Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

kembang kecubung

Tinggalkan komentar


Sumber djvu: Dimhad website Ebook by Dewi KZ
http://kangzusi.com/
http://dewikz.byethost22.com/
Jilid 1
MATAHARI sudah memanjat semakin tinggi. Sinarnya yang mulai menggatalkan kulit menerpa tanah yang lembab di bawah pohon-pohon kembang yang tumbuh di taman yang asri.
Angin yang lembut serasa berbisik lamat-lamat tentang perawan yang sedang berduka, yang duduk diatas sebuah lincak panjang disebelah sebatang kembang soka yang berwarna ungu muda.
Seorang gadis, putera Kangjeng Adipati Wirakusuma, Adipati di Sendang Arum sedang merenungi luka di hatinya.
Biasanya ia duduk dan bercengkerama bersama ibundanya. Dan kadang-kadang bahkan bersama ayahandanya pula di taman. Kadang-kadang ibundanya sendiri merawat pohon-pohon bunga di taman itu. Bunga Soka, bunga ceplok piring, bunga arum dalu dan yang mendapat perawatan khusus adalah segerumbul kembang melati di sudut taman, yang diberi berpagar kayu serta terawat rapi.
Tetapi hari itu Ririswari duduk sendiri.
Meskipun jaraknya tidak lebih dari lima langkah, tetapi gadis itu seakan-akan tidak menyadari kehadiran seorang emban yang duduk mengamatinya.
“ Puteri “ emban itu bergeser mendekat. Perawan yang sedang berduka itu tidak berpaling kepadanya.
“ Raden Ajeng Ririswari “
Ririswari masih saja berdiam diri.
“ Puteri masih nampak selalu berduka.” Ririswari menarik nafas panjang. Perlahan-lahan ia berpaling. Namun kemudian tatapan matanya kembali menerawang, memandang ke kejauhan.
“ Sudahlan Puteri. Puteri jangan memperpanjang duka. Biarlah Puteri berusaha menyembuhkan luka itu. Hamba tahu puteri, bahwa luka itu tentu terasa sangat pedih. Tetapi Puteri tidak seharusnya membiarkan dirinya tersiksa oleh duka.”
“ Aku tidak dapat segera melupakannya, emban “ sahut Ririswari tanpa berpaling “ ibunda pergi terlalu cepat.”
“ Tidak seorangpun dapat mengelak, Puteri. Jika Yang Maha Agung memanggilnya menghadap, maka kita, titahnya harus menghadap. Kapanpun saat itu datang. Siang, malam, pagi dan senja hari pada saat candikala dipajang di langit.”
“ Aku mengerti, emban. Nalarku dapat berkata seperti yang kau katakan itu. Tetapi perasaanku sulit aku kendalikan. Kenapa tiba-tiba saja ibunda pergi untuk selamanya.”
“ Ampun Puteri, jika hamba mengatakan bahwa
ibunda memang dikehendaki oleh Yang Maha Agung kembali kepadanya. Karena itu, sebaiknya kita menyerahkannya dengan ikhlas.”
“ Apakah kau dapat berkata seperti itu jika biyung-mu yang dipanggil menghadap ? Emban. Aku masih ingat ketika dua tahun yang lalu, nenekmu meninggal. Ketika seorang keluargamu datang memberitahukannya kepergian nenekmu itu, maka kau langsung menangis, berguling-guling di tanah tanpa dapat ditenangkan, sehingga akhirnya kau jatuh pingsan. Bukankah saat itu, bahkan ibunda sendiri berusaha menenangkan hatimu. Ibunda juga mengatakan sebagaimana kau katakan kepadaku.”-
“ Hamba Puteri. Tetapi waktu itu, berita meninggal-nya nenek hamba itu datang dengan tiba-tiba. Hamba tidak pernah mendengar kabar bahwa nenek sakit. Sepanjang pengetahuan hamba, nenek itu selalu sehat. Bahkan sebulan sebelumnya, ketika hamba mendapat kesempatan pulang selama tiga hari, nenek masih pergi ke sungai untuk mencuci pakaian. Kemudian, seperti biasanya setiap nenek pergi ke sungai, maka di saat nenek pulang, tentu membawa sebuah batu. Bahkan nenek menganjurkan setiap anggauta keluarganya yang pergi ke sungai, supaya juga membawa sebuah batu sebesar buah kelapa.”
“ Batu ?”
“ Ya, Puteri.”
“ Untuk apa ?”
“ Dalam setahun, nenek dapat membuat bebatur rumah dari batu yang telah kami kumpulkan. Sehari, tiga orang diantara keluarga kami pergi ke sungai, maka kami akan mengumpulkan tiga buah batu sebesar buah kelapa. Bahkan anak-ahakpun telah dibiasakan melakukannya pula, yang tentu saja membawa bebatuan yang lebih kecil.”
“ Ternyata nenekmu seorang yang cerdik, emban.”
“ Ya. Puteri. Karena itu berita kematiannya sangat mengejutkan.”
“ Setelah itu, lebih dari setengah tahun kau masih nampak murung.”
Emban itu terdiam.
“ Emban. Ibunda baru seratus hari yang lalu meninggal.”
“ Hamba Puteri.”
“ Cintaku kepada ibunda tidak akan berakhir disaat ibunda pergi. Apalagi ibunda pergi terlalu cepat.”
“ Puteri. Tetapi benar kata orang, bahwa kita jangan terlalu dalam terbenam ke dalam duka Selain bagi ketenangan Puteri sendiri, jika Puteri kelihatan lebih ceria, akan sangat berpengaruh bagi ayahanda Puteri. Bagi Kangjeng Adipati
Wirakusuma.”
Ririswari menundukkan wajahnya.
Kangjeng Adipati akan dapat kembali memusatkan perhatiannya kepada tugas-tugas yang diembannya. Tentu kadang-kadang terbersit pula kenangannya terhadap ibunda Puteri. Tetapi kecerahan wajah Puteri akan menjadi penghiburan yang sangat berarti bagi Kangjeng Adipati. Demikian pula sebaliknya, sehingga akan timbul pengaruh yang baik timbal balik. “
“ Emban ? “
“ Hamba Puteri. “
“ Kau pintar emban. “
“ Ampun Puteri. Ketika nenekku meninggal, biyung hamba menjadi sangat bersedih sebagaimana hamba. Kami berdua selalu murung. Bahkan setelah hamba kembali ke taman ini. Jika biyung datang menengok hamba, maka kami masih saja menangis bersama-sama mengenang kematian nenek. Ayah hambalah yang menasehati hamba dan biyung hamba agar kami tidak tenggelam ke dalam duka. Jika wajahku cerah, biyung akan terhibur. Sebaliknya jika wajah biyung cerah, aku akan terhibur. “
“ Apakah wajahmu tiba-tiba menjadi cerah ? “ Emban itu terdiam. Bahkan ia menundukkan wajahnya dalam-dalam.
“ Biyung emban. Aku sadari sepenuhnya bahwa
apa yang kaukatakan itu benar. Tetapi seperti yang aku katakan, bahwa nalar dan perasaanku masih belum sejalan. Aku mengerti semua yang dikatakan oleh seseorang yang mencoba menenangkan hatiku. Menghiburkan agar hatiku menjadi tenang. Tetapi perasaanku ternyata bersikap lain. “
“ Raden Ajeng. Itulah yang harus Raden Ajeng usahakan. Keseimbangan antara nalar dan perasaan. “
“ Siapa yang mengatakan itu, emban. “
“ Orang-orang tua yang mencoba menenangkan hati’ hamba pada waktu itu, Puteri. “
“ Emban. Bukan maksudku bahwa aku tidak mau mencobanya. Aku sudah mencoba, emban. Tetapi ternyata hatiku tidak cukup tegar untuk mengimbangi nalarku. “
“ Jika saja Puteri berusaha dengan tidak berkeputu-san. Kembalikan persoalannya kepada Yang Maha Agung. “
Raden Ajeng Ririswari tidak sempat menjawab. Tiba-tiba saja perhatiannya tertarik kepada suara seruling yang seakan-akan menjerit tinggi. Mengalun bagaikan mengapung diatas angin yang semilir di taman yang asri itu.
“ Kau dengar suara seruling, emban. “
“ Saatnya anak-anak menggembalakan kambingnya. “
“ Dimana mereka menggembala ? Suara itu terlalu dekat. Agaknya suara itu bersumber dari bilik dinding keputren ini. “
“ Apakah Raden Ajeng tertarik kepada suara seruling itu ? “
“ Suaranya menyentuh hati, emban. Aku ingin tahu, siapakah yang telah meniup seruling itu. “
“ Tentu seorang anak yang sedang menggembala, Puteri. “
“ Tentu tidak sedekat itu. Suara itu terdengar dekat sekali, seakan-akan aku dapat menjangkaunya dengan jari-jariku. “
“ Suara itu dibawa oleh angin. “
“ Emban. “
“ Hamba Raden Ajeng. “
“ Bukalah pintu butulan. “
“ Pintu butulan ? “
“ Ya.”
“ Apakah itu diperkenankan ? “
“ Atas perintahku. “
“ Tetapi hanya dalam keadaan yang sangat penting saja pintu itu dibuka. “
“ Bagiku, suara seruling itu sangat menarik hatiku. Aku merasa perlu untuk melihat. Seandainya yang meniup seruling itu seorang anak
gembala, maka alangkah . senangnya ayah dan ibunya mempunyai anak yang mampu meniup seruling seperti itu. Dengar emban. Suara seruling itu bagaikan terbang tinggi, melintasi mega yang sedang berarak, menggapai sap-sap langit yang lebih tinggi, sehingga menyentuh bulan yang sedang tersenyum manis.
“ Angan-angan Raden Ajeng, sebagai seorang perawan yang sedang tumbuh dewasa seperti kembang yang sedang mekar, melambung tinggi mengapung menggapai rembulan. Tetapi sekarang siang hari Puteri. “
“ Apakah angan-anganmu tidak pernah melayang-layang bersama awan yang berarak di langit itu emban. ?
“ Ah. Indahnya mimpi-mimpi perawan yang sedang menginjak dewasa. Karena itu,
Puteri, lupakan duka yang sedang Puteri sandang. “
“ Karena itu, bukalah pintu butulan itu, emban.“
Emban itu nampak menjadi ragu-ragu.
“ Aku yang akan bertanggung jawab emban. Apalagi hanya sesaat. Aku hanya ingin melihat, siapakah yang membunyikan seruling dibalik dinding keputren ini.
Emban itu tidak dapat mengelak lagi. Karena itu, maka emban itupun segera pergi ke pintu butulan. Diangkatnya selarak pintu itu, sehingga sejenak
kemudian, maka pintu itupun telah terbuka.
Ketika Raden Ajeng Ririswari menjengkuk keluar dinding Keputren, maka Ririswari itupun terkejut.
“ Kakang Jalawaja. “
Suara seruling itupun terhenti. Seorang anak muda yang duduk disebelah pintu butulan itupun bangkit berdiri.
Hampir diluar sadarnya, maka Ririswaripun melangkah keluar.
“ Puteri. Puteri akan pergi kemana ? “
“ Aku tidak akan kemana-mana, emban. Aku hanya akan berdiri di pintu. “
Emban itupun bergeser pula mendekati Ririswari yang berdiri di pintu. Namun emban itu terhenti ketika ia melihat seorang anak muda yang berdiri termangu-mangu diluar pintu.
“ Kakang Jalawaja. Kenapa kakang berada disini ? “
“ Sudah lama aku duduk disini, Riris. Aku tidak berani masuk lewat pintu gerbang.”
“ Kenapa kakang. Jika kakang mohon ijin kepada ayahanda untuk menemui aku, ayahanda tentu mengijinkannya. “
“ Aku sangsi, Riris. Seandainya aku mohon kepada Kangjeng Adipati, maka aku tentu hanya akan diusirnya. “
“ Kau berprasangka buruk terhadap ayahanda.“
“ Ayahandamu seorang Adipati. “
”Tetapi ayahanda kakang Jalawaja, saudara sepupu aya-handaku.”
“ Kau tahu, apa yang terjadi dengan ayahku ? “
“ Kenapa dengan paman Reksayuda ? “
“ Oleh ayahandamu, ayahku telah disingkirkan jauh keluar kadipaten ini. “
“ Persoalannya bukan persoalan pribadi, kakang. Aku yakin, bahwa ayahanda akan bersikap baik kepadamu. “
“ Aku mengerti, Riris. “
“ Tetapi kakang sekarang sudah berada di ambang pintu taman. Apakah keperluan kakang ?“
“ Jangan tambun puteri. Jangan berpura-pura tidak tahu.-
Ririswari menundukkan wajahnya.
“ Riris Aku perlukan datang menemuimu. Aku ingin mendengar jawabmu atas pernyataan yang pernah aku katakan kepadamu. “
“ Kakang Jalawaja “ suara Ririswari menjadi dalam sekali “ kau tahu, bahwa aku baru saja kehilangan ibundaku.”
“ Aku tahu Riris. Tetapi bukankah sudah ada jarak waktu sampai hari ini. “
“ Tetapi aku masih belum dapat melupakan saat-saat kepergian ibundaku. “
“ Kau harus menghadapi kenyataan Riris. Sepeninggal bibi, matahari masih tetap beredar di jalurnya. Matahari itu tidak dapat berhenti karena seorang gadis sedang berduka. Aku sudah menyatakan, bahwa aku ikut kehilangan sepeninggal bibi. Bibi sangat baik kepadaku, meskipun bibi tahu, bahwa ayahku adalah seorang yang tidak pantas tinggal di kadipaten ini. Tetapi hari-hari akan berlanjut: Hidupku dan hidupmu. “
“ Aku mengerti, kakang. Duka keluargaku memang tidak dapat menghentikan matahari yang berputar sesuai dengan iramanya sendiri. Tetapi aku dapat berlindung dibawah rimbunnya dedaunan untuk menghindari teriak sinarnya. Hanya untuk sementara di saat hatiku belum siap menerimanya. “
“ Sudah berapa kali aku mendengar jawabmu seperti itu, Riris.”
“ Maafkan aku, kakang Jalawaja. Aku tidak berniat melukai hatimu. Tetapi aku minta waktu. “
Wajah Jalawaja menjadi tegang. Tetapi iapun melangkah surut sambil berdesis “ Aku adalah anak orang buangan, Riris. Aku tidak dapat berkata apa-apa lagi. aku minta diri. “
“ Kakang. Jangan salah paham. Aku tidak pernah mempersoalkan bahwa paman Tumenggung Wreda Reksayuda harus
meninggalkan tanah ini. Kau tidak tersentuh oleh kesalahan yang pernah dilakukannya. “
“ Aku minta diri. “
“ Kakang. “
“ Bukankah aku harus menunggu ? Aku akan menunggu Riris. Sampai pada suatu saat hatimu tidak lagi disaput awan kelabu. Meskipun aku tidak tahu, sampai kapan aku harus menunggu. “
Jalawaja tidak menunggu jawaban Ririswari. Iapun kemudian melangkah meninggalkan pintu butulan taman kepu-tren yang jarang sekali dibuka itu.
Ririswari berdiri termangu-mangu. Wajahnya nampak muram. Sedangkan matanya berkaca-kaca. Dipandanginya langkah Jalawaja menjauh sehingga hilang dikelokan.
“Puteri.”
Ririswari bagaikan terbangun dari mimpinya yang gelisah.
“ Hamba mohon Puteri segera masuk kembali ke taman keputren. Biarlah hamba menutup pintunya. Jika para prajurit yang nganglang melihat pintu ini terbuka, maka mereka tentu akan melaporkannya kepada ayahanda Puteri. “
Ririswari menarik nafas panjang. Sambil mengusap pelupuknya yang basah, Ririswaripun melangkahi tl undak pintu butulan. Tetapi
langkahnya terhenti. Dipandanginya sebatang pohon bunga yang tidak terdapat didalam taman. Beberapa kuntum bunga bergelantungan didahannya yang kecil. Seakan-akan menunduk ikut bersedih.
Ketika Ririswari mendekati pohon bunga itu, embannya menahannya sambil berkata “ Jangan Puteri. “
Ririswari berpaling kepadanya. Sementara emban itupun berkata “ Itu kembang kecubung Puteri. Kembang yang menyimpan racun yang memabukkan. “
Ririswari melangkah mundur. Namun kemudian iapun segera berbalik, masuk ke dalam taman keputren.
Emban itupun segera menutup pintu butulan itu dan menyeleraknya dari dalam. Selarak yang terasa berat di tangan emban itu.
Sepeninggal Jalawaja, wajah Ririswari menjadi semakin murung. Dengan lembut emban itupun berkata “ Sudahlah Puteri. Marilah, aku persilahkan Puteri pergi ke geladri. Mungkin ada .sesuatu yang dapat Puteri kerjakan disana. “
Ririswari tidak menjawab. Tetapi gadis itupun kemudian berjalan dengan langkah-langkah kecil menuju ke geladri.
“ Raden Jalawaja tentu akan datang kembali Puteri. Esok atau lusa “ berkata emban yang
berjalan disamping Ririswari. –
Tetapi Raden Ajeng Ririswari itu menggeleng. Katanya
“ Tidak segera emban. “
“ Aku berani bertaruh. Besok suara seruling itu tentu akan terderigar lagi. “
“ Kakang Jalawaja sekarang tidak lagi tinggal di rumahnya. “
“ O “
“ Kakang Jalawaja sudah beberapa lama tinggal bersama kakeknya di kaki bukit. “
“ Jadi. “
“ Jika ia datang kemari, emban, ia telah menempuh perjalanan yang panjang. “
“ Puteri. Mumpung belum terlalu jauh. apakah hamba diperkenankan menyusulnya. “
“ Jika kau berhasil menyusul kakang Jalawaja, apa yang akan kau katakan kepadanya? “
Emban itu terdiam. Namun kemudian emban itu berdesis
“ Apa saja yang Puteri perintahkan. “
“ Sudahlah emban. Akupun yakin, bahwa kakang Jalawaja akan kembali. Tetapi kapan? “
“ Kenapa tadi Puteri mengusirnya? “
“ Aku tidak mengusirnya, emban. Aku hanya mengatakan, bahwa aku belum dapat menjawab pernyataannya beberapa waktu yang lalu. “
“ Pernyataan tentang apa, Puteri. “
“ Kenapa kau masih menanyakannya? “
“ Apakah hamba pernah bertanya sebelumnya.“
“ Ah.”
Langkah Ririswari yang kecil-kecil itu menjadi semakin cepat. Berlari-lari kecil emban itu mengikutnya.
Ketika keduanya sampai ke geladri, geladri itu nampak sepi.
Ketika seorang abdi lewat, Ririswaripun bertanya “ Di-mana ayahanda? “
“ Di ruang depan, Puteri. Dihadap oleh Raden Ayu Rekasayuda. Ki Tumenggung Jayaiacuna dan Ki Tumenggung Reksabaya. “
“ Bibi Reksayuda ada disini? “
“ Ya, Puteri. “
“ Ada apa? “
“ Hamba tidak tahu, Puteri. “
Ketika abdi itu pergi, Ririswaripun berdesis “ Aku tidak senang kepada perempuan itu. “
“ Kenapa Puteri? “ bertanya embannya.
“ Tidak apa-apa. “
“ Tetapi kenapa Puteri tidak senang kepada Raden Ayu.”
Ririswari termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata “ Aku tidak senang melihat sikapnya. Bibi tidak menunjukkan sikap sebagai seorang yang dituakan meskipun ia masih muda. Aku menjadi semakin benci melihat tingkahnya ketika ia menghadap ayahanda beberapa waktu yang lalu, justru pada saat ayahanda masih diliputi perasaan duka atas kepergian ibunda. “
“ Hamba tidak melihatnya, Puteri. “
“ Ia merasa dirinya perempuan yang paling cantik di dunia ini. Jika kau dengar, bagaimana perempuan itu tertawa. Bagaimana ia tersenyum dan bagaimana ia menangis dihada-pan ayahanda. Tingkahnya yang berlebihan membuatnya menjadi semakin tidak pantas. “
“ Kenapa ia menangis? “
“ Perempuan itu berbicara tentang paman yang masih menjalani hukuman. “
“ O “
“ Tetapi aku tidak yakin bahwa ia bersikap jujur. “ Emban itu mengangguk-angguk. Namun
kemudian iapun berkata “ Puteri. Sudah lama Puteri tidak menyentuh canting, awan an dan kain yang sedang di batik itu. Jika Puteri sempat menyelesaikannya, kain itu akan sangat berarti bagi Puteri. Bukankah beberapa coretan pertama dilakukan oleh ibunda? “
Ririswari termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata “ Ya, emban. Biarlah aku melanjutkannya. Kain itu akan dapat menjadi kenangan bagiku. Bekas tangan ibunda itu akan aku beri tanda agar aku dapat selalu mengingatnya. Kain itu akan aku persembahkan kepada ayahanda. Ayahanda menggemari kain batik parang. Bahkan ayahanda, yang pada waktu itu masih didampingi oleh ibunda, mempunyai kumpulan kain batik dari berbagai jenis parang. Sebagian adalah kain yang dibatik oleh ibunda sendiri. “
“ Marilah Puteri. Biarlah aku mempersiapkannya. “
Keduanyapun kemudian pergi ke serambi samping dise-belah kiri. Emban itu masuk kedalam sebuah sentong yang sempit. Di dalam sentong itu disimpan berbagai peralatan batik serta lembar kain yang masih harus digarap.
Ketika gawangan dengan kain yang belum selesai dibatik bergayut di gawangan itu dibawa keluar dari bilik itu, maka Ririswaripun mengusap air matanya yang mengembun. Di luar sadarnya, Ririswari membayangkan ibundanya yang duduk
didepan gawangan itu. Sekali-sekali ditiupnya canting yang berisi malam yang cair dan panas. Kemudian digoreskannya paruh canting itu pada kain yang tersangkut digawangan.
Embannya masih saja sibuk menyediakan anglo kecil, wajan yang sering dipakai oleh’Ririswari serta ibundanya membatik. Kemudian menyalakan api, meletakkan wajah kecil diatasnya serta menaruh malam kedalamnya. Malam yang berwarna coklat diberi secuil malam yang berwarna putih.
Sejenak kemudian, Ririswaripun duduk disebuah dingklik kayu yang rendah disamping wajannya yang berisi malam yang sudah mulai mencair diatas bara api arang kayu metir di anglo kecil.
Dicobanya untuk memusatkan perhatiannya pada kain yang sedang dibatiknya.
Dalam pada itu, di ruang depan, ayahandanya, Kangjeng Adipati Wirakusuma duduk dihadap oleh Raden Ayu Reksayuda, Ki Tumenggung Jayataruna serta Ki Tumenggung Reksabawa.
Terasa ruang depan dalem Kadipaten itu diliputi oleh suasana yang tegang.
Raden Ayu Reksayuda telah menghadap Kangjeng Adipati Wirakusuma untuk yang kesekian kalinya. Dengan menahan tangis. Raden Ayu Prawirayuda itu mohon agar diberikan pengampunan bagi suaminya, Raden Tumenggung Wreda Reksayuda yang mendapat hukuman, disingkirkan dan tidak boleh menginjak tlatah
Kadipaten Sendang Arum untuk waktu lima tahun.
“ Ampun dimas Adipati. Hamba mohon keringanan bagi kangmas Tumenggung Reksayuda. “
Kangjeng Adipati menarik nafas panjang.
“ Hamba sudah menghadap beberapa kali. Dimas Adipati masih belum memberikan kepastian, meskipun dimas sudah berjanji akan mengusahakan keringanan itu. “
Kangjeng Adipati masih belum memberikan jawaban.
“ Hamba mohon belas kasihan dimas Adipati. Dimas tentu tahu, bahwa ketika kangmas Tumenggung Wreda Reksayuda diusir dari Kadipaten Sendang Arum, kami belum lama hidup bersama sebagai suami isteri. Kami baru saja menikah pada waktu itu. “
“ Kangmbok”jawab Kangjeng Adipati “jika keputusan bahwa kangmas Tumenggung Wreda itu harus disingkirkan dari Sendang Arum dijatuhkan, adalah akibat dari sikap dan tindakan kangmas Tumenggung Rcksayuda itu sendiri.” .
“ Hamba tahu, dimas. Kangmas Reksayuda memang bersalah. Tetapi bukankah kangmas Rcksayuda telah menjalani hukumannya? “
“ Kangmas Reksayuda dihukum tidak boleh memasuki telalah Kadipaten Sendang Arum selama lima tahun. “
“ Hukuman itu sangat berat bagi kangmas Reksayuda yang sudah lebih dari separo baya itu, dimas. “
“ Semuanya itu bukan kehendakku pribadi, kangmbok. Tetapi paugeran dan tatanan di Sendang Arumlah yang menentukan. Jika kangmas Tumenggung yang sudah semakin tua itu tidak melakukan kesalahan, maka kangmas Tumenggung tentu tidak akan menanggung akibat yang mungkin dirasakan sangat berat itu. “
“ Dimas, apalagi sekarang menurut berita yang hamba dengar, kangmas Tumenggung Wreda sering sakit-sakitan. Apakah mungkin terjadi, bahwa kangmas Tumenggung tidak lagi sempat melihat terbitnya matahari di Kadipaten Sendang Arum ini? “
Kangjeng Adipati Wirakusuma menarik nafas panjang.
“ Dimas. Apapun yang harus hamba lakukan, akan hamba lakukan bagi pengampunan kangmas Tumenggung Reksayuda. “
“ Baiklah, aku akan membicarakannya kangmbok. “
“ Beberapa pekan yang lalu, dimas juga mengatakan akan membicarakannya. “
“ Aku sudah membicarakannya. Tetapi masih ada beberapa silang pendapat diantara beberapa orang penanggung jawab negeri ini. Agar
keputusan yang akan kami ambil tidak menimbulkan persoalan di masa depan, maka kami akan membicarakannya lebih dalam lagi. “
Raden Ayu Prawirayuda mengusap matanya yang basah. Dengan suara yang bergetar iapun berkata “ Ampun dimas. Jika demikian, hamba akan menunggu. Namun hamba mohon dengan sungguh-sungguh belas kasihan dimas kepadaku dan kepada kangmas Reksayuda. Hamba mohon dimas Adipati memberi kesempatan kepada kami untuk memberikan arti bagi pernikahan kami. “
“ Kami masih memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan oleh kangmas Reksayuda seandainya ia benar-benar aku beri kesempatan untuk pulang. “
“ Apa yang dapat dilakukan oleh kangmas Reksayuda yang sudah menjadi semakin tua? Seandainya dimas mengi-jinkannya pulang, maka yang dapat dilakukannya tidak lebih dari satu kehangatan keluarga diusianya yang semakin tua.“
“ Baiklah kangmbok. Beri kesempatan kepada kami untuk membicarakannya dengan beberapa orang pejabat di Kadipaten ini. “
“ Hamba dimas. Segala harapan bergayut kepada kebijaksanaan dimas. “
“ Aku bersandar kepada kesepakatan para pemimpin di Sendang Arum.”
“ Tetapi dimas adalah penguasa tertinggi di
Kadipaten ini. “
Kangjeng Adipati menarik nafas panjang Namun kemudian iapun berkata “ Baiklah, kangmbok. Apa yang kangmbok inginkan sudah kami ketahui. Karena itu, biarlah kami membicarakannya. Pada saatnya kami akan memberitahukan kepada kangmbok keputusan yang kami ambil. “
Raden Ayu Prawirayuda menundukkan wajahnya. Sekali-sekali tangannya masih mengusap matanya yang basah. Namun kemudian Raden Ayu Prawirayuda itupun mohon diri.
“ Aku akan memberitahukan kepada kangmbok secepatnya. “
“ Terima kasih, dimas. Hamba menunggu. Siang dan malam hamba berdoa, semoga kangmas Tumenggung Rek-sayuda segera diperkenankan pulang. “
Raden Ayu Reksayuda itupun kemudian, meninggalkan pertemuan itu. Wajahnya masih nampak muram. Matanya lembab oleh tangisnya yang tertahan-tahan. Namun yang kadang-kadang bendungan itu pecah juga, sehingga air matanya menghambur keluar.
Di ruang depan Kadipaten itu, Kangjeng Adipati, masih dihadap oleh Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki Tumengung Jayataruna.
“ Kakang Tumenggung berdua. Bagaimana menurut pertimbangan kalian tentang permohonan
kangmbok Reksayuda ? Kalian sudah mendengar sendiri. Bukan hanya permohonannya, tetapi juga tangisnya. Apakah kita dapat memaafkan kesalahan Kamas Tumenggung Wreda Reksayuda yang telah berniat untuk memberontak pada waktu itu. Meskipun pemberontakan itu belum nyata dan belum dilakukan, tetapi pemberontakan itu rasa-rasanya sudah disiapkannya”
“ Ampun Kangjeng Adipati. Jika diperkenankan, hamba akan mengutarakan pendapat hamba “ berkata Ki Tumenggung Jayataruna.
“ Katakan, kakang.”
“ Jika berkenan di hati Kangjeng Adipati, apakah sebaiknya Kangjeng Adipati menghubungi Kangjeng Adipati Jayanegara di Pucang Kembar. Bukankah Raden Tumenggung Wreda Reksayuda berada di Pucang-Kembar. Mungkin Kangjeng Adipati di Pucang Kembar dapat memberikan beberapa pertimbangan. Jika menurut pengamatan Kangjeng Adipati di Pucang Kembar, Raden Tumenggung Wreda Reksayuda bersikap baik dan tidak ada tanda-tandanya untuk melanjutkan niatnya menggeser kedudukan Kangjeng Adipati, maka permohonan Raden Ayu Reksayuda dapat dipertimbangkan. “
“ Bagaimana pendapatmu kakang Reksabawa ?“
“ Kangjeng Adipati. Menurut pendapat hamba, paugeran harus ditegakkan di Sendang Arum. Raden Tumenggung Wreda Reksayuda telah
melakukan kesalahan yang sangat berat. Raden Tumenggung telah merencanakan satu pemberontakan untuk menyingkirkan Kangjeng Adipati Wirakusuma. Bahkan tanpa alasan apa-apa selain perasaan iri, bahwa bukan Raden Tumenggung Reksayuda yang menduduki jabatan Adipati di Sendang Arum. Raden Tumenggung Reksayuda akan dapat menjadi Adipati menurut darah ketu-, runan jika eyangnya tidak meninggal dalam usia yang masih terhitung muda, sebelum sempat menggantikan kedudukan ayahnya. Adipati di Sendang Arum sehingga akhirnya Kangjeng Adipati Wirakusumalah yang sekarang memegang jabatan itu. Jika saja Raden Tumenggung Reksayuda itu mempunyai alasan yang mapan, mungkin banyak orang yang dapat mengerti, kenapa ia melakukannya meskipun ia tetap dianggap bersalah. Tetapi yang dilakukan oleh Raden Tumenggung semata-mata berpusar pada kepentingannya sendiri. “
“ Jadi, maksud kakang ? “
“ Ampun Kangjeng. Menurut pendapat hamba, perasaan iri di hati Raden Tumenggung Reksayuda itu tidak’ akan mudah hilang. Jika saja Raden Tumenggung Wreda itu mempunyai alasan tertentu, misalnya tentang ke tataprajaan atau tentang tatanan laku dagang atau tentang persoalan-persoalan mendasar lainnya, masih dapat diharapkan, bahwa perubahan-perubahan yang terjadi di Kadipaten ini akan dapat memberikan kesadaran baru bagi Kangjeng Raden
Tumenggung Wreda. Tetapi jika persoalannya adalah karena iri hati, maka akan sulit dicari jalan pemecahannya “
“ Bagaimana kesimpulan kakang ? “
“ Ampun Kangjeng. Menurut pendapat hamba, Raden Tumenggung Wreda Reksayuda harus menjalani hukumannya sesuai dengan keputusan yang sudah dijatuhkan. Lima tahun. Sedangkan hukuman itu sampai sekarang baru dijalani selama dua hampir tiga tahun. “
“ Jadi menurut kakang, kesalahan yang pernah dilakukan oleh kakangmas Tumenggung Reksayuda itu tidak dapat di maafkan ? “
“ Setelah waktu hukumannya diselesaikan. “
“ Itu namanya bukan pengampunan, bukan pemaafan atas satu kesalahan. Setelah menjalani hukuman lima tahun, maka hutang kakangmas Reksayuda terhadap Kadipaten ini sudah sah. Sudah lunas Tidak ada lagi pengampunan yang diperlukan. “
“ Kangjeng.Raden Tumenggung Reksayuda adalah masih berada dalam lingkaran keluarga Kangjeng Adipati sendiri. Apa kata orang, jika pengampunan itu Kangjeng Adipati berikan kepada keluarga Kangjeng Adipati sendiri yang terang-terangan telah melakukan kesalahan. Lalu bagaimana pula dengan beberapa orang yang mendukungnya, sehingga harus menjalani hukuman pula. Apakah mereka semua juga harus
mendapatkan pengampunan ? Jika tidak, maka apakah hanya kerabat Kangjeng Adipati sendiri yang dapat diampuni kesalahannya ? Karena itu, Kangjeng, menurut pendapat hamba, keputusan yang sudah ditetapkan harus ditegakkan.”
“ Kakang “ tiba-tiba saja Ki Tumenggung Jayataruna menyela keputusan berdasarkan paugeran itu bukan kata-kata mati. Bukankah kangjeng Adipati mempunyai kebijaksanaan yang dapat ditrapkan untuk menentukan keputusan baru ?”
“ Apakah yang adi maksud dengan kebijaksanaan ? Kebijaksanaan seharusnya bukan berarti satu cara untuk menghindari paugeran yang seharusnya berlaku. Kebijaksanaan bukan cara untuk menembus celah-celah tatanan yang sudah ditetapkan. Memang banyak orang yang mengartikan bahwa kebijaksanaan itu adalah keputusan-keputusan yang diambil untuk melawan paugeran dan tatanan yang berlaku. Atau bahkan mempergunakan celah-celah paugeran untuk memutihkan tindakan-tindakan yang sebenarnya keliru.”
“ Itu sudah terlalu jauh kakang. Tetapi agaknya kakang tidak percaya kepada kebijaksanaan yang dapat diambil oleh Kangjeng Adipati.”
“ Tidak. Sama sekali tidak. Tetapi aku tidak sependapat dengan jalan pikiranmu adi.”
“ Cukup. Aku memang belum mengambil
keputusan, apakah aku akan memaafkan kakang m as Tumengung Wreda Reksayuda atau tidak. Tetapi aku setuju untuk mengumpulkan keterangan-keterangan yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan sebelum aku mengambil keputusan. Karena itu, aku perintahkan kakang Tumenggung berdua, Tumenggung Reksabawa dan Tumenggung kakangmas Adipati Jayanegara. Kakang Tumenggung berdua aku perintahkan untuk minta pertimbangan kakangmas Adipati tentang sikap dan tingkah laku kakangmas Reksayuda selama berada di Kadipaten Pucang Kembar.”
“ Ampun Kangjeng “ sahut Ki Tumenggung Reksabawa “ apakah Kangjeng Adipati Jayanegara akan bersikap jujur ? Mungkin Kangjeng Adipati hanya ingin segera menyingkirkan Raden Tumenggung Reksayuda dari daerahnya, agar Raden Tumenggung itu tidak mengotori Kadipaten Pucang Kembar.”
“ Kenapa kau tidak percaya kepada semua orang, kakang ?” justru Ki Tumenggung Jayatarunalah yang bertanya.
“ Bukan begitu adi Tumenggung. Tetapi aku hanya memberikan pertimbangan-pertimbangan.”
“ Sudah cukup “ potong Kangjeng Adipati “ aku perintahkan kakang berdua esok pagi pergi ke Kadipaten Pucang Kembar. Mungkin kakang berdua harus bermalam di Pucang Kembar, karena selain perjalanan yang panjang, belum tentu kakangmas
Adipati di Pucang Kembar dapat langsung menerima kalian.”
“ Hamba Kangjeng “ jawab keduanya hampir berbareng.
“ Sekarang aku perkenankan kalian meninggalkan tempat ini.”
Kedua orang Tumenggung itupun kemudian mohon diri. Mereka harus bersiap-siap, karena esok pagi mereka akan menempuh perjalanan jauh.
Ketika keduanya keluar dari gerbang dalem kadipaten, keduanya tidak banyak berbicara. Baru ketika keduanya akan berpisah, Ki Tumenggung Jayatarunapun bertanya “ Besok pagi-pagi kita bertemu dimana kakang “
“ Menjelang keberangkatan kita ke Pucang Kembar ?”
“ Ya.”
“ Bagaimana jika adi Jayataruna singgah di rumahku?”
Ki Tumenggung Jayataruna termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab “ Baik, kakang. Besok pagi-pagi, sebelum matahari terbit, aku sudah akan berada di rumah kakang.”
“ Aku akan siap sebelum matahari terbit” Keduanyapun kemudian berpisah. Ki Tumenggung Jayataruna berbelok ke kiri, sementara Ki Tumenggung Reksabawa mengambil jalan yang
lurus.
Demikian keduanya berpisah, maka keduanya menjadi semakin dalam tenggelam kedaiam angan-angan mereka masing-masing. Bagi Ki Tumenggung Reksabawa, maka Raden
Tumenggung Wreda Reksayuda tidak sepantasnya di ampuni. Hanya berdasarkan atas perasaan iri, maka Raden Tumenggung Reksayuda telah mempersiapkan satu pemberontakan untuk menyingkirkan Kangjeng Adipati Wirakusuma. Mungkin, dalam pembuangan, terbersit penyesalan dan bahkan berjanji kepada diri sendiri untuk melupakan perasaan iri hati itu. Tetapi jika Raden Tumenggung Wreda itu sudah berada di rumahnya, maka perasaan iri itu akan dapat terungkit lagi.
“ Raden Tumenggung Reksayuda adalah seorang yang keras hati. Ia seorang prajurit yang baik, yang mumpuni dan di Segani oleh banyak orang. Meskipun Raden Tumenggung itu sudah menjadi semakin tua, namun ia masih akan dapat bangkit lagi untuk memimpin sebuah pemberontakan. Raden Tumenggung itu dapat saja mencari kelemahan-kelemahan yang terdapat didalam diri Kangjeng Adipati Wirakusuma. Sebagai manusia biasa, memang cukup banyak kekurangan dan kelemahan Kangjeng Adipati “ berkata Ki Tumenggung Reksabawa didalam hatinya.
Ki Tumenggung Reksabawa menarik nafas panjang.
Sementara itu, Ki Tumenggung Jayataruna yang mengambil jalan lain, telah berangan-angan pula disepanjang jalan pulang. Yang nampak jelas di angan-angannya justru bukan Raden Tumenggung Reksayuda yang sedang dipersoalkannya dengan Ki Tumenggung Reksabawa. Tetapi yang nampak jelas di angan-angannya adalah justru wajah Raden Ayu Reksayuda yang dimatanya nampak sangat cantik. Apalagi jika Raden Ayu Reksayuda itu tersenyum kepadanya.
– Gila – desisnya – kenapa perempuan secantik itu harus menikah dengan Raden Tumenggung Reksayuda yang sudah tua ?-
– Ki Tumenggung Jayataruna menarik nafas panjang.
Namun kadang-kadang Ki Tumenggung Jayataruna itu tersenyum sendiri.
Dalam pada itu, sepeninggal Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki Tumenggung Jayataruna, Kangjeng Adipati Wirakusuma telah masuk ke ruang dalam. Ketika tercium olehnya bau malam yang dipanasi, maka Kangjeng Adipati itu telah pergi ke serambi.
Dipintu Kangjeng Adipati itu berdiri termangu-mangu. Ia melihat puterinya membatik dengan asyiknya.
Embannya yang juga membatik sehelai selendang untuk sekedar menemani Raden Ajeng Ririswari, melihat kehadiran Kangjeng Adipati. Karena itu, maka diletakannya cantingnya Kemudian emban itupun menyembah dengan hormatnya.
Raden Ajeng Ririswari yang melihat embannya menyembah, segera berpaling. Ketika dilihatnya ayahnya berdiri di pintu, maka Ririswari itupun menyembah pula. Kemudian gadis itu bangkit berdiri sambil berkata ”Ayahanda. Aku akan menyelesaikan batik parang itu. Kelak aku ingin mempersembahkannya kepada ayahanda. Meskipun barangkali batikanku tidak terlalu halus, namun aku akan mohon sekali waktu ayahanda mengenakannya. Tentu saja tidak dalam pertemuan yang besar dan resmi. Tetapi mungkin pada saat-saat bibi Reksayuda menghadap.”
” Bibimu ?”
” Ya. Bukankah sekarang bibi sering menghadap ? Dengan tingkahnya yang dibuat-buat serta senyumnya yang berhamburan.”
” Ah, kau Riris. Bibimu datang untuk mohon keringanan hukuman bagi uwakmu, kakangmas Tumenggung Wreda Rek-sayuda.”
” Apakah ia berbuat dengan jujur, ayahanda ?”
” Jangan berprasangka, Riris. Sekarang lanjutkan saja kerjamu. Aku akan menungguimu disini. Aku senang melihat kau mulai membatik lagi.”
“ Ibunda yang mulai dengan beberapa coretan pada kain itu. Ibunda memang minta aku menyelesaikannya.-
“ Kau akan menyelesaikannya, Riris. ”
“ Ayah benar akan menunggui aku disini ?”
“ Ya. Aku akan duduk di sebelahmu ”
“ Baik. Aku mohon ayahanda duduk disitu selama aku masih duduk membatik.”
Kangjeng Adipati tertawa.
Namun Kangjeng Adipati duduk pula menunggui Raden Ajeng Ririswari untuk beberapa lama.
Dalam pada itu, dikeesokan harinya, sebelum matahari terbit, Ki Tumenggung Jayataruna seperti yang direncanakan sudah berada di rumah Ki Tumenggung Reksabawa. Ki Tumenggung Reksabawapun telah siap pula untuk berangkat.
Namun Ki Tumenggung Reksabawa masih sempat mem-persilahkan Ki Tumenggung Jayataruna untuk duduk sejenak di pringgitan.
“ Minum minuman hangat dahulu, adi Tumenggung Jayataruna. “
“ Terima kasih kakang. Baru saja aku minum
dan bahkan makan pagi sebelum berangkat. “
“ Kalau begitu, kita dapat berangkat sekarang. “
“ Mari kakang. Mumpung masih pagi. “
Ki Tumenggung Reksabawapun kemudian minta diri kepada Nyi Tumenggung yang mengantarnya sampai di tangga pendapa. “
“ Tidak duduk dahulu, adi Tumenggung ? “ bertanya Nyi Tumenggung kepada Ki Tumenggung Jayataruna.
“ Terima kasih, Nyi. Kami akan menempuh jarak yang panjang. Mumpung masih pagi. “
Keduanyapun kemudian meninggalkan regol halaman rumah Ki Tumenggung Reksabawa. Kuda merekapun segera berlari kencang selagi jalan masih belum terlalu ramai. Meskipun demikian, satu dua orang telah berada di jalan menuju ke pasar.
Namun mereka telah memadamkan obor blarak yang mereka bawa, karena langit mulai terang meskipun matahari belum terbit.
Kedua orang Tumenggung itupun memacu kuda mereka melintasi bulak-bulak panjang di pagi hari yang dingin. Embun masih menitik dari ujung dedaunan yang tumelung ke atas jalan yang mereka lalui.
Dikejauhan terdengar kicau burung liar yang bangkit dari tidurnya ketika langit menjadi
kemerah-merahan.
Tidak banyak yang dipercakapkan kedua orang Tumenggung itu disepanjang jalan. Mereka menyadari, bahwa ada perbedaan pendapat diantara mereka tentang kemungkinan pengampunan terhadapr Raden Tumenggung Wreda Reksayuda.
Karena itu, maka jika keduanya berbicara diantara mereka, maka yang mereka bicarakan adalah persoalan-persoalan yang lain, yang tidak menyangkut kemungkinan pengampunan Raden Tumenggung Wreda Reksayuda
Ketika kemudian matahari terbit, mereka sudah berada agak jauh dari kadipaten. Mereka tidak saja melintasi bulak-bulak panjang, tetapi mereka juga menerobos padukuhan-padukuhan besar dan kecil. Melewati padang-padang rumput dan padang perdu di pingir hutan yang lebat.
Matahari yang semakin tinggi sinarnya mulai menggigit kulit Semakin lama sinarnya terasa menjadi semakin terik, sehingga keringat merekapun mulai membasahi pakaian mereka.
“ Kuda-kuda kita mulai letih, kakang “ berkata Ki Tumenggung Jayataruna.
“ Ya, adi. Aku merasakannya. “
“ Bukan hanya kuda-kuda kita. “
Ki Tumenggung Reksabawa tertawa. Katanya “ Kita juga mulai merasa haus.”
Keduanyapun kemudian sepakat, untuk berhenti di sebuah kedai yang terhitung besar dan ramai di kunjungi orang, dekat sebuah pasar yang nampaknya sedang pasaran, sehingga orang-orang yang berjualan agaknya tidak termuat lagi didalam pasar. Jalan di depan pasarpun menjadi sempit, karena orang-orang yang berjualan di sebelah menyebelah jalan.
Sejenak kemudian, keduanya telah berada didalam kedai itu. Kepada seorang yang bertugas, kedua orang Tumenggung itu menyerahkan kuda mereka untuk diberi minum dan makan secukupnya.
“ Pasar itu masih saja ramai di tengah hari “ desis Ki Tumenggung Reksabawa.
“ Hari ini hari Soma Mancawarna, Ki Sanak “ berkata pelayan yang siap melayani mereka, berdua.
“ Hari pasaran ? “
“ Ya. Pasar ini adalah pasar yang teramai diantara beberapa pasar yang ada di sekitar tempat ini. –
“ Pasar ini pasar apa namanya, Ki Sanak. “
“ Pasar Patalan. Karena pasar itu berada di kadem angan Patalan. “
“ O. “ Ki Tumenggung Reksabawa mengangguk-angguk . .
“ Bukankah kita tidak untuk pertama kalinya melewati pasar ini, kakang ? “
“ Ya. Tetapi aku baru tahu sekarang namanya. Pasar Patalan karena pasar ini berada di kademangan Patalan. “
Keduanyapun kemudian memesan makanan dan minuman sambil memberi kesempatan kuda-kuda mereka beristirahat.
Diluar pengetahuan mereka, ampat orang yang juga di-dalam kedai itu telah memperhatikan keduanya. Menilik makanan yang dipesan, sikap serta pakaian mereka, juga kuda-kuda mereka serta kelengkapannya, keduanya adalah orang yang berada. Dihari-hari pasaran, kadang-kadang memang ada orang yang sengaja memperhatikan orang-orang yang hilir mudik di pasar itu. Mereka memperhatikan orang-orang yang dianggapnya memiliki uang atau barang-barang yang berharga. Saudagar-saudagar kaya atau orang-orang yang membawa banyak uang setelah menjual barang-barang berharga mereka.
Tetapi kadang-kadang saudagar-saudagar kaya tidak hanya sendiri atau dua orang tiga orang pergi ke pasar. Tetapi kadang-kadang mereka membawa beberapa orang upahan untuk melindungi mereka jika mereka harus berhadapan dengan para penjahat
Meskipun demikian, kadang-kadang ada juga orang yang sombong atau lengah, sehingga akan
dapat menjadimangsa orang-orang yang berlaku jahat.
Agaknya kedua orang berkuda itu tidak mengetahuinya. Mereka hanya datang berdua saja.
Ketika pelayan kedai itu menyerahkan pesanan mereka, pelayan itu bertanya perlahan-lahan “ Ki Sanak berdua belum pernah pergi ke pasar ini ?”
“ Kami pernah lewat jajan ini. “jawab Ki Tumenggung Jayataruna.
“ Apakah Ki Sanak tadi juga pergi ke pasar Patalan ?”
“ Tidak. Kami hanya lewat. Kebetulan saja pasar ini ramai sekali karena hari ini adalah hari pasaran. Bukankah biasanya setelah tengah hari pasar menjadi semakin sepi.”
“ Ya, Ki Sanak. Orang-orang dan saudagar-saudagar dari jauh hari ini berdatangan. Mereka menjual bermacammacam barang, tetapi ada juga mereka yang membeli berbagai macam barang untuk dijual kembali.”
“ Tengkulak ?”
“ Ya.”
Ki Tumenggung Jayataruna mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja pelayan itu berbisik “ Hati-hati dengan empat orang yang duduk di sebelah tiang itu, Ki Sanak.”
Kedua orang Tumenggung itu berdesis hampir
berbareng “ Kenapa ?”
“ Mereka sering melakukan kejahatan. Tetapi jangan berpaling sekarang.”
“ Terima kasih atas keteranganmu Ki Sanak.” Pelayan itupun kemudian berkata lebih keras “
Sebaiknya Ki Sanak berdua singgah di pasar itu untuk melihat-lihat.”
“ Kami agak tergesa-gesa “ jawab Ki Tumenggung Jayataruna.
Ketika pelayan itu pergi, Ki Tumenggung Jayatarunapun berdesis “ Mudah-mudahan mereka tidak mengganggu perjalanan kita.”
“ Agaknya kita akan luput dari perhatian mereka. Yang mereka perhatikan adalah para pedagang besar di pasar itu. Para saudagar atau orang-orang yang baru saja menjual barang-barang yang berharaga di pasar yang sedang pasaran itu.”
“ Darimana mereka tahu, sedangkan mereka duduk-duduk saja disitu ?”
“ Tentu ada orang lain yang mengamati para pedagang dan orang-orang yang agaknya dapat mereka jadikan korban mereka dipasar itu.”
Ki Tumenggung Jayataruna tertawa. Ia sedang mentertawakan pertanyaannya sendiri.
Namun kedua orang Tumenggung itu sama sekali tidak menjadi gelisah. Mereka makan dan
minum dengan tenang sambil beristirahat serta memberi kesempatan kuda-kuda mereka beristirahat pula.
Tanpa menarik perhatian, keduanya sempat melihat ampat orang yang disebut oleh pelayan kedai itu. Empat orang yang nampaknya memang garang. Wajah mereka nampak gelap. Pakaian mereka dan cara duduk mereka yang nampaknya tanpa dilambari unggah-ungguh justru karena mereka berada diantara banyak orang.
Nampaknya pemilik kedai dan pelayan-pelayannya merasa tidak senang akan kehadiran keempat orang itu. Tetapi mereka tidak dapat mengusirnya karena keempat orang itu tidak berbuat apa-apa di kedai mereka.
Beberapa saat kemudian, kedua orang Tumenggung itu melihat dua orang memasuki kedai itu langsung menuju ke tempat keempat orang yang berwajah gelap itu duduk.
Dengan hati-hati Ki Tumenggung Reksabawa memperhatikan kedua orang yang baru masuk itu.
“ Aku tidak mendapat kesempatan untuk melihat apa yang mereka lakukan “ desis Ki Tumenggung Jayataruna yang kebetulan duduk menyamping. Jika ia terlalu sering berpaling, maka keempat orang itu tentu akan semakin memperhatikannya pula.
“ Keduanya menggeleng-gelangkan kepala mereka “ desis Ki Tumenggung Reksabawa.
“ Mungkin mereka tidak menemukan orang yang dapat mereka jadikan korban di pasar itu.”
“ Mereka tentu akan mencari korban disini “
“ Apakah kita kelihatan seperti saudagar yang kaya yang yang membawa banyak uang ?”
Pembicaraan mereka terhenti lagi. Mereka melihat dua orang yang nampaknya orang-orang berada ditilik dari sikap dan pakaian mereka. Namun mereka datang bersama ampat orang yang lain, yang menuntun kuda. Selain kuda mereka masing-masing, mereka juga menuntun dua ekor kuda yang agak|nya milik dua orang yang masuk terdahulu.
Tiba-tiba saja Ki Tumenggung Jayataruna memberi isyarat kepada pelayan kedai itu untuk datang kepadanya.
Demikian pelayan itu datang, maka Ki Tumenggung Jayataruna telah memesan dua mangkuk minuman. Dawet cendol.
“ Aku… “
Tetapi Ki Tumenggung Jayataruna memutus kata-kata Ki Tumenggung Reksabawa perlahan-lahan “ Aku memerlukan keterangannya. “
Ki Tumenggung Reksabawa mengangguk-angguk sambil tersenyum.
Ketika pelayan itu datang sambil membawa pesannya, Ki Tumenggung Jayataruna sempat
bertanya “ Siapa yang baru datang bersama beberapa orang itu? “
“ Ki Sudagar. Pedagang perhiasan emas berlian. Setiap hari pasaran ia tentu datang untuk menjual dan membeli perhiasan-perhiasan.”
“ Apakah orang itu tidak tahu, bahwa ada empat orang penjahat disini? “
“ Mereka sudah saling mengenal. Penjahat manapun tidak akan mengganggunya. Keduanya berilmu tinggi serta selalu dikawal oleh orang-orang upahan yang juga berilmu tinggi.”
Ketika pelayan itu kemudian pergi, maka Ki Tumenggung Reksabawapun berkata “ Nampaknya mereka memperhatikan kita. Jika tidak ada sasaran yang lain, agaknya kita mendapat perhatian mereka. “
“ Jika demikian, maka kita dapat berbangga, bahwa penampilan kita mirip orang kaya “ sahut Ki Tumenggung Jayataruna sambil tertawa.
Ki Tumenggung Reksabawapun tertawa pula. Di kedai itu mereka sempat melupakan perbedaan pendapat mereka tentang Raden Tumenggung Wreda Reksayuda.
Beberapa saat kemudian, maka Ki Tumenggung Reksabawapun berkata “ Marilah kita meneruskan perjalanan. “
“ Bagaimana dengan Ki Sudagar? “ Ki Tumenggung Jayataruna justru bertanya.
“ Nampaknya keduanya memang sudah mengenal keempat orang itu. Mereka saling mengangguk. Bahkan seorang pengawal Ki Sudagar itu mengangkat tangannya sampai ketelinganya. “
Ki Tumenggung Jayataruna itupun kemudian beringsut sambil bangkit berdiri “ Marilah, kita meneruskan perjalanan. “
“ Dawet cendol ini sudah terlanjur di pesan. “
“ He? “ ternyata Ki Tumenggung Jayataruna duduk kembali. Keduanya masih menghirup dawet cendol yang mereka pesan, meskipun mereka tidak menghabiskannya.
Ki Tumenggung Reksabawalah yang kemudian membayar harga makanan dan minuman mereka. Sambil tersenyum Ki Tumenggung Reksabawa berdesis “ Aku tidak berniat menyuap adi, agar adi menyesuaikankan diri dengan sikapku. “
Ki Tumenggung Jayataruna itu justru tertawa. Keduanyapun kemudian meninggalkan kedai itu setelah minta diri kepada pelayan dan pemiliknya.
“ Bagaimana dengan kuda-kuda kami? “ bertanya Ki Tumenggung Jayataruna kepada pemilik kedai itu.
“ Silahkan memberi upah langsung kepada anak yang memberi minum dan makan kuda-kuda Ki Sanak itu. “
Demikianlah, setelah memberikan upah kepada
erlari
ke
g Reksabawa
be
gerutkan
da a “ Itu satu penghinaan. “
ikian mereka tidak menghargai
pe
“ Maksud adi? “
anak muda yang merawat kuda-kuda mereka selama beristirahat serta memberikan minum dan makan itu, maka keduanyapun segera meninggalkan kedai itu.
Mereka tidak dapat melarikan kuda mereka, karena jalan yang terlalu ramai di depan pasar, meskipun matahari sudah melewati puncak langit.
Namun setelah mereka meninggalkan keriuhan jalan di depan pasar itu, maka kuda itupun segera b
ncang. Demikian mereka memasuki bulak panjang didepan mereka, Ki Tumenggun
rpaling.
“ Mereka tidak mengejar kita. “ Ki Tumenggung Jayataruna itu men
hinya. Katany
“ Kenapa? “ “ Dengan dem
nampilan kita.”
“ Mereka menganggap bahwa kita bukan orang kaya atau orang yang membawa banyak uang. “
Ki Tumenggung Reksabawa tertawa. Namun Ki Tumenggung Jayatarunapun tertawa pula.
Kuda-kuda merekapun berlari semakin kencang di tengah bulak yang sepi.
Namun tiba-tiba keduanya terkejut. Beberapa puluh patok dihadapan mereka, disebuah simpang ampat di tengah-tengah bulak itu, nampak beberapa orang berdiri sambil memegangi kuda-kuda mereka.
“ Edan “ geram Ki Tumenggung Reksabawa “ ternyata mereka menghadang kita. Agaknya mereka memotong melalui jalan pintas. “
“ Apakah mereka yang tadi berada di kedai itu?“
“ Agaknya demikian. “
“.Nah, itu baru sikap yang wajar. “
“ Apa yang wajar? “
“ Penilaian yang tepat. Mereka memang sepatutnya menghargai penampilan kita yang lebih bergaya dari orang-orang lain di kedai itu. Sehingga kita pantas untuk dianggap orang kaya dan memiliki barang-barang berharga yang.pantas dirampok di perjalanan. “
“ Pendirian kita memang banyak yang berbeda, adi. “
“ Menurut kakang ? “
“ Aku lebih senang dianggap tidak mempunyai uang dan benda-benda berharga, tetapi yang sebenarnya aku adalah orang yang kaya raya, daripada sebaliknya. “
Ki Tumenggung Jayataruna tertawa. Katanya “ Ya. Jalan pikiran kita memang berkebalikan. “
“ Tetapi iapapun kita berdua, nampaknya kita memang akan kehilangan banyak waktu. “
Ki Tumenggung Jayataruna mengerutkan dahinya. Katanya” Ya. Itulah yang membuat aku menyesal. Kita akan banyak kehilangan waktu. “
Yang kemudian berdiri di simpang ampat itu ternyata tidak hanya ampat orang. Tetapi dua orang yang menyusul masuk kedalam kedai itupun ada bersama mereka pula “
“ Berhenti, Ki Sanak “ berkata seorang yang bertubuh tinggi tegap, berwajah gelap dan bahkan nampak bekas segores luka di keningnya.
Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki Tumenggung Jayatarunapun berhenti pula. Bahkan tiba-tiba saja Ki Tumenggung Jayataruna telah meloncat turun dari kudanya dan langsung mengikat kudanya pada sebatang pohon turi di pinggir jalan.
Dengan demikian, maka Ki Tumenggung Reksabawapun segera meloncat turun pula serta mengikat kudanya disebelah kuda Ki Tumenggung Jayataruna.
Keenam orang yang menghentikan kedua orang Tumenggung itu justru termangu-mangu sejenak melihat sikap Ki Tumenggung Jayataruna.
Baru kemudian orang bertubuh tinggi tegap dengan baju yang terbuka didadanya, sehingga nampak bulu-bulu yang lebat tumbuh didadanya itu bertanya “ Siapakah kalian berdua yang sudah berani melewati daerah kuasa kami tanpa ijin kami ? “
“ Kalian’tidak usah berbicara melingkar-lingkar. Kalian tidak usah berbicara tentang daerah kuasa kalian, karena semuanya itu hanyalah omong kosong. Bahkan seperti celoteh badut-badut yang berusaha mengungkit tawa penontonnya. Katakan saja bahkan kalian adalah sekelompok penyamun. Nah, kebetulan. Kami adalah pedagang-pedagang perhiasan, emas, intan, berlian, batu-batu bertuah dan wesi aji yang nilainya beratus-ratus keping emas. Kami juga sudah membawa uang hasil penjualan perhiasan-perhiasan dan wesi aji di pasar Patalan dan di tempat lengganan-lengganan kami. Kami membawa uang banyak sekali serta sisa perhiasan yang masih ada beberapa kotak kecil. Nah, katakan bahwa kalian akan merampok semuanya itu. “
“ Anak iblis “ geram pemimpin perampok yang berutuh raksasa itu “ siapakah sebenarya kalian.”
“ Sudah aku katakan. Aku mempunyai apa saja yang paling pantas di rampok. Termasuk kuda-kuda kami “
Para perampok itu justru termangu-mangu. Bahkan ada diantara mereka yang menjadi ragu-ragu untuk berurusan dengan kedua orang itu.
Dalam pada itu, Ki Tumenggung Reksabawapun berkata “ Ki Sanak. Kami berdua tergesa-gesa. Karena itu, jangan ganggu perjalanan kami. Minggirlah. Kami akan lewat. Sebaiknya kita tidak saling mengganggu. “
“ Persetan dengan kalian berdua. Kami memang tidak berminat lagi untuk merampok kalian, karena aku yakin, kalian tidak mempunyai apa-apa. Kalian hanyalah orang-orang yang berlagak dengan pakaian dan kelengkapan kuda yang baik. Tetapi semua itu hanya sekedar untuk menutupi kekurangan kalian. Mungkin kalian telah mencari pinjaman pakaian dan kuda beserta kelengkapannya. Atau bahkan kalian telah mencuri kuda-kuda itu di tengah perjalanan kalian. “
“ Kalian telah menyinggung perasaan kami “ geram Ki Tumenggung Jayataruna “ kalian harus merampok kami. Setidak-tidaknya kalian menginginkan kuda:kuda kami. Atau pendok kerisku yang terbuat dari emas ini. “
“ Aku tidak percaya bahwa pendok kerismu dan barangkali timangmu itu terbuat dari emas. Aku yakin, bahwa semua itu hanya dilapisi dengan emas yang sangat tipis di luarnya. “
“ Kau telah merendahkan kami, saudagar terkaya di daerah kami. Jangan banyak bicara.
Kalian harus langsung ke persoalannya. Merampok kami berdua. “
“ Kenapa kalian menginginkan kami merampok kalian ?”
“ Kami mempunyai alasan untuk membunuh kalian berenam. “
Pemimpin perampok yang bertubuh raksasa itu menggeretakkan giginya. Dipandanginya Ki Tumenggung Jayataruna dengan mata yang bagaikan membara oleh kemarahan yang membakar jantungya.
“ Kau sangat memuakkan Ki Sanak. Aku telah kehilangan seleraku untuk merampok kalian berdua. Tetapi sekarang yang timbul adalah nafsuku untuk membunuh kalian. “
“ Bagus “ sahut Ki Tumenggung Jayataruna “ niatmu untuk membunuh kami, dapat kami jadikan alasan untuk membunuh kalian, karena kami sekedar berusaha melindungi diri sendiri.”
Pemimpin sekelompok penyamun itupun segera memberi isyarat kepada kawan-kawannya yang segera mengikat kuda-kuda mereka pada batang-batang pohon yang ada di pinggir jalan itu.
“ Kita akan bertempur apapun alasan kalian “ berkata Ki Tumenggung Jayataruna.
Ki Tumenggung Reksabawa menarik nafas panjang. Ia memang tidak akan dapat mengelak dari pertempuran yang bakal terjadi. Tetapi ia tidak
setuju dengan sikap Ki Tumenggung Jayataruna yang sengaja memancing pertempuran.
“ Marilah kakang “ berkata Ki Tumenggung Jayataruna “ orang-orang seperti ini memang harus di hapuskan dari tanah tercinta ini.”
“ Sebelum kalian mati, sekali lagi aku bertanya, siapakah kalian berdua ini.”
“ Siapapun kami, kalian tidak perlu tahu. Apalagi sebentar lagi kalian akan mati, sehingga tidak ada gunanya kalian mengenal nama-nama kami.”
“ Setan alas “ geram orang bertubuh raksasa itu “ bunuh mereka berdua.”
“ Perintah yang manis. Tetapi perintah itu berlaku juga bagi kami berdua untuk membunuh kalian.”
Kata-kata Ki Tumenggung Jayataruna terputus. Seorang diantara para penyamun itu telah meloncat menyerangnya.
Tetapi Ki Tumenggung yang sudah bersiap sepenuhnya, itu masih sempat mengelak. Bahkan sambil melenting, kakinya terayun mendatar menyambar dagu orang itu.
Orang itu terlempar beberapa langkah dan jatuh berguling. Namun dengan tangkasnya orang itupun segera meloncat bangkit.
Tetapi Ki Tumenggung Jayataruna tidak sempat memburunya. Orang yang bertubuh raksasa itu
telah menyerangnya pula.
Sementara itu, para penyamun yang lainpun telah berloncatan pula. Ki Tumenggung Reksabawa harus menghadapi tiga orang diantara mereka, sedangkan Ki Tumenggung Jay-atarunapun bertempur melawan tiga orang pula.
Sejenak kemudian, di simpang ampat bulak panjang yang sepi itu telah terjadi pertempuran yang sengit. Dua orang Senapati bertempur menghadapi enam orang penyamun yang bengis.
Beberapa saat kemudian, para penyamun itu telah menarik senjata-senjata mereka. Pedang, parang, golok dan kapak. Sedangkan untuk melawan senjata-senjata yang berbahaya itu, kedua orang Tumenggung itupun telah menarik pedang mereka. Bahkan Ki Tumenggung Jayataruna telah menggenggam pedang di tangan kanan, dan keris di tangan kiri.
Semakin lama pertarungan itupun menjadi semakin sengit. Para penyamun itu telah mengerahkan kemampuan mereka. Meskipun pemimpin mereka mengatakan, bahwa ia tidak lagi berselera untuk merampok, tetapi apa yang dimiliki oleh kedua orang itu tetap menarik perhatian para penyamun. Setidak-tidaknya mereka akan mendapatkan dua ekor kuda yang baik.
Karena itu, para penyamun itupun telah berusaha untuk benar-benar membunuh kedua orang yang lewat itu. Bahkan pemimpin mereka
yang bertubuh raksasa itu, telah berniat untuk dengan cepat menghentikan perlawanan orang yang dianggapnya sangat memuakkan itu.
Namun ternyata kedua orang itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Bahkan para penyamun itupun kemudian mulai merasakan kesulitan menghadapi ilmu pedang lawan-lawan mereka.
Ki Tumenggung Jayataruna bertempur bagaikan angin pusaran. Tubuhnya seakan-akan tidak menyentuh tanah, berloncatan, berputaran dengan gerak yang menghentak-hentak.
Bahkan tiba-tiba saja seorang diantara ketiga lawannya itu berteriak sambil mengumpat. Ujung pedang Ki Tumenggung Jayataruna itu telah menyentuh bahu kirinya, sehingga di bahunya itu telah menganga luka yang memanjang.
Namun orang itu tidak ingin menghindar dari arena. Meskipun darah telah mengalir dari lukanya, namun orang itupun segera bergeser kembali mendekati Ki Tumenggung Jayataruna.
Tetapi sebelum orang itu memasuki lingkaran pertempuran, seorang lagi kawannya meloncat surut untuk mengambil jarak. Ternyata orang itu telah terluka pula di lengannya. Sebuah goresan telah mengoyak lengannya itu. Bukan ujung pedang Ki Tumenggung. Tetapi keris di tangan Ki Tumenggung itulah yang menggores lengan.
Orang yang bertubuh raksasa itu menggeram. Kapak di tangannya terayun-terayun mengerikan.
Tetapi jantung Ki Tumenggung Jayataruna sama sekali tidak tergetar oleh ayunan kapak lawannya. Bahkan Ki Tumenggung Jayataruna telah menangkis ayunan kapak itu dengan pedangnya.
Ketika benturan terjadi, terasa getar yang kuat menggoyahkan genggaman tangan raksasa itu, sehingga dengan serta-merta orang itu meloncat surut.
Tangan pemimpin penyamun itu merasa pedih. Benturan itu mengisyaratkan, bahwa lawannya memiliki tenaga yang sangat besar. Meskipun tubuh orang itu tidak sebesar tubuhnya sendiri, namun agaknya tenaga dalam orang itu sangat tinggi.
Dengan demikian, maka pemimpin penyamun itu menjadi lebih berhati-hati. Apalagi kedua orang kawannya telah ter-luka.
Namun ketika Ki Tumenggung Jayataruna mulai melibatnya dalam pertempuran, maka pemimpin penyamun itu menjadi kebingungan. Dua orang kawannya yang telah terluka, tidak terlalu banyak dapat berbuat. Bahkan tiba-tiba saja seorang diantara mereka terpelanting. Luka telah menganga di dadanya.
Ketika orang itu jatuh terlentang di tanah, maka ia tidak lagi bergerak. Darah telah tertumpah dari lukanya.
Ki Tumenggung Jayataruna tertawa. Sementara itu kedua orang lawannya mulai menjadi ragu-ragu.
Namun Ki Tumenggung tidak membiarkan mereka. Serangan-serangannya telah datang lagi membadai.
Ketika pemimpin penyamun itu mengayunkan kapaknya dengan sekuat tenaga mengarah ke leher Ki Tumenggung, Ki Tumenggung sama sekali tidak berusaha menghindar. Tetapi dengan sepenuh tenaga pula Ki Tumenggung Jayataruna telah membentur kapak orang itu.
Benturanpun telah terjadi dengan kerasnya. Ternyata bahwa tenaga Ki Tumenggung yang dilambari dengan tenaga dalamnya, jauh lebih besar dari tenaga pemimpin penyamun itu. Sehingga dalam benturan itu, pemimpin penyamun itu tidak mampu menahan kapaknya, sehingga kapak itu tetali terlempar dari tanganya.
Tetapi pemimpin penyamun itu tidak sempat memungut senjatanya. Ki .Tumenggung Jayataruna telah menjulurkan keris di tangan kirinya.
“ Cukup, adi “ terdengar Ki Tumenggung Reksabawa berteriak.
Tetapi Ki Tumenggung Jayataruna tidak menghiraukannya. Ujung kerisnya itu kemudian menghunjam di dada pemimpin penyamun itu mengoyak jantungnya.
“ Adi Tumenggung “ terdengar suara Ki Tumenggung Reksabawa yang bergetar.
Tetapi suara itu hilang di telan suara tertawa Ki
Tumenggung Jayataruna.
“ Kau bunuh lawan-lawanmu, di ? “
“ Mereka pantas mati, kakang “ jawab Ki Tumenggung Jayataruna yang menjadi justru bertanya “ Bagaimana dengan lawan-lawan kakang ? “
“ Mereka sudah tidak berdaya. Tetapi aku tidak merasa perlu untuk membunuh mereka. “
Ki Tumenggung Jayataruna masih tertawa. Katanya
“ Kakang adalah seorang Tumenggung yang terlalu baik hati. “
“ Biarlah mereka mengabarkan kepada kawan-kawan mereka, bahwa tidak selamanya orang-orang yang lewat itu pantas untuk.mereka jadikan korban. “
“ Terserah kepada kakang. Tetapi mereka justru akan mendendam. “
“ Betapapun jahatnya seseorang, tetapi tentu terper-cik juga meskipun hanya sepeletik terang di hatinya. “
Ki Tumenggung Jayataruna itu menggeleng. Katanya
“ Tidak ada harapan untuk berubah bagi orang-orang itu. Tetapi baiklah. Marilah kita melanjutkan perjalanan. “
Ki Tumenggung Reksabawa berpaling kepada tiga orang lawannya yang sudah tidak berdaya. Dengan nada datar iapun berkata “ Ingat. Bahwa disini kau telah dikalahkan. Tetapi aku tidak membunuh kalian sekarang. Tetapi lain kali, jika kita bertemu lagi, maka tidak akan ada ampun bagi kalian. “
Ketiga orang itu tidak menjawab. Tetapi mereka masih saja berdesah menahan sakit pada luka-lukanya.
Sejenak kemudian, maka Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki Tumenggung Jayataruna itu sudah melanjutkan perjalanan mereka. Mereka memacu kuda mereka semakin kencang agar mereka segera sampai ke kadipaten F’ucang Kembar.
Tetapi waktu mereka berdua telah banyak tersita. Karena itu, maka Ki Tumenggung Jayatarunapun berkata,” Waktu kita yang hilang, masih belum seimbang dengan nyawa serigala-serigala lapar itu. “
“ Sudahlah. Bukankah dengan demikian kuda-kuda kita sempat beristirahat. “
“ Tetapi kuda-kuda kita baru saja beristirahat di kedai itu. “
Ki Tumenggung Reksabawa tersenyum. Katanya “ Kau nampaknya masih mendendam. “
“ Mereka berniat untuk membunuh kita. Benar-
benar membunuh. Kenapa kita masih harus berbaik hati ?”
“ Jika kita membunuh mereka semuanya, kita akan tertahan lebih lama lagi, karena kita harus menguburkan mereka. Tetapi jika masih ada yang hidup diantara mereka, biarlah mereka mengubur kawan-kawannya yang telah kau bunuh itu. “
Ki Tumenggung Jayataruna tidak menjawab. Tetapi sikapnya memang berbeda dengan sikap Ki Tumenggung Reksabawa. Bahkan kemudian Ki Tumenggung Jayataruna itupun bergumam “ Kali ini sikap kita juga berbeda. “
“ Bukankah tidak ada salahnya kita berbeda sikap ? Asal kita menyadarinya serta menanggapinya dengan dewasa. “
“ Ya “ Ki Tumenggung Jayataruna mengangguk-angguk.
Kedua orang berkuda itu masih saja memacu kudanya. Semakin lama semakin dalam memasuki tlatah Pucang Kembar.
Tetapi ketika mereka hampir sampai “di depan pintu gerbang Kadipaten Pucang Kembar, langit sudah menjadi suram.
“ Apakah mungkin kita menghadap Kangjeng Adipati sekarang, kakang ?”
“ Agaknya memang tidak, adi Tumenggung. Tetapi meskipun demikian, kita akan mencobanya.”
Beberapa saat kemudian, keduanya telah berhenti di depan pintu gerbang dalem kadipaten di Pucang Kembar. Ketika mereka menyampaikan niat mereka untuk menghadap Kangjeng Adipati kepada prajurit yang bertugas, maka Lurah Prajurit itupun berkata “ Kami tidak tahu, apakah Kangjeng Adipati berkenan menerima tamu pada saat seperti ini. Biarlah aku sampaikan permohonan -Ki Tumenggung berdua kepada Ki Tumenggung Prangwandawa. Narpacundaka yang bertugas saat ini.”
“ Terima kasih, Ki Lurah.”
“ Kami persilahkan Ki Tumenggung berdua menunggu.”
Lurah prajurit itupun kemudian menemui Ki Tumenggung Prangwandawa untuk menyampaikan permohonan kedua orang Tumenggung dari Sendang Arum untuk menghadap Kangjeng Adipati Jayanegara dari Pucang Kembar.
“ Dari Sendang Arum ? “ bertanya Ki Tumenggung Prangwandawa.
“ Ya, Ki Tumenggung.”
“ Baiklah. Aku akan menyampaikannya kepada Kangjeng Adipati, apakah Kangjeng Adipati dapat menerimanya sekarang atau tidak. Nampaknya Kangjeng Adipati masih ingin beristirahat bersama keluarganya.”
Ki Lurah .itupun kemudian menunggu Ki
Tumenggung Prangwandawa yang akan menyampaikan permohonan dua orang Tumenggung dari Sendang Arum untuk menghadap.
“ Apakah keperluan mereka ?” bertanya Kangjeng Adipati ketika Ki Tumenggung Prangwandawa menyampaikan permohonan itu.
“ Hamba belum sempat menemui mereka Kangjeng.”
“ Mereka baru saja datang dari Sendang Arum ?”
–Ya.”
“ Baiklah. Siapkan sebuah bilik penginapan bagi mereka. Setelah mandi dan berbenah diri, aku akan menerima mereka.”
“ Malam ini Kangjeng ?”
“ Ya. Justru untuk kawan berbincang setelah makan malam. Aku minta Ki Tumenggung Prangwandawa ikut menemui mereka.”
“ Hamba Kangjeng.”
“ Sekarang, temui mereka dan persilahkan mereka beristirahat sebentar. Bahkan untuk mandi dan berbenah diri. Dengan demikian, setelah mereka mendapatkan kesegarannya kembali, kita dapat berbincang dengan tubuh yang segar hati yang terang.”
“ Apakah Kangjeng berniat untuk makan malam
bersama para tamu dari Sendang Arum ?”
“ Tidak. Persilahkan mereka makan di geladjri. Bukan aku tidak mau makan bersama mereka, tetapi justru mereka akan merasa segan, sehingga mereka akan kehilangan selera. Ki Tumenggung Prangwandawa sajaiah menemui mereka makan malam. Setelah itu, aku akan menerima mereka di serambi.”
“ Hamba Kangjeng.”
Sejenak kemudian, maka Ki Tumenggung^ Prangwandawa itu telah menemui Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki Tumenggung Jayataruna yang menunggunya di gardu para prajurit yang bertugas, sementara seorang abdi telah menyiapkan sebuah bilik bagi mereka berdua, di gandok sebelah kanan dalem Kadipaten Pucang Kembar.
“ Silahkan kakang Tumenggung berdua beristirahat lebih dahulu. Mandi dan berbenah diri. Gandok sebelah kanan sudah dibersihkan. Bukankah kakang Tumenggung berdua akan bermalam disini,”
“ Jika diperkenankan adi Tumenggung.”
“ Tentu. Dengan demikian pertemuan kakang berdua dengan Kangjeng Adipati tidak dalam suasana yang tergesa-gesa.”
“ Terima kasih, adi.”
“ Setelah mandi dan berbenah diri, maka kakang
Tumenggung berdua akan menjadi segar kembali. Hati kakang berdua juga-akan menjadi terang;”
Demikianlah, maka Ki Tumenggung Prangwandawa itupun telah mengantarkan kedua orang tamunya ke gandok sebelah kanan. Seorang prajurit membawa kedua orang Tumenggung dari Sendang Arum itu ke belakang dan diserahkan kepada abdi yang mengurus kuda Kangjeng Adipati.
Malam itu, setelah mandi, berbenah diri dan makan bersama Ki Tumenggung Prangwandawa, Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki Tumenggung Jayataruna telah dipersilahkan pergi ke serambi.
“ Marilah, kakang. Kangjeng Adipati akan menerima kakang berdua di serambi setelah Kangjeng Adipati makan malam.”
“ Terima kasih, adi Tumenggung.”
Diantar oleh Ki Tumenggung Prangwandawa, keduanyapun kemudian telah berada di serambi. Mereka masih harus menunggu Kangjeng Adipati yang masih berada di serambi itu.
“ Silahkan duduk dahulu, kakang berdua. Aku akan menghadap Kangjeng Adipati.”
“ Silahkan adi.”
Ketika kemudian Ki Tumenggung Prangwandawa masuk ke ruang dalam untuk menyampaikan kepada Kangjeng Adipati, bahwa kedua orang tamu dari Sendang Arum sudah menunggu di serambi, maka Ki Tumenggung Reksabawapun berkata “ Adi Jayataruna. Aku minta nanti adi Jayataruna sajalah yang menyampaikan persoalannya kepada Kangjeng Adipati. “
“ Ah. Bukan begitu kakang. Bukankah kakang lebih tua dari aku. Bukan hanya umurnya, tetapi juga kedudukan kakang ? “
“ Tetapi adilah yang memahami masalahnya. Aku takut kalau apa yang aku katakan nanti, aku bumbui dengan sikap pribadiku terhadap Raden Tumenggung Reksayuda. “
“ Bagaimana sebenarnya sikap kakang terhadap Raden Tumenggung Wreda itu ? “
“ Aku menganggap bahwa belum saatnya Raden Tumenggung itu diperkenankan kembali ke Sendang Arum. Kakang Adipati di Sendang Arum belum pernah dengari bersungguh-sungguh meneliti sikap jiwani Raden Tumenggung Wreda Reksayuda. Perasasaan iri itu, apa benar-benar sudah dapat disingkirkan dari hati Raden Tumenggung. Apalagi bahwa Raden Tumenggung itu merasa berhak untuk menduduki jabatan
tertinggi di Sendang Arum. Raden Tumenggung Wreda tentu menganggap bahwa hak itu tidak akan terhapus oleh keadaan apapun. Bahkan setelah ia di singkirkan dari Sendang Arum untuk waktu lima tahun. “
“ Karena itu, kakang tidak setuju jika Raden Tumenggung itu diberi pengampunan dan mendapat kesempatan untuk kembali ke Sendang Arum. “
“ Ya.”
“ Dengan demikian, maka Raden Ayu Reksayuda itu akan tetap menjadi janda, atau setidak-tidaknya seperti seorang janda. –
“ Apa maksudmu, di ? “
“Maaf, kakang. Aku tidak bermaksud apa-apa.”Pembicaraan .mereka terhenti. Ki Tumenggung Prangwandawapun memasuki serambi itu. Sambil duduk di sebelah Ki Tumenggung Reksabawa itupun berkata “ Sebentar lagi, Kakang Adipati akan hadir di serambi ini.
“ Terima kasih adi Tumenggung “ desis Ki Tumenggung Reksabawa. Lalu katanya kepada Ki Tumenggung Jayataruna “ Adi sajalah yang menyampaikan masalahnya. “
Ki Tumenggung Jayataruna tersenyum sambil mengangguk “ Baik, kakang. “
Sejenak kemudian, maka Kangjeng Adipatipun telah memasuki Serambi. Sambil tersenyum
Kangjeng Adipatipun berkata “ Selamat datang di Pucang Kembar kakang Tumenggung berdua. “
“ Terima kasih atas perkenan Kangjeng menerima kami berdua- “ Ki Tumenggung Jayatarunalah yang menjawab.
“ Apakah Ki Tumenggung sudah sempat beristirahat serta berbenah diri ? “
“ Sudah Kangjeng. Kami sudah sempat mandi, berbenah diri dan bahkan makan malam di Kadipaten Pucang Kembar. Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih. “
“ Tentu terlalu sederhana dibandingkan dengan Kadipaten Sendang Arum. “
“ Tidak, Kangjeng. Kami mendapatkan segala-galanya jauh lebih baik dari apa yang ada di Sendang Arum. “
Kangjeng Adipati tertawa.
“ Ki Tumenggung berdua “ berkata Kangjeng Adipati kernudian “ jika kalian sudah sempat beristirahat, maka sekarang kita dapat berbincang dengan leluasa. Tidak tergesa-gesa dan hati kitapun tidak lagi buram karena tubuh yang letih. “
“ Kami sudah menjadi segar kembali, Kangjeng.“
“ Nah, sekarang katakan keperluan Ki Tumenggung berdua. “
“ Ampun Kangjeng Adipati. Kami berdua menghadap Kangjeng Adipati Jayanegara di
Pucang Kembar atas perintah Kangjeng Adipati di Sendang Arum. Pertama untuk menyampaikan salam taklim Kangjeng Adipati Sendang Arum kepada Kangjeng Adipati Jayanegara di Pucang Kembar. “
“ Aku terima dengan senang hati, Ki Tumenggung. Jika besok Ki Tumenggung berdua kembali ke Sendang Arum dan znenghadap Kangjeng Adipati di Sendang Arum, sampaikan salam taklimku pula. “
“ Hamba Kangjeng Adipati “ jawab Ki Tumenggung Jayataruna. Kemudian katanya pula “ Selanjutnya, pokok persoalan yang harus kami sampaikan kepada Kangjeng Adipati adalah persoalan yang menyangkut Raden Tumenggung Wreda Reksayuda yang sekarang berada di Kadipaten Pucang Kembar. “
“ Kenapa dengan kakangmas Tumenggung Reksayuda ? Apakah Kehgjeng Adipati di Sendang ‘Arum akan mengambil langkah-langkah tertentu terhadap kakangmas Tumenggung Reksayuda ? “
Ki Tumenggung Jayatarunapun kemudian menyampaikan persoalan yang sesungguhnya sedang menjadi bahan pembicaraan di Sendang Arum. Raden Ayu Reksayuda mohon pengampunan bagi suaminya agar diperkenankan kembali ke Sendang Arum. Pulang dan menjadi satu lagi dengan keluarganya.
“ Ketika Raden Tumenggung Wreda Reksayuda
menerima hukuman, dibuang dari tlatah kadipaten Sendang Arum, Raden Tumenggung itu masih penganten baru. Sehingga kepergian Raden Tumenggung itu membuat hati Raden ?Ayu Reksayuda menjadi sangat bersedih. Baru saja mereka memasuki jenjang perkawinan, merekapun segera dipisahkan dengan paksa oleh Kangjeng Adipati di Sendang Arum. “
Namun tiba-tiba saja Ki Tumenggung Reksabawa menyela “ Maaf adi Tumenggung Jayataruna. Yang memisahkan Raden Tumenggung Reksayuda dari isteri mudanya itu bukan Kangjeng Adipati Wirakusuma, tetapi yang memisahkan mereka adalah tatanan dan paugeran di Sendang Arum. Jika itu terjadi adalah karena tingkah Raden Tumenggung Wreda Reksayuda sendiri.”
Kangjeng Adipati Jayanegara tertawa. Katanya’“ Ya, ya. Ki Tumenggung Reksabawa benar. Jika kakangmas Tumenggung Reksabawa tidak bertingkah, maka ia tidak akan dikenakan hukuman berdasarkan atas tatanan dan paugeran yang berlaku di Sendang Arum.”
Ki Tumenggung Jayatarunapun mengangguk hormat sambil berkata “ Hamba Kangjeng Adipati. Kakang Tumenggung Reksabawa benar.”
“ Karena perbuatannya yang dapat mengguncang ketenangan hidup di Sendang Arum, karena niat kakang1 mas Tumenggung Reksayuda untuk menyingkirkan Kangjeng Adipati Wirakusuma, maka kakangmas Tumenggung
Wreda Reksayuda harus disingkirkan dari Sendang Arum.”
“ Ya, Kangjeng Adipati.”
“ Nah, sekarang bagaimana Ki Tumenggung ? Bagaimana pendapat kangjeng Adipati di Sendang Arum tentang permohonan ampun dari Raden Ayu Reksayuda itu?”
“ Kangjeng. Kami berdua diutus oleh Kangjeng Adipati Wirakusuma untuk minta pertimbangan Kangjeng Adipati Jayanegara. Karena selama ini Raden Tumenggung Reksayuda berada di Kadipaten Pucang Kembar, maka pendapat Kangjeng Adipati di Pucang Kembar akan sangat menentukan.”
Kangjeng Adipati Jayanegara itu mengangguk-angguk. Katanya “ Ya. Selama ini kakangmas Reksayuda memang berada di Pucang Kembar. Beberapa kali aku sendiri telah menemuinya di tempat tinggalnya yang kami sediakan di sini.”
“ Bagaimana menurut pendapat Kangjeng Adipati ?”
Kangjeng Adipati itu tersenyum. Katanya “ Satu batu ujian yang sulit. Jika aku memberikan jawaban, tetapi ternyata aku keliru, maka Kangjeng Adipati di Sendang Arum akan mengurangi nilai kepemimpinanku.”
“ Hamba kira Kangjeng Adipati akan cukup bijaksana. Persoalannya akan ditinjau dari berbagai
sisi. Termasuk sisi kemanusiaan. Raden Ayu Reksayuda selama ini merasa tersiksa.”
Kangjeng Adipati Jayataruna tertawa. Katanya “ Kangmbok Reksayuda masih terlalu muda untuk ditinggal sendiri.”
Ki Tumenggung Jayataruna mengangguk sambil menjawab “ Hamba Kangjeng Adipati.”
“ Ki Tumenggung Jayataruna. Menurut pendapatku, kakangmas Tumenggung Wreda Reksayuda sudah menjadi semakin tua. Apalagi setelah ia berada disini, dipisahkan dari keluarganya. Ia tidak lagi mempunyai keinginan apapun selain diperkenankan pulang. Kakangmas Reksayuda ingin mati di kadipaten Sendang Arum, ditunggui oleh isterinya yang masih muda itu serta putera satu-satunya.”
“ Apakah Raden Kangjeng Adipati Tumenggung tidak pernah berbicara tentang kedudukan Kangjeng Adipati Wirakusuma yang menurut Raden Tumenggung Reksayuda, kedudukan itu sebenarnya adalah haknya.”
Kangjeng Adipati Jayanegara menggeleng sambil menjawab “ Kakangmas Reksayuda sudah melupakannya. Tidak ada lagi gegayuhan yang ingin dicapainya.”
“ Jadi bagaimana menurut Kangjeng Adipati, seandainya kepada Raden Tumenggung Wreda Reksayuda diberikan pengampunan dan diberi kesempatan untuk kembali ke Sendang Arum
meskipun hukumannya baru separo dijalani.”
“ Aku, sekali lagi, tidak berkeberatan Ki Tumenggung.”
“ Ampun Kangjeng Adipati “ Ki Tumenggung Reksabawa yang lebih banyak berdiam diri itu bertanya “ jika Kangjeng Tumenggung sependapat, bahwa Raden Tumenggung Wreda Reksayuda itu diberi pengampunan dan diperkenankan kembali ke Sendang Arum, pada dasarnya supaya Raden Tumenggung itu tidak lebih lama lagi mengotori bumi Pucang Kembar, atau karena pertimbangan yang sejujurnya, bahwa Raden Tumenggung benar-benar sudah tidak berbahaya lagi bagi Kangjeng Adipati Wirakusuma.”
Kangjeng Adipati Jayanegara mengerutkan dahinya. Namun Kangjeng Adipati itupun kemudian tertawa sambil berkata “ Pertanyaan yang menggelitik, Ki Tumenggung. Tetapi aku tidak tersinggung meskipun pada dasarnya Ki Tumenggung bertanya, apakah aku menjawab dengan jujur atau tidak. Kecurigaan seperti itu wajar sekali. Tetapi tolong, perhatikan Ki Tumenggung Reksabawa. Aku tidak mempunyai kepentingan apa-apa dengan kangmas Tumenggung Reksayuda. Apakah ia akan pulang atau tidak. Disini kangmas Tumenggung juga tidak akan menghabiskan hasil panenan para petani di Pucang Kembar, Tidak pula membuat tanah menjadi sangar. Sedangkan kalau kakangmas Tumenggung Reksayuda’kembali ke Sendang
Arum, aku juga tidak mendapatkan keuntungan apa-apa. Karena itu, biarlah Kangjeng Adipati Wirakusuma mengambil keputusan. Tetapi jika Ki Tumenggung bertanya kepadaku, maka aku akan menjawab sebagaimana aku katakan. Kangmas Tumenggung Reksayuda tidak lagi mempunyai gegayuhan apa-apa. Hati dan kepalanya sudah kosong. Dalam waktu dua tahun lebih, perasaan dan penalarannya sudah mengering.”
“ Perasaannya ?” bertanya Ki Tumenggung Jayataruna.
“ Maksudku dalam hubungannya dengan gegayuhan yang pernah ingin dicapainya. Tentu saja bukan perasaannya sebagai seorang yang rindu kepada sesuatu. Tanah kelahiran, isterinya, anaknya dan lingkungan kecilnya. “
Ki Tumenggung Jayataruna mengangguk-angguk. Namun Ki Tumengung Jayataruna itu masih bertanya kepada Ki Tumenggung Reksabawa “ Masih ada yang ingin kakang tanyakan ? “
Ki Tumenggung Reksabawa menggeleng. Katanya “ Tidak, di. “
“ Mumpung masih belum terlalu malam “ berkata Kangjeng Adipati “ aku juga sulit tidur sebelum lewat tengah malam. Jika Ki Tumenggung berdua masih ingin menemani aku berbincang, aku akan senang sekali. “
“ Ampun Kangjeng Adipati. Keperluan kami sebagai utusan Kangjeng Adipati Wirakusuma telah
selesai. Tetapi jika kami masih diperkenankan duduk disini, maka kami akan dengan senang hati melakukannya. “
Namun Kangjeng Adipati itupun tersenyum sambil berkata “ Kakang berdua tentu letih setelah sehari-harian menempuh perjalanan panjang. Karena itu, sebaiknya Ki Tumenggung berdua beristirahat di tempat yang sudah disediakan. Ki Tumenggung berdua perlu menghimpun tenaga kembali bagi perjalanan pulang ke Sendang Arum.“
“ Terima kasih, Kangjeng. “
“ Ki Tumenggung Prangwandawa “
“ Hamba Kangjeng. “
“ Antarkan keduanya kembali ke bilik yang sudah disediakan. Biarlah Ki Tumenggung berdua beristirahat. “
“ Hamba Kangjeng. “
Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki Tumenggung Jayatarunapun kemudian meninggalkan serambi samping diantar oleh Ki tumenggung Prangwandawa kembali ke bilik mereka.
Ketika mereka sampai di serambi gandok, maka Ki Tumenggung Jayatarunapun menyelinap sebentar sambil berdesis “ Aku akan pergi ke paki wan. “
Namun saat itu agaknya merupakan saat yang baik bagi Ki Tumenggung Reksabawa untuk
bertanya kepada Ki Tumenggung Prangwandawa “ Apakah Ki Tumenggung pernah bertemu dengan Raden Tumenggung Wreda Reksayuda selama ia berada di Pucang Kembar ? “
“ Pernah. Meskipun tidak terlalu sering. “
“ Bagaimana pendapat Ki Tumenggung .tentang Raden Tumenggung Reksayuda itu ? “
Ki Tumenggung Prangwandawa menarik nafas panjang.
“ Apakah benar sebagaimana dikatakan oleh Kangjeng Adipati ? “
“ Ya. Dihadapan Kangjeng Adipati. –
“ Maksud Ki Tumenggung ? “
Ki Tumenggung Prangwandawa itu termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian “ Jangan kakang Tumenggung katakan kepada si apapun juga. Aku hanya memberikan petikan sikap Raden Tumenggung agar kakang Tumenggung Reksabawa mengetahuinya. Seandainya hal ini kakang katakan kepada Kangjeng Adipati Wirakusuma, jangan sebut namaku. “
“ Baik “
“ Meskipun sudah tua dan mungkin wadagnya sudah menjadi semakin lemah, tetapi setiap kali, Raden Tumenggung Wreda Reksayuda masih berbicara tentang haknya. Kangjeng Adipati Jayanegara tidak pernah mendengarnya. Tetapi
aku pernah mendengar sendiri ketika aku diutus oleh Kangjeng Adipati nenemuinya. “
“ Untuk apa adi Prangwandawa menemuinya ? “
“ Sekedar untuk melihat kesehatannya. Seorang abdi mengatakan bahwa Raden Tumenggung Reksayuda itu sakit. “
“ Jadi menurut adi ? “
“ Terus terang kakang Reksabawa. Aku masih meragukan keikhlasan Raden Tumenggung Reksayuda. “
Ki Tumenggung Reksabawa mengangguk-angguk. Iapun kemudian bergumam “ berbeda dengan adi Tumenggung Jayataruna yang agaknya yakin, bahwa Raden Tumenggung itu sudah tidak berbahaya lagi. Bagaimana jika adi Prangwandawa memberikan kesan kepada adi Jayataruna.:”
“ Sebaiknya tidak usah saja kakang. Kangjeng Adipati sudah memberikan pendapatnya. Jika ada pendapat yang lain, akan dapat timbul masalah. Bahkan mungkin Kangjeng Adipati akan marah kepadaku, seakan-akan aku telah membantah keterangan Kangjeng Adipati Jayanegara. “
“ Adi. Apakah kira-kira kami berdua diijinkan menemui Raden Tumenggung Reksayuda ? “
“ Itu tergantung kepada Kangjeng Adipati. “
“ Tolong di. Jika adi Prangwandawa nanti menghadap lagi Kangjeng Adipati, sampaikan
permohonanku untuk bertemu dengan Raden Tumenggung Reksayuda. “
“Aku akan menyampaikannya kakang. Tetapi aku tidak yakin, bahwa kangjeng Adipati akan mengijinkan-nya. “
“ Akupun tidak yakin, bahwa adi Jayataruna akan bersedia singgah barang sebentar. “
Sejenak kemdian, maka Ki Tumenggung Jayataruna telah kembali. Ketika ia melihat Ki Tumenggung Prangwandawa masih berada di serambi gandok, maka iapun bertanya -” Adi Prangwandawa belum mengantuk?”
“ Belum kakang. Hari ini aku tidak seletih kakang berdua. “
“ Ya. Kami memang agak letih hari ini. “
“ Nah, silahkan beristirahat. Aku akan kembali ke serambi. “
“ Silahkan adi Prangwandawa.Tetapi apakah kita besok dapat menemui Raden” Tumenggung Wreda Reksayuda ? “ sahut Ki Tumenggung Reksabawa.
Namun Ki Tumenggung Jayataruna dengan cepat menyahut “ Apakah kita harus singgah menemui Raden Tumenggung Wreda ? “
“ Bukankah itu lebih baik, adi. Sehingga hasil perjalanan kita lebih lengkap. “
“ Aku kira itu tidak perlu, kakang. Besok kita langsung saja singgah di kadipaten untuk minta
diri. Seandainya kita ingin bertemu dengan Raden Tumenggung Wreda, Kangjeng Adipati juga belum tentu memberikan ijinnya.
Ki Tumenggung Reksabawa termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dengan ragu-ragu iapun berkata “ seandainya Kangjeng Adipati mengijinkan ?.”
“ Tidak. Kita tentu tidak akan diijinkan. “
Ki Tumenggung Reksabawa menarik nafas panjang. Katanya “ Baiklah. Aku juga mengira, bahwa Kangjeng Adipati tidak akan memberikan ijinnya. “
“ Nah, selamat malam adi Prangwandawa “ berkata Ki Tumenggung Jayataruna kemudian. ,
Ki Tumenggung Prangwandawapun kemudian meninggalkan kedua orang tamunya di gandok. Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki Tumenggung Jayataruna memang letih sehingga merekapun segera merasa mengantuk.
Karena itu, maka sejenak kemudian keduanya telah membaringkan dirinya.
Dalam pada itu, Ki Tumenggung Prangwandawa telah berada di serambi. Ternyata Kangjeng Adipati masih duduk sendiri sambil merenungi keberadaan kedua orang Tumenggung dari Sendang Arum itu.
“ Ampun Kangjeng “ berkata Ki Tumenggung Prangwandawa “ ada niat Ki Tumenggung Reksabawa untuk bertemu langsung dengan Raden
Tumenggung Wreda Reksayuda. “
“ He ? Kau pertemukan mereka dengan kakangmas Tumenggung ? “
“ Tidak, Kangjeng. Ki Tumenggung Reksabawa baru menjajagi kemungkinannya jika diijinkan. “
“ Tidak. Aku tidak mengijinkannya. “
“ Ki Tumenggung Reksabawa sendiri sudah menduga, bahwa ia tidak akan diijinkan. “
“ Bukan karena ada rahasia yang meliputi hubunganku dengan kangmas Tumenggung Reksayuda, tetapi saat ini kangmas Tumenggung masih orang buangan. Karena itu aku wenang untuk memagarinya agar tidak banyak bertemu dengan siapapun dari luar rumah yang kita sediakan baginya. Ada banyak keberatannya, sehingga karena itu maka aku tidak akan mengijinkannya untuk bertemu. “
“ Hamba Kangjeng. “
“ Katakan kepadanya, bahwa aku berkeberatan.“
“ Ia memang sudah menduga, sehingga jika aku tidak datang lagi kepadanya, ia tahu bahwa ia tidak diijinkan untuk bertemu dengan Raden Tumenggung. “
“ Jika demikian, baiklah. Sekarang kau sendiri juga perlu beristirahat. “
“ Kangjeng sendiri ? “
“ Biarlah aku seorang diri disini. “
“ Ampun Kangjeng, biarlah hamba disini bersama Kangjeng.”
“ Aku tidak apa-apa, Ki Tumenggung. Jangan risaukan aku. “
“ Ampun Kangjeng. Jika saja hamba diperkenankan untuk mengatakan sesuatu. “
“ Apa yang akan kau katakan Ki Tumenggung ?“
“ Pada saat-saat terakhir, hamba melihat perubahan pada diri Kangjeng. Kangjeng menjadi lebih banyak menyendiri. Merenung dan kadang-kadang sikap Kangjeng Adipati sulit di mengerti. “
Kangjeng Adipati menarik nafas panjang. Sementara Ki Tumenggungpun berkata selanjutnya “ Hamba mohon ampun, Kangjeng Adipati. Jika hamba menyampaikan tanggapan hamba terhadap sikap Kangjeng Adipati, semata-mata karena kesetiaan hamba kepada Kangjeng Adipati. “
Kangjeng Adipati menarik nafas panjang. Hampir diluar sadarnya iapun berkata “ Aku tidak apa-apa, Ki Tumenggung. “
“ Jika demikian, sekarang malam telah larut. Hamba kira, bahkan sudah lewat waktunya bagi Kangjeng Adipati untuk tidur. “
“ Ya. Aku akan tidur. “
Kangjeng Adipati itupun kemudian bangkit berdiri. Tetapi pandangan matanya nampak kosong
dan bahkan sama sekali tidak ada tanda-tandanya, bahwa Kangjeng Adipati sudah mengantuk.
“ Apa sebenarnya yang dipikirkannya ? “ bertanya Ki Tumenggung Prangwandawa didalam hatinya “ persoalan Raden Tumenggung Wreda Reksayuda sebenarnya bukan persoalan yang perlu dipikirkan terlalu dalam. Persoalan Raden Tumenggung adalah persoalan Kadipaten Sendang Arum. Pucang Kembar hanya memberikan ijin bagi Raden Tumenggung untuk tinggal berdasarkan berbagai macam pertimbangan. Jika kemudian Raden Tumenggung itu diperkenankan pulang kembali ke Sendang Arum, bukankah tidak ada masalah bagi Pucang Kembar? “
“ Tentu bukan karena Raden Tumenggung Wreda Reksayuda “ Ki Tumenggung Prangwandawa menarik nafas panjang.
Dalam pada itu, Ki Tumenggung Prangwandawapun segera meninggalkan serambi. Seorang abdi yang terkantuk-kantuk di panggilnya untuk menyelarak pintu serambi itu dari dalam.
“ Ki Tumenggung akan pergi ke mana ?”
“ Tidur”
“ Ki Tumenggung masih bertugas malam ini ?”
“ Ya. Sampai esok sore. Nah, selarak pintu. Jangan tidur.”
“ Baik, Ki Tumenggung.”
Dalam pada itu, dipembaringannya, Kangjeng Adipati memang tidak segera dapat tidur. Ada sesuatu yang bermain di angan-angannya.
Berbeda dengan Kangjeng Adipati, Ki Tumenggung Prangwandawa demikian masuk kedalam biliknya di gan-dok sebelah kiri, melepas kerisnya, ikat kepalanya dan kelengkapan-kelengkapan lain, lalu merebahkan dirinya, maka sebentar saja ia sudah tidur dengan nyenyaknya.
Di gandok sebelah, Ki Tumenggung Reksabawa yang letihpun telah tertidur. Tetapi Ki Tumenggung Jayataruna masih nampak gelisah. Sekali-sekali ia tidur terlentang. Namun kemudian miring kekiri. Sebentar lagi miring kekanan.
Sekali-sekali dengan sengtaja Ki Tumenggung Jayataruna mengguncang pembaringannya, sehingga amben kayu itu berderik. Tetapi Ki Tumenggung Reksabawa tidak terbangun.
“ Kakang Reksabawa itu seperti orang mati saja “ desisnya.
Baru didini hari, Ki Tumenggung Jayataruna itu sempat tidur.
Pagi-pagi sekali mereka berdua sudah bangun. Keduanyapun segera mempersiapkan diri. Pagi itu juga meireka akan kembali ke Sendang Arum.
Ki Tumenggung Prangwandawa ternyata juga bangun pagi-pagi sekali. Ia tahu bahwa kedua orang Tumenggung dari Sendang Arum itu akan
minta diri.
“ Jika Kangjeng Adipati belum bangun, maka biarlah aku saja yang melepas mereka “ berkata Ki Tumenggung Prangwandawa didalam hatinya.
Tetapi ternyata bahwa Kangjeng Adipati juga sudah bangun pagi-pagi sekali. Bahkan Kangjeng Adipati sudah mandi pula dan berbenah diri.
Karena itu ketika kedua orang Tumenggung dari Sendang Arum itu akan minta diri, Kangjeng Adipati sudah siap menerima mereka.
Ketika hari masih pagi menjelang matahari terbit, kedua orang Tumenggung dari Sendang Arum itu sudah meninggalkan dalem Kadipaten Pucang Kembar. Kuda-kuda mereka berlari kencang di jalan-jalan yang masih sepi.
“ Kita akan memilih jalan lain “ berkata Ki Tumenggung Reksabawa.
“ Kenapa ? Apakah kakang cemas bahwa para penyamun itu akan menghadang kita lagi ? Aku justru masih ingin bertemu mereka dan kawan-kawan mereka. -Lebih banyak lebih baik.”
“ Aku tidak takut bahwa kita akan dicegat oleh para penyamun itu lagi, adi. Bahkan yang jumlahnya lebih besar. Yang aku takutkan justru karena adi Tumenggung akan membunuh semakin banyak orang.”
“ He ? “ Ki Tumenggung Jayataruna mengerutkan dahinya. Namun terdengar Ki
Tumenggung Jayataruna itu tertawa berkepanjangan.
“ Bukankah kita prajurit, kakang.”
“ Prajurit tidak sejalan dengan pengertian seorang pembunuh. Bahkan sebaliknya.”
“ Aku tahu. Tetapi jika aku membunuh penyamun, bukankah itu berarti bahwa aku telah melindungi orang-orang yang tidak berdaya menghadapi mereka ?”
“ Aku sependapat. Tetapi cara adi membunuh membuat kulitku meremang.”
Ki Tumenggung Jayataruna masih saja tertawa. Katanya “ Baiklah. Aku tidak akan membantah. Kita akan mengambil jalan lain. Namun mudah-mudahan kita bertemu lagi dengan sekelompok penyamun di bulak-bulak panjang yang sepi atau di padang perdu atau di pinggir hutan.”
Ki Tumenggung Reksabawa .tidak menyahut. Namun kuda mereka berlari semakin kencang di jalan-jalan yang seakan-akan tidak pernah dilalui orang. Lengang.
Tetapi kedua orang Tumenggung itu tidak menjumpai sekelompok penyamun. Yang mereka lihat adalah beberapa orang perempuan yang sibuk matun di sawah yang nampaknya subur. Padi yang sedang tumbuh, terhampar seperti lautan yang hijau. Angin pagi telah mengalunkan gelombang-gelombang kecil pada daun padi yang lebat.
Ketika matahari memanjat langit, terasa sinarnya menyentuh wajah. Adalah kebetulan keduanya sedang menempuh perjalanan ke arah Timur.
Perjalanan mereka tidak terhambat sebagaimana saat mereka berangkat. Ketika mereka berhenti di sebuah kedai untuk memberi kesempatan kuda-kuda mereka beristirahat serta mendapat makan dan minum dari seorang petugas di kedai itu, keduanyapun sempat minum dan makan pula.
Tidak ada persoalan yang timbul di kedai itu. Tidak ada orang-orang yang berwajah gelap dengan luka menyilang di pelipisnya yang memperhatikan kehadiran mereka di kedai itu.
Dengan demikian, maka perjalanan kembali dari Pucang Kembar itu ternyata lebih cepat dari perjalanan mereka pada saat mereka berangkat. Disore hari, ketika matahari masih nampak terapung dilangit mereka sudah mendekati dalem Kadipaten di Sendang Arum.
“ Kakang Reksabawa “ bertanya Ki Tumenggung Jayataruna “ Apakah kita akan langsung menghadap Kangjeng Adipati, atau kita pulang dahulu, mandi dan berbenah diri, baru kemudian kita bersama-sama menghadap? “
Ki Tumenggung Reksabawa termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “ Bagaimana pendapat adi, jika kita langsung saja menghadap?
Tugas kita segera tuntas. Kangjeng Adipatipun merasa betapa kita mendahulukan penyelesaian tugas kita. “
“ Baiklah. Kita langsung pergi ke dalem Kadipaten. Kecuali jika Kangjeng Adipati memerintahkan lain. “
Keduanyapun kemudian langsung menuju ke dalem Kadipaten. Oleh para prajurit yang bertugas, merekapun segera dipersilahkan langsung mohon menghadap jika Kangjeng Adipati berkenan.
Seorang abdi telah memberitahukan kedatangan Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki Tumenggung Jayanfegara kepada Kangjeng Adipati di Sendang Arum.
“ Biarlah mereka menunggu sejenak di serambi “ berkata Kangjeng Adipati.
Kedua orang Tumenggung itupun kemudian duduk menunggu di serambi sementara Kangjeng Adipati berbenah diri.
“ Siapa yang menghadap di sore hari seperti ini, ayahanda? “ bertanya Raden Ajeng Ririswari.
“ Kakang Tumenggung Reksabawa dan kakang Tumenggung Jayataruna “ jawab Kangjeng Adipati.
“ Mereka baru pulang dari Pucang Kembar? “ Kangjeng Adipati termangu-mangu sejenak. Namun kemudian sambil mengangguk iapun menjawab “ Ya, Riris. Keduanya baru pulang dari Pucang Kembar. “
“ Apakah keduanya menjemput uwa Tumenggung Reksayuda?”
“ Belum Riris. Keduanya baru menjajagi kemungkinan, apakah uwakmu itu akan diperkenankan pulang atau tidak. “
Ririswari tidak menyahut lagi. Gadis itupun kemudian beringsut dan duduk di ruang dalam menghadapi dakon. Jari-jarinya yang lentik bermain dengan kelungsu yang ada di dakonnya.
Sejenak kemudian, Kangjeng Adipati Wirakusuma telah duduk diserambi. dihadap oleh kedua orang Tumenggung yang baru saja datang dari Pucang Kembar itu.
“ Kalian baru datang dari Pucang Kembar langsung kemari? “ bertanya Kangjeng Adipati.
“ Hamba Kanjeng. Hamba tidak ingin ada persoalan yang terlupakan jika kami berdua tidak langsung menghadap. “
Kangjeng Adipati tersenyum. Katanya “ Persoalannya tidak begitu rumit. Tentu tidak ada masalah yang terlupakan seandainya kakang Tumenggung berdua singgah dahulu di rumah kalian. Bahkan seandainya esok pagi sekalipun. “
“ Hamba Kangjeng Adipati. Tetapi dengan demikian tugas kamipun segera tuntas. “
“ Terima kasih atas kesungguhan kalian “ Kangjeng Adipatipun mengangguk-angguk. Lalu dengan nada dalam Kangjeng Adipati itu berkata “
Jika nafas kalian sudah mulai teratur kembali, nah, katakan hasil pembicaraan kalian dengan Kangjeng Adipati Jayanegara.
Ki Tumenggung Jayatarunapun berpaling kepada Ki Tumenggung Reksabawa. Namun Ki Tumenggung Reksabawa itu berdesis “ Silahkan di.“
Ki Tumenggung Jayataruna menarik nafas panjang. Namun kemudian Ki Tumenggung Jayatarunalah yang memberikan laporan perjalanan.ke Pucang Kembar.
Kangjeng Adipati memang tidak begitu menghiraukan siapakah yang akan memberikan laporan. Karena itu, maka Kangjeng Adipati tidak menaruh perhatian, kenapa justru Ki Tumenggung yang mudalah yang memberikan laporan itu.
“ Demikianlah, Kangjeng Adipati. Kangjeng Adipati Jayanegara tidak mampunyai keberatan apa-apa jika Raden Tumenggung Reksayuda di ijinkan pulang ke Sendang Arum. “
Kangjeng Adipati Wirakusuma menarik nafas panjang. Sementara itu Ki Tumenggung Reksabawapun berkata “ Kangjeng Adipati. Hamba sudah mencoba untuk mohon ijin, agar hamba berdua diperkenankan bertemu dengan Raden Tumenggung Wreda. Tetapi kami tidak mendapat ijin itu, Kangjeng Adipati. “
“ Apakah Kangjeng Adipati Jayanegara menyatakan bahwa kita tidak diijinkan bertemu dengan Raden Tumenggung Wreda? “ Ki Tumenggung Jayataruna justru bertanya.
“ Semalam Ki Tumenggung Prangwandawa tidak menemui kita lagi. Itu berarti bahwa permohonan kita telah ditolak. “
“ Tetapi itu wajar sekali “ desis Ki Tumenggung. Jayataruna.
“ Sebenarnya jika kalian dapat bertemu dengan kangmas Tumenggung Wreda Reksayuda, tentu akan lebih baik karena kalian dapat langsung menjajagi isi hatinya.
“ Tetapi keterangan Kangjeng Adipati Jayanegara sudah cukup jelas, Kangjeng. “
“ Ya.”
“ Selanjutnya segala sesuatunya terserah kepada Kangjeng Adipati.
“ Baiklah. Aku sudah mendengar laporan kalian. Aku akan membuat pertimbangan-pertimbangan yang akan aku timbang dari segala segi.
“ Kami hanya tinggal menunggu, Kangjeng. “ “Ya. Kalian tinggal menunggu. “
Kedua orang Tumenggung yang pakaiannya masih dilekati keringat dan debu itupun segera mohon diri.
“ Baiklah, kakang Tumenggung berdua. Kalian tentu letih. Bahkan mungkin haus dan lapar. Karena itu, jika kakang berdua akan pulang, membersihkan diri, berganti pakaian dan sebagainya! silahkan. “
Demikianlah kedua orang Tumenggung itupun segera meninggalkan dalem Kadipaten.
Demikian Ki Tumenggung Reksabawa sampai di rumah, ia masih saja nampak gelisah. Nyi Tumenggung yang kemudian menyediakan minuman hangat dan beberapa potong makanan itu melihat kegelisahan pada sikap dan sorot mata Ki Tumenggung.
“ Apakah ada tugas yang tidak terselesaikan, kakang? “ bertanya Nyi Tumenggung.
“ Tidak, Nyi. Tugasku kali ini sudah tuntas. Bahkan aku dan adi Jayataruna sudah langsung menghadap Kangjeng Adipati dan melaporkan hasil perjalanan kami ke Pucang Kembar.
“ Lalu apa lagi yang kakang gelisahkan? “
“ Aku menjadi gelisah menunggu keputusan Kangjeng Adipati. Sebenarnya aku masih belum dapat menyetujui jika Raden Tumenggung Wreda
di beri pengampunan dan pulang ke Sendang Arum. “
“ Kenapa? Bukankah semata-mata berdasarkan atas rasa kemanusiaan? “
“ Aku mengerti, Nyi. Tetapi aku masih mencemaskan kesungguhan Raden Tumenggung untuk menyingkirkan perasaan iri hatinya terhadap Kangjeng Adipati. Jika Raden. Tumenggung Wreda itu kelak pulang, bagiku, akan timbul persoalan sebagaimana pernah terjadi di Sendang Arum. Perasaan iri itu akan sangat.sulit dihapus dari dinding hati Raden Tumenggung Reksayuda. “
“ Ah. Kakang hanya berprasangka. Bukankah Raden Tumenggung itu sudah tua? “
“ Ingat, Nyi. Ketika Raden Tumenggung itu disingkirkan, ia memang sudah tua. Apa arti waktu yang hanya dua setengah tahun, atau katakan tiga tahun bagi Raden Tumenggung Reksayuda? “
“ Tetapi keadaannya di pembuangan akan merubah jalan pikirannya, kakang. “
Ki Tumenggung Reksabawa menarik nafas panjang. Katanya “ Mudah-mudahan Nyi. Tetapi aku tidak yakin. Aku justru menjadi curiga, bahwa Raden Tumenggung Wreda Reksayuda akan bekerja sama dengan Kangjeng Adipati Jayanegara. Setelah Raden Tumenggung Reksayuda berada kembali di Kadipaten ini, maka ia akan dapat mengatur segala sesuatunya. Sementara itu, dengan diam-diam Kangjeng Adipati
Jayanegara telah membantunya: “
“ Jika demikian, apa pamrih Kangjeng Adipati Jayanegara? “
“ Pengaruhnya akan menjadi besar sekali di Kadipaten Sendang Arum. Jika Raden Tumenggung Wreda Reksayuda berhasil menyingkirkan Kangjeng Adipati Wirakusuma, maka Raden Tumenggung Reksayuda akan lebih banyak di kemudikan oleh Kangjeng Adipati Jayanegara. Terutama di lingkungan laku dagang.“
Nyi Tumenggung Reksabawa menarik nafas panjang. -Katanya “ Jangan terlalu berprasangka, kakang. Tunggu sajalah, apa yang akan terjadi setelah Raden Tumenggung Wreda Reksayuda kembali. Kakang dapat dengan diamdiam bersama satu dua orang kepercayaan kakang mengamati, apa saja yang dilakukan oleh Raden Tumenggung itu. “
“ Aku juga mencurigai Raden Ayu Reksayuda. Raden Ayu Reksayuda yang muda ini nampaknya banyak bertingkah. Bahkan kadang-kadang tidak pantas dilakukan oleh seorang isteri keluarga Kangjeng Adipati. Kau tentu melihat, bagaimana ia berpakaian dan merias diri. Bukankah sangat berlebihan, sementara suaminya tidak ada di rumah? “
“ Nampaknya kakang menaruh perhatian kepadanya? “
“ Bukan begitu. Tetapi apa yang nampak pada
kewadagan itu sedikit banyak akan dapat membayangkan apa yang terdapat di dalam hatinya. “
“ Apakah karena Raden Ayu yang cantik dan muda itu kakang tidak setuju Raden Tumenggung Reksayuda pulang. “
“ Nyi. Sejak kapan hatimu diracuni oleh perasaan seperti itu. “
Nyi Tumenggung tertawa. Iapun kemudian berdiri di belakang suaminya yang duduk di sebuah tempat duduk kayu berukir yang dipesannya dari tukang kayu terbaik di Sendang Arum. Sambil memijit bahu suaminya, Nyi Tumenggung berkata “ Jangan marah, kakang. Aku hanya bergurau. “
“ Sekarang kau bergurau. Tetapi guraumu dapat menusuk hatimu sendiri. “
“ Sudahlah. Lupakan saja. Aku tahu, kakang masih letih. Tetapi kakang juga dibebani oleh perasaan kecewa. “
“ Aku tidak tahu, kenapa adi Tumenggung Jayataruna sangat ingin agar Raden Tumenggung
Reksayuda diperkenankan kembali ke Sendang Arum. Kecemasanku sulit aku singkirkan, bahwa akan timbul persoalan yang rumit di Kadipaten Sendang Arum. “
“ Sebaiknya kakang tidak usah gelisah sejak sekarang. Bukankah Kangjeng Adipati masih belum mengambil keputusan ?”
“ Nalarku juga memberitahukan kepadaku, bahwa kegelisahanku sekarang tidak akan ada artinya. Sebaiknya aku tidak perlu gelisah sejak sekarang. Tetapi perasaanku berkata lain.”
“ Sudahlah, kakang. Di ruang tengah, makan sudah tersedia. Marilah kita makan. Kakang tentu lapar setelah, menempuh perjalanan.”
“ Aku sudah singgah di kedai, Nyi.”
“ Kapan ?”
“ Di tengah hari.-”
“ Nah, sekarang sudah lewat senja.”
Ki Reksabawapun kemudian duduk di ruang tengah bersama isterinya untuk makan malam. Agaknya letih dan lapar membuat Ki Tumenggung Reksabawa makan dengan lahapnya.
Meskipun demikian, ketika malam menjadi semakin dalam, serta Ki Tumenggung telah berada di bilik tidurnya, ternyata ia tidak segera dapat tidur.
Dikeesokan harinya, Pagi-pagi sekali Ki Tumenggung Reksabawa telah bangun. Mandi dan berbenah diri. Seorang abdi dari dalem kadipaten telah memanggil beberapa orang pemimpin di Sendang Arum untuk membicarakan masalah yang menyangkut Raden Tumenggung Reksayuda.
Ketika matahari naik sepenggalah, maka Ki Tumenggung Reksabawa telah pergi menghadap
ke Kadipaten.
Pada hari itu Kangjeng’Adipati telah menyelenggarakan pertemuan kecil, terbatas pada orang-orang terdekat. Diantara mereka adalah Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki Tumenggung Jayataruna.
“ Biarlah Ki Tumenggung Reksabawa atau Ki Tumenggung Jayataruna sajalah yang menguraikan hasil perjalanan mereka. Dengan demikian, maka tidak akan ada yang terlampaui.”
Beberapa orang yang hadir itupun berpaling kearah kedua orang Tumenggung itu. Namun Ki Tumenggung Reksabawapun berdesis “ Kau sajalah yang menguraikannya, adi.”
Ki Tumenggung Jayatarunalah yang kemudian menyampaikan kepada para pemimpin.yang hadir itu, apa saja yang telah mereka bicarakan dengan Kangjeng tumenggung Jayanegara.
“ Nah, bagaimana menurut pendapat kalian ?” bertanya Kangjeng Adipati kemudian setelah Ki Tumenggung Jayataruna selesai memberikan laporannya.
Seorang Rangga yang sudah tua menyahut “ Ampun Kangjeng. Jika diperkenankan, hamba ingin menyampaikan pendapat hamba.”
“ Katakan, Ki Rangga.”
“ Terima kasih, Kangjeng “ Ki Rangga berhenti sejenak. Lalu katanya kemudian “ Kangjeng
Adipati. Umur hamba masih belum setua Raden Tumenggung Wreda Reksayuda. Tetapi selisihnya tidak begitu banyak. Hamba adalah termasuk salah satu ‘abdi di Kadipaten ini yang sering sekali berhubungan dengan Raden Tumenggung Wreda Reksayuda. Hamba sering diperintahkan untuk melakukan berbagai macam tugas. Nah, pada saat itulah hamba mengetahui kekerasan hati Raden Tumenggung Wreda. Karena itu, hamba mohon segala sesuatunya dipertimbangkan dengan baik.”
“ Ampun Kangjeng “ seorang yang lain menyahut “ sebenarnya apa yang kita cemaskan seandainya Raden Tumenggung Wreda itu pulang ? Ia sudah tua. Sudah pikun. Seandainya di hatinya masih menyala kedengkian dan iri hati,, tetapi apa artinya Raden Tumenggung Wreda itu seorang diri. Kecuali ada diantara kita yang bersedia menjadi pengikutnya untuk menimbulkan kekisruhan di tanah ini.”
Ternyata beberapa orang pemimpin yang terdekat dengan Kangjeng Adipati itu telah berbeda pendapat. ” Namun sebagian Besar diantara mereka berpendapat, bahwa biar saja Raden Tumenggung itu pulang. Tidak akan ada masalah yang timbul.
“ Jika Raden Tumenggung berbuat macam-macam, bukankah prajurit Sendang Arum telah bersiap untuk mengatasinya ?” berkata seorang Senapati.
Memang tidak ada kebulatan pendapat. Tetapi
nampaknya Kangjeng Adipati sudah mengambil kesimpulan meskipun tidak dikatakannya. Bahkan Kangjeng Adipati itupun berkata “ Besok aku akan menyelenggarakan pertemuan yang lebih besar. Aku minta Ki Tumenggung Reksabawa menghubungi Kangmbok Reksayuda agar Kangmbok Reksayuda besok juga datang dalam pertemuan itu. Aku akan menyampaikan keputusanku yang terakhir tentang pengampunan terhadap kangmas Tumenggung Wreda Reksayuda.”
Pertemuan hari itupun kemudian telah dibuarkan. Para pemimpin yang ikut hadir segera meninggalkan pendapa Kadipaten. Besok mereka harus datang lagi dalam pertemuan yang lebih besar itu.
Ki Tumenggung Reksabawa juga meninggalkan pendapa Kadipaten. Tetapi hatinya masih tetap gelisah.
Meskipun berbagai macam alasan telah didengarnya dari mereka yang tidak berkeberatan menerima Raden Tumenggung Reksayuda pulang, namun Ki Tumenggung Reksabawa masih tetap merasa cemas.
Karena itu, ketika pendapa kadipaten telah kosong, maka Ki Tumenggung Reksayuda yang belum sampai ke rumahnya itu, telah kembali lagi ke dalem kadipaten.
Dengan berbagai macam alasan, Ki
Tumenggung Reksabawa telah menghadap lagi Kangjeng Adipati Wirakusuma yang diterima di serambi samping.
“ Hamba mohon ampun. Kangjeng Adipati tentu akan beristirahat, tetapi hamba telah memberanikan diri untuk menghadap. “
“ Ada apa kakang ? “
“ Hamba ingin menyampaikan pendapat hamba yang tidak dapat hamba sampaikan di pertemuan itu. “
“ Kenapa tidak ? Bukankah dalam pertemuan seperti itu, pendapat seseorang akan dapat dinilai bobot dan kepentingannya “
–oo0dw0oo—
Jilid 2
“ ADA yang menahan agar hamba tidak menyampaikannya di dalam pertemuan itu. “
“ Siapa yang menahan ? “
“ Kata hatiku sendiri, Kangjeng Adipati. “
“ Kakang. Aku sudah mengenal kakang sejak lama. Aku tahu bahwa kakang bukan seorang yang ragu-ragu untuk mengambil sikap. Tetapi kenapa
sekarang, tiba-tiba kakang telah berubah. Seakan-akan kakang menjadi orang lain. “
“ Ampun Kangjeng Adipati. Sebenarnyalah hamba ingin menyampaikan keberatan hamba terhadap rencana pengampunan atas Raden Tumenggung Wreda Reksayuda. “
“ Hal itu sudah pernah kau sampaikan kakang. “
“ Ya, Kangjeng. Sekarang hamba ingin mengulanginya. Di Pucang Kembar hamba mendapat keterangan, bahwa sebenarnya sikap Raden Tumenggung Wreda itu masih belum berubah. Jika Raden Tumenggung Wreda itu pulang, maka kemungkinan timbulnya keresahan masih tetap ada. “
“ Kakang Rcksabawa. Apakah kakang tidak yakin akan kemampuan para petugas sandi kita serta kekuatan para prajurit di Sendang Arum ? Kakang sendiri seorang prajurit. Seandainya kakangmas Tumenggung Reksayuda masih bertingkah macam-macam, maka aku akan dapat merintahkan seseorang saja, tanpa sekelompok prajurit, untuk menangkapnya. “
Ki TumenggungReksabawa menarik nafas panjangi,
“ Seandainya yang seorang itu kakang Tumenggung, apakah kira-kira kakang Tumenggung Reksabawa tidak akan sanggup melakukannya ? “
“ Hamba akan menjalankan segala perintah apapun taruhannya. Tetapi persoalannya tidak sesederhana itu. “
“ Maksud kakang Reksabawa ? “
“ Hamba ingin memperingatkan bahwa mungkin sekali kekuatan dari luar akan ikut campur. “
“ Maksud kakang, kekuatan dari luar yang dengan diam-diam membantu kakangmas Reksayuda, begitu ? “
“ Hamba Kangjeng Adipati. Mungkin bantuan itu dapat berujud uang. Mungkin senjata. Tetapi bahkan mungkin pasukan. “
“ Kakang “ berkata Kangjeng Adipati “ kita mempunyai pasukan sandi yang terhitung baik. Kita tentu akan dapat mengetahui jika ada hubungan antara kakangmas Reksayuda dengan pihak luar. Seandainya ada bantuan yang di terima oleh kangmas Reksayuda, maka kita dengan cepat akan menghancurkannya apapun ujudnya. “
Ternyata Ki Tumenggung Reksayuda tidak berhenti sampai sekian. Meskipun dengan jantung yang berdebaran Ki Tumenggung berkata “ Aku tidak yakin, bahwa Kangjeng Adipati Jayanegara di Pucang Kembar itu bersikap jujur. Jika Kangjeng Adipati itu bersikap jujur, hamba tentu akan diperkenankan menemui Raden Tumenggung Reksayuda langsung. “
“ Kakang Tumenggung. Kau jangan
mementahkan lagi pembicaraan yang sudah sampai pada satu kesimpulan. Kenapa kau tidak mengatakan hal itu pada waktu pertemuan tadi sehingga keteranganmu itu akan dapat menjadi bahan pertimbangan banyak orang. “
“ Hamba mohon ampun, Kangjeng. Tetapi sebenarnyalah hamba mendengar dari seseorang yang dapat dipercaya di Pucang Kembar. “
“ Siapa ? “
“ Orang itu tidak mau disebut namanya. Ia tidak ingin menjadi sasaran kemarahan Kangjeng Adipati di Pucang Kembar, karena keterangannya berbeda dengan keterangan Kangjeng Adipati Jayanegara. “
“ Kakang Tumenggung. Aku tidak mau mendengar keterangan dari bayangan yang tidak dikenal itu. “
“ Hamba yakin akan kebenaran keterangannya, Kangjeng. “
“ Kakang “ nada suara Kangjeng Adipati meninggi “ aku tidak tahu apa maksudmu sebenarnya, bahwa kau dengan cara yang kurang mapan telah berusaha menggagalkan pengampunan terhadap kakang Tumenggung Reksayuda. Apakah sebenarnya pamrihmu ? Apakah kau ingin agar jabatan kakangmas Reksayuda itu tetap kosong, sehingga kau akan dapat menggantikannya. Jika itu yang kau kehendaki, maka aku ingin memberitahukan kepadamu, bahwa jika kelak kakangmas
Tumenggung itu pulang, ia tidak akan mendapatkan jabatannya kembali. Ia tidak akan menjadi salah seorang Tumenggung Wreda dengan kekuasaan apapun juga. “
“ Ampun Kangjeng Adipati. HamDa sama sekali tidak berniat untuk membidik jabatan yang kosong itu. Hamba tahu diri, bahwa hamba bukan orang yang memiliki kelebihan. Bahkan sekarang hamba mendapat anugerah kedudukan sebagai seorang Tumenggung, hamba telah mengucap sokur. “
“ Jika demikian, apakah karena perempuan itu ? Kakang tidak ingin bahwa suami perempuan muda yang cantik itu pulang. “
“ Ampun Kangjeng. Jika itu yang hamba inginkan, maka terkutuklah hamba. Hamba mempunyai seorang isteri yang setia, yang bersedia hidup bersama, tetapi juga bersedia mati bersama. Dalam keadaan apapun hamba tidak akan menghianati isteri hamba. “
“ Jika demikian, lupakan saja kecemasan kakang itu, Biarlah besok aku nyalakan didalam sidang, bahwa aku telah mengampunkan kakangmas Tumenggung Wreda Reksayuda. Tentu saja bersamaan dengan itu, aku akan memberkan perintah kepada Senapati pasukan sandi agar dengan hati-hati selalu mengawasi kakangmas Tumenggung, terutama hubungannya dengan orang yang tidak dikenal. “
Ki Tumenggung Reksabawa menundukkan
kepalanya.
“ Kakang Tumenggung. Aku terpaksa tidak dapat memenuhi keinginan kakang Tumenggung. Bukan berarti bahwa aku tidak mau mendengarkan pendapat kakang Tumenggung. Bukankah selama ini aku hampir tidak pernah menolak dan mengkesampingkan pendapat kakang ? Tetapi kali ini aku tidak dapat menerimanya, karena aku juga harus mendengarkan pendapat banyak orang yang ternyata condong untuk menerima kakangmas Tumenggung Wreda itu kembali ke Sendang Arum.“
“ Hamba mengerti, Kangjeng Adipati. “
“ Kau jangan menjadi sakit hati. Kau harus menerima kenyataan dalam perbedaan pendapat ini. “
“ Hamba mengerti, Kangjeng Adipati. Hamba sama sekali tidak menjadi sakit hati, meskipun hamba mengakui, bahwa hamba menjadi cemas. Tetapi mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu. Hamba hanya melihat dengan mata perasaan hamba, bahwa sesuatu akan terjadi. “
“ Jangan cemas. Kita harus percaya diri, bahwa kita sekarang cukup kuat untuk menghadapi banyak persoalan yang mungkin akan dapat mengganggu ketenangan hidup kita. “
“ Hamba Kangjeng Adipati “ sahut Ki Tumenggung Reksabawa yang kemudian mohon diri “ ampun Kangjeng. Jika demikian
perkenankanlah hamba mengundurkan diri. “
“ Silahkan, kakang. “
Ki Tumenggung Reksabawapun kemudian meninggalkan serambi dalem Kadipaten.
Sepeninggal Ki Tumenggung, Kangjeng Adipati Wirakusuma duduk sendiri di serambi. Pandangan matanya menerawang jauh menembus pintu yang terbuka, menusuk ke panasnya sinar matahari di siang hari.
Kangjeng Adipati terkejut ketika ia mendengar suara lembut, yang rasa-rasanya seperti suara Raden Ayu Wirakusuma yang telah meninggal “ Uwa Tumenggung Reksabawa benar. “
Kangjeng Adipati itupun segera bangkit. Ketika ia berpaling, maka yang dilihatnya adalah anak perempuannya, Ririswari.
“ Kau Riris “ desis Kangjeng Adipati.
“ Hamba ayahanda. Menurut pendapat hamba, apa yang dikatakan oleh Uwa Tumenggung Reksabawa itu benar. “
Kangjeng Adipati Wirakusuma menarik nafas panjang. Katanya “ Riris. Sudahlah. Sebaiknya kau tidak usah ikut memikirkan tata pemerintahan di Sendang A rum.”
“ Ayahanda. Dahulu, ketika ibunda masih ada, ayahanda selalu bersedia mendengarkan pendapat ibunda meskipua kadang-kadang ayahanda tidak
sependapat. Sekarang, aku mohon ayahanda bersedia juga mendengarkan pendapatku.”
“ Kau masih terlalu muda untuk ikut berbicara tentang pemerintahan serta kebijaksanaan yang aku ambil, Riris.”
“ Ayahanda “ berkata Riris kemudian “ seperti yang pernah aku katakan, menurut pendapatku, bibi yang muda dan cantik itu tidak berbuat jujur. Jika bibi memohon pengampunan bagi uwa Tumenggung, itu hanya sekedar permainan yang belum kita ketahui maksudnya.”
“ Kau berprasangka Riris.”
“ Mungkin dengan memohon pengampunan itu, bibi mendapat kesempatan untuk dapat menghadap ayahanda berkali-kali.”
“ Riris.”
“ Bukankah bibi masih muda, cantik dan gelisah ?”
“ Kau memandangnya dari sisi yang lain dari sisi pandang Ki Tumenggung Reksabawa.”
“ Bagi bibi, apakah permohonannya dikabulkan atau tidak, sudah bukan masalah lagi.”
“ Sudahlah. Jangan kau turutkan hatimu yang masih muram sepeninggal ibumu. Beristirahatlah.”
“ Tetapi ayahanda, aku mohon ayahanda memperhatikan rerasan para putri serta para istri Tumenggung di Sendang Aram. Mereka menyebut
bibi Reksayuda adalah seorang perempuan yang mendambakan derajad dan semat. Seorang perempuan yang haus kekuasaan, pujian dan kekayaan.”
“ Jika sentuhan perasaanmu benar. Riris. Aku justru akan membiarkannya uwakmu kakangmas Tumenggung Reksayuda berada di pengasingan.”
“ Uwa Tumenggung Reksayuda sudah tua. Ia tidak mempunyai banyak kesempatan lagi, ayahanda.”
“ Jika demikian, kau tidak perlu membenarkan pendapat Ki Tumenggung Reksabawa.”
“ Ada yang sama dengan pendapatku, ayahanda.”
“ Tidak. Jauh berbeda. Kakang Tumenggung Reksabawa memandang persoalan ini dari sisi pemerintahan, kau memandangnya dari sisi kekecewaan seorang gadis yang baru saja ditinggalkan oleh ibunya. Kepercayaanmu kepadaku goyah, Riris.”
“ Ayahanda. Pendapatku yang sama dengan pendapat uwa Tumenggung Reksabawa adalah, bahwa sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang akan dapat mengguncang ketenangan dan kedamaian di kadipaten Sendang Arum.”
“ Riris. Sebaiknya kau tenangkan hatimu. Beristirahatlah. Tidak akan terjadi apa-apa di kadipaten ini.”
Riris menarik nafas panjang. Namun gadis itupun kemudian meninggalkan ayahandanya yang berdiri termangu-ma-ngu. Namun kangjeng Adipatipun kemudian duduk kembali. Pandangan matanyapun kembali menerawang kekejauhan.
Di hari berikutnya, Kangjeng Adipati duduk di pendapa Agung kadipaten Sendang Arum, dihadap oleh para pemimpin pemerintahan dan para pemimpin keprajuritan di Sendang Arum. Para nayaka dan sentana.
Dalam pertemuan itu, Kangjeng Adipatipun berkata kepada semuanya yang hadir “ Para pemimpin di Sendang Arum, para sentana dan nayaka, aku, Adipati Sendang Arum, yang memegang kekuasaan tunggal,. telah memutuskan, berdasarkan pembicaraan diantara para pemimpin, nayaka dan sentana kadipaten Sendang Arum, bahwa aku, Adipati Sendang Arum, telah memberikan pengampunan kepada Raden Tumenggung Reksayuda yang karena kesalahan yang telah dilakukannya, diasingkan ke luar tlatah kekuasaan kadipaten Sendang Arum dan memilih untuk tinggal di kadipaten Pucang Kembar selama lima tahun. Tetapi atas permohonan, atas pertimbangan dan pendapat para pemimpin, para nayaka dan sentana, maka setelah Raden Tumenggung Reksayuda menjalani hukuman sekitar tiga tahun, maka aku, Adipati Sendang Arum telah menetapkan, bahwa Raden Tumenggung Reksayuda tidak perlu menjalani sisa hukumannya. Karena itu, maka sejak saat ini,
Raden Tumenggung Reksayuda sudah dibebaskan dari hukuman pengasingan itu.”
Semua yang hadir mendengarkan pernyataan Kangjeng Adipati Wirakusuma dengan sungguh-sungguh. Tetapi mereka sama sekali tidak terkejut lagi, karena persoalannya memang sudah dibicarakan sebelumnya. Meskipun ada satu dua orang yang berpendapat lain, tetapi sebagian terbesar dari para pemimpin, nayaka dan sentana tidak menaruh keberatan atas pengampunan itu.
Namun dalam pada itu, demikian Kangjeng Adipati selesai dengan pernyataannya itu, tangis Raden Ayu Reksayuda tidak tertahankan lagi. Sambil menyembah, disela-sela isak tangisnya, Raden Ayu Reksayuda itupun berkata patah-patah “ Terima kasih. Terima kasih dimas Adipati. Sebenarnyalah Dimas Adipati adalah seorang pemimpin yang berhati mulia. Dimas sudah menunjukkan sifat kepemimpinan yang sejati dari seorang Adipati. Seorang pemimpin yang adil yang memerintah dengan kasih. Yang Maha Agunglah yang akan menilai, betapa Dimas Adipati benar-benar telah menjalankan tugas didunia ini berdasarkan atas limpahan kuasa-Nya.”
” Sudahlah, kangmbok. Yang aku lakukan sama sekali bukan karena kelebihanku sebagai seorang titah yang kebetulan mendapat limpahan kuasa itu. Keputusanku itu didasari dengan pembicaraan diantara para pemimpin di Sendang Arum. Aku hanya mengambil kesimpulan dari pembicaran itu
saja.”
” Tetapi jika kesimpulan itu tidak berkenan di hati Dimas Adipati, maka Dimas akan dapat mengambil keputusan yang lairi.”
” Aku sudah menyatakan keputusan itu. Selanjutnya terserah kepada kangmbok, kapan kangmbok akan menjemput kakangmas Reksayuda. Biarlah Kakang Tumenggung Reksabawa dan kakang Tumenggung Jayataruna membantu pelaksanaannya, sekaligus menjadi wakilku, menghadap kangmas Tumenggung Jayancgara di Pucang Kembar, menyampaikan keputusanku ini.”
” Terima kasih, Dimas Adipati. Sebelumnya aku minta bantuan kakang Tumenggung Jayataruna serta kakang Tumenggung Reksabawa, aku akan menghubungi puteraku, Jalawaja. Jika saja Jalawaja bersedia ikut serta menjemput ayahandanya.”
” Terserah saja kepada kangmbok Reksayuda ” sahut Kangjeng Adipati, Namun kemudian Kangjeng Adipati itupun berkata kepada Ki Tumenggung Jayataruna dan Ki Tumenggung Reksabawa ” Aku minta kakang Tumenggung berdua membantu pelaksanaan penjemputan kangmas Reksayuda.”
” Hamba Kangjeng ” jawab keduanya hampir bersamaan.
” Nah, tidak ada lagi persoalan yang akan aku
bicarakan hari ini. Dalam pertemuan ini, aku hanya ingin menyampaikan keputusanku tentang pengampunan terhadap kakangmas Tumenggung Reksayuda ” lalu katanya kepada Ki Tumenggung Reksabawa “ kakang Tumenggung. Bubarkan pertemuan ini.”
” Hamba Kangjeng.”
Sejenak kemudian, maka para pemimpin, nayaka dan sentana itupun meninggalkan pendapa agung kadipaten Sendang Arum. Demikian pula Raden Ayu Reksayuda.
Sementara itu, Kangjeng Adipatipun segera masuk keruang dalam.
Kanjeng Adipati tertegun ketika ia melihat Riris duduk seorang diri di ruang dalam itu.
” Riris.”
” Disini biasanya ibunda menunggu ayahanda jika ayahanda menyelenggarakan pasowanan seperti hari ini.”
” Ya, Riris ” jawab Kangjeng Adipati sambil duduk pula disebelah anak gadisnya.
” Kadang-kadang ibunda dengan niat yang baik, menyampaikan pendapatnya tentang pembicaraan didalam pasowanan itu.”
”Ya. Riris.”
”Kadang-kadang ayah berkenan. Tetapi kadang-kadang ayah tidak berkenan. Tetapi ibunda tidak
pernah menjadi kecewa pada saat-saat pendapatnya tidak sesuai dengan kebijaksanaan ayahanda sebagai penguasa tunggal di kadipaten ini.”
” Ya Riris. ”
” Tetapi ibunda belum pernah melihat bibi Reksayuda hadir di pasowanan seperti tadi.”
” Kenapa dengan bibimu?”
” Aku tidak melihat kewajaran itu, ayah. Tetapi aku justru berpikiran lain. Yang terjadi adalah sekedar solah tingkah bibi yang muda dan cantik itu. Tetapi sudah aku katakan beberapa kali, bibi tidak jujur dengan sikapnya. ”
” Kau masih dibayangi oleh perasaan curigamu itu, Riris. Tetapi kau akan melihat kenyataan di hari hari mendatang.”
Ririswari menarik nafas panjang. Katanya ”Baik, ayahanda. Meskipun demikian aku akan tetap berdoa, semoga tidak terjadi sesuatu’yang dapat mengguncang kedamaian dikadipaten ini.”
Kangjeng Adipati termangu-mangu sejenak. Ia dapat mengerti perasaan anak gadisnya yang belum lama ditinggalkan oleh ibunya. Ia tidak ingin melihat seorang perempuan lain yang mencoba merayap mengintai kedudukan ibundanya. Tetapi pada saatnya gadis itu akan melihat, bahwa segala sesuatunya berlangsung wajar. Keputusannya adalah keputusan se-orang Adipati. Bukan
keputusan seorang laki-laki yang jatuh kcdalam pengaruh seorang perempuan cantik.
Dalam pada itu, Raden Ayu Prawirayuda telah minta tolong kepada Ki Tumenggung Jayataruna untuk pergi menjemput Jalawaja. Anak laki-laki Raden Tumenggung Reksayuda.
“ Baiklah Raden Ayu. Besok aku akan menghadap Ki Ajar Anggara untuk minta agar Raden Jalawaya diperkenankan turun dari lereng gunung dan pergi menjemput ayahandanya dari pengasingan.”
“ Terima kasih, Ki Tumenggung. Pertolongan Ki Tumenggung tidak akan pernah aku lupakan.”
“ Bukankah wajar sekali jika kita saling menolong? ”
“ Ki Tumenggung sudah menolong aku. Juga didalam pembicaraan di pasowanan sehingga para pemimpin, nayaka dan sentana “sebagian besar menyetujui pengampunan terhadap kakangmas Tumenggung Reksayuda.”
“ Bukankah itu bukan apa-apa dibandingkan dengan kebaikan hati Raden Ayu? “
“ Ah, jangan sebut itu kakang? Kebaikanku atau justru kebaikan kakang Tumenggung yang semakin bertimbun. “
“ Kita memang saling berbaik hati “ desis Ki Tumenggung Jayataruna sambil tertawa.
Raden Ayu Reksayudapun tertawa tertahan. Jari-jarinya yang lentik menutupi bibirnya yang mekar.
“ Sudahlah Raden Ayu. “
“ Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih, kakang. “
“ Besok pagi-pagi aku akan pergi ke pondok di lereng gunung itu untuk menemui Raden Jalawaja.“
Sebenarnyalah, dikeesokan harinya, Ki Tumenggung Jayataruna telah memacu kudanya pergi ke sebuah pondok yang terasing di lereng Gunung. Sebuah pondok yang dihuni oleh Ki Ajar Anggara. Seorang yang telah menyisih dari kehidupan ramai, menyendiri dalam kehidupan yang sepi.
Sepeninggal anaknya perempuan, istri Raden Tumenggung Reksayuda, Ki Ajar Anggara merasa lebih tenang berada di keasingan. Meskipun Ki Ajar Anggara tidak memutuskan hubungannya dengan kehidupan masyarakat di padukuhan di lereng gunung itu, namun Ki Ajar memang lebih banyak menyatu dengan keheningan di lambung gunung.
Apalagi setelah Raden Tumenggung Reksayuda menikah lagi dengan seorang perempuan yang masih muda dan cantik. Maka Ki Ajar menjadi semakin terpisah dari keramaian duniawi.
Namun tiba-tiba saja cucunya, putera Raden
Tumenggung Reksayuda datang kepadanya serta memohon untuk dapat tinggal bersama eyangnya yang terasing itu.
Ketika Raden Jalawaja datang kepadanya, Ki Ajar mencoba untuk mencegahnya agar cucunya itu tetap berada di lingkungan yang memberinya tawaran yang lebih baik bagi masa depannya.
Tetapi cucunya merasa lebih mantap tinggal bersama eyangnya, di lambung gunung.
“ Kau tidak berteman disini Jalawaja “ berkata eyangnya.
“ Dalam keadaanku sekarang eyang. Aku lebih senang berteman sepi. “
“ Kau masih muda, Jalawaja. Hari-harimu masih panjang. Seharusnya kau mulai menganyam landasan buat masa depanmu. “
“ Aku akan hidup disini, eyang. Aku berjanji untuk rajin pergi ke sawah. Mencari rumput buat binatang peliharaan eyang atau menggembalakannya. Aku berjanji untuk berbuat apa saja yang eyang perintahkan. “
Ki Ajar Anggara tidak dapat menolak keberadaan Jalawaja di pondoknya. Agaknya hubungan Jalawaja dengan ayahandanya agak kurang baik sepeninggal ibunya. Apalagi ketika ayahandanya berniat untuk menikah lagi.
“ Biarlah untuk sementara Jalawaja ada disini “ berkata Ki Ajar Anggara kepada diri sendiri “
mungkin setelah satu dua bulan lewat, hatinya akan dapat menemukan keseimbangannya kembali, sehingga anak itu bersedia pulang ke rumah ayahandanya. “
Tetapi Jalawaja tetap pada pendiriannya. Ia ingin tinggal bersama kakeknya. Apalagi setelah ayahandanya dianggap bersalah dan diasingkan keluar tlatah kadipaten Sendang Arum. Jalawaja seakan-akan menjadi semakin mapan tinggal bersama kakeknya, Ki Ajar Anggara.
“ Tetapi keberadaanmu disini harus ada manfaatnya Jalawaja “ berkata kakeknya kepada cucunya setelah cucunya beberapa lama berada di pondoknya.
“ Apapun yang eyang perintahkan”jawab Jalawaja.
“ Aku tetap berharap bahwa pada suatu saat kau akan kembali ke Sendang Arum. “
“ Terlebih-lebih sekarang eyang. Ayahanda adalah orang buangan meskipun ayah masih mempunyai hubungan darah dengan paman Adipati di Sendang Arum. “
“ Yang dianggap bersalah adalah ayahmu, Jalawaja. Bukan kau. “
“ Tetapi orang-orang Sendang Arum memandang aku, putera Tumenggung Wreda Reksayuda sebagai anak orang buangan yang tidak mempunyai ani apa-apa lagi. Biarlah aku mencari
arti hidupku disini, eyang. Jika aku dapat meningkatkan hasil panenan padi, jagung dan palawija dari lahan yang sama, maka aku telah menemukan ani dalam hidupku. Bila aku dapat melipatkan hasil pategalan atau menemukan jenis-jenis tanaman buah-buahan yang lebih baik dari yang ada, maka di-situlah letak arti dari hidupku. Peningkatan hasil panenan akan dapat memberikan kesejahteraan yang lebih tinggi pada orang-orang padukuhan yang mau bekerja keras serta berusaha. “
Ki Ajar Anggara mengangguk-angguk sambil menjawab “ Baiklah Jalawaja. Aku akan ikut berusaha dan bekerja keras. Tetapi disamping itu, ada ilmuku yang ingin aku wariskan kepadamu. “
“ Ilmu apa yang eyang maksudkan? “
“ Ilmu kanuragan. “
“ Ilmu kanuragan “ Jalawaja mengulang.
“ Ya. Ilmu kanuragan. “
Jalawaja menarik nafas panjang. Iapun kemudian mengangguk sambil menjawab “ Apapun yang eyang perintahkan, aku akan menjalaninya. “
Ki Ajar Anggara mengangguk-angguk. Katanya “ Bagus. Sejak hari ini, kau akan memperdalam ilmu olah kanuragan. Aku tahu bahwa kau sudah memiliki dasar-dasamya. Sekarang, kau harus lebih mendalaminya. “
Jalawaja tidak ingkar. Bahkan semakin lama,
semakin ternyata pada kakeknya, bahwa Jalawaja adalah seorang anak muda yang cerdas dan tangkas. Dengan cepat ia menerima dan memahami hal-hal yang baru didalam olah kanuragan. Sementara itu unsur kewadagannyapun sangat mendukung. Kesungguhannya dan kesediaan bekerja keras membuat ilmunya dengan cepat maju.
Jalawaja tidak pernah mengelakkan waktu-waktunya berlatih dengan keras di sanggar terbuka di padang yang agak luas di lambung bukit. Di udara yang kadang-kadang terasa dingin, dengan tidak mengenakan baju, Jalawaja menempa diri. Dengan alat-alat yang sederhana, Jalawaja meningkatkan kepekaan nalurinya. Namun dengan beban yang semakin hari semakin berat, Jalawaja sedikit demi sedikit meningkatkan kekuatan dan tenaganya.
Disamping itu dengan pemusatan nalar dan budinya, Jalawaja meningkatkan tenaga dalamnya serta daya tahan tubuhnya.
Kakeknya yang sudah tua itupun dengan tekun membimbingnya. Kadang-kadang Jalawaja harus berlatih dengan beban yang digantungkan pada tangan dan kakinya. Kadang-kadangnya dalam latihan-latihan keseimbangan yang berat, Jalawaja menapak pada palang-palang bambu dan kayu. Bahkan sambil mengusung beban yang cukup berat.
Disaat-saat lain, Jalawaja harus tenggelam dalam latihan-latihan olah tubuh, agar tubuhnya menjadi semakin lentur. Sehingga tubuh Jalawaja itu seolah-olah dapat digerakkan sesuai dengan kemauannya.
Meskipun demikian, bukan berarti bahwa Jalawaja telah kehilangan seluruh waktunya untuk membajakan diri. Ia masih juga pergi ke sawah. Bukan sekedar mengerjakan apa yang sudah terbiasa dilakukan oleh para petani. Namun Jalawaja dengan beberapa orang anak muda dari padukuhan terdekat, mencoba untuk meningkatkan hasil sawah mereka.
Tetapi kadang-kadang Jalawaja merasa kecewa, bahwa anak-anak muda itu tidak berpandangan jauh sebagaimana dirinya. Meskipun demikian, Jalawaja dapat menghargai kesediaan mereka untuk bekerja keras.
Dari hari ke hari, Jalawaja memanfaatkan waktu sepenuhnya. Seakan-akan tidak ada waktu tertuang baginya. Jika ia tidak berada di sanggar, maka ia berada di sawah atau pate-galan. Baru
setelah senja turun, ia berada di sumur untuk menimba air, mengrsi jambangan, kemudian mandi.
Namun ada saatnya dimalam hari, Jalawajapun berada di sanggar tertutup bersama kakeknya, Ki Ajar Anggara.
Dengan demikian, maka setelah beberapa lama Jalawaja berada di rumah kakeknya, maka kulitnyapun menjadi bertambah gelap oleh terik matahari. Tubuhnya menjadi semakin ramping.
Namun matanya menjadi semakin bercahaya. Langkahnya menjadi ringan dan geraknya menjadi semakin cekatan.
Ketika Ki Tumenggung Jayataruna pergi kr lereng bukit memenuhi permintaan Raden Ayu Reksayuda untuk memanggil Jalawaja pulang, Jalawaja dan kakeknya sedang tidak ada di pondoknya.
Seorang anak laki-laki remaja yang lewat sambil menggiring dua ekor kambing memberi tahukan bahwa Ki Ajar Anggara berada di sebelah gumuk kecil di lambung bukit itu.
“ Kakang Jalawaja sedang berlatih ?” berkata gembala itu.
“ Berlatih apa? “ bertanya Ki Tumenggung Jayataruna.
“ Olah kanuragan “jawab gembala itu.
“ Terima kasih “
Ki Tumenggung Jayatarunapun kemudian telah meloncat ke punggung kudanya pula. Berjalan menyusuri jalan setapak menuju ke sebelah gumuk kecil.
Kuda Ki Tumenggungpun kemudian berjalan diantara bebatuan yang berserakkan. Batu-batu sebesar kuda itu sendiri.
Terasa denyut jantung Ki Tumenggung menjadi semakin cepat. Rasa-rasanya ia berada di satu lingkungan yang pernah dikenalnya dalam mimpi.
Di seberang padang perdu yang dipenuhi dengan bebatuan yang besar-besar itu terdapat hutan yang lebat membelit lambung gunung.
Beberapa saat kemudian Ki Tumenggung itu melihat dikejauhan bayangan yang bergerak-gerak di antara bebatuan. Berloncatan dengan tangkasnya, melenting dan berputar di udara. Dengan kedua kakinya, bayangan itu hinggap dengan lunak diatas batu yang besar. Namun kemudian bayangan itu telah melenting lagi dengan cepatnya.
Ki Tumenggung Jayataruna menarik nafas panjang. Ia sadar, bahwa yang sedang melakukan gerakan-gerakan yang mengagumkan itu adalah Raden Jalawaja, putera Raden Tumenggung Wreda Reksayuda.
Tidak jauh dari tempat berlatih Raden Jalawaja,
Ki Tumenggung melihat seorang tua duduk di atas sebuah batu. Rambutnya yang terjurai dibawah ikat kepalanya, nampak sudah memutih. Demikian pula kumis dan janggutnya yang dipotong pendek.
Demikian Ki Ajar Anggara melihat Ki Tumenggung Jayataruna, maka iapun segera meloncat turun.
“ Ki Tumenggung Jayataruna “ Ki Ajar itupun menyapanya.
“ Ya, Ki Ajar “ sahut Ki Jayataruna sambil tersenyum.
“ Selamat datang di tempat yang sunyi ini, Ki Tumenggung” .
“ Terima kasih, Ki Ajar. “
“ Marilah, aku persilahkan Ki Tumenggung singgah di pondokku di sebelah gumuk kecil ini. “
“ Aku sudah dari sana, Ki Ajar. “
“ Tetapi aku dan Jalawaja ada disini. Nah, sekarang marilah, aku akan pulang. Demikian pula Jalawaja. Aku akan mengajaknya pulang. “
“ Tetapi biarlah Raden Jalawaja menyelesaikan latihannya hari ini. Aku senang melihatnya. Tubuhnya menjadi seringan kapuk, sehingga seakan-akan begitu mudahnya dihanyutkan angin. Geraknya cepat cekatan, sedangkan keseim-
bangannya sangat mapan. Meskipun Raden Jalawaja berloncatan dan berputar diudara, namun
demikian kakinya menyentuh sebuah batu, rasa-rasanya kaki itupun segera melekat dan bahkan menghunjam ke dalamnya. “
“ Ki Tumenggung pandai membesarkan hatiku dan tentu hati Jalawaja jika ia mendengarnya. Tetapi sebenarnyalah bahwa Jalawaja masih baru mulai. Segala sesuatunya masih belum mencapai batas kemapanan. Yang dikuasainya barulah dasar-dasar dari olah kanuragan.
“ Jika apa yang seperti dilakukan oleh Raden Jalawaja itu baru mulai, sedangkan yang dikuasainya baru dasar-dasarnya saja, lalu betapa dahsyatnya jika nanti pada suatu saat Raden Jalawaja itu tuntas dalam olah kanuragan. Aku tidak dapat membayangkan, apa saja yang dapat dilakukannya.”
Ki Ajar Anggara tersenyum. Katanya “ Terima kasih atas pujian itu, Ki Tumenggung. Namun kami mohon restu, mudah-mudahan Jalawaja benar-benar dapat menguasai lan-dasan bagi kemampuannya dalam olah kanuragan. Namun dis-amping itu, akupun berharap bahwa perkembangan jiwanya-pun tetap seimbang, sehingga kemajuannya dalam olah kanuragan akan berarti bagi sesamanya. “
“ Ya, Ki Ajar. Tetapi jika Raden Jalawaja tetap, saja berada di tempat terpencil ini, maka arti dari penguasaan ilmunya tidak akan terlalu banyak. “
“ Aku berharap, bahwa pada suatu saat ia akan
kembali memasuki kehidupan dunia ramai. “-
Ki Tumenggung Jayataruna itupun mengangguk-angguk.
Sementara itu, Ki Ajarpun segera bertepuk tangan, memberikan aba-aba agar Jalawaja menghentikan latihannya.
Sejenak kemudian, maka tata gerak Jalawajapun menjadi semakin lamban. Kemudian diletakannya seluruh tenaganya dan dilepasnya nafas-nafas panjang. Kedua belah tangannya-pun kemudian perlahan-lahan turun disisi tubuhnya.
“ Jalawaja. Kemarilah, wayah “ panggil kakeknya. Jalawaja mengusap keringat di keningnya dengan lengannya. Ketika ia kemudian melangkah mendekati ayahnya, dilihatnya Ki Tumenggung Jayataruna berdiri di sebelah ayahnya sambil memegangi kendali kudanya.
“ Paman Tumenggung Jayataruna “
“ Ya, Raden. “
“ Selamat datang di lambung gunung ini, paman. “
“ Terima kasih, Raden. Beruntunglah aku, bahwa aku sempat menyaksikan angger berlatih. Ternyata angger adalah seorang anak muda yang mumpuni dalam olah kanuragan. “
“ Paman memujiku. Tetapi pujian paman membuat aku merasa semakin kecil. Aku baru
mulai paman. Belum apa-apa.
“ Aku sudah mengatakan tadi kepada Ki Ajar Anggara. ? Jika permulaannya saja sudah seperti itu, aku tidak dapat membayangkan, apa jadinya nanti setelah Raden Jalawaja matang dalam ilmunya itu. “
“ Paman menyanjung aku terlalu tinggi. Jika nanti paman lepaskan, aku akan jatuh terjerembab di bebatuan. “
Ki Tumenggung Jayataruna tertawa. Katanya “ Aku tidak sekedar menyanjung, Raden. Nah, katakan siapakah kawan-kawan Raden yang sebaya, yang mampu mengimbangi kemampuan Raden. “
