Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

yg terasing 27

Tinggalkan komentar


“Sudahlah Wiyatsih “ berkata salah seorang dari kedua orang itu “pergilah ke sawah. Kau sudah mendapat gambaran terlampau banyak tentang diri kami. Mudah-mudahan Pikatan mengenalku dan datang memenuhi undanganku. Tentu saja kadang-kadang aku tidak ada disekitar daerahmu ini jika aku sedang melakukan tugasku. Kadang-kadang daerah yang dekat jika kebutuhanku tidak mendesak, misalnya dirumah ibumu yang cukup kaya, tetapi kadang-kadang aku tentu pergi kedaerah yang jauh”

Wiyatsih tidak menjawab. Giginya terkatup rapat-rapat menahan kemarahan yang menyesak didadanya. Namun ia masih tetap menahan diri.

Ia sama sekali tidak bertanya lagi ketika kedua orang itu pergi meninggalkannya. Tetapi hatinya berdesir tajam ketika ia melihat seorang dari keduanya berpaling dan berkata sambil tersenyum menyakitkan hati “Cantik sekali Kau Wiyatsih”

Gigi Wiyatsih terdengar gemertak. Untunglah bahwa ia masih tetap ingat pesan Kiai Pucang Tunggal, bahwa orang itu adalah orang yang sangat berbahaya.

Sepeninggal kedua orang itu, maka Wiyatsihpun dengan tergesa-gesa menyusul kawan-kawannya pergi kesawah. Dengan tangkasnya ia berloncatan diatas pematang. Namun dalam pada itu hatinya masih saja diganggu oleh kehadiran kedua orang itu.

“Kedua orang itu akan selalu membayangi aku. Tentu hampir setiap saat sebelum mereka berhasil menemui kakang Pikatan” berkata Wiyatsih didalam hatinya. Lalu timbul pula sebuah pertanyaan “Tetapi apakah maksudnya dengan menyebutkan Pengging, Pajang dan tempat-tempat yang jauh itu? Apakah ia inggin mengatakan bahwa ia termasuk orang yang berpengaruh didalam lingkungannya?“

Wiyatsih tidak dapat memecahkan pertanyaan itu. Dalam keadaan yang demikian ia selalu berkata dirinya sendiri “Aku akan menyampaikannya kepada Kiai Pucang Tunggal dan Puranti”

Ketika Wiyatsih sampai disawah, maka kawan-kawannyapun sudah mulai bekerja disawah masing-masing yang sudah mulai membayangkan harapan. Sebentar lagi mereka akan memetik hasilnya, meskipun hasil panenan itu sebagian akan jatuh ketangan orang-orang kaya yang sudah memberikan pinjaman kepada mereka dimasa paceklik.

“Siapakah orang-orang itu Wiyatsih?“ bertanya seorang kawannya.

“Mereka adalah pedagang-pedagang yang sering datang ke rumah. Mereka berurusan dengan ibu“ jawab Wiyatsih

“O, tetapi kenapa ia menemuimu ditengah bulak?“ Mereka hanya bertanya, apakah ibu ada dirumah“

Kawan-kawannya tidak bertanya lagi. Mereka melanjutkan kerja mereka masing-masing. Menunggui burung, memotong daun-daun padi yang berulat dan yang lain memetik daun lembayung ditanam di pematang.

Demikianlah maka seperti yang sudah diangan-angankan, dimalam harinya semuanya itu disampaikannya kepada Kiai Pucang Tunggal untuk mendapatkan pertimbangan.

Namun selagi Kiai Pucang Tunggal mengangguk-anggukan kepalanya. “Kiai, siapakah sebenarnya orang-orang itu? Aku merasa diombang-ambingkan oleh keadaan ini. Orang itu sama sekali tidak mau menyebut dirinya sendiri, sedang Kiai yang menurut dugaanku mengetahui pula dengan pasti siapakah mereka, juga tidak mau menyebutkan namanya”

Kiai Pucang Tunggal mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil tersenyum ia menjawab “Jadi kau ingin mendengar namanya?“

“Ya Kiai. Aku akan dapat mengatakannya kepada kakang Pikatan supaya kakang Pikatan tidak marah kepadaku jika aku membujuknya”

Kiai Pucang Tunggal menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia memandang wajah Puranti yang ragu-ragu.

“Kiai“ desis Wiyatsih “jika aku tidak mengetahui dengan pasti siapakah mereka, maka aku selalu dibayangi oleh bermacam-macam angan-angan yang sama sekali gelap dan menyeramkan, meskipun barangkali setelah aku mendengar namanya, aku akan menjadi semakin ngeri karenanya”

Kiai Pucang Tunggal mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah merenung sejenak, maka iapuni berkata “Baiklah Wiyatsih. Jika kau memang ingin mengetahui siapakah mereka. Satu diantaranya adalah lawan Pikatan selagi ia melakukan pendadaran. Orang itulah yang bernama Hantu Bertangan Api”

“O“ wajah Wiyatsih menegang sejenak. Ia sudah pemah mendengar nama itu. Nama yang memang menggetarkan dadanya ”Jadi orang itulah yang bernama Hantu Bertangan Api. Sepasang Hantu Bertangan Api itu?“

“Tidak lagi sepasang. Mungkin ia mencoba membuat pasangan baru. Tetapi Hantu Bertangan Api yang satunya sudah terbunuh”

Wiyatsih mengangguk-angguk.

”Itulah sebabhya ia menyebut daerah-daerah Pengging, Pajang, Prambanan dan mana lagi, sebagai daerah yang seakan-akan telah disediakan bagi mereka”

Dada Wiyatsih menjadi berdebar-debar. Ternyata yang dihadapinya adalah orang yang menyebut dirinya Hantu Bertangan Api. la pernah mendengar nama itu. Dan ia tahu, bahwa karena pertempuran yang terjadi di Goa Pabelan itulah selagi Pikatan menjalani pendadaran tangannya yang kanan telah menjadi cacat.

“Wiyatsih“ berkata Kiai Pucang Tunggal“ kita harus meinperhitungkan kemungkinan yang terjadi pada orang yang berbahaya itu. Ia pernah dikalahkah oleh Pikatan menurut penilaian yang dimengertinya dengan baik. Jika tidak ada perubahan maka ia tidak akan datang kemari mencari Pikatan. Hantu itu pasti merasa dirinya sekarang sudah lain dari Hantu yang kalah di Goa Pabelan itu. Hantu itu tentu sudah menempa dirinya dan merasa dirinya kuat menghadapi Pikatan”

“Atau karena perhitungan yang lain“ sahut Wiyatsih “Hantu itu berani mencari Pikatan karena kakang Pikatan sekarang sudah cacat?“

“Boleh jadi. Tetapi bukankah ia mengancam akan mencari Puranti pula? Tentu ia tidak berani mencarinya jika ia tidak merasa dirinya cukup kuat”

“Mungkin ia tidak benar-benar akan mencari Puranti. Mungkin ia sekedar mengancam”

Pikatan sekarang bukan Pikatan yang dahulu lagi. Meskipun tangan kanannya menjadi cacat, tetapi kemampuannya sudah melonjak jauh. Tangan kirinya telah menjadi lebih tangkas dari tangan kanannya, bahkan sebelum tangan itu cacat. ia sekarang sudah menguasai hampir seluruh tenaga cadangan yang ada didalam dirinya”

“Jadi, apakah menurut Kiai Pucang Tunggal, kakang Pikatan dapat mengimbangi Hantu itu sekarang?“

“Tentu aku tidak dapat mengatakannya Wiyatsih. Aku belum tahu. sampai dimana kemampuan Hantu itu sekarang”

Wiyatsih mengangguk-anggukan kepalanya. Tetapi iapun merasa cemas bahwa kakaknya akan berhadapan dengan kekuatan yang jauh berada diatas kemampuannya.
Namun demikian, ia percaya bahwa tentu Kiai Pucang Tunggal tidak akan membiarkan saja jika sesuatu akan terjadi atas kakaknya yang cacat itu.

