Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

yg trasing 23

Tinggalkan komentar


Jilid 09-Bab 02 – Kawan Pikatan

Namun demikian Kiai Pucang Tunggal tidak segera menegurnya. Ia ingin melihat, apa saja yang akan dilakukan oleh Puranti selanjutnya, jika ia sudah melihat kemajuan yang dapat dicapai oleh Pikatan.

Sejenak kemudian, seperti biasanya Pikatanpun mulai berlatih. Dengan saksama Puranti mengikuti setiap gerak tangan dan kaki Pikatan, bahkan kemudian senjata yang ada ditangan kirinya. Sebilah pedang yang panjang.

Dengan garangnya Pikatan berloncat-loncatan sambil mengayun-ayunkan pedangnya yang berat dengan tangan kirinya. Namun agaknya tangan kiri Pikatan itu sama sekali tidak canggung lagi.

Pedangnya berputar cepat sekali, kemudian mematuk dan menyambar mendatar cepat sekali.
Terdengar Puranti menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba gadis itu menggeram. la tidak menunggu Pikatan selesai. Sambil mengendap ia meninggalkan tempat itu dan dengan tergesa-gesa seakan-akan sedang diikuti oleh seseorang ia pergi ketempat yang tersembunyi.
Namun tanpa diketahuinya, ayahnya memang sedang mengikutinya. Dengan hati yang berdebar-debar Kiai Pucang Tunggal melihat sesuatu yang berkembalng dihati anak gadisnya, sesuatu yang tidak diinginkannya.

Sambil menarik nafas dalam-dalam Kiai Pucang Tunggalpun menyaksikan Puranti turun kedalam sebuah tebing yang agak curam, hampir seperti tempat yang dipergunakan oleh Pikatan. Dengan gerak yang menghentak-hentak Puranti menarik pedangnya. Tetapi pedang ini berbeda dengan pedang Pikatan yang besar dan panjang”

Untuk sesaat lamanya Puranti memandangi pedangnya. Kemudian dipandanginya beberapa batang perdu yang tumbuh dilereng tebing itu. Dengan tergesa-gesa ia menyentuh ujung-ujung perdu itu seperti diburu oleh waktu, dengan ujung pedangnya. Puranti telah menentukan sendiri sasaran pedangnya didalam latihan yang akan dilakukan.

“Tentu Puranti pulalah yang mengajar Wiyatsih membuat sasaran tertentu didalam latihannya“ berkata Ki Pucang Tunggal, tetapi hal itu adalah wajar sekali, karena didalam latihan-latihan yang diberikannya kepada Puranti yang mengutamakan kecepatan dan kelincahan bergerak ia kadang-kadang memberikan pula sasaran diam. Dan dikesempatan lain, Kiai Pucang Tunggal memberikan sasaran bergerak dengan mengikat benda-benda lunak pada ujung sebuah tali yang digerakannya. Hanya dalam waktu tertentu saja Puranti dibawanya berlatih dalam perkelahian yang seperti sebenarnya, meskipun tidak mempergunakan pedang yang benar-benar tajam.

Dan sejenak kemudian, Kiai Pucang Tunggalpun segera melihat Puranti berlatih mengayun-ayunkan pedangnya. Sambil berloncatan, maka ujung pedang Puranti yang menyambar-nyambar itu telah menebas ujung-ujung perdu yang telah ditentukannya dengan kecepatan yang luar biasa, sehingga dalam sekejap, pohon-pohon perdu yang dikehendakinya itu telah terpotong sesuai dengan keinginannya.

“Tetapi Puranti tidak segera berhenti. Ia masih berloncatan sambil mengayun-ayunkan pedangnya. Ternyata ia masih melakukan latihan serupa. Pohon-pohon perdu itu dipotongnya selapis demi selapis dalam gerak yang tertampau cepat.

Kiai Pucang Tunggal menarik nafas dalam-dalam. Ternyata, anaknya telah mencapai puncak kemampuan menggerakkan senjata seperti yang diajarkannya. Bahkan didalam keasyikannya, Puranti telah menunjukkan beberapa unsur gerak yang tumbuh didalam perkembangan ilmunya.

”Pikiran anak itu benar-benar hidup“ berkata Kiai Pucang Tunggal didalam hati “ia bukan sekedar menirukan gerak, tetapi ia telah menghayatinya sehingga unsur gerak yang ada padanya telah berkembang pesat”

Dalam penilikannya itu, ia masih tetap melihat jarak antara Pikatan dan anak gadisnya. Meskipun Pikatan maju pesat, namun Purantipun bergerak maju pula, sehingga Pikatan masih belum sempat menyusulnya.

Untuk beberapa saat lamanya. Kiai Pucang Tunggal masih tetap menunggui Puranti yang sedang sibuk berlatih. Bahkan sejenak kemudian, setelah ia merasa cukup mempergunakan pedangnya, maka pedang itupun segera disarungkannya. Namun ia tidak segera berhenti. la melanjutkan latihannya untuk menempa kemampuan tangan dan kakinya. Bahkan, setelah keringatnya membasahi seluruh tubuhnya, maka latihannyapun menjadi semakin keras, sehingga akhirnya, Puranti tidak saja mempergunakan tenaga wajarnya, tetapi kemudian dilepaskannya tenaga cadangannya. Dihantamnya batu-batu karang ditebing yang curam itu sehingga berguguran.

Kiai Pucang Tunggal menarik nafas sekali lagi, seakan-akan ia ingin menghirup seluruh udara malam yang dingin itu. Kini ia yakin apa yang diduganya semula. Puranti yang menyaksikan perkembangan ilmu Pikatan yang maju pesat, ternyata justru telah tersinggung dan dengan gairah yang membara dihatinya, ia telah menyempurnakan ilmunya sendiri.