“ Tentu ada paman. Hanya saja aku belum dapat menyebutkan. “
Merekapun tertawa. Demikian pula Ki Ajar Anggara yang kemudian berkata “ Nah, marilah Ki Tumenggung. Singgah di gubukku. Gubug yang tidak lebih baik dari sebuah kandang di rumah para sentana dan nayaka di Sendang Arum.
“ Ki Ajar selalu merendahkan diri. Nampaknya sikap itu berpengaruh juga pada Raden Jalawaja. “
“ Bukan merendahkan diri, Ki Tumenggung. Tetapi itulah keadaan kami yang sebenarnya disini. “-
Mereka bertigapun kemudian berjalan beriringan di jalan setapak menuju ke pondok Ki Ajar
Anggara. Ki Ajar berjalan di paling depan. Kemudian Ki Tumenggung menuntun kudanya. Di paling belakang adalah Jalawaja yang tubuhnya masih basah oleh keringat.
Sejenak kemudian, maka merekapun telah duduk di serambi depan rumah Ki Ajar Anggara. Rumah yang nampaknya sederhana. Tetapi demikian mereka duduk di serambi, Ki Tumenggung Jayatarunapun berdesis “ Alangkah sejuknya, Ki Ajar. Rasa-rasanya aku segan pulang. Rumahku di sendang Arum terasa panas dan bahkan kadang-kadang udara yang panas itu terasa lembab. Angin yang bertiup tidak membuat tubuh menjadi sejuk. Tetapi rasa-rasanya angin itu mengandung uap air yang panas. “
“ Bukankah di ruman paman ada beberapa batang pohon yang besar yang dapat melindungi halaman rumah paman dari teriknya panas matahari?-
“ Ya. Tetapi pepohonan itu tidak dapat membuat udara di halaman rumahku sesejuk udara di halaman rumah ini.-
“ Kita berada di kaki sebuah pegunungan, Ki Tumenggung sahut Ki Ajar Anggara – itulah agaknya yang membuat udara di lingkungan ini lebih sejuk.”
“ Ya, ya, Ki Ajar “ Ki Tumenggung Jayataruna mengangguk-angguk.
Dalam pada itu, Ki Ajarpun kemudian berkata
kepada Jalawaja – Ngger. Pamanmu Tumenggung Jayataruna datang untuk menemuimu. Mungkin ada hal-hal yang penting yang akan dikatakannya kepadamu, tetapi mungkin juga kepada kita berdua.”
Jalawaja mengangguk kecil sambil berdesis – Apakah ada pesan dari paman Adipati? Atau barangkali paman Tumenggung mendapat perintah untuk menangkap aku karena aku anak seorang pemberontak yang’sudah dibuang keluar tlatah Sendang Arum?”
“ Jangan berprasangka begitu, Raden – sahut Ki Tumenggung Jayataruna dengan nada berat.
“ Kau jangan merajuk seperti itu, Jalawaja – berkata Ki Ajar Anggara kemudian – seharusnya apapun yang telah terjadi, kau jangan memandang dunia ini begitu buramnya.”
“ Maaf, eyang. Aku tidak bermaksud berprasangka buruk. Aku hanya tidak dapat mengingkari tekanan perasaan yang seakan datang beruntun, sehingga warna sisi pandangku menjadi buram – Jalawaja berhenti sejenak, lalu katanya kepada Ki Tumenggung Jayataruna -Aku minta maaf paman.”
“ Sudahlah Raden. Barangkali lebih baik segera menyampaikan pesan kepada Raden Jalawaja.”
“ Silahkan paman.”
“ Kedatanganku kemari sebenarnyalah bukan
atas perintah Kangjeng Adipati di Sendang Arum.”
Ki Ajar Anggara mengangguk-angguk, sementara Raden Jalawaja mendengarkannya dengan seksama.
“ Tetapi aku datang menemui Raden Jalawaja karena aku diutus oleh Raden Ayu Reksayuda.”
“ Raden Ayu Reksayuda ? ” ulang Ki Ajar Anggara.
“ Ya, Ki Ajar.”
“ Miranti maksud paman – sahut Jalawaja.
“ Ya. Tetapi bukankah sekarang aku harus menyebutnya Raden Ayu Reksayuda?-
“ Ya. Silahkan paman ” nada suara Jalawaja mulai meninggi paman diutus apa?”
“ Raden Jalawaja dipersilahkan pulang “
“ Pulang ?”
“ Ya, Raden “
“ Pulang ke Katumenggungan ?”
“ Ya, Raden. Raden Ayu Reksayuda minta agar Raden Jalawaja bersedia untuk pulang.”
Raden Jalawaja menarik nafas panjang. Namun kemudian sambil menggeleng ia berkata ” Tidak, paman. Aku tidak akan pulang.”
“ Jalawaja “ Ki Ajarpun kemudian menyela ”mungkin ada hal yang penting yang akan
dibicarakan oleh ibumu.”
“ Eyang . Aku sudah berjanji, bahwa aku tidak akan pulang. Aku akan tinggal disini, karena hidupku akan lebih berarti dari pada aku berada di Katumenggungan. Disini aku dapat bekerja keras bersama anak-anak muda di padukuhan sebelah untuk meningkatkan hasil sawah dan pategalan. Membuat parit-parit baru untuk mengairi sawah tadah udan, sementara di bagian lain di lereng bukit ini airnya melimpah. Memperbaiki jalur-jalur jalan yang menghubungkan padukuhan-padukuhan dengan lingkungan yang lebih luas. Membuat jembatan-jembatan bambu yang sederhana tetapi memenuhi kebutuhan. Sedangkan kalau aku berada di Katumenggungan, apa yang dapat aku kerjakan disini? Duduk-duduk, merenung makan dan minum , tidur dan apalagi ?”
“ Raden ” berkata Ki Tumenggung Jayataruna kemudian ” memang ada hal yang penting yang harus aku sampaikan kepada Raden, kenapa Raden Ayu Reksayuda memanggil Raden.”
Jalawaja memandang Ki Tumenggung Jayataruna dengan kerut di dahinya.
“ Raden. Dalam waktu dekat. Mungkin pekan ini, ayahanda Raden Jalawaja, Raden Tumenggung Wreda Reksayuda akan di jemput dari pengasingan.”
“ Ayahanda akan dijemput ?”
“ Ya.”
“ Untuk apa? Apakah ayahanda harus menjalani hukuman yang lebih berat di Sendang Arum?”
“ Tidak, tidak, Raden. Raden Tumenggung Wreda Reksayuda telah mendapatkan pengampunan setelah menjalani hukuman sekitar tiga tahun dan hukuman yang seharusnya dijalani selama lima tahun.”
Raden Jalawaja termangu-mangu sejenak. Namun kemudian anak muda itu menggeleng sambil menjawab -Paman. Aku sudah berjanji bahwa aku tidak akan pulang lagi, apapun alasannya.”
“ Ngger” sahut Ki Ajar Anggara ” aku tahu bahwa kau merasa lebih kerasan disini daripada di Katumenggungan. Aku juga tidak berkeberatan kau tinggal disini. Tetapi bukan berarti bahwa kau tidak akan pulang untuk keperluan-keperluan yang penting. Wayah. Bahwa ayahandamu diperkenankan pulang sebelum menjalani masa hukumannya sampai habis, adalah satu hal yang sangat penting didalam perjalanan hidupnya. Setelah pulang, ayahandamu akan dapat menjalani satu kehidupan yang wajar bersama ibumu. “
“ Maaf eyang. Tetapi aku tidak dapat pulang. Aku sudah berjanji bahwa aku tidak akan pulang selama Miranti masih berada di Katumenggungan.“
“ Kenapa Raden. Ibunda Raden Jalawaja mengharap angger pulang. Ayahanda Raden Tumenggung Wreda Reksayuda akan sangat
para
berbahagia jika Raden Jalawaja bersedia ikut menjemput ayahanda dari pengasingannya di Pucang Kembar.
“ Tidak. Aku tidak akan pulang. “
“ Jika Raden tidak ingin ikut menjemput ayahanda Raden di pengasingan, Raden dapat menunggunya di Dalem Katumenggungan bersama ibunda. Jika ayahanda Raden melihat Raden berada di Dalem Katumenggungan dan menunggu kehadirannya bersama ibunda, maka ayahanda tentu akan bergembira sekali. “
“ Sudahlah paman. Aku sudah memutuskan untuk tidak pulang. Biarlah petugas menjemput ayahanda ke Pucang Kembar. Dan biarlah Rara Miranti menunggu kedatangan ayah itu di Dalem Katumenggungan, karena bagi ayahanda, keluarga satu-satunya tinggallah Rara Miranti. “
Jalawaja “ berkata Ki Ajar Anggara “ sebaiknya kau pulang ngger. Kau akan dapat membuat ayahandamu melupakan masa-masa pahit yang
pernah dijalaninya di pengasingan. “
“ Aku sudah tidak dihitung lagi oleh ayahanda, eyang. Aku sudah berada di luar bingkai kasih-sayangnya. Aku bagi ayahanda adalah anak yang tidak patuh dan karena itu tidak pantas untuk tetap berada di lingkungan keluarganya.
“ Keadaan tentu sudah berubah, Raden “ berkata Ki Tumenggung Jayataruna.
“ Tidak. Selama Miranti masih berada di Dalem Katumenggungan keadaan tidak akan berubah. Selama itu pula aku tidak’akan memberikan arti apa-apa bagi ayahanda. Karena itu, maka aku tidak merasa perlu untuk pulang serta menjemput ayahanda di pengasingannya. “
“ Wayah “ berkata Ki Ajar Anggara “ pulanglah ngger. Ayahmu akan dapat menjadi salah paham. Dikiranya akulah yang mengajarimu untuk tidak mengasihinya lagi. Kau tahu, bahwa ibumu yang sudah meninggal itu adalah anakku. Ayahandamu dapat menduga, bahwa karena ayahandamu menikah lagi dengan seorang perempuan yang lain, aku tidak merelakannya dan membujukmu untuk meninggalkannya. “
“ Tidak, eyang. Eyang tahu, kenapa aku pergi meninggalkan ayahanda pada waktu itu. “
“ Sekarang semuanya tentu akan berubah. Setelah ayahandamu menjalani hukuman selama kurang lebih tiga tahun dari hukuman yang seharusnya lima tahun itu. “
“ Bukankah eyang tahu bahwa persoalannya tidak banyak berhubungan dengan masa hukuman yang harus ayahanda jalani? “
“ Lupakan persoalan pribadimu dengan ayahandamu itu, Jalawaja. “
“ Tidak, eyang. Aku tidak akan dapat mengkesam-pingkannya. “
“ Jangan mengeraskan hatimu seperti itu Jalawaja. “
“ Maaf eyang. Kali ini aku tidak dapat memenuhi keinginan eyang. Mungkin hal ini adalah satu-satunya keingkaranku terhadap janjiku untuk mematuhi segala petunjuk nasehat dan perintah eyang. “
“ Raden. Apakah sebenarnya yang menghalangi angger untuk pulang. Apalagi menanggapi persoalan yang amat penting ini. “
“ Paman. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan kepada paman, karena persoalannya adalah persoalan yang sangat pribadi. Tetapi biarlah paman mengetahui, kenapa hatiku menjadi sekeras batu hitam di lereng gunung itu. “
“ Apakah itu perlu ngger? “
“ Biarlah eyang. Biarlah paman Jayataruna tidak menganggapku sebagai anak yang durhaka yang tidak mengasihi ayahandanya yang menjadi lantaran kelahiranku di dunia ini. “
Ki Ajar Anggara hanya dapat menarik nafas panjang.
“ Paman. Pada waktu itu, ayahanda telah memanggilku menghadap “ Jalawajapun mulai dengan ceritanya untuk meyakinkan Ki Tumenggung Jayataruna, bahwa ia mempunyai alasan untuk menolak panggilan ibu tirinya.
Menjelang tengah hari, Jalawaja telah menghadap ayahandanya. Namun Jalawaja itu terkejut ketika ia melihat seorang perempuan duduk bersama ayahandanya di ruang dalam.
“ Miranti “ desis Jalawaja.
“ Jalawaja “ polong ayahandanya “ kenapa kau sebut saja namanya? Kau harus menghormatinya. Perempuan itu adalah bakal ibumu. “
“ Ibuku? Maksud ayahanda? “
“ Duduklah ngger “ berkata perempuan itu “ kau tentu belum mengetahuinya, bahwa aku memang calon ibumu. “
“ Ayah “ suara Jalawaja bergetar “ jadi ayah akan menikah lagi? “
“ Ya, Jalawaja. Dan perempuan inilah calon ibumu itu. “
“ Jadi ayah akan menikah dengan Miranti? “
“ Jangan sebut namanya saja. Panggil perempuan itu ibu. Ia akan menjadi ibumu. “
“ Aku sudah terbiasa memanggil namanya ayah.”
“ Kau kenal dengan calon ibumu.”
“ Sudah ayah. Itulah sebabnya aku hanya menyebut namanya.”
“ Jika demikian, sejak sekarang kau harus belajar memanggilnya ibu. Jangan panggil namanya saja.”
“ Biarlah kangmas. Angger Jalawaja tentu tidak dapat merubah kebiasaannya dengan serta-merta. Tetapi lambat laun ia akan terbiasa memanggilku ibu.”
“ Tidak. Aku tidak akan pernah melakukannya.”
“ Jalawaja.”
“ Ayah. Apakah ayah sudah berpikir masak untuk menikah lagi dengan perempuan itu ?”
“ Sudah, Jalawaja. Aku sudah berpikir berulang kali.”
“ Jadi kehadiran ibunda di Katumenggungan ini tidak lebih dari semilir angin yang bertiup. Terdapat sedikit kesejukan di hati ayahanda pada waktu itu. Tetapi setelah angin itu lewat, maka ayahanda telah melupakannya.”
“ Tidak, Jalawaja, Aku tidak pernah melupakannya. Tetapi aku tidak dapat ingkar dari kenyataan, bahwa ibun-damu telah meninggal. Ia tidak akan pernah dapat hadir lagi di rumah ini.
Aku tidak akan pernah dapat berbicara lagi dengan ibundamu.”
“ Itukah batas kesetiaan ayahanda ?”
“ Aku setia- sampai batas hidupnya. Yang Maha Agunglah yang telah memisahkan kami.”
“ Batas kasih itu menurut ayahanda adalah akhir dari sebuah kebersamaan ? Setelah ibunda tidak lagi bersama ayahanda, maka kasih dan kesetiaan itupun tidak lagi mengikat.”
“ Sudah aku katakan, Jalawaja. Aku tidak pernah melupakan ibumu.”
“ Kangmas “ terdengar suara lembut Rara Miranti. Sambil mengusap matanya yang basah Rara Miranti itupun berkata – Aku menjadi sangat terharu mendengar sikap Angger Jalawaja. Hatinya yang terbuka memungkinkan aku melihat tembus kedalamnya. Angger Jalawaja adalah seorang anak muda yang sangat mengisihi ibundanya. Iapun seorang anak muda yang setia. Kangmas aku dapat mengerti perasaannya.”
“ Terima kasih, diajeng, jika kau dapat mengerti perasaan anakku.”
“ Ayahanda: Ayahanda melihat air mata itu ?”
“ Ya, Jalawaja. Ia mengerti perasaanmu. Sebagai seorang perempuan iapun menghargai kesetiaan.”
Gigi Jalawaja terkatup rapat. Tetapi ia berkata
didalam hatinya “ Air mata itu adalah air mata buaya. Betapa pandainya ia memainkan peranannya.”
Dalam pada itu, Raden Tumenggung Wreda Reksayuda itupun berkata “ Jalawaja. Ada hal lain yang perlu kau perhatikan. Jika aku kemudian menikah dengan calon ibumu itu, bukan hanya karena kecantikannya. Tetapi ternyata ibumu dapat mengerti gejolak perasaanku menanggapi sikap pamanmu Kangjeng Adipati di Sendang Arum. Pamanmu sejak beberapa tahun terakhir, sudah tidak lagi dapat mengendalikan dirinya. Caranya memegang pemerintahan sudah berubah. Ia tidak lagi mengikat diri kepada tatanan dan paugeran yang berlaku.”
“ Siapakah yang mengatakan itu, ayahanda ? Perempuan itu.”
“ Angger Jalawaja “ berkata Rara Miranti “ aku masih dapat mengerti, bahwa semua hal yang tidak kau sukai kau timpakan kepadaku. Aku tidak berkeberatan ngger. Tetapi ketahuilah, bahwa apa yang dikatakan oleh ayahandamu itu benar. Kangjeng Adipati sudah tidak lagi berdiri diatas landasan keadilan dan kebenaran. Kangjeng Adipati tidak lagi menghiraukan pendapat para sentana dan nayaka, termasuk ayahandamu. Padahal semua orang kadipaten ini tahu, siapakah ayahandamu Jalawaja.”
“ Kau tidak usah berbicara tentang pemerintahan di Sendang Arum. Apalagi
menyebarkan fitnah seolah-olah paman Adipati sudah kehilangan kendali sehingga pemerintahannya tidak lagi berlandaskan pada keadilan dan kebenaran.” .
“ Jalawaja. Bersikaplah baik kepada ibumu.”
“ Ayah. Tidak sepantasnya ia memfitnah paman Adipati.”
“ Yang dikatakan itu bukan fitnah. Tetapi kenyataan yang ada sekarang di kadipaten ini.”
“ Tidak. Aku tidak melihat bahwa paman Adipati telah meninggalkan jalur tatanan dan paugeran. Para nayaka dan sentana jika tidak menganggap seperti itu.”
“ Kau masih terlalu kanak-kanak untuk mengerti. Tetapi itulah kenyataan yang ada di kadipaten ini. Karena itu, Jalawaja. Aku akan melanjutkan perjuanganku yang tertunda karena ibundamu meninggal.”
“ Melanjutkan perjuangan yang mana ? Ibunda tidak pernah sependapat dengan ayahanda tentang apa yang ayahanda sebut dengan perjuangan itu.”
“ Bukan tidak sependapat. Tetapi ibundamu ingin hidup tenang dan damai, sehingga didalam dirinya tidak terdapat api perjuangan itu. Aku tidak menyalahkannya. Aku hanya ingin mengatakan, bahwa calon ibumu itu berbeda. Ada api didalam dadanya. Api untuk menyalakan perjuangan ketidak adilan dan kesewenang-wenangan.
“ Omong-omong. Perempuan itu sama sekali tidak akan memperjuangan apa-apa bagi rakyat Sendang Arum. Tetapi ia ingin memperjuangkan bagi dirinya sendiri untuk menda-patkan pangkat, derajad dan kemudian semat. “
“ Jalawaja “ potong ayahnya “ kau harus menjaga kata-katamu. “
“ Maaf ayahanda. Aku berkata sebenarnya. “ Mata Rara Miranti menjadi semakin basah. Titik-titik air jatuh satu-satu dipangkuannya.
“ Gila perempuan itu “ geram Jalawaja didalam hatinya.
Sementara itu Raden Tumenggung Wreda Reksayudapun membentak Jalawaja. “ Sadari, bahwa kata-katamu itu telah menusuk perasaan calon ibumu. Juga menusuk perasaanku. “
“ Biarlah kakangmas. Aku tidak berkeberatan. Mungkin beban seperti inilah yang harus aku tanggungkan sejak pertama kali aku menginjakkan kakiku didalam lingkungan keluarga kakangmas. Sejak kecil akupun telah mendengar dongeng tentang seorang itu tiri yang merebus anaknya didalam sebuah belanga panjang. “
Raden Jalawaja menghentakkan tangannya. Tetapi anak muda itu masih berusaha mengendalikan sikapnya dihadapan ayahandanya.
“ Jalawaja. Baiklah. Kita tidak berbicara tentang pemerintahan di Sendang Arum. Yang ingin aku
bicarakan sekarang adalah rencanaku untuk menikah lagi dengan calon ibumu itu. “
“ Jika ayahanda bertanya kepadaku, aku tidak setuju ayahanda. “
“ Kenapa ? “
“ Aku sudah banyak menyatakan sikapku ayah.“
“ Jalawaja. Jika demikian maka aku akan mempergunakan hakku sebagai seorang ayah. Aku beritahukan kepadamu, aku akan menikah lagi. Aku tidak merasa perlu minta persetujuanmu. “
“ Jika itu yang ayahanda kehendaki, silahkan. “
“ Jadi kau menurut perintah ayahandamu karena aku berkuasa untuk melakukannya ? Bukan karena kau menyadari, siapakah aku dan siapakah kau. Bukan karena kau mengasihiku karena aku juga mengasihimu. “
“ Ayahanda. Jika aku tidak mengasihi ayahanda, maka aku tidak akan peduli terhadap rencana ayahanda untuk menikah lagi. Tetapi karena aku mengasihi ayahanda, maka aku memberanikan diri untuk tidak menyetu-. jui niat ayahanda itu. “
“ Jalawaja. Kau tidak mempunyai pilihan. Kau harus menerima kenyataan, bahwa aku akan menikah dengan Rara Miranti. “
“ Silahkan ayahanda. Tetapi aku masih mempunyai pilihan. Aku akan pergi ke lereng gunung. Aku akan tinggal bersama eyang Ajar
Anggara. Aku akan semakin mendekatkan diri dengan Kang Murbeng Dumadi sebagaimana eyang Ajar Anggara. “
“ Jalawaja. “
“ Aku akan tinggal bersama eyang di lereng gunung. Di pondok eyang yang tenang dan damai. Jauh dari rasa tamak, dengki, iri dan benci. “
“ Jangan pergi, ngger. “ berkata Rara Miranti di sela-sela isak tangisnya.
Tetapi isak tangis Miranti itu membuat Jalawaja semakin muak.
“ Ayahanda. Aku tetap mengasihi ayahanda. Sepeninggal ibu, orang tuaku tinggal seorang, ayahanda. Tetapi sekarang terpaksa aku pergi meninggalkan ayahanda. “
Jalawajapun kemudian meninggalkan Dalem Katumenggungan dengan janji di dalam hatinya, bahwa ia tidak akan menginjakkan kakinya lagi di halaman rumahnya, jika Rara Miranti itu masih ada di rumah itu.
Ki Tumenggung Jayataruna mendengarkan ceritera Jalawaja itu sambil mengangguk-angguk. Kemudian iapun berkata “ Jika persoalannya demikian, maka aku tidak akan dapat mencampurinya. Segala sesuatunya terserah kepada Raden Jalawaja. “
“ Seperti yang sudah aku katakan, paman. Aku tidak akan pulang. “
“ Baiklah ngger. Aku akan menyampaikannya kepada Raden Ayu Reksayuda. Tetapi meskipun demikian ngger. Ternyata Raden Ayu Reksayuda itu hatinya tidak seburam yang angger duga.”
“ Meskipun hati Rara Miranti itu putih seperti kapas, aku tidak akan pulang. “
“ Jika demikian, sebaiknya aku mohon diri. Ki Ajar, aku mohon diri. “
“ Ki Tumenggung. Aku minta maaf atas sikap Jalawaja. Akupun minta maaf, karena aku tidak mampu melunakkan hati cucuku. “.
“ Aku tidak akan minta maaf kepada Miranti karena sikapku ini. “
“ Baiklah, Raden. Segala sesuatunya nanti akan aku sampaikan kepada Raden Ayu Reksayuda. “
“ Silahkan paman. Aku hanya dapat mengucapkan selamat jalan. ?”
“ Aku juga mengucapkan selamat jalan, Ki Tumenggung. “
“ Aku mohon diri Ki Ajar. Aku mohon diri Raden.“
Sejenak kemudian, Ki Tumenggung Jayatarunapun telah meninggalkan rumah Ki Ajar Anggara. Ki Ajar dan Jalawaja melepas mereka di regol halaman. Mereka memperhatikan kuda yang berlari di jalan setapak yang menuruni kaki pegunungan.
Debu yang putih mengepul tipis di belakang kuda yang berlari itu. Namun sejenak kemudian Ki Tumenggung Jayataruna itu telah hilang di tikungan.
Demikian Ki Tumenggung itu tidak nampak lagi, maka Ki Ajar Anggara dan Jalawajapun telah masuk kembali ke regol halaman pondok Ki Ajar yang sederhana itu.
“ Jalawaja – berkata Ki Ajar Anggara setelah keduanya du duk kembali di serambi – ternyata hatimu keras sekali .ngger.”
Jalawaja menundukkan kepalanya.
“Hatimu sama sekali tidak tergerak ketika kau mendengar bahwa ayahmu yang seharusnya diasingkan selama lima tahun itu, kini mendapat pengampunan meskipun ia baru menjalaninya selama tiga tahun.”
“ Aku minta maaf, eyang.”
“ Justru karena kau disini, Jalawaja. Sedangkan aku adalah ayah dari isteri Raden Tumenggung Wreda yang telah tidak ada, maka ayahmu akan dapat mempunyai dugaan yang keliru. Ayahmu akan dapat menduga, bahwa aku menjadi sakit hati karena ayahmu menikah lagi.”
“ Tidak, eyang. Ayah tahu bahwa penolakan itu timbul dari dalam hatiku sendiri.”
“Memang kaulah yang mengatakannya kepada ayahmu. Tetapi mungkin ayahmu atau ibu tirimu
atau siapapun akan dapat menduga, lain. Mereka dapat menganggap bahwa sikapmu itu dilandasi oleh hasutan-hasutanku.”
“ Tidak eyang. Tidak. Eyang jangan menyalahkan diri sendiri. Jika sikapku ini salah, maka akulah yang bersalah. Bukan eyang.”
“ Jalawaja. Kau harus menyadari, bahwa ayahandamu itu tetap saja ayahandamu meskipun kau tidak mengakuinya. Semua orang tahu bahwa kau adalah putera Raden Tumenggung Wreda Reksayuda. Meskipun kau membencinya apalagi setelah ayahmu itu diasingkan , kau tetap saja anaknya.”
“ Aku tahu, eyang. Yang aku lakukan ini tidak ada hubung annya dengan hukuman yang harus disandang oleh ayahanda. Aku akan tetap menghormatinya dan akan tetap berbuat apa saja baginya meskipun ayahanda diasingkan Tetapi yang tidak dapat aku terima adalah karena ayah telah menikah lagi dengan Rara Miranti.”
“ Apapun yang dilakukan oleh ayahmu, Jalawaja. Setuju atau tidak setuju, kau tidak dapat ingkar, bahwa ayahandamu adalah lantaran dari Yang Maha Agung untuk menghadirkan-mu-di dunia ini. Memang itu bukan atas kehendakmu sendiri, Jalawaja, sehingga kau dapat menimpakan semua tanggung jawab kepada ayahandamu. Tetapi pada dasarnya, ayahmu telah mendapat kepercayaan Yang Maha Agung menjadi lantaran keberadaanmu di muka bumi ini. Karena itu, maka
kau harus menghormati kepercayaan Yang Maha Agung itu.”
“ Ya, eyang”
“ Nah, mumpung Ki Tumenggung Jayataruna belum jauh. Susullah dan ikutlah bersamanya. Kudamu akan mampu mengimbangi kecepatan berlari kuda Ki Tumenggung.
“ Ampun eyang. Aku tidak dapat melakukannya.”
“ Jalawaja – nada suara Ki Ajar Anggarapun meninggi -kenapa kau tidak mau mendengarkan kata-kataku, Jalawaja. Bukankah kau tahu, bahwa aku tidak akan menjerumuskanmu kedalam satu keadaan yang buruk bagimu? Apakah kau malu menampakkan dirimu di Sendang Arum karena ayahmu pernah dihukum? Bahkan diasingkan?”
“ Eyang – Jalawaja itu beringsut sejengkal – sebenarnya aku akan menyimpan rahasia yang satu ini didalam hatiku. Tetapi aku tidak ingin menjadi seorang anak yang durhaka di mata eyang. Akupun tidak ingin menjadi seorang anak yang tidak patuh dan berhatisekeras batu hitam – Jalawaja berhenti sejenak. Lalu katanya – Eyang. Seperti yang sudah aku katakan kepada ayahanda langsung, bahwa aku tetap mengasihi ayah anda. Aku memang tidak dapat melepaskan diri dari hubungan darah itu, apapun yang terjadi dengan ayah, aku adalah tetap anaknya. Aku tidak akan merasa malu disebut sebagai anak seorang
pengkhianat. Aku akan tetap menengadahkan wajahku meskipun aku anak seorang buangan.”
“ Jadi apa yang menghalangimu pulang, Jalawaja? Karena kau tidak setuju ayahandamu menikah lagi?”
“ Aku memang menjadi sangat kecewa bahwa ayahanda telah menikah lagi. Tetapi seandainya ayahanda tidak menikah dengan Rara Miranti, aku tidak akan berjanji untuk tidak menginjakkan kakiku di rumahku selama Rara Miranti itu masih ada di rumah.”
“ Kenapa dengan Rara Miranti?”
“ Eyang. Sebenarnya aku ingin menyimpan rahasia ini dalam-dalam. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya kepada si apapun. Juga kepada eyang.”
“ Jika kau sudah memutuskan untuk membuka rahasia itu sekarang, katakan,”
“ Eyang. Sebelum aku bertemu dengan Rara Miranti di ruang dalam rumahku pada saat Rara Miranti berdua dengan ayah, aku sudah mengenal gadis itu.”
” Kau sudah mengenalnya?”
“ Ya. Aku sudah mengenalnya. Aku juga sudah menga takan kepada ayahanda, bahwa aku sudah mengenalnya. Tetapi yang aku katakan juga hanya terbatas- sampai disitu, meskipun sebenarnya aku mempunyai ceritera yang cukup panjang tentang
Rara Miranti.
Ki Ajar Anggara tidak menjawab. Ia menunggu Jalawaja itu menceriterakan rahasianya yang telah menghalanginya unluk pulang dalam keadaan apapun juga.
Dengan nada suara yang dalam, maka Jalawaja itupun bercerita.
Menjelang senja Jalawaja asyik duduk di bendungan dengan pancing di tangannya. Sudah sejak matahari turun, Jalawaja duduk di bendungan itu. Ia terbiasa berada di tempat itu untuk memancing ikan. Kadang-kadang dengan dua atau tiga orang kawannya. Bahkan kadang-kadang mereka berlomba, siapakah yang mendapat ikan terbanyak, dianggap menang. Dan berhak mendapatkan ikan kawan-kawannya yang lain. Apalagi sepeninggal ibunya, kadang-kadang Jalawaja duduk berlama-lama di bendungan itu. Kadang-kadang Jalawaja tidak menyadari, bahwa seekor ikan telah menyambar umpan pancingnya, karena Jalawaja sedang merenungi kepergian ibunya. Rasa-rasanya Jalawaja masih belum puas berada di bawah sayap kasih ibunya. Namun tiba-tiba ibunya harus dipanggil pulang oleh Penciptanya.
Senja itu Jalawaja terkejut ketika seorang gadis tiba-tiba saja sudah duduk disampingnya.
“ Kakang.”
Jawalaja berpaling. Yang duduk disampingnya
nikah ?”
mencintaimu,
ka
rlalu muda untuk berbicara tentang
adalah . Rara Miranti.
“ Miranti. Sebentar lagi hari akan gelap. Kenapa kau datang kemari ? Jika ada orang yang melihat, maka orang itu akan mempunyai dugaan yang keliru tentang kita.”
” Tidak, kakang. Mereka tidak akan mempunyai dugaan yang keliru. Mereka tentu mengira bahwa kita berdua telah saling jatuh cinta. Kita berdua sudah berjanji untuk hidup bersama. Bukankah mereka tidak keliru ?”
“ Miranti “ Jalawaja beringsut menjauh. Tetapi Miran-tipun beringsut pula. Bahkan bersandar di bahu Jalawaja “ kakang. Aku ingin jawabmu. Kapan kita akan menikah.”
“ Miranti. Siapakah yang pernah mengatakan kepadamu bahwa kiia akan me
“ Aku
kang.” “ Jangan berbicara tentang pernikahan, Miranti. Kita masih te
pe
ng lebih muda dari
ka
mu, bahwa pada suatu saat
kiia
arilah kita
be
egera mandi dengan cahayanya
ya
anti. Jangan bermimpi. Bukankah
ka
ingnya
sam
rnikahan.” “ Tidak. Kakang. Kita tidak terlalu muda lagi. Marintcn, yang dua tahun lebih muda dari aku, juga lelah menikah. Rebana ya
kang, juga sudah menikah.” “ Tetapi aku masih belum ingin menikah, Miranti. Sementara itu hubungan diantara kiia adalah hubungan wajar saja. Aku tidak pernah mengatakan kepada
akan menikah.” “ Jangan bergurau kakang. M
rbicara dengan sungguh-sungguh.”
“ Apa yang akan kita bicarakan ?” “ Hari-hari yang akan kita jelang. Hari-hari yang indah seperti indahnya senja ini, kakang. Sebentar lagi matahari akan terbenam di balik bukit itu. Teiapi diseberang, bulan akan segera bangkit menghiasi langit. Dedaunan, air di sungai itu, kita berdua, akan s
ng gemulai.” “ Sudahlah, Mir
u tidak tidur ?”
“ Kita dapat tidur disini, kakang.” Ketika Miranti mendesaknya lagi, Jalawajapun segera bangkit berdiri. Digulungnya panc
bil berkata “ Aku akan pulang, Miranti.” Miranti tertawa. Iapun bangkit berdiri sambil
be
gan
ap
yerahan yang
utu
bahwa aku masih belum
me
p bersamaku kelak.”
ah kakang bersungguh-sungguh
?”
emang berkawan.
Ha berkawan
rkata “ Tidak ada seorangpun yang berada di sekitar kita, kakang. Hanya ada aku dan kau saja.” “ Miranti. Jangan mendesak. Kita akan mengurangi hari-hari mendatang dalam sibuk kita masing-masing. Kita tidak dapat berada di dalam satu biduk. Diantara kita tidak terdapat hubun
a-apa selain hubungan sebagai kawan yang baik. Bahkan mungkin sebagai dua orang saudara.” “ Sudahlah. Jangan menggangguku lagi. kakang. Marilah kita berjanji, bahwa kita akan mengikat hidup kita sebagai suami isteri. Aku datang kepadamu sekarang dengan pen
h. Apapun yang akan terjadi di kemudian hari, aku tidak akan menyesalinya.” “ Jangan Miranti. Sebaiknya kita menempuh jalan hidup kita masing-masing. Kau dengan jalan hidupmu, aku dengan jalan hidupku sendiri. Sudah aku katakan kepadamu,
nginginkan seorang perempuan yang akan hidu
“ Kakang. Apak
“ Ya, Miranti.”
“ Jadi apa yang kakang lakukan selama ini terhadap aku?” “ Apa yang aku lakukan ? Bukankah aku tidak melakukan apa-apa ? Kita m
nya itu. Tidak lebih. Seperti aku
de
u salah paham Miranti.”
kepadamu untuk
menyerahka
an aku dengan Ririswari. Riris
ad
g berjodohan. Kita
masih terlalu muda. Aku masih ingin memperdalam
ilm
ngan gadis-gadis yang lain.”
“ Jadi kakang telah menolak aku ?” “ Ka
“ Kakang, jadi kakang benar-benar menolak aku.~
“ Sudah aku katakan, bahwa belum waktunya aku berhubungan dengan seorang perempuan untuk membicarakan tentang pernikahan.” “ Kakang “ wajah Miranti menjadi merah “ aku sudah meninggalkan trapsilaning wanita, kakang. Aku sudah mengorbankan harga diriku sebagai seorang perempuan. Aku datang
n jiwa dan ragaku dan bahkan apa saja yang kau kehendaki kakang. Tetapi ternyata kakang telah menyakiti hatiku.”
“ Aku minta maaf, Miranti. Agaknya kau telah salah mengerti atas sikapku selama ini. “ “ Kakang. Jadi kakang sekarang telah benar-benar berpaling kepada Ririswari? Tentu saja aku tidak akan mampu menyainginya jika kakang memperbandingk
alah anak seorang Adipati. Ia memang memiliki beberapa kelebihan yang dapat membuat kakang menjadi silau. “ “ Miranti. Sebenarnyalah bahwa aku masih belum berniat berbicara tentan
u kanuragan dan ilmu kaji-wan agar dapat
Entah apapun caranya,
tet janjiku itu. Bumi dan
lan
mengambang di langit. Awan
ya
ambang dan
tid ertahan, Jalawaja
memandanginya dengan penuh iba.
menjadi bekal hidupku kelak. “ “ Itu hanya alasanmu saja, kakang. Baik kakang. Kau telah menyakiti hatiku. Aku tidak mau menerima keadaan ini, kakang. Ingat kakang. Bahwa pada suatu hari, aku akan menyingkirkan Ririswari. Aku tidak dapat hidup diatas bumi yang sama. Aku tidak dapat menghisap nafas dari lingkungan udara yang sama. Selain itu, maka pada suatu saat, kau akan merunduk dihadapanku untuk menyembah telapak kakiku.
api aku akan melaksanakan
git akan menjadi saksi. “ “ Miranti “ desis Jalawaja. Miranti tidak mendengarkannya lagi. Iapun segera berlari meninggalkan bendungan yang sudah menjadi semakin buram. Matahari telah terbenam. Langit menjadi gelap. Namun bulan tidak segera nampak
ng kelabu mengalir dari arah lautan, semakin lama semakin tebal. Ketika kemudian hujan turun, Jalawaja masih berada di bendungan. Dibenahinya alat-alatnya serta kepis tempat ikan. Beberapa ekor ikan yang sudah ada didalam kepisnyapun segera dilemparkannya kembali ke bendungan. Dengan cepatnya ikan itupun berenang menghilang didalam genangan air bendungan yang dalam. Ketika seekor diantaranya nampak meng
ak lagi mampu b
ula
de
dikatakan putih, yang pulih
dik
bahwa
ak
g belum
me
kau
lan
“ Kasihan “ desis Jalawaja. Namun ketika hujan menjadi semakin lebat, Jalawajapun meninggalkan bendungan itu p
ngan pakaiannya yang menjadi basah kuyup. “ Eyang “ berkata Jalawaja kemudian “ itulah sebabnya, aku kemudian bersumpah untuk tidak menginjakkan kakiku di rumahku jika Rara Miranti masih berada di rumah itu. Apapun yang akan dilakukannya, tentu akan membuat hatiku menjadi sangat sakit. Perempuan itu memang sedang mencari kesempatan untuk menyakiti hatiku. Atau bahkan pada suatu saat akan dapat mengadu kepada ayah dengan cerit-cra-ceritera yang dibuat-buatnya. Yang hitam
atakannya hitam. “ Ki Ajar Anggara menarik nafas panjang. Sambil mengangguk-angguk iapun berkata “ Ngger, Jalawaja. Jika demikian maka ternyata kau tidak bersalah. Aku harus minta maaf kepadamu,
u sudah berprasangka buruk kepadamu. “ “ Eyang tidak bersalah. Eyang meman
ngetahui persoalan yang sebenarnya. “ “ Baiklah wayah. Jika yang terjadi seperti apa yang kau ceritakan itu, memang sebaiknya kau tidak pulang. Biarlah para petugas menjemput ayahandamu ke pengasingan. Tetapi seandainya kau ingin ikut menjemput ayahmu, sebaiknya
gsung saja menghadap pamanmu Adipati. “ “ Tidak eyang. Aku tidak usah ikut menjemput
tentu ayah merasa senang melihat
ke
upakan
pe u untuk melakukannya. “
aksamu lagi untuk pulang, apapun
ala
“ Sekarang, aku akan pergi ke dapur,
ng
ang kerjakan? “
njadi lebih kental, aku
ak
lum memberi
ma
at api. Dipanasinya
leg
ayahanda ke pengasingan. Seandainya itu aku lakukan, belum
hadiranku. “ “ Ayahmu tentu merasa berbahagia jika kau ada diantara mereka yang menjemputnya. Tetapi persoalanmu dengan Miranti mer
nghalang bagim
“ Ya, eyang. “ “ Dengan penjelasanmu itu, aku tidak akan pernah mem
sannya. “
“ Terima kasih atas pengertian eyang. “ Ki Ajar Anggarapun kemudian bangkit sambil berkata
ger. “
” Apa yang akan ey
” Membuat gula. “ “ Biarlah aku yang menjerang legennya eyang. Nanti saja jika sudah me
an memanggil eyang. “ “ Baiklah. Jika demikian, jerang legennya. Aku akan pergi ke belumbang. Aku be
kan ikan-ikan di belumbang itu. “ Ketika Ki Ajar Anggara pergi ke belumbang, maka Jalawajapun sibuk membu
en kelapa untuk dibuai gula.
gantung di langit. Semakin lama
sem
h di lerengnya
gu
itu, maka kudanyapun
be
run. Semakin lama menjadi semakin
ba
ian berlari
sam
kecil Ki Tumenggung menuju
ke
Dalam pada itu, Ki Tumenggung Jayataruna melarikan kudanya semakin kencang. Dilihatnya mendung meng
akin tebal. Tetapi ternyata bahwa hujan tidak segera jatuh. Ada angin semilir yang mendorong mendung itu mengalir ke Utara, serta singga
nung yang tinggi. “ Jika hujan itu turun dilereng gunung, maka sungai-sungai akan banjir “ berkata Ki Jayataruna didalam hatinya. Karena
rlari semakin kencang. Ketika matahari turun ke balik bukit di sisi Barat langit, Ki Tumenggung Jayataruna telah memasuki pintu gerbang kota. Namun Ki Jayataruna tidak memperlambat kudanya. Ternyata titik-titik hujan mulai tu
nyak. Ketika hujan benar-benar turun, Ki Tumenggung telah memasuki regol halaman rumah Raden Ayu Reksayuda. Namun meskipun demikian, Ki Tumenggung tidak dapat meninggalkan unggah-ungguh. Dengan tangkasnya Ki Tumenggung meloncat turun dari kudanya, kemud
bil menuntun kudanya di pendapa. Dengan tergesa-gesa Ki Tumenggung mengikat kudanya di patok-patok yang sudah disediakan. Kemudian berlari-lari
tangga pendapa.
gpun naik ke
tan
intu pringgitan diseberang
pe
Marilah kakang
Tu
apa, kakang. Silahkan masuk ke
rua
pu
me
melangkah ke pintu dan
ma
pada itu. lampu-lampu minyakpun telah
me
Untuk menghindari air hujan yang kemudian bagaikan tercurah, Ki Tumenggun
gga. Namun kemudian berhenti. Sejenak Ki Tumenggung berdiri termangu-mangu. Ki Tumenggung menjadi berdebar-debar ketika ia melihat p
ndapa itu terbuka. Raden Ayu Reksayuda muncul dari balik pintu itu sambil tersenyum “
menggung. Silahkan naik. “
“ Maaf Raden Ayu. Pakaianku agak basah. “ “ Tidak apa-
ng dalam. “ “ Terima kasih Raden Ayu. Aku akan duduk di pringgitan saja. Aku hanya singgah untuk memberikan laporan hasil perjalananku menjumpai
tera Raden Ayu. Raden Jalawaja. “ “ Karena itu, marilah. Silahkan masuk. Hujan
njadi semakin lebat. Anginnya terlalu kencang.“ Ki Tumenggung Jayataruna memang merasa ragu. Tetapi ketika Raden Ayu Reksayuda itu mcmpersilahkannya sekali lagi, maka Ki Tumenggungpun telah
suk ke ruang dalam. Dalam
nyala. Di pendapa. Di prjnggitan dan demikian pula
rabot di ruang dalam
itu
duk pula menemui Ki Tumenggung
Jay
ari
ler emui angger Jalawaja? “
mberikan
lap
g. Kakang tentu
let
i seorang prajurit masih dapat
dib
rlatih. Tetapi silahkan duduk
da
lkan Ki Tumenggung duduk termanguma
lampu di ruang datamrsinamya yang ke kuning-kuningan menggeliat di sen^ tuh angin, sehingga bayang-bayang tiang dan pe
pun ikut menggeliat pula. Dengan wajah yang cerah Raden Ayupun kemudian du
ataruna. “ Apakah kakang Tumenggung baru pulang d
eng bukit untuk men
“ Ya, Raden Ayu. “
“ Kakang Tumenggung langsung saja kemari? “ “ Ya, Raden Ayu. Aku ingin segera me
oran kepada Raden Ayu Reksayuda. “ “ Duduk sajalah dahulu, kakan
ih, haus dan barangkali lapar. “ “Tidak, Raden Ayu. Aku tidak letih. Aku sudah terbiasa dan bahkan terlatih, sehingga daya tahanku sebaga
anggakan. “ Raden Ayu Reksayuda tersenyum. Katanya “ Aku percaya, kakang. Kakang adalah seorang prajurit yang te
hulu, kakang.” Sebelum Ki Tumenggung menjawab, maka Raden Ayu Reksayuda itu sudah bangkit dan meningga
ngu.
ekat ruang itu dengan warnawa
g baik”berkata Ki Tumenggung
did
gan. Juga
dis
a rapi, sehingga
na
bawa minuman yang masih nampak
me
u sibuk.”
i lebat, kakang sudah berada
di
Demikian Raden Ayu Reksayuda hilang di balik pintu, maka Ki Tumenggungpun sempat memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Tiang-tiang yang kokoh dan berukir. Gebyok kayu yang membatasi ruang dalam itu dengan pringgitan dan bahkan yang meny
rna yang lunak. “ Rumah yan
alam hatinya. Ki Tumenggungpun sempat memperhatikan selintru kayu yang juga berukir krawan
ungging. seperti -gebyok-gebyoknya. Rumah yang baik itu tertat
mpak menjadi semakin cantik. Ki Tumenggung yang memperhatikan ukiran-ukiran itu dengan saksama, terkejut ketika tiba-tiba saja pintu terbuka. Raden Ayu Reksayuda masuk sambil mem
ngepul.
“ Jangan membuat Raden Ay
“ Hanya minuman kakang.”
“ Tetapi tentu merepotkan Raden Ayu.” “ Bukankah kakang belum sempat minum ? Ketika hujan menjad
tangga pendapa.” Ki Tumenggung tertawa. Namun kemudian disadarinya* bahwa ia berada di rumah Raden Ayu
k tangannya Ki
Tu
merta itu membuat hati kita seakan-akan
ter
menggung
me
muku.
Ap
Fus
dih
Reksayuda juga seorang
Tu
sentana dalem
Ka
Reksayuda, sehingga suara tertawanyapun segera tertahan. Bahkan dengan telapa
menggung menutup mulutnya. “ Tidak apa-apa, kakang. Justru suara tertawa yang serta
buka.” “ Ya, Raden Ayu “jawab Ki Tu
skipun ia tidak mengerti maksudnya. “ Aku sengaja menghidangkan sendiri minuman buat kakang. Aku tidak dapat mempercayakannya kepada abdi di katumenggungan ini, karena kadang-kadang mereka kurang dapat menempatkan diri dihadapan tamu-ta
alagi di–hadapan kakang Tumenggung.” “ Bukankah aku bukan tamu yang ha
ormati ? Aku hanya seorang Tumenggung.” “ Lalu siapa yang harus dihormati jika bukan seorang Tumenggung di kadipaten ini ? Bukankah kakangmas
menggung.” “ Tetapi kedudukan Raden Tumenggung Reksayuda berbeda dengan kedudukanku, Raden Ayu. Raden Tumenggung Reksayuda adalah Tumenggung Wreda. Selebihnya Raden Tumenggung Reksayuda adalah
ngjeng Adipati Sendang Arum.” “ Apa bedanya ? Bahkan secara kewadagan, Ki Tumenggung Jayataruna mempunyai banyak
capai oleh
ka
lan
tia
Katanya “
-yuh
rem
a
ke rang itu terbatas.”
kelebihan. Ki Tumenggung masih lebih muda. Hari-hari depannya masih jauh lebih panjang, sehingga sepantasnya bahwa kakang Tumenggung Jayaturana masih mempunyai cita-cita yang jauh lebih tinggi dari yang pernah di
kangmas Tumenggung Reksayuda.” “Ah. Sebaiknya aku tidak usah berangan-angan, Raden Ayu. Aku tidak akan mungkin mencapai tataran yang lebih tinggi dari kedudukanku yang sekarang. Jika aku berangan-angan untuk dapat yang lebih tinggi, itu aku akan mejadi kecewa di kemudian hari. Aku akan disebut seperti cecak nguntal cagak. Seperti seekor cicak yang akan mene
menggapai tingkat kedudkan
ng rumah ini.” Raden Ayu Reksayuda tertawa. Kakang pandai juga*oerandai-andai. Jika bukan seperti cecak nguntal cagak, maka pepatah lain mengatakan seperti walang ngga
bulan. Seperti bilalang merindukan bulan.” “ Lain Raden Ayu. Artinya agak berbeda, meskipun keduanya ingin menunjukkan bahw
mampuan pencapaian seseo
ginkan seorang perempuan yang kaya
ray
lan yang
me
Ayu. Dalam
ke
Ayu tertawa. Katanya” Minumlah,
ka
diketahui sebabnya,
tan
ahlah Raden
Ay
jan, kakang. Nantisaja jika hujan
su
Raden Ayu. Tentu
“ Apa bedanya, kakang ?” “ Walang nggayuh rembulan adalah ceritera tentang seorang laki-laki yang merindukan seorang perempuan dari tataran yang berbeda. Mungkin seorang anak petani yang merindukan seorang anak bangsawan. Mungkin seorang laki-laki miskin, mengin
a.” “ Apakah kakang pernah mendengar paribasan yang maknanya sebaliknya. Apakah ada paribasan yang berbunyi Rembulan nggayuh walang ing ara-ara kang kebak alang-alang ? Rembu
rindukan bilalang di padang ilalang ?” “ Ah. Tentu tidak ada Raden
nyataannya-pun tidak akan ada.” Raden
kang.”
“ Terima kasih Raden Ayu.” Ki Tumenggung Jayataruna itupun menggapai mangkuknya. Tetapi tanp°
gannya menjadi gemetar. Setelah minum beberapa teguk, maka Ki Tumenggung itupun berkata “ Sud
u. Sudah malam. Aku mohon diri.” “ Masih hu
dah teduh.” “ Mendungnya tebal sekali
hu
Tetapi aku tidak akan dapat
tet ni. “
tidak segera reda. Bahkan sampai
jau
bun di
sel
an perjalanan kakang menemui
Jal
p perempuan itu, seakan-akan
tel
hasil perjalanannya menemui
Ra
k itu tidak mau pulang, Ki
Tu
jan agak lama baru teduh.”
“ Bukankah disini kakang tidak kehujanan ?” “ Ya, Raden Ayu.
ap berada disi
“ Kenapa ? “ “ Jika hujan
h malam. “
“ Bahkan sampai dini hari, kakang. “ Tiba-tiba saja keringat dingin mengem
uruh tubuh Ki Tumenggung Jayataruna. “ Kakang “ berkata Raden Ayu Reksayuda kemudian “ bukankah kakang masih belum menceriterak
awaja. “ “ O “ Ki Tumenggung Jayataruna seolah-olah tersadar dari sebuah mimpi. Ia singgah di rumah Raden Ayu Reksayuda untuk memberikan laporan tentang perjalanannya menemui Raden Jalawaja. Tetapi pembicaraannya dengan Raden Ayu Reksayuda serta sika
ah membiusnya. Karena itu, maka Ki Tumenggung itupun segera menceriterakan
den Jalawaja. “ Jadi ana
menggung. “
Apakah anak itu tidak mengatakan
ala
mau
me
kelebihan dari anak
pe
sekali lagi iapun berkata “ Entahlah, Raden
Ay
ada di rumah, ia
me lain. “
inum kakang. Jangan
me n reda. “
“ Ya, Raden Ayu. “ “ Kenapa ?
sannya ? “ Ki Tumenggung menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia menggeleng “ Tidak, Raden Ayu. Raden Jalawaja tidak mengatakan alasannya, kenapa ia tidak mau pulang dan tidak
njemput ayahandanya dari pengasingan. “ “ Anak itu memang keras kepala. Atau mungkin kakeknyalah yang menghasutnya, karena ia tidak setuju, sepeninggal anak perempuannya, ibu Jalawaja, kakangmas Tumenggung telah mengambil aku sebagai istrinya yang tentu mempunyai banyak
rempuannya itu. “ Ki Tumenggung menjadi berdebar-debar. Namun
u. “ “ Baiklah, kakang Tumenggung. Aku sangat berterima kasih atas kesediaan kakang Tumenggung menemui angger Jalawaja. Mudah-mudahan hatinya pada suatu saat dapat menjadi lunak “ lalu katanya selanjutnya. “ Aku berharap. Mungkin setelah ayahandanya
mpunyai sikap yang
“ Ya, Raden Ayu. “ “ Nah, silahkan m
ngharap huja
rkata “ Hujan
ba
yang ingin aku katakan
ke
a Ki
Tu
nankan memasuki Kadipaten Sendang
Aru
tuk
dib
Ka
“ Tetapi….” Raden Ayu itu terseyum sambil be
ru akan reda esok pagi, kakang. “ Jantung Ki Tumenggung menjadi semakin berdebaran. Sementara Raden Ayu itupun berkata” Kakang. Masih ada
padamu. “ Dahi Ki Tumenggung Jayataruna berkerut. Ketika ia memandang wajah Raden Ayu Reksayuda yang terseyum, Raden Ayu itupun sedang memandanginya, sehingga dengan serta-mert
menggung itupun menundukkan wajahnya. Waktupun terasa berjalan cepat. Di hari berikutnya, atas permohonan Raden Ayu Reksayuda, Kangjeng Adipati Wirakusuma telah memerintahkan Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki Tumenggung Jayataruna menghadap Kakang Adipati Jayanegara di Kadipaten Pucang Kembar untuk memberitahukan keputusan Kanjeng Adipati Wirakusuma, bahwa Raden Tumenggung Wreda Reksayuda sudah mendapat pengampunan serta diperke
m. Berdua bersama dua orang pengawal, sekaligus menjemput Raden Tumenggung Reksayuda un
awa kembali ke Kadipaten Sendang Arum. “ Kapan hamba berdua harus berangkat,
ngjeng ? “ bertanya Ki Tumenggung Reksabawa.
eesokan harinya, Kalian akan pulang
be Tumenggung Wreda
Re
rintahkan untuk bersiap-siap pula. Esok
pa
ng Adipati
Wi
me
Mereka tentu sudah menjadi jera.
“ Hari ini kalian dapat menyiapkan segala sesuatunya yang kalian perlukan dalam tugas kalian itu. Besok kalian berdua bersama dua orang pengawal akan pergi ke Pucang Kembar. Kalian akan bermalam semalam di Pucang Kembar, kemudian di k
rsama kakangmas ksayuda. “
“ Hamba, Kangjeng. “
“ Sekarang kalian berdua aku perkenankan meninggalkan pertemuan ini. “ Hari itu, Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki Tumenggung Jayataruna telah bersiap-siap untuk pergi ke Pucang Kembar. Dua orang prajurit pilihan telah dipe
gi-pagi sekali mereka akan berangkat ke Pucang Kembar. Ketika fajar menyingsing di keesokan harinya, maka empat orang berkuda telah melarikan kuda mereka meninggalkan pintu gerbang kota. Mereka mengemban perintah Kangje
rakusuma untuk menjemput Raden Tumenggung Wreda Reksayuda dari pengasingan. “ Aku ingin tahu, apakah orang-orang yang mencegat kita pada saat kita pergi ke Pucang Kembar beberapa waktu yang lalu, masih juga
nghadang orang-orang yang sedang dalam perjalanan “ berkata Ki Tumenggung Jayataruna. “ Tentu tidak.
Ap
etapi jika mereka masih juga
me
udaku
an singgah di kedai itu
lag
itung pasar yang besar, maka
me
ak lain karena ia melihat ciri-ciri
ke
alagi jika mereka ketahui, bahwa kitalah yang sedang lewat. “ “ Belum tentu, kakang Tumenggung. Kita akan meyakinkannya. T
nyamun orang lewat, aku akan membunuh mereka semua. “
Ki Tumenggung Reksabawa hanya dapat menarik nafas panjang. Ketika mereka melewati kedai yang pernah mereka singgahi, Ki Tumenggung Jayatarunapun berkata “ Kita singgah di kedai itu, kakang. K
da kita tentu sudah letih. Kedua orang pengawal itu tentu juga sudah haus dan bahkan lapar. “ Ki Tumenggung Reksabawa mengangguk sambil menjawab “ Baiklah. Kita ak
i. Agaknya pasar Patalan tidak seramai pada saat kita lewat waktu itu. “ “ Hari ini bukan hari pasaran. Tetapi karena pasar ini terh
skipun bukan hari pasaran, banyak juga orang yang datang. “ Sejenak kemudian, mereka berempat telah duduk di dalam kedai itu. Agaknya pelayan di kedai itu masih sempat mengenalinya. Karena itu, pelayan kedai itupun segera mendekatinya. Namun sikapnya ag
prajuritan pada kedua orangyang pernah singgah di kedai itu.
idak singgah “ berkata Ki
Tu
ggah di
ke
penjahat itu. “
ini ? “
Waktu itu mereka
me membunuh beberapa
ora
anya yang keras kepala.
Bu
nggung Jayataruna itupun kemudian
me
“ Lama aku t
menggung Jayataruna. “ Ya, Ki Sanak. “ “ Apakah orang-orang yang waktu itu sin
dai ini masih sering datang kemari ? .Maksudku orang-orang yang kau sebut
“ Tidak. Ki Sanak. Mereka tidak pernah kelihatan lagi sejak Ki Sanak lewat. “
“ Apakah ada orang lain yang menggantikan mereka, melakukan kejahatan dis
“ Tidak, Ki Sanak. Nampaknya tidak. Entahlah jika aku tidak mengetahuinya. “ “ Sokurlah jika mereka sudah berhenti melakukan kejahatan.
nyamun kami. Kami telah
ng diantara mereka. -” “ Membunuh mereka ? “ “ Tidak semuanya. H
kankah dengan demikian, kelompok mereka tidak mengganggu lagi.”
“ Ya, Ki Sanak. Di hari-hari pasaran, gerombolan itu tidak pernah datang kemari. “
“ Mereka sudah menjadi jera. Mudah-mudahan untuk selamanya mereka tidak akan bangkit lagi. “ Ki Tume
mesan makan dan minum bagi mereka
mpat menyesali
ke
ung
Re
awakan barang-barang yang nanti
ak
bunuh mereka semuanya.
Ka
berempat.
“ Ki Tumenggung pernah dirampok disini ? “ bertanya salah seorang prajurit pengawal.
“ Bukan disini. Di bulak sebelah. Tetapi mereka mengawasi kami berdua sejak di kedai ini. “ Prajurit itu mengangguk-angguk. Katanya “ Yang masih hidup, tentu se
bodohan mereka. Kenapa mereka ingin merampok dua orang Senapati. “ Sambil tersenyum Ki Tumengg
ksabawapun berkata “ Karena itulah, maka sekarang aku membawa dua orang pengawal.” “ Ah, Ki Tumenggung. Apa artinya kami berdua “ sahut prajurit yang seorang lagi “ jika kami pergi juga bersama Ki Tumenggung, maka tugas kami adalah memb
an dibawa oleh Raden Tumenggung Wreda Reksayuda. “
Ki Tumenggung Reksabawa tertawa. Yang lainpun tertawa pula. Mereka berempat tidak terlalu lama berada di kedai. itu. . Setelah mereka selesai makan, minum dan beristirahat sejenak, maka merekapun meninggalkan kedai itu. Kepada pemilik dan pelayan kedai itu, Ki Tumenggung Jayatarunapun berkata “ Jika para penjahat itu masih belum jera, maka kami akan me
mi akan masuk kesarang mereka dan
ereka. Kuda mereka
ya
ka, sehingga
pe
ung itu menjalani seluruh masa
hu
ati kehidupan wajar
be
menghancurkannya.”
Pemilik serta pelayan kedai-itu hanya mengangguk-angguk saja. Sejenak kemudian, maka kedua orang Tumenggung serta kedua orang prajurit pengawal itu telah melarikan kuda m
ng sudah beristirahat pula. Sudah minum serta makan rumput yang segar. ? Sebenarnyalah bahwa tidak ada lagi orang yang mengganggu perjalanan mere
rjalanan mereka menjadi lebih cepat dari perjalanan mereka sebelumnya. % Malam itu juga, kedua orang Tumenggung itu telah mendapat kesempatan untuk menghadap Kangjeng Adipati Jayanegara. Atas nama Kangjeng Adipati Wirakusuma, maka kedua orang Tumenggung itu menjemput Raden Tumenggung Wreda Reksayuda yang telah mendapat pengampunan, sehingga sebelum Raden Tumengg
kumannya, ia sudah diperkenankan untuk pulang. “ Aku ikut bergembira atas keputusan itu, kakang Tumenggung. Raden Tumenggung Reksayuda sudah terlalu tua untuk diasingkan Agaknya disisa hidupnya Raden Tumenggung Reksayuda ingin menikm
rsama isterinya yang pada saat diasingkan, belum lama dinikahinya. “
tapi kakang jangan
me
n diri. Bukan Raden
Tu
tawa.
jCe
at
ke
“ Hamba Kangjeng”kedua orang Tumenggung itu mengangguk-angguk. “ Baiklah. Biarlah kami membantu kakang Tumenggung berdua untuk ikut mempersiapkan segala sesuatunya. Aku berharap bahwa kakang Tumenggung berdua serta kedua orang pengawal itu bermalam di Pucang Kembar malam ini. Besok pagi-pagi kakang Tumenggung berdua dapat berangkai menuju ke Sendang Arum. Bersama Raden Tumenggung Wreda Reksayuda, kakang berdua tentu tidak akan dapat bergerak dengan cepat karena Raden Tumenggung Wreda Reksayuda yang tua itu tidak akan dapat berkuda secepat anak panah. Mungkin kakang Tumenggung berdua menjadi tidak telaten. Te
maksa orang tua itu melarikan kudanya sebagaimana kalian inginkan. “ Kedua orang Tumenggung itu tersenyum. Sambil mengangguk hormat ki Tumenggung Jayatarunapun berkata “ Hamba Kangjeng Adipati. Kami berdua akan menyesuaika
menggung Wreda Reksayuda yang harus menyesuaikan dirinya. “ “ Bagus”Kangjeng Adipatipun ter
mikianlah, malam itu Ki Tumenggung Reksabawa, Ki Tumenggung Jayataruna dan kedua orang prajurit pengawalnya bermalam di Pucang Kembar. Malam itu juga keduanya sudah mendap
sempatan untuk bertemu dan berbicara langsung
Reksayuda.
aden Tumenggung Wreda
Re
ke
pagi-pagi sekali. Aku memerlukan
ud
Arum bersama Raden Tumenggung
Wr
embar dengan nyaman.
Dis
dengan Raden Tumenggung Wreda
Besok, sebelum matahari terbit, mereka akan meninggalkan tanah pengasingan. Sebenarnyalah, sebelum matahari terbit,- Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki Tumenggung Jayataruna bersama R
ksayuda telah menghadap Kangjeng Adipati Jayanegara. “ Ampun Kangjeng, kami telah mengusik
tenangan Kangjeng Adipati yang sedang beristirahat “ berkata Ki Tumenggung Reksabawa. “ Tidak. Aku tidak merasa terusik. Setiap hari aku bangun
ara pagi untuk menyegarkan tubuhku dan pikiranku. “ “ Terima kasih, Kangjeng. Kami datang untuk mohon diri. Kami akan segera meninggalkan kadipaten Pucang Kembar, kembali ke kadipaten Sendang
eda Reksayuda, yang telah diperkenankan pulang. “ “ Aku juga mohon diri dimas. Selama ini aku telah mendapat perlindungan di kadipaten Pucang Kembar. Pada saat-saat aku tidak dimanusiakan lagi oleh dimas Adipati Wirakusuma, maka aku dapat tinggal di Pucang K
ini aku tetap saja diperkenankan hidup bebas sebagaimana orang lain. “
ngmas sudah mendapat
pe
bagaimana mestinya, sehingga aku tidak
jus
dimas Adipati
Wi p kakangmas perlu
disisihkan, ma tentu tidak
ak
erjalanan kangmas
Tu
ngmbok melupakan kangmas
Tu Bukankah yang mohon
pe kepada dimas Adipati juga
ka
“ Tetapi sekarang kaka
ngampunan. Kakangmas sudah diperkenankan pulang meskipun masa pengasingan kakangmas masih belum genap. “ “ Ya. Aku mengucapkan terima kasih atas pengampunan yang aku terima ini. Mudah-mudahan di Sendang Arum aku masih dapat diterima se
tru lersisih dari pergaulan Jika itu terjadi, maka aku akan merasa lebih senang berada di Pucang Kembar. “ “ Tentu tidak kakangmas. Jika
rakusuma masih menganggamaka dimas Wirakusu
an memberikan pengampunan. “ “ Mudah-mudahan, dimas. “ “ Nah, aku hanya dapat mengucapkan selamat jalan. Mudah-mudahan p
menggung mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung, selamat sampai dirumah. Bertemu dengan kang mbok Miranti. “
Raden Tumenggung Wreda Reksayuda tersenyum. Katanya “Mudah-mudahan Rara Miranti tidak lupa kepadaku. “ . “ Mana mungkin ka
menggung. ngampunan
ngmbok Miranti ? “
aat cahaya langit menjadi
cer
hingga untuk berpacu
seb
orang
Tu
ata mereka menjadi berat.
“ Ya, dimas.”
“ Kangmbok tentu sudah menunggu kedatangan kangmas Tumenggung dengan jantung yang berdebar-debar. “ Demikianlah, pada s
ah, maka Raden Tumenggung Wreda Reksayuda telah meninggalkan pintu gerbang ha-laman dalem kadipaten Seperti yang dikatakan oleh Kangjeng Adipati Jayanegara, maka perjalanan iring-iringan yang menjemput Raden Tumen-gung Wreda Reksayuda itu tidak dapat terlalu cepat. Raden Tumenggung memang sudah tua, se
agaimana kedua orang pada saat mereka berangkat, Raden Tumenggung Wreda Reksayuda sudah tidak sanggup lagi. Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki Tumenggung Jay-atarunalah yang harus menyesuaikan diri. Keduanya yang berkuda didepan, sekali-sekali harus berpaling. Jika jarak diantara mereka sudah agak terlalu panjang, maka kedua
menggung itu memperlambat lari kuda mereka. Sementara itu, kedua orang prajurit pengawal yang berkuda dibelakang, mulai terkantuk-kantuk.
Perjalanan kuda mereka yang mereka anggap lamban, semilirnya angin di bulak-bulak panjang yang hijau, membuat m
“ Apakah kita belum memasuki tlatah Sendang Arum, Ki Tumenggung ? “ bertanya Raden
ndang Arum dan Pucang Kembar terdapat
seb i
pe t sebuah tugu batu setinggi
orang
k menempuh jalan utama itu ? “
pa ? “
emat jarak beberapa ribu
pa
belum sampai ke perbatasan.
Ba
wati perbatasan itu.
ntu merasa letih, haus dan barangkali
lap
“ Apakah kita tidak dapat maju sedikit lagi.
Tumenggung Wreda, “ Belum Raden. Beberapa lama lagi. Bukankah ada tanda di perbatasan ? Kalau dijalan utama antara Se
uah gapura batu, maka di tepi jalan ini d
rbatasan terdapa. “
“ Jadi kita tida
“Tidak, Raden “ “ Kena
“ Bukankah jalan utama itu terlalu jauh ? Lewat jalan ini kita mengh
tok. “ Raden Tumenggung Wreda Reksayuda i lu mengangguk-angguk. Ketika matahari sudah sampai di puncak, mereka masih
hkan Raden Tumenggung itupun berkata “ Aku ingin beristirahat barang sebentar. Ki Tumenggung.”
“ Baiklah, Raden. Tetapi sebentar lagi kita sampai di perbatasan. Kita akan beristirahat setelah kita mele
“ Perhatikan kuda-kuda kalian. Kuda-kuda itupun te
ar. “
Ra
apun kemudian telah
be
Reksayuda,
Ki Tumenggung Reks
emudian setelah mereka
beristirah
rjalanan. Punggungku
mu
be
Wr
kuda kita lebih cepat lagi “
den. “ “ Aku sudah letih sekali. “
“ Baiklah, Raden. Jika Raden memang ingin beristirahat, kita akan bcrisirahat di kedai yang ada didepan itu. “ “Aku setuju Ki Tumenggung. Aku sudah haus sekali. “ Mereka berlim
ristirahat di sebuah kedai. Kuda-kuda merekapun mendapat perawatan seperlunya mendapat minum dan makan rumput segar. Didalam kedai, Raden Tumenggung
dbawa, Ki Tumenggung Jayataruna dan kedua orang prajurit pengawal itupun telah minum serta makan pula. Beberapa saat k
at beberapa lama, maka Ki Tumenggung Reksabawapun bertanya “ Apakah kita sudah cukup beristirahat, Raden. “ “ Rasa-rasanya aku menjadi segan untuk bangkit dan melanjutkan pe
lai merasa sakit. Jika nanti kita kelaparan di jalan, sementara tidak kita jumpai lagi kedai, dimana kita akan makan ? “
“ Kita merencanakan, di sore hari ini kita sudahrada di halaman rumah Raden Tumenggung
eda Reksayuda “ “ Kita akan memacu
un akhirnya merekapun
me
gan serta-merta Raden Tumenggung
Re “ Apakah tugu itu batas
ka
dua orang prajurit
pe
lain
gungpun segera turun ke sebuah parit
ya
“Tidak Raden. Tetapi Raden tidak dapat tinggal disini sampai besok. “ Raden Tumenggung itu mengangguk-angguk. Betapapun malasnya, nam
lanjutkan perjalanan. Sekali-sekali Raden Tumenggung Wreda itu berdesah. Punggungnya sudah mufai terasa sakit. Beberapa saat kemudian, merekapun telah sampai di perbatasan. Ketika melihat sebuah tugu batu, den
ksayuda bertanya
dipaten Sendang Arum dan kadipaten Pucang Kembar ? “ Ya, Raden.” Tiba-tiba saja Raden Tumenggung itu menghentikan kudanya. Dengan demikian kedua orang Tumenggung serta
ngawal itupun berhenti pula. Bahkan ketika Raden Tumenggung itu meloncat turun, yang
pun meloncat turun pula “ Pegang kudaku “ berkata Raden Tumenggung kepada seorang diantara kedua orang prajurit itu. Prajurit itupun segera menerima kendali kuda Raden Tumenggung. Sementara Raden Tumeng
ng airnya nampak jernih berkilat-kilat ditimpa cahaya matahari yang sudah melewati puncak langit.
segarnya air di kadipaten
Se
aden”sahut Ki Tumenggung
Jay
tugu i
ambil berdesis perlahan “ Jangan
me di
san
berada di perbatasan, Raden “
be ut
tur
epada Ki
Tu
Sambil membasahi wajahnya dengan air parit yang jernih itu, Raden Tumenggung berkata”Alangkah
ndang Arum.” “Maaf R
atruna”tlatah Sendang Arum berada di seberangtu Raden.”
“ O. Tetapi jaraknya hanya kurang beberapa jengkal saja.” “ Air itu mengalir dari tlatah Pucang Kembar.” Raden Tumenggung Wreda yang tua itu mengerutkan dahinya, sementara Ki Tumenggung Reksabawa menggamit Ki Tumenggung Ja-yataruna s
ngganggu saja di.” Orang tua itu dapat menja
gat kecewa meskipun persoalannya tidak penting. Bahkan adi hanya sekedar ingin bergurau.” Ki Tumenggung Jayataruna tertawa tertahan. “ Air itu sudah
rkata Ki Tumenggung Reksabawa yang ik
un ke dalam air pula”memang airnya terasa sejuk, justru pada saat memasuki perbatasan Sendang Arum.” “ Ya. Aku juga ingin mengatakan seperti itu.” Ki Tumenggung Reksabawa berpaling k
menggung Jayataruna yang masih berdiri di pinggir jalan sambil memegangi kendali kudanya,
ya sudah
me
lidak mengirup udara di Tanah
g
a
eran
berbeda
Sedangkan
daranya terasa
oleh teriknya matahari
ya
sementara kuda Ki Tumenggung Reksabawa lelah dipegangi oleh prajurit yang seorang lagi. Baru sejenak kemudian, ketika rubuhn
rasa menjadi semakin segar, Raden Tumenggung Wreda Reksabawa itupun segera naik ke tanggul. Kemudian katanya “ Sudah lama aku tercinta.” itu memandang Ki ka iapun berkata “
Ketika Raden TumenggunTumenggung Jaya taruna,.mUdara disini dan udara diseb
g tugu itu tentu meskipun jaraknya tidak lebih dari dua langkah.” Ki Tumenggung Jayaturana tertegun. Namun iapun kemudian tertawa. Katanya “ Ya.
tepat diperbatasan, u
panas di hidung kita.” Demikianlah sejenak kemudian kelima orang itupun melanjutkan perjalanan. Namun Raden Tumenggung Wreda Reksayuda tidak tahan dipanggang
ng justru sudah condong disisi Barat langit. Karena itu, iring-iringan itupun terpaksa sekali lagi
ngaja mereka mendengar seorang yang
su
wannya “ Tidak seorangpun yang
me
i hukuman dari kesalahan yang
tid atinya
ist
n apa-apa, sementara
ya
nya kenapa.
Te
berhenti. Raden Tumenggung menjadi kehausan di perjalanan yang berat itu. Beberapa lama mereka berada dikedai itu. Tanpa dise
dah lebih dahulu berada di kedai itu berbicara kepada ka
ngira, bahwa laki-laki itu sampai hati membunuh isterinya.”
“ Ya. Tidak seorangpun mengira”sahut kawannya. “ Tetapi isteri laki-laki itu memang cantik dan jauh lebih muda dari suaminya.” “ Itulah sebabnya ketika laki-laki itu pulang setelah menjalan
ak pernah dilakukannya, dan dida-p
erinya berbuat serong dengan laki-laki lain, maka laki-laki yang sabar dan alim itu telah membunuhnya.” “ Semua orang menyesali perbuatan itu.” “ Bukan hanya perbuatan itu. Tetapi juga seluruh kejadiannya. Kenapa laki-laki itu dihukum tanpa melakukan kesalaha
ng bersalah justru telah berbuat serong dengan isterinya ? Kenapa pula isterinya telah menerima laki-laki lain pada saat suaminya menderita tekanan kewadagan dan kejiwaan.” “ Kenapa ? Ya, semua orang berta
tapi semuanya itu telah terjadi. Kemudian laki-
be
enggung Wreda Reksayuda berpaling
un
uda
kit
tid
Reksayuda
su
laki itu harus menjalani hukuman lagi karena ia telah membunuh isterinya. Untunglah laki-laki yang
rkhianat itu sempat melarikan diri.” “ Ya. Tetapi ia jatuh ketangan orang banyak. Bahkan orang itu juga hampir mati, jika saja tidak ada empat orang prajurit berkuda yang meronda” Raden Tum
tuk mengamati orang-orang” yang sedang berbincang itu. Namun dalam pada itu, keringatpun telah mengalir di punggung Ki Tumenggung Jayataruna.
“ Kita sudah terlalu lama beristirahat “ berkata Ki Tumenggung Jayataruna kemudian”marilah, Raden. Nanti kita ke-malaman di jalan Kuda-k
apun sudah beristirahat pula.” Raden Tumenggung Wreda mengangguk. Katanya “ marilah. Aku menjadi semakin malas. Tetapi tentu aku tidak dapat bermalam disini.” Beberapa saat kemudian, maka iring-iringan itu sudah melanjutkan perjalanan Meskipun mereka
ak harus berkelahi di jalan, namun ternyata waktu yang diperlukan hampir sama panjang dengan saat bebe-rapa waktu yang lalu kedua orang Tumenggung itu pergi ke Pucang Kembar. Sebelum senja, iring-iringan itu sudah memasuki pintu gerbang kota. Beberapa orang yang berpapasanpun berhenti. Mereka sudah mende-ngar bahwa Raden Tumenggung Wreda
dah mendapat pengampunan. Karena itu, ketika
da
annya tidak mau kalah. Katanya ”Ya,
me
kapun menyahut ” Masih muda?
Bu
g masih muda itupun tidak mau kalah
pu
a tahun sampai
sek
perhatikan Raden Tumenggung Wreda
da
mereka melihat iring-iringan itupun segera menebak, bahwa seorang diantara mereka adalah Raden Tumenggung Wreda Reksayu
“ Ya. Yang ditengah diantara Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki Tumenggung Jayataruna – berkata seseorang yang kebetulan sudah meng enal kedua orang Tumenggung itu. Tetapi kaw
mang yang ditengah itu. Aku sudah pernah mengenal Raden Tumenggung Wreda Reksayuda. Tentu saja waktu itu Raden Tumenggung ilu masihmuda.” Namun seorang perempuan yang berdiri di dekat mere
kankah yang masih muda itu isterinya? Raden Tumenggung sendiri baru menjalani hukuman tiga lahun. Karena itu, sejak ia diasingkan, ia memang sudah tua.” Orang yang menyebut waktu itu Raden Tumenggun
la Iapun segera menjawab – Maksudku masih kelihatan muda Jauh lebih muda meskipun umurnya hanya bertaut tig
arang.” Perempuan itupun tidak menyahut lagi. Ia lebih mem
ripada omongan laki-laki ilu. “ Isterinya yang muda itu tentu akan senang sekali menyambut kehadirannya ” desis perempuan
ng Wreda
Re
etapi
ke
akan kampung halamannya itu ingin
me
nggung Reksabawa-pun berkata
” Tetapi
aca
yang langsung
me
itu. Keberadaan Raden Tumenggu
ksayuda di jalan ulama itu benar benar telah menarik perhatian. Apalagi Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki Tumenggung Jayataruna sengaja memperlambat kuda mereka. “Akulah yang letih. Aku sudah tua. T
napa tiba-tiba aku merasa perjalanan ini sangat lamban? ” berkata Raden Tumenggung Reksayuda ” apakah Ki Tumenggung berdua sengaja membuat aku jadi tontonan di bumiku sendiri?”
“ Tidak, Raden. Maaf. Aku pikir Raden yang rindu
mperhatikan keadaannya dengan saksama setelah tiga tahun tidak melihatnya” “Marilah. Jangan biarkan aku jadi totonan disini.” ”Iring-iringan itupun kemudian telah mempercepat perjalanan mereka. Sambil tersenyum Ki Tume
Bukan karena menjadi totonan orang.
knya semakin dekat kerinduan Raden Tumenggung Wreda terhadap keluarganya justru semakin menyala”
“ Ah „ Raden Tumenggung itu berdesah. Beberapa saat kemudian, maka iring-iringan itu telah berbelok memasuki jalan
nuju ke depan rumah Raden Tumenggung.
enggung. Aku
ak
i untuk melaporkan bahwa aku sudah
pu
puni.”
utuskan untuk mengampuni
ak
n dari Raden Ayu
Re
dipati baru mendengarkan
pe
” suara Ki Tumenggung
Re
“ Raden „ bertanya Ki Tumenggung Reksabawa „ Raden berniat pulang dahulu atau langsung menghadap Kangjeng Adipati ?” “ Aku akan pulang dahulu, Ki Tum
an beristirahat. Besok aku akan menghadap dimas Adipat
lang. Seandainya aku akan diasingkan lagi, aku sudah berada di rumah semalaman.“
“ Kenapa diasingkan lagi, Raden?” bertanya Ki Reksabawa.
“ Mungkin setelah dimas Adipati melihat ujudku, kemarahannya terungkit lagi?” “ Ah. Tentu tidak begitu. Jika Kangjeng Adipati maasih marah, Raden tentu tidak akan diam
“ Tetapi apa Ki Tumenggung tahu, kenapa dimas Adipati mem
u? Dan memberi aku kesempatan pulang sebelum aku menyelesaikan hukumanku?” “ Berdasarkan permohona
ksayuda, Raden” “ Kenapa dimas A
rmohonan Miranti itu sekarang? Setelah isteri dimas Adipati itu meninggal?” “ Maksud Raden?
ksayuda meninggi. “ Aku tidak bermaksud apa-apa, Ki Tumenggung. Aku hanya ingin mengungkapkan
Ki Tumenggung Reksabawa
be
ehingga memberikan
sen
Reksayuda. Keempat orang
ya
en Ayu Reksayuda sudah berada di
pe
en Tumenggung turun dari
ku
mendekap Raden Tumenggung
sam
sebuah pertanyaan.” Terasa jantung
rdebaran. Ia tahu arah pembicaraan Raden Tumenggung yang tua itu. Mungkin ia mendengar pembicaraan di kedai itu, s
tuhan di hatinya. Sementara itu, Ki Tumenggung Jayataruna sama sekali tidak menyahut. Bahkan seolah-olah ia tidak mendengar pembicaraan itu. Beberapa saat kemudian, iring-iringan itu sudah sampai di depan rcgol halaman rumah Raden Tumenggung Wreda
ng lainpun segera meloncat turun sebelum mereka memasuki regol. Namun Raden Tumenggung sendiri masih tetap saja duduk diatas punggung kudanya. Ketika mereka memasuki halaman, mereka melihat Rad
ndapa. Dua orang Tumenggung atas nama Kangjeng Adipati sudah berada di rumah itu pula menyambut kedatang an Raden Tumenggung Reksayuda. Demikian Rad
danya, maka Raden Ayu Reksayuda segera berlari menyongsongnya. Dengan serta merta Raden Ayu itupun
bil menangis. “ Kangmas ” suara Raden Ayu terdengar di .sela-sela isaknya ” sokurlah kangmas telah pula
de
Yang
Ma
ipati ini
jug
apa.
umenggung itu.
kedua orang prajurit
pe
ngan selamat.” Raden Tumenggungpun mendekap isterinya pula. Dengan nada berat iapun berkata ”
ha Agung masih mempertemukan kita-diajeng.” “ Marilah kangmas. Kami menunggu sejak matahari turun. Kedua utusan dimas Ad
a sudah menunggu sejak lama disini.” Raden Tumenggung Wreda itupun menarik nafas panjang. Bersama Raden Ayu Reksayuda keduanya melangkah ke tangga pend
“ Selamat datang kembali di rumah Raden Tumenggung ” berkata seorang diantara kedua orang utusan Karigjeng Adipati yang menyambut kedatangan Raden T
“ Terima kasih, Ki Tumenggung berdua. Marilah. Naik-luli kembali. Sekarang akulah yang mempersilahkan Ki Tumenggung berdua duduk di pringgitan.”
Keduanyapun segera naik pula. Demikian pula Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki Tumenggung Jayataruna serta
ngawalnya. Demikian mereka duduk di pringgitan, maka Raden Tumenggung itupun bertanya ” Apakah anakku ada di rumah?”
“ Ampun kangmas ” jawab Raden Ayu ” Kakang Tur menggung Jayataruna telah pergi menjemputnya ke rumah paman Ajar Anggara di
‘ tidak
be
ukan bahwa hari ini Raden akan
dij
aja sekeras batu.”
memang keras, kangmas. Tetapi
mu gga
an dari
ke
ana dengan paman Ajar Anggara?”
lembut. Aku
kir
Tetapi
lereng gunung. Tetapi Angger Jalawaja
rsedia turun.” Raden Tumenggung itupun kemudian berpaling kepada Ki Tumenggung Jayataruna sambil bertanya ” Benar begitu, Ki Tumenggung ?” “ Ya, Raden. Aku sendiri sudah datang menemui Raden Jalawaja. Aku sendiri sudah memberitah
empat di tempat pengasingan. Bahkan jika Raden Jalawaja bersedia aku persilahkan untuk ikut menjemput pula. Tetapi Raden Jalawaja tidak bersedia.”
Raden Tumenggung itu menarik nafas panjang. Katanya ” Kenapa anak itu mengeraskan hatinya sehingga pada saat-saat yang penting seperti ini, hatinya masih s
“ Hatinya
ngkin ada pula yang mengipasinya, sehingger Jalawaja menjadi semakin jauh
luarganya.” ” Siapa?” “ Bagaim
“ Tidak. Aku mengenal bapa Ajar Anggara dengan baik. Ia orang yang hatinya
a ia tidak akan menghembuskan racun di hati cucunya.”
“ Mudah-mudahan dugaan kangmas itu benar. siapa tahu, isi hati seseorang.”
jadi, Raden.
Te
lawaja belum pulang, mungkin besok
ata
berganti-ganti menanyakan keadaan
da
atanya pula ”Karena
itu
“ Bagaimana menurut pendapat Ki Tumenggung Jayataruna?” “ Segala sesuatunya dapat saja ter
tapi sebenarnyalah aku tidak tahu, apakah Ki Ajar Anggara telah membuat hati Raden Jalawaja semakin keras atau tidak.” “ Sudahlah ” berkata Raden Tumenggung – jika hari ini Ja
u lusa. Jika perlu, aku sendiri akan menjemputnya kelak ke rumah bapa Ajar Anggara.” Dalam pada itu, kedua orang utusan Kangjeng Adipati itupun
n keselamatan Raden Tumenggung. Mereka juga menanyakan kehidupan Raden Tumenggung di pengasingan. “ Di Pengasingan aku justru semakin mengenal diriku sendiri, Ki Tumenggung. Akupun merasa semakin dekat dengan alam. Dengan Penciptanya dan dengan arti dari hidupku. Tetapi memang ada semacam kerinduan yang setiap saat terasa semakin dalam menghunjam di jantungku. Kerinduan terhadap kampung halaman. Kerinduan terhadap bumi kelahiran ” Raden Tumenggung itupun berhenti sejenak. Lalu k
aku berterima kasih alas kesempatan yang diberikan kepadaku untuk pulang tanpa menunggu batas waktu pengasinganku.” “ Mudah-mudahan Raden Tumenggung dapat
seg
tahun terakhir di kadipaten
ini
skipun tidak terlalu
ba
dipaten ini “
ati’untuk menyambut kedatangan Raden
Tu
pengawal
itu
para Tumenggung yang
era menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi selama tiga
” berkata salah seorang dari kedua orang utusan Kangjeng Adipati itu.
“ Apakah ada perubahan yang berarti selama tiga tahun terakhir ini?” “ Tentu ada. Raden. Me
nyak.” “ Baik, Ki Tumenggung. Aku akan mencobanya menyesuaikan diriku dengan perubahan-perubahan yang terjadi di ka
Sementara itu, seorang abdi di rumah itupun telah menghidangkan minuman hangat serta makanan yang agaknya telah disiapkan oleh Raden Ayu Reksayuda. Beberapa saat kemudian, ketika lampu-lampu sudah menyala, maka mereka yang berada di rumah Raden Tumenggung Wreda Reksayuda itupun mohon diri. Kedua orang utusan Kangjeng Adip
menggung Wreda Reksayuda.atas namanya. Ki Tumenggung Reksabawa, Ki Tumenggung Jayataruna serta kedua orang prajurit
. “ Aku mengucapkan terima kasih kepada semuanya, yang menaruh perhatian kepadaku ” berkata Raden Tumenggung kemudian. Sepeninggal
me
Ayupun telah
me
ku memang akan
ma
angmas. Aku sudah menduga bahwa
ka
ediakan makan malam bagi
ka
me
pembcbasan kangmas Tumenggung.”
njemputnya, yang datang menyambutnya serta para prajurit pengawal, maka Raden
mpersilahkan Raden Tumenggung untuk masuk ke ruang dalam. “ Jika kangmas akan mandi, aku sudah menyediakan air hangat, kangmas.” “ Terima kasih diajeng. A
ndi, berganti pakaian, kemudian tidur. Aku merasa sangat letih. Seumurku berkuda dari Pucang Kembar sampai ke Sendang Arum ditempuh dalam sehari penuh.” “ Ya, k
ngmas tentu sangat letih. Tetapi setelah membenahi pakaian, kangmas jangan langsung tidur. Aku sudah meny
ngmas. Raden Tumenggung Reksayuda tersenyum. Katanya “ Terima kasih diajeng. Kau sangat
mperhatikan aku.” “ Aku sendiri yang masak kangmas. Bukan para abdi. Aku ingin kangmas benar-benar menikmati hari ini. Hari
Raden Tumenggungpun kemudian pergi ke pakiwan. Raden Ayu Reksayuda telah menyediakan air hangat. Bahkan ditaburkannya bunga di jambangan.
Setelah mandi, tubuh Raden Tumenggung Reksayuda terasa menjadi segar. Harumnya air
ung yang
tua bali.
ku makan lebih dahulu.
Te
hkan
ka
alau saja
Jal
ang, mungkin esok atau lusa
ka
an bukan karena
me
bunga membuat tubuh Raden Tumengg
itu, terasa kukuh kem
Setelah berganti pakaian, maka Raden Tumenggung itupun telah duduk di ruang dalam. Makan malampun telah disediakan pula. “ Silahkan kangmas.”
Raden Tumenggung mengangguk-angguk. Ia menjumpai beberapa macam lauk kesenangannya. Pepes udang. Dendeng ragi. Telur pindang. Serta beberapa macam sayur yang sangat pedas.
“ Aku justru menjadi bingung diajeng. Yang manakah yang harus a
tapi agaknya aku akan mengalami kesulitan sekarang untuk makan dengan dendeng ragi.” “ Dagingnya lunak sekali kangmas. Sila
ngmas mencobanya.” Raden Tumenggung mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bergumam “ K
awaja dapat makan bersamaku sekarang.” “ Jika tidak sekar
ngmas. Biarlah kita mengusahakannya. Lambat laun, hatinya tentu akan menjadi lunak.” “ Apakah ia merasa malu karena ayahnya seorang buangan ?”
“ Tentu tidak, kangmas. Semua orang tahu, bahwa kangmas diasingk
lakukan kejahatan. Tetapi karena perbedaan
dimas Adipati tidak mengambil
tin
nikmat sekali.
Di pengasin
ahkan menjadi
keg
perti seorang yang asing,
ma
pendapat dengan Dimas Adipati.” “ Beberapa orang lebih membenci pengkhianat daripada seorang penjahat.”
“ Kangmas bukan seorang pengkhianat. Seharusnya
dakan yang terlalu keras. Bukankah perbedaan pendapat itu mungkin saja terjadi ?”
“ Apakah yang aku lakukan sekedar berbeda pendapat ?” “ Sudahlah kangmas. Silahkan makan. Aku akan ikut makan bersama kangmas Tumenggung.” Makan malam itu memang terasa
gan, meskipun tidak pernah terlambat, namun yang dimakan oleh Raden Tumenggung agak kurang memenuhi seleranya. Karena itu, maka Raden Tumenggung itu tidak pernah merasakan nikmatnya orang makan. Dengan demikian, maka ketika ia dihadapkan pada hidangan yang b
emarannya, maka Raden Tumenggung itu benar-benar dapat menikmatinya. Apalagi pada saat-saat ia.makan, Raden Tumenggung itu dilayani oleh isterinya sendiri, yang sudah lama ditinggalkannya di pengasingan. Setelah makan malam, maka Raden Tumenggung sempat duduk-duduk sejenak di serambi rumahnya. Se
ka Raden Tumenggung itu sempat mengamati
be
duk menghadap ke pintu yang
ter
.
berniat jahat
terha
mereka akan dapat
me s. Mereka
pe ulang.”
kau dan keluarga ini daripada
me
serambi itu. Beberapa perabot yang ada di serambi itu masih juga perabot pada saat ditinggalkannya. Namun perabot-perabot itu tetap tertata rapi,
rsih dan terpelihara. Sambil menarik nafas panjang, Raden Tumenggung itu du
tutup. Lampu minyak yang menyala diatas ajug-ajug melemparkan cahayanya ke seluruh ruangan.
“ Apa yang terjadi di rumah ini selama aku tinggalkan diajeng ?” bertanya Raden Tumenggung Wreda Reksayuda
“ Kesepian, kangmas. Rasa-rasanya semuanya membeku.”
“ Bukankah tidak ada orang yangdapmu ?”
“ Tidak, kangmas. Meskipun rasa-rasanya aku memang agak terpencil dari pergaulan, tetapi tidak ada yang berniat jahat atau menggangguku.” “ Bagaimana dengan para abdi ?”
“ Mereka tetap patuh. Mereka menjalankan kewajiban mereka dengan baik. Mereka tetap berpengharapan bahwa
ngabdikan dirinya lagi kepada kangmarcaya bahwa kakangmas akan segera p
“ Sokurlah. Di pengasingan aku lebih banyak memikirkan
mikirkan diriku sendiri.”
Ki Ajar Anggara bersedia
me
an kangmas. Tetapi tentu
set menggung beristirahat barang
du
g itupun
berkata “ Aku akan beristirahat, diajeng. Aku
“ Semuanya baik-baik saja kangmas.” “ Apakah selama ini Jalawaja tidak pernah pulang ?”
“ Aku sudah mencoba untuk memanggilnya. Yang terakhir pada saat dimas Adipati akan mengutus beberapa orang menjemput kakangmas di pengasingan. Tetapi Jalawaja tidak pernah mau turun dari tempat tinggalnya.”
“ Baiklah. Biarlah pada kesempatan lain aku akan datang sendiri menemuinya. Aku juga ingin bertemu dan berbicara dengan Ki Ajar Anggara. Mudah-mudahan
nasehati Jalawaja sehingga Jalawaja mau barang sepekan tinggal bersama kita disini.” “ Mudah-mudah
elah kangmas Tu
a tiga hari.” “ Ya. Setelah aku tidak merasa letih lagi. Perjalanan kelereng bukit itu tentu juga perjalanan yang melelahkan.”
“ Ya, kangmas.” Raden Tumenggung itupun menarik nafas panjang. Ia memang merasa aneh, bahwa tiba-tiba saja ia sudah berada di rumahnya setelah beberapa tahun di tinggalkannya. Keduanya masih berbincang beberapa saat sebelum kemudian Raden Tumenggun
me
ahkan sampai hampir tengah malam.
Te
mijit kaki
ka
dalam biliknya.
Na
setelah
dis
h
be alam, bersama abdinya
perem u membenahi mangkukma
esar.
Di
mang tidak terbiasa tidur sebelum wayah sepi uwong atau b
tapi mungkin karena aku terlalu letih, sehingga rasa-rasanya pada saat-saat menjelang wayah sepi bocah, aku sudah mengantuk. “ “ Silahkan, kangmas. Aku akan me
kangmas.” Sesaat kemudian, Raden Tumenggung Reksayuda itu sudah berbaring di
mun tidak terlalu lama kemudian, maka Raden Tumenggung itu sudah tertidur nyenyak. Raden Ayupun kemudian telah bangkit dan meninggalkan Raden Tumenggung
elimutinya dengan kain panjang. Raden Ayu Reksayudapun kemudian tela
rada di ruang dpuan Raden Ay
ngkuk kotor serta sisa makan malam. “ Kalau kau lelah, biarlah besok saja kau cuci, nduk. Asal kau letakkan di tempat yang mapan. “ “ Baik, Raden Ayu. “ Abdi perempuan itupun kemudian membawa mangkuk-mangkuk yang kotor itu ke dapur. Meletakkannya di sebelah gentong yang berisi air, kemudian menutupinya dengan bakul yang b
dapur itu kadang-kadang seekor atau dua ekor kucing masuk lewat celah-celah atap dan membuat mangkuk-mangkuk kotor itu berserakan. Bahkan
pe
toran disudut.
a Raden Ayu itu mendengar
su
a
me
ke bilik.
Did
u. Tiba-tiba
saj
yang bersamaan, terdengar pula
de
berhenti berdetak
ke
rnah kucing yang berkejaran dan berebut tulang memecahkan mangkuk-mangkuk yang kotor. Raden Ayu Reksayuda masih juga sibuk membersihkan ruang dalam. Menyapu lantai, mengumpulkan berbagai macam ko
Namun tiba-tiba saj
ara yang aneh di dalam bilik Raden Tumenggung. Karena itu, maka iapun seger
narik tangan abdi perempuannya sambil bertanya “ Kau dengar suara itu? “
“ Ya, Raden Ayu. “ Raden Ayupun kemudian berlari
orong pintu bilik yang tidak tertutup rapat itu. Namun Raden Ayu itu terhenti di pint
a terdengar Raden Ayu berteriak nyaring. Abdi perempuannyapun segera berlari pula. Tetapi iapun berteriak pula keras-keras. Pada saat
rak pintu butulan yang dihentakkan. Abdi yang lain, yang mendengar jerit di depan bilik utama di rumah itupun segera berlari. Seorang abadi laki-laki dengan cepat telah sampai kepintu bilik itu pula. Jantungnyapun bagaikan
tika ia melihat Raden Ayu Reksayuda menelungkup diatas tubuh Raden Tumenggung Wreda Reksayuda yang berlumuran darah. Sebilah
Raden Ayulah yang terdengar
me
gan memasuki halaman rumah itu. Bahkan
be
g
me
da itulah yang kemudian
menertibkan hiruk- i di rumah itu.
Namun mereka juga hkan
RAden Ayu Reksayuda untuk keluar dari biliknya.
keris masih tertancap di dadanya. Namun agaknya Raden Tumenggung Wreda Reksayuda yang tua dan letih itu sudah meninggal. Tangis
lengking memecah sepinya malam. Abdinya laki-laki dengan cepat berlari ke longkangan. Dipukulnya kentongan yang ada di longkangan dengan irama titir. Isyarat bahwa telah terjadi raja pati di rumah Raden Tumenggung Wreda Reksayuda.
Beberapa saat kemudian, telah terjadi kegemparan. Beberapa orangpun segera berdatan
berapa orang tua telah memasuki ruang dalam rumah Raden Tumenggung Wreda itu dan langsung pergi ke bilik.
Seorang diantara merekapun berkata “ Jangan sentuh. Jangan di pindahkan. Keris itu biarlah tetap disitu. “
Tetapi Raden Ayu Reksayuda yang menangis, mengguncang-guncang tubuh Raden Tumenggung yang sudah tidak bernafas lagi itu. Beberapa orang prajurit berkuda yang sedan
rondapun segera melarikan kudanya menuju ke sumber suara kentongan dengan irama titir itu. Prajurit-prajurit berku
pikuk yang terjadtidak berani mempersila
Seorang diantara prajurit berkuda itu telah
melarikan kudanya untuk memberikan laporan
langsung ke kadipaten.
–ooo0dw0ooo–
Jilid 3
MALAM itu Sendang Arum telah dik
ristiwa yang sangat tidak diduga, Hari itu Raden Tumenggung Wreda Reksayuda dijemput oleh dua orang Tumenggung dan dua orang prajurit pengawal dari pen
ngampunan dari Kangjeng Adipati Wirakusuma. Namun demikian malam memasuki wayah sepi
aden Tumenggung Wreda itu telah
ter udah sekitar tiga
tahun
membangunkan
Ka
irama
titi
rajurit yang
sed aikan laporan
ten
.
Ad
di rumah Raden Tumenggung
Wr
ter
uwong, R
bunuh di rumahnya yang s di tinggalkannya.
Laporan tentang terbunuhnya Raden Tumenggung Wreda itupun segera telah sampai ke Kangjeng Adipati. Semula prajurit yang bertugas memang agak ragu untuk
ngjeng Adipati. Tetapi agaknya Kangjeng Adipati telah mendengar suara kentongan dalam
r, sehingga Kangjeng Adipati itu telah keluar dari biliknya.
“ Ada apa ? “ bertanya Kangjeng Adipati kepada prajurit yang bertugas di dalem Kadipaten itu.
“ Ampun kangjeng. Ada seorang pang meronda yang ingin menyamp
tang suara titir itu.”
“ Bawa prajurit itu kemari. “ Prajurit yang bertugas itupun segera memanggil prajurit yang sedang meronda yang telah melihat sendiri apa yang telah terjadi di rumah Raden Tumenggung Wreda Reksayuda
“ Apa yang telah terjadi ? “ bertanya Kangjeng
ipati ketika prajurit itu menghadap. Prajurit itupun segera melapoikan apa yang telah dilihatnya
eda Reksayuda. “ Kangmas Tumenggung Wreda Reksayuda
bunuh ? “ nada suara Kangjeng Adipati
berikan perintah “ Siapkan kudaku.
Siapkan
iliknya.
pun segera beranjak ke
pri
usah ikut memikirkan
peristiwa
egun sejenak. Namun
kemudia
yan dalam telah menutup pintu itu
kembali
meninggi. “ Hamba Kangjeng Adipati. “ Kepada prajurit yang bertugas Kangjeng Adipatipun mem
pula pasukan pengawal. Aku akan pergi ke rumah Kangmas Tumenggung. “ Demikian prajurit itu keluar, maka Kangjeng Adipatipun segera berbenah diri di b
Namun demikian Kangjeng Adipati keluar dari biliknya, ia melihat Ririswari berdiri di ruang dalam. “ Aku mendengar apa yang telah terjadi, ayahanda. “
“ Tidurlah. Belum tengah malam. “ “ Ayahanda akan pergi ? “ Aku akan melihat apa yang telah terjadi. “ Kangjeng Tumenggung
nggi-tan. Namun di pintu ia masih berpesan “ Tidurlah Riris. Kau tidak
yang terjadi ini. “
“ Sesuatu itu telah terjadi ayahanda. “ Kangjeng Adipati tert
n Kangjeng Adipati itupun keluar lewat pintu pringgitan. Seorang pela
dan menyelaraknya dari dalam. Sementara itu, kuda Kangjeng Adipatipun telah
g Wreda Reksayuda
ya
emikian Kangjeng Adipati masuk ke ruang
da
? “
be
mas Tumenggung Reksayuda, dimas. “
siap di depan pendapa. Sekelompok prajurit pengawal telah bersiap pula. Sementara itu para prajurit yang lain di dalem Kadipaten itu telah bersiaga sepenuhnya untuk menghadapi segala kemungkinan. Sejenak kemudian, Kangjeng Adipati dan pengiringnya telah melarikan kuda mereka menuju ke rumah Raden Tumenggun
ng sebenarnya tidak begitu jauh.
Demikian Kangjeng Adipati memasuki regol halaman rumah Raden Tumenggung, maka orang-orang yang berkerumun di halaman itupun menyibak. Demikian pula mereka yang berada di pendapa dan di ruang dalam. D
lam, maka Kangjeng Adipatipun tertegun. Raden Ayu Reksayuda menyongsongnya dan langsung berlutut dihadapannya. “ Apa yanng telah terjadi, kangmbok
rtanya Kangjeng Adipati. “ Kang
“ Apakah aku boleh melihatnya ? “ Raden Ayu Reksayuda masih terisak. Kangjeng Adipatipun kemudian telah melangkah ke bilik utama di rumah Raden Tumenggung Wreda Reksayuda itu.
Demikian Kangjeng Adipati masuk ke bilik itu, maka darahnyapun tersirap. Ia melihat tubuh
ng Reksayuda yang berlumuran
da
Bangsal Pusaka.
nyentuh keris itu. Jika
Ka
ri bilik itu serta memerintahkan
pra
Bahkan Nyi
Tu
Raden Tumenggu
rah. Ia melihat sebilah keris yang tertancap di dada Raden Tumenggung itu. Sedangkan yang membuat jantungnya bagaikan berhenti, keris yang tertancap di dada Raden Tumenggung Wreda Reksayuda itu adalah salah satu diantara pusaka-pusakanya yang banyak jumlahnya, yang tersimpan di
“ Kiai Puguh “ desis Kangjeng Adipati. Namun Justru karena itu, maka Kangjeng Adipati tidak mau me
ngjeng Adipati mencabut keris itu, maka akan dapat timbul dugaan, bahwa Kangjeng Adipati sengaja ingin menghilangkan jejak pembunuhan itu. Karena itu, maka Kangjeng Adipatipun segera keluar lagi da
jurit untuk memanggil Ki Tumenggung Jayataruna dan Ki Tumenggung Reksabawa. “ Panggil mereka sekarang “ berkata Kangjeng Adipati.
Dalam pada itu, sejak malam turun, di rumahnya, Nyi Tumenggung Jayataruna duduk di ruang dalam seorang diri; Semakin malam, terasa suasana menjadi semakin sepi.
menggung itupun mulai diganggu oleh matanya yang mulai mengantuk. Sekali-sekali digosoknya matanya yang semakin redup itu. Namun kantuk itu masih saja terasa
erjakannya semuanya sendiri di rumah
ini.
ari rumah dan perabotnya. Ibu
ma
sendiri yang masak,
ay
eorang prajurit, yang tugasnya “tidak
dib
ngan, berselimut kain panjang
mengganggunya.
Suratama, anak Ki Tumenggung Jayataruna yang sudah beranjak dewasa itu mendekati ibunya. Sambil duduk disampingnya iapun berkata “ Sebaiknya ibu tidur saja sekarang. Agaknya ibu lelah setelah sehari-harian mengerjakan pekerjaan di rumah. “ “ Tidak Suratama. Aku tidak lelah. Bukankah aku tidak meng
Ada abdi yang membantu mengerjakan pekerjaan-pekerjaanku.
“ Meskipun demikian, ibu masih juga selalu sibuk. Ibu masak sendiri. Ibu membersihkan sebagian besar d
sih juga mencuci pakaian ayah dan pakaian ibu sendiri meskipun ada orang lain yang dapat mencucinya. “ “ Orang lain kadang-kadang cuciannya tidak bersih, ngger. Sedangkan sudah terbiasa bagi ayahmu, jika bukan aku
ahmu tidak berselera untuk makan. “ “ Tetapi ibu tidak perlu menunggu ayah pulang. Ayah adalah s
atasi waktu. Kapan saja tugas itu memanggil, ayah harus siap melaksanakannya. “
“ Aku mengerti, ngger. Tetapi rasa-rasanya aku tidak akan dapat tidur nyenyak, sementara ayahmu sedang menjalankan tugasnya. Sementara aku berada di pembari
sam “
dibayangi oleh bahaya yang
ga
ng Reksabawa. “
sing. “
u pulang
da njadi kewajiban
seoran nggu suaminya
pu an panas, menemani
da
bil
bil tidur mendekur.
“ Menurut pendapatku, ibu. Tugas ayah kali ini tidak terlalu berat, meskipun mungkin akan makan waktu yang panjang. Bukankah ayah hari ini pergi ke kadipaten Pucang Kembar untuk menjemput Raden Tumenggung Wreda Reksayuda ? Tugas itu bukan tugas yang
wat. Tugas itu hanyalah tugas perjalanan yang panjang. “ “ Tetapi ada perbedaan pendapat antara ayahmu dengan Ki Tumenggu
“ Mereka adalah orang-orang dewasa, ibu. Mereka tahu cara menempatkan diri mereka masing-ma
“ Suratama. Sebaiknya kau saja yang pergi kebilik-mu. Biarlah aku menunggu ayahm
ri Pucang Kembar. Itu sudah meg perempuan ngger. Menu
lang. Menyediakan minum
n melayaninya makan. “ “ Tetapi ibu juga harus menjaga kesegaran tubuh ibu sendiri. Ibu jangan menjadi terlalu letih setiap hari. “
“ Bukankah ayahmu tidak selalu pulang terlalu malam ? “ Suratama menarik nafas panjang. Namun kemudian iapun berkata “ Ibu. Aku akan masuk ke
ikku. “
kan bermalam lagi. Jarak yang harus
dit
bar. “
Raden
Tu ksayuda itu sudah tidak
me
buangan. “
sempat menjadi
ragu-ragu
“ Tidurlah ngger. “
“ Tetapi jika ayah masih saja belum segera pulang, ibu harus segera pergi tidur. Mungkin ayah masih a
empuh cukup jauh ibu. Sementara itu, mungkin masih ada persoalan yang harus diselesaikan di Pucang Kem
“ Persoalan apa lagi. Bukankah Kangjeng Adipati sudah memaafkannya, sehingga
menggung Wreda Re
mpunyai persoalan lagi. “ “ Mudah-mudahan Raden Tumenggung Reksayuda itu tidak membuat persoalan di Pucang Kembar. “ “ Tentu tidak. Ia merasa orang asing disana. Lebih dari itu, ia adalah orang
Suratama mengangguk-angguk. “ Tidurlah “ desis ibunya. Suratama termangu-mangu sejenak. Ia merasa kasihan kepada ibunya yang memaksa diri sendiri untuk duduk tanpa memejamkan mata meskipun sudah sangat mengantuk. Nyi Tumenggung memang
. ? Jangan-jangan Ki Tumenggung masih akan bermalam lagi. Tetapi menurut Ki Tumenggung, hari ini Ki Tumenggung akan pulang. Suratama pun kemudian beranjak dari
ratamapun kemudian
me
i biliknya, tetapi ia tidak dapat segera
ter
Jayataruna memang seorang
pe
tidak pernah mengeluh bagi
dir
, tetapi sekali kita akan
be
tempatnya sambil berdesis “ Selamat malam ibu. “ Ibunya mencoba untuk tersenyum. Katanya “ Selamat malam ngger. Tidurlah. Semoga mimpimu indah. “
“ Meskipun indah jika itu hanya sebuah mimpi, ibu. “
“ Daripada bermimpi buruk. Kau akan terbangun dan mungkin tidak akan dapat tidur lagi. “ Suratama tersenyum.
“ Demikianlah, maka Su
ninggalkan ibunya sendirian duduk di ruang dalam. Namun meskipun Suratama kemudian berbaring d
tidur, la masih saja memikirkan ibunya yang menunggu ayahnya pulang. Nyi Tumenggung
rempuan yang setia. Sejak hidup mereka masih terasa sangat berat, pada saat Ki Jayataruna.masih belum berpangkat, Nyi Jayataruna selalu mendampinginya dalam suka dan duka. Nyi Jayataruna sendiri
inya sendiri. Ia berusaha mengisi hidup keluarganya dengan pengharapan akan hari-hari yang baik dimasa mendatang.
“ Hidup ini seperti cakra manggilingan. Sekali kita berada dibawah
rgerak dan berputar sehingga kita berada diatas. Karena itu, jangan terlalu berduka jika kita sedang
i nasib yang muram’ Tetapi jangan
ter
ratama mulai terpejam,
ma jut. Ia mendengar pintu
de
gesa-gesa Nyi Tumenggung
Jay ecil menuju
ke
wajah yang kusut. Demikian pintu
ter gera
me
g kemudian
me
g dengan wajah
ya
mengalam
lalu bersuka jika nasib kita lagi cerah. Segala sesuatunya harus kita terima dengan hati yang penuh dengan pernyataan sukur. “
Justru pada saat mata Suka anak muda itu terke
pan di ketuk orang. Cukup keras. “ Nyi, Nyi “ terdengar suara memanggil. Suratama menarik nafas panjang. Ia mengenal suara itu dengan baik. Suara ayahnya.
“ Ya, kakang. Sebentar. “
Suratama pun mendengar suara ibunya menyahut. Dengan ter
atarunapun bangkit dan berlari-lari k pintu pringgitan.
Sejenak kemudian, pintupun terbuka. Ki Tumenggung Jayataruna berdiri di belakang pintu itu dengan
buka, maka Ki Tumenggung itupun se
langkah masuk. Nyi Tumenggung pulalah yan
nutup pintu dan menyelaraknya kembali. “ Baru pulang kakang “ sapa Nyi Tumenggung dengan suara lembut. Tetapi jawab Ki Tumenggun
ng gelap “ Bukankah kau lihat, bahwa aku baru
Ka
udah tersedia.
Ka kang pulang,
ma
ukaan
ka
ipun
sed gu untuk mengantar kakang
ma
ali aku harus
me kan, bukankah
itu
i sudah
pulang. “ Nyi Tumenggung menarik nafas panjang.
tanya “ Maksudku, apakah kakang lelah setelah menjalankan tugas kakang sejak kemarin lusa. “ “ Ya. Aku lelah sekali. “
“ Duduklah kakang. Aku akan membuat minuman hangat. Makan juga s
rena menurut kakang, hari ini ka
ka aku telah menunggu kakang. Aku juga bejum makan. “ “ Aku tidak makan. Aku masih kenyang. “ “ Tetapi aku sudah menyediakan kes
kang. Pepes udang, sayur asam sedikit pedas. Dendeng ragi. “
“ Aku masih kenyang kau dengar. “ “ Tetapi sebaiknya kakang makan mesk
ikit. Aku menung
kan. “
“ Kau kita aku tidak berani makan sendiri. “
“ Maksudku, kita makan bersama. Aku akan melayani kakang makan. “
“ Aku masih kenyang. Berapa kngatakannya. Jika kau belum ma
salahmu sendiri. Aku tidak minta kau hari ini menunggu aku malam malam. “ “ Memang salahku sendiri, kakang. Tetap
ristirahat. Aku akan pergi ke pakiwan mencuci
ka
icara sedikit kakang. “
ng memang letih. Tetapi aku
ter
n bahkan kadang-kadang tidak pulang
tan
menjadi kebiasaanku menunggu kakang untuk makan malam. Apakah kakang lupa kebiasaan itu. “ “ Cukup, Nyi. Aku letih sekali. Aku ingin segera be
ki dan tangan. Kemudian tidur. “ “ Baiklah, kakang. Tetapi silahkan duduk. Aku ingin berb
“ Berbicara apa. Aku letih sekali. “ “ Aku tahu kaka
dorong untuk bertanya sedikit kakang. Nanti kakang segera mencuci kaki dan tangan. Kemudian tidur. Nanti aku akan memijit kaki kakang. “ “ Tidak usah. Yang letih bukan kakiku. Hampir dua hari penuh aku duduk diatas punggung kuda. “ “ Baik, kakang. Baik. Tetapi mumpung ada kesempatan, aku ingin bertanya sedikit saja. “
“ Bertanya apa? “
“ Tentang kakang. “ “ Cepat. Katakan. Aku sudah sangat letih. “ “ Kakang. Kenapa kakang berubah akhir-akhir ini. “ “ Berubah? Apa yang berubah? “ “ Kakang sekarang terlalu sering pergi. Pulang lambat da
pa aku ketahui kemana kakang pergi. “ “ Edan. Bukankah ketika aku berangkat kemarin
g Reksabaya. Aku
ak
siang dan malam. “
“ Kakang. Aku adalah isteri
istri prajurit bukan baru sejak
lebih dari duapuluh tahun
mengenal tugas prajurit, kare
seorang prajurit. Tetapi setela
itu, tiba-tiba rasa-rasanya aku
tugas-tugas kakang sebagai se
“ Tetapi akulah yang mengalaminya, Nyi. Akulah
yang menjadi prajurit itu. Bukan k
“ Aku adalah isteri, kaka
Tumenggung. Maksudku, kaka
mendapat tugas-tugas baru yang sangat
berat, m
s tambahan yang
san
Kau
jangan membuat perkara. Jika hatiku tersinggung,
lusa, aku sudah mengatakan, bahwa aku pergi menjemput Raden Tumenggun
an bermalam semalam atau bahkan dua malam. “ “ Bukan malam ini, kakang. Tetapi hari-hari sebelumnya. Kakang hampir tidak pernah berada di rumah. “
“ Nyi. Aku adalah seorang prajurit. Tugasku tidak terbatas waktu. Siang, malam dan bahkan prajurit. Aku menjadi kemarin sore. Sudah kakang. Aku sudah na suamiku sendiri h dua puluh tahun tidak mengenali lagi orang prajurit. “
au. “ ng. Isteri seorang ng. Apakah kakang sekarang
elampaui masa-masa yang lalu? Atau mungkin kakang dianggap bersalah dan mendapat hukuman dengan tugas-tuga
gat berat sehingga kakang hampir tidak sempat pulang. “
“ Nyi. Aku sekarang sedang letih sekali.
da
tidak berkenan
de
nku
seb
u sama sekali tidak
me embuat perasaanku
semakin letih. Jika
tubuhku letih
karena selama dua
nmu dan
letih. “
n
“ Sekarang aku akan pergi ke pakiwan untuk
me “
m Ki Tumenggung melangkah,
ter
g.
lam keadaan yang sangat letih ini, aku akan dapat menjadi sangat marah. “ “ Baiklah, kakang. Jika kakang
ngan pertanyaanku, aku minta maaf. Tetapi jika hal ini aku sampaikan, sebenarnya aku ingin membantu kakang sesuai dengan keduduka
agai seorang isteri.”
“ Dengan, sikapmu itu kambantu, Nyi. Kau justru m
hari berturutan aku duduk di punggung kuda, maka pertanyaa
sikapmu membuat perasaanku sangat
“ Baik, kakang. Aku tidak aka
bertanya lebih lanjut. “
ncuci kaki dan tanganku.
Tetapi sebelu
dengar derap kaki kuda memasuki halaman. “ Derap kaki kuda “ desis Nyi Tumenggun
enjadi
sem
k.
Did
a, Ki Tumenggung. “
gung Jayataruna masih belum begitu
me
tu.
an Ki Tumenggung membuka
sel umenggung berdiri
dengan tega
orang yang
be
mah
me
adap? “
Ki Tumenggung itupun termanggu-manggu sejenak. Namun suara derap kaki kuda itu m
akin jelas. Kemudian berhenti. Ki Tumenggung Jayataruna menunggu sejeha
engarnya langkah menuju ke pintu pringgitan. Kemudian didengarnya pintu itu diketuk orang.
“ Siapa? “ bertanya Ki Tumenggung Jayataruna. “ Res
“ Resa? “
“ Ya, Ki Tumenggung. “ Ki Tumeng
ngenali suara dan nama itu. Karena itu, maka Ki Tumenggung kemudian memutar kerisnya di lambung kiri sambil melangkah ke pin
Perlahan-lah
arak pintu, sementara Nyi Tng.
Demikian pintu terbuka, maka sese
rdiri di luar pintu mengangguk den§an hormat. “ Kau? “ Ki Tumenggung ternyata pe
ngenal orang itu.
“ Ya, Ki Tumenggung. “
“ Ada apa? “
“ Aku diutus oleh Kangjeng Adipati, Ki Tumenggung diminta untuk mengh
“ Sekarang? “
-malam Kangjeng Adipati ada di
rum
ggung Wreda Reksayuda telah
me
malam ini? “
a
ak
“ Ya! Kangjeng Adipati sekarang berada di rumah Ki Tumenggung Wreda Reksayuda. “ “ Kenapa malam
ah Raden Tumenggung Wreda Reksayuda? “ “ Ki Tumenggung. Raden Tumenggung Wreda Reksayuda telah meninggal. “
“ Meninggal?”wajah Ki Tumenggung menjadi tegang
“jangan asal bicara. Katakan sekali lagi. “
“ Raden l\imenninggal.”
Nyi Tumenggungpun mendekat pula sambil bertanya “ Bukankah Raden Tumenggung Reksayuda baru pulang
“ Ya, Nyi.” “ Lalu tiba-tiba meninggal? “
“ Seseorang telah membunuhnya. “
“ Raden Tumenggung telah terbunuh? “ bertanya Ki Tumenggung dengan nada tinggi. “ Ya, Ki Tumenggung. “ “ Siapa yang telah membunuhnya? “
“ Tidak seorangpun yang mengetahuinya. “ “ Baik. Katakan kepada Kangjeng Adipati, bahw
u akan segera menghadap. “ “ Aku akan mendahului Ki Tumenggung. “
n iapun segera meloncat naik. Sejenak
ke
lagi? “ bertanya Nyi
Tu
g Adipati?“
erubah. “
tidak pernah membuat aku
tertekan seperti pada s
“ Ya. Pergilah dahulu. Aku akan segera menyusul. “ Demikianlah, maka Resapun segera turun ke halaman. Dituntunnya kudanya sampai ke regol. Kemudia
mudian terdengar derap kaki kuda itu berlari semakin lama semakin jauh. “ Kakang akan pergi
menggung. “ Kau dengar sendiri perintah Kangjen
“ Ya, kakang.” “ Nah, itu adalah tugas seorang prajurit. Meskipun aku sangat letih lahir dan batin, tetapi aku harus berangkat. “ “ Aku mengerti, kakang. Aku mampu menangkap suasana. Itulah sebabnya aku berkata, bahwa kakang telah b
“ Kau akan mulai lagi dengan celotehmu? “ “ Tidak. Aku hanya menanggapi kata-kata kakang. Bukankah tidak baru kali ini kakang harus melakukan tugas meskipun kakang sangat letih? Tetapi sikap kakang
aat-saat terakhir ini. “ “ Persetan dengan tanggapanmu. Aku akan pergi. Tentu ada yang tidak wajar telah terjadi. “ Sejenak kemudian, maka Ki Tumenggung itupun telah keluar lewat pintu pringgitan. Demikian ia
akan, makanlah. Jika
ka
erdengar kuda Ki
Tu
ingga aku tidak
me
Tumenggung
da
di ruang tengah.
Te
berada di luar pintu, maka iapun berkata “ Selarak pintunya. Jika kau belum m
u mengantuk tidurlah. Jangan aku yang disalahkan jika kau lapar atau mengantuk esok pagi. “ Nyi Tumenggung tidak menjawab. Tetapi ia melangkah ke pintu. Menutup pintu dan menyelaraknya dari dalam. Sejenak kemudian, t
menggung bertari melintasi halaman. “ Agaknya aku terlelap sekejap pada saat Ki Tumenggung datang, seh
ndengar derap kaki kudanya “ berkata Nyi Tumenggung didalam hatinya. Ia memang sangat mengantuk. Matanya terpejam sesaat meskipun ia masih duduk di ruang dalam ketika Ki
tang. Ketukan pintu yang agak keras telah membangunkannya. Demikian suara derap kaki kuda itu hilang, maka Nyi Tumenggung kembali duduk
rasa getar jantungnya menjadi semakin cepat. Ia tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi pada keluarganya. Apakah Ki Tumenggung yang berubah atau dirinya sendiri.
Suranata yang hampir tertidur dan tericejut karena pintu diketuk ayahnya, mendengar semua pembicaraan ayah dan ibunya. Tetapi Suranata tidak berahi mencampurinya Ia tidak tahu pasti, persoalan apakah yang sedang terjadi antara ayah
da
api Nyi
Tu
ehidupan yang berat sejak ia
me
na itu justru mulai berubah.
udah dewasa itu sempat
me
merasa perlu
me
Ki Tumenggung Jayataruna
me
n ibunya. Namun menurut pendapatnya, ayahnya memang berubah. Nyi Tumenggung yang duduk di ruang tengah mengusap matanya yang basah. Tet
menggung tidak menangis. Jiwanya telah ditempa oleh jalan k
nikah dengan Ki Jayataruna. Dengan tabah ia ikut terombang-ambing arus kehidupan suaminya. Swarga, nunut nraka katut.
Sehingga akhirnya, Ki Jayataruna berhasil memanjat sampai kedudukan tertinggi yang dicapainya kini. Tumenggung.
. Namun ketika kedudukannya semakin kokoh, serta kepercayaan Kangjeng Adipati kepadanya semakin meningkat, maka Ki Tumenggung Jayataru
Suratama bangkit dan duduk di bibir pembaringannya. Tetapi ia tidak keluar dari biliknya, meskipun rasa-rasanya ia ingin ikut memikul beban perasaan ibunya.
Tetapi Suratama yang s
mbuat pertimbangan-pertimbangan yang mapan, sehingga ia masih belum
ncampuri persoalan antara ayah dan. ibunya. Dalam pada itu,
larikan kudanya menembus gelapnya malam. Sesekali kudanya melewati siraman sinar oncor di regol halaman rumah orang yang berada. Tetapi selebihnya gelap.
menggung sampai di regol
halaman rumah Raden Tumenggung Wreda
Reksayuda, maka Ki Tumenggung Jayatarunapun
seg
ergesa-gesa pula ia menuntun kudanya
me
da di ruang dalam.
dalam. Dengan nada berat, Ki
Tu
h terjadi.”
eng Adipati.
Demikian Ki Tu
era meloncat dari punggung kudanya. Dengan t
masuki halaman. Resa yang sudah lebih dahulu sampai di rumah itu, segera menerima kuda Ki Tumenggung sambil berkata “ Kangjeng Adipati telah menunggu-”
Ki Tumenggungpun segera masuk ke ruang dalam. Ia tertegun sejenak di pintu. Ia melihat Kangjeng Adipati sudah bera
“ Marilah, kakang Tumenggung “ justru Kangjeng Adipatilah yang mempersilakannya masuk.
Ki Tumenggung Jayataruna itupun kemudian masuk ke ruang
menggung itupun bertanya “ Ampun Kangjeng Adipati. Apakah yang tela
“ Duduklah, kakang.” Ki Tumenggung Jayataruna itupun kemudian duduk menghadap Kangj
“ Apakah utusanku belum mengatakan apa yang sudah terjadi disini ?”
“ Sudah Kangjeng. Tetapi Resa hanya mengatakan bahwa telah terjadi pembunuhan disini. Koibannya adalah Raden TYunenggung
Wr
g terjadi di Rck-sayudan itu dengan
singkat
Ki Tumenggung itu
berta angjeng tidak memanggil
ka ksabawa “
m datang
me
eorang prajurit
masuk ke ruang d
Kangjeng. Hamba sudah sampai ke
rumah Ki Tumeng
eda Reksayuda.” “ Ya.”
“Tetapi bagaimana hal itu dapat terjadi, Kangjeng.” “ Aku hanya dapat menirukan keterangan dari kangm-bok Reksayuda”jawab Kangjeng Adipati yang kemudian mengulangi, menceriterakan peristiwa yan
. Ki Tumenggung Jayataruna mengangguk-angguk. Dahinya berkerut.
Namun tiba-tiba saja
nya “ Apakah Kkang Tumenggung Re
“Ya. Aku telah memerintahkan seorang prajurit memanggilnya.” “ Tetapi kakang Tumenggung itu belu
nghadap, kangjeng.” Pembicaraan itu teihenti. S
alam, duduk menghadap Kangjeng Adipati. “ Ampun
gung Reksabawa. Tetapi Ki Tumenggung Reksabawa tidak ada di rumah.” “ Malam-malam begini, kakang Tumenggung Reksabawa itu pergi kemana ?” bertanya Kangjeng Adipati.
i dan sendiri pada
saa
ang
Tu
ataruna.
“ Entahlah Ki Tumenggun
Tumenggung Reksabawa juga
Tumenggung Reksabawa itu peigi na.”
“ Baiklah. Mundurlah.”
“ Hamba Kangjeng.”
Demikian prajurit itu keluar d
maka Ki Tumenggung Jayataruna
Ampun Kangjeng. Hamba ingin
Raden Tumenggung Wreda Reksa
“ Silahkan, kakang. Keadaannya masih
saat terjadinya pembunuhan itu.”
a
me
inya. Namun keduanya tidak berani
me
“ Adalah kebiasaan Ki Tumenggung untuk berada ditempat-tempat yang sep
t-saat tertentu.” “ Tetapi tentu tidak malam ini. Kak
menggung tentu masih letih. Jika tidak ada kepeningan yang sangat mendesak, kakang Tumenggung Reksabawa tentu ada di rumahnya untuk beristirahat “ sahut Ki Tumenggung Jay
g. Tetapi Nyi tidak tahu, Ki kema
ari ruang dalam, itupun berkata “ melihat keadaan yuda.” seperti Ki Tumenggung Jayataruna itupun seger
masuki bilik tidur Raden Tumenggung Reksayuda. Raden Ayu Reksayuda yang duduk di atas tikar yang dibentangkan di lantai, disebelah pembaringan, beringsut. Dua perempuan meneman
ngangkat wajahnya, memandang ke tubuh
” bertanya Raden Ayu Reksayuda.
angu-mangu
sej
teta
, para
sen
ni segera dapat
dib
Raden Tumenggung yang masih belum diusik. Keris itu masih menancap di dadanya. “ Apakah keris itu sudah dapat diambil, kakang Jayataruna ?
Ki Tumenggung Jayataruna term
enak. Tiba-tiba saja ia berdesis “ Bukankah keris itu salah satu dari pusaka Kangjeng Adipati sendiri ?”
“ Mungkin “ sahut Raden
Ayu. “ Kalau lah ya p seperti itu.
begitu, biarkeadaann
Biarlah keris itu tetap berada di tempatnya. Kita harus menunggu kakang Tumenggung Reksabawa
tana dan nayaka yang lain.” Raden Ayu Reksayuda mengangguk. Tetapi kemudian katanya “ Sebaiknya secepatnya keris itu dicabut. Kemudian keadaan bilik i
enahi. Perempuan-perempuan yang berdatangan tidak ada yang berani berada didalam bilik ini,”
ara
sen
tertancap di dada kakangmas
Tumenggung ?”
orang yang dapat berpikir jernih, justru
akan hwa namaku tidak akan
ter ini. Jika aku terkait, maka
ak berikan kerisku
sen
ntara kata-kata kakang Tumenggung itu
“ Demikian kakang Reksabawa dan beberapa orang nayaka dan sentana datang, maka ruangan ini akan segera dibenahi. Tetapi biarlah p
tana dan nayaka melihat apa yang telah terjadi di bilik ini.” Raden Ayu Reksayudapun terdiam. Sejenak kemudian, Ki Tumenggung Jayataruna telah keluar dari bilik itu dan kembali menghadap Kangjeng Adipati. “ Kakang Tumenggung melihat dengan jelas keris yang
“ Hamba Kangjeng.” “ Keris itu adalah salah satu dari pusakaku. “ “ Hamba Kangjeng. “ Keris itu akan dapat mencoreng namaku, meskipun
berpendapat bakait dengan peristiwa
u tidak akan begitu dungu, mem
diri untuk melakukan kejahatan ini.” “ Tetapi hamba mohon agar keris itu biarlah ada di tempatnya sampai kakang Tumenggung Reksabawa dan para sen-tana dan nayaka melihatnya.” “ Aku tidak berkeberatan, kakang. Meskipun tersirat di a
ke
gan, kenapa keris
pu
g Tumenggung Reksabawa
un
Raden
Ay
ntung
kepa ti. Aku hanya seorang
pe ak berdaya. Aku mohon
curigaan.” “ Ampun Kangjeng. Bukan maksud hamba. Tetapi hamba hanya ingin menempatkan persoalannya pada keadaan yang sewajarnya.”
“ Aku mengerti, kakang. Karena itu aku tidak berkeberatan “ Kangjeng Adipati itu berhenti sejenak. Lalu katanya pula “ Tetapi aku minta kakang Tumenggung dan kakang Tumenggung Reksabawa memeriksa petugas bangsal pusaka. Kakang harus mencari keteran
sakaku itu dapat berada di tangan orang yang telah membunuh kakangmas Tumenggung Reksayuda.”
“ Hamba Kangjeng.” “ Aku memerintahkan kakang Tumenggung Jayataruna dan kakan
tuk mengusut perkara ini sampai tuntas. Sampaikan perintahku kepada kakang Tumenggung Reksabawa nanti setelah ia datang kemari.” “ Hamba Kangjeng.” “ Sekarang aku akan minta diri.” Ketika Kangjeng Adipati minta diri kepada
u Reksayuda, maka Raden Ayu Reksayuda itupun berkata di-antara isak tangisnya yang tertahan “ Dimas. Segala sesuatunya terga
da dimas Adiparempuan yang tid
ke
ang memikul tanggung
jaw kakang
Tu
me
s Tumenggung
me
gerti, betapa pedihnya hati kangmbok
Re
maka Kangjeng Adipatipun segera
me enggung
Re
ruk dari orang yang telah
memper
maka Raden
Ayupun telah menemui Ki Tumenggung Jayataruna
adilan.” “ Ya, kangmbok. Akulah y
ab. Aku sudah memerintahkan
menggung Jayataruna serta kakang Tumenggung Reksabawa untuk mengusut perkara ini sampai tuntas.”
“ Terima kasih dimas. Jika selama ini aku
rindukan kakangmas Tumenggung Reksayuda pulang, maka demikian kakangma
nginjakkan kakinya di rumah, kakangmas Tumenggung justru terbunuh.” “ Aku men
ksayuda. Karena itu, aku akan berusaha sejauh dapat aku lakukan, kangmbok.”
“ Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih, dimas. Mudah-mudahan segala sesuatunya segera dapat dipecahkan.”
Demikianlah,
ninggalkan rumah Raden Tum
ksayuda itu. Namun bahwa yang tertancap didada Raden Tumenggung itu adalah salah satu dari pusakanya, maka Kangjeng Adipati tidak dapat begitu saja mengkesampingkan persoalan itu. Tentu ada niat bu
gunakan salah satu pusakanya itu. Sepeninggal kangjeng Adipati,
“ Kakang. Apakah aku dapat minta tolong ?”
emahami jalan menuju
ke
ia agak malas peigi menemui
Jalawaja.
kakang Tumenggung Reksabawa.
Bia
ndiri mencabut keris itu
Tetapi ia tidak berkata apapun juga.
Ki Tumenggung Jayatarunalah yang kemudian
“ Apa Raden Ayu.:” “ Kakang yang sudah m
pondok Ki Ajar Anggara” “Raden Jalawaja maksud Raden Ayu ?”
“ Ya. Bukankah Jalawaja harus ada di rumah esok sebelum ayahandanya di makamkan ?” “ Ya.” “ Aku minta tolong, kakang.” Ki Tumenggung Jayataruna menarik nafas panjang. Sebenarnya
Malam begitu gelap dan jalannyapun agak rumpil. “ Tetapi siapakah yang nanti akan menyelenggarakan jenazah Raden Tumenggung ?” “ Bukankah sebentar lagi para nayaka dan sentana akan berdatangan ?”
“ Keris itu?” “ Apa yang harus dilakukan, kakang.” “ Tunggu
rlah kakang Tumenggung melihat sendiri keris itu didada Raden. Tumenggung. Biarlah kakang Tumenggung Reksabawa sedengan tangannya.”
Wajah Raden Ayu Reksayuda menjadi tegang.
be
Jal
t untuk menemaninya, Ki Tumenggung
Jay
n jalan sendiri. Tetapi di dinginnya malam
ia
ngan tergesa-gesa pula. Seperti yang
dip
awa.
pusaka dari
Ka
Tumenggung teikejut “ siapa yang
me
rkata pula “ Baiklah, Raden Ayu. Aku akan peigi menemui Raden Jalawaja. Mudah-mudahan Raden
awaja bersedia turun.” “ Anak itu harus turun, kakang. Ayahandanya meninggal dengan cara yang tidak wajar. Biarlah Jalawaja menaruh peihatian pula atas perkara ini.” Demikianlah, dengan mengajak dua orang prajuri
ataruna pergi menyusul Raden Jalawaja. Bukannya karena Ki Tumenggung itu menjadi ketakuta
memerlukan kawan untuk berbincang diperjalanan.
Sepeninggal Ki Tumenggung Jayataruna, maka Ki Tumenggung Reksabawa benar-benar telah datang de
esankan Ki Tumenggung Jayataruna, maka Raden Ayu Reksayuda telah menyerahkan segala sesuatunya kepada Ki Tumenggung Reksab
Dihadapan beberapa orang saksi, maka Ki Tumenggung Reksabawa sendirilah yang telah mencabut keris di dada Raden Tumenggung Wreda Reksayuda. “ Keris itu adalah salah satu
ngjeng Adipati “ berkata Raden Ayu setelah keris itu dibungkus dengan kain. “ He ? “ Ki
ngatakannya ?”
ung Reksabawa menarik nafas
da
dirumah
Ra enggung
Jay
m yang tidak begitu luas.
tahui apakah
ad
mi
tentu-juga
“ Kangjeng Adipati sendiri mengakuinya.” Ki Tumengg
lam-dalam. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Sementara Ki Tumenggung Reksabawa serta beberapa orang sentana dan nayaka sibuk
den Ayu Reksayuda, maka Ki Tum
ataruna bersama dua orang prajurit melarikan kuda mereka menuju ke sebelah pondok di lereng bukit
Kedatangan Ki Tumenggung sangat mengejutkan Ki Ajar Anggara serta Jalawaja sendiri.
Mereka bertigapun kemudian dipersilakan masuk ke ruang dala
“ Di luar dingin Ki Tumenggung “ berkata Ki Ajar Anggara.
Jalawaja yang juga terbangun dari tidurnya, ikut menemui Ki Tumenggung Jayataruna beserta kedua orang prajurit yang menyertainya..
“ Maaf Ki Tumenggung “ berkata Ki Ajar Anggara “ kedatangan Ki Tumenggung telah mengejutkan kami. Karena itu, jika Ki Tumenggung berkenan, kami ingin segera menge
a titah yang harus kami lakukan ?” “ Ki Ajar serta angger Raden Jalawaja. Kami
nta maaf, bahwa kami telah mengejutkan Ki Ajar dan
telah
me
bah di tengkuknya “ apakah
pe
ggung Wreda
Re
ah ayah sudah diampuni dan hari ini
ka
kang Tumenggung Reksabawa
serta dua
. Ki Tumenggung Wreda
Re
Raden Jalawaja. Tetapi kami tidak dapat menundanya sampai matahari terbit esok pagi.” “ Apakah ada sesuatu yang sangat penting, Ki Tumenggung?” “ Ya, Ki Ajar. Sesuatu yang sama-sama tidak kita inginkan telah terjadi. Berita yang aku bawa adalah berita yang kurang menyenangkan.” “ Berita tentang apa, Ki Tumenggung.”
“ Raden Tumenggung Wreda Reksayuda ninggal.”
“ Ayah ? “ Raden Jalawaja terkejut seperti disengat le
ndengaranku benar ?” “ Ya, Raden. Ki Tumen
ksayuda.”
“ Bukank
lau tidak salah telah dijemput dari pengasingan ?” “ Ya. Aku dan ka
orang prajurit, telah menjemput Raden Tumenggung dari pengasingan.”
“ Tetapi kenapa tiba-tiba saja ayah meninggal ? Kelelahan ? Sakit atau karena kejutan yang telah menghentikan denyut jantungnya ?” “Tidak, ngger
ksayuda telah terbunuh.”
?”
rnyata telah terbunuh.
Te
uduh
ses
u petunjuk yang
dit
esa-gesa mengambil kesimpulan. Kita
be
“Terbunuh ? Siapakah yang telah membunuhnya
“ Demikian ayahanda Raden Jalawaja sampai di rumah, maka kami yang menjemputnya di pengasingan minta diri. Namun demikian malam turun, seorang utusan Kangjeng Adipati telah memanggil aku ketika aku baru beristirahat setelah menempuh perjalanan panjang. Kangjeng Adipati sendiri sudah berada di rumah Raden Tumenggung Wreda Reksayuda yang te
tapi kami belum tahu, siapakah yang telah membunuhnya.” “ Jadi pembunuh itu tidak tertangkap ?” “ Kami memang belum dapat men
eorang.” “ Tidak ada tanda-tanda ata
inggalkan oleh pembunuh itu ?” “ Ada ngger.” “ Apa?” “ Keris yang masih tertancap di dada Raden Tumenggung itu adalah salah satu dari pusaka Kangjeng Adipati.” “ Kangjeng Adipati sendiri yang membunuh ayahanda?” “ Nanti dulu, Jalawaja “ potong Ki Ajar Anggara “ jangan terg
lum dapat menuduh siapa-siapa dalam
kita tidak dapat dengan
serta eng
Ad ngat bodoh
seh
paman
Ad
, Jalawaja ?”
dan membia
pembunuhan ini.” “ Tetapi keris yang ada di dada ayahanda adalah salah satu dari pusaka paman Adipati, eyang.” “ Meskipun demikian,
-merta mencurigainya. Jalawaja. Kangjipati tentu bukan seorang yang sa
ingga, membunuh seseorang dengan mempergunakan pusakanya sendiri. Apalagi pusaka itu ditinggalkannya pada tubuh korbannya. Bukankah itu berarti bahwa Kangjeng Adipati telah membiarkan dirinya terkait dengan peristiwa pembunuhan itu sendiri ?”
“ Eyang. Sebelum ada orang lain yang pantas dicurigai, maka aku tetap saja mencurigai
ipati. Pengampunan yang diberikan oleh paman Adipati ternyata adalah sikapnya yang palsu.” “ Lalu apa keuntungan pamanmu dengan membunuh ayahmu
“ Keduanya mempunyai pandangan yang berbeda tentang kadipaten ini. Selain itu, ayah tentu masih akan tetap menuntut hak atas kadipaten ini, meskipun aku tidak membenarkan sikap ayahanda. Tetapi itu bukan berarti bahwa ayahanda pantas dibunuh. Kenapa Kangjeng Adipati tidak membiarkan saja ayah di pengasingan. Kenapa ia berpura-pura berbaik hati, mengampuni kesalahan ayahanda
ikan ayahanda kembali dari pengasingan, namun kemudian paman telah mengakhiri hidup
dengan serta-merta men
membunuh ayahmu. Kau tidak dapat beipeg
pada keris yang ada di dada ayahm
bukti yang meyakinkan.”
Jalawaja menundukkan kepa
“ Raden “ berkata Ki Tumenggung
sebenarnyalah kedatanganku ka
minta angger bersedia pulang.
tentu akan menunggu angger
tubuh Raden Tumenggung Wre
tempat pembaringannya yang t
-tiba saja iapun berkata “ Tidak. Aku
tid
adaan.
Ay an
de
a secara resmi sudah
me
ayahanda.”
“ Jalawaja. Dengarkan aku. Jangan berbicara sendiri menuruti perasaanmu. Kau tidak dapat uduh pamanmu angan u itu sebagai lanya.
Jayataruna “ li ini, sekali lagi aku Esok, semua orang sebelum membawa da Reksayuda itu ke erakhir.”
Jalawaja mengangkat wajahnya. Rasa-rasanya ada sesuatu yang menyengat perasaannya. Namun tiba
ak akan pulang. Aku masih berpegang pada sikapku. Aku tidak akan pulang jika Miranti masih ada di rumah itu.”
“ Tetapi kali ini angger dipaksa oleh ke
ahanda Raden Jalawaja itu meninggal. Bahk
ngan cara yang tidak wajar. Raden, ibunda berpesan, bahwa Raden akan dapat bekerja sama dengan ibunda untuk mencari pembunuh ayahanda. Sementara itu aku dan kakang Tumenggung Reksabaw
ndapat perintah dari Kangjeng Adipati untuk mengusut perkara ini sampai tuntas.”
nya kau perlu
prJ
eknya.
nya “ Tidak,
g Wreda Reksayuda?”
sekeras batu hitam, Jalawaja.”
nggung. Jalawaja tidak mau
pu
“ Tidak. Aku tidak akan pulang. Meskipun langit dan bumi akan mencakup, aku tidak akan pulang sebelum perempuan itu pergi.” “ Tetapi dalam keadaan ini, agak
ang, Jalawaja. Nanti, setelah ayahandamu di makamkan, Ikaiu dapat meninggalkan rumahmu secepatnya “ berkata kak
Tetapi Jalawaja tetap menggeleng. Kata
eyang. Aku tidak akan pulang.” “ Apakah Raden tidak ingin bersama-sama kami mencari siapakah pembunuh Raden Tumenggun
“ Aku akan mencarinya sendiri. Aku tidak memerlukan siapa-siapa.” “ Hatimu
“ Maaf eyang. Aku tidak dapat berbuat lain.” “ Maaf Ki Tume
lang. Tolong, sampaikan kepada Raden Ayu, bahwa Jalawaja tetap tidak mau pulang dalam keadaan apapun juga.”
Namun ia masih juga berkata “ Raden
Jal
i meninggalkan pondok
Ki
ng yang baru pulang
me n Tumenggung Reksayuda dari
pe
ga sekeras hati Raden
Jal
Ki Tumenggung Jayataruna mengangguk-angguk.
awaja iagaknyal memang keras hati. Tetapi aku tetap tidak dapat mfengerti, bahwa pada saat ayahandanya meninggal, Raden Jalawaja tetap saja tidak mau pulang barang sebentar.” Jalawaja tidak menyahut. Terasa dadanya menjadi sesak. Ada dorongan yang kuat, yang memaksanya pulang untuk memberikan penghormatan terakhirnya kepada ayahandanya. Tetapi kekerasan hatinya telah menahannya. Miranti baginya tidak ubahnya bagaikan hantu perempuan yang siap men-erkamnya. Karena itu, maka Ki Tumenggung Jayataruna itupun kemudian minta dir
Ajar Anggara di lereng bukit itu. “ Aku benar-benar mohon maaf, Ki Tumenggung. Ki Tumenggu
njemput Rade
ngasingan, malam ini harus berkuda lagi kemari, namun Ki Tumenggung tidak berhasil mengajak Jalawaja pulang.” “ Apaboleh buat, Ki Ajar. Mungkin di waktu muda hati Ki Ajar ju
awaja.” Ki Ajar tersenyum sambil menjawab “ Tidak Ki Tumenggung. Hatiku rapuh diwaktu muda. Bahkan sampai di hari tua.” Sejenak kemudian, Ki Tumenggung serta para
ti mereka menuruni
ler
tidak dapat bertemu
de
yang datang untuk
me
ndali, sehingga mungkin
sek
rlah. Malam masih agak panjang.
“ J
orongan keinginan yang
.sa
prajurit yang menyertainya telah meninggalkan rumah Ki Ajar. Dengan hati-ha
eng gunung yang kadang-kadang terasa agak dalam. Sepeninggal Ki Tumenggung, Jalawaja itupun berkata kepada kakeknya “ Aku mohon maaf eyang.. Aku benar-benar
ngan Miranti itu lagi meskipun hanya sekejap. Perempuan iblis itu dapat memanfaatkan segala kesempatan untuk menghina dan merendahkan aku dihadapan banyak orang
mberikan penghormatan terakhir kepada ayah. Dalam keadaan yang demikian, pada saat aku kehilangan ayahku, satu-satunya orang tuaku, aku akan dapat kehilangan ke
ali aku akan berbuat sesuatu yang tidak seharusnya aku lakukan. “ Ki Ajar Anggara mengangguk-angguk. Katanya “ Sudahlah Jalawaja. Besok kau dapat datang mengunjungi makamnya. “ “ Ya, eyang.” “ Sekarang tidu
alawaja menarik nafas panjang. Anak muda itu memang masuk kembali ke dalam biliknya. Tetapi ternyata bahwa Jalawaja tidak lagi dapat memejamkan matanya. Rasa-rasanya Jalawaja itu berdiri di persimpangan. Ada d
ngat kuat untuk datang melihat tubuh ayahnya
rumahnya, merupakan
ba
kan membiarkan
ke
ora
u Reksayuda sendiri memang menjadi
san
keras hati.
da yang dimasa gadisnya
be da Jalawaja masih belum
padam patan
un . Sakit hati
seo
nya menuju ke tempat
pe Namun Kangjeng
Adipati itu masih belum melihat Jalawaja di antara
pada saat-saat terakhir. Tetapi di sisi yang lain, keberadaan Miranti di
yangan kekalutan yang akan dapat terjadi, justru pada saat ayahnya meninggal.
Jalawaja itu justru telah bangkit dan duduk di bibir pembaringannya. Kepalanya justru terasa menjadi pening. Namun terdengar anak muda itu berdesah “ Aku tidak a
tidakadilan itu terjadi. “ Sebenarnyalah, di hari berikutnya, beberapa
ng saling bertanya, kenapa mereka tidak melihat Raden Jalawaja. Raden Ay
gat kecewa bahwa peristiwa yang sangat mengejutkan itu tidak mampu menggoyahkan sikap Jalawaja yang
Namun sebenarnyalah bahwa dendam di hati Raden Ayu Reksayu
rnama Miranti itu kepa. Miranti masih saja menunggu kesem
tuk dapat membalas sakit hatinya
rang gadis kepada seorang anak muda yang dicintainya, namun ternyata anak muda itu tidak menanggapinya. Lewat tengah hari, Kangjeng Adipati telah berada di rumah Raden Tumenggung Reksayuda untuk melepas
ristirahatannya yang terakhir.
ke
ok “ akhirnya Kangjeng Adipati itupun
be
as. Jalawaja tidak bersedia
da
emanggil Ki Tumenggung
Jay
berta
asil menggerakkan hatinya untuk
datang hari ini. “
sibukan di rumah itu. “ Kangmb
rtanya kepada Raden Ayu Reksayuda “ aku belum melihat Jalawaja. “ “ Ampun dim
tang.“ “ Tidak bersedia datang? Tetapi bukankah Jalawaja sudah diberitahukan apa yang telah terjadi dengan ayahandanya? “
“ Ya, dimas. Kakang Tumenggung Jayataruna yang semalam datang menemui angger Jalawaja. “ Kangjeng Adipatipun kemudian memerintahkan seseorang untuk m
ataruna. “ Kangjeng Adipati memanggil hamba? “
nya Ki Tumenggung Jayataruna setelah ia menghadap. “ Kakang Tumenggung semalam pergi mene. Jalawaja? “ “ Hamba Kangjeng. “
“ Jalawaja tidak bersedia datang? “ “ Hamba Kangjeng. Raden Jalawaja memang seorang anak muda yang keras hati. Jika ia mengatakan tidak, maka tidak seorangpun yang akan dapat membujuknya. Bahkan eyangnya sendiri tidak berh
an telah timbul.
membelikan pusakanya
untuk mem
ahu, bahwa banyak orang yang
tid
i dada Raden
“ Terlalu anak itu. Kenapa? “ “ Persoalannya adalah persoalan keluarga, Kangjeng. “
Kangjeng Adipati menarik nafas panjang. Namun ketidak hadiran Jalawaja itu menjadi perhatiannya pula. Hari itu kadipaten Sendang Arum, namun ketika rakyat Sendang Arum. mendengar bahwa Raden Tumenggung Reksayuda itu terbunuh, justu pada saat ia mendapatkan pengampunan, maka berbagai pertanya
Apalagi ketika kenyataan bahwa keris yang tertancap di jantung Raden Tumenggung Reksayuda adalah salah satu diantara pusaka Kangjeng Adipati. “ Tetapi Kangjeftg Adipati tentu tidak tersangkut dalam usaha pembunuhan ini “ berkata seseorang. “ Ya. Kangjeng Adipati bukan seorang yang bodoh, yang dengan sengaja mengorbankan namanya sendiri dengan
bunuh seseorang yang dianggapnya akan dapat menyaingi kedudukannya “ sahut seorang yang lain.
Tetapi seorang yang lain lagi berkata “ Justruitulah cerdik dan liciknya Kangjeng Adipati. Kangjeng Adipati t
ak percaya bahwa dirinya terlibat justru karena pusakanya yang tertancap d
Tu
ah mereka masing-masing.
Be
ng Rekabawa serta beberapa orang
pe
a kakang Tumenggung berdua segera
me suamiku “ berkata Raden
Ay
menggung? “ Pendapat itu ternyata telah menggugah sikap yang berbeda menanggapi kenyataan bahwa pusaka Kangjeng Adipatilah yang tertancap di dada Raden Tumenggung Wreda Reksayuda.
Setelah pemakaman selesai, serta.orang-orang yang mengiringinya sudah pulang ke rumah masing-masing, maka terasa keadaan Sendang Arum, terutama di lingkungan dinding kota, menjadi sepi. Para penghuninya lebih banyak berada di dalam rum
rbincang tentang peristiwa yang sangat mengejutkan itu. Di rumahnya, Raden Ayu Reksayuda masih saja menangis. Ki Tumenggung Jayataruna dan Ki Tumenggu
mimpin kadipaten Sendang Arum, setelah pemakaman selesaf, telah kembali ke rumah Raden Ayu Reksayuda untuk ikut menenangkan hati perempuan yang baru saja ditinggalkan oleh suaminya dengan cara yang tidak wajar. Justru pada saat Raden Tumenggung Wreda Reksayuda pulang dari pengasingan. “ Aku mint
nemukan pembunuh
u Reksayuda. “ Kami akan berusaha dengan sungguh-sungguh, Raden.” “ Bagaimanapun juga aku tidak dapat menerima
mbulkan gejolak di
ka
yang berada di dada Raden
Tu
n, di. Justru karena keris itu
pu
Wreda
Re
keadaan yang sangat buruk ini.” “ Kami mengerti, Raden Ayu “ jawab Ki Tumenggung Reksabawa “ akupun tidak dapat membiarkan peristiwa ini berlalu begitu saja. Peristiwa ini akan dapat meni
dipaten Sendang Arum yang selama ini terasa tenang.” “ Ya, kakang “ sahut Ki Tumenggung Jayataruna “ di makam tadi aku sudah mulai mendengar bisik-bisik yang menggelitik. Justru karena pusaka Kangjeng Adipati
menggung Wreda.” “ Sudah aku kataka
saka Kangjeng Adipati, maka aku yakin bahwa Kangjeng Adipati,tidak terlibat. Sayang kita belum menemukan juru gedong yang bertugas di bangsal pusaka.” “ Kakang Tumenggung berkata Ki Tumenggung Jayataruna. Namun suaranya justru tertahan. Namun perlahan-lahan iapun berkata “ Ada orang berpendapat lain, kakang. Tetapi aku hanya mendengar di makam tadi. Seseorang yang berdiri di belakangku berkata kepada kawannya tentang pusaka di dada Raden Tumenggung
ksayuda.” “ Apa katanya ?” “ Sekali lagi aku katakan, bahwa ini adalah pendapat seseorang yang berdiri di belakangku di makam tadi. Justru karena keris itu pusaka
orang akan menganggap
ba
pe
nya
be
duduk di ruang dalam..
Wa
Raden Ayu itupun terisak.
berkata seorang
pe
ut. Yang Maha
Ag
Kangjeng Adipati, maka tidak ada orang yang akan menuduhnya. Semua
hwa mustahil Kangjeng Adipati mempergunakan pusakanya sendiri untuk membunuh seseorang. Apalagi keris itu sengaja atau tidak sengaja, tertinggal di tempat kejadian.”
Ki Tumenggung Reksabawa menarik nafas panjang. Katanya “ Setiap orang memang dapat saja mengemukakan jalan pikirannya sendiri-sendiri. Tetapi baiklah. Kita akan menjalankan
rintah Kangjeng- Adipati. Kita akan mencari jejak pembunuhan ini.” “ Ya, kakang “ Ki Tumenggung Jayataruna mengangguk-angguk. Beberapa orang pemimpin yang masih berada di rumah itupun telah minta diri pula. Ha
berapa orang perempuan yang tinggal disebelah menyebelah rumah Raden Ayu itu yang masih ada di rumah itu. Sebagian membantu membersihkan rumah, sebagian membersihkan perabot dan bala pecah yang baru saja dipergunakan, sebagian lagi menemani Raden Ayu
jahnya diliputi oleh perasaan duka yang mendalam-Matanya masih selalu basah dan kadang-kadang
“ Sudahlah Raden Ayu “
rempuan tua “ setiap kehidupan akan bermuara pada kemat-ian. Tidak seorahgpun yang akan dapat luput dari tangkapan ma
ung sendirilah yang menentukan, kapan maut itu
umur
tat
sangat
me n Ayu disela-sela
isaknya.
an.”
pada itu, Ki Tumenggung Jayataruna dan Ki
Tu
Tetapi mereka tidak segera
da
il menemukan
ora
u di
rum
iku tidak pulang, Ki
Tu
akan datang menjemput hambanya. Tidak pandang derajad dan pangkat. Bahkan tidak pandang
aran kehidupannya.” “ Ya, bibi. Tetapi cara yang telah ditrapkan atas kakangmas Tumenggung Reksayuda
ngejutkan “ sahut Rade
“ Aku dapat mengerti, Raden Ayu-. Meskipun demikian, jangan larut dalam duka berkepanjang
Raden Ayu Reksayuda itu mengangguk-angguk. Dalam
menggung Reksabawa tidak berhenti berusaha. Mereka bekerja keras untuk dapat menemukan jejak pembunuhan itu.
pat berhasil. Satu-satunya arah penyelidikan mereka adalah keris pusaka Kangjeng Adipati. Namun keduanya tidak berhas
ng yang bertanggung jawab atas bangsal pusaka tempat pusaka Kangjeng Adipati itu disimpan. Mereka tidak menemukan orang it
ahnya. “ Sejak peristiwa kematian Raden Tumenggung Reksayuda itu suam
menggung.” Berkata isteri juru gedong itu.
“ Apakah malam itu ia pergi ?” bertanya Ki Tumenggung Reksabawa.
bertugas.
Te
membantumu
menemukan suamimu. Teta
agar kau
tid
uh Ki Tumenggung. Aku tidak tahu apaap
mungkin pada kesempatan lain,
ka
“ Aku tidak tahu Ki Tumenggung. Suamiku pergi seperti biasanya ke kadipaten untuk
tapi sejak itu ia tidak pernah kembali lagi.” “ Apakah ada tanda-tanda atau isyarat yang dapat membantu kita untuk menemukan suamimu ?” bertanya Ki Tumenggung Jayataruna. “ Tidak, Ki. Tumenggung.” “ Nyi. Kami akan berusaha
pi kami memerlukan bantuanmu.”
“ Sungguh, Ki Tumenggung. Aku tidak tahu apa-apa.” “ Apakah suamimu sudah berpesan
ak mengatakan kepada siapapun tempat persembunyiannya ?”
“ Tidak, Ki Tumenggung. Seperti sudah aku katakan, malam itu ia pergi ke kadipaten. Tetapi suamiku itu tidak pernah kembali.” “ Nyi. Sebaiknya kau tidak berbohong agar kau tidak ikut terlibat dalam persoalan ini. “ “ Sungg
&. Justru aku menjadi sangat gelisah, bahwa suamiku tidak pulang.” , “ Baiklah. Tetapi
mi masih akan datang lagi kemari. “ Ketika keduanya meninggalkan rumah juru gedong itu, maka Ki Tumenggung Jayatarunapun
erbeda pendapat.
Ak
g Reksabawa menarik nafas
pa
di
san
mu
awa Kangjeng Adipati. “
adilan itu harus
be
akan berusaha
me
un ternyata bahwa untuk dapat menelusuri
ke
berkata “ Kakang. Maaf jika kita b
u semakin lama semakin yakin, bahwa Kangjeng Adipati terlibat dalam pembunuhan ini. “ Ki Tumenggun
njang. Katanya “ Aku masih belum berani mengatakan seperti itu, adi. Aku tidak melihat kepentingannya Kangjeng Adipati membunuh Raden Tumenggung Reksayuda. Apalagi pada kedudukan Kangjeng Adipati yang sudah menja
gat kokoh seperti sekarang ini. “
“ Tidak, kakang. Kedudukan Kangjeng Adipati
lai goyah. “ “ Karena itu, kita jangan ikut-ikut mengguncang kedudukan itu, adi. Kita justru harus ikut berusaha menegakkan wib
“ Maaf kakang. Tetapi bukankah kita harus menegakkan kebenaran dan keadilan ? “ “ Ya. Ingat Adi, kebenaran dan keadilan. Karena itu dasarnya tentu bukan sekedar berprasangka. Tetapi kebenaran dan ke
rlandaskan kenyataan yang terjadi. Nah, kenyataan itulah yang harus kita temukan lebih dahulu. “ Ki Tumenggung Jayataruna mengangguk-angguk. Katanya “ Baik kakang. Kita
nemukannya. “ Nam
nyataan atas peristiwa yang telah terjadi di
coba
me
. Semuanya masih gelap “
ggung memang harus telaten.“
enghindarkan diri,
ora
ngan, Nyi. Jika ia
de
rumah Raden Tumenggung Wreda Reksayuda itu adalah tugas yang sangat rumit. Di rumah, Ki tumenggung Reksabawa masih saja selalu membicarakan tentang peristiwa yang mengejutkan itu.
“ Setelah beberapa waktu kakang men
nelusuri jejak pembunuhan ini, apakah masih belum ada tanda-tanda yang dapat menjadi petunjuk, kakang ? “ bertanya Nyi Tumenggung. “ Belum, Nyi
“ Kakang Tumen
“ Juru gedong itu telah hilang begitu saja, Nyi. Sebenarnya ia merupakan salah satu sumber yang akan dapat dipergunakan sebagai alas penyelidikan. “
“ Agaknya orang itu telah terlibat kakang. Mungkin orang itu telah mencuri salah satu pusaka kangjeng Adipati dan menyerahkannya kepada orang lain. Kemudian untuk m
ng itu telah bersembunyi. “ “ Isterinya juga merasa kehila
ngan sengaja melibatkan diri dengan mendapat upah yang cukup banyak, ia tentu akan menghubungi isterinya untuk menikmati bersama upah dari penghkianatannya itu. “ “ Bukankah isterinya dapat berpura-pura tidak tahu?”
erarti bahwa -ia
tel
peristiwa ini. “
“ Alasannya ? “
“ Karena perbedaan sikap. M
tuntutan Raden Tumenggung
pudar atas kedudukan Adi
Sendang Arum. “
“ Bukankah tidak ada tatanan d
yang dapat mendukung
Tumenggung Wreda itu ? Kena
harus mengambil jalan pintas?”
“ Aku juga tidak percaya,
“ Tetapi akibatnya akan dapat menjadi buruk sekali bagi isterinya. Lalu untuk apa “juru gedong itu berkhianat, jika akhirnya anak dan isterinya menjadi korban ? Seandainya ia telah menerima uang.banyak, apakah itu tidak b
ah menjual anak dan isterinya ? “ Nyi Tumenggung itu mengangguk-angguk. “ Tetapi satu hal yang sangat menarik perhatianku. Adi Tumenggung Jayataruna condong untuk menuduh Kangjeng Adipati terlibat dalam ungkin juga karena yang tidak kunjung pati di kadipaten an paugeran tuntutan Raden pa Kangjeng Adipati
Nyi. Kedudukan Kangjeng Adipati cukup kokoh. “
Namun dalam pada itu, telah tersebar bisikan-bisikan halus yang menyudutkan Kangjeng Adipati. Hilangnya juru gedong juga telah menjadi bumbu dari bisikan-bisikan itu. Juru gedong memang di lenyapkan untuk memutuskan jejak yang sebenarnya, kenapa keris itu sampai di dada Raden
semakin lama semakin meyakinkan
pa
Adipati, serta latar
ntas jika aku
gjeng Adipati
ten mikian tidak
seo yak
tentu a pati
Tumenggung Wreda.
Beberapa orang Demang telah terbius oleh bisikan-bisikan itu. Bahkan Ki Tumenggung Jayatarunapun
ra Demang, bahwa Kangjeng Adipati justru menjadi dalang dari peristiwa ini. Dihadapan beberapa orang Demang, Ki Tumenggung Jayataruna berkata “ Aku telah kehilangan akal untuk mengusut perkara ini. Tidak ada jalur yang dapat aku tempuh agar aku dapat menemukan jejak terbunuhnya Ki Tumenggung Wreda Reksayuda. Namun bahwa keris itu adalah keris Kangjeng
belakang sikapnya, maka rasa-rasanya pa
mengarahkan pandangan mataku kepada Kangjeng Adipati.”
“ Kenapa Kangjeng Adipati ? “ bertanya seorang Demang. “ Kau dengar bahwa keris yang dipergunakan itu adalah keris Kangjeng Adipati ? Kan
tu berharap bahwa dengan de
rangpun akan menuduhnya. Orang bankan menganggap bahwa Kangjeng Adi
tid rlalu bodoh mempergunakan
pu
ng itu mengangguk-angguk. Jalan
pik una itu masuk di
na
emakin
ke
Arum. Tatanan
pe
bebahu yang terlalu sempit.
Pe
k untuk menduduki jabatan
Ad
g dapat dan pantas
un
nan.”
ak akan te
sakanya sendiri untuk melakukan pembunuhan. “ Para Dema
iran Ki Tumenggung Jayatarlar mereka.
Bisik-bisik itu semakin lama menjadi s
ras. Beberapa orang telah mulai mengungkit cacat-cacat selama pemerintahan Kangjeng Adipati Wirakusuma di Sendang
merintahan yang dianggap kurang memberi kesempatan kepada anak-anak muda untuk mengembangkan pribadinya. Palungguh bagi para Demang dan
mbagian banda desa yang kurang adil, karena menurut beberapa orang bebahu, hasil banda desa terlalu banyak yang harus dijadikan upeti. Pajak yang tinggi dan tidak merata. “ Harus ada perubahan di kadipaten Sendang Arum “ berkata seorang Demang.
“ Tetapi kita tidak mempunyai lagi orang yang pantas dan berha
ipati di kadipaten Sendang Arum sepeninggal Raden Tumenggung Wreda Reksayuda.” Namun Ki Tumenggung Jayataruna itupun berkata “ Ada. Ada orang yan
tuk mengendalikan Sendang Arum, meskipun tidak dipandang dari sisi keturu
“ Siapa ?” bertanya para Demang.
erempuan ?”
t paugeran di Sendang Arum,
ya
g yang menentang pengampunan
ter

