Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

FERMENTED SOLID CASSAVA-WASTE

2 Komentar


FERMENTED SOLID CASSAVA-WASTE
Mengembangkan Akuakultur yang Profitable dan Sustainable dengan Pemanfaatan Limbah Bahan Baku Lokal Sebagai Sumber Protein Alternatif dalam Pakan Ikan

Jhon Lamhot F. Napitupulu C14070006 2007
Randi Milonda C14080010 2008
Garry Raffiano C14080070 2008

Peningkatan produksi budidaya perikanan diupayakan terus dilakukan sampai memenuhi target dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, dimana total produksi hasil perikanan Indonesia mencapai 353% pada tahun 2014. Tahun 2011 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan sasaran produksi ikan sebesar 12,26 juta ton. Angka ini meningkat 13 % dari produksi tahun lalu sebesar 10,85 juta ton (1). Keberhasilan budidaya ikan yang intensif sangat menuntut tersedianya pakan dalam kualitas yang baik, kuantitas yang cukup, harga yang relatif murah, tepat waktu dan berkesinambungan.
Pakan merupakan komponen biaya operasional terbesar dalam kegiatan budidaya. Kebutuhan akan pakan dapat menyerap hingga 60% total biaya produksi. Sumber bahan baku penyusun pakan yang terbesar saat ini adalah dari tepung ikan. Penggunaan tepung ikan dapat menyumbangkan 40-50 % dari total bahan baku penyusun pakan. Kebutuhan tepung ikan bagi industri pakan udang dan ikan di Indonesia berkisar antara 90 ribu sampai 100 ribu ton setiap tahun dimana harga impor tepung ikan pada Januari 2011 mencapai US $ 1.607,46 / 1000 Kg (2).
Upaya yang harus dilakukan untuk mengantisipasi mahalnya biaya bahan baku tepung ikan untuk pembuatan pakan ikan adalah pencarian bahan baku alternatif pakan. Syarat suatu bahan baku yang dapat dijadikan sebagai bahan alternatif pembuatan pakan adalah memiliki kandungan gizi yang cukup, harganya harus lebih murah dibandingkan dengan bahan baku pakan yang telah ada, ketersediaannya yang melimpah, dan tidak adanya persaingan dengan kebutuhan pangan manusia.
Bahan baku alternatif yang dapat digunakan sebagai bahan baku pakan ikan dapat memanfaatkan limbah pertanian. Salah satu contoh limbah pertanian yang sampai saat ini belum termanfaatkan adalah limbah kulit umbi ubi kayu (Manihot esculenta Crantz). Produksi umbi ubi kayu di Indonesia pada tahun 2007 mencapai 19,98 juta ton, dengan perkiraan kulit umbi yang akan dihasilkan kurang lebih 16% dari produksi umbi ubi kayu (3). Pengolahan limbah kulit ubi kayu sebagai bahan baku pakan ikan dapat dilakukan secara biologis dengan menggunakan mikroorganisme. Menurut peneliti (4), limbah kulit ubi kayu yang difermentasi dengan menggunakan Aspergillus niger and Lactobacillus rhamnosus dapat meningkatkan kadar protein dari 5,50 % menjadi 24,40%. Sementara menurut peneliti lainnya (5), kadar protein limbah kulit ubi kayu dapat meningkat dari 4,21% menjadi 37,63 %.
Penggunaan limbah kulit ubi kayu dengan fermentasi oleh mikroorganisme ini layak untuk dilakukan dalam usaha untuk mengurangi ketergantungan terhadap tepung ikan. Untuk menjamin keberhasilan penggunaan limbah kulit ubi kayu sebagai bahan baku pakan ikan, perlu diadakannya suatu riset penelitian terlebih dahulu akan bahan baku ini. Hasil akhir yang dapat diperoleh adalah berkurangnya biaya produksi terhadap penyediaan pakan ikan sehingga kegiatan intensifikasi budidaya perikanan dapat dilakukan dengan baik dan tanpa kendala.
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Peningkatan produksi budidaya perikanan diupayakan terus dilakukan dengan target total produksi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan mencapai 353% pada tahun 2014. Tahun ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan sasaran produksi ikan sebesar 12,26 juta ton. Angka ini meningkat 13 % dari produksi tahun lalu sebesar 10,85 juta ton (1). Berbagai upaya intensifikasi dan pengembangan teknologi kegiatan budidaya dilakukan untuk dapat memenuhi kebutuhan akan produk-produk akuakultur. Peningkatan aktivitas perikanan budidaya tentunya akan mendorong peningkatan kebutuhan akan input-input produksi, yang salah satunya adalah pakan.