“Ada untungnya“ berkata Kiai Pucang Tunggal didalam hatinya “tetapi ada juga ruginya. Jika Puranti masih tetap pada pendiriannya bahwa ia harus melampaui Pikatan, maka aku rasa keduanya tidak akan bertemu. Masing-masing akan tetap mempertahankan harga dirinya tanpa ada yang mau mengalah. Puranti yang lebih tua dalam perguruan Pucang Tunggal merasa, bahwa seharusnya ia lebih baik dari Pikatan. Tetapi Pikatan yang merasa dirinya seorang laki-laki, tidak akan mau mengaku kelebihan Puranti didalam olah kanuragan”

Sejenak Kiai Pucang Tunggal merenung. Namun ia tidak segera menemukan jawabnya, sehingga karena itu, ia berkata kepada dirinya sendiri “Aku tidak akan segera menemui Puranti. Biarlah ia menempa dirinya. Mudah-mudahan pada suatu saat aku menemukan jalan untuk mempertemukan keduanya. Jika tidak maka keadaannya akan justru menjadi semakin gawat. Apabila mereka sampai kepuncak gejolak perasaan masing-masing, maka akan mungkin sekali keduanya berhadapan sebagai lawan tanpa sebab, justru hanya karena masing-masing mempertahankan harga dirinya”

Dengan demikian, maka yang dapat dilakukan oleh Kiai Pucang Tunggal untuk sementara hanyalah sekedar mengawasi agar kedua anak-anak muda yang dibakar oleh perasaan masing-masing itu tidak bertemu dalam benturan ilmu yang berbahaya, Puranti memiliki kelebihan didalam ilmu kanuragan, hampir dalam segala seginya. Tetapi Pikatan adalah laki-laki yang akan menebus setiap kekalahan dan harga dirinya dengan nilai yang paling berharga pada dirinya dan bahkan apabila perlu tentu dengan jiwanya. Dan itulah yang harus dihindarinya.

Maka dalam pada itu, untuk mengisi waktunya disetiap malam turun melewati senja, Kiai Pucang Tunggal justru menjumpai Wiyatsih dikebun belakang. Kemudian sekali-kali dibawanya Wiyatsih ketempat lain yang sepi untuk melepaskan ketegangan yang hampir setiap saat mencengkam, maka dibawanya Wiyatsih berlatih. Ditunjukkannya beberapa unsur gerak yang baru bagi Wiyatsih, tetapi yang gerak dasarnya telah dimiliknya sehingga dengan mudah ia dapat mengikutinya.

“Kau memang memiliki kemampuan yang baik, sebaik Pikatan“ berkata kiai Pucang Tunggal.

“Ah. Kiai selalu memuji“ sahut Wiyatsih.

“Sadarilah. Tetapi jangan membuat kau menjadi sombong. Kesadaran itu harus kau salurkan dalam ungkapan yang baik, yang dapat mendorongmu semakin maju“

Wiyatsih menganggukkan kepalanya. Seleret warna merah membayang dipipinya.

“Kau ternyata memiliki kemampuan lahir dan batin. Kemampuan yang dapat saling mengisi. Didalam olah kanuragan kau maju pesat, tetapi disamping itu, kaulah yang sanggup berdiri dimuka dari anak-anak muda Sambi Sari. Tanpa kemampuan dan ketahanan batin, kau tidak akan sanggup melakukannya”

Wiyatsih masih tetap menundukkan kepalanya.

“Nah, lanjutkanlah semua itu. Mungkin akan berguna bagimu kelak”

Wiyatsih mengangguk kecil. Tetapi seakan-akan ia berjanji bahwa ia akan melakukan sejauh dapat dijangkaunya.

Demikianlah, dalam keadaan masing-masing dan kesempatan yang berbeda, ketiga anak-anak muda itu berlatih terus. Dibawah bimbingan Kiai Pucang Tuinggal, Wiyatsih menjadi semakin cepat maju. Berdasarkan atas gerak-gerak dasar yang sudah dikuasainya, Kiai Pucang Tunggal membuka banyak kemungkinan yang memberikan kesempatan kepada Wiyatsih untuk mengembangkan ilmunya. Seperti Puranti, maka ternyata hati Wiyatsihpun terbuka, ia mampu melahirkan beberapa unsur gerak yang penting sesuai dengan perkembangan ilmunya. Seperti juga Pikatan yang melahirkan kemungkinan-kemungkinan baru disesuaikan dengan kemampuan jasmaniahnya, sehingga yang berperan kemudian adalah tangan kirinya.

Sebenarnya Kiai Pucang Tunggal dapat puas melihat keadaan murid-muridnya ditinjau dari segi kanuragan itu sendiri. Tetapi dari segi lain, Kiai Pucang Tunggal masih tetap berprihatin. Ia melihat kemajuan yang pesat pada Pikatan dan Puranti, disamping Wiyatsih. Tetapi ia juga melihat sesuatu yang menyala dihati kedua murid-muridnya itu. Keduanya seakan-akan sedang berpacu untuk memperebutkan kemenangan dan mempertahankan harga diri diarena perkelahian yang dahsyat.

Dalam pada itu, selagi mereka berpacu dengan ilmu, Wiyatsih masih tetap bekerja bersama-sama dengan anak-anak muda Sambi Sari mempersiapkan brunjung-brunjung bagi bendungan yang akan mereka kerjakan dimusim kemarau mendatang.

Ternyata bahwa setiap hari semakin bertambahlah kegiatan anak-anak muda Sambi Sari. Justru dengan demikian, semakin banyak tangan yang ikut bergerak, terasa pekerjaan itu menjadi semakin ringan, Bahkah tempat pembuatan brunjung-brunjung itu kemudian telah berubah menjadi ajang pertemuan bagi anak-anak muda Sambi Sari. Mereka tidak lagi merasa bekerja ditempat itu. Bahkan mereka merasa bahwa datang ketempat itu menjadi suatu kebutuhan sehari-hari. Jika salah seorang dari mereka berhalangan datang sehari, rasa-rasanya sudah sepekan ia tidak bertemu dengan kawannya.

Tempat itu menjadi tempat yang baik untuk berkelakar, bergurau dan berbincang sambil menganyam brunjung bambu yang besar dan memintal tali ijuk. Memang kadang-kadang ada juga diantara mereka yang berbantah dan bahkan kadang-kadang marah, tetapi kawan-kawan mereka selalu berusaha menenangkan setiap kemungkinan yang dapat memanaskan suasana.

Ternyata tempat itu bukan saja tempat untuk bertemu dan bekerja, tetapi kadang-kadang juga merlambatkan dua buah hati dari antara anak-anak muda dan gadis-gadis yang bekerja ditempat itu didalam cita-cita yang sama.

