Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

OPTIMASI PROSES FERMENTASI TEPUNG JAGUNG PADA PEMBUATAN BAHAN BAKU BIOMASSA JAGUNG INSTAN (KAJIAN LAMA INKUBASI DAN KONSENTRASI KAPANG Rhizopus sp. )

Tinggalkan komentar


OPTIMASI PROSES FERMENTASI TEPUNG JAGUNG PADA PEMBUATAN BAHAN BAKU BIOMASSA JAGUNG INSTAN
(KAJIAN LAMA INKUBASI DAN KONSENTRASI KAPANG Rhizopus sp. )

Optimation of the Fermentation Process of Corn Flour in
Producing the Raw Material of Corn Biomass
(Determination of the Incubation Time and Concentration of Rhizopus sp. )

Wignyanto dan Irnia Nurika
Dosen Jurusan Teknologi Industri Pertanian, FTP UB

Sang Ketut Mahardika
Alumni Jurusan Teknologi Industri Pertanian, FTP UB

ABSTRACT

Purpose of the research is to get the correct combination of time incubation and concentration of Rhizopus sp. Yielding the optimal of total amino acid and fructose, which have important effects in any processes of instant corn biomass. Research method applied is the Response Surface Method with Central Composite Plan involving two factors. Central point applied is combination between determinations of lama inkubasi ( X1): 48 hours and concentration of Rhizopus sp. ( X2): 0,12 %. The point is extended with level code – 1 (X1=24 hours; X2=0,09 %) and level code 1 (X1=72 hours; X2=0,15 %). Combination between factors and repetition counted 5 times at central point yields 13 treatments. Observation done covers Amino acid total and Fructose and eligibility test of Data analysis product with Design Expert DX 7.1.3. Based on result of the research, determinations of time incubation and concentration of Rhizopus sp. it is obtained the best treatment yielding optimal Amino acid total and Fructose content. The optimum solution at determination of time incubation 66 hours and concentration of Rhizopus sp. 0,12 % with Amino acid total 480,996 mg/100g and Fructose content 7,326 %.

Keywords : Corn Flour, Fermentation, Rhizopus sp., Amino Acid Total and Fructose.

PENDAHULUAN

Hingga saat ini, semakin banyak ditemukan varietas jagung sehingga pro-duksi jagung di dalam maupun luar negeri menjadi sangat besar. Jagung mengandung karbohidrat sekitar 71% – 73%, yang terutama terdiri dari pati, sebagian kecil gula, serat, serta mengandung 10% protein. Masalah utama yang dihadapi pada ko-moditas jagung terletak pada kandungan asam amino serta gula sebagai sumber energi yang masih rendah.
Berdasarkan hal itu, salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kandungan asam aminonya adalah melalui proses fermentasi tepung jagung dengan kapang Rhizopus sp. Kapang Rhizopus sp. digunakan karena jenis kapang ini mampu menghasilkan enzim extraseluler alfa amy-lase dan enzim protease yang diharapkan bisa menghidrolisis pati menjadi gula fruk-tosa dan mensubstitusi kekurangan akan asam amino pada tepung jagung. Tepung jagung terfermentasi ini nantinya akan digunakan sebagai bahan baku biomassa jagung instan yang dalam penelitian ini tidak dibahas.
Hasil fermentasi juga sangat ter-gantung pada tepung jagung sebagai bahan dasar (substrat), macam mikroba atau inokulum, dan kondisi lingkungan yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan metabolisme mikroba tersebut (Rusdi, 1992). Penggunaan kapang ini pada kon-sentrasi dan lama inkubasi tertentu akan mempengaruhi kecepatan proses fermen-tasi dan kualitas produk akhir baik dari segi rasa maupun gizi.
Oleh karena itu perlu dilakukan suatu penelitian optimasi proses fermentasi te-pung jagung dengan kajian konsentrasi kapang Rhizopus sp. dan lama inkubasi sehingga menghasilkan produk dengan kandungan asam amino dan fruktosa yang optimum. Salah satu metode untuk mencari titik optimal adalah dengan metode respon permukaan (Respon Surface Method) dan desain model dalam rancangan percobaan menggunakan desain komposit pusat.
Tujuan penelitian adalah untuk men-dapatkan kombinasi yang tepat antara konsentrasi kapang Rhizopus sp. dan lama inkubasi sehingga proses fermentasi menghasilkan total asam amino dan fruk-tosa yang optimum pada pembuatan bahan baku biomassa jagung instan.

METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Laboratorium Pasca Panen, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur dan Labo-ratorium Rekayasa Proses dan Sistem Produksi, Jurusan Teknologi Industri Per-tanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Uni-versitas Brawijaya Malang. Penelitian dimulai bulan Mei sampai Juli 2008.

Alat dan Bahan
Alat- alat yang digunakan dalam fermentasi tepung jagung antara lain kan-tong plastik, sarung tangan plastik, dan-dang, kompor, baskom, timbangan digital Mettler PM 4600, cabinet dryer, ayakan Retsch 5657 ukuran 60 mesh.
Bahan – bahan yang digunakan dalam fermentasi tepung jagung antara lain tepung jagung, ragi tempe (Rhizopus sp.), air, kapur dan beras jagung varietas Srikandi kuning-1, Larutan tembaga sulfat, titrat basa, Fehling dengan modifikasi Soxhlet, Dekstrosa standar, Metilen biru 0,2 % dalam air, Amonium sulfat kristal jenuh, Buffer Phosphat pH 3,6, Buffer asam asetat pH 5, Reagen Ninhydrin, Glisin.

Pelaksanaan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan dalam Metode Respon Permukaan adalah Rancangan Komposit Terpusat (Central Composit Design) dengan menggunakan 2 faktor perlakuan yaitu konsentrasi Kapang Rhizopus sp. dan lama inkubasi. Sesuai dengan Metode Respon Permukaan 2 faktor, maka pengulangan dilakukan pada titik tengah (X=0) sebanyak 5 kali. Sebagai acuan dasar dari penentuan titik tengah percobaan adalah penelitian dari Sofyan (2003) yaitu dengan konsentrasi kapang 0,12% (X2=0) dan penelitian dari Hesseltine et al (1996) yaitu pada lama inkubasi 48 jam (X1=0). Nilai α, dipilih k = 2 adalah 2k/4 = 22/4 = 1,414.
Pelaksanaan penelitian dimulai dengan pembuatan tepung jagung. Pertama jagung varietas srikandi kuning-1 disortasi kemu-dian direndam dalam air selama 12 jam. Selanjutnya ditiriskan dan digiling, di-keringkan dalam pengering kabinet (60oC) selama 6 jam, terakhir diayak dengan ayakan ukuran 60 mesh.
Proses fermentasi tepung jagung diawali dengan pembuatan granula dengan menambahkan air pada tepung jagung, kemudian digelatinisasi selama 2 jam (95o C), selanjutnya ditimbang dan didinginkan. Setelah dingin ditambahkan inokulum Rhizopus sp. (0,09%; 0,12%; 0,15%) selanjutnya diinkubasi (selama 24, 48, 72 jam). Terakhir dilakukan analisa dan optimasi total asam amino dan fruktosa.
Analisa yang dilakukan antara lain analisa total asam amino (Ninhidrin – Spektrofotometer), kadar fruktosa (Lane-Eynon), kadar protein (metode Kjeldahl), kadar air () (AOAC, 1999).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Respon Total Asam Amino
Berdasarkan data penelitian untuk respon total asam amino yang dihasilkan, dapat diketahui total asam amino terkecil yaitu 348,907 mg/100g yang didapat pada lama inkubasi 14,064 jam dan konsentrasi kapang 0,12% dan total asam amino terbesar yaitu 447,576 mg/100g didapat pada lama inkubasi 72 jam dan konsentrasi kapang 0,15%. Hasil penelitian pada respon dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Respon Total Asam Amino

Variabel Asli Respons
Lama Inkubasi ( jam ) Konsentrasi kapang Rhizopus sp (%) Total Asam amino (mg/100 g )
24 0,09 372,666
24 0,15 371,564
72 0,09 436,100
72 0,15 447,576
48 0,12 444,564
48 0,12 446,897
48 0,12 447,033
48 0,12 446,923
48 0,12 445,979
14,064 0,12 348,907
81,936 0,12 445,812
48 0.12 443,525
48 0,08 446,885

Model persamaan kuadratik dari hasil penelitian dapat disajikan sebagai berikut:

Y1 = 216,62598 + 5,59019X1 + 952,73399 X2 + 4,36736X1X2 – 0,048690X12 – 4580,59722 X22 (R2 = 0,9731).