Pada satu sisi, dalam budidaya perikanan sistem intensif, dimana biaya pakan mencakup lebih dari 70% dari biaya produksi, ketersediaan pakan dengan kualitas dan kuantitas yang memadai, harga yang relatif murah, tepat waktu dan berkesinambungan merupakan salah satu kunci keberhasilan usaha. Namun di sisi lain, usaha budidaya perikanan terutama di Indonesia dihadapkan dengan harga pakan ikan yang semakin meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Penyebab utama mahalnya harga pakan ikan adalah penggunaan tepung ikan sebagai sumber protein. Hingga saat ini untuk keperluan produksi pakan ikan Indonesia masih harus mengimpor dari berbagai negara seperti Chili, Peru, Thailand. Sementara itu harga tepung ikan, yang merupakan olahan dari ikan hasil perikanan tangkap, di pasar dunia juga terus menunjukkan peningkatan dari waktu ke waktu. Hal ini terutama disebabkan oleh kecenderungan produksi tepung ikan dunia yang stagnan bahkan cenderung menurun karena terbatasnya stok alam yang dibarengi dengan permintaan yang terus meningkat.
Kebutuhan tepung ikan bagi industri pakan udang dan ikan di Indonesia berkisar antara 90 ribu sampai 100 ribu ton setiap tahun. Namun, angka impor tepung ikan yang dikeluarkan BPS (Badan Pusat Statistik) menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun. Pada 2006 mencapai angka 88.825 ribu ton, pada 2008 menjadi 67.597 ribu ton. Tren penurunan tersebut seiring dengan penurunan produksi tepung ikan dunia. Harga impor tepung ikan pada Januari 2011 mencapai US $ 1.607,46 / 1000 Kg (2).
Penggunaan alternatif substitusi bahan baku pakan ikan yang dapat dilakukan adalah dengan menitikberatkan pada bahan baku yang bersifat mudah didapatkan, murah, serta tidak bersaing dengan kebutuhan manusia berupa pemanfaatan limbah pertanian. Pemilihan alternatif ini berdasarkan pertimbangan bahwa limbah pertanian tersedia dalam jumlah besar dan belum dimanfaatkan dengan baik. Namun demikian salah satu permasalahan yang dihadapi dalam pemanfaatan limbah pertanian ini adalah rendahnya kandungan nutrisi, adanya anti nutritional factor dan tingginya kandungan serat kasar yang dapat menghambat proses pencernaan.
Salah satu contoh limbah pertanian yang sampai saat ini belum termanfaatkan adalah limbah kulit umbi ubi kayu (Manihot esculenta Crantz). Produksi umbi ubi kayu di Indonesia pada tahun 2007 mencapai 19,98 juta ton, dengan perkiraan kulit umbi yang akan dihasilkan kurang lebih 16% dari produksi umbi ubi kayu (3).
Pengolahan limbah kulit ubi kayu dapat dilakukan secara biologis dengan menggunakan mikroorganisme. Menurut seorang peneliti (4), limbah kulit ubi kayu yang difermentasi dengan menggunakan Aspergillus niger and Lactobacillus rhamnosus dapat meningkatkan kadar protein dari 5,50 % menjadi 24,40%. Hasil penelitian yang hampir sama menjelaskan bahwa kadar protein limbah kulit ubi kayu dapat meningkat dari 4,21% menjadi 37,63 % (5).
Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk bahan baku alternatif sumber protein bagi pakan ikan. Kadar protein sebanyak 37,63% dari hasil fermentasi limbah kulit ubi kayu dapat diupayakan untuk mengurangi penggunaan tepung ikan yang harganya relatif meningkat tiap tahunnya. Penggunaan hasil fermentasi limbah kulit ubi kayu juga telah dicoba sebagai alternatif pakan untuk ternak dimana hasilnya tidak menunjukkan perbedaan nyata dengan penggunaan bahan pakan lainnya yang biasa digunakan. Hal ini berarti bahwa penggunaan Fermented Solid Cassava-Waste dapat dicoba digunakan untuk bahan baku pakan ikan untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

