Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

PENGAPLIKASIAN MAGGOT SEBAGAI ALTERNATIF PAKAN PADA IKAN

Tinggalkan komentar


I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Pemeliharaan ikan secara intensif memerlukan pakan komersil yang tepat mutu, tepat waktu, dan tepat jumlah. Pakan komersil yang diproduksi oleh pabrik memiliki kualitas dan jumlah yang terjamin. Akan tetapi, harga pakan komersil yang semakin hari semakin meningkat telah meresahkan para pelaku akuakultur. Hal ini akan menyebabkan naiknya biaya produksi secara umum. Efek domino dari kenaikan biaya produksi ini yaitu kenaikan harga–harga produk perikanan. Secara tidak langsung, konsumen akhirlah yang dibebankan untuk menanggung pembengkakan biaya produksi. Pada akhirnya daya beli konsumen menjadi penentu akhir keberlanjutan industri akuakultur. Apabila daya beli konsumen tinggi, mungkin tidak akan menjadi masalah. Akan tetapi pada kenyataannya daya beli konsumen (Indonesia) tidak demikian halnya.
Ketergantungan pabrik pakan terhadap bahan baku impor menyebabkan harga pakan menjadi mahal. Menurut data yang diperoleh dari Departemen Kelautan dan Perikanan 2006, impor tepung ikan Indonesia mencapai 88.902 ton. Sedangkan selama semester pertama 2007, DKP mencatat impor produk perikanan mayoritas berupa tepung ikan yang mencapai 25.905 ton, sedangkan dalam bentuk ikan segar atau beku mencapai 18.872 ton hingga Juli 2007. Hal ini menunjukkan ketergantungan Indonesia dalam pengadaan bahan pembuat pakan. Oleh karena itu diperlukan alternatif lain sebagai sumber protein yang berbasis bahan baku lokal (Wawa, 2006).
Maggot atau larva dari lalat black soldier fly (Hermetia illicens) merupakan salah satu alternatif pakan yang memenuhi persyaratan sebagai sumber protein. Murtidjo (2001) menyebutkan bahwa bahan makanan yang mengandung protein kasar lebih dari 19 %, digolongkan sebagai bahan makanan sumber protein. Berdasarkan hasil proksimat maggot yang telah dilakukan, Sugianto (2007) menyebutkan bahwa maggot yang dikultur dengan menggunakan bungkil kelapa sawit terfermentasi memiliki kandungan protein 38,32 %. Sedangkan berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh BBAT Sukabumi, maggot
4
yang dikultur menggunakan bungkil kelapa sawit yang telah difermentasi memiliki kandungan protein 45,14 %. Hal ini berarti maggot memenuhi syarat sebagai sumber protein. Aplikasi penggunaan maggot sebagai pakan sangat mudah diterapkan. Tidak seperti halnya pabrik pakan yang menggunakan formulasi pakan yang cukup rumit. Maggot dapat dijadikan pakan secara langsung dalam bentuk segar ataupun dicampur bahan lain seperti dedak untuk dijadikan pelet. Hal ini tentunya akan memudahkan petani untuk memproduksi pakan sendiri. Walaupun penggunaan maggot tidak bisa digunakan sebagai satu-satunya bahan pakan, namun setidaknya penggunaan maggot dapat diaplikasikan bersama pakan komersil sehingga otomatis biaya produksi dapat ditekan tanpa mengurangi pertumbuhan ikan.
Tepung bungkil kelapa sawit merupakan hasil sampingan pengolahan sawit segar menjadi PKO (Palm Kernel Oil). Limbah ini jumlahnya sangat melimpah di Indonesia. DMSI (2009) menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Luas areal perkebunan sawit mencapai 6,78 juta hektar dengan produksi 17,37 juta ton. Hal ini berarti bahwa kekontinyuan akan tepung bungkil kelapa sawit sebagai media kultur maggot sangat terjamin. Dengan melihat fakta-fakta tersebut maka dapat dimungkinkan untuk membuat pakan murah dari bahan-bahan limbah. Pemanfaatan PKM ini masih sangat kurang. Penggunaan PKM sebagai media kultur maggot yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai pakan ikan diharapkan mampu meningkatkan daya gunanya sekaligus sebagai alternatif pakan yang aplikatif di lapangan.
1.2. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari penulisan PKM Gagasan Tertulis ini yaitu memberikan tawaran solusi untuk memecahkan masalah dalam bidang akuakultur yang terkendala akibat terus menaikknya harga pakan yang sangat dirasakan memberatkan terutama bagi petani dengan modal kecil.