Keterangan :Y1 = nilai total asam amino; X1 = Lama Inkubasi ; X2 = Konsentrasi Kapang.

Hubungan Lama Inkubasi (X1) dan Konsentrasi Kapang (X2) Terhadap Respon Total Asam Amino (Y1)

Model kuadratik dari respon total asam amino memiliki nilai R2 sebesar 0,9731 atau 97,31 % yang menunjukkan bahwa faktor lama inkubasi dan kon-sentrasi kapang memberikan kontribusi dan pengaruh sebesar 97,31 % terhadap total asam amino dari tepung jagung terfermentasi. Kurva respon permukaan total asam amino yang dipengaruhi oleh lama inkubasi dan konsentrasi kapang dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Kurva Permukaan Respon 3 Dimensi Hubungan Lama Inkubasi dan Konsentrasi Kapang Terhadap Respon Total Asam Amino Tepung Jagung Terfermentasi.

Lama inkubasi lebih mempengaruhi respon total asam amino daripada faktor konsentrasi kapang, hal ini dapat dilihat karena kurva penentuan lama inkubasi lebih curam daripada kurva penentuan konsentrasi kapang. Hal ini juga dapat dilihat dari data analisis ragam (ANOVA), dimana lama inkubasi berpengaruh nyata terhadap total asam amino dibandingkan konsentrasi kapang karena memiliki peluang kesalahan <0,01 % (peluang kesalahan kurang dari 5 %). Berdasarkan persamaan Y1 di atas dapat diketahui bahwa koefisien X12 (-0,048690) lebih besar dibanding koefisien X22 (-4580,59722), sehingga dapat dikatakan bahwa total asam amino lebih dipengaruhi oleh lama inkubasi (X12) daripada konsentrasi kapang (X22).
Aktifitas enzim protease pada pemeraman 36 jam dari kapang Rhizopus oligosporus dan kapang campuran sama, sedang aktifitas protease dari kapang Rhizopus oryzae lebih rendah (Sapuan, 1996). Aktivitas protease dari kapang Rhizopus oligosporus dan Rhizopus oryzae tertinggi pada pemeraman 72 jam. Sintesis enzim protease tertinggi dicapai pada fermentasi ke 72 jam pada suhu 30oC (Krongtaew , 2002).
Selama fermentasi, enzim protease akan menghidrolisa komponen protein menjadi asam amino dan nitrogen terlarut. Proses hidrolisa ini menghasilkan kenaikan asam amino seperti pada tempe sebanyak 85 kali lebih banyak daripada asam amino pada kedelai begitu pula dengan nitrogen terlarut naik sebanyak 4 kali lipat daripada nitrogen terlarut pada kedelai (Bisping, 1993).

Respon Kadar Fruktosa
Berdasarkan data penelitian untuk respon kadar fruktosa yang dihasilkan, dapat diketahui kadar fruktosa terkecil yaitu 4,131 % yang didapat pada lama inkubasi 14,064 jam dan konsentrasi kapang 0,12% dan kadar fruktosa terbesar yaitu 5,481 % didapat pada lama inkubasi 48 jam dan konsentrasi kapang 0,12%. Hasil penelitian pada respon kadar fruktosa dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Respon Kadar Fruktosa

Variabel Asli Respons
Lama Inkubasi (jam) Konsentrasi kapang (%) Kadar Fruktosa (%)
24 0,09 4,300
24 0,15 4,666
72 0,09 5,433
72 0,15 5,470
48 0,12 5,481
48 0,12 5,145
48 0,12 5,303
48 0,12 5,341
48 0,12 4,406
14,064 0,12 4,131
81,936 0,12 5,262
48 0,08 5,165
48 0,16 5,120

Model persamaan kuadratik dari hasil penelitian dapat disajikan sebagai berikut:

Y2 = 1,04315 + 0,083363X1 + 9,40733X2 + 0,11424X1X2 – 0,000534X12 – 93,79167 X22 (R2 = 0,9541).

Keterangan :Y2 = kadar fruktosa ; X1 = Lama Inkubasi ; X2 = Konsentrasi Kapang.

