belum pulang

“Apakah kakang Pikatan semalam bertemu dengan orang orang itu ketika kakang Pikatan melatih diri?“ pertanyaan itu mulai mengganggunya” sebentar lagi matahari akan segera terbit dan padukuhan ini akan menjadi cerah. Biasanya kakang Pikatan telah kembali sebelum terang”

Namun ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Pikatan berjalan dengan tergesa-gesa langsung menuju kepakiwan, Setelah membersihkan dirinya, tanpa berkata sepatah katapun ia langsung pula masuk kedalam biliknya.

Kembali Wiyatsih dicengkam oleh keraguan-raguan. Apakah ia harus mengatakannya dan membawanya kepinggir Kali Kuning itu, atau ia harus menemui Kiai Pucang Tunggal dahulu.
“Aku akan menunggu Kiai Pucang Tunggal, agar aku tidak berbuat kesalahan. Kiai Pucang Tunggal tahu benar, siapakah yang sedang kita hadapi. Dengan demikian kakang Pikatanpun tidak akan salah hitung”

Dihari itu, seperti biasa Wiyatsih melakukan pekerjaannya sehari-hari. Seperti biasanya ia pergi kesawah. Kemudian pergi Kali Kali Kuning. Bukan saja melihat brunjung-brunjung yang semakin banyak, tetapi iapun singgah pula mencuci pakaian karena sungai sedang tidak banjir.
“Hujan sudah menjadi semakin jarang“ gumannya kepada diri sendiri. Tetapi ia sama sekali tidak mengatakan kepada siapapun bahwa semalam ia berada didekat timbunan brunjung-brunjung itu. Ia tidak mengatakan kepada siapapun bahwa seorang telah mengancam akan membakar brunjung-brunjung itu atau kelak merusak bendungan apabila ia belum sempat bertemu dengan Pikatan.

“Tentu pembalasan dendam“ berkata Wiyatsih kepada diri sendiri.

Disore hari, Wiyatsih mulai menjadi gelisalh. Keragu-raguannya serasa selalu melonjak-lonjak didalam hatinya. Jika ia tidak segera memberitahukan kepada Pikatan, maka jika kebetulan saja Pikatan bertemu dengan mereka dimalam hari sebelum mempersiapkan diri, mungkin hal itu akan sangat berbahaya baginya. Tetapi jika ia mengatakannya dan justru menimbulkan salah duga pada Pikatan, akibatnya akan sama saja baginya.

Tetapi sekali lagi ia menentukan sikap “Aku akan menunggu Kiai Pucang Tunggal. Mudah mudahan ia datang malam nanti”

Ketika hari menjadi gelap, maka Wiyatsihpun segera mempersiapkan diri. Ia masih belum tahu, apakah ia harus pergi ke sela-sela brunjung itu lagi seperti yang diminta oleh orang orang itu, justru bersama Pikatan. la menunggu nasehat dari Kiai Pucang Tunggal, apakah yang sebaiknya dilakukan.

Namun dengan mengenakan pakaian seperti yang dikenakan malam sebelumnya, iapun kemudian pergi ke kebun belakang. Sejenak ia duduk menunggu kedatangan Kiai Pucang Tunggal.

Wiyatsih terlonjak ketika ia melihat seseorang meloncat dinding tepat dihadapannya. Bukan Kiai Pucang Tunggal, tetapi orang itu adalah Puranti.

“Puranti, kau“ Wiyatsihpun berlari-lari mendapatkannya. Sesaat keduanya berpelukan setelah beberapa lama mereka tidak bertemu justru dalam saat-saat yang menegangkan.
Kau terlalu lama meninggalkan aku“ berkata Wiyatsih.

“Ya, tetapi bukankah ayah ada disini?“

Wiyatsih mengerutkan keningnya. Hampir diluar sadarnya ia bertanya “Jadi kau tahu bahwa Kiai Pucang Tunggal ada disini?“

Puranti tersenyum.

“Dari siapa kau mengetahuinya?”

Wiyatsih terkejut ketika ia mendengar jawaban dari belakangnya “Aku sudah menemuinya Wiyatsih”

“O“ ketika Wiyatsih berpaling. Dilihatnya Kiai Pucang Tunggal berdiri dibelakangnya sambil tersenyum pula.