5
Adapun manfaat dari penulisan PKM GT ini yaitu :
a. Bagi penulis
Penulis dapat menuangkan gagasannya sekaligus berlatih menulis secara ilmiah. Selain itu, sebagai aktualisasi dan pengembangan diri terutama dalam menganalisa masalah dan kemudian mencari solusi untuk pemecahannya.
b. Bagi masyarakat
Tulisan dapat dijadikan landasan untuk memproduksi pakan ikan secara sederhana sehingga mahalnya biaya produksi akibat pakan dapat ditekan.
1.3. Tinjauan Pustaka
1.3.1. Pakan Ikan
Pakan merupakan komponen terbesar yang memberikan andil dalam biaya produksi akuakultur. SITH (2009) menyebutkan bahwa biaya produksi dalam akuakultur 50-60% nya berasal dari komponen pakan. Hal ini berarti pakan merupakan komponen yang paling berpengaruh pada industri akuakultur. Akibatnya, bila harga pakan naik, maka efeknya akan sangat terasa oleh para pelaku bisnis akuakultur terutama para petani yang bermodal kecil. Anonim (2009) melaporkan bahwa para petani keramba jaring apung di waduk Cirata mengeluhkan naiknya harga pakan. Berdasarkan pengamatan di lapangan terlihat bahwa ternyata pelaku bisnis pakan komersil yang mempunyai pabrik besar turut andil dalam penggunaan dan pengawasan produknya. Hal ini memperlihatkan bahwa selaku produsen pakan komersil, pihak produsen pakan tidak ingin dijadikan kambing hitam apabila konversi pakan membengkak. Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa pihak produsen pakan pun merasa khawatir apabila industri akuakultur bangkrut yang berarti ia tidak bisa menjual produknya.
Naiknya harga pakan dari tahun ke tahun diduga karena ketergantungan bahan baku pakan dari impor. Husodo (2008) menyebutkan bahwa sampai sekarang ini Indonesia masih mengimport 15.000 ton per tahun, tepung daging dan tulang (meat bone meal/MBM) 20.000 ton per tahun, bungkil kedelai 625.000
6
ton per tahun, dan jagung mencapai 500.000 ton per tahun. Ketergantungan akan impor ini jelas akan berpengaruh secara langsung terhadap produsen pakan. Kriteria bahan pakan tergantung dari Kualitas dan kuantitas bahan baku, Kandungan gizi / kadar nutrisi, Kecernaannya (digestibility), Daya serap (bioavailability) ikan, Tidak mengandung senyawa anti-nutrisi dan/atau zat racun serta Harganya SITH (2009). Oleh karena itu, ketergantungan bahan baku pakan dari impor jelas akan berdampak buruk. Hal ini karena kita tidak dapat mengontrol harga ataupun kekontinyuannya. Penelitian mengenai bahan baku pakan terutama bahan baku pakan sumber protein yang berpotensi untuk mensubstitusi penggunaan tepung ikan sudah banyak dilakukan. Tidak hanya di Indonesia namun di luar negeri pun penelitian serupa telah banyak dilakukan bahkan lebih dulu. Keong (2004) melaporkan bahwa palm kernel meal dapat mensubtitusi tepung ikan hingga 20%. Tidwell (1990) telah meneliti potensi DDGs sebagai bahan pakan untuk ikan. Yigit (2006) berdasarkan hasil penelitiannya menyebutkan bahwa penggunaan PBM hingga 25% tidak mempengaruhi pertumbuhan pada ikan.
1.3.2. Maggot
Maggot merupakan larva dari Black Soldier Fly (Hermetia illucens). Menurut Oliver (2004) larva lalat Black soldier dapat digunakan untuk mengkonversi limbah seperti limbah industri pertanian, peternakan, ataupun kotoran manusia. Sedangkan DuPonte (2003) menyebutkan bahwa makanan utama dari larva dari lalat ini adalah kotoran ayam dan bahan-bahan organik.
Diener (2007) telah menyebutkan beberapa keunggulan dari larva dari Black Soldier Fly. Beberapa karakteristik larva dapat diaplikasikan untuk penerapan teknologi. Sifat larva yang memakan sisa-sisa bahan dapur ataupun kotoran dapat dimanfaatkan untuk mendaur ulang sampah-sampah tersebut. Sifat stadia prepupa yang dapat bergerak memanjat kemiringan hingga 45o dapat dimanfaatkan sebagai cara panen (self harvesting). Selain itu, karena sifat dari lalat Black Soldier Fly yang tidak membawa makanan dan hidup liar di luar rumah hunian manusia, maka larva dari lalat ini diduga tidak membawa vektor penyakit.
