Yomo23setiawan's Blog

Just another WordPress.com site

Biokonversi Sampah Organik Menjadi Silase Ransum Komplit

Tinggalkan komentar


Biokonversi Sampah Organik Menjadi Silase Ransum Komplit
Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia. Setiap aktifitas manusia pasti menghasilkan buangan atau sampah. Jumlah atau volume sampah sebanding dengan tingkat konsumsi kita terhadap barang/material yang kita gunakan sehari-hari. Demikian juga dengan jenis sampah, sangat tergantung dari jenis material yang kita konsumsi. Oleh karena itu pegelolaan sampah tidak bisa lepas juga dari ‘pengelolaan’ gaya hidup masyarakat. Peningkatan jumlah penduduk dan gaya hidup sangat berpengaruh pada volume sampah. Misalnya saja, kota Jakarta pada tahun 1985 menghasilkan sampah sejumlah 18.500 m3 per hari dan pada tahun 2000 meningkat menjadi 25.700 m3 per hari. Jika dihitung dalam setahun, maka volume sampah tahun 2000 mencapai 170 kali besar Candi Borobudur (volume Candi Borobudur = 55.000 m3) [Bapedalda, 2000].
Searah dengan perkembangan wilayah yang pesat kearah modernisasi, permasalahan penanganan Sampah semakin komplek, bahkan cenderung kontradiksi dengan orientasi tuntutan kehidupan modern. Bahkan yang terjadi di perkotaan adalah adanya gangguan polusi udara (bau), pencemaran air, dan bahaya banjir yang secara langsung menurunkan tingkat kesehatan masyarakat. Selain itu, wilayah perkotaan dihadapkan pada kondisi tingginya konversi lahan untuk ruang terbuka hijau (lahan pertanian) ke bangunan dan perumahan. Hal ini menyebabkan ketersediaan pakan sapi, kerbau, kambing dan domba menurun drastis akibat dari berkurangnya lahan pengangonan. Padahal ternak tersebut selain makan hijauan juga dapat memanfaatkan bahan organik seperti Sampah, tetapi dengan prasyarat Sampah tersebut harus diolah terlebih dahulu untuk menghilangkan bahan yang merugikan kesehatan ternak seperti cacing dan bakteri patogen.
Berdasarkan hasil analisis kimia, perbandingan kandungan nutrisi bahan baku pakan ternak yang sudah biasa di konsumsi ternak (hijauan, konsentrat) dengan sampah organik (limbah sayuran, limbah restoran, dll) tidak begitu jauh berbeda. Hal yang perlu menjadi perhatian adalah pada proses pengelolaannnya sehingga diperoleh pakan jadi yang berkualitas dan palatable bagi jenis ternak yang mengkonsumsinya. Salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk mencapai kondisi tersebut adalah teknologi biokonversi melalui proses fermentasi sampah organik dengan campuran bahan baku pakan lainnya (konsentrat).
Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa pengolahan Sampah Organik di Perkotaan melalui teknologi biokonversi/fermentasi menjadi pakan komplit merupakan solusi yang tepat. Biokonversi ini memberikan dua kontribusi positif; pertama kontribusi positif terhadap permasalahan Sampah, yaitu mengeliminasi gangguan kesehatan, karena semua Sampah Organik Perkotaan dapat diserap dalam jumlah yang besar. Kedua, memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian wilayah dan membangun ”masyarakat sehat” dan ”kota lingkungan”.
PAKAN BERBASIS SAMPAH ORGANIK
Terdapat tiga unsur utama yang menentukan produktivitas usaha peternakan, yang dikenal dengan istilah gold triangle, yaitu : Breeding, Feeding, Management. Unsur penentu dalam keberhasilan teknis dan ekonomis peternakan adalah kemampuan mengintegrasikan ketiga faktor di atas (Breeding-Feeding-Management), sehingga tercapai hasil yang efisien. Fungsi pakan bagi ternak, terutama ruminansia tidak hanya sebagai sumber energi untuk hidup, tetapi pakan tersebut juga berperan sebagai bahan yang akan diubah bentuknya menjadi daging dan susu, sehingga ketersediaan pakan berkualitas menjadi syarat utama untuk dapat menghasilkan daging dan susu yang berkualitas juga. Pakan yang berkualitas tinggi tentunya akan memberikan tingkat efisiensi dalam penggunaan sumber daya dan pembiayaan usaha, karena kualitas pakan yang baik akan memberikan implikasi positif terhadap aspek produksi dalam budidaya ternak.