Anak-anak muda yang sebelumnya hanya berkeliaran disepanjang jalan, berteriak-teriak dan melempari buah-buahan tetangga-tetangganya, tertarik juga melihat kegairahan kerja kawan-kawannya. Seorang demi seorang mereka datang dan manyatakan keinginan mereka untuk ikut serta.

“Tetapi dunia kami lain dari duniamu“ berkata Kesambi kepada salah seorang dari mereka.
“Kami sadari“ jawab anak muda itu “kami sudah mengetahui apa yang kalian kerjakan. Selama ini kami hanya ingin mendapatkan, kepuasan-kepuasan lahiriah dan kesenangan-kesenangan sesaat. Tetapi ternyata bahwa kalian disinipun mendapatkan kegembiraan dan bahkan kepuasan yang lebih mendalam. Bukan hanya sekedar seperti angin yang lewat, yang kemudian memaksa kami untuk mencari dan menemukan sumber kepuasan baru. Tetapi disini kalian mendapatkan yang bukan sekedar sesaat itu”

Kesambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Jika demikian, marilah. Kami tidak pernah menutup pintu. Bekerjalah bersama kami. Kami mendapatkan kegembiraan, kepuasan dan manfaat sekaligus tanpa mengganggu orang lain”

Demikian pula anak-anak muda yang hanya dapat mengeluh, meratap dan bergeremang, seolah-olah orang-orang tua mereka sama sekali tidak mampu menghidupi mereka yang sebelumnya tidak pernah minta dilahirkan. Mereka hanya melihat kelemahan-kelemahan orang-orang tua yang tidak mampu berbuat apa-apa, juga mereka yang berkesempatan menimbun harta benda dengan memeras keringat sesama.

“Kerja“ salah seorang dari mereka berbisik “kerja. Tidak sekedar berbicara dan meratap dengan tembang yang paling sedih”

Dan kerja anak-anak muda Sambi Sari itu menumbuhkan banyak sekali akibat bagi Kademangan itu. Orang-orang tua yang hanya dapat memarahi anak-anaknya, melihat bahwa anak-anak merekapun mampu berbuat sesuatu. Dengan brunjung-brunjung yang ditimbun oleh anak-anak muda itu, maka gambaran tentang bendungan itupun menjadi semaki nyata.
Ketika brunjung-brunjung itu telah menjadi semakin banyak, maka sebagian dari anak-anak muda itu telah mengalihkan pekerjaan mereka. Jika langit bersih, maka merekapun pergi beramai-ramai kesawah disela-sela pekerjaan mereka masing-masing. Mereka mulai memperbaiki parit-parit yang sudah ada. Tetapi mereka juga membuat parit baru yang akan mengalirkan air dari bendungan yang bakal mereka buat.

Dalam pada itu, Nyai Sudati sendiri menjadi semakin berdebar-debar melihat kerja yang semakin nyata itu. Seakan-akan ia melihat sebuah pintu gerbang yang sudah hampir tertutup rapat. Seakan-akan ia melihat matahari yang semakin rendah diujung Barat, sehingga sebentar kemudian akan datang masa suram baginya. Masa suram yang dikembangkan oleh anak gadisnya sendiri, Wiyatsih.

Tetapi selain kecemasan yang mencengkam, ada juga semacam perasaan malu yang mulai tumbuh didasar hatinya. Bukan saja pada Nyai Sudati. Tetapi juga pada orang-orang tua yang selama ini lebih mementingkan harta kekayaan daripada hubungan antara mereka, sesama orang Sambi Sari.

Anak-anak muda itu lebih dalam mengenal kasih sayang diantara sesama mereka. Anak-anak muda itu mewujudkan kasih sayang mereka kepada sesama dengan perbuatan, bukan sekedar kata-kata dan ungkapan-ungkapan sebagai suatu pameran.
Apabila salah seorang dari orang-orang kaya itu lewat dan melihat anak-anak muda mandi keringat menggali selokan meskipun sambil tertawa, terasa sesuatu menggelitik hati. Kenapa justru anak-anak muda, sedang dirinya sendiri sibuk mengumpulkan kekayaan yang berlimpah-limpah.

Tetapi anak-anak muda itu tidak peduli. Mereka bekerja dengan jiwa pengabdian. Mereka bekerja untuk mewujudkan kasih sayang mereka kepada orang-orang disekitarnya yang hampir setiap saat menahan lapar. Kepada anak-anak yang setiap saat merengek minta makan dan kepada bayi yang menangis karena kekeringan air susu ibunya.

Dan mereka sadar, salah satu cara adalah dengan menaikkan air Kali Kuning. Dan cara itulah yang akan mereka tempuh. Bukan cara lain.

Dalam pada itu, setiap saat Tanjung merenungi anak-anak muda yang bekerja itu dengan hati yang berdebar-debar, ia tidak dapat memiliih, yang manakah yang paling baik dilakukan. Ia sudah terlanjur menikmati hasil karjanya bersama Nyai Sudati, seakan-akan kerja itu memang memberikan jaminan dihari tuanya. Sedang kerja yang dilakukan oleh anak-anak muda itu tidak akan langsung memberikan sesuatu kepada diri mereka masing-masing.

“Kenapa mereka bersedia membuang waktu untuk membuat selokan, brunjung-brunjung dan kemudian bendungan?“ bertanya Tanjung didalam hati “mereka tidak akan mendapatkart apa-apa secara langsung. Aku lain dari mereka. Aku bekerja dan langsung dapat menikmati hasilnya. Tetapi yang mereka lakukan adalah sebagian terbesar untuk tetangga mereka dan orang lain”

Dan untuk beberapa saat lamanya. Tanjung masih belum berhasil mengikuti jalan pikiran kawan-kawannya itu. Ia masih saja melakukan pekerjaannya yang diterimanya dari Nyai Sudati, sementara Wiyatsih sendiri sibuk membantu pekerjaan anak-anak muda Sambi Sari.
Demikianlah musim hujan semakin lama menjadi semakin dalam. Hampir setiap hari langit menjadi gelap dan hujan turun terus menerus. Kadang-kadang kecil tetapi kadang-kadang lebat sekali, sehingga air Kali Kuningpun mulai menjadi keruh. Hampir setiap hari air naik beberapa jengkal, sehingga anak-anak gadis semakin jarang pergi kesungai.