gan Ki
Tu
“ Ada dua orang terbaik di Sendang Arum.” “ Ya, siapa ?”
“ Ki Tumenggung Reksabawa dan Raden Ayu Reksayuda ?” “ Seorang p
“ Kenapa dengan seorang perempuan ?” “ Tetapi menuru
ng berhak memegang kekuasaan di Sendang Arum adalah seorang laki-laki.” Seorang Demang yang lain menyahut “ Jika demikian, bagaimana dengan Ki Tumenggung Reksabawa ?”
“ Ia adalah seorang Tumenggung yang telah memiliki pengalaman sebangsal. Berpikir jauh dan bijaksana. Tetapi Ki Tumenggung adalah orang yang sangat lamban. Selain itu Ki Tumenggung termasuk oran
hadap Raden Tumenggung Wreda Reksayuda.” “ Jadi bagaimana menurut Ki Tumenggung Jayataruna ?
“ Aku justru meragukan kebersihan tan
menggung Reksabawa. Bahkan ada sepeletik dugaan, sekali lagi dugaan, bahwa Ki Tumenggung Reksabawa pantas dicurigai.” “ Karena ia menentang pengampunan terhadap Raden Tumenggung Wreda ?”
seorang telah
be
soal “ sahut Ki Tumenggung
Jay
ugcran Kadipaten
Se
paugeran itu harus dilaksanakan
ses
?” bertanya Ki Tumenggung
Jay
a bedanya jika para pemimpin
Se atau
me itu ?
Bu
“ Antara lain memang demikian.” “ Lalu, kesimpulannya bagaimana menurut Ki Tumenggung Jayataruna ?”
Ki Tumenggung Jayataryna menarik nafas panjang. Sebelum ia menjawab,
rtanya “ Bagaimana dengan Raden Ayu Reksayuda ?” “ Ia seorang perempuan “ desis seorang Demang yang lain. “. Itu bukan
ataruna “jika kita memang menginginkan Raden Ayu Reksayuda memegang kekuasaan di Kadipaten Sendang Arum, maka biarlah pa
ndang Arum yang disesuaikan.” “ Jadi paugerannya yang disesuaikan ? Apakah itu tidak terbalik Ki Tumenggung. Bukankah tatanan dan
uai dengan bunyi serta makna yang terkandung didalamnya ?” “ Siapakah yang telah membuat tatanan dan paugeran itu
ataruna. “ Tentu para pemimpin Sendang Arum.” “ Nah, ap
ndang Arum sekarang membuatmperbaharui tatanan dan paugeran
kankah mereka juga berhak melakukannya sebagaimana para pemimpin yang terdahulu.
masa lalu, sehingga tatanan dan
pa ya pula.”
, kita tinggal menentukan langkah terakhir
“ b
dasarkan atas
pe
akan kita bicarakan dalam
pe i Tumenggung.”
idak berhasil
me
ngguk.
Apalagi peristiwa dan persoalan-persoalan yang dihadapi Sendang Arum sekarang sudah berbeda dengan
ugeranpun harus disesuaikann
Para Demang mengangguk-angguk. Sebagian besar dari mereka mengiakannya. “ Nah
erkata Ki Tumenggung Jayataruna “ kita akan menyelenggarakan satu pertemuan. Kita akan mengundang Ki Tumenggung Reksabawa. Kita akan mengambil keputusan ber
rtemuan itu.” “ Apa yang
rtemuan itu, K
“ Kita akan menentukan, siapakah yang bersalah sehingga Raden Tumenggung Reksayuda meninggal justru pada saat ia pulang dari pengasingan.” “ Bagaimana kita dapat menentukan, jika sampai hari ini Ki Tumenggung t
ngusut dan menemukan bukti-bukti siapakah yang bersalah.”
“ Ada satu bukti. Keris itu. Kemudian berdasarkan atas keyakinan kita. Jika kita semuanya yakin, maka keyakinan kita itu akan menentukan.” Para Demang itu mengangguk-a
“ Kita siapkan prajurit. Aku sudah berbicara
ir, serta kalian, para Demang. Agaknya
wa
ritnya. Kita
su
jawab para Demang
ha
apati Ki Tumenggung
jug
dengan para Senapati yang mempunyai kecerdasan berpik
ktunya sudah cukup masak untuk menentukan sikap.” “ Kita akan memberontak ?” “ Bukan memberontak. Tetapi kita akan meluruskan jalannya pemerintahan di Sendang Arum.”
“ Ya “ sahut seorang Demang “ aku sudah siap.” Para Demang yang lainpun telah menyatakan kesiagaan mereka pula.
“ Besok, pada akhir pekan, kalian akan diundang untuk berkumpul.” “ Dimana ?” “ Kita akan berkumpul di rumah Raden Ayu Reksayuda, lepas senja. Hati-hati, jangan menarik perhatian. Sementara itu siapkan orang-orang kalian di luar dinding kota. Sementara itu para Senapati akan menyiapkan prajurit-praju
dah tidak mempunyai pilihan lain.” “ Baik, Ki Tumenggung “
mpir berbareng. Dengan demikian, maka Ki. Tumenggung Jayataruna telah mempengaruhi seisi Kadipaten. Kepada beberapa orang Sen
a berhasil meyakinkan mereka, bahwa yang telah membunuh Ki Tumenggung
ktu yang telah ditentukan, maka telah
be
k mengetahui dengan pasti, apa yang akan
dib
dang Arum.”
Wreda Reksayuda adalah Kangjeng Adipati meskipun mungkin mempergunakan tangan orang lain. Di wa
rlangsung pertemuan di rumah Raden Ayu Reksayuda. Para Demang dan para Senapati yang berhasil dipengaruhi oleh Ki Tumenggung Jayataruna telah hadir. Sedangkan diantara mereka yang telah hadir terdapat pula Ki Tumenggung Reksabawa. Namun agaknya Ki Tumenggung Reksabawa tida
icarakan dalam pertemuan itu. Ketika semuanya yang diharapkan hadir sudah datang, maka Raden Ayu Reksayuda yang ternyata memimpin pertemuan itu berkata kepada Ki Tumenggung Reksabawa “ Kakang Tumenggung. Kami mohon kakang Tumenggung malam ini datang dipertemuan ini untuk mendengarkan tangis dan sesambat kami yang menginginkan keadilan diluruskan di Sen
“ Aku masih belum mengerti maksud dari pertemuan ini, Raden Ayu.” “ Kakang. Sudah sekian lama, kangmas Tumenggung Wreda Reksayuda terbunuh. Tetapi masih belum nampak titik-titik terang, siapakah yang sebenarnya bersalah.” “ Kami, maksudku aku dan adi Tumenggung Jayataruna sudah berusaha sejauh dapat kami
dak ada petunjukpe
Ad
lam perkara ini. Agaknya kita
da
an kami,
lakukan, Raden Ayu. Tetapi kami masih belum sampai kepada sasaran. Ti
tunjuk yang dapat menuntun kami. Juru gedong yang bertugas di’bangsal pusaka itu hilang tanpa bekas.”
“ Aku percaya kepada kakang Tumenggung Reksabawa yang sudah bekerja keras untuk menemukan pembunuh kangmas Reksayuda. Tetapi sampai sekarang kakang Tumenggung masih belum menemukannya. Sementara itu, Kangjeng Adipati nampaknya masih tetap tenang-tenang saja. Apakah kita tidak tanggap akan hal itu ?”
“ Apa yang dapat dilakukan oleh Kangjeng Adipati ? Kangjeng Adipati sudah menyerahkan pengusutan ini kepada kami berdua. Aku dan adi Tumenggung Jayataruna. Beberapa kali Kangjeng
ipati sudah menanyakan kepada kami. Kepadaku dan kepada adi Jayataruna. Tetapi kami masih belum dapat mengatakan apa-apa,-sehingga kelambanan ini sebenarnya adalah karena ketidak mampuan kami berdua.”
“ Kakang “ berkata Ki Tumenggung Jayataruna “ Aku mengerti apa yang kakang maksudkan. Tetapi kita tidak dapat terombang-ambing oleh ketiadaan bukti dan saksi da
pat berpegang pada satu-satunya bukti yang ada, yaitu keris yang tertinggal didada Raden Tumenggung Reksayuda. Keris itu adalah pusaka Kangjeng Adipati. Selanjutnya keyakin
ba i adalah salah seorang yang
pa
nggung ?”
etidak
juj
abisinya.”
hwa Kangjeng Adipat
ling berkepentingan untuk meniadakan Raden Tumenggung Reksayuda.” “ Kenapa kau dapat berkata seperti itu, adi Tume
“ Ada beberapa alasan, kakang. Raden Tumenggung Wreda Reksayuda yang tidak henti-hentinya berusaha untuk membuktikan bahwa dirinya memang berhak atas kadipaten ini. Raden Tumenggung juga mempunyai bukti-bukti k
uran Kangjeng Adipati. Karena itu, maka satu-satunya cara untuk membersihkan namanya adalah menyingkirkan Raden Tumenggung Wreda Reksayuda.”
“ Jangan menghakimi seseorang yang belum jelas melakukan kesalahan, adi. Karena kau sendiri akan dapat dihakimi tanpa membuat kesalahan.” “ Tetapi kesalahan Kangjeng Adipati sudah jelas, kakang. Karena itu, maka ia telah berpura-pura memberikan pengampunan. Namun begitu Raden Tumenggung sampai di rumahnya, maka Kangjeng Adipati langsung mengh
“ Itu hanya prasangka. Kita tidak saja berprasangka apa saja. Tetapi untuk menentukan apakah Kangjeng Adipati bersalah atau tidak, itu harus dibuktikan.” “ Kakang “ berkata Raden Ayu Reksayuda “ ada alasan lain, kenapa Kangjeng Adipati harus menyingkirkan kangmas Tumenggung,”
malu
itu
Reksabawa berkerut.
De
untuk menjadi isterinya.”
a yang
len
“ Apa Raden Ayu ?” “ Sebenarnya aku sangat malu untuk menyebutkannya. Tetapi untuk menegakkan keadilan, maka aku akan menanggungkan
“ Dahi Ki Tumenggung
ngan sungguh-sungguh ia mendengarkan Raden Ayu itu berkata “ Kakang Tumenggung. Raden Adipati yang telah kehilangan isterinya itu menginginkan aku
“ Raden Ayu “ sahut Ki Tumenggung Reksabawa dengan serta merta “ apakah Raden Ayu berkata sebenarnya ?”
“ Kakang tentu terkejut mendengarnya. Bahkan para . Demang dan saudara-saudara yang lainpun tentu akan terkejut pula. Juga kakang Tumenggung Jayataruna. Tetapi inilah yang terjadi, kakang “ Raden Ayu Reksayuda itu menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya. Air matanya melelah disela-sela jari-jariny
tik, yang dihiasi oleh beberapa buah cincin yang indah bermata berlian. Ki Tumenggung Reksabawa menarik nafas panjang. Sementara itu, Raden Ayu Reksayuda tidak dapat menahan isak tangisnya. Disela-sela isaknya Raden Ayu itu berkata terbata-bata “JCakang. Aku merasa, bahwa harga diriku sudah terinjak oleh nafsu yang menyala didada Kangjeng Adipati Wirakusuma. Hampir saja terjadi peristiwa
mudaku dengan senjata di
tan
impin
ka
berkata “ Adi
Tu
n noda
ter i seorang Adipati, tetapi
jug rbesar bagi lakilaki yang
set
yang akan menjadi cacat bukan saja bagi Kangjeng Adipati sendiri, tetapi juga bagi kadipaten Sendang Arum. Jika peristiwa itu terjadi, maka Sendang Arum akan menjadi negeri yang bernoda. “ “ Itu sudah keterlaluan, Raden Ayu “ geram Ki Tumenggung Jayataruna. “ Jika demikian semuanya sudah jelas “ berkata salah seorang Demang “ tidak sia-sia aku membawa anak-anak
gan mereka. “
Seorang Senapati yang hadir di pertemuan itupun berkata dengan nada tinggi “ Kami sudah siap. Ki Tumenggung. “
Ki Tumenggung Jayataruna mengangguk-angguk. Kemudian katanya kepada Ki Tumenggung Reksabawa “ Kakang. Sekali lagi aku mohon kakang bersedia mendengar tangis dan sesambat kami. Kami mohon kakang bangkit dan mem
mi semuanya untuk menangkap dan kemudian mengadili Kangjeng Adipati Wirakusuma. “ Ki Tumenggung Reksabawa itu menjadi sangat gelisah. Namun kemudian iapun
menggung Jayataruna dan Raden Ayu Reksayuda. Jika yang terjadi benar seperti yang Raden Ayu katakan, maka itu merupaka
besar bukan saja baga merupakan noda te
ia kepada keluarganya. Meskipun Kangjeng Adipati sudah tidak mempunyai isteri lagi setelah
pantas
un
gong yang berbunyi sebelah.
Un
terakan peristiwa yang
seb
mpercayainya. “
adil. “
kan hitam bagi yang
Gusti Puteri meninggal, namun tindakan seperti itu adalah tindakan yang tidak dikendalikan oleh budi yang luhur. Karena itu, maka tindakan itu
tuk mendapat hukuman yang setimpal. Namun segala sesuatunya harus dipertimbangkan dengan masak. Maaf Raden Ayu, bahwa kita semuanya baru mendengar
tuk menentukan kebenaran, kita tidak cukup sekedar mendengar pengaduan sebagaimana Raden Ayu katakan. “ “ Jadi kakang tidak percaya kepadaku ? “ “ Bukan begitu Raden Ayu. Tetapi sejauh manakah peristiwa yang telah terjadi itu. Kita harus menilai kebenaran dari peristiwaku. “ Terima kash, kakang. Aku sudah bersed-ja menanggung malu, menceri
enarnya ingin tetap aku rahasiakan ini, namun agaknya kakang kurang me
“ Maaf Raden Ayu. Jangan salah mengerti. Aku bukannya tidak mempercayainya. Tetapi aku hanya ingin mengetahui-kadar dari kesalahan yang telah dilakukan oleh Kangjeng Adipati. “-
“ Jika kakang menghadap Kangjeng Adipati dan menanyakan kebenaran keteranganku ini, maka itu merupakan satu langkah yang tidak
“ Kenapa Raden Ayu.” “ Berperisai kekuasaannya, maka Kangjeng Adipati akan dapat mengata
pu
tetap setia
ke
engarkan
permohon
jawaban. “
rang.”
tih dan mengatakan putih bagi yang hitam. Akhirnya, aku yang telah dipermalukan akan menanggung beban yang lebih berat lagi. “ “ Tetapi jika setiap pengaduan harus diterima tanpa penilaian, maka alangkah rumitnya kehidupan ini. “
“ Pertimbangan kakang agaknya terlalu berbelit-belit “ berkata Ki Tumenggung Jayataruna “ bukankah sudah jelas bagi kita, apa yang sebenarnya telah terjadi di bumi ini. Barangkali memang tidak tepat sebagaimana kenyataan yang terjadi. Tetapi dengan demikian kita sudah dapat menilai, apakah sepantasnya bagi kita
pada Kangjeng Adipati yang sudah banyak melakukan kesalahan itu. Baik bagi Tanah ini maupun kepada isinya. “ Maaf adi Jayataruna. Aku masih belum dapat .mengambil kesimpulan. “ “ Jadi kakang tidak mau mend
an kami yang memerlukan perlindungan ini. Tidak ada orang lain tempat kami berlindung selain kakang Tumenggung Reksabawa. “ “ Maaf adi. Aku belum dapat menjawabnya. Aku akan memikirkannya lebih jauh. Pada suatu saat aku akan memberikan
“ Pada suatu saat itu, kapan kakang. Kami sudah tidak sabar lagi. Kami mohon ketegasan kakang seka
aden Ayu sedikit bersabar.
Ad
yudapun akan terkuak.“
k
be -laki.
Se
da
h ini
ak yang bertugas di
bangsal pus
Ayu. Tetapi sudah tentu
ba
Ki Tumenggung Reksabawa menggeleng. Katanya “ Aku mohon R
i Jayataruna, para Senapati dan para Demang. Pada suatu saat segala sesuatunya akan nampak dengan jelas. Takbir rahasia kematian Raden Tumenggung Wreda Reksa
“ Jika sebelum datang waktunya yang pada suatu saat itu, bencana telah menerkam diriku, kakang. Aku hanya seorang perempuan yang tida
rdaya menghadapi keganasan seorang laki
dangkan laki-laki itu mempunyai wewenang dan kekuasaan. Apa yang dapat aku lakukan dan kepada siapa aku minta perlindungan. “ “ Jangan cemas Raden Ayu. Aku akan menempatkan prajurit di rumah ini. Mereka akan dapat melindungi Raden Ayu terhadap keganasan seorang laki-laki. Jika laki-laki itu mempunyai wewenang dan kekuasaan, maka prajurit itu akan
pat menjadi saksi yang akan menentukan langkah-langkah yang dapat kita ambil.” “ Tetapi tubuhku telah terkapar seperti sampah. Mungkin aku masih tetap dapat hidup kakang, tetapi tidak ada lagi kehidupan sejati didalam diriku. Prajurit yang kakang tempatkan di ruma
an lenyap seperti juru gedong aka itu.”
“ Aku mengerti Raden
hwa aku tidak dapat mengambil keputusan sekarang.”
a.
ehidupan di Kadipaten Sendang Arum.”
kalian berbincang,
ma
ab Ki Tumenggung
Jay
an itu, maka Raden Ayupun berkata “
Na
Yang terdengar kemudian adalah isak tangis Raden Ayu Reksayuda. “ Jadi kakang sampai hati membiarkan peristiwa ini berlanjut besok atau lusa ?” bertanya Ki Tumenggung Jayatarun
“ Tidak, adi. Aku akan berbuat sesuatu. Tetapi tidak dengan gejolak yang akan mengguncang tatanan k
Ki Tumenggung Jayataruna menarik nafas.
“ Raden Ayu, Adi Jayataruna, para Senapati dan para Demang. Aku minta maaf bahwa malam ini aku belum dapat menentukan langkah apa-apa. Tetapi bukan berani bahwa aku akan diam saja. Sekarang aku minta diri. Akupun minta kalian segera pulang. Semakin lama
ka kalian akan semakin terdorong kedaiam sisi gelap dari kehidupan kadipaten Sendang Arum ini.” “ Baiklah kakang” jaw
ataruna ”kami mengucapkan terima kasih atas kesediaan kakang hadir. Tetapi harapan kami tetap bergantung di bahu kakang Tumenggung, karena tidak ada orang lain yang akan dapat melindungi kami selain kakang Tumenggung.”
“ Aku mohon diri Raden Ayu “ “ Silahkan kakang.”
Demikian Ki Tumenggung Reksabawa keluar dari ruang
h, bukankah aku sudah mengatakan, bahwa kita
akang
Tu curiga,
bahwa Kan ggung
Re
umenggung Reksabawa
me
Tumenggung Wreda akan benarbe
keseganan Ki Tumenggung Reksabawa
untuk mengusut perkara ini beralasan sekali,
ka adalah dirinya
sen
jus
ng kita bicarakan ini.”
tidak akan dapat bekerja sama dengan k
menggung Reksabawa. Bahkan akugjeng Adipati dan kakang Tumen
ksabawa telah bekerja sama mengakhiri hidup kangmas Reksabawa.”
“ Apakah alasan Ki T
mbunuh Raden Tumenggung Reksayuda, Raden Ayu.” “ Kedudukan
nar kosong untuk seterusnya.”
“ Jadi
rena sasaran pengusutan itu
diri bersama Kangjeng Adipati “ berkata Ki Jayataruna dengan nada tinggi. “ Tetapi kepergian Ki Tumenggung Reksabawa itu sangat menggelisahkan kita “ berkata Raden Ayu Reksayuda lebih lanjut. “ Aku mengerti Raden Ayu “ sahut Ki Tumenggung Jayataruna ”kakang Reksabawa akan dapat mengkhianati kita. Kakang Tumenggung
tru akan menghadap Kangjeng Adipati yang melaporkan apa yang seda
“ Ya, kakang. Kakang Reksabawa dapat menjadi sangat berbahaya bagi kita.” “ Ya, Ki Tumenggung “ berkata seorang senapati. “ Aku sudah memperhitungkannya “ Ki
kemudian memanggil seorang
lak
eksabawa. Nyi
Tu
awa. Tetapi dalam
persoal
Tumenggun pulang.”
dungu. Kau harus dituntun
lan h. Bukankah kau dapat
be
, bahwa kakang
Tumenggung Jayataruna itupun tersenyum.
“ Lalu ? Apa yang akan kita lakukan ?” Ki Jayatarunapun
i-laki yang bertubuh raksasa “ Wedung.” “ Ya, Ki Tumenggung.” “ Kau adalah seorang yang berilmu tinggi. Kau seorang pembunuh yang berhati beku. Kau tahu kewajibanmu.”
“ Ki Tumenggung Reksabawa ?” “ Ya.” “ Baik. Aku akan menyusulnya.” “ Ikuti saja kakang Reksabawa. Jika ia pulang ke rumahnya, beri kesempatan ia bertemu dengan mbokayu, Nyi Tumenggung R
menggung adalah orang yang baik sebagaimana kakang Tumenggung Reksab
an ini, sayang sekali bahwa kebaikan kakang Reksabawa itu sebagai seorang sahabat, tidak dapat menyelamatkan nyawanya!” “ Lalu, apa yang harus aku lakukan jika Ki
g itu
“ Kau memang gkah demi langka
rbuat apa-saja yang baik menurut pendapatmu untuk menyelesaikan tugasmu: Kau dapat menemui kakang Tumenggung Reksabawa dan mengatakan kepadanya
Tu
g prajurit pilihan
me
erendahkan derajadku sebagai
seo rhati beku. Aku dapat
me
eorang
pra
pa itu ? “
u dikoyakkan oleh ujung senjata
kakan
me
menggung dipanggil oleh Kangjeng Adipati.” “ Tetapi Ki Tumenggung Reksabawa tadi melihat aku berada disini.”
“ Biarlah dua oran
nyertaimu. Merekalah yang akan mengatakan kepada Ki Tumenggung, bahwa Ki Tumenggung dipanggil oleh kangjeng Adipati. Ada masalah gawat yang akan dibicarakan. Nah, bertiga kalian akan menyelesaikannya.” “Kenapa harus bertiga ? Ki Tumenggung Jayataruna telah m
rang pembunuh yang be
lakukannya sendiri. Jika kedua orang prajurit itu sudah berhasil memancing Ki Tumenggung Reksabawa untuk keluar dari sarangnya, aku tidak memerlukan bantuan orang lain. “ “ Ki Tumenggung Reksabawa adalah s
jurit yang berilmu tinggi. “ “ Apakah Ki Tumenggung Jayataruna tidak percaya kepadaku ? Tidak ada seorangpun di Sendang Arum yang dapat mengalahkan aku. Kecuali satu hal yang dapat memaksa aku tunduk.“ “ A
“ Uang. “ “ Edan kau Wedung. Tetapi jangan sombong. Kalau perutm
g Tumenggung Reksabawa jangan nyalahkan orang lain. “
ung
Jay
an
seb
ang
pra
ngkan bahwa Ki Tumenggung
Re dahulu.
bayangan berjalan di kegelapan. Mereka
ya
sekarang saja ? “
Wedung tertawa. Sementara itu Ki Tumengg
ataruna membentaknya “ Cepat, Jangan kehilangan jejak. “ . “ Baik, Ki Tumenggung. “ Ki Tumenggung itupun kemudian berkata kepada seorang Rangga yang berkeduduk
agai seorang Senapati sekelompok prajurit dari Pasukan Khusus “ Perintahkan dua or
juritmu untuk pergi menemui kakang Tumenggung Reksabawa. Beritahu, apa yang harus mereka lakukan. “ “ Baik, Ki Tumenggung.” Beberapa saat kemudian, tiga orang berjalan dengan tergesa-gesa menelusuri jalan setapak menuju rumah Ki Tumenggung Reksabawa. Mereka memang memperhitu
ksabawa tentu akan pulang lebih
Kedua orang prajurit pilihan itu juga sudah diberitahu oleh Senapatinya yang juga mengenal Ki Tumenggung Reksabawa dengan baik, bahwa Ki Tumenggung adalah prajurit yang pilih tanding. Sehingga karena itu, maka mereka harus berhati-hati. Beberapa saat kemudian, mereka sudah melihat sesosok
kin, bahwa bayangan itu tentu Ki Tumenggung Reksabawa. “ Kenapa tidak kita selesaikan
be
ir kalinya. Menurut Ki Tumenggung
Jay
umenggung memang baik. Tetapi
sik
ayuda. “
saukan sikap
Ki
me enilaian buruk kepada Kangjeng
Ad
Ka
rtanya seorang dari kedua orang prajurit itu. “ Ki Tumenggung Jayataruna berpesan, biarlah Ki Tumenggung Reksabawa mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Nyi Tumenggung untuk yang terakh
ataruna, keduanya adalah orang yang baik. “ “ Kalau keduanya orang yang baik, kenapa Ki Tumenggung Reksabawa harus di singkirkan. “ “ Sebagai manusia dalam hubungan diantara sesama Ki T
apnya serta gagasan-gagasannya mengenai tatanan pemerintahan agaknya kurang dapat diterima. Bahkan mungkin sekali, Ki Tumenggung telah mengambil langkah-langkah yang keras, sehingga-mengorbankan Raden Tumenggung Wreda Reks
Prajurit itu terdiam. Sebenarnyalah Ki Tumenggung Reksabawa itu berjalan mengikuti jalan pulang. Di sepanjang jalan, Ki tumenggung masih saja meri
Tumenggung Jayataruna dan Raden Ayu Reksayuda yang dinilainya sudah menghasut beberapa orang Senapati dan para Demang untuk
mberikan p
ipati. “ Penyebar luasan sikap dan tuduhan terhadap
ngjeng Adipati itu harus dicegah “ berkata Ki Tumenggung di-dalam hatinya.
lebih pasti
me
g
Jay
pintu regol halaman
rum
dur. Adalah
ke pulang,
kecuali jika Ki Tumenggung sudah tahukan
leb
nal suara itu dengan
ba
kaian serta telah mencuci
Namun Ki Tumenggung memang ingin memperingatkan Kangjeng Adipati agar berhati-hati serta mengambil langkah-langkah yang
ngenai terbunuhnya Raden Tumenggung Reksayuda. “ Tetapi apa yang dapat dilakukan oleh Kangjeng Adipati ? Aku dan adi Tumenggun
ataruna yang diserahi tugas untuk mengusut perkara itu masih belum dapat memberikan laporan yang berarti “ berkata Ki Tumenggung itu di-dalam hatinya pula.
Beberapa saat kemudian, maka Ki Tumenggung itu sudah memasuki
ahnya. Dengan, langkah gontai Ki Tumenggung itu naik ke pendapa dan langsung mengetuk pintu pringgitan.
Nyi Tumenggung memang belum ti
biasaannya menunggu Ki Tumenggungmemberi
ih dahulu, bahwa ia sedang mengemban tugas yang tidak dapat dibatasi oleh waktu. Karena itu, demikian pintu itu diketuk, maka terdengar suara Nyi Tumenggug “ siapa di luar ? “
“ Aku Nyi. “ “ Nyi Tumenggung menge
ik. Karena itu, maka pintupun segera dibukanya. Beberapa saat kemudian, setelah Ki Tumenggung berganti pa
ka
cukup lama memberi waktu
ke
rnyalah pada waktu itu Nyi Tumenggung
tel
nggung belum sempat makan
malam.
ki dan tangannya di pakiwan, keduanya duduk di ruang dalam. Nyi Tumenggung telah menyediakan minuman hangat bagi Ki Tumenggung. Di pinggir jalan, di tempat yanggelap, seorang diantara kedua orang prajurit itupun berkata “Kenapa tidak sekarang saja kita menemui Ki Tumenggung dan minta ia pergi ke Kadipaten ? “ “ Jangan tergesa-gesa “ berkata Wedung yang masih saja tetap tenang “ dalam tugas seperti ini kita harus sabar. “ “ Tetapi kita sudah
pada Ki Tumenggung. “ “ Agaknya Ki Tumenggung sekarang sedang makan bersama Nyi Tumenggung. Biar saja mereka makan tanpa terganggu.”
“ Kalau mereka sudah pergi tidur ?” “ Nanti kita akan membangunkannya.” Sebena
ah menyiapkan makan malam Ki Tumenggung Reksabawa. Ketika Ki Tumenggung berangkat petang tadi, Ki Tume
“ Apalagi yang kita tunggu ?” bertanya prajurit yang menyertai Wedung itu. “ Mereka baru makan “ jawab Wedung “bukankah Raden Ayu Reksayuda tadi tidak menjamu kita makan ?”
alan yang
dih
an
sik
sampai kepada sikap yang
de
runa tidak melupakan masa
lalu
rti ini.”
gat, betapa
mu
Tempat
tin
Di ruang dalam, Ki Tumenggung Reksabawa sambil makan telah berbincang dengan Nyi Tumenggung. Adalah kebiasaan Ki Tumenggung untuk membicarakan persoalan-perso
adapinya dengan Nyi Tumenggung. Nyi Tumenggung memang dapat menempatkan dirinya. Jika yang dikatakan oleh suaminya itu bersifat rahasia, maka Nyi Tu-menggungpun dapat merahasiakannya pula. Sedang dalam keadaan yang rumit, Nyi Tumenggung kadang-kadang dapat membantu, mencari arah yang harus ditempuh oleh Ki Tumenggung. Ketika Ki Tumenggung Reksabawa menceritak
ap Ki Tumenggung Jayataruna, maka Nyi Tumenggung itupun berkata “ Kenapa adi Jayataruna dapat
mikian, kakang.” “ Itulah yang aku tidak mengerti, Nyi. Seharusnya adi Jayata
nya.” “ Ya, kakang. Akupun tidak mengira bahwa segala sesuatunya bagi adi Jayataruna akan berakhir sepe
“ Adi Jayataruna tidak mengin
ramnya masa lalu itu baginya. Setelah ia berkeluarga, hidupnya masih saja tetap sulit. Keluarganya hidup dalam kemiskinan.
ggalpun mereka seakan-akan tidak mempunyainya. Bagaikan berkandang langit, berselimut mega.”
al bersama
kit
i
ba
nya kakang memperingatkan
ag
“ Ya. Kita mengetahuinya kakang. Mereka, suami isteri, untuk beberapa lama tingg
a. Makan bersama kita dan pakaian merekapun adalah pakaian yang kita berikan pula.” “ Aku usahakan tempat bagi adi Jayataruna di lingkungan keprajuritan. Ia memang seorang yang cerdik dan berani. Kesulitan hidup telah menempanya, sehingga adi Jayataruna berani menempuh langkah-langkah yang berbahaya selama ia menjadi prajurit. Itulah sebabnya, maka ia telah mendapat tempat yang baik. Bahkan akhirnya beberapa waktu yang lalu, adi Jayataruna sudah diwisuda menjadi seorang Tumenggung” “ Tetapi ia sudah melupakan kebaikan hati Kangjeng Adipati.” “ Ya. Dan sampai hati pula menuduh Kangjeng Adipati melakukan kesalahan yang tidak terampun
gi seorang Adipati.”
“ Jika demikian, apakah tidak mungkin, Sendang Arum akan diterpa oleh prahara karena sikap adi Tumenggung Jayataruna serta Raden Ayu Reksayuda.”
“ Itulah yang aku cemaskan, Nyi.” “ Bukankah sebaik
ar Kangjeng Adipati berhati-hati menghadapi keadaan yang semakin panas ini kakang ?”
“ Ya. Aku harus memperingatkannya. Esok pagi-pagi aku akan menghadap.”
idak perlu mencemaskannya.
Ke
luas tentang berbagai macam
ilm
bagi para petani. Kesusastraan yang
da
bagi
ma
a terjadi gejolak ?”
inya
pe
dalam pada itu, tiba-tiba saja terdengar
pin