Tujuan
Penulisan karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk menyajikan gagasan alternatif bahan baku pakan ikan yang murah dan memiliki kandungan nutrisi yang relatif tinggi melalui bioprocessing limbah kulit ubi kayu.
Penulisan karya tulis ilmiah ini memberi manfaat untuk:
1. Mencari alternatif bahan baku pakan ikan yang murah dan memiliki kandungan nutrisi yang relatif tinggi.
2. Memanfaatkan limbah pertanian sebagai bahan baku pakan ikan dengan bantuan mikroorganisme.
3. Menciptakan kondisi lingkungan Zero waste, dimana lingkungan bebas dari limbah.

GAGASAN

Kegiatan produksi di bidang budidaya perairan hingga saat ini semakin meningkat terutama untuk menyuplai bahan pangan bagi manusia, khususnya sebagai sumber protein. FAO memperkirakan bahwa total konsumsi ikan pada tahun 2011 akan mencapai 32 Kg /kapita/tahun. Untuk menghadapi tantangan ini, peningkatan produksi budidaya terus diupayakan dikarenakan produksi ikan dari hasil perikanan tangkap yang mengalami kecenderungan yang stagnan dan menurun. Peningkatan produksi budidaya perikanan diupayakan terus dilakukan dengan target total produksi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan mencapai 353% pada tahun 2014. Tahun 2011 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan sasaran produksi ikan sebesar 12,26 juta ton. Angka ini meningkat 13 % dari produksi tahun lalu sebesar 10,85 juta ton (1).
Upaya untuk melakukan budidaya yang intensif tentunya harus diikuti dengan peningkatan input produksi salah satunya adalah pakan yang menyuplai kebutuhan nutrisi ikan. Pakan merupakan komponen biaya operasional terbesar dalam kegiatan budidaya yang dapat menyerap hingga 60% total biaya produksi. Sumber bahan baku penyusun pakan yang terbesar saat ini adalah dari tepung ikan. Penggunaan tepung ikan dapat menyumbangkan 40-50 % dari total bahan baku penyusun pakan. Tepung ikan yang digunakan sebagai bahan baku pakan di Indonesia umumnya harus diimpor dari luar negeri seperti Chile karena kualitas tepung ikan lokal masih relatif rendah. Sementara itu harga tepung ikan di pasar dunia cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini disebabkan karena hasil perikanan tangkap yang merupakan bahan baku pembuatan tepung ikan mengalami stagnasi atau bahkan menurun. Penurunan produksi yang diikuti dengan meningkatnya permintaan tentunya menyebabkan harga produk tepung ikan semakin lama semakin mahal. Penurunan produksi tepung ikan terjadi sejak 2004 yang kala itu produksi tepung ikan dunia sekitar 6,4 juta ton. Jumlah tersebut menurun setiap tahun hingga 2009 sekitar 4,8 juta ton. Kebutuhan tepung ikan bagi industri pakan udang dan ikan di Indonesia berkisar antara 90 ribu sampai 100 ribu ton setiap tahun dimana harga impor tepung ikan pada Januari 2011 mencapai US $ 1.607,46 / 1000 Kg (2).
Upaya yang harus dilakukan untuk mengantisipasi mahalnya biaya bahan baku tepung ikan untuk pembuatan pakan ikan adalah pencarian bahan baku alternatif pakan yang memiliki kandungan gizi yang cukup, harganya yang relatif murah dibandingkan dengan bahan baku pakan yang telah ada, ketersediaan yang melimpah, dan tidak adanya persaingan dengan kebutuhan pangan manusia.
