Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

PENGARUH PEMBERIAN PROBIOTIK DALAM PELET TERHADAP PERTUMBUHAN LELE SANGKURIANG Supriyanto FMIPA Universitas Negeri Semarang ABSTRAK

Tinggalkan komentar


PENGARUH PEMBERIAN PROBIOTIK DALAM PELET
TERHADAP PERTUMBUHAN LELE SANGKURIANG
Supriyanto
FMIPA Universitas Negeri Semarang
ABSTRAK
Pakan merupakan faktor utama yang harus diperhatikan untuk pertumbuhan
lele Sangkuriang. Penyemprotan probiotik pada pakan berpengaruh pada kecepatan
fermentasi pakan tersebut dalam saluran pencernaan, sehingga membantu proses
pencernaan dan penyerapan sari makanan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui
pengaruh pemberian probiotik pada pakan terhadap pertumbuhan lele
Sangkuriang.Penelitian dirancang dengan rancangan acak lengkap. Hewan coba
dikelompokkan menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 3 ulangan
setiap ulangan berisi 100 ekor bibit lele Sangkuriang masing-masing seberat sekitar 4
gram. Kelompok A sebagai kontrol diberi pakan tidak disemprot probiotik, kelompok
B diberi pakan disemprot probiotik dianginkan selama 10 menit, kelompok C diberi
pakan disemprot probiotik dianginkan selama 20 menit, kelompok D diberi pakan
disemprot probiotik dianginkan selama 40 menit. Setiap minggu lele Sangkuriang
diukur berat badan. Selisih berat biomassa mutlak dan laju pertumbuhan
“instantaneous growth” hari pertama perlakuan penelitian dan hari terakhir perlakuan
penelitian diuji dengan Anava satu jalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pemberian probiotik pada pakan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan lele
Sangkuriang. Pertumbuhan berat biomassa mutlak rata-rata tertinggi dicapai oleh
perlakuan D (2064,67g), selanjutnya berturut-turut diikuti oleh C (2064,33 g), B
(2027 g) dan A (1988,67 g). Pada taraf signifikansi (α) sebesar 5 % didapat nilai F
tabel sebesar 4,07. Oleh karena F hitung (3,10) < F tabel (4,07), maka Ho diterima.
Laju pertumbuhan “instantaneous growth (g)” rata-rata tertinggi diperoleh dari
perlakuan B (0,43), kemudian berturut-turut perlakuan C dan A (0,42), dan perlakuan
D (0,40). Pada taraf signifikansi (α) sebesar 5 % didapat nilai F tabel 4,07. Karena F
hitung (2,419) F6, dihasilkan lele dumbo
F2–6 selanjutnya pejantan turunan ini dikawinkan dengan betina F2. Kehadiran lele varietas baru
ini untuk menjawab masalah penurunan kualitas lele dumbo.
Lele Sangkuriang sebagai komoditas perikanan dengan nilai ekonomis tinggi belum banyak
yang dibudidayakan secara benar sehingga banyak sekali hal yang harus diteliti dalam kaitannya
dengan teknik budidaya agar kegiatan budidaya yang dilakukan dapat berhasil. Untuk memenuhi
kebutuhan tersebut diperlukan adanya penelitian untuk mengantisipasi faktor-faktor kegagalan
produksi terutama terhadap manajemen pakan dan penanggulangan penyakit.
Penggunaan bahan obat–obatan, antibiotik atau bahan kimia lain yang banyak diaplikasikan
dalam produksi perikanan untuk mengantisipasi serangan penyakit, mulai dikurangi mengingat
bahan-bahan tersebut dapat mengakibatkan residu pada ikan.