“ Dalam keadaan yang terasa gawat ini aku teringat akan anak-anak kita, kakang.”
“ Bukankah kita t
dua orang anak kita berada di sebuah perguruan yang dapat dipercaya. Berguru kepada orang yang memang pantas di tuakan. Bukan saja dalam ilmu kanuragan, tetapi gurunya juga mempunyai pengetahuan yang
u. Ia mengenal ilmu perbintangan yang akan sangat berarti
pat memperkenalkan anak-anak kita itu dengan dunia serta dengan sikap dan pandangan hidup. Juga memperkenalkan anak-anak kita dengan masa lampau yang pernah dijalani oleh negeri ini yang dapat memberinya bekal untuk bersikap
sa kini dan masa mendatang atas tanah ini. Serta pengetahuan-pengetahuan lain yang akan sangat penting artinya bagi anak-anak kita kelak.” “ Tetapi jik
“ Gurunya akan dapat member
rlindungan.” Nyi Tumenggung menarik nafas panjang. Namun iapun berdesis “ Mudah-mudahan kakang.” Namun
tu diketuk orang.
“ Siapa ?” bertanya Ki Tumenggung dari ruang dalam. “ Aku Ki Tumenggung. Prajurit yang sedang bertugas di kadipaten.
a.
keadaan terasa
me ggungpun berdesis “
Hati-ha
an keris itu di lambung kiri, maka
Ki
ung mengangkat selarak
pin
a seorang di antara
me
Ki Tumenggung memang merasa ragu. Tetapi akhirnya Ki Tumenggung itupun bangkit pul
“ Siapa kakang ?”
“ Seorang prajurit. Aku belum mengenal suaranya.” Justru karena
manas, maka Nyi Tumenti kakang.”
“ Ambilkan kerisku di pembaringan Nyi “ desis Ki Tumenggung. Nyi Tumenggungpun kemudian bergegas mengambil keris Ki Tumenggung di pembaringan. Sambil menyelipk
Tumenggungpun pergi ke pintu pringgitan. Ketika Ki Tumengg
tu dan kemudian membukanya, dilihatnya di pringgitan dua orang prajurit yang mengangguk hormat.
“ Ada apa ? “ bertanya Ki Tumenggung.
“ Ampun Ki Tumenggung. Kami mengemban perintah Kangjeng Adipati, Ki Tumenggung di panggil menghadap “ berkat
reka.
“ Sekarang ? “ “ Ya, Ki Tumenggung. Menurut Kangjeng Adipati, suasananya menjadi tidak menentu sekarang ini. Ki Tumenggung harus segera berada di dalem Kadipaten. “
pada Kangjeng Adipati, bahwa
ak nghadap. “
un berkata “ Nyi. Aku harus pergi.
Na
ku sangat menyayangkan-sikap adi
Tumeng
umenggung mengangguk-angguk.
ungkin ada tugastugas
lain
dalam.
“ Baik. Aku akian segera menghadap. Pergilah lebih dahulu. Aku akan berganti pakaian. “ “ Baik, Ki Tumenggung. Kami mohon diri. “
“ Sampaikan keu akan segera me
“ Baik, Ki Tumenggung. “ Sejenak kemudian, kedua orang prajurit itupun telah meninggalkan pringgitan. Sementara itu, Ki Tumenggungp
mpaknya Kangjeng Adipati sudah mendengar keingkaran beberapa orang nayaka prarja terhadap kekuasaannya. “
“ Hati-hatilah kakang. Agaknya suasana benar-benar menjadi panas. “ “ A
gung Jayataruna. “ “ Ia telah melupakan sangkan paraning dumadi.“ “ Ya, Nyi. Agaknya Ki Tumenggung Jayataruna tidak kuat memikul derajad. “ Nyi T
Sementara itu, Ki Tumenggung segera berganti pakaian. Kepada Nyi Tumenggung iapun berkata “ Aku akan memakai kuda Nyi. M
yang harus aku lakukan. Selarak pintunya. Jika terjadi sesuatu, perintahkan kedua pembantu laki-laki itu berada di ruang
Me
gan.
Me
a Ki Tumenggung itu
su
Tumenggung menyelarak pintu,
ter
a, jantung Nyi Tumenggung
itu
saja dipergunakan untuk makan malam.
Ke
g-bintang telah berselimut awan
yang akin lama semakin tebal.
skipun keduanya hanya abdi, tetapi aku tahu keduanya mempunyai bekal olah kanura
reka akan dapat memberikan perlindungan kepadamu, Nyi. “ “ Ya, Kakang. “ Sejenak kemudian, Ki Tumenggung itupun telah keluar lewat pintu pringgitan. Untuk menjaga segala kemungkinan, mak
dah menyambar tombak pendek yang berada di plonconnya. Demikian Nyi
dengar derap kaki kuda melintas di halaman. Bagaimanapun jug
pun berdesir. Namun sebagai isteri prajurit, maka Nyi Tumenggung harus dapat menyesuaikan dirinya.
Sejenak kemudian, maka Nyi Tumenggung itupun segera membenahi mangkuk-mangkuk yang baru
mudian Nyi Tumenggung itupun duduk sendiri di ruang dalam. Nyala lampu minyak yang berada di ajuk-ajuk di sudut ruangan bergetar disentuh angin.
Kuda Ki tumenggung Reksabawa berlari di gelapnya malam. Derap kakinya mengoyak kesenyapan malam yang basah.
Dilangit, bintankelabu. Sem
enggung melihat tiga orang yang
be
dapan
ke
ap Ki Tumenggung “ jawab seorang
dia
angan malam Ki Tumenggung
me ntuk mengenali orang yang berbicara
itu
a, maka Ki
Tu
ya
a. “
Tib
Namun angin dari arah laut mendorong awan yang kelabu itu bergerak kelambung gunung. Ki Tumenggung itu terkejut ketika beberapa puluh langkah di hadapannya, di tempat yang terbuka, Ki Tum
rada di tengah jalan. Mereka melambaikan tangan mereka untuk memberikan isyarat agar Ki Tumenggung itu berhenti.
Ki Tumenggung menarik kekang kudanya yang kemudian berhenti beberapa langkah di ha
tiga orang itu.
“ Siapakah kalian dan apa maksud kalian menghentikan aku.” “ Apakah Ki Tumenggung lupa. Aku baru saja menghad
ntara mereka. Dalam kerem
ncoba u.
Ketika kilat memancar diudar
menggung itupun segera mengetahuinya, bahwa dua orang diantara mereka adalah prajurit-prajurit
ng baru saja datangdi rumahnya. “ Ya. Aku kenal dua orang diantara merek
a-tiba seorang yang berdiri di tengah berkata “ Aku Wedung Ki Tumenggung. “ “ Wedung ? “
ksabawa menganggukan
u ? “
t tugas untuk menemui Ki
Tu
ndapat perintah dari Senapatinya.“
“ Ya. Mungkin Ki Tumenggung pernah mendengar namaku. Aku adalah kepercayaan Ki Tumenggung Jayataruna. Aku adalah seorang pembunuh upahan yang sering disebut Pembunuh berhati Beku. “
Ki Tumenggung Re
gguk. De-ngann ada datar iapun bertanya “ Kau bangga dengan sebutan itu ? “
“ Ya. Setiap orang akan berbangga dengan pujian atas tugas-tugas yang diembannya. “ “ Lalu sekarang apa maksudm
“ Sudah jelas. Aku seorang pembunuh upahan. Aku mendapa
menggung sekarang disini. Bukankah itu sudah jelas ? “ “ Jadi kali ini kau mendapat upah untuk membunuhku. “
” Ya.” “ Dan kedua orang prajurit itu ? “ “ Mereka menjalankan tugas mereka sebagai prajurit yang me
Ki Tumenggung Reksabawa mengangguk-angguk. Katanya “ Aku sudah jelas sekarang.” “ Nah, karena itu Ki Tumenggung. Aku mohon Ki Tumenggung tidak usah mempersulit diri sendiri. Sebaiknya Ki Tumenggung turun dari kuda, kemudian berlutut sambil menundukkan kepalanya.
alam
lan
ya pada sebatang
po u di pinggir jalan.
jalani. Apakah
Itu akan sangat memudahkan tugasku dan memudahkan perjalanan Ki Tumenggung ke
ggeng. Aku akan memenggal kepala Ki Tumenggung dan membawanya menghadap Ki Tumenggung Jayatayuna.” “ Begitu mudahnya ?” “ Ya. Jika kita dapat bekerja sama dengan baik, maka pekerjaan ini akan segera selesai.” “ Wedung. Apakah kau pernah melihat prajurit yang masih menggenggam senjata dengan suka rela menyerahkan kepalanya ?” “ Mungkin Ki Tumenggung Reksabawa akan memulainya ?”
Ki Tumenggung Reksabawa itupun meloncat turun dari kudanya. Dengan sikap yang tenang, Ki Tumenggung mengikat kudan
hon perd
Dada Wedung mulai bergejolak. Ki Tumenggung itu sama sekali tidak menjadi gelisah mendengar ancamannya. Bahkan seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Ki Tumenggung itu melangkah mendekatinya.
“ Wedung “ berkata Ki Tumenggung “ aku adalah seorang Tumenggung. Aku juga pernah menjadi Senapati perang, memimpin prajurit segelar sepapan. Aku telah berhasil membebaskan diri dari terkeman maut beberapa kali di pertempuran besar yang pernah aku
kir
pertempuran Ki Tumenggung tidak
sel
umenggung
Re
menurut pendapatmu, kau akan dapat
me
iklah Wedung. Lakukan jika kau mampu
me
rnyalah aku senang berkawan dengan
ora
a-kira sekarang, menghadapi seorang pembunuh upahan aku harus menyerahkan leherku.”
“ Di medan
alu menyelamatkan diri sendiri. Tetapi para prajurit dan barangkali Senapati Pengapitlah yang telah menyelamatkan nyawa Ki Tumenggung. Ki Tumenggung. Aku juga pernah menjadi prajurit, sehingga aku tahu tataran kemampuan seorang prajurit. Bahkan seorang Tumenggung yang menduduki jabatan Senapati perang. Ilmuku jauh lebih tinggi dari ilmu mereka. Akupun yakin bahwa ilmuku jauh lebih tinggi dari ilmu Ki T
ksabawa dan bahkan Ki Tumenggung Jayataruna. Bedanya, Ki Tumenggung Jayataruna mempunyai banyak uang, tetapi aku tidak.” “ Jadi
mbunuhku dengan mudah.” “ Ya.” “ Ba
lakukannya. Tetapi sayang bahwa aku tidak bersedia bekerja sama, kecuali jika akulah yang harus memenggal lehermu dan kaulah yang berlutut sambil menundukkan kepala.”: Tiba-tiba saja Wedung itu tertawa berkepanjangan. Katanya ” Agaknya Ki Tumenggung adalah seorang yang suka berkelakar. Sayang hidup Ki Tumenggung harus diakhiri malam ini. Sebena
ng-orang yang suka berkelakar.”
inya aku dapat tetap hidup.”
seorang
pe
erada diatas
de
ah Wedung itu tersentuh pula oleh kataka
ajah Wedung menjadi merah
pa
lah Ki Tumenggung-” Wedung itu
ak
k memerlukan Ki
Tu
nggung Reksabawa
itu
“ Kita tidak akan pernah dapat berkawan Wedung, seanda
“ Kenapa ?” ” Tataran derajad kita tidak sama. Aku seorang Tumenggung. Sedangkan kau adalah
mbunuh upahan yang derajadnya jauh berada dibawah derajad prajurit. Sadari itu. Derajadku dan derajad kedua orang prajurit itu jauh b
rajadmu. Jika ada prajurit yang tunduk dibawah perintahmu itu adalah prajurit-prajurit yang memang tidak mempunyai harga diri.” Kedua orang prajurit yang berdiri disebelah menyebel
ta itu. Tetapi mereka tidak sempat lagi berbuat apa-apa. Sementara itu w
dam. Meskipun tidak nampak di gelapnya malam, tetapi terasa wajah itu memang menjadi panas. “ Bersiap
hirnya menggeram “ Ki Tumenggung Reksabawa sekarang sudah tidak diperlukan lagi. Ki Tumenggung Jayataruna tidak memerlukan lagi. Raden Ayu Reksayuda juga tida
menggung lagi. Karena itu, maka sepantasnyalah bahwa Ki Tume
disingkirkan dari Sendang Arum untuk selama-lamanya.” “ Wedung. Aku seorang Senapati perang. Jika
aikan menusuk jantang
We
ng prajurit itu tidak menyahut. Namun
ke
kau ingin berlatih perang, bersiaplah. Aku akan mengajarimu.” Kata-kata itu bag
dung. Katanya dengan nada tinggi “ Aku akan membunuhmu sekarang Ki Tumenggung.” Tombak di tangan Ki Tumenggung itupun segera merunduk. Ketika Wedung bergeser, maka Ki Tumenggung itupun bergeser pula.
Kepada kedua orang prajurit itupun Wedung berkata “ Lihat saja, bagaimana aku membunuh dan kemudian memenggal kepala seorang Tumenggung yang pernah menjadi Senapati perang.” Kedua ora
duanya di luar kesadaran mereka, bergeser surut beberapa langkah. Sejenak kemudian, Wedung telah mengayunkan goloknya yang besar dan panjang. Satu tebasan mendatar terayun ke leher Ki Tumenggung Reksabawa. Namun dengan tangkas Ki Tumenggung itupun bergeser surut. Tiba-tiba saja ujung tombaknya mematuk ke arah dada Wedung. Wedunglah yang kemudian harus meloncat menghindari ujung tombak itu.
Sejenak kemudian, maka pertempuran itupun telah menjadi semakin sengit. Golok Wedung terayun-ayun mengerikan, sehingga disekitar tubuh
p yang
ke
yusup
dis
ingga tidak seorangpun
ya
berbenturan dengan
uju
yang tiba-tiba saja
be
gannya. Untunglah, bahwa pada
saa
Wedungpun harus
be
mudah u
Wedung itu seakan akan telah mengepul asa
hitam-hitaman seperti mendung yang mengambang di langit. Namun jantung Ki Tumenggung Reksabawa sama sekali tidak tergetar oleh putaran golok lawannya. Tombaknyapun bergerak dengan cepat pula. Sekali-sekali terayun mendatar. Namun kemudian mematuk dengan cepatnya men
ela-sela kabut hitam diseputar tubuh Wedung. ‘Wedung yang merasa dirinya seorang yang berilmu sangat tinggi, seh
ng dapat mengimbanginya, semula yakin bahwa dalam waktu yang pendek, ia akan dapat mengakhiri perlawanan Ki Tumenggung Reksabawa. Namun setelah senjatanya
ng tombak Ki Tumenggung beberapa kali, maka Wedung mulai ragu-ragu atas kelebihannya sendiri. Bahkan ketika goloknya membentur landesan tombak Ki Tumenggung
rputar dengan cepatnya, rasa-rasanya goloknya bagaikan terhisap. Hampir saja goloknya itu terlepas dari tan
t terakhir Wedung itu menyadarinya, sehingga dengan segenap kekuatannya, ia telah menghentakkan goloknya sehingga terlepas dari libatan putaran landean tombak Ki Tumenggung. Namun dengan demikian,
rhadapan dengan kenyataan; bahwa tidak terlalu ntuk membunuh seorang Senapati besar
menggung Reksabawa.
Te
ni ? “ bertanya
We
k bahunya.
tekan “ Wedung itu
me
h, Wedung. Ka rena aku
bu
kin Kangjeng Adipati
me
seperti Ki Tu
Karena itu, maka Wedungpun harus mengerahkan segenap kemampuannya. Goloknya berputar semakin cepat. Seran-gan-serarigannyapun menjadi semakin berbahaya.
tapi Ki Tumenggung Reksabawa agaknya tidak mengalami kesulitan. Bahkan tombaknya berputar semakin cepat menggapai-gapai tubuhnya. . “ Ilmu iblis manakah yang pemah dipelajari oleh Ki tumenggung Reksabawa i
dung didalam hatinya. Dalam pada itu, ternyata bahwa ujung tombak Ki Tumenggunglah yang justru mampu menembus tirai pertahanan Wedung. Ujung tombak itu berhasil menyusup di sela-sela pertahanan Wedung, mematu
Wedung terkejut. Dengan serta-merta ia meloncat surut. Terasa di bahunya itu darah yang hangat meleleh dari lukanya. “ Setan,, iblis, gendruwo, te
ngumpat-umpat “ kau melukai kulitku Ki Tumenggung. “ “ Karena itu menyerahla
kan pembunuh upahan, maka aku tidak akan membunuhmu. Aku akan membawamu menghadap Kangjeng Adipati. Mung
merlukan keteranganmu. “ “ Persetan, Ki Tumenggung. Sebentar lagi kau
enap
ke
rti angin pusaran.
keras sekali. Kemarahannya
tel
ahi pakaiannya dan bahkan
me
an
me
akan mati.”
Wedungpun telah mengerahkan seg
mampuannya. Senjatanya bergerak semakin cepat. Ayunan goloknya telah mendorong udara disekitarnya, ikut berputaran sepe
Tetapi Wedung tidak segera berhasil. Bahkan sejenak kemudian, justru ujung tombak Ki Tumenggunglah yang telah menguak lagi pertahanan golok Wedung. Ujung tombak itu telah menggores lambung kanannya. Wedung berteriak
ah membakar ubun-ubunnya. Namun ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa bahu dan lambungnya telah terluka. Darah telah mengalir dari lukanya, membas
nitik ke bumi. Wedunglah yang justru mulai menjadi gelisah. Sebagai seorang Pembunuh berhati beku, Wedung tidak pernah merasakan detak jantungnya berdenyut demikian cepatnya.
Sekilas terngiang pesan Ki Tumenggung Jayataruna, bahwa Ki Tumenggung Reksabawa adalah prajurit pilihan. “ Jika perutmu dikoyak oleh ujung senjata kakang Tumenggung Reksabawa, jang
nyalahkan orang lain. “ Tiba-tiba Wedung itupun berteriak “ He, kenapa kalian berdua berdiri saja seperti patung. Jaga agar
Ki Tumenggung Reksabawa. Jika
sem
mend
kan Khusus yang sudah
ter
beban Ki Tumenggung
me
eorang prajurit linuwih. Karena itu,
me
jurit pilihan dari
Pa
Tumenggung ini tidak melarikan diri. “ “ Aku tidak akan melarikan diri, Wedung. “
Namun Wedung itu berteriak pula “ Bunuh orang ini sebelum sempat lari. “ Kedua orang prajurit itu termangu-mangu sejenak. Mereka sudah melihat, betapa tinggi kemampuan
ula Wedung berkeras untuk melakukannya sendiri, namun ternyata bahwa Wedung tidak mampu melakukannya. Bahkan Wedunglah yang justru sudah terluka. Kedua orang prajurit itupun segera bergeser
ekat. Keduanya telah menggenggam pedang di tangan mereka.
Sejenak kemudian, maka Ki Tumenggung Reksabawa itu harus bertempur melawan tiga orang. Seorang pembunuh upahan dan dua orang prajurit dari pasu
pengaruh racun yang ditaburkan oleh Ki Tumenggung Jayataruna. Dengan demikian, maka
njadi lebih berat. Tetapi Ki Tumenggung benar-benar s
skipun ia harus bertempur melawan tiga orang, tetapi Ki Tumenggung itu tidak segera terdesak. Semakin lama pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Seorang pra
sukan Khusus itu tiba-tiba berdesah tertahan.
telah menyentuh lengannya, sehingga
ku
pula. Jantungnya
tel
etapi Ki
Tu
edangnya.
gutnya pedangnya yang
ter
Ujung tombak Ki Tumenggung yang terayun mendatar
lit dan da-ging dilengannya telah terkoyak. Prajurit itu sempat melangkah surut. Namun kemudian ia-pun telah meloncat
ah dipanasi oleh kemarahan dan dendam. Ia harus membalas karena lawannya telah melukai lengannya. Tetapi demikian.ia bergerak, maka kawannya telah ter: lempar dari arena. Yang mengenainya bukan ujung senjata Ki Tumenggung. T
menggung yang meloncat itu telah mengayunkan kakinya mengenai dada prajurit itu. Prajurit itu tertegun. Namun hanya sekejap. lapun segera meloncat sambil memutar p
Bersama Wedung prajurit yang sudah terluka lengannya itu menyerang dengan garangnya dari arah yang berbeda. Tetapi serangan-serangan mereka itu seakan-akan tidak berarti. Keduanya sama sekali tidak dapat menyentuh tubuh Ki
Tumenggung Reksabawa dengan ujung senjata mereka. Prajurit yang terlempar jatuh itupun berusaha untuk bangkit. Dipun
lepas dari tangannya. Kemudian melangkah mendekati arena pertempuran. Dadanya masih terasa sesak. Tetapi ia tidak
ya bertempur dalam
ke
ringat telah
me
anya
mu
an kemampuannya. Tombaknya
be
n. Seorang
pra
yang mengembun di
tub
jung
sen
cat menyerang.
Goloknya yang besar terayun dengan derasnya ke
dapat membiarkan kawann
sulitan. Sejenak kemudian, maka Ki Tumenggung harus bertempur melawan tiga orang lagi. Ke
mbasahi seluruh pakaiannya. Dengan demikian, maka sebelum tenag
lai menyusut, maka Ki Tumenggung itu sudah mengambil keputu-san untuk mengakhiri pertempuran itu. Ia tidak ingin justru dirinya sendirilah yang kemudian mengalami kesulitan karena tenaganya sudah mulai menyusut. Maka Ki Tumenggung itupun segera menghentakk
rgerak lebih cepat, sedangkan Ki Tumenggung sendiri berloncatan dengan tangkasnya. Dengan demikian, maka ketiga lawannya menjadi semakin mengalami kesulita
jurit telah mengaduh ketika dadanya tergores ujung tombak Ki Tumenggung. Meskipun tidak dalam, tetapi goresan itu terasa sangat pedih ketika tersentuh keringatnya
uhnya. Namun dalam pada itu, sejenak kemudian, prajurit yang seorang lagi telah tersentuh u
jata pula. Ujung tombak Ki Tumenggung telah melukai pundaknya.
Wedung yang melihat kedua orang prajurit itu dilukai, dengan garangnya melon
ara
melihat ujung tombak
itu tiba
sabawa sempat
be
itu
seakan
terhuyunghuyun
h leher Ki Tumenggung. Tetapi Ki Tumenggung dengan cepat menghindar. Sambil merendahkan dirinya, ujung tombak Ki Tumenggung telah terjulur. Wedung terkejut ketika ia
-tiba saja telah mematuk lambungnya. Wedung meloncat surut. Sementara itu seorang prajurit dengan garangnya mengayunkan pedangnya menebas pundak Ki Tumenggung. Tetapi Ki Tumenggung Rek
ringsut. Bahkan dengan tangkasnya Ki Tumenggung itu meloncat sambil piengayunkan tombaknya. Prajurit itu mencoba menghindar dengan meloncat surut. Namun tiba-tiba tombak
-akan menggeliat. Ujungnya tiba-tiba saja bergerak lurus mengarah ke dadanya.
Prajurit itu terlambat menghindar. Ujung tombak itu benar-benar telah menikam dadanya, metiyentuh jantungnya. Ketika Ki Tumenggung Reksabawa menarik tombaknya, maka prajurit itupun
g sejenak. Kemudian jatuh terjerembab. “ Gila orang ini “ geram Wedung. Seranganyapun kemudian datang membadai. Tetapi pertahanan Ki Tumenggung Reksabawa sama sekali tidak menjadi goyah..
ecewa dan dendam menyala di
ha
g seorajig lagi sudah tidak berada di
are
udanya yang
ter
n di ladangpun akan segera menyala.
Bahkan Ki Tumenggungpun telah mengimbanginya pula. Serangan-serangannyapun menjadi semakin cepat dan berbahaya. Ujung tombak Ki Tumenggung rasa-rasanya menjadi semakin dekat dengan tubuh Wedung yang merasa dirinya tidak tertandingi itu. Bahkan akhirnya, Wedung tidak mampu lagi menghindarkan diri dari kejaran maut. Seperti yang dikatakan oleh. Ki Tumenggung Jayataruna, maka ujung tombak Ki Tumenggung Reksabawa benar-benar telah mengoyak perutnya. Terdengar Wedung berteriak nyaring. Kemarahan, k
tinya. Namun ia tidak mempunyai kesempatan lagi. Tubuhnyapun kemudian terjatuh di tanah. Darah mengalir tidak henti-hentinya dari luka. Tetapi tubuhnya sudah tidak akan dapat bergerak lagi. Ki Tumenggung Reksabawa tertegun sejenak. Ketika ia menyadari keadaan sepenuhnya, maka prajurit yan
na. Dengan memanfaatkan kesempatan terakhir prajurit itupun telah melarikan dirinya. Ki Tumenggung Reksabawapun segera berlari ke kudanya. Setelah melepaskan k
tambat pada sebatang pohon perdu, Ki Tumenggung segera meloncat naik. Ia sadar, bahwa api sudah disulut. Jerami yang sudah tertimbu
juga
Se
. Sementara itu, juru gedong yang
be
Tumenggungpun
me oran
kepa hwa
ke
dipati itu berbohong
ke nya keluar
dari rumah
“ Kenapa adi Tumenggung Jayataruna sampai
ha menggung
Re
awa telah berpacu dengan kencangnya.
De
“ Tidak ada waktu lagi “ berkata Ki Tumenggung Reksabawa jika prajurit itu memberi laporan kepada adi Tumenggung Jayataruna dan Raden Ayu Reksayuda, maka mereka segera bergerak mendahului tindakan yang mungkin akan diambil oleh Kangjeng Adipati. Sementara itu, banyak
napati dan para nayaka serta para Demang yang sudah dipengaruhinya. Mereka agaknya telah yakin, bahwa Kangjeng Adipatilah yang telah membunuh Raden Tumenggung Reksayuda meskipun seandainya mempergunakan tangan orang lain
rtugas di bangsal pusakapun telah lenyap seperti di telan bumi.
Karena itu, maka Ki
mutuskan untuk segera memberikan lapda Kagjeng Adipati meskipun ia tahu, ba
dua orang prajurit yang mengaku mendapat perintah dari Kangjeng A
padanya. Keduanya hanya memancing
nya untuk dijebak dan kemudian di binasakan.
ti Melakukannya “ desis Ki Tu
ksabawa “ apakah ia benar-benar sudah melupakan perjalanan hidupnya ? “ Sejenak kemudian, maka kuda Ki Tumenggung Reksab
rap kakinya terdengar memecah kesenyapan malam.
sam
ggah-ungguh. Ia
tid
nya saja kudanya di
ha
engan
ter
ung menghadap..”
berhenti. Bahkan Ki
Tu
itu keraske
apa
Beberapa saat kemudian, Ki Tumenggung telah
pai ke gerbang dalem Kadipaten. Demikian tegangnya hati Ki Tumenggung, sehingga Ki Tumenggung telah melupakan un
ak sempat meloncat turun dari kudanya, sehingga kudanya berlari masuk ke halaman. Didepan tangga pendapa agung dalem kadipaten Sendang Arum, Ki Tumenggung meloncat turun. Dibiarkan
laman, sementara Ki Tumenggung berlari naik ke pendapa. Dua orang prajurit yang bertugas d
gesa-gesa menyusulnya naik ke pendapa pula. “ Ki Tumenggung. Ada apa ? “ “ Aku akan menghadap Kangjeng Adipati. “ “ Kangjeng Adipati sudah tidur. Esok sajalah Ki Tumeng
“ Ada sesuatu yang sangat penting. “ “ Tetapi Kangjeng Adipati akan dapat menjadi marah. “
“ Aku harus menghadap malam ini. “ Ki Tumenggung tidak
menggung itu langsung pergi ke pintu pringgitan. Di ketuknya pintu pringgitan
ras. “ Ki Tumenggung “ prajurit yang berada di pendapa menjadi semakin banyak ada
seb
keras.
ami menentang Ki
Tu
menggung itu
dig
berdiri di sebelah menyebelah pintu
ya
enarnya dengan Ki Tumenggung Reksabawa. “
Ki Tumenggung tidak mejawab. Tetapi ia mengetuk pintu semakin
“ Maaf Ki Tumenggung “ berkata seorang Lurah Prajurit” bukan maksud k
menggung, tetapi sebaiknya Ki Tumenggung menunggu sejenak. Biarlah para petugas di dalam melihat kemungkinannya.”
“ Aku harus menghadap sekarang. Katakan kepada para petugas di dalam, bahwa aku, Tumenggung Reksabawa akan menghadap.”
Para prajurit yang bertugas memang menjadi ragu-ragu. Agaknya Ki Tumenggung benar-benar mempunyai kepentingan yang tidak dapat tertunda. Bahkan di tangan Ki Tu
enggamnya tombak yang telah basah oleh darah. Namun tiba-tiba saja pintu itupun terbuka. Dua orang prajurit
ng terbuka itu. Seorang diantara mereka adalah Narpacundaka Kangjeng Adipati. “ Aku akan menghadap “ berkata Ki Tumenggung Reksabawa. ‘ “ Kangjeng Adipati belum lama beristirahat, Ki Tu-menggun” jawab Narapacundaka itu. “Tetapi dalam keadaan yang gawat seperti ini, aku harus menghadap sekarang. Tidak ada waktu lagi untuk menundanya. Apalagi sampai esok.”
tidak berani membangunkannya.”
ya malam ini.”
Disadarinya, tentu ada yang s
wa masuk.”
gam sebatang tombak
pe
melayaninya. Aku juga seorang prajurit
sep
“ Tetapi kami
“ Kalau begitu, biarlah aku yang membangunkannya.” “ Jangan Ki Tumenggung. Kangjeng Adipati akan dapat menjadi marah.” “ Tetapi Kangjeng Adipati akan menjadi lebih marah lagi jika tidak dibangunkann
Narpacundaka itu termangu-mangu sejenak.
angat penting sehingga Ki Tumenggung Reksabawa memaksa untuk bertemu dengan Kangjeng Adipati.
Selagi Narpacundaka itu masih bimbang, tiba-tiba saja terdengar suara dari ruang dalam “Biarlah Ki Tumenggung Reksaba
Semuanya segera berpaling. Mereka melihat Kangjeng Adipati berdiri dipintu dalam. Di tangannya telah tergeng
ndek pula.
“ Ki Tumenggung Reksabawa “ berkata Kangjeng Adipati “ kau datang malam-malam begini dengan tombak di tanganmu. Bahkan tombak yang telah basah oleh darah. Apa maksudmu ? Apakah kau datang untuk menantangku. Jika itu maumu, aku sudah siap untuk
erti kau Ki Tumenggung. Karena itu, jika kau memang ingin menjajagi kemampuanku, marilah. Kita akan turun ke halaman. Biarlah para prajurit
me
Apa yang sebenarnya ingin kau katakan,
kakang Tumenggun
Ampun Kangjeng Adipati. Sekelompok orang
telah mempersiapkan pemberontakan melawan
kuasa Kangjeng Adipati.”
“ Kau jangan berceloteh, kakang.”
“ Ini adalah kelemahan dari para petugas sandi.
Selama ini kadipaten ini merupakan kadipaten yang
tenang dan jarang sekali terjadi gejolak, sehingga
para petugas sandi seakan-akan telah tertidur
nyenyak. Karena itu, mereka sama sekali tidak
menangkap isyarat akan terjadinya pemberontakan
ini.”
“ Apakah yang menjadi pemicunya karena
terbunuhnya kangmas Raden Tumenggung
Reksayuda ?”
njadi saksi.” Tiba-tiba saja Ki Tumenggung Reksabawa itu duduk dilamat menghadap Kangjeng Adipati. Sehingga para prajurit-pun telah melakukannya pula. Diletakannya tombaknya di-sisinya. Sambil menyembah iapun berkata “ Ampun Kangjeng Adipati. Hamba menghadap sebagai seorang prajurit yang mengemban tugas.” “ Tetapi kau datang dengan tombak di tangan.” “ Hamba memang membawa senjata untuk melindungi diri hamba pada saat yang gawat seperti ini.”

g.”