Meskipun demikian, namun kerja anak-anak muda Sambi Sari tidak terhenti, meskipun kadang-kadang mereka harus berlari-lari berteduh digardu-gardu jika hujan turun dengan tiba-tiba.
Bukan saja anak-anak muda Sambi Sari yang tidak juga berhenti bekerja, tetapi juga Pikatan, Puranti dan Wiyatsih tidak berhenti berlatih. Hujan bagi mereka bukan lagi menjadi persoalan. Hampir setiap hari hujan turun dengan lebatnya, dan hampir setiap hari mereka berlatih dibawah hujan yang lebat itu.

Tetapi ketahanan jasmaniah mereka ternyata justru menjadi semakin kuat. Hujan yang lebat itupun seakan-akan menjadi alat untuk menempa diri.

Dan musim hujan itu berjalan dari hari kehari, dari pekan kepekan dan dari bulan kebulan berikutnya. Timbunan brunjung bambu itupun menjadi semakin tinggi dan selokan-selokan yang digali oleh anak-anak muda Sambi Saripun menjadi semakin panjang. Bahkan beberapa orang anak muda yang lain telah mulai menaikkan batu-batu dari dasar sungai apabila Kali Kuning sedang tidak banjir. Batu-batu itulah yang kelak akan dimasukkan kedalam brunjung-brunjung yang akan diletakkan didasar Kali Kuning, melintang untuk menaikkan airnya.

Namun dalam pada itu, sejalan dengan persiapan yang semakin lengkap, Pikatan, Puranti dan Wiyatsihpun ternyata menjadi semakin matang didalam olah kanuragan. Mereka sudah menguasai pokok-pokok dari ilmunya. Bahkan Puranti sudah mencapai puncak tertinggi dari kematangan ilmu itu. Jika ia berhasil melengkapinya dengan beberapa macam ilmu penggunaan tenaga cadangan dengan hubungan dengan tenaga alam disekitarnya, maka ia tidak akan berselisih banyak lagi dengan gurunya. Tetapi ia memerlukan waktu untuk mendapatkannya.

Dalam pada itu, Kiai Pucang Tunggal yang menyaksikan kemajuan ketiga anak-anak muda itu menjadi berdebar-debar, ia merasa gembira dan bangga atas kemampuan anak-anak muda yang akan mewarisi ilmunya. Tetapi ia merasa cemas atas parkembangan sikap mereka yang seorang dengan yang lain. Rasa-rasanya Puranti dan Pikatan menjadi semakin jauh. Bahkan Puranti hampir tidak sempat lagi menengok Wiyatsih. Seandainya saat itu Kiai Pucang Tunggal tidak hadir diantara mereka tanpa diketahui oleh Pikatan dan Puranti, maka perkembangan Wiyatsih pasti tidak akan sepesat itu, karena justru disaat-saat ia memerlukan bimbingan, Puranti sibuk dengan dirinya sendiri.

Tetapi untunglah bagi Wiyatsih, bahwa kehadiran Kiai Pucang Tunggal justru telah memacunya lebih cepat. Pengalamannya yang jauh lebih banyak dari Puranti, telah memberikan kemungkinan bagi Kiai Pucang Tunggal untuk mengambil jalan memintas bagi peningkatan ilmu Wiyatsih, karena Kiai Pucang Tunggal telah melimpahkan kepercayaannya kepada gadis itu, bahwa ia akan menjadi orang yang besar dan kuat bagi Kademangannya. Harapannya kepada Pikatan agaknya telah meragukannya, karena Pikatan telah mengasingkan dirinya dan hampir kehilangan segenap gairah hidupnya. Jika ia kini berjuang mati-matian untuk mencapai tingkat ilmu yang lebih tinggi, bukan karena ia merasa bertanggung jawab atas keadaan disekitarnya, tetapi ia sekedar ingin bertanggung jawab atas dirinya sendiri, bahwa ia adalah seorang laki-laki yang tidak mau kalah dari seorang gadis didalam olah kanuragan. Bukan karena sebuah cita-cita yang akan berkembang, tetapi sekedar didorong oleh kekerdilan jiwanya.

Tetapi begitu saja sebagai orang tua, ia tidak akan dapat membiarkan sesuatu terjadi atas anak-anak muda itu, sehingga dengah demikian Kiai Pucang Tunggal telah melakukan pengawasan semakin rapat. Hampir setiap-malam ia ada ditempat-tempat latihah itu. Jika tidak menunggui Pikatan, ia menunggui Puranti, setelah lebih dahulu menuntun Wiyatsih yang ternyata tidak mengecewakannya.

Sementara itu, batu yang tertimbun dipinggir sungai menjadi semakin lama semakih banyak. Beberapa puluh puntuk telah berserakan disepanjang tepian. Sedang brunjung-brunjung bambupun menjadi semakin menggunung disisi onggokan tali-tali yang telah dipintal. Sejalan dengan itu parit-paritpun menjadi semakin panjang, dan dalam Seperti akar pepohonan, parit-parit itu bertebaran menusuk daerah-daerah yang kering dimusim kemarau.

Dengan berdebar-debar anak-anak Sambi Sari mengikuti waktu yang berjalan terus. Persiapan mereka sudah hampir sempurna menjelang musim kemarau yang semakin lama menjadi semakin dekat. Perjalanan hari menjelang hari, pekan menjelang pekan dan bulan yang satu meloncat kebulan yang Iain, mendekatkan mereka pada kerja yang sudah mereka tunggu-tunggu selama satu musim.

Ketika anak-anak muda itu mendengar suara garengpun yang merengek-rengek dipepohonan, maka merekapun berseru “Musim kemarau sudah hampir datang”

“Ya, aku sudah mendengar suara garengpung”

Tetapi wajah-wajah yang cerah itupun menjadi suram, mereka kemudian menyadari, bahwa musim kering bagi Sambi Sari akan berarti musim paceklik.