Upaya pencegahan penyakit dan usaha untuk meningkatkan kelangsungan hidup hewan
budidaya tersebut, saat ini mulai digunakan probiotik dalam usaha pembenihan ikan, Crustacea
dan kerang-kerangan. Probiotik itu sendiri adalah makanan tambahan (suplemen) berupa sel-sel
mikroorganisme hidup yang memiliki pengaruh menguntungkan bagi hewan inang yang
mengkonsumsinya melalui penyeimbangan flora mikroorganisme intestinal dalam saluran
pencernaan (Irianto, 2007; Anonim, 2003). Menurut Irianto (2007), pemberian organisme
probiotik dalam akuakultur dapat diberikan melalui pakan, air maupun melalui perantaraan pakan
hidup seperti rotifera atau artemia. Pemberian probiotik dalam pakan, berpengaruh terhadap
kecepatan fermentasi pakan dalam saluran pencernaan, sehingga akan sangat membantu proses
penyerapan makanan dalam pencernaan ikan. Fermentasi pakan mampu mengurai senyawa
kompleks menjadi sederhana sehingga siap digunakan ikan, dan sejumlah mikroorganisme
mampu mensistesa vitamin dan asam-asam amino yang dibutuhkan oleh larva hewan akuatik.
Pemberian probiotik pada pelet dengan cara disemprotkan dapat menimbulkan terjadinya
fermentasi pada pelet dan meningkatkan kecepatan pencernaan. Selanjutnya akan meningkatkan
konversi pakan ikan, peternak dapat memproduksi lele ukuran layak jual dalam waktu lebih
singkat (60-70 hari), sehingga dapat menekan biaya produksi.
Supriyanto : Pengaruh Pemberian Probiotik 19
Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini: apakah pemberian pelet yang
mengandung probiotik berpengaruh terhadap pertumbuhan lele sangkuriang?
METODE
Dalam pelaksanaan penelitian ini meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut setelah bak
terpal plastik berisi air, kegiatan selanjutnya yaitu memasang aerator sebagai pemasok oksigen ke
dalam air. Bibit lele ditimbang lebih dahulu, kemudian dimasukkan ke dalam bak terpal plastik
Setiap seminggu sekali dilakukan pengukuran berat biomassa lele. Hal ini dilakukan
berdasarkan asumsi bahwa seminggu sudah terjadi pertambahan ukuran berat badan dan panjang
tubuh bibit lele. Penimbangan ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan lele dan untuk
menentukan kembali jumlah pakan yang harus diberikan.
Pemeliharaan lele kurang lebih selama 1 bulan. Pakan yang diberikan 5 – 8 % dari berat
biomassa per hari (INFIS 1992; Mahyuddin, 2008). Berat biomassa standar dalam penelitian ini
adalah berat biomassa rata-rata hewan uji tiap perlakuan (Martuti 1989). Dengan demikian,
jumlah pakan yang diberikan per hari apabila diberi pakan 8 % berat biomassa adalah 8/100 x 4 g
= 0,32 g/hari/ekor. Meliputi pengukuran pH air, kandungan O2 terlarut dalam air dan suhu air
dilakukan setiap tiga hari sekali selama penelitian.
Pengukuran pertumbuhan lele uji dengan menghitung pertambahan berat biomassa dalam
satu wadah (Matondang, 1984 dalam Martuti 1989). Pertumbuhan biomassa mutlak ditetapkan
berdasarkan hasil pertambahan biomassa lele uji untuk masing-masing bak penelitian.