“ Ya, Kangjeng. Sekelompok orang yang berada
dibawah pengaruh Raden Ayu Reksayuda dan adi
Tumenggung Jayataruna telah memilih untuk
menempuh jalan pintas. Ampun Kangjeng Adipati.
Mereka menganggap bahwa Kangjeng Adipatilah
yang telah bersalah, membunuh Raden
Tumenggung Reksayuda dengan meminjam tangan
orang lain. Kangjeng Adipati sengaja
memerintahkan pembunuh itu mempergunakan
pusaka Kangjeng Adipati sendiri justru untuk
menjauhkan tuduhan bahwa Kangjeng Adipati telah
terlibat. Sementara itu juru gedong di bangsal
pusaka itu telah lenyap.”
–ooo0dw0ooo–
Jilid 4
WAJAH Kangjeng Adipati menjadi sangat tegang. “ Aku telah dijebak untuk disingkirkan. Tetapi aku dap
ak ada waktu untuk berpikir lebih lama. Aku
emberontakan itu.”
n diri. Waktunya tentu sangat
sem
ata kepada
Na
dalem kadipaten ini. Bunyikan isyarat
ag
ragu-ragu sejenak.
Dip
aka Narpacundaka itupun bergeser
su urit yang ada di luar
pin
di tutup dan diselarak dari
da
mohon Kangjeng segera bersiap. Aku memperhitungkan, kegagalan mereka membunuh aku malam ini, akan menjadi peletik api yang akan menyalakan api p
“ Apa aku dapat mempercayaimu, kakang Tumenggung.” “ Kangjeng, Aku mohon Kangjeng segera mempersiapka
pit.” Kangjeng Adipati menjadi ragu-ragu. Namun Ki Tumenggung Reksabawa itupun berk
rpacundaka “ perintahkan untuk menutup pintu gerbang utama. Siapkan pasukan yang ada untuk melindungi
ar pasukan yang tidak terpengaruh oleh adi Tumenggung Jayataruna mempersiapkan diri.” Narpacndaka itu
andanginya wajah Kangjeng Adipati yang tegang. Baru ketika Kangjeng Adipati itu mengangguk, m
rut. Demikian pula praj
tu. Namun seorang prajurit yang semula berada di dalam bersama Narpacundaka itu tetap duduk di tempatnya.
Sejenak kemudian, maka para prajurit yang ada di halaman kadipaten itupun segera bersiaga. Pintu gerbang utama segera
lam. Namun dalam pada itu, seperti yang
ng menyalakan
pe
itu berlari-lari dan
lan
nya “ Ada apa, he ? Kau
ter
sem

itu bagaikan suara
gu an
set
enjawab. Tetapi terdengar ia
me
ayuda tidak sempat
me
diperhitungkan oleh Ki Tumenggung Reksabawa, kegagalan Wedung dan dua orang prajurit pilihan membunuhnya, telah menjadi api ya
mberontakan.
Salah seorang prajurit yang berhasil melarikan diri itu telah mengejutkan mereka yang menyelenggarakan pertemuan di rumah Raden Ayu Prawirayuda. Pada saat jamuan makan di hidangkan, maka prajurit yang sudah terluka
gsung masuk ke ruang pertemuan. Ki Tumenggung Jayataruna yang terkejut segera bangkit dan mendekati
luka ?“ “ Ya, Ki Tumenggung. Wedung dan seorang kawanku itu terbunuh. Aku terluka. Namun aku
pat melarikan diri. “ “ Gila. Jadi kalian gagal membunuh kakang Reksabawa ? “ “ Ya, Ki Tumenggung.
“ Jadi sesumbar Wedung
ruh yang menggelegar di langit, tetapi huj
itikpun tidak turun ke bumi. “ Prajurit itu tidak m
ngerang kesakitan. Raden Ayu Reks
mpersilahkan tamu-tamunya untuk makan. Ki
ng ? “ bertanya seorang Demang.
Ka
ata
Ra
yu. “
kepentingan Raden Ayu dengan Raden
Aje
Ki Tumenggung Jayatarunapun mengangguk-
Tumengung Jayatarunalah yang kemudian bangkit sambil berkata lantang “ Kita harus mulai sekarang. Kita tidak mempunyai waktu lagi. “ “ Sekara
“ Ya. Para Senapati yang membawahi pasukan akan segera bergerak. Para Demang dan orang-orangnya harus segera menyusul. Kita akan menduduki dalem kadipaten. Kita akan menangkap
ngjeng Adipati. Kalau mungkin kita akan menangkapnya hidup-hidup. “ “ Kakang Tumenggung Jayataruna “ berk
den Ayu Reksayuda “ aku akan ikut bersama kakang ke kadipaten. “ “ Raden Ayu ? tidak usah Raden Ayu. Sebaiknya Raden Ayu tetap tinggal di rumah. Nanti setelah kami berhasil, kami akan menjemput Raden A
“ Tidak, kakang. Aku akan pergi ke kadipaten bersama kakang. Aku minta kakang menangkap Ririswari. Jangan sakiti anak itu. Biarlah aku yang mengurusnya. “
“ Raden Ajeng Ririswari ? “ “ Ya.” “ Apakah
ng Ririswari itu ?” “ Tidak ada, kakang. Tetapi tolong, bawa Ririswari itu kepadaku. “
an
h
me
yang kuat telah bersiap. Mereka
seg
telah
me
berada di halaman itu
me
mereka
me
gguk. Katanya “ Baiklah. Aku sendiri akan menangkap Kangjeng Tumenggung serta membawa Raden Ajeng Ririswari kepada Raden Ayu. “ Demikianlah, maka sejenak kemudian, mereka yang mengadakah pertemuan itu tela
ninggalkan ruangan. Mereka langsung mempersiapkan kesatuan mereka masing-masing. Ketika panah sendaren berterbangan di langit, maka pasukan
era bergerak mengepung dalem Kadipaten. Sejenak kemudian mereka yang mengepung kadipaten itu telah berusaha memecahkan pintu gerbang utama. Sekelompok orang
ndorong pintu gerbang itu dengan tenaga mereka yang besar dan menghentak-hentak.
Namun sebagian dari mereka ternyata berhasil meloncati dinding halaman samping. Berlari-larian para prajurit yang telah
nuju ke pintu gerbang. Para prajurit yang bertugas di dalem kadipaten itu tidak dapat menahan mereka ketika
ngangkat selarak dan membuka pintu gerbang utama itu. Arus prajuritpun kemudian mengalir seperti bendungan yang pecah. Mereka menghambur di halaman dan berlari-larian menuju ke dalem kadipaten.
da itu, terdengar suara kcntongan
ya
. Ki Tumenggung Jayataruna
tel
i segera meninggalkan kadipaten.
aka kita akan
dapat
i tetapi disaat kematian itu
da
Dalam pa
ng bergaung dalam irama titir. Tetapi suara kentongan itu tidak segera disahut oleh suara kentongan yang lain
ah menyebarkan orang-orangnya keseluruh kota untuk menaburkan kegelisahan dan kecemasan. Yang justru terdengar adalah suara kentongan di kejauhan. Lamat-lamat. Juga dengan irama titir. Tetapi suara itu akhirnya hilang di telan suara angin malam. Pertempuran telah berkobar di halaman dalem kadipaten. Para pengawal yang jumlahya jauh lebih sedikit dari pasukan yang datang menyerang, segera mengalami kesulitan untuk bertahan. Dalam pada itu, Ki Reksabawa telah minta agar Kangjeng Adipat
“ Marilah Kangjeng. Kangjeng harus melepaskan diri dari tangan mereka. Tangan-tangan yang panas dan haus darah. “
“ Aku seorang prajurit Ki Tumenggung. Tidak pantas seorang prajurit meninggalkan arena pertempuran untuk sekedar ingin hidup. “ “ Tetapi selagi kita masih hidup, m
berbuat sesuatu. Tetapi jika kita sudah mati, maka berakhirlah semuanya. Meskipun kita tahu, bahwa sudah terjadi ketidak adilan dan bahkan fitnah di tanah in
tang, maka kita akan menyadari, bahwa kita tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Semuanya sudah
Kangjeng Adipati harus membuat
pe
an
pe
itu Ki Tumenggung Reksabawapun
be
telah mencengkam
jan ena itu, maka
Kangjeng A h lagi ketka Ki
Tu berkata “ Kita mengambil jalan ini,
Ka
rgegas pergi ke pintu
bu
tulan dan
turun ke longkangan, ternyata di longkangan telah
terlambat. “ “ Apakah, apakah kita harus mengorbankan harga diri kita ? “
“ Apakah kita akan kehilangan harga diri kita, jika kita bertindak atas dasar perhitungan ? Apakah kita akan kehilangan harga diri kita jika kita berniat untuk membongkar ketidak adilan, fitnah dan bahkan kemudian pembunuhan yang terjadi ini ? Tidak Kangjeng. Itu adalah kewajiban Kangjeng Adipati.
rtimbangan dan memutuskan dalam waktu sekejap, apakah Kangjeng Adipati ingin menjadi seorang pahlawan yang gugur di medan perang, atau seorang pahlawan yang mampu menyelamatkan kadipaten ini dari tangan-tang
mberontak.” Kangjeng Adipati termangu-mangu sejenak. Sementara
rkata dengan tegas “ Marilah. Kita pergi. “ Kata-kata itu seakan-akan
tung Kangjeng Adipati. Kardipati tidak membanta
menggung itu
ngjeng. Lewat pintu butulan. “ Keduanyapun kemudian be
tulan. Dua orang prajurit yang bertugas didalam mengikuti mereka. Demikian mereka keluar dari pintu bu
ter
coba menyerangnya. Karena
itu
it yang mengikuti keduanya
sej
un telah terlibat dalam pertempuran pula
me
, keduanya telah keluar
da lem
kadipa
wari. “
en
Aje
jadi pertempuran. Bahkan beberapa orang prajurit langsung menyerang Kangjeng Adipati dan Ki Tumenggung Reksabawa. Namun keduanya adalah prajurit-prajurit yang mempunyai banyak kelebihan dari para prajurit kebanyakan. Kemampuan keduanya terlalu tinggi bagi mereka yang men
, maka beberapa orangpun segera terlempar jatuh dengan luka yang mengangga didada mereka. Kedua orang prajur
ak dari dalam itu masih saja mengikut. Merekap
lawan prajurit-prajurit yang menyerang Ki Tumenggung Reksabawa dan Kangjeng Adipati. Beberapa saat kemudian
ri longkangan di depan serambi samping daten.
Namun ketika mereka lewat puri keputren, maka Kangjeng Adipatipun berhenti. “ Kenapa Kangjeng berhenti. “ “ Riris
“ Tidak akan ada yang mengganggu Rad
ng Ririswari, Kangjeng. “ “ Aku tidak dapat meninggalkan anak gadisku di keputren. Aku tidak dapat membiarkan Ririswari jatuh ketangan para pemberontak itu. ?”
ipaten.
Hambapun terbangun ketika
hamba menden
Ki Tumenggung Reksabawa dapat mengerti perasaan Kangjeng Adipati. Karena itu, maka ia tidak ingin membuang-buang waktu dengan saling bersi-tegang. Karena itu, maka Ki Tumenggung Reksabawa itupun segera berlari ke keputren diikuti oleh Kangjeng Adipati dan kedua orang prajurit pengawalnya. Namun ternyata keputren telah kosong. Yang ada tinggallah beberapa orang emban yang ketakutan mendengar sorak dan teriakan-teriakan di halaman kad
“ Dimana Ririswari ? “ bertanya Kangjeng Adipati. Emban pemomong Raden Ajeng Ririswari itu mengusap matanya yang basah “ Hamba, hamba, mohon ampun Kangjeng. “ “ Cepat. Katakan, apa yang telah terjadi: “
“ Seorang yang menutupi wajahnya-dengan ikat kepala telah masuk keputren sebelum terdengar teriakan-teriakan itu, Kangjeng. Orang itu memasuki bilik Raden Ajeng dengan membuka atap. “
“ Bukankah kau ada di dalam bilik Ririswari..” “ Hamba Kangjeng.
gar jerit Raden Ajeng yang tertahan. Agaknya orang yang wajahnya ditutupi dengan ikat pinggang itu sempat membungkamnya dan bahkan dengan satu sentuhan, Raden Ririswari
sea
sehingga hamba terlempar memb
Untuk sesaat hamba rasa-rasanya lelah kehilangan
kesadaran. Ketika kesadaran itu mulai
kembali, hamba mendengar teriakan-teraka
menakutkan itu. Agaknya telah terjadi per
di halaman. ”
Kangjeng Adipati termangu-man
Namun Ki Tumenggungpun berkata “ M
segera sampai disini pula, kangjeng. Marilah kita
pergi. Raden Ajeng Ririswari telah dic
Biarlah kelak kita mencarinya asal
terselamatkan. Tetapi jika kita ma
Ajeng Ririswari akan menjadi sangat buruk u
sepanjang hidupnya. “
Tumenggung
Re
berpapasan dengan
be
ielakkan.
kan-akan menjadi tidak berdaya. Orang yang ‘wajahnya tertutup itupun segera mengangkat Raden Ajeng Ririsari dan membawanya keluar. Ketika hamba berusaha mencegahnya, maka hamba telah didorongnya sedemikian kuatnya, entur dinding.
timbul n yang tempuran gu sejenak. ereka akan ulik orang. nyawa kita ti, nasib Raden ntuk Ternyata perasaan Kangjeng Adipati tersentuh. Karena itu, maka bersama Ki
ksabawa dan kedua orang prajurit pengawal itupun segera keluar dari keputren. Tetapi di gerbang mereka
berapa orang prajurit, sehingga pertempuranpun tidak dapat d
Agaknya para prajurit yang sudah berada dibawah pengaruh Ki Tumenggung Jayataruna itupun sudah mendapat perintah untuk menangkap Kangjeng Adipati, hidup atau mati.
ke ti dan Ki
Tumenggun g yang
be
ula dua orang prajurit pengawal
ketika
Reksabawa
prajurit yang
mereka hidup
atau ma
Tetapi para prajurit itu harus menghadapi
nyataan bahwa Kangjeng Adipag Reksabawa adalah orang-oran
rkemampuan sangat tinggi. Berserta mereka telah bertempur p
pilihan yang setia. Namun
Kangjeng Adipati dan Ki Tumenggung
berhasil menerobos sekelompok
akan menangkap
ti, kedua orang prajurit itu sudah tidak menyertai mereka lagi. “ Dimana kedua orang prajurit itu ?” bertanya Kangjeng Adipati sambil menyelinap ke kebun belakang halaman kadipaten. “ Agaknya .mereka telah menjadi korban, Kangjeng.” “ Mereka telah menahan para prajurit yang berusaha mengejar kita. Tetapi agaknya keduanya tidak mampu melepaskan diri dari ujung senjata
pemimpin kelompok yang
me
a yang memburu mereka menjadi semakin
deka
i dinding halaman itu.
halaman
ka
Rcksabawa
ma idak
me itu
mu
para prajurit yang telah memberontak itu.” “ Marilah, Kangjeng. Kita tinggalkan tempat ini.”
“ Kasihan kedua orang prajurit itu.” “ Mereka sadari, apa yang mungkin terjadi bagi seorang prajurit.” Keduanya tidak sempat berbicara lebih panjang lagi. Mereka pun segera mendengar teriakan-teriakan para
mberikan aba-aba. – Karena itu, maka keduanyapun segera menyusup diantara tanaman perdu di kebun belakang. Ketik
t, keduanya telah mencapai dinding halaman belakang. Dengan sigapnya keduanyapun meloncat
Demikian mereka keluar dari halaman belakang dalem kadipaten, maka keduanyapun segera berlari menjauh.
Dalam pada itu, para prajurit yang telah memberontak itupun masih sibuk mencari keduanya di dalam lingkungan dinding
dipaten. Mereka.tidak segera menyadari, bahwa dengan kemampuannya yang tinggi, maka Kangjeng Adipati dan Ki Tumenggung
mpu meloncati dinding. Mereka tmperhitungkan bahwa Kangjeng Adipati
la-mula meloncat menggapai sebuah dahan
ding.
Ke
an tombaknya sendiri, maka Ki
Tu
ng sempit di luar
din
menyibak setiap rumpun
pe keputren
da
an, bahwa mereka telah melihat dan
ba
n Ayu
cksayudapun telah bertanya kepada para prajurit
“ A
pohon manggis tidak terlalu jauh dari din
mudian didorong oleh tenaga ayunannya, Kangjeng Adipati telah berdiri di bibir dinding halaman. Setelah menyerahkan tombak Kangjeng Adipati serta menitipk
menggungpun telah melakukan hal yang sama. Berayun dan bertengger di atas dinding halaman sebelum keduanya turun ke loro
ding kadipaten. Para prajurit telah mengamati setiap jengkal tanah di halaman dan kebun belakang dalem kadipa-ten itu. Mereka
rdu. Mereka melihat setiap ruangan di
n kasatrian. Mereka menyisir setiap jengkal tanah. Tetapi mereka tidak menemukan Kangjeng Adipati. Bahkan beberapa orang prajurit telah melapork
hkan bertempur melawan Kangjeng adipati dan Ki Tumenggung Reksabawa. ” Penjilat itu benar-benar sudah berada disini pula “ geram Ki Tumenggung Jayataruna. Tetapi dalam pada itu, RadeR
pakah ada yang melihat Ririswari ? “ Para prajurit itu menggelengkan kepalanya.
enggung Jayatarunapun menggeram pula

nggung Reksayuda. “
a harus dicari sampai kita menemukan.
” Gila. Ini adalah satu kegagalan yang sangat memalukan “ berkata Raden Ayu Reksayuda. Ki Tum
Ya. Ini adalah satu kebodohan. Bagaimana mungkin prajurit sebanyak ini tidak dapat menangkap Kangjeng Adipati dan Ki Tumenggung Reksabawa. “ “ Mereka juga tidak menemukan Ririswari “ sambung Raden Ayu Reksayuda. Para prajurit itu terdiam. Namun masih banyak diantara mereka yang masih berusaha menemukan Kangjeng Adipati, Ki Tumenggung Reksabawa dan Raden Ajeng Ririswari. Tetapi tidak seorangpun yang berhasil.
Ki Tumenggung Jayataruna dan Raden Ayu Reksayuda menjadi sangat marah atas kegagalan itu. Tetapi mereka tidak dapat berbuat terlalu jauh. Apalagi menjatuhkan hukuman bagi para prajurit, karena mereka masih sangat membutuhkan mereka.
Dengan nada tinggi Ki Tumenggung Jayatarunapun kemudian berkata kepada para pemimpin kelompok “ Baiklah. Tetapi sadari. Pekerjaan kita belum selesai. Kita baru menduduki dalem kadipaten. Kita belum menangkap Kangjeng Adipati dan Ki Tume
“ Merek
Pe nutup semua jalan diperbatasan
ko
era
dis pok prajurit
tel g kota, sehingga
tidak seora eluar dari kota
ke
rena kelompok-kelompok
pe
di
halaman kadipaten dan disekitarnya masih sibuk
me
tiba-tiba dua orang
pra
ataruna dan Raden Ayu
Re
na hampir
berteriak.
rintahkan me
ta. Tidak boleh seorangpun keluar dari kota sejak malam ini “ berkata Raden Ayu Reksayuda dengan lantang.
Sebenarnyalah perintah itupun seg
ebarkan. Beberapa orang kelom
ah menutup semua pintu gerbanngpun yang dapat k
cuali mereka yang mampu mencari jalan lain. Mungkin dengan tangga untuk meloncati dinding kota. Namun seorangpun tidak akan sempat melakukannya, ka
ronda hilir mudik disetiap saat. Para prajurit itu tidak saja mengawasi jalan-jalan keluar. Tetapi juga jalan-jalan didalam kota. Bahkan kelompok-kelompok prajurit itu juga meronda di jalan-jalan yang lebih kecil.
Namun dalam pada itu, selagi para prajurit
ncari Kangjeng Adipati, Ki Tumenggung Reksayuda dan Ririswari,
jurit telah menggiring seorang anak muda naik ke pendapa kadipaten. Ketika seorang prajurit melaporkan kepada Ki Tumenggung Jay
ksayuda, keduanya terkejut. Dengan tergesa-gesa keduanyapun keluar dari ruang dalam untuk pergi ke pendapa.
“ Suratama “ Ki Tumenggung Jayataru
rit yang menggiringnya “ Dimana kau
temukan anak ini ?
tahu yang aku lakukan? Akii adalah
atama. Sejak kau masih kanak-kanak,
ak di prajurit. Kau tentu tahu tugas
seo
ajurit.
Te apakah yang ayah lakukan itu
sesuai dengan tu
u ” bentak Ki Tumenggung.
“ Ya, ayah. “
“ Inikah Suratama putera kakang Tumenggung Jayataruna itu ? “ bertanya Raden Ayu Reksayuda. “ Ya. Raden Ayu. Suratama adalah anakku. “ “ Apa yang dilakukannya disini ? “ “ Aku belum tahu, Raden Ayu “ Sementara itu sambil melangkah mendekati anak laki-lakinya itu Suratama bertanya kepada praju

“ Suratama bersembunyi di atap kandang kuda Ki Tumenggung “ jawab salah seorang prajurit yang membawanya “ hampir saja terjadi salah paham. Untunglah aku mengenal Suratama karena aku pernah datang ke rumah Ki Tumenggung. “ “ Bocah edan. Apa yang kau lakukan disini? “ “ Tidak apa-apa ayah. Aku hanya ingin tahu, apa yang ayah lakukan disini. “ “ Ingin prajurit Sur
u sudah menja
rang prajurit. “ “ Ya, ayah. Aku tahu tugas seorang pr
tapi aku tidak tahu
gas seorang prajurit atau tidak. “ “ Diam ka
an kepada ibu? Kenapa dengan ibumu?
Bu
erjadi salah paham karena
ke
dapat menilai sendiri, apakah
ya
lan.
Ka
eh para prajurit akan
da
“ Aku kasihan kepada ibu. “
“ Kasih
kankah ia tidajc apa-apa? Nah, sekarang kau sudah melihat apa yang terjadi disini. Pertempuran. Untunglah bahwa tidak t
beradaanmu di daerah pertempuran ini “ lalu katanya pula “ Kau
ng aku lakukan ini tugas seorang prajurit atau bukan? Justru seorang prajurit yang sedang memperjuangkan tegaknya kebenaran di kadipaten ini.”
Suratama menundukkan kepalanya. “ Nah, sekarang pulanglah. Aku akan memerintahkan dua orang prajurit mengantarmu agar tidak terjadi salah paham disepanjang ja
u tentu tahu, bahwa saat ini adalah saat yang sangat gawat bagi kadipaten ini. Setiap orang, apalagi yang tidak dikenal ol
pat dicurigai. Bahkan mungkin para prajurit akan menjadi sangat mudah mengambil tindakan kekerasan, karena mereka sendiri merasa terancam.”
“ Baik, ayah.” Namun tiba-tiba saja Raden Ayu Prawirayudapun memanggilnya ” Suratama.”
“ Ya, Raden Ayu.” “ Apakah kau yang telah menyembunyikan Ririswari ?”
alagi dengan anak muda setampan kau ini.”
swari.”
sejenak,
sea
“ aku tidak berkeberatan Raden Ayu
me
bani tanggung jawab yang terlalu berat.
“ Raden Ajeng Ririswari maksud Raden Ayu ?” “ Ya.”
“ Aku tidak tahu, Raden Ayu. Aku tidak melihat Raden Ajeng Ririswari.”
“ Kau datang kemari tentu akan bertemu dengan Ririswari.” “.Tidak, Raden Ayu. Aku tidak begitu mengenal Raden Ajeng Ririswari secara pribadi. Aku hanya tahu, bahwa putera puteri Kangjeng Adipati itu bernama Raden Ajeng Ririswari.” “ Kau jangan bohong, Suratama. Aku tahu, bahwa Ririswari itu akrab dengan setiap laki-laki muda. Bahkan yang telah bersuami sekalipun. Ap
“ Benar Raden Ayu. Aku tidak akrab dengan Raden Ajeng Riri
“ Suratama. Aku perintahkan kepadamu. Cari Ririswari sampai ketemu. Aku yakin, kau tahu dimana Ririswari bersembunyi, justru karena pada saat seperti ini kau berada disini.”
Suratama itu memandang ayahnya
kan-akan ia ingin mendapat pertimbangan, apa yang sebaiknya dilakukannya. “ Raden Ayu “ berkata Ki Tumenggung Jayataruna
merintahkan Suratama mencarinya. Tetapi ia tidak dibe
Ak
Tumenggung jangan membuat anak
itu
tidak membuatnya lemah. Ia memang anak
mu
ar
sep
ban yang
be
enjemput Raden
Tu
lang sebentar, kemudian
me
u tahu, bahwa Suratama memang tidak akrab dengan Raden Ajeng Ririswari.”
“ Kakang
menjadi lemah. Ia harus mendengarkan perintahku. Ia harus melaksanakan perintahku.” Tetapi Ki Tumenggung Jayatarunapun menyahut “ Aku
da yang lemah. Karena itu, ia tidak akan dapat dibebani tugas sebagaimana Raden Ayu katakan. Selain Suratama aku mempunyai prajurit segel
apan. Apakah masih kurang bagi Raden Ayu, sehingga Raden Ayu meletakkan be
gitu berat di pundak Suratama ? Apa arti seorang anak muda dibanding prajurit-prajuritku ?” ”
“ Tetapi yang dilakukan itu sangat mencurigakan.”
“ Aku mempercayainya, la datang karena ia merasa kasihan kepada ibunya yang sendirian di rumah sejak aku pergi m
menggung Wreda Reksayuda.”
“ Jadi kakang belum pernah pulang.” “ Sudah Raden Ayu. Tetapi begitu pulang, aku segera pergi lagi. Pu
ninggalkannya dengan berbagai pertanyaan di hatinya.” “ Tetapi Nyi Tumenggung adalah isteri seorang prajurit.”
asa depan. Karena
itu esulitan
ka
gi sendiri. Ada seratus
ora p mengantarmu.”
orang diri, ayah. Aku
me h. Tetapi aku tidak
pe
” akan dapat ikut menentukan
ke
tid
“ Ia sudah mengalaminya sejak lama. Tetapi ada persoalan di hatinya pada saat terakhir.”
“ Jadi ?” “ Suratama bagiku adalah m
. aku tidak ingin anak itu mengalami k
rena harus memikul beban yang sangat berat itu.”
“ Ayah. Aku akan menjalankan tugas ini. Aku akan mencari Raden Ajeng Ririswari.” “ Kau tidak perlu per
ng prajurit yang sia
“ Tidak. Aku akan pergi semarig seorang yang lema
rlu menjadi cengeng.” Suratama tidak berbicara lagi. lapun segera beranjak pergi.
“ Suratama. Tunggu. Ada dua orang prajurit akan mengantarmu pulang.”
Tetapi Suratama tidak menghiraukannya. Sepeninggal Suratama, Ki Tumenggung Jaya-taruna-pun berkata “ Aku tidak ingin kehilangan anakku, Raden Ayu.”
Raden Ayu Reksayuda memandang wajah Ki Tumenggung yang tegang. Bagaimanapun juga, Ki Tumenggung
berhasilan nya. Karena itu. sebaiknya ia memang ak mengusik perasaannya.
epentingan Raden Ayu
de
“ Tetapi adilkah jika Raden
mengorbankan anakku ?”
“ Aku minta maaf kakang.
memerintahkan prajurit untuk men
mencabut perintahku.”
“ Tidak mungkin.”
“ Kenapa tidak mungkin?-
“ Aku mengenal tabiatnya . Jika ia
melangkah, maka ia akan berjalan sampai ke
jalan. Apapun yang akan terjadi. Kecu
sendiri yang menyusulnya,”
“ Tetapi jika kakang Tumenggung
Jayataruna termangu-mangu
sej
ng memang
sat
“ Maaf, kakang Tumenggung. Aku hanya terdorong untuk segera menemukan Ririswari.” “ Apa sebenarnya k
ngan Raden Ajeng Ririswari.” “ Aku mempunyai kepentingan pribadi.” Ayu harus Kakang dapat yusulnya dan sudah mulai ujung ali jika aku pergi, rencana kita akan menjadi berserakkan.- Ki Tumenggung
enak. Namun kemudian iapun berkata – Baiklah. Untuk sementara aku akan tetap pada rencana kita, Aku akan tetap berada di sini.- “ Terima kasih kakang. Bagiku, kaka
u-satunya tempat bergantung ” desis Raden Ayu Reksayuda. Ki Tumenggung Jayataruna menarik nafas
Tumenggung itupun kemudian telah
be
Reksabawa
dan Ririswari.
dapat
setelah
elapan. Ia
berusah
ke
” Ayah dan Raden Ayu Reksayuda sudah
Ki
Tu
panjang. Namun ia tidak berkata apa-apa lagi. Bahkan Ki
ranjak dari tempatnya.
Dalam pada itu, para prajurit masih sibuk mencari Kangjeng Adipati, Ki Tumenggung
Tetapi mereka tidak segera
menemukannya. Sementara itu, Suratama
meninggalkan Kadipaten, segera menyelinap kedalam keg
a untuk dapat pulang, sekedar minta diri pada ibunya.
” Ngger, jangan pergi. Keadaan akan menjadi semakin gawat. Jika ayahmu telah terlibat dalam pemberontakan melawan Kangjeng Adipati, maka keadaan kitapun akan menjadi gawat”
menguasai dalem Kadipaten ibu. Tetapi mereka tidak dapat menangkap Kangjeng Adipati dan
menggung Reksabawa. Bahkan Raden Ayu
pribadi yang harus
dis
Ayu Reksayuda dan Raden
Aje
yak.”
Raden Ayu
Re
tidak tahu ibu. Mungkin demikian Raden
Ay
hmu sudah berusaha mencegahmu,
ke
Reksayuda ingin juga menangkap Raden Ajeng Ririswari.”
” Raden Ajeng Ririswari?”
” Agaknya ada persoalan
elesaikannya, ibu.” ” Persoalan pribadi ?” ” Ya. Antara Raden
ng Ririswari. ” Nyi Tumenggung Jayataruna menarik nafas panjang. Hampir diluar sadarnya iapun berdesis ” Kedua-duanya masih muda. Umur mereka tentu tidak bertaut ban
” Ibu. Sekarang aku akan pergi. Aku harus mencari Raden Ajeng Ririswari sampai ketemu. Aku sangat malu bahwa dihadapan
ksayuda aku adalah seorang anak muda yang lemah. Karena itu, maka aku harus berhasil menemukan Raden Ajeng Ririswari.” ” Kenapa harus kau yang mencarinya, ngger?” ” Aku
u Reksayuda itu melihat aku di Kadipaten, dengan serta-merta saja ia memberikan perintah. Ayah sudah berusaha mencegahnya, tetapi aku akan tetap berangkat.” ” Jika aya
napa kau harus berangkat juga„ Suratama ? “ “ Aku mempunyai harga diri ibu, meskipun
kali benar aku adalah seorang anak muda
ya
. “.
k dapat
me
etapi seperti juga ayahnya, Nyi
Tumeng
meninggalkan rumah
barang
ng lemah. “ “ Telapi keadaan lenlu menjadi semakin gawai.“ “ Aku akan berhali-hali
“ Para prajurit lentu berkeliaran dimana-mana. Jika terjadi salah paham Suratama, maka kau akan mengalami kesulitan. “
“ Aku akan berhati-hati ibu. Aku mengenal lingkungan ini seperti aku mengenali ruang-ruang didalam rumahku. Aku akan dapat mencari jalan terbaik tanpa bertemu dengan seorang prajuritpun.” Nyi Tumenggung Jayataruna tida
ncegahnya. Suratamapunn kemudian minta diri untuk mencari Raden Ajeng Ririswari. Nyi Tumenggung Jayataruna melepasnya di pintu pringgitan dengan mata yang basah. Sebenarnya ia tidak rela melepaskan anaknya pergi. T
gunng mengenal sifat dan tabiat anak laki-lakinya. Demikianlah, maka Suratamapun segera
nya. Dengan cepat Suratama menyelinap diantara gelapnya lorong-lorong sempit, sehingga tidak seorang prajuritpun yang ditemuinya.
Namun Suratamapun berpendapat bahwa Raden Ajeng Ririswari tentu sudah berada di luar dinding
ndapat perintah untuk mencari
Rir
gan
sen
unyai alasan yang
san
kota.
“ Aku akan mencarinya keluar. Jika ia masih berada didalanj, maka esok para prajurit” akan dapat menemukannya. “
Tetapi Suratama tahu, bahwa semua pintu gerbang tentu sudah ditutup. Karena itu, maka iapun akan mencari jalan untuk dapat meloncati dinding alau menyelinap lewat regol butulan. Namun agaknya semua pintu gerbang dan pintu butulan telah dijaga oleh para prajurit, sehingga sulit bagi Suratama untuk dapat menembus penjagaan itu. Sedangkan untuk berterus terang, bahwa ia me
iswari, agaknya sulit untuk dipercaya. Sebenarnya ada juga niatnya untuk den
gaja menemui para prajurit yang bertugas di regol. Jika mereka tidak percaya dan menahannya, justru kebetulan. Ia memp
gat kuat untuk tidak pergi mencari Raden Ajeng Ririswari.
Tetapi harga diri Suratama tidak mengijinkannya. Dengan demikian Suratama justru mencari jalan untuk dapat keluar dari dinding kota. Akhirnya Suratama mendapatkan sebatang pohon yang tinggi, yang dahannya menyilang sampai diatas dinding.
Dengan hati-hati, Suratama memanjat pohon itu. Dengan hati-hati pula ia meniti dahan yang
alan
itu
ka akan
me
keras, langsung melontarkan tombak
itu
lewat,
ma
a Suratama itupun telah
dit
u yang hampir bersamaan, pada saat
Su Nyi
Tu sih duduk dengan
ge ngan keadaan yang
ter dipaten. Namun lamat-lamat ia
me
a
menyilang sampai ke bibir dinding kota. Namun Suratama itu terhenti. Justru diatas j
. Ia melihat lima orang prajurit peronda lewat dengan memanggul tombak pendek di bahunya. Suratama tidak berani beregerak. Jika segerumbul daun pada pohon itu bergetar, sedangkan yang lain tidak, maka tentu akan menarik perhatian para peronda itu. Mere
nengadahkan wajah mereka dan melihatnya bertengger diatas dahan. Dalam keadaan yang gawat, mungkin saja para prajurit itu mengambil tindakan yang
ke arahnya. Demikian para prajurit yang meronda itu
ka Suratamapun menarik nafas panjang. Sejenak kemudian Suralamapun bergeser maju. Kemudian, dengan sigapnya anak muda ilu meloncat keluar dinding kota. Sejenak kemudian, mak
elan kegelapan. Pada wakt
ratama minta diri kepada ibunya.
menggung Reksabawa malisah. Ia tidak tahu perkemba
jadi di ka
ndengar kentongan dalam irama titir. Sejak Ki Tumenggung Reksabawa meninggalkan rumah untuk menghadap Kangjeng Adipati, mak
ia
gai isteri seorang prajurit, sebenarnya Nyi
Tu
engan segala macam
ke
isahannya, tiba-tiba saja Nyi
Tu
tapi ketukan
pin
bawa.
Nyi Tumenggung
Re
it berdiri dan berlari ke pintu.
selalu merasa cemas dan gelisah. Apalagi.setelah terdengar suara kentongan dengan irama titir. Seba
menggung sudah terbiasa ditinggal untuk menjalankan tugas. Bahkan tugas ke medan perang sekalipun d
mungkinannya. Namun rasa-rasanya ia tidak menjadi sangat gelisah seperti malam itu. Dalam kegel
menggung itu mendengar pintu diketuk dari luar. Perlahan-lahan. Namun jelas bagi Ki Tumenggung Reksabawa. Di malam yang sepi, suara ketukan yang hanya perlahan-lahan itu sempat mengejutkannya. Ketika ketukan itu terdengar sekali lagi, maka Nyi Tumenggung bangkit berdiri. Ia berharap Ki Tumenggung Reksabawa pulang. Te
tu itu bukan irama ketukan pintu Ki Tumenggung Reksa
“ Siapa diluar ? “ bertaya
ksabawa. “ Kami berdua, ibu. Ragajati dan Ragajaya.” “ Ragajati dan Ragajaya ? “
“ Ya, ibu. “ Nyi Tumenggung Reksabawapun segera dapat mengenali suara anak-anaknya. Karena itu, maka iapun segera bangk
di belakang pintu sambil berdesis
“Ib
aknya bergati-ganti. Terasa hangatnya titik-titik
air
mereka tidak seperti biasanya.
Bia
.
Te
. “
Demikian pintu terbuka, maka dua orang anak muda berdiri
u. “
“ Kau ngger. Kau berdua. Marilah. Masuklah. “ Keduanyapun segera melangkah masuk. Pintupun segera ditutup kembali.
Nyi Tumenggung memeluk kedua orang an
mata ibunya.
Ragajati dan Ragajaya dapat mengerti, kenapa ibunya menyambut
sanya ibunya tak pernah menyambut mereka pada saat-saat mereka pulang dengan mata yang basah. Ibunya yang tegar itu selalu menyambut mereka dengan tersenyum serta wajah yang cerah. Ibunya tidak pernah menunjukkan gejolak perasaannya dalam keadaan apapun. Tetapi malam ini ibunya menyambutnya dengan mata yang basah. “ Marilah, ngger. Duduklah. “ Kedua orang anak muda itupun segera duduk. Ragajati, yang tertua diantara mereka berdua itupun segera bertanya “ Apa yang telah terjadi di rumah ini ibu ? “ “ Ayahmu dipanggil menghadap Kangjeng Adipati, ngger. Aku tahu, keadaan menjadi gawat
tapi aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya dengan ayahmu
ng aku lihat. “
a pulang
ma
emuanya itu. Sementara juru
gedong di bangsal pusaka tiba-tiba telah hilang. “
“ Siapakah yang datang memanggil ayah ke rumah ini ? “ “ Dua orang prajurit ngger. Itu ya
“ Apakah pesan ayah pada saat ayah berangkat, ibu? “ bertanya Ragajaya. “ Ayahmu hanya berpesan agar aku berhati-hati. “
“ Agaknya sesuatu telah terjadi, ibu. “ “ Kebetulan sekali, bahwa kalian berdu
lam ini, ngger. “
“ Guru memberitahukan, bahwa agaknya akan terjadi gejolak di kadipaten ini. Guru memberitahukan kepada kami, bahwa Raden Tumenggung Reksayuda telah terbunuh. Kemudian tersiar desas-desus bahwa Kangjeng Adipati sendirilah yang memang berniat membunuh Raden Tumenggung Reksayuda. Kangjeng Adipati telah berpura-pura mengampuninya dan memberinya kesempatan pulang. Namun semuanya itu hanya jebakan saja.’ Bahkan Kangjeng Adipati telah memberikan salah satu pusakanya untuk membunuh Raden Tumenggung, justru untuk menghindarkan kecurigaan orang, bahwa Kangjeng Adipati sendirilah yang sebenarnya telah merencanakan s
“ Agaknya banyak juga yang diketahui oleh guru kalian ngger. “
yang akan dapat memancing
pe
ipati. “
ku memasuki pintu gerbang kota, kota
ini belum
aten. Yang terjadi itu
tel
enyelinap di lorong-lorong sempit
be elihat
bahwa k pok
pra
kami berkesimpulan,
ba dan Raden
Ayu Reksa g-terangan
me
“ Ya ibu. Guru sengaja mencari keterangan tentang peristiwa
rsoalan itu, ibu “’ sahut Ragajali. “ Ya. Persoalannya memang dapat menjadi gawat. Bahkan Raden Ayu Reksayuda dan pamanmu Jayataruna sudah berniat untuk membuka sikap mereka menentang Kangjeng Ad
“ Ya. Bukan sekedar berniat, ibu. Tetapi pemberontakan itu sudah berlangsung. “ “ Apa katamu ? “ “ Ketika a
menjadi kota tertutup ibu. Tetapi aku melihat kesibukan yang luar biasa. Para prajurit hilir mudik. Bahkan nampaknya permusuhan sudah terjadi. Ada beberapa pertempuran yang tidak jelas telah terjadi di sekitar Kadip
ah menarik perhatian kami, sehingga kami dengan m
rusaha mendekati Kadipaten. Kami madipaten telah diserang oleh sekelom
jurit. Kami langsung menghubungkanya dengan keterangan guru, sehingga
hwa paman Tumenggung Jayataruna yuda sudah dengan teran
mberontak. “ “ Kau melihatnya ngger ? “ “ Ya, ibu. Aku melihat pasukan pemberontak telah memasuki dalem Kadipaten. “
g berhasil lolos dari
ke
n ayah berhasil meloloskan diri.

keadaan yang
ga
bawa. “
iknya kau cari
ay
, ibu ? “
telah keluar pintu
ge
“ Lalu bagaimana dengan Kangjeng Adipati dan ayahmu, ngger. “ “ Aku tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi seorang prajurit yan
pungan para pemberontak, meskipun ia sudah tcrluka, memberitahukan kepadaku bahwa Kangjeng Adipati da
“ Apakah prajurit itu dapat dipercaya ? Mungkin ia tidak berkata sebenarnya ngger, karena prajurit itu tentu tidak dapat mempercayai setiap orang yang ditemuinya. Apalagi dalam
wat ini. “
“ Prajurit itu mengenal kami, ibu. Kami memang sudah kenal sejak lama dengan prajurit itu. Ia tahu, bahwa kami berdua adalah putera Ki Tumenggung Reksa
“ Sukurlah ngger. Jika begitu, seba
ahmu. “ “ Kemana kami harus mencarinya
“ Mungkin ayahmu sudah meninggalkan kota bersama Kangjeng Adipati. “
“ Kota telah tertutup sekarang ibu. “ “ Tetapi mungkin ayahmu
rbang sebelum kota ini ditutup. Jika Kangjeng Adipati berhasil lolos dari Kadipaten, maka Kangjeng Adipati tentu akan segera pergi ke luarkota. Kangjeng Adipati tentu sadar, bahwa
Adipati.”
tu gerbang terdekat dari
da aten adalah pintu gerbang Utara.
Ka
rgi.”
yang sedang
ma
pintu gerbang kota akan segera ditutup dan para pemberontak akari mengaduk seluruh kota untuk mencarinya. Menurut perhitunganku, ayahmu tentu bersama Kangjeng
“ Ya, ibu. Prajurit yang berhasil lepas dari kepungan itu juga melihat, bahwa ayah bersama Kangjeng Adipati.” “ Nah, ngger. Carilah ayahmu. Sebaiknya kau pergi ke luar kota. Pin
lem Kadip
ngjeng Adipati dan ayahmu agaknya telah keluar lewat pintu gerbang terdekat itu.” “ Lalu kemana ?” “ Setelah kau keluar pintu gerbang, mudah-mudahan kau mendapatkan firasat, kemana ayahmu itu pe
“ Tetapi bagaimana dengan ibu ?”
“ Tinggalkan aku sendiri di rumah, ngger. Tidak akan terjadi apa-apa dengan-aku?” “ Tetapi mungkin saja orang-orang
rah itu mengarahkan kemarahannya kepada ibu, karena mereka gagal menemukan ayah.” “ Tidak. Aku seorang perempuan. Mereka tidak akan mengusik aku di rumah.” Rajapati dan Ragajayapun termangu-mangu sejenak. Namun Ragajatipun kemudian berkata “Baiklah, ibu. Aku akan mencari ayah. Tetapi
seb
apun yang
ad
kepala kedua anak
mu
berpihak kepada Raden Ayu
Re
ntu butulan
da alam kegelapan.
lorong-lorong sempit. Mereka
be
nama
aiknya ibu tidak keluar dari rumah. Tutup pintu rapat-rapat dan jangan terpancing ap
a di luar. Biarlah para pembantu menemani ibu di ruang dalam.”
“ Baik, ngger. Aku akan memanggil mereka.” Ragajati dan Ragajayapun kemudian minta diri kepada ibunya. Diusapnya
da itu sambil berkata “ Hati-hati ngger. Keadaan menjadi sangat gawat.” “ Ya ibu.”
“ Semua orang akan menjadi saling mencurigai. Karena itu, berusahalah untuk tidak bertemu dengan siapapun juga. Kau tidak tahu, apakah orang yang kau temui itu berpihak kepada Kangjeng Adipati atau
ksayuda.” “ Baik ibu. Sekarang kami akan mohon diri. Kami akan mencari ayah.”
Kedua orang anak muda itupun mencium tangan ibunya sebelum mereka keluar dari pi
n menghilang ke d
Demikianlah Ragajati dan Ragajaya itu menyelinap di
rduapun mengenali seluruh kota seperti mereka mengenal rumah mereka sendiri. Sejak masa kecil dan apalagi menjelang remaja, keduanya sering bermain bersama kawan-kawan mereka kema
na menjelajahi semua jalan dan lorong-lorong sampai lorong terkecil di dalam kota.
un tidak terlalu sulit
un
cari tangga. Hampir disemua rumah
me
me
eka lewat, maka Ragajati
da
an cepat mereka menyandarkan tangga
ya la
me
kcaias, kemudian ujungnya kita
tur
tan
Karena itu, maka keduanyap
tuk melintas mencapai dinding kota. “ Apa yang harus kita lakukan sekarang ?” bertanya Ragajaya “ Kita
mpunyai tangga bambu.” Namun mereka harus segera menyelinap ketika
reka melihat beberapa orang prajurit yang sedang meronda berkeliling. Mereka menyusuri jalan disepanjang dinding koia di bagian dalam. Namun demikian mer
n Ragajaya itupun lelah mengusung sebuah tangga bambu yang mereka ambil dari halaman rumah sebelah. Deng
ng panjang itu didinding kota. Dengan cepat pu
reka memanjat naik. “ Kita bawa tangga itu keluar, agar tidak meninggalkan jejak “ berkata Ragajati. “ Berat kakang.”
“ Kita tarik sajaunkan keluar.”
Keduanyapun melakukannya dengan cepat, sehingga sebelum peronda berikutnya lewat, tangga itupun telah hilang di balik dinding.
Kedua anak muda itu masih sempat membawa gga itu menjauh dan meninggalkannya di
aki yang sedang
me aknya sengaja mendekati
me
engairi
saw
itu terengah-engah ketika ia
me
mun suara iiupun kemudian telah
me
ula. Mereka juga bersenjata. “
tengah-tengah bulak panjang. Ketika keduanya akan melanjutkan perjalanan, keduanya terkejut. Seorang laki-l
niti pematang, ag
reka.
“ Ki Sanak. Ki Sanak “ panggil orang itu. Ragajati dan Ragajaya tcrman’gu-mangu sejenak. Namun keduanya tidak terlalu mencemaskan orang itu. Kecuali ia hanya sendiri, agaknya orang itu adalah seorang petani yang sedang m
ahnya. “ Ki -Sanak “ orang
loncati parit di pinggir jalan “ Apa yang sebenarnya telah terjadi di belakang pintu gerbang kota ?”
“ Kenapa kau bertanya seperti itu Ki Sanak ?” “ Aku mendengar suara kentongan dengan irama liur. Na
nghilang. Tetapi kemudian aku melihat dua orang bersenjata melintasi jalan ini dengan tergesa-gesa.”
“ Dua orang ?” “ Ya. Dua orang dengan membawa tombak. Tetapi beberapa saat kemudian, belum terlalu lama, sekelompok orang telah melintas dengan tergesa-gesa p
Ragajati dan Ragajaya termangu-mangu
b “
Te
u-mangu sejenak. Namun
ke i hanya
ing ak mau
ter
h Ki Sanak. Menurut dugaanku, tidak
ak
udian minta diri. Mereka
me
sejenak. Namun kemudian Ragajatipun menjawa
lah terjadi sedikit huru-hara. Mudah-mudahan akan segera dapat diselesaikan. “ “ Huru-hara apa? “ “ Aku juga belum jelas. “ “ Sekarang kalian berdua akan pergi ke mana? “ Keduanya termang
mudian Argajatipun menjawab “ Kamin menjauhi huru-hara itu. Kami tid
libat dalam ontran-ontran yang terjadi. “ “ Tetapi bagaimana dengan orang-orang bersenjata itu tadi? “
“ Aku tidak melihat. Mudah-mudahan mereka tidak mengganggu Ki Sanak serta sanak kadang lainnya. “ “ Ya. Kami adalah orang-orang yang tidak tahu apa-apa. Yang kami tahu adalah menggarap sawah dan ladang. “ “ Tenangla
an terjadi apa-apa dengan Ki Sanak dan para petani yang lain. “ Orang itu mengangguk-angguk. Ragajati dan Ragajayapun kem
lanjutkan perjalanan mereka. Juga tergesa-gesa seperti orang-orang yang pernah lewat di jalan itu sebelumnya. “ Siapakah mereka yang lewat dengan tergesa-
ge
sejenak. Namun
ke
man
Tu
. Meskipun mereka masih belum
ya
olos dari tangan
Ki Raden Ayu
Re
kan ayah mereka serta Kangjeng Adipati
set
itu, ternyata seperti yang diduga
ole jaya, kedua orang yang
lewat sep kan oleh petani itu, adalah
Ka
sa itu menurut kakang?” bertanya Ragajaya. Ragajati termangu-mangu
mudian iapun berkata “ Bagaimana menurut pendapatmu? Aku menduga, dua .orang yang terdahulu itu adalah Kangjeng Adipati dan ayah. Kemudian sekelompok pengikut pa
menggung Jayataruna berusaha memburunya. Begitu? “
“ Ya. Aku juga berpendapat demikian. “ “ Karena itu, marilah. Kita berjalan lebih cepat lagi. Mudah-mudahan kita dapat menemukan ayah. Akan lebih baik jika ayah itu bersama Kangjeng Adipati. “
Kedua anak muda itupun segera mempercepat langkah mereka
kin benar, tetapi mereka menduga, bahwa kedua orang yang terdahulu itu adalah ayah mereka yang menyertai Kangjeng Adipati yang l
Tumenggung Jayataruna dan
ksayuda. Bahkan jika mereka berada di bulak panjang, merekapun berlari-lari kecil. Mereka tidak ingin menemu
elah terlambat. Dalam pada
h Ragajati dan Ragaerti yang dikata
ngjeng Adipati dan Ki Tumenggung Reksabawa.
Adipati itupun berhenti sambi
beristirahat sebentar, kakang Tumen
“ Jika Kangjeng masih belu
letih, sebaiknya kita berjalan terus Kan
“ Aku memang belum letih
terlu-ka, kakang. Mungkin kakan
yang dapat membantu memampatkan darah itu,
kakang. Nanti, jika kita sudah a akan
mencari obat terbaik. “
“ Aku tidak apa-apa Kangjeng
segores kecil. “
“ Tetapi rasa-rasanya aku
telah meleleh dari luka itu. “
awanya. Aku sendiri dalam keadaan tergesagesa,
sehingg at apapun
juga. “
Keduanya dengan tergesa-gesa berjalan menjauhi pintu gerbang kota.
Ketika mereka merasa bahwa perjalanan mereka sudah menjadi semakin jauh, maka Kangjeng l berkata “ Kita ggung. “ m merasa sangat gjeng. “ sekali. Tetapi kau g mempunyai obat mapan, kit
. Luka ini hanyalah merasakan, darah
“ Hanya sedikit sekali, Kangjeng. “
“ Tetapi sebaiknya kau obati lukamu jika kau memb
a aku tidak membawa ob
“ Nanti saja, Kangjeng. Marilah kita meneruskan perjalanan.” “ Kemana, kakang? “
“ Kita memang belum merencanakannya, Kangjeng. Tetapi untuk sementara, asal kita
Nanti, kita akan
me
beranjak pergi, maka
me
mereka.
desis Ki
Reksabawa “ kita
mereka. “
ah prajurit. “
berjalan menjauhi kadipaten.
mikirkannya lagi, kemana kita akan pergi. “ Tetapi sebelum keduanya
reka melihat beberapa orang berlari-lari kecil menyusul
“ Kangjeng “
Tumenggung
harus bersiap menghadapi
Kangjeng Adipati menarik nafas panjang.
Katanya “ Baiklah. Bukankah kita prajurit? “ “ Ya, Kangjeng. Kita adal
Sejenak kemudian, maka sekelompok prajurit telah
Halaman 34-35 ga ada Demikianlah, maka para prajurit yang berada di bawah perinlah Ki Lurah Kertadangsa itupun segera memencar. Merekapun telah mengepung Kangjeng Adipati serta Ki Tumenggung Reksabawa. “ “ Sekali lagi aku peringatkan, Kangjeng.
g akan kami bawa ke
da
aku ? “
tem
tertawa. Lalu katanya “ Marilah
anak-ana
ndatar.
Dua
Menyerah sajalah. Kangjen
lem kadipaten untuk diadilli “ “ Siapakah yang akan mengadili aku ? “ bertanya Kangjeng Adipati. “ Ki Tumenggung Jayataruna dan Raden Ayu Reksayuda. “ “ Apakah mcnurul pendapatmu mereka berhak mengadili
“ Ya. Sekarang kekuasaan sudah berada di tangan mereka. “
“ Kau akui kekuasaan mereka ? “ bertanya Ki Tumenggung Reksabawa. “ Ya. Kami bukan penjilat seperti kau Ki Tumenggung Reksabawa. Tetapi sayang, bahwa
patmu bergantung sekarang sudah runtuh. “ “ Kertadangsa “. sahut Reksabawa “ jika -aku tidak sempat membunuhmu sekarang, maka jika kami kembali ke dalem kadipaten, maka kau akan di gantung di alun-alun. “ Kertadangsa itu
k. Tangkap mereka berdua atau bunuh mereka. “ Para prajurit itupun segera bergerak. Namun sebelum mereka mulai, maka tombak Ki Tumenggung Reksabawa sudah terayun me
orang terlempar dengan luka di dada. Sementara seorang lagi, yang sempat menangkis
nya sama sekali tidak menyentuh
tub
terdengar Ki Lurah Kertadangsa
be
emanfaatkan kelengahan kita. “
i Tumenggung Reksabawa harus
me
enggung
dengan pedangnya, justru pedangnya itu telah terlempar dari tangannya. Sementara itu seorang yang meloncat dengan garangnya sambil mengayunkan pedangnya ke leher Kangjeng Adipati, justru lelah berteriak nyaring. Pedang
uh Kangjeng Adipati yang merendah. Namun jsutru ujung tombak Kangjeng Adipati telah mengunjam didadanya langsung menyentuh jantung.
Demikian Kangjeng Adipati menarik tombaknya, prajurit itupun segera roboh di tanah. Beberapa orang prajurit yang lainpun tertegun sejenak. Namun
rteriak “ Hati-hati. Mereka adalah orang-orang yang licik, yang m
Hampir saja tombak Ki Tumenggung Reksabawa menyambar mulut Ki Lurah Kertadangsa. Untunglah bahwa Ki Luraah sempat meloncat surut. Ketika Ki Tumenggung akan memburunya, seorang prajurit justru meloncat menyerangnya, sehingga K
nghindarinya. Demikianlah sejenak kemudian, pertempuranpun menjadi semakin sengit. Kangjeng Adipati dan Ki Tumenggung Reksabawa harus berloncatan dengan cepat menghindari serangan-serangan yang datang dari segala penjuru. Tetapi Kangjeng Adipati dan Ki Tum
Re
yang mengaduh kesakitan jika ujung
tom
.”
rajurit
pil
g jumlahnya
be
belum berhasil memisahkan
ke i
Lurah Ker
ksabawa adalah prajurit-prajurit linuwih. Karena itu, maka dihadapinya sekelompok prajurit itu dengan tegarnya. Tombak mereka berputaran, menyambar-nyambar. Sekali-sekali terjadi benturan dengan senjata para prajurit yang mengeroyoknya. Namun tangan-tangan para prajurit itulah yang menjadi pedih. Bahkan setiap kali terdengar seorang diantara mereka
bak Kangjeng Adipati atau Ki Tumenggung Reksabawa menggores salah seorang dari mereka. Ki Lurah Kertadangsa menjadi semakin marah, ketika seorang lagi prajuritnya terpelanting jatuh. Ujung tombak Kangjeng Adipati telah mengoyak perut prajurit itu.
“ Cepat, selesaikan, jangan ragu-ragu. Bunuh mereka berdua
Ki Lurah Kertadangsa sendiri telah langsung melibatkan diri. Ia memang seorang Lurah p
ihan. Karena itu, maka Ki Lurah Kertadangsa bersama para prajuritnya mampu menggoyahkan pertahanan Kangjeng Adipati seria Ki Tumenggung Reksabawa. Sebenarnyalah, para prajurit yan
rlipat ganda itu, mampu semakin mendesak Kangjeng Adipati dan Ki Tumenggung Reksabawa. Meskipun mereka
duanya yang bertempur berpasangan, namun Ktadangsa mampu mendesak Kangjeng
Ad
ng untuk mengembangkan seranganser
surui
sam
itu
jadi semakin
lem
ipati dan Ki Tumenggung Reksabawa. Semakin lama, Kangjeng Adipati dan Ki Tumenggung Reksabawa menjadi semakin mengalami kesulitan. Para prajurit itu telah menyerang mereka sejadi-jadinya. Mereka tidak memberi peluang lagi kepada Kangjeng Adipati dan Ki Tumenggu
angan mereka, karena jumlah mereka yang terlalu banyak dibandingkan dengan hanya dua orang. Ki Tumenggung Reksabawa bergeser
bil berdesah tertahan ketika pundaknya tersentuh ujung pedang, sehingga darah pun mulai mengembun. Namun dalam pada itu, Kangjeng Adipatipun terkejut ketika ujung tombak dari salah seorang prajurit itu sempat mematuk pinggangnya.
“ Kalian telah terluka “ teriak Ki Lurah Suradangsa.” “ Ya “ jawab Kangjeng Adipati jujur “ tetapi luka
tidak mempengaruhi tenaga dan ilmuku.” “ Omong kosong “ bentak Kertadangsa “ setiap luka tentu berpengaruh. Apalagi jika luka itu berdarah. Semakin banyak darah yang mengalir, maka tenaga seseorang akan men
ah. Kau tentu tahu akibatnya.” “ Tetapi sebelum tenagaku terkuras habis karena darahku mengalir dari luka-luka, maka kalian telah mati.”
nggung
Re
maka
ke
gung Reksabawa masih sempat
me
ak. Sehingga ketika
du
ah Kangjeng Adipati dan Ki
Tu
Ki Lurah Kertadangsa tertawa berkepanjangan.
Sebenarnyalah bahwa Kangjeng Adipati dan Ki Tumenggung Reksabawa sudah menjadi semakin terdesak. Tidak hanya segores luka yang telah mengoyak pakaian dan kulit Kangjeng Adipati. Tetapi punggungnya telah terluka pula. Lengannya dan pahanya. Demikian pula Ki Tume
ksabawa. Meskipun demikian, keduanyapun masih bertempur dengan garangnya. Bahkan ketika perasaan pedih semakin terasa menggigil,
duanya justru bertempur semakin sengit. Dalam keadaan terluka, Kangjeng Adipati dan Ki Tumeng
lemparkan dua orang lawan mereka. Dada mereka telah terkoyak oleh ujung-ujung tombak Kangjeng Adipati dan Ki Tumenggung Reksabawa. Tetapi musuh terlalu bany
a orang terlempar, maka yang lainpun telah mendesaknya dengan ujung-ujung senjata teracu. Ketika dar
menggung Reksabawa semakin banyak menitik, maka rasa-rasanya tenaga mereka memang menjadi semakin menyusut. Sementara itu, lawan masih saja menyerang seperti badai. Dalam keadaan yang sulit, maka Ki Tumenggung Reksabawa berniat untuk meninggalkan arena pertempuran mumpung mereka masih mampu melawan. Mereka akan
engejarnya itu.
Kepung mereka rapat-rapat. Jangan
bia
menyerang mereka menutup
seg
buah kepungan yang rapat.
h sajalah. Kami akan membawa
Ka
dang bertugas, maka Kangjeng
Ad
tanga
dapat lari sambil mempertahankan diri dari serangan-serangan orang yang m
Tetapi nampaknya Ki Lurah Kertadangsa yang mempunyai pengalaman yang luas itu dapat menduga, bahwa keduanya akan bertempur sambil menghindar. Karena itu, maka Ki Lurah itupun berteriak “
rkan mereka melarikan diri dari medan.” Para prajurit itu semakin merapatkan kepungan mereka. Sambil
ala kemungkinan bagi Kangjeng Adipati serta Ki Tumenggung Reksabawa untuk menyingkir.
“ Tidak ada jalan keluar dari kepungan “ terdengar suara Ki Lurah Kertadangsa yang agak parau. Baik Kangjeng Adipati maupun Ki Tumenggung Reksabawa tidak menjawab. Tetapi mereka memang merasa benar-benar terjerat dalam se
Satu-satunya jalan untuk keluar dari kepungan adalah berusaha bersama-sama mengoyak kepungan itu. “ Menyera
ngjeng Adipati dan Ki Tumenggung ke dalem kadipaten. Tetapi karena Kangjeng Adipati dan Ki Tumenggung sudah membunuh beberapa orang prajurit yang se
ipati dan Ki Tumenggung akan kami ikat nnya di belakang. Kemudian akan kami
mpar-di leher untuk menuntun
Ka
dahkan nama Kangjeng Adipati. Kaulah
ya
berdua akan terikat dan akan ka
seekor binatang. “
“ Kau akan menyesali kesom
Lurah Kertadangsa tertawa berkep n.
“ Cepat anak-anak. Tangkap mere
memasang kendali dan me
kadipaten. Kita bangunkan pengh
di pinggir jalan untuk melihat Kang
Ki Tumenggung yang terpercaya d
seekor kerbau yang akan di bawa

Namun tiba-tiba saja terde ra di
ke ngjeng Adipati dan Ki
Tu
be
itu, tanpa bersepakat
leb
kalungkan ta
ngjeng Adipati dan Ki Tumenggung, agar tidak membahayakan para prajurit. “
“ Setan kau Kertadangsa “ geram Ki Tumenggung “ Kau telah menghinakan kami. Kau telah meren
ng akan dihukum mati. Kau akan digantung di alun-alun. “ “ Siapakah yang akan menggantung aku ? Kalian mi dera seperti bonganmu. “ Ki anjanga
ka. Kita akan nggiringnya ke uni yang tinggal jeng Adipati dan i kendarai seperti ke tukang jagal. ngar sua
gelapan “ Bertahanlah Ka
menggung Reksabawa. Kami. akan segerargabung. “
Suara itu telah mengejutkan mereka yang sedang bertempur. Karena
ih dahulu, pertempuran itu seakan-akan telah berhenti sesaat.
Lurah
Ke
da Kangjeng Adipati. “
dengan tangkasnya. Mereka
me

“ Siapakah kau ? “ bertanya Ki
rtadangsa. “ Siapapun kami, maka kami akan berpihak kepa
“ Persetan. Keluarlah jika kau memang seorang laki-laki. “
Tiba-tiba saja dari dalam kegelapan berloncatan dua bayangan
lenting dan kemudian berputar diudara. Dengan lunak kaki-kaki merekapun kemudian berjejak di tanah.
“ Mudah-mudahan kami tidak terlambat, ayah “ berkata Ragajati yang berdiri beberapa langkah dari ayahnya.
“ Ragajati. Kaukah itu ? “ “ Ya ayah. Aku dalang bersama Ragajaya.
“ Ini aku ayah “ desis Ragajaya yang berdiri di belakang Kangjeng Adipati.
“ Siapakah mereka, kakang Tumenggung “ bertanya Kangjeng Adipati.
ada di padepokan untuk
be
, jangan perintahkan kami
pe
tempat ini sangat berbahaya bagi kalian
“ s
“ Keduanya adalah anakku, Kangjeng. “ “ Jika demikian, kenapa merera tidak kau perintahkan untuk pergi dari tempat yang gawat ini ? “ “ Hamba datang untuk membantu Kangjeng Adipati serta ayah. “ “ Tempat ini sangat berbahaya, kakang Tumenggung. “
Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak. Ia memang menjadi ragu-ragu. Kedua anaknya masih belum berpengalaman menghadapi keadaan yang sangat keras seperti yang sedang terjadi.Namun keduanya telah ber
rguru kepada seorang yang memiliki kelebihan. Dalam pada itu, maka Ragajatipun berkata “Ayah. Kami datang atas permintaan ibu untuk menyusul Kangjeng Adipati dan ayah. Sekarang, kami berhasil menemukan Kangjeng Adipati dan ayah disini. Karena itu
rgi. Kami akan berusaha sejauh dapat kami lakukan untuk membantu Kangjeng Adipati dan ayah.” “ Tetapi
ahut Kangjeng Adipati. “ Hamba mengerti Kangjeng. Tetapi kami sudah bertekad untuk melibatkan diri.”
“ Persetan dengan anakmu Ki Tumenggung “ tiba-tiba saja Ki Lurah Kertadangsa berteriak “ ia
ma”sama disini.
Be
tnya menderita. Bahkan
mu
g berpengalaman, maka
de
ak pula.
sudah ada disini. Ia tidak akan dapat pergi. Memang nasibmu sangat buruk, Ki Tumenggung. Kau dan anakmu akan mati bersa
sok atau lusa isterimu pun akan mati. Meskipun Ki Tumenggung Jayataruna dan Raden Ayu Reksayuda tidak akan mengambil tindakan apa-apa terhadap isterimu, tetapi kema-tianmu dan kedua anakmu akan membua
ngkin ia akan membunuh diri.” Namun yang mengejutkan telah terjadi. Sebelum mulut Ki Lurah Kertadangsa terkatub rapat, maka Ragajaya telah menarik pedangnya. Sambil meloncat dijulurkannya pedangnya ke arah jantung Kertadangsa. Ki Lurah Kertadangsapun terkejut pula. Namun sebagai seorang yan
ngan gerak naluriah, ia masih sempat mengelakkan diri. Bahkan dengan cepat Ki Lurah Kertadangsa mengayunkan senjatanya untuk membalas menyerang. Ragajaya meloncah mengambil jarak. Namun ketika ia siap untuk menyerang Ki Lurah, maka ayahnyapun berkata ” Biarlah aku hadapi Lurah edan ini.” Ragajaya mengurungkan serangannya. Tetapi iapun segera menghadapi para prajurit yang dengan serta-merta bergei
Pertempuranpun telah menyala kembali. Tetapi Kangjeng Adipati dan Ki Tumenggung Reksabawa
tid
Ada di antara mereka yang masih
me
memiliki ilmu yang
tin
Namun kadang-kadang Ragajati dan
Ra
bingung.
ak hanya berdua. Mereka bertempur berempat bersama kedua anak muda yaiig telah ditempa disebuah perguruan yang mapan. Sementara itu, beberapa orang prajurit sudah terbaring diam.
ngerang kesakitan. Tetapi prajurit itu sudah tidak dapat bangkit lagi. Sebenarnyalah bahwa kehadiran Ragajati dan Ragajaya telah merubah keseimbangan pertempuran. Kangjeng Adipati dan Ki Tumenggung Reksabawa yang
ggi, sedangkan Ragajati dan Ragajaya yang telah mendapat bekal yang lengkap dari sebuah perguruan yang mapan, telah mampu mengimbangi lawan-lawan mereka yang jumlahnya masih lebih banyak itu. Dalam pertempuran selanjutnya, ternyata Ragajati dan Ragajaya bertempur berpasangan. Mereka berdiri sebelah menyebelah dari arah yang berbeda.
gajaya itu bergerak dengan cepat dalam satu putaran, sehingga kedua-duanya seolah-olah telah menjadi sesosok tubuh dengan ampat tangan dan ampat kaki serta dua wajah yang menghadap kearah yang berbeda. Sehingga dengan demikian, maka beberapa orang yang bertempur melawan mereka menjadi
Namun tiba-tiba dua orang diantara para prajurit itu terlempar keluar arena dengan darah yang mengucur dari lukanya.
ga kepunganpun
me
ragu-ragu.
lurah prajurit yang terpercaya. Ia
ing
Reksabawa, kepercayaan Kangjeng
Ad
enjadi semakin terdesak. Jika
sem
elah Ki Tumenggung
itu
Dalam pada itu, Kangjeng Adipatipun bertempur seperti banteng yang terluka. Beberapa orang prajurit yang mengepungnya, kadang-kadang harus berloncatan surut sehing
njadi pecah. Tetapi semakin lama lawannya menjadi semakin sedikit. Bahkan Ragajaya dan Ragapatipun sudah hampir kehabisan lawan pula. Sehingga ketika Ragajaya dan Ragapati kemudian bergabung dengan Kangjeng Adipati, maka para prajurit yang tersisapun menjadi
Yang masih bertempur dengan sengitnya adalah Ki Tumenggung Reksabawa melawan Ki Lurah Kertadangsa. Ki Lurah ingin menunjukkan bahwa ia memang seorang
in menunjukkan, bahwa meskipun ia bukan seorang Tumenggung, tetapi ia akan dapat mengalahkan dan bahkan membunuh Ki Tumenggung
ipati. Tetapi ternyata Ki Lurah Kertadangsa tidak dapat mengingkari kenyataan. Semakin lama Ki Lurah itupun m
ula ia selalu meneriakkan kemenangan yang sudah didepan hidungnya set
terluka, maka kenyataan yang dihadapinya sudah berbeda. Ki Tumenggung tidak menjadi semakin lemah karena darahnya telah mengalir. Tetapi Ki Tumenggung seakan-akan justru menjadi semakin
dapat bertempur bersama beberapa
ora
rang yang
su
ta
ke
kan
me
adipaten
Se
nggung. Sekarang
saa
kau miliki, ternyata kau masih
be
masih terl
tegar. Bahkan Ki Lurahpun mulai tersentuh oleh ujung tombak Ki Tumenggung. Beberapa gores luka telah menganga ditubuhnya. Darahpun telah mengalir pula dari luka-lukanya. Ki Lurah Kertadangsa itupun menggeram. Jika semula ia
ng prajuritnya, maka semakin lama prajuritnyapun menjadi semakin menyusut, sehingga akhirnya, tinggal beberapa o
dah terluka yang masih mencoba untuk bertahan. Bahkan akhirnya, tidak seorangpun lagi yang masih bertempur melawan Kangjeng Adipati ser
dua orang anak laki-laki Ki Tumenggung Reksabawa itu.
Yang tinggal hanyalah Ki Lurah Kertadangsa yang bertempur melawan Ki Tumenggung Reksabawa.
“ Ki Lurah. Dalam keadaan seperti ini, kau a
lihat kebenaran tataran kepangkatan serta jabatan yang telah ditetapkan di K
ndang Arum. “ “ Aku tidak peduli, Ki Tume
tnya aku membunuhmu. “ Tetapi Ki Tumenggung berkata selanjutnya “Meskipun kau kerahkan semua ilmu dan aji kesaktian yang
lum pantas untuk dinaikkan pangkatmu. Kau alu canggung bertempur di arena
pa. Jika sekarang kau
be
ang
ter
membunuh mereka yang menjadi
pe
enggung tidak menjawab. Namun
ser
h Ki Lurah Kertadangsa. Kau tidak
me
pertempuran yang sebenarnya. Apalagi secara pribadi kau bukan apa-a
rhadapan dengan seorang Tumenggung, maka kau baru menyadari, bahwa kau masih terlampau kecil untuk mendambakan kenaikan pangkat dan jabatan. “ “ Persetan Ki Tumenggung. Aku akan-membunuhmu. Aku akan membunuh Kangjeng Adipati dan kedua orang anakmu itu. “ “ Prajurit-prajuritmu sudah habis. Ada y
bunuh. Ada yang terluka parah sehingga tidak dapat bangkit lagi. Ada yang terluka hanya ringan saja, tetapi sudah berputus-asa dan menyerah. “ “ Aku akan
ngecut. “ Bagaimana kau dapat membunuh mereka jika kau sendiri akan mati. “ “ Jangan hanya membual Ki Tumenggung. “ Ki Tum
angan-serangannya datang membadai. “ Menyerahla
mpunyai kesempatan lagi. “ Ki Lurah Kertadangsa tidak menjawab. Tetapi iapun meloncat dengan garangnya. Senjatanyapun terayun mendatar menebas kearah leher Ki Tumenggung.
Namun Ki Tumenggung sempat merendah.
De
aranyapun
me
k terdengar
lag
dak mengalir lagi di lubang hidungnya.
jeng. Agaknya pekerjaan kita disini
su
kewajiban kami, Kangjeng “
sah
ngan tangkasnya Ki Tumenggung menjulurkan tombaknya ke arah dada. Terdengar Ki Lurah Kertadangsa itu berteriak memaki dengan kasarnya. Namun su
njadi semakin lemah, sehingga akhirnya, suaranya yang menjadi parau itu tida
i. Ketika Ki Tumenggung Reksabawa menarik tombaknya, maka Ki Lurah Kertadangsa itupun segera terjatuh dan terbaring di tanah. Nafasnya sudah ti
Ki Tumenggungpun berdiri termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Ki Tumenggung itu berkata “ Kang
dah selesai.”
Kangjeng Adipati menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya kedua orang anak laki-laki Ki Tumenggung Reksabawa itu berganti-ganti. Dengan nada dalam Kangjeng Adipatipun berkata ” Aku mengucapkan terima kasih kepada kalian berdua. “ “ Sudah menjadi
ut Ragajati.
“ Ayahmu memang memikul kewajiban sekarang ini. Tetapi sebenarnya kalian masih belum waktunya. Meskipun demikian, kalian telah menunjukkan pengabdian kalian. Yang terpenting bukan kepadaku, tetapi kepada Sendang Arum. “ “ Kami berdua ingin membantu ayah kami dalam tugas-tugasnya, Kangjeng. “
ya
ke
lkan tempat ini
seb
ng.
embuat landasan perjuangan untuk
menegakk
g tegaknya kedudukan
Ka
kang Tumenggung. “
arah “ Terserah kepadamu. Rawatlah
ka
“ Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih “ Kangjeng Adipati itu terdiam sejenak. Lalu katan
pada Ki Tumenggung Reksabawa “ Apa yang harus kita lakukan sekarang kakang ? “ “ Kita harus segera meningga
elum yang lain datang, Kangjeng..” “ Bagaimana dengan mereka yang terbunuh ? Apakah kita akan meninggalkan mereka begitu saja. “ “ Biarlah yang masih hidup mengurus kawan-kawannya yang sudah mati “jawab Ki Tumenggu
“ Kita akan kemana ? “ “ Kita akan pergi ke Kademangan Karangwaru. Kita akan m
an tatanan dan paugeran di Sendang Arum dari Karangwaru. Menurut pendapatku, Demang Karangwaru serta rakyat disek-itarya masih akan mendukun
ngjeng Adipati. “ “ Baiklah, ka
Ki Tumenggung Reksabawa itupun kemudian berkata kepada seorang prajurit yang terluka tetapi tidak terlalu p
wan-kawanmu yang masih hidup dan yang sudah mati. Kami akan melanjutkan perjalanan ke Kademangan Karangwaru atau ke Kadipaten Majawarna, yang tentu akan mendukung
nyeringai menahan pedih
luk
i
dii awa serta
ke
an hutan yang memanjang
ke
Namun setelah mereka mendekati
padukuhan di-hadapan mereka,
Keksabawapun berkata “ Kita aka
Kangjeng.” ‘
“ Bukankah jalan ini menuju
Karangwaru ? Bahkan jika kita
Kadipaten Majawarna ?”
“ Kita tidak akan pergi ke Kara
Majawarna.”
“ Tetapi tadi kakang Tumenggu
bahwa kita akan pergi ke Kara
Majawarna.”
perjuangan kami merebut kembali Kadipaten Sendang Arum dari tangan para pemberontak. “ Prajurit itu tidak menjawab. Sekali-sekali mulutnya masih me
anya yang basah oleh keringat. Sejenak kemudian, maka Kangjeng Adipat
ringi oleh. Ki Tumenggung Reksab
dua orang anak laki-lakinya telah meninggalkan tempat itu. Mereka mengikuti jalan panjang yang akan melewati padang perdu yang men-gantarai bulak persawahan deng
Barat.
sebuah Ki Tumenggung n berbelok disini ke kademangan akan pergi ke ngwaru atau ke ng mengatakan, ngwaru atau ke
“ Para prajurit yang masih bertahan hidup itu akan melaporkan tujuan kita. Mereka tentu akan menyusul kita ke Karangwaru. Jika para prajurit yang menyusul kita ke Karangwaru itu tidak
me
benarnya.”
mereka telah
yang lebat.
mentara itu
langitpun
menjadi
yang semburat
mewarnai
nemukan kita, maka mereka tentu mengira kita sudah berada di kadipaten Majawarna. Untuk memasuki kadipaten yang besar dan kuat seperti kadipaten Majawarna, Ki Tumenggung Jayataruna dan Raden Ayu Reksabawa tentu akan berpikir dua tiga kali lagi.”
“ Lalu sekarang kita pergi kemana ?” “ Ke hutan itu. Kita akan berhenti mengobati luka-luka kita sambil memikirkan arah perjalanan kita yang se
Kangjeng Adipati mengangguk-angguk. Beberapa saat kemudian
berada di hutan
Se
semakin terang. Cahaya fajar
merah sudah naik dan
langit. Di pinggir hutan yang lebat itu mereka berhenti. Ki Tumenggung mempunyai serbuk obat didalam sebuah bumbung kecil yang dibawanya kemana-
dian, Ki Tumenggung-pun telah
me
a sempat memikirkan, kita akan pergi
ke
ku telah membunuh bekas menantunya itu
?”
mana.
Ragajati dan Ragajayapun kemudian mengobati luka di tubuh Kangjeng Adipati dan di tubuh ayahnya dengan serbuk yang dibawa ayahnya itu. Bahkan kemu
ngobati goresan-goresan senjata di tubuh kedua anaknya yang ternyata juga sudah terluka, meskipun tidak banyak mempengaruhinya.
Setelah beristirahat sejenak, maka Ki Tumenggung itupun kemudian berkata “ Nah, sekarang kit
mana ?” “ Ada dua arah yang dapat kita tuju, Kangjeng. Ke padepokan tempat kedua orang anakku ini berguru. Atau pergi ke lereng gunung, ke tempat tinggal Ki Ajar Anggara.” “ Ki Ajar Anggara bekas mertua Kakang Tumenggung Reksayuda ?” “ Ya, Kangjeng.”
“ Kenapa ke sana ?” “ Ki Ajar Anggara mempunyai wawasan yang sangat luas.” “ Tetapi jika Ki Ajar Anggara juga menganggap bahwa a
“ Mudah-mudahan tidak, Kangjeng. Ki Ajar Anggara adalah seorang yang bijaksana.
a-gesa mengambil sikap.”
gangguk-angguk. Namun
iap gi “ Bagaimana dengan cucunya,
an kangmas Tumenggung Wreda
Re
ya
ke
okan Ki Ajar
An
egera melanjutkan
pe jauh.
Seme saha
me
a-noda
da n kain panjang
mereka, sehingga dengan demikian maka mereka
tid t mengambil jalan yang ramai.
Ad
luka,
ya
Mempunyai pandangan yang luas dan ketajaman penalaran. Menurut pendapatku. Ki Ajar tidak akan dengan terges
Kangjeng Adipati men
un bertanya laak laki-laki
ksayuda ?” “ Ki Ajar Anggara akan menjelaskann
padanya.” Kangjeng Adipati itupun mengangguk-angguk. Katanya
“ Baiklah. Kita akan pergi ke padep
ggara.” Demikianlah, setelah beristirahat beberapa saat, maka mereka berempatpun s
rjalanan. Perjalanan mereka masih ntara itu, mereka harus beru
nyamarkan dirinya. Sementara itu pakaian mereka terkoyak di mana-mana. Nod
rahpun telah melekat di baju da
ak dapa
Ki Tumenggungpun telah membawa Kangjeng
ipati serta kedua anaknya menempuh jalan pintas. Mereka menelusuri jalan-jalan setapak. Kemudian merayap di lereng-lereng pebukitan. Menuruni tebing-tebing yang tinggi dan berbatu padas. Dalam pada itu, maka para prajurit yang ter
ng ditinggal oleh Kangjeng Adipati dan Ki
ka seorang petani lewat, maka
seo
ni itu termangu-mangu sejenak. Memang
ad
ggilkan Ki Bekel di padukuhanmu.
Ata
a pemberontak terlalu banyak, sehingga
kami mengalami kesulitan. Pimpinan kami. Ki Lurah
Tumenggung Reksabawa berusaha mencari bantuan. Keti
rang prajurit yang telah terluka segera memanggilnya “ Jangan takut. Aku minta bantuanmu.” “ Ada apa Ki Sanak ?”
“ Kemarilah.” Peta
a rasa takut dan was-was terhadap orang itu. “ Kau tinggal dimana ?” bertanya prajurit yang terluka tidak terlalu parah itu. “ Di padukuhan sebelah, Ki Sanak “ Tolong, pan
s nama Ki Lurah Kertadangsa. Pemimpin pasukan khusus sekarang ini.”
“ Kalian siapa ?” bertanya seorang petani. “ Kami adalah prajurit dari Sendang Arum. Lihat pakaian kami dengan ciri-ciri keprajuritan.” “ Prajurit Sendang Arum.?” “ Ya.”
“ Lalu, apakah yang sebenarnya terjadi disini ?” “ Telah terjadi pemberontakan di Sendang Arum. Kami. sedang memburu pemimpin pemberontak itu. Kami bertempur disini. Tetapi jumlah par
Ke
Ki Jagabaya padukuhan itupun
segera
ipaten. “
a. Dengan
peda
rtadangsa telah gugur di pertempuran ini.“ Petani itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun telah pergi ke padukuhan dengan tergesa-gesa. Ki Bekel dan
pergi ke bulak untuk melihat apa yang telah terjadi. Ternyata di bulak terdapat beberapa orang yang terluka dan bahkan terbunuh. “ “ Apa yang harus kami lakukan? “ bertanya Ki Bekel. “ Perintahkan dua atau tiga orang berkuda pergi ke kadipaten. Beritahukan, bahwa sekelompok prajurit telah bertempur melawan para pemberontak. Tetapi jumlah para pemberontak terlalu banyak, sehingga para prajurit telah menjadi korban. “ “ Baik, Ki Sanak. Aku akan memerintahkan dua orang berkuda pergi ke kad
Sementara dua orang anak muda pergi ke kadipaten, maka orang-orang di padukuhan sebelah telah membantu mengumpulkan mereka yang terbunuh dan mereka yang terluk
ti yang ada di padukuhan itu, maka para korban telah dibawa ke banjar padukuhan terdekat.
“ Sayang, kami tidak tahu bahwa peristiwa ini telah terjadi. Jika saja aku tahu. maka seisi padukuhan ini akan keluar dengan “membawa senjata apa saja yang ada pada kami “ berkata
seo
a terjadi begitu cepat. Ketika kami
sed
ya banyak sekali. Akhir
da
keadaan
me Para brandal dari
ke akan segera bangkit
lag
endang Arum. Namun
tib
dukan Kangjeng
Ad
angkah yang diambil oleh
pa
a yang terluka di kumpulkan di
ba
g perdu yang
rang laki-laki yang janggutnya sudah mulai memutih. “ Peristiwany
ang lewat untuk memburu para pemberontak, tiba-tiba saja kami disergap oleh sekelompok pemberontak yang jumlahn
ri pertempuran itu adalah seperti yang kalian lihat sekarang. “ Ki Bekel, para bebahu dan orang-orang padukuhan itu percaya. Namun dengan demikian, maka mereka mulai gelisah, bahwa
njadi tidak aman lagi. lompok-kelompok penjahat
i dari kehidupan yang sulit karena tindakan tegas dari para prajurit S
a-tiba. saja mereka menyaksikan, sepasukan prajurit telah dibantai oleh sekelompok pemberontak. Para pemberontak itu dibelakang hari tentu tidak hanya memusatkan perhatian mereka untuk menggulingkan kedu
ipati. Tetapi para perampok itu tentu akan sangat merugikan rakyat. Sebelum ada langkah-l
ra pemimpin di Sendang Arum, maka Ki Bekelpun telah mengambil sikap untuk menguburkan korban yang telah gugur. Sedangkan merek
njar padukuhan. Dalam pada itu, di padan
me
runcing.
sa sakit sekali
sel
ul
kit
ipermalukan
dih
yapun berhenti. Gadis
ya dirinya. Di
pij punggung
tel
disebelahnya maka gadis itupun
me
mbentang di-antara beberapa bukit-bukit kecil berbatu-batu padas, dua orang berjalan di jalan setapak yang berbatu-batu
Seorang laki-laki muda menarik tangan seorang gadis sambil membentak “ Cepat. Kita harus pergi lebih jauh lagi” “ Aku letih sekali, kakang “ desis gadis yang berjalan tertatih-tatih. Kakinya tera
ain terasa sangat letih. .
“ Jika para pengikut Miranti sempat menyus
a, maka kita akan ditangkapnya, dan dibawa kembali ke kadipaten. Kita akan menjadi pangewan-ewan. Kita akan d
adapan orang banyak oleh Miranti. “
“ Tetapi aku letih sekali. “ “ Kita tidak boleh berhenti. Kita harus menyingkir semakin jauh. “ Namun akhirnya keduan
ng letih itu langsung menjatuhkanit-pijitnya kakinya serta diurutnya
apak kakinya yang terasa sakit. Ketika anak muda yang membawanya itu kemudian duduk
narik nafas panjang.
Tetapi sebelum ia berkata sesuatu, anak muda itu sudah geremang “ Kita tidak boleh berhenti terlalu lama. Kita harus segera beranjak dari tempat ini. “
ernyata telah
dis
menyelamatkanmu? Aku
me
anmu. Tetapi aku tidak mau
kau mati
membunuh ayahku. Maka
sekarang sampai pada gilirannya, aku
“ Ya, kakang. Aku mengerti. Tetapi aku ingin beristirahat sebentar saja disini. “ Anak muda itu tidak menyahut. Tetapi wajahnya nampak gelap. Dari sorot matanya, terpancar kegelisahan yang dalam.
“ Kakang “ berkata gadis itu “ aku ingin mengucapkan terima kasih, kakang telah menyelamatkan aku dengan membawa aku keluar dari taman kadipaten yang kemudian t
erang oleh para pemberontak. “ Laki-laki muda itu masih berdiam diri. “ Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih. “ “ Kau tidak usah mengucapkan terima kasih kepadaku “ berkata laki-laki muda itu. “ Bukankah kakang telah menyelamatkan aku? “ “ Siapa yang akan
mbawamu pergi dari kadipaten bukan karena aku ingin menyelamatk
karena tangan orang lain. Kau harus mati karena tanganku sendiri. “ “ Kakang. Apa artinya ini semua? “ “ Ayahandamu telah
membunuhmu. “
“ Kakang ” wajah gadis itu menjadi tegang. “ Jika aku berusaha membawamu keluar dari
ng tidak merelakan
ka
ngat
bu
k mungkin diobati lagi.”
khir.
Ke
.”
u?”
taman kadipaten, aku mema
u jatuh ketangan Miranti Aku tahu, Miranti sangat membencimu. Karena itu, jika kau jatuh ketangannya. maka nasibmu akan menjadi sa
ruk. Tetapi ditanganku nasibmu tidak akan menjadi lebih baik. Ayahmu dengan licik telah membunuh ayahku. Apapun caranya, tetapi yang terjadi itu telah membuat hatiku menjadi luka. Luka yang sangat dalam dan tida
“ Kakang ” gadis itu, Ririswari, menjadi sangat cemas. Ia melihat kesungguhan di wajah Jalawaja anak muda yang mengancamnya itu. “ Aku masih belum dapat menunjukkan bakti serta kesetiaanku kepada ayahku. Bahkan ketika kami berpisah sebelum ayah diasingkan, aku telah mengguncang hati ayah. Ternyata sakit hati ayah itu dibawanya sampai hari-harinya yang tera
tika ditawarkan kepadaku untuk ikut menjemput ayah dari pengasingan, aku tidak bersedia. Ternyata bahwa aku tidak pernah lagi bertemu dengan ayah
“ Kakang percaya bahwa ayahku yang telah membunuh ayahm
“ Ya. Selain panggraitaku serta perhitunganku yang panjang, disertai dengan bukti yang ada, maka ayahmu telah membunuh ayahku dengan cara yang sangat licik.” “ Kakang. Seandainya tuduhan kakang itu benar, bukankah bukan aku yang bersalah?”
etika kemudian Jalawaja menarik kerisnya
sam ta ” Pandanglah jagad ini sepuaspu
“ Kau memang tidak bersalah. Tetapi aku tidak dapat membalas membunuh ayahmu karena ayahmu dikelilingi oleh para pengawalnya. Karena itu, aku akan membunuhmu.” “ Kakang ” Ririswari bergeser surut. Tetapi Jalawajapun melangkah maju mendekatinya. “ Kita sekarang berada di tempat yang terbuka. Jauh dari pemukiman dan bahkan tempat ini jarang sekali didatangi orang. Karena itu, maka kau tidak akari dapat mengelak lagi. Tidak ada orang yang akan dapat menolongmu.” Wajah Ririswari menjadi semakin tegang. Apalagi k
bil berka
asmu untuk yang terakhir kalinya, Riris. Pandanglah langit serta awan putih yang mengalir ke utara. Sebentar lagi kau akan mati. Aku tidak mau orang lain membunuhmu. Tetapi aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri.”
Keringat dingin mengalir diseluruh tubuh Ririswari. Dipandanginya wajah Jalawaja dengan tajamnya. Sedangkan tubuh gadis itu menjadi gemetar.
“ Katakan pesanmu terakhir Riris. Atau pesanmu buat orang lain.” Ririswari bergeser setapak surut. Namun tiba-tiba saja, seakan-akan begitu saja tumbuh didalam dirinya, keberanian yang luar biasa. Tiba-tiba saja, Ririswari tidak lagi ketakutan melihat keris Jalawaja
. Bahkan Ririswari tidak merasa
cem mnya wajah Jalawaja
Bahkan kemudian Ririswari itupun justru bergeser
set
. Aku memang tidak dapat mengelak lagi.
Ak ri. Aku juga tidak akan
dapat da siapapun. Tetapi
sea
tolong kepada
sia matianku, kau akan
menda
ak
apkan terima
kasih kepadamu, bahwa baru sekarang kau akhiri
n melihat kilatan
kerismu saat kerismu menikam dadaku. Aku ingin
yang bergetar
as lagi melihat gera
apak maju. Dengan mata yang basah dan suara sendat tetapi mantap, Ririswaripun berkata ” Kakang. Jika itu yang kau kehendaki, lakukanlah kakang. Kalau kau ingin membunuhku sekarang. Bunuhlah
u tidak akan dapat la minta tolong kepa
ndainyaa itu dapat aku lakukan, aku memang tidak ingin lari. Aku tidak ingin minta
papun. jika dengan ke
pat kepuasan, maka lakukanlah. Bunuhlah u. Aku akan merasa gembira di saat-saat akhir hayatku karena kematianku masih mempunyai arti bagimu.
“ Cukup”. “ Kakang, aku masih akan menguc
hidupku. Tidak semalam di taman kadipaten, sehingga pagi ini aku masih sempat melihat matahari terbit.” “ Diam. Jangan banyak bicara lagi. Sekarang tundukkan kepalamu. Pejamkan matamu, aku akan menusuk dadamu.” “ Tidak perlu kakang. Aku tidak.perlu menundukkan wajahku. Aku tidak perlu memejamkan mataku, Aku ingi
me
ku menarik nafasku yang terakhir.
Ka
melakukannya,
lakukan
idak gemetar dan berjongkok
dihada
kerismu dan hunjamkan ke dadaku. Aku
akan ma
lihat titik-titik darahku yang memancar dari lukaku sebelum a
kang. Aku akan merelakan hidupku demi kepuasanmu.”
“Diam. Diam kau Riris.” “ Bukankah kakang minta aku memberikan pesanku yang terakhir? Nah, selamat tinggal kakang. Kakang dapat mengatakan kepada Rara Miranti, bahwa aku telah mati di tangan kakang sendiri.” “ Cukup. Cukup Riris.” “ Kakang. Jika kakang ingin
sekarang. Aku sudah siap.” “ Kau tidak takut. Riris?” “ Tidak kakang. Bukankah jalan ini adalah jalan terbaik bagiku.? Kakang telah memberikan arti bagi hidupku.” “ Riris. Kenapa kau tidak menjadi ketakutan? Kenapa kau t
panku untuk minta diampuni?” “ Kenapa aku harus takut menghadapi kematianku. jika kematianku itu membahagiakanmu ? Sudahlah.kakang. Jangan membuat pertimbangan-pertimbangan lagi. Ayunkan
ti. Tubuhku akan terkapar disini. Mungkin nanti atau besok, tubuhku akan inen jadi makanan burung-burung pemakan bangkai. Tetapi nyawaku
knya paman Adipati tahu. bahwa
aku telah
udian iapun
be berceritera
ke
lawajalah yang telah
me
k akan memberiku kepuasan
ter a itu maka aku akan membawamu
me Adipati. Aku akan membunuh di
ha
akan tersenyum bersamamu kakang. Aku akan ikut merasakan kebahagiaanmu.” “ Diam. Diam. Kau jangan berbicara lagi. Riris “ teriak Jalawaja. Riris terdiam. Tetapi ia masih saja menengadahkan dadanya.
“ Tidak. Tidak “ berkata Jalawaja kemudian “aku tidak akan membunuhmu sekarang. Kematianmu sia-sia. Yang akan aku sakiti hatinya adalah paman Adipati yang telah membunuh ayahku. Karena itu. aku akan membunuhmu dihadapan paman Adipati. Atau setidak-tida
membunuhmu. Jika aku bunuh kau sekarang, maka berita kematianmu itu tidak akan sampai ke telinga paman Adipati.”
Ririswari mengerutkan dahinya. Kemrkata “ Bukankah kakang dapat
pada ayah. bahwa aku sudah mati ? Bahkan tubuhku atau sisa-sisa tubuhku dan pakaianku akan dapat diketemukan disini ? Ayah akan tahu. bahwa aku sudah mati. Kakang dapat mengatakan kepada ayah, bahwa kakang Ja
mbunuhku.” “ Tetapi itu tida
tinggi. Karenncari paman
dapan paman Adipati. Aku kira itu adalah cara terbaik untuk mendapatkan kepuasan tertinggi bagiku.”
Adipati di Sendang Arum dengan
cara yang sangat licik. Ayah tentu dapat
menghu peristiwa itu. Dendam yang
me
ya terdengar bergelombang,
su
enjauh dan membelakanginya,
ma
.”
membunuhku
dih
“ Tetapi itu tidak perlu kakang. Tentu pada suatu saat ayah tahu, bahwa aku sudah mati dibunuh oleh kakang Jalawaja, putera Raden Tumenggung Wreda Reksayuda yang telah dibunuh oleh Kangjeng
bungkan kedua
nyala di hati kakang Jalawaja, putera Raden Tumenggung Wreda Reksayuda itu.” “ Tidak. Tidak. Aku tidak akan membunuhmu sekarang. Tidak “ Jalawaja berteriak-teriak sekeras-kerasnya. Suaranya menggetarkan udara dan membentur dinding-dinding hutan dan pegunungan. Geman
sul menyusul. Ririswari termangu-mangu sejenak. Ketika Jalawaja bergeser m
ka Ririswari justru mendekatinya. “ Kakang. Kakang tidak apa-apa ?”
“ Aku tidak dapat membunuhmu sekarang Riris. Tetapi aku akan membawamu kepada ayahmu. Aku akan membunuhmu dihadapan paman Adipati untuk meyakinkan apakah paman merasa terpukul oleh kematianmu atau tidak
“ Jangan kakang. Kau jangan
adapan ayahku.”
“ Kenapa ?” “ Mungkin kau tidak mempunyai kesempatan
ukannya. Tetapi akibat lain akan dapat
ter
ang-orang
Pa
pe
ak dapat membantah lagi.
untuk melak
jadi. Ayah akan marah dan ayah akan bertindak terhadap kakang Jalawaja. Meskipun kakang Jalawaja dapat menjaring angin, tetapi kakang tidak akan dapat menghadapi ayahanda. Baik ayahanda seorang diri, apalagi dengan para pengawalnya.”
“ Aku tidak peduli.” “ Kakang dapat membunuhku dengan cara yang lebih aman. Sekarang. Kemudian kakang pergi ke padukuhan. mem-beritahu or
dukuhan. Pesan kepada mereka agar kematianku dapat didengar oleh Kangjeng Adipati, jika Kangjeng Adipati belum mati dibunuh oleh para
mberontak.” “ Tidak. Biarlah aku berbuat menurut kemauanku sendiri. Kau jangan berbicara apa-apa lagi Riris.”
Teriakan Jalawaja itu menggetarkan jantung Riris. sehingga Ririswaripun berdiam diri. Namun tiba-tiba saja Jalawaja itu meloncat menyambar pergelangan tangan Ririswari sambil berkata “ Kita harus berjalan lagi. Kita harus mengindari para pengikut Miranti dan paman Tumenggung Jayataruna.”
“ Tetapi aku masih lelah, kakang.” “ Aku tidak peduli. Kita harus berjalan lagi.” Ririswari tid
Jal
at dilakukan adalah mencoba berjalan
me
erlari-lari
ke
yu
Re
sudah lewat.
Raden A g Jayataruna.
Adipati dan Ki
Tu
awajapun menariknya agar Ririswari berjalan diatas lorong sempit berbatu-batu padas, menjauhi kadipaten. Ririswari tidak tahu. ia akan dibawa kemana. Yang dap
ngikuti irama langkah Jalawaja. Karena itu. maka Ririswari itu kadang-kadang harus b
cil. Dalam pada itu. di kadipaten Sendang Arum. kesibukan masih nampak disana-sini. Namun Ki Tumenggung Jayataruna dan Raden A
ksayuda sudah sempat duduk di ruang tengah dalem kadipaten yang telah direbutnya..
“ Agaknya tugas terberat kita yu “ berkata Ki Tumenggun
“ Belum kakang. Kangjeng Adipati dan Ki Tumenggung Reksabawa belum tertangkap hidup atau mati. Ririswari dan bahkan juga Jalawaja belum dibawa menghadap kepadaku.”
“ Itu bukan tugas yang berat, Raden Ayu. Aku sudah memerintahkan kepada para prajurit untuk tetap memburu Kangjeng Adipati dan Ki Tumenggung Reksabawa. Para prajurit juga sudah melacak ke kademangan Karangwaru. Tetapi Kangjeng Adipati tidak ada disana. Mungkin Kangjeng Adipati telah pergi ke kadipaten Majawarna. Atau pergi ke tempat yang lain. “
“ Untuk menangkap Kangjeng
menggung Reksabawa bukannya tugas yang
inggalkan padepokan. “
mpak berada di padepokan itu. “
Majawarna, maka akan dapat timbul
persoal edia
me akan
be
ak akan mau berkorban
ter
kan sejumlah
pra
ringan kakang. Juga untuk menemukan Ririswari dan Jalawaja. “ “ Aku sudah mengirimkan sekelompok prajurit ke padepokan Ki Ajar Anggara. Sebelumnya, Jalawaja selalu berada di padepokan itu. Tetapi ternyata Jalawaja sudah tidak berada di padepokan itu lagi. “ “ Sudah tidak tinggal di padepokan itu, atau sedang pergi men
“ Para prajurit tidak menemukan Jalawaja di padepokan. Sementara itu Ki Ajar Anggara juga mencarinya. Jalawaja pergi tanpa pamit. Tiba-tiba saja ia tidak na
“ Semuanya itu adalah tugas yang berat yang masih tersisa. “ “ Raden Ayu jangan cemas. “ “ Tetapi jika Kangjeng Adjpati berada di kadipaten
an kakang. Jika Majawarna bersmbantu Kangjeng Adipati, maka kita
rhadapan dengan kadipaten yang kuat itu. “ “ Tidak. Majawarna tid
lalu banyak bagi Kangjeng .Adipati yang sudah tidak berpengharapan lagi. Tidak ada keuntungan apa-apa bagi kadipaten Majawarna untuk membantu Kangjeng Adipati. Sementara itu. Majawarna harus mengorban
juritnya untuk kepentingan yang sia-sia. “
me
ipati untuk melepaskan hutan Rawa Amba untuk
di
k dapat
me