Saat ini telah terjadi kecenderungan pergeseran pola penyediaan baku pakan ke arah alternatif bahan berbasis limbah. Limbah (bu product) yang saat ini gencar dilirik masyarakat untuk dimanfaatkan adalah bahan limbah pertanian (crop residue), limbah perikanan (fishery waste), limbah ternak (animal waste), hingga limbah hasil sampingan agroindustri (agro-industry by product). Limbah diartikan suatu substansi yang didapatkan selama pembuatan sesuatu (by product), barang sisa (residue) atau sesuatu yang harus dibuang (waste). Limbah yang dihasilkan dari suatu aktivitas belum mempunyai nilai ekonomis dan pemanfaatannya dibatasi oleh waktu dan ruang sehingga limbah dapat dianggap sebagai sumberdaya tambahan yang dapat dioptimalkan. Saat ini, peningkatan upaya untuk mencegah terjadinya polusi lingkungan dan adanya keinginan atau motivasi dari aspek ekonomi telah mengintroduksi dilakukannya proses penanganan dan treatment lingkungan dengan tahap yakni recovery, bioconversion dan peningkatan nilai tambah dari proses pengolahan limbah (6).
Upaya pengolahan limbah dapat memberi manfaat pada berbagai sektor industri, khususnya penggunaannya sebagai bahan pakan untuk ternak maupun untuk pakan ikan (6). Pemanfaaan limbah sebagai bahan pakan ikan mampu memberi nilai ekonomis melalui pengurangan biaya pakan dan membantu menekan pencemaran lingkungan.
Pemanfaatan limbah kulit ubi kayu sebagai salah satu alternatif bahan pakan dikarenakan melimpahnya ketersediaan jumlah bahan ini di daerah-daerah yang ada di Indonesia dan belum termanfaat dengan baik. Bahan ini juga belum dimanfaatkan untuk kegiatan manusia sehingga dapat menjamin ketersediaannya dan harganya yang relatif murah dibandingkan dengan bahan baku pakan lain. Hal yang sangat bermanfaat dalam penggunaan limbah kulit ubi kayu ini adalah kandungan nutrisi yang cukup tinggi yang dapat digunakan sebagai sumber protein untuk mengurangi penggunaan tepung ikan sebagai pakan.
Kulit umbi ubi kayu yang diperoleh dari produk tanaman ubi kayu (Manihot esculenta Cranz) merupakan limbah utama pangan di negara-negara berkembang. Semakin luas areal tanaman ubi kayu diharapkan produksi umbi yang dihasilkan semakin tinggi yang pada gilirannya semakin tinggi pula limbah kulit yang dihasilkan. Setiap kilogram ubi kayu biasanya dapat menghasilkan 15 – 20 % kulit umbi. Kulit ubi kayu mempunyai kandungan protein kasar (PK) sebesar 4,21%, serat kasar (8,64%), Lemak kasar (LK) 1,37%, dan kandungan BETN sebesar 51,93%, selain itu kulit ubi kayu juga memiliki HCN sebesar 0,72 mg / 100 g (5).
Penggunaan limbah kulit ubi kayu sebagai bahan baku pakan ikan belum dapat dilakukan secara optimal saat ini dikarenakan kecernaan bahan pakan ini yang sangat rendah, selain itu kandungan protein di dalamnya juga belum terolah secara maksimal sebagai bahan pakan. Kulit ubi kayu juga memiliki kadar HCN sebesar 0,72 mg / g, dan dapat bersifat toksik jika dikonsumsi.
Solusi pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah dengan pengolahan limbah kulit ubi kayu tersebut. Salah satu alternatif pengolahan limbah yang aman, relatif murah dan sering digunakan oleh masyarakat adalah pengolahan secara biologis, yakni pengolahan dengan memanfaatkan mikroorganisme yang akan melakukan proses biologis (bioprocess) dalam mengolah senyawa-senyawa yang tidak dibutuhkan dalam bahan baku pakan dan mendapatkan senyawa yang diinginkan dalam proses pembuatan bahan pakan. Mikroorganisme yang dapat digunakan ini dapat berasal dari golongan bakteri maupun khamir.