“Jadi apakah aku harus mengatakannya kepada kakang Pikatan?“ bertanya Wiyatsih kemudian.

“Kiai Pucang Tunggal mengangguk-anggukan kepalanya. Jawabnya “Ya Wiyatsih. Tetapi kau tidak usah mengatakan bahwa Hantu itu menantangnya. Kau hanya mengatakan kepadanya, bahwa Hantu itu kini berkelaran didaerah ini. Hanya itu. Dengan demikian Pikatan akan berhati-hati, tetapi ia tidak segera mencari musuhnya itu. Jika ia mendengar bahwa Hantu itu mengundangnya, maka kemungkinan terbesar adalah bahwa Pikatan itu segeia menemuinya tanpa mempertimbangkan apapun juga”

Wiyatsih mengangguk-angguk pula.

“Sementara itu apabila aku berhasil Wiyatsih, biarlah aku menjajagi kemampuan Hantu Bertangan Api itu”

“Madsud Kiai?”

“Aku ingin tahu, apakah Pikatan tidak akan terjerumus kedalam kesulitan. Jika demikian, maka aku kira kita akan mengambil jalan lain”

“Bagaimanakah Cara Kiai untuk mengetahui kemampuan Hantu itu? “

“Itulah yang sedang aku pikirkan. Tetapi kau sudah dapat mengatakannyai kepada Pikatan sebelum ia pergi malam ini. Hati-hati agar kau tidak terlibat dalam pertengkaran dengan Pikatan. Jika ia menjadi marah, meskipun sebenarnya tidak harus diarahkan kepadamu, kau tidak usah menanggapinya”

Wiyatsih menarik nafas dala-dalam. Jika dahulu kakaknya yang selalu melayaninya, juga jika ia marah-marah dan menangis, sekarang yang terjadi adalah sebaliknya. Ialah yang harus menahan hati jika kakaknya marah-marah kepadanya.

Tetapi apaboleh buat. Selagi kakaknya terganggu keseimbangan jiwanya karena cacatnya, maka ia wajib menempatkan dirinya agar ia justru tidak membuat sakit dihati kakaknya itu menjadi semakin parah.

“Nah Wiyatsih“ berkata Kiai Pucang Tunggai “cobalah kau temui kakakmu sekarang. Mungkin ia masih belum tidur. Katakanlah dengan hati-hati”

“Baiklah Kiai, tetapi apakah Kiai bersedia tinggal disini sebentar. Aku tidak tahu apakah yang akan dilakukan oleh kakang Pikatan jika ia mendengar bahwa Hantu itu ada disini“

Kiai Pucang Tunggal mengangguk-angguk. Jawabnya “Baiklah. Tetapi tentu aku tidak dapat berbuat apa-apa”

“Puranti mungkin dapat berbuat sesuatu”

“Itu kurang bijaksana” jawab Kiai Pucang Tunggal “tetapi aku kira, asal kau dapat menjaga diri dan perasaanmu, maka tidak akan terjadi sesuatu”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih juga berdebar-debar. Apakah ia dapat membiarkan dirinya dicaci-maki dan bahkan diumpati oleh kakaknya tanpa menjawabnya sama sekali.

“Mudah-mudahan ibu dapat meredakan persoalan ini jika timbul salah paham“ berkata Wiyatsih didalam hatinya.

Malam itu Wiyatsih tidak berlatih bersama Puranti. Ia harus menemui kakaknya dan mengatakan tentang Hantu Bertangan Api.

Dengan hati yang berdebar-debar Wiyatsih masuk kembali kedalam rumahnya lewat pintu butulan, Ketika ia menjenguk kepringgitan, ternyata ibunya masih duduk menghitung lidi.

“Darimana kau Wiyatsih?“ bertanya ibunya.

“Dari kebun belakang ibu”

“Kau masih juga membuat dirimu menjadi laki-laki?“

“Tetapi agaknya bermanfaat juga bagi keluarga ini”

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa Wiyatsih telah berusaha untuk menyelamatkan isi rumah ini meskipun kakaknya masih harus menolongnya.

Wiyatsih yang kemudian meninggalkan pringgitan, melangkah mendekati bilik kakaknya yang sudah tertutup. Pikatan yang hampir tidak pernah keluar dari biliknya disiang hari itu dan selalu tidur sore hari.

Namun malam itu Wiyatsih memberanikan dirinya untuk mengetuk pintu bilik kakaknya, Perlahan-lahan.

Pikatan yang sebenarnya memang sudah tidur, terkejut mendengar ketukan pada daun pintunya. Sejenak ia memperhatikan suara itu, namun kemudian nalurinya telah menariknya bangkit dan meloncat berdiri disisi pembaringan dengan hati yang berdebar-debar.

Wiyatsih mendengar suara kaki kakaknya. Dengan demikian iapun menjadi berdebar-debar pula. Bagaimanakah jadinya jika kakaknya tidak dapat menahan perasaannya lagi dan berbuat kasar atasnya?.

Namun Wiyatsih sudah bertekad untuk mengatakannya apapun akibatnya. Karena itu, maka iapun mengetuk pintu itu sekali lagi.

“Siapa?“ terdengar suara Pikatan menggeram ”Aku kakang. Wiyatsih”

“O“ suara Pikatan menurun. Namun kemudian terdengar ia bertanya “apa kepentinganmu Wiyatsih”

“Aku ingin berbicara sedikit kakang”

“Aku sudah mengantuk sekali. Kau mengejutkan aku”

“Aku minta waktu sedikit saja”

Pikatan termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya “Besok pagi saja. Apakah tidak akan ada hari lagi sehingga kau mengejutkan aku?“

“Tetapi soalnya sangat mendesak kakang.

“Tidak”

Tetapi Wiyatsih tidak segera pergi. Bahkan katanya “Kakang boleh marah kepadaku. Tetapi hal ini penting sekali bagi kakang dan kita sekeluarga.

“Tidak. Aku mengantuk sekali”

Wiyatsih menjadi semakin berdebar-debar. Jika kakaknya benar-benar tidak mau mendengarkan, maka ia tidak akan dapat mempersiapkan dirinya jika malam nanti ia bertemu dengan Hantu Bertangan Api itu. Karena itu, maka sekali lagi ia mencoba meyakinkan “Kakang, aku hanya memerlukan waktu sedikit saja. Apakah pintu ini sudah diselarak?”

“Aku bilang tidak. Apakah kau tidak mendengar?“

Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam. “Baiklah kakang, jika demikian, biarlah aku pergi sendiri mencarinya. Ia sangat berbahaya”

Sejenak Wiyatsih terdiam. Tetapi ia tidak mendengar kakaknya menyahut. Karena itu, maka iapun kemudian bergeser sedikit.

“Wiyatsih“ tiba-tiba ia mendengar suara kakaknya. sejenak kemudian maka Wiyatsih mendengar langkah kaki kakaknya dan pintu bilik ilupun terbuka.