Hubungan Lama Inkubasi (X1) dan Konsentrasi Kapang (X2) Terhadap Respon Kadar Fruktosa (Y2)

Model kuadratik dari respon kadar fruktosa memiliki nilai R2 sebesar 0,9541 atau 95,41 % yang menunjukkan bahwa faktor lama inkubasi dan konsentrasi kapang memberikan kontribusi dan pengaruh sebesar 95,41 % terhadap kadar fruktosa dari tepung jagung terfermentasi. Kurva respon permukaan kadar fruktosa yang dipengaruhi oleh lama inkubasi dan konsentrasi kapang dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Kurva Permukaan Respon 3 Dimensi Hubungan Lama Inkubasi dan Konsentrasi Kapang Terhadap Respon Kadar Fruktosa Tepung Jagung Terfermentasi.

Lama inkubasi lebih mempengaruhi respon nilai kadar fruktosa daripada faktor konsentrasi kapang, hal ini dapat dilihat karena kurva penentuan lama inkubasi lebih curam daripada kurva penentuan konsentrasi kapang. Hal ini juga dapat dilihat dari data analisis ragam (ANOVA), dimana lama inkubasi berpengaruh nyata terhadap kadar fruktosa dibandingkan konsentrasi kapang karena memiliki peluang kesalahan <0,01 % (peluang kesalahan kurang dari 5 %). Berdasarkan persamaan Y2 di atas dapat diketahui bahwa koefisien X12 (– 0,000534) lebih besar dibanding koefisien X22 (– 93,79167), sehingga dapat dikatakan bahwa kadar fruktosa lebih dipengaruhi oleh lama inkubasi (X12) daripada konsentrasi kapang (X22).
Menurut Keuth (1993) dalam Sapuan (1996), aktifitas enzim amilase yang menghidrolisis karbohidrat menjadi gula sederhana sehingga mudah diserap dan dimanfaatkan oleh tubuh terjadi pada periode pemeraman 0 sampai 12 jam dan tertinggi tercapai pada waktu 12 jam. Aktifitas enzim tertinggi dicapai oleh Rhizopus oryzae. Namun pada inokulum campuran, aktifitas tertinggi dicapai pada periode inkubasi 36 sampai 48 jam. Menurut Anonymous (2007), Jagung memiliki kandungan karbohidrat yang unik dan berbeda dari jenis serealia pada mumnya. Biasanya adalah glukosa tetapi jagung memiliki kandungan gula sederhana berupa fruktosa yang biasanya terdapat pada buah buahan.

Hubungan Total Asam Amino dengan Kadar Fruktosa pada Tepung Jagung Terfermentasi

Berikut ini disajikan grafik (pada Gambar 3) yang menunjukkan hubungan total asam amino dengan kadar fruktosa pada produk tepung jagung terfermentasi.
Semakin lama waktu inkubasi semakin rendah kadar fruktosa tetapi total asam aminonya semakin meningkat. Ini terjadi pada waktu inkubasi ke 72 jam, sedangkan pada waktu fruktosa mengalami peningkatan total asam amino cenderung mengalami penurunan. Hal ini terjadi karena aktivitas tertinggi enzim yang menghidrolisis pati dan protein terjadi pada waktu yang berbeda .

Gambar 3. Grafik Hubungan Total Asam Amino dan Kadar Fruktosa

Analisis Produk Hasil Solusi Optimum

Berdasarkan hasil solusi optimal melalui program Design Expert DX7 diperoleh 34 hasil solusi optimum dan 35 solusi alternatif. Solusi yang dipilih adalah solusi dengan nilai desirability 1,000 (100%) dimana nilai nilai desirability maksimum. Solusi yang terpilih yaitu hasil fermentasi tepung jagung yang proses pembuatannya membutuhkan konsentrasi kapang 0,12 % dan lama inkubasi 66 jam seperti pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Solusi Terpilih

Lama Inku
basi (jam) Konsentrasi Kapang (%) Total Asam Amino (mg/100g) Kadar frukto
sa (%) Desiability
66,00 0,12 455,713 5,2948 1,000
63,64 0,12 457,445 5,4886 1,000
62,81 0,12 457,341 5,4887 1000
62,16 0,12 457,386 5,4862 1,000
61,93 0,12 457,103 5,4876 1,000
Keterangan : Data ini tergolong selected.