“Tidak“ berkata salah seorang dari mereka “sebentar lagi air akan naik”

”Tetapi diakhir musim. Sementara itu, tanah di Kademangan ini telah menjadi pecah-pecah oleh terik matahari“

“Apaboleh buat. Tetapi kita sudah mulai. Dimusim kering yang mendatang, kemudian kita berharap keadaan padukuhan didaerah ini sudah berubah”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita dapat mempersiapkan diri untuk mengurangi paceklik yang panjang itu“ berkata Wiyatsih yang ada diantara mereka.

“Bagaimania dapat kita lakukan. Panenan musim hujan yang segera akan dopetik ini tidak banyak menunjukkan kenaikkan, Bahkan ada beberapa bagian yang diserang hama meskipun tidak parah.

“Kalian tidak mau membuat pertimbangan” jawab Wiyatsih “disetiap musim panen kita terlalu banyak menghambur-hamburkan hasil panen yang tidak banyak ini“

“Siapa yang menghambur-hamburkan hasil panen“

“Kita, kita semua”

“Kenapa?“ hampir berbareng beberapa anak-anak muda bertanya kepada gadis itu.

“Kita selalu mengadakan keramaian dimusim panen pertunjukan yang hampir ada disetiap padukuhan. Makan-makan dan kadang-kadang kita saling menunjukkan kelebihan kita saling menunjukkan kelebihan kita masing-masing dalam selamatan yang diselenggarakan”

“Merti-desa maksudmu?“

“Ya”

“Ah, mana mungkin kita dapat menghindanrinya, kita harus menunjukkan bahwa kita berterima kasih terhadap para leluhur dan danyang-danyang penunggu sawah dan air. Kita menaburi sesaji dan selamatan diseluruh padukuhan. Apalagi sekarang Kita akan mulai dengan bendungan. Kita harus membuat selamatan khusus. Itulah yang aku anggap pemborosan. Kita dapat menyatakan syukur kepada Tuhan bahwa kita sudah berhasil memetik hasil panenan. Tetapi tidak usah dengan pemborosan. Berapa bakul beras yang habis dalam parayaan merti-desa itu, tanpa memperhitungkan musim paceklik dimana kita hampir tidak mempunyai persediaan beras sama sekali”

“Tetapi itu sudah menjadi kebiasaan kita, Kita tidak akan dapat menghindarinya”

“Kenapa tidak? Kita bersukur kepada ALLAh swt dengan tulus didalam hati kita. Kita dapat menyatakan terima kasih kita kepada ALLAH swt dengan perbuatan. Kita dapat mengucapkan syukur atas RahmatNya dengan menyatakan kasih sayang kepada tetangga kita. Tidak dengan perayaan dan pemborosan. Tetapi kita dapat menyisihkan hasil panenan yang berlebihan bagi mereka yang gagal, atau mereka yang memang tidak memiliki sesobek tanahpun. Kita harus berperhitungkan, bahwa hasil panenan ini bukan hanya akan kita makan sehari dua hari, dan sebagian untuk membayar hutang. Tetapi hasil panenan kita ini akan kita makan sepanjang musim”

Kawan-kawannya memandang Wiyatsih dengan wajah yang berkerut-merut. Agaknya mereka merenungkan kata-kata itu. Namun kemudian salah seorang berkata “Tetapi, apakah kita tidak dapat dianggap menyalahi naluri? Merti-desa sudah berjalan berpuluh-puluh tahun. Setiap orang merayakan kegembiraan yang memperoleh dari panenan yang berhasil?“

“Tetapi setiap orang akan meratap dan menangis, jika tanah mereka menjadi kering dan dedaunan menjadi kuning”

“Jika kita tidak melakukan merti-desa maka paceklik akan bertambah dahsyat”

“Itu adalah pikiran yang salah. Seandainya kita harus melakukan, kita lakukan pernyataan terima kasih itu. Tetapi tidak dengan pemborosan. Apakah artinya bagi ucapan terima kasih itu sendiri, jika kita membawa jodang ke banjar dan makan jauh melampaui kebiasaan kita? Beberapa ekor ayam dan kadang-kadang kambing harus disembelih. Nasi yang melimpah ruah dan yang sebagian akan dihambur-hamburkan dihalaman oleh anak-anak yang sudah kenyang. Sebagian lagi akan tersisa digledeg-gledeg bambu dan dibuang besok pagi sebagai makanan ayam. Sementara dua tiga bulan lagi kita akan kehabisan nafas karena kita tidak mempunyai sebutir beraspun lagi?“

“Tetapi apakah kita tidak akan dikutuk oleh danyang-danyang?“

“Apakah kita masih harus juga berbicara tentang lampor? Tentang hantu-hantu dari Sambirata?“ bertanya Wiyatsih “tidak. Kita tidak akan dikutuk. Merekapun tahu, bahwa kita mencoba untuk menghindarkan diri dari penderitaan dimusim kemarau. Mereka tentu akan memuji kita bahwa kita sudah mempergunakan nalar. Leluhur kitapun akan mengangguk-anggukkan kepala mereka jika mereka melihat apa yang kita kerjakan, karena mereka sendiri tidak pernah melakukannya dahulu” Wiyatsih berhenti sejenak, lalu “tetapi lebih daripada itu, kita yang mempercayai ALLAH Yang Maha Esa tentu akan memusatkan segala pernyataan hati kita kepadaNya. Dan ALLAh swt tidak memerlukan pemborosan itu. ALLAH swt melihat bahwa dimusim kering kita akan meratap setiap saat karena perut kita yang lapar. Anak-anak menangis sepanjang pagi dan orang-orang tua mengusap dadanya yang pedih” Wiyatsih menarik nafas dalam-dalam. Kemudian nada suaranya menurun “kecuali jika kita sudah berkecukupan. Panenan kita berlebihan sampai musim panen mendatang“

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Salah seorang dari mereka berdesis “Kau benar Wiyatsih. Aku akan mengatakan kepada ayah dan ibu. Biarlah ayam kami tetap bertelur. Kami tidak akan memotongnya dihari itu”

“Ya, aku tahu, jika setiap orang diantara kita tidak melakukannya berlebih-lebihan, maka akhirnya pemborosan itu akan hiang dengan sendirinya”

Anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka yang membenarkan kata-kata Wiyatsih berniat untuk menyampaikannya kepada ayah dan ibunya, agar hasil panenan mereka yang sedikit itu, apalagi setelah dikurangi sebagian untuk membayar hutang, tidak habis pada hari-hari merti-desa itu.