“Jadi Kiai sudah menemuinya?“

“Orang itu sangat bergahaya baginya Wiyatsih. Itulah sebabnya aku segera menemuinya dan memberitahukan kepadanya tentang kehadiran orang itu”

“O“ Wiyatsih mengerutkan keningnya apakah orang itu mengenal Puranti seperti ia mengenal Pikatan?”

Kiai Pucang Tunggal mengangguk.

Dengan wajah yang tegang Wiyatsih memandang Puranti sejenak. lalu katanya “jika demikian, maka perempuan yang dimaksud orang itu adalah Puranti”

Puranti mengerutkan keningnya. Lalu iapun bertanya “Apakah ia menyebut orang lain selain Pikatan?“

“Ya. la menyebut seorang perempuan. Setelah menemui kakang Pikatan, ia akan menemui perempuan itu. barangkali kakang, Pikatan akan mengirmkan pesan”

Puranti tersenyum. Katanya “Akulah yang dimaksud”

“Bukankah aku sudah mengatakan bahwa orang itu berbahaya bagi Pikatan dan Puranti, tetapi juga bagimu, Wiyatsih “berkata Kiai Pucang Tunggal.

Wiyatsih mengangguk-anggukan kepalanya, Katanya kemudian “Tetapi aku belum sempat mengatakan kepada kakang Pikatan. Aku tidak tahu apa yang sebaiknya aku lakukan. Aku memang menunggu Kiai malam ini“

“Pikatan harus mengetahui Wiyatsih. Tetapi aku tahu, bahwa kau mendapatkan kesulitan untuk mengatakannya.”

“Ya. Aku tidak dapat mengatakan kepadanya”

Kiai Pucang Tunggal mengangguk-angguk. Sejenak ia berpikir, namun ia tidak segera mengatakan sesuatu.

“Kiai“ barkata Wiyatsih kemudian “jika aku mengetahui namanya, maka aku akan mencoba mengatakannya. Mungkin ia marah, tetapi ia akan lebih marah jika aku mengatakan kepadanya tanpa mengenal namanya”

“Apakah begitu?“ bertanya Kiai Pucang Tunggal.

“Ya Kiai. Tetapi aku tidak tahu akibat yang lebih jauh lagi.”

Kiai Pucang Tunggal terdiam sejenak. Namun iapun kemudian bertanya “Apakah Pikatan ada dirumah sekarang?”

Wiyatsih menganggukan kepalanya. Jawabnya “Ya Kiai, Pikatan masih ada dirumah. Tetapi hampir setiap malam ia pergi berlatih.”

Kiai Pucang Tunggal mengangguk-angguk pula “Aku tahu“ jawabnya “aku sering menunggui ia berlatih diluar sadarnya. Purantipun sering mengamatinya.”

“Ah“ Puranti berdesah.

“Tetapi Wiyatsih, bukankah kau berjanji akan bertemu lagi dengan orang itu malam ini?“
“Ya. Mereka mengharap aku datang bersama kakang Pikatan“

“Jika demikian orang itu tentu berada diantara brunjung-brunjung itu sekarang”

“Ya. Mereka menunggu kedatanganku”

“Jika demikian, maka setidak-tidaknya untuk malam ini mereka tidak akan menemui Pikatan. Mereka justru akan menunggumu“

“Jadi? bertanya Wiyatsih “apakah aku harus datang? Kiai, mereka akan menunggu aku tidak sampai tengah malam. Sedang biasanya Pikatan keluar rumah sesudah tengah malam”

“Aku akan mengawasinya“ berkata Kiai Pucang Tusggal. lalu “sekarang kau berdua tinggallah disini. Aku akan melihat apakah orang itu masih berada disana dan benar-benar menunggu kedatanganmu”

Wiyatsih memandang Puranti sejenak, lalu “Apakah mereka tidak akan marah dan benar-benar merusak bahan bendungan-bendungan yang sudah kami persiapkan itu?“

“Tentu tidak sekarang, mereka hanya mengancam, bahkan mereka mengatakan, jika bukan bahan-bahannya, mereka akan merusa bendungan itu sudah jadi dan mereka belum sempat menemui Pikatan. Dengan demikian maka mereka bukannya berada disini untuk untuk dua tiga hari saja. Mereka akan berkeliaran didaerah ini untuk waktu yang lama. Dan hal ini tentu akan sangat berbahaya, bukan saja bagi kalian yang langsung berkepentingan, tetapi juga bagi rakyat Sambi Sari, karena mereka tentu memerlukan bekal untuk hidup di daerah ini”

“Merampok?” bertanya Wiyatsih.