“Cepatlah katakan, siapakah yang akan kau temui“

Agar kakaknya segera tertarik perhatianmya, maka dengan serta-merta ia menjawab “Hantu Bertangan Api”

“He?“ wajah Pikatan menjadi tegang, serta nafasnya seakan-akan tertahan di hidungnya. Dengan suara yang dalam ia bertanya “Hantu Bertangan Api?“

“Ya, Hantu Bertangan Api”

Pikatan berdiri sejenak mematung didepaan pintu biliknya. Ditatapnya Wiyatsih dengan sorot mata yang aneh. Dari sela-sela bibirnya seolah-olah diluar sadarnya Pikatan bertanya “Darimana kau tahu tentang Hantu Bertangan Api?“

“Orang itu sendiri yang mengatakan”

“Kau sudah bertemu?”

“Belum”

“Wiyatsih, apakah kau sudah gila he? Kau mengigau selagi kau masih belum tidur, bahkan dengan mata terbuka. Apakah sebenarnya yang ingin kau katakan?“

“Kakang“ Wiyatsih melangkah mendekati kakaknya. Ia mencoba untuk tidak menimbulkan kemarahannya “tetapi kakang jangan marah. Aku takut mengatakannya jika kakang masih saja selalu marah kepadaku”

Pikatan termenung sejenak. Namun kemudian ia berkata “Cepat katakan, dari siapa kau mendengar nama Hantu Bertangan Api?“

“Dahulu Puranti pernah menyebut nama itu?“

“Bukan dahulu tetapi sekarang. Dari mana kau tahu bahwa Hantu Bertangan Api ada disekitar tempat ini”

“Agaknya Hantu itu dengan sengaja menyebar desas desus. Mungkin ia sedang mencari tempat untuk dipergunakannya sebagai sarangnya yang baru. Atau mungkin ia sedang mengintai korbannya disini, atau sekedar lewat”

“Bohong“ teriak Pikatan “ia tahu aku ada disini”

Wiyatsih mengerutkan keningnya. Lalu katanya “Jika ia tahu kakang ada disini, apakah kira-kira yang akan dilakukannya?“

“Ia tidak akan berani datang kemari. Aku akan membunuhnya”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Mungkin kakang dapat mengusirnya, jika tidak membunuhnya sama sekali “

Wajah Pikatan menjadi menyala sejenak. Namun seperti sebuah pelita yang kehabisan minyak, tiba-tiba saja ia berkata dengan mata yang redup “Aku tidak peduli. Aku tidak berkepentingan lagi dengan Hantu Bertangan Api”

“Tetapi“ dengan serta merta Wiyatsih menyahut “bukankah kau mempunyai persoalan dengan Hantu itu? Bagaimanakah sikapmu jika Hantu itu datang sengaja untuk mencarimu”

Pikatan menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku tidak peduli. Biar saja ia mencariku”

“Kakang“ Wiyatsih melangkah semakin, dekat “jika Hantu itu mendendam, kakang harus berhati-hati. Bukankah kakang sering keluar dimalam hari?“

“Aku tidak peduli. Aku tidak berkepentingan lagi dengan, Hantu itu“

“Mungkin kakang menganggap bahwa kakang sudah tidak berkepentingan lagi. Tetapi Hantu itu pasti masih tetap mendendam”

“Aku tidak peduli”

”Kakang“ Wiyatsih menjadi cemas, Ternyata kakaknya masih tetap dalam sikapnya. Pasrah dan putus-asa “kakang harus berbuat sesuatu. Setidak-tidaknya kakang harus menjaga diri “

“Jangan gurui aku. Aku mengerti apa yang harus aku lakukan. Aku lebih tua daripadamu dan aku adalah seorang laki-laki. Jika aku bersikap, sikap itu adalah sikap yang sudah aku pertimbangkan baik-baik. Kau tidak berhak mengajari aku dalam segala hal”

”Tidak kakang. Aku sama sekali tidak ingin mengajarimu. Tetapi aku didorong oleh perasaan cemas”

“Apa yang kau cemaskan?”

Wiyatsih menundukkan kepalanya. Dan iapun berkata dengah jujur “Aku tidak mau kehilangan kau, Ibu juga tidak. Itulah sebabnya aku memberanikan diri mengatakannya kepadamu”

“Omong kosong. Kau tidak akan kehilangan jika aku dibunuh sekalipun oleh Hantu itu. Ibu juga tidak akan merasa kehilangan. Bahkan kalian akan merasa terlepas dari gangguanku selama ini, dan ibu tidak perlu lagi menyediakan apa-apa lagi buatku“

“Kakang, kau keliru. Jika aku tidak peduli lagi akan keselamatanmu, buat apa aku datang kepadamu dan memberitahukan kehadiran Hantu itu didaerah Sambi Sari ini? Buat apa aku memaksa diri berkata kepadamu karena selama ini sebenarnya aku takut mendekat pintu bilikmu”

“Jangan hiraukan aku. Jangan pedulikah aku” berkata Pikatan kemudian sambil melangkah surut masuk kedalam biliknya lagi.

“Kakang“ panggil Wiyatsih. Dan Pikatanpun berhenti sejenak. Dipandanginya adiknya sesaat. Ketika Wiyatsih memandang tatapan mata kakaknya itu, hatinya berdesir. Ia melihat kelembutan pada sinar mata itu, yang selama ini seakan-akan telah tidak pernah dilihatnya lagi. Tetapi hanya sejenak, karena sejenak kemudian Pikatan telah hilang dibalik pintu.

Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam sambil bersandar dinding. Seakan-akan ia telah menunaikan suatu tugas yang sangat berat.

“Sukurlah, bahwa kakang Pikatan tidak menjadi marah“ berkata Wiyatsih didalam hatinya “meskipun ia tidak menghiraukannya, tetapi setidak-tidaknya ia sudah mengetahui bahwa orang itu ada disekitar Sambi Sari.

Wiyatsih berpaling kelika ia mendengar langkah ibunya mendekat dari Pringgitan. Sejenak ibunya memandang pintu bilik Pikatan yang sudah tertutup. Kemudian dengan isyarat dipanggilnya Wiyatsih mendekat.

Ketika Wiyatsih sudah berdiri dihadapannya, maka gadis itupun kemudian dibimbingnya masuk kepringgitan dan duduk diatas sehelai tikar. Disudut pringgitan itu masih terdapat beberapa buah bumbung berisi potongan-petongan lidi sebagai peringatan atas piutang yang diberikan kepada orang-orang Sambi Sari dimasa paceklik. Jika sebentar lagi mereka memetik hasil sawah, maka lidi-lidi itu harus dihitungnya seluruhnya.

“Apakah kau bertengkar lagi dengani kakakmu Wiyatsih?“ bertanya ibunya.

Wiyatsih menggelengkan kepalanya. Jawabhya “Tidak ibu”

“Tetapi aku merdengar kakakmu membantak-bentak lagi.

“Tetapi kami tidak bertengkar”

“Jadi apa yang kalian bicarakan?“

Wiyatsih menjadi ragu-ragu sejenak. Jika ia memberi-tahukan kepada ibunya, maka ibunya akan menjadi sangat cemas.