7
Pemberian maggot telah dicoba kepada beberapa ikan, antara lain ikan mas Ciprinus carpio. Ogunji J.O. et.al. (2007) menyebutkan bahwa maggot dapat menggantikan tepung ikan sebanyak 30% pada ikan tilapia. Sedangkan Sheppard dan Newton (1999) dalam Sugianto (2007) menyebutkan bahwa maggot bisa menggantikan tepung ikan kualitas tinggi dan memberikan pertumbuhan yang sama walaupun diberikan dengan kondisi larva yang dipotong-potong. Penelitian ini dilakukan pada ikan Ichtalurus punctatus ukuran fingerling. Namun demikian, berdasarkan pernyataan Dirjen Perikanan Budidaya Made L Nurdjana, Wawa (2006) menyebutkan bahwa penggunaan maggot baru sebatas untuk ikan air tawar. Sebaliknya, untuk ikan air laut penggunaan tepung ikan masih lebih baik. Maggot terdapat disekitar lingkungan kita, untuk membudidayakannya tidak telalu sulit. Newton et. al. (2005) menggunakan kotoran babi sebagai media kultur. Hal serupa juga telah berhasil dilakukan oleh ARE (2006). Oliver (2004) dalam penelitiannya menggunakan limbah dari restoran sebagai media kultur. Sedangkan Hem et. al. (2008) menggunakan palm kernel meal (PKM) sebagai media pemeliharaannya. Kandungan protein dari maggot cukup tinggi yaitu sekitar 40%. Oliver (2004) melaporkan bahwa larva BSF mengandung 42% protein. Sheppard and Newton (1994) juga melaporkan hal yang serupa. Selanjutnya Sogbesan et. al. (2006) menyebutkan bahwa protein dari maggot dapat mencapai 50%. Kandungan nutrisi maggot berdasarkan penelitian oleh Oliver (2004) disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Kandungan nutrisi maggot
Protein
42,1 %
Lemak
34,8%
Abu
14,6%
Serat kasar
7%
NFE
1,4%
Kadar air
7,9%
Phospor
1,5%
Kalsium
5%
8
Selain itu, kandungan asam amino esensial maggot cukup lengkap. Maggot memiliki 10 asam amino esensial. Kandungan asam amino esensial dari maggot berdasarkan penelitian Newton (2005) disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Asam amino esensial maggot
Asam amino esensial
Mineral dan lainya
Methionone
0,83
P
0,88%
Lysine
2,21
K
1,16%
Leucin
2,61
Ca
5,36%
Isoleucine
1,51
Mg
0,44%
Histidine
0,96
Mn
348 ppm
Phenyllalanine
1,49
Fe
776 ppm
Valine
2,23
Zn
271 ppm
I-Arginine
1,77
Protein kasar
43,2%
Threonine
1,41
Lemak kasar
28,0%
Tryptophan
0,59
Abu
16,6%
Dalam siklus hidupnya lalat Hermetia illucens memiliki lima stadia (Diener, 2007). Lima stadia tersebut yaitu fase dewasa, fase telur, fase prepupa, dan fase pupa. Dari ke-lima stadia tersebut stadia prepupa sering digunakan sebagai pakan ikan (Newton, 2005). Siklus hidup dari lalat Hermetia illucens dapat dilihat pada Gambar 1, sedangkan metode produksi yang telah dilakukan oleh Newton (2005) dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 1. Siklus hidup lalat Hermetia Illucense
9
Gambar 2. Metode produksi maggot menjadi pelet
1.3.3. Tepung Bungkil Kelapa Sawit
Tepung bungkil kelapa sawit merupakan hasil sampingan pengolahan sawit segar menjadi PKO (Palm Kernel Oil). Limbah ini jumlahnya sangat melimpah di Indonesia. DMSI (2009) menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Luas areal perkebunan sawit mencapai 6,78 juta hektar dengan produksi 17,37 juta ton. Hal ini berarti bahwa kekontinyuan akan tepung bungkil kelapa sawit sebagai media kultur maggot sangat terjamin.
1.4. Metode Penulisan
Dalam menulis PKM Gagasan Tertulis ini, penulis menggunakan beberapa metode penulisan. Metode penulisan yang digunakan penulis yaitu:
a. Studi literatur : penulis menggunakan berbagai buku dan jurnal ataupun surat kabar.
b. Studi lapangan : penulis menggunakan pengalaman dari berbagai fieldtrip yang pernah dilakukan.
c. Pengalaman : penulis menggunakan pengalamannya yang berkaitan dengan hal yang dikaji.
10
II. PEMBAHASAN
2.1. Analisis
Berdasarkan data dan tinjauan fakta di lapanngan maka permasalahan mengenai mahalnya harga pakan untuk ikan dan akibatnya dapat digambarkan pada Diagram 1.