Kesadaran baru itu tidak menjalar begitu saja tanpa hambatan. Masih banyak diantara orang-orang Sambi Sari yang menganggap bahwa hal itu tidak dapat dilalukan saja. Berpuluh-puluh tahun mereka sudah melakukannya. Dan tentu saja mereka tidak akan dapat memutus yang sudah berlaku berpuluh-puluh tahun itu begitu saja. Namun bagaimanapun juga, apa yang dikatakan oleh Wiyatsih itu dapat juga mereka renungkan, seorang demi seorang.

Demikianlah, maka hujanpun semakin semakin lama menjadi semakin jarang. Disawah tanaman padi sudah mulai menguning. Gadis-gadis-pergi kasawah disetiap pagi menunggui burung yang kadang-kadang datang berbondong-bondong mencuri padi disawah. Dengan berbagai cara mereka mengusir burung-burung pipit dan gelatik. Anak-anak membuat sumpitan bambu yang beruas panjang untuk menyumpit burung.

“Kita harus mulai menempatkan brunjung-brunjung itu kepinggir kali“ berkata Kesambi kepada kawan-kawannya “setiap hari kita akan memindahkan beberapa brunjung dan jika ada waktu, kita sudah dapat mulai mengisinya pula”

“Ya. Kita mulai besok”

Demikianlah dipagi berikutnya, anak-anak muda Sambi Sari yang akan pergi kesawah, singgah sejenak untuk mengusung brunjung-brunjung bambu kepinggir sungai. Setiap dua orang mengusung sebuah brunjung yang panjang. Meskipun brunjung-brunjung bambu itu tidak begitu berat, tetapi karena panjangnya, mereka harus berhati-hati membawanya.

Demikianlah yang mereka lakukan setiap hari. Setiap dua orang anak muda yang membawa sebuah brunjung, sudah cukup-untuk sehari.

Dan brunjung-brunjung yang tertimbun dipinggir kali itupun setiap hari menjadi semakin banyak tertimbun diantara batu-batu yang beronggok-onggok ditepian.

“Kita akan segera memasukkan batu-batu kedalam brunjung. Jika musim hujan telah selesai, kita akan menurunkannya sebuah demi sebuah” berkata Kesambi.

“Ya, tali-tali sudah siap, Kita akan segera dapat melakukannya”

“Kita akan segera mulai. Kita masih menunggu panen, kita masih sempat menanam palawija genjah sebelum tanah kita menjadi kering. Sesudah itu, barulah kita akan memusatkan kerja kita untuk bendungan ini.”

Kawan-kawan Kesambi mengangguk-angguk. Sebentar lagi tenaga mereka akan diperas habis oleh sawah-sawah mereka disaat panen dan sesudahnya. Tetapi setelah itu, mereka tidak mempunyai kerja apapun dimusim kering.

Namun selagi anak-anak itu mempersiapkan bendungan, maka beberapa orang kaya di Sambi Sari mulai membuat perhitungan lain. Meskipun kadang-kadang mereka malu juga melihat anak-anak muda yang bekerja hampir tidak mengenal waktu, namun ada juga diantara mereka yang mulai membuat perhitungan yang masak menjelang masa mendatang. Mereka yakin bahwa akan timbul perubahan dalam tata kehidupan di Sambi Sari. Itulah sebabnya mereka harus merubah cara hidup mereka. Kerja mereka tidak akan dapat langsung dengan cara yang mereka lakukan sekarang.

Itulah sebabnya. maka dengan hati yang berdebar-debar Wiyatsih melihat suatu perkembangan baru. Adalah kebetulan saja bahwa ia mendengar ibunya berbisik kepada Tanjung “Tanjung, mulailah. Tanah didaerah ini akan menjadi makmur setelah bendungan itu jadi. Aku dan kau tidak akan dapat melakukan kerja semacam ini terus-menerus. Karena itu, usahakan agar petani-petani miskin itu mau menjual tanahnya kepada kita. Dihari-hari ini harga tanah itu pasti masih terlalu rendah. Tetapi jika air sudah mengalir, maka harganya pasti akan berlipat”

Pembicaraan itu benar-benar telah mengguncangkan dada Wiyatsih. Tetapi ia tidak dapat langsung menegur ibunya, Bagaimanapun juga ia adalah ibunya.

Tetapi bagi Wiyatsih, pendirian itu pasti bukan sekedar pendirian ibunya. Mungkin ada beberapa orang kaya yang lain yang akan berbuat serupa.

Itulah sebabnya, maka dihari berikutnya, hal itu sudah menjadi pembicaraan dikalangan anak-anak muda.

“Apa gunanya kita membuat bendungan, jika akhirnya tanah Itu akan jatuh ketangan orang-orang kaya?“ berkata Kesambi.

“O“ desah yang lain “tidak ada gunanya kita bekerja keras selama ini”

“Bukan begitu, kita masih mempunyai jalan. Kita harus mencegah tanah-tanah itu jatuh ketangan orang kaya yang tidak tahu diri”

“Apakah hak kita untuk mencegahnya?”

“Setiap orang diantara kita akan mencegah tanah milik orang tua kita masing-masing. Kemudian kita akan pergi kepada Ki Demang. Hanya Ki Demang sajalah yang akan dapat memecahkan persoalan ini” berkata Kesambi.

“Ya, kita pergi kepada Ki Demang”

Anak-anak muda itupun akhirnya mengambil keputusan menghadap Ki Demang di Sambi Sari untuk melaporkan kemungkinan yang sangat pahit itu. Diantara bebera orang anak-anak muda yang pergi kepada Ki Demang itu terdapat Wiyatsih.