Tetapi ternyata ibunya bertanya pula “Siapakah yang kau sebut dengan hantu itu?“
Sejenak Wiyatsih tidak menjawab ”Apakah orang itu mendendam Pikatan?“

Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya ia mengangguk ”Begitulah agaknya”

“Dan kau memberitahukan kepadanya?“ Wiyatsih mengangguk sekali lagi.
“Bagaimanakah tanggapannya?“

“Seperti biasa ibu. Acuh tidak acuh dan membentak-bentak, Tetapi kali ini ia tidak marah-marah. Ia mau mendengarkan meskipun tidak seluruhnya. Namun dengan demikian ia sudah mengetahui bahwa seseorang sedang berkeliaran didaerah ini”

Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menyahut. Tiba-tiba saja hatinya telah dijalari oleh kecemasan. Ternyata banyak sekali orang yang mendendam terhadap Pikatan, sedang Pikatan sendiri seakan-akan tidak lagi berusaha untuk mempertahankan dirinya.

“Ia adalah satu-satunya anak laki-lakiku“ desah ibunya didalam hati

Sejenak kemudian Wiyatsihpun segera meninggalkan ibunya yang untuk beberapa lamanya masih saja duduk termenung dipringgitan. Sekali-kali dipandanginya bumbung-bumbungnya yang berisi potongan lidi. Bahkan kemudian ia bergumam kepada diri sendiri “Sekarang aku jadi tidak mengerti. Untuk apa sebenarnya aku mengumpulkan lidi-lidi ini? Anak-anakku sama sekali tidak mempedulikannya dan apalagi berusaha untuk melanjutkan kerja ini. Bahkan Wiyatsih telah membangun sebuah benudungan yang akan mengurangi usahaku untuk seterusnya”

Dalam pada itu, Wiyatsih yang kemudian pergi kehalaman belakang, telah mengatakan apa yang sudah dilakukan. Seperti anggapan Wiyatsih sejndiri, maka Kiai Pucang Tunggalpun berkata “la akan merenungkannya. Tetapi yang penting ia sudah mengetahuinya. Bagaimanapun juga ia akan berhati-hati. Jika ia sudah bertemu dengan Hantu itu seandainya Hantu itu menemukan tempat latihannya, maka Pikatan tentu akan bersikap lain”

Wiyatsih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah. Sudahlah Wiyatsih. Kaupun harus berhat-hati. Jika Hantu itu jemu menunggu Pikatan, mungkin ia akan mempergunakan cara lain. Mungkin ia akan memaksa Pikatan untuk keluar dengan mempergunakan kau sebagai umpan”

Tiba-tiba terasa seluruh bulu-bulunya meremang. Diluar sadarnya Wiyatsih berkata “Mereka selalu memuji aku Kiai”

“Nah“ Purantilah yang menyahut “itu suatu pertanda”

“Pertanda apa?“

Puranti tersenyum, tetapi sambil menggeleng ia menjawab “Bukan apa-apa Wiyatsih”

Ketika Wiyatsih melompat mendekatinya, Purantipun bergeser menjauh “Jangan”

“Sudahlah“ berkata Kiai Pucang Tunggal “sekarang kami terpaksa minta diri. Jika kami terlalu lama ada dihalaman ini maka ada kemungkinan orang lain mengetahuinya. Bukankah kedua penjaga regol itu sering pergi ke halaman ini jika mereka ingin. sekali-kali ajaklah mereka ikut berlatih bersamamu?“

“Ya“ jawab Wiyatsih “kadang-kadang aku memberi mereka beberapa latihan. Tetapi sebenarnya mereka telah memiliki dasar-dasar yang cukup. Sayang, mereka kurang mengembangkannya, sehingga apa yang mereka miliki itu sama sekali tidak menjadi bertambah sempurna”

“Kau dapat memberi beberapa petunjuk kepada mereka”

“Aku sudah mencoba”

“Baiklah. Mereka adalah orang-orang yang setia akan tanggung jawabnya. Jagalah baik-baik agar mereka. tidak lepas dari rumah ini. Jika mereka pada suatu saat dihinggapi iblis, maka mereka akan menjadi orang yang berbahaya juga. Tetapi pada dasarnya mereka adalah orang baik-baik”

“Ya Mereka orang yang baik dan setia” sahut Wiyatsih

Demikianlah maka sejenak kemudian Kiai Pucang Tunggal dan Purantipun minta diri. Mereka masih harus mengawasi setiap kemungkinan bahwa “Hantu Bertangan Api akan berusaha menjumpai Pikatan.

Ketika mereka sudah berada diluar padukuhah, maka Kiai Pucang Tunggalpun berkata “Setidak-tidaknya Pikatan dapat mengambil sikap. Jika ia masih ingin tetap hidup, maka ia pasti akan berusaha membela dirinya. Tetapi jika ia akan membunuh diri seperti yang pernah dilakukan, maka itu adalah keputusannya”

“Tetapi….” tiba-tiba Puranti memotong. Namun ia tidak melanjutkan kata-katanya.

“Kenapa Puranti”

Puranti menundukkan kepalannya. Tetapi ia berdesis “Apakah kita akan membiarkan Pikatan terbunuh oleh Hantu Bertangan Api?“

“Jika itu sudah keputusannya”

“Tetapi apakah dengan demikian kita tidak dapat mencegahnya?“

Kiai Pucang Tunggal mengerutkan keningnya.

“Ayah“ berkata Puranti “aku sama sekali tidak menghiraukan kematian Pikatan. Tetapi bukankah dengan demikian kematian kakang Pikatan akan menodai perguruan ayah? Murid Kiai Pucang Tunggal ternyata tidak mampu melawan Hantu Bertangan Api. Dan itu adalah suatu penghinaan bagi perguruan ayah”

Kiai Pucang Tunggal mengangguk-anggukkan kepalanya. Hampir saja ia tidak dapat menahan senyumnya. Sebagai seorang tua ia dapat mengerti perasaan anaknya yang sebenarnya. Tetapi agar Puranti tidak tersinggung maka iapun menjawab “Ya Puranti. Sudah tentu aku tidak akan merelakan nama perguruan Pucang Tunggal tercemar. Tetapi kitapun harus berhati-hati bersikap terhadap Pikatan yang sedang mengalami goncangan perasaan itu. Ia akan dengan mudah tersinggung dan berbuat diluar dugaan”

Puranti tidak menjawab. Tetapi kepalanya terangguk-angguk kecil.

Namun tiba-tiba saja setelah terdiam beberapa lamanya, Puranti bertanya “Ayah, apakah ayah akan memberitahukan cara yang pernah ayah katakan?“

“Cara untuk apa Puranti?“

“Ah“ Puranti berdesah “bukankah ayah pernah mengatakan bahwa ayah mempunyai cara yang baik untuk menyembuhkan kakang Pikatan”

“O, tentu, aku akan memberitahukan pada waktunya, cara-cara itu selengkapnya“

“Kenapa tidak segera. Jika kakang Pikatan menjadi baik sebelum Hantu itu bertindak lebih jauh, maka keadaannya akan lebih baik. Mungkin, kita tidak usah mencemaskannya lagi dan tidak perlu setiap kali mengntainya berlatih”

Kiai Pucang Tunggal menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah ia ingin menghirup udara malam yang sejuk itu sebanyak-banyaknya.

“Bukanlah lebih cepat lebih baik ayah“ desak Puranti.

“Tetapi tidak dengan segera Puranti. Aku memerlukan waktu, justru karena pertentangan antara Pikatan dan Hantu itu. Namun sekali lagi aku katakan, aku sedang berusaha. Apakah usahaku berhasil, itu masih harus kita tunggu kenyataan yang akan terjadi”

Puranti tidak dapat memaksanya lagi Perasaannya sebagai seorang gadis telah menahannya. Bagaimanapun juga ia tidak akan sampai hati untuk dengan berterus-terang menyatakan kecemasannya tentang seorang anak muda, bagaimanapun juga ia menahannya didalam hati.