Diagram 1. Analisis penyebab dan dampak dari naiknya harga pakan ikan
Dari diagram di atas dapat dilihat bahwa penyebab utama dari naiknya harga pakan ikan adalah kualitas bahan baku pakan lokal yang tidak sesuai dengan standar pabrik. Kualitas bahan baku lokal yang tidak menentu ini diduga karena tidak ada atau hanya sedikit produsen bahan baku pakan lokal yang menerapkan standar SNI produk. Selain itu, banyak pula produsen bahan baku pakan yang ”nakal”. Hal ini menyebabkan para produsen pakan lebih memilih untuk mengimpor bahan baku pakan dengan kualitas terjamin. Nama perusahaan produsen pakan dipertaruhkan untuk membuat produk pakan dengan kualitas yang sesuai dengan standar pabrik. Hal ini dapat dicapai apabila bahan baku pakannya memiliki kualitas yang terjamin. Oleh karena itu, daripada mempertaruhkan nama perusahaan dengan menggantungkan pada bahan baku lokal yang kualitasnya tidak menentu, maka para produsen pakan mengimpor bahan baku pakannya dari luar negeri. HARGA PAKAN NAIKKETER-GANTUNGAN BAHAN IMPOR
•PETANI MENGELUH
•KEBERLANJUTAN INDUSTRI AKUAKULTUR
•BIAYA PRODUKSI MENINGKAT
•KONSUMEN TERBEBANI
KUALITAS BAHAN LOKAL TIDAK MENDUKUNG
11
Dampak dari ketergantungan pada bahan baku impor yang harganya semakin naik dan jumlahnya mulai berkurang mengakibatkan naiknya harga pakan. Efek berantai dari naiknya harga pakan yaitu biaya produksi akuakultur menjadi naik. Oleh karena itu banyak petani yang mengeluh. Efek selanjutnya yaitu pembebanan kenaikan harga produk akuakultur ke konsumen. Hal ini menyebabkan daya saing produk akuakultur di pasar menjadi menurun. Kemungkinan selanjutnya yaitu beralihnya minat beli konsumen pada produk akuakultur. Apabila demikian, maka keberlanjutan industri akuakultur menjadi dipertanyakan.
2.2. Sintesis
Solusi yang memungkinkan untuk memecahkan masalah harga pakan ikan berdasarkan potensi yang ada di Indonesia dapat digambarkan pada Diagram 2.
Diagram 2. Solusi untuk mengatasi naiknya harga pakan
Berdasarkan diagram di atas maka solusi untuk mengatasi masalah mahalnya harga pakan dapat dipecahkan dengan menerapkan solusi jangka pendek dan solusi jangka panjang. Solusi jangka pendek yang dapat diterapkan yaitu dengan membuat pakan secara mandiri oleh petani. Para petani dapat melakukan hal ini secara bergotong royong. Tekonologi yang dapat diterapkan
•PENGEMBANGAN BAHAN BAKU LOKAL BERSTANDAR
•PEMBUATAN PAKAN MANDIRI OLEH PETANI
•PEMANFAATAN BAHAN LIMBAH DARI INDUSTRI PERTANIAN
MENGATASI NAIKNYA HARGA PAKAN
12
yaitu pemanfaatan limbah industri pertanian (Palm Kernel Meal). Limbah ini jumlahnya sangat melimpah di Indonesia mengingat bahwa Indonesia merupakan negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Oleh karena itu, dari segi kekontinyuan dan kualitas dapat terjamin. Dengan demikian, maka akan terjadi persaingan positif antara petani dan pelaku industri pakan. Industri pakan pastinya akan memutar otak untuk menurunkan harga pakan sehingga produk pakannya dapat terjual. Hal ini akan berdampak positif karena impor bahan pakan dari luar negeri dengan sendirinya akan berkurang. Proses pengolahan PKM menjadi pakan (maggot) dapat dilihat pada Diagram 3.
Diagram 3. Pengolahan PKM menjadi pelet maggot Penggunaan limbah sawit sebagai media pembuatan bahan pakan tentunya akan memberikan nilai tambah bagi limbah sawit. Selain itu, pemanfaatan ini juga dapat digunakan untuk mengurangi dampak buruk limbah terhadap kerusakan lingkungan. Solusi jangka panjang dapat dicapai dengan memanfaatkan bahan baku lokal sebagai bahan pakan. Hal ini masih memerlukan tahap penelitian yang panjang dan terpadu. Peran pemerintah akan sangat dibutuhkan untuk menetapkan kebijakan dalam hal ini.