Pemanfaatan pakan, terutama dari bahan baku yang bersumber dari sampah organik, merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi permasalahan ketersediaan pakan. Untuk lebih menjamin ketersediaan dan kualitas pakan asal sampah organik, teknologi fermentasi pakan menjadi silase merupakan metode pengolahan yang tepat untuk diterapkan. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan penggunaan teknologi fermentasi untuk bahan baku pakan dari sampah organik adalah sebagai berikut :
§ Ekonomis. Pembuatan silase tidak membutuhkan peralatan yang rumit dan mahal. Peralatan untuk pembuatan silase dapat dibuat sendiri dan tidak lagi membutuhkan pengering. Peralatan utama yang disediakan adalah silo (wadah fermentasi) yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi setempat. Silo tersebut dapat dibuat dalam skala besar maupun skala kecil.
§ Tahan lama (awet). Bila kondisi anaerob telah tercapai, mikroorganisme aerob akan lenyap dan mikroorganisme anaerob, khususnya bakteri penghasil asam laktat akan berkembang. Kondisi tersebut tercapai pada hari ke-21 dan pH 3,8-4,2.
§ Praktis untuk bahan agroindustri yang mempunyai kadar air tinggi. Bahan baku yang berkadar air tinggi jika dikeringkan akan membutuhkan waktu yang relatif lama dan dibutuhkan biaya dan tenaga yang cukup besar. Lebih jauh metode ini akan beresiko terhadap kerusakan nutrien bahan.
§ Dapat dimanipulasi kualitasnya. Kualitas bahan fermentasi dapat dimanipulasi sesuai dengan keinginan pembuat. Inovasi silase ransum komplit diantaranya bertujuan untuk dapat meningkatkan kualitas pakan dan memudahkan teknis pemberiannya pada ternak.
§ Produk/pakan yang dihasilkan lebih ramah lingkungan. Sampah organik yang tidak terolah dengan cepat tidak hanya menimbulkan polusi bau tetapi juga pencemaran terhadap air dan udara, khususnya pencemaran karena mikroorganisme. Teknologi fermentasi dapat mengubah bau menjadi asam, dan cenderung memberikan aroma yang wangi.
§ Teknologi fermentasi dapat membunuh mikroorganisme patogen dan cacing (parasit lainnya) yang terdapat dalam sampah organik. Oleh karena itu pakan yang dihasilkan akan terbebas dari mikroorganisme patogen, cacing dan parasit lainnya, dan aman untuk dikonsumsi ternak.
SILASE RANSUM KOMPLIT BERBASIS SAMPAH ORGANIK
Kondisi iklim tropis wilayah Indonesia, menuntut adanya terobosan teknologi dalam manajemen penyediaan dan pemberian pakan yang semakin mendesak. Kurangnya pakan hijauan pada musim kemarau dan rendahnya kualitas pakan konsentrat menyebabkan kebutuhan gizi untuk asupan ternak tidak dapat tercukupi dengan optimal. Akibatnya adalah produksi daging dan atau susu pada ternak ruminansia tidak mencapai harapan bahkan tingkat produksinya pun menurun. Selain itu, para peternak masih terbiasa memberikan pakan hijauan dan konsentrat secara terpisah. Hal ini mengakibatkan tidak seimbangnya kandungan nutrisi pakan yang diberikan dan tidak sesuai dengan kebutuhan ternak. Permasalahan dalam pemberian pakan ini biasa terjadi pada ternak-ternak yang dikandangkan. Produktivitas ternak akan optimal secara teknis maupun ekonomis jika persediaan bahan pakan kontinu (tersedia sepanjang waktu), pakan yang diberikan dapat memenuhi kebutuhan gizi ternak serta mudah dalam pemberiannya.
Ransum komplit untuk ternak ruminansia merupakan campuran dari berbagai macam bahan makanan yang mengandung nilai gizi yang lengkap dan dapat memenuhi kebutuhan hidup dan produksi bagi ternak. Bentuk pakan komplit dapat berupa pakan kering (dry feed) maupun pakan basah (silase). Pakan komplit ini merupakan pakan yang di dalamnya tercampur antara pakan hijauan dan pakan penguat (konsentrat) yang sebagian besar berupa bahan pakan sumber protein dan kalori yang cukup tinggi seperti bungkil dan dedak atau limbah seperti ampas kecap atau tahu, onggok, dll. Dibandingkan dengan pakan komplit kering, pakan basah (silase) memiliki beberapa kelebihan, yaitu, selain proses pembuatannya yang relatif sederhana dan mudah, kualitasnya juga lebih baik serta memiliki daya tahan yang cukup lama.