Seperti biasanya, malam itu Kiai Pucang Tunggal mengikuti Puranti pergi ketempat yang biasa dipergunakahnya untuk menempa diri. Seperti biasanya, selama Kiai Pucang Tunggal menunggui anak gadisnya, iapun memberikan beberapa bimbingan terakhir untuk menyempurnakan ilmu yang memang sudah hampir sampai ke puncaknya itu.

Tetapi malam itu mereka tidak melakukan terlalu lama, karena, malam sudah menjadi semakin larut. Ditengah malam mereka pergi ketempat Pikatan berlatih untuk mengawasi apakah terjadi sesuatu atasnya.

“Akhirnya aku menjadi jemu“ berkata Puranti.

Kiai Pucang Tunggal memandang Puranti dengan sorot mata yang terasa menggelitik hati, sehingga Puranti menegaskan “Aku sudah benar-benar menjadi jemu ayah. Sampai kapan kita harus mengawasimya seperti mengawasi anak-anak yang bermain-main dipinggir sumur”

Kiai Pucang Tunggal tidak segera menjawab. Dibiarkannya Puranti menyatakan perasaannya yang diketahuinya, tidak seluruhnya melonjak dari nuraninya. Tetapi yang dikatakannya itu adalah ungkapan dari perasaan yang pernah dikatakannya, bahwa sebenarnya Puranti mencintai Pikatan, tetapi sekaligus membencinya.

Karena Kiai Pucang Tunggal tidak menyahut, maka Puranti berkata lebih lanjut ”Karena itu, silahkanlah ayah melihat permainan yang sudah berpuluh kali saya lihat”

“Lalu, kau akan kemana?“

“Tidak kemana-mana. Tetapi aku akan tidur”

Kiai Pucang Tunggal hanya dapat menarik nafas panjang. Ia tidak dapat mencegahnya. Sejak kanak-kanak Puranti kadang-kadang menunjukkan sifatnya yang kaku. Bahkan kadang-kadang sukar dimengerti orang lain. Karena itu, maka jawabnya “Baiklah Puranti Tetapi jika terjadi sesuatu, aku akan membangunkanmu”

Puranti tidak menyahut. Iapun kemudian pergi berlindung dibalik sebuah gemmbul, sedang ayahnya duduk dibalik tanggul menunggu kedatangan Pikatan. Namun demikian Kiai Pucang Tunggal tidak meninggalkan kewaspadaan sama sekali.

Sejenak kemudian, maka Kiai Pucang Tunggalpun menarik nafas dalam-dalam. Dilihatnya Pikatan seperti biasanya datang dari arah yang tetap. Seperti biasanya pula Pikatanpun mulai berlatih mematangkan ilmunya. Mempertinggi kecepatan bergerak dan memperkuat tenaga cadangan yang dapat dipergunakannya.

Sambil mengawasi Pikatan yang sedang berlatih itu, Kiai Pucang Tunggal mencoba menganyam cara yang sebaik-baiknya yang dapat dilakukan. Ia tidak boleh menyinggung perasaan Pikatan tetapi juga Puranti. Dan ia harus berusaha mengakhiri petualangan Hantu Bertangan Api itu.

Tetapi Kiai Pucang Tunggal harus selalu menunggui apa yang selanjutnya akan terjadi. Jika Hantu Bertangan Api datang bersama gurunya, maka ia tidak boleh lengah sama sekali. Dan jika guru Hantu itu ikut campur, maka mau tidak mau iapun harus ikut campur pula.

Demikianlah yang terjadi dibeberapa malam berikutnya. Puranti lebih senang tidur daripada menunggui Pikatan berlatih, meskipun Kiai Pucang Tunggal tahu bahwa sebenarnya Purantipun tidak dapat tidur nyenyak seperti yang dikatakannya.

Bahkan kadang-kadang Purantipun kemudian bangkit dan merayap mendekati ayahnya yang sedang memperhatikan latihan Pikatan dengan saksama.

“Puranti“ berkata ayahnya pada suatu saat kepada anak gadisnya “sebelum Pikatan benar-benar bertemu dengan Hantu itu, aku harus mendapat gambaran bahwa Pikatan tidak akan menjadi korban karenanya. Atau setidak-tidaknya, bahwa Pikatan mampu bertahan dan menyelamatkan dirinya”

“Apa yang akan ayah lakukan?“

“Sekedar menjajagi kemampuan Hantu itu”

“Bagaimana mungkin?“

“Aku akan memancing persoalan“

“Itu tidak adil. Jika ayah akan membuat perhitungan, sebaiknya ayah mencari gurunya dan aku akan menyelesaikan Hantu itu”

“Bukan begitu Puranti“ jawab ayahnya “aku tidak akan menyelesaikan masalah ini. Dengan demikian aku akan menyinggung perasaan guru Hantu itu dan tentu akan menyinggung perasaan Pikatan pula”

“Jadi?“

“Sekedar meyakinkan”

“Tetapi apa salahnya jika aku menjumpai hantu itu dan membuat perhitungan jika ia memang mendendamku?“

“Bukan kau Puranti. Aku masih mencoba untuk melaksanakan rencanaku agar Pikatan, terbangun dari mimpi buruknya selama ini. Tetapi aku mencoba pula untuk berhati-hati agar Pikatan tidak justru binasa karenanya”

Puranti tampaknya acuh tidak acuh mendengarkan keterangan ayahnya itu, meskipun sebenarnya hatinya bergolak. Setiap kali ayahnya menyebut nama Pikatan, terasa desir yang lembut menyentuh pusat jantungnya.

Dalam pada itu, langit yang selalu dibayangi oleh mendungpun, menjadi semakin cerah. Musim basah perlahan-lahan mulai berlalu. Dan padi disawahpun mulai manguning.

Dalam cahaya matahari pagi, sawah yang luas itu bagaikan lautan yang airnya berwarna emas. Dalam hembusan angin yang lembut, gelombang yang halus mengalir dari ujung bulak sampai keujung bulak lainnya.

Untuk beberapa hari lamanya, anak-anak Sambi Sari tidak berbuat sesuatu untuk bendungan yang sedang mereka persiapkan karena mereka sibuk dengan sawah mereka yang hampir menuai. Anak-anak gadis sibuk menunggu burung disawah, sedang anak laki-laki mulai bekerja keras memperbaiki lumbung mereka yang selama paceklik telah kosong dan hampir tidak pernah dipergunakan.

Namun setiap kali dada mereka berdesir. Berapa bagian dari panenan mereka yang sempat masuk kedalam lumbung? Sebagian dari basil panenan mereka akan langsung diambil oleh orang-orang yang memberikan hutang kepada mereka selama paceklik. Sebagian lagi harus disisihkan untuk upacara yang meriah seperti yang selalu mereka adakan setelah panen. meskipun hanya sekali setahun. Bahkan kegembiraan mereka kadang-kadang sangat berlebih-lebihan tanpa mengingat kemampuan dan sisa padi yang ada dilumbung.

“Tahun ini kita tidak akan tenggelam dalam kegembiraan yang berlebih-lebihan selama tiga atau empat hari, dan seterusnya kita harus kelaparan dan kembali tenggelam dalam hutang“ berkata Kesambi kepada kawan-kawannya.