13
III. PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab-bab terdahulu maka dapat disimpulkan bahwa maggot yang dapat dibiakkan melalui pemanfaatan limbah industri kelapa sawit berpotensi untuk dijadikan pakan ikan.
3.2. Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai standarisasi produksi maggot. Selain itu, penelitian mengenai penggunaan maggot secara aplikatif di lapangan perlu dilakukan.
3.3. Nama dan Biodata Ketua serta Anggota
Pelaksana
NRP
Fakultas/Program Studi
Jabatan
Dodi Ahmad Setiawibowo
C14052848
Perikanan dan Ilmu Kelautan/Budidaya Perairan
Ketua
Dedi Anwar Sipayung
C14053429
Perikanan dan Ilmu Kelautan/Budidaya Perairan
Anggota
Handika Gilang Pramana Putra
C14062575
Perikanan dan Ilmu Kelautan/Budidaya Perairan
Anggota
3.4. Biodata Dosen Pembimbing
Nama : Ir. Nur Bambang Priyo Utomo, Msi
Agama : Islam Tempat/tanggal lahir : Banyumas, 14-08-1965
Alamat rumah : Jl. Pinus Blok T No. 21 Budi Agung Bogor 16161 Telp. (0251) 315917
Jabatan : Staf Pengajar pada Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB
14
DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2009. Harga Pakan Ikan Japung Melambung. Pikiran Rakyat 4 Maret 2009. [25 Maret 2009] Diener S. 2007. Conversion of Organic Refuse by Saprophages. Eawag: Swiss Federal Institute of Aquatic Science and Technology. Costa Rica p.1. DMSI. 2009. Kebutuhan Riset Kelapa Sawit di Indonesia. Dewan Minyak Sawit Indonesia DuPonte M.W. and Larish L.B. 2003. Tropical Agriculture and Human Resources (CTAHR). Hawaii Hem et. al. 2008. Bioconversion of palm kernel meal for aquaculture: Experiences from the forest region (Republic of Guinea). African Journal of Biotechnology Vol. 7 (8), pp. 1192-1198 Husodo. 2008. Substitusi Pakan Impor untuk Produksi Unggas. Kompas 31 Januari 2009. [25 Maret 2009] Keong N. W. 2004. Researching the Use of Palm Kernel Cake in Aquaculture Feeds. Penang : Fish Nutrition Laboratory, School of Biological Sciences, Universiti Sains Malaysia Murtidjo B. A. 2001. Pedoman Meramu Pakan Ikan. Kanisius: Yogyakarta
Newton G.L. et. al. 2005. The Black Soldier Fly, Hermetia Illucens, as A Manure Management / Resource Recovery Tool. Agricultural and Food Processing Wastes, Proceedings of the 8th International Symposium. ASAE, St Joseph, MO. ASAE, St Joseph, MO.
Oliver P. A. 2004. The Bio-Conversion of Putrescent Wastes. ESR LLC. Washington. P. 1-90 Sheppard, D. C., and G. L. Newton. 2000. Valuable by-products of a manure management system using the black soldier ßy – a literature review with some current results. Proceedings, 8th International Symposium – Animal, Agricultural and Food Processing Wastes, 9Ð11 Octoer 2000. Des Moines, IA. American Society of Agricultural Engineering, St. Joseph, MI. SITH. 2009. Teknologi Produksi Bahan Baku Pakan. Program Alih Jenjang D4 Bidang Akuakultur ITB-VEDCA-SEAMOLEC
15
Songbesan O. A., ND. Ajuau, A.A.A. Ugwumba and C.T Madu, 2005 Cost benefits of maggot meal as supplemented feed in the diets of ♀Hererobranchus longifilis x ♂Clarias gariepinus (Pisces Clariidae) hybrid fingerlings in outdoor concrete tan Joumal of Industrial and Scientific Research, 3; 51-55 Sugianto D. 2007. Pengaruh Tingkat Pemberian Maggot Terhadap Pertumbuhan dan Efisiensi Pemberian Pakan Benih Ikan Gurame (Osphronemus gouramy). [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Tidwell, J.H., C.D. Webster, and D.H. Yancey. 1990. Evaluation of distillers grains with solubles in preparedchannel catfish diets. Transactions of the Kentucky Academy of Science 51:135-138.
Wawa J.E. 2006. Limbah Sawit Bernilai Ekonomi. http://www.kompas.com. [13 Pebruari 2009] Yigit M., et. al. 2006. Substituting fish meal with poultry by-product meal in diets for black Sea turbot Psetta maeotica. Blackwell Publishing Ltd Aquaculture Nutrition 12; 340–34

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s