Perhitungan biomassa mutlak sesuai dengan rumus dari Effendi (1997), yaitu:
W = Wt – Wo
Keterangan:
W = Pertumbuhan biomassa mutlak lele uji (g)
Wt = Biomassa lele uji pada akhir penelitian (g)
Wo = Biomassa lele uji pada awal penelitian (g)
Laju pertumbuhan “instantaneous growth (g) ” dihitung dengan rumus Everhart et al (1975)
dalam Martuti (1989), yaitu :
Wt = Wo x e g x t
Keterangan :
g = Koefisien laju pertumbuhan
e = Bilangan dasar logaritma natural (2,7183)
t = Lama penelitian (minggu)
20 Vol. 8 No. 1 Juni 2010
Logaritma dari persamaan tersebut di atas merupakan regresi linier dimana “g” merupakan
koefisien arahnya. Jadi laju pertumbuhan “instantaneous growth (g)” didapat dari regresi linier
persamaan berikut :
Ln Wt = Ln Wo + gt
Konversi pakan (FCR) adalah jumlah (berat) pakan yang dapat membentuk suatu unit berat
ikan. Adapun rumus untuk menghitung FCR adalah :
FCR =
( )
( )
pertambahanberat g
makanan yang dimakan g
Selama proses penelitian dilakukan pengamatan jumlah lele yang mati dan jumlah lele yang
masih hidup, sehingga dapat dihitung prosentase kematian dan kelangsungan hidup lele (menurut
Chapman 1968 dalam Martuti 1989) menggunakan rumus:
S = (1 – Z) x 100
Keterangan :
S = Kelangsungan hidup (%)
Z = Koefisien laju kematian, dihitung dengan rumus Z = ln No – ln Nt / t
No = Jumlah lele hidup pada awal penelitian
Nt = Jumlah lele hidup selama periode penelitian
t = Waktu (minggu)
Hasil dan Pembahasan
Hasil pengamatan terhadap pertumbuhan lele Sangkuriang terdiri dari pertumbuhan berat
biomassa, kemudian diolah menjadi berat biomassa mutlak (tabel 1) dan dihitung laju
pertumbuhan “instantaneous growth (g)”(tabel 2 )
Dari uji normalitas dan homogenitas yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa data
pertumbuhan berat biomassa mutlak dan laju pertumbuhan “instantaneous growth (g)” bersifat
normal dan homogen pada taraf 5 %. Sehingga data tersebut langsung bisa diuji sidik ragamnya.
Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap pertumbuhan lele Sangkuriang, data
pertumbuhan berat biomassa mutlak, dan laju pertumbuhan “instantaneous growth (g)” diuji
dengan analisis varian (ANAVA). Hasil analisis menunjukkan tidak ada perbedaan perlakuan
terhadap pertumbuhan lele Sangkuriang.
Supriyanto : Pengaruh Pemberian Probiotik 21
Pertumbuhan Berat Biomassa Mutlak
Tabel 1 Data Pertumbuhan Berat Biomassa Mutlak Lele Sangkuriang
Perlakuan Ulangan Pertumbuhan berat biomassa mutlak
(g)
A
1
2
3
2007
1984
1975
Jumlah
Rata-rata
5966
1988,67
B
1
2
3
2062
2024
1995
Jumlah
Rata-rata
6081
2027
C
1
2
3
2048
2110
2035
Jumlah
Rata-rata
6193
2064,33
D
1
2
3
2033
2044
2117
Jumlah
Rata-rata
6194
2064,67
Keterangan :
A = Kontrol (pelet tidak disemprot probiotik)
B = Pelet yang disemprot dengan probiotik dan diangin-anginkan selama 10 menit
C = Pelet yang disemprot dengan probiotik dan diangin-anginkan selama 20 menit
D = Pelet yang disemprot dengan probiotik dan diangin-anginkan selama 40 menit
Setelah dilakukan uji normalitas dan homogenitas, data pertumbuhan biomassa mutlak
dianalisis sidik ragam, menunjukkan tidak ada perbedaan perlakuan pada taraf signifikansi (α)
sebesar 5 %, maka Ho diterima. Dengan kata lain, pemberian probiotik dalam pelet dengan variasi
waktu yang berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan lele Sangkuriang.
Pertumbuhan berat biomassa mutlak rata-rata tertinggi dicapai oleh perlakuan D (2064,67g),
selanjutnya berturut-turut diikuti oleh C (2064,33 g), B (2027 g) dan perlakuan A (1988,67 g).