Kiai Pucang Tunggal mengangguk “Ya, itulah sebenarnya kenyataan mereka, sama sekali bukan seorang yang lembah manah, apalagi sahabat Pikatan”

“Aku sudah menduga” berkata Wiyatsih.

“Jika demikian, tinggallah disini bersama Puranti. Aku akan melihat mereka, apa yang akan mereka lakukan jika kau tidak datang membawa Pikatan malam ini “

Wiyatsih menganggukan kepalanya, jawabnya “Baiklah Kiai. Aku akan selalu menunggu petunjuk Kiai”

Demikianlah Kiai Pucang Tunggal itupun segera meninggalkan kedua gadis itu dihalaman belakang rumah, untuk mengetahui apakah yang sudah dikerjakan oleh orang-orang yang dianggapnya sangat berbahaya itu.

Sepeninggal Kiai Pucang Tunggal, maka Purantipun kemudian berkata “Wiyatsih, apakah yang sudah kau capai selama aku tidak datang mengunjungimu?“

“Tidak ada” jawab Wiyatsih.

“Apakah kau tidak pernah berlatih? Bukankah kau sudah menguasai pokok-pokok tata gerak yang aku ajarkan, sehingga kau dapat mengembangkan sendiri?“

“Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Apakah Kiai Pucang Tunggal tidak mengatakan kepadamu bahwa aku tidak dapat berbuat apa-apa?“

”Ayah tidak mengatakan apa-apa. Ayah hanya mengatakan bahwa ayah sudah mencari aku beberapa lama, karena aku tidak lagi sering datang kemari. Tetapi aku sudah menjelaskan kepada ayah, bahwa aku sudah melengkapi pokok-pokok tata gerak yang cukup bagimu agar kau dapat mengembangkannya sendiri“

“Tetapi aku terlalu bodoh, dan aku tidak dapat berbuat apa-apa”

“Kau tidak mencoba?“

“Setiap malam aku mencoba”

Puranti tersenyum. Katanya “Baiklah. Marilah kita lihat sampai dimana kau berhasil maju”
“Tetapi aku tidak bersiap untuk berlatih malam ini”

”Kau tidak memakai pakaian rangkap?“

Wiyatsih ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia menganggukkan kepalanya.

“Bersikaplah. Aku akan mulai”

“Tunggu”

”Aku tidak menunggu. Jika kau bertemu dengan lawan, merekapun tidak akan menunggu”

“Tetapi …………………”

Sebelum Wiyatsih selesai, Puranti telah barsiap. Tiba-tiba saja ia mendorong Wiyatsih. sehingga Wiyatsih melangkah surut sambil berdesis “Puranti”

“Aku akan mulai”

“Tetapi …………..” sekali lagi kata-katanya terputus ketika Puranti meloncat menyerangnya. Sebuah sentuhan telah mengenai pipi Wiyatsih, sehingga kepalanya terdorong kesamping.

“Jika tanganku tangan laki-laki yang menunggu dibrunjung itu, maka aku tidak akan sekedar menyentuh, tetapi pasti mencubitnya”

”Ah“ Wiyatsih. berdesah. Namun ia tidak dapat berdiri saja termangu-mangu ketika Puranti menyerangnya lagi.

Dengan demikian maka Wiyatsihpun segera menyingsingkan kain panjangnya, dan menyelipkan ujungnya pada ikat pinggangnya. Ia tidak peduli lagi apakah ia pantas berpakaian serupa itu. Namun ia harus melayani serangan-serangan Puranti meskipun dengan agak canggung.