terluka itu
me pergi ke
Kademan paten
Ma
u tentu diucapkan sebagaimana
ora tentu akan
me
dengan
demikian m
“ Bukankah tinggal tugas-tugas kecil ? “
erta para
De
untuk bangkit, maka ia akan terhimpit oleh
“ Kakang Jayataruna yakin ? “ “ Aku yakin. Kecuali jika kedudukan Kangjeng Adipati masih kokoh. Mungkin ada pertimbangan khusus di Majawarna sehingga Majawarna akan
mbantunya. Mungkin’ada kesediaan Kangjeng Ad
masukkan ke tlatah Majawarna. Atau daerah pebukitan yang berhutan lebat di sekitar danau Ketawang. Tetapi sekarang Majawarna tida
ngharapkan apa-apa lagi dari Kangjeng Adipati, sehingga Majawarna tentu tidak akan membantunya.
“ Tetapi bukankah prajurit yang
ngatakan bahwa mereka akan gan Karangwaru atau ke. Kadi
jawarna. “ “ Kata-kata it
ng mengigau. Tetapi mereka
mikirkannya lagi ser hingga mereka akan mengambil arah yang lain. Namun
aka tugas kita masih belum selesai, kakang.”
“ Jika Kangjeng Adipati bangkit dan berhasil mempengaruhi rakyat ? “ “ Semua Senapati di Sendang Arum s
mang sudah menyatakan setia kepadaku. Seandainya Kangjeng Adipati akan mencoba-coba
ungkin saja sikap rakyat Sendang
Aru
awah akan berpihak kepada Kangjeng Adipati
jik ali.“
Kakang. Apakah yang sebenarnya kakang
ke
angsung menikmati
ha
kekuatan yang sudah tergalang. “ “ Tetapi m
m berbeda dengan sikap para pemimpinnya. Bahkan mungkin sikap para prajurit di tataran terb
a Kangjeng Adipati itu tiba-tiba muncul kemb
“ Tidak ada kekuatan yang akan mendukungnya. “ “ Baiklah, kakang. Kita masih akan menyelesaikan tugas kita sampai tuntas. “
“ Raden Ayu., Bukankah aku tidak perlu menunggu sampai masalah-masalah kecil harus diselesaikan. “ “ Ini bukan masalah kecil, kakang. “ “ Jangan mengada-ada, Raden Ayu. “ “
hendaki ? “ “ Aku menagih janji, Raden Ayu. “
Raden Ayu tertawa. Katanya “ Apakah kakang belum pernah menagih janji selama ini ? “ “ Maksudku, hubungan kita akan menjadi terbuka, Raden Ayu. “ “ Kita masih harus berjuang lebih lama lagi kakang. Apa kata para prajurit dan para Demang yang mendukung kita, jika kita l
sil perjuangan yang belum selesai ini.“
g menjadi sabar.
Bia
u sekarang sebagai seorang
Tu
ya untuk
kit
“ Mereka akan dapat mengerti, Raden Ayu. Justru setelah kita disatukan oleh ikatan jiwani itu, maka perjuangan kita akan menjadi semakin meningkat. “ “ Kita masih harus menjaga nama baik kita, kakang. Lagi pula, apa kata anak dan isteri kakang ? “
“ Itu soal mudah. Aku akan mengatasinya.” “ Tetapi aku minta kakan
rlah hubungan di antara kita berlangsung seperti ini saja untuk sementara. Lain kali, setelah segala sesuatunya selesai, kita akan membicarakannya. “ “ Raden Ayu. Aku minta Raden Ayu jangan memandang ak
menggung yang derajad dan pangkatnya berada dibawah derajad dan pangkat seorang Tumenggung Wreda. Tetapi aku sekarang memegang pimpinan di kadipaten Sendang Arum ini. “
“ Aku tahu, kakang. Tetapi kakang harus sabar menunggu segala-galanya selesai sampat tuntas. Baru kita sempat memikirkan kita sendiri. “
Ki Tumenggung Jayataruna tidak sempat menjawab. Raden Ayu itupun kemudian telah bangkit berdiri sambil berkata” Maaf kakang. Renungkan. Jangan sakiti hati para prajurit dan para Demang. Perjuangan ini bukan han
a berdua. Tciapi uniuk menegakkan kebenaran dan keadilan di Kadipaten ini. “
.
Dip
n iapun kemudian mendengar suara
ter
diri
sen
bahwa Ki Tumenggung
Jay
ya kita hanya akan
be
sa bahwa sebelum burung itu
ter g
de
Ki Tumenggung Jayataruna menjadi termangu-mangu. Tetapi ia tidak berkala apa-apa lagi
andanginya saja Raden Ayu yang meninggalkan ruangan ilu sambil berkala “ maaf kakang. Bukankah kita mempunyai banyak kesempatan? Karena itu, jangan lergesa-gesa mengikat diri selagi kita masih dapat berbuat dalam kebebasan kita masing-masing. “ Ki Tumenggung Jayataruna masih tetap berdiam diri. Namu
tawa Raden Ayu Reksayuda: Namun Ki Tumenggung Jayataruna yang sempal merenung beberapa saat itupun kemudian mengangguk-angguk sambil berkata kepada
diri “ Raden Ayu benar. Kenapa aku harus tergesa-gesa? “ Namun sebenarnyalah
ataruna tidak mau terlambat. Jika ada orang lain yang datang dan langsung menarik perhatian Raden Ayu itu lebih dari dirinya?
“ Tentu tidak ada “ berkata Ki Tumenggung kepada diri sendiri “ agakn
rhubungan dengan beberapa orang yang sudah kami kenal dengan baik. “ Meskipun demikian, Ki Tumenggung Jayataruna masih tetap mera
ikat sayapnya, ia masih saja dapat terban
ngan bebasnya. Balikan tiba-tiba saja. Meskipun demikian Ki Tumenggung Jayataruna
ntuk bekerja lebih keras
lag
yang harus diserahkan hidup atau mati, Ki
Tu una juga memerintahkan
untuk menangkap hidup-hidup Ririswari dan
Jal
mah Ki
Aja
tergopoh-gopoh Ki Ajaar Anggara
me rang tamunya duduk di
ser
i
seb u bukan
seb dak lebih dari
sebuah
“ Tidak, Kangjeng. Tidak ada seorang cantrikpun
juga tidak dapat memaksa Raden Ayu Reksayuda. Jika terjadi persoalan diantara mereka, maka rencana besar mereka akan dapat menjadi kacau. Namun sikap Raden Ayu itu telah memaksa Ki Tumenggung Jayataruna u
i. Mereka harus segera menemukan Kangjeng Adipati serta ki Tumenggung Reksabawa. Selain mereka
menggung Jayatar
awaja. Dalam pada itu, Kangjeng Adipati dan Ki Tumenggung Reksabawa telah sampai ke ru
r Anggara. Kedatangan keduanya disertai dua orang anak muda sempat mengejutkan Ki Ajar. Dengan
mpersilahkan keempat o
ambi depan rumahnya. “ Selamat dalang Kangjeng, serta Ki Tumenggung dan kedua orang anak muda. “ “ Selamat Ki Ajar. Bagaimana keadaan Ki Ajar di padepokan ini. “
“ Aku baik-baik saja, Kangjeng. Tetap
enarnyalah bahwa tempat tinggalk
uah padepokan. Rumah ini ti gubug. “
“ Tetapi bukankah disini tinggal para cantrik?”
ya
jauh dari
tem
atau tinggal di tempat
lain
rsenyum. Katanya “ Rumah ini baru
saj
cucuku,
Jal mereka
me
a untuk menangkap dan
me
ng tinggal disini. Tetapi sebagian anak-anak muda di padukuhan sebelah, yang tidak
pat tinggalku ini menganggap aku sebagai guru mereka. Bahkan sebagian dari mereka mer manggil aku guru. Padahal tidak ada ilmu yang dapat aku berikan kepada mereka. “
“ Bukankah sama saja, Ki Ajar. Apakah murid-murid Ki Ajar tinggal liisini
. “ Ki Ajar ilu tertawa. Namun dalam pada itu, Ki Tumenggung Reksabawapun bertanya “ Ki Ajar. Aku melihat jejak kaki kuda banyak sekali di halaman. “ Ki Ajar itu te
a di porak-porandakan oleh beberapa orang prajurit? “~ “ Rumah ini? Kenapa? “
” Mereka datang untuk mencari awaja. Mereka mengatakan bahwa
ndapat perinlah dari Raden Ayu Reksayuda serta Ki Tumenggung Jayatarun
mbawa Jalawaja ke kadipaten.“ “ Kenapa mereka akan menangkap Jalawaja? “ “ Persoalan pribadi, Kangjeng. “
“ Persoalan pribadi? “
Ki Ajar Anggara mengangguk-angguk sambil berdesis “ Ya, Kangjeng.”
mengguncang jiwanya.
Semen
a? “
dengan
ka
kendali.“
“ Apakah mereka menemukan angger Jalawaja? “ bertanya Ki Tumenggung Reksabawa.
“ Tidak, Ki Tumenggung. Mereka tidak menemukan cucuku. Adalah kebetulan bahwa cucuku tidak ada di rumah. “ “ Apakah sekarang Jalawaja sudah pulang? “ bertanya Kangjeng Adipati. “ Belum Kangjeng. Jalawaja belum pulang. Sebenarnyalah bahwa aku mencemaskannya. Jalawaja pergi dengan membawa beban di hatinya. Kematian ayahnya sempat
tara itu, ia tidak dapat datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada ayahnya itu. “
“ Aku memang tidak melihat Jalawaja pada waktu itu. Kenapa? Kenapa ia tidak dapat pulang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada ayahny
“ Persoalan pribadi itulah, Kangjeng. “
“ Jalawaja mempunyai persoalan pribadi
ngmbok Reksayuda? “ “ Ya, Kangjeng. Persoalan pribadi yang terhitung gawat yang membuat Raden Ayu Reksayuda menjadi gila dan berbuat diluar
“ Apa yang Ki Ajar maksudkan? “
Ki Ajar Anggara termangu-mangu sejenak. Ia memang merasa ragu untuk menceritakannya.
Te
k ragu, Ki Ajar Anggara
itu
etapi untuk menghindarkan salah
pa a saat
pe g dari
pe sebaiknya persoalannya aku
be Adipati dan Ki
Tumeng
a saja Ki Ajar Anggara itu
be
angguk.
tapi mungkin cerita itu akan dapat membantu menelusuri peristiwa yang terjadi di Sendang Arum. Karena itu. meskipun aga
pun menjawab “ Kangjeng Adipati. Aku tidak tahu apakah Jalawaja setuju atau tidak setuju, jika aku ceritakan persoalan pribadinya dengan Raden Ayu Reksayuda. T
ham, kenapa Jalawaja tidak dalang padmakaman ayahnya yang baru saja pulan
ngasingan, maka
ritahukan kepada Kangjeng gung Reksabawa.“
Kangjeng Adipati dan Ki Tumenggung Reksabawa mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Namun tiba-tib
nanya “ Tetapi siapakah kedua orang anak muda itu? “ “ Mereka adalah anak-anakku, Ki Ajar. “ “ Sebenarnya putera Ki Tumenggung? “
“ Ya. Mereka adalah anak-anak kandungku. Mereka telah membantu ayahnya serta Kangjeng Adipati membebaskan diri dari tangan sekelompok prajurit yang memburu kami.” Ki Ajar Anggara mengangguk-
“ Tetapi jika mereka tidak sebaiknya mendengarkannya, biarlah mereka berada di luar.“
h mereka
me
ngkut nama Raden
Aje
ghalangi hubungannya
de
abawapun berkata
“It
n dendam telah membuatnya kehilangan akal
da
“ Tidak. Tidak apa-apa. Biarla
ndengarkan ceritanya. Ceritera yang menarik. Seperti ceritera dongeng. “ Ki Ajar Anggara berhenti sejenak. Namun kemudian ia berkata pula “ Tetapi aku mohon maaf, jika ceritera itu menya
ng Ririswari. “ “ Ririswari? “ bertanya Kangjeng Adipati. “ Ya, Kangjeng. “
“ Baiklah. Ceriterakan Ki Ajar. “ Ki Ajarpun kemudian telah menceriterakan hubungan antara Rara Miranti dengan Raden Jalawaja yang juga menyangkut nama Ririswari yang dianggap Miranti men
ngan Jalawaja. Kangjeng Adipati dan Ki Reksabawa mendengarkan ceritera itu dengan sungguh-sungguh. Sekali-sekali keduanya mengangguk-angguk. Namun kemudian menarik nafas panjang. Demikian Ki Ajar selesai dengan ceriterahya, maka Ki Tumenggung Rcks
ukah yang terjadi? Agaknya Rara Miranti benar-benar telah kehilangan kendali. Perasaan kecewa da
n berbuat diluar kewajaran. “ “ Ya, Ki Tumenggung. Dengan demikian, maka Jalawaja telah berjanji kepada dirinya sendiri, selama ibu tirinya masih ada di rumahnya, ia tidak
“ Ki Ajar.
Se
bahwa Kangjeng Adipati dan Ki
Tu
r. Karena
ilu
kemari, Ki Tumenggung. Mereka
ten
mungkin Raden Ayu Reksayuda
me
emikian, Ki Ajar. Mudahmu
ok ini saja
leb
akan mau pulang apapun alasannya. “ Ki Tumenggungpun mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun berkata
benarnyalah bahwa kedatangan kami ke padepokan ini juga karena tingkah Rara Miranti dan Ki Tumenggung Jayataruna. “ “ Aku mendengar dari para prajurit yang datang mencari Jalawaja,
menggung Reksabawa telah meninggalkan dalem kadipaten. “ “ Kami tidak mempunyai tujuan, Ki Aja
, maka kami justru memilih untuk datang kemari. Tetapi ternyata tempat inipun menjadi sasaran para prajurifyang telah terpengaruh oleh Ki Tumenggung Jayataruna. “ “ Tetapi menurut dugaanku, mereka tidak akan segera kembali
tu mengira bahwa Jalawaja tidak akan tinggal di pondok ini lagi selelah para prajurit datang kemari.” Bahkan
ngira bahwa yang telah melarikan Raden Ajeng Ririswari itu adalah Jalawaja. “ “ Aku berharap d
dahan Jalawaja dapat menyelamatkan Ririswari. “
“ Ya “ Ki Ajar mengangguk-angguk kecil. Lalu katanya “ Sebaiknya Kangjeng Adipati dan Ki Tumenggung Reksabawa berada di pond
ih dahulu sambil menunggu perkembangan
erima kami. Tetapi jika keberadaan kami
jus
itu”,
set
akan tinggal disini untuk
be
g Reksabawa untuk membantu
me
aratan. “
ya. “
Baik, ayah “ jawab kedua anak muda itu
ha
keadaan. Mudah-mudahan ada titik-titik cerah yang dapal dimanfaatkan untuk mencari jalan keluar dari peristiwa yang memprihatinkan ini. “ “ Terima kasih atas kesediaan Ki Ajar Anggara untuk men
tru akan menyulitkan keadaan Ki Ajar, maka aku kira kami dapat mencari jalan lain “ berkata Kangjeng Adipati.
“ Tidak. Kangjeng. Aku kira para prajurit
idak-tidaknya untuk sementara, seperti yang aku katakan tadi, tidak akan dalang kemari. “ “ Baiklah Ki Ajar. Aku
berapa lama. Namun sambil menunggu, aku ingin minta kedua anak laki-laki kakang Tumenggun
nemukan Ririswari jika Ki Tumenggung tidak berkeb
“ Tentu tidak, Kangjeng. Akupun yakin bahwa kedua anak-anakku itu akan bersedia melakukannya. “
“ Tentu ayah “ sahut Ragajati “ kami akan melakukan apa saja jika Kangjeng Adipati memerintahkann
“ Nah, pergilah. Cari Raden Ajeng Ririswari sampai ketemu. Kemanapun kalian pergi.” “
mpir berbareng “ kami mohon diri.” Namun Ki Ajarpun menyela “ Jangan sekarang
kanan akan membuat angger
be
dapat
be tih “
be
nafas
pa
Ajar “ Jawab
Ra rangkat meskipun
ha
minta
dir
ngger. Beristirahatlah barang sejenak. Minum dan beberapa potong ma
rdua menjadi segar. Nampaknya angger berdua juga harus mengobati goresan-goresan di tubuh angger. “ “ Tidak apa-apa Ki Ajar”jawab Ragajati “ luka-luka kami tidak seberapa. Ayah sudah mengobati luka-luka kami itu.” “ Tetapi biarlah kalian beristirahat dahulu. “
“ Baiklah Ragajati dan Ragajaya. Kalian ristirahat dahulu. Kalian tentu juga le
rkata Ki Tumenggung. Kedua orang anak muda itu menarik
njang.
“ Kalian berdua dapat berangkat esok pagi-pagi.“ “ Kami tidak ingin terlambat, Ki
gajati “ kami akan segera be
rus berjalan di malam hari. “ Sebenarnyalah anak-anak muda itu tidak mau menunda sampai esok. Waktu sangat berarti bagi mereka berdua. Karena itu, maka setelah minum dan makan beberapa potong makanan, keduanyapun
i. Ki Ajar Anggara masih memberikan beberapa pesan kepada mereka berdua. Ki Ajar memberikan
pat menyingkirkan Raden Ajeng
Rir
n. “
sejenak kemudian,
kedu
ancar-ancar jalan pintas dari Sendang Arum sampai ke pondok kecil itu. “ Seandainya. Hanya seandainya, ngger. Jalawaja sem
iswari dan oemiat membawa ke pondok ini, ia tentu tidak akan mengambil jalan yang terbiasa dilaluinya. Ia tentu akan mengambil jalan pintas. Lewat lorong-lorong sempit di lereng-lereng bukit kecil. Menyusuri padang perdu, sawah dan pategala
“ Kami akan menyusuri jalan itu, Ki Ajar. “ “ Jalan pintas itu, bukan jalan pintas yang kita lalui “ berkata Ki Tumenggung Reksabawa.
“ Ya. Ayah. Kami mengerti. “ “ Ingat. Disepanjang perjalanan kaitan. Jangan memberi tahukan kepada siapapun. dimana Kangjeng Adipati sekarang berada. “ “ Baik, ayah “jawab Ragajati. Demikianlah, maka
anyapun segera minta diri. Berdasarkan atas ancar-ancar yang diberikan oleh Ki Ajar Anggara. mereka berharap untuk dapat bertemu dengan Raden Ajeng Ririswari. Siapapun yang membawanya keluar dari taman keputren….
Ketika malam turun, maka di langit nampak bulan yang hampir bulat mulai naik. Meskipun cahayanya tidak seterang matahari, tetapi mampu menembus kegelapan sehingga Ragajati dan
ebing-tebing yang tidak
ter
jauh, Jalawaja
duduk i depan gubug
ke
Ragajaya dapat mengenali jalan yang belum pernah dilaluinya. Mereka hanya sekedar berpegang pada ancar-ancar yang diberikan oleh Ki Ajar Anggara.
Meskipun demikian, keduanya dapat menelusuri lorong itu tanpa kesulitan. Meskipun mereka harus melewati jajan’ sempit di lereng bukit kecil. Kemudian menuruni t
lalu tinggi. Melalui jalan setapak berbatu-batu padas.
Cahaya bulan ternyata sangat membantu perjalanan mereka, sehingga mereka dapat melihat pepohonan, bebatuan dan pertanda lain yang disebut oleh Ki Ajar Anggara.
Dalam pada itu, Jalawaja yang membawa Raden Ajeng Ririswari, berada di tengah-tengah bentangan pategalan yang luas. Ketika Jalawaja menemukan sebuah gubug yang kosong, maka ia memaksa Ririswari untuk masuk ke dalamnya, menutup pintunya dan mengganjalnya dengan batu yang cukup besar dari luar.
Dengan demikian, maka Jalawaja dapat beristirahat sementara Ririswari tidak dapat melarikan diri. Meskipun gubug itu bukan bangunan yang kokoh, tetapi Ririswari tidak akan dapat menerobos keluar.
Ketika malam menjadi semakin dibawah sebatang pohon d
cil itu, bersandar pada batangnya. Setelah
a
let
dak banyak menarik
pe
telah terpejam.
disepinya malam,
tem
sedang duduk terkantukka
seharian berjalan lewat lorong-lorong sempit berbatu-batu padas, maka Jalawaja itupun meras
ih juga. Angin yang semilir seakan-akan mengipasi wajahnya yang berkeringat. Sekali-sekali Jalawaja memandang bulan yang hampir bulat, tetapi ia ti
rhatian terhadap bulan. Bahkan matanya tiba-tiba saja menjadi berat. Beberapa saat kemudian, di luar sadarnya matanyapun
Namun rasanya Jalawaja itu seperti bermimpin ketika ia mendengar suara tembang. Hanya perlahan-lahan. Tetapi justru
bang itu terdengar jelas. Kata demi kata. Jalawaja merasa seakan-akan ia berada di pondoknya, duduk di serambi depan di bawah cahaya bulan. Kakeknya
ntuk. Jalawaja merasa seakan-akan diruang dalam Ririswari sedang membaca kitab dengan alunan tembang mecapat. Jalawaja terkejut ketika seekor semut merah menggigit kakinya. Demikian ia membuka matanya, maka iapun segera sadar, bahwa ia sedang bermimpi. Ia tidak sedang berada di serambi pondok eyangnya. Tetapi ia duduk dibawah sebatang pohon di sebuah pategalan yang sepi. “ Aku bermimpi “ desis Jalawaja.
Diluar sadarnya ia mengangat wajahnya. Ia
me
terang.
mimpinya
itu
, tetapi jelas.
mi
mbang yang hanya perlahan-lahan
itu
ngsut
be
.
g yang didengar itu
sama dengan suara tembang yang didengar
did
ondok kecil kakeknya itu.
Tetapi Ririswari berada didalam sebuah gubug kecil
ya .
ampir
be
lihat bulan masih mengambang di langit. Cahayanya seakan-akan menjadi semakin
Tetapi sesuatu yang terjadi didalam
masih tertinggal. Ia mendengar suara tembang sebagaimana didengarnya didalam mimpi. Perlahan-lahan
Akhirnya Jalawaja menyadari sepenuhnya, bahwa yang mengalunkan tembang itu memang Ririswari sebagaimana yang terjadi didalam
mpinya.
Jalawaja berkisar membelakangi gubug kecil itu. Tetapi suara te
didengarnya dengan jelas. Karena itu, maka Jalawaja itupun beri
berapa langkah menjauh. Namun ia masih mendengar suara tembang itu. Justru seakan-akan menjadi semakin keras
Suara tembang itu membuat Jalawaja menjadi gelisah. Meskipun suara temban
alam mimpinya, namun suasananya berbeda. Jalawaja tidak lagi duduk berdua dengan kakeknya yang terkantuk-kantuk diserambi sambil menikmati suara tembang itu. Ririswari juga tidak sedang berada di ruang dalam p
ng pintunya diganjal batu dari luar
Tiba-tiba saja Jalawaja itu membentak h
rteriak “ Diam. Diam kau Riris.”
ntunkan tembangnya.
h.”
elagukan
tem
me
Ririswari kemudian “ kakang.
Ke
“ Tetapi kau tidak boleh keluar.”
Tetapi Ririswari tidak segera diam. Ia melanjutkan, mela
“ Riris. Kau dengar. Diam, diamla
Tetapi Ririswari masih saja m
bangnya.
Jalawaja yang menjadi sangat gelisah itupun berlari ke pintu gubug itu. Kedua tangannya berganti-ganti memukul daun pintu itu keras-keras.
“ Kau mau berhenti atau tidak ?” Namun Ririswari masih menghabiskan satu bait tembangnya. .
“ Kalau kau tidak mau diam, aku bakar gubug ini. Kau tidak akan dapat lari kemana-mana.” Baru kemudian, setelah bait tembangnya habis. Ririswaripun terdiam.
Tetapi gadis itupun bertanya “ Kau akanmbakar gubug ini kakang ?”
” Ya “
“ Gubug ini terlalu sempit, kakang. Didalam gelap sekali meskipun ada beberapa lubang didinding “ berkata
napa aku kau sekap didalam gubug ini ? Kenapa aku tidak boleh keluar ?” “ Tidak. Kau tidak boleh keluar.”
“ Di dalam terasa sumpek sekali, kakang.”
akang.”
keluar.”
gkin aku dapat melarikan dirr.
Ak
ikian, baiklah kakang. Aku hanya,
da
is. Kau dengar ?”
a ia
su ga dengan
de
rama suara yang damai, Ririswari
“ Jika aku tetap berada didalam, aku akan dapat pingsan k
“ Pingsanlah: Aku tidak peduli.” “ Tolong kakang. Biarlah aku
“ Kau akan mencari cara untuk melarikan diri ?” “ Bagaimana mun
u sudah tidak bertenaga sama sekali. Kakiku sakit. Berdarah dan bengkak.”
“ Aku tidak peduli. Apapun yang akan terjadi atasmu didalam gubug kecil itu, aku tidak peduli. Akhirnya kau juga akan mati.”
“ Jika dem
pat pasrah, apa yang akan terjadi atas diriku. Pingsan; mati lemas atau apapun yang harus aku jalani. Aku sadari, bahwa bagimu aku tidak lebih dari seonggok sampah.” “ Diam. Diam kau Rir
“ Kakang “
Jalawaja menghentakkan tangannya memukul pintu gubug kecil itu, sehingga gubug itu bagaikan diguncang gempa.
Tetapi suara Ririswari tidak berubah. Agaknydah benar-benar pasrah, sehing
mikian, maka perasaannya justru menjadi tenang. Dengan i
itu
Ya
rnya lewat
lubang-lubang dinding bambu gubug ini.”
“ Cukup.”
Alangkah bahagianya dedaunan dan kuncupkuncup
kembang yang malam ini sempat
menyaksikan cahaya rembulan yang menerangi
bumi ini. Yang menguak kegelapan dan
memancarkan terang.”
“ Gila. Apakah kau sudah gila, Riris.”
“ Mungkin kakang. Mungkin aku memang sudah
menjadi gila, karena aku berada di dalam
kegelapan. Apalagi ruangan ini terlalu sempit dan
pengab.”
Jalawaja menggeretakkan giginya.
Namun Ririswari masih berbicara terus
”Sementara itu, diluar bulan bersinar dengan
terangnya.”
pun bertanya “ Kakang, apakah rembulan itu bulat ?”
“ Diam, diam. Kau dengar ? Kau membuat jantungku berhenti berdetak.” “ Aku hanya ingin melihat rembulan pada saat-saat terakhirku, sebelum kau antar aku menghadap
ng Maha Agung.” “ Tidak ada rembulan di langit. Malam gelap pekat. Aktipun tidak melihat apa-apa di luar.” “ Aku melihat berkas-berkas sina

Jalawajapun kembali menghentak-hentak pintu
gubug kecil itu.
Meskipun demikian Ririswari masih juga berkata
” Aku merasa iri terhadap burung-burung kecil
yang tidur di-sarangnya, yang sempat menyelimuti
anak-anaknya sambil memandangi cahaya bulan.”
Jalawaja tidak dapat menahan perasaan lagi.
Dengan kakinya di hentakkannya batu yang
mengganjal pintu gubug itu. Dengan kasar
Jalawajapun berkata ” Keluar. Keluarlah. Kau
membuat darahku berhenti mengalir.”
–ooo0dw0ooo–
Jilid 5
DEMIKIAN pintu terbuka, maka Ririswaripun melangkah keluar. Tubuhnya nampak lema
tapi wajahnya menjadi cerah. Ketika ia menengadahkan wajahnya, maka sinar bulan itupun telah jatuh ke wajah yang sendu itu.
rlu mengucapkan terima kasih itu.
Ha karena
ke
h berhutang nyawa. Ia harus
me
menengadahkan
da
– Rasa-rasanya
ma
asa-rasanya
sen sedang
menen
ku
tidak akan dapat melihat bulan itu
terbit n berada didalamnya. Aku
ak ang menikmati
“Terima kasih, kakang.” “Kau tidak pe
tiku tidak akan menjadi lentur
cengenganmu itu. Aku akan tetap membunuhmu. Paman Adipati harus tahu, bahwa akulah yang telah membunuh anak perempuannya. Paman Adipati tela
mbayar dengan nyawa pula. “Kakang. Bukankah sudah beberapa kali aku katakan bahwa aku tidak akan mengelak. Jika kau akan membunuhku, aku akan
daku. Kecuali aku memang tidak mungkin lari, seperti yang sudah aku katakan, aku akan merasa bahagia karena matiku mempunyai arti bagimu.” “Diam. Kau dengar?”
Ririswari itu seakan-akan tidak mendengar bentakan-bentakan Jalawaja. Dipandanginya bulan itu sepuas-puasnya sambil berkata
lam ini adalah malam terakhir aku memandang bulan. Besok aku sudah akan mati. R
ang dapat duduk bersama bidadari yangun di wajah di bulan itu bersama seekor
cing candramawa.” “Bercelotehlah. Malam ini memang kesempatanmu terakhir. Karena seterusnya kau tidak akan dapat melihat bulan itu terbit.”
“Aku memang, karena aku aka
an melihat dari langit, kak
ke
nuhku.”
kau katakan.”
am-dalam. Iapun
ke
akin terasa
me kemfudian
me ya di dadanya. Sekali-sekali
ter
sangat
gelisah. Ba dang
be
t bangkit,
seh
puasan kakang setelah kakang berhasil membu
“Katakan apa yang ingin
Ririswari menarik nafas dal
mudian duduk diatas rerumputan yang mulai basah oleh embun.
Dingin udara pegunungan semnggigit tulang Ririswaripun
nyilangkan tangann
dengar gadis itu berdesah.
Sementara itu Jalawajapun nampakhkan anak muda itu kadang-ka
rjalan hilir mudik beberapa kali. Namun kemudian duduk memeluk lututnya.
Beberapa saat suasana menjadi hening. Yang terdengar hanyalah tarikan nafas Ririswari yang lemah serta Jalawaja yang gelisah. Tiba-tiba Jalawajapun melonca
ingga Ririswari terkejut karenanya. “Ada apa kakang? – bertanya Ririswari.
“Aku mendengar desir sentuhan kaki seseorang“ Sebelum Ririswari menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba saja seseorang muncul dari balik segerumbul perdu. Sambil melangkah mendekat, orang itupun berkata “Aku Jalawaja.”
“Suratama “ “Ya, Jalawaja. Aku Suratama.”
? Kau mengikuti
ak
endapat perintah dari Raden Ayu
Re
n.”
Kangjeng Adipati
da
n aku
Su
“Apa yang kau lakukan disini
u?” “Tidak, Jalawaja.”
“Jadi apa yang kau lakukan?” “Aku diperintahkan untuk mencari Raden Ajeng Ririswari.” “Mencari aku?” bertanya Ririswari. “Ya, Raden Ajeng.” “Untuk apa kau mencari aku?” “Aku mendapat perintah dari ayahku.”
“Kenapa paman Tumenggung Jayataruna memerintahkan kepadamu untuk mencari aku?” “Ayah m
ksayuda. Kemudian ayah memerintahkan kepadaku untuk melaksanakannya, meskipun semula ayah agak berkeberata
“Apakah Raden Ayu Reksayuda berhak memberikan perintah kepada paman Tumenggung Jayataruna?”
“Aku tidak tahu, Raden Ajeng. Tetapi itulah yang terjadi. Sekarang Raden Ayu Reksayuda sudah berada di Kadipaten. Sedangkan
n paman Tumenggung Reksabawa berhasil lolos dari tangan para pengikut Raden Ayu Reksayuda. “Sekarang kau sudah menemuka
ratama. Apa yang akan kau lakukah?”
n Ajeng
telah dilarik g tidak diketahui
ten anyak kemungkinan
da
yang terjadi.
Ma
Jalawaja: B
tid
? “
agar
Ra aja ditangkap dan
dib
h menemukan aku dan
Rir
ah curiga,
“Tidak apa-apa Raden Ajeng.” “Tidak apa-apa? Jadi apa sebenarnya yang kau lakukan sekarang ini?” “Raden Ajeng. Yang aku tahu, Rade
an oleh seseorang yantang dirinya. Karena itu, b
pat terjadi. Mungkin Raden Ajeng dilarikan oleh orang yang berniat buruk. Mungkin oleh orang-orang yang memanfaatkan keributan
sih banyak kemungkinan kemungkinan lain. Karena itu, maka aku telah berangkat untuk mencoba mencari Raden ajeng Ririswari. “
“Sekarang kenapa kau tiba-tiba saja mengatakan, bahwa kau tidak bermaksud berbuat apa-apa ? “
“Disini aku menemukan Raden Ajeng bersama ukankah itu berarti bahwa Raden Ajeng
ak berada dalam bahaya. “ “Tetapi bagaimana dengan perintah Raden Ayu Reksayuda itu kepada paman Tumenggung Jayataruna
“Raden Ayu Reksayuda memerintahkan
den Ajeng Ririswari dan Jalaw
awa untuk menghadap. “ “Sekarang kau suda
iswari, Suratama. Lalu apa yang akan kau lakukan berdasarkan perintah ayahmu ? “ “Jalawaja. Sejak semula aku sud
bahwa niat Raden Ayu Reksayuda itu tidak baik.
Agaknya ayah sudah berada di bawah pengaruh
Raden aku minta diri kepada ibuku,
ya ibuku
me daku. “
campurinya lagi. “
ib melaksanakan perintah,
me
? “
encari
Ra
Raden Ajeng
Ririswari jika ia berada dalam bahaya. “
ayu itu. Ketika
ng hidupnya menjadi kesepian,
mberikan beberapa pesan kepa
“Jadi ? “bertanya Ririswari. “Setelah aku mengetahui bahwa Raden Ajeng sudah diselamatkan oleh Jalawaja, maka aku kira aku tidak perlu men
“Apakah dengan demikian kau tidak mengingkari perintah ayahmu yang mendapat perintah Raden Ayu Reksayuda ?” “Aku tidak merasa waj
skipun dari ayahku sendiri, jika perintah itu tidak pada tempatnya. “ “Jadi apa sebenarnya yang akan kau lakukan
“Sudah aku katakan, bahwa setelah aku mengetahui bahwa Raden Ajeng Ririswari kau selamatkan, maka aku merasa tidak perlu ikut campur. “
“Apakah kau berkata jujur Suratama ? “ “Apa maksudmu, Jalawaja ?” “Aku ingin tahu niatmu sebenarnya m
den Ajeng Ririswari. “
“Sudah aku katakan, Jalawaja. Aku terdorong untuk ikut berusaha menyelamatkan
Arum, jarang
ad
lawaja. Tetapi aku
be
elain keselamatan
Raden Ajen
ang untuk menyelamatkannya. “
Raden Ajeng Ririswari sudah kau
sel
i. “
aya kepadaku, Jalawaja?”
“Hanya itu ? “ “Ya. Hanya itu. “
“Kau tidak mempunyai pamrih pribadi ?” “Apa maksudmu, Jalawaja ? “ “Pada masa ini, dalam gejolak yang terjadi akhir-akhir ini di Kadipaten Sendang
a orang yang berbuat sesuatu tanpa pamrih pribadi. “ “Mungkin kau benar Ja
rsikap lain menurut nuraniku. Aku tidak mempunyai pamrih apa-apa s
g Ririswari. “ “Bohong. Kau tentu mempunyai pamrih pribadi. Nah, sekarang katakan kepada Ririswarimu itu, bahwa kau dat
“Jalawaja. Aku memang mencari Raden Ajeng Ririswari untuk menyelamatkannya. Tetapi setelah aku tahu, bahwa
amatkan, maka aku kira aku tidak perlu berbuat apa-apa lagi. “
“Jangan berpura-pura, Suratama. Kau tentu akan mencari kesempatan untuk menikamku dari belakang. Kemudian mengambil Ririswar
“Kenapa kau tidak perc
“Aku tidak dapat mempercayai seorangpun dalam keadaan seperti sekarang ini. “
hwa
Ra
tama, bahwa kau berada dalam
ba
ia mampu. “
u bingung, Jalawaja. Tetapi
su
tidak boleh pergi. Ririswari benarbe
adaan bahaya. “
pergi. Kau harus
be lamatkan Ririswari. “
apkan terima
ka “
“Sudahlah. Aku akan pergi. Aku percaya ba
den Ajeng Ririswari akan selamat di tanganmu. “ “Ririswari “Jalawaja itu justru berteriak “katakan kepada Sura
haya. Bahwa kau terancam untuk dibunuh. Katakan kepadanya, agar Suratama menyelamatkanmu jika
“Kau membuat ak
dahlah. Aku akan pergi. Aku tidak akan mengganggu kalian berdua. “ “Tidak. Kau
nar dalam ke
“Suratama “ berkata Ririswari kemudian “pulanglah. Apapun yang akan kau katakan kepada paman Tumenggung Jayataruna serta Raden Ayu Reksayuda. “ “Baik, Raden Ajeng. Aku mohon diri. Aku akan mengatakan bahwa aku tidak dapat menemukan Raden Ajeng. “ “Tidak. Kau tidak boleh
rusaha menye
“Pulanglah Suratama. Aku mengucsih atas kesediaanmu mencari aku.
“Baik, Raden Ajeng. “ “Tidak. Kau tidak boleh pergi. Aku tidak sedang bergurau. Ririswari ada dalam bahaya. “ “Kakang Jalawaja. “
atian ayahku itu. Aku akan
membunu
kabar angin,
bahwa Raden Tumenggung Wreda Reksayuda telah
runa telah memberontak untuk melawan
“Aku akan mengatakan yang sebenarnya. “ “Tidak. Yang terjadi adalah persoalan antara aku dan kau. Tidak ada sangkut pautnya dengan Suratama. “ “Ada. Bukankah ia datang untuk menyelamatkanmu ?” “Biarlah ia pergi. “
“Suratama tidak akan pergi begitu saja. Ia akan menyelamatmu, semetara kau benar-benar dalam bahaya. “
“Kakang. “ “Suratama “berkata Jalawaja “aku membawa Ririswari sampai ke tempat ini sama sekali tidak untuk aku selamatkan. Aku membawanya karena aku akan membalas dendam kematian ayahku. Ayah Reksayuda sudah dibunuh oleh Paman Adipati. Sekarang aku bawa Ririswari untuk membalas dendam kem
hnya, agar hati Paman Adipati menjadi sakit seperti sakitnya hatiku.” “Jalawaja, “
“Itulah yang terjadi sebenarnya. “
“Jalawaja. Aku juga mendengar
dibunuh oleh Kangjeng Adipati. Karena itu, maka Raden Ayu Reksayuda dan ayah Tumenggung Jayata
ke ng.
Te
i
ya
“Kau percaya-kepada mereka ? Ra
terang aku tidak terlalu percaya kepa
Aku lebih percaya kepada pesan-pesa
kesepian di rumahnya. Apakah kau pe
ibu tirimu itu ? Jika demikian, ken
tidak kau bawa dan kau serahkan ke
tirimu, justru karena ibu tirimu itu menca
bahkan mencarimu. “
“Cukup. Aku tidak peduli semua itu. Aku
untuk kepuasan diriku sendiri.
membunuh Ririswari. “
“Kau bersungguh-sungguh Jalawaja. “
“Ya. Aku bersungguh-sungguh. “
tidak adilan dan tindak sewenang-wena
tapi belum ada yang dapat membuktikannya. bahwa Kangjeng Adipati atau seseorang yang mendapat perintahnya yang telah membunuh Ki Tumenggung Wreda. Pusaka yang tertancap di dada Raden Tumenggung Wreda bukanlah bukt
ng meyakinkan. Pusaka itu hilang dari bangsal pusaka. Petugasnya telah hilang pula tidak tentu rimbanya. “
“Jika tidak ada bukti yang meyakinkan, paman Tumenggung Jayataruna dan Raden Ayu Reksayuda tidak akan memberontak. “ den. Terus da ayahku. n ibuku yang rcaya kepada apa Ririswari pada ibu rinya dan
berbuat Aku akan “Sudahlah Jalawaja. Aku menjadi bingung. Tetapi biarlah aku pergi. Kau jangan mengada-ada.“
Ajeng Ririswari karena
pa
me
tong Ririswari “sudah aku katakan,
jik
tidak
sangkut
adalah
kita.”
sekarang
Ririswari.
Aku tidak
ak ng. Aku akan
me
ah puas
setelah aku menyakiti hati Paman Adipati.”
“Kau menjadi sangat berbahaya bagiku. “ “Jalawaja. Apakah kau masih juga mengira bahwa aku mencari Raden
mrih pribadi sehingga kau mejadi marah dan
ncari persoalan untuk membuat perselisihan. “ “Kenapa aku marah jika kau cari Ririswari. Aku tidak membutuhkannya. Aku akan membunuhnya untuk memuaskan hatiku. “
“Kakang “ po
a kau akan membunuhku lakukanlah. Aku rela jika itu dapat memberimu kepuasan. Suratama
mempunyai
paut, karena persoalannya
persoalan diantara
“Apakah kau
tuli,
an membunuhmu sekara
mbunuhmu dihadapan Paman Adipati. Meskipun akupun akan terbunuh, tetapi aku sud
uratama kemudian “kau
me
matian ayahnya.”
embunuhmu di
hadapan Ka
peduli. Kita akan mencarinya. Kau akan
ak
“Jalawaja “berkata S
mbuat aku menjadi semakin bingung. Sikapmu tidak dapat aku mengerti.” “Sikapku jelas. Aku akan membunuh Ririswari.” “Suratama. Pergilah. Kabarkan kepada semua orang di Sendang Arum, bahwa aku, Ririswari telah dibunuh oleh kakang Jalawaja yang membalas dendam karena ke
“Tetapi……”
“Kakang Jalawaja baru puas jika kematianku itu diketahui oleh ayahanda.” “Itu tidak cukup. Aku akan m
ngjeng Adipati.”
“Tetapi kita tidak tahu, ayah berada dimana sekarang.” “Tidak
u seret sepanjang jalan yang panjang sampai kita menemukan Kangjeng Adipati.”
“Jalawaja “ potong Suratama kemudian “jadi kau benan-benar akan mencelakai Raden Ajeng Ririswari.” “Tidak, Suratama. Ia tidak bersungguh-sungguh“ sahut Ririswari.
“Aku bersungguh-sungguh.” “Jika ia bersungguh-sungguh, Raden Ajeng. Aku tidak akan dapat membiarkannya terjadi.”
eng. Jika Jalawaja benar-benar
ak
tidak bersalah, bahkan Kangjeng
Ad
Aje
dan
me
li lagi. Belum tentu
Ka
“Pergilah Suratama.” “Tidak Raden Aj
an membalas dendam kepada Raden Ajeng yang sama sekali
ipatipun belum tentu bersalah, maka aku tidak akan membiarkannya. Tanpa pamrih pribadi aku merasa berkewajiban untuk menyelamatkan Raden
ng Ririswari.” “Bagus. Itu baru laki-laki Suratama.”
“Jalawaja. Aku tahu kau seorang anak muda yang pilih tanding. Mungkin aku tidak akan mampu berbuat apa-apa di hadapanmu. Tetapi aku merasa bahwa aku harus melakukannya.” “Bersiaplah, Suratama.”
“Kakang Jalawaja. Suratama. Tidak ada gunanya kalian bertengkar. Yang akan terjadi biarlah terjadi.”
“Tetapi Jalawaja tidak membiarkan aku pergi, Raden Ajeng.” “Kau akan dapat menggagalkan rancanaku. Kau akan dapat melaporkan kepada para prajurit arah kepergianku. Para prajurit itu akan melacaknya
nangkap aku dan Ririswari sebelum aku berhasil membalas sakit hatiku dihadapan Paman Adipati.” “Kau telah kerasukan iblis yang paling jahanam, Jalawaja. Aku peringatkan seka
ngjeng Adipati bersalah. Bahkan seandainya benar Kangjeng Adipati bersalah Raden Ajeng
n semuanya“ geram Jalawaja
“be
endengarnya. Dengan
garangnya
njadi sasaran seranganseranga
hindar dengan tangkasnya.
me
h
Ririswari sama sekali tidak tersangkut atas kesalahannya itu.” “Perseta
rsiaplah.” Suratama tidak mempunyai kesempatan lagi. Tiba-tiba saja Jalawaja telah menyerangnya. “Kakang. Kakang. Hentikan “teriak Ririswari. Tetapi Jalawaja tidak m
Jalawaja menyerang Suratama. Dengan demikian, maka segera terjadi pertempuran yang sengit. Suratama tidak membiarkan dirinya me
n Jalawaja. Namun Suratamapun kemudian telah membalas menyerangnya. Keduanya adalah anak-anak muda yang terlatih. Dengan demikian, maka keduanyapun berloncatan menyerang dan meng
Serangan-serangan Jalawaja semakin lama
njadi semakin berbahaya. Namun Suratamapun meningkatkan kemampuannya pula. Dengan tangkas Suratama menghindari serangan-serangan Jalawaja yang datang seperti banjir bandang. Beberapa saat kemudian, ketika keringat membasahi tubuh-tubuh yang sedang bertempur itu, merekapun telah meningkatkan kemampuan merbka menjadi semakin jau
Sentuhan tangan Jalawaja di bahu Suratama telah mendorong Suratama beberapa langkah
ba-tiba saja Suratama itu
me
elenting dengari derasnya.
Sa
epan tubuhnya tanpa
me
dukan yang belum
ma
cepat pula Suratama
me
surut. Namun ti
lenting. Kakinyalah yang telah menyambar dada Jalawaja.
Dengan demikian Jalawajalah yang bergetar surut beberapa langkah. Namun agaknya Suratama tidak melepaskannya. Dengan tangkasnya ia memburu, kemudian m
tu kakinya terjulur lurus menyamping menyambar ke arah dada. Tetapi Jalawaja cukup tangkas. Sambi bergeser setapak, ia telah memiringkan tubuhnya, sehingga kaki Suratama itu terjulur di d
nyentuh sama sekali. Suratama yang dalam kedu
pan, dikejutkan oleh sapuan kaki Jalawaja. Demikian cepat sehingga tidak dapat dihindarinya. Sapuan kaki Jalawaja telah mengenai kaki tempat Suratama bertumpu. Karena itu, maka Suratamapun terbanting jatuh.
Namun dengan cepat pula Suratama berguling menjauh. Pada saat Jalawaja meloncat memburunya, Suratama telah melenting berdiri. Sehingga ketika Jalawaja meloncat mengayunkan kakinya sambil berputar, Suratama mampu menghindar. Dengan
mbalas serangan itu. Tangannya terjulur lurus menggapai dada Jalawaja. Jalawaja tergetar selangkah surut. Namun dengan segera Jalawaja menguasai
ehingga rasa-rasanya urat-urat di
lehern
waja sama sekali tidak mau
mendengar
knya
me
Su
keseimbangannya. Dengan demikian maka pertempuran itupun semakin menjadi semakin sengit. Ririswari tidak dapat berbuat apa-apa. Beberapa kali ia berteriak, s
ya akan putus. Tetapi kedua anak muda itu masih saja bertempur. Jala
kan teriakan Ririswari. Sementara itu Suratama tidak dapat berbuat lain, kecuali mengimbangi sikap Jalawaja. Demikianlah pertempuran yang menjadi semakin sengit itu berlangsung terus.
Namun semakin lama, Suratama semakin mengalami kesulitan. Kemampuan Jalawaja masih lebih tinggi selapis dari kemampuan Suratama. Jalawaja yang menempa dirinya di lereng bukit di bawah asuhan kakeknya itu telah membentu
njadi seorang anak muda yang pilih tanding. Dengan demikian, maka Suratama itu semakin lama menjadi semakin terdesak. Serangan-serangan Jalawaja semakin sering mengenai tubuh Suratama, sehingga Suratama itu semakin mengalami kesulitan.
Ririswari menjadi semakin cemas. Meskipun
ratama itu anak Ki Tumenggung Jayataruna yang telah memberontak terhdap ayahandanya, Kangjeng Adipati di Tegal Arum, namun Risiswari
ag
telah berniat untuk tidak
me
da
pur
de
an dendam
me
kin terdesak. Beberapa kali.
Su
besar yang berdiri tegak
tan
aknya percaya kepadanya, bahwa Suratama telah menjalankan perintah ayahnya tanpa pamrih pribadi. Bahkan Suratama
matuhi perintah itu, karena perintah itu dinilainya menyimpang dari kebenaran sikap seorang prajurit.
Karena itu, ketika ia melihat Suratama terdesak
n bahkan mengalami kesulitan, Ririswari menjadi berdebar-debar. Sementara itu, Jalawaja masih saja bertem
ngan garangnya. Gejolak didadanya, sejak kematian ayahnya telah membuatnya menjadi seorang yang garang. Yang menyimp
mbara di dalam dadanya. Dalam pada itu Suratamapun semakin lama menjadi sema
ratama itu terpental dan kemudian jatuh terguling. Namun Suratama masih juga berusaha untuk bangkit serta memberikan perlawanan.
Namun ketika serangan kaki Jalawaja yang marah yang dilontarkan dengan sekuat tenaganya mengenai arah ulu hati Suratama. Maka Suratamapun terlempar surut. Tubuhnya menimpa sebatang pohon yang
pa tergetar sama sekali. Tubuh Suratamapun kemudian terkulai di tanah. Sementara itu Jalawajapun telah bersiap untuk meloncat dan memberikan serangan terakhir yang menentukan.
n tiba-tiba saja Ririswari telah
me
be
nya.
jak lama tumbuh didalam hatinya.
Ba
ari. Hanya sejak
ibu
seakan
Namu
nyekapnya dari belakang sambil berteriak “Sudah kakang. Sudah.” Tetapi Jalawaja itu justru berteriak “Aku akan membunuhnya.” “Jangan, kakang.Jangan.”
Tetapi hati Jalawaja yang gelap itu justru menjadi semakin panas. Karena itu, maka Jalawaja telah mengibaskan Ririswari dengan kerasnya.
Ririswaripun terpelanting dengan kerasnya pula. Tubuhnya terbanting di tanah berbatu padas. Terdengar Ririswari berteriak tertahan.
Jalawaja terkejut. Ketika ia berpaling, dilihatnya di keremangan cahaya bulan, tubuh Ririswari yang tergolek diam.
“Riris, Riris “Jalawaja mengurungkan niatnya menerkam Suratama. Ia bahkan meloncat dan
rlutut di sisi Ririswari yang terbaring. Betapapun kemarahan dan dendam menyala di hatinya, namun ketika ia melihat Ririswari kesakitan, maka rasa-rasanya hatinya menjadi luluh karena
Ternyata dendamnya tidak dapat mengusir perasaan yang se
hkan Jalawaja pernah melihat sepeletik harapan yang telah diisyaratkan oleh Ririsw
nya meninggal Ririswari menjadi murung dan -akan mengesampingkan hubungan mereka
pertanda kesetiaannya pada saat
terakhir, Jalawaja seakan-akan telah kehilangan
pe
h
Rir –
ak ng sangat.
takannya di pangkuannya.
berhasil bangkit
be ngatasi perasaan sakit yang
terasa m k tulang belakangnya.
ma itu perlahan-lahan mendekatinya.
g di
pa
enyakitinya Suratama.”
berdua. Ketika api dendam menyala di hatinya karena kematian ayahnya, bahkan karena ia tidak dapat memberikan
gangan. Segala-galanya menjadi gelap, sehingga Jalawaja tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Namun ketika tiba-tiba saja ia melihat tubuiswari terbaring diam, maka hatinya seakan
an telah disengat oleh penyesalan ya
“Riris, Riris “ Jalawaja mengangkat kepala Ririswari dan dile
Dalam pada itu, Suratama telah
rdiri. Ia telah meenusuk-nusu
Ketika ia melihat Jalawaja membelakanginya, maka Surata
Tetapi ketika ia melihat Ririswari terbarin
ngkuan Jalawaja, maka Suratama itupun menarik nafas dalam-dalam. Bahkan Suratama itupun kemudian telah berjongkok pula di sebelah Jalawaja. “Apa yang terjadi dengan Raden Ajeng Ririswari“ desis Suratama.
“Aku tidak sengaja mengibaskannya. Aku tidak sengaja m
Suratama termangu-mangu sejenak.
“Kakang “ suara Riris perlahan.
kan oleh paman Tumenggung
Jay
ri tanganku,
Rir
Dipandanginya wajah Ririswari yang diterangi oleh cahaya bulan. Matanya terpejam. Namun bibirnya bergerak-gerak. Tidak ada sepatah katapun yang terdengar. “Riris, Riris.” Perlahan-lahan Ririswari membuka matanya. Terdengar ia berdesah menahan sakit. “Kau tidak apa-apa Riris ?” bertanya Jalawaja. “Punggungku sakit sekali, kakang.” “Maaf aku Riris. Aku tidak sengaja melakukannya.”
“Ada apa Riris ?”
“Hentikan perkelahian ini. Tidak akan ada gunanya.” “Tetapi aku kehilangan orang tuaku, Riris.” “Bukankah itu tidak ada hubungannya dengan Suratama. Jika kau menuntut kematian orang tuamu, maka paman Tumenggung. Jayataruna juga telah memberontak karena alasan yang sama. Bukankah yang dilaku
ataruna sebenarnya berdiri di pihakmu.” “Tetapi ia akan merampas kau da
is.” “Tidak. Ia sudah mengatakan, bahwa ia tidak akan berbuat apa-apa. Karena itu, kakang. Sudah
ak
ti ayahanda akan terluka.
Bahkan ayahanda akan merasa bah
sudah tidak berarti lagi sepening
Kau akan merasa puas karena ka
menyakiti hati ayahanda da
berputus asa. Kemudian, be
paugeran dan tatanan yang ada di
maka kakang Jalawajalah yang ak
kedudukan ayahanda. “
“Tidak. Aku tidak menginginka
Aku hanya ingin mencari kepuasan
“Apapun yang kau ingi
Lakukanlah. Tidak ada orang
menghalangimu. Suratama jug
menghalangimu lagi. Kecuali ia tidak dapat
akupiin akan
be ar ia tidak menghalangi
nia
mengatakannya.
Ka
hku dengan tanganmu sendiri agar
kau mendapat kepuasan, yang setinggi-tingginya. “
u katakan berulang kali. Jika kau akan membalas dendam karena kematian uwa Tumenggung Wreda Reksayuda, lakukanlah. Bunuhlah aku. Biarlah Suratama kembali ke kota dan menyebarkan berita kematianku itu, agar pada suatu saat sampai ketelinga ayahanda. Ha
wa hidupnya gal ibu dan aku. u sudah berhasil n membuatnya rdasarkan atas Sendang Arum, an menggantikan n kedudukan itu. . “ nkan, kakang. yang dapat a tidak akan mengimbangi kemampuanmu yang tidak ada duanya di Sendang Arum itu,
rpesan kepadanya, ag
tmu itu. “ “Tidak. Tidak. Aku tidak akan membunuhmu Riris. Aku tidak akan menyakitimu. “ “Bukankah kau sendiri yang
u bawa aku keluar dari keputren karena kau ingin membunu
ke
da
h ia juga
rena
akulah yang
sasaran.
Bu kakang lakukan. “
kak ? “
“Tidak. Tidak. Aku tidak akan dapat melakukannya. Jika aku membawamu keluar dari
putren itu karena aku tidak ingin melihat kau jatuh ketangan Miranti. Ia akan membuatnya menjadi pangewan-ewan. Ia akan merendahkanmu
n menghinakanmu. “ “Apa salahku kepadanya ? Apaka
ingin membalas dendam ka
kematian suaminya, uwa Reksayuda ? Karena bibi tidak dapat membalas ayahanda, maka
akan dijadikan
kankah begitu juga yang ingin
“Tidak, Riris. Tidak. “ “Jika kau ingin menyelamatkan aku, kenapa aku kau seret sampai ke tempat ini. Kau kurung aku di gubug kecil yang pengab itu. Kau biarkan kakiku luka dan bahkan membeng
“Maafkan aku, Riris. Barangkali aku sudah menjadi gila.”
ta “Aku menjadi semakin
bin n
ka
pa
ya
en Ajeng Ririswari. “
“Tidak kakang. Sekarang mantapkan hati kakang. Tusukkan kerismu itu di arah jantungku. “ “Jangan berkata begitu Riris. Sebenarnyalah aku tidak ingin menyakitimu. Wadagmu atau hatimu..” “Kakang sudah melakukannya. Kakang sudah menyakiti aku. Wadagku maupun hatiku. Tetapi aku ikhlas kakang. Aku iklas jika kematianku benar-benar memberimu kepuasan tertinggi. “ “Riris. Aku mencintaimu. Apapun yang terjadi, aku tidak akan dapat mengingkarinya. “
Ketika Riris kemudian berusaha untuk duduk dibantu oleh Jalawaja, Suratamapun bangkit berdiri. Sambil menengadahkan wajahnya memandang bulan yang mengapung dilangit, Suratama itupun berka
gung. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya ingi
u lakukan, Jalawaja. “
“Aku sendiri tidak tahu, apa yang harus aku lakukan. “
“Jangan ragu-ragu, kakang. “
Setelah Riris duduk, maka Jalawaja itupun bangkit berdiri pula. Didekatinya Suratama yang bergeser beberapa langkah sambil berkata “Suratama. Jika hal ini terjadi atasmu, katakan. A
ng akan kau lakukan. “ “Jalawaja. Hatimu pecah karena cintamu terbelah. Kau cintai ayahmu yang terbunuh itu. Tetapi kau juga mencintai Rad
. Aku
ad
uhan perasaanmu
ter
ng. “
ah aku benar-benar sudah gila Suratama.“
Suratama t
iba saja Jalawaja itupun berkata
“Su telah kehilangan pegangan. Aku
tel
“Aku menjadi bimbang sekali, Suratama
alah seorang anak yang tidak pernah menunjukkan baktiku kepada orang tua. Aku telah melawan kehendak ayahku ketika ayahku akan meningkah lagi. Aku meninggalkannya dan hidup bersama kakek. Kemudian pada saat ayahku yang telah bersalah terhadap tanah ini mendapat pengampunan dan diperkenankan pulang dari pengasingan, aku tidak dapat ikut menjemputnya. Demikian pula pada saat ayahku terbunuh, aku tidak sempat memberikan penghormatan terakhir karena Miranti masih berada di rumah. “ “Kakang. Lupakan sent
hadap diriku. Lakukan apa yang ingin kakang lakukan. Jika kakang ingin membunuhku, bunuhlah. “
“Tidak, Riris. Aku tidak dapat melakukannya. “ “Bulatkan tekadmu kaka
“Suratama. Katakan kepadaku, apa yang harus aku lakukan. Katakan. “ “Kakang. Kenapa kau menjadi bimbang. “ “Apak
idak segera menjawab. Iapun tidak tahu, jawaban apakah yang harus diberikannya.
Namun tiba-tratama. Aku
ah kehilangan pegangan. Sekarang, bunuh saja aku Suratama. Bunuh aku. “
kipun
ak
sep ering yang hanya pantas
un
ng harus aku
lak
“Kakang “ suara Ririswari bernada tinggi.
“Jalawaja “ berkata Suratama kemudian “Aku tahu bahwa kau berada di persimpangan jalan. Kau menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus kau lakukan. Pada saat-saat kau kehilangan arah, aku masih dapat melihat harga dirimu mes
u sedang terombang-ambing. Tetapi ketika kau menjadi putus-asa dan berniat untuk membunuh diri, maka aku melihat harga dirimu benar-benar akan runtuh. Jika niat itu kau teruskan, maka kau benar-benar tidak berharga lagi. Kau akan menjadi
erti daun jati yang k
tuk menjadi makanan api. “ “Tetapi apa yang pantas aku lakukan sekarang Suratama. “ “Jalawaja. Duduklah. Cobalah menenangkan hatimu. Kau akan sempat memikirkan cara terbaik yang dapat kau lakukan. “ “Kakang “ berkata Riris yang kemudian bangkit berdiri dengan susah payah “duduklah kakang. Seperti yang dikatakan Suratama, tenangkan hatimu. Marilah kita berusaha mencari jalan keluar.“
“Riris. Katakan kepadaku. Apa ya
ukan. “ “Duduklah. “ Dibimbing oleh Ririswari, Jalawajapun kemudian duduk diatas rerumputan yang mulai basah oleh
em
it masih saja bersih.
Bu
ke Barat .
n lakukanlah. Tetapi jika menurut
pe
sudah tidak ada lagi orang yang dapat
ka
langsung terbelah. Jika kau dapat
be
mengatasi persoalan yang
sed
pakah yang sebaiknya harus
kakang lakukan. “
bun. Demikian pula Ririswari dan Suratama. Untuk beberapa saat mereka saling berdiam diri. Angin malam terasa semilir menyentuh tubuh mereka. Sementara itu lang
lan masih nampak mengambang di langit meskipun sudah bergeser semakin
“Jalawaja “ berkata Suratama kemudian “maafkan jika aku mempunyai pendapat. Jika kau tidak berkeberata
ndapatmu tidak dapat kau lakukan, lupakanlah. “ “Katakan Suratama. “ “Apakah
u ajak berbicara ? Orang yang lebih tua yang mungkin dapat memberikan jalan keluar dari persoalanmu yang rumit ? Jalawaja. Sebaiknya kau tidak menetapkan lebih dahulu, bahwa yang telah membunuh Ki Tumenggung Wreda Reksayuda adalah Kangjeng Adipati. Dengan demikian, maka hatimu tidak
rpikir lebih tenang, serta ada orang yang dapat kau ajak berbicara, mungkin kau akan menemukan jalan yang terbaik untuk
ang kau hadapi. “
Jalawaja tidak segera menjawab.
Namun dalam pada itu, Ririswaripun berkata “Kakang. Bukankah kakang masih mempunyai seorang kakek ? Mungkin kakang dapat berbicara dengan kakek, a
k-angguk iapun berdesis “Ya. Aku
ma
lawaja “ berkata
Suratama.
Ap mungkin
ka ratama.
Da
aku?”
a demikian, aku akan minta tolong
ke sisa belas
ka
Jalawaja mengangkat wajahnya. Sambil menganggu
sih mempunyai seorang kakek. Ki Ajar Anggara. Kakekku sekaligus guruku. “ “Kakang dapat bertanya kepadanya, apakah yang sebaiknya kakang lakukan. “ “Ya. Aku dapat menemui kakek dan bertanya kepadanya. Kenapa hatiku yang gelap tidak segera mengingatnya. “ “Jika demikian, bukankah sebaiknya kau pergi menemui kakekmu itu, Ja
“Ya. Aku akan menemui kakekku “jawab Jalawaja. Lalu katanya selanjutnya “ Ririswari.
akah kau mau pergi bersamaku? Atau u merasa lebih tenang pergi bersama Su
pat saja kau menganggap bahwa aku sudah menjadi gila. Kegilaanku itu dapat saja kambuh kapan saja.”
“Aku akan pergi bersamamu, kakang. Kemanapun kau pergi.”
“Jika iblis itu kembali merasuk kedalam jiw
“Aku tidak berkeberatan, kakang.” “Jik
padamu, Suratama. Jika masih ada
sihanmu kepadaku, tolong, kawani aku pergi menemui kakek.”
u
ak
Jika kau ada bersamaku, maka setidaktid
bahwa aku telah terjerumus
kembali ke dalam kuasa iblis.”
h anak seorang pemberontak.”
ak.”
rkan kepada Raden Ayu Reksayuda
ten
ak
.:”
“Apakah kau memerlukan seorang kawan, Jalawaja?”
“Ya. Aku memerlukan seorang kawan. Mungkin diperjalanan aku bertemu dengan prajurit Sendang Arum yang sudah ada di bawah pengaruh Miranti sedang memburu Ririswari. Mungkin juga membur
u sendiri. Tetapi itu tidak penting. Yang paling mencemaskan adalah jika perasaanku menjadi goyah lagi.
aknya ada orang yang dapat memberi peringatan kepadaku,
Suratama menarik nafas panjang. Namun kemudian iapun bertanya “ Kau percaya kepadaku, Jalawaja. Aku adala
“Aku juga anak seorang pemberont
“Baiklah. Aku akan menemanimu pergi ke rumah kakekmu. Tetapi setelah kau berada di rumah kakekmu, maka aku akan kembali ke Pajang.” “Dan melapo
tang keberadaan kami?” “Kau sudah mulai tidak mempercayaiku.” “Aku percaya kepadamu, Suratama. Maafkan
u.” “Marilah. Kita tinggalkan tempat ini
“Apakah kita harus pergi sekarang? Aku letih sekali Kakang. Kakiku terasa pedih sekali. Apakah
ita beristirahat sampai fajar. Jika fajar
mu
enemukannya: Aku melihat arah
ya
di
lam
ah jalan
pin
jalan yang akan dilal
kita dapat beristirahat sampai fajar? “ desis Ririswari.
Jalawaja termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia-pun mengangguk sambil berkata “Baiklah. K
lai merah, kita akan melanjutkan perjalanan.” “Kau tahu jalan ke arah pondok kakekmu itu, Jalawaja?” “Aku akan m
ng harus kita tuju.” “Gunung itu?”
“Ya. Gunung, bentuknya dan gunung anakan
bungnya.” “Ya. Kita akan dapat mencarinya.” “Aku tidak akan mengalami kesulitan untuk menemukan jalan itu. Aku kira jalan ini adal
tas. Meskipun jalan ini jarang dilalui orang, tetapi jalan ini merupakan salah satu jalur kemungkinan.”
Suratama menarik nafas panjang. Sementara Jalawajapun berkata “Salah satu bukti, kau juga memilih jalan ini untuk menelusuri jejak Ririswari.” “Ya. Rasa-rasanya kakiku telah memilih sendiri
uinya.” Dalam pada itu, maka Ririswari telah duduk bersandar sebatang pohon. Kakinya menjelujur diatas rerumputan. Ririswari sama sekali tidak
ya akan menjadi kotor
ka
agak jauh dari
pa
pat memejamkan
ma lir angin membuatnya sekejapsek
akan peristiwa yang sedaijg
dij
seakan-akan
ter
uratama. duduk sambil
be
lam kediamannya perasaan Jalawaja
ba
sandar sebongkah batu
pa
duduknya, sambil membenahi
menghiraukan pakaiann
renanya. Jalawajapun kemudian duduk di sebelahnya, sementara Suratama duduk
danya. Ririswari yang letih itu sem
tanya. Semiejap melup
alaninya itu. Namun setiap kali Ririswari itu
kejut oleh denyut perasaannya yang bergejolak. Setiap kali Ririswari menarik nafas panjang. . Jalawaja sendiri dan S
rdiam diri. Keduanya terdiam seolah-olah masing-masing belum saling mengenal. Pandangan mata mereka meraba kekejauhan di bayangan cahaya bulan yang kekuning-kuningan. Tetapi da
gaikan terombang-ambing oleh angin prahara. Berbeda dengan Jalawaja, meskipun ada juga ketegangan dihati Suratama, tetapi Suratama sempat juga mengantuk. Matanya sempat terpejam beberapa saat sambil ber
das yang basah oleh embun di dinginnya malam. Ketika cahaya merah mulai nampak di langit, maka Jalawaja pun bangkit berdiri. Dipandanginya Ririswari yang sudah bergeser beberapa langkah dari tempat
ram
. Marilah
kit
ahut
Rir
ula sambil menyahut
“Aku ju
perjalanan. Mereka ingin
menempuh
li mereka akan terhalang
oleh wari. Agaknya ia
me sempatan untuk
be
aksanya berjalan seperti
ke
i bahwa kaki
Rir
cepat. Batu-batu kerikil serta batu-batu
pa
semakin sakit.
butnya yang kusut. “Riris “ berkata Jalawaja “ langit telah menjadi merah. Bulan sudah bergulir ke cakrawala
a melanjutkan perjalanan.” “Marilah, kakang. Aku sudah siap “ s
iswari sambil bangkit berdiri. “Suratama “ Suratama bangkit berdiri p
ga sudah siap Jalawaja.” Ketiga orang itupun kemudian telah bersiap untuk melanjutkan
perjalanan selagi matahari masih belum sempat membakar langit. Tetapi mereka akan menempuh jarak yang jauh, sehingga mungkin seka
terik sinarnya. Terutama Rirismerlukan banyak ke
ristirahat. “Kecuali jika aku mem
marin “ berkata Jalawaja di dalam hatinya. Penyesalan yang sangat dalam menghunjam di hatinya. Apalagi ketika ia mengetahu
iswari memang terluka. Suratamalah yang kemudian berjalan di depan. Kemudian Jalawaja membimbing Ririswari berjalan tidak terlalu
das yang tajam membuat kaki Ririswari menjadi
n iapun segera
be
berjalan di belakang mereka.
Beberapa lama mereka berjalan de
Mereka mengikuti jalan setapak dise g
bukit kecil berkapur
Namun tiba-tiba Suratama berhent
iapun melangkah surut mendekati
Ririswari sambil berdesis “Ada sesua
diperhatikan didepan. “
“Apa ? “bertanya Jalawaja.
“Nampaknya ada satu atau du
gerumbul sebelah jalan.”
Jalawaja termangu-mangu seje
kemudian iapun berkata “Kita berhe
Biarlah mereka datang kepada kita. “
awaja
be
“Jika kita sampai ke rumpun bambu, Riris. Aku akan membuat terompah dari clumpring untuk setidaknya mengurangi pedih di kakimu. “
“Aku tidak apa-apa, kakang “ jawab Ririswari meskipun sambil menyeringai menahan pedih. Suratama yang berjalan didepan kadang-kadang melangkah terlalu jauh. Namu
rhenti menunggu Jalawaja dan Ririswari yang ngan lamban. la-sela tebin
i. Bahkan Jalawaja dan tu yang perlu a orang di nak. Namun nti disini. Suratama tidak menyahut, sementara Jal
rkata kepada Ririswari “Duduklah di atas batu itu Riris. Mungkin aku dan Suratama harus berbuat sesuatu. “ Beberapa saat mereka menunggu. Namun
ter
ah jalan.
Baru
hadapan
putera Ki
Tu
an dengan licik kalian
be
nyata bahwa dugaan Suratama itu benar. Beberapa saat kemudian, dua orang muncul dari balik gerumbul di sebelah menyebel
Meskipun langit menjadi semakin merah, namun mereka tidak segera dapat mengenali wajah kedua orang yang membelakangi bulan yang sudah mulai membenamkan diri di cakrawala. “Jadi kalian berdua telah melarikan Raden AJeng Ririswari. Jalawaja dan Suratama.”
kemudian Suratama dan Jalawaja menyadari bahwa yang berdiri di
mereka itu adalah Ragajati dan Ragajaya,
menggung Reksabawa. “Jadi kalian telah bekerja sama untuk melawan Kangjeng Adipati. Bahk
rdua telah menculik puterinya yang sama sekali tidak tahu menahu, apa yang sebenarnya telah terjadi di Kadipaten Sendang Arum. “
ong. Ayahmu, paman Tumenggung
Jay
olah-olah Kangjeng
Ad
den Ajeng
Rir
gkan Jalawaja
ad
rkata Suratama
ke Jalawaja
da
“Ragajati dan Ragajaya “ berkata Suratama “kami sama sekali tidak mempunyai niat buruk terhadap Raden Ajeng Ririswari. “ “Omong kos
ataruna sudah memberontak. Paman Tumenggung dan Raden Ayu Reksayuda telah menyebar berita, bahwa se
ipatilah yang telah membunuh Ki Tumenggung Wreda Reksayuda, sehingga kau dan Jalawaja telah bekerja sama untuk menculik Ra
iswari yang seharusnya tidak terpercik oleh persoalan yang sedang terjadi di kadipaten Sendang Arum. “ Suratama menarik nafas panjang. Ia dapat mengerti tuduhan Ragajati dan Ragajaya itu, karena ia adalah putera Ki Tumenggung Jayataruna yang sudah memberontak, sedan
alah putera Raden Tumenggung Wreda Reksayuda yang terbunuh. “Ragajati dan Ragajaya “ be
mudian “aku mengerti, bahwa aku dan
pat dikenakan tuduhan sebagaimana kau katakan. Tetapi yang terjadi sebenarnya tidak seperti itu. “ “Kau dapat mengatakan apa saja tentang diri kalian berdua. Tetapi kalian tidak akan dapat mengingkari kenyataan.”
“Ragajati dan Ragajaya “ sahut Jalawaja “akupun dapat mengerti, bahwa kau tidak akan
Aku dan Suratama.
Te . Ia
akan dapat menga jadi
seb
ke
diri Raden Ajeng.”
n. Dengan nada dalam iapun
be
, maka aku tentu sudah jatuh
ke
kata Ragajaya.
uhi Raden Ajeng, karena Raden Ajeng
ad
ar membawa Raden
Aje
mempercayai kami berdua.
tapi sekarang bertanyalah kepada Ririswaritakan apa yang telah ter
enarnya. “ Ragajaya dan Ragajati termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Ragajatipun bertanya
pada Raden Ajeng Ririswari “Raden Ajeng. Apa yang telah terjadi sebenarnya atas
Ririswari dengan kaki yang terasa pedih melangkah ke depa
rkata “Ragajati dan Ragajaya. Sebenarnyalah bahwa kakang Jalawaja dan Suratama telah menyelamatkan aku dari taman keputren. Jika aku tidak dibawanya pergi
tengan bibi Reksayuda.” “Raden Ajeng. Apa yang sebenarnya telah terjadi. Katakan yang sebenarnya Raden Ajeng. Jangan takut “ ber
“Aku berkata sebenarnya Ragajaya. “ “Aku tahu, Raden Ajeng tentu sudah diancam oleh Suratama dan Jalawaja. Bagaimana mungkin Suratama dan Jalawaja berusaha menyelamatkan Raden Ajeng. Keduanya tentu juga mendendam dan memus
alah putera Kangjeng Adipati di Sendang Arum. “ “Jika mereka benar-ben
ng keluar dari keputren, justru mereka tentu
lamatkan Raden Ajeng Ririswari “
jaw
arus
merahasiaka
perasaa
an Jalawaja. Serahkan Raden Ajeng
Ririswari kepada kami. Kami akan membawanya
ke berdua
ha
mempunyai pamrih pribadi.” “Kau salah paham Ragajati dan Ragajaya. “ “Ragajati dan Ragajaya “ berkata Jalawaja kemudian “sekarang apa maumu. Kenapa kalian berdua berada di sini dan untuk apa sebenarnya. “ “Aku mengemban perintah Kangjeng Adipati untuk menye
ab Ragajati. “Dimana ayahanda sekarang, Ragajati?“ bertanya Ririswari. “Aku akan membawa Raden Ajeng Ririswari kepada ayahanda. Tetapi aku h
nnya terhadap kedua orang anak pemberontak itu. “ “Jangan berkata seperti itu, Ragajati. Kau belum mengenal kami seutuhnya. Jika kau sebut kami anak pemberontak, maka kau telah menyinggung
n kami. “
“Jika demiki
pada ayahandanya. Sementara itu kalian
rus, pergi. Persoalan diantara kita akan kita selesaikan kelak, jika tugas kami berdua sudah selesai. “
“Kau terlalu sombong Ragajati dan Ragajaya. Kalian kira kalian ini siapa?” “Siapapun kami, tetapi kami sedang
n yang
dib
n
seg
jaminannya. “