Oleh karena F hitung lebih kecil dari F tabel, maka tidak dilanjutkan analisis uji lanjut Duncan
Laju Pertumbuhan “instantaneous growth (g)”
Tabel 2. Data Laju Pertumbuhan “instantaneous growth (g)” Lele Sangkuriang
Perlakuan Ulangan Laju Pertumbuhan
“instantaneous growth (g)”
A
1
2
3
0,405
0,4325
0,4125
Rata-rata 0,42
B
1
2
3
0,4375
0,4375
0,4125
Rata-rata 0,43
22 Vol. 8 No. 1 Juni 2010
C
1
2
3
0,4275
0,4075
0,415
Rata-rata 0,42
D
1
2
3
0,3975
0,41
0,4025
Rata-rata 0,40
Tabel 2 dapat dilihat rata-rata laju pertumbuhan “instantaneous growth (g)” lele Sangkuriang
tertinggi pada perlakuan B dengan rata-rata sebesar 0,43 dan laju pertumbuhan terendah pada
perlakuan D sebesar 0.40. Ini membuktikan bahwa penambahan probiotik pada pelet tidak
berpengaruh terhadap laju pertumbuhan.
Data laju pertumbuhan “instantaneous growth (g)” yang ada dianalisis ragam, sebelumnya
dilakukan uji normalitas dan homogenitas. Pengambilan taraf signifikansi (α) sebesar 5 %
memungkinkan didapatkannya nilai F tabel 4,07. Oleh karena F hitung (2,419) < F tabel (4,07),
maka Ho diterima. Dari keempat perlakuan, laju pertumbuhan “instantaneous growth (g)” ratarata
tertinggi diperoleh dari perlakuan B (0,43), kemudian berturut-turut perlakuan C dan A
(0,42), dan perlakuan D (0,40). Karena tidak ada pengaruh perlakuan, maka tidak dilakukan
pengujian wilayah ganda Duncan
Nilai konversi pakan setiap ulangan untuk masing-masing perlakuan A, B, C dan D secara
lengkap disajikan pada Tabel 3. Dari Tabel 3 tersebut terlihat bahwa perlakuan C mempunyai
FCR yang paling tinggi dibandingkan perlakuan yang lain.
Tabel 3. Nilai FCR lele Sangkuriang Untuk Setiap Perlakuan dan Ulangan
Perlakuan 1 2 3
Ratarata
A 0,675 0,55 0,475 0,567
B 0,475 0,4 0,55 0,475
C 0,375 0,4 0,275 0,35
D 0,275 0,6 0,2 0,358
Untuk menjaga padat penebaran awal yang sama tiap perlakuan dan ulangan, dan menjaga
agar tidak terjadi keragaman yang besar pada data pertumbuhan biomassa lele Sangkuriang, maka
lele Sangkuriang yang mati selama minggu I penelitian diganti dengan stok lele yang berasal dari
sumber benih.
Supriyanto : Pengaruh Pemberian Probiotik 23
Tabel 4. Mortalitas dan Kelangsungan Hidup lele Sangkuriang
Perlakuan Ulangan No Nt Mortalitas
Kelangsun
gan Hidup
(%)
n %
A
1
2
3
100
100
100
100
100
100
0
0
0
0
0
0
100
100
100
Rata-rata 0 100
B
1
2
3
100
100
100
99
100
100
1
0
0
1
0
0
99
100
100
Rata-rata 1 99,67
C
1
2
3
100
100
100
100
100
100
0
0
0
0
0
0
100
100
100
Rata-rata 0 100
D
1
2
3
100
100
100
100
100
100
0
0
0
0
0
0
100
100
100
Rata-rata 0 100
Keterangan :
No = Jumlah lele Sangkuriang pada awal penelitian
Nt = Jumlah lele Sangkuriang hidup pada minggu akhir penelitian
N = Jumlah lele Sangkuriang yang mati selama penelitian
Kualitas Air
Parameter kualitas air yang diamati meliputi suhu, derajat keasaman (pH), dan oksigen
terlarut (DO). Pada saat penelitian berlangsung kisaran parameter kualitas air masih dalam kondisi
normal dan layak untuk pemeliharaan lele Sangkuriang.