Demikianlah keduanyapun segera terlibat dalam latihan yang semakjn lama semakin cepat. Puranti tidak memberi kesempatan Wiyatsih untuk berpikir. Karena itu, hampir seluruh gerakanya adalah naluriah yang mengalirkan kemampuannya yang sebenarnya Semakin cepat serangan-serangan Puranti datang, semakin cepat pula Wiyatsih berloncatan mengerak, bahkan sekali-kali sempat juga ia menyerang.

Latihan yang hampir menyerupai perkelahian yang sebenarnya itu semakin lama menjadi semakin seru. Purantipun mendesak Wiyatsih bersungguh-sungguh. Bahkan sentuhan tangannya kadang-kadang terasa sakit pada tubuh Wiyatsih, sehingga karena itu maka Wiyatsihpun berusaha sejauh-jauh dapat dilakukan untuk menghindari setiap santuhan tangan Puranti.

Namun agaknya kemampuan Wiyatsih telah mengejutkan Puranti. Sambil tersenyum didalam hati ia memuji betapa pesat kemajuan yang sudah dicapainya. Bahkan iapun kemudian berkata didalam hati “Tentu ayahlah yang sudah menempanya. Dengan keadaannya ini, selisih antara Pikatan dan Wiyatsih sudah tidak begitu besar lagi. Pikatan yang berlatih seorang diri itu memang mengalami kemajuan yang pesat pula. Namun agaknya ayah telah menemukan suatu cara menuntun Wiyalsih sehingga anak ini seakan-akan telah mencapai suatu loncatan yang panjang tanpa membahayakan dirinya. Apakah Wiyatsih benar-benar telah membulatkan tekadnya untuk memiliki ilmu ini, sedang Pikatan untuk beberapa lamanya seakan- akan menjadi patah dan berhenti.”

Namun demikian Puranti yang sering melihat dengan diam-diam bagaimana Pikatan melatih diri, tidak juga dapat ingkar, bahwa Pikatan memang mempunyai kemajuan yang jauh pula terdorong oleh gejolak didalam hatinya sendiri.

“Tetapi Pikatan tidak akan mampu menyusul aku“ tiba-tiba harga dirinya telah melonjak mengatasi segala macam perasaannya terhadap anak muda yang cacat tangan kanannya itu.
Dalam pada itu, Puranti masih juga berusaha memancing segenap kemampuan yang ada pada Wiyatsih, sehingga akhirnya Puranti dapat melihat kemampuan yang sebenarnya yang dimiliki oleh Wiyatsih. Karena itu, ketika keringatnya mulai membasahi tubuhnya, iapun segera meloncat surut sambil berkata “Sudahlah Wiyatsih. Kau sudah lelah“

“Belum“ Wiyatsihlah yang kemudian memburunya terus “Aku tidak lelah. Semalaman kita bertempur, aku tidak akan lelah. Marilah, jika kau berhenti, aku akan menyerang terus”

“Sudahlah Wiyatsih, sudah cukup. Aku sudah mengetahui sampai dimana kemampuanmu yang sebenarnya”

“Aku belum cukup. Aku belum mengetahui kemampuanmu yang sebenarnya “

“He, kau marah?“

“Tidak, aku tidak marah”

“Wiyatsih. Kau tentu marah” Wiyatsih tidak menyahut, tetapi ia menyerang terus. Sedang Purantilah yang kemudian hanya berkisar dan mengelak. Namun tangan Wiyatsih sama sekali tidak berhasil menyentuh Puranti, Sehingga iapun justru menjadi semakin bernafsu untuk mencubit. Mencubit lengan, paha atau pipi. Tetapi Wiyatsih tidak pernah herhasil.

“Sudahlah“ berkata Puranti.

Wiyatsih tidak menyahut, tetapi geraknya menjadi semakin cepat.
Namun tiba-tiba Wiyatsih terpekik kecil. Dengan sendirinya ia berhenti. Tetapi iapun kemudian menggerutu “ Kau yang menyebabkan”

Puranti melangkah mendekatinya sambal bertanya “Kenapa aku?“

“Bajuku sobek. Lihat“ Wiyatsihpun kemudian berputar unjuk menunjukkan bajunya yang sobek dipunggung.

“O” Puranti tertawa.