ka. Kami
be
mengemban tugas dari Kangjeng Adipati. Kami tidak dapat mengingkari semua pesa
erikan kepada kami. Tidak seorangpun boleh mengetahui, dimana Kangjeng Adipati sekarang berada. Apalagi kalian berdua. Kalian tentu aka
era memberitahukan kepada paman Tumenggung Jayataruna dan Raden Ayu Reksayuda. “ “Tidak, Ragajati dan Ragajaya “ potong Raden Ajeng Ririswari “percayalah kepadaku. Kakang Jalawaja dan Suratama tidak akan mencelakai aku. Merekapun tidak merupakan kepanjangan tangan paman Tumenggung Jayataruna serta bibi Reksayuda. Justru aku menjadi
“Maaf Raden Ajeng. Siapapun tidak akan dapat menyebabkan kami melanggar perintah Kangjeng Adipati. Sekarang, marilah Raden Aje.ng aku bawa kepada ayahanda. Sedangkan biarlah kedua orang itu pergi atau kembali kepada orang tua mereka. “ “Itu tidak mungkin, Ragajati.” “Kenapa ?
“Aku berhutang budi kepada keduanya.” “Raden Ajeng. Seharusnya Raden Ajeng tidak usah merasa takut kepada ancaman mere
rdua akan melindungi Raden Ajeng.” “Ragajati dan Ragajaya. Coba renungkan. Jika mereka berniat mencelakai aku, atau mereka merupakan kepanjangan tangan paman
ka
n yang dilakukan
ole
Ay
ajati dan Ragajaya, bahwa Raden
Aje
aden Ajeng Ririswari.”
bersalah. Kami tidak
me
Tumenggung Jayataruna dan bibi Reksayuda, buat apa mereka membawa aku sampai disini.” “Itulah yang sangat mencurigakan, Raden Ajeng. Mereka tentu mempunyai pamrih pribadi.” “Cukup Ragajati “ bentak Jalawaja “ dengarkan. Kami tidak akan menyerahkan Ririswari ke tangan
lian berdua. Justru kalian berdua ingin memanfaatkan gejolak ini untuk kepentingan pribadi kalian berdua. Tetapi aku ingin menjelaskan sekali lagi, bahwa kami tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan pemberontaka
h paman Tumenggung Jayataruna serta Raden
u Reksayuda. Ragajati dan Ragajaya termangu-mangu sejenak. Mereka teringat ceritera Ki Ajar Anggara tentang hubungan yang rumit antara Jalawaja dengan ibu tirinya. Namun hal itu tidak menghapus kecurigaan Rag
ng Ririswari akan dapat menjadi tempat untuk melimpahkan dendam Jalawaja atas kematian ayahnya. “Mungkin Jalawaja memang tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Raden Ayu Reksayuda, tetapi dendamnya kepada Kangjeng Adipati akan dapat mencelakai R
Justru karena itu, maka Ragajati itupun berkata “Jalawaja dan Suratama. Kami tidak akan menganggap kalian
mpunyai .hak dan wewenang untuk mengadili
ka
alian akan dapat
be
itu menyahut “ Aku
su
Tetapi jika kalian
be
. Perlawananmu akan semakin
me
itu tidak penting. Kenyataan yang kami
tem
palagi Ririswari sendiri tidak mau pergi
be
kalian. Apalagi di pinggir jalan seperti ini. Biarlah nanti waktu yang akan menentukan. Namun demikian, kami tidak dapat menyingkir dari tugas
mi. Membawa Raden Ajeng Ririswari kepada ayahandanya. Karena itu, jangan halangi tugasku. Pada kesempatan lain, k
rhubungan langsung dengan Kangjeng Adipati “ “Kami tidak dapat mempercayai kalian berdua “ jawab Suratama “ karena itu pergilah. Kecuali jika kalian berdua membawa kami berdua serta menghadap Kangjeng Adipati.” “Jangan menunggu sampai batas kesabaranku.” Dengan lantang Jalawaja
dah kehabisan kesabaran. Jika aku masih belum berbuat apa-apa, karena aku memaksa diri untuk tidak mulai dengan kekerasan.
rdua memaksa, maka kami pun akan melayaninya.” “Bagus Jalawaja
mbuktikan, bahwa kau benar-benar telah memberontak. Apakah kau berdiri sendiri atau bergabung dengan paman Tumenggung Jayataruna,
ui disini, kau telah berani melawan perintah Kangjeng Adipati.” ”Sebut saja semaumu. Tetapi aku pertahankan Ririswari. A
rsama kalian berdua.” “Raden Ajeng Ririswari tentu bukannya tidak
an apa yang ingin kau katakan. Tetapi
ka
atan yang
ha
bersedia pergi bersama kami. Tetapi Raden Ajeng Ririswari masih berada dalam bayang-bayang ketakutan atas sikap kalian berdua yang kasar.” “Katak
mi tetap pada sikap kami.” Ragajati dan Ragajaya tidak menunggu lebih lama lagi. Mereka merasa sedang mengemban tugas dari Kangjeng Adipati. Satu kehorm
rus mereka junjung tinggi, sehingga apapun yang terjadi, mereka harus berusaha melaksanakan tugas itu dengan sebaik-baiknya. Apapun yang harus dilakukannya. Bahkan pengorbanan apapun yang harus mereka berikan. Ketika Ragajati dan Ragajaya bergeser dati mempersiapkan diri, maka Jalawaja dan Suratamapun telah bersiap pula.
”Riris “ berkata Jalawaja “ minggirlah. Aku akan melindungimu. Aku tidak akan menyerahkanmu kepada siapapun.” Ririswaripun bergeser surut. Dengan nada dalam iapun berpesan “ Hati-hati kakang. Hati-hati Suratama.” Pesan itu memang telah membuat Ragajati dan Ragajaya menjadi ragu. Agaknya Ririswari benar-benar mengharapkan perlindungan Jalawaja dan Suratama. Tetapi Ragajati dan Ragajaya yang merasa mendapat kehormatan dan kepercayaan
pilihan lain. Mereka harus mengambil
Rir
n untuk mengambil
Rir
di sanggar di rumahnya
sen
ahnya tidak setiap saat berada di
san
ay
mengemban tugas Kangjeng Adipati tidak mempunyai
iswari dan membawanya menghadap Kangjeng Adipati.
Demikianlah, maka sejenak kemudian, mereka telah terlibat dalam pertempuran. Ragajati bertempur melawan Jalawaja dan Ragajaya bertempur melawan Suratama. Mereka adalah anak-anak muda yang sedang tumbuh dan berkembang. Gejolak didalam dada mereka telah membuat darah mereka menjadi panas. Mereka masing-masing merasa wajib untuk melakukan apa yang mereka lakukan. Ragajati dan Ragajaya merasa berkewajiba
iswari, sedangkan Jalawaja dan Suratama merasa wajib mempertahankan Ririswari demi keselamatannya.
Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Ragajaya yang telah ditempa didalam sebuah perguruan, ternyata memiliki beberapa kelebihan dari Suratama yang berlatih dan meningkatkan ilmunya
diri. Dibimbing oleh ayahnya di saat-saat luang. Namun Suratama adalah seorang anak muda yang rajin. Meskipun ay
ggar bersamanya, namun Suratama rajin berlatih meskipun sendiri dengan mengulang-ulang unsur-unsur gerak yang telah diberikan oleh
ahnya. Bahkan dalam kesendiriannya, Suratama tidak pernah melupakan usahanya untuk
angkan guru Ragajati mempunyai murid
da
gerahkan kemampuannya, namun Jalawaja
ma
tidak mempunyai cara untuk melerai
pert
meningkatkan kemampuan serta daya tahan tubuhnya. Ketekunannya itulah yang membuat Suratama memiliki beberapa kelebihan.
Sedangkan Ragajati yang bertempur melawan Jalawaja harus meningkatkan kemampuannya. Keduanya telah berguru kepada orang-orang yang berilmu tinggi. Namun guru Jalawaja yang kakeknya sendiri itu, mempunyai lebih banyak waktu dari guru Ragajati. Jalawaja berguru seorang diri, sed
lam jumlah yang banyak. Sehingga dengan demikian maka penilikan secara pribadi lebih banyak didapat oleh Jalawaja. Karena itu, maka betapapun Ragajati men
sih saja tetap mampu mengimbanginya. Semakin lama pertempuranpun menjadi semakin sengit. Dalam pada itu. langit sudah menjadi terang. Sehingga segala-sesuatunya menjadi nampak lebih jelas. Ririswari yang berdiri di luar arena menjadi bingung. Ia
empuran itu. Suara teriakannya sudah tidak lagi didengar oleh mereka yang sedang bertempur itu. Dalam pada itu, maka Jalawajapun semakin mendesak lawannya. Meskipun ilmu mereka tidak
ang tidak kalah
raj
menghindari serangan Jalawaja yang
me
semakin sengit. Mereka masing-masing
su
ngkah dan bahkan jatuh
bertaut banyak, namun Jalawaja justru di tempa oleh kehidupan yang keras di pondok kakeknya. Banyak pekerjaan yang harus dilakukannya. Namun justru karena itu, maka Jalawaja y
innya berlatih itu memiliki beberapa kelebihan. Meskipun ada selisih selapis-selapis dari ilmu mereka, namun dengan hentakan-hentakan yang kuat, kadang-kadang teriakan yang mengejut, dan dorongan kemauan-yang sangat kuat, maka pertempuran diantara merekapun berlangsung sengit.
Sekali-sekali Suratama memang nampak terdesak. Tetapi dalam keadaan tertentu, jika Ragajaya melakukan kesalahan sedikit saja. maka Suratamapun segera memanfaatkan kesempatan itu. Di arena pertempuran yang lain, Ragajati harus berloncatan dan bahkan beberapa kali berputaran seperti roda
mburunya. Namun dengan melenting tinggi, serta sekali berputar diudara, Ragajati mampu mengambil jarak dan mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan-serangan Jalawaja selanjutnya.
Dengan demikian, maka pertempuranpun menjadi
dah mulai menyentuh tubuh lawan-lawan mereka. Serangan Ragajaya yang mengejutkan telah mengenai dada Suratama sehingga Suratama terlempar beberapa la
be
ehingga
ser
kekuatan dan ketahanan tubuh
ya
ajati meloncat mengambil
jar
tapi
seb
rguling. Namun ketika Ragajaya memburunya, Suratama sudah melenting berdiri. Bahkan dengan cepat Suratama meloncat sambil menjulurkan tangannya ke arah dada Ragajaya.
Ragajaya sempat mengelak sambil memiringkan tubuhnya. Tetapi tiba-tiba saja Suratama merendah. Kakinya menyapu kaki Ragajaya sehingga Ragajaya terpelanting jatuh. Namun dengan cepat pula Ragajaya bangkit, s
angan kaki yang terjulur ke lambungnya dapat dihindarinya. Di lingkaran pertempuran yang lain, Jalawaja dan Ragajati berloncatan saling menyerang. Keduanya memiliki
ng tinggi. Namun kecepatan gerak Jalawaja kadang-kadang sulit diimbangi oleh Ragajati, sehingga serangan-serangan Jalawaja kadang-kadang memaksa Rag
ak. Namun Jalawaja tidak pernah memberinya kesempatan. Jalawaja selalu memburunya, sehingga kadang-kadang Ragajati harus berloncatan beberapa kali. Dan bahkan berputaran dengan cepatnya.
Semakin lama pertempuranpun menjadi semakin sengit. Ragajaya semakin mendesak Suratama. Te
aliknya, Ragajati mengalami kesulitan menghadapi Jalawaja.
Beberapa goresan luka ketika
me
rah.
Ap
masih saja
be
ana, serta keringat mereka
ba uh, maka terasa angin
sem
eempat anak
muda yang sedang bertempur itu, maka
Ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka di tubuh anak-anak muda itu terdapat noda-noda kebiruan. Wajah-wajah mereka menjadi lebam. Bahkan mata Suratama menjadi merah. Perasaan sakit, nyeri dan pedih terasa di beberapa tempat.
reka terjatuh menimpa batu-batu padas, terasa semakin pedih oleh keringatan mereka yang mengalir seperti di peras dari tubuh. Ririswari menjadi sangat cemas ketika ia melihat dari sudut bibir Suratama telah mengalir da
akah darah itu berasal dari bibirnya yang pecah atau giginya yang tanggal atau darah itu berasal dari luka didalam. Namun rasa-rasanya Suratama
rtempur dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Dalam keadaan yang semakin gawat, ketika tubuh mereka yang bertempur menjadi semakin nyeri di mana-m
gaikan di peras dari tub
ilir berhembus semakin lama menjadi semakin kencang. Bahkan kemudian angin itu mulai berputar menjadi angin pusaran.
Ririswari yang menjadi ketakutan bergeser menjauh. Angin yang berputar itu bahkan terasa telah memanasi udara di siang hari yang terik. Ketika angin pusaran itu melibat k
pa .
Me
ang
sem
ndirinya. Mereka masing-masing
tel
t anak-anak muda itu membuka mata
me
ri disini, mereka tidak mau
me
ndangan mata merekapun menjadi kabur
reka terpaksa memejamkan mata mereka, karena angin pusaran itu telah membawa dedaunan dan rumput-rumput kering serta debu yang kelabu berputaran, terangkat terb
akin tinggi. Dengan demikian, maka pertempuran itupun berhenti dengan se
ah memejamkan mata mereka agar mata mereka tidak kemasukan debu, sehingga mereka tidak dapat bertempur dengan mata terpejam. Perlahan-lahan angin pusaran itupun mulai mereda. Dedaunan dan rumput-rumput kering mulai turun bertebaran. Debupun menjadi semakin mengendap dan terhambur ditanah. Pada saa
reka, dan bahkan bersiap untuk bertempur lagi, maka merekapun terkejut: Di antara mereka berdiri seorang tua yang memandang mereka berempat berganti-gantian.
“Kakek “ desis Jalawaja. “Apa yang telah terjadi disini ? “ bertanya Ki Ajar Anggara yang tiba-tiba saja telah muncul diantara mereka.
“Kedua orang itu berusaha menghalangi tugasku, Ki Ajar. Ketika aku bertemu dengan Raden Ajeng Ririswa
nyerahkannya “/berkata Ragajati.
akukannya bagi kepentingan pribadi
me
mentara
Ra
a akan
da
berkata Ririswari yang telah
me
imana
ay
kah sudah aku katakan Raden Ajeng,
“Benar begitu Jalawaja ? “ bertanya kakeknya. “Ya, kek. Aku tidak mempercayai mereka. Jika mereka mel
reka, maka aku akan kehilangan Ririswari. “ “Selain itu, Ki Ajar “ berkata Suratama “Raden Ajeng Ririswari keberatan kami serahkan kepada mereka berdua. “
Ki Ajar mengangguk-angguk. Se
gajayapun berkata “Ki Ajar. Bukankah Suratama itu putera paman Tumenggung Jayataruna yang telah memberontak ? Sedangkan Jalawaja adalah putera Raden Tumenggung Wreda Reksayuda. Jika Jalawaja menganggap bahwa kematian ayahnya itu karena perbuatan Kangjeng Adipati, mak
pat timbul malapetaka bagi Raden Ajeng Ririswari. “ “Ki Ajar “
langkah mendekat “kenapa Ragajati dan Ragajaya tidak mau membawa kakang Jalawaja dan suratama bersamaku menghadap ayahanda ? “
“Aku sudah mendapat perintah, bahwa tidak seorang-pun, saya ulangi, tidak seorangpun yang boleh mengetahui di-mana Kangjeng Adipati itu sekarang berada. “
Ki Ajar tersenyum. Sementara Ririswari berkata “Tetapi apakah aku juga tidak boleh tahu d
ah berada?” “Bukan
ba
ngan kedua
ora
k
be
kau tidak boleh menemui ayahmu sebelum
seg
iriswari. “
kata
Ririswari “meskipun ia putera paman Tumenggung
Jay a, tetapi ia mempunyai sikap yang lain. “
. “
ke mana, eyang ? “ bertanya
Jal
hwa kami berdua akan membawa Raden Ajeng kepada ayahanda ? Tetapi tidak de
ng itu. “ “Kalian telah dibelit oleh kesalah-pahaman. Aku mengerti sekarang, bahwa kalian semuanya tida
rsalah. Kalian semua benar dinilai dari sisi pandang kalian masing-masing. “
Keempat orang anak muda itu terdiam. “Nah , sekarang semuanya ikut aku. Kita pergi menghadap Kangjeng Adipati di Sendang Arum. Kau juga dapat ikut bersama kami Suratama. Tetapi
ala-galanya menjadi terang. Kau tahu, kenapa aku telah membuat ketentuan seperti itu. “ “Aku mengerti Ki Ajar. Aku adalah anak Tumenggung Jayataruna yang telah memberontak.“
“Ya. Akupun nanti ingin tahu, kenapa kau dan Jalawaja tiba-tiba saja bersama-sama telah membawa Raden Ajeng R
“Aku mempercayai Suratama, Ki Ajar “ ber
atarun
“Sokurlah. Tetapi kita memang harus berhati-hati dalam keadaan yang gawat seperti ini
“Kita akan pergi
awaja.
den Ajeng. “
gerak
me an perjalanan. Kaki Ririswari masih terasa
sak ingga gadis itu berjalan sangat lamban.
il itu
be
me
Ki Ajar Anggara tersenyum. Katanya “Marilah. Ikut saja akn. Marilah Ra
Keenam orang itupun kemudian telah ber
neruskit, seh
Tetapi Ki Ajar Anggara tidak memaksanya berjalan lebih cepat lagi. Dengan demikian, maka iring-iringan kec
rgerak maju dengan lamban. Sementara itu mataharipun telah melampaui puncak langit, sehingga panasnya bagaikan membakar ubun-ubun. Beberapa kali mereka harus berhenti. Bahkan kadang-kadang Raden Ajeng Ririswari telah
mbenamkan kakinya di aliran parit di pinggir jalan. Direndamnya kakinya untuk beberapa lama sebelum mereka harus melanjutkan perjalanan lagi. Namun meskipun lambat, akhirnya merekapun menelusuri jalan setapak yang langsung menuju ke pondok Ki Ajar Anggara. “Apakah kita akan pulang eyang ? “ “Ya.” “Lalu bagaimana dengan Ririswari ? Apakah Ririswari akan kita bawa pulang ? “
“Ya, Jalawaja. “
“Bagaimana dengan paman Adipati ? “
itu Ririswaripun bertanya “Kau
menjawab. Namun Ki Ajar
An b “Kau tidak boleh
be itu, Jalawaja. Tuduhan
itu jadi
ses , tetapi ternyata
Kangjeng Adipati
eperti Ki Tumenggung Jayataruna
ya
ggung
me
h sebenarnya yang diinginkannya ? “
“Pamanmu Adipati Sendang Arum berada di rumah kita, Jalawaja. “ “Paman Adipati ada di rumah kita ? “ “Ya.”
Wajah Jalawaja menjadi tegang. Sementara
masih mendendam kepada ayah ? Kau masih menganggap bahwa ayahkulah yang telah membunuh ayahmu ? “ Jalawaja tidak
ggaralah yang menjawarprasangka buruk seperti
harus di buktikan. Seandainya terlanjur ter
uatu dengan Kangjeng Adipatitidak bersalah ? “
Jalawaja tidak menjawab. Sementara Ki Ajarpun berkata pula “S
ng telah terlanjur memberontak dengan mempengaruhi rakyat dan prajurit. Ki Tumen
nghasut prajurit dan rakyat Sendang Arum untuk menggulingkan kekuasaan Kangjeng Adipati dengan alasan, bahwa Kangjeng Adipati telah berbuat sewenang-wenang. Kangjeng Adipati telah berbuat bengis dengan membunuh saudara sepupunya sendiri. Jika benar Kangjeng Adipati membunuh Raden Tumenggung Wreda Reksayuda, apaka
Jalawaja tertunduk. “Dengar Jalawaja. Ada cerita yang sangat
Ki Tumenggung
Re napa Kangjeng
Adipati itu enggung Wreda
Re
pa
-angguk. Katanya “Eyang.
Jus tu
tuduh angjeng Adipati adalah
ke Adipati untuk memiliki
jan
nya. Diluar
sad
menarik yang dikatakan oleh
ksabawa. Salah satu alasan kemembunuh Raden Tum
ksayuda adalah karena Kangjeng Adipati menginginkan jandanya. “ “Ki Ajar “ potong Ririswari “apakah itu benar ? “ “Tentu tidak, Raden Ajeng. Jalawaja tentu tahu
sti, bahwa itu tidak benar. Jalawaja tentu tahu, bahwa yang dikatakan oleh Rara Miranti itu adalah omong-kosong. “
“Kakang “desis Ririswari.
“Miranti adalah seorang pembohong, Riris. “ “Maksudmu bibi Reksayuda ? “ “Ya. Bukankah kau juga mengenal Miranti sebelumnya ? “ “Ya. Aku kenal Miranti. Tetapi Miranti sangat membenciku tanpa aku ketaihui sebabnya, ” Jalawaja mengangguk
tru setelah aku mendengar bahwa salah sa
an terhadap Kinginan Kangjeng
danya, maka aku menjadi yakin, bahwa bukan Kangjeng Adipati yang sudah membunuh ayahku itu. “ Ririswari menundukkan wajah
arnya, tangannya mengusap titik-titik air yang mengembun di matanya. Bahkan kemudian
gis ? “
h di makam ibunda masih
ba
burkan untuk
me ma ayahandamu. Dengan demikian
ma erusaha meyakinkan para prajurit
da
itu, kakang ? “ bertanya Ririswari.
ar itu, maka aku justru meyakini
terdengar isaknya yang tertahan. “Riris. Kenapa kau menan
“Apakah ayahanda benar-benar sudah melupakan ibunda. Tana
sah oleh embun dan air mata. Sekarang ayah sudah berniat untuk mencari gantinya. Bahkan dengan membunuh uwaTumenggung Reksayuda.” “Tidak Riris. Itu tidak terjadi. Tuduhan itu dilontarkan oleh orang-orang yang sengaja memfitnah ayahandamu.”
“Jika tidak ada api, apakah akan ada asapnya ?” “Bukan asap yang mengepul di udara. Tetapi debu yang sengaja di hambur-ham
njelekkan naka mereka b
n rakyat Sendang Arum, agar mereka mendukung pemberontakan yang dilakukan oleh Miranti yang telah berhasil mendapat sebutan Raden Ayu Reksayuda.” “Kau yakin
“Aku yakin, Riris.”
“Ketika kakang yakin bahwa ayahandalah yang membunuh uwa Reksayuda, apakah kakang juga sudah mendengar celoteh tentang niat ayah untuk mengambil janda uwa Reksayuda ?” “Tidak. Aku belum mendengar. Jika aku sudah mendengar kab
ba
ya pula “semula
ha
ahwa air itu akan mengalir ke
tem
hwa paman Adipati tidak membunuh ayah dengan cara apapun juga.” Ririswari mengusap matanya yang basah dengan lengan bajunya.
“Sudahlah. Marilah kita teruskan perjalanan ini” berkata Ki Ajar Anggara. Lalu katan
nya angger Ragajati dan angger Ragajaya sajalah yarjg mendapat perintah untuk mencari Raden Ajeng Ririswari. Tetapi hatimu merasa tidak tenang. Karena itu, akupun pergi menyusul mereka berdua. Untunglah bahwa aku tidak terlambat.”
Namun ketika mereka meneruskan perjalanan, tiba-tiba Suratamapun berkata “Ki Ajar. Apakah aku dapat meneruskan perjalanan ini ?” “Kenapa ?.” “Apakah aku pantas menghadap Kangjeng Adipati apapun alasannya ? Aku adalah anak seorang pemberontak yang bahkan telah berhasil menyingkirkan Kangjeng Adipati dari dalem kadipaten.”
“Yang memberontak adalah ayahmu, ngger. Bukan kau.” “Tetapi aku adalah anak Tumenggung yang memberontak itu, Ki Ajar. Biasanya orang mengatakan, b
pat yang lebih rendah. Sehingga kejahatan yang dilakukan oleh orang tua, akan menyentuh anaknya pula.”
salahan sebagaimana
dil
leli kesalahan itu.”
Sementara
Jal
tidak tahu apa-apa.
Se
yang tidak cantik atau
seo
waja ingin berteriak menyesali
pe
“Tidak seluruhnya benar, Suratama. Jika kau memang tidak berbuat ke
akukan oleh ayahmu, kau tidak usah-merasa cemas menghadap Kangjeng Adipati.” “Kemarahan Kangjeng Adipati kepada ayah, akan dapat tertumpah kepadaku.”
“Tidak. Jangan cemas. Kangjeng Adipati bukan seorang pendendam. Ia tidak akan melimpahkan kesalahan seseorang kepada orang lain. Yang bersalah, adalah orang yang bersalah. Yang tidak bersalah, tidak akan terpercik o
Suratama termangu-mangu sejenak.
awa-jalah yang telah tersentuh oleh kata-kata kakeknya itu. Kemarahan dan dendamnya kepada Kangjeng Adipati ingin ditumpahkannya kepada anak perempuannya yang
andainya Ririswari tidak sejak sebelumnya telah menarik hatinya, seandainya anak Kangjeng Adipati itu orang lain, seorang gadis
rang remaja laki-laki, apakah ia benar-benar telah membunuhnya.
Jika itu terjadi maka Jalawaja telah bersalah ganda. Ia telah membunuh orang yang tidak \tahu apa-apa dan sama sekali tidak bersalah. Kemudian ternyata pula.bahwa Kangjeng Adipati itu sendiri tidak bersalah. Rasa-rasanya Jala
rbuatannya itu. Ia telah membuat Ririswari menderita. Kakinya terluka dan hatinyapun telah
ahan diri. Tetapi ia
be
knya Suratama masih saja ragu-ragu
seh
itu tidak mungkin, tetapi aku
pe
ng cemas.”
terluka pula, bahkan agaknya terasa lebih parah daripada luka di wadagnya. Tetapi Jalawaja masih men
rjanji didalam hatinya, bahwa ia harus minta maaf seribu kali kepada Ririswari dan kepada Kangjeng Adipati di Sendang Arum. Namun aga
ingga Ririswarilah yang berkata “Suratama. Aku akan bersaksi, bahwa kau tidak bersalah. Bahwa kau berniat baik ketika kau menyusulku. Ayah tentu akan mempercayainya.” “Apakah benar begitu Raden Ajeng?”
“Aku menjadi jaminan Suratama, Jika ayah akan menghukummu, maka akulah yang akan menyandang hukuman itu.” “Meskipun
rcaya, bahwa Raden Ajeng berniat menolongku. Terima kasih. Raden Ajeng.” “Nah. Marilah. Kangjeng Adipati tentu menunggu dengan hati ya
Merekapun segera meneruskan perjalanan yang sudah tidak terlalu jauh lagi. Meskipun demikian, mereka tidak dapat berjalan lebih cepat. Jalawaja telah membuat sebuah tlumpah dari clumpring yang sudah tua yang sekedar dapat mengurangi pedih kaki Ririswari. Beberapa lama mereka saling berdiam diri. Di paling depan berjalan Ki Ajar Anggara. Kemudian
imbing Ririswari yang berjalan
ter
merekapun di Sendang Arum tidak
be
uruan mereka.
.
ti Jayanegara dari
Pu
ia telah
mi
g Arum.
Jik ka Kangjeng
Ad
Jalawaja memb
tatih-tatih. Suratama dan yang di paling ujung adalah Ragajati dan Ragajaya. Keduanyaa tidak mengerti, gejolak apa yang telah terjadi sebelum mereka datang menemukan Ririswari yang berjalan bersama Jalawaja dan Suratama. Hubungan
gitu akrab dengan Suratama dan Jalawaja, meskipun umur-umur mereka hampir sebaya. Ragajati dan Ragajaya memang tidak berada di tengah-tengah pergaulan para anak Tumenggung, karena mereka berada di perg
Perjalanan mereka tidak akan lama lagi Mereka sudah berjalan di jalan yang memanjat naik menuju ke pondok Ki Ajar Anggaran yang berada di lereng bukit
Dalam pada itu, di Sendang Arum telah terjadi kesibukan. Kangjeng Adipa
cang Kembar telah datang dengan membawa prajurit segelar-sepapan. Raden Ayu Reksayuda memang sudah memberitahukan kepada para pemimpin yang berada di bawah pengaruhnya, bahwa
nta bantuan kepada Adipati Pucang Kembar untuk menegakkan kedudukannya. Mereka hanya akan tinggal beberapa bulan saja di Sendan
a segala sesuatunya sudah pasti, ma
ipati Jayanegara akan segera meninggalkan
rencana itu diberitahukan kepada Ki
Tu a, Ki Tumenggung
Jay
ung Jayataruna tidak dapat
me
a buah rumah yang besar
ya
h para prajurit itu mapan di barak mereka
ma
ti Jayanegara
aja. Atau besok atau
lus
m
sel
rum?”
Sendang Arum. Ketika
menggung Jayatarun
ataruna sudah menyatakan keberatannya. Tetapi Raden Ayu Reksayuda dan licin itu sempat mempengaruhi para pemimpin yang lain, sehingga akhirnya, Ki Tumengg
nolaknya. Karena itulah, maka ketika para prajurit itu benar-benar datang, maka Sendang Arum sudah menyediakan beberap
ng telah disiapkan untuk menjadi barak para prajurit dari Pucang Kembar. Setela
sing-masing, maka Raden Ayu Reksayuda telah menerima Kangjeng Adipati Jayanegara di dalam kadipaten. “Baru hari ini kami tiba, kangmbok” berkata Kangjeng Adipa
“Aku mengerti dimas. Sebagai seorang Adipati, dimas tentu sangat sibuk. Karena itu, maka persoalan Sendang Arum adalah persoalan yang akan diperhatikan nanti-nanti s
a, atau kapan saja jika sudah sempat.” “Bukan begitu, kangmbok. Bagiku Sedang Aru
alu mendapat perhatian yang pertama.” “Hanya kadipaten Sendang A
“Tentu tidak kangmbok. Tentu ada yang lain
ik dari kadipaten Sedang Arum ini
sen
pa aku harus bersusah payah
da rit segelarsep
agih janji.”
at untuk datang
ke
lit memberikan alasan-alasan untuk
me
ti tersenyum. Namun iapun
be
eka ?”
yang lebih menar
diri.” “Benar begitu dimas ?”
“Jika tidak, kena
tang kemari dengan membawa prajuapan ?”
“Terima kasih dimas. Tetapi setelah dimas menerima utusanku yang memberitahukan bahwa kakang Tumenggung Jayataruna sudah mendesak untuk men
“Tidak. Bukan karena itu. Sebelum utusan kangmbok datang, aku sudah berni
mari.” “Dimas. Kakang Tumenggung Jayataruna perlu mendapat perhatian khusus. Ia sudah semakin mendesak untuk menagih janji. Aku sudah menjadi semakin su
nolaknya.” Kangjeng Adipa
rtanya “Tetapi bagaimana dengan para pemimpin yang lain ? Apakah kangmbok sudah berhasil menguasai mer
“Sudah. Aku sudah menguasai mereka Peran kakang Tumenggung sudah mulai berkurang.” “Jika demikian, kakang Tumenggung Jayataruna itu sudah bukan apa-apa lagi.”
“Kalau ia memaksakan kehendaknya untuk
u
ak
rahat saja dahulu. Nanti
pe yataruna akan kita bicarakan
lag
sebuah taman yang meskipun
tid i memberikan kesan yang
kh
.”
i ke taman
ke
menagih janji ?” “Bukan persoalan yang besar, kangmbok. Ak
an menyelesaikannya”
“Benar dimas ?”
“Ya. Aku akan bertanggung-jawab.”
“Baiklah dimas. Jika demikian, sebaiknya sekarang dimas beristi
rsoalan kakang Jai.”
“Istirahat ? Maksud kangmbok ? Bukankah sekarang kita sudah beristirahat ?” “Beristirahatlah di taman, dimas. Tidak di sini. Suasananya akan berbeda. Di keputren kadipaten Sendang Arum ada
ak begitu luas, tetapusus.”
“Benar kangmbok ? Sebaiknya dimas membuktikannya.” “Jika demikian, marilah kangmbok. Aku adalah seorang tamu. Jadi aku menurut saja apa yang kangmbok kehendaki
Raden Ayu Reksayuda tersenyum. Namun iapun kemudian melangkah mendahului perg
putren kadipaten Sendang Arum. Di belakangnya Kangjeng Adipati Jayanegara berjalan mengikutinya. Namun mereka terkejut ketika mereka
n Ayu.”
yu. Kelak aku tidak akan memanggil Raden
Ayu. T den
Ay etapi
ka
mengajukan
be h hari ini ?
Bu
ih belum tertangkap.”
Ayu
su prajurit untuk
me
me
memasuki taman keputren, mereka melihat Ki Tumenggung Jayataruna sudah berada di taman. “Kakang Jayataruna ?” “Ya Rade
“Apa yang kakang lakukan di sini ?” “Apa yang aku lakukan di sini ? Satu pertanyaan yang aneh Raden Ayu.” “Kenapa aneh ? “
“Bukankah aku berada di rumahku sendiri. Kadipaten ini akan menjadi rumahku dan rumah Raden A
etapi aku akan memanggil diajeng. Rau tidak akan meipanggil aku kakang. T
ngmas Adipati. “ “Apa maksudmu ? “
“Maksudku ? Kenapa Raden Ayuberapa pertanyaan yang aneh-ane
kankah kita sudah berjanji untuk hidup menjadi suami isteri jika segala sesuatunya sudah selesai. Bukankah sudah waktunya aku menagih janji Raden Ayu itu ? “ “Tidak. Waktunya masih jauh, kakang Jalawaja dan Ririswari mas
“Keduanya tidak akan tertangkap. Raden
dah memerintahkan sekelompok
mburu mereka, membunuhnya dan nguburnya di tempat yang jauh dan terpencil.
emikian, maka mereka tidak akan pernah
ter ku tidak
akan dengan
de jadi
ist
nji yang sudah
kita buat an tugas kita.
Ba
yataruna tertawa. Katanya
“R
kakang.”
Ayu mengira bahwa aku tidak tahu apa
ya
ku mengambil
ke Ayu akan
mengkhiana
Dengan d
tangkap. Apakah dengan demikian apernah menagih janji? Apakah
mikian Raden Ayu tidak akan pernah men
eriku ?”
“Tidak kakang. Aku tetap pada ja. Kita harus menyelesaik
ru kita dapat memetik hasilnya. Jika tidak, maka para prajurit dan rakyat Sendang Arum akan menilai perbuatan kita.” Ki Tumenggung Ja
aden Ayu menganggap aku seperti anak-anak saja. “ “Kenapa kakang berpendapat demikian ?” “Tidak Raden Ayu. Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi. Aku mau sekarang Raden Ayu menjadi isteriku. Sekarang.” “Jangan kehilangan akal,
“Raden
ng Raden Ayu bicarakan dengan kangjeng Adipati Jayanegara di ruang dalam ? Aku mendengarkan Raden Ayu. A
simpulan, bahwa Raden tiku.
“Kakang. Kenapa kakang berkata begitu ?”
“Raden Ayu tidak usah ingkar. “
“Sudahlah kangmbok. Biarlah kita berterus-
a “Apa maksud Kanjeng
Ad
ah tidak diperlukan lagi, kakang.
Ge
pati
Senda
au maksud?”
terang “
“Berterus-terang tentang apa, dimas?” “Tentang kakang Tumenggung Jayataruna.” “Terus terang bagaimana menurut dimas?” “Kita tidak memerlukannya lagi.”
Raden Ayu Reksayuda menarik nafas panjang. Sementara itu dengan nada tinggi Ki Tumenggung Jayataruna bertany
ipati?” “Kau sud
gayuhan Raden Ayu Reksayuda sudah tercapai. Ia sudah berhasil mengusir Kangjeng Adi
ng Arum dari Kadipaten berkat bantuanmu. Ia juga sudah menguasai pastikan Kadipaten ini serta seluruh rakyatnya. Juga berkat bantuanmu. Nah, sekarang Raden Ayu Reksayuda tidak memerlukan kau lagi.”
“Jadi?”
“Kau tahu sendiri apa yang akan terjadi pada dirimu. Kalau saja kau tidak menagih janji, mungkin kami akan bersikap lain.”
“Kami siapa yang k
“Kami. Aku dan Raden Ayu Reksayuda.” “Kalian bukan lagi sosok manusia. Kalian adalah iblis yang paling terkutuk.” “Jangan menyesali nasibmu yang buruk, Ki
aku
ing g
Aru
yalah wadagmu?”
un bagi Ki
Tu
Tumenggung Jayataruna.” “Kau kira aku akan meratap kemudian menggantung diri karena aku diperlakukan seperti ini? Tidak. Aku harus mendapatkan yang
inkan. Aku akan menjadi Adipati di Sendan
m. Raden Ayu Reksayuda akan menjadi isteriku.” “Bagaimana kau dapat menjadikan aku isterimu jika aku tidak mau.” “Tidak ada masalah. Maii atau tidak mau. Bagiku sama saja.” “Jika kau mampu memaksaku, maka yang akan kau dapatkan han
“Aku memang hanya membutuhkan wadagmu. Bukankah selama ini aku juga hanya mendapatkan wadagmu, bukan hatimu? Dalam ketidak jujuranmu, maka kau bagiku bukan apa-apa lagi kecuali ujud kewadaganmu.”
“Gila. Kau mengigau.” Ki Tumenggung Jayataruna tertawa. Katanya “Kau takut Kangjeng Adipati kecewa karena kau bukan lagi seorang perempuan yang bersih?” “Omong kosong.” “Kau tawarkan dirimu kepada Kangjeng Adipati di Sendang Arum dengan memancing belas kasihannya. Berurai air mata mohon amp
menggung Reksayuda. Tetapi setiap kau
Reksayuda
kakang
Tu
me
ahwa aku memang
bu
yang kau katakap itu.”
ang bernama Raden Ayu Reksayuda.
Jik
menghadap, kau kenakan pakaianmu yang terbaik, Kau rias wajahmu sampai setebal topeng kayu. Kau bentuk bibirmu seperti bibir Candrakirana. Kau bentuk alismu seperti bulan tanggal pertama.” “Cukup, cukup “ teriak Raden Ayu
“Kau pakai tubuhmu sebagai tumbal untuk mencapai keinginanmu. Jika saja
menggung Reksabawa seorang Tumenggung yang rakus seperti aku, maka kaupun tentu telah
nyuapnya dengan kepalsuanmu itu. Kau tentu berjanji untuk menjadi isterinya kelak jika Kangjeng Adipati sudah terusir dari Kadipaten. Tetapi aku kagum akan kebersihan hati Kakang Tumenggung Reksabawa.”
“Diam. Diam kau. Kau bohong. Semuanya omong kosong. Aku akui, b
kan perawan karena aku adalah isteri kangmas Tumenggung Reksayuda. Tetapi aku bukan perempuan sekotor
Ki Tumenggung Jayataruna tertawa semakin keras. Lalu katanya kepada Kangjeng Adipati Jayanegara “Nah, Kangjeng Adipati. Itulah perempuan y
a kau pernah mendengar dongeng Yuyu Kakang dan para Kleting, maka Raden Ayu Reksayuda adalah salah seorang diantara para Kletirtg itu. Tetapi bukan Kleting Kuning. Meskipun cantik, tetapi ia adalah sisa si Yuyu Kangkang.”
“Diam kau Jayataruna “ bentak Kangjeng Adipati
rcaya kepada celotehmu itu? Kau
me
ndiri.”
an
da
kemampuan melebihi kemampuank
“Kau sudah menjadi gila. Tetapi bag
sama sekali tidak berbahaya.”
“Kau mau apa Adipati Pucan
berada di tanahku sendiri. Di bumi
rumahku sendiri.”
“Aku akan membunuhmu. K
diperlukan lagi disini. Kau harus d
kau tidak mengganggu perjalanan
seterusnya.”
“Adipati Pucang Kembar tidak
jantungku berdebar-debar. Jika kau tida
“kau kira aku pe
ncoba untuk memfitnah kangmbok Reksayuda karena kemauanmu tidak diturutinya. Itu adalah kebiasaan orang-orang licik yang tidak menghormati harga dirinya se
“Apa saja yang kau katakan , tidak akan dapat menghapus kenyataan yang sudah terjadi.” “Diamlah. Sebentar lagi , kau akan disingkirk
ri taman keputren kadipaten Sendang Arum ini.” “Siapa yang akan menyingkirkan aku. Aku adalah Jayataruna, Adipati yang baru di Sendangarum . Tidak ada orang yang memiliki u.”
iku kau g kembar. Aku ku sendiri dan di au sudah tidak isingkirkan, agar kami untuk dapat membuat
k mati di taman ini karena kau berhasil melarikan diri, maka aku akan memburumu. Aku akan menjadikan Pucang Kembar karang abang.”
“Kau bermimpi Jayataruna. Bersiaplah. Aku akan
. Bahkan dengan cepat, Ki
Tu
pertempuran di
.
membunuhmu.” Ketika Kangjeng Adipati bergeser mendekat, maka Ki Tumenggung Jayatarunapun segera mempersiapkan dirinya pula. Kangjeng Adipati Pucang Kembar yang sangat marah itupun segera menyerangnya. Dengan garangnya kangjeng Adipati melanda Ki Tumenggung Jayataruna seperti angin prahara. Tetapi Ki Tumenggung sudah siap sepenuhnya . Karena itu maka iapun mampu menghindari serangan itu
menggung Jayatarunapun telah membalas menyerang. Dengan demikian maka
taman keputren itu dengan cepat menjadi semakin sengit. Keduanya telah meningkatkan ilmu mereka masing-masing
Kangjeng Adipati adalah seorang Adipati yang masih terhitung muda. Tetapi dengan berbagai laku, Kangjeng Adipati telah menguasai ilmu yang tinggi.
Jayatarunapun memiliki
ke
dari dunianya yang kelam
da
baik. Sehingga
ak
, maka perjuangan hidupnya
ya
Se
Namun Ki Tumenggung
mampuan yang tinggi. Ia ditempa oleh pengalaman yang berat dalam hidupnya. Semasa remajanya, dan masa-masa mudanya Ki Tumenggung dibentuk dalam suasana yang keras dan berat. Ki Tumenggung Reksabawalah yang telah mengentaskannya
n tidak berpengharapan. Oleh Ki Tumenggung Reksabawa, kehidupan Jayataruna mulai terangkat. Jayataruna mulai melihat peletik-peletik sinar yang. menjanjikan masa depan yang lebih
hirnya Ki Jayataruna itupun menjadi seorang Tumenggung. Dengan demikian
ng berat telah mewarnai kemampuannya. Dengan garang pula Ki Tumenggung Jayataruna mengimbangi serangan-serangan Kangjeng Adipati yang sedang marah itu. Keduanyapun saling menyerang dan bertahan.
kali-sekali kaki Kangjeng Adipati terjulur menggapai tubuh Ki Tumenggung. Namun kemudian, Ki Tumenggunglah yang meloncat sambil menjulurkan tangannya ke arah dada. Bahkan sekali-sekali telah terjadi benturan diantara dua kekuatan yang besar itu. Keduanyapun telah bergetar dan terdorong surut beberapa langkah.
Kangjeng Adipati itu tergetar beberapa langkah surut ketika Ki Tumenggung Jayataruna berhasil mengenai dadanya. Tangannya yang terjulur lurus, berhasil menerobos pertahanannya, sehingga
as telah
jat
gjeng Adipati dengan cepat
memper dukannya. Ketika Tumenggung
Jay n
cep
seh
eka
sam
Jay
taman keputren untuk
me
ri Pucang Kembar yang memimpin
pra
terasa seakan-akan segumpal batu pad
uh menimpa dadanya.
Namun Kanbaiki kedu
ataruna meloncat menyerang, maka denga
at kaki Kangjeng Tumenggung itu terjulur lurus mengenai lambungnya.
Ki Tumenggung Jayataruna terdorong beberapa langkah surut. Namun Ki Tumenggung masih tetap mampu mempertahankan keseimbangannya,
ingga ia tidak jatuh terlentang. Pertempuranpun kemudian menjadi semakin sengit. Keduanya telah meningkatkan ilmu mer
pai ke puncak. Namun kemudian ternyata bahwa Kangjeng Adipati Jayanegara dari Pucang Kembar merasa sulit untuk mengimbangi ilmu Ki Tumenggung
ataruna, sehingga dengan demikian, maka Kangjeng Adipatipun setiap kali berloncatan surut. Agaknya Raden Ayu Reksayuda mampu melihat kesulitan Kangjeng Adipati. Karena itu, maka iapun segera meninggalkan
ncari Ki Tumenggung Prangwandawa. Seorang Senapati da
jurit segelar sepapan dari Pucang Kembar yang datang bersama Kangjeng Adipati. Agaknya Ki Tumenggung Prangwandawa tidak tahu apa yang terjadi di taman keputren. Karena itu, ketika berlari-lari kecil Raden Ayu Reksayuda
ku menjebaknya, maka aku tidak akan
me
.
be
a, maka
keris ini harus meneguk darah. Kali ini darahmulah
yang akan
“Jangan
ses
ini akan minum
da
isku yang cemerlang.
Ke
menghampirinya di pringgitan, maka Ki Tumenggung Prangwandawa itu terkejut. “Dimana Kangjeng Adipati sekarang ? “ “Di Taman. “
“Apakah Raden Ayu sengaja menjebaknya ? “ “Jika a
manggilmu. “ Ki Tumenggung Prangwadawa itupun berlari menuju ke taman keputren
Di Taman, Kangjeng Adipati benar-benar sudah
rada dalam kesulitan. Karena itu, maka Kangjeng Adipatipun segera menarik kerisnya. “Kau akan mati oleh pusakaku, Jayataruna. Jika pusakaku sudah keluar dari wrangkany
diminumnya. “ Namun Ki Tumenlggung Jayatarunapun segera menarik kerisnya pula sambil beirkata
umbar, Jayanegara. Kau tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa kau tidak dapat mengalahkan aku. “
“Tetapi kerisku yang haus
rahmu. “ “Kau lihat, pamor ker
rismu bukan apa-apa dibanding dengan kerisku, Jayanegara. Apalagi orang yang memegangnya memiliki kelebihan. Maka jangan menyesal bahwa
Raden Ayu Reksayuda akan
me
an kau Jayataruna “ terdengar suara di pintu
bu
ngit. Ki Tumenggung Jayataruna seorang
kau datang ke Sendang Arum sekedar ingin di kubur. Mungkin
nangisimu. Tetapi jika mayatmu sudah ditimbun dengan tanah, maka Raden Ayu sudah akan dapat tertawa lagi. Ia sudah melupakanmu, karena ia akan selalu bersamaku. “ “Set
tulan. Ketika mereka berpaling, maka dilihatnya Ki Tumenggung Prangwandawa berdiri tegak di pintu sambil bertolak pinggang.
“Kau sadari, apa yang kau lakukan Jayataruna ?“ “Kemarilah pengecut. Kau hanya seorang abdi. Kau tidak perlu mengetahui persoalan apa yang telah terjadi. Tetapi jika kau akan menjilat telapak kaki bendaramu, marilah. Keroyok aku. “
“Anak demit. Kau kira kau ini siapa he ? “ “Aku Adipati Sendang Arum. Suami Raden Ayu Reksayuda. Kelak kau harus memanggilnya Gusti Putri. Bukan hanya sekedar Raden Ayu. “
“Kau masih saja mengigau. Apa sebaiknya yang harus hamba lakukan, Kangjeng. “ “Kita bunuh orang gila ini. “ “Marilah. Datanglah bersama-sama. Aku akan melumatkan kalian disini. “ Merekapun segera terlibat dalam pertempuran yang se
dir
umenggung
Pra
perti banjir bandang.
dara.
menyentuh kulitnya,
seh
ng Jayataruna segera menyadari,
ba
dirinya m
tel
ia
i melawan Kangjeng Adipati Pucang Kembar dan Senapatinya yang terpercaya. Ki Tumenggung Prangwandawa.
Namun betapa tingginya ilmu Ki Tumenggung Jayataruna, ternyata ia tidak mampu mengimbangi kekuatan kedua orang lawannya. Sehingga sekali-sekali Ki Jayataruna harus berloncatan mengambil jarak. Namun Kangjeng Adipati dan Ki T
ngwandawa tidak banyak memberinya kesempatan. Setiap kali mereka segera memburu dan menyerarig se
Ternyata bahwa Ki Tumenggung Jayataruna benar-benar terdesak. Ki Tumenggung Prangwandawapun telah menarik kerisnya pula, sehingga tiga buah keris yang hitam berkilauan dengan suasana warna yang berbeda, saling menyambar di u
Ternyata keris Kangjeng Adipati mampu menembus pertahanan Ki Tumenggung Jayataruna, sehingga ujungnya telah
ingga segores luka telah menganga. Ki Tumenggu
hwa ia tidak akan mampu mempertahankanelawan kedua orang itu. Apalagi tubuhnya
ah terluka. Ia tahu bahwa keris Kangjeng Adipati itu tentu mengandung bisa yang keras. Karena itu
harus mempunyai waktu untuk mengobati lukanya itu sebelum bisanya menjalar kemana-
ma
yang tidak
da
Tumenggung
Jay
dan berlari melalui pintu
sek
r hantu meninggalkan halaman
da
enggung Jayataruna
me
na. Karena itu, maka Ki Tumenggung
pat ingkar dari kenyataan itu memilih untuk meninggalkan arena pertempuran. Dengan tangkasnya Ki
atarunapun segera berlari ke pintu butulan. Meloncat ke longkangan
eteng, turun ke tempat kudanya di tambatkan. Dengan sigapnya Ki Tumenggung Jayatarunapun telah meloncat ke punggung kudanya. Sesaat kemudian, maka keduanyapun berlari seperti di keja
lem kadipaten.
Kangjeng Adipati dan Ki Tumenggung Prangwandawa mencoba untuk mengejarnya lewat pintu seketheng, sementara Raden Ayu Reksayuda berlari ke pendapa dan berteriak “Tangkap Ki Tumenggung Jayataruna. Jangan biarkan orang itu melarikan diri.”
Demang Ngampel dan Demang Wangon terkejut. Serentak mereka berdiri dan bertanya “Apa yang telah terjadi ?” “Kalian lihat Ki Tum
larikan diri?” “Melarikan diri ?” bertanya Ki Demang Wangon. “Ya. Melarikan diri. Siapkan sekelompok orang-orang kalian. Kejar dan tangkap hidup atau mati.”
emukan seseorang
yang
ejap untuk
mi
ya telah dilakukan oleh Ki
Tu
“Kenapa Ki Tumenggung Jayataruna harus di tangkap ?” “Ki Tumenggung Jayataruna ternyata ular berkepala dua. Ia sangat berbahaya.” Kedua orang Demang masih termangu-mangu ketika Kangjeng Adipati Jayanegara mendekati mereka dan berkata “Tidak perlu.” “tetapi ia sangat berbahaya, dimas “ sahut Raden Ayu Reksayuda.
“Tidak seorangpun yang akan dapat bertahan hidup jika kulitnya tergores oleh ujung kerisku seperti Ki Tumenggung Jayataruna. Ia tentu akan segera mati. Bisa df ujung kerisku adalah bisa yang sangat tajam.”
“Tetapi, jika ia mampu mendapatkan obatnya ?” “Tidak. Sulit sekali untuk mendapatkan penawarnya. Sebelum ia men
dapat mengobatinya, ia tentu sudah mati. Seandainya Ki Tumenggung itu pulang, maka ia hanya akan mendapat kesempatan sek
nta diri kepada Nyi Tumenggung.”
Raden Ayu Reksayuda mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Demang Ngampel bertanya “Apa yang sebenarn
menggung Jayataruna ?”
“Ceritanya panjang, Ki Demang “ jawab Raden Ayu Reksayuda “besok aku akan memberikan penjelasan selengkapnya. Tetapi untuk sementara
kalian. Tidak bagi kepentingan rakyat
Se
pada puncak
pe
gi
Ra
be
g kota,
Ra
ini aku hanya dapat mengatakan, bahwa Ki Tumenggung Jayataruna telah berjuang tidak bagi kepentingan
ndang Arum yang haus akan keadilan dan kebenaran. Tetapi ia berjuang bagi pamrih pribadinya. Pada saat kita berada
rjuangannya, Ki Tumenggung Jayataruna menjadi seperti orang gila. Aku dipaksanya untuk menuruti keinginannya. Untunglah Kangjeng Adipati Jayanegara di Pucang Kembar-dan Ki Tumenggung Prangwandawa melihat kekasarannya, sehingga mereka telah menyelamatkan aku.”
Ki Demang Wangon dan Ki Demang Ngampel mengangguk-angguk kecil. Namun mereka nampaknya masih agak ragu terhadap keterangan Raden Ayu Reksayuda itu. Tetapi mereka tidak bertanya lebih jauh. Apala
den Ayu Reksayuda serta Kangjeng Adipati dan Ki Tumenggung Prangwandawa telah masuk lagi ke ruang dalam dalem kadipaten. “Jangan hiraukan lagi Jayataruna, kangmbok “
rkata Adipati Jayanegara kemudian. . “Baiklah, dimas. Aku percaya kepada dimas” “Ia tidak akan mencapai pintu gerban
den Ayu“ berkata Ki Tumenggung Prangwandawa. Raden Ayu Reksayuda itu mengangguk-angguk.
kudanya semakin cepat. Semula ia ingin
pu
ng kota.
gar didalam tubuhnya. Bahkan di
be
pur pada warangannya itu.”
api ia tidak mau mati diinggir jalan tanpa
di
Dalam pada itu, Ki Tumenggung Jayataruna melarikan
lang. Tetapi niat itu diurungkan. Para prajurit di dalem kadipaten agaknya tentu akan mencarinya di rumahnya. Karena itu, maka Ki Tumenggungpun melarikan kudanya keluar pintu gerba
Sebenarnyalah bahwa racun di tubuhnya sudah mulai menjalar bersama dengan darahnya. Ketika ia sampai di sebuah bulak yang sepi, Ki Tumenggung menyempatkan diri berhenti sejenak. Diambilnya obat penawar racun yang selalu dibawanya. Dengan hati-hati obat itupun ditaburkannya diatas lukanya. Tetapi tidak terasa akibat apa-apa pada luka itu. Tidak ada darah yang kental yang mengalir didesak oleh darah se
berapa bagian tubuhnya telah mulai nampak noda-noda yang berwarna kebiru-biruan. “Gila Adipati Jayanegara. Obat penawar racunku tidak dapat bekerja melawan racun di kerisnya. Tentu bukan warangan biasa. Tentu ada reramuan lain yang dicam
Ki Tumenggung Jayatarunapun kemudian kehilangan harapan untuk tetap hidup. Ia akan mati. Tet
ketahui oleh siapapun juga. Karena itu, maka Ki Tumenggung itupun segera meloncat kembali ke punggung kudanya. Melarikan
ke
Se
enuju ke lereng bukit.
Ke
Raden Tumenggung Reksayuda
ter
taruna didalam
ha
kudanya seperti anak panah yang lepas dari busurnya. “Kemana ?” pertanyaan itulah yang terbesit di hatinya.
Namun akhirnya Ki Tumenggung itu berkatapada diri sendiri “Tidak ada tujuan yang mapan.
baiknya aku menemui siapa saja yang dapat aku ajak bicara tentang peristiwa yang sebenarnya terjadi di Sendang Arum.” Ketika tiba-tiba terbersit di kepalanya nama Ki Ajar Anggara, kakek Jalawaja, Ki Tumenggung tidak sempat berpikir lebih panjang lagi. Iapun segera melarikan kudanya m
rumah Ki Ajar Anggara. Ia pernah datang ke ruijiah itu beberapa kali. Terakhir ia menjemput Jalawaja di saat
bunuh. Tetapi Jalawaja ternyata tidak mau datang karena keberadaan Raden Ayu Reksayuda di rumahnya.
Ki Tumenggung Jayataruna tidak tahu persoalan apa yang ada diantara Raden Jalawaja dengan Raden Ayu Reksayuda. Yang diketahuinya Raden Jalawaja tidak setuju jika ayahnya menikah lagi dengan perempuan yang masih jauh lebih muda daripadanya. “Aku akan mengatakan kepada angger Jalawaja“ berkata Ki Tumenggung Jaya
tinya. Namun dalam pada itu, tubuhnya semakin lama
hannya yang luar biasa,
ser
punyai obat penawar
rac
esan.
lama, Ki Tumenggung merasa
dirinya m
Tu
da e pondok kecil tempat tinggal Ki
Aja
ok
ka ada.
terasa menjadi semakin lemah. Racun di lukanya benar-benar telah menyebar di seluruh tubuhnya. Hanya karena daya ta
ta-obat penawar racunnya yang sedikit menghambat, maka Ki Tumenggung Jayataruna masih tetap hidup betapapun ia menjadi sangat lemah. Tetapi kudanya masih berlari dengan cepat. Ki Tumenggung Jayataruna akhirnya menyadari sepenuhnya, bahwa ia tidak akan mampu melawan racun di ujung keris Kangjeng Adipati. Iapun tidak dapat berharap banyak kepada Ki Ajar Anggara. Mungkin Ki Ajar Anggara mem
un. Tetapi mungkin penawar racunnya itupun tidak akan berarti apa-apa. Meskipun demikian Ki Tumenggung Jayataruna ingin sampai ke pondok Ki Ajar untuk memberikan beberapa p
Karena itu dipaksanya tubuhnya yang menjadi semakin lemah itu untuk tetap berpacu di punggung kudanya. Tetapi semakin
enjadi semakin lemah, bahkan Ki menggung sudah mulai bimbang, apakah ia akan
pat sampai k
r Anggara. Bahkan apakah mungkin ia akan dapat bertemu dengan Jalawaja, meskipun ketika sekelompok prajurit datang mencarinya di pond
keknya, Jalawaja itu tidak
anjat tebing di
ler ndok itu sudah tidak jauh lagi.
Rasa-rasan berada di jangkauan
tan
kan Ki Tumenggung itupun kemudian
tel
ngan tenaganya sama
sek
agaknya lebih menarik bagi
ku
ondok di lereng bukit itu pula.
Ki ing
Ra jati dan
Ragajaya.
uah gumuk
kecil
ag
“Kau lihat kuda itu, Jalawaja? – bertanya Ki Ajar.
gnya tertelungkup di leher kuda itu.”
Pengharapan Ki Tumenggung Jayataruna timbul lagi ketika kudanya mulai mem
eng bukit. Poya sudah
gannya yang lemah. Tetapi tubuh Ki tumenggung menjadi semakin lemah.. Bah
ah menelungkup di leher kudanya. Ki Tumenggung sudah kehila
ali, sehingga ia tidak dapat berbuat apa-apa ketika kudanya itu berlari semakin lambat dan akhirnya berhenti. Rerumputan segar yang tumbuh di pinggir jalan sempit
danya dari pada harus berlelah-lelah berlari di jalan setapak di lereng bukit. Sementara itu, sebuah iring-iringan sedang berjalan menuju ke p
Ajar Anggara, Raden Jalawaja yang membimb
den Ajeng Ririswari, Suratama, Raga
Ketika mereka muncul dari balik seb
, Ki Ajar Anggara tertegun. Di lorong kecil, ak di bawah, nampak seekor kuda dengan seorang penunggangnya yang menelungkup di leher kudanya itu.
“Ya, eyang.” “Nampaknya ada yang tidak wajar. Penunggan
“Aku akan menyertaimu,
Jal
duanyapun
kemudia
g” berkata Ki Ajar
An Ririswari bergeser
me tebing.
ahkan nafasnya
mu
Ki Sanak” panggil Jalawaja.
jawab. Yang
ter
tika ia
me
itu dan memperhatikan
“Aku akan melihatnya.” “Hati-hatilah. Jika itu sebuah jebakan, maka kau harus dengan cepat menghindar.” “Ya. eyang.”
Namun ketika Jalawaja akan menuruni tebing, Suratama berkata
awaja.” “Marilah. Tetapi berhati-hatilah.” Ke
n meluncur turun.
“Kau disini saja Raden Ajenggara ketika ia melihat
nepi ke bibir
Jalawaja dan Suratama dengan hati-hati mendekati orang yang menelungkup itu. Rasa-rasanya orang itu tidak bergerak. B
lai tidak teratur. “Agaknya orang itu terluka – desis Jalawaja. “Ki Sanak.
Tetapi orang itu tidak men
dengar adalah erang yang tertahan. Jalawajapun mendekati orang itu. Ke
ncoba melihat wajahnya, maka tiba-tiba saja ia berkata “ Suratama. Paman Tumenggung Jayataruna.” Suratama terkejut. Dengan serta-merta ia meloncat mendekati tubuh
wa
Jalawaja ia
me
berada di pangkuannya.
ati dan nyawaku sempat
me
membantu Raden Ajeng
jahnya yang sebagian tersembunyi di leher kudanya.
“Ayah. Ayah “ Suratama hampir berteriak. Dengan serta – merta dibantu oleh
ngangkat tubuh itu dari punggung kudanya, meletakkannya ditanah, sedangkan kepala Ki Tumenggung itu
“Ayah. Ayah “ Suratama mengguncang-guncang tubuh ayahnya itu.
Ki Tumenggung membuka matanya. Dengan suara lirih iapun bertanya “ Kau siapa?” “Aku Suratama ayah.”
“Suratama? Kau Suratama?” “Ya, ayah.” Perlahan-lahan Ki Tumenggung membuka matanya dan mencoba untuk memandang anak muda yang menyangga kepalanya. “Apakah aku sudah m
nemui anakku? “ desis Ki Tumenggung Jayataruna. “Tidak. Ayah masih tetap hidup.”
“Bagaimana mungkin aku dapat menemuimu Suratama. Aku sekarang berada di mana?” Sementara itu, mereka yang berada diatas tebingpun telah turun pula. Dengan hati-hati Ragajati dan Ragajaya
Rir
ung berusaha
un
nggara menahannya “jangan
ba
keris Kangjeng Adipati
Jay
elihat, bahwa luka itu sudah diobati.
Te
g
be
iswari yang ikut turun mendekati Ki Tumenggung Jayataruna. “Ki Tumenggung “ desis Ki Ajar Anggara di telinga Ki Tumenggung Jayataruna.
“Kau siapa? “ bertanya Ki Tumenggung lirih. “Aku Ajar Anggara, Ki Tumenggung.”
“Ki Ajar Anggara “ Ki Tumenggtuk bangkit.
Tetapi Ki Ajar A
ngkit Ki Tumenggung. Nampaknya Ki Tumenggung telah terluka.” ”Aku terluka oleh ujung
anegara, Ki Ajar. Keris itu beracun tajam “ suara Ki Tumenggung perlahan dan patah-patah.
Ki Ajar Anggarapun segera melihat luka Ki Tumenggung. Nampaknya racun diujung senjata yang melukai Ki Tumenggung itu sangat tajam. Ki Ajar juga m
tapi obat itu tidak mampu menghisap racun yang sudah terlanjur berada didalam darah Ki Tumenggung. Ki Ajarpun kemudian telah mengambil sebuah bumbung kecil. Ditaburkannya serbuk yan
rwarna gelap di luka di tubuh Ki Tumenggung Jayataruna.
Ki Tumenggung menggeliat. Ia merasa pedih di lukanya. Namun racun yang telah menjalar di tubuhnya, bahkan sudah menimbulkan noda
tidak terlalu jauh dari rumahku. Marilah. Aku
pe
untuk melawan racun di
tub
rusaha Ki Tumenggung.”
n kita kembalikan kepada
Ku a Agung.”
ggara telah memasukkan sebutir obat
dis
kebiru-biruan di beberapa tempat itu sangat sulit ditawarkan. “Ki Tumenggung” berkata Ki Ajar “ tempat ini sudah-
rsilahkan Ki Tumenggung pergi ke rumahku. Mudah-mudahan ada cara
uh Ki Tumenggung.” “Tidak ada gunanya, Ki Ajar. Aku sudah tidak kuat lagi.” “Kita be
“Aku akan mati.” “Bukankah kita wenang berusaha meskipun segala sesuatunya aka
asa Yang Mah
Ki Tumenggung tidak menjawab. Tetapi nafasnya menjadi semakin terengah-engah. Ki Ajar An
ela-sela bibirnya. Obat yang akan dapat membantu daya tahan tubuh Ki Tumenggung Jayataruna.
Suratama, dibantu oleh Jalawaja, Ragajati dan Ragajaya kemudian mengangkat tubuh Ki Tumenggung itu ke atas punggung kuda. Dikembalikannya Ki Tumenggung seperti keadaan sebelumnya. Menelungkup diatas leher kudanya.
“Marilah. Kita akan melanjutkan perjalanan. Rumahku tinggal beberapa langkah lagi.
ak memanjat tebing yang tadi
me ng lebih
landai. Sel galami
ke
k itu terpaksa ditempuh dalam
waktu yang terhitung panjang. N
mereka sampai ke regol halama r
Anggara.
Ki Tumenggung Reksabawa terkejut melihat
iring-iringan itu. Disambarnya tomb
sambil berdesis di muka pintu “Buka pintu
di belakang Kangjeng.”
“Ada apa ?”
“Beberapa orang mendatangi tempa
Kangjeng Adipati masih belum beranjak dari
tempatnya.
Bahkan kemudian Kangjeng A
Kangjeng Adipati melihat yang lain,
yang pertama-tama dilihatnya adalah anak
dah
ke
Tetapi mereka tid
reka turuni. Mereka memilih jalan yaain Ririswari yang akan men
sulitan, maka kuda yang mendukung Ki Tumenggung itupun akan mengalami kesulitan pula.
Perlahan-lahan mereka bergerak menuju ke pondok Ki Ajar Anggara. Jarak yang pende
amun akhirnya n pondok Ki Aja
ak pendeknya
butulan t ini.” dipati itupun ikut melihat keluar lewat pintu depan pondok Ki Ajar Anggara. Sebelum
perempuannya, Ririswari yang berjalan agak timpang, dengan alas kaki clumpring yang su
ring.
angjeng
Ad k
perem
i Ajar Anggara. Iapun segera berlari
me
me dalah Ki Aajar
Anggara s Ragajati dan
Ra
Tanpa berkata sepatah katapun K
ipati telah meloncat menyongsong anapuannya ku.
“Riris. Riris “ panggil Kangjeng Adipati. Ririspun melihat ayahnya turun dari tangga pondok K
ndapatkan ayahnya.
Keduanya berpelukan. Riris tidak dapat menahan air matanya yang mengalir membasahi baju ayahandanya.
“Kau tidak “Tidak ayah “ Jalawaja dan menyelamatkan Ragajaya yang juga berniat
apa-apa Riris?”
“Sokurlah,” “Kakang
Suratama telah
hamba. Kemudian datang pula Ragajati dan
nyelamatkan hamba. Terakhir aendiri yang menyusul
gajaya.” Sambil melepaskan Riris. Kangjeng Adipatipun bertanya “ Siapa orang itu dan kenapa ?”
lah yang menyahut
enapa ? “
i
Tu
rtanya
Ka
sedang menghadap
Ka
“Ayah, Kangjeng. Ayah, Tumenggung Jayataruna, “ Suratama
“Kakang Tumenggung Jayataruna. K
“Kangjeng “ berkata Ki Ajar Anggara menyela “jika berkenan, aku akan membawa K
menggung Jayataruna dan membaringkannya di serambi. “Silahkan. Ki Ajar. Silahkan. “
Sejenak kemudian, Suratania, Jalawaja, Ragajati dan Ragajaya pun mengusung tubuh Ki Tumenggung Jayataruna dan membaringkannya di atas tikar putih di serambi. “Kakang Jayataruna itu kenapa ?” be
ngjeng Adipati.
“Ki Tumenggung “ desis Ki Ajar Anggara “ Ki Tumenggung sekarang
ngjeng Adipati. “ “Kangjeng Adipati siapa ? Kangjeng Adipati Jayanegara berniat membunuhku.”
“Bukan. Bukan Kangjeng Adipati Jayanegara. Tetapi Kangjeng Adipati Wirakusumadari Sendang Arum.” “O. Kangjeng Adipati.” “Ya. Ini aku kakang.” “Hamba mohon ampun, Kangjeng. Hamba sudah melangkah ke jalan yang sesat. Hamba
keinginan Raden Ayu Reksayuda,
seh ya tanpa dapat
menghin
u ?”
yuda.”
udian iapun bertanya “ Lalu
ap
ucang Kembar, telah ikut melibatkan diri,
menuruti saja
ingga hamba telah diperalatndarkan diri.’“
“Apa yang sudah terjadi, kakang ?”
“Kangjeng Adipati Jayanegara telah datang ke Sendang Arum dengan prajurit segelar sepapan.”
Jadi Pucang Kembar telah menyerang Sendang Arum dengan memanfaatkan saat-saat Sendang Arum sedang dilanda kekisruhan?”
“Tidak, Kangjeng. Nampaknya antara Kangjeng Adipati Pucang Kembar dan Raden Ayu Reksayuda telah ada kesepakatan. Bahkan agaknya mereka akan mengikat hubungan antara Pucang Kembar dan Sendang Arum dengan tali perkawinan. “Maksudm
“Antara Kangjeng Adipati Jayanegara dengan Raden Ayu Reksa
Kangjeng Adipati Wirakusuma menggeretakkan giginya. Namun kem
a yang terjadi atas dirimu?” Suara Ki Tumenggung Jayataru’na njenjadi semakin rendah dan perlahan “ Hamba berselisih dengan Kangjeng Adipati Pucang Kembar di keputren. Ketika hamba mendesak dan bahkan hampir menguasai medan, Ki Tumenggung Prang-wadana, Senapati dari Pucang Kembar yang aku kira seorang yang baik hati sebagaimana hamba temui di P
seh dua
ora
a Kangjeng. Kangjeng Adipati Jayanegara
me
u, mengatasi racun
itu
yang dapat
me
a itu tidak
da
tapi
ia
dapat
be Obat yang diberikan oleh Ki ajar
An
ang.
La
aan
hamba. Hamba telah berkhianat kepada Kangjeng
ingga hamba harus bertempur melawan
ng lawan.” “Dan kau terluka, kakang ?”
“Hamb
lukai hamba dengan kerisnya yang beracun.” “Biarlah Ki Ajar membantum
, kakang.” “Tidak, Kangjeng. Tidak ada obat
nolong hamba. Racun itu kuat sekalr.” Kangjeng Adipati itu memandang Ki Ajar Anggara. Namun Ki Ajar itupun berkata “ Aku sudah memberikan obat terbaik, Kangjeng. Tetapi agaknya racun itu sulit dicarikan penawarnya. Yang kemudian dapat aku lakukan adalah memberikan reramuan untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya.” “Apakah racun di dalam tubuhny
pat diatasi ?” Ki Ajar Anggara menarik napas panjang. Te
tidak menjawab. “Sudahlah Kangjeng. Hamba tidak akan
rtahan lama.
ggara memberikan kesempatan kepada hamba untuk masih dapat bertemu dengan Kangjeng Adipati Ki Tumenggung itu menarik nafas, panj
lu katanya pula Kangjeng. Hamba ingin mohon ampun atas kelakuan hamba. Atas ketidak seti
Ad
nkan berbicara
de
eakanakan
menemukan aku sebagai anak jalanan dan
ke bawa aku kepada kedudukan yang
ter
tidak usah memikirkan macam-macam
pe
ipati. “ “Sudahlah, jangan pikirkan lagi, kakang. “ “Apakah Kangjeng bersama dengan kakang Tumenggung Reksabawa ?” “Ya.”
“Apakah hamba diperkena
ngan kakang Reksabawa ?” “Aku di sini adi” sahut Ki Tumenggung Reksabawa yang bergeser mendekat. “Kakang” suara Ki Tumenggung Jayataruna menjadia semakin lirih “aku mohon maaf kepadamu, kakang. Aku adalah jenis orang yang tidak mengenal terima kasih. Kakang yang s
mudian mem
baik di Sendang Arum, ternyata sudah aku lupakan. Bahkan aku sampai hati berniat untuk menyingkirkan kakang Tumenggung.” “Kau
rsoalan adi. Beristirahatlah sebaik-baiknya.” Ki Tumenggung Jayataruna mencoba untuk tersenyum. Katanya kemudian “ Suratama,” “Ya, ayah.” “Aku tidak akan dapat bertemu dengan ibumu lagi. Suratama.” “Jangan berkata begitu, ayah. Bukankah Ki ajar
enyesal. Pada saat
ter
u telah bertemu dengan
ora
uratama. Sampaikan kepada ibumu. Aku
mi
idup
da
angan yang pernah ada.”
menjadi lebih
ter erita lagi
dib
Terutam
Anggara telah memberikan obat kepada ayah.” “Tetapi aku tidak akan dapat bertahan lagi. Aku akan mati. Tetapi aku tidak m
akhir aku sudah bertemu dengan orang-orang yang telah aku khianati, ak
ng-orang yang baik, yang telah sudi mengampuni aku.”
“Tetapi ayah harus bertahan.” “S
nta maaf kepadanya. Ia adalah seorang ibu yang baik, yang setia dan bertanggung jawab. Ketika aku masih berada di tataran terbawah dan h
lam kesederhanaan, ibumu tidak pernah mengeluh. Ia menjalankan kewajibannya dengan sepenuh hati. Ibumu selalu melupakan kekurangan-kekur
“Ya. ayah.” “Ia-adalah seorang penurut dan’hidup dengan penuh keprihatinan “ Ki Tumenggung Jayataruna itu berhenti sejenak. Nafasnya menjadi terengah-enggah.
Namun kemudian iapun melanjutkannya “ Tetapi ketika aku berhasil memanjat pada tataran yang tertinggi di Sendang Arum. aku sudah melupakan sangkan paraning dumadi. Aku telah berubah. Danperubahan ini membuat ibumu
tekan. Ia menjadi lebih mend
andingkan dengan masa-masa sebelumnya. a di tilik dari sisi perasaannya “ ada setitik
lam keberhasilanku.”
ajahnya menjadi tegang. Ki
Aja
gaknya Ki Tumenggung Jayatarunapun
me
maaf kepada semuanya.”
air mata di pelupuk Ki Tumenggung Jayataruna “Suratama. Katakan kepadanya, bahwa aku minta maaf. Seharusnya aku tidak kehilangan diriku sendiri da
“Ayah akan dapat mengatakannya sendiri kelak jika ayah sudah sembuh.” Tetapi Ki Tumenggung Jayataruna menggeleng. Katanya
“Aku tidak akan sembuh, Suratama. Aku tahu itu“ “Jangan mendahului kehendak Yang Maha Agung, adi” desis Ki Tumenggung Reksabawa. “Tidak, kakang. aku tidak mendahului kehendak Yang Maha Agung. Tetapi aku telah menerima isyaratnya, bahwa aku harus segera menghadapnya.”
Ki Ajar Anggara menjadi semakin berdebar-debar. Ketika ia meraba leher Ki Tumenggung Jayataruna, makan w
r mengerti, bahwa waktu yang tersisa pada Ki Tumenggung Jayataruna tinggallah sedikit. Namun a
nyadarinya. Karena itu, maka Ki Tumenggung itupun telah minta maaf kepada Ki Ajar Anggara, kepada Jalawaja, kepada anaknya kepada putera-putera Ki Tumenggung Reksabawa. “Aku minta
menggung. Tidak ada lagi yang
ter
ggung mengangguk-angguk. Kemudian
kepa a, Ki Tumenggung itupun
be
da seluruh bumi ini.
Ke
enggung
me
g
be
Kangjeng Adipati yang juga sudah melihat kemungkinan bahwa Ki Jayataruna tidak akan bertahan lebih lagi berkata “Semua sudah dimaafkan Ki Tu
sisa.”
Ki Tumenda Ki Ajar Anggar
rtanya “Ki Tumenggung. Apakah Yang Kuasa masih juga mau memaafkan aku?” “Ki Tumenggung. Yang Maha Agung telah memancarkan kasihnya kepa
pada isinya, kepada penghuninya dan kepada semuanya. Juga kepada Ki Ttimeng-gung Jayataruna. Karena itu, jika Ki Tum
mohon dengan sungguh-sungguh ampun akan segala kesalahan yang pernah Ki Tumenggung perbuat, maka Yang Maha Agung itu tentu akan mengampuninya “
“Apakah Ki Ajar berkata sesungguhnya atau sekadar memberikan sedikit penghibur kepadaku disaat terakhir ini ?” “Jika Ki Tumenggung yakin dan percaya dengan tulus, maka pengampunan itu benar-benar akan diberikan.” Ki Tumenggung Jayataruna tersenyum. Katanya kemudian “Kangjeng. Nampaknya ada hubungan antara Raden Ayu Reksayuda dengan Kangjeng Adipati Pucang Kembar. Hamba mohon Kangjen
rhati-hati.”
rkata “ Ki
Tu
g yang ada di sekeliling Ki
Tumenggun
tersimpan di hati, terutama
Kangjeng A
jadi itu
tet
“Ya, kakang. Aku akan berhati-hati.” Ki Tumenggung itu mengangguk-angguk kecil. Ia mencoba memandangi orang-orang yang ada disekitarnya. Namun sinar matanyapun menjadi semakin redup.
“Suratama “desisnya. “Ayah “ Tetapi Ki Tumenggung Jayataruna Sudah memejamkan matanya. Ketika Ki Ajar Anggara menyentuh lehernya, maka iapun be
menggung sudah berlalu.” Yang terdengar adalah desah Suratama “Ayah.” Suratama itupun menelungkup ke atas tubuh ayahnya yang terdiam untuk selamanya. Semua oran
g Jayataruna itu menunduk. Mereka telah memberikan penghormatan terakhir pada saat Ki Tumenggung itu memejamkan matanya. Dendam yang
dipati dan Ki Tumenggung Reksabawa telah hanyut bersama kematian Ki Tumenggung Jayataruna. Bahkan telah timbul perasaan kasihan di hati mereka menyaksikan penyesalan yang mendalam pada Ki Tumenggung Jayataruna disaat terakhirnya. Tetapi Ki Tumenggung Jayataruna tidak mempunyai waktu lagi untuk memperbaiki kesalahannya. Kesalahan yang sudah ter
ap saja merupakan satu kesalahan.
dengan sebuah batu yang besar,
dib
i
Tu
-anak muda yang ada di
po
Hari itu juga, tubuh Ki Tumenggung Jayataruna yang sudah membeku itupun telah diselenggarakan sebagaimana seharusnya. Kemudian dikuburkan tidak terlalu jauh dari pondok Ki Ajar Anggara, ditengarai
awah sebatang pohon cangkring. Di malam hari, semuanya yang ada di pondok Ki Ajar Anggara itu duduk di ruang dalam. Mereka masih memperbincangkan kematian K
menggung Jayataruna. Mereka juga masih memperbincangkan keadaan di Sendang Arum. Apakah yang sebenarnya telah terjadi. Lewat tengah malam, maka Ki Ajar Anggara telah minta agar anak
ndok itu beristirahat di ruang belakang. Di ruang belakang terdapat sebuah amben yang besar, yang akan dapat dipergunakan oleh anak-anak muda itu bersama-sama.
Sepeninggal mereka, Kangjeng Adipati sempat bertanya kepada Ririswari “Bagaimana pendapatmu tentang Jalawaja dan Suratama ? Apakah mereka dapat dipercaya ?”
“Menurut pendapat hamba, mereka dapat dipercaya ayah. Apalagi setelah Ki Tumenggung Jayataruna terbunuh. Sementara itu, kakang Jalawaja telah meyakini pula, bahwa bukan ayahanda yang telah bersalah membunuh uwa Tumenggung Reksayuda. Apalagi setelah perkembangan keadaan yang terakhir ini.”
an
Ra
n.”
Sikap rakyat Sendang Arum
ser
g. Biarlah hamba
me di
Senda jak
be
api jika tidak ada
lan
pemerintahan perlahan-lahan
ak en Ayu
Re
“Baiklah. Jika kau percaya kepada mereka, maka akupun akan mempercayai mereka. Mereka adalah anak-anak muda yang memiliki kelebihan dari anak-anak sebayanya. Sementara itu, perjuangan untuk mengambil kembali kedudukanku masih panjang.” “Kangjeng “ berkata Ki Tumenggung Reksabawa “sebaiknya kita jangan menunggu keduduk
den Ayu Reksayuda yang didukung oleh Kangjeng Adipati Jayanegara itu menjadi mapa
“Aku tahu maksud kakang. Tetapi sudah tentu kita tidak dapat tergesa-gesa. Kita harus mengetahui keadaan yang sebenarnya di Sendang Arum. Kita harus tahu
ta para prajuritnya.” “Hamba mengerti, Kangjen
mbuat hubungan dengan para Senapati ng Arum yang mungkin dapat hamba a
kerja sama.” “Itu akan sangat berbahaya .bagimu kakang. Jika kakang salah menilai orang, maka kakang akan dapat justru di tangkap dan mengalami nasib yang sangat buruk.” “Aku mengerti, Kangjeng. Tet
gkah-langkah yang pasti, maka kita tidak akan dapat berbuat apa-apa. Kita akan tetap saja berada disini sedangkan
an terbiasa berada di tangan Rad
ksayuda dibawah perlindungan Kangjeng Adipati
angu-mangu sejenak.
Se
ubungan
de
k muda yang cerdas dan mempunyai
wa
g,
ma
ahat pula. Karena bilik yang ada
dip angjeng
Ad tidur di
am
ur di
ser
Jayanegara di Pucang Kembar. “ Kangjeng Adipati itu term
mentara itu Ki tumenggung Reksabawapun berkata “Kangjeng. Selagi aku berh
ngan para Senapati, mungkin anak-anak muda itu dapat berpencar dan menghubungi rakyat Sendang Arum. Apakah mereka masih tetap setia kepada Kangjeng Adipati, atau mereka memang sudah berkiblat kepada Raden Ayu Reksayuda. “
“Apakah anak-anak muda itu mampu melakukannya ? “ bertanya Kangjeng Adipati.
“Kita harus berani mencobanya, Kangjeng. Tetapi menurut penilikan hamba, mereka adalah anak-ana
wasan yang luas. “ “Baiklah, kakang. Jika itu pendapat kakan
ka aku tidak berkeberatan. “ “Besok kita akan berbicara dengan mereka. “ Demikianlah, maka beberapa saat kemudian Kangjeng Adipati dan Ki Tumenggung Reksabawa itupun telah beristir
ergunakan oleh Ririswari, maka Kipati dan Ki Tumenggung Reksabawa
ben di ruang dalam. Sementara itu, Ki Ajar Anggara tidur di serambi depan. “Apakah Ki Ajar tidak kedinginan tid
ambi ? “ “aku sudah terbiasa Ki Tumenggung. “
erampas rumah Ki Ajar, sehingga Ki Ajar
ter
upun sering tidur di serambi. “
enyapu
ha
bus air dan membuat
minuman Ki Ajar. Biarlah elakukan. “
“Tetapi nanti tangan Raden Ajeng menjadi
kotor. “ Ririswari tersenyum. Katanya “Dimanamanapun
sama saja Ki Ajar. Jika kita berada di
dapur, maka tangan kita akan dapat menjadi kotor.
Di kadipatenpun tanganku menjadi kotor jika aku
berada di dapur. “
“Biarlah aku saja yang melakukannya. “
Ririswari tersenyum. Katanya “Disini ada
seorang perempuan, Ki Ajar. Biarlah perempuan itu
melakukannya. “ Ki Ajarpun tersenyum pula.
Tetapi ketika Ririswari mulai mengerjakan
Namun Ki Tumenggung itupun berkata “Kami telah m
paksa tidur di serambi. “ “Tidak. Tidak Ki Tumenggung. Ketika rumah ini kosong, ak
Demikianlah, maka menjelang fajar merekapun sudah bangun. Anak-anak muda itu bergantian menimba air untuk mengisi jambangan. Jalawaja yang terbiasa tinggal di rumah itu, telah m
laman dari ujung sampai ke ujung. Ririswari yang telah bangun pula, langsung pergi ke dapur. “Sudahlah Raden Ajeng. Duduk sajalah di ruang dalam. “Aku sudah terbiasa mere
aku yang m
pekerjaan dapur itu, Ki Ajar langsung mengetahui,
bahwa Ririswari belum terlalu biasa bekerja di
dapur.
Meskipun demikian, Ki Ajar memberinya
kesempatan, meskipun Ki ajar sendiri juga berada
di dapur.
Baru setelah Jalawaja selesai menyapu halaman,
Jalawajalah yang menemani Ririswari berada di
dapur. Merebus air, menanak nasi dan menyiapkan
bumbu masak yang akan di pakai hari itu.
Pagi itu semuanya telah terlibat dalam kerja.
Suratama memang sudah terbiasa membantu
ibunya di rumah. Jalawaja sudah terlalu trampil,
karena setiap hari ia melakukannya. Sedangkan
Ragajati dan Ragajaya yang sudah terbiasa hidup
di sebuah padepokanpun tahu, bagaimana mereka
melakukan kerja sehari-hari.
–ooo0dw0ooo–
Jilid 6 Tamat Sementara itu Kangjeng Adipati, Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki Ajar Angga
sih saja membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi kemudian, setelah mereka mulai bergerak.
m. Selagi masih
me
Ki Tumenggung
Re
sambil makan, Kangjeng Adipati
tel
“Sambil makan siang, kita berbicara dengan anak-anak muda itu “ berkata Ki Tumenggung Reksabawa. Sebenarnyalah ketika Ririswari dan Jalawaja sudah siap, maka merekapun telah membawa nasi, sayur serta lauknya ke ruang dala
ngepul maka Ririswaripun menyampaikannya kepada ayahandanya, Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki Ajar Anggara, bahwa makan siang sudah tersedia.
Seisi rumah itupun kemudian telah berkumpul. Semula anak-anak muda berniat untuk makan setelah yang tua-tua makan dahulu. Tetapi Ki Tumenggung Reksabawapun berkata “Marilah kita makan bersama. Selain makan, ada sesuatu yang penting yang akan di sampaikan oleh Kangjeng Adipati.
Anak-anak muda itu tidak dapat mengelak. Meskipun dengan agak segan-segan, mereka duduk di amben yang agak besar itu untuk makan bersama Kangjeng Adipati,
ksabawa dan Ki ajar Anggara. Sebenarnyalah
ah berbicara tentang langkah-langkah yang akan diambilnya untuk mengambil kembali kekuasaan yang telah dirampas oleh Raden Ayu Reksayuda.
“Yang penting “berkata Kangjeng Adipati “apakah rakyat kadipaten ini masih mendukung jika aku kembali berkuasa di bumi Sendang Arum. “
ng “ berkata Ki Ajar Anggara “ asal kita
da
Demikian
pu
bar
di
persaan rakyat
ya
engangkat wajah mereka.
Se
yakin, bahwa merekalah
ya
kalian ? Apakah
ka
bersedia Kangjeng. Tetapi tentu saja
ha
“Kangje
pat menyakinkan, bahwa Kangjeng Adipati tidak bersalah atas kematian Raden Tumenggung Reksayuda, maka aku yakin bahwa rakyat masih akan tetap mendukung Kangjeng Adipati.
la para prajurit Sendang Arum.” “Keberadaan Kangjeng Adipati Pucang Kem
Sendang Arum tentu akan menimbulkan persoalan pula di hati para prajurit” sahut Ki Tumenggung Reksabawa. “Nah, jika demikian, dari situlah kita akan mulai“ berkata Kangjeng Adipati “Aku akan minta kalian, anak-anak muda untuk menjajagi
ng sebenarnya. Kalian juga harus meyakinkan mereka, bahwa pembunuh kangmas Tumenggung Reksayuda sedang dicari dan mudah-mudahan dalam waktu dekat akan dapat diketemukan.” Anak-anak muda itu m
jenak mereka saling berpandangan. Rasa-rasanya mereka kurang
ng akan mendapat tugas itu. “Nah, bagaimana pendapat
lian bersedia ?” Sejenak anak-anak muda itu termangu-mangu. Namun Jalawajalah yang pertama-tama menyatakan diri “Hamba
mba memerlukan banyak sekali petunjuk. Hamba masih belum tahu apa yang harus hamba
anti kalian
ak
memberikan petunjuk bagi kalian.
Seme
njadi kotor.
ra.
ng
Rir
lakukan.” “Bagus” sahut Kangjeng Adipati “n
an mendapat petunjuk dari Ki Tumenggung Reksabawa. Nah, bagaimana yang lain ?” Hampir berbareng anak-anak muda itu menjawab “ Hamba sanggup Kangjeng. “ “Terima kasih. Biarlah Ki Tumenggung Reksabawa
ntara itu, Ki Tumenggung Reksabawa akan mencari hubungan dengan para Senapati prajurit Sendang Arum yang masih belum terlalu jauh terlibat dalam pemberontakan ini.” Setelah makan siang, maka anak-anak muda itu diminta untuk duduk di serambi depan rumah Ki Ajar Anggara. Sementara itu Ririswari sibuk menyingkirkan mangkuk-mangkuk yang telah me
“Biarlah aku membantumu, Raden Ajeng “ berkata Ki Ajar Angga
“Silahkan Ki ajar duduk di serambi. Biarlah aku mencuci mangkuk-mangkuk ini.” “Di serambi Ki Tumenggung Reksabawa sedang memberikan petunjuk-petunjuk bagi anak-anak muda itu. Aku tidak mengerti persoalannya. Karena itu, biarlah aku disini saja membantu Raden Aje
iswari.” Ririswari tidak dapat menolak. Dibiarkannya saja Ki Ajar mengambil air untuk mengisi tempat air di
ncar-ancar apakah yang harus
me
ah ini sebagai
lan
aden Ajeng
Rir
ah
ya
dapur. Kemudian ikut mencuci mangkuk-mangkuk yang kotor. Bahkan dandang tembaga. Sementara itu, Ki Tumenggung Reksabawapun telah membarikan a
reka lakukan dan masing-masing harus melakukan di lingkungan yang sudah disepakati- Jalawaja akan bekerja sama dengan Suratama, sedangkan Ragajati akan bekerja bersama adiknya Ragajaya. “Kita akan mempergunakan rum
-dasan gerak kita. Kangjeng Adipati akan berada di sini bersama Ki Ajar Anggara dan R
iswari. namun ingat. Tempat ini adalah tempat rahasia. Jika satu diantara kita tertangkap oleh para pengikut Raden Ayu Reksayuda, maka kita tidak akan pernah menyebut tempat ini apapun yang terjadi atas diri kita. Apakah kalian bersedia ?”
“Ya. Kami bersedia” jawab anak-anak muda itu hampir bersamaan.” “Baik. Kita akan mulai dengan mengunjungi daerah-daerah yang paling tenang lebih dahulu. Kemudian kami akan sampai ke daerah-daer
ng bergejolak. Dari daerah-daerah yang paling tenang, kita akan mendapat petunjuk untuk memasuki daerah selanjutnya dan seterusnya.” Mereka kemudian sepakat untuk mulai dengan tugas mereka di hari berikutnya. Mereka akan mondar-mandir naik ke lereng bukit itu. Para
untuk pergi tidak
leb
berikutnya, Ki
Tu
ng Adipati masih memberikan beberapa
pe
me
yang memanjat semakin tinggi, maka
Jal
petugas itu hanya dibenarkan
ih dari sepekan. Setelah sepekan mereka harus kembali untuk memberikan laporan dari hasil kerja mereka. Sebenarnyalah, di hari
menggung Reksabawa, serta keempat anak-anak muda yang tinggal bersama di rumah Ki Ajar Anggara itu meninggalkan rumah di lereng bukit itu. Kangje
san sebelum mereka berangkat. “ Aku akan berdoa bagi keselamatan kalian “ berkata Kangjeng Adjpati selanjutnya.
Demikianlah, maka Ki Tumenggung Reksabawa serta anak-anak muda itupun mulai menapak pada tugas-tugas mereka yang berat dan berbahaya. Namun Ki Tumenggung Reksabawa yakin, bahwa anak-anak muda itu akan dapat melakukannya dengan baik.
Demikian mereka menuruni lereng bukit, maka
reka-pun mulai berpencar. Ki Tumenggung Reksabawa akan terus menuju ke pinggiran kota, sementara Jalawaja dan Suratarna pergi ke Barat dan Ragajati dan Ragajaya pergi ke arah Timur. Ketika langit menjadi semakin panas oleh sinar matahari
awaja dan Suratama-pun berhenti di salah sebuah kedai yang berjajar di depan sebuah pasar yang ramai. Agaknya pasar itu tidak langsung terpengaruh oleh gejolak yang terjadi di pusat
pe
Jalawaja dan Suratarna masuk ke kedai
itu
an di
ke
tidak terjadi gejolak sama
sek
angguk-angguk. Katanya “ Kita
harus m dukuhan yang lebih dekat lagi
de
makanan,
me eberapa
ora
merek ang
be
orang-orang yang berada di
ke
merintahan Sendang Arum. Ketika
, di-dalamnya sudah ada beberapa orang yang lebih dahulu masuk. Berdua mereka memilih tempat agak disudut kedai itu.
Sambil menghirup minuman hangat yang mereka pesan, keduanya mengamati keada
dai itu. “Agaknya di sini
ali. Siapapun yang memegang kekuasaan di Sendang Arum tidak akan menjadi masalah bagi mereka.”
Suratarna mengenuju ke pa
ngan pusat pemerintahan sehingga persoalan yang terjadi di pusat pemerintahan itu mulai terdengar gemanya.” Jalawaja mengangguk-angguk pula.
Sambil makan beberapa potong
reka mendengarkan pembicaraan b
ng yang berada di kedai itu. Ternyata yanga bicarakan adalah persoalan-persoalan y
rhubungan dengan kesibukan mereka masing-masing. Namun tiba-tiba
dai itu terdiam. Mereka menundukkan kepala mereka akan memperhatikan makanan atau minuman yang dihidangkan di hadapan mereka.
memasuki kedai itu.
aku tidak datang kemari, kang “
be
did
kah
pa
yang terjadi di pusat
Jalawaja dan Suratamapun termangu-mangu sejenak.
Namun kemudian merekapun melihat ampat orang anak muda dengan pakaian yang bersih, rajin serta tergolong mahal,
“Sudah lama
rkata seorang diantara mereka berempat. “Ya, den “ jawab pemilk kedai itu “ kemana saja Raden selama ini ?”
“Aku berkeliling daerah Sendang Arum kang. Ternyata di pusat pemerintahan sedang terjadi gejolak.”
“Gejolak apa ?” Telah terjadi pemberontakan. Kangjeng Adipati telah terusir dari dalem kadipaten. Kadipaten telah
uduki oleh seorang perempuan, isteri Tumenggung yang terbunuh itu”.”
“Isteri Tumenggung yang terbunuh ?” “Ya. Namanya Raden Ayu Reksayuda.” “Lalu bagaimana pula dengan kita di sini ?”
“Persetan dengan pemberontakan itu. Bukan
dukuhan kita tetap tenang tanpa ada masalah yang meresahkan ?”
Pemilik kedai itupun mengangguk-angguk. Sementara itu seorang anak muda yang lain berkata “Jangan hiraukan apa
pe kan tetap memelihara cara
hid
ndangan
sej ra itu, anak muda yang lainpun
be r, kang.”
a
be
yang terjadi di
pu
tanan
ke
yang sudah berada di kedai itu
sej
.
? “
merintahan. Kita a
up kita sebagaimana biasanya. “ Jalawaja dan Suratama saling berpa
enak. Sementarkata “Aku lapa
“Baik, den. “
“Seperti biasanya kang. “ berkata yang lain lagi. Pelayan kedai itu dengan cekatan melayani merek
rempat. Minum dan makan. Dalam pada itu, Jalawajapun berdesis “Kenapa mereka tidak mempedulikan apa
sat pemerintahan?” “Mereka lebih mementingkan diri mereka sendiri daripada kepedulian mereka terhadap ta
hidupan secara menyeluruh di Sendang Arum. “ “Asal mereka tidak berbuat sesuatu yang dapat menghalangi jalan kembali paman Adipati. “
Keduanya terdiam ketika tiba-tiba seorang diantara anak muda itu bangkit berdiri dan mendekati seorang
ak sebelum Jalawaja dan Suratarna masuk. “Selamat siang paman “desis anak mua itu
“Selamat siang Raden “ jawab orang itu. Namun terdengar suaranya sendat.
“Kami agak lama meninggalkan padukuhan. Apa kabarnya dengan paman
saja,
de
bermaksud seperti itu.
Tetapi keadaan saja yang memaksa aku harus
me
dengan apa yang terjadi di
pu
“Baik, den. Baik. “
“Bagaimana hubungan paman dengan nenek ? Masih tetap baik seperti saat aku pergi ? “ “Ya, ya den. “ “Nenek telah berceritera tentang paman. “ “Tetapi, tetapi itu hanya karena keadaan
n. Aku tidak akan pernah ingkar akan janjiku. “ “Seharusnya paman bersikap baik pada nenek. Paman harus memenuhi kewajiban paman seperti saat paman memerlukannya. “
“Ya, ya, den. Aku juga
nundanya barang satu dua pekan. “ “Paman. Sekarang kami sudah kembali. Mudah-mudahan keadaan paman sudah berubah, sehingga paman dapat memenuhi kewajiban paman kepada nenek. “
“Ya, ya. Den. Tetapi aku masih minta waktu barang sepekan. “
Anak muda itu tertawa. Katanya “Jangan memaksa kami bertindak lebih jauh. “ “Den, persoalannya ada hubungannya dengan peristiwa yang terjadi di pusat pemerintahan. “ “Ada hubungannya
sat pemerintahan ? “ “Ya,”
ku aku
lem
memang tidak. Kali ini adalah
ka
a paman akan
me
n yang terlambat memenuh
ke
mudian kepalanyapun menunduk dalamda
“Hubungannya apa ? “ “Sebagian dari barang dagangan
parkan ke Sendang Arum. Karena peristiwa yang terjadi, maka uangnya menjadi sendat, sehingga akibatnya aku tidak dapat memenuhi sebagaimana aku janjikan. Tetapi sebelumnya, bukankah aku tidak pernah mengingkarinya. “ “Ya. Sebelumnya
li yang pertama. Tetapi jika pada kali yang pertama tidak terjadi apa-apa mak
ngulanginya lagi pada kali yang kedua, ketiga dan akhirnya paman ingkari segala-galanya. “ “Tidak den, tidak. “ “Paman. Tentu bukan kebetulan, bahwa bukan hanya pama
wajibannya. Nah, lihat. Itu kakang Srana ada disini pula. Ia juga terlambat. Aku yakin alasannya tentu akan sama dengan alasan paman. “ Orang yang disebut Srana itu berpaling sejenak. Namun ke
lam. “Paman, kang Srana dan yang lain-lain yang mempunyai hubungan dengan nenek. Aku akan memberi batas waktu kepada kalian selama tiga hari. Dalam tiga hari, maka semua kewajiban kalian harus kalian penuhi. “
“Tetapi bagaimana dengan peristiwa yang terjadi di Sendang Arum, den. Bukankah itu
“Kita tidak usah mempedulikan-apa yang terjadi
di. pusat pemerintahan itu. Biarlah A
terusir atau terbunuh atau siap
menggantikannya, apakah ia seor
atau bukan. Tetapi kalian harus
kewajiban kalian. “
“Darimana kami dapatkan
memenuhi kewajiban itu, Raden ?
“Kenapa paman justru berta
Kang Srana juga akan bert
darimana ia mendapatkan uang
yang lain-lain. Lalu bagaimana a
menjawab ? “
di kemelut,
tet na, menemui
lan
endang
Arum, maka agi kau sudah akan berada di
Se Kau mempunyai waktu sehari. Di
ma
merupakan satu kecelakaan yang berada di luar kemampuan kami untuk mengatasinya. “
dipatinya apun yang akan ang pemberontak segera memenuhi uang untuk “ nya kepadaku ? anya kepadaku, . Demikian pula ku harus “Sungguh den. Aku mohon diberi kesempatan. Meskipun di Sendang Arum sedang terja
api aku akan pergi ke sa
ggananku. Mungkin ia dapat memberikan jalan keluar. “ “Bukankah aku sudah memberimu waktu tiga hari. Kalau malam nanti kau berangkat ke S
esok pndang Arum.
lam hari, kau kembali pulang, sehingga kau masih mempunyai waktu sehari sampai batas waktu yang aku berikan. “ “Apakah mungkin aku berjalan dua malam sehari terus-menerus tanpa beristirahat dan tidur ?
njadi lebih buruk
paman k
ngertian paman, Srana dan
ya
nya. “
Wadagku tidak akan kuat, sehingga aku akan dapat menjadi sakit. Akibatnya akan me
lagi. “ “Baiklah. Terserah kepada
paman. Yang epada memenuhi
penting, dalam tiga hari, paman dapat memenuhi kewajiban
nenek. Nah, paman tahu, jika paman gagal
kewajiban paman, maka paman akan berurusan dengan kami. “
“Aku mohon pengertian Raden “ “Nenekpun minta pe
ng lain. Jika kalian tidak memenuhi kewajiban kalian, maka nenek akan mengalami masa-masa suram yang tidak pernah diharapkan
“Tetapi ….” “Sudahlah, paman “potong anak muda itu “tidak ada yang perlu dibicarakan. Aku percaya kepada paman. Selama ini paman tidak pernah ingkar akan janji paman. Hanya pada saat kami tidak ada,
Tetapi
sek sudah kembali. Aku harapkan
kesulitan h teratasi. “
n berganti lima kali. Yang
pe
waja bergumam
sea
gumammu itu, Ki
Sa
elah melawan
pe
kebetulan paman mengalami kesulitan.
arang kami paman suda
Yang disebut paman itu menarik nafas panjang. Namun iapun masih bergumam “Terkutuklah pemberontakan yang telah mengacaukan jalan perdaganganku. “ “Jangan menyalahkan siapa-siapa paman. Sudah aku katakan, bahwa nenek tidak peduli, apakah Adipatinya mati da
nting uang nenek itu kembali. “
“Aku mengerti Raden. Jika aku mengutuk pemberontakan itu, karena pemberontakan itu telah menutup putaran uang yang aku jalankan itu.“ Namun tiba-tiba saja Jala
kan-akan kepada diri sendiri “Memang. Terkutuklah pemberontakan itu. “ Semua orang berpaling kepadanya. Demikian pula anak-anak muda yang berpakaian rapi dari bahan yang mahal itu. “Apa maksudmu dengan
nak. “ bertanya anak muda itu. “Aku memandangnya dari sisi lain “ jawab Jalawaja “pemberontakan itu memang harus dikutuk. Pemberontak itu t
merintahan yang sah, yang dipimpin oleh Kangjeng Adipati. Meskipun padukuhan ini terletak
kyat di
Se
yang berhak untuk
me
olak yang terjadi di
Se
jauh dari pusat pemerintahan, tetapi ra
ndang Arum harus menentukan sikap. “
“Sikap apa ? “
“Berpihak kepada Kangjeng Adipati yang memegang pemerintahan yang sah, atau berpihak kepada pemberontak. Meskipun getar dari suasana pemberontakan yang telah pembunuh banyak orang di kedua belah pihak itu, tetapi rakyat Sendang Arum tidak dapat menjadi tidak peduli kepada peristiwa yang menyangkut pemerintahan di Sendang Arum. “ “Kalian itu siapa? “ bertanya anak muda itu. “Kami adalah bagian dari anak-anak muda di Sendang Arum. Kami tidak dapat melepaskan diri dari gejolak yang terjadi. Kami harus ikut menentukan, siapakah
merintah di Sendang Arum. “ “Kau persulit dirimu sendiri Ki Sanak. Jika kau mau melibatkan diri dalam gej
ndang Arum, lakukanlah. Tetapi kau hanya butir-butir pasir lembut yang tidak berarti di luasnya pantai samodra. Sikap dan kepedulianmu tidak akan ada artinya apa-apa. “ “Aku seorang memang tidak akan ada artinya. Tetapi jika semua anak-anak muda dan bahkan seluruh rakyat Sendang Arum bersikap, maka sikap kita tentu akan mempunyai arti. “ “Kau tidak usah bermimpi. Kalau kau ingin
dak peka menanggapi suasana.
Bu
melibatkan diri, lakukanlah. Jangan seret kami ke dalam gejolak yang tidak kami mengerti. “ “Bukankah pengaruhnya sudah terasa? “ “Tidak. Pengaruhnya tidak terasa. “ “Kaulah yang ti
kankah orang yang kau sebut paman itu tidak dapat memenuhi kewajibannya karena ada gejolak di Sendang Arum. Seandainya yang kemudian berkuasa adalah para pemberontak, bukankah mereka dapat menyusun paugeran dan tatanan baru di Sendang Arum ini? Tatanan itu akan dapat menguntungkan bagi mereka yang menjalankan uangnya dengan menghisap sesamanya karena bunganya yang tinggi. Tetapi dapat juga sebaliknya karena pemerintahan yang baru itu membuat paugeran menghukum gantung semua orang yang membungakan uangnya. “ Anak muda itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Sudahlah. Jangan mencampuri persoalan kami. “
“Aku memang tidak akan mencampuri urusanmu. Aku menangkap pembicaraanmu dan mengetahui bahwa nenekmu telah membungakan uang. Aku tidak peduli. Yang menarik perhatianku adalah justru ketidak pedulian kalian terhadap pergumulan yang gawat yang terjadi dalam pemerintahan di Sendang Arum. Jika terjadi pemberontakan, apalagi Sudah berhasil mengusir Kangjeng Adipati dari pusat pemerintahan,
yat Sendang Arum?
Na
jeng Adipati dan kekuatan yang
me
uk menghitung bunga uang
ya
ng
da
daan
lin mereka yang tidak tersentuh oleh
ke
baru, apakah kekuasaannya akan berpengaruh baik
bukankah itu satu masalah yang gawat yang harus ditanggapi oleh seluruh rak
h, sekarang aku ingin bertanya kepada kalian semuanya yang ada di ruang ini sebagai rakyat Sendang Arum, apakah ada kepedulian kalian terhadap pemberontakan yang telah mengusir Kangjeng Adipati?
Apakah kalian mengira bahwa Kangjeng Adipati yang terusir itu akan membiarkan kedudukannya dipegang oleh orang lain dengan cara yang tidak sah? Nah, jika terjadi gejolak, benturan kekuatan atau katakanlah perang antara kekuatan yang mendukung Kang
ndukung para pemberontak, apa yang akan kalian lakukan? Sib
ng dipinjamkan? Sibuk mengejar orang-orang yang berhutang tetapi belum dapat membayar kembali hutangnya bersama bunganya? Atau justru memanfaatkan kesempatan itu untuk tidak membayar hutang? Yang semuanya itu dilakukan tanpa menghiraukan siapakah yang akan mena
n siapakah yang akan kalah dalam perang antara Kangjeng Adipati dengan para pemberontak? “ Anak-anak muda itu termangu-mangu sejenak. Namun pernyataan Jalawaja itu telah menarik perhatian orang-orang yang berada di kedai itu. Apakah mereka akan bersandar pada kea
gkungan
gelisahan karena terjadi pemberontakan? Tetapi jika di Sendang Arum benar-benar ada penguasa
ata pengaruh buruk? Namun bagaimanapun
jug
sah
be
tang kekisruhan
ya
berhasil
me
u ber
a, Kangjeng Adipati adalah penguasa yang sah di Kadipaten Sendang Arum. Tetapi ternyata anak-anak muda itu bersikap lain. Seorang diantara mereka yang masih duduk ditempatnya segera bangkit berdiri. Seorang anak muda yang bertubuh tinggi, berdada bidang dengan bahu dan lengan yang kekar. “Ki Sanak. Jika kau menaruh kepedulian yang besar terhadap peristiwa di Sendang Arum, pergilah ke Sendang Arum. Kau tidak u
rusaha mempengaruhi ketenangan hidup di lingkungan ini. “
“Agar nenekmu dapat membungakan uang tanpa terganggu? “ “Antara lain memang demikian. Karena itu, diamlah. Jangan berbicara lagi ten
ng terjadi di Sendang Arum. Jangan berbicara lagi tentang pemberontakan yang sudah
ngusir Kangjeng Adipati. “ “Tetapi bukankah kau yang mula-mula mengatakannya bahwa telah terjadi goncangan-goncangan yang berbahaya di pusat pemerintahan. Bukankah kau yang mengatakan bahwa dalem kadipaten telah diduduki oleh seorang perempuan yang bernama Raden Ayu Reksayuda? “ “Ya.”
“Kemudian kau begitu saja mengharap kita
a disini melupakan berita itu? “
erhenti.
Ke
menggelisahkan.
Ba kui gangguan arus
pe ksa orang-orang yang
me
apa yang .sudah
ter
ggurui kami.
Pe
gar mereka mempedulikan apa yang
ter
semuanya yang ad
“Ya.” “Tidak. Kita harus menaruh perhatian yang besar pada berita itu. Peristiwa itu sudah menyebabkan arus perdagangan t
tenangan hidup terganggu. Bahkan dimana-mana terjadi ancaman yang
hkan kau tidak mengardagangan dengan mema
minjam kepada nenekmu untuk memenuhi janjinya tanpa menghiraukan
jadi di pusat pemerintahan Sendang Arum. “ “Cukup “bentak anak muda yang bertubuh tinggi besar dan kekar itu “apa maumu sebenarnya? “ “Aku ingin semua orang Sendang Arum mempedulikan persoalan yang mendasar yang terjadi di tanah kelahirannya ini. Bukan semata-mata mementingkan diri sendiri. “ “Ki Sanak. Kau tidak dapat men
rgilah, sebelum kami menjadi marah. “
“Kau mengusir aku? Apakah hakmu mengusir aku dari kedai ini? Aku akan berada disini sampai esok, atau bahkan lusa. Aku akan berbicara kepada setiap orang, a
jadi di Sendang Arum. Aku akan mengajak mereka menegakkan paugeran dan tatanan yang berlaku. Bahkan aku akan mengajak seluruh rakyat Sendang Arum menghukum pemberontakan ini. “
Dengan pura-pura membantu,
na
, karena kita akan dapat merusakkan perabot
di kedai ini
“Kau sudah gila. Kau siapa, he? Kau kira kau mempunyai kekuasaan untuk mengerahkan rakyat Sendang Arum? “
“Bukan soal kekuasaan. Tetapi jika kita menyadari apa yang terjadi serta akibat yang dapat timbul, maka kita akan bersiap untuk menegakkan tatanan dan paugeran di Sendang Arum. “ “Persetan kau orang gila. Pergi atau aku akan memaksa kalian berdua pergi. “ “Kami tidak akan pergi. “ “Jika demikian, kami akan melemparkan kalian berdua keluar dari kedai ini. “
“Itu tidak perlu. Kami berdua dapat keluar sendiri. Tetapi seterusnya kami akan berbicara didepan pasar, bahwa kita harus menegakkan tatanan dan pangeran. Kita harus menumpas pemberontak yang timbul di Sendang Arum, sekaligus memberantas mereka yang membungakan uang dengan bunga yang justru mencekik leher.
mun akibatnya justru sebaliknya. “ “Setan kau. Kami akan membungkam mulutmu.“ “Kita selesaikan persoalan kita di luar. Jangan di dalam
. “ Jalawajapun bangkit sambil berdesis “Marilah. Kita beri anak-anak bengal ini sedikit peringatan agar mereka tidak mementingkan diri sendiri saja
Ke n rapi
da alah cucu
seo ruh yang
be ak
mu
mereka untuk
me dari orang-orang
ya
inya mereka
be
ereka untuk
mengimbanginya.
Beberapa saat kemudian, maka Jalawaja dan
at orang anak muda yang
be
justru pada saat Sendang Arum sedang bergejolak.“
Suratamapun bangkit. Keduanya berjalan dengan tenang kepintu kedai itu. Kemudian dengan tenang pula keduanya turun ke halaman. Pemilik kedai itu menjadi berdebar-debar.
empat orang anak muda yang berpakaia
n terbuat dari bahan yang mahal itu adrang perempuan yang memiliki penga
sar di padukuhaan itu. Mereka adalah anak-an
da yang ditakuti. Meskipun sikap mereka kadang-kadang baik, tetapi mereka adalah kepanjangan tangan nenek
mungut pembayaran hutang
ng berhutang pada neneknya dengan bunga yang tinggi. Tetapi pemilik kedai itu, bahkan pelayannya, tidak sempat memberi peringatan kepada kedua orang anak muda yang tidak mereka kenal itu. Apalagi mereka berdua. Bahkan seanda
rjumlah sama dengan empat orang pemungut cicilan hutang itu, agaknya sulit bagi m
Suratama sudah berada di halaman kedai itu. Dalam pada itu, keemp
rpakaian rapi itupun sudah keluar pula dari kedai itu. Anak muda yang bertubuh tinggi, berbadan
an akan
me
u saja.
Aku belum dan
ma a
ak
nya.”
ena
itu, Ki Sanak jangan mempersulit diri sendiri.
La
ak.”
kekar itulah yang berdiri di paling depan. Dengan nada yang berat orang bertubuh raksasa itupun berkata “Masih ada waktu anak-anak. Pergilah. Jika kalian tidak mau pergi, maka kali
nyesal.”
“Tentu saja aku tidak dapat pergi begit membayar harga minuman
kanan yang aku minum dan aku makan. Jik
u pergi, maka aku dapat dituduh berbuat curang. “Pergilah. Aku yang akan membayar
“Tidak. Aku mempunyai uang cukup.” “Jadi, apakah aku harus memaksamu pergi?” “Tidak seorangpun dapat memaksaku pergi jika aku memang belum ingin pergi.” “Kau sangat menjengkelkan.”
“Sudahlah, Ki Sanak. Jangan hiraukan kami. Biarkan kami lakukan apa yang ingin kami lakukan. Bukankah yang kami lakukan justru akan berarti bagi Sendang Arum” berkata Suratarna “ Kar
kukan apa yang akan kau lakukan.” “Kalian mau pergi atau tidak “ bentak anak muda yang bertubuh tinggi kekar itu. Namun Suratarna menjawab tegas “ Tid
“Bagus. Jika kalian tidak mau pergi, maka aku akan memaksa kalian.”
mau
pe
a itu juga
pe
Su
Ketika ketiga orang anak muda yang lain bergeser mendekati Jalawaja dan Suratarna, maka anak muda yang bertubuh tinggi besar itupun berkata “ Serahkan mereka kepadaku. Aku akan mengusir mereka. Jika mereka tetap tidak
rgi, maka mereka akan menyesal. Jika mereka akan menjadi kesakitan, bukan salahku.” “Kau akan menyakiti kami? “ bertanya Jalawaja. “Ya. Jika kalian berdua tidak mau pergi.”
“Bagaimana jika kami yang menyakiti kalian?” “Iblis kau. Jika kalian memang akan memberikan perlawanan, bersiaplah.” Jalawaja dan Suratamapun bersiap. Mereka tidak tahu, seberapa tinggi ilmu anak muda yang bertubuh raksasa itu. Tetapi menurut pengamatan mereka, anak muda itu tentu akan lebih banyak mengandalkan kekuatannya saja daripada ilmu kanuragan, meskipun mungkin anak mud
rnah berguru. Jalawaja dan Suratama itupun kemudian bergeser justru saling mendekat. Jalawaja masih juga sempat berbisik “ Kita buat anak ini jera.” Suratamapun mengangguk kecil. Sejenak kemudian, maka anak muda bertubuh raksasa itu melangkah mendekati Jalawaja dan
ratama, sementara kedua orang anak muda itu telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya.
benar-benar siap.”
kan
ke
raksasa itu salah
hit
rang jahat yang berkeliaran di
pa
anting. Jalawaja
dan Suratarna dengan tangkas menghindari tangan
anak muda itu. Namun keduanya-pun segera
menangkap pergelangan tangannya. Jalawajapun
segera mengisyaratkan untuk melemparkan anak
muda bertubuh raksasa itu, bahkan didorong oleh
“Aku bukan orang yang licik yang mengambil kesempatan sebelum lawanku
“Kami sudah siap “ sahut Jalawaja. Anak muda bertubuh raksasa itu menggeram. Sementara itu ketiga orang kawannya berdiri termangu-mangu. Mereka tahu benar a
kuatan dan kemampuan kawannya yang bertubuh tinggi, kekar dan sedikit angkuh itu. Tiba-tiba saja anak muda itu meloncat menyerang. Kedua tangannya terjulur lurus kedepati. Tangan kanannya menggapai leher Jalawaja sedang tangan kirinya menggapai leher Suratama. Tetapi anak muda bertubuh
ung. Yang mereka hadapi bukan anak-anak muda seperti yang setiap hari dijumpainya di padukuhannya atau di kademangannya. Bukan pula sebagaimana orang-orang yang berada di pasar. Bahkan orang-o
sar itu. Yang dihadapinya adalah Jalawaja dan Suratarna. Dua orang anak muda yang telah mendalami dasar-dasar olah kanuragan. Karena itu, demikian tangannya terjulur, maka anak muda itupun segera terpel
ten
menyadari, bahwa tubuhnya yang
terlempar dengan derasnya.
Anak muda bertubuh raksasa itup
terjerembab di halaman kedai itu.
tersuruk di tanah berdebu, sehingga
melekat di wajah yang basah oleh kering
Dengan cepat anak muda bertubu
bangkit. Tetapi demikian anak muda itu be
maka dengan cepat Jalawaja dan Sura
menangkap lengannya. Sekali lagi
bertubuh raksasa itu terlempar. S
terjerembab dan debu diwajahnya me
tebal. Pakaiannya yang rapi dan terbuat dar
yang mahal itu menjadi sangat koto
wiru kain panjangnya terlepas.
itu berteriak. Ketiga
an
a.
aga anak muda bertubuh raksasa itu sendiri. Dengan demikian, maka anak muda bertubuh raksasa yang tidak menduga akan diperlakukan demikian, terkejut sekali. Tetapi ia terlambat besar itu
un jatuh Wajahnya debupun at itu. h raksasa itu rdiri, tarna telah anak muda ekali lagi ia njadi semakin i bahan r, sementara “Anak iblis “ anak muda
ak muda itu berusaha untuk bangkit, ketiga orang anak muda yang lainpun segera berlari untuk melindunginya. Jalawaja dan Suratarna berdiri termangu-mangu. Mereka berdua tidak berbuat apa-apa ketika anak muda bertubuh raksasa itu berusaha untuk bangkit, sementara ketiga orang kawannya berdiri disebelah menyebelahny
menyerang
kami lebih
ti nenek yang
me
Ketika seorang diantara mereka berniat menolong kawannya yang terjerembab itu, maka tanganyapun dikibaskan sambil berkata “Aku dapat berdiri sendiri. Aku tidak apa-apa. Mereka licik dan
sebelum aku bersiap. “
Suratama tertawa. Katanya “Bukankah kau yang telah menyerang
dahulu ? Bahkan kau sempat berbaik hati,
memperingatkan agar aku berhati-hati. “
“Persetan kau “ geram anak muda bertubuh raksasa itu “kau telah menyakiti aku. Itu adalah satu tindakan yang sangat bodoh, karena aku tentu akan membalasmu. Seper
mbungakan uangnya, maka kaupun harus membayar bunga. Jika kau menyakiti aku dan mengotori pakaianku, maka aku akan melukaimu dan ngoyakkan pakaian mu. “ Suratama masih saja tertawa. Katanya
“Su
ari
tuj
ami akan
be
yang dengan serta-merta pergi
me
dahlah. Jangan berkeras. Pulanglah. Kau dapat berganti pakaian. Bukankah pakaianmu masih ada beberapa pengadeg sehingga kau tidak akan mengalami kesulitan untuk berganti pakaian seh
uh kali ? “ “Kau semakin memuakkan. Jangan sesali nasibmu yang buruk.” “Kenapa aku harus menyesal. Aku bahkan ingin memperingatkan kau dan kawan-kawanmu, agar kalian pergi. Jangan ganggu kami. K
rbicara tentang keadaan kadipaten Sendang Arum sebagaimana kalian katakan. Kami akan minta rakyat Sendang Arum menyadari keadaan yang mereka hadapi sekarang ini. “
Anak muda bertubuh raksasa itupun kemudian tidak ingin maju sendiri. Dengan geram iapun berkata “Mereka adalah orang-orang licik. Karena itu, kita akan menghadapi mereka bersama-sama. “ Tetapi Jalawajapun bertanya “Apakah batasan tentang kelicikan seseorang ? “ “Persetan. Jika kalian masih bersikap sangat memuakkan, maka kami akan menghentikannya dengan cara kami. “ Orang-orang yang ada di sekitar tempat itupun menjadi riuh. Ada
ninggalkan tempat itu, tetapi ada juga orang-orang yang justru ingin melihat apa yang sedang terjadi di depan salah satu kedai di dekat pasar itu.
me
Mereka tidak saja berkawan, tetapi
me
nak muda itu.
Ke ena kemampuan
ke
Pemilik kedai dan pelayaninya menjadi kebingungan. Jika empat orang anak muda itu bertindak bersama-sama, maka kedua orang lawan
reka benar-benar akan mengalami kesulitan. Sementara itu, orang-orang yang berkerumun itupun menjadi berdebar-debar. Kebanyakan diantara mereka mengenal keempat anak muda yang menjadi pemungut cicilan hutang dari nenek mereka.
reka masih mempunyai ikatan darah. Beberapa orang di pasar itu memang mempunyai hutang kepada nenek keempat orang anak muda itu. hutang yang harus mereka bayar dengan cicilan disetiap hari pasaran. Tetapi perlawanan kedua orang anak muda itu terhadap anak muda yang bertubuh raksasa itu telah membuat jantung mereka berdebaran. Sebelumnya tidak ada orang yang berani melawan mereka. Bahkan petugas yang harus menjaga keamanan dan ketenangan pasar itupun tidak berani menegur keempat orang a
cuali mereka memang segan kar
empat orang anak muda itu, nenek anak muda itu adalah seorang yang sangat berpengaruh. Seorang yang kaya dan mempunyai beberapa cucu-cucunya itu. Namun tiba-tiba saja ada dua orang anak muda yang tidak dikenal di tempat itu telah berani melawan keempat penagih hutang yang berbunga tinggi itu.
rang anak muda
itu
au ikut melibatkan diri dalam
ge
reka agar mereka
tah
en Ayu Reksayuda ? “
g harus menjadi pahlawan
me
gin aku lakukan
Dalam pada itu, keempat o
pun segera berpencar. Mereka akan menghadapi kedua orang lawan mereka dari arah yang berbeda. “Tidak ada lagi kesempatan lagi kalian. Kalian harus menerima hukuman kami. Kalian akan kami bawa pulang. Di rumah, kalian akan dapat menjadi bahan permainan yang men-gasikkan barang sepekan. Baru kemudian kami akan melepas kalian.“
“Ki Sanak “ berkata Jalawaja kemudian “sekarang aku ingin bersungguh-sungguh. Akulah yang masih memberi kesempatan kepada kalian. Jika kalian tidak m
jolak yang terjadi di Sendang Arum, terserah saja kepada kalian. Tetapi jangan halangi aku untuk berhubungan dengan rakyat Sendang Arum. Biarlah aku berbicara kepada me
u apa yang teradi di negerinya ini. Seperti yang kau katakan, bahwa Kangjeng Adipati telah terusir dari tahtanya oleh seorang perempuan yang bernama Rad
“Kau akan menjadi pahlawan?” “Ya “ jawab Jalawaja tegas “ aku tidak merasa malu meskipun kau ucapkan kata-kata itu dengan nada yang miring. Aku memang akan menjadi pahlawan. Semua oran
nghadapi pemberontakan ini. Yang penting bagi kami bukan sebutan pahlawan itu. Bukan untuk disanjung dan di beri tepuk tangan. Tetapi aku ingin melakukan apa yang in
seb
mainan.
Se
i kesempatan.
Se
rak diantara mereka.
uda itupun berloncatan
me
n kedua orang anak muda itu. Ketika
ke
g jatuh.
Justru menimpa kawannya yang
sedang berusaha untuk bangkit.
agai rakyat Sendang Arum.” “Cukup “ bentak seorang yang agaknya umurnya tertua diantara mereka “ Sesali apa yang harus kau sesali. Sudah aku katakan, kalian tidak akan mendapat kesempatan lagi. Seperti kata saudaraku, kalian berdua akan kami bawa pulang. Kami memang membutuhkan barang
mentara itu, agaknya kalian berdua memenuhi syarat yang kami inginkan.” Wajah Jalawaja menjadi merah. Katanya “ Baik. Kita tidak akan saling member
karang akulah yang akan memperingatkan kalian. Bersiaplah.” Jalawajapun kemudian memberikan isyarat kepada Suratarna. Mereka bergeser untuk membuat ja
Anak muda yang tertua itupun segera memberikan isyarat pula. Dengan serentak maka keempat orang anak m
nyerang. Tetapi mereka memang salah menilai kemampua
dua orang anak muda itu berloncatan, maka dua diantara keempat orang itupun telah terlempar dan terpelantin
Ketika kedua orang yang lain masih mencoba menyerang, maka seorang diantaranya telah terlempar pula.
eberapa kali.
rjongkok di sebelah kawannya yang
ke
ta anak muda yang
be a akan menghajarnya. Kita
ha .”
kalian masih akan melawan, keadaan
ka
dak menghiraukannya. Anak
mu
Sedangkan yang seorang lagi, yang mencoba menyerang Jalawaja dengan menjulurkan tangannya mengarah ke dada, juitru harus mengaduh kesakitan. Jalawaja menangkap perge-langan tangan itu, sementara kakinya menyerang lambungnya. Tidak hanya sekali, tetapi serangan kaki Jalawaja itu dilakukan b
Ketika kemudian Jalawaja melepaskan tangan itu, maka anak muda itu justru terhuyung-huyung beberapa langkah surut. Kemudian jatuh terlentang sambil menyeringai menahan sakit. Kawannya yang terlempar sebelumnya telah bangkit berdiri. Dengan tergesa-gesa anak muda yang bertubuh raksasa itu mendekati dan kemudian be
sakitan.
“Jangan cengeng “ berka
rtubuh raksasa ” Kitrus lebih berhati-hati
Anak muda yang kesakitan itu berusaha untuk bangkit, sementara Jalawaja berdiri sambil bertolak pinggang. “Jika
lian akan menjadi semakin parah “ berkata Jalawaja. Tetapi keduanya ti
da yang kesakitan itupun berusaha untuk bangkit berdiri.
hulu.
Me rasa sakit ketika
yang s n yang sedang
be gan derasnya, namun
me
n Suratama
su
pat orang itu sudah terpental. Seorang
ba
n semua
gig
yang tanggal. Nanti akan tumbuh
lag
agi. Ada
lub
Sedangkan kedua orang yang bertempur melawan Suratama telah bersiap lebih da
skipun punggung mereka teeorang menimpa yang lai
rusaha untuk bangkit, den
rekapun segera mempersiapkan diri untuk segera bertempur kembali. Sejenak kemudian, Jalawaja da
dah harus melayani keempat orang anak muda itu lagi. Tetapi dalam waktu yang terhitung singkat, keem
hkan mengerang kesakitan. Dua giginya tanggal ketika tumit Suratama tepat mengenai mulutnya. Darahpun mengalir dari sela-sela bibirnya, meleleh ke dagunya. “Gigiku “ anak muda itu merintih.
“Jangan hiraukan gigimu.” “Gigiku “ ulangnya. “Apaboleh buat. Jangan hiraukan gigimu, Kita harus membalasnya. Kita akan mematahka
inya. Tidak hanya beberapa. Kau tidak perlu menangisi gigimu
i.” Suratama justru tertawa. Katanya “ Kau kira orang seumurnya giginya yang patah masih akan dapat tumbuh lagi?”
“Gigiku memang tidak akan-tumbuh l
ang di deretan gigiku.”
itu mengangguk
lag
ak muda yang bertubuh
rak
ang punggungnya serasa
me
nyakiti kalian sekehendak hati kami.
Ba
“Bangkit. Sekarang kita akan, mematahkan semua giginya “ Anak muda itu mengangguk. “Relakan gigimu yang patah.”
“Tetapi gigi itu tertelan.” Kawannya mengerutkan dahinya. Namun kemudian katanya “ Tidak apa-apa. Gigimu tidak akan dapat mengunyah isi perutmu.” Kawannya yang giginya patah
i. Ketika keduanya melangkah maju mendekati Suratarna, maka an
sasa, yang bertempur melawan Jalawaja itu terpelanting lagi. Tubuhnya terbanting dengan kerasnya, sehingga tul
njadi retak. “Kalian tidak akan dapat menyakiti kami. Tetapi jika kalian berkeras untuk berkelahi terus, kami akan me
hkan lebih dari itu “ berka ta Suratarna. “Apa maksudmu menyakiti kami sekehendak hati kalian itu ? “ “Aku akan mematahkan semua gigimu. Bahkan aku akan memotong telingamu. Jika kalian masih tetap melawan, aku akan memotong lehermu. Kau tidak akan dapat hidup tanpa leher. “ “Setan kau. Aku akan membunuhmu. “ “Jangan berkata begitu. Kau menggelitik
ke
dai,
pe da di
sek ebarde
akan menjadi
sem
perasaanku. Jangan menimbulkan keinginan di hatiku untuk membunuh kalian berdua. Karena kesempatan untuk membunuh bagiku tentu lebih besar dari kesempatan kalian. “ Kedua orang anak muda itu termangu-mangu. Sementara itu, kedua orang lawan Jalawajapun sudah tidak berdaya lagi. Seorang terduduk
sakitan, seorang yang lain justru duduk tersandar pada sebatang pohon. “Kau lihat kawan-kawanmu ? “ bertanya Suratarna. Kedua orang anak muda itu termangu-mangu.
“Menyerahlah. Rawatlah saudara-saudaramu itu. “ Kedua orang lawan Suratarna itu tidak dapat berbuat lain. Mereka menyadari, bahwa mereka tidak akan dapat melawan. Apalagi anak muda yang lain sudah dapat membuat kedua lawan mereka tidak berdaya.
Namun dalam pada itu, pemilik ke
layannya dan beberapa orang yang beraitar arena perkelahian itu menjadi berd
bar. Beberapa orang merasa senang bahwa keempat anak muda itu pada satu kali mendapat pelajaran sehingga mereka tidak
akin menyombongkan diri lagi. Atau setidaknya mereka menyadari, bahwa mereka bukan orang terkuat di dunia ini. Tetapi justru karena mereka tahu, siapakah keempat orang anak muda itu,
ma
pahan yang tidak
be
upun kemudian segera
me
melawannya, maka bukan
ha
an, maka leherkulah yang akan
dit
su
Te
mencoba membantu saudarasau
ka mereka mencemaskan nasib kedua orang anak muda yang telah mengalahkan keempat orang anak muda itu. Jika kekalahan mereka didengar oleh orang-orang upahan neneknya, maka mereka tentu akan berdatangan. Sedangkan mereka adalah orang-orang u
rjantung, karena jantung mereka telah terbeli. Kedua orang anak muda yang bertempur melawan Suratarna it
ndekati kedua orang saudara mereka yang terbaring kesakitan. Dengan suara yang bergetar, anak muda yang bertubuh raksasa itu berkata “Bunuh mereka. “
“Mana mungkin “jawab anak muda yang giginya patah dua buah “gigiku patah. Mulutku berdarah. Jika aku masih juga
nya gigiku yang tanggal, tetapi ia akan menanggalkan telingaku. Jika aku masih juga melaw
anggalkannya. “ “Jangan takut. Mereka hanya menggertak. “ “Tetapi bagaimana dengan kau sendiri ? “
Anak muda bertubuh raksasa yang rasa-rasanyadah tidak dapat bangkit lagi itupun menggeram.
tapi ia tidak berkata apa-apa lagi. Kedua orang anak muda yang dilepaskan oleh Suratama itupun
daranya bangkit berdiri dan berjalan ke tangga kedai itu.
an perkelahian itupun
ter
pat itu, beberapa orang upahan nenek
me
bungakan uangnya
itu
epada pemilik kedai yang berdiri dekat
pin
ya. “
Namun apa yang dicemaskan oleh beberapa orang yang menyaksik
jadi. Sebelum ada yang sempat memperingatkan agar kedua orang anak muda itu meninggalkan tem
rekapun telah berdatangan. Tidak hanya ampat orang. Tetapi tujuh orang. Bahkan nenek tua yang mem
pun ikut pula datang. Nenek tua itu telah menyingsingkan kain panjangnya, berjalan setengah berlari menuju ke kedai itu diikuti oleh tujuh orang upahannya.
Agaknya seseorang telah melaporkan kepadanya, apa yang telah terjadi dengan cucu-cucunya di kedai itu. Sebelum sampai di halaman kedai itu, telah terdengar suaranya lantang “Mana demit-demit itu he ?” Jalawaja dan Suratama termangu-mangu sejenak. K
tu kedainya Jalawaja bertanya “Siapakah mereka ? “ “Nenek mereka dan orang-orang upahann
Jalawaja menggeram. Dengan nada berat Jalawaja bertanya “. Apa yang akan kita lakukan Suratama ?“
Suratama itupun menjawab “Jika mereka tidak mau mendengarkan kata-kata kita, anggap saja
ana
Ra
“Kita akan memberi mereka peri
mereka tidak mau mendengar,
Jalawaja mengangguk-angguk
Dalam pada itu, nenek tua y
sambil menyingsingkan kain pa
memasuki halaman kedai it
suaranya lantang “Mana demi
berani melawan kuasaku disini i
Tidak ada yang menjawab. N
tua itu melihat keempat cucu-cucunya
tangga kedai itu dengan darah dim
yang pucat dan mulut yan ai .
kesakitan, maka iapun segera berla
wab anak muda yang giginya
tan
sa “untuk melindungi diri
mereka juga telah memberontak sebagaim
den Ayu Reksayuda. “ “Kita perlakukan mereka sebagai pemberontak. ? “
ngatan. Jika apaboleh buat. “ ang berlari-lari kecil njangnya itu telah u. Terdengar lagi t-demit yang telah tu, Jie ? “ amun ketika nenek duduk di ulut serta wajah g menyering
ri mendekatinya “Kalian-kenapa anak-anak manis ? Demit itu sudah mengganggumu sehingga kalian menjadi demikian parah ? “
“Ya. nek “ ja
ggal “ mereka berdua adalah orang-orang gila yang sudah mengganggu kami berempat “ “Kenapa kalian tidak membunuh saja mereka ? Kalian tidak akan dianggap bersalah jika kalian membunuh keduanya dalam sebuah pertarungan. “ “Jangankan membunuh “ jawab anak muda yang bertubuh raksa
sen
ua itu berteriak. Suaranya
ma
erada di
membenahi
mereka akan
langkah-langkah
an gelandangan yang kelaparan, apakah
kalian ti tahu siapa aku ? “
nya
“Bangkit. Kalian harus ikut menangkap mereka.
Kalian akan dapat membawa mereka pulang. Ada
ku
ya. Kita akan dapat bermain
ha
diripun kami tidak mampu lagi. “ “Setan alas” nenek t
sih lantang, melengking seakan-akan berputar di sekitar pasar itu. Orang-orang yang b
pasar telah
dagangan mereka. Jika terjadi sesuatu yang merembet ke pasar, maka
segera dapat mengambil
pengamanan. “Kalian berdua,
ak-anak dak
“Tidak, nek. “ “Jangan panggil aku nenek. Kapan aku menjadi isteri bergeser. Sementara perempuan tua itupun berteriak lagi kepada keempat cucu-cucu
rungan besi di kebun belakang. Keduanya dapat dimasukkan kedalamn
rimau-hariamuan.”
da itu masih
tet
lama ini aku bangga
ter
itu.”
i Suratama “desis Jalawaja.
njadi
sem
Tetapi keempat orang anak mu
ap duduk di tangga. “Bangkit, pengecut. Se
hadap kalian yang mampu mendukung usahaku. Tiba-tiba kalian tidak berdaya menghadapi dua orang gelandangan yang kelaparan
Tetapi keempat orang cucunya itu tidak beranjak dari tempatnya.
Dengan demikian maka perempuan itupun segera memberi aba-aba kepada orang-orang upahannya “Lakukan sekarang. Tidak ada yangditunggu lagi.”
Demikianlah tujuh orang upahannya itupun segera bergerak mendekati Jalawaja dan Suratama. “Kita sudah terlalu lama bermain permainan yang menjemukan in
“Ya.” “Sekarang, kita tidak perlu lagi menunjukkan permainan gaya apapun. Kita akan bekerja dengan cepat, secepat-cepatnya. Lawan kita me
akin banyak. Mereka agaknya lebih berpengalaman dari keempat anak kucing itu.” “Ya.”
“Karena itu, kita harus bekerja cepat. Semakin cepat semakin baik.” Suratama mengangguk. Sementara itu beberapa
anak muda. Nasibmu kau perburuk
de
mungkinan.
kan menjadi semakin banyak.
orang telah berhenti di hadapannya. “Bersiaplah
ngan kesombonganmu.” Suratarna tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap menghadapi segala ke
Demikian pula Jalawaja yang telah bergeser mengambil jarak dari Suratarna.
Dalam pada itu, baik Jalawaja maupun Suratarna tidak menunggu lebih lama lagi. Mereka berdualah yang mendahului menyerang orang-orang yang mengerumuninya.
Ternyata Jalawaja harus berhadapan dengan empat orang, sedangkan Suratarna akan menghadapi tiga orang yang menurut pengamatan mereka agaknya orang-orang itu memiliki pengalaman yang lebih banyak dari keempat orang cucu nenek tua itu.
Pertempuranpun segera membakar lagi halaman kedai itu. Orang-orang yang berkerumun agak jauh dari halaman kedai itu masih juga berdiri di tempatnya. Bah
Petugas pasar, yang harus mengawasi dan mengamankan pasar itupun ikut menonton dari kejauhan. Mereka tidak berani mendekat untuk melerai pertempuran itu. .
Jalawaja dan Suratarna tidak lagi menahan diri. Mereka menyadari, jika mereka tidak memanfaatkan kesempatan pertama, mungkin
Jalawaja maupun
Su
ka adalah orang-orang yang
hid
s.
rlukan.
mereka akan mengalami kesulitan untuk selanjutnya. Karena itu, maka baik
ratamapun segera berloncatan menyerang lawan-lawan mereka. Serangan Jalawaja dan Suratarna agaknya telah mengejutkan ketujuh orang anak muda itu adalah.anak-anak muda yang berilmu tinggi. Tetapi mere
upnya memang berkubang dalam lingkungan kekerasan. Karena itu, maka mereka memiliki pengalaman yang cukup lua
Namun yang mereka hadapi adalah anak-anak muda yang terlatih. Tidak hanya sekedar mengandalkan kewadagan mereka, tetapi mereka memiliki kemampuan utuh di dalam dirinya. Segala segi-segi kekuatan dan tenaga telah dilatih untuk dapat dipergunakan jika dipe
Karena itu, maka sejenak kemudian, pertempuran di depan kedai itupun menjadi semakin seru. Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itupun menjadi berdebar-debar. Menurut anggapan mereka, jangankan tujuh orang. Seorang saja dari antara orang-orang upahan itu telah membuat orang sepasar ketakutan.
“Apa jadinya anak-anak muda itu “ berkata seorang yang berdiri disebelah sebatang pohon
n menjadi debu. Nenek tua itu
me
menebar
ke
ur berempat, terlempar dengan derasnya.
Tu
t, orang itu harus menyeringai
me
orang itu memasuki kembali arena
pe
“darah muda mereka agaknya masih terlalu mudah mendidih, sehingga mereka tidak sempat menilai siapakah yang mereka hadapi.” “Kasihan mereka “ sahut yang lain “mereka tentu aka
nginginkan keduanya tertangkap hidup untuk dibawa pulang. Aku tidak dapat membayangkan, apa jadinya mereka setelah mereka berada di rumah nenek tua yang cucu-cucunya telah dikalahkan itu.” “Tidak seorangpun yang dapat menolong “ berkata seorang yang lain. Dalam pada itu, pertempuranpun telah
tika Jalawaja dan Suratama sengaja mengambil jarak semakin panjang. Dengan demikian maka keduanya menjadi lebih leluasa. Mereka berloncatan seperti burung sikatan memburu belalang di padang rumput.
Orang-orang yang menyaksikannya hampir tidak percaya melihat apa yang telah terjadi. Sekali-sekali mereka melihat di-antara ketujuh orang itu terpelanting keluar arena. Bahkan seorang yang bertemp
buhnya itupun telah membentur sebatang pohon yang ada di halaman kedai itu, sehingga untuk beberapa saa
nahan sakit pada punggungnya. Ketika
rtempuran dengan punggung yang masih nyeri,
erbanting di tanah. Beberapa kali orang
itu
banyak orang. Ketujuh orang itu
sat
alahkan
du
ya telah mengerahkan
ke ketujuh orang
law
h orang itu menjadi semakin tidak
be
maka kawannya yang seorang lagi dengan kerasnya t
berguling. Namun ketika ia mencoba bangkit, tangannya harus menekan pinggangnya yang kesakitan. Yang terjadi sama sekali tidak sebagaimana dicemaskan oleh
u-persatu mulai kehilangan tenaga dan kemampuan untuk melawan. Serangan-serangan Jalawaja dan Suratarna telah menghancurkan kebanggaan mereka sebagai orang upahan yartg sangat ditakuti. Tujuh orang yang bertempur bersama-sama ternyata tidak mampu meng
a orang anak muda yang tidak dikenal. Jalawaja dan Suratarna memang tidak menahan diri lagi. Kedua-n
mampuan mereka untuk memaksa
an mereka itu menyerah. Nenek tua itupun berteriak-teriak marah ketika orang-orangnya mulai kehilangan tenaga dan kemampuan mereka. Ketika satu persatu ketujuh orang itu tidak lagi mampu bangkit dan memasuki arena. “Bangkit. Jika keduanya tidak dapat ditangkap hidup-hidup, bunuh mereka di tempat “ teriak nenek tua itu. Tetapi ketuju
rdaya. Dengan marah perempuan itu itupun
iantara mereka berkata “Nenek
lih
orang anak muda yang
be
rimu makan. Memberimu
pa ang menurut kebutuhan
kalian. Aku pula yang memberi ayah dan ibumu
ma
kalian tidak dapat membantuku.”
jika nenek memberi ayah
ma
orang upahannya sudah
tid uratama
su
epalanya terbentur bebatur
ke lah menjadi
be
kemudian
melangkah mendekati nenek tua itu. Dengan suara
membentak keempat cucu-cucunya “Bangkit, lawan mereka.” Tetapi keempat cucu-cucunya itu menggeleng. Bahkan seorang d
at sendiri, ketujuh orang upahan nenek itu tidak mampu melawan kedua
rilmu iblis itu.” ”Buat apa aku membe
kaian dari setiap kali u
kan, pakaian dan tempat tinggal. Tetapi ternyata
“Bukankah wajar
kan, pakaian dan tempat tinggal, karena ayah adalah anak nenek ?” “Persetan kau “ teriak nenek itu. . Sementara itu, ketujuh
ak berdaya sama sekali. Ketiga lawan S
dah tidak mampu lagi bangkit, apalagi melawan. Sedang seorang lawan Jalawaja bahkan menjadi pingsan. Seorang punggungnya serasa patah, sedang seorang lagi k
dai itu, sehingga semuanya seolah-o
rputar. Seorang lagi masih dapat bangkit berdiri. Tetapi ia tidak lagi berniat untuk melawan. Dengan putus-asa ia duduk sambil berkata memelas “Aku minta ampun.” Jalawaja dan Suratamapun
ya r oleh kemarahan Jalawaja berkata
“D
an urusanku. “
ndiri. “
elindungi
dir ah tidak
be
ng bergeta
engar nenek tua yang tidak tahu diri. Apakah kau masih belum melihat kenyataan yang kau hadapi sekarang.” “Kalian iblis laknat yang terkutuk. Kenapa kalian mencampuri urusanku ?”
“Dengar. Ada pemberontakan di Sendang Arum. Kau masih tidak peduli.” “Itu buk
“Kau tidak mengakui bahwa kau rakyat Sendang Arum. “
“Apa peduliku ? “
“ Baik. Jika kau tidak peduli dengan kekuasaan di Sendang Arum, maka kau tidak akan mendapat perlindungan dari penguasa di Sendang Arum, siapapun orangnya. “
“Aku dapat melindungi diriku se
“Tidak. Sekarang kau tidak dapat mimu sendiri. Orang-orangmu sud
rdaya. “ “Mereka akan segera bangkit lagi. “
“Tidak ada artinya. Aku sekarang akan pergi ke rumahmu. Aku akan mengambil semua harta bendamu. Aku akan mempergunakannya untuk membiayai perjuangan kami melawan pemberontak yang sudah menduduki kadipaten. “
paling kepada
Su