Pengembangan penggunaan mikroorganisme yang dapat memanfaatkan asam laktat untuk memfermentasi suatu bahan limbah pertanian terus ditingkatkan. Mikroorganisme ini dipilih karena dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kontaminasi enteropathogens ke dalam hasil fermentasi yang dapat mempengaruhi kualitas keamanan pakan. Lactic acid bacterial atau Lactic acid microorganism mampu untuk memfermentasi limbah pertanian pada kisaran pH 3,8 – 4,0 dengan jumlah asam laktat sebesar 150 – 250 mmol/L (7). Kandungan asam laktat yang cukup dan kondisi pH yang rendah dipercaya akan mendukung mikroorganimse yang ada dapat melakukan proses fermentasi secara maksimum. Selain itu, kondisi ini juga mampu mengeliminasi patogen yang ada seperti Salmonella spp., Campylobacter spp., dan coliforms (8).
Proses fermentase oleh mikroorganisme dapat dilakukan karena adanya kandungan enzim xylanase. Xylanase merupakan kelompok enzim yang dapat menghidrolisis hemiselulosa yaitu xilan atau polimer dari xilosa dan xilooligosakarida. Xilanase dapat diklasifikasikan berdasarkan substrat yang dihidrolisis, yaitu: β-xilosidase, eksoxilanase, dan endoxilanase. β-xilosidase, yaitu xilanase yang mampu menghidrolisis xilooligosakarida rantai pendek menjadi xilosa. Aktivitas enzim akan menurun dengan meningkatnya rantai xilooligosakarida (9). Xilosa selain merupakan hasil hidrolisis juga merupakan inhibitor bagi enzim β-xilosidase. Sebagian besar enzim β-xilosidase yang berhasil dimurnikan masih menunjukkan adanya aktivitas transferase yang menyebabkan enzim ini kurang dapat digunakan industri penghasil xilosa. Eksoxilanase mampu memutus rantai polimer xilosa (xilan) pada ujung reduksi, sehingga menghasilkan xilosa sebagai produk utama dan sejumlah oligosakarida rantai pendek. Enzim ini dapat mengandung sedikit aktivitas transferase sehingga potensial dalam industry penghasil xilosa. Endoxilanase mampu memutus ikatan β 1-4 pada bagian dalam ran-tai xilan secara teratur. Ikatan yang diputus ditentukan berdasarkan panjang rantai substrat, derajad percabangan, ada atau tidaknya gugus substitusi, dan pola pemutusan dari enzim hidrolase tersebut.
Xilanase umumnya merupakan protein kecil dengan berat molekul antara 15.000-30.000 Dalton, aktif pada suhu 55oC dengan pH 9 (10). Pada suhu 60oC dan pH normal, xilanase lebih stabil. Xilanase bisa digunakan untuk menghidrolisis xilan (hemiselulosa) menjadi gula xilosa. Xilan banyak diperoleh dari limbah pertanian dan industri makanan. Pengembangan proses hidrolisis secara enzimatis merupakan prospek baru untuk penanganan limbah hemiselulosa dimana telah dilakukan penelitian pemanfaatan xilanase untuk campuran makanan ayam boiler, dengan melihat pengaruhnya terhadap berat yang dicapai dan efisiensi konversi makanan serta hubungannya dengan viskositas pencernaan.
Limbah kulit ubi kayu dapat diolah melalui bioprocessing dengan menggunakan mikroorganisme untuk dapat meningkatkan kandungan gizi nya sehingga sesuai dengan kebutuhan ikan. Hasil penelitian menunjukkan limbah kulit kayu yang difermentasi dengan menggunakan Aspergillus niger and Lactobacillus rhamnosus dapat meningkatkan kadar protein dari 5,50 % menjadi 24,40% (4). Hasil yang hampir sama didapatkan bahwa kadar protein limbah kulit ubi kayu dapat meningkat dari 4,21% menjadi 37,63 % dengan fermentasi dengan menggunakan Trichoderma viride ATCC 36316. Kadar HCN juga dapat diturunkan hingga mencapai 0,3 mg / 100 g (5).
Proses fermentasi dengan teknologi yang sesuai dapat menghasilkan produk protein. Protein ini dikenal dengan sebutan Single Cell Protein (SCP) atau Protein Sel Tunggal yakni protein kasar atau murni yang berasal dari hasil fermentasi mikroorganisme. Fermentasi kulit umbi ubi kayu dilakukan untuk meningkatkan kandungan protein dan mengurangi masalah limbah pertanian. Produk fermentasi selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan atau suplemen produk pangan atau pakan (11).