Kombinasi waktu inkubasi 66 jam dengan konsentrasi kapang 0,12% menghasilkan total asam amino sebesar 455,713 mg/100 dan kadar fruktosa 5,49482 %, nilai ini adalah nilai optimal yang didapat melalui maksimasi nilai total asam amino dan kadar fruktosa
Solusi optimum terpilih yaitu pada konsentrasi kapang 0,12 % dan lama inkubasi 66 jam dengan desirability 1. Montgomery (2001), menjelaskan bahwa fungsi desirability tersebut adalah untuk menentukan derajat ketepatan hasil solusi optimal. Semakin mendekati satu maka semakin tinggi nilai ketepatan optimasi, sehingga bisa disimpulkan berdasarkan nilai desirability yang telah mencapai 1,000 nilai total asam amino dan kadar fruktosa yang dihasilkan memiliki nilai ketepatan yang tinggi.
Nilai total asam amino yang melebihi nilai optimum yaitu 457,445 mg/100 namun dengan kadar fruktosa yang lebih rendah yaitu 5,48863 pada lama inkubasi 63,64 jam dan konsentrasi kapang 0,12 %, dari hal tersebut dapat dianalisa kebutuhan kapang yang digunakan adalah sama namun waktu yang lebih singkat. Pada prakteknya di lapang penggunaan konsentrasi kapang 0,12 % dan lama inkubasi 63,64 jam didapatkan total asam amino, yaitu sebesar 471,939 mg/100g dan kadar fruktosa sebesar 6,995 %, sedangkan pada penggunaan kapang 0,12 % dan lama inkubasi 66 jam didapatkan total asam amino, yaitu sebesar 480,996 mg/100g dan kadar fruktosa sebesar 7,326 %. Sehingga lama inkubasi 66 jam dan konsentrasi kapang 0,12 % dipilih sebagai solusi optimum agar total asam amino dan kadar fruktosa yang dihasilkan tidak lebih kecil dari yang diharapkan dan bisa diproses lebih lanjut untuk menghasilkan biomassa jagung instan.
Dari hasil diatas terjadi peningkatan yang sangat tinggi dari solusi terpilih yang diperkirakan. Hal ini selain disebabkan oleh faktor lama inkubasi dan konsentrasi kapang juga bisa disebabkan oleh beberapa banyak faktor, seperti kadar air awal substrat dan tingkat gelatinisasi. Proses fermentasi media padat biasanya dilakukan pada suhu ruang yang relatif konstan dan merupakan kultur statis (Rahman, 1992). Pertumbuhan kapang Rhizopus sp. pada media padat dengan kelembaban yang tinggi (kadar air tinggi) yang menyerupai sifat tumbuhnya di alam. Peningkatan jumlah spora dari kapang Rhizopus sp. diikuti dengan peningkatan konsentrasi enzim amilase dan protease (Krongtaew, 2002). Peningkatan spora tertinggi dicapai pada bahan yang tergelatinisasi sempurna dengan kadar air 40 % dan jumlah spora terendah dicapai pada bahan dengan kadar air 30 %. Sedangkan pada kadar air 50 – 60 % kapang tidak dapat tumbuh. Hal ini menyatakan bahwa substrat dengan kadar air awal yang berbeda setelah dilakukan fermentasi memberikan hasil yang berbeda – beda terhadap kandungan protein, asam amino dan total gulanya (Raimbault , 2000). Dalam penelitiannya juga dijelaskan bahwa, produksi dan biosintesis enzim amilase dan protease dari kapang Rhizopus sp. dengan konsentrasi yang lebih tinggi terjadi ketika substrat telah tergelatinisasi dengan sempurna.
Dari produk solusi optimum diatas terjadi peningkatan nilai total asam amino dan fruktosa yang tinggi, dimana dari bahan baku tepung jagung memiliki total asam amino sebesar 194,883 mg/100g setelah proses fermentasi menjadi 480,996 mg/100g sedangkan kadar fruktosa dari 1,852 % menjadi 7,326 %. Disamping itu tepung jagung yang mengandung kadar protein 9,1 % setelah proses fermentasi mengalami peningkatan menjadi 18,149 %. Raimbault (2000), menyatakan bahwa kelompok kapang Rhizopus memiliki kemampuan untuk meningkatkan kadar protein pada substrat padat yang telah tergelatinisasi dengan baik melalui proses biokonversi pati menjadi protein. Namun tepung jagung yang awalnya mengandung kadar pati 73,429 % mengalami penurunan menjadi 38,445 %, hal ini terjadi karena sebagian pati telah dikonversi oleh enzim amilase menjadi gula sederhana (fruktosa).
Pada analisa kadar air juga dapat diketahui bahwa tepung jagung yang awalnya mempunyai kadar air 14,243 % mengalami peningkatan menjadi 53,488 %, hal ini tidak lepas dari kinerja kapang yang menghasilkan energi dan H2O (uap air) selama proses fermentasi.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Setelah dilakukan penelitian dan ana-lisa data didapatkan persamaan untuk res-pon total asam amino dan fruktosa adalah kuadratik. Faktor penentuan lama inkubasi adalah faktor yang berpengaruh nyata terhadap respon total asam amino dan ka-dar fruktosa, sedangkan faktor konsentrasi kapang tidak berpengaruh nyata terhadap respon. Hasil solusi optimum proses fermentasi tepung jagung menggunakan kapang Rhizopus sp. didapat pada kom-binasi faktor penentuan lama inkubasi (X1) = 66 jam dan faktor konsentrasi kapang (X2) = 0,12 % dan menghasilkan total asam amino sebesar 480,996 mg/100g dan kadar fruktosa sebesar 7,326 %