“Ya, kita harus meyakinkan orang tua kita bahwa perayaan yang berlebih-lebihan itu sama sekali tidak berarti. Makan, minum dan segala macam hidangan yang tidak ada artinya bagi kesejahteraan padukuhau kita” jawab yang lain.

Dan yang lain lagi berkata “Tentu kita tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah kita lakukan bersama. Makan minum dihari-hari setelah panen adalah lambang kelaparan dihari-hari berikutnya”

Dalam kesibukan itu, anak-anak muda di Sambi Sari mulai berusaha untuk menyusun bentuk kehidupan baru di padukuhan mereka dengan melepaskan diri dari kebiasaan-kebiasaan yang tidak berarti. Mereka mencoba mulai dari keluarga masing-masing, sehingga persiapan yang dilakukan untuk menyambut masa panenan itupun mulai nampak perbedaannya.

“Ayah tidak usah bersusah payah menyediakan apapun untuk merti desa. Kita selenggarakan sesuai dengani apa yang ada pada kita. Sudah tentu kita harus mengingat hari-hari mendatang” berkata-salah seorang dari mereka kepada ayahnya.

“Mana mungkin“ jawab ayahnya “kita akan diejek oleh tetangga sebelah. Mereka akan datang kebanjar dengan sebuah jodang. Sepasang ingkung ayam yang besar dan tumpeng yang putih. Telur lembaran dan jajan pasar”

Tetapi anaknya menggelengkan kepalanya “Tidak ayah. Merekapun tidak akan membawa jodang dengan sepasang ingkung ayam. Mereka akan membawa sebuah anak kecil dengan tumpeng megana. Sayur-sayuran yang hijau dan kecambah. Tidak ada yang lain“

“Darimana kau tahu?“

“Kami sudah sepakat, bahwa kami akan berusaha menyederhanakan. suasana yang terlampau berlebih-lebihan melampaui kemampuan kita”

“Tetapi, tentu ada yang tidak sependapat”

“Biarlah orang-orang kaya membawa apa saja yang dapat mereka bawa. Itu adalah cara mereka memancing kemelaratan kita agar dimasa paceklik, bahkan sebelum musim kemarau menjadi sangat kering, kita sudah mulai datang kepada mereka dan minta diberi pinjaman dengan bunga yang tinggi. Biarlah mereka bangga dengan kekayaan mereka, dan kita bangga bahwa kita sudah dapat mangalahkan nafsu bersaing yang sama sekali diluar nalar. Dan kelak jika bendungan itu sudah jadi, mudah-mudahan nasib kita akan berubah. Tetapi bahwa kita wajib berusaha dan itu telah kita lakukan”

Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi rasa-rasa masih belum mapan apabila ia tidak membawa sepasang ingkung ayam.

“Apakah kata orang, jika kita sudah mulai dengan menyederhanakan upacara merti desa itu, tetapi yang lain belum?“

“Kita akan mentertawakan mereka bahwa mereka telah dicengkam oleh ketamakan yang tidak tersembuhkan. Seperti mereka mentertawakan kita, kitapun akan berbuat ganda, karena dimasa paceklik kita masih mempunyai persediaan meskipun hanya sedikit”

Ayahnya mengangguk-angguk pula. Katanya dengan suara yang dalam tertahan ”Baiklah. Kita akan mencoba. Tetapi aku akan tetap membeli dua ekor ayam jantan. Jika perlu ayam itu akan dipotong”

“Jika tidak, ayam itu dapat ditukar dengan ayam betina. Kita akan mendapatkan telurnya dan anak-anaknya yang menetas dari telur itu ayah. Bukankah itu lebih baik daripada kita makan daging kedua ekor ayam itu sekaligus? Jika kelak ayam itu menjadi banyak kita akan dapat membuat ingkung bukan hanya sepasang apabila perlu”

Ayahnya masih mengangguk-angguk, meskipun masih ada sesuatu yang terasa bergejolak didalam dadanya.

Namun dalam pada itu, selagi anak-anak muda Sambi Sari sibuk dengan keluarga masing-masing untuk mencegah pemborosan yang tidak berarti itu, yang hanya sekedar memberikan kebanggaan sesaat, maka Wiyatsih menjadi cemas bahwa ia merasa selalu dibayangi oleh orang yang menyebut dirinya Hantu Bertangan Api. Setiap kali hantu itu menjumpainya dan berbicara sepatah dua patah kata tanpa arti.

“Apakah Pikatan tidak ingin bertemu dengan kami?“ bertanya Hantu Bertangan Api itu.
Tetapi Wiyatsih masih tetap bersikap seakan-akan ia belum mengetahui dengan pasti, siapakah yang sedang dihadapinya itu. Karena itu, maka ia sama sekali tidak mengatakan tentang tanggapan Pikatan yang sebenarnya.

“Mungkin ia sudah mengerti bahwa kamilah yang datang. Dengan demikian maka ia justru bersembunyi semakin dalam didalam biiiknya”

“Bukan saja didalam biliknya“ sahut yang lain “tetapi dibawah kolong pembaringannya”

Hampir saja Wiyatsih kehilangan kesabaran. Namun ia masih tetap berusaha untuk tidak berbuat sesuatu.

“Tetapi kami tetap sabar menunggu, Wiyatsih“ berkata hantu itu “dengan demikian akan ada alasan bagi kami untuk selalu menjumpaimu”

Terasa seluruh permukaan kulit Wiyatsih meremang. Dan kawan hantu itu berkata pula “Kau bertambah cantik, Wiyatsih”

Wajah Wiyatsih menjadi merah oleh marah dan malu. Tetapi ia masih tetap berdiam diri.

“Baiklah Wiyatsih“ berkata hantu itu “sebentar lagi kalian akan merayakan hari-hari merti desa. Kalian akan mengucapkan terima kasih kepada Dewi Sri, Dewi Padi, bahwa panenan kalian kali ini berhasil baik. Aku tidak akan mengganggu upacara itu. Bahkan aku akan ikut menyaksikan apa saja yang kalian lakukan disini pada hari-hari itu, setelah kalian memetik hasil sawah kalian dan memasukkannya kedalam lumbung”

Wiyatsih sama sekali tidak menjawab.

“Kau menjadi semakin garang tampaknya“ berkata hantu itu sambil tersenyum. Namun senyumnya bagi Wiyatsih benar-benar bagaikan senyum hantu yang melihat onggokan tanah pekuburan yang masih baru.

“Kita akan bertemu lagi“ berkata hantu itu sambil meninggalkan Wiyatsih yang termangu-mangu di pematang.

Dirumah, ibu Wiyatsih menjadi semakin sibuk dengan lidi-lidinya. Tanjung masih saja dengan setia datang kerumah ibu Wiyatsih meskipun didalam hatinya mulai ditumbuhi oleh berbagai macam perasaan. Ia tidak dapat menutup kenyataan bahwa anak-anak muda Sambi Sari telah berbuat jauh lebih bermanfaat dari yang dilakukannya. Meskipun demikian, ia masih juga mencoba membela sikapnya ”Tetapi mereka tidak akan mendapat manfaat sama sekali bagi diri mereka masing-masing. Jika kemudian air mengalir, maka mereka harus menunggu untuk waktu yang lama dan perlahan-lahan. Karena panen yang akan datangpun tidak akan segera membuat mereka kaya. Sedang yang aku lakukan adalah suatu kerja yang langsung dapat memberikan sesuatu bagiku sekarang tanpa menunggu satu dua musim lagi“

Demikianlah maka Sambi Sari tampaknya menjadi semakin sibuk menjelang masa panen. Meskipun sebagian terbesar orang-orang Sambi Sari sependapat dengan anak-anak mereka, namun masih ada juga orang yang ingin memamerkan kekayaannya dalam upacara di banjar setelah panenan. Mereka tidak peduli kemelaratan yang mencengkam sebagian besar dari rakyat Sambi Sari. Bahkan dengan bangga mereka menyediakan tidak hanya sebuah jodang. Tetapi tiga buah dan bahkan lebih.