Secara umum proses fermentasi limbah kulit ubi kayu dapat dilakukan dengan memperhatikan berbagai aspek yang dapat mempengaruhi keberhasilan kerja dari proses fermentasinya. Aspek tersebut diantaranya adalah jenis mikroba yang digunakan beserta dosisnya inokulannya, jenis dan kondisi substrat yang digunakan serta lamanya waktu fermentasi yang dibutuhkan.
Berdasarkan hasil penelitian (11), inokulan yang dapat digunakan untuk memfermentasi limbah kulit ubi kayu adalah Rhizopus, Saccharomyces, Aspergilus niger, dan Trichoderma viride. Jumlah inokulan yang dibutuhkan adalah 3 g /kg kulit ubi kayu. Lamanya waktu fermentasi optimal yang dibutuhkan adalah 5-8 hari, dan dapat meningkatkan kandungan protein limbah kulit ubi kayu serta mengurangi kadar sianida (HCN) yang bersifat toksik. Seorang peneliti melaporkan bahwa kapang yang dapat dugunakan dalam proses fermentasi termasuk golongan mesofilik yang tumbuh optimum pada suhu 25 – 300C (12). Peneliti lainnya (13) menemukan temperatur optimum untuk pertumbuhan A. niger adalah 300C. Aktivitas enzim ekstraseluler dari kapang sangat dipengaruhi oleh suhu inkubasi. Pengaruh suhu inkubasi terhadap aktivitas enzim xilanase dan β-xilosidase menunjukkan bahwa apabila dibandingkan suhu 25 – 300C dan 350C maka suhu 300C merupakan suhu inkubasi yang menghasilkan enzim dengan aktivitas tertinggi (14).
Kandungan nutrisi yang diinginkan dari bahan ini adalah protein. Jumlah kadar protein yang dimiliki oleh limbah kulit ubi kayu adalah sekitar 5,50 %. Dengan proses fermentasi menggunakan Trichoderma viride ATCC 36316, diharapkan kandungan protein dan ketersediaan nutrient lain dapat ditingkatkan. Untuk limbah kulit ubi kayu protein dapat ditingkatkan mencapai 37,63 %. Berdasarkan hasil penelitian (5), penggunaan Trichoderma viride ATCC 36316 untuk fermentasi limbah kulit ubi kayu juga akan dapat meningkatkan seluruh kandungan asam amino yang ada pada kulit ubi kayu. Kulit ubi kayu memiliki hampir semua jenis asam amino yang terkandung, dan melalui proses fermentasi keseluruhan kadar asam amino itu dapat ditingkatkan menjadi lebih signifikan. Hasil penelitian terhadap peningkatan kadar asam amino dapat disajikan pada tabel 1.
Tabel 1 Profil asam amino limbah ubi kayu yang tidak difermentasi dengan hasil fermentasi
Asam Amino Limbah Ubi kayu yang tidak difermentasi (mg/100g) Limbah kulit ubi kayu yang difermentasi tidak dengan pretreatment enzim (mg/100 g) Limbah kulit ubi kayu yang difermentasi dengan pretreatment enzim (mg/100 g)
Taurine 80 ± 1.1 110 ± 2.0 120 ± 2.3
Asam Aspartic 300 ± 2.5 1340 ± 28.7 1290 ± 29.5
Threonine 130 ± 2.0 760 ± 5.6 740 ± 5.4
Serine 120 ±1.3 630 ± 3.4 630 ± 4.3
Asam Glutamat 510 ± 4.5 1660 ± 13.3 1750 ± 5.4
Proline 140 ± 2.1 690 ± 0.36 640 ± 4.3
Glysin 160 ± 1.2 750 ± 4.4 720 ± 3.3
Alanine 190 ± 1.4 1100 ± 21.1 1020 ±18.9
Sistein 60 ± 0.9 260 ± 1.9 230 ± 1.2
Valine 190 ± 1.4 1030 ± 15.6 1010 ± 16.3
Methionin 60 ± 0.9 250 ± 3.0 230 ± 4.1
Isoleucine 150 ± 1.7 680 ± 8.9 650 ± 12
Leucine 240 ± 1.6 1160 ± 25.4 1090 ± 23.0
Tyrosine 70 ± 0.8 370 ± 4.9 370 ± 2.9
Phenylalanine 140 ± 1.1 640 ± 12.3 610 ± 12.2
Ornithine 10 ± 0.4 20 ± 1.1 30 ± 2.4
Lysine 180 + 2.2 1080 + 27.2 980 + 16.7
Histidine 90 + 1.5 360 + 2.4 330 + 2.3
Arginine 190 + 2.7 840 + 16.6 810 + 15.4
Tryptophan <40 50 + 2.0 40 + 1.0
Total amino acid content (mg/100 g) 3180 14240 13640
Sumber : (5)