Saran-saran

Dalam proses fermentasi tepung jagung perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mencari optimasi total asam amino dan fruktosa dengan memperhatikan faktor variasi suhu inkubasi, kadar air awal substrat, tingkat gelatinisasi dan penggu-naan biakan murni dari kapang Rhizopus sp.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2007. Jagung Manis Aman bagi Penderita Diabetes http://www.replubika.co.id. Tanggal akses 25 Agustus 2007
_______1999. AOAC Official Methods of Analysis. Association of Official Analytical Chemists. Washington D. C.
Bisping, B., Bauman, U, Keuth, S. Denter, J., Wiesel, I. Dan Rehm, H.j. 1993. Tempe Fermentation : Formation of Protrase, and Vitamins, and Some Ecological Aspects. Tempe Work-shop, BPP Teknologi, February 15-16, 1993, Jakarta.
Hesseltine, W. Hwa L. Wang And Doris I. Raoettleandc. 1996. Protein Quality of Wheat and Soybeans After Rhi-zopus oligosporus Fermentation. Northern Regional Research La-boratory, PeorÃa, Illinois2. J. Nutrition, 96: 109-114.
Keuth, S. dan Bisping, B. 1993. For-mations of Vitamins by Pure Cultures of Tempe Moulds and Bacteria During The Tempe Solid Substrate Fermentation. J. Appl. BActeriol. 75, 427 – 434.
Krongtaew, Chularat and Srinophakun, Penjit. 2002. Preparation of Rhi-zopus oligosporus Inoculum for Fungal Biomass Protein Production in Animal Feed Industry. Research and Development Journal. 12(3):65-69.
Rahman, A. 1992. Teknologi Fermentasi. Arcan. Jakarta.
Raimbault, M. and Ramirez, T. C. 2000. Growth of Rhizopus sp. On Ungelatinized Cassava Flour in Solid State Fermentation for Protein Enrichment. Advances in Solid State Fermentation Chapter 14.
Rusdi, U. D. 1992. Fermentasi Konsentrat Campuran Bungkil Biji Kapok Dan Onggok Serta Implikasi Efeknya Terhadap Pertumbhan Ayam Broi-ler. Disertasi. Universitas Padja-djaran. Bandung.
Sapuan dan Saifullah, Agus. 1996. Bunga Rampai Tempe Indonesia. Yayasan Tempe Indonesia. Jakarta
Sofyan Iyan H.M.. 2003. Pengaruh Suhu Inkubasi dan Konsentrasi Inokulum Rhizopus oligosporus Terhadap Mutu Oncom Bungkil Kacang Tanah. Skripsi. Jurusan Teknologi angan Fakultas Teknik – Universitas Pasundan Infomatek 5 (2) ; 74 – 8

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s