Mendengar laporan itu, Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Memang memalukan sekali. Baiklah, Aku akan mengambil sikap. Aku akan berbuat sedikit diluar wawenangku, karena tanah adalah milik seseorang, sehingga sebenarnya setiap orang berhak melakukannya, menjual dan membeli, sadar atau tidak sadar. Tetapi aku dapat berbuat lain dengan sedikit melanggar hak atas mereka. Setiap penjualan tanah setelah ini, harus ada persetujuanku. Aku tidak akan mengakui perpindahan hak atas tanah diluar persetujuanku”

“Terima kasih Ki Demang“ berkata Wiyatsih “mudah-mudahan usaha Ki Demang berhasil, setidak-tidaknya mengurangi kemungkiuan buruk itu. Jika usaha ini tidak berhasil, maka kami akan mengurungkan niat kami membuat bendungan atau kami akan memindahkan parit-parit yang sudah kami gali dan menghindari tanah milik mereka yang serakah itu”

“Aku dapat memberi penjelasan kepada setiap orang yang datang kepadaku untuk menjual tanahnya“ sahut Ki Demang.

Dengan demikian maka anak-anak muda itu meninggalkan Kademangan dengan harapan yang cerah. Mereka percaya bahwa Ki Demang akan bertindak. Ia tidak akan sekedar bergurau menanggapi masalah hari depan Kademangannya. Sehingga dengan demikian anak-anak muda Sambi Sari itupun dapat melanjutkan kerja mereka dengan tenang.

Namun dalam pada itu, diluar pengetahuan anak-anak muda Sambi Sari, seseorang selalu mengikuti perkembangan mereka dengan cermat. Meskipun orang itu tidak dapat mendekat. namun ia mencoba menangkap setiap peristiwa di Sambi Sari dengan tajam.

“Pikatan ada dipadukuhannya kembali“ ia berdesis aku harus dapat melepaskan dendamku kepadanya setelah sekian lamanya aku menempa diri”

Orang yang selalu mengikuti hampir setiap gerak dari orang-orang Sambi Sari itu mencoba untuk mendengar sebanyak banyaknya tentang Pikatan. Dengan mengenakan pakaian dan sikap seorang petani biasa ia mencoba menghubungi orang-orang Sambi Sari. Tetapi hampir tidak seorangpun yang dapat mengatakan sesuatu tentang Pikatan.

“Anak muda itu jarang-jarang keluar dari rumahnya“ berkata seseorang kepada orang yang mencari keterangan tentang Pikatan itu.

“Kenapa?“ ia bertanya.

“Tidak seorangpun yang mengetahuinya. Mungkin karena tagannya menjadi cacat, sehingga ia malu atas cacatnya itu”

“Apakah ia sama sekali tidak pernah keluar rumah?“

Orang itu menggeleng “ Tidak. Kecuali dalam keadaan yang memaksa sekali”

“Maksudmu?”

”Memang kadang-kadang ia disebut-sebut telah membunuh beberapa orang penjahat yang berkeliaran didaerah Sambi Sari”

“He? Kau bilang tangannya sudah cacat. Apakah ia masih mampu berkelahi?“

”Beberapa orang penjahat yang datang kerumahnya dibunuhnya. Memang dirumahnya ada dua orang penjaga. Tetapi menurut pendengaranku, Pikatanlah yang melakukan itu”

Orang yang bertanya tentang Pikatan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu “Apakah orang-orang Sambi Sari akan membuat bendungan? Aku melihat brunjung-brunjung dan timbunan batu-batu dipinggir Kali Kuning”

“Ya”

“Bagus. Bendungan itu akan sangat bermanfaat” ia berhanti sejenak “apakah Pikatan tidak ikut serta?“

“Tidak, Meskipun cita-cita ini dahulu pernah disebut-sebut oleh Pikatan, namun setelah tangannya menjadi cacat, ia sama sekali tidak mau ikut campur”

“Terima kasih”

“Tetapi siapakah kau dan apakah maksudmu?“

“Aku adalah sahabat Pikatan. Aku hanya sekedar ingin tahu dan membuktikan apakah benar-benar telah mengasingkan dirinya”

“Ya. Pikatan memang mengasingkan dirinya. Ia hampir tidak kenal lagi kepada kami. kepada anak-anak muda Sambi Sari dan bahkan kepada keluarganya sendiri”

Orang yang bertanya tentang Pikatakan itu mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu katanya “Baiklah. Jika ada saat yang baik aku akan berkunjung kepadanya. Mudah-mudahan ia tidak menolak kedatanganku”

“Tetapi siapakah kau?”

Orang itu tersenyum. Jawabnya “Aku adalah kawan Pikatan yang paling akrab“

”Namamu?“

Orang itu tidak menjawab. Sambil melangkah pargi ia melambaikan tangannya.
Orang Sambi Sari yang belum mengenalnya menjadi bertanya didalam hati. Kenapa orang itu tidak mau menyebut namanya?

Tetapi ia tidak menghiraukannya lagi. Jika orang itu tidak mau memperkenalkan diri, iapun tidak berkepentingan sama sekali, dan iapun tidak mempunyai kewajiban untuk menyampaikannya kepadaPikatan. Apalagi Pikatan hampir tidak pernah dijumpainya.

Tetapi ketika orang Sambi Sari itu bertamu dengan Wiyatsih, maka tiba-tiba saja ia teringat kepada orang yang tidak dikenalnya itu, sehingga hampir diluar sadarnya la berkata “Wiyatsih, ada seseorang yang bertanya tentang kakakmu?“

Wiyatsih mengerutkan keningnya. Dengan serta-merta saja ia bertanya “Seorang laki-laki atau seorang perempuan?“

“Seorang laki-laki”

“Siapa?“

“Ia tidak mau menyebutkan namanya”

“Kenapa tidak?“

“Aku tidak tahu. Aku juga sudah bertanya kepadanya. Tetapi ia tidak mau menjawab. Ia hanya tertawa sambil melambaikan tangannya.”

“Ia sama sekali tidak menyebut tentang dirinya?“

“Ia hanya mengatakan bahwa ia adalah sahabat Pikatan. Tidak lebih dari itu”

Wiyatsih menjadi termangu-mangu. Jika orang itu benar-benar sahabat Pikatan, kenapa ia harus merahasiakan dirinya? Kenapa ia tidak langsung mencari Pikatan dirumahnya?

Sejenak teringat olehnya, saat-saat Puranti datang kepadukuhan ini. Iapun merahasiakan dirinya agar namanya tidak didengar oleh Pikatan”

“Apakah mungkin orang itu sudah mengetahui bahwa kakang Pikatan sama sekali tidak mau berhubungani dengan siapapun, sehingga ia tidak mau langsung menemuinya dan merahasiakan dirinya agar tidak mengganggu perasaan kakang Pikatan?“ bertanya Wiyatsih kepada diri sendiri.