PROSES PEMBUATAN SILASE RANSUM KOMPLIT
A. Peralatan yang Digunakan
Alat-alat yang dibutuhkan dalam pembuatan silase ransum komplit sangatlah sederhana. Peralatan yang paling umum adalah ketersediaan silo yang merupakan alat utama dalam proses fermentasi bahan pakan. Silo dapat dibuat dengan berbagai macam bentuk tergantung pada lokasi, kapasitas, bahan yang digunakan dan luas areal yang tersedia. Secara umum, jenis-jenis silo dibedakan menjadi dua, yaitu tower silo dan bunker silo. Tower silo adalah silo yang dirancang membentuk sebuah menara menjulang ke atas yang bagian atasnya tertutup rapat. Sedangkan bunker silo adalah silo yang rancangannya dibuat dengan cara menggali tanah, sehingga berbentuk lubang atau parit, yang nantinya dilakukan penutupan silo tersebut dengan menimbunnya kembali.
Beberapa bentuk silo dari kedua jenis tersebut secara umum adalah :
§ Pit Silo: silo yang dirancang berbentuk silindris (seperti sumur) dan di bangun di dalam tanah.
§ Trech Silo: silo yang dibangun berupa parit dengan struktur membentuk huruf V.
§ Fench Silo: silo yang bentuknya menyerupai pagar atau sekat yang terbuat dari bambu atau kayu.
§ Box Silo: silo yang rancangannya berbentuk seperti kotak.
Namun demikian, selain silo-silo tersebut, sebenarnya para petani peternak yang mengolah bahan pakan dengan teknologi silase juga dapat memanfaatkan alternatif lain sebagai silo. Alternatif lain yang dapat digunakan sebagai silo adalah dengan menggunakan drum plastik atau plastik polybag. Khusus untuk plastik polybag, dapat digunakan untuk membuat silase dengan porsi atau jumlah produksi silase yang dihasilkan adalah untuk sekali makan (1 kantong plastik = 1 porsi pakan yang akan dimakan oleh seekor ternak).
Selain silo, peralatan lainnya yang digunakan antara lain meliputi pemotong (Copper), pencampur (mixer), truck, ban berjalan(conveyor), sekop, dan plastik untuk alas atau penutup.
B. Metode
Metode pembuatan silase ransum komplit, dimulai dengan pemilihan bahan baku yang dapat berasal dari sampah organik untuk selanjutnya dilakukan pencampuran sesuai dengan komposisi kandungan gizi yang diinginkan. Selanjutnya bahan campuran tersebut dimasukkan ke dalam silo, dipadatkan dan ditutup untuk mendapatkan suasana anaerob. Silase akan terbentuk setelah 2-3 minggu kemudian.
Tahap 1. Pemilihan Bahan
Tahap pertama dalam pembuatan silase adalah melakukan pemilihan dan penentuan jenis dan standar kualitas bahan yang akan digunakan. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan bahan adalah bahwa bahan tersebut terjamin ketersediaanya sepanjang tahun dan berada dilokasi pembuatan silase, dalam arti bahwa bahan tersebut tidak harus didatangkan dari tempat lain, terlebih lagi memerlukan biaya transportasi. Pertimbangan tersebut akan membantu efisiensi biaya, sehingga bahan yang digunakan benar-benar merupakan bahan yang murah. Selain itu, bahan-bahan yang digunakan juga perlu dipilih berdasarkan kandungan nutrisinya yang sesuai dengan kebutuhan ternak. Bahan-bahan yang dipilih harus merupakan bahan pakan yang menjadi sumber protein, energi, vitamin, mineral serta serat.
Bahan-bahan yang dipilih hendaknya dipertahankan kandungan airnya sedapat mungkin seperti kondisi asalnya, sekitar 50-60% untuk bahan sampah organik. Hal ini akan membantu memudahkan proses silase dengan mengoptimalisasi proses fermentasinya serta memberikan efisiensi ekonomis. Selain kandungan nutrisi, hal lain yang juga harus menjadi perhatian adalah bentuk fisik bahan pakan tersebut, apakah butiran, tepung/serbuk atau mungkin batangan. Terutama untuk bahan yang berbentuk batangan, sebelum dicampur harus dipotong-potong/dicopper terlebih dahulu dengan ukuran sekitar 3-5 cm, sehingga akan memudahkan proses pencampuran dengan bahan-bahan dalam bentuk fisik lainnya.