“Bajumu juga harus sobek sejengkal”

Puranti masih juga tertawa. Katanya “Tetapi kau dapat membeli baju lima lembar sekaligus. Tetapi aku tidak”

Wiyatsih yang bersungut-sungut itu tiba-tiba saja membuka bajunya sehingga Puranti berkata “He, apakah yang kau lakukan?”

“Pakaianku sudah terlanjur tidak keruan. Lihat, kainku aku singsingkan setinggi lutut. Dan sekarang bajuku sobek”

Sejenak Wiyatsih mengamat-amati bajunya. Namun kemudian katanya “Biarlah, masih mungkin dipakai”

“Kenapa kau tidak memakai bajumu yang baru? Yang kau simpan didalam geledeg itu?“
Wiyatsih meaggeleng “Itupun masih juga dapat dipakai Kenapa?”

Purantilah yang menggeleng “Tidak apa-apa”

“Sekarang, apakah kita akan mulai lagi? “ bertanya Wiyatsih

“Tidak. Jika kau belum lelah, tetapi akulah yang sudah lelah”

“Kau nakal sekali, kau tidak percaya kepadaku, dan karena itu kau ingin membuktikan. Kau begitu tiba-tiba dan begitu cepat menyerang, sehingga aku tidak sempat berpura-pura. Sekarang kau sudah mengetahuinya. Apa katamu?“

“Benar yang dikatakan ayah.”

“He. jadi Kiai Pucang Tunggal sudah mengatakan kepadamu teniang aku?“

Sambil tersenyum Puranti mengangguk.

“Kiai memang nakal sekali “ geram Wiyatsih sambil mencubit lengan Puranti.

“O, sakit Wiyatsih,”

“Kau sudah mampu menyalurkan tenaga cadanganmu, bahkan kau sedang berusaha untuk meluluhkan dirimu dalam gerak kekuatan yang tersedia didalam alam ini. Kenapa kau masih merasa sakit hanya karena aku mencubitmu?“

“Ternyata kekuatanmu melampaui kekuatan yang ada didalam diriku meskipup aku sudah mengerahkan segenap tenaga cadangan untuk membuat daya tahan tubuhku melampaui daya tahanku dalam keadaan biasa”

“Bohong, bohong” tiba-tiba kedua tangan Wiyatsih yang siap mencubit lengan dan paha Puranti.

“He, jangan, jangan.”

“Cepat salurkan seluruh tenaga cadanganmu, dan kau coba menyerap kekuatan alam disekitarmu.”

“Tidak, tidak” Puranti melonjak sehingga tangan Wiyatsih terlepas.

“Kau nakal sekali“ berkata Wiyatsih sambil mendekat. Tetapi Puranti melangkah surut sambil berkata “Aku sudah jera Wiyatsih, jangan mencubit lagi”

“Kenapa kau pura-pura tidak tahu tentang aku?“

“Sudahlah. Duduklah. Pakailah bajumu meskipun sobek, nanti kau akan kedinginan”

“Aku sudah biasa kehujanan dimalam hari kepanasan disiang hari”

“Dan lapar sebelum makan”

“Ah”

“Sudahlah. Tetapi pakailah bajumu, dan benahilah kainmu”

“Tidak ada orang yang melihat”

“Bagaimana jika orang-orang yang kau temui di sela-sela bahan bendungan itu sekarang mengintai kau dari balik dinding batu”

“He“ tiba-tiba Wiyatsih menjadi gelisah. Bagaimanapun juga ia memiliki kemampuan namun ia adalah seorang gadis. Karena itu tiba-tiba saja iapun mengenakan bajunya dan membenahi kain panjangnya yang disingsingkannya.

Baru kemudian ia sadar dan berkata “Jika ada orang disekitar kita, aku akan mendengar desah nafasnya.”

“Jika ia mampu manyerap suara pernafasanku?“

“Kau akan mandengar karena kau mempunyai kemarapuan panca indera yang melebihi orang lain. Jika kau tidak mendengar, orang itu pasti orang yang sakti. Berbahagialah kita jika ada orang sakti yang datang kemari”

“Dan melihat kau dalam pakaianmu yang seperti itu”

“Ah” Wiyatsihpun semakin sibuk membenahi pakaiannya. Ketika ia sudah selesai, maka iapun segera duduk disamping Puranti yang telah lebih dahulu duduk diatas sebuah batu.
“Nah. sekarang kau sudah menjadi seorang gadis lagi” berkata Puranti.