Penggunaan limbah kulit ubi kayu sebagai campuran bahan baku pakan telah dicoba penggunaannya dalam bidang peternakan. Pada usaha peternakan sapi potong, penggunaan limbah kulit ubi kayu dapat menggantikan konsentrat komersial hingga 30%. Pertumbuhan ternak sapi yang diberi perlakuan pakan ransum limbah kulit ubi kayu hasil fermentasi tidak menunjukkan perbedaan yang terlalu signifikan dengan pemberian ransum ternak lainnya. Kadar protein yang dihasilkan dapat menggantikan kadar protein dari bahan pakan yang lebih komersial (15).
Melalui bioprocessing limbah kulit ubi kayu, hasil positif yang telah diperoleh dalam bidang peternakan ini diharapkan dapat juga diterapkan dalam bidang perikanan. Pemanfaatan limbah kulit ubi kayu dengan pengolahan menggunakan bantuan mikroorganisme diharapkan mampu menghasilkan senyawa-senyawa nutrien yang dibutuhkan oleh ikan. Hal lain yang diinginkan dari pemanfaatan bahan ini dapat mengurangi penggunaan bahan baku tepung ikan dalam pembuatan pakan, sehingga dapat mengurangi ongkos produksi. Hal yang sangat penting ditekankan adalah penggunaan limbah kulit ubi kayu ini tidak digunakan untuk menggantikan tepung ikan sebagai bahan baku pembuatan pakan, namun lebih kepada mengurangi penggunaan tepung ikan sebanyak mungkin.
Penggunaan limbah kulit ubi kayu dengan fermerntasi mikroorganisme ini diharapkan layak untuk dilakukan dalam usaha untuk mengurangi ketergantungan terhadap tepung ikan. Untuk menjamin keberhasilan penggunaan limbah kulit ubi kayu sebagai bahan baku pakan ikan, perlu diadakan serangkaian penelitian yang tentunya perlu melibatkan berbagai pihak seperti pemerintah atau dinas yang terkait yakni Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), pihak akademisi atau universitas, hingga pengusaha dalam bidang pakan ikan. Kementerian Kelautan dan Perikanan dapat melakukan atau memfasilitasi berbagai riset yang dapat dilakukan untuk mendapatkan produk terbaik dari bahan baku limbah kulit ubi kayu hasil fermentasi ini sehingga dapat dipergunakan sebagai pakan ikan. Pihak akademisi atau universitas dapat bekerja sama dengan para pemerintah untuk membantu proses riset dan penelitian dalam mencari teknik atau cara pengolahan dan pemanfaatan limbah kulit ubi kayu hasil fermentasi dengan bantuan mikroorganisme ini agar sesuai dengan kebutuhan ikan. Pihak pengusaha di bidang pakan ikan juga diharapkan mau bekerja sama dalam proses penyedia fasilitas dan modal untuk kelancaran riset ini. Selain itu juga diperlukan adanya koordinasi dan kerja sama antara pemerintah dengan masyarakat maupun perusahaan pengolahan ubi kayu agar penyediaan limbah kulit ubi kayu tidak dipermainkan. Hal ini dilakukan untuk mencegah kelangkaan yang mungkin ditimbulkan dalam penyediaan limbah kulit ubi kayu ini sehingga dapat berdampak meningkatnya harga bahan baku ini.
Langkah-langkah strategis yang harus dilakukan dalam bioprocessing limbah kulit ubi kayu sebagai bahan baku pakan ikan ini adalah :
1. Melakukan penelitian lebih lanjut tentang kandungan nutrisi kulit ubi kayu hasil fermentasi termasuk di dalamnya kandungan anti nutritional factor yang berpotensi menurunkan kualitas bahan ini sebagai bahan baku pakan ikan.
2. Mencari jenis mikroorganisme yang paling tepat dalam proses fermentasi limbah kulit ubi kayu yang dapat mengingkatkan kualitas nutrisi lebih signifikan serta dapat meminimalkan kandungan bahan anti nutritional factor. Hasil studi pustaka menunjukkan Aspergillus niger, Trichoderma viride ATCC 36316 dapat memfermentasi limbah kulit ubi kayu dengan peningkatan kadar protein yang lebih tinggi dibandingkan mikroorganisme lainnya. Perlu untuk dikaji berapa banyak inokulan yang tepat dan komposisi inokulan yang digunakan sehingga didapatkan hasil fermentasi yang terbaik.
3. Mencari teknologi fermentasi yang paling tepat dan ekonomis yang dapat diaplikasikan hingga skala produksi massal. Dalam hal ini perlu untuk diterapkan kondisi media fermentasi yang terbaik agar mikroorganisme dapat melakukan bioproses dengan optimal.
4. Mencari formulasi pakan ikan dengan substitusi bahan baku fermentasi limbah kulit ubi kayu yang tepat yang dapat menghasilkan ikan dengan pertumbuhan setara dengan pakan tanpa substitusi.