Tahap 2. Formulasi/Penyusunan Ransum
Formulasi atau penyusunan ransum dapat dilakukan dengan cara komputerisasi atau dengan cara manual. Persyaratan utama untuk menyusun ransum adalah diketahuinya kandungan/komposisi kimia dan nutrisi dari bahan-bahan yang akan digunakan tersebut. Untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan analisis laboratorium atau melihat daftar kandungan/komposisi kimia dan nutrisi yang sudah ada dari hasil penelitian. Oleh karena itu, alat-alat yang sangat diperlukan pada tahap ini, selain computer dan software-nya juga diperlukan alat-alat analisis laboratorium lainnya.
Tahap 3. Pencampuran
Proses pencampuran bahan memerlukan tempat atau wadah yang bersih, untuk menghindari kontaminasi terhadap campuran yang dihasilkan. Untuk pembuatan silase dalam skala besar, pencampuran hendaknya dilakukan dengan menggunakan mixer atau mesin pencampur, sehingga campuran merata. Namun apabila jumlah tenaga kerja cukup banyak, pencampuran bahan silase dalam skala besar dapat dilakukan secara massal. Sementara itu, untuk pencampuran bahan dalam skala kecil, dapat dilakukan secara manual dengan menggunakan sekop. Tempat atau wadah yang digunakan sebaiknya didalam ruangan dan berbentuk flat/datar, berbentuk kolam/bak dengan alas keras atau tembok. Alat-alat lain yang harus tersedia diantaranya adalah; sekop, timbangan, mixer, alas pencampur, dan lain sebagainya.
Proses pencampuran harus dilakukan secara merata, untuk menghasilkan silase yang berkualitas baik, dan hal ini akan berkaitan dengan bentuk fisik dan ukuran bahan yang digunakan. Oleh karena itu, proses pemilihan bahan dan pengelolaan bahan batangan pada tahap 1 perlu menjadi perhatian. Proses pencampuran sebaiknya dilakukan dari bahan yang jumlahnya sedikit. Hal ini dilakukan karena dalam kapasitas yang cukup besar, dikhawatirkan bahan aditif/suplemen yang ditambahkan tidak tercampur dengan merata, sehingga kualitas silase yang dihasilkan tidak bagus.
Tahap 4. Fermentasi
Setelah dicampur, material silase ransum komplit dengan kandungan air 45-60 %, dimasukan ke dalam silo untuk disimpan selama kurang lebih 2-3 minggu, dalam kedaan tertutup rapat. Bahan-bahan yang dimasukan ke dalam silo harus dalam kondisi padat dan tertutup dengan rapat untuk selanjutnya disimpan. Selama penyimpanan tersebut akan terjadi proses fermentasi, dalam kondisi anaerob. Silase akan terbentuk sempurna pada minggu ke 2-3 tergantung pada bahan dan volume yang digunakan..
Alat-alat yang digunakan dalam proses fermentasi ini antara lain adalah pemanfaatan silo-silo yang dibuat dalam beragam bentuk atau dengan memanfaatkan wadah-wadah yang telah ada, misalnya drum plastik, atau bahkan kantong plastik/polybag. Untuk skala kecil, penggunaan kantong plastic atau drum plastic sangat disarankan, namun untuk skala yang lebih besar sebaiknya digunakan bunker silo. Dibandingkan dengan tower silo, bunker silo lebih tepat digunakan, disamping biayanya yang relative murah juga proses pembuatannya tidak sulit. Beberapa hal yang harus menjadi perhatian dalam penggunaan bunker silo adalah; sudut kemiringan pada tata letak silo, konstruksi bagian tutup yang harus gampang untuk dibuka namun tertutup dengan rapat, lubang saluran pembuangan, dan harus terletak ditempat yang teduh tidak terkena secara langsung (ternaungi) dari sinar matahari dan hujan.
Tahap 5. Produk Silase
Pada hari ke-21 (duapuluhsatu) atau sekitar minggu ke-3 (tiga), silase ransum komplit siap untuk diberikan kepada ternak. Pada saat dibuka, disarankan produk/silase tidak diberikan langsung ke ternak. Produk fermentasi mengandung sejumlah gas yang dihasilkan selama proses fermentasi berlangsung. Kondisi ini dapat menekan konsumsi dan dapat berbahaya bagi ternak. Oleh karena itu, sebelum diberikan pada ternak, silase perlu diangin-anginkan terlebih dahulu, untuk menghilangkan aromanya yang menyengat, dan juga perlu dilakukan uji terhadap logam-logam berat yang mungkin mencemarinya. Produk silase yang dijatahkan untuk diberikan pada ternak harus habis untuk sekali pemberian dan tidak diperkenankan disisakan untuk pemberian keesokan harinya.