“Kaulah yang masih belum”

“Dan aku sudah membuktikan kata-kata ayah, bahwa kau maju pesat sekali. Jauh lebih pesat dari kemajuan yang dapat dicapai oleh Pikatan. Namun karena ia lebih dahulu daripadamu, agaknya kau masih juga belum dapat menyamainya”

“Bukankah itu wajar?“ bertanya Wiyatsih.

Puranti mengerutkan keningnya. Tetapi ia tersenyum “Ya, wajar sekali. Kau adalah adiknya“
“Dan aku seorang perempuan. Kakang Pikatan seorang laki-laki”

Sekali lagi kening Puranti berkerut. Namun demikian hatinya bergejolak dan ia berkata kepada diri sendiri “Meskipun seorang peperempuan, aku tidak mau kalah dari Pikatan”

“Bukainkah begitu?“ Wiyatsih mendesak.

“Ya” jawab Puranti terbala-bata.

“Kau mempunyai kelebihan dari kakang Pikatan karena kau berguru lebih dahulu pada ayahmu. Dan sudah barang tentu ayahmu memberikan kepadamu lebih banyak dari kepada kakang Pikatan”

“Ah, tentu tidak bagi seorang guru“ bantah Puranti ”bahwa aku belajar lebih dahulu, itulah yang benar”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika kakaknya datang kepadepokan Pucang Tunggal. Puranti pasti sudah jauh menyadap ilmu ayahnya, meskipun dengan rahasia, karena hampir tidak ada seorangpun yang mengetahuinya.

“Tetapi ternyata ayah kini menemukan cara yang lebih baik bagi muridnya. Kaulah yang pertama-tama menerima latihan itu secara langsung dengan cara itu, sehingga kau maju jauh lebih cepat dari pada aku dahulu. Namun bukan sekedar cara yang ayah pergunakan itu, tetapi kau sendiri banyak membantunya.

“Ah, kau selalu memuji aku. Kenapa kau tidak memuji dirimu sendiri?“

“Tidak pantas. Kaulah yang harus memuji aku”

“Baiklah”

“Tetapi tidak usah sekarang. Pada suatu kali jika aku sudah lupa bahwa aku telah menyuruhmu”

“Ah“ tetapi Wiyatsih tertawa.

Sekarang, beristirahatlah. Aku berjanji untuk menjumpai ditikungan sungai. Aku dan ayah akan bersama-sama mengamati Pikatan. Mudah-mudahan orang-orang itu tidak berkeliaran ketempat kakang Pikatan berlatih”

“Aku ikut bersama kalian”

“Jangan kali ini. Siapa tahu orang itu justru mencari kerumahmu, kau harus melindungi isi rumahmu”

“Dirumah ada kakang Pikatan”

“Tetapi jika ia tidak mau berbuat apa-apa dan membiarkan lehernya dipenggal?“

“Jika itu yang dikenendaki?“

“Tetapi bagaimana dengan ibumu?“

Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam. Dan Puranti berkata :Bukankah hampir setiap malam Pikatan pergi?“

Wiyatsih menganggukkan kepalanya.

“Nah, jika demikian jagalah rumahmu baik-baik. Aku akan pergi menjumpai ayah”

Wiyatsih tidak menyahut, tetapi kepalanya terangguk kecil.

“Baik-baiklah dirumah. Kemampuanmu hampir menyamai Pikatan. Karena itu, kau merupakan pelindung rumahmu. Jika perlu kedua orang penjaga regolmu itu akan dapat kau minta bantuan. Merekapun merupakan orang yang harus diperhitungkan didalam pertempuran yang seru”.

Sekali lagi Wiyatsih mengangguk.

“Besok malam aku akan kembali kemari. Tunggulah disini lepas senja sesudah gelap“

Demikianlah maka Purantipun kemudian pergi meninggalkan Wiyatsih seorang diri, yang masih berada ditempatnya untuk beberapa lamanya. Dipandanginya kegelapan yang menyelubungi. Namun ia masih dapat melihat dedaunan disekitarnya.

Bersambung Ke Jilid 10

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s