Dalam kesibukan itulah Hantu bertangani api berkeliaran didaerah Sambi Sari. Ada juga niatnya menunggu sampai upacara merti desa. la ingin juga melihat, apa saja yang akan dilakukan oleh orang Sambi Sari. Dan apa saja yang akam dilakukan oleh Pikatan yang terasing itu.

Hampir setiap malam menjelang hari-hari yang ditunggunya, Hantu Bertangan Api itu masih saja berkeliaran. Kadang-kadang mereka duduk diantara brunjung-brunjung yang ditimbun dipinggir sungai. Kadang-kadang di tengah-tengah bulak. Tetapi mereka sama sekali tidak mengganggu orang-orang lain. Mereka agaknya masih cukup sabar menunggu Pikatan. Sebelum mereka berbuat sesuatu atas Pikatan agaknya mereka masih belum berbuat apapun terhadap orang-orang Sambi Sari. Jika mereka membutuhkan sesuatu bagi kepentingan makan dan pakaian mereka, mereka pergi ketempat-tempat yang agak jauh dan mengambil menurut kebutuhan mereka. Ternyata bahwa Hantu Bertangan Api itu berusaha untuk tidak menimbulkan keonaran mendahuluii rencana yang dibuatnya untuk Pikatan.

Tetapi ketika pada suatu malam Hantu Bertangan Api bersama seorang kawannya berjalan melalui bulak panjang Sambi Sari, mereka terkejut melihat seorang yang duduk dipematang. Menilik pakaiannya orang itu tentu bukan seorang petani yang sedang menunggu air diparit,
Karena itu maka Hantu Bertangan Api itupun berhenti sejenak beberapa langkah dihadapan orang itu. Dengan nada datar maka iapun menyapanya “Ki Sanak, apakah Ki Sanak orang Sambi Sari?“

Orang itu mengangkat wajahnya. Wajah itu ternyata tampak menyeramkan. Kumis seperti ijuk yang melintang sampai kepipi, alis yang hitam lebat dan rambut yang terurai, dibawah ikat kepala yang hanya sekedar dibelitkan didahi.

Hantu Bertangan Api mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian tersenyum. Katanya “Wajahnya seperti wajah genderuwo”

Wajah yang dikatakan seperti wajah genderuwo itu menjadi tegang. Perlahan-lahan ia berdiri dan memandang Hantu Bertangan Api dengan tajamnya.

“Siapa kau?“ suaranya menggelegar. Hantu Bertangan Api masih tersenyum. Dipandanginya orang itu dari ujung kaki sampai keujung kepalanya. Katanya “Apakah kau tidak kedinginan“

Orang itu tidak menjawab. Bahkan iapun ikut mengamati dirinya sendiri. Kemudian diusapnya dadanya yang telanjang dengan tangannya yang mengenakan gelang akar waringin sungsang yang sudah menjadi sehitam besi. Dilehernya membelit sebuah kalung serat yang digantungi dengan berbagai macam benda. Gigi harimau, sepotong tanduk rusa. Taring ikan hiu dan duri ular hijau dari laut Selatan.

“Siapa kau?“ sekali orang itu bertanya.

“Akulah yang bertanya lebih dahulu“ sahut Hantu Bertangan Api.

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya “Kau belum mengenal aku? Apakah kau bukan orang daerah Selatan ini?“

Hantu itu menggeleng, jawabnya “Aku datang dari sebelah Timur Gunung Merapi”

“O“ namun kemudian “orang-orang disebelah Timur Gunung Merapipun tahu tentang aku”

“Siapa kau?“

“Akulah yang disebut Hantu bertangan sepuluh”

“He?“ Hantu Bertangan Api terkejut. Bukan karena ia pernah mendengar nama itu. Tetapi nama itu mirip sekali dengan nama yang dipakainya. Nama yang selama ini menjadi hantu yang tiada terlawan meskipun untuk beberapa saat lamanya nama itu telah hilang dari pembicaraan, karena selama itu Hantu Bertangan Api sedang menempa diri karena dendamnya yang tiada tertanggungkan. Tiba-tiba saja kini ia bertemu dengan orang yang menyebut dirinya Hantu Bertangan Sepuluh.

“Kenapa kau terkejut?”bertanya orang berkumis lebat itu.

Tetapi Hantu Bertangan Api itupun kemudian tersenyum. Katanya “Namamu bagus sekali. Apakah kau masih ada hubungan keluarga dengan Hantu Bertangan Api?“

“Huh“ orang itu berdesah “hantu itu telah mati. Akulah yang membunuh mereka kakak beradik”

Hantu Bertangan Api masih tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia bertanya pula “Apakah kau membunuh kakak beradik itu seorang diri?“

“Ya. Aku membunuhnya seorang diri. Baru setelah mereka mati terbunuh aku menyebut diriku Hantu bertangan sepuluh”

“Dahsyat sekali“ desis Hantu Bertangan Api “sebelum itu siapakah namamu?“

“Hantu bertangan lima”

Hantu Bertangan Api mengerutkan keningnya. Ia mulai curiga dengan jawaban-jawaban itu. Namun demikian ia bertanya pula “Apakah pada saat itu Hantu Bertangan Api kakak beradik itu tidak berada diantara anak buahnya?“

“O“ orang yang menyebut dirinya Hantu bertangan sepuluh itu termenung sejenak. Namun kemudian jawabnya “Tidak. Hantu Bertangan Api tidak mempunyai anak buah seorangpun. Mereka hanya berdua saja. Dan aku telah membunuh mereka. Bukankah sekarang tidak ada lagi orang yang mendengar nama Hantu Bertangan Api itu”

Hantu Bertangan Api tidak dapat menahan tertawanya Katanya “Kau adalah pembual yang paling pandai. He, siapakah kau sebenarnya? Jangan menyebut namamu dengan nama yang tidak pantas kau pergunakan”

“Kenapa?“ orang itu menjadi marah. Dan iapun bertanya “Siapa kau? Aku sudah menyebut namaku. Sekarang katakan siapa kau?“

Hantu Bertangan Api ragu-ragu sejenak. Ia tidak ingin menyebut namanya meskipun ia menduga bahwa Pikatan pasti sudah mengetahui bahwa ialah yang datang mencarinya. Namun kepada genderuwo itu ia menjawab “Namaku Saepa”

“Saepa?“ orang yang disebut seperti gendruwo dan menyebut dirinya bernama Hantu Bertangan Sepuluh itu mengerutkan keningnya. Katanya “Nama yang jelek, tetapi pantas bagimu. Sekarang kau mau apa?“

Hantu Bertangan Api menggelengkan kepalanya. Katanya Tidak apa-apa. Aku sedang berjalan-jalan”

“Berjalan-jalan dimalam hari begini?“

“Aku menyelusuri parit. Air masih cukup meskipun hujan sudah jauh berkurang”

“Air? Menjelang menuai kau memerlukan air?”