“Nah Wiyatsih“ berkata orang itu “barangkali kau dapat menyampaikannya kepada Pikatan, bahwa seseorang sedang mencarinya”

“Baiklah. Aku akan mengatakan jika ada kasempatan”

Orang itu menjadi heran. Tetapi iapun tidak bertanya lagi, la tahu, bahwa Pikatan benar-bentar telah mengasingkan dirinya didalam biliknya. Hampir tidak seorangpun yang pernah diajaknya berbincang, sehingga dunianyapun semakin lama menjadi semakin sempit karena ia tidak mengetahui apapun yang berkembang diluar biliknya.

Mula-mula Wiyatsihpun tidak begitu banyak menaruh perhatian. Tetapi hampir setiap saat ia berpikir, apakah ia akan mengatakannya kepada Pikatan atau tidak. Jika, ia mengatakan, maka tentu ada saja alasan Pikatan untuk marah, karena ia tidak mempunyai bahan lengkap tentang orang itu, Pikatan tentu akan marah karena ia tidak tahu nama orang itu, tidak tahu pula kaperluannya.

“Ya, kenapa ia mencari kakang Pikatan?“ tiba-tiba iapun bertanya kepada diri sendiri” Jika ia benar-benar kawan apalagi sahabatnya, kenapa ia tidak berbuat lebih banyak dari sekedar bertanya kepada orang yang tidak dikenalnya?“

Semakin lama Wiyatsih merenungkan, semakin ingin ia mengetahui orang itu. Karena itu, maka ketika Wiyatsih bertemu dengan orang yang memberitahukan kepadanya tentang orang yang mencari Pikatan itu ia berpesan “Katakan kepada orang itu jika kau bertemu sekali lagi, bahwa ia dapat menemui adik Pikatan”

“Baiklah“ jawab orang itu “tetapi apakah aku akan dapat bertemu lagi, aku tidak dapat mengatakannya”

Tetapi Wiyatsih tidak hanya berpesan kepada seorang itu saja. Ia berceritera tentang orang itu kepada kawan-kawannya, sambil berpasan agar jika salah seorang bertemu dengan orang yang mencari Pikatan itu, segera memanggilnya dan mempertemukannya.

Namun agaknya orang itu tidak datang lagi kedaerah Sambi Sari karena tidak ada seorangpun yang parnah bertemu sekali lagi.

Tetapi sebenarnya orang itu bukan tidak pernah datang lagi, Ia masih selalu mengawasi Sambi Sari dari kejauhah. Hanya karena ia masih belum menganggap perlu untuk mendekat dan mengetahui keadaan Pikatan lebih jauh lagi, maka ia tidak bertanya kepaeda siapapun juga tentang Pikatan.

Dalam pada itu, Wiyatsih yang tidak sabar lagi menunggu, pada saat ia bertemu dengan Kiai Pucang Tunggal, maka diceriterakannya tantang orang yang mencari Pikatan itu.

“Aku sudah berpesan kepada siapapun, jika ada seseorang yang mencari kakang Pikatan, supaya dipertemukan dengan aku, tetapi orang itu tidak kembali lagi” berkata Wiyatsih kemudian.

“Kau tahu ciri-ciri orang itu?“ bertanya Kiai Pucang Tunggal.

Wiyatsih menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku hanya mendengar dari seseorang. Agaknya orang itu tidak begitu memperhatikannya, sehingga ia tidak menyebut tentang ciri-cirinya.

Kiai Pucang Tunggal mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi seperti Wiyatsih, ternyata orang itu telah menarik perhatiannya.

“Aku akan berusaha mencarinya“ berkata Kiai Pucang Tunggal ”tetapi jika ia benar-benar telah pergi, maka sudah ba rang tentu aku tidak akan dapat menjumpainya”

Demikianlah, maka Kiai Pucang Tunggalpun berusaha membuat dirinya sendiri tidak dikenal. Jika orang yang mencari Pikatan itu pernah mengenalnya, maka usahanya pasti akan sia-sia. Apalagi jika orang yang dicarinya itu justru telan melihatnya lebih dahulu. Kecuali jika orang itu benar-benar mencari Pikatan, sehingga mungkin sekali kehadirannya akan sangat menyenangkan bagi orang itu.

Meskipun demikian, Kiai Pucang Tunggal lebih senang berhati-hati. Bukan saja karena orang yang belum dikatahui itu, tetapi iapun masih tetap menyembunyikan diri bagi Pikatan dan anaknya sendiri, Puranti.

Dimalam hari Kiai Pucang Tunggalpun berkeliaran disekitar Sambi Sari. Mungkin orang yang mencari Pikatan itu mempunyai maksud tertentu sehingga iapun berkeliaran pula dikelamnya malam. Namun Kiai Pucang Tunggal tidak segera dapat menemukannya.

Tetapi selagi Kiai Pucang Tunggal mencarinya, tiba-tiba seorang anak muda dengan tergesa-gesa mencari Wiyatsih.

”Orang itu datang lagi Wiyatsih“ berkata anak muda itu.

“Siapa?“

“Yang kau katakan mencari Pikatan” .

“Apa katanya?”

“Ia juga bertanya kapadaku tentang Pikatan. Tetapi aku berkata kepadanya, bahwa tidak ada seorangpun yang mengetahui sesuatu tentang Pikatan. Ia telah mengasingkan diri didalam rumahnya”

“Kau tidak berkata tentang aku?“

”Ya. Aku berkata kepadanya jika ia ingin bertemu dengan adiknya, ia akan dapat memberikan beberapa keterangan mengenai Pikatan”

“Lalu?“

“Ia bersedia menemui kau”

“Dimana ia sekarang?”

“Tidak sekarang. Tetapi besok malam”

“Kenapa malam?“

“Aku tidak tahu. Tetapi ia mengharap kau datang besok malam. Ia lebih senang kalau kau datang bersama Pikatan. Ia sudah rindu kepadanya. Ia menunggu di timbunan brunjung-brunjung itu“

Bersambung

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s