gah mereka, ngger. Cegah
me
yang akan mencoba mencegahku, akan
ak
ang
up
ngerti, apa arti
pe
“Jangan.”
“ Marilah “ Jalawajapun ber
ratarna “kita bawa orang yang menyerah itu untuk menunjukkan, di-mana rumah nenek itu. Jika ia menolak, kita akan membunuhnya. Nenek tua ini tidak akan mendapat perlindungan dari sia-papun.
“Jangan. Jangan ambil hartaku “ lalu katanya kepada cucu-cucuya “ce
reka. “ “Siapa
u bunuh.”
“ Tetapi. Tetapi……”nenek tua itu mulai menjadi cemas.
Suratamapun kemudian mendekati or
ahan yang menyerah itu sambil membentak “Antar kami ke rumah nenek itu, atau kami bunuh kau disini. “ “Ampun. Jangan bunuh aku. “ “Jika demikian, bangkit. Antar kami. “ “Jangan, tolong jangan lakukan ngger. Jangan. Aku bekerja keras sejak aku masih perawan. Aku ingin kaya. Karena itu, jangan ambil hartaku. “
Jalawajapun termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Aku tidak akan mengambil hartamu, tetapi kau harus me
rgolakan yang terjadi di.Sendang Arum. Kau harus perduli agar kau mendapat perlindungan dari
pa. Tetapi jangan
pe atan lain aku akan
da
gian dari prajurit Sendang Arum
itu. “
rit Sendang
Arum.“
rumun “Kalian
adalah rakyat Sendang Arum. Terserah kepada
ahut. Meskipun demikian, ternyata
jan
, Jalawajapun
penguasa di Sendang Arum. “ “Apa yang harus aku lakukan ? “
“Sementara ini tidak apa-aras sesamamu. Pada kesemp
tang kepadamu dengan sekelompok prajurit. “ “Prajurit. Kenapa kau akan datang dengan sekelompok prajurit ? “ “Aku adalah ba
“Jadi angger berdua ini prajurit ? “ “Ya. Kami berdua adalah praju
“Ampunkan aku ngger. Aku minta ampun. “ Jalawaja dan Suratama tidak menghiraukannya lagi. Tetapi Jalawajapun kemudian berkata lantang kepada orang-orang yang berke
kalian, apakah kalian akan berpihak kepada para pemberontak atau berpihak kepada Kangjeng Adipati yang memiliki kekuasaan yang sebenarnya di Sendang Arum. Jika kalian berpihak kepada para pemberontak, maka kalian akan di hancurkan. “ Orang-orang yang ada disekitarnya tidak ada yang meny
tung mereka mulai tersentuh. Jalawaja dan Suratama tidak menghiraukan mereka lagi. Kepada Suratama
be
diri untuk membayar kepada
pemilik kedai itu.
usah, ngger. Tidak usah. “
un
rkata “Marilah. Kita tinggalkan mereka. Biarlah mereka mencerna peristiwa ini. Aku yakin bahwa mereka akan memberikan pilihan yang benar. “ Suratamapun mengangguk. Demikianlah, maka tanpa berkata apa-apa kepada nenek tua itu, Jalawaja dan Suratamapun meninggalkan kedai itu. Tetapi mereka masih menyempatkan
“Tidak
Tetapi Jalawaja berkata “Terimalah. Bukan apa-apa. Tetapi ini adalah kewajibanku. “ Pemilik kedai itu tidak dapat menolak. Sementara itu, Jalawaja dan Suratamapun kemudian meninggalkan tempat itu. melanjutkan perjalanannya menjelajahi daerah Sendang Arum
tuk mengetahui sikap rakyatnya. Sementara itu, Ragajaya dan Ragajatipun telah melakukan tugasnya dengan baik. Dalam perjalanannya dari padukuhan ke padukuhan, keduanya menangkap isyarat, bahwa sebenarnya rakyat Sendang Arum masih setia kepada Kangjeng Adipati Wiranegara. Mereka tidak dapat menerima keberadaan Raden Ayu Reksayuda di dalem kadipaten. “ Tetapi apakah bukan Kangjeng Adipati yang telah memerintahkan membunuh Raden Tumenggung Wreda Reksayuda ? “
“ jawab Ragajaya “Kangjeng
Ad
g. Apa
untungnya seandainya Kangjeng Ad
benar telah memerintahkan me
Tumenggung Wreda Reksayuda ?
sudah tidak mempunyai pengaruh ap
Sendang Arum.”
“Tetapi kematiannya di tangisi ole
orang. “
“Bukan karena peran Raden
Reksayuda sendiri. Tetapi lebih
hasutan Raden Ayu Reksayuda
keadilan. Dengan kasar Raden
telah menghasut orang-orang Send
mendapat keuntungan dari kematian s
Orang-orang yang mend
mengangguk-angguk kecil. Namun
n Tumenggung Wreda Reksayuda.
Te
Tu
“ Omong kosong
ipati bukan seorang yang terlalu bodoh dengan mengorbankan namanya. Kita harus dapat menilai peristiwa itu dengan penalaran yang benin
ipati benar-mbunuh Raden Orang tua itu a-apa di
h banyak Tumenggung banyak karena yang menuntut Ayu Reksayuda ang Arum untuk
uaminya. “ engarkannya merekapun kemudian meyakini, bahwa ada yang tidak wajar telah terjadi di Sendang Arum. Pemberontakan itu terjadi bukan karena rakyat sejak semula meyakini bahwa Kangjeng Adipati telah memerintahkan membunuh Rade
tapi baru kemudian, setelah Raden Ayu Reksayuda menghasut mereka bersama Ki
menggung Jayataruna. Namun Ragajaya dan Ragajati meyakinkan rakyat Sendang Arum, bahwa Ki Tumenggung Jayataruna pada saat terakhir telah menghadap Kangjeng Adipati untuk menyatakan
bertanya
Adipati dari
sudah berada
Orang itu
terserah
ke hak
Ka
rnyalah bahwa
Ra
penyesalannya.
“ Nah, sekarang kekuatan asing telah berada di Sendang Arum “ berkata Ragajaya. “ Kekuatan asing yang mana? “
seseorang. “Kangjeng
Pucang Kembar
di Sendang Ari m bersama pasukannya. “
mengangguk-angguk. Sementara Ragajayapun berkata “ Segala sesuatunya
pada kalian. Apakah kalian akan berdiri di pi
ngjeng Adipati, atau akan berdiri di pihak para pemberontak. “ “Kami akan tetap berdiri dibelakang Kangjeng Adipati “ sahut beberapa orang hampir bersamaan. Dengan demikian, maka baik Jalawaja dan Suratarna maupun Ragajaya dan Ragajati telah mendapat keyakinan bahwa sebena
kyat Sendang Arum masih tetap setia kepada
Raden Ayu
Re
Pucang
Ke
u kesatuan yang utuh.
Selama ini
n dengan kami. “
Kangjeng Adipati Wirakusuma Sementara itu, Ki Tumenggung Reksabawapun dengan diam-diam telah menemui beberapa orang Senapati. Beberapa orang Senapati mengaku bahwa mereka telah terjebak kedalam perangkap Ki Tumenggung Jayataruna dan
ksayuda. “Pada saat terakhir, Ki Tumenggung Jayataruna telah menyatakan kesetiaannya kepada Kangjeng Adipati Wirakusuma,”
“ Pada saat-saat terakhirnya “sahut seorang Senapati. “Ya. Pada saat menjelang ajalnya. Ki Tumenggung Jayataruna menyesali segala perbuatannya. Ternyata ia telah dijadikan alat yang hidup oleh Raden Ayu Reksayuda. “ “Ya. Kami sudah menduga. Apalagi sekarang di Sendang Arum telah hadir kekuatan dari
mbar. Baru mata kami mulai terbuka. “ “Kenapa kalian tidak berbuat apa-apa? “ “Kami memerlukan seorang yang dapat mengikat kami menjadi sat
kami masih ragu-ragu, apakah yang harus kami lakukan, karena kami masih saja saling mencurigai. Kami tidak tahu siapakah yang sejalan dengan kami, dan siapakah yang berdiri berseberanga
“Baik. Aku akan menjadi perantara. Aku akan
ah menyatakan sikap, maka akan jelas,
sia
enggung Reksabawa tidak
me
sing
me
n selanjutnya.
awan kekuasaan yang
un Ayu
Reksayuda.
menghubungi beberapa orang Senapati. Aku akan mencari kesempatan untuk dapat mempertemukan kalian. Hanya mereka yang tidak meragukan. Jika kalian sud
pakah yang akan berpihak kepada kita dan siapakah yang akan memusuhi kita. “ “Baik, Ki Tumenggung. Kami akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Pasukanku hanya kecil saja. Tetapi jika beberapa kesatuan dapat bergabung, maka kami akan berani menyatakan diri dengan terbuka.” “Baiklah. Aku memerlukan waktu satu dua hari.“ Ternyata Ki Tum
ngenal lelah. Hari itu ia berhasil menghubungi tiga orang Senapati yang masing-ma
mimpin satu kesatuan. Meskipun kesatuan mereka termasuk kesatuan kecil, tetapi jika sikap mereka meyakinkan, maka mereka akan dapat menjadi landasan perjuanga
Dihari berikutnya Ki Tumenggung Reksabawa dapat menghubungi lagi dua orang Senapati, sehingga Ki Reksabawa telah memberanikan diri untuk menyelenggarakan satu pertemuan kecil diantara para Senapati itu. Ternyata para Senapati itu sepakat untuk mempersiapkan diri mel
tuk sementara berada di tangan Raden
“Jika benturan kekerasan mulai terjadi, maka
memang
me
ti bahwa telah terjadi
peng
aku yakin akan banyak sekali prajurit yang terbuka matanya. Mereka akan segera mengambil sikap melawan Raden Ayu Reksayuda “berkata seorang Senapati. “Ya “jawab Senapati yang lain “kami
rasa terjebak ketika kami menyatakan dukungan kami terhadap Raden Ayu Reksayuda. Justru karena sikap Ki Tumenggung Jayataruna. Namun ternyata bahwa Tumenggung Jayataruna itupun tidak lebih dari sekedar alat bagi Raden Ayu Reksayuda. Pada saat tidak diperlukan lagi, maka alat itu akan dimusnahkannya. Demikian pula dengan kita kelak. “
“Nah, jika demikian bersiaplah. Pada saatnya akan ada isyarat bahwa kita akan bertindak. “ “Tetapi lawan kita terlalu berat sekarang. Pasukan Pucang Kembar segelar-sepapan sudah berada di Sendang Arum.” “Itu satu buk
khianatan. Bukan sekedar pemberontakan. Pemberontakan masih mungkin didorong oleh cita-cita tinggi serta keyakinan, meskipun diletakkan pada cara yang tidak dapat dibenarkan. Tetapi pengkhianatan sama sekali tidak lagi mempunyai landasan selain pamrih pribadi “ berkata Ki Tumenggung Reksabawa. Para Senapati itupun mengangguk-angguk. Demikianlah, maka Ki Reksabawapun kemudian meyakini, bahwa sebagian dari prajurit Sendang
g Adipati
Wi
da
me
menyatakan
ke
mengaku pernah dihubungi
ole
Arum masih tetap setiap kepada Kangjen
rakusuma, Mungkin masih ada yang lain, tetapi sulit untuk menghubungi mereka. Apalagi jika kesetiaan mereka itu masih terselubung, sehingga Ki Tumenggung Reksabawa tidak melihat. Namun dalam pada itu, dalam perjalanannya menjelajahi daerah Sendang Arum, maka Jalawaja, Suratarna, Ragajaya dan Ragajati telah mendapat pernyataan dari beberapa kademangan yang bersedia mendukung perjuangan Kangjeng Adipati. Mereka telah mempersiapkan anak-anak mu
reka untuk bergabung dengan pasukan yang setia kepada Kangjeng Adipati. Dengan demikian, ketika semuanya itu telah dilaporkan kepada Kangjeng Adipati Wirakusuma oleh Ki Tumenggung Reksayuda serta keempat anak-anak muda yang telah
setiaannya kepada Kangjeng Adipati itu, maka Kangjeng Adipatipun segera mengadakan persiapan-persiapan. Ki Tumenggung Reksabawa serta keempat anak muda itulah yang pertama-tama datang ke sebuah kademangan yang telah menyatakan dukungan sepenuhnya kepada Kangjeng Adipati. Ki Demang di Karanggayam itu
h Ki Tumenggung Jayataruna untuk ikut serta mendukung Raden Ayu Reksayuda. Tetapi Ki Demang yang meragukan kebersihan niat Raden Ayu Reksayuda tidak pernah menanggapinya, meskipun pada waktu itu, Ki Demang tidak berani
de
ang berguru kepadanya, berlatih
ole
Demang Karanggayampun
tel
enyatakan diri dan bersedia ikut
ser
mangan itu pula.
Me
n segera menyatakan diri akan
ke
ngan terang-terangan menentangnya. Baru kemudian, setelah segala persiapan di kademangan itu mapan, maka Kangjeng Adipati, Raden Ajeng Ririswari serta Ki Ajar Anggara telah berada di kademangan itu pula. Menyertai Kangjeng Adipati dan Ki Ajar adalah anak-anak muda padukuhan disekitar pondok Ki Ajar Anggara di lereng bukit y
h kanuragan serta mempelajari berbagai macam ilmu yang lain, termasuk meningkatkan tata pertanian di padukuhan mereka masing-masing. Dalam pada itu, Ki
ah mempersiapkan anak-anak mudanya pula. Bukan hanya anak-anak muda, tetapi juga setrap laki-laki yang m
ta mendukung jalan kembali Kangjeng Adipati ke dalem kadipaten di Sendang Arum. Selain mereka, maka beberapa kesatuan prajuritpun telah berada di kade
skipun dibandingkan dengan kekuatan yang ada di kadipaten Sendang Arum masih belum memadai, tetapi sebagai landasan perjuangan untuk merebut kembali kadipaten Sendang Arum dari tangan Raden Ayu Reksayuda agaknya sudah cukup memadai. Dengan landasan kekuatan yang ada itu, maka Kangjeng Adipatipu
beradaannya di Karanggayam, serta menyatakan niatnya untuk dalam waktu dekat menyerang dan merebut kembali kekuasaan di Sendang Arum.
ataan Kangjeng Adipati
itu
ra Senapati. Baik
da
endang
Aru
ksayuda.
ggayam untuk
me
pn termangu-mangu
sej
Pernyataan Kangjeng Adipati itu memang mengejutkan. Ketika perny
terdengar oleh Kangjeng Adipati Jayanegara dari Pucang Kembar yang sedang berada di Sendang Arum serta Raden Ayu Reksayuda, maka merekapun segera memanggil pa
ri Sendang Arum, maupun para Senapati dari Pucang Kembar. “Mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa Raden Ayu “ berkata seorang Senapati S
m yang telah menyatakan kesetiaannya kepada Raden Ayu Re
“Bagaimanapun juga pernyataan mereka tentu akan membuat para prajurit gelisah “sahut Raden Ayu Reksayuda.
“Jadi bagaimana menurut Raden Ayu ? Apakah aku harus pergi ke Karan
nyelesaikan mereka ? Aku kira aku tidak akan memerlukan waktu yang lama. “ Raden Ayu Reksayuda itu
enak. Ketika ia berpaling kepada Kangjeng Adipati Jayanegara, maka Kangjeng Adipati itupun berkata “Jika kakangmbok sependapat, biarlah Ki Rangga Kertawira berangkat membawa prajuritnya untuk menghancurkan kekuatan yang masih mencoba mengembalikan kekuasaan Adipati Wirakusumai itu. “
“Baiklah. Biarlah kakang Rangga pergi ke Karanggayam. Mumpung api itu baru sepeletik. Jika
ami akan
be
pe
ndurkan
dir
Ka
.
api itu nanti menjadi semakin besar, maka seluruh negera ini akan terbakar.”
“Aku mohon restu Raden Ayu. Aku akan menghancurkan pasukan yang baru dihimpun oleh Kangjeng Adipati itu. “
“Bawa prajurit sebanyak dapat kau kumpulkan kakang Ranga. Jangan sampai gagal. Jika Kangjeng Adipati itu sempat lolos, maka pekerjaan kita akan menjadi semakin berkepanjangan. “ “Baik, Raden Ayu. Besok pagi-pagi k
rangkat. “ “Lakukan tugasmu baik-baik, Kakang Ranfgga. Kali ini tugasmu akan menentukan akhir dari
rjuangan kita. “ “Sekarang kau minta diri. Aku akan membuat persiapan-persiapan seperlunya. “ Ki Rangga Kertawirapun segera mengu
i untuk mempersiapkan pasukannya yang akan dibawanya ke Karanggayam.
Ki Ranggapun kemudian telah memberikan perintah kepada beberapa orang Lurah Prajurit untuk bersiaga. Mereka akan berangkat ke
ranggayam malam nanti, di dini hari. Mereka memperhitungkan bahwa mereka akan sampai ke Karanggayam menjelang fajar
Mereka sempat beristirahat sejenak. Pada saat matahari terbit, mereka akan menyerang kademangan Karanggayam dari bebetapa arah.
itupun segera memperingatkan para
pra
erjalan menuju ke kademangan
Ka

nya seorang prajurit
“ke
ya sangat
me
lainpun berdesis
“N
iam ketika Ki Lurah datang untuk
me
Mereka harus menjaga agar Kangjeng Adipati Wirakusum atidak dapat lolos dari tangan mereka. Demikian malam turun, maka para Lurah Prajurit
juritnya agar segera pergi tidur. “Tengah malam kalian harus sudah bangun. Kemudian b
ranggayam yang menjadi landasan kekuatan Kangjeng Adipati Wiranegara dalam usahanya untuk merebut kembali kekuasaannya.
Para prajurit itupun kemudian pergi tidur. Namun ketika mereka sudah berbaring ada saja yang masih berbincang dengan kawan-kawannya. “Kenapa kita harus berpihak kepada Raden Ayu Reksayuda ? “ berta
beradaan Kangjeng Adipati Jayanegara di Kadipaten Sendang Arum, rasa-rasan
ngganggu kemandirian kadipaten ini. “ “Nampaknya Raden Ayu Reksayuda kurang yakin akan kekuatannya sendiri.” Seorang prajurit yang
ampaknya mereka memang meremehkan kita. “ Mereka terd
ngamati para prajurit. Apakah mereka benar-benar sudah tidur atau tidak.
Ketika Ki Lurah itu melihat bahwa masih banyak prajurit yang masih belum tidur, maka Ki Lurah itupun berkata “Sejak tengah malam nanti, kalian
be
apun kemudian bergabung
de
asukan
ya
lepas pasukan itu di alun-alun
ka
, pasukan itu merayap
me
dengar ayam jantan berkokok untuk
ke
melintasi dua bulak lagi kita
ak
tidak akan mempunyai kesempatan untuk
ristirahat. Jika kalian tidak memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, maka besok kalian akan kehabisan tenaga.” Lurah Prajurit itupun segera meninggalkan rangan itu untuk pergi dan melihat ruang yang lain di barak itu. Sebenarnyalah di tengah malam, para prajurit itu sudah bersiap. Merek
ngan kesatuan-kesatuan yang lain. Sedikit lewat tengah malam, maka p
ng dipimpin oleh Ki Rangga Kertawira itupun segera berangkat. Ternyata Raden Ayu Reksayuda memerlukan ikut me
dipaten Sendang Arum. Di dini hari yang dingin
ndekati kademangan Karanggayam. Ketika ter
dua kalinya, maka Ki Rangga Kertawira memerintahkan pasukannya untuk berhenti di sebuah pategalan yang luas.
“Masih agak jauh, Ki Rangga “ berkata seorang Lurah Prajurit. “Tidak. Bukankah
an sampai ke kademangan karanggayam ?” “Ya, Ki Rangga. Tetapi kita dapat maju lagi menyeberangi satu bulak panjang. Kita berhenti di padukuhan yang berseberangan dengan
ke
hanya
seb
di
apa yang ada di
pa
ke padukuhan itu, Ki
Ra
ang Lurah prajurit itu tidak dapat
me
padukuhan pertama di kademangan Karanggayam. Ki Rangga termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata “Aku ingin melihat
adaan medan. Kita belum tahu pasti, apakah pertahanan Kangjeng Adipati benar-benar
atas kademangan atau diluar kademangan Karanggayam. Jika pertahanan Kangjeng Adipati ada di luar kademangan, kita akan dapat terjebak
padukuhan sebelah.” Ki Lurah mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti jalan pikiran Ki Rangga Kertawira.
Ki Rangga itupun kemudian bahkan telah memanggil lima orang Lurah Prajurit yang ikut dalam pasukannya.
“Marilah. Kita berenam melihat dukuhan di depan kita.”
“Kita sendiri yang pergi
ngga?” “Ya. Kita sendiri. Aku kurang yakin akan kemampuan prajurit sandi kita.” Kelima or
ngelak. Ki Rangga sendiri juga pergi untuk melihat-lihat keadaan di padukuhan yang ada di depan mereka.
Enam orang pemimpin prajurit dari Sendang Arum yang telah berada di bawah penganih Ki Tumenggung Jayataruna itupun segera menyeberang bulak panjang. Ketika mereka sampai
pa
awira
“ak
itupun menunggu
ke
ma padukuhan itu, masuk
lew
me
banjar yang
ter
di padukuhan di depan mereka, agaknya
dukuhan itu masih tertidur lelap. Tidak ada seorangpun yang nampak berada di luar rumahnya. Dengan hati-hati keenam orang itu memasuki lorong kecil menuju kejantung padukuhan. “Tunggu disini “ berkata Ki Rangga Kert
u akan melihat keadaan di banjar padukuhan.” Ke lima orang-Lurah prajurit
tika Ki Rangga Kertawira menyelinap menyeberang jalan uta
at regol banjar yang terbuka. Beberapa saat kemudian, Ki Rangga itupun telah kembali kepada ke lima Lurah yang ditinggalkannya. “Marilah. Kita pergi ke banjar.”
“Untuk apa ?”
“Kita lihat, apakah padukuhan ini dapat kita pergunakan sebagai landasan untuk menyerang kademangan Karanggayam. Keputusan kita akan kita bawa kepada para prajurit yang kita tinggalkan.”
Kelima orang Lurah prajurit itupun kemudian
ngikuti Ki Rangga Kertawira menyeberangi jalan utama masuk ke halaman banjar yang sepi.
Banjar padukuhan itu adalah
masuk besar dan berhalaman luas. Demikian mereka berada di .halaman, Ki Ranggapun berkata
akah kita akan membawa pasukan kita kemari?”
demangan Karanggayam.
dan kesejahteraan yang merata di
Se
“Ap
“Ki Rangga “berkata seorang Lurah prajurit “bukankah kita tidak memerlukan tempat seperti ini ? Kita hanya akan berhenti untuk beristirahat sebentar. Saat matahari akan terbit, kita sudah harus memasuki ka
“Apakah kita yakin akan dapat menyelesaikan pertempuran itu dalam sehari ?” “Seberapa kekuatan Kangjeng Adipati yang ada di Karanggayam itu ?”
“Kita tidak tahu pasti. Tetapi yang kita tahu, beberapa orang Senapati telah menyatakan kesetiaan mereka kepada Kangjeng Adipati. Mereka telah menemukan keseimbangan penalaran mereka kembali menghadapi keadaan di Sendang Arum.” “Apa maksud Ki Rangga ?” bertanya seorang Lurah prajurit. “Kita telah tersuruk memasuki jalan yang sesat. Kita tidak akan pernah sampai ke tujuan. Kemuliaan
ndang Arum.” “Kenapa ?” bertanya Lurah yang lain.
“Keberadaan Kangjeng Adipati Jayanegara di Sendang Arum telah membuat mata kita terbuka ?” “Apa yang kita lihat sekarang ?” “Kenapa Kangjeng Adipati Jayanegara berada di Sendang Arum bersama pasukan segelar-sepapan
itu pertanda bahwa Raden Ayu
Re
Ki Tumenggung Jayataruna
ya di
Senda pun
ter
kusuma telah menyatakan
dir
tau kita mencari jalan
ke
ggapun berkata “Nah, kita
ha
eng
Ad
?” “Bukankah
ksayuda sudah membuka hubungan baik dengan kadipaten tetangga ? Kangjeng Adipati Jayanegara telah datang untuk membantu menegakkan kewibawaannya.”
“Kenapa harus melibatkan campur tangan orang asing ? Lalu kenapa
ng menjadi kaitan kita dengan kekuasaanng Arum terusir ?” Para Lurah itu
diam. “Nah, kita sekarang mempunyai kesempatan untuk menilai langkah-langkah kita selanjutnya. Kangjeng Adipati Wira
inya tetap. memegang kekuasaan di Sendang Arum meskipun tidak berkedudukan di pusat pemerintahan. Pernyataan itu akan segera tersebar dan rakyatpun akan segera bangkit. Sekarang, terserah kepada kita, apakah kita akan terus berjalan di jalan sesat a
mbali. “ Para Lurah prajurit itu terdiam. Mereka mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di masa depan. Sementara itu, Ki Ran
rus memilih sekarang. Mendukung kembalinya Kangjeng Adipati atau membiarkan Kangj
ipati Jayanegara berkuasa di Sendang Arum. Karena aku yakin bahwa Raden Ayu Reksayuda
lapan. Seorang yang mereka
ke
“AJcu berterima kasih atas kesedi
Prajurit untuk datang. Tetapi akupun merasa
getar keragu-raguan kalian. Tid
paksaan bagi kalian. Kalian adala
dewasa yang sudah mandiri lahir da
itu kalian dapat memilih. “
Kelima orang Lurah prajurit itu masih saja
termangu-mangu. Sementara itu, Ki
Tumenggungpun berkata “Sebaiknya
bertemu langsung dengan orang yang se
bicarakan sekarang. “
Jantung para prajurit Sendang Ar
berdebaran. Bahkan juga Ki Rangga
itu terbuka, maka
da
akan segera dikendalikan oleh Kangjeng Adipati Jayanegara. “ Para Lurah itu masih tetap berdiam diri. Namun mereka-pun terkejut ketika tiba-tiba saja muncul seseorang dari kege
nal dengan baik. Kita Tumenggung Reksabawa. “Ki Tumenggung Reksabawa “ desis para Lurah itu hampir berbareng. “Ya. Aku adalah Tumenggung Reksabawa. “ “Aku telah mengirim utusan sebelumnya untuk menghubungi Ki Tumenggung “ berkata Ki Rangga “karena itu aku ajak para Lurah prajurit untuk datang ke banjar ini. “ aan para Lurah
kan ak akan ada h orang-orang n batin. Karena kalian dang kita um itu menjadi Kertawira. Ketika pintu pringgitan banjar
ri ruang dalam muncul seorang yang sudah
h ampat orang anak muda yang
tel
iri Raden Ayu Reksayuda
ya
san terak
hir etianya kepada
Kangjeng A a orang yang
kelima orang
berdiri
mematung
Adipati dan
keempat
orang ana
mereka kenal dengan sangat baik. Kangjeng Adipati, diiringi ole
ah bekerja keras untuk memantapkan kembali dukungan rakyat Sendang Arum kepada Kangjeng Adipati Wirakusuma
Dengan lantang Ki Tumenggung Reksabawapun berkata “Seorang dari anak-anak muda itu adalah angger Jalawaja, putera Raden Tumenggung Wreda Reksayuda. Anak t
ng sekarang menduduki dalem kadipaten. Seorang adalah angger Suratama. Putera adi Tumenggung Jayataruna, yang atas pe
jayahnya, telah menyatakan sdipati. Sedangkan kedu
lain adalah anak-anakku. “ Ki Rangga
Kertawira dan
Lurah prajurit itu
ketika mereka melihat Kangjeng
k muda itu berjalan ke tangga pendapa. Namun tiba-tiba saja Ki Rangga Kertawirapun
lem kadipaten. “
pu
asukanmu kemari. Biarlah
me
n kepada mereka apa yang kalian
berlari dan langsung berjongkok di hadapan Kangjeng Adipati. “Hamba mohon ampun Kangjeng Adipati. Hampa telah ikut berkhianat sehingga Kangjeng Adipati harus menyingkir dari da
“Kita masih mempunyai waktu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah kitiallakukan Ki Rangga. “
“Hamba Kangjeng. Hamba mengucapkan terima kasih jika hamba masih mendapat kesempatan untuk memperbaiki kesalahan hamba. “ “Belum terlambat, Ki Rangga. “ Kelima lurah prajurit itupun telah berjongkok
la di hadapan Kangjeng Adipati. Merekapun segera mohon ampun dan menyatakan kesetiaan mereka kepada Kangjeng Adipati. Wirakusuma. “Baiklah. Bawa p
reka berada di padukuhan ini. “ “Tetapi bukankah padukuhan ini masih belum termasuk kademangan! Karanggayam ?”
“Lingkungan para pendukung Kangjeng Adipati tidak hanya kademangan Karanggayam, Ki rangga “sahut Ki Tumenggung Reksabawa “tetapi seluruh wilayah Kadipaten Sendang Arum. “ “Ya, ya. Ki Tumenggung benar. “ “Nah. Sekarang kembalilah ke pasukanmu. Jelaska
ket
rang
Lu
an para
prajuritnya. Ki Rangga itupun
angga menjelaskan
pertemuan
puran diantara mereka yang berbeda
sik
emukan disini. Kemudian bawa mereka kemari. Sekali lagi, tidak ada paksaan. Yang menolak untuk bergabung dengan kami, persilahkan untuk pergi dan kembali kepada Raden Ayu Reksayuda serta Kangjeng Adipati Jayanegara. “ Ki Rangga Kertawira bersama kelima o
rah prajurit itupun segera minta diri untuk kembali ke pasukan mereka. Ki Rangga dan para Lurah prajurit itu berada kembali di pasukannya pada saat bayangan fajar telah membayang. Waktu mereka tinggal sedikit. Para prajurit itu masih berpegang pada tugas yang dibebankan kepada mereka pada saat mereka berangkat dari alun-alun kadipaten Sendang Arum. Ki Ranggapun segera mengumpulk
kemudian berdiri didepan pasukannya. Di belakangnya berdiri lima orang Lurah prajurit. Dengan hati-hati Ki R
nya dengan Kangjeng Adipati. Dengan penuh tanggung jawab Ki . Ranggapun telah menyatakan sikapnya dihadapan para prajuritnya.
Ki Ranggapun menjadi berdebar-debar menunggu tanggapan para prajuritnya. Jika mereka menolak, Ki Rangga dan para Lurah itu akan dapat dibantai oleh para prajurit. Sedangkan jika sikap para prajurit itu terbelah, m’a£ akan terjadi pertem
ap.
uk
me
tuk berdiri di sebelah kiri, dibawah
po
ak seorangpun yang beranjak dari
tem
ng,
ya g.”
Karena itu, Ki Ranggapun berkata “Kangjeng Adipati tidak akan memaksa. Siapa yang memilih memihaknya akan diterima dengan senang hati. Sedangkan yang menolaknya, dipersilahkan unt
ninggalkan tempat ini. Kangjeng Adipati tidak menghendaki kita saling membantai pagi ini.” Belum seorangpun menyatakan sikapnya. Sehingga Ki Rapgga itupun berkata “Akupun memberi kalian kesempatan untuk memilih. Siapa yang tidak ingin menyatakan kesetiaannya kepada Kangjeng Tumenggung Wirakusuma, aku persilahkan un
hon yafig besar itu, menghadap kemari. Tidak akan ada tindakan apa-apa hari ini. Tetapi kelak, kalian yang berkhianat akan dihadapkan ke pengadilan di kadipaten Sendang Arum.” Ternyata tid
patnya. Bahkan ketika sekali lagi dan sekali lagi Ki Rangga meneriakkannya, tetap saja semua prajurit berdiri di tempatnya.
“Jika demikian, terima kasih “berkata Ki Rangga Kertawira “kita adalah prajurit-prajurit yang hila
ng berada di jalan pulan
Dengan demikian, maka kedudukan Kangjeng Adipati Wirakusumapun menjadi semakin kokoh. Sejak saat itu pasukan Ki Rangga Kertawira telah menjadi bagian dari kekuatan Kangjeng Adipati Wirakusuma. Berita tentang sikap Ki Rangga Kertawira
an kemarahan yang. seakan-akan
tel
angjeng Adipati
Wi
me
Kangjeng Adipati
Jay
pa
ditanggapi deng
ah membakar jantung Raden Ayu Reksayuda dan Kangjeng Adipati Jayanegara. Mereka menganggap bahwa Ki Rangga Kertawira itu telah berkhianat.
Berita yang menyakitkan itu, kemudian dari hari ke hari telah disusul oleh berita-berita yang .pahit pula. Pasukan Kangjeng Adipati Wirakusuma telah bergerak mendekati pusat pemerintahan di Sendang Arum. Para prajurit yang semula berpihak kepada Raden Ayu Reksayuda semakin banyak yang berbalik, kembali kepada K
rakusuma. Namun Kangjeng Adipati Judanegarapun berkata “Jangan cemas, kangmbok. Pasukanku segelar sepapan ada disini. Pasukanku akan
mbantu menghancurkan kekuatan Adipati Wirakusuma.” “Terima kasih dimas. Aku mohon pasukan dimas Jayanegara segera diturunkan di medan.”
“Aku sudah memerintahkannya. Sejak hari ini, mereka akan berada di medan pertempuran.” “Terima kasih, dimas.” Sebenarnyalah bahwa
anegara telah menurunkan pasukannya ke medan pertempuran bersama-sama dengan
sukan Sendang Arum yang masih terikat kepada Raden Ayu Reksayuda. Beberapa orang Senapati sempat mendapat janji-janji yang membuat mereka berharap pada sebuah mimpi untuk dapat menjadi
anyak
me
. Sementara itu, Rakyat dimanama
reka telah membantu perjuangan Kangjeng
Ad
ang Arum.
ke
gjeng Adipati Jayanegarapun telah berunding
de
kenyataan.
Namun di setiap pertempuran, pasukan Raden Ayu Reksayuda dan pasukan Kangjeng Adipati Jayanegara selalu terdesak mundur.
Para prajurit dari Pucang Kembar agaknya didalam setiap pertempuran tidak bertempur dengan sepenuh hati. Mereka lebih b
nghindar dan mengedepankan pasukan Sendang Arum yang masih berada di bawah pengaruh Raden Ayu Reksayuda. Sementara itu pasukan Kangjeng Adipati Wirakusuma semakin lama menjadi semakin kuat. Beberapa kesatuan telah bergabung untuk memperkokoh kedudukan Kangjeng Adipati Wirakusuma
na telah menyatakan kesetiaan mereka. Bahkan me
ipati Wirakusuma untuk memulihkan kembali kewibawaannya.
Daerah demi daerah telah direbut oleh pasukan Kangjeng Adipati Wirakusuma, sehingga semakin lama menjadi semakin mendekati pusat pemerintahan Send
Laporanpun datang susul menyusul tentang
majuan pasukan yang bergerak menuju ke kota. Di luar pengetahuan Raden Ayu Reksayuda, Kan
ngan para Senapatinya, apakah yang sebaiknya
berkata salah
seo
tinya yang
lain
ahankan kedudukan Raden Ayu
Re
alkan kangmbok
Reksayuda
mereka lakukan selanjutnya. “Raden Ayu Reksayuda tidak akan-mungkin dapat bertahan lagi, Kangjeng “
rang Senapati dari Pucang Kembar. “Ampun Kangjeng “ berkata Senapa
“jika kita masih harus tetap bertahan, maka kedudukan kita akan menjadi semakin sulit.” “Menurut pendapatku, Kangjeng. Tidak ada gunanya mempert
ksayuda. Pasukan Raden Ayu Reksayuda semakin lama menjadi semakin menyusut. Bukan karena mereka gugur dipertempuran, tetapi mereka memilih meninggalkan Raden Ayu Reksayuda dan kembali kepada Kangjeng Adipati Wirakusuma.” “Jadi, bagaimana menurut pertimbangan kalian ?” “Kita tinggalkan Sendang Arum. Kita kembali ke Pucang Kembar.” “Baiklah. Aku akan mengajak kangmbok Reksayuda agar kangmbok bersedia pergi ke Pucang Kembar.”
“Kenapa harus dengan Raden Ayu Reksayuda ?“ “Apakah aku harus meningg
dalam keadaan yang sangat gawat ini ?“ “Persoalannya adalah persoalan didalam batas-
. Biarlah Sendang
Aru
an Sendang Arum keluar, namun
me
pasukan
batas kadipaten Sendang Arum
m sendiri menyelesaikannya. Termasuk persoalan Raden Ayu Reksayuda.”
“Tetapi aku ikut bertanggung jawab terhadap gejolak yang. terjadi di Sendang Arum.” “Kenapa Kangjeng ikut bertanggung-jawab ? “Kangjeng Adipati Yudanegara justru terdiam. Di sorot matanya memancar gejolak yang terjadi didalam dadanya. “Kangjeng “berkata seorang Senapatinya “jika Kangjeng membawa Raden Ayu Reksayuda, itu akan dapat menjadi alasan Kangjeng Adipati untuk memburunya dan memasuki tlatah Pucang Kembar. Sementara itu Rakyat Sendang Arum yang sedang dibakar oleh kemarahan karena sikap Raden Ayu Reksayuda yang telah memberontak melawan Kangjeng Adipati. Kangjeng. Seandainya Pucang Kembar mampu mempertahankan diri dan mendesak pasuk
reka tentu meninggalkan korban yang banyak sekali. Prajurit maupun rakyat Pucang Kembar yang tidak bersalah. Karena itu, hamba mohon, Kangjeng jangan membawa Raden Ayu Reksayuda.“ “Jadi aku harus minta diri dan memaksa kangmbok Reksayuda tinggal ? “
“Kenapa harus minta diri. Kangjeng dapat begitu saja keluar dari dalem kadipaten ini dan selanjutnya bersama seluruh
me
kemudian.
. Kangjeng Adipati
su
bahwa daerah subur diperba
pada saat melintasi daerah
Se
para Senapati itu mempunyai pendapat
lain
. Namun.sebenarnyalah bahwa
ke n Ayu Reksayuda yang sudah
menjadi janda itulah yang memberi dorongan
ter
anan yang diberikan oleh
Ka Beberapa
ora
ninggalkan Sendang Arum. “ “Aku akan memikirkannya “ berkata Kangjeng Adipati Jayanegara
Beberapa orang Senapatinya memang menjadi kecewa atas sikap Kangjeng Adipati Jayanegara. Mereka tahu, alasan apakah yang membuat Kangjeng Adipati Jayanegara bersedia membawa pasukannya ke Sendang Arum
dah menyatakan kepada para pemimpin di Pucang Kembar, bahwa Pucang Kembar harus menanamkan pengaruhnya di Sendang Arum. Ia mendukung pemberontakan Raden Ayu Reksayuda karena ia berhanjap
tasan serta tambang emas yang ada di bukit yang memagari kedua kadipaten itu akan menjadi imbalan bantuannya itu. Selanjutnya lalu lintas perdagangan dari Pucang Kembar akan mendapat perlakuan yang baik
ndang Arum. Tetapi
. Mungkin alasan yang dikatakan oleh Kangjeng Adipati itu benar
cantikan Rade
kuat kepada Kangjeng Adipati untuk membantu janda yang masiih muda dan cantik itu. Tetapi pengorb
ngjeng Adipati agak terlalu banyak.
ng prajuritnya gugur di Sendang Arum.
a nyawa kawan-kawan kita “berkata
seo
k mereka sudah tidak Jt’prtahankan lagi,
seh m, pasukan Kangjeng
Ad
mereka tidak
ma kan yang bergerak
melingkari
ari-lari masuk ke dalem
ka
gan tergesa-gesa Raden Ayu itupun keluar
da
gerakan di malam hari. Mereka telah
me
“Apakah nilai perempuan itu sebanding dengan beberap
rang Senapati.
Dalam pada itu, pasukan Sendang Arum yang setia kepada Kangjeng Adipati mendesak semakin maju. Gera
ingga pada suatu mala
ipati telah mengepung kota. Gerakan di malam hari itu, tidak terduga sebelumnya oleh pasukan Raden Ayu Reksayuda, sehingga dengan demikian, maka
mpu menghambat pasu kota itu.
Dua orang prajurit berl
dipaten untuk memberikan laporan tentang gerakan pasukan Sendang Arum yang setia kepada Kangjeng Adipati itu. Raden Ayu Reksayuda yang sedang tidur itupun terkejut. Den
ri ruang dalam. “Ada apa ? “ “Ampun Raden Ayu. Pasukan Kangjeng Adipati melakukan
ngepung kota. “ “Bagaimana dengan pasukan kita ? “ “Pasukan kita yang tidak mengira akan ada
menarik diri ke dalam
ko
u.”
asukan
Pu dan seakan-akan
tel
lagi terlihat
seo jurit dari Pucang Kembar. Para
Senapatinya -akan telah lenyap di telan
bu
-teriak seperti orang yang kehilangan akal.
Te
an berkata “Kangjeng Adipati dan
pa rbang
gerakan di malam hari telah
ta. “ “Pasukan Pucang Kembar ? “
“Kami sudah tidak melihat lagi pasukan Pucang Kembar?” “He, jangan mengiga
“Benar Raden Ayu. Tidak ada lagi pasukan Pucang Kembar. Sejak malam turun, p
cang Kembar sudah ditarik
ah lenyap dari Sendang Arum. “ “Kau tidak berceloteh ? “
“Tidak Raden Ayu. “
Raden Ayu Reksayuda itupun segera berlari ke bilik tidur yang dipergunakan oleh Kangjeng Adipati Pucang Kembar. Ternyata bahwa bilik itu kosong. Di dalem kadipaten itu tidak
rangpun prapuri seakan
mi. “Dimas, dimas “ Raden Ayu Reksayudapun berteriak
tapi Kangjeng Adipati Pucang Kembar tidak menjawab.
Seorang prajurit yang bertugas di pintu gerbang sebelah Timurpun kemudian menghadap Raden Ayu Reksayuda d
ra Senapatinya telah keluar lewat pintu ge
seb
ti Pucang
Ke
ti, mereka akan
me sukan Kangjeng
Ad
u tahu, kemana Kangjeng Adipati
Pu
lam keadaan yang gawat,
dimas Adipati meninggal
elah Timur, Raden ayu. “ “Kemana ? Apakah Kangjeng Adipa
mbar mengatakannya ? “
“Menurut seorang Senapa
nghentikan gerak maju paipati Wirakusuma. “
“Apakah ka
cang Kembar membawa pasukannya ? “ “Aku tidak tahu, Raden Ayu. “ Namun dua orang prajurit yang lain telah datang pula untuk memberikan laporan. “Apa yang ingin kau laporkan ? “ “Ampun Raden Ayu. Kangjeng Adipati Pucang Kembar dan pasukannya telah meninggalkan kota, justru sebelum pasukan Kangjeng Adipati Wirakusuma mengepung kota ini. “
“Kemana ? “ “Kami tidak tahu Raden Ayu. Tetapi jalan yang ditempuh justru jalan yang semakin jauh dari kota.“ “Keparat. Keparat. Da
kan aku sendiri. “ Tubuh Raden Ayu Reksayuda tiba-tiba menjadi lemas. Tulang-tulangnya bagaikan terlepas dari sendi-sendinya. “Prajurit. Apa yang harus aku lakukan ? “
jurit yang siap
me
nya cacat oleh
be
ada
saa
embar telah
me tuk
sec
me elah
be andi
sem
“Masih ada sepasukan pra
mpertahankan kota ini, Raden Ayu. “ “Siapakah Senapatinya ? “
“Ki Rangga Wira Sembada. “ “Ki Rangga Wira Sembada ? “ “Ya.”
Luka di hati Raden Ayu Reksayuda serasa mejadi semakin pedih. Ki Rangga Wira Sembada adalah seorang yang wajah
berapa bekas luka karena goresan senjata. Meskipun ia mempunyai kemampuan yang sangat tinggi, tetapi Ki Rangga sangat tidak menarik di mata Raden Ayu Reksayuda. Sementara itu, Raden Ayu Reksayuda menyadari, bahwa kesetiaan Ki Rangga tentu bukannya tanpa maksud, justru p
t prajurit yang setiap kepada Raden Ayu Reksayuda menjadi semakin tercepit. Dalam pada itu, pasukan Pucang K
ninggalkan kota. Mereka berusaha un
epat-cepatnya menjauhi Sendang Arum. Mereka berharap bahwa esok pagi-pagi mereka sudah berada di tempat yang tidak lagi terjangkau oleh pasukan Sendang Arum. Tetapi Kangjeng Adipati Pucang Kembar tidak
nyadari, bahwa pasukan Sendang Arum trgerak di malam hari. Dua orang petugas s
pat memberikan laporan, bahwa Kangjeng Adipati Pucang Kembar telah membawa
a Ki Rangga Wira Sembada tetap setia
ke
epungan atas kota pusat
pemerin
kan Pucang Kembar. “
harus
me
pasukannya meninggalkan kota. “Agaknya mereka akan kembali ke Pucang Kembar, Kangjeng” berkata petugas sandi itu.
Kangjeng Adipati Wirakusuma tertarik kepada laporan itu. Karena itu, maka iapun bertanya “Jadi, tidak ada kekuatan lagi yang dapat mempertahankan kota. “ “Ki Rangga Wira Sembada masih berada di kota. Agakny
pada Raden Ayu Reksayuda. “ “Bagus “ berkata Kangjeng Adipati Wirakusuma “jangan kendorkan k
tahan Sendang Arum. Kita akan membagi kekuatan. Sebagian ikut aku. Kita akan memotong perjalanan Kangjeng Adipati Pucang Kembar. “ “Hamba Kangjeng. Hamba akan membagi tugas. Hamba akan membawa sepasukan prajurit untuk memotong pasu
“Akulah yang akan memimpin pasukan itu. “ Ki Tumenggung Reksabawa tidak dapat mengelak ketika Kangjeng Adipati Wirakusuma memberikan perintah “Kakang Tumenggung
ngawasi pasukan yang mengepung kota. Jangan ada seekor lalatpun yang sempat terbang keluar. “ “Hamba Kangjeng “ jawab Ki Tumenggung.
Dalam pada itu, maka Kangjeng Adipati Wirakusuma sendiri telah memimpin pasukan yang
Ke
masih belum
lew
ti Wirakusuma kepada
pra
berhasil menggulung pasukan
Pu
kuat untuk memotong perjalanan pasukan Pucang
mbar. Dengan menempuh jalan pintas, Kangjeng Adipati memperhitungkan bahwa pasukannya akan mampu menyergap pasukan Pucang Kembar.
Sebenarnyalah bahwa pasukan Sendang Arum telah sampai lebih dahulu di sebuah simpang ampat di tengah-tengah bulak. Dengan ketajaman penglihatan dua orang pencari jejak, mereka yakin bahwa pasukan Pucang Kembar
at. Pasukan Sendang Arum itupun segera digelar di sepanjang jalan, diselimuti oleh bayangan pohon perdu di pinggir jalan.
Sebenarnyalah sejenak kemudian, maka pasukan Pucang Kembar yang berjalan dalam barisan yang teratur telah mendekati simpang ampat. Namun mereka sama sekali tidak mengira, bahwa pasukan Sendang Arum telah menunggunya. Karena itu, ketika kemudian terdengar isyarat dari Kangjeng Adipa
juritnya yang segera bangkit dan menyerang, pasukan Pucang Kembar terkejut karenanya. Namun tidak ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan itu. Pasukan Sendang Arum dengan cepat
cang Kembar. Tetapi ketika pertempuran itu berakhir sebelum fajar, ternyata bahwa Kangjeng Adipati Jayanegara
n diri.
jukan kepada Raden Ayu Reksayuda.
Ka
da para
Se
empersiapkan
sempat luput dari tangan pasukan Sendang Arum. Kemarahan telah membakar jantung Kangjeng-Adipati Wirakusuma, bahwa Kangjeng Adipati Jayanegara sempat meloloska
Dalam hiruk-pikuk pertempuran, beberapa orang pengawal setia Kangjeng Adipati Jayanegara telah membawanya menyusup diantara semak-semak dan hilang dari medan. Kemarahan Kangjeng Adipati Wirakusumapun kemudian ditu
rena itu, maka Kangjeng Adipati Wirakusuma telah membawa pasukannya kembali menghadap ke dinding kota. “Kita akan memasuki kota demikian matahari terbit “berkata Kangjeng Adipati kepada Ki Tumenggung Reksabawa serta kepa
napati. Kemudian kepada keempat anak muda yang selalu menyertainya, Kangjeng Adipati berkata “Kalian ikut aku. Kita harus segera masuk ke dalem kadipaten agar kita tidak kehilangan kangmbok Reksayuda.”
Jantung Jalawaja terasa berdebaran. Ia sama sekali tidak ingin bertemu dengan perempuan itu. Tetapi ia tidak dapat mengelakkan perintah pamanftya. Bahwa ia harus menyertainya masuk kedalam istana.
Sebelum matahari terbit, Kangjeng Adipati Wirakusuma telah berada di depan pintu gerbang kota. Sekelompok prajurit telah m
seb
dalam dinding kota, sepasukan prajurit
dib
n telah menjatuhkan perintah untuk
me
-akan
tel
ntakkan, maka pintu
ge
belakang pintu
ge
atang kayu yane besar. Dengan diusung oleh sekelompok prajurit, balok kayu itu akan dibenturkan pintu gerbang berulang kali, sehingga pintu gefbang itu pecah. Di
awah pimpinan Ki Rangga Wira Sembadapun sudah siap pula. Sebagian besar dari mereka berada di depan pintu gerbang. Demikian pintu gerbang dipecahkan, maka mereka akan segera menyergap para prajurit yang akan memasuki gerbang itu. Sebenarnyalah ketika cahaya langit di sebelah Timur menjadi semakin terang, maka Kangjeng Adi-patipu
nembus pintu gerbang. Perintahnya disahut oleh para Senapati sehingga perintah itu seakan
ah bergema diseke-liling dinding kota. Seperti yang sudah direncanakan, maka sekelompok prajurit telah berusaha memecahkan pintu gerbang kota. Sementara yang lain mempergunakan tangga-tangga bambu yang juga sudah dipersiapkan, memahjat meloncati dinding. Dengan empat kali he
rbang kota itupun telah menjadi retak. Pada hentakkan kelima, kemudian keenam, pintu gerbang kota itupun telah roboh. Para prajurit yang berada di
rbang itupun telah bersiap menyambut pasukan yang akan segera menyerbu masuk.
kota itu
dib
k ke dinding dalem kadipaten.
kadipaten menjadi semakin gelisah
da
membayangkan tali
ga
Namun bersamaan dengan itu, kelompok-kelompok prajurit Sendang Arum telah berhasil memanjat dinding dengan tangga-tangga bambu. Merekapun segera berloncatan memasuki dinding kota. Para prajurit yang mempertahankan
awah pimpinan Ki Rangga Wira Sembada segera mengalami kesulitan. Pasukan yang memasuki pintu gerbang itu bagaikan arus banjir bandang. Sementara itu, pasukan yang lainpun telah berada di dalam dinding kota pula. Sehingga dengan demikian, maka dalam waktu yang terhitung singkat, pasukan yang bertahan itu segera terdesak mundur.
Satu-satunya kemungkinan terakhir bagi mereka adalah masu
Dalam pada itu, Raden Ayu Reksayuda yang berada di dalem
n ketakutan. Tubuhnya menjadi gemetar dan wajahnyapun menjadi pucat. Lewat para penghubung, Raden Ayu Reksayuda selalu mengikuti perkembangan pertempuran yang terjadi di sekitar dalem kadipaten. Pada saat-saat terakhir, rasa-rasanya nafas Raden Ayu Reksayuda itu seolah-olah telah tersumbat. Ia sudah
ntungan membelit di lehernya. Namun Raden Ayu itu terkejut ketika tiba-tiba saja Ki Rangga Wira Sembada muncul. Nafasnya
ahal, dengan perhiasan yang terbuat
da
ngan suara
parau “maaf, aku tidak mampu mempertahankan
ko
t
me pasukan
Wirakusuma
ya Raden Ayu
Re
dari tangan
Wi
jahnya
yang karena luka dan buruk itu memancar
sor ya yang merah menyala seperti bara
ap
tu, maka dengan serta-merta Raden
Ay
terengah-engah. Wajahnya yang cacat itu basah oleh keringat. Sementara bajunya yang terbuat dari bahan yang m
ri emas di bagian dadanya sebelah kiri, serta disulam dengan benang-benang yang juga berwarna emas, telah basah oleh darah.
“Raden Ayu “ berkata Ki Rangga de
ta. Pasukan Adipati Wirakusuma terlalu banyak. Mereka mengamuk seperti kerasukan iblis. Sekarang, marilah. Kita meninggalkan tempat ini. Aku tahu jalan rahasia yang akan dapa
mbebaskan kita dari tangan itu.”
“Kita akan pergi kemana?” bertan
ksayuda.
“Kemana saja asal terlepas
rakusuma.”
Raden Ayu Reksayud-a termangu-mangu sejenak. Ketika ia memandang wajah Ki Rangga, tiba-tiba saja tengkuknya meremang. Di wa
cacat ot matan
i. Bukan sorot mata seorang Senapati, tetapi sorot mata seorang laki-laki kasar di-hadapan seorang perempuan cantik. Karena i
u itupun menjawab “Ki Rangga. Aku akan tetap berada disini. Seandainya hari ini aku dapat
jangkau
ole
Wirakusuma. “
u. “
yu. “
i Rangga berkata “Prajurit-prajurit itu
adalah pengawalku. Merekalah yang akan
me
Tiba-tiba saja Ki
Rangga menangkap tangan Raden Ayu Reksayuda
dan m
Ad
melepaskan diri, tetapi aku akan menjadi buruan sampai kapanpun, sehingga saatnya aku tertangkap.” “Raden Ayu, tidak akan tertangkap. Kita dapat bersembunyi di tempat yang tidak akan ter
h Wirakusuma.” “Tidak. Ki Rangga. Aku tetap disini.”
“Raden Ayu. Jangan sia-siakan kesetiaanku kepada Raden Ayu. Kita harus mempergunakan kesempatan terakhir ini untuk meloloskan diri. Kita harus terlepas dari tangan Adipati
“Tidak akan ada gunanya, Ki Rangga. “ “Raden Ayu harus pergi. “
“Tidak. Jangan paksa ak
“Aku akan memaksa Raden A
“Prajurit “ teriak Raden Ayu Reksayuda. Tetapi K
ngawal kita pergi melalui pintu rahasia.” “Tidak.” Ki Rangga tidak sabar lagi.
enariknya untuk meninggalkan dalem kadipaten.
Tetapi pada saat yang bersamaan, Kangjeng ipati Wirakusuma, Ki Tumenggung Reksabawa
irakusuma
tel
ga Wira
Se
is Raden Ayu Reksayuda
“ak
ati Jayanegara.”
kangmas
Reksayuda?
dan ampat orang anak-anak muda yang telah ikut bertempur bersama Kangjeng Adipati W
ah memasuki ruangan itu. Sekelompok prajurit telah mengusir dan bahkan menangkap beberapa orang pengawal Ki Rangga Wira Sembada. Tidak ada kesempatan lagi. Ternyata dihadapan Kangjeng Adipati Wirakusuma, Ki Rang
mbada itu seakan-akan tidak bertenaga lagi. Ketika Raden Ayu Reksayuda bersimpuh di hadapan Kangjeng Adipati, maka Ki Rangga Wira Sembadapun telah berlutut pula. “Ampun dimas “ tang
u mohon ampun. Apa yang terjadi di kadipaten Sendang Arum bukanlah gagasan hamba. “ “Jadi gagasan siapa? “ “Dimas Adip
“Kangmas Adipati Jayanegara di Pucang Kembar?”
“Ya, Dimas. “ “Kangmbok sudah berhubungan dengan Kangmas Jayanegara sejak kangmas Reksayuda masih berada di pengasingan? “ “Ya, dimas. “
“Jadi, bagaimana dengan kematian
” Raden Ayu.Reksayuda itu menangis. Semakin ia
u mengunjungi
ka aku
tel
kangmas Reksayuda.”
Ra
da
peralatnya. Aku
tah i apakah
itu
nya akan
dia akan mengadili
ka
ohon ampun, Kangjeng. “
mencoba menahan tangisnya, maka sedu-sedannya terasa semakin menyesakkan dadanya. “Ketika pada suatu hari ak
ngmas Reksayuda di pengasingan, maka
ah diterima secara khusus oleh dimas Jayanegara. Ternyata aku telah terbujuk oleh gagasan dimas Adipati Pucang Kembar. “’ “Termasuk kematian
den Ayu Reksayuda mengangguk. Dengan lengan bajunya Raden Ayu Reksayuda mengusap air matanya yang mengalir dari pelupuknya tanpa
pat ditahannya lagi. “ Tiba-tiba saja Suranatapun menyela “Raden Ayu melibatkan ayahku, bahkan mem
u, bahwa ayahkupun bersalah. Tetap
juga termasuk gagasan Kangjeng Adipati Jayanegara? “ Raden Ayu Reksayuda tidak menjawab. Tetapi kepalanyapun menjadi semakin tertunduk. “Kangmbok “ berkata Kangjeng Adipati Wirakusuma kemudian “Segala sesuatu
jukan kepada sidang yang
ngmbok Reksayuda. Aku minta kangmbok mengatakan segala-galanya. Jangan ada yang tersembunyi. “ “Hamba m
“Yang mempunyai kewajibanlah yang akan memutuskannya. Namun aku minta kangmbok
jarah kadipaten ini. “
k.
gmas Jayanegara dengan
rin
agal. “
ku dengan kangmbok telah selesai.
Te
da terdiam.
mengetahuinya, bahwa apa yang telah terjadi di Sendang Arum, merupakan noda-noda hitam yang mengotori se
Raden Ayu Reksayuda semakin menundu
“Sementara itu, kan
gannya mencuci tangannya. Hampir saja aku berhasil menangkapnya. Tetapi sayang sekali, bahwa aku telah g
“Hamba telah dikhianatinya dimas.. Hamba ditinggalkan sendiri dalam kesulitan seperti ini. “
“Kangmbok memang harus ngunduh wohing pakarti. Kangmbok tejah menabur, sehingga kangmbok harus menuai.” “Ya, dimas. Tetapi aku tidak sendiri. “ “Aku tahu. Jika kangmbok kelak sudah diajukan kehadapan sidang yang akan mengadili kangn ok, maka persoalan
tapi persoalanku dengan kangmas Jayanegara masih belum selesai. Persoalan antara Sendang Arum dan Pucang Kembar. “ Raden Ayu Reksayu
“Pucang Kembar telah bukan saja mencampuri persoalan rumah tangga Sendang Arum, tetapi kangmas Adipati Jayanegara telah merusak rumah tanggaku.”
“Hamba, dimas “ suara Raden Ayu Reksayuda menjadi lirih. Namun Raden Ayu Reksayuda itupun
berkenan,
ak
dipati
nyai satu permintaan
ke
arkan Jalawaja. Dengarkan
pe
dak menjawab. Sementara itu,
Ka Ayu
Re
ggilku ibu. Ngger.
Pa
atama, Ragajaya dan
kemudian berkata “Dimas, jika dimas
u ingin berbicara dengan anakku, angger Jalawaja. “
“Jalawaja? “ bertanya Kangjeng A
“Hamba Kangjeng. “ “Diantara kita, tidak ada yang perlu dibicarakan “sahut Jalawaja. “Jalawaja. Sebelum aku kehilangan semua kesempatan, aku mempu
padamu, ngger. “
Wajah Jalawaja menjadi gelap. Namun Kangjeng Adipati yang kemudian menjadi iba merasakan kepedihan di hati Raden Ayu Reksayuda itupun berkata “Deng
rmintaannya. Jika itu memang merupakan satu permintaan, maka kau dapat memenuhinya atau menolaknya. “
Jalawaja ti
ngjeng Adipatipun berkata kepada Raden
ksayuda “katakan kangmbok. Jalawaja akan mendengarkannya. “ “Jalawaja. Jika masih ada sisa belas kasihanmu, aku ingin mendengar kau meman
nggil aku ibu. Itu saja keinginanku yang masih tersisa di kesempatanku yang terakhir ini. “ Jalawaja termangu-mangu sejenak. Dipandanginya pamannya, Kangjeng Adipati Wirakusuma. Kemudian Sur
Ra erdiri termangu-mangu.
gu-mangu.
alawaja “Ibu. “
seperti
ben
ma kasih. Ibumu minta
ma
gapati yang b
“Kau dengar permintaan ibumu itu, Jalawaja “ desis Kangjeng Adipati. Jalawaja menarik nafas panjang.
“Panggil aku ibu, ngger. Panggil aku ibu. Aku ingin memperbaiki semua kesalahan yang pernah aku lakukan. Jika kau mau memanggil aku ibu, rasa-rasanya aku sudah memperbaiki lebih dari separo dari kesalahanku. “ Jalawaja masih saja berdiri terman
Ruangan itupun untuk beberapa saat telah dicengkam oleh ketegangan. Semua mata rasa-rasanya sedang memandang kepada Jalawaja yang menjadi tegang.
Namun dalam keheningan itu, tiba-tiba terdengar suara J
“Ngger.” “Ya, ibu. Aku menerimamu sebagai ibuku. “ Tangis Raden Ayu Reksayuda yang tertahan itu bagaikan meledak. Air matanya mengalir
dungan yang pecah. Isaknyapun menjadi semakin menyesakkan dadanya. “Terima kasih ngger. Teri
af kepadamu ngger, bahwa ibumu telah mengkhianatimu. Aku juga minta kau sampaikan kepada angger Ririswari. Aku minta angger Ririswari memaafkan aku. “
a membiarkan Raden Ayu Reksayuda .
menangis untuk m tekanan yang
menghimpit dada
orang
pra bawa Ki Rangga Wira
Se
saja setia mengabdi kepada Raden Ayu
Re
ab.
embali kadipaten Sendang
Aru
berbuat banyak
bagi kewibawaannya itupun telah mendapat
tempatnya masing-masing.
ka Ririswari tidak lagi
membuatnya kecewa. Apalagi Kangjeng Adipati
“Ya, ibu. Yang berada diruang itupun menahan nafasnya. Merek
elepaskan
nya.
Namun beberapa saat kemudian, Raden Ayu Reksayuda itupun harus ikut bersama beberapa orang prajurit untuk dimasukkan kedalam bilik tahanannya. Sementara itu, beberapa
jurit yang lain telah mem
mbada ke bilik tahanan yang lain. Seorang prajurit yang telah mengenal Ki Rangga sebelumnya sempat bertanya kepadanya “Kenapa kau masih
ksayuda. ? “ Ki Rangga mengerutkan dahinya. Namun ia tidak menjaw
Hari-hari berikutnya adalah hari-hari yang bening bagi Sendang Arum. Kangjeng Adipati Wirakusuma mempunyai kesempatan yang luas untuk membangun k
m yang sempat menjadi porak-poranda. Anak-anak muda yang telah
Ketika tembang Jalawaja terdengar di pintu gerbang taman, ma
sendiri sudah merestui hubungan mereka. Bahkan hari-hari yang mereka tunggupun telah ditetapkan
pula.
Tamat
—OOO0DW0OOO— “Kembang Kecubung” sudah tamat pada jilid 6
ini. Selanjutnya S.H. Mintardja akan
menghadirkan.ceritera baru yang berjudul:
“TEMBANG TANTANGAN”
Ceritera yang mengisahkan tentang
kebersamaan menyeberangi arus kehidupan yang
rumit. Juga tentang perbedaan sikap dan pendapat.
Pengejawantahan dari sikap memuliakan Yang Maha Agung dalam kehidupan yang penuh dengan tantangan. Tembang Tantangan adalah tantangan kehidupan. Tetapi dapat juga berarti tantangan akibat dari sikap bermusuhan yang mengalir dari sisi hitam sesamanya.
Tembang Tantangan akan mengalunkan kidung kehidupan yang beraneka rupa.
Terimah kasih untuk yg sdh upload djvunya di
dimhad

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s