Tabel 5. Kisaran Parameter Kualitas Air Media Pemeliharaan Pada Setiap Perlakuan
Parameter yang
diukur
A B C D
Suhu air (°C)
pH
Oksigen terlarut (ppm)
24-26
6,5-7,5
7,4-9,2
24-26
6,5-7,5
7,1-8,4
24-26
6,5-7,5
7,1-8,8
24-26
6,5-7,5
7,1-8,7
Pembahasan
Dari hasil analisis varians, penambahan probiotik pada pelet dengan variasi waktu sampai 40
menit tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan biomassa mutlak dan laju pertumbuhan lele
Sangkuriang. Hal ini kemungkinan disebabkan karena acuan yang digunakan untuk menentukan
variasi waktu tersebut adalah hasil percobaan jenis demonstration plot (Demplot) yang dilakukan
di tambak –tambak propinsi Jawa Timur. Pada demplot tersebut udang diberi perlakuan probiotik
tetapi dikulturkan dalam tambak (bukan skala laboratorium). Di dalam tambak, udang mendapat
24 Vol. 8 No. 1 Juni 2010
berbagai makanan alami yang mendukung pertumbuhan secaa maksimal, sedangkan pada skala
laboratorium, hewan coba hanya mendapat makanan dari pelet.
Hasil yang diperoleh dari perhitungan konversi pakan menunjukkan bahwa nilai konversi
pakan dari perlakuan C (0,35) lebih baik dari pada perlakuan D (0,358), A (0,567) dan perlakuan
B (0,475). Pendapat ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh (Huet 1971 dalamMartuti 1989),
bahwa besar kecilnya nilai konversi pakan tidak hanya ditentukan oleh jumlah pakan yang
diberikan, melainkan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kepadatan, berat setiap
individu, umur kelompok hewan, temperatur air media dan cara pemberian pakan (kualitas,
penempatan dan frekuensi pemberian pakan).
Berdasar hasil penelitian, diperoleh hasil perhitungan bahwa tingkat kelangsungan hidup
tertinggi pada perlakuan A, C, dan D (100%), perlakuan B (99,67%). Hal ini diduga karena
penambahan probiotik pada pelet tidak mengganggu kelulushidupan lele Sangkuriang. Menurut
Fuller (1992) dalam Nizar (2006) mikroba probiotik merupakan mikroba yang aman dan relatif
menguntungkan dalam saluran pencernaan. Mikroba ini menghasilkan zat yang tidak berbahaya
bagi kultivasi tetapi justru menghancurkan mikroba patogen pengganggu sistem pencernaan.
Kematian benih lele Sangkuriang selama penelitian diduga karena sejak awal perlakuan benih
tersebut sudah sakit.
Hasil pengukuran parameter kualitas air media selama penelitian, didapatkan bahwa besaranbesaran
kualitas air masih dalam batas kelayakan dan mendukung kehidupan serta pertumbuhan
hewan uji. Adapun kisaran untuk parameter kualitas air yang meliputi suhu kisarannya adalah
sekitar 24-30 °C. Apabila suhu pemeliharaan melebihi kisaran akan sangat membahayakan
kehidupan lele Sangkuriang. Jika suhu pemeliharaan kurang dari kisaran (suhu rendah),
mengakibatkan aktivitas lele Sangkuriang menjadi rendah dan nafsu makan berkurang, sehingga
akan mengakibatkan pertumbuhan lele Sangkuriang menjadi lambat. Adapun kisaran untuk
parameter pH adalah sekitar 6-8 (Mahyuddin, 2007). Kisaran parameter oksigen terlarut adalah
sekitar 5-10 ppm.
Supriyanto : Pengaruh Pemberian Probiotik 25
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Pemberian probiotik yang disemprot dalam pelet dan diangin-anginkan selama 10 menit, 20
menit dan 40 menit tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan berat biomassa mutlak dan
laju pertumbuhan “instantaneous growth (g)” lele Sangkuriang
Saran
Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mempelajari tentang pengaruh probiotik dari
berbagai produk pabrik dalam mempengaruhi pertumbuhan lele Sangkuriang.

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s