C. Karakteristik Silase Ransum Komplit Yang Baik
Ciri-ciri yang baik dari produk silase dapat diidentifikasikan secara kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif, ciri-ciri produk silase yang baik adalah sebagai berikut :
§ Aroma : Asam Laktat
§ Warna : Segar seperti warna aslinya
§ Tekstur : Tidak Menggumpal
§ Tidak berjamur
Sedangkan secara kuantitaif, ciri-ciri produk silase yang baik, diidentifikasikan sebagai berikut :
§ Berada pada pH 3,8 – 4,2 dengan kandungan asam laktat yang cukup banyak
§ Disukai ternak/palatabilitas tinggi
D. Manajemen Silase Ransum Komplit
Mengingat proses fermentasi terjadi dalam waktu yang relatif panjang, sekitar 21 (duapuluhsatu) hari, para peternak perlu mengantisipasi ketersediaan silase untuk menjaga kontinuitas pemberian pakan. Apabila pembuatan silase dalam skala kecil, para peternak harus membuat silase dan menyimpannya dalam silo secara bergiliran, sejumlah kebutuhan dan sesuai dengan siklus pembuatan silase. Silo yang dapat digunakan adalah drum plastik atau kantong plastik/polybag dengan porsi untuk sekali pemberian.
Apabila pembuatan silase dilakukan dalam skala besar dan dilakukan secara kolektif/bersama-sama, sebaiknya para petani peternak (misal jumlah ternak 10-15 ekor) memiliki sedikitnya 10 (sepuluh) buah drum plastik untuk ditukarkan dengan drum plastik yang berisi silase ditempat pembuatan kolektif tadi. Drum plastik tersebut berfungsi sebagai silo bergerak dan alat kemas kedap udara sekaligus sebagai alat transportasi silase jika lokasi ternak jauh dari lokasi pembuatan silase, sehingga produk silase dapat disimpan dan kebusukan dapat dicegah dengan kemasan drum plastik ini. Dengan sistem yang menyerupai sistim isi ulang, setiap peternak cukup hanya memiliki drum plastik berpelat yang kosong, untuk kemudian ditukarkan/diisi ulang dengan drum yang sudah berisi silase, untuk mengadakan penyediaan pakan bagi ternaknya.
KANDUNGAN NUTRISI SILASE RANSUM KOMPLIT
Hasil penelitian yang dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB, untuk mengetahui kandungan nutrisi dari Silase Ransum Komplit dengan bahan baku limbah sayuran dan limbah restoran, memberikan bukti yang positif tentang kandungan nutrisi dalam pakan tersebut. Kandungan nutrisi tersebut dapat diidentifikasi dan diuraikan sebagai berikut :
· Silase ransum komplit dengan bahan baku tersebut di atas memiliki pH yang cukup rendah, yaitu sekitar 3,82-4,28 dan berada pada kondisi asam, yang menunjukan bahwa silase tersebut adalah silase dengan kualitas yang sangat baik. Hal ini dipertimbangkan karena pada kisaran pH 3,5 – 4,0 adalah kunci untuk mencegah mikroorganisme penyebab kebusukan dan atau mikroorganisme patogen.
· Dengan penambahan konsentrat, kandungan bahan kering dalam silase ransum komplit menjadi lebih tinggi, yaitu sekitar 38,70 – 45,42%. Hal ini menunjukan bahwa dengan kandungan bahan kering tersebut, kualitas silase sangat baik dan layak untuk dikonsusmi ternak.
· Mengingat silase ransum komplit dibuat sesuai kebutuhan nutrisi ternak, maka kandungan gizi dan nutrisinya dapat dijamin sesuai dengan kebutuhan ternak tersebut.
· Konsentrasi NH3 yang dihasilkan sangat optimum bagi pertumbuhan mikroba, yaitu sekitar 9,42 -14,11 mM. Hal ini berarti bahwa produksi amonia sebagai sumber nitrogen utama dalam pembentukan protein mikroba telah terpenuhi, sehingga dapat memberikan sumbangan protein yang cukup bagi kebutuhan ternak ruminansia.
· Daya cerna ternak terhadap produk silase ransum komplit berada dalam batas nilai cerna yang normal. Hasil penelitian menunjukan bahwa kecernaan bahan kering terhadap silase ransum komplit dengan bahan baku sampah organik adalah sebesar 60,09-62-25%, dan kecernaan bahan organik sebesar 60,07-63-24%. Nilai kecernaan tersebut sangat tergantung pada bahan suplemen yang dipakai.

Penulis: yomo23setiawan

berjalan dan menjalani segala ketentuan yg ditakdirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s