KESIMPULAN

Berdasarkan analisis sintesis permasalahan dan solusi, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa pemanfaatan limbah pertanian berupa limbah kulit ubi kayu dapat dijadikan sebagai salah satu solusi dari alternatif bahan baku pakan ikan. Limbah kulit ubi kayu ini mengandung protein sebanyak 5,50% dan perlakuan fermentasi oleh, Trichoderma viride ATCC 36316 dapat meningkatkan kadar protein menjadi 37,63 %. Mikroorganisme ini diharapkan mampu menghilangkan serat kasar berupa lignin serta HCN yang ada pada limbah kulit ubi kayu, sehingga bahan baku ini dapat dimanfaatkan dan dapat dicerna ikan dengan baik. Pemanfaatan limbah kulit ubi kayu sebagai sumber protein diharapkan akan mampu mengurangi penggunaan tepung ikan sebagai sumber protein utama dalam campuran pakan ikan. Hasil akhir yang dapat diperoleh adalah berkurangnya biaya produksi terhadap penyediaan pakan ikan sehingga kegiatan intensifikasi budidaya perikanan dapat dilakukan dengan baik dan tanpa kendala. Saran yang diajukan adalah dilakukannya riset terhadap pemilihan teknologi fermentasi yang paling tepat dan ekonomis yang dapat diaplikasikan hingga skala produksi masal serta pencarian formulasi pakan ikan dengan substitusi bahan baku fermentasi limbah kulit kayu yang tepat yang dapat menghasilkan ikan dengan pertumbuhan setara dengan pakan tanpa substitusi

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

2 thoughts on “FERMENTED SOLID CASSAVA-WASTE

  1. Masbrow, ini tulisan saya yah ?
    Salam kenal yah..

    Jhon Lamhot F. Napitupulu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s