“Tidak, aku tidak mengatakan bahwa aku memerlukan air”

“Gila, kau gila. Siapa kawanmu itu?“

“Namanya Sura“ sebut Hantu Bertangan Api.

Orang itu mengangguk-angguk ”Supa dan Sura“ desisnya, lalu “Seperti nama-nama empu terkenal. Tetapi kalian tidak pantas mempergunakan nama itu.

“Namaku Saepa, bukan Supa”

“O, ya Saepa, itu lebih jelek lagi. Tepat seperti kataku. Nama yang jelek tetapi pantas bagi orang yang jelek pula”

“He, kenapa kau berkata begitu? Apakah kau memang ingin mencari perkara?“

Orang yang menyebut dirinya bernama Hantu Bertangan Sepuluh itu tertawa. Jawabnya “Kau mau apa, he orang-orang jelek. Tampaknya kau bukan orang yang membawa uang cukup atau perhiasan apapun. Jika kalian membawanya, apakah kalian mau menyerahkannya kepadaku? Jika tidak, maka sebaiknya aku membuang sial dengan memukul kalian berdua setengah mati dan meninggalkan kalian pingsan disini”

Belum lagi mulut orang itu terkatub rapat, Hantu bertangan api itu tidak dapat menahan tertawanya. Sambil melangkah mendekat ia berkata “Kau memang baik hati Ki Sanak. Kau bersedia memukuli aku jika aku tidak membawa barang-barang berharga. Baiklah, aku memang tidak membawa apapun juga. Jika kau ingin memukuli aku, segera Jakukan, mumpung masih belum terlalu malam”

Orang yang berwajah genderuwo itu menjadi heran. Katanya “He, kau tidak takut kepadaku, kepada Hantu bertangan sepuluh?“

“Aku senang bertemu dengan kau. Aku sudah lama tidak dipukuli orang sehingga badanku merasa sangat letih. Jika kau ingin membantu membuat badanku sedikit segar, nah lakukanlah”

Orang yang menyebut dirinya Hantu Bertangan Sepuluh itu menggeram. Tiba-tiba saja suaranya menghentak “Siapa kau he? Siapa? Tentu bukan tidak beralasan kau menantangku. Ada dua kemungkinan. Kau benar-benar belum pernah mendengar namaku, atau kau merasa dirimu tidak terkalahkan oleh siapapun juga”

“Kedua-duanya“ jawab Hantu Bertangan Api “aku memang belum pernah mendengar namamu, dan aku memang tidak akan terkalahkan, apalagi sekarang”

“Persetan“ geram orang yang bernama Hantu Bertangan Sepuluh itu “kau akan menyesal. Nah, bersiaplah. Kita berkelahi, kau berdua, aku seorang diri”

“Jangan terlalu sombong“ Hantu Bertangan Api tertawa “kau benar-benar seorang yang sangat dungu. Tetapi apakah sebenarnya pekerjaanmu disini? “

“Pertanyaan yang bodoh sekali”

“Aku mengerti. Tetapi bukankah kau yang lebih bodoh lagi? Jika kau ingin merampok saat ini, rakyat Sambi Sari masih belum mengumpulkan uang dan hasil sawahnya. Kenapa tidak sebentar lagi setelah panen dan setelah mereka menjual sebabagian dari hasil panenan”

“O, kaulah yang paling bodoh diantara kita. Kau sangka bahwa para petani Sambi Sari masih dapat menjual hasil panenan mereka? Semuanya sudah ada ditangan orang-orang kaya yang meminjamkan uang dimasa paceklik. Nah aku tidak akan datang kepada orang-orang miskin seperti perampok-perampok kecil dan pencuri ayam. Aku akan datang kerumah-rumah orang kaya. Diseluruih Sambi Sari ada tujuh atau delapan orang kaya. Kemudian ada dua puluh tiga orang yang memiiiki kekayaan sedang. Jika masih kurang masih ada orang yang meskipun tidak kaya tetapi menyimpan barang-barang berharga”

“He, kau tahu tepat jumlah itu?“

Hantu bertangan sepuluhlah yang kemudian tertawa. Katanya “Nah, apa katamu sekarang? Apakah kau juga perampok seperti aku? Aku yakin kau bukan orang Sambi Sari”

“Aku orang Sambi Sari”

“Jika begitu aku harus membunuhmu, supaya rencanaku tidak diketahui orang”

“Akulah yang ingin menangkapmu. Kau adalah permainan yang mengasyikkan”

“Gila“ wajah orang yang menyebut dirinya Hantu Bertangan Sepuluh itu menjadi tegang.

“Nah, acungkan kedua tanganmu dan aku akan mengikatmu dan membawamu ke Kademangan”

“Gila. Aku bunuh kau”

Hantu Bertangan Api tertawa. Tetapi suara tertawanya terputus ketika tangan orang berwajah menyeramkan itu terayun kewajahnya. Hampir saja tangan, itu mengenai mulutnya yang sedang tertawa. Tetapi Hantu Bertangan Api sempat berpaling dan tangan itu sama sekali tidak menyentuhnya.

Tetapi sebagai seorang yang merasa dirinya tidak terkalahkan, maka tamparan itu benar-benar telah meneguncang dadanya. Tiba-tiba saja kemarahannya hampir meledak. Katanya “Kau benar-benar tidak tahu diri genderuwo gila. Apakah kau mau mati, he?“

“Genderuwo tidak dapat mati”

“Aku dapat membunuhmu. Kau tidak lebih seekor cucurut buatku”

Sekai lagi tangan Hantu Bertangan Sepuluh terayun. Tetapi sekali lagi tangan itu tidak mengenai sasaran. Bahkan hal itu telah membuat Hantu Bertangan Api semakin marah dan iapun telah mengayunkan tangannya pula menyerang kening Hantu bertangan sepuluh.

Tetapi ternyata lawannya yang berwajah genderuwo itupun sama sekali tidak menyentuhnya.
Betapa marahnya Hantu Bertangan Api, yang merasa dirinya Sudan sempurna, masih juga tidak dapat mengenai sasarannya yang hanya seorang yang menyebut dirinya Hantu Bertangan Sepuluh dan berwajah mirip genderuwo. Karena itu, maka iapun kemudian menggeram sambil berkata “Kau benar-benar akan menyesal genderuwo buruk”

Hantu Bertangan Api terkejut pula ketika tiba-tiba saja lawannya itu telah menyerangnya. Serangannya benar-benar berbahaya, sehingga karena itu iapun harus segera menghindarinya. Namun hal itu merupakan peringatan baginya bahwa ia mendapat seorang lawan yang tidak dapat dianggap tanpa arti.

Demikianlah keduanya kemudian terlibat dalam suatu perkelahian yang seru. Namun sejenak kemudian Hantu Bertangan Api itupun segera mengetahui, bahwa lawannya bukanlah seseorang yang memiliki kelebihan tertentu. Ia adalah seorang yang memiiiki pengalaman yang cukup, tetapi tata geraknya sama sekali sidak berdasar, sehingga dalam waktu yang singkat ia pasti akan segera kehabisan tenaga.

“Aku ingin tahu, siapakah sebenarnya orang ini“ berkata Hantu Bertangan Api didalam hatinya.
Namun meskipun demikian, selagi lawannya itu masih memiliki tenaga sepenuhnya, maka serangan-serangannya yang kasar itu benar-benar berbahaya baginya. Karena itu, maka Hantu Bertangan Apipun harus bertempur bersungguh-sungguh.

Bersambung

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s